10 Pendekar Sakti

"Song-ciangkun…..apakah…..apakah dia setan penjaga dapur?" Tukang masak itu bertanya.

Song Cin mengangguk. "Betul, dan kau tidak boleh mengganggunya kalau kau sayang nyawamu."

Mendengar ini, tukang masak itu cepat-cepat pergi dan tanpa mencuci tangan lagi, ia lalu merayap ke bawah selimut di dalam kamarnya! Adapun Song Cin sudah merasa yakin bahwa orang yang mengganggu dapur tentulah Ang-bin Sin-kai. Sudah beberapa kali kakek aneh itu menyerbu dapur dan dia tahu bahwa dia sendiri beserta semua anak buahnya bukanlah lawan bagi Ang-bin Sin-kai. Oleh karena itu, dia langsung menuju ke kamar makan kaisar.

Kaisar tengah duduk makan minum dengan beberapa selirnya dan tidak seperti biasanya, pada waktu itu kaisar tengah menjamu dua orang yang berpakaian seperti panglima perang besar. Dua orang ini berpakaian seperti panglima perang suku Tajik, sebuah kerajaan yang pada masa itu menjadi besar dan kuat di samping Kerajaan Tibet.

Song Cin tahu siapa adanya dua orang panglima ini, karena sore tadi dia sendiri yang menerima mereka dan menghadapkan mereka kepada kaisar. Dua orang panglimapanglima besar dari Kerajaan Tajik yang datang membawa surat dari Panglima An Lu Shan.

Sudah lama bangsa Tajik mengadakan penyerbuanpenyerbuan ke selatan dan kekuatan mereka memang besar sekali. Akan tetapi tiba-tiba setelah An Lu Shan diangkat menjadi panglima di utara oleh kaisar, serbuan-serbuan ini mengecil dan akhirnya, pada hari itu, dua orang panglima bangsa Tajik datang menghadap kaisar membawa surat dari An Lu Shan yang memberi laporan kepada kaisar bahwa bangsa Tajik kini telah menyatakan damai! Dua orang panglima Tajik itu merupakan utusan dari bangsa Tajik untuk memberi penghormatan kepada kaisar.

Tentu saja kabar girang ini diterima oleh Kaisar Hian Tiong dengan gembira sekali. Ia menganggap ini sebagai jasa besar dari An Lu Shan dan untuk menyatakan kegembiraannya, dia mengundang makan malam dua orang panglima besar Tajik ini. Oleh karena sedang berpesta gembira tentu saja kaisar mengerutkan kening tanda tidak senang ketika Song Cin datang mengganggunya tanpa dipanggil.

"Song-ciangkun," kata kaisar dengan suara tak senang,

"apa keperluanmu menghadap tanpa dipanggil?"

"Mohon beribu ampun kalau hamba mengganggu kesenangan Baginda dan tamu agung," kata Song-ciangkun dengan sikap merendah, "akan tetapi hamba terpaksa melaporkan karena pada saat ini, kembali dapur istana didatangi Ang-bin Sin-kai. Menunggu keputusan Baginda!"

Berubah air muka baginda kaisar mendengar laporan ini.

Sungguh aneh, biarpun Song Cin dan kaisar tidak melihatnya, namun muka kedua orang tamu agung Panglima Tajik itu juga berubah dan nampak saling menukar pandang, nampaknya terkejut sekali. Namun kaisar dapat menentramkan hatinya lagi dan tiba-tiba tertawa.

"Bagus! Orang aneh itu menambahkan kegembiraan kami! Song-ciangkun, undang dia baik-baik untuk menemani kami minum arak!"

Song Cin tidak heran mendengar ini, karena memang kaisar mengagumi Ang-bin Sin-kai yang sebetulnya masih kakak dari menteri setia Lu Pin. Akan tetapi dua orang tamu Tajik itu benar-benar nampak terkejut sekali. Setelah memberi hormat, Song-ciangkun lalu mengundurkan diri dan berlari menuju ke dapur istana.

Song Cin mengetuk pintu dapur dan berkata keras,

"Ang-bin Sin-kai Locianpwe, siauwte Song Cin mohon bertemu, membawa perintah hong-siang (raja)!"

"masuklah, Song-ciangkun."

Song Cin masuk dan dia melihat kakek aneh itu masih duduk menghadapi meja sambil minum arak. Cepat dia memberi hormat dan berkata,

"Siauwte membawa titah hong-siang mengundang Locianpwe untuk menemui baginda minum arak."

Ang-bin Sin-kai tertegun, kemudian tertawa bergelak.

"Bagus, memang masakan di sini kurang lengkap. Baik aku pergi menghadap baginda!" Sehabis berkata demikian, tubuhnya berkelebat dan Song Cin hanya merasa angin menyambar dan bayangan berkelebat di sisinya, dan kakek itu telah lenyap! Ia menghela napas dan mengagumi kelihaian kakek itu, kemudian melakukan penjagaan seperti biasa.

Ketika melihat Ang-bin Sin-kai muncul di ambang pintu, baginda kaisar melambaikan tangan sambil tersenyum.

"Mari, mari, Lu-koai-hiap (pendekar aneh she Lu), kau duduklah di sini bersama kami."

Ang-bin Sin-kai menjura tanda menghormat. "Terima kasih, sungguh merupakan kehormatan besar sekali bahwa Baginda yang mulia sudi mengundang hamba." Ia tanpa ragu-ragu lagi lalu bertindak maju dan menduduki sebuah bangku kosong, berhadapan dengan dua orang tamu itu.

Sepasang matanya memandang tajam sekali sehingga dua orang Tajik itu merasa tidak enak sekali.

"Ha-ha-ha, Jiwi Ciangkun. Perkenalkanlah, ini adalah orang aneh dari timur, di sebut Ang-bin Sin-kai. Dan Lukoai- hiap, dua orang tamu ini adalah panglima-panglima Tajik yang mewakili pemerintahannya menyatakan perdamaian dengan negeri kita."

Ang-bin Sin-kai menerima perkenalan ini dengan sikap dingin saja, kemudian tanpa sungkan-sungkan lagi dia mempergunakan sumpitnya yang panjang untuk menjangkau mangkok-mangkok masakan yang paling enak.

Baginda Kaisar tertawa melihat ini dan memberi isyarat kepada pelayan untuk menambah arak.

Biarpun nampaknya bersikap acuh tak acuh, namun diam-diam Ang-bin Sin-kai memperhatikan gerak-gerik dua orang tamu, panglima-panglima yang bertubuh tinggi besar itu. Tiba-tiba mukanya berubah pucat dan perhatiannya tercurah kepada tangan-tangan kedua orang tamu itu yang memegang sumpit.

Pada saat mereka telah minum kosong cawan arak dan baginda nampak gembira sekali, seorang di antara dua tamu itu mengambil guci arak dengan tangan kanan dan mengisi cawan kosong baginda kaisar. Kemudian dia pun memenuhi cawan Ang-bin Sin-kai dan cawannya sendiri dengan kawannya.

Hamba menyuguhkan secawan arak untuk keselamatan kaisar. Hidup Baginda Kaisar, semoga panjang usianya!" katanya sambil mengangkat cawan araknya. Kaisar Hian Tiong tertawa dan mengangkat cawan araknya, akan tetapi sebelum dia meneguk araknya, tiba-tiba tangan Ang-bin Sin-kai bergerak dan cawan itu terlempar dari tangan baginda!

"Lu-koai-hiap…..!" kaisar menegur marah akan tetapi Ang-bin Sin-kai memandang kepada penyuguh arak itu dengan marah sekali.

"Kalian bukan orang Tajik! Kalian jahanam-jahanam pembunuh, hayo mengaku siapa kalian!" Ang-bin Sin-kai berdiri dan sikapnya mengancam sekali.

Kaisar Hian Tiong pucat dan mengira bahwa pengemis sakti itu sudah menjadi mabuk. Selagi dia hendak menegur, tiba-tiba dua orang tamunya itu menggerakkan tangan dan berkeredepan benda-benda menyambar ke arah kaisar dan Ang-bin Sin-kai. Benda-benda ini adalah pisau-pisau mengkilat, semacam senjata rahasia yang tajam, runcing dan dilemparkan dengan tenaga kuat sekali.

Kaisar memekik kaget dan hendak membuang diri ke belakang untuk mengelak, akan tetapi Ang-bin Sin-kai sudah mendahuluinya, menggerakkan sepasang sumpitnya mengibas, maka runtuhlah empat buah pisau yang menyambar baginda. Adapun empat buah lagi yang menyambar ke arah Ang-bin Sin-kai, dipukul runtuh dengan tangan kirinya!

"Celaka…..!" Seorang di antara dua orang Tajik itu mengeluh, akan tetapi pada saat itu Ang-bin Sin-kai telah melompat dan tubuhnya menyambar ke arah penyuguh arak dengan sepasang sumpit menusuk matanya! Panglima Tajik itu cepat mengelak, akan tetapi sumpit di tangan Ang-bin Sin-kai seakan-akan bermata, karena sumpit itu mengejar terus dan akhirnya terdengar jerit mengerikan ketika sepasang sumpit daging itu menancap pada mata panglima yang tadi menyuguhkan arak kepada kaisar! Tubuhnya terguling dan dia berkelojotan. Tiba-tiba menyambar pisau-pisau terbang dan kali ini pisau-pisau itu mengenai tubuh orang yang sudah terluka matanya ini, menancap di ulu hati dan leher sehingga orang itu seketika tewas tanpa dapat bersambat lagi.

Orang Tajik ke dua itulah yang melepas pisau membunuh kawannya sendiri dan kini tubuhnya berkelebat lari ke arah pintu.

"Bangsat hina, hendak lari ke mana?" Ang-bin Sin-kai melompat mengejar akan tetapi penjahat itu gerakannya benar-benar cepat sekali sehingga sebentar saja dia telah melompat ke atas genteng. Namun, mana Ang-bin Sin-kai mau memberi hati kepadanya? Kakek sakti ini pun melompat dan mengejar terus dengan kecepatan melebihi anak panah.

Kaisar Hian Tiong menepuk tangan memberi tanda kepada para penjaga dan ramailah keadaan di situ tak lama kemudian, ruangan itu penuh dengan para penjaga dan pengawal kaisar. Song Cin mengepalai para penjaga untuk melakukan pengejaran pula dan dia sendiri lalu melompat ke atas genteng mengejar Ang-bin Sin-kai yang masih berlari-lari menyusul tamu Tajik tadi.

"Bangsat pengkhianat, kau hendak lari kemana?" Angbin Sin-kai berseru keras, tangan kanannya menjangkau ke depan hendak mencekik tengkuk penjahat. Karena merasa tiada gunanya melarikan diri dari kakek sakti itu, penjahat ini tiba-tiba membalikkan tubuhnya dan kedua tangannya terayun, delapan buah pisau terbang menyambar kepada Ang-bin Sin-kai. Boleh jadi kepandaiannya melempar pisau terbang itu untuk orang lain amat berbahaya, akan tetapi terhadap Ang-bin Sin-kai, serangan ini tiada bedanya dengan permainan kanak-kanak belaka. Dengan menggerakkan kedua tangannya, delapan pisau itu telah tertangkap semua oleh Ang-bin Sin-kai! Penjahat itu terbelalak memandang kehebatan lawannya ini dan dia lalu berlaku nekat. Ketika Ang-bin Sin-kai menubruk, tubuh penjahat itu tanpa sebab telah terpelanting jatuh dan menggelundung di atas genteng. Ang-bin Sin-kai merasa heran dan cepat menyambar tubuh orang yang akan jatuh ke bawah itu, karena dia ingin menangkapnya hiduphidup untuk ditanyai keterangan. Akan tetapi ternyata bahwa orang itu telah mati dengan sebatang pisau menancap di ulu hatinya! Melihat kedatangan Song Cin, Ang-bin Sin-kai lalu melemparkan tubuh penjahat yang sudah menjadi mayat itu kepada kepala penjaga ini, kemudian dia berlari kembali ke ruang makan. Ternyata bahwa penjahat yang pertama juga sudah mati.

"Lu-koai-siap, bagaimana kau bisa tahu bahwa mereka bukan orang Tajik dan mereka mengandung maksud tidak baik kepada kami?" tanya kaisar kepada Ang-bin Sin-kai.

Kakek ini tersenyum. "Mudah saja. Ketika tadi hamba makan bersama mereka, hamba melihat cara mereka memegang sumpit tidak seperti kebiasaan orang-orang Tajik yang hamba ketahui baik-baik. Sumpit ke dua mereka pegang antara ibu jari dan telunjuk seperti cara kita, sedangkan kebiasaan orang-orang Tajik memegang sumpit ke dua di antara telunjuk dan jari tengah. Kemudian, ketika penyuguh arak tadi menuangkan arak dari guci ke cawan Paduka, hamba ada melihat dia melepaskan bubuk putih secara pandai dan tidak kentara, maka tahulah hamba bahwa dia mencampuri racun ke dalam arak itu dan hamba segera bertindak mencegah Paduka meminumnya."

Kaisar mengangguk-angguk. "Sungguh heran sekali mengapa mereka bisa membawa surat dari An-ciangkun!"

"Hm, kalau hamba yang mengurus perkara ini, akan hamba selidiki keadaan An Lu Shan itu! Paduka terlampau banyak mencari hiburan dan kesenangan sehingga lalai memperhatikan keadaan para petugas. Juga kematian selir Paduka belum lama ini, adalah akibat dari kelalaian Paduka sendiri. Maafkan kelancangan hamba ini, akan tetapi hamba hanya mau membuka mulut bukan semata untuk mencela, melainkan demi kebaikan Paduka dan negara! Sekarang ijinkanlah hamba pergi!" Tanpa menanti ijin dari kaisar, Ang-bin Sin-kai berkelebat dan lenyap dari situ.

Akan tetapi pada keesokan harinya, datang serombongan perwira utusan An Lu Shan yang menyatakan bahwa cap kebesaran An Lu Shan telah tercuri orang dan bahwa kini panglima itu minta cap baru dari kaisar. Pemberitahuan ini dilakukan karena khawatir kalau-kalau cap yang lenyap itu disalahgunakan oleh orang lain! Dengan adanya pemberitahuan ini, lenyaplah semua kecurigaan kaisar terhadap diri An Lu Shan dan inilah kesalahan kaisar.

Kalau saja dia menyuruh orang menyelidiki lebih teliti, tentu akan diketahuinya bahwa memang diam-diam An Lu Shan mempunyai cita-cita memberontak dan dua orang yang mengaku sebagai perwira-perwira Tajik itu sebenarnya adalah kaki tangannya yang diberi tugas untuk membunuh kaisar!

***

Kita ikuti perjalanan Lu Kwan Cu, bocah gundul yang diculik Kiu-bwe Coa-li. Biarpun dia merasa dongkol sekali atas perbuatan Kiu-bwe Coa-li terhadap dirinya namun berada di dekat Sui Ceng yang bicara dengan lucu dan menghibur dengan kata-kata membesarkan hati, Kwan Cu berlaku tenang dan mulai memutar otaknya. Ia dapat menduga apa maksud wanita sakti itu menculiknya. Tentu ada hubungannya dengan kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng, pikirnya. Kalau tidak untuk kitab itu, apa perlunya Kiu-bwe Coa-li menculiknya.

Tak lama kemudian setelah Bun Sui Ceng menggendong dan meletakkannya di pinggir hutan, datanglah Kiu-bwe Coa-li dan sekali menepukkan tangannya ke pundak Kwan Cu, bocah gundul ini terbebas dari totokannya. Diam-diam Kiu-bwe Coa-li memuji anak ini, karena begitu terbebas, Kwan Cu sudah lantas melompat berdiri, seakan-akan tak terpengaruh sama sekali oleh bekas totokannya itu.

Padahal, untuk orang biasa, kalau habis mengalami pengaruh totokannya, tentu sampai beberapa lama akan menjadi kaku tubuhnya dan setelah digerak-gerakkan beberapa kali baru dapat bergerak seperti biasa. Akan tetapi anak ini begitu terbebas, lantas saja melompat berdiri.

"Suthai, kau benar-benar keterlaluan sekali!" Dengan mata bersinar marah Kwan Cu menegur Kiu-bwe Coa-li!

"Kalau ada keperluan dengan aku, mengapa tidak bertanya dengan baik-baik saja? Akan tetapi kau tiba-tiba menyerang dan menculik, apakah perbuatan ini boleh dibuat bangga?"

Untuk sejenak Kiu-bwe Coa-li memandang bengong.

Belum pernah ada orang berani menegurnya seperti itu! Kemudian timbul marahnya.

"Anak setan, kau berani menegurku?" Tangan kirinya bergerak dan ujung lengan bajunya yang panjang menyambar ke arah pipi Kwan Cu.

"Plak!" Kwan Cu merasa seakan-akan kepalanya disambar petir dan dia roboh berguling-guling, kemudian dia melompat dengan berdiri pula dengan tegak, sedikit pun tidak takut. Juga rasa sakit tadi hanya di pipi saja dan sekarang tidak terasa lagi.

"Kiu-bwe Coa-li, nama besar yang sering kali kudengar dipuji-puji oleh semua orang gagah di dunia kang-ouw.

Akan tetapi, belum pernah aku mendengar bahwa tokoh besar ini hanya mempunyai kesukaan memukul anak kecil yang tak mampu melawan!"

Mendengar ucapan ini, Kiu-bwe Coa-li menjadi merah dan sepasang matanya memancar sinar yang aneh sekali.

Memang benar-benar hebat sekali keberanian Kwan Cu, tidak saja menegur, bahkan kini dia mencela tokoh besar yang ditakuti oleh semua orang gagah di dunia kang-ouw ini!

"Bocah setan penipu busuk!" Kiu-bwe Coa-li memaki sambil melompat maju, kedua tangannya menggigil dalam nafsunya hendak menghancurkan mulut kecil yang berani mencelanya itu. "Tidak kuhancurkan kepalamu juga sudah untung kau! Kau telah berani menipuku kemudian menegur, dan sekarang mencela! Berapa banyak sih cadangan nyawamu maka berani main gila memutar lidah?"

Pecut di tangan Kiu-bwe Coa-li menggigil dan Sui Ceng memandang dengan khawatir sekali. Gurunya ini memang baik, akan tetapi kalau sudah marah agaknya tidak ada iblis yang dapat melebihi keganasannya! Maka ia tahu bahwa kali ini nyawa Kwan Cu takkan tertolong lagi. Cepat ia melompat maju ke depan gurunya dan berkata,

"Suthai, harap jangan bunuh Kwan Cu. Teecu kasihan kepadanya, lagi pula, kalau dia mati, siapa yang akan dapat menunjukkan di mana adanya Im-yang Bu-tek Cin-keng?"

Mendengar ini, cambuk yang sudah diangkat tadi turun kembali dan Sui Ceng bernapas lega. Akan tetapi, alangkah kagetnya anak perempuan ini ketika tiba-tiba dia mendengar isak tangis dan ternyata bahwa Kwan Cu telah duduk di atas tanah sambil menutup mukanya, menangis! Tentu saja Kiu-bwe Coa-li menjadi terheran, bahkan Sui Ceng sendiri pun merasa heran sekali atas sikap Kwan Cu.

Dipukul, dimaki, dihina tidak pernah meruntuhkan air mata, sekarang tiada hujan tiada angin menangis sedih! Memang hal ini aneh sekali, karena tidak biasanya Kwan Cu menangis. Anak ini berhati keras dan berani, bersemangat baja sehingga baginya merupakan pantangan untuk mengeluarkan air mata apalagi air mata karena takut atau bingung. Akan tetapi, pada saat itu, hatinya merasa amat terharu dan berduka.

Kwan Cu masih merasakan kasih sayang yang diberikan oleh Loan Eng kepadanya, dan kepada nyonya itu dia sudah menganggap seperti ibunya sendiri. Tadinya dia pun sudah merasa hancur hatinya mendengar betapa Pek-cilan Thio Loan Eng dan suaminya terbunuh orang, akan tetapi dia masih dapat menahan kedukaan hatinya. Kini, tiba-tiba dia melihat Sui Ceng bersikap membela dan berkasihan kepadanya, maka tak dapat ditahan lagi Kwan Cu teringat akan kebaikan dan cinta kasih ibu anak ini terhadap dia dan keharuan besar karena sikap manis Sui Ceng membuat dia terisak-isak! Sui Ceng menjadi gelisah sekali dan bingung melihat bocah gundul itu menangis begitu sedihnya. Ia khawatir kalau-kalau pukulan tangan gurunya tadi telah membuat otak Kwan Cu menjadi rusak dan atau miring! Ia cukup maklum akan keganasan dan kehebatan tangan gurunya kalau memukul. Sui Cneg maju mendekat dan mengulurkan tangan untuk meraba kepala Kwan Cu yang gundul, untuk melihat apakah kepala itu panas. Ternyata tidak terasa panas dan tidak apa-apa!

"Sui Ceng, apa kau mengira bocah ini gila?" Kiu-be Coali berkata dan hampir tak dapat menahan senyumnya saking geli melihat perbuatan Sui Ceng. Akan tetapi Sui Ceng seperti tidak mendengar ucapan gurunya, bahkan lalu bertanya kepada Kwan Cu dengan suara halus,

"Kwan Cu, apamukah yang sakit? Mengapa kau menangis begitu sedih? Sudahlah, Kwan Cu, untuk apa menangis terus? Hidup sesungguhnya dipikir-pikir tidak begitu menyedihkan!" anak perempuan yang masih kecil ini dalam usahanya menghibur Kwan Cu, mengeluarkan katakata yang lucu.

Mendengar ini, Kwan Cu mengangkat mukanya.

Dengan kekerasan hatinya dia telah dapat menahan air matanya dan kini dia berkata perlahan,

"Sui Ceng, aku tidak menyedihkan sesuatu, hanya merasa sakit hatiku kalau teringat akan kematian ibumu.

Aku harus membalas dendamnya, biar aku akan berkorban nyawaku yang tak berharga!"

Ketika mendengar ucapan Kwan Cu ini, tiba-tiba Sui Ceng mengeluh dan anak perempuan inilah yang sekarang menangis sedih, tersedu-sedu menutupi muka dengan kedua tangannya! Sekarang Kwan Cu yang memegang pundaknya dan menghibur, seperti seorang kakak kepada adiknya.

"Siauw-pangcu, jangan menangis. Tak pantas seorang ketua perkumpulan besar seperti engkau meruntuhkan air mata!" kata Kwan Cu.

Seketika keringlah air mata di mata Sui Ceng yang bening. Ia memandang Kwan Cu dan kini wajahnya berseri.

"Kau benar! Aku harus seperti mendiang ayahku. Aku akan menahan derita ini dengan tabah dan sebagai seorang Siauw-pangcu (ketua cilik), aku tak boleh menangis. Akan tetapi, bukan kau yang berhak membalaskan sakit hati ibuku, Kwan Cu. Kedua tanganku sendiri yang akan menghancurkan kepala Toat-beng Hui-houw!" Setelah berkata demikian, Sui Ceng bangkit berdiri sambil mengepalkan kedua tangannya yang kecil.

"Cukup semua itu, Sui Ceng! Apa sih sukarnya mencari dan membunuh Toat-beng Hui-houw? Jangan bersikap lemah seperti bukan muridku saja! Hayo lekas kauceritakan, Kwan Cu. Di mana adanya kitab aseli Im-yang Bu-tek Cinkeng? Awas, jangan kau membohong, karena sekali kau membohong, kepalamu akan hancur oleh cambukku dan pinni tak mau mengampunimu lagi, biarpun Sui Ceng sayang kepadamu."

Mendengar disebutnya tentang Sui Ceng sayang kepadanya, Kwan Cu menoleh kepada anak perempuan itu dan berkata mesra dan wajah berseri lalu menganggukanggukkan kepala yang gundul,

"Sui Ceng memang manis dan baik sekali, seperti ibunya….."

"Bocah gundul jangan nyeleweng. Jawab pertanyaanku!" bentak Kiu-bwe Coa-li tidak sabar.

Kwan Cu memandang kepada wanita sakti itu, sama sekali tidak nampak takut.

Sambil menahan kegemasannya, Kiu-bwe Coa-li berkata,

"Di mana adanya kitab aseli Im-yang Bu-tek Cin-keng?"

"Kalau begitu pertanyaan Suthai, teecu tidak bisa menjawab karena memang teecu sendiri tidak tahu di mana adanya kitab aseli Im-yang Bu-tek Cin-keng." Suara anak ini terdengar tegas, sepasang matanya memandang jujur dan tabah, maka kecillah hati Kiu-bwe Coa-li. Tadinya dia mengharapkan akan mendengar petunjuk anak gundul itu untuk mendapatkan kitab pelajaran ilmu silat yang diidamidamkannya semenjak lama sekali. Akan tetapi mendengar jawaban Kwan Cu, ia tahu bahwa anak ini tidak membohong dan kecewalah hatinya.

Setalah menentang pandang mata anak gundul itu seketika lamanya, Kiu-bwe Coa-li berkata,

"Aku mau percaya omonganmu. Akan tetapi, kau dan gurumu mencari apakah di Bukit Liang-san?"

Tertegunlah Kwan Cu mendengar pertanyaan ini.

"Eh, eh, eh, bagaimana Suthai dapat saja mengerti dan tahu akan segala gerakan teecu dan suhu? Apakah Suthai selama ini mengikuti kami dan diam-diam menyelidiki segala kelakuan kami?"

Sepasang mata Kiu-bwe Coa-li bernyala lagi dan tangannya sudah gatal-gatal untuk menampar kepala gundul yang bicaranya selalu menusuk dan mengganggu hatinya itu.

"Kwan Cu, jawablah sebenarnya saja kepada Suthai,"

Sui Ceng memberi nasihat karena gadis cilik ini merasa khawatir kalau-kalau gurunya akan marah dan menyiksa Kwan Cu lagi.

Senang hati Kwan Cu mendengar kata-kata Sui Ceng ini.

Betapapun juga di dunia ini masih ada orang-orang yang menaruh hati kasihan kepadanya. Ia lalu memandang sepasang matanya yang lebar kepada Kiu-bwe Coa-li dan berkata.

"Suthai, agaknya tak perlu pula kusembunyikan lebih lama lagi. Pertama-tama karena Suthai amat bernafsu untuk mendapatkan tempat di mana disimpannya kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng dan kedua karena agaknya teecu memang tidak bernasib baik untuk mendapatkan kitab itu.

Ketahuilah bahwa teecu mengajak suhu ke Liang-san, karena teecu hendak mencari kitab sejarah peninggalan guru teecu mendiang Gui-siucai. Kitab sejarah itu ternyata telah dicuri orang!"

"Hm, jangan bicara kacau-balau! Apa perlunya kau menceritakan tentang kitab sejarah? Apa hubungannya dengan kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng?"

"Sesungguhnya, kalau orang hendak mencari di mana adanya kitab rahasia yang diperebutkan itu, orang harus membaca kitab sejarah peninggalan Gui-siucai, karena di situ terdapat petunjuk-petunjuk tentang Im-yang Bu-tek Cin-keng."

Kiu-bwe Coa-li nampak bernafsu lagi. "Begitukah? Siapa yang telah mencuri kitab sejarah itu? Hayo katakan cepat!"

"Hal ini teecu dan suhu sedang menyelidiki pula.

Menurut penuturan orang dusun di lereng Liang-san, yang datang adalah hwesio gundul gemuk sekali bersama muridnya, dan teecu sendiri ketika berada di lereng, juga melihat bayangan mereka. Agaknya, tidak salah lagi yang mencuri itu tentulah Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu bersama muridnya. Kalau bukan mereka, siapa lagi?"

Kiu-bwe Coa-li menyumpah-nyumpah. "Keparat gundul!"

"Eh, mengapa Suthai memaki teecu? Apa salahku?"

"Tolol! Bukan kau yang kumaki. Melainkan Jeng-kinjiu!"

Sui Ceng tertawa. "Kwan Cu, kau kira di dunia ini hanya kau sendiri yang gundul?" Memang Sui Ceng mempunyai watak jenaka, di mana saja ada kesempatan, dia selalu memperlihatkan wataknya ini. Kwan Cu juga tersenyum mendengar godaan ini.

"Kwan Cu, sekali lagi jelaskan, benar-benarkah di dalam kitab sejarah itu adanya petunjuk-petunjuk tentang tempat tersimpannya Im-yang Bu-tek Cin-keng? Kau tidak bohong?" tanya Kiu-bwe Coa-li, sekarang suaranya tidak begitu galak lagi.

"Teecu bersumpah bahwa demikianlah yang teecu dengar dari mendiang Gui-sianseng. Betul tidaknya, bagaimana teecu bisa memastikannya kalau teecu sendiri belum pernah melihat kitab sejarah itu? Sebelum Guisianseng meninggal dunia, dia pernah meninggalkan pesan kepada teecu untuk mencari kitab itu dan kemudian menurut petunjuk ini mencari tempat disimpannya kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng. Akan tetapi, sekarang teecu tidak bernafsu lagi untuk mendapatkan kitab aneh itu."

"Mengapa?" Kiu-bwe Coa-li memandang tajam.

"Karena menurut mendiang Gui-sianseng, Im-yang Butek Cin-keng disimpan di sebuah pulau kosong yang sukar sekali didatangi orang. Sekarang orang-orang gagah di seluruh dunia yang berkepandaian tinggi seperti Suthai sendiri dan yang lain-lain, sudah turun tangan memperebutkan kitab itu. Bagaimana seorang bodoh seperti teecu ada harapan? Tidak, teecu tidak begitu bodoh untuk membuang waktu memperebutkan kitab yang belum tentu berguna bagi teecu sendiri."

"Bagus, memang sebaiknya kau jangan membuang nyawamu untuk mencarinya. Lebih baik kau membantu aku mencarinya. Hayo kita menyusul si gundul Jeng-kin-jiu ke kota raja!"

Demikianlah Kiu-bwe Coa-li membawa Kwan Cu dan Sui Ceng menuju ke kota raja. Akan tetapi karena wanita sakti ini maklum bahwa Ang-bin Sin-kai tentu takkan tinggal diam dan tentu berusaha mencari muridnya, maka ia mengambil jalan memutar melalui hutan-hutan besar agar jangan sampai bertemu dengan Ang-bin Sin-kai. Bukan sekali-kali Kiu-bwe Coa-li takut menghadapi pengemis sakti itu, melainkan ia tidak ingin usahanya mencari kitab Imyang Bu-tek Cin-keng terganggu. Kalau ia sudah mendapatkan kitab itu, ia takkan peduli siapapun juga akan mengganggunya. Ia sedang mencari kitab sejarah yang menurut Kwan Cu dicuri oleh Jeng-kin-jiu. Sedangkan menghadapi Jeng-kin-jiu seorang pun sudah merupakan hal yang tidak boleh dipandang ringan, apalagi kalau harus ditambah gangguan dari Ang-bin Sin-kai! Karena itulah maka biarpun Ang-bin Sin-kai melakukan perjalanan cepat, pengemis sakti ini tidak bertemu dengan muridnya yang diculik oleh Kiu-bwe Coa-li.

Pada suatu hari, Kiu-bwe Coa-li mengajak dua orang anak itu berhenti di sebuah hutan yang luas. Kiu-bwe Coa-li adalah seorang wanita sakti yang memiliki kesenangan aneh sekali, yakni mancing ikan! Dan di dalam hutan itu terdapat sebuah telaga, terdengar suara air bercipakan dan nampak perut-perut ikan mengkilap ketika ikan-ikan itu bercanda dan timbul di permukaan air. Melihat ini, tak dapat ditahan lagi keinginan Kiu-bwe Coa-li untuk memancing! Kesenangan ini bukan karena Kiu-bwe Coa-li terlalu doyan makan daging ikan, sama sekali bukan. Ia senang memancing karena kesenangan atau kenikmatan yang hanya dapat dirasa oleh para pemancing ikan, yakni kesenangan yang dirasa pada saat pancing atau kail digondol ikan. Ketegangan, harapan dan kepuasan terasa di dalam hati apabila ujung kail disambar ikan.

Kiu-bwe Coa-li membuat gagang pancing dari ranting bambu dan tak lama kemudian kaki wanita sakti ini duduk di atas sebuah batu besar di pinggir telaga, memegang gagang pancing, diam tak bergerak dan sama sekali lupa akan keadaan sekelilingnya, tidak mempedulikan pula kepada Sui Ceng dan Kwan Cu.

Dua orang anak itu menjadi bosan juga menunggui wanita itu memancing ikan, maka keduanya lalu pergi berjalan-jalan di dalam hutan. Sui Ceng paling suka akan kembang-kembang indah, maka ia mengajak Kwan Cu mencari bunga-bunga yang banyak tumbuh di dalam hutan.

Mereka berjalan-jalan sambil bercakap-cakap.

"Lihat, Sui Ceng……. Di sana ada bunga cilan!" tibatiba Kan Cu berseru girang sambil menudingkan telunjuknya ke arah serumpun pohon bunga cilan. Akan tetapi kegembiraan hati Kwan Cu segera lenyap dan mukanya menjadi menyesal sekali ketika dia melihat wajah Sui Ceng. Gadis cilik ini menjadi pucat sekali dan berdiri seperti patung, sedangkan sekelompok bunga yang tadi dipetik dan dipegangnya, tak terasa pula jatuh ke atas tanah.

"Aduh, maaf……Sui Ceng….. maafkan aku. Aku tidak sengaja mengingatkan kau….." kata Kwan Cu sambil memegang tangan Sui Ceng dan seperti seorang kakak yang menghibur adiknya, Kwan Cu menggunakan tangan untuk menghapus air mata yang mengalir di pipi Sui Ceng!

"Sudahlah, Sui Ceng, tak perlu disedihkan selalu kematian ibumu. Aku bersumpah akan mencari dan memecahkan kepala Toat-beng Hui-houw manusia jahanam itu untuk membalas sakit hati ibumu!" Kwan Cu tahu bahwa tentu Sui Ceng teringat kepada ibunya ketika melihat bunga cilan, karena ibunya sangat suka akan bunga ini, bahkan ibunya mendapat julukan Pek-cilan (Bunga Cilan Putih) karena seringkali memakai bunga cilan sebagai penghias rambutnya.

"Apa yang kau katakan?" Sui Ceng membelalakkan kedua matanya memandang kepada Kwan Cu seperti orang marah. "Keparat jahanam Toat-beng Hui-houw tidak boleh dibikin mampus oleh orang lain. Aku sendiri yang akan membelek dadanya, mengeluarkan jantungnya dan memenggal kepalanya untuk kupergunakan sembahyang kepada ibu!"

"Ha, ha, ha, ha, ha! Dua ekor anak domba berdaging empuk bersombong hendak membunuh seekor harimau jantan. Ha, ha, ha!" tiba-tiba terdengar suara ketawa. Suara ini demikian menyeramkan, besar dan serak sehingga Kwan Cu dan Sui Ceng terkejut bukan main. Kedua orang anak ini cepat menengok dan alangkah terkejut hati mereka ketika di hadapan mereka telah berdiri seorang kakek yang bentuk tubuh dan wajahnya aneh sekali. Apalagi Sui Ceng yang mengenal kakek ini, wajahnya menjadi pucat seketika.

Kakek ini tubuhnya agak bongkok, kepala penuh cambang bauk berwarna putih danyang mengerikan adalah kedua tangannya karena sepuluh jari tangannya berkuku panjang melengkung seperti cakar harimau. Adapun kedua kakinya telanjang sama sekali.

"Toat-beng Hui-houw…..!" seru Sui Ceng yang pernah bertemu dengan siluman ini.

Mendengar disebutnya nama ini, serentak Kwan Cu mengepal tinju dan memandang dengan mata marah. Sama sekali dia tidak menjadi takut lagi melihat wajah yang menyeramkan itu. Jadi inikah pembunuh dari Pek-cilan Thio Loan Eng? Kembali Toat-beng Hui-houw tertawa bergelak.

"Bocah gundul jelek! Kau tadi bilang mau memecahkan kepala Toat-beng Hui-houw? Ha, ha, ha! Akulah yang akan memecahkan kepalamu dan kumakan otakmu yang kental membeku! Dan kau……. kuncup bunga yang cantik, jantungmu tentu empuk dan darahmu hangat manis, lebih hangat dan lebih manis daripada darah ibumu. Ha, ha, ha!"

Sui Ceng dan Kwan Cu yang sudah tak dapat menahan kemarahannya pula, telah maju berbareng dan menyerang dengan pukulan mereka yang biarpun dilakukan oleh lengan tangan kecil, namun mendatangkan angin pukulan yang hebat juga. Melihat gerakan ini, Toat-beng Hui-houw menjadi gembira sekali.

"Anak-anak baik….. bertulang bersih…..ha, ha, ha!" Ia lalu mainkan ilmu silatnya dengan cepat, mempergunakan sepasang tangannya yang berkuku panjang untuk menangkap tangan kedua anak itu yang menyerang.

Akan tetapi, baik Sui Ceng maupun Kwan Cu adalah murid-murid orang pandai, maka mereka tidak main seruduk saja dan dalam ilmu silat mereka telah mendapat latihan dasar yang tinggi. Melihat bentuk kuku dan gerakan tangan manusia yang seperti iblis itu, mereka tidak membiarkan tangan mereka terpegang dan keduanya mempergunakan ginkang untuk bergerak ke sana ke mari menjauhi jangkauan tangan lawan sambil menyerang ke arah bagian-bagian tubuh yang berbahaya dan lemah.

Namun kedua orang anak ini masih terlalu muda dan tenaga mereka kurang kuat. Biarpun sudah dua kali Kwan Cu berhasil mempergunakan ilmu pukulan dari Ilmu Silat Pai-bun-tui-pek-to dan menghantam lambung Toat-beng Hui-houw, namun pukulannya yang keras dan mengandung tenaga lweekang itu seakan-akan mengenai benda dari karet saja dan terpental kembali membuat tubuhnya sendiri terhuyung-huyung! Juga Toat-beng Hui-houw terkejut sekali karena pukulan anak ini antep sekali. Baiknya dia telah menduga bahwa mereka ini adalah murid-murid orang pandai, maka siang-siang dia telah mengerahkan lweekang di tubuhnya ketika menerima pukulan-pukulan yang cepat itu sehingga dia dapat menolak pukulan itu dan tidak menderita luka.

Juga Sui Ceng memperlihatkan kecepatannya. Pernah dua jarinya menotok jalan darah di punggung kakek ini, namun ternyata bahwa jarinya mengenai kulit lemas dan daging yang tak berurat. Ia kaget dan maklum bahwa kakek seperti iblis ini telah mempergunakan Ilmu Pi-ki-hu-hiat (Menutup Hawa Melindung Jalan Darah) sehingga totokannya itu gagal sama sekali. Namun Sui Ceng benarbenar memiliki gerakan seperti burung walet cepatnya.

Tangannya yang kecil itu meluncur laksana seekor ular dan tahu-tahu dua jarinya dipentang dan menusuk sepasang mata Toat-beng Hui-houw! Harimau Terbang Pencabut Nyawa ini mengeluakan seruan tertahan. Hebat sekali serangan anak perempuan ini, karena apabila matanya terkena tusukan jari tangan, tentu dia akan menjadi buta. Maka dia cepat melompat ke atas untuk menghindarkan tusukan ke arah matanya. Tidak tahunya Sui Ceng benar-benar cerdik sekali. Ketika tangannya tidak berhasil menusuk mata lawan yang melompat tinggi, cepat ia menjambret jenggot dan membetot dengan gentakan keras.

"Aduuuuuuhhh……..!" Toat-beng Hui-houw memekik lalu menggereng seperti seekor harimau dicabut jenggotnya.

Sebagian bulu jenggotnya telah tercabut oleh tangan Sui Ceng! Bukan main sakitnya sehingga matanya sampai mengeluarkan air mata. Pedas dan perih. Hal ini mendatangkan marah yang luar biasa dan begitu dia menubruk sambil mengeluarkan suara mengerikan, Kwan Cu dan Sui Ceng tak dapat mengelak lagi dan kedua orang anak ini telah tertangkap! Kwan Cu dan Sui Ceng tidak mengalah begitu saja dan cepat menggerakkan tangan memukul, namun segera mereka menjadi lemas dan habislah seluruh tenaga ketika Toat-beng Hui-houw menekan pundak mereka dengan tangan yang berkuku panjang.

Toat-beng Hui-houw tertawa bergelak dan beberapa kali dia mempergunakan tangannya mengelus-elus kulit leher Sui Ceng yang halus, seakan-akan seorang anak kecil melihat kulit buah leeci yang halus dan menggairahkan! Sui Ceng yang tak berdaya menutup matanya dengan ngeri karena dia teringat betapa ibunya juga telah digigit lehernya dan dihisap darahnya oleh manusia siluman ini! Adapun Kwan Cu yang dielus-elus kepalanya, bergidik pula karena kepalanya tentu akan dipecahkan dan otaknya dilalap oleh setan ini seperti ancamannya tadi.

"Ha, ha, ha! Sukar untuk memilih, makan otak dulu atau minum darah dulu. Sama enaknya, sama manisnya!" kakek ini bicara seorang diri seperti seorang kelaparan menghadapi arak wangi dan daging muda, bingung untuk mengambil keputusan, makan dulu atau minum dulu!

"Toat-beng Hui-houw, kau boleh membunuhku, akan tetapi jangan kau mengganggu Sui Ceng. Tidak kasihankah kau melihat dia? Tak malukah kau membunuh seorang anak perempuan kecil seperti dia?" kata Kwan Cu karena biarpun dia dan Sui Ceng berada di bawah pengaruh totokan yang lihai sehingga menjadi lumpuh, namun kedua orang anak ini tadi mengumpulkan tenaga lweekang sehingga mereka dapat melindungi penapasan dan tidak kehilangan suara mereka dan masih dapat bicara.

Kwan Cu hendak menolong Sui Cneg, rela dia sendiri mati. Akan tetapi tidak disangkanya, anak perempuan itu memiliki keberanian yang tidak kalah olehnya. Sui Ceng bahkan menjadi marah dan membentak,

"Kwan Cu, kaukira aku takut mati? Biar iblis ini membunuhku, nyawaku akan selalu mengejarnya dan sebelum menghancurkan kepalanya, nyawaku akan menjadi setan penasaran!"

Toat-beng Hui-houw tertawa ha-ha-he-he-he sambil memandang bergantian kepada dua anak itu.

"Hm, aku tidak suka melihat matamu melotot terus memandangku. Kau akan kumakan dulu otakmu!" katanya kepada Kwan Cu sambil mendekati anak itu.

"Bagus, Toat-beng Hui-houw, mau bunuh lekaslah bunuh, aku tidak takut! Akan tetapi kalau kau mengganggu Sui Ceng, hmmm….. kurasa kau takkan lama dapat mempertahankan kepalamu yang botak, karena gurunya, Kiu-bwe Coa-li, tentu akan mengejar-ngejarmu selalu!"

Benar saja, mendengar nama ini, berubahlah wajah Toatbeng Hui-houw. Dia memang tahu bahwa Sui Ceng adalah murid Kiu-bwe Coa-li, nenek sakti yang ditakutinya, dan tadi dia lupa sama sekali akan nenek ini.

Matanya jelalatan ke kanan kiri, mencari-cari kalaukalau nenek itu berada di dekat situ.

"Aku harus cepat-cepat membereskan kalian!" katanya dan tangannya sudah diangkat tinggi uuntuk memukul pecah kepala gundul itu. Akan tetapi, kata-kata Kwan Cu tadi mengingatkan Sui Ceng akan gurunya, maka ia lalu mengumpulkan tenaga dan menjerit keras sekali.

"Suthai…..! Tolong teecu!"

Mendengar jerit itu, Toat-beng Hui-houw terkejut sekali.

Ia tidak jadi memukul kepala Kwan Cu bahkan sebaliknya dengan sekali meloncat dia telah berada di dekat Sui Ceng dan kedua tangannya mencekik leher anak itu.

"Jangan membuka mulut, kau…….!"

Akan tetapi, jeritan tadi telah membangunkan Kiu-bwe Coa-li dari keadaannya seperti mimpi di pinggir telaga.

Pada saat itu, pancingnya sedang digondol ikan dan ia tengah menikmati perjuangan ikan itu yang hendak melepaskan pancing yang mengait mulutnya. Tiba-tiba ia mendengar jerit muridnya dan bagaikan seekor burung garuda yang dikagetkan oleh sesuatu, tubuhnya berkelebat ke arah suara muridnya.

"Toat-beng Hui-houw, lepaskan muridku kalau kau tak ingin mampus!" bentaknya marah dan disusul oleh bunyi

"tar! tar! tar!" keras sekali. Dalam kemarahannya, Kiu-bwe Coa-li telah mengeluarkan cambuknya dan kini sembilan helai bulu cambuk menyambar-nyambar mengancam di atas kepala Toat-beng Hui-houw.

Kakek berkuku panjang itu melepaskan cekikannya, akan tetapi dia memegangi tangan Sui Ceng dan berkata menyeringai.

"Kiu-bwe Coa-li, siapa mau mengganggu muridmu! Aku hanya main-main saja."

"Bangsat tua bangka! Siapa tidak mengenal watakmu yang curang? Hayo kau lepaskan muridku. Berlaku lamban berarti kepalamu akan hancur oleh cambukku!" Kiu-bwe Coa-li mengancam dengan sikap garang sekali.

"Ha-ha-ha! Kalau aku curang, apakah kau juga boleh dipercaya? Muridmu berada di dalam tanganku dan cobalah kau bergerak kalau berani. Sebelum aku terkena cambukmu, nayawa muridmu akan melayang lebih dulu!"

"Apa yang kau kehendaki manusia jahat?" Kiu-bwe Coali ragu-ragu untuk menyerang, karena maklum bahwa Toatbeng Hui-houw bisa membuktikan ancamannya itu.

"Aku mau melepaskan muridmu ini, akan tetapi bocah gundul ini akan kubawa. Otaknya baik sekali untuk punggungku yang suka sakit di musim dingin karena sudah kurang isinya! Dan pula, sebelum aku melepaskan muridmu, kau harus berjanji takkan menyerangku!"

Kiu-bwe Coa-li memutar otaknya. Ia lebih menyayangkan nyawa muridnya dan tentang Kwan Cu, ia tidak peduli akan anak itu. Maka ia lalu berkata dengan suara dingin,

"Kau mau bawa anak gundul itu, bukan urusanku. Kalau kau melepaskan muridku, akupun tak sudi berurusan dengan orang macam kau lagi!"

Tadinya memang Kiu-bwe Coa-li amat membutuhkan bantuan Kwan Cu, akan tetapi sekarang anak itu sudah memberi tahu tentang kitab sejarah yang menjadi petunjuk di mana adanya kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng, dan kitab itu sudah dicuri oleh Jeng-kin-jiu, maka untuk apa lagi membawa anak itu? Membikin repot saja! Setelah mendengar kata-kata gurunya ini, Sui Ceng terkejut sekali.

"Suthai jangan berikan Kwan Cu kepadanya! Siluman itu hendak memcahkan kepala Kwan Cu dan hendak makan otaknya!"

"Peduli amat! Aku tidak perlu lagi dengan anak itu!" jawab subonya. Adapun Toat-beng Hui-houw setelah mendengar janji yang dikeluarkan oleh Kiu-bwe Coa-li, menjadi girang dan segera melepaskan Sui Ceng. Kemudian dia melompat dan mengepit tubuh Kwan Cu, pergi dari situ sambil berkata,

"Selamat tinggal, Kiu-bwe Coa-li!"

"Siluman jahat, lepaskan Kwan Cu!" Sui Ceng membentak dan hendak mengejar.

"Sui Ceng, jangan kejar dia!" Gurunya mencegah.

"Suthai, dia hendak membunuh Kwan Cu! Dan dialah pembunuh ibuku! Bagaimana teecu harus diam saja??"

Kembali Sui Ceng menggerakkan kadua kakinya hendak mengejar, akan tetapi tiba-tiba gurunya memegang pundaknya sehingga dia tidak dapat bergerak lagi.

"Tidak, Sui Ceng. Aku sudah memberi janjiku tidak akan mengganggunya. Soal pembalasan dendam, mudah saja. Lain kali kalau kita bertemu dengan dia, pasti dia takkan ku beri ampun lagi. Kali ini aku terpaksa melepaskannya, karena kalau tidak, kau tadi tentu dibunuhnya."

Sui Ceng memandang ke arah bayangan Toat-beng Huihouw yang membawa Kwan Cu dan air matanya membanjir keluar.

"Kwan Cu…..! Kwan Cu…….!" Ia menjerit-jerit dengan hati perih.

***

Kwan Cu yang dikempit oleh Toat-beng Hui-houw dan dibawa lari cepat, merasa mendongkol sekali kepada Kiubwe Coa-li.

"Kiu-bwe Coa-li benar-benar orang bong-im-pwe-gi (orang tak kenal budi). Biarpun ia mendapatkan kitab Imyang Bu-tek Cin-keng, mana bisa ia membacanya? Dan orang macam Toat-beng Hui-houw ini dengan kepandaiannya yang rendah dan sifatnya yang pengecut, mana bisa dia menjagoi di dunia kang-ouw?"

Mendengar kata-kata ini, Toat-beng Hui-houw melepaskan kempitannya dan menurunkan Kwan Cu di atas tanah.

"Kau bicara apa tadi?" tanyanya.

"Aku bicara sendiri, apa hubungannya dengan kau?"

"Aku hendak makan otakmu, akan tetapi kalau otakmu miring, jangan-jangan aku ikut menjadi gila. Kau bicara seorang diri, kalau tidak miring otakmu, apa lagi? Kau sebut-sebut Im-yang Bu-tek Cin-keng, kau tahu apakah tentang kitab itu?"

"Toat-beng Hui-houw, kau mengimpi! Kiu-bwe Coa-li membawaku, ada perlu apakah kalau tidak menghendaki kitab itu? Hanya aku seorang yang akan bisa mendapatakan kitab itu. Sayang kitab itu akan terjatuh ke dalam tangan orang yang tidak pandai membacanya, karena mendiang Gui-siucai hanya mengajarkan tulisan itu kepadaku seorang," Kwan Cu dengan cerdik menggunakan akal untuk menarik perhatian orang menyeramkan ini.

"Apa maksudmu? Apakah benar-benar di dunia ini terdapat kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng?"

"Tentu saja ada! Lima tokoh besar dunia sedang memperebutkan kitab itu dan siapa saja yang mendapatkannya dan dapat membacanya, tentu akan memiliki kepandaian yang tak terlawan oleh siapapun juga di dunia ini. Akan tetapi kau, yang mempunyai kesukaan makan otak dan darah, perlu apa bertanya-tanya? Mau bunuh padaku, lekas bunuh, agar aku tidak dipaksa-paksa oleh para tokoh kang-ouw untuk mencarikan kitab itu dan untuk menterjemahkannya!"

"Benarkah kau bisa mencarikan kitab itu, bocah gundul? Di mana adanya kitab itu?"

"Mau apa kau bertanya-tanya?"

"Setan cilik! Kalau kau bisa mendapatkan kitab itu untukku, aku mau menukar dengan kepalamu!"

"Sukar, sukar……! Untuk mendapatkan kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng, hanya ada satu petunjuk yang terdapat di dalam kitab sejarah peninggalan Gui Tin siucai."

"Dimana adanya kitab sejarah itu? "Toat-beng Hui-houw mendesak dan Kwan Cu girang sekali melihat umpannya nulai berhasil.

"Kitab itu telah dicuri oleh Ang-bin Sin-kai!"

Terbelalak mata Toat-beng Hui-houw mendengar ini.

"Sukar kalau begitu!" ia menggeleng-gelengkan kepalanya yang botak lalu memandang ke arah Kwan Cu yang gundul kelimis, agaknya mulai tertarik lagi oleh otak di dalam kepala gundul itu.

Kwan Cu cepat berkata, "Apa sukarnya! Memang, kepandaian Kiu-bwe Coa-li amat tinggi dan seandainya kitab itu berada di tangannya, akan sukarlah bagimu merampasnya. Akan tetapi Ang-bin Sin-kai…..? Kakek yang berpenyakitan itu? Ah, menghadapi Kiu-bwe Coa-li saja dia kalah jauh dan tidak dapat menahan serangan nenek itu lebih dari sepuluh jurus!"

"Apa katamu? Ang-bin Sin-kai terkenal dengan kepandaiannya yang amat tinggi!"

"Toat-beng Hui-houw, kalau tidak percaya sudahlah.

Aku tidak mau banyak bicara lagi."

Toat-beng Hui-houw mulai tertarik lagi melihat sikap Kwan Cu.

"Bocah gundul, betul-betulkah kata-katamu itu?"

"Siapa membohong? Ang-bin Sin-kai mendapatkan kitab itu atas bantuanku. Kemudian dia dan aku bertemu dengan Kiu-bwe Coa-li dan aku menyaksikan dengan mata kepala sendiri betapa dia melarikan diri setelah dihajar oleh cambuk Kiu-bwe Coa-li. Kini dia lari dan dikejar-kejar oleh Kiu-bwe Coa-li, dan hanya aku yang tahu di mana Ang-bin Sin-kai dengan kitab sejarah yang dibawanya itu?"

"Di mana?"

"Di kota raja!"

Toat-beng Hui-houw berpikir-pikir sejenak. Apa salahnya kalau dia pun mencoba-coba mendapatkan kitab itu untuk kemudian mendapatkan kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng! Sudah lama dia mendengar tentang kitab pelajaran yang tiada bandingannya di dunia ini dan kalau benar-benar dia bisa mendapatkan kitab itu atas bantuan anak gundul ini, bukankah dia akan menjagoi di seluruh permukaan bumi? Ia takkan perlu takut lagi menghadapi Kiu-bwe Coa-li dan tokoh-tokoh lain. Adapun anak ini…… andaikata membohong, masih belum terlambat baginya untuk memecahkan batok kepalanya dan makan otaknya.

Dan apa salahnya kalau kelak setelah dia bisa mendapatkan Im-yang Bu-tek Cin-keng atas bantuan anak ini, dia makan juga otaknya?

"Kalau begitu, mari kita menyusul ke kota raja," katanya kemudian.

"Apa kau tidak mau makan otakku lagi?" tanya Kwan Cu berani.

"Tidak, otakmu perlu kupergunakan untuk mencari Imyang Bu-tek Cin-keng. Akan tetapi awas kalau tidak berhasil mendapatkan kitab itu, tidak hanya otakmu yang kumakan, juga darahmu kuminum habis-habis!"

Kwan Cu mengangkat pundak, acuh tak acuh. "Apa bedanya? Kalau aku mati, otakku akan dimakan cacing dan darahku diminum semut! Lebih baik kalau kalau dimakan dan diminum oleh seorang manusia seperti kau sekalipun!"

Akan tetapi Toat-beng Hui-houw tidak mau banyak cakap lagi dan setelah membebaskan Kwan Cu dari totokannya, dia lalu menggandeng tangan anak ini dan diajaknya berlari cepat sekali menuju ke kota raja.

"Kita harus mendahului Kiu-bwe Coa-li ke kota raja dan merampas kitab sejarah dari tangan Ang-bin Sin-kai!"

Kwan Cu berkata berkata dan ucapan ini membuat Toatbeng Hui-houw membawanya berlari seperti di kejar setan cepatnya.

Ang-bin Sin-kai sudah mulai tidak sabar dan gelisah sekali memikirkan keadaan Kwan Cu, karena selama dia berada di kota raja, belum juga kelihatan Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu datang. Juga belum kelihatan bayangan Kiubwe Coa-li. Telah beberapa hari dia berada di kota raja, tiga kali dia masuk ke dalam dapur istana menikmati masakanmasakan yang langka terdapat di luar istana. Bahkan dia pernah mendatangi gedung Lu Pin adiknya secara diamdiam untuk melihat apakah Jeng-kin-jiu sudah kembali ke kota raja. Dari gedung adiknya dia pergi ke rumah Lu Seng Hok ayah Lu Thong, akan tetapi juga di situ sunyi tidak kelihatan Jeng-kin-jiu atau Lu Thong.

Ia sudah mulai bosan menanti dan pada malam ke empat, kembali dia memasuki dapur istana dan mabukmabukan seorang diri di dalam dapur itu. Tiba-tiba dia mendengar suara genteng dibuka orang dan tahu-tahu berkelebat bayangan seorang kakek yang melayang turun dengan seorang anak laki-laki gundul. Anak itu bukan lain adalah Kwan Cu dan kakek itu adalah Toat-beng Huihouw.

"Ang-bin Sin-kai, lekas kau serahkan kitab sejarah peninggalan Gui-siucai kepadaku!" Toat-beng Hui-houw membentak. Kakek berkuku panjang ini masih belum percaya betul kepada Kwan Cu dan ketika dia merhadapan dengan Ang-bin Sin-kai, dia masih memegang pergelangan tangan Kwan Cu. Kalau anak ini ternyata membohong, dia akan membunuhnya terlebih dulu. Kwan Cu juga maklum akan hal ini, maka dia memandang kepada Ang-bin Sin-kai dengan muka khawatir sambil memutar otaknya.

"Kitab sejarah yang mana?" Ang-bin Sin-kai menjawab sambil mengerutkan keningnya. "Toat-beng Hui-houw, apakah kau sudah gila? Kau membunuh anak-anak murid Kim-san-pai dan Thian-san-pai sehingga menyusahkan kepadaku, sekarang kau datang menuduh yang bukanbukan lagi! Benar-benar kau sudah miring otakmu!"

Mendengar jawaban ini, Toat-beng Hui-houw sudah menekan lebih keras pergelangan tangan Kwan Cu, membuat anak itu kesakitan sekali dan hampir memekik.

Akan tetapi Kwan Cu menahan rasa sakit, lalu menudingkan jari telunjuknya kepada Ang-bin Sin-kai.

"Ang-bin Sin-kai, kau orang tua benar-benar licik sekali! Bukankah kitab itu dahulu kau bawa-bawa selalu? Mengapa sekarang tidak mengaku??" selagi Ang-bin Sin-kai memandang terheran-heran, Kwan Cu berkata kepada Toat-beng Hui-houw,

"Locianpwe, mengapa kau begitu bodoh dan mau percaya omongannya? Dia membohongimu! Lihat saja, mukanya sudah berubah merah sekali, tanda dia membohong. Aku percaya bahwa kitab itu tentu berada di dalam saku bajunya. Lekas serang dia dan rampas kitab itu!"

Toat-beng Hui-houw ragu-ragu dan memang otaknya agak bodoh maka dia mau percaya omongan anak ini. Ia melepaskan cekalannya pada pergelangan tangan Kwan Cu dan memandang kepada Ang-bin Sin-kai dengan mata terbelalak. Sebaliknya, Ang-bin Sin-kai adalah orang yang cerdik dan sekelebatan saja dia dapat melihat betapa pergelangan tangan Kwan Cu yang dipegang oleh Toatbeng Hui-houw tadi menjadi matang biru, maka dia lalu tertawa bergelak sambil berkata,

"Toat-beng Hui-houw, kalau kau goblok, adalah anak gundul itu pintar sekali tidak kena ditipu. Misalnya benar kitab itu berada di tanganku, habis kau mau apa?"

"Berikan kepadaku!" Toat-beng Hui-houw membentak lalu serentak menubruk maju sambil mengulur sepasang tangannya yang berkuku panjang seperti cakar harimau.

Ang-bin Sin-kai mengelak cepat sambil tertawa-tawa.

Kini Kwan Cu cepat melompat ke pinggir dan berubahlah air mukanya, kini gembira sekali.

"Suhu, pukul batang hidungnya! Kemplang kepala botaknya! Siluman ini tadinya hendak makan otak teecu, hingga terpaksa teecu membawanya ke sini kepada Suhu!"

Dengan keterangan ini, makin jelaslah bagi Ang-bin Sinkai bahwa entah bagaimana, muridnya itu terjatuh ke tangan Toat-beng Hui-houw dan dengan menggunakan akal, Kwan Cu dapat memancing siluman ini untuk mencari dia dengan alasan hendak merampas kitab sejarah yang dapat menunjukkan tempat Im-yang Bu-tek Cin-keng.

Mengingat akan hal ini, makin besarlah suara ketawa Angbin Sin-kai.

Adapun Toat-beng Hui-houw mendengar Kwan Cu menyebut Suhu kepada Ang-bin Sin-kai, sadar bahwa dia telah ditipu oleh bocah gundul itu, akan tetapi sekarang dia tidak mempunyai kesempatan lagi untuk menyerang Kwan Cu, karena Ang-bin Sin-kai juga membalas seranganserangannya dan mendesaknya dengan hebat. Segera Toatbeng Hui-houw mengeluh di dalam hatinya ketika beberapa kali dia menyerang, selalu dapat dielakkan oleh Ang-bin Sin-kai dengan amat cepatnya, bahkan kakek pengemis itu melayaninya sambil tertawa-tawa dan bahkan berani menangkis tangannya yang berkuku panjang dan yang mengandung racun! "Ang-bin Sin-kai, kau tua bangka busuk bersama muridmu anjing kecil gundul itu hari ini harus mampus dalam tanganku!" bentaknya dan Toat-beng Hui-houw lalu menerkam sambil menggunakan ilmu silatnya yang paling dia andalkan, yaitu Ilmu Silat Huihouw- lo-lim (Macan Terbang Mengacau Hutan).

Sepuluh kuku jari tanganya tiba-tiba mulur panjang dan runcing, dan gerakkannya tiada bedanya dengan seekor harimau yang ganas sekali. Tidak hanya kedua tangannya yang bergerak mencakar-cakar seperti harimau, juga kedua kakinya yang telanjang itu menendang-nendang seperti kaki harimau mencakar! Dari tenggorokan keluar suara gerengan-gerengan yang menggetarkan tiang-tiang dapur istana itu, bahkan Kwan Cu yang berdiri di pinggir berdebar jantungnya mendengar suara yang mirip suara harimau besar ini. "Toat-beng Hui-houw seekor harimau pun tidak sebodoh dan seganas kau tua bangka tak tahu malu!" Angbin Sin-kai balas memaki akan tetapi dia segera menghadapi serangan-serangan yang luar biasa ganasnya. Ang-bin Sinkai memang belum pernah bertempur melawan kakek berkuku panjang ini sungguhpun kedua orang kakek ini sudah pernah bertemu, namun baru kali ini mereka mendapat kesempatan mengadu kepandaian dan mengukur tenaga masing-masing! Kwan Cu menonton pertempuran itu dengan hati gembira. Ia berdiri bertolak pinggang dan berkata, "Suhu, pukul kepalanya yang botak! Dia telah membunuh Thio-toanio secara keji! Dia benar-benar siluman jahat menjelma manusia!" Mendengar suara Kwan Cu, bukan main mendongkol dan marahnya hati Toat-beng Hui-houw. Ia telah dipermainkan, ditipu dan diejek oleh bocah gundul ini. Kalau saja dia bisa merobohkan Ang-bin Sin-kai dia tentu akan menangkap bocah gundul itu dan akan mencarinya jalan yang paling mengerikan untuk membikin mampus setan gundul! Maka dia lalu mengeluakan serangan yang luar biasa cepat dan hebatnya.

Kedua tangannya yang berkuku panjang itu menyerang bergantian secara bertubi-tubi seperti ilmu tendangan Lianhoan- twi. Dari sepuluh kuku jarinya itu tersebar bau yang amat amis memuakkan, menyambar ke arah muka Ang-bin Sin-kai. Namun Ang-bin Sin-kai yang kini sudah dapat mengukur inti kepandaiannya dari lawannya, hanya tersenyum-senyum dan seperti seorang anak kecil, dia menjatuhkan diri ke belakang lalu berpoksai (membuat salto berjungkir-balik), menggelundung ke belakang seperti bal ditendang. Inilah gerakan yang di sebut Trenggiling Turun Gunung, yang gerakannya demikian cepat dan wajar sehingga Kwan Cu menjadi kagum sekali. Dengan gerakan seperti ini, serangan yang bagaimana hebat pun dapat dielakkan dengan mudahnya. Beberapa jurus lamanya Toatbeng Hui-houw mengejar dan menyerang terus, akan tetapi tiba-tiba Ang-bin Sin-kai tidak merasa lagi ada sambaran angin serangan lawan. Ketika kakek ini melompat berdiri, dia terkejut sekali melihat kini Toat-beng Hui-houw melakukan pukulan maut! "Manusia curang!" Kwan Cu membentak. Ia mainkan Ilmu Silat Pai-bun-tui-pek-to untuk mengelak, akan tetapi tetap saja dia terdesak hebat sekali sungguhpun dalam beberapa jurus dia berhasil menghindarkan diri dari serangan lawan yang ganas itu.

"Tua bangka tak tahu diri!" Ang-bin Sin-kai memaki dan menggerakkan kedua tangan memukul. Sambaran angin pukulannya hebat sekali dan sambaran ini dapat mematahkan dan menumbangkan batang-batang pohon dari jarak jauh. Toat-beng Hui-houw terkejut sekali bukan main ketika merasa pinggangnya sakit, maka cepat dia membalikan tubuhnya dan mengerahkan lweekang untuk melawan pukulan Ang-bin Sin-kai yang lihai. Kemudian dia menerkam dan kuku-kukunya mencengkeram hendak mencekik leher kakek pengemis itu. Namun Ang-bin Sin-kai kini sudah menjadi marah sekali. Ia mengibaskan kedua tangannya ke arah kuku lawan dan terdengar suara

"kraaak!" maka patah-patahlah semua kuku di ujung tangan Toat-beng Hui-houw dan tubuh kakek ini sendiri terpental, membentur tembok dan roboh pingsan! Ang-bin Sin-kai memandang kepada Kwan Cu. "Kau mau membalas dendam kematian Pek-cilan? Nah, sekarang mudah bagimu untuk melakukan hal itu." Kwan Cu menengok dan memandang kapada Toat-beng Hui-houw yang masih menggeletak pingsan di atas lantai. Memang mudah sekali baginya dengan sekali pukul atau sekali tendang saja dia dapat membunuh Toat-beng Hui-houw, membalaskan sakit hati Pek-cilan Thio Loan Eng. Dengan hati gemas Kwan Cu melangkah maju mendekati tubuh Toat-beng Hui-houw yang menggeletak di situ. Ia memegang leher baju kakek itu dan menyeretnya ke arah meja, kemudian dia menarik tubuh Toat-beng Hui-houw, didudukkan di atas bangku menyandar tembok menghadapi meja. Toat-beng Hui-houw yang masih pingsan itu tidak berdaya dan kini dia terduduk bersandar tembok seperti orang tidur. Kwan Cu mengambil semangkok besar masakan dan dengan gemas sekali dia memasang mangkok itu di atas kepala botak Toat-beng Hui-houw seperti topi! Masakan yang kuahnya kuning itu mengalir turun ke atas muka kakek ini sehingga kelihatan lucu sekali.

"Tidak, Suhu. Teecu tidak dapat membunuh orang yang sudah tidak berdaya seperti ini," kata Kwan Cu sambil meninggalkan musuh besar itu. Diam-diam Ang-bin Sin-kai menjadi girang sekali mendengar ucapan muridnya ini, karena tadi dia memang hanya mencoba saja untuk menguji sifat kegagahan muridnya.

"Kalau begitu, hayo kita pergi dari sini. Mungkin Jengkin- jiu sekarang sudah pulang." Setelah berkata demikian, Ang-bin Sin-kai melompat keluar melalui genteng yang tadi di buka oleh Toat-beng Hui-houw diikuti oleh Kwan Cu yang merasa girang dapat berkumpul kembali dengan suhunya. Pukulan dari Ang-bin Sin-kai tadi benar-benar hebat dan Toat-beng Hui-houw selain menderita patah semua kukunya yang diandalkan, juga menjadi pingsan sampai satu malam! Hawa pukulan itu demikian kerasnya sehingga melumpuhkan semua urat-urat dalam tubuhnya.

Ketika keesokan harinya pegawai dapur istana membuka pintu, dia menjerit dan berlari keluar kembali ketika melihat seorang kakek yang aneh sekali duduk di atas bangku menghadapi pintu!

"Tolong…..toloooong…..ada siluman!" teriaknya sambil berlari-lari. Seorang penjaga yang mendengar ini ikut berteriak-teriak sehingga sebentar saja keadaan menjadi geger. Di antara para penjaga yang kini berkumpul, ada juga yang berhati tabah, setelah mendengar penuturan pegawai dapur bahwa di dalam dapur terdapat seorang siluman tengah duduk menghadapi meja dan makan minum, dia lalu membuka pintu dapur dan sambil memegang goloknya dia melangkah masuk. Kawankawannya menjenguk dari pintu dan tidak berani ikut masuk. Ketika penjaga yang tabah ini melihat kedalam dapur, dia terkejut sekali dan meremanglah bulu tengkuknya. Memang menyeramkan sekali mahluk yang kelihatan duduk menghadapi meja itu. Seorang kakek botak yang berwajah menyeramkan dan bersikap aneh sekali, bertopi mangkok dan mukanya penuh benda cair berwarna kuning, membuat muka itu nampak makin mengerikan.

"Siluman dari manakah berani mengacau di dapur istana?" Penjaga ini membentak sambil melangkah maju, siap dengan goloknya di depan dada. Akan tetapi pada saat itu, Toat-beng Hui-houw baru saja siuman kembali dari pingsannya dan kepalanya masih terasa pening. Ia membuka matanya, akan tetapi merasa malas untuk bergerak. Ia mengejap-ngejapkan matanya karena masih mengingat-ingat akan peristiwa semalam. Munculnya penjaga di depan pintu dan teguran penjaga yang memegang golok di depannya itu mengingatkan Toat-beng Hui-houw akan semua pengalamannya dan ingat kembalilah dia bahwa dia masih berada di dalam dapur istana. Ia merasa heran sekali mengapa Ang-bin Sin-kai atau bocah gundul itu tidak membinasakannya, padahal dia telah pingsan tidak berdaya! Sementara itu, ketika penjaga yang memegang golok tadi telah datang dekat dan melihat bahwa "siluman" itu sesungguhnya seorang kakek botak dan bahwa keseraman mukanya diakibatkan oleh kuah masakan yang mengalir turun dari mangkok yang dijadikan topi, agak lenyap rasa takutnya. Ia menyangka bahwa kakek ini tentulah seorang yang miring otaknya, kalau tidak bagaimana dia memakai mangkok yang penuh masakan sebagai topi?

"Bangsat tua, darimana kau berani sekali mengacau di sini? Hayo lekas berlutut dan menyerah, kalau tidak golokku akan makan kepalamu!" bentak penjaga itu.

Namun Toat-beng Hui-houw masih termenung saja, seakan-akan tidak mendengar seruan penjaga ini.

Adapun para penjaga lain ketika mendengar kawannya memaki-maki "siluman" itu, menjadi besar hati dan mulailah mereka memasuki dapur. Melihat kawankawannya ikut masuk, penjaga tadi makin tabah hatinya dan kini membentak keras, "Lihat kupenggal kepala siluman ini!" Sambil berkata demikian, benar-benar dia mengayunkan goloknya yang tajam itu, membacok kepala Toat-beng Hui-houw! Akan tetapi, alangkah terkejutnya, juga para penjaga yang sudah memasuki dapur melihat keajaiban yang mengejutkan. Ketika golok itu menyambar kepala botak yang kelimis, terdengar suara "tak!" seperti golok menyambar batu dan dan bukan kepala botak itu yang terbelah, melainkan gagang golok itu terpental dan terlepas dari pegangan penjaga yang tadi membacoknya karena penjaga itu merasa tangannya sakit! Kejadian aneh ini disusul oleh suara kakek itu tertawa bergelak menyeramkan sekali, kemudian ketika kakek itu berdiri, meja yang berada di depannya tiba-tiba terbang melayang ke arah para penjaga yang berkerumun di depan pintu! Tentu para penjaga menjadi kaget dan ketakutan. Mereka cepat bergerak mengelak atau menangkis meja yang tibatiba hidup dan menyambar kepala mereka itu. Ketika akhirnya meja itu dapat dilemparkan ke pinggir dan mereka memandang, ternyata bahwa kakek botak itu telah lenyap dari dapur itu!

"Celaka, benar-benar siluman…..!" kata mereka. Sayang sekali pada hari sepagi itu, kepala penjaga Song Cin masih belum hadir sehingga tidak dapat menyaksikan peristiwa ini. Sesungguhnya, hanya Song Cin seorang yang kiranya akan dapat menghadapi siluman itu. Ketika Song Cin diberi tahu, perwira ini mengerutkan kening dan menggelenggelengkan kepala. Ia juga merasa bingung, karena dia tahu bahwa tidak mungkin kakek yang disangka siluman oleh anak buahnya itu Ang-bin Sin-kai adanya. Siapakah kakek yang aneh ini? Pertanyaan ini selamanya hanya akan tetap tinggal sebagai teka-teki yang tak pernah terjawab olehnya.

***

Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu baru saja datang dari perantauannya bersama muridnya, Lu Thong. Ayah Lu Thong, yakni Lu Seng Hok dan isterinya, girang sekali melihat putra mereka kembali dengan selamat. Sebenarnya, Lu Seng Hok dan isterinya tidak suka melihat putra mereka diajak merantau oleh hwesio itu, karena tentu saja mereka merasa khawatir kalau-kalau putra tunggal mereka itu takkan pulang kembali. Dengan sikap hormat dan tidak memperlihatkan ketidaksenangan hatinya, Lu Seng Hok berkata kepada Jeng-kin-jiu yang tengah makan minum dengan gembira.

"Twa-suhu, kami harap sukalah kiranya Twa-suhu melatih ilmu silat kepada Thong-ji di sini saja dan tidak membawanya ke luar kota, karena kami selalu merasa gelisah dan khawatir. Segala keperluan untuk latihan itu, Twa-suhu katakan saja dan kami akan sediakan semua."

Mendengar ini, Kak Thong Taisu tertawa bergelak, lalu minum araknya dari cawan besar sebelum dia menjawab.

"Lu-taijin tidak tahu bahwa ilmu silat baru bisa sempurna kalau latihan-latihan itu disertai pengalaman pertempuran.

Apa gunanya memiliki ilmu silat tanpa ada pengalamanpengalaman pertempuran menghadapi orang-orang pandai? Ilmu silat itu akan mentah, tidak berisi."

"Betapapun juga, Twa-suhu, kami berdua lebih-lebih ibu anak itu merasa amat gelisah dan rindu kalau terlalu lama Twa-suhu dan Thong-ji tidak pulang."

Lu Thong yang hadir pula disitu, lalu berdiri dari bangkunya dan mengerutkan kening sambil berkata manja,

"Ayah…. mengapa ayah melarangku pergi dengan Suhu! Kalau Suhu pergi merantau, aku harus ikut serta! Ayah tidak tahu betapa senangnya merantau di luar, di dunia bebas, tidak seperti di sini terkurung dan sempit sekali!"

"Ha-ha-ha!" Jeng-kin-jiu tertawa bergelak, "Memang enak menjadi seperti burung di udara daripada terkurung dalam sangkar emas!"

"Thong-ji!" Lu Seng Hok membentak anaknya. "Apakah kau sudah tak mau menurut omongan ayahmu lagi? Untuk mencapai kedudukan tinggi tidak hanya belajar silat, akan tetapi kau harus belajar ilmu surat dengan baik!" Dengan uring-uringan ayah ini lalu meninggalkan ruangan itu setelah memberi hormat kepada Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu yang hanya tertawa saja.

Setelah Lu Seng Hok pergi, Jeng-kin-jiu berkata dengan suara bersunguh-sungguh kepada muridnya, "Lu Thong, ucapan ayahmu tadi ada benarnya. Lihatlah aku ini, selamanya menjadi seorang perantau yang tidak mempunyai rumah tangga yang baik. Bahkan menjadi hwesio pun tidak mempunyai kelenteng untuk tempat tinggal. Kau keturunan orang besar dan kalau kelak tidak menduduki pangkat tinggi, tentu akan mengecewakan hati leluhurmu."

"Akan tetapi teecu lebih senang belajar ilmu silat daripada ilmu surat, Suhu. Teecu ingin mempunyai kepandaian silat yang paling tinggi!" bantah Lu Thong.

Jeng-kin-jiu tertawa. "Enak saja kau bicara. Kaukira belajar ilmu silat itu ada batas tingginya sampai mencapai tingkat tertinggi? Tak mungkin. Gunung Thai-san yang begitu tinggi masih ada langit di atasnya, apalagi kepandaian orang. Kecuali kalau kau bisa mempelajari kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng…."

Lu Thong tertarik sekali, akan tetapi sebelum dia mengajukan pertanyaan, tiba-tiba terdengar bentakan halus,

"Tua bangka gundul, lekas kau serahkan kitab sejarah peninggalan Gui-siucai kepadaku!" Bentakan ini disusul melayangnya tubuh Kiu-bwe Coa-li bersama Sui Ceng yang memasuki ruangan itu.

Sikap Kiu-bwe Coa-li mengancam sekali, di tangannya telah siap cambuknya yang lihai sehingga Jeng-kin-jiu menjadi terkejut dan tidak berani berlaku sembrono. Ia melompat bangun sambil menyambar toyanya yang tadi disandarkan di tembok dekat tempat duduknya. "Kiu-bwe Coa-li, kau setan betina dari selatan! Kau datang-datang bicara mengacau tidak karuan, apakah aku kelihatan seperti seekor cacing buku maka kau bilang aku menyimpan kitab sejarah? Lebih baik simpan cambukmu yang menjijikkan itu dan mari kita minum arak wangi!"

"Gundul busuk! Siapa sudi minum arakmu yang masam? Tak usah berpura-pura suci dan pinni tidak ada banyak waktu untuk mengobrol. Kau telah mencuri kitab sejarah peninggalan Gui Tin di dalam guanya di lereng Liang-san.

Sekarang lebih baik lekas kau serahkan kitab itu kepada pinni kalau kau tidak ingin kepalamu yang gundul itu retakretak oleh cambukku!"

Naik ke ubun-ubun darah Jeng-kin-jiu mendengar ucapan ini saking marahnya. Sepasang matanya yang bundar itu melotot hampir keluar dari ruangnya. Hidung dan bibrinya gerak-gerak seperti bibir kuda mencium asap.

"Kau……kau….. benar-benar kurang ajar sekali, Kiu-bwe Coa-li! Kau tidak ingat bahwa kita sama-sama dari selatan? Apa kau mau merendahkan jago-jago selatan?"

"Tutup mulutmu dan serahkan kitab itu!" kata Kiu-bwe Coa-li yang memang wataknya keras luar biasa.

"Ayaaa…." Jeng-kin-jiu menggeleng kepalanya yang bundar, "kau benar-benar telah kemasukan iblis-iblis dari laut selatan! Pinceng tidak membawa kitab itu, juga andaikata ada, tak mungkin kuserahkan kepadamu!"

Pada saat itu, Lu Thong yang sejak tadi memandang kepada Kiu-bwe Coa-li dengan mata terbelalak dan perasaan mendongkol berkata, "Suhu, inikah Kiu-bwe Coali yang seringkali Suhu sohorkan? Kalau hanya seperti ini, mengapa banyak tanya-tanya lagi, Suhu? Orang sombong biasanya rendah kepandaiannya!"

Sui Ceng marah sekali dan melompat ke depan Lu Thong lalu menampar pipi Lu thong. Karena pakaian Lu Thong seperti anak bangsawan dan terpelajar, maka Sui Ceng mengira bahwa anak ini tidak pandai ilmu silat, akan tetapi siapa kira bahwa sekali menggerakkan kepalanya saja, Lu Thong telah dapat mengelak dari serangannya!

"Bangsat mewah, kau patut diberi hajaran!" Setelah berkata demikian, Sui Ceng melompat dan menerjang Lu Thong yang segera menyambutnya gembira. Memang Lu Thong amat suka menghadapi lawan tangguh kini bertempur melawan murid Kiu-bwe Coa-li, sungguh merupakan ujian yang baik sekali baginya. Jeng-kin-jiu memandang kepada dua orang anak yang sudah bertanding itu lalu tertawa bergelak-gelak.

"Kiu-bwe Coa-li, kau tunggu apa lagi? Lekaslah turun tangan atau lekas minggat saja dari sini!" sambil berkata demikian, toyanya digerakkan dan meja bangku yang membuat ruangan itu menjadi sempit, beterbangan ke kanan kiri. Baru sambaran angin toyanya saja sudah dapat membuat meja bangku terlempar jauh, dapat diduga betapa besarnya tenaga gwakang hwesio gendut ini.

"Jeng-kin-jiu, mampuslah kau hari ini!" Kiubwe Coa-li menggerakkan cambuknya dan sembilan helai bulu cambuk itu memenuhi ruangan dan menyambar ke arah Jeng-kin-jiu dari segala jurusan! Kakek gundul ini melompat menjauhi lawannya karena dia anggap tidak baik bertempur di dekat tempat dua orang anak itu bertanding. Maka pertempuran terpecah di dua tempat dan begitu Jeng-kin-jiu memutar toyanya, angin dingin menyambar-nyambar dan selalu dapat menahan datangnya ujung cambuk yang sembilan ekornya itu. Namun sebaliknya, toyanya juga tidak diberi kesempatan menyerang, karena gerakan sembilan ekor cambuk itu benar-benar cepat sekali dan datang secara bertubi-tubi. Adapun Lu Thong yang bertanding dengan Sui Ceng, merasa kagum sekali. Sui Ceng memang anak yang memiliki kelincahan dan kecepatan gerakan tubuh dari pembawaanya, kemudian dilatih oleh Kiu-bwe Coa-li, maka luar biasa sekalilah ginkang dari anak perempuan ini.

Tubuhnya berkelebatan menyambar-nyambar laksana seekor tawon yang licah sekali. Namun Lu Thong juga memiliki kepandaian yang cukup tingi. Biarpun matanya agak kabur karena kecapatan gerakan Sui Ceng, namun dia selalu dapat mengelak atau menangkis serangan gadis cilik itu.

Tadi ketika melihat Sui Ceng dan mendengar gadis cilik ini bicara, daim-diam Lu Thong merasa kagum dan sayang.

Hatinya yang sudah mulai dewasa itu tertarik oleh Sui Ceng bagaikan sebatang jarum tertarik oleh besi sembrani. Ia menganggap Sui Ceng demikian lincah, lucu dan manis, apalagi setelah kini dia menyaksikan kelihaian Sui Ceng, benar-benar Lu Thong suka sekali pada gadis ini. Oleh karena itu, dia tidak mau membalas serangan Sui Ceng dengan hebat dan hanya menangkis dan membalas sekedar untuk menjaga jangan sampai dia terdesak hebat saja.

Karena sesungguhnya, biarpun kepandaian mereka seimbang atau bahkan boleh dibilang Sui Ceng menang cepat, namun tenaga Lu Thong besar dan kini pemuda cilik ini telah pandai sekali mainkan Ilmu Silat Kong-jiu-toatbeng (Dengan Tangan Kosong Mencabut Nyawa), ilmu silat yang diwarisi dari Ang-bin Sin-kai melalui gurunya sebagaimana telah dituturkan di bagian depan dari cerita ini. Oleh karena itu, pertempuran antara Sui Ceng dan Lu Thong juga ramai sekali dan seimbang.

Seperti juga pertempuran antara Kiu-bwe Coa-li dan Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu, sukar dikatakan siapa yang akan menang dua orang murid ini. Orang-orang gedung mulai geger setelah mereka mengetahui bahwa di ruangan itu terjadi pertempuran hebat sekali. Para penjaga datang, akan tetapi Lu Thong membentak mereka supaya jangan ikut campur. Pula, bagaimana para penjaga itu berani campur tangan kalau gerakan toya dan cambuk itu anginnya saja cukup kuat untuk membuat mereka terdorong mundur? Juga Lu Seng Hok berdiri menonton dengan hati gelisah. Sambil menggerakkan toyanya yang hebat, Kak Thong Taisu berkali-kali memaki dan mentertawakan Kiubwe Coa-li yang di anggapnya sebagai seorang kemasukkan iblis, yang menuduh orang sesuka hatinya dan lain-lain.

Kalau semua orang yang menyaksikan pertempuran ini merasa gelisah, ada dua orang lain yang berada di atas genteng dan menyaksikan pertempuran itu dengan hati geli.

Mereka ini adalah Ang-bin Sin-kai dan Kwan Cu!

"Tua bangka-tua bangka di bawah itu sudah gila semua.

Ha, ha, ha, mereka memperebutkan sumur tak berair! Tak salah dugaanku, tentu yang mencuri kitab sejarah itu adalah Hek-i Hui-mo. Pantas saja larinya dahulu itu cepat bukan main," kata Ang-bin Sin-kai.

"Akan tetapi, Suhu. Bukankah Hek-i Hui-mo tidak pernah membawa-bawa muridnya dan sepanjang pengetahuan kita, dia tidak mempunyai murid?"

"Siapa tahu. Aku pun tadinya tak pernah berpikir punya murid sebelum bertemu dengan kau. Sudahlah, hayo kita pergi menyusul Hek-i Hui-mo!"

Sambil berkata demikian, Ang-bin Sin-kai melompat pergi dari situ, diikuti oleh Kwan Cu. Akan tetapi, Kwan Cu adalah seorang anak yang memiliki pribudi tinggi.

Melihat betapa Kiu-bwe Coa-li bertempur mati-matian melawan Jeng-kin-jiu untuk memperebutkan sesuatu yang kosong, dia merasa tidak tega. Terutama sekali terhadap Jeng-kin-jiu, hwesio gendut yang telah memberi nama kepadanya itu. Lebih-lebih lagi karena dia pun melihat betapa Sui Ceng ikut bertempur hebat melawan Lu Thong.

Maka sebelum dia melompat untuk menyusul suhunya dia berani bernyanyi denga suara keras karena dia mengerahkan khikangnya:

"Anjing-anjing bodoh berebut tulang tanpa ingat bahaya kehilangan nyawa.

Tak tahunya srigala belang membawa lari tulang sambil tertawa"

Tadi ketika Ang-bin Sin-kai dan Kwan Cu berada di atas genteng, Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu dan Kiu-bwe Coa-li tentu saja dapat mendengar, terutama sekali suara tindakan kaki Kwan Cu yang belum begitu tinggi ginkangnya seperti Ang-bin Sin-kai. Akan tetapi oleh karena kedua orang yang bertempur ini menghadapi lawan yang amat berat, mereka tak dapat dan tidak berani memecah perhatian yang berarti memperlemah pertahanan sendiri. Mereka hanya tahu bahwa di atas genteng terdapat orang-orang pandai yang mengintai dan menonton pertempuran mereka. Akan tetap ketika mendengar suara nyanyian Kwan Cu yang keras itu, mereka menjadi terkejut dan otomatis mereka menarik senjata masing-masing. "Sui Ceng, berhenti!" seru Kiu-bwe Coa-li kepada muridnya.

Adapun Jeng-kin-jiu yang juga mendengar nyanyian itu, tertawa bergelak. "Ha-ha-ha! Si gundul Kwan Cu benarbenar tepat sekali memaki kita! Memang kita anjing-anjing bodoh berebut tulang. Eh, Kiu-bwe Coa-li, apakah kau masih belum insyaf bahwa kau telah memperebutkan sesuatu yang kosong dan yang telah dibawa lari oleh srigala belang seperti dinyanyikan Kwan Cu tadi?"

Sebelum - Beranda - Lanjut

Tidak ada komentar:

Posting Komentar