25 Pendekar Sakti

"Ji-wi siapakah dan mengapa di sini?" tanya Kwa Ok Sin dengan heran. Di antara seluruh tokoh kang-ouw, agaknya Kwa Ok Sin boleh dibilang orang yang paling dikenal dan mengenal orang. Hampir seluruh tokoh kang-ouw sudah dikenal oleh Kwa Ok Sin, baik tokoh persilatan maupun tokoh kesusastraan, maka melihat kakek muka hitam dan pemuda muka merah itu, heranlah hati Kwa Ok Sin.

Selamanya belum pernah dia bertemu muka dengan dua orang ini, jangankan bertemu muka, mendengar pun belum pernah adanya orang-orang yang begini aneh mukanya.

Yok-ong tersenyum dan menjawab dengan suara kaku sekali, suara kasar dari orang dusun yang bodoh.

"Aku dan cucuku ini she Koai (Aneh), petani-petani di Gunung Tai-hang-san ini. Sekarang di atas gunung orang mengadakan keramaian, tentu saja kami datang untuk menonton." Setelah berkata demi kian Yok-ong tertawa haha- he-he-he dengan lagak amat lucu.

Kwa Ok Sin adalah seorang yang berpemandangan luas dan bermata tajam. Ia dapat menduga bahwa si muka hitam ini tentulah seorang kakek yang luar biasa, maka dia tidak berani berlaku lancang, lalu menoleh kepada Kwan Cu.

Akan tetapi pemuda ini sudah siap sedia, begitu orang menoleh kepadanya, dia lalu meringis dan menyeringai lalu tertawa pula ha-hahe- he-he seperti sikap Yok-ong.

"Cu-wi sekalian!" kata Kwa Ok Sin kepada orang-orang kedua fihak. "Kebetulan sekali di sini terdapat tempat untuk penonton, maka ijinkan siauwte, berdiam di sini saja sebagai penonton." Ia lalu duduk di atas batu hitam, dan mengajak Liok-te Mo-li duduk pula. Nenek ini melirik ke arah Yok-ong dan Kwan Cu, akan tetapi tidak berkata sesuatu, hanya menghampiri sebuah batu besar yang berada di ujung lapangan, agak jauh dari tempat itu. Dengan tumit kakinya, ia mencongkel batu itu yang tiba-tiba saja melayang ke atas dan cepat nenek ini mengulur tangannya, menepuk batu itu sehingga mencelat keatas lagi, demikian sambil berjalan kembali. Liok-te Mo-li mempermainkan batu besar itu sampai ia tiba di dekat Kwa Ok Sin lalu menurunkan batu itu untuk dipakai tempat duduk.

Semua orang, baik di fihak Kiam Ki sianjin maupun di fihak Pak-Jo-sian si-angkoan Hai, melihat betapa nenek buruk rupa ini mempermainkan batu besar yang beratnya sedikitnya, ada tiga ratus kati itu dengan demikian mudahnya, diam-diam memuji. Nenek ini selamanya menyembunyikan diri sehingga jarang ada yang mengenalnya, kecuali beberapa orang tokoh besar yang berada di situ. Karenanya semua orang menduga-duga siapakah gerangan nenek yang datang bersama ketua Bunbu- pai itu.

Kiam Ki sianjin setelah melihat bahwa para undangan telah mulai berkumpul dan terutama sekali orang-orang terpenting sudah hadir, segera berdiri dan mengangkat kedua tangan memberi hormat kepada seluruh yang hadir.

"Cu-wi sekalian, selamat datang di puncak dan banyak terima kasih atas perhatian Cu-wi sekalian yang sudi memenuhi undangan pinto."

Orang-orang yang berada di situ segera mencurahkan perhatiannya kepada Kiam Ki Sianjin, kecuali Pak-lo-sian Siangkoan Hai dan Seng Thian Siansu yang masih asyik bermain catur.

Kiam Ki Sianjin lalu melanjutkan kata-katanya, "Tanpa diatur terlebih dahulu, Cu-wi sekalian yang datang di sini ternyata telah memilih fihak masing-masing, dan sudah tentu saja yang berada di fihak kami adalah mereka yang membenci perang dan yang menghendaki keamanan dan perdamaian. Oleh karena itu, hendaknya fihak pembantu pemberontak yang pada saat ini menjadi tamu, suka mengajukan seorang ketua agar dapat berunding dengan kami." Kiam Ki Sianjin menujukan kata-katanya ini kepada fihak Kiu-bwe Coa-li dan kawan-kawannya.

Kiu-bwe Coa-li hanya mengangkat cambuknya dan menggerakkannya di atas kepala. "Tar!! Tar!! Tar!!!"

Sebagai imbalan dari kata-kata yang dikeluarkan oleh Kiam Ki Sianjin. Akan tetapi dia tidak menjawab sesuatu, bahkan membuang muka tidak mau memandang kepada Kiam Ki Sianjin.

Pak-lo-sian Siangkoan Hai dan Seng Thian Siansu tertawa-tawa lalu berdiri.

"Pak-lo-sian, kau yang menang, lakukanlah tugasmu sebaiknya," kata Seng Thian Siansu yang sudah amat tua itu sambil tersenyum.

Pak-lo-sian menghadapi Kiam Ki Sianjin. Jarak antara mereka jauh, ada dua puluh tombak. Sambil tertawa Pak-losian berkata, "Kiam Ki Sianjin, fihak kami tidak pandai bicara seperti kau! Kiu-bwe Coa-li hanya bicara melalui cambuknya, dan terpaksa aku dan Seng Thian Siansu tadi bertanding catur untuk menentukan siapa yang harus mewakili fihak kami.

Memang benar kami membantu perjuangan rakyat dan bangsa kami, sekarang kami sudah datang di sini, ada omongan apa lekas keluarkan, kami mendengar!" Setelah berbicara demikian, Pak-lo-sian tertawa-tawa dan duduk lagi, sikapnya seperti seorang anak kecil yang lucu.

"Tidak setuju!" tiba-tiba Bin Kong Siansu ketua Kim-sanpai berteriak. "Pinto tidak setuju kalau Pak-lo-sian atau Kiubwe Coa-li menjadi wakil fihak pembantu pejuang. Dua orang itu adalah manusia-manusia curang dan pengecut, tidak pantas menjadi wakil, tidak boleh dipercaya omongannya!"

"Betul, aku pun sependapat dengan Bin Kong Toheng!" kata Bian Kim Hosiang ketua Bu-tong-pai.

Merah wajah Kiu-bwe Coa-li, matanya bersinar-sinar seperti mengeluarkan api.

"Kalau monyet-monyet tua dari Bu-tong-pai, datangdatang mengeluarkan hawa busuk dari mulut. Majulah kalau kalian berani!" bentak nenek ini dengan marah sekali.

"Siapa takut padamu, siluman wanita yang keji?" teriak Bin Kong Siansu, akan tetapi Kiam Ki Sianjin cepat memegang lengannya dan berkata, "Harap saja Siansu tidak merusak suasana dan dapat menyabarkan hati. Urusan pribadi dapat diurus kemudian, sekarang urusan negara yang harus di dahulukan."

Di lain fihak, Pak-lo-sian Siangkoan Hai juga menyabarkan hati Kiu-bwe Coa-li dengan kata-kata, "Setan perempuan, apa sih sukarnya menghancurkan kepala dua orang kura-kura tua itu nanti kalau urusan besar ini sudah beres? Sabarlah, nanti kita bagi seorang satu!"

Suasana yang sudah menegang menjadi tenang kembali.

Kiam Ki Sianjin lalu berkata kepada Pak-lo-sian Siangkoan Hai, "Pak-lo-sian, bagus kalau kau menjadi wakil fihakmu.

Nah, dengarlah baik-baik. Fihak kami tidak menghendaki pertempuran yang terus-menerus antara kita sendiri. Kaisar yang bijaksana sudah memberi kekuasaan kepadaku untuk memaafkan mereka yang pernah memberontak, asal saja mulai sekarang pemberontakan itu dihentikan. Bagi kami yang menyadari keadaan dan yang mentaati kehendak Thian, amat tidak enak kalau harus membunuhi bangsa sendiri, biarpun mereka itu pemberontak-pemberontak keji.

Oleh karena itu, sengaja kami mengundang kalian datang untuk berdamai dan menghabisi pemberontakanpemberontakan yang hanya melemahkan keadaan negara dan bangsa saja."

Ucapan ini disambut oleh tertawa mengejek dari Kiubwe Coa-li dan kembali pecutnya mengeluarkan bunyi, "Tar! Tar!" keras sekali. Pak-lo-sian Siangkoan Hai tertawa sambil mendongak ke atas.

"Kiam Ki Sianjin, kau memutarbalikkan kenyataan, kau bukan mentaati kehendak Thian, bahkan mengingkari dan hendak memutar jalannya sejarah! Rakyat yang berjuang melawan penindasan kekuasaan penjajah asing kausebut sebagai pemberontak! Sedangkan para pemberontak asing yang hendak menjajah, bahkan yang kini sudah menjadi penjajah kau sebut-sebut sebagai kaisar yang bijaksana! Kiam Ki Sianjin, di manakah mukamu sebagai orang Han? Hai, saudara-saudara sekalian yang kini berada difihak Kiam Ki Sianjin, apakah kalian bukan orang-orang Han? Patutkah orang-orang gagah melihat bangsa sendiri ditindas, tidak membantu perjuangan rakyat yang mulia, sebaliknya membantu kaisar asing penjajah hina dan suka menjadi anjing penjilatnya?" Pak-lo-sian Si-angkoan Hai berkata dengan penuh nafsu.

"Cukup! Pak-lo-sian, kami mengundang kalian bukan untuk mengumbar nafsumu, bukan untuk saling memaki.

Kami mengajak berunding, berdamai dan menghabiskan semua pertempuran."

"Mudah saja untuk menghabiskan pertempuran asal tuntutan rakyat dipenuhi," kata Pak-lo-sian.

"Apakah tuntutan rakyat itu? Coba terangkan!"

"Tuntutan rakyat ialah menyeret turun kaisar asing, mengusir semua penjajah dari tanah air dan mengangkat seorang kaisar bangsa sendiri. Kalau kalian semua yang berada di sini insyaf dan membantu perjuangan rakyat, hal ini kiranya akan mudah dilakukan dan habislah semua pertempuran!"

"Pak-lo-sian, kau terlalu sekali! Apa kaukira akan dapat memperlihatkan kekuasaanmu di sini? Kau benar-benar mengeluarkan kata-kata tanpa kaupikir baik-baik. Kau berani mencoba untuk menyeret kami membantu pemberontak?" Kiam Ki Sianjin marah.

"Basmi saja pentolan-pentolan pemberontak itu!" teriak seorang anak murid difihak yang pro kaisar. Akan tetapi para tokoh besar yang menghargai kedudukan sendiri, tidak mau sembarangan mengeluarkan kata-kata.

Teriakan murid yang berangasan itu disambut oleh kawan-kawannya dan sebentar saja fihak itu menjadi ramai, senjata-senjata dihunus, siap menyerbu kalau ada perintah.

Akan tetapi Kiam Ki Sianjin mengangkat tangan mencegah mereka dan keadaan menjadi tenang kembali.

Pak-lo-sian Siangkoan Hai dan kawan-kawannya tersenyum-senyum saja mengejek, akan tetapi Sui Ceng, Swi Kiat, Kun Beng, dan empat orang tosu dari Kun-lunpai kelihatan merah mukanya, menahan rasa marah.

"Pak-lo-sian, kau melihat sendiri betapa pernyataanmu yang tanpa dipikir itu membangkitkan rasa marah pada kawan-kawan kami. pertentangan faham ini kiranya hanya akan beres menurut ketentuan senjata!" kata Kiam Ki Sianjin, kemudian disambungnya dengan senyum. "Kecuali kalau kalian suka mengubah pendirian."

"Pendirian kami sudah tetap, membenarkan perjuangan rakyat. Adapun tentang penggunaan senjata di sini, kau yang mengundang kami dan kami datang bukan untuk berkelahi."

"Kau takut?" Kiam Ki Sianjin mengejek.

"Siapa takut padamu, tua bangka? Biar ada sepuluh Kiam Ki Sianjin, aku tidak takut!" tiba-tiba Kiu-bwe Coa-li membentak marah.

"Tidak ada soal takut atau tidak takut," 'kata Pak-lo-sian dengan suara seperti orang bernyanyi, "yang ada hanya dua kenyataan pahit. Pertama, kami diundang ke sini untuk berunding, bukan untuk berkelahi. Ke dua, kalau tuan rumah sudah begitu tidak tahu malu untuk mengajak berkelahi, itu pun hanya memperlihatkan betapa rendah akhlaknya. Kami hanya berkawan sepuluh orang, sedangkan fihakmu ada seratus orang!"

Kiam Ki Sianjin merah mukanya. "Tak usah banyak mulut, Pak-lo-sian, memang kita sudah menjadi musuh lama. Pendeknya, kau berani atau tidak memutuskan pertentangan faham ini di ujung senjata?"

"Aku datang bukan untuk berkelahi, kalau sudah tidak ada omongan lain, aku akan pergi dengan kawankawanku!"

Pak-lo-sian biarpun tua dan aneh wataknya, namun dia amat cerdik. la melihat bahwa fihak lawan amat besar jumlahnya, penuh dengan orang-orang pandai pula, maka kalau sampai terjadi pertempuran, fihaknya menghadapi bahaya. Dia sendiri dan Kiu-bwe Coa-li agaknya akan dapat meloloskan diri, akan tetapi yang lainlain bagaimana ? "Ha, ha, ha, Pak-lo-sian, akan melarikan diri!" Kiam Ki Sianjin berteriak mengejek. "Pak-lo-sian, kalau kau lari, terpaksa kami akan mengejarmu dan mencegah kau turun gunung sebelum persoalan ini dibereskan!"

Kini marahlah Pak-lo-sian. "Kiam Ki Sianjin, majulah kau, biar kita berdua yang memutuskan hal ini di ujung senjata!"

Keadaan menjadi amat tegang dan tiba-tiba terdengar suara Kwa Ok Sin yang cepat berdiri dan berseru, "Cu-wi sekalian, harap tenang dulu. Amat memalukan kalau kita sebagai orang yang menjunjung kegagahan, bercekcok mulut seperti anak kecil yang hendak berkelahi! Apakah tidak ada jalan lain ke arah perdamaian antara kedua fihak? Bagaimanapun jalan pikiran dan faham masing-masing, harus diingat bahwa kita adalah segolongan, yakni orang-orang yang menjunjung tinggi kegagahan."

Semua orang berdiam diri dan tiba-tiba dari bawah puncak terdengar seruan keras, "Cocok…….. ! Memang pertempuran tak perlu dilanjutkan!" Dari bawah puncak "menggelundung" naik tubuh seorang hwesio yang gendut dan bundar, dan ternyata dia ini bukan lain adalah Jengkin- jiu Kak Thong Taisu! Kwan Cu kembali menggigil tangannya melihat hwesio bundar ini. Sekarang musuh besar gurunya telah lengkap berada di tempat itu.Akan tetapi dia harus menekan semua perasaannya karena persoalan yang dihadapi adalah persoalan besar, persoalan yang dulu pun diributkan oleh kong-kongnya, oleh gurunya sehingga mereka berkorban nyawa. Tadi dengan berbisik dia menanyakan semua orangTiraikasih Website http://kangzusi.com/ orang yang berada di situ kepada Yok-ong dan ketika dia tahu siapa adanya hwesio tinggi kurus berjubah hitam yang pernah dilihatnya di malam hari, yakni Coa-tok Lo-ong sute dari Hek-i Hui-mo dan melihat pula ketua Bu-tong-pai dan Kim-san-pai berada di fihak Kiam Ki Sianjin, terbukalah mata Kwan Cu. Tahulah dia kini akan rahasia peristiwa pembunuhan di kelenteng atas diri Bian Ti Hosiang dan Bin Hong Siansu dari Kim-san-pai. Sudah dapat dia menduga bahwa pembunuh kedua pendeta ini pasti Coa-tok Lo-ong yang membunuh dalam rahasia kemudian meninggalkan kesalahan itu ke pundak Kiu-bwe Coa-li dan Pak-lo-sian Siangkoan Hai! Dengan jalan ini, fihak Kiam Ki Sianjin tentu saja dapat menarik Bu-tong-pai dan Kim-san-pai untuk membantu mereka menghadapi Kiu-bwe Coa-li dan Pak-lo-sian! "Locianpwe, mengapa yang datang hanya mereka sepuluh orang itu? Dimana adanya tokoh-tokoh dan pemimpin-pemimpin pejuang rakyat yang lain?" tanya Kwan Cu bisik-bisik kepada Yok-ong.

Raja tabib itu tersenyum, "Kiam Ki Siajin memang cerdik. Selain merencanakan untuk membasmi musuhmusuh besar di sini juga dia hendak memancing keluar semua pemimpin sehingga dengan mudah dia akan mengetahui siapa-siapa adanya pemimpin pejuang rakyat.

Akan tetapi aku mendahuluinya dan aku memperingatkan mereka yang menjadi pemimpin pejuang sehingga tak seorang pun di antara mereka mau memperlihatkan diri."

Diam-diam Kwan Cu memuji kecerdikan Hang-houwsiauw Yok-ong, akan tetapi raja tabib itu mencegah dia membuka mulut lagi karena melihat munculnya Jeng-kinjiu, keadaan menjadi lebih ramai.

Begitu tiba di puncak, Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu lalu mengangkat kedua tangannya ke atas dan berkata keras, "Cu-wi sekalian dari kedua fihak. Stop semua pertempuran yang tidak ada artinya! Untuk apa mengotorkan tangan, bertempur melawan golongan sendiri hanya karena pengaruh urusan pemerintahan yang kotor.

Orang-orang macam kita ini apa perlunya mencampuri urusan kota raja? Lebih baik kembali ke masing-masing gunungnya, bertapa dan memperdalam ilmu. Pinceng sendiri karena terseret oleh pengaruh busuk di kota raja, sampai bentrok dan salah tangan menewaskan seorang bekas sahabat baik. Ahhh kalau diingat-ingat, sampai sekarang pinceng merasa menyesal setengah mati. Apakah Cu-wi hendak mengulangi kejadian seperti itu? Kaisar boleh turun dan naik, kerajaan musnah dan timbul, akan tetapi kesatuan kaum persilatan jangan sekali-kali sampai terseret dan menjadi berantakan dan pecah belah! Nah, pinceng sudah bicara, harap Cu-wi suka memikirkan dengan kepala dingin."

"Jeng-kin-jiu, omongan busuk apa yang kaukeluarkan itu?" tiba-tiba Hek-i Hui-mo melompat maju dan melototkan matanya kepada Jeng-kin-jiu. "Dahulu kita bersama melindungi kaisar, sekarang kau akan menjadi orang yang mengkhianati kawan sendiri? Apakah kau tidak lebih baik membantu kami agar dosamu tidak bertumpuktumpuk?"

"Agaknya dia takut melihat Pak-lo-sian dan Kiu-bwe Coa-li!" mengejek Toat-beng Hui-houw sambil tertawa yang terdengar seperti ringkik kuda.

"Jeng-kin-jiu, sia-sia saja kau mencoba menginsyafkan mereka. Lebih baik jangan mencampuri urusan ini!" seru Pak-lo-sian Siangkoan Hai yang sudah naik darah melihat sikap fihak lawan. Jeng-kin-jiu menarik napas panjang dan menggeleng-geleng kepalanya, lalu duduk di atas batu karang, kelihatannya berduka sekali. Kwa Ok Sin lalu berkata dengan keras, "Kalau kedua fihak menghendaki kekerasan, siauwte sebagai ketua Bun-bu-pai hanya mengharap agar kedua fihak memperhatikan peraturan orang-orang gagah. Adu senjata ini harus dilakukan dengan cara yang adil seperiti dalam pibu."

"Tentu saja," kata Kiam Ki Sianjin. "Yang mati tidak boleh dibuat dendam, yang terluka tidak boleh menyalahkan lawan. Fihak yang kalah harus selanjutnya menurut dan taat kepada fihak yang menang!"

"Bagus Kiam Ki Sianjin. Biar ini hari kita mengadu kepandaian sampai seribu jurus!" bentak Kiu-bwe Coa-li sambil melompat maju dan mengayun-ayun cambuknya dengan lagak menantang.

"Nanti dulu, Kiu-bwe Coa-li. Bukankah tadi diusulkan oleh Kwa-enghiong supaya kita menggunakan peraturan? Nah, aku akan memilih kawan-kawan di fihakku, siapa yang akan maju menghadapi fihakmu." Setelah berkata demikian, Kiam Ki Sianjin mempersilakan kawankawannya yang hendak turun tangan. Serentak majulah dari fihaknya tokoh-tokoh besar yang berkepandaian tinggi seperti Hek-i Hui-mo, Toat-beng Hui-houw, Mo Beng Hosiang dan Mo Keng Hosiang, Kam Cun Hong, Bian Kim Ho-siang, Bin Kong Siansu, Coa-tok Lo-ong dan masih ada beberapa orang anak murid Bu-tong-pai, Kim-san-pai dan juga murid-murid dari para tokoh itu sendiri.

Adapun fihak Pak-lo-sian tentu saja hanya ada sepuluh orang itu yang kesemuanya siap membela nama baik mereka. Bahkan Sui Ceng lalu berkata kepada gurunya.

"Suthai, biarkan teecu yang maju lebih dulu. Kalau teecu tidak dapat menang, barulah Suthai maju."

Kiu-bwe Coa-li tersenyum pahit. "Sui Ceng, tahukah kau bahwa pertandingan kali ini adalah untuk mempertahankan nyawa? Lawan terlalu banyak. Menang lima kali saja belum ada artinya, dan kalau kalah harus menebus dengan nyawa."

"Teecu tidak takut!" kata Sui Ceng gagah. Kiu-bwe Coali melirik ke arah Kun Beng dan pemuda ini pun berkata gagah, "Teecu juga tidak takut dan akan mendampingi Cengmoi."

Mendengar ini, Swi Kiat menjadi merah mukanya, pemuda ini gemas sekali akan tetapi juga berduka mengingat akan adiknya, Kui Lan. Akan tetapi pada saat yang genting seperti itu, dia tidak mau memikirkan tentang urusan pribadi dan dia pun bersiap-sedia untuk menghadapi fihak lawan yang amat banyak jumlahnya itu.

Yok-ong memberi isyarat kepada Kwan Cu, lalu berkata, "Ah, kalau akan diadakan perang, lebih baik aku pergi.

Hayo cucuku, kita pergi dari sini " katanya ketakutan.

Kwan Cu tidak mengerti akan maksud Yok-ong, akan tetapi dia tidak berkata sesuatu dan mengikuti kakek itu turun dari puncak. Orang-orang merasa geli melihat mereka akan tetapi tidak ada yang ambil peduli.

Setelah tiba di belakang batu karang besar, Yok-ong berkata, "Kwan Cu, mari kita periksa jalan keluar untuk mereka, agar nanti dapat dipergunakan dengan baik." Raja tabib ini berlari cepat sekali, diikuti oleh Kwan Cu. Setiba mereka di lereng, Yok-ong menunjuk ke bawah, "Kau lihat, serdadu kaisar telah mengurung bukit ini."

Benar saja, di kaki bukit itu, barisan besar bergerak-gerak seperti semut. Kwan Cu terkejut dan gemas sekali.

"Tak usah khawatir, aku sudah mendapatkan jalan keluar. Lihatlah goa itu, kelihatan keci, hanya dapat dimasuki orang dengan jalan merangkak. Akan tetapi di dalamnya lebar sekali dan goa itu merupakan terowongan yang menembus bukit dan keluar di sebelah selatan pegunungan ini. Kalau kita semua mengambil jalan ini, takkan ada orang yang dapat mengejar atau mencegat kita.

Kauingatlah baik-baik, seorang di antara kita harus dapat menolong mereka keluar dari sini. Mengerti?"

Kwan Cu mengangguk. Memang, melihat keadaan. lawan yang demikian banyaknya dan rata-rata terdiri dari orang-orang yang berkepandaian tinggi, Yok-ong merasa gelisah dan putus asa. Biar pun difihaknya ada Kiu-bwe Coa-li, Pak-lo-sian dan Seng Thian Siansu, akan tetapi menghadapi sekian banyaknya orang dan di sana ada pula orang-orang sakti seperti Hek-i Hui-mo, Kiam Ki Sianjin, Toat-beng Hui-houw dan lain-lain, sudah dapat diperhitungkan bahwa fihak pembantu pejuang rakyat pasti akan kalah.

Setelah memberi petunjuk kepada Kwan Cu, mereka kembali ke puncak akan tetapi kini menonton ke tempat itu dari balik batu karang.

"Locianpwe, kita tidak dikenal, lebih baik nonton dari dekat," kata Kwan Cu.

"Begitupun baik. Akhirnya kita harus turun tangan pula," jawab Raja Tabib itu dan keduanya lalu duduk di tempatnya yang tadi. Semua orang memandang dan tertawa.

"Eh, kalian berani datang lagi?" Kwa Ok Sin tidak dapat menahan keheranannya.

"Cucuku ini yang memaksa, katanya ingin melihat orang bermain senjata untuk menambah kegembiraan," jawab Yok-ong ketolol-tololan.

"Hem, jangan terlalu dekat, jangan-jangan ada senjata yang mampir di lehermu," kata Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu. Yok-ong dan Kwan Cu memperlihatkan muka takut akan tetapi tetap saja duduk di tempat yang tadi.

Kalau di fihak Kiam Ki Sianjin semua orang sudah bersiap-siap adalah orang-orang dari Bu-tong-pai dan Kimsan- pai saja yang masih kelihatan dingin saja. Bian Kim Hosiang dari Bu-tong-pai dan Bin Kong Siansu dari Kimsan- pai, bukanlah penjilat-penjilat kaisar. Mereka adalah orang-orang gagah yang tidak mau peduli tentang urusan kerajaan. Mereka berdua datang hanya karena marah terhadap Kiu-bwe Coa-li dan Pak-lo-sian Siangkoan Hai, karena dua orang tokoh itu telah membunuh dua orang sute mereka. Kedatangan mereka untuk membalas dendam, atau untuk membuat perhitungan dengan Ku-bwe Coa-li dan Pak-lo-sian, bukan untuk mengurus soal kerajaan. Maka melihat bahwa pertandingan yang akan diadakan adalah urusan kerajaan, kedua orang tua ini dan murid-muridnya tidak mau turun tangan dan diam menonton saja.

Adapun tokoh-tokoh kawan-kawan Kiam Ki Sianjin, memberi kesempatan kepada murid-murid mereka untuk maju lebih dulu, hitung-hitung mengukur kepandaian lawan. Akan tetapi, murid-murid yang masih rendah kepandaiannya tentu saja tidak boleh maju, Kiam Ki Sianjin memberi tanda kepada Bu-eng Siang-hiap, dua hwesio bersaudara yang kini menjadi pembantupembantunya.

Dengan bangga Mo Beng Hosiang dan Mo Keng Hosiang melompat maju ke tengah lapangan, lalu Mo Beng Hosiang berkata, "Pinceng berdua saudara selalu maju berbareng, karena itu harap Siangkoan-lo-enghiong mengeluarkan jagojagonya!"

Berkata demikian, dua saudara ini menjura kepada Paklo- sian Siangkoan Hai.

Melihat bahwa yang maju adalah dua orang hwesio setengah tua, dua orang murid Kun-Jun-pai yang bernama Tiong Ek Tosu dan Tong Seng Tosu minta ijin dari guru besar mereka, yakni Seng Thian Siansu sesungguhnya datang untuk menuntut balas atas gugurnya tiga orang muridnya, maka dia mengangguk menyetujui. Demikian pula Pak-lo-sian Siangkoan Hai menyetujui.

Majulah dua orang murid Kun-lun-pai ini menghadapi Bu-eng Siang-hiap. Setelah saling memperkenalkan nama, empat orang pendeta ini mulai saling serang dengan hebatnya.

Ilmu silat dari Kun-lun-pai memang sudah amat terkenal, maka kepandaian dari dua orang muridnya ini juga amat lihai. Mereka mempergunakan pedang yang diputar dengan cepat dan tangguh, sesuai dengan Ilmu Pedang Kun-lun Kiam-hoat. Adapun Mo Beng Hosiang berjuluk San-tian-jiu (Si Tangan Kilat) maka dalam pertempuran ini dia bertangan kosong, sedangkan adiknya, Mo Keng Hosiang berjuluk Hun-san-pian (Pian Pemecah Gunung). Sengaja mereka maju berdua karena dengan maju berdua, mereka merupakan pasangan yang benar-benar amat tangguh. Mo Keng Hosiang bertugas menghadapi dan melindungi kakaknya dari serangan senjata lawan. Piannya amat kuat, dan setiap tangkisannya selalu membuat tangan lawan tergetar sehingga penyerangan kedua lawan nya itu menjadi lambat. Di lain fihak, Mo Beng Hosiang mulai menjalankan serangan maut dengan tangan kosong! "Celaka, dua totiang dari Kun-Iun-pai itu pasti roboh.....

" kata Kwan Cu perlahan kepada Yok-ong. Diam-diam raja tabib ini memuji ketajaman mata Kwan Cu dan dia melihat pemuda itu diam-diam meraih dua butir batu kecil.

"Jangan, Kwan Cu. Dalam pertandingan adil, tidak selayaknya kita turun tangan membantu, biarpun yang kita bantu adalah orang-orang yang berada di fihak benar. Ini sudah menjadi aturan kang-ouw yang tak boleh dilanggar oleh siapapun yang tidak menghendaki namanya terbenam di dalam lumpur."

Kwan Cu tertegun dan terpaksa melepaskan kembali dua butir batu kecil tadi. Hatinya penasaran dan tak senang sekali melihat fihak Pak-lo-sian dikalahkan. Dugaannya tepat karena dalam lima puluh jurus saja, terdengar suara keras disusul pekik dan robohlah Tiong Ek Tosu dengan kepala pecah terpukul oleh tangan Mo Beng Hosiang! Murid ke dua dari Kun-lun-pai tidak menjadi gentar.

Baginya adalah menang atau mati, maka dia cepat memutar pedangnya melakukan serangan nekat. Ia berhasil menusuk pangkal lengan Mo Keng Hosiang, namun hwesio ini dapat miringkan tubuh sehingga kulit lengannya saja yang tergurat pedang dan pada saat itu, Mo Beng Ho siang sudah turun tangan memukul dada Tiong Seng Tosu. Tosu ini menjerit, pedangnya terlepas dari pegangan dan dadanya pecah! Ia roboh dalam keadaan tak bernyawa lagi.

Fihak kaki tangan kaisar berseri wajahnya, bahkan ada orang-orang muda yang bersorak girang. Pak-lo-sian tersenyum pahit dan Seng Thian Siansu menjadi pucat.

Sebelum Kiu-bwe Coa-li dan yang lain-lain sempat mencegahnya, tahu-tahu bayangan Bun Sui Ceng sudah berkelebat dan nona ini telah berdiri dengan pedang di tangan, menghadapi sepasang hwesio yang berdiri dengan lagak sombong dan bangga.

Pak-lo-sian tidak dapat berbuat lain kecuali melompat dan mernyambar dua jenazah murid Kun-lun-pai itu untuk diletakkan di atas tanah di dekat batu karang. Mereka tak dapat ditolong lagi karena sudah tewas.

"Bu-eng Siang-hiap, aku Bun Sui Ceng maju sebagai jago dari fihak kami, kalian berdua boleh maju bersama!" tantang Sui Ceng sambil melintangkan pedang di depan dadanya. Melihat bahwa penantangnya hanyalah seorang gadis muda yang cantik sekali, dua orang hwesio itu saling pandang dan tertawa lebar.

"Nona, pinceng berdua tidak mau berlaku licik. Biarlah kau memilih seorang di antara kami sebagai lawanmu!" kata Mo Beng Hosiang sambil tertawa menyeringai.

"Gundul sombong, kalian berdua majulah bersama, boleh ditambah lagi satu dua orang agar lebih ramai!"

Mendengar ucapan gadis ini, Bu-eng Siang-hiap menjadi naik darah.

"Semua orang yang berada di sini mendengar bahwa kau yang minta kami maju bersama, kalau nanti kalah jangan bilang kami licik," kata Mo Beng Hosiang dengan mata merah.

"Tutup mulut dan majulah!" seru Sui Ceng yang sudah mulai menggerakkan pedangnya.

Mo Keng Hosiang masih merasa sayang untuk membunuh atau melukai gadis yang begini cantik dan muda, maka dia lalu mengeluarkan seruan keras dan pian di tangannya menyambar ke arah pedang Sui Ceng, dengan maksud membikin pedang itu terlempar dalam segebrakan saja.

Melihat datangnya gempuran pian ini yang memang bertenaga amat kuat, Sui Ceng tersenyum dan sengaja tidak mau mengelakkan pedangnya. Alangkah kagetnya hati Mo Keng Hosiang ketika piannya membentur pedang gadis itu, karena dia merasa seakan-akan piannya yang berat itu membentur sehelai bulu saja dan tenaganya lenyap dengan sendirinya. Kekagetannya bertambah ketika terdengar suara "tar!" dan pipinya terasa amat pedas dan perih. Ia hanya melihat bayangan merah berkelebat di depan mukanya, itu adalah ujung sehelai ikat pinggang sutera berwarna merah! Sui Ceng telah mencabut senjatanya yang istimewa ini, yaitu sabuk merahnya.

Bukan main marahnya Mo Keng Ho-siang, ketika mendengar suara ketawa gadis itu. Dengan membuta dia lalu mengayun piannya dan menyerang bagaikan badai mengamuk. Juga Mo Beng Ho-siang yang kini mengerti menghadapi seorang lawan tangguh, cepat maju dan melakukan pukulan-pukulan dengan kedua tangannya yang lihai.

"Ji-wi Beng-yu, hati-hati, kalian menghadapi murid dari Kiu-bwe Coa-li!" kata Kiam Ki Sianjin yang mengenal sabuk merah ini sebagai ilmu cambuk yang biasa dimainkan oleh Kiu-bwe Coa-li.

Bu-eng Siang-hiap terkejut dan kini mereka tidak berani memandang ringan. Dengan hati-hati mereka lalu bergerak seperti ketika menghadapi dua orang lawan dari Kun-lunpai tadi, yakni Mo Keng Hosiang mempergunakan pian untuk mempertahankan diri mereka berdua. Sedangkan Mo Beng Hosiang melakukan serangan-serangan dengan tangan kilatnya.

Namun ilmu silat yang dimiliki oleh Sui Ceng adalah ilmu silat yang diturunkan oleh seorang ahli. Bukan main hebatnya pedang yang bergerak bagaikan hidup di tangannya, sedangkan sabuk merah di tangan kirinya lebih lihai lagi. Dia pun mempergunakan siasat untuk mengimbangi kedua orang itu. Sabuknya yang lemas menghadapi pian, berusaha untuk menangkap dan merampas senjata, sedangkan pedangnya menghadapi pukulan-pukulan Mo Beng Hosiang. Sebentar saja kedua orang hwesio itu terdesak hebat oleh dara perkasa ini.

"Dia hebat..... dia hebat sekali......" tak terasa pula mulut Kwan Cu berbisik-bisik dan sepasang matanya memandang kagum.

Melihat lagak pemuda ini, Yok-ong tersenyum. "Bagus, Kiam Ki sianjin akan mengalami hajaran pertama!"

Belum habis kata-kata ini diucapkan, keadaan pertempuran sudah berubah sama sekali. Dengan ujung sabuknya, Sui Ceng tiba-tiba mengubah gerakan dan kini sabuk itu meninggalkan pian dan menyerang atau lebih tepat menangkis pukulan Mo Beng Hosiang. Ujung sabuk merah ini membelit pergelangan tangan hwesio ini dan sekali disentakkan, tubuh Mo Beng Hosiang terpental ke atas. Sebelum hwesio itu sempat mengerahkan ginkangnya, sabuk disentakkan kembali ke bawah sehingga tubuhnya terbanting ke atas lantai batu karang.

"Ngekkk!!" Tubuh Mo Beng Hosiang tak dapat berkutik lagi! Pedang di tangan Sui Ceng sementara itu tidak tinggal diam. Ia melihat pian menyerang ke arah kepalanya, cepat ia mengerakkan tubuhnya, miring dan dari samping pedangnya menyambar. Mo Keng Hosiang menjerit kesakitan, piannya terlepas berikut tangan kanannya sebatas siku terbabat putus oleh pedang Sui Ceng! Gadis ini tidak tega melihat penderitaan kedua lawannya. Pedangnya bergerak dua kali dan putuslah urat besar di dekat leher dua orang hwesio itu yang seketika itu juga menghembuskan napas terakhir tanpa menderita lagi.

Lima orang-orang muda dari fihak Kiam Ki Sianjin melompat maju dan mengeroyok Sui Ceng. Mereka ini adalah perwira-perwira yang menjadi kaki tangan Kam Cun Hong, panglima dari Si Su Beng.

"Curang..... !" Dua orang murid Kun-lun-pai yang belum maju mencela dan cepat mereka melompat untuk membantu Sui Ceng.

Akan tetapi sebetulnya hal ini tidak perlu, karena dengan pedangnya, Sui Ceng menahan serangan lima orang perwira itu dan dalam beberapa jurus saja kembali dua orang lawan roboh mandi darah! "Mundur!" teriak Kiam Ki Sianjin. Tiga orang perwira melompat mundur dengan muka merah. Kiam Ki Sianjin menggerakkan tangan memberi tanda kepada orangorangnya dan empat orang mayat kawannya itu ditarik ke belakang. Kemudian Kiam Ki Sianjin bertanya, "Siapa di antara sahabat-sahabat yang berani menghadapi gadis liar itu?"

Terdengar suara ketawa seperti kuda meringkik dan tubuh Toat-beng Hui-houw yang berwajah menyeramkan itu melompat keluar. "Kiam Ki Sianjin, biarlah aku menghadapinya. Aku sudah mengenal kuda betina liar ini!"

Melihat majunya Toat-beng Hui-houw, seketika muka Sui Ceng menjadi merah sekali, sepasang matanya berapiapi dan bibirnya digigit untuk menahan hawa kemarahan yang naik dari dadanya.

"Toat-beng Hui-houw, siluman jahanam! Andaikata kau tidak muncul, aku pun pasti akan mencarimu untuk memenggal lehermu agar ibuku di alam baka dapat mengaso dengan tenteram!" Kedua tangan gadis ini gemetar saking hebatnya kemarahan yang menyerang dirinya.

"Sui Ceng, mundurlah, biarkan pinni menghadapi siluman ini!" Kiu-bwe Coa-li, akan tetapi mana Sui Ceng mau mendengar kata-kata guru ini? Dengan pura-pura tidak mendengar kata-kata gurunya, sambil berseru keras dan nyaring gadis ini menyerang Toat-beng Hui-houw dengan pedangnya. Gerakannya bagaikan seekor burung walet menyambar dan tubuhnya diikuti oleh berkelebatnya sinar merah dari sabuknya.

Selama dikalahkan oleh Ang-bin Sin-kai dahulu dan bertemu dengan Kiu-bwe Coa-li, kakek yang seperti siluman ini merasa gentar dan dia melatih diri sehingga memperoleh kemajuan pesat. Kalau dibandingkan dengan dahulu ketika dia menewaskan Pek-cilan Thio Loan Eng ibu dari Sui Ceng, kepandaiannya sekarang sudah maju pesat dan jauh sekali. Namun dia tidak berani memandang rendah kepada gadis ini, karena tahu bahwa gadis ini adalah murid terkasih dari Kiu-bwe Coa-li. Kalau saja dia tidak berada di fihak Kiam Ki Sianjin dan tidak mengandalkan bantuan banyak kawan, sampai sekarang pun dia tidak berani mengganggu Sui Ceng. Akan tetapi sekarang keadaannya lain lagi.

Dalam pertempuran seperti ini, kalah menang atau kematian tidak boleh diurus panjang dan andaikata guru gadis ini akan membela, kawan-kawannya masih banyak yang gagah dan tangguh, maka hati Toat-beng Hui-houw menjadi besar.

Serangan pedang dari Sui Ceng dielakkannya, dan ketika pedang itu bagaikan bermata terus mengejar dan menyerangnya, dia lalu menggereng seperti harimau sambil menggerakkan kedua tangannya. Tiba-tiba sepuluh jari tangannya mengeluarkan kuku yang panjang-panjang seperti pisau. Tadi kuku-kuku jari ini tergulung dan dengan gerakan lweekang yang amat dahsyat, kuku ini menjadi kaku dan dapat dipergunakan sebagai senjata.

Pedang Sui Ceng menyambar lagi. Toat-beng Hui-houw menangkis dengan kukunya dan Sui Ceng merasa telapak tangannya tergetar hebat. Ia kaget dan tahu bahwa lawannya ini benar-benar tangguh. Akan tetapi ia tidak gentar. Nafsunya untuk membunuh musuh besar ini demikian memuncak sehingga ia menjadi nekat. Ujung sabuk merahnya menyusul pedangnya, menyambar dengan totokan ke arah leher Toat-beng Hui-houw.

"Pergilah!" Toat-beng Hui-houw membentak sambil menyambar ujung sabuk merah itu. "Brettt!" sabuk itu putus menjadi dua! "Ceng-moi, hati-hatilah....... !" Kun Beng berseru dengan hati ngeri melihat betapa senjata sabuk dari tunangannya yang amat lihai itu telah dapat diputuskan.

Namun Sui Ceng masih menyerang dengan hebatnya.

Kini dia mempergunakan pedangnya dan telah melemparkan sabuknya yang sudah tiada gunanya itu.

Pedangnya dimainkan secara hebat, mengerahkan seluruh kepandaian dan tenaganya untuk mengalahkan musuh besarnya ini. Tubuh gadis itu lenyap terbungkus sinar pedang yang bergulung-gulung dan diam-diam Toat-beng Hui-houw harus memuji kepandaian gadis muda ini. Kalau sekiranya akhir-akhir ini dia tidak memperdalam ilmu kepandaiannya, agaknyaakan sukar dan lamalah baginya untuk mengalahkan gadis ini.

Kemarahan dan kenekatan Sui Ceng melihat musuh besar yang telah membunuh ibunya, membuat tenaganya berlipat ganda besarnya dan membuat gaya ilmu pedangnya amat ganas dan berbahaya. Karena kurang hati-hati, sebuah kuku jari kelingking dari tangan kiri Toat-beng Hui-houw kena terbabat putus ujungnya oleh pedang Sui Ceng.

Toat-beng Hui-houw marah sekali. Berkali-kali dia mengeluarkan suara gerengan yang menggetarkan tanah dan kini tubuhnya bergerak maju dengan serangan dahsyat, menubruk ke sana ke mari tanpa mempedulikan pedang lawannya. Memang mudah saja baginya, dengan sebuah kuku saja dia berhasil menyampok pedang lawannya, dan dengan cepat kuku-kuku jarinya menyerang tubuh gadis itu.

Mau tidak mau Sui Ceng menjadi ngeri dan mulailah dia main mundur saja.

"Sui Ceng, mundurlah dan mengaku kalah!" kata Kiubwe Coa-li karena ia merasa ngeri dan gelisah melihat nyawa muridnya yang terkasih itu terancam.

"Biarkan teecu maju membantunya!" kata Kun Beng.

Akan tetapi Pak-lo-sian melarangnya.

"Tidak boleh berlaku curang, biarpun nyawa kita akan habis semua di sini, kita harus mati sebagai orang-orang gagah!"

Terpaksa Kun Beng hanya memandang dengan hati seperti disayat-sayat melihat betapa tunangannya didesak terus.

Juga Kwan Cu yang mengerti bahwa tak lama lagi Sui Ceng pasti akan roboh di bawah tangan Toat-beng Huihouw yang lihai itu, berbisik kepada Yok-ong dengan hati gelisah.

"Locianpwe, andaikata nona itu terluka oleh kuku tangan Toat-beng Hui-houw yang mengandung bisa berbahaya masih dapatkah dia tertolong?"

Yok-ong mengangguk. "Memang racun di tiap kuku jari Toat-beng Hui-houw bisa mematikan dan sukar diobati.

Akan tetapi aku telah mempunyai semacam obat penolak bisa yang luar biasa dan yang pasti akan dapat melawan bisa itu. Asal saja lukanya tidak amat berat."

Kwan Cu segera berdiri dari tempat duduknya dan dengan tindakan perlahan dia mendekati tempat pertempuran, agaknya tertarik sekali. Yok-ong hendak mencegah namun tidak keburu. Orang-orang di kedua fihak juga melihat ini, akan tetapi oleh karena pemuda muka merah yang mengaku petani Gunung Tai-hang-san itu bukan orang dari salah satu fihak dan dianggap sebagai petani biasa saja yang menonton, tak seorang pun memperhatikannya. Apalagi keadaan amat tegang dan semua mata memandang ke arah pertempuran yang hebat luar biasa itu.

Sui Ceng benar-benar terdesak hebat. Ia memang nekat dan biarpun dia mendengar perintah gurunya supaya mundur, namun mana bisa seorang gadis seperti Sui Ceng sudi mundur dan mengaku kalah? Apa lagi terhadap musuh besar yang sudah membunuh ibunya.

"Kalau aku tak berhasil membalaskan dendam ibu, biarlah aku mampus di sini!"pikir gadis ini sambil memutar pedangnya yang makin kacau gerakannya.

Tiba-tiba Toat-beng Hui-houw tertawa seperti ringkik kuda, disusul oleh gerengan seperti harimau dan tangan kirinya yang penuh kuku panjang itu berhasil merampas pedang Sui Ceng. Sekali kuku-kukunya bergerak, terdengar suara"krak!" dan pedang itu patah-patah menjadi tiga! Sui Ceng masih tidak mau melompat atau mengaku kalah, bahkan dia lalu menghantam dengan tangan kiri ke dada lawan! Toat-beng Hui-houw tertawa besar dan sekali dia menangkis dengan tenaga sepenuhnya, Sui Ceng terhuyung ke kiri dan kesempatan ini dipergunakan oleh Toat-beng Hui-houw untuk menggunakan kuku-kukunya yang berbisa mencakar kearah dada Sui Ceng! Nona ini maklum akan datangnya serangan maut. Cepat dia miringkan tubuhnya, akan tetapi kalah cepat. Terdengar baju robek dan pundaknya terkena cengkeraman itu. Sui Ceng mengerahkah lweekang dan meronta sehingga cengkeraman itu dapat terlepas, namun ia lalu terhuyung-huyung dan roboh. Pundaknya terasa panas sekali sampai menembus ke jantungnya. Racun-racun berbahaya dari kuku telah memasuki luka di pundaknya.

"Ha, ha, ha, kau boleh menyusul ibumu!" seru Toat-beng Hui-houw sambil menghampiri tubuh nona yang telentang pingsan itu, siap untuk mengirim pukulan terakhir. Kiu-bwe Coa-li meramkan mata, dan Kun Beng sudah siap melompat menolong tunangannya.

Tiba-tiba kelihatan pemuda dusun bermuka merah itu berlari-lari dan berteriak-teriak, "Tidak adil......! Tidak adil.......!" Ia berlari terus dengan kacau, menyeruduk Toat-beng Hui-houw yang hendak membunuh Sui Ceng. Melihat datangnya pemuda dusun ini, Toat-beng Hui-houw menjadi heran dan juga marah.

"Mau apa kau??" bentaknya sambil mendorong pundak Kwan Cu. Pemuda ini tahu bahwa dorongan itu akan melukainya, akan tetapi karena dia mengandalkan kepandaian Yok-ong, dan pula dia ingin menolong nyawa Sui Ceng, dia pura-pura tidak tahu. "Reeettt!" Robeklah baju pundaknya dan kulit pundaknya tergores oleh kuku tangan Toat-beng Hui-houw.

"Toat-beng Hui-houw, kau terlalu sekali! Pemuda itu adalah orang luar, mengapa kau melukainya?" bentak Paklo- sian Siangkoan Hai. Sebetulnya bukan Pak-lo-sian terlalu sayang kepada pemuda yang aneh mukanya itu, melainkan karena pemuda itulah yang telah menolong nyawa Sui Ceng, maka dia membelanya. Toat-beng Hui-houw tertawa bergelak dan mundur, lalu menudingkan telunjuknya yang berkuku panjang kepada Kwan Cu sambil membentak, "Eh, kepiting rebus! Apa-apaan kau datang mencari kematian?" Biarpun bertanya begini, di dalam hatinya Toatbeng Hui-houw merasa heran sekali. Bisa dikukunya amat hebat, sekali gurat saja orang tentu akan roboh dan pingsan atau sekaligus mampus. Akan tetapi mengapa pemuda yang terang-terangan sudah terluka pundaknya ini tidak lekaslekas roboh pingsan? la tidak tahu bahwa Kwan Cu telah mengerahkan tenaga dan seluruh hawa murni yang dia dapat dari latihan menurut petunjuk kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng, sehingga bisa itu untuk sementara tertahan oleh hawa yang mengepul naik dari pusarnya menuju kepundak yang tergurat kuku berbisa tadi.

Kwan Cu dengan kedua tangan tuding sana tuding sini, mengeluarkan suara mengomel panjang pendek dan berteriak-teriak, "Mana ada pertandingan macam ini? Masa seorang kakek-kakek tua melawan seorang gadis muda yang lemah? Tidak adil sekali. Seharusnya, gadis melawan gadis, kakek melawan kakek, pemuda melawan pemuda dan bocah melawan bocah. Ini baru senang ditonton. Masa kakek yang kukunya panjang mengerikan ini harus bertanding dengan gadis yang begini halus?" Kwan Cu menggeleng-geleng kepalanya, lalu mengangkat tubuh Sui Ceng dan dengan lagak seperti orang merasa berat menggendong tubuh itu, dia berlari-lari ke arah Yok-ong.

"He, kau mau bawa dia ke mana?" teriak Kun Beng yang segera mengejar.

"Dia mati, harus dikubur baik-baik," jawab Kwan Cu tanpa menoleh.

Yok-ong menyambut Kwan Cu dan tanpa dilihat orang lain, raja tabib ini menotok tiga jalan darah di tubuh Sui Ceng lalu menyuruh Kwan Cu memberikan tubuh gadis itu kepada Kun Beng yang datang berlari-lari.

"Berikan dia padaku!" kata Kun Beng.

"Eh, eh, eh, kau ini pemuda mau apakah? Kalau dia harus dibawa ke sana biarlah aku menggendongnya ke sana.

Mengapa menggendong tubuhnya saja orang harus berebut? Kau agaknya ingin sekali menggendongnya!" Kwan Cu lalu membawa gadis itu berlari-larian kembali menuju ke tempat Pak-lo-sian Siangkoan Hai. Semua orang memandang kepada pemuda muka merah ini dan merasa lucu juga kasihan. Bahkan Kiu-bwe Coa-li sendiri merasa terharu melihat seorang petani bodoh masih memiliki perikemanusiaan begitu besar .

Kwan Cu tadi ketika membawa Sui Ceng kepada Yokong, memang sengaja memberi kesempatan kepada Yokong untuk mengobati gadis itu, kemudian tanpa diketahui oleh siapapun juga, dia menerima sebuah pil besar berwarna putih dan mendapat bisikan dari Yok-ong. Kini pil besar itu telah dimasukkan ke dalam mulutnya. Ia menurunkan gadis itu di atas tanah.

"Kau baik sekali, orang muda," kata Pak-lo-sian Siangkoan Hai.

"Sayang dia takkan dapat tertolong lagi," kata Kiu-bwe Coa-li. Suaranya tenang-tenang saja akan tetapi kalau orang melihat matanya ia akan bergidik. Mata itu membayangkan nafsu amarah dan bayangan-bayangan maut terbayang di situ.

Akan tetapi Kwan Cu tidak mempedulikan mereka semua, kini dia lalu mendekatkan mukanya pada leher Sui Ceng.

"Petani busuk, kau mau apa?" Kun Beng membentak marah dan mengangkat tangan hendak memukul.

"Diamlah kau! Mengapa begitu ribut?" bentak Pak-losian sambil memandang kepada muridnya dengan alis dikerutkan. Kun Beng merundukkan mukanya yang menjadi sedih luar biasa. Pak-lo-sian maklum akan kedukaan hati muridnya ini maka dia menghibur, "Lihat, petani muda ini agaknya hendak berusaha mengobatinya."

Memang benar, Kwan Cu telah menempelkan bibirnya pada luka di pundak Sui Ceng. la membuka mulutnya dan menggunakan giginya menggigit kulit di sekitar luka! la menggigit keras-keras, lalu mengumpulkan pil putih yang sudah dihancurkannya dengan ludah dikumpulkan di ujung lidah dan sambil mengerahkan lweekangnya, dia meniupkan hancuran obat itu ke dalam luka! Hal ini tentu saja tidak terlihat oleh siapapun juga, bahkan Kiu-bwe Coali dan Pak-lo-sian Siangkoan Hai saling pandang lalu mengangkat pundak.

Dalam pandangan mereka, pemuda petani yang aneh ini hanya menggigit pundak itu saja! "Eh, apa yang kaulakukan itu?" Kembali Kun Beng bertanya karena pemuda itu tidak kuat melihat si muka merah seakan-akan mencumbu kekasihnya dan menciumi pundaknya! Kwan Cu mengangkat mukanya dan dengan mukanya yang merah ketololan itu dia tersenyum menyeringai.

Orang-orang melihat betapa gigi dan bibir pemuda ini berlepotan darah! "Aku sudah usir setannya, sudah usir setannya!"

Kun Beng tak dapat menahan sabarnya lagi. Ia mengira bahwa pemuda muka merah ini gila dan dalam gilanya telah menggigit dan bahkan minum darah dari Sui Ceng.

Dengan pengerahan tenaga sekuatnya dia lalu menendang pantat Kwan Cu yang masih berjongkok. Tubuh Kwan Cu bagaikan sebuah bal karet melayang kembali ke tengah lapangan di mana Toat-beng Hui-houw masih berdiri memandang semua itu.

Tubuh Kwan Cu yang melayang-layang tadi kini turun dan seperti yang tidak disengaja, tubuh pemuda muka merah ini melayang turun tepat di atas kepala Toat-beng Hui-houw. Sebetulnya kakek bermuka harimau ini mendongkol sekali dan kalau menurutkan hatinya, sekali pukul saja dia dapat menghancurkan tubuh pemuda yang dianggapnya tolol itu. Akan tetapi tadi dia telah mendengar celaan dari Pak-lo-sian Siangkoan Hai ketika dia melukai pemuda muka merah itu, maka kini dia tidak mau melanjutkan perbuatannya. Pula dia memang melihat sendiri betapa pemuda tani ini terlempar kepadanya bukan karena kehendak sendiri, melainkan karena ditendang oleh pemuda murid Pak-lo-sian itu. Maka dia lalu mengulur tangan dan sekali sambar dia sudah memegang leher baju Kwan Cu dan melontarkan tubuh pemuda itu ke tempatnya yang tadi, yakni didekat Yok-ong, juga dekat Kwa Ok Sin, Jeng-kin-jiu, dan Liok-te Mo-li.

Sambil berteriak-teriak ketakutan tubuh Kwan Cu terputar-putar di udara dan meluncur ke dekat Liok-te Moli.

Nenek ini mengulur tangan dan menangkapnya, lalu melepaskannya di dekat Yok-ong sambil berkata, "Orang muda, kau bersemangat besar. Aku kagum sekali!"

Kwan Cu tidak banyak cakap, lalu duduk di dekat Yokong, diam-diam menerima obat pemunah bisa dan menelannya menurut petunjuk Yok-ong.

"Kau lancang sekali, hampir-hampir terbuka rahasia kita," kata Yok-ong.

"Teecu tidak bisa membiarkan Sui Ceng tewas," jawab Kwan Cu.

Sementara itu, Pak-lo-sian menegur muridnya.

"Kun Beng kau benar-benar tidak tahu budi. Lihat, nona Bun tertolong nyawanya karena perbuatan pemuda muka merah tadi, dan kau bahkan menendangnya. Sungguh memalukan aku yang menjadi gurunya!"

Kun Beng terkejut dan ketika dia melihat, benar saja, Sui Ceng telah siuman kembali dan warna biru hitam pada pundaknya telah lenyap! Kiu-bwe Coa-li sedang memeriksa jalan darah muridnya dan ia mengangguk puas.

"Aneh sekali, nyawamu tertolong oleh suatu keajaiban, Sui Ceng." kata nenek ini sambil memandang ke arah Kwan Cu yang masih duduk merengut.

Kun Beng menjadi girang dan juga malu. Ia lalu melompat ke tengah lapangan dan menghadapi Toat-beng Hui-houw.

"Sahabatku kalah olehmu, marilah kaucoba mengalahkan aku!"

Pak-lo-sian mengomel, "Kun Beng benar-benar berani mati dan gegabah sekali. Mana dia bisa menangkan siluman itu? Swi Kiat, suruh dia kembali!" Gouw Swi Kiat mentaati perintah suhunya dan sekali tubuhnya bergerak, dia telah meloncat di sebelah Kun Beng. Akan tetapi sebelum dia dapat menyampaikan pesan suhunya, Toat-beng Hui-houw yang mengira bahwa dia hendak dikeroyok dua, sudah tertawa bergelak dan siap untuk menyerang. Ia tidak gentar menghadapi dua orang pemuda ini dan dia dapat menduga bahwa mereka ini adalah murid-murid Pak-lo-sian Siangkoan Hai.

"Toat-beng Hui-houw, kau mundurlah. Jasamu sudah cukup. Karena sekarang yang maju adalah murid Pak-losian Siangkoan Hai, biarkan pinceng yang menghadapinya." Yang berkata demikian ini adalah Bian Kim Hosiang, ketua Bu-tong-pai. Kata-kata ini amat mengherankan oleh karena biasanya, seorang ciangbunjin (ketua partai) tidak mau turun tangan dengan begitu mudahnya, apalagi menghadapi seorang anak murid partai lain, kecuali kalau menghadapi ketua lain partai. Akan tetapi dalam hal ini, tindakan Bian Kim Hosiang ketua Butong pai ini dapat dimengerti. Ia merasa sakit hati sekali terhadap Pak-lo-sian Siang-koan Hai dan Kiu-bwe Coa-li yang disangka membunuh sutenya secara pengecut sekali.

Maka kini dia hendak membalas dendam, hendak mengalahkan murid Pak-lo-sian dan kemudian setelah itu, kalau Pak-lo-sian merasa sakit hati baru dia akan melayani Dewa Utara itu.

"Benar, pinto juga ingin merasai kelihaian murid Pak-losian!" kata Bin Kong Siansu ketua Kim-san-pai. Seperti halnya Bian Kim Hosiang ketua Bu-tong-pai, juga ketua Kim-san-pai ini berpikiran sama. Melihat bahwa yang maju adalah dua orang murid Pak-lo-sian, maka dia juga ikut maju untuk memberi hajaran sebagai pembalasan.

Swi Kiat menjadi bingung ketika tiba-tiba dua orang pendeta dari fihak lawan itu melayang dan menghadapi dia dan sutenya. Ia tidak keburu menyampaikan pesanan suhunya, karena kalau fihak lawan sudah keluar dan dia bersama sutenya kembali, hal itu akan mendatangkan rasa malu yang luar biasa sekali. Tentu dia dan sutenya dianggap takut dan melarikan diri dari dua orang pendeta ini. Swi Kiat yang menjadi bingung itu melirik ke arah suhunya dan Pak-lo-sian mengerti akan kebingungan hati muridnya. Kakek ini belum tahu duduknya perkara.

Biarpun tadi beberapa kali dua orang ketua dari Bu-tong dan Kim-san itu menyindir dan memakinya, namun dia tidak sekali-kali mengira bahwa dia disangka membunuh murid-murid mereka secara curang. Ia sudah kenal kepada dua orang ketua ini dan tahu bahwa mereka bukanlah orang-orang jahat dan kejam. Maka dia lalu berkata sambil tersenyum.

"Anak-anak bodoh! Ketua Bu-tong-pai dan Kim-san-pai hendak memberi pelajaran, mengapa tidak lekas-lekas menerimanya?"

Mendengai ini, Swi Kiat lenyap keraguannya dan dia lalu siap sedia dengan senjatanya yang lihai, yakni sepasang kipas yang disebut Im-yang-siang-san. Murid pertama dari Pak-lo-sian ini memang sudah mewarisi keahlian bersilat kipas dengan Ilmu Silat Im-yang San-hoat yang amat lihai.

Adapun Kun Beng memang sejak tadi sudah mengeluarkan tombaknya.

Bian Kim Hosiang tertawa mengejek. "Biarpun muridmurid kami terbunuh secara curang mempergunakan ilmu kotor atau ilmu siluman, akan tetapi kami tidak serendah itu dan kami akan merobohkan kalian secara jujur." Sambil berkata demikian, ketua Bu-tong-pai ini mengeluarkan sehelai saputangan panjang. Ia menggulung-gulung saputangan itu, menjadi gulungan kain, kemudian sekali dia menggerakkan tangan, gulungan kain itu menjadi kaku seperti sebatang toya! Benar-benar seperti Kauw-ce-thian (raja monyet dalam dongeng kuno yang mempunyai wasiat tongkat kim-kauw-pang) mainkan tongkat wasiatnya! Dengan senjata buatan sendiri ini, ternyata bahwa Bian Kim Hosiang tidak saja memandang ringan pada lawannya, juga dia telah memperlihatkan bahwa tenaga lweekangnya bukan main besarnya. Sambil memutar toya kain ini Bian Kim Hosiang menghadapi Kun Beng yang bersenjata tombak.

Adapun Bin Kong Siansu ketua Kim-san-pai, orangnya lebih sabar daripada ketua Bu-tong-pai, juga kepandaiannya tidak kalah. Bin Kong Siansu terkenal sebagai tokoh besar yang telah memperkembangkan dan memperbaiki Ilmu Pedang Kim-san Kiam-hoat yang sudah tersohor lihai itu sehingga Ilmu Pedang Kim-san Kiam-hoat boleh direndengkan dengan ilmu-ilmu pedang dari partai-partai besar, bahkan ada yang menyatakan bahwa ilmu pedang ini sesumber dengan ilmu pedang dari Thian-san-pai yang banyak dikagumi orang. Tosu ini menghadapi Swi Kiat dan mengulur tangan mencabut keluar sebatang pedang tipis.

"Orang muda, majulah untuk menerima hukuman dari dosa yang diperbuat oleh gurumu," katanya perlahan.

Swi Kiat tidak mengerti apa yang dimaksudkan dengan kata-kata ini, akan tetapi melihat betapa Kun Beng sudah mulai bertanding melawan Bian Kim Hosiang, dia pun menjura kepada ketua Kim-san-pai itu, lalu dengan sepasang kipasnya, dia melakukan penyerangan hebat. Bin Kong Siansu menggerakkan pedangnya dan sekali saja pedangnya bergerak, dua sinar berkelebat ke arah sepasang kipas di tangan Swi Kiat. Tentu saja pemuda ini terkejut dan tidak membiarkan kipasnya rusak dalam segebrakan saja. Sebagai seorang pemuda yang tinggi ilmu silatnya, dia sudah dapat melihat bahwa pedang lawannya tadi melakukan semacam gerak tipu seperti Goat-kan-ji-jit (Bulan Mengejar Dua Matahari) dan hendak menusuk bolong sepasang kipasnya. Maka cepat dia mengelak dan kini sepasang kipasnya mulai digerakkan dalam permaiann silat kipas yang amat lihai dari suhunya, yakni Im-yang San-hoat. Sepasang kipas ini dimainkan dengan gerakan yang saling bertentangan, misalnya kalau kipas kanan menyambar dari kanan, kipas kiri menyambar dari kiri, atau kalau yang pertama menyambar dari atas, yang ke dua menyusul dengan serangan dari bawah dan sebagainya.

Yang amat sukar adalah betapa lawan tidak dapat menduganya, yang kanan ataukah yang kiri yang menjadi penyerang sesungguhnya dan mana pula yang hanya pancingan belaka.

Namun Bin Kong Siansu ketua Kim-san-pai telah memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi. Tingkatnya masih melebihi Swi Kiat, demikian pula ilmu ginkang dan lweekangnya, maka dengan pedangnya yang digerakkan secara cepat dan kuat, dia dapat menggagalkan semua serangan balasan dari pemuda itu, sebaliknya dia terus menggencet lawannya.

Bagaimana dengan Kun Beng? Sama saja keadaannya dengan suhengnya. Kepandaian ketua Bu-tong-pai sudah sejajar dengan kepandaian tokoh-tokoh besar lainnya.

Biarpun Bian Kim Hosiang hanya mempergunakan toya terbuat daripada kain, namun setiap kali tombak di tangan pemuda itu terpukul senjata aneh ini, Kun Beng merasa telapak tangannya sakit-sakit.

Pak-lo-sian Siangkoan Hai tahu benar bahwa kedua orang muridnya takkan dapat mencapai kemenangan. Hal ini pun tidak dianggap memalukan, karena dia sudah tahu bahwa dia sendiri kiranya takkan mudah mengalahkan ketua-ketua dari Kiam-san-pai dan Bu-tong-pai itu, apalagi kedua muridnya itu boleh di bilang sudah patut dipuji, karena menghadapi dua orang ciangbunjin itu masih dapat mempertahankan diri sampai lima puluh jurus! Pula, semenjak tadi sebagai guru, Pak-lo-sian memperhatikan semua gerakan ilmu silat muridnya dan dia tidak melihat adanya kesalahan-kesalahan. Mereka terdesak bukan karena kalah lihai ilmu silat yang mereka pelajari, hanya karena tingkat mereka masih kalah tinggi, baik dalam hal tenaga dalam mau pun kecepatan atau pengalaman bertempur. Ia pun tidak gelisah ketika pada saat hampir bersamaan Swi Kiat tersabet pedang pundaknya sehingga pemuda ini terhuyung-huyung lalu roboh mandi darah dan Kun Beng mengeluh kesakitan ketika pangkal pahanya terpukul oleh toya kain yang kadang-kadang keras seperti baja itu sehingga pemuda ini pun roboh. Pak-lo-sian dapat melihat bahwa luka-luka yang diderita oleh dua orang muridnya itu tidak berbahaya. Akan tetapi alangkah kagetnya ketika dia melihat dua orang pendeta itu memburu maju dan mengangkat senjata untuk membinasakan dua orang muridnya. Pucatlah wajah Pak-lo-sian Siangkoan Hai. Dia adalah seorang tokoh besar yang tidak mau berlaku curang atau menyalahi peraturan biarpun kedua orang muridnya terancam bahaya maut, namun baginya lebih baik kematian dua muridnya atau biarpun dia sendiri akan mati, dia tidak nanti akan melanggar peraturan yang jujur.

Kwan Cu melihat dua orang pemuda itu menghadapi bahaya maut, otomatis hendak bergerak, akan tetapi dia kalah dulu oleh Liok-te Mo-li, wanita seperti setan yang pernah dijumpainya, yakni ibu dari Kong Hoat, nelayan muda yang "cengeng" itu. Nenek ini melompat dan ginkangnya memang amat hebat sehingga sekali melompat ia telah berada di tengah lapangan.

"Traaang!" Pedang di tangan Bin Kong Siansu sampai mengeluarkan bunga api ketika terbentur dengan tongkat hitam yang dipegang oleh Liok-te Mo-li ketika nenek ini menangkis tusukan pedang ketua Kim-san-pai yang diarahkan ke tenggorokan Swi Kiat, sedangkan tongkat itu bergerak lagi amat cepatnya menangkis toya kain di tangan Bian Kim Hosiang! Ketua Bu-tong-pai dan Kim-san-pai terkejut sekali.

Tenaga nenek ini ternyata bukan main hebatnya dan melihat wajah nenek ini, mereka merasa bulu tengkuk mereka berdiri. Memang Liok-te Mo-li berwajah menyeramkan, apalagi pada saat itu ia sedang marah, maka wajahnya menjadi lebih hebat lagi. Kedua orang tokoh besar dunia kang-ouw itu terheran-heran karena selamanya mereka belum pernah melihat nenek aneh ini.

"Siapakah kau dan mengapa kau mencampuri urusan pertandingan yang dilakukan dengan jujur?" membentak Bian Kim Hosiang ketua Bu-tong-pai dengan marah.

Liok-te Mo-li tertawa, suara ketawanya juga amat menyeramkan, karena biarpun perlahan saja namun amat menusuk anak telinga.

"Hi-hi-hi! Aku mendengar bahwa kalian adalah ketuaketua partai besar Bu-tong-pai dan Kim-san-pai, mengapa seganas itu hatimu? Aku tidak peduli tentang pertempuran antara kedua fihak dan kedatanganku ini adalah karena undangan dari Kiam Ki Sianjin. Akan tetapi, biarpun di dalam undangan disebutkan akan diadakan musyawarah besar, kenyataannya apa yang kulihat? Pertandinganpertandingan yang berat sebelah! Tadi kulihat kakek seperti siluman yang kukunya panjang itu menghina seorang nona muda, sekarang kulihat pula dua ekor monyet tua menghina dua orang muda dan hendak membunuhnya! Aku tidak memihak siapa-siapa, akan tetapi melihat orang-orang muda dihina orang-orang tua bangka, aku Liok-te Mo-li tidak nanti tinggal diam saja!"

Terkejutlah dua orang ketua partai ini mendengar nama ini. Nama ini sudah amat terkenal sebagai nama yang amat menakutkan karena sepak terjang Liok-te Mo-li memang aneh dan kadang-kadang mendirikan bulu roma saking hebatnya. Sebelum mereka sempat membuka mulut, tibatiba dari rombongan Kiam Ki Sian-jin melompat dua orang, yakni Hek-i Hui-mo dan Coa-tok Lo-ong. Dua kakak beradik seperguruan dari Tibet ini memandang dengan marah. Terdengar suara Kiam Ki Sianjin yang memang menyuruh dua orang kawannya ini maju.

"Ji-wi Bengcu (dua ketua) dari Bu-tong-pai dan Kim-sanpai harap mengundurkan diri dan biarkan Hek-i Hui-mo dan sutenya menghadapi nenek yang usil tangan dan gatal mulut ini!"

Karena kedatangan ketua Bu-tong-pai dan Kim-san-pai ke tempat itu memang hanya bertujuan membalaskan sakit hati mereka atas kematian murid mereka dan mereka tidak ingin melibatkan diri dalam permusuhan dengan golongan atau orang-orang lain, keduanya lalu mengangkat pundak dan mengundurkan diri. Adapun Pak-lo-sian Siangkoan Hai mempergunakan kesempatan itu untuk melompat ke depan dan menyambar tubuh dua orang muridnya yang terluka untuk dirawat.

Hek-i Hui-mo sudah pernah bertemu dengan Liok-te Moli, bahkan dulu pernah dia bertempur dengan nenek ini ketika Liok-te Mo-li membasmi gerombolan perampok di daerah Tibet dan karena kepala perampok itu terhitung "anak buah" dari Hek-i Hui-mo maka terjadi bentrok di antara mereka. Namun pertempuran itu masih belum diketahui mana yang kalah dan mana yang menang karena Liok-te Mo-li keburu melarikan diri setelah melihat fihak Hek-i Hui-mo mengerahkan seluruh anak buahnya untuk mengeroyoknya.

"Hm, Hek-i Hui-mo, siluman jahat! Dengan adanya kau di sini, mudah di ambil kesimpulan fihak mana yang tidak benar! Manusia macam kau tentu selalu membantu yang jahat," kata Liok-te Mo-li. "Kau hendak mengeroyokku seperti dulu? Kau sekarang sudah mengekor kepada bala tentara kerajaan? Nah, terimalah hadiahku ini!" Sambil berkata demikian, Liok-te Mo-li yang tiba-tiba naik darahnya melihat Hek-iHui-mo, menggerakkan kedua tangannya sambil mengempit tongkatnya. Sinar lembut melayang dari kedua tangannya, langsung menyerang Hek-i Hui-mo, Coa-tok Lo-ong dan para kawan mereka yang berdiri di rombongan Kiam Ki Sianjin.

Hek-i Hui-mo, Coa-tok Lo-ong, dan tokoh-tokoh besar seperti Kiam Ki Sian-jin dan lain-lain cepat mengebutkan ujung lengan baju dan ada yang mengelak ketika jarumjarum halus itu menyambar, akan tetapi beberapa orang yang kurang tinggi kepandaiannya tidak sempat lagi menghindarkan diri. Tiga orang perwira pengikut Kiam Ki Sianjin menjerit dan roboh dengan muka berubah pucat.

Nyawa mereka sukar ditolong karena jarum-jarum ini telah memasuki tubuh dan bergerak melalui jalan darah, langsung menyerang urat-urat nadi yang berbahaya! "Aduh celaka, Liok-te Mo-li tidak dapat menahan nafsu dan membuat gara-gara!" kata Kwa Ok Sin sambil berdiri dan membanting-banting kakinya. Jeng-kin-jiu juga menggeleng-geleng kepala, akan tetapi tidak bisa berbuat sesuatu karena hal itu sudah terjadi tanpa dapat dicegah lagi.

"Tiga orang itu takkan dapat diselamatkan lagi," kata Yok-ong perlahan kepada Kwan Cu. Pemuda ini sudah hendak bangun dan membantu Liok-te Mo-li ketika melihat nenek ini dikeroyok oleh Hek-i Hui-mo dan Coa-tok Loong, akan tetapi tiba-tiba pundaknya dipegang oleh Yokong yang berbisik, "Jangan bergerak. Mereka terlalu lihai, aku sendiri pun tidak berani sembarangan bergerak. Liok-te Mo-li mencari penyakit sendiri dan memperbesar permusuhan. Kita lihat saja bagaimana perkembangannya nanti."

Biarpun Kwan Cu tidak takut sedikitpun juga menghadapi tokoh-tokoh besar di fihak Kiam Ki Sianjin, akan tetapi dia pikir bahwa omongan Yok-ong ini betul juga, maka dia berdiam diri. Betapapun juga, sepak terjang Liok-te Mo-li tidak dia setujui, biarpun nenek ini membela keadilan, akan tetapi dia terlalu ganas sehingga sekali turun tangan ia telah menewaskan tiga orang perwira yang sebetulnya tidak tahu apa-apa.

Sementara itu, Hek-i Hui-mo dan Coa-tok Lo-ong telah maju dan mengeroyok Liok-te Mo-li. Tentu saja nenek ini menjadi sibuk sekali. Memang kepandaiannya sudah tinggi, namun kepandaian Hek-i Hui-mo juga tidak boleh dibuat main-main. Apalagi selama beberapa tahun ini kepandaian Hek-i Hui-mo meningkat tinggi sekali, setelah dia mempelajari ilmu silat aneh dari kitab Im-yang Bu-tek Cinkeng yang palsu seperti yang dia dengar dibacakan oleh pujangga Tu Fu. Selain itu, dia dibantu oleh Coa-tok Loong yang tingkat kepandaiannya juga tidak lebih rendah daripada suhengnya dan Liok-te Mo-li. Kalau hanya menghadapi seorang di antara dua tokoh Tibet ini, agaknya pertandingan akan berjalan lebih ramai dan seimbang, akan tetapi dikeroyok dua seperti itu, Liok-te Mo-li benar-benar amat terjepit dan terdesak.

Sepasang senjata Hek-i Hui-mo amat berbahaya, yakni seuntai tasbih di tangan kiri dan sebatang Liong-thouw-tung (Tongkat Kepala Naga) di tangan kanan. Ia melakukan serangan bertubi-tubi dengan kedua senjatanya, setiap serangan cukup keras untuk menghancurkan batu karang.

Adapun Coa-tok Lo-ong mainkan senjatanya yang mengerikan, yakni sebatang tongkat yang sebetulnya adalah seekor ular berbisa yang masih hidup! Ular hidup ini tadinya dia simpan di dalam saku bajunya yang lebar dan ular itu tidak dapat bergerak karena memang sudah ditekan pusat tulang belakangnya sebelum digulung dan dikantongi.

Sekarang dia buka totokan pada tubuh ular itu dan dengan memegangi ekornya dia mainkan ular itu dengan hebatnya! Dapat dibayangkan sendiri betapa berbahayanya senjata seperti ini karena selain dikerahkan dengan penyaluran tenaga lweekang sehingga dapat dipakai memukul dan menotok, juga ular itu sendiri bergerak-gerak sambil mengeluarkan semburan bisa sehingga sukar sekali dihadapi.

Baiknya Liok-te Mo-li amat besar tenaganya sehingga ketika dia memutar tongkatnya, angin menderu dan debu beterbangan, tubuhnya terbungkus oleh sinar tongkat dan debu. Namun dia sudah tua, keuletan tenaganya terbatas dan sebentar saja setelah dapat mempertahankan selama delapan puluh jurus, ia mulai terengah-engah. Liok-te Mo-li terkejut menghadapi kenyataan betapa majunya kepandaian Hek-i Hui-mo dan bahwa sute dari pendeta Tibet ini pun lihai sekali. Ia maklum bahwa akhirnya ia akan kalah dan roboh juga, maka diam-diam ia mengeluarkan sesuatu dari saku jubahnya.

Tak terasa lagi Kwan Cu memegangi tangan Yok-ong yang dekat dengan lengannya. Kwan Cu memandang ke arah Liok-te Mo-li dengan wajah ngeri, sebaliknya Yok-ong terkejut bukan kepalang ketika merasa betapa tangannya diremas oleh tangan Kwan Cu. Ia merasa betapa tulangtulang tangannya seperti akan remuk. Dari tangan pemuda itu keluar hawa yang luar biasa sekali sehingga raja tabib ini merasa seluruh lengannya lumpuh, sebentar panas sekali dan sebentar pula dingin bukan main. Ia melongo dan memandang kepada Kwan Cu, lalu dia mencoba mengerahkan seluruh hawa murni dan tenaga lweekang dari tubuhnya untuk melawan tenaga yang keluar dari tangan Kwan Cu. Akan tetapi alangkah kaget dan herannya ketika lweekangnya tidak kuat menghadapi tekanan itu! Akan tetapi perlawanannya menginsyafkan Kwan Cu bahwa tanpa disengaja dia telah memijit tangan Yok-ong dengan pengerahan tenaga sakti Im-yang Bu-tek Sin-kang yang dia pelajari dari kitab rahasia itu, maka cepat-cepat dia melepaskan pegangannya. Untuk mengalihkan perhatian Yok-ong, dia segera berbisik, "Locianpwe, apakah yang dikeluarkan oleh Liok-te Mo-li itu?" Sebenarnya dia sudah melihat nyata bahwa nenek itu mengeluarkan daun Liong-cu-hio, daun aneh yang amat mengerikan itu, daun yang mengandung bisa luar biasa sekali dan boleh disebut raja dari sekalian bisa! Benar saja, perhatian Yok-ong tertuju kepada nenek itu dan sekali pandang saja muka Yok-ong menjadi pucat.

"Ahhh, mungkinkah ia memegang Liong-cu-hio? Celaka sekali....... !" Ia hendak melompat dan mencegah nenek itu mempergunukan daun itu, namun terlambat. Sambil tertawa-tawa aneh Liok-te Mo-li tiba-tiba melontarkan belasan helai daun itu kearah lawannya dan orang-orang yang berdiri di rombongan Kiam Ki Sianjin! Coa-tok Lo-ong dan Hek-i Hui-mo adalah tokoh-tokoh kenamaan yang sudah tidak asing lagi dengan segala macam bisa, maka mencium bau aneh dari daun-daun itu, mereka cepat melompat tinggi untuk menghindarkan diri.

Kemudian, dengan tongkatnya, Hek-i Hui-mo mengemplang dari atas, tepat mengenai pergelangan tangan kiri nenek itu.

"Krak!" remuklah pergelangan lengan itu sedangkan ular di tangan Coa-tok Lo-ong juga berhasil memagut leher nenek itu. Liok-te Mo-li menjerit dan terhuyung mundur, akan tetapi jeritnya disusul oleh suara ketawanya yang mendirikan bulu roma dan tiba-tiba tangan kanannya menyebarkan beberapa helai daun lagi sambil menggigit tongkatnya! Kemudian, secepat kilat, dibarengi suara ketawanya yang menyayat hati, sebelum dua orang lawannya sempat menyerang, ia mengemplang kepalanya sendiri dengan tongkat yang dipegangnya. Ia roboh dengan kepala pecah dan tidak bernyawa lagi.

Akan tetapi, akibat dari penyebaran daun-daun itu hebat bukan main. Teriakan-teriakan ngeri terdengar ramai sekali di rombongan Kiam Ki Sianjin dan belasan orang perwira dan anak murid Bu-tong-pai dan Kim-san-pai roboh dengan tubuh hangus! Sekali saja terkena sambitan daun itu, hanguslah bagian tubuh yang terkena dan sebentar lagi seluruh tubuh menjadi hangus seperti terbakar! Yang hebat lagi, orang lain yang hendak menolong, baru saja menjamah tubuh kawan yang hangus itu, menjerit dan tangannya menjadi hangus pula! Tentu saja para tokoh yang berkepandaian tinggi, dapat menyelamatkan diri dan dapat mengelak dari sambaran daun-daun itu, akan tetapi kali ini kerugian mereka benarbenar hebat sekali sehingga di fihak Kiam Ki Sianjin menjadi gempar. Kiam Ki Sianjin sendiri marah bukan main. Ia menantang pihak Pak-lo-sian Siangkoan Hai.

"Pak-lo-sian jangan enak-enakan mengandalkan campur tangan dari luar! Hayo keluarkan lagi jago-jagomu!"

Coa-tok Lo-ong lalu mempergunakan sebatang pisau kecil untuk menusuk-nusuk daun-daun Liong-cu-hio itu, lalu dibungkuslah daun-daun itu dengan hati-hati dan disimpannya di saku baju. Ia kelihatan girang sekali mendapatkan daun-daun yang berbahaya ini.

"Lebih celaka lagi kalau daun-daun itu disimpan oleh manusia seperti itu." kata Yok-ong perlahan. Wajah orang tua ini kelihatan gelisah sekali melihat akibat pertempuran yang demikian mengerikan.

Pak-lo-sian telah menanggalkan baju luarnya. Ia melihat betapa dua orang muridnya telah terluka. Sui Ceng telah terluka pula. Dua orang murid Kun-lun-pai yang masih ada tidak boleh diandalkan, maka dia hendak maju sendiri.

"Nanti dulu, Pak-lo-sian. Ingat bahwa kau adalah wakil kami, maka kau harus maju terakhir. Biarkan pinto maju lebih dulu untuk membalas kematian murid-murid pinto," kata Seng Thian Siansu.

Pak-lo-sian menggeleng kepalanya. "Tidak bisa, Siansu.

Kau adalah orang tertua maka berilah kesempatan kepadaku yang lebih muda."

"Omongan apa yang kalian keluarkan ini? Akulah yang akan maju lebih dulu." kata Kiu-bwe Coa-li.

"Tidak bisa!" bantah Pak-lo-sian.

"Tar! Tar! Tarrr!" Cambuk Kiu-bwe Coa-li berbunyi.

"Aku maju lebih dulu dan habis perkara!" Kata-katanya ini disusul oleh gerakannya yang amat cepat dan tahu-tahu ia telah berada di tengah lapanganan.

Melihat majunya Kiu-bwe Coa-li yang dianggap sebagai pembunuh murid mereka. Bian Kim Hosiang dan Bin Kong Siansu naik darahnya dan serentak mereka maju lagi sebelum didahului oleh orang lain. Hal ini menggirangkan hati Kiam Ki Sianjin sehingga dia memberi isyarat mencegah Hek-i Hui-mo yang hendak maju. Memang inilah maksud dari Kiam Ki Sianjin, yakni hendak mengadukan mereka. Ia tahu betul akan kelihaian Kiu-bwe Coa-li.

"Bagus, sekarang kami mendapat kesempatan membalas kematian murid-murid kami!" seru Bian Kim Hosiang yang cepat menyerang. Kini Bian Kim Hosiang ketua Bu-tongpai ini tidak lagi mempergunakan toya yang dibuatnya dari kain, melainkan dia menyambar sebuah toya kuningan yang aseli, yakni senjatanya yang sejak tadi dibawa-bawa oleh seorang muridnya. Serangan toyanya amat hebat dan sambaran senjatanya ini mendatangkan angin yang berbunyi mengaung. Namun Kiu-bwe Coa-li tidak menjadi gentar, bahkan sambil mengeluarkan suara ejekan dari hidungnya, dia mengelak dan membalas. Sembilan ekor cambuknya menari-nari di udara, masing-masing mengeluarkan bunyi yang nyaring dan mengurung tubuh ketua Bu-tong-pai itu dari segala jurusan dengan totokantotokan mautnya! Sebentar saja kedua orang tokoh besar itu telah saling serang sambil mengerahkan seluruh tenaga dan mempergunakan seluruh kepandaian mereka yang amat tinggi.

Bin Kong Siansu ketua Kim-san-pai juga amat benci kepada Kiu-bwe Coa-li yang dianggap membunuh sutenya secara curang, maka dia pun lalu menggerakkan pedangnya mengeroyok. Perlu diketahui bahwa dua orang pendeta yang tewas secara aneh, yaitu Bin Hong Siansu adalah sute dari Bin Kong Siansu, sedangkan yang keduanya, yakni Bian Ti Hosiang adalah murid kepala dari Bian Kim Hosiang. Mereka adalah orang-orang penting dari kedua partai persilatan itu, maka kematian mereka mendatangkan kegemparan dan dendam yang hebat.

Sejak tadi, Pak-lo-sian sudah beberapa kali mendengar ucapan kedua orang ketua partai persilatan itu, maka diamdiam dia merasa amat heran dan tidak mengerti mengapa mereka menyebut dia dan Kiu-bwe Coa-li sebagai pernbunuh-pembunuh curang. Kini melihat Kiu-bwe Coa-li dikeroyok dua orang, dia menjadi penasaran dan cepat dia melompat ke dalam gelanggang pertempuran, mempergunakan kipasnya menangkis pedang di tangan Bin Kong Siansu sambil berseru.

"Bin Kong Siansu, tahan dulu!"

Bin Kong Siansu menjadi makin marah melihat majunya Pak-lo-sian. Memang Kiu-bwe Coa-li dan Pak-lo-sian yang dicarinya maka dia bersama ketua Bu-tong-pai datang di situ.

"Kebetulan sekali, kau harus mampus bersama siluman wanita itu!" bentaknya sambil menyerang.

"Nanti dulu, Siansu. Kau dan Bian Kim Hosiang agaknya amat membenci kami berdua, ada apakah?"

"Masih berpura-pura? Benar-benar tua bangka jahanam tak tahu malu. Kau dan Kiu-bwe Coa-li secara curang dan tak bermalu telah membunuh suteku dan murid kepala dari Bu-tong-pai, sekarang masih berpura-pura tanya lagi?" jawab ketua Kim-san-pai sambil menyerang terus.

"Eh, eh, eh, omongan kosong apa yang kaukeluarkan ini?" tanya Pak-lo-sian dan lagi-lagi dia menangkis.

"Kami ada bukti dan saksi, tak perlu banyak mulut lagi.

Kalau kau berani, terimalah ini!" Bin Kong Siansu menyerang untuk ketiga kalinya dan kali ini serangannya amat hebat sehingga terpaksa Pak-lo-sian melayaninya.

"Kalau kau menyerangku sebagai seorang yang berfihak kepada penjilat kaisar, aku akan mengadu nyawa denganmu. Akan tetapi kau menyerangku karena salah sangka, aku tidak mau melayanimu." Sambil berkata demikian, Pak-lo-sian hendak meninggalkan lawannya.

Sebelum - Beranda - Lanjut

Tidak ada komentar:

Posting Komentar