"Aku berusaha menemuinya dan minta pertanggungan jawabnya. Aku hidup sebatangkara setelah suamiku meninggal dunia, dan hanya dialah satu-satunya orang yang menjadi harapanku. Akan tetapi, dia tetap marah-marah kepadaku dan mengusirku. Aku bahkan berusaha untuk menyerangnya, akan tetapi selalu aku kalah olehnya."
Ganggananda merasa bingung. Dia tidak tahu bagaimana dia harus bersikap menghadapi urusan itu. Dia ingin mendengarkan terus.
"Puluhan tahun aku menekan dendam ini, aku bertapa, berkelana mencari guru-guru dan belajar silat dengan tekun dan mati-matian sampai akhirnya aku dapat mengimbangi tingkat musuh besarku itu. Akan tetapi, aku masih kalah dalam gin-kang sehingga masih sukarlah bagiku untuk mencapai kemenangan. Maka, aku minta bantuanmu."
"Hemm, tidak begitu mudah, nek. Aku hanya mempunyai waktu tiga hari untuk mengobati sahabatku, dan sekarang sudah lewat sehari. Tinggal dua hari lagi. Kalau terlambat, sahabatku akan tewas. Jadi waktuku untuk membantumu hanya ada sehari saja, karena pada hari ke tiga harus kupergunakan untuk berlari cepat kembali ke kota raja."
"Cukup, engkau takkan terlambat kalau sekarang juga kita berangkat. Kebetulan musuhku itu berada di tempat yang tidak terlalu jauh dari sini. Dia senang melakukan perjalanan dan si bedehah itu membawa ketiga orang isterinya!"
"Tiga....?"
"Itu yang resmi menurut penyelidikanku. Di mana-mana dia mempunyai kekasih yang ditinggalkan begitu saja seperti aku. Mereka tidak berdaya menuntut, tidak mampu melawan. Dan sampai sekarangpun, si tua bangka itu masih saja suka merayu dan mempermainkan wanita-wanita muda."
"Dia tentu sudah tua sekali!"
"Sedikitnya enam puluh lima tahun usianya, akan tetapi dia masih.... gagah dan tampan. Marilah, mari kita berangkat dan pada besok pagi-pagi kita sudah dapat tiba di tempatnya."
"Tapi obat itu...."
Nenek itu mengeluarkan tiga butir pel dari dalam sebuah botol. "Inilah obatnya, akan tetapi kusimpan dulu sampai selesai tugas kita. Mari!" Dan nenek itupun sudah lari meninggalkan tempat itu, seolah-olah tidak memberi kesempatan kepada Ganggananda untuk membantah lagi.
Dara yang menyamar pria ini terkejut. Satu-satunya harapan untuk dapat menyelamatkan nyawa Ciang Bun adalah nenek itu, maka diapun cepat menyambar buntalan pakaiannya dan meloncat, lari mengejar. Karena memang gin-kang dari Ganggananda amat hebat, sebentar saja nenek itu sudah tersusul. Mereka turun dari lembah dan perjalanan itu melalui tanah datar, menuju ke sebuah bukit yang banyak batu-batu besarnya. Perjalanan mendaki dan agak sukar, dan karena malam itu hanya diterangi bintang-bintang, cuaca suram muram, maka perjalanan dilanjutkan dengan jalan kaki, tidak dapat berlari cepat lagi. Kesempatan ini dipergunakan oleh Ganggananda untuk mencari keterangan lebih lanjut. Nenek itu memperkenalkan diri sebagai Gan Cui, akan tetapi ketika ditanya tentang keadaan Bu-taihiap, ia tidak mau banyak bicara, hanya mengatakan bahwa Bu-taihiap adalah seorang laki-laki yang gila perempuan.Kalau saja Ganggananda tahu siapa adanya Bu-taihiap, tentu dia akan terkejut sekali karena Bu-taihiap yang dianggap musuh besar oleh nenek Gan Cui sebetulnya adalah seorang pendekar sakti yang namanya terkenal di seluruh dunia kang-ouw sebagai seorang datuk yang berilmu tinggi. Didalam Kisah ‘Suling Emas dan Naga Siluman’ banyak diceritakan tentang pendekar ini. Bu-taihiap bernama Bu Seng Kin. Memang dia terkenal sebagai seorang pria yang ganteng, tampan dan gagah dan pandai sekali merayu wanita. Memang dia remantis sekali, dan tidak aneh kalau disebut gila perempuan karena dia jarang mau melepaskan kesempatan untuk menggoda dan merayu setiap kali bertemu wanita cantik. Entah berapa ratus wanita cantik yang sudah jatuh oleh rayuannya, menjadi kekasihnya. Bahkan isterinyapun banyak, di antaranya yang terus mendampinginya sampai tua adalah Tang Cun Ciu yang berjuluk Cui-beng Sian-li, tokoh Lembah Suling Emas yang kini berganti nama menjadi Lembah Naga Siluman karena nyonya ini tadinya adalah isteri seorang di antara tokoh keluarga Cu, yaitu mendiang Cu San Bu. Begitu bertemu dengan Bu-taihiap, nyonya inipun dirayu dan jatuh. Dan akhirnya nyonya inipun mencari Bu-taihiap dan ikut mendampinginya. Ada pula yang bernama Gu Cui Bi, seorang nikouw! Nikouw yang sudah jatuh pula inipun mendampingi suaminya yang bangor. Yang ke tiga adalah Nandini, seorang wanita Nepal, bukan sembarang orang karena wanita ini pernah menjadi panglima Nepal. Tiga orang isteri yang mendampinginya di hari tua ini rata-rata memiliki ilmu kepandaian tinggi.
Nenek Gan Cui adalah satu di antara ratusan orang wanita yang jatuh oleh rayuannya, kemudian ditinggalkannya begitu saja. Tidak mengherankan kalau nenek itu tidak pernah berhasil membalas dendam, karena yang dihadapinya adalah seorang pendekar sakti yang amat terkenal. Kalau dahulu di waktu mudanya Bu-taihiap tinggal di Puncak Merak Emas di Pegunungan Himalaya, kini dia lebih suka merantau di seluruh daratan bersama tiga orang isterinya. Karena mereka kini sudah tua, sudah rata-rata enam puluh tahun usianya, maka kalau mereka memperoleh tempat yang indah menyenangkan, mereka tinggal di tempat itu untuk sementara. Setelah bosan lalu berangkat merantau lagi.
Dan pada waktu itu, Bu-taihiap dan tiga orang isterinya tinggal untuk sementara di bukit berbatu-batu itu. Bukit itu puncaknya ternyata datar dan indah, penuh dengan pohon bunga yang aneh-aneh dan yang jarang terdapat di daerah lain. Di tempat ini Bu-taihiap membangun sebuah pondok kayu yang cukup besar dengan beberapa buah kamar untuk dia dan tiga orang isterinya.
"Nenek Gan, engkau sendiri yang begini pandai tidak mampu mengalahkan Bu-taihiap, lalu bagaimana seorang muda seperti aku akan mampu mengalahkannya. Aku harus tahu diri, dan kalau aku disuruh menghadapi seorang yang ilmunya jauh lebih tinggi dariku, bukaukah itu berarti aku akan mati konyol dan akan bunuh diri?"
"Heh-heh, aku tidak setolol itu. Aku sudah mengenal wataknya. Selain mata keranjang, manusia she Bu itupun tinggi hati dan angkuh sekali. Dia tidak pernah mau kalah dalam ilmu kepandaian bu. Maka, aku akan menemuinya dan menantang kepadanya untuk mengadu ilmu gin-kang. Karena ilmu itu merupakan andalan dan kebanggaannya, tentu dia dengan girang menerimanya dan aku akan mengajukan engkau sebagai jagoku. Dan kalau dia sampai kalah, heh-heh, selain dia harus memenuhi janji, juga dia akan malu setengah mati. Dia, Bu-taihiap jagoan terkenal itu, jagoan perempuan, akhirnya harus mengaku kalah oleh seorang wanita!"
Ganggananda terkejut sekali dan cepat ia agak menjauh dan menghentikan langkah, memandang nenek itu dengan mata terbelalak. "Apa maksudmu, nek?"
"Hi-hik, antara kita sama-sama wanita, tentu engkau berpihak padaku daripada laki-laki gila perempuan itu, bukan?"
"Bagaimana engkau bisa tahu, nek?" Ganggananda bertanya penasaran. Selama ini, penyamarannya dapat dibilang sempurna sehingga belum pernah ada orang yang dapat mengenalnya sebagai wanita. Akan tetapi nenek ini yang sejak tadi tidak memperlihatkan sikap bahwa ia tahu akan keadaan dirinya, menyebutnya orang muda, bagaimana tiba-tiba kini mengatakan bahwa ia seorang wanita?
"Ah, apa sukarnya bagiku! Penyamaranmu memang baik dan engkau seorang ahli pula dalam hal itu. Akan tetapi terhadap ketajaman penciumanku, mana mungkin engkau mampu menyembunyikan atau merobah bau khas seorang wanita? Dengan ketajaman hidungku, aku dapat mencium bau binatang-binatang berbisa dari jarak jauh. Ular itupun dapat kucium biarpun ia bersembunyi di dalam lubang, bukan? Dan sejak pertemuan pertama, baumu sebagai wanita sudah pula tercium olehku. Dan karena engkau seorang wanita pulalah yang mendorongku untuk minta bantuanmu. Wanita manapun akan membenci pria yang suka mempermainkan wanita."
Ganggananda atau Gangga Dewi atau yang biasa disebut Gangga saja, menarik napas panjang dan diam-diam dara ini kagum terhadap nenek yang selain lihai juga memiliki ketajaman penciuman yang istimewa itu. "Engkau benar, nek. Aku adalah seorang gadis. Akan tetapi merantau seorang diri dalam dunia yang begini kotor dan penuh dengan orang jahat...."
"Memang tepat menyamar sebagai pria agar lebih aman, apalagi kalau bertemu dengan laki-laki jahat dan gila perempuan macam Bu-taihiap, sungguh tidak aman sekali bagi seorang wanita yang muda lagi cantik seperti engkau."
Pada keesokan harinya, ketika matahari telah menyinari permukaan bumi, membuat bayangan panjang dan masih lemah, tibalah nenek Gan Cui dan Gangga di depan sebuah pondok kayu yang berada di tanah datar puncak bukit itu. Rumah itu terpencil, sederhana dan keadaan sekeliling tempat itu sunyi namun indah. Memang indah pemandangan alam di tempat itu. Dari puncak ini nampak bumi terhampar luas, sinar matahari tak terhalang apapun dan tanah di puncak itu sendiri amat subur, penuh dengan tanaman bunga dan tanaman obat. Akan tetapi tidak nampak seorangpun manusia, seolah-olah pondok itu kosong. Hal ini mulai dikhawatirkan Gangga. Kalau pondok itu kosong, berarti usaha mereka gagal dan bagaimana nenek itu akan mau memberikan obat yang amat dibutuhkan Ciang Bun? Akan tetapi, nenek itu tidak nampak khawatir seperti Gangga. Ia kelihatan tegang dan siap, maju menghampiri pondok dari depan.
Tiba-tiba berkelebat bayangan orang yang muncul dari sebelah kiri pondok dan ternyata ia adalah seorang nenek yang usianya tentu sudah lima puluh lima tahun kurang lebih, namun masih nampak bekas kecantikannya. Nenek ini memakai pakaian mewah, tubuhnya masih ramping dan padat dan gerakannya gesit. Wajahnya yang cantik dan terawat baik itu membayangkan kegalakan dengan sinar matanya yang tajam. Sebatang pedang yang tergantung di punggungnya menandakan bahwa nenek ini adalah seorang ahli silat dan hal inipun kentara dari gerakannya ketika berkelebat datang tadi. Kini ia sudah berdiri di depan Gan Cui dan Gangga, sejenak memandang tajam penuh selidik, kemudian tersenyum mengejek menatap wajah nenek Gan Cui.
"Hemm, perempuan tak tahu malu. Engkau masih berani merangkak datang lagi setelah berkali-kali kalah oleh suamiku?" kata wanita itu dengan suara mengejek. Wanita ini adalah seorang di antara isteri-isteri Bu-taihiap dan ialah yang memiliki tingkat kepandaian paling tinggi. Ia adalah Cui-beng Sian-li Tang Cun Ciu, janda tokoh keluarga Lu yang tergila-gila kepada Bu-taihiap dan kini menjadi seorang di antara isteri-isterinya yang selalu mendampingi pendekar petualang asmara itu.
Disambut dengan ucapan keras itu, nenek Gan Cui tetap tenang saja. Agaknya ia tidak mau ribut dengan para isteri Bu-taihiap karena urusannya adalah urusan pribadi, antara ia dan pendekar itu sendiri. Kalau sampai ia melibatkan isteri-isterinya, terlalu berat dan berbahaya baginya, karena iapun maklum betapa lihainya para isteri Bu-taihiap. Maka, iapun hanya memandang tajam dan berkata, "Aku datang untuk bertemu dengan orang she Bu. Dan sekali ini aku tidak akan gagal."
"Kami sudah tahu akan kedatanganmu dan kami sudah siap menyambutmu. Marilah masuk dan langsung saja ke ruangan belakang di mana suami kami telah menantimu," kata nyonya itu yang segera membalikkan tubuhnya masuk ke dalam pondok. Nenek Gan Cui mengikutinya tanpa ragu-ragu, sedikitpun tidak kelihatan takut, padahal Gangga mempunyai perasaan seperti memasuki guha naga atau sarang harimau. Bagaimana tidak akan merasa ngeri memasuki rumah orang yang dianggap musuh? Dan melihat sikap gagah nyonya rumah itu, iapun merasa semakin ngeri. Ia sudah dapat menduga, dari langkah kaki nyonya tua itu, bahwa nyonya itu tentu lihai sekali, apalagi telah berani bersikap memandang rendah seperti itu terhadap seorang nenek seperti Gan Cui. Ruangan belakang itu ternyata cukup luas dan dinding belakangnya tidak ada, terbuka menembus ke taman bunga di belakang. Hawanya sejuk sekali di ruangan itu. Di ruangan ini nampak duduk seorang kakek yang usianya tentu sudah enam puluh tahun lebih, dan di sebelah kirinya duduk dua orang wanita. Kakek itu bertubuh tegap dan wajahnya yang sudah mulai dibayangi ketuaan usianya itu masih nampak amat tajam dan ganteng, dengan kulit mukanya yang bersih kemerahan, alisnya yang tebal dan pandang matanya yang demikian tenang dan penuh pengertian, mulutnya selalu tersenyum dan tahulah Gangga mengapa pria ini banyak digandrungi wanita. Senyumnya itu! Sungguh merupakan senyum yang melumpuhkan. Dan sepasang matanya juga begitu hidup seolah-olah dia dapat menyatakan isi hatinya melalui pandang mata dan senyumnya. Dua orang wanita itupun cantik-cantik. Yang seorang memakai penutup kepala pendeta, berjubah seperti seorang nikouw, wajahnya putih bundar, mulutnya kecil dan ia nampak manis sekali walaupun usianya juga sudah lima puluh tahun lebih. Wanita ke dua juga beberapa tahun lebih tua, akan tetapi wanita ini jelas bukan orang Han. Sekali pandang saja tahulah Gangga bahwa wanita itu adalah seorang wanita berbangsa India atau Nepal, tubuhnya kecil jangkung, hidungnya mancung dan matanya hitam tajam sekali, sikapnya ketika duduk itu membayangkan kegagahan. Dua orang nenek ini adalah dua orang isteri Bu-taihiap di samping Cui-beng Sian-li Tang Cun Ciu yang menyambut tamu tadi. Yang seorang adalah Gu Cui Bi yang pernah menjadi nikouw dan sampai sekarang tidak pernah mengganti jubah nikouwnya dan selalu menutupi kepalanya dengan penutup kepala para nikouw. Adapun yang ke dua adalah Nandini, puteri Nepal yang pernah memimpin pasukan Nepal sebagai panglima yang gagah perkasa. Dua orang wanita ini duduk dengan anteng, hanya pandang mata mereka menyambut munculnya nenek Gan Cui dan Gangga dengan sikap memandang rendah. Tanpa bicara, Tang Cun Ciu juga duduk di kursi pertama di sebelah kiri suaminya.
Kini Bu-taihiap memandang nenek Gan Cui sambil tersenyum. "Adik Cui, engkau baru datang? Apakah sekali ini engkau datang untuk menerima usulku dan menghabiskan sisa hidup bersama kami? Agaknya engkau membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk mengambil keputusan yang amat baik itu."
"Orang she Bu! Jangan engkau mimpi bahwa aku akan mengalah begitu saja! Aku datang untuk menantangmu!"
Pendekar itu menarik napas panjang dan masih tersenyum, menoleh kepada tiga orang isterinya dan berkata lirih, "Lihat, ia ini sungguh memiliki hati yang keras seperti baja!"
Ucapan itu bukan memburukkan, bahkan lebih condong memuji. Tiga orang wanita di sampingnya hanya melirik dan melihat cebiran bibir mereka menunjukkan bahwa ketiganya merasa tidak puas dengan ucapan ini dan di dalam hati mereka mengejek, walaupun tidak sepatah katapun keluar dari mulut mereka. Gangga melihat semua ini dan diam-diam dara ini tertarik sekali. Sebuah keluarga yang aneh, pikirnya, juga penuh diliputi sikap gagah.
Kini Bu-taihiap memandang kepada Can Cui, masih tersenyum. "Adik Cui, kiranya selama tiga tahun tidak jumpa, engkau menghimpun kekuatan untuk berusaha menantangku kembali? Hemm, engkau menantangku? Ingat baik-baik, tidak mudah mengalahkan ilmuku dan andaikata aku kewalahan menghadapimu, tentu tiga orang isteriku ini tidak akan tinggal diam. Apakah engkau mampu menghadapi kami berempat?"
"Boleh! Kalau kalian begitu tidak tahu malu untuk mengeroyokku, akupun tidak takut!"
"Bukan mengeroyok, akan tetapi sebagai isteri, tak mungkin mendiamkan saja suaminya terancam bahaya. Sudahlah, kenapa engkau tidak mau menempuh jalan damai saja?"
"Orang she Bu, aku datang bukan untuk mendengar ocehan dan rayuanmu, Pendeknya, sekali ini aku datang untuk menantangmu mengadu ilmu gin-kang. Kalau aku kalah, aku akan pergi dan takkan mengganggumu lagi. Akan tetapi kalau engkau kalah, engkau harus memenuhi tuntutanku!"
"Wah, tuntutanmu itu tidak masuk akal, adikku yang manis! Mereka bertiga ini adalah isteri-isteriku yang setia, mana mungkin harus kutinggalkan begitu saja agar aku dapat hidup berdua saja denganmu? Sebaiknya kalau engkau tinggal bersama kami, hidup aman dan damai bersama kami...."
"Tidak! Tidak sudi aku kalau cintamu dibagi-bagi!"
"Siapa yang membagi-bagi? Cinta tidak mungkin dibagi-bagi. Aku cinta kepada mereka, aku cinta kepadamu seperti cinta kepada banyak orang lain lagi. Kalau aku menghadapimu, aku mencintamu sepenuhnya, demikian pula kalau aku menghadapi seorang di antara mereka. Marilah, adikku, untuk apa kita bersitegang? Kita sudah tua, tinggal menikmati hidup tenteram beberapa tahun lagi saja." Pendekar itu sungguh pandai merayu dengan suara halus dan pandang mata demikian lembut, senyumnya tak pernah meninggalkan bibirnya. Dan Gangga yang mendengarkan percakapan itu diam-diam terkejut bukan main. Bagaimana pula ini? Pendekar itu dengan baik membujuk nenek Gan Cui untuk hidup bersama dia dan isteri-isterinya, akau tetapi sebaliknya nenek ini ingin Bu-taihiap meninggalkan isteri-isterinya yang lain agar dapat hidup berdua saja dengannya, agar ia dapat memonopolinya? Mulailah ia mengerti dan ia meragukan kebenaran nenek yang dibantunya.
"Cukup semua kata-kata itu! Berani atau tidak engkau menerima tantanganku mengadu gin-kang? Kalau tidak berani engkau harus memenuhi tuntutanku dan mengaku kalah!"
Tiba-tiba pendekar itu tertawa dan begitu dia tertawa, dia nampak jauh lebih muda daripada usianya. Dan memang dia masih ganteng! "Ha-ha-ha, engkau lucu, adik Cui. Engkau tahu bahwa dalam hal gin-kang, engkau kalah jauh dari aku, biar engkau belajar puluhan tahun lagi, belum tentu engkau akan mampu mengalahkan aku. Tentu saja kuterima tantanganmu."
"Dan kalau engkau kalah, engkau akau memenuhi tuntutanku?"
"Aha, soal itu nanti dulu."
"Tapi, tiga tahun yang lalu, seperti yang sudah-sudah, engkau menerima taruhan itu!" Nenek Gan Cui berteriak penasaran.
"Hemm, karena ketika itu aku merasa yakin akan kemenanganku. Dan sekarang, selagi aku semakin tua dan engkau semakin bersemangat mempelajari ilmu-ilmu, aku harus hati-hati."
"Tapi engkau terima tantanganku?"
"Tentu saja."
"Nah, dengarkan baik-baik, Bu Seng Kin! Aku menantangmu untuk mengadu ilmu gin-kang dan aku mengajukan jagoku ini!" Nenek Gan Cui menepuk pundak Gangga.
"Siapa dia?" Bu-taihiap bertanya dengan sikap kaget, tidak disangkanya bahwa pemuda remaja yang datang bersama Gan Cui itu ternyata adalah jago yang hendak diajukan oleh nenek yang keras hati itu. Kini dia menatap tajam wajah dan tubuh Gangga, penuh selidik.
"Siapa dia tak perlu kau tahu. Pendeknya, dia adalah jago dan wakilku untuk menandingimu dalam ilmu gin-kang. Kalau dia kalah, berarti aku kalah olehmu, akan tetapi kalau dia menang, berarti engkau harus mengaku kalah."
Bu-taihiap tidak merasa khawatir, bahkan kelihatan sepasang matanya bersinar-sinar, seperti merasa gembira menghadapi peristiwa yang menarik. Dia mengangguk-angguk. "Baiklah, adik Cui, lalu bagaimana pertandingan ini akan diatur?"
"Aku tidak ingin tertipu olehmu yang licik. Aku akan pergi ke ujung puncak ini dan membawa ini. Kemudian kalian berdua merebut botol ini dari tanganku dan berlari dari sini." Nenek itu mengeluarkan sebuah botol dan melihat ini, Gangga terkejut karena botol itu adalah botol yang terisi tiga butir pel katak buduk hitam yang dibutuhkannya! Agaknya nenek yang cerdik itu sengaja mengeluarkan benda itu untnk dipakai berebut, agar ia mau berlumba dengan sesungguhnya mengalahkan Bu-taihiap untuk memiliki obat itu!
"Perempuan licik!" Tiba-tiba Tang Cun Ciu membentak. "Pertandingan macam apa itu? Kalau engkau yang menjadi sasarannya, tentu engkau akan membantu agar jagomu yang menang! Katakan saja engkau hendak mengeroyok!"
Bu-taihiap tertawa dan menggerakkan tangan mencegah isterinya itu marah-marah. "Biarkanlah. Tentu saja aku tahu bahwa kalau kami berdua tiba di dekatnya, ia akan menyerahkan benda itu kepada jagoannya dan kalau aku yang hendak mengambilnya tentu ia akan melawan. Akan tetapi, jagoannya itu masih begini muda, patutnya menjadi muridku, maka biarlah dibantu oleh adik Cui. Bagaimanapun juga, akhirnya aku yang akan menang. Baik, adik Cui, engkau bawalah benda itu ke ujung sana dan kami berdua akan berlumba. Siapa yang lebih dahulu mendapatkan botol di tanganmu itu, dia menang!"Nenek itu menyeringai. "Orang she Bu, sekali ini engkau akan kecelik dan kalah!" Dan iapun menoleh kepada Gangga sambil berkata, "Ingat, engkau tidak boleh kalah kalau engkau menghendaki benda ini!" Setelah berkata demikian, nenek itupun berlari cepat sekali menuju ke ujung puncak itu. Jarak itu cukup jauh dan tubuhnya semakin kecil, akhirnya hanya menjadi sebuah titik hitam yang makin mengecil. Puncak itu memang merupakan tanah datar yang amat panjang, akan tetapi permukaannya yang halus hanyalah di sekitar pondok, sedangkan jarak itu melalui tanah yang penuh dengan batu besar kecil yang kasar dan tidak mudah dilalui karena kalau tidak berhati-hati, orang dapat tergelincir.
Gangga tadinya sudah merasa tidak senang kepada nenek Gan Cui yang ternyata sedikit membohong ketika bercerita tentang urusannya dengan Bu-taihiap. Ia sudah mulai ragu-ragu apakah baik kalau ia melanjutkan pertolongan dan bantuannya kepada nenek itu. Akan tetapi ketika ia mendengar kata-kata Bu-taihiap tentang dirinya yang dianggap terlalu muda dan hanya patut menjadi murid pendekar itu dengan pandang mata dan nada suara memandang rendah, hatinya menjadi panas juga. Pendekar ini terlampau sombong, pikirnya, memandang rendah orang lain. Inilah sebabnya timbul dorongan hati untuk membuktikan bahwa ia tidaklah lemah untuk dapat dipandang ringan saja.
Bu-taihiap sudah bangkit berdiri bersama tiga orang isterinya. Bagaimanapun juga, tiga orang isterinya tidak akan tinggal diam saja dan mereka itu hendak mengikuti sang suami agar jangan menjadi korban kecurangan lawan. "Kita mulai?" tanya Bu-taihiap kepada Gangga sambil tersenyum. Setelah Gangga mengangguk, Bu-taihiap berkata lagi. "Akan kuhitung sampai tiga dan kita mulai berlari. Satu, dua.... tiga!"
Dua tubuh itu melesat ke depan. Bu-taihiap mengerahkan tenaganya dan larinya cepat sekali, seperti terbang saja. Akan tetapi, betapa kaget hatinya ketika dia melihat Gangga berkelebat di sampingnya dan ternyata pemuda itu bergerak dengan demikian ringannya seolah-olah kedua kakinya tidak menyentuh bumi! Sebentar saja tubuh pemuda itu sudah melesat ke depan dan melewatinya. Bu-taihiap menjadi penasaran dan diapun mengerahkan seluruh tenaganya, mengenjot tubuhnya untuk menyusul. Akan tetapi, pemuda itu agaknya juga menambah tenaganya dan betapapun dia membalap, tetap saja pemuda itu berada di depannya! Barulah dia benar-benar terkejut dan dari gerakan kaki pemuda itu dia dapat menduga bahwa pemuda itu memiliki ilmu gin-kang Jouw-sang Hui-teng (Ilmu Terbang Di Atas Rumput) yang amat hebat. Mereka berkejaran dengan cepat sehingga tiga orang wanita yang juga membayangi tertinggal jauh dan sebentar saja mereka sudah dapat melihat nenek Gan Cui berdiri di ujung timur tanah datar puncak bukit itu.
Sementara itu, Gangga merasa puas bahwa ternyata gin-kangnya tidak kalah oleh Bu-taihiap. Akan tetapi ia lalu teringat bahwa sebenarnya ia membantu orang yang tidak benar, dan diam-diam ia merasa malu kepada dirinya sendiri. Kalau sampai nanti ia menang, seperti yang sudah jelas dapat diduga, lalu nenek itu minta yang bukan-bukan, bukankah berarti ia telah membantu kesewenang-wenangan? Akan tetapi ia membutuhkan obat itu!
Tiba-tiba nenek Gan Cui lari menuju ke selatan, menjauhi dua orang yang sedang berlari cepat ke arahnya itu. Hal ini mengingatkan lagi kepada Gangga bahwa nenek yang dibantunya itu adalah seorang yang penuh tipu muslihat dan sudah beberapa kali memperlihatkan kecurangannya. Bagaimana kalau nanti melanggar janji dan tidak mau memberikan obat itu kepadanya?
Mereka kini terpaksa juga merobah arah mengejar nenek itu yang sudah berada di ujung selatan. Dan dengan sengaja Gangga memperlambat larinya sehingga Bu-taihiap dapat berlari di sampingnya. Kakek itu sudah agak terengah dan mandi peluh. Gangga menoleh kepadanya, tersenyum dan menambah lagi tenaganya sehingga tubuhnya kembali melesat ke depan dalam jarak satu tombak. Ia masih ingin meyakinkan hatinya bahwa ia memang lebih menang dalam adu gin-kang ini.
"Nona, perlahan dulu....!" Tiba-tiba ia mendengar suara Bu-taihiap dan ada tenaga aneh yang menahannya dari belakang. Pendekar tua itu agaknya telah mempergunakan ilmu kepandaiannya untuk menahannya dari belakang, dengan tenaga sin-kang! Dan pendekar tua itupun telah mengetahui penyamarannya, tahu bahwa ia adalah seorang wanita. Gangga cepat mengerahkan sin-kangnya pula dan tangan kanannya ditepiskan dengan pengerahan sin-kang yang kuat.
"Wuutttt....!" Dan tenaga yang menahannya dari belakang itupun terlepas.
Kembali Bu-taihiap terkejut bukan main. Kiranya gadis ini bukan hanya tukang lari yang ahli gin-kang, melainkan juga mampu menangkis sin-kangnya yang dipergunakan untuk menahan larinya yang cepat itu.
"Ahhh.... nona...." katanya agak terengah-engah. "Engkau sungguh.... seorang dara yang luar biasa! Masih begini muda, begini cantik, dan memiliki kepandian tinggi.... aku kagum sekali, nona...."
Berdebar rasa jantung dalam dada Gangga. Hati siapa takkan senang mendengar pujian? Apalagi kalau pujian itu keluar dari mulut orang penting, dan Bu-taihiap adalah seorang pendekar yang berilmu tinggi. Akan tetapi iapun teringat bahwa pendekar tua ini adalah seorang perayu, seorang penaluk wanita, maka sikapnya menjadi keras lagi.
"Nona, sehebat engkau ini.... mengapa membantu orang yang sesat? Gan Cui bertindak salah dalam urusan kami.... aku membujuknya untuk hidup rukun.... tapi ia menghendaki agar aku menceraikan semua isteriku dan harus melayani ia seorang saja.... apakah itu adil namanya?"
Biarpun ia bersikap tak acuh, namun diam-diam Gangga mendengarkan semua kata-kata itu dan dengan sendirinya iapun mengurangi lagi kecepatan larinya. Ia sudah menduga apa yang terjadi antara pendekar ini dan nenek itulah yang mau menang sendiri dalam urusan itu.
"Aku membutuhkan obatnya itu untuk menolong seorang sahabatku yang keracunan," katanya.
"Aha, jadi ia memaksamu membantu dan mengalahkan aku karena obat itu? Sudah kuduga. Dan kaukira ia akan menyerahkan obat itu padamu? Ia seorang yang keras hati dan licik sekali, dan kalau ia tidak mau memberikan kepadamu, jangan harap dengan mudah engkau akan bisa memperolehnya. Ia curang dan lihai!"
"Aku.... aku sudah menduga begitu...."
"Nona, biarkan aku yang merampasnya untukmu. Kalau engkau tidak mendahuluiku, dan aku lebih dahulu mencapainya, tentu ia akan berusaha menghindariku, akan tetapi, aku dapat menguasainya."
Gangga hanya mempergunakan waktu sejenak untuk berpikir dan mengambil keputusan. Entah bagaimana, ia merasa jauh lebih percaya kepada pendekar ini daripada nenek Gan Cui yang curang.
"Silahkan...." katanya dan iapun memperlambat larinya. Tubuh Bu-taihiap melesat ke depan dan berlari di depannya, seolah-olah pendekar itu mengerahkan seluruh tenaga gin-kangnya dan dapat menyusul dara itu. Melihat ini, tiga orang isterinya yang tertinggal jauh di belakang merasa lega. Mereka bertiga memang tidak dapat dibilang suka kalau melihat suami mereka menambah seorang isteri lagi, akan tetapi urusan seperti itu bagi mereka kecil saja artinya. Mereka sudah terbiasa oleh ulah suaminya yang suka perempuan itu dan agaknya baru akan sembuh kalau sudah mati. Bagi mereka, lebih penting lagi kalau suaminya tidak sampai kalah, karena wanita itu tentu akan berbuat yang bukan-bukan, menuntut yang tidak-tidak dan juga, suaminya akan terpukul perasaannya dan akan merasa malu kalau sampai kalah oleh seorang muda!
Sebaliknya, ketika melihat betapa kini jagonya tertinggal, nenek Gan Cui terkejut sekali. Tadi ia sudah merasa girang melihat betapa Gangga dapat berada di depan dan ia sengaja lari menjauh untuk memberi kesempatan kepada Gangga untuk meninggalkan lawannya jauh di belakang. Ia sudah merasa yakin bahwa jagonya tentu akan menang karena selain sudah berada di depan, tentu daya tahan Gangga lebih kuat daripada lawannya yang sudah tua, napasnya juga lebih panjang. Akan tetapi kenyataannya, kini Gangga tersusul dan tertinggal, makin lama makin jauh.
Gan Cui segera menjauhkan diri lagi, lari ke arah barat. "Bocah tolol, lari ke sini....!" Ia berteriak-teriak dan berusaha mendekati Gangga. Akan tetapi Bu-taihiap selalu menghadang antara ia dan Gangga, dan pendekar itu kini makin dekat dengannya. Terpaksa nenek itu membalikkan tubuh dan melarikan diri. Akan tetapi, gin-kangnya memang kalah dibandingkan Bu-taihiap sehingga pendekar itu sebentar saja dapat mengejarnya.
"Adik Cui, jangan curang. Aku yang lebih dulu mencapaimu, serahkan botol obat itu!"
"Tidak.... tidak....!" Gan Cui menghindarkan diri ketika Bu-taihiap mengulur tangan untuk menyambar botol di tangannya itu.
"Adik Cui, jagomu sudah kalah, kau jangan main curang! Serahkan botol itu!" kembali Bu-taihiap menubruk, akan tetapi sekali ini Gan Cui menyambutnya dengan pukulan yang dilakukan dengan cepat dan kuat sekali, pukulan maut karena pukulan itu adalah jurus dari Ilmu Coa-tok-ciang (Tangan Racun Ular) yang dahsyat sekali!
Bu-taihiap tentu saja mengenal pukulan ganas itu dan cepat dia mengelak dan membalas dengan totokan jari tangannya ke arah leher Gan Cui. Namun, nenek itupun memiliki gerakan cepat dan ia sudah mengelak sambil melayangkan kakinya menendang ke arah perut lawan disusul dengan cengkeraman tangan kanan ke arah mata, sedangkan tangan kiri yang menggenggam botol itupun disodokkan ke arah ulu hati. Sekali bergerak wanita itu telah mengirim tiga serangan yang kesemuanya mematikan!
"Hemm, engkau sungguh keras hati, adik manis!" kata Bu-taihiap mengejek dan pendekar ini mengerahkan tenaga sin-kangnya menerima tendangan di perutnya, mengelak dari cengkeraman ke arah mata dan tangan kiri yang menggenggam botol itu disambutnya dengan cengkeraman untuk merampas botol.
"Bukk!" Tendangan itu tepat mengenai perut dan sebagian mengenai bawah perut di mana terletak anggauta rahasia. Akan tetapi Bu-taihiap adalah seorang pendekar sakti yang memiliki sin-kang amat kuatnya. Bukan saja seluruh bagian perut telah dilindungi oleh hawa sakti sehingga menjadi kebal, akan tetapi juga anggauta kelaminnya telah tersedot memasuki perut dan terlindung sehingga ketika tertendang, yang terkena tendangan hanyalah kulit yang keras dan licin saja.
Gan Cui terkejut. Ia memang membual ketika menceritakan kepada Gangga bahwa dalam hal ilmu silat ia dapat menandingi Bu-taihiap, hanya kalah dalam hal gin-kang saja. Sebetulnya, mana ia mampu mengalahkan tingkat kepandaian Bu-taihiap? Biar ia belajar sampai selama hidupnya, agaknya ia tidak akan mampu menyusul tingkat pendekar itu karena selain kalah dasar, juga kalah bakat. Kini, setelah melakukan tiga serangan sekaligus, ia berbalik malah terancam akan dirampas botol obat di tangannya. Gan Cui mengeluarkan teriakan nyaring, tangan kanannya mencabut saputangan hitam yang dikebutkannya ke arah muka Bu-taihiap sedangkan tangan kiri yang menggenggam botol diangkatnya tinggi-tinggi untuk dijauhkan dari lawan.
Menghadapi kebutan kain hitam yang mengeluarkan debu hitam kehijauan ini, Bu-taihiap terkejut dan cepat dia meniup dan mengebutkan ujung lengan bajunya untuk mengusir debu beracun, dan pada saat itu, Gan Cui menjerit karena tiba-tiba saja botol di tangan kirinya terlepas dan terampas dari tangannya. Ia mengangkat mukanya dan melihat bahwa yang merampas botol itu adalah Gangga! Kiranya Gangga mempergunakan kesempatan itu untuk mengerahkan gin-kangnya, melompat ke atas tinggi sekali lalu menukik turun dan merampas botol itu tanpa Gan Cui mengetahuinya.
Tentu saja nenek itu menjadi terkejut dan marah. "Bocah tolol! Kembalikan botol itu....!" Akan tetapi ia tidak dapat bergerak lagi karena pada saat itu Bu-taihiap telah menubruk dan merangkulnya, memegangi kedua pergelangan tangannya. Nenek itu hendak meronta, akan tetapi Bu-taihiap memeluknya dan berbisik di telinganya.
"Adik Cui yang manis, apakah engkau tidak kasihan kepadaku dan selalu memusuhiku? Aku masih cinta padamu...." Dan pendekar itu mengusap leher Gan Cui dengan hidungnya.
Seketika lemaslah seluruh tubuh Gan Cui. Merasa betapa kulit lehernya dicium oleh laki-laki yang sebenarnya masih amat dicinta dan dirindukannya ini, lenyaplah seluruh daya lawannya dan ia seperti lumpuh, menyandarkan diri ke atas dada yang bidang itu dan menangis lirih! Tiga orang isteri Bu-taihiap yang telah tiba di situ membuang muka dan mencibirkan bibir, akan tetapi tidak merasa cemburu lagi karena memang sejak dahulu mereka tahu bahwa Gan Cui adalah seorang di antara wanita-wanita yang jatuh oleh rayuan suami mereka. Sementara itu, Gangga yang telah berhasil merampas botol terisi tiga butir pel, memandang dengan muka merah.
"Adik Cui, mulai saat ini, engkau mau bukan hidup bersama kami dengan damai?" Kembali Bu-taihiap berbisik dan Gan Cui mengangguk. Bu-tahiap maklum bahwa dia telah menalukkan hati nenek itu, maka diapun melepaskan kedua tangannya dan masih tetap menggandeng lengannya dengan sikap mesra. Gan Cui mengusap air mata dengan ujung lengan bajunya, kemudian memandang ke arah Gangga. Biarpun sikapnya tidak ga1ak lagi seperti tadi, seolah-olah seekor kucing liar yang sudah dijinakkan, namun suaranya masih tidak senang ketika ia berkata kepada Gangga.
"Engkau telah kalah, engkau tidak berhak mengambil obat itu. Kembalikan!"
"Adik Cui, engkau salah paham. Sesungguhnya, dalam hal gin-kang, aku Bu Seng Kin harus mengakui keunggulan gadis ini."
Sepasang mata Gan Cui terbelalak. "Engkau.... kalah? Dan engkau tahu ia seorang gadis? Engkau tidak malu kalah oleh seorang gadis muda?"
"Mengapa mesti malu? Ia memang memiliki ilmu Jouw-sang Hui-teng yang langka. Sungguh luar biasa sekali ilmu gin-kangnya itu. Nona, kulihat engkau bukan gadis Han. Dari manakah engkau dan siapa gurumu?"
"Tak salah lagi, ia tentu puteri atau murid Syanti Dewi!" Tiba-tiba nenek Nandini berkata.
Gangga terkejut dan memandang wanita Nepal itu, juga Bu-taihiap terkejut karena diapun sudah pernah mendengar nama puteri Bhutan yang kabarnya memiliki kecantikan amat luar biasa, juga di samping itu memiliki gin-kang yang hebat. "Benarkah, nona?"
Gangga mengangguk. "Benar, ibuku adalah Puteri Syanti Dewi dan ayahku bernama Ang Tek Hoat yang pernah berjuluk Si Jari Maut."
"Ahhh....!" Bu-taihiap berseru kaget dan kagum. "Kalau begitu, aku semakin tidak merasa malu lagi kalah dalam gin-kang olehmu, nona!"
"Siapakah namamu?" tanya Nandini.
"Gangga Dewi."
"Nama yang indah sekali. Mari, nona, mari silahkan duduk dalam pondok kami dan kita bercakap-cakap." Bu-taihiap berkata dan tiba-tiba dia berteriak kesakitan ketika lengannya dicubit keras sekali oleh Gan Cui.
"Lelaki mata keranjang! Baru saja berkumpul denganku, sudah berani berlagak memikat gadis muda?" bentak Gan Cui, dan tiga orang isteri pendekar itu menahan tawa, kelihatan geli dan juga mengejek dan menyukurkan keadaan suami mereka. Rasakan kau sekarang, pikir mereka, mendapatkan isteri lagi yang amat cemburu dan galak! Tentu saja Bu-taihiap tersipu-sipu mendengar teguran ini karena sesungguhnya dia sama sekali tidak mempunyai niat sedikitpun untuk merayu Gangga Dewi, hanya mempersilahkan ke rumah untuk beramah tamah karena diapun kagum sekali mendengar bahwa gadis muda ini ternyata puteri orang-orang terkenal.
"Terima kasih atas kebaikan kalian semua." Kata Gangga Dewi sambil menjura. "Sahabatku itu terancam nyawanya oleh pukulan Hoa-mo-kang dan obatnya hanya racun katak buduk inilah. Maka, aku mohon diri, tak dapat berlama-lama di sini. Aku harus cepat ke kota raja untuk memberikan obat ini kepadanya."
"Pukulan beracun Hoa-mo-kang?" tanya Bu-taihiap kaget. "Bukankah Su-ok Siauw Siang-cu sudah mati?" Pertanyaan yang sama seperti pernah diajukan oleh nenek Gan Cui kepada Gangga.
"Bukan Su-ok yang memukulnya, mungkin murid atau keturunannya. Menurut kata ahli yang mengobatinya, hanya tinggal waktu tiga hari. Kalau dia tidak mendapatkan obat racun katak buduk hitam, dia akan mati. Sejak kemarin pagi aku melakukan perjalanan, kini sudah lewat dua hari, tinggal sehari lagi. Maka aku harus pergi sekarang juga." Lalu ia menoleh kepada Gan Cui. "Sudah benarkah obat ini? Dan bagaimana cara menelan pil ini? Sehari berapa kali, sekaligus ataukah satu-satu?"
Akan tetapi nenek Gan Cui mendengus marah. "Engkau merampasnya dariku dengan curang, perlu apa aku memberitahu? Cari saja sendiri bagaimana caranya!"
Akan tetapi Bu-taihiap yang sudah amat tertarik mendengar cerita tadi bertanya, "Nona Gangga, bolehkah aku bertanya siapa pendekar atau sahabatmu yang terkena pukulan Hoa-mo-kang itu?"
"Namanya Suma Ciang Bun dan dia berada di kota raja...."
"Suma....?" Bu-taihiap terbelalak.
"Ya, dia cucu Pendekar Super Sakti Suma Han dari Pulau Es!" kata Gangga dengan suara bangga.
"Ah....! Adik Cui, kalau begitu kita tidak boleh sembarangan. Hayo katakan bagaimana caranya mempergunakan pelmu itu untuk mengobatinya."
"Sehari makan satu pel, dalam waktu tiga hari tentu penyakit itu lenyap dan orangnya sembuh," Jawab nenek itu singkat dan dengan muka masih cemberut. Agaknya kegalakan wanita ini sudah benar-benar dapat ditundukkan dan dijinakkan oleh Bu-taihiap.
"Terima kasih!" kata Gangga dan sekali berkelebat gadis itu lenyap dari depan mereka. Bu-taihiap menggeleng-geleng kepala kagum.
"Bukan main....!" katanya dan sambil menggandeng isterinya yang baru, pendekar ini lalu kembali ke pondoknya, diikuti oleh ketiga isterinya yang lain.
Kembali Gangga Dewi atau Wan Hong Bwee menggunakan seluruh kepandaiannya untuk berlari secepat mungkin, kembali ke kota raja. Ia melakukan perjalanan secepatnya dan pada keesokan harinya, pada hari ke tiga tibalah ia kembali ke tempat tinggal tabib yang mengobati Ciang Bun. Tabib dan hwesio ahli racun yang menjadi sahabatnya itu sudah hampir putus asa menanti kembalinya. Bagaimanapun, bagi mereka agaknya tidak mungkin bisa mendapatkan obat yang amat langka itu dalam waktu tiga hari. Baru perjalanannya saja, menggunakan kuda umpamanya, baru akan sampai dalam waktu tiga hari pulang pergi! Maka, kemunculan Gangga yang tiba-tiba itu selain mengejutkan hati mereka, juga mendatangkan harapan yang menggembirakan.
"Bagaimana hasilnya, siauw-si-cu (tuan muda yang gagah)?" tanya mereka.
Gangga mengangguk dan mengeluarkan botol berisi tiga butir pel itu. "Kini belum musimnya telur katak menetes, tak mungkin mencari anak-anak katak buduk hitam. Akan tetapi aku mendapatkan pel racun katak buduk hitam itu dari seorang sakti yang harus diberikan kepada Ciang Bun sehari sebutir, berturut-turut sampai tiga hari."
Tabib dan hwesio itu membuka tutup botol dan memeriksa tiga butir pel itu. Hwesio itu begitu mencium baunya, segera mengangguk-angguk. "Omitohud.... racun katak buduk hitam yang amat keras! Memang inilah obatnya, dan pinceng yakin pemuda gagah itu akan dapat disembuhkan."
Dengan girang Gangga lalu membantu si tabib memberi pel itu kepada Ciang Bun yang masih belum sadar. Dan dengan teliti dan telaten, Gangga mendampingi Ciang Bun sampai tiga hari tiga malam lamanya! Dara ini tidak pernah mau meninggalkan pembaringan Ciang Bun dan bahkan makan atau tidurpun ia lakukan di dekat pembaringan Ciang Bun. Ia tidur sambil duduk dan selama tiga hari itu, wajahnya menjadi agak pucat karena kurang tidur dan kurang beristirahat. Akan tetapi hatinya girang bukan main karena baru pada hari pertama saja, wajah Ciang Bun yang tadinya biru kehijauan itu sudah mulai berobah, dan setiap hari berangsur baik sampai pada hari ke tiga, sinar biru kehijauan pada wajahnya sudah lenyap sama sekali. Dan pada hari ke empat, pagi-pagi sekali, pemuda itu mengeluh dan siuman! Akan tetapi karena dia kurang makan, hanya menelan bubur encer saja selama tiga hari lebih, tubuhnya masih lemah dan dia hanya dapat bergerak membuka mata dan menoleh ke kanan kiri.
"Di manakah aku....?" tanyanya lemah.
Gangga yang duduk di dekatnya dan mengantuk, segera bangun dan mendekatinya. Ia tersenyum girang sekali. "Ah, engkau sudah siuman? Bagus sekali! Engkau telah sembuh, bahaya telah lewat!"
Melihat pemuda ini, Ciang Bun teringat dan dia segera bangkit hendak duduk. Akan tetapi tubuhnya terasa lemas dan dia terpaksa merebahkan dirinya kembali. Ganggananda cepat membantunya rebah kembali dan berkata dengan halus, "Jangan engkau bangun dulu. Sudah empat hari engkau tak sadarkan diri. Tunggu, biar aku buatkan bubur untukmu." Setelah berkata demikian, diapun bangkit dan cepat meninggalkan kamar menuju ke dapur.
"Omitohud, engkau beruntung sekali mempunyai sahabat sebaik itu, orang muda."
Ciang Bun menoleh dan memandang heran kepada dua orang kakek yang duduk tak jauh dari situ. Dia tidak pernah mengenal hwesio dan kakek berpakaian sasterawan itu, yang duduk di sudut kamar dan memandang kepadanya sambil tersenyum girang. Akan tetapi dia cerdik dan dapat menduga bahwa tentu pemuda yang menjadi sahabatnya itulah yang membawanya ke sini dan agaknya dua orang kakek ini menjadi tuan rumah, bahkan mungkin sekali yang menolongnya dan mengobatinya. Bukankah menurut Gangga tadi dia pingsan selama empat hari?
Sambil terus rebahan Ciang Bun mengangkat kedua tangan di depan dada. "Ji-wi locianpwe, maafkan kalau saya belum mampu memberi hormat sepantasnya untuk menghaturkan terima kasih atas pertolongan dan kebaikan ji-wi."
Dua orang kakek itu nampak semakin gembira. Sikap Ciang Bun itu menyenangkan hati mereka. Kadang-kadang sikap jauh lebih berharga daripada pemberian benda berharga apapun juga. "Si-cu tidak perlu berterima kasih kepada kami karena yang menyelamatkan nyawa si-cu sesungguhnya adalah sahabat si-cu itu," kata kakek tabib yang segera menceritakan kepada Ciang Bun bahwa pemuda ini pingsan dan terancam bahaya maut oleh pukulan Hoa-mo-kang dan betapa Ganggananda dengan kecepatan yang sukar dapat dipercaya telah pergi mencarikan obat penawarnya sampai berhasil menyembuhkan Ciang Bun.
"Omitohud....! Yang paling sukar didapatkan di dunia ini adalah seorang sahabat yang setia tanpa pamrih. Sahabat si-cu itu lupa makan lupa tidur untuk menjaga si-cu, sungguh kebaikannya amat mengharukan hati pinceng."
Diam-diam Ciang Bun merasa terharu sekali dan hatinya semakin erat terikat kepada Ganggananda yang sebelumnya memang sudah amat menarik hatinya. Tak di sangkanya bahwa pemuda yang lincah jenaka, yang pandai bersajak dan amat menyenangkan itu ternyata memiliki hati semulia itu dan merupakan seorang sahabat yang amat baik. Dia merasa bersyukur sekali."Terus-terang saja, si-cu, kalau tidak ada sahabatmu itu, nyawamu tidak mungkin dapat ditolong lagi. Si-cu berhutang nyawa kepadanya," kata si tabib dengan suara sungguh-sungguh.
Perasaan cinta yang tulus semakin mendalam di hati Ciang Bun terhadap pemuda yang selain menarik hatinya, juga telah menyelamatkan nyawanya itu. Dan setelah kekuatannya pulih kembali, dia bersama Ganggananda berpamit dari tabib yang ramah tamah itu dan meninggalkan rumah tabib dengan ucapan terima kasih. Ganggananda bahkan memberi biaya yang cukup besar, dan ternyata pemuda ini membawa bekal emas yang cukup banyak sehingga mengherankan hati Ciang Bun. Tahulah dia bahwa sahabatnya itu adalah seorang yang selain pandai sastera dan silat, juga kaya raya.
"Ah, tak terasa lima hari telah lewat dan hari ini adalah hari yang telah kami tentukan untuk bertemu di kota raja," katanya kepada Ganggananda.
Gangga memandang penuh perhatian. "Kami? Siapa yang kau maksudkan?"
"Adik Ganggananda yang baik, aku belum menceritakan riwayatku kepadamu. Yang kumaksudkan dengan kami adalah aku dan ciciku yang bernama Suma Hui."
"Hemm, agaknya ada hubungannya dengan musuh besarmu itu, ya? Diapun menyebutmu seolah-olah engkau masih sanaknya. Apakah musuh besarmu itu.... kakak iparmu, suami encimu?"
"Engkau adalah seorang yang amat mulia, Gangga, dan aku sudah berhutang budi dan nyawa padamu, maka baiklah kuceritakan keadaan keluargaku, keluarga kami yang malang." Ciang Bun menoleh ke kanan kiri, akan tetapi taman itu masih sunyi karena hari masih pagi sekali. Dia mengajak Gangga pergi ke taman ini karena di sinilah dia berjanji dengan encinya untuk mengadakan pertemuan pada hari ini atau hari-hari berikutnya kalau-kalau ada yang terlambat. Mereka duduk di atas sebuah bangku panjang, di bawah pohon yang rindang sambil menghadapi sebuah empang ikan emas yang dihias tumbuh-tumbuhan bunga teratai merah dan putih.
Dengan hati mengandung penuh kepercayaan kepada sahabat barunya ini, Ciang Bun lalu menceritakan semua riwayatnya, sejak dia bersama encinya dan Ceng Liong belajar ilmu di Pulau Es sampai pertemuannya dengan musuh besarnya, yaitu Louw Tek Ciang. Diceritakannya malapetaka yang menimpa keluarga kakeknya di Pulau Es yang kemudian disusul malapetaka yang menimpa diri encinya, Suma Hui dan kejahatan yang dilakukan Tek Ciang yang menjadi murid ayahnya dan juga menjadi suami encinya itu.
Gangga mendengarkan dengan penuh perhatian dan penuh perasaan sehingga wajahnya sebentar merah karena marah dan pucat karena ikut merasa terharu dan berduka. Pandang matanya tak pernah lepas dari wajah pemuda itu. Baru sekaranglah ia tahu mengapa pemuda ini mati- matian menyerang Louw Tek Ciang yang telah menjadi kakak iparnya. Dan ia ikut merasa marah sekali mendengar akan kelicikan dan kejahatan Louw Tek Ciang yang telah menghancurkan kehidupan Suma Hui, kakak perempuan pemuda ini. Setelah Ciang Bun menceritakan semuanya, pemuda itu menarik napas panjang.
"Demikianlah, Gangga. Sudah bertahun-tahun kami mendendam kepada jahanam itu dan secara tak tersangka- sangka dan kebetulan sekali aku bertemu dengannya di telaga dalam taman. Dapat kaubayangkan betapa girang rasa hatiku dan betapa dengan penuh semangat aku berusaha untuk membunuhnya. Akan tetapi dia lihai dan juga licik, bahkan kinipun dia dibantu seorang kawan yang agaknya lihai pula. Nyaris aku tewas kalau tidak ada engkau yang menyelamatkanku, sahabatku." Berkata demikian, Ciang Bun menjulurkan tangannya dan dipegangnya tangan Gangga. Pegangan ini dilakukan dengan perasaan penuh keharuan dan juga penuh rasa kasih sayang sehingga terasa oleh Gangga betapa jari-jari tangan itu mengandung getaran halus yang seolah-olah menembus kulit tangannya dan menjalar sampai ke dalam dada, membuat jantungnya berdebar-debar dan bulu-bulu di lengannya dan tengkuknya meremang. Maka dengan halus pula ia menarik dan melepaskan tangannya dari genggaman tangan pemuda itu.
"Ahhh, kenapa engkau begini sungkan dan bicara seperti itu, Ciang Bun? Bukankah kita ini sahabat dan di antara sahabat baik tidak ada istilah tolong- menolong? Apa yang kulakukan untukmu itu adalah wajar saja di antara sahabat. Andaikata aku yang menderita seperti engkau, apakah engkau tidak mau menolongku juga?"
Jawaban yang sederhana dan jujur ini membuat Ciang Bun merasa terharu dan semakin suka kepada pemuda ini. Dan diam-diam diapun mengeluh. Penyakit lamanya telah kambuh dan kini semakin hebat! Selama ini, sudah tiga kali dia tertarik kepada pria, bukan hanya tertarik biasa sebagai teman, melainkan tertarik seperti orang jatuh cinta yang mengandung gairah! Pertama adalah kepada Kao Cin Liong, walaupun pada waktu itu dia belum dewasa benar dan rasa sukanya kepada Cin Liong disertai kekaguman akan kelihaian pemuda itu dan juga rasa akrab sebagai seorang kekasih encinya. Kemudian diapun jatuh cinta kepada Liu Lee Siang, pemuda Pulau Nelayan itu walaupun pada waktu itu dia masih belum sadar benar akan kelainan pada dirinya. Akan tetapi yang ke tiga kali ini, dia merasa betapa dia benar-benar jatuh cinta kepada Ganggananda! Kini dia menyadari benar keadaan dirinya, bahkan selama ini dia sudah berusaha dengan segala kekuatan batinnya untuk melawan hasrat dan kecondongan hati yang tidak seperti pria pada umumnya itu. Kini dia merasa betapa seluruh batinnya mencintai Gangga, dan timbul hasrat untuk berdekatan, sedekat mungkin, untuk melindungi, untuk bergantung. Ada suatu kemesraan di dalam batinnya terhadap Gangga dan segala gerak-gerik pemuda ini amat manis dalam pandang matanya, amat gagah, baik dan membuatnya tidak ingin berjauhan, tidak ingin berpisah lagi.
Itulah yang amat membingungkan dan menyedihkan hatinya. Dia tahu bahwa kalau dilanjutkan hubungannya dengan pemuda Nepal atau Bhutan ini, dia akan jatuh cinta semakin dalam. Padahal, dia tahu bahwa hal ini tidak boleh terjadi. Dan Ganggananda tentu akan memandangnya penuh penghinaan kalau sampai tahu akan kelainan dirinya. Tidak, dia tidak akan dapat menahan kalau sampai Ganggananda membencinya dan jijik melihatnya. Ganggananda tidak boleh tahu akan kelainan dirinya. Ganggananda amat baik kepadanya, tentu hanya sebagai sahabat, suka dan sayang kepadanya sebagai seorang sahabat, rasa suka yang jujur dan bersih. Akan tetapi dia? Dia mencinta Ganggananda, bukan hanya sayang dan suka, akan tetapi juga bangkit berahinya berdekatan dengan pemuda halus itu! Dan mana mungkin dia dapat bertahan kalau berdekatan terus. Tidak, dia harus menjauhkan diri, harus membiarkan bayangan dirinya tetap tinggal di hati Ganggananda sebagai seorang sahabat yang disukanya, bukan sebagai seorang laki-laki ganjil yang dibencinya.
"Gangga, tentu saja aku akan berusaha menolongmu kalau engkau berada dalam kesukaran, bahkan aku rela untuk membelamu dengan nyawaku sekalipun. Gangga, aku suka padamu, aku sayang dan cinta padamu, karena itu kalau engkau tidak berkeberatan, aku ingin sekali mengangkatmu sebagai saudaraku!" Aneh sekali, dalam suaranya terkandung keharuan dan kesedihan sehingga suara pendekar muda ini gemetar. Tidak mengherankan karena memang hatinya berduka. Ciang Bun telah mengambil keputusan karena hanya itulah satu-satunya jalan keluar. Dia harus mengangkat Gangga sebagai saudara! Kalau sudah menjadi saudara, tentu akan lain pandangannya, lain lagi perasaan hatinya terhadap Gangga. Ikatan persaudaraan itu diharapkannya akan merobah perasaan cinta berahi menjadi cinta saudara tanpa berahi, tanpa gairah yang menyesakkan dadanya untuk dapat berdekatan dan bermesraan dengan Gangga.
Akan tetapi mendengar ucapan Ciang Bun itu, Gangga membelalakkan sepasang matanya yang indah. Ia nampak terkejut sekali dan sebelum ia menjawab, ia sudah menggeleng kepala tanda tidak setuju. Kemudian terdengar ia berkata, "Ah, tidak, Ciang Bun. Aku tidak mau, aku lebih senang menjadi sahabatmu saja, sahabatmu yang amat baik. Apa sih bedanya menjadi sahabat atau saudara angkat?"
Dan Ciang Bun merasa lega dengan jawaban ini! "Tidak.... tidak apa-apa, hanya aku ingin agar hubungan antara kita lebih erat, akan tetapi kalau engkau tidak mau, akupun tidak kecewa dan kita menjadi sahabat yang amat baik. "Ganggananda khawatir kalau menyinggung hati pemuda itu dan dipegangnya tangan Ciang Bun. "Sahabatku yang baik. Siapa orangnya tidak akan merasa bangga menjadi saudara angkat seorang pendekar sepertimu? Apalagi engkau adalah keturunan keluarga Pulau Es! Akan tetapi, aku sudah cukup bangga dan puas menjadi sahabatmu saja, sahabat yang setia dan akrab."
"Terima kasih, Gangga, terima kasih. Engkau lebih baik daripada seorang saudara bagiku." kata Ciang Bun dan kembali tangannya gemetar ketika bersentuhan dengan jari-jari tangan Gangga, membuat Gangga kembali menarik tangannya dengan halus.
Percakapan mereka terhenti karena pada saat itu muncul seorang pemuda dan seorang gadis dikawal oleh tujuh orang. Melihat pakaian dua orang muda itu, mudah diduga bahwa mereka tentulah anak-anak pembesar atau hartawan. Pemuda itu berwajah tampan, dan gadis itupun manis dan melihat wajah mereka, dapat diduga bahwa mereka itu tentu saudara sekandung. Mata, hidung dan mulut mereka mirip sekali. Pemuda itu usianya kurang lebih enam belas tahun dan si gadis agaknya adiknya, lebih muda satu dua tahun. Tujuh orang yang mengawal mereka itu tidak berpakaian seragam, akan tetapi dari sikap mereka ketika berjalan, dapat diduga bahwa mereka tentulah anak buah pasukan pengawal yang memiliki ilmu silat tangguh. Di punggung mereka terselip senjata, ada yang membawa pedang, ada pula golok. Sikap tujuh orang ini congkak seperti sikap pengawal-pengawal dan tukang-tukang pukul pada umumnya. Kalau muda-mudi itu berjalan-jalan sambil melihat-lihat bunga dengan sikap gembira, tujuh orang pengawal itu melirik ke arah Ciang Bun dan Ganggananda dengan pandang mata penuh selidik. Akan tetapi karena dua orang muda ini tidak membawa apa-apa dan sikapnya tidak mencurigakan, merekapun tidak memperhatikan lagi dan sebentar saja mereka sudah lewat.
"Uh, congkak-congkak benar sikap tukang-tukang pukul itu." kata Ganggananda dengan nada suara gemas. "Kalau ada alasannya, tentu akan senang hati aku menghajar mereka."
Ciang Bun tersenyum. "Jangan galak-galak, Gangga. Tiada hujan atau angin, engkau ingin menghajar orang. Apalagi kalau hujan angin...."
"Kalau hujan angin, aku tentu lari mencari tempat perlindungan!" Gangga memotong dan tertawa. Ciang Bun juga tertawa, akan tetapi tiba-tiba dia menghentikan suara ketawanya dan menyentuh lengan Gangga sambil menoleh ke kiri. Gangganada juga menoleh dan perhatiannya tertarik kepada dua orang kakek yang datang menuju ke tempat itu. Dua orang kakek itu agaknya mengikuti atau membayangi rombongan muda-mudi tadi, dan keadaan dua orang kakek itu menarik perhatian mereka. Dari sikap mereka, gerak-gerak mereka dan langkah kaki mereka, Ciang Bun dapat menduga bahwa dua orang kakek ini bukan sembarangan, sama sekali tidak boleh disamakan dengan tujuh orang pengawal yang garang dan congkak tadi.
Pandang mata Ciang Bun memang tajam. Dua orang kakek yang berjalan perlahan-lahan memasuki taman dan membayangi rombongan muda mudi itu dari jauh memang bukan orang-orang sembarangan. Bahkan keduanya adalah tokoh-tokoh besar di dunia persilatan, walaupun mereka jarang muncul di dunia kang-ouw. Seorang di antara mereka adalah seorang kakek berusia hampir tujuh puluh tahun, bertubuh tinggi besar dan melihat jubah dan kepalanya, mudah diduga bahwa dia adalah seorang pendeta Lama. Kepalanya gundul tak tertutup, jubahnya berwarna merah kotak-kotak, telinganya amat menarik karena besar sekali, dua kali lebih besar daripada ukuran telinga manusia biasa. Di lehernya tergantung tasbeh hitam dan di pinggangnya terselip sebatang suling. Kelihatannya seorang pendeta Lama biasa saja, akan tetapi sebenarnya dia adalah Thai Hong Lama, seorang sakti yang tadinya pernah menjadi sekutu Gubernur Yong Ki Pok yang memberontak di Sin-kiang. Adapun orang ke dua tidak kalah lihainya. Diapun berpakaian pendeta atau pertapa, seperti pakaian seorang tosu. Pakaiannya putih bersih dan rambutnya yang panjang dibiarkan terurai. Usianya sudah tujuh puluh tahun lebih dan tubuhnya tinggi kurus, matanya sipit. Dia adalah Pek-bin Tok-ong, seorang pertapa dari Pegunungan Gobi yang selain lihai, juga berhati kejam. Biarpun kedua orang kakek ini datang dari tempat yang berjauhan, akan tetapi keduanya menjadi rekan dan sahabat ketika mereka menjadi sekutu Gubernur Yong Ki Pok.
Seperti telah diceritakan di bagian depan, dua orang kakek ini membantu gerakan Gubernur Yong di barat yang memberontak. Akan tetapi gerakan itu dapat dihancurkan oleh pasukan pemerintah yang dipimpin oleh Jenderal Muda Kao Cin Liong. Gubernur itu sendiri tertawan dan tewas, gerakannya hancur. Akan tetapi dua orang kakek ini yang memiliki kepandaian tinggi, berhasil menyelamatkan diri dan lolos dan karena mereka berdua merasa seperjuangan dan senasib, maka merekapun selanjutnya menjadi sahabat dan ke manapun mereka bersama-sama. Sebagai buronan pemerintah, mereka menyembunyikan diri dan baru setelah kini keadaan menjadi reda dan dingin, mereka berani muncul. Keadaan mereka sebagai dua orang pendeta tentu saja tidak mencurigakan dan tidak menarik perhatian, bahkan mereka dihormati dan tidak pernah diganggu oleh para penjaga. Dan kedua orang inipun memiliki kepandaian dan kedudukan yang terlalu tinggi untuk merendahkan diri melakukan kejahatan-kejahatan biasa yang remeh. Andaikata mereka itu membutuhkan uang, tentu mereka akan mengambilnya dari kamar harta seorang pembesar atau hartawan tanpa ada yang tahu, bukan hanya mencuri atau merampok biasa saja.
Melihat betapa dua orang kakek itu dengan langkah kaki perlahan namun mantap berjalan-jalan akan tetapi jelas membayangi rombongan muda-mudi yang dikawal tujuh orang itu, Suma Ciang Bun memberi isyarat kepada Ganggananda. Mereka saling pandang dan kemudian mengikuti perjalanan rombongan muda-mudi dengan dua orang kakek yang membayanginya itu dengan penuh perhatian sampai mombongan itu keluar dari dalam taman menuju ke taman atau hutan kecil di depan. Hutan ini hutan buatan untuk keperluan kaisar dan para pembesar tinggi melakukan perburuan. Kalau musim berburu tiba, hutan kecil itu diramaikan oleh binatang-binatang yang sengaja dilepas di situ untuk diburu dan dibunuh oleh para pejabat tinggi. Setelah bayangan rombongan itu lenyap, Ciang Bun mengerutkan alisnya.
"Gangga, sikap dua orang kakek itu amat mencurigakan. Apa yang mereka kerjakan dengan membayangi rombongan muda-mudi itu?"
Ganggananda mengangguk. "Memang mencurigakan. Mungkin mereka itu merupakan pengawal pribadi yang melakukan pengawalan secara tersembunyi. Sikap mereka jelas membayangkan bahwa dua orang kakek itu memiliki ilmu kepandaian tinggi."
"Engkau benar, mereka itu tentu bukan orang-orang sembarangan. Mungkin juga mereka itu menjadi pengawal-pengawal rahasia muda-mudi mewah itu, akan tetapi aku khawatir jangan-jangan mereka itu malah mempunyai niat yang tidak sehat terhadap rombongan pertama itu. Aku melihat kekejaman membayang pada pandang mata dua orang kakek itu, terutama sekali si tosu. Ketika dia melirik ke sini dan memandang kita, aku merasa serem."
"Hemm, biarkan saja, urusan mereka sendiri. Tujuh orang pengawal itupun congkak sekali, bukan watak orang-orang baik, maka biarkan mereka itu saling hantam sendiri dengan dua orang kakek itu."
"Akan tetapi aku tetap curiga, Gangga. Jangan-jangan dua orang kakek itu mempunyai niat buruk terhadap muda-mudi itu dan biarpun mereka itu dikawal oleh orang-orang congkak, mereka sendiri adalah remaja-remaja yang tidak berdosa. Mari kita bayangi mereka dan lihat apa yang akan terjadi."
"Bagaimana kalau encimu muncul nanti?"
"Jangan khawatir, kami sudah saling berjanji untuk saling menanti di sini selama sepekan terhitung hari ini, menjaga kalau-kalau seorang di antara kami akan terlambat. Kalau nanti ia datang, tentu ia akan menungguku."Keduanya lalu bangkit dan melakukan pengejaran ke arah lenyapnya rombongan muda-mudi berpakaian mewah tadi. Akan tetapi bayangan mereka sudah tidak nampak lagi. Ketika Ganggananda dan Ciang Bun sedang mencari dengan mata dan telinga mereka dan bingung karena tidak tahu harus melakukan pengejaran ke arah yang mana, tiba-tiba mereka mendengar lapat-lapat suara orang berkelahi di sebelah barat. Keduanya lalu cepat lari menuju ke arah itu dan tak lama kemudian mereka melihat perkelahian yang sungguh berat sebelah.
Kakek pendeta Lama berkepala gundul itu sedang dikepung dan dikeroyok oleh tujuh orang pengawal itu! Para pengawal mempergunakan senjata golok atau pedang, sedangkan pendeta Lama itu hanya bertangan kosong saja menghadapi mereka. Akan tetapi, sekali pandang saja tahulah Ciang Bun dan Gangga bahwa kakek itu lihai luar
biasa dan sedang mempermainkan tujuh orang lawannya yang kelihatan galak dan garang. Sambaran pedang dan golok berkelebatan dan bergulung-gulung menyilaukan mata, akan tetapi tubuh kakek pendeta Lama itu seperti melayang-layang di antara gulungan sinar pedang dan golok, dan jika ada sinar senjata yang menyambar terlalu dekat, dia cukup mengebutkan ujung lengan bajunya dan senjata itupun terpental! Adapun kakek ke dua yang seperti tosu itu hanya berdiri di pinggir, menonton. Dia sama sekali tidak membantu temannya karena kakek ini tentu yakin pula bahwa temannya akan menang dengan mudah menghadapi tujuh orang pengeroyok yang hanya mengandalkan senjata tajam dan tenaga kasar itu.
"Lama tua, jangan main-main seperti anak kecil. Lekas bereskan mereka!" kata tosu yang sudah kita kenal sebagai Pek-bin Tok-ong itu.
"Ha-ha-ha!" Thai Hong Lama tertawa sambil menyampok sebuah golok dengan lengan bajunya sehingga golok itu terpental dan hampir terlepas dari tangan pemegangnya. "Agaknya kau sudah tidak sabar lagi, Tok- ong? Lihat, sepasang burung dara remaja yang lunak dagingnya itu takkan dapat terbang ke manapun juga, ha-ha!"
Akan tetapi, biarpun berkata demikian, agaknya pendeta Lama itupun sudah jemu mempermainkan tujuh orang pengeroyoknya. Tiba-tiba saja tangannya menyentuh tasbeh yang tergantung di lehernya dan sekali tarik, dia sudah mengambil tasbeh itu keluar dari lehernya dan dan nampaklah sinar hitam berguung-gulung ketika tasbeh iu diputar-putar. Dan terdengarlah suara nyaring berdentangan ketika pedang dan golok tujuh orang itu terlempar karena benturan tasbeh, disusul teriakan mereka yang roboh satu demi satu dengan kepala pecah terpukul tasbeh! Berturut-turut dengan masing-masing sekali serangan saja, lama itu telah merobohkan dan menewaskan tujuh orang pengeroyoknya.
Melihat ini, Ciang Bun dan Gangga terkejut sekali. Tadinya, melihat perkelahian itu mereka tidak mau turut campur, karena mereka tidak tahu apa urusan mereka yang sedang berkelahi itu. Apalagi melihat betapa pendeta Lama itu dikeroyok tujuh. Bagaimana mungkin mereka turun tangan. Pendeta itu tidak terdesak dan jelas akan menang, dan mereka berdua enggan membantu tujuh orang pengawal yang kasar, congkak dan yang kini secara curang mengeroyok seorang lawan dengan tujuh orang. Akan tetapi, sungguh tidak disangka oleh Ciang Bun dan Gangga bahwa kakek itu akan menurunkan tangan maut seganas itu, sekaligus membunuh tujuh orang lawannya. Juga mereka berdua terkejut, maklum bahwa sesungguhnya pendeta Lama itu lihai bukan main dan merekapun dapat menduga bahwa temannya, si tosu itu, tentu lihai pula.
Kini, dua orang muda yang agaknya kakak dan adiknya itu memandang terbelalak dan dara remaja itu menangis dalam rangkulan kakaknya. Mereka memandang pucat dan ketakutan melihat betapa para pengawal mereka terbunuh. Keduanya lalu membalikkan tubuh dan hendak melarikan diri. Akan tetapi, dua orang kakek itu tertawa dan sekali berkelebat, mereka sudah meloncat dan di lain saat, Thai Hong Lama sudah menyambar tubuh gadis kecil itu sedangkan Pek-bin Tok-ong menyambar tubuh pemuda remaja. Mereka menyambar bagaikan dua ekor burung rajawali menyambar dua ekor burung dara yang ketakutan dan sambil tertawa-tawa, keduanya memondong korban mereka dan berlari cepat sekali meninggalkan tempat itu.
Ciang Bun dan Gangga sejak tadi bengong saja. Mereka masih terkejut melihat betapa kakek pendeta itu membunuh tujuh orang dengan ganas, akan tetapi ketika mereka melihat dua orang kakek itu menangkap dan melarikan muda-mudi, mereka berdua masih ragu-ragu dan tidak mengerti apa yang dimaksudkan dua orang kakek itu.
"Kita kejar mereka!" kata Ciang Bun. Akan tetapi sebelum dia bergerak, Gangga menyentuh tangannya.
"Apa gunanya kita mengejar mereka? Mungkin dua orang kakek lihai itu hendak mengambil mereka sebagai murid! Kalau kita mengejar dan dapat menyusul, habis kita mau apa? Perkelahian mereka dengan tujuh pengawal itu bukan urusan kita dan kalau mereka hendak mengambil murid, itupun tidak ada sangkut-pautnya dengan kita. Kenapa kita harus mencampuri urusan orang dan hanya mencari permusuhan dengan orang-orang lihai?"
"Bukan demikian, Gangga. Akan tetapi hatiku tidak enak. Apakah engkau tidak melihat betapa kakek gundul itu ketika menangkap gadis cilik, telah mengelus pipi gadis itu? Dan aku melihat jelas betapa tosu itupun mencium pipi si pemuda remaja! Begitukah sikap orang yang akan mengambil murid? Aku curiga sekali dan mari kita kejar mereka, dan kita lihat dan dengan teliti apa yang akan mereka lakukan. Kalau memang benar mereka berniat baik terhadap muda-mudi itu, tentu saja kita tidak usah mencampuri. Akan tetapi kalau mereka itu mempunyai niat busuk, seperti yang kukhawatirkan, kita harus menolong dua orang remaja itu."
Gangga terpaksa harus membenarkan pendapat sahabatnya dan mereka cepat meninggalkan tempat itu dan melakukan pengejaran ke arah larinya dua orang kakek yang menculik dia orang muda-mudi itu. Dan ternyata mereka harus berlari cepat dan mencari ke sana-sini karena dua orang kakek itu lenyap tanpa meninggalkan jejak. Setelah menjelajahi hutan kecil itu tanpa hasil, Gangga menjadi putus harapan dan hendak membujuk sahabatnya untuk menyudahi saja pencarian yang sia-sia itu. Akan tetapi Ciang Bun menggeleng kepala.
"Gangga, entah bagaimana, akan tetapi perasaanku mengatakan bahwa dua orang kakek itu adalah datuk- datuk sesat yang mampu melakukan segala macam hal yang mengerikan dan jahat sekali. Aku mengkhawatirkan keselamatan dua orang remaja itu. Kita harus cari dan susul sampai dapat."
"Akan tetapi, ke mana kita harus menyusul dan mencari? Mereka tidak berada di dalam hutan ini, dan ternyata mereka mampu berlari cepat sekali sehingga kita kehilangan jejak mereka."
Ciang Bun berpikir keras sambil menundukkan mukanya. Kemudian dia mengangkat muka dan memandang wajah sahabatnya. "Gangga, di waktu siang seperti ini, mereka tidak akan dapat melakukan perbuatan jahat di tempat umum. Maka, kalau mereka memang berniat jahat, tentu mereka akan mencari tempat sunyi dan satu- satunya tempat sunyi tentu saja keluar dari kota raja ini. Tempat ini paling dekat dengan pintu gerbang kota raja sebelah barat, maka kurasa mereka lari melalui pintu gerbang itu. Mari kita kejar ke sana."
Perhitungan Ciang Bun memang tepat sekali. Ketika mereka tiba di pintu gerbang dan melakukan penyelidikan dengan bertanya-tanya, mereka mendengar bahwa memang tadi ada dua orang kakek yang menurut penggambarannya adalah benar dua orang yang mereka kejar, memondong pemuda remaja dan seorang gadis cilik. Menurut keterangan dua orang kakek pendeta itu, dua orang remaja itu menderita sakit lumpuh dan kini mereka hendak membawa muda-mudi itu ke gunung untuk diobati. Adapun muda-mudi itu selain lumpuh, nampaknya payah sekali karena seperti orang pingsan dan lemas. Melihat bahwa dua orang kakek itu adalah pendeta-pendeta yang kelihatannya alim, tidak ada yang menaruh curiga dan dengan mudah dua orang pendeta itu keluar dari kota raja melalui pintu gerbang sebelah barat ini.
Mendengar keterangan ini, makin besar keyakinan hati Ciang Bun bahwa dua orang kakek itu tentulah mempunyai niat yang busuk terhadap dua orang muda-mudi yang mereka tawan. Bahkan kini Gangga sendiripun menanuh curiga dan dengan penuh semangat iapun bersama Ciang Bun melakukan pengejaran ke barat.
Setelah matahari condong ke barat, tiba-tiba Ciang Bun memegang lengan Gangga dan menudingkan telunjuknya ke arah sebuah kuil tua yang terletak di lereng bukit di depan. "Lihat, kuil tua itu berada di tempat terpencil, jauh dari desa dan agaknya kosong. Merupakan tempat yang baik sekali untuk melakukan perbuatan busuk, bukan?"
"Entahlah, aku tidak pernah melakukan perbuatan busuk sih!"
Mendengar jawaban ini, Ciang Bun menatap wajah Gangga dan tersenyum lebar. "Akupun belum pernah. Apa kaukira aku biasa melakukan perbuatan busuk?" Pertanyaan yang dimaksudkan untuk melayani kelakar Gangga itu tanpa disengaja telah menusuk hatinya sendiri. Apakah kelainannya itu termasuk sesuatu yang busuk?" Nah, kalau kita belum pernah melakukan, mana bisa tahu apakah tempat seperti kuil itu baik untuk melakukan perbuatan busuk."
"Gangga, maaf, bukan waktunya bergurau. Mari kita cepat ke sana, aku khawatir kalau-kalau kita terlambat!"
Mereka berlari lagi menuju ke lereng bukit itu. Di waktu mereka berlari cepat, Gangga masih sempat bertanya, "Ciang Bun, aku tidak mengerti. Kejahatan apa yang dapat dilakukan dua orang kakek itu terhadap muda- mudi remaja itu?"
"Kejahatan apa? Mungkin mereka.... akan diperkosa, seperti yang telah menimpa diri enciku."
"Hemm, mungkin saja. Akan tetapi mana bisa hal itu menimpa si pemuda remaja? Mengapa pula dia ikut diculik? Mau diapakan?"
"Mungkin mau dibunuh!"
"Tidak mungkin, kalau memang dua orang kakek itu berniat membunuh mereka, tentu sudah dilakukannya di hutan itu, tidak usah repot-repot diculik."
"Atau bisa jadi untuk disiksa, dijadikan sandera, untuk minta uang tebusan. Nampaknya dua orang muda- mudi itu anak-anak orang kaya atau pejabat tinggi."
"Itupun kecil kemungkinannya. Dua orang kakek itu andaikata benar penjahat, tentu bukan penjahat- penjahat kecil yang suka menculik dan melakukan pemerasan."
Ciang Bun kehabisan akal. Dia mempunyai dugaan lain di dalam hatinya terhadap diri pemuda itu, akan tetapi dia tidak dapat menceritakan dugaannya itu kepada Gangga. Seorang pemuda seperti Gangga tentu akan tidak percaya dan merasa heran, juga jijik kalau dia mengatakan bahwa mungkin kakek-kakek itu akan memperkosa pula diri pemuda itu.
"Barangkali dua orang kakek itu mempunyai bibit permusuhan dan dendam dengan keluarga muda-mudi itu."
Mendengar ini, Gangga terkejut. "Ah, kenapa aku tidak memikirkan hal itu? Mungkin sekali tepat dugaanmu terakhir ini. Mari kita percepat lari kita!" Dan kini Ciang Bun harus mengerahkan seluruh tenaganya karena begitu Gangga mempercepat larinya, dia tertinggal jauh di belakang. Dia merasa khawatir sekali.
"Gangga tunggu....! Jangan sembrono, mereka itu lihai sekali!"
Setelah tiba di depan kuil mereka bersembunyi dan mengintai. Sebuah kuil tua yang memang kosong dan sudah tidak dipergunakan atau ditinggali orang lagi. Pintunya sudah jebol, temboknya penuh lumut dan dijalari tanaman-tanaman liar. Atapnya sebagian juga sudah jebol. Ciang Bun memberi isyarat kepada Gangga dan mereka lalu berindap menghampiri kuil dari dua jurusan. Mereka berpencar untuk mengintai dan mengelilingi kuil dan bertemu di belakang kuil. Gangga mengambil jalan sebelah kiri kuil dan Ciang Bun sebelah kanan.
Dengan cekatan Ciang Bun meloncat mendekati dinding kuil yang berlumut, kemudian berjalan menuju ke belakang dan mengintai melalui jendela-jendela jebol. Tiba-tiba dia menahan kakinya dan mengintai dari celah-celah dinding yang retak. Dia mendengar suara di dalam dan ketika mengintai, matanya terbelalak dan mukanya berobah merah sekali. Dia melihat hal yang memang dikhawatirkan terjadi di balik dinding retak itu. Pemuda remaja itu nampak terbelalak ketakutan, wajahnya pucat sekali, pakaiannya awut-awutan dan dia dipangku oleh kakek tinggi kurus seperti tosu yang menciumi dan menjilati seluruh tubuhnya yang sebagian banyak sudah telanjang karena pakaiannya direnggut lepas. Pemuda remaja itu tidak melawan, hanya menggigil ketakutan dan hampir pingsan. Ciang Bun mengepal tinju. Hatinya merasa muak dan jijik. Kini dia melihat sendiri seorang kakek yang agaknya mempunyai kelainan seperti dia, yaitu suka kepada sama-sama lelaki, sedang melampiaskan nafsu birahinya kepada seorang pemuda remaja. Dia merasa malu dan muak, juga jijik. Dia merasa seolah-olah dia sendiri yang melakukan itu, karena melihat pemuda tampan itu hampir telanjang, harus diakuinya bahwa ada semacam gairah menyesak di dadanya. Gairah itu segera ditekannya dan jiwa pendekarnya bangkit.
Pada saat yang sama, Gangga juga mengepal tinju dan terbelalak melihat betapa dara cilik yang usianya baru tiga belas atau empat belas tahun itu, menangis dan menggeliat-geliat di atas pangkuan pendeta Lama yang tinggi besar dan yang menggunakan kedua tangannya yang besar dan berbulu untuk membelai dan menggerayangi seluruh tubuh anak itu sambil menyeringai lebar menjijikkan.
"Iblis tua bangka cabul!" Gangga membentak marah.
Teriakan Gangga ini terdenggar oleh Ciang Bun yang juga membentak, "Kakek iblis tak tahu malu!" Mendengar bentakan-bentakan dari kanan kiri, dua orang kakek itu terkejut sekali, juga marah. Mereka merasa betapa kesenangan mereka terganggu dan mereka mendorong tubuh korban masing-masing dari atas pangkuan, kemudian keduanya berloncatan keluar dari dalam kuil untuk melihat siapa yang berani menentang mereka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar