04 Pendekar Sakti

Setelah bertempur puluhan jurus, perlahan-lahan Hekmo- ong mendesak lawannya. Raja Iblis Hitam ini mempergunakan pukulan berdasarkan lweekang yang cukup tinggi dan baginya untuk merobohkan lawan tak usah mempergunakan tenaga tangan, cukup oleh hawa pukulannya saja. Li Kong Hoat-ong maklum akan kehebatan lawan, maka dia pun mengerahkan seluruh kepandaiannya untuk mengimbangi permainan lawan.

Akan tetapi sia-sia saja, pada saat dia membacok dengan pedangnya dan berbareng mengemplang dengan tongkatnya, tiba-tiba Hek-mo-ong berseru keras sekali sehingga Kwan Cu yang tadinya berdiri sampai roboh dan terlempar ke lantai saking hebatnya getaran seruan ini yang menyerang dan melumpuhkan dirinya melalui pendengarannya! Demikian pula orang-orang yang berada di sekitar situ, semua merasa seakan-akan lumpuh! Berbareng dengan pekik yang dahsyat ini, Hek-mo-ong tidak mengelak dari serangan lawan, bahkan menubruk maju. Tangan kanannya mencengkeram ke arah pedang dan dia membiarkan kepalanya dipukul tongkat! Terdengar suara keras ketika tongkat memukul kepalanya. Tongkat itu terpental dan Hek-mo-ong merasa kepalanya agak pening, akan tetapi dia berhasil mencengkeram pedang yang menjadi patah dua! Sebelum Li Kong Hoat-ong hilang kagetnya, Hek-mo-ong telah menyeruduk maju dan menubruk dengan kepalanya ke dada Li Kong Hoat-ong. Terdengar pekik mengerikan dan tubuh bekas raja itu terhuyung ke belakang, mukanya pucat dan darah segar menyembur keluar dari mulutnya. Tulangtulang dadanya telah remuk terkena benturan kepala lawannya dan dia tewas pada saat itu juga setelah tubuhnya roboh terlentang! Keadaan menjadi sunyi, lalu dipecahkan oleh suara ketawa Hek-mo-ong. Tak seorangpun berani bergerak.

"Ha-ha-ha! An-ciangkun, lebih baik kau mengurus bala tentaramu baik-baik dan jangan meributkan urusan kitab ini," kata Hek-mo-ong.

An Lu Shan maklum bahwa tiada gunanya menyerang orang luar biasa ini, akan tetapi dia tahu bahwa apabila Gui Tin sampai dibawa pergi, amat berbahayalah bagi dirinya.

Hanya Gui Tin itu saja yang tahu bahwa dia telah mempelajari ilmu perang dari kitab Im-yang Bu-tek Cinkeng, dan kalau sampai orang luar mengetahuinya …, mungkin rencananya yang sudah terkandung di dalam hati selama bertahun-tahun akan gagal! Oleh karena itu dia lalu menjura dan berkata,

"Lo-enghiong, kami takkan meributkan urusan ini, akan tetapi kami harap Lo-enghiong juga suka berlaku adil. Kitab itu sudah kau ambil, biarlah. Akan tetapi harap kau jangan membawa pergi Gui-siucai, karena sesungguhnya masih banyak sekali penjelasan mengenai terjemahan yang kami perlukan dari padanya? Kalau kami sudah selesai dengan dia, boleh Lo-enghiong membawanya. Hal ini penting sekali, dan kami harap saja Lo-enghiong tidak akan menggunakan kekerasan terhadap puluhan ribu anak buah barisan kami yang sudah teratur dan menjaga berlapis-lapis di benteng ini."

Hek-mo-ong terdiam sejenak. Ia tahu bahwa An Lu Shan adalah seorang komandan yang pandai sekali mengatur barisan. Kalau dia berkeras, dia akan menghadapi puluhan ribu tentara dan hal ini tidak boleh dibuat sembarangan.

Biarpun kepandaiannya tinggi dan dia tidak takut akan keroyokan, akan tetapi kalau harus membobolkan pertahanan puluhan ribu orang, sebelum bebas dia akan kehabisan tenaga dan akhirnya usahanya akan sia-sia belaka. Im-yang Bu-tek Cin-keng sudah berada di tangannya, mengapa dia harus tergesa-gesa? Masih banyak waktu untuk mempelajari kitab itu, pikirnya. Setelah berpikir demikian , dia mengangguk.

"Baiklah, An-ciangkun. Aku minta maaf karena telah kesalahan tangan membunuh gurumu, akan tetapi seperti kalian menyaksikan sendiri, gurumulah yang mulai lebih dulu."

"Tidak apa, Lo-enghiong. Mati hidup bukan di tangan kita dan sudah lajim dalam pertempuran kalau tidak menang, tentu kalah dan mati,"jawab An Lu Shan.

Kembali Hek-mo-ong tertawa, kemudian dia melihat Kwan Cu masih berdiri di pinggir. kedua matanya mendelik dan dia kelihatannya akan menyerang anak ini, akan tetapi dia membatalkan niatnya, lalu tertawa sekali tubuhnya berkelebat, dia telah melompat keluar dari rumah itu.

Ketika dia berlari keluar dari benteng, benar saja dia melihat betapa tempat itu telah terkurung rapat oleh lapisan-lapisan tentara yang kuat sekali. Ia merasa girang bahwa tadi dia tidak mempergunakan kekerasan. Mudah kelak menculik Gui-siucai, pikirnya. Mengapa An Lu Shan berlaku demikian lemah? Mengapa dia tidak mengeroyok dan mengerahkan pasukannya untuk membunuh Hek-moong? An Lu Shan tidak demikian bodoh untuk mengorbankan anak buahnya. Ia adalah seorang yang amat cerdik. Ketika tadi dia melihat peti kitab itu tercuri oleh Hek-mo-ong, dia telah yakin bahwa Hek-mo-ong takkan dapat hidup lama di dunia ini. Selain peti itu mengandung rahasia sehingga kalau dibuka akan ada tujuh batang anak panah beracun yang menyambar, juga peti itu telah dilabur dengan racun yang amat jahat. Kalau tangan Hek-mo-ong sudah terkena racun itu, sedikit racun masuk ke dalam mulutnya, pasti Raja Iblis Hitam itu akan mampus! Perlu apa mengeroyoknya? Dia tahu ke mana harus mencari Hekmo- ong, maka nanti saja dia akan menyuruh para penyelidik, mendatangi tempat tinggal Hek-mo-ong di dusun Thian-bun di Gunung Hek-mo-san. Kalau iblis itu sudah mati, mudah saja mengambil kembali peti itu.

Dan dia sengaja menahan Gui Tin, karena selain dia sendiri, hanya sastrawan tua itu saja yang pernah membaca Im-yang Bu-tek Cin-keng. Biarpun kitab itu sekarang berada di tangan Hek-mo-ong, takkan ada gunanya kalau tidak diterjemahkan! Maka setelah Hek-mo-ong pergi, segera An Lu Shan mengumpulkan orang-orangnya yang paling cakap untuk pergi menyusul ke Hek-mo-san dan menyelidiki keadaan iblis itu, sekalian kalau iblis itu sudah mampus terkena racun, supaya mengambil kembali peti kitab tadi.

Akan tetapi, berturut-turut setelah serbuan Hek-mo-ong yang mencuri kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng, terjadilah halhal yang luar biasa dan mengerikan hati An Lu Shan. Pada keesokan harinya, baru saja dia dan yang lain-lain selesai mengubur jenazah Li Kong Hoat-ong dan sedang duduk berunding di dalam ruang tengah, tiba-tiba datang penjagapenjaga di pintu depan yang melaporkan dengan napas tersengal-sengal bahwa ada seorang tokouw (pertapa wanita) yang amat galak memaksa masuk ke dalam benteng dan siapa saja yang menghalanginya, dirobohkan dengan amat mudah! An Lu Shan dan An Lu Kui diikuti oleh beberapa orang perwira tergesa-gesa keluar. Alangkah kaget mereka ketika melihat pemandangan yang amat aneh dan luar biasa.

Seorang tokouw yang tua akan tetapi tubuhnya masih nampak sehat seperti tubuh seorang gadis berusia delapan belas tahun, jalan mendatangi. Tangan kiri menggandeng seorang anak perempuan berusia enam tahun yang cantik mungil, tangan kanannya memegang sebatang ranting pohon yang panjang. Ia berjalan maju terus dan tiap kali ada perajurit yang hendak menghalanginya, dia menudingkan ranting itu kepada perajurit yang menghadang dan perajurit itu roboh sambil memekik keras dan ternyata bahwa perajurit itu telah tewas! Berdiri bulu tengkuk An Lu Shan menyaksikan keganasan dan kekejaman yang luar biasa ini! Siapakah iblis wanita ini, pikirnya. Cepat dia lalu mengeluarkan aba-aba untuk melarang orang-orangnya menghalangi majunya wanita pertapa itu dan dia sendiri lalu cepat mundur dan menanti di ruang tengah, akan tetapi diam-diam dia menyuruh barisan panah mengurung tempat itu untuk bergerak apabila tokouw itu datang dengan maksud kurang baik.

Sambil tersenyum-senyum mengejek, tokouw itu bersama anak perempuan tadi langsung memasuki benteng dan menuju ke ruang besar di mana An Lu Shan duduk menanti. Dengan melihat bendera yang berkibar di atas ruang itu, mudah saja bagi tokouw ini untuk mencari di mana adanya komandan benteng. Ia melangkah masuk dengan sikap tenang seperti memasuki rumahnya sendiri saja.

Setelah masuk ke dalam ruangan itu tokouw ini berdiri tegak dan memandang kepada An Lu Shan. Perwira ini cepat berdiri dan menyambut dengan penghormatan. Akan tetapi sebelum dia membuka mulut, terdengar seruang nyaring.

"Eh, adik Ceng....! Kau di sini....?"

"Heee....! Bukankan kau Kwan Cu?" jawab anak perempuan yang masih digandeng tangannya oleh tokouw itu.

Kwan Cu yang kebetulan keluar bersama gurunya, melihat bahwa anak perempuan itu adalah Bun Sui Ceng, puteri dari Thio Loan Eng, segera menegur. Juga Gui Tin yang sudah banyak merantau dan banyak sekali pengalamannya, ketika melihat tokouw itu, tersaruk-saruk maju menghampiri dan menjura.

"Dunia ini ternyata sempit sekali," katanya kepada tokouw itu, "sehingga di ujung utara ini akan dapat bertemu muka dengan Kiu-bwe-coa-li Suthai dari ujung selatan!"

Tokouw itu nampak tertegun, lalu mengerutkan keningnya. Setelah memandang beberapa lama, ia lalu tersenyum dan berkata dingin, "Hm, tubuhmu sudah reyot dan lelah, akan tetapi matamu masih tajam sekali, Guisiucai.

Kita bertemu baru satu kali ketika masih muda, namun kau betul-betul tidak melupakan muka orang."

"Siapa dapat melupakan wajah dan bentuk badan Kuibwe- coa-li Suthai dari selatan?" jawab Gui Tin sambil tersenyum pula.

Sementara itu, ketika mendengar bahwa tokouw yang berada di depannya itu adalah Kiu-bwe-coa-li (Ular Betina Berekor Sembilan), yang namanya amat terkenal dan ditakuti oleh semua orang kang-ouw, An Lu Shan menjadi terkejut sekali sehingga dia merasa betapa belakang lehernya menjadi dingin. Ia cepat maju dan menjura dan berkata,

"Ah, tidak tahunya Locianpwe yang datang mengunjungi tempatku yang bobrok ini. Mohon banyak maaf karena siauwte tidak tahu maka tidak keluar menyambut."

Tokoh itu mengeluarkan suara mengejek dari hidungnya.

"Anak buahmu sudah menyambut baik-baik mengapa kau bersungkan? Lagi pula, siapa sih yang mengharapkan sambutan? Aku bukan kaisar!"

An Lu Shan menjadi merah mukanya, akan tetapi biarpun dia disindir, toh hatinya senang juga mendengar bahwa tokouw ini tidak suka kepada kaisar.

"Maaf, maaf!" katanya merendah. "Bolehkah kiranya siauwte mengetahui kedatangan Locianpwe ini membawa maksud mulia yang manakah?"

"Tidak bermaksud apa-apa, hanya minta kau menyerahkan padaku kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng."

Hm, ini hebat, pikir An Lu Shan. Jadi kitab itu sudah demikian digilai oleh orang-orang pandai di dunia. Baiknya dia telah mendahului mempelajari bagian ilmu perangnya.

"Bagaimana?" tiba-tiba Kiu-bwe-coa-li mendesak sambil menggerak-gerakkan ranting di tangannya. Ternyata bahwa itu bukan ranting biasa, melainkan gagang sebatang pecut yang panjang dan halus sekali. Pecut itu terdiri dari sembilan helai tali yang halus tapi kuat dan merupakan senjatanya yang luar biasa. Karena tali-tali yang sembilan helai ini bergerak-gerak hidup seperti ular-ular kecil, maka dia dijuluki Ular Betina Berekor Sembilan! Satu saja dari sembilan helai tali ini ia gerakkan untuk menotok jalan darah seperti yang diperlihatkan tadi terhadap para perajurit yang menghadangnya cukup untuk membunuh seorang manusia. Dapat dibayangkan betapa hebat dan tingginya kepandaian tokouw ini!

"Locianpwe, sungguh kebetulan sekali dan kalau saja siauwte tidak kehilangan guru siauwte tidak kehilangan guru siauwte dalam urusan ini, tentu siauwte telah tertawa geli mendengar Locianpwe datang hendak minta kitab itu."

"Apa yang terjadi?" Sepasang alis tokouw itu bergerakgerak dan sepasang matanya demikian tajam sehingga An Lu Shan tidak kuat untuk menentang lama-lama.

"Baru terjadi kemarin, Locianpwe. Kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng yang kauminta itu telah dirampas orang dan suhuku Li Kong Hoat-ong bahkan sampai tewas melawan orang itu."

"Lekas bilang, siapa yang merampasnya?" seru tokouw itu yang sama sekali tidak peduli tentang kematian Li Kong Hoat-ong.

"Dia adalah Hek-mo-ong yang tinggal di Hek-mo-san...."

Secepat kilat Kiu-bwe-coa-li memutar tubuhnya menghadapi Gui Tin. "Betulkah demikian?" Gui Tin hanya mengangguk dan diam-diam sastrawan ini tidak suka melihat sikap tokouw ini, apalagi setelah dia melihat bahwa tokouw ini telah membunuh banyak penjaga di luar benteng! Kiu-bwe-coa-li hendak pergi, akan tetapi ternyata Sui Ceng yang tadi masih digandeng, telah melepaskan gandengan tangannya dan anak itu kini nampak bercakapcakap dengan seorang anak laki-laki gundul.

"Sui Ceng, mari!" seru tokouw ini dan sekali ia mengulur tangannya, ia mendorong Kwan Cu sehingga anak ini menggelundung seperti bal. Akan tetapi Kwan Cu cepat melompat lagi dan menuding kepada Kiu-bwe-coa-li sambil berkata, "Kenapa kau begitu galak? Aku tidak suka melihat adik Ceng menjadi murid seorang galak! Ketahuilah, adik Ceng sudah diserahkan kepadaku untuk kujaga dan kalau kau memperlakukan buruk padanya...."

Melihat betapa anak laki-laki gundul itu yang didorongnya tidak apa-apa bahkan kini mengeluarkan katakata mengancam kepadanya untuk membela Sui Ceng, Kiubwe- coa-li menengok dan memandang terheran-heran.

Hebat sekali anak gundul ini, pikirnya lalu ia berbisik kepada Sui Ceng. Anak perempuan ini berkata,

"Engko Kwan Cu, guruku ini baik sekali kepadaku! Eh, aku ingin tanya, betul-betulkah penuturan mereka tentang Hek-mo-ong?"

Kwan Cu maklum bahwa tokouw ini masih tidak percaya penuh kepada An-ciangkun dan Gui-siucai, maka mempergunakan Sui Ceng untuk bertanya kepadanya.

Dengan demikian, itu berarti bahwa tokouw itu lebih percaya kepadanya! Dalam sekejap mata saja anak yang berkepala gundul dan berotak cerdik ini dapat menghubunghubungkan sesuatu dan menarik kesimpulannya pada saat itu juga!

"Adik Ceng, biasanya, orang yang tidak mudah percaya kepada orang lain itu mempunyai watak yang tak dapat dipercayai. Karena hendak mengukur watak orang lain seperti wataknya sendiri, maka dia selalu merasa khawatir kalau dibohongi orang!" Sui Ceng tentu saja tidak mengerti akan maksud jawaban yang menyimpang daripada pertanyaannya tadi, akan tetapi Kiu-bwe-coa-li merasa sekali akan sindiran yang amat tepat ini. Anak gundul itu seakan-akan dapat membaca pikirannya!

"Keparat gundul!" bisiknya dan sekali ia menarik tangan muridnya, dan menggerakkan tubuhnya, berkelebatlah bayangannya dan lenyaplah tokouw ini dari hadapan mereka! Kali ini, ketika berlari cepat keluar dari benteng, bayangannya hampir tidak dapat terlihat oleh para penjaga!

"Hebat....!" An Lu Shan berkata. "Celakalah Hek-moong kalau bertemu dengan dia!"

Baru saja keadaan mereda setelah tokouw itu pergi, tibatiba terdengar suara di atas genteng, suara yang kecil tinggi.

"Omitohud! Pinceng hanya datang mengganggu saja!" Dan tiba-tiba genteng di atas ruangan itu pecah beterbangan dan tubuh seorang hwesio yang gemuk seperti gajah menerobos turun dari lubang di atas genteng itu! Biarpun tubuhnya besar dan gemuk, hampir sama dengan tubuh Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu, namun ketika kaki hwesio ini menyentuh lantai sama sekali tidak terdengar suara sesuatu, sungguhpun An Lu Shan yang masih duduk terasa betapa bangkunya tergetar dan dia terpental sedikit ke atas! Ketika semua mata memandang, ternyata bahwa hwesio ini berkulit agak kehitaman, bermata lebar dan misalnya tergantung menutupi dagunya. Jubahnya hitam seluruhnya, hitam arang yang membuat mukanya yang berkulit kehitaman itu agak bersih kelihatannya. Tangan kiri hwesio gemuk ini memegang serangkaian tasbih, tangan kanan memegang sebatang tongkat berkepala naga terbuat dari logam kuning seperti emas.

"Hek-i Hui-mo...." terdengar Gui Tin berkata dan hwesio ini segera menjura kepada sastrawan ini.

"Gui-siucai, kau masih tetap muda. Ha-ha-ha, agaknya nasib akan menjodohkan kita sehingga tak lama lagi pinceng akan berkumpul dengan Gui-siucai, sama-sama mempelajari isi kitab!" Setelah suaranya yang halus mengeluarkan kata-kata ini, tiba-tiba dia menggerakkan tongkatnya ke depan An Lu Shan dan "brakk!" meja di depan An Lu Shan menjadi hancur sama sekali tertimpa tongkat itu, biarpun dia hanya memukulkan perlahan saja.

An Lu Shan terkejut sekali dan mencelat ke belakang, bersiap sedia karena bahwa dia berhadapan dengan tokoh besar dari barat, yaitu hwesio Tibet yang telah menyeleweng dan yang mengadakan permusuhan besar dengan hwesio Tibet aliran jubah kuning. Karena penyelewengan inilah maka nama Hek-i Hui-mo (Iblis Terbang Berjubah Hitam) amat terkenal.

"An-ciangkun, pinceng tidak mau membuang banyak waktu. Lekas kauserahkan Im-yang Bu-tek Cin-keng kepada pinceng!" kini suaranya berbeda sekali karena terdengar amat ketus dan galak, mengandung ancaman hebat.

Akan tetapi An Lu Shan telah menjadi mendongkol sekali. Kalau sekiranya yang datang bukanlah tokoh besar yang amat berbahaya ini, tentu dia akan menyerang matimatian dan menyuruh keroyok oleh seluruh barisannya.

"Hm, celaka sekali," katanya, "mengapa aku sial benarbenar? Lo-suhu, ketahuilah bahwa kitab itu kemarin telah dicuri oleh Hek-mo-ong, bahkan baru tadi Kiu-bwe-coa-li juga datang menanyakan. Sekarang Kiu-bwe-coa-li telah menyusul ke Hek-mo-san."

Seperti juga Kiu-bwe-coa-li tadi kini hwesio itu berpaling kepada Gui Tin dan bertanya. "Betulkah itu, Gui-siucai?"

"Memang betul demikian," kata Gui Tin.

"Baiklah, kau beristirahat dulu baik-baik di sini, Guisiucai.

Kalau sudah terdapat kitab itu, pinceng akan menjemputmu di tempat ini!" Setelah berkata demikian, sekali dia menggerakkan kakinya, tubuhnya yang gemuk itu telah melayang naik dan menerobos melalui lubang yang tadi! Benar-benar hebat ginkang dari hwesio gemuk ini, maka tidak mengherankan apabila julukannya adalah Iblis Terbang! Celaka, pikir An Lu Shan. Benar-benar hebat sekarang ini! Im-yang Bu-tek Cin-keng sudah dikejar oleh demikian banyak orang lihai. Tidak ada harapan sama sekali baginya untuk mendapatkan kitab itu kembali! Sesungguhnya, yang mendapatkan kitab itu tadinya adalah suhunya, yaitu Li Kong Hoat-ong, maka setelah suhunya itu meninggal, An Lu Shan menganggap kitab itu sudah menjadi haknya.

Tidak tahunya, kalau tadinya dia masih mengandung harapan besar untuk mengambil kembali kitab itu dari tangan Hek-mo-ong yang lihai, kini muncul tokoh-tokoh yang masih jauh lebih lihai dan berbahaya daripada Hekmo- ong sendiri! Habislah harapannya dan diam-diam dia mengerling ke arah Gui Tin. Untuk apa sastrawan tua ini dibiarkan hidup?

"Ia harus mati!" demikian An Lu Shan mengambil keputusan. Kalau dia mati, biarpun seorang di antara tokohtokoh besar itu berhasil mendapatkan kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng, apa gunanya? Tak seorang pun selain Gui-siucai mengerti akan bahasa tulisan kitab itu. Kalau sastrawan ini dibiarkan hidup sehingga ada orang lain yang mampu membaca kitab rahasia itu, bukankah itu berbahaya sekali? Sekarang dia telah mempunyai barisan yang kuat dan siasat-siasat perang yang lihai, kalau sampai ada yang mengerti rahasianya dan kemudian siasat-siasatnya itu dipecahkan orang, bukankah itu akan celaka sekali? Sementara itu, terdengar Kwan Cu mengomel, "Benarbenar orang-orang tua itu sudah miring otaknya semua! Kitab palsu diperebutkan!" Baru saja dia bicara demikian, Gui Tin membentaknya dan baru Kwan Cu sadar bahwa dia telah berbicara terlalu banyak. Ia menyesal sekali dan mendekap mulutnya sendiri.

Akan tetapi An Lu Shan sudah bangkit dari tempat duduknya, lalu menghampiri mereka.

"Coba katakan, apa artinya ucapan tadi, Kwan Cu? Kitab palsu, apakah maksudmu?"

Kwan Cu tak dapat menjawab, hanya berdiri memandang kepada komandan itu dengan mata terbuka lebar-lebar.

Akan tetapi An Lu Shan sudah menaruh kecurigaan dan tidak percaya akan keterangan ini, memang dia hendak mencari alasan untuk melenyapkan guru dan murid ini. Ia memegang tangan Kwan Cu dan menekannya keras-keras.

"Hayo kau mengaku terus terang, benarkah kitab itu palsu?"

Kwan Cu merasa tangannya sakit sekali, akan tetapi ketika dia mengerahkan tenaga lweekangnya yang selama ini dilatih menurut petunjuk kitab itu, tiba-tiba An Lu Shan melepaskan pegangannya dan berteriak kesakitan, dari lengan anak itu seakan-akan menolak hawa yang panas sekali.

"Keparat! Kau malah sudah mempelajari isi kitab itu, ya? Hayo lekas katakan terus terang!"

Kwan Cu hanya tertawa, dan suara ketawanya ini mengorbankan kemarahan komandan itu. Sekali dia mengayun tangannya, dada Kwan Cu telah dipukulnya.

Kalau menurut keadaan biasa, tentu dada anak ini akan pecah dan binasa di saat itu juga. Akan tetapi, tubuh anak ini hanya terlempar jauh dan kembali seperti ketika dia tertangkis oleh Hek-mo-ong, tubuhnya membentur dinding.

Anehnya, dia tidak apa-apa, karena ketika dipukul dia kerahkan dan dikumpulkan di bagian dada yang terpukul sambil menahan napas sehingga tubuhnya seakan-akan terisi hawa yang kuat dan tidak terluka! Makin yakinlah An Lu Shan melihat keanehan ini. Ia lalu menubruk maju dan kini dia memegang lengan Guisiucai.

"Kau berbicaralah terus terang!"

Akan tetapi Gui Tin menggeleng-gelengkan kepalanya dan tidak mau menjawab pertanyaan ini. An Lu Shan menggunakan tenaganya menekan dan terdengar suara

"krak!" ternyata tulang lengan Gui Tin telah remuk! Sastrawan tua ini berjengkit kesakitan. Namun dia tetap menutup mulut.

"Jangan kausakiti guruku!" Tiba-tiba Kwan Cu berseru keras dan sekali dia melompat, dia telah berada di depan An Lu Shan dan merenggutkan lengan An Lu Shan yang menekan lengan Gui Tin. An Lu Shan merasakan sambaran angin datang dari serangan Kwan Cu, maka cepat dia mengelak dan kakinya menyambar. Sekali lagi Kwan Cu terlempar jauh.

An Lu Shan sudah marah sekali. Ia memanggil penjagapenjaga dan berkata keras, "Tangkap mereka, rangket sampai mereka mengaku tentang kitab itu!"

Lima orang tentara yang biasa menjalankan perintah menyiksa tawanan atau lebih tepat disebut algojo-algojo, segera menyerbu dan sebentar saja Gui Tin dan Kwan Cu sudah ditangkap, lalu diseret keluar! Seorang diantara mereka mengeluarkan sebatang cambuk hitam dan mulailah guru dan murid ini dihajar, dicambuki seperti dua ekor binatang yang mogok kerja. Darah mengalir dari kulit tubuh mereka yang tertimpa cambuk. Tidak hanya pakaian mereka yang butut itu yang pecah-pecah, bahkan kulit dan muka juga pecah-pecah mengeluarkan darah.

"Kwan Cu...." Giu-siucai mengeluh dengan tubuh lemah terkulai, menggantung di tangan seorang algojo yang memegangnya. "Carilah kitab aselinya, pelajari baik-baik, jangan seperti aku.... lemah.... kepandaian bu penting sekali untuk menghadapi orang-orang macam ini."

Akan tetapi dia tidak dapat melanjutkan kata-katanya karena sebuah tendangan tepat sekali mengenai ulu hatinya sehingga orang tua ini tiba-tiba merasa napasnya terhenti dan dia megap-megap seperti ikan dilempar di darat.

"Kejam! Kalian ini bukan manusia. Kejam!"

Kwan Cu meronta dan berhasil melepaskan diri lalu menubruk gurunya. Akan tetapi sebuah ketokan dengan belakang golok membuat dia roboh terguling dan dia telah dicekal lagi tangannya, dan dicambuki sampai pakaiannya hancur dan anak ini menjadi setengah telanjang! Gui Tin sudah payah sekali, dan juga betapapun kuat tubuh Kwan Cu, tanpa memiliki ilmu silat, dia tidak berdaya dan agaknya guru dan murid ini tentu akan menemui kematian di tangan para algojo ini yang sudah mendapat perintah dari An Lu Shan untuk membunuh mereka. Akan tetapi pada saat itu, terdengar bunyi gembreng dan tambur di luar benteng dan masuklah serombongan orang yang disambut dengan penghormatan besar oleh para penjaga.

Penyiksaan terhadap Gui Tin dan Kwan Cu otomatis dihentikan dan An Lu Shan bersama An Lui Kui nampak tergesa-gesa menyambut kedatangan tamu agung itu.

Ternyata bahwa yang datang adalah Menteri Lu Pin yang mendapat tugas dari kaisar untuk menaikkan pangkat An Lu Shan! Dari jauh Lu Pin melihat kakek dan bocah pengemis itu dicambuki maka begitu bertemu dengan An Lu Shan yang menjalankan penghormatan, dia lalu bertanya,

"Siapakah mereka itu dan mengapa dicambuki?"

"Ah, Taijin. Mereka itu adalah dua orang penipu besar.

Mereka adalah guru dan murid yang mengaku sebagai sastrawan dan yang kami perintahkan untuk menterjemahkan sebuah kitab kuno. Tiada tahunya mereka menipu kami dan menyatakan bahwa kitab itu palsu adanya."

"Kitab kuno? Apakah An-ciangkun maksudnya bahwa kitab itu adalah Im-yang Bu-tek Cin-keng?"

Pucatlah muka An Lu Shan mendengar ini. "Ah, Taijin sudah mendengar pula tentang kitab itu? Agaknya semua orang tahu akan kitab itu."

"Tentu saja. Siapa yang tidak mendengar akan kitab yang diperebutkan oleh semua negeri ini? An-ciangkun, apakah kau benar-benar sudah menemukan kitab itu? Kalau benar begitu, mengapa tidak kauantarkan ke kota raja?"

Menteri tua ini memandang penuh curiga dan selidik.

"Itulah Lu-taijin. Kami memang telah mendapatkan kitab, akan tetapi kami masih merasa ragu-ragu apakah kitab itu kitab yang aseli, karena banyak kitab-kitab yang dipalsukan orang. Dan karena itu pula kami memerintahkan kepada sastrawan tua itu untuk menterjemahkannya. Tidak tahunya, dia menipu kami dan kitab itu dinyatakan palsu."

"Mana kitab itu?"

An Lu Shan menarik napas panjang. Kini dia merasa puas dan lega bahwa kitab itu telah dirampas orang! Lebih baik kitab itu jatuh ke dalam tangan para tokoh kang-ouw daripada jatuh ke dalam tangan pemerintah! Ia lalu menuturkan bahwa kitab itu telah dirampas orang. Menteri Lu Pin menghela napas dan menyatakan sayangnya. Lalu dia menyuruh orang membawa datang dua orang pengemis yang disiksanya tadi.

Setelah Gui Tin dan Kwan Cu diseret di hadapan Menteri Lu Pin, kebetulan sekali Gui Tin siuman dari pingsannya. Keadaannya payah sekali, akan tetapi begitu dia melirik dan bertemu muka dengan Menteri Lu Pin, dia segera membuang muka dan meludah ke atas tanah.

Lu Pin memandang dengan penuh perhatian. "Ah, bukankah kau ini Gui-twako?"

Gui Tin tetap saja membuang muka dan pandang matanya penuh hinaan terhadap menteri itu.

"Benarkah kau Gui Tin....? Benarkah aku berhadapan dengan Gui-twako?" kembali Menteri Lu Pin bertanya dan kini dia turun dari tempat duduknya yang tadi disediakan oleh seorang pengawalnya, lalu dihampirinya Gui Tin.

"Aku tidak sudi berkenalan dengan manusia she Lu!" tiba-tiba Gui Tin berkata dengan suara keras dan marah sekali sehingga kembali dadanya terasa sakit dan dia roboh pingsan!

"Lekas tolong dia!" kata Lu Pin. "Dia adalah kenalan lama dariku. Hayo cepat tolong dan rawat dia baik-baik?"

An Lu Shan menjadi kaget sekali melihat bahwa menteri ini kenal baik dengan Gui Tin, maka dia cepat menyuruh orang-orangnya untuk menolong Gui Tin dan Kwan Cu.

Kemudian Menteri Lu Pin lalu dibawa ke rumah gedung An Lu Shan yang berada di luar benteng. Memang komandan An ini telah membawa keluarganya dari kota raja ke tempat itu, akan tetapi karena merasa tidak enak untuk tinggal bersama keluarga dalam benteng dia lalu membuah sebuah rumah gedung di luar benteng.

Lu Pin lalu menyuruh An Lu Shan untuk membawa Gui Tin dan muridnya ke rumah itu pula untuk dirawat. Akan tetapi keadaan Gui Tin demikian parah sehingga dia tak pernah siuman lagi, kecuali satu kali di tengah malam dan dia meninggalkan pesan kepada Kwan Cu bahwa anak ini harus mencari kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng.

"Kwan Cu." bisiknya di atas pembaringan. "Untuk mendapatkan kitab itu, jalan satu-satunya hanya membaca dan mempelajari kitab sejarah yang masih kusimpan di dalam goa di hutan sion di lereng Bukit Liang-san. Di dalam dusun di lereng bukit sebelah barat, asal kautanyakan di mana tempat tinggal Gui-lokai (pengemis tua she Gui), tentu semua orang akan dapat memberi tahu. Goa itu kosong dan aku menyimpan peti besi di bawah tanah.

Bukalah dan kau carilah kitab sejarah yang tulisannya sama dengan isi kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng. Pelajari sejarah itu dan kemudian kaucarilah kibat itu. Dunia kacau balau, kekerasan dan kekuatan selalu memegang peranan penting, kalau tidak dilawan oleh kekerasan dan tenaga pula, kita tidak berdaya. Taatilah pesanku ini, Kwan Cu."

Kwan Cu mengangguk-angguk sambil mencegah keluarnya air matanya. Ia tidak mudah terharu, akan tetapi melihat keadaan gurunya yang amat dikasihinya ini, dia merasa kasihan juga.

Gui Tin meninggal dunia dan berkat pengaruh Lu Pin, dia dimakamkan dengan pantas di dusun itu. Adapun Kwan Cu yang bersembahyan di depan makam bekas gurunya ini, merasa sunyi sekali. Tiba-tiba dia disuruh datang menghadap Menteri Lu Pin. Setelah dia berhadapan dengan menteri ini, Kwan Cu mendapat kenyataan bahwa wajah menteri ini benar-benar amat agung dan mendatangkan rasa sayang. Halus gerak-geriknya, seperti Gui-siucai dan amat peramah pula."

"Anak, apakah kau murid dari Gui-twako?"

Mendengar jawaban yang lancar dan melihat sikap Kwan Cu yang sopan-santun, jujur, dan tidak merendah ini, Lu Pin merasa suka juga.

"Benar, Taijin." "Apa saja yang kaupelajari dari gurumu itu?"

"Membaca, menulis, dan mempelajari syair-syair dan ujar-ujar kuno," jawab Kwan Cu terus terang.

Mendengar jawaban yang lancar dan melihat sikap Kwan Cu yang sopan-santun, jujur, dan tidak merendah ini, Lu Pin merasa suka juga.

"Anak baik, siapakah namamu?"

"Nama hamba Kwan Cu."

"Nama keluargamu?"

"Hamba she Lu"

Menteri Lu Pin tercengang.

"Siapa orang tuamu?"

"Hamba tidak tahu. Nama dan she hamba juga hamba terima sebagai pemberian orang lain kepada hamba," kata Kwan Cu terus terang.

Mau tidak mau Lu Pin tertawa juga. "Ah, aneh sekali.

Siapakah orangnya yang memberi she Lu kepadamu?"

"Hamba menerima she Lu itu dari pemberian seorang tua yang gagah perkasa, Ang-bin Sin-kai."

"Ang-bin Sin-kai??" benar-benar Lu Pin terkejut. "Eh, anak baik, masih ada hubungan apakah antara kau dan dia?"

"Tidak ada hubungan apa-apa, Taijin. Hanya Ang-bin Sin-kai ingin mengambil murid kepada hamba, akan tetapi hamba tidak mau."

Lu Pin tertawa gembira. "Dia orang aneh, akan tetapi kau seorang bocah yang lebih aneh lagi. Dan namamu itu, Kwan Cu, pemberian siapa pula?"

"Nama hamba diberi oleh seorang hwesio gemuk bernama Kak Thong Taisu."

Kembali menteri tua itu tertegun. "Ah, benar-benar kau bocah aneh sekali. Masih sekecil ini telah mengalami hal yang tak sembarangan anak dapat mengalaminya. Diberi she oleh Ang-bin Sin-kai, diberi nama Kak Thong Taisu, menjadi murid dari Gui-siucai, kini kau bercakap-cakap dengan aku! Ah, Lu Kwan Cu, apakah kau tidak ingat lagi siapa adanya ayah bundamu?"

Kwan Cu menggeleng kepalanya. "Ayah hamba adalah langit dan ibu hamba adalah bumi. Saudara-saudara hamba adalah semua manusia di dunia ini." Kwan Cu menjawab sambil meniru ujar-ujar yang pernah dibacanya.

Bukan main terharunya hati Lu Pin mendengar ini. Ia melambaikan tangannya dan ketika Kwan Cu mendekat, menteri tua ini lalu memeluknya dan mengelus-elus kepalanya yang gundul. Sebagaimana diketahui, Menteri Lu Pin hanya mempunyai seorang putera dan seorang cucunya amat tidak berkenan dalam hatinya. Kini melihat Kwan Cu, timbul sukanya.

"Kwan Cu, marilah kau ikut dengan aku saja ke kota raja. Kau akan kudidik dengan ilmu kesusastraan, dan sungguhpun aku tidak sepandai mendiang gurumu, akan tetapi kau akan berhasil dengan cita-citamu. Kau tinggallah bersama aku, kau kuanggap sebagai cucuku sendiri, Kwan Cu."

Terharu sekali hati Kwan Cu. Belum pernah ada orang yang sikapnya demikian halus dan ramah tamah kepadanya, apalagi seorang pembesar tinggi seperti Menteri Lu Pin ini.

"Hamba boleh menyebut kong-kong kepada Taijin?"

"Tentu saja, karena dalam pandanganku, kau adalah cucuku sendiri, Kwan Cu."

Saking girangnya Kwan Cu lalu menjatuhkan dirinya berlutut di depan menteri tua itu dan tak tertahankan pula dua titik air mata mengalir turun ke pipinya yang kurus.

"Kong-kong...." katanya.

Lu Pin juga merasa terharu dan dipeluknya anak itu.

"Kau harus berganti pakaian, cucuku, dan besok kau ikut aku ke kota raja."

"Tidak, Kong-kong. Tidak sekarang. Biarlah kelak aku akan mencari Kong-kong. Sekarang aku mempunyai tugas lain yang lebih penting."

"Tugas....?" Menteri Lu Pin membelalakkan matanya.

"Kau....? Tugas apa dan dari siapa, cucuku?"

"Tugas yang dipesankan oleh mendiang Gui-lopek, dan tugas itu adalah...." Anak ini menengok ke kanan kiri, kemudian melanjutkan dengan perlahan, "tugas mencari kitab aseli Im-yang Bu-tek Cin-keng."

Kembali untuk ke sekian kalinya menteri tua itu tertegun. Kemudian dia menghela napas. "Memang kau seorang anak ajaib! Benar-benar kau bocah ajaib! Baiklah, aku tahu bahwa orang-orang aneh seperti Ang-bin Sin-kai dan kau takkan mudah dibantah. Kau pergilah, akan tetapi ingat bahwa aku selalu menanti kau sebagai kong-kongmu!"

Setelah berkata demikian, Menteri Lu Pin lalu memberi bekal sekantong uang emas kepada Kwan Cu, dan memberitahukan An Lu Shan agar semua anak buahnya jangan mengganggu anak ini. Setelah berpamit dan menghaturkan terima kasihnya, Kwan Cu bersembah yang lagi di depan makam Gui Tin, lalu pergilah anak ini, menuju ke Gua Liang-san untuk mencari simpanan kitabkitab mendiang gurunya! Dengan girang sekali Hek-mo-ong setelah berhasil merampas kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng, berlari cepat sambil tertawa-tawa menuju ke rumahnya di puncak Hekmo- san. Ia tinggal bersama dua orang adiknya dan isteri serta ipar-iparnya di dalam satu rumah besar di kampung yang cukup ramai, di mana dia dianggap sebagai seorang tuan tanah yang cukup kaya-raya. Memang semenjak bertahun-tahun yang lalu, Hek-mo-ong tidak berkelana lagi di dunia kang-ouw, melainkan hidup aman di dalam kampung ini.

Ketika dia melangkah masuk ke dalam rumahnya, dia disambut oleh dua orang adiknya, juga dua orang laki-laki yang bertubuh tinggi besar dan kasar yang menyambutnya bersama isteri-isterinya yang cantik. Isteri Hek-mo-ong sendiri masih muda lagi cantik dan genit sekali.

Melihat kegembiraan Hek-mo-ong, mereka beramairamai mengajukan pertanyaan, akan tetapi Hek-mo-ong hanya menjawab sambil tertawa-tawa. "Lekas membikin masakan yang enak, keluarkan arak yang wangi! Kita rayakan hari besar ini, karena tak lama lagi aku Hek-moong akan menjagoi di seluruh permukaan bumi! Tunggu saja kalian, Ang-bin Sin-kai, Jeng-kin-jiu, Pak-lo-sian, Hek-i Hui-mo, dan Kiu-bwe-coa-li! Sebentar lagi, kalian terpaksa harus bertekuk lutut dan tunduk kepadaku, mengakui keunggulan Hek-mo-ong sebagai orang yang terpandai! Haha- ha-ha-ha!"

Adik-adiknya dan ipar-iparnya, juga isterinya sudah tahu akan keanehan watak Hek-mo-ong, maka mereka tidak berani bertanya lagi sebelum orang ini menceritakannya sendiri. Maka segera makanan dan arak disediakan dan mereka makan minum dengan gembira sekali.

Setelah makan kenyang, barulah Hek-mo-ong mengeluarkan peti hitam itu dari sakunya, meletakkannya di atas meja sambil berkata bangga.

"Lihat, inilah kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng!"

"Twa-pek (Uwa) mengapa kitab seperti kotak kayu?" memotong seorang anak kecil yang menjadi putera dari saudara termuda.

"Kau tahu apa?" bentak ayahnya atau adik termuda dari Hek-mo-ong. "Peti itu hanya tempat saja, tentunya."

Karena tidak sabar lagi, mereka lalu mendesak kepada Hek-mo-ong untuk membuka peti itu. Dua orang adik Hekmo- ong, ketika peti itu dibuka, menjenguk dari kanan kiri.

Hek-mo-ong tertawa-tawa lalu menggunakan kedua tangannya untuk membuka peti itu.

"Ser! Ser! Ser!" berturut-turut, tujuh batang anak panah yang secara pandai dipasang An Lu Shan itu menyambar ke atas cepat sekali. Kalau bukan Hek-mo-ong, tentu orang yang membukanya akan mati saat itu juga, terpanggang oleh anak-anak panah itu. Akan tetapi Hek-mo-ong telah memiliki kepandaian yang amat tinggi. Begitu melihat menyambarnya cahaya hitam dari dalam peti, dia berseru keras dan kedua tangannya bergerak menangkis sehingga anak-anak panah itu terpental ke kanan kiri. Celaka sekali, kedua adiknya yang menjenguk dari kanan kiri itu tak sempat mengelak dan tepat sekali muka mereka tertembus anak-anak panah sehingga mereka roboh tak berkutik lagi.

Muka itu menjadi bengkak dan biru, amat mengerikan.

Tentu saja isteri-isteri mereka menangis dan menjerit-jerit memeluki mayat kedua orang itu. Hek-mo-ong sendiri untuk beberapa lama berdiri bagaikan patung, akan tetapi setelah dia mengeluarkan kitab itu dan membalik-balikkan lembarannya, timbul lagi kegembiraannya.

"Sudah, jangan menangis di sini. Mereka sudah mati, sudahlah. Sudah patut kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng didapatkan dengan pengorbanan besar. Urus jenazah mereka baik-baik, dan kalian ini tak usah menangis, mulai sekarang boleh ikut aku saja sebagai pengganti suamisuamimu."

Tak seorang pun berani membantah, akan tetapi ucapan ini saja sudah cukup dipakai ukuran orang macam apa adanya Hek-mo-ong ini! Sambil tertawa-tawa dan tidak menghiraukan perkabungan, dia lalu minum arak dan membalik-balik lembaran kitab yang baru saja dirampasnya itu.

Akan tetapi, tiba-tiba dia menjadi pucat sekali dan mukanya meringis-ringis menahan sakit. Kedua tangannya bergerak memegangi perut, dada, dan leher karena dia merasa betapa bagian-bagian tubuh itu merasa amat panas dan sakit.

"Celaka.... keparat An Lu Shan.... aduh....!" Ia terhuyung-huyung, menubruk meja sehingga kitab itu terlempar ke atas lantai.

Isterinya dan ipar-iparnya memburu dan menubruknya.

"Aduh...." Hek-mo-ong menjerit-jerit dan mulutnya mulai berbusa. "Awas.... peti itu.... jangan disentuh.... aduh, mati aku!" tubuhnya kaku, matanya mendelik, mulutnya berbusa dan dia tidak bernapas lagi! Kalau orang lain, tentu sudah sejak tadi mati karena pengaruh racun. Tadi dia memegang-megang peti, kemudian makan. Sudah menjadi kebiasaan orang-orang kasar seperti Hek-mo-ong, biarpun tangannya kotor, kalau mau makan terus saja makan tanpa mencuci atau membersihkan tangannya, maka sebentar saja racun di tangannya terbawa masuk ke perut. Akan tetapi dia memang bertubuh kuat sehingga racun itu agak lama merobohkannya.

Tentu saja isteri-isteri dari tiga orang itu beserta anakanak dan keluarganya, menangis dan sebentar saja di situ terdengar jerit tangis ramai sekali. Ketika dua orang adik Hek-mo-ong tadi tewas, mereka tidak berani menangis karena takut kepada Hek-mo-ong. Setelah sekarang Hekmo- ong sendiri mati, semua orang menangis sepuasnya! Keluarga itu dengan dibantu oleh para tetangga dan orang sedusun yang datang berlayat, lalu mengurus tiga jenazah itu. Peti hitam itu atas perintah isteri Hek-mo-ong lalu dibakar, adapun kitabnya lalu ditaruh di atas meja sembahyang di depan peti mati Hek-mo-ong. Tiga peti mati dijajarkan dan peti mati Hek-mo-ong di tengah-tengah. Juga meja sembahyangnya paling besar.

Pada keesokan harinya, ketika orang-orang masih ramai bersembahyang dan hio mengebulkan asapnya bergulunggulung, datanglah seorang tokouw di tempat itu! Tokouw itu tangan kanannya memegang pecut berbulu sembilan helai dan tangan kirinya menggandeng tangan seorang anak perempuan yang mungil dan cantik manis. Dia bukan lain adalah Kiu-bwe Coa-li dan muridnya Bun Sui Ceng! Ketika Kiu-bwe Coa-li melihat tiga peti mati itu berjajar di halaman dan semua orang menangis dan berkabung, ia mengerutkan keningnya. Adapun keluarga Hek-mo-ong segera menyambut tokouw ini, sebagaimana layaknya menyambut seorang pertapa wanita, yang mereka anggap datang untuk memberi hiburan kepada warga yang mati.

"Silakan duduk, Suthai," kata mereka.

Kiu-bwe Coa-li tidak menjawab, melainkan memandang ke arah peti-peti mati, kemudian matanya mencari-cari sesuatu dengan pandangan yang tajam sekali.

"Di mana Hek-mo-ong?" tanyanya tiba-tiba dengan suara keren.

Ditanya demikian, isteri dari Hek-mo-ong melangkah maju dan menangis.

"Suthai yang mulia, suamiku telah meninggal dunia," lalu tangisnya makin menjadi.

Kiu-bwe Coa-li tertegun dan memandang tajam. "Yang mana petinya?" tanyanya pula.

Karena tidak menyangka buruk, isteri Hek-mo-ong menunjuk ke arah peti mati di tengah-tengah sambil berkata, "Itulah peti mati suamiku."

Dengan langkah perlahan, Kiu-bwe Coa-li menghampiri peti itu. Sui Ceng tidak senang melihat peti mati, maka sejak tadi ia telah melepaskan tangannya dari gandengan gurunya dan kini anak ini duduk di atas sebuah bangku, memandang ke arah meja sembahyang dengan perasaan heran dan kagum melihat hiasan-hiasan dalam upacara sembahyang itu.

Kiu-bwe-coa-li mendekati peti mati Hek-mo-ong, lalu mengulur tangan kirinya dan menepuk-nepuk peti mati itu beberapa kali dengan perlahan. Semua orang mengira bahwa pendeta wanita itu memberi berkah kepada yang mati, maka mereka menjadi terharu dan girang. Tak seorang pun di antara mereka pernah mengira bahwa tepukan-tepukan perlahan itu merupakan seranganserangan pukulan lweekang yang dahsyat bukan main! Ternyata bahwa Kiu-bwe Coa-li masih tidak percaya penuh akan kematian Hek-mo-ong dan diam-diam menyerang isi peti mati itu.

Kemudian dia melirik ke arah peti mati di kanan kiri peti mati Hek-mo-ong.

"Siapa yang berada di dalam dua peti mati itu?" tanyanya kepada isteri Hek-mo-ong.

"Mereka adalah kedua adik suamiku, Suthai," jawab nyonya itu sambil sesunggukan. Dan kembali ramai orangorang menangis di tempat itu.

Pada saat itu, terdengar suara ketawa keras. Semua orang terkejut dan menengok. Ternyata, entah dari mana datangnya, tahu-tahu di depan peti-peti mati itu sudah berdiri seorang hwesio gemuk berpakaian serba hitam yang berkali-kali menyebut nama Buddha. "Omitohud!"

Kemudian, sambil mengoceh seorang diri, dia berkata lagi,

"Tidak tahunya iblis neraka telah mendahului pinceng (aku) dan merenggut nyawa Hek-mo-ong."

"Hm, Hek-i Hui-mo, alat penciumanmu lebih tajam dari seekor anjing buduk!" kata Kiu-bwe Coa-li dengan senyum mengejek.

Hwesio itu yang bukan laih adalah Hek-i Hui-mo, tertawa bergelak.

"Ha, ha, ha! Kiu-bwe Coa-li, kau benar-benar cepat.

Hampir saja pinceng ketinggalan!" Setelah berkata demikian, hwesio ini lalu melakukan upacara sembahyang di depan peti mati Hek-mo-ong.

Akan tetapi yang dipakai sembahyang bukannya hio yang dibakar, melainkan tiga batang hio hitam yang tidak dibakar. Orang-orang merasa heran sekali akan tetapi Kiubwe- coa-li maklum bahwa tiga batang hio hitam itu sebenarnya bukanlah hio, melainkan tiga batang jarum hitam yang disebut Hek-tok-ciam (Jarum Racun Hitam)! Mulut hwesio ini berkemak-kemik membaca doa, kemudian setelah selesai sembahyang dia menggerakkan tangannya dan lenyaplah tiga batang hio hitam itu! Orang-orang lain tidak tahu ke mana perginya benda-benda hitam itu dan mereka mengira hwesio gemuk ini main sulap. Akan tetapi Kiu-bwe Coa-li tersenyum dan tahu bahwa hwesio Tibet yang lihai ini telah menyambitkan jarum-jarum itu yang meluncur laksana kilat ke arah tiga buah peti mati dan telah menembusi peti-peti itu untuk menyerang isinya! Jadi seperti juga dia sendiri, Hek-i Hui-mo Si Iblis Terbang Baju Hitam ini tidak percaya akan kematian Hek-mo-ong dan diam-diam menyerang isi peti mati!

"Sebelum mati, suamimu membawa sebuah peti kecil terisi kitab, di manakah peti itu ditaruhnya? Peti itu adalah milikku, sekarang harap dikeluarkan dan dikembalikan kepadaku!" Kata Kiu-bwe Coa-li kepada isteri Hek-mo-ong.

"Peti celaka itu!" seru isteri Hek-mo-ong. "Peti hitam celaka itulah yang telah membunuh suamiku dan adikadiknya! Kami telah membakar peti siluman itu, Suthai!"

Terdengar seruan tertahan dan tahu-tahu Kiu-bwe Coa-li dan Hek-i Hui-mo telah bergerak dan berdiri di depan nyonya itu, sikap mereka mengancam dan beringas sekali.

"Dibakar??" tanya Hek-i Hui-mo dengan suara parau dan keras sehingga nyonya Hek-mo-ong terkejut sekali.

"Dan isinya, kitab itu.... apakah terbakar pula?" tanya Kiu-bwe Coa-li, pandang matanya mengancam. Kalau nyonya itu menganggukkan kepala, tak salah lagi ia tentu akan mati dalam sekali pukul oleh dua orang tokoh kangouw yang mengerikan itu. Akan tetapi nyonya itu menggelengkan kepalanya lalu menunjuk ke arah meja sembahyang di depan peti mati Hek-mo-ong. "Itulah dia kitab setan itu, yang tadinya berada di dalam peti hitam."

Tubuh Kiu-bwe Coa-li berkelebat ke arah meja hendak mengambil kitab itu, akan tetapi tahu-tahu di dekat kibat itu, di atas meja, terdengar bunyi nyaring dan tiga batang jarum hitam telah menancap di situ! Kiu-bwe Coa-li cepat melompat ke belakang dan menoleh pada Hek-i Hui-mo yang berdiri tersenyum-senyum!

"Aha, Hek-i Hui-mo! Kau hendak main-main dengan pinni?" tanya Kiu-bwe Coa-li dengan pandang mata tajam dan cambuknya digerak-gerakkan dalam tangannya.

"Kiu-bwe Coa-li, kita datang di tempat yang sama dan dengan maksud yang sama pula. Tak boleh kau mau menang sendiri saja! Aku pun membutuhkan kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng!"

Dua orang tokoh besar itu berdiri saling pandang dengan sikap mengancam, keduanya sama jauhnya dari meja sembahyang di mana keduanya maklum bahwa bergerak lebih dulu berarti bahaya maut. Mereka saling menanti, dan sekali lawannya bergerak, tentu akan mengirim serangan.

Adapun keluarga Hek-mo-ong, ketika sadar dan tahu bahwa dua orang ini sesungguhnya sama sekali bukanlah orang-orang suci yang datang hendak menghibur mereka, bahkan sebaliknya adalah orang-orang jahat yang datang hendak mengacau, menjadi panik dan makin bersedih.

Terdengar tangisan-tangisan dan sebentar saja keadaan di situ menjadi gaduh sekali.

Tiba-tiba terdengar suara orang mencela, "He, kalian ini apakah sudah gila? Menangis tidak karuan padahal seharusnya bersyukur! Hayo diam semua jangan menangis, kalau tidak akan kutampar mulutnya siapa yang menangis!"

Semua orang terheran dan kaget sehingga suara tangisan benar-benar lenyap. Memang, seperti biasa di dalam sebuah kematian, sebagian besar tangisan orang hanyalah air mata buaya belaka, yakni tangis palsu asal keluar air mata saja untuk membuktikan bahwa mereka benar-benar berduka! Yang menegur itu ternyata adalah seorang kakek berpakaian seperti pengemis yang tubuhnya kurus tinggi.

Setelah semua orang berhenti menangis, kakek ini lalu bernyanyi! Dan suara nyanyinya yang parau itu mengucapkan kata-kata yang cukup aneh!

"Ah, Hek-mo-ong! Kau benar-benar amat berbahagia! Kau telah kembali ke asalmu semula, tidak seperti kami yang masih menjadi manusia! Ah, kau benar-benar berbahagia, Hek-mo-ong"

Kiu-bwe Coa-li dan Hek-i Hui-mo yang tadinya saling pandang dan telah bersiap-siap untuk memperebutkan kitab di atas meja sembahyang itu, berubah air muka mereka ketika melihat pengemis kurus kering ini.

"Ang-bin Sin-kai, kau juga datang? Kau tidak mau ketinggalan pula?" Kiu-bwe Coa-li menyindir.

"Ha-ha-ha, tua bangka dari timur mana mau mengalah? Ada tulang baik dan daging gemuk, tentu datang anjing!"

Hek-i Hui-mo juga menyindir akan tetapi baik dia maupun Kiu-bwe Coa-li kini lebih waspada dan bersiap lagi mengawasi gerak-gerik Ang-bin Sin-kai, menjaga jangan sampai pengemis tua itu mendahului mereka mengambil kitab di atas meja!

"Kau benar, Setan Hitam! Memang kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng tidak boleh terjatuh dalam tanganmu yang kotor!"

Ang-bin Sin-kai yang dimaki itu tersenyum-senyum saja.

Tiba-tiba menyambar angin keras dan tubuh seorang lain yang gemuk bundar seperti tubuh Hek-i Hui-mo, seperti

"menggelundung" datang! Ternyata dia adalah Jeng-kin-jiu Kak Thong Tiasu, tokoh pertama dari selatan.

"Omitohud, bakal ramai sekarang!" katanya sambil matanya yang bundar jelalatan ke kanan kiri.

"Pengemis bangkotan, kau juga sudah di sini?" katanya kepada Ang-bin Sin-kai. Pembaca tentu masih ingat akan hwesio gemuk ini, karena pada permulaan cerita ini, dia sudah muncul bersama Ang-bin Sin-kai dan mengadu kepandaian di pinggir pantai Laut Po-hai, maka tak perlu kiranya dituturkan pula betapa hebat dan lihai kepandaian hwesio gemuk ini!

"Bagus, bagus! Dengan munculnya gundul gendut ini, benar-benar menggembirakan!" kata Ang-bin Sin-kai yang segera menyambar sebuah bangku dan menduduki bangku itu, matanya terus mengincar ke arah kitab yang terletak di atas meja sembahyang.

Empat tokoh besar ini telah mengetahui kepandaian masing-masing dan tak seorang pun di antara mereka berani lancang bergerak mengambil kitab itu. Sudah jelas bahwa mereka semua datang untuk memperebutkan kitab itu, akan tetapi karena kitab itu berada di atas meja dan mereka berempat sudah berada di situ, siapakah yang berani lancang turun tangan lebih dulu? Oleh karena itu, Ang-bin Sin-kai memilih tempat duduk, karena dia tahu bahwa menanti sambil berdiri saja amat melelahkan.

Tidak tahunya, akalnya ini diketahui pula oleh yang lainlain maka yang tiga orang lagi pun segera menyambar bangku dan duduk! Empat orang itu kini duduk tak bergerak mengelilingi meja sembahyang dalam jarak yang sama jauhnya. Masing-masing memutar otak mencari akal bagaimana dapat mengambil kitab itu! Tiba-tiba Kiu-bwe Coa-li berseru nyaring dan tahu-tahu pecutnya yang berbulu sembilan helai itu menyambar ke arah meja. Ia hendak mengambil kitab itu dengan ujung cambuknya. Akan tetapi, sebelum pecut itu mencapai kitab, sebatang tongkat berkepala naga menyambar dan menangkis pecut itu sehingga terpental kembali! Ternyata Hek-i Hui-mo yang duduknya paling dekat dengan Kiu-bwe Coa-li telah menangkis dan menggagalkan niat wanita sakti itu!

"Eh, eh, nanti dulu, Kiu-bwe Coa-li" kata hwesio dari Tibet ini sambil tertawa terkekeh.

Ketika Kiu-bwe Coa-li memandang, dia melihat Ang-bin Sin-kai dan Jeng-kin-jiu juga memandangnya dengan senyum penuh arti. Senyum yang menyatakan bahwa mereka berdua ini pun takkan tinggal diam saja kalau wanita tua itu turun tangan.

"Hem, berat nih...." pikir Kiu-bwe Coa-li, lalu ia duduk kembali sambil mengerling ke kanan kiri.

"Apakah kalian begitu pengecut tidak berani mendahului turun tangan mengambil kitab itu?" tanyanya.

Akan tetapi, tiga orang kakek itu tidak menjawab, hanya duduk saja sambil tersenyum-senyum. Benar-benar keadaan mereka lucu sekali, kini hanya duduk diam saja, bagaikan empat orang kawan lawan yang baru bertemu dan mengobrol mengitari meja!

"Bagus, baiknya aku belum terlambat!" tiba-tiba terdengar suara halus dan datanglah seorang kakek bertubuh pendek kecil diikuti oleh dua orang anak laki-laki di tempat itu. Semua orang menengok dan ternyata kakek ini adalah Pak-lo-sian Siangkoan Hai, tokoh besar dari utara! Adapun dua orang anak kecil itu adalah muridmuridnya, yakni Gouw Swi Kiat dan The Kun Beng. Dua orang anak-anak ini sudah sering kali mendengar dari suhu mereka tentang empat orang tokoh yang kini duduk mengelilingi meja sembahyang, maka mereka tidak berani mendekat, lalu menghampiri Ben Sui Ceng murid Kiu-bwe Coa-li, karena melihat anak perempuan yang mungil dan cantik duduk di tempat agak jauh sambil menonton.

"Bagus, tua bangka dari utara sudah datang, kaulah yang boleh mulai mencoba mengambil kitab itu. Bukankah untuk itu kau datang?" tanya Kiu-bwe Coa-li.

Akan tetapi Siangkoan Hai Si Dewa Dari Utara bukanlah seorang bodoh. Melihat sekelebatan saja, dia tahu bahwa empat orang ini tidak berani mengambil kitab, karena kalau seorang mengambil, yang lain tentu akan mencegahnya. Ia tertawa terkekeh-kekeh sambil memandang mereka berempat itu berganti-ganti.

"Heh, heh, heh! Dunia ini ternyata tak lebih lebar daripada setapak tangan. Tidak kusangka bahwa aku di sini akan bertemu dengan Kiu-bwe Coa-li dan Jen-kin-jiu Kak Thong Taisu dari selatan! Hek-i Hui-mo dari barat dan Angbin Sin-kai dari timur! Hebat benar! Apakah seluruh dunia sudah terbakar oleh api neraka sehingga iblis-iblis dan setansetan datang berkumpul di sini? Dan berkumpul mengelilingi meja kematian pula! Heh, heh, heh! Benarbenar orang yang berada dalam peti mati ini seorang yang beruntung dan terhormat. Kaisar sendiri kalau mati, tak mungkin dapat mengundang datang setan-setan dari selatan, barat dan timur!"

"Eh, tua bangka kecil, kau lupa menyebutkan iblis dari utara!" kata Ang-bin Sin-kai.

"Ha, ha, ha!" Jeng-kin-jiu tertawa. "Memaki orang lain memang mudah, mana bisa memaki diri sendiri?"

Disindir oleh dua orang kakek itu, Siangkoan Hai hanya tersenyum-senyum saja, lalu dia menghampiri peti mati di mana tersimpan jenazah Hek-mo-ong. Empat orang lainnya memandang dengan penuh perhatian dan kecurigaan. Paklo- sian Siangkoan Hai memandang peti mati itu, lalu berkata lagi,

"Ingin aku melihat orang yang demikian mendapat kehormatan besar!" sambil berkata demikian, kedua tangannya bergerak ke arah peti dan tiba-tiba sambil mengeluarkan suara keras, tutup peti itu telah dibukanya! Semua keluarga yang mati berseru keras dan lari berserabutan ke belakang dan keluar, pergi dari tempat itu.

Mereka ketakutan setengah mati karena kedatangan lima orang yang seperti iblis-iblis berkeliaran itu.

Pemandangan yang nampak dalam peti memang mengerikan sekali. Tadinya, karena pengaruh racun jahat yang memasuki perut Hek-mo-ong, muka orang ini telah menjadi hitam kebiruan. Akan tetapi sekarang, kepalanya tetap pecah dan di ulu hatinya menancap jarum hitam! Inilah akibat dari pukulan lweekang dari Kiu-bwe Coa-li yang meraba-raba peti dan serangan jarum hitam dari Hek-i Hui-mo!

"Siancai, siancai....!" Pak-lo-sian menyebut sambil cepatcepat menutupkan peti kembali. "Benar-benar Hek-mo-ong telah mampus. Bahkan tiga kali mampus."

Bun Sui Ceng, murid Kiu-bwe Coa-li, dan kedua orang murid Pak-lo-sian, berdiri menonton semua itu. Mereka bertiga sama sekali tidak takut melihat pemandangan yang mengerikan itu. Bahkan Sui Ceng dengan senyum yang membuat pipi kirinya dekik, melirik ke arah The Kun Beng dan Gouw Swi Kiat, lalu berkata,

"Guru kalian itu bertubuh kecil, akan tetapi berhati besar. Orang sombong seperti dia mana bisa mendapatkan kitab?"

Mendengar ucapan ini, Gouw Swi Kiat yang berdarah panas, menjawab, "Kau bocah ingusan tahu apa? Lihat betapa suhu kami akan merampas kitab itu!"

"Huh! Sebelum dia menyentuh kitab, kepalanya akan hancur seperti kepala Hek-mo-ong oleh tangan guruku!" kata Sui Ceng sambil menjebikan bibirnya yang merah.

"Betulkah?" seru Swi Kiat penasaran. "Atau kepalamu yang akan pecah dulu oleh tanganku?" Sikapnya mengancam dan dia seakan-akan hendak menyerang nona cilik itu.

"Suheng, mengapa mencari perkara? Tiada salahnya dia ini membela dan memenangkan gurunya sendiri. Kita lihat sajalah buktinya nanti." The Kun Beng mencegah suhengnya. Mendengar ini, Sui Ceng melirik ke arah Kun Beng dan diam-diam di dalam hati Sui Ceng merasa jauh lebih suka kepada Kun Beng daripada Swi Kiat.

Sementara itu, Pak-lo-sian Siangkoan Hai yang tidak mau membuang banyak waktu untuk menanti sambil memandangi kitab yang amat diinginkan itu, tiba-tiba melompat dan sekali sambar saja dia sudah mengambil kitab itu. Akibatnya hebat sekali. Serentak empat orang tokoh yang lain bangun dan bergerak menyerang.

"Lepaskan kitab itu!" seru Kiu-bwe Coa-li yang lebih dulu menyerang dengan cambuknya.

Siangkoan Hai cepat mengelak, akan tetapi dia disambut oleh serangan bertubi-tubi dari Hek-i Hui-mo, Jeng-kin-jiu, dan Ang-bin Sin-kai! Serangan-serangan tiga orang ini tentu saja tak boleh dipandang ringan, karena kepandaian mereka setingkat dengan kepandaian Siangkoan Hai. Dengan kaget Siangkoan Hai mengeluarkan seruan keras dan tubuhnya melompat ke belakang secepatnya, namun masih saja sebuah pukulan dari jauh yang dilancarkan oleh Ang-bin Sin-kai mengenai pundaknya sehingga dia menjadi terhuyung-huyung! Pada saat itu, Kiu-bwe Coa-li telah menubruk lagi dan sekali renggut, dengan gerak tipu Dewi Kwan Im Merampas Bunga, kitab di tangan Siangkoan Hai itu telah terampas olehnya! Kiu-bwe Coa-li yang sudah dapat merampas kitab hendak melompat ke arah muridnya dan hendak melarikan diri sambil membawa muridnya itu, akan tetapi sebelum ia tiba di depan Sui Ceng, di depannya telah menghadang Hek-i Hui-mo!

"Enak saja kau mau membawa pergi kitab itu? Lepaskan!" kata Iblis Terbang Baju Hitam ini dan tasbihnya di tangan kiri menyambar ke arah dada Kiu-bwe Coa-li! Serangan hebat ini dapat mendatangkan maut, karena biarpun hanya berupa tasbih, namun senjata aneh ini bukan main lihainya. Merupakan segundukan sinar putih yang bulatan tasbih itu menghantam ke arah jalan darah di dada.

Kiu-bwe Coa-li cepat menggerakkan pecutnya menangkis.

Terdengar suara keras sekali dan berpijarlah bunga api ketika dua senjata aneh ini bertemu. Keduanya tergetar mundur dan sebelum Kiu-bwe Coa-li tahu, ia hanya merasa kitab itu dibetot orang dan terlepas dari pegangannya! Ketika ia menoleh, ternyata bahwa kitab itu telah berpindah ke dalam tangan Ang-bin Sin-kai! Kakek pengemis ini tertawa-tawa sambil memegang kitab itu tinggi-tinggi, seperti sikap seorang kanak-kanak yang menggoda kawan-kawannya.

"Jembel tua, kauserahkan kitab itu kepadaku!" seru Jengkin- jiu Kak Thong Taisu sambil mengulur tangan hendak merampas. Tangan kirinya diulur hendak merampas, sedangkan tangan kanannya menonjok dada pengemis tua itu! Pada saat yang sama Hek-i Hui-mo, Kiu-bwe Coa-li, dan Pak-lo-sian Siangkoan Hai juga tidak tinggal diam dan sebentar saja Ang-bin Sin-kai telah dikeroyok empat! Ang-bin Sin-kai maklum bahwa dia tak mungkin dapat melawan empat orang lihai ini, dan biarpun dia melarikan diri, ilmu lari cepat mereka pun tidak kalah olehnya, maka dia cepat berseru, "Tahan serangan!" Berkata begini, dia melempar kitab ke atas meja sembahyang kembali.

Empat orang yang menyerangnya, tertegun dan tidak jadi menyerang, karena serangan mereka itu pun hanya berdasarkan ingin merampas kitab, sedangkan kini kitab sudah berada di atas meja lagi, untuk apa menyerang lawan yang sama lihainya itu?

"Hayo, siapa berani mengambil kitab itu, dialah jagoan betul!" Ang-bin Sin-kai tertawa ha-ha-hi-hi-hi dan menduduki bangkunya yang tadi kembali. Empat orang yang lain, merasa ragu-ragu dan akhirnya mereka pun menduduki bangku dan duduk mengelilingi meja sembahyang di mana terdapat kitab itu. Semua orang maklum bahwa apabila dia memberanikan diri mengambil kitab, tentu akan diserang oleh empat orang lain dan hal ini tidak mungkin, karena bahayanya terlalu besar. Akhirnya, tak seorangpun di antara mereka berani turun tangan mengambil kitab, dan kelima orang ini hanya saling pandang dan tertawa ha-ha-hi-hi-hi, tertawa masam! Terdengar suara ketawa kanak-kanak dan yang tertawa adalah Sui Ceng dan Kun Beng. Dua orang anak ini merasa geli karena pemandangan itu benar-benar lucu sekali! Sebaliknya, Gouw Swi Kiat yang berdarah panas itu merasa mendongkol sekali. Benar suhunya tidak mampu mengambil kitab itu dan kini gurunya, seperti yang lainlain, hanya duduk saja menghadapi meja sembahyang seperti patung.

Dari sikap ini saja sudah dapat dilihat bahwa Sui Ceng dan Kun Beng memiliki sifat periang yang sama, adapun Swi Kiat mempunyai sifat pemarah dan keras.

"Suhu, apa sih sukarnya mengambil kitab? Ambil dan lawan mereka, masa Suhu akan kalah?" seru Swi Kiat kepada suhunya.

"Hush, diam kau. Tahu apa kau tentang ini?" bentak suhunya dan Swi Kiat makin mendongkol.

"Sayang kepandaianku belum sempurna. Kalau tidak, aku tidak takut menghadapi mereka!" ia mengomel.

Ang-bin Sin-kai tertawa bergelak.

"Pak-lo-sian, muridmu yang itu benar-benar keras seperti batu. Tidak seperti muridmu yang ke dua itu, yang lunak seperti air!" katanya.

Keluarga dari Hek-mo-ong yang melihat betapa lima orang itu bertempur tidak karuan kemudian kini duduk lagi mengelilingi meja sembahyang, menjadi terheran-heran, takut, dan juga cemas. Akhirnya, isteri Hek-mo-ong memberikan diri dan maju membungkuk-bungkuk.

"Mau apa kau?" Kiu-bwe Coa-li membentak sehingga nyonya itu menjadi pucat.

"Kami bermaksud hendak mengubur jenazah tiga orang keluarga kami ini, apakah tidak boleh?" tanya nyonya itu dengan suara gemetar. Di antara lima orang tokoh yang aneh dan menyeramkan itu, Ang-bin Sin-kai boleh dibilang memiliki watak yang paling lembut. Ia menaruh kasih kepada nyonya ini, maka sambil menggerakkan tangan dia berkata, "Uruslah jenazah itu baik-baik dan bawa pergi dari sini. Akan tetapi, jangan sekali-kali berani menyentuh meja sembahyang kalau kalian sayang kepada nyawa sendiri."

Setelah mendengar kata-kata ini, nyonya Hek-mo-ong lalu memberi tanda kepada keluarganya dan beramai-ramai akan tetapi hati-hati sekali agar jangan mengganggu lima orang aneh itu, mereka lalu mengangkat tiga buah peti mati itu untuk dikuburkan. Akan tetapi, lima orang itu tetap saja duduk mengelilingi meja sembahyang tanpa berani turun tangan, akan tetapi juga tidak sudi mengalah dan tidak mau meninggalkan tempat itu! Hari sudah mulai senja dan tibatiba Sui Ceng yang merasa kesal berkata kepada urunya,

"Suthai, perutku lapar, hidangan di meja sembahyang itu tidak diperlukan, bukan? Lebih baik berikan kepada teecu!"

Kiu-bwe Coa-li boleh jadi seorang wanita sakti yang berhati baja dan terkenal ganas, akan tetapi terhadap muridnya ini, ia menaruh hati kasih sayang yang besar.

Mendengar kata-kata muridnya ini, ia lalu bangkit dari tempat duduknya, menggerakkan pecutnya yang berbulu sembilan itu ke arah meja dan dengan luar biasa sekali dua helai bulu pecutnya melibat pinggir piring sebelah bawah dan mengangkat piring itu terus dilontarkan ke belakan dimana muridnya berdiri! Hebat sekali demonstrasi tenaga lweekang ini, karena piring yang penuh kue mangkok itu melayang tanpa jatuh kuenya sama sekali! Sui Ceng menyambut piring ini dengan kedua tangannya dan ternyata selama ikut dengan gurunya, anak perempuan ini sudah memiliki kepandaian yang lumayan juga karena ia dapat menyambut piring itu tanpa ada kue yang jatuh.

Bocah ini lalu mengambil sebuah mangkok dan makan kue dengan enaknya. Pada saat ia makan kue, ia melirik ke arah Kun Beng da tiba-tiba ia menyodorkan piring kue mangkok itu kepada Kun Beng. Anak laki-laki ini tersenyum dan mengambil sebuah kue mangkok, lalu dimakannya tanpa mengeluarkan sepatah pun kata. Sui Ceng menyodorkan piringnya kepada Swi Kiat, akan tetapi Swi Kiat membuang muka lalu berjalan ke dalam rumah untuk minta makanan dari tuan rumah yang segera melayaninya dengan ramah karena takut kepada gurunya. Benar-benar keras hati anak ini, akan tetapi Sui Ceng tidak menghiraukannya, bahkan mencela kepada Kun Beng, "Suhengmu itu kepala batu.

Aku tidak suka kepadanya!" Sebaliknya Kun Beng memuji nona kecil ini, "Kau baik hati, aku suka kepadamu." "Hm, memberi kue bukan berarti bahwa aku suka kepadamu!" jawab Sui Ceng merengut. "Hanya karena aku tadi mendengar suara perutmu berkeruyuk!" Ia menyodorkan lagi piringnya dan tanpa sungkan-sungkan Kun Beng lalu mengambil sebuah kue lagi. Keduanya saling pandang dan tertawa. Diam-diam kedua anak kecil ini telah mendapat kecocokan dalam pertemuan yang aneh ini.

Pak-lo-sian Siangkoan Hai tertawa melihat ini. "Eh, Ular Betina Buntut Sembilan (Kiu-bwe Coa-li).! Muridmu itu baik sekali, tidak seperti kau! Kelak kalau ada jodoh, aku akan menemuimu untuk membicarakan urusan mereka berdua itu!"

Akan tetapi Kiu-bwe Coa-li diam saja, bahkan memperlihatkan muka tidak senang. "Kalian ini orangorang lelaki sungguh menjemukan dan menggemaskan!" katanya sambil membanting kaki kirinya. "Masa kita harus duduk diam saja menjadi patung di sini? Baik diatur begini saja. Aku menantang kalian maju melawan aku seorang demi seorang, jangan main keroyokan! Kalau ada yang dapat mengalahkan cambukku ini, biarlah aku mengalah dan tidak mengharapkan kitab itu lagi.Hayo, siapa berani maju lebih dulu?" Sambil berkata demikian, wanita sakti ini lalu bangkit berdiri dan mengayun-ayun cambuknya dengan sikap menantang sekali. "Akan kuhancurkan kepala kalian empat ornag laki-laki tolol."

Melihat sikap gurunya, Sui Ceng merasa girang dan bangga sekali. Ia menoleh kepada Kun Beng dan Swi Kiat lalu berkata, "Lihat, guruku lebih gagah perkasa. Mana orang seperti gurumu dapat melawan dan mengalahkannya?" Karena kata-kata ini diucapkan dengan keras-keras, maka terdengar pula oleh Pak-lo-sian Siangkoan Hai yang menjadi panas perutnya juga. Ia melompat bangun dari bangkunya menghadapi Kiu-bwe Coa-li. Memang watak dari Pak-lo-sian Siangkoan Hai ini sombong dan dalam hal ilmu silat, maka dia tidak pernah mau mengalah terhadap siapapun juga.

"Kiu-bwe Coa-li, siapa sih yang takut menghadapi cambukmu sembilan ekor itu? Mari kita main-main sebentar!" Sambil berkata demikian, orang pendek kecil ini lalu mengeluarkan sepasang kipas.

Inilah senjata yang lihai sekali dari Siangkoan Hai, yakni sepasang kipas berwarna hitam dan putih. Ia memiliki ilmu silat kipas yang disebut Im-yang San-hwat, yang permainannya membutuhkan tenaga lweekang dan gwakang yang dimainkan berbareng. Pak-lo-sian Siangkoan Hai mempunyai dua macam ilmu silat yang tinggi dan lihai, yakni ilmu kipas ini dan ilmu tombak. Selain dua macam ilmu silat dengan senjata yang amat lihai ini, juga dia memiliki ilmu silat tangan kosong yang jarang ada bandingannya di dunia ini. Sekarang, karena dia menghadapi Kiu-bwe Coa-li yang memegang sebuah cambuk, yakni senjata yang lemas, ia merasa rugi kalau harus menghadapinya dengan tombak, maka dia memilih sepasang kipasnya untuk menghadapinya. Dua orang sakti itu telah saling berhadapan dan agaknya tidak lama lagi mereka akan bergebrak ramai.

"Nanti dulu!" kata Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu sambil melompat maju dan tubuhnya yang bulat itu seakan-akan menggelundung maju dan tahu-tahu telah berada di tengah, di antara kedua jago tua yang hendak bertanding. "Harus diadakan perjanjian lebih dulu yang adil!"

"Apa maksudmu, keledai gundul?" Kiu-bwe Coa-li memandang tajam.

"Kalau dalam pertandingan ini ada yang kalah dan sampai mampus, itu lebih baik lagi. Akan tetapi kalau tidak sampai mati dan dia sudah dirobohkan, dia harus pergi dan tidak berhak lagi menginginkan kitab Im-yang Bu-tek Cinkeng! Yang menanglah yang akan menghadapi lawan ke dua!" Ang-bin Sin-kai maklum dalam pertandingan antara orang-orang lihai ini, sukar dibilang bahwa yang kalah masih dapat hidup, maka dia lalu melompat maju juga dan sambil tertawa-tawa dia mengacung-acungkan tangannya seperti yang hendak mengusulkan sesuatu dalam rapat!

"Nanti dulu, aku pun mau mengajukan saran yang adil! Kata-kata si gundul gendut ini ada betulnya, akan tetapi masih kurang adil."

"Cecak kering, bagaimana kau bilang masih kurang adil?" tanya Jeng-kin-jiu sambil tertawa lebar.

"Kalau dibiarkan dua orang berhantam, biarpun ada yang menang, tentu si pemenang itu sudah empas-empis napasnya dan sudah habis tenaganya, maka bagaimana dia harus menghadapi lawan ke dua? Ini tidak adil, karena tentu dia akan kalah oleh tenaga baru! Lebih baik kalau dalam tiap pertandingan dibatasi, yakni dengan pembakaran hio pendek yang kering. Begitu pertempuran dimulai, hio dinyalakan dan setelah hio terbakar habis, pertempuran harus dihentikan."

"Hm, hio terbakar habis setelah ilmu silat dimainkan tiga puluh jurus kurang lebih. Bagaimana kalau tidak ada yang kalah dan tidak ada yang menang?" tanya Pak-lo-sian Siangkoan Hai.

Ang-bin Sin-kai garuk-garuk kepalanya. "Kalau tidak ada yang kalah, dapat diulang kembali untuk kedua kalinya."

Semua orang menyatakan setuju, maka Ang-bin Sinkaicepat menyalakan hio dan ditancapkan di tempat hio yang berada diatas meja sembahyang.

"Mulai!" kata Ang-bin Sin-kai sambil mengangkat tangan ke atas seperti seorang wasit pertandingan!

"Lihat senjata!" Kiu-bwe Coa-li berseru dan menggerakkan pecut menyerang lawannya.

Pak-lo-sian Siangkoan Hai menangkis dengan kipas di tangan kiri yang berwarna putih. Inilah kipas yang dipergunakan dengan tenaga lweekang dan yang cepat sekali dipergunakan untuk menangkis. Seperti diketahui, ujung pecut adalah benda lemas, maka biarpun digerakkan oleh pemegangnya dengan pengerahan tenaga dalam, ketika tertangkis oleh kipas yang mengebut, lalu bertolak kembali.

Akan tetapi, Siangkoan Hai tidak berani berlaku lambat, dan cepat dia membalas serangan lawan dengan kipas kanan yang berwarna hitam dengan mengerahkan tenaga gwakang. Wanita sakti itu cepat mengelak dan ketika ia mengayun cambuknya, kembali sembilan helai bulu cambuk bergerak-gerak bagaikan sembilan ekor ular yang hidup dan mengancam nyawa lawan!

"Satu jurus!" seru Ang-bin Sin-kai menghitung, seakanakan anak kecil yang bergembira melihat dua orang kawan berhantam! Serangan Kiu-bwe Coa-li benar-benar lihai. Cambuknya itu biarpun hanya bergagang satu, akan tetapi karena ujungnya mempunyai sembilan helai bulu panjang yang bergerak masing-masig dari segala jurusan, maka merupakan sembilan senjata yang amat lihai.

Namun Pak-lo-sian Siangkoan Hai juga bukan orang sembarangan. Sepasang kipasnya dapat di gerakkan sehingga menimbulkan angin berputar dari mana pun juga bulu-bulu cambuk itu menyerang, selalu dia dapat mengebut senjata lawan sehingga dia terhindar dari bahaya maut. Adapun kipas hitamnya juga berkali-kali menyerang yang semuanya dapat pula dihindarkan oleh Kiu-bwe Coali.

"Guruku pasti menang!" kata Sui Ceng sambil mulutnya bergerak-gerak makan kue mangkok. Dalam ketegangannya, tak terasa pula makin cepat ia makan kue itu sehingga mulutnya yang kecil itu bergerak-gerak lucu.

"Tak mungkin! Guruku yang akan bikin mampus gurumu!" kata Swi Kiat.

Sui Ceng mendelikkan matanya. "Siapa bilang? Kalau gurumu sampai terkena cambukan guruku, nyawanya tentu melayang ke akhirat!"

"Ssttt……! Jangan ribut-ribut!" Kun Beng mencela kedua orang anak itu. "Kita lihat saja siapa yang yang akan menang."

Pertempuran itu benar-benar hebat sekali. Bahkan Hek-i Hui-mo, Jeng-kin- jiu Kak Thong Taisu dan Ang-bin Sinkai, mau tidak mau harus memuji kelihaian dua orang itu.

Ang-bin Sin-kai yang merasa gembira sampai seperti anak kecil dan menghitung terus.

"Dua puluh delapan jurus! Dua puluh sembilan……! Ah cukup! Hio-nya sudah padam lagi. Tahan!"

Mendengar ini Kiu-bwe Coa-li dan Siangkoan Hai melompat mundur dan menahan senjata masing-masing.

Nampak bayangan kecewa di muka Kiu-bwe Coa-li dan Siangkoan Hai juga merasa penasaran sekali karena tak dapat mengalahkan lawannya.

"Kau hebar Ular Betina! Benar-benar aku kagum sekali!" katanya.

"Dalam babak ke dua kau pasti akan kurobohkan, Paklo- sian," kata Kiu-bwe Coa-li dengan muka merah.

"Sekarang siapakah yang akan melawan aku?" tantangnya.

"He, jangan begitu bernafsu dan murka, Kiu-bwe Coali!"

Ang-bin Sin-kai mencela, "Sekarang giliran orang-orang lain, jangan main borong semua."

Hek-i Hui-mo dan Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu sudah melompat dan saling berhadapan sehingga Kiu-bwe Coa-li terpaksa mengundurkan diri, duduk di tempatnya yang tadi.

"Eh, eh, aku dulu!" kata Ang-bin Sin-kai kebingungan setelah melihat dua orang yang sama gundul, sama bundar bulat itu saling berhadapan. "Siapa nanti lawanku?"

"Cecak kurus, kau minggirlah dan nyalakan lain hio!"

Kak Thong Taisu berkata, "Hek-i Hui-mo Si Setan Hitam patut menjadi lawanku!"

Ketika Ang-bin Sin-kai menyalakan lain hio, terdengar suara gelak terbahak yang merdu dan nyaring. Ternyata Sui Ceng dan Kun Beng tertawa bergelak sambil menudingkan jari tangan ke arah jeng-kin-kiu dan Hek-i Hui-mo. Memang lucu sekali dua orang ini. Keduanya gendut sekali dan kelihatannya seperti dua ekor babi kebiri yang gemuk sedang berhadapan. Wajah Hek-i Hui-mo kelihatan serem dan galak, sedangkan Kak Thong Taisu memang selalu kelihatan tertawa-tawa. Mereka ini tiada ubahnya seperti dua orang pelawak yang beraksi. Akan tetapi, ketika keduanya sudah bergerak saling serang, hebatnya luar biasa.

Sebelum - Beranda - Lanjut

Tidak ada komentar:

Posting Komentar