Bun Houw menjadi makin bingung. Sikap gadis ini sungguh aneh. Melihat budinya yang demikian besar, jelas bahwa dara ini adalah seorang yang berhati mulia, akan tetapi mengapa sikapnya demikian dingin? Jangan-jangan ada maksud tertentu di balik pertolongannya itu! Akan tetapi tak mungkin...!
"Sudikah engkau menceritakan bagaimama engkau dapat membebaskan aku dari tahanan itu, nona?"
In Hong membalikkan tubuhnya. Karena dia berdiri miring, sinar matahari yang menerobos masuk dari jendela tua itu menimpa separuh mukanya dan kelihatan cantik bukan main. Rambut yang baru saja dicuci itu berkilauan, anak rambut banyak yang bergumpal-gumpal kacau dan awut-awutan di sekitar dahi, pelipis dan leher. Manisnya sukar dilukiskan!
"Apa yang dapat diceritakan? Aku melihat engkau ditawan dan disiksa, lalu aku menggunakan kesempatan selagi lima orang sakti itu tidak menjagamu, aku merobohkan semua penjaga, anak buah Lembah Bunga Merah, lalu membawamu ke sini." Kata-kata yang keluar dari mulut dara itu begitu bersahaja, seolah-olah menceritakan hal yang biasa saja, demikian penuh kerendahan hati sehingga Bun Houw menjadi makin terheran-heran dan kagum.
"Akan tetapi... apakah tidak ada di antara mereka yang merintangimu?"
In Hong mengangguk. "Hwa Hwa Cinjin dan Hek I Siankouw menghadangku, akan tetapi aku dapat melewati mereka dengan selamat."
Bun Houw terbelalak. Kakek dan nenek pertapa itu lihai bukan main, dan tentu dara ini memanggulnya ketika melarikan dia, namun toh dapat membebaskan diri dari mereka. Bukan main!
Cepat dia menjura dengan penuh hormat yang dibalas oleh In Hong dengan kaku dan sembarangan. "Ah, kiranya aku berhadapan dengan seorang pendekar wanita yang amat lihai! Sungguh beruntung sekali, karena tanpa pertolonganmu aku tentu tewas di tangan mereka. Terimalah ucapan terima kasihku yang sedalam-dalamnya, nona."
Melihat pemuda itu kembali menjura dengan hormat, In Hong membalas dan berkata. "Sudah kukatakan, aku tidak membutuhkan terima kasih."
"Dan aku telah keracunan, Toat-beng-kauw Bu Sit menusukkan jarum dengan racun kelabang hitam di tengkukku, sakitnya bukan main, seperti ribuan ekor semut menggigit dari dalam tubuhku, sampai aku tidak tahan... dan... aku tidak berdaya, tulang pundakku dikait baja pengait dan Hui-giakang Ciok Lee Kim mengatakan bahwa aku hanya dapat hidup tiga hari saja. Akan tetapi sekarang..." Bun Houw melihat kaki tangan dan pundaknya, "tidak ada bekas-bekasnya lagi! Agaknya engkau pula yang telah menyembuhkan aku dari ancaman racun kelabang hitam itu, nona?"
"Bukan aku, melainkan Yok-mo. Aku pergi ke puncak Gunung Cemara di mana tinggal Yok-mo, ahli obat gila. Aku memaksa dia memberikan obat untukmu dan ternyata kau sembuh."
"Dan nona meninggalkan aku di sini ketika pergi mencari obat?"
"Tidak, tiga anak murid Bu-tong-pai menjagamu di sini. Setelah aku kembali membawa obat, baru mereka pulang ke Bu-tong-pai."
"Aihhhh... dua kali engkau menyelamatkan nyawaku, nona!" Kembali Bun Houw menjura dengan terheran-heran dan kagum sekali.
"Sudahlah, capek aku kalau terus-menerus membalas penghormatanmu!" In Hong mengomel dan cemberut, akan tetapi sebetulnya belum pernah dia merasa demikian girang hatinya.
"Sungguh hebat... sungguh mengherankan sekali... engkau yang masih begini muda... bolehkah aku mengetahui namamu yang mulia dan terhormat, nona?"
"Hemm, pertemuan antara kita hanya kebetulan saja. Aku hanya tahu engkau seorang she Bun, dari percakapan mereka di Lembah Bunga Merah. Biarlah aku mengenalmu sebagai orang she Bun, dan engkau tidak perlu mengetahui namaku..."
"Aih, mengapa begitu, nona?" Bun Houw bertanya dengan heran lagi, dan diam-diam diapun tidak ingin memperkenalkan namanya. Dia tahu betapa bahayanya kalau namanya dikenal orang, apalagi kalau sampai dikenal oleh Lima Bayangan Dewa, sedangkan nona jelita ini begini aneh dan penuh rahasia. "Habis, bagaimana aku harus mengingatmu, harus memanggilmu, kalau aku tidak tahu namamu, nona?"
In Hong tereenyum. "Jangan mengingat, jangan memanggil..."
Melihat sikap yang dingin, kata-kata yang singkat ini, Bun Houw menjadi khawatir sekali kalau-kalau penolongnya itu marah. Maka dia lalu membelokkan percakapan dan dia bertanya, "Aku sudah tidak mempunyai harapan ketika ditusuk jarum beracun itu, akan tetapi buktinya aku sembuh, sungguh hebat obat itu, bagaimana macamnya dan bagaimana pula cara kerjanya ketika engkau mengobatiku, nona?"
"Aku menerima sembilan butir pel hitam dari Yok-mo. Ketika kau menelan pel pertama sampai keenam, setiap kali menelan pel hitam itu kau muntah darah hitam yang berbau busuk, akan tetapi mulai dengan pel ketujuh engkau tidak muntah lagi."
"Aihh... sungguh menjijikkan... akan tetapi mengapa lantai ini bersih?"
"Aku sudah membersihkannya setiap kali kau muntah..."
"Ahhh...! Dan nona merawatku, menjagaku, memberi obat, menyuapkan bubur selama tiga hari tiga malam... dan..."
Serasa hampir meledak jantung di dalam dada In Hong melihat pemuda itu memandangnya dengan mata terbelalak penuh keharuan, penuh rasa syukur dan terima kasih.
"Sudahlan, pakaianmu kotor, mari... mari... kucucikan... dan kau dapat mandi di sumber air di dalam hutan..."
Mata yang sudah terbelalak itu makin terbelalak berisi penuh dengan sinar keharuan, kekaguman dan kini bercampur dengan keheranan. "Apa? Nona... nona hendak... mencucikan pakaianku...? Ah, tidak..."
"Mengapa tidak?" Sikap In Hong biasa saja. "Aku seorang wanita, sudah biasa mencuci pakaian..."
"Tidak, tidak boleh nona begitu merendahkan diri. Di mana sumber air itu? Aku akan membersihkan tubuh dan pakaian ini..."
In Hong menudingkan telunjuknya dan Bun Houw cepat bangkit dan melangkah lebar ke dalam hutan. Pundaknya masih terasa nyeri sedikit apabila terlalu keras dia menggerakkan kedua tengannya. Setelah tiba di sumber air, dia menanggalkan pakaiannya, membersihkan tubuhnya dan tubuhnya terasa segar kembali. Dia merendam tubuh di dalam air, lalu mengumpulkan hawa murni, menggunakan sin-kangnya untuk melancarkan jalan darah dan dengan kekuatan sin-kangnya dia dapat melindungi tulang-tulang pundaknya. Untung bahwa di dalam sakunya masih terdapat obat lukanya yang mujarab pemberian ayahnya, maka dia membuka balutan pundaknya, lalu memberi obat luka setelah mencucinya bersih, membalutnya kembali setelah dia mandi sampai bersih. Kemudian dia mencuci pakaiannya, memeras airnya dengan kekuatan besar sehingga sebentar saja pakaian itu hampir kering karena semua air dapat diperasnya keluar. Dia menjemur pakaian ini di atas batu dan sambil menanti keringnya pakaian itu, dia kembali bersamadhi mengumpulkan hawa murni. Tak lama kemudian, pulih kembali tenaganya dan ketika dia menggerakkan kedua lengan, rasa nyeri di pundak hanya tinggal sedikit. Akan tetapi perutnya terasa lapar bukan main.
Kurang lebih dua jam kemudian, dia kembali ke kuil dengan baju bersih dan pakaian bersih pula, juga sudah kering. Baru saja nampak dinding kuil itu, hidungnya sudah mencium bau sedap yang membuat perutnya makin terasa lapar.
Dia mempercepat langkahnya dan... di depan kuil itu, di bawah pohon, nampak dara itu sedang memanggang seekor ayam hutan yang gemuk sekali, sedangkan dari panci bekas tempat air itu nampak nasi mengepul panas. Bun Houw berdiri memandang, menelan ludahnya dua kali.
"Kau sudah selesai?" In Hong menengok dan sejenak pandang mata mereka bertemu. Gadis itu menunduk dan di lehernya menjalar warna merah terus ke kepalanya, kemudian terdengar suaranya tanpa dia mengangkat muka. "Aku berhasil menangkap seekor ayam..."
Bun Houw tidak menjawab, hanya memandang dara itu, hatinya diliputi keheranan besar. Sungguh amat sukar untuk mengerti watak dan sifat wanita cantik ini pikirnya. Masih begitu muda, tentu lebih muda darinya, namun sudah memiliki kepandaian yang amat hebat, sungguhpun dia belum menyaksikan sendiri. Dari caranya menolong dia dari Lembah Bunga Merah saja sudah dapat diduga bahwa kepandaiannya tentu hebat sekali. Kadang-kadang wanita ini demikian dingin dan tak acuh, sehingga agaknya sama sekali tidak mau saling berkenalan, tidak mau memperkenalkan nama dan tidak pula menanyakan namanya, padahal wanita ini sudah mempertaruhkan nyawa untuk monolongnya, bahkan selama tiga hari tiga malam merawatnya sedemikian rupa! Akan tetapi ada saat-saat tertentu wanita itu kelihatan begitu lemah lembut, seperti sekarang ini, sama sekali tidak patut menjadi seorang wanita kang-ouw yang perkasa dan aneh sekali.
"Kau tentu lapar sekali..."
Bun Houw sadar dari lamunannya, sadar betapa sejak tadi dia hanya berdiri bengong memandang dara itu yang sedang memanggang daging ayam. "Oh, lapar...? Lapar sekali...! Dan panggang ayam itu begitu sedap!"
"Kalau begitu, mari kita makan. Ayam ini lebih enak dimakan panas-panas sebagai teman nasi. Sayang tidak ada arak..."
"Ah, itu sudah cukup, nona. Airpun cukup menyegarkan," jawab Bun Houw yang lalu duduk di dekat dara itu. Mereka lalu makan nasi dan panggang daging ayam, tidak menggunakan sumpit karena memang tidak ada, hanya menggunakan lima batang sumpit alam alias lima jari tangan kanan. Nasinya mengepul panas, daging ayam panggang juga masih mengepul panas, empuk dan gurih, ditambah kesunyian di pagi indah itu, hadirnya mereka berdua, perut lapar, semua ini membuat nasi dan daging ayam menjadi lezat bukan main. Dalam waktu pendek saja habislah semua nasi dan daging ayam memasuki perut mereka, tidak ada ketinggalan sebutirpun nasi dan secuilpun daging. Bun Houw menjilati jari-jari tangannya yang terkena gajih panggang ayam dan In Hong memandang sambil menabur senyum. Satu di antara kelemahan wanita, adalah, di samping ingin dipuji-puji tentang kecantikannya, juga ingin dipuji-puji tentang kelezatan hasil masakannya! Kini, melihat Bun Houw menjilati jari-jari tangannya, In Hong merasa mendapat pujian yang jauh lebih mengesankan daripada kata-kata.
"Kau belum kenyang? Masih kurang?" tanyanya lirih, tersenyum dan tampak deretan gigi mutiara.
Bun Houw tertawa. "Makan sesedap ini, agaknya aku takkan mengenal kenyang. Akan tetapi sementara ini cukuplah, dan terima kasih." Dia lalu minum air tawar dengan segarnya.
"Beras yang ditinggalkan oleh para murid Bu-tong-pai tinggal itu, aku belum sempat pergi membeli ke dusun."
Kembali Bun Houw tersenyum. Percakapan antara mereka itu seolah-olah percakapan dua orang sahabat lama yang hidup bersama di suatu tempat. Setelah mencuci tangan dan mulut, dia lalu berkata dengan suara sungguh-sungguh. "Nona, setelah apa yang kaulakukan semua untukku, setelah engkau menyelamatkan nyawaku dengan mempertaruhkan keselamatanmu sendiri..."
"Cukup, aku tidak mau bicara tentang itu..." In Hong memotong.
Bun Houw menunduk. Melihat wajah nona ini ketika itu, dia menduga bahwa di samping semua keanehannya, dara ini memiliki kekerasan hati yang luar biasa. Sebaliknya, melihat pemuda itu menunduk dan tidak berani bicara lagi, In Hong merasa kasihan dan sadar bahwa dia terlalu keras. Betapapun juga, tidak aneh kalau pemuda ini amat berterima kasih kepadanya dan ingin membicarakan tentang pertolongan itu. Akan tetapi justeru dia tidak mau membicarakannya, karena pertolongannya itu memang terasa aneh olehnya sendiri, mengapa dia begitu bersusah payah untuk pemuda ini. Kejanggalan ini membuat dia merasa malu sendiri sehingga dia tidak ingin lagi membicarakannya. Akan tetapi melihat pemuda itu bingung dan kecewa, dia lalu ingin membicarakan lain daripada pertolongan itu sendiri.
"Mengapa engkau begitu nekat, menentang lima orang yang berkepandaian tinggi itu sehingga engkau ditawan dan disiksa?" tiba-tiba In Hong bertanya.
Bun Houw memandang dan hatinya merasa gembira lagi. Kiranya dara ini bukan marah atau bersikap dingin, hanya agaknya tidak mau menyinggung tentang pertolongan itu, Betapa rendah hati, tidak ingin menonjolkan jasa, pikirnya. Dia belum mengenal dara ini, sungguhpun dia sudah percaya sepenuhnya, namun tidak baik kalau dia memperkenalkan diri dan menceritakan urusan pribadinya. Maka dia lalu menarik napas panjang dan menjawab, "Yang menjadi gara-gara adalah lenyapnya tiga orang murid Bu-tong-pai yang kautolong itu. Ketika mereka ditawan dan hendak dibunuh, Liok-twako mencegah dan memperingatkan mereka agar tidak menanam permusuhan dengan Bu-tong-pai..."
"Siapa itu Liok-twako?"
"Dia adalah Kiam-mo Liok Sun, dia... eh, majikanku..."
"Yang datang bersamamu? Aku hanya mendengar bahwa engkau orang she Bun adalah pengawal pribadinya."
"Karena mencegah itulah, setelah tiga orang murid Bu-tong-pai melarikan diri, Liok-twako dicurigai dan akhirnya dibunuh. Sebagai... eh, pengawalnya, tentu aku melawan dan aku lalu ditawan dan disiksa."
"Orang she Liok itu dibunuh, akan tetapi mengapa engkau ditawan dan disiksa pula? Apa yang mereka kehendaki?"
"Mereka memaksa aku mengaku siapa yang membebaskan tiga orang murid Bu-tong-pai dan apa maksud kedatangan Liok-twako di Lembah Bunga Merah."
"Ataukah karena perempuan-perempuan hina itu hendak memaksamu melayani bujuk rayu mereka?"
Bun Houw memandang dengah mata terbelalak, "Kau... kau tahu pula akan hal itu?"
"Aku tahu penolakanmu terhadap murid-murid Ciok Lee Kim yang tak tahu malu, juga terhadap nenek cabul itu sendiri, dan mungkin karena itulah aku membebaskanmu dari tahanan."
"Dua orang wanita murid Ciok Lee Kim itu telah tewas di tanganku, sayang bahwa aku tidak sempat membunuh gurunya. Akan tetapi, aku akan mencari mereka! Aku akan mencari Ciok Lee Kim dan teman-temannya, terutama sekali dia sendiri dan Bu Sit, dua orang yang menyiksaku. Kalau bertemu, mereka harus tewas di tanganku!" Bun Houw teringat akan penyiksaan itu dan timbul kemarahannya, otomatis tangannya meraba pinggang dan tampak sinar kilat berkelebat ketika dia tahu-tahu telah melolos pedangnya, yaitu pedang Hong-cu-kiam. Pedang ini dia dapat dari gurunya, sebatang pedang pusaka yang terbuat dari baja murni, tipis sekali sehingga dapat digulung dan dibuat menjadi sabuk pinggang maka senjata ini tidak ketahuan dan tidak terampas oleh musuh-musuhnya.
"Aihhh, pedang yang bagus!" In Hong berseru memuji. "Boleh aku melihatnya?"
Bun Houw menyerahkan pedangnya. In Hong menerima dan menggerak-gerakkan pedang sampai berbunyi berdesing dan berobah menjadi kilat. Dia memuji lagi, lalu menimang-nimang pedang dan meriksanya. Ketika melihat ukiran gambar burung hong dekat gagang pedang, dia memuji lagi.
"Sama benar dengan ini...!" Dia melolos hiasan rambutnya yang berupa burung hong kumala, lalu membandingkan burung hong kumala itu dengan lukisan burung hong pada pedang Hong-cu-kiam.
"Apanya yang sama, nona?" Bun Houw tentu saja bingung dan tidak mengerti. Bagaimana sebatang pedang dipersamakan dengan sebuah hiasan rambut wanita?
"Burung hongnya yang sama. Indah sekali pedangmu ini...!" In Hong menggerakkan pedang itu dan Bun Houw menjadi kagum. Memang benar dugaannya. Dara ini bukan sembarang ahli silat. Dari cara dia menggerakkan pedang saja sudah dapat dikenal sebagai seorang ahli pedang yang lihai.
"Sing-sing-wirrrrr... crakk!" Sebatang pohon sebesar paha manusia yang berdiri dalam jarak jauh, robob hanya tersambar hawa pedang yang digerakkan dengan sin-kang yang amat kuat.
"Bukan main...! Engkau lihai sekali, nona...!" Bun Houw memuji karena dia maklum bahwa hanya seorang yang memiliki sin-kang amat kuat saja mampu merobohkan pohon hanya dengan sinar pedang.
In Hong menimang-nimang pedang itu, meraba-raba mata pedang yang amat tajam. "Hemm... pedang ini yang lihai..."
Saking kagumnya dan senang hatinya, terloncat saja ucapan dari mulut Bun Houw. "Kalau nona suka, biarlah pedang Hong-cu-kiam ini kupersembahkan kepadamu, nona."
In Hong terkejut dan memandang dengan sinar mata tajam penuh selidik. "Apa?"
"Nona telah..." Dia teringat dan tidak mau mengulangi tentang pertolongan itu, maka dia melanjutkan, "...kita telah menjadi kenalan, bukan? Karena itu, dengan hormat aku menyerahkan pedang Hong-cu-kiam itu kepadamu. Pedang itu ringan dan lemas, memang lebih tepat dipergunakan oleh wanita, pula dapat dipakai sebagai ikat pinggang..."
Wajah In Hong berseri dan tangannya masih membelai pedang itu dengan rasa sayang, akan tetapi pandang matanya kepada Bun Houw masih meragu dan penuh selidik. Melihat wajah pemuda itu terbuka dan polos, dengan pandang mata yang tajam dan membayangkan kejujuran, dia lalu berkata, "Apakah dengan tulus ikhlas...?"
"Tentu saja nona, dengan sepenuh hatiku yang tulus ikhlas."
"Terima kasih...!" In Hong kelihatan girang sekali dan dia lalu memakai pedang Hong-cu-kiam itu sebagai ikat pinggangnya, lalu ditutupi jubahnya sehingga tidak nampak dari luar. Dia lalu meraba-raba pedangnya, akan tetapi tidak jadi diambil dan dia berkata, "Pedangku ini hanya pedang biasa, sama sekali tidak pantas untuk ditukar dengan pedang pusaka seperti Hong-cu-kiam, akan tetapi ini... Giok-hong-cu (burung hong kumala) ini tak pernah terpisah dari aku sejak aku kecil sehingga bagiku merupakan benda pusaka. Biarlah kuberikan ini kepadamu, Bun-twako (kakak Bun)." Dia menyerahkan burung hong kumala itu kepada Bun Houw.
Bun Houw terkejut dan seketika mukanya menjadi merah sekali, jantungnya berdebar. Dia merasa seolah-olah ada sesuatu yang amat aneh dalam tukar-menukar benda pusaka ini! Akan tetapi karena maklum akan keanehan watak wanita ini yang agaknya pasti akan merasa tersinggung dan terhina kalau dia menolaknya, dia lalu menerimanya dan memandangi perhiasan rambut itu dengan kagum.
"Sebuah perhiasan yang indah sekali... terima kasih, nona. Sekarang kita benar-benar telah menjadi sahabat, bukan?" Bun Houw bertanya sambil menatap wajah yang cantik jelita dan gagah itu.
In Hong balas memandang, tersenyum dan mengangguk. Sejak pertama kali melihat Bun Houw marah-marah dan menolak bujuk rayu dua orang murid wanita yang genit itu, hatinya sudah kagum dan tertarik sekali. Kini, setelah pemuda itu siuman dari pingsannya dan sembuh, dia memperoleh kenyataan bahwa pemuda ini benar-benar tidak seperti kaum laki-laki seperti yang disangkanya semula, yaitu seperti yang sering kali dibicarakan gurunya dan para anggauta Giok-hong-pang, yaitu mata keranjang, cabul, pengganggu wanita dan pengrusak kehidupan wanita. Pemuda ini sama sekali tidak pernah memperlihatkan sikap kurang ajar, mata keranjang dan sama sekali tidak pernah mengganggunya.
"Setelah kita menjadi sahabat, apakah engkau masih juga tidak percaya kepadaku dan tidak mau memperkenalkan namamu kepadaku?"
In Hong meraba pedang Hong-cu-kiam di pinggangnya dan memandang perhiasan burung hong kumala di tangan pemuda itu, lalu berkata "Pedang Hong-cu-kiam kauberikan kepadaku dan perhiasan Giok-hong-cu telah kuberikan kepadamu, keduanya merupakan lambang burung hong. Maka, biarlah aku mengenalmu sebagai Bun-twako dan kau mengenalku sebagai Hong."
"Hong saja? Apakah namamu Hong?"
In Hong mengangguk.
Bun Houw tidak berani mendesak. "Baiklah, Hong-moi (adik Hong), memang apakah artinya nama? Persahabatan adalah antara pribadi, bukan antara nama! Tentu tidak perlu lagi aku menceritakan riwayatku atau mendengar riwayatmu, bukan?"
In Hong mengangguk dan Bun Houw menarik napas panjang. Dia mulai tertarik sekali akan pribadi nona ini yang amat aneh, seolah-olah hendak merahasiakan dirinya dan seolah-olah tidak suka berurusan dengan orang-orang lain. Betapapun juga, di balik sikap dingin dan tidak perdulian itu, dia tahu bahwa pada dasarnya dara ini memiliki kegagahan luar biasa dan memiliki jiwa pendekar penentang kejahatan, juga mempunyai sifat-sifat yang budiman dan mulia.
"Kalau begitu, agaknya engkau tidak keberatan untuk mengatakan ke mana tujuanmu sekarang? Kau hendak pergi ke mana, Hong-moi?"
In Hong termenung. Pertanyaan itu dengan tepat mengenai hatinya dan dia menjadi bingung. Hendek ke manakah dia pergi? Apakah tujuan hidupnya? Tidak ada! Tidak ada ketentuan!
"Aku seperti seekor burung di udara," katanya sambil memandang seekor burung dada kuning yang beterbangan dari dahan ke dahan, mencari-cari ulat, di antara daun-daun hijau. "Entah ke mana aku hendak pergi, aku sendiripun tidak tahu, Bun-ko."
Bun Houw termenung juga, heran mendangar jawaban yang amat aneh ini. "Apakah engkau tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap, Hong-moi?"
Dara itu menggeleng kepala.
"Tidak mempunyai keluarga?"
Kembali gelengan kepala.
"Tidak mempunyai orang tua?"
In Hong menggeleng lagi, pandang matanya masih mengikuti burung dada kuning yang telah mendapatkan seekor ulat gemuk yang kini dipatuknya dan dibanting-bantingnya ke atas ranting pohon.
"Ahhhh...!" Bun Houw berseru penuh perasaan haru.
"Kenapa?" In Hong menoleh dan memandangnya, memandang tajam.
"Kasihan kau, Hong-moi."
"Kenapa kasihan? Kasihankah engkau kepada burung itu?" In Hong membuang muka. "Sudahlah, aku tidak mempunyai tujuan tertentu, akan tetapi engkau sendiri hendak ke manakah, Bun-ko?"
"Yang jelas, aku akan pergi ke Lembah Bunga Merah!"
"Hemm... kau hendak membalas dendam kepada mereka? Berbahaya sekali, Bun-koko, mereka itu lihai."
"Tidak perduli, aku harus membalas penghinaan dan penyiksaan mereka, terutama dua Bayangan Dewa itu."
"Dua Bayangan Dewa? Kau tahu itu?"
"Aku mendengar dari Liok-twako bahwa Hui-giakang Ciok Lee Kim dan Toat-beng-kauw Bu Sit adalah dua orang di antara Lima Bayangan Dewa yang tersohor itu."
"Hemm... akupun akan ke sana, twako."
"Apa? Apakah hubunganmu dengan mereka?"
"Akupun ingin mencari Lima Bayangan Dewa."
Bun Houw terkejut sekali. "Kenapa?"
"Tidak apa-apa. Aku hanya mendengar bahwa mereka telah mencuri pedang Siang-bhok-kiam dari Cin-ling-pai."
"Hemmm... akupun mendengar itu. Lalu bagaimana kalau begitu?"
"Aku ingin merampas pedang itu, aku mendengar bahwa pedang Siang-bhok-kiam adalah pedang pusaka yang amat hebat dan dahulu pernah diperebutkan oleh para datuk persilatan. Aku ingin merampasnya..."
"Untuk apa, moi-moi?"
"Untuk apa? Mungkin kelak kukembalikan kepada ketua Cin-ling-pai." In Hong teringat akan kunjungannya ke Cin-ling-pai. "Aku... sekali waktu aku pasti akan pergi ke Cin-ling-san dan aku akan mengembalikan pedang itu kepada Cin-ling-pai kalau aku berhasil merampasnya."
"Engkau aneh sekali, Hong-moi. Tanpa alasan engkau hendak merampas pedang itu dari tangan Lima Baymgan Dewa. Apakah itu tidak amat berbahaya?"
"Justeru karena berbahaya aku menempuhnya. Lima Bayangan Dewa itu, kalau melihat yang dua ini, pastilah orang-orang jahat. Kalau aku tidak merampas kembali pedang itu, mereka akan menjadi sombong, mengira bahwa tidak ada orang berani terhadap mereka satelah mereka menggegerkan dunia kang-ouw dengan penyerbuan mereka ke Cin-ling-pai."
"Kalau begitu, mari kita sama-sama pergi ke Lembah Bunga Merah, Hong-moi."
In Hong mengangguk dan berangkatlah mereka meninggalkan kuil itu. Di tengah perjalanan, tiba-tiba In Hong berhenti.
"Bun-ko, bagaimana dengan kedua pundakmu?"
Bun Houw menggerakkan kedua tangannya, mengayun-ayun kedua legannya. Tidak terasa nyeri lagi.
"Sudah sembuh sama sekali, Hong-moi," katanya.
"Akan tetapi masih berbahaya kalau bertemu dengan lawan tangguh, dan mereka itu amat lihai. Karena itu, kalau tiba di sana, biarkan aku yang turun tangan, kau boleh lihat saja, twako."
Bun Houw tersenyum dan mengangguk. Mereka melanjutkan perjalanan dan In Hong menggunakan ilmunya berlari cepat. Bun Houw tidak ingin menonjolkan diri dan menimbulkan kecurigaan kepada dara itu. Bukankah dia hanya dikenal sebagai seorang pengawal pribadi Liok Sun yang tentu saja hanya memiliki kepandaian silat biasa saja? Maka dia pura-pura mengerahkan tenaganya untuk mengimbangi kecepatan dara itu, akan tetapi dengan terengah-engah dia tertinggal jauh.
"Aihhh... Hong-moi, harap jangan berlari terlalu cepat...!"
In Hong yang memang hanya ingin mengukur kepandaian pemuda itu, memperlambat larinya dan diam-diam dia tahu bahwa pemuda yang bernyali besar ini sama dengan mengantar kematian kalau ingin mencari lima orang di Lembah Bunga Merah yang berilmu tinggi itu. Maka dia diam-diam mengambil keputusan untuk melindungi pemuda ini, yang selain tenaganya belum pulih dan pundaknya baru saja sembuh, juga tingkat kepandaiannya masih terlalu rendah untuk menghadapi lawan-lawan tangguh seperti Lima Bayangan Dewa dan sekutu-sekutunya.
"Pedangku ini biarpun bukan pedang pusaka, akan tetapi terbuat dari baja yang cukup baik. Kaubawa pedangku ini untuk menjaga diri, Bun-ko!" In Hong berkata dan menyerahkan pedangnya. "Aku sendiri sudah mempunyai Hong-cu-kiam."
Bun Houw tidak membantah sungguhpun sebetulnya untuk menghadapi lawan yang bagaimana tangguhpun, dia tidak begitu membutuhkan senjata. Kalau tempo hari dia sampai dapat dirobohkan dan ditawan, adalah karena keneketan Ai-kiauw. Dia mengucapkan terima kasih dan menggantungkan pedang itu di pinggangnya.
Ketika mereka tiba di daerah Lembah Bunga Merah, suasana di situ sunyi saja dan mereka cepat memasuki daerah itu menuju ke perkampungan yang menjadi sarang Hui-giakang Ciok Lee Kim dan anak buahnya. Akan tetapi di dalam bangunan-bangunan inipun sunyi tidak kelihatan ada manusianya.
"Hati-hati, mungkin mereka akan menjebak kita!" Bun Houw berkata dan In Hong mengangguk. Bun Houw mencabut senjatanya karena kalau tidak dia khawatir gadis itu akan menjadi curiga akan ketenangannya. Dengan berindap mereka memasuki ruangan depan rumah besar yang tadinya dihuni oleh Ciok Lee Kim dan di mana dia menjamu para tamunya.
"Ada orang-orang mengepung kita... " In Hong berbisik. Tentu saja Bun Houw juga sudah dapat menangkap gerakan orang-orang itu akan tetapi dia diam saja.
"Awas senjata rahasia...!" In Hong berseru dan dara ini cepat meloncat untuk melindungi Bun Houw. Akan tetapi anak panah dan senjata-senjata rahasia yang bagaikan hujan itu datang dari empat penjuru. In Hong menangkisi senjata senjata rahasia itu dengan hawa pukulan kedua tangannya, sedangkan Bun Houw dengan "sibuk" menangkisi dengan pedang di tangan yang diputar-putarnya. Sampai habis senjata-senjata rahasia itu, Bun Houw masih memutar-mutar pedang.
"Siaplah, Bun-ko, biar aku melindungimu, mereka tentu akan muncul." In Hong yang merasa geli melihat bagaimana pemuda itu memutar-mutar pedang, memegang lengan pemuda itu dan dia berdiri melindungi Bun Houw.
Benar saja, dari empat penjuru muncul belasan orang anak buah Lembah Bunga Merah dengan segala macam senjata di tangan. Melihat Bun Houw, mereka terkejut sekali, maklum bahwa pemuda yang pernah ditawan dan disiksa ini memiliki kepandaian tinggi. Akan tetapi karena pemuda itu baru saja terluka parah, bahkan dua tulang pundak juga dikait, mereka kini memandang rendah. Juga mereka memandang rendah kepada gadis muda cantik yang datang bersama pemuda itu.
"Ha-ha-ha, kau sudah berhasil lolos kini kembali lagi mengantar kematian?" teriak seorang di antara mereka yang berhidung besar terhias kumis kecil. "Toanio tentu akan senang sekali. Hayo lekas kawan-kawan tangkap tikus ini!"
Dua belas orang itu menyergap ke depan.
"Bun-ko, biarkan aku membereskan mereka!" In Hong berseru dan tubuhnya berkelebat cepat sekali, seperti halilintar, menyambar-nyambar dan terdengarlah pekik-pekik kesakitan, Bun Houw hanya berdiri menonton dan diam-diam diapun terkejut. Dia dapat menduga bahwa gadis yang bernama Hong ini memiliki kepandaian tinggi, akan tetapi tidak disangkanya akan selihai itu. Gerakannya aneh sekali, gerakan ilmu silat yang sama sekali tidak dikenalnya, akan tetapi kecepatannya belum tentu kalah oleh dia sendiri, dan jari-jari tangan yang halus itu seolah-olah berobah menjadi baja-baja yang ampuh. Setiap tamparan membuat lawan terguling roboh, setiap tangkisan membuat lengan lawan patah-patah dan dalam waktu singkat saja, dua belas orang itu sudah roboh semua, merintih-rintih dan mengaduh-aduh!
"Mari kita cari mereka!" In Hong berkata kepada Bun Houw yang masih bengong, memegang tangan pemuda itu dan menariknya ke dalam. Mereka hanya mendapatkan bangunan kosong. In Hong mengajak Bun Houw menggeledah dan memeriksa di seluruh perkampungan itu, namun tidak menemui lima orang sakti yang mereka cari. Dengan penasaran In Hong mengajak Bun Houw kembali ke ruangan depan di mana dua belas orang anak buah Lembah Bunga Merah itu masih rebah malang-melintang dan mengeluh kesakitan.
"Hayo katakan di mana adanya nenek cabul Ciok Lee Kim dan teman-temannya!" In Hong membentak sambil mendekati seorang yang patah-patah tulang lengannya. Orang itu nampak ketakutan, berlutut sambil merintih-rintih.
"Ampunkan kami, lihiap... ampunkan kami... Ciok-toanio dan yang lain telah pergi dua hari yang lalu... meninggalkan kami dua belas orang menjaga di sini..."
"Ke mana mereka pergi?" In Hong membentak lagi.
"Tidak... tidak... tahu..."
"Keparat, kalian layak mampus!" In Hong mengangkat tangan, akan tetapi tiba-tiba Bun Houw berkata, "Hong-moi, nanti dulu..."
In Hong menurunkan kembali tangannya dan menoleh, Bun Houw lalu menghampiri orang itu.
"Srattt...!" Dicabutnya pedang In Hong yang diberikan kepadanya itu dan dengan sikap mengancam dia menempelkan mata pedang di leher orang itu. "Hayo lekas kau mengaku terus terang, ke mana perginya Hui-giakang Ciok Lee Kim dan Toat-beng-kauw Bu Sit! Kalau kau tidak mau mengaku, pedang ini akan memenggal lehermu dan leher semua orang di sini!"
"Ampunkan kami... taihiap, ampunkan kami..." Dua belas orang itu meminta-minta dan seorang di antara mereka berkata, "Ciok-toanio dan yang lain-lain tentu pergi mengunjungi tempat tinggal Phang-loya (tuan besar Phang)..."
"Hemmm, kaumaksudkan Pat-pi Lo-sian Phang Tui Lok?" Bun Houw membentak.
"Benar... benar, taihiap..."
"Di mana tempat tinggalnya?"
"Di dusun Ngo-sian-chung, di lembah muara Sungai Huang-ho..."
"Hayo katakan yang jelas, di mana tempat itu!"
"Benar... taihiap... di sebelah timur kota Cin-an... kurang lebih dua puluh lima li jauhnya... saya tidak membohong..."
Bun Houw mengangguk girang. Kiranya dua orang Bayangan Dewa itu pergi ke tempat tinggal orang pertama dari Lima Bayangan Dewa! Alamat orang pertama dari Lima Bayangan Dewa itu saja sudah merupakan keterangan yang amat penting baginya.
"Mari kita menyusul mereka, Hong-moi."
"Tapi... lebih baik kita bunuh dulu mereka ini!" In Hong berkata dan kembali tubuhnya bergerak. Akan tetapi lengannya sudah dipegang oleh Bun Houw.
"Jangan, Hong-moi. Mereka tidak perlu dibunuh."
In Hong mengerutkan alisnya, sejenak mereka saling pandang dan Bun Houw merasa betapa sinar mata gadis itu berapi-api penuh kemarahan dan kebencian, amat mengerikan hatinya. Akan tetapi dia memandang dengan tenang. menentang pandang mata yang berapi-api itu. Perlahan-lahan api dalam mata itu mengecil dan akhirnya In Hong menundukkan mukanya, merenggutkan lengannya dan melompat keluar meninggalkan ruangan itu.
Bun Houw juga meloncat keluar mengikutinya. Tanpa mengeluarkan kata-kata, mereka meninggalkan Lembah Bunga Merah. In Hong berjalan sambil menundukkan mukanya. Bun Houw berjalan di sebelahnya. Sampai lama mereka tidak mengeluarkan kata-kata.
Tiba-tiba In Hong berhenti melangkah. Bun Houw juga berhenti. In Hong mengangkat muka memandang, alisnya berkerut. "Kenapa kau tadi menghalangi aku membunuh mereka? Kenapa kau berani menghalangi aku?"
Bun Houw memandang heran. "Moi-moi, mereka tidak perlu dibunuh."
"Heran aku, mengapa aku menuruti permintaanmu? Belum pernah ada yang berani menghalangi kehendakku. Hayo katakan, kenapa mereka tidak perlu dibunuh?"
Diam-diam Bun Houw bergidik. Gadis aneh dan agaknya gadis ini biasanya tidak pernah mau memberi ampun kepada musuh-musuhnya dan kalau dia membayangkan betapa gadis itu tadi akan membunuh dua belas orang anak buah Lembah Bunga Merah itu dengan darah dingin, begitu saja, dia bergidik ngeri.
"Hong-moi sebelum aku menjawab, lebih dulu katakanlah, apakah engkau tadi hendak membunuh mereka karena engkau membenci mereka?"
"Tentu saja! Aku benci mereka, dan, dan sepatutnya mereka dibunuh!"
"Hong-moi, karena itulah aku mencegahmu. Di antara kita dan mereka itu tidak ada permusuhan langsung, mereka hanyalah orang-orang yang mentaati perintah pemimpin mereka. Dan pula, kita harus turun tangan menghadapi siapapun dengan dasar membela kebenaran dan keadilan, menentang kejahatan. Kalau hati kita dikuasai oleh kebencian, mungkin kita akan membunuh orang yang tidak bersalah hanya berdasarkan perasaan benci itu."
In Hong masih mengerutkan alisnya, seolah-olah tidak memperdulikan kata-kata itu. "Baiklah, lain kali harap kau tidak mencegah aku lagi. Sekarang kita hendak ke mana?"
"Aku akan menyusul mereka ke Ngo-sian-chung. Dan kau...?"
"Akupun akan mencari mereka, mungkin Lima Bayangan Dewa berkumpul di sana dan pedang Siang-bhok-kiam disimpan di sana pula."
"Kalau begitu, mari kita melakukan perjalanan bersama, Hong-moi."
In Hong tiba-tiba menggeleng kepalanya. "Tidak! Aku akan pergi sendiri. Sampai jumpa!" Gadis itu hendak membalikkan tubuh untuk pergi meninggalkan Bun Houw.
"Akan tetapi, mengapa, moi-moi? Bukankah tujuan kita sama?"
"Kalau kita melakukan perjalanan bersama, kita tentu akan saling bentrok!"
"Tidak mungkin!"
"Kau mau berjanji bahwa lain kali tidak akan mencegah aku lagi?"
"Kalau aku melihat engkau melakukan sesuatu yang tidak benar, sudah semeatinya aku mencegah dan mengingatkan engkau, Hong-moi."
"Nah, kalau begitu, selamat tinggal!"
"Hong-moi...!" Bun Houw berteriak memanggil namun bayangan gadis itu sudah lenyap. Dia hanya dapat menarik napas panjang dan menggeleng-geleng kepala. Gadis yang hebat, lihai sekali dan cantik jelita, akan tetapi juga liar dan kadang-kadang berwatak aneh dan dingin sekali, seperti setan! Terpaksa dia melanjutkan perjalanan dengan perlahan seorang diri, kadang-kadang berhenti untuk memulihkan tenaganya, terutama sekali menyembuhkan luka di kedua pundaknya.
***
Semenjak matinya Panglima Besar The Hoo, biarpun bekas kebesaran panglima itu mendatangkan banyak kemakmuran dan kemajuan dalam pordagangan dan hubungan dengan luar negeri, namun tetap pengaruh Kerajaan Beng menurun. Kemajuan yang dipupuk oleh kebesaran The Hoo memang tampak menonjol, membuat Kerajaan Beng terkenal di seluruh negeri tetangga.
Pada masa itu, semenjak tewasnya Timur Leng yang amat terkenal di barat, yaitu pada tahun 1404, hubungan dagang dengan Negara Iran dan lain negara barat dapat dilakukan melalui darat. Oleh karena itu, maka perkembangan armada Kerajaan Beng dipandang tidak begitu perlu lagi dan perdagangan melalui lautan dilakukan oleh bangsa-bangsa lain, yaitu bangsa kulit putih dan Jepang. Pemerintah Beng hanya menerima barang-barang ini di pantai-pantai sehingga banyak timbul kota-kota besar di pantai lautan yang makin lama menjadi makin ramai dengan perdagangan dengan bangsa-bangsa asing ini. Betapapun juga, bangsa-bangsa asing itu yang masih terkesan oleh kebesaran dan kekuatan bala tentara yang dahulu dipimpin oleh Panglima The Hoo dan para pembantunya, tidak ada yang berani bermain gila atau mengacau secara berterang, apalagi karena perdagangan mereka mendatangkan banyak untung, yaitu dengan mengangkut rempah-rempah dan hasil bumi lain dari pedalaman, serta menjual barang-barang luar negeri yang masih merupakan benda-benda aneh di masa itu.
Di pantai-pantai selatan dan timur, banyak kota-kota dan dusun-dusun pelabuhan yang menjadi ramai, setiap hari didatangi perahu-perahu asing yang membawa barang-barang dagangan dan pajak mereka cukup dengan pemberian-pemberian terhadap para pembesar setempat.
Kota Yen-tai merupakan sebuah kota pelabuhan yang ramai di pantai Lautan Po-hai yang banyak disinggahi kapal-kapal dari luar negeri. Banyak terdapat pedagang-pedagang di temput ini, di kotanya banyak pula berkeliaran orang-orang asing yang rambutnya beraneka warna, demikian pula matanya, ada yang berwarna biru, keemasan, dan kuning muda rambutnya, dan mata mereka berwarna biru atau coklat. Tidak ada di antara mereka yang berambut dan bermata hitam. Pakaian mereka juga beraneka warna, dan mereka ini adalah pekerja-pekerja kapal atau pedagang-pedagang yang datang bersama kapal-kapal yang berlabuh, ada pula yang menetap di kota itu sebagai pedagang. Akan tetapi jarang kelihatan wanita bangsa asing, semuanya pria, tua dan muda, dengan muka penuh brewok dan gaya mereka yang bagi penduduk setempat tampak kasar dan biadab! Ada pula orang-orang yang muka serta kulitnya sama dengan pribumi, akan tetapi tubuh mereka pendek-pendek dan pakaian mereka agak berbeda. Mereka ini adalah orang-orang Jepang yang terdiri dari banyak pulau-pulau.
Pada suatu hari, pagi-pagi sekali keadaan Yen-tai sudah ramai karena semalam banyak kapal asing berlabuh di pantai. Pagi-pagi sudah tampak kesibukan di kota itu, ada yang menurunkan barang dari kapal-kapal dan ada pula yang menaikkan rempah-rempah dan hasil-hasil bumi lainnya, juga barang-barang kerajinan dari pedalaman, terutama sutera dan barang-barang ukiran yang serba indah dan mahal.
Di antara banyak sekali orang yang beraneka macam bahasanya, bermacam pula pakaiannya, terdapat seorang pemuda yang berusia kurang lebih dua puluh satu tahun, bertubuh tinggi tegap dan bersikap gagah namun amat sederhana gerak-gerik dan pakaiannya yang berwarna kuning itu, dengan sebatang pedang di pinggangnya, pemuda itu adalah Tio Sun, putera tunggal dari Ban-kin-kwi Tio Hok Gwan bekas pengawal panglima Besar The Hoo yang paling dipercaya. Seperti kita ketahui, secara kebetulan Tio Sun menolong Yap Mei Lan dan diapun tertawan oleh orang-orang liar yang dipimpin Jeng-hwa Sian-jin Si Ahli Sihir dan hampir saja dia celaka oleh kawanan Jeng-hwa-pang di dalam hutan itu kalau saja tidak tiba-tiba muncul seorang yang luar biasa saktinya, tokoh tua yang sudah tidak pernah muncul di dunia kang-ouw yaitu Bun Hwat Tosu.
Pemuda ini mewakili ayahnya untuk membantu Cin-ling-pai mencari musuh-musuh besar Cin-ling-pai, yaitu Lima Bayangan Dewa yang telah menyerbu mengacau Cin-ling-pai, membunuh murid-murid Cin-ling-pai dan mencuri Siang-bhok-kiam. Karena dia sudah tahu akan nama-nama Lima Bayangan Dewa, Tio Sun menyelidiki dan akhirnya dia mendengar berita bahwa Liok-te Sin-mo Gu Lo It, orang kedua dari Lima Bayangan Dewa, tinggal di sekitar pantai Po-hai. Berita inilah yang membawa Tio Sun pergi ke pantai Po-hai dan pada pagi hari itu tibalah dia di kota Yen-tai.
Dengan tenang Tio Sun melangkah dan berjalan di atas jalan raya, mengagumi keramaian kota itu dan terheran-heran melihat banyaknya orang-orang asing yang warna rambut, mata dan kulitnya amat mengerikan hatinya itu! Memang belum pernah dia bertemu dengan orang asing kulit putih, sungguhpun sudah banyak dia mendengar tentang mereka dari ayahnya.
Gembira hati Tio Sun menyaksikan kota pantai yang amat ramai itu. Seringkali dia berhenti untuk menonton keramaian, melihat orang-orang berdagang dan mendengarkan kata-kata yang terdengar agak kaku dan asing keluar dari mulut orang-orang berkulit putih itu. Juga ia melihat-lihat banyak barang yang aneh dan indah dipamerkan di toko sepanjang jalan. Akan tetapi setelah setengah hari berjalan-jalan melihat kota yang ramai ini, akhirnya dia merasa bosan juga dan akhirnya menjelang senja itu dia berjalan-jalan di tepi pantai laut yang hawanya lebih sejuk karena angin bertiup dan agak sunyi tidak terdapat terlalu banyak orang.
Tio Sun memasuki sebuah warung di tepi laut, warung yang agak sunyi dan ketika dia masuk, hidungnya disambut oleh bau arak wangi yang memenuhi tempat itu. Suara tertawa bergelak disusul munculnya dua orang asing kulit putih keluar dari dalam warung makan itu, keduanya membawa seguci arak. Sambil tertawa-tawa mereka bicara dalam bahasa yang sama sekali tidak dimengerti oleh Tio Sun. Ketika berpapasan, Tio Sun mendapat kenyataan betapa tingginya dua orang itu. Dia sendiri sudah terhitung seorang pemuda yang bertubuh jangkung, akan tetapi ternyata tubuhnya hanya mencapai pundak kedua orang raksasa berkulit putih dan bermata biru itu.
Tio Sun segera melupakan mereka dan dia duduk di atas sebuah bangku, memesan makanan dan minuman kepada pelayan. Tidak banyak tamu sore itu di warung ini, hanya beberapa orang yang pakaiannya seperti nelayan dan ketika mereka itu bicara tentang hasil penangkapan ikan maka jelaslah apa pekerjaan mereka itu.
Ketika Tio Sun sedang makan, tiba-tiba terdengar suara jeritan wanita, yang kedengaran agak jauh dari situ. Seketika Tio Sun bangkit berdiri. Jerit itu terulang lagi. "Toloooooonggg...!"
Tio Sun menggeser bangkunya, siap untuk lari keluar. Akan tetapi para nelayan yang juga menghentikan percakapan mereka dan memperhatikan jeritan itu, menoleh ke arah Tio Sun dan seorang di antara mereka yang usianya sudah lima puluh tahun lebih berkata, "Harap kongcu jangan memperhatikan dan mencampuri urusan kotor itu."
Tio Sun memandang heran, "Mengapa kau berkata demikian, lopek?" Dan pada saat itu kembali jerit tadi terulang.
Kakek nelayan itu hanya menarik napas panjang dan tidak menjawab, lalu terdengar ucapan pelayan warung. "Omongan paman nelayan ini benar, kongcu. Tentu keributan itu dilakukan oleh setan-setan kulit putih pemabok itu, dan yang menjerit itu hanyalah perempuan-perempuan lacur. Memalukan sekali dan kongcu akan mendapat malu saja kalau mencampuri urusan pelacur-pelacur dengan setan-setan pemabok itu. Kalau melihat itu, lebih baik kita tulikan telinga dan butakan mata."
"Tolonggggg...!"
"Bagaimana kita dapat menulikan telinga dan membutakan mata kalau mendengar jerit wanita minta tolong?" Tio Sun berkata dan tanpa menanti jawaban dia sudah berlari keluar, langsung ke kanan dari mana dia tadi mendengar suara jeritan itu. Cuaca senja sudah mulai remang-remang akan tetapi dia masih dapat melihat dua orang laki-laki yang sedang menarik dan menyeret seorang wanita di dekat pantai, agaknya hendak memaksa wanita itu naik ke sebuah perahu.
"Keparat...!" Tio Sun berlari cepat di sepanjang pantai yang sunyi itu, otot-otot tubuhnya sudah menegang dan hatinya panas oleh kemarahan.
"Plak-plak!" Dua kali Tio Sun menggerakkan tangannya menampar pundak dua orang raksasa bule itu. Dua orang itu terhuyung dan melepaskan lengan gadis yang tadi mereka tarik-tarik. Tamparan itu keras sekali namun hanya membuat mereka terhuyung, maka tahulah Tio Sun bahwa dua kedua orang raksasa bule itu bertubuh kuat sekali. Gadis itu sambil menangis menjatuhkan diri berlutut di depan Tio Sun.
"Harap taihiap menolong saya... mereka hendak menculik saya..."
Tio Sun memandang. Gadis itu adalah seorang gadis berpakaian nelayan sederhana, namun kesederhanaan pakaiannya dan air mata yang membasahi mukanya itu tidak mengurangi kemanisan wajahnya dan kepadatan tubuhnya yang muda.
"Nona, kau minggirlah..." kata Tio Sun dengan tenang, lalu dia melangkah menghadapi dua orang raksasa bule yang kini sudah melangkah maju dengan muka mereka merah sekali, mata mereka melotot dan memandang Tio Sun penuh kemarahan. Mula-mula mereka itu mengeluarkan kata-kata keras dalam bahasa asing itu, telunjuk mereka menuding-nuding, akan tetapi Tio Sun sama sekali tidak mengerti artinya. Kemudian seorang di antara mereka, yang rambutnya kemerahan, berkata dalam bahasa pribumi yang kaku namun sikapnya jelas menunjukkan kemarahannya, "Kau berani merampas perempuan kami?"
Tio Sun teringat akan cerita pelayan warung dan para nelayan tadi, maka dia dapat menduga bahwa agaknya dua orang kelasi barat yang mabok ini menganggap gadis itu sebagai seorang pelacur, maka dengan sikap tenang karena mengira akan kesalahpahaman mereka, dia menjawab, "Kalian salah sangka. Nona ini adalah seorang wanita baik-baik, maka kalian tidak boleh kurang ajar terhadapnya."
"Kurang ajar? Apa kurang ajar?" Si rambut merah itu membentak dan mengepal tinjunya yang besar, matanya juga merah melotot marah. "Kami cinta padanya, kami... kami akan membayar!"
Tio Sun mengerutkan alisnya. "Kalian orang-orang kasar yang mabok. Jangan mengganggu wanita dan pergilah!"
Si rambut merah melangkah maju dengan langkah lebar, sedangkan temannya yang berambut pirang hanya menonton sambil tersenyum-senyum memandang rendah, yakin bahwa temannya tentu akan memberi hajaran kepada pemuda kecil lemah yang mencampuri urusan mereka itu.
Si rambut merah menuding-nuding dengan isyarat agar Tio Sun pergi dari situ, suaranya parau dan kasar, kemarahannya membuat dia makin sukar mengeluarkan bahasa yang belum dikuasainya benar-benar itu. "Pergi kamu... pergi... dia perempuan kami...!"
Melihat keributan itu, beberapa orang yang datang mendekati untuk menonton, dan seorang nelayan tua berkata kepada Tio Sun, "Orang muda, sebaiknya kau pergi dan tidak mencampuri urusan mereka. Ketahuilah, mereka itu adalah dua orang terkuat di antara mereka yang mempunyai banyak anak buah. Jangan kau mencari penyakit..."
Sementara itu, seorang kakek nelayan lain yang kurus dan berpakaian butut lari mendatangi, dan melihat kakek ini, gadis nelayan tadi lalu menjerit dan lari menubruk kakek itu. "Ayahhh...!"
"Kui-ji... kau kenapa...?" Nelayan tua itu bertanya sambil mengelus rambut kepala anaknya.
Akan tetapi gadis itu tidak dapat menjawab, hanya menangis.
Nelayan tua yang tadi memperingatkan Tio Sun berkata, "Kalian cepat pergi...! Lekas...!"
Ayah dan anak itu terkejut dan keduanya hendak menyingkir dari tempat itu, akan tetapi raksasa berambut pirang dengan beberapa langkah lebar sudah mendekat, lalu lengannya yang panjang dengan jari-jari tangannya yang besar itu menangkap pergelangan tangan gadis manis itu.
"Ha-ha-ha, jangan pergi... jangan pergi... kau manis..." kata raksasa asing itu sambil tertawa.
Sang ayah kini mengerti bahwa anak perempuannya menjadi kebiadaban para kelasi asing itu, maka dengan marah dia memukul.
"Bukkk....!" Dada yang bidang itu menerima pukulan dengan enak saja, sedikitpun tidak terguncang dan tangan kiri yang lebar itu mendorong sehingga si kakek terjengkangkang jauh.
"Ayahhh...!"
"Keparat..!" Tio Sun melangkah maju.
"Orang muda, mari kita pergi. Kalau mereka mengamuk..!" Nelayan itu berkata ketakutan.
Tio Sun menjadi marah sekali. Di bertolak pinggang, memandang ke sekeliling. Terutama ke arah beberapa orang nelayan yang berdiri di sekitar tempat itu dengan wajah ketakutan. "Kalian ini laki-laki ataukah pengecut yang tak tahu malu! Melihat gadis bangsa kita dihina dan hendak dipermainkan orang-orang asing biadab ini, kalian sama sekali tidak mengulurkan tangan membantu, malah ketakutan dan hendak menyingkir, dan lebih celaka lagi, kalian melarang aku untuk menolongnya. Apakah kalian tidak mau hidup sebagai laki-laki?"
Tidak ada seorangpun yang dapat menjawab. Mereka itu hanya nelayan-nelayan yang tahunya hanya mencari nafkah setiap hari di lautan, dan mereka semua sudah maklum akan kekuasaan dan kekasaran orang-orang berkulit putih ini. Orang-orang kulit putih itu ada kalanya amat baik dan ramah terhadap pribumi, apalagi dalam hal perdagangan. Akan tetapi sikap mereka itu rata-rata kasar dan keras, apalagi kalau dihalangi kehendak mereka, keramahan berobah menjadi kekerasan dan kekejaman. Dan rata-rata mereka itu terdiri dari jagoan-jagoan berkelahi yang bertubuh kuat dan berani, bahkan agaknya mereka itu mempunyai kesukaan untuk berkelahi sehingga para nelayan yang sering kali mengalami pemukulan mereka, kini menjadi takut. Lebih-lebih lagi ketika laporan mereka kepada yang berwajib bahkan merugikan mereka sendiri karena agaknya ada pertalian persahabatan yang erat antara pembesar-pembesar setempat dengan orang-orang bule tinggi besar itu. Dan kenyatannya memang demikian. Para pembesar sudah menerima banyak sumbangan dan hadiah dari raksasa-raksasa ini, maka tentu saja sebagai seorang yang baik hati para pembesar ini merasa sungkan untuk bersikap memusuhi dan setiap ada pengaduan mereka ini menyalahkan yang mengadu dan memberi nasihat agar sebagai "tuan rumah" para pribumi suka mengalah terhadap para tamu yang banyak mendatangkan keuntungan bagi "rakyat" ini. Tentu saja hanya di mulut mereka ini mengucapkan demi rakyat, padahal sudah tentu, seperti yang sudah lajim terjadi di seluruh dunia, mereka itu hanya mementingkan dirinya sendiri dan demi kepadatan kantong mereka sendiri.
Inilah sebabnya mengapa para nelayan bersikap ketakutan dan teguran Tio Sun itu hanya membuat muka mereka menjadi merah akan tetapi tidak ada seorangpun berani menentang dua orang raksasa kulit putih itu.
Sebaliknya, ucapan Tio Sun itu membikin marah si rambut merah. "Setan, engkau perlu dihajar!" bentaknya dan dia sudah menerjang Tio Sun dengan pukulan-pukulan kedua tangannya yang bertubi-tubi dan pukulan-pukulannya ternyata keras sekali!
Tio Sun tentu saja sudah siap dan waspada, dengan mudahnya dia menggerakkan tubuh sedikit saja namun cukup membuat pukulan kanan kiri yang bertubi-tubi datangnya itu menyambar angin kosong belaka. Ketika pukulan yang kesekian kalinya meluncur mengarah dagunya, kepalan kanan si rambut merah yang besar sekali itu menyambar, Tio Sun menggerakkan tangan menangkis dengan tangan kirinya. Tangkisan ini membuat tulang bawah lengan kirinya bertemu dengan amat kerasnya dengan tulang atas lengan kanan si rambut merah.
"Dukkkk... aughhhh...!" Si rambut merah berteriak kesakitan dan memegangi lengan kanannya. Tulang bawah lengan merupakan bagian yang lebih kuat daripada tulang atas lengan, biarpun keduanya terlatih sekalipun, apalagi Tio Sun mempergunakan tulang bawah lengannya dengan pengerahan tenaga sin-kang, tentu saja membuat lawannya yang terpukul tulang atas lengannya itu merasa nyeri bukan main seolah-olah tulang lengannya retak-retak rasanya.
Akan tetapi rasa nyeri ini tidak berlangsung lama dan kemarahan si rambut merah memuncak. Dia mengeluarkan suara gerengan disambung maki-makian dalam bahasa yang tidak dimengerti oleh Tio Sun, kemudian raksasa rambut merah itu menerjang seperti seekor kerbau mengamuk, kepalanya di depan, tubuhnya agak membungkuk dan kedua lengannya merapat tubuh, kedua kepalan tangan yang besar itu silih berganti menyambar dengan pukulan-pukulan keras yang mengarah bagian muka dan tubuh atas Tio Sun.
Tentu saja serangan sederhana yang hanya mengandalkan tenaga kasar ini merupakan serangan yang sama sekali tidak berbahaya bagi Tio Sun. Dengan amat mudahnya pemuda ini mengelak dan menangkis, kemudian satu kali tanganya menyambar dia sudah berhasil memukul leher dekat pundak kiri lawan dengan tangan kanan yang dimiringkan.
"Ngekkk!"
Raksasa muka merah itu terjungkal, mengaduh dan memijit-mijit lehernya yang terpukul. Akan tetapi ternyata dia bertubuh kuat sekali karena dia sudah bangkit kembali, merogoh saku celana dan mengeluarkan dua buah senjata kalung besi yang ketika digenggamnya melingkari celah-celah jari kedua tangannya sehingga kini kepalannya tertutup oleb ujung-ujung besi yang menonjol dan agak meruncing. Dapat dibayangkan betapa kepala akan dapat pecah dan tubuh akan terluka parah kalau sekali saja terkena pukulan tangan yang diperlengkapi dengan senjata istimewa ini.
"Mampus kamu! Wuuutttt... siyuuuutt...!" Kembali si rambut merah menyerang dengan ganas. Kedua matanya sudah menjadi merah dan lagaknya persis seekor lembu jalang yang mengamuk karena terluka.
Kalau tadi si rambut merah menggunakan cara bertinju menurut aturan karena dia merasa yakin bahwa dengan kepandaiannya bermain tinju dia akan dapat mengalahkan lawan yang kelihatan kecil lemah ini, kini dia tidak lagi memperhatikan aturan dan menggunakan segala akal curang dalam cara berkelahi untuk mencari kemenangan, maka kini dia tidak lagi memukul ke arah tubuh atas saja, melainkan dia memukul ke arah lambung, pusar dan lain-lain, bahkan kedua kakinya yang memakai sepatu boot itupun ikut pula menyerang. Betapapun juga, bagi Tio Sun, gerakan raksasa ini masih terlalu lambat dan kacau tidak teratur, pokoknya asal menyerang saja maka sudah tentu amat mudah dihadapi oleh pemuda gemblengan ini. Dia membiarkan lawan menyerang membabi buta sampai dia mundur empat langkah, kemudian ketika musuh terus menyerbu, dia melangkah ke kiri, membiarkan tubuh lawan agak terdorong ke depan dan dengan gerakan kaki cepat sekali, dia melangkah maju sehingga kini dia berada di sisi belakang lawan. Cepat kakinya bergerak menyentuh lutut kanan lawan, dibarengi dengan tamparan jari tangan terbuka ke arah tengkuk.
Si rambut merah kembali terjungkal, kini roboh dan menyeringai kesakitan, kepalanya pening, pandang matanya berkunang-kunang dan dia melihat ribuan bintang beterbangan di sekelilingnya, dan kakinya yang kanan menjadi salah urat di bagian lutut sehingga dia tidak mampu bangun kembali.
Semua nelayan yang menyaksikan pertempuran ini dari tempat aman, melongo dan terheran-heran mengapa ada pemuda yang begitu berani menentang si rambut merah yang terkenal kuat dan pemberani itu. Bahkan raksasa rambut merah ini pernah dikeroyok oleh belasan orang nelayan pribumi tanpa merasa takut dan tidak kalah pula! Juga si rambut pirang bengong keheranan, hampir tidak percaya bahwa temannya yang cukup jagoan itu dikalahkan sedemikian mudahnya oleh si pemuda kecil lemah ini. Keheranannya berobah menjadi kemarahan besar ketika dia tahu bahwa temannya itu terluka cukup parah karena buktinya tidak mampu bangkit kembali. Dia lalu mencabut sebatang pisau belati, kemudian tanpa banyak cakap lagi dia menyerang Tio Sun dengan senjata pisaunya yang mengkilap. Melihat ini, para nelayan menjadi pucat wajahnya. Pemuda itu tentu akan tewas!
Akan tetapi tentu saja serangan pisau yang menyambar ke arah perutnya itu merupakan serangan yang tidak ada artinya bagi Tio Sun. Akan tetapi pemuda ini juga sama sekali tidak ada niat di hatinya untuk membunuh dua orang ini, karena dia masih menganggap bahwa kesalahan mereka itu hanya timbul karena mungkin terjadi salah pengertian belaka. Mungkin karena kurang pandai bicara atau belum begitu menguasai bahasa daerah, orang-orang asing ini salah menduga dan mengira gadis nelayan itu seorang perempuan pelacur yang boleh dipermainkan sesukanya asalkan dibayar! Dia sama sekali tidak tahu bahwa dalam keadaan mabok seperti itu, dua orang asing ini memang menganggap semua perempuan pribumi suka kepada mereka dan boleh mereka ajak bermain cinta dengan hadiah uang.
Karena tidak ingin membunuh, maka Tio Sun juga hanya mengelak dari sambaran pisau itu. Sampai lima kali dia terus mengelak sambil berkata, "Kau pergilah dan jangan ganggu wanita!"
Akan tetapi mana mungkin si rambut pirang yang sudah marah dan mabok itu mau menerima begitu saja? Dia menyerang makin ganas karena terbawa oleh rasa penasaran, betapa lawannya dapat mengelak dengan mudah, bahkan sambil menasihatinya! Pada saat itu, kelasi barat yang berambut merah sudah berhasil bangkit, terpincang-pincang dan meniup peluitnya. Terdengar bunyi peluit melengking nyaring berkali-kali dan para nelayan yang mendengar peluit ini menjadi terkejut. Mereka maklum apa artinya bunyi peluit ini. Kelasi asing itu memanggil kawan-kawannya dan mereka menjadi takut kalau-kalau terbawa-bawa, maka mereka lalu melarikan diri dari pantai itu untuk pergi melapor kepada yang berwajib agar pemuda itu tidak sampai dikeroyok dan mati secara mengerikan.
Tadinya Tio Sun tidak mengerti apa artinya tiupan peluit nyaring itu. Akan tetapi ketika dia melihat belasan orang asing datang berlarian ke tempat itu, dia mengerti bahwa itu tentulah teman-teman dua orang ini yang datang memenuhi panggilan suara peluit tadi. Marahlah hatinya dan dia berkata kepada dua orang itu, "Gadis itu dan ayahnya sudah pergi. Perlu apa ribut-ribut lagi? Mundurlah, kalian dan aku tidak akan memperpanjang urusan ini!"
Ucapan Tio Sun itu dianggap sebagai sikap ketakutan oleh dua orang asing itu, maka si rambut pirang memperhebat serangan pisaunya, dan si rambut merah terpincang-pincang memberi isyarat kepada kawan-kawannya agar lebih cepat datang.
"Keparat!" Tio Sun membentak dan pada saat pisau menyambar untuk ke sekian kalinya, dia hanya miringkan sedikit tubuhnya, pada saat pisau itu meluncur dekat dadanya dia cepat menggerakkan tangannya yang dimiringkan, membacok ke arah lengan yang memegang pisau itu.
"Dukkk... plak!" Pisau terpental dan pukulan ke arah lengan itu disusul tamparannya yang mengenai bawah telinga lawan. Si rambut pirang terpelanting dan mengaduh-aduh, kepalanya seperti pecah rasanya.
Pada saat itu, sebelas orang kulit putih lain yang merupakan anak buah dua orang kelasi jagoan ini, sudah tiba di situ dan tanpa banyak cakap lagi mengepung dan menyerang Tio Sun dari berbagi jurusan, dengan senjata macam-macam, besi pelindung kepalan, pisau dan rantai.
"Kalian orang-orang biadab yang jahat!" Tio Sun berseru dan kini pemuda ini mengamuk. Gerakannya tangkas dan cepat, membagi-bagi pukulan dan tendangan di antara mereka, sehingga ramailah pertempuran itu. Para pengeroyok itu jatuh bangun dan setiap kali kaki atau tangan Tio Sun bergerak pasti ada seorang pengeroyok yang terjungkal atau terpelanting, setidaknya terhuyung-huyung sambil mengaduh-aduh. Tidak ada yang tahu betapa sejak tadi ada sepasang mata jeli yang menonton pertempuran keroyokan itu dengan mata berseri-seri dan mulut mengeluarkan kekagumannya melihat ketangkasan Tio Sun. Mata jeli ini milik seorang dara muda yang memiliki kecantikan yang khas. Melihat pakaiannya, dia adalah seorang dara pribumi yang berkecukupan, akan tetapi kalau orang memperhatikan dia di tempat terang, tidak di tempat gelap seperti sekarang ini karena senja telah tua, orang akan melihat bahwa sepasang matanya lebar, tidak seperti dara wanita pribumi, dan warnanya kebiruan! Juga rambutnya tidaklah hitam seperti biasa, melainkan agak keemasan! Mata dan rambutnya seperti orang asing itu, akan tetapi bentuk tubuhnya seperti wanita pribumi, demikian pula pakaiannya! Karena inilah maka dia memiliki kecantikan yang khas dan aneh, memiliki daya tarik tersendiri, berbeda dari dara-dara umumnya.
Tio Sun yang mengamuk dengan sibuknya, juga karena waktu itu cuaca sudah mulai gelap, sama sekali tidak melihat betapa orang asing berambut merah tadi kini mengeluarkan sebuah benda mengkilap, yang dipegang dengan tangan kanannya, kemudian membidikkan benda itu ke arah pundak Tio Sun yang masih mengamuk diagan hebatnya, merobohkan semua pengeroyoknya dengan pukulan dan tendangan terukur agar tidak sampai membunuh orang.
Ketika dara yang menonton pertempuran itu dari tempat tersembunyi melihat si rambut merah mengeluarkan benda itu, dia kelihatan kaget sekali dan dengan gerakan cepat dia sudah mencabut sebatang hui-to (pisau terbang) yang bentuknya mungil dan dihias ronce-ronce merah, kemudian secepat kilat dia menggerakkan tangannya. Pisau kecil itu maluncur cepat, mengeluarkan suara berdesing dan tepat mengenai tangan si rambut merah yang memegang pistol dan sedang membidikkan pistol itu ke punggung Tio Sun.
"Crepp... auwww...!" Pistol itu terlepas dari tangan si rambut merah yang berteriak kesakitan karena pisau kecil beronce merah itu telah menancap di tangannya.
"Pedro...! Berani kau dan kaki tanganmu mengacau di sini, bahkan hendak menggunakan senjata api? Kalau aku menangkapmu dan mengajukanmu ke depan pengadilan, apakah kalian tidak akan celaka semua?"
Si rambut merah yang disebut Pedro oleh dara cantik itu makin terkejut. Dia menoleh, memandang kepada dara itu dan semua teman-temannya yang sudah jatuh bangun oleh hajaran Tio Sun juga terkejut. Mereka semua memandang kepada nona itu yang kini berdiri dengan tegak dan gagahnya bertolak pinggang dan memandang marah kepada si rambut merah.
"Maaf... nona De Gama... maafkan kami..." Pedro kini berkata sambil memegangi tangannya yang terluka.
"Kalian memang berani mati!" Nona itu menghardik lagi, sikapnya penuh wibawa dan kata-katanya seperti menusuk jantung tiga belas orang itu. "Sudah berapa kali kami memperingatkan pimpinanmu agar kalian tidak membikin ribut di sini, dan terutama tidak boleh mengganggu penduduk pribumi. Kembalikan pisauku!" bentaknya.
Sambil menggigit bibirnya Pedro mencabut pisau terbang yang menancap di tangan kanan itu dengan tangan kirinya, kemudian dia melangkah maju, menyerahkan pisau kecil itu, wajahnya masih merah karena mabok, akan tetapi pandang matanya penuh rasa jerih. Dara itu menerima kembali pisaunya, lalu berkata dengan sikap dingin dan memerintah, "Kalian pergilah!"
"Terima kasih, nona." Pedro membungkuk dengan hormat, mengambil pistolnya dan memberi isyarat kepada teman-temannya untuk pergi. Semua temannya juga memberi hormat kepada dara muda itu.
"Pedro, lain kali kalau engkau mendarat dengan membawa pistol, aku tidak akan mengampunimu lagi." Nona itu menyusulkan kata-kata ancaman.
Pedro membalik, lalu membungkuk, kemudian merekapun pergi menuju ke perahu-perahu yang mereka naiki dan mereka dayung ke tengah lautan di mana terdapat kapal mereka yang berlabuh.
Mereka berdiri saling berhadapan dan berusaha untuk meneliti wajah masing-masing menembus kesuraman cuaca hampir malam, Tio Sun memandang penuh kekaguman. Dara ini masih muda dan cantik sekali, akan tetapi mempunyai wibawa begitu besar dan sanggup mengusir belasan orang laki-laki kasar tadi dengan kata-kata dan ancaman saja, juga dia melihat hui-to yang tadi menancap di tangan si rambut merah dan biarpun dia tidak melihat cara gadis itu menyerang si rambut merah, namun dia maklum juga bahwa dara ini selain cantik jelita dan berpengaruh, juga tentu memiliki kepandaian tinggi. Di lain fihak, nona itupun memandang Tio Sun dengan kagum, menatap wajah yang membayangkan kesederhanaan, kejujuran dan kegagahan itu, wajah yang biarpun tidak dapat dikatakan tampan, namun juga tidak buruk dan cukup jantan.
Tio Sun yang masih memandang kagum, juga diam-diam dia terheran-heran. Nona ini adalah seorang gadis pribumi, akan tetapi tadi telah menggunakan bahasa orang asing, bahasa orang biadab itu ketika bercaka-cakap dengan mereka! Hal ini tentu saja menambah kekagumannya dan kini dia menjura dengan hormat sambil berkata, "Banyak terima kasih atas bantuan nona yang telah berhasil menyuruh mereka pergi sehingga keributan ini dapat dihentikan."
Dara itu tersenyum dan balas memberi hormat. "Engkau begini sopan dan ramah, taihiap (pendekar besar), sungguh mengherankan bagaimana dapat bentrok dengan mereka?"
Kembali Tio Sun terkejut. Ternyata gadis ini dapat bicara dalam bahasa daerah yang baik sekali! Hal ini membuktikan bahwa dia benar-benar berhadapan dengan seorang gadis pribumi, akan tetapi bagaimana tadi gadis ini dapat bicara dalam bahasa asing terhadap gerombolan orang kasar itu? Dia makin kagum akan kepintaran gadis ini, maka dia cepat menjawab, "Nona, sebetulnya tidak ada urusan pribadi antara saya dengan mereka. Saya sedang makan di warung sana ketika saya mendengar jerit seorang wanita. Saya cepat lari ke sini dan melihat seorang gadis nelayan sedang ditarik-tarik oleh dua orang di antara mereka tadi, yaitu yang berambut merah dan pirang tadi. Mereka agaknya sedang mabok, maka melihat gadis nelayan itu berteriak minta tolong dan mereka menggunakan kekerasan, saya lalu mencegah. Kemudian datang teman-teman mereka dan saya dikeroyok."
"Dan tikus-tikus itu akan mati semua sekiranya taihiap menghendaki. Betapa tidak tahu diri mereka itu!"
Tio Sun terkejut karena ucapan ini jelas menunjukkan betapa tajam pandang mata dara ini dan ini saja sudah jelas membuktikan bahwa dara ini tentu pandai ilmu silat sehingga tahu bahwa dia tadi melayani pengeroyokan mereka itu dengan menggunakan tenaga terukur agar jangan sampai kesalahan tangan membunuh mereka.
"Ah, nona terlalu memuji...!" katanya, akan tetapi dia sendiri merasa heran mengapa hatinya menjadi begini girang mendengar nona ini menyebutnya "taihiap" dan mengetahuia bahwa dia tadi tidak bersungguh-sungguh menghajar belasan orang itu? Biasanya, pujian-pujian baginya hanya akan menimbulkan perasaan muak karena sejak kecil dia sudah digembleng ayahnya sehingga dia menganggap pujian orang lain sebagai suatu hal yang amat berbahaya. Jangan mendengarkan pujian, demikian kata ayahnya, karena pujian itu merupakan racun yang dapat membuatmu menjadi tinggi hati dan sombong sehingga mengurangi kewaspadaan. Kini, nona ini memujinya dan baru pertama kali selama hidupnya dia merasa girang dan bangga!
"Saya tidak memuji hanya bicara tentang apa adanya. Taihiap berilmu tinggi dan sudah lama sekali saya ingin bertemu dengan seorang pendekar seperti taihiap yang banyak saya dengar dari cerita ibu saya. Menurut ibu, seorang pendekar sakti yang budiman seperti taihiap akan selalu siap membantu orang yang dilanda malapetaka, benarkah itu?"
Tio Sun merasa tidak enak juga mendengar dia dianggap sebagai seorang pendekar sakti yang budiman! Sudah terlampau berlebihan pujian ini! Akan tetapi karena sikap dara itu jujur dan tidak dibuat-buat, dia menjawab juga, "Nona, saya bukan seorang pendekar sakti budiman, akan tetapi sebagai seorang manusia, tentu saja saya selalu siap untuk menolong manusia lain yang dilanda malapetaka."
"Kalau begitu, harap taihiap sudi menolong saya yang sedang dilanda malapetaka dan menderita kegelisahan hebat ini!" Berkata demikian, nona itu tiba-tiba lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Tio Sun.
Tentu saja pemuda itu menjadi terkejut bukan main. "Ah, nona... Jangan berbuat demikian... tentu saja saya selalu siap sedia membantumu... harap jangan berlutut seperti ini." Tio Sun memegang kedua lengan yang kecil itu dan menarik nona itu untuk bangun, Akan tetapi alangkah kagetnya ketika dia mendapat kenyataan bahwa sedikitpun nona itu tidak dapat diangkatnya naik. Nona itu ternyata telah mengerahkan ilmu memberatkan tubuh!
"Saya tidak akan bangkit kalau taihiap belum berjanji akan menolong saya."
"Janji baru dapat diberikan kalau saya sudah mendengar urusannya, nona. Bagaimanapun juga saya hanya akan membantu fihak yang benar." Tio Sun yang maklum bahwa gadis ini sengaja hendak mengujinya, lalu mengerahkan sin-kangya. Gadis itu mempertahankan diri, akan tetapi Tio Sun adalah putera tunggal Ban-kin-kwi Tio Hok Gwan yang memiliki ilmu menghimpun tenaga selaksa kati yang amat hebat. Maka dara itu akhirnya tidak kuat bertahan dan tubuhnya dapat diangkat oleh Tio Sun. Akan tetapi, biarpun dengan dipegang kedua lengannya dia dapat diangkat, tetap saja dia dalam keadaan berlutut seolah-olah tubuhnya menjadi kaku seperti batu! Tio Sun terkejut dan kagum sekali. Tidak salah dugaannya bahwa nona ini memiliki kepandaian yang tinggi juga!
"Harap nona tidak sungkan-sungkan dan mari kita bicara," katanya sambil melepaskan kedua lengan itu. Nona itupun turun keadaan berdiri dan di dalam kegelapan malam itu dia memandang dengan wajah berseri penuh harapan.
"Di sini bukan tempat bicara. Marilah saya persilakan taihiap untuk singgah di rumahku dan di sana kita dapat berbicara dengan leluasa, dan saya akan menceritakan malapetaka apa yang menimpa diri saya."
Tio Sun mengangguk. Kalau seorang gadis yang memiliki kepandaian begini hebat, dan juga mempunyai pengaruh terhadap orang-orang kasar tadi sampai dapat dilanda malapetaka, tentulah telah terjadi hal yang amat hebat. Mereka lalu berangkat menuju ke rumah gadis itu, akan tetapi Tio Sun lebih dulu mengajak nona itu singgah di warung untuk membayar makanan yang tadi dipesannya dan yang belum dimakan sampai habis. Pemilik warung yang sudah mendengar akan perkelahian Tio Sun dikeroyok oleh banyak orang asing itu menyambut sambil membungkuk hormat, akan tetapi sikapnya menjadi makin menghormat ketika dia melihat nona itu datang bersama Tio Sun.
"Ah, kiranya Souw-siocia (nona Souw)... silakan duduk, nona..." kata pemilik warung dan dara itu mengucapkan terima kasih dan menanti di luar sampai Tio Sun selesai membayar harga makanan.
Diam-diam nona itu menjadi semakin kagum dan girang. Tidak salah lagi, pikirnya. Seperti inilah seorang pendekar budiman yang seringkali dia mendengar diceritakan oleh ibunya akan tetapi yang belum pernah dijumpainya.
Tio Sun di lain fihak tercengang ketika nona itu mengajaknya memasuki pekarangan sebuah bangunan yang besar dan megah.
"Inikah rumahmu, nona?" tanyanya dengan ragu-ragu.
Nona itu tersenyum. "Harap jangan perdulikan rumah, taihiap. Engkau datang untuk bicara dengan aku, bukan dengan rumah, bukan?"
Tio Sun mengangguk. Benar, mengapa dia ribut tentang keadaan nona ini? Apakah bedanya andaikata nona ini seorang miskin sekali ataukah seorang yang kaya raya? Mereka memasuki ruangan depan, disambut oleh dua orang pelayan wanita yang memberi hormat kepada nona majikan mereka dan kepada tamu itu. Dara itu mengajak Tio Sun memasuki sebuah ruangan besar, ruang tamu dan memerintahkan dua orang pelayannya untuk mempersiapkan hidangan.
"Ah, tidak perlu repot-repot, nona..." Tio Sun mencegah.
"Tidak repot, akan tetapi seharusnya. Bukankah taihiap sedang makan ketika taihiap mendengar wanita minta tolong? Nah, akupun belum makan malam maka sudah sepatutnya kalau saya mengajak taihiap makan malam bersama."
Mereka duduk berhadapan terhalang meja dan Tio Sun makin heran melihat sikap dara ini yang demikien terbuka dan polos, tidak malu-malu seperti kebanyakan gadis yang dijumpainya. Akan tetapi ketika dia memandang dan kini wajah gadis itu nampak jelas disinari lampu gantung di atas mereka, Tio Sun terkejut bukan main. Gadis itu cantik! Cantik bukan main, seperti gambar seorang bidadari! Akan tetapi matanya berwarna kebiruan dan rambutnya keemasan! Seorang gadis asing! Akan tetapi kulitnya yang kuning, tata rambutnya, pakaiannya, bicaranya adalah seratus prosen gadis pribumi. Hanya warna mata dan rambutnya! Dia memandang bengong!
"Eh, taihiap, engkau memandang apa?" Nona itu menegur ketika melihat Tio Sun terlongong seperti orang terkena pesona, senyumnya melebar dan di sebelah kiri mulutnya muncul lesung pipit yang manis sekali. Kini tampak jelas oleh Tio Sun betapa dara itu sebetulnya masih amat muda, akan tetapi agaknya memang mempunyai tubuh yang lebih besar daripada gadis-gadis biasa, karena biarpun tubuhnya yang padat itu seperti tubuh dara yang matang, namun wajahnya menunjukkan bahwa dia baru saja di ambang pintu kedewasaan, paling banyak tujuh belas tahun usianya.
"Maaf... eh, saya kira nona seorang gadis pribumi, akan tetapi..."
Nona itu menghela napas panjang. "Kaumaksudkan mataku biru dan rambutku agak keemasan?"
Lega hati Tio Sun dan dia mengangguk, karena rasanya amat tidak enak kalau dia yang harus mengatakan hal itu.
"Memang demikianlah" kata nona itu. "Kalau aku dikatakan gadis pribumi, hal itu benar, dan namaku adalah Souw Kwi Eng, akan tetapi kalau ada yang mengatakan bahwa aku seorang gedis asingpun, benar dan namaku adalah Maria de Gama. Ayahku seorang Portugis aseli akan tetapi ibuku seorang Tionghoa aseli pula."
"Aihh, kiranya begitukah...?" Tio Sun memandang dengan penuh kagum dan terheran-heran karena baru sekarang ini dia bertemu dengan seorang peranakan yang berdarah campuran. Namun harus diakuinya bahwa belum pernah dia melihat yang begini mempesonakan, begini cantik jelita, kecantikan yang khas dan amat menawan hatinya yang berdebar-debar.
"Akan tetapi ayahku bukanlah seperti orang-orang kasar yang mengeroyokmu tadi, taihiap. Ayahku adalah seorang terpelajar, yang di negaranya termasuk seorang ahli pedang yang disegani, dan di sini dahulu terkenal sebagai pemilik kapal dan juga kapten kapal. Adapun ibuku juga seorang pendekar wanita yang terkenal, karena ibuku adalah murid Panglima The Hoo yang terkenal itu. Ayah bernama Yuan de Gama, maka aku memakai nama Maria de Gama, sedangkan ibuku she Souw, maka akupun memakai nama keturunan Souw."
Tio Sun kelihatan terkejut bukan main mendengar nama-nama itu. Dia pernah mendengar penuturan ayahnya tentang nama-nama itu.
Nona... apakah ibumu bernama Souw Li Hwa...?"
Wajah nona yang cantik itu berseri gembira. "Kau telah mengenal ibuku?"
Tio Sun menggeleng kepala. "Aku hanya mendengar dari ayah. Ketahuilah nona, bahwa ayahku bernama Tio Hok Gwan dan ayah adalah bekas pengawal setia dari mendiang Panglima Besar The Hoo, oleh karena itu ayah tentu saja mengenali murid beliau, yaitu ibumu yang bernama, Souw Li Hwa. Akan tetapi..." Dia memandang wajah yang cantik jelita itu dengan alis berkerut karena dia merasa sangsi, bahkan agak curiga memandang nona itu.
"Akan tetapi apakah, taihiap?"
"Menurut cerita ayahku, pendekar wanita Souw Li Hwa telah tewas, tenggelam bersama Yuan de Gama di atas kapal... bagaimana mungkin sekarang muncul seorang puterinya...?"
"Memang begitulah yang diketahui oleh semua orang, akan tetapi ada rahasia di balik semua itu, taihiap. Sebetulnya ayah merahasiakan keadaan kami ini, akan tetapi karena sekarang aku menghadapi malapetaka dan membutuhkan bantuanmu, apalagi setelah aku mengetahui bahwa engkau adalah putera seorang pengawal setia dari mendiang The-sucouw (kakek guru The), biarlah aku menceritakannya kepadamu."
Dara itu lalu bercerita yang didengarkan oleh Tio Sun dengan penuh perhatian dan kekaguman. Tentu saja pembaca cerita "Petualang Asmara" juga terheran-heran mendengar pengakuan nona peranakan yang bernama Maria de Gama alias Souw Kwi Eng itu, karena para pembaca tentu masih ingat betapa Souw Li Hwa, pendekar wanita perkasa murid Perdana Menteri The Hoo telah tewas bersama pemuda asing yang dicintainya, yaitu Yuan de Gama. Oleh karena itu, mari kita mendengarkan penuturan nona cantik yang mengaku sebagai puteri Souw Li Hwa itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar