26 Pendekar Sakti

"Pengecut tua bangka, kau hendak mempermainkan orang dengan siasatmu! Bin Kong Siansu, jangan percaya mulut tua bangka yang memang ahli siasat dan akal bulus ini!" tiba-tiba terdengar suara yang amat tinggi dan tahutahu seekor ular melayang dan menyerang ke arah kepala Pak-lo-sian. Tokoh utara ini cepat mengebut dengan kipasnya sehingga kepala ular itu terdorong angin kipas dan dia melanjutkan dengan menotokkan ujung gagang kipas ke arah penyerangannya. Coa-tok Lo-ong, penyerang itu, cepat mengelak karena dia maklum akan kelihaian lawannya.

Bin Kong Siansu tadinya juga merasa heran melihat penyangkalan Pak-lo-sian, akan tetapi ucapan dari Coa-tok Lo-ong ini membuat dia tidak ragu-ragu lagi dan cepat dia membantu Coa-tok Lo-ong, memutar pedang dan menyerang Pak-lo-sian. Dengan demikian, Siangkoan Hai dikeroyok dua! Bagaimana Bin Kong Siansu bisa ragu-ragu lagi? Surat peninggalan yang ditandatangani oleh sutenya dan murid kepala Bu-tong-pai sudah menjadi bukti yang nyata, apalagi masih ada saksi hidup yang kini pun berada dan hadir di tempat itu, yakni Siok Tek To-jin. Maka dia percaya penuh akan kata-kata Coa-tok Lo-ong dan menganggap bahwa seorang yang begitu curang membunuh sutenya, tentu takkan segan-segan untuk mempergunakan siasat untuk mencoba menyangkal perbuatannya itu.

Melihat Pak-lo-sian sudah dikeroyok dua oleh Bin Kong Siansu dan Coa-tok Lo-ong, Hek-i Hui-mo lalu melompat pula dan membantu Bian Kim Hosiang mengeroyok Kiubwe Coa-li. Pertempuran menjadi makin ramai dan hebat dengan masuknya Hek-i Hui-mo ini.

"Tidak adil....! Sungguh tidak adil........!" bentak Jengkin- jiu Kak Thong Taisu yang "menggelundung" naik dan menyerbu di tempat pertempuran. "Adu kepandaian macam apa ini? Sungguh tak tahu malu, kiranya hanya main keroyokan saja."

"Eh, Jeng-kin-jiu, kau mau apakah?" tiba-tiba berkelebat bayangan dan di depannya sudah menghadang Kiam Ki Sianjin dan Toat-beng Hui-houw. "Apakah kau mau membantu fihak pemberontak yang mengacaukan negara?"

"Aku tidak membantu mana-mana! Aku hanya menghendaki agar pertempuran-pertempuran yang berat sebelah ini dihentikan! Aku sudah menyesal sekali dahulu dapat diperkuda oleh An Lu Shan sehingga aku kesalahan tangan membunuh Ang-bin Sin-kai sahabat baikku.

Sekarang ini, kalian tokoh-tokoh besar di dunia kang-ouw, yang mewakili semua orang gagah di dunia, yang katanya memiliki kedudukan batin lebih tinggi daripada orang biasa, apakah hanya untuk seorang raja saja kalian sampai mengadu nyawa mati-matian?"

"Habis apa kehendakmu?" tanya Kiam Ki Sianjin sambil tersenyum mengejek.

"Kiam Ki Sianjin, ketika kau masih mengeram di dalam goa di gunungmu, aku sudah berada di istana, akan tetapi kau sekarang bersikap seakan-akan kau sudah menjadi seorang jenderal! Alangkah sombongmu. Dengarlah baikbaik kalau memang kau seorang yang menjunjung tinggi kegagahan. Kalau pibu (adu kepandaian) ini memang akan diteruskan, berlakulah jujur dan tidak secara pengecut.

Biarkan seorang melawan seorang, jangan main keroyokan.

Aku sudah ribuan kali bertempur dan ratusan kali menghadapi pibu, akan tetapi selama hidupku baru kali ini menyaksikan pibu yang demikian tidak tahu malu!"

"Jeng-kin-jiu, kau adalah orang luar. Biarpun aku sudah memanggilmu ke sini, akan tetapi ternyata kau menarik diri sendiri dan menjadi penonton dan orang luar. Kau peduli apa? Kau lihat sendiri, mereka bertempur atas kehendak mereka, tidak ada yang memaksa. Kalau mereka memang suka berdamai, mengapa mereka memaksa hendak mengadakan adu kepandaian? Sudahlah, kami tak hendak menyeret kau dalam pertandingan ini, lebih baik kau keluar dan turun dari gunung ini."

"Tak mungkin! Aku bisa membiarkan kalian bertanding kalau memang adil, akan tetapi aku paling benci kecurangan dan ketidakadilan. Tak boleh aku berpeluk tangan saja melihat hal ini terjadi di depan mataku!" Sambil berkata demikian, Jeng-kin-jiu siap untuk menyerang dan membantu Kiu-bwe Coa-li dan Pak-lo-sian yang dikeroyok dan didesak hebat oleh para pengeroyoknya.

Akan tetapi pada saat itu, terdengar ledakan dua kali dan asap tebal sekali berwarna hitam campur putih, memenuhi tempat itu. Jeng-kin-jiu yang berada agak jauh dari ledakan ini, kaget dan cepat melompat mundur ke dekat Kwa Ok Sin kembali karena mencium bau yang amat keras. Akan tetapi semua orang yang berada di gelanggang pertempuran, kecuali Coa-tok Lo-ong dan Hek-i Hui-mo, menjadi terhuyung-huyung dan bernapas terengah-engah lalu roboh terguling! Mereka yang roboh ini adalah Kiu-bwe Coa-li, Pak-lo-sian Siangkoan Hai, Kiam Ki Sianjin, Toat-beng Hui-houw, Bian Kim Hosiang dan Bin Kong Siansu! Apakah yang terjadi? Tak seorang pun mengetahuinya bahkan Yok-ong hanya berseru perlahan kepada Kwan Cu "Itulah asap berbisa obat pembius yang sering dipergunakan oleh penjahat dari See-than (negeri barat)! Heran dari mana datangnya asap itu?"

Akan tetapi biarpun Kwan Cu juga tidak melihat siapa yang mempergunakannya dia telah tahu dengan baik bahwa yang mengeluarkan obat bius itu tentulah Coa-tok Lo-ong sute dari Hek-i Hui-mo karena dahulu di kuil tempat tinggal Siok Tek Tojin, dia pernah mencium bau asap itu.

Hek-i Hui-mo tertawa bergelak sedangkan Coa-tok Loong cepat menciumkan obat penawar di depan hidung Kiam Ki Sianjin, Toat-beng Hui-houw, Bian Kim Hosiang dan Bin Kong Siansu. Dalam beberapa detik saja mereka ini telah siuman kembali dan menjadi terheran-heran. Akan tetapi, Hek-i Hui-mo cepat menghampiri tubuh Pak-lo-sian dan Kiu-bwe Coa-li, lalu menotok mereka sehingga sebelum orang lain dapat mencegahnya, kedua tulang pundak Paklo- sian dan Kiu-bwe Coa-li telah terlepas sambungannya! Mereka untuk beberapa lama takkan dapat bersilat sebelum tulang itu disambung kembali! "Ji-wi Pai-cu dari Bu-tong dan Kim-san, sekarang musuh-musuh besar Ji-wi sudah roboh. Tidak membalas dendam sekarang, mau tunggu kapan lagi?" kata Kiam Ki Sianjin kepada ketua Bu-tong-pai dan Kim-san-pai. Akan tetapi kedua orang ini yang mempunyai kedudukan tinggi dalam partai mereka, tentu saja merasa malu untuk membinasakan lawan yang roboh karena pengaruh obat bius. Melakukan hal itu dianggap amat rendah. Akan tetapi kalau tidak membunuh mereka sekarang, bukanlah hal yang mudah untuk merobohkan kedua orang tokoh besar itu selagi mereka sadar. Karenanya, dua orang ketua partai ini menjadi ragu-ragu dan bersangsi.

"Kalau Ji-wi tidak tega, biarlah aku yang membunuh mereka!" kata Coa-tok Lo-tong sambil melompat maju ke arah Kiu-bwe Coa-li dan serentak dia menggerakkan ularnya ke arah tenggorokan Kiu-bwe Coa-li!

"Bangsat rendah, pergilah kau!" tiba-tiba dari samping, Coa-tok Lo-ong merasa ada sambaran angin yang dahsyat sekali, karena dia tidak dapat mengelak lagi, dia membatalkan serangannya terhadap Kiu-bwe Coa-li dan mempergunakan tangan kirinya untuk menangkis.

"Duk!" dua tangan beradu dan Coa-tok Lo-ong terlempar sampai dua tombak lebih, akan tetapi Jeng-kin-jiu yang menyerangnya juga terpental ke belakang sampai empat kaki! Ternyata bahwa dua orang tokoh ini hampir sama kehebatan tenaga mereka, akan tetapi ternyata bahwa tenaga raksasa dari Jeng-kin-jiu masih unggul. Berkat tingginya lweekang mereka, adu tenaga tadi tidak mendatangkan luka di dalam tubuh.

"Jeng-kin-jiu, kau bukan orang luar lagi sekarang, akan tetapi pembantu pemberontak!" bentak Hek-i Hui-mo yang cepat mengayun tongkat kepala naga menyerang kepala Jeng-kin-jiu.

"Bangsat Hek-i Hui-mo, lupakah kau akan perundingan kita dulu?" seru Jeng-kin-jiu sambil menangkis ayunan tongkat itu dengan toyanya. Pertemuan tongkat dan toya yang digerakkan dengan tenaga raksasa ini menimbulkan suara keras dan orang-orang yang berada di dekat situ merasai getaran yang hebat. Sebagaimana diketahui dahulu memang Hek-i Hui-mo dan Jeng-kin-jiu keduanya membantu An Lu Shan, bahkan ketika tokoh-tokoh besar berjiwa patriot seperti Ang-bin Sin-kai, Pak-lo-sian dan yang lain-lain datang menyerbu istana, mereka inilah yang melindungi An Lu Shan dan menyelamatkan nyawa kepala pemberontak itu. Akan tetapi kemudian, melihat betapa rakyat Han berjuang terus, bahkan dipimpin oleh orangorang pandai, Jeng-kin-jiu baru terbuka matanya bahwa hal yang dia kerjakan bukanlah main-main belaka. Ia boleh disuruh menghadapi tokoh-tokoh kang-ouw yang bagaimana pandai pun, akan tetapi menghadapi gelombang perjuangan rakyat bangsanya sendiri, dia bergidik dan merasa ngeri. Oleh karena ini dia lalu mengajak berunding dengan kawan-kawannya, yakni Hek-i Hui-mo, Toat-beng Hui-houw dan yang lain-lain, menyatakan kekhawatirannya karena ternyata bahwa yang mereka lindungi adalah musuh rakyat jelata, bukan musuh Kaisar Tang sebagaimana yang tadinya mereka kira. Jeng-kin-jiu semenjak itu lalu mengasingkan diri di atas gunung, menyesali perbuatannya yang telah membikin banyak orang gagah gugur termasuk Ang bin Sin-kai. Sebaliknya, Hek-i Hui-mo, Toat-beng Huihouw dan yang lain-lain kena dibujuk lagi oleh Kiam Ki Sianjin sehingga mereka kini kembali membantu kaisar asing. Hal ini adalah karena Hek-i Hui-mo memang berdarah Tibet maka dia tidak peduli akan perjuangan bangsa Han.

Kini dua orang tokoh besar yang sama gemuknya dan sama pula lihainya itu bertanding. Kalau tadinya Kwan Cu sudah mau melompat maju melihat Coa-tok Lo-ong mempergunakan asap obat bius, kini dia mengurungkan niatnya lagi. Kejadian itu semua terjadi demikian cepat dan kini Kiu-bwe Coa-li dan Pak-lo-sian telah tertotok pundak mereka, menggeletak dalam keadaan masih pingsan.

Melihat betapa fihak Pak-lo-sian kini tinggal Seng Thian Siansu ketua Kun-lun-pai yang amat tua itu, Kwan Cu sudah ingin sekali membantu mereka, akan tetapi kembali niatnya ini terpaksa dia tunda karena kini dia asyik menyaksikan pertarungan antara Jeng-kin-jiu dan Hek-i Hui-mo. Hatinya berdebar tegang. Kedua orang ini termasuk pengeroyok-pengeroyok dan pembunuhpembunuh Ang-bin Sin-kai, juga dia masih ingat betul bagaimana ketika dia masih kecil, dua orang tokoh besar ini pun pernah menawan dan ikut menyiksanya untuk memperebutkan kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng.

Akan tetapi tiba-tiba semacam perasaan yang aneh terasa olehnya. Biarpun dia akui bahwa dua orang yang bertempur itu adalah musuh-musuh dan pembunuh gurunya, jadi keduanya juga musuh yang harus dia balas, namun melihat mereka berdua saling serang itu hati Kwan Cu condong Kepada Jeng-kin-jiu dan dia mengharapkan kemenangan bagi Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu! Hal ini sebetulnya tidak mengherankan bagi kita, karena memang anak ini ketika pertama kali muncul di dunia ramai, ditemukan oleh Jengkin- jiu dan Ang-bin Sin-kai sebagai orang satu-satunya yang selamat dari kapal yang tenggelam oleh badai dan ombak.

Kemudian, bahkan Jeng-kin-jiu yang memberi nama Kwan Cu kepadanya sedangkan Ang-bin Sin-kai yang memberi nama keturunan Lu. Biarpun tokoh-tokoh aneh itu tidak menyatakan, akan tetapi setidaknya Jeng-kin-jiu dan Angbin Sin-kai adalah seperti "ayah-ayah angkat" bagi Kwan Cu. Tentu saja dia lebih sayang kepada Ang-bin Sin-kai karena pengemis sakti ini selain menjadi gurunya, juga sikapnya lebih baik terhadapnya.

Ketika Kwan Cu memperhatikan jalannya pertempuran, ternyata bahwa betapapun lihainya Jeng-kin-jiu dengan toyanya, namun tongkat dan tasbih Hek-i Hui-mo masih lebih lihai lagi. Memang, dahulu ketika mereka masih memperebutkan Kwan Cu dan rahasia kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng, tingkat atau ketangguhan ilmu silat mereka seimbang. Akan tetapi, semenjak dia mendengar isi kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng salinan yang dibaca oleh pujangga Tu Fu, dia lalu mendapat kemajuan yang hebat dan juga aneh, seperti halnya Kiu-bwe Coa-li yang juga ikut mendengarkan. Tadi ketika dikeroyok kalau saja tidak keburu Coa-tok Lo-ong melepaskan asap berbisa yang amat ampuh, agaknya takkan ada yang sanggup mengalahkan atau meroboh kan Kiu-bwe Coa-li.

Kwan Cu melihat betapa Jeng-kin-jiu ternyata masih kalah setingkat, menjadi ikut penasaran. Dalam hal tenaga, agaknya Jeng-kin-jiu tidak kalah, akan tetapi ilmu tongkat dari Hek-i Hui-mo benar-benar aneh dan ditambah pula dengan tasbihnya yang merupakan tangan maut menyambar-nyambar, keadaan Jeng-kin-jiu amat terdesak.

Tiba-tiba Kwan Cu mengeluarkan seruan tertahan, seruan yang mengandung kemarahan besar, akan tetapi dia tidak berbuat sesuatu, karena kesadarannya mengingatkan bahwa yang bertempur adalah musuh-musuh besar gurunya. Ia mengeluarkan seruan ketika melihat kecurangan yang terjadi dalam pertempuran itu. Tanpa disangka-sangka, Coa-tok Lo-ong menyerang Jeng-kin-jiu dengan senjata rahasia yang amat halus dan tidak dapat dilihat oleh mata.

"Itu jarum-jarum Coa-tok-ciam........ " Yok-ong juga berseru perlahan.

Jeng-kin-jiu bukanlah seorang yang disebut tokoh nomor satu di selatan kalau dia tidak tahu akan serangan gelap ini.

Biarpun jarum-jarum itu amat halus dan tidak kelihatan oleh mata, namun dia masih dapat mendengar suara angin senjata rahasia ini dan cepat-cepat dia mengebutkan tangan baju sebelah kiri. Ia tidak dapat berbuat lain karena pada saat itu, Hek-i Hui-mo sedang melakukan serangan yang hebat dan mendesaknya, tidak memberi kesempatan kepadanya untuk menyingkirkan diri. Oleh karena ini, biarpun dia dapat mempergunakan ujung lengan baju menyampok jatuh banyak jarum-jarum Coa-tok-ciam (Jarum Racun Ular) namun dia tidak dapat sama sekali membebaskan diri dari ancaman jarum-jarum yang dilontarkan dalam gelombang ke dua. Tiga batang jarum hitam yang amat halus telah mengenai tubuhnya, sebatang di paha, sebatang di pundak dan sebatang lagi merasuki punggungnya.

Kalau orang lain yang terkena jarum-jarum ini, tentu akan roboh pada saat itu juga. Akan tetapi Jeng-kin-jiu adalah seorang yang tubuhnya sudah penuh oleh hawa murni dan tenaga lweekangnya sudah dapat dia salurkan sampai ke ujung-ujung kuku. Maka begitu merasa tiga bagian tubuhnya itu gatal-gatal dan sakit, dia cepat mempergunakan Ilmu Pi-khi-koan-hiat (Menutup Hawa Menghentikan Jalan Darah) sehingga racun dari Coa-tokciam yang memasuki tubuhnya tidak dapat menjalar dan hanya mengeram di sekitar jarum itu saja.

Sambil mengeluarkan gerengan seperti seekor singa terkurung, Jeng-kin-jiu lalu memutar toyanya dengan tenaga raksasa, dia maju dan menyerang membabi-buta.

Terutama sekali dia mengejar Coa-tok Lo-ong yang sudah melukainya dengan cara amat curang itu.

Coa-tok Lo-ong terkejut sekali karena tahu-tahu hwesio gemuk bundar itu sudah tiba di depannya dan memukul dengan kerasnya. Ia mengelak dan berbareng dari samping menyabetkan ularnya ke arah dada Jeng-kin-jiu. Akan tetapi, Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu mengulur tangan kiri, menangkap kepala ular itu dan sekali remas saja, hancurlah kepala ular itu! Berbareng dengan itu, kembali dia mengirim serangan dengan toyanya. Coa-tok Lo-ong cepat menyingkir dan sebentar saja Jeng-kin-jiu yang mengamuk seperti singa gila itu telah dikurung oleh Hek-i Hui-mo dan lain-lain. Bahkan kini para perwira juga ikut mengepungnya. Akan tetapi mereka ini hanya mengantar nyawa dengan sia-sia saja karena sebentar saja di tangan Jeng-kin-jiu telah menghancurkan kepala beberapa orang pengeroyok.

"Mundur semua......!" seru Kiam Ki Sianjin yang kini ikut mengepung pula. "Biarkan para cianpwe yang membunuh anjing gila ini!"

Akan tetapi keributan semua ini sebetulnya tidak ada gunanya. Pada saat dia mengamuk, terpaksa untuk menyalurkan tenaga lweekang pada gerakan-gerakannya, kadang-kadang Jeng-kin-jiu harus melepaskan Ilmu Pi-khikoan- hiat sehingga racun-racun itu mulai menjalar di tubuhnya. Maka tiba-tiba dia merasa kedua matanya gelap.

Sambil meramkan mata, hwesio yang kosen ini masih saja mengamuk terus, dan dia hanya melindungi tubuh dan melakukan serangan semata-mata menurutkan pendengaran telinganya saja.

Namun hal ini tidak berlangsung lama. Racun telah sampai di jantungnya dan tanpa mengeluarkan keluhan sedikit pun, Jeng-kin-jiu roboh dan tewas dengan toya masih berada dalam genggaman tangannya! Melihat hal ini, semua orang tertegun dan untuk beberapa lama keadaan menjadi sunyi.

"Inilah seorang yang gagah perkasa benar-benar, patut ditiru oleh kita semua. Demikianlah hendaknya sikap seorang gagah dan namanya takkan terlupa oleh keturunan kita!" kata Kwa Ok Sin sambil menarik napas panjang berulang-ulang.

Pada saat pertempuran terjadi, Sui Ceng telah menghampiri gurunya dan berlutut di depan tubuh gurunya dengan muka sedih. Demikian pula Kun Beng dan Swi Kiat telah berlutut di depan Pak-lo-sian Siangkoan Hai. Dua tokoh besar ini telah siuman dari pingsannya dan kini mereka hanya memandang murid-murid mereka dengan senyum tawar. Mereka tak berdaya, dan biarpun mereka dengan bantuan murid-murid mereka dapat duduk, namun kedua pundak mereka tak dapat digerakkan lagi sehingga tak mungkin mereka menghadapi lawan dalam pertempuran.

"Sekarang boleh dilakukan hukuman terhadap Kiu-bwe Coa-li dan Pak-lo-sian yang membunuh murid-murid Butong- pai dan Kim-san-pai!" kata Coa-tok Lo-ong tanpa mengenal malu sambil memandang kepada dua orang ketua partai Bu-tong-pai dah Kim-san-pai.

"Asal mereka sudah mengaku dan memberi tahu mengapa mereka melakukan pembunuhan secara curang terhadap muridku, pinto sudah puas dan bersedia memaafkan mereka," kata Bin Kong Sian-su ketua Kim-sanpai.

Mendengar ini, Bian Kim Hosiang juga menganggukanggukkan kepalanya.

Pak-lo-sian Siangkoan Hai mendengar omongan itu lalu tertawa bergelak. Biarpun kedua pundak dan lengannya tidak dapat digerakkan lagi, namun tubuhnya masih kuat dan sekali menggerakkan kaki, dia telah melompat berdiri, kedua muridnya berdiri di kanan-kirihya. Sikapnya masih gagah, hanya kedua lengannya saja yang tergantung tak berdaya.

"Dua orang Ciangbunjin dari Bu-tong dan Kim-san agaknya sudah gila, buta atau memang sudah kembali menjadi anak-anak kecil. Aku Siangkoan Hai, selama hidup tidak pernah berbuat curang, sungguhpun sudah berkali-kali dicurangi orang seperti yang baru saja kualami ini. Maka dua orang Ciangbunjin harap membuka mata lebar-lebar dan mempergunakan pula otaknya!"

"Benar, kalian ditipu oleh jahanam-jahanam tak tahu malu seperti Coa-tok Lo-ong, masih keenakan saja, mana orang-orang macam kalian ini pantas menjadi ketua dari partai-partai besar?" kata Kiu-bwe Coa-li yang juga sudah berdiri, Sui Ceng berdiri di sebelahnya dan kini cambuk berekor sembilan itu dipegang oleh Sui Ceng. Biarpun gadis ini masih agak lemah dan pundaknya masih terasa sakit, ia dengan gagah berdiri di samping gurunya, siap membelanya mati-matian.

Mendengar kata-kata Kiu-bwe Coa-li yang tidak disengaja mendakwa kepada Coa-tok Lo-tong, sute dari Hek-i Hui-mo ini berubah mukanya. Akan tetapi Kiam Ki sianjin yang mendalangi semua itu, menjadi khawatir sekali. Tokoh-tokoh besar yang pro rakyat kini sudah tak berdaya, tidak membasmi mereka sekarang mau tunggu kapan lagi? Kalau mereka ini sudah tewas, berapa besar kekuatan pemberontak? "Pak-lo-sian dan Kiu-bwe Coa-li, biarpun kalian sekarang sudah dikalahkan, aku masih membuka kesempatan bagimu. Kalau kalian suka tunduk dan berjanji akan membantu kami atau akan membujuk agar supaya para pemimpin pemberontak mengundurkan diri, kami akan memberi ampun kepada kalian dan murid-murid serta kawan-kawanmu."

"Bangsat tua, siapa sudi mendengar omonganomonganmu? Mau bunuh lekas bunuh, habis perkara!" kata Kiu-bwe Coa-li dan biarpun kedua lengannya sudah lumpuh tak dapat digerakkan lagi, namun sepasang matanya mengeluarkan cahaya berkilat dan sepasang kakinya siap untuk mengirim tendangan maut.

"Kiam Ki Sianjin, anjing penjilat belang! Apa sih sayangnya kalau tulang-tulangku yang keropos ini dihancurkan? Aku akan mati sebagai seorang gagah, bukan seperti kau yang kelak mampus seperti anjing penjilat kelaparan yang tidak dipakai lagi oleh majikanmu, penjajah asing!" Pak-lo-sian Siangkoan Hai mencaci.

Naik darah Kiam Ki Sianjin mendengar ini dan dia lalu mencabut pedangnya. Ia adalah seorang tokoh besar yang dijuluki Pak-kek-sian-ong, bagaimana dia bisa menelan mentah-mentah hinaan ini? "Kalau begitu mampuslah kalian!" bentaknya.

Akan tetapi tiba-tiba Seng Thian Siansu melompat dan pedangnya menangkis pedang di tangan Kiam Ki Sianjin.

"Nanti dulu, Kiam Ki Sianjin. Biarpun kawan-kawanku telah kalah oleh akal busuk, akan tetapi di fihakku masih ada aku orang tua. Kalau aku sudah kalah, boleh kalian berbuat sesuka hatimu terhadap kami. Hayo, majulah, aku menyediakan selembar nyawaku yang tidak berharga!"

Biarpun sudah amat tua dan lemah, ketua Kun-lun-pai ini berdiri dengan gagahnya, pedangnya siap di tangan melakukan gerak Sian-jin-tit-louw (Dewa Menunjuk Jalan), membuka kuda-kudanya dengan tenang sekali.

Seng Thian Siansu adalah ketua Kun-lun-pai, seorang tua yang banyak dikenal dan disegani orang. Sebagai seorang ciangbunjin dari partai yang amat besar, dia dihormati sekali dan karenanya kali ini setelah dia yang maju, dari fihak Kiam Ki Sianjin tidak ada yang berani mengeroyok. Akan tetapi mereka ini tidak menjadi gentar, karena para tokoh ini maklum bahwa Seng Thian Siansu sekarang berbeda dengan Seng Thian Siansu sepuluh dua puluh tahun yang lalu. Kakek ini sudah terlalu tua dan kabarnya sudah beberapa kali menderita sakit tua sehingga amat lemah dan tidak memiliki lagi tenaga besar .

Toat-beng Hui-houw hendak mencari jasa, maka sambil tertawa-tawa dia melompat maju menghadapi Seng Thian Siansu.

"Aku mohon pengajaran dari Siansu yang namanya tersohor di kolong langit," katanya sambil menyeringai dan menggerakkan kedua tangan sehingga sepuluh kukunya terulur panjang. Kemudian dengan gerakan cepat sekali dia maju menyerang dengan sepasang tangannya yang digerakkan seperti seekor harimau mencakar. Tidak ketinggalan kedua kakinya mengirim tendangan bertubi-tubi sehingga dia benar-benar kelihatan seperti seekor harimau menyerang.

Seng Thian Siansu adalah seorang ketua dari partai besar, tentu saja ilmu kepandaiannya amat tinggi. Ia adalah ahli waris dari ilmu silat Kun-lun-pai dan tentang kepandaian, dia jauh lebih menang daripada Toat-beng Hui-houw. Akan tetapi sayang sekali, sudah ada belasan tahun dia termakan oleh usia tua sehingga tenaganya sebagian lenyap dan juga kegesitannya berkurang banyak.

Bagaikan sebatang pedang pusaka yang ampuh, apa dayanya kalau sudah dimakan karat? Maka begitu pedangnya yang menangkis serangan Toat-beng Hui-houw terbentur oleh kuku tangan kakek seperti siluman ini, dia merasa telapak tangannya tergetar dan pedangnya terpental.

Dengan cepat Seng Thian Siansu terkurung dan terdesak hebat oleh Toat-beng Hui-houw yang menyerang sambil tertawa-tawa mengejek. Akan tetapi dia salah kira kalau dapat dengan mudah mengalahkan kakek yang usianya sudah tinggi sekali itu. Ilmu pedang dari Seng Thian Siansu sudah mencapai tingkat mendekati kesempurnaan, maka daya tahannya juga amat luar biasa. Sayang sekali, seperti sudah dituturkan di atas, tenaga kakek ini sudah amat terbatas, demikian pula kecepatannya. Ia sudah mulai terengah-engah, akan tetapi dengan semangat penuh dia masih terus mempertahankan diri.

Kwan Cu sudah bergerak hendak melompat, akan tetapi kembali Yok-ong mencegahnya.

"Bagaimana kita bisa membantu kalau mereka bertempur satu lawan satu?" katanya.

Kwan Cu menjadi bingung. Sejak tadi dia hendak membantu fihak Pak-lo-sian, akan tetapi kesempatan baik belum ada. Tentu saja dia pun harus tunduk pada Yok-ong yang mengemukakan alasan-alasan kuat. Sebagai orang gagah dia harus bisa memegang aturan.

Seng Thian Siansu kini benar-benar terdesak hebat. Pada suatu saat, Toat-beng Hui-houw yang merasa penasaran sekali mengapa sebegitu lama belum juga dia bisa mengalahkan kakek tua renta itu, membentak keras dan kedua tangannya dapat menangkap tangan ketua Kun-lunpai itu yang memegang pedang. Seng Thian Siansu merasa tangan kanannya sakit sekali bagaikan terjepit oleh jepitan baja. Kuku-kuku kedua tangan Toat-beng Hui-houw amblas ke dalam tangannya dan menghancurkan tangan itu. Akan tetapi, sambil menahan sakit, ketua Kun-lun-pai ini menggunakan tangan kirinya untuk memukul sambil mengerahkan seluruh tenaga terakhir ke arah dada Toatbeng Hui-houw.

"Blek!" Toat-beng Hui-houw mengeluarkan gerengan seperti seekor macan terpukul. Tubuhnya terhuyung dan dia muntahkan darah segar. Biarpun tenaga kakek Kun-lun-pai itu tidak begitu besar, akan tetapi karena rasa sakit pada tangan kanannya, tenaganya bertambah dan pukulan itu hebat sekali. Akan tetapi, dia sendiri terpaksa harus melepaskan pedangnya dan tangan kanannya sudah bukan berupa tangan lagi. Jari-jarinya putus dan tangan itu hancur! Seng Thian Siansu maklum bahwa selain tangan kanannya hancur juga darahnya telah kemasukan racun yang keluar dari kuku-kuku tangan Toat-beng Hui-houw, maka dia lalu duduk bersila meramkan mata, menanti datangnya maut dengan tenang.

Sebaliknya, Toat-beng Hui-houw akhirnya roboh pingsan. Pada saat semua orang masih bengong melihat pertempuran yang berakibat hebat itu, tiba-tiba Sui Ceng melompat, menyambar pedang Seng Thian Siansu yang jatuh di atas tanah dan sebelum ada orang yang dapat mencegahnya, gadis ini mengayun pedang dan putuslah leher Toat-beng Hui-houw! Sesaat semua orang terkesima, akan tetapi segera gegerlah orang-orang yang berada di fihak Kiam Ki Sianjin.

Beberapa orang melompat maju dan Kiam Ki Sianjin sendiri berseru, "Curang sekali......!"

Bun Sui Ceng setelah memenggal kepala Toat-beng Huihouw, lalu tertawa nyaring dan berkata, "Ibu, terbalaslah sudah dendam hatimu terhadap siluman ini!" Kemudian dengan air mata mengucur gadis ini berdiri dengan gagahnya menghadapi Kiam Ki Sianjin dan kawankawannya.

"Bukan Seng Thian Siansu yang curang, akan tetapi aku sendiri Bun Sui Ceng yang sengaja memenggal kepala siluman ini, untuk membalas sakit hati ibuku yang tewas di tangannya. Siapa tidak terima? Boleh maju! Untuk perbuatanku tadi, aku sanggup menghadapi segala akibatnya!"

"Tangkap dia!"

"Bunuh dia!"

"Basmi semua pemberontak!"

Teriakan-teriakan ini terdengar saling susul dan semua orang yang berada di fihak Kiam Ki Sianjin, kecuali orangorang Bu-tong-pai dan Kim-san-pai, serentak maju hendak menggempur Sui Ceng dan yang lain-lain.

"Tahan dulu.......!!" Tiba-tiba bayangan yang amat cepatnya melayang dan menyambar-nyambar, diikuti bayangan lain yang juga amat gesitnya. Bayangan pertama adalah Kwan Cu yang tak dapat menahan hatinya lagi, apalagi ketika melihat betapa Sui Ceng berada dalam bahaya hendak dikeroyok. Begitu tiba ditempat itu, Kwan Cu menggerakkan kedua tangannya ke arah para pengeroyok. Dengan amat cepat, tanpa dapat terlihat oleh lain orang, dia telah memukul mundur semua orang dengan pukulan-pukulan Pek-in-hoat-sut. Kiam Ki Sianjin dan kawan-kawannya hanya merasa adanya angin yang kuat sekali mendorong mereka mundur beberapa tindak dan ternyata tahu-tahu pemuda dusun yang tadi dianggap tolol telah berdiri menghadapi mereka sambil bertolak pinggang.

Adapun bayangan ke dua adalah Hang-houw-siauw Yokong.

Berbeda dengan Kwan Cu raja tabib ini dengan cepat sekali seperti burung menyambar-nyambar, telah dapat menyambar tubuh Thian Seng Siansu, kemudian berturutturut dia menyambar tubuh Pak-lo-sian Siangkoan Hai dan Kiu-bwe Coa-li, dibawa ke belakang, kemudian tanpa mempedulikan Sesuatu dia mengobati tokoh-tokoh yang terluka ini. Pertama-tama dia mempergunakan obat untuk mengobati luka di tangan Seng Thian Siansu karena keadaan kakek ini yang paling hebat. Setelah menotok beberapa jalan darah, Yok-ong lalu memberi obat pada tangan yang rusak dan memberi pil ke dalam mulut kakek ini yang memandangnya dengan penuh keheranan dan kekaguman.

Setelah itu, barulah Yok-ong memeriksa di pundak Paklo- sian dan Kiu-bwe Coa-li. Karena dia amat lihai dalam ilmu mengobatan, tulang pundak yang sudah terlepas dan kalau menurut ahli pengobatan lainnya baru akan sembuh sedikitnya dua pekan, sebentar saja Yok- ong sudah dapat menyambungnya dengan baik! "Sayang tak boleh mengerahkan tenaga lweekang di kedua lengan pada hari ini, harus menanti sampai dua hari." kata Yok-ong kepada dua orang tokoh itu.

"Eh, muka hitam! siapakah kau yang sudah berpura-pura dungu dan bodoh, menyamar sebagai petani ini?" tanya Kiu-bwe Coa-li dengan heran sekali.

Pak-lo-sian tertawa. "Ha-ha-ha, didunia ini yang dapat mengobati orang seperti ini hanyalah Hang-houw-siauw Yok-ong. Bukankah kau Yok-ong?"

Akan tetapi Yok-ong tidak menjawab, hanya menudingkan telunjuk ke depan dan mukanya berubah terheran-heran Sehingga dia menjadi bengong. Pak-lo-sian dan Kiu-bwe Coa-li juga memandang ke depan. Mereka melihat betapa Sui Ceng sudah mundur, juga kini Sui Ceng, Kun Beng, swi Kiat dan dua orang anak murid Kun-lun-pai, memandang dengan bengong ke tengah lapangan adu silat tadi. Memang apa yang mereka lihat amat mengherankan hati mereka.

Kwan Cu dengan tangan bertolak pinggang menghadapi Kiam Ki Sianjin dan kawan-kawannya. Pemuda ini kelihatan marah sekali, akan tetapi mukanya kelihatan amat lucu karena muka yang berwarna merah seperti udang direbus itu tidak dapat digerakkan sehingga seperti topeng saja.

"Kalian ini pengkhianat-pengkhianat bangsa dan anjinganjing penjilat selalu memutarbalikkan duduknya perkara.

Diri sendiri pengecut dan curang mengatakan orang lain curang. Sungguh tak tahu malu!"

Karena Kwan Cu sengaja mengubah suaranya, Kiam Ki Sianjin tidak mengenalnya. Akan tetapi karena melihat betapa pukulan anak muda ini benar-benar lihai, dia berlaku hati-hati dan menjawab, "Bocah dusun! Bagaimana kau bisa bilang begitu? Memang fihak Pak-lo-sian amat curang, kalau tidak curang, mengapa gadis itu membunuh Toat-beng Hui-houw yang sedang tak berdaya?"

"Nona itu membunuh siluman Toat-beng Hui-houw bukan untuk mengeroyok dan bukan untuk berlaku curang.

Kalian sudah mendengar sendiri bahwa ibunya terbunuh oleh Toat-beng Hui-houw! Pembalasan dendam tidak boleh dicampur-adukkan dengan perbuatan curang. Andaikata kalian menganggapnya mengeroyok, biarlah itu dianggap pula sebagai pembalasan karena bukankah kalian tadi juga mengeroyok ketika kedua locianpwe Kiu-bwe Coa-li dan Pak-lo-sian maju?"

"Setan kecil! Kalau kau memang murid seorang pandai dan mengaku sebagai orang gagah atau pendamai, ternyata kau berat sebelah! Mungkin sekali Toat-beng Hui-houw membunuh ibu gadis itu, akan tetapi siapa tahu kalau memang ibu gadis itu penjahat besar?"

Kwan Cu tertawa dan dia menjura kepada Kiam Ki Sianjin dengan penghormatan yang sifatnya mengejek.

"Harap Locianpwe suka mendengarkan dongenganku sebentar. Toat-beng Hui-houw, adalah suheng dari Tauwcai- houw, saikong yang berwatak keji dan suka makan daging anak-anak kecil. Pada suatu hari pendekar wanita Pek-cilan Thio Loan Eng yang namanya sudah tersohor di seluruh penjuru dunia, menewaskan bangsat keji itu dengan pedangnya. Bukankah itu sudah adil? Lalu siluman tua ini, Toat-beng Hui-houw, melakukan pembalasan terhadap Pekcilan Lihiap. Inipun boleh-boleh saja karena memang dia suheng dari Tauw-cai-houw. Akan tetapi tahukah Locianpwe bagaimana cara Toat-beng Hui-houw membalas dendam? la menawan Pek-cilan Lihiap, kemudian selagi pendekar wanita itu masih hidup, dia menggigit lehernya dan mengisap darahnya sampai habis!"

Terdengar seruan-seruan kaget, dua orang ketua Bu-tongpai dan Kim-san-pai beserta anak murid mereka bergidik mendengar perbuatan yang amat keji dan di luar perikemanusiaan ini! Bun Sui Ceng menjadi pucat dan ia mengeluarkan pertanyaan tanpa disadarinya.

"Siapa dia yang mengerti semua peristiwa itu?"

Pertanyaan ini terdengar pula oleh Kiam Ki Sianjin yang juga menjadi penasaran, maka tanyanya.

"Orang muda, siapakah namamu dan apa kehendakmu sekarang?"

"Namaku? Aku adalah Ang-bin Siauw-bu-beng (Si Kecil Tak Bernama Yang Bermuka Merah). Dan kehendakku? Tak lain kedatanganku ini untuk mendongeng!"

Semua orang, baik dari fihak Kiam Ki Sianjin maupun di fihak Pak-lo-sian Siang-koan Hai, tak seorang pun yang pernah mendengar nama julukan Ang-bin Siauw-bu-beng, maka mereka memandang heran. Apalagi ketika Kwan Cu menyatakan bahwa kedatangannya untuk mendongeng! Sui Ceng hampir tak dapat menahan ketawanya karena ia merasa amat lucu. Bagaimana di tengah-tengah medan pertandingan mati-matian yang telah mengorbankan begitu banyak nyawa orang, pemuda muka merah yang buruk rupa ini datang hendak mendongeng? Sungguh menggelikan.

Akan tetapi Kiam Ki Sianjin marah bukan main. Ia adalah seorang ahli silat kelas satu, masa sekarang dia boleh di permainkan begitu saja oleh seorang badut muda ? "Jangan kau main-main, lekas pergi kalau kau tidak ingin remuk tulang-tulangmu. Siapa sudi mendengar ocehan dan dongenganmu?" Sambil berkata demikian, dia mendorong dengan kedua tangannya dengan sikap seperti orang mau mengusir. Akan tetapi sebenarnya dalam dorongannya ini, dia mengerahkan tenaga Jian-mo-kang yang luar biasa dahsyatnya.

Kwan Cu hanya merendahkan sedikit tubuhnya dan dari bawah kedua tangannya diangkat seperti orang yang mencegah orang yang hendak memukulnya. Kiam Ki Sianjin terkejut bukan main. Tadi dia mengerahkan tenaga Jian-mo-kang dan dia tahu bahwa jangankan pemuda aneh ini, biarpun batu yang beratnya beribu kati akan terguling terkena dorongannya ini. Baru angin dorongannya saja sudah bertenaga sedikitnya tiga ratus kati. Akan tetapi, pemuda itu dengan merendahkan tubuh dan mengangkat kedua tangan, ternyata dari angkatan tangan ini keluar sebuah tenaga tersembunyi yang dari bawah mendorong tangan Kiam Ki Sianjin ke atas sehingga dorongan tenaga Jian-mo-kang lewat di atas kepala Kwan Cu mengenai angin kosong! Daun-daun pohon yang berada di sebelah belakang Kwan Cu, seperti tertiup angin ketika terkena sambaran tenaga Jian-mo-kang yang menyeleweng ke atas ini dan rontoklah banyak daun pohon itu! "Locianpwe, ampunkan selembar nyawaku dan jangan bunuh aku dulu sebelum boanpwe (aku yang rendah) mendongeng,". kata Kwan Cu sambil tersenyum. "Tadi sudah kuceritakan dongeng tentang Toat-beng Hui-houw sehingga kita semua kini tahu akan macam orang itu dan kiranya sudah sepatutnya kalau nona yang lihai itu membunuhnya. Sebelum mendongeng tentang para locianpwe yang masih hidup, aku akan mulai dengan yang sudah tewas, yakni Jeng-kin-jiu Locianpwe. Dia itu memang sekarang tewas sebagai seorang gagah, akan tetapi harus disayangkan bahwa kematiannya itu merupakan penebusan dosa dari penyelewengan hidupnya. Benar-benar sayang. Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu adalah seorang tokoh besar dari selatan yang biarpun amat aneh namun belum pernah berlaku curang dan jahat. Akan tetapi, seperti yang dikatakan oleh guru besar Khong Cu, musuh manusia yang paling berbahaya adalah dirinya sendiri! Melihat kehidupan mulia dan enak, Jeng-kin-jiu telah kena dibujuk dan menjadi kaki tangan An Lu Shan, bahkan mengajar para pangeran, sama sekali tidak peduli bahwa majikannya itu adalah penindas bangsanya. Kemudian, lebih celaka lagi, dengan kawan-kawannya yang sama-sama menyeleweng batinnya, dia melakukan pengeroyokan dan membunuh seorang pendekar besar yang namanya akan tetap wangi selama dunia berkembang, yaitu Ang-bin Sin-kai Lu Sin! Adapun Liok-te Mo-li nenek yang aneh itu, memang ia gagah perkasa dan lihai sekali, juga selalu di waktu dahulu ia membasmi orang-orang jahat. Sayang dia terlalu ganas dan kejam, menyebar maut seenaknya saja maka akhirnya ia pun tewas karena curangnya orang-orang jahat pula!"

Mendengar ucapan-ucapan Kwan Cu makin mengacau, apalagi melihat betapa musuh-musuh besarnya, yakni Kiubwe Coa-li dan Pak-lo-sian telah tertolong dan telah diobati oleh seorang kakek muka hitam yang aneh, Bian Kim Ho siang dan Bin Kong Siansu menjadi marah dan keduanya melompat maju.

"Kiu-bwe Coa-li dan Pak-lo-sian, dua manusia durhaka! Jangan kalian bersembunyi dibalik kegilaan badut kecil ini.

Kalian sudah sembuh? Hayo kita bertanding lagi sampai salah seorang di antara kita mampus!" bentak Bian Kim Hosiang.

"Fihak Pak-lo-sian sudah kalah semua, di sana tidak ada jagonya lagi. Menurut perjanjian mereka harus mengaku kalah dan mentaati perintah kehendak kami!" Kiam Ki Sianjin berkata keras, tanpa mempedulikan lagi kepada pemuda muka merah itu.

Pak-lo-sian dan Seng Thian Siansu saling pandang, lalu tersenyum pahit.

"Kiam Ki Sianjin, kami adalah orang-orang gagah yang sekali mengeluarkan ludah takkan dijilat lagi!" Seng Thian Siansu mengangguk-anggukkan kepalanya yang rambutnya sudah putih semua. Mereka memang sudah tidak berdaya.

Kiu-bwe Coa-li sudah tak dapat menggerakkan kedua lengannya, demikian pula Pak-lo-sian Siangkoan Hai. Seng Thian Siansu sendiri tangannya sudah remuk, tak mungkin berkelahi lagi. Murid-murid Pak-lo-sian juga terluka, demikian pula Sui Ceng murid Kiu-bwe Coa-li. Adapun dua orang murid Kun-lun-pai kepandaiannya masih jauh di bawah tingkat lawan. Mereka terpaksa harus mengaku kalah.

"Jadi kau sudah mengaku bahwa fihakmu kalah, Pak-losian?" tanya Kiam Ki Sianjin dengan muka kegirangan.

"Memang..... kami......"

Tiba-tiba Kwan Cu melanjutkan kata-kata Pak-lo-sian ini dengan cepat.

"Kami belum kalah! Aku Ang-bin Siauw-bu-beng mewakili fihak Pak-lo-sian Cianpwe menjadi jagonya!"

Tiba-tiba Yok-ong melompat di dekat Kwan Cu. Semua orang lagi-lagi tertegun karena gerakan kakek muka hitam itu demikian cepatnya sehingga sekali lihat saja tahulah semua orang bahwa kakek ini memiliki kepandaian yang amat tinggi.

"Siauw-bu-beng, tak boleh kau meninggalkan Lohu! Kalau kau yang muda berani maju, mengapa aku tidak?"

Yok-ong adalah seorang ahli silat yang kepandaiannya sudah hampir sempurna, maka tentu saja dia pun dihinggapi penyakit "gatal tangan" seperti ahli-ahli silat lain apabila melihat adu kepandaian, apalagi menghadapi begitu banyak jago-jago silat. Maka dia tidak dapat menahan hatinya untuk "main-main" sebentar, dan di samping ini dia juga merasa khawatir melihat Kwan Cu menghadapi para tokoh besar itu. Ia tahu bahwa Kwan Cu memiliki kepandaian tinggi, akan tetapi berapa tinggikah kepandaian seorang bocah yang masih belum matang? Yok-ong lalu menjura kepada Kiam Ki Sianjin setelah mengejapkan mata kepada Kwan Cu.

"Kiam Ki Sianjin, sudah lama sekali aku mendengar namamu yang menjulang setinggi awan. Sekarang, bertemu dengan kau sebagai kaki tangan kaisar, sungguh menyenangkan sekali. Aku tidak akan menyia-nyiakan waktu dan kesempatan ini, dan mohon petunjukmu dalam ilmu pukulan."

Kwan Cu maklum akan "penyakit" ahli silat yang menghinggapi Yok-ong, maka sambil memainkan mata kepada dua orang ketua Bu-tong-pai dan Kim-san-pai, dia berkata, "Ji-wi Locianpwe harap mundur dulu, nanti saja kalau tiba giliran kita, Ji-wi maju lagi!"

Kata-kata ini memanaskan perut Bian Kim Hosiang ketua Bu-tong-pai, dan kalau saja yang mengeluarkan katakata main-main ini bukan seorang bocah, tentu dia sudah mengirim serangan. Akan tetapi Bin Kong Siansu sudah menarik tangannya diajak mundur. Kwan Cu juga mundur, akan tetapi dia berdiri tidak jauh di belakang Yok-ong, karena dia merasa curiga dan khawatir kalau-kalau Yok-ong akan dicurangi pula.

Biarpun Kiam Ki Sianjin dapat menduga bahwa kakek muka hitam ini lihai, namun sebagai seorang tokoh besar dia tidak sudi bertanding melawan orang yang tidak terkenal, maka dia lalu menjura dan berkata, "Sahabat telah mengetahui namaku yang rendah, sebaliknya aku belum tahu dengan siapa aku berhadapan.

Ini tidak adil sekali."

Yok-ong tertawa, suara ketawanya halus dan merdu seperti ketawa seorang yang amat sopan.

"Kiam Ki Sianjin, yang akan bergerak adalah tangan kaki kita, perlu apa memperkenalkan nama? Akan tetapi karena kau mendesak, baiklah. Namaku adalah Hek-bin Lo-bu-beng (Si Tua Tak Bernama Yang Bermuka Hitam)!"

Kwan Cu tertawa geli. Kiranya kakek Raja Tabib ini meniru dia, menambah kata-kata Muka Hitam di depan nama julukan baru, yakni Lo-bu-beng.

Kiam Ki Sianjin menjadi merah mukanya. "Hm, kau dan bocah itu sengaja tidak mau memperkenalkan nama. Akan tetapi tidak apalah. Apakah kau maju sebagai jago dari fihak pemberontak?"

"Sesukamu, boleh saja kau menganggap begitu. Akan tetapi sebetulnya lebih tepat kalau dikatakan bahwa aku maju sebagai wakil dari mereka yang tertindas. Kiam Ki Sianjin, keluarkanlah pedangmu, aku sudah lama mendengar bahwa kau adalah seorang ahli pedang yang jempolan!"

Kiam Ki Sianjin diam-diam berpikir dan mencari akal.

Kalau orang ini sudah tahu bahwa dia pandai main pedang, tentulah orang ini sudah bersedia lebih dulu menghadapi pedangnya, dan boleh dipastikan bahwa kakek muka hitam ini tentulah seorang ahli dalam penggunaan senjata pula.

"Tak perlu menggunakan senjata," katanya, "mari kita mengadu tenaga lweekang saja. Apakah kau berani menerima?" Kiam Ki Sianjin adalah seorang yang semenjak muda meyakinkan ilmu lweekang sampai tingkat tinggi dan dalam hal kepandaian ini, kiranya dia tidak usah kalah oleh lima tokoh besar, yakni Pak-lo-sian, Jeng-kin-jiu, Ang-bin Sin-kai, Hek-i Hui-mo, dan Kiu-bwe Coa-li. Maka, mengira bahwa Si muka hitam ini ahli senjata, dia lalu memilih adu tenaga lweekang supaya mendapat kemenangan dengan mudah.

Yok-ong pura-pura terkejut dan menggeleng-geleng kepalanya. "Ayaaa... mengapa kau mengajak yang anehaneh?"

"Berani tidak?" tanya Kiam Ki Sianjin mendesak, girang karena melihat si muka hitam kelihatannya ragu-ragu dan terkejut.

Kalau si muka hitam menolak, berarti orang itu mengaku kalah dan boleh dihukum menurut sesuka hati yang menang.

"Apa boleh buat, kau tuan rumah dan aku tamu yang harus menghormati kehendak tuan rumah. Dengan cara bagaimana kau hendak mengajakku mengadu kekuatan itu?" tanya Yok-ong.

"Tidak berbahaya, sama sekali tidak berbahaya! Kita mengadu telapak tangan dan mendorong, siapa yang jatuh di atas tanah dia yang kalah!" kata Kiam Ki Sianjin sambil tertawa-tawa. Semua orang terkejut. Memang ada banyak cara meng adu lweekang, akan tetapi yang paling berbahaya adalah adu lweekang dengan menempelkan telapak tangan dan saling mendorong. Dalam adu lweekang macam ini, sembilan bagian orang yang kalah akan tewas atau setidaknya menderita luka dalam yang hebat sekali.

Akan tetapi anehnya, si muka hitam agaknya tidak mengerti akan bahaya itu dan dengan tertawa-tawa dia berkata, "Aha, tidak tahunya kau akan mengajak aku main-main seperti anak kecil saja. Baiklah, memang aku pun tidak mempunyai niat buruk di dalam hatiku. Kalau menang baik, kalau kalah paling-paling hanya terdorong jatuh, apa susahnya?"

"Sahabat Lo-bu-beng, hati-hatilah! Dia punya tenaga Jian-mo-kang!" kata Pak-lo-sian Siangkoan Hai yang juga merasa khawatir kalau-kalau si muka hitam yang pandai mengobati itu akan binasa di bawah tangan Kiam Ki Sianjin yang lihai.

Yok-ong menoleh dan tersenyum kepada jago tua dari utara itu.

"Biarlah, kami hanya main-main dan saling dorong, bukan saling pukul. Apa sih bahayanya?"

Akan tetapi pada saat dia menoleh, Kiam Ki Sianjin sudah mengerahkan tenaga dan meluruskan kedua lengan ke depan, lalu membentak, "Lo-bu-beng, bersiaplah!"

Yok-ong memutar tubuhnya dan bukan saja dia, juga tokoh-tokoh 1ain yang hadir di situ maklum bahwa kembali Kiam Ki Sianjin mempergunakan kesempatan untuk mencari kedudukan yang lebih menguntungkan. Dalam adu tenaga seperti ini, siapa yang mengerahkan tenaga dan meluruskan lengan lebih dulu, dia berada dalam kedudukan menyerang, sedangkan yang menempelkan tangan dan meluruskan lengan terakhir berada dalam kedudukan menahan. Akan tetapi agaknya si muka hitam ini tidak tahu akan hal ini bahkan tanpa menarik napas panjang seperti orang yang hendak mengumpulkan tenaga lweekang, akan tetapi dengan tertawa-tawa dia lalu memasang kuda-kuda dengan tumit diangkat, lalu meluruskan tangan menempelkan telapak tangan ke telapak tangan Kiam Ki Sianjin.

Begitu kedua telapak tangan menempel, Kiam Ki Sianjin lalu mengempos semangat dan napasnya, dan mendorong sambil mengerahkan tenaga Jian-mo-kang yang dahsyat.

Tadi sudah dituturkan tentang kehebatan tenaga Jian-mokang ini, yang hanya pukulannya saja sudah cukup untuk menggulingkan batu seberat tiga ratus kati dan kalau tangan itu menempel pada batu yang beratnya seribu kati, batu itu akan terdorong roboh. Akan tetapi ketika tangannya menempel pada telapak tangan Yok-ong, dia merasa betapa telapak tangan si muka hitam itu lunak dan halus sekali seperti kapas! Ia terkejut dan tahu bahwa lawannya mempergunakan Bian-ciang-kang (Telapak Tangan Kapas) yang menggunakan tenaga "lemas" untuk menghadapi tenaga "keras" Menghadapi tenaga ini, Kiam Ki Sianjin kehilangan kekuasaan tenaganya, seakan-akan semua tenaga Jian-mo-kang yang dikerahkan itu "amblas" ke dalam telapak tangan lawan, atau seperti sepotong besi yang berat masuk ke dalam air! Cepat dia hendak menarik kembali telapak tangannya untuk mengubah gencetan dari arah lain, akan tetapi alangkah kagetnya ketika telapak tangannya itu telah "menempel" pada telapak tangan si muka hitam, tidak dapat ditarik lepas! Telapak tangan lawannya itu seakan-akan mengeluarkan daya luar biasa yang menyedot kulit telapak tangannya sendiri.

Sebagai seorang ahli silat dan ahli lweekeh, Kiam Ki Sianjin maklum bahwa lawannya adalah seorang ahli dalam mempergunakan tenaga "Im-kang", maka kalau dia melanjutkan usahanya menarik kembali tangannya, dia akan kehilangan keseimbangan tenaga dalamnya. Dengan nekat dia lalu mendorong lagi, kini dia mengimbangi kekuatan lawan, kalau lawan mempergunakan tenaga Yang-kang, dia pun mengerahkan tenaga Yang-kang, kalau tenaga Im-yang, dia pun mengerah kan lweekang mempergunakan tenaga Im-yang.

Sebaliknya Yok-ong diam-diam juga memuji bahwa tenaga lweekang dari lawannya benar-benar hebat dan sudah tinggi sekali, tidak kalah jauh oleh tenaganya sendiri.

Maka dia lalu mengerahkan tenaganya dan mempergunakan tenaga yang mendorong lawan. Kini tenaga Yang dari kedua fihak bertanding hebat, disalurkan melalui lengan tangan, terus ke telapak tangan sehingga dari empat telapak tangan yang beradu itu mengepul uap putih sedangkan masing-masing merasa betapa telapak tangan mereka menjadi panas sekali! Keringat dingin memenuhi dahi Kiam Ki Sianjin, sedangkan Yok-ong hanya merah saja wajahnya. Dari sini saja sudah dapat dilihat bahwa tenaga si muka hitam itu sudah lebih tinggi, apalagi kalau orang lain yang melihatnya, karena wajah Yok-ong yang tertutup warna hitam itu tidak berubah sama sekali! Memang, Kiam Ki Sianjin sudah merasa betapa telapak tangannya seakanakan terbakar dan kalau dia teruskan, tentu kedua telapak tangannya akan hangus. Akan tetapi, untuk menarik mundur sudah tidak ada waktu lagi, maka dia berlaku nekad dan mengerahkan seluruh tenaga Jian-mo-kang.

Hek-i Hui-mo melihat keadaan Kiam Ki Sianjin, menjadi gelisah sekali. Ia lalu melangkah maju dan dengan tangan kirinya, dia mendorong punggung Kiam Ki Sianjin. Dengan perbuatannya ini, biarpun dia membantu, namun dia sama sekali tidak menyentuh lawan atau si muka hitam, sehingga dia tidak akan disebut curang. Akan tetapi, bantuannya ini bagi orang lain akan kelihatan aneh dan bahkan merugikan Kiam Ki Sianjin, namun sesungguhnya dari telapak tangannya yang menempel punggung Kiam Ki Sianjin, dia menyalurkan tenaga lweekangnya yang setingkat dengan Kiam Ki Sianjin, membantu orang tua ini menghadapi si muka hitam.

Segera kelihatan akibat bantuan ini. Bagaikan terdorong oleh tenaga raksasa, tubuh Yok-ong terdorong ke belakang! Juga dia merasa telapak tangannya panas sekali, sedangkan Kiam Ki Sianjin menjadi lega karena rasa panas di tangannya berkurang banyak. Tentu saja Yok-ong tidak kuat menahan serangan dua tenaga ahli lweekeh yang dipersatukan atau disambung ini dan dia tahu bahwa dia akan kalah.

Kwan Cu menjadi mendongkol dan marah sekali. Ia melangkah maju dan hendak mendorong punggung Yokong seperti yang dilakukan oleh Hek-i Hui-mo, akan tetapi Yok-ong menggerakkan kepalanya, digelengkan beberapa kali sehingga Kwan Cu mundur kembali. tiba-tiba terdengar Yok-ong berseru keras dan nyaring sekali. Dengan pengerahan tenaga seadanya, dalam sedetik dia dapat mendorong tangan Kiam Sianjin. Memang hebat sekali tenaga lweekang dari raja tabib ini, karena biarpun yang menahan di depannya ada dua orang, namun pengerahan seluruh tenaganya ini untuk sesaat dapat membuat Kiam Ki Sianjin dan Hek-i Hui-mo terdorong ke belakang! Hal ini sebetulnya adalah berkat obat-obat penguat tubuh yang diminum oleh raja tabib ini, sehingga dia memang mempunyai kekuatan tubuh luar biasa sekali.

Akan tetapi, pengerahan tenaga tadi hanyalah siasat belaka dari Yok-ong karena dia maklum bahwa kalau dilanjutkan, dia akhirnya akan kalah juga. Setelah dia berhasil mendorongkan keadaan lawan dan kini kedua lawannya mengerahkan seluruh tenaga, tiba-tiba dia mengerahkan kedua tangan ke bawah dan melepaskan tempelan tangannya, lalu tubuhnya mengelak ke bawah terus ke kanan.

Hebat sekali akibat akal ini. Kiam Ki Sianjin sudah mengerahkan tenaga sebesarnya, dibantu pula oleh Hek-i Hui-mo yang mendorong punggungnya. Sekarang dilepas secara tiba-tiba, tak dapat dicegah lagi dia terdorong ke depan. Apalagi masih ada Hek-i Hui-mo yang mendorong punggungnya, maka dilain saat kedua orang tokoh besar ini terjungkal ke depan, jatuh bangun dan saling tindih! Baiknya mereka adalah ahli-ahli yang berkepandaian tinggi, maka cepat mereka dapat menyimpan kembali tenaga mereka dan hanya mengalami benjut-benjut saja. Namun batu-batu yang tertimpa tangan mereka pada remuk! Kwan Cu bertepuk tangan gembira dan sebentar saja Pak-lo-sian juga terkekeh-kekeh, diikuti pujian dari semua orang di fihaknya.

"Kiam Ki Sianjin sudah kalah......!" seru Kwan Cu berulang-ulang sambil bertepuk-tepuk tangan.

Dengan muka merah sekali Kiam Ki Sianjin dan Hek-i Hui-mo bangun berdiri mengibas-ngibaskan pakaian mereka yang terkena debu, untuk beberapa lama tidak mampu bicara. Kemudian Hek-i Hui-mo melangkah maju dan dengan alis berdiri dia menudingkan kepada Yok-ong.

"Siluman muka hitam! Tidak bisa kau dibilang menang, karena kemenanganmu itu hanya karena siasat busukmu belaka!"

Yok-ong tidak meladeninya karena raja tabib ini adalah seorang yang amat hati-hati menjaga kesehatannya. Setelah mengalami adu tenaga yang demikian hebatnya, dia tidak banyak bicara, hanya berdiri diam dan mengatur pernapasan mengumpulkan kembali tenaganya. Melihat ini, Kwan Cu maklum bahwa kakek sakti ini perlu diberi waktu untuk beristirahat dulu karena fihak lawan masih amat kuat. Ia yang segera maju dan mencela Hek-i Hui-mo.

"Locianpwe, kau disebut ahli silat nomor satu dari barat, akan tetapi mengapa kau tadi membantu Kiam Ki Sianjin dan sekarang bahkan menyalahkan kakekku? Sudahlah, nanti akan datang giliranmu, sekarang lebih baik kau meniru perbuatan kakekku, mengumpulkan tenaga untuk pertandingan selanjutnya. Sekarang aku akan melanjutkan pembicaraanku dengan kedua ciangbunjin (ketua) dari Butong- pai dan Kim-san-pai."

Hek-i Hui-mo sudah mengertak gigi dan hendak menyerang Kwan Cu, akan tetapi dua orang ketua Bu-tongpai dan Kim-san-pai sudah melompat maju dan berkata kepada Hek-i Hui-mo, "Memang benar apa yang dikatakan oleh Siauw-ang-mo (Setan Kecil Merah) ini. Biarkan kami berdua mendengarkan kata-katanya lebih lanjut," kata Bin Kong Siansu. Kemudian dia menghadapi Kwan Cu dan berkata, "Anak muda, kau tadi bilang mewakili Kiu-bwe Coa-li dan Pak-lo-sian musuh besar kami, sebenarnya bagaimana maksudmu? Kami jauh-jauh datang sengaja hendak memberi hukuman kepada mereka yang secara curang dan terlalu telah membunuh dan menghina orang dari partai kami, apakah kau hendak menghalangi?"

Kwan Cu tersenyum dan menjura dengan hormat.

"Mana berani boanpwe menghalangi niat dari Ji-wi Ciangbun yang lihai? Akan tetapi, boanpwe sekal-kali tidak akan merintangi apabila Ji-wi hendak membunuh atau membalas dendam kepada Kiu-bwe Coa-li dan Pak-lo-sian kedua Cianpwe itu. Hanya saja, hukuman itu hendaknya dijalankan setelah boanpwe selesai mendongeng."

"Keparat! Kau berhadapan dengan ketua Bu-tong-pai dan Kim-san-pai, masih berani melawak dan hendak mempermainkan kami?" bentak Bian Kim Hosiang yang adatnya memang keras.

"Sama sekali tidak melawak dan mempermainkan, akan tetapi dengarlah saja, Ji-wi Locianpwe tentu akan suka mendengar dongeng ini." Sebelum orang membantah pula, Kwan Cu cepat melanjutkan omongannya, "Kurang lebih sebulan yang lalu, di sebuah kuil di selatan kota raja terjadi hal yang amat aneh. Kuil itu terjaga oleh seorang tojin bemama Siok Tek Tojin, dan pada hari itu di dalam kuil datanglah seorang hwesio pendek bundar membawa pedang dan seorang tosu. Mereka bermalam di kuil itu."

"Dia adalah Bian Ti Hosiang murid kepala Bu-tong-pai!" seru Bian Kim Hosiang.

"Tosu itu tentulah suteku Bin Hong Siansu!" Bin Kong Siansu juga berseru.

"Kebetulan sekali terkaan Ji-wi Locianpwe memang benar," Kwan Cu melanjutkan kata-katanya sambil tersenyum. "Pada malam hari, dua orang pendeta itu terbunuh orang di dalam kamarnya."

"Benar! Pak-lo-sian Siangkoan Hai dan Kiu-bwe Coa-li yang membunuh mereka secara pengecut!" teriak Bian Kim Hosiang dengan mata merah memandang kepada dua orang tokoh besar itu.

Kwan Cu tersenyum dan mengangguk-angguk.

"Memang pembunuhnya mengaku bahwa mereka adalah Pak-lo-sian dan Kiu-bwe Coa-li."

Kiu-bwe Coa-li melompat dengan marah. "Buang kentut busuk! Kalau kedua tanganku dapat digerakkan, kepala kalian sudah hancur!"

Juga Pak-lo-sian melompat dan berkata marah, "Bohong sama sekali!"

Kwan Cu menengok dan berkata, "Sabar..... sabar..... boanpwe belum habis bercerita. Memang pembunuhpebbunuh keji itu mengaku bernama Pak-lo-sian dan Kiubwe Coa-li. Mereka membunuh secara curang sekali, dan mempergunakan obat bius sehingga dua orang pendeta itu pingsan lalu mereka dibunuh. Kebetulan sekali, pembunuh yang aselinya melarikan diri di dalam gelap dan kehilangan sepotong jubah hitamnya! Adapun orang kedua adalah Siok Tek Tojin yang bersekongkol dengan penjahat jubah hitam itu."

Terdengar seruan kaget di antara orang-orang yang berdiri dekat Kiam Ki Sianjin. Siok Tek Tojin melompat maju dengan golok di tangan. "Jahanam bau! Kau berani membawa-bawa nama pinto dengan obrolan kosong itu?"

Tanpa menanti apa-apa lagi Siok Tek Tojin menusukkan goloknya ke arah dada Kwan Cu. Tusukan ini cepat sekali dan kuat. Akan tetapi Kwan Cu tidak mengelak maupun menangkis, hanya memandang dengan mulut tersenyum bodoh. Semua orang di fihak Pak-lo-sian terkejut, bahkan Sui Ceng mengeluarkan jerit tertahan karena disangkanya bahwa pemuda muka merah yang membantu fihaknya itu akan terkena tusukan.

Jangankan Sui Ceng, bahkan Pak-lo-sian dan Kiu-bwe Coa-li sendiri mengira bahwa pemuda aneh itu tentu akan tertusuk golok. Siok Tek Tojin sudah girang sekali, apalagi melihat pemuda itu menoleh kepada Sui Ceng sambil berbareng mengeluarkan kata didahului dengan bentakan, "

Aha! Nona, kau baik sekali mengkhawatirkan keselamatanku!"

Kalau dibicarakan memang sungguh aneh sekali dan semua orang yang berada di situ tentu tidak akan percaya kalau tidak melihat dengan mata mereka sendiri. Pemuda itu tidak mengelak, bahkan kini kepalanya menengok ke belakang dan dadanya terbentang tanpa perlindungan menerima tusukan golok. Yok-ong makin membelalakkan matanya dan menahan napas. Akan tetapi...... setelah ujung golok dekat dengan dada Kwan Cu, tiba-tiba berbareng dengan bentakan "Aha!" tadi, golok itu menyeleweng ke pinggir seakan-akan terdorong oleh tenaga tidak kelihatan yang menyampoknya dari samping! Siok Tek Tojin merasa heran bukan main dan dia juga penasaran. Apakah dia diserang penyakit demam sehingga tangannya lemah dan menggigil? Ia kini menyerang lagi, bukan menusuk, bahkan membacokkan goloknya yang menyeleweng tadi ke arah leher Kwan Cu. Pemuda ini sekarang sudah memandangnya kembali dan sambil tersenyum, Kwan Cu lagi-lagi tidak mengelak, hanya mengeluarkan seruan kaget.

"Ayaaa.....! Kau galak sekali!"

Dan kembali terjadi keanehan. Mata golok yang sudah menyambar dekat dengan leher, tiba-tiba menyeleweng dan bahkan membalik hendak menyerang pundaknya sendiri! "Ilmu siluman...... !" beberapa orang berbisik. Akan tetapi hanya Yok-ong, Pak-lo-sian, Kiu-bwe Coa-li, Kiam Ki Sianjin dan Hek-i Hui-mo saja yang setengah dapat menduga akan tetapi mereka masih sangsi akan semacam ilmu sinkang (tenaga dalam yang sakti) yang pernah mereka dengar namun belum pernah mereka saksikan yakni tentang lweekang yang dapat disalurkan melalui suara itu sehingga dengan bentakan-bentakan saja orang yang memiliki kepandaian ini dapat merobohkan lawan atau menangkis pukulan! Benar-benarkah pemuda ini dapat memiliki kepandaian seperti itu? Hanya seorang yang sudah yakin yakni Yok-ong. Dia menduga bahwa pemuda yang dia kenal Kwan Cu adanya itu tentu telah mewarisi kepandaian dari Im-yang Bu-tek Cin-keng dan kalau hal ini betul maka tidak heran kalau Kwan Cu memiliki sinkang sehebat itu.

Siok Tek Tojin masih penasaran dan hendak menerjang lagi akan tetapi tiba-tiba Bin Kong Siansu ketua Kim-sanpai melompat maju dan menahannya.

"Siok Tek Toyu biarkan pemuda itu melanjutkan dongengannya agar kita dapat mendengar baik-baik." Ketua Kim-san-pai ini menahan sambil memegang lengannya.

Siok Tek Tojin merasa lengannya lumpuh dan menggigil ketika terpegang oleh ketua Kim-san-pai ini, maka tahulah dia bahwa pencegahan itu bukan main-main. Ia lalu menjura dan mengundurkan diri.

Kwan Cu tertawa. "Tentu Cu-wi Locianpwe ingin sekali mendengar siapa orangnya yang berjubah hitam dan yang sesungguhnya merupakan pembunuh tulen dari Bian Ti Hosiang dan Bin Hong Sian Su. Sebelum boanpwe menyebutkan namanya baiklah boanpwe melanjutkan dongeng ini. Siok Tek Tojin yang sudah bersekongkol, lalu pura-pura menolong dua orang pendeta yang sudah hampir tewas itu, menceritakan bahwa dia pun diserang oleh Kiubwe Coa-li dan Pak-lo-sian, dan karena dua orang pendeta itu memang mendengar percakapan antara Kiu-bwe Coa-li dan Pak-lo-sian di luar jendela yang tentunya diatur pula oleh si jubah hitam dan Siok Tek Tojin, maka mereka percaya penuh dan tidak ragu-ragu membuat sehelai surat yang ditujukan kepada Kim-san-pai dan Bu-tong-pai. Tentu saja mereka menulis bahwa mereka terbunuh oleh Kiu-bwe Coa-li dan Pak-lo-sian!"

Kiam Ki Sianjin membentak, "Orang muda, jangan kau sembarangan bicara! Urusan ini bagaimana kau berani mengacaukan? Sudah ada bukti surat dan saksinya Siok Tek Tosu bahwa Kiu-bwe Coa-li dan Pak-lo-sian membunuh JiTiraikasih Website http://kangzusi.com/ wi Beng-yu dari Kim-san-pai dan Bu-tong-pai. Bagaimana kau dapat mengarang cerita busuk tanpa bukti-bukti?"

"Bukti? Locianpwe menghendaki bukti? Belum selesai ceritaku! Setelah si jubah hitam itu lari di malam gelap, dia bertemu dengan seorang yang berhasil mencuri sedikit kain dari jubahnya. Inilah sobekan kain itu!" Kwan Cu mengeluarkan kain yang dulu dia ambil dari jubah Coa-tok Lo-ong, kemudian katanya sambil tersenyum sindir, "Orang berjubah hitam itu sekarang hadir di sini! Tanyakan apakah ini bukan kain dari jubahnya! Dan bukti ke dua, ketika dia mengeluarkan asap obat bius di kelenteng itu sama benar dengan obat bius yang tadi merobohkan Kiu-bwe Coa-li dan Pak-lo-sian kedua Locianpwe yang mulia. Nah, dialah orangnya yang membunuh dua tokoh Kim-san-pai dan Butong- pai kemudian menggunakan nama kedua orang Locianpwe itu dengan maksud mengadu domba!"

Baru saja ucapan ini habis dikatakan, Coa-tok Lo-ong mengeluarkan seruan keras, "Jadi kaukah orang muda yang kurang ajar itu?" Tibatiba terdengar suara ledakan keras dan asap hitam mengebul di dekat Kwan Cu.

"Para Locianpwe, awas!" Dengan cepat sekali Kwan Cu mendorong tubuh Bian Kim Hosiang dan Bin Kong Siansu.

Dua orang ketua itu terpental dan bergulingan sampai lima tombak lebih. Mereka mengalami kekagetan hebat, akan tetapi mereka selamat, terbebas dari pengaruh asap hitam yang jahat. Adapun Yok-ong yang melihat ini, cepat membagi-bagi pil penawar racun di antara Pak-lo-sian sekawanannya sehingga mereka tak usah takut menghadapi serangan asap itu.

Kwan Cu sendiri lalu menahan napas dan meniupkan hawa murni dari tenaga sinkangnya sehingga dia tidak sampai mengisap asap, dan selain itu, dia pun lalu menggunakan tenaga dari Ilmu Silat Pek-in-hoat-sut sehingga seluruh tubuhnya mengebulkan uap putih yang menolak asap hitam ini. Cepat melompat dan sudah berada di depan Coa-tok Lo-ong.

"Kau sudah mengaku sendiri? Bagus!" bentak pemuda ini.

Coa-tok Lo-ong marah sekali, cepat dia lalu memukul dengan tangannya. Ia merasa menyesal mengapa ular hidupnya sudah mati diremas oleh Jeng-kin-jiu tadi.

Dengan mati-matian dia lalu menyerang Kwan Cu dengan tangan kosong, akan tetapi tentu saja Kwan Cu tidak mau memberi kesempatan lagi. Ia mainkan Ilmu Silat Pek-inhoat- sut yang lihai itu dan dalam beberapa jurus saja, sebuah pukulan tangan kiri Kwan Cu tanpa mengenai kulit dadanya sudah membikin Coa-tok Lo-ong terlempar dalam keadaan pingsan! Kwan Cu melompat dan menangkap lehernya, lalu melontarkan tubuh penjahat itu ke arah Bian Kim Hosiang dan Bin Kong Siansu.

"Ji-wi Locianpwe, inilah pembunuh dari orangorangmu!"

Bin Kong Siansu dan Bian Kim Hosiang kini tidak ragu-ragu lagi, cepat sekali keduanya bergerak dan dalam sekejap mata saja tubuh Coa-tok Lo-ong menjadi sasaran senjata mereka hingga tewas dalam saat itu juga! Hek-i Hui-mo menggereng keras melihat sutenya tewas dan dia menyerang kedua ciangbunjin ini. Karena marahnya, Hek-i Hui-mo menggerakkan Liong-thouw-tung (Tongkat Kepala Naga) dan kebutannya, yang satu menyerang Bian Kim Hosiang, yang ke dua menyerang Bin Kong Siansu. Dua orang ciangbunjin ini adalah tokohtokoh besar yang berkepandaian tinggi, maka tentu saja mereka cepat menangkis. Akan tetapi tangkisan mereka membuat keduanya terjengkang. Demikian hebat dan luar biasa tenaga dari Hek-i Hui-mo! Hek-i Hui-mo membentak, "Kalian membunuh suteku, harus membayar kembali dengan nyawa!"

Akan tetapi tiba-tiba ada angin besar yang datang dari pukulan luar biasa menahan sepasang senjata yang hendak membunuh kedua ketua Bu-tong-pai dan Kim-san-pai ini. pukulan ini datangnya dari Kwan Cu yang sudah menghadang di depannya.

"Hek-i Hui-mo, kau masih ada perhitungan denganku!" kata Kwan Cu.

Hek-i Hui-mo marah sekali. Ingin dia sekali serang menghancurkan kepala pemuda yang sudah membuka rahasia sutenya, bahkan yang sudah merobohkan sutenya sehingga sutenya itu tewas di dalam tangan kedua ciangbunjin dari Bu-tong-pai dan Kim-san-pai. Akan tetapi dia pun ingin sekali tahu siapa adanya pemuda muka merah yang aneh ini.

"Kau siapakah? Mengapa memusuhi kami?"

"Dengarlah dulu aku mendongeng!" kata Kwan Cu dengan suara keras sehingga terdengar oleh banyak orang.

"Hek-i Hui-mo ini semenjak dahulu terkenal sebagai seorang pendeta Tibet yang selalu menimbulkan kekacauan.

Di Tibet sendiri dia telah mengacau agama di sana, bahkan mendirikan golongan yang disebut Golongan Jubah Hitam, dibantu oleh sutenya Coa-tok Lo-ong yang jahat. Dulu pernah dia mengancam jiwa seorang anak kecil untuk memperebutkan kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng, kemudian dia pernah pula menawan pujangga besar Tu Fu untuk dipaksanya membaca kitab kuno Im-yang Bu-tek Cin-keng.

Baiknya kitab itu palsu, sama palsunya dengan hatinya sendiri. Kemudian, sebagai anjing penjilat pemberontak, bersama-sama Jeng-kin-jiu dan Toat-beng Hui-houw, dia membunuh secara curang pendekar besar Ang-bin Sin-kai."

"Dia itu murid Ang-bin Sin-kai! Dia Lu Kwan Cu !" tibatiba Kiam Ki Sianjin berseru keras dan kaget. Memang ketika tadi Kwan Cu mainkan Ilmu Silat Pek-in-hoat-sut dan tubuhnya mengebulkan uap putih, Kiam Ki Sianjin sudah curiga, kini mendengar omongan Kwan Cu, dia tidak ragu-ragu lagi bahwa pemuda ini tentulah Kwan Cu adanya! Mendengar ini, Kwan Cu tersenyum. Ia merogoh saku dan mengeluarkan seguci kecil arak yang tadi memang dia terima dari Yok-ong. Dituangnya arak ini di tangan, lalu dibuat mencuci mukanya yang sebentar saja berubah, tidak lagi kemerahan seperti udang direbus, melainkan menjadi muka seorang pemuda yang tampan dan gagah.

"Memang aku Lu Kwan Cu, datang untuk membalas dendam!" katanya.

"Kwan Cu....!" terdengar teriakan kaget dan ini adalah suara Sui Ceng. Gadis ini menjadi bengong dan tak terasa lagi matanya basah oleh air mata. Hatinya tidak karuan rasanya. Tak disangka-sangkanya bahwa Kwan Cu-lah pemuda itu, tidak dinyana-nyana bahwa Kwan Cu memiliki kepandaian yang begitu tinggi. Dan ia pernah memandang rendah kepada Kwan Cu, dan...... dan Kwan Cu pernah menyatakan cinta kasih hatinya secara terang-terangan! Teringatlah Sui Ceng akan pengalaman yang sudah-sudah dan tahulah dia bahwa ketika mereka ditawan oleh bajak sungai, Kwan Cu sengaja berlaku ketolol-tololan. Tak terasa lagi merahlah mukanya dan hatinya berdebar tidak karuan.

Hek-i Hui-mo menjadi pucat, akan tetapi dia tidak dapat menyembunyikan keheranannya. Jadi bocah gundul yang dulu menjadi permainan para tokoh besar itu, sekarang telah menjadi seorang pemuda yang demikian lihainya? Ia mengeluarkan seruan keras dan kedua senjatanya cepat menyerang Kwan Cu.

Kali ini Kwan Cu tidak main-main lagi. Sekali tangannya bergerak, tercabutlah Liong-coan-kiam, pedang peninggalan Menteri Lu Pin. Dengan pedang ini dia bersumpah hendak membalas dendam. Jeng-kin-jiu sudah tewas oleh bekas kawan-kawannya sendiri dan hal ini menggirangkan hatinya, karena Kwan Cu memang menaruh hati sayang kepada hwesio itu. Ia girang karena pada akhir hidupnya, Jeng-kin-jiu membuktikan bahwa sesungguhnya dia mempunyai dasar watak yang gagah perkasa dan baik. Toat-beng Hui-houw sudah tewas di tangan Sui Ceng, hal ini pun menyenangkan hatinya karena memang gadis itu lebih berhak membalas sakit hati ibunya.

Sekarang musuh besar gurunya tinggal Hek-i Hui- mo, maka setelah mencabut pedangnya dia lalu mainkan ilmu pedang Hun-khai Kiam-hoat sambil mulutnya berbisik, "Suhu, dengan ilmu pedang Suhu, teecu akan membalaskan sakit hati suhu! Saksikanlah dari tempat istirahatmu, Suhu!"

Tentu saja Hek-i Hui-mo sudah tahu dan kenal akan ilmu pedang peninggalan Ang-bin Sin-kai ini, maka dia memandang rendah. Betul bahwa tingkat kepandaiannya dahulu setingkat dengan Ang-bin Sin-kai. Akan tetapi setelah pemuda itu mainkan pedangnya, dia kaget setengah mati. Baru beberapa gebrakan saja, sinar pedang Liongcoan- kiam telah berhasil membabat putus sebagian dari rambut kebutannya. Bukan main! Biarpun ilmu pedang ini tiada bedanya dengan yang dimainkan oleh Ang-bin Sinkai, namun gerakannya jauh berlainan. Gerakan ilmu pedang di tangan pemuda ini jauh lebih cepat dan kuat, berlipat ganda kuatnya sehingga biarpun Hek-i Hui-mo sudah mengerahkan tenaga, namun tetap saja tergetar tangannya setiap kali tongkatnya terbentur oleh pedang itu yang cepatnya bukan main sehingga beberapa kali hampir saja Hek-i Hui-mo terlambat mengelak atau menangkis! "Eh, eh, eh, kiranya kau benar-benar Hang-houw-siauw Yok-ong!" terdengar Pak-lo-sian berseru dan tertawa bergelak.

Mendengar ini, Kiam Ki Sianjin cepat menengok dan ternyata bahwa kakek muka hitam yang amat lihai dan yang tadi mengalahkan Kiam Ki Sianjin dalam mengadu lweekang, kini seperti Kwan Cu telah mencuci mukanya dan dia itu bukan lain adalah Hang-houw-siauw Yok-ong Si Raja Tabib! Gentarlah hati Kiam Ki Sianjin melihat ini. Pemuda itu saja sudah amat lihai dan sukar dikalahkan, sekarang di fihak musuh ada pula Yok-ong, maka kalau pertempuran dilakukan seorang melawan seorang, fihaknya tentu akan kalah. Apalagi pada saat itu dia melihat Bian Kim Hosiang dan Bin Kong Siansu, berlari menghampiri Pak-lo-sian Siang-koan Hai dan Kiu-bwe Coa-li. Dua orang ciangbunjin ini lalu berkata dengan muka merah, "Kami berdua yang bermata buta dan bertelinga tuli telah salah sangka, mendakwa Ji-wi yang putih bersih sehingga kami patut dihukum mampus."

"Ah, tidak apa, Ji-wi Bengyu. Kalian menjadi korban tipu muslihat dari para penjilat," kata Pak-lo-sian Siangkoan Hai, akan tetapi Kiu-bwe Coa-li mengejek, "Sungguh memualkan perut, kedua ciangbunjin yang bernama besar ternyata masih mudah saja diberi makan tai oleh anjing-anjing itu!"

Mendengar ini, dua orang tua ini menjadi pucat dan kemudian, makin merah wajahnya. Mereka lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Kiu-bwe Coa-li dan Paklo- sian. Semua anak murid Bu-tong-pai dan Kim-san-pai melihat ini, beramai-ramai lalu datang dan ikut berlutut pula! "Kami orang-orang Bu-tong-pai dan Kim-san-pai, bersedia menerima binasa untuk menebus dosa!" kata kedua orang ketua ini.

Melihat ini, Kiu-bwe Coa-li merasa terharu. "Ji-wi jangan seperti anak kecil. Orang-orang yang berdosa adalah penjilat-penjilat penjajah, mereka berada di depan dan terang-terangan mereka memusuhi kita. Mengapa tidak lekas-lekas memukul mereka?"

Serentak orang-orang Bu-tong-pai dan Kim-san-pai bangkit berdiri dan memandang kepada Kiam Ki Sianjin dan kawan-kawannya dengan mata penuh kemarahan.

Melihat ini, Kiam Ki Sianjin lalu mengeluarkan sebuah terompet dari tanduk dan meniupnya keras sekali. Itulah tanda bagi semua tentara yang memasang baihok (barisan sembunyi) untuk bergerak! Maka keluarlah barisan yang mengepung bukit itu dari segenap jurusan, dengan senjata di tangan mereka berbaris rapi dan mulai menyerbu ke atas. Juga Kiam Ki Sianjin dibantu oleh kawan-kawannya lalu mencabut senjata dan menyerbu! Kwan Cu masih bertempur ramai dengan Hek-i Hui-mo.

Melihat hal ini dia lalu berseru, "Yok-ong Locianpwe, harap jangan melawan dan menyelamatkan kawan-kawan berlari lebih dulu. Biar teecu yang menahan mereka!" Begitu ucapan ini habis dikeluarkan, dia lalu menggerakkan pedangnya secara luar biasa sekali dan tangan kirinya juga mainkan Pek-in-hoatsut dengan jurus-jurus yang paling berbahaya. Mana Hek-i Hui-mo kuat menahan serangan dari seorang yang sudah mengisap semua pelajaran tinggi dari kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng? Tenaga yang dipergunakan oleh Kwan Cu pada saat itu, adalah tenaga sepenuhnya, maka terdengarlah suara keras. Tongkat Kepala Naga putus oleh pedang Liong-coan-kiam yang terus menyabet sehingga pinggang Hek-i Hui-mo terbabat putus menjadi dua! Kemudian Kwan Cu mengamuk hebat. Pertama-tama yang diserbunya adalah Kiam Ki Sianjin karena di antara semua lawan, yang terberat adalah kakek ini. Kiam Ki Sianjin dibantu oleh banyak kawannya mengurung Kwan Cu dan sebagian pula menyerbu kepada Yok-ong dan kawan-kawannya. Akan tetapi, Yok-ong lalu memberi tanda kepada Pak-lo-sian dan yang lain-lain untuk mengikuti dia mundur. Sambil mundur, mereka ini tidak tinggal diam saja. Yok-ong menggunakan kaki tangannya merobohkan setiap orang yang berani dekat. Pak-lo-sian Siangkoan Hai sambil tertawa terbahak-bahak menggunakan kedua kakinya. Biarpun kedua tangannya tak dapat digerakkan, namun sepasang kakinya berpesta-pora dan menendang para pengeroyok. Siapapun juga yang kena tendangannya pasti terpental jauh untuk bangun dihadapan Giam-lo-ong (Raja Maut)! Demikian pula Kiu-bwe Coa-li yang mengamuk dengan sepasang kakinya.

Seng Thian Siansu yang sudah tua dan yang remuk tangan kanannya, hanya mempergunakan tangan kiri menangkap-nangkapi para pengeroyok dan melemparlemparkan mereka. Adapun Sui Ceng, Kun Beng dan Swi Kiat juga mengamuk hebat membabati para tentara yang tentu saja bukan menjadi lawan mereka yang seimbang.

Dua orang murid Kun-lun-pai juga mengamuk, demikian pula Bian Kim Hosiang, Bin Kong Siansu, dan para murid Bu-tong-pai dan Kim-san-pai.

Namun jumlah tentara yang naik banyak sekali sehingga kalau pertempuran itu diteruskan, tenaga mereka pasti akan kalah juga.

"Lari, ikut padaku!" kata Yok-ong dan Raja Tabib ini lalu membawa semua kawannya menuju ke jalan rahasia yang tadi pernah dia perlihatkan kepada Kwan Cu. Karena mereka rata-rata memiliki kepandaian tinggi dan ilmu lari cepat, apalagi para tentara juga gentar menghadapi mereka, sebentar saja Yok-ong sudah dapat membawa mereka memasuki goa dan melarikan diri melalui terowongan di bawah tanah.

Sebelum - Beranda - Lanjut

Tidak ada komentar:

Posting Komentar