14 Pendekar Sakti

"Kau apakan dia"

Kwan Cu tersenyum dan membalasnya dengan tulisan

"Tidak apa-apa, hanya memberi pelajaran kepadanya, kau minta menarik lagi kata-kata yang memandang rendah kepadaku dan aku akan menyembuhkannya!"

Gadis itu sambil tersenyum gembira berlari-lari kearah raksasa yang masih menangis bergulingan seperti anak kecil itu, dan menyampaikan pesan Kwan Cu. Raksasa itu berkaok-kaok yang diterjemahkan oleh Liyani.

"Dia sudah kapok dan minta ampun." Kwan Cu merasa kasihan. Ia menghampiri pemuda raksasa itu, lalu menepuk dan mengurut punggungnya! lenyaplah rasa sakit. Raksasa itu membungkuk kepada Kwan Cu lalu beranjak pergi dari situ dengan malu. Kwan Cu duduk lagi di dekat Raja Lakayong yang memandangnya sambil mengurutkan kening, lalu menulis,

"Kau menggunakan ilmu hoat-sut (ilmu sihir), aku tidak suka akan ilmu curangmu itu, lebih baik menghandalkan tenaga dan berkelahi dengan jujur."

Kwan Cu dapat memaklumi jalan pikiran raksasa sederhana dan jujur ini. Maka ia lalu menulis dengan panjang lebar.

"Tidak ada kecurangan caraku dalam bertempur, aku lebih menggunakan otak dari pada tenaga. Kalau aku disuruh bertempur menghadapi dia yang jauh lebih besar, apakah itu jujur dan adil namanya? Sama saja seekor kelinci disuruh menghadapi harimau! Tenagaku jauh lebih kecil, maka aku harus menggunakan akal. Aku tadi juga menggunakan pukulan akan tetapi pukulan dengan tenaga sekecilnya yang ditujukan pada bagian yang menyakitkan."

"Tubuhnya kuat, tak mungkin dengan tenaga kecil dapat menimbulkan rasa sakit." bantah Lakayong. "Kau keliru."

Jawab Kwan Cu. "di bawah kulit tersembunyi bagianbagian yang lemah. Kalau kau tidak percaya, coba kau gunakan salah satu jari tanganmu mengetok bagian lututmu ini sendiri." Sambil berkata demikian Kwan Cu meraba sambungan lutut raksasa itu.

Sambil tersenyum Raja Lakayong mengetokkan jarinya pada bagian itu dan dia berseru kesakitan dan secara otomatis kakinya bergerak ke depan seperti orang menendang karena tersentuh uratnya yang amat perasa.

Dengan rasa terheran-heran raksasa itu mengetuknya berkali-kali dan akhirnya Kwan Cu melarangnya karena hal itu dapat berbahaya sekali.

"Jika kau menggunakan pukulan menghantam lawan, mungkin ia tak kan raboh, akan tetapi agak ke bawah kau memukul mengenai sambungan lututnya, pasti ia roboh.

Apakah akal ini dapat dikatakan curang?"

Lakayong kagum sekali. Lalu ia minta penjelasan lebih lanjut.

"Mungkin aku akan menghadapi seorang di antara dua orang penghianat itu. Mereka masih muda dan kuat, sedangkan aku sudah tua. Aku kalah tenaga dan aku perlu mengetahui rahasia tubuh ini," katanya.

Kwan Cu lalu memberi penjelasan sambil memberi contoh, yaitu lebih tepat memukul sambungan siku daripada mengenai lengan, lebih baik memukul sambungan pundak daripada mengenai dada, dan memberi petunjuk berbahaya yaitu leher, ulu hati, lambung dan lain-lain. Raja Lakayong menjadi girang sekali dan hampir sampai pagi ia menerima petunjuk dari Kwan Cu.

"Di mana adanya dia orang jahat itu?" tanyanya.

"Mereka bersembunyi, akan tetapi tidak ada orang yang akan sembunyi terus-menerus, mereka tidak berani meninggalkan pulau dan besok ia akan menghadap juga."

"Apa yang akan kau lakukan terhadap mereka?"

"Kau akan melihat sendiri besok," jawab Lakayong sambil tertawa. "Yang sudah pasti, mereka akan menghadapi keputusan yang jujur, sesuai dengan kebiasaan kami."

Adapun Liyani yang suka kepada Kwan Cu, tiada bosannya mengajarkan bahasa mereka kepada Kwan Cu.

Dengan bantuan tulisan mereka yang dimengerti oleh Kwan Cu, dibantu pula oleh otaknya yang cerdik, sebentar saja Kwan Cu sudah dapat mengerti beberapa ucapan terpenting dalam percakapan sehari-hari. Maka mulailah dia bercakap-cakap dengan Liyani dan Lakayong sehingga mereka menjadi gembira sekali.

Melihat Suling yang berada di buntalan Kwan Cu, Liyani bertanya benda apakah gerangan yang aneh itu.

Kwan Cu tersenyum lalu meniup sulingnya. Berserabutan orang-orang yang tadinya udah pulang ke pondok masingmasing untuk melihat apakah yang dapat berbunyi demikian aneh dan merdu. Adapun Liyani saking gembiranya lalu menari di hadapan Kwan Cu. Sebuah tarian yang menurut Kwan Cu amat melanggar kesusilaan karena gadis itu menari dengan pinggang bergerak, semacam tari perut ! Atas kehendak Raja Lakayong, pertemuan yang menggembirakan itu dibubarkan untuk memberi kesempatan pada tamunya untuk mengaso. Kwan Cu mendapat kamar yang bersih di dalam gedung besar itu berdekatan dengan kamar Raja Lakayong dan kamar puterinya. Lakayong sebentar saja sudah tidur mendengkur.

Juga Kwan Cu yang merasa lelah sekali, tidur melenyapkan keletihannya setelah makan kenyang dan merasa tubuhnya enak dan segar. Lebih dulu ia mengganti pakaiannya yang basah kuyub dengan pakaian yang sudah dia panggang di dekat api unggun sehingga menjadi kering.

Pada keesokan harinya dia bangun dari tidurnya karena suara ketawa terkekeh-kekeh di dalam kamarnya. Ia membuka matanya dan cepat meloncat turun dari pembaringan kayu ketika melihat yang tertawa-tawa itu adalah Liyani yang sudah memasuki kamarnya. Gadis itu telah membuka buntalannya dan sedang melihat-lihat pakaiannya. Celana dan bajunya dipegang gadis itu sambil tertawa-tawa, seperti seorang gadis remaja memegang dan merasa geli melihat pakaian anak kecil! Memang, celana sutra dari pemuda itu ketika dipegang tergantung oleh tangan Liyani hanya kelihatan seperti celana anak kecil saja! Ketika melihat Liyani mulai membuka bungkusan kuning yang berisi daun Liong-cu-hio, Kwan Cu melompat dan merampas bungkusan itu.

"Jangan sentuh ini!" katanya dalam bahasa Kuyu yang kaku.

Mata yang bening itu terbelalak lebar. Setelah melihat gadis itu di pagi hari, Kwan Cu harus mengaku bahwa Liyani memiliki kecantikan yang khas dari bangsanya.

Kulitnya yang kehitaman itu tidak membosankan dan bibirnya yang tebal itu nampak penuh dan manis.

"Mengapa tidak boleh?" tanyanya heran, kejujurannya membuat ia tidak merasa tersinggung.

"Karena benda yang terbungkus kain ini sangat berbahaya, sekali tanganmu menyentuhnya, akan mejadi hangus tanganmu itu."

Liyani menjadi terkejut sekali dan melangkah mundur.

"Kau orang aneh, barang-barangmu juga aneh. Akan tetapi aku …. aku suka padamu, suka sekali padamu."

Setelah berkata demikian gadis itu keluar dari kamar, meninggalkan Kwan Cu yang berdiri dengan muka merah sekali. Pemuda ini baru berumur enam belas tahun dan selama hidupnya belum pernah berpikir tentang cinta kasih antara laki-laki dan wanita. Tadinya mengira bahwa rasa suka yang dinyatakan berkali-kali oleh gadis raksasa itu adalah rasa suka yang terdapat dalam hati orang bersahabat, namun melihat sinar mata gadis itu yang aneh sekali, membuat dia merasa jengah dan tidak enak hati! Wanita-wanita pelayan datang membawa air pencuci muka, air minum dan makanan, menyediakan semua itu sambil tertawa-tawa seakan-akan menghadapi sesuatau yang lucu. Kwan Cu mendongkol sekali dan berpikir bahwa dia tidak betah terlalu lama tinggal di pulau raksasa ini karena dia maklum bahwa tubuhnya yang jauh lebih kecil dari pada penduduk di situ akan membuat dia kelihatan sebagai makluk yang aneh dan menggelikan. Ia tidak suka menjadi bahan ketawaan. Namun, minuman yang disediakan amat enak, menghangatkan perutnya sedangkan makanan itu lezat sekali, semacam kue yang manis.

Tak lama kemudian datanglah Raja Lakayong yang nampak sehat dan gembira sekali.

"Saudara kecil yang baik, apakah kau enak tidur?" tanyanya.

Kwan Cu mengucapkan terima kasihnya dalam bahasa Kuyu yang kaku.

"Saudara Kwan Cu, marilah kau ikut aku melihat bagaimana kami mengadakan pengadilan," kata Lakayong sambil mengandeng tangan Kwan Cu. Ketika mereka tiba di luar, ternyata Raja itu tidak datang seorang diri, melainkan bersama tujuh orang laki-laki yang bertubuh tinggi besar dan nampaknya kuat sekali. Mereka ini adalah pembantu-pembantu dari Lakayong.

Kwan Cu berjalan bersama Lakayong menuju ke sebelah Barat di mana terdapat sebuah telaga yang berbentuk bundar dan nampaknya dalam sekali. Air telaga yang biru itu kelihatan tenang, akan tetapi kadang-kadang nampak berombak dan sekali-kali muncullah kepala seekor binatang yang membuat Kwan Cu terheran-heran dan merasa ngeri.

Kepala binatang yang muncul di permukaan air telaga itu amat menyeramkan bentuknya seperti seekor singa, liar dan buas, akan tetapi kepala itu besar sekali dan tubuhnya agak panjang karena ekornya yang berambut merah berada jauh di belakangnya. Apakah ini yang disebut naga? Ataukah singa air? Lakayong mengajak Kwan Cu duduk di dekat telaga, di atas batu-batu hitam yang licin dan agaknya sering kali diduduki oleh Raja ini. Para pembantu yang tujuh orang itu duduk di sebelah kiri.

"Sudah siapkan mereka?" tanya Lakayong pada orangorangnya.

"Mereka sedang menuju ke sini," jawab pembantunya dengan hormat.

Betul saja, tak lama kemudian nampak dua raksasa muda yang bertubuh kuat sekali. Mereka berjalan berdampingan seperti dua ekor gajah muda menuju ke tempat itu. Setiba mereka di depan Lakayong, dua orang itu lalu berbungkuk dengan hormat.

"Kalian sudah mendengar keputusanku!" kata Lakayong dengan kata dingin. "Karena di antara kamu tidak ada yang mengaku merencanakan pengkhianatan itu, kalian harus menyatakan kemenangan dengan bertanding di atas batu jamur. Yang kalah menjadi mangsa singa telaga, yang menang akan berhadapan dengan aku sendiri!"

"Kami mengerti!" jawab dua orang itu dengan gagah dan mata mereka memandang ke arah Kwan Cu penuh kebencian sehingga pemuda ini menjadi kaget.

Tujuh orang pembantu segera menyediakan sebuah perahu besar dan dua orang raksasa muda itu menunggang perahu menuju tengah-tengah telaga. Kwan Cu melihat bahwa di tengah telaga itu terdapat sebuah batu karang yang bentuknya aneh seperti jamur besar. Tahulah dia bahwa dua raksasa muda itu harus bertanding di atas batu karang itu.

"Apakah mereka yang bernama Wisang dan Kasang?" tanyanya kepada Lakayong.

Raja raksasa itu mengangguk dengan tersenyum.

"Benar, merekalah pengkhianat-pengkhianat itu. Sayang sekali, mereka sebetulnya merupakan dua orang muda yang paling cakap yang gagah di antara suku bangsa kami."

"Masih lebih baik mempunyai pembantu kurang cakap akan tetapi jujur daripada pembantu cakap akan tetapi khianat," kata Kwan Cu.

"Kau betul sekali, saudaraku, cocok dengan pendirianku.

Oleh karena itulah maka aku menjatuhkan hukuman itu kepada mereka.

Diam-diam Kwan Cu mengagumi kesederhanaan dan kejujuran orang-orang ini. Mana ada hukuman seperti itu, yang menjadi pesakitan sama sekali tidak di tangkap, dibiarkan bebas begitu saja. Namun tetap saja mereka datang menyerah! Dan alangkah anehnya hukuman itu.

Keduanya disuruh bertanding dan yang menang akan mendapat kesempatan bertanding dengan raja Lakayong!

"Bagaimana kalau dengan pertandingan kedua nanti kau kalah?" tanya Kwan Cu.

"Aku kalah? Tak mungkin. Apalagi setelah mendapat petujuk darimu tentang bagian-bagian tubuh yang lemah, biarpun dikeroyok dua oleh mereka, aku akan dapat merobohkan mereka," kata Lakayong sambil ketawa gembira.

"Akan tetapi, andaikata kau tetap kalah?" Kwan Cu mendesak.

"Kalau aku kalah? Tak bisa lain tentu pemenangnya akan menjadi Raja dan menikah dengan Liyani."

Kwan Cu tertegun. Alangkah sederhananya peraturan itu dan menunjukkan bahwa raja raksasa ini sama sekali tidak berlaku sewenang-wenang. Bukanlah kalau dia mau dengan mudah saja dia bisa saja suruh tangkap dan bunuh dua pengkhianat itu? Akan tetapi, mendengar bahwa Liyani akan diperistri oleh seorang pemenang, Kwan Cu menjadi penasaran.

"Bukankah Liyani sudah menolak pinangan mereka?"

"Karena Liyani puteriku maka dia berhak menolak pinangan siapa saja yang dia tidak suka. Akan tetapi, ia tak akan boleh menolak pinangan seorang raja."

Percakapan berhenti dan kini dua orang raksasa muda itu sudah tiba di batu karang yang disebut batu jamur. Dengan otot-otot kaki tangan mengembung lalu merayap naik keatas batu karang itu. Tidak sembarang orang dapat merayap sepereti itu karena batu karang itu bentuknya seperti jamur dan terjal. Selain sukar, juga amat berbahaya karena Kwan Cu melihat betapa singa-singa telaga telah siap sedia menanti dengan mulut memperlihatkan gigi-gigi tajam di sekitar batu jamur itu! Sekali saja kaki terpeleset dan jatuh ke air, tak kan ada pertolongan lagi.

Setelah kedua orang itu, Wisang dan Kasang, berhasil naik ke atas, mereka berdiri berhadapan seperti dua orang jago berlagak. Siap untuk mulai pertandingan. Penduduk dusun itu semua datang untuk menyaksikan pertandingan ini, dan dari gerak dan suara mereka Kwan Cu dapat menduga bahwa para penonton itu saling bertaruh untuk jago masing-masing.

Matahari telah tinggi dan kini semua orang laki-laki perempuan telah berkumpul di pinggir telaga termasuk Liyani mengambil tempat duduk di samping Kwan Cu.

Adapun raja Lakayong duduk di sebelah kanan pemuda itu.

Raja ini kelihatan gembira sekali. Pertandingan di atas batu jamur jarang sekali diadakan dan semenjak dahulu sudah beberapa keturunan, batu jamur itu hanya dipergunakan untuk bertanding bagi calon-calon raja. Akan tetapi dalam pertandingan calon raja, di sekeliling batu terdapat perahuperahu besar sehingga kalo ada yang kalah dan jatuh ke bawah, dia tak akan dimakan singa telaga dan melompat ke perahu.

Berbeda dengan pertandingan sekarang ini, karena pertandingan sekarang ini bersifat hukuman, maka setelah kedua orang ini naik, Lakayong memberi perintah supaya perahu besar yang membawa dua orang raksasa muda tadi ke batu jamur, disingkirkan! Dengan demikian berarti bahwa siapa yang kalah akan terkubur di dalam perut singa telaga! Kemudian Lakayong lalu memberi isyarat dengan mengangkat tangan dan mulailah kedua orang raksasa itu bertanding! Kwan Cu memandang dengan penuh perhatian.

Ia tidak tahu bahwa dua orang raksasa muda yang sedang bertanding menanam kebencian hebat kepadanya. Sebelum dua orang raksasa itu menghadap raja tadi, malamnya mereka telah mendengar dari raksasa yang dikalahkan oleh Kwan Cu tentang semua kejadian. Mereka tahu bahwa yang menolong raja adalah pemuda itu, sehingga boleh dibilang bahwa yang mendatangkan malapetaka dan yang menggagalkan rencana mereka adalah Kwan Cu. Apalagi ketika mereka mendengar bahwa biarpun kecil, pemuda asing itu memiliki kepandaian bertempur yang mengherankan, kedua orang raksasa muda itu menjadi makin benci dan iri hati.

Pertempuran yang terjadi di atas batu jamur itu ramai sekali. Keduanya sama kuat dan sama tangguh. Pukulmemukul, tendang-menendang dan dorong-mendorong, berusaha sekuat tenaga agar lawannya terlempar jatuh dari atas batu jamur. Memang amat mengerikan dan menegangkan nampaknya. Permukaan batu yang rata itu tidak berapa lebar dan sekali telah terlempar atau tergelincir ke bawah berarti maut menjadi bagiannya! Kwan Cu melihat betapa kedua orang raksasa muda itu lebih banyak menggunakan tenaga daripada otak. Mereka memiliki kekuatan dan tubuh yang terlindung oleh otot-otot tebal itu menjadi kebal. Pukulan dan tendangan lawan seperti tidak terasa dan dorongan tak cukup kuat untuk dapat merobohkan tubuh yang kokoh kuat itu. Diam-diam Kwan Cu menjadi geli menyaksikan cara mereka bertempur itu. Seperti dua orang anak-anak yang bergulat saja. Kalau dia yang maju, dia percaya bahwa dalam beberapa gerakan saja dia akan dapat mengalahkan mereka.

Para penonton bersorak-sorak, menyoraki jago masingmasing.

Ada kalanya Wisang tertindih, ada kalanya Kasang terdesak, akan tetapi keduanya sama kuatnya sehingga pertandingan makin lama makin seru dan mengerikan.

Liyani tertawa-tawa gembira dan gadis ini nampaknya senang sekali menyaksikan pertandingan antara dua raksasa itu. Raja Lakayong memandang penuh perhatian dan berkali-kali menganggukkan kepala sambil berkata perlahan kepada Kwan Cu.

"Kau betul, saudaraku. Mereka itu tidak mempergunakan otak dan mereka hanya memukul dan menendang bagian-bagian anggota badan yang mudah untuk dijadikan sasaran saja. Kalau mereka itu menyerang ke arah anggota tubuh lawan yang lemah seperti yang kau ajarkan kepadaku, tentu pertandingan akan selesai dengan cepat. Ah, aku girang sekali karena terbuka mataku bagaimana harus mengalahkan mereka tanpa menghabiskan tenaga!"

Akan tetapi pemuda itu tak segembira Lakayong, bahwa Kwan Cu memandang ke arah pertempuran dengan kening berkerut. Matanya yang tajam dapat melihat hal-hal yang aneh dalam pertempuran itu. Banyak sekali kesempatankesempatan dan lowongan baik sekali dilewatkan begitu saja oleh Wisang dan Kasang. Kesempatan yang cukup untuk mereka pergunakan dalam merobohkan lawan.

Benar-benarkah mereka begitu bodoh dan buta? Tak mungkin, hanya ada satu jawaban untuk memecahkan jawaban ini, yaitu bahwa kedua orang itu tidak berkelahi sesungguh hati!

"Mereka hanya main-main saja!" katanya penuh curiga.

"Mereka tidak berkelahi dengan sesungguhnya!"

Lakayong tertawa dengan bergelak."Kau lucu sekali, sahabatku. Orang berkelahi mati-matian dan maut sewaktuwaktu dapat merengut nyawanya dan kau bilang bahwa mereka itu hanya main-main saja? Ha,ha ha!"

"Jangan kau menertawakan daku, Raja Lakayong, aku berani bertaruh bahwa sampai matahari tenggelam tak seorang pun di antara mereka yang akan kalah."

Akan tetapi Lakayong tidak percaya dan demikianlah, pertempuran dilakukan dengan hebatnya. Orang-orang wanita sudah menjadi bosan karena benar saja, setelah senja tiba, belum juga ada yang kalah dan menang. Seorang demi seorang mereka pergi, bahkan Liyani juga pergi dari situ karena mereka ini harus melakukan tugas pekerjaan mereka. Bahkan banyak pula penonton laki-laki pada pergi.

Yang masih tinggal di sini adalah hanya Raja Lakayong, Kwan Cu dan tujuh orang pembantu saja.

Tak lama kemudian pelayan-pelayan datang membawa makanan dan minuman untuk Raja, Kwan Cu dan tujuh orang pembantu itu dan mereka makan di pinggir telaga sambil menonton pertempuran yang masih saja berjalan ramai itu. Akhirnya matahari terbenam dan sebagai penggantinya, bulan bertahta di angkasa raya. Raja Lakayong malu dan menepuk-nepuk lalu merangkul pundak Kwan Cu dengan tangan kirinya sambil berkata,

"Dugaanmu tidak meleset, saudara kecil. Benar saja sampai bulan muncul, belum ada yang kalah. Mereka berdua sama berani dan sama kuat. Sayang sekali mereka harus dihukum."

Kwan Cu tidak menjawab. Ia tahu bahwa percuma saja apabila dia berkukuh menyatakan bahwa dua orang itu tidak bertempur sesungguhnya. Ia tahu bahwa Raja ini terlalu jujur sehingga tidak mengerti tentang kepalsuan dan pura-pura, maka tidak dapat pula tidak dapat membedakan pertempuran pura-pura dan pertempuran sesungguhnya.

"Pertempuran terpaksa ditunda sampai besok pagi, dewa bulan tidak suka menyaksikan manusia berkelahi," kata Lakayong yang memberi isyarat dengan tangannya.

Pembantu-pembantunya mendayung perahu besar dan kedua raksasa yang bertempur itu diperintahkan menghentikan dan menunda pertandingan itu untuk diulang kembali besok pagi.

Dua orang raksasa itu kelihatan letih sekali. Tubuh mereka yang tinggi besar itu penuh peluh sampai berkilauan dan kelihatan lemas. Mereka dibawa ke pinggir telaga dan Lakayong berkata,

"Besok dimulai lagi pertandingan kalian pada waktu matahari muncul. Sekarang kalian boleh beristirahat." Raja ini lalu memberi perintah agar dua orang jago ini dihidangi makanan yang lezat kemudian dia mengajak Kwan Cu kembali ke dusun.

Dugaan bahwa Wisang dan Kasang bertanding dengan pura-pura adalah tepat, karena menurut dua orang raksasa muda ini sengaja bertempur dengan main-main, tidak bermaksud saling mengalahkan. Berbeda dengan kawankawannya, dua orang raksasa ini agak lebih cerdik. Mereka maklum bahwa kalau di antara seorang dari mereka menang dan harus menghadapi Lakayong, tetap saja si pemenang itu akan kalah oleh sang Raja yang kuat itu. Oleh karena ini mereka berunding dan mendapat akal. Mereka takkan saling mengalahkan sehingga mereka akan dapat menghadapi Lakayong berdua! Sementara itu, didalam rumah Raja Lakayong, Kwan Cu bercakap-cakap dengan Raja itu dikawani oleh Liyani.

"Mereka benar-benar mengagumkan, kuat sekali," kata Raja Lakayong. Kwan Cu merasa tidak ada gunanya dan semenjak tadi memutar otak untuk memecahkan masah itu.

Ia juga merasa ngeri kalau membayangkan betapa dua orang raksasa muda yang kuat itu akhirnya akan menjadi mangsa singa telaga.

"Raja Lakayong, kau bilang sayang sekali kalau sampai dua orang itu tewas, bukan? Mengapa tidak mengampuni dan menggunakan tenaga mereka sebagai pembantu yang cakap?"

"Mengampuni tidak mungkin. Sudah menjadi kebiasaan kami menghukum orang-orang bersalah."

"Bukan mengampuni sama sekali. Maksudku jangan menyuruh mereka bertanding di batu jamur itu, agar kita dapat menyaksikan dari dekat. Mereka harus diberi keinsyafan bahwa kau lebih kuat dari mereka dan kita harus mencari akal untuk menundukkan mereka."

"Bagaimana maksudmu, saudaraku yang baik" tanya Lakayong.

"Begini," jawab Kwan Cu yang sudah merencanakan sebuah akal yang baik. "Besok pagi suruhlah mereka bertanding di tempat yang terbuka dan kita menyaksikan dari dekat. Yang menang biarlah kulawan sebagai gantimu dan aku akan memberi hajaran kepadanya sampai ia tunduk betul. Atau boleh juga kau turun tangan memberi hajaran. Kalau mereka sudah yakin betul bahwa mereka tiada harapan untuk menangkan kau, kurasa mereka tidak begitu bodoh dan nekat untuk memberontak."

Lakayong mengangguk-angguk menyatakan persetujuannya. Memang dia sendiri adalah seorang yang berhati penuh kasih sayang terhadap rakyatnya, maka tentu saja dia akan merasa lebih girang kalau saja dapat menyelamatkan nyawa kedua orang raksasa muda itu, sungguhpun kedua raksasa itu sudah pernah berusaha untuk menbunuhnya. Rakyatnya membutuhkan orang-orang kuat seperti Wisang dan Kasang dan dia akan lebih suka mempunyai mantu di antara kedua raksasa muda itu dari pada pemuda yang lain di antara penghuni pulau itu.

"Baiklah, besok akan kucoba rencanamu itu." Kemudian mereka berpaling kepada Liyani sambil bertanya, "Liyani, kau menolak pinangan kedua orang muda itu. Sebetulnya siapakah yang paling baik di antara mereka berdua? Menurut pandanganmu, siapa diantara Wisang dan Kasang? Bagaimana dengan Wisang?"

Biarpun pertanyaan seperti ini yang dilakukan oleh ayahnya di depan orang lain tentu akan membikin malu kepada seorang gadis biasa, namun Liyani tidak merasa malu, bahkan tersenyum manis, lalu menjebirkan bibirnya lalu mengejek. "Wisang ? Dia orang kasar, aku tidak suka kepadanya."

"Kalau Kasang bagaimana?" mendesak ayahnya.

"Dia cukup halus dan baik, akan tatapi…" berkata demikian, Liyani mengerling kepada Kwan Cu, membuat hati pemuda cilik ini menjadi berdebar bingung.

"Akan tetapi kenapa?" Lakayong mendesak pula.

"Dia pernah kalah oleh Ayah. Aku hanya mau menjadi isteri seorang yang lebih kuat dan pandai dari pada kau, Ayah," katanya dengan sikap manja dan kembali gadis ini tersenyum dan mengerling kepada Kwan Cu.

Celaka dua belas, pikir Kwan Cu. Benar-benar gadis berkepala batu yang pikirannya aneh. Mana bisa Kasang menangkan Lakayong? Semua pemuda di pulau itu tak dapat menangkan Lakayong dan sekarang gadis ini bersikap manis kepadanya karena biarpun dia seorang bertubuh kecil, dia telah memperlihatkan kepandaian dan agaknya gadis raksasa ini mengharapkan bahwa dia akan dapat mengalahkan ayahnya! Adapun Lakayong ketika mendengar jawaban puterinya itu, tertawa bergelak dan berkata,

"Anak bodoh! Agaknya kau tak kan dapat menikah sebelum aku menjadi orang tua dan lemah!"

Liyani tidak menjawab, lalu tak lama kemudian ia meninggalkan ayahnya dan Kwan Cu, berjalan pergi ke kamarnya sambil bernyanyi-nyanyi dengan suara merdu.

"Dia seorang anak baik, seorang gadis yang menjadi kembang di antara rakyatku semua," kata Lakayong memuji puterinya. "Sayang dia keras kepala. Kalau dia menjadi istri Kasang, tentu dia akan mempunyai seorang putera yang gagah perkasa."

"Biarlah besok kita menundukkan lebih dulu dua orang muda itu dan barulah aku mencari akal agar supaya puterimu itu suka menerima tunangan Kasang," kata Kwan Cu.

Lakayong memandang dengan muka kagum dan bersyukur. "Agaknya dewa-dewa mengirim kau datang untuk menolong kami, saudara kecil. Biarpun semua akal dan caramu belum dijalankan aku percaya bahwa kau yang telah memperlihatkan kesaktian akan berhasil. Aku berterimakasih kepadamu."

"Tidak apa, Raja Lakayong. Sebaliknya aku pun telah kau terima sebagai tamu dengan sikap yang ramah-tamah.

Ini saja membuat aku bersyukur sekali. Kau dan rakyatmu adalah orang-orang jujur, satu sifat yang kukagumi di antara sifat-sifat yang baik, maka aku bersedia untuk membantu kalian."

"Kalau saja aku dapat melakukan sesuatu untuk membalas budimu, aku akan merasa girang sekali, saudara Kwan Cu."

Hampir saja Kwan Cu membuka rahasianya tentang pulau kecil di mana tersimpan kitab Im-yang Bu-tek Cinkeng yang dicarinya, akan tetapi dia masih sempat menahan lidahnya.

"Memang ada sesuatu yang hendak kutanyakan kepadamu dan mengharap kalau-kalau kau dapat membantuku, akan tetapi biarlah hal itu kutunda dulu dan akan kuceritakan kalau urusanmu ini sudah beres," jawabnya. Kemudian mereka mengaso.

***

Pada keesokkan harinya, pagi-pagi sekali Kwan Cu sudah bangun dari tidurnya. Seperti kemarin, dia telah melihat Liyani berada di kamarnya. Ia merasa menyesal mengapa kamar-kamar besar di rumah ini semuanya tiada pintunya, kalau ada akan ditutupnya rapat-rapat agar jangan ada orang masuk begitu saja. Melihat seorang gadis berada di kamarnya, biarpun gadis itu seorang gadis raksasa membuat Kwan Cu merasa jengah dan kikuk sekali.

"Nona Liyani, kau sudah berada di sini?" tanya Kwan Cu dengan kikuk sekali. Biasanya dia menyebut tanpa nona segala, akan tetapi pagi hari ini karena merasa jengah dan malu mendapatkan gadis itu di dalam kamarnya, maka tanpa terasa dia menyebut "Nona". Padahal di dalam bahasa Kuyu tidak terdapat sebutan Nona dana dalam gugupnya dia meyebut "siocia" yang berarti Nona.

"Eh, saudara Kwan Cu, apakah artinya siocia?" tanya Liyani sambil memandang dengan matanya yang lebar bening.

"Oh, ya, aku lupa. Itu bahasaku, dipergunakan untuk menyebut seorang gadis yang belum menikah," jawabnya.

Liyani mengangguk-angguk sambil tersenyum. "Lucu sekali kedenganrannya. Apa-apa yang ada padamu lucu dan menyenangkan. Melihat cara kau tidurpun kelihatan lucu dan menyenangkan." Kwan Cu terheran. "Lucu? Bagaimana sih tidurku?" tanyanya ingin tahu.

"Kau tidur begitu anteng seperti… seperti seorang wanita."

"Seperti wanita? Apa maksudmu?"

"Atau seperti seorang anak kecil. Kau tidur berbeda dengan orang laki-laki dewasa di sini. Kau sama sekali tidak mendengkur, bahkan napasmu demikian halus. Seperti anak-anak."

"Hmmm….." Kwan Cu merasakan kemendongkolannya yang sudah sering kali dia rasakan semenjak dia datang di situ dan merasa dirinya menjadi bahan tertawaan.

"Memang…. Aku masih anak-anak, anak kecil yang tidak ada sifat jantan," katanya dengan sebal sambil melompat turun dari pembaringan yang terlalu panjang dan terlalu lebar untuknya itu. Ia berdiri dan terpaksa mendongak untuk memandang wajah gadis itu karena kalau mereka berdua berdiri berhadapan, tinggi tubuhnya hanya sampai pada pinggang gadis itu, bahkan lebih rendah lagi! Liyani dapat merasai suara kecewa dan mendongkol dalam kata-kata Kwan Cu maka sambil tersenyum ia membungkuk dan meraba kedua pundak pemuda ini.

"Tidak, saudara yang baik. Kau sama sekali tidak seperti anak kecil. Kau biarpun keecil sekali, namun gagah dan mengagumkan, bahkan ayah berkata bahwa agaknya kau masih keturunan dewa."

"Gila!" kata Kwan Cu makin gemas.

"Akupun tidak percaya," kata Liyani tertawa, "Kau manusia biasa, hanya dari bangsa yang bertubuh kecil.

Akan tetapi kau gagah dan baik, aku suka sekali padamu.

Eh, saudaraku yang baik. Menurut perkiraanmua siapakah yang akan menang di antara Wisang dan Kasang?"

"Kau mengharapkan siapa yang menang?" tanya Kwan Cu.

Liyani cemberut dan Kwan Cu menjadi geli. Lenyap kemendongkolannya yang tadi. Lucu sekali melihat gadis tinggi besar seperti itu masih bersikap manja seperti seorang anak kecil atau seorang gadis manja.

"Belum menjawab pertanyaanku, kau sudah balas bertanya. Jawablah dulu."

Kwan Cu menjawab terus terang. "Kurasa biarpun ini hari mereka bertanding sehari penuh, takkan ada yang akan kalah atau yang menang. Kedua orang itu agaknya hanya bertanding pura-pura belaka, karena kemarin mereka bertempur di tempat yang agak jauh, maka tidak kentara.

Sekarang mereka akan bertanding di lapangan terbuka, tentu akan kelihatan kalau mereka masih berpura-pura."

"Menurut pandanganmu….. siapakah yang lebih baik diantara kedua orang itu?"

Diam-diam Kwan Cu merasa geli dalam hatinya. Gadis ini sedang melakukan pemilihan dan kepercayaannya kepadanya begitu besar sehingga minta nasehat dan pertimbangannya dalam hal memilih jodoh!

"Hmm……. Bagaimanakan aku dapat mengatakan hal itu? Aku belum kenal mereka dan menurut keadaan luarnya, memang mereka itu sama muda, sama tangkas dan sama kuat. Sukarlah mengatakan yang mana lebih baik."

Katanya terus terang dengan hati-hati.

"Wisang orangnya kasar. Pernah ia akan mengejar dan hendak memaksaku berlaku manis kepadanya," kata gadis itu cemberut.

"Kalau begitu agaknya Kasang lebih menarik hatimu," kata Kwan Cu memancing.

"Memang dia lebih baik dari pada Wisang, akan tetapi sekarang ia pun kelihatan kasar bagiku."

"Apakah ada orang yang lebih baik dan halus dari padanya?" Kwan Cu memancing karena siapa tahu kalaukalau ada pemuda lain yang lebih menarik hati gadis aneh ini.

"Semua pemuda di dusun ini kasar-kasar belaka, kalau tidur mendengkur seperti binatang, sikapnya kasar menyakitkan hati, tidak ada yang halus menyenangkan seperti engkau!" gadis itu menarik napas panjang.

Kwan Cu terkejut dan merasa kawatir sekali. Celaka, bagaimanakah pendirian gadis aneh ini?

"Aku kelihatan halus karena aku kecil sekali. Lihat, aku tidak setinggi pinggangmu."

Liyani menarik napas panjang, nampak kecewa sekali.

"Itulah! Kalau kau mempunyai tubuh sebesar kami, takkan susah payah aku memilih calon jodohku." Berdebar hati Kwan Cu. Benar benar gila gadis ini, pikirnya dan dia mulai merasa takut berdua saja dengan gadis ini.

"Akan tetapi biarpun kecil kau baik sekali, saudara Kwan Cu. Aku suka kepadamu." Sambil berkata demikian dengan jari-jari tangannya, gadis itu menyentuh bahu Kwan Cu. Pemuda ini sudah kebingungan, baiknya pada saat itu datang pelayan membawa air pencuci muka dan makanan pagi.

"Baginda menanti di kebun belakang dan orang-orang sudah berkumpul untuk meyaksikan pertandingan," kata pelayan itu.

Setelah pelayan itu keluar, Kwan Cu mencuci muka. Ia merasa lega sekali ditinggal pergi Liyani, seakan-akan terlepas dari mulut harimau! Dengan cepat dia makan, kemudian dia pun pergi menuju ke belakang rumah di mana terdapat sebuah kebun yang besar sekali.

Benar saja, di situ banyak orang. Liyani duduk di dekat ayahnya dan ketika Kwan Cu datang, gadis itu memegang tanganya dan menarik duduk di dekatnya.

Wisang dan Kasang sudah berdiri berhadapan. Ketika mereka melihat betapa Kwan Cu duduk di dekat Liyani, mereka memandan dengan mata penuh kebencian. Pemuda cilik ini benar-benar memanaskan perut mereka. Pertamatama pemuda cilik itulah yang menggagalkan rencana mereka membunuh Lakayong, kemudian sekarang agaknya pemuda itu hendak merebut hati Liyani.

Akan tetapi mereka tidak dapat terus memandang Kwan Cu, karena Raja Lakayong sudah memberi aba-aba dan keduanya segera mulai pertandingan dengan hebat. Otototot tubuh mereka bergerak-gerak dengan keduanya saling serang bagaikan dua ekor harimau bertarung.

Akan tetapi, belum lama mereka bertanding, tahulah Kwan Cu bahwa benar-benar kedua orang ini main gila dan tidak bertempur sesungguhnya. Raksasa-raksasa bodoh yang menonton di situ, termasuk raja Lakayong dan puterinya, benar-benar memang kena diakali. Kwan Cu menjadi gemas sekali dan selagi dia berpikir-pikir dan mencari tahu apakah gerangan maksud kedua orang raksasa muda ini dengan perkelahian pura-pura itu, tiba-tiba kedua orang yang bertarung berhenti.

Wisang menjura kepada Lakayong dan berkata,

"Aku dan Kasang mempunyai kekuatan dan kepandaian yang sama, tak mungkin ada yang kalah atau menang.

Karena itu, sudah sepatutnya kalau kami berdua menghadapi raja bersama. Kalau kami kalah, biarlah kami mati di bawah pukulan tangan raja!"

Tahulah kini Kwan Cu akan maksud mereka. Jadi mereka telah bermufakat untuk tidak merobohkan lawannya agar mereka dapat menghadapi Raja yang kuat itu bersama! Dalam marahnya Kwan Cu melompat ke tengah lapangan dan berkata dengan suara kaku,

"Kalian ini orang-orang curang dan jahat! Apa kalian aku tidak tahu bahwa kalian sengaja tidak mau menjatuhkan lawan? Kalian tidak sungguh-sungguh bertempur, sengaja hendak mengeroyok Raja yang sudah tua!"

Wisang dan Kasang menjadi pucat dan saling memandang, kemudian mereka menghadapi Kwan Cu dengan mata mendelik.

"Saudara Kwan Cu, kalau mereka ingin menghadapi aku, biarlah. Akan kulawan mereka berdua. Orang-orang ini memang perlu dihajar!" kata Raja Lakayong dengan gagah dan dia sudah berdiri dengan tegapnya. Memang tubuh Raja ini luar biasa sekali, masih sekepala lebih tinggi dari pada dua orang raksasa muda itu, bahkan otot-ototnya lebih besar dan nampaknya kuat sekali. Semua orang menyatakan pujian kepada mereka yang gagah ini.

Akan tetapi Kwan Cu merasa khawatir. Dua orang raksasa muda ini dapat menipu mereka, ini menandakan bahwa mereka lebih cerdik dari orang-orang itu. Siapa tahu kalau-kalau mereka itu sudah mempunyai akal untuk menjatuhkan raja yang biarpun nampak kuat namun jauh lebih tua itu.

"Tidak! Tidak patut dua orang muda mengeroyok orang yang sudah lebih tua."

Wisang menjadi marah sekali. Ia membanting kaki tangannya dan tergetarlah tanah yang diinjaknya saking kuatnya tenaga kakinya ini.

"Jahanam kecil, cacing busuk yang mau mampus! Kau siapakah berani mencampuri urusan bangsa kami? Kau berani membuka mulut, apakah kau berani pula menghadapi kami secara laki-laki yang memiliki keberanian dan kekuatan, tidak seperti perempuan yang hanya bisa mempergunakan mulutnya?"

Panas dada Kwan Cu mendengar hinaan ini. Ia menjura kepda Raja Lakayong sambil berkata,

"Raja Lakayong saudaraku yang baik, perkenankanlah aku menghadapi mereka ini memberi hajaran kepada merreka sebagai wakilmu." Tanpa menanti jawaban, KwanCu lalu menghadapi dua orang raksasa itu sambil berkata,

"Kalian majulah dan aku akan menghadapi kalian berkelahi dengan sesungguhnya, tidak berpura-pura seperti tadi!"

Wisang tertawa bergelak. Suaranya keras dan parau sehingga menggetarkan anak telinga.

"Huaa-ha-ha-ha! Kau anak kecil kupencet denga ibu jariku saja pasti akan gepeng! Kau menantang kami berdua?"

"Manusia sombong, pantas saja puteri Liyani tidak suka kepadamu, kau kasar dan sombong. Jangankan baru kalian berdua, biarpun kau mengubah dirimu menjadi sepuluh, aku takkan mundur setapak!" "Setan kecil kau sudah bosan hidup!" teriak Wisang dan segera mengerakkan kepalan tangannya yang besarnya seperti kepala Kwan Cu itu, menonjok ke arah kepala pemuda kecil ini. Akan tetapi Kwan Cu cepat mengelak dan sekali dia melompat sambil mengerakkan kaki, kaki kanannya menyambar ke perut Wisang yang besar.

"Ngekkkk!" tubuh Wisang yang besar itu terpental ke belakang dan dia jatuh terduduk sambil kedua tangannya memegangi perut.

"Aduh… aduh… bangsat kecil…. Aduh…." Ia mengaduh-aduh karena tiba-tiba perutnya merasa mulas sekali. Semua orang yang menonton termasuk Raja Lakayong sendiri, menjadi melongo dan memandang terheran-heran, tak dapat mengeluarkan ucapan saking herannya.

"Bagus, bagus! Bukankah dia hebat sekali, Ayah?" terdengar Liyani bersorak sambil bertepuk tangan.

Suara ini menyembuhkan rasa sakit di perut Wisang.

Raksasa muda ini segera bangkit berdiri lagi dan kedua matanya seakan-akan mengeluarkan sinar berapi. Giginya berkerot dan kemarahannya memuncak. Ia memandang kepada Kwan Cu sedemikian rupa sehingga Kwan Cu seakan-akan dia hendak ditelan bulat-bulat oleh raksasa itu.

"Majulah, majulah kalian berdua. Akan kuberi pelajaran bagaimana caranya berkelahi dengan sunguh-sunguh," kata Kwan Cu mengejek.

Sambil menggereng keras, Wisang menubruk maju, diikuti oleh Kasang yang juga merasa penasaran melihat Kwan Cu mengejek mereka. Akan tetapi, bagaikan seekor burung walet cepatnya, Kwan Cu mengelak dan sekali tubuhnya berkelebat, dia terlepas dari ancaman tubrukan dua orang raksasa itu. Beberapa kali Wisang dan Kasang menubruk, karena kegemasannya, mereka hendak menangkap dan meremas tubuh yang kecil itu. Namun dengan sengaja Kwan Cu mengeluarkan kepandaiannya dengan mengandalkan ginkangnya yang sudah tinggi, mudah saja dia mengelak dari semua tubrukan yang dilakukan dengan kuat sekali namun baginya amat lambat itu.

Setelah menubruk berkali-kali hanya mengenai angin saja dan mendengar betapa Liyani menyoraki dan menertawai mereka dan para penonton mulai mengeluarkan seruan pujian, panaslah hati Wisang dan Kasang. Kedua jago raksasa ini maklum bahwa lawan yang kecil itu gesit sekali sukar untuk ditangkap maka mereka merubah siasat mereka. Kini mereka tidak lagi menubruk, melainkan menendang dan memukul. Maksud mereka, sekali saja pukulan atau tendangan mengenai tubuh yang kecil itu, tentu pemuda kecil itu akan terlempar jauh dengan tulang remuk! Akan tetapi betapa besar tenaga mereka, gerakan mereka amat lamban dan mereka bertempur hanya mengunakan tenaga tanpa mempergunakan otak. Mana bisa mengenai tubuh Kwan Cu yang sudah menerima latihan Ginkang dari Ang-bin Sin-kai? Menghadapi serangan-serangan itu Kwan Cu bersilat dengan ilmu silat Pai-bun-tui-pek-to (Mengatur Pintu Menolak Ratusan Golok). Gerakannya lincah dan gesit dan dengan tertawa-tawaa dia mengejek. Pemuda ini mengatur sedemikian rupa sehingga dia berada di tengahtengah dan kedua lawannya berada di kanan kirinya atau kadang-kadang di depan dan belakangnya.

Ia sengaja tidak segera merobohkan mereka. Kalau dia mau, banyak sekali lowongan untuk memukul roboh dua orang raksasa itu. Akan tetapi Kwan Cu tidak mau melakukan hal ini. Ia memang hendak menghajar kedua orang itu agar tunduk betul-betul dan kelak tidak akan menimbulkan keributan lagi menggangu Raja Lakayong yang baik. Ia mengelak sambil kadang-kadang mengirim pukulan ke arah perut, dagu atau dada, cukup keras membuat dua orang raksasa itu mengaduh-aduh akan tetapi tidak cukup keras merobohkan mereka.

Bahkan dalam kegembiraaannya timbul kenakalan pada Kwan Cu. Beberapa kali dia melompat tingi dan mengunakan jari tangan untuk menjewer telinga yang lebar, menarik hidung yang besar atau mencubit pipi yang lebar sambil tertawa-tawa.

Di permainkan secara begini dan mendengar suara tertawa Liyani makin geli, ditambah pula surak sorai para penonton dan suara ketawa Raja Lakayong yang merasa kagum, heran dan juga geli, dua orang raksasa muda ini seakan-akan menjadi gila dibuatnya.

"Iblis kecil, akan kuhancurkan kepalamu!" kata Wisang geram.

Bahkan Kasang yang tidak segalak Wisang, kini sudah menjadi marah sekali dan membentak,

"Setan cilik, ku patahkan batang lehermu!"

"Ha-ha-ha-ha! Mau pecahkan kepala dan batang leher?" kata Kwan Cu menghadapi dua orang raksasa yang berada di kanan kirinya sambil tertawa mengejek. "Ini kepalaku, ini leherku. Pecahkanlah, patahkanlah kalau bisa. Hahahaaa!"

Wisang menyergap maju dengan tangan kanan memukul. Kasang menubruk dengan tangan kanan mencengkeram. Kwan Cu diam saja berdiri seenaknya, seakan-akan tidak melihat adanya bahaya yang mengancam dari kanan kiri! Liyani menjerit ngeri, semua menahan napas karena serangan itu sudah dekat sekali. Agaknya tiada jalan keluar bagi Kwan Cu dan alangkah ngerinya kalau pukulan dan cekikan kedua orang muda itu betul-betul mengenai kepala dan leher pemuda yang kecil itu! Akan tetapi, ketika dua orang raksasa itu sudah dekat sekali tangannya pada tubuhnya tiba-tiba Kwan Cu tertawa geli dan tubuhnya, berkelebat lenyap dari situ. Ia telah mempergunakan gerakan yang disebut Tui-teng-kui-cauw (Melompat Mundur Pulang ke Sarang), sebuah cabang dari gerakan Yan-cu-kui-cauw (Burung Walet Pulang ke Sarang). Kegesitan tubuhnya seperti burung walet saja dan ketika ia tiba-tiba lenyap dari tengah-tengah, kedua orang raksasa itu tiada ampun lagi saling gebuk dengan serunya.

Kepalan tangan Wisang menghantam kepala Kasang, sedangkan tangan kanan Kasang kena mencengkeram jidat Wisang.

"Bluk! Blek!" terdengar suara keras, disusul oleh jeritan mereka. "aduh celaka!" keduanya terhuyung-hunyung ke belakang, memegangi kepala dan jidat yang terpukul oleh tangan masing-masing.

Liyani tertawa terpingkal-pingkal sampai memegangi perut saking gelinya. Lakayong tertawa terbahak-bahak dan di antara para penonton lebih ramai lagi, sampai-sampai ada yang tertawa demikian gelinya sehingga dia terjungkal dari batu yang didudukinya! Dapat dibayangkan betapa marahnya Wisang dan Kasang. Setelah kepala mereka yang terasa pening berputarputar itu sembuh, mereka memandang Kwan Cu.

"Nah, begitulah caranya orang berkelahi betul-betul.

Tidak seperti tadi hanya pura-pura dan main-main saja,"

Kwan Cu mengejek. Dua orang muda raksasa itu tanpa berkata apa-apa lalu menyerang lagi, kini makin ganas dan marah. Inilah yang dikehendaki Kwan Cu. Makin marah mereka, makin mudahlah baginya untuk mempermainkan mereka dan makin sering kedua orang itu saling pukul dan saling tendang.

Bahkan satu kali Kwan Cu berlaku berani luar biasa. Ia membiarkan dirinya terpegang oleh Wisang! Semua menahan napas dan kembali terdengar Liyani menjerit cemas, bahkan terdengar Lakayong berteriak, "Jangan bunuh dia!"

Akan tetapi tentu saja Wisang menjadi marah sekali tidak mau mendegar larangan ini dan dia bergerak hendak mencekik leher Kwan Cu! Melihat kesempatan ini, Kasang menubruk maju dan ikut memegang Kwan Cu. Pendeknya dilihat begitu saja agaknya Kwan Cu sudah tidak ada harapan untuk terlepas lagi. Akan tetapi, sebenarnya memang pemuda ini segaja membiarkan dirinya terpegang.

Begitu merasa bahwa kedua raksasa itu sudah memeganginya dia cepat bergerak dan kedua kakinya menendang ke atas dengan tubuh terjungkir balik, kaki kirinya menendang kearah mata wisang dan kaki kanan ke arah mata Kasang! Dua orang raksasa itu memekik kesakitan dan mata kanan mereka telah menjadi biru, sakitnya bukan main! Untuk sedetik pegangan mereka mengendur karena sebelah tangan mereka otomatis meraba mata yang terluka.

Kesempatan ini dipergunakan oleh Kwan Cu untuk memberontak dan melepaskan diri, terus melompat pergi.

Kini dengan mata meram, saking sakit dan marahnya, kedua orang muda raksasa itu menubruk maju dan dengan sendirinya ketika dua tangan mereka mencengkeram, mereka saling cekik dan saling cengkeram, mencari lawan sambil mencengkeram dan memukul sekenanya. Maka benar-benar berkelahilah mereka satu dengan yang lain dan terdengar mereka teraduh-aduh.

Kwan Cu menganggap bahwa permainannya sudah cukup. Ia melompat ke atas berdiri dengan kaki kiri di pundak Wisang dan kaki kanan di pundak Kasang menjambak rambut ke dua raksasa itu dan mengerahkan tenaga, menarik rambut itu mengadukan kepala mereka satu kepada yang lain.

"Dukkkkkkkk!!" dua orang kepala yang besar sekali itu saling tumbuk, disusul oleh jerit mereka, "Aduuuuuuuh!" dan ketika Kwan Cu melompat turun, tubuh kedua orang raksasa itu terputar lalu roboh tak bergerak lagi. Mereka jatuh pingsan dan kepala mereka ini tumbuh benjol yang besar dan biru! Ramailah sorak sorai para penonton. Liyani memandang ke arah Kwan Cu dengan sinar mata yang menakutkan hati Kwan Cu. Raja Lakayong menghampiri Kwan Cu dan tibatiba raja ini berkata,

"Saudara Kwan Cu, cobalah kita bermain-main sebentar!" sambil berkata demikian raja ini bergerak memukul ke arah Kwan Cu. Pemuda ini terkejut sekali.

Pukulan raja ini mendatangkan angin keras tanda bahwa tenaganya besar sekali. Ia mengelak dan melompat mundur sambil berseru,

"Eh, eh, eh eh, raja Lakayong saudaraku, mengapa kau menyerbuku?"

"Aku kagum melihat kegagahanmu. Puaskanlah hatiku, saudaraku, aku ingin sekali mencoba kepandaianmu sendiri," kata Lakayong sambil menyerang terus dengan cepat. Gerakan raja ini jauh lebih kuat dan cepat dari pada gerakan kedua orang raksasa muda itu.

Kwan Cu dapat memaklumi isi hati Raja ini. Sebagai seorang yang menghargai kepandaian dan kegagahan, melihat seorang gagah lain, tentu saja Raja ini menjadi gatal tangan dan belum merasa puas kalau belum menguji kepandaiannya dengan tangan sendiri. Pendeknya, Raja ini ingin mencoba kepandaiannya atau yang lajimnya di negerinya disebut pibu (mengadu kepandaian)! Maka Kwan Cu segera melayaninya dengan hati-hati sekali.

Ia menjadi girang ketika mendapat kenyataan bahwa Raja ini telah mentaati pelajarannya dan kini semua pukulan dan tendangannya ditujukan ke arah bagian tubuh yang berbahaya. Kalau Raja ini yang tadi menghadapi Wisang dan Kasang, ada kemungkinan dua orang raksasa muda itu akan tewas dalam pertempuran. Pukulan Raja ini keras sekali dan kepala raksasa muda itu agaknya akan pecah jika terkena pukulan dahsyat ini.

Namun, semua gerakan pukulan Lakayong tiada bedanya gerakan Wisang dan Kasang, sama sekali dilakukan dengan ngawur, mengandalkan tenaga saja, sama sekali tidak menuruti teori ilmu berkelahi yang baik. Karena itu, kalau dia mau Kwan Cu dapat merobohkannya dengan mudah saja. Akan tetapi dia tidak tega untuk melakukan hal ini, karena kalau mengalahkan Lakayong dengan mudah, sedikitnya akan turunlah penghargaan Raja mereka ini. Ia sengaja membiarkan dirinya terdesak dan setelah pertempuran berjalan agak lama, cepat sekali dia menggunakan ilmu silat Sin-ci-tin-san, menotok jalan darah thian-hu-hiat dari lawan. Tiba-tiba Lakayong merasa betapa tubuhnya lemas tak berdaya sama sekali sehingga dia roboh perlahan, Kwan Cu cepat menyusuli dengan totokan lain dan boleh kembalilah kesehatan Raja itu.

Untuk sesaat, Lakayong dapat duduk dengan mata terbelalak heran. Kemudian dia mengangkat kedua tangan, berdiri dan memeluk Kwan Cu sambil berkata jelas,

"Saudara Kwan Cu hebat sekali. Aku dapat dikalahkan dengan mudah!"

Para penonton terheran-heran, lalu bersorak memuji Kwan Cu.

"Hidup calon raja kita!" mereka bersorak-sorak.

Liyani berlari menghampiri Kwan Cu dan tanpa terdugaduga, gadis ini berlutut sehingga tingginya sama dengan Kwan Cu, memeluk dan menciumnya seperti dulu! Kwan Cu memberontak melepaskan diri dengan muka pucat. Ia tadi merasa kaget setengah mati karena orang-orang itu menyorakinya sebagai calon raja. Lebih kaget bukan main ketika Liyani menciuminya dan kekagetannya menjadi-jadi ketika tiba-tiba Liyani yang memegang tangannya berkata keras,

"Dia inilah calon jodohku!"

Mau rasanya Kwan Cu melarikan diri dari tempat itu.

Semua kejadian ini membuatnya menjadi bingung setengah mati. Ia lalu berkata kepada semua orang.

"Tidak, tidak! Aku bukan calon raja dan calon jodoh Liyani. Jodohnya adalah Kasang karena Kasang lebih kuat daripada Raja !"

Semua orang terdiam dan melongo. Juga Liyani dan Lakayong. Akan tetapi Kwan Cu berkata, "Aku tidak mungkin menjadi calon raja karena aku harus pergi dari sini. Dan aku tidak bisa jadi calon jodoh Liyani karena aku……. aku orang kecil, tidak sesuai dengan jodohnya."

"Itu bukan alasan!" Liyani membantah. "Hanya dengan alasan yang jujur dari bangsaku aku mau menerima penolakan ini!"

"Alasan jujur yang bagaimanakah?"

"Pertama, kalau kau mau menyatakan bahwa kau membenciku, aku tidak keberatan kau menolakku. Ke dua, hanya kalau kau sudah mempunyai calon jodoh atau bahkan sudah mempunyai jodoh perempuan lain, baru aku mau mencari lain jodoh."

Kwan Cu menjadi makin bingung dan ia menggarukgaruk bagian belakang telinganya. Ia berada dalam keadaan yang teramat sulit. Untuk menyatakan bahwa ia membenci Liyani, selain hal itu tidak sesuai dengan hatinya yang sama sekali tidak membenci gadis raksasa ini, juga amat berbahaya karena tentu semua orang di situ akan memusuhinya. Untuk mengaku bahwa dia sudah punya calon jodoh atau isteri, tidak mungkin pula. Akan tetapi, alasan kedua ini sebetulnya lebih ringan dan lebih aman.

Setelah berpikir-pikir dia menjawab tanpa ragu-ragu,

"Aku tidak membencimu, Liyani. Dan aku memang belum punya jodoh. Akan tetapi aku sudah mempunyai calon jodoh, seorang gadis di negeriku."

Tiba-tiba Liyani menangis! Kwan Cu menjadi bingung sekali.

"Jangan berduka, Liyani. Kita tidak cocok menjadi jodoh, aku sudah mempunyai calon jodoh yang besarnya sama dengan aku. Jodohmu adalah pemuda tinggi besar yang gagah seperti Kasang."

"Calon jodohmu itu…. Apakah kau suka kepadanya?" tanya Liyani sambil menyusut air matanya.

"Tentu saja, aku…suka sekali padanya," jawab Kwan Cu menelan ludah.

"Dan dia… apakah suka padamu"

"Tentang itu… barang kali dia suka, belum kutanyakan."

"Cantikkah dia?"

"Cantik sekali, yaitu menurut pandangan mataku."

"Siapa namanya?" Tak disangkanya bahwa Liyani begitu nekat dan terus bertanya dengan teliti. Bagaimana harus dijawabnya? Ia tadi membohong dan kini dia tidak dapat menjawab.

"Siapa namanya?" Liyani mendesak.

"Namanya…apa perlunya kusebut-sebutkan namanya? Kau takkan mengenalnya."

"Kalau begitu kau bohong!"

Kwan Cu terkejut. Pikirannya diputar-putar dan terbayanglah wajah Bun Sui Ceng murid Kiu-bwe Coa-li.

Agaknya gadis cilik itu saja yang patut menjadi jodohnya.

"Namanya Bun Sui Ceng!" akhirnya dia berkata dan mukanya menjadi merah sekali ketika dia berkata demikian.

Kembali Liyani menangis makin keras. "Sekarang tak ada lagi orang yang patut menjadi jodohku, hanya kau yang bisa mengalahkan ayah!"

"Siapa bilang? Kasang bisa mengalahkan ayahmu," kata Kwan Cu yang mendapat siasat baik sekali.

Pada saat itu, Kasang dan Wisang sudah siuman kembai dan mereka ikut mendengarkan percakapan itu. Mendengar betapa Kasang dipuji-puji oleh Kwan Cu dan hendak dijodohkan dengan Liyani, dia (Wisang) menggereng keras dan tiba-tiba menyerang Kasang! Serangan itu hebat sekali dan dilakukan selagi Kasang tidak bersiap, maka kalau pukulan yang ditujukan ke arah kepala itu mengenai sasaran, amat berbahayalah bagi Kasang.

Kwan Cu yang melihat hal ini, cepat melompat dan sebelum pukulan Wisang itu mengenai Kasang, tubuh Wisang terpental ke belakang dan dia roboh tak dapat bangun kembali. Tulang pundaknya telah patah dan biarpun Kwan Cu merasa kasian, namun pukulannya tadi memang dia sengaja dan dia tidak mau mengobati atau menyambung tulang pundaak itu, karena kalau Wisang tidak dibikin cacat, kelak tentu dia akan mengacau lagi.

Kini Wisang biarpun akan sembuh, tenaga tangan kanannya akan lenyap dan dia tidak berbahaya lagi.

Adapun Lakayong yang mendengar omongan Kwan Cu, menjadi heran dan bertanya, "Saudara Kwan Cu, betulbetulkah Kasang dapat mengalahkan aku?"

"Tentu saja, akan tetapi tidak sekarang, boleh dicoba besok pagi. Dia sekarang menjadi muridku dan dia akan kuberi pelajaran sehari ini."

Setelah Kwan Cu mendapat kesempatan bertemu dengan Lakayong seorang diri, dia menceritakan siasatnya. Dalam pertempuran tadi, dia mendapat kenyataan bahwa sifat-sifat Kasang memang lebih baik dari pada Wisang dan rencana pembunuhan raja itu pun tentu Wisang yang mengaturnya.

"Liyani suka kepada Kasang, maka harap besok kau suka mengalah pada Kasang agar puterimu suka menerima pinangannya. Kau melakukan ini demi kebahagiaan puterimu, apakah kau tidak suka?" tanya Kwan Cu.

Mengertilah Lakayong dan dia mengangguk-angguk.

Kwan Cu sebenarnya tidak memberi pelajaran apa-apa kepada Kasang, hanya nasehat-nasehat agar pemuda ini tidak mengacau lagi dan agar besok menghadapi Lakayong, dia tahu bahwa raja itu sengaja mengalah. Kasang berterima kasih sekali dan mengaku bahwa dia memang kena bujukan Wisang yang jahat.

Demikianlah atas rencana Kwan Cu yang disetujui dan dibantu pelaksanaannya oleh raja Lakayong dan Kasang, pada keesokkan harinya, bertempat di kebun itu, hanya disaksikan oleh Liyani seorang saja, dilakukan pertandingan antara Kasang dan Lakayong. Dalam pertandingan yang kelihatan hebat ini namun yang sesungguhnya hanya mainmain belaka, akhirnya Raja Lakayong kena ditubruk dan ditangkap oleh sepasang lengan Kasang yang kuat.

Lakayong mencoba untuk melepaskan diri, akan tetapi tidak dapat dan akhirnya mengaku kalah sambil berkata,

"Ah,benar-benar setelah menjadi murid saudara Kwan Cu kau hebat sekali, Kasang. Aku menerima kalah!"

Kasang lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Rajanya dengan wajah berseri. "Mohon ampun sebanyaknya atas segala kedosaanku," katanya. "Dalam kesempatan ini untuk kedua kalinya kuulangi pinanganku terhadap Liyani."

Lakayong berpaling kepada puterinya,

"Liyani, kau sudah mendengar sendiri pinangan Kasang yang gagah perkasa. Nah, seperti biasa terserah kepadamu keputusannya."

Terdengar sedu sedan di leher gadis itu. "Terserah kepada ayah saja aku hanya menurut."

"Bagus! Kasang, calon menantuku, kami menerima tunanganmu!" kata Raja itu gembira sekali.

Liyani memandang kearah Kwan Cu lalu menangis dan berlari pergi.

Kwan Cu menghaturkan selamat kepada Kasang dan Lakayong dan kedua orang itu sebaliknya tiada hentinya mengucapkan terima kasih mereka, karena dengan akal dan siasat Kwan Cu belaka maka gadis yang keras kepala itu dapat ditundukkan.

"Sekarang aku mohon diri hendak melanjutkan pelayaranku," kata Kwan Cu.

Lakayong mengerutkkan kening. "Kalau mungkin, kami tidak ingin berpisah denganmu lagi, saudaraku yang baik.

Akan tetapi kalau kami memaksa, itu tidak adil namanya.

Kau hendak pergi kemanakah?"

"Aku hanya ingin berkelana saja dan aku mendengar ada sebuah pulau kecil bundar yang ditumbuhi pohon-pohon berdaun putih. Tahukah kalian tentang pulau itu dan di mana letaknya?"

Lakayong dan Kasang memandang dengan mata terbelalak lebar.

"Apa?" seru Raja raksasa itu. "Kau hendak mencari pulau bayangan?"

Kwan Cu memandang heran."Pulau bayangan? Apa maksudmu? Aku hanya mendengar bahwa pulau itu kecil, berbentuk bundar dan ditumbuhi pohon-pohon berdaun putih. Tahukah kalian akan pulau itu?"

"Benar, yang kaumaksudkan tentu Pulau Bayangan! Saudaraku yang baik harap kau batalkan saja niatmu itu.

Kami sudah sering kali berperahu di sekitar kepulauan ini dan sering kali tiba-tiba melihat pulau yang kau maksudkan itu. Akan tetapi apabila kami mendekatinya, tiba-tiba dia menghilang! Pulau itu aneh dan jauh dan kami mengambil kesimpulan bahwa pulau itu tentu bukan berada di sekitar sini, melainkan berada di seberang laut jalan maut."

"Di manakah laut jalan maut itu? Aku akan mencari ke sana."

Kasang mengeluarkan seruan kaget, dan Lakayong menjadi pucat.

"Jangan, saudara Kwan Cu. Jangan sekali-kali kau melintasi batas laut itu. Sudah banyak saudara-saudara kami tewas di sana. Laut itu adalah batas yang tak boleh dilalui manusia, di situ banyak terdapat keajaiban yang merupakan tangan maut. Siapapun juga tak mungkin dapat melalui batas itu. Lebih baik kau mengunjungi pulau-pulau kosong yang banyak terdapat di sekitar sini."

"Tidak, Raja yang baik. Aku akan mencobanya, betapapun besar bahaya yang akan aku hadapi."

Lakayong menarik napas panjang. "Kau orang aneh, mungkin kau akan berhasil menjelajahi pulau itu. Akan tetapi hati-hatilah, memang benar-benar berbahaya sekali di daerah itu. Aku sendiri pernah mencobanya, namun terpaksa aku kembali setelah tiba di batas laut itu. Bukan main ganasnya. Letaknya di sebelah timur pulau kami ini, tepat dari mana matahari muncul."

"Terima kasih dan selamat tinggal, Raja Lakayong, dan kau juga, saudara Kasang. Yang baik-baiklah kau menjaga Liyani." Setelah berkata demikian Kwan Cu lalu pergi ke pantai mencari perahunya, diikuti oleh Lakayong dan Kasang. Ketika penduduk mendengar tentang kepergian Kwan Cu, berbondong-bondong mereka mengantar sampai ke pantai. Akan tetapi di antara sekian banyaknya orang, tidak nampak bayangan Liyani.

Kwan Cu menurunkan perahunya di air dan dia telah menerima dua buah dayung yang baik dari Raja Lakayong sebagai pengganti dayungnya ketika perahunya diserang oleh taufan beberapa hari yang lalu. Orang-orang di pantai melambaikan tangan, Raja Lakayong menghapuskan dua butir air mata yang menitik turun ke atas pipinya. Semua orang terharu, terutama sekali Lakayong dan Kasang yang sudah merasa betapa besar jasa pemuda kecil itu bagi mereka.

"Selamat tinggal, saudara-saudaraku yang baik. Kita yieee…. (selamat tinggal)….." kata Kwan Cu sambil mendayung perahunya ke timur. Karena dia mempergunakan tenaga, maka sebentar saja dia meninggalkan pulau besar yang mendatangkan pengalaman-pengalaman aneh kepadanya itu.

Tiba-tiba terdengan seruan suara nyaring.

"Saudara Kwan Cu…!"

Kwan Cu menoleh dan alangkah herannya ketika dia melihat sebuah perahu layar besar yang dikendarai oleh….

Liyani!

"Eh, kau Liyani. Hendak pergi kemanakah kau?" tanyanya heran.

"Aku sengaja menantimu di sini, aku hendak pergi bersamamu!"

Baiknya Kwan Cu ingat bahwa dia berada di dalam perahu, kalau tidak tentu dia akan melompat ke belakang dan berjungkal ke dalam air saking kagetnya.

"Ikut pergi bersamaku?? Kau gil…..eh, apa maksudmu?"

"Kau telah menipuku! Apa kau kira aku tidak tahu bahwa dalam pertandingan antara ayah dan Kasang, ayah sengaja berlaku mengalah dan semua itu adalah rencanamu belaka? Kau menghendaki dan memaksa aku menerima Kasang sebagai jodohku mengapa?"

Kwan Cu menelan ludah. Hebat benar gadis ini, pikirnya. Ia mendekatkan perahunya ke perahu besar Liyani, mengikatkan tali di kepala perahu gadis itu, lalu melompat masuk ke dalam perahu besar, berdiri menghadapi gadis raksasa itu.

"Dengarlah baik-baik, Liyani. Tuduhanmu tadi kuterima dan aku minta maaf. Memang aku sengaja melakukan hal itu. Ketahuilah. Kau tidak mungkin ikut dengan aku. Kita tidak sesuai dan di negeriku, kau hanya akan menjadi tontonan dan buah tertawaan seperti ketika aku berada di pulaumu, bahkan kau akan mengalami gangguan-gangguan yang tidak mengenakkan hati. Aku memang ingin melihat kau menjadi isteri Kasang, karena dia pemuda baik dan cocok menjadi jodohmu. Apa lagi, ayahmu pun menghendaki demikian. Adapun aku….sudah kukatakan bahwa aku mempunyai calon jodohku sendiri."

"Bun Sui Ceng….??"

Kwan Cu tertegun. Nama gadis murid Kiu-bwe Coa-li itu malah masih teringat oleh Liyani! Apa boleh buat, ia menganggung membenarkan.

"Kau tidak bohong?"

Kwan Cu menggeleng kepala.

"Berani kau bersumpah?"

Kwan Cu melongo.

"Bersumpah? Bersumpah bagaimana?"

"Bersumpah bahwa kau benar-benar suka kepada gadis yang bernama Bun Sui Ceng itu, bahwa kau benar-benar menghendaki dia menjadi jodohmu."

Kwan Cu menjadi bingung sekali. Ia mencoba untuk membayangkan wajah Sui Ceng yang manis dan tergeraklah hatinya. Mengapa tidak? Sui Ceng merupakan gadis yang memang disukanya, tidak saja gadis itu memang baik terhadapnya, bahkan ibu gadis itu, yakni Pek-cilan Thio Loan Eng, adalah manusia pertama yang berlaku baik kepadanya.

"Aku bersumpah bahwa aku suka kepada Bun Sui Ceng dan bahwa aku menghendaki ia menjadi jodohku, " kata Kwan Cu dan ketika dia mengucapkan kata-kata ini, dia berlaku sungguh-sungguh.

Liyani menangis. Lalu gadis ini berdiri dengan muka menengadah ke langit dan kedua tangannya di pentang lebar.

"Dengarlah, dewa awan, dewa matahari dan dewa laut.

Kalian menjadi saksi atas sumpah saudara Kwan Cu! Kalau dia melanggar sumpahnya, biarlah kalian yang menghukumnya dan biarlah saudara Kwan Cu selama hidupnya takkan mendapat jodoh!"

Suara gadis ini demikian menyeramkan sehingga Kwan Cu merasa bulu tengkuknya berdiri.

"Kau terimalah ini sebagai tanda mata dariku. Selama hidup aku takkan melupakanmu saudara Kwan Cu."

Biarpun bagi Liyani tusuk konde itu kecil saja, namun bagi Kwan Cu merupakan benda sebesar pisau belati. Ia menerimanya dan berkata dengan terharu, "Terima kasih, Liyani, dan akupun takkan melupakanmu, takkan melupakan kau, ayahmu, dan semua orang yang berada di atas pulaumu."

Setelah berkata demikian, Kwan Cu melompat kembali ke dalam perahunya, melepaskan ikatan dan mendayung perahunya, terus ke arah timur. Ketika dia menengok, dia melihat Liyani masih berdiri di perahunya sambil memandang ke arahnya. Dilihat dari jauh, Liyani tidak kelihatan besar lagi, melainkan nampak sebagai dara biasa yang bertumbuh tunggi semampai pinggang ramping dan bentuk tubuh yang indah. Kwan Cu melambaikan tangan, di balas oleh Liyani dan pemuda ini menghela napas panjang lalu mendayung cepat perahunya tanpa menoleh lagi.

***

Kwan Cu terus mendayung perahunya dengan cepat menuju ke timur. Matahari telah naik tinggi melewati kepalanya. Ia melihat pulau-pulau yang gundul di sebelah kiri, akan tetapi ia tidak mau mendarat. Ingin dia segera tiba di daerah laut maut yang diceritakan oleh Lakayong.

Akan tetapi, dia melihat laut yang amat tenang dan yang agaknya tidak ada batasnya itu. Kalau dia melihat ke timur, yang nampak hanyalah air belaka dan jauh di sebelah timur air laut bertemu dengan kaki langit sehingga sukar dibedakan mana batasnya, karena warna laut dan langit hampir sama.

Malam tiba dan baiknya bulan purnama muncul berseri.

Kwan Cu terus saja mendayung dan akhirnya karena lelah, menjelang tenggah malam setelah bulan purnama naik tinggi, dia tidur pulas di dalam perahu membiarkan perahunya itu berdiam tak bergerak di atas air yang tenang.

Untung baginya bahwa tadi orang-orang di pulau raksasa memberi bekal kue manis yang besar sekali kepadanya, sebesar dua kepalanya, sehingga tidak menderita kelaparan.

Untuk minumnya, diapun telah membawa bekal seguci minuman yang rasanya wangi dan tawar, tidak seperti arak namun dapat menghangatkan perut.

Kwan Cu tertidur sampai lama sekali. Ia baru sadar ketika perahunya bergoyang-goyang. Ketika dia membuika matanya ternyata bulan purnama sudah lenyap dan sebagai gantinya, matahari mengintip di kaki langit sebelah timur, memancarkan cahaya kemerahan yang menimbulkan pemandangan indah sekali.

Namun Kwan Cu tak mungkin dapat menikmati keindahan alam itu karena ketika dia melihat ke bawah, ke pinggir perahunya untuk mengetahui mengapa perahunya bergoyang-goyang, dia terkejut bukan main. Di sekeliling perahunya kelihatan banyak sekali ikan besar-besar, sebesar perahunya, berenang ke sana ke mari dan setiap kali tubuh ikan melanggar perahunya, perahu itu bergoyang-goyang!

"Celaka…" pikir Kwan Cu. Ikan itu banyak sekali dan kalau dia mengunakan dayung memukul dan mengusir, tentu ikan itu akan marah. Kalau sampai ikan-ikan itu menyerbu perahunya, akan celakalah dia. Juga untuk mendayung perahu tak mungkin karena dayungnya tentu akan melanggar tubuh ikan yang terdekat. Keadaannya seperti seekor domba yang dikurung oleh puluhan ekor harimau yang siap menerkam setiap saat.

"Celaka, bagaimana baiknya sekarang?" Kwan Cu diam saja sambil duduk di dalam perahunya, memegang dayung siap akan memukul ikan yang akan menyerbu perahunya.

Akan tetapi ikan-ikan itu hanya berenang ke sana ke mari, kadang-kadang sengaja menyenggol perahu sehingga perahu itu bergoyang-goyang hampir terbalik. "Kurang ajar, mereka sengaja mempermainkan aku," pikir Kwan Cu.

Teringatlah dia akan daun Liong-cu-hio yang berada di dalam bungkusan kainnya. Ia teringat ketika Liok-te Mo-li, nenek yang aneh itu memberi bekal daun-daun ini kepadanya, nenek itu berkata bahwa kalau dia diserang dan diancam oleh ikan-ikan buas dia dapat mempergunakan daun-daun itu untuk menyelamatkan diri. Dengan perlahan dia membuka bungkusannya membasahi kedua tangan dengan air laut, lalu mengambil dua helai daun itu. Ia merasa heran sekali daun-daun itu sama sekali tidak mengering, masih segar seperti ketika habis dipetik.

"Mudah-mudahan Liok-te Mo-li tidak berbohong," pikir Kwan Cu dan dia melemparkan sehelai daun ke kanan dan sehelai pula ke kiri sambil mengerahkan tenaga. Daun-daun itu meluncur dan jatuh di air. Setelah tiba di air dan terapung, daun-daun itu bergerak-gerak seperti benda hidup.

Kwan Cu tidak heran melihat ini, karena dulu pun sudah melihat betapa daun-daun itu bergerak-gerak setiap kali tersentuh sesuatu.

Ia memandang penuh perhatian dan harapan. Maka terjadilah sesuatu yang amat hebat. Seekor ikan yang berada paling dekat dengan daun itu, tadinya tidak mengacuhkannya sama sekali, akan tetapi begitu daun itu bergerak-gerak dia cepat menyambar dan menelannya.

Akan tetapi, begitu daun itu tertelan olehnya, seketika itu juga tubuhnya terapung dalam keadaan mati! Perutnya yang putih itu nampak tersembul di permukaan air. Sudah menjadi kebiasaan liar dari ikan-ikan itu, apabila melihat seekor ikan lain mati, mereka segera menyerbu untuk makan dagingnya. Akan tetapi, tiap kali ikan menggigit segumpal daging dari ikan yang mati itu, ikan ini pun terapung dalam keadaan mati pula! Namun ikan-ikan itu bodoh sekali dan yang lain-lain serentak berpesta, menyerbu yang sudah mati sehingga sebentar saja air penuh dengan bangkai ikan. Kwan Cu bergerak memandang ke belakangnya dan di sebelah kiri perahu dia meyaksikan pemandangan yang sama. Di situpun ikan-ikan berpesta pora, yang hidup menyerbu yang mati untuk terkena bisa daun Liong-cu-hio sehingga menjadi bangkai pula tanpa dapat menggelepar lagi.

"Hebat…!" Kwan Cu berseru dengan hati ngeri. Ia bergidik melihat betapa bangkai ikan makin banyak saja terapung di permukaan laut. Agaknya semua ikan di tempat itu akan mati terkena bisa yang jahat. Kini tahulah dia akan arti ucapan Liok-te Mo-li bahwa dia akan menyaksikan

"pesta" yang mengembirakan kalau melemparkan daun itu ke laut.

Kwan Cu segera mendayung perahunya cepat-cepat, pergi dari tempat itu. Ia merasa ngeri, juga merasa malu kepada diri sendiri. Ia anggap perbuatannya tadi rendah dan pengecut. Kalau dia tahu bahwa akibat daun itu akan demikian hebat, tentu dia akan mencari jalan lain untuk menyelamatkan diri dari keadaannya yang terancam tadi.

"Aku takkan mempergunakan daun-daun iblis lagi," pikirnya. "Terlalu keji"

Dengan cepat dia mendayung perahunya ke arah matahari yang mulai nampak di permukaan laut sebelah timur. Ia mendayung perahunya cepat sekali, namun belum juga kelihatan adanya pulau di sebelah sana, bahkan dia tidak melihat adanya lautan yang disebut jalan maut itu.

Apakah ikan-ikan itu yang dianggap berbahaya oleh Lakayong? Tak mungkin, pikirnya. Sungguhpun ikan-ikan tadi baginya besar sekali dan membahayakan perahunya, namun bagi Lakayong dengan perahunya yang besar, ikanikan itu hanya merupakan ikan-ikan kecil saja yang tak mengancam keselamatan perahu raksasa itu.

Sehari penuh dia mendayung dan pada malam harinya dia tertidur lagi di dalam perahu, membiarkan perahunya terapung di atas air yang masih tenang.

Pada keesokkan harinya, dia mendegar suara mendesisdesis seperti mendengar ada ribuan ekor ular menyerangnya. Kwan Cu terbangun dari tidurnya dan melihat bahwa matahari telah naik agak tinggi dari permukaan laut sebelah timur. Ia memandang ke kanan kiri dengan heran tidak tahu apakah yang menimbulkan suara mendesis itu. Tiba-tiba dia melihat awan atau uap hitam yang bergerak mendatang dari arah utara menuju ke tempat di mana perahu berada. Makin lama uap itu makin besar dan sebagian uap menutup matahari sehingga pandangan mata pemuda itu menjadi gelap. Kemudian dia melihat sesuatu yang mengejutkan hatinya. Beberapa ekor burung laut beterbangan ketakutan dan di antaranya ada yang terbang menerjang uap itu, lalu jatuh dalam keadaan hangus! Bukan main kagetnya. Suara mendesis-desis makin keras dan ternyata bahwa suara itu keluar dari asap atau uap hitam ini. Uap ini melayang di atas permukaan laut hanya kurang lebih dua kaki dari atas kaki, seakan-akan ada hawa air laut yang menahannya. Ketika uap hitam itu sudah dekat degan perahunya, Kwan Cu mengerakkan dayungnya menyentuh uap, segera menjadi hangus ujungnya! Pemuda ini kaget setelah mati dan cepat dia menjerembab di dalam perahu, bertiarap sehingga tubuhnya menempel pada perahu dengan telungkup. Kemudian semua menjadi gelap karena uap itu telah melayang diatas perahunya. Kwan Cu mengatur napas dan mengarahkan lweekangnya untuk melawan hawa napas ini. Suara mendesis-desis membisingkan telinganya dan membuat kepalanya pening.

Akhirnya suara mendesis menjauh tak lama kemudian suara itu lenyap, hawa panas pun lenyap. Baru Kwan Cu berani membuka mata dan menggerakkan leher menengok ke atas. Udara bersih dan ternyata bahwa uap hitam yang mengerikan itu telah lewat. Baiknya uap itu melayang agak tinggi dari permukaan laut, kalau lebih rendah tentu perahunya akan hangus, berikut tubuhnya.

Setelah yakin bahwa tidak ada bahaya lagi, Kwan Cu duduk dan pada saat itu juga dia merasakan getaran yang luar biasa hebatnya pada perahu yang didudukinya.

Kiranya perahu ini terpegang oleh gerakan air yang luar biasa kuatnya dan Kwan Cu melihat sesuatu yang amat ganjil. Air laut yang dimasuki oleh perahunya itu bergerak mengalir dengan kekuatan yang dasyat sekali.

"Inilah agaknya batas yang disebut jalan maut itu," pikir Kwan Cu dengan hati berdebar. Akan tetapi ketabahan dan ketenangannya tidak lenyap. Ia mencoba sedapat mungkin dengan keduanya untuk menahan perahunya supaya tidak terbalik. Dengan memukul dan menekan ke kanan kiri perahu, dia berhasil menjaga keseimbangan berat perahunya di bawa hanyut cepat sekali oleh aliran air itu.

Memang amat aneh. Di laut yang kelihatan begitu tenang, bagaimana ada semacam sungai banjir? Entah ke mana perahunya dihanyutkan, Kwan Cu tidak ingat lagi. Ia bekerja keras menjaga agar perahunya tidak terbalik dan perahunya meluncur bukan main cepatnya, jauh lebih cepat daripada kalau dia mempergunakan tenaga.

Hal ini dapat dia rasai pada sambaran angin dari depan.

Juga ketika ada air yang terkena pukulan dayungnya memercik ke atas mengenai lengan dan mukanya, dia merasa betapa air itu dingin sekali seperti salju! Sampai matahari tenggelam, masih saja perahunya terbawa hanyut dengan kecepatan yang makin lama makin pesat. Ia melihat pulau-pulau kecil di kanan kiri, agak jauh, dan penglihatan ini menambah kenyataan betapa cepatnya air mengalir itu membawa perahunya. Akan tetapi, alangkah herannya ketika dia melihat bahwa "sungai" yang tidak kelihatan ini agaknya memutari pulau-pulau itu. Tak lama kemudian, malam tiba dan cahaya bulan tak cukup terang sehingga pulau-pulau kecil itu pun lenyap tak dapat terlihat lagi.

Semalam itu masih terus bekerja. Ia tak berani mengurangi tenaganya karena sekali saja dia melepaskan dayung, perahunya mungkin akan terbalik dan kalau hal ini terjadi, berbahayalah keadaannya. Tubuhnya sudah terasa letih sekali, bukan hanya pengerahan tenaga sehari semalam tanpa ada hentinya, juga karena dia tidak mendapatkkan kesempatan untuk mengisi perut sama sekali.

"Celakalah kali ini," pikir Kwan Cu.

"Kalau terus menerus begini, sampai berapa lama aku dapat bertahan?"

Menghadapi keadaan yang berbahaya ini, Kwan Cu teringat akan nasehat Lakayong. Benar juga rakasasa itu.

Daerah inilah yang disebut daerah maut, atau jalan maut, karena memang luar biasa berbahayanya. Baru perjumpaan dengan uap berbisa tadi saja sudah amat berbahaya, dan sekarang terdapat aliran air yang begini dasyat.

Sebelum - Beranda - Lanjut

Tidak ada komentar:

Posting Komentar