"Ampun! Engkau menyebut aku tai-hiap lagil Ya ampun, Mayang, kalau engkau tidak mau menyebut namaku dan mengatakan bahwa engkau mengampuni aku, sampai mati aku tidak akan bangkit dan akan berlutut terus sampai dunia kiamat!" Mau tidak mau Mayang tersenyum sendiri mendengar ini. "Aku tidak percayar Mana kedua lututmu kuat bertahan kalau menanti sampai dunia kiamat!" Legalah hati Hay Hay mendengar ucapan yang nadanya sudah mengajak berkelakar itu. "Tentu akan kuat, asal engkau juga terus berdiri di depanku. Kita sama-sama lihat saja siapa yang kuat dan siapa yang tidak. Hayo, Mayang, katakan bahwa engkau suka mengampuni aku. Aku berjanji bahwa selama hidupku, aku tidak akan berpura-pura bodoh lagi kepadamu!"
Senyum di bibir gadis itu makin melebar walaupun ia belum memutar tubuh. "Huh, siapa mau makan akalmu? Berpura-pura bodohpun tidak ada gunanya karena aku sudah tahu!"
"Sudah tahu bahwa aku bodoh?"
"Sudah tahu bahwa engkau pan……dir!" Hay Hay cemberut. Disangkanya gadis itu akan berkata "pandai", tidak tahunya berubah menjadi "pandir".
"Nah, engkau sudah membalas memaki aku. Sudah satu lawan satu, kan? Mayang, hayolah, katakan bahwa engkau mengampuni aku. Kedua lututku sudah mulai nyeri dan lelah nih!"
Mayang tidak dapat menahan ketawanya lagi. Ia membalik dan tersenyum. "Baiklah, Hay Hay, aku memaafkanmu. Sejak tadipun aku sudah memaafkanmu, kalau tidak begitu, tentu aku tidak akan sudi bicara denganmu."
Hay Hay bangkit berdiri dan mereka saling pandang dengan wajah berseri. "Akupun sudah menduga bahwa engkau tentu akan suka memaafkan aku, Mayang. Seorang gadis yang manis dan jelita seperti engkau ini sudah pasti memiliki watak yang baik."
"Huh, merayu lagi! Sekali diberi kesempatan, engkau tentu akan merayu. Hay Hay, aku masih merasa penasaran.
Engkau begini baik kepadaku, akan tetapi mengapa engkau tega mempermainkan aku? Bahkan ketika kita berjalan melalui tebing itu, engkau pura-pura ketakutan sehingga terpaksa harus kugandeng tanganmu. Mengapa engkau begitu kejam mempermainkan aku?"
Hay Hay tersenyum. "Bukan mempermainkanmu, Mayang. Pertama-tama aku hanya ingin menyembunyikan keadaan diriku demi keamanan dan kepentingan penyelidikanku. Akan tetapi, melihat engkau semanis ini, aku berpura-pura dan ,ketika engkau menggandeng tanganku, hemmm…… tanganmu begitu lembut, lunak dan hangat sehingga aku tidak ingin melepaskannya "
"Ihhh! Engkau memang mata keranjang tak ketulungan lagi!" Mayang berkata, akan tetapi mukanya berubah merah sekali dan untuk menutupi perasaannya yang terguncang, agar jangan sampai salah tingkah, iapun tertawa. Dan sejak detik itu, hati Mayang telah jatuh cinta kepada pemuda yang demikian pandai merayu dan menyenangkan hatinya. Ia memang sudah merasa suka ketika bertemu dengan Hay Hay, dan rasa suka itu kini ditambah rasa kagum melihat betapa Hay Hay memiliki ilmu kepandaian yang demikian tinggi, maka timbullah perasaan.
"Sudahlah, Hay Hay. Engkau tadi disuruh beristirahat. Engkau menghadapi tugas beristirahat. Engkau menghadapi tugas berat dan berbahaya. Beristirahatlah agar aku jangan sampai ditegur subo kalau melihat kita bercakap-cakap di sini."
Hay Hay maklum bahwa seorang seperti Kim Mo Siankouw tentu memiliki watak aneh dan tidak mengherankan kalau ia bersikap kadang-kadang keras luar biasa. Dia tidak ingin menyusahkan Mayang, maka diapun lalu meninggalkan gadis itu, menuju ke kamar yang sudah disediakan untuknya.
Tiga orang pendeta Lama yang membawa Han Siong dari Hok-lam sampai keperbatasan Tibet itu memang merupakan tokoh-tokoh besar di Tibet. Kim Mo Siankouw sudah mengenal mereka sebagai tiga orang tokoh yang dahulu menjadi pembantu-pembantu Dalai Lama kini menjadi tiga orang pimpinan sekelompok pendeta Lama yang memberontak terhadap Dalai Lama. Mula-mula, jumlah mereka yang memberontak ini tidak kurang dari dua ratus orang. Akan tetapi setelah Dalai Lama dan para pengikutnya yang terdiri dari banyak orang pandai menghancurkan pemberontakan itu, jumlah mereka paling banyak tinggal lima puluh orang lagi.
Gunga Lama, Janghau Lama dan Pat Hoa Lama mengajak Han Siong naik ke puncak Bukit Bangau. Han Siong masih terus bersandiwara, pura-pura tunduk terhadap pengaruh sihir dan dia mengikuti mereka sambil diam-diam memperhatikan lingkungan bukit itu. Ketika melihat puluhan orang pendeta Lama di puncak bukit, diam-diam Han Siong merasa terkejut dan heran. Juga dia khawatir sekali. Bagaimana Hay Hay dapat terus membayanginya kalau puncak bukit ini terdapat demikian banyaknya pendeta Lama? Akan tetapi, dia terus mengikuti dan dia mendengar betapa Pat Hoa Lama memerintahkan lima orang pendeta Lama untuk turun bukit dan mencari gadis bernama Mayang.
"Ia seorang gadis manis yang pekerjaannya menggembala dan mengawal pengiriman ternak. Tangkap gadis itu dan bawa ke sini, jangan melukainya, apa lagi membunuhnya!" demikian pesan Pat Hoa Lama kepada lima orang muridnya. Kiranya pendeta yang batinnya sesat dan menjadi hamba nafsunya sendiri itu masih merasa penasaran karena gadis yang membuatnya tergila-gila itu terlepas dari tangannya.
Setelah memerintahkan lima orang murid itu, Pat Hoa Lama dan dua orang suhengnya membawa Han Siong masuk ke dalam bangunan induk di puncak itu. Mereka mengajak pemuda itu duduk di dalam sebuah ruangan yang luas dan menghadapi pemuda yang duduk santai dan nampak tidak bersemangat itu.
"Pek Han Siong," terdengar Gunga Lama berkata, suaranya mengandung penuh wibawa dan sinar mata tiga orang itu menatap wajah Han Siong dengan dorongan tenaga sihir yang amat kuat. Han Siong merasa betapa jantungnya terguncang dan seluruh tubuhnya tergetar. Dia terpaksa menyerah, karena kalau dia mempergunakan kekuatan pada kalung kemalanya, dia khawatir kalau rahasianya ketahuan. Diapun memejamkan matanya dan merasa betapa keadaan sekelilingnya berputaran dan dalam keadaan setengah sadar itu dia mendengar suara yang berwibawa itu.
"Pek Han Siong, mulai detik ini engkau adalah calon Dalai Lama! Ingat baik-baik, sejak lahir engkau sudah ditakdirkan untuk menjadi Dalai Lama! Engkau akan kami angkat menjadi Dalai Lama dan upacara pengangkatannya dilaksanakan siang nanti. Sekarang, engkau beristirahatlah, tidurlah di kamar yang sudah dipersiapkan, dan terimalah nasibmu yang mengangkat dirimu menjadi calon Dalai Lama"
Setengah terpaksa dan setengah pula sadar, Han Siong menjawab, "Saya mentaati….."
Gunga Lama dan dua orang sutenya lalu bangkit. Gunga Lama menghampiri Han Siong, memegang lengannya dan pemuda itu dituntun ke sebuah kamar.
Dia lalu disuruh memasuki kamar. Kamar itu cukup mewah dan terdapat sebuah pembaring di tengah kamar. Han Siong yang merasa lesu dan lelah, menghampiri pembaringan lalu merebahkan diri, sebentar saja pulas!
Tiga orang pendeta Lama itu lalu memanggil anak buah mereka. "Jaga dia baik-baik. Kalau dia bergerak dan sadar, beritahu kepada kami!"
Kemudian tiga orang pendeta Lama ini sibuk di dalam sebuah ruangan sembahyang, mempersiapkan upacara sembahyang besar untuk pengangkatan Pek Han Siong menjadi Dalai Lama! Sudah dipersiapkan pula pisau untuk menggunduli kepala Han Siong, juga jubah pendeta Dalai Lama yang tersulam indah, bahkan juga sebatang tongkat komando sebagai tanda bahwa dia adalah Dalai lama yang berkuasa penuh!
Setelah matahari naik tinggi dan dari atap yang terbuka sinar matahari menimpa gambar pat-kwa (segi delapan) yang berada di atas meja sembahyang, tepat di tengahnya tiga orang pendeta lama itu lalu menggugah Han Siong yang tidur nyenyak. Pemuda itu terbangun dan teringat akan keadaannya. Akan tetapi dia dapat segera membiarkan dirinya hanyut lagi dalam gelombang kekuatan sihir, akan tetapi diam-diam dia menggunakan tangan kiri untuk menekan kalung kemala ke dadanya sehingga dia tidak begitu tenggelam ke dalam gelombang pengaruh sihir tiga orang kakek itu.
Ketika dia dituntun dan disuruh duduk bersila di atas kasur bundar di depan meja sembahyang, dia melihat semua perlengkapan upacara sembahyang itu.
"Losuhu, apa yang akan sam-wi (kalian bertiga) lakukan kepada saya?" Han Siong bertanya, menekan suaranya sehingga terdengar wajar saja. Pada hal dia merasa gelisah dan menduga-duga di mana adanya Hay Hay. Dia mengharapi kan Hay Hay berada di dekat situ kalau sampai dirinya terancam bahaya. Pertanyaan itu dia ajukan agar dia tahu apa yang akan mereka lakukan terhadap dirinya.
Tiga orang pendeta itu saling pandang sejenak, agaknya terkejut dan heran melihat bahwa pemuda itu masih mampu mengajukan pertanyaan, hal yang membuktikan bahwa pemuda itu tidak sepenuhnya berada di bawah pengaruh sihir mereka. Akan tetapi, mereka tidak merasa khawatir. Pemuda itu telah berada di dalam cengkeraman mereka, telah berada di sarang mereka. Andaikata tidak terpengaruh sihirpun, tidak mungkin akan mampu meloloskan diri lagi.
"Begini, Sin-tong," kata Gunga Lama, sengaja menyebut Sin-tong kepada pemuda itu. "Sejak engkau dilahirkan, engkau sudah ditakdirkan menjadi Dalai Lama.
Oleh karena itu, kami hendak mengadakan upacara sembahyang besar untuk mengangkatmu menjadi Dalai Lama yang baru."
"Tapi….. bukankah masih ada Dalai Lama….?"
"Hemm, dia sudah tidak patut menjadi Dalai Lama, sudah tersesat dan menyeleweng. Engkaulah yang seharusnya diangkat menjadi Dalai Lama yang baru, dan kita akan menggulingkan Dalai Lama yang tua itu. Engkau yang berhak menjadi Dalai Lama, menguasai seluruh Tibet!" kata Gunga Lama. Biarpun tidak memperlihatkan sesuatu pada mukanya, namun diam-diam Han Siong terkejut dan kini mengertilah dia, atau dia sudah dapat menduga apa yang dilakukan tiga orang ini. Kiranya, dia bukan dihadapkan kepada Dalai Lama, melainkan oleh tiga orang ini hendak diangkat menjadi Dalai Lama yang baru, Dalai Lama tandingan dengan maksud merebut kedudukan Dalai Lama! Dia akan dijadikan Dalai Lama boneka, dan tentu selanjutnya semua kekuasaan berada di tangan tiga orang ini. "Tidak, losuhu, aku tidak mau menjadi Dalai Lama!" Tiba-tiba Han Siong berseru dan terpaksa dia tidak dapat lagi bersandiwara. Biarpun tadinya dia sudah hampir hanyut di dalam gelombang tenaga sihir mereka, namun berkat pengerahap tenaga batinnya dibantu khasiat kalung kemala, dia dapat meronta dan melepaskan diri dari cengkeraman sihir dan diapun meloncat berdiri. Dia merasa terlalu ngeri membayangkan bahwa dia dipaksa menjadi Dalai Lama untuk maksud pemberontakan!
Tiga orang pendeta itu terkejut setengah mati. Tak mereka sangka bahwa pemuda itu dapat melepaskan diri dari belenggu sihir mereka. Tahulah mereka bahwa mereka terlalu memandang rendah kepada pemuda ini sehingga mereka lengah dan kurang kuat menguasainya.
"Pek Han Siong, engkau tidak boleh menolak lagi!" bentak Gunga Lama dan dia sudah memegang tongkatnya yang memakai kelenengan hitam. Juga Janghau Lama sudah meloloskan sabuknya yang mengerikan, yaitu sabuk hidup, seekor ular putih. Dan Pat Hoa Lama juga sudah mengeluarkan sepasang cakar harimau yang merupakan senjatanya yang ampuh. Mereka membentuk segi tiga mengepung Han Siong.
Han Siong maklum bahwa dirinya berada dalam bahaya. Selain tiga orang kakek ini yang dia tahu amat lihai, juga kini puluhan orang pendeta yang melihat betapa dia telah terlepas dari pengaruh sihir, sudah mengepung ruangan itu dengan senjata di tangan! "Losuhu sekalian, harap jangan memaksaku," kata Han Siong untuk mencari waktu sambil menanti munculnya Hay Hay. "Kalau cu-wi suhu hendak memberontak kepada Dalai Lama, silakan akan tetapi jangan membawa-bawa aku. Aku tidak mempunyai urusan apapun dengan para pendeta Lama di Tibet dan sejak kecilpun aku tidak suka dijadikan Dalai Lama."
"Orang muda, percuma saja engkau menolak. Lihat, engkau telah kami kepung dan tak mungkin engkau akan mampu meloloskan diri dalam keadaan hidup!" bentak Gunga Lama sambil memberi isarat kepada dua orang sutenya. Mereka mencoba untuk menggertak dan menakut-nakuti pemuda itu. Mereka tidak tahu bahwa Han Siong adalah seorang pemuda gemblengan yang tentu saja tidak gentar menghadapi ancaman. Bagi seorang pemuda berjiwa pendekar seperti dia, kematian bukan merupakan suatu hal yang terlalu menakutkan. Mati dalam kebenaran bahkan membanggakan hati, sebaliknya hidup dalam keadaan sesat merupakan hal yang dipantang sekali.
"Bagaimanapun juga, kalian tidak akan dapat memaksaku untuk menjadi Dalai Lama dan membantu pemberontakan kalian." kata pula Han Siong.
Tiga orang pendeta Lama itu ternyata sudah menyimpan senjata masing-masing dan kini, sesuai dengan isarat yang dilakukan Gunga Lama, mereka bertiga sudah menubruk dari tiga jurusan untuk menangkap Han Siong. Akan tetapi, pemuda ini sudah siap siaga. Dia cepat mengelak dan membalas dengan ayunan kedua lengannya dalam ilmu Pek-hong Sin-ciang (Tangan Sakti Pelangi Putih) menangkis ke tiga jurusan.
"Wuuuttt…… wuuuttt ….!" Kedua lengan itu mengeluarkan angin pukulan yang amat kuat sehingga tiga orang penyerang itu terdorong ke belakang. Mereka makin terkejut dan tiba-tiba mereka mengeluarkan teriakan yang parau rendah sekali, lalu teriakan itu meningkat menjadi tinggi. Mereka menggerak-gerakkan kedua tangan ke arah Han Siong. Pemuda ini merasa betapa seluruh tubuhnya menggigil. Selagi dia mengerahkan tenaga batinnya, terdengar pula suara gemuruh dan ternyata para pendeta Lama yang mengepung ruangan itu juga sudah mengeluarkan suara teriakan seperti itu. Tidak begitu kuat, akan tetapi karena keluar dari perut puluhan orang. Tentu saja menjadi kuat bukan main dan tubuh Han Siong semakin menggigil.
"Hay Hay !" Han Siong masih ingat untuk memanggil kawannya itu. Akan tetapi tiga orang pendeta lama itu sudah menubruk dan dia tidak mampu menghindarkan diri lagi ketika tubuhnya ditotok dan diapun roboh tak berdaya.
Pengaruh sihir menguasainya lagi dan pikirannya menjadi gelap.
Han Siong tidak sadar. Dia tidak tahu betapa pakaiannya dilucuti dan sebagai penggantinya, dia dibungkus dengan pakaian pendeta Dalai Lama yang hanya merupakan kain sutera yang dilibat-libatkan di tubuhnya. Dia juga tidak melihat betapa sembahyangan sudah diatur di atas meja, lilin-lilin besar dinyalakan dan dupa dibakar.
Ketika Han Siong sadar, dia mendapatkan dirinya sudah duduk bersila di depan meja sembahyang, seperti tadi sebelum dia memberontak. Biarpun kepalanya agak pening, namun dia sadar! Dia melirik ke arah kalung di lehernya. Batu kemala itu masih ada. Agaknya para pendeta tidak mencurigai batu kemala itu maka dibiarkannya tergantung di lehernya, tidak dirampas dan berkat kekuatan batu kemala itulah maka kini Han Siong masih dapat sadar kembali dari pengaruh sihir. Akar, tetapi ketika dia hendak menggerakkan tubuh, ternyata kaki tangannya tidak dapat dia gerakkan. Dia dalam keadaan tertotok! Ini lebih hebat dari pada pengaruh sihir. Pengaruh sihir masih dapat dilawan kekuatan batinnya dibantu khasiat batu kemala. Akan tetapi totokan itu membuat dia benar-benar tak berdayar tak mampu berkutik lagi. Dia juga melihat betapa pakaiannya sudah berganti pakaian pendeta Lama! Jantungnya berdebar tegang. Apa lagi ketika dia melihat tiga orang pendeta Lama itu berlutut di dekatnya, menghadap meja sembahyang dan berdoa. Doa yang terdengar aneh dan tidak dimengertinya. Kemudian, tiga orang itu selesai sembahyang dan Gunga Lama memegang sebatang pisau yang mengkilap saking tajamnya. Janghau Lama memegang sebuah bokor emas berisi air kembang mulailah Janghau Lama membasahi rambut kepalanya! Dan Pat Hoa Lama memegangi kepalanya. Tahulah dia. Dia akan digunduli! Dia akan dipaksa menjadi pendeta. Menjadi Dalai Lama! Akan tetapi apa daya? Dia tidak mampu bergerak, bahkan ketika dia hendak mengeluarkan suara untuk membantah, suaranya tidak keluar! Lehernya sudah tertotok pula, mcmbuat dia tidak mampu bersuara!
Kini Gunga Lama mempergunakan tangan kirinya menjambak rambut kepalanya, mulutnya mengeluarkan doa pendek dan tangan kanan yang memegang pisau tajam sudah siap untuk mencukur rambutnya! Beberapa detik lagi dia akan gundul.
Gunga Lama menggerakkan tangan kanan yang memegang pisau dan ….."Tahan! Gunga Lama, engkau tidak boleh melakukan hal itu!"
Bentakan suara wanita yang nyaring ini membuat tiga orang pendeta itu terkejut bukan main. Mereka mengangkat muka dan semakin kaget melihat munculnya seorang wanita tua yang masih cantik, bersama seorang pemuda dan seorang gadis manis yang bukan lain adalah Hay Hay dan Mayang. Mereka mengenal pula Kim Mo Siankouw karena dahulu mereka sering melihat wanita sakti ini menjadi tamu dan sahabat Dalai Lama.
"Kim Mo Siankouw, engkau tidak boleh mencampuri urusan kami!" bentak Gunga Lama dengan marah tanpa melepaskan rambut kepala Han Siong yang sudah dijambak tangan kirinya.
Tiba-tiba terdengar suara melengking nyaring sekali, mengejutkan semua orang yang berada di situ. Suara melengking itu keluar dari mulut Hay Hay. Melihat, betapa rambut kepala sahabatnya terancam musnah, Hay Hay sudah mengerahkan seluruh kekuatan sihirnya dan dia mengeluarkan suara melengking itu untuk menjadi daya tarik pertama, kemudian disusul teriakannya sambil menudingkan telunjuknya ke arah meja sembahyang, dengan wajah nampak kaget dan mata terbelalak, dia berseru, "Lihat, meja sembahyang itu terbakar! Ada kebakaran! Kebakaran! Awasss…… !" Dia sendiri melompat ke depan. Semua orang terkejut. Tiga orang pendeta Lama itu menengok dan merekapun terkejut melihat betapa meja sembahyang yang besar itu telah berkobar dimakan api! Juga para pendeta Lama lainnya melihat kebakaran itu. Bahkan Mayang sendiri juga melihat meja itu terbakar! Saking kaget dan gugupnya, Gunga Lama melepaskan rambut kepala Han Siong yang dijambaknya, juga Pat Hoa Lama melepaskan kepala pemuda itu yang dipegangnya. Mereka bertiga melompat berdiri menghampiri meja sembahyang dengan maksud untuk memadamkan api yang berkobar besar, yang mengancam menimbulkan kebakaran besar di ruangan itu. Pada saat itu, setelah mereka bertiga tiba di dekat meja sembahyang mereka melihat bahwa tidak ada kebakaran apapun di sana! Mereka terkejut dan menyadari bahwa mereka telah dipermainkan orang, akan tetapi ketika mereka membalikkan tubuh, mereka sudah terlambat.
Hay Hay sudah mempergunakan kesempatan itu untuk meloncat ke dekat Han Siong dan membebaskan totokan pada tubuh sahabatnya itu. Han Siong terbebas dan diapun bersama Hay Hay meloncat ke dekat Kim Mo Siankouw.
Bukan main marahnya tiga orang pendeta itu. Gunga Lama menudingkan tongkatnya kepada wanita itu dan membentak, "Kim Mo Siankouw, sungguh bagus perbuatanmu ini! Kami selamanya tidak pernah mencampuri urusanmu, akan tetapi hari ini engkau datang untuk menghina kami!"
Dengan sikap tenang namun sinar matanya mencorong, Kim Mo Siankouw rnenjawab, "Gunga Lama, mengapa engkau tidak bercermin lebih dulu sebelum mencela orang lain? Pin-ni hendak bertanya, apa yang telah kalian lakukan terhadap muridku Mayang ini? Ketika kalian memberontak terhadap Dalai Lama, pin-ni tidak ambil perduli karena itu bukan urusanku. Akan tetapi, kalian berniat keji terhadap Mayang, dan kalian hendak memaksa pemuda ini menjadi Dalai Lama, untuk kalian peralat dalam pemberontakan kalian. Tentu saja pin-ni tidak mau tinggal diam saja!"
"Kalian datang mengantar nyawa!" Gunga Lama berteriak marah, lalu mengangkat tongkatnya dan memberi aba-aba kepada anak buahnya. "Serbu, dan bunuh mereka semua! Tangkap Sin-tong…..!"
Akan tetapi, kini Han Siong yang sudah menerima pedang pusaka Gin-hwa-kiam dari tangan Hay Hay, di samping Hay Hay yang juga memegang pedang pusaka Hong-cu-kiam, sudah siap menyambut serangan mereka. Kim Mo Siankouw juga sudah siap dengan sebatang pedang di tangannya, sebatang pedang pusaka yang disebut Klm-lian-kiam (Pedang Teratai Emas) karena pada gagangnya yang terbuat dari emas itu terukir bunga teratai. Juga Mayang sudah siap dengan senjatanya yang khas, yaitu sebatang cambuk!
Gunga Lama yang merupakan tokoh pertama, segera menyerang Kim Mo Siankouw dengan tongkat saktinya yang memakai kelenengan. Ketika tongkat menyambar, terdengar suara kelenengan yang nyaring, akan tetapi sinar pedang di tangan Kim Mo Siankouw menyambut dengan tangkisan, bahkan sinar pedang membalas cepat sehingga amat mengejutkan Gunga Lama. Keduanya segera bertanding dengan seru, dan segera bermunculan banyak pendeta Lama membantu sehingga Kim Mo Siankouw dikeroyok.
Janghau Lama menerjang ke arah Hay Hay dengan sabuk ular putihnya. Hay Hay pura-pura ketakutan. "Hiiihh, kenapa senjatamu ular? Menjijikkan sekali!" katanya sambil mengelak, akan tetapi sambil membalik, pedangnya menyambar dan nampak sinar emas meluncur ke arah ular putih itu. Janghau Lama terkejut dan cepat menarik kembali ularnya sehingga ular itu luput dari sambaran sinar pedang. Hay Hay tertawa dan menyerang lagi. Namun, lawannya cukup tangguh dan serangan balasan dengan ular berbisa itu amat berbahaya, maka biarpun dia tertawa-tawa, Hay Hay bergerak dengan hati-hati. Seperti juga dengan halnya Kim Mo Siankouw, dia segera dikeroyok oleh hampir sepuluh orang pendeta yang membantu Janghau Lama.
Han Siong menyambut Pat Hoa Lama yang menggunakan senjata sepasang cakar harimau. Pedang Gin-hwa-kiam di tangannya berubah menjadi gulungan sinar perak dan diapun dikeroyok oleh banyak pendeta. Seperti juga Hay Hay, dia mengamuk dengan pedangnya dan pedang Gin-hwa-kiam mengeluarkan suara berdesing-desing. Dalam beberapa gebrakan saja, Pat Hoa Lama terdesak, namun segera bermunculan delapan orang pendeta Lama yang mengeroyok Han Siong seperti yang terjadi pada Kim Mo Siankouw dan Hay Hay.
Melihat betapa gurunya, Hay Hay dan Han Siong sudah terlibat perkelahian dan dikeroyok, Mayang menjadi khawatir akan tetapi juga marah sekali.
"Kalian ini pendeta-pendeta sungguh tak tahu malu dan curang sekali! Beraninya hanya main keroyokan!" Setelah membentak dan memaki-maki, gadis lincah ini lalu mengamuk pula di antara para pendeta yang membantu tiga orang tokoh besar itu.
Biarpun ruangan itu luas, namun dengan adanya perkelahian keroyokan ini, mereka mulai berpisah. Mayang sendiri tergeser keluar dari ruangan itu, dikeroyok oleh enam orang pendeta Lama yang berusaha keras untuk menangkapnya. Agaknya memang para pendeta pengikut para pendeta Lama pemberontak itu bukanlah pendeta-pendeta sejati, melainkan orang-orang yang pada dasarnya berbatin rendah, dan yang mempergunakan jubah dan kedudukan pendeta sebagai kedok saja untuk menutupi gejolak nafsu mereka yang masih menguasai diri.
Perkelahian terjadi semakin seru. Kim Mo Siankouw, Hay Hay, Han Siong dan Mayang harus menghadapi pengeroyokan kurang lebih enampuluh orang yang rata-rata memiliki kepandaian silat yang cukup tinggi sehingga tidak mengherankan kalau mereka itu mulai terdesak. Sudah beberapa orang pengeroyok yang roboh, namun sisanya masih terlalu banyak bagi mereka, dan mereka sudah merasa lelah sekali berkelahi selama hampir satu jam!
Untuk melarikan diri, tidak ada kesempatan lagi. Mereka berempat itu kini dikeroyok secara terpisah dan pihak pengeroyok terlampau banyak sehingga jangankan untuk melarikan diri, untuk bersatu dengan kawan-kawan saja mereka tidak sempat sama sekali. Datangnya serangan sepertj hujan dan setiap serangan lawan cukup berbahaya.
Terutama sekali Mayang. Biarpun ia lihai dan lincah, namun di antara mereka berempat, ia yang boleh dikata paling lemah. Masih untung baginya bahwa para pengeroyoknya jelas ingin menangkapnya hidup-hidup dan tidak ingin melukainya. Hal ini membuat ia masih mampu bertahan sampai sekian lamanya walaupun ia sudah hampir kehabisan tenaga dan napas Gadis inipun maklum mengapa para lawan itu tidak melukainya dan mengapa pula mereka hendak menangkapnya hidup-hidup. Hal ini membuat ia menjadi semakin marah dan iapun mengamuk mengambil keputusan untuk berkelahi sampai mati. dari pada harus menyerah. Yang terutama membuat ia muak dan hampir tidak tahan, hampir muntah atau pingsan adalah bau keringat para pengeroyoknya! Mereka mengenakan jubah, karenanya tubuh mereka mengeluarkan banyak keringat. Ditambah lagi, agaknya mereka jarang mandi dan jarang berganti pakaian sehingga bau tubuh mereka sungguh memuakkan! Ia sudah terbiasa mencium bau ternak, domba atau sapi, akan tetapi tidak pernah ada yang baunya sebusuk gerombolan orang yang mengeroyoknya itu ! Dengan kemarahan yang meluap dan kenekatan yang luar biasa, Mayang sudah berhasil merobohkan dua orang pengeroyok, akan tetapi tetap saja ia dikeroyok oleh sepuluh orang! Menghadapi pengeroyokan lima atau empat orang saja mungkin saja ia hanya dapat mengimbangi mereka, kini dikeroyok sepuluh! Napasnya sudah memburu dan keringatnya membasahi seluruh tubuh. Cambuknya masih meledak-ledak, akan tetapi ledakannya tidak senyaring tadi, tanda bahwa tenaganya sudah banyak berkurang. Kim Mo Siankouw adalah seorang wanita sakti. Ilmu kepandaiannya tinggi dan seperti juga Hay Hay dan Han Siong, andaikata tidak dikeroyok oleh demikian banyaknya lawan, tentu Gunga Lama tidak akan mampu menandinginya. Seperti dua orang pemuda sakti itu, ia dikeroyok oleh dua belas orang dan biarpun ia sudah merobohkan tiga orang pengeroyok, tetap saja masih ada sembilan orang pengeroyok yang mcngepung ketat. Tongkat sakti Gunga Lama sendiri amat berbahaya, dan para pembantunya juga merupakan pendeta-pendeta yang dahulunya menjadi jagoan-jagoan dari Dalai Lama.
Demikian pula dengan Han Siong dan Hay Hay. Mereka berdua mengamuk, akan tetapi harus mereka akui kebenaran berita yang pernah didengarnya bahwa Tibet merupakan kedung atau gudangnya orang-orang yang berilmu tinggi. Baru sekarang mereka merasakan buktinya.
Janghau Lama dan Pat Hoa Lama pasti tidak akan mampu menandingi mereka, akan tetapi dengan pengeroyokan seperti itu, mereka berdua merasa lelah dan juga terdesak.
Pada saat yang amat berbahaya bagi empat orang penyerbu itu, terutama bagi Mayang karena gadis ini mulai terhuyung-huyung dan nayris tertangkap, tiba-tiba terdengar bunyi lonceng yang di susul suara doa yang di lakukan banyak orang secara berbareng. Makin lama, semakin nyaring bunyi doa yang di lakukan banyak orang secara berbareng. Makin lama, semakin nyaring bunyi doa yang memanjang itu. Mendengar ini, Gunga Lama dan kawan-kawannya menjadi pucat wajahnya. Pat Hoa Lama yang tadinya mengeroyok Han Siong, begitu mendengar suara itu, segera menyusup lenyap di antara anak buahnya dan dia cepat berloncatan menghampiri Mayang. Ketika itu, Mayang masih di keroyok dan sudah terhuyung-huyung. Tiba-tiba, Pat Hoa Lama meloncat di dekatnya dan menyambar tubuh mayang.
Melihat ini, Kim Mo Siankouw mengeluarkan suara teriakan melengking, tubuhnya sudah mencelat meninggalkan Gunga Lama dan kawan-kawannya yang kelihatan bingung, dan ia sudah menghadang di depan Pat Hoa Lama, dengan pedang di tangan.
"Pat Hoa Lama, lepaskan murid pin-ni!" bentaknya.
"Kim Mo Siankouw, biarkan aku pergi! Muridmu ini hanya kujadikan sandera agar aku dapat meloloskan diri. Kalau engkau menghalangiku, terpaksa kubunuh dulu muridmu ini!" Berkata demikian, Pat Hoa Lama yang memanggul tubuh Mayang mendekatkan cakar harimaunya di kepala Mayang dan diapun melompat pergi. Kim Mo Siankouw tertegun, tak berani bergerak karena ia tahu bahwa kalau ia nekat menyerang, sebelum ia dapat merobohkan Pat Hoa Lama, tentu muridnya akan dibunuh lebih dulu oleh pendeta sesat itu. Sementara itu, Gunga
Lama dan kawan-kawannya sudah menyerangnya lagi walaupun mereka berada dalam keadaan ketakutan.
Suara itu makin bergemuruh dan tiba-tiba muncullah Dalai Lama dengan para pendeta Lama yang jumlahnya kurang lebih seratus orang! Dengan sikap anggun dan agung Dalai Lama meloncat ke atas meja dan berdiri sambil memegang tongkatnya. Melihat ini, para pendeta pemberontak menjadi panik. Akan tetapi, pada saat itu, para pengikut Dalai Lama sudah menyerbu dan kacaulah keadaan para pemberontak.
Gunga Lama yang melihat munculnya Dalai Lama dengan para pengikutnya, menjadi putus harapan dan nekat. Dia menggereng dan biarpun kini para pembantunya terpaksa harus menghadapi para pendeta dari Lasha, dengan marah dan nekat dia lalu menggunakan tongkatnya menyerang Kim Mo Siankouw. Wanita ini menyambut dengan tangkisan pedangnya.
"Tranggg!!" pedang itu meleset dan terus meluncur ke arah perut Gunga Lama. Pendeta itu memutar tongkat dan gagang tongkat menangkis pedang, dan pada saat itu, tangan kiri Kim Mo Siankouw menyambar ke arah kepalanya dengan tamparan yang amat dahsyat! Gunga Lama terkejut. Setelah kini tidak di bantu oleh kawan-kawannya, dan wanita sakti itu menyerangnya dengan sungguh-sungguh, dia segera terdesak. Karena tidak dapat menangkis tamparan itu, dia mengelak dengan loncatan mundur, namun Kim Mo Siankouw sudah meloncat dan mengejar dengan sambaran pedang bertubi-tubi. Gunga Lama mencoba untuk menangkis, akan tetapi tiba-tiba tubuhnya mengejang dan dia roboh sambil mendekap dada dengan tangan, tongkatnya terlempar. Ternyata dengan kecepatan kilat, tadi pedang di tangan Kim Mo Siankouw sudah berhasil menembus dada dan jantungnya dan robohlah Gunga Lama dan tewas seketika.
Hampir berbareng dengan robohnya Gunga Lama, Janghau Lama juga roboh oleh pedang Han Siong. Janghau Lama juga ditinggalkan kawan-kawannya yang terpaksa menghadapi pengeroyokan para pendeta pengikut Lama yang lebih banyak jumlahnya. Kini Hay Hay mendesak dan Janghau Lama hanya mampu mengelak ke sana-sini karena ular putihnya juga sudah putus lehernya terbabat pedang Hong-cu -kiam. Hay Hay memang suka mempermainkan orang. Kalau dia mau, tentu dia dapat merobohkan lawan ini dengan pedangnya, akan tetapi dia sengaja menyerang ke sana-sini dan membuat kakek yang tinggi kurus itu berloncatan dan mengelak seperti seekor monyet menari-nari.
Han Siong yang ditinggalkan lawannya, melihat ini Dia mendongkol. Sahabatnya itu datang hampir terlambat dan nyaris dia menjadi seorang pendeta gundul! Diapun menerjang dan menggerakkan Gin-hwa-kiam ditangannya.
Janghau Lama mengeluarkan jerit tertahan dan terjungkal roboh, lehernya hampir putus karena sambaran Gin-hwa-kiam. Hay Hay, kenapa engkau masih juga main-main? Aku hendak menyusul gadis itu!"
"Mayang? Ke mana ia? Apa yang terjadi?" Hay Hay terkejut.
"Pendeta sialan yang tadi melawanku menangkapnya dan membawanya pergi. Aku hendak mengejarnya!" Setelah berkata demikian, Han Siong lalu melompat dan lari ke arah dilarikannya Mayang oleh Pat Hoa Lama tadi. Akan tetapi tiba-tiba terdengar seruan lembut namun kuat bukan main dari arah kiri.
"Heii, orang muda, berhenti kau!" Han Siong terkejut bukan main ketika tiba-tiba kedua kakinya tidak mampu bergerak, seperti tertahan oleh sesuatu! Dia menengok dan melihat seorang pendeta Lama tua berdiri di atas meja, berdiri tegak menonton perkelahian itu dan pendeta itu memegang sebatang tongkat. Melihat dia, Han Siong menduga bahwa tentu ini seorang di antara kawan-kawan Gunga Lama, maka diapun cepat meloncat dengan pedang di tangan, menyerang pendeta tua yang berdiri di atas meja itu. Dengan sikap tenang, pendeta tua itu menggerakkan tongkatnya menangkis.
"Tranggg…… !" Akibatnya, tubuh Han Siong terlempar ke belakang oleh tenaga tangkisan yang amat kuat itu. Han Siong terkejut bukan main. Pendeta ini sungguh sakti. Dia melompat lagi maju untuk menyerang, akan tetapi kini pendeta itu mengebutkan lengannya yang terbungkus jubah yang berupa kain dibalutkan di tubuh itu. Angin keras menyambar dan kembali Han Siong terlempar!
"Omitohud…. engkau orang muda yang kuat dan tangkas, sayang mau dijadikan Dalai Lama palsu. Engkau tidak boleh diampuni lagi….. " kata pendeta Lama tua itu dan ia pun meloncat turun dari atas meja, tongkatnya melintang di depan dada, siap untuk menerjang Han Siong yang juga sudah siap menjaga diri, tidak lagi berani sembarangan menyerang karena maklum akan kehebatan lawan. "Losuhu, tahan dulu……!" tiba-tiba terdengar bentakan halus dan Kim Mo Siankouw telah meloncat ke tengah-tengah, di antara mereka. "Losuhu, harap jangan menyerang pemuda ini!" . "Pendeta Lama tua itu adalah wakil Dalai Lama yang kalau ada urusan keluar mewakili Dalai Lama sendiri sehingga dia lebih dikenal di tempat umum dari pada Dalai Lama sendiri.
Bahkan banyak yang menyebut bahwa dialah Dalai Lama, pada hal hanya wakilnya. "Omitohud….. kiranya Kim Mo Siakouw. Mengapa engkau mencegah pinceng menghukum orang muda yang jahat ini, Siankouw? Mengapa pula engkau melindungi orang yang hendak memberontak kepada pinceng?" . "Siancai…… losuhu salah mengerti. Sejak kapan pin-ni mencampuri urusan losuhu? Akan tetapi kalau pin-ni membiarkan losuhu membunuhnya, maka losuhu jatuh ke dalam dosa yang besar sedangkan pin-ni juga bersalah membiarkan terjadinya pembunuhan atas diri orang yang tidak berdosa. Pemuda ini sama sekali tidak bersekutu dengan para pemberontak, losuhu. Bahkan hampir saja dia menjadi korban, dipaksa menjadi Dalai Lama yang baru untuk dijadikan alasan oleh para pemberontak itu untuk merampas kedudukan. Sejak dia ter lahir , para pendeta Lama mengejar-ngejar dia, dan sekarang hampir saja dia dijadikan alat untuk merampas kedudukan losuhu. Dia adalah Pek Han Siong yang dahulu dijuluki Sin-tong." "Omitohud….. , begitukah? Orang muda she Pek, kalau begitu maafkanlah pin-ceng," kata wakil Dalai Lama yang oleh banyak orang sudah dianggap sebagai Dalai Lama sendiri karena dia memiliki kekuasaan dan wewenang sepenuhnya mewakili Dalai Lama. "Kiranya engkau anak dari Nam-co yang dahulu dicalonkan menjadi pengganti Dalai Lama akan tetapi selalu menolak?" Han Siong memberi hormat, "Sejak dulu sampai sekarang, baik keluarga maupun saya sendiri, tidak mempunyai minat untuk dijadikan Dalai Lama, lo-cian-pwe. Karena itu, tadinya saya ingin menghadap Dalai Lama untuk mohon agar saya tidak dikejar-kejar lagi. Pendeta tua itu tersenyum. "Kami tidak pernah memaksa orang menjadi Dalai Lama orang muda. Biarpun engkau memiliki tanda-tanda sejak dalam kandungan bahwa engkau penitisan Dalai Lama, namun kalau engkau menolak, kami menganggap hal itu sebagai garis nasibmu yang sudah ditentukan dan kami tidak berani melawan takdir. Sudah ada petunjuk untuk memilih calon lain."
Sementara itu, pertempuran sudah berakhir. Sisa para pemberontak sudah menyerah dan ditawan. Baru Kim Mo Siankouw bingung mencari Mayang yang tadi ditawan Pat Hoa lama.
"Eh, di mana muridku Mayang? Kemana ia dibawa pergi?" "Tadi saya melihat ia dilarikan seorang pendeta Lama dan dikejar oleh Hay Hay." kata Han Siong.
"Ah, kalau begitu aku harus mengejar dan mencarinya!" seru Kim Mo Siankouw sambil melompat, akan tetapi ia menoleh kepada pemuda itu. "Ke mana ia dilarikan?" "Ke arah sana, lo-cian-pwe." Kim Mo Siankouw lari cepat menuju ke arah yang ditunjuk Han Siong. Pemuda itupun cepat mengejar karena dia ingin membantu kalau-kalau Hay Hay menghadapi bahaya di sana.
"Lepaskan aku….. ! Lepaskan….. ah tolooongg….!" "Diam kau!" Pat Hoa Lama cepat menotok leher gadis itu dan Mayang tak mampu berteriak lagi. Tadi ia disambar oleh Pat Hoa Lama yang menotoknya dan memanggulnya lalu melarikannya. Karena lelah dan merasa ngeri, Mayang jatuh pingsah dalam panggulan pendeta sesat itu. Ketika ia siuman, biarpun tidak mampu bergerak, ia segera menjerit-jerit sampai ia terdiam oleh totokan pada lehernya. Pendeta itu menuju ke lereng bukit yang berbatu-batu dimana terdapat banyak guha dan memasuki sebuah di antara guha-guha di bukit kapur itu. Dia menarik sebuah kaitan besi yang tersembunyi di antara tonjolan batu-batu dan terdengar suara keras. Dinding sebelah dalam dari guha itu bergerak dan nampak sebuah lubang cukup dimasuki seorang manusia. Dia menyelinap masuk membawa tubuh Mayang dan mendorong kembali kaitan besi dan batu itupun bergerak lagi menutupi lubang. Dari luar, takkan ada orang dapat menduga bahwa di guha itu ada pintu rahasia. Kiranya di balik batu itu ada ruangan guha yang cukup luas dan di situ terdapat perabot sederhana, tempat tidur dan meja kursi. Bahkan terdapat bahan-bahan makanan. Tempat ini merupakan persembunyian rahasia yang dipersiapkan olehnya kalau-kalau gerakan mereka gagal dan mereka harus melarikan diri dan menyembunyikan diri.
Pat Hoa Lama membaringkan tubuh Mayang di atas dipan bambu dan dia duduk di tepi pembaringan lalu tertawa. "Ha-ha-ha, di sini engkau boleh menjerit seseukamu. Dinding ini tidak tembus suara dan tidak akan ada orang yang mampu mendengarmu, ha-ha-ha!" Untuk membuktikan kebenaran ucapannya, Pat Hoa Lama membebaskan totokan pada leher gadis itu sehingga Mayang dapat mengeluarkan suara kembali. Akan tetapi Mayang bukan seorang gadis yang bodoh. Biarpun ia merasa takut dan ngeri, akan tetapi ia tahu bahwa pendeta itu tidak berbohong sehingga selain percuma saja kalau ia menjerit, juga hal ini hanya akan menambah kegembiraan pendeta yang sadis ini. Ia memutar otaknya. Biarpun usianya baru delapan belas tahun, akan tetapi ia seorang gadis yang tidak terkekang, ia bebas menggiring dan mengirim ternak dari satu ke lain daerah sehingga ia banyak mendengar, banyak pula melihat dan iapun bukan seorang gadis yang buta huruf. Kim Mo Siankouw telah mengajarnya membaca dan menulis sehingga ia banyak pula membaca kitab. Ia tahu akan kejahatan orang seperti pendeta sesat ini dan dengan hati ngeri ia pun maklum bahaya apa yang mengancam dirinya. Namun, tidak mungkin subonya mendiamkannya saja. Subonya pasti akan mencarinya. Juga Hay Hay! Tak mungkin Hay Hay diam saja. Ia harus pandai mengulur waktu dan karena ia tidak mampu bergerak, satu-satunya cara hanya melalui percakapan.
"Losuhu, engkau adalah seorang pendeta Lama yang hidup suci dan bersih. Mengapa engkau menawanku dan apa yang akan kaulakukan kepada seorang gadis seperti aku?"
Pendeta itu menyeringai. Nampak giginya yang tinggal empat buah, besar-besar dan menghitam. "Heh-heh-heh, nona manis! Engkau masih bertanya lagi mengapa kau kutawan? Pertama, karena engkau seorang gadis yang amat manis dan aku tergila-gila kepadamu. Ke dua, engkau adalah murid Kim Mo Siankouw dan bersama gurumu engkau telah membikin gagal rencana kami. Apa yang akan kulakukan kepadamu? Heh-heh, sedang kupikirkan. Aku harus membalas dendam. Engkau dan gurumu telah membasmi dan menghancurkan semua rencana kami.
Kawan-kawanku telah tewas. Hem, dosamu besar sekali!"
"Akan tetapi, kulihat tadi yang membasmi gerombolanmu adalah pendeta-pendeta Lama juga! Kalau tidak ada mereka yang datang, subo dan kami semua agaknya akan kalah," bantah Mayang untuk membela diri dan mengulur waktu.
"Hem, yang menjadi biang keladi adalah engkau! Engkau harus dihukum berat. Ya, engkau harus menebus semua dosamu, mernbayar semua kerugianku."
Diam-diam Mayang menggigil. Kenapa subonya atau Hay Hay belum juga datang?
"Losuhu, kalau engkau menggangguku, menyakiti atau sampai membunuhku, tentu sekali waktu subo akan dapat menemukanmu dan ia tentu akan menyiksamu untuk membalas kematianku! Dan engkau tahu betapa lihainya subo!" Ia menggertak.
"Heh-heh-heh! Kalau ia tahu! Ia takkan tahu. Ia takkan berhasil mencari kita. Tempat ini adalah tempat rahasia yang hanya diketahui oleh kami bertiga. Sekarang hanya aku seorang yang tahu. Kita akan berdiam di sini sampai mereka pergi. Ada makanan di sini, ada air, dan aku memiliki teman yang manis! Heh-heh-heh!" Pat Hoa Lama tertawa dan jari tangan kanannya mengelus dagu Mayang, membuat seluruh bulu di tubuh gadis itu meremang. Wajahnya menjadi pucat sekali dan perasaan takut membuat jantungnya seperti hendak pecah. "Losuhu, ingatlah bahwa engkau seorang pendeta yang seharusnya melakukan perbuatan baik. Kau ampunilah aku, losuhu dan kalau engkau suka membebaskan aku, maka aku berjanji akan membujuk subo agar ia tidak lagi mengganggumu dan juga suka melepaskan engkau."
"Apa? Membebaskanmu? Huh, aku belum gila! Engkau berdosa besar! Dengar apa yang akan kulakukan kepadamu! Membunuhmu begitu saja terlalu enak bagimu. Aku akan mempermainkan engkau, menjadikan engkau budakku yang menuruti segala perintahku. Setelah aku bosan, engkau akan kuberikan kepada gerombolan biadab yang hidup di hutan-hutan Pegunungan Himalaya sebelah utara. Kau tahu apa yang akan dilakukan manusia-manusia setengah binatang itu kepada seorang wanita? Ha-ha-ha, engkau akan dikeroyok oleh banyak laki-laki seperti binatang itu sampai engkau mati! Akan tetapi jangan khawatir, hal itu baru akan terjadi setelah aku bosan denganmu, ha-ha-ha!"
Dapat dibayangkan betapa takut dan ngeri rasa hati gadis itu. Tak terasa lagi, kedua matanya basah air mata. "Losuhu.... aku mohon kepadamu... kau..... kau bunuhlah saja aku sekarang juga! Aku lebih suka mati....!"
"Ha-ha-ha-ha!" Pendeta yang sudah kesetanan itu tertawa bergelak, gembira sekali mendengar rintihan korbannya. "Sekarang saja engkau sudah minta mati, apalagi kalau kelak engkau sudah kuserahkan kepada gerombolan orang biadab itu, ha-ha-ha! Engkau akan memilih seribu kali mati dari pada terjatuh ke tangan mereka. Akan tetapi sebelum itu, engkau akan lebih dulu menjadi budakku, menuruti segala kemauanku dan engkau akan hidup senang, heh-heh-heh!"
Mayang menyadari sepenuhnya bahwa meratap dan memohon tidak ada gunanya terhadap manusia berhati binatang itu, maka timbul kembali kekerasan hatinya. Teringat ia akan nasihat gurunya bahwa lebih baik mati sambil mengaum seperti seekor harimau dari pada hidup merengek-rengek dan menjerit-jerit seperti seekor babi. "Pendeta palsu berhati iblis! Kau kira aku sudi mentaatimu? Huh, engkau dapat menyiksaku, dapat membunuhku, dapat memaksa tubuhku, akan tetapi hatiku akan selalu membencimu dan akan selalu kucari kesempatan untuk membunuhmu atau membunuh diri!"
"Heh-heh-heh ! Kaukira engkau bisa melakukan itu? Ha-ha, sebentar lagi, engkau akan berlutut dan merengek kepadaku, minta kucinta dan kusayang. Aku tahu, engkau kebal terhadap sihir, akan tetapi aku memiliki bubuk racun ini yang akan membuat dirimu kehilangan ingatan, kehilangan segalanya dan menjadi hamba nafsu. Ha-ha, engkau akan menyenangkan sekali, manis."
"Tidak! Lebih baik aku mati!" Mayang menggerakkan mulut untuk menggigit lidahnya sendiri, akan tetapi agaknya Pat Hoa Lama sudah menduga akan hal ini. Cepat sekali tangan pendeta itu bergerak menotok lehernya dan leher itupun terkulai, Mayang tidak mampu lagi menggerakkan mulutnya. Kini hanya matanya saja menitikkan air mata, menyesal sekali mengapa dalam kemarahannya tadi ia mengemukakan keinginannya membunuh diri. Kalau tidak, tentu telah tergigit putus lidahnya dan ia akan menjadi tewas atau cacat.
"Ha-ha-ha, engkau tidak akan membunuh diri, manis. Engkau bahkan akan ingin hidup terus, haus akan cintaku, haus akan belaianku. Ha-ha-ha!" Tangan pendeta itu bergerak dan terdengar kain robek-robek, ketika dia merenggut robek dan lepas semua pakaian yang menutupi tubuh Mayang. Gadis itu tidak mampu bergerak, tidak mampu bersuara, hanya air matanya saja yang bergerak turun ke atas kedua pipinya yang pucat. Setelah mencabik-cabik pakaian gadis itu, Pat Hoa Lama terkekeh-kekeh sambil memandang tubuh korbannya dengan mata yang liar dan lapar, muka kanak-kanak yang makin mengerikan lagi, tubuhnya yang tinggi bongkok itu nampak semakin bongkok ketika dia mengeluarkan sebuah bungkusan. Jari-jari tangannya membuka bungkusan yang terisi bubuk hitam itu, sedangkan matanya tak pernah melepaskan tubuh Mayang.
Dituangkannya bubuk hitam itu ke sebuah mangkok, kemudian sambil tertawa-tawa dia menuangkan arak seperempat mangkok, lalu mengaduk bubuk obat itu dengan arak.
"Nah, manis. Kau minumlah ini, enak rasanya, rasa arak biasa. Engkau akan mabok dan pulas, setelah terbangun, ha-ha-ha-ha, engkau akan menjadi liar dan binal, sebinal seekor kuda betina, ha-ha-ha!" Dia menghampiri pembaringan. Mayang tidak mampu bergerak maupun bersuara, hanya sepasang matanya saja yang terbelalak ketakutan. Pat Hoa Lama duduk di tepi pembaringan, tangan kirinya memegang dagu Mayang, jari tangannya memaksa mulut gadis itu terbuka dan tangan kanan yang memegang mangkok sudah siap untuk menuangkan isi mangkok ke dalam mulut yang sudah terbuka lebar itu."
"Brakkkkk...... !" Dinding batu itu ambrol ke dalam. Pat Hoa Lama terkejut bukan main sampai mangkok itu terlepas dari tangannya, jatuh ke atas lantai dan pecah isinya mengalir hitam ke atas lantai batu. Sesosok bayangan berkelebat dan Hay Hay telah berdiri di depan Pat Hoa Lama! Melihat Hay Hay, gadis itu menangis tanpa Suara, hanya air matanya saja yang membanjir keluar dan tubuhnya rerguncang-guncang!
Sekali lirik tahulah Hay Hay akan keadaan Mayang dan dia sudah marah bukan main. Tadi dia mengalami kesulitan ketika melakukan pengejaran karena yang dikejar lenyap di lereng berbatu-batu itu. Dengan hati-hati dan teliti dia mengikuti jejak, melihat batu-batu yang berserakan, dan akhirnya dia mendengar jerit melengking dari Mayang ketika gadis itu minta tolong dan sebelum ia ditotok gagu. Dan dengan penuh ketelitian, dia dapat menemukan guha itu dan melihat bentuk dinding yang rata itu, diapun merasa curiga. Akhirnya, dengan menggunakan sebungkah batu sebesar perut kerbau, dia mengerahkan seluruh tenaganya dan menghantamkan batu besar itu ke dinding sebelah dalam guha itu. Dinding itu jebol dan ternyata dia menemukan Pat Hoa Lama di sebelah dalam, sudah siap untuk meminumkan sesuatu kepada Mayang, gadis yang sudah tidak mampu bergerak dan dalam keadaan telanjang bulat itu.
"Keparat jahanam!" Dengan kemarahan yang membuatnya seperti gila, Hay Hay mencabut Hong-cu-kiam dan menyerang pendeta yang masih terkejut dan bingung itu. Dalam kegugupannya, pendeta itu menangkis sinar emas pedang pusaka itu dengan lengan kirinya. Dia menjerit karena lengan itu putus! Dan sebelum dia sempat menghindarkan diri, pedang itu telah menembus lehernya dan Pat Hoa Lama terjengkang, roboh dan tewas seketika!
Hay Hay cepat merenggut jubah pendeta itu sebelum tergenang darah lalu dia menyelimuti tubuh Mayang dengan jubah yang lebar itu, dan dibebaskannya gadis itu dari totokan gagu dan totokan yang membuat kaki tangannya lumpuh.
"Hay Hay..... ah, Hay Hay..... hu-hu-hu-huuuhh !" Mayang bangkit merangkul dan menangis di pundak Hay Hay.
"Tenanglah, Mayang. Bersyukurlah kepada Tuhan bahwa kedatanganku belum terlambat " kata Hay Hay, diam-diam merasa bersyukur sekali, karena dia dapat menduga bahwa kalau semenit saja dia terlambat dan gadis itu sudah minum cairan hitam itu, entah apa yang akan terjadi dengan gadis manis itu.
Mayang menangis, mengguguk sampai Hay Hay merasa betapa air mata menembus bajunya dan membasahi pundak dan dadanya, "Hay Hay...., hu-hu-huuuu......dia..... mau meracuni aku... membikin aku kehilangan ingatan kemudian dia.... katanya kalau sudah bosan ......akan memberikan aku kepada gerombolan manusia biadab setengah binatang......hu-hu-huuuu... !"
Hay Hay mengepal tinju. Jahanam betul pendeta itu, pikirnya. Dia menepuk-nepuk pundak yang kini terselimuti jubah itu dan mengelus rambut yang halus itu. "Sudahlah, Mayang. Engkau sudah selamat, dan dia sudah mati. Jangan menangis lagi, Mayang. Kalau terlalu banyak menangis, nanti matamu membengkak, kemerahan dan mukamu menjadi jelek!"
Mendengar ini, agak tergesa-gesa Mayang mengangkat mukanya dari pundak pemuda itu, menyusut air matanya lalu memandang kepada Hay Hay, bibirnya sudah membayangkan senyum! "Bagaimana, Hay Hay, apakah aku menjadi jelek sekali?" Hay Hay hampir bersorak. Gadis ini luar biasa. Baru saja terbebas dari bahaya maut, kini sudah dapat tersenyum dan sudah memperhatikan kecantikan wajahnya!
"Wah, engkau bertambah manis, Mayang. Kedua pipimu menjadi begini merah, seperti buah apel masak "
Sepasang mata yang agak membengkak itu memandang sayu. "Hay Hay, aku..... aku berterima kasih kepadamu. Aku..... aku hutang budi, hutang kehormatan, hutang nyawa kepadamu..... selama hidupku takkan kulupakan...."
"Hushhh! Memangnya aku ini tukang kredit, memberi hutang begitu banyak macamnya? Mana kau bisa bayar? Sudahlah, kita bikin lunas saja, engkau tidak hutang apa-apa, aku tidak menghutangkan sesuatu. Bisa enak tidur kan?"
"Aku berterima kasih! Aku.....aku !" Tiba-tiba Mayang merangkul leher Hay Hay dan mencium pipi pemuda itu dengan kuat sekali di kanan sekali di kiri, kemudian dia menjadi lunglai dan menangis lagi, kini mukanya disembunyikan di dada Hay Hay.
Hay Hay menjadi bengong dan kedua matanya, kalau saat itu ada orang lain melihatnya, nampak juling saking kaget dan herannya. Kedua pipinya masih terasa sedut-senut bekas ditimpa hidung dan mulut Mayang. Lalu dia tersenyum dan memeluk kepala itu, penuh rasa sayang.
"Engkau anak nakal, bikin aku kaget setengah mati." Akan tetapi dia membiarkan Mayang menangis lirih di dadanya.
Tiba-tiba nampak bayangan berkelebat dan di situ sudah berdiri Kim Mo Siankouw dan Han Siong! Melihat adegan mesra itu, Hay Hay memeluk seorang gadis bugil yang hanya berselimut jubah pendeta dan yang menangis di dadanya, Han Siong berdehem. Dasar mata keranjang, pikirnya. Kalau sudah menolong gadis itu, kenapa pakai dirangkul-rangkul dan bermesraan? Tidak cepat-cepat membawanya keluar dari guha itu? Tentu saja pertanyaan ini hanya diteriakan oleh hati Han Siong, sedangkan mulutnya tinggal diam. Kim Mo Siankouw memandang ke arah mereka, lalu ke arah mayat Pat Hoa Lama yang menggeletak tanpa nyawa dan tanpa jubah, juga ke arah tumpukan robekan pakaian muridnya. Tentu saja ia merasa khawatir bukan main, namun juga bersukur bahwa agaknya pemuda lihai itu telah berhasil menyelamatkannya.
"Mayang " Ia memanggil muridnya.
Mayang cepat mengangkat mukanya dan melihat subonya, ia lalu melepaskan diri dari Hay Hay dan menjatuhkan diri berlutut di depan wanita itu sambil menangis, "Subo...!" Kim Mo Siankouw merasa heran. Biasanya, Mayang adalah seorang gadis yang amat tabah dan tak pernah ia melihat gadis itu menangis. Akan tetapi sekarang, begitu mudahnya gadis itu menangis. Hal ini baginya merupakan suatu tanda bahwa muridnya itu sedang dilanda cinta.
"Sudahlah, Mayang, hentikan tangismu. Bagaimanapun juga, engkau terhindar dari malapetaka, bukan?"
Mayang mengangguk cepat. "Teecu selamat berkat pertolongan Hay Hay, subo."
Kim Mo Siankouw memandang pemuda itu yang sedang berbisik-bisik dengan Han Siong. Hay Hay, kurang ajar engkau! Engkau terlambat dan "Hampir saja aku celaka Dan sekarang kembali engkau mempergunakan kesempatan dalam kesempitan terhadap nona itu." bisik Han Siong yang menegurnya.
Hay Hay tersenyum. "Tenanglah, Sin-tong (Anak Ajaib). Seorang pendeta dilarang keras untuk merasa iri dan mendongkol."
Han Siong terbelalak. "Pendeta.....Apa maksudmu?"
"Lihat jubahmu. Engkau seorang pendeta berkedudukan tinggi, bukan?"
Han Siong baru teringat bahwa dia masih mengenakan jubah seorang pendeta Lama! Dia cemberut oleh godaan itu, akan tetapi segera tersenyum, karena betapapun juga, dia berterima kasih atas semua bantuan Hay Hay. Kini semua rahasia telah terungkap dan dia tidak akan dikejar-kejar lagi oleh para pendeta Lama! Ketika itulah Kim Mo Siankouw menghampiri Hay Hay.
"Orang muda, engkau telah menyelamatkan Mayang dan membuat muridku itu selamanya akan bergantung kepadamu. Pin-ni (aku) harap saja engkau tidak akan kepalang menolongnya dan tidak akan mengecewakan harapan kami." Setelah berkata demikian, Kim Mo Siankouw mengajak muridnya keluar dari dalam guha.
Hay Hay memandang kepada Han Siong dan berbisik, "Apakah gerangan yang ia maksudkan?"
Han Siong tersenyum gembira. Kini dia mendapat giliran untuk menggoda sahabatnya yang mata keranjang itu. "Hemm, engkau masih belum tahu ataukah pura-pura tidak tahu? Engkau telah menyelamatkan gadis manis itu dari malapetaka, dan melihat kalian tadi bermesraan seperti itu, hemm.....ke mana lagi larinya urusan kalau tidak berakhir dengan pernikahan?"
Hay Hay menganggap ucapan itu hanya kelakar, maka diapun tertawa saja. Akan tetapi dia lalu teringat akan sikap dan kata-kata Mayang tadi. Mayang mengatakan bahwa ia berhutang budi, kehormatan dan nyawa, dan bahwa gadis itu selama hidupnya tidak akan melupakannya, kemudian gadis itu telah menciumi kedua pipinya! Kini guru gadis itu berkata demikian, dan dia diharapkan agar tidak mengecewakan mereka.
"Wah, wah.....!" tiba-tiba wajahnya berubah merah sekali karena dia teringat pula akan keadaan tubuh gadis itu yang bugil ketika dia menolongnya. Jantungnya berdebar kencang ketika dia membayangkan kembali penglihatan itu. "Wah.....pernikahan....ya ampun.....ia memegangi kedua pipinya, matanya nanar menatap wajah Han Siong yang mentertawakannya.
Dengan dikawal tujuh pendeta Lama, wakil Dalai Lama menerima undangan Kim Mo Slankouw dan datang berkunjung ke rumah wanita sakti itu di puncak Awan Kelabu. Juga Hay Hay dan Han Siong terpaksa tidak dapat menolak undangan Kim Mo Siankouw, apa lagi karena merekapun ingin bicara dengan wakil Dalai Lama.
Mereka dijamu dengan masakan yang tidak mengandung daging binatang, dan dalam kesempatan ini Han Siong menceritakan penderitaannya sejak terlahir sehubungan dengan pengejaran para pendeta Lama terhadap dirinya.
"Jangan khawatir, Pek-taihiap," kata wakil Dalai Lama. "Mulai sekarang tidak akan ada pengejaran lagi. Sesungguhnya, sudah sejak lama kami tidak mencarimu, semenjak kami yakin bahwa taihiap tidak suka menjadi seorang pendeta. Sungguh tidak kami sangka bahwa taihiap hendak dipergunakan oleh para pemberontak. Mereka ingin mengangkat taihiap untuk menjadi Dalai Lama tandingan dan mempengaruhi para pendeta di Tibet untuk mengakui taihiap sebagai DalaiLama sejati yang baru. Hal itu berbahaya sekali dan mungkin saja usaha mereka itu akan berhasil karena taihiap memang mempunyai ciri-ciri untuk menjadi Dalai Lama. Akan tetapi sekarang, calon Dalai Lama yang baru sudah ada dan kami sudah membebasKan taihiap."
Tentu saja Han Siong merasa girang sekali. Seperti diangkat sebongkah batu besar yang selama ini menekan perasaannya dan yang membuatnya selalu merasa tidak aman.
Karena hari telah menjelang senja dan perjalanan ke Lasha masih jauh dan tak mungkin dilakukan di waktu gelap, maka wakil Dalai Lama menerima dengan senang hati ketika Kim Mo Siankouw mengundangnya untuk melewatkan malam di rumahnya yang besar itu. Juga dua orang pemuda yang sudah diterima sebagai tamu terhormat bahkan sahabat itu mendapatkan dua buah kamar.
Malam itu, pintu kamar Han Siong diketok orang. Dia membuka daun pintu dan seorang pelayan wanita memberi hormat. "Maaf kalau saya mengganggu, Pek-taihiap. Saya diutus oleh Siankouw untuk mengundang taihiap ke ruangan belakang karena Siankouw ingin membicarakan hal yang penting denganmu."
Tentu saja Han Siong merasa heran, akan tetapi dia tidak membantah, lalu mengikuti pelayan itu menuju ke ruangan belakang. Di ruangan itu telah menanti Kim Mo Siankouw dan seorang wanita setengah tua yang dikenalnya sebagai ibu Mayang.
"Duduklah, Pek-taihiap dan terima kasih bahwa taihiap suka memenuhi permintaan kami untuk datang kesini," kata Kim Mo Siankouw.
"Terima kasih," kata Han Siong setelah memberi hormat, lalu duduk ke atas kursi berhadapan dengan dua orang wanita itu. "Ada keperluan apakah yang Siankouw hendak bicarakan dengan saya?"
Kim Mo Siankouw tersenyum dan Han Siong merasa kagum. Wanita yang usianya sudah enam puluh tahun ini masih nampak anggun dan jauh lebih muda dari usia sebenarnya kalau tersenyum, "Harap jangan kaget kalau malam-malam begini kami mengundangmu, Pek-taihiap. Sebetulnya kami hanya mengganggu saja, karena kami hanya membutuhkan keterangan darimu tentang sahabatmu itu, yatu Hay Hay." Karena Mayang selalu menyebut nama Hay Hay begitu saja, maka nama itu menjadi dikenal sekali dan baik ibunya maupun Kim Mo Siankouw juga menyebutnya Hay Hay. "
Han Siong melebarkan matanya dan memandang heran. "Keterangan tentang Hay Hay? Mengapa? Apa yang Siankouw maksudkan? Apakah dia masih diragukan setelah jasanya yang besar? Saya berani menanggungnya bahwa dia seorang yang baik dan....."
Bukan begitu maksud kami, taihiap. Sebaiknya kami berterus terang saja. Sesungguhnya, kami, yaitu pin-ni dan juga ibu Mayang telah mengambil keputusan untuk menjodohkan Mayang dengan Hay Hay.Oleh karena taihiap adalah sahabat baiknya, maka kami ingin mengetahui segalanya tentang dia."
Wajah Han Siong berseri dan senyumnya melebar. Hatinya lega, dan dia bahkan merasa gembira sekali. Bagus, pikirnya. Sekarang tiba saatnya kuda jantan yang binal itu dipasangi kendali! Kalau sudah beristeri, tentu tidak akan berani bersikap mata keranjang lagi! Dan dia melihat bahwa Mayang juga seorang gadis yang hebat, sudah pantas kalau menjadi isteri Hay Hay. Cukup manis, cukup pandai dan cukup galak. Amat diperlukan seorang isteri yang galak untuk dapat mengendalikan watak Hay Hay yang mata keranjang itu. Dan aku akan membantu agar perjodohan ini tidak gagal, pikirnya mantap.
"Begitukah, Siankouw? Saya merasa ikut bergembira dengan niat baik itu. Nah, apa yang perlu ji-wi (anda berdua) ketahui?"
Kim Mo Siankouw menoleh kepada ibu Mayang dan berkata, "Nah, sekarang katakanlah apa yang ingin kauketahui."
Wanita itu dengan sikap yang malu-malu memandang Han Siong. Seorang wanita yang cantik seperti puterinya, pikir Han Siong. Akan tetapi sinar matanya sayu mengandung kedukaan sehingga dia merasa kasihan. Agaknya wanita ini pernah menderita batin, pikirnya.
"Apakah yang ingin bibi ketahui dari saya? Katakanlah dan saya akan memberi keterangan segala yang saya ketahui." kata Han Siong melihat sikap wanita itu yang seperti sungkan-sungkan.
"Hay Hay itu....dia.....she (nama keluarga, marga) Tang dan bernama Hay?" berkata demikian, wanita itu menatap tajam wajah Han Siong.
Han Siong termenung sejenak. Kalau sampai diketahui Kim Mo Siankouw bahwa Hay Hay putera penjahat besar yang cabul Ang-hong-cu, maka jelas bahwa tali perjodohan itu akan gagal. Dan orang sakti seperti Kim Mo Siankouw tentu sudah mendengar akan nama Ang-hong-cu itu.
"Ah, biasanya kami semua sahabatnya mengenalnya sebagai Hay Hay begitu saja. Pernah dahulu dia mengaku bahwa dia she Siangkoan. Akan tetapi kemudian dia mengaku bahwa shenya adalah Tang. Dia sendiri agaknya tidak begitu menghiraukan tentang nama keturunannya." "Siapakah nama ayahnya yang she Tang itu?" Ibu Mayang mendesak.
"Saya tidak tahu, bibi." Han Siong mengerutkan alisnya. "Bahkan Hay Hay sendiri juga tidak mengetahuinya. Pernah dia bercerita kepada saya bahwa ketika dia masih kecil, dia diaku anak oleh suami isteri keluarga Siangkoan. Kemudian dia mendengar bahwa ibunya telah tewas di laut dan bahwa ayahnya juga tidak ada, mungkin sudah tewas pula. Dia seorang sebatang kara, tak pernah melihat ayahnya maupun ibunya. Kasihan sekali dia, mungkin karena kesengsaraan yang dideritanya sejak kecil itulah maka dia menutupinya dengan sifatnya yang gembira dan jenaka. Akan tetapi dia seorang yang baik hati, seorang pendekar sejati, hal ini saya berani tanggung!"
Ibu Mayang mengangguk-angguk dan kelihatannya puas dengan jawaban itu. Kini Kim Mo Siankouw yang bertanya.
"Engkau tahu benar bahwa dia belum mempunyai isteri atau tunangan, Pek Taihiap?'
Han Siong menggeleng kepalanya. "Belum, Siankouw. Hal ini saya tahu benar karena kalau dia sudah bertunangan atau menikah, tentu memberitahu kepadaku dan tentu aku mengetahuinya. Dia masih sendiri, sebatang kara, tiada keluarga sama sekali! Hanya sahabat baik, di antaranya saya. Para pendekar mengenal siapa Hay Hay, karena dia pernah berjasa besar bersama para pendekar membantu pemerintah membasmi pemberontakan yang dipimpin mendiang Lam-hai Giam-lo." Han Siong sengaja memuji-muji temannya agar perjodohan benar dijadikan. Dia ingin melihat sahabatnya itu terikat dan tidak binal lagi."
Kini Kim Mo Siankouw bersikap serius. "Pek Tai-hiap, agaknya engkau akrab dan kagum kepada Hay Hay. Dia tentu seorang sahabatmu yang baik sekali."
"Bukan hanya sahabat, Siankouw, bahkan lebih dari itu. Dahulu, ketika masih bayi, Hay Hay pernah dipungut anak oleh orang tuaku, maka dia itu dapat dikatakan saudara angkatku pula."
"Bagus sekali. Tidak mengherankan mengapa kalian demikian akrab. Pek Tai-hiap, kalau engkau menyayang Hay Hay maka kamipun menyayang muridku Mayang. Dan engkau sendiri sudah menyaksikan betapa terdapat kemesraan antara Hay Hay dan Mayang. Maka, kami ingin mohon bantuanmu, tai-hiap, untuk menjadi perantara dan menyampaikan kepada Hay Hay tentang niat hati kami yang murni, yaitu menjodohkan Mayang dengan Hay Hay. Maukah engkau membantu kami, tai-hiap?"
"Tentu saja, dengan segala senang hati, Siankouw! Bahkan saya setuju sekali kalau ikatan perjodohan itu diadakan, dan Hay Hay sudah sepatutnya menyambut gembira! Aku tahu dia menyayang nona Mayang dan sekali ini, dia harus mau. Bahkan kalau perlu, saya akan membujuk atau memaksanya!"
Ibu Mayang bangkit dan memberi hormat kepada pemuda itu. Melihat ini, Han Siong cepat membalas dan berkata, "Bibi, harap jangpn memakai banyak 'Penghormatan dan sungkan....."
"Pek Tai-hiap, saya sebagai ibu Mayang sebelumnya menghaturkan terima kasih atas kebaikanmu yang hendak menjadi perantara perjodohan anakku Mayang dengan Hay Hay. Tentu saja ,bukan maksud kami untuk memaksa Hay Hay, tai-hiap. Akan tetapi perlu tai-hiap ketahui bahwa Mayang...... anakku yang keras hati itu, dengan tegas mengatakan kepadaku bahwa kalau ia tidak menikah dengan Hay Hay, ia......ia akan bunuh diri....."
"Ahhh.....!" Han Siong terkejut bukan main mendengar ini. Mayang, gadis yang lincah dan galak itu, hendak membunuh diri? "Kenapa sampai begitu, bibi?"
Wanita itu menarik napas panjang. "Mayang memang berwatak keras. Ia mengatakan bahwa Hay Hay merupakan satu-satunya pria yang masih hidup, yang melihat keadaan dirinya bertelanjang bulat. Kalau Hay Hay menjadi suaminya, maka hal itu tidak mengapa. Akan tetapi kalau tidak menjadi suaminya peristiwa itu dianggapnya sebagai aib yang amat memalukan dan satu-satunya jalan untuk mencuci aib itu adalah membunuh Hay Hay. Karena hal itu jelas tidak mungkin, maka ia akan membunuh diri kalau sampai ikatan jodoh itu gagal."
"Hemm, bukan itu saja," tiba-tiba Kim Mo Siankouw berkata, "kalau dia menolak, berarti dia telah menghina muridku dan menghinaku, karena dia telah mempermainkan kami. Hal ini tentu tidak mungkin kubiarkan saja. Kalau Mayang tidak berani membunuhnya, masih ada aku yang akan turun tangan membunuhnya!"
Han Siong terkejut. Ini semua gara-gara mata keranjangmu, Hay Hay, pikirnya.
"Harap Siankouw dan bibi jangan khawatir. Saya akan membujuk agar dia tidak menolak."
Dua orang wanita itu kembali mengangkat kedua tangan memberi hormat, dan Kim Mo Siankouw berkata lembut. "Kami percaya akan ketulusan dan kebaikan hati Pek Tai-hiap dan sebelumnya kami mengucapkan banyak terima kasih!"
Han Siong cepat membalas penghormatan mereka, lalu minta diri meninggalkan ruangan itu. Dia tidak kembali ke dalam kamarnya, melainkan langsung saja menghampiri kamar Hay Hay dan mengetuk daun pintunya.
"Tok-tok-tok!"
Hay Hay sudah hampir pulas ketika dia mendengar ketukan pada pintu kamarnya itu. Pendengaran itu seketika mengusir semua kantuknya dan dalam satu dua detik saia dia sudah terjaga dalam keadaan siap siaga menghadapi ancaman dari manapun datangnya.
"Tok-tok-tok!" ketukan itu terulang.
"Siapa di luar?" Hay Hay bertanya.
"Aku Han Siong. Bukalah pintunya, Hay Hay aku mau bicara. Penting sekali!" Hay Hay menarik napas lega, akan tetapi juga dia merasa mendongkol karena terganggu tidurnya. "Malam-malam begini mengganggu orang," omelnya, akan tetapi dia turun dari pembaringan dan membuka daun pintu kamarnya. Dengan wajah serius, Han Siong melangkah masuk dan melihat sikap sahabatnya itu, Hay Hay lalu menutupkan kembali daun pintu kamarnya. Ketika ia membalik, dia melihat Han Siong telah duduk di atas kursi dekat pembaringannya. Diapun tersenyum dan duduk di atas pembaringan.
"Han Siong, ada urusan apakah engkau malam-malam begini mengganggu orang yang sedang tidur?" tegurnya. Teringat olehnya betapa sebelum tidur tadi, dia masih memikirkan Han Siong dengan hati penuh iba. Sahabatnya itu, karena pengaruh sihir jahat, telah menggauli Ci Goat dan setelah menyadari hal itu, Han Siong merasa menyesal bukan main. Dia merasa berdosa kepada gadis itu dan orang seperti Han Siong tentu akan mempertanggung jawabkan perbuatannya sendiri, walaupun perbuatan itu didorong oleh pengaruh sihir jahat. Dan dia belum tahu bahwa gadis manis itu, yang telah menyerahkan diri kepadanya secara suka rela, karena memang mencintainya, kini telah meninggal dunia dalam keadaan yang amat mengerikan!
Kini Han Siong tersenyum dan bangkit dari duduknya, lalu memberi hormat kepadanya. "Sebelumnya, biarlah lebih dulu aku memberi selamat kepadamu, Hay Hay!"
Hay Hay terbelalak. "Eh, eh, apakah engkau bermimpi? Kenapa malam-malam begini mendadak memberi selamat kepadaku?" Dia juga turun dari pembaringan dan memegang lengan kawannya itu agar tidak memberi hormat kepadanya. "Jangan main-main, Han Siong. Katakan apa artinya semua ini."
"Hay Hay, bergembiralah. Aku datang membawa berita yang baik sekali. Engkau akan menjadi pengantin! Aku ikut merasa gembira, Hay Hay. Engkau sungguh beruntung sekali, dan memang sudah sepatutnya engkau berbahagia "
"Eh, nanti dulu! Menjadi pengantin! Bagaimana ini? Siapa dan mengapa?"
"Duduklah dan dengarkan keteranganku," kata Han Siong. Mereka duduk di atas dua buah kursi yang berhadapan, terhalang meja kecil di dekat pembaringan. "Baru saja aku dipanggil Kim Mo Siankouw dan ibu Mayang. Mereka mengajukan pertanyaan tentang pribadimu, kemudian mereka minta aku menjadi perantara agar menyampaikan kepadamu bahwa mereka ingin menjodohkan nona Mayang denganmu."
Hay Hay terkejut, bangkit seperti ada kalajengking menyengat pinggulnya dan dia memandang kepada sahabatnya itu dengan mata terbelalak. "Ahhh.......ehhh....bagaimana......? Tidak bisa ini.... Han Siong juga bangkit, menarik lengan Hay Hay dan diajaknya duduk kembali.
"Tenanglah, jangan ah-eh-oh begitu!" Dia mulai menikmati keadaan itu. Sudah terlalu sering Hay Hay menggodanya dan kini dia mendapatkan kesempatan untuk membalas! Betapa manisnya pembalasan dendam!
"Hay Hay, tidak perlu engkau meragu lagi. Mereka sudah bertekad bulat untuk menjodohkan nona Mayang denganmu dan engkau sungguh beruntung sekali. Nona Mayang demikian cantik jelita dan baik, dan aku melihat bahwa engkau memang sudah pantas menjadi suaminya. Engkau harus menyetujui keinginan mereka, Hay Hay. Sukar untuk mendapatkan seorang calon isteri sehebat nona Mayang dan...."
".... dan aku menjadi suami orang lalu menjadi ayah dari anak-anak kecil terikat di sini, seperti seekor kera yang diikat pinggangnya, seperti seekor burung yang terkurung dalam sarang, kehilangan kebebasanku? Ah, tidak, Han Siong, aku tidak mau.....!"
"Apa? Berani engkau menolak nona Mayang? Hay Hay, jangan gila kau! Ia begitu cantik jelita, ia begitu pandai dan ia mencintaimu dan engkau...."
"Husshh, Han Siong. Engkau ini kenapa sih? Engkau seperti hendak mendorong-dorongku, engkau seperti hendak memaksaku menikah dengan Mayang. Engkau ini kenapa? Apakah masih ada sisa-sisa pengaruh sihir padamu? Ah, benar juga! Kalau engkau mendesakku, kenapa tidak engkau sendiri saja yang menikah dengan Mayang? Benar! Engkau akan merupakan suami yang baik, dan kalian serasi sekali, cocok kalau menjadi suami isteri. Biar aku yang akan mengusulkan kepada mereka agar engkau saja yang menikah dengan Mayang!"
"Hay Hay, hentikan kelakarmu itu. Aku tidak akan menikah dengan nona Mayang atau dengan wanita manapun juga, karena aku....." Dia berhenti dan wajahnya tiba-tiba nampak berduka.
"Engkau kenapa, Han Siong?" Hay Hay juga tidak menggodanya lagi melihat betapa wajah sahabatnya itu nampak bersedih.
Han Siong menghela napas panjang. "Hay Hay, hanya engkaulah yang tahu apa yang telah terjadi antara aku dan nona Ouw Ci Goat. Setelah apa yang terjadi dengan kami, walaupun hal itu terjadi karena aku dikuasai sihir, aku harus bertanggung jawab! Ialah satu-satunya wanita yang harus menjadi isteriku, karena ia telah......ternoda olehku......"
"Han Siong......! tiba Hay Hay memegang kedua tangan sahatnya itu dan hatinya merasa terharu sekali. Juga kagum. Pemuda ini memang pantas menjadi sahabatnya, pantas menjadi seorang pendekar budiman. Penuh tanggung jawab atas semua perbuatannya! "Han Siong, tenangkan hatimu, kawan! Terpaksa aku akan memberi tahu kepadamu akan hal yang amat menyedihkan, yang telah menimpa diri Ci Goat....."
Han Siong terkejut. "Apa? Apa maksudmu?"
"Ia........Ouw Ci Goat.......ia telah tewas, Han Siong."
Han Siong terkejut, wajahnya pucat dan matanya terbelalak. "Apa? Bagaimana? Hay Hay, ceritakanlah apa yang telah terjadi!"
Hay Hay menghela napas, penuh iba karena teringat akan keadaan gadis manis itu. "Ketika aku membayangimu, sampai ke kuil tua di mana tiga orang pendeta Lama itu berada, aku masuk melalui pintu belakang. Dan aku menemukan tubuh nona Ouw Ci Goat di bagian belakang kuil itu, sudah menjadi mayat, tentu terbunuh oleh mereka......." Han Siong melompat dan mengepal tinju. "Keparat jahanam para pendeta Lama itu.......
"Sudahlah, Han Siong. Mereka bertiga itupun sudah mati. Sudah dikehendaki Tuhan agaknya bahwa sampai sekian saja riwayat nona Ouw Ci Goat. Aku telah mengubur jenazahnya di dekat kuil itu, baru aku melakukan pengejaran ketika engkau dibawa oleh tiga orang Lama itu. Nah, engkau tahu sekarang, dan tidak perlu menyedihi yang sudah mati." Hay Hay menghibur dan sengaja dia mengambil sikap gembira lagi. "Dan itu berarti engkau telah bebas, Han Siong, engkau dapat menikah dengan nona Mayang!"
Dengan sikap masih penuh kedukaan, Han Siong berkata lirih, "Hay Hay, bagaimanapun juga, nona Ouw Ci Goat tewas karena aku! Bagaimana aku tidak akan berduka dan menyesal? Aku seorang yang bertanggung jawab, Hay Hay. Andaikata nona Ouw Ci Goat tidak tewas, aku akan dengan sungguh hati menikahinya! Dan kuharap engkaupun memiliki cukup kegagahan untuk mempertanggung jawabkan perbuatanmu terhadap nona Mayang. Karena kalau tidak, tentu aku akan membencimu dan aku tidak akan memandangmu sahabat lagi, Hay Hay. Mungkin akan kupandang engkau sebagai seorang laki-laki pengecut dan sebagai musuhku!" Hay Hay memandang kawannya itu dengan mata terbelalak dan lenyap semua sikap main-main dari wajahnya. "Han Siong, apa maksudmu? Engkau mengatakan aku harus bertanggung jawab terhadap Mayang? Apa artinya ini? Kalau kaukira aku telah......telah engkau keliru sekali!"
Han Siong yang masih tenggelam ke dalam kegetiran dan kedukaan itu, memandang wajah temannya dan suaranya terdengar bersungguh-sungguh. "Aku percaya, Hay Hay, bahwa engkau belum bertindak sejauh itu. Akan tetapi, engkau telah melihat gadis itu dalam keadaan telanjang bulat!"
"Heiii! Apa salahnya dengan itu, Han Siong? Memangnya aku yang menelanjangi nya? Aku hanya menyelamatkannya dari tangan Pat Hoa Lama yang hampir saja memperkosanya!"
"Benar, akan tetapi bagaimanapun juga, engkaulah satu-satunya pria hidup yang pernah meljhatnya dalam keadaan seperti itu. Dan engkaupun sudah bermesraan dengan nona Mayang, saling peluk dan saling cium! Apakah engkau hendak menyangkal bahwa nona Mayang amat mencintaimu?"
Hay Hay sekali ini memandang bodoh dan menggelengkan kepala. "Aku tidak tahu akan isi hatinya, Han Siong."
"Dan engkau berani menyangkal bahwa engkau mencintanya?"
"Itu......itu akupun tidak tahu benar. Aku suka, kagum dan sayang kepadanya, akan tetapi cjnta? Ah, aku tidak pernah merasa jatuh cinta....."
"Mata keranjang! Perayu wanita! Engkau sudah mendekapnya dan menciuminya dan engkau bilang tidak tahu apakah mencintanya? Hay Hay, apakah engkau hendak menjadi seorang jai-hoa-cat (penjahat pemetik bunga atau penjahat pemerkosa wanita)?"
Wajah Hay Hay berubah merah sekali karena saat Han Siong mengeluarkan ucapan itu, diapun teringat akan ayah kandungnya! Ucapan itu seperti mengingatkannya bahwa dia adalah putera kandung Ang-hong-cu (Si Kumbang Merah), seorang jai-hoa-cat yang amat keji dan jahat!
"Pek Han Siong!" katanya dengan ketus. "Apakah engkau hendak mengatakan bahwa karena ayahku seorang jai-hoa-cat, maka akupun menjadi seorang penjahat cabul?"
"Benar! Kalau engkau tidak mau bertanggung jawab dan menikah dengan nona Mayang lalu apa bedanya engkau dengan Ang-hong-cu?" Han Siong berkata marah.
"Engkau hendak menghinaku?" Hay Hay bangkit dan mengepal tinju.
Han Siong juga bangkit dan mengepal tinju. "Sesukamu kalau engkau berpendapat begitu! Pendeknya, kalau engkau tidak mau menikah dengan nona Mayang, engkau akan menghadapi tiga hal!"
"Huh! Engkau mengancam? Apa yang kaumaksudkan dengan tiga hal itu?" Hay Hay mengambil sikap menantang pula.
"Dengar baik-baik! Pertama, engkau akan menghadapi aku sebagai seorang musuh! Aku akan menganggapmu seorang yang merusak kehidupan seorang gadis, mendatangkan aib baginya dan tidak bertanggung jawab. Tentu saja aku tidak akan tinggal diam dan menantangmu!"
"Hemmm, itu hanya anggapanmu. Dan aku tidak mungkin dapat kaupaksa menikah hanya dengan ancaman itu"
"Ke dua," kata Han Siong tidak memperdulikan jawaban Hay Hay. "Engkau akan berhadapan dengan Kim Mo Siankouw yang akan menantangmu karena ia tidak mau membiarkan engkau menghina muridnya, merayu muridnya kemudian setelah muridnya jatuh cinta, engkau tidak bertanggung jawab."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar