16 Pendekar Sakti

Tepat betul gerakan Kwan Cu ini. Begitu dia mainkan ilmu silat Sin-ci-tin-san, enam orang pengeroyoknya menjadi bingung sekali. Mereka agaknya dapat pula menduga gerakan-gerakan selanjutnya dari Sin-ci-tin-san, akan tetapi oleh karena ilmu silat ini di lakukan mengandalkan lweekang yang tinggi dan tenaga yang besar, tentu saja mereka tidak dapat menirunya! Hal ini merupakan keuntungan bagi Kwan Cu yang mendesak terus selagi enam orang itu kebingungan, tidak tahu harus berbuat bagaimana menghadapi pukulan-pukulan sepuluh jari tangan Kwan Cu yang baru hawa pukulannya saja sudah membuat tubuh mereka tergetar! Melihat hasil serangannya, Kwan Cu mengamuk makin hebat. Ia dengan heran sekali melihat betapa enam orang ini pun seakan-akan mengenal ilmu silat Sin-ci-tin-san, karena mereka dapat menduga gerakan-gerakan selanjutnya dari ilmu silat ini, bahkan mereka mencoba untuk menyerangnya dengan meniru gerakan itu. Ilmu silat apakah yang mereka miliki ini sehingga semua ilmu silatnya dapat dikembari oleh mereka? Kalau dia berlaku lambat, tentu mereka akan dapat menguasai diri dan kalau sekali ini dia tidak mampu mengalahkan mereka, agaknya itu akan menjadi tanda bahwa dialah sebaliknya yang akan kalah dan mendapatkan bencana besar!

"Robohlah kalian!" Kwan Cu berseru untuk memperkuat pengaruh dan lweekangnya, dan kedua tangannya bergerak cepat sambil mengerahkan tenaga sekuatnya. Yang paling dia desak adalah Kahano, maka ketika kedua tangannya bergerak, terdengar Kahano menjerit, disusul oleh dua orang kawannya. Ternyata bahwa pukulan Kwan Cu tadi hanya setengah dapat dielakkan mereka, akan tetapi hawa pukulannya masih menghantam Kahano dan dua orang kawannya, yakni seorang yang berada di belakangnya dan seorang pula yang berada di kanannya. Pedang pendek Kahano terlepas dari pegangan dan si katai brewok ini terpukul dadanya sehingga dia terlempar ke belakang dengan dada menderita luka dalam. Orang yang berada di belakang Kwan Cu lebih hebat lagi. Tangan kanan Kwan Cu, atau lebih tepat jari-jari tangan kanannya, telah dapat menampar kepala orang itu sehingga si katai gundul ini terlempar bagaikan seekor anjing dilemparkan dan dia roboh tak dapat bangun kembali. Orang yang berada di kanannya, hanya terkena langgar telunjuk Kwan Cu, namun karena tepat mengenai tangannya yang memegang pedang, pedang itu pun terlepas dari pegangan dan dia menjerit-jerit kesakitan sambil mundur dan memegangi tangan kanan dan tangan kirinya. Ternyata bahwa tulangtulang tangan kanannya itu telah patah-patah.

Tiga orang lain yang berada di depan Kwan Cu, ketika melihat ini, terbang semangat mereka dan timbul watak pengecut. Mereka melempar pedang dan berlutut sambil mengangguk-anggukkan kepala yang gundul itu, minta ampun! Memang, sudah terlalu lama kaum laki-laki di pulau katai itu diperlakukan seperti wanita sehingga ratarata memiliki watak penakut dan berhati kecil.

Kwan Cu tertawa bergelak dengan puas dan mengambil sulingnya. Berhasillah tugasnya mengamankan pulau itu.

Akan tetapi, tiba-tiba dia melihat bayangan beberapa orang berkelebat dekatnya dan lenyaplah suara ketawanya ketika dia melihat apa yang telah terjadi pada saat dia tertawa tadi.

Ketika dia memandang, enam orang laki-laki katai itu telah kehilangan kepala mereka dan kini tubuh mereka tergeletak dengan leher terputus dan darah mengalir deras dari leherleher yang tak berkepala lagi itu.

Dengan kening berkerut Kwan Cu memandang tajam kepada Malita, Malika dan beberapa orang wanita lain yang sudah berdiri di situ dengan pedang di tangan. Malita dan Malika menyusut darah yang menempel di pedang mereka, menggunakan pakaian yang menempel pada mayat-mayat itu.

"Mengapa kalian lakukan ini? Alangkah kejamnya!" seru Kwan Cu tak senang.

Malika menghadapinya dengan sikap menantang. Gadis ini memang berwatak keras dan pemberani. Ia menentang pandang mata Kwan Cu tanpa takut sedikitpun juga, lalu berkata,

"Kau bilang kami kejam? Kalau mengingat betapa enam orang iblis ini hendak membuat kami kaum perempuan menjadi barang permainan yang hina-dina, hukuman penggal kepala masih terlampau murah untuk mereka!"

Kwan Cu menghela napas, lalu berkata, "Sudahlah, Malika, dan kau juga Malita. Yang sudah lalu biarlah lenyap. Memang mereka ini jahat sekali dan patut dihukum mati, akan tetapi apakah perbuatan ini merupakan tanda bahwa kalian kaum wanita kini hendak berkuasa lagi dan melupakan kerja sama yang baik?"

"Tidak, sama sekali kami tidak akan mengulangi kesalahan besar yang dilakukan oleh nenek moyang kami.

Kami sudah berjanji kepadamu dan janji kami selalu kami pegang teguh. Kami akan melakukan pemilihan raja baru dengan adil, kaum laki-laki pun berhak memilih. Dan kami tak kan memandang-mandang lagi apakah ia laki-laki atau wanita, akan tetapi siapa saja yang bersalah akan dihukum dan yang tertindas akan dibela, baik ia laki-laki maupun wanita! Dan semua ini, kebahagiaan yang akan kami hadapi ini, semua berkat pertolonganmu yang amat berharga, saudara Kwan Cu yang budiman!"

"Semua berkat pertolonganmu," semua wanita berkata pula dan tiba-tiba, dipimpin oleh Malita dan Malika, semua orang wanita yang berada di situ menjatuhkan diri berlutut di depan Kwan Cu sambil menangis riuh-rendah! Kwan Cu tertegun, kebingungan, kemudian dia menghela napas dan berkata dalam hatinya, "Perempuan, perempuan….perempuan namamu dan di manapun sama saja, paling mudah menangis!" berpikir sampai di sini, timbul pikiran lain yang membantahnya.

"Ah, Kong Hoat putera Liok-te Mo-li itu terang seorang laki-laki, akan tetapi dia pun suka menangis."

Pikiran kedua mengejek, "Ah, Kong Hoat memang dasar cengeng!"

Demikianlah, menghadapi tangis karena berterima kasih dan gembira dari banyak wanita kecil-kecil ini, Kwan Cu malahan melamun, teringat yang bukan-bukan. Akan tetapi, dia sadar kembali dan berkata.

"Sudahlah, untuk apa menangis? Kalian membikin aku merasa sedih dan jangan-jangan aku akan ikut menangis pula. Malita dan Malika, kalian pada saat ini boleh dibilang menjadi pemimpin bangsamu, jangan melakukan upacara yang berlebih-lebihan ini. Aku bertindak sebagai seorang manusia yang harus menolong manusia lain sedapat mungkin. Aku hanya ada satu permintaan, yakni kalau sekiranya kalian tidak keberatan."

Malita menyusut air matanya dan bangkit berdiri sambil tersenyum manis sekali.

"Apakah permintaanmu itu, saudaraku yang baik? Apa saja yang menjadi permintaanmu, pasti akan kami turuti.

Kau ingin menjadi pemimpin kami? Kami setuju sepenuhnya! Kau ingin memilih seorang jodoh di antara kami? Kiranya tak seorangpun dara akan menolakmu siapapun dia adanya!" setelah mengucapkan kata-kata ini, sadarlah Malita bahwa ia bicara terlalu banyak, maka merahlah mukanya.

"Jangan main-main, Malita. Aku bukan Kahano! Tiada lain hanya ini. Perbolehkanlah aku tinggal di pulau ini seorang diri, entah berapa tahun sampai aku merasa bosan dan pergi meninggalkan pulau ini. Selama aku berada di sini, harap kalian jangan menggangguku, karena aku bermaksud hendak bersamadhi dan menjauhkan diri dari keramaian dunia di tempat ini. Tempat ini amat menarik hatiku."

Malita dan kawan-kawannya saling pandang dengan heran.

"Kau memang orang aneh, seorang sakti yang berbudi tinggi. Hal itu bukan merupakan permintaan karena tentu tak seorangpun merasa keberatan kalau kau tinggal di pulau ini."

"Nah, kalau begitu selamat berpisah. Kalian pulanglah dan aturlah pemerintahanmu sebaik-baiknya dan tinggalkan aku di sini. Jangan ingat lagi kepadaku, karena akupun takkan mengganggu kalian di sana."

Mendengar keputusan ini, terkejutlah Malita.

"Mengapa begitu keras, saudara Kwan Cu? Setidaknya, perkenankanlah kami kadang-kadang mengunjungimu di sini untuk melihat apakah kau tidak kekurangan sesuatu di sini," kata Malita.

"Dan sudah tentu kami yang akan menjaga makananmu setiap harinya," kata Malika.

Akan tetapi Kwan Cu menggeleng kepala dan menggoyang-goyang tangannya.

"Jangan! Kulihat pulau ini mengandung pohon-pohon yang berbuah dan kulihat tadi beberapa ekor binatang hutan yang kiranya akan dapat menjadi bahan makanan bagiku.

Aku ingin seorang diri saja di sini, tanpa mendapatkan gangguan dari siapapun juga. Kecuali….." sambungnya ketika meliha sinar mata pada wajah mereka, "kecuali kalau ada sesuatu yang hebat menimpa kalian, tentu saja aku selalu bersiap sedia untuk menolong kalian. Nah, pergilah, mayat-mayat ini tinggalkan saja, biar aku nanti yang akan menguburnya di tempat ini."

Terpaksa Malita memberi tanda kepada kawankawannya untuk pergi dari situ dengan wajah kecewa sekali. Akan tetapi, belum lama ia berjalan ia segera membawa kawan-kawannya, datang lagi dan berlutut.

"Ada apa lagi?" tanya Kwan Cu tak senang.

"Saudara Kwan Cu, biarpun kami tak berani melanggar laranganmu dan tidak akan mengganggumu di tempat ini, setidaknya berjanjilah bahwa sewaktu-waktu kau akan datang mengunjungi kami agar kami dapat melihat bahwa kau masih berada di dekat kami."

Kwan Cu tersenyum. Ia tidak boleh terlalu keras agar mereka ini jangan menduga yang bukan-bukan sehingga akan pecah rahasia sebenarnya dari keinginannya berada seorang diri di tempat itu.

"Baiklah, kelak kalau kau dan adikmu menikah, beritahulah aku dan aku akan datang menyaksikan pernikahan itu!"

Bertitik air mata di pipi Malita, bahkab Malika juga menangis sesenggukan karena terharu. Mereka lalu pergi dari situ, menuju ke perahu-perahu kecil milik Kahano dan kawan-kawannya sambil menoleh beberapa kali ke arah raksasa muda yang masih berdiri bertolak pinggang melihat sampai mereka pergi jauh dan tidak kelihatan lagi.

***

Setelah menggali lubang dan mengubur jenazah Kahano dan lima orang kawannya, Kwan Cu segera menghampiri gua yang dijadikan tempat bersembunyi para pemberontak tadi. Ia memeriksa dinding gua dengan sepasang obor yang dibuatnya dari pada rumput kering dan alangkah girangnya ketika dia mendapat kenyataan bahwa dinding-dinding itu sebagaimana telah diduganya semula, terhias oleh gambargambar manusia sedang bersilat! Gambar-gambar ini ukirannya bagus dan jelas sekali sehingga melihat gambargambar ini saja orang sudah dapat mempelajari ilmu silat yang terlukis di situ!

"Hm, dari sini kiranya mereka itu mempelajari ilmu silat mereka yang aneh!" pikirnya. Gambar-gambar itu benarbenar hebat sekali karena amat banyak dan mengandung gerakan dari hampir semua ilmu silat yang pernah dia pelajari dan yang pernah dia dengar dari suhunya, Ang-bin Sin-kai. Manusia gaib siapakah yang dapat membuat lukisan-lukisan pelajaran ilmu silat seperti ini? Sampai sehari penuh Kwan Cu memeriksa gambargambar itu dan masih juga belum habis. Ternyata bahwa seluruh terowongan yang menembus kegua-gua lain juga terhias gambar-gambar seperti itu, namun anehnya, semua lukisan itu menggambarkan orang bersilat tangan kosong! Tidak ada sebuah pun gambar orang bersilat dengan senjata di tangan. Ada yang bersilat seorang seorang diri, ada yang bertempur, ada pula yang di keroyok dua, tiga, sampai dikeroyok puluhan orang! Agaknya lukisan dititik beratkan kepada tokoh yang dikeroyok, karena kedudukan tokoh ini jelas sekali, teratur baik setiap gerak kaki atau tangan.

Menghadapi sebaris lukisan yang menggambarkan cara bagaimana seorang laki-laki dikeroyok oleh puluhan orang, Kwan Cu terkejut. Bukan main hebatnya kedudukan orang yang dikeroyok itu, jauh lebih kuat dari pada ilmu silat Paibun- tui-pek-to yang dia pelajari dari Ang-bin Sin-kai.

Saking girangnya, Kwan Cu sampai lupa makan lupa tidur, setiap hari dia melihat dan mempelajari gambargambar yang terlukis di dinding gua dan terowongan itu.

Kemudian teringatlah dia akan maksud dan kedatangannya di pulau ini sesungguhnya, yakni mencari kitab Im-yang Butek Cin-keng. Hatinya berdebar keras. Betapapun jelas adanya ukiran-ukiran ini yang dengan sendirinya telah merupakan pelajaran yang hebat sekali, namun tanpa buku petunjuk atau guru yang membimbing, ilmu-ilmu silat tinggi itu bisa dipelajari dengan cara yang keliru!

"Bukan tak mungkin bahwa Im-yang Bu-tek Cin-keng adalah kitab yang merupakan kouw-koat (teori ilmu silat) dari semua lukisan ini." pikirnya.

Setelah berpikir demikian, Kwan Cu merangkak keluar dari gua kecil itu dan baru dia merasa betapa tubuhnya sakit-sakit semua karena dia mempelajari dan melihat semua lukisan di dinding itu sambil merangkak! Ternyata bahwa sudah dua hari dua malam dia berada di gua itu tanpa berhenti untuk makan atau tidur. Kini dia merasa perutnya lapar sekali. Maka pergilah dia ke dalam hutan yang penuh dengan pohon-pohon itu. Keadaan di situ memang aneh. Semua pohon mempunyai daun yang keputih-putihan, sungguhpun daun-daun itu berbeda corak dan ukurannya. Dan diantara pohon-pohon itu, ada pula yang mengandung buah-buahan yang biarpun ada yang berwarna merah, namun merahnya juga pucat seperti dikapur.

Kwan Cu berlaku hati-hati sekali. Niarpun perutnya amat lapar dan mulutnya amat haus, namun dia tidak berlaku sembrono. Buah-buahan itu asing baginya dan siapa tahu kalau-kalau di tempat aneh ini terdapat buah-buah yang mengandung bisa. Sebelum makan buah itu, dia menciumnya lebih dulu dan menancapkan suling pemberian Hang-houw-siauw Yok-ong ke dalam buah itu.

Gurunya pernah memberi tahu bahwa suling itu selain dapat dipergunakan sebagai senjata, juga dapat di pergunakan untuk menguji apakah dalam sesuatu benda terdapat bisa yang berbahaya. Kalau suling yang kehijauan itu berubah hitam seperti hangus, itulah tanda bahwa buah itu mengandung racun. Setelah dilihatnya bahwa suling itu tidak hangus, barulah dia berani mencoba makan. Ternyata buah itu wangi dan manis, sehingga hatinya girang sekali.

Juga di situ terdapat banyak binatang hutan yang rupanya seperti kijang, maka dia tidak khawatir lagi akan makanan untuk perutnya.

Betapapun tertarik hatinya untuk mempelajari semua lukisan orang bersilat di dalam gua yang kecil gelap itu, namun Kwan Cu tidak mau melihatnya lagi. Hatinya tetap bahwa dia harus lebih dulu mencari kitab rahasia Im-yang Bu-tek Cin-keng, karena itulah tujuan utamanya datang mencari pulau ini.

Berhari-hari dia mencari. Semua gua, dari yang besar sampai yang paling kecil dia masuki, namun dia tidak mendapatkan tempat disimpannya kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng. Bahkan sebulan telah berlalu dia belum juga bisa menemukan kitab itu. Namun Kwan Cu adalah seorang pemuda yang keras hati dan tak mudah patah semangat. Ia yakin bahwa kitab itu tentu belum ditemukan oleh Kahano, karena kalau Kahano telah mempelajari ilmu silat dari kitab itu, tak mungkin dia akan dapat mengalahkannya. Ang-bin Sin-kai, Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu, Hek-i Hui-mo, Paklo- sian Siangkoan Hai, Kiu-bwe Coa-li dan masih banyak tokoh-tokoh sakti dari dunia kang-ouw, semua ingin memiliki kitab itu. Hal ini saja sudah membuktikan bahwa kitab itu tentulah mengandung pelajaran ilmu yang bukan main tingginya. Kemajuan ilmu silat Kahano dan kawankawannya yang diherankan oleh Malita, tentulah karena Kahano dan kawan-kawannya mempelajari sebagian daripada gambar-gambar lukisan dinding itu.

Beberapa pekan telah lewat pula dan tahu-tahu sudah tiga bulan Kwan Cu tinggal di pulau kosong itu. Dan belum juga dia menemukan kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng yang dicari-carinya, biarpun sudah beberapa kali dia memasuki gua-gua yang banyak itu dan memeriksa di balik batu-batu karang yang besar. Selama seratus hari ini, Kwan Cu belum lagi mempelajari ilmu silat yang di lukis di dinding, karena kemauannya amat keras hendak menemukan kitab rahasia itu lebih dulu. Ia percaya penuh akan kebenaran kitab sejarah peninggalan Gui Tin dan biarpun sudah seratus hari mencari dengan sia-sia kepercayaannya ini tidak berkurang, bahkan dia menjadi makin penasaran dan memaki-maki diri sendiri sebagai seorang yang bodoh dan sial.

Pada suatu hari, ketika dia mencari seekor kijang untuk dipanggang dagingnya, tiba-tiba dia melihat bayangan putih berkelebat cepat di atas tanah. Hampir saja dia tidak dapat melihat apakah yang berkelebat itu, karena gerakan bayangan ini cepat luar biasa. Akan tetapi, ketika dia mengejar ke arah itu, dia melihat seekor binatang yang rupanya seperti kelinci berbulu putih, berlari cepat sekali. Ia menjadi tertarik. Belum pernah dia melihat binatang seindah itu bulunya. Putih bersih seperti kapas dan keempat kakinya yang pendek-pendek itu amat cepat larinya. Ia mengejar sambil mengerahkan ginkangnya, dan biarpun dia tidak atau belum dapat menangkap binatang putih itu namun binatang itu pun tidak dapat memperbesar jaraknya.

Binatang itu nampak kebingungan sekali dan segera berlari ke arah bukit batu karang yang di tumbuhi oleh pohonpohon berdaun putih yang tidak berbuah. Kwan Cu mengejar terus. Ketika binatang itu tiba di bawah sebatang pohon di puncak bukit, pohon yang terbesar, tiba-tiba saja binatang itu lenyap!

"Eh, ibliskah dia? Bagaimana bisa menghilang begitu saja sedangkan di sini, kecuali pohon-pohon besar ini, tidak ada tetumbuhan lainnya?" pikir Kwan Cu penasaran.

Pemuda ini mencari-cari dengan pandangan matanya, dan akhirnya dia melihat sebuah lubang di dekat pohon itu, lubang yang berada di tengah antara dua batang akar yang menonjol keluar dari permukaan tanah.

"Hm, jadi dia bersembunyi di sini," pikir Kwan Cu sambil tersenyum gembira. Ia mempergunakan pedang kecil yang dahulu menjadi senjata Kahano dan disimpannya karena dia memang membutuhkan senjata untuk menolong sesuatu yang diperlukan. Dengan pedang yang kecil seperti pisau ini, dia menggali lubang itu dan merenggut putus dua akar yang menjepit lubang. Makin dalam dia menggali lubang itu makin besar. Kegembiraan Kwan Cu membesar pula. Ini merupakan pengalaman baru baginya. Bagaimana seekor binatang yang begitu kecil bisa membuat sarang begini besar? Kurang lebih tiga kaki dalamnya dia menggali dan tibatiba, ketika dia mengayun pedang itu ditancapkan pada tanah untuk memperdalam galian, terdengar suara keras dan pedang itu patah! Kwan Cu terkejut dan heran sekali.

Dengan jari-jari tangannya dia menggali tanah dan ternyata bahwa pedangnya tadi telah memukul dinding besi yang mengeluarkan cahaya kehitaman dan kelihatannya kuat sekali!

"Apakah ini…..?" katanya makin heran. Ia lalu makin bersemangat, mempergunakan patahan pedang untuk menggali tanah di sekitar pedang besi itu dan ternyata bahwa dinding ini merupakan sebuah peti besi segi empat yang lebarnya ada satu kaki lebih. Di samping peti besi ini terdapat lubang lain yang kecil, agaknya binatang itu mempergunakan peti besi yang kuat ini untuk perisai dan tentu dia bersembunyi di dalam sebuah lubang yang digalinya tepat di bawah peti itu.

Namun Kwan Cu tidak ingat lagi akan kelinci atau binatang berbulu putih yang tadi dikejar-kejarnya. Seluruh perhatiannya kini tercurah kepada peti besi ini. Hatinya berdebar-debar dan diam-diam dia dia berdoa kepada Thian semoga peti inilah yang akan memberi jalan kepadanya mendapatkan kitab rahasia Im-yang Bu-tek Cin-keng! Ia membawa peti besi itu ke guanya. Memang selama tiga bulan berada di situ, Kwan Cu telah memilih sebuah gua yang paling besar, gua yang tidak merupakan terowongan dan sinar matahari dapat masuk ke dalamnya, sebagai tempat tinggalnya, dimana dia mengaso dan tidur.

Setelah makan buah-buahan yang dia simpan di dalam gua itu, Kwan Cu mulai mendekati peti besi dan setelah diperiksanya keadaan di luarnya sambil membersihkan tanah yang melengket di situ, dia tidak mendapatkan sesuatu tulisan. Lalu dia membuka tutup peti besi itu dengan amat hati-hati. Hampir saja dia bersorak girang ketika melihat betapa isi peti itu memang sebuah kitab yang sudah kuning. Jelas kelihatan bahwa ktiab itu terbuat daripada sutera putih yang sudah menguning saking tuanya dan seakan-akan apabila dipegang, kitab itu akan hancur menjadi debu! Dengan kedua tangan gemetar, Kwan Cu mengulurkan tangan hendak mengambil kitab itu, akan tetapi tiba-tiba mukanya menjadi pucat dan dia menarik kembali tangannya. Keringat dingin membasahi jidatnya, karena dia teringat akan kehebatan kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng yang palsu. Baru kitab palsu itu saja oleh Panglima An Lu Shan telah dipasangi racun yang amat berbahaya sehingga menewaskan seorang tokoh yang berilmu tinggi seperti Hek-mo-ong! Apalagi kitab ini kalau benar-benar kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng, tentulah yang aselinya! Siapa tahu kalau-kalau penyimpannya, yakni Liu Pang, juga mempergunakan akal seperti yang telah di lakukan oleh An Lu Shan? Kwan Cu mengeluarkan sulingnya dan beberapa kali dia menggosok-gosokkan sulingnya itu di atas kitab tua itu.

Akan tetapi tidak terjadi sesuatu pada suling itu dan legalah hati Kwan Cu. Ia sudah yakin bahwa kitab itu tidak dipasangi racun jahat, namun ketika dia menjamah dan mengeluarkan kitab itu dari peti, tetap saja kedua tangannya gemetar dan wajahnya tegang sekali. Siapa orangnya yang takkan merasa seperti itu apabila mendapatkan kitab yang diinginkan oleh seluruh tokoh besar di daratan Tiongkok? Kwan Cu harus berlaku hati-hati. Kitab itu sudah tua sekali dan lembaran-lembarannya yang terbuat daripada sutera itu sudah lapuk. Maka dia meletakkan kitab itu di dalam peti lagi dan hanya berusaha membuka halaman pertama, karena pada kulit muka tidak terdapat tulisan apaapa.

Setelah halaman pertama dibuka, dia melihat hurufhuruf kuno yang sudah amat dikenalnya, yakni huruf-huruf yang dipergunakan pula untuk menuliskan Im-yang Bu-tek Cin-keng yang palsu dan yang Gui-siucai telah mengerjakannya sampai hafal betul. Dan huruf-huruf ini juga berbunyi: IM-YANG BU-TEK CIN-KENG! Tak terasa lagi dua titik air mata meloncat keluar dan membasahi pipi Kwan Cu. Inilah kitab rahasia Im-yang Butek Cin-keng yang aseli!! Dapat kita bayangkan betapa girang dan terharunya hati Kwan Cu setelah dia mendapat kenyataan bahwa kitab kuno yang dia dapatkan di atas pulau ini betul-betul adalah kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng yang aseli. Kitab itu diperebutkan oleh tokoh-tokoh besar di dunia kang-ouw, bahkan dicari-cari oleh pembesar. Dia sendiri semenjak dahulu telah merindukan kitab ini, telah ditempuhnya jalan yang amat jauh dan berbahaya. Sekarang, secara kebetulan sekali kitab itu telah berada di tangannya! Sampai lama sekali Kwan Cu menjatuhkan diri berlutut, bibirnya bergerak-gerak. Ia menghaturkan terima kasihnya kepada Thian Yang Maha Kasih, kepada arwah Gui-siucai yang telah membuka rahasia kitab itu kepadanya.

Kemudian dengan amat hati-hati dia mulai mempelajari isi kitab.

Ia harus berlaku hati-hati sekali karena sutera yang tertulis dengan huruf kuno itu sudah amat tua. Baru di buka lembar pertama saja, bagian pinggir yang tersentuh tangannya menjadi hancur! Bukan itu saja, bahkan bagian tengah lembaran itu yang bergerak ketika dia buka telah menjadi robek-robek. Maka dia mengambil keputusan untuk mempelajari selembar demi selembar, sama sekali tidak berani membuka lembar berikutnya kalau lembar yang dibuka itu belum dihafalnya benar-benar. Juga dia berlaku amat sopan dan menghormat isi kitab itu yang dianggapnya sebagai kitab suci, untuk menghormat manusia sakti yang menciptanya. Tiap kali hendak membaca kitab itu, dia terlebih dulu berlutut sebagai pernghormatan, dan menjelang malam hari, dia berlutut lagi menghaturkan terima kasih atas segala pelajaran yang telah diterimanya pada hari itu. Hal ini dia lakukan setiap hari! Pelajaran yang dia dapatkan dari lembaran-lembaran pertama adalah uraian tentang tenaga yang menggerakkan seluruh dunia, yakni tenaga Im dan Yang (Positive dan Negative) . Tentang dua tenaga yang bertentangan namun yang apabila bersatu mendatangkan kekuatan dan daya penggerak di seluruh permukaan bumi ini. Ia mendapat uraian yang amat jelas dan terperinci, disertai contohcontoh.

Kemudian, pada lembar-lembar berikutnya, diterangkan dengan seluasnya tentang unsur tenaga alam yang terdiri dari ngo-heng (lima zat).

Kitab itu bukanlah kitab biasa dan untuk mempelajari isinya dibutuhkan kecerdikan yang luar biasa dan bakat yang amat besar. Kwan Cu mengerahkan seluruh tenaga otaknya dan mencurahkan seluruh perhatiannya. Tidak satu pun dilewatkannya, tidak sebaris pun kalimat dialpakannya.

Semua dia telan bulat-bulat dan diolah di dalam otaknya yang memang cerdik.

Baiknya dia berlaku hati-hati, karena ternyata kemudian olehnya betapa setiap kali dia membalikkan lembar berikutnya, lembar yang terdahulu tergencet dan menjadi hancur! Jelasnya, setiap lembar yang sudah dipelajarinya takkan mungkin dibacanya kembali karena sudah rusak.

Orang lain takkan dapat membaca kitab itu setelah dia membaca habis, karena kitab itu akan merupakan kitab rusak yang hampir menjadi debu.

Pelajaran-pelajaran berikutnya merupakan uraian-uraian tentang cara mempergunakan tenaga-tenaga Im dan Yang di dalam tubuh sehingga hawa di dalam tubuh yang merupakan tenaga tersembunyi dapat dikuasai dengan baik.

Terdapat pula pelajaran tentang samadhi dan mengatur pernapasan, tentang cara mengugah panca indera di dalam batin sehingga panca indera di tubuh menjadi kuat dan tajam. Semua pelajaran ini di sertai penjelasan-penjelasan terperinci tentang sebab-sebab dan akibatnya, sehingga amat jelas bagi Kwan Cu. Pernah dia menerima latihan samadhi dan pengerahan tenaga lweekang dari Ang-bin Sin-kai, akan tetapi pelajaran itu hanya merupakan pelajaran yang sudah mati, yang dilakukannya sebagai tiruan atau jiplakan belaka. Sekarang baru dia mengerti mengapa segala macam tenaga yang tersembunyi di dalam tubuh itu dapat timbul.

Sampai setahun lebih Kwan Cu jarang sekali keluar dari dalam guanya kalau tidak sangat lapar perutnya. Jarang pula dia tidur kalau tidak sudah amat mengantuk tak tertahankan lagi matanya. Tubuhnya menjadi kurus kering dan matanya cekung. Setelah makan waktu setahun lebih, barulah selesai bagian melatih samadhi dan pernapasan yang selain dipelajari teorinya, juga dipraktekkan setiap saat.

Kemudian mulailah kitab itu mengurai tentang ilmu silat! Bukan main hebatnya. Di situ dibentangkan tentang ilmu-silat-ilmu silat yang sudah ada dan dimiliki manusia, ilmu silat-ilmu silat tinggi yang dibuat partai-partai persilatan menjadi termasyhur, seperti ilmu silat dari Go-bipai, Kun-lun-pai, Hoa-san-pai, Bu-tong-pai dan lain-lain.

Akan tetapi, yang diajarkan di situ hanya rahasia pokok dan dasar dari semua ilmu silat itu. Ternyata pula bahwa lukisan-lukisan di dinding gua-gua dan terowongan itu adalah ilmu-ilmu silat dari berbagai cabang persilatan ini, memperlihatkan perbedaan-perbedaan yang ternyata hanya pada variasi dan kembangan belaka. Adapun pada dasarnya semua gerakan ilmu silat adalah serupa dan berasal dari satu sumber! Untuk memperdalam pengertiannya, Kwan Cu meneliti semua lukisan di dinding gua-gua dan terowonganterowongan itu, mempelajarinya dengan penuh perhatian.

Setelah dia mulai dapat menangkap apa yang disebut pokok dasar gerakan ilmu silat tinggi, matanya terbuka dan amat mudahlah baginya untuk mempelajari ilmu-ilmu silat itu. Ia mempraktekkannya dengan melatih diri, meniru semua gerakan ilmu silat dari berbagai cabang itu dan alangkah girangnya ketika dia dapat mainkan ilmu silat-ilmu silat itu dengan amat mudahnya! Tanpa disadarinya, dia telah maju sekali dalam gerakan yang terdorong oleh tingginya tenaga lweekang dan khikang, serta tanpa terasa latihan napas telah membuat ginkangnya istimewa sekali.

Pada suatu hari, selagi dia melatih seorang diri di dekat pantai laut pulau kosong yang berpohon putih itu, tiba-tiba dia mendengar suara gaduh seperti dahulu pernah didengarnya ketika dia mula-mula naik naik perahu melintasi lautan ganjil itu. Ia tidak mempedulikan suara ini dan terus saja berlatih silat berganti-ganti gerakan dan dia mainkan pelbagai ilmu silat tinggi dari Kun-lun-pai dan Butong- pai. Tiba-tiba datang angin bertiup keras sekali, dibarengi suara mendesis hebat dan air laut di tepi pantai bergelombang seakan-akan Hai-liong-ong (Raja Naga Laut) sendiri hendak keluar dari dasar laut! Namun, Kwan Cu seperti tidak mendengar semua ini dan tidak merasai sambaran angin pohon yang demikian hebatnya, yang membuat pohon-pohon besar di pulau itu menjadi doyong. Orang biasa saja apabila kebetulan berada di situ, pasti akan melayang terbawa angin badai yang luar biasa kuatnya. Akan tetapi, Kwan Cu tetap bersilat dengan penuh semangat, sama sekali tidak merasa betapa pakaiannya sedikit demi sedikit mulai meninggalkan tubuhnya karena terbawa oleh angin dan saking kerasnya angin, pakaiannya itu mulai robek-robek dan melayang entah kemana perginya.

Tanpa di ketahui oleh Kwan Cu, air laut mulai naik ke gelombang besar membuat air makin mendekati tempat dia bermain silat! Akhirnya setelah air menyentuh kakinya, barulah pemuda ini terkejut, seakan-akan air itu menyerangnya. Otomatis dia melompat untuk mengelak dan otomatis pula dia menendang ke arah air. Air itu muncrat dan terpental saking kerasnya tenaga tendangannya. Pemuda itu kini melihat ombak besar mendarat di pantai. Makin gembiralah hati Kwan Cu.

Seperti Ang-bin Sin-kai gurunya yang suka bercanda dengan laut, dia kini menghadapi ombak, bahkan dia menerjang maju melawan ombak! Hebat sekali pemuda ini.

Setiap kali ombak besar menyerangnya, bukan dia terdorong roboh, bahkan air yang terdampar kepadanya dan yang dipukul atau ditendangnya, menjadi buyar! Akan tetapi, makin lama makin hebatlah air menaik sehingga terpaksa Kwan Cu main mundur, terdesak oleh air yang makin lama makin dalam, siap untuk menelan tubuhnya. Pula, baru sekarang dia merasa betapa tubuhnya sudah setengah telanjang, karena pakaiannya telah robek sana sini dan ujungnya sudah hilang semua entah terbang kemana! Angin bertiup makin keras dan ketika dia memandang ke arah laut, Kwan Cu membelalakkan matamya. Laut menjadi demikian buas, dan airnya berombak-ombak tinggi disertai uap yang hitam menggelapkan langit di atas laut.

Mulai takutlah hati Kwan Cu menghadapi kekuasaan alam yang luar biasa ini. Air kini naik makin tinggi seakanakan hendak menelan pulau itu. Kwan Cu melompatlompat mundur dan tiba-tiba dia terkejut setengah mati ketika tanah yang diinjaknya bergoyang-goyang, miring ke sana ke mari seakan-akan pulau itu berubah menjadi sebuah perahu yang mengambang!

"Aduh, akan kiamatkah dunia?" serunya kaget dan dia lalu berlari-lari ke guanya. Dalam berlari ini, beberapa kali dia terhuyung-huyung dan tentu dia sudah jatuh kalau saja ginkangnya tidak luar biasa baiknya. Sambil melompat ke kanan kiri mengimbangi goyangan tanah yang makin menghebat, akhirnya bisa juga dia sampai di dalam guanya.

Ia melihat betapa semua pohon bergoyang-goyang dan daun-daun putih rontok, namun tidak sebatang pun tumbang. Ia tahu bahwa akar-akar pohon berdaun putih itu banyak dan amat dalam, maka tidak mengherankan apabila pohon-pohon itu demikian kuat menghadapi serangan angin yang demikian dahsyatnya.

Sampai sehari semalam Kwan Cu berdiam di dalam guanya, serasa mabuk dan beberapa kali dia mau muntahTiraikasih Website http://kangzusi.com/ muntah, baiknya dia cepat mengerahkan hawa di dalam tubuhnya untuk menekan perut sehingga isi perutnya tidak terlalu tergoyang oleh "gempa bumi" yang tiada habisnya itu seakan-akan pulau akan meletus setiap saat! Gua itu sendiri dindingnya sampai retak-retak, sehingga pemuda itu khawatir kalau-kalau gambar-gambar di dinding itu akan rusak dan pelajarannya terhalang karenanya. Demikian besar perhatian Kwan Cu terhadap pelajarannya sehingga dalam keadaan sehebat itu, dia sama sekali tidak mengkhawatirkan keselamatan dirinya, sebaliknya mengkhawatirkan kalau-kalau pelajarannya akan terhalang atau tertunda.

Akhirnya gempa bumi itu reda dan suara ombak yang bergemuruh juga melenyap. Air tadinya telah sampai di kaki gua di mana Kwan Cu berlindung, hal ini amat mengejutkan hati Kwan Cu karena kejadian ini berarti bahwa air laut telah naik tinggi sekali.

Matahari bersinar kembali, tanah di mana dia berada tidak goyang lagi. Kwan Cu segera keluar setelah menaruh peti kitab dan buntalan pakaiannya yang semenjak kemarin dia peluk saja, terutama peti kitab itu. Ia melihat bekasbekas air laut di mana-mana basah belaka. Akan tetapi, tak sebatang pun pohon tumbang, hal ini membanggakan hati pemuda ini. Alangkah kuatnya pohon berdaun putih. Aku harus menjadi seorang manusia sekuat dia! Tidak tumbang oleh gelombang hidup yang betapa berat sekalipun.

Akan tetapi, ketika dia tiba di pantai, dia melihat perahunya telah lenyap. Bukan itu saja, bahkan pulau-pulau kecil yang tadinya dia lihat banyak sekali berada di kanan kiri pulaunya, kini telah berubah arahnya. Ia menengok ke sana ke mari dan alangkah terkejutnya bahwa guanya sekarang juga berubah letaknya. Biasanya, matahari terbit menghadapi guanya, berarti bahwa guanya menghadap ke timur, akan tetapi sekarang, matahari terbit dari belakang gua. Hal ini hanya mempunyai satu arti, yaitu bahwa guanya itu telah berubah letaknya, kini menghadap ke barat! Ataukah matahari yang sekarang muncul dari barat dan tenggelam di timur? Tak boleh jadi, pikirnya. Ia lalu teringat akan goncangan-goncangan pada pulaunya, maka berdebarlah hatinya. Apakah tidak bisa jadi kalau pulaunya itu yang "pindah"? Pulaunya hanyut terbawa ombak yang mengamuk? Dugaan Kwan Cu yang tidak dipercayanya sendiri itu sesungguhnya tepat. Memang pulaunya itu telah hanyut! Pulau ini terlepas dari dasar laut, dan hanya karena pohonpohon berdun putih itu akarnya sampai dalam sekali, berpuluh meter panjangnya, yang menolong pulau itu dari kebinasaannya. Dengan pohon-pohon yang masih tegak di atas pulau, maka tanah pulau itu pun tidak dapat pecahpecah dan masih merupakan pulau atau "perahu besar" dari tanah dan pohon dan dengan kuatnya dapat melawan badai, seungguhpun terpaksa harus pindah tempat karena dorongan ombak yang kuat sekali. Dan bukan baru satu kali itu saja pulau itu berpindah tempat, sudah berkali-kali apabila datang taufan hebat mengamuk seperti tadi.

Sesungguhnya karena keistimewaan pulau ini belaka yang membuat Liu Pang menyembunyikan Im-yang Bu-tek Cinkeng di pulau itu. Calon kaisar ini maklum bahwa hanya di atas pulau itu saja maka kitab rahasia ini dapat disimpan dengan sentosa.

Ketika Kwan Cu memperhatikan pulau-pulau di sekitarnya, dia menjadi berdebar tegang. Pulau-pulau itu sekarang kelihatan gundul dan bersih, dan jumlahnya jauh berkurang dari semula, seakan-akan banyak di antaranya telah lenyap ditelan ombak. Segera ingatannya melayang kepada para raksasa, Lakayong dan puterinya Liyani, teringat pula pada Malita dan Malika dan bangsa katai itu.

Bagaimana dengan nasib mereka? Karena perahunya telah lenyap, Kwan Cu segera merobohkan sebatang pohon berdaun putih yang dia tahu amat kuat batangnya, membuangi cabang-cabang dan ranting-ranting serta daun-daunnya, lalu mempergunakan batang pohon itu sebagai perahu! Kepandaiannya telah meningkat amat tinggi dan dengan berdiri di atas batang pohon itu yang mengambang di permukaan air, dia dapat mempergunakan cabang pohon sebagai dayung dan mendayung cepat sekali sambil berdiri! Mula-mula dia mencari pulau tempat tinggal bangsa katai, dan setelah dia berkeliling dengan bingung karena kedudukan pulaunya telah berubah, akhirnya dia mendapatkan pulau bangsa katai itu. Ia mendarat dengan dada berdebar tegang dan tenggorokan seakan-akan tersumbat sesuatu dan kedua mata pedas menahan jatuhnya air mata, Kwan Cu melihat betapa pulau itu telah musnah sana sekali. Bangunanbangunan kecil hancur dan hanya tinggal bekas-bekasnya saja, semua tersapu bersih oleh air yang mengamuk. Kwan Cu memeriksa semua pulau dan hatinya makin terharu karena tidak seorangpun manusia katai selamat. Agaknya semua telah hanyut oleh air dan sudah jelas nasib mereka, pasti semua terendam ke dasar laut atau ke dalam perutperut ikan-ikan besar. Akan tetapi ketika dia melongok ke dalam sebuah gua, tiba-tiba dia melihat pemandangan yang membuat air matanya tercucur keluar. Di dalam gua itu dia melihat Malita dan Malika, dua orang puteri katai kakak beradik itu saling peluk, dengan tubuh mereka terikat pada batu karang yang kuat, dalam keadaan sudah tak bernyawa lagi! Agaknya mereka dalam serangan ombak yang menenggelamkan pulau, telah berdaya untuk menolong diri dengan mengikatkan diri sendiri pada batu karang dan saling berpelukan, akan tetapi mereka tewas karena tenggelam di dalam air yang menaik tinggi sampai menutupi semua pulau itu!

"Malita……… Malika……. kasihan kalian ….." kata Kwan Cu yang segera melepaskan tubuh mereka dari ikatan. Tubuh kedua orang gadis katai itu tidak kaku, akan tetapi sudah dingin sekali. Tiba-tiba dia mendengar suara burung mayat yang beterbangan di pantai sebelah selatan.

"Tentu di sana terdapat korban lain," pikirnya. Ia lalu berlari menuju ke pantai itu dengan maksud mengumpulkan korban-korban untuk dikubur bersama.

Akan tetapi alangkah terkejutnya ketika dari jauh dia melihat tubuh seorang raksasa terbujur di pantai! Dan ketika dia berlari cepat tiba di tempat itu, dia terbelalak memandang kepada jenazah seorang wanita raksasa yang bukan lain adalah Liyani!

"Liyani……!" Kwan Cu cepat melompat dan berlutut untuk memeriksa. Tubuh yang sudah hampir telanjang itu ternyata telah tak bernapas lagi, mati seperti Malita dan Malika. Dengan hati tidak karuan rasa, teringatlah Kwan Cu akan pengalamannya ketika dia berada di pulau raksasa.

Gadis raksasa ini suka kepadanya, dan sekarang, gadis yang baik hati ini telah tewas dalam keadaan yang amat memilukan hati.

"Liyani…… agaknya kau dan bangsamu juga musnah oleh amukan laut mengganas……!" Kwan Cu segera memondong tubuh Liyani yang tinggi besar itu tanpa sukar, karena semenjak mempelajari kitab Im-yang Bu-tek CinTiraikasih Website http://kangzusi.com/ keng, tenaga pemuda ini sudah meningkat luar biasa sekali.

Lalu dia membawa pulang tiga jenazah itu dengan perahu ke pulaunya.

Ia menggali lubang dalam dan lebar, kemudian menurunkan tiga jenazah yang jauh sekali ukuran tubuhnya itu ke dalam lubang. Sampai lama dia memandang kepada tiga mayat itu. Ia melihat betapa keadaan Malita dan Malika masih cantik, pakaian mereka masih rapi dan rambut mereka masih tergelung indah. Akan tetapi keadaan Liyani amat memilukan hati. Hampir telanjang dan rambutnya terlepas, agaknya sudah lama ombak mempermainkannya sehingga dari pulau raksasa yang begitu jauh dia terdampar ke pulau bangsa katai.

Kwan Cu teringat akan tusuk konde yang dahulu dia terima dari Liyani, maka cepat dia berlari ke dalam guanya, mengambil tusuk konde itu dari buntalan pakaiannya dan kembali ke dalam lubang kuburan. Dengan hati penuh belas kasihan, dia merapikan rambut Liyani digelungnya baikbaik dan sedapat-dapatnya lalu di pasangnya tusuk konde itu di rambut gadis raksasa ini. Tiga orang gadis yang sudah menjadi mayat itu diletakkan telentang berjajar, Liyani di sebelah kiri. Malita di tengah dan Malika di sebelah kanan.

Ketika dia hendak menutupi lubang itu dengan tanah, hatinya tidak tega, maka dia cepat mengumpulkan daundaun putih yang rontok dan banyak sekali terdapat di pulau itu, dan dengan daun-daun ini dia menutupi tiga jenazah itu sampai tidak kelihatan lagi. Setelah timbunan daun itu cukup tebal, barulah dia menutupnya dengan tanah sampai bergunduk tinggi dan di tanamnya sebatang pohon berdaun putih yang masih kecil di atas gundukan tanah kuburan ini.

Baiknya pulau berpohon putih itu tidak terbinasa oleh taufan dan ombak laut. Kalau terjadi demikian, biarpun andaikata Kwan Cu dapat menyelamatkan diri, dia tentu akan kelaparan pula. Namun ternyata bahwa semua binatang di pulau itu hanya mengalami kekagetan saja, dan mereka sempat menyembunyikan diri ke dalam gua-gua yang banyak terdapat di pulau itu.

Semenjak saat itu, Kwan Cu, lebih prihatin. Kedukaan dan keharuan hatinya melihat dua bangsa manusia yang aneh sekali itu yakni bangsa raksasa dan bangsa katai, termusnah oleh kekuasaan alam, membuat dia makin yakin akan kekuasaan alam yang dalam sekejap mata dapat memusnahkan dua bangsa manusia. Apakah daya manusia terhadap kekuasaan alam? Kurang apakah kehebatan dan kekuatan bangsa raksasa itu? Namun mereka tidak berdaya menghadapi bencana yang dilakukan olah alam maha kuasa. Kurang bagaimana sederhana dan suci kehidupan bangsa katai itu? Mereka jauh lebih mulia dan suci hidupnya apabila dibandingkan dengan manusia biasa, dan kalaupun mereka pernah membuat dosa, agaknya dosa itu tidak sebesar dosa yang biasa di lakukan oleh manusia seperti bangsa Kwan Cu, akan tetapi kalau alam menghendaki, bangsa yang suci ini pun dapat di musnahkan! Kenyataan ini membuat Kwan Cu makin tunduk kepada kekuasaan alam yang berada dalam tangan Thian Yang Maha Kuasa dan Sakti. Apalagi ketika dia makin tekun mempelajari ilmu dari kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng, terbukalah matanya. Kitab ini tidak saja mengajarkan ilmu silat-ilmu silat yang tinggi-tinggi, bahkan memberi pelajaran tentang pokok-pokok dasar semua ilmu silat dan pergerakan tubuh manusia dalam pertempuran, akan tetapi juga berisi filsafat-filsafat kebatinan yang amat tinggi. Filsafat kebatinan ini condong kepada aliran Lo Cu yang menyatakan bahwa makin tinggi kepandaian seseorang makin terbukalah matanya bahwa semua yang di sebut

"kepandaian" itu sebenarnya hanya kosong belaka! Makin terbuka mata orang akan kekuasaan alam, makin terasalah olehnya betapa kecil tak berarti adanya dirinya, betapa menggelikan dan tiada harganya segala macam kepandaian yang dimiliki manusia! Oleh karena itu, makin dalam pengetahuan Kwan Cu, makin lama dia mempelajari ilmu dari kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng, makin sederhana jiwanya dan makin pendiam wataknya. Ia merasa seakan-akan dia bukan sedang mempelajari ilmu kepandaian, melainkan mempelajari ilmu pengertian untuk menemukan diri sendiri dan untuk mengenal sifat-sifat manusia yang ada pada dirinya. Tanpa disadarinya, dia telah mendapatkan ilmu yang amat tinggi, mendapatkan dasar-dasar dari segala pergerakan ilmu silat yang kesemuanya harus bersandarkan kepada tenaga Im dan Yang. Namun dengan sadar dia kini melihat betapa semua pengetahuannya adalah kosong belaka dan membuat dia tidak berani menyombongkan kepandaian, karena segala kepandaian manusia dipelajari dari otak, sedangkan siapakah penggerak otak manusia? Kalau Yang Maha Kuasa mencabut tenaga dan kegunaan otak, habislah semua yang dianggap oleh manusia sebagai "kepintaran" itu! Bahkan lebih hebat lagi kalau Yang Maha Kuasa menghendaki napas yang keluar masuk tanpa disengaja oleh manusia, akan lenyaplah ujud yang disebut manusia! Apakah mahluk yang begini lemah, yang mengandalkan hidup dan keadaannya dari pengaruh alam, patut menyombongkan diri dan menganggap diri sendiri pandai? Menggelikan sekali! Sang waktu lewat cepat sekali tanpa terasa oleh manusia.

Setiap lembar dari kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng, dipelajari oleh Kwan Cu sedikitnya seminggu berikut prakteknya dan dua tahun kemudian, tamatlah buku ini di pelajarinya.

Itu pun baru merupakan setengah daripada kitab Imyang Bu-tek Cin-keng, yakni bagian latihan tenaga lweekang dan bagian ilmu silat saja, karena ketika dia menamatkan bagian ilmu silat dan hendak mulai membuka lembaran atau bagian ilmu perang, ternyata bahwa bagian ini telah lengket menjadi satu dan kalau dipaksa dibuka, lembaran-lembaran itu akan hancur! Di bagian paling bawah terdapat lembaran tentang ilmu pengobatan, juga halaman-halaman ini tidak dapat dibuka.

Namun, setelah menamatkan bagian ilmu silat, Kwan Cu sudah tiada nafsu lagi untuk mempelajari bagian lain.

Untuk apakah bagian segala pengetahuan tentang ilmu perang? Ia benci akan perang yang hanya merupakan penyembelihan antara sesama manusia, lepas daripada persoalan yang menimbulkan perang itu sendiri. Adapun tentang ilmu pengobatan, memang tadinya dia ada hasrat untuk mempelajarinya dan menjadi agak kecewa melihat bagian ini tidak mungkin dibaca.

Akan tetapi pengetahuannya yang mulai mendalam tentang garis-garis hidup membuat dia berpikir bahwa betapapun pandai seseorang mengobati orang sakit, kalau Thian tidak menghendaki, si sakit itu takkan tertolong juga! Sembuh tidaknya seorang penderita penyakit memang tergantung dari pengobatan, hal ini dia percaya sepenuhnya. Namun baginya, mati hidupnya seorang sama sekali bukan tergantung dari pengobatan. Kalau Thian menghendaki nyawa seseorang, biarpun seribu orang dewa datang menolong, orang itu pasti akan mati juga! Karena kini kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng sudah tak dapat dipergunakan lagi, yakni bagian depan setelah dia baca telah menjadi hancur dan robek-robek sedangkan bagian belakang telah lengket-lengket tak dapat dibuka, maka Kwan Cu lalu mengubur kitab itu berikut petinya, di dekat makam tiga orang gadis, yakni Liyani, Malita dan Malika. Juga di atas "kuburan" kitab Im-yang Bu-tek Cinkeng ini dia taruhi tanda batu karang besar. Kemudian dengan telunjuknya dia mencoret-coret batu karang itu dan……. Bukan main hebatnya, ternyata bahwa di atas batu karang yang keras itu telah terdapat tulisan tangan yang amat jelas. Tulisan itu berbunyi seperti berikut:

"Teecu Lu Kwan Cu telah menerima petunjuk dan selamanya teecu akan mentaati semua pelajaran yang teecu terima serta bersumpah untuk mempergunakan segala pelajaran demi kebaikan dan perikemanusiaan."

Kurang lebih sebulan kemudian, nampak pemuda itu membawa buntalannya, menyeret sebuah perahu buatannya sendiri, menuju ke air laut yang tenang. Ia meluncurkan perahu ke air, melompat ke dalam perahu dan memegang dayung, lalu mendayung perahu itu ke tengah samudera.

Tak lama kemudian, dia menghentikan gerakan tangannya yang mendayung perahu, menengok ke arah pulau itu.

Semua kelihatan jelas, bahkan pohon yang tumbuh di atas makam Liyani, Malita dan Malika kini sudah tinggi. Juga batu karang yang ditulisinya itu kelihatan dari perahunya.

Segala pengalaman selama tiga tahun di atas pulau itu terbayanglah. Basah kedua mata Kwan Cu dan dia cepat menyusutkan dengan ujung lengan bajunya yang sudah kumal. Kemudian dia menarik napas panjang dan mendayung perahunya lagi. Tak lama kemudian, dia memasangkan layar yang dibuatnya dari pakaiannya yang di sambung-sambung, dan meluncurlah perahu itu cepat sekali menuju ke utara, ke daratan tanah Tiongkok. Tak seorang pun di daratan Tiongkok tahu bahwa pada saat itu, seorang pemuda yang telah mewarisi kepandaian luar biasa dari kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng, seorang pendekar yang sakti, sedang menuju ke daratan Tiongkok, dan akan terjadilah sejarah baru dalam dunia kang-ouw!

***

Sebaliknya, Kwan Cu yang kini sudah berusia dua puluhan itu sama sekali tidak tahu bahwa selama dia pergi, yakni kurang lebih empat tahun dari daratan Tiongkok, di Tiongkok telah terjadi perubahan besar sekali. Telah terjadi hal-hal yang amat hebat! Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, pada masa itu, Kaisar Kerajaan Tang adalah Kaisar Hian Tiong yang terkenal sebagai seorang yang amat doyan pelesir, mencari kesenangan dan hiburan bagi diri sendiri belaka, sama sekali tidak mempedulikan pemerintahannya, apalagi keadaan rakyatnya. Oleh karena itu, secara sembrono sekali kaisar ini mengangkat An Lu Shan sebagai panglima besar di utara, dan sama sekali dia tidak menaruh dugaan atau kecurigaan terhadap An Lu Shan. Bahkan sampai pada saat An Lu Shan telah membentuk pasukan yang besar dan mempunyai niat memberontak, kaisar ini masih enak-enak saja berpelesiran di istananya yang indah, dikelilingi oleh selir-selirnya yang banyak jumlahnya dan yang rata-rata amat cantik jelita dan muda-muda! Bukan sampai di situ saja kelalaian Kaisar Hian Tiong.

Bahkan ketika An Lu Shan mulai menggerakkan tentaranya ke selatan, kaisar ini masih tinggal enak-enakan saja di dalam istananya.

"Bentuk pasukan, hancurkan pemberontakan bodoh itu, apa sih sukarnya?" katanya acuh tak acuh, seakan-akan yang dihadapinya hanya persoalan kecil belaka.

Para menteri yang jujur dan setia tergopoh-gopoh menghadap kaisar untuk memperingatkan junjungan ini daripada mabuk dan mimpinya, akan tetapi kaisar tetap tinggal enak-enak, bahkan mencaci para menteri itu sebagai pengecut-pengecut besar! Menteri Lu Pin yang dianggap menteri tertua yang paling setia dan disegani oleh kaisar, lalu didatangi oleh para menteri dengan desakan agar Menteri Lu Pin suka memberi peringatan kepada kaisar.

Menteri Lu Pin lalu menghadap kaisar dan diterima oleh Kaisar Hian Tiong dengan ucapan menyindir.

"Apakah kau yang terkenal sebagai menteri jujur, setia dan keturunan panglima gagah perkasa, juga berhati pengecut seperti mereka itu dan hendak menakut-nakuti aku?"

Merahlah wajah Lu Pin mendengar sabda kaisar ini. Ia memberi hormat dengan berlutut sambil berkata,

"Harap Sri Baginda sadar dari keadaan Sri Baginda yang tidak sewajarnya ini. Sesungguhnya para perdana menteri dan panglima itu memberi nasihat amat baik kepada Paduka. Demikianpun hamba datang menghadap ini bukan karena hamba berhati pengecut, melainkan karena hamba melihat datangnya bahaya besar yang mengancam keselamatan negara kita. Sadarlah Paduka dari mimpi, keadaan kita benar-benar terancam bahaya besar dan tentara An Lu Shan si pemberontak jahat itu telah menyerang makin jauh ke selatan."

Marah sekali Kaisar Hian Tiong mendengar ini. Ia menggebrak meja dan menudingkan jari tangannya ke arah pintu,

"Pergi! Pergilah! Hendak kulihat sampai di mana kebisaan An Lu Shan! Mustahil kalau para barisan penjaga kita dapat dia bobolkan!"

Dengan hati terpukul, Menteri Lu Pin keluar dari ruangan itu dan menuturkan kepada para menteri lainnya atas kegagalannya dengan suara penuh kekecewaan dan kedukaan. Tidak senanglah hati para menteri itu ketika mendengar bahwa kaisar tetap saja tenggelam dalam mimpi buruk. Keadaan sudah amat berbahaya dan kalau para pemberontak sampai berhasil memasuki kota raja, tentu mereka sekeluarga sekarang takkan selamat pula.

Hal ini yang melemahkan semangat mereka. Ketika para mata-mata An Lu Shan datang menghubungi mereka, sebagian besar para menteri ini lalu menerima uluran tangan para pemberontak. Demi keselamatan seluruh keluarga dan harta benda serta kedudukan mereka, para menteri ini tidak segan-segan untuk berkhianat dan memihak pemberontak. Diam-diam mereka memberi kesanggupan kepada An Lu Shan bahwa apabila tentara pemberontak itu memasuki kota raja, mereka diam-diam akan mengadakan bantuan dari dalam agar pembobolan benteng kota raja dipermudah! Menteri Lu Pin dapat membuka rahasia mereka ini.

Dengan hati amat berang, menteri yang setia ini lalu menghadap kaisar dan membeberkan semua rahasia para menteri yang berkhianat. Marahlah kaisar dan baru kaisar sadar akan keadaan yang memang amat berbahaya. Segera dia memeritahkan pasukan pengawal untuk menangkapnangkapi para menteri dorna itu dan menghukum penggal kepala sekeluarga mereka! Setelah melakukan hal ini, kaisar lalu menggerakkan barisan untuk mempertahankan kerajaan. Akan tetapi, hal ini benar-benar merupakan pengobatan yang amat terlambat bagi penyakit yang berat.

Dengan di hukumnya para menteri, keadaan menjadi makin kalut dan lemah. Kalau saja Kaisar Hian Tiong dari dahulu sadar pada waktu para menteri itu belum memiliki hati khianat, agaknya keadaan masih dapat diharapkan akan tertolong.

Terlambatlah semua usaha kaisar ini. Barisan pemberontak An Lu Shan telah menerobos dan memasuki kota raja! Pertahanan kaisar hancur luluh! Dalam kekacuan yang menghebat ini, Menteri Lu Pin menjadi tujuan pertama dari An Lu Shan. Tentu saja An Lu Shan telah mendengar bahwa Menteri Lu Pin yang menggagalkan rencananya menghubungi para menteri, dan bahwa Menteri Lu Pin yang membuka rahasia para menteri pengikutnya sehingga para menteri dorna itu sekeluarga di jatuhi hukuman mati oleh kaisar. Maka begitu memasuki kota raja, An Lu Shan memerintahkan semua anak buahnya untuk pertama-tama mencari Menteri Lu Pin dan membunuh serta membasmi seluruh keluarganya! Akan tetapi, atas desakan keluarganya, Manteri Lu Pin siang-siang telah melarikan diri, mengungsi dikawal oleh pasukan panglima yang setia. Diam-diam Menteri Lu Pin mengumpulkan harta benda sepeti besar dari istana, bukan dengan niat hendak mempergunakan harta benda itu untuk dirinya sendiri, melainkan dia bercita-cita besar hendak melarikan harta benda itu agar jangan terjatuh ke dalam tangan pemberontak serta kelak dapat dia pergunakan untuk membiayai pasukan yang akan dipimpinnya untuk memukul mundur para pemberontak itu! Kota raja diduduki, dan sungguh malang nasib keluarga Menteri Lu pin. Semua keluarga, dari yang tua sampai anak bayi, dikumpulkan dan dibakar hidup-hidup oleh An Lu Shan! Bahkan Lu Seng Hok, puteri Lu Pin atau ayah dari Lu Thong sekeluarganya juga dibasmi dalam pembersihan ini, tidak terkecuali para bujang pelayan! Hanya Lu Thong seorang yang dibawa pergi Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu, yakni gurunya, yang tidak ikut jadi korban.

Lu Pin mendengar tentang berita ini dan di sepanjang jalan, kakek ini menangis keras, bukan semata menyedihi kebinasaan seluruh keluarganya. Kakek ini memang berjiwa patriot dan amat setia kepada pemerintah, maka sambil menangis dan dia bersembahyang dan bersumpah bahwa dia akan menuntut balas kepada pemberontak An Lu Shan! Melihat kesetiaan ini, tiga orang panglima besar yang mengawalnya bersama pasukan kecil, ikut pula menangis.

Akan tetapi, An Lu Shan ternyata bukan orang bodoh dan sebentar saja dia telah mendengar kemana larinya Menteri Lu Pin yang dibencinya itu. Segera dia mengirim pasukan besar untuk melakukan pengejaran kepada Lu Pin dan rombongannya! Tiga hari kemudian, benar saja pasukan gerak cepat ini berhasil menyusul rombongan Menteri Lu Pin.

Pertempuran hebat terjadilah. Pasukan pengawal Menteri Lu Pin melakukan perlawanan mati-matian, namun jumlah pasukan pengejar jauh lebih besar sehingga banyak di antara mereka roboh. Akhirnya hanya tiga orang panglima besar itu saja yang masih sempat menggendong Menteri Lu Pin dan membawa peti harta dan melarikan diri. Namun tentu saja para pengejar yang sudah mendengar bahwa menteri tua itu membawa sepeti harta benda yang tak ternilai harganya, melakukan pengejaran cepat sekali. Tiga orang panglima ini memiliki kepandaian tinggi, maka mereka berhasil membawa pergi Menteri Lu Pin. Namun, kalau mereka sampai tersusul, menghadapi pengeroyokan yang demikian banyaknya, mana mereka mampu mempertahankan diri? Sehari semalam mereka telah melarikan diri, terus dikejar oleh barisan pemberontak. Akhirnya, pada esok paginya, ketika mereka tiba di daerah pegunungan yang amat liar, kuda-kuda yang ditunggangi oleh tiga orang panglima yang membawa lari Menteri Lu Pin, roboh dan tewas saking lelahnya. Padahal para pengejar sudah dekat dan suara teriakan mereka telah terdengar riuh rendah.

"Kita terpaksa melawan mati-matian!" berkata tiga orang panglima yang gagah berani itu.

Menteri Lu Pin mengalirkan air mata. "Sudah terlalu banyak orang menjadi korban karena aku seorang, padahal bukan maksudku untuk menyelamatkan badan yang sudah tua dan tidak berharga ini. Sam-wi Ciangkun (Tiga Panglima), harap Sam-wi membawa pergi harta ini dan usahakanlah agar supaya dapat dibentuk pasukan baru guna menumpas penjahat An Lu Shan dan membalaskan sakit hati kerajaan kita. Biarkan aku mereka tangkap, aku tidak takut mati."

Namun tiga orang panglima itu menolak. "Harta benda ini tiada artinya bagi kami bertiga. Tanpa adanya Taijin yang bijaksana untuk mengatur, bagaimana dapat dibentuk pasukan besar? Tidak, Taijin, kalau sudah semestinya kita mati, biarlah kita mati bersama di tempat ini! Namun kami berjanji bahwa penjahat-penjahat itu takkan mudah begitu saja untuk merenggut nyawa kita!" Sambil berkata demikian, tiga orang panglima itu mencabut golok besar mereka dan menanti dengan penuh semangat.

Maka datanglah para pengejar itu dan mereka menyerbu bagaikan taufan mengamuk! Tiga orang panglima perang itu menjaga Menteri Lu Pin yang berdiri di tengah-tengah.

Mereka merupakan benteng segitiga yang amat kuat dan para pemberontak yang terdekat, segera terjungkal mandi darah terlanggar golok mereka yang tajam dan kuat. Hebat sekali perang tanding yang tidak seimbang ini. Datangnya pemberontak seperti semut dan tak lama kemudian, tiga orang panglima itu sudah lelah sekali. Mereka mulai menerima bacokan yang mendatangkan luka, namun mereka tetap mengamuk bagaikan banteng-banteng terluka! Pada saat yang amat berbahaya bagi Menteri Lu Pin dan tiga orang pengawalnya, tiba-tiba terdengar teriakanteriakan kaget dan kacau-balaulah kepungan para pemberontak. Tak lama kemudian, nampaklah tubuh para pemberontak terpental dan terlempar ke sana ke mari, seakan-akan ada seorang raksasa kuat yang menangkapnangkapi dan melempar-lemparkan tubuh mereka.

Ketika Menteri Lu Pin memandang, dia menjadi amat terharu melihat bahwa yang mengamuk dan memaki-maki para pemberontak itu bukan lain adalah Lu Sin atau Angbin Sin-kai kakaknya sendiri!

"Anjing-anjing pemberontak yang busuk! Kalian berani menganggu adikku yang tercinta?" berkali-kali Ang-bin Sinkai memaki dan setiap kali tangannya diulur, tentu dua tiga orang pemberontak ditangkapnya dan dilemparkannya sampai jauh. Adapula yang ditendang bagaikan seorang menendang bal karet saja. Tubuh para pemberontak terapung dan jatuh dengan kepala pecah atau tulang patah.

Keadaan amat kacau-balau dan para pemberontak menjadi gentar dan ngeri melihat sepak terjang Ang-bin Sin-kai yang saat itu kelihatan amat menyeramkan. Kakek pengemis itu yang biasanya bermuka merah, kini menjadi makin merah mukanya, kedua matanya bersinar-sinar, rambutnya terurai dan jenggotnya melambai-lambai dalam gerakannya yang kuat dan cepat, pakaiannya robek sana-sini.

Dua orang perwira pemberontak ketika melihat kakek pengemis ini, menjadi amat penasaran. Kakek pengemis itu kurus dan tua, bertangan kosong pula, masa tidak dapat merobohkannya? Mereka melompat turun dari atas kuda dan dengan pedang di tangan, kedua orang perwira itu menyerang Ang-bin Sin-kai yang masih saja mengamuk dan melempar-lemparkan para pemberontak yang berada di hadapannya. Ketika dua pedang dari kanan kiri itu menyambar dekat, tiba-tiba dia membuat gerakan seperti seekor burung garuda hendak terbang kedua lengannya di pentang ke kanan kiri dan sungguh hebat, tahu-tahu dia telah dapat mencekik batang leher kedua perwira pemberontak itu, dan pedang mereka terpental ketika beradu dengan jari-jari tangan kakek ini. Ang-bin Sin-kai maklum bahwa untuk mengundurkan para pemberontak, dia harus menjatuhkan pimpinan mereka, maka ketika dia melihat bahwa yang terpegang oleh kedua tangannya adalah perwira-perwira pemberontak, tanpa ragu-ragu lagi dia lalu membenturkan kepala mereka satu kepada yang lain! Terdengar suara keras dan Ang-bin Sin-kai melemparkan kedua tubuh perwira pemberontak yang kepalanya sudah pecah itu ke atas sampai tinggi.

"Lihat pemimpin-pemimpinmu ini, hai anjing-anjing pemberontak! Siapa berani mati hendak mengukur tenaga dengan Ang-bin Sin-kai, boleh lekas maju!"

Suara ini dikeluarkan dengan keras dan menyeramkan.

Tentu saja para pemberontak menjadi makin ketakutan ketika melihat bahwa dua orang pimpinan mereka sudah tewas. Apalagi ketika mereka mendengar nama Ang-bin Sin-kai yang sudah amat terkenal, tanpa pikir panjang lagi mereka lalu melarikan diri. Suara derap kaki kuda menjauh dan tak lama kemudian tempat itu menjadi sunyi, kecuali suara keluhan para anggauta pemberontak yang tergeletak di sana-sini.

Tiga orang panglima pengawal Menteri Lu Pin menjadi kagum sekali, mereka lalu memandang kepada Ang-bin Sinkai dan menjura sebagai tanda terima kasih. Namun Angbin Sin-kai tidak memperhatikan mereka, melainkan datang mengehampiri Menteri Lu Pin dan tersenyum pahit dan berkata,

"Inilah jadinya kalau kau membantu kaisar lalim!"

Menteri Lu Pin sejak tadi telah basah matanya, mendengar ucapan ini, dia mengedikkan kepala dan berkata keras,

"Twako, aku bukan berjuang untuk kaisar, melainkan untuk tanah air dan bangsa! An Lu Shan telah berkhianat dan merusak negara, semua bukan semata kesalahan kaisar, namun para petugas juga mempunyai bagian dalam kesalahan itu. Aku bersumpah hendak membalas dendam kepada An Lu Shan, aku sengaja pergi membawa harta benda di dalam peti ini untuk membentuk pasukan baru agar dapat mengusir penjajah khianat itu dari kota raja!"

"Adik Pin, suaramu seperti harimau ompong tak berkuku yang meraung-raung! Kau yang begini lemah bagaimana bisa mengusir An Lu Shan dengan pasukannya yang dibantu oleh orang-orang pandai?" kata Ang-bin Sinkai.

"Kita sama lihat saja nanti!" jawab Menteri Lu Pin gagah. "Biarpun aku seorang lemah, seorang seniman bodoh, namun semangatku masih, Sin-ko. Soal orang-orang pandai, ada kau di sini, takut apakah?"

Melihat sikap adiknya, Ang-bin Sin-kai menjadi terharu sekali.

"Orang bodoh, kau kira aku tidak tahu akan semua yang terjadi? Aku amat kagum kepadamu, Adikku. Kau patut menjadi teladan semua pembesar dan pemimpin rakyat.

Kau tidak tahu bahwa semenjak kau keluar dari kota raa, aku selalu mengikuti kau secara diam-diam. Aku telah mendengar pula tentang nasib keluargamu. Ah, adikku yang gagah, kau menderita demikian hebat akan tetapi masih bersemangat membela negara, sungguh aku pengemis hina-dina merasa bangga dan juga malu kepada diri sendiri."

"Sin-ko, jangan kau berkata begitu……." Menteri Lu Pin mencucurkan air mata saking terharunya. Ia menghampiri kakek pengemis itu dan kedua orang kakak beradik ini berpelukan tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Dari kedua mata Ang-bin Sin-kai berlinang dua butir air mata.

Inilah adik kandungnya, menteri setia yang berjiwa patriot aseli! Dan adiknya ini padahal seorang lemah yang tidak mengerti ilmu silat! Sedangkan dia, seorang yang semenjak kecil mempelajari kepandaian silat, tidak mengacuhkan sama sekali tentang keselamatan tanah air! Pada saat berpelukan dengan Menteri Lu Pin, terbangunlah semangat dalam dada Ang-bin Sin-kai. Tak patut dia disebut seorang gagah apabila dia tidak dapat berbuat seperti adiknya ini, tidak dapat mengorbankan diri untuk rakyat dan negara. Ia tahu bahwa An Lu Shan mendapat bantuan dari orangorang pandai, di antaranya Hek-i Hui-mo sendiri menjadi sekutu An Lu Shan. Siapakah akan dapat menghadapi mereka kalau tokoh-tokoh seperti dia tidak mau turun tangan?

"Adik Pin, kau betul. Harta ini harus kau simpan baikbaik dan dengan diam-diam kau dapat mengerahkan kesatuan yang kuat, atau setidaknya dengan harta ini kau dapat membantu pengerahan para pasukan rakyat gerilya.

Aku tahu sebuah tempat persembunyian yang amat baik, Adikku. Pergilah ke timur, di sebelah bukit ini terdapat pegunungan dan setelah kau menyebrangi sungai kecil, kau akan melihat hutan pohon pek dan di sebelah selatan hutan itulah terdapat sebuah gua besar yang penuh dengan tulangtulang binatang purbakala yang besar-besar. Gua itu lebar sekali, aku telah mempergunakannya sebagai tempat bertapa. Kaubawalah harta ini dan kau bersembunyilah di gua itu. Gua itu tertutup oleh serumpun pohon bunga cilan yang lebat sekali, takkan terlihat dari luar. Aku sendiri akan segera ke kota raja dan akan kuhajar An Lu Shan dan kaki tangannya. Selamat berpisah adikku!"

Bukan main girangnya hati Menteri Lu Pin mendengar ini. Memang dia amat kecewa melihat kakaknya yang sakti ini di kala terjadi perang, tidak muncul sama sekali.

Memang mereka sekeluarga adalah keturunan patriot ternama, sudah selayaknya kalau kakaknya pun bersikap sebagai seorang pahlawan bangsa.

"Terima kasih, Sin-ko. Semoga perjuanganmu berhasil," jawabnya. Dua orang kakak beradik ini kembali berpelukan, disaksikan oleh tiga orang panglima yang memandang dengan penuh penghormatan dan kekaguman. Mereka menjadi saksi dari pertemuan dua orang kakak beradik yang berjiwa gagah, namun yang keadaannya amat berlainan, seorang kakek pengemis dan seorang menteri setia, namun keduanya gagah perkasa dalam bidang masing-masing.

Mereka lalu berpisah dan tiga orang panglima itu melanjutkan kawalan mereka terhadap Menteri Lu Pin, menuju ke tempat yang ditunjuk oleh Ang-bin Sin-kai.

Benar saja seperti petunjuk dari Ang-bin Sin-kai, mereka mendapatkan gua besar itu yang amat lebar dan di situ penuh dengan tulang-tulang besar putih dan kuat. Selain ini juga di sebelah ruangan kecil di dalam gua itu mereka mendaparkan sebuah hiolouw (tempat hio atau tempat abu hio) yang amat besar dan kuno. Hiolouw ini biasanya dipergunakan oleh Ang-bin Sin-kai untuk membakar dupa dan akar-akar untuk mengusir hawa busuk dari dalam gua.

Melihat tulang-tulang berserakan itu, Menteri Lu Pin tertarik sekali hatinya. Dia adalah seorang ahli ukir yang kenamaan dan pandai, melihat tulang-tulang ini dia merasa tertarik dan gembira. Tulang-tulang itu merupakan bahan untuk diukir yang baik sekali.

Setelah membereskan dan membersihkan tempat itu, Menteri Lu Pin lalu menyuruh tiga orang panglima pengawalnya untuk mulai menghubungi para pejuang rakyat. Mereka ditugaskan untuk memperkuat pasukanpasukan rakyat yang melakukan perlawanan terhadap pemberontak An Lu Shan. Mereka disuruh membawa sebagian daripada harta istana itu untuk membiayai dan membantu pergerakan rakyat dan sewaktu-waktu datang ke gua itu memberi laporan. Adapun Menteri Lu Pin yang hidup seorang diri di dalam gua, mendapatkan makanan dari buah-buahan yang tumbuh di sekitar tempat itu, dan di dalam waktu senggang, dia mulai membuat ukir-ukiran pada tulang-tulang besar tadi.

Menteri Lu Pin tinggal sampai bertahun-tahun di situ dan dia telah menciptakan ukir-ukiran berupa tengkoraktengkorak manusia yang luar biasa besarnya, semuanya dibuatnya daripada tulang-tulang itu sehingga tengkoraktengkorak atau rangka-rangka manusia raksasa itu seperti tulen, terbuat daripada tulang-tulang! Ia mengatur dan menyambung-nyambung tulang-tulang ini, didirikan di sepanjang terowongan gua, berjajar seperti barisan raksasa yang menjaga gua, namun raksasa yang sudah menjadi rangka yang amat menyeramkan! Memang, Menteri Lu Pin membuat ini bukan saja untuk menimbulkan daya khayalnya menjadi kenyataan, akan tetapi juga dengan maksud agar para penjahat yang iseng-iseng dan kebetulan masuk ke situ, akan menjadi ketakutan dan mundur kembali setelah melihat rangka-rangka raksasa yang benarbenar menyeramkan sekali itu.

Adapun Ang-bin Sin-kai setelah berpisah dari Menteri Lu Pin, segera menuju ke kota raja dengan hati panas sekali. Dari orang-orang kang-ouw dia sudah mendengar bahwa tidak saja An Lu Shan memiliki barisan yang berjumlah besar dan terlatih baik sekali serta memiliki ilmu perang yang luar biasa, juga pemberontak ini dibantu oleh orang-orang pandai. Ia sudah mendengar siapa-siapa yang membantu para pemberontak itu, yaitu yang sudah dia kenal adalah Hek-i Hui-mo Thian Seng Hwesio, pendekar gundul yang berjubah dan berkulit hitam dari Tibet yang lihai itu. Ke dua, Pek-eng Sianjin ketua dari Kun-lun Ngoeng yang pernah dia hajar di puncak Kun-lun-san. Ketiga, Toat-beng Hui-houw siluman tua berkuku panjang yang lihai, yang pernah pula dia hajar ketika dia berada di dapur istana kaisar. Dan yang membuat hati Ang-bin Sin-kai merasa sakit dan penasaran adalah ketika dia mendengar bahwa di samping tokoh-tokoh itu dan lain-lain ahli silat ternama, juga Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu terpikat oleh bujukan An Lu Shan dan membantu pemberontak itu menggulingkan kedudukan Kaisar Hian Tiong! Tadinya sebelum dia bertemu dengan Menteri Lu Pin, mendengar semua berita ini dia hanya tersenyum. "Tua bangka-tua bangka itu sudah gila rupanya sudi mengikat diri dengan urusan perang, urusan yang paling busuk di antara semua urusan keduniaan," pikirnya. Akan tetapi kini setelah dia bertemu dengan adiknya itu, pandangannya berubah. Ia menjadi marah sekali ketika matanya terbuka betapa orang-orang itu, terutama sekali Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu, seakan-akan membantu pemberontak untuk menindas rakyat jelata. Apalagi ketika dia mendengar di sepanjang jalan, betapa kejam perlakuan para anggauta pemberontak terhadap rakyat, hatinya menjadi makin panas.

Kemarahan hati kakek sakti ini memuncak ketika tiba di kota raja, dia mendengar berita bahwa sebelumnya, semenjak kota raja diduduki oleh An Lu Shan, berturutturut datang beberapa tokoh kang-ouw untuk menyerang An Lu Shan. Ia mendengar bahwa Pak-lo-sian Siangkoan Hai sudah datang menyerbu istana, akan tetapi kakek sakti dari utara ini terpaksa melarikan diri karena tidak kuat menghadapi keroyokan Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu yang di bantu oleh Hek-i Hui-mo dan tokoh-tokoh lain! Juga KiuTiraikasih Website http://kangzusi.com/ bwe Coa-li wanita sakti yang ganas itu sudah datang dengan maksud memberi hajaran kepada mereka, namun wanita sakti ini bahkan terluka dan terpaksa mundur pula. Kalau dua orang sakti ini hanya terluka dan dapat melarikan diri, adalah beberapa orang tokoh kang-ouw lainnya tewas dalam usaha mereka membalaskan sakit hati rakyat ini.

Yang tewas adalah Pouw Hong Taisu ketua Thian-san-pai bersama beberapa orang muridnya, tiga tokoh Kun-lun-pai yakni Seng Te Taisu, Seng Jin Taisu dan Seng Giok Siansu, dan masih banyak pula tokoh-tokoh besar yang telah mengorbankan nyawa dalam perjuangan itu.

"Terkutuk!" Ang-bin Sin-kai mengerutkan keningnya.

"Biadab benar An Lu Shan dan kaki tangannya!"

Dengan amarah meluap-luap, begitu tiba di kota raja, Ang-bin Sin-kai langsung menyerbu ke istana dan di dalam isatana, setelah merobohkan para penjaga yang hendak mencegah masuk, dia berseru keras sekali,

"Anjing pemberontak An Lu Shan, keluarlah untuk terima binasa!"

Tentu saja keadaan menjadi gempar sekali di halaman istana itu. Para penjaga dan pengawal menyerbu dari luar dan dalam istana, dan sebentar saja Ang-bin Sin-kai dikeroyok sedikitnya seratus orang penjaga! Namun pada saat itu, Ang-bin Sin-kai sedang marah luar biasa, maka para penjaga ini seakan-akan nyamuk-nyamuk yang melawan api pelita. Siapa saja yang menyerbu dekat, tentu roboh tak bernyawa pula oleh pukulan, tamparan atau tendangan kaki Ang-bin Sin-kai. Dalam kemarahannya, setiap gerakan kaki tangan kakek ini merupakan tangan maut yang menjangkau nyawa lawan.

Suara hiruk-pikuk, suara senjata terlempar dan orang memekik, memenuhi halaman istana itu, gaduh bukan main. Mayat-mayat para penjaga sudah malang melintang dan bertumpuk-tumpuk memenuhi tempat itu, karena dalam waktu cepat sekali Ang-bin Sin-kai sudah menewaskan sedikitnya tiga puluh orang penjaga! Sambil mengamuk, Ang-bin Sin-kai tetap berseru-seru keras,

"Pengecut An Lu Shan, anjing pemberontak tak kenal budi, keluarlah untuk terima hukuman!"

Tiba-tiba terdengar bentakan keras sekali kepada para penjaga.

"Mundur semua!"

Mendengar bentakan ini, para penjaga lalu mengundurkan diri dan menarik mayat-mayat kawan yang bergeletakan di situ. Ang-bin Sin-kai memandang dengan mata merah dan dia melihat Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu muncul dari pintu samping istana, diikuti oleh Hek-i Huimo, Toat-beng Hui-houw, Pek-eng Sianjin dan banyak orang kang-ouw ternama lagi.

Jeng-kin-jiu yang bertubuh bundar gendut tertawa bergelak lalu berkata,

"Ha, ha, ha, kukira siapa, tidak tahunya sahabat baikku setan tua dari timur yang datang main-main di sini dengan para penjaga! Ah, Ang-bin Sin-kai, sahabat baik, apakah kau terlalu banyak minum arak sehingga jadi mabuk dan membunuh orang banyak seperti membunuh semut saja?"

Hubungan antara dua orang tokoh besar ini biasanya erat dan mereka sudah biasa bicara mian-main tanpa banyak peraturan. Biasanya Ang-bin Sin-kai menghadapi kelakar si gendut itu dengan gembira. Akan tetapi kali ini dengan mata terbelalak penuh kebencian dia membentak,

"Jeng-kin-jiu, kau tahu bahwa aku Ang-bin Sin-kai tidak sudi mempunyai sahabat anjing-anjing penjilat! Aku tidak mempunyai sahabat anjing penjilat pemberontak seperti An Lu Shan seperti engkau!"

Sebelum - Beranda - Lanjut

Tidak ada komentar:

Posting Komentar