"Kurang ajar kau, minta dibunuh apa susahnya?" Ang-bin Piauw-to yang sudah menjadi marah sekali mengangkat goloknya hendak dibacokkan ke leher Tan Hok.
Akan tetapi Kim-thouw mengibaskan selendangnya dan..... golok itu terlempar dari tangan kepala rampok.
"Jangan lancang!" Kim-thouw Thian-li membentak, matanya yang bening mengeluarkan cahaya berkilat. Kagetlah kepala rampok itu dan cepat dia berlutut.
"Kau dan teman-temanmu harus mentaati perintahku.
"Kami mentaati, Thian-li," jawab kepala rampok itu. "Mulai sekarang, anggaplah kami sebagai anak buah Thian-li.
Kim-thouw Thian-ii tertawa manis. "Baik, aku ingin melihat apakah kalian cukup setia. Tak jauh dari sini, di puncak Gunung Hek-niauw-san, terdapat sebuah kelenteng. Hwesio-hwesio di kelenteng itu adalah anak murid Siauw-lim-pai. Kau ke sanalah dan lakukan ini....." Wanita ini lalu mengajak kepala rampok menjauhi Tan Hok dan berbisik-bisik sambil menyerahkan beberapa buah Pek-lian-ting yang tadi ia kumpulkan. Kepala rampok mengangguk-angguk, kemudian bersama kawankawannya dia meninggalkan warung itu. Phang Kwi tidak ikut karena dia memang bukan anak buah Ang-bin Piauw-to lagi.
Kim-thouw Thian-li melirik ke arah tukang warung itu. "Kenapa kau masih belum pergi ikut yang lain?" Phang Kwi cepat memberi hormat "Maaf, Thian-li, saya adalah pemilik warung ini, bukan anak buah Ang-bin-twako....." "Hemmm, kalau begitu lekas mayat kakek itu. Kubur dia jauh-jauh." Phang Kwi mendongkol sekali, akan tetapi dia tidak berani membantah. Baiknya mayat kakek itu tidak besar dan tidak berapa berat, maka dia segera memanggulnya dibawa ke belakang. Setelah Phang Kwi pergi wanita itu berlutut mendekati Tan Hok.
Senyumnya makin manis dan matanya bersinar-sinar aneh. Dirabanya dada Tan Hok yang bidang dankuat.
"Orang yang kuat dan gagah," katanya perlahan setengah berbisik." Tan Hok, kenapa kau berkeras kepala ? Kau ikutlah aku dan kau akan hidup penuh kesenangan. Aku kasihan kepadamu....." Tan Hok adalah seorang pemuda yang selain masih hijau, juga jujur dan bodoh. la tidak dapat mengerti akan maksud tersembunyi dalam kata-kata dan sikap wanita itu, dianggapnya bahwa betul-betul orang itu kasihan kepadanya. Hal ini mengingatkan keadaannya, bahwa gurunya, satu-satunya orang di dunia ini yang ada hubungannya dengan dia telah mati, maka matanya lalu basah dan dia menangis! Kim-thouw Thian-li mengusap-usap pipi pemuda itu, dan berkata, "Jangan berduka, anak manis. Biar kusembuhkan kau dan kau ikutlah aku." Jari tangannya yang haius itu menotok pundak dan punggung dan di lain saat Tan Hok sudah pulih kembali tenaganya dan dapat bergerak seperti biasa. Akan tetapi ketika dia melihat wanita itu merangkulnya dan hendak membantunya berdiri dengan sikap yang mesra, dia merasa juga bahwa hal ini tidak sewajarnya dan bukan sepatutnya. Maka dia meronta dan melepaskan diri.
"Tan Hok, mari kau ikut pergi ketempatku. Mulai detik ini kau selain menjadi muridku, juga menjadi..... teman, baikku," kata Kim-thouw Thian-li dengan senyum dan lirikan mata yang genit memikat.
Tan Hok tidak mengerti maksudnya, "Aku tidak bisa ikut denganmu, juga aku tidak mau ikut. Kau sudah membunuh guruku, mana bisa aku menjadi muridmu? Apalagi menjadi teman baik. Mulai sekarang, kau adalah musuhku." Kim-thouw Thian-li kaget dan kecewa. "Orang goblok! Aku kasihan dan suka kepadamu, ingin menolongmu. Masa kau tidak mau terima?" Tan Hok berulang-ulang menggeleng-geleng kepalanya. "Tidak bisa..... tidak bisa.....
sekarang aku kalah olehmu, lain kali mungkin aku bisa menang untuk membalas perbuatanmu terhadap suhu.....
Dari kecewa wanita itu menjadi marah. "Keparat, kau memang lebih suka mampus.
Kalau kau memberatkan gurumu, nah, kau ikutlah dia ke neraka!" Setelah berkata demikian, Kim-thouw Thian-li menyerang dengan totokan maut. Tan Hok yang menganggap wanita ini musuh besarnya, sudah bersiap-siap dan cepat menangkis.
Kim-thouw Thian-li penasaran dan melakukan serangan ber tubi-tubi. Tingkat kepandaian wanita ini sudah lebih tinggi daripada Tan Sam, mana bisa Tan Hok melawannya? Baru tiga jurus saja pemuda ini sudah terjungkal oleh sebuah tendangan. Kim-thouw Thian-li melangkah maju, menggerakkan selendangnya hendak memukul ke arah kepala Tan Hok.
"Kim Li, tahan.....! Jangan bunuh orang.....!" tiba-tiba terdengar suara keras dari luar warung dan seorang pemuda yang tampan dan gagah melompat masuk. Kim-thouw Thian-li menahan serangannya dan cepat sekali muka yang beringas itu kembali penuh senyum dan lirikan manis. la segera berpaling dan menyambut kedatangan pemuda itu dengan girang.
"Kwee-koko (Kakak Kwee), kau sudah menyusul ke sini? Ah, aku sedang menghajar seorang jahat!" Dengan langkah terayun menarik wanita itu menghampiri pemuda muka putih itu sambil tersenyum-senyum, lalu memegang lengannya.
Pemuda itu menoleh ke arah Tan Hok, mukanya mernperlihatkan rasa malu karena sikap mencinta wanita itu diperlihatkan di depan orang lain.
"Pergilah dan ubah jalan hidupmu, jadilah orang baik-baik," katanya kepada Tan Hok.
Dengan mata masih melotot penuh kemarahan Tan Hok pergi meninggalkan warung.
Hatinya panas dan mendongkol sekali kepada wanita itu yang selain sudah membunuh gurunya, melukainya juga melakukan fitnah kepada dirinya terhadap pemuda muka putih yang menolongnya itu. Sebaliknya, biarpun dia menganggap pemuda tampan itu pun bukan orang baik-baik, namun Tan Hok seorang yang jujur dan tahu akan budi orang, maka dia merasa berhutang nyawa kepada pemuda yang dia tahu bernama keturunan Kwee itu.
Setelah Tan Hok pergi, Kim-thouw Thian-li menggandeng tangan pemuda itu sambil menyandarkan tubuhnya. Diajaknya pemuda itu duduk menghadapi meja.
"Kwee-koko, kenapa kau menyusul ke sini? Dan janganlah muram selalu, bukankah ada Siauw-moi (Adinda) di sisimu? He, tukang -warung! Lekas sediakah arak terbaik dan masaklah daging apa saja yang ada. Cepat!" Pemuda itu seperti orarig kehilangan semangat menurut saja ditarik dan diajak duduk bersanding di atas kursi menghadapi meja. Wajahnya yang tampan nampak muram, akan tetapi matanya agak bersinar ketika dia menghadapi pelayan Kim-thouw Thian-li yang ramah dan penuh cinta kasih mesra.
Siapakah pemuda yang bermuka putih tampan ini? Bukan lain orang, dia ini adalah orang termuda dari Kun-lun Sam-hengte yang bernama Kwee Sin berjuluk Pek-lek-jiu (Tangan Geledek)! Dia inilah tunangan Kim-eng-cu Liem Sian Hwa anak murid Hoasan itu.
Biarpun yang termuda di antara murid Pek Gan Siansu, ketua Kun-lun-pai, namun Kwee Sin memiliki ilmu kepandaian yang tinggi, telah mewarisi ilmu pedang Kun-lun yang terkenal di dunia persilatan. Usianya baru dua puluh dua tahun dan semenjak kecilnya Kwee Sin yang sudah tak berayah ibu itu tinggal di puncak Kun-lun melayani suhunya Karena inilah maka dia menjadi murid terkasih dari ketua Kun-lunpai.
Hanya kadang-kadang gurunya yang sudah tua dan menganggap Kwee Sin seperti putera sendiri itu memberi kesempatan kepada Kwee Sin untuk turun gunung dan meluaskan pengalaman di dunia ramai.
Perkenalan Kwee Sin dengan ketua Ngo-lian-kauw itu belum lama. Terjadi beberapa bulan yang lalu ketika Kwee Sin sedang turun gunung memenuhi tugas yang diserahkan kepadanya oleh suhunya, yaitu mencari tahu keadaan dunia ramai tentang pemberontakan-pemberontakan terhadap pemerintah Mongol. Pek Gan Siansu, ketua Kun-lun-pai, di waktu mudanya juga seorang pejuang, seorang patriot. Maka sekarang mendengar tentang pergerakan orang-orang gagah yang menentang kekuasaan pemerintahan penjajah, semangatnya terbangun, dia menjadi gembira sekali. Akan tetapi dia sudah terlalu tua untuk turun gunung sendiri, usianya sudah tujuh puluh tahun lebih, maka dia lalu menyuruh muridnya itu untuk turun gunung melakukan penyelidikan.
"Setelah kau turun gunung melakukan penyelidikan, jangan lupa untuk singgah di rumah calon mertuamu di Lam-bi-chung." pesan ketua Kun-lun-pai ini kepada muridnya. "Aku sudah tua, ingin melihat kau menikah tahun ini juga." Kwee Sin menjadi merah mukanya. Selalu mukanya yang putih tampan itu menjadi merah sekali setiap kali orang bicara atau mengingatkan dia akan tunangannya, Liem Sian Hwa. Merah karena jengah, jengah karena bahagia setiap kali dia terbayang akan wajah tunangannya itu, yang cantik sederhana, bersemangat dan gagah perkasa. Dia sendiri seorang yang berjiwa pendekar, maka mempunyai tunangan yang amat terkenal namanya sebagai seorang lihiap (pendekar wanita), orang termuka dari Hoasan Sie-eng yang dikagumi dan disegani, tentu saja dia merasa amat bahagia. la sudah membayangkan betapa kelak dengan Sian Hwa di sampingnya, mereka akan merupakan sepasang pendekar yang akan menjadi pembela kebenaran dan keadilan serta menjunjung tingggi nama baik Hoa-san-pai dan Kun-lun-pai. Anak-anak mereka tentu akan menjadi pendekar-pendekar besar pula.
Setelah bersiap-siap, tidak lupa membawa pedangnya yang selama mi membuat dia terkenal, pemuda ini turun gunung dengan penuh kegembiraan. la menuju terus ke selatan dan timur, menjelajahi kota-kota besar, mendengar dengar dan mencari keterangan.
Banyak dia mendengar tentang pergerakan patriotik dari perkumpulan-perkumpulan rahasia yang timbul seperti jamur di musim hujan, terutama sekali tentang sepak terjang Pek-lian-pai yang paling gigih melakukan perlawanan terhadap pemerintah penjajah. Maka tidak mengherankan apabila dia merasa simpati terhadap perkumpulan itu dan ingin dia mengadakan hubungan. Namun, perkumpulan Peklian- pai ini ternyata amat rahasia, tidak mudah diketahui siapa pemimpinnya dan di mana dia dapat menemui anggotanya.
Pada suatu hari Kwe Sin tiba di Sin yang dan dia mengunjungi tempat tinggal kedua suhengnya, yaitu Bun Si Teng dan Bun Si Liong, orang pertama dan ke dua dari Kunlun Sam-hengte. Selagi dia enak-enak berjalan dan tiba di jalan perempatan di luar kampung tempat tinggal suheng-suhengnya, dari jauh dia melihat seekor kuda hitam yang ditunggangi seorang laki-laki setengah tua berbaju putih datang membalap dari jurusan timur. Pada saat itu juga, dari sebelah utara datang pula berlari cepat seekor kuda yang ditunggangi seorang anak laki-laki berusia belasan tahun, antara tiga belas atau empat belas tahun yang bertubuh kekar dan gagah.
Kwee Sin terkejut sekali melihat datangnya dua ekor kuda yang berlari seperti terbang ini pada saat yang sama. Tikungan jalan perempatan dari timur dan utara itu tertutup oleh segerombolan pohon sehingga kedua penunggang kuda itu tentu saja tidak dapat melihat kedatangan masing-masing, dan mungkin juga tidak dapat mendengar derap kaki kuda yang lain karena berisik oleh derap kaki kuda sendiri.
Kwee Sin yang datang dari selatan melihat dengan jelas akan hal ini dan timbul kekhawatiran hatinya kalau-kalau dua ekor kuda itu akan bertemu dan beradu di poerempatan.
Hal yang dia khawatirkan terjadi. Dua ekor kuda itu berlari cepat sekali dan sebentar saja sudah mendekati perempatan. Setelah berada dalam jarak dekat sekali, Kwee Sin berseru, "Awas..... " Dua ekor kuda itu sudah dekat dan tak mungkin dapat dicegah lagi terjadinya tabrakan yang mengerikan. Dua orang penunggang kuda itu, laki-laki setengah tua berpakaian putih dan pemuda remaja yang berkuda putih, melihat pula akan ancaman bahaya ini.
"Ouw-ma (kuda hitam), naik.....! Laki- laki setengah tua itu berseru dan mendadak kudanya mengeluarkan ringkikan keras dan tubuhnya melompat tinggi melangkahi kuda putih yang berlari cepat. Namun setinggi-tingginya lompatan kuda yang mendadak itu, biarpun dapat melangkahi seekor kuda, agaknya diantara empat kakinya tentu akan rnenendang penunggang kuda putih, anak laki-laki tadi. Kwee Sin merasa ngeri dan tak berdaya untuk menolong, matanya terbuka lebar dan jantungnya berdebar.
Hanya sedetik kejadian itu. Kuda hitam melompati kuda putih, keempat kakinya hampir menyentuh punggung kuda putih dan selamat melompati kuda yang menerobos bawahnya. Debu mengebul tinggi dan..... Kwee Sin tidak melihat lagi anak laki-laki tadi di atas punggung kuda putihl "Celaka.....!" serunya, mengira bahwa anak tadi tentu telah terkena tendangan kuda dan terlempar dalam keadaan tewas atau sedikitnya terluka hebat. Akan tetapi dia segera melongo saking kagum dan herannya setelah melihat bahwa anak itu ternyata secara lihai sekali pada saat kudanya dilompati kuda lain, telah menggantungkan diri di bawah perut kuda dan sekarang dalam keadaan selamat dia telah membalikkan tubuhnya duduk kembali di atas punggung kuda. Namun anak itu agaknya kaget juga.
la menahan kendali kudanya dan menghentikan kuda itu wajahnya agak pucat. Akan tetapi laki-laki setengah tua itu hanya menoleh sambil tertawa bergelak, terus mencambuk kudanya, membalap makin cepat.
"Kurang ajar, berhenti kau!" Kwee Sin melompat hendak mengejar penunggang kuda hitam.
"Kwee-susiok (Paman Guru Kwee), jangan kejar dia." Tiba-tiba anak laki-laki tadi berseru. Kwee Sin kaget dan menghentikan larinya. la menoleh dan memandang anak itu lebih teliti.
"Eh, kiranya kaukah ini, Lim Kwi?" la berlari menghampiri dengan girang. "Pantas saja begini lihai menunggang kuda, kiranya kau" Anak itu melompat turun dan memberi hormat. Dia memang Bun Lim Kwi, putera tunggal Bun Si Teng, jago pertama dari Kun-lun Sam-hengte! Sebagai seorang pedagang kuda, tentu saja Bun Si Teng dan adiknya, Bun Si Liong, selain memiliki ilmu silat tinggi sebagai keturunan Kun-lun-pai, juga telah mempelajari ilmu memelihara kuda dan ilmu menunggang kuda. Bun Lim kwi tentu saja juga mempelajari ilmu ini, maka tadi berkat ilmunya menunggang kuda, dia terluput dari maut yang mengerikan.
"Lim Kwi, kau dari mana dan mengapa kau nampak berduka? Pula, kenapa kau tadi mencegah aku mengejar bangsat itu?" Kwee Sin mengajukan pertanyaan bertubi-tubi.
"Kwee-susiok, memang ada pertaliannya antara pertanyaan-pertanyaanmu tadi.
Paman Bun Si Liong terluka parah oleh seorang anggota Pek-lian-pai, saya pergi ke Twi-ciu membeli obat untuk paman. Dan orang tadi..... dia itu melihat kepandaian dan pakaiannya yang serba putih, agaknya juga seorang anggota Pek-lian-pai yang memusuhi kami....." "Ahhh....." Kwee Sin berkata penasaran. "Kalau betul dia itu memusuhi, keluargamu, kenapa kau malah mencegah aku mengejar dan memberi hajaran kepadanya? Apakah luka ji-suheng (kakak seperguruan ke dua) amat parah?" "Kwee-susiok, anggota-anggota Pek-Lian-pai lihai sekali dan selagi pamanku terluka, kiranya tidak baik memperluas permusuhan dengan mereka." Jawaban anak berusia belasan tahun ini diam-diam membuat Kwee Sin amat kagum. Benar-benar seorang anak yang sudah memiliki pandangan luas, pikirnya.
"Bagaimana lukanya, ji-suheng?" Bun Lim Kwi menarik napas parjang.
"Berat juga, syukur dapat tertolong oleh tabib yang pandai. Biarlah nanti Susiok mendengar sendiri tentang persoalannya dari ayah....." "Benar juga kau, hayo kita lekas pergi ke rumahmu, ingin aku menengok Ji-suheng." Keduanya lalu cepat memasuki kampung di mana Bun Lim Kwi dan ayahnya tinggal.
Rumah keluarga Bun cukup besar, malah memiliki pekarangan belakang yang amat luas, karena di situ dibangun kandang-kandang besar untuk binatang peliharaan dan dagangan mereka, yaitu kuda. Sebagai Seorang pedagang kuda, Bun Si Teng telah berhasil dan makin lama kudanya makin banyak. Hampir semua orang gagah yang membutuhkan kuda, atau para saudagar kuda dari lain daerah, selalu datang menemuinya karena selain keluarga Bun jujur dan tidak pernah menghargai kuda mereka terlalu tinggi, juga kuda mereka selalu adalah kuda-kuda pilihan saking pandainya Bun Si Teng memilih kuda. Di depan gedung yang cukup besar itu terdapat beberapa batang pohon yang rindang, mendatangkan suasana yang teduh dan enak di halaman rumah itu. Beberapa ekor ayam yang gemuk-gemuk sibuk mematuki gabah dan dedak yang berceceran di halaman sehingga suasana di tempat yang teduh itu aman dah damai, tidak membayangkan sesuatu yang menyedihkan. Hanya sejenak Kwee Sin dapat merasai . ketenteraman suasana ini karena dia segera tergesa-gesa memasuki gedung ketika teringat akan keadaan ji-suhengnya seperti yang dia dengar dari Lim Kwi.
Kedatangan Kwee Sin dan Lim Kwi disambut oleh nyonya Bun Si Teng, ibu Lim Kwi yang tergesa-gesa bertanya, "Bagaimana Kwi-ji (anak Kwi), sudah dapatkah obatnya?" Lim Kwi mengangguk dan nyonya itu baru melihat munculnya Kwee Sin di belakang anaknya. la segera menyambutnya dengan muka sedih dan Kwee Sin langsung menyatakan keinginannya untuk menengok Bun Si Liong yang terluka. Beramairamai mereka bertiga masuk ke ruangan dalam dan di dalam kamar Bun Si Liong, orang gagah ini rebah telentang dengan muka pucat sedangkan Bun Si Teng, kakaknya, duduk di dekat pembaringan dengan wajah muram.
"Ah, kau datang, Kwee-sute? Kebetulan sekali!" kata Bun Si Teng, agak berseri wajahnya seperti mendapat pengharapan baru.
"Siauwte mendengar tentang terlukanya Ji-suheng, bagaimana keadaannya?" Kwee Sin menghampiri pembaringan. Bun Si. Liong membuka mata dan meman dang kepada Kwee Sin, tersenyum duka.
"Kita kecewa, Sute..... ternyata Pek- lian-pai bukan orang-orang baik....." "Biarlah nanti kita berhitungan dengan mereka, Ji-suheng. Yang perlu sekarang kau berobatlah dulu agar segera sembuh," menghibur adik seperguruan ini. Ia mendapat kenyataan bahwa selain menderita pukulan yang melukai sebelah dalam dada, suhengnya ini pun menderita luka parah pada pundak dan lambungnya akibat senjata rahasia paku yang terkenal dipergunakan oleh perkumpulan Pek-lian-pai, yaitu Peklian- ting. Nyonya Bun Si Teng sibuk memasak obat untuk adik iparnya dan Bun Si Teng lalu menceritakan dengan singkat kepada Kwee Sin tentang terjadinya peristiwa itu.
"Beberapa pekan yang lalu di sini datang seorang yang mengaku sebagai utusan Peklian- pai yang membutuhkan dua puluh ekor kuda yang baik. Aku dan Liong-te (adik Liong) karena merasa simpati mendengar nama baik Pek-lian-pai sebagai perkumpulan para patriot, dengan senang hati memilihkan dua puluh ekor kuda dengan harga serendah-rendahnya. Malah ketika orang itu, yang mengaku bernama Thio Sian, menyatakan kagum melihat kuda tungganganku sendiri, aku dengar rela hati menyerahkan kuda itu kepadanya sebagai tanda persahabatan.
Orang she Thio itu minta kepada kami, berdua supaya suka mengantarkan kuda ke dalam hutan yang tiga puluh li jauhnya dari sini. Karena ingin berkenalan dengan tokoh-tokoh Pek-lian-pai, aku sendiri bersama Liong-te berangkat pada tiga hari yang lalu untuk mengantar kuda-kuda itu ke sana. Celaka sekali....." Bun Si Teng yang bertubuh tinggi besar seperti pahlawan Kwan In Tiang di jaman dahulu ini mengepalkan tinjunya yang besar dan mengertak gigi. Kwee Sin mendengarkan penuh perhatian.
"Baru saja kami memasuki hutan menggiring dua puluh ekor kuda, tiba-tiba muncul lima orang berpakaian putih-putih dan mereka menyerang kami dengan paku-paku Pek-lian-ting. Tentu saja kami dapat menyelamatkan diri dari serangan gelap ini dan sebelum kami dapat bertanya mengapa mereka melakukan hal itu, mereka telah maju mengeroyok. Terpaksa aku dan Liong-te melakukan. perlawanan. Lima orang itu bersenjata golok dan ilmu silat mereka cukup lihai. Akan tetapi aku dan Liong-te tidak gentar dan dapat melayani mereka dengan baik, malah dengan gabungan ilmu pedang kami dapat mendesak mereka." Kwee Sin mengepal tinju dan amat tertarik. la cukup maklum akan kelihaian kedua orang suhengnya, apalagi kalau mereka menggabungkan ilmu pedang mereka, kiranya takkan mudah dikalahkan orang, biarpun dengan pengeroyokan.
Twa-suhengnya, Bun Si Teng, amat pandai bersilat pedang dan ditambah lagi dengan permainan sebatang busur besar di tangan kiri merupakan seorang gagah yang sukar dicari bandingnya. Adapun Bun Si Liong yang bertubuh tegap bermuka hitam itu, di tangan kanan memegang pedang sedangkan tangan kiri memegang golok. Ilmu pedangnya dicampur dengan ilmu golok sehingga gerakan-gerakannya amat sukar diduga lawan.
Kalau dua orang ini bergabung menjadi satu, bukan main kuatnya. "Lalu bagaimana, Twa-suheng? Bagaimana Ji-suheng sampai bisa terluka ?" tanya Kwee Sin penasaran.
"Menyakitkan hati benar!" Bun Si Teng menggebrak meja. "Orang-orang Pek-lianpai memang pengecut dan jahat. Setelah kami mulai mendesak, tiba-tiba terdengar suara ketawa seorang wanita, ketawanya nyaring dan merdu, akan tetapi tidak kelihatan orangnya. Kau tahu sendiri, Ji-suhengmu biarpun gagah perkasa, selalu amat takut dan gugup kalau berhadapan dengan wanita. Mendengar suara ketawa ini, agaknya dia gugup sekali maka ketika dari tempat yang tidak diketahui datang menyambar paku-paku Pek-lian-ting, dia kurang cepat dan terluka oleh sebatang paku." "Ahhh.....!" Kwee Sin berseru, penasaran dan juga heran.
"Paku-paku yang menyambar kali ini dilepas oleh orang yang berilmu tinggi," kata Bun Si Teng menjelaskan. "Ketika aku menangkis paku-paku itu dengan pedangku, telapak tanganku *sampai tergetar. Melihat adikku terluka, aku memutar senjata dan mengamuk dengan nekat. Untuk sennentara mereka itu tak dapat mengganggu Liongte.
Akan tetapi..... lagi-lagi suara wanita itu yang berseru agar lima orang pengeroyok itu mendesak aku, kemudian wanita yang bersembunyi itu menyuruh para pengeroyok itu mendesak dari satu jurusan, dari depan saja supaya jangan mengepung.
Kemudian agaknya dia sendiri menghujankan paku-paku Pek-lian-ting kepadaku.
Aku menjadi terdesak hebat, malah berada dalam keadaan berbahaya. Seorang di antara para pengeroyok mendapat kesempatan untuk menyerang Adik Liong yang sudah terluka. Liong-te masih dapat melawan, akan tetapi lagi-lagi sebatangi paku melukainya, klni di bagian lambungnya dan yang pertama tadi melukai pundaknya.
Luka-luka ini yang ternyata kemudian mengandung racun, membuat dia seperti lumpuh sehingga dia kena pukulan pada dadanya." "Keparat.....!" Kwee Sln berkata gemas "Melihat keadaan adikku terancam, aku menyerbu ke arah adikku dan berhasil merobohkan penyerangnya itu dengan busurku. Entah dia mampus atau tidak, akan tetapi setidaknya kepalanya tentu retak!" Bun Si Teng gemas. "Kemudian aku mengambil keputusan untuk menyelamatkan Liong-te, karena musuh terlampau kuat.
Aku berhasil menyambar tubuh Liong-te dan kubawa lari pulang. Kuda-kuda itu mereka rampas dan ketika pada keesokan harinya aku membawa beberapa orang murid mengunjungi hutan, di situ sudah tidak ada seorang pun anggota Pek-lian-pai." Kwee Sin menepuk pahanya dengan marah. "Ah, kalau tahu begitu, si kurang ajar tadi takkan kulepaskan begitu saja!" Bun Si Teng memandang heran. "Siapa yang kaumaksudkan, Sute?" Kwee Sin lalu menceritakan tentang penunggang kuda yang tadi hampir saja mencelakai Bun Lim Kwi. Mendengar ini berkerut alis Bun Si Teng.
"Hemmm, kalau begitu mereka itu selain bermaksud merampas kuda, juga sengaja hendak memusuhi keluargaku. Ah, kebetulan kau datang, Sute. Aku sudah melakukan penyelidikan dan mendengar bahwa manusia bernama Thio Sian itu berada di dusun Hek-siong-san tak jauh dari sini. Aku tadinya hendak mencarinya di sana untuk membuat perhitungan. Sekarang kebetulan kau datang sehingga hatiku agak lega meninggalkan rumah. Siapa tahu selagi aku pergi, mereka datang membikin kacau sedangkan Liong-te masih belum sembuh. Kau bisa mewakili aku menjaga di rumah." "Twa-suheng, kurasa Twa-suheng saja yang menjaga rumah, biar aku yang mewakili Suheng mencari jahanam Thio Sian itu di Hek-siong-san. Sudah terang bahwa Peklian- pai arnat curang, kalau Suheng sendiri yang pergi ke sana, jangan-jangan mereka akan mengatur jebakan karena mereka sudah mengenalmu. Akan tetapi kalau aku yang pergi, mereka belum mengenalku, maka kiranya akan lebih leluasa bagiku untuk bergerak. Hanya saja, harap Suheng memberi gambaran yang jelas tentang rupa orang she Thio itu." Mendengar kata-kata Kwee Sin ini, Bun Si Teng mengangguk-angguk. Tak dapat disangkal pula, ucapan Kwee Sin ini memang benar sekali. Selain itu, dia sudah percaya akan kepandaian sutenya ini yang tidak berbeda jauh dengan kepandaiannya sendiri. Betapapun juga, menjaga di rumah kiranya merupakan kewajiban yang tidak kalah pentingnya, pula amat berbahaya karena selain harus melindungi anak isterinya, dia harus pula melindungi adiknya yang sedang sakit.
"Baiklah, Kwee-sute. Akan tetapi kau harus hati-hati benar karena biarpun mengenai kepandaian silat kiranya kau tak usah khawatir menghadapi mereka, namun mereka itu licik dan curang sekali. Untuk mengenal orang she Thio itu mudah saja.
Perawakannya kurus tinggi, kumisnya kecil panjang dan di atas pipi kanannya terdapat sebuah tahi lalat merah. la bicara dengan lidah utara." Setelah mendapat penjelasan dari suhengnya, Kwee Sin Jalu pergi melakukan tugasnya, mencari musuh besar suhengnya itu ke dusun Hek-siong-san. Dusun itu kecil saja, akan tetapi ternyata tidak mudah bagi Kwee Sin untuk mencari Thio Sian.
Agaknya tidak ada yang mengenal orang ini di Hek-siong-san.
Akhirnya dia mendapat keterangan tentang orang ini dari seorang pemilik warung arak. "Orang tinggi kurus berkumis kecil dan ada tahi lalatnya merah di pipi kanan? Ah, benar, dia pernah membeli arak di sini, malah tadi aku lihat dia lewat di sini menuju ke timur." Mendengar keterangan ini, Kwee Sin mengucapkan terima kasihnya dan cepat dia melakukan pengejaran ke timur. Di sebelah timur dusun ini terdapat sebuah hutan kecil. Tanpa ragu-ragu Kwee Sin memasuki hutan ini, biarpun hari sudah mulai senja.
Hutan pohon siong yang menghitam kulitnya itu nampak gelap. Ia melihat hutan itu sunyi saja, bahkan tidak nampak seekor binatang hutan.
Tiba-tiba dia mencium bau asap dan melihat asap membumbung tinggi dari sebelah kiri. Berindap-indap dia mendekati dan dengan girang dia melihat seorang laki-laki menghadapi api unggun. Laki-laki ini cocok dengan gambaran diri Thio Sian dan lebih girang lagi hatinya karena melihat laki-laki ini seorang diri saja, tidak ada orang lain di situ. Dengan berani dan gagah Kwee Sin lalu meloncat mendekati dan berdiri dengan tangan bertolak pinggang.
"Orang she Thio, bersiaplah membuat perhitungan atas perbuatanmu yang pengecut dan curang!" bentaknya sambil mencabut keluar pedangnya.
Orang tinggi kurus itu tersenyum, lalu bangkit berdiri dengan tenang.
"Payah kau mencari-cari aku di Hek-siong-san, lalu mengejar ke sini atas keterangan tukang penjual arak. Dapat bertemu setelah aku membakar daun-daun kering ini. Eh, orang muda yang gagah, apa perlunya kau mencari aku Thio Sian?" Kwee Sin kaget sekali. Kiranya orang yang dicari-carinya ini telah lebih dulu tahu akan kedatangannya. Benar berbahaya. Diam-diam dia mengerling ke kanan kiri untuk mencari kalau-kalau orang ini sudah memasang jebakan. Ia merasa gentar juga, namun sebagai seorang pendekar dia tidak mau memperlihatkan ini.
"Jangan kau bersikap pura-pura," katanya mengejek. "Kau sudah berani menipu Kunlun Sam-hengte, menipu kedua suhengku, malah melukai ji-suhengku dengan pengeroyokan pengecut. Ketahuilah, aku Kwee Sin takkan membiarkan orang macam engkau menghina ji-suheng begitu saja!" Orang itu sambil tersenyum lalu menjura. "Eh, kiranya Pek-lek-jiu Kwee-enghiong yang datang. Sudah lama mendengar nama besar Kwee-enghiong, dan aku yang bodoh Thio Sian juga sudah beruntung sekali berkenalan dengan kedua saudara Bun yang gagah....." Mendongkol sekali hati Kwee Sin. "Orang she Thio, jangan berpura-pura menjual mulut manis. Awas pedangku!" la merasa dipermainkan dan khawatir kalau-kalau dijebak maka cepat dia mengirim serangan.
"Eh, eh, benar-benar berdarah panas!" Orang itu» dengan mudahnya mengelak Kwee Sin mendesak lagi dengan pedangnya sehingga mau tidak mau Thio Sian mencabut golok dan menangkis.
"Kau hendak menguji kepandaian? Baiklah, tiada halangannya di tempat sunyi kita bermain-main, biar kita penuhi syarat perkenalan dengan bertanding lebih dulu.
Di lain saat kedua orang itu sudah bertanding seru. Diam-diam Kwee Sin harus mengakui kehebatan lawannya yang memiliki golok yang amat cepat dan kuat. Payah dia mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya, namun tetap saja dia tidak mampu mendesak lawannya. Dia mulai gelisah. Kalau ada seorang lagi saja teman lawannya, dia tentu celaka dan takkan dapat menang. Oleh karena itu dia mulai melakukan pukulan-pukulan tangan kiri, yaitu pukulan Pek-lek-jiu yang amat ampuh.
"Ayaaa..... kau benar-benar hendak mengambil nyawa orang tak berdosa?" Thio Sian nampak terkejut dan cepat mengelak. "Mari kita bicara dulu." Tapi Kwee Sin mana mau berhenti? Malah menyerang makin gencar dengan pedang dan pukulan-pukulannya. Tiba-tiba Thio Sian juga melakukan penyerangan dengan tangan kirinya, melakukan pukulan-pukulan jarak jauh untuk menandingi Pek-lek-jiu dari jago muda Kun-jun-pai itu.
Pada saat itu cuaca sudah mulai gelap. Pertempuran sudah berlangsung hampir seratus jurus. Berkali-kali Thio Sian minta dihentikan, namun Kwee Sin tidak mau peduli. Tiba-tiba berkelebat bayangan kecil berwarna merah ke arah Thio Sian. Orang ini terkejut menangkis dengan goloknya. Bayangan itu ternyata sehelai saputangan dan Thio Sian mengeluarkan seruan kaget, tubuhnya terhuyung-huyung ke belakang.
"Aaahhhhh..... kau..... kau bersekutu dengan dia......?" la mengeluh dan tiba-tiba tangan kirinya melayangkan beberapa buah Pek-lian-ting ke arah Kwee Sin Penyerangan ini tiba-tiba datangnya. Kwee Sin sudah berusaha menghindarkan diri, namun sebatang paku Pek-lian-tin denga tepat sekali menancap di jalan darah dekat lehernya. Pandang matanya gelap dan Kwee Sin mengeluh perlahan lalu roboh pingsan! Ketika Kwee Sin membuka matanya sambil mengeluh kesakitan, dia menjadi heran dan kaget karena mendapatkan dirinya sudah rebah di atas pernbaringan dalam sebuah kamar yang berbau harum. Lehernya terasa panas dan sakit sekali, sampai berdenyut kepalanya. Namun dia memaksa diri bangun duduk. Terdengar pintu kamar berderit terbuka, lalu tertutup lagi. Kwee Sin menoleh dan..... matanya terbelalak lebar ketika dia melihat seorang wanita muda cantik sekali memasuki kamar itu sambil tersenyunn manis.
"Kau..... kau siapakah.....?" Kwee Sin hendak melompat turun. Wanita itu melangkah ringan dan cepat, tahu-tahu sudah berada di pinggir pembaringan, lalu menjura dan berkata, dengan kata-kata yang sopan dan merdu.
"Harap Taihiap tenang dan jangan kaget, biarlah Siauw-moi memberi penjelasan .."
Tapi..... tapi tak pantas sekali kita .... berada di sini....." "Sssssttt......" Manis sekali ketika wanita itu menaruh telunjuk di depan mulut dan bibirnya mengeluarkan suara ini untuk mencegah pemuda itu membuat berisik.
"Taihiap, jangan ribut-ribut, kalau terdengar para pelayan losmen dan para tamu, kita malah akan mendapat malu. Dengarlah Siauw-moi bicara....." Wanita itu dengan sikap sopan tapi amat manis menarik lalu duduk di atas bangku depan pembaringan sambil memberi isyarat dengan tangannya agar Kwee Sin berbaring kembali. "Kau berbaringlah, lukamu masih belum sembuh dan perlu beristirahat." Karena memang kepalanya berdenyut-denyut dan pening, Kwee Sin terpaksa menurut dan membaringkan badan, biar-un hatinya merasa tidak enak sekali. Dia seorang gagah, bagaimana sekarang bisa berada sekamar dengan seorang gadis cantik jelita? Benar-benar memalukan dan mencemarkan namanya! "Taihiap, secara terpaksa sekali aku membawamu ke dalam losmen ini. Kau terluka hebat oleh paku Pek-lian-ting. Kau pingsan, lukamu parah, tepat mengenai jalan darah besar di leher. Tanpa mendapat pengobatan yang cepat dan tepat, keadaanmu akan berbahaya sekali. Di dalam hutan yang sunyi, bagaimana, aku dapat menolongmu? Karena itu secara terpaksa sekali aku membawamu ke losmen ini, menyewa sebuah kamar." "Tapi..... tapi.....," Kwee Sin memprotes, "mengapa hanya sekamar? Padahal, kau dan aku..... laki-laki dan wanita, sungguh tak patut....." Wajah wanita itu menjadi merah sekali, terutama di kedua pipinya, membuat ia nampak makin jelita. "Maaf, Taihiap. Aku..... aku terpaksa mengaku bahwa kita.....
kita ini suami isteri....." "Ahhh!" Kwee Sin terkejut dan hendak bangun, tapi lehernya sakit sekali dan dia rebah kembali.
"Terpaksa, Taihiap. Kalau aku tidak mengaku demikian, tentu akan menimbulkan kecurigaan. Aku mengaku suami isteri yang berpesiar, laiu kau mendapat kecelakaan jatuh dari kuda. Setelah aku mengaku bahwa kita adalah suami isteri, tidak ada seorang pun yang memperhatikan atau menaruh curiga.
Kwee Sin diam saja. la merasai kebenaran omongan wanita ini. la melirik dan melihat wanita itu menyusuti dahi dengan sehelai saputangan merah. Tiba-tiba dia teringat dan dia memaksa diri duduk.
"Kau..... kaukah yang menyerang dan merobohkan Thio Sian dan yang rnenolongku?" la memandang tajam, ragu-ragu. Wanita itu merah lagi kedua pipinya, ketika mengangguk, tersenyum dan berkata perlahan, "Sudah sepatutnya kita saling tolong-menolong, apalagi menghadapi seorang penjahat besar seperti tokoh Pek-lianpai itu. Ketika aku melihat seorang Pek-lian-pai bertempur melawanmu, tanpa raguragu aku memihak kepadamu, Taihiap. Tidak tahu, siapakah nama Taihiap yang mulia?" Sambil duduk Kwee Sin cepat-cepat mengangkat kedua tangan memberi hormat.
"Ah, kiranya Nona .adalah penolongku. Terima kasih banyak, Nona sudah menolong dan menyelamatkan nyawaku. Aku yang bodoh bernama Kwee Sin dan bolehkah aku mengetahui nama besar Taihiap (Nona Pendekar)?" "Aku bernama..... Kim Li, she (nama keluarga) Cou. Kwee-taihiap, karena aku sudah terlanjur mengaku suami isteri, untuk melenyapkan kecurigaan orang, kuharap kau jangan menyebut lihiap..... sebut saja namaku, dan..... dan kalau boleh aku lebih suka menyebutmu Kwee-koko (Kakanda Kwee)....." Berdebar jantung Kwee Sin, akan tetapi pada saat itu juga lehernya terasa nyeri bukan main sampai kepalanya berdenyut-denyut. la meramkan matanya dan mengeluh perlahan. Wanita itu yang bukan lain adalah Kim-thouw Thian-li atau Ngo-liankauwcu ketua Ngo-lian-pai, segera menghampiri. Dengan mesra dan halus ia menaruh telapak tangannya di atas kening Kwee Sin dan berkata merdu.
"Kau mulai terserang demam, Kwee-koko. Akan tetapi tidak apa, kau tidurlah, biarlah kumasakkan obat untukmu." Dengan amat teliti wanita ini merawat Kwee Sin. Sikapnya penuh kasih dan mesra, selama dua hari dua malam tak pernah meninggalkan kamar itu, tak pernah tidur.
Biarpun sedang menderita demam, Kwee Sin masih ingat akan semua ini dan diamdiam dia merasa amat terharu dan berterima kasih. Belum pernah selama hidupnya dia mempunyai seorang yang begini baik terhadap dirinya, bahkan tunangannya sendiri, nona Liem Sian Hwa, belum pernah bersikap sedemikian manis dan penuh kasih.
Kwee Sin adalah seorang pemuda yang masih hijau dalam menghadapi godaan wanita.
la belum mampu membedakan antara kasih sayang yang murni dengan kasih sayang seperti yang dikandung dalam hati seorang wanita seperti Kim-thouw Thian li. Tak dapat disangkal bahwa biarpun masih muda, Kwee Sin sudah banyak sekali pengalamannya dalam dunia kangouw, namun tentang cinta kasih, dia benar-benar masih hijau dan hatinya masih bersih sehingga dia menganggap sikap wanita itu sebagai cinta yang benar-benar murni.
Betapapun juga, Kim-thouw Thian-li benar-benar jatuh hati kepada pemuda jago Kun-lun-pai ini. Melihat sikap Kwee Sin yang bersih dan jujur, yang selalu sopan dan tidak sekali-kali mau melanggar kesusilaan, wanita ini merasa malu dan takut sendiri untuk bersikap terlalu genit. Namun dengan kepandaiannya membujuk rayu, ia berhasil juga mendatangkan rasa haru dalam hati Kwee Sin dan mulailah dalam hati pemuda ini timbul penyesalan mengapa dia tidak diikatkan jodoh dengan seorang gadis seperti Coa Kim Li ini! Pada hari ke tiga, Kwee Sin sudah sembuh kembali. la lalu menghaturkan terima kasih kepada Coa Kim Li atau yang sesungguhnya berjuluk Kim-thouw thian-li itu.
"Adik Kim Li," katanya terharu, "aku merasa berhutang budi kepadamu. Kalau aku Kwee Sin tak mampu membalas budimu, biarlah Thian yang akan membalasnya.
Sekarang kita harus berpisah, aku akan rnelanjutkan perjalananku dan aku tidak berani mengganggu kau lagi." Kim-thouw Thian-li tersenyum manis, akan tetapi sinar matanya memperlihatkan kedukaan hatinya, "Kwee-koko, mengapa kita harus berpisah? Apakah salahnya kalau kita melakukan perjalanan bersama? Koko, aku..... entah mengapa, selama hidupku belum pernah aku mempunyai seorang..... sahabat seperti kau. Aku..... agaknya akan sukar sekali bagiku untuk berpisah dari sampingmu." Kwee Sin makin terharu, apalagi ketika dia melihat dua butir air mata jernih turun dari sepasang mata yang indah itu. Dipegangnya kedua tangan Kim Li dan suaranya menggetar, "Kim Li, percayalah, aku pun mempunyai perasaan seperti yang kaurasai itu. Kau satu-satunya wanita yang selama hidupku amat baik kepadaku. Akan tetapi..... kurasa tidak sepatutnya kalau kau seorang gadis gagah perkasa melakukan perjalanan bersama seorang laki-laki. Akan tercemar nama baikmu. Ke dua....." "Kwee-koko, peduli apa sama anggapan umum? Kita orang-orang gagah tidak perlu mendengarkan gonggongan anjing-anjing di tepi jalan!" Kwee Sin tersenyum pahit. "Betul kata-katamu, akan tetapi mau tidak mau kita harus menghindarkan dugaan yang bukan-bukan. Selain itu, yang ke dua..... aku harus berterus terang kepadamu. Kim Li moi-moi, aku..... aku sebenarnya sudah..... sudah bertunangan....." Aneh, sama sekali wanita itu, tidak nampak kaget atau pun kecewa. Memang, bagi seorang seperti Kim-thouw Thian-li, laki-laki yang disukainya tetap laki-laki, tak peduli dia itu belum bertunangan maupun sudah beristeri atau sudah menjadi ayah.
Akan tetapi dengan kepandaiannya, ia bisa membuat kedua pipinya menjadi kemerahan.
"Siapa..... siapa dia itu, Koko? Tentu gadis yang cantik jelita dan gagah perkasa?" "Tentang kecantikannya, aku tak dapat bilang ia amat cantik, setidaknya..... eh, tidak secantik engkau. Tentang kepandaiannya, tentu saja ia lihai karena dia itu adalah orang termuda dari Hoa-san Sie-eng." "Ahhh, dia Kim-eng-cu Liem Sian Hwa.....?" "Kau sudah mengenalnya, Kim Li" "Siapa yang tidak tahu bahwa orang termuda dari Hoa-san Sie-eng adalah Kiam-engcu?" Bibir yang merah itu berjebi. "Hemmm, kukira bidadari dan kahyangan yang sakti!" Merah muka Kwee Sin. la teringat bahwa Kim Li memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi, mungkin tidak kalah oleh Liem Sian Hwa dan yang sudah jelas tidak kalah olehnya sendiri. Buktinya, Thio Sian yang lihai itu juga roboh oleh wanita ini.
Menurut pengakuan Kim Li, Thio Sian dapat dibunuhnya di dalam hutan itu dan ditinggalkan begitu saja.
"Dia memang gadis sederhana saja....." akhirnya dia berkata untuk mengusir rasa jengahnya.
"Jadi kau sekarang hendak pergi ke sana? Di mana sih rumah tunanganmu itu, Koko?" "Di Lam-bi-chung. Terpaksa aku harus singgah di sana memenuhi pesan suhu, setelah singgah sebentar aku akan kembali ke Kun-lun." "Bagus! Tujuan perjalananku juga melalui Lam-bi-chung. Kita bisa melakukan perjalanan bersama, Koko? Dekat sana ada Telaga Pok-yang, amat indah apa-lagi pada awal musim chun (semi) seperti sekarang ini. Kwee-koko, kalau begitu, marilah kita berangkat. Aku takkan mengganggumu, jika kau singgah di Lam-bi chung, aku akan menjauhkan diri!" Sikap yang amat gembira dari Kim Li ini rnembuat Kwee Sin tak dapat menolak lagi.
Apalagi kalau diingat bahwa dia memang akan senang sekali melakukan perjalanan bersama gadis ini. Kalau tadi dia mengajukan keberatan, itu hanya karena dia hendak menjaga nama baik gadis ito, maka sekarang mendengar bahwa gadis itu pun hendak melakukan perjalanan sejurusan dengannya, dia menjadi girang bukan main.
"Li-moi, kau sebetulnya hendak pergi ke manakah?" tanyanya serius.
Akan tetapi gadis itu hanya tertawa saja, tertawa manis sambil menampar lengan Kwee Sin. "Banyak tanya mau apa sih? Lebih baik lekas berkemas dan segera berangkat!." Kwee Sin tertawa senang melihat gadis itu berlari-lari ke belakang untuk mencari pelayan dan memberi tahu bahwa mereka hendak pergi meninggalkan losmen.
Dan memang benar dugaan Kwee Sin. Perjalanan yang dia lakukan bersama Coa Kim Li benar-benar amat menggembirakan hatinya. Alangkah jauh bedanya dengan perjalanan yang dia lakukan seorang diri sebelum dia bertemu dengan gadis ini.
Sebelum mereka meninggalkan dusun itu, lebih dulu Kwee Sin singgah di Sin-yang, ke rumah Bun Si Teng dan Bun Si Liong. Kim Li tidak mau turut dan menanti di luar kampung. Hal ini malah dianggap kebetulan oleh Kwee Sin, karena dia sendiri juga merasa sungkan dan malu terhadap kedua suhengnya kalau mereka ini tahu bahwa dia hendak melanjutkan perjalanan bersama seorang gadis cantik.
Bun Si Teng dan Bun Sin Liong yang sudah sembuh, merasa girang dan lega melihat munculnya Kwee Sin. Tadinya dua orang suheng ini merasa amat khawatir karena beberapa hari sute ini tidak muncul. Bun Si Teng malah sudah menyusul ke dalam hutan dan dapat dibayangkan betapa kaget dan herannya ketika di tengah hutan itu dia mendapatkan mayat Thio Sian ditangisi oleh seorang anak perempuan berusia sembilan atau sepuluh tahun! Selagi dia terlongong dan heran karena tidak melihat sutenya di dekat tempat itu, terdengar suara keras, disusul berkelebatnya bayangan tinggi besar dan di lain saat mayat itu bersama gadis cilik telah lenyap dari situ.
Bun Sin Teng kaget dan lari mengejar ke arah berkelebatnya bayangan, akan tetapi dia hanya melihat dari jauh seorang hwesio tinggi besar memondong gadis kecil itu sambil mengempit mayat Thio Sian, berjalan dengan langkah lebar akan tetap cepat seperti terbang! Melihat tangan kiri hwesio itu memanggul sebatang dayung, Bu Si Teng menjadi pucat karena. dia pernah rnendengar tentang seorang, sakti yang menjadi orang nomor satu di dunia timur, yaitu Tai-lek-sin Swi Lek Hosiang. Apa betul pertapa yang puluhan tahun tak pernah turun gunung itu sekarang tiba-tiba muncul di situ? Setelah mendengar cerita Kwee Sin yang telah berhasil merobohkan Thio Sian dengan pertolongan seorang nona pendekar yang bernama Coa Kim Li, dua orang saudara Bun itu menarik napas lega.
"Sungguh sayang sekali bahwa kita dihadapkan kenyataan yang amat pahit dan mengecewakan. Pek-lian-pai yang tadinya kita anggap sebagai perkumpulan orangorang gagah yang berjiwa patriotik, ternyata sekarang hanyalah merupakan perkumpulan orang-orang jahat belaka. Sute, kau harus memberi laporan yang jelas kepada suhu, agar orang tua itu tenang hatinya dan tidak akan menyalahkan kita kalau kita tidak membantu Pek lian-pai," kata Bun Si Teng kepada sutenya Setelah menyatakan bahwa dia hendak lekas-lekas kembali Kun-lun-pai dan singgah di Lam-bi-chung seperti yang dipesankan suhunya, Kwee Sin meninggalkan dusun Sin-yang, berjalan cepat sekali keluar kampung untuk menjumpai sahabat barunya, nona Coa Kim Li. Akan tetapi dia menjadi kaget dan kecewa, juga gelisah karena tidak melihat nona itu yang tadi duduk menantinya di bawah sebatang pohon.
"Aduh, celaka Ke mana dia Jangan-jangan aku ditinggalkan. Jangan-jangan dia kesal karena aku tadi terlalu lama di rumah suheng....." la duduk di bawah pohon itu dengan kening berkerut. Tiba-tiba terdengar suara ketawa dari belakang pohon. Kwee Sin cepat melompat dan menengok, wajahnya berseri matanya bersinar-sinar.
"Kim Li.....!" Saking girangnya melihat nona itu ternyata tidak pergi meninggalkannya, Kwee Sin memegang kedua lengannya dan hampir saja dia merangkulnya. Kim Li tersenyum dan matanya bersinar-sinar.
"Kwee-koko, kenapa kau tadi bermuram di bawah pohon?" Kim Li menggoda.
"Kukira kau telah pergi meninggalkan aku." "Eh, jadi kau sedih kalau kutinggalkan ?"
"Sedih.....? Tentu saja..... eh, aku..... aku.»..." Kwee Sin baru merasa bahwa tanpa disadarinya dia telah kena umpan, dipancing keluar perasaan hatinya.
Kim Li tertawa, menarik lengan Kwee Sin sambil berkata, "Sudahlah, hayo kita melanjutkan perjalanan." Kwee Sin tersenyum-senyum, membiarkan saja tangannya digandeng sehingga mereka berdua sambil berjalan bergandengan tangan, seperti sepasang kekasih. Tanpa dia sadari, Kwee Sin sudah mulai roboh, masuk dalam perangkap yang dipasang gadis cantik itu. Terlalu pandai Kim-thouw Thian-li memikat dengan wajahnya yang cantik ataukah terlalu hijau Kwee Sin dalam menghadapi kelihaian siasat wanita cantik? Dengan melalui perjalanan yang penuh kegembiraan bagi Kwee Sin, kegembiraan hidup yang baru kali ini dia rasakan, akhirnya mereka tiba di Telaga Pok-yang dan mereka berdua, seperti sepasang pengantin baru, berpesiar naik perahu di telaga ini.
Sering kali Kwee Sin terheran-heran melihat bahwa gadis ini ternyata mempunyai pengaruh besar di mana-mana. Ketika hendak memasuki daerah telaga, tampak serombongan tentara yang mencegat para pelancong, lalu memeriksa dengan teliti.
Memang daerah ini terkenal sebagai daerah para tokoh pemberontak, maka pemerintah Mongol mengadakan penjagaan yang teliti. Akan tetapi ketika mereka ini melihat Coa Kim Li, mereka memberi hormat dan tidak mengganggu gadis itu bersama Kwee Sin. Dalam keheranannya Kwee Sin bertanya apa sebabnya gadis ini seakan-akan memiliki kekuasaan, akan tetapi Kim Li hanya tersenyum dan berkata, "Cacing-cacing tanah macam mereka masih dapat mengenal orang baik-baik, itu masih untung. Andaikata mereka berani mengganggu kita berdua, apakah mereka akan dapat hidup terus dengan kepala menempel di leher?" Karena pandainya Kim Li menjawab dan menyimpan pertanyaan, pandainya ia merayu, Kwee Sin tidak mendesak terlebih jauh. Mereka berpesiar sampai puas di Telaga Pok-yang yang amat indah itu. Sama sekali Kwee Sin tidak tahu bahwa gerakgeriknya di telaga ini diketahui oleh calon mertuanya, Liem Ta ayah Liem Sian Hwa! Dan seperti telah dituturkan di bagian depan, Liem Ta pulang sambil marah-marah dan menyatakan di depan puterinya bahwa pertunangan dengan Kwee Sin diputuskan! Ketika Kwee Sin menyatakan keinginannya kepada Kim Li untuk menengok ke dusun Lam-bi-chung, ke rumah calon isterinya, Kim Li terSenyum pahit dan berkata "Guru adalah setingkat dengan ayah, kata-katanya harus ditaati. Kau hendak mentaati pesan gurumu, pergilah kau singgah ke rumah keluarga Liem. Akan tetapi aku tidak bisa ikut pergi ke sana. Selamat berpisah, Kwee-koko. Harap kau tidak melupakan Coa Kim Li!" Setelah berkata demikian, sekaji meloncat gadis itu lenyap dari depan Kwee Sin. Pemuda ini menyesal sekali dan hendak mengejar, akan tetapi dia maklum bahwa tak mungkin dia mengejar Coa Kim Li yang berkepandaian lebih tinggi dari padanya. Dengan kecewa, kehilangan kegembiraan dan malas-malasan dia lalu pergi seorang diri ke Lam-bi-chung. Karena masih mengharapkan untuk dapat melihat Kim Li kembali ke Po-yang, dia tidak meninggalkan telaga itu sebelum menanti sampai tiga hari. Barulah dia pergi ke Lam-bi-chung setelah pada hari ke empat dia masih belum melihat kembali Kim Li. Dengan hati berat dia berjalan ke dusun Lam-bichung untuk menengok rumah Liem Sian Hwa.
Akan tetapi, apa yang dia dapatkan di rumah itu? Rumah yang tertutup dan tidak ada penghuninya. Masih ada tanda-tanda berkabung di depan pintu rumah kosong itu.
Dapat dibayangkan betapa kaget hatinya ketika dia mendapat keterangan dari para tetangga balwa calon mertuanya, Liem Ta, telah didatangi penjahat dan terbunuh ketika Liem Sian Hwa sedang pergi! Sudah dituturkan di bagian depan bahwa Liem Sian Hwa menyusui ke Pok-yang untuk membuktikan dengan mata kepala sendiri penuturan ayahnya tentang Kwee Sin dan seorang wanita. Sayang bahwa ia tidak bertemu dengan dua orang itu dan ketika ia pulang, ayahnya sudah terluka dan tewas.
Kita kembali kepada Kwee Sin yang menjadi kaget dan berduka sekali. La mendapat keterangan lagi bahwa Liem Sian Hwa setelah kematian ayahnya lalu pergi bersama seorang laki-laki gagah perkasa yang disebut suhengnya. Kwee Sin dapat menduga bahwa Liem Sian Hwa tentulah pergi bersama seorang di antara tiga orang suhengnya, yakni orang-orang dari Hoa-san Sie-eng.
"Betapapun juga, aku harus mencarinya," pikjr Kwee Sin. "Kasihan sekali Sian Hwa, aku harus menyatakan penyesalanku dan menghiburnya." Dalam berpikir demikian ini dia membayangkan wajah Sian Hwa. Akan tetapi heran sekali wajah gadis itu berangsur-angsur berubah menjadi wajah Kim Li yang tersenyum-senyum dan membujuk rayu! Cepat dia mengerahkan tenaga mengusir wajah Kim Li dan pipinya menjadi kemerahan. Ah, kalau saja tidak berlambat-lambat dengan Kim Li dalam perjalanan, kalau aku dapat datang di Lam-bi-chung beberapa pekan lebih dulu, kiranya aku akan dapat mencegah terjadinya pembunuhan atas diri calon mertuaku! Makin berat rasa hati Kwee Sin ketika dia melanjutkan perjalanan meninggalkan Lam-bi-chung. Tadinya dia sudah merasa kecewa dan murung karena Kim Li meninggalkannya secara demikian saja tanpa memberi tahu di mana dan kapan dia dapat bertemu kembali dengan gadis itu. Sekarang di tambah lagi dengan peristiwa menyedihkan yang menimpa keluarga calon isterinya, hati Kwee Sin menjadi sedih dan dia lalu mengambil keputusan untuk kembali saja ke Kup-lun-san.
Pada suatu senja dia tiba di luar kota Leng-ki. Di jalan itu sunyi sekali tidak tampak seorang pun manusia. Kwee Sin berjalan dengan kepala tunduk. Dalam beberapa hari ini wajahnya nampak kurus dan agak pucat. Tiba-tiba dia mendengar benda menyambar ke arahnya. Sebagai seorang jago muda yang berkepandaian tinggi, keadaan tubuh pemuda ini selalu dalam keadaan siap siaga. Cepat dia miringkan tubuh dan tangannya otomatis menangkis, menyampok sambaran benda itu. Sebelum melihat ke arah benda yang dapat dia pukul jatuh, dia trengginas melompat ke arah dari mana benda tadi menyambar, matanya tajam mencari-cari. Akan tetapi tidak terlihat seorangpun manusia di sekitar tempat itu yang sudah mulai gelap itu. Kini perhatiannya ditujukan ke arah benda yang menyambarnya tadi.
Benda itu segumpal kertas. Ketika dia memungutnya, ternyata kertas yang digumpalgumpal itu berisi tulisan singkat, tulisan tangan yang halus berbunyi: PERGILAH KE LOSMEN KECIL MALAM INI. Tidak ada tanda-tanda yang dapat, dia kenal pada kertas itu, entah siapa yang menulisnya. Akan tetapi ketika hidungnya mencium bau harum pada kertas itu, hatinya berdebar penuh harapan. Harum kertas itu mengingatkan dia akan diri Coa Kim Li! Pergi ke losmen kecil? Losmen manakah? Kwee Sin memandang ke depan. Di depan itu terdapat sebuah kota kecil, tentu di situlah yang dimaksudkan adanya losmen kecil. Mengapa ke situ? Menemui siapa? Timbul harapannya. Tentu Coa Kim Li berada di losmen itu. Akan tetapi kenapa meninggalkan pesan supaya dia malam ini pergi ke sana? Kalau gadis itu betul-betul berada di sini, kenapa tidak langsung menemuinya? Akan tetapi, jawaban semua pertanyaan ini yang rnerupakan kenyataan apa yang dia dapatkan di losmen kecil dalam kota Leng-ki, benar-benar di luar dari-pada dugaanya semula. la mendengar bahwa tunangannya, Liem Sian Hwa, bersama Kwa Tin Siong orang tertua dari Hoa-san Sie-eng berada di losmen itu! Timbul juga kegembiraannya untuk menjumpai tunangannya dan pendekar Hoa-san-pai ini, akan tetapi diam-diam dia menaruh hati curiga. Apa maksudnya surat yang dia terima secara aneh di tengah jalan tadi? Siapakah si pengirim surat itu? Apakah Kwa Tin Siong dan Liem Sian Hwa? Kalau memang mereka ini, tidak aneh karena dia maklum bahwa jago-jago Hoa-san-pai memiliki kepandaian tinggi Akan tetapi apa maksudnya? Dengan cara yang penuh rahasia itu tentu mereka bermaksud supaya dia mengunjungi mereka secara diam-diam dan rahasia pula.
Oleh karena pikiran ini, Kwee Sin menanti sampai datangnya malam yang sunyi dan secara rahasia dia mendatangi losmen, langsung mencari jalan melalui taman bunganya. Akan tetapi, dapat dibayangkan betapa kaget, heran, marah dan malunya ketika dia menyaksikan adegan yang membuat darahnya mendidih. la melihat Liem Sian Hwa terisak-isak berada dalam pelukan Kwa Tin Siong. Api cemburu membakar jantung Kwee Sin. Tanpa berpikir panjang lagi dia lalu mengeluarkan sisir perak yang menjadi tanda pengikat perjodohannya dengan Liem Sian Hwa, dilemparkannya sisir perak itu ke arah dua orang yang sedang berpelukan di taman. Kemudian dia meloncat dan pergi menghilang di dalaim gelap.
Dengan hati makin berat dan penuh kedukaan, penuh kekecewaan, Kwee Sin pada saat itu juga menlnggalkan kota Leng-ki, melanjutkan perjalanannya menuju ke Kunlun- san. la tidak beristirahat malam itu, semalam penuh dia terus saja berjalan, hatinya penuh penyesalan.
Selagi dia berjalan sambil melamun di atas jalan raya yang sunyi, di waktu malam mulai berganti fajar, dia mendengar suara kaki banyak kuda berlari cepat dari arah belakang. la cepat minggir dan berdiri memandang. Tujuh ekor kuda dengan para penunggangnya berlari cepat dan sebentar saja sudah nrielewatinya. Mereka ini adalah orang-orang yang kelihatan gagah, yang tiga orang berbaju putih. Seorang yang melarikan kuda paling depan adalah seorang wanita cantik dan gagah. Hanya sekejap saja mereka melewati jalan itu, namun di dalam cuaca yang remang-remang itu Kwee Sin masih dapat mengenal wanita tadi.
"Kim Li.....!" teriaknya. Akan tetapi teriakannya tertelan oleh derap kaki kuda.
Betapapun juga dia masih sempat melihat wanita itu menoleh dan tersenyum ke arahnya, lalu makin membalapkan kudanya tanpa mernberi isyarat sesuatu.
Kwee Sin penasaran. Tidak bisa salah lagi, wanita itu tentulah Kim Li. Tidak saja dia mengenal wajah yang cantik itu, mata yang tajam bersinar, akan tetapi ia pun mengenal baik-baik senyum manis Kim Li, senyum yang selama ini menjatuhkan hatinya. la melupakan kelelahan dan kesedihannya, rnempercepat larinya mengejar ke arah para penunggang kuda yang makin lama makin jauh itu.
Sepertl telah dituturkan di bagian depan Kwee Sin akhirnya memasuki dusun Kui-lin di tepi Sungai Yang-ce, dan dia sempat mencegah Coa Kim Li atau Kim-thouw Thian-li yang hendak membunuh Tan Hok. Demikianlah keadaan Kwee Sin, jago termuda dari Kun-lun Sam-heng te, dan bagaimana dia sampai dapat berkenalan dengan Kim-thouw Thian-li yang dia kenal sebagai gadis Coa Kim Li yang gagah perkasa, cantik jelita, dan menarik hatinya.
Kita kembali ke warung arak Phang Kwi di mana Kwee Sin bertemu kembali dengan Kim Li. Setelah mencegah Kim Li membunuh Tan Hok, Kwee Si seperti seekor kerbau menurut saja dituntun oleh Kim Li duduk menghadapi meja dan menerima hidangan dari Phang Kwi yang nampaknya takut sekali terhadap Kim Li.
"Minumlah, Koko, minumlah arak ini dan bergembiralah. Setelah aku berada di sampingmu, tak perlu kau bermuram durja lagi. Wanita tidak setia seperti dia itu lebih baik kaulupakan saja." Kim Li membujuk sambil mengisi penuh cawan arak di depan Kwee Sin, lalu mengangkat cawan itu diberikannya kepada Kwee Sin. Sikapnya amat menarik, matanya memandang penuh kasih dan mulutnya tersenyum-senyum manis.
Kwee Sin melengak. Kau Sudah tahu ....?"
Kim Li mengangguk dan baru ia melihat bahwa gadis itu sekarang membawa golok tipis kecil yang terselip di punggungnya, selendang merah yang harum indah itu tergantung di ikat pinggang. Bajunya berkembang sutera mahal yang indah dan mencetak tubuhnya. Rambutnya yang panjang hitam digelung rapi, dihias setangkai bunga teratai yang amat aneh warnanya, karena ada merahnya, ada putihnya, ada biru, kuning dan kehijauan, terbuat dari mutiara-mutiara, pilihan. Cantik jelita nampaknya dengan pipinya yang merah.
"Kalau begitu..,.. kau pula agaknya yang mengirim surat kepadaku.....?" Kembali Kim Li mengangguk. "Melihat wanita pilihan gurumu itu tidak patut menjadi pendampingmu selama hidup, aku tidak tega mendiamkan begitu saja. Kau perlu mengetahui dengan mata kepala sendiri." "Kenapa kau berlaku secara rahasia, tidak langsung menjumpai aku?".
Kim Li memegang lengan Kwee Sin dengan sentuhan mesra. "Aku khawatir kalau aku muncul, kau mengira aku cemburu." Kwee Sin menarik napas panjang dan Kim Li kembali membujuk, "Sudahlah, Koko, lupakan saja dia. Setelah kita berkumpul lagi, mengapa susah-susah? Mari minum!" Karena hiburan dan sikap manis dari gadis ini, Kwee Sin terhibur juga dan tak lama kemudian dua orang itu sudah minum sepuas-puasnya sambil bertukar pandang penuh cinta kasih, malah Kwee Sin sudah bangkit kembali kegembiraannya, mau melayani sendau gurau wanita itu.
Baik Kwee Sin maupun Kim Li sama sekali tidak pernah mengira bahwa semua perbuatan mereka semenjak tadi telah diintai orang. Tan Hok setelah mendapat pertolongan dari Kwee Sin, biarpun kelihatannya tadi sudah pergi, akan tetapi diamdiam dia merayap datang kembali secara diam-diam. la amat sakit hati terhadap Kimthouw Thian-li yang telah membunuh Tan Sam, akan tetapi ia juga amat berterima kasih kepada Kwee Sin yang telah menolongnya. Alangkah kecewa, marah, dan menyesalnya ketika dia melihat betapa Kwee Sin yang sekarang dia tahu dari namanya ternyata seorang jago muda gagah perkasa dari Kun-lun-pai itu, jatuh hati kepada Kim-thouw Thian-li. Pemandangan yang dia lihat di dalam warung arak itu membuat hatinya jemu dan kesedihannya timbul. la tadinya hendak mengharap bantuan dari Kwee Sin, kiranya pemuda Kun-lun-pai itu sudah bertekuk lutut di bawah kaki Kim-thouw Thian-li, tak kuasa menentang kecantikan wanita berbahaya itu! Dengan hati sedih Tan Hok malam-malam pergi dari tempat itu. Matanya yang biasanya sayu itu kini menjadi basah air mata.
Semenjak kecil Tan Hok tidak pernah mengenal orang tuanya, hidup sebatangkara.
Setelah Tan Sam memungutnya, barulah dia mengenal sedikit kesenangan hidup.
Sekarang Tan Sam tewas dan dia tidak berdaya membalas dendam. Tan Hok biarpun menjadi murid dan kawan Tan Sam yang menjadi tokoh Pek-lian-pai dan luas pengalamannya, namun pemuda ini memang pada dasarnya bodoh dan jujur, malah hatinya penuh oleh kedukaan yang dideritanya semenjak kecil.
Bagaikan sebuah layangan putus talinya, tanpa pegangan tanpa tujuan, Tan Hok berjalan ke mana saja kakinya bergerak. Kadang-kadang dia menangis tanpa suara, kadang-kadang dia menangis menggerung-gerung seperti anak kecil.
Kehidupan rakyat jelata pada masa itu di Tiongkok amat sengsara. Keadaan pemerintahan kacau-balau, para pembesar hanya mementingkan isi sakunya sendiri tanpa mempedulikan keadaan rakyat sama sekali. Pembesar-pembesar saling memperebutkan kekuasaan dan kedudukan dalam kehausan rnereka akan pangkat dan kemuliaan duniawi. Pemerintah penjajah kurang memperhatikan keadaan rakyat.
Yang kuat menindas yang lemah, yang kaya raya mempergunakan harta kekayaannya untuk menghisap yang miskin, yang berkuasa mempergunakan kedudukannya untuk mencekik si kecil.
Rakyat yang terkekang oleh belenggu penjajahan bangsa Mongol mulai berteriak dan melakukan perlawanan. Di mana-mana timbul pemberontakan dan rakyat kecil pulalah yang menderita. Semua ini ditambah lagi dengan datangnya musim kering yang amat hebat sehingga kelaparan merajalela.
Di sebelah utara Propinsi Shen-si rakyat amat menderita oleh musim kering. Sawahsawah kering merekah, pecah-pecah tak mungkin dapat ditanami. Sungai-sungai kecil kehilangan sumbernya, telaga-telaga kelihatan dasarnya, pohon-pohon kehilangan daunnya. Manusia dan binatang kurus-kurus kekurangan makanan, setiap hari banyak orang dan binatang mati kelaparan. Rakyat menjerit, ratap tangisnya membubung ke angkasa, bersambat kepada Tuhan. Setiap hari orang bersembahyang, minta hujan minta perlindungan, minta-minta dengan ratap tangis yang tak berdaya. Di lain tempat, pun di kota-kota besar, para pembesar dan hartawan berpesta pora, berlumba menghamburkan arak dan gandum, berlebih-lebihan sampai membusuk gandum mereka di gudang, bersenang-senang, seujung-rambut pun tak pernah teringat kepada Tuhan! Sayang, Tuhan hanya dijadikan tempat pelarian bagi mereka yang menderita.
Sayang, Tuhan hanya diingat oleh manusia setelah mereka itu membutuhkan pertolongan dari kesengsaraan duniawi. Lebih patut disayangkan pula, di dalam keadaan menderita, orang mengeluh mengapa Tuhan meninggalkannya, lupa sama sekali bahwa Tuhan tak pernah meninggalkan manusia, sebaliknya manusia jualah yang meninggalkan Tuhan sampai jauh, sampai tersesat dan akhirnya mereka kehilangan Tuhan.
Bagaikan seorang yang menyia-nyiakan obor dan membuang-buangnya di waktu hari masih terang, lalu kebingungan meraba-raba, mencari-cari obor di kala malam gelap tiba. Penduduk daerah kering ini banyak yang sudah meninggalkan kampung halamanan, berbondong-bondong mengungsi ke selatan di mana daerahnya lebih mendingan apabila dibandingkan dengan daerah utara. Akan tetapi sungguh patut dikasihani para petani miskin ini. Di daerah baru mereka dianggap sebagai pengganggu, dan baru mereka itu bisa mendapatkan sekedar pengisi perut setelah tenaga mereka diperas melebihi tenaga kuda. Dusun-dusun di Utara ini banyak yang kosong ditinggalkan penduduknya sehingga merupakan daerah mati.
Pada suatu pagi, seorang pemuda yang bertubuh tinggi besar seperti raksasa memasuki sebuah dusun yang cukup besar la merasa heran sekali melihat dusun ini sunyi senyap, banyak rumah-rumah kosong ditinggalkan penduduknya.
Ia sudah merasa lapar sekali, akan tetapi tidak melihat sebuah pun rumah makan.
Pemuda ini bukan lain adalah Tan Hok. Dipikirnya bahwa penduduk sepagi itu aeaknya sudah pergi ke sawah, maka dia lalu keluar lagi dari dusun itu menuju ke sawah untuk menemui penduduk dan minta diberi makan. Akan tetapi apa yang dia lihat di sawah membuat dia bergidik. Sawah mengering, sunyi senyap. Tiba-tiba dia melihat benda-benda yang membuat dia makin bergidik. Benda-benda yang menggeletak di sepanjang jalan dusun itu bukan lain adalah mayat orang orang mati kelaparan, ada yang sudah berbau busuk. Dengan hati cemas ketakutan Tan Hok menjauhkan diri. la segera berlari menuju ke tengah sawah di mana dia mendengar suara orang berteriak-teriak. Ketika sudah dekat, pemuda ini berdiri seperti patung, matanya terbelalak memandang penglihatan di tengah sawah yang tanahnya mengering itu.
Di sana, di tengah sawah, dia melihat seorang kakek berlutut, menangis dan tertawatawa tidak karuan. jelas bahwa orang itu sudah berubah ingatannya. Kakek ini kurus sekali, rambutnya awut-awutan dan pakaiannya compang-camping, wajahnya seperti tengkorak hidup. Dengan kedua tangannya kakek ini menggenggam tanah kering dan berteriak-teriak.
"Thian (Tuhan), kepada siapa aku harus mengeluh? Kepada siapa lagi aku dapat minta tolong kalau Kau sendiri sudah menutup telinga, menutup mata terhadap penderitaanku?" la menangis terguguk-guguk, kemudian matanya menjadi beringas dan tiba-tiba dia tertawa-tawa terkekeh-kekeh. "Ha..ha..ha..ha..ha! Ibu tanah...... kau yang memberi kehidupan. Kau yang menghasilkan makanan, kau yang mengeluarkan air. Sekarang kau tidak mau memberi air dan makanan, apa salahnya memakan kau? Ha..ha..ha, semua bahan makanan datangnya dari tanah, mustahil tanah tidak mengenyangkan perut?" Sambil tertawa-tawa orang itu lalu makan tanah kering yang dia kepal tadi! Sungguh menyayat hati melihat orang ini. Makan tanah kering sambil tertawa dan kadang-kadang menangis tanpa mengeluarkan air mata. Karena mulutnya sudah mengering, dijejali tanah kering yang dimakan secara lahap itu membuat dia tercekik, terengah-engah, megapmegap seperti ikan dilempar ke darat. la memegangi leher, memekik-mekik, berputaran lalu jatuh berkelojotan! Tan Hok cepat lari menghampiri dan...... dia melihat kakek itu sudah putus nyawanya. Kakek itu mati dengan mata melotot lebar dan mulut yang penuh tanah kering itu ternganga menyeringai. Tan Hok merasa ngeri dan menutupi mukanya, tak terasa air mata mengalir di antara celah-celah jari tangannya.
"Thian Yang Maha Kuasa, mengapa aku yang sudah banyak menderita ini harus menyaksikan ini semua.....?" la berlutut di dekat mayat kakek itu dan menangis.
Kemudian dia dapat menguasai hatinya, lalu digalinya lubang di sawah itu dan dikuburnya mayat kakek tadi. "Kakek, mudah-mudahan tubuhmu akan menyuburkan tanah ini....." doanya. Kemudian pemuda raksasa ini mengubur pula empat mayat yang menggeletak di tepi jalan.
Selagi dia mengubur mayat terakhir, tiba-tiba dia mendengar suara keras dan belasan orang dusun datang berlari-lari ke arahnya. Mereka itu membawa segala macam senjata tajam alat-alat pertanian. Dengan muka mengancam mereka datang menyerbu sambil berteriak-teriak.
"Siluman pemakan bangkai!" "Bikin mampus iblis jahat ini!" Belasan batang senjata seperti hujan menghantam ke arah Tan Hok yang menjadi terheran-heran. Akan tetapi sekali, sampok dengan lengannya yang besar dan penuh tenaga itu, semua senjata terpental dan terlempar disusul teriakan-teriakan kaget dan kesakitan. Tan Hok tidak tega menggunakan kekerasan terhadap orang-orang ini yang ternyata adalah orang-orang kurus pucat yang mirip setan-setan kelaparan.
"Kalian ini setan-setan gila datang-datang menyerangku apa sebabnya?" Tan Hok bertanya dengan suaranya yang menggeledek.
"Kaulah setan pemakan bangkai!" seorang di antara mereka memberanikan diri memaki. "Aku tak pernah makah bangkai!" jawab Tan Hok.
Orang-orang itu memandang penuh perhatian, ragu-ragu. "Habis kauapakan mayatmayat tadi?" "Aku kubur mereka. Kalian lihat,yang ini terakhir." la menuding ke arah lubang yang dia gali di mana mayat terakhir telah dia masukkan.
Orang-orang itu melongok ke dalam lubang. "Apa tubuhnya masih utuh? Apa tidak ada bagian yang dimakannya?" Demikianlah mereka bertanya-tanya. Ketika melihat bahwa mayat itu memang maslh utuh badannya, mereka lalu menjatuhkan diri berlutut, ada yang menangis ada yang minta ampun. Seorang kakek yang mengepalai mereka berkata.
"Orang muda yang gagah, harap ampunkan kami sekalian. Kami telah salah sangka....." "Kasihan kami orang-orang kelaparan....." kata orang ke dua.
Tan Hok menggeleng-geleng kepalanya, lalu mengomel, "Kalian orang-orang gendeng, mengganggu saja!" la lalu lanjutkan pekerjaannya, menguruk lubang dengan tanah galian. Orang-orang itu tanpa diperintah membantu. Akan tetapi tubuh mereka yang lemah itu memang tidak kuat untuk dipakai bekerja berat.
Kakek yang memimpin rombongan ini berkata, "Sudah banyak teman kami mati kelaparan dan sepekan yang lalu ada orang kelaparan gila yang suka makan bangkai saking tak kuat menahan laparnya. Kami klra kau itulah orangnya....." Tergerak juga hati Tan Hok mendengar ini, biarpun dia tidak dapat mengerti mengapa orang-orang itu sampai kelaparan dan mengapa ada orang sampai makan bangkai orang dan bahkan tadi dia melihat sendiri ada orang makan tanah.
"Kalau kalian kelaparan, kenapa tidak makan?"
Orang-orang itu saling pandang, lalu mereka semua memandang kepada Tan Hok dengan heran. Melihat wajah Tan Hok membayangkan kebodohan, kakek tua itu menarik napas panjang dan berkata, "Orang muda, kau menyuruh kami makan, apakah yang dimakan? Musim kering terlalu hebat, tanah kering, tanaman habis.
Yang mempunyai simpanan gandum hanyalah pembesar-pembesar dan orang-orang kaya. Orang-orang seperti kami ini mana ada simpanan? Semua orang terpaksa mengungsi ke selatan, hanya kami yang tidak punya apa-apa terpaksa ting-gal di sini." "Jadi ada pembesar dan orang kaya di sini?" "Pembesar sih tidak ada, orang-orang kaya juga tidak banyak. Yang paling kaya dan paling kikir adalah Kwi-wangwe (hartawan Kwi), tuan tanah terkaya di sini." "Kenapa tidak minta makan padanya?" "Uuuhhh minta makan? Orang muda, dia itu amat kikir, jangankan dimintai, dipinjami saja tidak mau memberi. Kami malah diusir dan dikeroyok oleh anjinganjingnya, anjing kaki empat dan kaki dua." "Ada anjing kaki dua?" Tan Hok benar-benar terheran.
Kembali orang-orang itu saling pandang, agaknya makin jelas bagi mereka bahwa orang muda yang tinggi besar seperti raksasa ini kelebihan tenaga akan tetapi kekurangan otak.
"Orang muda, Kwi-wangwe selain memelihara anjing-anjing kaki empat, juga dia dilindungi oleh tukang-tukang pukulnya, malah pembesar di kota-kota yang berdekatan semua melindunginya. Siapa berani terhadapnya?" "Hemmm, aku berani! Kalian lapar? Aku pun lapar. Hayo kita pergi ke rumah anjing she Kwi itu. Aku akan paksa dia keluarkan makanan untuk kita." Bangkit semangat orang-orang itu. Mereka tahu bahwa pemuda raksasa ini adalah seorang yang kuat dan pandai ilmu silat, hanya sayang wataknya aneh dan agak bodoh. "Orang muda, penjagaan di rumah Kwi-wangwe kuat sekali. Apa kau tidak takut?" Kakek itu masih mencoba untuk menakutinya.
"Aku Tan Hok tak kenal takut. Mendiang suhu bilang bahwa orang tak perlu takut jika membela si lemah dan menegakkan keadilan. Orang she Kwi itu gandumnya berlebihan, kalian sebaliknya kelaparan, ini tidak adil namanya. "Mari, antarkan aku!" Sikap dan ucapan Tan Hok membangkitkan semangat orang-orang yang kelaparan itu dan rombongan ini lalu menuju ke rumah Kwi-wangwe. Di sepan-jang jalan yang sunyi rombongan ini bertambah besar dan akhirnya semua sisa penduduk dusun itu yang berjumlah dua puluh orang lebih ikut dalam rombongan. Orang-orang yang tadinya berputus harapan ini timbul keberaniannya setelah mereka dibela oleh pendekar muda Tan Hok. Betapapun juga, setelah mereka tiba di depan gedung besar milik Kwi-wangwe, gedung dan pagar tembok tinggi tebal dan melihat empat orang tukang pukul menjaga di depan pintu pagar tem-bok, keberanian mereka lenyap dan orang-orang ini bersembunyi di belakang Tan Hok.
Melihat sikap pengecut ini, lenyap kesabaran Tan Hok. "Hayo kalian maju dan nyatakan kehendak hati kalian. Takut apa?" serunya. Kakek tadi bersama dua orang temannya memberanikan diri mendekati pintu pagar tembok.
"Anjing-anjing kelaparan, kalian mau apa ribut-ribut di sini?" seorang tukang pukul membentak sambil melintangkan toyanya, sikapnya mengancam dan sombong sekali "Kami hampir mati kelaparan....." kata kakek itu merendah, "Kami hendak mohon belas kasihan Kwi-wangwe, mohon bantuan sedikit gandum untuk penyambung nyawa....." "Pengemis-pengemis kelaparan, pergi kalian! Kwi-wangwe mana ada waktu untuk melayani kalian? Sedang ada tamu agung dan sibuk. Pergi!" "Kasihanilah kami..... biarlah kami diberi pinjaman gandum, kelak tentu kami bayar dengan tenaga....." Kakek itu mendesak. "Setan, tidak lekas pergi?" empat orang tukang pukul itu menjadi marah sekali dan serentak mereka menggerakkan toya menerjang maju.
Segera terdengar suara bak-bik-buk disusul pekik kesakitan ketika para petani itu dipukul. Percuma saja mereka mencoba melawan karena mereka yang di waktu sehat saja tidak mampu melawan tukang-tukang pukul ini, apalagi sekarang dalam keadaan hampir mati kelaparan.
"Kejam sekali! Anjing-anjing penjaga, jangan gigit orang." Tan Hok melompat ke depan dan sekali dia menggerakkan kedua kaki tangannya, empat orang tukang pukul itu roboh, toya mereka ada yang patah ada yang terlempar jauh. Bukan main kaget hati mereka. Apalagi ketika mereka melihat bahwa yang merobohkan mereka begitu mudahnya hanyalah seorang pemuda yang tubuhnya seperti raksasa.
"Tolong..... ada pengacau.....!" Mereka berteriak-teriak ke dalam sambil merayap bangun.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar