Tampilkan postingan dengan label Pendekar Sakti. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendekar Sakti. Tampilkan semua postingan

28 Pendekar Sakti

Sui Ceng dan dua orang murid Pak-lo-sian sendiri tak terasa pula melangkah mundur untuk menjauhi tempat pertempuran, karena hawa pukulan yang keluar dari sepasang kipas itu terasa menyakitkan kulit muka, sebentar panas dan sebentar dingin. Yang dingin keluar dari gerakan kipas kiri, yang panas dari kipas kanan. Inilah Im-yang Posan yang dimainkan oleh seorang ahli yang sudah mencapai puncak kesempurnaan ilmu kipas ini! Kwan Cu diam-diam terkejut bukan main. Lihai sekali Dewa Utara ini, masih lebih lihai daripada Hek-i Hui-mo kiranya. Biarpun di dalam goa di Pulau Pek-hio-to terdapat pula lukisan-lukisan tentang orang bersilat yang hampir sama dengan gerakan kakek ini, namun harus dia akui bahwa gerakan kakek ini, jauh lebih aneh dan hebat, sehingga biarpun dia berlaku waspada dan mainkan sulingnya dengan cepat, tetap saja dia terkurung oleh angin pukulan yang bergelombang datangnya dan tidak tentu sifatnya itu! Kalau saja Kwan Cu tidak memiliki tubuh yang sudah penuh dengan tenaga murni atau sinkang yang tinggi, serta tidak memiliki kewaspadaan sehingga dia dapat menduga tujuan setiap gerakan lawan, tentu dia harus mengakui keunggulan lawan.

Dengan mengumpulkan semangat dan mengerahkan seluruh tenaganya, Kwan Cu segera mainkan sulingnya secara hebat, menurutkan tipu-tipu lihai dari isi pelajaran Im-yang Bu-tek Cin-keng, sedangkan tangan kirinya lalu bergerak-gerak mainkan Pek-in-hoat-sut. Dari kaki sampai ke jidatnya mengebulkan uap putih yang menyelimuti seluruh tubuhnya! Pak-lo-sian menahan seruan tertahan saking kagum dan herannya. la tahu bahwa pukulan kipasnya disertai tenaga sepenuhnya, tenaga lweekang yang sudah dia latih berpuluh tahun. Jaranglah orang dapat menahan sambaran angin pukulan kipas ini, akan tetapi anehnya, ketika angin pukulannya menyambar ke arah jalan darah di tubuh Kwan Cu, hawa itu terpental kembali jika bertemu dengan uap putih itu.

"Hebat sungguh Im-yang Bu-tek Cin-keng!" katanya perlahan, akan tetapi kini Kwan Cu benar-benar memperlihatkan "tanduknya"! Sulingnya digerakkan dengan sepenuh kegesitannya, sehingga jangan kata baru Pak-lo-sian seorang, biarpun dia dikeroyok oleh sepuluh orang Pak-lo-sian, kiranya sepuluh orang ini akan pening kepalanya dan kabur pandangan matanya. Tubuh pemuda ini benar-benar lenyap dari pandangan mata, yang kelihatan hanya uap putih mengebul di sekeliling Pak-lo-sian dan diselingi oleh kelebatan sinar mengkilap dari sulingnya.

Tak lama kemudian terdengar suara "krak! krakkk!" dua kali dan Pak-lo-sian melompat mundur, terhuyung-huyung dan keningnya penuh peluh dingin, napasnya terengahengah.

Ketika Sui Ceng, Kun Beng dan Swi Kiat memandang, kakek ltu hanya memegang gagang kipas yang sudah hancur ! Kwan Cu menjura, pemuda ini hanya merah mukanya dan dari kepalanya masih mengebul uap putih, akan tetapi dia tenang dan napasnya biasa saja.

"Pak-lo-sian Locianpwe benar-benar tidak bernama kosong."

"Cukup," Pak-lo-sian terengah-engah, "tak perlu kau merendahkan diri lagi. Benar-benar hebat! Baru sekali ini selama hidupku aku menghadapi lawan seperti kau.

Sungguh hebat! Kalau saja yang mengalahkan dan merusak kipas-kipasku bukan seorang ahli waris Im-yang Bu-tek Cinkeng, tentu aku si tua Pak-lo-sian akan menghancurkan kepala sendiri."

"Locianpwe telah berlaku mengalah..." kata Kwan Cu.

Pada saat itu, terdengar bunyi "tar! tar! tar!" dari jauh dan hampir berbareng Pak-lo-sian dan Kwan Cu berkata, "Kiu-bwe Coa-li datang "

Benar saja, sesosok bayangan berkelebat dan tahu-tahu wanita sakti itu telah berada di situ dengan cambuknya yang menggemparkan dunia kang-ouw, terayun-ayun di tangannya. la melirik ke arah Kwan Cu, lalu berkata kepada Pak-lo-sian, "Tua bangka utara, apa yang terjadi dengan kedua kipas mautmu?"

Terang sekali ucapan ini adalah ejekan, akan tetapi Paklo- sian tertawa bergelak, "Ha, ha, ha, Kiu-bwe Coa-li. Telah berpuluh tahun kau tidak berhasil mengalahkan kedua kipasku, sebaliknya aku pun tidak berhasil mengalahkan cambukmu. Akan tetapi, hari ini aku mengaku bahwa ilmu kipasku masih amat rendah dan perlu diperbaiki lagi."

Kiu-bwe Coa-li melirik ke arah Kwan Cu dan tiba-tiba ia me!ihat Sui Ceng di situ. la tertegun. Tadi ia melihat pertandingan dari jauh dan saking tertariknya ia sampai tidak melihat kehadiran Sui Ceng.

"Sui Ceng, ada apa kau di tempat ini?" la melirik pula ke arah Kun Beng dengan mata marah.

"Kiu-bwe Coa-li, muridmu itulah yang menjadi garagara.

Aku hendak membunuh muridku yang murtad, dia menghalangi sampai-sampai dia berani menyerangku.

Akhimya kejadian itu memancing datangnya Lu-siauwhiap dan rusaknya kedua kipasku."

"Sui Ceng, ke mana mukamu? Tak tahu malu, urusan orang lain kau berani turut bercampur tangan. Tua bangka utara mau membunuh muridnya, biarlah jangan kita ikut campur. Hayo kau harus pergi bersamaku sekarang!"

"Tidak, Suthai. Sebelum Pak-lo-sian Locianpwe berjanji takkan membunuh orang yang sudah menderita batinnya, teecu takkan pergi dari sini."

Pak-lo-sian tertawa lagi bergelak, dan Kiu-bwe Coa-li marah dan malu bukan main. la menggerakkan pecutnya dan pecut yang berekor sembilan itu serentak melayang dan memukul ke arah sembilan jalan darah di tubuh Sui Ceng.

"Kau pergi atau tidak?" bentak wanita sakti itu dengan suara menyeramkan.

"Suthai, jangan bunuh dia!" Tiba-tiba Kun Beng berseru keras dan meloncat ke depan, menghadang antara cambuk dan tubuh Sui Ceng. Oieh karena itu, cambuk ini tidak jadi menuju di tubuh Sui Ceng, melainkan menghantam tubuh Kun Beng. Pemuda ini terpental dan bergulingan sampai lima tombak lebih. Baiknya Kiu-bwe Coa-li tidak mau membunuh murid orang lain dan hanya ingin memberi hajaran saja, maka biarpun tubuhnya sakit-sakit dan terlempar jauh, Kun Beng tidak sampai terluka hebat.

"Sui Ceng, hayo kita pergi!" bentak pula Kiu-bwe Coa-li dan kini suaranya lebih menyeramkan lagi karena nenek tua ini sudah hampir tak dapat menahan kesabaran hatinya lagi. Dibantah dan dibangkang oleh muridnya di depan orang lain benar-benar merupakan hal yang amat tidak enak dan memalukan.

Kwan Cu berkata, "Sui Ceng, kau pergilah. Pak-lo-sian Locianpwe sudah berjanji takkan membunuh Kun Beng …" kata-kata ini adalah untuk membujuk supaya Sui Ceng mau pergi karena Kwan Cu tahu benar bahwa sekali lagi menolak, Sui Ceng pasti akan menerima pukulan yang mungkin akan merenggut nyawanya oleh Kiu-bwe Coa-li.

Akan tetapi Sui Ceng benar-benar menggelengkan kepala lagi! "Sebelum bertemu dengan Kui Lan aku belum mau pergi."

Baru saja kata-kata ini habis diucapkan, bunyi cambuk menyakitkan telinga Kwan Cu melompat dan Pak-lo-sian Siangkoan Hai berseru kaget. Ternyata bahwa sembilan ekor ujung cambuk dari Kiu-bwe Coa-li telah menyambar, ketika Sui Ceng menyatakan penolakannya untuk pergi tadi, akan tetapi Kwan Cu melompat menghadang di jalan sehingga ujung-ujung cambuk itu bukan menyambar kepada Sui Ceng, melainkan ke tubuhnya seperti yang telah dilakukan oleh Kun Beng tadi.

Akan tetapi kalau gerakan Kun Beng tadi masih dapat dilihat oleh Kiu-bwe Coa-li sehingga nenek ini keburu mengubah arah cambuknya, adalah gerakan Kwan Cu sekarang amat cepatnya, maka nenek itu tidak keburu menahan pukulannya. Sembilan cambuk itu melayang dan menghajar sembilan jalan darah kematian di tubuh Kwan Cu. Karena inilah Pak-lo-sian Siangkoan Hai berseru kaget. la maklum bahwa pukulan yang dilakukan oleh Kiu-bwe Coa-li ini adalah jurus yang paling berbahaya dari ilmu cambuknya dan tidak seorang pun tokoh persilatan di dunia ini yang berani menerima serangan jurus ini yang dia kenal sebagai jurus Kiu-coa-toat-beng (Sembilan Ekor Ular Mencabut Nyawa). Bahkan Kiu-bwe Coa-li sendiri juga terkejut, akan tetapi ia tidak dapat menarik kembali sambaran sembilan ujung cambuk itu, hanya ia bisa mengurangi tenaganya sehingga hanya dua pertiga tenaganya saja yang tersalur di ujung senjatanya yang lihai.

Akan tetapi seruan kaget Pak-lo-sian berubah menjadi seruan tertahan saking herannya, demikian pula Kiu-bwe Coa-li menjadi pucat setelah sembilan ujung cambuk itu tiba di tubuh Kwan Cu, ternyata tidak berakibat apa-apa! Kwan Cu tetap tersenyum saja seakan-akan serangan hebat ini tidak terasa sama sekali olehnya. Padahal, diam-diam Kwan Cu tadi telah mengerahkan seluruh tenaga dan sinkangnya yang telah menjadi satu dengan perasaannya, otomatis menolak tenaga pukulan ini dan dia menambah perisai tubuhnya dengan pengerahan ilmu menutup jalan darah dan mengumpulkan hawa murni yang terasa hangat mengelilingi seluruh tubuh secara cepat sekali. Namun, tetap saja dia merasa kulit tubuh di mana cambuk itu tiba, panas-panas! "Terima kasih atas petunjuk dari Suthai," kata Kwan Cu sambil menjura dan membungkukkan tubuhnya. Gerakan ini perlu sekali karena dengan membungkuk, dia dapat menggerakkan tubuh dan sinkangnya berjalan lebih cepat mengusir bekas-bekas pukulan yang betapapun juga akan mendatangkan bahaya kalau tidak segera dilenyapkan.

Sampai lama Kiu-bwe Coa-li membelalakkan matanya.

Belum pernah ia mengalami hal sehebat ini. Pukulan dengan jurus Kiu-coa-toat-beng diterima tanpa berkejap mata oleh pemuda ini! "Sudahlah aku sudah tua dan tak tahu malu! Lu-sicu, lain kali kalau aku masih hidup, aku hendak mencoba kelihaianmu sekali lagi!" katanya sambil menggerakkan kedua kaki dan lenyaplah wanita sakti itu dari situ.

Kwan Cu menarik napas panjang. "Hm, apakah artinya semua keributan ini? Orang yang dicurangi dan yang paling menderita dalam urusan ini adalah nona Gouw Kui Lan.

Orang-orang berlancang hendak mengambil keputusan sendiri tanpa bertanya kepadanya. Benar-benar tidak adil!"

Kata-kata ini menyadarkan Pak-lo-sian Siangkoan Hai.

Memang tepat sekali ucapan ini. Mereka ribut-ribut karena Kun Beng telah melakukan hal amat tidak baik terhadap diri Gouw Kui Lan dan kini orang ramai-ramai datang untuk menghukum Kun Beng tanpa bertanya kepada nona Kui Lan sama sekali! "Mari kita temui dia di dalam!" kata Pak-lo-sian Siangkoan Hai dan semua orang mengikutinya masuk ke dalam kuil yang amat besar itu. Keadaan kuil sunyi saja dan pintu depan yang amat kuat dan tebal itu sukar sekali dibuka, agaknya dipalangi dari dalam. Namun dengan sekali dorong saja Pak-lo-sian berhasil mematahkan palangnya di sebelah dalam, pintu terbuka! Semua orang tertegun dan berdiri di ambang pintu, tidak bergerak seperti patung. Kalau di luarnya sunyi saja, di sebelah dalam kuil itu penuh orang. Sedikitnya ada tiga ratus orang terbaring di situ, orang-orang yang terluka dalam peperangan melawan penjajah. Beberapa orang perawat sibuk sekali melayani mereka ini dan di antara mereka yang paling sibuk adalah Ngo Lian Suthai dan….

Gouw Kui Lan. Akan tetapi, melihat Kui Lan terdengar seruan dari mulut Swi Kiat.

"Lan-moi …!"

Nona itu menengok, ia telah menjadi seorang nikouw muda (pendeta wanita) berkepala gundul. Melihat kakaknya, ia tersenyum, akan tetapi mukanya berubah ketika ia melihat Kun Beng berada pula di situ.

"Kui Lan, mengapa kau telah menjadi nikouw….? Apa maksudmu?" teriak Swi Kiat sambil berlari menghampiri adiknya.

"Aku datang untuk mengusahakan pernikahanmu dengan Kun Beng "

Merah wajah nikouw muda itu, akan tetapi bibirnya tetap tersenyum penuh kesabaran dan ketenangan, "Hushhh…. Kiat-ko, omongan apa yang kauucapkan itu? Lihatlah baik-baik, aku adalah seorang nikouw, bagaimana kau bisa bicara tentang pernikahan?"

Swi Kiat merasa ditampar mukanya, dia tak dapat menjawab dan menjadi bingung. Juga Kun Beng merasa terharu sekali. Penglihatan ini menikam ulu hatinya dan dia merasa betapa dosanya makin besar. Ia tahu bahwa masuknya Kui Lan menjadi nikouw adalah karena perbuatannya. Dua titik air mata tak terasa lagi turun membasahi pipinya. Sui Ceng berdebar. Kemarahannya terhadap Kui Lan lenyap seketika, terganti oleh rasa kasihan. Adapun Kwan Cu memandang dengan penuh kekaguman.

Di dalam kesunyian ini, terdengar Kui Lan berkata, suaranya lantang dan biasa saja, penuh kesabaran.

"Kiat-ko, Kui Lan yang dulu sudah mati. Yang ada sekarang adalah Kui Lan Nikouw murid Ngo Lian Suthai.

Tidak ada urusan sesuatu antara pinni (aku) dengan Thetaihiap atau siapapun juga "

"Adikku!" teriak Swi Kiat.

"Kiat-ko, aku sudah bersumpah menjadi orang beribadat, aku melupakan kehidupan lalu. Sudahlah, harap Cu-wi sekalian suka keluar, jangan mengganggu orang-orang yang menderita luka, mereka ini adalah para pejuang rakyat, dan …."

Tiba-tiba dari luar menerobos masuk beberapa orang laki-laki yang membawa senjata. Mereka ini adalah para perajurit pejuang rakyat yang cepat berkata, "Ngo Lian Suthai, celaka. Pasukan kita terpukul dan sebarisan musuh menuju ke sini. Mereka sudah mendengar bahwa kawan-kawan yang terluka berada di sini!?" Seorang di antara mereka menyambung. "Kita harus membawa kawan-kawan ini pergi dari sini, pertahanan sudah bobol dan kawan-kawan ini tentu akan menjadi korban semua!"

Tiba-tiba Kwan Cu berkata nyaring, "Pak-lo-sian Locianpwe! Kun Beng! Swi Kiat dan Sui Ceng. Kita semua harus malu! Rakyat berjuang melawan penjajah, bahkan nona Gouw sendiri membaktikan diri untuk membantu bangsa yang tertindas, sebaliknya kita semua ribut-ribut urusan tetek bengek! Dalam menghadapi bahaya bagi bangsa, urusan pribadi harus dilupakan, hayo kita gempur musuh!"

Kata-kata ini sebagai aliran listrik menggetarkan jiwa kepahlawanan dalam orang-orang gagah itu. Pak-lo-sian berseru nyaring. "Mana musuh! Akan kuhancurkan kepalanya!" Beramai-ramai mereka lalu lari bersama para perajurit pejuang itu yang menjadi petunjuk jalan.

Benar saja, di tengah jalan mereka bertemu dengan puluhan pejuang yang melarikan diri, dikejar oleh barisan musuh yang lebih besar jumlahnya. Banyak di antara mereka yang terluka. Pak-lo-sian segera memimpin mereka dan mengatur pertahanan. Teriakan dan sorak-sorai musuh sudah terdengar dekat. Pak-lo-sian mengatur kawan-kawan pejuang bersembunyi di balik pohon-pohon, menghadang di dalam hutan.

Ketika barisan musuh yang terdiri dari dua ratus orang lebih itu tiba, Pak-lo-sian memberi aba-aba dan menyerbulah mereka, menghantam musuh. Kwan Cu, Kun Beng, Swi Kiat dan Sui Ceng mengamuk hebat! Tiap kali senjata mereka bergerak, tentu seorang serdadu penjajah roboh tak bemyawa lagi. Biarpun kepandaian Kwan Cu lebih tinggi daripada Pak-lo-sian, namun sepak terang pemuda ini tidak sehebat Pak-lo-sian, karena di dalam hatinya Kwan Cu penuh welas asih dan dia tidak tega menyebarkan maut, biarpun kepada musuh bangsanya.

Maka dia hanya menotok merobohkan mereka tanpa merampas nyawanya. Sebaliknya, Pak-lo-sian benar-benar hebat. Sepasang kipasnya telah rusak oleh Kwan Cu dan kini ujung lengan bajunya menyambar bagaikan sepasang kupu-kupu, akan tetapi jangankan sampai terkena ujung lengan baju ini, baru terkena sambaran anginnya saja, para musuh terlempar dengan mata mendelik dan napas putus! Para pejuang mendapat bantuan lima orang sakti ini terbangun semangatnya dan mereka juga mengamuk, bahkan yang sudah terluka masih ikut pula menghantam musuh. Sebentar saja, lebih separuh jumlah musuh roboh malang-melintang dan bertumpang tindih. Sebagian lagi cepat-cepat melarikan diri dengan muka pucat, tidak tahanmenghadapi para pendekar itu.

Terbangun semangatnya oleh Gouw Kui Lan yang membaktikan dirinya untuk nusa bangsa, Pak-lo-sian dan empat orang muda itu tidak berhenti sampai di situ saja.

Mereka bahkan menunda keperluan lain dan semenjak saat itu, Pak-lo-sian terkenal sebagai pemimpin pejuang yang amat disegani. Mereka menggabungkan diri dengan para pejuang lain untuk membasmi barisan-barisan kaisar.

Berkat perlawanan pejuang rakyat yang gagah perkasa, akhirnya tumbanglah kekuasaan penjajah. Kaisar Si Cung, pengganti Kaisar Sin Cong juga mengerahkan barisan dan dengan bantuan suku bangsa Ouigur, akhimya dapat merebut kembali kota raja dan mengusir penjajah. Beberapa tahun kemudian, bangsa Tartar hanya merupakan sekelompok kecil yang cerai-berai dan melakukan kekacauan yang tidak berarti di sana-sini.

***

Setelah melakukan tugas membantu perjuangan rakyat beberapa tahun lamanya, para orang gagah yang tidak gugur dalam peperangan, kembali ke tempat masing-masing termasuk Pak-lo-sian yang mengajak Swi Kiat kembali ke utara. Kun Beng yang mendapat pukulan batin hebat karena peristiwa dengan Gouw Kui Lan, melenyapkan diri, agaknya untuk menebus dosa. Sui Ceng lalu menyusul gurunya, Kiu-bwe Coa-li untuk memperdalam ilmu silatnya serta mempelajari kebatinan. Hatinya masih terluka dan dia masih menderita patah hati serta duka, mengandung cinta kasih yang tidak tercapai.

Bagaimana dengan Kwan Cu, pendekar sakti itu? Pemuda ini menderita batinnya. Cinta kasihnya terhadap Sui Ceng mengalami kegagalan, membuat dia makin merasa jemu terhadap kehidupan. Biarpun usianya baru dua puluh empat tahun, namun dia seperti seorang yang jauh lebih tua. Namun, semangat membalas dendam masih terkandung dalam hatinya, terhadap An Kai Seng, musuh besar yang tinggal satu-satunya itu. Oleh karena itu, setelah peperangan selesai dan pemerintah Tang berdiri kembali, Kwan Cu lalu mulai melakukan perjalanan untuk mencari musuh besarnya ini. Akhirnya dia mendapat berita, bahwa An Kai Seng tinggal di kota An-keng di Propinsi An-hui.

Segera dia menuju ke selatan untuk mencari musuh besarnya ini.

Kota An-keng terletak di tepi Sungai Yang-ce-kiang dan merupakan kota yang besar dan ramai. An Kai Seng tinggal di kota besar ini bersama isterinya dan dia tetap mempergunakan nama Tan Kai seng. Tak seorang pun pernah mengira bahwa Tan Kai Seng ini adalah cucu dari An Lu Shan si pemberontak yang sudah mendatangkan banyak sekali malapetaka kepada rakyat jelata.

Setelah mengetahui bahwa musuh besarnya, yakni Lu Kwan Cu yang amat lihai menghendaki nyawanya, An Kai Seng dan isterinya telah memperdalam ilmu silatnya sehingga kepandaiannya jauh lebih maju kalau dibandingkan dengan dahulu ketika dia bertemu dengan Kwan Cu. Isterinya bahkan belajar lagi dari gurunya, yakni Lui Kong Nikouw, sedangkan An Kai Seng belajar dari beberapa orang guru silat yang pandai. Tidak demikian saja, bahkan An Kai Seng yang kaya raya itu kini mendatangkan banyak jago-jago silat untuk menjadi pengawalnya dan menjaga keselamatannya. Juga Lui Kong Nikouw kini ditarik olehnya dan tinggal di kota An-keng. Di samping Lui Kong Nikouw, masih ada tiga orang lagi yang dia amat andalkan, yakni tiga jago yang disebut Sin-to Sam-eng (Tiga Orang Gagah Bergolok Sakti). Mereka ini adalah muridmurid Siauw- lim-si yang diusir dari partai itu karena melanggar peraturan. Dengan pandai mereka dapat menyelundup ke Go-bi-san dan menjadi murid partai Go-bipai pula, akan tetapi lagi-lagi mereka diusir karena memang mereka bukan orang baik-baik. Akan tetapi setelah menerima pelajaran ilmu silat dari dua partai ini, ditambah pula dengan pengalaman-pengalaman mereka dan pergaulan mereka dengan kaum hek-to (penjahat), kepandaian tiga orang ini benar-benar amat lihai. Yang tertua bemama Ang Kian, berjuluk It-to-cilan (Setangkai Bunga Cilan), seorang jai-hwa-cat (penjahat pemetik bunga) yang ditakuti orang. Setiap kali melakukan perbuatan terkutuk, dia selalu meninggalkan sebatang cilan-piauw, yakni semacam senjata rahasia berbentuk bunga cilan, maka dia mendapat nama julukan It-to-cilan.

Orang ke dua bernama Yap Ki, seorang ahli mempergunakan racun sehingga dijuluki Tok-ong (Raja Racun), sedangkan orang ke tiga adalah adiknya sendiri bernama Yap Ek yang paling lihai ilmu goloknya di antara dua orang kawannya.

Tiga orang penjahat ini dengan menggabungkan ilmu silat Siauw-lim-si dan Go-bi, dapat menciptakan ilmu golok yang mereka namakan Sin-sam-to-hiap (llmu Golok Tiga Serangkai Yang Sakti), nama yang benar-benar menggambarkan betapa sombong adanya tiga orang ini.

Namun, memang ilmu golok mereka jarang ada yang dapat menandingi dan hal ini membuat mereka makin sombong dan tinggi hati. Hanya dengan harta bendanya yang banyak serta senyum serta lirikan mata Wi Wi Toanio yang menggiurkan, maka Ang Kai Seng berhasil menarik tiga orang ini menjadi sahabatnya atau lebih tepat disebut pengawal pribadinya. Ia maklum bahwa antara isterinya dan It-to-cilan Ang Kian yang berwajah tampan ada hubungan yang tidak seharusnya, akan tetapi An Kai Seng hanya dapat mengelus dada saja. Kepandaian isterinya lebih tinggi daripada kepandaiannya sendiri, sedangkan An Kian juga memiliki kepandaian yang tak mampu dia melawannya. apalagi Ang Kian dan kawan-kawannya adalah pelindung-pelindungnya, maka dia merasa bahwa menjaga keselamatan diri sendiri lebih penting daripada kebahagiaan rumah tangganya. Maka dia tidak mempedulikan lagi kepada isterinya, bahkan ditemani oleh kawan-kawannya ini, dia mulai mencari hiburan di luar dan memelihara banyak selir di luaran.

Selain melakukan penjagaan yang amat kuat di rumahnya, juga di kota An-keng dan di sekitarnya, dia melepas banyak kaki tangan untuk menyelidiki kalau-kalau ada datang Kwan Cu musuh besarnya. Akan tetapi sampai beberapa tahun tidak ada kabar ceritanya tentang Kwan Cu.

Paling akhir dia mendengar bahwa musuhnya itu membantu kaum pejuang, maka dia menganggap bahwa pemuda itu tentu gugur dalam peperangan. Hatinya mulai lega dan tenang.

Akan tetapi, alangkah terkejutnya ketika pada suatu hari dia mendapat kabar dari pengurus hotel Liok-an yang menjadi kaki tangannya pula bahwa di hotel itu datang , seorang pemuda yang mengaku bemama Lu K wan Cu! Kalau ada geledek menyambarnya di waktu tengah hari, Kai Seng agaknya takkan sekaget itu. Cepat dia mengumpulkan jago-jagonya dan mengadakan perundingan.

"Belum tentu kalau yang datang itu musuh besarmu, Tan-wangwe," kata Ang Kian menghibur. "Baiknya kita semua pergi ke hotel itu dan kau melihat sendiri apakah dia betul-betul musuh besarmu itu. Kalau betul, tak usah banyak ribut lagi kita terus membunuhnya." Memang Ang Kian amat sombong dan memandang rendah kepada musuh besar majikannya ini.

"Tak bisa, tak bisa!" kata Kai Seng yang sudah ketakutan. "Kalau benar dia Lu Kwan Cu, begitu melihat aku, tentu dia akan menyerangku!"

"Takut apa? Kita membawa kawan-kawan dan tak mungkin dia dapat mengalahkan kita," kata Yap Ki. "Tidak tepat," lagi-lagi Kai Seng mencela, "lebih baik lekas panggil Kwa-sian-seng." Yang disebut Kwa-sianseng adalah seorang kaki tangannya yang selalu berpakaian seperti sastrawan, dan memang betul dia adalah seorang terpelajar yang terkenal ahli dalam melukis. Melihat sesuatu, dia dapat melukisnya cepat dan cocok sekali. Di samping kepandaian ini, dia pun mengerti ilmu silat cukup tinggi sehingga di kota An-keng dia dijuluki Bun-bu-siang-pit. Senjatanya adalah siang-pit (sepasang pit) yang tidak saja lihai kalau dipergunakan untuk menggambar, akan tetapi juga lihai kalau dimainkan sebagai senjata.

Orang she Kwa ini dipanggil dan segera mendapat tugas untuk menyelidiki pemuda di hotel Liok-an yang bemama Lu Kwan Cu itu. Kwa-sianseng menerima tugas ini dengan senyum menyeringai, karena setiap kali mendapat tugas dari hartawan she Tan ini, selalu dia akan pulang dengan kantong penuh uang.

Pemuda yang datang di hotel Liok-an itu memang benar Lu Kwan Cu. Biarpun pemuda ini dapat menduga bahwa tentu di kota ini An Keng Seng mempunyai banyak kaki tangan dan mata-mata, namun dia sengaja menuliskan nama aseli di buku tamu. Apa yang dia takutkan? Pemuda ini merasa yakin akan kepandaiannya sendiri dan dia sudah merasa pasti bahwa betapapun juga akhimya dia akan berhadapan muka dengan musuh besamya. Setelah membersihkan diri, dia lalu pergi ke rumah makan untuk makan siang.

Seperti juga di hotel Liok-an, di rumah makan itu terdapat banyak pelayan yang amat memperhatikan dia.

Dengan pandangan matanya yang sudah awas itu, Kwan Cu dapat membedakan perhatian orang biasa dan perhatian orang yang mengandung maksud tertentu. Akan tetapi dia pura-pura tidak melihat dan makan dengan tenang, sungguhpun dia amat berhati-hati dan mencoba setiap masakan lebih dulu, menjaga kalau-kalau fihak musuh menaruh racun.

Di dalam rumah makan itu hanya ada beberapa orang tamu yang makan siang. Akan tetapi di antara mereka, hanya seorang yang menarik perhatian Kwan Cu dan diamdiam dia mengawasi gerak-gerik orang ini. la melihat orang ini sebagai seorang sastrawan dan biarpun orang itu kelihatan makan minum seorang diri, namun dia tahu bahwa orang itu amat memperhatikannya dan tiba-tiha dia melihat orang itu mencorat-coret sehelai kertas dengan pitnya. Melihat pit itu makin besar kecurigaan hati Kwan Cu. Pit itu, gagangnya terbuat daripada kuningan dan lebih tepat kalau dipergunakan sebagai senjata.

Akan tetapi Kwan Cu pura-pura tidak melihatnya dan mempercepat makannya. Setelah membayar heres, dia lalu keluar. Akan tetapi ketika dia sengaja lewat di dekat meja sastrawan itu dan melirik ke atas mejanya, dia menjadi terkejut dan heran karena hiarpun orang itu cepat-cepat menutupi kertas yang dicoret-coretnya, dia masih melihat sekelebatan bahwa di atas kertas itu tergambar wajahnya sendiri! Namun Kwan Cu dapat menekan perasaannya dan cepat melangkah keluar. la segera menyelinap dan bersembunyi di tempat agak jauh sambil memasang mata.

Apakah kehendak sastrawan itu yang menggambar mukanya demikian cepat dan demikian cocok? Tak lama kemudian dia melihat orang itu keluar, menengok ke kanan kiri lalu berjalan dengan tindakan kaki tergesa-gesa ke kiri. Kwan Cu mengikutinya dari jauh.

Orang itu masuk ke dalam rumah gedung yang mewah dan terjaga kuat. Di pintu pekarangan saja dia melihat lima orang laki-laki yang sikapnya seperti tukang pukul, duduk sambil bercakap-cakap. Melihat sastrawan itu, lima orang penjaga menjura sambil tertawa.

"Lopek, bukankah rumah gedung itu tempat tinggal Kwan-wangwe (hartawan she Kwan)?" tanya Kwan Cu kepada seorang tua yang memikul tahu.

Kakek itu menggerakkan alisnya heran. "Eh, anak muda, masa kau tidak tahu bahwa itu adalah gedung dari Tanwangwe?"

Kwan Cu berdebar girang, akan tetapi dia tidak memperlihatkan kegembiraannya, bahkan nampak kecewa.

"Aku mencari rumah hartawan Kwan."

"Entahlah, aku tidak tahu di mana rumah hartawan Kwan. Kalau gedung itu memang rumah hartawan Tan Kai Seng, siapa orangnya tidak mengenal rumahnya?" Tukang tahu itu lalu pergi lagi setelah Kwan Cu menghaturkan terima kasihnya.

"Hm, tak salah lagi. Di situ tempat tinggal anjing she An itu," pikimya dan tanpa membuang waktu lagi dia lalu melangkah lebar menuju ke pintu gerbang pekarangan gedung itu.

"Siapa kau? Mau apa menyelonong ke sini?" bentak seorang di antara lima penjaga pintu pekarangan.

"Katakanlah kepada Tan-wangwe bahwa seorang sahabat dari jauh hendak bertemu dengan dia," jawab Kwan Cu tenang.

"Tan-wangwe sudah memesan kepada kami bahwa hari ini dia tidak mau terima tamu. Kau lekas tinggalkan nama dan alamat biar nanti kami yang menyampaikan. Besok pagi boleh datang lagi menerima keputusan."

"Hm, dia hendak menyembunyikan diri? Tidak apa, aku bisa masuk sendiri menemuinya." Sambil berkata demikian, Kwan Cu tidak pedulikan lagi para penjaga itu dan terus berjalan masuk.

"Heiii, kau ini bangsat dari mana begini tidak tahu aturan? Berhenti!" Lima orang penjaga mengejar, akan tetapi Kwan Cu berjalan terus memasuki pekarangan.

"Kau harus dilempar keluar!" bentak seorang di antara mereka sambil mencengkeram pundak Kwan Cu dan hendak melemparkan pemuda itu keluar dari pekarangan.

Akan tetapi, segera dia berseru kaget ketika tiba-tiba tubuhnya sendiri yang terpelanting keluar dari pekarangan, jatuh di jalan raya mengeluarkan suara berdebuk! Empat orang penjaga yang lain menjadi marah dan mereka lalu memukul. Terdengar suara "bak-buk-bak-buk" dan bukan yang dipukul yang jatuh, melainkan para pemukulnya yang memekik kesakitan dan terguling roboh! Jeritan para penjaga pintu terdengar oleh orang-orang yang berada di dalam gedung. Tak lama kemudian keluarlah berlarian beberapa orang dan Kwan Cu menjadi girang bukan main, karena di antara sekian banyak orang itu dia mengenal An Kai Seng dan Wi Wi Toanio! "Bangsat she An, bersiaplah untuk mampus!" bentak Kwan Cu sambil menghunus pedang Liong-coan-kiam dari pinggangnya. Akan tetapi sekali berkelebat, Kai Seng dan Wi Wi Toanio lenyap di dalam gedung dan ketika K wan Cu hendak mengejar, dia dihadang oleh lima orang. Orang pertama adalah si sastrawan tadi yang bukan lain adalah Kwa-sianseng. Orang ke dua adalah Lui Kong Nikouw yang sudah dikenal oleh Kwan Cu. Adapun tiga orang lain adalah Sin-to Sam-eng yang belum dikenalnya.

Melihat Kwan Cu mengejar majikan mereka, lima orang ini maju mengeroyoknya. Akan tetapi Kwan Cu cepat menggerakkan Liong-cuan-kiam dan suara nyaring terdengar ketika pedangnya mengenai sebatang pit dari Kwa-sianseng dan sebatang golok di tangan It-to-cilan Ang Kian orang pertama dari Sin-to I Sam-eng. Terkejutlah lima orang itu karena yang senjatanya tidak terbabat putus oleh Liong-cuan-kiam, merasa betapa tangan mereka tergetar hebat, tanda bahwa tenaga dari pemuda itu jauh mengatasi tenaga mereka yang dipersatukan. Kwan Cu mengamuk terus dengan ilmu pedangnya yang luar biasa, dibarengi dengan gerakan tangan kiri, dia berhasil merobohkan It-tocilan dengan sebuah pukulan tangan kiri yang tepat mengenai jalan darah di lehernya.

Lui Kong Nikouw membabat dengan pedangnya, disusul oleh tiga orang kawannya yang menggerakkan senjata dengan cepatnya. Akan tetapi gerakan Kwan Cu lebih cepat lagi sehingga sebelum mereka sadar apa yang terjadi, Lui Kong Nikouw menjerit dengan pundak terluka dan Yap Ki si Raja Racun terlempar kena ditendang oleh Kwan Cu.

Bukan main kaget dan marahnya para pengeroyok ini.

Tok-ong Yap Ki berseru keras dan sambil melompat berdiri tangannya bergerak-gerak. Beberapa tok-ciam (jarum beracun) menyambar ke arah Kwan Cu, akan tetapi sekali saja Kwan Cu mengibaskan tangan kirinya, jarum-jarum itu terpental kembali, ada yang langsung menyerang Yap Ek dan si sastrawan dan lebih hebat lagi, ada yang kembali dan menyerang Yap Ki sendiri! Yap Ek dan si sastrawan roboh akan tetapi Yap Ki dapat menyelamatkan dirinya. Si Raja Racun ini kaget sekali melihat jarum-jarumnya mengenai saudaranya dan kawan sendiri, karena dia tahu bahwa jarum-jarum beracun itu amat berbahaya dan siapa yang terkena akan binasa dalam beberapa menit saja kalau tidak lekas-lekas dia beri obat pemunahnya.

Pada saat itu, dari dalam gedung keluarlah belasan orang bersenjata, sedangkan dari luar gedung masuk pula lebih dua puluh orang dengan senjata di tangan. Mereka ini adalah jagoan-jagoan dan kaki tangan An Kai Seng yang sudah mendengar bahwa musuh besar majikan mereka datang mengamuk.

Kwan Cu segera dikepung dan dikeroyok. Akan tetapi apakah artinya puluhan jagoan-jagoan murah itu? Dengan enaknya Kwan Cu menyimpan kembali pedangnya lalu menggerakkan kaki tangannya untuk merobohkan mereka bagaikan orang membabat rumput saja. Yap Ki sendiri tidak dapat membantu pengeroyokan itu, karena dia sibuk memberi obat pemunah kepada si sastrawan Kwa dan Yap Ek agar nyawa mereka ini tertolong. Kemudian, dia lalu maju menerjang lagi dengan goloknya.

Selagi Kwan Cu mengamuk hebat, dari luar datang lagi serombongan orang dan mereka ini ternyata adalah sepasukan penjaga keamanan kota yang jumlahnya tiga puluh orang! An Kai Seng sebagai hartawan yang terkenal dengan nama Tan-wangwe dan sering kali menyumbang sehingga hubungannya amat baik dengan para pembesar, tentu saja segera ditolong oleh penjaga-penjaga keamanan ketika mereka mendengar bahwa di rumah Tan-wangwe terjadi keributan dengan datangnya seorang pengacau.

Kwan Cu menjadi gemas. Akan tetapi pemuda ini tidak mau sembarangan membunuh orang. Dengan kepandaiannya yang tinggi dia dapat membikin para pengeroyoknya itu roboh seorang demi seorang dengan tulang-tulang yang patah dan luka-luka yang tidak menimbulkan bahaya bagi keselamatan nyawa mereka.

Sebentar saja, jumlah pengeroyok tinggal belasan orang lagi dan sebagian besar sudah rebah malang melintang tak berdaya.

"Bangsat she Lu, kau keterlaluan!"tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dan seorang berpakaian panglima maju menerjang dari luar. Kwan Cu memandang dan melihat bahwa yang datang ini adalah Panglima Kam Cun Hong, maka sambil menangkis serangan pedang di tangan panglima ini dengan sulingnya yang sudah dia cabut secepat kilat, dia tertawa mengejek.

"Hm, bukankah kau panglima yang dulu sama-sama datang dengan Kiam Ki Sianjin? Bagus kau belum mampus oleh para pejuang, sekarang kau mengantar jiwa!" , Kata-kata Kwan Cu ini mengejutkan hati Kam Cun Hong. Panglima ini memang telah melarikan diri dari kota raja dan di kota ini minta perlindungan dari An Kai Seng yang sudah dikenalnya. Biarpun dahulunya mereka ini bermusuhan, yakni Kam Cun Hong membantu Si Su Beng sedang An Kai Seng adalah keturunan An Lu Shan, namun karena sama-sama mempunyai rahasia yang harus disembunyikan, maka An Kai Seng tidak menolaknya dan bahkan memberi rumah kepada bekas panglima ini.

Mendengar ucapan K wan Cu, Panglima Kam takut kalaukalau rahasianya diketahui oleh rakyat, maka tanpa banyak cakap lagi dia lalu melompat dan melarikan diri.

Beberapa orang roboh lagi dan sisanya, hanya tujuh orang lagi termasuk Yap Ki si Raja Racun, menjadi gentar dan segera melarikan diri! Kwan Cu tertawa mengejek dan dia segera melompat ke dalam gedung hendak mengejar musuh besarnya. Semua kamar dibukanya, namun gedung yang amat besar itu sudah kosong melompong. Tak seorang pun pelayan berada di situ, agaknya sudah lari cerai-berai ketika keributan terjadi. Memang sebelumnya, An Kai Seng sudah mengatur terlebih dulu dan membubarkan semua pelayan agar tidak akan ada pelayan yang dapat dipaksa oleh Kwan Cu untuk memberitahukan tempat sembunyinya.

Kwan Cu penasaran dan mencari terus. Setiap kamar yang tertutup pintunya, didobrak dan dibukanya. Ketika tiba di ruang belakang, dia melihat sebuah kamar yang tertutup pintunya. Didengarnya berkereseknya kain di dalam kamar, tanda bahwa di dalam kamar itu ada orangnya, maka tanpa ragu-ragu lagi dia mendorong pintu kamar yang tebal itu. Sekali dorong saja pecahlah daun pintunya dan dia segera melompat masuk.

"Ayaaa… kurang ajar sekali….!" terdengar pekik seorang wanita dan Kwan Cu merasa mukanya panas.

Warna merah menjalar sampai di telinganya. Ternyata bahwa di dalam kamar itu terdapat Wi Wi Toanio yang agaknya sedang berganti pakaian, karena wanita cantik ini hanya memakai pakaian dalam yang amat pendek dan ringkas. Bukan main cantik dan menariknya wanita itu, sehingga untuk sesaat Kwan Cu berdiri bagaikan patung.

"Mana suamimu?" Kwan cu berusaha untuk membikin suaranya terdengar kasar, akan tetapi dia tidak sanggup menekan suaranya yang agak gemetar.

"Laki-laki tak bermalu! Kau….. kau melihat apakah? Cih, kurang ajar benar!" kata Wi Wi Toanio, biarpun mulutnya berkata begini, namun sepasang matanya berseri dan mulutnya tersenyum manis! Kwan Cu cepat membalikkan tubuhnya dengan perasaan amat jengah dan hati berdebar.

"Lekas kau berpakaian, baru kita bicara!" katanya, diamdiam dia merasa cemas kalau-kalau ada orang yang melihat dia berada di dalam kamar seorang wanita yang hanya memakai pakaian seperti itu, apa akan kata orang? Terdengar wanita itu tertawa kecil dengan genitnya, lalu terdengar pula dia memakai pakaian. Waktu yang dipergunakan oleh Wi Wi Toanio untuk berpakaian amat lamanya, sehingga Kwan Cu hilang sabar.

"Cepatan sedikit!" bentaknya. Akan tetapi Wi Wi Toanio hanya tertawa mengejek saja, kemudian mencium bau yang amat harum, kiranya wanita itu dalam berdandan bahkan bersolek, berbedak segala! Tiba-tiba Kwan Cu miringkan tubuhnya dan tiga batang piauw menyambar lewat di samping tubuhnya.

"Jangan berlaku curang, takkan ada gunanya," la mengejek tanpa menoleh. Benar-benar lihai pemuda ini, tanpa menoleh dia tahu bahwa dia diserang oleh Wi Wi Toanio mempergunakan piauw.

"Hm, kau mengambil pedang untuk apa ? Kau takkan menang melawan aku," kata pula Kwan Cu dan Wi Wi Toanio terkejut bukan main sehingga tangannya yang memegang pedang gemetar. Bagaimana pemuda itu bisa tahu bahwa ia mengambil, pedang? Sementara itu, mengetahui bahwa wanita itu sudah mengambil pedang, tentu ia sudah berpakaian rapi, maka Kwan Cu lalu membalikkan tubuhnya memandang. Bukan main, Wi Wi Toanio memang benar-benar seorang wanita yang paling cantik yang pernah dilihatnya, dan pandai bersolek pula.

Harus diakui oleh Kwan Cu bahwa belum pernah dia melihat wanita yang kecantikannya dapat menandingi kecantikan wanita ini.

"Kau mau apa?"tanya Wi Wi Toanio yang sudah memegang sebatang pedang, mulutnya tersenyum-senyum memikat. Kwan Cu masih bodoh dalam menghadapi kelincinan wanita maka dia tidak tahu bahwa tadi sebenarnya Wi Wi Toanio sengaja menantinya di dalam kamar itu untuk mulai dengan siasatnya memikat hati pemuda yang tak mungkin dikalahkan dengan kekuatan senjata ini.

"Jangan berpura-pura bodoh!" bentak Kwan Cu. "Aku mencari suamimu, lebih baik kau berterus terang saja, di mana dia? Kalau aku sudah membalas dendam kepadanya, aku takkan mengganggu dan tak peduli lagi dengan keadaanmu. Hanya An Kai Seng yang kucari dan aku tidak ingin mencari permusuhan dengan orang orang lain."

"Kau benar-benar hebat dan gagah," Wi Wi Toanio memuji, "jauh berbeda dengan Kai Seng dan kawankawannya yang tidak punya guna. Orang segagah engkau, yang masih begini muda, mengapa mengotori hati dan pikiran dengan permusuhan? Apakah tidak lebih baik kalau kita bersahabat? Aku aku ingin sekali menjadi sahabatmu, bahkan kalau kau sudi, aku suka berlutut dan mengangkat kau sebagai guruku."

"Tak usah banyak cakap, di mana suamimu?"

Melihat Kwan Cu tak dapat dibujuknya, Wi Wi Toanio tidak menjadi kecewa. Sebagai seorang wanita berpengalaman, dari sinar pandang mata Kwan Cu saja tahulah dia bahwa ia tidak kalah sama sekali. Tahu bahwa pemuda itu betapapun juga sudah tertarik padanya, sudah mengagumi kecantikannya, maka ia menarik muka semanis mungkin.

"Lu Kwan Cu, apa boleh buat, agaknya kau tidak dapat dibujuk lagi untuk melenyapkan permusuhan. Kalau kau memang menghendaki pertempuran, mari kita lakukan secara terang-terangan dan secara orang gagah. Aku dan suamiku menantangmu untuk mengadakan pertempuran sampai mati di dalam hutan dekat rawa maut di sebelah barat kota ini. Beranikah kau?"

"Mengapa tidak berani? Biarpun suamimu akan mengumpulkan jago-jagonya di sana, aku takkan takut seujung rambut! Akan tetapi, siapa yang tidak tahu akan kelicikan suamimu? Siapa yang percaya bahwa suamimu benar-benar akan berada di sana?"

"Lu Kwan Cu, kau menghinaku! Bukan suamiku, akan tetapi akulah yang menantangmu! Kau tidak percaya padaku? Datanglah besok pada pagi hari, aku dan suamiku pasti akan berada di sana, tanpa seorang pun kawan! Di sana kita bertiga akan menentukan siapa yang harus mampus. Kalau kau berani datang, tanda bahwa kau benar seorang jantan, akan tetapi kalau kau tidak mau dan tidak percaya kepadaku, terserah, mau bunuh aku boleh bunuh.

Jangan harap kau dapat menemui Kai Seng sebelum besok pagi di hutan itu."

Kwan Cu berpikir sejenak, hatinya penuh keraguan.

"Lu Kwan Cu, apa kaukira akan dapat memaksaku? Ketahuilah bahwa aku masih menaruh hati kasihan kepadamu, kalau tidak demikian, andaikata sekarang aku merobek-robek pakaianku dan menjerit-jerit minta tolong, di mana lagi kau akan menaruh mukamu?"

Kwan Cu terkejut sekali. Memang hebat ancaman ini dan kalau dilaksanakan, tentu namanya akan hancur .

"Baiklah, andaikata suamimu tidak datang dan lari sembunyi, apa sih sukarnya mencari dia? Akhirnya aku pasti akan datang di hutan itu." Setelah berkata demikian, Kwan Cu lalu melompat pergi dan keluar dari gedung itu.

Setelah K wan Cu pergi, Kai Seng muncul dari balik pintu rahasia yang berada di bawah tempat tidur. Mukanya pucat sekali, tubuhnya masih menggigil dan dia menarik napas berulang-ulang. "Baiknya kau pandai sekali mengusir dia, hanya aku merasa kurang senang melihat gayamu di depan musuh besar kita," katanya kepada isterinya.

Wajah manis dari Wi Wi Toanio tiba-tiba menjadi berkerut dan ia memandang kepada suaminya dengan marah. "Apa katamu? Kalau kau sendiri becus mengusirnya, mengapa kau menyuruh aku? Sudah, sudah, besok kau boleh menghadapinya sendiri, aku lebih baik tinggal di rumah!"

Kai Seng segera menghampiri isterinya dan memegang lengannya.

"Jangan marah, isteriku yang manis. Nyawaku berada di tanganmu dan hanya engkau saja kiranya yang dapat menolongku, dapat menghadapi pemuda yang kepandaiannya seperti siluman itu."

Wi Wi Toanio menarik tangannya dan tersenyum puas.

"Kau lihat saja nanti. Aku bukan wanita kalau tidak dapat membikin dia bertekuk lutut di depanku. Lebih baik lagi, aku akan mencari tahu akan rahasia kepandaiannya dan kalau saja aku dapat membujuk sehingga dia mau menurunkan kepandaiannya itu, bukankah amat menguntungkan bagi kita? Akan tetapi kalau kau cemburu..

" sinar mata yang jernih itu mengancam.

Kai Seng memeluk isterinya. "Tidak, isteriku. Demi keselamatan, aku tidak akan cemburu….. terserah kepadamu bagaimana kau akan menghadapinya."

"Nah, kalau begitu, kau dengarlah baik-baik " Isteri yang cantik dan juga amat licinnya ini lalu membisikkan rencana dan siasatnya untuk menghadapi Kwan Cu, didengarkan oleh Kai Seng sambil mengangguk-angguk seperti ayam makan padi.

***

Hutan di sebelah barat kota An-keng tidak berapa besar akan tetapi amat liar, karena di tempat itu banyak terdapat rawa-rawa yang amat berbahaya. Para penggembala tidak berani membawa binatang peliharaan mereka mendekati rawa, karena sekali tergelincir ke dalam rawa itu, tidak mungkin tertolong lagi. Rawa itu airnya tidak dalam, akan tetapi di bawah air terdapat lumpur yang dapat mengisap apa saja yang jatuh ke dalamnya. Di atas rawa penuh pohon-pohon dan memang di situ pemandangan amat indah, rumput-rumput hijau segar. Akan tetapi kalau orang melihat ke bawah, orang akan bergidik dan merasa ngeri.

Pagi-pagi sekali Kwan Cu sudah berlari-lari memasuki hutan, mencari-cari musuh besarnya, yakni Kai Seng dan Wi Wi Toanio yang sudah berjanji hendak mengadu kepandaian dengannya di tempat itu. la tidak begitu mengharapkan akan bertemu dengan mereka, karena dia masih sangsi apakah benar-benar seorang wanita seperti Wi Wi Toanio mau memegang janjinya. Sampai lama dia mencari ke sana ke mari, akan tetapi tidak melihat bayangan seorang pun manusia.

"Hm, biarpun kau bersembunyi di mana saja, akhirnya aku pasti akan dapat mencarimu," kata Kwan Cu seorang diri," kata Kwan Cu seorang diri, "dan lain kali aku takkan mendengarkan omongan wanita itu."

Baru saja dia hendak meninggalkan hutan, tiba-tiba dia melihat bayangan Wi Wi Toanio di pinggir rawa. Wanita ini menggunakan tangan kiri mencekik seorang laki-laki sambil memaki.

"Apa kaukira aku mudah saja menjadi kaki tanganmu? Sudah lama kau menyakiti hatiku dan sekaranglah pembalasanku!" Tangan kanan wanita itu melayang, menghantarn dada laki-laki itu yang terjengkang dan tanpa dapat mengeluarkan suara lagi laki-laki itu terlempar masuk ke dalam rawa! 'Apa yang kaulakukan itu?" teriak Kwan Cu terkejut dan seperti terbang dia berlari rnenghampiri tempat itu. Wi Wi Toanio kelihatan berdiri seperti patung, mukanya pucat memandang ke arah laki-laki yang sudah terjungkal ke dalam rawa. Ketika Kwan Cu melihat, ternyata bahwa lakilaki itu jatuh ke dalam rawa dengan kepala lebih dulu sehingga yang kelihatan hanya kedua kakinya sampai ke pinggang saja. Kaki yang sudah lemas tak bergerak lagi, agaknya laki-laki itu telah tewas. Yang amat mengagetkan hatinya adalah ketika dia mengenal pakaian laki-laki itu sebagai pakaian An Kai Seng, musuh besarnya! "Dia…. dia An Kai Seng….. apakah yang telah kauperbuat??" Kwan Cu memandang Wi Wi Toanio dengan heran.

Dengan perlahan Wi Wi Toanio membalikkan tubuh memandang Kwan Cu, mukanya pucat, rambutnya awutawutan menambah kecantikannya dan di atas pipinya terdapat butiran-butiran air mata. Setelah pandang matanya bertemu dengan pandang mata Kwan Cu, tiba-tiba Wi Wi Toanio menangis.

"Eh, eh, eh, ada apakah….. ? Mengapa kau membunuh suamimu sendiri?"

Wi Wi Toanio tak dapat menjawab, bahkan lalu berlutut di depan kaki Kwan Cu. Tentu saja pemuda ini menjadi bingung sekali. la menyangka akan sesuatu yang tidak beres maka sekali memegang kedua pundak wanita itu, Wi Wi Toanio telah dipaksanya berdiri lagi.

"Katakan, sandiwara apa ini? Mengapa kau mendahuluiku membunuh musuh besarku itu?"

"Lu Kwan Cu, apakah….. hanya kau saja yang mempunyai sakit hati dan dendam? Apakah hanya kau saja yang membencinya? Aku aku lebih sakit hati kepadanya, aku lebih membencinya seperti membenci racun busuk! Kesempatan ini, selagi kami berada berdua di sini, kupergunakan untuk membalas sakit hatiku, sebelum kau mendahuluiku."

Kwan Cu tertegun. "Apa maksudmu? Bagaimana kau bisa sakit hati terhadap suami sendiri?"

"Aku seorang wanita malang ….dahulu aku dipaksa oleh manusia busuk itu menjadi isterinya. Aku tak berdaya, orang tuaku dibelinya. Aku….. aku tidak suka padanya, aku benci padanya! Kemudian kau datang, Taihiap. Kau seorang pendekar besar yang amat kukagumi, yang sudah lama ingin kujumpai, eh, ternyata kau adalah musuh besar suamiku. Ternyata kau pun telah dibikin sakit hati oleh manusia jahanam itu! Tidak itu saja, permusuhannya denganmu berarti menyeret aku pula ke dalam permusuhan ini, permusuhan dengan seorang pendekar pujaanku. Aku tak tahan lagi, aku mengusulkan supaya dia dan aku menantangmu di sini dan dalam keadaan berdua saja ini, kugunakan kesempatan untuk membalas dendam. Kubunuh dia!" Wi Wi Toanio menudingkan telunjuknya yang runcing itu ke arah mayat yang kini tinggal kelihatan kaki sebatas lutut saja, lalu menangis lagi.

Kwan Cu tertarik sekali, tidak hanya tertarik oleh penuturan ini, akan tetapi terutama sekali tertarik oleh kecantikan Wi Wi Toanio, oleh olah bicaranya yang demikian menarik, demikian manis sehingga pemuda ini seperti mabuk. Baru saja Kwan Cu mengalami patah hati karena Sui Ceng, hati mudanya haus akan sifat lemah lembut seorang wanita, haus akan kasih sayang seorang wanita, apalagi setelah dia digagalkan dalam cinta kasih pertamanya dengan Sui Ceng. Melihat Wi Wi Toanio, timbul kasihan di dalam hatinya. Alangkah malangnya nasib wanita ini, wanita yang secantik ini, seperti bidadari! Wi Wi Toanio bukanlah seorang wanita luar biasa kalau ia tidak dapat membaca pikiran Kwan Cu dari sinar matanya. Tibatiba ia makin terisak dan dipegangnya kedua tangan Kwan Cu sambil berlutut di depan pemuda itu! "Lu-taihiap, setelah aku membunuh An Kai Seng, aku….. aku yang sebatangkara ini sudah lama mengagumi Taihiap. Sudilah Taihiap menerima perasaan hatiku….. biar sampai mati aku Wi Wi seorang sengsara takkan merasa penasaran. Jangan takut, Taihiap, perkara pembunuh Kai Seng ini tentu semua orang mengira bahwa taihiap yang melakukannya, akan tetapi selama aku berada di sampingmu, tak seorang pun berani mengganggumu.

Aku akan mengatakan bahwa Kai Seng tewas dalam pertempuran yang jujur. Dan kau boleh berdiam di gedungku, Taihiap. Atau kalau Taihiap menghendaki, aku rela meninggalkan gedung untuk ikut kau merantau.

Sampai mati aku ingin berada di sampingmu, Taihiap."

Mendengar kata-kata yang diucapkan dengan suara merayu-rayu ini, luluh hati Kwan Cu. Musuh besarnya telah tewas, dan dia tidak mempunyai permusuhan sesuatu dengan wanita ini, bahkan wanita ini pun menjadi korban dari musuh besarnya. Suara yang merdu merayu ini, wajah yang cantik jelita, tangan halus yang memegangi tangannya, semua ini terlampau kuat dan berpengaruh bagi batin Kwan Cu yang biarpun amat kuat namun masih hijau dalam menghadapi wanita. Hampir saja dia memeluk, wanita yang sudah menyerahkan diri dan nasib kepadanya.

Akan tetapi, rasa jengah membuat dia membetot tangannya dan melompat mundur. Wajahnya sebentar merah sebentar pucat. Belum pernah dia menghadapi wanita yang terangterangan menyatakan cinta kasih kepadanya, apalagi seorang wanita secantik Wi Wi Toanio. Hatinya yang kosong dan kecewa karena kegagalan cinta kasihnya dengan Sui Ceng, menuntut isi. Dan sekarang, tiba-tiba saja wanita ini melemparkan diri ke dalam hatinya! "Jangan….. " suaranya gemetar dan berbisik, "jangan begitu Wi Wi Toanio…… , ini tidak baik…. " katanya dan dia merasa heran sendiri karena napasnya terengah-engah, tubuhnya lemas.

"Mengapa tidak baik?" Wi Wi Toanio bangun berdiri dan kembali dia memegangi kedua tangan pemuda itu.

"Kita sama-sama bernasib malang, dan aku…. aku rela menjadi muridmu, menjadi muridmu, menjadi bujangmu….. asal saja kau menerima perasaan hatiku, Lutaihiap….".

Bayangan wajah wanita-wanita yang pernah mendekati hatinya terbayang di depan mata Kwan Cu. Pek-cilan Thio Loan Eng, Liyani gadis raksasa, Malita dan Malika dua gadis katai, Gouw Kui Lan. Akan tetapi tidak ada yang secantik Wi Wi Toanio, tidak ada yang demikian menariknya, bahkan melebihi Sui Ceng. Tidak ada pula di antara mereka yang menyatakan cinta kasih sebulatnya seperti Wi Wi Toanio.

"Jangan….. biarkan aku pergi!" Hati nurani Kwan Cu masih memberontak dan sekali renggut dia melepaskan diri, lalu melompat dan hendak lari pergi, lari dari tempat yang dianggapnya amat asing, amat berbahaya namun yang mendebarkan hatinya ini.

"Kau kejam, Lu-taihiap. Kalau begitu, biarlah aku Wi Wi yang malang nasibku binasa di saat ini juga!" sambil berkata demikian, wanita muda yang cantik jelita itu melompat ke dalam rawa di mana suaminya kini hanya kelihatan sepasang kaki sebatas lutut saja.

Kwan Cu belum pergi jauh, tentu saja pendengarannya yang luar biasa tajamnya itu dapat mendengar suara tubuh wanita itu terjatuh ke dalam lumpur berair.

"Wi Wi…. !" teriaknya dengan muka pucat dan dia cepat melompat ke pinggir rawa. Dilihatnya Wi Wi sudah tenggelam sampai ke pinggangnya, di dekat mayat suaminya! Muka wanita itu memandangnya sedemikian rupa sehingga Kwan Cu tidak dapat menahan hatinya lagi.

"Wi Wi…. , kau bertahan dulu, aku akan menolongmu….. "

"Kalau kau meloncat ke sini, kita berdua akan mati, Taihiap."

"Tunggu, aku akan mencari akal."

"Tak usah kau menolongku, hidup juga percuma saja.

Kalau kau tidak mau menerima perasaan hatiku, aku tidak mau ditolong!"

Kwan Cu tidak mau menjawab lagi, hatinya ngeri melihat betapa tubuh wanita itu melesak makin dalam, kini lumpur mengisapnya sampai ke dada. Bagaimana dia dapat menolongnya? Biarpun kepandaiannya tinggi, namun kalau dia melompat ke dalam rawa, dia pun akan terisap oleh lumpur itu dan tidak berdaya. Tiba-tiba dia mendapat akal.

Didorongnya sebatang pohon sehingga roboh dan batang pohon ini dia lemparkan ke dalam rawa di dekat Wi Wi Toanio. Air memercik ke atas membasahi seluruh muka wanita yang kini kelihatan lemas. isapan lumpur telah rnenyesakkan dada dan membuat ia hampir tak dapat bernapas.

"Taihiap…. Aku… aku mati…. selamat tinggal…. " katanya lemah.

"Wi Wi, tahankan, aku menolongmu!"

"Percuma…. " kata Wi Wi Toanio dan kini ia makin tenggelam sampai ke leher.

"Wi Wi, pegang cabang pohon itu!"

"Tidak, biar aku…. mati…."

"Jangan, Wi Wi….aku kasihan padamu, aku akan menolongmu."

"Katakan, kau cinta padaku atau tidak?"

Kwan Cu tertegun, mukanya merah sekali dan dadanya berdebar.

"Katakan. Kwan Cu sebelurn sebelum lumpur ini memasuki mulutku, memasuki telingaku…."

Kwan Cu melihat betapa sekarang air sudah sampai ke dagu wanita itu, maka secara setengah terpaksa dan dengan suara gemetar dia menjawab, "Aku…. cinta padamu, Wi Wi." Setelah berkata demikian, tanpa membuang waktu lagi Kwan Cu melayang turun ke dalam rawa itu. Kakinya menotol batang pohon yang tadi dilempar dan dengan mengerahkan ginkangnya agar batang itu tidak bergerak seperti dihinggapi oleh seekor burung saja, tangannya menyambar baju di pundak Wi Wi Toanio.

"Brettt!" Baju robek akan tetapi tubuh Wi Wi Toanio telah terbetot sedikit sehingga kini air hanya sampai di pundaknya.

"Keluarkan lenganmu dari lumpur!" kata Kwan Cu yang cepat mengimbangi tubuhnya karena batang pohon itu bergoyang-goyang. Wi Wi Toanio menggerakkan tangannya dan tangan kirinya dapat terlepas dari isapan lumpur.

"Hati-hati, aku akan menarikmu keluar!" kata Kwan Cu yang cepat menyambar pergelangan tangan wanita itu, lalu dengan pengerahan tenaga lweekang yang hebat, dia dapat melawan isapan lumpur dan sedikit demi sedikit tertarik keluarlah Wi Wi Toanio dari bawah permukaan air. Kini tangan kanan Wi Wi Toanio merangkul pinggang Kwan Cu dan dia membantu pemuda ini menarik dirinya. Gerakan ini sebetulnya tidak perlu, karena kalau dia diam saja, Kwan Cu akhirnya akan dapat menariknya keluar. Bahkan dengan gerakan ini Wi Wi Toanio merusak keseimbangan tubuh Kwan Cu sehingga ketika batang pohon itu bergoyang-goyang, dia tidak dapat menahan diri lagi dan keduanya terpeleset dan…. tercebur ke dalam air! "Celaka !" Wi Wi Toanio menjerit.

Akan tetapi K wan Cu dengan tenang menyambar cabang pohon dan sekali menarik dirinya, dia telah berdiri kembali di atas batang pohon.

Ia segera menangkap tangan Wi Wi Toanio lagi dan menariknya kuat-kuat. Ia berhasil! Kini Wi Wi Toanio dengan pakaian basah dan kotor, berdiri di atas batang pohon dengan menggigil, mendekap pinggang Kwan Cu yang juga basah dan kotor pakaiannya. Tiba-tiba Wi Wi Toanio mengeluh panjang dan ia pingsan dalam pelukan Kwan Cu. Pemuda ini terkejut dan setelah memeriksa ketukan nadi, tahulah dia bahwa wanita ini pingsan karena mengerahkan lweekangnya sendiri. Tadi di dalam lumpur kalau Wi Wi Toanio tidak mengerahkan lweekang sekuatnya. tentu tubuhnya sudah terisap semua dan dadanya terhimpit lumpur sampai tak dapat bernapas.

Sekarang setelah terbebas, jalan darahnya lancar kembali dan ini mendatangkan goncangan kepada jantungnya, terutama karena baru saja dia mengalami kekhawatiran hebat. ! Kwan Cu lalu memanggul tubuh wanita itu dan melompat ke darat. Akan tetapi, ketika dia melompat ke darat, batang pohon itu bergerak sehingga lenyaplah sebagian besar tenaga lompatannya. Hal ini karena sekarang dia memanggul tubuh Wi Wi Toanio dan pula batang pohon itu mengambang di atas air, maka amat mudah bergoyang. Kwan Cu tidak berhasil melompat sampai ke darat, melainkan jatuh lagi ke dalam rawa! Baiknya, dia terjatuh di bagian pinggir, di mana lumpur terdapat tanah keras, sehingga dia selamat. Dengan tubuh Wi Wi Toanio di atas pundaknya, Kwan Cu berjalan naik dengan memegang dahan-dahan pohon sebagai bantuan.

Akhirnya dia selamat sampai di darat dan Wi Wi Toanio mengeluh panjang, tanda siuman kembali dari pingsannya.

Begitu membuka mata, wanita ini lalu menubruk dan memeluk leher Kwan Cu sambil menangis terisak-isak.

Kwan Cu memandang wajah wanita itu lalu sambil tertawa dia berkata, "Jangan kau menangis, bukankah kita sudah selamat? Lihat, mukamu dan mukaku serta pakaian kita penuh lumpur!"

Wi Wi Toanio mengangkat mukanya, dan wajahnya yang cantik manis tersenyum geli di antara air matanya.

"Mari kita mencuci pakaian kita," katanya. "Di tengah hutan ml terdapat sumber air, biar aku yang akan mencuci pakaianmu."

"Apakah kau tidak lebih baik pulang dan berganti pakaian? Aku… aku… "

Akan tetapi Wi Wi Toanio tidak memberi kesempatan padanya untuk banyak membantah, karena wanita ini sudah memegang tangannya dan menariknya ke tengah hutan. Kwan Cu hanya menurut saja.

Dengan bujukan-bujukan, rayuan-rayuan dan tipu muslihat yang semenjak jaman purba dimiliki oleh pihak wanita untuk merobohkan hati pria yang bagaimana kuat pun, Wi Wi Toanio berhasil membikin Kwan Cu bertekuk lutut! Pemuda yang masih hijau ini akhirnya terjatuh ke dalam perangkap, roboh di bawah pengaruh Wi Wi Toanio yang memang amat cantik lahirnya, akan tetapi amat kotor batinnya itu. Kwan Cu mengalami pengalaman yang membuatnya seakan-akan buta dan tuli, membuat dia seperti menjadi seekor domba yang lunak dan jinak, yang menuruti segala kehendak dan kemauan Wi Wi Toanio yang amat pandai mengambil hati. Sampai tiga hari mereka berada di tengah hutan, akhirnya mereka bermufakat untuk mengadakan pertemuan di hutan itu setiap hari. Kemudian, barulah Wi Wi Toanio pulang ke kota Ankeng dan Kwan Cu juga kembali ke rumah penginapan. Pemuda ini berani kembali ke kota karena Wi Wi Toanio menanggung bahwa dia takkan ada yang berani mengganggu.

Benar saja, ketika Kwan Cu tiba di hotel, pengurus hotel berlaku amat hormat dan manis kepadanya, dan dia memuji kekasihnya yang ternyata tidak berkata bohong.

Wanita itu yang sudah pulang terlebih dulu agaknya telah mengatur segala-galanya, bahkan untuk makannya, pengurus hotel menyediakannya dengan hidanganhidangan istimewa!

***

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Kwan Cu sudah pergi ke hutan itu. Semalam dia tidak bisa tidur, pikirannya penuh dengan Wi Wi Toanio. Ia merasakan kebahagiaan yang luar biasa dan diam-diam dia harus mengakui bahwa biarpun perbuatannya itu tidak tahu malu, namun bagaimana lagi karena dia telah jatuh cinta kepada Wi Wi Toanio. la mencinta wanita itu dengan seluruh jiwa raganya, dan perasaan cinta kasihnya terhadap wanitawanita lain, juga terhadap Bun Sui Ceng berubah menjadi cinta kasih terhadap Wi Wi Toanio. Sama sekali dia tidak tahu bahwa Wi Wi Toanio sedang mempermainkannya, dan dia hanya mengira bahwa Wi Wi Toanio benar-benar cinta kepadanya dengan suci murni! Ia membuat rencana dalam hidupnya yang akan datang.

Wi Wi Toanio sudah menyatakan hendak ikut pergi dengan dia, hendak menjadi suami isteri sampai tua, hidup penuh kebahagiaan dan melupakan segala hal yang sudah lalu.

Bahkan Wi Wi Toanio tidak merasa keberatan untuk pergi ikut dengan dia tinggal di pulau kosong, yakni Pulau Pekhio- to di mana dia mempelajari ilmu silat dari kitab Imyang Bu-tek Cin-keng. Wanita itu bahkan menyatakan hendak ikut mempelajari ilmu ini dari Kwan Cu, dan keduanya hendak memperdalam ilmunya di pulau itu, jauh dari dunia ramai, hidup berdua penuh cinta kasih.

Wi Wi Toanio pulang lebih dulu karena harus membersihkan nama, harus menyatakan kepada dunia ramai bahwa Kai Seng telah meninggal dunia karena terjerumus ke dalam lumpur. Setelah itu, barulah mereka dapat menjadi suami isteri yang sah, karena sebagai seorang janda, Wi Wi Toanio berhak menikah lagi dengan pria pilihannya. Bagi orang-orang biasa, tentu saja hal ini merupakan hal yang tidak masuk di akal. Tidak ada seorang janda yang menikah lagi. Akan tetapi Wi Wi Toanio bukanlah wanita biasa. Ia dapat dianggap sebagai seorang wanita gagah di dunia kang-ouw yang tidak kukuh mempertahankan tradisi lama, maka tentang perkawinan lagi dari seorang janda bukan apa-apa lagi.

Sebelum Kwan Cu berangkat ke hutan pengurus hotel menemuinya, membawa sebungkus barang.

"Taihiap, perkumpulan orang-orang hartawan di kota ini yang mendengar bahwa Taihiap seorang gagah yang amat terkenal, telah mengirim barang-barang sebagai tanda penghormatan. Harap Taihiap suka menerimanya."

Kwan Cu terheran, akan tetapi dia menerima bungkusan itu dan membukanya. Alangkah kagetnya ketika dia melihat sejumlah barang-barang perhiasan yang indahindah, terbuat daripada emas, dan permata, juga terdapat pula potongan-potongan uang emas.

"Ah, bagaimana aku bisa menerima sumbangan sebanyak ini? Aku tidak mengenal mereka. Harap Lopek mengembalikan saja."

"Jangan begitu, Lu-taihiap. Penolakan tentu akan mendatangkan rasa tidak enak dan malu. Harap Taihiap menerimanya, biarpun tidak semua."

Kwan Cu menganggap bahwa kata-kata ini ada betulnya juga. Pula, dia memang amat tertarik melihat benda-benda ini, karena alangkah senangnya kalau dia bisa memberi "hadiah" kepada kekasihnya. la lalu mengambil sebatang tusuk konde terbuat daripada perak yang berukirkan atau berbentuk naga indah sekali dan bermata intan.

"Biarlah aku mengambil tanda mata ini saja. Selebihnya harap kaukembalikan, diiringkan ucapan terima kasihku."

Demikianlah dengan tusuk konde itu di dalam sakunya, dia pergi ke hutan. Ia melihat kekasihnya telah berada di situ dan mereka tanpa banyak cakap lagi lalu saling berpelukan dengan mesra.

"Aku tunggu-tunggu kau setengah mati. Aku gelisah kalau-kalau diam-diam kau meninggalkan aku," kata Wi Wi Toanio dengan sikap manja.

"Mengapa kau khawatir kutinggalkan? Demikian besarkah cintamu kepadaku, Wi Wi?"

Wi Wi Toanio menjatuhkan kepala di atas dada pemuda itu. "Aku akan bunuh diri kalau kautinggalkan, kekasihku."

Kwan Cu tersenyum bangga. Hatinya sebesar gunung dan dia merasa amat berbahagia. Diambilnya tusuk konde yang tadi dia terima dari sumbangan para hartawan,lalu diperlihatkan kepada Wi Wi Toanio.

"Wi Wi, lihat, aku membawa hadiah untukmu."

Wi Wi Toanio pura-pura memandang penuh kekaguman. Padahal "sumbangan" tadi sebetulnya adalah ia sendiri yang menyuruh pengurus hotel mengantarkan kepada Kwan Cu dengan maksud dan siasat tertentu.

"Pasangkan pada rambutku, Koko." katanya dengan suara mesra.

Kwan Cu memasang tusuk konde itu pada rambut Wi Wi Toanio yang hitam panjang dan halus serta berbau harum itu.

"Koko, apakah artinya tanda mata ini? Apakah sekedar untuk penghias rambut?"

"Tentu saja, habis apa lagi kegunaannya?" tanya K wan Cu.

"Apa betul kau mencintaku seperti aku mencintamu, Koko? Mencinta dengan sepenuh jiwa ragamu?"

"Wi Wi, apakah kau masih bersangsi lagi? Lu K wan Cu adalah seorang gagah yang memegang teguh janjinya."

"Kalau begitu berjanjilah bahwa kau akan menuruti segala kemauanku, Koko."

Tanpa sangsi-sangsi lagi, sambil memeluk tubuh itu eraterat Kwan Cu berbisik "Aku bersumpah untuk menuruti segala kehendakmu, kekasihku. Biar tusuk konde naga perak ini menjadi saksi."

"Bagus! Girang sekali hatiku!" Kegirangan Wi Wi Toanio benar-benar besar dan luar biasa. Sepasang matanya yang indah seperti mata burung hong itu bersinar-sinar mukanya berseri-seri, akan tetapi di balik seri mukanya ini terbayang kekejaman yang hebat.

Tiba-tiba Kwan Cu melompat ke belakang dan bajunya pada lambung kiri berdarah. Kulit lambungnya terluka sedikit ketika dia melompat tadi karena Wi Wi Toanio telah menusuk lambungnya dengan tusuk konde yang dicabutnya perlahan-lahan. Kwan Cu membelalakkan matanya, memandang wajah cantik yang tersenyum itu.

"Wi Wi….. kau…. " Akan tetapi kata-katanya ini dia hentikan dan secepat kilat tubuhnya melompat ke kanan. Ia mendengar gerakan orang di balik rumpun dan sekali dia melompat, dia melihat orang itu hendak melarikan diri.

Dengan gerakan kakinya, Kwan Cu dapat menendang belakang lutut orang itu dengan cepat sehingga orang itu tidak sempat mengelak lagi, roboh terguling.

Kwan Cu menubruk maju dan menotok jalan darah orang itu. Ketika dia melihat wajah orang itu, tiba-tiba Kwan Cu menjadi pucat sekali dan tubuhnya menggigil.

Tak terasa lagi dia mundur tiga tindak. la melihat bahwa orang ini bukan lain adalah An Kai Seng.

"Kau….An Kai Seng…..??"

An Kai Seng yang tidak jadi tertotok, bangkit duduk karena sambungan lututnya sudah terlepas. la menyeringai dan berkata mengejek, "Memang aku An Kai Seng dan kau adalah pendekar besar Lu Kwan Cu yang telah main gila dengan isteri orang lain. Cih, manusia macam kau ini hidup juga hanya mengotorkan dunia. Bunuhlah aku kalau kau hendak bunuh, lebih baik mati daripada hidup dengan nama busuk!"

Kwan Cu merasa seakan-akan dunia ini kiamat. la menoleh dan melihat Wi Wi Toanio memandangnya dengan mata menyatakan kemenangan besar! Tiba-tiba Kwan Cu menjadi mata gelap. Dicabutnya Liong-coankiam dan dia hendak mencincang tubuh musuh besarnya.

Akan tetapi tiba-tiba terdengar seruan Wi Wi Toanio.

"Lu Kwan Cu, tahan senjatamu!"

Suara yang lunak dan halus ini memang amat besar pengaruhnya terhadap Kwan Cu. Tanpa terasa lagi, dia menurunkan kembali pedangnya. Wi Wi Toanio melompat ke tempat itu sambil memegang tusuk kondenya yang tadi gagal membunuh Kwan Cu.

"Kwan Cu, lupakah kau akan sumpahmu tadi? Aku menghendaki agar kau mengampuni Kai Seng dan selamanya kau tidak boleh membunuhnya! Lihat tusuk konde ini yang menjadi saksi akan sumpahmu. Kau harus mentaati segala kehendakku!"

Kwan Cu menjadi makin pucat. Mengertilah dia sekarang bahwa semua ini adalah tipu muslihat dari Wi Wi Toanio. Selama ini An Kai Seng memang masih hidup, dan yang didorong masuk ke dalam rawa sampai mati mungkin hanyalah salah seorang kaki tangan mereka yang sengaja dikorbankan untuk siasat ini! Jadi selama ini Kai Seng tahu bahwa isterinya sengaja menjual diri kepada Kwan Cu dan selama itu mungkin sekali Kai Seng bersembunyi di dalam hutan, mengintai semua perbuatannya! "Kau…. kau merencanakan tipu busuk ini…"

Wi Wi Toanio mengangguk. "Kau terlalu lihai untuk dilawan dengan senjata," jawabnya sederhana.

Kwan Cu tak dapat berkata apa-apa lagi. Sebagai seorang gagah dia harus memegang teguh sumpahnya. Tak dapat dia membunuh Kai Seng kalau Wi Wi Toanio tidak menghendakinya.

"Kwan Cu, berjanjilah bahwa kau takkan membunuh Kai Seng," kata pula Wi Wi Toanio dan suara yang biasanya terdengar mesra itu kini terdengar oleh Kwan Cu seperti suara setan.

"Baik, baik, aku menyerah kalah."

Kemudian sambil mengeluarkan teriakan setengah tertawa dan setengah menangis, pendekar muda yang sakti ini lalu berkelebat dan lenyap dari situ! Kai Seng memeluk isterinya. "Wi Wi, aku berhutang nyawa kepadamu. Kau benar-benar seorang isteri yang setia!" Biarpun mulutnya berkata demikian, namun di dalam perutnya Kai Seng merasa panas sekali kalau dia mengingat akan cara bagaimana isterinya menyelamatkan nyawanya, dia merasa amat sakit hati kepada Lu Kwan Cu.

Wi Wi Toanio tahu akan isi hati suaminya, maka ia menghiburnya, "Jangan kau kecewa. Biarlah perlahan-lahan kita mencari Kwan Cu dan dengan pengaruh tusuk konde itu, kita akan dapat membunuhnya kalau dia bertemu dengan kita lagi."

Akan tetapi usaha suami isteri yang curang ini selalu gagal. Di dunia kang-ouw tidak pernah terdengar nama Lu Kwan Cu lagi, yang ada hanyalah Bu Pun Su (Tidak Ada Kepandaian). Semenjak munculnya pendekar yang berjuluk Bu Pun Su, dunia kang-ouw tergoncang hebat. Dan Bu Pun Su ini bukan lain adalah pemuda Lu Kwan Cu yang menderita pukulan hebat sekali seperti orang gila, namun selalu bertindak sebagai seorang pendekar penolong mereka yang sengsara. Sampai di sini berakhirlah sudah cerita Pendekar Sakti ini dan pembaca akan menjumpai lagi Bu Pun Su atau Lu Kwan Cu, Gouw Swi Kiat, The Kun Beng, Bun Sui Ceng, Han Le dan lain-lain tokoh dalam cerita yang amat hebat dan indah, yakni cerita "ANG I NIOCU" atau "PENDEKAR WANITA BAJU MERAH!"

T A M A T
Sebelum - Beranda
Pendekar Wanita Baju Merah

27 Pendekar Sakti

Kwan Cu masih mengamuk hebat. Tidak terbilang banyaknya orang yang roboh di bawah amukan pedangnya.

Lama-lama dia merasa tidak tega melihat banyaknya orang tewas. Entah sudah berapa puluh musuh yang tewas, mayat mereka bertumpuk-tumpuk dan bergelimpangan. Darah membanjir membuat hatinya ngeri. Namun dia tidak sempat merobohkan Kiam Ki Sianjin yang amat kosen.

"Untuk apa membunuhi orang-orang yang hanya menjadi alat?" pikirnya, maka dia mulai mundur. Akan tetapi, dimana-mana dia terkurung oleh tentara yang seperti semut banyaknya itu.

Di bawah hujan senjata yang luar biasa banyaknya itu, tiba-tiba meluncur anak-anak panah yang cepat sekali datangnya. Kwan Cu salah hitung. Ia mengira bahwa panah-panah itu datangnya dari tentara biasa yang memang semenjak tadi kalau ada kesempatan lalu menghujankan anak panah mereka. Akan tetapi semua anak panah itu dengan sekali sampok saja dengan tangan kirinya, sudah runtuh berhamburan. Kali ini, dia pun menggunakan tangan kirinya menyampok, akan tetapi alangkah terkejutnya ketika dia merasa kulit lengan kirinya sakit dan berdarah, tanda bahwa yang melepaskan adalah orangorang pandai yang bertenaga besar.

Lebih kaget lagi ketika anak-anak panah seperti itu makin gencar datangnya. Ketika Kwan Cu melihat ke arah pelepas anak-anak panah itu, dia melihat bahwa yang melepaskan adalah Kiam Ki Sianjin dan Kam Cun Hong, perwira tinggi kepercayaan Si Su Beng. Memang, dalam hal ilmu silat panglima she Kam ini tidak sangat hebat kepandaiannya, akan tetapi dalam ilmu memanah, dia ahli dan lihai sekali.

K wan Cu sibuk menangkis, namun tetap saja sebatang anak panah meleset dari lengannya dan menancap di dadanya sebelah kiri dekat pundaknya! Baiknya tubuhnya telah terisi oleh sinkang yang luar biasa, maka dia keburu menolak anak panah itu dan yang menancap tidak sampai menembusi dagingnya dan tidak melukai anggauta tubuh sebelah dalam. Namun, ini sudah cukup mengejutkan Kwan Cu yang cepat melompat dan mempergunakan ilmu ginkangnya, melompati kepala para pengeroyoknya dan sebentar saja dia sudah lenyap! Kiam Ki Sianjin memimpin kawan-kawan dan anakanak buahnya melakukan pengejaran namun pemuda itu tidak kelihatan lagi karena dia sudah masuk kedalam jalan terowongan di bawah tanah, mengejar rombongan Yok-ong yang sudah lari terlebih dulu. Dengan amat berang dan kecewa, Kiam Ki Sianjin mengobrak-abrik hutan, membakari alang-alang, dan akhirnya menjelang senja dia menarik mundur pasukannya dan kembali ke kota raja dengan hati penasaran, kecewa, dan juga gentar.

***

Yok-ong berhasil membawa rombongannya keluar dari kurungan tentara kerajaan dan mereka muncul di dalam sebuah hutan yang besar di sebelah kiri Bukit Tai-hang-san, sebelah selatan kota Tai-goan. Setelah menghaturkan terima kasih, Bian Kim Hosiang dan Bin Kong Siansu memimpin anak murid masing-masing untuk kembali ke Bu-tong-san dan Kim-san.

Adapun Yok-ong, Pak-lo-sian, Kiu-bwe Coa-li, Bun Sui Ceng, The Kun Beng, dan Gouw Swi Kiat masih menanti di situ dengan hati gelisah karena Kwan Cu belum juga muncul. Setelah menanti beberapa lama, Seng Thian Siansu bersama dua orang muridnya juga berangkat, dan menerima obat dari Yok-ong, Seng Thian Siansu merasa terharu dan berterima kasih sekali, lalu pulanglah dia ke Kun-lun-san. Tiga orang ketua partai besar ini berjanji akan mendidik murid-murid mereka, karena negara membutuhkan orang-orang gagah untuk menghadapi keganasan penjajah.

Di antara mereka yang menanti munculnya Kwan Cu, yang kelihatan gelisah sekali adalah Yok-ong karena kakek ini merasa suka sekali kepada Kwan Cu. Akan tetapi sebenarnya, hati Sui Ceng lebih gelisah daripada Yok-ong, cuma saja gadis ini tentu saja menyembunyikan perasaannya. Mereka menanti munculnya Kwan Cu sambil tiada hentinya memuji dan membicarakan murid Ang-bin Sin-kai itu. Tahulah mereka semua bahwa pemuda itu tentu telah mewarisi ilmu dari Im-yang Bu-tek Cin-keng.

Tak lama kemudian, muncullah Kwan Cu dari goa itu.

"Kwan Cu..... kau terluka..... ?" Sui Ceng berseru lebih dulu tanpa dapat menahan mulutnya ketika melihat baju pemuda itu penuh darah dan sebatang anak panah menancap pada dada kirinya. Juga Yok-ong menghampiri dan hendak memeriksa lukanya, akan tetapi Kwan Cu menggeleng kepalanya.

"Tidak apa..... tidak apa, hanya luka sedikit. Biarlah sementara waktu anak panah ini tidak dicabut dulu." Katakata ini cukup memberitahukan bahwa anak panah itu mengandung racun. Memang, kalau dicabut maka racun yang berada diujung anak panah akan lebih lekas menjalarnya dan berbahaya sekali, akan tetapi kalau dibiarkan dulu dan dengan pengerahan tenaga lweekang, racun itu tidak mudah menjalar.

Yok-ong merasa heran mengapa pemuda itu belum mau diobati. Akan tetapi Kwan Cu tidak mengacuhkan lukanya, bahkan lalu berkata, "Aku sudah khawatir sekali kalau Cu-wi sudah pergi dari sini. Aku ingin sekali menyampaikan sesuatu mengenai diri Sui Ceng." Semua orang melongo. Sui Ceng menjadi merah mukanya dan Kun Beng memandang dengan rasa cemburu.

"Apa kehendakmu mengenai diri muridku?" Kiu-bwe Coa-li bertanya dengan marah.

"Suthai, aku pernah ditinggali pesan oleh ibu dari Sui Ceng, yakni Pek-cilan Thio Loan Eng, bahwa aku harus melindungi Sui Ceng. Sekaranglah waktunya aku harus mentaati pesan itu. Terang-terangan kukatakan bahwa perjodohan antara Sui Ceng dan Kun Beng harus dibatalkan!"

Sui Ceng menjadi pucat, juga Kun Beng menjadi pucat, sedangkan Swi Kiat memandang dengan mata bersinarsinar sambil menduga-duga mengapa Kwan Cu mengemukakan hal yang memang menjadi isi hatinya.

"Kwan Cu, sepak terjangmu tadi mengagumkan hatiku, akan tetapi omonganmu sekarang ini benar-benar membikin aku marah sekali," kata Kiu-bwe Coa-li. "Katakanlah alasan-alasannya mengapa kau bicara begitu."

Melihat Kwan Cu ragu-ragu, Pak-lo-sian yang juga merasa tersinggung karena Kun Beng adalah muridnya, mendesak, "Kwan Cu, lekas ceritakan mengapa kau menghendaki demikian."

Kwan Cu memandang kepada Kun Beng, lalu kepada Swi Kiat, kemudian dia bicara dengan suara lantang, "Bukan hak dan kewajiban teecu untuk menceritakan alasan itu. Lebih baik Kun Beng dan Swi Kiat yang bercerita tentang diri Kun Beng dan Gouw Kui Lan."

Pucatlah wajah Kun Beng dan tubuhnya gemetar.

Melihat ini, Sui Ceng menjadi berdebar. Ia sudah jatuh cinta kepada tunangannya ini dan sekarang hal apakah yang akan didengarnya? Swi Kiat menggigit bibirnya, karena hal ini menodakan nama baik adiknya, nama baik keluarganya.

Sakit hatinya mendengar Kwan Cu membongkar rahasia ini. Tadinya dia hendak mengurus hal ini dengan Kun Beng secara diam-diam jangan sampai terdengar oleh orang lain.

Pak-lo-sian membanting kakinya diatas tanah. "Kalian muridku berdua! Mengapa diam saja? Hendak menyembunyikan rahasia dari gurumu?"

Kun Beng hanya menundukkan kepalanya, tak berani bergerak. Swi Kiat lalu menelan ludah beberapa kali kemudian terpaksa dia menuturkan dengan suara gemetar tentang perbuatan Kun Beng terhadap Kui Lan, adiknya.

Bukan main kagetnya semua orang mendengar ini. Sui Ceng menjadi pucat sekali dan air matanya mengalir turun membasahi pipinya.

Kiu-bwe Coa-li lalu bangkit dan berkata, "Sui Ceng, tidak ada apa-apa lagi yang perlu dibicarakan.

Perjodohanmu putus sampai di sini! Hayo kita pergi!" Kiubwe Coa-li lalu melompat dan berlari pergi dari situ.

Sui Ceng ragu-ragu, lalu menghampiri Kwan Cu. Sambil menggigit bibir dia berkata, "Kau iri hati, kau... kau....!"

Tangannya menampar dan "plak!" pipi Kwan Cu sudah ditamparnya. Pemuda itu hanya memandangnya dengan tenang. Sui Ceng terisak lalu berlari mengejar gurunya.

Pak-lo-sian marah bukan main. "Kun Beng, murid macam engkau harus binasa, memalukan nama baik gurumu!" Kakinya menendang, akan tetapi bukan Kun Beng yang terjungkal, melainkan Swi Kiat! Pemuda ini telah menubruk dan memasang dirinya sehingga dia mewakili sutenya. Tubuhnya terlempar bergulingan. Pak-losian terkejut sekali, akan tetapi Swi Kiat yang patah tulang pundaknya terkena tendangan, telah maju berlutut, "Suhu, mohon mengampuni nyawa sute. Dia dia adalah suami adik teecu, dia harus mengawini Kui Lan !"

Melihat ini semua, Kun Beng tiba-tiba berdiri dan sambil tertawa bergelak, dia melompat dan sebentar kemudian lenyap dari situ. Mendengar suara ketawa ini, semua orang bergidik, dan Yok-ong berkata seorang diri, "Kasihan….. suara ketawa itu menunjukkan bahwa batinnya terpukul hebat dan mungkin otaknya terkena getaran" Ini hanya berarti bahwa ada kemungkinan Kun Beng menjadi gila! Pak-lo-sian marah dan mengejar Kun Beng diikuti oleh Swi Kiat. Namun mereka tak dapat menemukan jejak Kun Beng lagi. Yok-ong lalu menghampiri Kwan Cu dan alangkah kagetnya ketika dia melihat pemuda itu menangis terisak-isak. Ternyata bahwa Kwan Cu merasa menyesal setengah mati melihat akibat daripada pembongkaran rahasia itu. Ia dapat merasa betapa Sui Ceng terluka hatinya, Kiu-bwe Coa-li kecewa, Pak-lo-sian Siangkoan Hai malu dan marah, Swi Kiat berduka dan Kun Beng mungkin.... gila! "Locianpwe...... aku...... aku berdosa besar......."

"Sudahlah, hati yang menanggung cinta kasih memang membikin orang menjadi buta dan sembrono. Biar kuobati lukamu." Akan tetapi Kwan Cu menggeleng kepalanya dan pergi sambil menundukkan mukanya. Yok-ong tahu akan kekerasan hati pemuda ini, maka dia lalu memasukkan sebungkus obat di kantong pemuda itu sambil berkata, "Pakai obat ini pada lukamu, pasti akan sembuh." Akan tetapi Kwan Cu tidak menjawab dan terus berjalan dengan kepala tunduk. Mukanya pucat dan kakinya limbung. Yokong menggeleng-geleng kepalanya dan segera pergi karena tahu bahwa dia tidak dapat menghibur pemuda yang luka hatinya itu.

Kwan Cu berjalan terus tanpa tujuan, memasuki hutan yang besar itu. Dadanya yang terluka sakit sekali rasanya, namun dia tidak ambil peduli. Kematian bukan apa-apa baginya pada saat itu. Rasa panas di pipinya lebih menyakitkan hati daripada rasa panas pada luka di dadanya. Anak panah itu masih menancap di dada, tidak dipedulikannya pula.

"Kwan Cu.... !" Ia menengok dan meliha Sui Ceng berdiri di depannya. "Kau.... kau kenapa?"

Kwan Cu melihat air mata mengalir di pipi gadis itu. la menarik napas panjang, "Kau tentu tak mau mengampuni aku..... " katanya lemah.

"Lukamu itu….. ! Mengapa belum diobati?"

Kwan Cu menundukkan mukanya dan tiba-tiba timbul pikiran yang amat aneh di kepalanya. Dengan tangan, dia menekan anak panah itu yang tentu saja masuk makin dalam ke dadanya! Ia merasa sakit sekali, akan tetapi dengan senyum aneh dia berkata, "Lebih baik aku mati saja " Rasa sakit tak tertahankan lagi dan Kwan Cu roboh terguling dalam keadaan pingsan! Tubuhnya sebetulnya kuat sekali dan biarpun anak panah itu menancap makin dalam, dia takkan apa-apa kalau batinnya tidak menerima pukulan hebat akibat peristiwa tadi.

Ketika dia siuman kembali, dia melihat dirinya duduk dan bersandar pada pohon. Bajunya yang atas sudah tidak ada, entah ke mana. Ia bertelanjang sebatas pinggang ke atas. Akan tetapi dia tidak memperhatikan semua ini, karena dia melihat Sui Ceng telah duduk di depannya dan sedang merawat luka di dadanya. Anak panah itu telah dicabut dari dadanya dan kini dengan saputangannya, Sui Ceng tengah membersihkan lukanya.

Darah muda Kwan Cu memanaskan seluruh tubuhnya.

Alangkah cantiknya wajah yang berada dekat di depannya.

Alangkah indahnya rambut yang terurai itu, bibir yang merah dan penuh, mata yang masih membayangkan tangis.

"Sui Ceng.... kau baik sekali.... " Gadis itu tidak menjawab, hanya menggigit bibir menahan isak, akan tetapi kedua tangannya masih tetap bekerja membersihkan darah dari luka yang membiru itu.

"Sui Ceng..... alangkah..... alangkah cantiknya engkau......"

Dua tetes air mata mengalir di pipi gadis ini, matanya dikejap-kejapkan karena pandangan matanya terganggu dan bibirnya gemetar.

"Sui Ceng, sekali lagi..... aku.... aku cinta kepadamu..... " suara Kwan Cu menjadi bisik-bisik karena kepalanya sudah berdenyut-denyut pula, pandangan matanya berkunangkunang.

"Kau.... kauampunkan aku, Sui Ceng, aku...... aku berdosa besar..... "

Air mata dari mata gadis itu turun makin banyak dan kini bukan hanya bibirnya yang gemetar, bahkan sepuluh jari tangannya yang merawat luka ikut menggigil. Akan tetapi ia tetap membungkam dan matanya tak pernah melirik wajah Kwan Cu.

"Sui Ceng..... " suara Kwan Cu lemah dan lirih sekali, "biarkan....... aku mati...... aku lebih suka mati daripada menyakiti hatimu..... " Dan tiba-tiba kepala Kwan Cu terkulai, dia pingsan lagi untuk kedua kalinya! Melihat ini, Sui Ceng menjadi kaget sekali. Ia memeluk tubuh pemuda itu dan menggoyang-goyangnya. "Kwan Cu....... dengarlah..... aku ! Jangan mati, Kwan Cu.....!"

Namun Kwan Cu tetap tidak bergerak.

Tubuh Kwan Cu tanpa dia ketahui sendiri, telah memiliki kekuatan yang aneh berkat latihan-latihan lweekang menurut petunjuk kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng.

Racun yang dipasang di ujung anak panah yang dilepaskan oleh Kiam Ki Sianjin, adalah racun pemberian dari Coa-tok Lo-ong dan amat ganas. Kalau saja di dalam tubuh Kwan Cu tidak mengalir hawa murni dari sinkang yang sudah dilatihnya, pasti racun itu akan cepat menjalar dan menewaskannya.

Berkat kekuatan ini Kwan Cu siuman kembali. Ia mendengar suara orang memanggil-manggil namanya dari jauh. Suara itu makin lama makin dekat dan ketika dia membuka matanya, dia melihat Sui Ceng menangis sambil memanggil-manggil namanya. Ia tidak tahu bahwa wajahnya sudah pucat seperti mayat dan detak nadinya sudah berhenti, maka gadis itu mengira bahwa dia sudah mati! Padahal, hentian detak nadi ini adalah akibat dari pengerahan lweekang yang sudah tak dapat diukur tingginya lagi. Tadi sebelum pingsan Kwan Cu menahan sakit dan mengerahkan lweekangnya sehingga dia berhasil menghentikan jalan darahnya, maka ketika Sui Ceng meraba urat nadi, tidak merasa ada detaknya lagi.

"Sui Ceng, terima kasih..... kau......kau menangis untukku......" katanya.

Sui Ceng memandang muka yang tadinya berada di atas pangkuannya itu. Melihat Kwan Cu "hidup kembali" ia cepat-cepat menurunkan kepala pemuda itu diatas tanah dan berkata, "Kwan Cu, jangan kau mati....."

Kwan Cu tersenyum. "Tidak, Sui Ceng. Kalau kau menghendaki aku hidup, katakanlah bahwa kaumaafkan aku."

"Aku.... aku maafkan kau, Kwan Cu."

Sinar gembira membayang di wajah Kwan Cu. Ia mengerahkan tenaga dan berhasil bangkit duduk.

Dirogohnya saku bajunya dan dikeluarkannya bungkusan obat pemberian dari Yok-ong.

"Yok-ong locianpwe memberi obat ini untukku.

Campurlah dengan air dan masukkan ke dalam luka di dadaku."

Sui Ceng cepat menerima bungkusan itu dan pergi mencari air yang mudah didapat di dalam hutan itu, lalu tanpa banyak cakap ia mengobati luka di dada Kwan Cu.

Luar biasa manjurnya obat dari Yok-ong ini, karena begitu obat itu dijejalkan ke dalam luka, rasa panas lenyap dan obat yang tadinya berwarna putih bersih setelah terkena air itu, kini perlahan-lahan berubah hitam! Tak lama kemudian, darah kehitaman keluar dari luka itu. Kwan Cu bersila, meramkan mata sambil mengempos semangatnya, mempergunakan hawa dalam tubuh untuk mendesak keluar semua racun yang mengotori darahnya sehingga darah hitam yang keluar dari lukanya makin deras, akhirnya keluarlah darah merah. Setelah ini baru Kwan Cu menghentikan penggunaan tenaga dalam, lalu membuka matanya dan memakai pakaiannya lagi.

Semenjak tadi, Sui Ceng memandang kepada pemuda itu dengan air muka sebentar kagum sebentar duka.

"Sui Ceng, kau benar-benar berhati mulia seperti ibumu.

Kau sudah pergi dengan gurumu, mengapa bisa datang di tempat ini?"

Sui Ceng menjawab dengan kepala tunduk. " Aku.... aku merasa menyesal sekali telah berlaku kasar padamu, telah....... telah menampar mukamu. Kau maafkan aku, Kwan Cu."

Kwan Cu tertawa bergelak. "Sepatutnya kau membunuhku, Sui Ceng, tidak hanya menamparku. Kalau ada orang yang minta maaf, akulah orangnya, bukan kau."

Hening sesaat. Keduanya duduk dibawah pohon dan setelah kini sembuh dari sakitnya, Kwan Cu merasa sungkan dan kikuk. Merah mukanya kalau dia teringat betapa tadi dia kembali mengeluarkan kata-kata menyatakan cinta kasih kepada gadis ini. Keheningan suasana itu membuat Kwan Cu lebih kikuk, maka agar jangan sampai Sui Ceng merasa kikuk pula, dia mulai membuka percakapan, "Sui Ceng, bagaimana kau bisa memisahkan diri dari gurumu?"

"Aku sengaja meninggalkan suthai dan sudah mendapat perkenannya. Suthai kembali ke gunung dan kelak aku akan menyusulnya."

"Jadi kau sengaja pergi dari Kiu-bwe Coa-li suthai untuk menyusulku?"

Sui Ceng mengangguk. Hening lagi sesaat. Beberapa kali Kwan Cu menggerakkan bibir, akan tetapi sukarlah katakata keluar dari mulutnya. Akhirnya dia memberanikan diri dan bertanya, "Sui Ceng, setelah kau menyusulku, apakah yang hendak kaukatakan? Kita terlibat dalam urusan yang amat tidak enak, dan aku.... aku...."

"Kwan Cu, bagaimana kau bisa tahu tentang.... Kun Beng dan adik Swi Kiat?"tiba-tiba Sui Ceng bertanya sambil memandang tajam.

'Untuk inikah kau menyusulku, Sui Ceng?"

"Ya, untuk mengajukan pertanyaan ini. Aku penasaran sekali dan ingin mendengar sejelasnya."

Untuk beberapa lama Kwan Cu menatap wajah gadis yang kemerah-merahan dan mata yang berkaca-kaca itu, maka tertusuklah hatinya. Dengan suara perlahan dia bertanya, "Sui Ceng, kau.... kau amat mencinta Kun Beng.....?"

Merah sekali wajah Sui Ceng. Gadis ini tahu bahwa Kwan Cu amat mencintanya dan tentu saja akan hancur hati pemuda ini kalau ia mengaku bahwa ia mencinta Kun Beng. Akan tetapi tidak ada lain jalan bagi Sui Ceng untuk menyangkal dan pula ia tidak suka menyangkal, karena gadis ini berwatak jujur.

Dengan air mata berlinang dan suara terputus-putus Sui Ceng menjawab, "Bagaimana aku tidak... tidak akan mencintanya? Dia adalah tunanganku, dia adalah jodohku yang dipilih sendiri oleh mendiang ibu akan tetapi dia... dia..." Sampai di sini Sui Ceng tidak dapat melanjutkan kata-katanya, tubuhnya lemas dan tiba-tiba ia sudah berada dalam pelukan Kwan Cu. Karena amat berduka dan patah hati, Sui Ceng merasa mendapatkan hiburan dan ia menyandarkan kepalanya di dada Kwan Cu sambil menangis. Usapan tangan Kwan Cu pada kepalanya mendatangkan hiburan besar baginya seakan-akan ia berada di pangkuan ibunya sendiri.

Kwan Cu merasa amat terharu dan kasihan, "Sui Ceng, jangan berduka, adikku, tenangkanlah hatimu.... kau sekarang bukan tunangan Kun Beng lagi, tak perlu kau memikirkan dia. Dia tidak berharga bagimu dan aku.... aku mencintamu dengan segenap jiwaku, Sui Ceng. Jangan kau khawatir, marilah kita membangun hidup baru, rumah tangga bahagia, menjauhkan diri dari segala hal yang menjengkelkan hati. Aku akan melindungimu Sui Ceng....."

Tubuh gadis itu tersentak, akan tetapi ia tidak mengangkat kepalanya dari dada Kwan Cu. Untuk sesaat pikirannya bekerja keras. Harus ia akui bahwa kalau sekiranya tidak ada Kun Beng di dunia ini, ia akan menerima pernyataan cinta kasih Kwan Cu dengan hati terbuka. Ia sudah mengetahui bahwa pemuda ini amat gagah perkasa dan mulia, bahkan jauh lebih baik daripada Kun Beng. Akan tetapi, hati Sui Ceng sudah tertambat kepada The Kun Beng tunangannya itu. Ia amat mencinta Kun Beng dan pula, bukankah pemuda itu pilihan ibunya sendiri? "Sui Ceng, jangan kau takut."Kwan Cu menghibur karena dia mengira bahwa gadis itu berdiam diri dengan hati takut menghadapi kemurkaan gurunya. "Jangan kau takut kepada siapapun juga. Biarpun Kiu-bwe Coa-li suthai akan marah kepadamu, akulah yang akan bertanggung jawab. Akulah orangnya yang dapat membelamu dengan taruhan nyawa. Tak seorang pun di dunia ini akan dapat mengganggumu selama aku masih hidup!"

Akan tetapi tiba-tiba Sui Ceng melepaskan diri dari pelukan Kwan Cu dan memandang kepada pemuda itu dengan muka pucat. Ia menggelehg-gelengkan kepalanya dengan keras.

"Tidak! Tidak..... jangan begitu, Kwan Cu. Jangan menyeretku ke dalam lembah kehinaan!"

Kwan Cu terkejut sekali. Ia mengulur tangan hendak memegang lengan Sui Ceng, akan tetapi gadis itu menarik tangannya.

"Jangan sentuh aku lagi. Tidak patut kita bersentuhan, kau tidak berhak dan aku.... aku harus menjaga kesusilaan.

Memang aku tidak takut kepada suthai, akan tetapi, aku harus mentaati kehendak ibuku. Apakah kau ingin melihat aku mengingkari pesan ibu? Tidak, Kwan Cu. Bagiku, aku adalah jodoh dan tunangan Kun Beng, pilihan ibu. Kalau sampai terjadi perpecahan sehingga ikatan itu putus, aku bersumpah selamanya takkan mau menikah. Kecuali... kecuali kalau Kun Beng menikah dengan orang lain "

Kembali Sui Ceng menangis dengan sedih.

Kwan Cu menarik napas panjang. "Betapapun juga, aku kagum padamu, Sui Ceng. Cinta kasihmu terhadap Kun Beng benar-benar tulus dan murni, hanya pemuda itu yang tidak tahu diri. Kau setia dan mulia, maka aku kembali telah merusak kesucianmu. Dengarlah, Sui Ceng, sekali-kali aku tidak membuka rahasia Kun Beng karena iri hati kepadanya. Memang aku ingin melihat kau berbahagia.

Kalau Kun Beng tidak melakukan perbuatan sesat itu, akulah orangnya yang akan membantu perjodohan kalian.

Akan tetapi, ternyata Kun Beng memperlihatkan bahwa dia tidak patut menjadi suamimu, maka aku kasihan kepadamu dan berusaha menggagalkan perjodohan itu."

Sui Ceng mengangguk-angguk terharu. "Aku tahu, Kwan Cu, karenanya aku datang mencarimu. Sekarang ceritakanlah bagaimana kau bisa mengetahui akan hal itu?"

Kwan Cu lalu menuturkan pengalamannya ketika dia menolong Kui Lan dari cengkeraman An Kong dan menceritakan pula bahwa sekarang Kui Lan berada di kelenteng Kwan-im-bio di dusun Kau-ling sebelah utara Tang-shan yakni kelenteng yang diketuai oleh Ngo Lian Suthai. Sebagaimana sudah dituturkan dibagian depan, Ngo Lian Suthai kenal baik dengan Kwan Cu dan ketua nikouw itu terluka oleh bajak sungai yang mencuri patung. Semua ini diceritakan dengan sejujurnya oleh Kwan Cu dan akhirnya dia berkata dengan suara penuh kedukaan dan kehancuran hati, "Sui Ceng, sebelum aku tahu bahwa kau telah dijodohkan dengan Kun Beng, aku telah menaruh hati suka kepadamu. Kau sudah mendengar ceritaku, maka tentu kau juga menaruh hati kasihan kepada Kui Lan gadis yang malang itu."

"Kasihan? Dia seorang gadis lemah iman yang bodoh! Gadis seperti itu tidak ada harganya!"

Kalau lain orang yang mendengar omongan ini, tentu hanya akan menuduh bahwa Sui Ceng merasa sakit hati kepada Kui Lan karena tunangannya direbut. Akan tetapi Kwan Cu lain lagi dan dia dapat melihat kebenaran katakata ini.

"Memang, Kui Lan terlampau lemah, mudah sekali menuruti ajakan iblis yang menggoda. Betapapun juga, keadaannya harus dan patut dikasihani."

Tiba-tiba Sui Ceng bangkit berdiri. "Selamat tinggal, Kwan Cu. Mungkin kita takkan bertemu lagi."

"Eh, kau hendak ke mana?"

"Aku akan menemui Kui Lan dan akan kuusahakan agar supaya Kun Beng mengambilnya sebagai isteri yang sah!"

Kwan Cu makin kagum. "Kau hebat sekali, Sui Ceng.

Benar-benar kau berbudi luhur seperti ibumu." Tiba-tiba pemuda ini teringat akan kata-kata Sui Ceng tadi yang menyatakan bahwa gadis ini dapat mengambil keputusan lain tentang perjodohannya kalau saja Kun Beng menikah dengan orang lain. Dengan demikian berarti bahwa kalau sampai terjadi Kun Beng menikah dengan Kui Lan, dia mempunyai banyak harapan terhadap Sui Ceng! Maka cepat-cepat dia berkata, "Tunggu dulu, aku pun akan pergi ke sana! Aku yang mula-mula menolong Kui Lan dan aku pula yang berkewajiban untuk menolongnya mendapatkan Kun Beng kembali. Awas kepala Kun Beng kalau dia tidak mau bertanggung jawab atas perbuatannya dan tidak mau mengawini Kui Lan."

Kedua orang muda itu lalu berangkat dengan cepat, menuju ke kuil Kwan-im-bio di dusun Kau-ling. Karena kedua orang muda yang perkasa ini mempergunakan ilmu lari cepat, tak sampai lama mereka tiba di dusun itu. Akan tetapi mereka kecewa karena ternyata bahwa Ngo Lian Suthai telah pergi merantau membawa Kui Lan yang diaku sebagai muridnya.

"Eh, bagaimana mungkin?" tanya Kwan Cu kepada nikouw yang menyambut mereka. "Aku tahu benar bahwa Ngo Lian Suthai terluka hebat, bagaimana dia bisa pergi?"

Nikouw itu tersenyum. "Taihiap, manusia yang baik selalu mendapat perlindungan Thian. Ngo Lian Suthai telah mendapat penyembuhan, berkat pertolongan Yok-ong locianpwe."

Kwan Cu melengak. Jadi sebelum bertemu dengan dia, Yok-ong malah sudah menyembuhkan Ngo Lian Suthai? Aneh sekali kakek Raja Tabib itu, di mana-mana dan di waktu tenaganya diperlukan selalu muncul akan tetapi tidak banyak bicara.

"Kemana perginya Ngo Lian Suthai?"

"Sukar untuk menentukan tempatnya. Akan tetapi kalau tidak salah, Ngo Lian Suthai pernah menyatakan bahwa sahabat-sahabatnya membantu perjuangan rakyat di wilayah Pao-ting. Dan suthai selalu merasa sejiwa dengan mereka itu, maka tidak akan meleset jauh kalau kiranya Taihiap menyusul ke sana."

Kwan Cu menghaturkan terima kasih, lalu bersama Sui Ceng menuju ke Pao-ting yang pada saat itu memang menjadi sebuah di antara pusat-pusat pasukan pejuang rakyat yang berusaha menggulingkan pemerintah Tartar.

Pao-ting berada di sebelah selatan kota raja, maka dua orang muda itu melakukan perjalanan yang cukup lama, sampai makan waktu sebulan lebih. Hal ini adalah karena di tengah perjalanan, mereka sering kali berhenti untuk membantu perjuangan rakyat. Makin kagumlah hati Sui Ceng melihat sepak terjang Kwan Cu dan sekarang tahu benarlah gadis ini bahwa kepandaian Kwan Cu benar-benar luar biasa hebatnya, jauh melebihi kepandaian tokoh-tokoh besar, di antaranya gurunya sendiri, Kiu-bwe Coa-li! Diamdiam ia mengharapkan agar Kun Beng suka menikah dengan Kui Lan, karena hal ini akan memungkinkan hatinya menyetujui pinangan K wan Cu terhadapnya. Ia memang mencinta Kun Beng, akan tetapi kalau tunangannya itu memang sudah menikah dengan Kui Lan, tentu ia akan dapat melupakannya dan kiranya tidak akan sukar baginya untuk membalas cinta kasih seorang pemuda seperti Kwan Cu

***

Pada suatu hari, ketika Kwan Cu dan Sui Ceng baru saja keluar dari sebuah hutan di selatan kota raja, tiba-tiba dari atas pohon menyambar turun tujuh batang anak panah.

Kwan Cu dan Sui Ceng bersiap sedia untuk menangkis atau mengelak, akan tetapi ternyata tak sebatang pun anak panah mengenai mereka dan ketika mereka memandang, ternyata bahwa tujuh batang anak panah itu menancap di tanah mengelilingi mereka.

Sui Ceng terkejut dan diam-diam ia mengagumi orang yang melepaskan anak panah itu, karena dapat menancap rata pada jarak yang sama di sekeliling mereka. Akan tetapi bagi Kwan Cu, kepandaian seperti itu bukan apa-apa dan dia berdongak ke atas sambil berkata tenang, "Sahabat dari manakah bermain-main seperti ini dengan kami?"

Sebetulnya, sejak tadi pun Kwan Cu sudah tahu bahwa di atas pohon itu bersembunyi empat orang, akan tetapi dia sengaja diam saja agar tidak mengagetkan hati Sui Ceng yang sesungguhnya masih belum sembuh benar daripada lukanya yang diderita dalam pertempuran dipuncak Taihang- san.

Baru saja kata-kata ini dikeluarkan oleh Kwan Cu, dari atas pohon menyambar turun empat orang yang gerakannya amat ringan dan gesit sehingga kembali Sui Ceng terkejut. Akan tetapi baik dia maupun Kwan Cu tidak mengenal orang-orang ini. Setelah mereka berdiri berhadapan dengan Kwan Cu dan Sui Ceng, gadis ini memandang penuh perhatian dan orang yang ke empat dari rombongan ini mempunyai wajah yang seperti pernah dilihatnya, akan tetapi ia sudah lupa lagi entah di mana.

Orang itu adalah seorang pemuda yang ganteng dan bersikap sopan santun. Gerak-geriknya yang halus dan pakaiannya menunjukkan bahwa dia adalah seorang sastrawan muda, sepasang matanya tajam dan tubuhnya jangkung. Usianya sebaya dengan Kwan Cu. Adapun orang ke dua adalah seorang kakek yang kecil bongkok, orang ke tiga seorang kakek bermuka hitam bertubuh tinggi besar.

Sedangkan orang ke empat yang berdiri paling depan adalah seorang nikouw (pendeta wanita) yang berjubah kuning.

Melihat bahwa yang datang sebagian besar adalah orangorang tua, Kwan Cu lalu menjura dan bertanya, "Entah apakah yang menjadi kehendak Cu-wi sekalian maka menghadang perjalanan kami?"

" Apakah kau yang bernama Lu Kwan Cu murid Angbin Sin-kai?" tanya nikouw itu sambil memandang tajam.

Juga tiga orang kawannya memandang tajam kepada Kwan Cu tanpa melirik ke arah Sui Ceng sehingga pemuda ini maklum bahwa mereka tentu pernah mendengar namanya di puncak Tai-hang-san.

"Siauwte memang benar bernama Lu Kwan Cu, tidak tahu Suthai dan yang lain-lain ini siapakah? Dengan maksud apa menghentikan perjalanan siauwte?"

Mendengar bahwa pemuda di depan mereka itu benarbenar Lu Kwan Cu yang namanya disebut-sebut oleh seluruh orang gagah di dunia kang-ouw, karena anak murid Bu-tong-pai dan Kim-san-pai telah menceritakan peristiwa menggemparkan di atas Tai-hang-san itu, empat orang ini memandang dengan mata menyatakan kekaguman, akan tetapi juga kurang percaya. Mungkinkan seorang pemuda sederhana yang kelihatan tidak memiliki kepandaian ini telah dapat mengalahkan semua tokoh-tokoh besar di dunia kang-ouw? "Pinni adalah Lui Kong Nikouw dari Thian-san-pai."

"Aku bernama Bu Kek Sian dari Go-bi-pai," jawab kakek kecil bongkok.

"Aku yang bodoh dan kasar adalah Kong Seng Kak Hwesio dari Siauw-lim-pai," jawab kakek tinggi besar bermuka hitam.

Mendengar ini, Kwan Cu heran dan memandang lebih tajam. Ternyata bahwa kakek yang memakai topi ini memang benar kepalanya gundul, sehingga biarpun pakaiannya seperti petani, namun dia adalah seorang hwesio.

Kong Seng Kak tertawa bergelak melihat sinar mata heran dari Kwan Cu.

"Pinceng memang sengaja menyamar sebagai petani biasa. Kalau pinceng memakai jubah pendeta dan berada di antara para pejuang rakyat, bukankah nama Siauw-lim-si akan dicap hitam oleh kerajaan dan kuil kami akan mengalami serangan hebat?"

Kwan Cu kagum sekali mendengar bahwa hwesio kasar ini ternyata membantu rakyat, maka dia cepat menjura dan berkata, "Kong Seng Kak Twa-suhu benar-benar seorang patriot sejati, siauwte merasa kagum sekali."

Tiba-tiba terdengar suara halus berkata memperkenalkan diri. "Aku yang rendah adalah Lai Siang Pok."

Mendengar nama ini, Sui Ceng tiba-tiba teringat dan dia melangkah maju setindak, lalu berkata, "Eh, bukankah kau murid pujangga Tu Fu yang dahulu dibawa lari oleh Hek-i Hui-mo?"

Pemuda itu tersenyum dan wajahnya makin menarik.

"Bun-lihiap benar-benar bermata tajam dan mempunyai ingatan kuat sekali. Siauwte memang benar Lai Siang Pok dan Hek-i Hui-mo adalah guruku." Setelah berkata demikian Lai Siang Pok menundukkan muka dan menutup mulut.

Diam-diam Sui Ceng berpikir sampai di mana tingkat kepandaian pemuda murid Hek-i Hui-mo ini. Teringat ia akan semua pengalamannya di waktu ia masih kecil, ketika gurunya, Kiu-bwe Coa-li memperebutkan kitab Im-yang Butek Cin-keng yang ternyata palsu itu dengan Hek-i Hui-mo.

Seperti pernah dituturkan di bagian depan, Tu Fu dipaksa membaca kitab itu dan pendengar-pendengarnya adalah Hek-i Hui-mo yang dibantu oleh pemuda Lai Siang Pok itu, sedangkan Kiu-bwe Coa-li dibantu oleh Sui Ceng. Setelah membaca, kitab itu lalu dibakar, demikian menurut perjanjian dan syarat yang diajukan oleh pujangga Tu Fu.

Kemudian setelah mendengarkan bersama Lai Siang Pok, Hek-i Hui-mo lalu menculik Siang Pok dan dipaksa menjadi muridnya. Sekarang Hek-i Hui-mo telah binasa oleh Kwan Cu, apakah maksud kedatangan pemuda ini? Kwan Cu tentu saja dapat menduga akan maksud ini, maka dia lalu tersenyum dan bertanya, "Setelah memperkenalkan nama Cu-wi, perlu kiranya siauwte memperkenalkan pula sahabat ini, ialah Bun Sui Ceng murid dari Kiu-bwe Coa-li suthai."

Akan tetapi mereka tidak mempedulikan Sui Ceng, sebaliknya Lui Kong Nikouw lalu berkata, "Lu-taihiap, tentu kau ingin mengetahui maksud kami menghadangmu di sini, bukan?" Kwan Cu menjadi merah muka nya disebut taihiap (pendekar besar), akan tetapi sebetulnya panggilan ini memang dengan hati tulus, karena siapakah yang tidak menganggapnya sebagai seorang pendekar besar setelah apa yang dia lakukan di puncak Taihang- san? "Siauwte tidak sabar lagi mendengar keterangan Suthai." jawab Kwan Cu.

"Pinni, datang untuk bertanya mengapa Taihiap yang gagah perkasa telah berani mempermainkan dan mengganggu muridku, Wi Wi Toanio."

Sui Ceng mengerutkan kening dan Kwan Cu terkejut.

"Mempermainkan dan mengganggu bagaimana, Suthai?" tanyanya penasaran.

Lui Kong Nikouw tersenyum dan tampaklah bahwa dahulu di waktu mudanya, nikouw ini tentu berwajah cantik dan senyumnya masih membayangkan kegenitan seperti yang dipunyai oleh Wi Wi Toanio. "Taihiap, muridku itu adalah seorang wanita muda yang paling cantik di seluruh wilayah timur, sudah sepatutnya dan dapat dimengerti kalau hati laki-laki tergila-gila kepadanya. Akan tetapi Taihiap harus dapat menahan nafsu dan tahu bahwa dia adalah seorang yang telah menjadi isteri orang lain.

Perbuatan Taihiap sungguh tidak patut."

Bukan main marahnya Kwan Cu, sedangkan wajah Sui Ceng menjadi merah sekali.

"Suthai, kau mengeluarkan omongan yang membikin orang penasaran! Aku Lu Kwan Cu tidak pernah mempermainkan wanita!" Akan tetapi ketika dia membayangkan wajah dan tubuh dari Wi Wi Toanio, hatinya berdebar. Di dalam hati kecilnya, dia tidak dapat menyangkal bahwa isteri dari An Kai Seng itu benar-benar menarik hatinya. Akan tetapi Kwan Cu tahu bahwa katakata dari Lui Kong Nikouw tadi merupakan racun yang akan merusak hubungan baiknya dengan Bun Sui Ceng, maka cepat-cepat dia melanjutkan.

"Wi Wi Toanio adalah isteri dari An Kai Seng musuh besarku yang harus kubunuh karena An Kai Seng adalah keturunan An Lu Shan, musuh besar kong-kongku dan guruku. Bagaimana aku bisa mempermainkannya? Pada waktu itu memang benar dia membela suaminya dan kalah dalam pertempuran olehku, apakah hal ini dianggap mengganggu?" setelah berkata demikian, Kwan Cu tanpa disengaja melirik ke arah Sui Ceng.

Lui Kong Nikouw mengeluarkan, suara jengekan. "Huh, siapa percaya mulut laki-laki? Mengganggu atau tidak, kau telah mengalahkan muridku yang berarti penghinaan besar bagi nama Thian-san-pai, maka sekarang pinni sengaja menunggu di sini untuk minta pengajaran darimu."

"Nanti dulu, Lui Kong Nikouw!" kata Bu Kek Sian, "Pertandinganmu melawan Lu-taihiap mempunyai dasar permusuhan, maka harus dilakukan nanti setelah aku mencoba kepandaiannya. Jauh-jauh aku datang dari Go-bi karena tertarik mendengar kegagahan Lu-taihiap, maka biarlah aku yang hendak minta petunjuk lebih dulu."

"Betul! Demikianpun pinceng, karena murid Siauw-limpai takkan melewatkan kesempatan bagus menerima petunjuk dari seorang pandai!" menyambung Kong Seng Kak Hwesio.

Sambil tersenyum Kwan Cu menoleh kepada Lai Siang Pok dan berkata, "Dan Lai-enghiong ini tentunya hendak membalaskan kematian gurunya, bukan?"

Dengan muka kemalu-maluan pemuda itu menjawab.

"Sudah menjadi kewajiban seorang murid untuk berusaha membalas pembunuh gurunya, akan tetapi karena kepandaianku sangat terbatas, biarlah siauwte minta pengajaran paling akhir saja."

Bu Kek Sian si kakek kecil bongkok tertawa terkekehkekeh dan melompat maju. Tangannya telah mengetuarkan sebuah rantai baja yang panjangnya melebihi tinggi tubuhnya.

"Lu-taihiap, harap kau tidak terlalu pelit untuk memperlihatkan beberapa jurus ilmu silatmu yang lihai agar lebih terbuka mataku yang sudah agak lamur," katanya sambil tertawa-tawa. Biarpun dia kelihatan lucu dan bicara merendah, namun di dalam kata-katanya itu terkandung nada yang sombong. Melihat gerak-gerik orang ini, Kwan Cu merasa bahwa Sui Ceng saja akan dapat menandinginya. Semua orang ini tidak memandang mata kepada Sui Ceng, kecuali Lai Siang Pok, maka diam-diam Kwan Cu merasa tidak puas. Melihat diri sendiri dipuji-puji dan orang-orang itu mengesampingkan Sui Ceng, dia merasa bahwa hal ini merendahkan derajat gadis itu.

Sambil tersenyum, dia melirik ke arah Sui Ceng dan berkata, "Sui Ceng, Lo-enghiong dari Go-bi ini pandai mempergunakan sabuknya dan melihat sabuk yang hebat ini hatiku sudah gentar sekali. Kau pernah mempelajari ilmu mainkan sabuk, sukakah kau sedikit mengeluarkan tenaga membagi tugas yang berat menghadapi para orang gagah ini?" Kwan Cu sengaja memberi kesempatan kepada Sui Ceng untuk memperlihatkan kepandaiannya menghadapi orang sombong ini, karena memang tadi rantai panjang itu dilibatkan di pinggangnya seperti sabuk.

Sui Ceng mengerti kehendak Kwan Cu. Memang nona ini sudah merasa mendongkol sekali. Ia diperkenalkan sebagai murid Kiu-bwe Coa-li, akan tetapi orang-orang itu kecuali Siang Pok, tidak mempedulikannya. Bukankah sama halnya dengan tidak memandang mata kepada gurunya? Sesungguhnya bukan demikian. Orang-orang ini tentu saja sudah mendengar nama besar Kiu-bwe Coa-li sebagai tokoh yang memiliki kepandaian mengagumkan, akan tetapi peristiwa di puncak Tai-hang-san itu terdengar oleh mereka dan mereka tahu bahwa Kiu-bwe Coa-li dan Pak-lo-sian sudah kalah oleh fihak Kiam Ki Sianjin, maka mereka tidak begitu menaruh perhatian lagi.

"Kalau saja tokoh besar yang perkasa dari Go-bi-pai tidak menganggap terlalu rendah untuk menghadapiku, tentu saja aku mau mewakili kau," jawab Sui Ceng.

Kwan Cu menghadapi Bu Kek Sian dan berkata, "Bu Kek Sian Lo-enghiong. Fihak yang hendak mengujiku ada empat orang dan kalau aku hanya maju seorang diri, itu tidak adil namanya. Juga kurang memandang mata kepada nona ini sebagai murid Kiu-bwe Coa-li. Hanya yang meragukan, apakah ada yang berani menghadapi murid dari Kiu-bwe Coa-li?!"

Bu Kek Sian terkekeh. "Nama besar Kiu-bwe Coa-li siapakah yang belum mendengarnya? Tentu saja aku tidak berani memandang rendah, akan tetapi setelah aku melayani nona ini beberapa jurus, aku masih mengharapkan sedikit petunjuk darimu." Kata-kata ini saja sudah menunjukkan kesombongan Bu Kek Sian, karena dengan kata-kata ini dia mau menyatakan bahwa dalam beberapa jurus saja dia pasti akan dapat mengalahkan nona muda ini. Kalau dia menganggap bahwa dia takkan dapat mengalahkan dan sebaliknya dia yang akan kalah, tentu saja orang yang sudah kalah tidak berani maju lagi! Sui Ceng menjadi panas perutnya. Tangannya bergerak dan tahu-tahu sinar merah berkelebat ketika dia telah meloloskan ang-kin (sabuk merah) yang melibat di pinggangnya.

"Bu Kek Sian Lo-sicu, marilah kita mengadu senjata." tantangnya.

Bu Kek Sian terkejut dan heran sekali. Benar-benarkah nona ini akan menghadapi rantai bajanya dengan sehelai sabuk sutera? Akan tetapi dia pun bukan seorang yang tidak dapat mempergunakan pikirannya. Kalau seorang lawan sudah berani berlaku demikian berani, tentulah lawan itu memiliki kepandaian yang tinggi. Pula nona ini mempergunakan sabuk sutera atas kehendaknya sendiri, maka amat kebetulan sehingga dia tak usah terlalu banyak mengeluarkan tenaga.

"Baiklah, kausambut seranganku, Nona!" Bu Kek Sian lalu menggerakkan tangannya dan rantai bajanya meluncur dengan lengkungan lebar menyerang kepala Sui Ceng.

Gadis ini merendahkan tubuhnya kemudian mengelak ke kiri karena ia tahu bahwa setelah luput menghantam kepala, rantai yang panjang itu ujungnya masih akan menghantam tubuh bagian lain. Benar saja dugaannya, ujung rantai itu melayang dan dari pinggir menotok ke arah iganya. Sambil mengelak cepat, sabuk merah meluncur bagaikan ular merah yang hidup, gerakannya tak terduga dan berlenggang-lenggong, cepat menotok ke arah leher tokoh Go-bi-pai itu.

Bu Kek Sian kagum melihat gerakan nona yang cepat ini. Ia segera menyendal rantainya sehingga ujung rantai yang tak berhasil menotok iga, tiba-tiba tertarik kembali dan menyambar ke arah sabuk merah. Bu Kek Sian sengaja mengerahkan tenaganya agar supaya sabuk merah itu akan terbetot putus oleh rantai bajanya. Akan tetapi, sabuk merah itu bergerak memecut dan terdengar suara "tar! tar!" dua kali seperti bunyi cambuk seorang penggembala sapi.

Kemudian ujung sabuk merah yang terbentur rantai itu melayang kembali dan dengan lengkungan yang amat manis, ujung sabuk ini menotok ke arah jalan darah Imyang- hiat yang berada di ulu hati kakek ini. Bu Kek Sian mengeluarkan seruan kaget dan cepat-cepat dia melempar dirinya ke belakang. Bukan main hebatnya serangan itu dan alangkah ganasnya! Baru mempergunakan sehelai sabuk saja, gadis ini sudah demikian lihainya, apalagi gurunya, Kiu-bwe Coa-li yang mempergunakan pecut dengan sembilan ekornya! Bu Kek Sian menjadi hati-hati sekali dan kini dia memutar rantainya cepat sekali untuk mendesak Sui Ceng. Akan tetapi, Sui Ceng adalah murid terkasih dari Kiu-bwe Coa-li, tentu saja dalam hal kesaktian ia telah mewarisi kepandaian gurunya, maka dengan mudah ia dapat mengimbangi gerakan senjata lawan, bahkan ia kini bergerak demikian cepatnya sehingga tubuhnya lenyap dan yang kelihatan hanya bayangannya saja yang didahului oleh berkelebatnya sinar merah dari sabuk suteranya.

Beberapa jurus kemudian, terdengar suara rantai terlepas di atas tanah dan Bu Kek Sian melompat mundur dengan muka pucat. Sambungan sikunya telah terkena totokan ujung sabuk yang menyebabkan tangannya lumpuh dan rantainya terlepas. Kakek ini memandang kepada Sui Ceng dengan mata terbuka lebar-lebar kemudian dia menepuk kepalanya sendiri sambil mengomel, "Aku Bu Kek Sian sungguh manusia tak berguna! Bagaimana masih berani menantang Lu-taihiap?? Bagaimana mataku buta tidak melihat bahwa murid Kiubwe Coa-li demikian hebatnya?"

Melihat kekalahan Bu Kek Sian oleh nona muda yang cantik itu, Kong Seng Kak Hwesio kagum sekali. Ia melompat maju dengan tangan memegang sebatang toya hitam dan berkata gembira, "Benar-benar menyenangkan sekali hari ini bertemu dengan orang-orang muda yang lihai. Bagus, bagus, biar pinceng menerima beberapa jurus untuk menambah bekal membasmi iblis penjajah!"

Melihat gerakan hwesio Siauw-lim-pai ini, Kwan Cu dapat menduga bahwa hwesio ini berkepandaian tinggi dan tenaganya amat besar. Selain ini, juga seorang patriot yang gagah perkasa. Oleh karena itu, dia segera maju sendiri, khawatir kalau-kalau Sui Ceng kesalahan tangan melukai hwesio kosen ini.

"Losuhu, biarlah boanpwe yang menerima kehormatan ini," katanya dan memberi tanda dengan mata agar Sui Ceng mundur. Gadis ini pun tidak ada nafsu lagi untuk bertempur, karena demikianlah watak Sui Ceng yakni ia akan makin bersemangat kalau menghadapi lawan-lawan yang tangguh, sebaliknya, kepandaian Bu Kek Sian dianggapnya masih belum cukup tinggi sehingga ia pun memandang rendah hwesio muka hitam ini.

Kong Seng Kak Hwesio berseri wajahnya. "Bu Kek Sian Bengyu tidak punya peruntungan baik, berbeda dengan pinceng yang kini mendapat kesempatan belajar satu dua jurus ilmu silat dari Lu-taihiap," Sambil berkata demikian, toyanya diputar di atas kepalanya bagaikan kitiran cepatnya, akan tetapi hwesio ini tidak segera menyerang.

"Mulailah, Losuhu," kata Kwan Cu.

Sebaliknya dari menyerang, hwesio muka hitam itu bahkan menurunkan kembali toyanya dan menggelenggeleng kepalanya. "Taihiap harap segera mengeluarkan senjata."

Kwan Cu makin kagum melihat hwesio ini. Sudah terang hwesio ini telah mendengar akan sepak terjangnya di Tai-hang-san dan tahu bahwa dia telah mengalahkan tokohtokoh besar, namun hwesio ini masih merasa tidak adil kalau menghadapi dia yang bertangan kosong. Timbul rasa sukanya dan dia mendapat kenyataan bahwa memang jagojago Siauw-lim-pai adalah orang-orang yang gagah.

"Kita hanya mau mencoba tenaga, berbahaya sekali kalau bertanding mengunakan senjata. Apakah tidak lebih baik kalau menguji tenaga dengan saling mendorong atau membetot toya itu? Masing-masing boleh berusaha bagaimanapun juga, boleh menonjok atau memukul, pendeknya siapa yang melepaskan toya atau roboh, terhitung kalah."

Kong Seng Kak Hwesio girang sekali. Memang dia agak jerih menghadapi ilmu silat pemuda ini yang dikabarkan amat lihai dan aneh, akan tetapi dalam hal tenaga gwakanng maupun lweekang, dia sudah terkenal sekali.

Masa dia akan kalah oleh pemuda yang kelihatannya tidak bertenaga besar itu? Usul yang diajukan oleh pemuda itu menguntungkan dirinya dan kalau dia bisa menang, biarpun dalam cara adu tenaga yang sederhana, bukankah namanya akan terangkat tinggi sekali karena dapat mengalahkan Lutaihiap yang demikian tersohornya? Dengan cepat dia segera menerima usul ini.

Kwan Cu memegang tongkat yang diangsurkan kepadanya. Kedua orang itu memegang ujung toya dan memasang kuda-kuda.

"Lu-taihiap, bersiaplah, pinceng mulai!" seru Kong Seng Kak Hwesio sambil mengerahkan tenaganya dan tiba-tiba dia mendorong toya yang dipegangnya itu dengan tenaga sepenuhnya. Kwan Cu merasa betapa tenaga hwesio ini memang hebat sekali dan tahu pula bahwa Kong Seng Kak Hwesio mempergunakan tenaga gwakang, maka dia lalu menahan dorongan itu dengan pengerahan tenaga lemas sehingga hwesio Siauw-lim-pai itu merasa seluruh lengannya gemetar.

Tiba-tiba Kong Seng Kak Hwesio melakukan gerakan membetot dengan tiba-tiba dan disentakkan untuk mencabut toya agar terlepas dari tangan Kwan Cu atau kalau pemuda itu menahan, agar tubuh Kwan Cu terbawa ke depan. Akan tetapi kembali dia kecelik karena sedikit pun pemuda itu tidak bergeming. Ia tak menyangka hanya dengan melihat pundaknya saja, Kwan Cu sudah dapat mengetahui terlebih dulu gerakan apa yang hendak dia lakukan, maka pemuda itu dapat berjaga-jaga lebih dulu.

Mendadak hwesio itu mengeluarkan seruan keras sekali dan tubuhnya merendah, lalu dengan pengerahan tenaga luar biasa dia mendorong toya ke atas untuk mengangkat tubuh Kwan Cu atau untuk memaksa pemuda itu melepaskan toya. Kwan Cu terkejut. Tak disangkanya bahwa tenaga gwakang dari lawannya ini benar-benar besar sekali. Ketika dia melirik ke arah wajah hwesio itu, tahulah dia bahwa kalau dia melawan dengan lweekang, maka tak dapat tidak tenaga gwakang itu akan memukul kembali dan dapat mendatangkan luka pada Kong Seng Kak Hwesio. Oleh karena itu, Kwan Cu mengambil jalan lain. Ia menyimpan tenaga dan ketika lawannya menyontekkan toya ke atas, dia menurut saja sehingga tubuhnya terbawa ke atas! Akan tetapi, biarpun begitu, Kwan Cu masih memegangi ujung toya dan keadaan tubuhnya masih tetap dalam kuda-kuda seperti tadi.

Tidak hanya Kong Seng Kak Hwesio, juga yang lain-lain merasa kagum sekali. Hwesio itu menggerak-gerakkan toyanya dengan tenaga besar, mengobat-abitkan toyanya dengan maksud agar, pegangan Kwan Cu terlepas, namun sia-sia belaka, agaknya tubuh pemuda itu sudah menjadi satu dengan toya yang dipegangnya.

Tiba-tiba Kwan Cu berseru nyaring dan kedua kakinya bergerak di udara, tubuhnya melengkung dan dengan sekali mengenjotkan kaki, dia melompat dengan toya masih dipegangnya. Kong Seng Kak Hwesio merasa betapa tenaga betotan itu luar biasa sekali, akan tetapi dia mengerahkan tenaga dan memegangi ujung toya seeratnya. Oleh karena ini toya yang dipegangnya itu terputar dan tubuhnya ikut terputar-putar. Kwan Cu bergerak terus, mengerahkan tenaga dan ginkangnya sehingga bagaikan seekor burung yang kakinya diikat tali yang dipegang oleh Kong Seng Kak Hwesio, dia "terbang" mengelilingi hwesio itu. Setelah beberapa belas kali putaran, akhimya Kong Seng Kak Hwesio tidak kuat lagi menahan. Ia melepaskan pegangan toyanya dan meramkan mata mengatur napas melenyapkan rasa pening di kepalanya. Kemudian dia memberi hormat kepada Kwan Cu sambil menerima kembali toyanya.

"Aduh, nama besar Lu-taihiap bukan omong kosong belaka. Pinceng mengaku kalah."

Melihat betapa dua orang kakek itu sudah dikalahkan oleh Kwan Cu dan Sui Ceng dalam pertandingan persahabatan dan mendengar pemuda itu dipuji-puji, Lui Kong Nikouw lalu melompat ke depan Kwan Cu. Sepasang pedang yang berkilauan telah berada di tangannya.

"Lu Kwan Cu, kau menjadi makin sombong dan kepala besar saja mendengar pujian-pujian itu. Marilah kau bersiap menghadapi pinni untuk menebus dosa dan kekurangajaranmu terhadap muridku."

"Suthai, aku tidak hendak mencari permusuhan."

"Jadi kau bersedia minta maaf dan berjanji takkan mengganggu muridku lagi ?"

"Muridmu itu aku takkan mengganggu seujung rambutnya, akan tetapi suaminya, An Kai Seng, adalah musuh besarku dan harus kubunuh!"

"Kau berjanji tidak akan mengganggu muridku akan tetapi mau membunuh suaminya? Bagus! Omongan apa ini? Hayo kau keluarkan senjata!" Biarpun berkata demikian, namun tanpa menanti orang mencabut senjata, Lui Kong Ni kouw sudah menggerakkan pedangnya menyerang.

Sepasang pedang itu menyerang berbareng dengan gerakan indah dan cepat dari Ilmu Pedang Thian-san Kiam hoat, tidak memberi kesempatan kepada lawan untuk melepaskan diri karena segera pedang-pedang itu mengurung dengan gulungan sinamya yang berkilauan.

Diam-diam Sui Ceng kagum melihat keindahan ilmu siang-kiam-hoat ini. Sebagai seorang wanita yang suka akan segala sesuatu yang indah, diam-diam ia memperhatikan dan ingin memetik beberapa bagian yang terindah. Akan tetapi, ia pun merasa bahwa ia sendiri sanggup menghadapi nikouw itu. Sebaliknya, Kwan Cu tetap tidak mau mencabut senjata dan hanya melayani nikouw itu dengan kedua tangan kosong. la mengandalkan ginkangnya untuk mengelak ke sana ke mari dan bahkan ikut berputaran mengimbangi gerakan dua pedang yang cepat itu. Sampai puluhan jurus dua batang pedang itu belum mampu menyenggol badan Kwan Cu bahkan kini pemuda itu mulai mempergunakan Ilmu Silat Kong-ciak Sin-na untuk mencoba merampas pedang lawan.

Ilmu Silat Kong-ciak Sin-na memang lihai sekali dan juga belum pernah muncul di dunia kang-ouw, maka ilmu ini sama sekali tidak dikenal oleh Lui Kong Nikouw.

Dalam beberapa gebrakan saja, pedang di tangan kirinya telah kena dirampas oleh Kwan Cu. Nikouw itu hanya merasa jari tangan kirinya menggigil dan tahu-tahu pedangnya lenyap berpindah ke tangan Kwan Cu. la terkejut bukan main dan cepat berseru, "Suheng, mengapa kau tidak lekas-lekas membantuku? Mari kita membalas sakit hati suhu!"

Kwan Cu terheran-heran karena dia tadi tidak pernah melihat suheng (kakak seperguruan) dari nikouw ini.

Keheranannya bertambah ketika tiba-tiba berkelebat bayangan putih dan sebatang tongkat yang aneh gerakannya telah menyerangnya dari samping. Ketika dia menengok, temyata olehnya bahwa yang menyerangnya dengan sebatang tongkat itu bukan lain adalah pemuda bemama Lai Siang Pok tadi. Kalau saja dia tidak sedang diancam oleh tongkat dan pedang kanan nikouw, tentu Kwan Cu akan berdiri seperti patung saking herannya.

Bagaimana seorang pemuda yang baru berusia dua puluhan tahun disebut kakak seperguruan oleh nikouw tua ini? Akan tetapi kenyataannya memang demikian. Seperti diketahui, Lai Siang Pok adalah murid dari Hek-i Hui-mo dan pemuda ini dapat mewarisi ilmu tongkat yang tinggi dari Hek-i Hui-mo karena dia pun ikut menghafal bunyi isi kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng yang palsu. Kemudian gurunya itu bertemu dengan Lui Kong Nikouw dan diamTiraikasih Website http://kangzusi.com/ diam di antara dua orang pendeta tua ini terdapat hubungan yang tidak bersih. Untuk menutupi rahasia ini, Lui Kong Nikouw yang menjadi seorang tokoh Thian-san-pai yang tersesat dan tidak diakui oleh partai Thian-san lagi, diaku murid oleh Hek-i Hui-mo. Karena sebagai murid baru, tentu saja menurut peraturan ia harus menyebut suheng kepada Siang Pok. Hal ini pun dilakukan oleh Lui Kong Nikouw dengan girang, karena dia bekas wanita genit sekali tentu merasa senang menyebut seorang pemuda ganteng sebagai kakak seperguruannya, sungguhpun pemuda itu patut menjadi cucunya! Namun dasar kepandaian Lui Kong Nikouw adalah dasar ilmu silat Thian-san-pai, sedangkan dari Hek-i Hui-mo ia hanya menerima beberapa macam ilmu pukulan saja.

Lai Siang Pok seorang pemuda pendiam dan dia melakukan serangan tanpa mengeluarkan sepatah pun kata.

Akan tetapi ketika Kwan Cu menangkis sambaran tongkat itu dengan pedang rampasannya, pemuda ini diam-diam kagum karena tenaga Siang Pok bahkan lebih besar daripada tenaga nikouw itu. Hal ini adalah karena Siang Pok melatih diri dengan lweekang menurut petunjuk Imyang Bu-tek Cin-keng yang pernah didengamya dari pujangga Tu Fu. Namun, kalau suhunya sendiri tidak kuat melawan Kwan Cu, apalagi dia? Sebentar saja, ketika K wan Cu mengerahkan tenaga dan membabat dengan pedangnya, tongkat di tangan Siang Pok patah menjadi dua dan pedang di tangan Lui Kong Nikouw terbang entah ke mana! Dua murid Hek-i Hui-mo ini menjadi pucat dan memandang dengan tercengang. "Lutaihiap benar-benar tangguh. Sedikitnya siauwte harus belajar dua puluh tahun lagi baru berani mengukur tenaga kembali." kata Siang Pok sambil menjura kepada Kwan Cu, lalu dia melompat dan pergi tanpa pamit kepada Lui Kong Nikouw. Pemuda ini memang tidak suka kepada nikouw itu karena dia telah dapat mengetahui hubungan antara suhunya dan "sumoi" ini. Selain itu, juga Siang Pok tidak suka kepada suhunya yang dianggap jahat dan membantu penjajah. Bahkan diam-diam pemuda ini membantu perjuangan rakyat dan sebagai seorang pemuda Han bekas murid pujangga Tu Fu, darah kepatriotan masih mengalir di tubuhnya. Kelak pemuda ini akan menjadi seorang yang berilmu tinggi dan mendapat nama besar di dunia kangouw.

Lui Kong Nikouw juga tidak berkata apa-apa apa lagi, dengan muka merah ia lalu menggerakkan kedua kakinya, pergi dari situ tanpa pamit.

Terdengar tertawa terbahak-bahak dan yang tertawa adalah Kong Seng Kak Hwesio.

"Ha, ha, ha! Memang benar, gurunya naga muridnya tentu naga pula. Ang-bin Sin-kai adalah seorang perkasa yang berjiwa gagah, muridnya pun demikian. Lu-taihiap, sebagai seorang pemuda yang memiliki ilmu tinggi, mengapa kau tidak mau lekas-lekas turun tangan membantu perjuangan rakyat mengusir penjajah?" , Kwan Cu menjura. "Aku yang muda dan bodoh, biarpun tidak secara terang-terangan membantu perjuangan, akan tetapi sesungguhnya aku masih melakukan tugasku membalas dendam atas kematian suhu dan kong-kong Lu Pin. Lo-suhu, kau yang sering kali berada di dalam peperangan, pernahkan kau mendengar nama Ngo Lian Suthai ketua dari kuil Kwan-im-bio ?"

"Ah, dia? Benar-benar seorang wanita gagah perkasa yang berjiwa suci. Dia dan muridnya berada di tempat pertempuran tidak jauh dari sini, setiap hari dia dan muridnya mengurus dan merawat para pejuang yang terluka."

"Lo-suhu, di manakah tempat itu?" Sui Ceng ikut bertanya dengan penuh keinginan tahu.

"Di sebuah bio tua di dusun Kiang-cee sebelah barat hutan ini. Semua pejuang mengenal tempat itu baik-baik, dan setiap orang yang terluka dalam pertempuran melawan barisan kerajaan, selalu diantarkan ke tempat itu untuk dirawat."

Mendengar ini, Sui Ceng lalu berkata kepada Kwan Cu, "Mari kita cepat pergi ke Kiang-cee!"

"Baik," jawab Kwan Cu dan keduanya segera memberi hormat kepada dua orang tua yang gagah itu, lalu cepat berlari menuju ke barat. Dua orang tua dari Go-bi-pai dan Siauw-lim-pai itu memandang penuh kekagumam

***

Dusun Kiang-cee sudah bukan merupakan dusun lagi karena semua penghuninya sudah pindah, meninggalkan dusun yang menjadi kosong dan sunyi. Hal ini disebabkan karena dusun itu termasuk daerah pertempuran antara para pejuang dan tentara kaisar, maka penduduk menjadi ketakutan dan lari mengungsi. Banyak pula di antara penduduk laki-laki yang masih muda menggabungkan diri dengan para pejuang rakyat yang sebagian besar terdiri dari para petani yang dipimpin oleh orang-orang gagah di dunia kang-ouw yang berjiwa patriot. Dusun itu dijadikan markas kalau malam dan kalau siang menjadi kosong karena semua penghuninya maju perang. Di sebuah kuil kuno yang besar menjadi semacam "hospital" setelah datang Ngo Lian Suthai dan muridnya yang bukan lain adalah Gouw Kui Lan. Semenjak tinggal di kuil Ngo Lian Suthai, gadis ini mendapat banyak petuah dan akhimya ia membuka semua rahasianya kepada wanita suci itu. Ngo Lian Suthai menghibumya dan menyatakan bahwa dosa itu hanya dapat ditebus dan dicuci dengan jalan melakukan perbuatanperbuatan baik lahir batin sebanyak mungkin. Maka dengan suka rela Kui Lan lalu menjadi muridnya dan ikut membantu perjuangan dengan jalan merawat para pejuang yang terluka dalam peperangan.

Pada hari itu di dalam dusun kedatangan dua orang pemuda yang datang dari lain jurusan. Pemuda pertama adalah The Kun Beng dan orang muda ini setelah mendengar bahwa Kui Lan berada di situ, langsung menuju ke kuil. la merasa amat menyesal akan semua perbuatannya dan ingin minta ampun kepada Kui Lan, akan tetapi oleh karena cinta kasihnya sudah dicurahkan kepada Sui Ceng, setelah mendapat pengampunan dia akan pergi lagi bertapa.

Ia tahu bahwa tak mungkin dia menjadi suami Sui Ceng setelah rahasianya terbongkar dan dia tidak mau pula menjadi suami Kui Lan karena memang dia tidak mencinta gadis ini.

Kebetulan sekali, baru saja dia tiba di depan kuil, dari lain jurusan datang Gouw Swi Kiat, suhengnya! "Bagus, Kun Beng, kau datang menebus dosa! Lekaslekas kita menemui Lan-moi dan pemikahan akan dapat dilakukan di sini juga," kata Swi Kiat girang. Hati kakak ini tak lain hanya ingin menolong keadaan adiknya yang tentu akan rusak namanya kalau tidak menjadi isteri Kun Beng.

"Bukan itu maksud kedatanganku, Suheng. Aku memang datang untuk mohon ampun dari adikmu, akan tetapi aku takkan menikah dengan siapapun juga."

Tentu saja Swi Kiat menjadi marah sekali, mukanya merah dan alisnya berdiri.

"Orang she The!" bentaknya menudingkan telunjuknya.

"Apakah sampai saat ini, setelah rahasiamu diketahui oleh suhu, kau masih membandel dan tidak berani mempertanggungjawabkan perbuatanmu? Kau harus mengawini adikku, kalau tidak, terpaksa aku akan mengadu nyawa denganmu untuk menebus hinaanmu!" Dengan marah sekali Swi Kiat mencabut keluar senjatanya yakni sepasang kipas maut yang amat lihai.

Biarpun menghadapi ancaman ini, Kun Beng sudah bulat hatinya. la menghela napas dan menjawab, "Biar kau akan membunuhku, aku tak dapat memilih jalan lain, suheng. Kalau aku memaksa diri mengawini adikmu, aku hanya akan membikin dia menderita selama hidupnya, karena terus terang saja, aku tidak mencinta adikmu. Dulu perbuatan kami dilakukan karena kami sudah mata gelap dan terdorong oleh nafsu jahat."

"Keparat, jadi kau mencinta Sui Ceng?" Pada saat pertanyaan ini diajukan, datanglah Kwan Cu dan Sui Ceng, akan tetapi Kwan Cu cepat menarik tangan Sui Ceng, diajak bersembunyi di belakang tembok kuil sambil mengintai dan mendengarkan. Hati Sui Ceng berdebar mendengar percakapan yang menyangkut namanya itu.

"Benar, Suheng. Aku mencinta Sui Ceng."

"Jahanam!"

"Mungkin aku jahanam, Suheng. Akan tetapi itulah suara hatiku dan aku tidak bisa melakukan sesuatu di luar suara hatiku."

"Pengecut besar, anjing tak kenal budi, kalau begitu biarlah kita mengadu nyawa di sini!" bentak Swi Kiat yang cepat menggerakkan sepasang kipasnya menyerang dengan hebat.

Kun Beng tentu saja sudah tahu benar akan kelihaian suhengnya dan akan bahayanya sepasang kipas maut itu, maka sambil melompat mundur dia pun mencabut tombaknya. Memang Pak-lo-sian Siangkoan Hai memiliki dua macam keahlian yang membuat namanya terkenal sekali di kalangan kang-ouw, yakni permainan sepasang kipas maut dan permainan tombak. Sesuai dengan bakat masing-masing, kakek ini menurunkan pelajaran ilmu tombak kepada Kun Beng dan ilmu kipas kepada Swi Kiat.

Akan tetapi tentu saja biarpun telah memiliki keahlian masing-masing, kedua orang muda itu mengenal baik ilmu senjata yang dua macam itu.

Pertandingan antara kakak beradik seperguruan ini berjalan hebat sekali, akan tetapi masih berat sebelah. Swi Kiat menyerang dengan nekat dan dengan amarah meluapluap hatinya sakit sekali melihat Kun Beng yang sudah merusak nama baik adiknya dan kini tidak mau bertanggung jawab untuk membersihkan nama adiknya.

Tujuannya hanya satu, membunuh atau terbunuh. sebaliknya, Kun Beng sudah merasa akan kesalahan dan dosanya dan hatinya amat bersedih. Maka tidak mengherankan apabila permainan tombaknya tidak selihai biasanya, bahkan boleh dibilang kalut. la selalu berada di fihak yang terserang dan segera terdesak hebat. Saat yang membuka kesempatan baik bagi swi Kiat tidak disia-siakan dan kipas tangan kirinya telah menotok pundak Kun Beng.

Baiknya pemuda ini cepat mengelak sehingga hanya tulang pundaknya saja yang putus, karena kalau mengenai urat nadi, pasti dia akan tewas.

Sui Ceng sejak tadi memandang pertempuran itu dengan muka pucat. la terharu mendengar bahwa Kun Beng amat mencintanya, cocok dengan perasaan hatinya sendiri, akan tetapi ia pun penasaran menyaksikan sifat pengecut dari bekas tunangannya itu. Ketika pertempuran terjadi, ia hanya memandang saja. Akan tetapi melihat Kun Beng terluka, hatinya tidak tega. Betapapun juga harus ia akui bahwa ia mencinta pemuda ini dan tanpa dapat dipertahankan lagi, ketika melihat Kun Beng terdesak hebat, ia lalu melompat dan pedangnya sudah menangkis kipas Swi Kiat.

Pemuda ini tertegun, akan tetapi melihat bahwa yang datang adalah Sui Ceng, marahnya makin menjadi. Wanita inilah yang menjadi gara-gara sehingga Kun Beng menolak untuk mengawini adiknya. Tanpa banyak cakap lagi dia segera menyerang Sui Ceng dengan pukulan-pukulan maut dari sepasang kipasnya. Akan tetapi sekarang dia menghadapi lawan yang amat tangguh, karena seperti juga dia, Sui Ceng amat marah dan melawan dengan sama hebatnya, tidak seperti Kun Beng tadi yang banyak mengalah.

Diam-diam Kwan Cu kagum melihat ilmu kipas yang dimainkan oleh Swi Kiat. Dari gerakannya, tahulah Kwan Cu bahwa sepasang kipas itu dipergunakan dengan dua tenaga yang berlawanan. Kipas kiri lemas dan halus gerakannya, mengandung tenaga Im yang mengandalkan lweekang tinggi, sedangkan kipas kanan kasar dan ganas, penuh tenaga Yang. Perbedaan yang bertentangan inilah yang biasanya menyukarkan lawan, seakan-akan lawan menghadapi dua orang lawan yang berbeda kepandaian dan tenaganya. Pantas saja bahwa ilmu kipas ini disebut Imyang Po-san dan kehebatannya tiada keduanya dalam ilmu silat kipas pada masa itu.

Namun Sui Ceng bukanlah lawan yang empuk. Gadis ini adalah murid terkasih dari Kiu-bwe Coa-li dan ilmu pedangnya hebat dan ganas. Apalagi sekarang Sui Ceng mengeluarkan pula sabuk merahnya sehingga dengan sepasang senjata ini, ia dapat mengimbangi senjata lawan. sabuknya adalah senjata yang lemas akan tetapi dapat pula dipergunakan untuk menotok jalan darah sehingga amat tepat untuk dipergunakan menghadapi senjata kipas di tangan swi Kiat. Maka pertempuran yang terjadi sekarang lebih seru daripada tadi.

Kwan Cu menjadi bingung dan juga berduka sekali.

Ketika dia mendapat kenyataan betapa Sui Ceng mencinta Kun Beng sehingga melupakan sakit hati dan masih mau membantu ketika melihat Kun Beng terancam bahaya, dia merasa sedih sekali, apalagi ketika dia mendengar bahwa Kun Beng tidak mau menikah dengan Kui Lan yang berarti Sui Ceng juga tidak akan menikah selamanya, hatinya tertindih perasaan duka dan kecewa yang hebat. Maka kini bingunglah dia. Melihat Swi Kiat, dia amat kasihan dan kalau saja Swi Kiat tadi membunuh Kun Beng, tentu Kwan Cu takkan mau peduli. Sekarang dia melihat Swi Kiat bertempur mati-matian dengan Sui Ceng, bagaimana dia harus bertindak? Menghentikan pertempuran dengan Sui Ceng, pemuda ini tentu berkukuh hendak membunuh Kun Beng, dan Sui Ceng pasti akan melindungi Kun Beng dengan mati-matian. Apa akalnya? Sebelum Kwan Cu yang kebingungan melihat pertempuran makin menghebat itu dapat mengambil keputusan, tiba-tiba berkelebat bayangan dan terdengar seruan Pak-lo-sian Siangkoan Hai "Berhenti, tahan senjata!"

Mendengar suara suhunya, Swi Kiat cepat melompat ke belakang dan segera menjatuhkan diri berlutut. "Suhu… !"

Sui Ceng juga menahan senjatanya tanpa melompat dan berdiri tegak, sepasang matanya mengeluarkan sinar berapiapi dan ia sama sekali tidak merasa takut biarpun menghadapi kakek yang luar biasa itu.

"Swi Kiat, apa artinya ini? Mengapa kau bertempur melawan Bun-siocia murid Kiu-bwe Coa-li?" tanya kakek itu sambil menyapu keadaan di situ dengan matanya.

Melihat Kun Beng berada di situ dan terluka pundaknya, dia makin tidak mengerti.

"Suhu, teecu bertemu dengan Sute di sini dan teecu minta pertanggungan jawabnya terhadap Lan-moi. Ketika Sute menolak, teecu berdua lalu bertempur mati-matian."

"Bagus, manusia macam Kun Beng memang harus dibikin mampus," kata Pak-lo-sian, akan tetapi dalam suaranya terdengar nada sedih.

"Teecu berhasil melukainya, akan tetapi tiba-tiba muncul Bun-siocia yang membelanya dan teecu terpaksa melawannya."

Pak-lo-sian Siangkoan Hai menoleh kepada Sui Ceng dengan pandang mata terheran-heran, kemudian dia menarik napas panjang dan berkata, "Sungguh hebat dan patut dipuji kesetiaan nona Bun. Melihat bangsat Kun Beng mengkhianati pertunangannya, ia masih tetap mencinta.

Sukar dicari cinta kasih yang demikian besar!"

Wajah Sui Ceng menjadi merah sampai ke telinganya.

"Locianpwe, jangan bicara sembarangan! Dia itu bekas tunanganku yang dipilih oleh mendiang ibu, maka melihat dia hendak dibunuh orang dengan alasan dipaksa menikah, tentu saja aku tidak tinggal diam!"

Pak-lo-sian mengeluarkan jengekan dari hidungnya.

"Hem, dia itu bukan tunanganmu lagi dan dia adalah muridku yang murtad. Urusan antara kami guru dan murid, kau murid Kiu-bwe Coa-li ada sangkut-paut apakah? Aku mau membunuh muridku sendiri yang berdosa, kau mau apa? Setelah berkata demikian dengan langkah lebar Pak-losian menghampiri Kun Beng yang melihat gurunya demikian marah, segera berlutut dengan kepala tunduk.

"Kun Beng kau sudah tahu akan dosamu?"

"Sudah, Suhu. Teecu berdosa besar dan menanti hukuman mati di tangan Suhu."

"Bangsat rendah! Mengapa kau tidak mau mempertanggung-jawabkan kesalahanmu terhadap adik suhengmu?"

"Teecu hanya akan merusak hidupnya dan hidup teecu sendiri kalau teecu menikah dengan adik Suheng. Di dalam dunia ini hanya dengan satu orang teecu mau menikah, yakni dengan tunangan teecu. Kalau tidak, lebih baik teecu tidak menikah. Terserah kepada Suhu memutuskannya."

Busuk…. busuk sekali! Kalau begitu, mengapa kau merusak nona Gouw Kui Lan? Hayo jawab!" bentak Pak-losian Siangkoan Hai dan suaranya menunjukkan bahwa tiada pengampunan bagi Kun Beng.

Dengan kepala masih tunduk, pemuda itu menjawab lemah, "Teecu sudah mengaku dosa, harap Suhu segera menjatuhkan hukuman."

"Hm, kalau begitu matilah dengan tenang." Pak-lo-sian Siangkoan Hai mengangkat kipasnya dan hendak menjatuhkan pukulan kematian kepada muridnya.

"Tak boleh kau membunuh orang begitu saja!" tiba-tiba Sui Ceng membentak marah dan pedang serta sabuk merahnya bergerak cepat menyerang jalan darah di punggung kakek itu.

Terpaksa Pak-lo-sian menunda pukulan kepada muridnya, karena serangan Sui Ceng ini benar-benar berbahaya sekali. Sambil memutar tubuhnya, kipas yang tadi hendak dipergunakan untuk membunuh Kun Beng, bergerak cepat dan seketika itu juga pedang di tangan Sui Ceng terlempar jauh dan sabuk suteranya putus menjadi dua! "Pergilah dan jangan mencampuri urusan orang lain!" bentak Pak-lo-sian. Akan tetapi melihat kenekatan Kun Beng, Sui Ceng tidak tega untuk membiarkan saja pemuda yang dicintanya itu terbunuh. Ia menyerang kakek itu dengan pukulan tangan kanannya.

"Buk!" tangan Sui Ceng membentur dada Pak-lo-sian, akan tetapi bukan Pak-lo-sian yang roboh, melainkan Sui Ceng sendiri yang terguling dan pergelangan tangannya terlepas sambungannya! "Bun-siocia, jangan kau membelaku. Terima kasih banyak atas budimu, dan sampai mati aku orang she The takkan melupakanmu " kata Kun Beng terharu.

Pak-lo-sian kembali mengangkat kipasnya untuk memukul Kun Beng, akan tetapi baru sampai di tengahnya, tiba-tiba kipasnya tertahan. la terkejut sekali karena merasa bahwa ada sambaran angin dahsyat yang memukul ke arah kipas itu sehingga tertahan. Ketika dia menoleh, ternyata bahwa Lu Kwan Cu telah berdiri di hadapannya. Pak-losian terkejut dan tahulah dia bahwa pendekar sakti yang masih muda ini yang telah menahan pukulan kipasnya.

"Orang muda, biarpun kau telah memiliki kepandaian tinggi, akan tetapi tidak patut kalau kau mencampuri urusanku dengan muridku sendiri. Apakah kau masih belum mengerti tentang aturan dan kepantasan sebagai seorang gagah? Apakah kau belum mengerti bahwa orang gagah tidak akan mencampuri urusan rumah tangga lain orang? Manusia jahanam ini adalah muridku sendiri, berarti dia termasuk keluargaku dan aku boleh melakukan apa saja terhadapnya tanpa campur tanganmu!"

"Maaf, Locianpwe. Boanpwe sudah berani mencampuri urusan Locianpwe karena boanpwe amat kagum terhadap kegagahan dan sepak terjang Locianpwe yang sering kali dipuji-puji oleh mendiang suhu. Akan tetapi hari ini tanpa disengaja boanpwe akan melihat Locianpwe menurunkan tangan kejam kepada murid sendiri. Locianpwe, boanpwe pernah mendengar ujar-ujar emas yang menyatakan bahwa orang yang tidak mencoba untuk memperbaiki kesalahan dalam prilaku hidupnya, dialah orang yang benar-benar salah. Kun Beng memang pernah, melakukan perbuatan salah, akan tetapi dia telah mengakui hal itu dan benarbenar menyesal, maka tidak pantas kalau sampai dihukum mati."

"Kau tahu apa tentang hati manusia? Seorang manusia yang sudah mandah disesatkan oleh nafsu buruk, adalah manusia lemah yang selalu akan mengotorkan dunia karena batinnya kurang teguh dan selalu akan menjadi korban nafsu iblis. Dia ini harus mati!"

"Boanpwe tidak dapat membiarkan saja Locianpwe melakukan pembunuhan pada seorang yang sudah bertobat, apalagi murid Locianpwe sendiri," bantah Kwan Cu.

Bergerak-gerak jenggot Pak-lo-sian yang panjang. "Aha, kau benar-benar sombong, bocah she Lu. Kau kepala batu seperti si jembel Ang-bin Sin-kai gurumu itu. Mari, mari! Kita coba-coba sebentar dan kalau kau dapat menangkan aku, biarlah aku memandang mukamu memberi ampun kepada anjing ini."

Kwan Cu maklum bahwa dia tidak dapat mundur lagi. la sudah bertindak terlalu jauh dan terpaksa dia harus melayani kakek ini yang dia tahu memiliki kepandaian tinggi sekali dan tidak boleh dibuat main-main. Akan tetapi apa boleh, dia melakukan hal ini sebetulnya bukan karena dia sayang kepada Kun Beng, melainkan karena dia hendak membela Sui Ceng, atau pendirian gadis ini. Ia tahu akan cinta kasih yang besar dalam hati Sui Ceng terhadap Kun Beng, maka dia merasa amat berdosa telah memisahkan gadis ini dari tunangannya dan saat ini dia pergunakan untuk menebus dosanya.

Ketika Pak-lo-sian mengebutkan kipasnya ke arah mukanya, Kwan Cu cepat melangkah mundur dan mencabut sulingnya. la tidak mau mempergunakan pedang karena selain dia tidak mempunyai niat bermusuhan dengan kakek ini, juga senjata kipas kakek itu lebih tepat dihadapi dengan senjata yang lebih halus dan lemas seperti sulingnya itu.

Adapun Pak-lo-sian Siangkoan Hai, di dalam hati kecilnya memang tidak tega untuk menewaskan Kun Beng karena di antara dua orang muridnya Kun Beng lah yang amat disayangnya. Akan tetapi sebagai seorang gagah, tentu saja dia merasa kurang adil terhadap Swi Kiat kalau dia tidak berbuat seolah-olah hendak membunuh Kun Beng.

Kini melihat campur tangannya Kwan Cu, diam-diam dia merasa girang sekali. Tidak saja dia mempunyai alasan kuat untuk membatalkan niatnya membunuh Kun Beng, juga idam-idaman hatinya hari ini tercapai. Idam-idaman hati ingin menguji kepandaian pemuda yang aneh ini. Semenjak dia menyaksikan sepak terjang Kwan Cu, melihat betapa dengan amat mudahnya pemuda ini menggulingkan tokohtokoh besar seperti , Hek-i Hui-mo dan Coa-tok Lo-ong, dia kagum bukan main dan merasa yakin bahwa pemuda ini tentu sudah mewarisi kepandaian dari kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng yang tersohor. Maka ingin sekali dia mengukur kepandaian dan tenaga dengan ahli waris kitab itu.

Karena tahu bahwa K wan Cu sudah memiliki kepandaian luar biasa dan bahkan lebih tinggi tingkatnya dengan kepandaiannya sendiri, Pak-lo-sian tidak merasa malu-malu atau sungkan-sungkan lagi. la melakukan serangan dengan hebat, mengeluarkan seluruh tenaganya.

Maka bukan main dahsyatnya gerakan sepasang kipasnya.

Sebelum - Beranda - Lanjut