"Tidak ada lain jalan yang lebih baik," akhirnya Bi-kwi berkata setelah mendengarkan pendapat Sim Houw dan Bi Lan, "kecuali menggunakan siasat bersahabat. Kalau kita mempergunakan kekerasan menyerbu, tentu anak itu akan disingkirkan lebih dulu dan kalau sudah demikian, sukarlah bagi kita untuk mencarinya. Tanpa bukti adanya anak itu, kita tidak mampu berbuat apa-apa terhadap Sin-kiam Mo-li. Maka, mengingat bahwa ia adalah anak angkat dari mendiang Kim Hwa Nio-nio, paling baik kalau aku datang berkunjung sebagai seorang sahabat, sebagai seorang dari satu golongan."
"Akan tetapi, suci! Siapa bilang engkau satu golongan dengan orang macam Sin-kiam Mo-li yang kini bergabung dengan para pemberontak Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-kauw? Mereka adalah orang-orang jahat, dari golongan sesat, sedangkan engkau...."
Bi-kwi melambaikan tangan. "Sudahlah, sumoi. Lupakah engkau siapa aku ini dahulu? Memang aku telah mencuci tangan dan hatiku, akan tetapi semua ini hanya dipergunakan sebagai siasat saja. Mengingat bahwa aku adalah murid Sam Kwi, tentu ia mau menerimaku sebagai tamu, apa lagi mengingat bahwa aku pernah bekerja sama dengan ibu angkatnya. Tentu ia ingin sekali mendengar dari mulutku sendiri yang dulu bekerja sama dengan Kim Hwa Nio-nio, tentang perkelahian itu dan bagaimana ibu angkatnya tewas. Nah, sebagai tamu, aku tentu akan dapat bertemu dengan anak itu kalau memang benar anak itu berada di sana. Ia tentu tidak akan merahasiakan adanya anak itu di sana terhadapku yang sama sekali tidak akan dicurigainya. Kalau sudah demikian, berarti kita memperoleh dua keuntungan. Pertama, akan ada kepastian apakah anak itu berada di sana dan ke dua, aku sudah mengenal jalan yang aman memasuki daerah itu."
Sim Houw mengangguk-angguk dan Bi Lan merasa girang sekali. "Ah, bagus sekali, suci. Agaknya memang itulah jalan terbaik bagi kita. Untung sekali bahwa engkau telah ikut membantu kami, suci."
"Aih, sumoi, jangan memuji dulu. Ini baru rencana, simpanlah pujianmu sampai kita berhasil."
Mereka bercakap-cakap sampai jauh malam dan diam-diam Sim Houw maupun Bi Lan melihat kenyataan betapa wanita yang dulunya menjadi iblis betina itu kini benar-benar telah berubah. Apalagi ketika Bi-kwi bercerita tentang Yo jin, di dalam kata-katanya itu penuh berhamburan nada cinta kasih yang mendalam terhadap suaminya itu sehingga Bi Lan merasa terharu sekali.
Kebaikan tidak mungkin dilatih atau dipelajari. Kebaikan tidak mungkin dilakukan dengan sengaja karena kalau kebaikan dilakukan dengan sengaja, dengan kesadaran bahwa perbuatan itu merupakan kebaikan, maka itu bukan lagi kebaikan namanya, melainkan perbuatan yang sudah teratur dan karenanya berpamrih. Dan perbuatan apapun yang mengandung pamrih, dapatkah dinamakan kebaikan? Yang dinamakan pamrih adalah harapan untuk mencapai sesuatu demi keuntungan diri pribadi, baik itu keuntungan lahir maupun keuntungan batin.
Segala bentuk perbuatan, yang dinamakan baik maupun buruk, adalah akibat dari pada keadaan pikiran, keadaan batin. Baik buruknya setiap perbuatan ditentukan oleh keadaan batin. Oleh karena itu, bukan perbuatan yang harus dirobah, yang harus dilatih atau dipelajari karena perbuatan hanya merupakan akibat dari keadaan batin. Yang perlu dirobah adalah batin sendiri, keadaan batin itu sendiri. Bukan dirobah oleh kita, karena kalau demikian, hal itu merupakan suatu perbuatan berpamrih yang lain. Bukan dirobah, melainkan BEROBAH! Jadi, perbuatan yang dinamakan perbuatan baik tidak terpisah dari keadaan batin, demikian perbuatan yang dinamakan buruk atau jahat. Batinlah yang menentukan, keadaan batin yang mendorong setiap perbuatan. Kalau batin tenang dan bersih, dapatkah kita melakukan perbuatan yang buruk dan jahat? Sebaliknya, kalau batin keruh dan kacau, mana mungkin kita dapat melakukan perbuatan bersih dan baik?
Dan batin baru dalam keadaan hening, tenang, bersih, berimbang, tegak dan lurus, bersih dan bening, kalau tidak dikeruhkan dan disibukkan oleh pikiran! Pikiranlah yang membentuk AKU dan si aku inilah yang merajalela mengaduk batin, dengan segala keinginannya, mengejar dan mengulang kesenangan, mengelak dan menjauhi yang tidak menyenangkan. Si aku menyeret batin ke dalam lingkaran setan yang tiada berkeputusan antara baik dan buruk, senang dan susah, puas dan kecewa, suka dan duka, dan setiap saat batin menjadi keruh, menjadi sumber dari segala rasa takut, marah, benci, iri, tamak, prasangka yang menjadi permainan si aku dan akhirnya hanya duka dan sengsara yang menjadi bunga kehidupan kita.
Untuk dapat menyelami semua ini, kita hanya tinggal menjenguk isi batin sendiri, mengamati batin kita sendiri saat demi saat, hidup dalam keadaan sekarang ini, menghapus yang lalu dan menyingkirkan yang akan datang agar kita dapat sepenuhnya hidup di saat ini. Pengamatan terhadap diri sendiri lahir batin sajalah yang akan membuat kita waspada, tidak lagi menjadi boneka permainan nafsu, tidak ada lagi si aku merajalela dan yang ada hanyalah kewaspadaan dan kesadaran.
***
Belum lama setelah Sim Houw, Bi Lan dan Siu Kwi (Bi-kwi) pergi meninggalkan daerah tempat tinggal Sin-kiam Mo-li, menjelang sore, nampaklah seorang pemuda datang ke tempat itu seorang diri saja. Pemuda berusia duapuluh satu tahun kurang lebih, bertubuh tegap dengan muka bersih cerah, tampan, dengan pakaian sederhana berwarna biru. Pemuda ini adalah Gu Hong Beng! Bagaimana pemuda itu tiba-tiba saja dapat muncul di sini?
Kiranya Hong Beng mendengar ketika Kao Cin Liong bercerita kepada Suma Ciang Bun tentang Sin-kiam Mo-li seperti yang diceritakan oleh Bi Lan betapa Bi Lan dan Sim Houw hendak melakukan penyelidikan kepada wanita iblis itu yang mencurigakan dan mengingat bahwa wanita itu adalah anak angkat mendiang Kim Hwa Nio-nio maka patut dicurigai sebagai penculik Hong Li untuk membalas dendam atas kematian ibu angkatnya.
Mendengar cerita tentang Sin-kiam Mo-li ini, yang menurut penuturan dalam percakapan itu tinggal di kaki Heng-tuan-san di tepi Sungai Cin-sa tapal batas Propinsi Se-cuan, hati Hong Beng tertarik sekali. Penculik itu telah diketahui, dan kini Bi Lan, Bi-kwi dan Sim Houw pergi ke sana! Hatinya merasa tidak puas dan bahkan tidak enak. Bagaimana keluarga Kao percaya kepada tiga orang itu, terutama kepada Bi-kwi? Tidak sepatutnya dan tidak semestinya kalau tugas menyelamatkan diserahkan kepada tiga orang yang masih amat meragukan itu. Siapa tahu mereka itu bahkan akan bersekutu dengan Sin-kiam Mo-li, maklum sama-sama sesat! Dan timbul pula rasa iri di dalam hatinya. Sepantasnya dialah yang pergi menyelamatkan Hong Li dan mempertaruhkan nyawa untuk membela keluarga itu! Bukan orang orang macam Sim Houw, Bi Lan dan Bi-kwi!
Pikiran inilah yang mendorong Hong Beng untuk berpamit kepada gurunya setelah mereka meninggalkan Pao -teng. Kepada suhunya dia hanya mengatakan bahwa dia ingin merantau meluaskan pengetahuannya dan minta waktu selama satu tahun, baru dia akan menyusul suhunya. Suma Ciang Bun menyetujui dan merekapun saling berpisah. Setelah melakukan perjalanan seorang diri, Hong Beng mempergunakan ilmu berlari cepat menuju ke barat. Dia ingin mendahului Sim Houw, Bi Lan dan Bi-kwi untuk lebih dulu di tempat tujuan dan lebih dahulu menyelamatkan Kao Hong Li.
Maka ketika pada siang hari menjelang sore itu dia tiba di tempat tujuan, dia segera akan memulai dengan usahanya mencari Hong Li, tidak tahu bahwa baru beberapa jam yang lalu, tiga orang yang hendak didahuluinya itu baru saja meninggalkan tempat itu. Juga dia tidak tahu bahwa kini di rumah Sin-kiam Mo-li terdapat tujuh orang tosu Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-kauw yang amat lihai. Kalau saja Hong Beng bertindak lebih hati-hati, tentu dia akan memeriksa keadaan sekeliling dan akan melihat belasan anak buah Pek-lian-kauw yang berada di sebelah selatan hutan.
Dengan penuh semangat, penuh keberanian akan tetapi cukup berhati-hati, Hong Beng memasuki hutan pertama di kaki Pegunungan Heng-tuan-san itu. Dari jauh tadi dia sudah melihat genteng rumah besar di antara gerombolan pohon di lereng itu dan menduga bahwa itulah rumah Sin-kiam Mo-li yang dicarinya. Diapun melihat hutan yang pohon-pohonnya tumbuh teratur, bukan seperti hutan biasa dan dia dapat menduga bahwa hutan ini adalah hutan buatan, maka dia harus bersikap hati-hati sekali.
Dia memasuki daerah itu dari bagian yang belum pernah didatangi orang, dan jebakan-jebakan di sini berbeda sifatnya dengan yang pernah menjebak orang-orang Cin-sa-pang, walaupun ada pula persamaannya. Ketika Hong Beng memasuki hutan pertama, dia melihat pohon-pohon besar dan tempat itu nampak gelap akan tetapi seperti tak pernah ada bahaya apapun. Dengan santai namun cukup waspada Hong Beng melangkah di antara pohon-pohon besar itu, melalui lorong yang agaknya membawanya ke tengah hutan, menuju ke rumah yang pernah dilihat gentengnya tadi. Akan tetapi setelah melewati belasan pohon, tiba-tiba lorong itu terhenti dan tertutup oleh pohon besar yang memenuhi jalan. Hong Beng melihat bahwa di belakang pohon itu penuh semak-semak belukar berarti bahwa lorong itu memang berhenti sampai di situ saja! Tentu saja dia menjadi penasaran. Melanjutkan perjalanan melalui lorong itu tak mungkin lagi karena semak-semak belukar di belakang pohon itu penuh dengan duri. Pasti ada jalan lain, pikirnya. Dengan hati-hati Hong Beng lalu meloncat ke atas pohon, dengan maksud untuk mencari jalan dengan mengintai dari atas pohon.
Akan tetapi, baru saja dia melihat-lihat ke kanan kiri, tiba-tiba hampir dia berteriak kesakitan dan tangannya menggaruk ke arah betis kirinya yang tiba-tiba terasa gatal dan panas sekali. Kiranya ada seekor semut merah yang besar sekali merayap dan menggigit betisnya. Sekali tepuk, semut itupun mati, akan tetapi rasa gatal pada betisnya itu semakin menghebat,
"Aduhh....! Aduhh....!" Hong Beng berseru ketika merasa betapa paha dan pundaknya juga terasa gatal panas digigit semut! Cepat dia meloncat turun dari atas pohon, melepaskan pakaiannya bagian luar dan sibuklah dia membunuhi belasan ekor semut merah yang sudah merayap ke dalam pakaiannya. Untung baru tiga tempat saja tergigit, di betis, paha dan pundak. Akan tetapi semut itu memiliki racun yang ampuh dan berbeda dengan semut-semut lain. Bekas gigitannya nampak membengkak merah dan rasanya gatal dan panas bukan main. Hong Beng cepat mengeluarkan obat anti racun yang selalu dibawanya, buatan suhunya, dan obat berupa minyak itu setelah digosokkan pada bekas gigitan seketika nyerinya hilang. Diapun mengenakan lagi pakaiannya setelah mengebut-ngebutkannya sampai bersih. Sambil memandang ke atas pohon, diam-diam dia bergidik. Entah berapa banyaknya semua-semut itu berada di sana, pikirnya. Dia masih belum menyangka bahwa semut-semut itu merupakan jebakan yang sengaja diatur oleh Sin-kiam Mo-li. Semut-semut itu didatangkannya dari lain tempat, dibiarkan hidup berkembang biak di pohon-pohon besar itu untuk mencegah musuh melakukan pengintaian dari atas pohon. Tentu saja tidak semua pohon menjadi tempat tinggal semut-semut merah beracun ini, hanya pohon di bagian hutan itu saja, karena pohon-pohonnya memang pohon yang disukai semut-semut itu.
Terpaksa Hong Beng kembali lagi, akan tetapi betapa herannya ketika dia mendapat kenyataan bahwa jalan yang dilaluinya sekarang nampaknya seperti bukan lorong yang dimasukinya tadi! Entah apanya yang berubah, akan tetapi lain sama sekali. Ketika ada jalan simpang empat, dia mengambil jalan ke kanan karena jalan ini yang nampaknya paling rapi dan bersih, memasuki taman rumput yang indah dan di sebelah sana nampak lagi hutan kecil dengan sebuah telaga kecil di tengahnya. Hong Beng bersikap hati-hati sekali. Dia berjalan di atas lapangan rumput sambil mengerahkan gin-kangnya sehingga ketika tiba-tiba rumput yang diinjaknya ambles ke bawah dan ternyata di bawah rumput itu terdapat lubang jebakan berupa sumur dan rumput itu hanya tumbuh di atas sumur dengan saling berkaitan akar saja! Untung bahwa sejak tadi Hong Beng bersikap waspada. Begitu kakinya merasa menginjak tempat kosong, cepat dia memindahkan tenaga dan berat tubuh ke kaki belakang sehingga dia mampu menarik kembali kaki depan. Dengan sebuah ranting yang dipungutnya di tepi jalan, dia mengorek rumput di depannya dan terbukalah lubang jebakan itu yang lebarnya satu setengah meter persegi! Ketika dia menjenguk ke bawah, dia bergidik ngeri melihat benda bergerak-gerak di dasar sumur. Ular-ular sedang menanti jatuhnya korban di bawah sana!
"Jahanam keji!" Dia menggerutu dan melanjutkan langkahnya, mengitari sumur itu, akan tetapi kini setiap langkahnya dilakukan dengan lebih hati-hati dan waspada lagi. Dia melewati dua lagi sumur jebakan yang tertutup rumput, dan pada sumur terakhir, bahkan ketika dia mengorek rumput membuka lubang, terdengar suara berdesing dan dari dalam lubang itu, mungkin alatnya dipasang di bawah rumput menyambar tiga batang anak panah ke atas. Kalau dia kurang hati-hati, tentu luput terjeblos sukar untuk terhindar dari sambaran anak panah beracun!
Kembali dia memasuki hutan dengan pohon yang besar besar dan kini cuaca di dalam hutan agak gelap karena memang matahari sudah condong ke barat dan sinarnya yang tidak begitu kuat agaknya tidak mampu menerobos daun-daun yang lembab. Ketika dia melangkah lagi, dia tidak melihat bahwa di depan kakinya terdapat sehelai tali hitam yang tingginya dua jengkal sehingga kalau ada orang lewat, bagaimanapun juga kakinya tentu akan tersangkut tali. Demikian pula dengan Hong Beng. Dia sudah waspada, namun dalam cuaca yang mulai remang-remang di dalam hutan lebat itu, bagaimana dia mampu melihat tali di bawah yang berwarna hitam dengan latar belakang tanah hitam dan rumput hijau tua? Tahu-tahu, kakinya tersangkut dan dari atas turun menimpa batu yang besar sekali! Kiranya tali itu kalau ditarik, mengakibatkan jatuhnya sebuah batu yang besarnya seperut kerbau bunting dan kalau menimpa kepala, tentu kepala itu akan remuk dan tubuh akan ikut menjadi gepeng!
Namun Hong Beng tidak menjadi gugup. Dengan cekatan, dia melompat ke depan dan batu itu jatuh dengan mengeluarkan suara keras sekali ke atas tanah, membuat tanah tergetar dan pohon-pohon bergoyang-goyang. Dan agaknya jatuhnya batu ini menimbulkan akibat lain dan mengerjakan alat-alat rahasia yang dipasang di situ karena tiba-tiba saja dari atas pohon-pohon di sekeliling Hong Beng juga berjatuhan batu yang besar-besar! Kini Hong Beng tidak berani meloncat lagi. Meloncat tanpa mengetahui apa yang akan diinjaknya di tempat lain, amat berbahaya, maka diapun memasang kuda-kuda dengan kedua kaki terpentang, lutut ditekuk dan diapun siap menanti datangnya hujan batu.
"Darrrr!" Sebongkah batu besar yang menimpa kepalanya, dihantamnya dengan tangan terbuka dan batu itupun pecah dan terlempar jauh. Masih ada lagi beberapa buah batu yang menghantamnya, namun semua dapat ditangkis oleh Hong Beng sehingga terlempar ke kanan kiri sedangkan tubuhnya sedikitpun tidak terguncang, hanya kedua kakinya yang ambles ke dalam tanah sampai ke pergelangan kaki saking beratnya batu yang menimpa dirinya tadi!
Setelah tidak ada lagi batu besar yang melayang turun, Hong Beng melanjutkan langkahnya dengan gagah, sedikitpun tidak merasa takut atau gentar walaupun dia tetap berhati-hati, sepasang matanya melirik ke kanan kiri, seluruh urat syarafnya siap siaga. Sementara itu, pergerakan jebakan-jebakan rahasia tadi tentu saja sudah diketahui oleh penghuni lembah itu dan diam-diam, tiga orang pelayan cantik sudah mengintai dan mengikuti semua gerak-gerik yang dilakukan Hong Beng.
Ketika melihat seorang pemuda yang demikian tampan dan gagah, Ang Nio, Pek Nio dan Hek Nio menjadi bengong terpesona. Apa lagi ketika mereka menyaksikan betapa dengan tenaganya Hong Beng menghadapi dan mengatasi semua jebakan yang dilaluinya, mereka bertiga memandang semakin kagum. Tiga orang gadis cantik ini baru berusia duapuluh lima tahun kurang lebih, dan mereka hidup di tempat terasing itu, maka tentu saja kadang-kadang mereka merasa kesepian dan butuh akan kehadiran seorang pria di samping mereka. Kadang-kadang Sin-kiam Mo-li membawa pulang seorang pemuda tampan dan kalau sudah bosan, sebelum dibunuh pemuda itu diberikan kepada mereka bertiga. Kadang-kadang mereka bertigapun diperkenankan mencari hiburan di dusun-dusun di bawah pegunungan. Akan tetapi yang mereka dapatkan hanyalah pemuda-pemuda dusun yang bodoh dan kasar. Maka, begitu melihat seorang pemuda yang demikian ganteng seperti Hong Beng, tentu saja mereka terpesona. Apa lagi melihat kegagahan pemuda itu.
"Eh, kenapa kalian bengong saja? Kalau dibiarkan, bisa rusak semua alat jebakan rahasia kita dan kita akan mendapat hukuman dan marah besar," kata Ang Nio kepada kedua orang temannya.
"Hayo kita serang dia!" kata Pek Nio.
"Akan tetapi jangan dibunuh, sayang kalau dibunuh...." kata Hek Nio sambil menarik napas panjang.
"Tolol, apa kaukira kamipun tidak dapat melihat kehebatan seorang pria? Akan tetapi jangan harap, Hek Nio. Pria seperti ini tentu takkan dilewatkan saja oleh majikan kita!" kata Pek Nio.
"Sudahlah, kalau kelak kita memperoleh sisanya pun masih untung!" kata Ang Nio sambil meloncat keluar. "Hayo serbu!"
Hong Beng menjadi terkejut, akan tetapi tidak gugup ketika tiba-tiba nampak tiga sosok bayangan berloncatan keluar dari balik batang pohon dan dia telah dihadang oleh tiga orang gadis yang cantik. Pakaian mereka menarik perhatiannya. Seorang berpakaian serba merah, ke dua serba putih dan ke tiga serba hitam. Akan tetapi, mengenakan pakaian warna apapun, mereka itu nampak anggun dan cantik.
Betapapun juga, Hong Beng adalah seorang pemuda yang sudah terbiasa bersikap sopan, apa lagi terhadap wanita. Dia merasa betapa dia telah melanggar wilayah orang lain, memasuki tempat orang tanpa ijin, maka dengan agak kikuk diapun menjura dengan hormat karena dia tidak tahu siapa adanya tiga orang gadis ini.
"Maafkan aku," katanya lembut. "Bukan maksudku untuk memasuki tempat orang tanpa ijin, akan tetapi sesungguhnya aku ingin bertemu dengan Sin-kiam Mo-li. Benarkah ia bertempat tinggal di daerah ini? Dan siapakah nona bertiga?"
Tiga orang gadis itu saling pandang dan tersenyum manis. Biasanya, mereka ini bersikap galak, akan tetapi menghadapi seorang pemuda tampan dan gagah, mendadak saja sikap dingin mereka mencair dan berubah hangat dan genit.
"Sobat yang gagah, engkau datang tanpa ijin akan tetapi membawa pertanyaan-pertanyaan! Apakah ini tidak terbalik? Tidakkah sepatutnya kami yang bertanya kepadamu siapa engkau dan apa maksud kedatanganmu ini?" jawab Ang Nio dengan pertanyaan dan suaranya terdengar merdu dan nadanya naik turun seperti orang bernyanyi, bibirnya tersenyum, wajahnya cerah dan matanya bermain dengan lincahnya.
Melihat sikap orang yang manis budi, Hong Beng kembali menjura kepada gadis yang pakaiannya serba merah itu. "Maaf, aku bernama Gu Hong Beng, akan tetapi aku tidak mempunyai urusan dengan nona bertiga. Aku datang untuk mencari Sin-kiam Mo-li, sekali lagi aku mengharapkan keterangan nona, apakah Sin-kiam Mo-li tinggal di sini?"
"Sicu (orang gagah) Gu Hong Beng, aku bernama Ang Nio."
"Aku Pek Nio," kata si baju putih.
"Dan aku Hek Nio," sambung si baju hitam.
Hong Beng merasa dipermainkan. Mana ada orang-orang memiliki nama yang disesuaikan dengan warna pakaiannya? Tentu nama samaran. Apa lagi melihat betapa mereka bertiga memperkenalkan nama sambil tertawa-tawa kecil, dia menganggap bahwa tiga orang gadis ini tentu sedang mempermainkannya.
"Gu-sicu, ada keperluan apakah engkau mencari beliau?" tanya Ang Nio sambil memainkan matanya yang jeli.
Hong Beng mulai mengerutkan alisnya. "Kurasa tidak ada urusannya dengan kalian bertiga. Katakan saja di mana Sin-kiam Mo-li, aku mempunyai urusan pribadi dengannya."
Ang Nio tersenyum. "Tidak mungkin, sicu. Setiap orang tamu yang hendak berkunjung, haruslah berurusan dengan kami bertiga terlebih dulu. Kami mewakili toanio, dan kami yang berhak menerima atau menolak tamu. Kalau sicu bersikap manis kepada kami, tentu kami akan mengantarmu menghadap beliau."
"Ada kami bertiga kenapa hendak menghadap toanio?" tiba-tiba Pek Nio dengan sikap genit berkata. "Kami akan dapat membuatmu merasa gembira!"
"Benar, sicu Gu Hong Beng yang ganteng, mari bersenang-senang dengan kami bertiga, besok kami akan mengantarmu menghadap toanio," kata Hek Nio dengan manis pula, dengan pandang mata penuh gairah.
Kerut merut di antara alis mata Hong Beng semakin mendalam. Barulah dia tahu apa artinya sikap manis dari tiga orang gadis ini. Kiranya mereka adalah gadis-gadis tak tahu malu yang hendak merayunya! Dan agaknya mereka ini murid-murid atau juga pelayan dari Sin-kiam Mo-li. Bangkitlah kemarahannya.
"Kalian perempuan-perempuan tak bermalu! Kalian kira aku ini orang macam apa? Kalau kalian tidak mau mengantarkan aku bertemu dengan Sin-kiam Mo-li, biarlah aku mencarinya sendiri!"
Berkata demikian, Hong Beng melanjutkan langkah kakinya. Akan tetapi, tiga orang wanita itu menghadang di tengah lorong dan mereka sudah memegang sebatang pedang.
"Agaknya engkau seorang yang tidak tahu dicinta orang! Baiklah, hendaknya kauketahui bahwa tanpa perkenan toanio, siapapun juga tidak mungkin dapat mendatangi rumah kami! Apakah engkau memilih mati di tangan kami dari pada menikmati kesenangan bersama kami?" kata Ang Nio.
"Ang-cici, jangan dibunuh, sayang, dia begitu tampan dan gagah," kata Pek Nio.
"Kita tawan dia dan seret ke depan toanio!" kata pula Hek Nio.
Tiga orang wanita itu lalu menerjang Hong Beng. Mereka hanya menyimpan pedang di balik lengan kanan, dan mereka menyerang dengan tangan kiri. Ada yang mencengkeram ke arah pundak, ada yang menampar ke arah leher dan memukul ke arah dada. Gerakan mereka cukup cepat dan gerakan tangan itupun mengandung tenaga yang kuat. Namun, bagi Hong Beng, serangan mereka itu tiada bedanya dengan serangan tiga orang anak kecil saja. Sekali dia memutar tubuh dan menggerakkan tangan, dia telah dapat mengelak dan menangkis tiga serangan itu. Bahkan Hek Nio dan Ang Nio yang terkena tangkisan lengan Hong Beng, hampir saja terpelanting jatuh saking kuatnya tenaga tangkisan pemuda itu.
Kini yakinlah tiga orang wanita itu bahwa pemuda ini memang lihai bukan main, maka merekapun cepat memutar pedang dan menggunakan senjata mereka untuk menyerang. Setelah mereka bertiga itu menyerang dengan pedang, Hong Beng melihat betapa ilmu pedang mereka hebat dan berbahaya. Teringatlah dia akan julukan majikan mereka, yaitu Sin-kiam Mo-li (Iblis Betina Pedang Sakti). Kalau majikan atau gurunya berjuluk Pedang Sakti, tidaklah mengherankan kalau tiga orang wanita ini memiliki ilmu pedang yang demikian hebat. Tiga batang pedang itu berubah menjadi tiga sinar bergulung-gulung yang menyerangnya dengan dahsyat dari tiga jurusan. Hong Beng harus mengerahkan gin-kangnya untuk membuat tubuhnya dapat bergerak dengan ringan dan cepat, mengelak ke sana-sini menyelinap di antara sambaran sinar-sinar pedang itu.
Memang dalam hal ilmu pedang, tiga orang gadis pelayan ini sudah mencapai tingkat yang cukup tinggi. Sin-kiam Mo-li telah melatih jurus-jurus ampuh kepada tiga orang pembantunya ini agar mereka menjadi pembantu dan penjaga yang lihai. Jarang ada orang mampu mengalahkan ilmu pedang mereka, apa lagi kalau mereka itu maju bersama seperti sekarang ini. Tidaklah terlalu aneh kalau kini Gu Hong Beng, murid dari keluarga Pulau Es, merasa repot didesak oleh tiga gulungan sinar pedang yang lihai itu. Hong Beng maklum bahwa kalau dilanjutkan perkelahian ini dengan kedua tangan kosong saja menghadapi tiga batang pedang itu, dia dapat celaka. Maka, ketika kembali tiga pedang itu menyerangnya dari tiga jurusan, depan, kanan dan kiri, tiba-tiba tubuhnya melayang ke belakang, bukan hanya untuk mengelak, melainkan dia berjungkir balik sampai jauh lalu menyambar sebatang ranting pohon yang dipatahkannya. Kini, dengan ranting yang sebesar lengan sepanjang pedang biasa, dengan terhias daun-daun, dia menghadapi tiga orang lawan itu dan begitu dia memutar ranting, tiga orang lawannya terkejut.
Biarpun hanya sebatang ranting, karena berada di tangan seorang ahli, maka ranting itu dapat menjadi sebuah senjata yang ampuh. Tiga batang pedang itu menyambar dan mencoba untuk membabat ranting itu agar patah. Namun, ranting itu dialiri tenaga sin-kang dari Hong Beng yang mempergunakan tenaga Swat-im Sin-kang (Tenaga Sakti Inti Salju).
"Tak! Tak! Tringgg....!" Tiga batang pedang itu tertangkis dan akibatnya, tiga orang wanita itu mengeluh dan terhuyung ke belakang. Nampak wajah mereka berubah pucat dan tangan mereka agak menggigil. Hawa dingin yang masuk tulang telah menyusup ke dalam tubuh mereka, terutama bagian lengan kanan yang memegang pedang. Tiga orang pelayan itu merasa kaget dan juga penasaran sekali. Memang tadipun mereka sudah tahu bahwa pemuda ini amat lihai, akan tetapi sungguh sukar mereka dapat percaya bahwa hanya dengan sebatang ranting di tangan, dalam segebrakan saja pemuda itu mampu membuat mereka terhuyung, melalui serangan tenaga sin-kang dingin yang demikian kuatnya!
"Bunuh orang berbahaya ini!" bentak Ang Nio.
"Orang tak mengenal kebaikan orang lain!" bentak Pek Nio.
"Engkau sudah bosan hidup!" Hek Nio juga berteriak.
Tiga orang wanita itu lalu menggerakkan tangan kiri mereka dan sinar-sinar kecil menyambar ke arah Hong Beng. Namun pemuda ini tidak merasa gugup. Dengan amat tenangnya, ranting di tangannya digerakkan dan sekaligus jarum-jarum halus yang menyambar dari jarak dekat itu dapat dipukul runtuh semua. Akan tetapi, tiga batang pedang yang gerakannya cepat dan mengandung tenaga sin-kang itu telah menyerangnya dari tiga jurusan karena tiga orang wanita cantik itu telah membentuk barisan segi tiga.
Hong Beng maklum bahwa tiga orang lawannya tidak boleh dipandang ringan, apa lagi dia berada di sarang harimau, di daerah lawan yang amat berbahaya karena tempat itu penuh dengan perangkap dan jebakan-jebakan rahasia. Maka, diapun cepat menggerakkan rantingnya untuk menangkis sambil mengelak ke sana-sini, amat hati-hati karena khawatir kalau-kalau kakinya akan terjeblos. Diapun tidak berniat membunuh tiga orang wanita yang tidak dikenalnya itu. Mereka ini, menurut dugaannya, tentulah pelayan pribadi atau murid-murid tokoh yang bernama Sin-kiam Mo-li itu. Dan dia belum melihat bukti bahwa Sin-kiam Mo-li benar orang yang telah menculik puteri keluarga Kao, maka tidak baik kalau sampai dia membuat-gara-gara membunuh tiga orang wanita ini. Ketika dia memperoleh kesempatan, ujung tongkat yang terbuat dari ranting sederhana itu berkelebat dengan kecepatan kilat, tiga kali menyambar dan pedang tiga orang wanita itupun terlepas dari pegangan disusul teriakan mereka karena lengan kanan mereka tiba-tiba menjadi kaku tak dapat digerakkan untuk beberapa detik lamanya. Ujung ranting itu telah menotok jalan darah di lengan mereka secara luar biasa sekali. Maklum bahwa mereka bukan lawan pemuda yang amat lihai itu, tiga orang pelayan cepat berloncatan menghilang di balik semak-semak tanpa memperdulikan pedang mereka. Mereka ingin cepat melapor kepada Sin-kiam Mo-li yang masih bercakap-cakap dengan tujuh orang tosu itu.
Hong Beng hendak mengejar tiga orang wanita itu untuk memaksa seorang di antara mereka mengantarnya bertemu dengan Sin-kiam Mo-li. Tanpa pengantar, dia tentu akan menghadapi jebakan-jebakan rahasia yang berbahaya. Akan tetapi, begitu dia meloncat ke dekat semak-semak, jalan itu buntu dan tidak nampak bayangan tiga orang wanita itu yang sudah menghilang seperti ditelan bumi saja.
Selagi dia kebingungan, tiba-tiba terdengar suara ketawa merdu. Cepat dia bersiap siaga dan memandang. Kiranya di depannya telah berdiri seorang gadis remaja berusia tigabelas atau empatbelas tahun, gadis yang wajahnya manis sekali, sepasang matanya lebar dan sinarnya berkilat dan bergerak-gerak lincah, tanda bahwa ia seorang gadis remaja yang lincah cerdik dan bengal.
"Hi-hik, engkau merasa bangga telah mengalahkan tiga orang tadi, ya? Hemmm, tak perlu menjadi sombong, karena tanpa penunjuk jalan, jangan harap engkau akan dapat memasuki daerah kami ini, hi-hik!"
Setelah berkata demikian, gadis cilik itu lalu meloncat ke kanan di mana terdapat sebuah lorong yang merupakan jalan setapak. Tentu saja Hong Beng tertarik sekali. Dia maklum bahwa ucapan anak itu memang benar, dan kini dia memperoleh seorang penunjuk jalan, yaitu gadis cilik itulah!
"Haiii, berhenti dulu!" teriaknya dan cepat dia mengejar. Girang hatinya melihat gadis cilik itu tidak begitu cepat larinya. Hong Beng bersikap cerdik. Tak perlu menyusul dan menangkap gadis itu, pikirnya, karena siapa tahu kalau ditangkap dan dipergunakan kekerasan untuk menjadi penunjuk jalan, gadis cilik itu malah tidak mau. Kini, mengikuti saja di belakang gadis itu tentu dia akan sampai juga ke tempat tinggal Sin-kiam Mo-li. Maka diapun pura-pura mengejar sambil berseru menyuruh berhenti, akan tetapi sengaja bergerak perlahan sehingga selalu berada di belakang gadis itu, mengikuti jejak kakinya, seolah-olah dia tidak pernah dapat menangkapnya! Gadis itu berlari terus, berloncatan ke sana-sini dan selalu diikuti jejaknya oleh Hong Beng.
"Haii, tunggu! Aku mau bicara denganmu!" teriak Hong Beng berkali-kali, teriakan yang merupakan siasatnya untuk membuat gadis itu berlari terus agar dia dapat mengikuti di belakangnya dengan aman. Tentu saja gadis ini sudah hafal akan jalan rahasia di tempat berbahaya ini dan mengikuti jejak gadis itu berarti aman.
Gadis cilik itu bukan lain adalah Kao Hong Li. Tadi ia melihat munculnya pemuda itu dan melihat pula betapa pemuda itu mengalahkan Ang Nio, Pek Nio, dan Hek Nio. Timbul kekhawatirannya karena pemuda itu ternyata lihai sekali. Tentu seorang musuh, mungkin seorang tokoh Cin-sa-pang yang amat lihai, yang berani datang seorang diri, tanpa senjata, hanya bersenjata ranting kayu namun dapat mengalahkan tiga orang pelayan yang lihai itu. Melihat ini, Hong Li merasa bahwa ia tak boleh tinggal diam saja. Sebagai murid dari subonya ia harus bertindak mencegah musuh ini. Akan tetapi, iapun maklum bahwa ilmu silatnya belum banyak selisihnya dengan tingkat para pelayan tadi sehingga menghadapi musuh ini dengan ilmu silat tidak akan ada artinya. Ia harus mempergunakan siasat dan akal, pikirnya. Maka muncullah gadis cilik itu mengejek dan memancing Hong Beng.
Hong Beng merasa girang dan mengira bahwa tentu kini tempat tinggal Sin-kiam Mo-li sudah dekat. Tiba-tiba gadis yang dikejarnya itu berhenti di depannya karena di depan gadis itu membentang sebuah kubangan lumpur yang amat lebar. Kiranya tidak mungkin untuk melompati kubangan yang demikian lebarnya, akan tetapi di sana-sini terdapat batu-batu menonjol. Batu-batu itu cukup untuk dipergunakan sebagai loncatan, pikir Hong Beng, sama sekali tidak khawatir. Dan dugaannya memang tepat. Gadis cilik itu melompat ke atas sebuah di antara batu-batu itu, akan tetapi agaknya batu itu licin sekali sehingga tubuh gadis cilik itu nampak terhuyung dan bergoyang, hampir jatuh.
"Aduh, tolong....!" Gadis itu berseru.
"Jangan takut, aku menolongmu!" kata Hong Beng dan tanpa ragu lagi diapun meloncat ke arah sebuah batu besar yang menonjol pula, tak jauh dari batu yang diinjak gadis itu, yang nampak ketakutan dan berdiri tegak di atasnya.
Akan tetapi pada saat kaki Hong Beng hinggap di atas batu itu, tiba-tiba saja tubuh anak perempuan itupun melesat dengan cepatnya ke atas batu lain di dekat seberang. Dan dapat dibayangkan betapa kaget rasa hati Hong Beng ketika batu yang diinjaknya itu terjeblos ke dalam lumpur bersama tubuhnya. Dia hendak meloncat, namun terlambat karena kedua kakinya sudah terbenam ke dalam lumpur yang seolah-olah memiliki kekuatan menyedot. Dia mengerahkan sin-kang, meronta. Akan tetapi karena tidak ada lagi tempat kokoh untuk berpijak, kekuatannya ini malah memberatkan tubuhnya dan diapun ambles sampai dada! Maklumlah Hong Beng bahwa dia telah terjeblos ke dalam lumpur yang berbahaya sekali dan makin kuat dia meronta, makin dalam pula dia terbenam. Maka diapun bersikap tenang, tidak lagi meronta dan tubuhnya tetap saja terbenam sampai ke dada, tidak turun lagi, akan tetapi juga sama sekali tidak ada jalan untuk menarik tubuhnya ke luar dari lumpur! Dia memandang ke arah gadis cilik itu dan tahulah dia bahwa dia telah terpancing dan terjebak oleh gadis cilik yang amat cerdik itu karena kini dia melihat gadis itu tadi hanya bersandiwara dan ternyata dia terjebak! Tiga orang wanita dewasa yang lihai tidak mampu menangkapnya, juga perangkap-perangkap berbahaya dapat dihindarkannya. Siapa kira sekarang dia jatuh oleh seorang anak perempuan yang menggunakan akal bulus! Diam-diam Hong Beng merasa penasaran sekali, juga memaki kebodohan dirinya sendiri, juga kagum akan kecerdikan anak itu. Masih begitu muda akan tetapi telah memiliki kecerdikan luar biasa. Agaknya anak itu telah memperhitungkan segalanya sehingga dia dengan mudah dapat ditipunya.
Hong Li tertawa-tawa kecil di tepi kubangan lumpur. Melihat lawannya telah terbenam sampai ke dada dan kini diam saja, sama sekali tidak bergerak, ia menggoda, "Hayo berontaklah! Makin kau meronta, semakin dalam kau tersedot, dan sebentar lagi lumpur akan menutupi mulutmu, hidungmu, matamu!"
Hong Beng merasa panas. "Hemm, bocah setan, jangan mengira aku takut mati! Aku hanya menyesalkan kebodohanku, mudah saja tertipu oleh bocah setan macam engkau!"
"Eh? Kau tidak takut? Tidak merasa ngeri? Kenapa engkau tidak minta ampun padaku dan minta pertolonganku agar aku menarikmu keluar?"
Hong Beng maklum bahwa anak setan itu hanya menggodanya, maka tentu saja dia tidak sudi memberi kepuasan kepada anak itu dengan memperlihatkan rasa takutnya.
"Sudah kukatakan, aku tidak takut mati. Akan tetapi, siapakah engkau ini dan masih ada hubungan apa antara engkau dan Sin-kiam Mo-li?"
"Hemm, siapa aku tidak penting. Yang penting siapa engkau dan mau apa engkau memaksakan kehendakmu memasuki daerah ini?"
Kembali Hong Beng kagum. Anak ini masih amat muda, akan tetapi sikapnya sudah dewasa dan cukup berwibawa. Seorang anak yang cerdik sekali, dan juga mempunyai sepasang mata yang tajam dan bening, sama sekali tidak nampak bayangan watak jahat dari sepasang mata seperti itu.
"Namaku Gu Hong Beng dan aku datang untuk bertemu dengan Sin-kiam Mo-li. Karena menghalangi keinginanku bertemu dengan Sin-kiam Mo-li, maka aku berkelahi dengan tiga orang wanita itu."
"Mau apa engkau minta bertemu dengan Sin-kiam Mo-li?" tanya pula Hong Li dan dia makin kagum karena kini tubuh pemuda itu sudah terbenam semakin dalam, sampai ke pundak, akan tetapi orangnya masih tetap nampak tenang saja.
Hong Beng mempertimbangkan pertanyaan ini. Perlukah dia berterus terang kepada anak perempuan ini? Akan tetapi, nyawanya tergantung di sehelai rambut, dan agaknya dia tidak akan terbebas dari cengkeraman maut ini, maka apa salahnya kalau dia berterus terang? Setidaknya, dia tidak akan lenyap begitu saja dan gadis ini menjadi saksi kematian dan kehilangannya. Siapa tahu, dari mulut gadis cilik ini kelak, suhunya dan semua orang akan mengetahui akan nasibnya. Biar mereka semua tahu bahwa dia tewas dalam usahanya menyelamatkan puteri keluarga Kao yang diculik orang.
"Siapakah engkau sesungguhnya, sebelum aku menjawab pertanyaanmu ini?" Hong Beng bertanya.
"Aku adalah anak angkat, juga murid Sin-kiam Mo-li yang kaucari itu."
Mendengar ini, lemaslah rasanya hati Hong Beng. Celaka, pikirnya, pantas anak ini demikian cerdik dan lihainya, dan harapan untuk memperoleh pertolongan semakin tipis dan jauh.
"Baiklah biar ceritaku ini merupakan pesan terakhir bagi siapa saja melalui engkau. Aku datang ke sini mencari Sin-kiam Mo-li untuk bertanya apakah ia telah menculik seorang anak perempuan dan kalau benar demikian, aku akan merampas kembali anak perempuan yang terculik itu!"
Mendengar ini, Hong Li nampak terkejut dan matanya terbelalak. Mata yang memang sudah lebar itu nampak semakin lebar, seperti matahari kembar. "Ih, subo tidak pernah menculik orang! Siapakah anak perempuan yang diculiknya itu?"
"Ia puteri dari pendekar Kao Cin Liong, namanya Kao Hong Li. Apakah engkau melihat anak itu di sini?"
Tiba-tiba Hong Li meloncat bangkit dari jongkoknya dan wajahnya berubah, alisnya berkerut. "Siapakah engkau sesungguhnya? Masih ada hubungan apa antara engkau dan keluarga Kao itu?" Pertanyaannya penuh nafsu dan mendesak sekali.
Pertanyaan aneh, pikir Hong Beng. Akan tetapi karena dia mengharapkan anak ini kelak menceritakan kepada semua orang tentang dirinya, diapun menjawab sejujurnya. "Isteri pendekar Kao yang bernama Suma Hui adalah bibi guruku karena guruku, Suma Ciang Bun, adalah adik kandungnya."
"Ahhh....!" Gadis cilik itu berseru kaget dan tiba-tiba ia bertanya, "Apakah engkau mampu mengeluarkan kedua tanganmu?"
"Apa....? Apa.... maksudmu?"
"Cepat keluarkan kedua tanganmu ke atas lumpur agar dapat aku menarikmu keluar dari situ."
Tentu saja ucapan ini mengejutkan akan tetapi juga mengherankan dan terutama sekali menyenangkan hati Hong Beng yang secara tiba-tiba memperoleh harapan baru. Dia menarik kedua lengannya yang terpendam, akan tetapi walaupun dia berhasil menarik kedua tangannya ke atas, tubuhnya semakin tenggelam dan kini lumpur telah mencapai dagunya, hanya satu senti saja di bawah mulut! Bau lumpur yang busuk menyengat hidungnya. Akan tetapi Hong Beng tetap bersikap tenang saja walaupun sedikit lagi, kalau lumpur sudah menutup hidungnya, berarti berakhirlah riwayat hidupnya. Dan pada saat itu, dia merasa ada benda yang licin bergerak meraba-raba kakinya. Dia terkejut dan dapat menduga bahwa di dalam lumpur itu terdapat binatang, mungkin semacam belut, ikan atau ular! Teringat akan ini dia cepat mengerahkan sin-kangnya dan mengerahkan hawa panas dari Hui-yang Sin-kang untuk melidungi tubuhnya dari gigitan binatang. Dan untung dia melakukan ini karena pada saat itu, banyak sekali ular dalam lumpur yang siap menggigitnya akan tetapi binatang-binatang itu mundur teratur ketika merasa betapa dari tubuh yang terbenam lumpur itu keluar hawa yang amat panas!
Sementara itu, Hong Li sudah memutar otak, bagaimana untuk menolong Hong Beng yang sebentar lagi tentu tewas kalau tidak cepat ditarik keluar. Tidak ada tali di situ. Akan tetapi ia seorang gadis yang amat cerdik. Ditumbangkannya sebatang pohon yang tidak berapa besar namun cukup panjang, dan diseretnya batang pohon berikut cabang dan daun-daunnya itu ke tepi kubangan lumpur. Kemudian, ia memotong sebagian ikat pinggangnya yang terbuat dari sutera yang kuat. Diikatnya ujung batang pohon itu dengan ikat pinggang, kemudian ujung ikat pinggang ia ikatkan pada sebatang pohon besar yang kokoh kuat. Setelah itu, ia menyeret batang pohon tadi dan melemparkannya ke tengah kubangan sambil berseru kepada Hong Beng yang kini mulutnya sudah tertutup lumpur!
"Tangkap ini dan tarik keluar dirimu melalui batang pohon!"
Tanpa diberitahupun, Hong Beng sudah maklum apa yang harus dilakukannya. Dia sejak tadi melihat saja dan bukan main kagumnya melihat usaha anak itu. Dia sendiri tentu akan bingung untuk menolong orang keluar dari lumpur tanpa adanya tali. Akan tetapi anak perempuan itu telah memperoleh akal yang amat baik. Dia segera menangkap cabang pohon itu dan segera dengan hati-hati dan perlahan-lahan agar jangan sampai cabang itu putus atau ikat pinggang di ujung sana itu putus, dia mulai menarik tubuhnya ke atas. Dan dia berhasil! Perlahan-lahan, mulai nampaklah tubuhnya bagian atas yang berlepotan lumpur. Kini, perlahan-lahan, dia merayap melalui batang pohon itu, menarik tubuhnya semakin tinggi keluar dari lumpur dan akhirnya, dengan terengah-engah, dia sampai juga ke tepi dan naik ke tepi kubangan lumpur, lalu menjatuhkan diri ke atas tanah saking lelahnya dan tegangnya.
"Ah, engkau berhasil!" Hong Li berseru gembira.
Hong Beng mencoba untuk membersihkan lumpur dari leher dan mukanya bagian bawah. "Ya, berkat pertolonganmu, adik yang baik. Engkau telah menyelamatkan nyawaku...."
"Tidak, karena aku yang membuat engkau terperosok tadi. Aku hanya menebus kesalahanku saja!"
Hong Beng tersenyum. Benar juga, dan dia semakin kagum akan kejujuran anak ini. "Engkau anak angkat dan murid Sin-kiam Mo-li, mengapa menolongku? Siapakah engkau adik yang begini cerdik, lihai dan baik hati?"
"Namaku? Aku.... Kao Hong Li!"
"Ihhh....!" Hong Beng meloncat dan lupa akan kekotoran tubuhnya yang terbungkus lumpur. Dia terbelalak memandang gadis cilik itu, penuh keheranan, penuh kejutan dan kekaguman. "Engkau.... engkau adik Kao Hong Li? Akan tetapi, bagaimana engkau dapat menjadi anak angkat dan murid Sin-kiam Mo-li?"
Hong Li tersenyum manis. "Panjang ceritanya, suheng. Bukankah engkau menjadi suhengku karena engkau murid paman Suma Ciang Bun?"
"Ya, panjang ceritanya. Akan tetapi engkau telah berani masuk ke sini tanpa ijin, karena itu engkau harus menyerah sebagai tawanan kami," tiba-tiba terdengar suara orang dan ketika Hong Beng menoleh, di situ telah berdiri seorang wanita cantik, bertubuh tinggi ramping dan matanya mencorong. Yang mengejutkan hati Hong Beng adalah ketika dia melihat betapa di belakang wanita itu nampak pula tujuh orang tosu, di antaranya adalah tosu-tosu yang sudah dikenalnya, yaitu para tokoh Pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai yang berilmu tinggi.
"Subo, dia ini suhengku sendiri....!" Hong Li mencoba untuk mencegah subonya.
"Hong Li, masuk kau! Belum juga kapok engkau menolong orang yang hendak mengacau di sini!" bentak Sin-kiam Mo-li dengan marah. Hong Li mengerutkan alisnya, akan tetapi ia tidak berani membantah lagi dan sambil mengepalkan tinju, iapun lari meninggalkan tempat itu, kembali ke dalam bangunan dan mengunci diri di dalam kamarnya sendiri dengan marah.
Sementara itu, Hong Beng berdiri dengan siap siaga, bingung apa yang harus dilakukan karena setelah mendengar bahwa Hong Li adalah anak angkat dan juga murid Sin-kiam Mo-li, tidak mungkin dia menuduh wanita ini menculiknya. Akan tetapi, kenyataan bahwa Sin-kiam Mo-li datang bersama tujuh orang tokoh Pat-kwa-pai dan Pek-lian-pai itu membuat dia semakin ragu karena dia mengenal tujuh orang ini sebagai orang-orang yang datang dari golongan hitam dan sesat, yang mempergunakan agama dan perjuangan untuk menipu rakyat.
"Ha-ha-ha!" Terdengar Thian Kek Seng-jin, tokoh Pek-lian-kauw yang bermuka merah itu tertawa. "Kiranya murid keluarga Pulau Es, Suma Ciang Bun, kini menjadi seekor belut yang suka bermain di dalam lumpur! "
"Mo-li, dia ini murid keluarga Pulau Es, kebetulan dia datang mengantar nyawa, biar pinto membunuhnya untukmu!" kata Thian Kong Cin-jin, wakil ketua Pat- kwa-pai yang sudah menggerakkan tongkatnya yang panjang.
"Nanti dulu, totiang!" Sin-kiam Mo-li berseru dan kakek itupun menahan tongkatnya. "Dia melanggar daerahku, dan akulah yang berhak untuk menghukumnya! Dia adalah tawananku!"
Sin-kiam Mo-li mencegah wakil ketua Pat-kwa-pai itu turun tangan, bukan semata-mata untuk mempertahankan kekuasaannya di daerahnya sendiri, melainkan karena dia telah melihat wajah dan bentuk tubuh yang tertutup lumpur itu dan dia merasa amat tertarik. Pemuda ini amat tampan dan gagah! Inilah yang membuatnya menangani sendiri pemuda itu, membuatnya tunduk dan tidak membunuhnya. Kini ia melangkah maju menghadapi Hong Beng.
"Nah, orang muda. Apakah engkau sudah tahu akan dosamu, ataukah aku harus mengingatkanmu dengan kekerasan?" tanya Sin-kiam Mo-li, suaranya lembut dan pandang matanya berkilat. Tujuh orang tosu itu bukan orang bodoh dan merekapun tersenyum-senyum maklum, akan tetapi Sin-kiam Mo-li tidak perduli akan sikap mereka itu.
Hong Beng maklum bahwa kalau dia mempergunakan kekerasan, dia akan kalah. Baru menghadapi wakil ketua Pat-kwa-pai yang bermuka merah itu saja dia akan menemui lawan tangguh yang sukar dikalahkan, apa lagi di situ terdapat tujuh orang tosu dan agaknya wanita ini sendiri memiliki kepandaian yang tinggi. Melawan dengan kekerasan berarti mengantar nyawa. Pula, apa gunanya melawan? Bukankah anak perempuan yang dicarinya telah berada di situ dan ternyata sama sekali bukan menjadi tawanan, bahkan menurut pengakuan Hong Li, tidak pernah anak itu diculik oleh Sin-kiam Mo-li? Apa alasannya untuk mengamuk di situ?
Diapun menjura dengan sikap hormat. "Aku telah melakukan kesalahan, memasuki daerah kekuasaan orang lain tanpa ijin. Semua ini terjadi karena salah sangka. Aku sedang mencari puteri bibi guruku yaitu Kao Hong Li yang kabarnya diculik orang. Ternyata ia berada di sini sebagai muridmu, oleh karena itu, aku kecelik dan mengaku salah. Terserah kepadamu, Sin-kiam Mo-li, kalau hendak menawan aku karena kesalahanku."
Wanita itu tersenyum dan biarpun usianya sudah empatpuluh tahun, akan tetapi ia kelihatan masih muda dan masih cantik menarik. Memang wanita ini luar biasa, dapat menjaga kemudaannya sehingga ia kelihatan seperti baru berusia kurang dari tigapuluh tahun, masih cantik dengan sepasang matanya yang tajam penuh gairah dan semangat, mulutnya yang manis dengan bibir yang merah, kulit mukanya yang masih halus kemerahan belum ada keriput, sedangkan tubuhnya masih padat dan langsing, tinggi ramping dan padat.
"Engkau murid keluarga Pulau Es, seorang pendekar yang gagah perkasa. Kesalahanmu tidak kausengaja, maka tentu saja aku dapat memaafkan. Akan tetapi sebagai balasannya, engkau harus bersikap bersahabat dengan kami. Sekarang tinggal engkau pilih, eh, siapa namamu, orang muda?"
"Namaku Gu Hong Beng."
"Nah, Gu-taihiap...."
"Ah, harap tidak berlebihan, aku bukan seorang pendekar besar", kata Hong Beng, merasa malu karena baru saja dia tidak berdaya dan bahkan nyawanya diselamatkan oleh seorang anak perempuan, bagaimana kini dia dapat menerima sebutan taihiap (pendekar besar)?
"Engkau memang patut disebut taihiap sebagai pewaris ilmu-ilmu yang hebat dari keluarga Pulau Es," kata Sin-kiam Mo-li sambil memainkan matanya yang tajam dan jeli. Kalau menurut keinginan hatinya, ia ingin membasmi semua keluarga pendekar Pulau Es. Akan tetapi kini dipaksanya mulutnya untuk memuji-muji keluarga itu karena ia ingin sekali merayu dan menjatuhkan hati pemuda yang telah membuatnya mengilar dan tergila-gila ini. "Sekarang tinggal engkau pilih. Kalau memang engkau menyesali kesalahanmu dan beriktikad baik, jadilah engkau tamuku yang terhormat selama satu bulan dan engkau boleh ikut berunding bersama kami mengenai urusan perjuangan yang amat penting. Sebaliknya, kalau engkau memilih menjadi tawananku untuk menerima hukuman atas kesalahanmu, terserah."
Hong Beng mengerutkan alisnya. Andaikata di situ tidak ada tujuh orang tosu itu, agaknya ada keberatan baginya untuk memilih yang pertama, yaitu menjadi tamu wanita aneh ini. Akan tetapi, tujuh orang tosu pemberontak itu berada di situ dan mereka hendak bicara tentang perjuangan! Dia tahu benar apa artinya perjuangan itu bagi para tosu Pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai. Memang benar mereka itu selalu bermusuhan dengan pemerintah Mancu, namun di samping ini merekapun terkenal sebagaai orang-orang sesat yang mengelabuhi rakyat dan tidak segan melakukan segala macam bentuk kejahatan yang kejam. Akan tetapi, kalau hanya menjadi tamu, apa salahnya. Dia boleh mendengarkan tanpa mencampuri, tanpa melibatkan dirinya.
Dia merasa serba salah, akan tetapi karena keadaan mendesak, diapun menjura dan berkata, "Aku telah melakukan kesalahan, karena itu terserah kepadamu. Kalau kesalahanku dimaafkan dan aku dianggap sebagai tamu, aku merasa terhormat sekali dan mengucapkan terima kasih."
Sin-kiam Mo-li tertawa dan tidak perduli akan sikap tujuh orang tosu yang rata-rata mengerutkan alis tanda tidak setuju. Akan tetapi karena yang menjadi pemilik tempat itu adalah Sin-kiam Mo-li, merekapun tidak dapat mencegah. Thian Kek Seng-jin, tokoh Pek-lian-kauw itu, tertawa bergelak.
"Ha-ha-ha, kami bertujuh adalah tamu kehormatan dari Sin-kiam Mo-li, dan kini Gu-taihiap juga menjadi tamu kehormatan, berarti antara kita telah terikat tali persahabatan yang akrab. Gu-taihiap, terimalah hormat pinto, Thian Kek Seng-jin dari Pek-lian-kauw!"
"Pinto Coa-ong Seng-jin, sutenya," kata kakek kecil bongkok bermuka monyet yang memegang seekor ular hijau itu.
"Pinto Ang-bin Tosu dari Pek-lian-kauw juga," kata tosu kecil muka merah.
"Dan pinto saudaranya berjuluk Im Yang Tosu," kata tosu yang wajahnya membayangkan kecongkakan, dengan mata sipit dan mulut tersenyum sinis.
"Ha-ha, kita sudah pernah berkenalan, Gu-taihiap. Pinto Ok Cin Cu dari Pat-kwa-pai dan dia itu Lam Cin Cu suteku, dan wakil ketua kami Thian Khong Cin-jin. Perkenalkan kami dari Pat-kwa-pai, ha-ha-ha!"
Hong Beng dengan perasaan amat tidak enak membalas penghormatan mereka dan menjawab, "Kita sama-sama menjadi tamu di sini, bukan berarti ada ikatan apa-apa di antara kita."
Para tosu itu hanya tertawa dan dengan gembira Sin-kiam Mo-li lalu memberi tanda kepada tiga orang pelayannya yang cepat bermunculan dari belakang pohon karena sejak tadi merekapun berada di situ, siap menanti perintah pimpinan mereka setelah mereka tadi melaporkan tentang kemunculan pemuda lihai itu.
"Kalian layani Gu-taihiap untuk membersihkan diri. Berikan pakaian bersih, kemudian ajak dia menemuiku di ruangan tamu. Sediakan sebuah kamar untuk dia, kamar yang berada di sebelah kamarku. Layani dia baik-baik dan jangan ada yang kurang ajar! Awas, dia ini tamuku yang terhormat!"
Tiga orang wanita cantik itu saling pandang dan tersenyum, mengangguk. Mereka sudah cukup mengenal watak guru dan majikan mereka, dan mereka tahu bahwa Sin-kiam Mo-li tergila-gila kepada pemuda ini. Ucapannya tadi memeringatkan agar mereka bertiga tidak berusaha untuk "mendekati" pemuda itu yang sudah diaku sebagai milik pribadi Sin-kiam Mo-li! Sambil tersenyum ramah mereka lalu menggandeng tangan Hong Beng dan diajaknya pemuda itu pergi bersama mereka.
Ingin Hong Beng memberontak ketika kedua tangannya digandeng dengan sikap genit dan manja oleh Ang Nio dan Pek Nio, akan tetapi Hek Nio yang berjalan di belakangnya berbisik, "Taihiap, tanpa bimbingan kami, mana mungkin engkau akan dapat tiba di rumah kami dengan selamat?"
Hong Beng pun melemaskan kedua tangannya dan menurut saja dituntun oleh dua orang wanita cantik itu. Dia merasa tidak berdaya, dan merasa seperti seekor domba dituntun ke pejagalan. Apa gunanya meronta? Dia sudah menjadi tamu, dan terpaksa harus menerima pelayanan nyonya rumah!
Dia diajak melalui lorong yang berputar-putar, melalui lorong setapak dan kadang-kadang menyeberangi semak-semak, tidak melanjutkan jalan menurut lorong, dan akhirnya Hong Beng yang diam-diam mencurahkan perhatian, dapat mengetahui rahasia jalan itu. Ternyata lorong itu menurut garis-garis pat-kwa dan selanjutnya, setiap kali membelok atau memilih jalan bercabang, dia menduga terlebih dahulu dan memang cocok. Giranglah hatinya dan dia lupa bahwa dia masih berada di bawah kekuasaan Sin-kiam Mo-li.
Hong Beng diajak ke kamarnya, sebuah kamar yang besar dan mewah, dan diapun dipersilahkan mandi membersihkan lumpur dan berganti pakaian kering yang sudah disiapkan pula. Akan tetapi ketika tiga orang gadis cantik itu hendak turun tangan memandikannya, dia menolak keras! "Apakah kalian berani hendak bersikap kurang ajar kepadaku? Akan kulaporkan kepada Mo-li!"
Benar saja, ancamannya ini berhasil baik. Tiga orang gadis itu mundur dengan wajah takut dan Ang Nio berkata, "Gu-taihiap tidak perlu marah. Kami bertiga tidak berniat kurang ajar, hanya bermaksud untuk membantu saja. Kalau taihiap tidak mau dilayani, silahkan mandi sendiri, akan tetapi yang bersih karena kalau tidak bersih tentu ada bau busuk dari lumpur itu dan kami akan mendapat marah besar."
Hong Beng merasa diperlakukan seperti anak kecil, dimanja, akan tetapi walaupun dia merasa panas di dalam hatinya, dia diam saja dan segera mandi. Segar rasa badannya, apa lagi setelah mengenakan pakaian bersih dan kering, pikirannya menjadi semakin tenang dan diam-diam dia bertanya di dalam hati, apa sebetulnya yang telah terjadi dengan diri Hong Li maka kini ia dapat menjadi anak angkat dan murid seorang wanita seperti Sin-kiam Mo-li. Dia teringat akan cerita Kao Cin Liong bahwa tadinya Hong Li diculik oleh seorang pendeta dari Tibet yang berjuluk Ang I Lama yang lihai ilmu silatnya dan pandai ilmu sihir pula. Kemudian, ketika bertemu dengan pendeta itu, Kao Cin Liong dan Suma Hui tidak mampu mendapatkan jejak Hong Li dan ternyata kakek pendeta itu tidak pernah melakukan penculikan. Bahkan kemudian kakek itu kabarnya tewas terbunuh dan para pendeta Lama menuduh suami isteri Kao itu yang telah membunuhnya. Dan kini, tahu-tahu Hong Li berada di tempat kediaman Sin-kiam Mo-li, bukan sebagai anak culikan, melainkan sebagai anak angkat dan juga murid! Ingin sekali dia dapat bertemu dengan anak itu dan mendengarkan keterangannya. Kalau sudah mendengarkan keterangan anak itu, barulah dia akan bertindak sedapat dan sekuat mungkin untuk menghadapi Sin-kiam Mo-li sebagaimana mestinya. Apakah Sin-kiam Mo-li penolong anak itu? Kalau benar demikian, tentu saja dia tidak akan memusuhinya. Sementara ini dia akan bersikap biasa saja, sebagai seorang tamu yang dihormati dan menghormati nyonya rumah, dan diam-diam dia akan memperhatikan bagaimana hubungan antara Sin-kiam Mo-li dengan tujuh orang tosu itu dan apa saja yang akan mereka bicarakan tanpa mencampuri urusan mereka.
Begitu dia selesai berpakaian, tiga orang gadis pelayan itu telah memasuki kamarnya lagi dan mengatakan bahwa kini mereka bertugas mengantar Hong Beng ke ruangan makan seperti yang diperintahkan majikan mereka. Hong Beng mengangguk dan keluar bersama mereka tanpa membantah. Hatinya panas kembali dan merasa kesal sekali ketika dia melihat betapa tiga orang gadis itu mengamatinya penuh perhatian, bahkan Ang Nio mengembang-kempiskan hidung sambil mendekatinya, jelas gadis itu mencium-cium ke arah tubuhnya!
"Hemm, taihiap tidak kotor lagi, tidak ada lagi bau lumpur yang busuk dan amis," katanya lirih.
"Sekarang baunya sedap!" sambung Pek Nio dengan genit sekali. Akan tetapi Hong Beng tidak menanggapi, hanya cemberut saja dan ini sudah cukup untuk membuat mereka diam dan tidak berani melanjutkan godaan. Diam-diam Hong Beng bergidik. Sin-kiam Mo-li memiliki tiga orang pelayan yang cantik-cantik dan genit-genit. Dia tidak dapat membayangkan bagaimana kalau dia terjatuh ke dalam kekuasaan tiga orang gadis ini. Mereka bersikap seperti tiga ekor harimau kelaparan menghadapi seekor kelenci saja. Tentu dia akan diterkam mereka dan dirobek-robek!
Ketika dia tiba di ruangan makan yang lebar dan mewah juga, dengan perabot yang serba mahal, Sin-kiam Mo-li sudah duduk di situ bersama tujuh orang tosu itu. Kini Sin-kiam Mo-li nampak lebih cantik, sudah berganti pakaian dan rambutnya disisir rapi, digelung dan dihias dengan tusuk konde berlian dan jepit rambut batu kemala. Ketika melihat Hong Beng yang mengenakan pakaian bersih berwarna biru itu, pakaian yang banyak dimiliki Sin-kiam Mo-li untuk diberikan kepada laki-laki yang diculiknya dan menjadi korbannya, wanita ini bangkit berdiri.
Sepasang mata yang mencorong itu memandang kagum dan menyapu seluruh tubuh dan wajah Hong Beng tanpa berkedip, membuat pemuda itu merasa salah tingkah dan mengerutkan alisnya, berdiri saja dan balas memandang. Sin-kiam Mo-li tersenyum manis sekali.
"Gu-taihiap, setelah bertukar pakaian dan bersih, ternyata nampak tampan dan gagah bukan main, seperti tokoh Si Jin Kwi!" Ia memuji terang-terangan tanpa malu-malu lagi di depan para tosu yang tertawa-tawa. Hong Beng mengerutkan alisnya yang hitam tebal itu semakin dalam, dan wajahnya yang putih bersih itu mendadak berubah merah. Dia merasa malu dan juga marah karena pujian itu melampaui batas, tidak patut keluar dari mulut seorang wanita baik-baik, apa lagi di depan banyak orang. Orang macam apakah wanita ini, pikirnya. Dia tidak menjawab, hanya berdiri dengan kikuk.
Melihat ini, hati Sin-kiam Mo-li menjadi semakin gembira. Jelas seorang pemuda yang masih hijau, seorang perjaka yang agaknya belum pernah berdekatan dengan wanita. Pikiran ini membuat jantungnya berdebar dan kalau tidak ditahannya, tentu air liurnya keluar dari tepi mulut seperti seekor sapi kelaparan melihat rumput muda menghijau.
"Gu-taihiap, silahkan duduk," katanya menunjuk ke sebuah bangku di sisi kanannya yang kosong. Dan karena tidak ada bangku lain yang kosong, semua sudah ditempati para tosu dan Sin-kiam Mo-li, hanya sebuah yang kosong di sebelah kanan wanita itu, dan agaknya memang sudah diatur demikian, terpaksa Hong Beng lalu duduk di situ. Baru saja dia duduk, dia merasa betapa lutut kirinya bersentuhan dengan lutut kanan wanita itu. Cepat dengan gerakan halus dia menarik lututnya dan merapatkan kedua pahanya.
Sin-kiam Mo-li tersenyum dan memberi isyarat kepada tiga orang pelayannya. Ang Nio datang membawa seguci arak dan dengan sikap manis ia menuangkan arak merah ke dalam cawan kosong. Sin-kiam Mo-li menyerahkan secawan arak itu kepada Hong Beng.
"Terimalah cawan arak pertama sebagai ucapan selamat datang, taihiap!" katanya dan ketika Hong Beng menerima cawan arak itu, pemuda ini merasa betapa jari tangan yang halus lunak dan hangat menyentuh jarinya. Dia tidak berani menolak, lalu menghaturkan terima kasih sambil minum arak itu sampai habis. Arak yang manis dan enak. Akan tetapi Ang Nio memenuhi cawannya lagi dan Sin-kiam Mo-li menyodorkan arak dalam cawan itu sambil berkata,
"Cawan ke dua ini untuk menghormatimu sebagai tamu kami, taihiap."
Kembali Hong Beng minum arak itu tanpa membantah. Para tosu tertawa dan suasana menjadi gembira ketika Pek Nio dan Hek Nio datang seperti menari-nari, membawa baki berisi mangkok-mangkok penuh masakan yang beraneka macam, masih panas mengepul dan baunya sedap bukan main.
"Aihhh, bukan main sedapnya!" beberapa orang tosu berseru sambil mengecap-ngecapkan bibir. Segera masakan di dalam mangkok-mangkok besar itu diatur di atas meja dan Sin-kiam Mo-li mempersilahkan mereka makan minum. Hong Beng tidak bersiksp malu-malu karena memang perutnya juga sudah lapar. Diapun ikut memainkan sepasang sumpitnya untuk memindahkan potongan-potongan daging dan sayur ke dalam perut melalui mulutnya, disiram oleh arak yang manis dan sedap.
Sebentar saja, sembilan orang itu telah makan sampai kenyang dan para tosu sudah menjadi setengah mabok karena terlalu banyak minum arak. Hong Beng menjaga diri dan hanya minum kalau setengah dipaksa oleh Sin-kiam Mo-li. Wanita ini sendiri, biarpun tidak mabok, namun wajahnya yang putih cantik itu telah menjadi merah sekali dan sepasang matanya seperti berminyak dan mengkilat. Tiba-tiba ia menuangkan arak ke dalam cawan araknya sendiri yang masih ada setengahnya, lalu mengangkat cawan arak itu diberikan kepada Hong Beng! Tentu saja pemuda ini ragu-ragu untuk menerimanya. Cawan itu milik Sin-kiam Mo-li, dan tadi masih ada setengahnya! Akan tetapi Sin kiam Mo-li dengan senyum manis sekali dan memandang dengan penuh gairah, berkata dengan suara yang merdu merayu.
"Gu-taihiap, atas nama persahabatan antara kita, demi eratnya persahabatan kita yang mesra, sudilah engkau menerima arak ini, taihiap." Bagaimana mungkin Hong Beng mampu menolak? Suguhan arak itu diberikan dengan alasan persahabatan dan kalau dia menolak, berarti dia tidak mau bersahabat! Dan sinar mata wanita itu demikian jeli, demikian penuh permohonan, sehingga diapun tidak tega lagi untuk menolak! Pemuda ini sama sekali tidak sadar bahwa Sin-kiam Mo-li telah mempergunakan kekuatan sihirnya, mulai merayunya melalui suguhan arak! Hong Beng minum habis arak itu dan ketika dia meletakkan cawan kosong itu di depan Sin-kiam Mo-li, wanita itu menurunkan tangannya seperti tidak disengaja, akan tetapi tangan itu kini menutup tangan kiri Hong Beng dan jari-jari tangan yang kecil panjang dan lunak hangat itu mencengkeram punggung tangan Hong Beng.
Seperti orang linglung, Hong Beng mengangkat muka memandang dan melihat betapa cantiknya wajah wanita di sebelahnya itu, yang memandang kepadanya dengan sepasang mata seperti matahari kembar dan senyum yang lebih manis dan hangat dari pada arak yang diminumnya tadi. Hong Beng merasa betapa jantungnya berdebar keras, jalan darahnya berdenyut-denyut dan belum pernah rasanya dia melihat wanita secantik Sin-kiam Mo-li! Tanpa disadarinya, diapun membalas senyum itu, bahkan dia membalikkan tangan kirinya dan jari-jari tangannya bertemu dengan jari tangan wanita itu, telapak tangan mereka juga bertemu dengan hangatnya.
"Ha-ha-ha, tiba saatnya bagi kita untuk bermesraan!" terdengar suara seorang di antara tosu-tosu itu dan ketika Hong Beng menengok, ternyata Ok Cin Cu telah menangkap pinggang ramping dari Hek Nio dan kini gadis berpakaian serba hitam itu telah ditarik ke atas pangkuannya! Hek Nio hanya terkekeh genit ketika tosu itu meraba-raba dan menciumnya.
"Siancai....!" kata Thian Kong Cin-jin, wakil ketua Pat-kwa-kauw dengan alis berkerut ketika melihat ulah anak buahnya itu. "Kita belum mengadakan rapat pembicaraan tentang perjuangan itu sampai matang. Urusan senang-senang boleh ditunda dulu."
"Hai, Ok Cin Cu, jangan tamak engkau!" seru Ang Bin Tosu tokoh Pek-lian-kauw kepada tokoh Pat-kwa-kauw itu. "Kita ada bertujuh di sini, dan ceweknya hanya ada tiga orang! Harus dibagi rata!"
"Sebaiknya mereka melayani kita secara bergilir!"
"Diundi dulu, siapa yang paling dulu dan bagaimana cara gilirannya menurut undian!"
Sambil tertawa-tawa, tujuh orang tosu itu memberi usul-usul. Akhirnya Sin-kiam Mo-li yang masih saling berpegang tangan dengan Hong Beng itu berkata,
"Cuwi totiang, harap jangan ribut-ribut. Kita di antara kawan sendiri, bukan? Dengarlah, urusan rapat, sebaiknya dilanjutkan besok siang karena malam ini aku.... ehh," ia menoleh kepada Hong Beng, "ingin beristirahat dulu. Dan tiga orang pembantuku boleh saja melayani kalian, dan memang sebaiknya diadakan undian sehingga tidak terjadi perebutan." Ia lalu bangkit berdiri dan menarik Hong Beng bangun. Pemuda ini menurut saja ditarik bangkit seperti orang kehilangan semangat. Memang semangat dan kemauannya telah ditekan dan dikurung oleh kekuatan sihir Sin-kiam Mo-li. "Tentang undian itu, silahkan atur sendiri, nah, aku mengundurkan diri lebih dulu."
Sin-kiam Mo-li menarik tangan Hong Beng dan seperti seekor kerbau yang diikat hidungnya kini ditarik ke pejagalan, Hong Beng menurut saja walaupun pandang matanya mulai bingung. Apa yang didengar dan dilihatnya di ruangan makan itu membuat bulu tengkuknya berdiri. Dia merasa ngeri dan muak sekali, akan tetapi sungguh aneh, tidak ada kemauan untuk meronta sama sekali ketika Sin-kiam Mo-li menariknya menuju ke kamar nyonya rumah itu!
Sejak kecil Hong Beng menerima gemblengan dari Suma Ciang Bun. Ilmu-ilmu dari Pulau Es adalah ilmu yang tinggi dan cara melatih sin-kang membuat batin Hong Beng kuat sekali sehingga kalau memang dia menyadari dan mengerahkan kekuatan batinnya, tidak mudah dia jatuh ke bawah pengaruh sihir. Akan tetapi, ketika dia makan minum dengan Sin-kiam Mo-li, wanita cantik yang cerdik dan dapat menduga akan kekuatan orang itu telah mempergunakan sihirnya secara perlahan-lahan, sedikit demi sedikit sehingga tanpa disadarinya, Hong Beng tercengkeram olehnya.
Akan tetapi, begitu melihat suasana yang dianggapnya memuakkan di ruangan makan tadi, di mana para tosu memperebutkan tiga orang pelayan wanita itu, keheranan dan kemuakan menyelinap di dalam benak Hong Beng dan membuat dia bercuriga. Walaupun kemauannya sudah lemah dan dia membiarkan dirinya ditarik oleh Sin-kiam Mo-li menuju ke dalam kamarnya, namun diam-diam Hong Beng mulai mengerahkan kekuatan batinnya.
Begitu masuk kamar, Sin-kiam Mo-li menendang daun pintu tertutup dan ia menarik Hong Beng ke tempat tidur, lalu menerkam pemuda itu, mendekap dan menciuminya seperti seekor harimau menerkam domba, penuh dengan nafsu berahi. Akau tetapi, hal ini bahkan mempercepat kesadaran Hong Beng yang biarpun tadi dipengaruhi sihir, masih belum disentuh deh nafsu berahi.
"Ihhh....!" Dia membentak, meronta dan meloncat turun dari atas pembaringan.
Sin-kiam Mo-li mengembangkan kedua lengannya ke arah Hong Beng sambil bangkit duduk, sepasang matanya berminyak, mulutnya merintih-rintih akan tetapi ia masih mencoba untuk mengerahkan kekuatan sihirnya.
"Gu Hong Beng, kekasihku.... kita.... saling mencinta, ke sinilah, sayang, marilah kita bersenang-senang.... bukankah kita telah menjadi sahabat yang amat mesra dan akrab? Ke sinilah, taihiap, kekasihku tercinta...."
Akan tetapi, mendengar ucapan penuh rayuan yang amat asing baginya ini, kesadaran Hong Beng semakin pulih dan dia mengerutkan alisnya, lalu menudingkan telunjuknya dengan marah.
"Sin-kiam Mo-li, sungguh engkau perempuan yang tidak tahu malu, tidak mengenal kesusilaan. Apa yang telah kaulakukan? Aku bukanlah laki-laki pelacur seperti yang kaukira! Aku.... aku akan pergi dari sini, mengajak pergi nona Kao Hong Li!" Berkata demikian, Hong Beng hendak keluar dari dalam kamar itu.
"Berhenti....!" Tiba-tiba suara Sin-kiam Mo-li sudah berubah, dan ketika ia berkelebat menghadang di depan pintu, Hong Beng melihat betapa wajah yang tadi nampak cantik manis itu kini nampak seperti wajah iblis betina yang beringas, sepasang mata itu mencorong penuh kekejaman dan mulut itu menyeringai mengerikan!
"Gu Hong Beng, laki-laki tak mengenal budi, tak tahu dicinta orang! Engkau sudah menentukan pilihanmu sendiri. Bukankah engkau memilih antara dua, yaitu menjadi tamu atau menjadi tawanan? Engkau memilih menjadi tamu dan aku memperlakukanmu seperti seorang tamu agung, akan tetapi apa balasanmu? Engkau malah menghinaku! Jangan harap engkau dapat keluar dari sini, apa lagi membawa muridku!" Berkata demikian, wanita yang marah itu maju menghampiri. "Masih kuberi kesempatan sekali lagi. Engkau mau melayani aku dan bersenang-senang dengan aku selama sebulan ini, ataukah engkau menjadi tawananku dan mungkin akan kubunuh?"
"Cih, perempuan tak tahu malu! Siapa takut mati? Lebih baik mampus dari pada menyerah kepadamu melakukan perbuatan hina dan rendah!"
"Keparat sombong! " Sin-kiam Mo-li membentak dan wanita ini sudah menerjang maju dengan pukulan dahsyat, menggunakan tangan kirinya menampar ke arah pelipis kepala Hong Beng. Pemuda ini sudah nekat. Bagaimanapun juga, tidak sudi dia memenuhi permintaan wanita iblis cabul itu dan biarpun dia tahu bahwa dia berada di tempat berbahaya, namun dia lebih baik mati dari pada harus menyerah. Melihat datangnya pukulan dahsyat itu, diapun menangkis dengan tangan kanannya sambil mengerahkan tenaga Soat-im Sin-kang yang amat dingin, sedangkan tangan kirinya membarengi tangkisan itu, mendorong ke arah lambung lawan yang terbuka.
"Dukkk....!" Dua lengan bertemu dan wanita itu cepat meliukkan tubuh menghindarkan dorongan ke arah lambungnya. Ia dapat merasa betapa tangkisan itu mengandung hawa amat dingin yang menyusup ke dalam tubuhnya. Cepat ia mengerahkan sin-kang melawan dan iapun tahu bahwa pemuda ini benar-benar tangguh, hal yang tidak aneh kalau diingat bahwa pemuda ini adalah murid keluarga Pulau Es yang terkenal memiliki sin-kang dahsyat, yaitu Hui-yang Sin-kang yang panas dan Soat-im Sin-kang yang amat dingin.
Maklum bahwa menghadapi pemuda ini dengan tangan kosong akan memakan waktu lama dan tidak mudah baginya untuk merobohkannya, Sin-kiam Mo-li lalu meloncat ke dekat meja dan menyambar sebatang kebutan bergagang emas yang bulunya merah, dan begitu dikelebatkannya kebutan ini, nampak sinar merah bergulung-gulung menyambar ke arah Hong Beng. Pemuda ini melawan sekuat tenaga. Untuk menangkis dan menghindarkan diri dari kebutan berbulu merah yang mengandung racun itu, dia mengeluarkan ilmu silat Hong In Bun-hoat yang gerakan-gerakannya halus namun mengandung kekuatan sin-kang hebat sehingga dapat mendorong pergi ujung kebutan setiap kali ujung kebutan mengancam tubuhnya. Akan tetapi, karena dia tidak mempunyai kesempatan untuk balas menyerang, sebuah tendangan kaki kiri Sin-kiam Mo-li yang dibarengi dengan menyambarnya kebutan itu, menyerempet pinggang pemuda itu sehingga dia terpelanting dan terhuyung. Marahlah Hong Beng. Dia lalu nekat dan dengan mengeluarkan suara melengking nyaring, dia menyerang dengan Ilmu Silat Cui-beng Pat-ciang yang hebat. Ilmu ini adalah ilmu sesat dari Pulau Neraka, dimiliki oleh guru Hong Beng dari nenek Lulu dan biarpun ilmu ini hanya terdiri dari delapan jurus, namun dahsyatnya bukan kepalang. Begitu Hong Beng menyerang, diam-diam Sin-kiam Mo-li terkejut karena kebutannya dapat terpukul membalik, bahkan dadanya nyaris terkena pukulan. Untung ia masih sempat membuang diri ke belakang sambil berjungkir balik lalu memutar kebutan di depan tubuh untuk menghalau serangan berikutnya.
Akan tetapi Hong Beng tidak mau memberi kesempatan lagi kepada lawannya. Dia mendesak maju dengan jurus berikutnya dari Cui-beng Pat-ciang (Delapan Jurus Pengejar Arwah)! Kembali kebutan merah itu terpukul membalik dan dua pukulan tangan dari kanan kiri mengancam Sin-kiam Mo-li. Wanita ini terkejut bukan main. Tak disangkanya bahwa murid keluarga Pulau Es memiliki pukulan yang demikian mengerikan, yang sifatnya ganas dan lebih tepat kalau dimiliki golongan sesat. Karena tidak mengenal jurus-jurus ini, maka ia terdesak dan terpaksa ia kembali melempar tubuh ke belakang, mendekati dinding dan sekaligus ia mencabut sebatang pedang yang tergantung di situ. Dengan pedang di tangan kanan dan kebutan di tangan kiri Sin-kiam Mo-li kini menyerang Hong Beng. Hebat memang wanita ini kalau sudah memainkan dua buah senjatanya. Pedangnya menyambar-nyambar ganas dan kebutannya membantu gerakan pedang, bahkan kedua senjata itu selain saling bantu dalam serangan, juga saling melindungi. Kalau pedang menangkis, kebutan menyerang dan sebaliknya. Dan Hong Beng yang bertangan kosong itu terdesak hebat! Ketika dia tersudut dan tidak ada jalan keluar lagi, pemuda ini menjadi nekat hendak mengadu nyawa. Sambil mengeluarkan pekik dahsyat, dia mengerahkan tenaganya dan memukul dengan Ilmu Silat Toat-beng Bian-kun, yang membuat kedua tangannya menjadi lemas seperti kapas, namun mengandung tenaga dahsyat yang dapat mencabut nyawa lawan dengan sekali pukul. Namun, pedang di tangan Sin-kiam Mo-li menyambar sedangkan kebutannya menotok ke arah pergelangan tangan yang memukul, Hong Beng tentu saja menarik tangannya karena maklum bahwa ujung kebutan itu beracun dan biarpun dia sudah miringkan tubuh, tetap saja pundaknya tercium pedang sehingga bajunya robek berikut kulit dan sedikit daging di pangkal lengan kirinya! Sebuah tendangan yang menyusul, membuat tubuhnya terlempar ke arah pintu kamar.
"Tukk!" Tubuh itu disambut oleh seorang tosu yang sudah menotoknya dengan ujung tongkat sehingga Hong Beng roboh dengan kaki tangan lumpuh dan tidak mampu bergerak lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar