08 Pendekar Sakti

Lebih dulu kakek ini meraba kaki tangan Loan Eng, untuk melihat bahwa benar-benar korbannya ini masih berada dalam keadaan lumpuh tertotok sehingga tidak akan dapat melakukan serangan yang tiba-tiba.

Kemudian, dia mendekatkan mukanya pada muka Loan Eng yang tentu saja merasa jijik sekali. Akan tetapi apa dayanya? Ia menahan tekanan hatinya dan ingin melihat apa yang akan diperbuat oleh manusia iblis ini terhadap dirinya. Masih banyak waktu untuk membalas dendam, pikirnya. Tunggu saja kalau aku sampai terbebas.

Akan tetapi, perbuatan yang dilakukan oleh Toat-beng Hui-houw benar-benar di luar dugaannya. Belum pernah ada seorang manusia, betapa gilanya pun, melakukan perbuatan keji seperti itu. Ketika dia telah mendekatkan mukanya dengan muka Loan Eng, ternyata dia tidak berbuat kurang ajar, bahkan kini mukanya diarahkan ke leher Loan Eng yang berkulit halus. Tiba-tiba Loan Eng merasa betapa mulut kakek itu menempel pada lehernya, membuat ia merasa ngeri dan membuat bulu tengkuknya berdiri. Ia mengira bahwa kakek ini hanya ingin mencium lehernya. Akan tetapi, tidak tahunya, kakek ini tidak mau melepaskan lehernya lagi dan sampai lama, mulut kakek itu masih menempel pada lehernya. Perlahan-lahan, Loan Eng merasa betapa kakek itu menggunakan giginya untuk menggigit lehernya yang terasa perih, kemudian ia merasa betapa mulut kakek itu menghisap darah dari luka di leher bekas gigitan! Bukan main ngerinya hati Loan Eng menghadapi perbuatan kakek seluman ini dan kepalanya menjadi makin pening, tubuhnya makin lemas dan tak lama kemudian, nyonya muda ini menjadi pingsan! Toat-beng Hui-houw ternyata membuktikan ancamannya. Ia hendak menghisap darah pembunuh sutenya ini, bukan saja dengan maksud membalas dendam, akan tetapi juga untuk suatu maksud, yakni dia hendak

"mengoper" darah wanita muda yang cantik jelita itu agar supaya dia awet muda! Pikiran dari seorang yang telah lenyap perikemanusiaannya, seorang yang telah berubah menjadi iblis jahat! Setelah kenyang menghisap darah Loan Eng, Toat-beng Hui-houw tertawa-tawa dan melompat-lompat keluar, ia merasa telah menjadi muda kembali! Sebetulnya bukan karena isapan darah itu yang dilakukan seperti seorang iblis keji, melainkan karena perasaan dan pikirannya yang sudah tidak normal lagi itulah yang membuat dia merasa seakanakan menjadi muda kembali! Ia keluar dari gua dan kini dia mendengar suara tantangan yang keluar dari hutan.

"Ha, ha, ha, segala tikus busuk! Toat-beng Hui-houw berada disini, kalian mau apa?"

Suara ini dikeluarkan dengan pengerahan tenaga khikang sepenuhnya sehinga terdengar sampai jauh. Seperti tokohtokoh persilatan yang berkepandaian tinggi, Toat-beng Huihouw juga pandai Ilmu Coan-im-jip-bit (Mengirim Suara Dari Jauh), maka tentu saja suaranya ini bergema jauh dan terdengar baik-baik oleh Sui Ceng dan kawan-kawannya.

Mendengar suara ini, Sui Ceng lalu melompat dan berlari cepat menuju ke arah suara itu, diikuti oleh kawankawannya yang tertinggal jauh. Dengan berkuda saja piauwsu dan anggauta Sin-to-pang masih tidak dapat menandingi ilmu lari cepat Sui Ceng, apalagi sekarang mereka berlari biasa! Ketika tiba di depan gua, Sui Ceng melihat seorang kakek yang mengerikan sedang menari-nari, berlompatlompatan dan bernyanyi!

"Aku menjadi muda kembali, muda kembali…..! Ha, ha, ha, Toat-beng Hui-houw menjadi muda kembali!"

Untuk sesaat, Sui Ceng tertegun. Yang berada di depannya itu seperti bukan manusia lagi, melainkan seorang iblis yang mengerikan. Namun, Sui Ceng yang baru berusia delapan tahun itu tidak merasa takut sedikit pun juga. Ia bahkan melangkah maju dan menghadapi iblis tua itu dengan sikap tenang dan tabah.

"Eh, kakek tua miring otak!"

Toat-beng Hui-houw menghentikan tariannya dan memandang heran. Bagaimana ada seorang anak perempuan kecil berani memakinya?

"Kaukah Toat-beng Hui-houw yang berani menangkap ibuku dan ayah tiriku? Lekas lepaskan mereka, barangkali nona kecilmu masih dapat mengampuni dosa-dosamu!"

Toat-beng Hui-houw menggosok-gosok kedua matanya dengan belakang tangan. Mimpikah dia? Atau benar-benar ada seorang gadis cilik yang manis dan elok berdiri dengan gagah dan berani serta mengeluarkan ucapan semacam itu kepadanya? Kemudian ia tertawa bergelak.

"Jadi kau memang puteri Pek-cilan? Ha-ha-ha! Memang bunga cantik berbiji manis pula! Agaknya darahmu lebih segar daripada darah ibumu. Ha, ha, ha! Mari, mari! Kau hendak bertemu dengan ibumu bukan?" Sambil berkata demikian, dia menubruk hendak menangkap Sui Ceng, seperti laku seorang kecil menubruk seekor burung yang indah.

Akan tetapi, alangkah heran hati iblis ini ketika tiba-tiba tubuh kecil itu lenyap dan tahu-tahu sebuah kaki yang kecil mungil dalam sepatu merah bersulam bunga, menendang mukanya! Toat-beng Hui-houw terkejut dan heran, cepat dia miringkan kepalanya, akan tetapi ternyata bahwa tendangan ini adalah tendangan pancingan belaka dan sebelum Toat-beng Hui-houw sempat mengelak, perutnya telah kena ditendang oleh lain kaki yang sama mungilnya!

"Buk!" kaki Sui Ceng tepat mengenai perut, akan tetapi bukan Toat-beng Hui-houw yang roboh, melainkan tubuh Sui Ceng sendiri yang terlempar ke belakang! Akan tetapi, bagaikan seekor burung walet, gadis cilik ini dapat berpoksai (membuat salto) di udara dan turun dengan ringan sekali.

Kalau tadi Toat-beng Hui-houw sampai terkena tendangan Sui Ceng, bukan karena dia kurang lihai melainkan karena kakek ini memandang rendah rendah dan tidak mengira sama sekali bahwa bocah ini akan dapat melakukan gerakan sehebat itu! Sui Ceng ketika ditubruk tadi, secepat kilat melakukan gerakan melompat Can-liongseng- thian (Naga Terbang Naik ke Langit), kemudian ia melakukan tendangan Ji-liong-twi (Tendangan Sepasang Naga) yang bertubi-tubi sehingga berhasil menendang perut lawannya.

Akan tetapi, yang ditendangnya tertawa saja sedangkan dia sendiri terpental jauh. Bukan main kagetnya Sui Ceng dan anak ini maklum bahwa tenaga dan kepadaian lawannya benar-benar hebat sekali. Sebaliknya Toat-beng Hui-houw juga kagum menyaksikan kegesitan anak perempuan ini, dan kalau saja dia tahu bahwa anak ini adalah murid Kiu-bwe Coa-li, tentu akan lenyap keheranannya dan terganti oleh kekagetan hebat.

"Anak manis, aku harus mendapatkan darahmu!" katanya berkali-kali dan dia menubruk lagi.

Namun berkat kegesitan dan ginkangnya yang luar biasa, Sui Ceng lagi-lagi dapat menghindarkan diri. Pada waktu itu, rombongan piauwsu dan anak buah Sin-to-pang telah datang di situ dan mereka menonton pertempuran dengan mata terbelalak kagum. Anggauta-anggauta Sin-to-pang merasa bangga melihat "siauw-pangcu" mereka itu berani menghadapi Toat-beng Hui-houw dengan tangan kosong.

Melihat betapa kakek itu seperti seekor harimau buas menubruk ke sana-sini, sedangkan tubuh Sui Ceng bagaikan seekor burung walet beterbangan dan berkelit cepat sekali, mereka itu tak terasa pula meleletkan lidah saking kagum dan tegangnya.

Kalau Toat-beng Hui-houw bermaksud membunuh Sui Ceng, tentu takkan sukar baginya. Biarpun untuk menjamah tubuh anak ini sukar sekali karena memang kegesitan Sui Ceng dapat mengimbangi kegesitan lawannya yang berjuluk Harimau Terbang, namun kalau dia mau, dengan hawa pukulan tangannya, dia dapat merobohkan gadis cilik ini. Akan tetapi pada saat itu, Toat-beng Huihouw mendapat pikiran lain. Ia menghisap darah Loan Eng hanya karena ingin membalas sakit hati atas kematian sutenya dan ingin awet muda. Kini melihat Sui Ceng yang masih terhitung anak-anak, dia takut kalau-kalau dia berubah menjadi anak-anak pula jika dia menghisap darah anak ini! Memang bodoh, gila, dan jahat adalah sekeluarga, dan kakek ini telah memiliki ketiga-tiganya.

"Aku tidak mau isap darahmu! Aku akan menangkapmu, memlihara dalam sangkar, kau burung cantik!" katanya berkali-kali dan kini dia menyerang dengan kedua tangannya. Alangkah herannya hati Sui Ceng ketika melihat betapa kini sepuluh jari tangan iblis tua itu seperti tidak berkuku lagi. Ternyata bahwa kuku-kuku jarinya terlah dapat digulung ke dalam! Berkali-kali dia mendesak hendak menangkap tanpa melukai tubuh Sui Ceng, namun hal ini benar-benar tidak mudah. Sui Ceng telah mendapat gemblengan dari Kiu-bwe Coa-li, dan dalam hal ginkang dan kegesitan, memang semenjak kecil gadis cilik yang lincah ini berbakat baik.

Para piauwsu dan anak buah Sin-to-pang ketika melihat betapa Sui Ceng terdesak, sambil berteriak-teriak nekat mereka lalu menyerbu dengan golok di tangan. Baik anggauta Sin-to-pang (Perkumpulan Golok Sakti), maupun para piauwsu dari Hui-to-piauwkiok (Expedisi Golok Terbang) adalah ahli-ahli senjata golok, maka kini belasan batang golok berkilauan dan bergerak-gerak mengurung Toat-beng Hui-houw. Otomatis Sui Ceng juga terkurung karena dua orang ini bertempur sedemikian cepatnya sehingga mereka seakan-akan menjadi satu bayangan besar! Para pengeroyok itu menjadi bingung. Mereka hanya berteriak-teriak saja dan tidak berani sembarangan turun tangan, karena baru sedetik mereka melihat bayangan lawan, tiba-tiba bayangan itu lenyap dan berganti oleh bayangan Sui Ceng! Kedua orang ini berputaran, melompat ke sana ke mari, bagaimana mereka dapat membantu Sui Ceng?

"Jangan Bantu aku! Jangan datang dekat!" Sui Ceng berseru, akan tetapi terlambat. Ketika tubuh Toat-beng Huihouw tiba-tiba menerjang ke arah para pengeroyok sambil meninggalkan Sui Ceng terdengar jeritan berturut-turut dan empat orang pengeroyok roboh tak bernyawa lagi!

"Siluman tua, kau kejam sekali!" teriak Sui Ceng. Anak ini secepat kilat menyambar sebatang golok dari seorang piauwsu yang roboh, lalu ia menerjang lagi ke depan dengan nekat, memutar golok sehingga merupakan segunduk sinar yang menyilaukan.

"Ha, ha, ha, burung cantik, kau harus menjadi peliharaanku!" kata Toat-beng Hui-houw sambil menghadapi serangan-serangan Sui Ceng dengan tenang.

Adapun para pengeroyok, ketika melihat betapa empat orang kawan mereka terbunuh dengan demikian mudahnya, serta mendengar perintah Sui Ceng, lalu mengundurkan diri dan menonton dari jauh saja. Mereka bukan merasa takut atau tidak mau membantu, akan tetapi mereka maklum sepenuhnya bahwa bantuan mereka itu siasia belaka dan tidak akan dapat menolong, bahkan mereka pasti akan mengantarkan nyawa dengan cuma-cuma saja.

Gerakan Sui Ceng sekarang tidak secepat dan segesit tadi. Hal ini karena sekarang gadis cilik ini memegang sebatang golok yang besar dan berat. Tadinya Sui Ceng sengaja mengambil golok karena ia hendak bertempur matimatian mengadu jiwa, akan tetapi sebaliknya, dengan golok di tangan ia mendatangkan kerugian pada dirinya sendiri.

Golok itu terhadap Toat-beng Hui-houw tidak ada artinya sama sekali, sebaliknya menghambat gerakan sendiri.

Dalam beberapa jurus saja, sambil tertawa-tawa, Toat-beng Hui-houw telah berhasil menangkap pinggangnya dan sekali dia menotok jalan darah thian-hu-hiat, lemaslah tubuh Sui Ceng dan golok itu terlepas dari pegangan! Pada saat itu, menyambarlah beberapa sinar halus sekali.

Sinar ini adalah bulu-bulu halus dan panjang yang sekaligus menyerang Toat-beng Hui-houw di beberapa bagian tubuhnya. Sebagian dari bulu-bulu halus ini melibat tubuh Sui Ceng dan sekali renggut, tubuh Sui Ceng telah terlepas dari pegangan Toat-beng Hui-houw dan melayang ke depan! Toat-beng Hui-houw terkejut bukan main menghadapi serangan ini. Ia telah terkejut dan jerih melihat macam senjata yang menyerangnya, karena dari senjata ini saja tahulah dia bahwa yang datang menyerangnya adalah Kiubwe Coa-li! Kalau ada rasa takut dalam dada Toat-beng Hui-houw manusia siluman ini, maka rasa takut itu mungkin hanya di tujukan kepada lima orang tokoh besar di kalangan kang-ouw, di antaranya ialah Kiu-bwe Coa-li ini!

"Kiu-bwe Coa-li, mengapa kau mencampuri urusanku, sedangkan aku selamanya belum pernah mengganggumu?"katanya penasaran sambil melompat ke belakang, jerih menghadapi pecut sembilan bulu dari Kiubwe Coa-li yang kini sudah berdiri di hadapannya dan menggandeng tangan Sui Ceng yang sudah dibebaskan dari totokan pula.

Diam-diam Kiu-bwe Coa-li mengerti mengapa muridnya sampai kalah oleh Toat-beng Hui-houw. Tadi datangdatang melihat muridnya berada dalam pelukan kakek siluman itu, ia lalu melakukan serangan pecutnya yang paling dan jarang sekali ada orang mampu menghindarkan diri, yakni ilmu serangan Kiu-seng-kan-goat (Sembilan Bintang Mengejar Bulan). Sembilan helai bulu pecutnya menyerang dari berbagai jurusan. Akan tetapi ia hanya berhasil merampas kembali muridnya dan sama sekali tidak berhasil melukai kakek itu. Dari sini saja ia ketahui bahwa kepandaian kakek itu jauh lebih tinggi daripada kepandaian muridnya.

"Siluman jahat, apa matamu sudah menjadi buta?" jawab Kiu-bwe Coa-li dan sepasang matanya mengeluarkan sinar membakar. "Kau berani mengganggu murid pinni (muridku), maka sekarang kau harus mati!"

Bukan main kagetnya, Toat-beng Hui-houw. "Dia ini muridmu……? Ah, Kiu-bwe Coa-li, sungguh mati aku tidak tahu bahwa dia muridmu. Akan tetapi, bukankah aku tidak mengganggunya? Kalau aku bermaksud mengganggunya apakah sekarang ia masih dapat bernapas?"

"Kau memang tidak melukainya, akan tetapi kau telah menghinanya, berarti kau menghinaku pula. Bersiaplah untuk mati!" Kembali Kiu-bwe Coa-li menggerakkan pecutnya, melakukan serangan dengan cara ganas dan tidak mengenal ampun sama sekali. Memang watak Kiu-bwe Coa-li luar biasa ganasnya. Sekali ia turun tangan, ia takkan merasa puas kalau lawannya belum roboh binasa! Toat-beng Hui-houw bukannya orang lemah. Bangkit rasa penasarannya. Ia memang segan bertempur melawan Kiu-bwe Coa-li dan tentu dia bersedia mengalah jika berurusan dengan orang yang dia anggap memiliki kedudukan lebih tinggi itu. Akan tetapi kalau dia didesak, dia terpaksa melawan.

"Kiu-bwe Coa-li, kau terlalu sekali. Kaukira aku Toatbeng Hui-houw takut menghadapi Kiu-bwe-joan-pianmu (Pecut Berbulu Sembilan)?"

"Siapa peduli takut atau tidak? Aku hanya ingin kau mampus, habis perkara!" Kiu-bwe Coa-li mendesak terus.

Toat-beng Hui-houw mengeluarkan suara keras dan kini sepuluh kuku jari tangannya telah mulur kembali, panjangpanjang, tajam dan runcing mengerikan! Ia cepat mengelak dari serangan lawannya dan membalas dengan serangan pukulan yang mendatangkan hawa dingin dan berbau amis.

Ternyata bahwa siluman tua ini telah mengeluarkan pukulan-pukulan maut disertai bisa yang keluar dari hawa pukulan kukunya ini! Kalau tadi dia mengeluarkan ilmu ini, dalam beberapa jurus saja Sui Ceng tentu telah roboh binasa.

Menghadapi pukulan-pukulan hebat ini, Kiu-bwe Coa-li pertama-tama mendorong tubuh muridnya sehingga Sui Ceng terpental dan terpaksa melompat jauh ke pinggir, kemudian wanita sakti ini lalu memutar pecutnya sampai berbunyi mengaung dan kadang-kadang diselingi suara "tar! tar!" dan dari pecutnya yang berekor sembilan ini keluar hawa yang menyambar-nyambar dan yang menolak hawa pukulan berbisa dari Toat-beng Hui-houw. Para piauwsu dan anggauta Sin-to-pang, semenjak tadi berdiri seperti patung. Munculnya seorang tokouw yang memegang pecut ini saja sudah membuat mereka heran sekali, karena tak seorang pun di antara mereka melihat kedatangannya.

Kemudian cara pecut tokouw itu merampas Sui Ceng dan kemudian mendengar bahwa tokouw ini adalah Kiu-bwe Coa-li yang tersohor dan menjadi guru Sui Ceng, mereka makin terbelalak. Sekarang, setelah pertandingan antara Toat-beng Hui-houw dan Kiu-bwe Coa-li berlangsung, mereka menjadi bengong dan melongo. Pertandingan ini menurut pendapat mereka bukanlah pertempuran orangorang pandai, karena keduanya berdiri tidak pernah berpindah dari tempat masing-masing dan hanya kedua tangan mereka saja yang bergerak-gerak cepat sekali ke depan. Hampir saja ada yang tertawa menyaksikan pertandingan ini, karena gerakan kedua orang tua itu seakan-akan mereka sedang membadut.

Akan tetapi, Sui Ceng menonton dengan wajah penuh ketegangan. Ia maklum bahwa permainan cambuk dari gurunya sedang dihadapi oleh lawan dengan ilmu pukulan lweekang yang tinggi sekali tingkatnya. Ketika orang tua itu sedang bertempur mengandalkan hawa pukulan lweekang, maka mereka hanya berdiri berhadapan dan saling memukul dari jauh, sama sekali tidak mengubah kedudukan kaki.

Akan tetapi, beberapa lama kemudian, Toat-beng Huihouw terpaksa harus mengakui keunggulan lawannya, karena bulu-bulu pecut Kiu-bwe Coa-li makin lama makin mendesaknya, makin lama makin dekat serangan ujung cambuk itu, terus mendesak hawa pukulannya yang hendak menentangnya. Ia maklum bahwa kalau sampai ujung cambuk itu mengenai tubuhnya, sukarlah baginya untuk menyelamatkan diri lagi. Ia cukup kenal akan kelihaian totokan ujung cambuk di tangan Kiu-bwe Coa-li, seorang di antara tokoh besar dunia persilatan.

"Cukup, siluman betina! Kali ini aku mengaku kalah, akan tetapi lain kali aku akan mengalahkanmu!" kata Toatbeng Hui-houw sambil melompat mundur.

"Keparat pengecut! Kau belum mampus, bagaimana bisa bilang cukup?" seru Kiu-bwe Coa-li sambil mengejar dan melakukan serangan kilat.

"Ibu………, Ibu……..!" Sui Ceng menangis, kemudian dengan mata beringas ia bangkit berdiri dan berdongak ke atas sambil berkata,

"Toat-beng Hui-houw, manusia iblis. Tunggulah, akan tiba saatnya aku Bun Sui Ceng menghancurkan kepalamu!"

"Tenanglah, Sui Ceng. Apa sih sukarnya membikin mampus manusia seperti Toat-beng Hui-houw itu? Sekarang juga aku dapat mengejarnya dan membikin tamat riwayatnya," kata Kiu-bwe Coa-li yang merasa kasihan kepada muridnya yang tersayang itu.

"Tidak, Suthai, dia tidak boleh mati di tanganmu atau di tangan siapa juga. Teecu sendiri yang akan membalaskan sakit hati ini."

Kiu-bwe Coa-li mengangguk-angguk. "Boleh saja, Sui Ceng. Asal kau belajar dengan rajin, tak lama lagi kau akan dapat melaksanakan cita-citamu ini. Juga baik-baik saja kau menjadi ketua Sin-to-pang. Hanya aku agak menyesal mengapa Ibumu begitu tergesa-gesa mejodohkan kau dengan murid Pak-lo-sian Siangkoan Hai."

Sui Ceng tidak menjawab karena di dalam hati gadis cilik ini sama sekali belum ada pikiran tentang jodoh, bahkan ia menganggap ibunya tadi bersenda gurau saja. Ia lalu melanjutkan pemeriksaan di dalam gua. Di kamar lain, mereka mendapatkan tubuh Ong Kiat, juga telah tewas dengan tubuh penuh luka-luka. Biarpun ketika Ong Kiat masih hidup, Sui Ceng tidak suka kepada piauwsu ini karena telah mengawini ibunya, namun kini melihat piauwsu muda itu yang telah menjadi suami ibunya tewas dalam keadaan mengerikan dan menyedihkan, ia berlutut pula dan berkata perlahan dengan janji bahwa dia akan membalaskan sakit hati mendiang ayah tirinya ini.

Kemudian Sui Ceng dan gurunya keluar dari gua, disambut oleh para anggauta Sin-to-pang dan para piauwsu yang memandang penuh hormat.

"Saudara-saudara sekalian, Ibu dan Ayah telah tewas di tangan iblis itu. Kelak aku sendiri yang akan membalas sakit hati dan membunuh iblis keparat itu, supaya kalian semua bertenang hati. Sekarang, lakukanlah tugas kewajiban masing-masing, dan tunggu sampai aku datang untuk memimpin Sin-to-pang. Adapun para piauwsu, terserah, hendak menjadi anggauta Sin-to-pang baik saja, mau melanjutkan pekerjaan sebagai piauwsu pun boleh.

Hanya pesanku, baik Hui-to-piauwkiok maupun Sin-topang, harus bekerja sama dalam segala hal. Ingat bahwa akulah yang mewarisi keduanya dan aku pula yang bertanggung jawab atas segala sepak terjang kalian!"

Para anggauta Sin-to-pang dan anggauta Hui-topiauwkiok, menjadi sedih sekali mendengar betapa ketua mereka telah tewas, namun melihat sikap dan mendengar ucapan Sui Ceng yang benar-benar gagah dan bersemangat, yang sesungguhnya mengherankan sekali keluar dari mulut anak masih demikian hijau, terbangunlah semangat mereka dan serentak menyatakan setuju.

Jenazah Loan Eng dan Ong Kiat diurus dan dirawat baik-baik. Setelah memberi hormat terakhir kepada makam ibu dan ayah tirinya, Sui Ceng lalu melanjutkan perjalanannya mengikuti gurunya. Semenjak saat itu, Sui Ceng makin tekun belajar dan semua ilmu kepandaian dari Kiu-bwe Coa-li direnggut dan diteguknya seperti seorang kehausan minum air segar. Juga ia dan gurunya tekun mempelajari ilmu silat aneh yang mereka dengar dari Tu Fu yang membacakan kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng.

Sebagaimana diketahui, isi kitab ini sebenarnya palsu dan di dalamnya terkandung pelajaran ilmu silat dan latihan tenaga dalam secara terbalik. Kalau sekiranya Sui Ceng sendiri yang melatih diri menurut bunyi kitab ini, tentu ia akan mendapatkan kepandaian palsu yang membahayakan tubuhnya seperti halnya Kwan Cu. Akan tetapi, ia berada di bawah asuhan Kiu-bwe Coa-li, seorang tokoh kang-ouw yang sudah amat tinggi kepandaiannya.

Maka tentu saja Kiu-bwe Coa-li tidak dapat tertipu dan nenek yang sakti ini tahu bagaimana harus melatih ilmu silat aneh ini tanpa merusak tenaga sendiri. Cara melatihnya bukan seperti yang dilakukan oleh Lu Kwan Cu, yang menjiplak begitu saja dan menelan semua pelajaran tanpa dipilih lagi. Kiu-bwe Coa-li tidak berlaku sembrono dan sebagai seorang ahli silat tinggi, ia tahu mana yang tidak betul dan mana yang berguna. Oleh karena itu, di antara pelajaran-pelajaran yang masih ia ingat bersama muridnya, ia saring dan pilih lagi, memilih mana yang sekiranya berguna dan dapat di pakai untuk mempertinggi kepandaaiannya.

Melihat ketekunan muridnya, Kiu-bwe Coa-li girang sekali dan nenek sakti ini membatalkan niatnya hendak mencoba ilmu silat barunya kepada seorang di antara tokoh-tokoh besar, bahkan ia lalu mengajak muridnya tinggal di puncak Bukit Wu-yi-san yang berada di Tiongkok Selatan, perbatasan Propinsi Hok-kian dan Kiang-si. Kiubwe Coa-li memang berasal dari Hok-kian, maka ia disebut tokoh besar selatan yang ke dua. Sebagaimana di ketahui, tokoh besar selatan pertama adalah Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu, yang merantau di seluruh propinsi selatan dan tidak tentu tempat tinggalnya.

***

Sementara itu, Hek-i Hui-mo dengan cepat membawa lari Lai Siang Pok yang menjadi ketakutan dan kaget setengah mati itu. Anak ini menangis dan minta dengan suara menyedihkan agar supaya dia dilepaskan kembali, namun Hek-i Hui-mo menjawab,

"Kau ingat baik-baik semua isi kitab yang di baca oleh Tu-siucai tadi, baru kau ada harapan untuk hidup terus!"

Mendengar ini Siang Pok mengerti bahwa kakek yang menyeramkan ini benar-benar membutuhkan bantuan untuk mengingat bunyi isi kitab tadi, maka karena maklum bahwa hal itulah satu-satunya jalan baginya untuk dapat menolong diri sendiri dari bahaya, dia lalu mengumpulkan seluruh ingatan dan perhatiannya kepada bunyi isi kitab yang aneh itu.

Lai Siang Pok adalah seorang anak yang amat cerdik luar biasa dan semenjak kecil dia telah digembleng oleh ayah bundanya dalam ilmu kesusastraan. Oleh karena itu, dia sudah biasa menghafal, dan biarpun tadi dia mendengarkan isi kitab yang dibaca oleh Tu Fu dengan setengah hati saja, namun dia telah hampir dapat mengingat semuanya! Setelah jauh dari kota Kai-feng, Hek-i Hui-mo menurunkan Lai Siang Pok dan berkata,

"Coba kau sekarang mengulang kembali isi kitab itu, hendak kudengar apakah kau ada gunanya bagiku atau tidak!"

Siang Pok mengumpulkan ingatannya lalu mengulang apa yang tadi didengarnya. Mendengar ini, Hek-i Hui-mo menjadi girang sekali karena apa yang diingat olehnya sendiri dari isi kitab itu, ternyata tidak ada seperempatnya dari apa yang dapat diingat oleh Siang Pok!

"Anak baik….! Kau patut menjadi muridku!" katanya girang sambil menepuk-nepuk pundak anak itu. Tepukan ini bukanlah tepukan biasa, melainkan tepukan hendak memeriksa keadaan tubuh dan tulang dari anak laki-laki ini, akan tetapi dia mempunyai watak yang tabah dan keras hati, maka digigitnya bibir untuk menahan rasa sakit.

"Bagus, tidak jelek!" kata Hek-i Hui-mo yang kemudian tertawa bergelak. "Hendak kulihat kelak, siapa yang paling pandai memilih dan mengajar muridnya. Ha, ha, ha, Siang Pok, kau menjadi muridku dan kelak kaulah yang akan menjagoi di antara semua murid orang-orang gila itu. Ha, ha, ha!"

Siang Pok tidak mengerti apa yang dimaksud oleh kakek hitam ini, akan tetapi diam-diam dia menjadi girang juga.

Sering kali anak ini membaca cerita-cerita kuno tentang pendekar dan pahlawan dan diam-diam dia mengagumi sepak terjang dan kegagahan para pendekar itu. Kini mendengar bahwa dia hendak diambil murid oleh kakek yang dia sudah saksikan sendiri kelihaiannya, tentu saja dia menjadi girang. Cepat dia menjatuhkan diri berlutut di depan Hek-i Hui-mo sambil berkata,

"Segala petunjuk dari Suhu akan teecu pelajari dengan rajin."

"Bagus, mari kita cepat pulang agar kau bisa segera berlatih. Kau sudah tertinggal jauh oleh murid-murid mereka itu."

"Pulang? Ke mana, Suhu?"

"Ha, ha, ha, tentu saja ke Tibet, ke barat! Hayo!" Sambil berkata demikian, Hek-i Hui-mo menyambar tubuh muridnya dan sekejap kemudian terpaksa Siang Pok meramkan kedua matanya karena angin bertiup kencang sekali membuat kedua matanya pedas ketika suhunya membawanya lari luar biasa cepatnya seakan-akan terbang! Biarpun Hek-i Hui-mo melakukan perjalanan cepat sekali dan jarang berhenti di jalan, namun dia harus menggunakan waktu sebulan lebih baru tiba di Tibet, daerah barat yang jauh itu. Siang Pok diterima dengan penuh penghormatan dan juga iri hati oleh orang-orang di barat, karena menjadi murid Hek-i Hui-mo, selain dianggap mendapat kehormatan tinggi, juga dianggap sebagai yang menerima kurnia besar.

Namun Siang Pok tidak mempedulikan semua itu dan mulai saat gurunya menurunkan pelajaran ilmu silat kepadanya, dia belajar dengan amat rajin dan tekun sehingga boleh di bilang lupa makan lupa tidur! Melihat ini, Hek-i Hui-mo makin sayang kepadanya, karena makin besar harapan hatinya, murid ini kelak akan menjunjung tinggi namanya dan akan mengalahkan semua murid tokohtokoh besar yang berlatih lebih dulu.

Seperti juga Kiu-bwe Coa-li, Hek-i Hui-mo yang bernama Thian Seng Hwesio ini, jarang sekali keluar dan bersembunyi saja di kelentengnya, memberi latihan-latihan kepada Lai Siang Pok, karena seperti juga Kiu-bwe Coa-li, dia ingin mempelajari isi kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng yang didengarnya dari Tu Fu, kemudian kalau sudah mempelajarinya dengan sempurna, bersama muridnya dia hendak mencari tokoh-tokoh lain untuk ditantang pibu! Seperti telah kita ketahui, kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng yang terjatuh ke dalam tangan Hek-i Hui-mo dan yang kemudian isinya dibaca oleh pujangga besar Tu Fu dan didengarkan oleh Kiu-bwe Coa-li dan Hek-i Hui-mo bersama murid-murid mereka, adalah kitab palsu. Akan tetapi biarpun palsu, kitab ini ditulis di jaman dahulu oleh orang yang pandai dan hafal akan isi kitab aselinya, maka biarpun palsu, isi kitab ini merupakan pelajaran yang aneh dan luar biasa sekali. Bagi orang yang tidak memiliki ilmu silat tinggi, tentu saja kitab ini tidak ada artinya sama sekali dan kalau orang biasa melatih diri meniru pelajaran isi kitab ini, bukannya mendapat kemajuan dan kepandaian tinggi, bahkan tubuh orang itu akan rusak. Akan tetapi sebaliknya kalau yang mendengarnya adalah orang-orang berilmu tinggi seperti Hek-i Hui-mo dan Kiu-bwe Coa-li, mereka dapat menangkap dan menerima isi kitab untuk disaring kembali dan untuk dijadikan bahan menyempurnakan kepandaian silat mereka. Oleh karena inilah, maka hasil daripada mendengarkan isi kitab itu bagi Hek-i Hui-mo dan Kiu-bwe Coa-li amat jauh berlainan. Pelajaran yang mereka dengar itu, lalu diolah dan disaring sesuai dengan ilmu kepandaian yang sudah ada pada mereka, maka tentu saja tidak sama.

Bagi Kiu-bwe Coa-li, pelajaran dari Im-yang Bu-tek Cinkeng yang didengarnya dari pujangga Tu Fu itu, mendatangkan kemajuan yang hebat sekali dalam hal ilmu lweekang, yakni penggunaan tenaga dalam. Biarpun pelajaran lweekang di dalam kitab itu tidak karuan dan sengaja dibolak-balikkan oleh penulis kitab palsu, namun kebetulan sekali perhatian Kiu-bwe Coa-li dan muridnya, Sui Ceng, justeru dikerahkan ke jurusan ini. Dengan kecerdikannya yang luar biasa, Kiu-bwe Coa-li bertekun mengupas pelajaran ini dan akhirnya ia dapat menemukan ilmu aselinya dengan jalan meraba-raba dan menduga-duga.

Ia lalu memperbaiki dalam caranya sendiri, sesuai dengan kepandaian yang telah dimilikinya, dan akhirnya ia mendapatkan ilmu silat berdasarkan pelajaran Im-yang Butek Cin-keng yang seluruhnya dipergunakan tenaga lweekang yang luar biasa hebatnya! Sebaliknya, setelah mendengar dan mempelajari isi kitab itu, Hek-i Hui-mo mendapatkan gerakan-gerakan istimewa yang sesuai benar untuk menyempurnakan ilmu tongkatnya. Ilmu tongkat dari Hek-i Hui-mo, yakni permainan tongkat Liong-thouw-tung (Tongkat Kepala Naga), memang telah terkenal dan lihai sekali. Kini, setelah dia mempelajari isi kitab itu, dia mendapatkan sesuatu yang cocok sekali dan yang dapat dia olah sedemikian rupa sehingga ilmu tongkatnya menjadi maju dengan pesat dan kini merupakan ilmu tongkat yang aneh dan luar biasa! Kalau biasanya dia mainkan dua senjata, yakni tongkat Ling-thouw-tung di tangan kanan dan tasbih di tangan kiri, di mana tongkat menjadi alat penyerang dan tasbih alat penangkis, kini dengan mainkan tongkatnya saja kelihaiannya sudah berlipat kali melebihi sepasang senjatanya itu. Maka dia lalu tekun memperdalam kepandaiannya bermain tongkat yang kelak akan diturunkan kepada murid tunggalnya, yakni Lai Siang Pok.

Sebetulnya kalau orang mengetahui isi daripada kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng yang aseli, orang takkan merasa heran mengapa isi kitab yang dibaca Tu Fu itu mendatangkan dua macam ilmu jauh berlainan bagi Hek-i Hui-mo dan Kiu-bwe Coa-li. Kitab aseli Im-yang Bu-tek Cin-keng memang merupakan raja kitab ilmu silat di dunia ini! Di situ terdapat pelajaran pokok dan dasar daripada segala macam gerakan ilmu silat di atas dunia. Ilmu silat dengan tangan kosong maupun dengan senjata yang bagaimanapun juga, kesemuanya berpokok dan berdasar sama, yakni berdasarkan menyerang dan bertahan. Adapun inti sari daripada dua gerakan ini memang menjadi isi daripada Im-yang Bu-tek Cin-keng yang aseli! Baiklah kita tinggalkan dulu Siang Pok yang digembleng oleh suhunya yakni Hek-i Hui-mo di Pegunungan Tibet, juga kita biarkan dulu Sui Ceng yang tekun menerima latihan-latihan dari gurunya, Kiu-bwe Coa-li di Pegunungan Wu-yi-san di daerah selatan. Sekarang lebih baik kita menengok keadaan Lu Kwan Cu yang melakukan perantauan bersama gurunya, Ang-bin Sin-kai.

Kekalahannya yang berturut-turut menghadapi The Kun Beng dan Gouw Swi Kiat murid-murid Pak-lo-sian Siangkoan Hai, kemudian kekalahannya pula dari Lu Tong murid Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu, tidak mengecewakan hati Kwan Cu, bahkan merupakan dorongan kepadanya untuk berlatih makin giat dan tekun. Juga dia melanjutkan perjalanan menuju ke Bukit Liang-san untuk mencari gua tempat mendiang Gui Tin menyimpan buku-bukunya. Angbin Sin-kai menuruti saja kehendak muridnya yang hendak mencari gunung itu.

"Kitab-kitab macam apakah yang dapat ditinggalkan oleh seorang sastrawan kepadamu?" hanya demikian katakatanya mencemoohkan. "Paling hebat hanya kitab-kitab Susi Ngokeng dan kitab-kitab kuno penuh oleh tulisan kosong tentang adat-istiadat, tentang prikebajikan dan prikemanusiaan yang kosong melompong!"

Mendengar omongan gurunya ini, Kwan Cu menyatakan tidak setujunya.

"Suhu, mengapa soal-soal tentang prikebajikan dan prikemanusiaan Suhu anggap pelajaran yang kosong melompong? Bukankah manusia di dunia ini perlu sekali akan pelajaran serupa itu agar hidupnya tidak terlalu tersesat dan jahat?"

Ang-bin Sin-kai tertawa bergelak mendengar ucapan muridnya ini.

"Kwan Cu, pelajaran tentang prikebajikan memang kosong melompong dan hanya pekerjaan orang-orang malas yang mengaku diri suci dan berjasa terhadap manusia. Siapakah orangnya yang tidak tahu bahwa mencuri dianggap jahat? Namun tetap saja mereka mengambil barang lain orang. Siapa yang tidak tahu bahwa membunuh dianggap jahat? Namun tetap saja mereka membunuh sesama hidup dengan hati enak saja. Apakah dengan munculnya pelajaran-pelajaran tentang prikebajikan itu dunia menjadi makin bersih? Lihat saja, makin kotorlah batin manusia. Kalau kitab-kitab itu tidak memberi pelajaran tentang jahatnya mencuri, manusia takkan mengenal kata-kata mencuri dan tidak akan ada pencuri di muka bumi ini. Kalau orang tidak membaca dan mendengar tentang pelajaran prikebajikan yang menyatakan bahwa membunuh itu tidak baik, orang tidak akan mengenal kata-kata membunuh dan tidak akan ada pembunuh. Kalau orang tidak mendengar sebutan kejahatan dari dalam kitab, orang takkan mengenal pula kata-kata kejahatan dan tidak akan ada kejahatan di dalam dunia ini!"

Kepala Kwan Cu yang gundul itu menjadi makin kelimis karena dia mempergunakan otaknya untuk membuka arti ucapan gurunya yang sukar dimengerti itu. "Kalau begitu, dunia akan kacau, Suhu. Tanpa ada pengertian tentang kejahatan, orang tidak akan takut berbuat sekehendak hatinya!"

"Bodoh, berbuat sekehendak hati adalah perbuatan yang tidak jahat! Kaukira dengan pelajaran yang memenuhi otakotak tentang kejahatan dan segala macam omong kosong itu, akan membuat dunia menjadi baik dan aman? Tengok saja, di mana terjadinya kejahatan-kejahatan besar? Bukan di dusun-dusun yang ditempati oleh orang-orang yang masih sederhana pikiran dan hatinya, yang belum banyak mengenal tentang pelajaran prikebajikan yang dalam pandangan orang-orang kota masih dianggap bodoh! Di dalam ketidakmengertian mereka tentang kejahatan itu, mereka bersih!"

"Suhu terpengaruh oleh filsafat Lo Cu!" tiba-tiba Kwan Cu berseru karena anak yang cerdik ini memang sudah hafal akan semua isi kitab kuno dan pelajaran tentang filsafat dan kebatinan.

Bukan terpengaruh, hanya aku setuju dengan pendirian Lo Cu tentang itu. Orang-orang besar yang membuat kitabkitab itu telah berlaku terlalu sombong, hendak mendahului kehendak alam, hendak menggantikan kedudukan alam mengadakan perubahan besar dalam watak manusia.

Padahal watak manusia itu memang baik seperti watak seluruh isi alam yang suci. Watak manusia seperti air telaga yang tenang, sekali dikacau, akan bergelombanglah air itu dan menjadi kacau dan tidak aman lagi. Pengertian tentang apa yang disebut baik dan jahat, menimbulkan nafsu dalam diri manusia dan pada sekarang ini, dunia kemanusiaan dirajai oleh maha raja nafsu, manusianya sendiri hanya menjadi hamba sahaya dan hulubalang yang taat dan setia kepadanya! Nafsulah yang menggerakkan manusia mencuri, membunuh, menipu, dan melakukan kejahatan-kejahatan lain, dan nafsu ini dipupuk dan diperkuat oleh pengertian tentang baik dan buruknya yang diajarkan oleh kitabkitabmu itu! Anggap emas seperti batu karang, siapa yang sudi mencuri emas? Dengan pengertian tentang baik buruk, tentang dosa dan suci, manusia telah dibentuk menjadi makhluk yang paling kotor dan jahat di dunia ini."

Kwan Cu mengerutkan keningnya. "Akan tetapi, Suhu, bukankah itu sebaliknya? Manusia adalah makhluk yang paling pandai dan baik. Bukan hanya di antara manusia terjadi saling bunuh, bukankah binatang juga sering kali membunuh sesamanya?"

Ang-bin Sin-kai memandang kepada muridnya dengan mata terbelalak lebar. "Anak bodoh, kau tahu apa? Binatang-binatang membunuh bukan seperti manusia membunuh! Manusia membunuh sesama manusia hanya terdorong oleh iblis, terdorong oleh dendam, benci, marah, dan sakit hati karena dirugikan, baik nama maupun hartanya. Pernahkah kau mendengar binatang membunuh karena perasaan-perasaan jahat ini? Harimau boleh jadi setiap hari membunuh binatang lain, akan tetapi itu adalah kehendak alam yang telah memastikan bahwa harimau tidak bisa makan rumput, melainkan harus makan daging atau darah."

"Akan tetapi, Suhu. Kalau semua manusia menurutkan ajaran Lo Cu semenjak dahulu, teecu kira dunia akan menjadi sunyi, dan tidak akan terdapat kemajuan seperti sekarang ini. Manusia mungkin masih akan menjadi makhluk-makhluk telanjang yang hidup di gua-gua, tiada lain kerjanya hanya makan dan tidur!"

"Kau sombong!" Ang-bin Sin-kai berteriak dengan muka yang merah itu menjadi makin merah. "Berani kau mendahului pertumbuhan alam? Memang mungkin sekali tidak akan ada kemajuan duniawi seperti sekarang, akan tetapi juga tidak akan ada kejahatan seperti sekarang! Tentang kemajuan, hanya setelah kata-kata itu diciptakan orang maka mengenalnya. Coba kau tengok pohon siong itu. Ribuan tahun yang lalu keadaannya masih sama saja seperti sekarang, akan tetapi, katakan, hai bocah gundul sombong, siapakah yang dapat menyatakan bahwa pohon itu tidak mempunyai kemajuan? Lihat burung yang terbang itu. Seribu tahun yang lalu bangsanya pun berbuat seperti itu. Apakah sekarang dia kelihatan sudah terlalu kuno dan tidak menarik lagi? Kwan Cu, kau hanya memandang kulit saja, tidak melihat isi. Kemajuan lahir saja tiada artinya tanpa dibarengi kemajuan batin, karena lahir itu tidak kekal adanya."

Sekarang Kwan Cu benar-benar kelihatan pusing dan teringatlah Ang-bin Sin-kai bahwa Kwan Cu hanyalah seorang kanak-kanak yang masih belum dapat menerima semua filsafat hidup ini. Ang-bin Sin-kai menarik napas panjang dan dia seakan-akan baru kembali ke atas bumi dari perantauannya di awang-awang yang membuatnya lupa akan segala itu.

"Sudahlah, Kwan Cu. Mari kita melanjutkan perjalanan.

Kalau dipikir-pikir, aku sendiri pun ingin sekali tahu bukubulu apa yang disimpan oleh mendiang Gui Tin di atas Bukit Liang-san itu."

"Buku-buku yang lainnya, teecu pun tidak menghendakinya, Suhu. Hanya sebuah buku yang perlu sekali bagi teecu karena sudah dipesankan oleh Guisianseng kepada teecu. Yakni buku sejarah kuno di mana teecu akan membaca tentang kitab Im-yang Bu-tek CinTiraikasih Website http://kangzusi.com/ keng yang aseli! Dari buku itulah teecu akan mendapat petunjuk di mana teecu dapat mencari kitab rahasia itu."

Ang-bin Sin-kai tertegun dan mukanya berubah.

"Kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng?" Ia mengulang setengah tidak percaya.

Kwan Cu mengangguk. "Memang kitab yang dahulu itu kitab tiruan yang sengaja di palsukan, Suhu. Aselinya masih disimpan baik-baik, kata Gui-sianseng, kitab itu berada di atas sebuah pulau kosong yang sukar dicari. Hanya bisa didapatkan dengan pertolongan kitab sejarah yang disimpan oleh Gui-sianseng."

"Kwan Cu, kalau begitu kau benar-benar berjodoh dengan kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng! Hayo kita percepat jalan agar segera dapat menemukan kitab itu, muridku!"

Ketika Ang-bin Sin-kai memandang kepada muridnya dan bertemu pandang, mukanya yang merah berubah pucat karena dia marah.

"Kwan Cu! Kaukira aku mempunyai pikiran buruk? Aku sudah bersumpah takkan mempelajari Im-yang Bu-tek Cinkeng dan aku Lu Sin selamanya akan memegang teguh sumpahku!"

Kwan Cu terkejut sekali dan buru-buru dia berlutut minta maaf. Pandangan mata suhunya benar-benar tajam sekali, karena memang tadi dia memandang dengan curiga kepada suhunya yang disangkanya menginginkan kitab itu.

"Sudahlah, tiada salahnya kau mencurigaiku, karena kalau tidak ingat akan sumpahku, memang aku ingin sekali melihat dan mempelajari Im-yang Bu-tek Cin-keng. Siapa orangnya yang tidak ingin? Sudah berpuluh tahun aku merindukan kitab itu, seperti juga tokoh-tokoh persilatan yang lain. Akan tetapi, aku sudah tua dan tiada gunanya aku mempelajari ilmu silat lain lagi. Kaulah yang perlu mempelajarinya, maka kerinduanku sekarang bukan untuk aku sendiri, melainkan melihat kau dapat mempelajari kitab aneh itu."

"Terima kasih atas budi kebaikanmu, Suhu."

"Phuah, budi kebaikan macam manakah? Hayo kita lekas pergi. Aku tahu dimana kau akan dapat melatih gwakang dan memperdalam Sam-hoan-ciang dan Pai-buntui- pek-to yang sedang kau pelajari."

Guru dan murid ini lalu berangkat dan berlari cepat menuju ke Liang-san. Tiga hari kemudian tibalah mereka di sebuah hutan besar dan Ang-bin Sin-kai menghentikan larinya dan berkata,

"Nah, di sini kita dapat beristirahat sambil mencari lawan untuk melatih ilmu silatmu."

Hutan itu besar dan sunyi sekali. Di mana ada lawan untuk melatih ilmu silat? Kwan Cu memandang ke sana ke mari, akan tetapi keadaan sunyi saja, hanya bergeraknya daun pohon tertiup angin menimbulkan suara gemerisik.

Pohon-pohon besar menimbulkan bayangan yang amat teduh dan silir angin membuat mata mengantuk. Lapatlapat terdengar suara binatang hutan, dan Kwan Cu merasa heran mengapa suara binatang hutan, kecuali burung dan ayam, yang terdengar hanya geraman harimau belaka.

"Heran sekali, ke manakah perginya keluarga raja hutan?" Ang-bin Sin-kai berkata perlahan. "Biasanya setiap kali aku datang, mereka itu telah beramai-ramai menyambut dengan gigi dan kuku yang runcing!"

Tiba-tiba, seakan-akan menjadi jawaban dari katakatanya, terdengar bunyi lengkingan suling bambu yang aneh sekali suaranya. Lengking ini amat tinggi dan panjang, kemudian mendadak berubah menjadi irama rendah dengan irama terputus-putus seperti geraman harimau marah.

Berubah wajah Ang-bin Sin-kai mendengar ini.

"Ah, kiranya dia berada di sini. Pantas saja harimauharimau itu tidak nampak di sini."

"Suhu, siapakah peniup suling yang aneh bunyinya itu?"

"Orang aneh……. orang aneh, dan sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan kita. Dia itulah Hang-houw-siauw Yok-ong (Raja Obat dengan Suling Penakluk Harimau)!"

Akan tetapi Kwan Cu belum pernah mendengar julukan orang yang terdengar aneh ini. Julukan Yok-ong (Raja Obat) saja sudah hebat, apalagi mengerti julukan kedua ini.

Bagaimana bisa orang menaklukan harimau dengan suling? Atau, bagaimana suling bisa dipergunakan menjadi penakluk harimau? Jawabannya segera terlihat olehnya. Dari jurusan barat, kelihatan seorang laki-laki tua berpakaian jubah panjang menutupi kedua kakinya dan sebagian jubah itu terseret di belakangnya, sedang berjalan dengan tindakan perlahan. Ia memegang sebatang suling bambu yang ditiupnya sambil berjalan, matanya memandang lurus ke depan tidak mempedulikan kanan kiri. Juga sama sekali tidak dia mempedulikan apa yang terjadi dibelakangnya, kejadian yang membuat Kwan Cu membuka mata selebar-lebarnya! Ternyata olehnya bahwa di belakang kakek itu, berbaris belasan ekor harimau besar dan buas. Mereka berjalan merupakan barisan di belakang kakek ini dan sebentarsebentar mengeluarkan geraman. Melihat keadaan ini, tahulah Kwan Cu bahwa binatang-binatang buas itu ternyata telah tertarik dan berada di bawah pengaruh suara suling yang aneh itu. Pantas saja di sebut Hang-houw-siauw (Suling Penakluk Harimau). Kwan Cu benar-benar merasa aneh sekali. Dia sudah sering kali mendengar tentang suling yang suaranya dapat mempengaruhi ular, akan tetapi harimau?

"Ha, ha, ha, Hang-houw-siauw Yok-ong benar-benar tabah sekali!" Ang-bin Sin-kai memuji. "Hanya dengan suara suling dapat menundukkan belasan raja hutan, benarbenar aku Ang-bin Sin-kai tidak mampu melakukannya!"

Melihat munculnya seorang anak laki-laki gundul bersama Ang-bin Sin-kai, untuk sesaat kakek berjubah panjang itu lupa meniup sulingnya dan dia memandang kepada kakek pengemis itu.

"Aha, kiranya Ang-bin Sin-kai si manusia sadar!"

Memang Yok-ong ini amat mengagumi Ang-bin Sin-kai dan selalu menyebutnya manusia sadar. "Selagi jalan halus sempat dan dapat dipergunakan, mengapa memakai jalan kasar?"

Ang-bin Sin-kai tertawa bergelak. "Ha, ha, ha, Hanghouw- siauw Yok-ong! Enak saja kau bicara begitu! Dengan sulingmu, tentu saja kau dapat menundukkan harimau dengan jalan halus, akan tetapi aku yang tidak mengerti caranya, bagaimana harus menundukkan harimau? Aku takkan dapat membujuk mereka dengan kata-kata halus.

Lihat, bagaimana aku harus menghadapi mereka ini?"

Berkata demikian, Ang-bin Sin-kai menunjuk ke arah belakang Hang-houw-siauw Yok-ong. Kakek ini menengok dan melihat betapa belasan ekor harimau buas itu mulai gelisah dan kini mereka memperlihatkan gigi runcing dan muka buas, siap untuk menyerang! Harimau-harimau itu kini sudah tidak berada di bawah pengaruh suara suling lagi dan mereka mengeluarkan geraman hebat lalu menubruk maju, menyerang Ang-bin Sin-kai, Yok-ong dan Kwan Cu! Lu Kwan Cu terkejut sekali, akan tetapi dia telah memiliki ketabahan dan ketenangan, maka ketika seekor harimau menubruk kepadanya, dia cepat melompat ke pinggir. Lain harimau menerkamnya, akan tetapi kembali dengan menggeser kaki menurutkan gerakan Pai-bun-tuipek- to, dia dapat menyelamatkan diri.

Adapun Hang-houw-siauw Yok-ong, juga berbuat seperti Kwan Cu. Kakek ini berkepandaian tinggi, akan tetapi hatinya amat lemah dan tidak tega melukai siapa pun juga.

Ia adalah seorang ahli pengobatan dan hatinya sudah tercurah kepada watak menyayang dan memelihara sesuatu yang sakit, mana bisa dia melukai harimau-harimau itu? Ia bergerak ke sana ke mari dan sungguh mengagumkan, biarpun gerakannya nampak lambat saja, namun tak pernah ada kuku harimau yang dapat menyentuh jubahnya yang panjang itu.

Hebat adalah sepak terjang Ang-bin Sin-kai. Berbeda dengan Kwan Cu yang mengelak terus karena tidak mampu membalas serangan harimau dan Yok-ong yang sengaja tidak mau mengganggu bintang-binatang itu, Ang-bin Sinkai tidak mandah saja dirinya di serang. Tiap kali kaki dan tangannya bergerak, terdengar harimau yang terpukul atau tertendang mengeluarkan gerengan kesakitan, dan tubuh harimau bergulingan di atas tanah saking kerasnya serangan Ang-bin Sin-kai.

Melihat ini, Hang-houw-siauw Yok-ong berteriak-teriak,

"Ang-bin Sin-kai, jangan berlaku kejam! Ampunkan nyawa harimau-harimau ini!"

Ang-bin Sin-kai tertawa bergelak. "Aku memandang mukamu dan tidak akan mengganggu mereka lagi," katanya dan sekali tubuhnya berkelebat, dia telah melompat ke atas dan tahu-tahu dia telah duduk di atas sebatang ranting pohon yang tinggi! Ada pun Kwan Cu yang melihat perbuatan suhunya, lalu melompat pula, akan tetapi dia tidak melompat ke atas pohon, melainkan melompat ke belakang Hang-houwsiauw Yok-ong mencari perlindungan! Raja obat itu lalu meniup sulingnya dan …..benar mengherankan sekali, tibatiba binatang-binatang yang buas dan marah itu menghentikan serangan mereka, lalu berdiri berkumpul di depan Yok-ong dengan kepala tunduk dan telinga digerakgerakkan seakan-akan senang sekali medengar suara suling yang bagi telinga Kwan Cu terdengar menyakitkan anak telinga! Makin lama makin meninggi suara suling yang ditiup oleh Yok-ong, dan makin sakitlah telinga Kwan Cu sehingga anak ini tidak dapat tahan lagi lalu menggunakan ibu jari untuk menyumpal lubang telinganya. Dan benarbenar hebat! Harimau-harimau itu seakan-akan mendengar bunyi perintah yang tak dapat dibantah lagi. Serentak mereka membalikkan tubuh dan berlari cepat meninggalkan tempat itu! Masih agak lama Yok-ong meniup sulingnya, kemudian setelah tidak terdengar lagi geraman harimau, dia menghentikan tiupannya dan menoleh kepada Ang-bin Sinkai yang masih duduk di atas pohon.

"Ang-bin Sin-kai, terima kasih atas kemurahan hatimu terhadap harimau-harimau itu. Kalau diteruskan tadi, tentu aku menjadi sibuk memelihara dan mengobati luka-luka mereka. Untuk kebaikan hatimu itu, kau patut diberi hadiah. Aku adalah seorang miskin yang hanya mempunyai sebatang suling. Nah, terimalah barang pusakaku ini." Ia melempar suling yang tadi ditiupnya ke arah Ang-bin Sinkai yang cepat mengulur tangan menerimanya.

Hang-houw-siauw Yok-ong lalu berpaling kepada Kwan Cu. Untuk beberapa lamanya dia memandang anak itu dengan tajam.

"Hebat!" tiba-tiba dia berkata. "Darimana kau memperoleh anak seperti ini?" Ia lalu mendekati Kwan Cu.

"Coba ulur tangamu, anak yang baik."

Kwan Cu segera mengulur tangan kanannya dan Yokong segera memegang pergelangan tangan Kwan Cu. Untuk beberapa lama dia mengangguk-angguk dan berkatalah dan dengan suara keras.

"Benar-benar hebat! Darah yang luar biasa kuatnya, yang ditambah oleh semacam darah liar yang mempunyai kekuatan tekanan tiga kali lipat daripada tekanan darah manusia, membuat seluruh urat di tubuhmu dipenuhi oleh aliran darah yang kuat dan cepat sekali. Berkat tulang dan dagingmu yang kuat dan bersih, hal itu menguntungkan dalam usahamu mempelajari bu (ilmu silat). Akan tetapi, urat halus dalam otak dapat terganggu karenanya. Anak baik, aku kasihan kepadamu, maka biarlah aku memberimu Liong-kak-hian-tan (Pil Darah Tanduk Naga) yang jarang kupergunakan." Ia merogoh saku jubahnya yang lebar sekali dan mengeluarkan bungkusan dari kain kuning yang bersih. Ketika bungkusan dibuka, di dalamnya terdapat beberapa butir pil merah yang berbau amis.

"Untuk ketabahan dan kemurahan hatimu ketika menghadapi harimau-harimau tadi, kau kuberi hadiah tiga butir Liong-kak-hian-tan. Telanlah sehari sebutir, dan dalam tiga hari kau akan merasakan khasiatnya."

Kwan Cu merasa ragu-ragu untuk menerima, dan tibatiba terdengar suara dari atas pohon,

"Murid goblok! Tidak lekas diterima dan menghaturkan terima kasih, mau tunggu kapan lagi?"

Sebenarnya bukan karena Kwan Cu merasa kurang percaya terhadap kakek Raja Obat itu, melainkan karena dia menjadi murid Ang-bin Sin-kai, maka dia merasa tidak patut tanpa ijin gurunya kalau dia menerima pemberian orang lain. Sekarang mendengar ucapan suhunya, dia menjadi girang sekali, dan setelah menerima tiga butir pil itu, dia lalu berlutut di depan Hang-houw-siauw Yok-ong dan menghaturkan terima kasihnya.

Yok-ong tertawa bergelak dan menengok ke atas pohon.

"Ang-bin Sin-kai, muridmu ini benar-benar tahu menghargai guru dan orang-orang tua. Bagus sekali! Nah, sampai bertemu kembali!"

Setelah berkata demikian, Hang-houw-siauw Yok-ong lalu menyimpan bungkusan obatnya dan seperti main sulap saja, ketika dia merogoh saku di tangannya telah memegang sebatang suling lagi! Ia lalu berjalan pergi sambil meniup sulingnya! Kwan Cu dan gurunya mendengarkan suara suling itu makin melenyap, kemudian terdengar suara suling lain.

Ketika Kwan Cu menengok, ternyata suhunya sedang meniup suling pemberian Yok-ong tadi! Tercenganglah Kwan Cu ketika mendengar tiupan suling suhunya amat merdu dan gurunya itu ternyata pandai sekali meniup suling melagukan lagu kuno!

"Bagus, Suhu pandai sekali bersuling!" Kwan Cu memuji.

Gurunya menghentikan tiupannya dan tertawa girang.

"Tidak sepandai Hang-houw-siauw Yok-ong.

Kautelanlah sebutir Liong-kak-hian-tan itu seperti yang dipesan oleh Yok-ong. Aku mau mencoba memanggil harimau dengan suling ini!"

Kwan Cu segera menelan sebutir pil yang terasa masam dan amis sekali, kemudian menyimpan yang dua butir di dalam saku bajunya. Pada saat itu, gurunya sedang mencoba untuk meniru tiupan suling Yok-ong ketika menundukkan harimau tadi. Akan tetapi tiupan sulingnya tidak karuan bunyinya sehingga mengusir burung-burung di atas pohon yang menjadi kaget ketakutan mendengar suara melengking yang aneh luar biasa itu! Sampai capai bibir meniup suling, harimau-harimau itu tidak juga datang! Kwan Cu tertawa geli melihat usaha suhunya tidak mendatangkan hasil itu.

"Jangan tertawa, lihat belakangmu!" tiba-tiba Ang-bin Sin-kai berseru.

Kwan Cu terkejut dan cepat menengok. Benar saja di belakangnya telah berdiri seekor harimau muda yang nampaknya juga terpesona dan bingung mendengar suara suling yang lucu dan aneh tadi. Kini, menghadapi Kwan Cu, dia mulai merendahkan tubuhnya dan menggarukgarukkan kakinya, siap untuk menerkam.

"Kwan Cu, hadapi dia dengan Pai-bun-tui-pek-to! Jangan hanya mengelak saja, lawan dia dan kalahkan dia.

Sekarang waktunya untuk menguji kepandaian. Dia ahli gwakang (tenaga luar), awaslah!" kata Ang-bin Sin-kai dengan gembira sekali.

Harimau itu mengaum lalu menubruk dengan kuat sekali. Kwan Cu sudah siap sedia. Dengan lincahnya dia melangkah ke kiri, membiarkan tubuh harimau itu menyambar lewat, lalu memberi pukulan keras ke arah lambung harimau itu. Harimau terjatuh tunggang-langgang sambil menggereng, akan tetapi tubuh harimau muda itu terlampau kuat sehingga pukulan Kwan Cu tadi baginya hanya merupakan dorongan kuat belaka, sama sekali tidak melukainya. Ia menubruk lagi dan seperti juga tadi, Kwan Cu menghadapi dengan mengelak sambil memukul atau menendang.

Pertempuran seperti ini berjalan lama dan Ang-bin Sinkai hanya meniup suling seakan-akan mengiringi pertempuran itu dengan lagu perang, akan tetapi matanya memandang penuh perhatian. Akhirnya, setelah berpuluh kali menubruk tanpa hasil bahkan menerima tendangan atau pukulan, harimau itu menjadi lelah. Demikian pula Kwan Cu. Ia telah mengerahkan benar tenaga untuk memukul dan menendang, akan tetapi sedikit pun tak dapat merobohkan lawannya.

"Kau harus dapat mengalahkan dia!" seru Ang-bin Sinkai berkali-kali dengan suara tidak puas. Masa muridnya, murid Ang-bin Sin-kai tidak dapat mengalahkan seekor harimau yang masih muda? Kwan Cu mengerti bahwa kalau dia melanjutkan perkelahian secara ini, tak mungkin dapat mengalahkan harimau itu. Maka dia mencari akal dan ketika harimau itu untuk ke sekian kalinya menubruknya, dia lalu mengelak dan menyambar ekor harimau. Sekuat tenaga dia lalu mengayun tubuh harimau itu dan membantingnya. Akan tetapi karena tubuh harimau itu berat sekali dan dia telah lelah, maka dia terbawa oleh bantingan ini sehingga terpelanting di atas tanah! Harimau itu nanar seketika, akan tetapi segera berdiri kembali dan melihat tubuh Kwan Cu di dekatnya, dia lalu menubruk! Kwan Cu telah siap dan cepat menggulingkan tubuhnya mengelak, kemudian dia mendahului menerkam dan mencekik leher harimau itu dalam kempitan lengannya yang kecil akan tetapi kuat! Harimau itu meronta-ronta, akan tetapi Kwan Cu memutar lehernya sehingga kaki harimau tidak dapat mencakarnya. Makin lama harimau itu mejadi makin lemah dan sebentar lagi dia tentu takkan berdaya.

Tiba-tiba terdengar auman keras sekali dan seekor harimau yang besar sekali keluar dari semak-semak, merunduk dan siap menerkam Kwan Cu yang mencekik anaknya! Ang-bin Sin-kai yang sedang enak-enak meniup sulingnya saking girang melihat kecerdikan Kwan Cu mengalahkan lawannya, melihat harimau besar itu, lalu berseru keras dan tubuhnya melayang turun.

Pada saat itu, harimau besar telah melompat menubruk Kwan Cu, akan tetapi, tiba-tiba tubuhnya terjengkang kembali ke belakang karena dorongan Ang-bin Sin-kai yang memapakinya di tengah udara! Kini pertempuran terpecah menjadi dua. Kwan Cu dengan cepat dapat membuat harimau muda itu pingsan karena tak dapat bernapas, kemudian anak ini menonton pertempuran antara suhunya dan harimau besar.

Bukan main kagumnya hati Kwan Cu ketika melihat betapa suhunya menghadapi harimau itu dengan senjata suling. Ternyata suling yang ditiupnya dengan merdu tadi kini disulap menjadi sebatang senjata yang lihai sekali.

Kemana juapun harimau itu menubruk, selalu dia tertotok oleh suling di bentulan lehernya. Setelah empat lima kali tertotok suling, harimau itu merasa kesakitan luar biasa dan segera membalikkan tubuh dan berlari cepat sambil menggereng kesakitan! Sementara itu, harimau muda yang tadi pingsan, juga telah siuman kembali dan kini berlari menyusul harimau besar!

"Suhu, indah sekali permainan suling tadi. Teecu ingin belajar bersilat dengan suling."

Ang-bin Sin-kai tertawa. "Memang indah dan mudah saja dilihat, akan tetapi jangan kira mudah dipelajarinya.

Ketahuilah bahwa makin sederhana bentuk senjata, makin sukar dipelajarinya dan makin lihai permainannya. Kelak akan tiba saatnya kau belajar ilmu silat dengan suling."

Guru dan murid ini lalu melanjutkan perjalanan ke Liang-san. Semenjak mengalahkan harimau muda itu, semangat Kwan Cu menjadi makin besar saja. Dan tiga hari kemudian setelah dia menghabiskan tiga butir pil merah pemberian Hang-houw-siauw Yok-ong, dia merasa kepalanya dingin dan dadanya tenang. Pikirannya makin kuat saja dan kini dia tidak terganggu oleh rasa pening yang seringkali datang di kala dia melatih diri dengan pengendalian napas dalam samadhinya. Ia merasa girang dan Ang-bin Sin-kai berkata sambil menarik napas panjang.

"Karena itulah ketika dulu aku melihat dia memberi pil ini kepadamu, aku cepat menyuruh kau menerimanya.

Hang-houw-siauw Yok-ong dahulunya adalah seorang tabib istana yang amat terkenal, bukan saja karena ilmu pengobatannya, akan tetapi terutama karena ilmu silatnya yang tinggi dan pribadinya yang luhur. Mungkin sekali tingkat kepandaiannya tidak akan menang dari tokoh-tokoh persilatan dari empat penjuru, akan tetapi tentang ilmu pengobatan dan pribadi mulia, kiraku di dunia ini sukar mencari keduanya!"

"Yang diberikan kepada teecu itu, disebut olehnya Liong-kak-hian-tan (Pil Darah Tanduk Naga), apakah benar-benar terbuat daripada darah yang berada di tanduk naga, Suhu?"

Ang-bin Sin-kai tertawa bergelak. "Orang-orang pembuat obat dan masakan sama saja, keduanya seperti orang gila! Untuk memudahkan mereka mengingat namanya dan untuk membuat obat atau masakannya terkenal, mereka itu suka memberi nama yang aneh-aneh! nama liong (naga) dan burung hong (burung dewata) selalu dibawa-bawa dalam pemberian nama pada obat. Siapa percaya tentang liong kalau belum melihat sendiri?"

"Apakah liong itu tidak ada, Suhu?"

"Aku sendiri percaya bahwa naga itu memang ada, hanya terus terang saja aku belum pernah melihat dengan mataku sendiri. Memang kulihat banyak ular-ular besar sekali, bahkan ada pernah kulihat ular bertanduk lunak di kepalanya, akan tetapi, ular itu tidak berkaki seperti naga yang sering kali disebut-sebut! Betapapun juga, aku percaya bahwa naga itu memang ada. Kalau tidak ada, mengapa rakyat di empat penjuru dapat melukiskan rupa dan bentuk tubuhnya? Pasti ada, seperti adanya pula burung hong!"

"Kalau begitu, obat Liong-kak-hian-tan itu benar-benar terbuat daripada darah tanduk naga, Suhu?" kata Kwan Cu dengan suara tetap.

Ang-bin Sin-kai kembali tertawa lagi. "Hal inilah yang meragukan, karena kepandaian yang dimiliki oleh Hanghouw- siauw Yok-ong itu, biarpun cukup lihai, mana bisa dia pergunakan untuk menangkap seekor liong dan mengambil darah dari tanduknya? Sudahlah, hal ini tidak penting, muridku. Yang paling penting adalah kenyataan bahwa obat itu memang kupercaya amat baik bagimu."

Setelah tiba di lereng bukit Liang-san di sebelah barat, mereka mulai bertanya-tanya kepada orang kampung tentang Gui Tin yang di tempat itu dahulu mengaku bernama Gui-lokai.

Beberapa orang sudah ditanya oleh Kwan Cu, akan tetapi tak seorang pun mengaku telah kenal dengan Guilokai (pengemis tua Gui).

"Anak bodoh, mengapa kautanya hanya orang-orang muda saja? Tanyalah kau kepada orang tua, dan wanita pula, karena yang biasa menderma kepada para pengemis, kebanyakan hanya orang-orang wanita," kata Ang-bin Sinkai mencela muridnya.

Kwan Cu menganggap kata-kata suhunya benar, maka dia lalu bertanya pada seorang wanita dusun yang sudah agak tua akan tetapi masih rajin sekali bekerja. Wanita ini tengah memikul air bersama beberapa wanita lain.

Kwan Cu merasa tidak enak kalau langsung menghentikan orang yang sedang bekerja, dan nampaknya wanita-wanita itu tergesa-gesa. Maka dia lalu ulurkan tangannya ke arah pundak wanita yang berada di depan dan dalam sekejap mata saja pikulan itu telah berpindah ke atas pundaknya sendiri! Tantu saja wanita itu terkejut dan heran sekali, akan tetapi bocah gundul itu tersenyum kepadanya sambil berkata,

"Bibi, aku kasihan melihat kau bersusah payah memikul air yang berat ini. Biar aku bawakan ke rumahmu."

Tentu saja wanita itu girang sekali dan tertawalah dia, memperlihatkan deretan gigi yang jarang dan kecil-kecil.

"Anak baik, terima kasih," katanya sambil melanjutkan perjalanan di sebelah Kwan Cu. Dua orang wanita di belakangnya juga memandang heran kepada Kwan Cu, bocah gundul yang baik hati tu.

Setelah menurunkan pikulan di depan rumah wanita itu, barulah Kwan Cu mengajukan pertanyaan, "Bibi, pernahkah kau mengenal seorang pengemis tua di daerah ini yang dipanggil Gui-lokai?"

"Gui-lokai…….?" Wanita itu mengerutkan keningnya yang sudah mulai keriputan, "Ah, kakek yang gila itu? Siapa yang tidak mengenalnya? Dia adalah seorang tua yang malas dan gila, tidak mau bekerja, hanya menulis dan membaca saja kerjanya. Baiknya dia masih suka memberi pelajaran kepada beberapa orang anak, akan tetapi pelajaran membaca dan menulis, untuk apakah di dusun ini? Lebih baik belajar mencangkul tanah daripada menggerakkan pit menulis!"

Bukan main girangnya hati Kwan Cu.

"Tahukah kau di mana adanya dia? Dan di mana tempat tinggalnya ketika dia berada di daerah ini?"

"Tempat tinggalnya? Di mana saja orang mau menerimanya. Kadang-kadang dia bahkan tidur di pinggir sawah, di tempat terbuka. Benar-benar orang aneh. Eh, anak baik, kau pernah apakah dengan Gui-lokai maka kau mencarinya?"

Pada saat itu, seorang kakek tua yang mendatangi tempat itu mendengar kata-kata ini lalu menyambung, "Aneh sekali! Baru kemarin sore ada juga dua orang yang menanyakan tentang Gui-lokai!"

Mendengar ini, Kwan Cu terheran. "Lopek, siapakah mereka yang bertanya tentang Gui-lokai?"

"Seorang hwesio gemuk sekali dan seorang muridnya.

Mereka pergi ke batu karang berbentuk menara yang berada di lereng barat, mencari gua yang dulu ditinggali oleh Guilokai," jawab kakek itu.

"Dimana batu karang itu, Lopek? Aku pun ingin sekali pergi ke gua tempat tinggal Gui-lokai!" Kwan Cu bertanya cepat-cepat.

Kakek itu ragu-ragu, akan tetapi wanita yang ditolongnya membawa air tadi segera menudingkan jari telunjuknya ke arah puncak bukit yang tak jauh dari situ.

"Di sanalah tempatnya. Di sana terdapat sebuah batu karang yang menjulang tinggi, bentuknya seperti menara.

Di sekitar tempat itulah adanya gua tempat tinggal Guilokai ketika dia masih berada di daerah ini."

"Terima kasih!" jawab Kwan Cu dan dua orang dusun itu menjadi bengong dan saling pandang ketika tiba-tiba Kwan Cu melompat dan lenyap dari depan mereka.

"Suhu, cepat, Suhu! Ada orang mendahului kita!" kata Kwan Cu ketika dia kembali ke tempat di mana Ang-bin Sin-kai menantinya.

"Siapa orangnya yang mendahului kita?" tanya Ang-bin Sin-kai dengan muka terheran.

"Entahlah, kata orang dusun itu, ada seorang hwesio gemuk dan muridnya juga mencari gua tempat tinggal Guisiu- cai!"

Berubah wajah Ang-bin Sin-kai mendengar ini.

"Hm, jangan-jangan Jeng-kin-jiu dan Lu Thong yang mendahului kita."

"Mari cepat, Suhu. Guanya berada di puncak itu," kata Kwan Cu dan bocah gundul ini mendahului suhunya berlari ke arah puncak itu. Ang-bin Sin-kai menyusul dan guru ini pun merasa gelisah kalau-kalau kitab yang dikehendaki oleh muridnya itu telah dicuri orang lain.

Sebentar saja mereka telah tiba di puncak bukit di mana terdapat batu karang berbentuk menara. Mudah saja mendapatkan gua bekas tempat tinggal Gui Tin, karena gua ini besar dan panjang. Kwan Cu segera membuat obor dan bersama gurunya dia memasuki gua itu. Tak salah lagi, inilah bekas tempat tinggal Gui-lokai, karena dindingnya banyak terdapat pahatan dan ukiran, tentu Gui Tin mempergunakan waktunya untuk membuat sajak-sajak ini.

Kwan Cu mencari terus dan akhirnya dia mendapatkan lubang di mana tersimpan sebuah peti.

Dengan hati berdebar girang, Kwan Cu mengeluarkan peti itu dan segera membawanya keluar. Setelah tiba di luar, dia membuka peti tadi, akan tetapi tiba-tiba pundaknya di tarik orang dan ternyata suhunya yang menarik tadi.

"Hati-hati, Kwan Cu. Keliru sekali berlaku tergesa-gesa seperti itu menghilangkan kewaspadaan. Aku masih bersangsi mengapa Gui-siucai semudah ini menyimpan petinya terisi kitab-kitab yang lebih disayangnya daripada harta benda lain. Aku sangsi kalau-kalau ada orang yang telah mendahului kita dan sengaja memasang perangkap.

Biarkan aku yang membuka peti ini!" Sambil berkata demikian, Ang-bin Sin-kai mempergunakan sulingnya untuk mencokel tutup peti dan benar saja dugaannya, begitu tutup peti terbuka, dari dalam menyambar keluar kepala seekor ular kehijauan yang mendesis dan menjulurkan lidahnya.

Kwan Cu tertawa.

"Ah, ular kecil seperti itu saja, apa sih bahayanya?"

Ang-bin Sin-kai mengerutkan keningnya dan memandang tajam kepada Kwan Cu.

"Salah, salah! Sama sekali salah kalau kau memandang rendah soal-soal kecil. Kau mau tahu tentang ular ini? Inilah yang di sebut Jeng-tok-coa (Ular Racun Hijau) yang bisanya jauh lebih berbahaya daripada seekor ular sendok.

Sekali pagut saja, tidak ada obat di dunia ini yang akan menyembuhkan dan menolong orang yang dipagutnya! Biarpun kau sendiri yang telah memiliki darah penolak racun di tubuhmu, agaknya akan bergulat dengan maut apabila tadi kau membuka peti dan kena digigit oleh ular ini!"

Mendengar ini, Kwan Cu meleletkan lidahnya saking kaget dan ngerinya. Ular itu bergerak-gerak dan gerakannya benar-benar cepat sekali sehingga dapat dibayangkan kalau ular ini menyerang orang. Ang-bin Sin-kai menggerakkan sulingnya dan sekali terbentur suling, pecahlah kepala ular itu, mengeluarkan lendir berwarna hijau yang berbau amis keharum-haruman dan yang membuat kepala menjadi pening ketika hidung mencium bau itu.

Ang-bin Sin-kai segera mengangkat peti itu menjauhi bangkai ular, kemudian barulah dia memperkenankan Kwan Cu memeriksa isi peti. Peti itu ternyata terisi banyak buku-buku tebal dan kuno. Dengan jari-jari tangan gemetar saking menahan gelora hatinya, Kwan Cu memeriksa bukubuku itu satu demi satu. Buku-buku sajak, buku-buku tentang bintang-bintang dan kitab-kitab kebatinan yang amat kuno. Namun tidak sebuah pun kitab sejarah tentang Im-yang Bu-tek Cin-keng!

"Heran sekali…….., kitab yang di maksudkan Guisianseng itu tidak ada…….. !" kata Kwan Cu setelah untuk kelima kalinya dia membuka dan memeriksa lagi bukubuku itu satu demi satu.

"Hm, benar ada orang yang mendahului kita," kata Angbin Sin-kai, "kau lihat di sana itu!"

Kwan Cu memandang dan melihat bayangan dua orang berlari cepat sekali menuruni gunung. Bayangan seorang berkepala gundul yang gemuk bundar bersama seorang anak laki-laki yang sebaya dengan dia!

"Keparat!" Kwan Cu memaki dan hendak mengejar.

Akan tetapi Ang-bin Sin-kai menahan dan memegang pundaknya. Tiba-tiba Kwan Cu membalikkan tubuhnya dan memandang kepada suhunya dengan mata basah dan muka pucat.

"Suhu, kau benar-benar tidak adil dan berat sebelah!" katanya dengan tangan terkepal.

"Ketika Suhu memberi pelajaran Ilmu Silat Kong-jiutoat- beng (Dengan Tangan Kosong Merenggut Nyawa) kepada Lu Thong, teecu sudah tahu bahwa betapapun juga, Suhu lebih memberatkan keluarga sendiri! Sekarang terbuktilah dugaan teecu. Sudah terang yang mencuri kitab dari Gui-siucai adalah Lu Thong dan gurunya, akan tetapi Suhu tidak mengejar mereka, bahkan melarang teecu mengejar. Suhu, sebetulnya Suhu hendak berlaku bagaimanakah terhadap murid?"

Mendengar ucapan Kwan Cu yang sifatnya menegur dan menuntut ini, sepasang mata Ang-bin Sin-kai mengeluarkan cahaya berkilat.

"Tutup mulutmu! Sekali lagi kau berkata demikian terhadapku, betapapun besar rasa sayangku kepadamu dan betapapun baiknya bakatmu menjadi muridku, kau akan kutinggalkan! Tuduhanmu hanya terdorong oleh rasa iri hati dan putus asa. Iri hati melihat aku menurunkan Kongjiu- toat-beng kepada Lu Thong, perasaan iri hati yang tidak berdasar. Dia adalah cucu luarku, mengapa aku tidak boleh memberi sesuatu kepadanya. Dan kau putus asa melihat kitab peninggalan Gui-siucai dicuri orang. Juga perasaan putus asa ini bodoh sekali. Kau tadi melihat sendiri betapa ilmu lari cepat hwesio gundul itu hebat sekali, tidak kalah olehku? Dikejar pun tidak akan ada gunanya, karena mereka telah meninggalkan kita. Aku masih raguragu……. apakah betul Jeng-kin-jiu yang mencuri kitab itu, Si Gundul dari selatan itu tidak demikian hebat lari cepatnya. Aku lebih condong menduga kepada Hek-i Huimo!"

Kwan Cu menjatuhkan diri berlutut di depan gurunya.

"Ampunkan kelancangan mulut teecu, Suhu.

Sesungguhnya, teecu bingung sekali melihat kitab itu sudah tidak ada lagi. Bagaimana kita harus berbuat sekarang, Suhu?"

"Tenanglah dan kita perlahan-lahan menyelidiki siapa orangnya yang sudah mencuri kitab itu. Bukankah kau dulu bilang bahwa kitab itu ditulis dalam bahasa kuno yang sukar dimengerti dan yang hanya diajarkan mendiang Guisiucai kepadamu?"

"Memang benar, Suhu. Akan tetapi siapa tahu kalau orang lain yang dapat membacanya. Menurut mendiang Gui-sianseng, pujangga-pujangga besar seperti Tu Fu dan Li Po pasti bisa membacanya. Hwesio gundul tadi terlalu jauh dari kita sehingga sukar untuk mengenalnya mukanya, akan tetapi teecu yakin bahwa dia tentulah Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu."

"Bagaimana kau bisa memastikannya?"

"Karena hanya Jeng-kin-jiu yang mempunyai seorang murid laki-laki sebesar teecu. Setahu kita, Hek-i Hui-mo tidak mempunyai murid."

Ang-bin Sin-kai mengangguk-anggukkan kepalanya.

"Aku pun berpikir demikian. Akan tetapi, masih terlalu pagi untuk menuduh tanpa bukti. Baiknya kita menyusul ke kota raja dan bertanya terang-terangan kepada Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu!"

Kwan Cu girang sekali karena ternyata bahwa suhunya benar-benar mau membantunya merampas kembali kitab itu. Mereka lalu berangkat dengan cepat, turun dari Liangsan menuju ke kota raja untuk mencari Jeng-kin-jiu yang disangka mencuri kitab sejarah peninggalan Gui Tin.

Di dalam perjalanan menuju ke kota raja, mereka melalui kota Po-keng yang ramai dan terkenal sebagai tempat berkumpulnya para sastrawan dan orang-orang gagah.

"Kita mampir dulu di rumah Kwa-pangcu (Ketua she Kwa), seorang sahabatku yang baik," kata Ang-bin Sin-kai kepada Kwan Cu.

Yang disebut Kwa-pangcu oleh Ang-bin Sin-kai adalah Kwa Ok Sin, seorang ahli silat Bu-tong-pai yang selain memiliki ilmu pedang yang lihai, juga terkenal sebagai seorang ahli sastra terkemuka. Kwa Ok Sin atau Kwapangcu adalah ketua dari perkumpulan Bun-bu-pang (Perkumpulan Ahli Silat dan Sastrawan) yang didirikan oleh para ahli sastra dan ahli silat di seluruh daerah Pokeng.

Kwa Ok Sin dipilih karena memang dia memenuhi syarat, tidak saja ahli dalam bun (sastra), akan tetapi juga tinggi ilmu kepandaiannya dalam bu (silat).

Kwa Ok Sin yang memang keturunan kaya raya, amat besar rumahnya dan gedung ini selain dijadikan tempat tinggalnya, juga menjadi rumah perkumpulan Bun-bu-pai.

Papan nama yang tergantung di depan rumahnya, benarbenar amat indah. Papan itu berukir dan besar sekali, ditulis dengan huruf-huruf yang amat indah dan gagah "RUMAH PERKUMPULAN BUN BU PAI". Hal ini tidak mengherankan, karena sebagai perkumpulan ahli sastra, tentu saja tulisannya juga hebat! Tak seorangpun di kota Po-keng yang tidak mengenal rumah ini, karena perkumpulan Bun-bu-pai memang dihormati oleh setiap orang. Bahkan, dengan adanya perkumpulan ini, di daerah Po-keng bersih daripada semua penjahat. Penjahat manakah berani main gila di kedung naga dan gua harimau? Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila nama Bunbu- pai di Po-keng ini amat terkenal dan namanya dipuji sampai jauh di luar daerah Po-keng. Bahkan, pujanggapujangga besar dan ternama seperti Lo Pin dan Tu Fu sendiri tidak jarang datang mengunjungi Bun-bu-pai untuk bercakap-cakap dengan Kwa Ok Sin dan para anggauta lain. Juga para locianpwe, ahli-ahli silat tinggi dari seluruh Tiongkok apabila lewat Po-keng selalu memerlukan untuk mampir.

Sungguh kebetulan sekali, ketika Ang-bin Sin-kai dan Kwan Cu tiba di Po-keng, Bun-bu-pai penuh dengan anggautanya. Hari itu mereka datang dari berbagai tempat sengaja datang berkumpul karena ada beberapa hal yang amat penting yang harus mereka rundingkan. Bahkan, banyak tokoh-tokoh dari jauh datang mengunjungi pertemuan itu.

Kwan Cu dan gurunya berdiri di depan geduang Bun-bupai, dan Kwan Cu amat kagum melihat papan nama yang ditulis amat indah itu.

"Alangkah indahnya tulisan itu, Suhu," kata bocah gundul itu dengan kagum.

Ang-bin Sin-kai tersenyum. "Apa sih indahnya tulisan macam itu? Mari kita masuk dan kau akan melihat tulisan yang jauh lebih indah daripada ini."

Mereka masuk melalui pintu gerbang dan ketika tiba di ruang depan, benar saja. Di situ tergantung tulisan-tulisan dan lian-lian (tulisan berpaangan yang merupakan sajak indah) yang ditulis dengan indah sekali dalam berbagaibagai bentuk. Belum pernah selama hidupnya Kwan Cu menyaksikan sekumpulan tulisan demikian indah baik gaya maupun isinya, maka tiada bosannya dia membaca dan menikmati tulisan itu satu demi satu. Hal ini memang tidak mengherankan oleh karena yang tergantung di situ adalah hasil karya pujangga-pujangga terkemuka. Bahkan Tu Fu dan Li Po sendiri pun menyumbang ruangan ini dengan tulisan-tulisan dan sajak-sajak mereka! Tidak seperti rumah perkumpulan lainnya, di situ tidak ada penjaga. Memang, siapakah orangnya yang akan berani mencuri atau membikin ribut di tempat ini? Maka tidak perlulah diadakan penjagaan. Ketika Kwan Cu sedang enak-enak dan asyiknya membaca tulisa-tulisan itu, tiba-tiba terdengar suara halus,

Sebelum - Beranda - Lanjut

Tidak ada komentar:

Posting Komentar