07 Kun Lun Hiap Kek

07. Membasmi Tuan Tanah atau Mati.

Para hamba tani yang tadinya ketakutan diamuk kaki tangan tuan tanah, sekarang berdiri menonton dengan mata terbelalak kagum. Tidak ada lagi antek-antek tuan tanah di situ, kesemuanya lari ketakutan untuk melapor kepada majikan mereka, maka para hamba tani itu tidak takut untuk meninggalkan sawah. Maka sekarang terbangun semangat mereka ketika melihat betapa seorang bekas kawan mereka, Wang Sin, sekarang dengan gagahnya berani melawan Thiat-tung Hwesio, malah kelihatan mendesak hwesio yang mereka semua amat benci itu

"Kawan-kawan, kenapa kita diam saja? Wang Sin telah datang mari kita bantu dia!" teriak seorang kakek dengan semangat meluap dan gembira. Mendengar ini, mereka bersorak dan majulah puluhan orang yang bekerja di bagian itu sambil mengamang- amangkan tinju, cangkul, pikulan, batu, dan alat-alat lain dengan sikap mengancam

Bagaikan arus gelombang, mereka mendatangi tempat pertempuran. Empat orang tukang pukul yang tadi roboh oleh Ong Hui dan belum tewas akan tetapi belum sempat melarikan diri karena luka mereka, mereka memandang dengan mata terbelalak ke arah gelombang para budak ini. Mereka seperti mendapat firasat akan datangnya malapetaka, apalagi ketika para budak itu sudah datang dekat dan mereka melihat sinar kebencian memancar keluar dari mata para budak itu

Seorang budak yang membawa arit, yaitu seorang perempuan setengah tua yang bertubuh kurus sekali menghampiri seorang antek yang tadi terkena pukulan Ong Hui

Dengan mata melotot penuh kebencian ia mengangkat aritnya yang tajam. Perempuan ini teringat akan puteranya yang dulu disiksa sampai mati oleh antek tuan tanah ini dan sekarang tiba saatnya untuk membalas dendam yang sudah ia tahan bertahun- tahun lamanya

Anjing tuan tanah itu memekik ketika sabit diayun ke arah kepalanya. Ia berusaha mengelak, akan tetapi karena tadinya terkena pukulan Ong Hui dan membuat seluruh tubuhnya lemas, elakannya kurang cepat dan "crakkk!" ujung arit itu menembus kulit dan daging pundak, menghantam tulang punggungnya

"Aduuhhh....... ampunnnn..... nenek Namal...... ampunkan aku......" Ia merengek- rengek dan terdengar suara mengejek dari nenek itu, diikuti oleh suara ketawa para hamba tani lainnya. Kembali arit itu diayun "crak-crak-carak!" Darah menyembur keluar dan terdengar anjing tuan tanah itu melolong-lolong kesakitan dan ketakutan

Pekik dan jerit pengecut para tukang pukul yang tiga orang lagi segera menyusul kawannya ketika para hamba tani mendatangi mereka dan menghujankan senjata- senjata kepada empat orang tukang pukul yang apes itu. Akan tetapi tidak lama, karena sebentar saja tubuh mereka sudah hancur lebur, habis dihajar oleh puluhan orang yang rata-rata menyimpan sakit hati dan dendam yang amat besar turun temurun

Dapat dibayangkan betapa kaget dan ngeri hati Thiat-tung Hwesio melihat hal ini

Permainan tongkatnya kacau balau dan ujung pedang Wang Sin sudah melukai pahanya, membuat celananya penuh darah. Para hamba bersorak girang dan mereka ini tiada ubahnya seperti harimau-harimau yang haus darah. Mereka mendesak maju hendak membantu Wang Sin dan isterinya. Mereka tidak kenal takut dan sama sekali tidak mau mundur ketika tongkat hwesio itu yang disapukan ke belakang membuat dua orang hamba terjungkal roboh dengan kaki luka- luka. Mereka maju terus

Sakit hati dan dendam yang ditahan-tahan bisa membuat orang menjadi kejam hati

Kebencian yang meluap-luap dapat membuat orang mata gelap. "Tangkap pendeta cabul ini!" teriak seorang wanita muda dengan rambut riap-riapan dan mata berputaran penuh kebencian

"Jangan bunuh dulu, siksa biar dia minta-minta ampun."

"Potong sedikit-sedikit dagingnya."

"Kubur dia hidup-hidup."

"Bakar dia."

Demikianlah teriakan-teriakan para hamba tani, laki-laki dan perempuan, kakek- kakek, nenek-nenek, dan kanak-kanak. Mendengar teriakan-teriakan ini, wajah hwesio itu menjadi pucat sekali dan diam-diam ia memeras otak mencari hafalan doa- doa selamat yang pernah ia pelajari sebagai seorang pendeta. Akan tetapi karena selama ini kerjanya hanya menurutkan nafsunya menjadi kaki tangan tuan tanah Yang Can, ia sudah lupa lagi akan semua doa

Rasa takut dan ngerinya membuat ia tidak dapat bertahan lagi menghadapi pedang Wang Sin dan Ong Hui. Ujung pedang Ong Hui lagi-lagi mencium pundaknya dan sekali pedang Wang Sin menyambar darah mengucur dari dadanya....

"Mati aku......!" Thiat-tung Hwesio mengeluh ketika ia terhuyung roboh. Puluhan pasang tangan hamba tani menyambutnya dan di lain saat tubuhnya sudah diseret- seret ke tengah sawah seperti seekor babi hutan yang baru saja ditangkap untuk disembelih beramai-ramai

Melihat semangat para hamba tani bangkit, Wang Sin gembira. Apalagi ketika melihat dari kanan kiri, hamba-hamba tani yang lain datang pula berlari-lari untuk berkumpul sehingga mereka merupakan serombongan hamba tani yang jumlahnya seratus orang lebih, hatinya menjadi makin gembira

Ternyata bahwa para kaki tangan tuan tanah di bagian lain segera melarikan diri meninggalkan pekerjaan ketika mendengar bahwa Wang Sin datang bersama seorang wanita Han yang cantik dan mengamuk

"Kawan-kawan, sekarang tiba saatnya bagi kita untuk menghancurkan tuan tanah Yang Can. Aku, Wang Sin yang kalian sudah kenal, dan ini isteriku, Ong Hui, kami sudah bertekad untuk membasmi tuan tanah Yang Can dan membebaskan kalian dari penindasan. Siapa ikut?" Para hamba tani bersorak dan semua mengacungkan tangan yang kini sudah berlumur darah, darah empat orang centeng dan darah Thiat-tung Hwesio, di mana mereka bercucuran air mata

Wang Sin membawa kepalan tangan kirinya ke muka untuk menghapus dua butir air matanya sendiri. "Bagus, mari kita serbu tuan tanah Yang Can dan kaki tangannya!"

Demikianlah, dipimpin oleh Wang Sin dan Ong Hui, mereka ini merupakan sepasukan orang-orang yang nekad, yang pada saat itu hanya mengenal satu tekad : Membasmi Tuan Tanah atau Mati! Sementara itu, Yang Can sudah bersiap sedia. Ia terkejut setengah mati ketika melihat kaki tangannya berlari-lari mendatangi dengan muka pucat melaporkan segala kejadian. Hampir ia tidak dapat percaya ketika mendengar laporan bahwa Thiat-tung Hwesio juga sudah tewas di tangan Wang Sin. Thiat-tung Hwesio amat gagah, bagaimana bisa tewas di tangan pemuda hina itu? "Lekas beritahukan Thouw Tan Losuhu dan panggil semua pendeta lama untuk membantu!" teriaknya dengan muka pucat

Thouw Tan Hwesio, Lama jubah kuning yang bertubuh tinggi besar, tokoh pertama di dusun Loka dan dianggap sebagai manusia dewa, menjadi marah bukan main mendengar bahwa Wang Sin datang membuat ribut. Apalagi ketika mendengar betapa Wang Sin sudah membunuh Thiat-tung Hwesio, kemarahannya memuncak

"Bocah ingusan itu berani membunuh seorang pendeta di sini? Biarkan dia datang, lihat akan pinto patahkan lehernya!"

Ucapan hwesio ini sombong sekali, akan tetapi tidak aneh kalau dia menyombong

Thouw Tan Hwesio bukanlah orang sembarangan. Dia menjadi kepala pendeta di kuil Loka adalah karena pengangkatan dari kuil pusat di Lasha. Dan sudah tidak asing lagi, bahwa pendeta yang datang dari Lasha tentulah orang gemblengan yang memiliki kepandaian tinggi, baik dalam bidang ilmu silat maupun ilmu kebatinan dan agama

Tentu saja mendengar tentang diri Wang Sin, dia memandang rendah. Apa sih kelihaian seorang pemuda yang baru menekuni ilmu selama lima tahun. Biarpun dididik oleh orang sakti, tidak mungkin akan dapat melawannya. Apalagi di situ terkumpul banyak murid-muridnya dan kaki tangan tuan tanah yang rata-rata juga memiliki kepandaian silat

Dapat dibayangkan betapa kagetnya hati tuan tanah Yang Can ketika ia mendengar bahwa Wang Sin dan isterinya orang Han itu kini menyerbu ke dusunnya diikuti oleh seratus lebih budak-budak yang kini telah memberontak. Dari kaget ia menjadi marah bukan main. Saking marahnya tuan tanah ini merenggut topi dari kepalanya, dan membanting-banting topinya di atas tanah

"Setan jahanam! Keparat Laknat! Bunuh budak Wang Sin itu bersama siluman wanita yang dibawanya. Tangkap semua budak dan beri rangketan lima puluh kali setiap orang, jangan beri makan sampai tiga hari!" Kemudian ia menghadap Thouw Tan Hwesio sambil berkata. "Losuhu, tolonglah kami, harap jangan biarkan orang-orang hina itu menginjak-injak kehormatan kita."

Thouw Tan Hwesio yang sedang menghadapi meja, sedang dijamu hidangan- hidangan lezat dan arak wangi, tertawa bergelak sampai tubuhnya yang tinggi besar itu bergerak-gerak. "Ha-ha-ha, jangan khawatir ..... jangan khawatir. Sekali pinceng menggerakkan tongkat, akan remuk batok kepala orang berdosa Wang Sin itu. Dua kali pinceng menggerakkan tongkat, siluman perempuan itu takkan dapat bernyawa lagi!"

Baru saja ia berkata demikian, di luar terdengar sorak sorai ramai di susul pekik yang riuh rendah. Para budak yang dipimpin Wang Sin dan Ong Hui telah tiba di situ dan sudah mulai "perang" melawan antek-antek tuan tanah

Tentu saja para budak yang tidak bisa ilmu silat itu bukan tandingan para anjing tuan tanah, akan tetapi mereka berjumlah banyak, bersemangat tinggi dan sudah nekat

Apalagi di situ terdapat Wang Sin dan Ong Hui yang mengamuk bagaikan dua ekor naga sakti. Pedang suami isteri ini berkelebatan dan sukar ditahan. Karena para kaki tangan tuan tanah yang hanya berjumlah tiga puluh orang itu mulai terdesak mundur

Beberapa orang di antara mereka sudah roboh oleh pedang Wang Sin dan Ong Hui, atau roboh oleh serbuan para budak yang sudah nekat dan tidak takut mati itu. Tentu saja di pihak para pemberontak sudah banyak pula yang roboh dikemplang toya atau dibacok golok

Pertempuran makin hebat, para pemberontak makin mendesak dan mulai mendekati gedung besar tempat tinggal tuan tanah Yang Can. Keadaan amat mengancam bagi keselamatan keluarga tuan tanah itu

Pada saat keadaan sedang ramai-ramainya, tiba-tiba dari samping gedung itu berlari seorang kakek yang terbungkuk-bungkuk dan tangannya meraba-raba ke depan. Ia nampak bingung dan mulutnya keluar kata-kata penuh gairah

"Wang Sin pulang, Wang Sin pulang..... mana anakku Ci Ying?" Lalu ia berlari ke depan, tersandung jatuh, berdiri lagi dan berteriak-teriak. Ci Ying......! Ci Ying......! Kesinilah kau.......!"

Semua orang yang sedang bertempur, baik dari pihak para budak maupun pihak tuan tanah, tidak memperhatikan atau memperdulikan orang ini. Akan tetapi ketika Wang Sin mendengar suara ini, ia cepat menengok sambil melompat mundur dari kepungan lawan. Bukan main kaget dan terharunya ketika melihat bahwa orang itu adalah ayah Ci Ying

"Paman Ci Leng.....!" serunya sambil menubruk maju melihat orang tua itu lagi-lagi tersandung dan terguling roboh sehingga ia masih sempat memeluknya

Wang Sin merasa kasihan sekali. Bagaimana kakek ini sekarang menjadi begini rusak tubuhnya dan buta matanya? Ci Leng memeluk Wang Sin sambil meraba-raba pundak dan muka orang muda itu, mulutnya tertawa lebar. "Wang Sin ..... ah, kau benar Wang Sin...... aku mendengar kau datang bersama seorang wanita cantik, tentu dia Ci Ying....... mana dia?"

Tertikam hati Wang Sin mendengar ini. Tidak boleh disalahkan orang tua ini

Memang tentu saja semua orang pun mengharapkan dia kembali bersama Ci Ying, karena bukankah dia dahulunya melarikan diri bersama gadis itu? "Bukan paman, bukan Ci Ying....." katanya lemah

Naik sedu sedan putus asa di kerongkongan kakek itu

"Bukan Ci Ying.....? Habis siapa dia..... dan mana Ci Ying........?"

Belum sempat Wang Sin menjawab, terdengar bentakan nyaring, "Budak hina, kau berani kembali mengantarkan nyawa?"

Wang Sin kaget mendengar sambaran angin yang amat kuat. Cepat ia mengayun pedangnya ke belakang sambil melompat meninggalkan Ci Leng. "Traangggg.....!"

Tangannya tergetar dan ia kaget melihat tongkat di tangan penyerangnya tidak patah seperti tongkat-tongkat lain ketika bertemu dengan pedang pusakanya. Ketika ia memandang, ternyata bahwa penyerangnya itu bukan lain adalah Thouw Tan Hwesio, si pendeta jubah kuning yang dulu amat ia takuti

"Pendeta keparat, aku kembali untuk membasmi setan-setan macam-macam engkau!" seru Wang Sin yang cepat melakukan serangan. Di lain saat kedua orang ini sudah bertempur hebat dan segera Wang Sin mendapat kenyataan bahwa ilmu kepandaian pendeta kepala ini benar-benar hebat dan masih jauh di atas tingkat kepandaiannya sendiri. Ketika ia melirik dan melihat isterinya pun didesak oleh tujuh orang pendeta murid Thouw Tan Hwesio, diam-diam ia mengeluh

Sementara itu, para budak masih terus menerjang maju, berkelahi dan bergumul melawan kaki tangan tuan tanah. Pekik kemarahan dan jerit kesakitan bercampur aduk membuat keadaan di situ makin kacau dan mengerikan. Yang Can sendiri bersama keluarganya sudah sejak tadi menyembunyikan diri di dalam gedung

Ci Leng yang tidak dapat melihat lagi, ketika mendengar bahwa anaknya tidak ikut Wang Sin datang, menangis tersedu-sedu dan menjadi putus harapan

Lima tahun ia menguatkan diri, menahan segala macam siksaan, dipukuil, dihina, dicokel matanya, akan tetapi ia masih hidup karena memang ia ingin hidup, ingin anaknya datang kembali menolong dan membalaskan dendam untuknya. Benar saja Wang Sin kembali dan melakukan pembalasan, akan tetapi Ci Ying, anaknya, calon isterinya Wang Sin, kenapa tidak datang? Itu tentu hanya satu artinya, yaitu Ci Ying anaknya itu sudah mati

"Ci Ying......! Ci Ying......!" Kakek buta ini menangis. Seorang tukang pukul yang kebetulan berada di dekat situ, melihat Ci Leng menjadi meluap kemarahannya. Inilah orangnya yang menjadi biang keladi sampai sekarang Wang Sin datang menggerakkan semua budak untuk memberontak

"Anjing buta, mampuslah dulu kau!" serunya sambil mengayun golok membacok ke arah leher Ci Leng. Orang tua ini maklum bahwa dia yang dimaki dan hendak diserang, akan tetapi ia sudah tidak mempunyai nafsu untuk hidup, maka tanpa takut sedikitpun ia menanti datangnya maut

Pada saat golok itu hampir menyentuh leher Ci Leng, terdengar jerit melengking yang amat tinggi dan nyaring, jerit yang membuat semua orang merasakan bulu tengkuknya berdiri. Malah hebatnya, jerit ini membuat banyak orang menggigil karena mengandung pengaruh yang mujijat. Bahkan Wang Sin dan Ong Hui sendiri sampai melompat mundur ketika merasakan goncangan hebat dalam dada mereka mendengar jerit itu

Lebih hebat lagi, terdengar suara "krakk!" dan tukang pukul yang tadi menyerang Ci Leng, telah terlempar dengan kepala remuk. Di lain saat orang-orang melihat Ci Leng telah dipeluk oleh seorang perempuan cantik yang menangis dan mendekap kepala orang buta itu ke dadanya

"Ayah...... ayah.....!" wanita itu menangis sambil mengeluh

"Ci Ying......." Wang Sin terbelalak dan girang, akan tetapi ia harus cepat mengelak karena kembali Thouw Tan Hwesio sudah menyerangnya. Juga Ong Hui sudah dikeroyok lagi. Nyonya muda ini sudah lelah sekali dan pundaknya sudah terpukul toya, maka geraknya amat lambat dan ia terancam bahaya besar. Keadaan Wang Sin tidak lebih baik, ia didesak habis-habisan oleh Thouw Tan Hwesio yang lihai

"Ci Ying datang .....! Ci Ying datang .....!" Para budak meningkat semangat bertempur mereka melihat kedatangan Ci Ying. Mereka mengamuk terus biarpun sudah banyak di antara mereka yang tewas

Ketika pertempuran sudah berlangsung lagi hebat dari pada tadi, kini tak seorangpun dapat memperhatikan Ci Ying. Gadis ini masih seperti dulu, lima tahun yang lalu, masih cantik manis. Hanya pakaiannya yang kini sudah berganti seperti pakaian wanita Han. Rambutnya digelung tinggi, membuat wajahnya makin manis dipandang

Senyumnya yang dulu masih membayang di bibirnya dan pipinya masih tetap kemerahan dihias lesung pipit di sebelah kiri. Akan tetapi kalau orang melihat sepasang matanya, ia akan menjadi kaget sekali. Mata ini luar biasa sekali, tajam dan mempunyai sinar yang aneh, malah menyeramkan

Ci Leng menggerak-gerakkan pelupuk matanya yang buta dan dari mata yang sudah bolong itu mengalir air mata, akan tetapi mulutnya tersenyum. "Ci Ying ....anakku ....., syukurlah kau masih hidup..."

Kakek ini terengah-engah, memeluk anaknya erat-erat dan di lain saat ia telah menghembuskan napas terakhir dalam pelukan anaknya. Rupa-rupanya karena selama bertahun-tahun menderita sengsara dan mempertahankan diri untuk hidup karena ingin bertemu kembali dengan anaknya, setelah sekarang bertemu, kegirangan luar biasa menyebabkan kakek ini tidak kuat menahan dan jantungnya menjadi pecah mendatangkan kematiannya, "Ayah .... Ayah....!" Ci Ying meraung-raung, akan tetapi hanya sebentar saja ia menangis. Tiba-tiba ia terdiam dan meletakkan tubuh ayahnya di atas tanah

Kemudian bangkit berdiri, memutar tubuh dan sepasang matanya yang aneh itu menyapu-nyapu semua orang di situ. "Ayah, kau telah dibikin buta, disiksa, dibunuh .... lihat, lihat baik-baik ayah. Anakmu akan membasmi mereka!"

Tubuhnya mencelat ke tengah pertempuran, sambil mengeluarkan pekik menyeramkan. Hebat sepak terjangnya. Sekali mengulurkan tangan ia menyerang dua orang tukang pukul. Dua orang itu dengan penuh kengerian mengangkat senjata mereka, seorang membacok dengan golok dan yang kedua mengemplang dengan toya besi

Akan tetapi Ci Ying tidak mempedulikan serangan ini. Tangan kirinya menyampok golok yang segera terpental patah dan toya yang mengemplang pundaknya tidak ditangkis, akan tetapi terpental ketika mengenai pundak. Di lain saat kedua tangannya sudah menyambar, tepat dua orang itu kena dicengkeram lehernya dan sekali remas terdengar suara keras dan .... tulang leher dua orang itu patah-patah. Tubuh mereka terkulai tak bernyawa lagi

Sambil mengeluarkan lagi pekik mengerikan, Ci Ying melemparkan dua mayat itu ke arah tukang pukul-tukang pukul yang lain. Hebatnya, lemparan ini mengandung tenaga luar biasa kuatnya sehingga sekali gus dua orang tukang pukul dan seorang budak yang kena tertumbuk dua mayat itu terjungkal tak dapat bangun lagi

Kembali dia melompat maju dan menangkap dua orang tukang pukul yang sekali gus ia bunuh dalam cengkeraman kedua tangannya yang lihai. Terdengar suara keras dan ternyata sekarang sebuah lengan tangan dari masing-masing tukang pukul telah .... putus terlepas dari pundak karena dibetot oleh Ci Ying. Dengan dua buah lengan ini ia lalu mengamuk ke kanan kiri dan dalam sekejap mata saja roboh enam orang tukang pukul lagi yang mengeroyok Ong Hui yang sudah kepayahan

Melihat Wang Sin didesak oleh hwesio tinggi besar, Ci Ying melemparkan dua buah lengan itu ke arah pertempuran. Terdengar suara angin bersiut dan Wang Sin cepat mengelak sambil menangkis dengan tangan kiri. Alangkah terkejutnya ketika ia merasa lengan tangan kirinya itu menjadi sakit dan linu sekali. Bukan main, bagaimana Ci Ying bisa memiliki tenaga demikian hebat dan kepandaian demikian lihai? "Ci Ying.......!" Ia berseru girang, kaget dan ngeri

"Hi, hi, hi Wang Sin. Serahkan saja anjing budak bangkotan ini kepadaku!"

Adapun Thouw Tan Hwesio yang juga menangkis lengan itu dengan toyanya, merasa pula betapa telapak tangannya pedas. Ia kaget sekali dan jerih, akan tetapi serangan Ci Ying sudah tiba secara mendadak sehingga terpaksa ia melayani wanita aneh ini. Tahu-tahu Ci Ying sudah menggunakan senjata yang istimewa, yaitu sehelai sabuk merah yang bergerak-gerak lemas bagaikan ular, akan tetapi jangan dipandang ringan sabuk sutera ini karena setiap ujung sabuk tidak kurang ganasnya dari pada seekor ular beracun. Sabuk ini digerakkan dengan tenaga lweekang yang mujijat, di samping dapat menotok urat-urat kematian, juga sabuk ini telah direndam racun yang hebat dan berbahaya sehingga andaikata pukulan sabuk dapat ditahan oleh ahli lweekang, namun pengaruh racun tetap saja merupakan ancaman maut

Melihat dua ujung sabuk itu dengan ganasnya menyambar ke arah kepala dan dadanya, Thouw Tan Hwesio kaget sekali dan cepat ia memutar toyanya untuk menangkis sambil mengerahkan tenaganya. Akan tetapi kali ini ia bertemu tandingan

Toyanya adalah senjata yang keras dan kaku, mana bisa mempengaruhi senjata sabuk sutera yang lemas

Di lain saat toyanya sudah dilibat dan begitu Ci Ying membetot, hampir saja toya itu terlepas dari tangannya. Dalam kekagetannya, Thouw Tan Hwesio mengeluarkan seruan keras dan kedua kakinya secara bertubi-tubi mengirim tendangan, sedangkan keringat dingin membasahi mukanya

Ci Ying mengeluarkan suara ketawa mengejek sambil menarik sabuknya dan mengelak ke belakang, kemudian ujung sabuknya kembali menyambar untuk menyambut kaki yang menendang, Thouw Tan Hwesio cepat-cepat menahan tendangannya. Celakalah kalau sampai kakinya kena terlibat

Segera keduanya mengeluarkan kepandaian masing-masing dan bertempur seru, akan tetapi selalu hwesio itu berada di pihak terdesak oleh permainan sabuk yang amat aneh dan ganas sekali itu. Melihat ini, Wang Sin timbul kegembiraannya, dan cepat ia melompat dan menggerakkan pedangnya membantu Ci Ying

Melihat majunya pemuda ini Thouw Tan Hwesio menjadi khawatir sekali. Ia memutar toyanya dan tiba-tiba mulutnya kemak-kemik dan di lain saat ia berseru dengan suara keras dan amat berpengaruh. "Rebahlah kalian!"

Hebat sekali suara Thouw Tan Hwesio ini. Dia adalah seorang ahli hoat-sut (sihir) yang merupakan ilmu hitam dan yang biasanya dipergunakan para pendeta Lama untuk mempengaruhi dan menakut-nakuti para budak. Seruan itu adalah semacam ilmu sihir yang pengaruhnya merampas semangat orang, membuat orang menurut akan kehendak yang menjalankan ilmu ini

Wang Sin ketika mendengar seruan ini, tanpa dapat ditahan lagi lalu terhuyung dan hampir roboh. Andaikata dia hanya menghadapi hwesio itu seorang diri, tentu dalam keadaan seperti itu ia akan dapat diserang dan mengalami kecelakaan. Akan tetapi, alangkah heran dan terkejutnya hati Thow Tan Hwesio ketika melihat Ci Ying tertawa terkekeh-kekeh menghadapi serangannya dengan ilmu hitam tadi

"Hi, hi, hi, anjing tua bangkotan, jangan membadut di depanku!" Dan Ci Ying terus menyerang sambil berkata kepada Wang Sin. "Wang Sin, mundurlah. Biarkan aku merampas kepala anjing gundul ini." Wang Sin tidak berani maju lagi. Ia menoleh dan melihat isterinya masih mengamuk dan dikeroyok lagi oleh beberapa orang hwesio dan tukang pukul, ia melompat dan membantu isterinya. Semangat suami isteri ini bangkit kembali melihat datangnya bantuan Ci Ying yang lihai

Mereka tidak menghiraukan luka-luka mereka dan dalam beberapa jurus telah merobohkan pula empat orang hwesio murid Thouw Tan Hwesio. Para budak juga terus menyerbu, malah sekarang sudah mulai memasuki ruangan sebelah dalam gedung keluarga tuan tanah Yang Can

Tuan tanah Yang Can ketika melihat keadaan yang amat berbahaya itu, telah mempersiapkan kuda dan berlari dari pintu belakang. Tuan tanah yang pengecut ini tidak memperdulikan lagi nasib keluarganya. Dengan sepuluh orang tukang pukul sebagai pelindung, ia melompat ke atas kuda dan melarikan diri

"Tuan tanah keparat lari!" teriak Wang Sin. "Tahan dia jangan sampai lolos!"

Besama-sama isterinya, ia meninggalkan pengeroyok-pengeroyoknya dan mengejar

Akan tetapi sepuluh orang tukang pukul menghalangi mereka dan kuda yang ditunggangi oleh Yang Can sudah mulai kabur

Tiba-tiba kuda itu meringkik dan roboh, membawa tuan tanah itu roboh bersama

Ternyata sebuah pisau belati telah dilontarkan oleh Ci Ying dan tepat menancap di leher kuda itu. Melihat tuan tanah yang dibencinya itu hendak lari, Ci Ying mengeluarkan kepandaiannya yang istimewa. Sebuah ujung sabuknya menotok pergelangan tangan kiri Thouw Tan Hwesio membuat hwesio itu memekik kesakitan dan melepaskan toya, akan tetapi tangan kanan yang memegang toya masih digerakkan, mengayun toya ke arah leher Ci Ying

Anehnya, Ci Ying sama sekali tidak mengelak, menerima saja gebukan ini. Benar- benar hebat gadis ini. Toya yang menghantam lehernya terpental dan sebelum Thouw Tan Hwesio hilang kagetnya, lengan kanannya sudah kena dicengkeram sampai patah tulangnya. Ia menjerit dan terhuyung mundur, akan tetapi tidak sempat mengelak ketika ujung sabuk merah menyambar dan melilit lehernya

Hwesio tinggi besar ini kaget sekali. Tangan kanannya sudah patah dan tidak dapat digerakkan. Dengan tangan kiri ia merenggut sabuk yang melibat leher, ditarik- tariknya sekuat tenaga namun sia-sia. Sabuk itu membalut leher makin erat, ia terhuyung dan roboh, namun bagaikan ular hidup sabuk merah itu membelit terus sampai akhirnya kedua matanya melotot dan lidahnya keluar. Ia menghembuskan napasnya dalam keadaan mengerikan setelah kaki tangannya berkelonjotan

Sambil tertawa mengerikan Ci Ying melompat dan mengejar Yang Can. Tuan tanah ini ketika roboh dari kuda, dengan ketakutan merangkak-rangkak hendak melarikan diri. Akan tetapi tiba-tiba lehernya ditangkap orang dan tubuhnya diangkat ke atas

Sekelebatan ia melihat wajah Ci Ying yang cantik akan tetapi dengan sinar mata yang membuat rambut kepalanya sampai berdiri saking takutnya. Sinar mata itu bukan sinar mata manusia lagi, melainkan sinar mata iblis yang haus darah. Ia memekik- mekik sampai lehernya kering dan tidak ada suara lagi keluar dari lehernya ketika Ci Ying menyeretnya ke depan mayat Ci Leng

06 - Beranda - 08

Tidak ada komentar:

Posting Komentar