"Ha-ha-ha, apakah pengantinmu ini banyak bertingkah, Mo-li?" kata Thian Kek Seng-jin, tokoh Pek-lian-kauw yang tadi menggunakan tongkat naga hitamnya menotok Hong Beng yang sudah terluka. Tosu ini sedang menanti gilirannya karena ketika menarik undian, gilirannya adalah yang terakhir. Tiga orang tosu memasuki kamar bersama tiga orang gadis pelayan, sedangkan yang tiga orang lagi termasuk Thian Kek Seng-jin, menanti giliran mereka. Karena iseng, Thian Kek Seng-jin berjalan-jalan menuju ke kamar Sin-kiam Mo-li sehingga dia dapat merobohkan Hong Beng yang kebetulan terlempar ke pintu ketika dia membuka daun pintu karena mendengar suara perkelahian di dalam kamar itu.
"Biar kubunuh saja tikus ini!" kata pula Thian Kek Seng-jin sambil menggerakkan tongkatnya.
"Jangan!" teriak Sin-kiam Mo-li. "Dia menjadi sandera yang berharga bagi kita." Memang wanita itu cerdik. Mendapat tawanan murid keluarga Pulau Es merupakan modal yang baik, karena pemuda itu dapat menjadi sandera yang tentu akan dihargai oleh keluarga Pulau Es. Selain itu, juga diam-diam ia masih mengharapkan untuk dapat mematahkan semangat pemuda ini dan suatu saat dapat menjatuhkan hati pemuda itu dan menariknya ke dalam pelukannya.
"Ha-ha-ha, pendapat itu boleh juga," kata Thian Kek Seng-jin sambil tertawa. "Dan bagaimana kalau pinto saja menggantikan pemuda ini untuk menghibur hatimu yang kecewa?"
Sin-kiam Mo-li mengangkat muka memandang tosu itu. Seorang tosu yang biarpun sudah tua, namun nampak penuh semangat. Tubuhnya kurus kering, akan tetapi mukanya merah darah dan gerak-geriknya masih tangkas dan gesit, sepasang matanya bercahaya seperti mata kucing. Boleh juga, pikirnya, karena selain hatinya kesal atas penolakan Hong Beng dan ia membutuhkan teman untuk menghiburnya, juga ia melihat keuntungannya kalau berbaik dengan tosu Pek-lian-kauw yang lihai dan mempunyai pengaruh besar di perkumpulannya itu.
Sin-kiam Mo-li tersenyum. "Baiklah, totiang. Akan tetapi bantu dulu aku melempar orang keras kepala ini ke dalam kamar tahanan karena tiga orang pelayanku sedang sibuk melayani para tosu lainnya."
Tentu saja Thian Kek Seng-jin girang sekali. Dia bukanlah seorang pengejar wanita cantik seperti Ok Cin Cu dan yang lain, akan tetapi baginya jauh lebih menyenangkan menjadi teman tidur nyonya rumah yang biarpun sudah lebih tua namun jauh lebih cantik menarik dari pada tiga orang gadis pelayan itu, apa lagi kalau dia memperoleh giliran paling akhir! Dia lalu menyambar tubuh Hong Beng, sekali mencokel dengan tongkatnya, tubuh pemuda itu terangkat naik dan dikempitnya.
"Ke mana dia harus dilempar?" tanyanya sambil menyeringai. Wajahnya yang kemerahan memang tidak begitu buruk seperti para tosu lainnya, maka tidak mengherankan kalau Sin-kiam Mo-li menerimanya.
"Mari ikuti aku," kata wanita itu yang memasuki sebuah pintu rahasia di ruangan belakang. Pintu ini tersembunyi di balik sebuah almari yang digeser ke kiri dan di belakang pintu terdapat sebuah terowongan yang menuju ke bawah tanah. Kiranya rumah besar itu selain terjaga di sekelilingnya oleh tempat-tempat rahasia penuh jebakan, juga memiliki ruangan bawah tanah yang cukup luas! Ia memasuki sebuah kamar tahanan di bawah tanah itu, kamar tahanan yang kuat karena dindingnya dilapisi baja dan pintunya juga dari baja dengan ruji-ruji sebesar lengan yang amat kokohnya pada jendela kamar itu. Dengan kasar Thian Kek Seng-jin melempar tubuh Hong Beng ke dalam kamar ini yang berlantai batu. Tubuh yang sudah lumpuh kaki tangannya dan tidak mampu bergerak itu terbanting ke atas lantai, kemudian daun pintunya ditutup dan dikunci dari luar oleh Sin-kiam Mo-li.
Kebetulan Hong Beng terjatuh dengan muka menghadap keluar, maka Sin-kiam Mo-li memandang kepadanya, lalu tersenyum dan berkata, "Gu Hong Beng, kalau aku menghendaki, saat ini engkau tentu sudah menjadi mayat."
"Bunuhlah, tak perlu banyak cerewet. Siapa takut mati?" Hong Beng menjawab. Yang lumpuh hanya kaki dan tangannya, sedangkan anggauta tubuh lainnya tidak.
Sin-kiam Mo-li tidak marah, hanya tertawa. Kini ia sudah dapat mengatasi kekecewaan dan kemarahannya. Menghadapi seorang pemuda gagah perkasa dan keras hati seperti murid keluarga Pulau Es ini tak boleh menggunakan kekerasan seperti terhadap pemuda lain yang pernah diculiknya, hal ini ia tahu benar. Maka, iapun ingin berganti siasat. "Justeru karena engkau tidak takut mati maka aku merasa sayang untuk membunuhmu. Nah, kuberi waktu kepadamu untuk merenungkan semua keadaanmu dan kuharap engkau tidak begitu tolol untuk mempertahankan kekerasan hatimu dan memilih mati secara konyol." Setelah berkata demikian, Sin-kiam Mo-li tersenyum dan menggandeng tangan Thian Kek Seng-jin yang tertawa-tawa ketika mereka berdua bergandeng tangan meninggalkan ruangan bawah tanah itu.
Hong Beng menggeletak di lantai kamar tahanan itu. Sunyi bukan main di situ, tak terdengar suara apapun dan tidak terlihat sesuatu yang bergerak. Dia merasa seperti berada di dunia lain! Untung masih ada sebuah lampu lentera tergantung di luar kamar tahanan dan sinarnya memasuki kamar melalui jendela beruji baja. Hong Beng maklum bahwa dia tidak dapat mengharapkan bantuan dari luar. Mati hidupnya tergantung kepada dirinya sendiri dan selagi dia masih bernapas, dia tidak akan putus harapan. Akan tetapi, bagaimanapun juga, kalau jalan keselamatannya harus melalui penyerahan diri kepada Sin-kiam Mo-li seperti yang dikehendaki wanita cabul itu, dia tetap menolak dan memilih mati! Dia sudah banyak mendengar dari suhunya dan juga dari pengalamannya di dunia kang-ouw tentang wanita cabul macam Sin-kiam Mo-li. Kalau sudah bosan kepada seorang laki-laki, tentu akan dibunuhnya.
Yang terpenting adalah membebaskan totokan ini, pikirnya. Maka Hong Beng lalu memejamkan kedua matanya, mengatur pernapasan dan perlahan-lahan mulai mengerahkan hawa murni di tubuhnya untuk membobolkan bendungan jalan darah yang tertotok. Totokan di punggung oleh tongkat tokoh Pek-lian-kauw tadi memang hebat dan melumpuhkan kedua kaki tangannya.
Akhirnya, setelah dia mulai dapat mengumpulkan tenaga dan daya totokan itupun mulai melemah, dia mampu membebaskan diri dari totokan itu dan mampu menggerakkan kembali kaki tangannya. Hong Beng lalu bangkit duduk dan bersila, bersamadhi beberapa lamanya sampai tenaganya pulih kembali. Diperiksanya luka di pundak. Hanya luka lecet, tidak berbahaya dan darahnya sudah berhenti. Dengan robekan ikat pinggang, dibalutnya pundak itu. Kemudian dia bangkit berdiri berjalan-jalan sebentar untuk memulihkan kekakuan kedua kakinya, baru dia mulai memeriksa kamar tahanan itu. Dicobanya ruji baja dan pintu, namun dia mendapat kenyataan bahwa dengan tenaga biasa, tak mungkin dia akan mampu lolos dari kamar baja ini seperti yang sudah diduga. Orang macam Sin-kiam Mo-li tak mungkin demikian ceroboh dalam membuat kamar tahanan. Tidak ada jalan lain baginya kecuali menanti apa yang akan datang menimpanya. Yang penting, dia sudah dapat bergerak dan masih hidup! Maka diapun kembali duduk bersila di tengah kamar itu, di atas lantai batu yang dingin.
Entah berapa lamanya dia bersamadhi, Hong Beng tidak tahu karena di dalam kamar tahanan itu tak pernah dapat didengar suara apa-apa, juga hanya lentera itu yang menerangi cuaca sehingga dia tidak mengenal waktu. Tiba-tiba telinganya yang terlatih mendengar langkah kaki lirih menghampiri kamarnya dan tak lama kemudian, dari jendela terdengar suara mendesis.
"Sssttt....!"
Hong Beng mengangkat muka dan melihat wajah gadis cilik yang mengaku bernama Kao Hong Li itu telah menjenguk dari luar ruji jendela. Cepat dia bangkit dan menghampiri.
"Suheng, aku menyesal sekali bahwa gara-gara aku engkau sampai tertangkap dan ditawan di sini", kata Hong Li.
"Nona.... eh, sumoi Kao Hong Li, apakah engkau dapat membuka pintu ini dari luar?"
Gadis remaja itu menggeleng kepalanya. "Penyimpan kunci adalah subo sendiri dan pintu ini tak mungkin dibuka tanpa kunci."
Hong Beng mengerti. "Sumoi, kalau begitu, selagi ada kesempatan, ceritakanlah kepadaku semua pengalamanmu secara singkat saja. Bagaimana engkau yang katanya dahulu diculik seorang pendeta Lama, tahu-tahu dapat menjadi anak angkat dari murid Sin-kiam Mo-li."
Tadi ketika diusir pergi oleh gurunya, Hong Li memasuki kamarnya dan anak ini mulai memutar otaknya. Hatinya merasa tidak senang kepada subonya dan timbul rasa penasaran, heran dan juga curiga terhadap subonya yang menjamu tujuh orang tosu yang kelihatan begitu kurang ajar, kasar dan ganas. Apa lagi ketika ia teringat kepada Gu Hong Beng, orang yang bahkan menjadi utusan ayah ibunya untuk mencarinya, hatinya dipenuhi rasa khawatir. Malam itu, diam-diam ia keluar dari tempat tidurnya melakukan pengintaian dan dapat dibayangkan betapa kaget rasa hatinya ketika ia melihat Gu Hong Beng dikempit oleh seorang tosu kurus kering yang berjalan menuju ke lorong bawah tanah bersama subonya. Ia menanti sampai dua orang itu yang tertawa-tawa sambil bergandeng tangan keluar dari lorong bawah tanah. Hong Li bersikap hati-hati sekali, tidak berani segera memasuki lorong itu karena ia khawatir kalau-kalau subonya akan kembali. Ia menanti sampai jauh malam. Setelah suasana sunyi, tidak nampak tiga orang gadis pelayan yang ia tidak tahu entah berada di mana, tidak nampak seorangpun di luar kamar, ia lalu menyelinap dan memasuki lorong bawah tanah melalui pintu rahasia yang sudah dikenalnya. Seperti yang dikhawatirkannya, ia melihat pemuda itu telah berada di dalam kamar tahanan yang kokoh kuat itu.
"Aku memang diculik orang, suheng," Hong Li mulai bercerita. "Penculikku adalah seorang kakek bernama Ang I Lama. Akan tetapi, di tangah perjalanan, aku ditolong dan dilarikan oleh subo yang kemudian mengangkatku sebagai anak dan mengambil aku sebagai murid, setelah minta aku berjanji untuk menjadi muridnya selama lima tahun. Karena aku merasa berhutang budi, maka akupun berjanji dan aku menjadi muridnya sampai sekarang."
Hong Beng mengerutkan alisnya. Kalau begitu, benar bahwa wanita iblis itu bukan penculik Hong Li, bahkan penolongnya! Lalu dia teringat akan kematian Ang I Lama yang kemudian dikabarkan bahwa pembunuhnya adalah ayah ibu gadis remaja ini.
"Adik Hong Li, apakah engkau tahu apa yang selanjutnya terjadi dengan Ang I Lama, penculikmu itu?"
"Ah, dia telah datang ke sini untuk merampasku kembali, akan tetapi dalam perkelahian yang amat hebat, akhirnya dia terkena tusukan pedang subo dan dia melarikan diri, sampai sekarang tidak ada kabar ceritanya lagi."
Hong Beng mengangguk-angguk, mengerti bahwa pembunuh Ang I Lama adalah Sin-kiam Mo-li pula. "Dengar, adik Hong Li, engkau telah terjatuh ke tangan orang yang amat jahat. Engkau tahu, orang yang menjadi gurumu itu bersekongkol dengan para tosu Pat-kwa-pai dan Pek-lian-pai, orang-orang yang amat jahat walaupun mereka berpakaian pendeta. Karena itu sekarang engkau pergilah meninggalkan tempat ini. Selagi ada kesempatan, sumoi. Mereka semua sedang bersenang-senang dan engkau tentu akan mampu keluar dari daerah ini dengan selamat."
"Pergi? Tapi.... ke mana....?" Gadis remaja itu memandang dengan mata terbelalak.
"Aku tidak tahu jalan pulang...."
"Pergilah, ke mana saja asal tidak di sini. Perlahan-lahan engkau dapat mencari jalan pulang. Percayalah kepadaku, demi keselamatanmu, pergilah dari sini malam ini juga...."
"Akan tetapi engkau sendiri menjadi tawanan...."
"Jangan hiraukan aku, sumoi. Yang penting engkau harus bebas dari neraka ini sebelum terjadi hal yang lebih buruk atas dirimu. Aku akan menanti kesempatan dan berusaha menyelamatkan diri."
Akan tetapi gadis cilik itu menggeleng kepalanya. "Tidak mungkin, suheng. Aku tidak mungkin pergi dari sini meninggalkan subo."
"Eh? Kenapa tak mungkin?" Hong Beng memandang heran.
"Lupakah kau akan ceritaku tadi? Aku telah diselamatkan subo dari tangan penculikku dan aku sudah berjanji dengan sumpah untuk menjadi muridnya selama lima tahun. Sebelum lewat waktu itu, tak mungkin aku pergi meninggalkannya."
"Akan tetapi, ia bukan orang baik- baik. Ia seorang yang jahat sekali, iblis betina yang kejam, ahh, engkau tidak dapat membayangkan betapa kejam dan jahatnya...." Hong Beng bergidik membayangkan gadis cilik ini menjadi murid seorang wanita seperti Sin-kiam Mo-li. "Engkau pergilah dari sini!"
"Tidak, suheng, bagaimanapun juga aku tidak akan pergi, kecuali kalau subo yang menyuruh aku pergi atau.... kalau subo sudah tidak ada lagi. Selama ia masih hidup dan tidak menyuruh aku pergi, aku tidak akan melanggar janji dan sumpahku sendiri!"
Hong Beng memandang kagum. Bagaimanapun juga, anak ini sungguh mengagumkan dan pantas menjadi puteri keluarga Kao, keturunan dari Pulau Es dan Gurun Pasir! Masih kecil namun sudah demikian gagah dan teguh memegang janji.
"Baiklah kalau begitu, pergilah keluar dari sini, sumoi, jangan sampai ketahuan orang lain bahwa engkau masuk ke sini."
"Nanti dulu, suheng, aku harus mencari akal bagaimana untuk dapat membebaskan engkau dari sini. Kalau engkau dapat keluar dari kamar ini, lalu aku mengantarkan kau keluar dari daerah kami, tentu kau akan selamat." Anak itu mengerutkan alisnya, berpikir mencari akal. Akan tetapi ia tidak dapat menemukan akal itu. "Aihh...." ia mengeluh dan menggeleng kepala. "Satu-satunya jalan adalah mencuri kunci itu dari subo. Akan tetapi betapa mungkin kalau kunci itu selalu dikantonginya?"
Memang tidak mungkin, murid murtad!" Tiba-tiba terdengar suara Sin-kiam Mo-li dan wanita itu telah berdiri di ambang pintu! Hong Li membalikkan tubuhnya menghadapi subonya, sedikitpun tidak nampak takut! Bukan kebetulan saja Sin-kiam Mo-li memasuki lorong bawah tanah itu. Tadi sebagai pengganti Hong Beng yang menolaknya ia mengajak Thian Kek Seng-jin ke dalam kamarnya.
Akan tetapi ia sama sekali tidak memperoleh kepuasan atau kesenangan bersama tosu ini, bahkan ia merasa muak dan akhirnya ia menyuruh tosu itu pindah ke kamarnya sendiri dengan alasan bahwa kepalanya pusing dan ia mau istirahat dan tidur sendiri. Dengan sikap penuh kemenangan Thian Kek Seng-jin meninggalkan kamar nyonya rumah itu, tidak merasa bahwa dia telah diusir oleh wanita cantik itu karena sikap Sin-kiam Mo-li yang halus. Setelah tosu itu pergi, Sin -kiam Mo-li gelisah tak mampu pulas karena ia masih teringat kepada Hong Beng dan merasa penasaran. Akhirnya, ia tidak tahan lagi dan keluar dari kamarnya, memasuki lorong bawah tanah dan ia mendengar ucapan terakhir dari muridnya. Tentu saja ia marah sekali melihat muridnya berada di situ dan bercakap-cakap dengan tawanannya, apa lagi mendengar ucapan terakhir muridnya yang menyatakan ingin mencuri kunci kamar tahanan itu.
Akan tetapi, Hong Li menghadapi subonya dan sinar mata anak ini sama sekali tidak memperlihatkan rasa takut. Ia menentang mata subonya yang mencorong itu dengan membuka matanya lebar-lebar penuh rasa penasaran.
"Subo, kenapa subo menangkap suhengku? Suheng Gu Hong Beng ini adalah murid dari pamanku, dan dia datang ke sini karena hendak mencari aku yang hilang diculik orang. Subo harus membebaskan dia agar dapat melapor kepada ayah ibuku bahwa aku berada dalam keadaan selamat dan menjadi murid subo di sini!"
Sin-kiam Mo-li memandang dengan muka merah. Dalam keadaan biasa, tentu iapun merasa kagum melihat keberanian muridnya. Akan tetapi ia sedang kecewa dan marah karena penolakan Hong Beng, maka kini ia menjadi marah sekali.
"Bocah setan! Engkau malah hendak membela musuh? Dia melanggar daerahku tanpa ijin, bahkan telah menentang orang-orangku. Dan engkau hendak mencuri kunci membebaskannya. Anak tak mengenal budi kau!" Tiba-tiba tangannya menyambar dan biarpun Hong Li berusaha mengelak, tahu-tahu lengannya telah dapat ditangkap dan Sin-kiam Mo-li menyeretnya dan melemparkannya ke dalam kamar tahanan kosong di sebelah kamar tahanan Hong Beng itu, lalu mengunci pintunya dari luar.
"Nah, kalau engkau berpihak kepada musuh, berarti engkau memusuhi aku dan menjadi anak angkat dan murid yang durhaka dan murtad. Biarlah engkau merasakan hukuman selama beberapa hari di situ!" Setelah berkata demikian, Sin-kiam Mo-li meninggalkan lorong itu. Keinginannya untuk membujuk Hong Beng lagi menjadi hilang oleh kemarahannya terhadap Hong Li.
"Ah, sungguh celaka, aku tidak mampu menolongmu, bahkan aku yang membuatmu dimarahi subomu dan kini engkaupun ditangkap dan dihukum," kata Hong Beng dengan hati menyesal bukan main. Bagaimana dia tidak akan menyesal? Tadinya, biarpun menjadi murid iblis betina, Hong Li hidup bebas dan gembira. Setelah dia datang dengan usahanya membebaskan Hong Li, dia sendiri tertangkap dan gadis cilik ini ditawan pula karena dia!
"Sudahlah, suheng tidak perlu menyesal dan mengeluh. Aku malah ingin melihat apa yang akan dilakukan subo terhadap diriku, agar aku memperoleh keyakinan orang macam apa adanya subo dan bagaimana perasaan hatinya terhadap diriku."
"Hemm, engkau tidak tahu, sumoi. Subomu itu adalah anak angkat dari mendiang Kim Hwa Nio-nio, seorang di antara tokoh-tokoh pemberontak jahat yang tewas di tangan para pendekar termasuk keturunan Pulau Es dan Gurun Pasir! Kurasa ia tidak bermaksud baik terhadap dirimu, karena ia adalah musuh besar dari para pendekar."
"Akan tetapi buktinya ia selalu bersikap baik kepadaku, dan baru sekarang ia marah kepadaku. Hal inipun karena kesalahanku sendiri. Biarlah, aku akan melihat bagaimana sikapnya selanjutnya." Dan anak yang berhati tabah sekali ini lalu dengan tenang saja merebahkan diri di atas lantai dingin dan memejamkan matanya! Melihat ini, Hong Beng semakin kagum. Diapun lalu duduk bersila untuk bersamadhi, mempersiapkan diri untuk menghadapi apapun juga.
"Sin-kiam Mo-li....! Aku Bi-kwi murid Sam Kwi datang berkunjung. Keluarlah dan temui aku karena aku tidak ingin melanggar daerahmu!"
Wanita itu adalah Bi-kwi atau Ciong Siu Kwi, wanita yang cantik. Berbeda dari hari-hari kemarin semenjak ia menjadi isteri Yo Jin, kini ia kembali seperti sebelum itu, seperti ketika ia masih menjadi Bi-kwi yang sesat dan jahat. Kini ia mengenakan pakaian mewah sehingga membuat dirinya semakin cantik, apa lagi ia menambah pemerah bibir dan pipi, juga penghitam alis. Sebatang pedang tergantung di punggungnya. Ini merupakan siasat yang telah diaturnya bersama Sim Houw dan Bi Lan. Untuk dapat mendekati Sin-kiam Mo-li dan menyelidiki apakah puteri keluarga Kao benar berada di situ, ia harus kembali menjadi Bi kwi murid Sam Kwi yang jahat, seorang tokoh dunia sesat yang ditakuti orang. Kini ia berdiri di luar hutan pertama dari daerah tempat tinggal Sin-kiam Mo-li dan beberapa kali ia mengeluarkan seruan itu dengan teriakan melengking nyaring karena didorong oleh tenaga khi-kang. Ia harus pandai bersandiwara, apa lagi di tempat itu terdapat para tosu Pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai yang pernah bermusuhan dengannya karena ia membela Yo Jin
Baru tiga kali ia mengulangi teriakannya, muncullah seorang gadis berpakaian serba hitam yang berwajah manis dan bersikap genit. Gadis ini adalah Hek Nio, seorang di antara tiga gadis pelayan Sin-kiam Mo-li. Ia diberi tugas untuk turun menyambut tamu itu. Ketika Sin-kiam Mo-li mendengar suara itu, ia teringat bahwa mendiang ibu angkatnya memang bekerja sama dengan Sam Kwi, tiga orang datuk sesat yang terkenal. Karena nama Bi-kwi juga sudah terkenal di dunia kaum sesat, maka Sin-kiam Mo-li menganggapnya sebagai teman segolongan dan iapun mengutus Hek Nio untuk keluar menyambut, sedangkan Ang Nio dan Pek Nio sibuk bekerja di dapur setelah mereka bertiga semalam suntuk melayani tujuh orang tosu yang tak mengenal lelah itu.
Melihat munculnya Hek Nio, Bi-kwi cepat maju menghampiri dan memberi hormat yang dibalas pula oleh Hek Nio dengan hormat karena pelayan inipun sudah pernah mendengar akan nama Bi-kwi yang lihai. Ia belum pernah bertemu dengan Bi-kwi, juga majikannya belum, akan tetapi tadi ia telah diberitahu akan ciri-ciri Bi-kwi oleh Sin-kiam Mo-li yang sudah mendengar pula tentang keadaan diri Bi -kwi.
"Benarkah saya berhadapan dengan Setan Cantik (Bi-kwi) Ciong Siu Kwi?" Hek Nio berkata, sikapnya tetap menghormat.
"Benar, akan tetapi aku ingin bertemu dengan Sin-kiam Mo-li sendiri, bukan orang lain," kata Bi-kwi hati-hati, akan tetapi sengaja memperlihatkan sikap angkuh, seperti sikapnya dahulu sebelum ia menjadi nyonya Yo Jin.
Hek Nio menjura. "Maaf, saya adalah pelayan bernama Hek Nio yang diutus oleh majikan saya untuk menyambut tamu. Akan tetapi, bagaimana saya dapat yakin bahwa engkau adalah benar Bi-kwi Ciong Siu Kwi? Kata majikan saya, kalau bukan Bi-kwi yang sesungguhnya, tidak boleh masuk."
"Huh, apakah Sin-kiam Mo-li begitu bodoh sehingga tidak mengenal mana orang aseli dan mana palsu? Mau bukti? Nah, inilah buktinya!" Tiba-tiba saja, secepat kilat menyambar, tubuh Bi-kwi sudah bergerak ke depan, akan tetapi yang meluncur maju hanya tangannya saja, sedangkan tubuhnya tetap di tempat. Jarak antara ia dan pelayan itu ada satu setengah meter, akan tetapi lengannya dapat mulur dan tahu-tahu tangan itu telah mencengkeram tengkuk pelayan itu dan mengangkatnya lalu melemparkannya ke atas! Tentu saja Hek Nio terkejut setengah mati. Iapun seorang yang sudah memperoleh latihan yang cukup lihai. Ketika tadi tangan Bi-kwi bergerak ke depan, ia membuat perhitungan bahwa tangan itu tidak akan mencapai dirinya. Akan tetapi siapa kira bahwa lengan itu dapat mulur dan tahu-tahu tengkuknya ditangkap dan tubuhnya dilempar ke atas. Ia segera berjungkir balik dan dapat turun lagi di atas tanah dengan baik sehingga Bi-kwi mengangguk-angguk.
"Pelayan Sin-kiam Mo-li boleh juga!" katanya.
Kini Hek Nio tidak berani main-main lagi. Semua tanda-tanda yang diberikan majikannya memang cocok dengan keadaan tamu ini. Maka iapun memberi hormat lagi sambil berkata, "Marilah, toanio. Majikan kami telah menanti di ruangan tamu," katanya sambil membalikkan tubuh dan melangkah ke depan. Bi-kwi tersenyum mendengar dirinya disebut nyonya besar, dan iapun mengikuti Hek Nio, akan tetapi dengan hati-hati dan menjaga agar ia selalu menginjak tanah bekas injakan pelayan itu. Di sepanjang perjalanan ini ia membuat cacatan dalam hatinya agar hafal akan jalan-jalan di tempat penuh rahasia itu. Karena ia memang seorang yang amat cerdik, ia sudah dapat membuat peta di dalam ingatannya, dan tahulah ia bahwa rahasia tempat itu berdasarkan pat-kwa sehingga lebih mudah untuk mengenal rahasianya.
Ketika ia dibawa masuk ke dalam rumah sampai ke ruangan tamu, di situ telah menunggu Sin-kiam Mo-li dan tujuh orang tosu. Dua di antara mereka amat dikenalnya, yaitu Ok Cin Cu tokoh Pat-kwa-pai dan Thian Kek Seng-jin tokoh Pek-lian-pai!
Seperti telah diceritakan di bagian depan, Bi-kwi pernah bentrok dengan dua orang tosu ini ketika memperebutkan Yo Jin yang ditawan oleh kedua tosu itu. Dengan sikap tenang, senyum manis di mulut, Bi-kwi memasuki ruangan tamu dan langsung saja ia menghampiri Sin-kiam Mo-li yang duduk tegak dengan sikap angkuh dan pandang matanya tajam penuh selidik mengamati wajah Bi-kwi yang cantik.
Bi-kwi menjura ke arah Sin-kiam Mo-li dan berkata dengan sikap ramah sekali, "Benarkah aku berhadapan dengan Sin-kiam Mo-li yang terkenal itu? Sungguh mengagumkan, ternyata lebih cantik dari pada yang pernah kudengar!"
Senang juga hati Sin-kiam Mo-li mendapatkan pujian ini dan iapun bangkit berdiri, mempersilahkan duduk sambil berkata, "Kiranya engkau yang berjuluk Bi-kwi? Memang julukan yang pantas, engkau cantik dan engkau cerdik, tentu juga pandai seperti setan!"
Bi-kwi tertawa. "Aih, Sin-kiam Mo-li sungguh pandai memuji, membikin aku merasa malu saja."
"Siancai....! Murid tercinta dari Sam Kwi tentu saja pandai!" tiba-tiba Thian Kong Cin-jin, wakil ketua Pat-kwa-pai berkata sambil tertawa. "Sebelum mati, tentu ketiga Sam Kwi telah mewariskan semua ilmu kepandaiannya kepada murid mereka yang sangat tercinta!" Kakek ini memberi penekanan kepada kata "tercinta" dan para tosu yang berada di situ tertawa, karena mereka semua sudah mendengar bahwa selain menjadi murid Sam Kwi, Bi-kwi juga menjadi kekasih mereka. Akan tetapi hal seperti ini dianggap tidak aneh oleh kaum sesat, maka dengan sikap enak saja, tanpa malu-malu atau kikuk, Bi-kwi menatap wajah kakek itu dengan tersenyum mengejek.
"Apa salahnya? Kalau kedua pihak sudah saling setuju, cinta boleh dimainkan oieh siapa saja, bukan? Tidak benar demikiankah, Mo-li?"
"Hi-hik, sekali ini Thian Kong Cin-jin termakan pertanyaan sendiri yang usil," kata Sin-kiam Mo-li, senang dan merasa cocok dengan Bi-kwi.
"Akan tetapi nanti dulu! Jangan terlalu percaya kepada wanita ini!" Tiba-tiba Ok Cin Cu berkata dengan lantang sambil bangkit berdiri dari bangkunya, memandang kepada Bi-kwi. "Harap kalian semua ketahui bahwa pinto berdua Thian Kek Seng-jin, pernah bentrok dengan Bi-kwi, dan dalam bentrokan itu, dia bekerja sama dengan seorang pendekar! Jangan-jangan kedatangannya ini adalah sebagai mata-mata dari para pendekar yang mengutusnya!"
Semua orang terkejut dan Sin-kiam Mo-li juga bangkit, meraba gagang pedang di punggungnya sambil memandang kepada Bi-kwi dan membentak, "Keparat! Benarkah itu, Bi-kwi?"
Bi-kwi memang sudah memperhitungkan serangan yang datang dari dua orang tosu itu sebelum ia datang ke tempat ini, maka iapun bersikap tenang saja, malah tersenyum mengejek tanpa bangkit dari tempat duduknya dan memandang kepada Ok Cin Cu dan Thian Kek Seng-jin, kemudian menghadapi Sin-kiam Mo-li.
"Tidak kusangkal bahwa memang pernah aku bentrok dengan dua orang tua bangka tak tahu malu ini, akan tetapi sayang tosu Ok Cin Cu yang terhormat ini sama sekali tidak menceritakan sebab bentrokan. Nah, Mo-li, aku mau bercerita, dan dua orang tosu tua bangka boleh mendengarkan dan membantah kalau ceritaku behong."
Sin-kiam Mo-li mulai bimbang dan kecurigaannya menipis melihat sikap Bi-kwi yang demikian tenang. Orang yang mengandung niat buruk tidak mungkin dapat setenang itu. "Ceritakanlah sebenarnya!"
"Begini, Mo-li. Pada suatu hari aku mendapatkan seorang kekasih baru yang amat kucinta. Akan tetapi pemuda kekasihku itu karena suatu percekcokan, telah ditawan orang yang dibantu oleh Ok Cin Cu dan Thian Kek Seng-jin! Nah, karena aku harus membebaskan kekasihku itu, maka terjadi bentrok antara aku dan mereka berdua sehingga terjadi perkelahian. Engkau tentu tahu sendiri bagaimana sakitnya rasa hati kalau kekasih diganggu orang, Mo-li. Apakah engkaupun tidak akan menjadi marah kalau kekasihmu yang baru saja kauperoleh dan sangat kaucinta, diganggu orang?"
Sin-kiam Mo-li mengangguk-angguk membenarkan. "Akan tetapi, bagaimana kau dapat bekerja sama dengan orang dari golongan pendekar? Benarkah itu?"
"Itupun ada ceritanya. Biar Ok Cin Cu melanjutkan keterangannya yang bermaksud melemparkan fitnah tadi. Ok Cin Cu, siapakah pendekar yang kaumaksudkan bekerja sama dengan aku itu?"
"Ha-ha-ha, jangan pura-pura menyangkal, manis. Dia adalah Pendekar Suling Naga!"
"Ahh....!" Sin kiam Mo-li terkejut karena iapun sudah mendengar akan kehebatan pendekar ini yang kabarnya memiliki ilmu kepandaian amat tinggi. Ia memandang kembali kepada Bi-kwi dengan alis berkerut dan mata mengandung kecurigaan. "Benarkah engkau bekerja sama dengan Pendekar Suling Naga dalam bentrokan melawan kedua orang totiang ini, Bi-kwi?"
Bi-kwi masih tetap tenang dan tersenyum simpul mengandung ejekan kepada dua orang tosu itu. "Tidak kusangkal, akan tetapi hal itupun ada penjelasannya. Biarlah kulanjutkan ceritaku, Mo-li, dan juga para totiang yang lain agar mendengarkan dan mempertimbangkan secara adil." Bi-kwi berhenti sebentar dan memandang kepada para tosu yang hadir bergantian dengan sinar mata yang bercahaya terang dan senyum manis sehingga di luar kesadaran mereka, para tosu yang terpesona oleh kecantikan wanita ini mengangguk.
"Sudah kuceritakan tadi betapa kekasih baruku ditawan oleh mereka berdua. Aku berusaha untuk membebaskannya sehingga terjadi bentrokan di antara kami. Kemudian, Ok Cin Cu dan Thian Kek Seng-jin menemui aku dan mengajukan usul, yaitu Thian Kek Seng-jin minta kepadaku untuk membantu mereka berdua untuk menyerang dan melawan seorang pendekar keluarga Pulau Es yang bernama Suma Ciang Bun. Dan aku sudah memenuhi permintaan itu sampai akhirnya kami bertiga berhasil melukai pendekar itu yang melarikan diri. Hei, Thian Kek Seng-jin, tidak benarkah ceritaku ini? Tidak benarkah bahwa aku telah membantu kalian menyerang Suma Ciang Bun dan melukainya?"
Thian Kek Seng-jin tidak dapat membantah dan diapun mengangguk.
"Nah, begitu baru laki-laki jujur," kata Bi-kwi. Ceritanya bahwa ia membantu mereka mengalahkan pendekar keluarga Pulau Es telah mendatangkan kesan baik dalam hati Sin-kiam Mo-li. "Selain Thian Kek Seng-jin, juga Ok Cin Cu minta kepadaku untuk melayani nafsu berahinya semalam suntuk. Kalau aku memenuhi kedua permintaan itu, baru mereka akan membebaskan kekasihku itu. Dan akupun dengan hati rela telah memenuhi permintaan Ok Cin Cu. Hei, Ok Cin Cu, bukankah aku telah melayani dan tidur bersamamu selama semalam suntuk?"
Ok Cin Cu bersungut-sungut. "Tidak ada bedanya tidur ditemani sesosok mayat!"
"Tentu saja, aku tidak cinta padamu dan hatiku sedang kesal karena kalian menawan kekasihku, mana mungkin aku bersikap hangat?" Bi-kwi tertawa dan Sin-kiam Mo-li juga tersenyum. Melihat bentuk tubuh Ok Cin Cu yang perutnya gendut sekali itu, mukanya pucat kuning dan rambutnya yang putih riap-riapan, wanita mana yang akan timbul seleranya berdekatan dengan dia?
"Nah, aku telah memenuhi permintaan mereka berdua, membantu mereka mengalahkan keluarga pendekar Pulau Es dan melayani Ok Cin Cu semalam suntuk, akan tetapi apa yang mereka lakukan? Mereka tidak mau membebaskan kekasihku, bahkan menyerang dan hendak membunuh aku!"
"Hemmm....!" Sin-kiam Mo-li melirik ke arah kedua orang tosu itu yang diam saja tak dapat membantah.
"Karena aku tidak dapat mengalahkan pengeroyokan mereka dan tidak berhasil membebaskan kekasihku, aku berduka sekali dan kebetulan aku bertemu dengan sumoiku, murid ke dua dari Sam Kwi yaitu Siauw-kwi. Nah, pada waktu itu Siauw-kwi sedang berpacaran dengan Pendekar Suling Naga. Mendengar kesulitanku, sumoi Siauw-kwi lalu membantuku dan pacarnya, yaitu Pendekar Suling Naga, membantu pula sehingga akhirnya aku berhasil membebaskan kekasih baruku itu. Nah, apakah hal itu berarti aku bekerja sama dengan seorang pendekar untuk menentang kedua orang tosu ini? Pertemuanku dengan dia hanya kebetulan saja dan pendekar itu tidak membantuku, melainkan membantu sumoiku Siauw-kwi yang menjadi pacarnya."
Sin-kiam Mo-li menarik napas lega dan menoleh kepada Ok Cin Cu dan Thian Kek Seng-jin. "Benarkah keterangannya itu, ji-wi totiang?"
"Benar, akan tetapi sumoinya yang berjuluk Siauw-kwi dan bernama Can Bi Lan itu telah bergabung dengan para pendekar!" kata Ok Cin Cu, masih bersungut-sungut karena diam-diam dia merasa jengkel mengenang betapa wanita cantik ini pernah melayaninya dengan dingin seperti mayat.
"Memang ada perbedaan antara aku dengan Siauw-kwi. Ia condong bekerja sama dengan para pendekar karena ia tergila-gila kepada Pendekar Suling Naga, bahkan ketika terjadi pertempuran antara kelompok yang dipimpin oleh Sai-cu Lama dan Kim Hwa Nio-nio, dengan kelompok para pendekar, iapun membantu para pendekar, bahkan bentrok dan berkelahi dengan aku sendiri! Akan tetapi, ketika ia melihat aku berduka karena kehilangan kekasih baruku, ia lalu membantu dan karena aku ingin sekali mendapatkan kekasihku yang tertawan, tentu saja bantuannya kuterima. Harapanku untuk menyelamatkan kekasihku habis ketika dua orang tosu ini melanggar janji dan menipuku!"
Sin-kiam Mo-li percaya akan keterangan Bi-kwi karena dua orang tosu itu tidak membantah. Akan tetapi, hatinya masih tak senang mendengar betapa Bi-kwi pernah dibantu oleh Pendekar Suling Naga, musuh besarnya karena di dalam pertempuran itu, yang membunuh ibu angkatnya, Kim Hwa Nio-nio, adalah Pendekar Suling Naga itulah!
"Bi-kwi, apakah sejak itu engkau tidak pernah lagi berhubungan dengan Pendekar Suling Naga?"
"Huh, untuk apa berhubungan dengan dia? Bertemupun aku tidak pernah! Sebelum dia membantu Siauw-kwi yang membantuku, pendekar itu dan semua temannya adalah musuh-musuh besarku. Sampai sekarangpun, para pendekar adalah musuh besarku!"
"Ha-ha, pendekar mana, Bi-kwi? Coba sebutkan!" kata Thian Kek Seng-jin.
"Tosu bau, pendekar mana lagi kalau bukan keturunan keluarga Pulau Es? Engkau sudah melihat dengan kedua matamu sendiri betapa aku membantu kalian mengalahkan dan melukai Suma Ciang Bun, keturunan keluarga Pulau Es!" Sikap Bi-kwi yang membenci Ok Cin Cu dan Thian Kek Seng-jin ini memang tidak mengherankan yang lain karena tentu Bi-kwi masih mendendam oleh pelanggaran janji dan penipuan itu.
"Bi-kwi, siapakah kekasihmu itu dan di mana dia sekarang?" Sin-kiam Mo-li bertanya, tertarik melihat betapa seorang seperti Bi-kwi yang terkenal mempunyai kesukaan yang sama dengannya, dapat membela seorang kekasih seperti itu.
Bi-kwi tersenyum lebar. "Aih, Mo-li, seperti tidak tahu saja. Mana aku dapat tahan bersama seorang kekasih lebih dari tiga bulan? Aku sudah bosan dan sudah lama dia kusingkirkan." Kemudian agar tidak harus melalui ujian dengan pria lain, apa lagi dengan tosu-tosu buruk di situ yang memandang kepadanya seperti segerombolan bandot melihat rumput muda, iapun menyambung, "Terus terang saja, Mo-li, sudah beberapa lamanya aku menjauhkan diri dari laki-laki. Aku sudah muak dengan mereka dan sebagai gantinya, aku lebih mendekatkan diriku dengan sesama wanita."
"Ehhh....?" Sin-kiam Mo-li membelalakkan matanya memandang rekannya itu. "Apa.... apa maksudmu?"
Terdengar Ok Cin Cu tertawa bergelak. "Ha-ha-ha, pantas saja ketika melayani aku, begitu dingin! Tidak tahunya engkau telah mengubah kesukaanmu, Bi-kwi. Mo-li, agaknya dalam hal kesenangan dunia, engkau biarpun lebih lihai dari Bi-kwi, namun kalah pengalaman. Bi-kwi telah menjadi seorang pencinta kaumnya sendiri, suka berhubungan dengan sesama wanita, seperti juga beberapa orang di antara kami lebih suka berdekatan dengan pria-pria muda remaja dari pada dengan gadis-gadis."
Sin-kiam Mo-li belum pernah mendengar akan hal yang dianggapnya aneh sekali itu, maka ia hanya bengong. Dan memang pengakuan Bi-kwi bahwa ia kini tidak suka kepada pria melainkan suka berdekatan wanita merupakan satu di antara siasatnya. Ia sedang menyelidiki lenyapnya puteri keluarga Kao, seorang gadis remaja berusia tigabelas tahun, dan sudah mengenal pula orang macam apa adanya Sin-kiam Mo-li. Kalau ia mengaku sebagai orang yang suka menggauli sesama wanita maka apabila benar-benar Kao Hong Li berada di situ dan masih hidup, lebih banyak kesempatan baginya untuk mendekatinya tanpa dicurigainya! Dan ia memiliki alasan untuk mendekati gadis remaja itu.
"Wah, aneh sekali Apa senangnya.... dengan sesama wanita?" kata Sin-kiam Mo-li tanpa malu-malu, sedangkan para tosu itu hanya tertawa-tawa saja.
"Ah, engkau belum tahu, Mo-li. Kalau engkau sudah merasakan senangnya, engkaupun akan sependapat dengan aku, tidak lagi suka kepada laki-laki yang memuakkan."
Suasana menjadi gembira dan legalah hati Bi-kwi karena kini sikap mereka itu ramah dan senang, seolah-olah ia telah diterima di antara mereka dan tidak lagi dicurigai. Akan tetapi, tiba-tiba Ok Cin Cu yang cerdik berkata kepada Sin-kiam Mo-li. "Mo-li, kalau kawan kita Bi-kwi ini demikian membenci pendekar keluarga Pulau Es, bahkan kini membenci pria pula, kenapa tidak suruh dia saja membunuh tikus itu?" Hati Ok Cin Cu masih penuh kebencian dan dendam kepada Hong Beng karena memang pemuda itu musuh besarnya, terutama sekali melihat betapa nyonya rumah agaknya tergila-gila pada pemuda itu.
Sin-kiam Mo-li mengerutkan alisnya. Usul yang baik, pikirnya. Inilah bukti yang paling baik untuk melihat apakah benar Bi-kwi datang dengan iktikad baik ataukah menyimpan rahasia dan menjadi kaki tangan musuh.
"Hemm, baik juga. Pemuda itu berani menolakku, dan berkeras kepala. Memang sebaiknya kalau Bi-kwi yang membunuhnya, akan tetapi tidak sekarang. Yang paling perlu sekarang aku ingin bertanya kepadamu, Bi-kwi. Apakah maksud kunjunganmu yang tiba-tiba ini?" Berkata demikian, sepasang mata yang mencorong itu ditujukan kepada wajah Bi-kwi dengan penuh selidik.
Bi-kwi tadi sudah terkejut setengah mati bahwa ia akan diserahi tugas membunuh seorang pemuda. Akan tetapi diam-diam ia mencatat kata-kata lanjutan dari Sin-kiam Mo-li yang menyatakan betapa pemuda itu telah menolaknya! Hal ini berarti bahwa Sin-kiam Mo-li jatuh hati kepada pemuda itu, entah siapa dan pemuda itu telah menolak cintanya! Kini ditanya oleh Sin-kiam Mo-li tentang maksud kedatangannya, ia menjawab dengan lancar dan tenang karena memang sebelumnya sudah diatur terlebih dulu sebagai siasatnya.
"Mo-li, seperti engkau ketahui juga, tiga orang guruku...."
"Juga kekasihnya.... heh-heh...." Ok Cin Cu mengejek.
"Benar, juga kekasihku, mereka telah tewas oleh para pendekar. Akan tetapi, para pendekar keturunan keluarga Pulau Es dan Gurun Pasir itu semuanya demikian lihai sehingga seorang diri saja, apakah dayaku? Aku ingin sekali membalas dendam, namun tahu akan kelemahan sendiri. Oleh karena itu, aku lalu teringat kepadamu, Mo-li. Bukankah engkau murid dari mendiang Kim Hwa Nio-nio, bahkan kabarnya juga anak angkatnya? Nah, Kim Hwa Nio-nio juga tewas dalam pertempuran itu. Aku yakin bahwa engkau tentu juga menaruh dendam. Karena musuh-musuh kita sama, maka kurasa alangkah baiknya kalau kita bergabung untuk menghadapi mereka. Karena itulah aku datang ke sini, Mo-li."
Sin-kiam Mo-li mengangguk-angguk dan memandang kepada tujuh orang tosu itu. "Bagaimana pendapat kalian, para totiang? Aku sendiri setuju untuk menerimanya sebagai sekutu karena Bi-kwi adalah tenaga yang amat baik, hal ini sudah banyak kudengar."
Para tosu itu lalu saling pandang dan dari pandang mata mereka, merekapun setuju dan senang kalau menerima bantuan seorang seperti Bi-kwi. "Akan tetapi, tidak mudah untuk bekerja sama dengan kami, Mo-li. Kepada dirimu, kami sudah percaya sepenuhnya. Akan tetapi kalau Bi-kwi ingin bekerja sama dengan kita, sebaiknya kalau ia memenuhi beberapa syarat terlebih dulu," kata Ok Cin Cu.
Bi-kwi menjebikan bibirnya memandang kepada Ok Cin Cu. Dalam kehidupan para tokoh sesat, memang tidak banyak dipergunakan tata susila dan sopan santun, sudah biasa mereka itu mengemukakan perasaan hatinya secara terbuka, bahkan perasaan tidak senangpun tidak disembunyikan.
"Ok Cin Cu, tosu tua bangka yang bau! Kalau syarat itu kau yang mengajukan aku tidak sudi karena engkau akan menipuku lagi! Biarlah syaratnya ditentukan oleh Sin-kiam Mo-li. Tentu saja kalau disuruh melayani laki-laki, betapapun muda dan gantengnya, aku berkeberatan karena aku sudah tidak dapat lagi melayani pria setelah aku lebih berdekatan dengan wanita. Apalagi disuruh melayani kalian ini, terutama sekali engkau, Ok Cin Cu. Aku tidak sudi! Nah, syarat apa yang diajukan agar kalian percaya kepadaku?" Biarpun di luarnya Bi-kwi bersikap tenang dan memantang, namun jantungnya berdebar penuh ketegangan karena maklum bahwa ia tentu takkan mampu melakukan perbuatan yang jahat dan kejam, yang berlawanan dengan suara hatinya yang sudah berubah sama sekali itu. Ia dapat menyamar sebagai tokoh sesat, karena hal itu hanya lahiriah saja. Akan tetapi betapa mungkin batinnya dapat berubah menjadi jahat kembali? Lebih baik mati!
"Mo-li, tidak ada bukti yang lebih baik dari pada menyuruh ia membunuh pendekar yang menjadi tawananmu itu. Kalau ia mau membunuhnya, barulah kami percaya kepadanya," kata Ok Cin Cu, marah karena ucapan Bi-kwi tadi menyinggung harga dirinya sebagai seorang pria.
Sin-kiam Mo-li mengangguk. "Bukti itupun baik sekali. Bi-kwi, mari ikut bersamaku!"
Bi-kwi menahan guncangan hatinya dan dengan sikap dibuat tenang iapun mengikuti Sin-kiam Mo-li, diikuti pandang mata dan tawa tujuh orang tosu itu. Sin-kiam Mo-li membawa Bi-kwi menuruni lorong di bawah tanah. "Hemm, menjemukan sekali tosu-tosu tua bangka itu!" Bi-kwi mengomel. "Mereka masih tidak percaya bahwa aku adalah musuh besar keluarga Pulau Es dan Gurun Pasir. Padahal, tiga orang guruku tewas di tangan para pendekar itu. Berilah orang-orang dari keluarga itu kepadaku dan akan kubunuh semua mereka!"
Sin-kiam Mo-li menghentikan langkahnya di jalan tangga yang menuruni lorong itu. "Ketahuilah bahwa aku mempunyai dua orang tawanan dan keduanya adalah anggauta keluarga dan murid dari para pendekar Pulau Es dan Gurun Pasir"
"Ahh....! Benarkah itu, Mo-li? Siapakah mereka?" tanya Bi-kwi terkejut bukan dibuat-buat.
Sin-kiam Mo-li tersenyum bangga akan keberhasilannya. "Pertama-tama, aku telah berhasil menculik puteri keturunan Pulau Es dan Gurun Pasir."
"Benarkah? Hebat! Siapa ia?" Bi-kwi pura-pura bertanya padahal jantungnya berdebar tegang karena ternyata dugaan Bi Lan dan Sim Houw benar, perempuan iblis inilah yang telah menculik Kao Hong Li itu.
"Ia benama Kao Hong Li, puteri dari pendekar Kao Cin Liong keturunan Gurun Pasir dan Suma Hui keturunan Pulau Es. Akan tetapi tak seorangpun yang menyangka padaku, dan baru-baru ini malah kukirim potongan rambutnya dan hiasan rambutnya kepada keluarga Kao yang mengadakan pesta ulang tahun!"
"Ihhh! Jadi engkaukah yang melakukan hal itu, yang melempar fitnah kepadaku?" Bi-kwi berseru kaget sekali, dan diam-diam ia waspada. Kalau wanita ini yang melakukan penukaran bingkisan di dalam pesta ulang tahun Kao Cin Liong itu, berarti Mo-li sudah tahu akan kehadirannya dan tentu menaruh curiga akan hubungannya yang baik dengan para pendekar!
"He-he, kaukira aku begitu bodoh untuk pergi sandiri ke sana? Ketika mendengar bahwa Kao Cin Liong mengadakan pesta ulang tahunnya aku lalu mengirimkan dua benda itu untuk membuat mereka gelisah dan berduka, dan aku menyuruh seorang teman yang boleh dipercaya untuk mengirim sumbangan itu tanpa diketahui siapa pengirimnya. Dia adalah Sai-cu Sin-touw (Copet Sakti Kepala Singa), seorang kawan baik yang ahli untuk mencuri atau mencopet dengan kecepatan luar biasa. Dan dia sendiripun membenci para pendekar karena seringkali dia bentrok dengan mereka dan pernah beberapa kali dihajar."
"Ah....!" Bi-kwi bernapas lega. Tahulah ia kini siapa orang brewok yang menurut para pelayan dalam pesta telah masuk ke dalam dapur pura-pura mabok, kemudian menaruh racun dalam arak. Kiranya itu adalah Sai-cu Sin-touw kaki tangan Sin-kiam Mo-li. Pantas saja dapat menukar bingkisannya tanpa ada yang mengetahuinya, karena dia memang ahli copet sesuai dengan julukannya.
"Dalam satu dua hari ini tentu dia kembali dan ingin aku mendengar laporannya, hi-hi-hik!"
Celaka, pikir Bi-kwi. Kini ia harus mengubah sikapnya, tidak mungkin lagi ia dapat berpura-pura tidak tahu akan penculikan itu. "Aihh, kiranya dia itu orangmu!" katanya lagi dengan sikap kaget dan memandang kepada nyonya rumah dengan mata terbelalak. "Sungguh suatu hal yang amat kebetulan sekali. Apakah barangkali engkau pula yang menyuruh Sai-cu Sin-touw itu melempar fitnah kepadaku?"
Sin-kiam Mo-li memandang tajam. "Dua kali engkau mengatakan melempar fitnah. Apa maksudmu?"
"Ketahuilah, Mo-li. Kao Cin Liong mengirim undangan dan membolehkan siapa saja mendatangi ulang tahunnya. Aku mendengar akan hal itu dan aku ingin sekali tahu apa yang terjadi dan ingin pula melihat-lihat keadaan semenjak tiga orang suhuku tewas. Maka aku nekat mendatangi pesta itu. Dan terjadilah fitnah itu. Orangmu itu telah menukar bingkisanku dengan bungkusan terisi rambut dan hiasan rambut itu. Dan tentu saja akulah yang dituduh menculik puteri mereka dan mereka menyerangku! "
"Ehh? He-he-he, sungguh lucu. Aku belum tahu akan hal itu karena Sin-touw belum kembali. Akan tetapi usahanya itu baik pula karena dia hendak mengacaukan pesta itu, dan karena iseng dan karena tahu pula bahwa engkau musuh mereka, maka dia sengaja menukar bingkisan itu. Hi-hik, sungguh lucu."
"Memang dia telah berhasil mengacaukan pesta dengan menaburkan racun ke dalam arak. Lagi-lagi aku yang menjadi pelampiasan amarah mereka. Tentu saja aku terpaksa melarikan diri menghadapi demikian banyaknya pendekar yang marah kepadaku. Dan akupun lalu lari ke sini untuk berlindung dan bersekutu denganmu."
Sin-kiam Mo-li terkekeh geli, sedikitpun tidak menaruh curiga kepada Bi-kwi karena wanita ini demikian berterus terang dan tidak nampak khawatir sama sekali. Kalau nanti utusannya itu pulang, tentu ia akan mendengar laporannya dan ia akan tahu apakah Bi-kwi membohong ataukah tidak.
"Ah, sungguh lucu sekali. Sai-cu Sin-touw memang pandai berulah. Kalau dia pulang aku akan memberi banyak hadiah kepadanya."
"Akan tetapi kenapa engkau menahan anak itu dan tidak kaubunuh saja?" Bi-kwi bertanya, sengaja bertanya dengan sikap kejam untuk memperlihatkan betapa bencinya ia kepada keluarga para pendekar itu.
"Aku suka kepadanya. Ia anak manis dan berbakat. Dan aku menculiknya dengan menyamar sebagai Ang I Lama sehingga aku muncul sebagai penolong bagi anak itu. Maka aku lalu mengambil ia sebagai muridku, agar aku dapat lebih lama menikmati kemenangan ini dan kelak baru aku akan memukul benar-benar, entah dengan cara bagaimana."
"Akan tetapi, kenapa sekarang kautawan?" Bi-kwi mendesak, heran.
"Ia mulai memberontak dan berpihak kepada seorang tawanan lain yang baru saja datang menyerahkan diri. He-heh, kau tentu tidak akan mampu menduga siapa orang itu. Dialah yang akan kami minta agar kau membunuhnya. Dia datang untuk mencari Hong Li, akan tetapi aku berhasil menangkapnya. Dia tampan dan gagah, dan aku..... hemm, aku suka padanya. Akan tetapi pemuda tak tahu diri itu berani menolak cintaku! Mestinya sudah kubunuh dia, akan tetapi entah bagaimana, aku sayang untuk membunuhnya, Bi-kwi. Kau tentu tahu bagaimana rasanya hati kalau sudah tergila-gila. Dia bernama Gu Hong Beng, murid dari musuhmu, Suma Ciang Bun tokoh Pulau Es itu."
"Aihh! Dia memang musuh besarku! Sudah beberapa kali dia bentrok dengan aku, bahkan ketika terjadi keributan di pesta, dialah yang menyerangku paling hebat, bahkan dia yang mengejar-ngejarku. Kiranya dia sudah tiba di sini? Tentu dalam usahanya mengejarku!"
"Aku percaya padamu, Bi-kwi. Akan tetapi para tosu itu tidak percaya, maka sebaiknya engkau bunuh saja dia."
"Apa sukarnya membunuh seekor harimau sekalipun kalau dia sudah berada di dalam kandang. Mari kita lihat." Bi-kwi memutar otaknya untuk mencari akal karena tentu saja ia tidak mau membunuh Hong Beng, walaupun untuk menyelamatkan dirinya dan menyelamatkan Hong Li sekalipun. Moli mengajaknya memasuki ruangan tahanan dan di sana, di dalam dua kamar tahanan yang berdampingan, Bi-kwi melihat seorang anak perempuan berusia kurang lebih tigabelas tahun yang manis sedang duduk bersandar dinding, dan di kamar lain nampak Hong Beng duduk bersila! Bi-kwi menahan perasaannya lalu ia menghampiri dan tertawa mengejek.
"Hi-hik, kiranya Gu Hong Beng manusia sombong itu kini telah tak berdaya, di dalam kerangkeng seperti seekor monyet!" Ia tertawa dan suaranya penuh sindiran.
Mendengar suara ini, Hong Beng membuka matanya memandang dan ketika dia melihat bahwa yang mengejeknya itu bukan lain adalah Bi-kwi yang datang bersama Sin-kiam Mo-li, mukanya menjadi merah sekali dan matanya memancarkan sinar berapi. Dia meloncat berdiri, bagaikan seekor harimau ingin dia dapat keluar dari kerangkeng untuk menerjang wanita itu. Dia bertolak pinggang dan menuding dengan telunjuk kirinya ke arah muka Bi-kwi.
"Bi-kwi, setan perempuan yang busuk! Perempuan busuk macam engkau ini selamanya akan tetap jahat dan busuk! Ternyata benar dugaanku bahwa engkau bekerja sama dengan Sin-kiam Mo-li untuk menculik adik Hong Li. Terkutuk engkau, Bi-kwi!"
Bi-kwi juga terkekeh mengejek. "Heh-heh, engkau seorang pemuda yang sombong dan goblok!" Kemudian setelah memandang ke arah Hong Li yang juga memandang tanpa bangkit dari duduknya, Bi-kwi berkata kepada Sin-kiam Mo-li, "Hemm, keenakan dia kalau dibunuh begitu saja, Mo-li. Membunuh dia apa sih sukarnya? Akan tetapi dia terlalu enak. Mari kita bicara di sana." Ia lalu mengajak Mo-li keluar dari tempat tahanan itu sampai tidak nampak oleh Hong Beng.
"Mo-li, sebetulnya sayang kalau dia dibunuh begitu saja. Aku sudah sering bentrok dengan dia dan tahu betul bahwa dia adalah seorang perjaka emas!"
"Perjaka emas? Apa maksudmu?"
"Aih, kiranya engkau belum banyak pengalaman dalam hal ini walaupun kita tadinya memiliki kesukaan yang sama, Mo-li. Dia seorang perjaka aseli yang bertulang baik dan berdarah bersih. Siapa yang pertama kali melakukan hubungan dengan seorang perjaka emas, tentu ia akan menjadi awet muda dan tak pernah dapat kelihatan tua!"
"Hemm, memang tadinya aku sayang kepadanya. Akan tetapi walaupun aku tadinya telah mempergunakan sihir, dia tetap menolak keinginanku."
"Hemm, mudah saja, Mo-li. Aku dapat menggunakan akal sehingga dia akan berubah menjadi seperti seekor kuda jantan yang jinak dan akan melayani segala keinginanmu dengan senang hati."
"Ah, benarkah itu, Bi-kwi? Aku akan berterima kasih sekali kalau benar engkau mampu membuatnya jinak untukku!" kata Sin-kiam Mo-li dengan wajah berseri.
"Akan tetapi, aku mempunyai satu permintaan yang kuharap akan kausetujui sebagai upahku. Aku melihat anak perempuan itu.... hemm, ia hanyalah anak dari musuh-musuh kita dan ia sudah tidak mentaatimu lagi. Sudah kukatakan tadi bahwa aku tidak mempunyai selera lagi terhadap pria, akan tetapi melihat seorang gadis remaja.... hemm, bolehkah aku meminjam tawananmu itu untuk semalam saja, Mo-li? Dengan demikian, kita berdua dapat bersenang-senang, engkau bersama pemuda yang ganteng dan gagah itu, dan aku bersama gadis remaja itu."
Mo-li sudah terlalu bernafsu untuk memikirkan hal lain. Apa lagi kini muridnya itu telah berubah, mungkin telah membencinya. "Baik, begitu pemuda itu mau memenuhi keinginanku, anak perempuan itu boleh kaumiliki semalam. Lakukanlah cepat, aku sudah tidak sabar lagi untuk melihatnya."
"Mo-li, engkau tahu bahwa tujuh orang tosu itu seperti anjing-anjing yang mengilar melihat kita berdua. Mereka itu seperti hendak berebut dan akan menerkamku kalau saja aku mau melayani mereka. Kalau mereka melihat kita berdua bersenang-senang dan tidak memperdulikan mereka, tentu membuat mereka iri dan marah, mungkin mereka akan menyatakan tidak setuju dengan niat kita. Karena itu, sebaiknya hal ini kita lakukan di luar pengetahuan mereka dan caranya terserah kepadamu untuk mengaturnya."
Sin-kiam Mo-li mengerutkan alisnya dan melihat kebenaran ucapan Bi-kwi. Memang tujuh orang tosu itu sudah dilayani oleh tiga orang pelayannya, akan tetapi agaknya tiga orang itu untuk mereka masih kurang dan mereka memang selalu mengincarnya dan juga mengincar Bi-kwi seperti yang dapat ia lihat dari pandang mata mereka terhadap Bi-kwi tadi. "Jangan khawatir, dapat diatur," katanya dan iapun menarik sehelai tali yang tergantung di sudut lorong. Tak lama kemudian, muncullah Ang Nio yang mendengar suara panggilan rahasia itu.
"Engkau cepat cari perempuan secukupnya untuk menemani tujuh orang tosu tamu kita itu. Berikan bayaran secukupnya. Aku dan Bi-kwi tidak ingin diganggu malam ini,"
Ang Nio tersenyum girang. Ia dan dua orang kawannya sudah merasa muak dengan tujuh orang tosu yang terpaksa harus mereka layani itu. Kini, Mo-li menyuruh ia mencari tujuh orang perempuan dari dusun di kaki bukit. Kalau ia membayar mahal, tentu banyak yang mau dan hal ini berarti ia dan kawan-kawannya akan bebas dari cengkeraman tosu-tosu tua yang rakus itu.
"Sekarang bagaimana, Bi-kwi?"
"Mo-li, sebaiknya kita lakukan usaha penjinakan pemuda itu malam nanti kalau para tosu sudah sibuk bersenang-senang di kamar masing-masing. Sementara ini, kita beritahukan kepada mereka bahwa pembunuhan atas diri pemuda itu ditunda karena engkau hendak menaklukkan dia terlebih dulu dengan bantuanku."
Sin-kiam Mo-li merasa agak kecewa bahwa tidak sekarang saja ia dapat mendekap pemuda itu, akan tetapi karena ia tidak mau terganggu oleh para tosu, iapun setuju. Mereka keluar lagi dari lorong bawah tanah dan memasuki ruangan tamu di mana para tosu masih makan minum sambil mengobrol dan tertawa-tawa. Biarpun mereka mengenakan jubah pendeta, namun sikap mereka jauh dari pada patut untuk menjadi pendeta-pendeta yang hidup saleh.
Melihat munculnya dua orang wanita itu, Ok Cin Cu yang masih mendongkol terhadap Bi kwi segera berkata, "Wah, kalian nampaknya tidak seperti orang-orang yang baru saja membunuh musuh. Apakah tikus itu sudah dibunuh?"
"Begitu melihat Bi-kwi, dia mencak-mencak dan memaki-maki. Jelaslah bahwa dia amat membenci Bi-kwi."
"Tentu saja," kata Bi-kwi, "sudah beberapa kali aku berkelahi melawan dia dan gurunya."
"Akan tetapi, aku tidak ingin dia mati begitu saja. Terlalu enak dan terlalu mudah baginya. Aku ingin menaklukkannya dulu, mempermainkan dan menghinanya sampat puas, baru aku akan membunuhnya," sambung Sin-kiam Mo-li.
"Ha-ha-ha, bagaimana mungkin, Mo-li Dengan sihirmupun engkau tidak dapat menundukkan dia malam itu," kata Thian Kek Seng-jin.
"Akan tetapi kini ada Bi-kwi yang akan membantuku. Ia mempunyai cara untuk menjinakkan pemuda itu untukku. Biarkan aku bersenang-senang, dan jangan khawatir karena sekarang aku sedang memesan beberapa orang gadis cantik dari dusun untuk menemani kalian bertujuh."
Mendengar ini, tujuh orang tosu itu menjadi gembira dan mereka tidak lagi menyatakan ketidakcocokan atau kecurigaan mereka terhadap rencana Mo-li dan Bi-kwi.
Malam itu, setelah para tosu memasuki kamar mereka bersama para wanita dusun yang didatangkan Ang Nio, Sin-kiam Mo-li dan Bi-kwi memasuki lorong bawah tanah. Bi-kwi memberi tahu kepada Mo-li bahwa ia memiliki minuman yang akan dapat merampas semangat Hong Beng, membuat pemuda itu lupa diri dan tentu akan menuruti semua permintaan Sin-kiam Mo-li.
"Akan tetapi bagaimana engkau akan dapat memaksanya untuk minum?"
"Serahkan saja kepadaku, Mo-li. Aku mempunyai akal dan engkau sebaiknya jangan ikut mendekat agar Hong Beng tidak menjadi curiga. Biarkan aku sendiri menghadapnya dan aku akan dapat membujuknya untuk minum obatku itu."
"Baik, akan tetapi jangan sampai engkau gagal, Bi-kwi." Kata-kata ini mengandung ancaman.
"Jangan khawatir, Mo-li, pasti berhasil. Akan tetapi ingat akan janjimu, begitu dia kelihatan menurut, gadis remaja itu harus diserahkan kepadaku."
"Baik."
"Nah, kau menanti dan mendengarkan dari sini saja, sebaiknya aku sendiri yang menghadapinya," kata Bi-kwi. Ia lalu memasuki ruangan kamar tahanan dan di bawah sinar lampu lentera yang cukup terang, ia melihat betapa Hong Li rebah terlentang di atas lantai, sedangkan Hong Beng sudah duduk bersila lagi. Di sudut terdapat mangkok-mangkok dan sumpit, sisa makanan yang diberikan kepada mereka oleh Hek Nio.
Melihat munculnya Bi-kwi, Hong Beng mengerutkan alisnya dan tetap saja duduk bersila. Sin-kiam Mo-li yang bersembunyi, mengikuti semua percakapan mereka dengan penuh perhatian. Ia seorang wanita yang cukup cerdik dan tidak ingin dikelabuhi, maka biarpun ia sudah percaya kepada Bi-kwi, tetap saja ia mengikuti semua peristiwa di ruangan tahanan itu dengan penuh perhatian. Ia merasa aman dan yakin bahwa hanya ia seoranglah yang dapat membebaskan Gu Hong Beng maupun Kao Hong Li, karena kunci kedua kamar tahanan itu selalu berada di saku bajunya.
"Perempuan iblis jahanam terkutuk! Mau apa engkau masuk ke sini? Mau membunuhku? Silahkan, aku tahu bahwa engkau hanyalah seorang pengecut yang beraninya hanya terhadap orang yang sudah tidak berdaya!" terdengar Hong Beng membentak dengan suara marah dan mengandung penuh kebencian sehingga hati Sin-kiam Mo-li menjadi kecil. Bagaimana mungkin Bi-kwi dapat membujuk pemuda yang demikian membencinya?
"Gu Hong Beng, engkau laki-laki yang sama sekali tidak mengenal budi," terdengar Bi-kwi berkata. "Butakah matamu, tidak dapatkah engkau melihat betapa Sin-kiam Mo-li telah jatuh cinta kepadamu? Kalau engkau seorang pemuda yang berakal sehat, tentu engkau memilih hidup dengan menemani Sin-kiam Mo-li bersenang-senang. Mengapa engkau demikian keras kepala, bukankah engkau adalah seorang laki-laki yang dewasa dan normal?" Sambil berkata-kata dengan suara membujuk ini, di luar tahunya Sin-kiam Mo-li karena Bi-kwi memegang kertas bertulis itu di depan perutnya sehingga Hong Beng saja yang dapat membacanya, Bi-kwi memberi tanda dengan kedipan mata kepada pemuda itu sementara mulutnya terus membujuk.
Sejenak Hong Beng tertegun. Tulisan itu mudah dibaca karena tulisannya besar dan jelas. Dia cepat membaca
"Aku datang untuk membebaskan engkau dan Hong Li. Bersikaplah bermusuhan denganku, kemudian minum obat yang kuberikan, lalu pura-pura mabok terbius. Selanjutnya, pura-pura lemas saja dan serahkan kepadaku, jangan bergerak sebelum kuberitahukan."
Hong Beng selesai membaca dan biarpun dia masih belum percaya benar, namun dia tahu bahwa tentu wanita ini datang bersama Sim Houw dan Bi Lan yang hendak menyelamatkan Hong Li.
"Sudahlah, perempuan siluman, jangan membujuk, percuma saja!" katanya sambil memberi isarat dengan matanya bahwa dia mengerti. "Lebih baik bunuh saja aku dari pada harus tunduk dan melakukan perbuatan hina itu!"
"Gu Hong Beng, pemuda tolol! Engkau masih muda belia, tampan dan gagah. Apakah kau lebih suka mati konyol dan menolak kesenangan yang dapat kaunikmati? Sekali lagi, maukah engkau menyerah dan menuruti semua keinginan Sin-kiam Mo-li? Ingat, kalau engkau menolak, aku sudah menerima perintah untuk membunuhmu sekarang juga."
Tanpa menanti sebentarpun, tanpa keraguan sedikitpun, Hong Beng membentak, sesuai dengan suara hatinya, juga sesuai dengan permintaan Bi-kwi dalam surat agar dia bersikap bermusuhan. "Keparat, tulikah engkau? Aku tidak sudi, sekali tidak sudi dan selamanyapun tidak sudi. Mau bunuh, lekas bunuh, siapa takut mati?"
Tiba-tiba terdengar suara halus dari kamar tahanan di sebelah, "Hemm, suara Gu-suheng demikian gagah perkasa, sedangkan suara perempuan ini seperti siluman tukang bujuk yang tak tahu malu!" Itulah suara Hong Li yang ikut merasa tegang dan marah.
"Aih, adik manis, jangan terlalu galak, nanti kemanisanmu berkurang! Engkau tunggu saja, engkau akan menikmati kesenangan luar biasa dengan aku." kata Bi-kwi, sengaja berkata demikian untuk lebih meyakinkan hati Mo-li yang mengintai dan mendengarkan.
"Siluman jahat, tak perlu engkau membujuk dan merayu aku!" Hong Li membentak marah dan Bi-kwi mengeluarkan suara ketawa mengejek.
"Siluman jahat, tak perlu banyak cakap lagi. Kalau engkau datang hendak membunuhku, lakukanlah. Aku akan menghadapi kematian dengan kedua mata terbuka! Jangan harap engkau akan dapat membuat aku ketakutan dengan bujukan dan ancaman!"
"Hemm, jadi engkau tetap memilih mampus? Engkau tidak takut mati? Hemm, aku masih belum mau percaya. Engkau tentu ingin mempergunakan kepandaianmu untuk mencoba menipuku dan membuat aku lengah. Kalau memang benar engkau memilih mati, nah, ini aku membawakan sebotol kecil racun. Beranikah engkau meminumnya? Engkau akan mati dengan tenang, seperti orang pergi tidur saja. Ataukah engkau memilih mati kuserang dengan jarum-jarum beracun dari luar kamar tahanan? Nah, minumlah ini kalau memang benar engkau tidak takut mati, bukan hanya bualan sombong belaka!"
Dari tempat persembunyiannya, Mo-li mengintai dengan jantung berdebar. Maukah pemuda itu minum obat yang akan membuatnya tunduk dan jinak seperti yang dijanjikan oleh Bi-kwi kepadanya?
"Gu-suheng, jangan percaya omongan siluman itu! Dari suaranya saja aku tahu bahwa ia seorang manusia siluman yang jahat, kata-katanya penuh dengan bujuk-rayu dan tipu. Jangan mau minum racun itu!" terdengar suara Hong Li yang merasa khawatir sekali. Ia tidak dapat melihat apa yang terjadi di kamar tahanan sebelah, akan tetapi dapat mendengar percakapan mereka.
Akan tetapi Hong Beng, setelah bertemu pandang yang penuh arti dengan Bi-kwi, menerima botol kecil berisi cairan bening itu, dan berkata dengan lantang karena diapun tahu bahwa sikap Bi-kwi yang penuh rahasia itu menunjukkan bahwa ada orang lain, tentu iblis betina Sin-kiam Mo-li, yang melakukan pengintaian. "Hemm, siapa takut mati?" Dan diapun membuka tutup botol dan meminumnya sampai habis. Diam-diam dia merasa geli karena tahu bahwa yang diminumnya itu hanyalah air putih biasa saja, tidak mengandung apa-apa yang mencurigakan! Dan kini Bi-kwi yang bermain sandiwara. Suaranya terdengar girang sekali.
"Hi-hik, kaukira aku pura-pura dengan ancaman kosong? Ha, lihat betapa wajahmu telah menjadi pucat, tubuhmu menjadi lemas. Ha-ha, ya, engkau boleh berusaha mengerahkan sin-kangmu, Gu Hong Beng, akan tetapi percuma saja. Semua kemauanmu telah lenyap, dan engkau menjadi penurut. Engkau akan mendengarkan semua perintah dan mentaatinya tanpa melawan sedikitpun. Ha-ha-ha!" Dan Hong Beng yang sebetulnya tidak merasakan sesuatu, kini melakukan apa yang dikatakan Bi-kwi. Dengan ilmu sin-kangnya, dia dapat menahan dan memperlambat jalan darah dan membuat mukanya tampak pucat, lalu tubuhnya terhuyung dan kalau dia tidak berpegang kepada jeruji, tentu dia sudah roboh. Kepalanya menunduk dan tergantung seolah-olah kepala itu terasa berat dan pening, matanya terpejam.
"Mo-li, ke sinilah dan lihat hasilnya!" Bi-kwi berseru ke belakang dan Sin-kiam Mo-li cepat berlari mendekati kamar tahanan itu. Ia menemukan Hong Beng dalam keadaan tak berdaya, bergantung ke jeruji jendela dan nampak pucat dan lemas. Giranglah hatinya melihat ini.
"Dia akan melakukan apa saja yang kauperintahkan, Mo-li."
"Ah, terima kasih, Bi-kwi. Aku akan membawanya ke kamarku sekarang juga."
"Aih, jangan lupa membuka kamar tahanan sebelah, Mo-li."
"Jangan khawatir. Nih kuncinya, kaubuka sendiri. Akan tetapi, jangan sampai ia terluka atau terbunuh, engkau hanya boleh meminjamnya saja untuk memuaskan seleramu yang gila. Aku masih belum selesai dengan anak itu!"
"Baiklah, siapa mau mencelakakannya? Aku.... aku sayang pada anak-anak seperti itu, bagaikan kuncup bunga yang mulai mekar, hi-hik!"
Kedua orang wanita itu membuka pintu kamar tahanan. Melihat masuknya seorang wanita yang tidak dikenalnya, akan tetapi yang diketahuinya adalah wanita yang dimakinya siluman tadi, yang tentu telah membius atau meracuni Gu Hong Beng seperti yang didengarnya tadi, Hong Li menjadi marah sekali. Begitu pintu kamar tahanan itu dibuka dari luar, dara cilik ini menyambut Bi-kwi dengan makian.
"Siluman betina keparat!" dan iapun sudah menerjang dan menyerang dengan nekat, bagaikan seekor anak harimau yang marah. Akan tetapi, tentu saja serangannya itu tidak ada artinya bagi seorang wanita selihai Bi-kwi. Dengan cekatan, wanita ini menyambut tubuh kecil yang menyerangnya itu dengan tangkapan tangan kiri sedangkan tangan kanannya sudah menotok pundak Hong Li. Anak itu terkulai lemas dan segera dipondongnya sambil tertawa kecil.
Sementara itu, melihat pintu kamar tahanannya terbuka dan melihat Sin-kiam Mo-li masuk, sukar sekali bagi Hong Beng untuk menahan dirinya untuk tidak menerjangnya. Akan tetapi dia teringat akan pesan Bi-kwi. Dia harus berhati-hati karena Bi-kwi bermaksud untuk menyelamatkan Hong Li. Kalau dia sembrono dan menurutkan nafsu hati lalu menyerang Mo-li, jangan-jangan dia membuat kapiran semua rencana Bi-kwi yang belum diketahuinya bagaimana. Karena itu, ketika Mo-li menyentuh lengan dan pundaknya untuk meyakinkan diri, dia membuat tubuhnya lumpuh dan jalan darahnya berjalan lambat sehingga wanita itu percaya bahwa dia benar-benar berada dalam pengaruh bius yang amat kuat. Diapun membiarkan saja wanita itu merangkulnya, menciumnya lalu tertawa kecil dan menuntunnya keluar dari dalam kamar penjara.
Ia bertemu dengan Bi-kwi di luar kamar tahanan, dan melihat Hong Li sudah terkulai lemas dipanggul oleh Bi-kwi. Bi-kwi tersenyum kepadanya.
"Bagaimana Mo-li? Tidak manjurkah obatku?"
"Memang ampuh, dan aku berterima kasih kepadamu, Bi-kwi," kata Sin-kiam Mo-li sambil merangkul pinggang Hong Beng.
"Gu Hong Beng...." kata Bi-kwi dan Mo-li mengira bahwa rekannya itu akan mengejek tawanannya, akan tetapi ternyata panggilan itu oleh Bi-kwi disambung dengan seruan, ".... serbuuu....!" Dan ia sendiri mengirim tamparan keras ke arah kepala Mo-li! Tentu saja Sin-kiam Mo-li terkejut bukan main. Cepat ia miringkan tubuhnya mengelak dan tamparan yang amat berbahaya itu, akan tetapi pada saat itu, Hong Beng juga sudah menyerangnya. Pemuda ini tadi dirangkul pinggangnya, maka hantaman Hong Beng yang amat dekat itu sukar sekali dielakkan dan biarpun ia sudah membuang diri, tetap saja punggungnya terkena pukulan tangan Hong Beng.
"Bukk!" Tubuh Sin-kiam Mo-li terpelanting keras dan ketika ia meloncat berdiri, dari mulutnya keluar darah segar! Wanita ini ternyata kuat sekali karena hantaman itu tidak membuatnya lemah. Ia bahkan mencabut pedangnya dan memandang dengan mata penuh kemarahan kepada Bi-kwi dan Hong Beng.
"Bi-kwi.... manusia hina, khianat dan curang!" bentaknya.
"Hong Beng, bawa ia keluar dari sini, suruh ia menjadi penunjuk jalan. Cepat.... biar kuhadapi siluman ini!" kata Bi-kwi sambil melemparkan tubuh Hong Li yang diam-diam telah ia bebaskan totokannya kepada Hong Beng. Pemuda itu cepat menangkap Hong Li dan dipondongnya gadis cilik itu, kemudian maklum bahwa yang terpenting adalah menyelamatkan Hong Li, dia meloncat keluar dari tempat tahanan itu.
Mo-li hendak mengejar, akan tetapi Bi-kwi sudah menghadang di depannya dan Bi-kwi juga mencabut pedangnya, menghadang Mo-li sambil tersenyum mengejek.
"Nah, sekarang kita boleh mengadu kepandaian, Mo-li. Akulah lawanmu!"
Saking marahnya, Sin-kiam Mo-li tidak mampu mengeluarkan suara, bahkan saking marahnya, ia tidak ingat untuk berteriak minta bantuan para pelayan dan juga para tamunya untuk mencegah Hong Beng dan Hong Li melarikan diri. Mulutnya menyeringai penuh kebencian, sepasang matanya mencorong seolah-olah ia hendak menelan Bi-kwi bulat-bulat. Kemudian ia mengeluarkan suara melengking nyaring dan pedangnya berubah menjadi sinar berkelebat, tahu-tahu pedang itu telah menyambar dan menusuk ke arah dada Bi-kwi.
"Cringgg....!" Bunga api berpijar menyilaukan mata ketika dua batang pedang bertemu dan Bi-kwi merasa betapa telapak tangannya panas dan lengan kanannya tergetar hebat. Maklumlah ia bahwa Sin-kiam Mo-li memang sesuai dengan julukannya, Iblis Betina Berpedang Sakti, amat hebat ilmu pedangnya. Oleh karena itu, sambil melawan dengan pedang, Bi-kwi mengeluarkan ilmu-ilmu tangan kosongnya yang tak kalah hebatnya. Ia mengisi tangan kirinya dengan ilmu yang disebut Kiam-ciang (Tangan Pedang), ilmu dari Sam Kwi yang amat terkenal. Dengan ilmu ini, tangan kirinya kalau dipergunakan untuk menyerang, tiada ubahnya sebatang pedang pula, yang selain amat kuat, juga dapat membabat anggauta tubuh lawan sampai buntung, bahkan lengan kiri ini berani menangkis senjata tajam karena telah dilindungi kekebalan Kiam-ciang. Di samping ini, ia juga merobah-robah ilmu pedangnya karena memang wanita ini telah mewarisi semua ilmu dari ketiga orang gurunya, yaitu mendiang Hek Kwi Ong si Raja Iblis Hitam, Im kan-kwi si Iblis Akhirat dan Iblis Mayat Hidup yang ketiganya merupakan datuk sesat yang terkenal dengan julukan Sam Kwi (Tiga Iblis).
Akan tetapi sekali ini Bi-kwi bertemu lawan yang amat tangguh pula. Sin-kiam Mo-li adalah anak angkat mendiang Kim Hwa Nio-nio, sudah mewarisi semua ilmu dari nenek sakti itu dan ditambah dengan pengalamannya yang luas, ia merupakan seorang wanita yang amat lihai, bukan saja dalam ilmu silat, melainkan juga memiliki kekuatan batin yang hebat karena ia pernah mempelajari ilmu sihir. Kalau saja ia tidak menghadapi seorang yang juga sudah matang seperti Bi-kwi, tentu ia dapat menjatuhkan lawan dengan ilmu sihirnya. Bahkan kinipun, dengan mengeluarkan lengkingan-lengkingan tajam yang mengandung kekuatan batin, beberapa kali Bi-kwi merasa jantungnya tergetar dan terguncang hebat yang hampir saja melumpuhkannya. Namun, maklum akan kesaktian lawan, Bi-kwi mengerahkan segala tenaga dan kemampuannya untuk melakukan perlawanan dengan amat gigihnya.
Hong Beng yang memondong Hong Li keluar dari kamar tahanan itu menurutkan petunjuk Hong Li. Ternyata lorong yang membawa mereka ke atas itu tidak terjaga. Tiga orang pelayan agaknya sedang asyik melayani tujuh orang tosu bersama wanita-wanita dusun. Hong Li minta turun dari pondongan karena tubuhnya sudah terasa segar kembali dan gadis inilah yang menjadi petunjuk jalan untuk keluar dari daerah berbahaya itu. Akan tetapi, tiba-tiba Hong Beng teringat akan Bi-kwi. Bagaimana dia dapat melarikan diri meninggalkan Bi-kwi di tempat berbahaya itu? Selama ini dia telah salah sangka terhadap Bi-kwi, bahkan terhadap Bi Lan dan Sim Houw! Dia telah menganggap bahwa Bi-kwi seorang wanita iblis yang tak mungkin menjadi baik kembali. Akan tetapi, kini dia melihat kenyatan betapa keliru pendapatnya itu, pendapat yang dulu didorong oleh perasaan iri dan cemburu karena cintanya terhadap Bi Lan gagal. Kini baru nampak olehnya, Bi-kwi telah menjadi seorang wanita yang gagah perkasa. Hal ini telah dibuktikannya. Bi-kwi rela mengorbankan diri, menghadapi Sin-kiam Mo-li yang demikian lihainya, yang masih dibantu tujuh orang tosu. Bi-kwi mengorbankan diri demi menyelamatkan dia dan Hong Li. Dan bagaimana mungkin dia sekarang melarikan diri meninggalkan wanita itu begitu saja diancam bahaya maut?
"Sumoi, tentu engkau tahu jalan keluar, bukan?"
"Tentu saja, aku sudah hafal jalan di sini dengan semua rahasianya, jangan khawatir, suheng. Aku akan membawamu keluar dari sini dengan aman."
"Bukan itu yang kukhawatirkan, sumoi. Engkau sekarang larilah secepatnya keluar dan di luar daerah ini, carilah sepasang pendekar yang bernama Sim Houw dan Can Bi Lan, lalu bawalah mereka masuk untuk membantu kami. Aku harus cepat kembali untuk membantu nona Ciong Siu Kwi."
"Siapakah itu?"
"Wanita tadi...."
"Ah,.... siluman itu?"
"Tidak, sumoi. Ia hanya pura-pura, termasuk siasatnya agar dipercaya oleh Sin-kiam Mo-li. Ia datang untuk menyelamatkan engkau dan ia datang bersama Sim Houw dan Bi Lan itulah. Sudah, aku tidak dapat bicara banyak, engkau cepatlah lari mencari bantuan mereka. Kalau terlambat, mungkin nona Ciong dan aku akan tewas di tangan Mo-li dan tujuh orang tosu itu!" Tanpa menanti jawaban, Hong Beng melompat dan lari kembali ke arah bangunan besar di tengah hutan dan rawa itu.
Sejenak Hong Li berdiri bingung, akan tetapi iapun dapat menangkap apa yang terjadi menurut cerita Hong Beng tadi, maka iapun cepat melompat dan melanjutkan larinya keluar dari daerah itu. Ia merasa khawatir sekali akan keselamatan pemuda yang menjadi suhengnya itu, dan ia harus dapat cepat menemukan sepasang pendekar seperti yang dikatakan oleh Hong Beng tadi. Juga kini Hong Li baru melihat kenyataan betapa gurunya, Sin-kiam Mo-li, yang selama ini dianggapnya menjadi ibu angkat dan gurunya, amatlah jahatnya. Maka iapun tidak ragu-ragu untuk membantu Gu Hong Beng, kalau perlu ia bahkan siap untuk menentang kejahatan subonya sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar