09. Kembang Hijau Batu Kumala
Ketika hari menjadi malam, dua orang muda ini tiba di sebuah padang rumput yang di sana sini ditumbuhi beberapa batang pohon. Di waktu musim salju, tempat ini penuh salju dan pohon-pohon itu gundul tak berdaun. Baiknya waktu itu musim salju sudah lewat dan biarpun tidak gemuk tanah di situ ditumbuhi rumput hijau dan pohon-pohon itu mengeluarkan daun. Mereka berhenti di bawah sebatang pohon dan duduk di atas rumput yang lunak
Dari jauh terdengar menguaknya beberapa ekor binatang yak dan mengembiknya kambing-kambing yang berkeliaran. Itulah binatang peliharaan tuan tanah di Loka yang dalam keributan tadi telah lari cerai berai
"Tunggu aku mencari susu dan makanan!" kata Ci Ying. Tubuhnya berkelebat dan sebentar saja ia lenyap dari dari depan Wang Sin. Orang muda ini kagum sekali. "Dia begitu hebat kepandaiannya. Benar-benar mengherankan. Aku yang berlatih siang malam dibawah pimpinan suhu yang pandai, ternyata masih kalah jauh olehnya, padahal dia dahulu seorang gadis lemah," pikirnya
Tak lama gadis ini pergi. Ia telah kembali lagi membawa sebuah paha domba yang gemuk dan di lain tangan memegang sebuah tempat minum yang tadi dibawanya, penuh dengan susu murni yang segar. Ia tertawa-tawa gembira dan lagaknya kembali sebagai Ci Ying lima tahun yang lalu
"Kanda Wang Sin. Aku memanggangkan daging domba yang gemuk dan memanaskan susu yang segar untukmu."
Timbul lagi kegembiraan Wang Sin melihat sikap gadis ini. Ah, kalau saja Ci Ying seterusnya seperti ini, seperti dahulu lagi. Mudah mengajaknya berunding
"Aku membuat apinya," katanya sambil tertawa. Melihat pemuda itu sudah mau tersenyum, Ci Ying makin gembira
Wang Sin membuat api unggun sedangkan gadis itu memotong-motong daging domba. Entah dari mana dapatnya, ia mengeluarkan bumbu-bumbu dari dalam saku bajunya. Tak lama kemudian tercium bau sedap daging domba dipanggang dan segera kedua orang muda yang sudah lapar itu makan daging panggang dengan air susu
Nikmat sekali rasanya, apalagi dimakan di bawah sinar bulan yang sudah muncul di langit yang bersih cerah
Hawa malam itu sangat dingin. Ci Ying merebahkan diri di atas rumput dengan kepala di atas pangkuan Wang Sin. Pemuda itu tidak menolak dan membiarkan saja Ci Ying menaruh kepalanya di atas paha. Sebentar saja Ci Ying tertidur dengan senyum manis di bibirnya.Wang Sin memandang wajah manis di pangkuannya itu yang nampak luar biasa cantiknya di bawah sinar bulan. Kembali ia menarik napas panjang
"Alangkah cantik manisnya Ci Ying ....sayang sekali ia berubah menjadi seorang berhati ganas." Kemudian ia melamun, teringat akan pengalaman-pengalaman Ci Ying dahulu. Belum sempat ia mendengarkan cerita Ci Ying semenjak mereka berpisah. Bagaimana nasib bocah kecil yang dulu dibawa oleh gadis ini? Besok akan kutanyakan dia dan perlahan-lahan akan kujelaskan tentang pernikahanku dengan Ong Hui, demikian pikir Wang Sin
Dengan pikiran ini ia menjadi lega. Ia menyandarkan tubuhnya pada batang pohon
Dilihatnya tubuh Ci Ying bergerak seperti kedinginan ketika angin bertiup. Ia melepas baju luarnya dan menyelimuti gadis itu
"Kanda Wang Sin....." gadis itu berbisik perlahan tanpa membuka matanya. Kiranya dia sedang bermimpi, Wang Sin lalu memeramkan matanya dan saking lelahnya ia tertidur sambil bersandar pada pohon. Api unggun masih menyala, lidah api mobat mabit (bergoyang-goyang) tertiup angin. Wang Sin telah menaruh sebatang cabang kering yang besar sehingga dalam waktu dua tiga jam api itu takkan padam
Tiba-tiba Wang Sin terkejut ketika mendengar suara berisik. Ia membuka matanya dan segera melompat bangun ketika melihat Ci Ying tertawa-tawa sambil bergerak- gerak ke sana ke mari. Dia sedang dikeroyok tiga orang laki-laki tinggi besar yang wajahnya tidak kelihatan nyata dalam sinar yang suram itu. Api unggun sudah hampir padam sedangkan bulan bersembunyi di balik awan hitam yang tebal
Sebelum ia sempat bergerak, terdengar suara "Krakkk!" disusul jerit mengerikan
Ternyata seorang pengeroyok telah kena dihantam dadanya oleh tangan kiri Ci Ying sehingga ia terjungkal roboh di dekat api unggun. Sambil melayani lawan yang dua orang lagi, Ci Ying tertawa dan kakinya menyambar. Tubuh orang itu terlempar dan ...... jatuh ke atas api yang masih marong dan merah
Orang itu berkelojotan, Wang Sin mengkirik. Cepat ia melompat dan menggunakan kakinya menyingkirkan orang yang mulai terbakar itu dari atas api unggun. Siapa pun juga itu, tidak tega ia melihat orang dibakar hidup-hidup
"Kanda Wang Sin, kau sudah bangun? Lihat aku robohkan dua ekor kadal busuk ini!" kata Ci Ying. Cepat sekali sabuk merahnya bergerak-gerak seperti ular dan dua orang yang bersenjata golok itu repot sekali menghadapi desakan Ci Ying yang lihai. Bagi mereka, ujung sabuk merah itu berubah menjadi belasan, membuat mata mereka kabur dan permainan golok mereka kacau
Padahal menurut penglihatan Wang Sin, ilmu golok dua orang itu tidak lemah, bahkan cepat dan kuat sekali. Pada waktu sebuah golok menyambar leher Ci Ying dan golok kedua menusuk perutnya, gadis itu menggunakan ujung sabuknya melibat golok pertama dan kakinya menendang golok kedua yang mengancam perut. Hebat sekali gerakan gadis ini. Tangkisan golok menggunakan tendangan kaki membuktikan bahwa tingkat kepandaiannya memang sudah tinggi, kalau tidak demikian tidak nanti dia berani menendang golok yang sedang menusuk perutnya
Golok terpental dan tendangan susulan tepat mengenai perut orang yang gemuk
"Blukkk!" Perut yang besar seperti perut kerbau itu terkena ciuman ujung sepatu Ci Ying mengeluarkan suara seperti tambur dipukul. Orangnya terjengkang dan tidak bangun lagi. Adapun orang ketiga yang goloknya terkibat, mencoba untuk membetot senjatanya, akan tetapi sia-sia. Malah tiba-tiba goloknya itu terbang terlepas dari tangannya, terayun-ayun dibelit ujung sabuk dan alangkah kaget ia melihat goloknya sendiri itu membalik dan "terbang" ke arah kepalanya. Ia mencoba untuk mengelak, akan tetapi golok itu yang dipegangi oleh libatan sabuk terus mengejarnya dan akhirnya "Crakkk!" kepalanya terbela oleh goloknya sendiri
"Hi-hi-hi, baru kalian merasa kelihaian nonamu!" Ci Ying tertawa girang. Golok rampasan di ujung sabuknya itu ia gerak-gerakan lagi, kini menyambar kepada dua orang yang lain yang sudah ia robohkan lebih dulu. Terdengar bunyi "crakk-crakk!" dua kali dan kepala dua orang inipun terbelah dua
Wang Sin hendak mencegah sudah tidak keburu lagi. Apalagi ia sedang terkejut mendengar datangnya suara kaki kuda dan kaki orang yang banyak sekali, disertai teriakan-teriakan marah. Tiba-tiba angin besar bertiup dan api unggun yang sudah kehabisan umpan itu padam, tinggal bunga apinya yang berterbangan ke sana sini mendatangkan penglihatan yang amat indah. Keadaan menjadi gelap sekali dan angin bertiup makin keras sampai hampir tidak tertahan lagi
Wang Sin bertiarap dan di lain saat ia meraba muka Ci Ying yang ternyata juga sudah bertiarap dekat sekali dengannya. Muka gadis itu begitu dekat sampai ia dapat merasai napas yang hangat dan bau yang harum. Hatinya berdebar lagi seperti tadi ketika gadis itu tertidur di atas pangkuannya. Benar aneh, ganas dan lihai sekali, pikirnya
"Hi-hi, kanda Wang Sin. Bagaimana kau melihat jurus-jurusku tadi?" Gadis itu berkata kuat-kuat karena suara angin membuat orang sukar bicara dan takkan terdengar kalau tidak berteriak. "Kau mau tahu namanya? Ketika aku robohkan orang pertama, itulah jurus Hek-mo-to-sim (Iblis Hitam Menyambar Hati), ketika aku menendang perut kerbau gemuk itu aku menggunakan jurus tendangan Toat-beng-twi (Tendangan Merenggut Nyawa) dan yang terakhir tadi sabuk merahku bergerak merampas golok dengan jurus Iblis Terbang Mencari Mayat. Bagus, bukan?"
Wang Sin bergidik. Sudah banyak ia mendengar ilmu-ilmu silat di dunia Kang-ouw dari suhunya, juga dari Ong Hui, akan tetapi belum pernah ia melihat jurus-jurus yang demikian ganas dan lihai, malah juga nama jurus-jurus itupun mengerikan
"Memang lihai......" jawabnya, "akan tetapi....... terlalu ganas. Ci Ying, kenapa kau bunuh orang-orang itu, malah kau membunuh secara demikian mengerikan?" Iapun harus bicara keras untuk melawan riuhnya suara angin ribut
"Apa kau bilang? Bicara dekat telingaku sini!" Ci Ying mendekatkan mukanya sehingga mulut Wang Sin sampai menempel di pipinya, dekat telinga. Jantung Wang Sin berdebar dan mukanya terasa panas saking jengahnya
"Eh, bibirmu kok panas amat?" Ci Ying berseru
Wang Sin menjauhkan mukanya akan tetapi, Ci Ying menempelkannya lagi. "Biarlah, panaspun tidak apa. Lekas kau bilang, apa yang kaukatakan tadi." Wang Sin mengulangi kata-katanya. "Hi-hi, kau bilang ganas? Kau anggap aku keji membunuh tiga ekor kadal busuk itu? Kanda Wang Sin, tahulah kau siapa mereka itu? Mereka adalah sebangsa srigala- srigala hitam."
Wang Sin kaget. Pernah ia mendengar tentang orang-orang yang berkeliaran di daerah itu, orang-orang jahat sekali yang tidak segan melakukan kejahatan macam apapun juga. Kadang-kadang menjadi saudagar-saudagar, bisa juga menjadi pencuri kuda, perampok atau penculik. Orang-orang begini disebut srigala hitam
Ia sekarang mengerti mengapa Ci Ying membunuh mereka, akan tetapi kalau ia ingat akan cara keji yang dipergunakan gadis itu, ia berkata perlahan. "Membunuh orang- orang jahat memang tugas orang gagah, hanya cara kau membunuh mereka itu terlalu ganas."
Rambut Ci Ying terlepas dari sanggulnya karena tiupan angin yang amat keras
Rambut itu menyambar-nyambar muka Wang Sin, mendatangkan rasa geli dan gatal
Sia-sia saja ia mencoba untuk menyingkirkan rambut itu karena amat banyak dan panjang. Di saat itu juga ia mencium bau harum yang keluar dari rambut panjang itu
Ci Ying di dalam gelap cepat mengetahui ini, dengan tertawa kecil ia menyingkap rambut dan membetulkan lagi
"Kau tahu apa yang terjadi dengan diriku kalau sampai aku terjatuh ke dalam tangan kadal-kadal itu? Lebih ganas lagi mereka!"
Wang Sin tadinya tidak mau melayani gadis ini berbicara, hatinya sudah tak senang dan marah menyaksikan gadis ini begitu ganas dan kejam. Akan tetapi suara gadis ini menimbulkan ingin tahunya
"Bagaimana?" tanyanya singkat
Suara Ci Ying berubah dingin ketika menjawab. "Hemm, kalau mereka tidak kubunuh dan sampai aku dapat tertawan, mereka itu bertiga, mungkin dengan konco-konconya yang lebih banyak lagi, akan mempermainkan diriku sampai mereka merasa bosan, kalau sudah bosan mereka akan menjual diriku kepada siapa juga yang berani membayar. Huh!"
Merah muka Wang Sin dan kembali ia bergidik. Sebagai seorang gadis, bagaimana Ci Ying bisa bicara tentang hal ini demikian terang-terangan terdengarnya tanpa malu- malu. Ia makin tak puas
Angin ribut masih terus mengamuk sehingga kedua orang muda itu belum berani bangun, masih bertiarap di atas rumput. Sampai lama mereka diam saja. Kemudian Wang Sin yang mengetahui keadaan gadis itu mengajukan pertanyaan
"Ci Ying, dulu kau pergi membawa anak kecil itu, di mana sekarang?"
Gadis itu menghela napas. "Kau maksudkan Wang Tui? Ah, dia telah mati."
"Mati?" Suara Wang Sin mengandung iba, "Bagaimana dia sampai mati?" "Aku ditangkap anjing-anjing hina dan anak itu hanyut terus dalam perahu
Bagaimana lagi kalau tidak mati?"
Wang Sin dapat menduga apa yang terjadi kemudian. "Lalu kau ditolong oleh orang yang menjadi gurumu, bukan? Orang macam apakah gurumu itu Ci Ying
"Orang macam apa? Guruku adalah Cheng Hoa Suthai, ratu dari Heng-toan-san
Siapa tidak mengenalnya?" kata Ci Ying bangga. Wang Sin diam saja, ia anggap ucapan gadis ini sombong. Mana ada ratu di Heng-toan-san? "Kanda Wang Sin, masih ingatkah kau ketika dahulu kau suka bernyanyi untukku ketika kau menggembala domba-domba? Sekarang angin ribut masih mengganas, tidak dapat kita duduk dengan enak. Supaya tidak membosankan dan mengusir hawa dingin, maukah kau bernyanyi untukku seperti dulu lagi?"
Hati Wang Sin sebetulnya sudah dingin, akan tetapi ia merasa tidak enak juga kalau ia bersikap terlalu kaku kepada bekas tunangannya ini. Apalagi bau rumput di bawa mukanya dan keadaan di situ mengingatkan dia akan penghidupan masa lalu, lalu membuka mulut bernyanyi
Nyanyian yang merupakan keluhan para budak yang hidupnya tertindas. Suaranya keras dan nyaring. Nyanyian ini membangkitkan kembali semangatnya dan membuat ia merasa lebih dekat dengan Ci Ying malah menghidupkan lagi cinta kasih terhadap gadis itu
"Wahai, Himalaya yang tinggi
Ahoi, Yalu-cangpo yang panjang
Dapatkah kalian memberi jawaban? Kedua tanganku kuat bekerja berat
Tapi tiada seperseratus hasilnya
Menjadi bagianku! Aku punya mulut
Tak dapat mengeluarkan suara hati
Telingaku disusur tuli
Mataku disusur buta
Aku punya nyawa
Tak lebih berharga seekor domba! Wahai, Himalaya sembunyikan aku dipuncak-puncakmu! Ahoi, Yalu-cangpo, lenyapkan aku di muaramu!"
Setelah selesai bernyanyi, Wang Sin melihat gadis itu telah merebahkan kepala di atas dadanya sambil memeluknya. Ia makin terharu dan mengira bahwa gadis itu tentu menangis. Di dalam gelap itu mana ia tahu bahwa Ci Ying sama sekali tidak menangis malah tersenyum? Agaknya bagi gadis ini yang sudah menjadi keras hati, tidak ada lagi watak untuk menangis. Karena terharu dan mengingat akan nasib gadis yang sudah yatim piatu dan tidak mempunyai seorangpun di dunia yang dapat memikirkannya kecuali dia sendiri, Wang Sin mengelus-elus kepala Ci Ying, cinta kasih yang lama terpendam sekarang timbul kembali. "Ci Ying, jangan berduka, jangan kau menangis. Aku kan sudah berada di sampingmu?" katanya perlahan
Ci Ying tidak menjawab, agaknya memperhatikan sesuatu. Tiba-tiba terdengar suara berbisik, sama sekali di dalam suara ini tidak ada tanda-tanda bekas menangis
"Kanda Wang Sin, tahukah kau bahwa telah datang banyak orang?"
"Aku tahu. Tadi sebelum datang angin ribut aku mendengar suara kaki orang dan kuda."
"Kita telah dikurung oleh belasan orang."
Wang Sin terkejut dan tubuhnya bergerak hendak bangun. Angin ribut telah mereda
Akan tetapi Ci Ying menahannya untuk rebah terus
"Perlu apa ribut-ribut ? Kita perlu mengaso, lebih baik kita tidur dulu. Di dalam gelap mereka takkan menyerang. Andaikata menyerang juga, dengan kepandaian kita berdua, apa yang kita takuti? Kau lihat, besok terang tanah aku akan menghajar mereka dan kita merampas dua ekor kuda." Gadis itu tertawa perlahan
Terpaksa Wang Sin rebah kembali, akan tetapi dia tidak bisa tidur. Musuh mengepung, jumlah mereka belasan orang, Inilah berbahaya! Bagaimana Ci Ying bisa enak-enak tidur? Ia bangun duduk dan melihat gadis itu benar-benar sudah pulas dengan kepala rebah di pangkuannya
Napas gadis itu perlahan dan rata, tanda sudah pulas. Dia sendiri tidak dapat tidur dan duduk diam melakukan siulan (samadhi) seperti yang ia pelajari dari gurunya untuk mengumpulkan semangat dan tenaga
Menjelang pagi ia sudah dapat melihat bayangan-bayangan orang dan benar seperti ucapan Ci Ying malam tadi, ada belasan orang yang berdiri merupakan pagar mengurung mereka. Dia menghitung. Enam belas orang dan di tangan tiap orang terlihat golok besar. Tiga orang yang malam tadi dibunuh Ci Ying sudah tidak kelihatan mayatnya lagi. Mungkin diambil oleh kawan-kawannya
Agak jauh dari situ tampak segerombolan kuda diikat pada pohon. Dia tidak dapat melihat jelas muka belasan orang itu, hanya dari bayangan mereka ia tahu bahwa mereka semua adalah laki-laki yang bertubuh tinggi besar
Sementara itu, enam belas orang yang mengurung ketika melihat gadis tidur pulas dengan kepala di pangkuan seorang pemuda, mengeluarkan seruan marah. Mereka mulai bergerak maju dan mengurung makin rapat
Wang Sin melihat ini menjadi khawatir. Ia hendak menurunkan kepala Ci Ying dari atas pangkuannya agar ia dapat melompat berdiri untuk menghadapi keroyokan mereka itu. Akan tetapi hebatnya ketika ia mengangkat kepala gadis itu, ternyata tidak bergeming. Kepala itu terasa amat berat olehnya dan tak dapat didorong turun
"Ci Ying..... Ci Ying...... bangunlah! Mereka mulai mengancam......!" katanya di dekat telinga gadis itu. Gadis itu mengeluarkan suara lirih, menggeliat dan mengangkat dua lengannya ke atas. Dengan belakang tangan kiri ia menutupi mulutnya yang menguap kecil
"Aiiihhh, enaknya aku tidur......." katanya lirih, matanya disipitkan dan mulutnya tersenyum. Bertahun-tahun baru kali ini aku tidur nyenyak." Ia lalu mengulur tangannya mengusap dagu Wang Sin yang licin
Wang Sin menjadi kaget dan jengah sendiri. Bagaimana gadis ini begitu tak tahu malu, di depan banyak orang asing membelai-belainya? Perlahan ia mendorong tangan gadis itu dan berkata. "Ci Ying, orang-orang mulai mengurung rapat dan hendak menyerang. Kita harus siap sedia!"
Akan tetapi gadis itu malah meramkan matanya kembali lalu berkata sambil tersenyum. "Sepagi ini sudah banyak kadal berkeliaran, sungguh menjemukan!"
Ketika tiga orang malam tadi terbunuh, keadaan hanya remang-remang, maka semua orang itu tidak melihat jelas bagaimana kawan-kawan mereka terbunuh dan siapa di antara dua orang muda itu yang membunuh. Sekarang mendengar gadis itu memaki kadal kepada mereka, tentu saja mereka menjadi marah sekali
Seorang di antara mereka, yang berkumis panjang, mengangkat golok dan berseru memberi komando. "Tangkap yang betina, bikin mampus yang jantan!"
Wang Sin mendongkol sekali. Sikap dan kata-kata semua orang itu seakan-akan sedang mengurung dua ekor atau sepasang binatang hutan saja. Ia kembali hendak melompat, akan tetapi tetap saja ia tidak kuat menurunkan kepala Ci Ying yang masih meramkan mata sambil tersenyum manis
Pada saat itu, belasan orang itu sudah mendesak maju dan di antara mereka sudah mengangkat golok hendak menyerang. Tiba-tiba terdengar suara ketawa nyaring dan kedua tangan Ci Ying bergerak. Sinar perak berkelebat dan tahu-tahu terdengar jerit- jerit kesakitan
Lalu empat orang di antara para penyerbu itu roboh terjengkang, berkelonjotan dan diam tak bergerak lagi. Ternyata di tenggorokan mereka sudah menancap sebatang jarum perak
Selagi semua pengeroyok tertegun, Ci Ying sudah melompat bangun sambil tertawa mencabut sabuk suteranya
"Kanda Wang Sin, kau lihat baik-baik ujung sabukku!" kata Ci Ying tertawa dan tiba- tiba sinar merah berkelebat ke depan. Tahu-tahu ujung sabuknya yang kanan kiri sudah menyerang. Dua orang yang diserang mencoba untuk menyabet sabuk itu dengan golok mereka. Akan tetapi gerakan sabuk ini terlalu cepat bagi mereka sehingga yang nampak hanya sinarnya. Sabetan golok mereka meleset dan tanpa dapat dicegah lagi, kedua ujung sabuk itu telah menotok jalan darah di dekat leher
"Auukkk!" Dua orang itu melepaskan golok dan memuntahkan darah segar, tubuh mereka terguling dan napas mereka empas-empis. Kagetnya para penyerang itu bukan kepalang. Dalam dua kali gerakan saja berkuranglah mereka dengan enam orang anggauta. Si Kumis Panjang tahu bahwa wanita cantik di depannya ini bukan sembarangan orang maka sambil melintangkan golok ia berseru menahan kawan-kawannya jangan maju, kemudian ia merangkapkan kedua tangannya ke dada sambil menghadapi Ci Ying dan bertanya
"Nona muda yang gagah siapakah dan dari partai mana? Harap sudi memberi tahu agar kami tidak salah tangan menyerang orang segolongan!"
Ci Ying mengeluarkan suara mengejek, "Apa matamu buta dan kau tidak melihat ini?" Ia menunjuk ke arah kepala sendiri di mana terdapat sebuah penghias rambut terbuat dari perak dan batu permata hijau, merupakan setangkai bunga berwarna hijau
Terdengar seruan-seruan kaget dan si kumis panjang itupun pucat. "Cheng-hoa-pai ....!" Memang Cheng Hoa Suthai, guru Ci Ying, adalah pendiri dari partai yang ia beri nama Cheng-hoa-pai (Partai Bunga Hijau) yang ia ambil dari namanya. Tak seorangpun sebetulnya mengetahui siapa nama asli Cheng Hoa Suthai
Ia mendapat panggilan Cheng Hoa Suthai adalah karena rambutnya selalu dihias bunga hijau, biarpun ia sudah menjadi seorang pendeta. Karena banyak pengikut dan anak muridnya, maka ia mendirikan Cheng-hoa-pai yang berkedudukan di Heng-toan- san
Cheng-hoa-pai ini terkenal sekali di dunia kang-ouw, anak-anak murid Cheng-hoa-pai adalah wanita-wanita yang selalu berwatak ganas dan berilmu tinggi, maka nama partai itu ditakuti orang. Apalagi oleh para penjahat karena biarpun ganas dan kejam, harus pula diakui bahwa yang dimusuhi oleh Cheng-hoa-pai memang sebagian besar adalah penjahat-penjahat. Hal ini bukan berarti bahwa partai ini, adalah partai bersih
Bagi Cheng-hoa-pai, tidak ada istilah baik maupun buruk, pendeknya yang menghalangi dan menentang, mereka ganyang semua, baik maupun buruk. Adanya nama ini ditakuti sebagian besar oleh kalangan penjahat, mudah pula dimengerti, Cheng-hoa-pai adalah perkumpulan wanita dan banyak di antaranya yang cantik- cantik, tentu saja membuat orang-orang jahat suka datang mengganggu. Maka banyaklah orang jahat yang sudah menjadi korban keganasan Cheng-hoa-pai
Demikianlah, tidak mengherankan apabila si kumis panjang itupun menjadi pucat ketika mengenal bunga hijau di rambut Ci Ying. Akan tetapi ia kelihatan bersangsi
Dia sudah banyak mendengar tentang Cheng-hoa-pai
Anak-anak murid atau anggauta-anggauta Cheng-hoa-pai biasanya mempunyai hiasan kembang hijau yang hidup dan yang memakai kembang hijau dari batu kumala hanyalah Cheng Hoa Suthai sendiri dan beberapa orang anak murid yang bertingkat tinggi, yang sudah berusia tua. Masa gadis remaja ini sudah memakai kembang tiruan? Jangan-jangan gadis ini hanya mendapatkan di jalan lalu dipakai dan dipergunakan untuk menggertak
"Nona..... nona dari Cheng-hoa-pai ....? Akan tetapi......" Ia menggagap. Ci Ying belum lama turun gunung. Ia tahu bahwa orang belum mengenalnya, maka menjadi sangsi dan mengira dia membohong. Sambil tertawa sabuk merahnya bergerak, meluncur ke depan, ke arah si kumis panjang. Orang ini kaget sekali dan melangkah mundur, namun tiba-tiba golok di tangannya terbetot secara tiba-tiba sehingga terlepas dari pegangannya. Ia melihat ujung sabuk merah yang membetot goloknya itu membawa goloknya terbang
Sekali menggerakkan tangan gadis itu membuat golokanya terlempar ke udara, kemudian gerakan kedua menggetarkan ujung sabuk yang menyambar ke arah golok ditengah-tengah. "Krakk!" Golok itu patah menjadi dua kena dipecut oleh sabuk
"Hebat ....!" seru si kumis panjang. Ia sudah mendengar akan kelihaian Cheng Hoa Suthai bermain kebutan atau hudtim, dan permainan sabuk inipun menunjukkan bahwa gadis ini luar biasa lihainya. Tanpa ragu-ragu lagi ia lalu menjatuhkan diri berlutut, diturut oleh kawan-kawannya, yang kesemuanya dengan dia tinggal sepuluh orang itu
"Siauwjin (hamba yang rendah) mempunyai mata tapi tidak melihat Gunung Thaisan di depan mata. Hamba sekonco telah membikin marah lihiap (pendekar wanita), mohon lihiap sudi memberi ampun." Kata si kumis panjang dengan muka ketakutan
Kembali Ci Ying mengeluarkan suara menghina dari hidungnya. "Hemmm, sebelum dihajar mana kalian bisa melihat orang. Kalian sudah kurang ajar, sekarang aku mau membunuh kalian semua. Kalian mau apa?" Sambil berkata demikian, nona ini melangkah maju, sikapnya mengancam
"Ampun, lihiap.... ampun....!" Suara minta ampun dari sepuluh orang ini riuh rendah
Benar-benar hebat dan mengherankan sekali. Sepuluh orang ini adalah bangsa kasar yang biasanya tidak takut pada setan sekalipun, dapat membunuh orang tanpa berkedip, dapat menyiksa orang sampai mati sambil tertawa-tawa. Akan tetapi menghadapi Ci Ying mereka minta ampun
Melihat ini Ci Ying kelihatan gembira sekali. "Hi-hi-hi-hi, aku mau bunuh kalian
Akan kubeset kulit dadamu seorang demi seorang, kucabut jantungmu untuk diberikan kepada srigala-srigala liar. Hi-hi-hi!"
Seperti ayam-ayam makan padi di tanah, sepuluh orang itu mengangguk-anggukkan kepala sampai jidat mereka berdarah membentur batu, minta ampun dengan suara mohon dikasihani
Wang Sin melompat bangun. "Ci Ying kauampunkan mereka!" Suaranya keren, ia menahan kemarahannya karena tidak tahan melihat sikap Ci Ying yang amat ganas itu
Ci Ying menengok kepadanya dan wajah yang tadinya keren itu berubah lembut
"Kau menghendaki demikian kanda Wang Sin? Baiklah, aku ampuni jiwa sepuluh ekor kadal ini, akan tetapi aku tidak bisa mengampuni matanya yang tidak melihat orang." Ia memutar tubuh dan membentak. "Bekas-bekas bangkai! Hayo kalian copot mata kirimu dan berikan kepadaku. Baru aku mau ampuni kalian!"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar