19 Pendekar Sakti

Alangkah kagetnya ketika dia melihat betapa di luar goa itu telah penuh orang-orang yang berpakaian sebagai tentara dan mendengar pula ringkik kuda di luar goa. Ia dapat mengerti bahwa mereka ini adalah pasukan dari pemberontak An Lu Shan, maka segera dia menutup itu dan kembali ke dalam goa, duduk dekat hio-louw besar sekali sambil bersamadhi untuk menenteramkan hatinya. Ia maklum bahwa fihak pemberontak telah menemukan tempat persembunyiannya, akan tetapi diam-diam kakek ini tertawa memikirkan bahwa kedatangan mereka itu tentu bukan semata-mata untuk menangkapnya, melainkan lebih banyak tertarik untuk merebut kembali harta pusaka Kerajaan Tang. Dan harta pusaka itu telah habis dia pergunakan untuk membiayai perjuangan rakyat! Benar saja dugaan Menteri Lu Pin. Yang datang itu adalah barisan penyelidik dari An Lu Shan yang terusmenerus mencari Lu Pin dan harta pusaka kerajaan yang dibawanya lari. Melihat keadaan goa ini, para penyelidik itu menjadi curiga. Biarpun mereka belum dapat memastikan bahwa orang yang dicari-carinya berada di dalam goa, namun keadaan goa yang tersembunyi ini hendak mereka selidiki.

Di antara pemimpin pasukan ini, terdapat beberapa orang perwira yang kuat dan berkepandaian tinggi. Dengan mempersatukan tenaga, mereka dapat juga akhirnya membuka pintu raksasa. Akan tetapi segera mereka melompat mundur kembali dengan muka pucat sekali dan tubuh menggigil ketika mereka menyaksikan barisan tengkorak besar-besar menyambut mereka di belakang pintu! Dan anehnya pintu raksasa itu tertutup sendiri! Hal ini sebetulnya terjadi karena memang pintu itu dipasangi alat oleh Menteri Lu Pin dan apabila terbuka, dapat tertutup kembali. Untuk kakek itu, mudah saja membuka pintu dari luar karena ada rahasianya dari luar.

"Goa siluman…." berkata seorang perwira ketakutan.

"Goa tengkorak raksasa…… siapa tahu di dalamnya terdapat siluman atau raksasa hidupnya?" kata yang lain.

"Agaknya tak mungkin tempat seperti ini didiami oleh manusia," kata pula suara lain.

Akan tetapi mereka tetap tidak mau meninggalkan goa itu dan menjaga di luar goa, agak jauh di tempat aman, sampai dua pekan lamanya! Tentu saja kakek Lu Pin yang sudah tua dan lemah tubuhnya itu, tidak dapat menahan lagi. Setiap hari dia mengintai dari lobang dan melihat betapa goa itu tetap terjaga, tahulah dia bahwa dia akan mati kelaparan di dalam goa. Namun dia tidak gentar menghadapi maut dan di dalam keadaan tersiksa ini, teringatlah dia akan Lu Kwan Cu. Seluruh keluarganya telah musnah, kecuali Lu Thong. Ia mendengar dari para pemimpin pejuang rakyat bahwa cucunya itu bahkan menerima kedudukan dari pemberontak An Lu Shan. Hal ini amat menyakitkan hatinya.

"Thian Yang Agung, mengapa dalam keluarga hamba terlahir manusia seperti itu? Rusak dan hancurlah nama keluarga Lu oleh binatang Lu Thong itu…." berpikir sampai disini, seringkali kakek ini menangis sedih.

Kemudian dia teringat kepada Lu Kwan Cu, cucu angkatnya. Kepada anak inilah harapannya disandarkan dan sekarang, dalam menghadapi maut, kakek ini mengerahkan sleuruh tenaga terakhir untuk mengukir beberapa huruf di dinding goa. Dengan tangan-tangan gemetar dan tubuh lemas dia mengukir huruf-huruf pesan terakhir untuk Lu Kwan Cu ini, kemudia setelah ukiran huruf-huruf itu selesai, dia roboh tak sadarkan diri lagi sampai maut merenggut nyawanya! Pada saat bekas Menteri Lu Pin yang setia itu menghembuskan napas terakhir di dalam Goa Tengkorak, di luar goa terjadi hal yang lebih hebat lagi.

Tiga orang tinggi besar berpakaian seperti petani sedang dikeroyok hebat oleh puluhan orang pasukan penyelidik An Lu Shan. Mereka ini bukan lain adalah tiga orang panglima yang dahulu mengawal Menteri Lu Pin. Sudah berbulanbulan mereka tidak datang dan kini mereka sengaja datang hendak mengunjungi kakek Lu Pin. Alangkah kaget dan cemas hati mereka melihat puluhan orang anggauta pasukan musuh sedang menjaga di situ! Tanpa banyak tanya lagi, tiga orang panglima yang kini sudah berganti berpakaian seperti petani itu lalu mencabut sejata dan menyerang pasukan musuh. Mereka mainkan golok besar mereka dan sekali lagi mereka mengamuk seperti ketika dahulu mereka mengamuk membela Lu Pin dari kepungan bala tentara musuh. Banyak anggauta tentara lawan mandi darah menjadi korban golok besar mereka.

Akan tetapi selain fihak musuh terlalu banyak jumlahnya, juga disitu berkumpul pula para perwira-perwira barisan pemberontak An Lu Shan yang berkepandaian tinggi, maka tiga orang panglima itu sebentar saja telah terkurung dan terdesak hebat. Telah ada beberapa luka di tubuh mereka terkena senjata musuh, namun mereka mengamuk terus laksana tiga ekor naga sakti.

Pada saat nyawa tiga orang panglima gagah yang setia terancam maut, tiba-tiba terdengar bentakan nyaring.

"Anjing-anjing pengkhianat, rebahlah kalian!"

Bentakan ini disusul munculnya seorang gadis cantik gagah sekali. Usianya masih sangat muda, baru belasan tahun. Pakaiannya sederhana dan ringkas, pedangnya tergantung dipinggang sebelah kiri. Namun gadis muda ini benar-benar hebat sekali sepak terjangnya. Begitu ia muncul, terdengar jeritan-jeritan di sana-sini dan kelihatan robohnya banyak anggauta tentara An Lu Shan yang mengeroyok tiga orang panglima itu. Padahal gadis itu tidak mencabut senjata sama sekali dan hanya mempergunakan kedua tangan dan kakinya saja.

Melihat hal ini, para perwira yang tadi mendesak tiga orang panglima pengikut Lu Pin itu, terpecah menjadi dua dan empat orang perwira segera menyambut kedatangan gadis itu. Melihat gerakan yang tangkas dan kuat dari para perwira, gadis ini lalu mencabut senjatanya, sebatang pedang panjang yang berkilauan cahayanya tertimpa cahaya matahari.

Namun empat orang perwira musuh itu ternyata cukup tangguh sehingga biarpun dengan susah payah, mereka masih dapat menghadapi amukan gadis cantik ini. Akan tetapi tiba-tiba entah darimana datangnya, muncul seorang nenek tua yang memegang cambuk. Sekali cambuknya berbunyi di udara, empat orang perwira yang mengeroyok gadis itu berseru kaget dan senjata golok mereka terbang pergi dari tangan mereka. Ternyata bahwa cambuk itu mempunyai sembilan cabang dan kini dengan sekali gerakan saja telah dapat membelit dan merampas senjata empat orang itu sekaligus! Gadis itu berseru gembira dan dua kali pedangnya bergerak, robohlah dua orang perwira dengan kepala terpisah dari tubuhnya. Yang dua lagi tidak sempat melarikan diri, karena cambuk nenek itu mengejar mereka dan ujung-ujung cambuk yang seperti ular itu menotok jalan darah kematian di punggung mereka, membuat mereka roboh tak bernyawa lagi.

Kemudian gadis dan nenek itu mengamuk. Banyak sekali tentara di fihak musuh tewas, termasuk para perwira yang mengeroyok tiga panglima pengikut Lu Pin. Hanya sedikit saja yang dapat melarikan diri, karena biarpun banyak yang melompat ke atas kuda dan membalapkan kuda mereka, namun gadis cantik itu mengeluarkan panah tangan dan berkali-kali tangannya bergerak. Setiap gerakan melayangkan sebatang anak panah dan robohlah seorang penunggang kuda. Dari puluhan orang pasukan itu, hanya ada tujuh orang saja yang sempat melarikan diri dan terbebas daripada maut.

Siapakah gadis dan nenek yang sakti itu? Bukan lain nenek itu adalah Kiu-bwe Coa-li, nenek sakti tokoh besar dari selatan. Gadis itu adalah muridnya, yakni Bun Sui Ceng, bocah perempuan yang dulu amat lincah itu dan kini telah berubah menjadi seorang gadis yang amat cantik dan perkasa.

Tiga orang panglima itu memandang semua sepak terjang yang hebat dari nenek dan gadis itu dengan bengong dan kagum. Kemudian mereka menjura dengan hormat dan seorang di antara mereka berkata,

"Banyak terima kasih atas budi pertolongan Suthai dan Lihiap. Kalau tidak ada pertolongan Ji-wi, tentu kami sudah menjadi korban keganasan anjing pemberontak itu.

Mohon tanya siapakah Suthai dan Lihiap yang gagah perkasa."

Kiu-bwe Coa-li mengerak-gerakkan cambuknya dengan sikap tidak sabar, "Sudahlah, cukup segala penghormatan ini. Pinni (aku) bukan menteri, juga bukan kaisar. Lebih baik lekas tunjukkan saja di mana adanya Lu Pin bekas menteri itu!"

Melihat sikap yang amat galak dari Kiu-bwe Coa-li, tiga orang panglima itu terkejut sekali. Mereka maklum bahwa di dunia kang-ouw banyak sekali terdapat orang-orang aneh dan maklum pula bahwa tokoh-tokoh sering kali mengejar harta-harta pusaka. Siapa tahu kalau-kalau nenek sakti yang galak ini pun mencari Menteri Lu Pin dengan maksud kurang baik. Mereka adalah patriot-patriot sejati yang gagah, yang siap mengorbankan nyawa untuk membela tanah air dan bangsa, siap pula membela Menteri Lu Pin yang amat mereka junjung tinggi.

"Suthai menanyakan Lu-taijin ada maksud apakah?" tanya seorang di antara mereka. Bun Sui Ceng memandang khawatir. Ia sudah maklum akan watak gurunya yang keras dan tidak mau dibantah oleh siapapun juga. Benar saja, nenek sakti itu mengerutkan kening dan pecutnya bergerakgerak di tangannya.

"Kau peduli apa dengan urusanku? Hayo katakan di mana dia berada dan habis perkara!"

Namun tiga orang panglima itu adalah orang-orang yang setia. Jangankan baru gertakan seorang nenek tua yang sakti, biarpun maut mengancam nyawa, mereka takkan sudi membuka rahasia persembunyian Menteri Lu Pin.

"Kalau Suthai tidak memberitahukan maksud Suthai menjumpai Lu-taijin, maafkan kami tidak dapat memberitahukan di mana tempat tinggalnya."

Baru saja pembicara itu menutup mulutnya terdengar bunyi "tar", nyaring sekali dan cambuk di tangan nenek itu menyambar turun ke atas kepala tiga orang panglima tadi!

"Suthai, jangan…..!" Bun Siu Ceng melompat maju dan mengangkat kedua tangannya seakan-akan melindungi kepala tiga orang panglima itu. "Mereka adalah pejuangpejuang rakyat, jangan dibunuh!"

"Pejuang atau bukan, mereka kurang ajar dan harus dibunuh, habis perkara!" jawab Kiu-bwe Coa-li dengan suara menyeramkan.

Sui Ceng cepat menjatuhkan diri berlutut di depan gurunya dan berkata dengan suara memohon.

"Suthai, ampunkan kesalahan mereka. Mereka tidak tahu siapa adanya Suthai. Biarlah teecu (murid) yang bicara dengan mereka."

Cambuk berekor sembilan itu masih bergetar di tangan Kiu-bwe Coa-li dan dipegang di atas kepalanya. Akan tetapi, perlahan-lahan cambuk itu turun dan nenek itu berkata penuh penyesalan.

"Hm, kau anak nakal! Siapa peduli akan menteri dan kaisar? Dasar kau yang mencari-cari perkara!"

Namun jawaban ini sudah cukup bagi Sui Ceng. Setiap kali gurunya menyebutnya "anak nakal" itu berarti bahwa gurunya memenuhi permintaannya. Dengan girang dia lalu melompat bangun dan menghadapi tiga orang panglima yang memandang dengan mata terbelalak, masih kaget dan takut melihat sikap Kiu-bwe Coa-li yang aneh dan galak.

"Sam-wi Lo-pek (Paman Bertiga), sesungguhnya guruku ini tidak peduli sama sekali tentang di mana adanya Lutaijin.

Hanya atas desakanku saja beliau terpaksa mencari tempat persembunyian Lu-taijin. Harap Sam-wi jangan mencurigai kami. Biarpun kami sudah mendengar bahwa Lu-taijin membawa harta pusaka besar, namun kami bukan sebangsa perampok dan kunjungan kami hanya sekedar ingin bertemu karena aku ingin sekali bicara dengan orang tua yang mulia dan gagah perkasa itu."

Merahlah wajah tiga orang panglima itu mendengar ini.

Mereka segera menjura dalam sekali dan seorang di antara mereka berkata, "Maaf, maaf! Mohon maaf sebanyaknya bahwa kami yang sudah menerima pertolongan, sebaliknya telah berani mati untuk mencurigai Ji-wi. Kebetulan sekali kami pun baru saja tiba dengan maksud mengunjungi LuTiraikasih Website http://kangzusi.com/ taijin yang sudah lama kami tinggalkan di sini. Akan tetapi ketika tadi kami melihat pasukan pemberontak berkumpul di sini, kami menjadi khawatir dan segera menyerbu mereka. Lu-taijin berada di dalam goa itu, Lihiap. Marilah kita bersama masuk ke dalam untuk menemuinya, karena kami sudah sangat ingin melihat keadaannya."

Biarpun tiga orang panglima itu bergerak cepat memasuki goa, tetap saja Kiu-bwe Coa-li dan Sui Ceng dapat mendahului mereka. Dan alangkah heran dan kaget hati tiga orang itu ketika melihat betapa dengan tangan kirinya saja Kiu-bwe Coa-li dapat mendorong pintu raksasa itu sehingga terbuka, nampaknya tanpa mengerahkan tenaga sedikit pun juga. Mereka mengeluarkan lidah saking kagumnya. Mereka bertiga yang bertenaga besar masih tak dapat mendorong pintu itu terbuka dan biasanya mereka hanya masuk dengan mempergunakan alat pembuka pintu yang tersembunyi di luar pintu itu.

Lima orang ini memasuki pintu dan Kiu-bwe Coa-li nampak tertegun sejenak melihat tengkorak-tengkorak raksasa itu. Biarpun ia seorang nenek sakti yang sudah ratusan kali menghadapi bahaya maut dan kejadian yang aneh-aneh dan menyeramkan, namun selama hidupnya baru pertama kali ini ia menyaksikan tengkorak-tengkorak yang demikian menyeramkan. Adapun Bun Sui Ceng yang masuk di belakang gurunya, mengeluarkan seruan tertahan dan merasa bulu tengkuknya berdiri! Tak terasa pula dia memegang tangan gurunya.

"Apa kau takut?" tanya Kiu-bwe Coa-li tak puas sambil menoleh dan memandang kepada muridnya. Bun Sui Ceng cepat melepaskan pegangan tangannya dan menggeleng, kini mengangkat dada dan mengedikkan kepalanya yang manis.

Mereka masuk terus ke dalam dan tiba-tiba tiga orang panglima itu menjerit berbareng.

"Lu-taijin…….!" Tergopoh-gopoh mereka berlari menghampiri tubuh kakek yang sudah menggeletak miring di bawah dinding goa itu, tangan kiri memegang pedang Liong-coan-kiam, sedangkan tangan kanan memegang alat pengukir.

"Lu-taijin…..!" kembali tiga orang berseru sambil beramai-ramai mengangkat tubuh kakek itu yang sudah lemas dan dingin.

Melihat sekelebatan saja, Kiu-bwe Coa-li tahu bahwa kakek itu sudah tak bernyawa lagi.

"Tak perlu ribut-ribut, dia sudah mati," katanya. "Mari kita pergi, Sui Ceng, untuk apa berdiam di sini lebih lama lagi setelah orangnya yang ingin kau temui itu meninggal dunia?"

Akan tetapi muridnya tidak menjawab dan ketika Kiubwe Coa-li memandang, ia melihat muridnya itu tengah membaca ukir-ukiran yang berada di dinding tepat di mana kakek tadi menggeletak mati. Kiu-bwe Coa-li melangkah maju dan ikut membaca huruf-huruf yang diukir amat indahnya itu.

"Lu Kwan Cu"

Kau cucu tunggal setelah seluruh keluargaku dibakar oleh pemberontak An Lu Shan. Lu Thong tak termasuk hitungan. Kepadamu kuharapkan agar kau membinasakan seluruh keluarga An Lu Shan, bukan untuk membalaskan kesengsaraan keluarga, melainkan kesengsaraan rakyat dan negara! Pedang Liong-coan-kiam kuberikan kepadamu.

Sekali lagi, bebaskanlah rakyat daripada angkara penjahat besar An Ku Shan sekeluarganya! Kong-kongmu, LU PIN

"Hebat, sampai nyawanya meninggalkan raga, beliau tetap seorang patriot sejati bagi nusa dan bangsanya," kata Sui Ceng dan ketika Kiu-bwe Coali memandang, ia melihat mata muridnya itu berlinang air mata.

"Hm, hm, hm, kau telah terpengaruh oleh semangat kakek itu, Sui Ceng. Mari kita kembali ke gunung, untuk apa menyeret diri ke dalam kancah permusuhan?"

Gadis itu menggelengkan kepalanya. "Tidak, Suthai.

Biarpun Suthai di mulut berkata demikian, akan tetapi teecu telah tahu akan perasaan hati Suthai. Bukankah dahulu Suthai juga menjadi marah dan mencoba untuk membasmi kaki tangan An Lu Shan? Teecu akan membantu untuk memenuhi cita-cita Lu-taijin yang mulia, hendak teecu basmi penjahat-penjahat yang menindas rakyat itu," katanya dengan gagah.

Kiu-bwe Coa-li menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Mereka itu kuat sekali, Sui Ceng. An Lu Shan dibantu oleh orang-orang pandai dan agaknya sudah menjadi takdir bahwa negara kita harus berada di dalam kekuasaan mereka. Lagi pula, bukankah menurut pesan Lu-taijin, yang diserahi tugas adalah Lu Kwan Cu? Heran aku, siapakah Lu Kwan Cu itu?"

Tiba-tiba Sui Ceng tersenyum. Gadis ini memang luar biasa, mudah menangis dan mudah pula tersenyum. Ia teringat akan Kwan Cu, bocah gundul itu dan tak terasa pula tersenyum geli kalau mengingat betapa tugas seberat itu diserahkan kepada bocah gundul setolol itu!

"Suthai, tidak ingatkah Suthai akan anak laki-laki yang menjadi sebab keributan dahulu? Semua tokoh besar memperebutkan dia, gara-gara kitab Im-yang Bu-tek Cinkeng yang palsu!’ Berubah wajah nenek sakti itu. "Ah….. dia……??" Ia mengerutkan kening dan berkata. "Sui Ceng, bocah itu bukan bocah biasa dan siapa tahu kalau-kalau dia sudah mendapatkan kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng!"

Sui Ceng kembali tersenyum geli. "Mana mungkin begitu, Suthai? Di waktu gurunya, Ang-bin Sin-kai, tewas oleh keroyokan kaki tangan An Lu Shan, Kwan Cu tidak muncul dan sudah lama dia tidak memperlihatkan diri.

Bagaimana dia bisa melakukan tugas sepenting ini? Biarlah aku mewakilinya, karena tugas ini bukan hanya tugasnya, melainkan tugas setiap orang gagah yang membela negara dan bangsanya."

Diam-diam Kiu-bwe Coa-li bangga dan girang melihat sikap muridnya. Tidak percuma ia mempunyai murid yang hanya seorang ini, karena memang muridnya ini berjiwa gagah. Dia sendiri jemu untuk berurusan dengan segala keruwetan dunia, apalagi ia memang merasa kecewa ketika tidak berhasil membinasakan tokoh-tokoh yang mengkhianati bangsa.

"Baiklah, Sui Ceng. Kau boleh melakukan tugas ini, akan tetapi kau berhati-hatilah. Dan jangan lupa bahwa kau harus mencari Pak-lo-sian Siangkoan Hai, maksudku sebetulnya, kau harus mencari pemuda murid iblis utara itu, The Kun Beng."

Merah sekali wajah Sui Ceng. Ia mengerti akan maksud gurunya, akan tetapi untuk mendapatkan penjelasan yang lebih nyata, ia pura-pura bertanya,

"Mengapa teecu harus mencari dia, Suthai?"

"Bocah bodoh! Seorang anak harus mentaati kehendak orang tuanya. Aku sendiri sebagai gurumu, tidak bisa berkata apa-apa, karena dalam hal perjodohan, orang tuamulah yang lebih berhak. Biarpun ibumu sudah tida ada, akan tetapi pesannya harus ditaati. Bukankah ibumu sudah mengikatkan tali perjodohan antara kau dan The Kun Beng murid kedua dari Pak-lo-sian Siangkoan Hai? Nah, kaucarilah dia agar perjodohan dapat dilangsungkan segera.

Tentu saja kau harus memberi tahu kepadaku apabila pernikahan akan dilangsungkan."

Warna merah makin menjalar luas sampai membikin merah kedua telinga gadis itu.

"Aahh, Suthai……! Perlu benarkah itu? Antara dia dan aku tidak ada hubungan sedikit pun juga. Bahkan semenjak kanak-kanak sampai sekarang, aku tak pernah melihat dia!"

"Biarpun begitu, Sui Ceng. Jodoh itu sudah ditakdirkan oleh Thian dan disahkan oleh orangtua. Apakah sukarnya mencari murid dari Pak-lo-sian Siangkoan Hai? Dia tentu lihai sekali seperti suhunya."

Sui Ceng cemberut. "Biarpun dia lihai dan baik, teecu tidak peculi, Suthai. Mana ada wanita mencari laki-laki? Kalau dia memang sudah diikatkan dengan teecu, mengapa bukan dia yang mencari teecu? Mengapa harus teecu yang mencarinya? Teecu tidak sudi!"

Kiu-bwe Coa-li tertawa, suara ketawanya aneh sekali.

"Bodoh, lupa bahwa kita berdua menyembunyikan diri di gunung dan tak seorang pun tahu di mana kita berdua? Andaikata dia mencari, apa kau kira dia bisa menemukan kita? Sudahlah, kau boleh berangkat dan hati-hatilah, jangan kau berpikiran singkat. Ingat semua nasihat dan pelajaran yang selama ini kaudapatkan dariku." Kiu-bwe Coa-li meraba kepala muridnya dengan sentuhan mesra.

Menghadapi sikap yang tidak seperti biasanya dari gurunya, terharulah hati Sui Ceng dan gadis ini lalu memeluk gurunya sambil menangis.

"Jaga baik-baik dirimu, Suthai. Tak lama lagi teecu tentu akan menyambangi Suthai di puncak gunung."

Pada saat itu, tiga orang panglima sedang sibuk mencoba untuk memindahkan hio-louw (tempat abu hio) yang amat besar, akan tetapi sia-sia belaka. Hio-louw itu beratnya seribu kati lebih dan tidak dapat mereka angkat! Mendengar suara mereka "ah-ah-uh-uh-uh!" mengerahkan tenaga, Kiu-bwe Coa-li menengok.

"Eh, eh, eh, tidak mengurus jenazah baik-baik melainkan mengangkat-angkat hio-louw besr itu, apa-apaan kalian ini?" Kiu-bwe Coa-li menegur mereka.

Mendengar ini, tiga orang itu lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Kiu-bwe Coa-li.

"Suthai yang mulia, tolonglah kami. Lu-taijin dahulu berpesan bahwa apabila beliau meninggal dunia, agar supaya jenazahnya dikubur di bawah hio-louw. Tidak tahunya hio-louw ini demikian beratnya sehingga kami bertiga tidak kuat memindahkannya."

"hm, hm, hm, orang-orang lemah seperti kalian ini mana bisa berhasil melawan pasukan-pasukan An Lu Shan?" kata Kiu-bwe Coa-li mengejek, akan tetapi ia bertindak menghampiri hio-louw itu. Dengan tangan kanannya dia memegang telinga hio-louw dan sekali sentak, hio-louw itu terangkat naik dan diturunkannya lagi di tempat yang agak jauh dari tempat semula! Tiga orang itu saling pandang dan mereka menghaturkan terima kasih sambil berlutut. Kemudian mereka cepat menggali lubang di bawah hio-louw itu. Kiu-bwe Coa-li mengambil pedang Liong-coan-kiam dari tangan jenazah Lu Pin, memandang pedang itu dan mengangguk-angguk kagum.

"Pedang pusaka yang baik," katanya. "Suthai, pedang itu adalah pedang untuk Kwan Cu," kata Sui Ceng, mengira bahwa gurunya menginginkan pedang tadi.

"Untuk apa pedang macam ini bagiku?" kata Kiu-bwe Coa-li dan sekali ia menggerakkan tangan yang memegang pedang, pedang itu meluncur seperti anak panah dan tertancap sampai ke gagangnya pada dinding batu karang yang diukir oleh Lu Pin! Pedang itu tertancap di tengahtengah tulisan-tulisan itu dan sukarlah bagi orang biasa untuk mencabutnya kembali!

"Aku pergi, Sui Ceng," kata nenek itu dan tanpa menanti jawaban tubuhnya sudah berkelebat lenyap dari situ.

Tiga orang panglima yang sedang menggali lubang, melihat kepergian nenek itu, menjadi bingung sekali.

Mereka keluar dari lubang dan menjatuhkan diri berlutut di depan Sui Ceng.

"Lihiap, harap kau jangan pergi dulu. Siapa yang akan mengembalikan hio-louw itu di tempat semula?"

Sui Ceng ragu-ragu, akan tetapi melihat kepada mayat Menteri Lu Pin yang wajahnya masih membayangkan keagungan, ia mengangguk. Tiga orang itu bekerja keras dan setelah lubang itu cukup dalam dan dengan penuh penghormatan dan di antar oleh tangis, mereka mengubur jenazah Menteri Lu Pin. Sui Ceng lalu mengerahkan tenaganya akan tetapi hanya setelah mempergunakan kedua tangannya, gadis ini dapat memindahkan hio-louw yang memang amat berat.

Tiga orang panglima itu juga membaca tulisan yang diukir di dinding, lalu mereka menyatakan kepada Sui Ceng bahwa mereka di dalam perjuangan hendak pula mendengar-dengar kalau-kalau ada pemuda yang dimaksudkan oleh mendiang Lu-taijin itu. Setelah itu, mereka lalu keluar dari goa. Sui Ceng berkata,

"Mari kita tutup goa ini dengan batu-batu agar tidak ada sembarang orang dapat memasukinya dan mengganggu goa ini."

Setelah berkata demikian, gadis ini melempar-lemparkan batu-batu besar menutupi mulut goa.

Tiga orang itu tertegun. "Akan tetapi…… bagaimana kalau pemuda yang bernama Lu Kwan Cu itu datang ke sini? Bagaimana dia akan dapat masuk?"

Sui Ceng tertawa. "Kalau dia sanggup menunaikan tugas yang diberikan kepadanya, apa susahnya untuk membongkar batu-batu ini dan membuka goa?"

Terpaksa tiga orang itu lalu membantu dan sebentar saja goa itu telah tertutup oleh batu-batu yang bertumpuk sehingga tidak kelihatan dari luar. Kemudain tanpa banyak cakap lagi Sui Ceng lalu melompat pergi diikuti oleh pandang mata tiga orang panglima itu yang merasa takjub dan kagum sekali.

***

"Turunkan aku……! Lepaskan aku…..! lepaskan, kau laki-laki kurang ajar!" Gadis dalam pondongan Kwan Cu itu meronta-ronta dan memaki-maki minta dilepaskan dari pondongan. Namun Kwan Cu tidak mempedulikannya, sama sekali tidak menjawab bahkan membiarkan saja kedua tangan gadis itu memukul-mukuli dadanya. Ia merasa betapa pukulan tangan gadis itu cukup antep dan keras, namun baginya tidak terasa sama sekali. Diam-diam Kwan Cu merasa mendongkol sekali, maka dia sengaja tersenyum sambil berlari terus dengan cepatnya, keluar dari kota raja.

Akhirnya gadis itu tidak dapat melanjutkan makiannya karena ia merasa lelah, hanya menangis sambil menyembunyikan mukanya di atas dada pemuda yang membawanya lari.

Setelah tiba jauh dari tembok kota raja, Kwan Cu masuk ke dalam hutan dan menurunkan gadis itu di bawah sebantang pohon. Malam telah berganti pagi dan keadaan yang suram sejuk itu menyatakan kepadanya akan kecantikan wajah dan keindahan bentuk tubuh gadis yang telah ditolongnya. Kwan Cu tersenyum.

"Nah, disini kau boleh memaki-maki dan menjerit sekerasmu. Para pengejar dari istana telah tertinggal jauh dan keadaan kita tidak terancam bahaya lagi."

"Kau….. kau laki-laki kasar, kurang ajar dan sombong! Kau berani memondongku, laki-laki sopan tidak akan sudi menyentuh kulit tubuh seorang gadis yang tidak dikenalnya.

Kalau ada kakakku disini, kau tentu akan dihancurkan kepalamu!" Gadis itu memaki lagi dengan sepasang matanya bersinar-sinar, menyaingi bintang pagi yang masih berkedip-kedip di angkasa.

Kwan Cu tersenyum lebar. "Kaumaksudkan kakakmu Gouw Swi Kiat? Murid dari Pak-lo-sian Siangkoan Hai? Aha, dia takkan marah-marah seperti kau, bahkan akan mengucapkan terima kasih kepadaku. Wahai gadis manis, tahukah kau mengapa aku menolongmu?"

"Mengapa lagi kalau kau tidak tertarik oleh kecantikan seorang gadis muda? Laki-laki di mana-mana sama saja, gila kecantikan dan lupa daratan, lupa perikemanusiaan menjadi budak nafsu binatang!"

Berkerut kening Kwan Cu. Hatinya tersinggung sekali.

"Hmmm, entah karena memang watakmu yang galak dan kasar ataukah karena kau sudah mengalami banyak penderitaan maka kau dapat mengeluarkan tuduhan sekeji itu. Dengarlah, perempuan, aku menolongmu karena empat hal. Pertama-tama aku benci melihat An Kong si pangeran botak yang mata keranjang itu. Ke dua karena aku mendengar bahwa kau adalah kekasih The Kun Beng, seorang kenalanku yang baik. Ketiga karena kau adalah adik dari Swi Kiat seorang sahabatku pula, dan keempat karena aku melihat muka si tua Siangkoan Hai dan muridmuridnya.

Kaukira aku mempunyai maksud lain apa lagikah? Kalau kau tidak suka, sudahlah, biarkan aku pergi.

Terima kasih atas segala makian dan tuduhanmu yang keji!" Setelah melontarkan kata-kata ini dengan suara gemas, Kwan Cu lalu membalikkan tubuhnya dan hendak pergi. Ia mengkal sekali.

"In-kong ……… (tuan penolong), perlahan dulu………"

Kwan Cu mengangkat alis dan menoleh. Ia tertegun melihat gadis itu berdiri memandangnya dengan mata sayu dan di atas kedua pipi yang halus itu nampak butiranbutiran air mata! Benar-benar heran sekali, bagaimana gadis ini yang tadi marah-marah sekarang berbalik menangis? Sikap dan watak wanita benar-benar merupakan teka-teki besar bagi Kwan Cu.

"Ada apalagi kau memanggil aku? Mengapa pula memakai sebutan In-kong? Aku tidak menolongmu.

Apakah kurang cukup makian-makianmu tadi?"

Makin deras keluarnya air mata dari sepasang mata yang bening itu.

"Benar-benarkah kau…… tidak akan menggangguku seperti yang kusangka semula?"

Kwan Cu tersenyum pahit, lalu menggeleng-geleng kepalanya. "Kau memang manis dan mudah menggugah hati laki-laki untuk mengganggumu. Akan tetapi karena kau sudah terlalu banyak menderita yang diakibatkan oleh sinar mata keranjang pria kau lalu menganggap bahwa semua laki-laki gila nafsu dan mata keranjang. Tidak Nona, aku Lu Kwan Cu selama hidupku tidak akan mempergunakan kekerasan mengganggu wanita."

Gadis ini terkejut mendengar nama ini, karena tadi di dalam kamar An Kong, ia sama sekali tidak memperhatikan nama ini.

"Jadi kau ini Kwan Cu murid Ang-bin Sin-kai yang sering di sebut-sebut oleh Kun Beng? Ah, maafkan aku….. maafkan aku yang sedang menderita ini…." Tiba-tiba gadis itu menubruk maju dan berlutut di depan Kwan Cu.

Pemuda ini menggeleng-geleng kepala sambil tersenyum.

Lalu dia mengangkat tubuh gadis itu sambil memegang kedua pundaknya. "Sudahlah, Nona, tak perlu semua penghormatan ini dan kau janganlah terlalu berduka, tidak baik untuk kesehatanmu."

Mendengar ucapan ini, gadis itu lalu memeluk dan menjatuhkan mukanya di dada Kwan Cu seakan-akan seorang adik yang minta hiburan dari seorang kakak yang menyayanginya. "Nasibku amat buruk….." keluhnya sambil menangis.

Kembali Kwan Cu menggeleng kepala berkali-kali. Aneh sekali watak gadis ini, pikirnya. Tadi ditolong dan dipondong begitu saja, memaki-maki dan meronta-ronta, mengatakan dia kurang ajar dan tidak sopan. Sekarang atas kehendak sendiri bahkan memeluknya dan mendekapkan muka di dadanya. Alangkah anehnya. Akan tetapi timbul hati kasihan di dalam hatinya menyaksikan gadis itu terisak-isak di dadanya.

"Tenanglah, diamlah, Nona. Mengapa kau begini berduka?" Tanpa terasa, darah Kwan Cu panas juga. Dia seorang pemuda yang belum pernah berdekatan dengan seorang wanita, apalagi bersentuhan kulit atau lebih-lebih lagi memeluk tubuh seorang gadis yang demikian cantik.

Otomatis tangannya mengelus-elus rambut yang hitam panjang dan halus itu, sedangkan hatinya berdebar tidak karuan.

Rabaan tangan penuh kasih dan iba dirambutnya agaknya terasa oleh gadis itu. Dengan kaget ia menjauhkan dirinya, memandang kepada Kwan Cu, akan tetapi kini sinar ketakutan dan curiga telah lenyap dari matanya.

"Apakah kau kenal baik dengan Kun Beng dan kakakku Swi Kiat?" tanya gadis itu.

"Aku hanya bertemu dengan mereka sewaktu aku masih kecil. Dahulu kakakmu itu seorang anak yang berangasan, berbeda dengan Kun Beng yang halus dan ramah. Akan tetapi dahulu aku tidak tahu bahwa Swi kiat mempunyai seorang adik perempuan yang bernama Kui Lan."

Gadis itu, Gouw Kui Lan, tersenyum pahit. "Memang kakakku selalu ikut dengan gurunya dan aku tinggal di rumah bersama orang tuaku. Akan tetapi sekarang kedua orang tuaku telah meninggal dunia dan aku hidup berdua dengan Kiat-ko. In-kong, aku hendak minta pertolonganmu, kauusahkanlah perdamaian antara Kiat-ko dan Kun Beng."

"Eh, mengapakah? Apakah mereka itu berselisih?"

Kui Lan mengangguk dan menarik napas panjang, lalu duduk di atas akar pohon. "Duduklah, In-kong. Mereka tidak hanya berselisih, bahkan Kiat-ko telah bersumpah untuk mencari dan membunuh Kun Beng…. Dan aku tidak rela melihat Kun Beng terbunuh olehnya. Aku…… aku cinta kepada Kun Beng."

Merah muka Kwan Cu mendengar pengakuan yang dianggapnya amat ganjil dari mulut gadis ini. "Aku sudah mendengar ketika kau bicara dengan pangeran botak An Kong. Akan tetapi, mengapakah mereka bermusuhan? Mereka adalah saudara sepergururan, bagaimana mereka bias bermusuhan sedemikian hebat sehingga kakakmu bersumpah untuk membunuh sutenya sendiri?"

Sampai beberapa lama Kui Lan ragu-ragu, kemudian ia menghela napas dan berkata, "Kun Beng seringkali membicarakan engkau, dan memujimu sebagai seorang yang aneh dan berbudi. Oleh karena itu, tiada salahnya kalau aku menceritakan semua peristiwa yang kualami kepadamu, apalagi karena aku hendak minta tolong kepadamu untuk mengakurkan mereka kembali."

Kui Lan lalu bercerita, menurutkan pengalamannya dengan singkat, akan tetapi agar lebih jelas bagi kita, marilah kita mengikuti sendiri semua pengalamannya itu.

Swi Kiat dan Kui Lan adalah putera-puteri dari keluarga Gouw yang bertempat tinggal di dalam Propinsi Hok-kian.

Sesungguhnya ayah dari kedua orang anak ini adalah bekas seorang perwira Kerajaan Tang yang telah mengundurkan diri karena tidak suka melihat kaisar dan para pembesar lainnya melakukan korupsi besar-besaran dan bukan merupakan pemimpin dan pelindung rakyat, bahkan sebaliknya merupakan pemeras-pemeras berwewenang yang lebih jahat daripada perampok-perampok tulen.

Bekas perwira she gouw ini membawa keluarganya pindah ke dalam dusun dan uang simpanan yang tidak seberapa dia membeli tanah dan hidup sebagai petani yang berbahagia dan tenteram. Ia di segani di dusunnya karena selain luas pengertiannya, juga dia memiliki kepandaian silat yang bagi orang-orang dusun sudah amat tinggi sehingga dusun itu menjadi aman. Tidak ada orang jahat berani memperlihatkan aksinya setelah Gouw-ciangkun ini tinggal di situ.

Pada suatu hari, Swi Kiat dan adiknya bermain-main di halaman depan rumahnya. Ketika itu Swi Kiat baru berusia lima tahun dan Kui Lan berusai tiga tahun. Sebagai putera seorang petani, Swi Kiat memang amat rajin. Kalau dia tidak membantu para pekerja di ladang, baik hanya untuk mengawasi atau pun membantu sedikit-sedikit sesuai dengan kemampuan tenaganya yang masih kecil, tentu dia membantu pekerjaan ibunya. Pada hari itu, Swi Kiat bertugas menjaga adiknya yang masih kecil dan mengajaknya bermain-main.

Pada saat mereka bermain-main, tiba-tiba kelihatan seorang kakek kecil pendek yang berpakaian sederhana.

Entah darimana datangnya kakek ini karena tahu-tahu telah berada di luar pekarangan rumah dan duduk di atas rumput, memandang ke arah dua orang anak yang bermainmain itu. Swi Kiat dan Kui Lan melihat pula orang itu, akan tetapi tidak memperhatikannya karena hanya mengira bahwa kakek itu seorang dusun lain yang duduk beristirahat. Padahal sebetulnya kakek ini bukan lain adalah Pak-lo-sian Siangkoan Hai, seorang tokoh besar yang baru namanya saja sudah cukup hebat untuk membuat penjahatpenjahat mengangkat kaki seribu!

"Engko Kiat, ambilkan bunga itu….." kata Kui Lan merengek-rengek.

"Mengapa kau minta bunga yang buruk di atas pohon itu? Lebih baik kucarikan bunga teratai di empang atau bunga mawar di kebun belakang, lebih bagus dan mudah mengambilnya," jawab kakaknya.

"Tidak mau, aku mau bunga yang di atas pohon itu!’ Kui Lan tetap merengek.

"Baiklah, baiklah, tapi jangan kau menangis," Swi Kiat marah-marah, akan tetapi dia lalu naik ke atas pohon itu untuk mencarikan bunga bagi adiknya. Dalam usia lima tahun, Swi Kiat telah mulai berlatih silat dan tubuhnya digembleng oleh ayahnya sehingga dia memiliki tenaga dan kegesitan yang lebih daripada anak-anak biasa. Bagaikan seekor monyet, dia memanjat pohon itu dan megambilkan tiga tangkai bunga. Akan tetapi, sebelum dia turun, tiba-tiba dia merasa seluruh tubuhnya sakit dan gatal-gatal.

Alangkah kagetnya ketika anak ini melihat bahwa dia telah dikeroyok oleh ratusan ekor semut merah karena tanpa disengaja dia tadi telah menyentuh sarang mereka.

Swi Kiat memiliki ketabahan besar dan biarpun dia sibuk sekali mengusir semut-semut yang menggigit di badannya, dia tidak mengeluarkan keluhan hanya berseru, "Semut….. semut…….!" Ia merayap turun sambil menggaruk sana menepuk sini. Gigitan semut-semut merah itu sakit dan gatal luar biasa sehingga anak ini tidak dapat tahan lagi.

Ketika dua tangannya sibuk mengusir semut, keseimbangan tubuhnya kacau dan dia terpeleset dari atas dahan! Anak itu tentu akan mengalami bencana hebat karena dia terjatuh dari dahan yang tinggi sekali. Akan tetapi sebelum tubuhnya terbanting di atas tanah, tiba-tiba terdengar suara orang.

"Bodoh sekali…..!" dan tahu-tahu tubuh Swi Kiat telah ditangkap oleh sebuah lengan yang pendek kecil sehingga dia tidak sampai terbanting ke atas tanah. Kakek yang tadi duduk di luar pekarangan, tahu-tahu telah berada di situ dan dapat menyambut tubuh Swi Kiat dengan amat mudah.

Swi Kiat masih sibuk mengusiri semut dan menggaruk ke sana ke mari. Biarpun semut-semut itu sudah pergi, namun gatal-gatal masih hebat sekali sehingga anak ini tidak mempedulikan kakek yang telah menolongnya.

Tiba-tiba kakek itu menggerakkan tangannya dan pundak Swi Kiat ditampar. Aneh sekali, seketika itu juga lenyaplah rasa gatal dan sakit bekas gigitan semut, sungguhpun di sana-sini masih nampak merah-merah bekas gigitan. Swi Kiat memandang dengan mata terbelalak, barulah dia teringat bahwa kakek ini telah menolongnya, maka serta-merta dia menjatuhkan diri berlutut.

"Kakek yang baik, terima kasih atas pertolonganmu."

Pak-lo-sian Siangkoan Hai senang sekali melihat Swi Kiat. Ia dapat melihat bahwa anak ini bertulang baik dan bakatnya luar biasa. Juga melihat betapa dalam penderitaan anak itu tidak mengeluh sama sekali, membuktikan bahwa anak itu memiliki ketabahan dan ketenangan. Tiga tangkai kembang masih selalu di pegangnya, ini pun menyatakan bahwa dia memiliki dasar setia.

Swi Kiat lalu memberikan kembang itu kepada Kui Lan yang menerimanya dan terus bersembunyi di belakang kakaknya, karena ia takut melihat kakek kecil pendek yang suaranya nyaring itu.

"Anak yang tangkas, kalau hendak mengambil bunga di atas pohon, mengapa susah-susah memanjat pohon yang banyak semutnya?" kata Siangkoan Hai tertawa.

"Eh, kakek yang aneh. Kembang berada di atas pohon, kalau tidak memanjat naik, habis bagaimana mengambilnya?" tanya Swi Kiat heran.

Siangkoan Hai tertawa makin keras. "Banyak jalannya.

Kau bias menyambit tangkai kembang sehingga kembangkembang itu turun sendiri ke bawah, atau kau dapat melompat dan mengambilnya tanpa menyentuh dahan pohon yang banyak semutnya."

Swi Kiat berpikir sejenak, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkata, "Membicarakannya mudah, akan tetapi siapa dapat melakukan hal itu?" Memang Swi Kiat seorang anak yang keras hati dan tidak mau kalah begitu saja kalau tidak melihat buktinya.

"Kau tidak percaya kepadaku? Lihat baik-baik!" Pak-losian Siangkoan Hai mengambil segenggam batu kerikil dan sekali tangannya bergerak, lima butir kerikil melayang ke arah pohon dan….. tak lama kemudian, lima tangkai bunga melayang ke bawah.

"Hebat sekali kepandaianmu menyambit, kakek yang baik. Akan tetapi, bagaimana dengan jalan ke dua?"

Siangkoan Hai tertawa makin keras dan tiba-tiba tubuhnya yang pendek kecil melayang ke arah pohon.

Gerakan tubuhnya hampir tak dapat diikuti oleh pandangan mata karena tiba-tiba dia sudah turun kembali dan ditangannya terdapat sepuluh tangkai bunga! Bunga-bunga ini dia berikan kepada Kui Lan yang tertawa-tawa gembira.

Anak ini belum dapat menghargai dan mengagumi semua perbuatan kakek itu yang dianggapnya aneh. Yang membikin dia gembira adalah pemberian bunga-bunga yang banyak itu.

"Luar biasa sekali!" tiba-tiba terdengar suara Gouwciangkun datang berlari-lari dari luar pekarangan, terus menjura dengan hormat kepada Siangkoan Hai.

"Ayah, kakek ini lihai sekali, aku ingin belajar ilmu kepandaian dari padanya,’ kata Swi Kiat sambil memandang kepada Pak-lo-sian Siangkoan Hai dengan mata kagum.

"Locianpwe benar-benar amat mulia, sudi mengajak main-main anak-anakku yang bodoh dan nakal," kata Gouw-ciangkun.

"Memang puteramu ini berjodoh dengan aku, biarlah dia menjadi muridku," kata Pak-lo-sian Siangkoan Hai.

Gouw-ciangkun adalah seorang bekas perwira dan ahli silat, maka dia tahu akan perlunya anak-anaknya mempelajari ilmu silat. Mendengar ucapan kakek yang kecil pendek ini, dia lalu menjura dan berkata,

"Banyak terima kasih atas budi Locianpwe, akan tetapi bolehkah kiranya siauwte mengetahui nama Locianpwe yang mulia?"

Pak-lo-sian Siangkoan Hai berwatak keras dan sombong, akan tetapi dia jujur dan baik hati. Ia tidak menjawab pertanyaan Gouw-ciangkun, karena baginya perkenalan tiada artinya dan bersopan-sopan juga bukan kegemarannya, dia bahkan bertanya kepada Swi Kiat.

"Eh, bocah tangkas. Sukakah kau menjadi muridku?"

Swi Kiat memang cerdik. Dia sudah yakin betul bahwa kakek ini seorang luar biasa maka dia segera menjatuhkan diri berlutut.

"Suhu, teecu merasa gembira sekali."

Siangkoan Hai tertawa dan menoleh kepada Gouwciangkun.

"Puteramu sudah setuju, aku tiada banyak waktu. Selamat tinggal!" Tiba-tiba saja dia berkelebat dan tahuh-tahu kakek itu dan juga Swi Kiat tidak kelihatan pula bayangannya.

Gouw-ciangkun terkejut bukan main. Ia girang bahwa puteranya mendapatkan guru yang demikian lihai, akan tetapi dia juga gelisah karena tidak tahu siapakah gerangan guru anaknya itu. Maka biarpun kakek itu sudah tidak kelihatan, dia tetap berseru keras.

"Locianpwe, mohon kau sudi meninggalkan nama!"

Entah darimana datangnya, terdengar amat jauh akan tetapi jelas sekali, ada jawaban, "Orang menyebutku Pak-losian!"

Mendengar ini, Gouw-ciangkun tertegun dan berdiri seperti patung. Ia girang bukan main dan juga kaget karena sama sekali tidak pernah disangkanya bahwa kakek kecil pendek itu adalah tokoh besar dari utara yang karena kesaktiannya mendapat julukan Dewa Utara! Demikianlah, Swi Kiat semenjak hari itu mengikuti suhunya dan tak lama kemudian gurunya mengambil murid seorang anak lain yakni The Kun Beng. Hanya sekali setahun, kadang-kadang sampai dua tahun, Swi Kiat datang mengunjungi orang tuanya atas perkenan suhunya yang mengajaknya merantau jauh. Kehidupan keluarga Gouw aman dan tenteram sampai terjadinya sebuah peristiwa beberapa belas tahun kemudian.

Kui Lan telah berusia tujuh belas tahun dan ia merupakan seorang gadis yang amat cantik jelita, bagaikan bunga mawa yang sedang mekar semerbak. Gadis ini pun mempelajari ilmu silat akan tetapi hanya dibawah pengajaran ayahnya sendiri yang tentu saja kalah jauh apabila dibandingkan dengan tingkat kepandaian Siangkoan Hai. Setiap kali Swi Kiat mengunjungi orang tuanya, pemuda ini tentu memberi petunjuk-petunjuk kepada adiknya sehingga Kui Lan memperoleh kemajuan pesat.

Tentu saja kini tingkat kepandaian Swi Kiat jauh melampaui ayahnya sehingga orang tua itu menjadi amat bangga dan girang.

Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, semenjak Gouw-ciangkun tinggal di dusun, keadaan di situ aman dan tenteram, tidak ada penjahat yang berani memperlihatkan aksinya. Apalagi setelah Kui Lan menjadi dewasa dan memiliki kepandaian silat tinggi, orang-orang makin menaruh hormat dan segan terhadap keluarga Gouw ini.

Akan tetapi, pada suatu hari, dusun ini kedatangan serombongan orang-orang kasar yang ternyata adalah gerombolan perampok ganas yang melarikan diri dari utara karena mereka diobarak-abrik oleh Swi Kiat dan Kun Beng! Kepala rampok yang memimpin gerombolan ini bernama Ang Hok yang berjuluk Tok-hui-coa (Si Ular Terbang Berbisa). Berkat penyelidikannya, Ang Hok mendapat keterangan bahwa seorang di antara dua pemuda murid Pak-lo-sian Siangkoan Hai yang perkasa itu adalah putera Gouw-ciangkun yang tinggal di dusun Keng-kin-bun di sebelah utara kota raja. Dengan hati mengandung dendam, Tok-hui-coa Ang Hok lalu melarikan diri membawa anak buahnya yang belum tewas menuju dusun itu untuk membalas dendamnya kepada keluarga Gouw! Pada senja hari itu, Gouw-cingkun ditemani oleh isterinya dan Gouw Kui Lan, tengah makan malam sehabis bekerja keras sehari penuh, mengepalai buruh tani di sawah.

Mereka makan sambil bercakap-cakap dan seperti biasa yang dipercakapkan mereka tentulah Swi Kiat.

"Tahun baru kurang tiga pekan lagi," kata Gouwciangkun,

"tentu Swi Kiat akan pulang."

"Dulu Kiat-ko bilang bahwa sekarang dia jarang ikut merantau suhunya, karena kakek itu sekarang selalu bertapa di puncak gunung. Bahkan Kiat-ko sering kali mendapat tugas untuk membasmi perampok-perampok dan membantu perjuangan rakyat terhadap pemberontak An Lu Shan," kata Kui Lan menyambung.

Mereka bicara dengan asyik sekali. Tiba-tiba mereka terganggu oleh suara gemuruh di luar rumah, suara banyak orang datang berkumpul di situ. Lalu terdengar bentakan keras.

"Inilah rumah keluarga Gouw! Bakar habis, bunuh semua orang!"

Gouw-ciangkun cepat menyambar goloknya, sedangkan Kui Lan juga buru-buru lari ke kamarnya mengambil pedang. Akan tetapi pada saat itu, rumah bagian depan telah di bakar dan pintu depan telah didorong roboh oleh Tok-hui-coa Ang Hok. Di belakang ikut masuk anak buahnya yang sebanyak dua puluh orang.

"Penjahat-penjahat rendah darimanakah berani kurang ajar di rumah kami?" Gouw-ciangkun membentak marah dan menggerakkan golok menghadang mereka.

"Ha, ha, ha, ha, ha! Inikah Gouw-ciangkun yang menjadi ayah dari si laknat Gouw Swi Kiat? Keluarga Gouw, bersiaplah untuk terima binasa!" kata Tok-hui-coa Ang Hok sambil maju menyerbu, mainkan ruyungnya yang besar dan berat.

Gouw-ciangkun dapat menduga bahwa mereka itu tentulah penjahat-penjahat yang merasa sakit hati terhadap puteranya, maka tanpa banyak cakap lagi dia lalu menyambut serangan lawan dan mengamuk. Akan tetapi alangkah kagetnya ketika dia merasa telapak tangannya panas dan sakit ketika goloknya bertemu dengan ruyung itu.

Ternyata bahwa tenaga kepala perampok itu besar sekali.

Sebentar saja Gouw-ciangkun telah dikeroyok oleh banyak orang.

"Penjahat-penjahat anjing, jangan kurang ajar!’ Tiba-tiba Kui Lan membentak sambil melompat keluar dari kamarnya dengan pedang di tangan. Seorang anggauta perampok yang telah menghampiri nyonya Gouw dengan golok di tangan, tiba-tiba diserangnya dan penjahat itu menjerit dengan dada tertembus pedang!

"Ibu, menyingkirlah ke dalam kamar!" seru Kui Lan sambil memutar pedangnya, membantu ayahnya yang terkepun dan terdesak.

Adapun Tok-hui-coa Ang Hok ketika melihat munculnya seorang gadis yang demikian gagahnya, menjadi seperti linglung dan dia memandang tanpa berkedip.

"Ha, ha, ha, tak kusangka di sini terdapat setangkai bunga cilan yang harum! Kawan-kawan, keroyok dan binasakan anjing tua ini, biar aku memetik kembang itu!" katanya kemudian dan dengan ruyung diputar cepat dia menyambut Kui Lan.

Biarpun Gouw-ciangkun gagah, akan tetapi dia telah mulai tua dan tenaganya terbatas. Lagi pula selama menjadi petani, jarang sekali dia melatih ilmu silatnya dan juga tidak pernah bertempur, maka gerakannya kaku sekali.

Bagaimana dia dapat menghadapi keroyokan belasan orang perampok itu? Memang benar bahwa dia telah berhasil merobohkan tiga orang pengeroyok setelah mengamuk nekat dan mati-matian, akan tetapi akhirnya tubuhnya menjadi korban keganasan para perampok, dihujani pukulan senjata tajam sehingga dia roboh mandi darah.

Adapun Kui Lan, mana ia dapat melawan Tok-hui-coa Ang Hok yang sudah kawakan dan penuh tipu muslihat pertempuran? Baru dua puluh jurus saja pedang di tangan gadis ini sudah terlempar jauh dan sebelum Kui Lan dapat mengelak, ia telah diringkus dan sebuah totokan di pundak membuatnya tidak berdaya lagi.

"Ha, ha, ha, kawan-kawan. Bunuh semua orang di dalam rumah dan bakar habis rumahnya!" teriak Ang Hok sambil lari keluar memondong tubuh Kui Lan.

Para perampok itu tentu saja tidak mau menyia-nyiakan waktu baik ini. Mereka merampok dulu habis-habisan, baru membunuh nyonya Gouw dan membakar rumah itu.

Kemudian, dalam perjalanan mereka menyusul kepala mereka, mereka terlebih dulu merampok habis dusun itu dan melakukan permbunuhan keji.

Dalam keadaan lumpuh tertotok jalan darahnya, Kui Lan dibawa pergi oleh Tok-hui-coa Ang Hok ke arah pegunungan batu karang dimana banyak terdapat goa-goa yang besar. Di goa-goa itulah sarang para perapok yang baru datang dari utara ini. Di sepanjang jalan terdengar suara Ang Hok tertawa-tawa menyeramkan. Kepala rampok yang usianya kurang lebih empat puluh tahun, bertubuh tegap dan berwajah menyeramkan ini merasa girang sekali. Sekali ini hasil pekerjaannya memang hebat.

Tidak saja dia dapat membalas dendam dan menghabiskan keluarga Gouw untuk membalas sakit hatinya terhadap Gouw Swi Kiat, juga dia berhasil mendapatkan seorang gadis yang cantik jelita seperti Kui Lan yang telah dipondongnya itu.

Hampir pingsan Kui Lan mengalami perlakuan yang kasar dan tidak senonoh oleh kepala rampok ini, akan tetapi apa dayanya? Selain kalah pandai dalam ilmu silat, juga ia telah dibikin tidak berdaya, semua urat-urat ditubuhnya lemas dan tenaganya lenyap. Baiknya sebelum Ang Hok melakukan hal-hal yang lebih hebat lagi, datanglah anak buahnya, tertawa-tawa sambil memanggul hasil-hasil rampokan.

Ang Hok meninggalkan Kui Lan dan keluar dari dalam goa, menemui anak buahnya.

"Kawan-kawan sekalian. Bunga yang kupetik itu benarbenar cantik dan aku telah mengambil keputusan untuk menjadikan isteriku. Bersiaplah untuk merayakan pesta pernikahanku malam nanti!’ Kawan-kawannya bersorak gembira. Memang hal itu merupakan hal baru yang mengherankan. Biasanya kepala rampok itu mengganggu anak bini orang dan setelah bosan lalu dioperkannya kepada anak buahnya. Baru kali ini agaknya kepala rampok itu jatuh hati terhadap seorang wanita! Kawanan perampok itu lalu mendatangi dusun-dusun dan memaksa orang-orang dusun untuk menyediakan hidangan untuk meramaikan pesta pernikahan kepala mereka. Kasihan sekali orang-orang dusun ini, karena mereka dengan hati berat dan terpaksa harus melakukan segala perintah ini. Suasana di pegunungan batu karang pada malam hari itu ramai sekali dan para perampok menari-nari dan minum sampai mabuk.

Akan tetapi, tiba-tiba di sana-sini terdengar jeritan orang dan beberapa orang perampok roboh tak bernyawa lagi.

Seorang pemuda yang tampan dan gagah sekali tahu-tahu telah berdiri di situ dan kedua tangannya bergerak-gerak.

Setiap kali tangannya bergerak, sebutir benda hitam melayang dan mengenai seorang perampok yang tak dapat menghindarkan diri lagi, terus saja roboh dan mati! Geger keadaan di situ. Orang-orang dusun melihat kesempatan baik ini, cepat-cepat melarikan diri, pulang ke rumah masing-masing di bawah gunung. Adapun para perampok menjadi amat marah dan sebentar saja pemuda itu telah dikepung oleh perampok-perampok yang memegang senjata tajam di tangan.

Tok-hui-coa Ang Hok sendiri sudah menghadapi pemuda itu dengan ruyungnya yang berat. Sepasang matanya yang besar itu menjadi merah. Bukan main marahnya melihat pesta pernikahannya diganggu orang, apalagi orang itu hanya seorang pemuda saja. Akan tetapi, begitu dia mencabut ruyung dan melompat ke depan pemuda itu, barulah dia melihat siapa adanya orang ini dan terkejutlah dia bukan main. Pemuda itu dikenalnya sebagai The Kun Beng, orang kedua yang telah mengobrak-abrik sarangnya di utara, yakni sute (adik seperguruan) dari Gouw Swi Kiat! Tanpa banyak cakap lagi, Ang Hok lalu berseru,

"Kawan-kawan, keroyok….." Dia sendiri pun lalu memutar ruyungnya dan mengemplang kepala pemuda itu.

Memang benar, pemuda ini adalah The Kun Beng, murid kedua dari Pak-lo-sian Siangkoan Hai yang sudah kita kenal ketika masih kecil. Pemuda ini telah dewasa, wajahnya tampan sekali. Mukanya berkulit putih halus, berbentuk bulat dengan sepasang alis hitam melengkung panjang menghias sepasang mata yang tajam berapi-api.

Akan tetapi biarpun matanya membayangkan pengaruh dan keberanian, mulutnya selalu tersenyum manis membayangkan kelembutan hatinya.

Kun Beng berdua dengan Swi Kiat memang telah mengobrak-abrik sarang Ang Hok yang mereka dengar amat jahat. Mereka berhasil mengobrak-abrik sarang, membunuh banyak perampok, akan tetapi Ang Hok tak dapat mereka tewaskan karena kepala rampok ini keburu melarikan diri. Lalu dua orang pendekar muda itu berpencar. Kun Beng berkewajiban untuk mengejar Ang Hok dan membasmi orang-orang jahat ini sampai ke akarakarnya, adapun Swi Kiat hendak pergi membantu perjuangan para petani yang terkurung dan terancam oleh barisan dari pemerintah penjajah. Ini semua merupakan tugas yang diberikan oleh guru mereka.

Demikianlah, di satu fihak Swi Kiat menuju ke barat untuk melakukan tugas membantu barisan pejuang rakyat, adapun Kun Beng terus mengejar Ang Hok ke selatan, Swi Kiat berjanji hendak menyusul ke selatan setelah tugasnya selesai.

Akan tetapi alangkah terkejutnya hati Kun Beng ketika tiba di dusun Keng-kin-bun pada malam hari itu, dia melihat rumah terbakar dan tangisan penduduk yang demikian memilukan hati. Cepat dia mencari keterangan dan begitu mendengar bahwa di dekat situ terdapat gunung batu karang yang dijadikan sarang oleh gerombolan kejam, dia segera berlari secepat terbang menyusul ke tempat itu.

Dengan hati penuh kegeraman, dia melihat bahwa gerombolan itu bukan lain adalah sisa-sisa perampok yang telah dibasminya, sedang merayakan pesta pernikahan Ang Hok dengan seorang gadis dusun yang diculiknya! Segera pemuda ini menghujankan senjata rahasianya yakni batubatu hitam biasa yang dipungutnya di mana saja. Memang, disamping ilmu silatnya yang tinggi, Kun Beng terkenal dengan kepadaiannya mempergunakan batu-batu kecil sebagai senjata rahasia. Ia melontarkan batu-batu bundar itu seperti seorang bermain gundu, akan tetapi jangan dikira bahwa batu-batu itu tidak berbahaya karena sentilan jari tangannya dapat membuat batu-batu itu berubah menjadi peluru yang dapat menembus tubuh manusia! Demikianlah, setelah kini Ang Hok sendiri bersama anak buahnya maju mengeroyoknya, Kun Beng tertawa mengejek dan mengeluarkan senjatanya yang telah banyak dikenal dan ditakuti oleh para penjahat, yakni sepasang tombak pendek. Sekali tangkis saja, dua batang golok penjahat terlepas dari pegangan dan orang-orangnya roboh terpukul tombak yang gerakannya demikian cepat tak dapat diikuti oleh pandangan mata mereka.

Ang Hok maklum bahwa kepandaian pemuda ini memang lihai sekali, maka sambil berteriak-teriak mendorong anak buahnya untuk mengurung lebih rapat, dia lalu melompat dan lari ke dalam goa. Disambarnya tubuh Kui Lan dan dibawanya lari turun gunung! Kun Beng marah sekali. Tombaknya digerakkan cepat dan sebentar saja belasan orang pengeroyoknya telah roboh malang-melintang dalam keadaan tak bernyawa lagi.

Kemudian pemuda perkasa ini lalu melompat dan mengejar Ang Hok.

Karena ilmu lari cepat dari Ang Hok memang sudah tinggi, maka biarpun Kun Beng belum kehilangan bayangan kepala rampok itu, masih saja dia belum dapat menyusulnya sampai fajar menyingsing dari timur. Ang Hok bukan seorang bodoh. Ia tidak mau turun gunung, sebaliknya dia bahkan berputar-putar di sekitar pegunungan yang banyak batu karangnya itu sehingga dia dapat bersembunyi. Akan tetapi mata pemuda pengejarnya awas sekali dan kemanapun juga dia lari, selalu dapat dikejarnya.

Akhirnya Ang Hok nekat dan lari masuk ke dalam hutan batu karang penuh dengan rawa-rawa berbahaya. Tiba-tiba, ketika melintasi sebuah tempat yang tertutup rumput setengah kering, kepala rampok ini memekik keras dan tubuhnya amblas sampai kepinggang. Ternyata bahwa dia telah menginjak rawa berlumpur yang tertutup atau di tumbuhi oleh rumput! Ia meronta-ronta, namun gerakannya ini bahkan membuat tubuhnya tenggelam makin dalam sampai sebatas dada!

"Tolong…… tolong………..!" Betapapun kejam dan ganas adanya Tok-hui-coa Ang Hok, dan betapapun berani dan tabahnya, menghadapi maut yang mencengkeramnya sedikit demi sedikit, mulut maut yang menelan nyawanya lambat-lambat itu, timbul ngeri dan takutnya.

Kui Lan biarpun telah setengah lumpuh akibat totokan, namun ia masih sadar dan ia pun merasa ngeri ketika tubuhnya ikut amblas sampai pinggang. Ketika Ang Hok meronta-ronta, dia terbawa pula tenggelam sehingga sampai di pundak. Bahkan kedua lengannya yang lemas ikut pula tenggelam, berbeda dengan Ang Hok yang kini mengangkat kedua tangan ke atas dengan jari-jari tangan terbuka dan terpentang lebar.

Tadinya Kun Beng telah kehilangan jejak Ang Hok, akan tetapi pekik mengerikan serta jeritan minta tolong itu menariknya ke tempat itu. Ia melihat betapa Ang Hok dan gadis itu terbenam di dalam lumpur dan rawa itu sebetulnya kurang lebih empat tombak lebarnya.

"Tolonglah aku…….!" jerit Ang Hok ketika dia melihat pemuda itu muncul di pinggir rawa.

Akan tetapi Kun Beng tentu saja tidak mau mempedulikannya, bahkan memutar otak bagaimana dia dapat menolong gdais itu yang sebentar lagi tentu terbenam sampai lenyap.

"Tolonglah…… Taihiap….. tolonglah aku……" kembali Ang Hok menjerit-jerit.

"Aku tak dapat menolongmu, pula agaknya inilah hukuman Thian kepadamu atas segala kejahatanmu, Tokhui- coa," kata Kun Beng dengan suara dingin. "Kalau aku dapat menolong juga, bukan kau yang kutolong, melainkan nona itu yang menjadi korbanmu."

Tanpa disadarinya Kun Beng mengeluarkan kata-kata yang salah sehingga Ang Hok tiba-tiba menjadi beringas dan tertawa bergelak. "Kau tidak mau menolongku dan bermaksud menolong nona ini? Ha, ha, ha, lihat kalau kau tidak mau segera menolongku, sebelum aku mati terbenam, lebih dulu aku akan menekannya ke bawah Lumpur!"

Sambil berkata demikian, kepala rampok ini lalu menaruh tangannya yang berlumpur di atas kepala Kui Lan.

Memang, kalau dia mau, sekali tekan saja akan tamatlah riwayat hidup gadis ini, kepalanya akan terbenam di dalam lumpur dan akan mati.

Bingung sekali hati Kun Beng. Keparat, pikirnya, sekarang dia hendak memaksaku dengan dengan mengancam nyawa gadis itu. Akan tetapi pemuda ini melihat bahwa kalau dia menolong kepala rampok ini, tentu keadaan gadis itu akan terlambat dan akan mati juga.

Diam-diam dia lalu menggenggam erat-erat sebutir batu hitam.

"Dia akan mati, mati tersiksa. Kalau aku turun tangan membunuhnya, lebih baik baginya, bagiku dan juga bagi gadis itu," pikir Kun Beng dan secepat kilat tangannya menyambar. "Tak!" Sebelum dia tahu apa yang terjadi, kepala Ang Hok telah terkena sambaran batu dan dia tewas pada saat itu juga. Batu ini memasuki kepalanya dan kini dengan lemas dia terkulai, perlahan-lahan diisap oleh lumpur, seakan-akan di bawah lumpur terdapat silumansiluman yang menarik kedua kakinya ke bawah! Kini lumpur telah sampai di bawah leher Kui Lan. Kun Beng tidak mau membuang banyak waktu lagi. Tubuhnya melompat dan melayang di atas permukaan rawa, kedua tangannya diulur ke depan. Karena tangan gadis itu sudah terbenam dan yang kelihatan hanya kepala, leher dan pundaknya, Kun Beng tak dapat berbuat lain kecuali menyambar baju di pundak gadis itu dan di dalam lompatannya yang kuat dan cepat, dia menarik baju itu.

"Breeeettt!"

"Celaka!" seru Kun Beng yang sudah berada di seberang rawa. Karena kuatnya gadis itu terbenam dan kuatnya dia menarik baju, dia tidak berhasil membetot tubuh gadis itu karena pakaiannya yang di sambar tadi robek-robek! Ketika dia menoleh, ternyata bahwa pakaian sebelah atas dari gadis itu telah lenyap dan "terbang", kini berada di tangannya, pakaian yang penuh lumpur. Dengan muka merah dan bingung, Kun Beng melemparkan pakaian itu.

Akan tetapi tiba-tiba dia menjadi girang karena betapapun juga, sebelah tangan gadis itu telah keluar dari dalam lumpur, terbawa oleh betotannya tadi.

Adapun Kui Lan yang telah banyak mengalami penderitaan dan kekagetan semenjak tertawan oleh kepala rampok tadi, kini menjadi makin bingung dan malu sehingga kepalanya terkulai dan ia jatuh pingsan! Sekali lagi Kun Beng melompat, kini menambah tenaga lompatannya. Ia berhasil menyambar lengan Kui Lan dan memabawa gadis itu ikut melayang. Akan tetapi tenaga lompatannya tertahan oleh berat tubuh gadis itu, apalagi karena lumpur yang menahan tubuh gadis itu ternyata banyak melenyapkan tenaga lompatan Kun Beng. Hal ini membuat Kun Beng dan Kui Lan melayang turun sebelum sampai di seberang lumpur itu! Akan tetapi, kepandaian Kun Beng ternyata sudah hebat sekali. Pemuda ini dengan tenang menahan napas, lalu berseru keras sekali dan tahutahu tubuhnya mumbul kembali dalam keadaan berpoksai (membuat salto) dan dengan memondong tubuh Kui Lan yang penuh lumpur, dia berhasil melompat ke seberang lumpur, di atas tanah yang keras! Pemuda itu menarik napas panjang dengan hati lega. Ia menoleh ke arah lumpur dan bergidik.

"Berbahya sekali." Pikirnya. Kalau sampai dia terjatuh ke dalam lumpur itu bersama gadis yang dipondongnya, tentu mereka berdua akan tewas. Ia menoleh ke arah Ang Hok dan ternyata penjahat itu telah tenggelam, hanya kelihatan sedikit rambutnya saja. Ketika dia memandang ke bawah, ke arah tubuh gadis yang dipondongnya, mukanya menjadi merah sekali. Ternyata bahwa tubuh bagian atas dari gadis itu sama sekali tidak tertutup oleh pakaian lagi! Akan tetapi dia merasa lega bahwa tubuh itu diselimuti oleh lumpur tebal sehingga gadis itu seakan-akan memakai pakaian warna abu-abu yang amat pas dan ketat mencetak bentuk tubuh tubuhnya yang menggairahkan hati. Kun Beng lalu membawa lari gadis itu, kembali ke dalam goa di mana tadi dipergunakan oleh gerombolan perampok sebagai sarang. Ternyata di dalam goa itu terdapat segala macam keperluan, sampai-sampai di situ tertimbun beras dan makanan.

Kui Lan membuka matanya perlahan dan serentak gadis ini meloncat bangun begitu melihat bahwa ia terbaring di atas pasir di dalam goa. Hatinya berdebar keras dam alangkah kagetnya ketika ia menengok ke bawah melihat betapa dada dan punggungnya sama sekali tidak tertutup oleh pakaian. Kemudian ia melihat seorang pemuda duduk di atas batu membelakanginya, nampaknya tengah melamun. Pemuda itu adalah pemuda tampan dan gagah yang tadi menolongnya.

"Keparat!" desis mulut Kui Lan melihat pemuda ini karena ia teringat akan keadaannya yang setengah telanjang. Tanpa pikir panjang lagi ia lalu menerjang dengan kepalan tangannya. Akan tetapi, bagaikan mempunyai mata di belakang kepala, pemuda itu mengelak dan berdiri lalu menoleh sambil tersenyum.

"Nona, mengapa kau menyerangku?"

"Kau…. orang yang tidak tahu malu! Kau telah berani menghinaku, berani….. merobek pakaianku. Hayo kembalikan pakaianku!’ Biarpun hatinya berdebar tidak karuan dan darahnya panas mengalir di seluruh tubuhnya, terutama di mukanya yang tampan, Kun Beng berkata,

"Sabarlah, Nona. Aku tahu perasaanmu, akan tetapi harap kau jangan malu-malu. Biarpun pakaianmu sudah hilang, akan tetapi tubuhmu tertutup lumpur tebal.

Bukankah itu sama pula dengan pakaian untuk sementara ini? Aku sengaja menanti sampai kau siuman agar kita dapat bicara secara baik-baik."

"Kau….. kau kurang ajar!" seru Kui Lan dan kini ia cepat-cepat mempergunakan kedua lengan untuk disilangkan menutupi dadanya. Pergerakan ini membuat lumpur yang kering rontok sehingga nampak kulit yang putih. Kun Beng cepat membalikkan tubuh membelakangi gadis itu.

"Nona, aku sekarang sudah lega melihat kau tidak apaapa.

Sekarang aku akan pergi untuk mencarikan pakaian agar kau dapat memakainya. Akan tetapi pesanku, jangan sekali-kali kau banyak bergerak dan jangan melenyapkan lumpur itu, karena betapapun juga, lumpur itu merupakan pakaian yang indah dan cukup sopan."

Setelah berkata demikian, Kun Beng berkelebat dan lenyap dari goa itu. Kui Lan tertegun. Bukan main cepatnya gerakan pemuda itu, pikirnya, luar biasa sekali. Alangkah gagahnya dan tangkasnya karena kalau tidak memiliki kepandaian tinggi, bagaimana dapat menolongnya dari cengkeraman penjahat dan dapat mengeluarkannya dari lumpur itu? Dan alangkah…. tampannya! Berpikir sampai disini, Kui Lan menjatuhkan diri duduk di atas batu dan tiba-tiba ia menjadi pucat. Baru sekarang ia teringat akan keadaan rumah dan orang tuanya.

"Ayah…… ibu……..!" Gadis ini berbisik dengan muka pucat sekali. Ia belum tahu dengan jelas bagaiman nasib ayah bundanya, karena ketika terjadi pengeroyokan, ia tidak sempat melihat keadaan ayahnya. Kui Lan melompat bangun dan lari keluar dari goa. Akan tetapi, ia segera melompat ke dalam kembali setelah ingat bahwa ia berada dalam keadaan setengah telanjang! Ia bingung sekali.

Menurutkan perasaannya, ingin sekali ia terbang kembali ke dusunnya melihat keadaan orang tuanya. Akan tetapi keadaannya tidak mengijinkannya.

Tiba-tiba terdengar suara orang memanggil dari luar goa.

"Kui Lan, pakailah pakaian ini." Dan dari luar goa lalu dilemparkan segulung pakaian yang diterima oleh gadis itu dengan girang. Cepat-cepat gadis ini menanggalkan semua pakaian yang masih menempel di tubuhnya karena pakaian yang sudah terbenam lumpur itu betul-betul membuat sekuruh tubuh terasa gatal-gatal dan kaku sekali. Setelah ia memakai pakaian yang dilempar masuk oleh Kun Beng, ternyata pakaian itu pas betul dengan tubuhnya dan cukup pantas biarpun hanya pakaian wanita petani.

"Terima kasih, kau baik betul……" kata gadis itu dari dalam goa.

"Tak usah berterima kasih, Kui Lan. Apakah kau sudah selesai berpakaian?" tanya pemuda itu dan tiba-tiba terasalah dalam hati Kui Lan betapa pemuda itu suaranya kini amat lemah lembut dan halus sedangkan panggilan namanya begitu saja juga jauh berbeda dengan tadi.

Akan tetapi gadis ini kembali teringat akan orang tua dan rumahnya, maka ia cepat melompat keluar dari goa itu.

Kun Beng telah berdiri di depan goa dan mereka kini berhadapan.

"Aduh, pantas sekali kau memakai pakaian itu!" pujinya dengan pandang mata kagum.

Kui Lan menunduk dengan muka merah. "Jangan kau mengejek, ini hanya pakaian gadis petani sederhana saja."

"Bahkan kesederhanaannya menonjolkan kecantikan yang wajar." Kun Beng memuji lagi. Pemuda ini memang sengaja memuji dan hendak menghibur hati gadis yang cantik ini. Karena ketika dia mencarikan pakaian untuk Kui Lan tadi, dia mendengar betapa ayah bunda dari gadis ini telah dibunuh secara mengerikan oleh kawanan perampok, sedangkan rumahnya terbakar musnah! Berdebar hati Kui Lan mendengar pujian-pujian itu. Ia mengangkat muka dan memandang kepada pemuda itu.

Memang tampan, tampan dan gagah sekali, pikinya. Dua pasang mata bertemu dan keduanya memandang penuh arti, sungguhpun berbeda sekali. Kun Beng memandang dengan penuh keharuan dan iba hati terhadap gadis itu, sebaliknya Kui Lan memandang dengan penuh kagum, terima kasih dan …… suka. Ya, hati gadis ini telah jatuh begitu bertemu pandang dengan Kun Beng.

"Kau….. siapakah namamu?" tanyanya setelah menunduk lagi karena pertemuan pandang itu membuat ia merasa malu-malu.

"Namaku The Kun Beng, pemuda perantau. Dan aku sudah tahu akan namamu, Kui Lan bukan? Aku mendengar dari orang-orang dusun itu."

Kui Lan teringat kembali kepada orang tuanya, ia cepat meloncat dan berkata, "Aku harus pulang……!"

Akan tetapi tiba-tiba ia merasa terkejut dan marah sekali karena Kun Beng telah menangkap lengan kanannya.

"Eh, kau mau apakah? Lepaskan tanganku!" bentaknya.

Kun Beng melepaskan pegangannya dan pandang matanya makin sayu.

"Kui Lan, kuminta supaya kau jangan kembali ke dusunmu."

Gadis itu membuka matanya lebar-lebar. "Mengapa aku kaularang pulang dan apa maksud dan kehendakmu pula menahanku?"

"Marilah kita duduk di tempat teduh itu, Kui Lan dan kita bicara dengan tenang." Tanpa sungkan-sungkan lagi Kun Beng lalu memegang tangan gadis itu dan menggandengnya, seperti laku seorang kakak terhadap seorang adiknya.

Melihat sikap yang sungguh-sungguh dari Kun Beng dan pemuda ini sama sekali tidak kelihatan hendak berbuat kurang ajar, hati Kui Lan mulai berdebar gelisah. Pasti ada apa-apa yang hebat, pikirnya. Otomatis ia teringat akan orang tuanya maka dengan wajah pucat ia lalu memegang lengan pemuda itu tanpa menanti sampai di tempat teduh dan mengguncang-guncang lengan itu.

"Taihiap…… katakanlah, apa yang terjadi dengan dusunku…….? Dengan orang tuaku……..??"

Kun Beng mengerutkan alisnya. "Sabar dan tenanglah, Kui Lan. Mari kita duduk di tempat yang teduh dan kau harus mendengar dengan tenang."

"Tidak, tidak! lekas kau katakan sekarang juga, atau…… lebih baik aku pulang!" Ia hendak pergi, akan tetapi kembali Kun Beng menangkap lengannya. Pegangan tangan pemuda itu demikian kuatnya sehingga takkan ada gunanya kalau kiranya gadis itu memberontak.

"Apa boleh buat, Kui Lan. Dengarlah, kawanan perampok itu telah banyak mendatangkan bencana di kampungmu, merampoki rumah-rumah, membakar dan membunuh."

"Ayah dan ibu…..?"

Kun Beng mengangguk perlahan. "Ayah bundamu tewas dan rumahmu dibakar oleh mereka….."

Kui Lan semalam mengalami hal-hal yang menggoncangkan batinnya, dan tubuhnya masih lemah sekali. Kini mendengar warta yang hebat ini, seketika ia menjadi pucat, terhuyung dan tentu akan roboh kalau Kun Beng tidak cepat-cepat memeluk dan memondongnya.

Pemuda ini memang sudah dapat menduga lebih dulu, maka cepat dia menotok jalan darah di leher gadis itu agar goncangan hebat tidak merusak ingatan gadis itu. Ia sengaja melarang gadis itu ke kampungnya, karena kalau gadis itu melihat sendiri bencana yang menimpa keluarganya, akan lebih fatal akibatnya. Untuk menjaga ini pula, ketika dia mencarikan pakaian untuk Kui Lan, dia sengaja menyeret mayat-mayat perampok dan melempar mereka ke dalam rawa lumpur sehingga mereka semua terkubur di situ, agar tidak kelihatan lagi oleh gadis itu musuh-musuh besarnya yang telah menghancurkan keluarganya.

Kemudian dia lalu membawa tubuh Kui Lan kembali ke dalam goa. Kui lan mengalami pukulan batin dan tubuhnya mulai panas sekali. Ketika ia siuman dari pingsan, ia mengigau, memanggil-manggil ayah bundanya dan berkalikali ia roboh pingsan. Kun Beng mersakasiha sekali dan pemuda ini merawatnya baik-baik.

Selama tiga hari Kui Lan berada dalam keadaan setengah sadar setengah pingsan, namun berkat perawatan yang penuh perhatian dari Kun Beng, krisis berbahaya telah lewat dan ia mulai sadar kembali. Panasnya berangsurangsur berkurang dan kini ia merasa letih dan lemah.

Ketika ia membuka matanya pada pagi hari ketiga, ia melihat Kun Beng duduk di dekatnya sambil memegang sebuah mangkok bubur.

"Makanlah Kui Lan. Bubur ini akan menguatkan tubuhmu," katanya halus.

Kui Lan untuk sejenak merasa nanar dan dikumpulkannya ingatannya, mengenangkan semua peristiwa yang telah terjadi. Kemudian ia menangis sambil sambil menutupkan kedua tangan dimukanya, teringat ia akan ayah bundanya yang tewas.

"Tenang, Manis. Jangan menurutkan perasaan hati,"

Kun Beng menghibur.

"Aku......sebatang kara ...." Kui lan mengeluh.

"Apa kaukira aku bukan orang?" Tanpa disengaja Kun Beng berkata demikian, maksudnya hanya untuk menghibur.

Kui Lan bangun duduk, akan tetapi meramkan mata karena pusing. Kun Beng cepat menjaga pungungunya dan menempelkan mangkok pada bibir gadis itu.

"Minumlah bubur ini dulu."

Tanpa membuka matanya, Kui Lan makan bubur itu, atau lebih tepat meminumnya. Habislah bubur hangat itu dan ia merasa peningnya hilang dan tubuhnya segar.

Dibukanya kembali matanya, dan dipandangnya muka pemuda yang berlutut di dekatnya.

"Berapa lamakah aku tak sadarkan diri?"

"Kau terkena demam, selama tiga hari dan kau tidak ingat apa-apa, setiap hari hanya mengigau saja," kata Kun Beng tersenyum. "Syukurlah sekarang kau telah sehat kembali."

"Tiga hari? Dan selama itu..... kau telah menjaga dan merawatku di sini?"

Merah muka Kun Beng ketika gadis itu memandangnya sedemikian rupa. Ia mengangguk, akan tetapi segera dibukanya mulutnya.

"Apa artinya itu? Kau perlu ditolong dan di sini terdapat banyak bahan makanan."

"Ahh .... The-taihiap.... kau baik sekali..." kembali Kui Lan menangis saking terharu dan juga bersyukur bahwa dalam penderitaannya yang hebat, ia bertemu dengan seoarang pendekar muda yang demikian gagah perkasa dan budiman.

"Hushh, sudahlah, memang sudah kewajibanku untuk menolongmu," kata Kun Beng sambil menepuk-nepuk pundak gadis itu.

Tiba-tiba Kui Lan memegang lengan Kun Beng erat-erat.

"Katakan, Taihiap, mengapa kau menolongku? Mengapa kau rela mengorbankan waktu dan tenaga untukku?" Mata gadis itu memandang tajam dan kini terlihat sinar mata yang ganjil dan yang membuat Kun Beng berdebar hatinya.

Gadis itu memang cantik sekali dan menarik hatinya yang masih muda dan membuat darahnya yang masih panas itu bergolak.

"Mengapa? Karena kau perlu ditolong, karena aku kasihan padamu......."

"Taihiap, kau ....kau suka kepadaku?"

Makin merah muka Kun beng. Pertanyaan seperti ini tak disangkanya akan keluar dari mulut gadis itu. Akan tetapi dia maklum gadis itu masih lemah hatinya, masih amat perasa hatinya, dan sekali-kali tidak boleh dibikin kecewa atau berduka. Untuk sekedar menghibur hati gadis itu, harus dibikin senang hatinya, dan pula memang dia suka kepada Kui Lan. Laki-laki manakah yang tidak akan suka melihat gadis yang demikian cantik manis, dan juga yang harus dikasihani nasibnya? "Tentu saja, Kui lan. Aku suka sekali padamu," jawabnya sambil tersenyum manis.

Dengan mata basah Kui Lan memandang kepada pemuda itu, suaranya tergetar penuh haru ketika ia mengajukan pertanyaan penuh mendesak.

"Dan cinta kepadaku?"

Bukan main bingungnya hati Kun Beng. Cinta? Ini lain lagi halnya. Ia tidak berani memastikan apakah dia cinta kepada gadis ini. Apakah suka itu cinta? ia memang suka dan kasihan, akan tetapi apakah ini boleh disamakan dengan cinta? Ia masih terlalu hijau untuk mengetahui soalsoal pelik ini. Semenjak Kun Beng sudah pandai mempertimbangkan sesuatu, pertunangannya dengan Bun Sui Ceng murid Kiu-bwe coa-li seperti yang telah ditetapkan oleh gurunya membuat dia sering kali termenung mengenangkan wajah Sui Ceng. Wajah seorang anak perempuan yang lincah, gembira dan juga manis sekali.

Sebelum - Beranda - Lanjut

Tidak ada komentar:

Posting Komentar