"Apakah tidak berbahaya untukmu, nona?"
"Tidak. Andaikata aku kewalahan, masih ada suboku (ibu guru) yang akan menolongku. Aku dapat mendaki Ning-jing-san, ke puncak Awan Kelabu, menghadap subo dan minta bantuannya. Kalau aku bersama subo, jangankan baru tiga orang pendeta palsu tadi, biar ditambah sepuluh lagi semacam mereka, aku tidak takut!"
Sombongnya, pikir Hay Hay. Sombong akan tetapi manis. Galak akan tetapi gagah berani. Seorang gadis hebat. Ingin sekali dia melihat wajah gadis itu dengan jelas. Lalu dia mulai mengumpulkan kayu kering.
"Untuk apa?" tanya gadis itu sambil duduk di atas sebongkah batu sebesar perut kerbau.
"Untuk membuat api unggun," kata Hay Hay. "Kalau kita harus melewatkan malam di sini, perlu membuat api unggun untuk mengusir nyamuk dan hawa dingin."
"Api unggun akan nampak dari jauh."
"Eh, apakah engkau takut kalau sampai tempat kita diketahui orang?"
Suara merdu itu mengandung kemarahan. "Siapa takut? Kalau engkau tidak takut, bagaimana aku takut? Huh, kalau sampai ada musuh datang, yang mampus lebih dulu adalah engkau, bukan aku! Mengapa mesti takut?"
Hay Hay tersenyum. "Ha-ha-ha, akupun tidak takut, nona, karena aku yakin bahwa, nona tentu tidak akan membiarkan aku disembelih orang. Nona terlampau gagah dan terlampau baik untuk membiarkan aku dibunuh." Gadis itu diam saja sehingga Hay Hay tidak tahu bagaimana tanggapannya terhadap kata-katanya itu. Akan tetapi, ketika dia mulai menumpuk kayu dan hendak membuat api unggun, gadis itu menghampiri dan duduk di dekat tumpukan kayu, membantunya sehingga dia merasa girang karena hal ini saja membuktikan bahwa gadis itu tidak marah lagi.
Kalau Hay Hay menghendaki, sekali gosok dua batang kayu kering dengan pengerahan tenaga sin-kangnya, tentu akan timbul api. Akan tetapi dia tidak ingin memperlihatkan kepandaiannya dan dia menggosok-gosok dua batang kayu dengan tenaga biasa. Melihat sampai beberapa lamanya pemuda itu tidak berhasil membuat api, Mayang menjadi tidak sabar. Disambarnya dua batang kayu itu dari tangan Hay Hay dan diapun menggosok-gosok beberapa kali sampai kayu kering itu terbakar. Tumpukan kayu dibakar dan jadilah api unggun yang cukup besar, terang dan hangat.
"Aduhhhh.... ! Ya Tuhanku.... , sungguh hebat bukan main... !"
Gadis itu mengangkat muka memandang. Ia melihat pemuda itu terbelalak memandang kepadanya, matanya terbuka lebar dan mulutnya juga terbuka sehingga nampak tolol seperti orang kehilangan semangat.
"Ihh! Engkau ini kenapa sih?" tanya Mayang, agak terkejut juga karena tidak tahu apa yang menyebabkan pemuda itu nampak demikian kaget.
"Bukan main..... ! Sudah kuduga bahwa engkau tentu cantik manis, nona, akan tetapi tidak seperti ini! Cantik jelita seperti bidadari! Sungguh, engkau cantik jelita dan manis bukan main!"
Mayang meloncat berdiri. Tinggi ramping! Kedua tangannya bertolak pinggang dan agaknya jari jemari kedua tangannya dapat melingkari pinggang yang kecil itu. Mata yang sipit itu mengeluarkan sinar berkilat, mulutnya cemberut dan hidung yang agak besar namun bentuknya indah itu kembang kempis, cupingnya nampak jelas bergerak seperti cuping hidung seekor kuda betina dilanda berahi.
"Kau.... , kau..... ! Berani engkau mempermainkan dan memperolokku? Engkau hendak kurang ajar kepadaku, ya? Apakah engkau sudah bosan hidup?"
Hay Hay kelihatan terkejut dan terheran-heran, mengembangkan kedua lengannya dan dia berkata, "Ampun dewi..... ! Apakah dosa hamba? Siapa yang mempermainkan dan memperolokkan siapa? Nona, ketika tadi bertemu denganmu di dalam cuaca yang remang-remang, aku hanya, mengetahui bahwa nona memiliki bentuk tubuh yang ramping dan padat berisi, memiliki suara yang merdu, dan dalam keremangan itu aku melihat garis-garis wajahmu yang manis. Kemudian, setelah kita membuat api unggun dan cahaya api unggun jatuh menerangi wajahmu, baru aku melihat bahwa nona sungguh memiliki kecantikan yang luar biasa, jauh melampaui dugaanku semula. Kalau aku melihat wajah nona begini cantik jelita lalu kukatakan itu dengan terus terang, apakah hal itu merupakan dosa? Bagaimana mungkin aku mengatakan bahwa nona berwajah buruk, bersuara parau dan berperawakan jelek kalau keadaannya sama sekali berlawanan? Nona memiliki wajah yang cantik jelita dan manis, bentuk tubuh tinggi ramping yang sempurna, dan suara yang merdu seperti suara burung dewata.
Nah, salahkah aku? Kalau aku nona anggap bersalah, berdosa dan layak dibunuh, silakan!" Hay Hay sengaja memanjangkan lehernya seperti seekor angsa yang siap memberikan lehernya untuk dipenggal!
Mendengar pidato panjang itu dan melihat sikap Hay Hay, mau tidak mau Mayang tertawa dan iapun duduk kembali, kini mengamati wajah pemuda yang duduk di depannya terhalang api unggun. Harus diakui bahwa pemuda ini memiliki wajah yang tampan, memang tidak kalah oleh saudara misannya itu walaupun ketampanan mereka berbeda. Saudara misannya yang ditawan tiga orang pendeta Lama itu memiliki wajah yang bentuknya bulat, berkulit putih dengan alis hitam tebal, mata sipit. Sedangkan pemuda di depannya ini selain bertubuh tegap dengan dada yang bidang, juga hidungnya mancung, mulutnya selalu tersenyum, matanya bersinar-sinar dan bentuk wajahnya agak lonjong dengan dagu meruncing. Mulut dan matanya sungguh memiliki daya tarik yang kuat sekali.
"Apakah engkau agak miring?" tiba-tiba Mayang bertanya. Hay Hay melongo keheranan.
"Miring? Apanya yang miring?" tanyanya, tak mengerti.
Mayang tidak menjawab melainkan meletakkan jari telunjuk kirinya ke atas dahi sendiri, diletakkan menyerong. Barulah Hay Hay mengerti dan dia cemberut. Kurang ajar! Dia disangka gila!
"Kaukira aku ini setengah gila, nona? Aih, kira-kira dong kalau menghina orang. Kenapa nona menganggap aku gila?"
"Habis, bicaramu aneh-aneh. Engkau memuji-mujiku habis-habisan dan anehnya aku tidak jadi marah kepadamu. Biar kuanggap semua omonganmu tadi seperti ocehan seorang gila. Atau engkau seorang laki-laki perayu yang palsu, yang biasa menyanjung dan memuji wanita dengan rayuan maut untuk kaujatuhkan hatinya. Begitukah?"
Hay Hay menggeleng kepala. "Aku hanya seorang laki-laki yang jujur dan tidak mau pura-pura, nona. Kalau aku melihat setangkai bunga yang indah dan harum, aku akan memujinya seperti apa adanya, tidak berpura-pura tak suka. Kalau aku melihat seorang gadis yang cantik seperti nona, aku tidak pura-pura alim, pura-pura tidak mau melihat akan tetapi diam-diam melirik sampai mataku menjadi juling! Aku akan melihat secara langsung dan mengagumi kecantikanmu. Aku akan terus terang memujimu, bukan untuk merayu atau menjilat."
"Kalau begitu engkau mata keranjang!" seru Mayang.
Hay Hay tersenyum dan kembali Mayang tertegun. Pemuda ini dapat tersenyum demikian wajar dan terbuka, seperti senyum kanak-kanak, tidak dibuat-buat. "Nona, lebih baik dianggap mata keranjang akan tetapi jujur mengagumi kecantikan seorang wanita dari pada dianggap alim akan tetapi diam-diam mempunyai pikiran yang cabul terhadap seorang wanita!" Mayang tertegun. Selama hidupnya, belum pernah ia bertemu dengan seorang pria yang kata-katanya dan sikapnya seperti pemuda ini! Biasanya, seorang pria akan bersikap kurang ajar dan kasar, atau kalaupun nampak sopan santun akan tetapi pandang matanya mengandung nafsu berahi yang cabul. Akan tetapi, pemuda ini sikapnya ugal-ugalan karena terlalu jujur mengakui dan mengagumi kecantikannya tanpa disembunyikan lagi. Belum pernah ja berhadapan dengan seorang pemuda yang memuji-muji kecantikannya akan tetapi tidak membuat ia tersinggung, bahkan merasa bangga dan girang karena pujian itu sewajarnya dan jujur, tidak menyembunyikan pamrih yang cabul terhadap dirinya.
"Siapa sih engkau ini? Maksudku, siapa namamu dan dari mana engkau datang?"
"Namaku? Orang memanggil aku Hay Hay, nona dan aku tidak mempunyai tempat tinggal tertentu. Aku seorang pengembara, empat penjuru adalah dinding rumahku. Langit menjadi atap rumahku dan tanah ini menjadi lantai rumahku. Adapun saudaraku itu bernama Pek Han Siong, dia adalah putera ketua Pek-sim-pang di Kong-goan. Aku sedang merantau dan bertemu dengan Han Siong ketika tiba-tiba muncul tiga orang pendeta Lama itu dan mereka menangkap Han Siong. Aku lalu mengikuti mereka sampai malam ini berjumpa denganmu. Kalau boleh aku bertanya, siapakah engkau, nona?"
"Aku Mayang, tinggal bersama ibuku dan subo-ku di sebuah puncak di Pegunungan Ning-jing-san. Subo memelihara hewan ternak dan pekerjaanku adalah mengurus hewan ternak. Kadang-kadang aku menerima pekerjaan mengirim dan menggiring ternak yang di perdagangkan orang, dari satu ke lain daerah.
Diam-diam Hay Hay kagum. Gadis ini memang hebat. Melakukan pekerjaan yang amat berbahaya. Menggiring ternak yang sampai ratusan banyaknya melintasi daerah-daerah yang sunyi amatlah berbahaya. Tentu karena ia memiliki kepandaian tinggi maka ia berani melakukan tugas berbahaya itu. kaalu hanya perampok-perampok biasa saja akan celakalah mereka bertemu dengan gadis seperti mayang.
"Engkau tentu seorang gadis tibet, bukan? Dan apakah ayahmu juga tinggal di puncak itu? Engkau tadi hanya menyebut ibumu dan subo-mu."
"Ibu seorang wanita tibet, ayahku......seorang pria Han akan tetapi dia sudah pergi meninggalkan ibu, entah ke mana, entah masih hidup ataukah sudah mati." Hay hay merasa betapa ada kedukaan terkandung dalam suara gadis itu, maka diapun mencoba untuk menghiburnya.
"Engkau masih beruntung, Mayang, masih mempunyai seorang ibu. Aku sudah tidak punya ibu sejak aku bayi. Ibuku telah meninggal dunia." "Dan ayahmu?"
Hay Hay merasa dada dan perutnya panas. Kepada siapapun juga dia tidak sudi mengaku bahwa ayah kandungnya adalah Si Kumbang Merah, seorang penjahat cabul pemerkosa wanita, bahkan dia sendiri adalah akibat dari pemerkosaan yang dilakukan penjahat itu kepada ibu kandungnya!
"Hemm, seperti juga engkau, ayahku pergi, entah ke mana. Mungkin juga,...... dia sudah mati!"
Keduanya diam sejenak. "Hemm, engkau dan saudara misanmu itu, tidak memiliki kepandaian akan tetapi berani melakukan perjalanan di daerah yang rawan ini. sungguh tabah."
"Tidak ada artinya dibandingkan dengan engkau, Mayang. Engkau seorang wanita, seorang gadis remaja yang amat muda...... "
"Tidak muda sekali, usiaku sudah delapan belas tahun!"
Hay Hay tersenyum. "Ya, seorang gadis dewasa dan engkau berani menentang orang-orang jahat yang lihai. Maukah engkau menceritakan bagaimana engkau sampai dapat bentrok dengan tiga orang pendeta Lama itu?"
"Sore hari tadi ketika aku makan di kedai makanan di dusun Wang-kan, aku bertemu dengan tiga orang pendeta itu yang sedang makan bersama siapa tadi nama saudara misanmu itu? Han Siong? Ya, mereka makan bersama Han Siong. Lalu seorang di antara tiga orang pendeta itu, yang tinggi bongkok itu, menghampiri mejaku minta sumbangan. Pada saat itu, dia telah menyihirku dan dengan sihirnya dia memerintahkan aku untuk datang ke gubuk itu pada malam hari ini. Maka akupun datanglah!"
Hay Hay terkejut. Gadis ini dengan enak saja menceritakan bahwa ia disihir orang, dan diapun teringat betapa tadipun tiga orang pendeta itu tidak berhasil menguasai Mayang dengan kekuatan sihir. Diam-diam dia kagum bukan main.
"Mayang, engkau disihir malah datang berkunjung kepada mereka? Apakah engkau tidak takut disihir? Apakah engkau mampu melawan kekuatan sihir mereka?"
Mulut itu tersenyum mengejek. Hidungnya bergerak pada ujungnya dan manis sekali! "Huh, siapa takut menghadapi permainan kanak-kanak itu?"
"Engkau pandai bermain sihir?"
"Siapa sudi menjadi dukun sihir? Akan tetapi subo telah menggemblengku untuk melawan serangan sihir orang sehingga aku kebal terhadap segala macam permainan kanak-kanak itu! Pula, sebagai seorang penggiring ternak yang banyak jumlahnya, aku harus pandai menguasai ternak dengan kekuatan batin. Aku tidak bisa menyihir orang lain, akan tetapi tak seorangpun akan mampu menguasaiku dengan kekuatan sihirnya."
"Dan engkau datang ke gubuk itu mau apa?"
"Mau menghajar mereka, karena tiga orang pendeta itu palsu, mereka bukan orang suci melainkan orang-orang jahat yang mempunyai niat cabul terhadap diriku. Akan tetapi, sebelum aku berhasil menghajar mereka, engkau muncul dan membikin kacau dengan membakar gubuk !" Hay Hay tersenyum. Tentu saja dia lebih tahu. Kalau tidak dibakarnya gubuk itu, tentu Mayang telah tertawan!
"Mayang, tidak salahkah engkau bahwa tiga orang pendeta Lama itu akan membawa saudara misanku ke Bukit Bangau? Menurut pengakuan mereka ketika mereka mengajak saudara misanku dengan paksa, mereka adalah utusan Dalai Lama untuk mencari.......eh, pelayan pria."
"Mereka membohong! Bahkan menurut dugaan subo, tiga orang itu merupakan pendeta-pendeta Lama yang pernah mengadakan pemberontakan terhadap Dalai Lama. Pemberontakan itu telah dihancurkan dan mungkin saja tiga orang itu merupakan sisa dari para pimpinan pemberontakan yang sudah dibasmi itu. Aku akan melaporkan kepada subo tentang perbuatan mereka terhadap diriku, karena perbuatan itu membuktikan bahwa mereka adalah pendeta-pendeta palsu atau pendeta sesat!"
Terkejut juga hati Hay Hay mendengar keterangan yang sama sekali tidak pernah disangkanya itu. Mereka bukan utusan Dalai Lama? Kalau begitu, mengapa mereka berkeras hendak membawa Han Siong yang sejak kecil memang dicari oleh para pendeta Lama di Tibet karena Han Siong dianggap sebagai Sin-tong (Anak Ajaib) calon Dalai Lama?
"Mayang, kalau begitu, kenapa tidak sekarang saja kita menghadap subomu? Aku ingin sekali mendapatkan keterangan yang jelas tentang mereka! Aku mengkhawatirkan saudara misanku!"
Gadis itu memandang Hay Hay dan ia merasa heran. Pemuda ini tampan dan perayu, akan tetapi lemah dan tidak pandai silat, juga kadang ketololan. Begitu bertemu, sudah bersikap demikian akrab, menyebut namanya begitu saja tanpa sebutan nona. seolah-olah mereka sudah lama sekali bergaul dan menjadi sahabat. Anehnya, ia tidak merasa tersinggung karena sikap Hay Hay demikian wajar!
"Hay Hay, engkau tidak mengenal suboku. Kau kira mudah saja bagi orang luar untuk menghadap subo? Salah-salah, begitu bertemu, kalau engkau tidak pandai membawa diri, kalau tidak berkenan di hatinya, engkau akan dibunuh begitu saja!"
"Wah? Begitu jahatkah subomu, Mayang?"
"Sama sekali tidak jahat, akan tetapi ia paling benci kepada laki-laki yang lemah, apa lagi kalau penjilat dan perayu seperti engkau. Aku khawatir sekali kalau engkau akan dibunuhnya begitu ia melihatmu."
Mendengar ini, bukannya jerih, hati Hay Hay menjadi semakin tertarik. Akan tetapi dia bersikap pura-pura ketakutan. "Wah, sungguh berbahaya sekali. Aku akan bersikap baik-baik, Mayang. Kalau memang sudah nasibku tewas di tangan subomu, sudahlah, aku tidak akan merasa penasaran karena ia subomu!"
"Kenapa kalau dibunuh suboku tidak penasaran ?" Gadis itu tertarik.
Hay Hay tersenyum. "Aku akan mati dengan mata tertutup atau setengah terbuka karena aku akan selalu mengenangmu dan menghibur diri bahwa yang membunuhku adalah guru dari seorang gadis seperti bidadari yang......."
"Sudah, jangan mulai merayu lagi!" Mayang membentak akan tetapi tidak marah. "Jangan khawatir, kalau dia hen-dak membunuhmu, aku yang akan mintakan ampun bagimu dan biasanya subo memenuhi permintaanku. Akan tetapi kenapa engkau nekat hendak ikut aku menemui subo?"
"Aku amat mengkhawatirkan nasib saudaraku, dan aku ingin minta bantuan subomu untuk membebaskan dia." Kini Hay Hay mulai percaya akan keterangan Mayang bahwa tiga orang pendeta Lama itu tidak pergi ke Lasha dan agaknya memang ada suatu rahasia tersembunyi balik sikap para pendeta itu. Kalau mereka itu benar utusan Dalai Lama, tentu mereka merupakan pendeta-pendeta yang tinggi kedudukannya dan yang berwatak saleh, tidak seperti mereka itu yang telah membunuh Ci Goat, juga mempunyai niat cabul terhadap Mayang. Dia maklum betapa lihainya tiga orang itu, apa lagi kalau dibantu anak buah yang sampai seratus orang banyaknya. Dia perlu bantuan Mayang dan terutama sekali subonya yang agaknya merupakan seorang sakti yang mengasingkan diri di tempat sunyi ini.
"Baik, kalau begitu mari kita berangkat. Akan tetapi kuperingatkan engkau, Hay Hay, bahwa jalan pendakian ke rumah kami amat sukar. Apa lagi dilakukan malam-malam begini. Sekali engkau salah langkah dan jatuh, engkau akan menggelinding ke dalam jurang yang amat curam dan tubuhmu akan hancur, nyawamu akan melayang."
"Aku tidak takut, Mayang. Kalau aku takut berarti aku memandang rendah kepadamu."
"Eh? Kenapa begitu?"
"Karena aku yakin engkau tentu akan melindungi aku dan menjadi petunjuk jalah agar aku jangan sampai terguling ke dalam jurang. Kalau aku takut, berarti aku kurang percaya akan kemampuanmu."
Mayang tersenyum akan tetapi mengerutkan alisnya, "Engkau..... hemm, engkau bisa berbahaya!" Ia tidak menjelaskan apa yang ia maksudkan, dan dengan kakinya ia lalu menginjak -injak api unggun sampai padam. Ia menganggap pemuda ini berbahaya karena pandai sekali bicara, pandai mengambil hati dengan rayuan-rayuannya yang sungguh menyenangkan hati!
Berangkatlah mereka menyusup-nyusup di antara pohon-pohon. Mayang berjalan di depan dan Hay Hay di belakangnya. Perjalanan yang sukar karena cuaca remang-remang, akan tetapi agaknya gadis itu sudah mengenal benar daerah itu. Ia melangkah tanpa ragu dan Hay Hay mengikuti dari belakangnya. Dia tahu bahwa kalau gadis itu melakukan perjalanan sendirian saja, tentu gerakannya lebih lincah dan gesit. Kini, kalau ia terlalu cepat, Hay Hay berseru agar jangan meninggalkannya sehingga gadis itu melangkah biasa saja, tidak mempergunakan ilmu berlari cepat. Hay Hay memang sengaja tidak mau tergesa-gesa karena diam-diam dia harus mengenal daerah yang dilaluinya. Dia tidak tahu apa yang akan menimpa dirinya di tempat tinggal Mayang, maka yang terpenting dia harus tahu ke mana dia pergi dan mengenal, jalan kalau dia terpaksa harus melarikan diri dari tempat itu. Pula, senang sekali berjalan di belakang gadis itu. Biarpun cuaca remang-remang, namun dia dapat menikmati penglihatan yang amat indah yaitu gerakan tubuh Mayang ketika melenggang di depannya. Akhirnya mereka mulai mendaki bukit yang oleh gadis itu dikatakan sebagai tempat tinggal ibunya dan gurunya. Pegunungan Ning-jing-san mempunyai banyak puncak dan mereka tadi memang berada di daerah pegunungan itu. Sebuah di antara puncaknya menjadi tempat tinggal Mayang, ibunya dan subonya. Puncak itu disebut Puncak Awan Kelabu dan menjadi tempat pertapaan guru Mayang. Di tempat itu mereka mengusahakan ternak dan biarpun hidup di tempat sunyi, mereka tidak kekurangan sesuatu.
Setelah mereka mendaki puncak itu, Hay Hay mendapat kenyataan bahwa peringatan gadis itu memang benar. Jalan setapak itu amat sukar, licin dan juga sempit. Ada jalan yang lebarnya hanya setengah meter, di kanan kirinya merupakan jurang yang amat curam. Sekali kaki terpeleset, nyawa taruhannya.
"Aihh, sungguh mengerikan!" Kata Hay Hay berpura-pura. "Kalau jalan ke tempat tinggalmu begini sukar, bagaimana engkau bisa menggiring ternak melalui jalan seperti ini?"
"Untuk menggiring ternak, dapat melalui jalan lain yang lebar. Akan tetapi jauhnya dua kali lipat! Kalau tidak menggiring ternak, lebih cepat lewat jalan ini."
"Wah, sungguh berbahaya..... !" Hay Hay sengaja bersikap ketakutan.
"Kau takut?"
"Wah, tanpa bantuan, bagaimana aku dapat melalui jalan berbahaya di depan itu, Mayang?"
"Huh, engkau laki-laki lemah tiada guna!" Mayang mengomel akan tetapi ia memegang tangan Hay Hay dan menggandeng melewati jalan yang sempit dan licin itu. Di belakangnya, Hay Hay tersenyum nakal. Lembut dan hangatnya tangan Mayang! Dia pura-pura semakin ketakutan dan menggenggam tangan itu kuat-kuat dan gadis itupun memperkuat pegangannya sehingga dua buah tangan itu saling pegang dengan eratnya!
Setelah bagian jalan yang sukar dilewati dan mereka kini berjalan naik melalui jalan berbatu, keduanya masih saling bergandeng tangan! Setelah mereka tiba di puncak, di tempat datar, cuaca sudah mulai terang karena pagi menjelang tiba. Agaknya barulah Mayang teringat bahwa mereka masih saling bergandeng tangan. Ia seperti terkejut dan melepaskan pegangan tangannya.
"Ihh! Kenapa engkau masih terus menggandeng tanganku?" tanyanya bingung karena baru ia menyadari bahwa sejak melewati jalan yang berbahaya itu, ia sendiri tidak pernah ingat untuk melepaskan pegangan tangan pemuda itu!
"Tanganmu..... begitu halus dan hangatnya..... " Hay Hay berkata.
Gadis itu tiba-tiba membalik, menghadapinya dengan sinar mata mencorong marah. Akan tetapi ketika ia melihat wajah pemuda itu yang memandang kepadanya dengan polos dan jujur, teringat ia bahwa yang dihadapinya adalah seorang pemuda yang terbuka dan bicara seadanya, bukan bermaksud lain, maka iapun tidak jadi menggerakkan tangan untuk menampar.
"Kau.... kau dengan mulutmu..... kautahanlah sedikit kata-katamu yang penuh rayuan itu atau aku dapat lupa diri, menganggap engkau kurang ajar dar menamparmu!" bentaknya, akan tetapi suaranya lirih dan lebih tepat kalau dikatakan setengah berbisik atau mengomel Kiranya gadis itu menahan suaranya agar jangan sampai terdengar oleh subonya yang amat lihai.
"Maafkan aku, Mayang. Apa kau ingin aku mengatakan bahwa tanganmu itu kasar dan dingin? Berarti aklt berbohong......."
"Sudahlah! Jangan katakan apa-apa!" kata Mayang kewalahan dan diam-diam jari-jari tangannya yang tadi bergandeng dengan Hay Hay mengelus telapak tangannya sendiri untuk melihat apakah benar telapak tanganya itu halus dan hangat seperti yang dikatakan Hay Hay! Dan diam-diam timbul perasaan senang dan bangga dalam hatinya. Bagaimanapun,
Mayang hanya seorang wanita dan wanita namanya, mana ada yang tidak merasa senang kalau dipuji, apa lagi kalau yang memujinya itu seorang pemuda tampan dan yang ia tahu bukan sekedar merayu melainkan mengatakan keadaan yang sesungguhnya? Pemuda ini baginya seperti seorang juri atau penilai yang jujur dan adil, yang dapat dipercaya penilaiannya! Dan kalau dinilai bagus, alangkah puas dan senangnya hati!
Siapakah yang tinggal di puncak yang disebut Puncak Awan Kelabu itu? Keterangan yang diberikan Mayang kepada Hay Hay, walaupun belum lengkap, namun benar dan gadis itu tidak berbohong. Delapan belas tahun yang lalu, ketika Mayang berusia beberapa bulan saja, ibunya rnembawanya berkeliaran ke Pegunungan Ning-jing-san. Ibunya menggendong Mayang yang berusia tiga bulan itu sambil menangis, tertawa dan mencari-cari seseorang. Mencari ayah Mayang! Ibu muda itu ternyata telah menjadi seperti orang gila. Ia ditinggal pergi pria yang menjadi ayah Mayang, ditinggal begitu saja ketika kandunganya sudah tua tanpa memberitahu dan ia tidak tahu ke mana perginya pria itu! Ayah ibunya menjadi marah dan mengusirnya karena ia mengandung tanpa suami! Pria itu selalu mengunjungi kamarnya di waktu malam dan tak seorangpun mengetahui hubungannya dengan pria itu. Setelah ia mengandung tua, pria itu pergi begitu saja.
Dalam keadaan seperti gila ini, ibu mayang, puteri seorang suku bangsa tibet, mendaki puncak itu, dan di situ ia bertemu dengan seorang pertapa wanita. Pertapa itu berjuluk Kim Mo Siankouw (Dewi Berambut Emas) dan pertapa itu merasa kasihan kepada Mayang dan ibunya. Ia mengobati ibu muda itu sampai sembuh dan semenjak saat itu, Mayang dan ibunya tinggal bersama pertapa itu di puncak. Dan semenjak ibu dan anak itu berada di situ, kehidupan Kim Mo Siankouw juga berubah. Dahulunya, ia hanya bertapa dalam sebuah gubuk tua tanpa memperdulikan keadaan dirinya. Akan tetapi setelah ia harus memelihara ibu dan anak itu, Kim Mo Siankouw mulai berusaha peternakan, di bantu oleh ibu mayang. Beberapa tahun kemudian, peternakan itu menjadi besar dan keadaan mereka menjadi makmur. Bahkan kim Mo Sankouw menyuruh orang-orang di dusun pegunungan itu untuk membangun sebuah rumah yang besar, dan ia bahkan mengambil beberapa orang wanita pembantu untuk mengatur rumah tangganya. Sejak kecil, Mayang tinggal di situ dan ternyata bahwa Kim Mo Siankouw bukan sekadar seorang wanita yang mengasingkan diri bertapa di situ, melainkan seorang wanita yang sakti dan memiliki banyak ilmu! Dengan sendirinya, Mayang menjadi anak yang amat disayang oleh Kim Mo Siankouw, bahkan sejak kecil, Mayang telah digembleng oleh pertapa wanita itu, diberi makanan yang mengandung obat sehingga Mayang tumbuh menjadi seorang gadis yang memiliki tubuh yang amat kuat. Juga, semenjak berusia tujuh tahun, Mayang telah diajari ilmu membaca tulis dan juga terutama sekali ilmu silat oleh Kim Mo Siankouw. Akan tetapi, pertapa itu dengan keras melarang Mayang untuk memamerkan kepandaiannya kepada orang lain sehingga tidak ada yang tahu bahwa gadis itu amat lihai.
Setahu mereka hanya bahwa Mayang seorang gadis penggembala ternak yang cetakan dan pandai sekali, ahli menggiring ratusan ternak dari satu ke tempat lain yang jauh tanpa ada seekorpun yang tercecer, bahkan mampu melindungi mereka dari gangguan binatang buas! Kalau mereka melihat gadis itu meledak-ledakkan pecutnya sambil menggiring ratusan ekor ternak, tidak ada seorangpun yang tahu bahwa cambuk di tangannya itu mampu merobohkan pengeroyokkan banyak orang jahat yang berani mengganggunya!
Bukan hanya Mayang yang diberi pelajaran ilmu silat oleh Kim Mo Siankouw, bahkan juga ibu Mayang dilatih ilmu silat agar tubuhnya menjadi kuat.
Akan tetapi ibu dan anak ini tak pernah mendengar akan riwayat pertapa itu, seorang wanita yang usianya kurang lebih enam puluh tahun akan tetapi masih nampak anggun bahkan cantik, dengan wajah yang berkulit halus tanpa keriput, bentuk muka yang agung seperti seorang puteri, dengan sepasang mata yang masih jeli dan mencorong, dan mulut yang selalu tersenyum penuh kelembutan, akan tetapi sinar matanya yang mencorong itu kadang-kadang dapat bersinar keras. Ibu dan anak itu mengenalnya sebagai seorang wanita yang lembut hati, ramah dan budiman, akan tetapi juga sebagai seorang wanita yang kalau sudah marah, dengan mudah saja membunuh orang yang dianggap jahat! Ketika Mayang baru berusia sepuluh tahun dan ketika menggembala ternak di padang rumput, ternaknya diganggu oleh sekawanan perampok yang terdiri dari empat belas orang, Kim Mo Siankouw muncul dan dengan lembut ia menegur empat belas orang itu dan mengusir mereka. Akan tetapi empat belas orang itu memandang rendah kepadanya dan bahkan mengeluarkan kata-kata yang kasar dan cabul.
Dan terjadilah hal yang mengerikan itu. Kim Mo Siankouw menghajar mereka dan ketika mereka melawan dengan menggunakan golok, ia merampas sebatang golok lalu membunuh empat belas orang itu dengan golok. Dalam waktu sebentar saja empat belas orang gerombolan penjahat itu roboh malang melintang dengan kepala terpisah dari tubuh! Dengan sikap amat tenang, Kim Mo Siankouw menyuruh para pelayannya untuk menggali lubang besar dan menguburkan jenazah mereka itu.
Peristiwa ini membuat daerah itu menjadi aman. Tak ada seorangpun penjahat berani melakukan kejahatan sehingga para penduduk dusun di daerah itu amat berterima kasih kepada Kim Mo Siankouw. Apa lagi karena pertapa itu amat dermawan, siap menolong siapa saja yang membutuhkan bantuan, baik bantuan itu berupa uang, ternak, pengobatan maupun hanya nasihat.
"Sekali lagi, hati-hatilah engkau, Hay Hay. Kalau berhadapan dengan subo, jangan sekali-kali engkau pecengisan, jangan main-main dan jangan merayu. Kalau sampai engkau membuat subo marah dan ia turun tangan membunuhmu, jangan katakan bahwa aku belum memberi peringatan kepadamu." bisik gadis itu dan diam-diam Hay Hay tahu bahwa gadis ini memang bersikap serius dan tidak main-main. Baru sikapnya saja sudah begitu jerih, bicarapun tidak berani keras-keras, tentu takut kalau sampai terdengar oleh subonya. Dan ketakutan seperti inipun sudah menunjukkan bahwa tentu guru gadis ini memiliki kesaktian yang hebat sehingga mampu mendengarkan percakapan dari tempat jauh. Diapun mengangguk dan tidak tega untuk membuat Mayang menjadi semakin ketakutan.
Ketika tiba di puncak, Hay Hay melihat bahwa puncak itu ternyata datar, merupakan dataran yang cukup luas dan di tengah-tengah puncak itu terdapat sebuah bangunan yang besar, dengan tembok berwarna putih dan genteng berwarna merah coklat. Daun pintu dan jendela dicat kuning dan rumah itu dihias pohon-pohon di sekelilingnya sehingga nampak teduh dan nyaman. Di sebelah kiri dan belakang rumah terdapat taman bunga yang dipagari kuat, tentu untuk mencegah masuknya hewan ternak yang banyak terdapat di situ. Sebagian besar puncak itu terdiri dari padang rumput yang luas dan subur dan Hay Hay melihat hewan ternak seperti kambing dan lembu, juga kuda bahkan nampak ayam berkeliaran di puncak. Hewan ternak itu gemuk-gemuk, dan jauh di ujung puncak terdapat bangunan-bangunan dari bambu sederhana yang merupakan kandang ternak. Beberapa orang gadis sibuk bekerja, ada yang menggembala ternak, ada yang memikul air, ada yang membelah kayu. Mereka semua berhenti bekerja dan mengangkat muka memandang, dan alis mereka berkerut ketika mereka melihat munculnya Mayang bersama seorang pemuda tampan. Agaknya, tamu pria jarang sekali muncu1 di puncak ini, kecuali mereka yang mempunyai urusan pekerjaan dengan keluarga Siankouw, jual beli ternak, mengirim bahan makanan, kayu, dan lain-lain. Akan tetapi, pemuda yang datang bersama Mayang ini tidak membawa apa-apa dan datangnya bersama gadis. itu, tentu seorang tamu. Akan tetapi, mereka membalas salam Mayang dengan sopan dan sikap hormat.
"Mari kita terus saja ke rumah." Kata Mayang dan mereka menghampiri rumah besar itu. Setelah tiba di ruangan depan, Mayang berkata lirih. "Engkau duduklah dulu menanti di ruangan tamu ini, aku akan memberitahu kepada subo. Sekali lagi, bersikaplah sopan." Gadis itu lalu memasuki pintu tembusan ke dalam.
Hay Hay duduk melamun, lalu memutar tubuh memandang keluar. Pekarangan itur luas dan amat bersih, tidak berdebu karena ditaburi semacam pasir lembut yang warnanya agak gelap sehingga tidak menyilaukan mata kalau matahari bersinar, dan hangat kalau udara dingin. Tempat ini memang indah dan nyaman, pikirnya. Dan penghuninya tentulah orang-orang yang suka akan kebersihan dan keindahan. Guru Mayang itu tentu lihai sekali ilmu silatnya, dan lebih lihai lagi ilmu sihirnya. Sungguh merupakan pribadi yang amat menarik. Kalau wanita sakti itu mau membantunya, tentu dia akan dapat membebaskan Han Siong dan juga berhasil menyelidiki keadaan para pendeta Lama itu, dan dapat membuka rahasia mereka mengapa mereka itu menculik Han Siong! Tiga orang pendeta Lama yang lihai itu mengaku sebagai utusan Dalai Lama, akan tetapi dia mendengar dari Mayang bahwa mereka itu adalah pemimpin para pendeta Lama yang pernah dibasmi sebagai pemberontak oleh Dalai Lama! Langkah-langkah kaki yang ringan terdengar di belakangnya ketika dia mulai merasa betapa lamanya Mayang meninggalkannya di situ. Dia sudah mulai khawatir bahwa gadis itu memperoleh kesukaran, bahwa subo gadis itu tidak mau menemuinya bahkan memarahi Mayang. Maka, ketika mendengar langkah kaki yang ringan lembut, dia cepat bangkit berdiri dan membalik. Dia melihat Mayang akan tetapi gadis itu kini sudah mengenakan pakaian bersih dan nampak segar. Agaknya Mayang telah mandi dulu sebelum keluar lagi. Pantas demikian lamanya, akan tetapi harus diakui bahwa kemunculan gadis ini mendatangkan kesegaran baginya. Mayang tetap sederhana, bahkan rambutnya tidak disisir rapi, agak awut-awutan akan tetapi bahkan menjadi semakin manis! Kemanisan yang wajar seorang gadis, bukan kecantikan karena riasan. Dan di samping gadis itu terdapat seorang wanita lain yang sepantasnya menjadi kakak Mayang karena ada persamaan pada wajah mereka. Kalau Mayang bagaikan kuncup mulai mekar, wanita itu adalah bunga yang sudah mekar sepenuhnya. Keduanya sama menariknya! Hay Hay memandang mereka, dari yang satu kepada yang lain. Inikah subo dari Mayang? Inikah wanita pertapa yang berjuluk Kim Mo Siankouw itu? Seorang wanita yang cantik dan anggun memang, akan tetapi dia tidak melihat alasan mengapa wanita berjuluk Kim Mo Siankouw (Dewi Berambut Emas). Rambutnya hitam seperti rambut Mayang, hanya tersisir rapi, tidak awut-awutan seperti rambut gadis itu.
"Lo-cian-pwe yang mulia, saya Tang Hay datang menghaturkan hormat, mohon Siankouw sudi memaafkan kelancangan saya..... " kata Hay Hay dengan penuh hormat seperti penghormatan yang diberikan kepada seorang permaisuri atau raja. Akan tetapi dia terbelalak dan bengong memandang kepada Mayang karena gadis itu tiba-tiba tertawa terkekeh-kekeh, tangan kiri menutup mulut, tangan kanan meraba perut karena merasa geli.
"Eh, Mayang, kenapakah? Apakah .....apakah aku kurang sopan dan kurang hormat ?" tanya Hay Hay, benar-benar tidak mengerti mengapa gadis itu tertawa-tawa geli seperti itu.
Gadis itu yang tadi tertawa agak membungkuk, mengangkat mukanya memandang dan melihat pemuda itu bengong dan mendengar pertanyaan itu, tawanya meledak kembali, sampai terkekeh-kekeh dan ada air mata keluar dari kedua matanya yang bersinar-sinar. Akhirnya, ketawanya mereda ketika wanita disampingnya menegur halus.
"Mayang, tidak sepantasnya engkau tertawa seperti itu."
Mayang memandang Hay Hay, wajahnya masih penuh tawa. "Hay Hay, ini bukan subo, ini adalah ibuku, hi-hi-hik!" Gadis itu menahan ketawanya.
Kini wajah Hay Hay seketika menjadi merah dan dia mengangkat muka memandang lagi kepada wanita itu, mengamatinya dengan penuh perhatian lalu dia berkata setelah menarik napas panjang. "Ah, pantas... sungguh pantas, akan tetapi juga tidak patut sekali.... "
Mendengar ucapan yang tidak karuan maknanya ini, Mayang berbalik menjadi bengong. "Apa maksudmu, Hay Hay? Ucapanmu tidak karuan. Kau bilang pantas akan tetapi juga tidak patut! Bagaimana pula itu?"
"Memang pantas menjadi ibumu, dan pantas engkau demikian cantik manis, Mayang, karena ibumu juga begini cantik jelita. Dan tidak patut menjadi ibumu karena ia masih terlalu muda, patutnya menjadi kakakmu!"
Mayang tidak merasa heran mendengar pemuda mata keranjang ini memuji kecantikan ibunya, akan tetapi wanita itu terbelalak, mukanya berubah merah sekali.
"Mayang! Siapakah dia ini? Orang macam apa yang kaubawa berkunjung ini? Apakah dia waras, tidak gila?"
Mendengar pertanyaan ibunya, sambil menatap wajah Hay Hay, gadis itu kembali tertawa geli. "Hati-hati, ibu, jangan-jangan engkau akan jatuh ke dalam rayuan mautnya. Memang Hay Hay ini seorang perayu maut yang amat berbahaya bagi setiap orang wanita."
Hay Hay teringat akan keadaan dirinya berada di tempat orang, tempat berbahaya pula karena penghuninya adalah seorang pertapa wanita sakti. Cepat dia memberi hormat kepada ibu Mayang dengan sikap sopan, lalu berkata, "Harap bibi sudi memaafkan saya yang selalu suka terus terang sehingga mungkin terdengar kurang ajar. Bukan maksud saya untuk merayu, melainkan untuk berterus terang. Maafkan, saya Tang Hay dan......"
"She Tang.... ?" Tiba-tiba wanita itu membelalakkan matanya dan menatap wajah Hay Hay, lalu ia mengeluarkan jerit kecil tertahan, "Kau.... kau.... matamu dan hidungmu itu..... ihh, dan engkau she Tang pula..... Orang muda, cepat katakan, siapakah ayahmu?" Hay Hay terkejut. Dia mengambil keputusan untuk tidak memperkenalkan siapa ayahnya kalau tidak amat perlu, maka diapun menarik napas panjang. "Saya tidak tahu siapa ayah saya, bibi, karena ayah telah pergi sejak saya berada dalam kandungan dan mungkin dia sudah mati""
"Ibu, kenapa ibu kaget mendengar she dari Hay Hay? Dan ibu menyinggung mata dan hidungnya! Ada apakah, ibu.......?" Mayang kini juga bersikap sungguh-sungguh karena iapun terkejut dan heran melihat sikap ibunya"
Wanita itu telah dapat menguasai dirinya. "Ahhh, tidak apa-apa" Aku hanya merasa seperti pernah melihat pemuda ini. Akan tetapi, Mayang, bagaimana engkau dapat berkenalan dengan pemuda yang ..... eh, mata keranjang ini? Mau apa dia kaubawa ke sini? Siankouw bisa marah kalau...."
"Orang muda kurang ajar ini harus pergi sekarang juga!" Tiba-tiba terdengar bentakan halus dari sebelah dalam. Mendengar suara ini, ibu Mayang cepat membungkuk dan merangkap kedua tangan, memberi hormat. Juga Mayang segera menjatuhkan diri berlutut di dekat ibunya, sikapnya amat hormat" Hay Hay mengangkat muka memandang. Yang rnuncul di ambang pintu itu memang mentakjubkan. Seperti bukan manusia ketika tiba-tiba muncul di situ, dengan sikap yang lembut dan anggun sekali. Sukar dapat dipercaya bahwa seorang wanita berusia enam puluh tahun masih seperti itu! Rambutrlya yang bercampur uban itu berwarna keemasan! Kulit mukanya lembut tanpa keriput, matanya mencorong dan bibirnya masih kemerahan dan terhias senyum aneh. Tubuh, wajah dan sikap wanita ini sepantasnya terdapat pada sebuah patung, seperti arca Kwan im Pouwsat saja! Tanpa dibuat-buat, timbul perasaan hormat di dalam hati Hay Hay terhadap wanita ini, maka diapun cepat memberi hormat dengan merangkap kedua tangan depan dada, dan berkata dengan suara lantang.
"Mohon maaf sebesarnya dari Siankouw akan kelancagan saya yang telah berani datang menghadap Siankouw tanpa diundang. Saya memberanikan diri datang menghadap Siankouw untuk mohon pertolongan, karena saya mendengar bahwa Siankouw adalah seorang manusia berbudi luhur, seorang pertapa yang ,mencari penerangan dan tentu akan selalu menjulurkan tangan untuk menolong yang membutuhkan bantuan. Atas pertolongan Siankouw yang sakti dan suci, sebelumnya saya Tang Hay menghaturkan banyak terima kasih dan akan selalu berdoa semoga semua budi kebaikan Siankouw akan tercatat oleh Malaikat dan Tuhan yang akan berkenan membalas semua amal perbuatan Sjankouw yang berbudi sehingga kalau dalam kehjdupan yang sekarang saya tidak mampu membalas segala kebaikan Siankouw, semoga dalam kehidupan mendatang saya akan dapat menebusnya dan......" "Sudah, cukup..... cukup..... !" Kim Mo Siankouw berkata sambil menahan ketawanya mendengar kata-kata yang berderet-deret tiada putusnya itu. "Engkau laki-laki perayu, dengan kata-katamu yang indah, suaramu yang merdu, ucapanmu yang manis, sungguh engkau palsu dan berbahaya sekali bagi kaum wanita. Engkau harus pergi dari sini!" Berkata demikian, seperti orang yang merasa jengkel, wanita itu menggerakkan tangannya ke arah kepala Hay Hay. Pemuda ini mendengar angin berdesir dan dia terkejut bukan main. Biarpun kelihatan hanya mengebutkan tangan, namun sesungguhnya gerakan itu merupakan serangan yang amat dahsyat dan berbahaya bukan main! Maka, agar jangan kentara bahwa dia mengelak, pada saat itu diapun menjatuhkan diri berlutut menghadap ke arah wanita berambut merah itu sambil mengangguk-angguk memberi hormat.
"Siankouw yang sakti, Siankouw yang budiman, Siankouw yang agung, tolonglah saya, tolonglah sahabat saya...."
Kim Mo Siankouw agak terbelalak dan ia menoleh kepada Mayang. "Mayang, dari mana engkau memperoleh pemuda perayu ini dan apa kehendakmu membawa orang semacam ini kepadaku? Hayo jawab yang sejujurnya!" Ucapannya halus namun mengandung teguran dan perintah.
Sambil berlutut Mayang lalu menjawab, "Harap subo sudi memaafkan teecu (murid). Subo (ibu guru) tentu maklum bahwa teecu tidak akan berani berlancang hati untuk membawa seorang tamu pria datang menghadap subo. Akan tetapi telah terjadi peristiwa yang cukup hebat, yang teecu anggap cukup penting bagi subo untuk mengetahuinya. Pertama –tama, agar subo ketahui bahwa tadi teecu telah bentrok dengan tiga orang pendeta Lama yang memimpin para pendeta Lama di puncak Bukit Bangau."
Kim ,Mo Siankouw terkejut walaupun hal ini hanya nampak pada pandang matanya dan kerut alisnya. "Hemm, sudah kukatakah bahwa engkau tidak boleh berurusan dengan mereka. Urusan pemberontakan terhadap Dalai Lama bukanlah urusan kita dan kita tidak perlu mencampuri."
"Maaf, subo. Bukan niat teecu untuk mencampuri, akan tetapi secara kebetulan saja teecu bertemu dengan mereka bertiga itu di kedai makan dusun Wangkan dalam perjalanan teecu pulang mengantar ternak ke kota Cauw-ti. Mereka makan di sana bersama seorang pemuda. Ketika mereka melihat teecu, seorang di antara mereka menghampiri teecu, pura-pura minta derma, akan tetapi teecu merasakan betapa dia menggunakan kekuatan sihir untuk menguasai pikiran teecu. Malam tadi, teecu datang ke gubuk di luar dusun di mana mereka menanti dan dengan sihir pendeta Lama itu menarik teecu datang. Karena teecu menganggap mereka itu jahat sekali, sebagai pendeta Lama tidak patut melakukan kekejian seperti itu terhadap teecu, maka teecu datang dan ingin menghajar mereka!"
"Aih, engkau lancang, Mayang. Mereka itu adalah tiga orang pendeta Lama yang memiliki ilmu kepandaian tinggi. Yang mana di antara mereka itu yang menyihirmu?"
"Ketika teecu berada dalam rumah makan, yang menyihir teecu adalah pendeta yang mukanya kekanak-kanakan, tubuhnya tinggi bongkok.... "
"Hemm, siapa lagi kalau bukan Pat Hoa Lama si pendeta cabul? Huh, berani dia menghina muridku! Lalu bagaimana? Agaknya tidak mungkin engkau dapat lolos dari tangan mereka bertiga!" Setelah berkata demikian, Kim Mo Siankouw mengerling kepada Hay Hay yang masih menanti dengan hati tegang. Dia merasa betapa wanita itu memang hebat, dan agaknya telah mengenal dan mengetahui keadaan para pendeta Lama yang menculik Han Siong.
"Mereka bertiga menghadapi teecu dan mencoba untuk menguasai teecu dengan sihir. Akan tetapi.... hemmm, mereka tidak tahu bahwa teecu adalah murid subo. Segala permainan kanak-kanak itu..... "
"Jangan menyombongkan diri!" Kim Mo Siankouw memotong dengan suara tegas sehingga mengejutkan Mayang sendiri karena tidak biasanya gurunya menghardiknya. Sementara itu, Hay Hay diam-diam tersenyum melihat sikap Mayang.
"Setelah sihir mereka itu gagal, lalu seorang di antara mereka yang memegang tongkat menyerang teecu. Teecu melawan dengan cambuk. Kami berdua saling Serang dan teecu sudah mengambil keputusan untuk menghajar mereka bertiga. Akan tetapi tiba-tiba teecu dikejutkan oleh terbakarnya gubuk itu dan teecu lalu pergi meninggalkan mereka. Teecu bertemu dengan Hay Hay ini dan dia menceritakan bahwa pemuda yang bersama tiga orang pendeta Lama itu adalah seorang sahabatnya yang diculik mereka untuk dijadikan pelayan. Karena teecu menduga bahwa temannya itudilarikan ke Bukit Bangau, maka Hay Hay minta kepada teecu untuk menghadap subo dan mohon pertolongan subo untuk dapat menolong dan membebaskan sahabatnya itu." Kim Mo Siankouw menahan senyumnya, memandang kepada muridnya itu dan menggeleng kepalanya. "Mayang, kaukira aku tidak tahu sjapa tiga orang pendeta Lama itu? Yang menyihirmu adalah Pat Hoa Lama, dan orang yang menyerangmu dengan tongkat itu bukankah bertubuh tinggi besar, dan tongkatnya itu memakai kelenengan? Lalu orang ke tiga itu tinggi kurus, matanya seperti selalu terpejam?"
"Benar sekali, subo."
"Mereka itu adalah tokoh-tokoh di Tibet. Yang menyerangmu bernama Gunga Lama dan yang matanya terpejam itu Janghau Lama. Mereka bertiga itu adalah orang-orang sakti dan menghadapi Gunga Lama seorang saja belum tentu engkau dapat menang. Kalau tidak ada orang membakar itu, agaknya belum tentu engkau akan dapat meloloskan diri dari tangan mereka. Siapa yang membakar gubuk itu?"
Hay Hay cepat mengacungkan telunjuk kanannya ke atas, "Saya, Siankouw! Utung ada saya........"
Pada saat itu, terdengar ribut-ribut di luar. Mereka segera memandang keluar dan nampaklah lima orang Lama sedang ribut mulut dengan para pelayan wanita yang bekerja dj pekarangan depan. Agaknya para pelayan itu berkeras melarang mereka memasuki pekarangan, dan lima orang pendeta Lama itu berkeras pula akan memasuki pekarangan sehingga terjadi ketegangan. Melihat ini, Mayang melompat bangun, juga ibunya sudah melangkah keluar bersama puterinya. Kim Mo Siankouw sendiri dengan sikap tenang bangkit berdiri akan tetapi ia pun melangkah keluar. Hay Hay yang ditinggal seorang diri dalam keadaan masih berlutut itupun segera bangkit dan keluar.
"Heiii, apa yang telah terjadi di sini!" bentak Mayang yang bersama ibunya telah berada di pintu pagar di mana lima orang pendeta Lama itu bersitegang dengan para pelayan yang melarang mereka memasuki pekarangan.
Lima orang pendeta Lama itu berusia kurang lebih antara empat puluh tahun. Mendengar bentakan ini, mereka mengangkat muka memandang dan melihat Mayang, mereka memandang dengan wajah berseri. Seorang di antara mereka, yang mulutnya lebar, segera melangkah maju. "Apakah engkau yang bernama nona Mayang?"
"Kalau benar aku, mengapa?" tantang Mayang yang sudah marah melihat mereka karena ia menduga bahwa tentu mereka ini anak buah tiga orang pendeta Lama yang mereka bicarakan tadi.
Lima orang pendeta itu saling pandang dan merekapun menyeringai kurang ajar. Si mulut besar tertawa. "Ha-ha-ha, pantas saja suhu berpesan agar kita membawanya hidup-hidup dan jangan melukainya. Kiranya memang manis sekali dan sayang kalau sampai terluka." katanya kepada kawan-kawannya, kemudian menghadapi Mayang. "Nona Mayang, kami diutus oleh para guru kami untuk mengundang nona ke tempat kami, menghadap tiga orang suhu kami karena ada urusan penting yang hendak dibicarakan denganmu."
"Aku tidak sudi!" Mayang membentak.
"Nona Mayang, kami datang dengan maksud baik dan tidak ingin menggunakan kekerasan, akan tetapi kamipun tidak berani pulang kalau tidak bersamamu. Maka, marilah engkau ikut dengan kami agar tidak perlu kami menggunakan kekerasan untuk memaksamu."
Mayang melompat dan membanting kakinya dengan marah. "Kalian ini lima ekor anjing gundul berani mengancam aku? Majulah dan aku akan membikin remuk gundul-gundulmu itu!"
"Mayang, mundur kau!" Tiba-tiba terdengar Kim Mo Siankouw berkata lembut. Mayang terkejut dan ia pun tidak berani membantah, walaupun ia masih ragu-ragu.
"Mayang, taati Siankouw!" kata pula ibunya yang lebih mengerti mengapa Kim Mo Siankouw menyuruh Mayang mundur. Ia dapat menduga bahwa kalau tiga orang pendeta Lama itu mengirim utusan lima orang ini, tentu mereka sudah memperhitungkan bahwa lima orang pendeta utusan ini akan mampu menandingi bahkan mengalahkan Mayang.
Kini Kim Mo Siankouw memandang kepada Hay Hay dan tersenyum, senyum dingin mengejek. "Orang muda, pi-ni (aku) akan mempertimbangkan permintaanmu tadi kalau engkau dapat mewakili kami menghadapi lima orang pendeta Lama ini."
"Subo, apakah subo hendak mencelakakan Hay Hay? Dia tidak bisa apa-apa, seorang pemuda yang lemah, bagaimana harus....."
"Mayang, jangan membantah kehendak Siankouw!" kembali ibu gadis itu menegur dan Mayang tidak melanjutkan kata-katanya, hanya memandang terbelalak kepada Hay Hay, merasa kasihan karena bagaimana pemuda lemah itu akan mampu menandingi lima orang pendeta Lama itu? Melawan seorang dari merekapun tidak akan mampu. Tentu dia akan tewas, tiba-tiba ia merasa khawatir dan gelisah sekali. Tidak, pikirnya, pemuda itu tidak boleh mati. konyol. la tidak berani lagi membantah subonya, akan tetapi diam-diam ia akan berjaga-jaga dan akan melindungi Hay Hay! Sementara itu, diam-diam Hay Hay kagum bukan main kepada guru Mayang. Wanita tua yang masih cantik dan lembut itu sungguh memiliki penglihatan yang amat tajam. Tentu ia telah tahu bahwa dia memiliki kepandaian, kalau tidak demikian, tidak mungkin ia menyuruh dia melawan lima orang pendeta Lama ini! Maka diapun tersenyum, dan masih berpura-pura tolol karena melihat sikap Mayang.
"Aihh, syaratnya berat amat! Akan tetapi, baiklah, Siankouw. Demi menolong sahabatku, saya akan berusaha sekuat tenaga untuk melawan lima ekor anjing gundul ini.
Melihat sikap Hay Hay, Mayang merasa girang dan bangga. Biarpun jelas bahwa pemuda itu bukan lawan lima orang pendeta Lama yang ia duga tentu lihai, namun pemuda itu sudah memperlihatkan sikap yang gagah! Berani memaki mereka sebagai lima ekor anjing gundul, meniru makiannya tadi. "Benar, Hay Hay. Hantam kepala lima ekor anjing gundul itu. Jangan takut, kalau mereka akan menggigitmu, akan kuketok kepala mereka yang gundul itu!" teriaknya penuh semangat. Gurunya dan ibunya hanya melirik saja dan tersenyum karena biarpun berteriak, gadis itu tidak turun tangan, mentaati perintah subonya tadi.
Hay Hay melirik kepada Mayang dan masih tersenyum, lalu dengan langkah gontai seperti orang yang tidak bertenaga dia maju menghampiri lima orang pendeta Lama itu.
Lima orang pendeta Lama itu adalah tokoh-tokoh di Tibet, dan merupakan tangan kanan dari tiga orang pendeta Lama yang bersarang di Bukit Bangau. Mereka sudah marah ketika tadi mendengar penghinaan Mayang, gadis manis yang berani memaki mereka sebagai lima ekor anjing gundul. Dan kini, kembali mereka dimaki dan yang memaki adalah pemuda yang kelihatan lemah ini, bahkan tadi gadis itu hendak mencegah pemuda
ini maju karena dikatakan bahwa pemuda ini lemah. Dalam kemarahan itu, lima orang pendeta Lama bermaksud untuk mempermainkan dan menghina Hay Hay. Seorang di antara mereka yang kurus kering berkata dengan suaranya yang parau besar, tidak sesuai dengan tubuhnya.
"Saudara-saudara sekalian, monyet cilik ini hendak melawan kita? Ha-ha, mari kita membikin dia menari-nari!" Ucapan ini merupakan isarat kepada kawan-kawannya agar mereka mempergunakan kekuatan sihir saja untuk mempermainkan dan menghina Hay Hay, yaitu menyihirnya agar dia bersikap seperti seekor monyet! Mereka berlima mengerahkan kekuatan sihir mereka, menatap wajah Hay Hay dengan tajam, kemudian si kurus tadi membentak lagi, kini kekuatan sihirnya disatukan dengan kekuatan empat orang kawannya.
"Orang muda, engkau adalah seekor monyet yang baru keluar dari dalam hutan! Ingatlah baik-baik, engkau seekor monyet! Monyet! Monyet! Monyet! Hayo monyet, engkau menari-narilah!"
Mayang merasa benar akan gelombang kekuatan sihir itu. Bagi dirinya sendiri yang sudah kebal, gelombang kekuatan itu hanya lewat saja tanpa membekas, akan tetapi ia khawatir sekali melihat Hay Hay karena bagaimana mungkin pemuda yang tidak mengenal sihir itu akan mampu bertahan menghadapi serangan ilmu sihir sekuat itu? Ia melihat Hay Hay tersenyum lebar, lalu memandang seperti orang bingung dan heran.
"Monyet? Aku disuruh menjadi monyet? Ha-ha, baiklah, aku akan menari seperti monyet. Akan tetapi pertunjukan monyet harus dilengkapi dengan segerombolan anjing! Dan kalian yang menjadi lima ekor anjingnya! Anjing gundul, ha-ha! Kalian lima ekor anjing gundul, hayo kalian menggonggong, biar aku jadi monyet menari-nari!"
Kini Mayang terbelalak. Apa yang telah dilihatnya? Lima orang pendeta Lama itu tiba-tiba saja merangkak-rangkak dan menggonggong seperti anjing, menyalak-nyalak dan meringis-ringis! Tadinya ia mengira bahwa mungkin subonya yang telah membantu Hay Hay sehingga ia merasa girang sekali. Akan tetapi ketika ia menoleh kepada subonya, ia melihat betapa subonya juga terbelalak dan terheran-heran, maka ia cepat memandang lagi ke arah Hay Hay dan lima orang pendeta Lama itu. Lima orang pendeta itu masih merangkak-rangkak, berloncatan ke sana-sini sambil menyalak-nyalak dan Hay Hay kini meloncat ke atas punggung pendeta kurus kering. Sambil menari-nari dan menggaruk-garuk tubuh seperti seekor monyet, Hay Hay berloncatan dari satu punggung ke lain punggung, presis seekor monyet yang bermain-main dengan lima ekor anjing. Riuh rendah suara lima orang pendeta itu menggonggong dan menyalak-nyalak dengan galak.
Mayang hampir tidak dapat percaya akan pandang matanya sendiri. Sudah jelas bahwa Hay Hay agaknya berada di bawah pengaruh sihir dan bersikap seper ti seekor monyet, akan tetapi mengapa lima orang pendeta yang menyihir Hay Hay itu seperti terkena sihir pula? Bahkan lebih parah dari Hay Hay? Kalau Hay Hay hanya bersikap seperti monyet, menggaruk-garuk dan menari-nari namun masih bisa bercakap-cakap, lima orang pendeta Lama itu benar-benar bersikap dan bersuara seperti anjing! Akan tetapi ketika kembali Mayang menoleh kepada subonya, ia melihat subonya kini tidak terheran-heran lagi. Subonya tersenyum-senyum!
Kini ia melihat Hay Hay meloncat turun dari punggung para pendeta Lama itu, masih berjingkrak-jingkrak dan menggaruk-garuk dada dan punggung seperti monyet, sambil tertawa-tawa.
"Ha-ha-ha, bagus, bagus! Anjjng-anjing gundul, kalian sekarang boleh saling serang, lima ekor anjing berebut tulang dan aku monyetnya yang memberi tulang!" Hay Hay, dengan gerakan mirip monyet, mengambil sepotong kayu dan melemparkan kayu ke arah lima orang pendeta yang masih merangkak-rangkak dan berloncat-loncatan , itu dan terjadilah suatu penglihatan yang membuat Mayang kini tertawa terkekeh-kekeh! Lima orang pendeta itu bagaikan lima ekor anjing tulen, kini menyerbu dan saling memperebutkan "tulang" yang bukan lain hanya sepotong kayu itu! Mereka saling terkam dan saling gigit di antara gonggongan yang riuh rendah! Ada yang kena gigit telinganya sampai robek, kena gigit hidungnya sampai berdarah dan melihat semua ini, Mayang tertawa terpingkal-pingkal sampai memegangi perut yang terguncang-guncang dan menjadi keras.
Tiba-tiba terdengar suara Hay Hay, "Sudah...... sudah ,cukup! Kalian ini lima orang pendeta Lama, kenapa bermain-main seperti anak-anak kecil?"
Tiba-tiba saja lima orang pendeta itu berloncatan berdiri dan saling pandang. Wajah mereka tiba-,tiba menjadi pucat, lalu menjadi merah sekali. Mereka menyusut darah dari muka dan kini mereka memandang kepada Hay Hay dengan mata melotot penuh kemarahan.
"Srat! Srat! Singg.... !" Nampak sinar berkilauan dan lima orang pendeta Lama itu telah mencabut golok dari sarung golok yang menempel di punggung mereka. Mereka ini mengepung Hay Hay dengan golok di tangan, sikap mereka beringas dan penuh ancaman sehingga Mayang memandang dengan muka berubah agak pucat.
"Heii, kalian ini berpakaian pendeta, kenapa memegang golok? Apakah pekerjaan kalian menjagal babi?" Hay Hay agaknya tidak sadar akan bahaya maut yang mengancam maka masih sempat berkelakar.
"Kami memang jagal, sekali ini hendak menjagal kamu monyet busuk!" bentak seorang di antara mereka yang hidungnya pecah berdarah karena digigit kawannya sendiri.
"Hemm, kalian tadi memperebutkan tulang, sekarang tulangnya ditinggal begitu saja!" kata Hay Hay dan diapun mengambil sepotong kayu tadi, yang besarnya selengan dan panjangnya tiga kaki.
"Orang muda sombong, bersiaplah untuk mampus!" bentak lima orang pendeta itu yang sudah mengepungnya.
"Hay Hay, mundurlah! Mereka itu lihai dan engkau tidak pandai silat.... !" Tiba-tiba Mayang berteriak karena gadis ini merasa khawatir sekali. Hay Hay menoleh kepadanya dan tersenyum! "Biarlah, Mayang. Justeru karena mereka itu lihai, maka hendak kuhadapi dengan gerakan yang bukan silat. Aku menjadi monyet, aku akan bergerak seperti monyet."
"Jangan, Hay Hay! Engkau akan celaka…… !" Mayang sudah siap untuk meloncat ke depan, untuk menggantikan Hay Hay, atau setidaknya untuk melindunginya, akan tetapi subonya menegurnya.
"Mayang, jangan mencampuri!"
Mayang terkejut dan cepat ia menghampiri subonya, lalu menjatuhkan diri duduk di atas tanah dekat subonya yang juga sudah duduk di atas sebuah bangku yang tadi disediakan oleh seorang pelayan wanita. Ibu gadis itu juga duduk di atas bangku di sebelah kiri Kim Mo Siankouw.
"Subo, bagaimana ini? Jangan biarkan Hay Hay tewas, subo. Dia akan mati konyol……"
"Husshhh….. , Mayang, kau pergunakanlah matamu baik-baik. Sejak bertemu tadi aku sudah melihat bahwa pemuda itu sama sekali bukan orang lemah. Kau lihat saja!"
Gadis itu terkejut dan merasa heran. Hay Hay bukan orang lemah? Dengan bingung ia memandang dan melihat betapa kini lima orang pendeta Lama itu sudah mulai menyerang dengan golok mereka. Gulungan sinar golok menyambar-nyambar ganas dan hampir Mayang memejamkan mata karena ngeri membayangkan tubuh pemuda itu akan tersayat-sayat. Akan tetapi aneh! Ia melihat tubuh pemuda itu bergerak seperti monyet, ber lonca tan ke sana-sini, tangan kanan memegang tongkat dan tangan kiri menggaruk-nggaruk sana-sini di tubuhnya, dan 1ima batang golok itu tidak pernah mampu menyentuhnya! Mula-mula Mayang terbelalak, terheran-heran, akan tetapi segera ia tersenyum dan akhirnya ia berteriak-teriak saking gembiranya.
Hay Hay tentu saja bukan lawan lima orang pendeta Lama itu. Dengan mudah saja pendekar ini menggunakan i1mu Ji-auw-pouw-poan-san, yaitu gerak langkah kaki ajaib yang membuat tubuhnya selalu dapat mengelak dari sambaran lima batang golok. Hanya gerakannya itu dicampurnya dengan gerakan dan loncatan mirip monyet sehingga nampak lucu sekali. Dan tongkat di tangannya itu membantunya, setiap kali ada golok yang terlalu berbahaya menyambarnya, tongkat bergerak dan ujungnya mendorong golok lawan sehingga menyerong.
Lima orang pendeta Lama itu terkejut, akan tetapj juga penasaran dan marah sekali. Tadi mereka telah dihina secara luar biasa, yaitu mereka seolah-olah menjadi seperti anjing yang saling serang sendiri. Sekarang, golok mereka sama sekali tidak mampu menyentuh tubuh pemuda itu, pada hal pemuda itu tidak pandai silat katanya, dan juga kini hanya bergerak seperti monyet. Namun golok mereka selalu membacok dan menusuk udara kosong!
"Bocah keparat! Kalau berani, hadapilah kami dan mari kita mengadu kepandaian, bukan terus mengelak seperti itu!" bentak si kurus kering.
"Singgg…. !" Goloknya menyambar ke arah leher Hay Hay dari kanan ke kiri. Hay Hay merendahkan tubuhnya dan golok itu menyambar lewat di atas kepalanya. "Nih tulang, makanlah!" kata Hay Hay dan tiba-tiba, tanpa dapat dihindarkan lagi oleh si tinggi kurus, ujung tongkat itu telah menusuk ke arah mulutnya, dan terdengar bunyi berkerotokan!
"Auhhhh…….!" Si tinggi kurus terjengkang dan dia menutupi mulutnya yang berdarah-darah karena sebagian besar giginya bagian depan telah rontok dan tanggal karena mulut itu dijejali ujung tongkat! Empat orang pendeta lainnya menjadi terkejut, akan tetapi juga marah sekali. Golok mereka menyambar-nyambar semakin ganas. Namun, Hay Hay tidak ingin membuang banyak waktu lagi. Diapun kmi membalas dan nampak sinar hijau bergulung-gulung ketika tongkatnya berkelebatan. Terdengar suara tak-tuk-tak-tuk disusul teriakan kesakitan empat orang itu. Empat batang golok terlempar dan empat orang pendeta itu menghentikan serangan mereka dan kini mereka itu mengelus-elus kepala gundul mereka yang ternyata telah benjol-benjol karena tadi dihajar tongkat. Lima orang pendeta itu maklum kini bahwa mereka berhadapan dengan lawan yang amat pandai, maka tanpa banyak cakap lagi, tanpa memungut golok mereka, lima orang pendeta Lama itu lari tunggang langgang tanpa pamit!
Mayang hampir tidak berkedip sejak tadi. Kini ia meloncat berdiri dan menghampiri Hay Hay, kini pandang dari sepasang mata yang jeli indah itu berubah. Penuh kagum, akan tetapi juga penuh dengan perasaan penasaran.
"Kau…. kau….. telah berpura-pura bodoh, ya?" bentaknya penuh teguran karena ia merasa dipermainkan pemuda ini. Hay Hay hanya tersenyum dan dia segera menghadap Kim Mo Siankouw dengan sikap hormat. Wanita itu kini bersikap angkuh ketika berkata dan bangkit berdiri.
"Orang muda, kita bicara di dalam!"
Hay Hay mengangguk dan mengikuti wanita itu yang memasuki rumah bersama ibu Mayang. Gadis itu sendiri mengikuti dari belakang, hatinya masih merasa mendongkol terhadap Hay Hay karena ia merasa dibodohi, merasa dipermainkan pemuda itu dalam pertemuan pertama. Wajahnya berubah kemerahan kalau ia membayangkan semua peristiwa yang telah terjadi semenjak ia bertemu dengan Hay Hay yang membakar gubuk dan pura-pura sebagai seorang pemuda yang lemah!
Tidak tahunya, pemuda ini memiliki ilmu silat yang hebat, yang dengan amat mudahnya mengalahkan lima orang pendeta Lama itu dan yang lebih hebat lagi, pemuda ini agaknya juga seorang ahli sihir!
Mereka kini duduk di dalam ruangan sebelah belakang. Hanya empat orang di antara mereka. Kim Mo Siankouw duduk di atas kursi yang ditilami sutera merah.
Ibu Mayang duduk di sebelah kirinya, dan Mayang sendiri berlutut di atas lantai sebelah kanannya, Hay Hay duduk pula di bangku berhadapan dengan mereka. Sejenak, mereka hanya saling pandang saja. Ibu Mayang memandang dengan alis berkerut dan sinar mata penuh selidik. Kim Mo Siankouw memandang dengan mata menyelidik pula dan seperti hendak mengukur dan menjenguk isi hati pemuda itu. Sedangkan Mayang sendiri memandang dengan wajah berubah-ubah, kadang -kadang penuh kagum, lalu penuh perasaan dongkol. Hay Hay sendiri bersikap tenang saja. Walaupun dengan jelas dia dapat melihat keadaan hati mereka melalui wajah mereka, namun dia berpura-pura tidak tahu dan bersikap tenang, tersenyum. Tiba-tiba Hay Hay terkejut karena merasakan suatu getaran yang amat kuat datang dari wanita tua itu. Ketika dia mengangkat muka, dia, melihat betapa sepasang mata Kim Mo Siankouw mencorong, seperti dua buah bintang yang memiliki sinar amat kuatnya. Tahulah dia bahwa wanita itu memandang kepadanya dengan pengerahan kekuatan batin untuk mengukur dirinya, karena sinar yang keluar dari mata wanita tua itu bukan menyerang, melainkan berusaha untuk membuka isi hatinya melaJui pikiran, seolah-olah hendak memaksa dirinya mengaku. Diapun mengerahkan tenaga batinnya dan menyambut sinar mata itu dengan sinar matanya sendiri sehingga terjadilah bentrokan antara dua kekuatan batin yang amat kuat. Sejenak mereka itu saling tatap, kemudian, ketika merasakan betapa sinar mata Kim Mo Siankouw melembut, Hay Hay juga menarik kembali tenaganya dan diapun menundukkan pandang matanya.
"Orang muda yang gagah, sekarang katakan terus terang kepadaku, siapakah yang mengajarkan ilmu sihir kepadamu?" pertanyaan itu lembut namun tegas. Hay Hay membutuhkan bantuan wanita sakti ini maka diapun tidak ragu untuk membuat pengakuan.
"Yang mengajarkan kepada saya adalah mendiang suhu Pek Mau Sanjin dan Song Lojin."
Kim Mo Siankouw mengangguk-angguk, tidak lagi merasa penasaran melihat kehebatan orang muda itu dalam ilmu sihir setelah mendengar siapa gurunya.
"Dan siapa pula gurumu dalam ilmu silat?"
Pertanyaan ini saja membuktikan bahwa Kim Mo Siankouw memang sudah mengenal keadaan mendiang Pek Mau Sanjin, seorang pertapa sakti yang amat kuat dengan ilmu sihirnya, namun yang tidak pernah mempelajari ilmu silat.
"Kedua suhu saya adalah See-hian Lama dan Ciu-sian Sin-kai."
"Siancai…… !" Kini wanita tua itu nampak terkejut. "Kiranya engkau adalah murid dari dua di antara Delapan Dewa…..! Ah, Mayang, sungguh engkau beruntung sekali dapat bertemu dan bersahabat dengan pendekar muda ini!"
Akan tetapi Mayang cemberut. Biarpun ia merasa semakin kagum, namun juga semakin dongkol karena kebodohannya sehingga mudah saja ia dipermainkan Hay Hay, mengira bahwa Hay Hay adalah seorang pemuda yang hanya memiliki kepandaian merayu saja, seorang pemuda yang menyenangkan namun lemah.
"Orang muda yang gagah, melihat deretan nama para gurumu, engkau telah memiliki ilmu kepandaian yang tinggi, dan kiranya engkau tidak perlu gentar menghadapi para pendeta Lama yang murtad dan sesat itu. Kenapa engkau masih ingin minta bantuanku?"
Hay Hay menarik napas panjang. Kini dia tidak boleh berpura-pura lagi, harus menceritakan segata hal dengan sejujurnya.
"Locianpwe, sesungguhnya saya tidak maju sendiri menghadapi para pendeta Lama, melainkan berdua dengan sahabat baik saya itu, dan diapun seorang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, baik ilmu silat maupun ilmu sihir. Namun, tetap saja kami merasa khawatir karena kami berada di Tibet, bukan daerah kami. Apa lagi kalau diingat bahwa daerah ini berada dalam kekuasaan Dalai Lama yang agaknya terpaksa kami hadapi sebagai lawan."
Kim Mo Siankouw rnengerutkan alisnya dan nampak terkejut. "Memusuhi Dalai Lama? Hemm, orang muda, sungguh mengejutkan sekali ucapanmu itu. Kenapa engkau dan sahabatmu memusuhi Dalai Lama?"
"Bukan kami yang memusuhi, melainkah Dalai Lama sendiri yang sejak lahirnya sahabat saya itu, selalu mengganggu dan hendak menculik sahabat saya. Ketahuilah, locianpwe, sahabat saya itu bernama Pek Han Siong dan sejak lahir dia selalu dicari dan hendak diculik para pendeta Lama atas perintah Dalai Lama. Sahabatku itu dahulu dlsebut Sin-tong (Anak AJaib) yang menurut pendapat para pendeta Lama adalah seorang calon Dalai Lama!"
"Hemm, kiranya Sin-tong? Putera dari ketua Pek-sim-pang di Nam-co itu? Kami sudah mendengar akan peristiwa itu! Jadi, sahabatmu itukah Sin-tong? Teruskan ceritamu, orang muda. Sungguh ceritamu mulai menarik hatiku." Kim Mo Siankouw kini benar-benar tertarik. Ia sudah mendengar akan Sin-tong yang pernah dicari oleh para pendeta Lama. Ia sendiri merupakan sahabat Dalai Lama dan ia sendiri tahu bahwa Dalai Lama mencari Sin-tong bukan dengan niat buruk.
"Keluarga Pek tidak merelakan putera mereka diambil oleh para pendeta Lima." Hay Hay bercerita, "Sampai dewasa, Han Siong bersembunyi dan dia menjadi seorang yang berilmu tinggi. Akan tetapi para pendeta Lama itu agaknya sampai kini masih terus mengejarnya. Akhir-akhir ini, muncul tiga orang pendeta Lama di kota Hok-lam dan secara jujur mereka mengatakan bahwa mereka diutus oleh Dalai Lama untuk mengundang Pek Han Siong. Karena tidak ingin dia diganggu terus, Han Siong dan saya bekerja sama. Dia pura-pura terpengaruh oleh sihir tiga orang pendeta Lama itu dan menurut saja dibawa ke daerah ini.
Saya diam-diam membayanginya. Maka terjadilah pertemuan antara saya dengan adik Mayang. Mendengar akan kesaktian locianpwe, juga melihat kehebatan adik Mayang yang tidak mempan sihir para Pendeta Lama. maka saya memberanikan diri untuk mohon bantuan lo-cian-pwe untuk menghadapi para pendeta, terutama untuk membujuk Dalai Lama agar tidak lagi mengejar-ngejar sahabat saya Pek Han Siong itu."
Kim Mo Siankouw menarik napas panjang. "Sungguh aneh. Ketahuilah orang muda, bahwa Gunga Lama, Janghau Lama dan Pat Hoa Lama itu adalah tiga orang pendeta Lama tokoh-tokoh besar di Tibet yang memberontak terhadap Dalai Lama. Mereka telah dihadapi para pengikut Dalai Lama, gerombolan mereka sudah dihancurkan dan mereka melarikan diri. Sungguh aneh sekali kalau sekarang mereka itu mengaku utusan Dalai Lama untuk mengundang Pek Han Siong. Hemm. tentu ada maksud tertentu yang tidak sehat. Dan sahabatmu itu sekarang seorang diri berada di antara mereka, tentu dibawa ke puncak Bukit Bangau dan hal ini berbahaya sekali. Baiklah, karena tertarik oleh peristiwa ini, juga karena aku adalah sahabat baik Dalai Lama yang agaknya nama besarnya akan di cemarkan, aku akan membantumu. Memang, ketika Dalai Lama mendapatkan ilham bahwa calon Dalai Lama yang baru telah terlahir sebagai Sin-tong, tentu saja dia berusaha menarik Sin-tong untuk dididik sebagai calon Dalai Lama. Akan tetapi hal itu terjadi dengan suka rela, dengan cara damai, tidak ada pemaksaan sama sekali. Kalau ada pemaksaan terhadap Pek Han Siong, hal itu tidak sesuai dengan sikap Dalai Lama dan merupakan hal yang tidak wajar. Nanti kalau matahari telah naik tinggi, aku akan menemanimu naik ke Bukit Bangau. Sekarang, engkau boleh beristirahat dulu, orang muda. Mayang, engkau persiapkan sebuah kamar untuk tamu kita." Tentu saja Hay Hay menjadi girang sekali dan menghaturkan terima kasih, lalu mengikuti Mayang meninggalkan ruangan itu menuju ke sebelah dalam bangunan besar itu.
"Nah, ini kamarmu, engkau boleh beristirahat sekarang," kata Mayang ketika mereka tiba di sebuah kamar tamu yang sudah bersih karena memang di situ terdapat kamar-kamar tamu yang siap pakai.
Melihat sikap Mayang, Hay Hay tersenyum dan mengerutkan alisnya.
"Mayang, aku berterima kasih kepadamu. Gurumu suka membantu kami, semua ini berkat engkau, Mayang. Kalau tidak bertemu denganmu, bagaimana mungkin aku bertemu dengan subomu."
Akan tetapi, dengan cemberut, gadis itu berkata singkat, "Tidak usah berterima kasih kepada aku seorang gadis yang bodoh!" katanya dan iapun membalikkan tubuhnya dan lari meninggalkan Hay Hay. Pemuda ini terbelalak, lalu cepat mengejar. Mayang memasuki taman bunga yang indah, lalu duduk di atas bangku di dekat kolam ikan emas. Mendengar ada suara di belakangnya, ia membalik dan ternyata Hay Hay telah berdiri di belakangnya.
"Mau apa engkau ke sini? Engkau disuruh beristirahat!" kata Mayang, suaranya mengandung keheranan, akan tetapi juga masih ketus dan terutama sekali pandang matanya tidak menyamankan rasa hati Hay Hay.
"Wah, bagaimana aku dapat beristirahat kalau engkau seperti ini, Mayang? Suaramu yang ketus akan terus meledakledak dalam telingaku, wajahmu yang cemberut akan terus menghantuiku, dan pandang matamu seperti hendak mencekik leherku. Amboi, dewi yang jelita, apakah gerangan dosa hambamu ini maka paduka marah-marah kepada hamba?"
Akan tetapi sekali ini Mayang tidak tertawa melihat ulah Hay Hay, bahkan kerut di keningnya makin mendalam dan mulutnya yang cemberut menjadi semakin meruncing. Dengan gerakan marah ia membuat dua kuncir tebal yang tadinya bergantung di depan dada, melayang dan berpindah ke punggungnya. Mata yang sipit itu basah, hidung yang agak besar itu cupingnya bergerak lembut, mulut yang kecil kemerahan itu membentuk bundaran runcing, kedua pipi yang putih mulus dan biasanya kemerahan itu kini menjadi merah padam. Akan tetapi bagi Hay Hay nampak semakin cantik manis saja!
"Tidak perlu menjual rayuan! Aku juga tahu bahwa aku seorang gadis bodoh dan tolol, tidak sehebat engkau ini pendekar jagoan yang serba bisa!"
"Astaga! Marah benar-benar ini namanya! Mayang sayang, siapa sih yang mengatakan bahwa engkau gadis. bodoh dan tolol? Biar kugampar mulutnya dia yang berani memakimu seperti itu!"
Gadis itu tadinya memutar tubuh membelakangi Hay Hay yang hanya dapat mengagumi pinggulnya yang bulat besar membusung. Tiba-tiba ia membalik dan sepasang kuncirnya ikut pula melayang ke depan lagi. Secepat gerakan pecutnya, suaranyapun meledak dalam serangan yang mendadak dan mengejutkan.
"Engkau yang menghina dan memaki aku!"
Hay Hay memandang bengong. "Aku? Ya ampun dewiku! Aku menghina dan memakimu? Akan kupukuli kepala ini kalau berani! Engkau telah menolongku, engkau telah bersikap ramah dan baik, engkau begini manis dan jelita, engkau sahabat baikku. Bagaimana mungkin aku menghina dan memakimu?"
"Engkau masih berani menyangkal? Bukankah, ketika engkau bertemu dengan aku, engkau berlagak bodoh? Engkau berlagak seperti seorang pemuda yang lemah? Bukankah itu berarti bahwa engkau telah mempermainkan aku, bahwa engkau telah menganggap aku bodoh dan karenanya menghinaku? Hayo katakan! Hayo katakan bahwa engkau tidak menganggapku bodoh! Engkau telah mempermainkan aku, membikin aku merasa bodoh dan malu bukan main! Ihhhh…… ingin aku menghajarmu!"
Baru Hay Hay mengerti dan diam-diam diapun menyesal. Dia bukan bermaksud mempermainkan gadis ini, sama sekali tidak. Kalau dia berpura-pura, hal itu adalah karena dia memang ingin menyembunyikan kepandaiannya, tidak ingin diketahui bahwa dia memiliki ilmu kepandaian. Hal ini penting baginya karena bukankah dia sedang membayangi para pendeta itu, dan bukankah dia sedang bertugas untuk menyelidiki rahasia para pendeta Lama? Tadipun di depan Kim Mo Siankouw, karena terpaksa saja dia harus mengeluarkan ilmunya, karena dia tidak mungkin dapat mengelak lagi setelah menghadapi pengeroyokan lima orang pendeta Lama yang lihai. Apa lagi karena agaknya mata Kim Mo Siankouw tajam sekali, dapat menduga bahwa dia seorang yang memiliki kepandaian. Dan diapun kini maklum bahwa tentu saja Mayang merasa dipermainkan.
"Aduh, Mayang, maafkanlah aku. Sungguh mati, demi Langit dan Bumi aku bersumpah, bukan maksudku mempermainkan engkau, sayang. Memang terus terang saja, tadinya aku ingin menyembunyikan kepandaianku, bukan hanya darimu, akan tetapi juga dari subomu dan dari semua orang. Ingat bahwa aku mempunyai tugas penting bersama Han Siong, menyelidiki keadaan para pendeta Lama. Kalau aku memperlihatkan kepandaian, tentu akan menghadapi banyak kesulitan. Sungguh mati, Mayang, aku tidak bermaksud menghinamu. Kalau engkau merasa begitu, maukah engkau mengampuni aku, sayang? Lihat, aku jujur, aku mau minta ampun, kalau perlu aku akan berlutut di depan kakimu untuk minta ampun. Mayang, ampunkan aku." Dan Hay Hay benar benar menjatuhkan diri berlutut di depan gadis itu. Tentu saja Mayang menjadi terkejut sekali dan cepat dia membalikkan tubuhnya sehingga Hay Hay berlutut di belakang sepasang bukit pinggul yang besar itu.
"Tai-hiap, engkau….. engkau bangkitlah, jangan berlutut!" katanya, suaranya tidak begitu ketus lagi biarpun masih kering.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar