30 Suling Naga

"Hemmm, siapakah tadi pengirim sumbangan ini?" Kao Cin Liong juga berkata dengan suara geram dan memandang ke sekeliling. Mendengar keterangan nyonya rumah bahwa isi bungkusan itu adalah perhiasan rambut yang biasa dipakai anak perempuan yang hilang diculik orang, tentu saja para tamu yang merubung meja sumbangan itu menjadi gempar. Mereka yang duduk di belakang segera mendengar dari mereka yang duduk di depan dan sebentar saja seluruh tamu mengetahui bahwa telah terjadi hal aneh, yaitu bahwa seorang di antara para tamu menyumbang perhiasan milik anak tuan rumah yang tadi dikabarkan hilang diculik orang. Tentu saja suasana menjadi gempar seketika.

"Iblis betina itulah yang tadi menyumbangkan bungkusan merah!" Tiba-tiba Gu Hong Beng berseru dan diapun sudah melompat dan lari menghampiri Bi-kwi dan Yo jin yang masih ikut bingung dan bertanya-tanya mendengar peristiwa yang meributkan itu.

Begitu berhadapan dengan Bi-kwi, Gu Hong Beng menudingkan telunjuknya ke arah muka Bi-kwi dan berkata dengan suara lantang, "Iblis betina, sungguh engkau jahat dan keterlaluan sekali, berani menghina kami! Engkaulah yang menculik adik Kao Hong Li, kemudian engkau berani mati datang untuk membawa perhiasan dan rambut adik Hong Li sebagai barang sumbangan!"

"Apa.... apa maksudmu? Harap jangan menuduh sembarangan. Bukan kami yang memberi barang seperti itu. Kami menyumbangkan sebuah benda lain!" kata Bi-kwi dengan sikap masih sabar walaupun pemuda itu memandang dengan mata melotot dan sikap bengis, siap hendak menerjangnya.

"Iblis betina, siapa tidak mengenalmu? Bi-kwi terkenal sebagai seorang wanita iblis yang jahat dan keji. Kiranya engkau yang menculik adik Hong Li dan kini datang sengaja hendak membikin kacau!"

Berkata demikian, pemuda ini menyerang. Serangannya amat hebat sehingga Bi-kwi yang tidak ingin membalas, dan tidak ingin melayani, ketika mengelak ke kiri masih saja tersentuh pundaknya oleh serangan itu dan wanita inipun terhuyung menabrak meja sehingga semua mangkok dan panci di atas meja itu terlempar dan jatuh berantakan. Tentu saja para tamu cepat berloncatan menjauhi perkelahian itu. Melihat isterinya diserang, Yo Jin segera melangkah maju. Dengan sikap sabar dia menghadapi Hong Beng.

"Saudara yang gagah, harap bersabar dulu. Sesungguhnya, apa yang dikatakan isteriku tadi benar belaka. Kami datang dengan iktikad baik, demi penghormatan kami terhadap tuan rumah yang masih terhitung suheng dari adik Can Bi Lan, dan kami berdua tadi memang memberi bingkisan sutera merah, isinya sebuah bros dari emas permata. Aku sendiri yang memilihkan di antara perhiasan milik isteriku, maka harap saudara bersabar dan jangan salah sangka...."

Mendengar bahwa laki-laki ini suami Bi-kwi, tentu saja Hong Beng tidak mau menerima keterangannya. Seorang suami tentu saja membela isterinya, pikirnya dan diapun mendorong tubuh laki-laki itu ke samping sambil berkata, "Minggirlah kau!"

Dorongan Hong Beng adalah dorongan seorang ahli silat yang memiliki ilmu kepandaian tinggi dan tenaga sin-kang yang hebat, maka tentu saja Yo Jin yang tidak pandai ilmu silat itu, sekali tersentuh dorongan itu, tubuhnya terlempar menabrak beberapa buah kursi kosong dan jatuh terbanting dengan kerasnya!

"Hong Beng, engkau sungguh keterlaluan! Apakah kaukira di dunia ini hanya engkau seorang saja yang gagah dan benar, sedangkan orang lain semua jahat dan bersalah?" Tiba-tiba Bi Lan sudah berada di situ dan membentak dengan marahnya ketika ia melihat Hong Beng tadi memukul Bi-kwi yang sama sekali tidak melawan, bahkan pemuda itu mendorong roboh Yo Jin dengan keras.

Tadinya Hong Beng terkejut sendiri melihat betapa dorongannya membuat laki-laki yang mengaku suami Bi-kwi itu terlempar dan terjatuh, bahkan khawatir kalau-kalau orang itu terluka parah. Dia tidak tahu bahwa laki-laki yang menjadi suami seorang iblis betina seperti Bi-kwi ternyata tidak pandai ilmu silat sama sekali sehingga roboh oleh dorongan begitu saja. Akan tetapi ketika melihat munculnya Bi Lan yang kembali membela Bi-kwi, kemarahannya berkobar lagi.

"Can Bi Lan, engkau kembali berani hendak melindungi orang yang demikian jahatnya? Benar-benar engkau telah tersesat! Ia adalah iblis betina yang telah menculik adik Hong Li, dan kini ia datang untuk membikin kacau, dan engkau masih membelanya? Kalau begitu, engkau benar-benar telah berubah jahat!"

"Manusia sombong, engkau sudah buta oleh kesombonganmu. Engkaulah yang jahat!" Bi Lan membentak dan mereka berdua, seperti dikomando saja, tidak tahu siapa yang mulai, telah saling menyerang dengan marahnya. Karena mereka berdua adalah orang yang berkepandaian tinggi, maka perkelahian itu hebat dan para tamu menjauhkan diri, diam-diam merasa girang karena mereka memperoleh kesempatan untuk menonton perkelahian yang bermutu. Para tamu itu adalah orang-orang dari dunia persilatan, baik dari golongan hitam maupun putih, maka tidaklah mengherankan kalau mereka suka sekali nonton adu ilmu silat, terutama kalau adu ilmu itu dilakukan oleh dua orang muda yang demikian lihainya. Suara angin pukulan mengaung-ngaung. dan menyambar-nyambar ganas, membuat para penonton menjadi kagum bukan main.

Melihat kekasihnya sudah berkelahi dengan Hong Beng, Sim Houw cepat meloncat ke depan dengan maksud untuk melerai perkelahian itu. Akan tetapi, Suma Ciang Bun yang sejak tadi sudah mendekati tempat perkelahian, siap untuk membantu muridnya kalau muridnya terdesak, merasa curiga dan mengira bahwa majunya Sim Houw tentu untuk membantu Bi Lan. Maka, tanpa banyak cakap lagi diapun menyambut datangnya Sim Houw dengan serangan pukulannya yang ganas dan dahsyat karena dia menyerang dengan pengerahan tenaga Hui-yang Sin-kang yang amat panas. Demikian panasnya hawa serangan itu sehingga terasa oleh para tamu yang sudah menjauhkan diri. Para tamu menjadi semakin gembira melihat dua orang itu sudah saling terjang dengan dahsyatnya. Sim Houw seperti biasa, mengalah dan hanya menangkis atau mengelak, sedangkan hatinya merasa bingung dan gelisah sekali. Tak disangkanya bahwa kembali dia dan kekasihnya terlibat perkelahian dengan guru dan murid yang galak dan selalu memusuhi Bi Lan itu.

Melihat betapa gara-gara ia dituduh menculik anak tuan rumah, kini sumoinya yang jelas membelanya telah berkelahi, juga Sim Houw berkelahi dengan Suma Ciang Bun, Bi-kwi menjadi bingung dan juga khawatir sekali. Ia meloncat maju untuk melerai perkelahian antara Bi Lan dan Hong Beng. Melihat, ini, Kao Cin Liong dan Suma Hui cepat lari menghampiri tempat perkelahian. Mereka tentu saja ingin menangkap Bi-kwi yang dituduh sebagai pembawa bingkisan yang berisi perhiasan dan rambut kepala anak mereka. Akan tetapi mereka kecelik kalau tadi mengira bahwa Bi-kwi hendak membantu Bi Lan. Ternyata Bi-kwi meloncat maju bukan untuk membela Bi Lan melainkan untuk melerai. Ia memegang lengan Bi Lan dan menariknya ke belakang sambil berkata, "Sumoi, tahan dulu, sebaiknya kita bicara baik-baik!"

Perbuatan Bi-kwi ini dapat mencelakakan sumoinya karena ia menangkap lengan kiri Bi Lan dan menariknya ke belakang dan pada saat itu, Hong Beng yang juga mengira akan dikeroyok dua, sudah menerjang maju dan menyerang Bi Lan yang posisinya buruk karena sebelah lengannya diganduli Bi-kwi. Pada saat itu, Kao Cin Liong sudah menangkap pundak Hong Beng.

"Hong Beng, tahan dulu!" teriak Kao Cin Liong dan tentu saja Hong Beng tidak berani meronta setelah dia tahu siapa orangnya yang menahannya. Dengan muka masih merah karena marah, matanya bersinar-sinar memandang ke arah Bi Lan dan Bi-kwi, diapun menghentikan gerakannya dan melangkah mundur.

Sementara itu, Suma Hui juga sudah melerai perkelahian antara Suma Ciang Liong dan Sim Houw. Lebih mudah melerai perkelahian ini karena memang Sim Houw tidak melawan. Suma Hui hanya menghadang di depan Suma Ciang Bun dan minta kepada adiknya itu untuk menghentikan serangan. Suma Ciang Bun menahan gerakannya, memandang marah kepada Sim Houw.

"Sudah jelas iblis betina Bi-kwi itulah penculik anakmu, enci Hui. Kalau mereka hendak membela, mari kita turun tangan membasmi mereka yang jahat itu!"

"Nanti dulu, Bun-te, kita bicara dulu dengan mereka, minta penjelasan," kata Suma Hui.

Kini Kao Cin Liong dan Suma Hui menghadapi Bi-kwi yang sudah menolong suaminya. Untung bahwa Yo Jin tidak terluka parah, hanya kulitnya yang lecet-lecet saja. Mereka kini berdiri berdampingan, di depan Kao Cin Liong dan Suma Hui yang melihat betapa sikap suami isteri itu sama sekali tidak kelihatan takut atau khawatir seperti orang yang berdosa. Mereka nampak tenang saja dan wajah mereka membayangkan rasa penasaran.

Melihat ini, Kao Cin Liong tidak mau sembarangan menuduh. Dia mendahului isterinya, berkata kepada Bi-kwi, "Nona Ciong," katanya, tidak mau menyebut nama julukan Bi-kwi karena dia sudah mendengar penuturan Bi Lan tentang wanita ini, "kami mengharap sukalah engkau memberi keterangan apa artinya engkau dan suamimu sebagai tamu kami memberi bingkisan seperti ini! Ini adalah hiasan rambut anak kami yang hilang diculik orang!" Berkata demikian, Kao Cin Liong dan isterinya memandang tajam kepada wajah wanita itu penuh selidik.

Bi-kwi menghela napas panjang, lalu menjura dengan hormat. "Kao-taihiap berdua yang terhormat, kiranya akan sia-sia kalau orang seperti saya yang memberi keterangan karena tentu tidak akan dipercaya dan sayapun tidak menyalahkan mereka yang tidak percaya karena saya pernah menjadi seorang tokoh sesat yang hidup menyeleweng. Akan tetapi suami saya ini, Yo Jin, adalah seorang petani yang jujur dan selamanya hidup bersih. Biarlah dia yang memberi penjelasan." Berkata demikian Bi-kwi memandang kepada suaminya dengan sinar mata penuh permohonan, dan Yo Jin pun maju dan memberi hormat kepada Kao Cin Liong dan isterinya.

"Semua yang diceritakan isteri saya tadi benar belaka. Ketika mendengar undangan umum untuk menghadiri hari ulang tahun Kao-taihiap, isteri saya menyatakan keinginan hatinya untuk pergi menghadiri pesta perayaan itu. Saya sudah ragu-ragu dan menyatakan keberatan karena saya takut kalau-kalau timbul urusan lagi dengan isteri saya yang banyak dimusuhi orang. Akan tetapi isteri saya memaksa dengan alasan menghormat Kao-taihiap yang dianggap suheng dari adik Bi Lan yang kami sayang dan hormati.

Terpaksa saya setuju dan saya sendiri lalu memilih di antara kumpulan perhiasan isteri saya untuk dibawa sebagai barang bingkisan. Saya memilih sebuah hiasan bros emas permata berbentuk burung Hong. Inilah keterangan yang sesungguhnya dan saya berani bersumpah akan kebenarannya. Kalau sekarang bungkusan sutera merah itu berisi benda lain, bagaimana kami mengetahuinya?"

Kao Cin Liong saling pandang dengan isterinya, keduanya mengerutkan alisnya.

Hong Beng yang sejak tadi mendengarkan, tiba-tiba berkata kepada Kao Cin Liong dengan suara lantang, "Harap Kao-locianpwe dan bibi guru tidak mudah ditipu oleh Bi-kwi. Ia terlalu jahat dan saya mengenal kejahatan dan kepalsuannya semenjak Sam Kwi masih hidup. Saya merasa yakin bahwa kalau bukan ia yang telah menculik adik Hong Li, setidaknya ia tentu tahu tentang penculikan itu!"

Mendengar ucapan Hong Beng itu, Bi-kwi maju dan memberi hormat kepada tuan rumah. "Kao-taihiap, tidak saya sangkal bahwa saya pernah mengambil jalan hidup yang sesat penuh dosa. Akan tetapi biarpun demikian, belum pernah saya menjadi seorang pengecut. Andaikata benar saya yang menculik puteri taihiap, dan saya telah berani datang ke sini mengembalikan hiasan rambutnya, lalu apa perlunya saya menyangkal mati-matian? Kalau saya sudah berani melakukan itu, dan berani pula datang ke sini menyumbangkan hiasan rambut, tentu saya berani pula menghadapi segala resiko dan akibatnya! Dan tentu saja tidak akan begitu bodoh dan gila untuk mengajak suami saya yang sedikitpun tidak tahu ilmu silat. Harap taihiap pertimbangkan, karena saya tahu bahwa menyangkal dan membela diri dengan kata-kata, tentu tidak akan dipercaya."

Kao Cin Liong kembali saling pandang dengan isterinya, bingung karena mereka sendiripun bimbang. Mereka percaya kepada tuduhan Hong Beng tadi, akan tetapi mereka juga dapat menerima alasan Bi-kwi.

"Kao-suheng, saya berani menanggung kebenaran ucapan suci Ciong Siu Kwi!" tiba-tiba Bi Lan berkata dengan sikap gagah dan matanya melirik ke arah Hong Beng. "Saya yang mengenal betul keadaan hidup enci Ciong Siu Kwi sebelum ia sadar dan sekarang saya tahu betul bahwa ia telah merobah cara hidupnya. Saya yakin ia tidak bersalah sedikitpun juga dalam urusan kehilangan puteri suheng. Kalau saya menduga bahwa ia penculiknya, saya sendiri yang akan menentangnya, kalau perlu membunuhnya karena bukankah saya sudah berjanji kepada suhu dan subo, bahwa saya takkan menikah dan takkan kembali sebelum dapat menemukan puteri suheng? Tidak, suci Siu Kwi tidak bersalah, hal ini saya yakin benar!"

Melihat sikap dan pembelaan Bi Lan yang demikian penuh semangat, Bi-kwi merasa terharu sekali. "Sumoi, jangan engkau terlalu membelaku. Sudah kulihat betapa karena engkau menolong aku yang kotor dengan air lumpur, maka engkau sendiri terpercik lumpur dan direndahkan orang lain."

"Tidak, suci. Aku tidak membela engkau atau seorang suci, melainkan membela kebenaran. Siapapun dia kalau berada di pihak benar, sudah sepatutnya kubela."

Mendengar percakapan antara suci dan sumoi itu, Kao Cin Liong dan Suma Hui menjadi semakin ragu-ragu akan kesalahan Bi-kwi.

"Nona Ciong, bagaimanapun juga, bingkisan ini tadi adalah pemberianmu, oleh karena itu, kami yang kehilangan anak perempuan kami, kalau tidak menuduhmu yang tadi memberi bingkisan ini, lalu harus menuduh siapakah?" kata Suma Hui, sambil memandang tajam kepada Bi-kwi.

Wanita ini lalu melangkah maju. "Saya merasa bertanggung jawab, oleh karena itu, saya mohon sukalah Kao-taihiap menyerahkan barang itu kepada saya untuk saya selidiki sebentar."

Tanpa ragu-ragu Kao Cin Liong menyerahkan bungkusan perhiasan rambut dan segumpal rambut itu kepada Bi-kwi, berikut bungkusnya, yaitu sutera merah. Bi-kwi menerimanya, lalu memeriksanya dengan teliti. Mula-mula ia memeriksa kain sutera pembungkusnya, kemudian isinya. Sinar matanya mencorong dan iapun memandang ke kanan kiri.

"Kao-taihiap, penculik anak taihiap itu berada di sini, di antara kita semua! Dia seorang di antara para tamu!"

Kao Cin Liong dan isterinya, juga para anggauta keluarga dan para tamu yang mendengar ucapan ini, terkejut dan suasanapun menjadi bising. Bi-kwi lalu berkata kepada tuan rumah, "Kalau Kao-taihiap percaya kepada saya dan suka meluluskan permintaan Saya, marilah kita berunding di dalam saja."

Kao Cin Liong dan isterinya mengangguk, lalu minta kepada Hong Beng dan gurunya untuk mewakili pihak tuan rumah melayani para tamu, sedangkan dia bersama isterinya, juga diikuti oleh para keluarga, yaitu Kam Hong dan Bu Ci Sian, Suma Ceng Liong dan Kam Bi Eng, lalu Sim Houw dan Bi Lan juga diajak masuk bersama Bi-kwi dan Yo Jin.

Setelah tiba di dalam, Bi-kwi lalu cepat memberi keterangan. "Kao-locianpwe, jelaslah bahwa bingkisan kami tadi ada yang mengambil dan menukarnya dengan bingkisan ini. Hal itu tentu terjadi ketika orang-orang datang merubung meja tempat hadiah dan orang itu tentu pandai sekali sehingga tidak ada yang melihat perbuatannya. Karena kami datang terlambat dan bingkisan kami berada di atas, maka hal itu mudah dia lakukan."

"Bagaimana engkau dapat mengatakan bahwa bingkisanmu itu ditukar orang? Apa tandanya?" tanya Suma Hui.

"Sutera merah ini berbeda dengan sutera merah yang kami pakai untuk membungkus perhiasan bros itu. Dan pula, sebelum dibungkus sutera merah, kami membungkusnya dengan kertas kuning lebih dulu. Akan tetapi bungkusan ini tidak ada kertas kuningnya. Jelaslah, ada seorang yang sengaja memalsukannya."

"Akan tetapi, apa maksudnya?" tanya Kao Cin Liong.

"Hemm, kalau benar demikian, maksudnya sudah jelas!" kata Suma Ceng Liong. "Pertama, untuk mengacaukan pesta, ke dua untuk mengadu domba. Kita cari dan tangkap dia selagi masih berada di sini!" Pendekar ini bangkit.

"Nanti dulu!" tiba-tiba Sim Houw berkata.

"Saya harap cuwi tidak tergesa-gesa dalam hal ini. Sudah jelas bahwa di antara para tamu terdapat seorang atau lebih musuh yang bergerak secara rahasia. Di antara sekian banyaknya tamu, bagaimana kita dapat mengetahui yang mana orangnya? Tidak ada bukti apapun padanya dan dia yang menukar bingkisan tadi tentu tidak begitu bodoh untuk membiarkan bingkisan itu masih ada padanya kalau dilakukan penggeledahan. Kita akan gagal, bahkan mungkin sekali menyinggung perasaan para tokoh yang tidak berdosa. Juga berarti kita mengejutkan ular yang berada di dalam rumput dan semak-semak kalau kita menggebrak rumput dan semak-semak itu. Kalau hendak menangkap ular yang bersembunyi di dalam rumput, harus dengan hati-hati jangan sampai dia kaget dan siap siaga."

Suma Ceng Liong mengangguk-angguk. "Pendapat ini memang tepat memang, akan tetapi aku tidak melihat lain jalan untuk dapat menangkap penculik Hong Li."

"Menangkap penculik itu adalah tugas kami berdua dan kami sudah menemukan jejak. Memang sebaiknya kalau orang yang membikin kacau pesta ini dibiarkan saja agar dia tidak membuat laporan kepada atasannya. Saya yakin bahwa yang datang menukar bingkisan itu hanyalah kaki tangan penculik itu, bukan si penculik sendiri karena kalau ia yang muncul, mungkin kami berdua dapat mengenalnya," kata Bi Lan.

Mendengar ini, Kao Cin Liong dan isterinya terkejut, juga girang. "Sumoi, siapakah penculik jahanam itu?" tanya Kao Cin Liong.

"Suheng, kami memperoleh petunjuk ketika melakukan perjalanan dari Gurun Pasir, tentang seorang wanita berjuluk Sin-kiam Mo-li. Ia adalah anak angkat dari mendiang Kim Hwa Nio-nio, dan menurut pendengaran kami, ia selain amat lihai dalam ilmu silat, juga pandai ilmu sihir. Kami hendak menyelidik ke sana dan mudah-mudahan kami berhasil. Sebaiknya, urusan penukaran bingkisan ini tidak dibikin ribut agar penculik itu tidak menjadi terkejut dan siap siaga sehingga menyusahkan kita serdiri untuk mencarinya."

"Hemmm, kalau begitu, aku akan ikut membantumu, sumoi!" kata Bi-kwi. "Urusan ini sekarang menjadi urusanku pula karena aku telah dilibatkan orang sehingga namaku dicemarkan dan aku yang dituduh menculik. Untuk membersihkan ini, tidak ada jalan lain kecuali aku bertindak menangkap si penculik." Lalu ia berkata kepada Yo Jin, "Suamiku, kuharap engkau pulang sendiri terlebih dulu, aku harus membantu sumoi dan Sim-taihiap untuk menangkap penculik."

Yo Jin mengerutkan alisnya, menarik napas panjang dan menggeleng kepala, lalu berkata, "Sebenarnya hatiku amat berat melepas engkau pergi, isteriku, akan tetapi aku melihat bahwa memang fitnah itu membuat engkau terpaksa bertindak. Inilah jadinya kalau mendekati keramaian kota, ada saja urusan menyusahkan diri!"

Suma Ceng Liong yang mendengarkan sejak tadi, mengangguk-angguk. " Mudah-mudahan saja dugaan semua itu benar. Memang jelaslah bahwa penculik itu sengaja hendak menyusahkan keluarga kita. Pertama dengan menculik Hong Li, kemudian berusaha mengadu domba dan mengacau pesta. Karena Hong Li merupakan keturunan dari Pulau Es dan Gurun Pasir, maka si penculik itu tentulah seorang yang memusuhi kedua keluarga itu, atau setidaknya satu di antaranya. Kalau yang disebut Sin-kiam Mo-li itu anak angkat mendiang Kim Hwa Nio-nio, memang kuat alasannya kalau ia memusuhi kita. Akan tetapi, sebaiknya kalau kita semua turun tangan menyerbu ke tempat tinggalnya."

"Saudara Suma Ceng Liong, saya kira hal itu tidak perlu karena kami baru menduga saja, belum ada bukti-bukti nyata bahwa Sin-kiam Mo-li penculiknya. Biarlah kami menyelidiki lebih dulu, kalau kami cukup kuat, kami akan merampas kembali nona Kao Hong Li, kalau kami melihat bahwa pihak musuh terlalu kuat, baru kami akan mohon bantuan cu-wi."

Kao Cin Liong mengangguk-angguk. Tentu saja sebagai ayah, dia menyetujui setiap usaha untuk menemukan kembali puterinya. "Aku percaya kepada kalian berdua," katanya kepada Sim Houw dan Bi Lan, "dan kalau nona Ciong suka membantu, itu lebih baik lagi agar hati kami tidak ragu-ragu lagi terhadap namanya."

"Agar tidak menimbulkan kecurigaan, sebaiknya kalau saya dan suami saya meninggalkan tempat ini dari belakang saja, agar para tamu mengira bahwa memang sayalah yang bersalah dan pihak tuan rumah telah mengambil tindakan. Hal ini penting agar orang yang melakukan penukaran bingkisan tadi merasa telah berhasil dan melapor ke atasannya," kata Bi-kwi. "Dan aku menunggumu di luar kota sebelah barat, sumoi," tambahnya kepada Bi Lan.

Kao Cin Liong dan isterinya setuju. Kam Hong yang sejak tadi hanya menjadi pendengar saja, diam-diam merasa kagum dan bangga akan sepak terjang orang-orang muda itu. Terutama sekali sikap Sim Houw yang demikian tenang, dan demikian teguh pendiriannya sehingga tidak ragu-ragu bersama Bi Lan yang menjadi calon isterinya berjanji tidak akan menikah sebelum menemukan kembali Hong Li, dan pembelaan mereka terhadap Bi-kwi walaupun wanita ini pernah menjadi tokoh sesat karena mereka yakin bahwa Bi-kwi kini telah merobah cara hidupnya dan kembali ke jalan benar.

"Pendapat dan keputusan kalian memang tepat," kata Kam Hong. "Akan tetapi kalian harus berhati-hati karena ingat, kalau ada musuh yang sengaja menyerang keluarga Pulau Es dan Gurun Pasir dengan perbuatan rahasia dan fitnah, juga adu domba, berarti bahwa mereka itu telah siap siaga menyusun kekuatan. Karena itu, Sim Houw, dalam melakukan penyelidikan, berhati-hatilah dan kalau sekiranya keadaan pihak musuh terlalu kuat, jangan segan-segan untuk minta bantuan kedua keluarga itu."

Sim Houw memberi hormat kepada kakek perkasa itu. "Baiklah, suhu, teecu akan mentaati semua pesan suhu."

Akhirnya Bi-kwi dan suaminya lebih dahulu pergi melalui pintu belakang, tanpa diketahui oleh para tamu. Baru kemudian tuan rumah dan keluarganya keluar ke tempat ruangan pesta. Akan tetapi baru saja mereka keluar, terjadi keributan lain. Terdengar teriakan-teriakan para pelayan dan ketika keluarga itu lari ke dalam, mereka melihat seorang di antara para pelayan telah mati dengan tubuh kaku dan muka hitam. Keracunan!

"Tahan semua hidangan! Jangan dikeluarkan lagi sebelum kami periksa!" Kemudian Kao Cin Liong yang mengeluarkan perintah ini dibantu oleh para keluarga yang gagah perkasa untuk melakukan penyelidikan. Semua makanan bersih, akan tetapi ternyata guci-guci arak yang masih belum dihidangkan telah keracunan! Ada sepuluh guci arak yang keracunan, dan agaknya pelayan itu tadi minum secawan arak dari guci yang keracunan. Jelaslah bahwa ada orang yang sengaja menaruh racun ke dalam guci-guci arak itu.

"Apakah tadi ada di antara tamu yang masuk ke sini?" tanya Kao Cin Liong.

Para pelayan itu saling bertanya dan akhirnya seorang di antara mereka teringat bahwa memang ada seorang tamu yang bercambang bauk lebat masuk ke situ, setengah mabok sambil membawa cawan dan sambil tertawa-tawa memuji lezatnya masakan dan harumnya arak, dia minta arak karena guci di depan sudah kosong.

"Dia datang sendiri ke tempat di mana ditaruh guci-guci itu, kemudian dia keluar sambil membawa seguci arak sambil tertawa-tawa dan terhuyung-huyung setengah mabok," demikian antara lain pelayan itu menerangkan. Kini ada beberapa orang pelayan lain yang juga teringat akan tamu berjenggot dan berkumis brewok itu yang memasuki dapur dalam keadaan setengah mabok.

"Cepat ikut aku dan tunjukkan yang mana tamu itu!" kata Kao Cin Liong mengajak empat orang pelayan itu keluar. Akan tetapi, mereka tidak menemukan orang brewokan itu di antara para tamu.

"Tentu dia sudah pergi," kata Kam Hong yang ikut pula mengadakan pemeriksaan dengan teliti terhadap semua makanan. "Agaknya setelah melihat bahwa usahanya yang pertama untuk mengadu domba itu tidak memperlihatkan hasil seperti yang diharapkan, dia lalu menaruh racun ke dalam guci-guci arak itu. Aih, masih untung racun itu hanya mengorbankan nyawa seorang pelayan. Kalau sampai dihidangkan dan banyak tamu kang-ouw tewas oleh arak beracun, tentu namamu akan menjadi rusak dan keadaan benar-benar akan menjadi kacau balau."

Kao Cin Liong bergidik dan Suma Hui mengepal tinju. "Keparat jahanam!" kata Suma Hui. "Siapakah orangnya yang demikian membenci kami sehingga melakukan perbuatan kejam dan terkutuk secara bertubi terhadap kami? Kalau saja aku tahu siapa orangnya!"

Kematian pelayan karena keracunan itu dirahasiakan dan tidak diketahui para tamu sehingga pesta itu berakhir dengan tenang. Para tamu mulai berpamit meninggalkan tempat itu dan tidak lupa Kao Cin Liong selain menghaturkan terima kasih, juga mengharapkan agar para tamu ikut bantu mendengarkan kalau-kalau ada di antara mereka dapat mengetahui di mana adanya Kao Hong Li yang lenyap itu. Dengan adanya pesta ini, nama Kao Hong Li segera terkenal di seluruh dunia kang-ouw karena menjadi pokok percakapan dan perbincangan.

Sim Houw dan Bi Lan segera berpamit dari keluarga itu dan memperoleh doa restu, kecuali, tentu saja, dari Hong Beng dan Suma Ciang Bun yang bagaimanapun juga masih merasa tidak puas. Hong Beng masih merasa tidak puas dan masih tetap saja ada keraguan akan kebersihan Bi-kwi, sedangkan Suma Ciang Bun yang biarpun mulai meragukan kesalahan Bi-kwi, Bi Lan dan Sim Houw karena dia tahu betapa muridnya diracuni iri hati dan cemburu, tetap saja terseret oleh sikap muridnya yang memusuhi Bi-kwi tadi. Memang tadi diapun mempunyai dugaan bahwa Bi-kwi bersalah, apa lagi karena dia pernah diserang oleh Bi-kwi yang bersekongkol dengan tosu-tosu Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-kauw sehingga hampir saja dia tewas. Kini, kembali ternyata bahwa agaknya dugaan muridnya itu keliru dan Bi-kwi bahkan telah diterima oleh kedua keluarga para pendekar itu untuk bantu mencari Hong Li sampai dapat. Namun, hati pendekar ini tidak merasa puas.

Setelah Bi Lan dan Sim Houw pergi, Suma Ciang Bun lalu mengajak muridnya untuk bicara dengan Ceng Liong dan isterinya. Tentu saja Suma Ceng Liong dan Kam Bi Eng merasa heran ketika Ciang Bun minta kepada mereka untuk bicara di antara mereka berempat sendiri. Mereka memilih sebuah kamar kosong dan begitu mereka duduk di dalam kamar tertutup itu, Suma Ceng Liong tersenyum memandang kepada kakak misannya.

"Bun-ko, engkau sungguh aneh dan membikin kami merasa heran dan ingin tahu sekali! Ada urusan apakah maka engkau bersikap begini penuh rahasia dan mengajak kami bicara tertutup seperti ini?"

Suma Ciang Bun juga tersenyum dan legalah hati Suma Ceng Liong dan isterinya. Sikap Ciang Bun yang santai itu tidak membayangkan adanya urusan yang amat gawat, walaupun kakak itu mengajak mereka dalam kamar tertutup.

"Ah, hanya urusan kekeluargaan, Liong-te, akan tetapi kurang enak kalau didengar anggauta keluarga lain karena hal ini hanya menyangkut keluargamu dan keluargaku saja," jawab Ciang Bun.

Kini Kam Bi Eng tak dapat menahan ketawanya. Sungguh aneh kakak misan ipar ini. Jelas bahwa Suma Ciang Bun tidak pernah menikah, maka tentu saja tidak mempunyai keluarga selain keluarga suaminya juga. "Aih, Bun-ko, bukankah keluargamu juga berarti keluarga kami? Mana ada keluarga kami dan keluarga Bun-ko!"

Ciang Bun juga tersenyum. "Yang kumaksud dengan keluargaku adalah aku dan muridku ini, karena dia sudah kuanggap sebagai anakku sendiri, Nah, aku ingin membicarakan tentang muridku ini dan anak kalian."

Suami isteri itu saling pandang dan keduanya hampir berbareng bertanya, "Suma Lian....?"

Gu Hong Beng hanya menundukkan mukanya saja. Kalau tidak dipaksa oleh gurunya, sampai bagaimanapun juga dia tentu tidak akan berani membuka mulut! Kini dengan jantung berdebar keras dia menanti suhunya yang mulai membuka rahasia itu.

"Aku ingin membicarakan tentang perjodohan antara Suma Lian dan muridku Gu Hong Beng ini...."

"Bun-ko....!" Ceng Liong berseru kaget dan heran, pandang matanya tajam dan terbelalak.

"Apa maksudmu? Kapankah Bun-ko mengajukan pinangan dan...."

"Anakku Lian-ji masih begitu muda, baru juga duabelas tahun lebih usianya!" Kam Bi Eng juga berseru heran.

Suma Ciang Bun mengangguk-angguk. Memang agak sukar dia mengatur kata-katanya, maklum karena selama hidupnya baru sekali ini dia bicara tentang perjodohan, apa lagi dia bertindak sebagai orang tua yang ingin menjodohkan muridnya yang dianggap sehagai anaknya sendiri.

"Aku tahu.... aku tahu.... akan tetapi ikatan perjodohan antara anak kalian dan muridku telah terjadi semenjak kematian ibumu, yaitu bibi Teng Siang In, Liong-te...."

"Bun-ko, apa maksudmu? Sungguh aku tidak mengerti," Ceng Liong bertanya lagi, memandangi guru dan murid itu dengan heran.

"Muridku tidak berani memberitahukan kepada kalian, dia yang merasa rendah hati itu hanya berani menceritakan kepadaku. Begini, Liong-te, kalian tentu masih ingat ketika terjadi penculikan atas diri puterimu, Suma Lian, oleh Sai-cu Lama yang merobohkan bibi Teng Siang In dengan pedang Ban-tok-kiam yang dirampasnya dari gadis she Can itu."

Ceng Liong dan Bi Eng mengangguk tanpa menjawab, mendengarkan dengan hati penuh rasa tegang.

"Nah, ketika muridku membawa ibumu pulang dalam keadaan terluka, kalian lalu melakukan pengejaran terhadap Sai-cu Lama yang melarikan puterimu, meninggalkan bibi Teng Siang In berdua dengan Hong Beng. Dalam saat terakhirnya itulah bibi Teng Siang In meninggalkan pesan kepada Hong Beng."

"Ibuku meninggalkan pesan terakhir kepadamu? Mengapa engkau tidak menyampaikan pesan itu kepadaku, Hong Beng?" Suma Ceng Liong bertanya dan menegur pemuda itu yang tidak mampu menjawab.

"Maafkan muridku, Liong-te. Dia tidak berani melapor dan hanya berani menyampaikan kepadaku, itupun baru-baru saja ini dia katakan. Ibumu berpesan agar kelak Hong Beng suka menjadi suami anakmu, dan ia bahkan menyuruh Hong Beng mengucapkan janjinya untuk mematuhi pesan terakhir itu! Dan Hong Beng telah mengucapkan janji itu!"

"Aihhh....!" Suami isteri itu berseru kaget dan Suma Ceng Liong mengerutkan alisnya. "Kenapa ibu meninggalkan pesan seperti itu? Dan kenapa pula engkau mau berjanji seperti itu, Hong Beng?"

"Saya.... saya tidak berani menolak permintaan locianpwe yang sudah hampir meninggal dunia itu...." kata Hong Beng sambil menundukkan mukanya. Mendengar jawaban ini, Ceng Liong dan Bi Eng saling pandang dan merekapun tidak dapat terlalu menyalahkan Hong Beng. Pesan dan permintaan seorang yang hampir putus nyawanya memang sukar ditolak.

"Dan dia tidak berani melaporkan kepada kalian karena dia merasa rendah diri. Dia merasa tidak pantas menjadi calon suami puterimu, dan takut kalau-kalau kalian menjadi marah kalau dia menyampaikan pesan itu. Akan tetapi di samping itu, diapun gelisah sekali karena dia sudah berjanji kepada bibi Teng Siang In, dan dia akan selalu merasa berdosa kalau kelak tidak memenuhi janjinya itu. Karena itu, dia menjadi gelisah dan menyampaikan pesan itu kepadaku. Nah, adik Suma Ceng Liong, kurasa engkau akan cukup mengerti kalau sekarang aku minta kalian untuk membicarakan urusan perjodohan antara puterimu dan muridku."

Suma Ceng Liong mengangguk-angguk dan Kam Bi Eng mengerutkan alisnya. "Bun-ko, memang tindakanmu ini wajar dan tepat. Dan kamipun bukan bermaksud untuk mengabaikan pesan ibu kandungku sendiri. Akan tetapi, engkau sendiripun tentu telah mengetahui riwayat dari pada perjodohan kami berdua. Pilihan orang tua akhirnya tidak cocok dan tidak jadi, dan kami memilih jodoh atas dasar pilihan hati sendiri, bukan pilihan orang tua atau siapapun juga. Oleh karena itu, sudah sejak mempunyai anak, kami suami isteri telah bersepakat untuk memberi kebebasan pula kepada anak kami Suma Lian. Ialah yang kelak akan menentukan dengan siapa ia akan menikah. Tak seorangpun boleh memaksanya, bahkan andaikata ibuku masih adapun, beliau tidak akan kubenarkan kalau memaksa anak kami berjodoh dengan orang yang dipilih ibuku."

Suma Ciang Bun mengangguk-angguk, mengerti. "Jadi kalau begitu, kalian tidak setuju kalau anak kalian Suma Lian berjodoh dengan muridku Gu Hong Beng?"

"Tidak setuju kalau perjodohan itu tidak dikehendaki oleh Suma Lian, tentu saja," kata Kam Bi Eng yang membenarkan keputusan suaminya itu.

"Bagaimana kalau kelak Suma Lian setuju berjodoh dengan Gu Hong Beng?" desak Suma Ciang Bun.

"Kalau memang kehendak anak kami demikian, tentu saja kamipun tidak merasa keberatan, Bun-ko," kata Suma Ceng Liong dengan suara mantap.

"Bagus, kita telah bicara dengan hati terbuka. Nah, Hong Beng. Sekarang tidak ada yang perlu kaususahkan. Pesan terakhir mendiang bibi Teng Siang In kini telah kita sampaikan kepada orang tua Suma Lian dan merekapun setuju kalau anak itu kelak suka menjadi jodohmu. Kini bebaslah penanggungan hatimu. Kalau kelak Suma Lian suka menjadi isterimu, berarti engkau telah memenuhi pesan terakhir bibi Teng Siang In dan ayah ibu anak itu tidak akan menghalangi dan akan menyetujuinya sehingga semua akan berjalan dengan lancar. Akan tetapi, andaikata Suma Lian tidak setuju dan menolak untuk menjadi isterimu, maka tentu saja tali perjodahan itu gagal, akan tetapi kegagalan itu bukan karena kesalahanmu sehingga engkau tidak perlu merasa berdosa kepada bibi Teng Siang In."

Hong Beng cepat menghaturkan terima kasih kepada suhunya, juga kepada Suma Ceng Liong dan isterinya. Hatinya memang terasa lega bukan main. Ketika dia berjanji di depan nenek itu dalam saat terakhir, dia terpaksa sekali dan setelah berjanji, dia merasa terikat. Kini, ikatan itu melonggar dan dadanya terasa lega. Tinggal mudah saja baginya. Dia akan menanti sampai Suma Lian menjadi seorang gadis dewasa, sekitar lima enam tahun kemudian, lalu dia akan menemui gadis itu, menceritakan tentang pesan terakhir nenek Teng Siang In dan melihat bagaimana sikap dan tanggapan Suma Lian. Kalau gadis itu setuju, berarti dia akan menjadi suami gadis itu, mantu dari pendekar Suma Ceng Liong, suatu hal yang merupakan penghormatan besar sekali baginya. Kalau sebaliknya gadis itu menolak, maka dia akan bebas dari janjinya terhadap pesan nenek itu dan dia akan bebas berjodoh dengan wanita manapun juga tanpa merasa berdosa dan melanggar janji.

Akhirnya keluarga keturunan Pulau Es dan Gurun Pasir itu saling berpisah dan kembali Kao Cin Liong dan isterinya ditinggal berdua saja, melamun dan terbenam kedukaan kehilangan anak mereka walaupun kini mereka mempunyai harapan karena Pendekar Suling Naga sendiri bersama Bi Lan dan dibantu oleh Bi-kwi pula, yang akan mencari anak mereka sampai dapat. Mereka percaya penuh akan kemampuan Pendekar Suling Naga Sim Houw, apa lagi dibantu oleh dua orang wanita yang memiliki ilmu kepandaian yang cukup tinggi itu. Mereka hanya dapat menanti dan berdoa.

"Lihat baik-baik, Hong Li, hari ini akan ada pertunjukan yang amat menarik hati," kata Sin-kiam Mo-li setelah mengajak muridnya meloncat naik ke atas menara. Kini, setelah memperoleh gemblengan setiap hari dari Sin-kiam Mo-li, gadis cilik itu telah mampu melompat naik ke atas menara itu, bahkan di atas menara itu ia diajar untuk berlatih samadhi oleh gurunya.

"Apakah akan terjadi penyerbuan lagi seperti yang dilakukan lima orang tempo hari, subo?" tanya Hong Li sambil memandang ke sekeliling. Dari menara itu, nampaklah seluruh daerah kekuasaan gurunya. Rumah tempat tinggal mereka yang dikelilingi semak-semak belukar dan hutan-hutan kecil buatan yang aneh-aneh, yang penuh dengan jebakan rahasia dan perangkap-perangkap maut, pasir dan lumpur maut yang mengerikan. Dari atas menara itu Hong Li dapat melihat sampai jauh ke bawah, ke kaki bukit dan sampai ke luar hutan-hutan buatan yang penuh jebakan itu. Akan tetapi ia tidak melihat sesuatu yang luar biasa. Daerah sekitar tempat itu nampak seperti biasa, sunyi saja dan hanya burung-burung yang beterbangan dari pohon ke pohon.

"Aku tidak melihat apa-apa, subo," katanya.

"Bukan ke situ, lihatlah ke sungai sana."

Hong Li menengok ke kiri dan terkejutlah ia melihat lima buah perahu menyusuri Sungai Cin-sa. Ia tadi hanya memperhatikan daerah daratan saja, sama sekali tidak memperhatikan sungai itu. Di dalam lima buah perahu itu terdapat orang-orang yang jumlahnya semua tigapuluh dua orang! Tidak dapat ia melihat dengan jelas keadaan orang-orang itu walaupun ia dapat menghitung mereka dengan mudah. Kini tepat di bagian yang paling dekat dengan tempat tinggal subonya, lima buah perahu itu minggir dan semua orang berloncatan ke darat, menyeret perahu-perahu itu naik ke atas daratan,

"Hemm, mereka tentu orang-orang Cin-sa-pang yang tolol!" Hong Li mendengar subonya berkata. "Dan sekarang agaknya mereka dibantu dua orang kakek pandai, entah pimpinan mereka sendiri ataukah orang lain."

Hong Li memandang penuh perhatian dan kini iapun melihat bahwa semua orang telah berkumpul, membuat lingkaran mengelilingi tiga orang yang sedang bercakap-cakap dengan dua orang kakek. Melihat betapa tiga orang itu berdiri berhadapan dengan dua orang kakek, Hong Li dapat mengerti apa yang dimaksudkan subonya. Agaknya tiga orang itu tentu para pimpinan Cin-sa-pang dan dua orang kakek itulah yang oleh gurunya disebut dua orang kakek pandai. Dilihat dari atas menara, mudah diduga bahwa para pimpinan itu sedang mengadakan perundingan, mereka itu mungkin sedang mengatur siasat untuk menyerbu ke atas. Hong Li merasa betapa jantungnya berdebar saking tegangnya. Teringat ia akan lima orang penyerbu dan diam-diam ia bergidik. Jangan-jangan subonya juga akan membunuh tigapuluh dua orang pendatang itu!

Seolah-olah dapat membaca jalan pikirannya, terdengar Sin-kiam Mo-li berkata, "Orang-orang Cin-sa-pang sungguh tolol dan jahat, berani sekali memusuhi aku yang hidup tenteram di tempat ini."

"Subo, sebenarnya mengapa mereka itu memusuhi subo?" Hong Li bertanya, teringat betapa lima orang Cin-sa-pang telah dibunuh subonya. "Maksudku, lima orang Cin-sa-pang yang dahulu itu, karena yang sekarang ini tentu ingin membalas atas kematian atau hilangnya lima orang pertama."

Gurunya mengangguk-angguk. "Engkau benar, tentu saja mereka itu datang menyerbu karena kehilangan lima orang teman mereka itu dan mereka dapat menduga bahwa lima orang itu tentu tewas di sini. Adapun lima orang dahulu itu, ahh, apa lagi yang mereka kehendaki kecuali niat buruk terhadap kita? Mereka adalah penjahat-penjahat dan agaknya mereka mendengar bahwa yang tinggal di sini hanyalah wanita-wanita cantik tanpa pria dan tentu mereka membayangkan bahwa kita mempunyai banyak harta. Mereka menyerbu untuk merampok dan memperkosa, apa lagi! Engkau tentu masih ingat betapa jahatnya mereka. Seorang di antara mereka kauselamatkan dari ancaman bahaya, dan apa yang telah dia lakukan sebagai balasan? Dia menawanmu!"

Hong Li bergidik. Alangkah jahatnya orang-orang itu, pikirnya. Sama sekali ia tidak tahu bahwa subonya menyembunyikan kenyataan yang berlainan sama sekali dari apa yang dikatakannya tadi. Cin-sa-pang adalah perkumpulan orang-orang yang kasar. Mereka adalah nelayan-nelayan, juga bajak-bajak sungai, dan "pemungut pajak paksaan" dari para nelayan dan petani di sepanjang Sungai Cin-sa. Perkumpulan ini diketuai seorang laki-laki berusia empatpuluh tahun bernama Louw Pa, seorang bekas bajak laut tunggal yang dapat mengumpulkan para bajak laut, menundukkan mereka dan mendirikan perkumpulan Cin-sa-pang itu. Louw Pa adalah seorang ahli silat yang cukup tangguh, terkenal dengan julukan Cin-sa Pa-cu (Macan Tutul Sungai Cin Sa), mungkin karena wajahnya yang bopeng dan totol-totol, tubuhnya tinggi kurus dan dia lihai sekali memainkan sepasang golok besar.

Louw Pa mempunyai seorang anak laki-laki berusia duapuluh tahun lebih yang berwajah tampan, dan bertubuh gagah, bernama Louw Heng Siok.

Pada suatu hari, ketika Louw Heng Siok sedang naik perahu memancing ikan seorang diri dan perahunya tiba di dekat tempat tinggal Sin-kiam Mo-li, wanita ini melihatnya dan tergeraklah hatinya. Biarpun ia bukan seorang yang gila laki-laki, namun kehidupan yang kesepian dari wanita ini membuat ia sekali waktu suka mencari hiburan dan setiap kali bertemu dengan pria yang menarik hatinya, tentu ia mempergunakan kecantikan dan kepandaiannya untuk memikat hati pria itu dan memaksanya menjadi kekasihnya untuk beberapa hari, beberapa minggu atau beberapa bulan saja. Setelah ia merasa bosan, ia akan membunuh pria itu agar jangan mengabarkan hal-hal yang memalukan tentang dirinya. Demikianlah, ketika melihat Louw Heng Siok, Sin-kiam Mo-li merasa tertarik dan tanpa kesukaran ia berhasil memikat hati pemuda itu karena Louw Heng Siok juga bukan seorang pemuda alim.

Bagaikan seekor laba-laba berhasil menangkap seekor lalat, Sin-kiam Mo-li membawa pemuda itu ke sarangnya dan seperti biasa, setelah ia kekenyangan mengisap darahnya dan menjadi bosan, pemuda itu dibunuhnya dan dilemparkannya ke dalam lumpur maut sehingga lenyap tanpa bekas. Hal itu terjadi beberapa bulan sebelum ia menculik Hong Li.

Biarpun pembunuhan itu tidak meninggalkan jejak, namun akhirnya Louw Pa yang kehilangan puteranya, merasa curiga. Lima orang anak buahnya melakukan penyelidikan dan merekapun lenyap di tempat yang penuh rahasia itu. Louw Pa sudah melakukan penyelidikan dan mendengar bahwa di bukit yang berada di kaki Pegunungan Heng-tuan-san itu tinggal seorang wanita cantik yang berjuluk Sin-kiam Mo-li, dan dia merasa yakin bahwa wanita inilah yang telah melenyapkan puteranya. Apa lagi ketika lima orang anak buahnya yang melakukan penyelidikan juga lenyap, hatinya penuh dengan kemarahan dan diapun mengumpulkan semua anak buahnya yang berjumlah tigapuluh orang termasuk dia dan dua orang pembantunya. Bahkan dia lalu minta bantuan dua orang temannya yang menjadi bajak di Sungai Lan-cang (Me-kong), yaitu dua kakek yang kini sudah datang bersama dia dan anak buahnya.

"Kalau kau ingin nonton pertunjukan, kau tinggallah saja di sini menjadi penonton," kata Sin-kiam Mo-li kepada muridnya. "Aku akan mengajak tiga pelayanku untuk menyambut para penyerbu itu!" Berkata demikian, Sin-kiam Mo-li lalu meloncat turun dari atas menara. Gerakannya demikian ringan seperti seekor burung yang terbang saja, diikuti pandang mata muridnya penuh kagum. Hong Li merasa amat kagum kepada wanita yang menjadi ibu angkatnya dan juga gurunya itu, menganggapnya seorang wanita cantik jelita, lemah lembut, dan berhati baik di samping ilmu kepandaiannya yang amat tinggi. Kadang-kadang ia suka membandingkan gurunya dengan orang tuanya. Ia tidak tahu siapa yang lebih lihai antara gurunya dengan mereka.

Kini ia melihat betapa gurunya diikuti oleh Ang Nio, Pek Nio dan Hek Nio keluar dari dalam rumah menuju ke pantai di mana para penyerbu itu tadi berkumpul. Dari menara itu ia dapat melihat dengan jelas apa yang terjadi di bawah sana. Orang-orang Cin-sa-pang itu ternyata kini dibagi menjadi dua kelompok dan masing-masing kelompok dipimpin oleh seorang di antara dua kakek itu. Kelompok pertama yang disertai oleh pimpinan Cin-sa-pang menyerbu dari arah sungai itu, yaitu dari timur sedangkan kelompok ke dua mengambil jalan memutar, dan memasuki daerah berbahaya itu dari arah selatan.

Dengan jantung berdebar Hong Li melihat dari atas menara betapa gurunya dan tiga orang pelayannya itu menyelinap dan menuju ke bagian timur, menyelinap di antara pohon dan semak-semak belukar. Gurunya memberi petunjuk, jari tangannya menuding ke sana-sini dan tiga orang pembantu itu lalu berpencaran, menyelinap di antara pohon-pohon. Pedang telanjang mengkilat di tangan tiga orang wanita pembantu yang cantik-cantik akan tetapi juga lihai itu. Diam-diam Hong Li merasa ngeri. Ia tahu bahwa akan terjadi pembunuhan-pembunuhan lagi dan melihat demikian banyaknya jumlah lawan yang datang menyerbu, ia dapat membayangkan betapa tempat itu akan menjadi tempat pembantaian dan banyak sekali darah akan mengalir dan mayat bertumpuk-tumpuk walaupun semua mayat dapat dilempar ke dalam kubangan lumpur atau pasir dan akan lenyap tanpa meninggalkan bekas. Ia bergidik.

Tiba-tiba terdengar suara teriakan dan Hong Li melihat seorang di antara anggauta rombongan penyerbu, terperosok ke dalam pasir berputar! Nah, sudah mulai, pikirnya dengan hati penuh kengerian. Dari menara itu ia melihat betapa orang yang terperosok itu meronta-ronta dan sebentar saja tubuhnya sudah tersedot pasir sampai ke dada. Akan tetapi, kakek yang memimpin rombongan itu ternyata cerdik juga. Ia telah mengambil segulung tali yang agaknya memang sudah dipersiapkan dan melemparkan ujung tali ke arah orang yang terperosok. Orang itu menangkap ujung tali dan diapun ditarik keluar dari kubangan pasir maut. Hong Li menarik napas lega. Betapapun jahatnya orang-orang itu, hati kecilnya tidak menyetujui niat subonya yang agaknya hendak membunuh mereka semua. Biarpun ia suka sekali mempelajari ilmu silat, namun ia tidak suka melihat pembunuhan, apa lagi kalau pembunuhan itu dilakukan hanya karena urusan sepele saja. Kalau para penyerbu itu memang jahat, ia lebih suka melihat gurunya menghajar mereka saja tanpa membunuh. Pembunuhan mendatangkan suatu rasa ngeri dalam hatinya.

Kini kakek yang memimpin rombongan itu, yang jenggotnya putih panjang, memberi aba-aba kepada anak buahnya untuk menyerbu terus dan jangan takut menghadapi jebakan-jebakan! Kini melihat betapa seorang temannya yang tadi terjebak dapat ditolong keluar, anak buah Cin-sa-pang itu menjadi berani dan mereka menggunakan golok untuk membabati semak-semak yang menghadang di depan mereka. Berhamburanlah daun-daun dan semak-semak dan Hong Li mengerutkan alisnya. Celaka, pikirnya, orang-orang itu merusak tumbuh-tumbuhan dan tempat tinggal gurunya akan menjadi buruk dan rusak keindahannya.

Akan tetapi, tiba-tiba terdengar teriakan-teriakan dan empat orang di antara rombongan itu roboh, berkelojotan dan tidak mampu bangun kembali. Kakek berjenggot panjang dan anak buahnya yang lain terkejut, cepat memeriksa dan mereka terkejut melihat bahwa empat orang itu ternyata telah tewas dan di leher mereka nampak luka kecil menghitam dan di dalam luka itu masih nampak ujung sebatang jarum yang telah seluruhnya masuk ke dalam leher! Jelaslah bahwa empat orang itu tewas karena serangan senjata gelap, jarum-jarum beracun yang amat berbahaya.

"Awas senjata rahasia!" teriak kakek itu dan sisa anak buahnya yang tinggal sebelas orang itu bersiap siaga dengan golok di tangan. Akan tetapi yang muncul bukan senjata rahasia, melainkan empat orang wanita yang tadi melepas jarum-jarum beracun itu. Sin-kiam Mo-li dan tiga orang pembantunya sudah berloncatan keluar dari balik semak-semak. Sin-kiam Mo-li marah bukan main melihat rombongan itu membabati tumbuh-tumbuhan di situ.

Kakek berjenggot putih panjang, bajak tunggal yang lihai dari Lan-cang itu segera berseru, "Inilah siluman itu!" Dan diapun sudah menggerakkan pedangnya menyerang Sin-kiam Mo-li.

Sedangkan Louw Pa yang berjuluk Cin-sa Pa-cu, sudah memberi aba-aba kepada anak buahnya untuk menyerbu. Dia sendiri juga menggerakkan sepasang goloknya, membantu si kakek berjenggot panjang untuk mengeroyok Sin-kiam Mo-li. Anak buahnya yang tinggal sepuluh orang lagi itu kini menerjang tiga orang wanita cantik yang berpakaian merah, putih, dan hitam dan segera terjadi perkelahian yang amat seru.

Melihat serangan pedang kakek berjenggot putih, Sin-kiam Mo-li mengeluarkan suara mendengus penuh ejekan dari hidungnya. Biarpun kakek itu termasuk seorang bajak tunggal yang lihai, namun melihat gerakan pedangnya, Sin-kiam Mo-li maklum bahwa kepandaian kakek itu tidak ada artinya baginya. Dengan amat mudahnya iapun mengelak dari sambaran pedang. Louw Pa, ketua Cin-sa-pang sudah menggerakkan sepasang goloknya. Juga menghadapi serangan sepasang golok ini, Sin-kiam Mo-li dengan mudahnya meloncat mundur untuk mengelak. Ketika dua orang lawannya itu menerjang lagi, Sin-kiam Mo-li sudah mencabut pedangnya dan begitu sinar pedang ini berkelebat, terdengar suara nyaring dan sepasang golok di tangan Louw Pa patah-patah!

Louw Pa menjadi pucat sekali dan dia sudah siap untuk meloncat ke belakang, namun terlambat. Ada sinar terang menyambar dan tahu-tahu tubuhnya sudah terjungkal dengan kepala terpisah dari tubuhnya dan darah muncrat-muncrat dari leher yang terbabat putus oleh pedang di tangan Sin-kiam Mo-li itu! Melihat ini, tentu saja kakek berjenggot putih terkejut bukan main. Tingkat kepandaian Louw Pa hanya sedikit selisihnya dengan kepandaiannya dan dalam segebrakan saja Louw Pa tewas dengan leher putus! Maklumlah dia bahwa wanita itu sungguh lihai bukan main, akan tetapi hal ini sudah terlambat diketahuinya dan tidak ada lain jalan baginya kecuali memutar pedangnya dan menyerang dengan dahsyat.

"Tranggg.... krekkk!" Kembali pedang di tangan bajak laut itu patah dan sebelum dia sempat mengelak, pedang di tangan Sin-kiam Mo-li sudah terbenam ke dalam dadanya! Sin-kiam Mo-li mencabut pedangnya sambil menendang tubuh di depannya itu. Tubuh kakek itu terlempar diikuti ceceran darah dari dadanya dan tubuhnya terlempar masuk ke dalam kubangan lumpur. Sebentar saja ular-ular sudah menyeretnya tenggelam ke dalam lumpur itu.

Melihat betapa tiga orang pelayannya dikepung oleh sepuluh orang anak buah Cin-sa-pang, dengan geram Sin-kiam Mo-li menerjang maju, pedangnya berkelebatan dan berturut-turut terdengar orang menjerit dan empat orang di antara para pengeroyok itu roboh mandi darah terkena sambaran pedang Sin-kiam Mo-li. Menggiriskan sekali memang gerakan pedang wanita ini, dahsyat dan panas sehingga tidak mengherankan kalau ia dijuluki Iblis Betina Pedang Sakti.

Pada saat itu, di bagian selatan nampak ada asap tebal bergulung-gulung. Melihat ini, Sin-kiam Mo-li terkejut dan tahulah ia bahwa rombongan ke dua telah beraksi. Melihat bahwa jumlah pengeroyok tinggal enam orang dan tiga orang pelayannya cukup kuat untuk mengatasi enam orang itu, Sin-kiam Mo-li berkata kepada mereka, "Bunuh mereka semua, jangan sampai ada yang lolos!" Setelah berkata demikian iapun meloncat dan berlari cepat menuju ke tempat kebakaran di selatan.

Dari atas menara, Hong Li nonton semua itu dan mukanya berubah agak pucat, alisnya berkerut dan hatinya diliputi kengerian. Ia tadi melihat betapa gurunya menyebar maut dan masih bergidik ia melihat orang tinggi kurus yang memegang sepasang golok itu dibabat buntung lehernya oleh pedang subonya. Melihat pembantaian itu, beberapa kali ia memejamkan matanya dan hatinya terasa kacau dan gelisah. Rasa sayang yang mulai tumbuh di dalam hatinya terhadap subonya kini menjadi dingin. Tak disangkanya, subonya yang demikian ramah tamah, lemah lembut dan nampaknya penuh kasih sayang, dapat bertindak sekejam itu, membunuhi orang seperti membunuh nyamuk saja! Pada hal, sejak kecil ayah dan ibunya selalu mengajarnya agar menjadi seorang pendekar yang membela kebenaran dan keadilan, bukan menjadi pembunuh manusia mengandalkan ilmu silat yang dipelajarinya. Bahkan ayah bundanya selalu mencela perbuatan orang yang menggunakan ilmu silat sembarangan membunuh orang lain. Antara lain ayahnya pernah berkata bahwa mungkin sekali kita membunuh orang lain dalam usaha membela diri dan membasmi kejahatan, akan tetapi bukan membunuh dengan tangan dingin terhadap lawan yang tidak mampu melawan. Membunuh untuk menghindarkan diri dari ancaman maut dan membunuh untuk menghindarkan perbuatan jahat dilakukan orang, berbeda dengan membunuh lawan yang tidak berdaya atau tidak mampu melawan. Dan subonya tadi membunuhi lawan yang jelas bukan menjadi lawannya. Baru segebrakan saja subonya telah membunuh tujuh orang berikut yang diserang dengan jarum beracun, dan kini tiga orang pelayan itu sedang berusaha keras untuk membunuh enam orang lagi, setelah merekapun sudah membunuh tiga orang lawan dengan jarum mereka.

Akan tetapi perhatian Hong Li tertarik oleh gerakan subonya yang berlari cepat menuju ke selatan. Di sana ia melihat rombongan yang lain dari orang-orang Cin-sa-pang sedang membabati semak-semak, bahkan menumbangkan pohon-pohon dan sebagian malah membakar semak-semak! Ada pula tadi di antara mereka yang terperosok ke dalam kubangan lumpur dan pasir maut, namun teman-temannya, dipimpin oleh kakek berkepala botak, menyelamatkan mereka yang terperosok itu dengan tali. Dan kini, sambil membabat dan membakar sana-sini, rombongan ini terus maju menuju ke rumah yang nampak gentengnya dari tempat mereka merusak tumbuh-tumbuhan itu.

Akan tetapi tiba-tiba nampak bayangan berkelebat dan tahu-tahu seorang wanita cantik yang memegang pedang telah berada di depan mereka. Wanita cantik itu mengerutkan alisnya dan memandang dengan sepasang mata berkilat-kilat.

Akan tetapi hal lain yang menarik perhatian Hong Li. Agaknya hanya ia seorang yang dapat melihat munculnya belasan orang dari arah selatan. Belasan orang ini berpakaian putih-putih dan di depan mereka berjalan tujuh orang yang berpakaian seperti pendeta dengan jubah panjang, rambut panjang digelung tinggi di atas kepala dan dari jauh saja Hong Li dapat menduga bahwa tujuh orang itu, yang bentuk tubuhnya berbeda-beda, tentulah pendeta-pendeta To sedangkan belasan orang berpakaian seragam putih itu berjalan berpasangan seperti sebuah pasukan kecil! Ketika tiba di luar hutan yang menjadi batas daerah tempat tinggal subonya, rombongan orang itu berhenti, kemudian hanya tujuh orang pendeta itu yang terus memasuki hutan dan diam-diam Hong Li terkejut melihat betapa tujuh orang pendeta itu amat lihainya, meloncati begitu saja tempat-tempat jebakan dan kubangan-kubangan maut seolah-olah mereka telah hafal akan keadaan di tempat itu. Dan tak lama kemudian tujuh orang pendeta itu telah mendekati tempat di mana subonya sedang berhadapan dengan rombongan orang Cin-sa-pang.

Dengan kemarahan meluap melihat tempatnya dirusak orang, Sin-kiam Mo-li membentak, "Orang-orang Cin-sa-pang, kalau hari ini aku tidak dapat menumpas kalian semua, jangan sebut aku Sin-kiam Mo-li!"

Melihat munculnya wanita ini, kakek botak yang memimpin pasukan orang Cin-sa-pang itu memberi aba-aba dan belasan orang itu lalu mengepung Sin-kiam Mo-li. Sebelum Sin-kiam Mo-li bergerak, tiba-tiba terdengar suara orang dan ternyata di situ telah muncul tujuh orang tosu.

"Siancai, Sin-kiam Mo-li yang gagah perkasa tak perlu turun tangan sendiri. Pinto dan teman-teman akan membasmi tikus-tikus kurang ajar ini!" Sebelum Sin-kiam Mo-li sempat menjawab, tujuh orang itu telah menerjang. Mereka semua bertangan kosong menerjang kepungan itu dari luar. Orang-orang Cin-sa-pang terkejut dan menggerakkan golok untuk menyambut, akan tetapi mereka itu seperti sekumpulan laron melawan api saja. Dalam beberapa gebrakan saja, enambelas orang termasuk kakek botak telah roboh semua terkena tamparan-tamparan tangan tujuh orang tosu tadi. Demikian mudahnya tujuh orang tosu itu memukul roboh dan menewaskan enambelas orang itu sehingga Sin-kiam Mo-li sendiri terkejut dan kini ia memandang kepada tujuh orang tosu itu dengan alis berkerut, penuh curiga, juga khawatir karena ia maklum bahwa kalau ia harus melawan tujuh orang tosu ini, tentu berbahaya karena mereka ini adalah lawan lawan berat, bukan seperti orang-orang Cin-sa-pang yang tak tahu diri itu.

"Hemm, siapakah cu-wi totiang (bapak pendeta sekalian), dan mengapa mencampuri urusanku tanpa kuminta?" Sikapnya cukup hormat akan tetapi juga tegas dan mengandung teguran-teguran karena hatinya merasa tidak senang bahwa ada orang-orang yang memperlihatkan kepandaian menolongnya, seolah-olah ia tadi terancam bahaya dan tidak akan mampu menolong diri sendiri.

Seorang di antara mereka, kakek tinggi kurus berwibawa yang rambut dan jenggotnya sudah putih semua, membawa sebatang tongkat yang setinggi tubuhnya, kakek yang usianya sudah tujuhpuluh tahun lebih namun masih nampak segar dan penuh semangat, segera menjura. "Sin-kian Mo-li, harap maafkan pinto sekalian. Sudah lama pinto sekalian mendengar nama besar toanio (nyonya), akan tetapi belum sempat berkenalan. Kebetulan kami lewat bersama teman-teman dan timbullah keinginan untuk bertamu dan menyampaikan hormat kami. Melihat toanio dihadapi orang-orang kurang ajar itu, kami sebagai tamu merasa berkewajiban untuk turun tangan, mewakili toanio menghajar mereka. Harap mau memaafkan kelancangan kami dan menganggap hal itu sebagai uluran tangan persahabatan kami."

Sin-kiam Mo-li merasa senang melihat sikap yang hormat dari kakek itu, dan kini ia dapat melihat tanda gambar pat-kwa di dada kakek itu, dan gambar bunga teratai di dada beberapa orang kakek lain. Tahulah ia bahwa ia berhadapan dengan tosu-tosu dari Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-kauw, dua perkumpulan yang amat besar pengaruhnya, memiliki banyak orang pandai, pandai silat dan pandai sihir, dan mereka terkenal sebagai pemberontak-pemberontak yang menentang pemerintah. Maka, iapun tidak berani main-main. Lebih baik bersahabat dari pada bermusuhan dengan orang-orang seperti mereka. Pula, mereka sudah memperlihatkan sikap bersahabat, maka iapun membalas penghormatan mereka.

"Terima kasih, cu-wi totiang baik sekali. Tidak tahu ada urusan penting apakah yang membawa cuwi datang mengunjungi tempatku yang sunyi terpencil ini."

"Toanio, bagaimana kalau kita bicara saja di dalam rumah? Kami membawa bahan percakapan yang amat penting."

Pada saat itu, muncullah Ang Nio, Pek Nio dan Hek Nio. Mereka telah selesai pula membunuh enam orang sisa rombongan musuh yang tadi ditinggalkan Sin-kiam Mo-li. Melihat tiga orang pelayannya, Sin-kiam Mo-li cepat bertanya.

"Bagaimana dengan musuh-musuh itu?"

"Semua sudah tewas dan mayat-mayatnya sudah kami lenyapkan," kata Ang Nio.

"Bagus, sekarang Pek Nio dan Hek Nio menyingkirkan mayat-mayat ini, dan engkau Ang Nio ikut bersamaku menyambut para tamu! Marilah, cuwi totiang, kita bicara di dalam rumah saja," katanya mempersilahkan tujuh orang tosu itu. Dengan wajah gembira tujuh orang pendeta itu mengikuti Sin-kiam Mo-li dan beberapa orang di antara mereka tadi memandangi tiga orang pelayan cantik itu dengan mata mengandung gairah.

Sementara itu, Hong Li yang menyaksikan pembunuhan yang dilakukan oleh rombongan tosu itu, menjadi semakin ngeri dan heran. Bagaimana ada pendeta-pendeta yang demikian kejamnya, dalam waktu singkat membunuh enambelas orang demikian mudahnya dengan pukulan-pukulan tangan dan tendangan kaki mereka. Selain lihai bukan main, juga para pendeta itu ternyata amat ganas dan kejam, hal yang sama sekali tidak dimengertinya. Menurut apa yang diceritakan ayah bundanya, para pendeta adalah orang-orang yang taat beragama, yang menjauhkan perbuatan jahat. Akan tetapi mengapa sejak pertemuannya dengan Ang I Lama, juga seorang pendeta, sampai sekarang melihat tujuh orang tosu itu, para pendeta itu demikian jahatnya? Dan bagaimana pula subonya yang dianggap sebagai seorang pendekar yang gagah perkasa, kini mau menerima bantuan para pendeta kejam itu, bahkan kini mengajak tujuh orang pendeta itu menuju ke rumah sebagai tamu yang dihormati? Dengan hati mengandung perasaan tak enak dan penasaran, Hong Li turun dari menara itu dan masuk pula ke dalam rumah.

Setelah tiba di dalam, ia langsung menuju ke ruangan dalam di mana ia mendengar suara para pendeta itu bercakap-cakap dengan gurunya. Ia masuk dan melihat subonya duduk bersama tujuh orang pendeta itu menghadapi sebuah meja bundar dan Ang Nio sibuk mengeluarkan arak dan hidangan. Kembali Hong Li terkejut. Para pendeta itu minum arak pula! Dan hidangan-hidangan itupun semuanya berdaging!

Ketika mereka yang sedang bercakap-cakap itu melihat munculnya Hong Li, percakapan mereka terhenti dan Sin-kiam Mo-li berkata kepada muridnya, "Hong Li, engkau bantulah Pek Nio dan Hek Nio berjaga-jaga di luar, waspadalah kalau-kalau ada lagi musuh datang menyerbu. Jangan masuk ke sini sebelum kupanggil karena aku sedang membicarakan urusan penting dengan para pendeta yang terhormat ini."

Hong Li mengerutkan alisnya, sejenak memandang kepada tujuh orang pendeta yang kesemuanya juga menengok kepadanya "Baik, subo," katanya lalu pergi dari ruangan itu. Akan tetapi ia masih mendengar ucapan-ucapan para tosu itu yang membuatnya mendongkol.

"Itu muridmu? Aih, ia cantik dan berbakat sekali!"

"Manis dan mungil!"

Dan terdengar kata-kata pujian lain yang ditujukan untuk memuji kecantikan dan kemanisannya. Sungguh menyebalkan, pikirnya. Biarpun pujian bahwa ia cantik manis merupakan pujian biasa, akan tetapi di dalam suara para tosu itu terkandung sesuatu yang menyebalkan hatinya, juga pandang mata mereka tadi disertai senyum menyeringai! Seketika timbul rasa tidak suka di dalam hatinya terhadap para pendeta ini, mungkin pertama kali timbul melihat mereka membunuhi orang-orang Cin-sa-pang tadi.

Setelah keluar dari ruangan itu, Hong Li keluar dari dalam rumah, akan tetapi ia tidak pergi mencari Pek Nio dan Hek Nio. Hatinya sedang mengkal dan iapun tidak bernapsu untuk membantu dua orang itu. Ia bukan hanya kecewa dan mendongkol terhadap subonya yang membunuhi orang, terhadap tujuh orang pendeta itu, akan tetapi juga mendongkol terhadap tiga orang pelayan yang dianggapnya juga kejam dan pembunuh-pembunuh berdarah dingin! Maka ia lalu pergi ke taman bunga di belakang, tempat yang paling disenanginya, tempat di mana ia selalu pergi menghibur diri di waktu ia merasa rindu kepada orang tuanya. Dan sekarang ini ia merasa amat rindu karena guncangan batin yang dideritanya menyaksikan pembantaian tadi.

Rombongan para tosu itu memimpin belasan orang anak buah Pek-lian-pai. Tujuh orang tosu itu adalah tokoh-tokoh Pat-kwa-pai dan Pek-lian-pai, dipimpin sendiri dalam kunjungan mereka kepada Sin-kiam Mo-li oleh wakil ketua Pat-kwa-pai, yaitu Thian Kong Cin-jin. Di antara mereka terdapat pula sutenya, yaitu Ok Cin Cu tokoh Pat-kwa-pai. Adapun yang empat orang lain adalah tokoh-tokoh Pek-lian-pai yang dipimpin oleh Thian Kek Seng-jin, dan tiga orang adalah sutenya, Coa-ong Seng-jin si ahli ular, dan dua orang sute lain yang bernama Ang Bin Tosu si muka merah dan Im Yang Tosu yang congkak. Tujuh orang pendeta ini merupakan tokoh-tokoh tingkat tinggi dari Pat-kwa-pai dan Pek-lian-pai dan mereka sengaja diutus oleh kedua pimpinan partai itu untuk menghubungi Sin-kiam Mo-li dan membujuk wanita sakti itu untuk bergabung dengan mereka dan memperkuat pasukan pemberontak mereka.

Dengan panjang lebar, para tosu itu menceritakan tentang perjuangan mereka, tentang harapan-harapan dan pamrih yang muluk-muluk dalam gerakan mereka, sambil memamerkan kekuatan pasukan mereka, membujuk wanita itu untuk bergabung. Mula-mula Sin-kiam Mo-li merasa ragu-ragu, akan tetapi ketika diingatkan bahwa wanita ini memiliki musuh-musuh yang berpihak kepada Kerajaan Mancu, yaitu keluarga Pulau Es dan keluarga Gurun Pasir, diingatkan betapa ibu angkatnya, Kim Hwa Nio-nio, juga tewas di tangan keluarga itu dan kalau bergabung dengan mereka maka wanita itu lebih kuat dan lebih mudah membalas dendam, akhirnya Sin-kiam Mo-li menerima uluran tangan itu. Dengan gembira para tosu itu lalu mengatur rencana bersama Sin-kiam Mo-li, mengangkat wanita itu menjadi pemimpin pasukan yang terdiri dari angauta-anggauta kedua partai itu bersama rakyat yang dapat mereka bujuk, memimpin pasukan dan bergerak dari barat. Mereka bercakap-cakap dengan asyiknya sambil makan minum. Tak lama kemudian, para tosu yang lihai itu sudah terpengaruh arak, wajah mereka sudah menjadi merah, mereka tertawa-tawa dan kata-kata mereka semakin terlepas bebas. Tak lama kemudian Ang Nio yang tadi hanya seorang diri saja melayani para tamu, kini dibantu oleh Pek Nio dan Hek Nio yang sudah kembali setelah selesai menyingkirkan semua mayat musuh yang berserakan. Datangnya dua orang pelayan cantik ini menambah kegembiraan para tosu dan mereka berpesta pora dengan gembira.

***

Ketika para tosu itu membunuhi enambelas orang Cin-sa-pang, ada dua orang bersembunyi dan mengintai dari puncak sebatang pohon besar, agak jauh dari tempat itu. Kedua orang ini adalah Sim Houw dan Bi Lan. Mereka berdua sempat menonton pembantaian yang dilakukan tujuh orang tosu itu tanpa mampu turun tangan mencampuri karena ketika mereka naik ke atas pohon besar dan mengintai lalu dapat melihat perkelahian itu, hampir semua anggauta Cin-sha-pang sudah terbunuh. Kedua orang pendekar ini bergidik penuh kengerian menyaksikan kekejaman itu, akan tetapi mereka juga terkejut melihat kehadiran para tosu Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-kauw di tempat itu.

"Wah, kiranya mereka baru datang," kata Sim Houw kepada kekasihnya. "Kalau mereka sudah menggabungkan diri dengan wanita itu, keadaan di sini tentu amat kuat. Kita tidak boleh sembrono memasuki tempat ini, harus menyelidiki lebih dahulu apakah benar nona Hong Li berada di sini seperti yang kita duga."

Bi Lan mengangguk. "Memang berbahaya sekali tempat ini. Para tosu itu sudah amat lihai dan kalau mereka itu memilih Sin-kiam Mo-li sebagai sekutu, tentu wanita itupun lihai bukan main. Apa lagi kalau diingat bahwa ia adalah anak angkat mendiang Kim Hwa Nio-nio yang sakti. Kita memang harus berhati-hati. Lihat itu!"

Keduanya memandang dan kini melihat betapa Sin-kiam Mo-li meninggalkan tempat itu bersama tujuh orang tosu, diikuti oleh pelayan berpakaian merah yang cantik itu. Kemudian mereka melihat betapa dua orang gadis lain, yang berpakaian serba putih dan serba hitam, juga cantik-cantik, menyeret mayat-mayat yang berserakan dan melemparkan mayat-mayat itu ke dalam dua kubangan, pasir dan lumpur. Dan mereka melihat dengan hati ngeri betapa mayat-mayat itu disedot masuk dan tenggelam ke dalam kubangan-kubangan itu, kemudian lenyap tanpa meninggalkan bekas.

"Hemm, kubangan-kubangan itu amat berbahaya," kata Sim Houw. "Merupakan perangkap yang mengerikan, Sekali kaki terperosok, akan sukarlah untuk keluar lagi. Dan lihat, kedudukan semak-semak belukar dan pohon-pohon itu, demikian teratur rapi merupakan barisan yang aneh. Aku yakin bahwa tempat ini memang merupakan tempat berbahaya yang mengandung penuh rahasia dan jebakan. Lihat, bukankah pohon-pohon itu tumbuh secara teratur dan dari sini berbentuk pat-kwa (segi delapan)! Pernah aku mendengar tentang ilmu mengatur barisan yang ditrapkan untuk membuat lorong-lororg rahasia yang menyesatkan dan berbahaya. Agaknya Sin-kiam Mo-li ahli pula dalam ilmu ini. Kita selidiki dulu dari luar, baru besok menyelinap ke dalam dengan hati-hati. Sukur kalau tujuh orang tosu itu sudah meninggalkan tempat ini."

Dua orang pendekar itu lalu turun dan mulai melakukan penyelidikan di sekitar tempat itu. Dalam penyelidikan inilah mereka melihat belasan anak buah Pek-lian-pai yang bergerombol dan menanti kembalinya para pimpinan mereka yang kini menjadi tamu Sin-kiam Mo-li. Juga mereka melihat lima buah perahu kosong yang tadi dipergunakan orang-orang Cin-sa-pang untuk menyerbu tempat itu.

"Lihat itu," Sim Houw tiba-tiba menunjuk ke sebuah jalur air yang berkelak-kelok seperti ular. "Itu merupakan jalan air yang mengalir dari bukit menuju ke Sungai Cin-sa ini. Tentu air hujan yang turun ke atas bukit itu mengalir melalui jalan air itu dan kiranya jalan itulah yang paling aman."

"Akan tetapi, perlukah kita demikian berhati-hati sehingga kita harus masuk melalui jalan yang aman dan tersembunyi seperti pencuri? Koko, mengapa kita tidak masuk saja melalui jalan biasa, menghadapi semua jebakan dan terang-terangan minta bertemu dengan Sin-kiam Mo-li, dan kita minta dikembalikannya Hong Li?"

Sim Houw menggeleng kepala tidak setuju. "Lan-moi, kita berurusan dengan pembebasan seorang tawanan, maka kita harus berlaku hati-hati agar jangan sampai kita gagal menyelamatkan nona Hong Li. Kalau kita masuk berterang, maka terdapat banyak bahaya. Sin-kiam Mo-li dapat saja lebih dahulu menyembunyikan anak itu sehingga tidak terdapat bukti bahwa ia yang menculiknya. Bahkan dapat saja ia membunuh anak itu untuk menghilangkan jejak. Pula, dengan adanya tujuh orang tokoh Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-kauw itu, lawan kita akan menjadi semakin berat."

"Akan tetapi kita dibantu oleh suci! Ah, mana suci Siu Kwi? Kenapa ia belum juga muncul?"

"Aku di sini, sumoi!" Sesosok bayangan berkelebat dan Bi-kwi telah berdiri di depan mereka. Wajah wanita ini menjadi agak pucat. "Apakah kalian melihat apa yang kusaksikan tadi?" Ia bergidik ngeri. Ia tadi memang sengaja berpencar dengan Bi Lan dan Sim Houw. Kalau kedua orang itu melakukan penyelidikan dengan jalan memutar dari barat ke selatan, lalu ke timur, Bi-kwi melakukan penyelidikan dari barat ke utara lalu ke timur dan kini mereka bertemu di sebelah timur tempat itu.

"Pembantaian yang dilakukan oleh tujuh orang tosu itu terhadap belasan orang yang menyerbu?" tanya Bi Lan.

Bi-kwi mengangguk. "Bukan cuma itu, juga di dekat sungai telah dibantai pula belasan orang. Sedikitnya tigapuluh orang yang tewas di tangan Sin-kiam Mo-li dan kawan-kawannya. Ihhh, wanita itu sungguh lihai bukan main, juga memiliki kekejaman yang mengerikan!" Diam-diam Bi Lan merasa heran di dalam hatinya. Sucinya memang benar telah berubah kalau dibandingkan dengan dahulu. Dahulu, sebelum sucinya bertemu dengan Yo Jin, perbuatan yang dilakukan oleh Sin-kiam Mo-li itu belum tentu membuat matanya berkedip, apa pula merasa ngeri! Agaknya kini perasaan hati Bi-kwi juga sudah berubah sama sekali sehingga menyaksikan perbuatan kejam dilakukan orang, wajahnya sampai menjadi pucat dan suaranya agak gemetar.

"Dan tujuh orang pendeta itupun memiliki kepandaian tinggi. Tadi kami sempat menyaksikan ketika mereka membunuh belasan orang itu. Gerakan mereka jelas membuktikan bahwa mereka adalah ahli-ahli silat tingkat tinggi yang sama sekali tidak boleh dipandang ringan," kata Sim Houw.

Bi-kwi mengangguk. "Kita harus mengatur siasat, tidak boleh bertindak sembrono karena tempat ini penuh dengan jebakan-jebakan berbahaya. Dulu, tiga orang suhu Sam Kwi pernah bicara tentang lorong rahasia yang mempergunakan bentuk pat-kwa. Sayang aku belum pernah mempelajarinya karena ketika itu kuanggap tidak perlu. Siapa kira sekarang kita dihadapkan dengan tempat yang dilindungi oleh lorong-lorong rahasia pat-kwa yang sulit dan berbahaya."

"Sebaiknya kalau kita berunding dulu di tempat penginapan kita. Besok saja kita turun tangan karena sebentar lagi tentu hari menjadi gelap dan lebih berbahaya lagi masuk ke tempat seperti ini. Mudah-mudahan besok para tosu itu telah pergi sehingga gerakan kita akan berhasil tanpa banyak kesukaran," kata Sim Houw.

Dua orang wanita itu setuju dan merekapun cepat meninggalkan tempat itu menuju ke kota Teken di sebelah barat, kota yang kecil akan tetapi cukup ramai dan mereka bermalam di satu-satunya rumah penginapan yang ada di kota itu. Setelah tiba di tempat penginapan dan makan sore, malam itu mereka bertiga mengadakan perundingan dan mengatur siasat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar