Tampilkan postingan dengan label Kemelut Kerajaan Mancu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kemelut Kerajaan Mancu. Tampilkan semua postingan

12 Kemelut Kerajaan Mancu

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

"Hemm, agaknya pemuda ini juga seorang kekasihmu! Hayo mengaku saja! Dia harus mampus!" bentak Wu Kan marah dan pemuda ini sudah mencabut pedangnya dan menyerang Han Bu dengan tusukan yang dilakukan dengan marah.

Akan tetapi putera Jenderal Wu Sam Kwi ini hanya lagaknya saja yang hebat, namun sesungguhnya tingkat ilmu silatnya belum berapa tinggi, ditambah tubuhnya juga lemah karena dia terlalu banyak pelesir dan kerjanya hanya berfoyafoya. Maka, dengan mudah Han Bu miringkan tubuh mengelak, lalu tangan kirinya menepuk pundak pemuda pesolek itu.

"Plakk!" Tubuh Wu Kan terputar dan terhuyung, tentu akan terbanting roboh kalau tidak cepat dipegang Lam-hai Cin-jin.

Kakek pendek gendut ini marah sekali.

"Berani engkau menyerang Wu Kongcu?" Dia lalu menggerakkan tangan kirinya, diputarnya dan telapak tangan kiri itu berubah kehitaman lalu dia memukulkan telapak tangannya itu dengan dorongan yang mendatangkan angin dahsyat ke arah Han Bu. Si Han Bu adalah murid terkasih dari Im-yang Sian-kouw yang selain tinggi ilmu silatnya juga memiliki keahlian ilmu pengobatan.

Maka sekali pandang saja maklumlah Han Bu bahwa lawan menggunakan pukulan beracun. Dia telah mempelajari dari gurunya cara menghadapi pukulan beracun, maka dia cepat menelan sebutir pel merah sambil melompat ke kiri untuk menghindar. Ket ika kakek itu mengejar dan memukul lagi dengan Hek-tok-ciang (Tangan Racun Hitam), kini dia yang sudah menelan obat penguat atau penawar terhadap pukulan beracun, berani menyambut dengan dorongan kedua tangannya.

"Wuuutt... dess...!" Tubuh Han Bu terpental karena dia kalah kuat, akan tetapi dia tidak sampai terluka. Dia bangkit lagi, menyambut pukulan susulan sehingga terpental lagi. Hal ini terjadi berulang-ulang sampai lima kali. Biarpun dia tidak menderita luka dalam, namun tetap saja Han Bu merasa nyeri terbanting sampai lima kali.

Tiba-tiba terdengar bunyi ledakan. "Dorrr...!" Untung bagi Han Bu tembakan yang dilepas Wu Kan itu meleset. Kiranya pemuda putera Jenderal Wu Sam Kwi itu memiliki sebuah senapan kuno yang dia beli dari pedagang senjata api yang mulai beredar di sebelah selatan daratan Cina, kebanyakan dibawa oleh bangsa Portugis.

"Jangan bunuh dia!" Ang-mo Niocu berteriak. Karena sikap Wu Kan menimbulkan kebenciannya, maka ia semakin tertarik dan condong membela Si Han Bu. Setelah berkata demikian, ia melompat dan bermaksud merampas senjata api itu dari tangan Wu Kan. Akan tetapi senapan itu dapat diisi dua buah peluru. Melihat Ang-mo Niocu membela Han Bu, hati Wu Kan menjadi semakin panas dan dia mengarahkan moncong senapannya kepada gadis itu dan menarik pelatuknya.

"Dorrr...!" Tubuh Ang-mo Niocu terpental ke belakang dan roboh terkapar. Pada saat itu kembali tubuh Han Bu nyaris menjadi korban pukulan Hek-tok-ciang. Pemuda itu cepat melompat untuk mengelak.

Sementara itu, Wu Kan kini mulai mengisi senapannya kembali dengan dua butir peluru. Setelah diisi peluru dan dikokang, dia hendak menembak Han Bu.

Akan tetapi pada saat itu, berkelebat dua sosok bayangan orang. Muncullah Ui Yan Bun dan Wan Kim Hui. Seperti kita ketahui, setelah berhasil mendapatkan obat untuk menyembuhkan Nyonya Wan Cun, Yan Bun dilatih ilmu silat oleh Wan Cun yang amat lihai. Karena Yan Bun sudah memiliki dasar yang kuat, maka hanya beberapa bulan saja dia sudah memperoleh kemajuan pesat hasil penggemblengan datuk itu.

Wan Cun menyatakan bahwa yang diajarkan itu sudah cukup, maka Yan Bun lalu berpamit untuk pulang ke rumah ayahnya, yaitu Ui Houw yang tinggal di Lembah Sungai Kuning. Ketika pemuda itu hendak berangkat, Wan Kim Hui rewel ingin ikut.

Ia ingin sekali mengembara dan kebetulan ada Yan Bun yang dianggap sebagai kakaknya sendiri. Semula ayah ibunya melarang karena mereka maklum akan kekerasan hati dan kebinalan watak puterinya, akan tetapi Kim Hui nekat dan menangis. Akhirnya orang tuanya mengijinkan karena di sana ada Ui Yan Bun yang mereka percaya akan dapat mengawasi puteri mereka. Kim Hui hanya diperbolehkan merantau selama dua tahun dan paling lama dua tahun ia harus kembali ke Bukit Siluman di dekat kota Lam-hu.

Demikianlah, karena ingin melihat-lihat pemandangan, dua orang muda ini mengambil jalan memutar dan pada siang hari itu kebetulan mereka melihat Ang-mo Niocu ditembak jatuh dan Han Bu sedang diancam bahaya.

"Itu Han Bu...!" Kim Hui berseru dan gadis ini sudah memungut sebuah batu sebesar kepalan tangannya dan sambil berlari cepat ia menghampiri tempat itu dan melontarkan batu itu ke arah Wu Kan yang amat dibencinya.

Tepat sekali batu itu mengenai kepala Wu Kan pada saat Wu Kan menarik pelatuk senapannya hendak menembak Han Bu.

"Dorrr...!" Tembakan itu ke atas dan tubuh Wu Kan terpelanting roboh. Dia jatuh pingsan karena pelipisnya dihantam batu yang dilontarkan Kim Hui.

Lam-hai Cin-jin marah sekali. Kakek gendut ini menggerakkan ruyungnya yang berduri, menyerang Kim Hui.

Melihat ini, Ui Yan Bun cepat mencabut pedangnya dan meloncat menghadang lalu menangkis serangan ruyung yang ditujukan kepada Kim Hui itu.

"Tranggg...!" Benturan ruyung dengan pedang membuat pedang Yan Bun terpental. Melihat bahwa kakek yang dikenalnya dengan baik itu kini bertanding dengan Yan Bun, Kim Hui cepat membantu Yan Bun dan mengeroyok Lam-hai Cin-jin dengan pedangnya.

"Lam-hai Cin-jin kakek t ua bangka jahat mau mampus! Aku harus membalaskan ibuku yang pernah kaupukul dengan curang!" Gadis itu masih merasa dendam mengingat ibunya, Nyonya Wan Cun, pernah dilukai Lam-hai Cin-jin dengan pukulan Hek-tok-ciang yang hampir saja merenggut nyawa ibunya. Untung Yan Bun dapat mencarikan obat penawarnya dari Im-yang Sian-kouw.

Melihat ada seorang pemuda dan seorang gadis datang menolongnya dan kini mengeroyok Lam-hai Cin-jin, Han Bu yang melihat Ang-mo Niocu roboh mandi darah, segera melompat dan berjongkok menghampiri gadis itu.

Bagaimanapun juga gadis yang dikenal sebagai iblis betina itu tadi telah membelanya, bahkan menyelamatkan nyawanya.

"Bagaimana keadaanmu...?" tanya Han Bu dengan khawatir melihat gadis itu rebah dengan napas terengah-engah dan muka pucat sekali. Aneh, dalam keadaan sekarat dan kesakitan seperti itu, melihat Han Bu berjongkok dan menanyakan keadaannya, Ang-mo Niocu tersenyum, walaupun senyumnya tampak aneh karena ia pun menahan rasa nyeri yang hebat. Bibirnya bergerak dan terdengar ia berkata lirih dan terputus-putus.

"Si Han Bu... terima kasih.... yang kau.... cari itu....

kusembunyikan... di kuil tua... belasan li... di sebelah utara dari.... sini...." Setelah berkata demikian, ia terkulai dan tewas.

Mendengar ini, Han Bu percaya dan girang karena dia t idak harus menggeledah tubuh mayat gadis itu untuk mencari Tekpai. Dia menengok dan melihat betapa dua orang penolongnya masih bertanding seru melawan Lam-hai Cin-jin.

Pada saat itu barulah dia memandang mereka dengan jelas dan hampir dia bersorak karena dia segera mengenal Ui Yan Bun dan Wan Kim Hui yang dulu pernah datang di Bukit Kera untuk mintakan obat bagi Nyonya Wan Cun kepada gurunya, Im Yang Sian-kouw! Tadi dia tidak mengenal mereka karena dia masih terkejut mendapat serangan tembakan dari Wu Kan kemudian melihat betapa Ang-mo Niocu roboh tertembak.

Kini, melihat bahwa yang menolongnya adalah mereka, dia cepat meloncat dan menyerang dengan sepasang senjatanya, yaitu pedang Im-yang-kiam yang hitam putih di tangan kanan dan Im-yang-po-san, kipas sakti di tangan kiri.

"Ha-ha, Saudara Ui Yan Bun dan Nona Wan Kim Hui yang baik, mari kita hajar kakek yang jahat ini!" katanya dan serangannya amat dahsyat membuat Lam-hai Cin-jin yang sudah merasa kewalahan dikeroyok Yan Bun dan Kim Hui, menjadi semakin repot. Apalagi melihat Wu Kan menggeletak tak bergerak, hatinya merasa khawatir bukan main. Putera Jenderal atau Raja Muda Wu Sam Kwi itu pergi berdua dengan dia maka dialah yang bertanggung jawab atas keselamatannya. Lam-hai Cin-jin adalah seorang datuk selatan yang amat setia kepada Wu Sam Kwi yang dia anggap sebagai seorang patriot pahlawan bangsa yang patut dihormati. Maka dia pun menjadi Koksu (Guru Negara) di Yunnan-hu, menjadi penasihat Jenderal Wu Sam Kwi. Kini melihat keadaan Wu Kan, baginya yang terpenting adalah menyelamatkan putera raja muda itu. Tiba-tiba ruyungnya diputar cepat sehingga tiga orang muda yang mengeroyoknya menghindar ke belakang dan pada saat itu, tangan kirinya membanting bahan peledak.

"Darr...!" Benda itu meledak dan asap hitam mengepul dibarengi bau yang menyengat hidung.

"Awas asap beracun!" kata Han Bu yang mengenal asap semacam itu. Ketiganya cepat melompat ke belakang menjauhi asap. Kesempatan itu dipergunakan Lam-hai Cin-jin untuk melompat ke arah menggeletaknya Wu Kan, menyambar tubuh pemuda itu, memanggulnya dan membawanya lari terlindung asap hitam beracun.

Setelah asap membuyar, tiga orang muda itu sudah kehilangan Lam-hai Cin-jin dan Wu Kan.

Wan Kim Hui membanting-banting kakinya ke atas tanah.

"Sialan! Aku belum dapat membunuh si jahanam Wu Kan dan kakek iblis Lam-hai Cin-jin!"

"Ah, agaknya engkau mengenal mereka itu, Nona Wan?" tanya Han Bu.

"Tentu saja aku mengenal mereka! Juga aku mengenal iblis betina Ang-mo Niocu Yi Hong itu. Anehnya, engkau ternyata sahabat baik iblis betina itu!" Wan Kim Hui berkata dengan sikap galak.

"Eh, aku sama sekali bukan sahabatnya!"

"Hemm, kalau bukan sahabatnya kenapa tadi engkau dibelanya dan engkau menghampirinya?" Mendengar suara gadis ini, diam-diam Han Bu merasakan sesuatu kegembiraan aneh dalam hatinya. Benarkah pendengarannya bahwa Wan Kim Hui cemburu?

"Aku justru mengejar dan mencarinya untuk merampas kembali Tek-pai milik Huang-ho Sian-li pemberian dari mendiang Kaisar."

"Huang-ho Sian-li?" Ui Yan Bun berseru kaget akan tetapi juga girang. Lalu dia menahan diri dan berkata, "Harap kalian berdua tunda dulu pembicaraan. Di sana ada sebuah mayat yang harus kita kubur sebagaimana layaknya, baru nanti kita bicara agar jangan simpang siur."

"Aku setuju dengan pendapat Saudara Ui Yan Bun," kata Han Bu.

Wan Kim Hui cemberut. "Aku heran sekali melihat kalian.

Apakah semua laki-laki begitu? Kalau melihat gadis cantik lalu jalan pikirannya menjadi ngawur?"

"Eh, engkau yang ngawur, Nona. Kenapa kaukatakan bahwa jalan pikiran kami ngawur?"

"Itu sudah jelas. Ang-mo Niocu Yi Hong adalah seorang iblis betina jahat dan cabul, jelas merupakan musuh. Mengapa kalian kini hendak merawat mayatnya? Apakah karena ia cantik?"

"Kim Hui, jangan menuduh sembarangan!" Yan Bun berkata dengan suara mengandung teguran. "Yang jahat adalah perbuatannya ketika ia masih hidup. Sekarang yang menggeletak itu adalah jenazah seorang manusia. Sudah menjadi kewajiban kita sesama manusia untuk mengurus penguburannya dengan semestinya. Kalau kita membiarkan jenazah itu begitu saja dan membiarkannya membusuk atau dimakan binatang buas, maka kita kehilangan prikemanusiaan kita." Mendengar ucapan Yan Bun, Kim Hui diam saja, tidak berani membantah. Memang terhadap Ui Yan Bun yang sopan, serius dan pendiam, Kim Hui t idak berani banyak membantah, apalagi karena orang tuanya telah menyerahkannya kepada Yan Bun untuk diawasi, dan dengan sungguh-sungguh ayahnya telah memesan kepadanya agar dalam segala hal suka menurut dan tunduk kepada Yan Bun. Ia hanya duduk di bawah pohon dengan muka cemberut, menonton ketika Yan Bun dan Han Bu menghampiri mayat Ang-mo Niocu lalu mereka berdua menggali lubang. Akan tetapi setelah lubang digali cukup dalam dan Yan Bun memberi tanda agar mereka berdua mengangkat mayat itu untuk dimasukkan lubang galian, Han Bu berkata, "Nanti dulu, Saudara Yan Bun." Han Bu lalu menghampiri Kim Hui yang masih duduk di bawah pohon. Sambil tersenyum Han Bu memandang wajah manis yang cemberut menjadi semakin manis itu, dan sebelum dia mengeluarkan kata-kata, Kim Hui sudah menegurnya.

"Mau apa kau?" Han Bu berkata, "Nona Wan Kim Hui, aku ingin minta pertolonganmu, harap engkau tidak menolak." Kim Hui mengerutkan alisnya. Ia mengerling ke arah Yan Bun dan melihat betapa Yan Bun berdiri dan memandang ke arah mereka, agaknya ikut mendengarkan. "Hemm, minta pertolongan kepadaku? Pertolongan apa? Aku tidak mau kalau disuruh bantu menguburkan mayat itu!"

"Ah, bukan, Nona. Saudara Ui Yan Bun dan aku yang akan menguburnya. Aku hanya minta sukalah engkau menggeledah pakaian jenazah itu untuk mencari kalau-kalau Tek-pai yang harus kutemukan itu disimpannya dalam pakaiannya."

"Menggeledah mayat? Huh, kenapa engkau menyuruh aku? Mengapa tidak kaugeledah saja sendiri?" Wajah Han Bu berubah merah. "Aih, bagaimana aku dapat melakukan hal itu, Nona Wan? Itu adalah mayat seorang wanita, dan aku seorang laki-laki, sungguh tidak pantas kalau aku yang menggeledah. Aku tidak berani. Mungkin saja Tekpai itu ia simpan di balik pakaiannya." Kim Hui masih hendak "jual mahal", akan tetapi Yan Bun berkata kepadanya. "Kim Hui, apa yang dikatakan Han Bu itu benar. Tidak pantas kalau engkau menolak permintaan bantuan yang begitu ringan. Lakukanlah penggeledahan seperti yang dimintanya." Tentu saja Yan Bun mendesak Kim Hui karena selain apa yang diucapkan pemuda tinggi besar tampan dan gagah itu benar, juga dia ingin sekali Tek-pai itu dapat ditemukan karena menurut Han Bu tadi, Tek-pai itu milik Huang-ho Sianli. Milik Thian Hwa! Terbayanglah wajah gadis yang sejak dulu dicintanya, satu-satunya wanita yang pernah dan masih dicintanya! Dengan bersungut-sungut Kim Hui bangkit berdiri lalu menghampiri jenazah Ang-mo Niocu Yi Hong yang tampak seperti orang tidur dan wajahnya tampak cantik. Kemudian ia melakukan penggeledahan, memeriksa semua bagian pakaian, meraba-raba seluruh tubuh jenazah itu. Apa yang ditemukannya dari kantung dan balik pakaian, ia keluarkan dan ternyata pada jenazah itu hanya ditemukan beberapa potong emas, perhiasan wanita, dan beberapa macam obat luka seperti yang biasa dibawa orang-orang kang-ouw yang melakukan perjalanan. Tek-pai itu tidak ditemukan. Akan tetapi Han Bu tidak kecewa, bahkan diam-diam dia merasa terharu karena Ang-mo Niocu ternyata tidak berbohong kepadanya. Dia semakin percaya bahwa Tek-pai itu pasti akan ditemukan di kuil t ua yang letaknya belasan li di sebelah utara tempat itu.

Dia minta kepada Kim Hui untuk mengembalikan semua benda itu ke dalam saku baju mayat itu, kemudian bersama Yan Bun mengubur mayat Ang-mo Niocu. Setelah lubang itu ditimbuni tanah, Yan Bun bertanya.

"Saudara Han Bu, engkau tidak berhasil mendapatkan kembali Tek-pai itu?" Han Bu tersenyum. "Aku yakin akan bisa mendapatkan kembali, karena sebelum ia meninggal tadi, Ang-mo Niocu sudah mengaku bahwa ia menyembunyikan Tek-pai itu di sebuah kuil tua, belasan li di sebelah utara...."

"Kalau begitu mengapa engkau masih minta aku untuk menggeledah mayat itu?!" Kim Hui menegur marah.

"Maaf, Nona. Tadi aku masih belum percaya akan keterangan Ang-mo Niocu, aku khawatir ia berbohong dan menyembunyikan Tek-pai itu di tubuhnya," kata Han Bu sambil menjura di depan Kim Hui. Aneh, gadis itu hilang marahnya, bahkan kini tersenyum kecil.

"Hemm, jadi engkau juga tahu bahwa ia jahat dan tidak percaya padanya?" katanya.

"Han Bu, Kim Hui, mari kita cepat mencari kuil itu. Tek-pai itu penting sekali, kita harus segera menemukannya. Setelah itu baru kita bicara!" Mereka lalu mengerahkan gin-kang dan berlari seperti terbang cepatnya menuju ke utara. Menjelang senja, mereka dapat menemukan sebuah kuil tua yang t idak dipakai lagi dan keadaannya sudah banyak rusak, di dalam hutan tepi jalan umum. Segera mereka bertiga melakukan pemeriksaan dan pencarian. Akhirnya, di balik sebuah arca Jilai-hud yang sudah berlumut, Kim Hui menemukannya.

"Inikah Tek-pai itu?" tanyanya sambil mengacungkan sepotong bambu kecil yang ada tulisan dan cap Kaisar.

"Benar, kalau tidak salah itulah Tek-pai!" kata Han Bu gembira.

"Uuhh, kalau tidak tahu bilang saja tidak tahu! Bilang benar, akan tetapi kalau tidak salah! Benar atau salah? Apakah engkau pernah melihatnya?" Kim Hui menegur galak.

Han Bu tersenyum. "Terus terang saja, aku baru kali ini melihatnya. Akan tetapi kalau itu bukan Bambu Tanda Kuasa (Tek-pai), lalu apa?" Yan Bun menghampiri dan mengambil benda itu dari tangan Kim Hui, lalu memeriksa dan membaca tulisannya.

"Tidak salah, inilah Tek-pai yang kaucari, Han Bu. Sekarang mari kita bicara. Kita mengaso dan melewatkan malam di sini.

Nah, ceritakanlah apa yang telah terjadi dan yang kaualami, Han Bu." Mereka duduk di bagian belakang kuil itu, satu-satunya bagian yang masih ada atapnya di situ sehingga lantainya juga bersih setelah mereka menggunakan sapu tua untuk menyingkirkan debu. Mereka duduk di atas lantai batu, saling berhadapan dan Han Bu mulai menceritakan semua pengalamannya. Dia bercerita pula tentang pemberontakan yang dilakukan Pangeran Cu Kiong yang dibantu banyak datuk kang-ouw, di antaranya yang terpenting adalah Lam-hai Cinjin dan susioknya (paman gurunya) yang bernama Ngo-beng Kui-ong dan amat sakti. Betapa dia ditawan setelah berhasil membebaskan Huang-ho Sian-li dari tahanan Pangeran Cu Kiong. Kemudian betapa pertempuran terjadi dan akhirnya para pemberontak dapat dihancurkan, Pangeran Cu Kiong dapat ditawan. Dia sendiri dibebaskan dari penjara oleh gurunya, Im-yang Sian-kouw dan Huang-ho Sian-li.

"Masih untung engkau tidak dibunuh, Han Bu," kata Yan Bun.

"Ah, tidak. Kakek Ngo-beng Kui-ong itu yang mempertahankan agar aku tidak dibunuh karena dia ingin menyandera aku agar guruku, Im-yang Sian-kouw mau dibujuk olehnya untuk membantu Jenderal Wu Sam Kwi."

"Lalu bagaimana engkau dapat bertemu dengan Ang-mo Niocu, Lam-hai Cin-jin dan Wu Kan itu?" tanya Wan Kim Hui yang merasa tertarik juga mendengar cerita pemuda itu.

"Ketika aku mendengar pengakuan Pangeran Cu Kiong bahwa Tek-pai yang dia rampas dari Huang-ho Sian-li ketika gadis itu dia tawan bahwa dia telah menyerahkan Tek-pai kepada Ang-mo Niocu dan dibawa ke selatan untuk diserahkan kepada Jenderal Wu Sam Kwi di Yunnan-hu, aku segera melakukan pengejaran. Sampai lama aku mengikuti jejaknya dan berganti-ganti kuda. Akhirnya aku dapat menyusulnya sampai di sini. Aku minta Tek-pai itu darinya dan ketika kami bersitegang, muncullah kakek dan pemuda yang membawa senapan tadi."

"Lam-hai Cin-jin adalah Koksu dari Yunnan-hu dan merupakan seorang yang setia kepada Wu Sam Kwi dan pemuda itu adalah Wu Kan, putera Wu Sam Kwi. Dia pemuda brengsek tak tahu malu!"

"Teruskan ceritamu, Han Bu."

"Lam-hai Cin-jin, seperti juga Ang-mo Niocu, sudah pernah melihat aku ketika aku ditawan mereka setelah aku berhasil membebaskan Huang-ho Sian-li. Maka dia lalu menyerangku.

Aku melawan dan terus terang saja, he-he, aku tidak mampu menandingi kakek itu. Aku terdesak dan tiba-tiba pemuda itu, Wu Kan namanya? Dia menembakku dengan senjata api, untung luput. Lalu terdengar tembakan kedua kalinya dan...

Ang-mo Niocu yang ditembaknya karena gadis itu menghalanginya membunuhku."

"Wah, musuh malah membelamu, ya? Bagus, senang ya dibela seorang gadis cantik dan genit?" kata Kim Hui mengejek.

Wajah Han Bu berubah kemerahan dan dia tersenyum masam. "Ah, aku sendiri tidak tahu mengapa ia membelaku.

Mungkin ia mulai menyadari akan ketersesatannya."

"Sadar? Ang-mo Niocu menyadari kesesatannya? Ih, engkau tidak mengenal siapa perempuan itu! Ia iblis betina yang keji sekali!"

"Hui-moi, biarkan Han Bu melanjutkan ceritanya," Yan Bun menegur dan Kim Hui terdiam.

"Pada saat itu, kalian muncul dan aku berterima kasih sekali kepada kalian. Kalau kalian tidak muncul, aku tentu sudah mati."

"Han Bu, ceritamu menarik sekali. Sukurlah kalau pemberontakan itu sudah dapat dihancurkan. Sekarang Tekpai sudah dapat kautemukan, apakah engkau akan memberikannya kepada Huang-ho Sian-li?"

"Tentu saja, aku akan segera kembali ke kota raja dan menyerahkan Tek-pai ini kepadanya."

"Wah, engkau tentu amat mencinta wanita yang berjuluk Huang-ho Sian-li itu! Baru julukannya saja Sian-li (Dewi atau Bidadari), tentu orangnya cantik sekali. Engkau telah membebaskannya, rela ditawan untuknya, dan sekarang bersusah payah mencari Tek-pai untuknya!" kata Kim Hui dan kembali Han Bu merasa senang karena suara gadis itu mengandung kecemburuan!

"Kim Hui, engkau tidak boleh bicara seperti itu!" Yan Bun menegur.

"Tidak mengapa, Yan Bun. Dugaannya salah, aku kagum kepada Huang-ho Sian-li yang gagah perkasa dan dipercaya oleh mendiang Kaisar, itu bukan berarti bahwa aku mencintanya," kata Han Bu.

"Han Bu, di mana adanya Huang-ho Sian-li sekarang?" tanya Yan Bun.

"Eh, Bun-ko, apakah engkau mengenalnya?" tanya Kim Hui, sekarang ia menyebut koko (kakak) kepada Yan Bun, setelah melakukan perjalanan bersamanya.

"Dulu aku mengenalnya bahkan menjadi sahabat baik, bahkan boleh kukatakan bahwa ia masih Sumoi-ku (Adik Seperguruanku) karena aku pernah menerima gemblengan ilmu dari gurunya. Di mana ia sekarang, Han Bu?"

"Tentu saja di rumah ayahnya."

"Ayahnya...? Siapakah Ayah Huang-ho Sian-li?" tanya Ui Yan Bun dengan jantung berdebar.

"Ayahnya adalah Pangeran Ciu Wan Kong, adik mendiang Kaisar Shun Chi." Hampir saja Yan Bun mengeluarkan seruan kaget, akan tetapi segera ditahannya. Kepahitan memenuhi hatinya.

Kiranya Thian Hwa yang hanya dia kenal sebagai murid dan cucu Thian Bong Sianjin, yang kabarnya sudah kehilangan ayah ibunya, bahkan yang tidak pernah mengenal siapa ibu dan ayahnya, kini telah bertemu dengan ayah kandungnya.

Dan ayahnya itu adalah adik Kaisar, seorang pangeran! Dia merasa betapa dirinya dipisahkan semakin jauh dari gadis yang dikasihinya itu.

"Kenapa kalian diam saja? Cerita tentang diriku sudah habis kuceritakan, sekarang giliran kalian. O ya, aku masih ingin sekali mengetahui bagaimana engkau mengenal baik Lam-hai Cin-jin dan putera Wu Sam Kwi tadi, Nona Kim Hui?"

"Sudahlah, jangan pakai nona-nona segala, bikin aku canggung saja, Han Bu. Tentu saja aku mengenal mereka karena dahulu aku dan orang tuaku juga tinggal di Yunnan-hu.

Ayah bahkan merupakan sahabat baik Lam-hai Cin-jin karena keduanya sama-sama dianggap sebagai datuk persilatan di selatan. Akan tetapi ayahku tidak mau mendukung Wu Sam Kwi sehingga ayah tidak disukai oleh mereka, juga Lam-hai Cin-jin lalu memutuskan hubungan dengan ayahku. Nah, ketika Wu Kan, pemuda brengsek putera Wu Sam Kwi itu melamarku, kami menolak. Hal ini membuat mereka marah.

Pada suatu hari, ketika orang tuaku tidak berada di rumah, Wu Kan datang menggangguku. Dia kuhajar babak belur, juga belasan orang pengawal kuhajar. Hal ini agaknya membuat Lam-hai Cin-jin marah dan ketika aku dan Ayah tidak berada di rumah, dia datang menyerang dan melukai ibuku. Semenjak itu, kami sekeluarga pergi meninggalkan Yunnan-hu dan tinggal di Bukit Siluman. Nah, sekarang kau mengerti mengapa aku mengenal baik jahanam-jahanam itu."

"Wah, ceritamu menarik sekali, Kim Hui!" kata Han Bu tanpa menyebut nona lagi. "Dan engkau sungguh hebat, berani menghajar putera Jenderal Wu Sam Kwi yang sekarang menjadi raja muda!"

"Jangankan hanya putera raja muda, biar putera raja setan pun kalau berani menggangguku, akan kulawan dan kuhajar!" kata gadis itu dengan tegas. Han Bu merasa aneh mengapa dia amat tertarik kepada gadis yang galak ini. Belum pernah dia tertarik oleh seorang gadis seperti yang dirasakannya terhadap Kim Hui.

Sementara itu, Yan Bun hampir tidak mendengarkan apa yang diceritakan Kim Hui. Pertama, karena dia sudah mendengar kisah itu dan kedua karena hati dan pikirannya masih penuh dengan kejutan mengenai diri Huang-ho Sian-li yang ternyata puteri seorang pangeran!

"Yan Bun, mengapa engkau diam saja? Kukira sekarang giliranmu untuk menceritakan pengalamanmu," kata Han Bu.

Yan Bun sadar dari lamunannya dan menghela napas panjang. "Tidak banyak yang dapat kuceritakan."

"Ah, Bun-ko, engkau belum pernah bercerita kepadaku tentang Huang-ho Sian-li itu! Ceritakanlah," kata Kim Hui.

"Sudah kukatakan tadi bahwa kami pernah menjadi sahabat baik, bahkan aku pernah digembleng ilmu oleh gurunya. Akan tetapi kami lalu berpisah dan sudah sekitar dua tahun ini kami tidak pernah saling bertemu. Aku bertemu dengan adik Wan Kim Hui dan bersamanya mencarikan obat untuk ibunya yang terkena pukulan beracun Lam-hai Cin-jin dan kami menghadap gurumu, Im-yang Sian-kouw.

Selanjutnya kami kembali ke Bukit Siluman di dekat kota Lamhu dan di sana aku memperdalam ilmu silatku di bawah bimbingan Paman Wan Cun, ayah Kim Hui. Begitulah ceritaku."

"Dan sekarang kalian hendak pergi ke mana?"

"Sudah lama aku meninggalkan rumah orang tuaku yang tinggal di Lembah Huang-ho. Aku hendak pulang ke rumah orang tuaku...."

"Aih, Bun-ko, mari kita pergi ke kota raja lebih dulu. Aku ingin sekali melihat kota raja! Kebetulan sekali sekarang ada Han Bu, kita bertiga dapat pergi bersama!" Kim Hui membujuk.

Yan Bun tampak ragu-ragu dan alisnya berkerut.

Sesungguhnya dia sudah lama merasa rindu sekali untuk dapat bertemu Thian Hwa. Akan tetapi keinginannya itu selalu dia tekan. Untuk apa bertemu? Hanya akan menambah kedukaannya saja. Gadis itu sudah dengan terus terang menyatakan bahwa ia t idak dapat menerima cintanya, bahkan dahulu mengaku mencinta Pangeran Cu Kiong yang juga dibencinya. Dahulu saja Thian Hwa t idak dapat menerima dan membalas cintanya, apalagi sekarang setelah ternyata bahwa ia puteri seorang pangeran! Ia merasa takut bertemu Thian Hwa, takut kalau-kalau hatinya akan semakin menderita.

"Mari, Yan Bun. Ucapan Kim Hui itu benar, lebih baik kita bertiga melakukan perjalanan bersama ke kota raja. Bukankah engkau ingin bertemu dengan sahabat lamamu, Huang-ho Sian-li Ciu Thian Hwa?" kata Han Bu membujuk. Tentu saja hatinya senang bukan main kalau dapat melakukan perjalanan bersama Kim Hui yang telah mencuri hatinya! Yan Bun menghela napas panjang, lalu menggelengkan kepalanya.

"Tidak... aku... belum ingin bertemu dengannya."

"Tapi, mengapa begitu, Bun-ko? Bukankah kaukatakan tadi bahwa Huang-ho Sian-li adalah seorang sahabat baikmu, bahkan terhitung Sumoi-mu?" Kim Hui mendesak. "Ayolah, Bun-ko, aku ingin sekali pergi ke kota raja. Ayah hanya memberi waktu dua tahun padaku dan aku ingin melihat kota raja di mana dahulu ayah pernah tinggal!" Yan Bun menggelengkan kepalanya dan wajahnya tampak muram, lalu dia berkata. "Begini saja, Hui-moi. Bagaimana kalau engkau pergi dulu ke kota raja bersama Han Bu? Aku merasa yakin bahwa sebagai murid Im-yang Sian-kouw, dia tentu seorang pendekar muda yang baik budi dan bijaksana sehingga aku percaya kepadanya. Dia pasti akan dapat menjagamu." Kim Hui tampak gembira sehingga wajahnya berseri.

"Benarkah, Bun-ko? Aku boleh pergi sendiri ke sana bersama Han Bu? Akan tetapi... nanti kalau Ayah mendengar bahwa aku tidak pergi bersamamu, Ayah akan marah...."

"Tidak, Hui-moi. Kalau tahu bahwa pergimu bersama murid Im-yang Sian-kouw, beliau tidak akan marah. Setelah aku mengunjungi orang tuaku, kelak aku akan menyusul ke kota raja."

"Ah, terima kasih, Bun-ko!" Kim Hui memegang tangan Yan Bun dan mengguncangnya sebagai ungkapan kegembiraan dan terima kasihnya. Setelah itu, ia lalu mengumpulkan kayu kering dan membuat api unggun di ruangan beratap namun tak berdinding itu. Han Bu tidak tinggal diam. Dia mencari rumput kering yang terdapat di bagian belakang kuil tua dan menaburkan rumput kering itu di lantai ruangan.

"Aku lelah dan mengantuk, ingin tidur dulu!" kata Kim Hui dan gadis ini langsung merebahkan diri di atas tumpukan rumput kering dengan miring membelakangi dua orang pemuda itu. Melihat ini, Han Bu cepat mengambil sehelai baju luar yang lebar dari buntalan pakaiannya, menghampiri gadis itu dan menyelimuti tubuhnya dengan baju luar yang lebar.

"Pakai ini agar jangan kedinginan," katanya.

Kim Hui menerimanya akan tetapi diam saja. Melihat sikap pemuda ini, Yan Bun diam-diam merasa lega dan girang.

Agaknya Han Bu merasa suka kepada Kim Hui yang galak itu! Siapa tahu di antara mereka dapat timbul perasaan cinta! Dia sendiri duduk di dekat api unggun, masih melamunkan Thian Hwa.

Malam semakin tua. Yan Bun masih duduk melamun di depan api unggun. Kemudian Han Bu yang tadinya duduk bersila dan melakukan samadhi, menghampiri dan duduk dekat Y an Bun menghadapi api unggun yang mengusir hawa dingin malam itu, juga mengusir nyamuk yang mulai menyerang.

"Yan Bun, maafkan pertanyaanku ini, yang keluar dari hati seorang sahabat yang ikut prihatin. Kalau boleh aku mengetahui, ada apakah antara engkau dan Huang-ho Sianli?" Yan Bun tampak kaget. "Mengapa engkau bertanya demikian?"

"Maafkan, kalau hal ini menyinggungmu, boleh kita lupakan dan tidak usah kaujawab."

"Aku t idak tersinggung dan marah kepadamu, Han Bu. Aku hanya merasa heran mengapa engkau tiba-tiba menanyakan hal itu." Yan Bun melirik ke arah Kim Hui yang t idur pulas dan hatinya lega karena dia tidak ingin orang lain mendengarkan dia membicarakan tentang Huang-ho Sian-li.

"Begini, sahabatku. Ketika aku memberitahu bahwa Huangho Sian-li Ciu Thian Hwa adalah puteri pangeran, engkau terkejut sekali walaupun ingin kausembunyikan. Wajahmu pucat dan engkau tampak berduka. Aku melihat setiap kali aku menyebut Huang-ho Sian-li, ada cahaya kerinduan di matamu, akan tetapi juga terselubung kedukaan. Kelirukah dugaanku bahwa engkau mencintanya, Yan Bun?"

"Mengapa pula engkau menduga begitu?"

"Ah, ia adalah seorang gadis yang amat cantik jelita dan gagah perkasa, Yan Bun! Apa anehnya kalau seorang pendekar seperti engkau jatuh cinta padanya? Apalagi engkau sendiri berkata bahwa kalian pernah menjadi sahabat karib."

"Hemm, kalau begitu, tidak akan aneh pula kalau engkau juga jatuh cinta kepadanya, bukan?" Yan Bun membalas.

Han Bun tertawa akan tetapi menekan suaranya agar tidak mengganggu Kim Hui yang sedang tidur. "Ha-ha, memang tidak aneh, Yan Bun. Akan tetapi dugaanmu keliru. Aku belum mengenalnya, bahkan pertemuan antara kami hanya sekilas saja. Selain itu, selama ini aku belum pernah jatuh cinta...." Tanpa disadarinya, Han Bu melirik ke arah Kim Hui.

"Hemm, belum pernah jatuh cinta, akan tetapi saat ini engkau jatuh cinta padanya, bukan?" Yan Bun menuding ke arah Kim Hui.

Wajah Han Bu berubah kemerahan dan dia menjadi salah tingkah.

"Eh, itu... ah, aku tertarik kepadanya sejak pertemuan pertama dulu, akan tetapi... cinta? Entahlah, aku tidak tahu, Yan Bun. Akan tetapi, agaknya cintamu terhadap Huang-ho Sian-li menimbulkan kesedihan bagimu, mengapa kalau aku boleh mengetahui?" Yan Bun menghela napas. Pemuda ini cerdik sekali dan agaknya sukar untuk menyembunyikan isi hatinya dari Han Bu.

"Baiklah, Han Bu. Karena aku mempercayakan Kim Hui kepadamu, dan aku percaya sepenuhnya padamu, maka boleh engkau mendengar rahasiaku yang belum pernah kuceritakan kepada orang lain ini. Benar, sejak dahulu aku mencinta Huang-ho Sian-li, bahkan guru kami dan orang tuaku juga sudah menyetujui sepenuhnya kalau kami berjodoh. Akan tetapi ia mencintaku sebagai saudara atau sahabat baik.

Selama ini aku masih mengharapkan sewaktu-waktu cintanya akan berubah dan ia bersedia menjadi pasangan hidupku.

Akan tetapi, ah... mendengar darimu bahwa Huang-ho Sian-li adalah puteri seorang pangeran, habislah harapanku. Kalau dulu saja ia tidak dapat membalas cintaku, apalagi sekarang sebagai puteri pangeran dan bahkan kepercayaan Kaisar...! Karena itulah, aku tidak berani bertemu dengannya, Han Bu, karena hal itu tentu hanya akan membuat hatiku semakin sakit." Han Bu merasa terharu dan sejenak mereka berdua memandang ke api unggun sambil merenung. Betapa besar kekuasaan cinta terhadap manusia. Betapa aneh lika-likunya mempermainkan manusia yang seolah tidak percaya terhadap kekuasaan yang mampu melambungkan manusia menikmati kesenangan tingkat tertinggi atau sebaliknya menenggelamkan manusia ke dalam kesusahan tingkat terendah. Berulang-ulang dia melirik ke arah Kim Hui.

Keadaan manakah yang akan dialami nanti apabila dia jatuh cinta kepada gadis itu? Sesungguhnya, kalau dikaji benar, cinta atau kasih itu sama sekali tidaklah aneh. Kita manusia sendiri dengan hati akal pikiran kita yang mengada-ada ini yang membuat cinta menjadi aneh, terkadang membahagiakan terkadang menyengsarakan. Sesungguhnya, cinta adalah perasaan yang luhur dan suci murni, cinta dirasakan oleh seluruh mahluk hidup, baik yang bergerak maupun yang tidak. Bukan hanya manusia mengenal cinta. Hewan pun mengenal cinta. Bahkan tanaman mengenal tangan-tangan manusia yang merawatnya dengan cinta. Hidup ini sendiri cinta! Tanpa cinta hidup ini tidak ada artinya. Cinta memang banyak ragamnya, ada cinta atau kasih terhadap Tuhan, kasih terhadap sesama manusia, kasih terhadap sanak keluarga, kasih terhadap negara dan bangsa, juga kasih terhadap sesama hidup seperti hewan dan tanaman. Namun pada hakekatnya hanya ada dua macam Kasih. Kasih murni bercahaya dan hidup apabila jiwa diterangi Sinar Illahi atau Kasih Tuhan sehingga hati kita dipenuhi oleh Kasih. Buahnya adalah perbuatan atau tindakan tanpa pamrih untuk diri sendiri, yang hanya didorong rasa belas kasih, membuat orang yang memiliki Kasih ini siap berkorban, tanpa mementingkan diri sendiri, tanpa mengharapkan imbalan jasa, dan bukan timbul dari hati akal pikiran yang dikendalikan nafsu. Yang ke dua adalah cinta atau kasih yang didorong oleh nafsu keinginan kita untuk kepentingan dan kesenangan atau keuntungan diri kita sendiri. Cinta seperti ini penuh dengan pamrih, walaupun terselubung ketat. Ingin dipuji, ingin diberi imbalan jasa, baik itu imbalan lahir maupun batin, pendeknya, cinta seperti ini bersumber demi kesenangan pribadi.

Cinta karena dorongan nafsu daya rendah inilah yang dapat mendatangkan kesenangan ataupun kesusahan. Memang selalu demikian sifat nafsu atau si-aku. Kalau diuntungkan senang kalau dirugikan susah. Dalam hubungan cinta antara pria dan wanita juga demikian. Cinta nafsu ini selalu mendatangkan sengsara kalau tidak tercapai atau gagal, sebaliknya akan mendatangkan kebahagiaan kalau berhasil baik.

Sesungguhnya kalau kita renungkan benar-benar, tandatanda kedua macam cinta itu mudah dikenal. Cinta murni atau Kasih sejati dapat dikenal sebagai berikut.

Kasih sejati terhadap Tuhan yang kita kenal melalui kitabkitab suci ialah ketaatan dan penyerahan diri tanpa pamrih apa pun. Cinta terhadap negara dan bangsa berupa perjuangan mempertahankan kesejahteraan dan martabat negara dan bangsa dengan rela berkorban dan tanpa pamrih apa pun untuk diri sendiri. Cinta terhadap sesama manusia didasari belas kasih dan rela berkorban demi kebahagiaan yang dikasihi.

Sebaliknya ciri cinta nafsu adalah: Kasih terhadap Tuhan didasari ketakutan akan hukuman, penuh pamrih mendapat imbalan sekarang di waktu hidup ataupun kelak sesudah mati yang pada hakekatnya hanya pementingan diri mencari keenakan dan menolak ketidak-enakan diri sendiri. Cinta terhadap negara dan bangsa yang didasari nafsu berupa ambisi pribadi dan perjuangannya sesungguhnya untuk mencapai ambisinya sehingga apabila perjuangan itu berhasil, dirinyalah yang akan menikmati dan mabok kemenangan, lupa akan kepentingan nusa dan bangsa. Cinta terhadap sesama manusia juga merupakan cinta terhadap diri sendiri, mencinta dengan harapan imbalan yang lebih besar seperti orang berjual-beli. Beli dengan cinta mengharapkan memperoleh kesenangan. Maka kalau kesenangan itu tidak diperoleh, cintanya pun entah lari ke mana! Pada keesokan harinya, mereka pun berpisah. Si Han Bu pergi ke kota raja bersama Wan Kim Hui, sedangkan Ui Yan Bun pergi seorang diri menuju ke Lembah Sungai Kuning, ke tempat tinggal Ui Houw yang berjuluk Si Ular Air, dahulu merupakan kepala bajak sungai namun bukan gerombolan bajak yang jahat. Mereka bahkan menjadi pelindung para pedagang yang mengangkut dagangan mereka melalui Sungai Kuning dengan menerima upah sekedarnya. Mereka itu pantas disebut pengawal pengiriman barang dagangan daripada bajak sungai. Dengan adanya Si Ular Air Ui Houw dan anak buahnya, lalu lintas perdagangan di Sungai Kuning menjadi aman dari gangguan para bajak dan perampok.

Karena mereka memang tidak pernah melakukan perampokan ataupun pemerasan dengan kekerasan, tidak pernah melakukan kejahatan, maka baik para pendekar maupun para komandan pasukan keamanan tidak pernah memusuhi mereka.

(Oo-dwkz-jTn-oO) Ketika Han Bu dan Kim Hui tiba di gedung Pangeran Ciu Wan Kong mereka disambut gembira sekali oleh seisi rumah karena Han Bu berhasil membawa Tek-pai yang kalau terjatuh ke tangan orang lain yang jahat dapat membahayakan pemerintah. Akan tetapi kegembiraan mereka tidaklah sebesar keterkejutan dan kegembiraan hati Han Bu ketika dia melihat bahwa kini gurunya telah bertemu kembali dengan suami dan puterinya, dan tinggal menjadi satu bersama keluarganya di gedung Pangeran Ciu Wan Kong, suaminya.

Pertemuan itu menjadi semakin akrab karena di situ terdapat pula Kim Hui yang pandai bicara dan tidak malumalu. Apalagi Kim Hui sudah mengenal Im-yang Sian-kouw. Ia pun merasa kagum sekali melihat Huang-ho Sian-li yang cantik dan gagah.

"Enci Thian Hwa, tahukah engkau bahwa aku telah berkenalan dan menjadi sahabat koko Ui Yan Bun, sahabat baikmu itu?" Thian Hwa terkejut karena tidak mengira sama sekali bahwa gadis lincah itu mengenal Yan Bun. "Aih, benarkah? Di mana dia sekarang dan bagaimana keadaannya?" Baik Kim Hui maupun Han Bu melihat betapa wajah Thian Hwa berseri dan matanya bersinar-sinar.

"Ah, dia baik-baik saja, Enci Thian Hwa."

"Kim Hui, ceritakan bagaimana engkau dapat berkenalan dengan Bun-ko." Thian Hwa bertanya sambil menatap wajah gadis itu dengan penuh selidik. Gadis ini manis sekali dan lincah. Bukan tidak mungkin Yan Bun jatuh cinta kepada Kim Hui, walaupun ia melihat ada keakraban dan kemesraan antara Kim Hui dan murid ibunya, yaitu Si Han Bu.

"Ceritanya memang lucu," kata Kim Hui. "Ibuku menderita luka parah akibat pukulan Hek-tok-ciang yang dilakukan si jahat Lam-hai Cin-jin. Ayah dan aku membawa ibu mengungsi dari Yunnan-hu dan tinggal di Bukit Siluman dekat kota Lamhu. Ketika itu aku mendengar ada seorang sin-she (tabib) di Lam-hu, maka aku lalu pergi ke sana dan menculik tabib itu...."

"Menculik?" Huang-ho Sian-li berseru heran.

Kim Hui tersenyum. "Maksudku, eh, aku memaksa dia agar ikut aku ke puncak Bukit Siluman untuk mengobati Ibuku.

Tidak tahunya, sin-she itu mempunyai seorang keponakan yang lihai, yaitu Ui Yan Bun dan dia menyusul ke tempat kami.

Tabib Ui Tiong itu tidak mampu menyembuhkan Ibu dan mengatakan bahwa yang dapat mengobati adalah Bu Beng Kiam-sian di Bukit Kera. Yan Bun sanggup mencarikan obat untuk Ibu, akan tetapi dengan janji kelak Ayah mengajarkan ilmu silat kepadanya. Dia berangkat dan aku ikut. Kami berdua menuju ke Bukit Kera dan... eh, Bibi Im-yang Sian-kouw ini yang memberi obat dan aku sempat... eh, berkelahi melawan Si Han Bu ini! Demikianlah, aku bukan hanya sahabat baik Ui Yan Bun, akan tetapi dia juga saudara seperguruanku karena dia menerima gemblengan ilmu silat dari Ayahku." Thian Hwa tampak senang mendengar cerita Kim Hui itu. Ia ikut merasa gembira mendengar bahwa Yan Bun telah memperdalam ilmu silatnya dan berada dalam keadaan baik.

Akhir-akhir ini ia memang seringkali terkenang kepada sahabat lamanya itu dan membayangkan semua kebaikannya, terutama karena pemuda itu telah mengaku cinta kepadanya, yang ketika itu ditolaknya.

Pada sore harinya, Pangeran Ciu Wan Kong dan isterinya, Im-yang Sian-kouw Cui Eng, meninggalkan tiga orang muda itu dan mereka bicara dengan lebih leluasa. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Wan Kim Hui.

"Enci Thian Hwa, aku sungguh merasa amat iba kepada Kakak Ui Yan Bun." Thian Hwa memandang heran. "Ah, mengapa, Kim Hui? Dia kenapakah, sampai engkau merasa iba kepadanya?"

"Dia itu telah menderita duka dan kecewa selama bertahun-tahun, Enci."

"Eh? Kenapa begitu?"

"Dia menderita patah hati. Dia mencinta seorang gadis, selama hidupnya baru sekali itu dia jatuh cinta, akan tetapi gadis itu menolak cintanya. Biarpun begitu, dia tetap mencintanya. Hanya seorang saja yang pernah dicintanya, masih dicintanya sampai sekarang, dan yang akan tetap dicintanya sampai dia meninggal kelak. Cintanya amat tulus, lahir batin, dan dia akan tetap setia sampai mati. Sungguh menyedihkan sekali. Aku selalu merasa heran mengapa ada gadis yang menolak cinta yang demikian tulus dari seorang pemuda gagah perkasa dan tampan, seorang pendekar budiman seperti Kakak Ui Yan Bun!" Wajah Thian Hwa berubah agak pucat. "Kim Hui, apakah dia bilang kepadamu, siapa gadis yang dicintanya itu?"

"Gadis itu adalah seorang pendekar wanita, dan sekarang hati Bun-ko semakin menderita karena dia putus asa, tidak ada harapan sedikit juga baginya untuk berjodoh dengan pendekar itu setelah dia mendengar bahwa pendekar wanita yang dicintanya itu adalah seorang gadis bangsawan tinggi, seorang puteri pangeran...."

"Kau...! Apa maksudmu...?" Thian Hwa berseru.

"Benar, Enci Thian Hwa. Gadis yang dicintanya sampai detik ini adalah Huang-ho Sian-li Ciu Thian Hwa, engkau sendiri."

"Kim Hui! Engkau tidak boleh membuka rahasia! Jadi dulu itu engkau mendengarkan percakapan kami?" Si Han Bu menegur dengan kaget sekali.

Kim Hui tersenyum. "Tentu saja, aku kan punya telinga?"

"Engkau mencuri dengar!"

"Huh, enak saja menuduh orang! Engkau dan Bun-ko bercakap-cakap ketika aku tidur, dan telingaku mendengar percakapan itu. Apakah telingaku salah? Engkau saja yang bodoh, mengira aku tidak dapat mendengar percakapan itu!" Kim Hui membantah.

"Sudahlah, tidak perlu dipersoalkan," kata Huang-ho Sian-li yang hatinya masih tergetar oleh cerita Kim Hui. Yan Bun demikian mencintanya sehingga sampai kini masih tetap mencintanya. Sebetulnya ia pun merasa suka dan kagum kepada Yan Bun. Kalau dulu ia tidak dapat menerima cintanya, karena ia telah lebih dulu jatuh cinta kepada pangeran brengsek Cu Kiong!

"Si Han Bu, benarkah Bun-ko berkata kepadamu seperti yang diceritakan Adik Kim Hui tadi?"

"Memang benar demikian, akan tetapi maafkan aku, harap jangan katakan kepada Saudara Ui Yan Bun. Dia pesan agar aku jangan bercerita kepada siapa pun juga karena rahasia hatinya itu hanya kepadaku seorang sajalah dia ceritakan.

Siapa kira Kim Hui ikut mendengarkan dan kini membuka rahasia itu langsung kepadamu."

"Tentu saja!" kata Kim Hui membela diri. "Aku kan juga perempuan? Sudah sepatutnya aku memberitahu Enci Thian Hwa bahwa Kakak Ui Yan Bun sampai sekarang masih mencintanya dan selamanya akan tetap mencintanya karena hanya ialah satu-satunya wanita di dunia ini yang dicintanya!"

"Akan tetapi Saudara Y an Bun akan marah dan menegurku kalau sampai dia tahu bahwa rahasianya disampaikan kepada Enci Thian Hwa!"

"Biar dia marah kepadaku!" bantah Kim Hui.

Melihat dua orang itu sudah siap bertengkar lagi, Huang-ho Sian-li tersenyum dan melerai lagi. "Sudahlah, dia tidak akan marah. Biar kelak aku yang menjelaskannya kalau dia marah kepada kalian."

"Ah, benar, Enci Thian Hwa? Engkau hendak menemuinya?" Kim Hui berseru girang sekali. "Aku senang sekali kalau engkau mau menemuinya! Kasihan sekali Bunko...!"

"Enci Thian Hwa, kalau engkau hendak menemuinya, sekarang dia pulang ke rumah ayahnya, katanya di Lembah Huang-ho...," kata pula Han Bu.

Thian Hwa mengangguk dan tersenyum. "Aku tahu tempat itu." Malam itu Thian Hwa sukar untuk dapat tidur nyenyak.

Bayangan Yan Bun selalu tampak di depan matanya. Makin dikenang, semakin iba rasa hatinya terhadap pemuda itu.

(Oo-dwkz-jTn-oO) Malam itu, Pangeran Ciu Wan Kong dan isterinya juga bercakap-cakap dengan serius.

"Isteriku, telah banyak engkau menceritakan kepadaku tentang diri Si Han Bu, muridmu yang kausayang sebagai anak sendiri itu. Sekarang setelah dia datang dan aku bertemu dengan dia, aku melihat kebenaran ceritamu. Dia seorang pemuda yang gagah dan tampan, juga wajahnya selalu cerah berseri. Selain itu, dia benar-benar gagah dan bertanggung jawab sehingga usahanya mendapatkan kembali Tek-pai berhasil baik. Aku suka sekali kepada pemuda itu!"

"Sukurlah, Pangeran. Memang dia itu seorang murid yang baik, patuh dan berbakti seperti anakku sendiri," kata Cui Eng.

"Karena itu timbul gagasan yang amat baik dalam pikiranku, Eng-moi. Alangkah baiknya kalau Si Han Bu itu menjadi jodoh anak kita Ciu Thian Hwa! Mereka serasi sekali, bukan? Yang pria gagah dan tampan, yang wanita cantik jelita dan keduanya sama-sama memiliki ilmu silat t inggi." Im-yang Sian-kouw terkejut karena gagasan suaminya itu begitu tiba-tiba dan sama sekali tidak terduga olehnya. "Si Han Bu menjadi mantu kita?"

"Ya, mengapa tidak, Isteriku? Bukankah engkau sudah mengenal betul wataknya yang baik sehingga kelak tidak akan mengecewakan kalau dia menjadi mantu kita?" Im-yang Sian-kouw mengerutkan alisnya, menganggukangguk membenarkan penilaian suaminya terhadap Han Bu, akan tetapi ia t iba-tiba menggelengkan kepalanya.

"Nanti dulu, Suamiku. Kita tidak boleh mengambil keputusan tergesa-gesa. Memang, kita berdua akan senang sekali kalau dapat memiliki mantu seperti Han Bu yang pasti tidak akan mengecewakan hati kita. Akan tetapi...."

"Akan tetapi, apa? Apakah Han Bu t idak akan mau menjadi suami anak kita?" Isterinya menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku yakin tidak. Han Bu belum pernah jatuh cinta kepada seorang gadis, dan aku yakin kalau kita mengusulkan perjodohan itu, dia tidak akan menolak. Apalagi agaknya dia juga kagum terhadap Thian Hwa. Ingat, ketika dia membela Thian Hwa, membebaskannya dari tahanan dan hampir saja tewas.

Kemudian, dia pun langsung membantu Thian Hwa, mengejar perempuan yang membawa Tek-pai dan berhasil mendapatkannya kembali. Aku yakin Han Bu akan senang kalau dapat menjadi suami Thian Hwa dan menjadi anak mantuku."

"Nah, kalau begitu, tunggu apa lagi?"

"Pangeran, biarpun belum lama aku berkumpul dengan anak kita Thian Hwa, agaknya aku sudah dapat mengenal wataknya. Engkau yang lebih lama berkumpul dengannya tentu juga mengenalnya. Aku melihat anak kita itu memiliki watak yang keras. Maka dalam urusan perjodohannya, kita harus berhati-hati dan tidak tergesa-gesa mengambil keputusan. Biarlah ia yang memutuskan, apakah ia mau atau tidak berjodoh dengan Han Bu. Kita tidak mungkin dapat memaksakan keinginan kita dalam urusan perjodohan kepada anak kita yang keras hati itu." Pangeran Ciu Wan Kong mengangguk-angguk. Dia baru teringat dan menyadari akan kebenaran ucapan isterinya itu.

Dia juga sudah tahu akan kekerasan hati puterinya.

Pada keesokan harinya, suami isteri yang sudah tidak sabar menanti lebih lama lagi itu mengingat bahwa usia Ciu Thian Hwa sudah mendekati dua puluh dua tahun, sudah lebih dari cukup dewasa untuk menikah, lalu memanggil Thian Hwa untuk diajak bicara di dalam kamar mereka sehingga orang lain tidak ada yang dapat melihat atau ikut mendengarkan.

Melihat ayah ibunya duduk berdampingan dan memberi isyarat agar ia duduk di depan mereka, Thian Hwa merasa heran sekali. Ia memandang kepada mereka dengan sinar mata bertanya sebelum duduk di depan mereka.

"Duduklah, Thian Hwa. Kami ingin membicarakan urusan yang amat penting denganmu," kata Im-yang Sian-kouw.

"Untuk sekarang ini, yang paling penting adalah penobatan Pangeran Kang Shi menjadi kaisar, Ibu. Dan hal itu baru akan dilaksanakan dua minggu lagi dan aku sudah siap untuk mengawal bersama keluarga Pangeran Bouw Hun Ki."

"Bukan itu, Thian Hwa," kata Pangeran Ciu Wan Kong.

"Memang tentu saja penobatan kaisar itu adalah urusan yang sangat penting, akan tetapi yang hendak kami bicarakan adalah urusan kepentingan pribadimu, dan kami juga."

"Aih, Ayah dan Ibu membuat hatiku berdebar saja. Urusan pribadi apakah yang Ayah dan Ibu maksudkan?"

"Begini, Thian Hwa. Ibu masih ingat bahwa engkau dulu terlahir pada Lak-gwe Cap-go (Bulan Enam Tanggal Lima Belas), berarti t iga bulan lagi engkau sudah berusia dua puluh dua tahun." Cui Eng berhenti dan memandang wajah puterinya.

Wajah itu menjadi kemerahan dan Thian Hwa segera berkata. "Ah, terus terang saja, Ibu! Ibu dan Ayah hendak membicarakan urusan perjodohan, bukan?" Pangeran Ciu Wan Kong tertawa. "Ha-ha, engkau memang anak pandai, cerdas dan jujur, dapat menduga sebelum kami bicara."

"Thian Hwa," kata Im-yang Sian-kouw Cui Eng. "Ibumu melahirkan engkau ketika berusia dua puluh tahun, menjadi isteri ayahmu ketika aku berusia sembilan belas tahun. Dan engkau sekarang sudah hampir dua puluh dua tahun, Anakku.

Sudah sepantasnya kalau kami, ayah dan ibumu, ingin engkau agar segera menikah." Hening sejenak dan pada saat itu, ingatan Thian Hwa melayang kembali kepada masa lalu. Selama tiga tahun ini ia sudah bertemu banyak pemuda dan banyak pula pendekarpendekar muda yang bijaksana dan baik, yang agaknya menaruh hati kepadanya. Namun, ia merasa belum ada yang ia terima dan sekali ia menerima cinta seorang pemuda, ternyata cinta pemuda itu, ialah Pangeran Cu Kiong, palsu adanya! Dan kembali ia terkenang kepada Ui Yan Bun.

"Ayah dan Ibu, saat ini aku belum memikirkan hal itu...."

"Kami tahu, Nak. Memang tidaklah mudah untuk memilih seorang suami yang benar-benar baik. Akan tetapi, ibumu ini mengenal seorang pemuda yang kiranya tepat sekali untuk menjadi calon suamimu. Aku mengenalnya dengan baik dan aku yakin dia akan dapat menjadi seorang suami yang sempurna bagimu." Thian Hwa mengangkat pandang matanya dan menatap wajah ibunya.

"Siapakah yang Ibu maksudkan?"

"Bukan lain adalah muridku sendiri, Si Han Bu. Dia sudah kuanggap sebagai anakku sendiri maka kini alangkah baiknya kalau dia menjadi mantuku. Akan tetapi, tentu saja kami ingin mendengar dulu pendapatmu, Thian Hwa. Keputusannya kami serahkan kepadamu, kami hanya mengusulkan karena kami yakin bahwa pilihan kami itu tidak keliru." Thian Hwa tersenyum geli. Si Han Bu, pemuda yang lucu dan agak berandalan itu? Memang pemuda yang baik dan gagah perkasa, juga sudah beberapa kali menolongnya.

"Ibu dan Ayah mudah saja menjodohkan orang. Apakah sudah bertanya kepada yang bersangkutan bahwa dia setuju dengan usul perjodohan itu?"

"Han Bu? Aku yakin dia setuju, Thian Hwa. Selain dia belum mempunyai pilihan, belum pernah dekat dengan seorang gadis, juga dia sudah memperlihatkan pembelaannya yang besar terhadap dirimu, itu saja sudah merupakan tanda bahwa dia cinta padamu." Thian Hwa tersenyum. "Sekali ini dugaan Ibu meleset.

Bukan, Ibu, bukan aku yang dicinta oleh Han Bu, melainkan Wan Kim Hui itulah!"

"Puteri Lam-ong (Raja Selatan) Wan Cun? Ah, aku melihat kedua orang muda itu sering berbantahan seperti akan bertengkar!" kata Im-yang Sian-kouw.

"Tampaknya memang begitu, Ibu. Akan tetapi di balik sikap keras mereka itu terdapat saling kagum dan saling mengasihi.

Aku dapat melihat pada pandang mata mereka dan menangkap getaran dalam suara mereka. Mereka itu saling mencinta, Ibu. Dan aku kira, karena Han Bu itu sejak kecil menjadi murid Ibu, dan dia sudah yatim piatu, boleh dibilang dia itu sebagai anak angkat Ibu. Karena itu, aku akan merasa ikut bahagia kalau Ibu melamarkan Kim Hui untuk menjadi isterinya!"

"Ah, benarkah itu, Thian Hwa? Kalau memang benar, hal itu mudah saja diatur dan kami kira Lam-ong tidak akan menolak kalau aku mengajukan pinangan."

"Tentu tidak, Ibu. Lam-ong Wan Cun dan isterinya tentu sudah mendengar nama besar Ibu, bahkan Ibu yang dulu memberi obat untuk menyembuhkan Nyonya Wan Cun. Dan akulah yang akan mewakili Ayah dan Ibu untuk mengantarkan surat lamaran ke Bukit Siluman di Lam-hu."

"Ah, kalau begitu baik sekali!" kata Pangeran Ciu Wan Kong. "Akan tetapi engkau baru boleh pergi setelah upacara penobatan Kaisar dilaksanakan dengan baik dan selamat!"

"Tentu saja, Ayah."

"Tapi aku tetap tidak berani mengirim surat lamaran kalau aku belum mendengar bahwa Kim Hui maupun Han Bu setuju untuk saling berjodoh. Coba panggil mereka sekarang juga, Thian Hwa!" Thian Hwa lari dengan gembira mencari Han Bu dan Kim Hui yang kemudian ia temukan sedang duduk di taman gedung itu. Mereka duduk di bangunan kecil berada di tengah taman, duduk menghadapi kolam ikan.

"Aih, asyiknya!" Tiba-tiba Thian Hwa berkata sambil tersenyum.

Sepasang orang muda itu menoleh dan mereka segera bangkit berdiri. Maklum akan maksud seruan itu, keduanya tersenyum malu dan muka mereka berubah kemerahan.

"Ah, Enci Thian Hwa! Mari duduk bersama kami, Enci.

Sungguh lucu sekali melihat ikan-ikan emas itu berenang berkejaran, terutama yang gendut itu, kalau berenang berlenggang-lenggok seperti menari!" kata Kim Hui dan ia pun tertawa.

"Nanti saja, sekarang yang terpenting, kalian berdua dipanggil ayah dan ibuku! Hayo, kita pergi ke sana!" Kim Hui dan Han Bu tentu saja merasa heran, akan tetapi mereka tidak berani menolak, lalu pergilah mereka bertiga ke ruangan dalam di mana Pangeran Ciu Wan Kong dan Im-yang Sian-kouw telah menanti.

"Paman Pangeran dan Bibi, ada keperluan apakah memanggil saya dan Han Bu?" Kim Hui langsung bertanya.

Han Bu diam saja, hanya mengambil tempat duduk ketika gurunya memberi isyarat agar mereka duduk. Tiga orang muda itu mengambil tempat duduk di depan suami isteri itu.

"Han Bu dan Kim Hui, kami telah merundingkan masalah yang akan kami bicarakan dengan kalian berdua. Karena kami tahu benar bahwa kalian berdua adalah orang-orang muda yang terbuka dan jujur, juga berani menghadapi apa pun, maka kami akan bicara secara terbuka dan mengharapkan agar kalian berdua juga menjawab sejujurnya, tanpa sungkan dan malu. Nah, aku akan mulai denganmu, Han Bu. Engkau tahu bahwa aku bukan saja menjadi gurumu, akan tetapi juga sebagai pengganti orang tuamu, maka aku harus memenuhi tugasku sebagai orang tua. Engkau sudah cukup dewasa dan aku ingin melihat engkau berumah tangga dan hidup bahagia.

Ketika aku bertemu dengan Wan Kim Hui, aku merasa yakin bahwa aku telah menemukan seorang calon mantu yang baik.

Nah, aku tidak akan memperpanjang kata akan tetapi jawablah sejujurnya, Han Bu. Aku ingin menjodohkan engkau dengan Wan Kim Hui. Bagaimana, apakah engkau setuju?" Wajah Han Bu tiba-tiba menjadi merah sekali, dan dia t idak dapat mengeluarkan suara. Dia menjadi salah tingkah. Belum pernah selama hidupnya dia mendapat "serangan" tiba-tiba seperti ini, yang membuat dia tidak mampu bicara atau berbuat sesuatu, melainkan menatap wajah gurunya seperti orang kehilangan akal!

"Hayo, Han Bu!" kata Thian Hwa, "Engkau bukan anak kecil lagi, bersikaplah jantan dan jawab pertanyaan Ibu dengan gagah dan sejujurnya!" Han Bu menarik napas panjang berulang-ulang untuk menenangkan hatinya yang tegang dan pikirannya yang bingung. Akhirnya dia dapat menjawab, "Subo (Ibu Guru), bagaimana mungkin teecu (murid) berumah tangga kalau keadaan teecu masih seperti ini? Teecu tidak memiliki pekerjaan, tidak memiliki penghasilan, tiada memiliki tempat tinggal? Bagaimana mungkin teecu berani...?"

"Ha-ha, Han Bu!" kata Pangeran Ciu Wan Kong. "Engkau memandang ringan kepada kami! Bukankah gurumu tadi sudah mengatakan bahwa engkau adalah murid dan juga sebagai anak kami sendiri? Mengapa mengkhawatirkan tentang keadaanmu? Rumah kami juga rumah anak-anak kami, atau kalau engkau ingin memiliki rumah sendiri untuk membentuk keluarga, tentu kami dapat menyediakannya untukmu. Juga tentang pekerjaan. Mudah saja bagiku untuk mencarikan pekerjaan yang cocok untukmu."

"Nah, sekali lagi aku bertanya, Han Bu. Apakah engkau setuju kalau engkau kujodohkan dengan Wan Kim Hui? Jawablah sejujurnya!" kata Im-yang Sian-kouw.

Han Bu melirik ke arah Kim Hui yang duduk di sampingnya.

Dia melihat gadis itu menundukkan mukanya yang kemerahan, menunduk sampai dagunya menempel pada lehernya dan dia merasa kasihan. Dia dapat membayangkan betapa besar rasa malu dirasakan gadis itu menghadapi pembicaraan terbuka tentang perjodohannya seperti itu! Han Bu mengeraskan hatinya agar berani menjawab dan dia lalu berkata.

"Subo, teecu akan berbohong kalau teecu mengatakan tidak setuju. Akan tetapi sebaiknya diketahui lebih dulu pendapat Kim Hui. Kalau ia setuju, maka tentu saja teecu juga setuju sekali!"

"Bagus!" kata Im-yang Sian-kouw gembira. "Ini berarti masalah ini sudah disetujui setengahnya, tinggal setengah lagi. Nah, Kim Hui, engkau tentu sudah mendengar semua pembicaraan tadi dan sudah mengerti maksudnya. Sekarang kami ingin sekali mendengar jawabanmu. Apakah engkau setuju kalau menjadi calon isteri Si Han Bu?" Wan Kim Hui adalah seorang gadis yang sejak kecil pemberani, galak, tinggi hati, bengal dan bahkan agak liar.

Akan tetapi sekali ini, biarpun sejak tadi ia sudah mendengarkan dan tahu apa yang akan ia hadapi, ketika ditanya begitu, ia pun semakin menunduk sampai punggungnya agak membungkuk. Terdengar suaranya lirih.

"Aku... aku... ah, aku tidak tahu...." Thian Hwa memberi isyarat kepada ibunya dengan kedipan matanya, lalu ia menggeser kursinya mendekati Kim Hui dan merangkul pundaknya.

"Kim Hui, engkau juga seorang gadis dewasa dan engkau biasanya tabah dan berani menghadapi apapun juga. Ke mana perginya keberanianmu? Kalau engkau setuju, katakan saja setuju, kalau engkau tidak setuju, jangan sungkan dan takut, katakan saja tidak setuju. Hayo, jawablah pertanyaan Ibuku tadi." Kim Hui mengangkat mukanya, akan tetapi tidak memandang siapa pun kecuali wajah Thian Hwa yang berada dekat dengannya.

"Enci Thian Hwa, aku masih mempunyai ayah dan ibu, bagaimana aku dapat memutuskannya sendiri? Urusan perjodohanku, tentu saja aku serahkan kepada ayah dan ibuku."

"Aih, kukira hatimu tidak bicara begitu, Kim Hui. Benarkah itu bahwa jika ayah ibumu setuju, engkau pun akan setuju?"

"Tentu saja!" jawab Kim Hui tegas.

"Hemm, bagaimana seandainya ayah ibumu menyetujui engkau berjodoh dengan Wu Kan putera Jenderal Wu Sam Kwi itu...?"

"Tidak sudi! Sampai mati pun aku tidak akan sudi!" jawab Kim Hui tegas.

"Nah-nah, jelas bukan ayah ibumu yang memutuskan melainkan engkau sendiri. Nah, sekarang jawablah, kalau nanti Ibu melakukan pinangan kepada orang tuamu untuk menjodohkan engkau dengan Han Bu dan orang tuamu setuju, apakah engkau juga setuju?" Dengan muka merah dan senyum malu-malu Kim Hui mengangguk, lalu menundukkan kepalanya lagi.

"Eh, mana jawabanmu, Kim Hui? Apakah kau setuju?" Kembali Kim Hui mengangguk dan tersenyum malu sambil menundukkan kepala.

"Ih, mengangguk itu bukan jawaban. Jawab yang jelas, Kim Hui. Engkau setuju atau tidak?"

"Aku setuju!" kini jawaban itu terdengar nyaring sehingga Pangeran Ciu Wan Kong dan Im-yang Sian-kouw tersenyum girang.

"Bagus! Kalau begitu, kami akan segera menulis lamaran yang akan diantar oleh Thian Hwa ke Bukit Siluman di Lamhu! Kapan engkau akan berangkat, Thian Hwa?"

"Setelah upacara penobatan Kaisar, Ibu."

"Baik, dan bagaimana dengan engkau, Kim Hui? Apakah engkau akan pulang bersama Thian Hwa?" tanya Im-yang Sian-kouw kepada gadis itu.

Kim Hui dengan sikap masih canggung dan malu-malu melirik ke arah Han Bu dan berkata, "Sebetulnya saya... saya masih ingin melihat-lihat dahulu, Bibi. Saya berpamit kepada Ayah Ibu saya untuk merantau dan diberi waktu sampai dua tahun."

"Subo, teecu telah berjanji kepada Saudara Ui Yan Bun untuk menemani dan melindungi Kim Hui, maka saya akan mengantarkan dan menemaninya sampai ia kembali di rumah orang tuanya."

"Baik sekali kalau begitu. Memang engkau harus bertanggung jawab," kata Im-yang Sian-kouw.

Setelah percakapan yang menegangkan hati Han Bu dan Kim Hui itu berakhir, mereka kembali ke dalam kamar masingmasing. Han Bu tidak dapat segera pulas karena hatinya masih berdebar. Dia merasa berbahagia sekali karena sesungguhnya sejak pertemuan pertama dengan Wan Kim Hui, dia sudah jatuh cinta. Akan tetapi ada perasaan was-was dalam hatinya. Bagaimana kalau orang tua Kim Hui menolaknya? Ah, tidak mungkin, dia menghibur kekhawatirannya. Mereka tentu melihat subo, apalagi bukankah ibu dari Kim Hui telah diselamatkan nyawanya oleh gurunya? Kim Hui juga tidak dapat segera tidur. Selama hidupnya ia belum pernah jatuh cinta kepada pria. Pernah ia merasa tertarik kepada Ui Yan Bun, akan tetapi karena sikap pemuda itu terhadap dirinya seperti seorang kakak, maka akhirnya rasa sukanya bukan berkembang menjadi cinta seorang wanita terhadap seorang pria, melainkan cinta seorang adik terhadap kakaknya. Dan ia pun harus mengakui bahwa ia tertarik sekali kepada Han Bu, bahkan merasa suka walaupun rasa sukanya itu dipendam di balik sikapnya yang keras dan ini hanya merupakan bentuk kemanjaan. Begitu mendengar bahwa pemuda ini mencintanya, ia pun diam-diam merasa bahagia sekali.

Thian Hwa sendiri juga sukar memejamkan mata. Ia memang merasa lega dan ikut berbahagia bahwa Han Bu dan Kim Hui agaknya memang saling mencinta, walaupun tersembunyi. Akan tetapi kini ia merasa rindu sekali kepada Yan Bun. Belum pernah ia merindukan Yan Bun seperti sekarang ini. Setelah semua yang dialaminya, sekarang baru ia menyadari bahwa pemuda kawan lama itulah yang paling menarik dan tidak pernah dapat dilupakannya. Apalagi ketika ia mendengar dari Kim Hui bahwa sampai sekarang Yan Bun masih menantinya, mencintanya dan tidak pernah mencinta gadis lain. Akhirnya lewat tengah malam, ia dapat tidur dengan nama Yan Bun di bibirnya.

Pangeran Ciu Wan Kong dan isterinya, Im-yang Sian-kouw Cui Eng, juga sampai malam belum tidur. Suami isteri ini, terutama Im-yang Sian-kouw, memang merasa senang bahwa muridnya yang ia anggap seperti anak sendiri itu akhirnya mendapatkan seorang jodoh. Akan tetapi suami isteri ini juga prihatin memikirkan puteri mereka, Ciu Thian Hwa! Mereka tidak mungkin memilihkan jodoh untuk puteri mereka itu.

Mereka sudah mengenal watak puteri mereka yang dalam perjodohan sudah past i t idak mau dijodohkan dengan laki-laki yang tidak menjadi pilihan hatinya sendiri. Dan yang menyedihkan hati mereka, sampai sekarang mereka belum melihat atau mendengar adanya pria yang menjadi pilihan hati Huang-ho Sian-li Ciu Thian Hwa.

Karena merasa tidak berdaya menghadapi urusan perjodohan puteri mereka, akhirnya Pangeran Ciu Wan Kong berkata kepada isterinya.

"Mari kita serahkan saja masalah anak kita ini kepada Thian Yang Maha Kuasa. Sebaiknya setiap tengah malam kita bersembahyang, mohon kepada Thian Yang Maha Kuasa agar anak kita itu segera menemukan jodohnya." Suami isteri itu lalu keluar dari kamar, menuju ke kebun atau taman belakang dan pada tengah malam itu, mereka berdua menyalakan hioswa (dupa biting) dan bersembahyang kepada Tuhan.

(Oo-dwkz-jTn-oO) Upacara penobatan kaisar baru, yaitu Pangeran Kang Shi yang baru berusia sekitar sebelas tahun itu berlangsung dengan khidmat dan meriah, dan berlangsung dengan lancar dan tanpa ada gangguan. Setelah dinobatkan sebagai kaisar berjuluk Ka isar Kang Shi, mula-mula kaisar kecil ini didampingi dan dibantu oleh Pangeran Bouw Hun Ki, pamannya yang juga dapat dianggap sebagai gurunya.

Tiga hari setelah penobatan kaisar, pada suatu pagi Han Bu dan Kim Hui berpamit meninggalkan rumah Pangeran Ciu Wan Kong. Mereka bermaksud untuk kembali ke rumah orang tua Wan Kim Hui di dekat kota Lam-hu, akan tetapi dengan mengambil jalan memutar karena Kim Hui ingin merantau dulu menambah pengalamannya sebelum pulang ke rumah orang tuanya.

Ketika kaisar baru dinobatkan, di antara mereka yang diundang, termasuk para pendekar muda yang berjasa membantu pemerintah menentang pemberontak. Maka ketika itu Han Bu dan Kim Hui juga diajak oleh Huang-ho Sian-li Ciu Thian Hwa menjadi tamu kehormatan. Dalam kesempatan ini mereka berkenalan dengan keluarga Pangeran Bouw dan segera menjadi akrab dengan Bouw Kun Liong, Bouw Hwi Siang, Bu Kong Liang, dan Gui Siang In. Dalam kesempatan itu Thian Hwa juga mendengar berita menggembirakan bahwa Bu Kong Liang telah dipertunangkan dengan Bouw Hwi Siang, adapun Bouw Kun Liong dipertunangkan dengan Gui Siang In! Setelah Han Bu dan Kim Hui pergi, Thian Hwa juga berpamit kepada ayah ibunya untuk menyampaikan surat lamaran Im-yang Sian-kouw kepada keluarga Wan Cun, datuk selatan yang berjuluk Lam-ong (Raja Selatan) itu. Akan tetapi gadis ini tidak menceritakan kepada ayah ibunya bahwa sebelum pergi ke Bukit Siluman dekat kota Lam-hu tempat tinggal keluarga Wan, ia akan mencari Ui Yan Bun di Lembah Sungai Huang-ho.

Pada suatu senja tampak seorang gadis cantik meluncur di atas permukaan air Huang-ho (Sungai Kuning) yang di bagian itu airnya mengalir tenang. Gadis itu meluncur cepat seperti terbang atau terapung di atas air. Senja itu di tepi sungai sudah mulai sepi. Akan tetapi ada beberapa orang melihat gadis itu dan mereka memandang dengan muka pucat. Lima orang nelayan ini percaya sepenuhnya akan adanya dewadewa dan dewi-dewi penunggu sungai. Maka ketika melihat ada seorang gadis cantik "berjalan" di atas air dengan cepatnya, mereka segera berseru ketakutan.

"Huang-ho Sian-li (Dewi Sungai Kuning)...!" berulang-ulang mereka berseru lalu menjatuhkan diri berlutut ke arah sungai! Orang-orang itu tentu salah menduga, akan tetapi tidak salah menyebut. Biarpun gadis itu bukan dewi, melainkan seorang manusia biasa, ia adalah Ciu Thian Hwa yang berjuluk Dewi Sungai Kuning!

Huang-ho Sian-li Ciu Thian Hwa menggunakan papan peluncur untuk meluncur dengan cepat di permukaan air sungai, menggunakan sin-kang (tenaga sakti) di kedua kakinya, mengenjot dan mendorong sehingga papan itu meluncur dengan cepat sekali menuju ke tempat tinggal Ui Houw, ayah Ui Yan Bun. Hatinya merasa gelisah, harap-harap cemas. Bagaimana kalau Yan Bun tidak berada di sana? Ia merasa pikirannya semakin gelap, seperti gelapnya cuaca yang menjelang malam. Akan tetapi tiba-tiba ia melihat bulan muncul, besar dan gemilang, seolah memberi cahaya harapan kepadanya. Kegelapan pikirannya menghilang dan dengan senyum di bibirnya ia mempercepat luncurannya ke depan, seolah menyongsong bulan, menyongsong kebahagiaan setelah selama ini mengalami banyak kepahitan dalam hidupnya.

Sampai di sini pengarang mengakhiri kisahnya dengan harapan semoga ada manfaatnya dan dapat menghibur hati para pembaca!

T A M A T
Lereng Lawu, medio Mei 1993.

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

11 Kemelut Kerajaan Mancu

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

Di dalam ruangan itu, mereka melihat seorang pemuda yang bukan lain adalah Si Han Bu, bergerak-gerak lincah, mengelak dan menangkisi puluhan batang anak panah yang menyambar dari depan. Masih untung baginya bahwa di belakangnya adalah dinding sehingga para prajurit itu tidak dapat mengepung dan menyerangnya dari belakang atau samping, hanya dari depan. Ternyata tiga puluh orang prajurit yang ditinggalkan Pangeran Cu Kiong untuk menjaga tawanan itu semakin gelisah mendengar berita bahwa pasukan pendukung Pangeran Cu Kiong tampaknya terdesak. Maka, karena mereka ingin sekali segera pergi dari situ, baik untuk membantu perang ataupun untuk lari menyelamatkan diri, mereka serentak mengambil keputusan untuk membunuh tawanan dengan menyerang dengan anak panah dari luar ruangan tahanan! Betapa pun lihainya Si Han Bu, dihujani anak panah oleh tiga puluh orang prajurit tanpa dia memegang senjata untuk melindungi dirinya, sungguh merupakan hal yang merepotkannya. Sudah ada dua batang anak panah yang melukai pundak dan pahanya. Walaupun dua batang anak panah itu tidak menembus pundak dan paha, namun tetap saja dua bagian tubuhnya itu lecet-lecet dan berdarah. Han Bu lalu melompat dan mengangkat dipan yang menjadi tempat tidurnya, dan setelah dia menggunakan dipan untuk melindungi diri dari keroyokan anak panah, keadaannya agak membaik. Dia tidak repot sekali, namun tetap saja dia sama sekali t idak mampu membalas.

Tiba-tiba terdengar bentakan suara wanita. "Pertahankan, Han Bu!"

"Subo...!" Han Bu girang sekali mendengar suara gurunya dan dia menjadi lebih gembira melihat Huang-ho Sian-li juga datang bersama subonya. Tentu saja Han Bu sudah tahu, bahkan sudah merasa yakin bahwa Im-yang Sian-kouw sesungguhnya dulu bernama Cui Eng, puteri dari Cui Sam atau ibu kandung dari Huang-ho Sian-li Ciu Thian Hwa! Dua orang wanita itu lalu mengamuk. Begitu mereka melayang turun dari atas genteng, tubuh mereka berkelebatan bagaikan dua ekor burung rajawali menyambar-nyambar dan para prajurit itu berpelantingan roboh! Dalam waktu sebentar saja, dua belas orang prajurit sudah roboh dan tak dapat bangun lagi. Yang lainnya menjadi panik dan ketakutan.

Mereka tanpa dapat dikomando lagi lalu melarikan diri meninggalkan bangunan tempat tahanan, bahkan terus melarikan diri keluar dari istana Pangeran Cu Kiong.

Im-yang Sian-kouw cepat membuka pintu kamar tahanan dan Han Bu keluar sambil tersenyum.

"Wah, untung Subo dan Huang-ho Sian-li datang menolong. Kalau tidak tentu aku akan mati!"

"Bagaimana luka di pundak dan pahamu?" Im-yang Siankouw memandang ke arah baju bagian pundak dan celana di paha yang robek dan berdarah.

"Tidak apa-apa, Subo, hanya lecet sedikit."

"Bibi dan Si Han Bu, mari kita cari senjata kita yang dirampas, lalu cepat kembali ke istana membantu pasukan yang bertahan terhadap serbuan para pemberontak!" Mendengar ucapan Huang-ho Sian-li, guru dan murid itu mengangguk dan mereka cepat mencari pedang Kwan-imkiam dan kantung Pek-hwa-ciam milik Thian Hwa yang dirampas, juga pedang Im-yang-kiam dan kipas Im-yang-po- san milik Si Han Bu. Mereka tidak mempedulikan keluarga dan para pelayan Pangeran Cu Kiong yang ketakutan dan setelah mencari di kamar Pangeran Cu Kiong, gadis dan pemuda itu menemukan senjata mereka. Dengan girang mereka lalu membawa senjata mereka dan bersama Im-yang Sian-kouw cepat kembali ke tempat pertempuran yang masih berlangsung. Mereka tidak sempat untuk bicara karena pertempuran masih berlangsung dan Huang-ho Sian-li mendesak guru dan murid itu untuk bergegas ke istana dan membantu pasukan kerajaan.

Pertempuran masih berlangsung ramai walaupun pasukan pemberontak terus terdesak mundur. Juga terjadi perubahan besar dalam pertempuran antara jagoan-jagoan pendukung pemberontak melawan para pembela kerajaan. Setelah pihak pemberontak ditinggalkan jagoan yang paling sakti, yaitu Ngobeng Kui-ong, maka banyak di antara teman-temannya yang menjadi jerih. Ang-mo Niocu Yi Hong yang cerdik dan licik itu merasa gentar setelah melihat Ngo-beng Kui-ong melarikan diri sambil menculik Pangeran Bouw Hun Ki. Ia melihat betapa gurunya, Lam-hai Cin-jin, juga hanya mampu mendesak Thian Hwa akan tetapi lalu muncul seorang wanita setengah tua cantik yang amat lihai yang membuat gurunya lari terbirit-birit! Lam-hai Cin-jin dan Ngo-beng Kui-ong sudah melarikan diri, tidak ada harapan lagi untuk menang! Ang-mo Niocu yang cerdik berpikir. Biarpun pemberontakan itu gagal, setidaknya ada keuntungannya bagi Jenderal Wu Sam Kwi, pertama karena pemberontakan itu melemahkan Kerajaan Mancu.

Kedua kalinya, ia telah memiliki Tek-pai dari Kaisar Shun Chi dan ia percaya Tek-pai ini amat berguna bagi pemimpinnya.

Kalau ia serahkan Tek-pai itu kepada Jenderal Wu Sam Kwi, tentu ia mendapatkan pahala besar! Maka, untuk apa membahayakan dan mengorbankan nyawanya hanya untuk membela Pangeran Cu Kiong yang bagaimanapun hanya seorang pangeran penjajah Mancu? Maka, sambil berteriak melengking ia menusukkan payung pedangnya dan ketika ditangkis, mendadak dari ujung payung pedang itu meluncur Ang-tok-ciam (Jarum Racun Merah) sebanyak tujuh batang menyerang ke arah Bu Kong Liang yang menjadi lawannya! Murid Siauw-lim-pai yang tangguh itu cepat memutar siangkek (sepasang tombak pendek bercabang) sambil melompat tinggi ke atas lalu berjungkir balik ke belakang sehingga sebagian jarum-jarum merah itu tertangkis dan sebagian lagi dapat dielakkannya. Ketika dia turun kembali, Ang-mo Niocu sudah tidak berada di depannya. Wanita ini merasa ketakutan ketika ia melihat Huang-ho Sian-li dan Im-yang Sian-kouw yang tadi membuat gurunya lari terbirit-birit sudah datang lagi di tempat itu. Maka ia cepat menyelinap di antara para prajurit dan menghilang! Thio Kwan yang bertanding melawan Bouw Hwi Siang, dapat mengimbangi gadis itu, bahkan tampak lebih kuat.

Demikian pula Y u Kok Lun dapat mendesak Gui Siang In. Akan tetapi Bu Kong Liang yang ditinggal lari Ang-mo Niocu segera membantu dua orang gadis itu sehingga Thio Kwan dan Yu Kok Lun terkejut dan terdesak terus. Tak lama kemudian, kedua orang dari Kam-keng Chit-sian (Tujuh Dewa Kam-keng) yang mengabdi kepada Pangeran Cu Kiong itu, tewas pula.

Kam-keng Chit-sian kini habis, tinggal seorang saja, yaitu Ciang Sun, akan tetapi sudah lama dia meninggalkan Pangeran Cu Kiong.

Bouw Hwi Siang, Gui Siang In, dan Bu Kong Liang kini membantu Bouw Kun Liong yang masih bertanding ramai melawan Mong Lai. Orang Mongol ini memang tangguh sekali.

Selain bertenaga gajah, ilmu silat campur ilmu gulatnya juga berbahaya, ditambah lagi dia menguasai ilmu sihir sehingga tadi dia sempat membuat Bouw Kun Liong kewalahan. Akan tetapi setelah tiga orang itu maju mengeroyok, Mong Lai menjadi repot dan akhirnya dia pun roboh dan tewas.

Melihat Pangeran Cu Kiong masih saja berteriak-teriak memberi semangat kepada pasukannya tanpa melihat kenyataan bahwa tiga orang jagoannya, Thio Kwan, Yu Kok Lun, dan Mong Lai telah tewas, sedangkan mereka yang dia andalkan, Ngo-beng Kui-ong, Lam-hai Cin-jin, dan Ang-mo Niocu juga sudah melarikan diri meninggalkan pertempuran, Si Han Bu melompat dengan sigapnya dan sekali tangannya menampar, Pangeran Cu Kiong tidak mampu menghindarkan diri dan dia tertampar roboh. Dia mencoba untuk bangkit, akan tetapi Han Bu sudah menggerakkan pedangnya.

"Si Han Bu, jangan bunuh dia!" terdengar Huang-ho Sian-li berseru dari belakang dan ia pun menolak lengan kanan Han Bu sehingga pedang yang sudah ditodongkan itu menjauh dari leher Pangeran Cu Kiong!

"Ha-ha-ha!" Pangeran Cu Kiong tersenyum getir. "Huangho Sian-li, apakah engkau masih ada perasaan cinta kepadaku sehingga tidak tega melihat aku terbunuh?" Mendengar ini, Thian Hwa merasa sedih juga karena harus ia akui bahwa Pangeran Cu Kiong adalah cinta pertamanya! Walaupun kini ia tidak mempunyai perasaan cinta kepada pangeran yang licik, kejam dan berkhianat itu, namun tetap saja kemesraan dalam hatinya yang dulu masih membekas.

"Pangeran Cu Kiong, dosamu sudah bertumpuk dan sebetulnya sudah sepatutnya kalau engkau dibunuh. Akan tetapi aku mau menukar jiwamu dengan Tek-pai milikku pemberian Kaisar. Kembalikan Tek-pai padaku dan aku tidak akan membunuhmu!" Tiba-tiba Pangeran Cu Kiong tertawa bergelak. "Ha-ha-haha, jangan harap mendapatkan Tek-pai itu, Huang-ho Sian-li! Tek-pai itu telah dibawa pergi Ang-mo Niocu Yi Hong untuk diserahkan kepada Jenderal Wu Sam Kwi!"

"Aku akan mengejar dan mengambilnya kembali!" Tiba-tiba Si Han Bu berkata dan tubuhnya berkelebat, pergi dari situ.

"Si Han Bu...!" Huang-ho Sian-li melarang, akan tetapi Imyang Sian-kouw tersenyum.

"Biarkan saja, anak itu sukar dihalangi kalau sudah mempunyai kehendak. Dia dapat menjaga diri dan aku hampir yakin dia akan mampu mengambil Tek-pai itu kembali."

jilid XIII

THIAN HWA lalu bergerak cepat, menotok jalan darah di tubuh Pangeran Cu Kiong sehingga tidak mampu bergerak lagi. Kemudian, tiba-tiba ia memanggul tubuh pangeran itu dan membawanya melompat ke atas. Setelah tiba di puncak menara, di bawah sinar matahari yang telah naik tinggi, ia berseru dengan pengerahan khi-kang sehingga suaranya terdengar nyaring dan menggema ke seluruh penjuru.

"Para pasukan pemberontak, dengar dan lihatlah! Pangeran pemberontak Cu Kiong yang berkhianat terhadap kerajaan telah kami tawan. Juga semua kaki tangannya telah ditumpas, banyak yang mati dan sebagian melarikan diri. Kalau kalian, yang masih prajurit pasukan kerajaan, membuang senjata, berlutut dan menyerah, masih bisa diharapkan pengampunan bagi kalian. Kalau nekat bertempur tanpa pimpinan lagi, kalian semua pasti binasa!" Tadinya para prajurit pemberontak ragu-ragu, akan tetapi begitu ada seorang prajurit yang membuang senjata dan berlutut, hal itu seperti merupakan komando dan akhirnya mereka semua berlutut dan membuang senjata mereka.

Berakhirlah perang saudara itu dan pemberontakan Pangeran Cu Kiong itu gagal sama sekali! Para prajurit yang ikut memberontak dan kini menyerahkan diri mendapat pekerjaan berat, yaitu mengurus ratusan mayat yang menjadi korban pertempuran dan merawat lebih banyak lagi mereka yang luka-luka. Juga mereka diharuskan melakukan pembersihan di bekas tempat pertempuran yang dinodai darah. Rakyat penduduk kota raja yang tadinya banyak melarikan diri mengungsi, perlahan-lahan kembali ke rumah masing-masing.

(Oo-dwkz-jTn-oO) Kini baru Im-yang Sian-kouw sempat berhadapan dengan Huang-ho Sian-li. Setelah membiarkan Si Han Bu pergi mencari Tek-pai dan Huang-ho Sian-li membawa Pangeran Cu Kiong naik ke menara dan gadis perkasa itu berhasil mengakhiri perang dan membuat semua prajurit pemberontak menyerahkan diri, Im-yang Sian-kouw memandang gadis itu dengan sinar mata penuh kagum. Pangeran Cu Kiong telah diserahkan kepada panglima untuk ditahan dalam penjara.

"Nona, ketika mula-mula tiba di kota raja dan mendengar akan nama besar Huang-ho Sian-li, aku masih belum percaya bahwa ada seorang gadis yang masih muda seperti engkau ini selain memiliki ilmu kepandaian yang lihai sekali, juga dapat bersikap tegas dan bijaksana seperti seorang panglima perang! Nona, siapakah gurumu?"

"Guruku bernama Thian Bong Sianjin, Bibi. Akan tetapi, Bibi Im-yang Sian-kouw, ilmu kepandaianmu lebih hebat lagi, bahkan kalau tidak ada muridmu Si Han Bu yang menolongku keluar dari tahanan, mungkin sekarang aku sudah mati."

"Aih, hal itu tidak perlu dibicarakan lagi, Nona. Sudah semestinya orang-orang segolongan dan sehaluan saling membantu tanpa pamrih. Eh, apa artinya ucapan Pangeran Cu Kiong itu? Benarkah bahwa engkau... mencintanya? Maafkan pertanyaanku ini karena sungguh aku merasa bingung mendengarnya. Apakah hubunganmu dengan pangeran pemberontak itu?" Huang-ho Sian-li tersenyum menghela napas panjang.

"Sebetulnya kami masih merupakan saudara sepupu, Bibi. Dia itu putera Pamanda Kaisar Shun Chi, sedangkan aku adalah puteri seorang pangeran...."

"Wah! Kiranya engkau ini puteri pangeran? Ah, pantas kalau begitu. Siapakah ayahmu, kalau aku boleh mengetahui?" Dalam suara Im-yang Sian-kouw terdengar getaran aneh dan sinar matanya kini dengan tajam penuh selidik menatap wajah Thian Hwa.

"Ayahku bernama Ciu Wan Kong, seorang adik Kaisar Shun Chi.... eh, kenapa Bibi...?" Thian Hwa hampir saja meloncat untuk menangkap tubuh Im-yang Sian-kouw yang tiba-tiba terhuyung dan wajahnya tampak pucat sekali.

Siapa yang akan dapat bertahan mendengar pengakuan seorang gadis cantik jelita dan gagah bahwa gadis itu adalah puteri suaminya? Akan tetapi Im-yang Sian-kouw adalah seorang wanita gemblengan yang sudah banyak mengalami hal-hal yang amat hebat sehingga batinnya sudah menjadi kuat. Ia tersenyum, memandang Thian Hwa dan menggelengkan kepalanya dengan lembut.

"Tidak apa-apa... tidak apa-apa... engkau... eh, siapakah namamu, anak yang baik?"

"Namaku Ciu Thian Hwa, Bibi." Im-yang Sian-kouw terdiam sejenak. Ia sengaja tidak mengeluarkan suara lagi karena jantungnya berdebar kencang dan ia tahu bahwa sekuat-kuat hatinya, pada saat itu tetap saja suaranya akan terdengar gemetar penuh perasaan haru dan sangsi. Ya, ia masih sangsi bahkan tidak percaya akan dugaannya yang muncul bahwa gadis ini adalah puterinya! Tidak, tidak mungkin! Past i anak ini merupakan keturunan lain dari Pangeran Ciu Wan Kong, atau tentu ada keterangan lain.

Tidak mungkin sama sekali gadis ini adalah anaknya yang ketika masih bayi bersama ia dan ayahnya hanyut terbawa arus air Sungai Kuning yang demikian dahsyatnya.

"Engkau kenapa, Bibi?" kembali Thian Hwa bertanya melihat wanita itu kini diam saja termenung.

"Thian Hwa, maukah engkau memperkenalkan aku dengan keluargamu?" tanyanya lirih.

"Tentu saja, Bibi! Murid Bibi itu pun sudah bertemu dengan ayahku. Mari, Bibi, kita pergi ke rumah Ayah, akan tetapi maklum, aku tadi mendengar kabar bahwa rumah Ayah dirampok dan dibakar oleh gerombolan pemberontak. Ayah sudah mendahului ke sana untuk memeriksa dan membereskannya." Im-yang Sian-kouw tidak banyak bicara lagi dan kedua kakinya bergerak cepat, bagaikan melayang ia meninggalkan tempat itu. Thian Hwa cepat mengejarnya dan gadis ini sampai lupa dan tidak memperhatikan bahwa wanita cantik itu langsung menuju ke arah rumah ayahnya! Tentu saja hal ini tidak aneh karena Im-yang Sian-kouw yang dulu bernama Cui Eng itu sudah hafal akan letak rumah Pangeran Ciu Wan Kong yang juga menjadi tempat tinggalnya! Setelah tiba di depan gedung tempat tinggal Pangeran Ciu Wan Kong, Im-yang Sian-kouw berhenti dan berdiri dengan hati diliputi keharuan. Ia tentu saja mengenal benar rumah besar itu, di mana ia tinggal sejak kecil sampai menjadi dewasa, bekerja sebagai pelayan, kemudian menjadi kekasih Pangeran Ciu Wan Kong. Pot-pot bunga seruni yang berjajar di depan gedung itu masih berdiri dan pada saat itu sedang berbunga. Akan tetapi bagian kanan rumah itu terdapat bekas terbakar, hangus dan barang-barang berserakan. Ia melihat banyak prajurit sedang membersihkan tempat itu.

"Bibi, biar aku mencari Ayah dan memberitahukan akan kedatanganmu," kata Thian Hwa.

Im-yang Sian-kouw tidak menjawab, masih berdiri seperti patung memandang rumah itu.

Thian Hwa berlari memasuki gedung dan ia menemukan ayahnya sedang mengumpulkan barang-barang berharga yang dapat diselamatkan dari kebakaran, menyusunnya dalam kamar ayahnya, dibantu oleh Cui Sam, kakeknya.

"Ayah! Kong-kong!"

"Thian Hwa, rumah ayahmu dirampok dan dibakar jahanam-jahanam itu!" kata Kakek Cui Sam gemas.

"Ah, tidak mengapa. Ini masih baik karena bagaimanapun juga, pihak pemberontak berhasil dihancurkan, bukan begitu, Thian Hwa?" kata Pangeran Ciu Wan Kong dengan wajah gembira. Dia tadi mendengar akan sepak terjang puterinya yang hebat mengagumkan, yang telah menawan Pangeran Cu Kiong dan membawanya ke puncak menara di mana dengan gagah beraninya Thian Hwa berhasil membuat para sisa pemberontak membuang senjata dan menakluk! Perbuatan itu amat hebat dan menjadi buah bibir dan pujian seluruh rakyat.

"Harta benda hilang bisa dicarikan penggantinya, yang terpenting adalah nama dan kehormatan keluarga dan engkau telah menjunjung t inggi sekali nama dan kehormatan keluarga kita, Anakku!" kata pula Pangeran Ciu Wan Kong.

"Ayah, aku datang bersama seorang tamu."

"Eh? Mana tamunya? Siapa?"

"Bibi Im-yang Sian-kouw, Ayah."

"Im-yang Sian-kouw?" Tanya pangeran itu ragu karena merasa tidak mengenal nama itu.

"Hemm, agaknya Ayah telah lupa lagi akan keterangan pemuda bernama Si Han Bu itu."

"Si Han Bu...? Ah, ya, maksudmu guru Si Han Bu yang katanya tahu di mana adanya ibumu itu? Ah, cepat persilakan ia masuk ke sini. Thian Hwa." Lalu dia berkata kepada Cui Sam. "Gak-hu (Ayah Mertua), mari kita bersihkan tempat ini dan persiapkan untuk menerima tamu kita. Ia akan memberitahu tentang Cui Eng!" kata Pangeran Ciu Wan Kong dan mereka berdua segera sibuk membereskan ruangan tamu untuk menyambut Im-yang Sian-kouw.

Baru saja mereka selesai membersihkan kamar tamu yang tidak ikut terbakar itu, Thian Hwa dan Im-yang Sian-kouw muncul di ambang pintu.

"Ayah, inilah Bibi Im-yang Sian-kouw yang telah menyelamatkan nyawaku ketika aku terancam oleh Lam-hai Cin-jin!" kata Thian Hwa.

Pangeran Ciu Wan Kong sedang memegang sebuah vas kembang dan membersihkannya dari debu. Dia memutar tubuh memandang dan... "pyarrr...!" vas itu terlepas dan terjatuh pecah berkeping-keping di atas lantai. Dia berdiri bengong terlongong dengan wajah pucat. Thian Hwa terkejut, memandang Im-yang Sian-kouw dan melihat betapa wanita itu menundukkan mukanya yang pucat dan perlahan-lahan butiran air mata menuruni kedua pipinya!

"Cui Eng...! Cui Eng... Ya Tuhan... benar-benar engkaukah ini...? Cui Eng, isteriku...?" Suara ini terdengar menggigil, bahkan kedua lengan pangeran itu pun menggigil.

"Pangeran...." suara Im-yang Sian-kouw lirih dan sesenggukan.

"Cui Eng...! Engkau benar Cui Engku...!" Tiba-tiba Pangeran Ciu Wan Kong tersaruk-saruk maju dan menjatuhkan diri berlutut di depan wanita itu! "Cui Eng, ampunkan aku... Aku demikian lemah sehingga tidak berani menentang kehendak orang tuaku... aku telah berdosa kepadamu, telah membuat hidupmu, hidup Gak-hu (Ayah Mertua) dan hidup anak kita menderita... ampunkan aku, Cui Eng...." Im-yang Sian-kouw menahan perasaan harunya.

"Pangeran, bangkit dan berdirilah. Kalau engkau menyadari bahwa dulu engkau amat lemah, mengapa sekarang tidak berubah dan masih amat lemah?"

"Cui Eng... terima kasih engkau telah kembali...."

"Berdirilah, Pangeran. Dengar, aku tidak ingin kembali kepadamu yang sudah mengusirku. Aku hanya datang untuk mendengar tentang ayah dan anakku...."

"Cui Eng, aku di sini..,." Tiba-tiba Cui Sam yang sejak tadi hanya melongo saja di sudut ruangan, kini maju menghampiri puterinya.

"Ayah...!" Cui Eng berseru dan ia segera berlutut di depan kaki Cui Sam. Kakek itu mengangkatnya dan mereka pun berangkulan sambil menangis.

"Cui Eng, inilah anak kita, Ciu Thian Hwa. Thian Hwa, cepat beri hormat kepada ibumu!" kata Pangeran Ciu Wan Kong yang sudah bangkit berdiri.

Sejak tadi Thian Hwa berdiri dengan muka pucat, tidak bergerak seperti patung. Sama sekali ia t idak pernah menduga bahwa Im-yang Sian-kouw adalah Cui Eng ibunya! Bagaimana ia dapat menduganya? Ia mendengar dari kakek dan ayahnya bahwa Cui Eng adalah seorang wanita lemah yang sama sekali tidak paham ilmu silat. Sedangkan Im-yang Sian-kouw merupakan seorang wanita yang demikian sakti! Maka biarpun ayahnya menyuruh ia memberi hormat kepada Im-yang Siankouw sebagai ibunya, ia masih ragu-ragu dan hanya memandang dengan sinar mata mencorong penuh selidik.

Sebaliknya, Im-yang Sian-kouw juga belum dapat menerima dan percaya begitu saja bahwa Huang-ho Sian-li adalah anak kandungnya yang dulu belum ia beri nama ketika terlepas dari pondongan dan hanyut dalam Sungai Kuning.

"Pangeran Ciu Wan Kong! Ayah, harap jangan membohongi aku. Bagaimana mungkin anak ini adalah anakku yang ketika bayi hanyut di air Sungai Huang-ho? Bagaimana mungkin...?" Suara wanita itu kini tergetar mengandung isak.

Tiba-tiba Cui Sam berkata dengan suara seorang ayah yang marah dan menegur puterinya. "Cui Eng! Jangan keraskan hatimu karena dendam kebencian! Ketahuilah bahwa Ciu Wan Kong juga menderita, bahkan tidak kalah menderitanya dibandingkan kita! Dia bahkan tidak pernah menikah dan telah dikenal sebagai orang yang sinting karena duka memikirkan dirimu! Panjang ceritanya bagaimana anakmu ini dapat selamat bahkan kini menjadi seorang pendekar wanita. Apa anehnya? Engkau sendiri juga dahulu seorang wanita lemah dan kini telah menjadi seorang wanita sakti. Pandanglah baikbaik, andaikata pikiranmu yang penuh dendam kepada Pangeran Ciu itu mencoba untuk menyangkal, pandanglah muka Ciu Thian Hwa! Tidakkah engkau dapat melihat, apakah matamu telah buta untuk dapat melihat betapa anakmu ini memiliki wajah seperti kembar dengan wajahmu? Thian Hwa, inilah Cui Eng, ibumu yang selama ini kaurindukan!" Mendengar ucapan Cui Sam yang marah itu, bagaikan bendungan air pecah, kedua orang wanita itu mengeluarkan rintihan jerit hati dan mereka tersedu-sedu lalu entah siapa yang lebih dulu, mereka saling tubruk dan saling rangkul.

Dua orang wanita ini hampir tidak dapat mengeluarkan suara.

"Ibu...!"

"Anakku... Anakku...!" Keduanya menangis tersedu-sedu, bagaikan air bah yang membanjir setelah bendungannya bobol. Im-yang Sian-kouw merangkul, menciumi muka Thian Hwa yang basah dengan air mata mereka, lalu menekan muka anaknya itu ke dadanya seperti seorang ibu hendak menyusui bayinya.

Dapat dibayangkan betapa mendalam rasa haru di dalam dada hati dua orang wanita itu. Keduanya sama sekali tidak pernah mengira bahwa mereka akan dapat saling bertemu.

Thian Hwa yang sejak bayi terpisah dari ibunya dan ditemukan Thian Bong Sianjin hanyut di air Sungai Huang-ho, menganggap ibunya tentu sudah tewas. Demikian pula, seujung rambut pun tidak pernah mengira bahwa anaknya yang masih bayi dapat selamat dari air sungai yang besar dan ganas itu. Keharuan yang mendalam itu timbul dari perasaan duka, sakit hati, juga rasa bahagia yang luar biasa. Selama ini Cui Eng atau Im-yang Sian-kouw tidak mau pergi ke kota raja untuk menemui suaminya karena ia merasa sakit hati sekali atas pengusiran terhadap dirinya. Yang membuat ia mendendam terutama sekali karena ia kehilangan anaknya. Ia menganggap bahwa Pangeran Ciu Wan Kong telah memusnahkan semua kebahagiaannya, membunuh anaknya dan membunuh ayahnya, membuat ia merana dan hampir mati kalau saja tidak ditolong Bu Beng Kiam-sian.

Betapa pun hebatnya perasaan haru mencekam perasaan hati Huang-ho Sian-li dan Im-yang Sian-kouw, namun mereka berdua adalah wanita-wanita yang gagah perkasa dan sudah tergembleng lahir batinnya sehingga selain tenaga badan mereka amat kuat, juga tenaga batin mereka kokoh dan t idak mudah dilumpuhkan perasaan sendiri. Tak lama kemudian keduanya sudah dapat menguasai hati dan ketenangan mereka, lalu Im-yang Sian-kouw melepaskan rangkulannya kepada puterinya dan menghampiri Cui Sam, lalu ia menjatuhkan diri berlutut di depan kaki ayahnya itu.

"Ayah...!" Cui Sam membungkuk dan merangkul puterinya, ditariknya agar berdiri dan kakek ini pun memandang puterinya dengan sepasang mata basah.

"Cui Eng, alangkah bahagianya kita sekeluarga dapat bertemu dan berkumpul kembali seperti ini...."

"Apa yang dikatakan Gak-hu benar, Eng-moi... sekarang tidak ada lagi penghalang bagi kita untuk hidup bersama dengan bahagia, sekeluarga menjadi satu dan tidak akan terpisah lagi," kata Pangeran Ciu Wan Kong.

Akan tetapi Im-yang Sian-kouw memandang wajah pangeran itu dengan sinar mata mencorong dan mulut bergaris keras. "Pangeran Ciu Wan Kong, setelah apa yang kaulakukan terhadap aku dan keluargaku dua puluh tahun yang lalu, bagaimana mungkin aku dapat hidup bersamamu lagi? Tidak, aku tidak mau!" Cui Sam, Thian Hwa, dan terutama sekali Pangeran Ciu Wan Kong terkejut bukan main mendengar ucapan yang keras dan tegas penuh kepahitan dari Im-yang Sian-kouw. Akan tetapi ucapan itu sekaligus menikam perasaan Pangeran Ciu Wan Kong seperti ujung sebatang pedang ditusukkan ke ulu hatinya.

"Cui Eng, engkau jangan berkata begitu! Aku menjadi saksinya bahwa yang mengusir kita dulu adalah orang tua Pangeran Ciu, bukan dia. Dia hanya terlalu taat kepada orang tuanya dan tidak berani menentang kehendak mereka. Dan aku tahu betapa dia amat menderita. Dia tidak pernah menikah dan...," kata Cui Sam.

"Aih, Eng-moi, aku mengerti sekarang...!" Pangeran Ciu Wan Kong tiba-tiba memotong. "Aku memang tidak pernah menikah, akan tetapi engkau... mungkin saja engkau telah menikah dengan laki-laki lain...." Suaranya terdengar sedih sekali.

"Huh, memikirkannya juga aku tidak pernah!" bentak Imyang Sian-kouw.

Tiba-tiba Huang-ho Sian-li Ciu Thian Hwa merangkul ibunya dan menangis. "Ibu... Ibu... selama aku hidup baru sekarang ini aku ingin memohon sesuatu kepada ibuku. Ibu, aku mohon sukalah kiranya Ibu mengasihani dan memaafkan kelemahan Ayah dahulu, sudilah Ibu kembali kepada Ayah dan hidup bersama kami, Ibu...."

"Memaafkan manusia yang kejam ini? Manusia yang begitu angkuh akan kedudukan dan keturunan, yang memandang rendah rakyat kecil dan miskin seperti aku? Memaafkan manusia yang telah menghancurkan hidupku, yang membuat Ibu Anak dan kakekmu menderita dan hampir tewas? Dan engkau, yang sejak kecil dipisahkan dari ayah ibumu dan kakekmu, yang bahkan tidak sempat diberi nama oleh ibumu, engkau yang sudah digembleng menjadi seorang pendekar wanita yang gagah perkasa, engkau malah membujuk aku memaafkan manusia yang jahat ini?" Thian Hwa menjatuhkan diri berlutut dan menciumi kaki ibunya.

"Ibu, harap dengarkan dulu kesaksianku, Ibu. Ketika pertama kali aku mendengar cerita Kakek Cui Sam tentang apa yang Ibu alami di keluarga Ciu, aku juga marah dan bahkan mengambil keputusan untuk membantai keluarga Ciu yang dulu mengusir Ibu. Akan tetapi, orang tua Ayah, yaitu mereka yang dulu mengusir Ibu, telah tiada. Aku marah kepada Pangeran Ciu Wan Kong dan bermaksud menghajarnya. Akan tetapi ketika aku tiba di sini dan melihat Ayah meratapi dan menangisi gambar Ibu seperti orang yang hilang ingatan, aku menyadari bahwa Ayah bukanlah orang jahat. Dia hanya lemah dan tidak berani menentang orang tuanya. Ibu, jahatkah orang yang taat dan tidak mau menentang Ayah Ibunya? Memang, Ayah lemah, akan tetapi sama sekali tidak jahat. Selain itu, aku berani memastikan bahwa Ayah amat mencinta Ibu, sejak dahulu sampai sekarang. Karena itu, sekali lagi, Ibu kembalilah kepada Ayah.

Aku ingin sekali melihat Ayahku dan Ibuku hidup rukun dan saling mencinta. Apalagi Kakek Cui Sam juga sudah berada di sini, Ibu. Kita semua dapat merupakan sebuah keluarga lengkap yang hidup berbahagia." Dengan air mata bercucuran Pangeran Ciu Wan Kong kini berlutut pula di dekat puterinya. "Eng-moi.... kalau engkau tidak mau memaafkan aku... kalau engkau memang demikian sakit hati kepadaku, aku mohon maaf... bunuhlah aku agar aku dapat menebus semua kesalahanku kepadamu...." Im-yang Sian-kouw Cui Eng sesungguhnya tidak pernah membenci suaminya ini. Ia memang menderita sakit hati yang hebat, akan tetapi bukan kepada suaminya melainkan kepada kedua mertuanya yang sekarang telah tiada. Ia tahu bahwa suaminya amat mencintanya dan ia pun selalu mencinta suaminya. Kini melihat suaminya, anaknya, juga ayahnya semua memintakan maaf atas kelemahan suaminya, dan melihat suaminya berlutut minta dibunuh, hatinya menjadi cair dan dengan air mata bercucuran ia membangunkan suaminya.

"Bangkitlah, Pangeran, tidak baik seorang suami berlutut di kaki isterinya. Aku... aku memaafkan semua kelemahanmu dahulu." Empat orang itu bertangis-tangisan, akan tetapi tangis terakhir ini adalah tangis kebahagiaan. Setelah luapan keharuan mereka mereda, Pangeran Ciu Wan Kong lalu memerintahkan pelayan untuk menyediakan pesta makan keluarga dan mereka makan minum dengan gembira menyambut persatuan kembali keluarga itu.

Selesai makan, barulah mereka saling menceritakan pengalaman masing-masing. Pangeran Ciu Wan Kong tidak mengalami banyak hal, selama itu seolah dia mati walaupun jasmaninya masih hidup. Dia tidak melakukan kegiatan apa pun, hanya menyesali dan menangisi kepergian Cui Eng dan anaknya. Baru setelah muncul Huang-ho Sian-li Ciu Thian Hwa dalam hidupnya, gairah hidupnya bangkit kembali dan dia bahkan terlibat dalam urusan menghadapi para pangeran yang memberontak. Kemudian Kakek Cui Sam menceritakan pengalamannya. Ketika mereka bertiga, Kakek Cui Sam, Cui Eng, dan bayinya yang sedang pergi menuju dusun tempat asal mereka, terbawa hanyut air Sungai Huang-ho yang deras, dia kehilangan puteri dan cucunya. Dia sendiri berhasil menyelamatkan diri dan dalam keadaan sengsara dia kembali ke kota raja dan diterima sebagai pelayan di istana Pangeran Cu Kiong sampai dia bertemu dengan Ciu Thian Hwa yang segera dikenalnya karena wajah gadis itu persis wajah puterinya, Cui Eng. Kemudian betapa akhirnya dia dibawa Thian Hwa untuk tinggal bersama Pangeran Ciu Wan Kong, mantunya.

Ketika giliran Ciu Thian Hwa tiba, gadis ini menceritakan semua pengalamannya dengan panjang lebar. Karena Kakek Cui Sam dan Pangeran Ciu Wan Kong sudah pernah mendengar ceritanya, maka yang amat memperhatikan dan mendengarkan dengan hati tertarik sekali adalah Im-yang Sian-kouw. Thian Hwa bercerita betapa ketika ia yang masih bayi terseret air Sungai Kuning, ia diselamatkan oleh Thian Bong Sianjin dan kemudian menjadi muridnya.

"Aih, jadi engkau murid Thian Bong Sianjin? Aku pernah mendengar namanya disebut mendiang guruku, Bu Beng Kiam-sian!" seru Im-yang Sian-kouw girang dan kagum.

Pantas puterinya menjadi seorang pendekar wanita yang amat terkenal, kiranya ia menjadi murid, bahkan dirawat dan dibesarkan oleh tosu itu. "Dan diakah yang memberimu nama Thian Hwa?"

"Benar, Ibu. Kong-kong (Kakek) atau Suhuku itu memberiku nama Thian Hwa."

"Dan julukan Huang-ho Sian-li itu?" Wajah Thian Hwa berubah kemerahan. "Ah, itu hanya sebutan dari para penduduk dusun-dusun di sepanjang Huang-ho. Karena aku sering menolong mereka, maka mereka menyebutku demikian." Gadis itu juga bercerita tentang Ui Yan Bun yang menjadi sahabat baiknya, bahkan juga terhitung suhengnya karena Ui Yan Bun mendapat gemblengan pula dari Thian Bong Sianjin.

"Siapa kau bilang nama pemuda sahabatmu dan Suhengmu tadi?" Im-yang Sian-kouw memotong.

"Namanya Ui Yan Bun, Ibu."

"Nanti dulu... apakah dia seorang pemuda berusia sekitar dua puluh tiga tahun, berpakaian serba biru, wajahnya bersih dan sikapnya sopan, tubuhnya tinggi sedang dan senjatanya pedang?" Kini Thian Hwa memandang ibunya dengan mata terbelalak dan wajah berseri. "Ibu mengenalnya? Benar, dia adalah pemuda seperti yang Ibu gambarkan!"

"Aku pernah bertemu dengan Ui Yan Bun. Ketika itu, dia datang ke Beng-san bersama seorang gadis bernama Wan Kim Hui. Maksud kedatangan mereka mencarikan obat bagi ibu gadis itu yang terkena pukulan Hek-tok-ciang dari Lam-hai Cin-jin. Mereka ingin minta obat itu dari guruku, akan tetapi karena Bu Beng Kiam-sian telah tiada, maka aku memberikan obat penawar racun Hek-tok-ciang itu kepada mereka." Dengan singkat Im-yang Sian-kouw menceritakan tentang pertemuannya dengan Ui Yan Bun dan Wan Kim Hui itu.

Kemudian Thian Hwa melanjutkan ceritanya ketika ia meninggalkan perguruan untuk mencari pengalaman dan untuk mencari orang tuanya sampai ia tiba di kota raja dan mula-mula ia membantu Pangeran Cu Kiong yang disangkanya seorang pangeran yang baik budi. Setelah tahu bahwa pangeran itu memiliki cita-cita yang tidak benar, ia lalu meninggalkannya. Kemudian ia memperdalam ilmunya di bawah gemblengan kedua dari Thian Bong Sianjin dan ketika turun gunung ia terlibat dalam urusan di istana. Setelah bertemu ayah dan kakeknya dan dipercaya oleh Kaisar yang masih paman-tuanya sendiri, ia secara langsung berhadapan dengan pemberontak yang dipimpin oleh Pangeran Cu Kiong.

Semua pengalaman itu ia ceritakan dan ibunya mendengarkan dengan penuh keharuan akan tetapi juga bangga.

Setelah Thian Hwa selesai bercerita, Pangeran Ciu Wan Kong memandang isterinya dan berkata. "Eng-moi, sekarang engkau harus menceritakan semua yang kaualami. Aku masih terheran-heran dan sulit untuk percaya bahwa engkau, yang dulu lemah, bahkan pernah menolak untuk membunuh seekor tikus yang mengacau di dapur, tiba-tiba muncul sebagai seorang wanita sakti!" Cui Eng menghela napas panjang. "Memang, pengalaman seseorang terkadang amatlah aneh, tidak kalah aneh daripada dongeng-dongeng. Pengalaman Thian Hwa tadi juga sudah aneh sekali dan sekarang giliranku bercerita. Aku tidak ingin menceritakan tentang segala penderitaanku karena hal itu hanya akan membangkitkan kenang-kenangan lama yang tidak enak. Singkatnya, ketika aku hanyut di sungai, dalam keadaan pingsan aku diselamatkan mendiang Suhu Bu Beng Kiam-sian (Dewa Pedang Tanpa Nama). Aku dibawa ke Bengsan, dirawat sehingga sembuh lalu menjadi muridnya. Nah, sejak saat itu aku hanya hidup untuk belajar ilmu silat dan ilmu pengobatan dari Suhu. Kemudian, Suhu menolong seorang anak laki-laki berusia sepuluh tahun, yaitu Si Han Bu yang kemudian oleh Suhu diserahkan kepadaku untuk menjadi muridku."

"Akan tetapi mengapa engkau mengubah namamu menjadi Im-yang Sian-kouw, Eng-moi?" tanya suaminya.

"Aku ingin mengubur nama lama itu yang hanya mendatangkan kesengsaraan dan Suhu pula yang memberi aku julukan Im-yang Sian-kouw, disesuaikan dengan ilmu silat Im-yang Sin-kun yang kupelajari sampai mendalam. Han Bu merupakan satu-satunya penghibur bagiku, apalagi setelah Suhu tiada. Dia menjadi murid akan tetapi juga pengganti keluarga sehingga sudah kuanggap sebagai anak sendiri.

Maka, begitu dia turun gunung, aku merasa kesepian dan timbul niatku untuk pergi ke kota raja...."

"Ah, Ibu tentu ingin mengetahui keadaan Ayah!" kata Thian Hwa.

Im-yang Sian-kouw tersenyum dan kedua pipinya yang masih halus itu menjadi kemerahan. "Yah, bagaimanapun sakit hatiku, dia itu ayahmu, Thian Hwa dan aku juga menyadari bahwa dia t idak bersalah. Akan tetapi begitu tiba di sini, terjadi pertempuran itu. Aku bertanya-tanya dan mendengar tentang namamu yang dipuji-puji orang sebagai pendukung kerajaan dan engkau menentang pemberontak.

Ketika aku melihat engkau bertanding melawan Lam-hai Cinjin, tidak sukar bagiku untuk memihakmu. Aku mengenal Lamhai Cin-jin sebagai seorang pengikut Jenderal Wu Sam Kwi, dan di selatan dia merupakan seorang datuk yang terkadang melakukan perbuatan sesat. Maka aku segera turun tangan membantumu." Semua orang bernapas lega. Kini mereka semua sudah mengetahui riwayat masing-masing selama keluarga itu ceraiberai. Kini keluarga itu telah berkumpul dan bersatu kembali.

Mereka seolah-olah mengalami kehidupan baru yang menjanjikan masa depan yang penuh kebahagiaan.

(Oo-dwkz-jTn-oO) Bouw Hujin atau Sin-hong-cu Souw Lan Hui mengerahkan seluruh gin-kangnya dan ia berhasil menyusul Ngo-beng Kuiong yang melarikan diri dari medan pertempuran sambil menculik Pangeran Bouw Hun Ki. Mereka sudah tiba di luar kota raja, di jalan yang sepi.

"Keparat jahanam, Ngo-beng Kui-ong, kiranya nama besarmu itu kosong belaka! Engkau t idak lebih hanya seorang tua bangka mau mampus yang pengecut dan penakut!" demikian Bouw Hujin berteriak setelah ia berkelebatan melampaui lawan dan kini berhadapan dengan Ngo-beng Kuiong dengan sepasang pedang di tangan.

Melihat bahwa pengejarnya hanya seorang saja, Ngo-beng Kui-ong tertawa mengejek. Tentu saja dia tidak takut kepada nyonya itu. Tadi, dalam pertempuran, dia sudah mengenal ilmu silat nyonya ini dan walaupun harus dia akui bahwa wanita cantik ini memiliki ilmu pedang Bu-tong-pai yang amat dahsyat, namun kalau hanya bertempur satu lawan satu, dia merasa yakin akan mampu mengalahkannya. Kini di tempat sunyi itu, tentu saja hatinya menjadi besar. Dia melemparkan tubuh Pangeran Bouw Hun Ki yang lemas tertotok ke atas tanah sehingga tubuh itu bergulingan. Hati Nyonya Bouw tenang melihat keadaan suaminya tidak terluka dan tidak terancam bahaya, maka tanpa membuang waktu lagi ia sudah memutar sepasang pedangnya dan menyerang dengan ganas dan sangat dahsyat.

"Haiiittt...!" Pedang kiri wanita itu menusuk ke arah muka di tengah-tengah antara kedua mata Ngo-beng Kui-ong dengan jurus Hui-in-ci-tian (Awan Mengeluarkan Kilat) disambung dengan pedang kanan menyambar dari samping, melengkung menebas pinggang lawan dengan jurus Giok-tai-wi-yau (Sabuk Kemala Melingkari Pinggang). Dua serangan beruntun ini berbahaya bukan main karena serangan pertama ke arah tengah-tengah antara sepasang mata itu membuat lawan silau dan terkejut, pandangannya tercurah kepada sinar mencorong yang meluncur ke tengah dahi itu sehingga perhatiannya terhadap pedang kanan yang menyambar pinggang agak kurang. Akan tetapi Ngo-beng Kui-ong adalah seorang ahli silat yang selain kuat juga sudah banyak sekali pengalamannya berkelahi, maka biarpun dia agak terkejut, tetap saja dia dapat menggerakkan tongkat ularnya ke sebelah kiri tubuhnya untuk menangkis babatan pedang kanan Nyonya Bouw.

"Singg... trangggg!" Bunga api berpijar menyilaukan mata dan di lain saat Ngo-beng Kui-ong sudah membalas dengan serangan kilat yang amat hebat. Dia bukan hanya menggerakkan tongkatnya, melainkan menggerakkan tubuhnya yang berputaran seperti gasing dan tongkatnya mencuat dan menyambar dari pusingan badannya yang tidak dapat dilihat jelas itu. Tentu saja menghadapi serangan aneh ini, Bouw Hujin terkejut, akan tetapi wanita itu memiliki gin- kang yang tinggi, membuat tubuhnya dapat berkelebatan seperti seekor burung walet yang selalu dapat menghindarkan diri dari serangan tongkat yang tiba-tiba dari tubuh lawan yang berpusing itu.

Perkelahian di tempat sunyi itu semakin seru. Ngo-beng Kui-ong bersilat dengan ilmu tongkat Pat-hong-tung (Tongkat Delapan Penjuru) yang amat dahsyat sehingga tubuhnya berputar seperti gasing. Untuk menghadapi ilmu tongkat yang amat hebat ini, Bouw Hujin (Nyonya Bouw) mainkan siangkiam (sepasang pedang) dengan ilmu pedang Siang-liong-huithian (Sepasang Naga Terbang ke Langit) sebuah ilmu pedang dari Bu-tong Kiam-sut (Ilmu Pedang Bu-tong-pai). Karena Nyonya ini telah memiliki gin-kang (ilmu meringankan tubuh) yang amat baik, maka tubuhnya seperti berkelebatan terbang saja.

Akan tetapi, bagaimanapun juga, Sin-hong-cu Souw Lan Hui atau Nyonya Bouw yang lihai itu masih kalah pengalaman bertanding dibandingkan lawannya yang sudah berusia delapan puluh tahun. Kakek tua renta ini banyak sekali ilmunya yang aneh-aneh, bukan hanya gerakan silat yang aneh dan lihai, akan tetapi juga dia memiliki tenaga sihir yang kuat sehingga terkadang, kalau dia membentak sambil mengerahkan tenaga sihirnya, Bouw Hujin merasa betapa tubuhnya terguncang hebat yang membuat gerakannya agak kacau dan berkurang kecepatannya. Ngo-beng Kui-ong merasa girang. Kini dia tahu bahwa inilah kemenangannya dan dia pun semakin sering menyerang dengan pengerahan tenaga sihir. Dan tidak dapat disangkal lagi bahwa Nyonya Bouw kini mulai terdesak hebat.

Melihat dari tempat dia rebah terguling dan telentang, Pangeran Bouw Hun Ki merasa khawatir sekali. Dia melihat betapa isterinya mulai terdesak oleh kakek tua renta yang amat sakti itu. Dia t idak mengkhawatirkan keselamatan dirinya sendiri, akan tetapi dia amat mengkhawatirkan isterinya.

Andaikata dia t idak berada dalam keadaan tertotok, tetap saja dia tidak mampu membantu isterinya. Tingkat kepandaian silatnya masih terlalu jauh di bawah tingkat mereka sehingga bantuannya bukan menolong bahkan selain mengacaukan permainan silat isterinya, juga dalam beberapa gebrakan saja dia akan roboh dan tewas. Kalau mungkin dia ingin berteriak kepada kakek itu yang dia tahu bernama Ngo-beng Kui-ong agar kakek itu melepaskan isterinya dan membawa dia ke mana pun dikehendakinya. Dia siap dan rela mengorbankan nyawa asalkan isterinya selamat. Namun dia tidak mungkin meneriakkan keinginannya dan permintaannya itu. Dia mengenal baik isterinya, seorang pendekar wanita yang lebih menghargai nama dan kehormatan daripada nyawa. Maka, dia mulai memandang dengan muka pucat melihat isterinya kini repot sekali, hanya dapat menggunakan sepasang pedangnya untuk melindungi dirinya saja tanpa mampu balas menyerang.

Bahkan sudah dua kali Nyonya Bouw terhuyung ke belakang dan hampir terpelanting saking kuatnya hawa pukulan yang mengandung tenaga sihir itu melandanya. Ngobeng Kui-ong semakin ganas dan kini dia mendesak dengan tongkatnya yang amat berbahaya karena selain tongkat ular itu mengandung racun, juga tamparan tangan kirinya merupakan serangan yang lebih ganas dibandingkan Hek-tokciang dari Lam-hai Cin-jin, murid keponakannya itu! Pada saat yang amat gawat itu, tiba-tiba terdengar seruan lembut. "Siancai! Ngo-beng Kui-ong yang sudah amat tua masih saja belum mampu menahan nafsunya yang suka membunuh. Sayang sekali!" Ngo-beng Kui-ong terkejut sekali ketika tiba-tiba ada hawa dorongan yang amat kuat membuat tubuhnya yang berputar itu kehilangan keseimbangan sehingga dia menghentikan jurus silat berpusing itu dan memandang dengan penuh perhatian.

Dia melihat seorang laki-laki t inggi kurus berpakaian seperti seorang tosu dari kain putih, mukanya bersih tanpa kumis atau jenggot dansikapnya tenang sekali, usianya sekitar enam puluh tahun.

"Thian Bong Sianjin!" serunya kaget. Sebaliknya, Pangeran Bouw Hun Ki, terutama sekali Nyonya Bouw, girang bukan main melihat munculnya Thian Bong Sianjin dalam keadaan yang amat gawat bagi suami isteri itu.

Watak Ngo-beng Kui-ong sejak dulu memang licik. Dia cerdik sekali dan tidak segan menggunakan cara apa pun demi keuntungannya. Melihat munculnya Thian Bong Sianjin, dia maklum bahwa melawan Thian Bong Sianjin berdua Sin-hongcu Souw Lan Hui, dia tidak akan menang bahkan dia berada dalam keadaan gawat dan berbahaya sekali. Maka cepat dia menudingkan tongkatnya ke arah tubuh Pangeran Bouw Hun Ki yang masih rebah telentang di atas tanah, dan sinar hitam meluncur dari ujung tongkat ke arah Pangeran Bouw Hun Ki.

Melihat ini, Thian Bong Sianjin yang berdirinya lebih dekat dengan pangeran itu, melompat dengan gerakan kilat. Paku hitam yang meluncur dari ujung tongkat itu mengenai pundaknya ketika tubuhnya menjadi perisai bagi Pangeran Bouw Hun Ki.

"Manusia curang!" Thian Bong Sianjin berseru.

Melihat Thian Bong Sianjin tidak roboh biarpun terkena pakunya yang beracun, Ngo-beng Kui-ong menjadi semakin ketakutan dan dia pun lalu melompat dan melarikan diri.

Setelah kakek itu pergi, tubuh Thian Bong Sianjin terkulai roboh.

Nyonya Bouw tidak melakukan pengejaran karena perhatiannya lebih tercurah kepada suaminya dan kepada Thian Bong Sianjin. Ia meloncat dekat suaminya, membebaskan totokan sehingga Pangeran Bouw Hun Ki mampu bergerak lagi, lalu keduanya memeriksa keadaan Thian Bong Sianjin yang tergeletak dalam keadaan pingsan.

Tanpa ragu Nyonya Bouw membuka kancing baju sehingga tampak dada Thian Bong Sianjin. Ia mengerutkan alisnya ketika melihat sebatang paku hitam telah menancap di pundak kanan bekas kekasih atau sahabat baiknya itu.

"Bagaimana keadaannya? Parahkah?" Pangeran Bouw Hun Ki bertanya dengan khawatir.

Nyonya Bouw mengangguk. "Ia terkena senjata rahasia Toat-beng-hek-ting (Paku Hitam Pencabut Nyawa) yang mengandung racun amat berbahaya, sama bahayanya dengan akibat pukulan Hek-tok-ciang (Tangan Racun Hitam)."

"Ah, celaka! Lalu bagaimana? Engkau harus dapat menyembuhkannya. Ingat, dia terluka karena melindungi diriku, kalau dia tidak menghadang, tentu aku yang terkena senjata rahasia ini dan sudah mati!" kata Pangeran Bouw kepada isterinya.

"Aku mengerti," Nyonya Bouw mengangguk, dalam hatinya merasa bersukur bahwa suaminya demikian bijaksana, sama sekali tidak merasa cemburu walaupun sudah mengetahui bahwa dahulu di waktu ia belum menjadi isteri pangeran itu, hubungannya dengan Thian Bong Sianjin amat akrab.

"Satu-satunya obat penawar yang dapat menyelamatkan nyawanya hanyalah jamur salju putih, atau bubuk racun ular laut. Kukira di ruangan obat istana terdapat obat-obat penawar itu. Mari kita cepat bawa dia ke sana," Nyonya Bouw Hun Ki lalu mencabut paku hitam, menggunakan sin-kangnya untuk menyedot darah yang keracunan walaupun yang keluar tidak cukup banyak. Lalu ia menotok jalan darah di sekitar pundak untuk mencegah menjalarnya racun hitam itu.

Kemudian mereka membawa Thian Bong Sianjin yang masih pingsan kembali ke kota raja dan langsung saja ke istana.

Benar saja dugaan Nyonya Bouw, di ruangan penyimpanan obat-obatan langka di istana terdapat obat penawar racun ular laut. Setelah diobati dengan racun ular laut untuk menangkal racun dari Hek-tok-ting, ternyata obat itu manjur sekali. Thian Bong Sianjin siuman dari pingsannya dan terbebas dari ancaman maut. Hanya saja dia masih agak lemah dan perlu berist irahat beberapa hari. Begitu bangkit duduk dan melihat Pangeran Bouw Hun Ki dan Nyonya Bouw, dia segera mengucapkan terima kasih.

"Ji-wi (Kalian Berdua) telah menyelamatkan nyawa pinto (aku). Kalau tidak ada Pangeran Bouw dan Bouw Hujin yang menolong, kiranya hari ini pinto sudah tidak berada di dunia lagi."

"Wah, Totiang (sebutan pendeta), ucapan apakah yang kaukatakan ini? Ini terbalik sama sekali!" kata Pangeran Bouw Hun Ki. "Saya diculik Ngo-beng Kui-ong, kemudian isteriku mengejar dan bertanding melawan dia. Akan tetapi, Ngo-beng Kui-ong amat lihai dan agaknya isteriku dan aku pasti akan binasa kalau saja tidak ada Totiang yang menolong kami berdua. Bahkan Totiang menghadang paku terbang untuk melindungiku sehingga Totiang sendiri yang terluka. Siapakah yang menolong dan siapa yang ditolong dalam hal ini?" Thian Bong Sianjin tersenyum. "Siancai! Kita saling tolong, semua terjadi secara kebetulan. Nah, yang kebetulan inilah yang telah menolong, karena kebetulan tidak dapat kita buat.

Hanya Yang Maha Kuasa sajalah yang menciptakan kebetulan sehingga kita diberi kesempatan untuk saling bantu.

Sesungguhnya, Yang Maha Kuasa yang menolong kita semua, dengan cara melalui orang lain yang dipergunakanNya pada saat itu."

"Benar sekali apa yang dikatakan Thian Bong Sianjin tadi.

Hanya Tuhan Yang Maha Kuasa sajalah yang dapat menolong manusia kalau hal itu dikehendakiNya. Karena itu, segala puji dan rasa syukur tidak sepatutnya ditujukan kepada manusia lain, kecuali hanya kepada Tuhan. Kita semua seyogianya berterima kasih kepada Tuhan Yang Maha Pengasih!" kata Nyonya Bouw dengan girang.

"Aih, ucapan isteriku ini mengingatkan aku kepada cara orang-orang berterima kasih kepada Tuhan. Biarpun set iap saat mengucapkan terima kasih dengan suara lantang, biarpun setiap hari menyalakan dupa berlutut di depan meja sembahyang dan memberi korban yang serba mewah untuk menyembah Tuhan, seperti yang dilakukan setiap orang untuk menyatakan terima kasih mereka kepada Tuhan, apakah hal ini sudah tepat dan benar? Mengapa kita selalu bersukur, berterima kasih dan berdoa sukur kepada Tuhan setiap kali kita menerima anugerah, menerima berkat yang berlimpah, menerima hal-hal yang kita anggap menguntungkan dan menyenangkan? Mengapa kita bersungut-sungut dan tidak mengucap sukur kepada Tuhan yang kita anggap tidak memberkati kita kalau kita mengalami hal yang kita anggap merugikan dan tidak menyenangkan? Totiang, mohon penjelasan akan semua ini dan mohon petunjuk, apa yang sepatutnya kita sebagai manusia bertindak untuk menyatakan rasa sukur dan terima kasih kita kepada Tuhan Yang Maha Kuasa." Thian Bong Sianjin tertawa. "Pangeran, untuk menyelidiki hal ini jangan kita hanya menerima pendapat seseorang karena kalau pendapat itu keliru, kita semua ikut keliru. Hidup ini adalah pengalaman kita semua, maka untuk menyadari akan kebenaran, kita dapat belajar dengan membuka mata melihat kehidupan itu sendiri, tanpa menilai, tanpa pendapat, hanya melihat dan merasakan. Mari kita menyelidiki bersama tentang apa yang engkau katakan tadi. Segala macam perbuatan kalau mengandung pamrih bagi diri sendiri, sudah pasti perbuatan itu palsu adanya dan hanya merupakan cara untuk mendapatkan pamrihnya itu. Ada pamrih yang terkandung dalam perbuatan yang disebut baik, seperti ingin dipuji, ingin mendapatkan imbalan jasa, ingin dibalas, dan masih banyak lagi keinginan yang tersembunyi di balik perbuatan itu, semua bermaksud untuk menguntungkan dan menyenangkan dirinya sendiri. Jelas bahwa perbuatan pamrih itu tidak benar. Perbuatan tanpa pamrih adalah perbuatan yang spontan, akan tetapi perbuatan ini pun ada dua macam.

Perbuatan spontan yang didasari rasa benci, sudah past i t idak benar karena mengandung kekejaman dan permusuhan.

Sebaliknya, segala macam perbuatan yang didasari Kasih sudah pasti baik dan benar! Nah, Kasih dari Tuhan yang kita terima berlimpah set iap saat, apakah kita hanya menjadi manusia-manusia yang hanya bisa minta dan menerima saja, tanpa pernah memberi? Lalu kalau Kasih dari Tuhan diujudkan dengan berkat-berkat yang berlimpahan, apakah yang dapat kita lakukan untuk menyatakan bahwa kita benar-benar berterima kasih kepadaNya? Tuhan Maha Kuasa, tentu saja tidak membutuhkan pemberian apa pun dari siapa juga, akan tetapi sebagai rasa sukur dan terima kasih kita, kita dapat membantu Tuhan dengan menyalurkan berkat-berkatnya yang diberikan kepada kita kepada orang lain! Kita diberkati kekuatan yang lebih, mari kita salurkan berkat itu kepada orang lain, untuk menolong orang yang lemah dan membutuhkan pertolongan. Kita diberkati harta benda yang lebih, mari kita salurkan itu kepada orang lain, menolong orang yang membutuhkan karena miskin. Kita diberkati pengetahuan dan pengertian, mari kita salurkan berkat itu kepada orang lain yang tidak mengetahui dan kurang mengerti. Kita diberkati kedudukan dan kekuasaan tinggi, mari kita salurkan berkat itu untuk melindungi rakyat yang tidak berkedudukan yang tidak memiliki kekuasaan. Dengan demikian, tidak sia-sialah semua berkat berlimpahan yang kita terima dari Tuhan dan berbahagialah orang yang menjadi alat Tuhan, yang dipakai oleh Tuhan untuk menyalurkan berkatberkatnya. Lihatlah, semua mahluk di dunia ini, baik bergerak maupun yang tidak bergerak, semua merupakan penyalur berkat Tuhan. Pohon-pohon memberikan bunga, buah, daun, bahkan kayunya untuk manusia dan binatang. Binatangbinatang juga menyalurkan berkat Tuhan dengan memberikan segala yang ada padanya demi kesejahteraan manusia. Lihat angin, air, api, bahkan matahari dan bulan, mereka semua itu menjadi penyalur berkat Tuhan yang mutlak pentingnya bagi manusia. Lalu sekarang pertanyaannya yang harus kita tujukan kepada hati kita masing-masing, kita yang telah menerima sekian banyaknya berkat dari Tuhan secara berlimpah melalui segala benda dan mahluk ciptaanNya di muka bumi ini, apakah yang telah kita lakukan untuk menyatakan terima kasih kita kepada Tuhan dengan jalan menyalurkan berkatnya yang berlimpahan itu kepada pihak lain? Berkat dari Tuhan kita terima melalui manusia, hewan maupun tanaman. Tidakkah sudah sepatutnya kalau kita menyatakan terima kasih dan puji sukur kita juga melalui uluran kasih kepada sesama manusia, hewan, dan tanaman?" Suasana menjadi sunyi sekali setelah Thian Bong Sianjin berhenti bicara. Pangeran Bouw Hun Ki dan Nyonya Bouw dapat merasakan denyut jantung mereka sendiri dengan jelas.

Semua kata-kata itu meresap sampai ke sanubari mereka masing-masing.

Justru dalam keadaan hening itu, di mana pikiran tidak berkeliaran dan hati tidak disibukkan perasaan apa pun, mereka dapat menerima semua ucapan tadi yang membangkitkan kesadaran mereka akan kebenaran yang hakiki.

Pada saat itu terdengar langkah orang yang memecahkan keheningan itu. Bouw Kun Liong, Bouw Hwi Siang, Bu Kong Liang, dan Gui Siang Lin memasuki ruangan itu. Dua pasang orang muda ini sudah mendengar dari Nyonya Bouw bahwa Thian Bong Sianjin yang menyelamatkan Pangeran Bouw Hun Ki dan isterinya adalah guru Huang-ho Sian-li Ciu Thian Hwa.

Maka mereka datang berkunjung untuk menengok keadaan kakek itu yang sudah mulai sembuh.

Nyonya Bouw memperkenalkan mereka kepada Thian Bong Sianjin yang ikut merasa gembira bahwa Nyonya Bouw atau Souw Lan Hui yang dulu pernah menjadi sahabat baiknya itu kini hidup bahagia dengan seorang suami yang bijaksana dan dua orang anak laki dan wanita yang gagah perkasa, bahkan agaknya telah menemukan calon dua orang mantu murid Siauw-lim-pai yang gagah dan baik pula! Diam-diam dia bersukur karena seandainya Souw Lan Hui menjadi isterinya, belum tentu keadaannya akan sebaik dan sebahagia sekarang! Mereka bercakap-cakap dengan gembira dan dalam kesempatan itu, empat orang muda itu mendapatkan banyak petunjuk tentang kehidupan dari Thian Bong Sianjin.

(Oo-dwkz-jTn-oO) Ang-mo Niocu Yi Hong berhasil melarikan diri dan ia merasa girang bahwa tidak ada yang mengejarnya. Biarpun sebagai utusan Jenderal Wu Sam Kwi ia harus membawa kabar yang tidak menggembirakan karena usaha pemberontakan Pangeran Cu Kiong yang didukungnya telah gagal, namun ia berhasil membawa Tek-pai yang oleh Pangeran Cu Kiong diserahkan atau dititipkan kepadanya.

Jenderal Wu Sam Kwi pasti akan girang sekali bisa mendapatkan Tek-pai itu karena sebuah Tek-pai dari Kaisar bagaimanapun juga memiliki kekuasaan yang disegani dan dihormati kalangan atas kerajaan.

Setelah melakukan perjalanan yang cepat, menggunakan kuda yang selalu ditukar dengan yang baru setelah kuda itu kelelahan, akhirnya Ang-mo Niocu Yi Hong tiba di perbatasan Yunnan-hu yang menjadi daerah kekuasaan Jenderal Wu Sam Kwi.

Ia berhenti di kota Mayong yang berada di dekat perbatasan dan termasuk daerah Yunnan-hu. Karena merasa sudah berada di daerah sendiri, Ang-mo Niocu yang merasa lega dan aman lalu berist irahat dalam sebuah kamar di rumah penginapan. Ia telah melakukan perjalanan yang jauh dan berat sehingga tubuhnya terasa lelah sekali. Sampai dua hari dua malam ia melepaskan lelah, menghabiskan waktu itu untuk makan dan tidur saja. Setelah menginap dua malam, pada hari yang ke tiga, ia melanjutkan perjalanan menuju ke ibu kota Yunnan-hu yang letaknya masih sekitar seratus li (mil) dari kota Mayong kini ia tidak tergesa-gesa dan telah menjual kudanya dan melanjutkan perjalanannya dengan jalan kaki.

Siang hari itu panas sekali dan seperti biasa ia mengembangkan payungnya untuk melindungi mukanya dari sengatan sinar matahari. Tiba-tiba tampak bayangan putih berkelebat melaluinya dan ketika bayangan itu berhenti dan berbalik sehingga mereka saling berhadapan, Ang-mo Niocu melihat seorang pemuda tampan berpakaian putih menghadangnya sambil tersenyum lebar. Pemuda itu bukan lain adalah Si Han Bu yang memang melakukan pengejaran terhadap Ang-mo Niocu setelah ia mendengar dari Huang-ho Sian-li bahwa Tek-pai dari Ka isar yang diberikan kepada gadis itu telah dirampas Pangeran Cu Kiong dan kemudian oleh pangeran itu diserahkan kepada Ang-mo Niocu yang kini membawa Tek-pai itu kabur menuju ke Yunnan-hu di selatan "Hai, Nona berpayung merah yang cantik, engkau tergesagesa hendak ke manakah?" kata Han Bu sambil tersenyum.

Ang-mo Niocu terbelalak memandang pemuda itu. Tadinya ia merasa tidak mengenal pemuda yang tampan dan tampak ramah ini, akan tetapi ia segera teringat bahwa ini adalah pemuda yang pernah ditawan dalam kamar tahanan di istana Pangeran Cu Kiong. Padahal Pangeran Cu Kiong sudah mengatakan bahwa kalau perjuangannya memberontak gagal, para prajurit yang menjaga tawanan itu diperintahkan untuk menghujaninya dengan anak panah sampai mati. Bagaimana sekarang tahu-tahu pemuda itu telah bebas dan berada di depannya? Akan tetapi gadis yang sudah banyak pengalaman ini dapat menenangkan hatinya kembali karena ia pun maklum bahwa t idak mungkin pemuda ini sengaja mengejarnya. Untuk apa mengejarnya? Pemuda ini tidak mempunyai alasan untuk mengejarnya. Dalam pemberontakan Pangeran Cu Kiong itu ia hanya seorang pembantu yang tidak begitu penting. Dan tidak ada seorang pun mengetahui kecuali dia dan Pangeran Cu Kiong sendiri bahwa Tek-pai dari Kaisar itu kini berada padanya. Pula, Ang-mo Niocu memang amat tertarik kepada Si Han Bu, pemuda yang tinggi besar dan jantan gagah berwajah tampan ini. Apalagi ia tahu bahwa ilmu silat pemuda ini cukup tangguh, dan sikapnya yang agak ugal-ugalan menambah daya tariknya sebagai seorang pemuda. Lumayan untuk teman bersenang-senang setelah sekian lamanya melakukan pelarian yang melelahkan tanpa teman! Maka, ia tersenyum manis sekali ketika Han Bu menegurnya sambil tersenyum itu. Tanpa banyak berpura-pura lagi ia pun menjawab.

"Aih, engkau sudah dapat membebaskan diri dari tawanan Pangeran Cu Kiong yang brengsek itu? Aku memang tergesagesa pergi meninggalkannya. Untuk apa aku membela pangeran yang gagal segala-galanya itu? Aku tahu bahwa dia pasti akan gagal segala-galanya, maka aku pun tidak sungguh-sungguh membantunya. Eh, siapa pula namamu? Si Han Bu, bukan? Hei, anak manis, sejak engkau ditawan sebetulnya aku ingin sekali menolongmu namun tidak mendapatkan kesempatan."

"Ah, aku memang tahu bahwa engkau adalah seorang yang baik hati, Ang-mo Niocu!" kata Han Bu, diam-diam dia mengagumi kecantikan gadis itu. Bukan hanya wajahnya yang cantik manis, akan tetapi juga bentuk tubuhnya menggairahkan. Seorang gadis yang amat menarik hati, memiliki daya tarik yang luar biasa, terutama kerling mata dan senyum bibirnya yang menantang itu. Akan tetapi dia pun sudah mengetahui bahwa gadis yang menarik ini amat lihai dan berbahaya, juga sudah mendengar betapa gadis ini merupakan seorang iblis betina yang suka menggoda laki-laki untuk kemudian dibunuhnya! Benar-benar seorang iblis betina yang amat cantik!

"Tentu saja aku tidak mungkin bersikap t idak baik terhadap seorang pendekar muda yang gagah perkasa seperti engkau ini, Si Han Bu. Sekarang katakan, mengapa engkau menyusul aku? Dan bagaimana engkau dapat menyusulku sejauh ini?" Han Bu tetap tersenyum. "Aku meniru perbuatanmu, Niocu.

Aku juga menunggang kuda yang kutukar dan ganti dengan kuda lain set iap kudaku sudah kelelahan. Akhirnya aku dapat mengejarmu di sini."

"Hemm, dan apa yang dapat kulakukan untukmu, pemuda gagah?"

"Ang-mo Niocu, perang pemberontakan Pangeran Cu Kiong telah usai, pemberontakan telah dapat dihancurkan dan kini tidak ada lagi permusuhan antara engkau dan aku membela pihak masing-masing. Karena itu, apabila engkau benar-benar hendak berbaik hati kepadaku, aku harap engkau suka menyerahkan Tek-pai yang kauterima dari Pangeran Cu Kiong kepadaku." Bibir yang berbentuk indah menantang itu bergerak-gerak mengarah senyum simpul yang nakal. "Tek-pai? Mengapa aku harus menyerahkan Tek-pai kepadamu, pendekar tampan?"

"Niocu, Tek-pai itu oleh mendiang Kaisar Shun Chi telah diberikan sebagai tanda kekuasaan kepada Huang-ho Sian-li Ciu Thian Hwa puteri Pangeran Ciu Wan Kong. Pangeran Cu Kiong yang memberontak merampas Tek-pai itu dari tangan Huang-ho Sian-li ketika gadis itu tertawan. Kemudian Pangeran Cu Kiong menyerahkan Tek-pai itu kepadamu, Niocu. Nah, karena Tek-pai itu bukan hak milikmu, maka sudah sepatutnya kalau kaukembalikan kepadaku agar dapat kuserahkan kepada yang berhak, yaitu Huang-ho Sian-li."

"Bagaimana kalau Tek-pai itu tidak ada padaku, Han Bu?"

"Bohong! Pangeran Cu Kiong sendiri yang mengaku bahwa Tek-pai itu dia serahkan kepadamu." bentak Han Bu.

"Sudahlah, jangan mempermainkan aku, Niocu. Serahkan Tek- pai itu padaku dan tidak ada urusan lagi di antara kita, tidak ada permusuhan lagi."

"Kau tidak percaya dan mengira aku berbohong? Nah, silakan menggeledahku, Han Bu. Mari, di sini sepi tidak ada orang lain. Geledahlah aku!" Gadis itu lalu menghampiri sebatang pohon besar di tepi jalan. Tempat itu teduh dan ia menurunkan payungnya, lalu menghampiri Han Bu dan berdiri dengan sikap menantang, membusungkan dadanya dan mengangkat kedua lengannya ke atas, memberikan tubuhnya untuk digeledah! Mendapatkan tantangan ini, Han Bu tersenyum malu-malu dengan muka berubah kemerahan. Bagaimana mungkin dia menggeledah dan menggerayangi tubuh Ang-mo Niocu untuk mencari Tek-pai yang mungkin disembunyikan di balik pakaiannya?

"Aih, bagaimana ini, Niocu. Aku suka menggeledahmu, akan tetapi menggerayangi tubuhmu? Aku tidak mau bertindak t idak sopan dan kurang ajar terhadap wanita."

"Ah, tidak apa-apa. Aku senang kalau engkau mau menggeledah dan mencari Tek-pai itu agar engkau yakin bahwa aku tidak berbohong kepadamu. Tek-pai itu memang tidak berada padaku, Han Bu." Si Han Bu merasa serba salah. Tidak mungkin dia mau menggerayangi tubuh gadis itu untuk menggeledah.

Bagaimana kalau gadis itu berbohong? Akan tetapi mungkin saja gadis itu memang tidak membawa Tek-pai karena memang sudah ia sembunyikan sebelumnya? Dia mencari akal, lalu berkata.

"Ang-mo Niocu, aku mendengar bahwa engkau adalah seorang wanita yang gagah perkasa dan sebagai seorang wanita gagah perkasa engkau tentu tidak mau berbohong.

Benarkah itu?"

"Tentu saja benar!" kata Ang-mo Niocu sambil tersenyum manis dan hatinya merasa senang.

"Kalau begitu, cobalah engkau membuat ikrar dengan mengikuti kata-kataku. Beranikah engkau? Tentu berani karena seorang gagah tidak takut akan apa pun, bukan?"

"Ya, tentu saja aku berani!"

"Nah, ikuti kata-kata dan tirukan. Tek-pai itu tidak ada padaku."

"Tek-pai itu t idak ada padaku!" kata Ang-mo Niocu dengan tegas dan seperti main-main.

"Kalau aku berbohong...."

"Kalau aku berbohong...." gadis itu menirukan.

"Aku menjadi gadis yang paling jelek, paling t idak menarik, paling menjemukan di dunia ini!"

"Aku menjadi gadis...." Ang-mo Niocu tidak melanjutkan.

Gadis mana mau disebut paling jelek, paling tidak menarik, dan paling menjemukan di dunia ini?

"Ha, ternyata engkau seorang gadis yang benar-benar gagah sehingga engkau tidak mau berbohong. Sekarang katakan, di manakah Tek-pai itu, Ang-mo Niocu?"

"Hemm, Tek-pai ada padaku, lalu apa yang akan kaulakukan kalau Tek-pai tidak kuserahkan kepadamu, Han Bu?"

"Terpaksa akan kupergunakan kekerasan karena aku sudah berjanji kepada guruku untuk mendapatkan Tek-pai itu kembali."

"Hi-hik, andaikata engkau dapat mengalahkan aku, lalu bagaimana engkau dapat mengambil Tek-pai dariku, pemuda ganteng?"

"Kalau engkau dapat kukalahkan dan menjadi tidak berdaya, tentu aku dapat mengambil Tek-pai itu dengan mudah darimu."

"Betulkah itu? Memangnya engkau sudah tahu di mana Tek-pai itu kusimpan, Han Bu?" Han Bu tertegun. "Memangnya disimpan di mana?" Mata pemuda itu memandang dengan sinar mencari-cari di seluruh tubuh gadis itu.

"Engkau mau tahu?" Ang-mo Niocu mengerling genit dan tersenyum lebar penuh arti. "Tek-pai itu kusimpan di balik celanaku, di dekat pusar. Nah, beranikah engkau mengambilnya? Kalau berani, tidak usah kita bertanding. Aku tidak ingin kaupukul roboh, dan aku pun tidak ingin memukulmu. Silakan kauambil saja dari balik celanaku dan aku tidak akan mencegahnya. Mari, ambillah, Si Han Bu!" Kembali gadis itu memajukan dada dan perutnya ke arah Han Bu sambil melangkah mendekati.

Han Bu terpaksa mundur-mundur! Sialan, pikirnya.

Pengakuan gadis itu bahwa Tek-pai itu disimpan di balik celana, membuat dia kehilangan akal. Apalagi gadis itu berada dalam keadaan sadar, bahkan andaikata gadis itu pingsan sekalipun, bagaimana mungkin dia dapat mengambil Tek-pai di tempat tersembunyi seperti itu?

"Hayo, Han Bu. Mengapa mundur-mundur? Ke sinilah, ambillah Tek-pai itu, mari!" Ang-mo Niocu dengan gembira menggoda dan ia merasa senang karena keraguan dan keengganan Han Bu itu jelas merupakan pertanda bahwa pemuda ini adalah seorang perjaka tulen yang belum pernah berdekatan apalagi bergaul akrab dengan wanita!

"Aku... aku tidak mau mengambilnya darimu...."

jilid XIV

"KENAPA? Bukankah engkau sudah berjanji kepada gurumu untuk mengambilnya dariku dan menyerahkannya kepada yang berhak? Aih, engkau sungkan dan malu, ya? Karena kita belum saling mengenal? Sekarang begini saja, Han Bu. Kita bersahabat dan kalau engkau mau bersikap manis dan baik kepadaku, mau menjadi kekasihku, aku akan menyerahkan Tek-pai itu padamu. Bagaimana, mudah, bukan?" Wajah pemuda itu berubah merah sekali seperti udang direbus dan dia hanya menggelengkan kepalanya kuat-kuat tanpa dapat mengeluarkan suara.

Pada saat itu terdengar derap kaki kuda dan muncul dua orang penunggang kuda yang segera menghentikan kuda mereka setelah tiba di dekat Ang-mo Niocu dan Si Han Bu.

Pemuda ini tentu saja terkejut bukan main ketika mengenal bahwa seorang di antara dua orang penunggang kuda itu adalah Lam-hai Cin-jin yang amat lihai. Orang ke dua adalah seorang pemuda berusia sekitar dua puluh enam tahun yang tampan gagah berpakaian indah dan pesolek. Dia itu bukan lain adalah Wu Kongcu (Tuan Muda Wu) yang bernama Wu Kan, putera dari Jenderal Wu Sam Kwi yang kini menjadi raja kecil di Yunnan-hu dan menguasai sebagian daerah Se-cuan.

Melihat mereka, Ang-mo Niocu segera memberi hormat kepada Lam-hai Cin-jin dan Wu Kan yang sudah melompat turun dari atas kuda mereka.

"Suhu...!" Si Han Bu semakin kaget. Kiranya Lam-hai Cin-jin adalah guru dari Ang-mo Niocu. Kalau muridnya saja sudah amat lihai, apalagi gurunya!

"Yi Hong, apa hasilmu diutus Ayah pergi ke utara? Engkau tidak membawa hasil apa pun dan kudengar engkau hanya berfoya-foya, bermain gila dengan banyak laki-laki!" Wu Kan berkata dengan ketus, dengan suara mengandung kecemburuan karena memang sebelum pergi ke utara, Angmo Niocu telah menjadi kekasihnya.

Mendengar ucapan itu, wajah Ang-mo Niocu menjadi merah, bukan karena malu melainkan karena penasaran dan marah.

"Wu Kongcu, enak saja engkau bicara. Aku yang bersusah payah, terkadang terancam bahaya maut, dan engkau yang hanya enak-enakan tinggal di rumah malah menuduh yang bukan-bukan!"

"Yi Hong, jangan kurang ajar terhadap Wu Kongcu!" bentak Lam-hai Cin-jin kepada muridnya. Ang-mo Niocu tidak berani membantah namun jelas ia merasa penasaran dan marah kepada Wu Kan.

"Bagus, bocah setan ini sudah muncul di sini. Yi Hong, kenapa engkau tidak cepat menangkap atau membunuhnya?" Lam-hai Cin-jin menegur ketika dia melihat dan mengenal Si Han Bu.

"Suhu, saya sedang membujuk agar dia suka ikut ke Yunnan-hu," jawab Ang-mo Niocu Yi Hong.

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12