22 Pendekar Bodoh

Ia telah merasai kelihaian pemuda ini, maka hatinya menjadi gentar. Tidak demikian dengan keempat orang kawannya yang belum mengenal Cin Hai, maka dengan golok di tangan mereka maju menerjang pemuda asing ini. Cin Hai menggerakkan kedua tangannya dan oleh karena kawan-kawann Wai Siauw Pu itu ternyata memiliki ilmu silat biasa saja, sekali tubuhnya bergerak, dua batang golok telah dapat dirampas dan pemilikpemilik golok terpelanting roboh! Dua batang golok yang kini berada di tangan Cin Hai itu tiba-tiba dilontarkan ke arah Wai Siauw Pu yang segera melompat ke samping dan kakek bersorban ini terus melompat melalui jendela dan lari! Kawan-kawannya juga segera melarikan diri keluar dari pintu, sedangkan dua orang yang tadi terpelanting jatuh, merayap-rayap dan kemudian lari pula ke luar. Ternyata bahwa Wai Siauw Pu tidak berani menghadapi Cin Hai seorang diri saja oleh karena kawankawannya adalah orang biasa yang tak dapat diandalkan tenaganya. Cin Hai tidak mau mengejar, hanya menghampiri kakek yang masih rebah di atas lantai sambil merintih-rintih itu.

"In-kong (Tuan Penolong)... terima kasih... terima kasih..." katanya dalam bahasa Han yang kaku sambil terengah-engah. Ketika Cin Hai mengangkat tubuh kakek itu untuk dibaringkan di atas dipan, ia menjadi terkejut sekali oleh karena melihat betapa kepala kakek itu yang tadi terbentur tembok telah mendapat luka yang besar dan berbahaya sekali.

"Lopek, mengapa mereka itu memusuhimu?"

"Mereka adalah pengikut-pengikut…Pangeran muda... kejam dan ganas..." akan tetapi tiba-tiba wajah yang menyeringai kesakitan itu lalu tersenyum, "akan tetapi jangan harap akan dapat merampas ini... biar mereka membunuhku sekalipun..." Ia lalu mengeluarkan sebuah bungkusan dari dalam bajunya." In kong... aku sudah tua, lukaku berat, tiada gunanya kautolong aku... kalau kau memang seorang gagah yang berhati mulia... tolonglah saja benda ini, jangan sampai terjatuh ke dalam tangannya..."

Cin Hai menerima bungkusan itu dengan perasaan kasihan dan terheran. Tiba-tiba ia teringat sesuatu dan bertanya, "Lopek, apakah kau seorang pengikut Pangeran tua dan kenalkah kau kepada Ibrahim dan Yousuf?"

Mata yang sudah layu itu bercahaya kembali. "Tentu saja... Yousuf adalah kemenakanku... kau...kaujagalah benda ini baik-baik... mereka menghendaki benda ini... bangsa-bangsa itu, agaknya berani mempertaruhkan nyawa untuk mendapatkan benda ini... In-kong, kau boleh pergunakan benda ini dan... dan selain Yousuf atau Ibrahim sendiri, jangan berikan benda ini kepada orang lain!"

"Baiklah, Lopek. Kau tidak memilih keliru, karena terus terang saja, aku ialah seorang sahabat baik dari Yousuf."

Wajah kakek itu berseri, akan tetapi segera berkata, "Pergilah, lekas pergi!"

Ketika melihat wajah Cin Hai yang ragu-ragu dan tidak tega meninggalkannya dalam keadaan demikian, kakek itu berkata lagi, "Pergilah lekas dan jangan kuatirkan aku... aku dapat merawat diri sendiri...!"

Terpaksa Cin Hai lalu melompat pergi dari tempat itu dengan benda terbungkus itu di dalam saku bajunya. Ia tidak tahu bahwa belum lama ia pergi, beberapa bayangan orang Turki masuk ke dalam pondok itu dan kemudian setelah mereka meninggalkan pondok, kakek itu telah tak bernyawa pula dengan dada tertusuk pisau! Sambil melanjutkan perjalanannya, Cin Hai mencoba untuk melihat apa gerangan isi bungkusan yang demikian dikehendaki oleh Wai Sauw Pu dan kawan-kawannya.

Benda itu terbungkus dengan kain kuning dan ketika ia membuka bungkusan itu, ternyata bahwa isinya hanyalah sebuah tutup cawan terbuat daripada perak! Cin Hai hampir tak dapat menahan gelak tawanya melihat benda ini. Hanya tutup cawan dari perak yang harganya tidak beberapa banyak! Ia membolak-balik benda itu di atas telapak tangannya dan memandangnya dengan heran.

Tutup cawan itu kecil saja, terbuat daripada perak bakar dan pada mukanya terdapat ukiran-ukiran berupa bungabunga yang tak dapat disebut indah. Selain ukiran ini, tidak ada apa-apa lagi yang patut diceritakan pada tutup cawan ini. Kalau saja tidak teringat akan permintaan kakek itu, tentu Cin Hai sudah melemparkan benda itu jauh-jauh, karena menurut pendapatnya, apakah harganya sebuah tutup cawan? Akan tetapi Cin Hai memiliki watak yang setia dan sifat yang gagah, maka sekali berjanji, betapapun juga tentu akan memegang teguh janjinya itu. Maka sambil tersenyum ia lalu membungkus kembali tutup cawan itu dan memasukkannya kembali ke dalam saku.

Ketika ia melanjutkan perjalanannya, tiba-tiba dari belakang terdengar derap kaki kuda dan ketika enam orang peunggang kuda telah datang dekat, ternyata bahwa mereka itu adalah Wai Sauw Pu dan kawankawannya! Wai Sauw Pu melompat turun dari kudanya dan menjura kepada Cin Hai yang memandangnya dengan terheran tanpa membalas penghormatan itu.

"Sicu, kami harap kau suka mengembalikan tutup cawan itu kepada kami."

"Apa maktudmu?" Cin Hai membentak marah. "Aku tidak mempunyai hubungan sesuatu dengan kalian dan selama hidupku belum pernah aku meminjam atau menerima sebuah tutup cawan dari kalian!"

Wai Sauw Pu tersenyum akan tetapi matanya memandang tajam. "Sicu, harap kaumaafkan kalau beberapa kali kita bertemu dalam keadaan yang kurang enak. Sebetulnya kami tidak mempunyai permusuhan sesuatu dengan Sicu atau dengan kawan-kawan Sicu.

Akan tetapi tutup cawan itu adalah barang pusaka kami yang tercuri oleh kakek tua itu, maka tentu saja Sicu takkan sudi untuk menyimpannya lebih jauh oleh karena kami tahu bahwa maling tua itu telah memberikannya kepadamu."

"Memang barang itu ada padaku akan tetapi aku telah berjanji kepada kakek tua itu untuk menyimpannya dan tak boleh memberikannya kepadamu!"

"Jadi Sicu lebih percaya kepada maling tua yang jahat itu?"

"Maling tua itu, kalau benar-benar ia maling, tidak lebih jahat dari pada kau dan kaki tanganmu!" bentak Cin Hai yang marah ketika teringat betapa kakek bersorban yang tinggi besar ini telah memukul kakek itu dengan kejam.

Mendengar ini, Wai Sauw Pu menjadi marah sekali dan cepat ia mengeluarkan senjatanya yang ampuh, yaitu segulung tasbeh dari gading. Juga kawan-kawannya telah mengeluarkan senjata masing-masing. Ketika Cin Hai memandang, ia melihat bahwa di antara semua kawanan itu, terdapat juga Lok Kun Tojin, tosu yang bersenjata sepasang roda pakai tali itu! Ia maklum bahwa kali ini ia menghadapi lawan yang tangguh.

Apalagi sekarang ia tidak mempunyai pedang dan terpaksa harus melawan mereka dengan tangan kosong, paling banyak dengan sulingnya! "Sicu, sekali lagi dengarlah kata-kataku. Kau masih muda dan gagah, sedangkan di antara kita tidak ada permusuhan sesuatu. Tutup cawan dari perak itu, apakah harganya bagimu? Kalau kau suka, kami sanggup mengganti atau menukarnya dengan tutup cawan dari emas tulen!" kata pula Wai Sauw Pu membujuk.

"Eh, sebenarnya, apakah kehendak kalian dengan tutup cawan itu?" tanya Cin Hai. "Aku mengukuhi benda itu bukan karena ingin memilikinya, akan tetapi hanya karena aku sudah berjanji untuk melindunginya. Ini tidak aneh, akan tetapi kalian ini benar-benar aneh! Mengapa untuk sebuah tutup cawan dari perak kalian hendak menggantinya dengan sebuah dari emas?"

"Sicu, ini adalah urusan dan kepentingan pribadi, kepentingan bangsa kami. Sudah kukatakan tadi bahwa benda itu adalah barang pusaka kerajaan kami, maka harap Sicu suka memaklumi hal ini dan mengembalikan barang itu," kata pula Wai Sauw Pu, bahkan kawankawannya pun memandangnya dengan heran.

"Malaikat tasbeh! Kau jangan membohongi aku, karena biarpun aku disebut Pendekar Bodoh, akan tetapi aku bukanlah seorang anak kecil yang tidak tahu apaapa! Kau tadi menyebut Kerajaan Turki sebagai kerajaan kalian sedangkan aku tahu bahwa kau adalah serang dari Sin-kiang! Bahkan beberapa orang kawanmu ini pun bukan seorang bangsa Turki. Apakah kau ini seorang belian dari Turki, ataukah sekarang Sin-kiang sudah menjadi tanah jajahan Turki? Ha, ha, ha! Wai Sauw Pu, peribahasa kuno menyatakan bahwa anak yang melawan orang tuanya adalah seorang durhaka, akan tetapi seorang yang mengkhianati negara sendiri adalah orang yang berbatin rendah sekali! Dan kau tentu tidak suka kalau disebut seorang pengkhianat negara?"

"Bangsat bermulut lancang!" Wai Sauw menggerakkan tasbehnya dengan marah. "Jangan banyak cakap, pendeknya kau kembalikan benda itu atau tidak?"

"Tidak ada persoalan menerima dan mengembalikan," jawab Cin Hai dengan tenang, "Aku tak pernah menerimanya darimu dan takkan mau pula mengembalikan. Ucapan dan janji seorang gagah lebih berharga daripada jiwa, tahukah kau?"

"Keparat!" Wai Sauw Pu lalu menggerakkan tasbehnya dan manyerang ke arah Cin Hai! Pemuda ini dengan sigapnya mengelak, akan tetapi kawan-kawan Wai Sauw Pu telah melompat turun dan menggerakkan senjata masing-masing mengeroyok Cin Hai yang bertangan kosong! Cin Hai terpaksa mencabut keluar sulingnya karena menghadapi sekian orang lihai dengan bertangan kosong adalah amat berbahaya. Walaupun sulingnya hanya terbuat daripada bambu tipis, akan tetapi oleh karena ia mainkan suling itu dalam Ilmu Pedang Daun Bambu, maka ujung sulingnya mengancam jalan darah semua lawannya hingga mereka tidak berani mengurung terlalu dekat! Akan tetapi, tasbeh dari Wai Sauw Pu dan senjata roda Lok Kun Tojin benar-benar berbahaya dan tiap kali sulingnya yang ringan itu akan terbentur oleh kedua senjata itu, sulingnya terpaksa ia gerakkan untuk menghindari benturan ini karena takut kalau-kalau sulingnya pecah dan rusak! Sebetulnya kalau Cin Hai tidak menguatirkan kerusakan sulingnya, ia tak usah merasa gentar, oleh karena yang terlihai di antara semua pengeroyoknya hanyalah Wai Sauw Pu dan Lok Kun Tojin, sedangkan empat orang yang lainnya adalah orang-orang yang memiliki tenaga besar belaka, akan tetapi ilmu silat mereka masih jauh di bawah tingkatnya. Akan tetapi ia pikir bahwa sesungguhnya ia tidak mempunyai permusuhan sesuatu dengan mereka, maka tidak ada perlunya untuk menewaskan mereka atau melayani mereka lebih lama lagi. Ia segera memutar-mutar sulingnya dan memainkan tangan kirinya dengan pukulan-pukulan Pek-in-hoatsut hingga dua orang pengeroyok dapat ia robohkan tanpa menderita luka hebat, kemudian ia lalu lompat keluar dari kurungan mereka berlari secepatnya meninggalkan tempat itu! Lawan-lawannya segera mengejar sambil menunggang kuda, akan tetapi mereka tak dapat mengejar Cin Hai yang mempergunakan Ilmu Lari Cepat Jouw-sang-hui, hingga sebentar saja ia telah meninggalkan mereka jauhjauh! Akan tetapi musuh-musuhnya itu tidak mau membiarkan dia pergi dengan aman dan semenjak saat itu, Cin Hai selalu merasa bahwa ia diikuti orang! Ke mana juga ia pergi, bahkan ketika ia bermalam di hotelhotel ia merasa pasti bahwa dirinya sedang diintai dan diikuti orang secara diam-diam. Ia menjadi jengkel sekali dan mulai merasa betapa tugas yang ditimpakan oleh kakek Turki itu ke atas pundaknya, bukanlah tugas yang ringan. Ia maklum bahwa pada suatu saat, orang-orang Turki pengikut pangeran muda itu pasti akan muncul dan mengeroyoknya dengan tenaga sepenuhnya. Maka ia menjadi gelisah juga, karena sedikitnya, walaupun ia tak pernah merasa takut, hal ini mengganggu tidurnya dan ia tidak dapat menikmati perjalanannya, karena ia selalu harus berlaku waspada dan hati-hati.

Dua hari kemudian, sampailah ia di Lan-couw, ibu kota Kan-su. Ketika ia tiba di luar tembok kota, ia melihat sebuah rumah terpencil di pinggir jalan. Tadinya ia hendak melewatinya saja, akan tetapi, tiba-tiba ia melihat bayangan beberapa orang Turki berkelebat di rumah itu, maka ia menjadi tertarik dan segera melompat pula menghampiri pondok itu. Ketika ia tiba di dekat jendela pondok yang terbuka, ia mendengar suara orang bicara. Pada saat itu ia mengalami dua macam hal yang amat mengejutkan hatinya, bahkan membuat wajahnya menjadi pucat. Yang pertama ialah suara yang keluar dari dalam pondok itu! Jelas terdengar olehnya dua orang, seorang laki-laki dan seorang wanita, sedang bicara dan suara wanita itu mengingatkan ia kepada Ang I Niocu! Hal kedua yang mengejutkan hatinya ialah ketika mendapat kenyataan bahwa umah itu berikut dirinya, telah terkurung dari segenap penjuru oleh orangorang Turki yang dikepalai oleh Wai Sauw Pu, Lok Kun Tojin, bahkan Si Nenek Bongkok Siok Kwat Moli juga kelihatan bayangannya! Akan tetapi hal ke dua ini tidak ia pedulikan, yang lebih menarik hatinya adalah suara wanita itu. Ia mendekatkan telinganya pada jendela dan mendengar suara wanita itu berkata dengan suara yang tandas dan nyaring, akan tetapi merdu, "Jangan kau ulangi lagi ucapanmu tadi!"

"Lihiap... tidak kasihankah kau kepadaku? Biarlah kau boleh menjadi marah dan boleh pula membunuhku, akan tetapi aku harus selalu mengulangi pernyataanku tadi.

Aku cinta kepadamu, Lihiap! Apa dayaku? Aku adalah seorang berdosa besar yang tadinya hendak mengasingkan diri dan menyucikan diri untuk menebus dosaku, akan tetapi, semenjak aku melihat wajahmu, timbul kegembiraan hidupku. Lihiap, mungkin di dunia ini ada orang yang mencintaimu seperti aku!" terdengar suara seorang laki-laki berkata.

"Cukup tutup mulutmu! Untuk ucapan ini saja kalau aku tidak ingat bahwa kau pernah menolongku, dan tidak ingat bahwa kau mengingatkan daku akan seorang yang amat kuhargai, tentu sekarang juga sudah kucabut pedangku untuk menabas batang lehermu!"

"Lihiap, kalau aku melawan, belum tentu kau akan dapat menang, akan tetapi, aku tak sampai hati mengangkat tangan melawanmu. Kau boleh perlakukan aku sesuka hatimu, akan tetapi kasihanilah aku dan janganlah kausia-siakan cinta kasihku!"

Cin Hai tak dapat menahan lagi gelora hatinya oleh karena ia tak ragu-ragu lagi bahwa itu adalah suara Ang I Niocu! Ia cepat membuka daun jendela dan memandang ke dalam. Benar saja, yang berada di dalam pondok itu adalah Ang I Niocu dan seorang laki-laki. Ang I Niocu berdiri tegak dengan tangan kanan di gagang pedangnya sedangkan laki-laki itu berlutut di depannya! "Niocu...!" Cin Hai berteriak dengan wajah pucat dan bibir menggigil karena masih belum percaya bahwa dara yang baju merah itu benar-benar Ang I Niocu! Dara Baju Merah itu berpaling cepat dan mulutnya tersenyum girang ketika ia melihat Cin Hai. "Hai-Ji..." serunya dengan suara menggetar, lalu tubuhnya melompat keluar jendela. Mereka berdiri berhadapan, sedangkan Cin Hai memandang dengan mata terbelalak.

"Niocu... Niocu... benar-benarkah kau ini... apakah aku tidak sedang bermimpi..." Sambil berkata demikian, air mata mengalir ke atas kedua pipi Cin Hai.

Ang I Niocu memegang kedua tangan Cin Hai. "Haiji... tidak, kau tidak sedang dalam mimpi. Aku betul Kiang Im Giok yang telah terlepas dari bencana di Pulau Kim-bun-to."

Saking girangnya, ingin Cin Hai memeluk dara ini, akan tetapi sebaliknya lalu menjatuhkan diri berlutut. Ang Niocu mengangkat bangun padanya lalu sambil menaruh kedua tangan pada pundak pemuda itu, dan air mata berlinang di bulu matanya, Ang I Niocu berkata sambil tersenyum penuh keharuan hati dan kegirangan, "Hai-ji, kau benar-benar telah dewasa sekarang. Bahkan kau telah nampak masak. Di mana Lin Lin?"

"Dia ikut belajar silat dengan Suhu."

Ang I Niocu mengangguk girang, dan sebelum ia melanjutkan kata-katanya, tiba-tiba dari jendela itu berkelebat bayangan Ban Leng yang segera mengayun rebabnya ke atas kepala Cin Hai. Cin Hai berkelit cepat dan sekarang barulah ia mengenal laki-laki ini sebagai orang yang dulu pernah pula menyerangnya di tepi Sungai Huangho.

"Eh, eh, tunggu dulu, kawan!" teriaknya dengan marah dan heran, sedangkan Ang I Niocu membentak pula, "Saudara Sie Ban Leng, jangan kau sembarangan turun tangan!"

Bukan main terkejut hati Cin Hai mendengar nama ini hingga ia tertegun bagaikan patung dan memandang ke arah pamannya itu dengan mata terbelalak dan mulut celangap. Jadi inilah paman Sie Ban Leng yang dulu mengkhianati ayah bundanya? Akan tetapi, sebelum ia sempat membuka mulut, tibatiba orang-orang Turki yang tadi ia lihat, telah mendatangi dengan cepat dan mengurung rumah itu! Sie Ban Leng terkejut sekali dan tiba-tiba ia bersuit keras memberi tanda kepada kawan-kawannya, lalu ia sendiri tanpa banyak cakap lalu memutar-mutar rebabnya menyerang Wai Sauw Pu. Wai Sauw Pu menggerakkan tasbehnya dan berkata dengan marah, "Tangkap tiga tikus ini!" Maka majulah semua orang Turki mengeroyok, hingga Ang I Niocu lalu mencabut pedangnya dan Cin Hai juga menggerakkan sulingnya, bertempur menghadapi sekian banyaknya pengeroyok di dekat Ang I Niocu.

Tak lama kemudian, datanglah kawan-kawan Sie Ban Leng, yaitu perwira-perwira yang menyamar, bahkan Ceng Tek Hosiang dan Ceng To Tosu muncul pula hingga sebentar saja terjadi pertempuran hebat antara orangorang kaisar melawan orang-orang Turki.

"Niocu, sebenarnya mereka ini datang untuk menangkap aku!" kata Cin Hai sambil menangkis serangan lawan yang kini tidak begitu rapat lagi karena datangnya bala bantuan.

"Mengapa?" tanya Ang I Niocu sambil mengirim tendangan kepada seorang pengeroyok hingga orang yang tertendang itu terguling dan tak dapat bangun pula.

"Karena aku membawa sebuah tutup cawan perak yang tidak berharga!" jawab Cin Hai sambil tertawa.

Akan tetapi mendengar jawaban ini, tiba-tiba Ang I Niocu memandangnya dengan mata terbelalak.

"Tutup cawan perak yang berukir di atasnya?" tanyanya.

"Betul," jawab Cin Hai sambil memandang heran.

"Bagaimana kau bisa tahu?"

"Hai-ji, cepat! Mari kita keluar dari kepungan ini! Saat yang baik kita pergunakan. Selagi mereka bertempur, kita boleh bekerja cepat!"

Biarpun tidak mengerti akan maksud gadis itu, namun Cin Hai lalu memutar sulingnya dan dengan cepat lalu mengikuti Ang I Niocu yang telah melompat keluar dari kalangan pertempuran, lalu keduanya lari cepat memasuki kota Lan-couw.

Ternyata Ang I Niocu membawanya menuju ke Gua Tun-huang yang beratus-ratus banyaknya itu.

"Coba kaukeluarkan tutup cawan itu, Hai-ji," kata Ang I Niocu dan ketika Cin Hai membuka bungkusan tutup cawan dan memberikannya kepada gadis itu, Ang I Niocu juga mengeluarkan sebuah cawan dan ternyata bahwa tutup itu memang pas betul. Ketika tutup cawan itu dipasang di atas cawan, Ang I Niocu memperhatikan gambar ukirannya dengan seksama. Tiba-tiba wajahnya berseri-seri, dan ia berkata, "Gua ke tiga puluh enam dari kiri! Hayo Cin Hai, jangan membuang waktu!"

Sambil berlari-lari mencari gua ke tiga puluh enam dari kiri Cin Hai tak tahan lagi untuk tidak bertanya tentang rahasia cawan dan tutupnya.

"Ketahuilah bahwa sepasang cawan dan tutupnya ini merupakan peta yang menunjukkan kita ke arah tempat penyimpanan harta pusaka terpendam yang berada di dalam gua-gua ini."

Cin Hai makin terheran dan ia segera berkata, "Niocu, aku pun mendapat tugas dari Suhu untuk mencari sepasang pedang, yaitu Liong-cu-kiam yang katanya berada di dalam gua-gua di Tun-huang ini."

"Nah, itulah," kata Ang I Niocu girang. "Dan selain sepasang pedang itu, masih terdapat harta yang luar biasa banyaknya!"

Cin Hai hendak bertanya lagi, akan tetapi mereka telah tiba di gua ke tiga puluh enam itu dan segera mereka masuk ke dalam gua yang besar itu. "Mari kita memeriksa kalau-kalau ada terowongan atau pintu tembusan!" kata Ang I Niocu. Keduanya lalu memeriksa seluruh lantai dan dinding gua yang penuh dengan ukiran dan batu-batu berupa patung-patung Buddha, akan tetapi tidak terdapat sesuatu yang mencurigakan.

Mereka mendorong-dorong dinding, membersihkan lantai, memeriksa dengan amat teliti, akan tetapi hasilnya nihil. Cin Hai lalu tidak sabar dan ia lalu duduk mengaso dan berkata kepada Ang I Niocu yang masih mencari-cari.

"Niocu, untuk apakah tergesa-gesa? Marilah kita duduk bercakap-cakap dulu dan kauceritakan pengalamanmu semua. Aku ingin sekali mendengar dan juga kau tentu ingin mendengar pengalamanku semenjak berpisah."

"Nanti saja, Hai-ji, orang-orang Mongol dan Turki serta orang-orang kaisar juga mencari harta pusaka ini. Kalau mereka tahu kita berada di sini tentu mereka akan datang menyerbu," kata Ang I Niocu sambil masih memeriksa kanan kiri. "Tentang pengalamanmu, sebagian banyak aku sudah mendengar dari Kwee An dan Ma Hoa."

"Apa??" Cin Hai melompat memegang lengannya. Kau telah bertemu dengan mereka? Masih hidupkah mereka?"

Ang I Niocu tersenyum manis sambil memandangnya.

"Kalau mereka sudah meninggal, bagaimana aku dapat bertemu dengan mereka?"

Bukan main girang hati Cin Hai mendengar warta ini.

"Aduh, alangkah mulia dan besarnya hari ini!" ia berkata memandang ke atas seakan-akan berdoa dan memuji nama Thian Yang Agung. "Melihat Niocu masih hidup, mendengar Ma Hoa dan Kwee An selamat" tiba-tiba ia melompat bangun dan berkata, "Niocu kita sudah memeriksa lantai dan dinding, mengapa kita lupakan di atas?"

"Apa maksudmu?" tanya Ang I Niocu heran.

"Langit-langit itu," kata Cin Hai sambil menuding ke atas, "Siapa tahu kalau-kalau di situ letak rahasia yang kita cari?"

Ang I Niocu berseri dan pada wajahnya yang cantik timbul harapan baru. Mereka lalu memeriksa lagi dengan teliti dan akhirnya mereka harus memeriksa cawan itu lagi dengan segala ukiran. Setelah memeriksa sampai mata mereka terasa pedas, akhirnya mereka mendapatkan sebuah lukisan pada tutup cawan itu yaitu lukisan patung Buddha yang duduk bersila.

"Ah, aku tadi pernah melihat lukisan ini!" kata Cin Hai dan ia bersama Ang I Niocu mulai mencari-cari lagi dan memeriksa seluruh ukiran yang berada di dinding dan di langit-langit.

"Itulah dia!" kata Ang I Niocu sambil menunjuk ke atas. Benar saja, di ujung kiri dari langit-langit gua ini, terdapat sebuah lukisan yang serupa benar dengan ukiran pada kepala cawan itu, yaitu sebuah patung Buddha yang duduk bersila. Mereka lalu meneliti cawan itu lagi, oleh karena masih belum tahu apa maksud persamaan ukiran ini. Dan tahulah mereka kini. Biarpun ukiran itu campur aduk, akan tetapi apabila diteliti melihatnya, ternyata setangkai bunga yang menghubungkan Patung Buddha itu ke bawah. Mereka lalu mencari tangkai bunga ini di dinding gua dan akhirnya mereka dapat menemukannya. Dari ukiran di atas itu terdapat ukiran bunga yang terus menuju ke bawah dan berakhir pada punggung sebuah batu yang berdiri di dekat dinding.

"Jangan-jangan inilah rahasianya!" kata Cin Hai sambil memutar-mutar patung itu, ternyata biarpun tidak berapa besar, akan tetapi patung itu berat sekali.

"Niocu, mari kita pindahkan patung yang berat ini, siapa tahu kalau-kalau di bawahnya terdapat pintu rahasia!" Ang I Niocu lalu membantu dan dengan persatuan tenaga mereka, terangkatlah patung itu.

"Awas!!" tiba-tiba Ang I Niocu berseru. Mereka segera menurunkan kembali patung itu dan cepat melompat mundur karena dari atas tiba-tiba terbuka sebuah lubang di atas itu! Ternyata bahwa patung ini, dipasangi tali baja yang menghubungkan patung itu dengan sebuah pintu di langit-langit gua. Tali baja ini tidak dapat dilihat oleh karena dipasang di dalam dinding batu yang sengaja dibuat oleh orang-orang kuna untuk menutupi rahasia ini.

Ang I Niocu dan Cin Hai merasa terkejut sekali akan tetapi juga girang. Mereka berdua saling pandang sambil tersenyum dan biarpun hati mereka sangat ingin membuka peti itu, akan tetapi mereka masih berdebardebar dan untuk beberapa lama mereka hanya berdiri saja.

"Niocu, hayo kita buka peti itu. Siapa tahu di dalamnya penuh dengan emas permata!"

"Jangan-jangan terisi binatang beracun. Bagaimana kalau ada ular berbisa di dalamnya?" kata Ang I Niocu sambil tertawa. Keduanya lalu maju dan bersama-sama membuka tutup peti itu dan mereka tercengang sekali.

Ketika tutup peti itu dibuka, nampaklah sinar cahaya yang berkilauan gemilang keluar dari peti itu dan ketika mereka telah membiasakan mata mereka yang tadinya menjadi kesilauan, mereka melihat bahwa peti kecil itu terisi dua batang pedang yang indah sekali dan yang mengeluarkan cahaya berkilauan! "Ah, inilah Liong-cu-kiam!" kata Cin Hai dan Ang I Niocu mengangguk.

"Agaknya benar juga, inilah pedang yang dimaksudkan oleh Susiok-couw Bu Pun Su itu!"

Otomatis mereka lalu mengulurkan tangan dan tanpa disengaja mereka telah mengambil pedang yang sesuai dengan mereka. Cin Hai mengambil pedang yang lebih panjang dan yang pada gagangnya selain tertulis nama pedang itu, yaitu Liong-cu-kiam, juga terdapat huruf "jantan", sedangkan pedang yang terambil oleh Ang I Niocu terdapat huruf "betina"! "Bagaimana Niocu? Harus kita apakan pedang ini?"

"Eh, anak bodoh!" kata Ang I Niocu dan wajah Cin Hai menjadi merah berseri karena sudah lama ia rindu akan sebutan ini yang keluar dari mulut Ang I Niocu. "Tentu saja pedang ini kita serahkan kepada Susiok-couw! Akan tetapi sementara ini biarlah kita membawa pedang ini seorang satu."

"Niocu, lubang di atas itu besar dan gelap, mungkin di situlah tersimpannya harta yang kau sebutkan itu."

Keduanya lalu berdiri dan memandang ka atas akan tetapi karena lubang itu benar-benar gelap menghitam, mereka tidak melihat sesuatu.

"Marilah kita periksa ke atas, biarkan aku memasukinya," kata Cin Hai akan tetapi pada saat itu di luar terdengar banyak suara kaki orang.

"Hai-ji, lekas kita kembalikan patung itu!" Keduanya lalu mengangkat kembali patung tadi ke tempat semula dan aneh! Lubang itu tertutup dengan sendirinya dari atas! Cin Hai hendak berlari keluar, akan tetapi tiba-tiba tangan Ang I Niocu memegang lengannya, "Jangan keluar dulu, mungkin kalau terlihat oleh mereka, akan menimbulkan kecurigaan!"

Keduanya lalu bersembunyi sambil mengintai dari dalam gua dan setelah rombongan orang yang terdengar bunyi kakinya itu lewat, Ang I Niocu dan Cin Hai lalu melompat keluar dari dalam gua dengan pedang Liongcu- kiam di tangan. Setelah tiba di luar gua, keduanya memandang kepada pedang masing-masing dengan amat kagum oleh karena setelah berada di tempat terang kedua pedang ini mengeluarkan cahaya yang amat indahnya. Sinar matahari yang menimpa mata pedang, terpantul kembali menimbulkan berbagai warna pada sinar pedang itu hingga keduanya selain merasa kagum, juga merasa girang sekali. "Lebih baik kita simpan pedang ini, kalau terlihat orang akan menimbulkan keheranan," kata Ang I Niocu dan keduanya lalu menyimpan pedang itu di dalam baju masing-masing.

"Sekarang tiba waktunya bagimu untuk menceritakan segala pengalamanmu, Niocu. Aku sudah amat ingin mendengarkannya," kata Cin Hai sambil duduk di atas sebuah batu yang besar. Ang I Niocu duduk di dekatnya dan mulailah bercerita tentang segala hal yang dialaminya. Akan tetapi ia masih merasa malu untuk menceritakan tentang pertunangannya dengan Lie Kong Sian. Ketika ia menceritakan pertemuannya dengan Sie Ban Leng, Cin Hai berkata, "Dia itu adalah pamanku sendiri yang telah mengkhianati Ayah Bundaku."

Terkejutlah hati Ang I Niocu mendengar ucapan ini.

"Ah, pantas saja ada persamaan pada mukanya dan mukamu. Hayo, kau sekarang ceritakan pengalamanmu!"

Cin Hai juga menceritakan semua pengalamannya, dan ketika pemuda itu bercerita tentang pertandingannya melawan Song Kun, Ang I Niocu tanpa terasa ia berseru, "Ah, Song Kun itu adalah Sutemu yang jahat!"

"Sute siapa?" tanya Cin Hai terheran.

Tiba-tiba wajah Ang I Niocu menjadi merah.

"Sute dia… eh, penolongku itu, Lie Kong Sian. Mereka berdua adalah murid-murid dari Han Le Sianjin, adik seperguruan Susiok-couw!"

Akhirnya, mengertilah Cin Hai dan ia berkata, "Menurut Suhu Bu Pun Su pedang yang dapat menghadapi pedang Song Kun yang jahat itu hanyalah pedang Liong-cu-kiam ini. Sekarang pedang ini telah kupegang, maka aku tidak takut lagi menghadapi dia!"

"Jangan kuatir, Hai-ji, aku pun bersedia membantumu untuk merobohkan dia itu, biarpun kepandaianku jauh berada di bawah tingkat kepandaianmu!"

"Ah, jangan kau terlampau merendahkan diri, Niocu."

Kemudian, Ang I Niocu lalu minta kepada Cin Hai agar supaya pemuda ini memperlihatkan ilmu pedang yang dulu diciptakan atas bantuannya. Dengan suka hati, Cin Hai lalu mengeluarkan pedang Liong-cu-kiam dan mulai bersilat hingga Ang I Niocu menjadi kagum sekali.

"Ah, kepandaianmu makin maju saja," katanya.

"Sungguh aku merasa gembira melihat kawan-kawan mendapat kemajuan hebat. Terutama sekali yang sekarang menerima ilmu silat luar biasa adalah Ma Hoa.

Ia sungguh lihai sekali dan permainannya bambu runcing benar-benar mengagumkan,"

"Tak disangka bahwa Ma Hoa yang tadinya terjerumus ke dalam tebing yang demikian tinggi, tidak saja selamat, bahkan menerima pelajaran ilmu silat tinggi sungguh nasib orang tidak tentu. Akan tetapi, selain Ma Hoa, Lin Lin juga bernasib baik oleh karena kini ia mendapat gemblengan dari Suhu." Ketika membicarakan hal kekasihnya ini, wajah Cin Hai berseri dan matanya bersinar.

"Hai-ji demikian besar kasih sayangmu kepada Lin Lin," kata Ang I Niocu sambil tersenyum, "dan aku percaya bahwa cinta kasih gadis itu kepadamu tidak kalah besarnya. Aku girang sekali melihat kau bahagia, Hai-ji."

Cin Hai merasa terharu sekali karena teringat akan pengorbanan Ang I Niocu di Pulau Kim-san-to demi kebahagiaannya dan Lin Lin.

Dengan mesra dan suara penuh harapan, Cin Hai memandang Ang I Niocu dan berkata, "Niocu, memang kau mulia sekali. Kudoakan sepenuh hatiku semoga kau pun akan dikurniai kebahagiaan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa dan mendapatkan seorang jodoh yang baik, sebagaimana diharapkan pula oleh Suhu."

Merahlah seluruh muka Ang I Niocu sampai ke telinganya mendengar ucapan pemuda itu. Cin Hai merasa kuatir kalau-kalau Nona Baju Merah itu marah mendengar kata-katanya yang lancang itu, maka ia buruburu melanjutkan bicaranya. "Maaf, Niocu, aku tak bermaksud menyinggung perasaanmu..."

Ang I Niocu mengerling kepadanya dan tersenyum manis. "Mengapa minta maaf? Aku tidak marah dan ucapanmu itu memang berharga untuk dipertimbangkan.

Mari kita kembali ke gua itu. Mereka telah pergi dan sekarang kita ada kesempatan untuk mencari harta terpendam yang menurut keterangan harus ada di tempat itu."

Cin Hai merasa girang sekali mendengar ucapan Ang I Niocu dan diam-diam ia mengharapkan perubahan perasaan Ang I Niocu terhadap Kang Ek Sian, pemuda yang amat mencinta Dara Baju Merah itu. Mendengar ajakan Ang I Niocu untuk mencari harta terpendam, sungguhpun ia sendiri tidak ingin mendapatkan harta itu, namun tanpa membantah lagi ia lalu bangun berdiri dan mengikuti nona itu kembali ke dalam gua di mana mereka tadi mendapatkan Liong-cu-kiam.

"Niocu, lubang di atas itu kecil dan takkan dapat dimasuki oleh dua orang, biarlah nanti aku saja yang masuk dan kau menjaga di luar gua, takut kalau-kalau ada orang yang akan melihat kita dan mengetahui rahasia tempat ini."

"Baik, akan tetapi kau berhati-hatilah karena bukan tak mungkin bahwa dalam tempat yang aneh terdapat hal-hal yang aneh dan berbahaya pula, dan kabarnya pendeta-pendeta yang dulu menyimpan benda-benda ini adalah orang-orang berkepandaian tinggi."

Cin Hai menjadi tertarik sekali.

"Niocu, sebelum kita bertindak lebih jauh, terlebih dulu harap kau suka ceritakan padaku tentang riwayat harta terpendam itu karena tak enak mengerjakan sesuatu yang belum diketahui baik keadaannya."

Ang I Niocu dapat mengerti perasaan dan pendapat Cin Hai ini, maka ia lalu duduk di atas sebuah batu dalam gua itu dan berkata, "Memang seharusnya kau tahu akan hal itu, akan tetapi aku sendiri pun hanya mendengar dari lain orang dan ceritanya hanya samar-samar saja,"

Nona Baju Merah itu lalu menceritakan riwayat harta terpendam di dalam gua itu sebagaimana yang ia dengar dari lain orang.

Menurut pendengarannya, diceritakan orang bahwa ratusan tahun yang lalu, ketika pendeta-pendeta Buddha mulai memperluas perkembangan agamanya ke daerah timur, mereka mendapat tantangan keras dari orangorang yang tidak menyetujui pelajaran agama mereka hingga tidak jarang terjadi pertempuran hebat yang mengorbankan banyak jiwa orang. Pada masa itu, di dekat perbatasan Tiongkok sebelah barat laut terdapat suku bangsa Kazak yang tangguh dan kuat, akan tetapi dipimpin oleh seorang jahat. Orang-orang Kazak ini tidak hentinya menyerang ke pedalaman dan melakukan perampokan-perampokan yang ganas, mengumpulkan barang-barang berharga hingga mereka memiliki banyak sekali emas dan permata hasil perampokan itu.

Hal ini membuat kaisar menjadi marah dan karena keadaan mereka memang kuat sekali, akhirnya kaisar membaiki para pendeta Buddha dan dapat mempergunakan tenaga mereka untuk menyerbu dan menghancurkan bangsa Kazak yang suka merampok itu.

Akan tetapi, setelah para pendeta Buddha itu berhasil membasmi para perampok dan merampas kembali barang-barang berharga, kaisar berlaku curang dan bahkan mengerahkan tentara untuk mengusir pendetapendeta itu dan merampas barang-barang berharga itu.

Para pendeta itu karena tidak pernah menyangkanyangka, dapat terpukul hingga cerai-berai dan sebagian di antara mereka segera melarikan diri ke gua-gua Tunhuang dan menyimpan harta benda itu di tempat rahasia.

Akan tetapi, mereka itu dapat dikejar dan ditewaskan hingga tak seorang pun tahu di mana tempat harta pusaka itu disimpan. Hanya seorang di antara mereka yang dapat meloloskan diri dan kemudian membuat peta pada cawan dan tutupnya.

"Nah, hanya sekianlah yang kudengar dari keterangan orang-orang, benar tidaknya entahlah," kata Ang I Niocu kepada Cin Hai yang mendengarkan dengan hati tertarik.

"Kalau begitu, seandainya kita mendapatkan kembali harta itu, kita pergunakan untuk apakah?" tanyanya dengan muka memandang bodoh.

Ang I Nicu tersenyum. "Hai-ji, kau benar-benar linglung! Baru kau saja orangnya yang tidak tahu harus mempergunakan harta benda untuk apa! Biarlah kita mencarinya dulu dan kalau sudah berhasil, kita bertanya kepada Susiok-couw yang tentu akan tahu apa yang harus kaulakukan."

"Tapi, kau sendiri, Niocu? Untuk apakah harta benda itu bagimu?"

"Anak bodoh! Aku sih hanya membantu kau saja. Aku sendiri tidak membutuhkan barang-barang itu!"

"Aku pun tidak membutuhkan! Kalau begini halnya, mengapa kita berdua harus bersusah payah mencarinya?"

"Hai-ji, ketahuilah. Selain kita, masih banyak pihak yang mencari harta itu dan apabila harta benda yang besar itu terjatuh ke tangan orang jahat, tentu akan menimbulkan malapetaka belaka!"

Cin Hai mengangguk-angguk dan berkata, "Benar, benar, sekarang aku teringat akan bunyi ujar-ujar yang menyatakan bahwa harta benda di tangan orang budiman akan merupakan alat hidup yang berguna dan mulia, akan tetapi sebaliknya apabila harta benda terjatuh di tangan orang rendah budi akan menjadi alat hidup yang jahat dan merusak. Kau benar, Niocu!" Ang I Niocu tertawa "Ah, kau dan ujar-ujarmu! Hayo kita bekerja dan jangan mencoba menjadi guru sastera di dalam gua ini!" Cin Hai Juga tertawa, kemudian mereka lalu bekerja sama untuk menggerakkan patung yang menjadi kunci pembuka pintu di atas guha. Setelah lubang di langit-langit gua itu terbuka, Cin Hai lalu melompat ke atas dan mempergunakan tangan kanan untuk menyambar pinggiran lubang dan bergantungan di situ, kemudian ia mengayun kakinya dan masuk merayap ke dalam lubang kecil itu. "Ah, gelap sekali, Niocu!" katanya. "Biasakan dulu matamu di tempat yang gelap itu, aku akan membuat api unggun di dalam gua ini agar cahayanya akan masuk ke situ dan menerangi dalam lubang," kata Ang I Niocu yang segera mengumpulkan kayu-kayu kering di luar gua. Tiba-tiba ketika ia sedang mengumpulkan kayu bakar itu, ia melihat dari jauh mendatangi seorang perwira. Cepat ia masuk ke dalam gua dan berkata kepada Cin Hai, "Hai-ji kau cepatlah bekerja, di luar sana ada orang, biar aku pancing dia pergi ke tempat lain!" Setelah menyalakan api unggun, Ang I Niocu lalu meninggalkan Cin Hai dan berlari ke luar dari gua. Ia mengintai dan melihat betapa perwira itu berjalan dengan langkah lebar menuju ke situ! Ang I Niocu segera melompat jauh dan memapaki orang itu dan setelah dekat hingga perwira itu melihatnya, ia lalu membelok ke kanan dan memperlihatkan muka takuttakut.

Perwira itu merasa curiga melihat seorang wanita di tempat yang sunyi itu yang memperlihatkan sikap takut-takut dan bersembunyi ketika melihatnya. Maka ia segera mengejar dan berseru, "Nona, tunggu dulu!" Akan tetapi, Ang I Niocu berlari terus menjauhkan diri dari gua di mana Cin Hai sedang mencari harta pusaka dan setelah tiba di tempat yang cukup jauh, ia berhenti berlari dan berdiri sambil bertolak pinggang. Perwira itu cepat sekali larinya dan setelah berhadapan muka, ia memandang kepada Ang I Niocu dengan heran dan kagum. Tadinya ia mengira bahwa wanita itu adalah seorang penduduk situ, seorang perempuan suku bangsa Hui, akan tetapi alangkah herannya ketika sekarang melihat bahwa wanita yang dikejarnya adalah seorang perempuan yang cantik jelita bagaikan seorang bidadari! Ia memandang dengan mata terbelalak dan lupa untuk menegur karena kagumnya. Sementara itu, Ang I Niocu juga tercengang ketika menyaksikan betapa perwira itu tadi telah mempergunakan ilmu lari cepat yang cukup mengagumkan, dan tahulah ia bahwa perwira ini bukanlah orang sembarang. Ia lalu memandang penuh perhatian. Perwira itu memakai topi pahlawan yang indah dan dihias bulu-bulu, sedangkan rambutnya yang panjang dan hitam itu dikuncir dan tergantung pada punggungnya. Usianya masih muda, paling banyak tiga puluh lima tahun, tubuhnya sedang dan nampak kuat, sedangkan pada pinggangnya tergantung sebatang pedang. Sikapnya gagah dan sepasang matanya bersinar tajam berpengaruh. Ang I Niocu tidak tahu bahwa ia sedang berhadapan dengan panglima tertinggi di seluruh kerajaan pada waktu itu, yaitu Kam Hong Sin, yang menjadi panglima nomor satu di kerajaan! Ia datang menyusul anak buahnya karena menganggap bahwa keadaan di barat amat genting hingga perlu turun tangan sendiri. Karena berhak bekerja secara diam-diam, maka perwira ini meninggalkan kudanya dan melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki. "Perwira gadungan!" Ang I Niocu sengaja memaki untuk mencari perkara agar perwira itu tidak melanjutkan perjalanannya dan melihat Cin Hai, "Mengapa kau mengejarku?"

Dimaki demikian itu, Kam Hong Sin hanya tersenyum dan menjawab, "Nona yang cantik, mengapa pula kau melarikan diri dariku? Kau adalah seorang Han, apa kerjamu di daerah ini?"

"Kau peduli apa? Pergi!" Ang I Niocu yang segera mengulur tangan kanan mendorong agar perwira itu roboh dan lari ketakutan. Dorongannya ini bukanlah gerakan sembarangan saja, karena ia mempergunakan pukulan dari Ilmu Silat Pek-in-hoatsut yang kelihaiannya luar biasa dan tak mungkin ditangkis oteh orang sembarangan saja. Akan tetapi bukan main terkejutnya ketika tubuh perwira itu tiba-tiba berkelebat dan berhasil mengelak dengan gerakan cepat sekali! Juga perwira itu terkejut melihat serangan yang demikian hebat dan mendatangkan angin yang terasa panas ketika menyerempet ujung jari tangannya itu! "Eh, eh, siapakah kau yang lihai ini?" teriaknya, akan tetapi Ang I Niocu menyerang lagi dengan penasaran sambil membentak, "Peduli apakah kau siapa adanya aku?"

Kini perwira tertinggi di kerajaan itu tidak berani mainmain lagi dan ia lalu mengeluarkan ilmu kepandaiannya untuk menghadapi serangan-serangan Ang I Niocu yang tak boleh dibuat gegabah. Ang I Niocu merasa kagum dan terheran-heran melihat seorang perwira kerajaan yang dapat menghadapi ilmu silatnya Pek-in-hoatsut dan bahkan dapat membalas dengan serangan-serangan yang tak kurang hebatnya! Ilmu ginkang dari perwira muda itu benar-benar membuat Ang I Niocu tertegun karena gerakannya demikian ringan hingga tubuhnya berkelebat bagaikan seekor burung saja hingga setiap serangan dari Pek-in-hoatsut dapat dihindarkannya dengan cepat, bahkan lweekang dari perwira itu pun tidak berada di sebelah bawah tingkatnya sendiri.

Ang I Niocu merasa penasaran sekali melihat betapa serangan-serangannya tak mendatangkan hasil, maka sambil membentak marah ia mencabut Liong-cu-kiam yang tersembunyi di dalam jubahnya.

"Perwira gadungan, rasakan kelihaian Ang I Niocu!"

Bukan main terkejutnya Kam Hong Sin mendengar bahwa wanita baju merah ini adalah Ang I Niocu yang tersohor dan yang sudah lama ingin sekali dijumpainya.

Ia melompat ke belakang lalu mengangkat kedua lengan sebagai penghormatan.

"Ah, ah, tidak tahunya siauwte berhadapan dengan Ang I Niocu yang telah menggemparkan dunia kang-ouw.

Maaf, maaf siauwte tidak tahu maka berani berlaku kurang ajar kepada Lihiap."

"Ciangkun siapakah?" tanya Ang I Niocu heran.

"Siauwte adalah Kam Hong Sin."

Kini Ang I Niocu yang terkejut karena tidak pernah disangkanya bahwa perwira muda itu adalah panglima tertinggi di kerajaan. Pantas saja kepandaiannya demikian hebat.

"Ah, kiranya Kam-ciangkun yang gagah perkasa.

Mengapa Ciangkun meninggalkan kota raja dan berada di tempat asing dan sunyi ini?"

Akan tetapi pada saat itu, kedua mata Kam Hong Sin yang tajam itu sedang memandang dengan penuh perhatian kepada pedang Ang I Niocu hingga ia tidak menjawab pertanyaan gadis itu, bahkan membalas dengan sebuah pertanyaan pula, "Lihiap, bukankah pedang di tanganmu itu pedang Liong-cu-kiam?"

"Ciangkun, di dunia kang-ouw terdapat peraturan yang tidak membenarkan orang bertanya tentang pedang lain orang."

Kam Hong Sin tersenyum, lalu berkata dengan suara tenang, "Siauwte tahu akan peraturan itu. Akan tetapi harap diingat bahwa pada saat ini siauwte bukan berhadapan dengan Lihiap sebagai seorang yang menaruh perhatian dan kagum. Kalau kiranya Lihiap merasa keberatan untuk menjawab, siauwte masih akan mengulangi pertanyaan itu dengan mengingat kedudukan siauwte sebagai seorang perwira yang bertugas mencari pedang pusaka kerajaan yang hilang pada ratusan tahun yang lalu. Benarkah pedang di tanganmu itu pedang Liong-cu-kiam?"

Terpaksa Ang I Niocu yang tak mau membohong menganggukkan kepala.

"Dari manakah kau dapatkan Liongcu-kiam ini, Lihiap?"

"Hal ini tak perlu kuberitahukan kepada siapapun juga," jawab Ang I Niocu setengah marah.

Kam Hong Sin tertawa dan berkata, "Biarpun kau tak memberitahukan, aku tahu bahwa pedang ini tentu kaudapatkan di sebuah di antara gua-gua Tun-huang ini.

Lihiap, pedang ini adalah pedang pusaka kerajaan dan yang berhak mempunyai dan menyimpannya adalah kaisar sendiri. Maka, kuminta kau dengan hormat sukalah kau mengembalikan pedang itu kepadaku agar dapat kuserahkan kepada kaisar."

Ang I Niocu tersenyum sindir. "Enak saja kau bicara, Ciangkun. Aku yang mendapatkan pedang ini dan akulah yang berhak! Selain aku, orang-orang Turki dan Mongol juga mencarinya dan kalau pedang ini terjatuh ke dalam tangan mereka, apakah mereka mau mengembalikan kepadamu?"

Kam Hong Sin memandang tajam, "Lihiap, sudah lama aku mengagumi namamu sebagai seorang pendekar besar, dan aku merasa segan sekali untuk melawanmu, sungguhpun hal ini bukan berarti bahwa aku merasa takut. Akan tetapi, kalau kau tidak mau menyerahkan pedang itu, sebagai seorang panglima yang setia terpaksa aku harus menggunakan kekerasan!"

Sepasang mata Ang I Niocu yang indah itu bercahaya marah. "Bagus, hendak kulihat bagaimana caramu menggunakan kekerasan!"

"Sudah kukatakan bahwa aku mengagumi padamu, akan tetapi bukan berarti takut!" kata Kam Hong Sin dengan suara masih tenang akan tetapi tiba-tiba ia mencabut pedangnya yang pada gagangnya tergantung sehelai tali hitam panjang. Ia membelitkan tali itu pada pergelangan tangannya dan berkata, "Lihiap, kalau kau tidak mau menyerahkan pedang kerajaan itu dengan jalan damai dan tak mau memberitahukan di mana pula tempat harta pusaka itu, terpaksa aku menggunakan jalan kekerasan dengan pedang di tangan!"

"Siapa takut padamu?" bentak Ang I Niocu dengan marah sambil menyerang dengan pedang Liong-cu-kiam.

Kam Hong Sin lalu berseru keras dan menangkis dengan pedangnya yang juga bukan pedang sembarangan, lalu balas menyerang dengan hebat. Ilmu pedang perwira ini luar biasa sekali karena selain gerakannya cepat dan kuat, juga mengandalkan ginkangnya yang luar biasa membuat tubuhnya berkelebat bagaikan halilintar menyambar.

Akan tetapi Ang I Niocu telah memiliki ilmu pedang yang mencapai tingkat tinggi hingga ia melakukan desakan-desakan hebat dan tubuhnya berputar cepat menggerakkan Liong-cu-kiam yang bercahaya berkilauan itu. Dengan gerakannya yang indah dan cepat, Ang I Niocu mendesak terus hingga Kam Hong Sin benar-benar merasa kagum dan terkejut. Sudah lama ia mendengar bahwa ilmu pedang Ang I Niocu telah menggemparkan dunia persilatan dan sudah lama ia ingin bertemu dan kalau mungkin mencoba kepandaian pendekar wanita itu.

Kini keinginannya terkabul karena bukan saja ia berkesempatan mencoba ilmu pedang gadis itu, bahkan mereka bertempur dengan mati-matian. Terpaksa ia mengandalkan ginkangnya untuk menghindarkan diri dari rangsekan gadis itu.

Ang I Niocu merasa penasaran karena belum juga ia dapat merobohkan lawan yang tangguh dan gesit ini, maka lalu maju menyerang dan merobah ilmu pedangnya, meniru gerakan Cin Hai dengan serangan Ilmu Pedang Daun Bambu yang lihai. Biarpun ia tidak mempelajari ilmu pedang ini, namun ketika menciptakan ilmu pedang ini Cin Hai mendapat bantuan darinya, maka sedikitnya ada beberapa jurus terlihai yang masih teringat olehnya dan kini ia mendesak sambil mengeluarkan ilmu silat itu.

Melihat hebatnya Liong-cu-kiam yang digerakkan menyambar pinggangnya dari arah kiri ke kanan, Kam Hong Sin merasa terkejut sekali dan sambil bersuara keras ia mengenjot tubuhnya ke atas sambil berputar.

Ginkangnya benar-benar hebat dan mengagumkan sekali. Dengan gerakan itu, ia melompat tinggi dengan tubuh berputar beberapa kali hingga terhindar dari serangan maut yang dilancarkan oleh Ang I Niocu.

Kemudian, dari atas Kam Hong Sin membalas serangan Ang I Niocu dengan meluncurkan pedangnya ke arah kepala Ang I Niocu dan aneh! Pedangnya itu terlepas dari tangannya dan melayang ke arah kepala Ang I Niocu bagaikan sebatang tombak yang diluncurkan! Ang I Niocu cepat mengelak dan ketika pedang itu meluncur hendak menyentuh tanah, tiba-tiba pedang itu dapat bergerak kembali ke tangan Kam Hong Sin yang sudah melompat turun! Bukan main terkejutnya Ang I Niocu melihat ilmu pedang yang aneh dan lihai ini dan baru ia tahu bahwa tali hitam panjang yang mengikat gagang pedang dan yang dibelitkan di pergelangan tangan perwira itu bukan tidak ada gunanya. Dengan tali panjang itu, maka pedang dapat disambitkan dan dapat menyerang lawan dari jarak jauh tanpa kuatir pedang itu akan lenyap karena dapat dibetot kembali pada saat pedang itu tidak mengenai sasaran! Hal ini tidak begitu mengherankan, akan tetapi yang mengagumkan adalah cara Kam Hong Sin menggerakkan pedangnya di waktu menyambit.

Agaknya ia telah mempelajari ilmu pedang yang aneh ini sampai mendalam betul hingga pedang itu dapat dilepas dan ditarik sesuka hatinya.

Menghadapi ilmu pedang yang aneh dan lihai ini, Ang I Niocu berlaku hati-hati sekali dan mengeluarkan ilmu pedangnya yang paling hebat. Mereka bertempur lagi dengan seru dan kali ini karena mengandalkan pedangnya yang seringkali diluncurkan untuk menyerang dari jauh, Kam Hong Sin dapat mengimbangi permainan pedang Ang I Niocu yang kini menjadi terdesak oleh serangan-serangan aneh dan berbahaya itu. Ia merasa seakan-akan Kam Hong Sin memiliki ilmu kepandaian kiam-sut yang disebut hui-kiam atau pedang terbang yang sering ia dengar dari dongeng-dongeng yang belum pernah disaksikan. Kini mengertilah Ang I Niocu bahwa yang disebut hui-kiam atau pedang terbang itu tentulah ilmu pedang seperti yang dimiliki oleh Kam Hong Sin ini, yaitu pada gagang pedang diikat dengan sehelai tali panjang yang dapat mulur hingga pedang dapat disambitkan, dilayangkan dengan betotan pada talinya.

Namun, biarpun Ang I Niocu terdesak oleh perwira yang tangguh dan ilmu kepandaiannya benar-benar tinggi itu, ia sama sekali tidak menjadi gentar karena bagi Ang I Niocu, tak pernah ada rasa takut menghadapi lawan di dalam hatinya. Ia melawan dengan gerakangerakan tenang dan cukup kuat hingga sukarlah agaknya bagi Kam Hong Sin untuk merobohkan lawan luar biasa ini. Diam-diam perwira itu mengeluh karena kalau saja ia bisa menarik gadis lihai ini menjadi kawan di pihaknya, maka ia tentu akan lebih yakin akan berhasilnya tugas yang dijalankannya.

Pada saat pertempuran masih berjalan seru, tiba-tiba terdengar suitan tiga kali dari jauh. Kam Hong Sin memperlihatkan muka girang dan membalas bersuit keras tiga kali pula. Tak lama kemudian, muncullah Sie Ban Leng dan dua orang pertapa yang bukan lain ialah Ceng To Tosu dan Ceng Tek Hosiang! Melihat betapa Kam Hong Sin bertempur dengan Ang I Niocu, Sie Ban Leng teringat akan sakit hatinya terhadap Dara Baju Merah yang telah menolak cintanya itu, maka ia lalu melompat menghampiri dan berkata, "Ang I Niocu! Mengapa kau memusuhi Kam-ciangkun pula?"

Melihat datangnya tiga orang ini, Ang I Niocu dan Kam Hong Sin menunda senjata masing-masing dan melompat mundur.

"Ang I Niocu!" seru pula Ceng To Tosu sambil mewek hampir menangis "Mengapa Lihiap bertempur melawan Kam-ciangkun?"

Sementara itu, Ceng Tek Hosiang berpaling kepada Kam Hong Sin dan berkata, "Kam-ciangkun, Nona ini adalah Ang I Niocu seorang pendekar gagah, bukan musuh kita!"

Kam Hong Sin tersenyum. "Aku pun segan melawan dia. Akan tetapi, ia telah mendapatkan tempat itu, dan tidak mau memberitahukan kepadaku."

"Apa...?" Ceng To Tosu dan Ceng Tek Hosiang berseru keras sambil membelalakkan mata penuh ketidakpercayaan.

"Lihat saja, ia telah mendapatkan pedang Liong-cukiam, dan juga ia tidak mau mengembalikan pedang itu kepadaku."

Tiba-tiba Sie Ban Leng mendapat kesempatan baik untuk membalas dendam.

"Ha-ha-ha, Ang I Niocu, tidak tahunya kedatanganmu di sini karena kau juga mengingini harta pusaka dan pedang itu! Kembalikanlah pedang Liong-cu-kiam kepada kami, kalau kau membangkang berarti kau akan mendapat bencana."

"Aku tidak hendak menyerahkan pedang ini, habis kalian mau apa?" bentak Ang I Niocu dengan garang.

"Memang kau tidak tahu budi! Kau pernah kutolong, akan tetapi kau bahkan menghinaku dan menolak maksud baikku, sekarang kau mencuri pedang kerajaan pula," cela Sie Ban Leng dengan gemas.

Tiba-tiba Ang I Niocu menudingkan pedangnya ke arah muka Sie Ban Leng dan memaki. "Sie Ban Leng, manusia tak berbudi! Kau pandai memutar lidah dan kau tidak mau melihat mukamu sendiri! Seorang yang telah mengkhianati kakaknya, yang telah membuat kakaknya sekeluarga habis binasa, masih mau bicara tentang budi? Tak tahu malu!!"

Ang I Niocu teringat akan cerita Cin Hai tentang kejahatan Sie Ban Leng yang telah menjadi biang keladi kebinasaan seluruh keluarga pemuda itu, maka hatinya menjadi panas dan kalau mungkin pada saat itu juga ia hendak memenggal batang leher Sie Ban Leng.

Sie Ban Leng merasa terkejut sekali hingga wajahnya menjadi pucat.

"Bangsat wanita, jangan kau bicara yang bukanbukan!" katanya sambil mengayunkan senjatanya yang hebat, yaitu sebuah rebab yang mengeluarkan suara mengiung ketika ia gerakkan menyambar kepala Ang I Niocu.

"Akan kubalaskan sakit hati mendiang Sie Gwat Leng, kakakmu itu!" teriak Ang I Niocu sambil mengelak dan menyerang dengan hebat. Pedang Liong-cu-kiam yang tajam luar biasa itu menyambar dan beradu dengan rebab di tangan Sie Ban Leng. Terdengar suara keras dan ternyata beberapa helai tali senar rebab yang terbuat daripada kawat baja itu putus.

Sie Ban Leng merasa terkejut dan marah sekali, maka ia lalu menyerang kalang-kabut. Sementara itu, Ceng To Tosu dan Ceng Tek Hosiang hanya berdiri memandang dengan bengong, akan tetapi ketika Kam Hong Sin memberi aba-aba supaya mereka membantu, mereka terpaksa mengeluarkan senjata dan mengeroyok Ang I Niocu! Juga Kam Hong Sin berseru sambil menerjang.

"Ang I Niocu, lepaskan pedang Liong-cu-kiam itu!"

Akan tetapi, jangankan baru dikeroyok empat, biarpun ia dikepung oleh ratusan orang, Ang I Niocu takkan merasa gentar sungguhpun kepandaian empat orang pengeroyoknya itu bukan main hebatnya hingga sebentar saja ia telah terkurung dan terdesak hebat! Ia mainkan ilmu pedangnya Ngo-lian-hoan kiam-hwat yang cepat dan tubuhnya lenyap terbungkus sinar pedang Liong-cukiam, melindungi tubuhnya dari senjata-senjata lawan yang datang bagaikan air hujan itu! Ia hanya dapat bertahan dan melindungi diri saja, tanpa dapat membalas sedikitpun juga.

Sementara itu, Cin Hai yang ditinggal seorang diri di lubang kecil pada langit-langit gua, setelah membiasakan matanya di tempat gelap dan mendapat sedikit penerangan dari api unggun yang dibuat oleh Ang I Niocu, lalu merangkak maju ke dalam lubang yang ternyata merupakan jalan terowongan kecil itu. Jalan itu besarnya hanya tiba pas saja dengan tubuhnya, maka ia merangkak maju lagi sambil meraba-raba. Tiba-tiba ia melihat dua benda yang mencorong di sebelah depan, seperti sepasang mata harimau atau binatang buas lain! Ia terkejut sekali dan cepat mempersiapkan pedangnya di tangan, karena jalan mundur tak dapat ditempuhnya cepat-cepat. Dalam tempat yang merupakan lubang sempit itu, tak mungkin membalikkan tubuh dan jalan keluar baginya hanyalah merangkak mundur! Kalau dua benda yang bersinar itu ternyata mata binatang buas, ular besar umpamanya, maka terpaksa harus menghadapinya dalam keadaan merangkak! Berbahaya sekali keadaan demikian melawan seekor binatang buas, apalagi kalau binatang itu berbisa! Akan tetapi, yang aneh sekali, dua benda seperti mata yang mencorong itu, tidak bergerak-gerak dari tempatnya sungguhpun sinarnya yang mencorong itu tertimpa cahaya api unggun nampak berkeredepan bagaikan mata binatang hidup. Apakah gerangan benda itu? Cin Hai untuk beberapa lama mendekam tanpa bergerak, takut kalau-kalau binatang itu terkejut dan menyerang maju.

Akan tetapi kemudian ia menduga bahwa boleh jadi binatang itu telah mati dengan mata terbuka, karena kalau binatang itu masih hidup, mengapa sama sekali tak pernah bergerak? Namun ia masih ragu-ragu karena memang ada binatang yang sanggup berdiam lama sekali tanpa bergerak bagaikan mati, seperti halnya seekor ular. Setelah lama menanti, timbul pula keberaniannya dan dengan hati-hati sekali ia bergerak maju lagi dengan pedang siap disodorkan ke depan! Setelah maju kurang lebih lima kaki jauhnya, ia telah berada dekat sekali dengan dua buah benda yang mencorong itu, lalu benda itu disentuhnya dengan ujung pedangnya. "Ting!" Ujung pedangnya berbunyi dan benda itu bergerak menggelinding. Ternyata bendabenda itu adalah dua potong batu yang ketika dipegangnya hanya sebesar telur burung! Akan tetapi batu itu bercahaya dan ketika ia pandang penuh perhatian ternyata olehnya bahwa batu-batu itu bercahaya indah sekali. Hatinya berdebar keras. Inilah sebagian daripada harta pusaka itu. Ia maju terus, dan makin banyak batu-batu bercahaya seperti itu, bahkan kini ia melihat banyak potongan emas dan perak. Yang hebat adalah batu-batu permata itu, karena bertumpuk amat banyaknya di suatu tempat, membuat terowongan kecil itu buntu, tertutup oleh benda-benda berharga itu.

Cin Hai merasa girang sekali. Tak salah lagi, inilah harta pusaka yang dicari-cari. Ia membawa dua buah batu permata yang terbesar, tak kurang dari sebutir telur ayam besarnya, lalu ia merayap keluar lagi. Ketika ia tiba di mulut terowongan, ia tidak melihat Ang I Niocu dan lalu melompat turun. Ia mengeluarkan dua buah batu itu dari sakunya dan hampir saja ia berseru keras saking kagumnya. Dua buah batu itu adalah mutiara-mutiara yang besar dan cahayanya amat indah. Dua butir mutiara besar ini saja sudah tak ternilai harganya, apalagi yang bertumpuk di terowongan itu! Cin Hai cepat memutar patung batu itu sekuat tenaga ke tempat asal hingga lubang di langit-langit itu tertutup kembali, kemudian setelah menyimpan dua butir mutiara itu, ia lalu berlari keluar mencari Ang I Niocu.

Di luar sunyi saja, maka ia lalu melompat ke atas gua dan berdiri di tempat tinggi. Maka terlihatlah olehnya betapa di tempat yang agak jauh dari situ, Ang I Niocu sedang dikeroyok oleh empat orang dan berada dalam keadaan terdesak sekali. Dengan marah dan cemas Cin Hai lalu melompat turun dan berlari cepat ke tempat itu.

Kalau saja ia tidak merasa kuatir akan keselamatan Ang I Niocu dan tidak demikian tergesa-gesa, tentu ia akan melihat bayangan seorang pendeta Mongol berkelebat dan mengintai ketika ia keluar dari gua itu! Ketika tiba di tempat pertempuran, Cin Hai berseru, "Niocu, jangan kuatir, aku membantumu!" Dan pedang Liong-cu-kiam di tangannya berkelebat secara luar biasa sekali hingga Kam Hong Sin merasa bukan main terkejutnya. Siapakah pemuda yang gagah perkasa dan yang memiliki ilmu pedang sehebat itu.

"Hai-ji, mereka hendak merampas pedang kita!" teriak Ang I Niocu dengan girang melihat datangnya pemuda itu.

Ketika Cin Hai melihat Sie Ban Leng, ia merasa gemas sekali lalu membentak, "Ah, inikah macamnya orang yang telah mengkhianati Ayahku?" Pedangnya menyerang hebat dan dengan suara keras, rebab itu terbelah dua! Sie Ban Leng terkejut sekali, bukan hanya karena rusaknya senjatanya, akan tetapi juga karena kata-kata Cin Hai.

"Siapakah kau?" bentaknya.

"Kau masih ingat kepada Sie Gwat Leng? Nah, dialah Ayahku!"

Pucatlah wajah Sie Ban Leng mendengar ucapan ini hingga tubuhnya menggigil. Pada pandangan matanya, wajah Cin Hai tiba-tiba berubah menjadi wajah kakaknya yang dulu telah dikhianatinya itu! Dan sebelum ia sempat mengeluarkan kata-kata, pedang Liong-cu-kiam di tangan Cin Hai telah menyambar cepat dan robohlah Sie Ban Leng dengan dada kiri tertembus pedang dan tewas pada saat itu juga! Melihat betapa dengan beberapa gebrakan saja pemuda itu telah berhasil menjatuhkan Sie Ban Leng, bukan main kagetnya hati Kam Hong Sin. Ia bersuit keras sekali dan memutar pedangnya dengan hebat untuk menahan serbuan Ang I Niocu dan Cin Hai. Maka datanglah berturut-turut beberapa orang perwira kerajaan yang berkepandaian tinggi sehingga kini yang mengeroyok kedua orang muda itu tak kurang dari sepuluh orang! Akan tetapi, Ang I Niocu dan Cin Hai mainkan pedang dengan seenaknya saja, karena mereka ini hanya membela diri saja dan tidak berniat menjatuhkan para perwira itu. Terutama sekali mereka tidak tega melukai Ceng Tek Hosiang yang bertempur sambil tersenyum dan Ceng To Tosu yang mewek dengan sedihnya itu.

Pada saat pertempuran masih berjalan seru, tiba-tiba terdengar teriakan riuh dan muncullah serombongan orang Mongol yang dikepalai oleh Thai Kek Losu, Sian Kek Losu dan Bo Lang Hwesio! "Pendekar Bodoh, hayo kauserahkan tutup cawan itu kepada kami!" teriak Thai Kek Losu sambil menerjang dan menyerang Cin Hai.

Melihat datangnya rombongan yang terdiri dari belasan orang pendeta Mongol jubah merah itu, Cin Hai lalu memberi tanda kepada Ang I Niocu untuk melarikan diri. Sedangkan para perwira kerajaan ketika melihat pendeta-pendeta Mongol ini pun segera menyerangnya, sehingga terjadilah pertempuran antara perwira-perwira kerajaan dengan pendeta-pendeta Mongol. Sebenarnya hal ini tidak dikehendaki oleh Kam Hong Sin maupun oleh Thai Kek Losu, akan tetapi Ceng Tek Hosiang dan Ceng To Tosu yang mendahului menyerang para pendeta Mongol itu, karena diam-diam mereka berdua ini suka kepada Cin Hai dan Ang I Niocu hingga ketika para orang Mongol datang menyerang, mereka berdua lalu membantu Cin Hai dan menyerang para pendeta Mongol itu! Memang diantara kedua golongan ini telah ada rasa benci membenci hingga mudah saja membakar api diantara mereka. Serangan Ceng Tek Hosiang dan Ceng To Tosu cukup membuat yang lain lain lalu menyerbu dan saling gempur dengan sengitnya! Sementara itu, Ang I Niocu dan Cin Hai telah melarikan diri secepatnya meninggalkan tempat pertempuran itu.

"Niocu, harta pusaka itu benar-benar berada di terowongan kecil itu!" kata Cin Hai kepada Ang I Niocu dan secara singkat ia menuturkan betapa banyaknya harta itu bertumpuk di dalam terowongan kecil. Ia memperlihatkan bukti dua butir mutiara itu kepada Ang I Niocu yang memandangnya dengan kagum.

"Kalau kau suka, ambillah, Niocu," kata Cin Hai sambil memberikan dua butir mutiara besar itu. Ang I Niocu menerimanya, akan tetapi lalu ia kembalikan sebutir sambil berkata, "Simpanlah yang sebutir ini untuk diberikan kepada Lin Lin kelak."

"Sekarang bagaimana baiknya, Niocu? Fihak Kaisar dan Mongol juga menghendaki harta benda itu, bahkan fihak Turki juga tidak mau ketinggalan. Bagaimana kita harus mengambil harta itu tanpa mereka ketahui dan kalau sudah kita ambil, lalu untuk apa?"

Setelah mendengar banyaknya harta yang terdapat di situ, Ang I Niocu sendiri pun menjadi bingung dan tidak tahu harus menjawab bagaimana.

"Lebih baik kita membuat laporan kepada Susiok-couw saja, Hai-ji. Kaubawalah sepasang pedang Liong-cu-kiam ini dan berikan kepada Susiok-couw, sekalian kauceritakan tentang harta pusaka itu dan tentang keadaan di sini."

"Kenapa hanya aku yang harus menceritakan? Bukankah kita pergi ke sana berdua?" tanya Cin Hai.

"Tidak, kau pergilah sendiri. Aku harus tinggal di sini mengamat-amati gua itu, jangan sampai didapatkan oleh lain orang. Kalau kita berdua pergi dan harta itu diambil orang lain, kita takkan dapat berbuat sesuatu."

Cin Hai mengangguk-angguk, dan bertanya lagi, "Kalau kedua pedang kubawa, habis kau bagaimana, Niocu? Kau perlu memiliki pedang yang cukup baik untuk menghadapi bahaya. Tempat ini penuh dengan orangorang pandai dan jahat."

Ang I Niocu tersenyum, lalu menyerahkan pedang Liong-cu-kiam kepada Cin Hai, kemudian mencabut pedang Cian-hong-kiam pemberian Lie Kong "Pedang ini cukup baik dan kuat. Kaulihatlah!" Ang I Niocu mengayun pedangnya membacok sebuah batu karang hitam di pinggir jalan dan batu terbelah dengan mudah. Cin Hai mengangguk-angguk dan memuji.

"Po-kiam (pedang pusaka) yang bagus!"

Kemudian ia lalu berangkat menuju ke tempat pertapaan suhunya, yaitu di Gua Tengkorak di mana dulu ia mempelajari ilmu silat dari Bu Pun Su. Sedangkan Ang I Niocu tinggat di Lan-couw untuk menjaga dan mengamat-amati gua rahasia di mana tersimpan harta pusaka yang besar itu.

Cin Hai melakukan perjalanan dengan cepat menuju ke timur. Jarang ia berhenti kalau tidak hendak makan dan beristirahat, karena ia hendak cepat-cepat tiba di tempat itu, seakan-akan ada besi sembrani yang menariknya, yaitu Lin Lin. Pemuda itu baru saja berpisah beberapa lama, sudah merasa rindu sekali dan kini ia tergesa-gesa bukan lain ialah karena ingin bertemu dengan kekasihnya itu.

Pada suatu hari ia tiba di sebuah dusun dan tertariklah hatinya melihat betapa penduduk dusun itu seakan-akan sedang mengadakan semacam pesta keramaian. Tadinya ia hendak lewat terus saja, akan tetapi ketika melihat beberapa orang dusun memikul sebuah orang-orangan dari kertas yang besar dan rupanya seperti Hai Kong Hosiang, ia menjadi terheran sekali dan menunda perjalanannya. Ia menduga bahwa persamaan wajah orang-orangan itu dengan Hai Kong Hosiang tentulah merupakan hal yang kebetulan saja, akan tetapi alangkah terkejutnya ketika ia bertanya gambar siapakah yang mereka gotong itu, ia mendapat jawaban, "Gambar si keparat Hai Kong."

Cin Hai tertarik sekali dan ingin melihat apakah yang hendak dilakukan oleh orang-orang kampung itu dan mengapa mereka menggotong gambar Hai Kong Hosiang yang mereka maki-maki keparat. Rombongan itu menuju ke sebuah rumah kecil yang sudah penuh orang dan di depan pintu rumah itu terdapat sebuah meja sembahyang.

Setelah orang-orangan itu digotong ke situ, semua orang berdiri dan memaki-maki, "Hai Kong keparat! Hai Kong Hwesio bangsat!" dan lain-lain makian lagi menyatakan kemarahan mereka. Kemudian beramairamai semua orang mengeroyok orang-orangan itu dan menghujani pukulan dengan senjata tajam sehingga orang-orangan dari kertas itu robek-robek dan hancur, kemudian sisa-sisanya dibakar dibawah sorak-sorai yang riuh! Cin Hai makin terheran-heran dan menonton saja.

Kemudian orang-orang dusun itu lalu bersembahyang dan semuanya berlutut di depan meja sembahyang itu dengan muka berduka, bahkan ada pula beberapa orang wanita yang menangis! Cin Hai tak dapat menahan keheranannya lagi, maka ia lalu bertanya kepada seorang laki-laki tua yang berada di belakang dan juga ikut bertutut, "Lopek, mengapa kalian demikian membenci Hai Kong Hosiang dan meja sembahyang siapa ini?"

Kakek itu memandang kepada Cin Hai dengan tajam dan setelah mengetahui bahwe pemuda itu adalah orang dari luar dusun, ia lalu menjawab, "Siangkong, ketahuilah. Dulu di dusun kami ini datang seorang hwesio jahat bernama Hai Kong Hosiang yang mengganggu kami, bahkan hampir membunuh seorang anak kecil di dusun ini. Kemudian datanglah dua orang pendekar wanita yang membela kami dan bertempur melawan Hai Kong Hosiang si keparat itu, akan tetapi dua orang pendekar wanita itu tewas dalam tangan Si Bangsat Gundul. Oleh karena kami berterima kasih sekali kepada kedua orang pendekar wanita yang telah mengorbankan nyawa demi pertolongannya kepada kami maka sekarang kami mengadakan peringatan untuk menghormati jasanya itu."

Cin Hai merasa tertarik sekali mendengar ini. "Lopek, siapakah namanya dua orang pendekar wanita yang gagah dan mulia itu?"

"Entahlah, kami juga tidak tahu dan tidak mendapat kesempatan untuk mengetahui hal itu. Akan tetapi senjata kedua pendekar itu masih kami simpan dan sekarang pun kami memuja senjata-senjata mereka itu yang ditaruh di atas meja sembahyang."

Karena tertarik, Cin Hai lalu menghampiri meja itu, diikuti oleh pandang mata semua orang kampung yang merasa heran dan curiga. Cin Hai mendekati meja dan memandang. Alangkah terkejutnya ketika ia melihat sebuah hud-tim (kebutan pertapa) warna merah dan sebatang pedang. Ia melangkah maju untuk memandang lebih teliti lagi dan menjadi pucat ketika ia mengenal senjata-senjata itu. Kebutan meitu adalah senjata Biauw Suthai dan pedang itu adalah pedang Pek I Toanio, guru dan suci dari Lin Lin! Lemaslah tubuh Cin Hai dan kedua kakinya gemetar.

Ia segera berlutut dan ikut bersembahyang bersama semua orang kampung yang kini lenyap kecurigaan mereka melihat pemuda itupun memberi hormat! Selesai bersembahyang, Cin Hai lalu minta keterangan penjelasan dari kakek tadi dan setelah ia mendengar cerita tentang dua orang pendekar wanita itu, bahwa yang seorang adalah seorang pendeta wanita tua dan yang kedua adalah seorang wanita berpakaian putih yang cantik, ia tidak ragu-ragu lagi. Biauw Suthai dan Pek I Toanio telah tewas dalam tangan Si jahat Hai Kong! Kalau saja ia tidak melihat bahwa Hai Kong Hosiang sudah menggelinding ke dalam jurang, tentu ia makin merasa dendam dan sakit hati kepada hwesio jahat itu! Cin Hai tak pernah bermimpi bahwa Hai Kong Hosiang yang disangkanya telah mati itu sebetulnya masih hidup dan sebentar lagi akan bertemu dengannya! Ia lalu melanjutkan perjalanannya dan berpikir-pikir bagaimana ia harus menyampaikan berita sedih ini kepada Lin Lin. Ia maklum bahwa Lin Lin pasti akan berduka sekali mendengar tentang matinya gurunya dan sucinya yang amat dikasihinya itu.

Pada keesokan harinya, ia telah tiba dekat Gua Tengkorak, hanya tinggal perjalanan beberapa belas li saja. Ketika ia masuk ke dalam sebuah hutan, tiba-tiba ia melihat serombongan orang berjalan cepat dari depan.

Melihat gerakan mereka yang cepat, Cin Hai menjadi heran dan segera ia bersembunyi di balik sebatang pohon besar dan mengintai.

Ketika rombongan itu telah datang dekat, tiba-tiba ia membelalakkan kedua matanya dan menggosok-gosok mata itu seakan-akan ia tidak percaya kepada kedua matanya sendiri. Tak salah lagi, yang berjalan di depan adalah Hai Kong Hosiang! Bentuk badan dan pakaian hwesio itu masih sama dengan dulu, hanya bedanya sekarang matanya tinggal sebelah, yang kanan tertutup dan buta, sedangkan yang kiri terdapat cacat bekas terobek dan menjadi lebih lebar dari biasa! Muka hwesio itu kelihatan buruk dan menyeramkan sekali.

Dan yang lebih mengherankan hati Cin Hai adalah ketika ia melihat Bu Pun Su berjalan di tengah-tengah rombongan itu. Anehnya, gurunya ini nampak sedih dan putus asa, berjalan sambil menundukkan kepala, sebagai seorang tawanan! Aneh sekali! Siapakah orangnya yang dapat menawan dan menundukkan suhunya? Tak mungkin Hai Kong Hosiang! Cin Hai memandang rombongan itu dan selain Hai Kong Hosiang, ia melihat pula Balaki, perwira Mongol yang dulu pernah dikalahkannya itu, seorang perwira Mongol lain, seorang pendeta Mongol jubah merah, dan seorang wanita tua berbaju putih bercelana hitam dan tak bersepatu! Wanita ini nampak aneh karena walaupun nampak tua, akan tetapi rambutnya masih hitam dan biarpun pakaiannya amat sederhana bahkan ia tidak bersepatu, akan tetapi sabuk yang mengikat pinggangnya terbuat dari pada sutera merah yang panjang dan indah, sabuk yang biasa dipakai oleh nona-nona muda! Pada jidat wanita tua itu nampak garis palang hitam, tepat di tengah-tengah alis agak di atas. Nenek aneh ini berjalan di sebelah kiri Bu Pun Su. Cin Hai menjadi bengong dan terheran-heran. Mungkinkah orang-orang ini dapat mengalahkan dan menawan suhunya yang demikian sakti? Hampir ia tidak percaya, akan tetapi pemandangan yang oleh kedua matanya bukanlah terlihat di alam mimpi! Dari perasaan heran Cin Hai menjadi marah sekali terhadap rombongan itu. Ia mencabut sepasang pedang Liong-cu-kiam, memegangnya erat-erat di tangan kanan kiri, lalu melompat keluar sambil berseru, "Hai Kong keparat! Kau berani menghina Suhuku?" bentaknya dan kemudian ia menerjang mereka. Semua orang terkejut melihat berkelebatnya bayangan Cin Hai yang memegang sepasang pedang yang bercahaya dan menggerakkannya secara hebat sekali! Balaki dan pendeta Mongol berjubah merah menyambut serangannya dengan senjata mereka, akan tetapi sekali bentrokan saja senjata kedua orang itu terpental jauh, terlepas dari pegangan! Cin Hai hendak menyerang Hai Kong dan nenek tua itu, akan tetapi tibatiba terdengar suhunya berseru keras, "Cin Hai, tahan pedangmu!!" Suara ini menyiram api yang membakar di dada Cin Hai dan ia berdiri memandang kepada suhunya dengan heran dan cemas. "Suhu..." katanya menahan napas, "mereka ini... mau apakah?" "Jangan sembarangan turun tangan!" kata pula Bu Pun Su dengan suaranya yang amat berpengaruh. "Kau pergilah saja ke Gua Tengkorak dan kautolong Lin Lin." "Lin Lin... kenapa dia, Suhu...?" tanya Cin Hai dengan wajah pucat.

Dan aneh sekali, Bu Pun Su menarik napas panjang dengan wajah berduka. Baru kali ini Cin Hai melihat suhunya berduka! "Pergilah dan kau akan mendapat penjelasan dari Lin Lin." Cin Hai mendengar suara ketawa bergelak dan ia cepat berpaling memandang kepada Hai Kong Hosiang yang masih tertawa sehingga menimbulkan rasa bencinya. Ingin ia menggerakkan pedangnya menusuk dada hwesio yang jahat itu. "Akan tetapi, Suhu..." ia mencoba membantah. "Diam! Dan jangan banyak cakap lagi. Pergilah!" seru Bu Pun Su marah. Dengan kepala tunduk dan beberapa kali menengok, Cin Hai lalu bertindak pergi. "Ha-ha-ha! Pendekar Bodoh, kau benar-benar tolol dan bodoh. Bu Pun Su lebih pintar dari padamu! Nyawa Lin Lin kekasihmu itu berada di dalam tanganku dan tergantung kepada Suhumu apakah ia menghendaki kekasihmu itu hidup atau mati. Awas, jungan kau berani main-main dengan kami kalau menghendaki Suhumu dan kekasihmu itu dapat hidup! Ha-ha-ha!" Hai Kong Hosiang tertawa bergelak-gelak sehingga menggema di dalam hutan itu.

Suara tertawanya saja membuktikan bahwa kini ilmu lweekang hwesio itu telah naik berlipat ganda hingga diam-diam Cin Hai merasa tertegun. Akan tetapi, kepandaian itu masih jauh daripada cukup mengalahkan suhunya! Ia tidak berani membantah perintah suhunya.

Apalagi mendengar ancaman Hai Kong Hosiang tadi, membuat ia merasa gelisah dan cemas memikirkan nasib Lin Lin. Maka ia segera berlari cepat menuju ke Gua Tengkorak diikuti oleh gema suara tertawa Hai Kong Hosiang. Cin Hai berlari cepat, mengerahkan seluruh kepandaiannya karena benar-benar merasa gelisah sekali. Kalau saja Lin Lin kalian ganggu, pikirnya dengan gemas, awaslah kalian! Ketika tiba di depan Gua Tengkorak hatinya merasa berdebar. Ia tidak mendengar sesuatu, keadaan sunyi sekali, membuat hatinya berdebar cemas dan hampir saja ia tidak berani masuk karena merasa takut melihat hal-hal mengerikan yang terjadi pada diri kekasihnya. Setelah menetapkan hatinya, ia lalu melompat masuk ke dalam ruang besar di mana tengkorak-tengkorak raksasa masih berdiri dengan megahnya. Bertahun-tahun ia tinggal di tempat ini mempelajari ilmu silat, maka pemandangan ini tidak menimbulkan keseraman di hatinya lagi. Ia segera memandang dengan kedua matanya mencari-cari, dan karena tidak melihat Lin Lin di ruang itu, ia lalu berlari masuk ke dalam kamar tempat menaruh hio-louw (tempat hio). Dan di situ ia melihat Lin Lin rebah telentang, pucat tak bergerak bagaikan mayat.

Cin Hai berdiri terpaku di atas lantai, tak kuasa bergerak, wajahnya pucat dan kepalanya terasa pening.

Hampir saja ia jatuh pingsan kalau ia tidak menekan perasaannya dan menguatkan hatinya.

"Lin Lin..." akhirnya ia dapat berseru dan menggerakkan kakinya, menubruk maju dan memeriksa keadaan kekasihnya. Ternyata bahwa Lin Lin hanya pingsan saja dan pernapasannya masih berjalan, sungguhpun amat lemah. Tidak ada tanda-tanda luka hebat di tubuh Lin Lin, kecuali bintik hijau yang terdapat pada lehernya, dan ketika Cin Hai meraba bintik itu, terasa panas menyerang jari tangannya. Ia merasa terkejut sekali dan dapat menduga bahwa kekasihnya tentu terkena senjata jarum yang mengandung racun hebat. Bukan main marahnya. Mengapa suhunya mendiamkannya saja, bahkan menyerah menjadi tawanan musuh? Cin Hai lalu memondong tubuh Lin Lin dan melompat keluar. Ia tidak mau menerimanya begitu saja. Ia harus mengejar mereka itu dan memaksa mereka memberi obat pemunah bagi kekasihnya, atau kalau mereka tak sanggup menyembuhkan Lin Lin, ia hendak mengamuk dan membunuh mereka semua dengan taruhan jiwa. Biarpun andaikata suhunya akan melawan, ia akan nekat dan tidak menurut perintah suhunya. Cintanya kepada Lin Lin jauh lebih besar daripada ketaatannya kepada gurunya. Kecemasan telah menggelapkan jalan pikiran Cin Hai dan sambil memondong tubuh Lin Lin yang lemas tak berdaya dan yang meramkan kedua matanya itu, Cin Hai mempergunakan ilmu berlari cepat, melompati jurang dan mengejar secepatnya. Akan tetapi, ketika ia tiba di sebuah hutan yang sunyi, tiba-tiba tubuh Lin Lin bergerak-gerak. Ketika ia memandang, ternyata kekasihnya telah membuka matanya. Cin Hai berhenti berlari dan mendekap kepala Lin Lin sambil berbisik, "Linmoi...

Sebelum - Beranda - Lanjut

Tidak ada komentar:

Posting Komentar