10 Pendekar Kelana

"Hemm, aku mau mengampunimu kalau engkau mau menjawab pertanyaanku. Nah, katakan apa yang telah terjadi di dusun ini maka semua orang kelihatan ketakutan dan aku tidak melihat seorangpun wanita muda di sini.

Apa yang telah terjadi? Jawab dengan sejelasnya!" kata Si Kong dengan girang karena gertakannya berhasil.

"Ada…. ada malapetaka melanda dusun kami…"

Hayo jawab yang jelas. Malapetaka apakah itu?"

"Aku… takut menjawabnya, kongcu."

"Takut apa?"

"Kalau saya banyak bicara, tentu saya akan dibunuh…"

"Dan kalau engkau tidak mau menjawab, engkau bukan saja akan kubunuh, bahkan kusiksa lebih dulu. Sebaliknya kalau engkau suka menerangkan kepadaku, aku akan melindungimu dari bahaya apapun!"

Mendengar ucapan Si Kong itu, kakek penjaga kedai itu kelihatan agak lega.

"Kongcu, bukan hanya di dusun ini saja malapetaka itu menimpa, akan tetapi di semua dusun sekitar bukit Monyet di sana itu juga.

Iblis penjaga bukit Kera itu minta agar wanita-wanita muda , terutama yang cantik, dikorbankan kepadanya. Wanita itu harus dilempar ke dalam sumur tua. Entah sudah berapa banyak wanita menjadi korban dilempar ke dalam sumur tua…."

"Mengapa kalian suka melakukan itu?"

"Kami dipaksa, kongcu. Ada di dusun selatan yang tidak menurut dan akibatnya, pada malam harinya, kepala dusun dan tujuh orang lain dibunuh tanpa ada yang tahu siapa pembunuhnya, dan dalam semalam saja, tiga orang gadis telah lenyap tanpa ada yang tahu kemana perginya."

"Hemm…. aneh sekali ada iblis minta korban wanita muda yang cantik. Jadi karena itu, semua wanita muda mengungsi keluar dari dusun ini dan semua orang nampak ketakutan?"

"Benar, kongcu. Kami khawatir kalau-kalau iblis itu di malam hari akan datang dan membunuh kami. Akan tetapi tadi pagi ada kejadian aneh.

Ketika malam tadi kami semua mendengar suara iblis itu yang suaranya bergema minta agar hari ini disediakan korban seorang gadis, kami sudah kebingungan. Semua gadis telah pergi, yang ada hanya kanak-kanak dan nenek-nenek.

Lalu pagi tadi datang seorang gadis cantik dan gadis itu menawarkan dirinya untuk menjadi korban dan dilempar ke dalam sumur tua."

"Ah, siapakah gadis itu?"

"Tidak ada seorangpun yang mengenalnya. Akan tetapi ia membawa pedang, agaknya ia seorang pendekar wanita yang sengaja hendak menantang iblis penjaga gunung Kera itu, kongcu."

"Hemm, dan ia sudah dilempar ke dalam sumur tua?"

"Sudah dan bukan dilempar, melainkan ia meloncat kedalam sumur tua dan lenyap. Karena itu kami ketakutan, takut kalau-kalau iblis itu akan mengamuk karena ada gadis dari dusun kami yang hendak menentangnya.

Ahh, kami telah memberi peringatan kepada gadis itu, akan tetapi ia memaksa dan kami tidak dapat menghalanginya."

Si Kong mengerutkan alisnya. Dia dapat menduga bahwa yang berani berbuat demikian tentulah seorang pendekar wanita. Dia merasa kagum akan tetapi juga khawatir.

Dia tidak percaya bahwa ada iblis penjaga bukit yang menuntut agar dikorbankan gadis-gadis cantik. Ini tentu ulah orang-orang jahat. Mungkin penjahat itu lihai sekali sehingga tidak ada orang di dusun itu yang pernah melihatnya walaupun iblis itu membunuhi banyak orang di waktu malam. Dia khawatir kalau-kalau gadis itu akan mengalami celaka di dalam sumur tua.

"Paman, hayo antar aku ke sumur tua itu!" kata Si Kong.

Wajah kakek itu menjadi semakin pucat dan seluruh tubuhnya menggigil seolah dirinya diserang demam parah.

"Saya…. saya…. tidak berani, kongcu."

"Hayolah, ada aku jangan takut. Atau aku menggunakan kekerasan seperti ini?" Si Kong mengambil sebuah cangkir dan meremasnya dengan tangan kiri. Cangkir itu hancur berkeping-keping dan kakek itu semakin takut.

"Nah, mau antar aku ke sumur tua itu atau kau memilih kuhancurkan tulang-tulangmu?" Si Kong menggertak.

"Baik…. baik, kongcu… saya akan menutup dulu kedai ini…" Kakek itu ketakutan dan bergegas menutup kedainya. Kemudian bersama Si Kong dia meninggalkan dusun. Beberapa orang laki-laki yang melihat pemilik kedai berjalan bersama seorang pemuda asing, menjadi tertarik.

"Paman Kiu, hendak kemana engkau?" beberapa orang bertanya.

Kakek itu sengaja menjawab dengan suara keras agar terdengar banyak orang. Dia ingin mencari teman dalam keadaan terancam dan terpaksa itu. "Aku… mengantar kongcu ini ke sumur tua!!"

Semua orang terkejut dan meningkir, akan tetapi aa tujuh orang pemuda yang mengikuti dari belakang. Si Kong membiarkan saja mereka mengikuti, dan kakek itu kelihatan lega karena kini dia mempunyai teman yang mengantar pemuda itu ke sumur tua yang mereka takuti.

Mereka kini mendaki lereng bukti Kera menuju ke puncak. Matahari telah naik tinggi, sinarnya panas membakar sehingga kakek itu bersimbah peluh dan kadang d iusapnya muka dan lehernya dengan ujung lengan bajunya.

"Masih jauhkah, paman?" Si Kong bertanya.

"Sudah dekat. Itu puncaknya sudah nampak dari sini. Sumur tua itu berada di puncak bukit ini." Mereka melewati sebuah hutan kecil dan melihat banyak sekali kera di hutan itu. Mengertilah Si Kong mengapa bukit itu di sebut Bukit Kera, kiranya memang banyak kera hidup di bukit ini.

Tak lama kemudian tibalah mereka di puncak. Dengan tubuh gemetar kakek itu mengajak Si Kong menghampiri sebuah sumur tua. Tujuh orang pemuda berhenti di tempat yang agak jauh sambil memandang dengan hati tegang dan kaki siap untuk melarikan diri!

"Inilah sumurnya, kongcu ...."

Si Kong melihat betapa sinar matahari yang berada di atas menyinari sumur. Dia menghamp

ri dan nenjenguk ke dalam sumur. Akan tetapi kelihatannya gelap menghitam. Sinar matahari hanya smnpai bagian luar dan atas sumur itu saja. Sumur itu lebar, ada dua meter lebarnya, makin ke bawah makin nengecil.

"Nona berpedang itu melompat ke dalam sumur ini?" tanya Si Kong kepada kakek itu.

Kakek itu hanya mengangguk, tidak berani mengeluarkan suara, agaknya dingan was-was dia menunggu munculnya, munculnya iblis itu dari dalam sumur.

Kedua kakinya yang gemetar juga sudah siap melarikan diri. Si Kong menoleh dan melihat tujuh orang pemuda dusun masih berdiri di sana.

"Heiii, kalian sobat-sobat! Aku ingin nenyelidiki ke dalan sumur. Maukah kalian membawakan segulung tali yang kuat?

Kalau ada makin panjang semakin baik!" tujuh orang itu saling pandang, lalu mereka mengangguk dan larilah mereka dari puncak itu. Si Kong memeriksa keadaan sekitar sumur.

Tidak ada sesuatu yang aneh. Puncak itu tidak berapa lebar, hanya kurang lebih sepuluh meter lebarnya, menjulang ke atas. Dia mengambil sepotong batu sebesar kepalan tangannya dan menjatuhkan batu itu ke dalan sumur.

Dia nenanti sambil mendengarkan dengan penuh perhatian. Tidak ada suara apa-apa yang datang dari bawah sana, seolah-olah sumur itu tidak berdasar!

Kalau dasarnya air, tentu akan terdengar suara batu yang jatuh ke dalamya. Juga kalau dasarnya tanah, akan terdengar oleh pendengarannya yang terlatih.

Si Kong mengerutkan alisnya. Aneh sekali, pikirnya. Benarkah lubang sumur itu tidak berdasar atau dasarnya amat dalam hingga suara batu yang dia jatuhkan tidak dapat terdengar dari atas? Kalau seperti itu dalamnya, gadis pendekar itu tentu mengalami kecelakaan.

Mendadak telinganya menangkap suara yang hanya sayup-sayup terdengar olehnya. Seperti suara orang berkata-kata, seperti bisikan halus. Dia merasa heran dan bulu tengkuknya meremang juga.

Dia tidak pernah melihat setan. Akan tetapi pernah mendengar orang bercerita tentang setan yang seram-seram. Kini mendengar suara bisik-bisik itu, jantungnya berdebar dan terbayanglah dalan ingatannya perihal setan seperti yang pernah didengarnya. Ah, mustahil! Demikian dia mencela diri sendiri. Mana mungkin ada setan di tempat ini!

Tujuh orang pemuda itu berlarian mendaki puncak dan mereka menyerahkan segulung tali yang panjang kepada Si Kong. Si Kong mengikatkan ujung tali ke batang pohon yang tumbuh di si tu dan melemparkan gilungan tali itu ke dalam sumur. Lingkaran gulungan tali itu terbuka.

'Terima kasih atas bantuan kalian. Sekarang aku hendak turun ke dalam sumur ini."

Setelah Si Kong menuruni sumur melalui tali itu, tujuh orang pemuda dan kakek pemlik kedai itu tidak dapat menahan lagi rasa takut mereka. Mereka lalu meninggalkan sumur dan mengintai dari jarak jauh dengan hati tegang dan jantung berdebar.

Si Kong meninggalkan caping lebarnya di bibir surnur, akan tetpai dia membawa bambu pikulannya dan buntalan pakaiannya yang dia ikatkan di punggung.

Tali itu temyata panjang sekali dan setelah melewati batas antara bagian sumur yang mendapat cahaya matahari dan yang gelap, dia menuruni tali itu dengan hati-hati.

Tak lama kemdian tibalah dia di dasar sumur dan dia tersnyum sendiri ketia kakinya menyentuh sebuah jala. Kiranya ada sehelai jala dipasang di situ. Pantas batunya tidak mengeluarkan suara karena menimpa jala yang kuat dan lunak.

Begitu dia menginjak jala itu, terdengar suara berkelinting di arah kiri. Dia meraba-raba ke bagian kiri dan dan dapat kenyataan bahwa dinding sumur di bagian kiri itu kosong berlubang! Kalau begitu sumur itu bagian dasarnya mempunyai sebuah terowongan!

Setelah terdengar bunyi suara berkelinting tadi, segera disusul bunyi suara orang bercakap-cakap dan tak lama kemudian nampak sinar api di terowongan. Empat orang laki-laki datang dan seorang diantara mereka memegang sebuah lampu gantung yang sinarnya cukup terang.

Dalam penerangan sinar itu, nampaklah oleh Si Kong bahwa terowongan itu lebar dan tinggi kurang lebih dua meter garis tengahnya. Di pinggang empat orang itu nampak ada golok bergantung dan mereka membawa tali seolah hendak mengikat korban yang terjatuh ke dalam jala mereka.

Tentu dia dikira seorang gadis manis yang menjadi korban disuguhkan kepada iblis penjaga sumur. Tepat seperti dugaannya, bukan iblis yang menuntut dikorbankannya gadis-gadis muda dan cantik, melainkan segerombolan orang-orang jahat yang menipu penduduk dusun yang percaya akan tahyul!

Hati Si Kong menjadi panas sekali. Entah sudah berapa banyak gadis dusun yang menjadi korban-korban iblis-iblis itu. Dia menyembunyikan mukanya di bawah lengan agar mereka tidak dapat melihat dari jauh bahwa dia seorang pria. Setelah mereka menghampiri, dia mendengar dengan jelas kata-kata mereka.

"Wah, sudah datang lagi gadis manis untuk kita!"

"Engkau sudah mendapat bagian, aku yang belum."

"Yang ini untukku, akan kuminta pada Twako!"

Ketika mereka sudah tiba dekat, dalam jarak dua meter, Si Kong melompat keluar dari dalam jala dan tiga kali tangannya bergerak menotok dan tiga orang itu roboh tak dapat berkutik lagi. Dia mencengkeram pundak orang ke empat yang membawa lampu sehingga orang itu menyeringai karena pundaknya seperti dicengkeram jepitan baja saja.

"Jangan berteriak atau bergerak kalau tidak ingin mati!" Si Kong berbisik, dan dari pundak yang gemeteran tahulah Si Kong bahwa orang itu ketakutan.

"Hayo katakan berapa banyak kawan-kawanmu?"

Agaknya orang ketakutan itu hendak menggertak, maka dia segera menjawab, "Ada lima belas orang dan dipimpin oleh Twako (Kakak Tertua) yang amat lihai. Engkau berani masuk ke sini, berarti engkau akan mati tersiksa."

Si Kong memperkuat cengkeraman tangannya dan orang itu mengaduh-aduh. "Aduh… ampunkan saya…" dia meratap.

"Dimana gadis-gadis korban itu?"

"Diruangan sana, dikumpulkan menjadi satu. Kalau ada yang dibutuhkan, diambil dan dibawa…."

"Antarkan aku kesana!"

Dia melepaskan cengkeramannya dan mendorong orang yang membawa lampu itu ke depan. Orang itu hendaknya akan lari, akan tetapi setelah merasakan lagi cengkeraman di pundaknya, dia maklum bahwa dia sudah tidak berdaya.

"Baik, akan kuantarkan. Akan tetapi lepaskan dulu pundakku…. aduhh, sakit….!"

Si Kong mengendurkan cengkeramannya dan mendorong orang itu yang terhuyung-huyung melangkah maju. Setelah berjalan sejauh kurang lebih seratus meter dan jalan itu membelok ke kanan, nampak ruangan yang mendapatkan cahaya matahari. Orang itu menggantungkan lampu di tempat gantungan yang tersedia.

Si Kong memperhatikan sekelilingnya. Agaknya terowongan itu sengaja dibuat orang. Bagian itu merupakan dasar sebuah sumur yang tidak begitu dalam, maka mendapatkan sinar matahari dari atas. Orang itu lalu melangkah terus, jalan mulai mendaki naik.

Setelah tiba di depan sebuah ruangan yang memakai jeruji besi pada pintunya, orang itu berhenti. Si Kong melihat belasan orang gadis berada dalam ruangan itu, ada yang sedang menangis dan ada yang memandang kosong dan putus asa.

Dia tertarik kepada seorang gadis yang kedua tangannya diikat pada gelang-gelang yang tertanam di dinding itu. Terkejutlah dia ketika mendapat kenyataan bahwa gadis itu adalah Hui Lan, Tang Hui Lan! Akan tetapi gadis itu tidak melihatnya, melainkan menundukkan mukanya dan sikapnya tenang sekali.

Dari depan terdengar suara orang. Si Kong cepat menotok tawanannya dan menyeretnya ke tempat gelap, kemudian dia mengintai. Belasan orang mendatangi tempat itu, mengiringkan seorang laki-laki tinggi besar yang mukanya penuh bekas penyakit cacar.

Akan tetapi laki-laki bopeng (cacat mukanya) ini mempunyai mata yang mencorong penuh kekejaman dan agaknya dia menjadi kepala mereka semua karena belasan orang itu nampak tunduk dan hormat kepadanya.

"Sekali ini kami bersumpah, twako. Twako tentu akan senang sekali mendapatkan yang ini. Ia luar biasa cantik jelitanya tidak seperti perawan-perawan gunung yang sederhana itu. Ketika jatuh ke dalam jala ia pingsan.

Melihat ia membawa pedang, kami lalu merampas pedang dan mengikat kedua tangannya pada gelang baja. Nah, itu dia, twako, agaknya sudah sadar. Aduh, cantiknya seperti puteri kaisar saja!"

Si tinggi besar muka bopeng itu hanya menggumam, akan tetapi setibanya di depan pintu berjeruji, dia berhenti dan memandang ke arah gadis yang diikat itu dengan bengong. Ternyata anak buahnya tidak berlebihan dalam keterangannya. Seorang gadis yang luar biasa!

"Ha-ha, ia cantik dan membwa pedang? Berarti ia tentu sedikit banyak pandai bersilat. Ia pantas menjadi sisihanku, menjadi isteriku! Bukakan daun pintu ini! Aku sendiri yang akan melepaskan ikatan kedua tangannya yang mungil itu!"

Anak buahnya tertawa-tawa senang melihat pemimpin mereka puas, dan dua orang dari mereka cepat membuka daun pintu yang dipasangi rantai yang dikunci itu.

Begitu daun pintu di buka, si bopeng itu lalu melangkah masuk dan menghampiri Hui Lan. Si Kong melihat ini dan seluruh urat syarafnya sudah menegang, siap untuk menerjang kalau si bopeng itu melakukan hal yang tidak sopan terhadap Hui Lan.

Si bopeng itu telah berdiri di depan Hui Lan dan dia tertawa bergelak. "Hebat, cantik jelita, kulitnya begitu putih mulus! Ha-ha-ha!"

Setelah tertawa dan berkata memuji kecantikan tawanan itu, kedua tangannya yang besar bergerak hendak me- lepaskan tali pengikat kedua tangan Hui Lan. Tiba-tiba Si Kong yang mengintai itu tersenyum. Dia melihat gadis itu mengangkat mukanya dan melihat betapa mata gadis itu mencorong seperti mata naga.

Sekilas pandang saja tahulah Si Kong bahwa dara perkasa itu hanya pura-pura, padahal telah siap siaga sejak meloncat ke dalam sumur! Si Kong merasa kagun bukan main. Dia sendiri tentu akan berpikir dua kali kalau harus meloncat begitu saja ke dalam sumur yang gelap itu dan belum tahu apa yang akan dihadapinya di dasar sumur.

Dugaannya benar. Begitu si bopeng menjulurkan kedua tangan untuk melepaskan ikatan tangan Hui Lan, tiba-tiba saja kedua tangan gadis yang tadinya terikat, sudah lepas begitu saja dan sekali tangan kiri si gadis itu memukul dengan tangan terbuka miring yang mengenai dada si bopeng, pemimpin gerombolan itu terjengkang dan terbanting ke atas lantai, mengaduh-aduh dan mulutnya mengeluarkan darah!

Melihat ini, belasan orang anggauta gerombolan itu menjadi terkejut dan marah. Akan tetapi sebelum mereka dapat berbuat sesuatu terdengar suara Hui Lan membentak dengan nyaring penuh wibawa.

"Kalian hanya anjing-anjing yang pandai menggonggong! Anjing-anjing yang pandai menggonggong!"

Si Kong menahan tawanya ketika belasan orang itu tiba-tiba saja menjatuhkan diri merangkak dengan kaki tangan mereka seperti anjing dan mereka menyalak dan menggonggong riuh rendah sambil merangkak ke sana ke mari! Ternyata segerombolan orang itu telah terpengaruh oleh sihir yang dilepas Hui Lan.

"Adik Hui Lan….!" Si Kong melompat keluar dari tempat sembunyinya. Hui Lan terkejut dan cepat mengangkat muka memandang. Dengan alis berkerut ia memandang Si Kong, mengira bahwa ada anggauta gerombolan yang tidak terkena sihirnya. Akan tetapi ketika ia sudah melihat jelas, ia segera mengenal pemuda itu dan memandang dengan penuh keheranan.

"Engkau… kakak Si Kong! Bagaimana engkau dapat berada di sini?" Pandang matanya tiba-tiba berubah penuh kecurigaan. "Apakah engkau menjadi satu dengan gerombolan anjing-anjing ini?"

Si Kong tersenyum dan menggeleng kepalanya. "Bagaimana aku dapat menjadi satu dengan mereka?

Aku menuruni sumur untuk melakukan penyelidikan, setelah mendengar keterangan orang dusun.

Kiranya gadis yang tadi pagi meloncat ke dalam sumur adalah engkau, Lan-moi. Ah, kekhawatiranku sia-sia saja. Kalau engkau tentu tidak membutuhkan bantuan siapapun!"

"Nanti saja kita bicara, Kongko. Mari bantu aku membawa gadis-gadis ini keluar dari sini dan menyeret anjing-anjing ini keluar agar dapat dihajar oleh penduduk dusun."

"Baik, Lan-moi. Anjing-anjing itu sebaiknya dibuat tidak berdaya," kata Si Kong dan dia lalu memasuki ruangan tahanan itu. Berkali-kali tangannya bergerak dan setiap gerakan tentu merobohkan seorang penjahat yang sedang merangkak dan menggonggong itu. Sebentar saja belasan orang itu sudah tertotok semua, termasuk si muka bopeng yang telah menderita luka parah oleh pukulan tangan Hui Lan tadi.

Dengan penerangan lampu yang dibawa seorang gadis yang telah dibebaskan Si Kong menyeret belasan orang itu ke dasar sumur.

"Engkau naiklah dulu, Lan-moi. Setelah berada di atas, panggil penduduk dusun agar mereka mengangkat naik gadis-gadis ini dan juga gerombolan ini!"

"Baik, Kong-ko!" Dengan sigap dan cepat sekali Hui Lan merayap naik dengan bergantung pada tali yang tadi dipakai Si Kong untuk turun ke dalam sumur.

Para pemuda dusun yang tadi bersama kakek pemilik kedai mengintai dengan jantung berdebar tegang dan ketakutan, tiba-tiba melihat Hui Lan melompat keluar dari sumur. Gadis ini telah mengambil kembali sepasang pedangnya dari sebuah kamar bawah tanah yang menjadi gudang berisi barang-barang berharga hasil rampokan. Melihat gadis yang tadi pagi melompat ke dalam sumur kini muncul dari dalam sumur, tujuh pemuda dusun dan kakek itu menjadi girang dan beramai-ramaii mereka menghampiri.

"Bagaimana, lihiap?" kata mereka, tidak ragu lagi menyebut lihiap (pendekar wanita) kepada Hui Lan.

"Beres, gadis-gadis itu sebentar lagi akan naik ke sini, juga iblis-iblis itu telah tertangkap dan akan di naikkan pula."

Orang-orang itu terbelalak ketakutan mendengar bahwa iblis-iblis telah tertangkap. Bagaimanapun juga, kalau harus menghadapi iblis-iblis, walaupun sudah tertangkap, mereka merasa ngeri.

Melihat mereka sudah siap untuk kabur lagi, Hui Lan tertawa.

"Jangan bodoh, yang kumaksudkan dengan iblis-iblis itu tentu saja bukan iblis aseli, melainkan penjahat-penjahat yang mengaku sebagai iblis."

Mendengar ini, mereka menjadi lega. "Sekarang bersiap-siaplah untuk menarik tali itu. Dan kakek ini boleh pulang ke dusun memberi tahu semua orang dusun untuk menjemput gadis-gadis korban yang menjadi keluarga mereka."

Kakek pemilik kedai segera berlari turun. Saking girangnya dia tidak mengenal lelah sehingga setelah tiba di dusunnya, dia terengah-engah sukar bicara dan tentu akan jatuh pingsan kalau tidak segera ditolong penduduk dusun.

"Lihiap itu… telah membebaskan semua gadis korban dan telah menangkap segerombolan penjahat yang menipu kita menjadi iblis dan setan."

Berita ini segera tersiar luas dan didengar pula oleh pendoouk dusun-dusun di sekitar pegunungan Kera itu. Maka berbondong-bondonglah mereka itu menuju ke puncak.

Sementara itu, Hui Lam memberi isarat kepada Si Kong dengan menarik-narik tali. Si Kong yang berada di bawah, sudah membuatkan tempat duduk dart jala yang berada di situ, diikatkan dengan ujung tali dan memberi isarat dengan menarik-narik tali itu. Hui Lan mengerti dan ia menyuruh tujuh orang pemuda itu untuk nenarik tali ke atas.

Gadis pertama muncul. Semua orang bersorak gembira, terutama mereka yang mengenal gadis ini dan keluarganya. Orang-orang dusun sudah berkumpul semua di sekeliling sumur. Tua muda dan anak anak bersorak dan gadis itu tersedu-sedu dalam rangkulan ibunya.

Tempat duduk dari jala itu lalu diturunkan kembali. Gadis kedua, ketiga dan seterusnya diangkat satu demi satu dan sorak sorai terdengar setiap kali ada gadis yang tiba di luar sumur. Akhirnya semua gadis yang pernah menjadi korban "iblis-iblis" itu telah dikeluarkan dari dalam sumur.

Orang berikutnya yang ditarik keluar sumur amat berat sehingga membutuhkan tenaga banyak orang untuk menarik tali. Ketika orang itu muncul, ternyata dia adalah kepala gerombolan yang tinggi besar bermuka bopeng. Mulutnya masih berlepotan darah dan dia tidak mampu berkutik karena sudah ditotok oleh Si Kong.

"Nah, inilah yang mengaku-ngaku iblis penjaga sumur itu. Kalian lihat, dia manusia biasa, bukan? Manusia biasa, akan tetapi amat jahatnya. Dia dan belasan orang anak buahnya yang mengganggu kalian, minta agar gadis-gadis dan perhiasan-perhiasan dikorbankan dan dilemparkan ke dalam sumur."

Mendengar ucapan Hui Lan itu, para penduduk dusun menjadi marah, terutama yang gadisnya dijadikan korban. Mereka maju serentak untuk memukuli si bopeng tang sudah tidak berdaya itu. Ada yang menggunakan alat bertani seperti cangkul, kapak dan lain-lain.

"Sudah! Cukup! Jangan dibunuh!" teraik Hui Lan, akan tetapi ia terlambat. Ketika orang-orang itu mundur, si muka bopeng sudah menjadi seonggok daging berlumuran darah!

"Kalian bertindak berlebihan!" Hui Lan menegur. "Mereka memang jahat dan perlu dihukum, akan tetapi tidak dibunuh dan dibantai seperti itu! Ingat, aku akan marah kalau kalian ulangi lagi perbuatan itu atas diri para penjahat yang akan dikeluarkan semua!"

Seruan Hui Lan itu mengandung wibawa yang kuat dan semua orang menundukkan muka. Hui Lan lalu memberi isarat kepada Si Kong dibawah untuk mengisi tempat duduk yang sudah diturunkan. Si Kong lalu memberi tanda dengan tarikan tali.

Orang kedua dikeluarkan dan kini hanya caci maki yang terlontar dari mulut semua orang terhadap penjahat itu yang menjadi ketakutan setengah mati melihat demikian banyak orang marah-marah seolah hendak menelan dia bulat-bulat!

Demikianlah, satu demi satu penjahat dikeluarkan dan mereka semua menjadi ketakutan setengah mati ketika melihat pemimpin mereka sudah tewas dengan tubuh hancur.

Akan tetapi mereka tidak dibunuh, hanya diseret dan digeletakkkan ke atas tanah. Setelah semua penjahat ditarik keluar, paling akhir yang keluar adalah Si Kong sendiri yang membawa sebuah peti.

Semua orang bersorak karena mereka semua sudah mendengar dari kakek pemilik kedai betapa penuda itu menuruni sumur dan menolong para gadis yang ditahan.

Si Kong megangkat kedua tangan ke atas dan membuka peti. Temyata di dalamnya terisi banyak perhiasan dari emas permata.

"Mereka yang merasa sudah melemparkan perhiasannya ke dalam sumur, boleh mencari perhiasannya dan mengambilnya kembali.

Akan tetapi yang merasa tidak mempunyai perhiasan yang dirampok, jangan mengambil sesuatu dari dalam peti. Awas, aku tidak akan mengampuni mereka yang bertindak curang dan mengambil barang yang bukan miliknya!"

Mereka yang merasa kehilangan kahilangan karena pernah diancam oleh suara iblis agar menyerahkan perhiasan mereka dan melemparkan ke dalam sumur, segera mencari perhiasan masing-masing dan akhir nya semua orang telah memperoleh kembali perhiasan mereka.

Akan tetapi didalam peti itu masih terdapat banyak sekali benda-benda berharga dari emas, batu kemala dan lain-lain.

"Panggil kepala dusun ke sini!" kata Si Kong. Ternyata kepala dusun juga sudah berada di antara penduduk dusun dan dia segera mkelangkah maju ketika mendengar seruan Si Kong.

"Paman kepala dusun di sini ?"

"Benar, taihiap."

"Dengarlah baik-baik. Kalau ada orang-orang seperti para pengacau ini, kumpulkan orang sedusun, atau kalau perlu ditambah para penghuni dusun tetangga, satukan tenaga untuk menghadapi dan nenghajar para penjahat itu. Jangan percaya kepada kabar dan cerita tahyul."

"Baik, taihiap," kata kepala dusun yang tadi ikut pula memukuli kepala penjahat itu. "Mulai sekarang, kami akan melakukan perlawanan."

"Bagus! Nah, segerombolan penjahat ini sudah mendapat hajaran keras. Kalau berani muncul lagi di tempat ini jangan ragu keroyoklah ramai-ramai."

"Baik, taihiap."

Si Kong menghadapi gerombolan yang masih rebah malang melintang tak mampu bergerak itu, lalu memulihkan jalan darah mereka yang tertotok satu demi satu.

Para penjahat itu sudah mendengar semua pembicaraan Si Kong dengan penduduk dan kepala dusun, maka begitu dapat bergerak, mereka lalu berlutut dan minta-minta ampun.

"Kalian benar-benar telah bertaubat? Awas, kalau berani sekali lagi aku melihat kalian berbuat jahat, aku tidak akan mengampunimu lagi. Sekarang, pergilah dan bawa mayat pemimpin kalian, kubur di tempat yang jauh dari sini. Nah pergilah!"

Para penjahat itu menghaturkan terima kasih dan segera mengangkut sisa mayat si bopeng, lalu pergi dari situ dengan cepat. Mereka sangat ketakutan.

Sejak mereka melihat pemimpin mereka roboh muntah darah dihantam oleh gadis itu, mereka tidak tahu lagi apa yang terjadi dengan mereka!

Mereka hanya teringat secara samar-samar betapa mereka merasa berubah menjadi anjing, kemudian mereka tidak mampu bergerak, hanya melihat betapa mereka satu demi satu ditarik naik keluar dari sumur dalam keadaan tidak mampu bergerak dan dikepung penduduk dusun yang nampak marah sekali kepada mereka.

Mereka sudah putus asa dan tentu mereka akan dibunuh seperti yang terjadi pada pemimpin mereka. Maka, dapat dibayangkan betapa lega dan senang hati mereka dilepas dan diampuni.

Pengalaman mereka itu sedikit banyak akan mempengaruhi jalan kehidupan mereka selanjutnya, membuat mereka jerih untuk melakukan kejahatan lagi.

Si Kong menghampiri Hui Lan yang sejak tadi menonton saja dan berkata kirih, "Bagaimana pendapatmu, Lan-moi, jika sisa perhiasan ini kita bagikan kepada keluarga mereka yang terbunuh dan keluarga para gadis yang menjadi korban?"

Hui Lan sejak tadi menonton dengan hati kagum. Kalau menurut hatinya, ingin ia memberi hajaran keras kepada para penjahat itu!

Akan tetapi Si Kong membebaskan mereka setelah menakut-nakuti mereka. Kini mendengar pertanyaan Si Kong, ia berkata, "Terserah kepadamu, Kong-ko. Aku hanya dapat menyetujui saja."

Si Kong melambaikan tangannya memanggil kakek pemilik kedai minuman itu. "Paman, engkau kuangkat menjadi orang yang bertugas membagi-bagi perhiasan ini dengan adil kepada keluarga mereka yang dibunuh para penjahat dan keluarga para gadis yang menjadi korban. Sanggupkah engkau, paman?"

Kakek itu kelihatan bangga sekali. "Serahkan saja kepada saya, taihiap. Saya akan membagi-bagi secara adil."

Si Kong berkata kepada kepala dusun. "Paman menjadi pengawasnya agar pembagian berjalan lancar dan adil. Harap panggil keluarga para korban pembunuhan dan penculikan dan membagi-bagi perhiasan ini secara adil."

Kepala dusun mengangguk setuju. Si Kong lalu berkata kepada Hui Lan. "Semua sudah beres, mari kita pergi, Lan-moi!"

Hui Lan mengangguk dan kedua orang muda perkasa itu sekali berkelebat lenyap dari depan semua orang. Melihat ini, semua orang terkejut dan ketahyulan kembali melanda hati mereka.

Kepala dusun yang lebih dulu menjatuhkan diri berlutut menghadap ke arah berkelebatnya dua orang itu. Semua penduduk segera mengikuti kepala dusun, berlutut sambil berterima kasih kepada dua orang "dewa-dewi" yang telah membebaskan mereka dari ancaman iblis jahat.

Dari jauh mereka mendengar yang dapat terdengar jelas oleh mereka, "Jangan lupakan persatuan melawan yang jahat. Selamat tinggal!" Itu adalah suara Si Kong yang sengaja diucapkan dari jauh dengan pengerahan khikang sehingga dapat terdengar oleh mereka yang berada di sekeliling sumur tua.

Kepala dusun memimpin semua orang, untuk melempar-lemparkan banyak batu ke dalam sumur sehingga sumur itu penuh batu dan tidak mungkin dilewati orang lagi. Kemudian, dengan pengawasan kepala dusun, mulailah perhiasan itu dibagi-bagikan kepada keluarga mereka yang tewas dan keluarga para gadis yang menjadi korban.

***

Mereka duduk di atas batu di bawah sebuah batang pohon besar. Matahari telah condong ke barat, namun cuaca masih terang. Mereka diam saja dan kadang saling pandang. Akhirnya Hui Lan yang biasanya lincah itu mengeluarkan suara memecah kesunyian.

"Bagaimana engkau bisa masuk ke dalam sumur itu, Kong-ko? Ceritakanlah dari awal."

Si Kong tersenyum memandang gadis yang hebat itu. Dia pernah mengagumi Siangkoan Cu Yin, merasa suka kepada gadis berandalan itu, akan tetapi dalam hal ilmu kepandaian, kekagumannya terhadap Hui Lan ini lebih mendalam.

"Hanya kebetulan saja, Lan-moi. Siang tadi kebetulan aku lewat di dusun ini dan membeli minuman dikedai kakek tadi.

Aku melihat keadaan dan suasana yang ganjil sekali. Aku tidak melihat ada wanita muda di dusun itu dan kaum prianya kelihatan panik dan ketakutan. Bahkan ketika melihat aku yang asing bagi mereka, mereka memandang penuh kecurigaan.

Karena itu aku lalu membujuk kepada kakek pemilik kedai untuk menceritakan apa yang terjadi. Akan tetapi dia ketakutan dan menolak untuk bercerita.

Terpaksa aku mengalahkan rasa takutnya kepada sesuatu itu menjadi rasa takut terhadap diriku.

Aku mengancam dia dan akhirnya dia mengaku akan adanya setan yang mengganggu penduduk, betapa setan itu minta perhiasan dan bahkan gadis-gadis muda dan cantik.

Dia bercerita tentang sumur setan dimana gadis-gadis itu dilempar ke dalam sumur, juga dia bercerita tentang seorang gadis yang dengan suka rela melompat ke dalam sumur itu.

Selanjutnya aku mencari tali panjang dan menuruni sumur itu. Kurobohkan beberapa orang yang berada di dasar sumur, dan kutotok mereka.

Lalu aku memaksa seorang diantara mereka untuk menunjukkan dimana adanya ruangan yang dipergunakan untuk menawan para gadis itu.

Setelah tiba di sana, aku melihat engkau diantara para gadis dan kebetulan gerombolan itu datang memasuki ruangan itu.

Begitulah awal mulanya aku sampai masuk ke dalam sumur itu. Dan engkau sendiri, bagaimana bisa menjadi tawanan mereka? Tentu engkau yang dikatakan kakek itu sebagai gadis yang dengan suka rela masuk ke dalam sumur itu, bukan?"

"Benar, Kong-ko. aku juga secara kebetulan saja lewat di luar dusun itu.

Dalam perjalanan itu aku melihat seorang gadis bersama ibunya melarikan diri sambil menangis ketakutan.

Aku hentikan mereka dan kutanyakan apa sebabnya. Gadis itu lalu menceritakan tentang setan yang meminta korban gadis-gadis dan bahwa gadis itu semalam telah diminta oleh suara setan diatas rumah mereka.

Karena ketakutan dan tidak sudi dijadikan korban setan, gadis itu lalu mengajak ibunya melarikan diri. aku menjadi penasaran sekali dan kumasuki dusun itu, kuceritakan kepada mereka bahwa aku bersedia dijadikan korban menggantikan gadis yang melarikan diri.

Aku lalu diantar ke atas puncak, menghampiri sumur itu. Kemudian aku lalu meloncat masuk ke dalam sumur."

"Akan tetapi, Lan-moi. Bagaimana engkau berani meloncat kedalam sumur yang tidak kelihatan dasarnya itu, dan yang belum kauketahui bagaimana keadaan di dalamnya?"

Hui Lan tersenyum. "Sudah kuperhatikan dengan baik, Kong-ko. Kalau para gadis itu dilempar ke dalam sumur, berarti mereka tentu tidak akan mati ketika tiba di dasar sumur. Kalau mereka itu mati, untuk apa penjahat itu minta korban gadis?"

"Bukankah yang minta korban gadis itu menurut para penduduk adalah iblis penjaga sumur tua?"

"Hemm, siapa dapat percaya? Sejak semula aku sudah menduga bahwa hal itu dilakukan penjahat yang pura-pura menjadi setan, dan aku menduga bahwa penjahat itu tidak hanya seorang. Nah, setelah yakin bahwa gadis-gadis itu tidak mati, aku lalu melompat ke dalam sumur, tentu saja aku waspada dan mengerahkan ginkang untuk menjaga kalau-kalau ada bahaya maut mengancam di dasar sumur."

"Engkau sungguh pemberani sekali, Lan-moi."

"Engkaupun masuk ke dalam sumur. Entah siapa yang lebih berani, engkau atau aku. nah, setelah tiba di bawah, ternyata ada sehelai jaring yang menangkap aku. begitu tubuhku menyentuh jaring, terdengar suara berkelentingan dan muncul empat orang yang membawa sebuah obor. Aku pura-pura tidak berdaya ketika ditangkap dan sepasang pedangu dirampas."

"Kenapa engkau menyerah begitu saja, Lan-moi?"

"Aku ingin berhadapan sendiri dengan pemimpin mereka dan tepat seperti yang kuduga, akhirnya dia muncul dan barulah aku membebaskan diri untuk menghantam mereka."

"Sebetulnya dari manakah datangnya gerombolan itu? Apakah mereka itu para anggauta dari perkumpulan sesat yang lebih besar?"

"Ah, kurasa tidak, Kong-ko. Mereka itu hanya gerombolan perampok biasa yang menemukan terowongan bawah tanah itu untuk menakut-nakuti penghuni dusun-dusun yang masih bodoh. Dengan cara demikian mereka dapat mengumpulkan perhiasan dan juga gadis-gadis gunung dengan mudah, bahkan tanpa kekerasan.

Mereka adalah manusia-manusia kejam yang sudah sepatutnya dibasmi dari permukaan bumi. Mereka tadi merasa enak dibebaskan begitu saja." Kalimat terakhir ini diucapkan Hui Lan dengan nada menegur.

"Gerombolan seperti itu biasanya hanya mengekor saja perbuatan pemimpin mereka. Kepala penjahat telah terbunuh oleh orang-orang dusun, dan anak buah penjahat itu pun sudah mendapat hajaran keras. Kukira mereka akan menyadari kejahatan mereka dan akan mengubah cara hidup mereka."

Hui Lan tidak membantah lagi. Watak pemuda itu seperti watak ayahnya, mudah memaafkan dan tidak suka sembarangan membunuh orang.

Tidak seperti watak ibunya yang keras dan bertindak tegas terhadap para penjahat sehingga setiap mirud Cin-ling-pai juga memiliki watak seperti itu. Keras tidak mengenal ampun terhadap orang-orang jahat. Wataknya sendiri berada di tengah-tengah antara watak ayahnya yang pengampun dan watak ayahnya yang pengampun dan watak ibunya yang tidak mengenal ampun.

"Kalau boleh aku mengetahui, sebenarnya engkau hendak pergi kemana, Lan-moi?" tanya Si Kong mengalihkan pembicaraan.

"Aku hendak pergi ke Kwi-liong-san," kata Hui Lan berterus terang.

"Si Kong memandang dengan wajah berseri. "Pek-lui-kiam….?"

Hui Lan juga tercengang. "Eh, engkau juga mengetahui?"

"Siapa yang tidak tahu tentang pedang pusaka itu, Lan-moi. Aku bahkan dimintai tolong oleh puteri pendekar Tan Tiong Bu untuk membantunya mencari pembunuh ayahnya."

"Hemm, kaumaksudkan Ang I Sianjin ketua Kwi-jiauw-pang di Kwi-liong-san?"

Si Kong mengangguk. "Agaknya engkau tahu lebih banyak tentang Ang I Sianjin, Lan-moi."

"Tahu lebih banyak juga tidak. Aku hanya mendengar bahwa pendekar Tan Tiong Bu terbunuh oleh seorang kakek berjubah merah dan menurut dugaan orang pembunuh dan pencuri pedang itu adalah Ang I Sianjin."

"Engkau hendak merampas Pek-lui-kian, Lan-moi?"

"Kalau memang benar Ang I Sianjin pencurinya, tentu aku akan mencoba untuk merampasnya. Nama Kwi-jiauw-pang sudah tersohor di empat penjuru sebagai perkumpulan sesat yang kejam. Kalau dibiarkan Ang I Sianjin memiliki Pek-lui-kiam, tentu dia akan menjadi lebih kejam dan sewenang-wenang. Akan tetapi kalau pedang itu berada di tangan pendekar budiman, akupun tidak akan mengganggunya. Dan engkau sendiri hendak kemana, Kong-ko?"

Sama dengan engkau, Lan-moi. Sudah kukatakan tadi bahwa aku hendak membantu puteri mendiang Tan Tiong Bu untuk merampas kembali pedang pusaka itu. Kalau berhasil tentu akan kuserahkan kepadanya yang berhak sebagai pewaris pedang milik ayahnya."

"Tidak perlukah untuk menyelidiki dulu dari mana Tan Tiong Bu mendapatkan pedang itu? Aku mendengar bahwa pembuat pedang Pek-lui-kiam adalah seorang sakti berjuluk Pek-sim Lo-sian (Dewa Tua Berhati Putih). Karena itu patut diselidiki bagaimana pedang pusaka itu dapat jatuh ke tangan pendekar Tan Tiong Bu."

Si Kong tertegun dan mengangguk-angguk. "Kalau demikian persoalannya, memang engkau benar. Tadinya aku mengira bahwa pedang pusaka memang milik yang sah dari mendiang pendekar Tan Tiong Bu. Kalau begitu, apakah engkau berkeberatan melakukan perjalanan ke Kwi-liong-san bersama aku, Lan-moi?"

Hui Lan menatap wajah pemuda itu dengan pandang mata penuh selidik. Dia belum mengenal benar pemuda ini, akan tetapi dia adalah murid kakek-buyutnya yang setia dan berbakti. Ia akan melihat bagaimana sikap Si Kong selanjutnya kalau mereka melakukan perjalanan bersama.

Kalau sikapnya tidak menyenangkan, mudah saja menghentikan perjalanan bersama itu untuk berpisah dan mengambil jalan sendiri.

Sebaliknya kalau sikapnya sopan dan menyenangkan, apa salahnya melakukan perjalanan? Sebagai murid kakek-buyutnya, Si Kong dapat dikatakan sebagai "orang sendiri".

Hui Lan tersenyum dan menggeleng kepalanya. "Tentu saja aku tidak keberatan. Bukankah tujuan kita sama? Bahkan kita dapat bekerja sama dalam penyelidikan kita terhadap Ang I Sianjin."

Si Kong merasa girang sekali. Mereka lalu melakukan perjalanan bersama dan di sepanjang jalan, Si Kong termenung. Dia teringat kepada Siangkoan Cu Yin! Gadis puteri datuk Lam Tok itu membujuknya untuk melakukan perjalanan bersama, akan tetapi dia menolaknya dan kini dia malah ingin melakukan perjalanan bersama seorang gadis lain!

Akan tetapi, Hui Lan tidak dapat disamakan dengan Cu Yin. Gadis ini puteri sepasang pendekar yang kenamaan dan sikapnya gagah dan lembut. Sedangkan Cu Yin sama sekali berbeda. Gadis yang suka menyamar sebagai pria itu nakal, suka mengganggu orang, dan terutama sekali membuat dia tidak suka melakukan perjalanan bersama adalah pengakuan Cu Yin bahwa gadis itu mencintainya!

Andaikan Cu Yin masih menyamar sebagai pria, dia akan senang sekali melakukan perjalanan dengannya. Akan tetapi melakukan perjalanan dengan seorang gdais yang mencintainya, padahal dia sendir belum pernah mencinta gadis manapun juga, tentu akan sangat mengganggu kedamaian hatinya.

Belum jauh Si Kong melakukan perjalanan bersama Hui Lan pada hari itu, senja telah datang dan matahari sudah tidak nampak, hanya sinarnya yang lemah masih memungkinkan mereka melakukan perjalanan.

"Wah kita akan kemalaman di jalan kalau tidak dapat menemukan sebuah dusun, Kong-ko."

"Biar kuselidiki apakah ada dusun disekitar tempat ini," kata Si Kong dan dia lalu melompat ke pohon besar lalu memanjat ke atas.

Dari atas pohon itu dia memandang ke empat penjuru. Akan tetapi, yang nampak hanya warna hijau gelap dari puncak-puncak pohon. Di empat penjuru yang ada hanya hutan, tidak nampak adanya rumah orang! Diapun melompat turun kembali.

"Sama sekali tidak nampak ada rumah orang disekitar sini, Lan-moi. Agaknya kita akan kemalaman di tengah hutan. Akan tetapi di bagian selatan nampak ada lapangan rumput yang terbuka, agaknya disana kita dapat melewatkan malam lebih menyenangkan daripada di dalam hutan."

Hui Lan mengangguk. "Kalau begitu kita pergi ke selatan, ke lapangan rumput itu, Kong-ko."

Mereka lalu melakukan perjalanan cepat ke selatan karena sebentar lagi bumi akan diselimuti kegelapan dan melakukan perjalanan tidak mungkin lagi.

Tak lama kemudian, tibalah mereka di sebuah lapangan rumput yang terbuka, tepat pada saat malam tiba dan marga satwa mulai memperdengarkan suara puja puji terhadap Yang Maha Kuasa.

"Tempat ini cukup menyenangkan," kata Hui Lan dan hati Si Kong menjadi lega. Tadinya dia khawatir kalau Hui Lan merasa kecewa dan tidak senang karena mereka terpaksa harus melewatkan malam di situ.

"Memang lebih enak daripada di tengah hutan. Rumputnya bersih, seperti permadani hijau digelar luas. Aku akan membuat api unggun, Lan-moi."

Si Kong lalu cepat pergi ke hutan di sebelah, mengumpulkan ranting kering. Biarpun cuaca sudah mulai gelap, dapat juga dia memperoleh ranting dan daun kering yang banyak. Dia lalu membuat api unggun dan setelah api unggun bernyala besar, mereka berdua merasa gembira sekali.

Suasana menjadi demikian indah di tempat itu. Asap api unggun mengusir nyamuk, dan panasnya api unggun mengusir kedinginan hawa udara yang tentu akan sangat mengganggu mereka yang melewatkan malam di tempat terbuka seperti itu. Masih untung bagi mereka bahwa malam itu tidak ada angin besar.

Mungkin karena di sekeliling tempat itu tumbuh pohon-pohon besar yang merupakan dinding hijau yang menahan tiupan angin sehingga di lapangan itu angin hanya bertiup semilir saja.

Kalau mereka berdongak memandang ke atas, nampak pemandangan yang luar biasa indahnya. Bersama tenggelamnya matahari, bermunculan bintang-bintang di langit.

Tidak ada awan menghalangi sehingga bintang-bintang berlatar belakang langit hitam itu seperti ratna mutu manikam di taburkan di atas beledu hitam.

Bintang-bintang gemerlapan, ada yang berkedap-kedip seperti mata bidadari memberi isarat yang mesra kepada mereka! Suasana sungguh romantis sekali. Kini tempat itu penuh dengan suara marga satwa yang beraneka ragam, akan tetapi suara itu sama sekali tidak mendatangkan kebisingan. Sebaliknya malah, suara itu mengandung irama yang mendatangkan suasana hening penuh rahasia.

Mereka duduk di atas rumput menghadapi api unggun. Mereka dapat saling pandang melalui atas lidah api yang menjilat-jilat, dan muka mereka nampak aneh sekali, berwarna merah dan bergoyang-goyang karena lidah api itu menari-nari dan cahayanya menerangi wajah mereka.

Tiba-tiba Si Kong menyadari keadaan ketika dia merasa perutnya bergerak. Lapar! Baru dia teringat bahwa sejak siang tadi mereka belum makan dan rasa lapar mulai menggerogoti perutnya. Hatinya menjadi bingung dan menyesal mengapa tidak membawa bekal makanan di malam itu. Tempat minumnya juga hanya terisi air saja!

"Lan-moi, menyesal sekali aku tidak membawa bekal apa-apa. Engkau tentu sudah lapar seperti juga aku."

Hui Lan memandang kepadanya dari balik api unggun dan gadis itu tersenyum, lalu meraih buntalan pakaiannya yang diletakkan didekatnya.

"Jangan khawatir, Kong-ko. aku masih ada bekal roti dan daging kering. Akan tetapi air minumku sudah habis."

"Ah, aku masih mempunyai air minum, Lan-moi!" kata Si Kong dengan gembira. Mereka membuka buntalan masing-masing. Hui Lan mengeluarkan bungkusan roti dan daging asin, sedangkan Si Kong mengeluarkan tempat air minumnya. Setelah bungkusan di buka, ternyata persediaan roti dan daging asin masih cukup banyak untuk mereka berdua.

"Cuaca begini indah, hawa udara begini hangat, perut begini lapar, roti kering dan daging asin merupakan hidangan yang lezat!" kata Si Kong dan merekapun mulai makan.

Hui Lan juga merasa heran kepada dirinya sendiri. Biasanya, makan roti dan daging asin amat membosankan. Terpaksa ia harus membawa bekal makanan seperti itu karena hanya roti kering dan daging asin dapat bertahan berhari-hari.

Makanan seperti membuat ia merasa bosan kalau terpaksa harus memakannya karena ia tiba di tempat yang jauh dari dusun atau kota. Akan tetapi malam ini, makanan roti kering dan ikan asin terasa lezat bukan main!

Makan roti kering dan daging asin mendatangkan haus. Si Kong lalu memberikan tempat airnya kepada Hui Lan. "Aku tidak mempunyai cawan atau cangkir, minum saja dari mulut guci air itu," katanya kepada Hui Lan.

"Aku mempunyai sebuah cawan," kata Hui Lan mengeluarkan cawan perak itu dari buntalannya. Ia menuangkan air dari guci itu ke dalam cawan, lalu meminumnya. Bahkan air biasa itu terasa segar dan melegakan!

"Boleh aku meminjam cawan itu, Lan-moi?"

"Tentu saja," Hui Lan menyerahkan cawan yang sudah kosong itu dan Si Kong menuangkan air ke dalam cawan lalu meminumnya. Hui Lan memandang dengan kedua pipinya berubah kemerahan.

Akan tetapi hal ini tidak nampak oleh Si Kong karena sinar api unggun memang membuat wajah itu sudah kemerahan. Hui Lan merasa sungkan karena Si Kong menggunakan cawan yang bekas diminumnya itu. Akan tetapi karena Si Kong bersikap biasa saja, maka rasa sungkan itu perlahan-lahan lenyap kembali.

"Kong-ko, sekarang ceritakanlah pengalamanmu sampai engkau menjadi murid kakek buyut Ceng Thian Sin di Pulau Teratai Merah." Kata Hui Lan setelah seleasi makan dan minum. Malam baru saja tiba, masih terlalu sore untuk tidur, maka aku akan senang sekali mendengar riwayatmu sejak engkau kecil."

Si Kong menarik napas panjang. "Pengalamanku sejak kecil penuh dengan duka, tidak menarik untuk diceritakan, Lan-moi."

"Ah, justeru pengalaman yang penuh duka itu yang menarik dan selalu menjadi kenangan, sedangkan pengalaman yang penuh suka mudah dilupakan. Ceritakanlah, Kong-ko, aku suka mendengarkan."

Hening sejenak ketika Si Kong mengumpulkan ingatannya, mengenang kembali semua pengalamannya sejak kecil yang pantas untuk diceritakan kepada gadis itu.

"Aku dilahirkan di dusun Ki-ceng. Orang tuaku adalah petani yang amat miskin. Musim kering yang berkepanjangan membuat keadaan kami lebih payah lagi. Apalagi yang harus kami makan? Dan ayahku terpaksa menyerahkan enciku kepada Hartawan Lui untuk menyambung nyawa kami sekeluarga. Enciku menjadi selir hartawan itu, akan tetapi ia seperti dipenjara, tidak pernah dapat menjenguk atau menolong kami sekeluarga. Karena kelaparan hampir melumpuhkan kami, kakakku Si Leng nekat memanjat pagar tembok rumah Hartawan Lui untuk mencari engci Kiok Hwa agar enciku dapat membantu. Akan tetapi dia ketahuan tukang-tukang pukul hartawan itu dan dia dipukuli sampai mati."

Si Kong berhenti sebentar untuk mengambil napas panjang. Kenangan akan semua itu mendatangkan perasaan duka di dalam hatinya.

"Menyedihkan sekali, Kong-ko. Ketika hal itu terjadi, berapakah usiamu?"

"Aku baru berusia sepuluh tahun, hanya dapat membantu ayah di sawah, akan tetapi dengan adanya musim kering seperti itu, apa yang dapat dilakukan para petani miskin?"

"Aku dapat mengerti, Kong-ko, lalu bagaimana kelanjutan ceritamu?"

"Agaknya Tuhan belum menghentikan cobaan yang menimpa diriku. Dusun kami dilanda wabah penyakit yang amat ganas. Sore sakit, pai mati dan pagi sakit sore mati. Keluarga kami yang tinggal ayah ibu dan aku seorang, tidak luput dari amukan wabah penyakit itu. Ayah dan ibu terkena dan mereka meninggal dunia dalam waktu yang berdekatan."

"Ahhh…..!" Tanpa disadarinya kedua mata Hui Lan menjadi basah ketika ia memandang kepada Si Kong penuh rasa haru dan iba.

Si Kong menarik napas panjang beberapa kali untuk menekan perasaan dukanya, kemudian dia melanjutkan ceritanya dan suaranya sudah terdengar tenang.

"Kami mengubur jenazah ayah dan ibu. Ketika semua orang pulang aku tinggal sendiri di dekat makam. Habis sudah semuanya, tidak ada yang tertinggal lagi. Ayah ibu dan saudaraku telah meninggal. Yang ada hanya enci Kiok Hwa, akan tetapi ia terkurung di rumah gedung sehingga kematian ayah ibu pun tidak terdengar olehnya.

Sawah dan rumah sudah di jual untuk biaya pemakaman ayah dan ibu. Karena sedih dan kelaparan, ditambah di timpa hujan lebat malam itu, tidak terasa olehku aku roboh pingsan di makam ayah dan ibu."

"Ah, kasihan kau…. Kong-ko…. !" Kini dari kedua mata Hui Lan jatuh menetes dua butir air mata di atas pipinya.

"Agaknya Tuhan menaruh kasihan kepadaku. Pada keesokan paginya guruku yang pertama menemukan aku menggeletak pingsan di makam itu.

Guruku yang pertama itu adalah Yok-sian Lo-kai. Setelah menolongku, suhu lalu menolong para penduduk dusun yang dilanda wabah penyakit, dan memberi tahu bagaimana cara mengobati orang-orang yang terkena wabah. Bukan itu saja, suhu lalu mengunjungi para hartawan, merobohkan semua tukang pukulnya dan menasihati para hartawan sambil mengancam agar para hartawan tidak bersikap pelit dan masa bodoh terhadap kemiskinan para petani dan suka membantu mereka agar tidak sampai kelaparan."

"Aku sudah mendengar dari ayah ibuku tentang Yok-sian Lo-kai yang sakti dan budiman itu," kata Hui Lan sambil mengusap pipinya yang basah. "Semenjak itu engkau menjadi murid Yok-sian Lo-kai?"

"Benar, aku dilarih ilmu silat dan suhu juga mengajarkan cara pengobatan sambil merantau sampai lima tahun lamanya. Dalam perantauan itu, kami berdua bertemu dengan Tung-hai Liong-ong."

"Hemm, majikan Pulau Tembaga yang terkenal sebagai datuk sesat itu?"

"Benar, suhu bentrok dengan Tung-hai Liong-ong ketika suhu membela Hek I Kaipang, dan mereka bertanding. Tung-hai Liong-ong dapat dikalahkan dan terusir pergi, akan tetapi suhu sendiri menderit luka parah yang beracun. Suhu ingin menyendiri dan beliau meninggalkan aku agar hidup seorang diri. ketika itu usiaku sudah lima belas tahun. Walaupun aku sedih dan kecewa ditinggalkan suhu, akan tetapi aku tidak putus harapan dan melanjutkan hidupku dengan bekerja sebagai kuli atau buruh kasar.

Biarpun aku dapat membaca dan menulis berkat ajaran Yok-sian Lo-kai, akan tetapi aku tidak mempunyai pengalaman. Dengan uang hasil kerjaku, aku membeli pakaian, tidak lagi berpakaian pengemis seperti ketika aku ikut suhu Yok-sian Lo-kai."

"Ceritamu menarik sekali, Kong-ko. Lanjutkanlah."

"Apakah engkau tidak lelah dan mengaso?"

"Malam belum larut dan aku tidak mengantuk. Teruskan ceritamu, Kong-ko. pengalamanmu menarik sekali!"

Si Kong tersenyum. Tentu saja dia hanya dapat menceritakan hal-hal yang penting saja. "Pada suatu hari, secara kebetulan aku bertemu dengan guruku yang kedua."

"Siapakah dia, Kong-ko?"

"Dia adalah seorang sastrawan she Kwa, suka disebut Kwa Siucai (Sastrawan Kwa) atau juga di sebut Penyair Gila."

"Ah, aku pernah mendengar tentang Penyair Gila itu dari ayah. Kata ayah, biarpun disebut Penyair Gila, sebetulnya dia sama sekali tidak gila dan dia memiliki ilmu kepandaian yang tinggi sekali."

"Kepandaian manusia itu terbatas, Lan-moi. Bagaimana bisa tinggi sekali? Malam hari itu aku, mengikuti Kwa Siucai merantau. Suhuku yang kedua ini berbeda dengan suhuku yang pertama. Kalau Lok-sian Lo-kai lebih suka mengemis daripada mencuri, sebaliknya Kwa Siucai lebih suka mencuri harta para hartawan yang terkenal pelit, lalu membagikan hasil curiannya itu dan menyimpan sebagian kecil untuk biaya hidup kami.

Aku belajar ilmu kepadanya selama dua tahun dan tiba-tiba saja guruku yang kedua inipun meninggalkan aku karena ingin mengundurkan diri dan menjadi pertapa."

"Wah, dalam usia tujuh belas tahun engkau telah menjadi murid dua orang guru yang sakti. Nasibmu baik sekali, Kong-ko. apalagi setelah itu engkau diambil murid kong-couw (kakek buyut). Bagaimana ceritanya sampai engkau dapat menjadi murid kong-couw, Kong-ko?"

"Peristiwa itu terjadi di Bukit Iblis. Karena aku mengintai pertandingan antara tokoh-tokoh sesat, aku ketahuan oleh pemenang pertandingan itu, yaitu Twa Ok dan Ji Ok."

"Ah, dua orang datuk besar golongan sesat dari Barat itu? Ayah pernah menceritakan tentang mereka."

"Benar, mereka adalah dua orang datuk besar yang kejam sekali. Mereka lalu berlumba untuk membunuhku! Melawan seorang saja dari mereka aku tidak akan menang, apalagi mereka maju berbareng untuk membunuhku.

Pada saat yang amat gawat itu muncullah suhuku yang ketiga, yaitu Ceng Lojin. Beliau menandingi dua orang datuk itu, mengalahkan mereka sehingga mereka melarikan diri. semenjak saat itu, aku diambil murid dan diajak ke Pulau Teratai Merah dan selama tiga tahun aku diajar ilmu-ilmu yang amat sulit oleh suhu."

"Dan dua orang datuk itu bersama Bu-tek Ngo-sian datang ke Pulau Teratai Merah untuk menantang Kong-couw?" tanya Hui Lan.

Si Kong menarik napas panjang. "Benar, dan aku merasa menyesal sekali bawha suhu walaupun dapat mengusir mereka, telah mempergunakan terlampau banyak tenaga sehingga terluka dalam pula. Aku merasa menyesal mengapa suhu melarangku untuk membantunya ketika dikeroyok tujuh orang yang lihai."

Tidak perlu disesalkan lagi, Kong-ko. Mungkin kong-couw merasa malu kalau harus minta bantuan muridnya, dan kenyataannya dia memang dapay mengusir tujuh orang musuhnya. Ah, kalau saja aku dapat bertemu dengan Toa Ok, dan Ji Ok dan kelima Bu-tek Ngo-sian, tentu akan kutantang dan kuhadapi mereka!"

"Kuharap engkau menyadari benar bahwa balas membalas dan dendam mendendam adalah ulah napsu yang amat membahayakan diri sendiri, Lan-moi. Kalau kelak aku berhadapan sebagai musuh tujuh orang itu, maka tentu bukan karena hendak membalas dendam, melainkan karena mereka melakukan perbuatan jahat yang harus kutentang. Tentu hal ini sudah engkau ketahui dari ayah ibumu."

Hui Lan mengangguk. "Memang, ayah selalu mengatakan demikian, akan tetapi kalau aku ingat betapa Kong-couw yang usianya sudah amat tua itu mereka keroyok, hatiku menjadi panas sekali."

"Hati boleh panas akan tetapi kepala harus tetap dingin, Lan-moi, karena segala tindakan kita diatur oleh pikiran dalam kepala kita. Nah, aku sudah menceritakan semua, sekarang harap engkau mengaso. Sudah kutaburi dengan rumput kering di sana, dapat kau pakai untuk tidur."

"Dan engkau sendiri?"

"Biarlah aku yang menjaga agar api unggun tidak sampai padam."

"Aih, bagaimana aku dapat tidur kalau begitu? Aku tidur nyenyak dan engkau berjaga seorang diri di sini? Biarlah engkau saja yang mengaso dan tidur, aku yang menjaga api unggun."

"Engkau menyuruh aku melakukan sesuatu yang tidak mungkin, Lan-moi! Semua orang akan mentertawakan aku kalau mendengar bahwa aku menyuruh seorang gadis berjaga malam sedangkan aku sendiri tidur mendengkur!

Sudah sepantasnya kalau aku sebagai laki-laki mengalah. Tidurlah dan aku dengan senang hati akan menjaga api unggun ini agar tidak padam."

"Baiklah, Kong-ko. Akan tetapi kau harus berjanji akan membangunkan aku setelah lewat tengah malam agar aku dapat menggantikan engkau berjaga."

"Baik, Lan-moi."

Hui Lan meratakan daun kering yang menutupi rumput basah, kemudian membaringkan tubuhnya membelakangi Si Kong dan api unggun. Karena ia memang sudah lelah sekali, maka sebentar saja ia sudah tidur. Si Kong mengetahui bahwa gadis itu telah tidur pulas. Pernapasan gadis itu panjang dan lembut, tanda bahwa ia sudah tidur.

Kini dengan leluasa Si Kong dapat memandangi gadis itu. Wajahnya tidak nampak karena ia membelakangi api unggun, akan tetapi ia dapat melihat kulit tengkuk yang putih mulus itu, dan melihat bentuk tubuh yang ramping dan padat itu.

Alangkah cantiknya ia, sukar mendapatkan gadis secantik Hui Lan, demikian dia mendengar bisikan di telinganya.

"Lihat betapa montok pinggulnya, dan betapa halus mulus kulit lehernya. Pinggangnya demikian ramping, jari-jari tangannya demikian mungil," bisikan itu melanjutkan.

"Akan tetapi sungguh tidak sopan memandangi tubuh seorang gadis yang sedang tidur!" suara lain dari hatinya mencela suara yang datang dari kepala itu.’

"Hah, apanya yang tidak sopan? Sudah jamak laki-laki memperhatikan dan mengagumi perempuan, dan di sini tidak ada siapa-siapa lagi, tidak ada yang melihatnya.

Mungkin ia pun tertarik kepadamu. Sinar matanya begitu lembut kalau memandangmu, dan bibirnya…. ahhh, bukankah bibir itu menantangmu untuk kaucium…?" suara kepala membujuk.

"Keparat! Kau sungguh tidak tahu malu! Dimana kesopananmu? Dimana kegagahanmu? Usirlah keinginan yang bukan-bukan dari pikiranmu!" suara hatinya membentak.

Pikirannya mentertawakannya.

"Jangan pura-pura alim! Sejak tadi engkau sudah ingin mencumbunya. Kalian hanya berdua saja di tempat yang sunyi ini. Hanya kalian berdua! Dan lupakah engkau betapa mancung hidung itu, betapa bibir itu merah segar dan selalu mengharapkan cumbuan darimu?" Bisikan itu sayu-sayu saja dan seolah terdengar dibelakang kepalanya.

"Iblis!" Tiba-tiba dia memutar tubuhnya.

"Desss….!"

Batang pohon yang berada dibelakangnya itu terkena pukulannya dan runtuhlah semua daun kering dan setengah kering. "Pergi kau, iblis!"

Si Kong merasa betapa kepalanya berdenyut dan panas. Dia harus dapat menentang dan mengusir bisikan iblis, napsunya sendiri itu. Dia termenung dan teringat akan wejangan dari guru-gurunya.

"Napsu itu sifatnya seperti api," demikian kata Si Penyair Gila.

"Kalau dapat dikendalikan dia akan menjadi pembantu yang bermanfaat sekali bagi kehidupan, bahkan tanpa api orang akan hidup tidak normal.

Akan tetapi sekali engkau membiarkan dia merajalela dia akan membakar seluruh hutan dengan lahapnya!"

Si Kong mengerti bahwa yang berbisik tadi adalah nafsu yang memenuhi pikirannya dengan bayangan-bayangan yang menyenangkan sedangkan yang membantah dan mengingatkannya adalah jiwanya yang murni.

Dia teringat akan ujar-ujar dari Nabi Khong-cu dalam kitab Tiong Yong dan diapun berbisik lirih mengulang ujar-ujar itu.
Hi Nouw Ai Lok Ci Bi Hoat,
Wi Ci Tiong.
Hwat Ji Kai Tiong Ciat,
Wi Ci Ho.
Tiong Ya Cia,
Thian He Ci Tai Pun Ya.
Ho Ya Cia,
Thian He Ci Tat To Ya.

Sebelum timbul rasa senang, marah, duka dan suka, maka hati, akal pikiran berada dalam Keadaan Seimbang.

Apabila dapat mengendalikan bermacam perasaan itu, hati, akal pikiran berada Keadaan Selaras. Keadaan Seimbang itu adalah Pokok Terbesar dari dunia.

Sedangkan Keadaan Selaras adalah Jalan Utama dari dunia."

Si Kong termenung dan mencoba untuk menguraikan ujar-ujar itu. Perasaan susah, senang, marah, benci dan sebagainya adalah ulah nafsu.

Kalau seseorang belum dikuasai nafsu-nafsu ini, maka dia adalah seorang yang berimbang atau lurus, tidak miring. Akan tetapi begitu nafsu menguasainya dan perasaan-perasaan itu memasukinya, maka pertimbangannya menjadi miring. Manusia menjadi jahat kalau sudah dikuasai nafsu.

Akan tetapi kalau dia dapat mengendalikannya, maka diapun akan tetap menjadi majikan dari nafsunya dan keadaannya menjadi selaras.

Nafsu telah berada dalam diri manusia sejak dia lahir di dunia. Nafsu inilah yang membuat manusia dapat hidup di dunia.

Nafsu inilah yang membuat manusia hidup seperti sekarang ini, memperoleh kemajuan, ada gairah hidup dan semangat. Nafsu menjadi peserta manusia yang teramat penting sehingga manusia dapat hidup di dunia dengan bahagia. Nafsu menjadi hamba yang amat baik.

Akan tetapi jangan sekali-kali membiarkan nafsu merajalela. Kalau begitu halnya, nafsu memperbudak kita, membelenggu kita dan membuat kita menuruti segala kehendaknya. Nafsu akan menjadi majikan dan kalau dia menjadi majikan, dia menjadi majikan yang menyeret kita ke dalam kehancuran.

Si Kong menghela napas panjang. Samar-samar dia masih dapat mendengar suara yang membujuknya tadi pergi sambil menyumpah-nyumpah. Untung jiwanya kuat, pikirnya. Kalau tidak, tentu dia akan menjadi budak nafsu dan menuruti semua bujukannya.

Dia merasa ngeri! Kalau tadi dia membiarkan diri dicengkeram nafsu dan melakukan semua perbuatan keji terhadap Hui Lan, alangkah ngerinya itu, alangkah besar penyesalannya dan hebat akibatnya.

Dia bergidik. Dia tadi sudah berada di mulut jurang.

Dia harus berhati-hati. Inilah yang dikatakan para arif bijaksana bahwa musuh yang paling besar adalah nafsu-nafsunya sendiri yang berada di dalam diri.

Dikatakan pula bahwa mengalahkan musuh adalah gagah, akan tetapi mengalahkan nafsunya sendiri adalah bijaksana!

Si Kong teringat akan sajak yang amat disuka oleh Kwa Siucai, yang diambil dari Kitab To-tek-keng. Dengan lirih diapun bersenandung, seperti yang dilakukan oleh gurunya yang kedua, Si Penyair Gila.
"Kata-kata yang jujur tidak bagus,
kata-kata yang bagus tidak jujur.
Si cerdik tidak membual,
si pembual tidak cerdik.
Orang yang tahu tidak sombong,
orang yang sombong tidak tahu.
Orang suci tidak menyimpan,
dia menyumbang sehabis-habisnya,
akan tetapi makin menjadi kaya,
dia memberi sehabis-habisnya.
Jalan yang ditempuh Langit
menguntungkan, tidak merugikan.
Jalan yang ditempuh orang suci
memberi, tidak merebut."

Malam semakin larut. Suasana hening sekali walaupun dalam keheningan itu penuh dengan suara-suara margasatwa, kadang-kadang diseling suara api membakar kayu kering, berkerotokan. Si Kong yang mengamati diri sendiri merasakan betapa bujukan seperti tadi tidak ada lagi, sedikitpun tidak ada bekasnya.

Hal ini terjadi karena pikirannya sibuk dengan ujar-ujar tadi. Jadi jelaslah bahwa pikiran, ingatan, yang menjadi penggoda manusia.

Segala perbuatan diawali dengan pemikiran yang bergelimang nafsu sehingga lahirlah perbuatan-perbuatan yang hanya mementingkan diri mencari kesenangan sendiri saja.

Demi mencapai kesenangan yang dikehendaki, orang tidak segan melakukan segala macam kejahatan yang merugikan orang lain.

Si Kong menghela napas dan menengadah. "Ya Tuhan, berilah kekuatan pada hamba untuk mengekang dan mengendalikan nafsu," dia berbisik lalu menyibukkan diri dengan menambah kayu bakar pada api unggun.

Tanpa dirasakannya, malam telah larut dan hawa udara makin dingin menyusup tulang. Bahkan api unggun tidak cukup kuat untuk menghangatkan udara. Dia melihat betapa Hui Lan tidur miring dengan kedua kaki terlipat. Kasihan, pikir Si Kong, ia kedinginan.

Dia lalu membuka buntalannya dan mengeluarkan sehelai kain lebar yang biasa dipakainya untuk melindungi tubuhnya dari serangan hawa dingin. Dengan perlahan-lahan dan hati-hati agar jangan membangunkan gadis yang sedang tidur nyenyak itu dia menyelimuti Hui Lan. Kemudian dia duduk kembali dekat api unggun.

Kini dia duduk bersila dan memejamkan matanya. Mata dan tubuhnya perlu beristirahat, akan tetapi kepekaannya tetap menjaga. Sedikit suara saja akan terdengar olehnya dan akan membuatnya terjaga. Juga kalau api unggun mengecil, akan terasa olehnya.

***

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Si Kong sudah bangun. Suara burung-burung yang berkicau riang gembira membangunkannya.

Setelah menambah kayu bakar pada api unggun untuk menghangatkan hawa udara yang masih dingin sekali, dia lalu mencari sumber air di hutan terdekat. Akhirnya dia menemukan sumber air yang memancur dari celah-celah batu. Bukan main girang rasa hatinya. Cepat dia membersihkan tubuhnya dan dengan wajah dan rambut masih basah dan meneteskan air, dia kembali ke padang rumput.

Ternyata Hui Lan sudah bangun. Bajunya agak kusut dan rambutnya awut-awutan, sebagian gelung rambutnya terlepas. Si Kong memandang dan terpesona. Dalam keadaan bangun tidur seperti itu, Hui Lan nampak lebih menarik!

"Ah, engkau sudah bangun, Lan-moi?"

"Kong-ko, ini kepunyaanmukah?" Ia mengambil selimut yang sudah dilipatnya dengan baik

Si Kong hanya mengangguk dan menerima selimut itu ketika gadis itu menyodorkannya.

"Kong-ko engkau tidak membangunkan aku, bahkan menyelimutiku. Aku enak-enak tidur semalam suntuk dan kau berjaga sampai pagi! Sungguh engkau membuat aku merasa malu. Kenapa engkau tidak menggugahku untuk menggantikanmu berjaga?"

"Aku tidak tega menggugahmu, Lan-moi. Dan pula, akupun sudah beristirahat. Bahkan aku telah membersihkan badan di sumber air di hutan itu."

Dia menunjuk ke kanan. "Disana ada pohon yang tertinggi. Nah, disamping pohon itu terdapat batu-batu besar dan sumber air itu memancur keluar dari celah-celah batu besar."

"Ah, baik sekali! Biar aku membersihkan badan dan berganti pakaian." Hui Lan lalu mengambil satu setel pakaian dan berlari kecil menuju ke hutan yang ditunjuk oleh Si Kong.

Si Kong memandang dan tersenyum. Alangkah indahnya pagi ini. Kicau burung menggantikan suara marga satwa yang sudah tidak berbunyi lagi.

Kicau burung yang amat meriah dan terdengar merdu sekali. Jarang Si Kong merasakan pagi secerah dan seindah ini.

Ada rasa bahagia menyelinap di dalam hatinya. Begini bahagia dan nikmatnya hidup, dia termenung dan bangkit berdiri, menghirup napas yang panjang dan dalam sampai terasa hawa murni memasuki bawah pusar.

Dia merasa tubuhnya demikian segarnya sehingga tanpa disadari dia telah berlatih silat! Dia mainkan delapan jurus Hok-liong-sin-ciang, mula-mula dengan lambat sambil mengerahkan tenaga sin-kangnya, kemudian makin lama semakin cepat dan diapun mengubah ilmu silatnya, kini mainkan Yan-cu Hui-kun (Silat Burung Walet Terbang) dan tubuhnya sudah tidak kelihatan jelas lagi saking cepatnya dia bergerak. Hanya nampak bayangannya saja berkelebatan seperti seekor burung walet menyambar-nyambar.

Setelah jurus terakhir dia mainkan dan kini tubuhnya tidak bergerak lagi dalam posisi kedua lengan rapat di tubuh dan kedua kaki sejajar tegak, jurus penutupan yang disebut jurus "Burung Walet Beristirahat" tiba-tiba dari belakangnya terdengar suara orang memuji dan bertepuk tangan.

Si Kong seperti baru sadar dari mimpi. Ketika dia membalikkan tubuhnya, dia melihat Hui Lan sudah berdiri di depannya dan gadis ini bertepuk tangan memuji.

"Bagus sekali ilmu silatmu tadi, Kong-ko. Begitu cepatnya gerakanmu!"

Si Kong merasa terpesona. Hui Lan sudah mengenakan pakaian pengganti, rambutnya masih agak basah dan dibiarkan terjurai agar cepat kering, wajahnya yang tanpa bedak atau gincu itu nampak segar berseri, putih kemerahan.

Dengan rambut terurai seperti itu, di bawah sinar matahari yang cerah, ia kelihatan seperti seorang Dewi dari Langit!

Akan tetapi dia segera dapat menguasai dirinya, dan sambil tersenyum berkata merendah.

"Ah, Lan-moi, betapa cepatpun gerakanku, masih tidak mampu menandingimu."

"Pujianku tidak kosong belaka, Kong-ko. Ilmu silat tangan kosong yang kaulatih tadi sungguh hebat gerakannya.

Demikian cepatnya. Ilmu silat apakah itu, Kong-ko? Apakah engkau mempelajarinya dari kong-couw? Aku tahu bahwa kong-couw memiliki banyak ilmu silat yang luar biasa."

"Bukan dari suhu Ceng Lojin, Lan-moi. Ilmu silat itu disebut Yan-cu Hui-kun (Silat Burung Walet Terbang) dan aku mempelajarinya dari Si Penyair Gila."

"Ah, pantas aku belum pernah melihatnya. Engkau beruntung mendapatkan banyak guru yang sakti, Kong-ko. Aku percaya bahwa dari kong-couw engkau tentu telah mempelajari ilmu-ilmu yang langka dan lihai. Engkau tentu telah mempelajari ilmu simpanan kong-couw!" Dalam suara itu terkandung nada iri.

"Aku hanya mempelajari dua macam ilmu dari suhu Ceng Lojin," kata Si Kong terus terang.

"Ilmu apa sajakah yang kaupelajaridari Pulau Teratai Merah? Aku ingin sekali mengetahui, Kong-ko."

"Hanya dua macam, yaitu Hok-liong Sin-ciang dan Thi-ki-i-beng."

"Wah, dua macam ilmu yang paling sulit di dunia, kata nenekku. Bahkan nenek sendiri sebagai anak kakek buyut tidak diberi pelajaran Thi-ki-i-beng!" seru Hui Lan dengan kagum sekali. "Dan kata ibuku, ilmu silat Hok-liong Sin-ciang merupakan ilmu yang sulit dipelajari."

"Memang sesungguhnya begitu, Lan-moi. Ilmu silat itu hanya terdiri dari delapan jurus, akan tetapi untuk menguasai ilmu itu dengan baik, aku harus berlatih tekun selama dua tahun! Dan ternyata setiap jurus ilmu itu dapat dikembangkan menjadi puluhan macam gerakan, tergantung dari bakat dan naluri si murid."

Hui Lan menggeleng-gelengkan kepalanya. "Wah, begitu sulit? Dan yang tadi kaumainkan kau peroleh dari Si Penyair Gila. Ilmu apa saja yang kaupelajari darinya, Kong-ko? atau, ini merupakan rahasia pribadi yang tidak boleh diketahui orang lain?"

Si Kong tersenyum. "Terhadap orang lain memang aku harus merahasiakan, akan tetapi engkau bukan orang lain, malah cucu buyut suhu Ceng Lojin, maka aku berterus terang saja padamu. Dari Suhu Kwa Siucai itu aku mempelajari Yan-cu Hui-kun, ilmu silat yang tadi kumainkan dan ilmu meringankan tubuh Liok-te Hui-teng (Lari Terbang Diatas Bumi)."

"Panta ilmu meringankan tubuh yang kaukuasai demikian hebat. Dan dari Yok-sian Lo-kai, engkau mempelajari apa sajakah?"

"Dari suhu Yok-sian Lo-kai aku mempelajari ilmu tongkat Taw-kauw Sin-tung (Tongkat Sakti Pemukul Anjing), ilmu pengobatan dan juga ilmu mengemis."

"Ilmu mengemis?" tanya Hui Lan terbelalak heran dan geli.

"Ya, ilmu mengemis. Mengemispun ada ilmunya, Lan-moi. Ada orang mengemis secara kasar dan menakut-nakuti. Adapula yang mengemis dengan cara berpura-pura buta, lumpuh dan sebagainya. Mengemis seperti itu tidak baik, membuat orang yang dimintai sumbangan menjadi kecewa atau marah. Ilmu mengemis adalah cara mengemis yang wajar, dilakukan karena terpaksa oleh keadaan dan kebutuhan sehingga yang dimintai sumbangan merasa iba hati dan menolong sepenuh hati dan rela. Inilah yang kumaksudkan dengan ilmu mengemis."

Hui Lan menggeleng-geleng kepalanya dan memandang kepada pemuda itu dengan kagum. "Wah, banyak sekali pengalaman hidup yang kau peroleh, disamping ilmu-ilmu yang tinggi. Sekarang aku hendak menguji ilmu-ilmu tadi, Kong-ko. engkau tidak berkeberatan memberi sedikit petunjuk kepadaku, bukan?"

"Wah, aku mengaku kalah saja, Lan-moi. Aku tidak berani melawanmu."

"Ini bukan pertandingan kalah atau menang, Kong-ko. Hanya untuk menguji ilmu masing-masing. Kalau engkau menolak kuanggap engkau memandang rendah kepadaku dan aku akan merasa kecewa dan marah kepadamu. Nah, pergunakanlah tongkatmu itu, aku ingin mencoba ilmu tongkatmu."

"Kita tidak bertanding mengapa harus menggunakan senjata? Kalau engkau memaksa, marilah kita latihan sebentar dengan tangan kosong saja."

"Hemm, bertangan kosong dan menggunakan senjata, apa bedanya? Kalau sudah menguasai ilmu dengan baik, senjata dapat ditahan sebelum mengenai tubuh lawan.

Akan tetapi karena engkau menghendaki latihan dengan tangan kosong, baiklah. Marilah kita berlatih ilmu silat tangan kosong. Engkau pergunakanlah Hok-liong Sin-ciang (Tangan Sakti Menalukkan Naga) yang hebat itu, agar mataku terbuka dan pengetahuanku bertambah."

"Baik, Lan-moi," kata Si Kong sambil berdiri tegak di depan gadis itu.

"Awas, Kong-ko, aku mulai menyerangmu!" gadis itu berseru dan tubuhnya sudah meloncat ke depan dan mengirim serangan yang cepat sekali dan pukulannya mendatangkan angin menderu!

Si Kong terkejut dan kagum, maklum bahwa gadis itu mainkan ilmu silat tangan kosong yang amat hebat, maka diapun tidak berani memandang rendah. Dia benar-benar bersilat dengan ilmu Hok-liong Sin-ciang, mengelak dan mencari kesempatan untuk balas menyerang. Akan tetapi tiba-tiba tubuh gadis itu berputar dan kedudukannya sudah beralih ke sebelah kiri Si Kong sambil menyerang lagi dengan pukulan tangan miring! Si Kong terpaksa menangkis dengan lengan kirinya.

"Dukk!"

Dua buah lengan bertemu dan Si Kong merasa betapa lengannya tergetar sedangkan Hui Lan juga terpaksa melangkah ke belakang karena tubuhnya terdorong hebat. Keduanya maklum bahwa tenaga sin-kang lawan amat kuat.

Sebelum Si Kong dapat menemukan lowongan, kembali tubuh Hui Lan berkelebat ke kanan kiri, bahkan memutari dirinya, membuat Si Kong kagum sekali. Ternyata gadis ini menggunakan ilmu silat Ciu-sian Cap-pek-ciang (Silat Dewa Mabok Delapanbelas Jurus) dan iapun menggunakan langkah ajaib Jiauw-pou Poan-san. Langkah kedua kakinya ini aneh sekali, akan tetapi amat membingungkan bagi lawan karena langkah-langkah yang berubah-ubah itu membuat tubuhnya berkelebatan ke kanan kiri membingungkan.

Si Kong merasa kagum bukan main dan diam-diam dia harus mengakui bahwa kalau dia tidak mahir ilmu Hok-liong Sin-ciang, tentu dia akan kalah.

Biarpun ilmu tangan kosong Yan-cu Hui-kun yang amat cepat itupun akan sulit menghadapi ilmu silat gadis ini. Namun Hok-liong Sin-ciang adalah dasar ilmu-ilmu silat tinggi.

Dengan tegap Si Kong mengatur langkahnya dan memainkan kedua lengannya sedemikian rupa sehingga Hui Lan tidak melihat lowongan untuk menyerang, seolah tubuh pemuda itu telah dilindungi oleh perisai baja yang menghalangi setiap pukulan lawan.

Karena langkah-langkah gadis itu luar biasa dan membingungkan, Si Kong juga tidak tahu bagaimana mengalahkan gadis itu. Padahal, mereka sudah saling serang selama limapuluh jurus lebih. Daun-daun yang berdekatan terlepas dari tangkainya dan berguguran terkena hawa pukulan mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar