12 Kisah Si Bangau Putih

"Tidak, tidak. Ayah seorang petani biasa. Di dalam tawanan itu, ayah menceritakan semua padaku, Paman. Katanya bahwa ibu dahulu adalah seorang tokoh besar yang memiliki ilmu silat tinggi sehingga di juluki Bi-kwi (Setan Cantik), sedangkan ayah hanyalah seorang petani biasa saja. Ketika ayah dan ibu menjadi suami isteri, ibu berjanji akan meninggalkan kehidupannya sebagai seorang ahli silat. Bahkan ayah pula yang melarang agar ibu tidak mengajarkan ilmu silat kepadaku. Akan tetapi setelah terjadi penculikan atas diriku, ayah merasa menyesal bahwa aku tidak diajar ilmu silat sehingga tidak mampu membela dan melindungi diri sendiri. Atas permintaan Sin Hong, Yo Han lalu menceritakan bagaimana dia diculik dan dilarikan oleh Liok Cit, betapa kemudian di tengah jalan dia dilarikan karena Liok Cit dikejar oleh Suma Lian.

"Enci Suma Lian yang gagah perkasa itu hampir saja celaka karena membelaku. Betapa gagahnya enci Suma Lian. Untung kemudian muncul engkau, Paman. Dan aku merasa girang sekali bahwa Paman suka membawa aku pergi. Paman tentu akan melatih ilmu silat kepadaku, bukan? Aku suka sekali menjadi muridmu, Paman. Sebaiknya sekarang juga aku mengangkat Paman menjadi guruku." Setelah berkata demikian, Yo Han menjatuhkan dirinya berlutut di depan Sin Hong sambil menyebut, "Suhu....!"

Sin Hong cepat memegang pundak Yo Han dan menariknya bangun. Wajahnya merah karena dia merasa rikuh sendiri menerima penghormatan sebagai seorang guru. Baru saja dia meninggalkan perguruan dan kini sudah hendak diangkat menjadi guru. Dia merasa canggung dan belum waktunya menerima seseorang menjadi muridnya. Hidupnya sendiri masih tidak menentu, bagaimana mungkin dia menerima beban baru berupa seorang murid?

"Nanti dulu, Yo Han. Jangan tergesa-gesa mengangkatku sebagai guru...."

"Akan tetapi, Suhu! Bukankah Suhu sudah menerima permintaan ibu? Dan teecu sudah mengambil keputusan meninggalkan ayah dan ibu, hanya karena teecu (murid) suka untuk menjadi murid Suhu!"

"Tadinya aku hanya ingin menyelamatkanmu dan orang tuamu, maka aku mau menerimamu dan mengajakmu pergi, Yo Han, akan tetapi     ketahuilah bahwa aku adalah seorang pemuda pengembara yang hidupnya pun belum menentu. Aku tidak memiliki tempat tinggal, tidak berkeluarga...."

"Teecu akan ikut Suhu, ke manapun Suhu pergi, dan teecu tidak takut menghadapi hidup serba kurang dan sederhana, teecu akan bekerja dan melakukan apa saja yang Suhu kehendaki...." Yo Han berkata, nada suaranya khawatir kalau-kalau pemuda yang sakti itu tidak akan suka menjadi gurunya.

Tiba-tiba nampak bayangan berkelebat disusul suara Suma Lian. "Bagus! Berani berbuat tidak berani bertanggung jawab, ya?"

Sin Hong mengangkat mukanya dan gadis itu sudah berada di situ, berdiri tegak, kedua kaki terpentang lebar dan kedua tangan di pinggang, sepasang matanya memandang tajam. "Orang she Tan! Kalau engkau tidak suka menerima Yo Han ini menjadi muridmu, mengapa engkau tadi menjual lagak dan memamerkan kepandaian, lalu menerima permintaan ibu anak ini?"

Sin Hong tertegun. "Nona Suma Lian, harap jangan salah sangka. Bukan maksudku untuk melepas tanggung jawab dan menolaknya, aku hanya menjelaskan kepadanya bahwa tidak mungkin dia hidup bersama aku yang tidak mempunyai tempat tinggal, tidak berkeluarga. Hidupku sendiri tidak menentu, sebagai petualang dan pengelana, bagaimana mungkin ditambah seorang lagi? Dan juga aku mempunyai tugas yang belum kuselesaikan, dan tugas itu akan membawaku ke tempat-tempat berbahaya, berhadapan dengan lawan-lawan berbahaya. Kalau dia ikut denganku, bukankah hal itu berarti membawa dia ke dalam ancaman bahaya pula?

Suma Lian tersenyum mengejek, diam-diam ia tertawa dan hatinya senang. Rasakan kamu, pikirnya. Untung bukan ia yang tadi menerima beban itu!

"Lalu apa maksudmu tadi memamerkan kepandaian dan menerimanya dari ibunya?"

"Aku tadi hanya bermaksud menolong dan menyelamatkan...."

"Huh, engkau hanya ingin berlagak dan memamerkan ilmu kepandaian silatmu, dan memandang rendah kepada orang lain ya? Hemmm, ingin aku melihat sampai di mana kepandaianmu maka engkau menjadi sombong dan besar kepala! Nah, bersiaplah dan majulah melawanku, manusia sombong!"

Sin Hong terkejut sekali. Tak disangkanya bahwa dia akan disusul oleh gadis yang galak ini. Tentu saja dia merasa segan untuk bertanding tanpa sebab dengan gadis itu, apalagi gadis itu she Suma yang membuktikan bahwa gadis ini adalah keturunan pendekar Pulau Es!

"Aku tidak mempunyai urusan denganmu, Nona. Untuk apa aku harus melayanimu bertanding?" bantahnya.

"Hemmm, engkau agaknya hanya berani berlagak karena mengetahui betapa lawanmu memang tolol dan rendah ilmu silatnya, macam Tok-ciang Hui-moko tadi. Dan engkau menjadi jerih ketika kutantang untuk mengadu ilmu. Apakah engkau selain sombong juga seorang pengecut?" Suma Lian sengaja mengeluarkan makin ini dengan maksud untuk memaksa pemuda itu bertanding dengannya. Ia ingin sekali menguji kepandaian pemuda itu, juga kepandaiannya sendiri.

Wajah Sin Hong berubah merah. Panas juga perutnya ketika mendengar ucapan terakhir itu. Dia dianggap sombong dan pengecut! Sungguh keterlaluan sekali nona ini, pikirnya. Dari ucapannya itu saja jelas menunjukkan bahwa yang sombong adalah nona ini! Timbul pula keinginan hatinya untuk menguji sampai di mana kehebatan ilmu gadis keturunan para pendekar Pulau Es ini. Sudah banyak dia mendengar dari ketiga orang gurunya akan kehebatan ilmu-ilmu dari keluarga para pendekar Pulau Es, dan kini kebetulan sekali dia ditantang dan dipaksa untuk bertanding melawan seorang di antara mereka. Kesempatan yang amat baik! Dan pertandingan itu dipaksakan oleh gadis itu, bukan atas kehendaknya.

"Baiklah, nona Suma. Kalau memang engkau menghendaki kita mengadu ilmu, terpaksa aku melayanimu untuk membuktikan bahwa aku tidak takut dan bukanlah pengecut, juga bukan orang sombong seperti yang kausangka tadi." Berkata demikian, Sin Hong lalu melangkah maju menghadapi nona itu. Yo Han berdiri dengan mata terbelalak lebar dan jantung berdebar tegang. Enci Suma Lian ini tidak tahu bahwa tadi ia diselamatkan oleh gurunya, ketika gurunya itu mencegah batu besar menggelinding masuk ke dalam sumur. Kalau enci Suma Lian mengetahui, tentu ia tidak akan bersikap seperti ini, pikirnya. Mulutnya sudah bergerak hendak memberitahu, akan tetapi ditahannya karena dia pun ingin sekali melihat pertandingan adu ilmu antara dua orang yang menurut ibunya memiliki ilmu kepandaian yang jauh lebih tinggi daripada ibunya itu. Tentu saja diam-diam dia berpihak kepada suhunya!

Sementara itu, melihat betapa Sin Hong telah menghadapinya, Suma Lian memandang dengan penuh perhatian. Ia memang sengaja mengeluarkan kata-kata sombong dan pengecut, untuk memaksa pemuda itu mau melayaninya bertanding. Kini ia mengamati pemuda itu. Seorang pemuda yang wajahnya biasa saja, seperti seorang pemuda petani biasa yang sederhana. Pakaiannya serba putih, dari kain kasar pula. Akan tetapi, pada wajah yang biasa itu terdapat sepasang mata yang sinarnya lembut sekali, dan mulut yang mengandung keramahan, dengan senyum lembut pula. Mata dan mulut itulah yang mengandung daya tarik yang amat kuat.

Di lain pihak, Sin Hong juga mengamati gadis yang dikaguminya itu. Gadis keturunan keluarga Suma dari Pulau Es! Tadi ketika tersenyum mengejek, dia melihat betapa di tepi kedua ujung mulut gadis itu tiba-tiba muncul dua lesung pipit yang membuat wajah itu menjadi semakin manis. Sepasang mata yang tajam dan jeli, juga lincah. Sikap yang gagah dan berani, agak ugal-ugalan. Seorang gadis yang jelas menunjukkan bahwa ia biasa hidup di dunia persilatan, berani menghadapi kehidupan yang keras dan penuh tantangan. Kedua orang muda itu saling pandang seperti dua ayam jago yang saling menilai sebelum bertarung.

Biarpun ia tahu bahwa pemuda ini lihai, Suma Lian tidak mengeluarkan sulingnya karena pemuda itu pun bertangan kosong. Ia ingin menguji kepandaian pemuda itu dalam ilmu silat tangan kosong. Melihat pemuda itu sudah berdiri dengan sikap tenang di depannya, ia pun mulai memasang kuda-kuda dan membentak nyaring, "Orang she Tan, lihat seranganku!" Teriakan ini disusul serangan yang amat cepat dan kuat, karena ia sudah mengerahkan tenaga Swat-im Sin-kang dalam jurus serangan Ilmu Silat Lothian Sin-kun. Hebat bukan main serangannya, karena memang Ilmu Silat Lothian Sin-kun (Silat Sakti Pengacau Langit) yang dipelajarinya dari mendiang Bu Beng Lokai itu merupakan ilmu silat tingkat tinggi yang ampuh. Juga tenaga Swat-im Sin-kang (Tenaga Sakti Inti Salju) merupakan ilmu keturunan keluarga Pulau Es yang hebat.

Sin Hong kagum melihat gerakan serangan yang amat cepat dan dahsyat itu, dan dia sudah merasakan sambaran hawa dingin ke arah dadanya sebelum tangan gadis itu sendiri tiba, dan tahulah dia bahwa pukulan itu mengandung hawa pukulan sin-kang dari keluarga Pulau Es. Karena dia memang tidak mempunyai maksud untuk bermusuhan dengan gadis itu, maka dia pun tidak mau melawan keras dengan keras. Dia menggerakkan kedua kakinya dan menggeser kaki depan ke belakang menghindarkan diri dari serangan pertama itu dengan elakan. Melihat betapa serangannya dapat dielakkan dengan mudahnya. Suma Lian mendesak lagi dengan serangan berikutnya yang lebih hebat. Kini, tangan kirinya menampar dengan pengerahan tenaga Swat-im Sin-kang, sedangkan pada detik berikutnya, tangan kanannya sudah menjotos ke arah dada dengan tenaga Hui-yang Sin-kang (Tenaga Sakti Inti Api)! Gadis ini menerima gemblengan penggunaan kedua sin-kang yang berlawanan dari keluarga Pulau Es, digembleng oleh ayahnya sendiri setelah ia pulang dari berguru kepada mendiang Bu Beng Lokai. Karena ia sudah memperoleh dasar yang amat kuat, maka tidak sukar baginya menerima penggabungan kedua inti tenaga sakti itu yang merupakan kebanggaan dari keluarga Pulau Es.

Ketika ada dua macam tenaga yang berlawanan, dingin sekali kemudian disusul panas sekali, Sin Hong terkejut bukan main. Kedua hawa sakti yang menyambar itu seperti mengepungnya dan agaknya sukar baginya untuk hanya mengandalkan kelincahan tubuh untuk mengelak. Gadis itu ternyata mampu bergerak dengan amat cepat, dan gerakan kaki gadis itu pun aneh, mengepung dan memotong jalan keluarnya, maka, kini terpaksa dia harus membela diri dengan tangkisan. Hal ini memang disengaja oleh Suma Lian yang hendak memaksa pemuda itu mengadu tenaga sakti, karena gadis ini merasa yakin bahwa penggabungan kedua sin-kang yang berlawanan itu tentu takkan dapat ditahan oleh lawan. Sin Hong tidak berani mempergunakan tenaga sin-kang gabungan dari tiga orang gurunya dalam Ilmu Silat Pek-ho Sin-kun, melainkan menangkis dengan pengerahan tenaga Inti Bumi yang pernah dipelajarinya dari Tiong Khi Hwesio, seorang di antara tiga orang gurunya itu. Ketika kedua tangan gadis itu menyambar hampir berbareng dengan kedua sin-kang yang berlawanan, dia pun menangkisnya dengan pengerahan tenaga Inti Bumi.

Tak dapat dicegah lagi, dua pasang lengan itu saling bertemu di udara.

"Plakkk! Plakkkkk!"

Melihat betapa pemuda itu merendahkan badan seperti mendekam, kemudian meloncat dan menangkis serangannya, dan hawa pukulan yang amat kuat menahan kedua pukulannya, membuat tubuhnya terdorong ke belakang seperti dilanda angin badai, Suma Lian mengeluarkan seruan kaget dan cepat ia berjungkir balik tiga kali untuk mematahkan tenaga yang mendorongnya. Dengan gerakan indah, ia sudah dapat meluncur turun kembali setelah membuat salto tiga kali sehingga ia dapat melihat betapa pemuda itu juga terdorong mundur dan nampak sedikit menggigil. Suma Lian tersenyum. Tadinya ia terkejut dan juga takut kalau-kalau ia kalah kuat, akan tetapi kini ternyata bahwa lawannya juga terdorong ke belakang, bahkan bekas kehebatan Swat-im Sin-kang masih nampak mempengaruhinya, membuatnya agak menggigil. Akan tetapi yang membuat ia tadi kaget setengah mati adalah ketika mengenal gerakan Sin Hong. Tidak salah lagi, pemuda itu tadi mengeluarkan tenaga sakti Inti Bumi, melihat dari caranya mendekam lalu meloncat ketika menangkis.

Sin Hong juga terkejut bukan main. Dia kagum sekali. Sekarang barulah dia tahu mengapa tiga orang gurunya memuji-muji ilmu dari keluarga Pulau Es. Ketika tadi dia menangkis, memang dia tidak berani mengerahkan seluruh tenaganya, akan tetapi akibatnya, dia terdorong mundur sampai terhuyung-huyung, dan tubuhnya diserang hawa panas sekali, kemudian dingin sekali sampai membuat dia menggigil. Memang dia dapat segera mengatasi hawa dingin ini dengan tenaga sin-kangnya, akan tetapi hal itu membuatnya terkejut sekali. Juga dia kagum melihat betapa gadis itu dengan indahnya dapat menyelamatkan diri dengan cara berjungkir balik sampai tiga kali dengan gaya dan gerakan indah.

Akan tetapi, sebelum hilang kaget dan kagumnya, kini dia menjadi semakin kaget melihat betapa gadis itu merendahkan tubuhnya dan tiba-tiba saja gadis itu menyerangnya lagi. Dari jarak yang agak jauh, karena gadis itu tadi berjungkir balik ke belakang sejauh tiga meter lebih, tiba-tiba gadis itu meluncur, bagaikan seekor naga menyerangnya dengan serangan dahsyat dan aneh sekali, dengan kedua tangan dibentangkan dan jari telunjuk ditudingkan, kemudian secara bertubi-tubi kedua jari telunjuk itu melakukan totokan-totokan dengan tenaga yang amat dikenalnya, karena cara gadis itu tadi mengumpulkan tenaga, jelas bahwa gadis itu menggunakan tenaga Inti Bumi! Dan serangan totokan bertubi itu mengeluarkan suara mencicit-cicit seperti benda tajam yang menyambar-nyambar! Dia tidak tahu bahwa gadis itu kini mengguhakan Ilmu Totok Coan-kut-ci (Jari Penembus Tulang) dari ayahnya, sebuah ilmu totokan yang amat ganas dan berbahaya, juga amat aneh dan sukar dihindarkan lawan.

Sin Hong merasa betapa dirinya diserang oleh banyak jari tangan yang lebih berbahaya daripada dua batang tombak, yang seolah-olah bermata dan menyerang bertubi-tubi ke arah bagian tubuhnya yang berbahaya. Dia sudah menangkis dengan kedua lengannya juga mengelak ke sana-sini, namun akhirnya dia menjadi sibuk karena sukar sekali mematahkan serangkaian serangan yang mengandung tenaga Inti Bumi itu. Dia tidak mengenal ilmu totokan yang aneh sekali gerakannya itu, yang biarpun dilakukan dengan sebuah saja jari tangan, namun amat berbahaya karena jari telunjuk itu menjadi keras bagaikan baja. Dia pernah mempelajari ilmu Toat-bengci (Jari Maut), sebuah ilmu totokan yang istimewa dari seorang di antara tiga gurunya. Gurunya itu, Tiong Khi Hwesio, dahulunya ketika masih bernama Wan Tek Hoat pernah mendapat julukan Si Jari Maut karena ilmu totoknya itu. Dibandingkan dengan Toat-beng-ci, kedua jari tangan gadis itu tidak kalah ampuhnya. Akan tetapi, teringat akan Toat-beng-ci, dia pun lalu cepat mengubah gerakannya dan kini dia pun menghadapi totokan-totokan itu dengan totokan pula!

"Tuk! Tuk!" Ketika kedua telunjuk tangan Suma Lian bertemu dengan ujung telunjuk kedua tangan Sin Hong, gadis itu berseru kaget. Pemuda itu menghadapi totokannya dengan tangkisan berupa totokan pula, dan dapat dengan tepat menotok ujung telunjuknya dengan tenaga Inti Bumi yang sama pula! Ia menjadi semakin penasaran dan marah, lalu kedua tangannya dibuka, dihantamkan ke arah lawan dengan mengerahkan tenaga sin-kang sekuatnya!

Sambaran hawa pukulan ini makin mengejutkan hati Sin Hong karena dia tahu akan kehebatannya. Tidak ada lain jalan baginya kecuali menerima hantaman itu dengan kedua tangan terbuka pula.

"Plakkk!" Kedua pasang tangan itu kini saling melekat dan keduanya terkejut sekali! Dua tenaga raksasa dari tubuh masing-masing telah bertemu dan mereka berdua berada dalam keadaan terjepit. Siapa yang lebih dulu menarik tenaganya akan celaka! Tidak ada lain jalan kecuali melanjutkan pengerahan tenaga sin-kang yang kini seolah-olah macet dalam pertemuan kedua pasang telapak tangan itu, saling dorong dalam kekuatan yang sama. Kalau Sin Hong menghendaki dia dapat menggunakan tenaga gabungan dalam dirinya, dengan Ilmu Pek-ho Sin-kun, akan tetapi dia khawatir kalau-kalau gadis itu tidak akan kuat menerimanya dan akan tewas atau setidaknya terluka parah. Karena hal itu tidak dikehendakinya, maka dia tidak mau mempergunakannya. Akan tetapi, dia pun tidak mungkin dapat menarik kembali tenaganya karena kalau hal itu terjadi, dia akan celaka. Di dalam kedua telapak tangan gadis itu terkandung tenaga sakti Inti Bumi, Hui-yang Sin-kang dan Swat-im Sin-kang. Kalau dia menarik tenaganya, satu di antara tiga tenaga sakti itu akan terus meluncur melalui telapak tangan dan menghantamnya. Dia dapat tewas atau terluka parah! Darahnya dapat menjadi beku oleh Swat-im Sin-kang, atau hangus oleh Hui-yang Sin-kang, atau semua ototnya, setidaknya jantungnya, akan remuk oleh tenaga sakti Inti Bumi!

Di lain fihak, Suma Lian juga terkejut bukan main. Ia pun mengerti bahwa keadaannya amat berbahaya. Ia tidak mungkin dapat menarik kembali tenaganya, karena kalau ia lakukan ini, ia akan dihantam tenaga dahsyat dari pemuda itu. Maka jalan satu-satunya baginya hanyalah menambah tenaganya dan mengerahkan semua tenaga yang ada. Namun, betapa ia mengerahkan tenaga, di fihak pemuda itu pun agaknya selalu menambah tenaga untuk mengimbanginya sehingga mereka berdua seperti dalam keadaan terapung, tenggelam tidak terapung pun tidak. Kalau pertandingan adu tenaga sinkang itu dilanjutkan, akhirnya mereka berdua akan kehabisan tenaga dan siapa yang lebih dahulu habis tenaganya, ialah yang akan celaka! Sebaliknya, kalau mereka menarik kembali tenaga mereka, siapa yang lebih dulu menarik kembali tenaganya, Ia akan binasa! Sungguh suatu keadaan yang amat mengerikan.

Mereka berdua saling pandang dan melihat betapa wajah gadis itu menjadi pucat, pandang matanya mulai panik, Sin Hong merasa kasihan. Dari kepala mereka sudah mengepul uap putih, tanda bahwa keduanya telah mengerahkan tenaga yang amat hebat dan di dalam tubuh mereka bergolak mendidih oleh kekuatan yang berputaran itu.

Tiba-tiba saja, Suma Lian mendengar suara berbisik dan melihat betapa bibir pemuda itu bergerak perlahan. Terdengar olehnya, sayup sampai dan lirih sekali suara pemuda itu. "Dorong dan tarik berbareng, lempar tubuh ke belakang."

Sejenak Suma Lian memandang bingung lalu ia mengerti. Memang, kalau mereka dapat melakukan hal itu dalam detik yang sama yaitu keduanya saling dorong kemudian keduanya dalam saat yang sama saling menarik tenaga kemudian melempar tubuh ke belakang, kemungkinan besar mereka akan dapat saling melepaskan diri. Memang harus tepat sekali, karena kalau tidak tepat dan dalam detik yang sama yang berbareng, seorang di antara mereka dapat celaka. Selagi gadis itu meragu walaupun ia sudah mengangguk sebagai jawaban, terdengar, lagi bisikan pemuda itu menghitung, "Satu.... dua.... tiga....!"

Seperti menurutkan naluri saja, tepat pada hitungan ketiga. Suma Lian mengerahkan tenaga sin-kangnya mendorong, lalu menarik. Hal yang sama dilakukan pula oleh Sin Hong, tepat pada waktunya sehingga tiba-tiba saja kedua pasang tangan yang tadinya saling menempel itu terlepas dan seperti didorong oleh tenaga raksasa, tubuh mereka terpental ke belakang seperti dua helai layang-layang putus talinya. Ini saja sudah berbahaya sekali karena mereka itu tadi dalam keadaan "kosong" setelah masing-masing menarik tenaga, kini terpental karena ledakan tenaga masing-masing yang tadi saling mendorong. Namun berkat ketinggian ilmu kepandaian mereka, keduanya dapat menguasai dirinya sehingga ketika tubuh mereka terpental itu, mereka dapat membuat pok-sai (salto) sampai beberapa kali dan dapat turun ke atas tanah dalam keadaan berdiri, tidak sampai terbanting keras. Wajah Suma Lian nampak pucat, akan tetapi perutnya masih panas sekali. Ia masih merasa panasaran karena merasa belum dikalahkan. Di lain saat, tubuhnya sudah meluncur ke arah Sin Hong, didahului sinar kuning emas dari sulingnya. Gadis ini telah mencabut suling emasnya dan dengan gerakan cepat sudah menyerang dengan memainkan Ilmu Pedang Koai-liong Kiam-sut (Naga Siluman) yang dimainkan dengan suling emas. Sulingnya lenyap bentuknya, berubah menjadi sinar keemasan yang bergulung-gulung dan mengeluarkan suara mengaung-ngaung tinggi rendah, dahsyat sekali!

"Aih, Nona, harap hentikan seranganmu!" Sin Hong berseru terkejut sekali. Baru saja mereka berdua terlepas dari bahaya maut, dan nona ini masih melanjutkan pertandingan itu dengan serangan yang begini hebat! Karena dia terkejut dan tidak menyangka biarpun dia sudah mengelak, tetap saja sinar suling itu masih merobek baju di pundak kirinya. Namun dia dapat menghindarkan diri dengan bergulingan dan menjauh.

"Tidak, seorang di antara kita belum kalah!" bentak Suma Lian galak dan gadis ini sudah menyerang lagi.

Terpaksa Sin Hong melawan karena dia mendapat kenyataan bahwa gadis ini yang memang amat lihai dan memiliki banyak macam ilmu silat tinggi, setelah menggunakan suling emas ternyata semakin berbahaya pula. Dan begitu tubuhnya meloncat bangun dari bergulingan tadi, dia sudah mainkan Ilmu Silat Pek-ho Sin-kun! Hanya ilmu simpanannya, inilah yang akan dapat menyelamatkan dirinya pikirnya karena kalau dia mengandalkan ilmu silatnya yang lain kiranya akan sukar menghindarkan diri dari ancaman suling emas yang amat dahsyat itu. Tubuhnya bergerak dengan lambat namun cepat, lemah namun kuat! Inilah inti dari ilmu silatnya itu, nampak kosong namun berisi. Gerakannya seperti seekor burung bangau, demikian tenang dan lambat, indah dan setiap gerak mengandung kekuatan tersembunyi yang amat hebat, kekuatan yang dapat menerbangkan tubuh seekor burung bangau itu jauh tinggi di angkasa, kelemasan yang dapat membuat seekor burung bangau mampu melawan dan mengalahkan seekor ular, kecepatan tersembunyi yang dapat membuat seekor burung bangau mampu menangkap seekor katak yang meloncat dengan cepatnya.

Tubuh Sin Hong bergerak seperti menari di antara gulungan sinar kuning emas itu, kedua lengannya kadang-kadang terpentang seperti sayap seekor burung bangau putih, lengan tangan itu demikian lemasnya, kadang-kadang lengan itu seperti leher bangau, tangannya membentuk kepala bangau yang menyampok suling dan menotok ke arah jalan darah di sekitar tubuh Suma Lian. Gadis ini kagum bukan main. Belum pernah ia menyaksikan ilmu silat seindah itu. Pernah ia mempelajari Ilmu Silat Panca Hewan, yaitu gerakan lima binatang, harimau, kijang, biruang, kera dan burung. Akan tetapi, Ilmu Silat Burung yang dipelajarinya itu berbeda dengan ilmu silat yang kini dimainkan lawannya. Dan kedua lengan lawannya itu demikian lemas dan kuat, ketika menangkis sulingnya membuat tangannya yang memegang suling tergetar. Namun, ia hanya kagum dan tidak gentar.

"Hyaaaaa....!" Ia menyerang lagi setelah memutar sulingnya yang berubah menjadi lingkaran lebar. Sinar terang mencuat ke depan ketika sulingnya menusuk ke arah ulu hati lawan. Sin Hong menyambutnya dengan tangkisan tangan kanan dari samping sambil miringkan tubuhnya. Lengan kanannya itu seperti leher burung Bangau Putih menangkis terus melibat dan tangannya yang sudah membentuk kepala bangau itu, langsung menotok ke depan, ke arah pergelangan tangan yang memegang suling, dan tangan kirinya, juga membentuk kepala burung bangau menotok ke arah pundak kiri dari arah belakang tubuh gadis itu. Kedua serangan balasan ini masih dibantu kaki kirinya yang seperti kaki bangau yang mencakar menendang ke arah bagian sisi luar dari lutut kanan Suma Lian.

Gadis itu terkejut bukan main. Gerakan lawan demikian otomatis dan cepat walaupun nampak lambat dan tenang sekali. Ia tidak tahu bahwa itulah jurus Bangau Mencuci Sayap dari Ilmu Pek-ho Sin-kun yang amat sakti dari lawannya. Ia cepat menarik kembali sulingnya, diputar menangkis totokan pada pundaknya dan untuk menghindarkan diri dari tendangan itu ia terpaksa meloncat jauh ke belakang dalam keadaan terhuyung! Tenaga yang dipergunakan Sin Hong adalah tenaga gabungan dari tiga orang gurunya, maka tentu saja pertemuan tenaga itu, walaupun bukan merupakan benturan langsung, membuat Suma Lian terhuyung.

Tiba-tiba terdengar teriakan Yo Han, "Enci Suma Lian, tadi Suhu telah menyelamatkan nyawa Enci, kenapa sekarang Enci menyerangnya mati-matian? Begitukah cara Enci membalas budi kebaikan orang?"

Anak ini sejak tadi memang diam saja untuk menyaksikan pertandingan antara gurunya dan gadis yang oleh ibunya dikatakan amat lihai itu. Akan tetapi dia menjadi pening ketika menonton pertandingan itu, tidak tahu siapa kalah siapa menang atau siapa yang lebih unggul di antara mereka. Gerakan mereka berdua itu terlalu cepat bagi matanya yang tidak terlatih. Hanya ketika dia melihat Suma Lian mempergunakan senjata suling emas yang mengeluarkan sinar menyilaukan itu, sedangkan gurunya tidak mempergunakan senjata, hatinya merasa khawatir kalau-kalau gurunya sampai celaka. Maka kini dia mengeluarkan seruan itu.

Tentu saja Suma Lian yang sudah siap untuk menyerang lagi, menjadi heran mendengar ucapan dari anak itu. Ia menahan dirinya, dan menoleh kepada Yo Han. Napasnya agak memburu dan baru terasa olehnya betapa lelah tubuhnya dan pakaiannya telah basah oleh keringat.

"Yo Han, apa artinya ucapanmu itu?" tanyanya dengan alis berkerut karena ia tidak pernah merasa diselamatkan nyawanya oleh Tan Sin Hong.

"Enci, ketika Enci tadi terjatuh ke dalam sumur, iblis betina itu menggelindingkan sebuah batu besar ke dalam sumur untuk membunuhmu. Ibu tidak berdaya mencegah dan ibu sudah pucat sekali, akan tetapi pada saat batu hendak menggelinding ke dalam sumur, tiba-tiba muncul suhu Tan Sin Hong yang memukul dan mendorong batu sehingga tidak sampai jatuh ke dalam sumur dan menimpa Enci yang masih berada di dalam sumur itu."

Tentu saja Suma Lian terkejut bukan main mendengar keterangan Yo Han itu dan ia cepat menoleh, memandang kepada Sin Hong dengan sepasang mata tajam menyelidik, juga mengandung rasa heran. "Benarkah itu? Kenapa engkau diam saja dan tidak menceritakan hal itu ketika aku menyerangmu?"

Sin Hong tersenyum dan menggeleng kepalanya perlahan. "Nona, hal yang sekecil itu tidak perlu disebut lagi. Bukankah sudah menjadi kewajiban kita masing-masing untuk mencegah terjadinya kejahatan, menentang kejahatan dan membela kebenaran dan keadilan?"

"Wah, sungguh aku harus malu sekali! Engkau telah menolongku menghindarkan aku dari kematian mengerikan dalam sumur itu, dan aku masih bersikap buruk, menantangmu, dan engkau masih juga menyebut aku nona! Aih, Toako (Kakak Tua), jangan membuat aku menjadi semakin malu dan berdosa. Maafkan aku, Toako!" katanya tersenyum dan ia pun menjura dengan membungkukkan tubuhnya sampai dalam sekali.

Sin Hong memandang dengan wajah berseri dan dia pun tersenyum geli. Nona ini sungguh gagah perkasa, lincah polos dan juga ugal-ugalan. Melihat sikap Suma Lian, lenyaplah sudah semua rasa penasaran karena gadis ini tadi menyerangnya mati-matian. Memang gadis ini berwatak aneh, akan tetapi harus diakuinya bahwa ia memiliki kegagahan yang luar biasa, juga demikian ringannya mulut yang manis itu mengakui kesalahannya dan minta maaf. Sikap mau mengakui kesalahan dan maaf inilah yang amat mengagumkan hati Sin Hong karena pemuda ini maklum bahwa sikap demikian hanya dimiliki oleh orang-orang yang berjiwa pendekar gagah perkasa dan bijaksana, dan merupakan sifat yang amat sukar dilakukan oleh kebanyakan orang. Dia pun cepat membalas penghormatan itu dengan bersoja dan membungkukkan tubuhnya."

"Sudahlah, Nona. Semua kesalah pahaman itu mungkin saja terjadi karena Nona belum mengenalku."

"Ah, Toako. Engkau masih saja menyebutku nona-nona! Padahal, engkau yang memiliki tenaga sakti Inti Bumi, jelas masih mempunyai hubungan dengan aku, kenapa masih mempergunakan tata cara sungkan-sungkan! Kalau engkau tidak mau menyebut adik kepadaku itu berarti bahwa engkau tidak mau berkenalan denganku dan kuhabisi saja pertemuan kita sampai di sini saja!"

Tentu saja Sin Hong terkejut. Gadis ini sungguh aneh sekali, hatinya keras dan agaknya ia tidak mau mengalah dalam hal apa pun juga! Maka sambil tersenyum dia pun cepat berkata, "Baiklah, Non.... eh, adik Suma Lian yang baik. Maafkan aku karena sesungguhnya aku merasa kurang pantas kalau aku berkakak adik dengan seorang seperti engkau, keturunan keluarga Pulau Es yang gagah perkasa."

Wajah yang cemberut itu kini sudah tersenyum kembali, matanya bersinar-sinar dan lesung pipit yang manis muncul kembali di kanan kiri mulutnya. "Uh, Hong-ko (kakak Hong) engkau hendak mengejekku, ya? Siapa tidak tahu bahwa engkau memiliki ilmu kepandaian yang luar biasa sekali. Baru sekarang aku bertemu tanding yang demikian lihai, dan aku sungguh mengaku kalah!"

"Ah, jangan merendahkan diri, Lian-moi (adik Lian)! Kepandaianmulah yang hebat bukan main. Aku sudah lama mendengar akan kehebatan ilmu-ilmu dari keluarga Pulau Es dan baru hari ini aku beruntung sekali merasakan semua kehebatan itu. Akan tetapi yang membuat aku bingung, bagaimana engkau mahir pula menggunakan tenaga sakti Inti Bumi?"

"Marilah kita duduk dan bicara, Hong-ko. Hei, Yo Han, mari duduk di sini engkau. Kenapa berdiri bengong saja di situ?" teriak Suma Lian sambil menggapai kepada anak itu yang sejak tadi berdiri di pinggir. Mendengar panggilan ini, Yo Han lari menghampiri.

"Enci, bagaimana pendapatmu dengan ilmu kesaktian suhuku? Siapakah yang lebih unggul antara Enci dan Suhu tadi?" tanyanya sambil duduk di atas rumput, dekat Suma Lian.

"Tentu saja gurumu yang lebih lihai," kata Suma Lian tersenyum.

"Yo Han, duduk saja di situ dan tutup mulut, jangan bicara kalau tidak ditanya!" Sin Hong berkata dengan tegas.

"Baik, Suhu" jawab Yo Han, tegas pula walaupun sepasang mata anak itu bersinar-sinar penuh kegembiraan. Agaknya Yo Han sudah mengenal betul watak gurunya yang lemah lembut dan tahu bahwa kegalakan tadi dibuat-buat saja.

Mereka duduk berhadapan, dan Yo Han duduk agak mundur. Setelah beberapa lamanya saling pandang, Suma Lian berkata, "Hong-ko, agaknya engkau sudah tahu bahwa aku adalah keturunan keluarga Pulau Es tentu engkau mendengar dari percakapan ketika aku menghadapi orang-orang sesat tadi. Akan tetapi aku sendiri belum tahu siapakah engkau sebenarnya."

"Namaku Tan Sin Hong."

"Itu aku sudah tahu. Akan tetapi, siapakah gurumu, Hong-ko? Aku yakin bahwa ada hubungan antara perguruan kita karena kita berdua sama-sama menguasai tenaga Sakti Inti Bumi, walaupun ilmu-ilmu silatmu aneh dan banyak yang tidak kukenal."

Sin Hong mengerutkan alisnya. Selama ini, belum pernah dia menceritakan kepada orang lain tentang guru-gurunya tentu saja kecuali kepada keluarga suhengnya, Kao Cin Liong sebagai putera tunggal suami Isteri penghuni Istana Gurun Pasir. Akan tetapi, dia pun sering mendengar dari para gurunya bahwa keluarga Pulau Es tidak boleh dianggap sebagai "orang luar" karena ada hubungan erat sekali antara keluarga Istana Gurun Pasir dan Pulau Es. Dia tahu bahwa gadis yang wataknya aneh ini akan tersinggung dan marah kembali kalau dia tidak mau mengaku siapa guru-gurunya. Kiranya tidak ada salahnya kalau dia mengaku kepada seorang gadis she Suma, keturunan aseli dari Pulau Es.

"Terus terang saja, Lian-moi, tidak pernah aku memperkenalkan nama guru-guruku kepada orang lain. Akan tetapi karena para guruku mengenal baik keluarga Pulau Es, bahkan mempunyai hubungan dekat, dan mengingat pula bahwa antara kita sudah terjadi tali persahabatan yang akrab, maka biarlah aku mengaku kepadamu. Aku mempunyai tiga orang guru, mereka adalah mendiang suami isteri penghuni Istana Gurun Pasir...."

"Ahhh! Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir?" Suma Lian berseru, hampir berteriak.

"Benar, dan yang seorang adalah suhu Tiong Khi Hwesio. Mereka bertiga berada di Gurun Pasir dan aku menjadi murid para guruku itu selama tujuh tahun di sana."

"Aihhhhh....! Pantas saja engkau demikian lihai! Tapi.... tapi.... engkau tadi berkata mendiang? Apakah.... apakah mereka itu sudah...."

"Mereka sudah meninggal dunia, Lian-moi, tewas ketika belasan orang tokoh sesat menyerbu ke Istana Gurun Pasir. Dan ketahuilah bahwa para penyerbu itu bukan lain adalah Sin-kiam Mo-li tadi bersama kawan-kawannya yang lihai."

"Iblis betina tadi?" Suma Lian berseru kaget dan matanya terbelalak. "Tapi.... bagaimana mungkin iblis betina itu dan kawan-kawannya mampu menewaskan mereka yang sakti? Padahal di sana ada engkau pula, Hong-ko?" Suma Lian bertanya dengan nada suara mengandung penasaran. Ia tahu bahwa Sin-kiam Mo-li lihai, akan tetapi ia sendiri mampu menandingi iblis betina itu bahkan Sin Hong sendiri jauh lebih lihai dari Sin-kiam Mo-li. Bagaimana mungkin iblis betina itu bersama kawan-kawannya mampu menewaskan Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir dan isterinya, juga Tiong Khi Hwesio yang pernah didengarnya pula dari ayah ibunya sebagai seorang yang amat lihai?

Sin Hong menarik napas panjang, "Agaknya Tuhan telah menakdirkan bahwa tiga orang guruku itu harus gugur dan tewas sebagai orang-orang yang gagah perkasa. Kurang lebih dua tahun yang lalu terjadinya. Tiga orang guruku adalah orang-orang sakti, akan tetapi usia mereka pun sudah amat lanjut rata-rata delapan puluh tahun, bahkan suhu Kao Kok Cu, Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir, sudah berusia delapan puluh lima tahun. Adapun yang datang menyerbu, bukan orang-orang sembarangan, banyak yang lebih lihai dari Sin-kiam Mo-li. Mereka adalah tokoh-tokoh besar dari Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-kauw semua berjumlah tujuh belas orang. Tiga orang guruku tewas akan tetapi dari tujuh belas orang penyerbu itu empat belas orang tewas pula, sedangkan yang masih hidup namun terluka parah adalah Sin-kiam Mo-li, Thian Kong Cinjin wakil ketua Pat-kwa-kauw, Thian Kek Sengjin, tokoh besar Pek-lian-kauw."

"Akan tetapi engkau sendiri     bukankah engkau berada di sana, Hong-ko dan bagaimana gurumu tewas?" Suma Lian memandang dengan alis berkerut agaknya merasa heran dan menyesal mengapa pemuda ini tidak dapat membela gurugurunya.

Sin Hong menarik napas panjang, jantungnya terasa nyeri seperti ditusuk setiap kali dia teringat akan peristiwa itu. "Sudah kukatakan tadi Lian-moi, agaknya Tuhan sudah menghendaki demikian dan menakdirkan tiga orang guruku itu sudah tiba saatnya meninggal dunia. Pada waktu itu, aku tidak berdaya. Tiga orang guruku itu mengajarkan sebuah ilmu gabungan ciptaan mereka bertiga dan mengoperkan gabungan tenaga sakti kepada diriku. Ilmu itu harus kupelajari selama satu tahun, dengan syarat bahwa selama setahun itu aku sama sekali tidak boleh melakukan gerakan silat apalagi mengerahkan sinkang karena kalau hal ini kulakukan.... aku akan tewas dengan sendirinya, terpukul sendiri oleh tenaga yang kukerahkan itu. Nah bayangkan saja, Lian-moi. Aku tidak dapat bergerak, terpaksa melihat tiga orang guruku tewas di tangan mereka, dan aku sendiri tertawan tiga orang yang masih tersisa itu. Mereka mengira aku seorang kacung yang tidak memiliki ilmu silat, mereka memaksaku untuk menunjukkan di mana adanya pusaka-pusaka istana tua itu. Karena memang tidak ada pusaka, mereka menyiksaku. Aku membakar istana tua itu berikut jenazah tiga orang guruku, dan aku disuruh menguburkan jenazah empat belas orang penyerbu yang tewas. Untung bagiku pada malam harinya, aku berhasil melarikan diri dan sembunyi di dalam hutan selama satu tahun untuk menyelesaikan latihanku."

Suma Lian mendengarkan dan kini senyumnya timbul kembali. Kiranya pemuda ini bukan seorang pengecut, melainkan karena terpaksa maka tidak mampu membela guru-gurunya.

"Tapi kenapa Sin-kiam Mo-li tadi tidak heran melihat engkau muncul sebagai seorang yang berilmu tinggi, Hongko?"

"Semenjak aku keluar dari dalam hutan sudah pernah aku bertemu dengan Sin-kiam Mo-li, yaitu ketika ia hendak membunuh ketua Cin-sa-pang. Aku menyelamatkan ketua itu dan sejak itu Sin-kiam Mo-li sudah tahu bahwa aku mewarisi ilmu dari para guruku."

"Akan tetapi, Hong-ko, sungguh aku tidak mengerti. Engkau telah bertemu dengan seorang di antara para pembunuh guru-gurumu, yaitu Sin-kiam Mo-li. Kenapa engkau tidak membalas dendam dan membunuh iblis betina itu?"

Sin Hong tersenyum dan menggeleng kepalanya. "Ketahuilah Lian-moi, guru-guruku pernah memesan dengan amat sangat kepadaku agar jangan membiarkan dendam meracuni hatiku. Kalau aku menentang Sin-kiam Mo-li, yang kutentang adalah perbuatannya yang jahat, bukan karena dendamku kepada pribadinya, karena kematian guru-guruku."

Suma Lian mengerutkan alisnya. Pernah ia mendengar ayahnya juga berpendapat demikian, namun ia sendiri tidak pernah dapat menerima dan menyetujui pendapat itu. "Sudahlah, sekarang ceritakan, siapa keluargamu, Hong-ko, dan bagaimana engkau sampai dapat menjadi murid para penghuni Istana Gurun Pasir."

Terpaksa Sin Hong menceritakan riwayatnya, betapa keluarga ayahnya menjadi hancur karena perbuatan jahat musuh yang sampai kini belum diketahuinya benar siapa orangnya. Betapa ayahnya dibunuh orang, ibunya tewas di gurun pasir, dan dia sendiri tertolong oleh para penghuni Istana Gurun Pasir sehingga menjadi murid mereka. Betapa kemudian dia menyelidiki pembunuh ayahnya sampai sekarang, belum juga berhasil.

"Hemmm, kalau begitu engkau menaruh dendam dan hendak membalas kematian ayahmu?" Suma Lian memancing.

Pemuda itu menggeleng kepalanya. "Sama sekali tidak, Lian-moi. Aku hanya mencari pemecahan rahasia itu, ingin aku mengetahui siapa pembunuh ayahku dan mengapa pula ayah dibunuh sehingga ibu pun tewas dalam keadaan sengsara. Kalau pembunuh itu memang jahat, tentu saja akan kutentang seperti aku menentang para penjahat lainnya, siapa dan di mana pun juga. Menurut hasil penyelidikanku, rahasianya agaknya terletak pada perkumpulan Tiat-liong-pang dan aku sedang hendak pergi ke sana."

Suma Lian mengangguk-angguk. "Dan ilmu sin-kang Inti Bumi itu, kau pelajari dari siapa?"

"Dari suhu Tiong Khi Hwesio."

"Ahhh! Menurut cerita ayahku, Tiong Khi Hwesio dahulunya bernama Wan Tek Hoat, berjuluk Si Jari Maut, seorang pendekar yang lihai sekali."

"Benar, dan menurut mendiang Tiong Khi Hwesio guruku itu, sinkang Inti Bumi berasal dari para penghuni Pulau Neraka. Bagaimana engkau sendiri yang menjadi keturunan keluarga Pulau Es, dapat menguasai sinkang itu, Lian-moi?"

"Aku     biarpun aku cucu buyut Pendekar Super Sakti dari Pulau Es, dan ayahku merupakan keturunan langsung, namun aku pernah menjadi murid paman kakekku sendiri yang berjuluk Bu Beng Lokai dan sekarang telah meninggal dunia. Dari dialah aku mempelajari sin-kang itu, kemudian tentu saja aku memperdalam ilmu-ilmu dari keluarga Pulau Es, dari ayah dan juga ilmu mempergunakan suling emas ini dari ibuku."

Sin Hong memandang kagum. "Ah, tidak heran kalau engkau begitu lihai, Lian-moi. Kiranya engkau telah mempelajari banyak ilmu silat tinggi di samping ilmu-ilmu dari keluarga Pulau Es."

"Sudahlah, Toako, tak perlu memuji lagi. Sudah jelas bahwa dalam hal ilmu silat, bagaimanapun juga aku masih kalah olehmu. Sekarang, engkau hendak pergi ke mana? Aku sendiri akan pergi ke lereng Gunung Tapa-san, menemui seorang paman tua menyampaikan pesan ayahku. Dan engkau?"

"Seperti kuceritakan tadi penyelidikanku membawaku ke sini dan aku akan pergi mengunjungi Tiat-liong-pang, melanjutkan penyelidikanku karena sebelum mati, orang she Lay itu menyebut Tiat-liong-pang, dan menurut penyelidikanku, perkumpulan itu bersarang di luar kota Sang-cia-kou, di lereng sebuah bukit."

"Sang-cia-kou di selatan? Kalau begitu dapat lewat Tapa-san. Bagaimana kalau kita melakukan perjalanan bersama saja, Hong-ko?"

Sin Hong tersenyum gembira. Gadis ini demikian lincah dan ternyata ramah dan manis sekali kalau tidak marah, dan tentu perjalanan akan menjadi menyenangkan dan tidak sepi kalau dilakukan bersama Suma Lian. "Baiklah, Lian-moi. Hanya ada satu hal yang membuat aku agak bingung, yaitu anak ini. Aku masih memiliki banyak tugas yang harus kuselesaikan, banyak menempuh perjalanan jauh dan sukar, bnhkan mungkin bertemu lawan yang jahat dan tangguh. Bagaimana aku akan dapat leluasa bergerak kalau harus menjaga dia?"

"Akan tetapi dia muridmu dan ibunya sudah menyerahkan kepadamu, Hong-ko. Engkau pun sudah menerimanya!" kata Suma Lian dan ia pun tersenyum lebar karena ia merasa gembira bahwa bukan ia yang menerima beban berat itu! Kalau ia yang menerima Yo Han dari ibunya, tentu ia akan menjadi lebih bingung dibandingkan Sin Hong.

 "Benar, dan terus terang saja, biarpun aku belum mempunyai niat mengambil murid, merasa masih terlalu muda, bahkan tidak mempunyai tempat tinggal tetap, aku suka melihatnya. Akan tetapi, kalau sekarang dia terus mengikuti aku, bagaimana aku akan dapat berhasil melaksanakan tugasku?"

"Suhu, harap Suhu tidak khawatir!" Tiba-tiba Yo Han berkata dengan penuh semangat, "Suhu tidak perlu mempedulikan teecu, tidak perlu menjaga teecu, karena teecu dapat menjaga diri sendiri."

Mendengar ucapan itu, Sin Hong dan Suma Lian saling pandang dan keduanya tersenyum, ada rasa kagum membayang pada wajah mereka. Anak itu memang luar biasa. Sedikit pun tidak pernah belajar silat akan tetapi memiliki keberanian dan semangat yang hebat, bahkan sedikit pun tidak gentar menghadapi ancaman maut di tangan Sin-kiam Mo-li. Sungguh sukar dicari keduanya anak dengan nyali seperti ini, nyali seorang calon pendekar sejati.

"Ah, aku mempunyai jalan keluar yang amat baik!" tiba-tiba Suma Lian berkata. Sin Hong memandang kepadanya dengan penuh harapan.

"Ketahuilah, Hong-ko. Paman tua yang akan kukunjungi itu adalah saudara sepupu ayahku, dia bernama Suma Ciang Bun, keturunan langsung pula dari keluarga Pulau Es. Pek-hu (Uwa) Suma Ciang Bun itu hidup seorang diri, hanya berdua dengan muridnya yang sering kali pergi merantau. Dan dia pun tidak berkeluarga, bahkan kini ayah menyuruh aku pergi mengunjunginya dan menyampaikan ajakan ayahku agar pek-hu suka tinggal bersama ayah dan ibu, agar hidupnya di hari tua tidak kesepian. Nah, bagaimana kalau engkau titipkan Yo Han kepadanya lebih dulu selama engkau melaksanakan tugasmu? Aku yang akan bicara dan setelah melihat Yo Han aku yakin pek-hu akan suka pula menerimanya."

Wajah Sin Hong berseri. "Ah, itu merupakan jalan keluar yang baik sekali!" Tiba-tiba wajahnya berubah. "Akan tetapi, bagaimana aku berani mengganggu locianpwe itu?" Dia lalu menoleh kepada Yo Han dan berkata, "Dan bukankah itu berarti aku melepaskan pula tanggung jawabku setelah menerima anak ini dari ibunya?"

"Urusan pek-hu akulah yang akan bicara, Hong-ko. Dan kalau pek-hu mau menerimanya, kurasa bukan berarti engkau melepas tanggung jawab, karena bukankah maksud bibi Bi-kwi hanya agar engkau membawa pergi Yo Han dan anak ini dihindarkan dari gangguan Sin-kiam Mo-li?"

Akan tetapi Sin Hong masih meragu, memandang kepada Yo Han dengan bingung. Melihat ini, Yo Han segera berkata, "Suhu, teecu mengerti bahwa kalau teecu ikut dengan Suhu sekarang, teecu akan menjadi beban dan Suhu akan merasa terhalang dan terganggu. Karena itu, teecu akan mentaati semua perintah Suhu, disuruh tinggal di manapun teecu menurut, asal Suhu tidak melupakan teecu dan kelak pada waktunya Suhu datang menjemput teecu."

Mendengar ini, Suma Lian bertepuk tangan memuji. "Murid yang bagus sekali, ah engkau beruntung mempunyai seorang murid seperti dia, Hong-ko!"

Mau tidak mau Sin Hong tersenyum. Bagaimanapun juga, dia memang suka dan kagum kepada Yo Han. "Kalau begitu, baiklah dan sebelumnya kuhaturkan terima kasih atas bantuanmu, Lian-moi."

Mereka bertiga lalu melanjutkan perjalanan, menuju ke Tapa-san dan di sepanjang perjalanan Sin Hong merasa gembira selalu karena Suma Lian memang merupakan seorang gadis yang lincah jenaka, sedangkan Yo Han juga merupakan seorang anak yang menyenangkan dan murid yang taat dan cekatan. Setiap kali mereka berhenti di hutan dan terpaksa bermalam di tempat terbuka, tanpa diperintah lagi anak itu mencari kayu bakar, atau air dan sebagainya. Juga Yo Han pandai membawa diri, pendiam tak pernah bicara kalau tidak ditanya, wajahnya selalu cerah walaupun kadang-kadang, terutama sekali di waktu malam kalau dia sedang duduk menghadapi api unggun, anak itu seringkali termenung. Sin Hong dan Suma Lian dapat menduga bahwa tentu anak itu teringat dan rindu kepada ayah bundanya. Namun, tak pernah anak itu mau mengatakan hal ini dan dengan keras hati menyembunyikan kesedihannya itu di balik dagu yang mengeras dan mata yang bersinar-sinar.

***

Kita tinggalkan dulu perjalanan Sin Hong, Suma Lian dan Yo Han yang menuju ke Pegunungan Tapa-san itu, dan mari kita mengikuti keadaan Pouw Li Sian yang telah berada di sarang Tiat-liong-pang. Seperti telah diceritakan di bagian depan, gadis ini berkunjung ke Tiat-liong-pang karena ketuanya yaitu Siangkoan Lohan (Kakek Gagah Siangkoan) atau bernama Siangkoan Tek, dahulu adalah sahabat dari mendiang ayahnya, Menteri Pouw Tong Ki. Bahkan pernah satu dua kali ia diajak ayahnya berkunjung ke Tiat-liong-pang sehingga ia sudah mengenal Siangkoan Lohan dan puteranya, Siangkoan Liong. Ia berkunjung untuk bertanya tentang seorang kakaknya, satu-satunya anggauta keluarganya yang kabarnya masih hidup, yaitu Pouw Ciang Hin, yang menurut hasil penyelidikannya, kini menjadi seorang perwira pasukan kerajaan yang bertugas jaga di perbatasan utara dekat Tembok Besar.

Munculnya gadis itu di Tiat-liong-pang, sempat menggemparkan karena ketika Sin-kiam Mo-li yang mencurigainya menyuruh anak buahnya untuk menangkap, Pouw Li Sian menunjukkan bahwa ia adalah seorang gadis yang amat lihai, Sin-kiam Mo-li sendiri tidak mampu mengalahkannya! Siangkoan Lohan segera menerimanya dengan ramah dan baik ketika mendengar pengakuan Li Sian bahwa gadis yang cantik dan lihai ini bukan lain adalah puteri sahabatnya, Pouw Tai-jin. Gadis ini diterima dan disambut dengan gembira, dan ketika bertemu dengan Siangkoan Liong yang pernah dikenalnya ketika mereka masih kecil, di antara mereka berdua segera terjalin suatu keakraban.

Pouw Li Sian adalah seorang gadis yang biarpun telah mempegoleh pendidikan ilmu silat tinggi sehingga membuatnya menjadi seorang gadis yang amat lihai, namun ia masih hijau dalam pengalaman. Ia baru saja meninggalkan perguruan dan pengetahuan umumnya masih dangkal, walaupun ia bukan seorang gadis bodoh. Oleh karena itu, ketika ia tinggal di sarang Tiat-liong-pang, ia tidak menaruh curiga sedikit pun. Akan tetapi, bagaimanapun juga, ia merasa heran ketika diperkenalkan dengan para tokoh sesat yang bersekutu dengan Tiat-liong-pang, karena banyak di antara mereka yang sikapnya kasar, bahkan menjemukan hatinya karena mereka itu jelas-jelas memperlihatkan pandang mata yang kurang ajar dan tidak sopan.

Perasaan penasaran yang terkandung di dalam hatinya melihat orang-orang kang-ouw yang kasar itu berada di situ dan agaknya menjadi pembantu atau tamu dari Tiat-liong-pang, mendorong Li Sian untuk membicarakannya dengan Siangkoan Liong yang telah dipercayainya. Setelah beberapa hari tinggal di situ dan melihat betapa Tiat-liong-pang melatih para anggautanya untuk bermain perang-perangan, seolah-olah perkumpulan itu mempersiapkan diri untuk berperang, ia pun pada suatu senja bercakap-cakap tentang semua itu dengan Siangkoan Liong dalam sebuah taman. Mereka duduk berhadapan di atas bangku kayu sederhana di dekat kolam ikan buatan yang membuat tempat itu terasa nyaman dan sejuk segar. Baik gadis itu maupun Siangkoan Liong, baru saja mandi dan berganti pakaian bersih sehingga keduanya merasa segar pula.

Biarpun Li Sian baru tinggal belasan hari di tempat itu, namun pergaulannya dengan Siangkoan Liong telah cukup akrab karena pemuda itu memang pandai membawa diri, selalu sopan dan ramah. Siangkoan Liong adalah seorang yang amat cerdik, bagaikan seekor harimau yang mengenakan bulu domba, sedikit pun tidak nampak wataknya yang mata keranjang dan siap menerkam ketika melihat Li Sian yang cantik. Bahkan Li Sian merasa amat tertarik kepada pemuda yang memang tampan dan gagah ini.

Setelah mereka duduk saling berhadapan keduanya saling pandang. Seperti biasa Siangkoan Liong duduk dengan tenang dan sikapnya pendiam, halus dan lembut. Wajahnya yang tampan itu terpelihara dengan cermat, rambutnya hitam licin disisir rapi, dan tercium keharuman dari pakaian dan rambutnya. Pakaiannya pun selalu rapi dan setiap hari berganti pakaian baru. Dilihat sepintas lalu saja, Siangkoan Liong tidak menunjukkan bahwa dia seorang pemuda yang amat lihai ilmu silatnya, lebih pantas dia menjadi seorang kongcu (tuan muda) bangsawan yang hartawan dan terpelajar tinggi.

Pemuda itu pun memandang Li Sian dengan sinar mata penuh kagum. Gadis ini nampak manis sekali, terutama tahi lalat di dagunya, menjadi penambah dalam kecantikannya. Biarpun bukan pesolek, namun Li Sian pandai berdandan, pakaiannya yang sederhana nampak rapi, juga rambutnya digelung dengan indahnya, ada sedikit anak rambut terjuntai di dahinya, lembut sekali. Sikapnya halus dan lembut namun anggun, seperti puteri bangsawan sejati, gerak-geriknya halus namun di balik kehalusan itu nampak jelas oleh mata Siangkoan Liong yang terlatih bahwa di situ tersembunyi kekuatan dahsyat.

Dia semakin kagum. Tak disangkanya bahwa dalam diri seorang gadis yang begini cantik dan halus, terdapat kepandaian silat yang tinggi, lebih tinggi tingkatnya daripada Sin-kiam Mo-li! Dia kagum dan makin bulat tekadnya untuk menundukkan gadis ini, untuk memilikinya agar dapat dibanggakannya. Bukan sekedar dijadikan permainannya, sebagai sumber kesenangan jasmani saja. Tidak, dia ingin mempersunting Li Sian menjadi isterinya karena agaknya hanya gadis yang berdarah bangsawan ini sajalah yang patut untuk mendampinginya kalau kelak dia menjadi seorang kaisar!

Setelah sekian lamanya saling pandang, baru terasalah oleh Li Sian ketidakwajaran itu, betapa sepasang mata pemuda itu memandangnya tidak seperti biasa, akan tetapi penuh dengan kekaguman dan daya tarik. Tiba-tiba ia merasa mukanya panas dan gadis itu pun menundukkan mukanya. "Eh, Twako, kenapa sejak tadi memandang saja padaku tanpa bicara?" tegurnya.

Siangkoan Liong tersenyum dan nampak seperti baru sadar dari mimpi. Dia cepat bangkit berdiri dan memberi hormat dengan bersoja dan membungkukkan tubuhnya sampai dalam. "Ah, maafkan aku, Sian-moi. Tanpa kusadari aku telah terpesona.... maaf, bukan maksudku untuk merayu, akan tetapi sore hari ini engkau sungguh nampak begini cantik jelita seperti bidadari, membuat aku terpesona tadi...."

Menghadapi ucapan dengan sikap yang demikian sopan, bagaimana Li Sian dapat merasa tidak senang oleh pujian itu? Pujian yang terdengarnya demikian sopan, disertai maaf, bukan sekedar rayuan kasar. Ia pun tersenyum dan mukanya menjadi semakin merah, sampai ke lehernya. Ia melempar kerling malu-malu dan berkata, "Aih, Toako, harap jangan bicara seperti itu, membuat aku merasa malu saja. Kalau kaulanjutkan pujian-pujianmu itu, aku akan segera pergi ke dalam kamarku dan tidak mau bicara padamu sore ini."

"Maaf, maaf....! Aku tidak bermaksud membuat hatimu tersinggung, Sian-moi. Maafkan aku dan aku berjanji tidak akan mengulangi lagi."

Li Sian tersenyum. "Sudahlah, Toako, engkau tidak bersalah apa-apa, tidak perlu minta maaf. Aku sengaja ingin bicara denganmu sore hari ini, karena ada beberapa hal yang selama ini menjadi pertanyaan dalam hatiku dan menimbulkan rasa penasaran."

Siangkoan Liong memperlihatkan sikap serius ketika dia memandang wajah gadis itu penuh perhatian. "Persoalan apakah yang membuatmu penasaran, Sian-moi? Tanyakanlah, tidak ada rahasia bagimu di sini."

"Begini, Toako. Pertama, begitu tiba di sini, aku bertemu dengan tokoh-tokoh kang-ouw yang melihat sikap mereka agaknya bukanlah manusia baik-baik, melainkan lebih pantas kalau menjadi tokoh-tokoh kaum sesat dari dunia hitam! Seperti Sin-kiam Mo-li itu, selain julukannya saja sudah jelas menunjukkan bahwa ia seorang iblis betina, juga sikapnya demikian menyeramkan, seperti menyembunyikan sesuatu dan pandang matanya kadang-kadang begitu kejam dan buas. Dan Toat-beng Kiam-ong itu, hih, pandang matanya padaku membuat aku bergidik dan hampir saja aku ingin menyerangnya ketika pada suatu kali dia memandang dan tersenyum kepadaku. Juga para pendeta Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-kauw itu, agaknya mereka pun bukan orang baik-baik. Toako, benarkah dugaanku bahwa mereka adalah tokoh-tokoh sesat dan kalau benar demikian, kenapa Tiat-long-pang menerima orang-orang seperti itu di sini?" Pertanyaan ini diajukan Li Sian dengan pandang mata tajam penuh selidik ditujukan kepada wajah pemuda itu.

Siangkoan Liong tetap tersenyum tenang, bahkan lalu berkata, "Selain itu, adakah lagi hal lain yang mendatangkan perasaan heran dan penasaran di dalam hatimu, Sian-moi? Kalau ada, ajukanlah pertanyaan itu agar sekalian kujawab, karena memang terdapat banyak hal yang belum kauketahui dan agaknya perlu kujelaskan kesemuanya itu kepadamu."

"Ada satu lagi, Toako. Aku melihat betapa para anggauta Tiat-liong-pang dilatih perang-perangan seolah-olah mereka itu menghadapi suatu pertempuran atau perang. Apakah artinya semua itu? Apakah ada bahaya yang mengancam Tiat-liong-pang?"

Pemuda itu tertawa, lalu berkata dengan suara sungguh-sungguh. "Sian-moi, sebelum aku menjawab pertanyaanmu itu, menjelaskan hal-hal yang terjadi di sini dan menimbulkan keheranan dalam hatimu, ingin aku bertanya, ingatkah engkau akan peristiwa yang menimpa keluarga orang tuamu, beberapa tahun yang lalu ketika engkau masih kecil, peristiwa yang mengakibatkan hancurnya keluarga orang tuamu?"

Li Sian mengerutkan alisnya dan mengangguk. "Karena sebagai seorang menteri ayah berani menentang Thaikam Hou Seng yang berkuasa. Menurut penjelasan mendiang guruku, kaki tangan Hou Seng itulah yang membunuh ayah ibu dan kemudian ayah difitnah sehingga sisa keluargaku ditangkap sebagai pemberontak. Semua kakakku tewas kecuali kakak Pouw Ciang Hin yang kabarnya kini menjadi perwira...."

Pemuda itu mengangguk-angguk, "Jelaslah bahwa keluargamu hancur karena kelaliman kaisar! Kaisar yang menjadi permainan para thaikam dan para menteri yang jahat dan korup. Ingat, Sian-moi, biarpun menjadi menteri, akan tetapi ayahmu bukanlah seorang Mancu aseli, melainkan peranakan dan darahmu lebih banyak darah Han daripada darah Mancu."

Gadis itu terbelalak. "Maksudmu bagaimanakah Toako, dengan menyinggung soal keturunan dan darah?"

"Maaf, Sian-moi. Kita adalah orang-orang Han, dan engkau tentu tahu bahwa pemerintah sekarang ini adalah pemerintah penjajah bangsa Mancu yang menjajah tanah air kita, memperbudak bangsa kita!" Ucapan ini penuh semangat dan gadis itu memandang dengan penuh perhatian.

"Lalu, bagaimana?" tanyanya, ingin tahu karena ia belum dapat menduga ke arah mana percakapan itu.

"Nah, karena itulah Tiat-liong-pang, menganggap sudah tiba saatnya untuk menentang pemerintahan penjajah, menumbangkan kekuasaan bangsa Mancu!"

"Kau maksudkan     memberontak?" Li Sian membelalakkan matanya, tidak menyangka sama sekali bahwa Tiat-liong-pang bermaksud memberontak.

Pemuda itu mengangguk. "Memberontak terhadap kekuasaan penjajah Mancu, Sian-moi, berjuang untuk membebaskan tanah air dan bangsa dari cengkeraman penjajah. Itulah sebabnya mengapa kami menghimpun kekuatan, melatih anak buah kami dan tentang para tokoh itu  engkau tidak keliru, memang di antara mereka terdapat orang-orang kang-ouw, dari dunia hitam. Kami membutuhkan tenaga mereka, bantuan mereka karena mereka itu memiliki kepandaian tinggi, juga memiliki banyak anak buah. Kami harus menghimpun kekuatan dari manapun juga untuk memperkuat kedudukan kami agar perjuangan kami menentang penjajah dapat berhasil. Nah, engkau mengerti sekarang keadaan di sini, Sian-moi?"

Sesungguhnya, hati Li Sian. diliputi kekhawatiran dan kebingungan. Ia belum mengerti benar, akan tetapi ia mengangguk-angguk. Bagaimanapun juga pada dasarnya ia dapat mengerti, Tiat-liong-pang hendak memberontak, menentang pemerintah karena kerajaan yang sekarang adalah Kerajaan Mancu, bangsa asing yang menjajah tanah air dan bangsa! Dan ia pun merasa bangga dan kagum. Kiranya Tiat-liong-pang sedang mengadakan gerakan perjuangan yang demikian mulia, akan tetapi juga amat berbahaya. Tiba-tiba ia teringat akan sesuatu dan wajahnya berubah pucat.

"Liong-ko, kalau begitu     Tiat-liong-pang akan memusuhi pasukan pemerintah?"

Pemuda itu mengangguk, "Tentu saja, pasukan pemerintah adalah pasukan kerajaan penjajah dan.... "

"Tapi.... tapi kakakku, Pouw Ciang Hin kabarnya menjadi perwira pasukan pemerintah! Kabarnya dia ditugaskan di perbatasan utara ini dan apakah sampai sekarang anak buahmu belum dapat menemukannya?"

Siangkoan Liong tersenyum tenang. "Jangan khawatir, Sian-moi. Ketahuilah bahwa komandan pasukan yang bertugas di utara ini telah mengadakan hubungan dengan kami dan dia mendukung gerakan kami. Jadi, kalau kakakmu itu menjadi perwira bawahannya, tentu hal itu berarti bahwa kakakmu juga akan bekerja sama dengan kita. Engkau tentu suka membantu, bukan?"

Gembira rasa hati Li Sian mendengar tentang kakaknya itu. "Ah, kalau begitu bagus sekali. Tentu saja aku suka membantu, Liong-ko."

Akan tetapi Siangkoan Liong masih belum merasa puas dengan kesanggupan ini. Selama belasan hari ini, diam-diam dia mengamati gerak-gerik Li Sian dan bahkan menyuruh Sin-kiam Mo-li diam-diam melakukan pengamatan dari jauh. Satu hal yang membuat dia merasa gelisah dan belum percaya benar adalah karena menurut keterangan Sin-kiam Moli, Pouw Li San adalah murid dari mantu Pendekar Super Sakti Pulau Es! Padahal, dia sudah mendengar bahwa di antara keluarga Pulau Es dan keluarga kaisar Mancu, masih terdapat hubungan kekeluargaan yang dekat. Isteri Pendekar Pulau Es adalah seorang puteri Mancu, bahkan isterinya dan puterinya pernah menjadi panglima-panglima Mancu yang gagah perkasa dan sudah menumpas banyak gerakan pemberontakan.

"Sian-moi, engkau pernah menceritakan kepada ayah bahwa gurumu adalah seorang sakti, keluarga Pulau Es, bahkan mantu dari mendiang Pendekar Super Sakti dari Pulau Es. Bagaimana pendapat mendiang gurumu itu tentang pemerintah penjajah dan gerakan para patriot?" Dia memancing.

Li Sian mengingat-ingat, lalu menggeleng kepalanya. "Seingatku, suhu belum pernah bicara tentang pemerintahan dan kalau sekali waktu aku bertanya dia tidak mau memberi penjelasan. Hanya pernah dia mengeluh tentang kelemahan kaisar yang membiarkan dirinya dipermainkan para pembesar durjana."

"Nah, tidak salah lagi. Diam-diam suhumu itu pun tentu tidak setuju dengan adanya pemerintah penjajah yang lalim!" Siangkoan Liong berseru girang. Tadinya dia khawatir bahwa guru gadis ini condong memihak kerajaan.

Pada saat itu, nampak serombongan orang datang. Dari jauh saja Siangkoan Liong dan Li Sian dapat mengenal rombongan yang dipimpin oleh Sin-kiam Moli, kini mengiringkan seorang laki-laki dan seorang wanita yang berjalan sambil bergandeng tangan. Laki-laki itu nampak bersikap gagah walaupun langkahnya tidak menunjukkan dia pandai ilmu silat, sedangkan wanita itu cantik manis, berusia sebaya dengan laki-laki itu, mendekati empat puluh tahun, akan tetapi wanita yang nampak tenang sederhana itu memiliki langkah kaki yang mengejutkan Siangkoan Liong dan Li Sian karena mereka berdua dapat menduga bahwa wanita itu bukanlah orang sembarangan.

Laki-laki dan wanita itu adalah Yo Jin dan Bi-kwi atau Ciong Siu Kwi yang baru datang bersama rombongan Sin-kiam Mo-li. Setelah tiba di luar daerah kekuasaan Tiat-liong-pang, rombongan ini disambut oleh Toat-beng Kiam-ong dan para tokoh yang membantu pergerakan Tiat-liong-pang, diantaranya ada beberapa orang pendeta Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-kauw. Melihat mereka diam-diam Bikwi terkejut. Tadinya ia mulai percaya akan pengakuan Sin-kiam Mo-li bahwa iblis betina itu sedang membantu perjuangan orang-orang gagah yang dipimpin oleh ketua Tiat-liong-pang, akan menentang pemerintah penjajah Mancu. Akan tetapi, ketika melihat orang-orang yang dikenalnya sebagai tokoh sesat, ia pun mulai meragu lagi. Akan tetapi, dengan cerdik Bi-kwi diam saja, bahkan purapura tidak mengenal mereka.

Melihat betapa Sin-kiam Mo-li pulang membawa laki-laki dan wanita yang tidak dikenalnya itu, Siangkoan Liong segera bangkit dan menghadang, diikuti oleh Li Sian yang juga ingin tahu.

"Mo-li, siapakah dua orang saudara yang baru datang ini?" tanya Siangkoan Liong sambil memandang kepada Bi-kwi karena kecantikan dari wanita ini pun menarik hatinya.

Sin-kiam Mo-li tersenyum dengan bangga karena ia merasa betapa usahanya telah berhasil baik. "Siangkoan-kongcu, inilah Bi-kwi yang pernah saya bicarakan dengan Kongcu dan dengan bengcu (pemimpin). Saya telah berhasil mengajaknya ke sini dan bergabung dengan kami. Dan laki-laki ini adalah suaminya. Bi-kwi adalah murid utama dari mendiang Sam Kwi, ia lihai bukan main, Kongcu." Kemudian ia memperkenalkan pemuda itu kepada Bi-kwi dan Yo Jin. "Kongcu ini adalah putera pimpinan kami bernama Siangkoan Liong."

Bi-kwi memandang pemuda itu. Sekali pandang saja tahulah Bi-kwi bahwa pemuda tampan yang kelihatan lemah lembut ini memiliki kepandaian tinggi, juga di balik kelembutan sikapnya itu, di balik sinar matanya yang lembut, ia dapat melihat gairah nafsu yang besar, maka diam-diam ia berhati-hati. Juga ia memandang kepada gadis yang berada di dekat Siangkoan Liong, dan ia pun dapat menduga bahwa gadis itu pun bukan gadis sembarangan. Hemmm, banyak terdapat orang pandai di sini, pikir Bi-kwi khawatir. Tadi pun ia mengenal Toat beng Kiam-ong, tokoh-tokoh Pek-lian-kauw, dan Pat-kwa-kauw, juga beberapa orang kang-ouw yang berkepandaian tinggi berada di tempat itu.

Siangkoan Liong mengerutkan alisnya dan agaknya dia memandang rendah kepada Bi-kwi dan suaminya. Betapapun lihainya, agaknya suami isteri itu berada di bawah pengaruh Sin-kiam Mo-li, dan orang yang kelihaiannya tidak melebihi Sin-kiam Mo-li, kurang menarik hatinya walaupun sempat hatinya terguncang dan gairahnya bangkit oleh kecantikan Bi-kwi yang sudah matang itu!

"Bawalah mereka menghadap ayah," katanya dan dia pun mengajak Li Sian untuk kembali duduk bercakap-cakap di dalam taman. Rombongan itu lalu masuk ke dalam untuk menghadap Siangkoan Lohan.

Setelah mereka berdua duduk lagi di dalam taman. Li Sian bertanya, "Apakah suami isteri itu pun hendak membantu gerakan yang dipimpin oleh ayahmu, Liong-toako?"

"Agaknya begitulah. Perjuangan ini didukung oleh orang gagah, dan aku yakin bahwa usaha ayah akan berhasil baik," kata Siangkoan Liong gembira.

"Wanita itu kelihatan memiliki kepandaian tinggi," kata pula Li Sian.

"Kautunggu saja, Sian-moi. Kalau ada kesempatan akan kuperkenalkan engkau kepada suhuku."

"Gurumu?" Gadis itu memandang wajah pemuda di depannya dalam keremangan cuaca senja. "Bukankah gurumu itu adalah paman Siangkoan Tek sendiri? Bukankah ayahmu memiliki tingkat kepandaian yang amat tinggi?"

Pemuda itu tersenyum bangga. "Memang benar, Sian-moi. Akan tetapi guruku ini lebih lihai lagi. Ayah sendiri pernah menguji kepandaiannya maka ayah memperbolehkan aku berguru kepadanya. Ilmu kepandaian guruku itu sukar diukur sampai bagaimana tingginya!"

Li Sian tersenyum dalam hatinya. Baru sekarang ia mendengar ucapan yang mengandung nada bangga dan bahkan sombong dari pemuda ini. Ia tidak merasa heran karena mungkin saja apa yang dikatakan pemuda ini benar. Menurut keterangan gurunya, di dunia ini memang banyak terdapat orang-orang sakti.

"Siapakah gurumu, Liong-toako? Dan kenapa tidak sejak kemarin aku kauperkenalkan padanya?"

"Guruku sedang bertapa dan dia tidak suka diganggu. Kalau dia kebetulan datang berkunjung ke sini, barulah akan kuperkenalkan engkau padanya. Beliau bernama keturunan Ouwyang, biasa disebut Ouwyang Sianseng (Tuan Ouwyang) dan tak pernah ada yang tahu siapa namanya. Nama julukannya adalah Nam-san Sian-jin (Manusia Dewa Pegunungan Selatan). Dia bukan orang sembarangan, Sian-moi, karena dahulu dia pernah menjadi seorang yang amat penting, bahkan menjadi penasihat raja di Kerajaan Birma."

Li Sian tertarik sekali. Ia sudah dapat menduga bahwa pemuda ini memiliki kepandaian tinggi, namun belum pernah ia menyaksikannya. Selama belasan hari ini, mereka bergaul cukup rapat sehingga ia seolah-olah diberi kesempatan untuk mengenal pemuda ini, bukan hanya wajahnya, bentuk tubuhnya, suaranya akan tetapi juga watak dan keadaannya. Akan tetapi ia belum melihat sampai di mana tingkat kepandaiannya dan berkenalan tanpa mengetahui atau melihat kepandaiannya tidaklah lengkap. Ingin ia menguji kepandaian pemuda itu. Apakah jauh di atas tingkatnya sendiri?

"Liong-ko, setelah menerima gemblengan dari ayahmu sendiri, kemudian dilatih pula oleh seorang sakti seperti gurumu, tentu engkau kini telah memiliki tingkat ilmu silat yang amat tinggi. Kita sudah saling mengenal sejak kecil, bahkan kini ayahmu menerimaku dengan ramah dan baik, bahkan menganggap aku sebagai keponakan sendiri sehingga antara kita terdapat pertalian persaudaraan. Oleh karena itu, ingin sekali aku melihat sampai di mana tingkat kepandaianmu itu, Toako, agar aku dapat menambah pengetahuanku darimu."

Siangkoan Liong tersenyum, apalagi melihat gadis itu sudah bangkit berdiri menuju ke petak rumput yang cukup luas dan enak untuk dipakai berlatih silat, di dalam taman itu dekat kolam ikan, dan gadis itu berdiri tegak menantinya. Tentu saja dia tahu bahwa gadis itu agaknya ingin sekali menguji kepandaiannya, dengan maksud baik tentu, karena jelas nampak olehnya betapa Li Sian mulai tertarik kepadanya. Dia pun bangkit berdiri dan menghampiri gadis itu.

"Sian-moi, aku sudah melihat bahwa engkau memiliki ilmu kepandaian yang tinggi sehingga ketika engkau pertama kali muncul di sini, engkau mampu menandingi kelihaian Sin-kiam Mo-li. Aku menjadi gentar melawanmu, Sian-moi. Bagaimana kalau sampai aku tewas atau terluka parah karena pukulanmu?"

"Aih, Liong-toako, harap jangan berkata demikian. Kepandaian Sin-kiam Mo-li amat lihai dan kalau tidak muncul ayahmu datang melerai, tentu aku akan celaka di tangannya. Dan aku hanya ingin melihat sendiri kelihaianmu dalam suatu permainan bersama. Bagaimana mungkin kita akan saling melukai? Sudahlah, Toako, jangan pelit, mari kita main-main sebentar untuk membuka mataku."

"Baik, Sian-moi. Nah, aku sudah siap, kau mulailah keluarkan seranganmu!", kata pemuda itu sambil memandang dengan senyum memikat dan dia pun membuka pasangan kuda-kuda yang gagah dan indah.

Li Sian yang memang ingin sekali melihat sampai di mana lihainya pemuda yang merlarik hatinya ini, segera mengeluarkan seruan sebagai isarat bahwa dara ini mulai menyerang. Serangannya merupakan tamparan ke arah pundak Siangkoan Liong, seperti main-main, saja, akan tetapi gadis ini mengerahkan tenaga Hui-yang Sin-kang (Tenaga Sakti Inti Api) kedalam telapak tangannya sehingga hawa panas menyambar ke arah pundak Siangkoan Liong. Pemuda ini kagum sekali ketika merasakan betapa tangan kanan gadis itu menyambar lambat namun membawa hawa yang amat panas. Dia pun cepat menggerakkan tangan kirinya menangkis untuk melindungi pundaknya, dan karena dia maklum bahwa gadis manis itu mempergunakan sin-kang untuk menguji tenaganya, maka dia pun mengerahkan tenaga sin-kang dalam lengan yang menangkis itu.

"Duk!" Kedua lengan bertemu dan hampir Siangkoan Liong berseru karena dia merasa betapa hawa panas menyusup ke dalam lengannya. Cepat dia menarik kembali lengannya dan meloncat ke belakang, mengerahkan hawa sakti dalam tubuhnya untuk mendorong keluar lagi hawa panas itu. Li Sian tadi tidak mempergunakan seluruh tenaganya, seperti juga yang dilakukan pemuda itu, karena memang dara ini hanya ingin menguji saja. Ketika melihat bahwa pemuda itu mampu menangkis tamparan yang mengandung Hui-yang Sin-kang, ia merasa kagum dan menyerang lagi, kini dengan tangan kiri yang mendorong dengan tenaga Swat-im Sin-kang (Tenaga Sakti Inti Salju). Kembali pemuda itu menangkis, agak menambah tenaga sin-kangnya karena dia tahu bahwa gadis cantik ini memang lihai dan kuat. Kembali kedua lengan bertemu dan Siangkoan Liong kini meloncat mundur sambil tidak lagi menahan seruannya.

"Bukankah itu tadi dua tenaga sakti dari Pulau Es yang terkenal itu? Yang panas adalah Hui-yang Sin-kang dan yang dingin ini tadi Swat-im Sin-kang?" tanyanya setelah berhasil mendorong keluar pengaruh hawa dingin yang menyusup ke dalam tubuhnya.

Li Sian menjadi semakin kagum. Pemuda itu ternyata mampu mengenali dua macam tenaga sin-kang yang dipelajarinya dari gurunya, Bu Beng Lokai. "Benar sekali, Toako. Sekarang terimalah seranganku ini!" katanya gembira dan kini tubuhnya bergerak cepat karena ia sudah memainkan Ilmu Silat Lo-thian Sin-kun (Silat Sakti Mengacau Langit) yang merupakan ilmu silatnya yang paling hebat di samping ilmu pedangnya yang sama dasarnya, yaitu Lo-thian Kiam-sut (Ilmu Pedang Pengacau Langit).

Menghadapi gerakan ilmu silat yang amat dahsyat itu, cepat dan mengandung tenaga besar, Siangkoan Liong berseru, "Bagus sekali!" dan dia pun menghadapi terjangan Li Sian dengan hati-hati, juga dengan cepat sekali. Dia maklum akan kelihaian gadis ini, tahu pula bahwa kalau dia hanya mengandalkan kelincahan dan tenaga untuk bertahan saja, akhirnya dia akan kalah. Maka, pemuda ini, yang tidak mau dikalahkan karena hal itu akan merendahkan dirinya dalam pandangan gadis yang amat menarik hatinya itu, segera bergerak membalas dengan serangan-serangan yang tidak kalah dahsyatnya. Dia telah mainkan ilmu silatnya yang aneh, yang banyak mempergunakan loncatan-loncatan dan tendangan sambil meloncat, yaitu Kong-ciak Sin-kun (Silat Sakti Burung Merak) yang dipelajarinya dari Ouwyang Sianseng dan kini menjadi ilmu andalannya.

Memang hebat ilmu silat ini karena mampu menandingi Lo-thian Sin-kun yang merupakan satu di antara ilmu-ilmu silat tinggi. Makin kagum rasa hati Li Sian melihat betapa ilmu silat aneh dari pemuda itu amat lincah dan berbahaya, sehingga ketika ia memainkan Lo-thian Sin-kun, Siangkoan Liong sama sekali tidak terdesak, bahkan mampu membalas setiap jurus serangannya dengan sama hebatnya. Mereka saling serang sampai tiga puluh jurus lebih dan melihat ini, Li Sian makin lama makin menambah tenaganya. Sampai akhirnya ia mengerahkan semua tenaga dan kepandaian, namun tetap saja ia tidak mampu mendesak Siangkoan Liong, sebaliknya, pemuda ini juga semakin kagum pula karena baru setelah dia mengerahkan hampir semua tenaganya, gadis itu tidak menjadi semakin hebat. Hal ini menunjukkan bahwa biarpun tidak banyak selisihnya, namun tingkatnya masih lebih tinggi. Akan tetapi tentu saja dia tidak ingin mengalahkan nona itu dengan keras, tidak mau melukainya, maka otaknya yang cerdik itu mencari-cari akal bagaimana dia akan dapat memenangkan pibu (adu silat) itu tanpa melukai lawan. Dia pun teringat akan sebuah ilmu silat dari keluarganya, yaitu Tiat-wi Liongkun (Silat Naga Ekor Besi) yang juga menggunakan tenaga sin-kang yang istimewa dan sejak tadi dipergunakannya untuk menandingi sin-kang dari Li Sian, yaitu Liong-jiauw-kang (Tenaga Sakti Cakar Naga). Sin-kang yang dimilikinya telah diperkuat dengan gemblengan Ouwyang Sianseng, maka kini dalam hal sin-kang, dia malah lebih kuat daripada ayahnya sendiri. Ilmu Silat Naga Ekor Besi ini mempunyai beberapa jurus yang dicampur dengan ilmu gulat dari Mongol, yaitu ilmu menangkap dan membanting, juga ada cara menangkap dan mengempit lawan sampai tidak mampu lolos atau pun bergerak lagi. Inilah yang akan dipergunakannya karena hanya ilmu ini yang akan mampu memberinya kemenangan tanpa melukai atau merobohkan lawan.

Akan tetapi, Siangkoan Liong adalah seorang pemuda yang selain cerdik, juga sudah mempelajari kebudayaan sejak kecil, dan dia tahu bahwa kalau dia melakukan penangkapan dan himpitan seperti terhadap Li Sian tentu akan membuat Li Sian menyangka dia sengaja mempermainkan dan hendak kurang ajar, mempergunakan "kesempatan" untuk memeluk dan menangkap gadis itu. Maka, sebelum mempergunakan ilmu itu, dia terlebih dahulu akan memberi peringatan agar gadis itu tidak menyangka yang bukan-bukan, walaupun tentu saja satu di antara sebab yang mendorongnya menaklukkan Li Sian dengan cara itu adalah untuk dapat merangkul dan mendekap tubuh yang membuatnya tergila-gila itu!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar