05. Anak Murid Kun-lun-pai
Bagaimana dengan nasib Wang Tui, bayi itu? Sungguh kasihan, anak yang usianya baru beberapa hari ini menangis sampai megap-megap di atas perahu tanpa ada yang menolongnya. Agaknya suara tangisnya menarik perhatian seekor ikan besar yang sudah sejak tadi berenang mengikuti perahu, menyentuh-nyentuh perahu dengan moncongnya yang besar
Apalagi bunyi domba betina mengembik-embik di atas perahu membuat ikan itu maklum bahwa di dalam perahu terdapat mangsa yang akan mengenyangkan perutnya. Ketika perahu itu tiba di sebuah belokan di mana air memutar, ikan itu menyabet dengan ekornya dan perahu itu terguling
"Siancai .... siancai .... setelah pinto menyaksikan ini, bagaimana pinto bisa berpeluk tangan saja?" terdengar suara halus dan ringan seperti kabut, sesosok bayangan seorang kakek berjenggot panjang melayang ke tengah sungai, hinggap di atas perahu yang sudah terbalik. Tangan kirinya bergerak dan di lain saat ia telah menyambar tubuh bayi yang hampir tenggelam. Di saat itu juga, seekor ikan yang besar melebihi orang dewasa menyambar domba betina dan sekali caplok domba itu lenyap dari permukaan air
Sambil mendukung bayi itu, kakek ini melompat kembali ke darat. Ia pegang kedua kaki bayi itu sehingga kepala anak itu tergantung ke bawah dan air itu tumpah keluar dari mulutnya. Setelah menggerak-gerakkan beberapa kali dan menepuk sana-sini, bayi itu baru bisa menangis lagi
"Kasihan, anak siapakah ini?" Kakek itu celingukan memandang ke kanan kiri, akan tetapi sekitar tempat itu sunyi saja. Perahu yang tadi dibikin terbalik oleh ikan besar, terus hanyut bersama sisa-sisa daging domba yang kini dijadikan rebutan oleh ikan- ikan kecil
Kakek itu menarik napas dan mendukung bayi di dalam bajunya supaya hangat. Ia adalah seorang yang sudah sangat tua, sedikitnya enam puluh tahun usianya, tubuhnya jangkung kurus dengan rambut dan jenggot panjang sudah putih semua. Pakaiannya berwarna kuning sederhana potongannya, kuku tangannya panjang terawat bersih. Di punggungnya tergantung sebatang pedang
Kakek ini adalah seorang tokoh besar di Kun-lun-san, seorang kakek pertapa yang tidak tentu tempat tinggalnya. Ia jarang dikenal orang, malah orang-orang kang-ouw jarang ada yang mengenalnya kecuali para tokoh dan ketua partai persilatan yang besar. Namun, nama julukannya, yaitu Pek-kong Kiam-sian (Dewa Pedang Sinar Putih) selalu menjadi buah bibir para ahli silat biarpun mereka belum pernah melihat orangnya. Nama aselinya adalah To Tek Cinjin dan dia seorang pertapa yang condong kepada agama To sungguhpun ia bukan seorang tosu (pendeta To). "Anak baik, tidak kusangka setua aku ini masih menerima tugas yang berat. Kau tercipta di tengah sungai Yalu-cangpo, biarlah kuberi nama Yalu Sun (cucu sungai Yalu). Ha-ha-ha!"
Kemudian ia lalu membawa pergi anak itu dengan berlari cepat sekali, mencari pedusunan di mana ia dapat mencarikan air susu untuk bayi itu
Tanpa memperdulikan letih dan lapar, Wang Sin memacu kudanya, terus ke timur mengikuti aliran sungai Yalu-cangpo. Kadang-kadang ia meninggalkan kudanya dan dengan hati-hati ia menuju ke pinggir sungai sambil sembunyi-sembunyi, takut kalau- kalau terlihat oleh kaki tangan tuan tanah, untuk melihat apakah sungai itu masih belum berkelok
Setelah melakukan perjalanan dengan cepat selama beberapa hari, akhirnya ia tiba di bagian sungai yang berbelok ke selatan. Akan tetapi alangkah kecewa dan gelisah hatinya ketika ia tidak melihat Ci Ying di tempat itu. Ia turun dari kuda, menambatkan kendali kudanya pada pohon dan berjalan menyusuri pantai sungai, mencari-cari
Bukan main kagetnya ketika akhirnya ia melihat sebuah perahu kecil terbalik, berhenti di pinggir tertahan batu karang. Tak salah lagi, itulah perahu yang dipergunakan Ci Ying ketika melarikan diri. Hatinya berdebar-debar penuh kekhawatiran. Terbalikkah perahu gadis itu? Celaka, apa jadinya dengan Ci Ying dan bayi yang dibawanya? Setelah mencari-cari tanda tanpa menemukan sesuatu
Wang Sin mencari-cari di dalam hutan dekat pantai itu, mengharapkan kalau-kalau Ci Ying dapat berenang ke pinggir dan bersembunyi di dalam hutan. Akan tetapi kegelisahannya memuncak ketika ia menemukan sebuah sepatu butut. Itulah sepatu Ci Ying
Wang Sin menjadi girang sekali. Ditemukannya sepatu ini di dalam hutan menjadi tanda bahwa gadis ini tidak mati tenggelam dan sudah bisa mendarat. Akan tetapi mengapa sepatunya tertinggal di situ? Biarpun butut, sepatu ini masih dapat melindungi kaki dari tajamnya batu-batu karang. Ia memasukkan sepatu butut itu di kantong bajunya, lalu menunggangi kudanya memasuki hutan, terus mencari sambil memanggil-manggil, "Ci Ying ...... Ci Ying .....!"
Sehari semalam ia menjelajahi hutan itu sambil memanggil-manggil, lupa akan lapar di perutnya, lupa bahwa kudanya sudah terlampau lama ia pacu sampai akhirnya kuda itu terguling roboh kelelahan. Namun Wang Sin tidak memperdulikannya, malah meninggalkan kuda itu dan melanjutkan usahanya mencari Ci Ying dengan jalan kaki
Akhirnya iapun terpaksa menghentikan usahanya ini ketika pada keesokkan harinya ia sendiri terguling roboh pingsan di bawah pohon saking lelah, lapar dan gelisah
Matahari telah naik tinggi ketika Wang Sin siuman dari pingsannya. Ia merasa sekuruh tubuhnya lemas, akan tetapi tidak selemas semangatnya yang penuh diliputi kekhawatiran. Di mana adanya Ci Ying? Apakah, setelah bersusah payah melarikan diri, akhirnya gadis itu terjatuh juga ke dalam tangan tuan tanah, atau ke dalam tangan orang lain yang jahat? "Ci Ying......." keluhnya dan ia segera bangkit kembali dan berjalan terhuyung- huyung melanjutkan perjalanannya mencari gadis yang dicintainya itu
Lewat tengah hari ia tiba di sebuah padang rumput yang luas. Tiba-tiba ia kucek- kucek matanya ketika melihat seorang gadis duduk membelakanginya. Gadis ini pakaiannya sudah tambal-tambalan di sana sini, duduk seorang diri di atas sebuah batu besar, melamun dan agaknya menikmati tiupan angin yang memberisik
"Ci Ying...!" seru Wang Sin lemah sambil berjalan terhuyung menghampiri gadis itu dari belakang. Mungkin karena berisiknya suara rumput saling bergesek, gadis itu tidak mendengar ada orang mendekatinya
"Ci Ying.......!" Wang Sin menjadi gembira sekali sampai ia lupa diri dan menubruk gadis itu, merangkulnya dari belakang saking girangnya
Gadis itu terkejut, tangannya bergerak dan "Plaakk!" kepala Wang Sin sudah ditamparnya, tamparan ini keras sekali, membuat tubuh pemuda itu terpelanting dan jatuh telentang di antara rumput-rumput tebal. Gadis itu berdiri membelalakkan matanya sambil memaki
"Keparat, berani kau kurang ajar kepadaku?!!"
Kagetnya Wang Sin bukan kepalang ketika kini ia melihat dengan jelas bahwa yang dipeluknya itu bukanlah Ci Ying melainkan seorang gadis cantik, seorang gadis bangsa Han yang memaki-maki kepadanya tanpa ia ketahui apa yang dimakinya karena ia tidak mengerti sepatapun kata-kata Han. Akan tetapi ia dapat mengerti bahwa gadis itu marah sekali malah kini gadis itu mencabut pedangnya dan menghampirinya dengan mata mengancam
Wang Sin sudah tidak berdaya lagi. Tubuhnya memang sudah lemah dan tidak bertenaga saking lelah dan lapar, ditambah lagi oleh tamparan yang keras lagi membuat pandang matanya berkunang dan kepalanya pening. Ia hanya bisa meramkan mata ketika gadis itu menodongkan ujung pedang yang runcing itu di hulu hatinya. Juga tidak mengerti ketika gadis itu membentaknya
"Keparat, siapa kau dan apa maksudmu berlaku begitu kurang ajar?"
Karena Wang Sin hanya rebah telentang tak bergerak sambil meramkan mata, gadis itu makin marah. "Bangsat, apa kau sudah bosan hidup?" Ia angkat pedangnya hendak membacok
"Hui-ji (anak Hui)....... jangan bunuh orang!" tiba-tiba terdengar teriakan nyaring dan muncullah seorang laki-laki gagah perkasa, berusia kurang lebih empat puluh tahun bertubuh tegap dan di pinggangnya tergantung pedang. Dengan lompatan yang cekatan laki-laki ini sudah berada di samping anak gadisnya dan mencekal pergelangan tangan gadis itu yang sudah siap membacok leher Wang Sin. "Ada apakah? Siapa dia ini dan kenapa kau hendak membunuhnya?"
"Dia kurang ajar, ayah. datang-datang ia...... ia menubruk dan memelukku. Biar kubunuh anjing gila ini!!" "Ssttt, jangan. Kulihat dia seperti orang sakit," kata ayahnya sambil memandang kepada Wang Sin yang kini sudah membuka matanya dan bangun duduk dengan kepala masih puyeng
"Orang muda, kau siapakah?" tanya ayah gadis itu. Akan tetapi Wang Sin sama sekali tidak menjawab karena tidak mengerti apa yang ditanyakan
Orang tua itu memandang dengan tajam dan kini terlihatlah olehnya raut wajah Wang Sin raut wajah seorang Tibet. Ia lalu mengulangi pertanyaannya dalam bahasa Tibet yang cukup lancar dan jelas
"Agaknya kau orang pedalaman. Siapa kau dan mengapa kau bersikap kurang ajar?"
Wang Sin menjadi lega hatinya. Setidaknya orang Han ini bisa bicara dalam bahasanya. Ia lalu merayap bangun dan memberi hormat. "Harap tuan besar sudi memaafkan hamba tadi, hamba tidak mengenal ini, hamba kira dia...."
Kakek itu mengangguk. "Kau tentu seorang budak, bukan? Mencuri dan melarikan diri, ya?"
Wang Sin kaget sekali dan seketika semangatnya bangkit untuk melakukan perlawanan. Tak mungkin orang akan dapat menangkapnya begitu saja, tekadnya
"Tidak...., tidak....! Jangan harap kau akan dapat menangkap aku kembali!" serunya dan tiba-tiba ia melakukan serangan memukul dengan tangan kanannya ke arah dada kakek itu dengan sepenuh tenaga. Biarpun tidak sangat sempurna Wang Sin pernah mempelajari ilmu pukulan dari ayahnya dan pukulannya selain cepat, juga mantap sekali
Kakek itu mengeluarkan seruan heran sambil mengelak dari pukulan itu. Bukankah itu gerakan Pek-wan-hian-ko (Lutung putih berikan buah), sebuah jurus dari ilmu silat Kun-lun-ciang-hoat? Melihat pukulannya mengenai angin kosong, Wang Sin menyusul dengan pukulan kedua, lebih hebat dari yang pertama
Sekali lagi kakek itu terkejut. Inilah gerak tipu Thi-gu-keng-te (Kerbau Besi Meluku Sawah) tidak bisa keliru lagi, biarpun gerakannya kaku namun kedudukan kaki dan tangan adalah seratus prosen ilmu silat Kun-lun-pai. Ia sengaja menyambut pukulan itu dengan tangkisan lengannya dan ia merasa betapa tenaga pemuda ini besar sekali, tenaga luar yang mengagumkan
Namun ia belum mau merobohkan Wang Sin, memberi kesempatan kepada pemuda itu untuk menyerang terus karena ia ingin melihat gerakan-gerakan pemuda yang bisa mainkan Kun-lun-ciang-hoat ini. Dan makin lama kakek itu makin heran
Wang Sin benar-benar telah mengeluarkan banyak jurus Kun-lun-ciang-hoat yang kesemuanya kaku gerakannya, akan tetapi adalah ilmu silat aseli dari Kun-lun-pai, belum bercampur ilmu pukulan lain cabang. Aneh, bagaimana seorang pemuda Tibet bisa mainkan ilmu silat ini? "Tahan dulu, orang muda. Aku mau bicara!" kata kakek itu sambil menangkis sebuah pukulan
Namun Wang Sin yang sudah ketakutan kalau-kalau ia akan ditangkap oleh orang ini dan dibawa kembali kepada tuan tanah, tidak perduli dan terus menyerang seperti kerbau gila. Karena terlalu bernafsu melihat pukulannya selalu tidak mengenai lawan, ia menjadi ngawur dan kini bergerak asal memukul saja. Juga tubuhnya mulai menjadi lemas sekali
Melihat kenekatan pemuda itu, kakek tadi lalu menggunakan jari tangannya menotok dan robohlah Wang Sin tidak mampu bergerak lagi. Akan tetapi ia masih memandang kakek itu dengan sepasang mata melotot, sedikitpun tidak memperlihatkan rasa takut atau menyerah
"Jangan nekat menyerang terus, orang muda, mari kita bicara baik-baik," kata kakek itu sambil membebaskan totokannya tadi
Begitu terbebas dari totokan, Wang Sin berkata, "Aku tidak sudi kembali, lebih baik kau bunuh aku sekarang juga!"
Gadis yang sama sekali tidak mengerti percakapan antara ayahnya dan pemuda itu, melihat sikap Wang Sin terus melawan dan melotot-lotot, menjadi gemas. "Ayah, mampuskan saja orang kurang ajar ini, habis perkara!"
Ayahnya memberi tanda dengan tangan supaya gadisnya bersabar. Lalu ia berkata kepada Wang Sin, "Orang muda kau salah duga. Aku sama sekali tidak akan membawamu kembali, hanya ingin bertanya. Kau siapa dan kenapa tadi kau bersikap kurang ajar? Pula, kau mempelajari ilmu silat dari siapakah?"
Wang Sin masih menaruh curiga maka ia segan untuk menceritakan keadaannya, akan tetapi ia menjawab juga, "Aku belajar dari ayahku sendiri."
"Siapa nama ayahmu?"
"Ayah bernama Wang Tun......"
Kakek itu nampak tercengang. "Apa? Ayahmu bernama Wang Tun? Ah, dia murid suheng Cin Kek Tosu. Orang muda kita adalah orang-orang sendiri. Di mana ayahmu? Mengapa kau sampai di sini?" Dia memegang pundak Wang Sin dengan girang
Wang Sin juga terkejut. Ayahnya telah berpesan supaya ia mencari guru ayahnya yang bernama Cin Kek Tosu di Kun-lun-san dan kalau kakek ini masih adik seperguruan Cin Kek Tosu, berarti kakek ini adalah paman guru ayahnya. Pantas demikian lihai
"Ayah...... ayah telah dibunuh oleh tuan tanah....."
Kakek itu menarik napas panjang. "Hemmm, lagu lama terulang kembali. Tuan tanah- tuan tanah di Tibet mulai mengganas, memperlakukan hamba-hambanya seperti hewan. Anak, ceritakanlah dengan sejujurnya apa yang telah terjadi. Jangan ragu- ragu, ketahuilah bahwa aku adalah Ong Bu Khai, terhitung paman guru dari ayahmu sendiri dan ini adalah puteriku, Ong Hui. Di antara orang sendiri kau tidak perlu menyembunyikan sesuatu, barangkali kami akan dapat menolongmu."
Kemudian ia berkata kepada gadis itu. "Hui-ji bocah ini bukan orang lain. Dia adalah putera dari Wang Tun si pandai besi, murid dari supekmu Cin Kek Tosu."
"Kenapa dia kurang ajar?"
"Hushh, dengarkan dulu riwayatnya, tentu ada sebab-sebabnya."
Wang Sin mulai percaya dan berceritalah dia tentang semua penderitaannya. Tentang para budak yang dijadikan "ternak berbicara" oleh tuan tanah Yang Can, tentang semua penindasan dan akhirnya tentang Ci Ying yang melarikan diri karena hendak dipaksa menjadi selir tuan muda, tentang ayahnya yang terbunuh dan dia sendiri yang melarikan diri sampai ke tempat itu
"Aku tidak dapat menemukan Ci Ying, hanya sepatunya...... dan anak bayi itu..... ah, apa yang terjadi dengan mereka?" Wang Sin mengakhiri penuturannya yang disalin dalam bahasa Han oleh Ong Bu Khai kepada puterinya
Ayah dan anak itu terharu sekali mendengar penuturan Wang Sin
"Ayah, dia memang patut dikasihani. Akan tetapi dia belum menceritakan tentang sikapnya yang kurang patut kepadaku tadi," kata Ong Hui kepada ayahnya setelah ia mendengarkan pula penuturan itu melalui terjemahan ayahnya
"Wang Sin, penuturanmu mengharukan kami, biarpun aku tidak heran lagi mendengar akan kekejaman para tuan tanah. Akan tetapi, kenapa kau tadi bersikap tidak patut kepada anakku?"
Wajah Wang Sin menjadi merah dan ia melirik kepada Ong Hui, kelihatan jengah sekali. "Lo-enghiong, aku.... aku tadi mengira bahwa puterimu adalah Ci Ying. Dari belakang ia seperti Ci Ying, yaitu.... bentuk tubuhnya dan...... dan pakaiannya yang tambal-tambalan ....."
"Apanya sih Ci Ying itu?" tanya Ong Hui setelah mendengar jawaban ini, merasa lega bahwa pemuda itu tadi memeluknya bukan karena kurang ajar, melainkan karena salah lihat. Pertanyaan ini diulang oleh Ong Bu Khai dalam bahasa Tibet
Mendengar pertanyaan ini, Wang Sin menjadi bingung dan ragu-ragu. "Dia.... dia itu..... adalah adik misanku .... puteri tunggal paman Ci Leng yang pandai membaca dan menulis dan juga berani berkorban menolong bayi cucu nenek lumpuh," kata Wang Sin dengan suara bangga
Mendengar jawaban ini, Ong Hui mengangkat dadanya. "Akupun pandai membaca dan menulis kiranya tidak kalah oleh gadis bernama Ci Ying itu. Akupun berani membela orang, kalau tuan tanah jahat itu berada di sini, akan kupatahkan lehernya."
Ayahnya tersenyum dan kata-kata ini tidak ia terjemahkan kepada Wang Sin yang memandang kepada gadis itu dengan kagum. Ia tadi sudah merasai tamparan gadis ini dan tahulah ia bahwa gadis ini tentulah pandai silat. Teringatlah ia akan pesan mendiang ayahnya dan tiba-tiba ia menjatuhkan diri berlutut di depan Ong Bu Khai
"Lo-enghiong, setelah mendengar riwayat teecu, harap lo-enghiong sudi memberi pelajaran silat kepada teecu, agar kelak teecu dapat membalaskan kematian ayah, dapat membebaskan kawan-kawan budak dari cengkeraman tuan tanah jahat dan antek-anteknya
Ong Bu Khai menarik napas panjang, teringat akan keadaan di tanah airnya sendiri, di pedalaman Tiongkok. "Dunia ini di mana sama saja," katanya mengeluh, "Si kaya memeras si miskin, si kuat menindas si lemah. Nafsu jahat menguasai manusia, hukum negara diinjak-injak, yang berwajib silau oleh harta dunia melupakan tugas, pembesar-pembesar tidak merupakan pimpinan bijaksana hanya berusaha mati-matian membesarkan kesenangan pribadi melupakan rakyat. Di Tiongkok, di Tibet dan di mana-mana rakyat kecil menderita....."
Diam-diam Wang Sin merasa heran mendengar ini. Apakah di lain tempat juga terjadi penindasan seperti di Tibet? "Lo-enghiong, apakah di negerimu juga terdapat budak-budak yang hidupnya lebih sengsara daripada kuda atau kerbau?" ia memberanikan hatinya bertanya
Kembali orang gagah itu menarik napas panjang. "Perbudakkan sudah hapus, tidak ada lagi budak-budak yang dapat diperjual belikan. Akan tetapi apa bedanya? Yang bekerja paling berat mendapatkan hasil paling sedikit. Para petani yang menggarap sawah, dari meluku tanah sampai menanam dan menuai padi, mereka yang menghasilkan bahan makan dengan pupuk peluh dan darah, malah kadang-kadang tidak dapat makan dan mati kelaparan. Memang aneh, tidak sesuai dengan hukum alam, akan tetapi nyata. Yang membuat tidak memakai, yang menanam tidak memakan hasilnya. Celaka...... celaka......"
Wang Sin menjadi makin penasaran. "Kalau begitu, lo-enghiong, para dewa tidak adil! Siapa menjadi penegak hukum yang adil kalau para pembesar sendiri tidak melakukan kewajibannya dan silau oleh harta dunia?"
"Kita yang harus bertindak, kita yang harus turun tangan membela keadilan. Biarpun tenaga kita terbatas, biarpun tindakan kita hanya merupakan setetes air dalam samudera, setidaknya kita bisa menghukum orang-orang jahat dan membela yang lemah tertindas. Itulah tugas pendekar-pendekar yang mempelajari ilmu semenjak kecil dengan susah payah. Untuk membela keadilan, aku dan anakku ini tidak segan- segan mempertaruhkan nyawa."
Wang Sin kagum bukan main dan kini ia memandang kepada gadis itu dengan hormat. Ia lalu berlutut kembali. "Lo-enghiong kalau begitu mohon kau sudi menerimaku sebagai murid agar akupun dapat ikut-ikut membela kebenaran membasmi yang jahat."
Ong Bu Khai mengangguk-angguk, lalu berkata, "Wang Sin, oleh mendiang ayahmu kau disuruh menemui suhengku Cin Kek Tosu di Kun-lun-san. Oleh karena itu marilah kau ikut dengan kami ke Kun-lun-san dan sesampainya di sana terserah keputusan suheng. Kalau suheng suka menerimamu sebagai murid, itu baik sekali
Kalau seandainya suheng yang sudah tua itu sekarang malas mengajar, barulah kau boleh belajar sedikit ilmu yang kumiliki."
Bukan main girangnya hati Wang Sin. Sambil berlutut ia menghaturkan terima kasihnya berulang-ulang. Dan beberapa hari kemudian ia telah kelihatan berjalan di samping ayah dan anak itu, dengan rukun ia berjalan di sebelah Ong Hui sambil mempelajari bahasa Han sedikit demi sedikit
Cin Kek Tosu, seorang tokoh Kun-lun-pai yang terkenal, sudah terlalu tua untuk menerima murid baru. Akan tetapi mendengar bahwa Wang Tun dianiaya sampai tewas oleh tuan tanah, dan mendengar pula penuturan tentang riwayat Wang Sin, kakek ini menjadi marah dan minta kepada sutenya, Ong Bu Khai untuk mendidik pemuda Tibet itu di bawah pengawasannya sendiri. Kesempatan baik ini dipergunakan pula oleh Ong Hui untuk memperdalam ilmu silatnya dibawah petunjuk supeknya yang memang memiliki tingkat lebih tinggi daripada ayahnya
Sebetulnya, biarpun Wang Tun mengaku sebagai murid Cin Kek Tosu, akan tetapi pandai besi Tibet ini sebetulnya hanya belajar selama setengah tahun saja kepada tosu Kun-lun itu. Terjadi dua puluh tahun lebih yang lalu, ketika rombongan besar yang mengantar Puteri Wen Ceng datang di Tibet. Karena peristiwa ini juga merupakan hal yang menarik, baiklah kita mundur dua puluh empat tahun yang lalu dan mengikuti jalannya peristiwa pernikahan antara seorang raja Tibet dengan seorang Puteri dari Tiongkok, yaitu Puteri Wen Ceng puteri dari maharaja Tai Cung dari dinasti Tang
Pada masa itu, raja di Tibet yang bernama Turfan atau Sron Can Gampo yang baru berusia enam belas tahun, mendengar berita dari orang-orang yang datang dari timur bahwa puteri maharaja yang cantik jelita dan terkenal cerdas dan pandai dalam hal bermacam-macam pekerjaan tangan, juga pengetahuannya tentang ilmu luas sekali
Gandrunglah raja yang masih muda ini dan ia segera mengutus seorang menterinya yang terkenal cerdik dan gagah perkasa bernama Gar untuk pergi ke Tiang-an dan meminang puteri itu
Berangkatlah menteri ini dengan membawa berpeti-peti barang berharga, pusaka- pusaka terbuat daripada emas dan perak, dihias ratna mutu manikam yang tidak ternilai harganya. Benda-benda ini dibawa untuk dihaturkan kepada maharaja Tang sebagai mahar atau boleh juga disebut sebagai mas kawin
Ketika menteri Gar tiba di Tiang-an, ternyata bahwa selain dia, banyak juga utusan- utusan dari negara lain yang berdatangan di ibukota kerajaan Tang untuk meminang Puteri Wen Ceng. Maharaja Tai Cung yang tidak ingin membeda-bedakan dan menyinggung perasaan negara lain, lalu mengadakan sayembara, yaitu ia menguji kecerdikan para utusan itu
Akhirnya, berkat kecerdikan Menteri Gar, ia menang dan pinangan rajanya diterima
Dengan diantar rombongan-rombongan ahli kerajinan tangan, ahli pertanian, ahli musik dan lain-lain, Puteri Wen Ceng diboyong ke Tibet. Dalam rombongan inilah Cin Kek Tosu ikut, yaitu diperintahkan oleh pembesar yang bertugas mengumpulkan orang-orang gagah untuk mengawal perjalanan Puteri Wen Ceng ke barat
Setelah puteri itu tiba dengan selamat di Lasha ibu kota Tibet, Cin Kek Tosu lalu menjelajah daerah Tibet. Ia tertarik oleh keadaan penduduknya yang masih amat sederhana hidupnya, dan terutama ia mencari bahan pedang yang baik, yang kabarnya banyak terdapat di daerah liar ini
Dalam penjelajahannya inilah ia bertemu dengan Wang Tun, pandai besi yang pandai membuat pedang. Ketika itu Wang Tun baru berusia dua puluhan tahun, biarpun sudah menjadi budak, namun masih berdarah panas dan suka memberontak
Cin Kek Tosu tertarik ketika kebetulan datang di dusun itu dan mendengar bahwa di situ terdapat seorang pandai besi yang pandai. Didatanginya pondok pandai besi ini dan ia melihat dengan kagum seorang pemuda Tibet sedang menempa besi merah dengan kuatnya. Melihat sinar kebiruan yang berpijar setiap kali besi merah itu dipukul, diam-diam Cin Kek Tosu mengagumi baja tulen itu. Ia lalu masuk dan pandai besi menunda pekerjaannya, memandangnya dengan mata marah
Wang Tun ketika itu sedang marah. Terlalu banyak pesanan pekerjaan dihujankan oleh tuan tanah kepadanya. Hendak menolak tidak berani karena antek-antek tuan tanah selalu siap mengeroyok dan menyiksanya. Kalau diterima, berarti siang malam ia akan bekerja keras
"Kau siapa dan mau apa?" bentaknya melihat seorang berpakaian pendeta berwajah asing dan kepucatan
Cin Kek Tosu tersenyum. Ia sudah cukup lama berada di Tibet dan sudah mempelajari bahasa daerah itu. "Namaku Cin Kek Tosu dan aku datang hendak menonton kau bekerja."
Wang Tun merasa diejek. Pekerjaan baginya bukan pekerjaan lagi, melainkan siksaan dan orang yang menonton dia disiksa tiada lain artinya hanya untuk mengejek
"Apa kau datang hendak menertawakan aku?" bentaknya dengan mata merah
Cin Kek Tosu terheran, lalu tersenyum melihat sikap yang galak dari pandai besi yang hitam penuh arang dan debu tubuhnya itu. "Tidak kawan. Aku tidak mengejek melainkan mengagumi pekerjaanmu. Mengapa pula aku harus mengejek?"
"Apalagi kerjaan orang-orang Han selain untuk mengejek kami para budak?"
"Eh, kenapa kau bilang begitu? Apa salahnya orang Han?"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar