24 Kisah Para Pendekar Pulau Es

Taman ini indah sekali. Dahulu merupakan taman pribadi milik kaisar.Akan tetaapi sejak kaisar Kian Liong bertahta, kaisar yang mencinta atau lebih dekat dengan rakyat dibandingkan kaisar-kaisar terdahulu, membuka taman itu menjadi taman umum yang boleh dikunjungi rakyat. Kaisar Kian Liong memang bijaksana dan pandai menyenangkan hati rakyatnya, maka di jaman pemerintahannyalah rakyat merasa lebih tenteram hidupnya.

Ciang Bun mendayung perahunya berputar-putar di telaga buatan itu. Semua orang yang berada di sekitar tempat itu, tidak ada yang tidak berseri wajahnya tanda bahwa mereka semua bergembira. Ketika Ciang Bun mendayung perahunya tiba di dekat sebuah pondok kecil yang berada di atas permukaan air di tepi telaga, tiba-tiba dia mendengar suara lantang disertai ketawa mengejek.

"Ha-ha, Siang-kiam taihiap (Pendekar Besar Sepasang Pedang) nongol lagi memamerkan pedangnya!"

Ciang Bun menghentikan dayungnya dan mengangkat muka. Kiranya pemuda remaja yang tadi sedang nongkrong di pondok itu, menjenguk keluar dari sebuah jendela kecil dan tersenyum mengejek. Mendongkol juga rasa hati Ciang Bun. Pemuda itu sungguh bengal, suka menggoda orang. Akan tetapi dia masih dapat menahan rasa marahnya dan sambil tersenyum ramah diapun berkata.

"Bersama pedang menjelajah negeri

bukan pamer bukan menakuti

sekedar alat pembela diri

harap adik jangan salah mengerti!"

Sepasang mata yang lebar dan jeli itu terbelalak. "Aihh, kiranya engkau adalah seorang terpelajar, pandai bersajak, bukan tukang pukul yang suka menakut-nakuti orang!"

Ciang Bun tersenyum. "Aku seorang biasa saja yang suka bersahahat. Kalau adik suka, kita boleh berkenalan dan menunggang perahu bersama."

Sepasang mata itu bersinar-sinar. "Benarkah? Engkau tidak marah kepadaku karena aku telah mengganggumu tadi?"

Ciang Bun tersenyum dan menggeleng kepalanya. Hatinya merasa semakin tertarik dan suka kepada pemuda remaja itu yang biarpun bengal akan tetapi ternyata pandai membawa diri dan juga jujur, mau mengakui kesalahannya. Buktinya, dia kini mengaku terus terang bahwa tadi telah mengganggunya.

"Engkau gembira dan jenaka, bukan mengganggu melainkan bicara sebenarnya. Di jaman sekarang memang banyak orang berlagak, dan engkau tadi menganggap aku tukang menjual lagak, jadi sajakmu tadi wajar saja."

Pemuda remaja itu nampak semakin gembira. "Ah, begitukah? Kalau begitu, biar aku ikut naik perahu bersamamu."

Gembira sekali rasa hati Ciang Bun. "Tunggu, akan kudaratkan perahu ini....""Tidak usah. Awas, aku melompat turun!" Dan tiba-tiba saja pemuda remaja itu sudah meloncat keluar dari jendela itu, meluncur turun ke atas perahu yang jaraknya masih cukup jauh. Ciang Bun terkejut bukan main, akan tetapi dia memandang kagum ketika pemuda itu sudah tiba di dalam perahu dan perahu itu sama sekali tidak terguncang seolah-olah yang tiba di dalam perahu dari atas itu hanya sehelai daun kering saja. Dia terkejut dan kagum, tahu bahwa pemuda remaja ini memiliki gin-kang yang amat hebat.

"Aih, kiranya engkaulah sebenarnya seorang taihiap!" katanya jujur. "Sungguh malu sekali aku yang tidak bisa apa-apa ini berani membawa-bawa pedang di depan seorang pendekar lihai sepertimu ini."

Pemuda remaja itu tertawa dan wajahnya nampak semakin muda dan tampan. "Sudahlah, toako, tak perlu merendahkan diri. Dari sikapmu menanggapi gangguanku dan pujianmu tadi, menunjukkan bahwa engkau berhati lapang dan juga berwatak rendah hati. Dan sikap ini hanya dimiliki oleh orang yang sudah patut disebut pendekar. Pula, siapa lagi kalau bukan pendekar yang lihai yang berani membawa-bawa pedang secara berterang, di kota raja pula?"

Seorang pemuda yang ahli gin-kang dan juga cerdik, pikir Ciang Bun. Juga nada suaranya jelas menunjukkan lidah asing, walaupun bicaranya cukup lancar. Tentu seorang pemuda asing yang sudah lama berada di sini atau yang mempelajari Bahasa Han dengan baik.

"Siauw-te, tak perlu engkau memuji. Akan tetapi sungguh gin-kangmu yang kauperlihatkan tadi mengagumkan hatiku. Dan mendengar suaramu, agaknya engkau adalah seorang yang datang dari jauh. Kalau boleh aku bertanya, siapakah namamu dan dari mana engkau datang?"

"Akupun seorang pengembara seperti engkau, toako, hanya saja aku datang jauh dari luar negeri, dari barat. Dan karena orang tuaku kagum akan kebesaran Sungai Gangga, aku diberi nama Ganggananda (Putera Sungai Gangga)."

"Ahh....! Kalau begitu engkau tentu datang dari See-thian (Negara Barat). Akan tetapi kulitmu putih dan mukamu, biarpun agak asing, tidak jauh bedanya dengan muka bangsa kami. Dan semuda ini engkau sudah berani merantau sejauh itu. Bukan main! Padahal, usiamu tentu baru lima belas atau enam belas tahun, masih belum dewasa benar."

"Siapa bilang? Aku sudah berusia delapan belas tahun! Dan aku sudah merantau selama satu tahun lebih. Girang sekali hari ini di kota raja dapat bertemu dengan seorang pendekar seperti engkau, toako. Siapakah namamu?"

Biasanya, Suma Ciang Bun segan memperkenalkan nama, apalagi nama keturunannya, karena she Suma akan mendatangkan daya tarik dan kecurigaan, membuka rahasia bahwa dia masih keturunan keluarga Suma dari Pulau Es. Memang tidak semua orang she Suma keluarga Pulau Es, akan tetapi she ini jarang terdapat sehingga menarik perhatian. Akan tetapi terhadap pemuda remaja yang jujur ini, yang amat menarik hatinya, dia tidak mau berbohong.

"Namaku Suma Ciang Bun...."

"Wah....! Kau tentu cucu Pendekar Super Sakti Suma Han dari Pulau Es!"

Kini wajah Ciang Bun berobah agak pucat. Tak disangkanya bahwa pemuda remaja yang asing ini begitu mendengar namanya langsung saja menebak dengan demikian tepatnya. Biarpun tokoh kang-ouw kenamaan tentu masih akan meragu.

"Pantas saja begitu bertemu aku tertarik untuk menggoda agar dapat berkenalan denganmu!" kata lagi pemuda yang bernama Ganggananda itu.

"Eh, Ganggananda, bagaimana engkau bisa tahu?"

Pemuda itu tertawa. "Dan engkau tentu masih saudara dari Suma Ceng Liong, bukan?"

Kini Ciang Bun terbelalak memegang lengan pemuda remaja itu. "Engkau mengenalnya? Engkau bertemu dengan Ceng Liong? Dia masih hidupkah?"

Ganggananda tersenyum. "Tentu saja dia masih hidup, setidaknya dia masih hidup enam tujuh tahun yang lalu. Aku bertemu dan kenal dengannya ketika dia pergi ke barat." Tiba-tiba wajah pemuda ini menjadi muram. "Heran sekali mengapa engkau tidak tahu dan mukamu berobah ketika mendengar namanya?"

"Dengar, Nanda, aku berterus terang saja. Kami semua mengira bahwa Ceng Liong sudah tewas kurang lebih sembilan tahun yang lalu. Dan sekarang, bertemu denganmu mendengar bahwa dia masih hidup, sungguh amat mengejutkan dan menggembirakan."

"Memang dia masih hidup, akan tetapi ada hal aneh sekali yang tentu akan membuatmu menjadi semakin terkejut."

"Apa itu?"

"Katakanlah dahulu. Betulkah engkau dan Ceng Liong cucu-cucu Pendekar Super Sakti dari Pulau Es? Kalian adalah keluarga para pendekar Pulau Es?"

"Benar, ayahku dan ayahnya adalah kakak beradik, dan Pendekar Super Sakti adalah kakak kami."

"Nah, itulah yang aneh. Ceng Liong cucu Pendekar Super Sakti, akan tetapi dia juga menjadi murid seorang raja iblis."

"Apa? Siapa?"

"Hek-i Mo-ong!"

"Ahhh....!" Tentu saja Ciang Bun kaget setengah mati mendengar berita ini, lebih kaget daripada berita bahwa adiknya itu masih hidup. Hek-i Mo-ong adalah raja iblis yang memimpin penyerbuan ke Pulau Es. Dialah musuh besar nomor satu. Bagaimana mungkin kini Ceng Liorg malah menjadi muridnya? Dia begitu terkejut sehingga dia memandang ke depan, jauh ke depan dan tiba-tiba wajahnya berobah pucat ketika dia melihat dua orang pria berada di dalam sebuah perahu meluncur datang dan sudah dekat.

"Kau.... kau kenapa....?" Ganggananda memegang lengan Ciang Bun melihat pemuda itu wajahnya menjadi pucat sekali dan matanya mengeluarkan sinar berapi.

"Diamlah," bisik Ciang Bun, "Dan jangan mencampuri kalau aku nanti berkelahi. Aku bertemu dengan musuh besarku!"

Perahu di depan itu kini mendekat dan yang membuat hati Ciang Bun terkejut adalah ketika dia mengenal bahwa seorang di antara dua pria yang berada di dalam perahu itu adalah Louw Tek Ciang! Dia tidak mungkin pangling. Pria itu biarpun kini sudah lebih tua, masih seperti dahulu. Pakaiannya mewah dan bibirnya masih tersenyum-senyum mengejek, pandang matanya membayangkan kecerdikan dan kelicikan. Biarpun dia belum bertemu dengan encinya, akan tetapi setelah kini melihat musuh besar itu, dia harus turun tangan membunuh orang yang telah merusak kehidupan encinya!

Akan tetapi, agaknya Tek Ciang juga bermata tajam. Mula-mula dia tidak mengenal Ciang Bun, akan tetapi begitu Ciang Bun berdiri di dalam perahunya dan dia memandang penuh perhatian, Tek Ciang segera mengenalnya. Dengan sikap congkak dan manis dibuat-buat penuh ejekan, dia melambaikan tangan.

"Aha, kiranya bertemu dengan adikku Ciang Bun di sini! Apa kabar, adikku?"

Akan tetapi Ciang Bun membentak sambil mencabut sepasang pedangnya. "Louw Tek Ciang keparat busuk! Bersiaplah untuk mampus!""Aihh, anak kurang ajar. Lupakah engkau bahwa aku ini kakak iparmu, juga suhengmu sendiri? Keturunan keluarga Suma memang kurang ajar semua!" Tek Ciang juga membentak. Kawannya, pemuda yang berpakaian serba hijau, memandang dengan alis berkerut. Pemuda ini adalah Pouw Kui Lok, murid Kun-lun-pai yang kini menjadi sute dari Tek Ciang itu. Seperti kita ketahui, dua orang ini beruntung sekali diangkat menjadi murid-murid oleh kedua orang tokoh Lembah Naga Siluman, yaitu Kim-kong-sian Cu Han Bu dan Bu-eng-sian Cu Seng Bu. Mereka diajak ke Lembah Naga Siluman di Pegunungan Himalaya dan selama kurang lebih tiga tahun mereka menerima gemblengan dari dua orang tokoh sakti itu. Karena Louw Tek Ciang adalah murid Suma Kian Lee yang sudah mewarisi ilmu-ilmu silat tinggi dari pendekar Pulau Es itu, juga murid Jai-hwa Siauw-ok yang lihai, sedangkan Pouw Kui Lok adalah murid utama Kun-lun-pai, keduanya memiliki dasar yang kuat. Karena itulah, dalam waktu tiga tahun saja mereka mampu menguasai ilmu-ilmu tertinggi ciptaan Cu Han Bu dan Cu Seng Bu. Juga kedua orang muda itu oleh guru mereka diberi masing-masing sebuah suling emas dan mereka mahir mempergunakannya sebagai senjata.

Setelah turun gunung, kedua orang muda itu lalu kembali ke timur dan untuk bersenang-senang setelah mereka bertapa selama tiga tahun itu, mereka pergi ke kota raja untuk bersantai. Secara kebetulan sekali, ketika mereka berdua sedang berpesiar di dalam taman itu, Tek Ciang melihat Ciang Bun yang segera dikenalnya. Tentu saja Tek Ciang merasa terkejut sekali, akan tetapi dia tidak merasa takut, malah mengejek. Selain ilmunya sendiri sudah memperoleh kemajuan pesat, juga di sebelahnya terdapat Pouw Kui Lok, seorang sutenya dan juga sahabat baiknya yang tentu akan membelanya kalan ada bahaya mengancam dirinya. Apa yang ditakutkan lagi?

Pouw Kui Lok telah menjadi saudara seperguruan Tek Ciang dan hubungan di antara mereka akrab sekali. Tek Ciang memang seorang yang amat cerdik. Seperti ketika dia mengelabui Suma Kian Lee sehingga pendekar itu amat percaya kepadanya, ketika berada di Lembah Naga Silumanpun dia dapat membawa diri sehingga tidak nampak sama sekali sifat jahatnya. Kedua orang sakti she Cu itu menganggapnya seorang murid yang baik dan yang berwatak gagah perkasa, pantas menjadi seorang pendekar yang akan menjunjung tinggi nama dan kehormatan keluarga Cu di Lembah Naga Siluman. Juga Kui Lok, murid Kun-lun-pai yang berwatak pendekar itu merasa suka kepada Tek Ciang dan menganggap suhengnya ini benar-benar seorang gagah sejati. Apalagi suhengnya pernah menjadi murid, bahkan mantu pendekar sakti Suma Kian Lee keluarga Pulau Es itu.

Dengan cerdik Tek Ciang pernah menceritakan riwayatnya kepada Kui Lok. Dia bercerita bahwa dia sebagai murid Suma Kian Lee lalu diambil mantu. Akan tetapi akhirnya keluarga Suma yang tinggi hati itu merasa menyesal karena dia hanya anak seorang guru silat yang tak ternama. Dan keluarga itu hendak memisahkan dia dari isterinya.

Pouw Kui Lok tadinya merasa terkejut dan heran mendengar cerita itu. Sukar untuk dapat dipercaya. Akan tetapi, ketika dia menyebut nama Suma Ceng Liong sebagai murid Hek-i Mo-ong yang merupakan musuh besarnya, dia mendengar dari suhengnya bahwa Suma Ceng Liong juga cucu Pendekar Super Sakti dari Pulau Es, masih adik sepupu isterinya. Barulah timbul semacam perasaan tidak suka di hati Kui Lok dan dia percaya bahwa keluarga Suma dari Pulau Es memang congkak, tinggi hati dan condong ke arah penyelewengan, seperti dibuktikan dengan kenyataan bahwa Suma Ceng Liong menjadi murid Hek-i Mo-ong, dan keluarga Suma Kian Lee bersikap tidak adil terhadap Tek Ciang. Bukan hanya Kui Lok yang terpengaruh. Saking pandainya Tek Ciang bersikap dan bicara, kedua orang gurunya, Cu Han Bu dan Cu Seng Bu yang tadinya kagum kepada keluarga Pulau Es, kinipun merasa tidak senang.

"Engkau atau aku yang mati!" bentak Ciang Bun yang sudah mencabut sepasang pedangnya dan pemuda ini meloncat ke arah perahu di depan. Ganggananda menjadi bingung dan menahan agar perahu yang terguncang itu tidak sampai terguling, kemudian dia cepat mendayung perahu agak menjauh sambil memandang dengan alis berkerut dan hati khawatir. Dia tidak tahu harus berbuat apa karena sahabat barunya itu tidak bercerita tentang musuh besarnya. Dia tidak tahu bagaimana urusannya. Apalagi ketirka mendengar betapa orang yang diserang Ciang Bun tadi bicara seperti kakak ipar Ciang Bun sendiri, dia menjadi semakin bingung dan tidak berani sembarangan mencampuri.

"Trang.... trangg....!" Bunga api berpijar ketika sepasang pedang di tangan Ciang Bun yang menyerang itu ditangkis oleh suling di tangan Tek Ciang. Pemuda yang baru saja turun dari Lembah Naga Siluman ini terkejut ketika menangkis sepasang pedang Ciang Bun. Tadinya dia mengira bahwa tingkat kepandaian Ciang Bun tentu tidak banyak bedanya dengan dahulu. Maka dia tadi mengerahkan tenaga untuk menangkis dengan keyakinan bahwa tangkisan itu akan membuat sepasang pedang lawan terpental. Akan tetapi ternyata ketika sulingnya bertemu dengan sepasang pedang, dia merasa lengannya tergetar dan tenaga bekas adik iparnya itu bukan main kuatnya. Di lain pihak, Ciang Bun juga kaget sekali karena selain tiba-tiba saja musuh besar itu memiliki senjata aneh, sebatang suling emas yang digerakkan menangkis dengan tenaga dahsyat, juga suling itu mengeluarkan suara melengking yang seolah-olah menusuk telinganya. Akan tetapi karena hati Ciang Bun sudah penuh kemarahan dan dendam, dia tidak perduli akan kenyataan itu dan diapun sudah menggerakkan sepasang pedangnya lagi, menyerang dengan dahsyat. Terjadilah perkelahian sengit di atas perahu kecil itu.

Pouw Kui Lok yang masih duduk di ujung perahu sambil memegang dayung, menjadi bingung melihat perkelahian seru di atas perahu kecil itu. Seperti juga Ganggananda, diapun tidak tahu harus berbuat apa. Bedanya, kalau Ganggananda tidak tahu urusannya, dia sendiri sudah tahu dan karenanya tidak berani lancang mencampuri. Bukankah urusan antara suhengnya dan keluarga Suma adalah urusan pribadi? Perahu terguncang hebat dan dengan susah payah Kui Lok berusaha menahan dengan dayungnya agar perahu tidak sampai terguling.

Tingkat kepandaian Ciang Bun pada waktu itu sungguh tak dapat dibandingkan dengan beberapa tahun yang lalu. Semenjak ayahnya sadar akan kekeliruannya, pendekar itu menggembleng Suma Hui dan Ciang Bun dengan tekun sehingga kedua orang anaknya itu memperoleh kemajuan pesat sekali. Akan tetapi, lawannya sekarang adalah Louw Tek Ciang yang bukan saja telah mengenal semua ilmu keluarga Pulau Es, akan tetapi di samping itu juga telah mewarisi ilmu-ilmu silat dari para datuk Ngo-ok melalui gurunya yang lain, yaitu Jai-hwa Siauw-ok. Apalagi setelah selama tiga tahun dia digembleng oleh orang-orang sakti she Cu dari Lembah Naga Siluman, tentu saja tingkat kepandaiannya masih jauh lebih tinggi dibandingkan dengan Ciang Bun. Maka, biarpun Ciang Bun menggerakkan siang-kiamnya dan menyerang dengan sengit, tetap saja Tek Ciang dapat menguasai keadaan. Dia mengenal jurus-jurus gerakan Siang-mo Kiam-hoat yang dimainkan Ciang Bun. Sebaliknya Ciang Bun sama sekali tidak mengenal ilmu serangan yang dimainkan dengan suling itu, yang penuh dengan totokan-totokan amat berbahaya. Dia terdesak hebat dan menjadi bingung.

Betapapun juga, karena mereka berkelahi di atas perahu kecil yang terombang-ambing, tentu saja gerakan meraka tidak sempurna benar. Sebagian dari perhatian mereka dikerahkan untuk menjaga agar tubuh mereka jangan sampai terjungkal jatuh keluar perahu. Inilah sebabnya mengapa sampai sekian lamanya Tek Ciang yang lebih unggul belum juga mampu merobohkan Ciang Bun yang melawan dengan gigih. Karena maklum akan kelihaian lawan yang ternyata memiliki tenaga amat kuat dan dapat memainkan suling itu sedemikian aneh dan berbahaya, Ciang Bun memutar sepasang pedangnya untuk melindungi dirinya, dua gulung sinar menyelimuti tubuhnya, merupakan perisai yang kokoh kuat dun sukar ditembus.

Tek Ciang menjadi penasaran sekali. Dia tahu bahwa kalau mereka berkelahi di darat, tentu tidak akan begitu sukar baginya untuk merubuhkan pemuda ini. Perahu yang terombang-ambing dan miring ke sana-sini itu sungguh membuat gerakannya amat sukar dan tidak leluasa, bahkan besar bahayanya dia akan terkena senjata lawan yang selain lebih panjang juga berjumlah dua itu. Maka tiba-tiba dia lalu merendahkan tubuhnya, mengerahkan tenaga sakti Hoa-mo-kang, yaitu ilmu pukulan Katak Buduk yang dipelajarinya dari Jai-hwa Siauw-ok sebagai ilmu peninggalan mendiang Su-ok, orang ke empat dari Im-kan Ngo-ok."Arrghhh....!" Suara yang menyerupai katak berkokok keluar dari perutnya dan tangan kirinya sudah mendorong ke depan, ke arah Ciang Bun. Serangkum angin pukulan dahsyat yang mengandung bau amis sekali menyambar. Ciang Bun terkejut bukan main. Dia maklum akan datangnya pukulan jahat. Cepat dia miringkan tubuh untuk mengelak sambil meloncat, akan tetapi karena perahu miring, dia terpeleset. Sebelum dia mampu mengatur keseimbangan tubuhnya, suling di tangan Tek Ciang meluncur. Ciang Bun masih dapat melihat sinar kuning emas menyambar pusarnya dan dalam keadaan miring hampir jatuh itu dia merendahkan tubuhnya agar suling tidak mengenai tempat berbahaya. Dia mengerahkan sin-kang untuk menerima suling yang kini menyambar ke arah perutnya.

"Dukk!" Sin-kang dari Pulau Es memang hebat, membuat tubuhnya kebal, akan tetapi, totokan suling itupun dahsyat sekali sehingga biarpun kulit perutnya tidak terluka, namun hawa pukulan kuat menembus dan mengguncangkan isi perut, membuat Ciang Bun menahan keluhannya karena rasa nyeri dan kepalanyapun pening. Sementara itu, kaki Tek Ciang masih menyusulkan tendangan.

"Bukk.... byuurrr....!" Tak dapat dicegah lagi, tubuh Ciang Bun terlempar keluar dari perahu dan menimpa air telaga.

"Ha-ha-ha-ha, mampus engkau sekarang!" Tek Ciang tertawa bergelak dan baru dia sadar bahwa dia telah membiarkan perasaannya meliar ketika dia melihat pandang mata Kui Lok terbelalak ditujukan kepadanya. Memang pemuda Kun-lun-pai itu terkejut dan ngeri melihat sikap Tek Ciang. Diapun mengenal pukulan keji tadi dan kini melihat sikap Tek Ciang demikian kejam tertawa-tawa buas, dia terheran sampai terbelalak! Tek Ciang sudah menguasai dirinya, maklum bahwa dia telah tanpa disengaja memperlihatkan perasaannya yang sesungguhnya, maka diapun menghentikan tawanya, dan menarik napas panjang.

"Aih.... betapa tega hatiku melihat dia roboh. Pemuda itu lihai sekali dan tadi dia bersungguh-sungguh hendak membunuhku." Ucapan ini agaknya untuk membela diri mengapa dia tadi kelihatan kejam.

Tiba-tiba dua orang itu terkejut bukan main. Perahu mereka tiba-tiba terguncang hebat dan miring, seperti ada yang membalikkannya dari bawah! Tentu saja Tek Ciang sama sekali tidak tahu bahwa biarpun sudah terkena pukulan dan tendangannya, namun Ciang Bun belum tewas dan begitu tubuhnya terlempar ke dalam air, pemuda ini bahkan menjadi semakin berbahaya! Dia tidak tahu bahwa Ciang Bun telah memiliki ilmu dalam air yang jarang tandingannya, berkat latihan yang diperolehnya dari keluarga di Pulau Nelayan.Bagaikan seekor ikan, walaupun sudah terluka, Ciang Bun dapat menyelam, menyimpan sepasang pedangnya dan kini dia berusaha menggulingkan perahu yang ditumpangi Tek Ciang dan kawannya. Kalau sampai Tek Ciang dapat terlempar ke air,dia yakin akan dapat membunuh musuh besar itu!

"Hei, apa ini....?" Tek Ciang berseru kaget dan mengatur keseimbangan tubuhnya.

"Ada yang hendak menggulingkan perahu!" Kui Lok juga berseru kaget. Mereka melongok ke bawah dan melihat kepala Ciang Bun nongol. Dengan marah Tek Ciang lalu memukul ke arah kepala itu, akan tetapi kepala itu menyelam dan lenyap. Kemudian perahu terguncang lagi dan tiba-tiba ada pedang menembus dasar perahu yang tentu saja menjadi bocor! Air memasuki perahu dari bawah!

"Celaka! Perahu bocor....!" seru Tek Ciang dan tiba-tiba dia tersentak kaget ketika ada pedang menyambar dari luar perahu. Kiranya, dengan kecepatan seperti ikan berenang Ciang Bun sudah muncul lagi dan menyerangnya dari luar perahu. Tek Ciang cepat mengelak dan siap untuk melawan, akan tetapi tubuh Ciang Bun sudah lenyap menyelam lagi. Kini kembali terasa guncangan-guncangan dan perahu itupun berlubang-lubang karena ditusuki dari bawah oleh Ciang Bun!

"Ah, iblis itu pandai bermain di air!" kata pula Tek Ciang terbelalak kaget dan khawatir.

"Berbahaya! Kita harus pergi dari sini!" Pouw Kui Lok juga berseru kaget melihat betapa dengan cepat air memasuki perahu yang hampir tenggelam.

"Byarrrr....!" Kembali perahu yang hampir tenggelam itu terguncang hebat, membuat kedua orang muda itu terhuyung dan pada saat itu, sinar pedang menyambar pula, membabat ke arah kaki Tek Ciang. Pemuda ini cepat meloncat, akan tetapi pedang ke dua menusuk dan biarpun dia mengelak pula, tetap saja ujung pedang menyerempet pahanya. Celananya robek berikut kulit paha dan darahpun mengucur deras.

Tiba-tiba Pouw Kui Lok yang melihat bahaya, menyambar tubuh suhengnya yang pahanya terluka itu, membawanya melompat ke arah sebuah perahu lain yang datang mendekat. Perahu itu ditumpangi dua orang yang agaknya melihat keributan di situ menjadi tertarik. Terkejutlah mereka melihat betapa pemuda berpakaian hijau sambil memondong seorang pemuda lain yang terluka, tiba-tiba melompat ke perahu mereka. Bukan main hebatnya lompatan pemuda itu dan mereka mengeluarkan teriakan kaget ketika Kui Lok berhasil hinggap di atas perahu bersama suhengnya.

Akan tetapi dengan mata terbelalak Tek Ciang dan Kui Lok melihat betapa Ciang Bun berenang dengan amat cepatnya menuju ke perahu itu. Bukan main cepatnya pemuda itu bergerak dalam air. Seperti seekor ikan saja.

"Ikan besar....!" Dua orang penumpang perahu yang masih belum hilang kagetnya itupun kini melihat Ciang Bun dan mengira bahwa ada ikan besar hendak menyerang perahu mereka. Kini Pouw Kui Lok merasa khawatir dan dengan sendirinya diapun harus melindungi dirinya. Kalau perahu terbalik, tentu diapun menjadi korban. Dia merasa ngeri menyaksikan kehebatan gerakan pemuda tampan di dalam air itu sehingga dia tahu bahwa sekali mereka terjatuh ke air, tentu nyawa suhengnya tidak akan tertolong lagi. Maka dia lalu menyambar sebatang dayung dalam perahu itu dan secepat kilat dia menggerakkan dayungnya menyerang ketika pemuda yang berenang seperti ikan itu mendekati perahu.

Ciang Bun sudah terluka. Perutnya terasa nyeri dan juga pahanya biru terkena tendangan Tek Ciang tadi. A kan tetapi dengan gigih dia menyerang terus, karena dia melihat satu-satunya kesempatan baginya untuk membalaskan semua sakit hati keluarganya terhadap iblis itu. Kalau dia mampu membuat Tek Ciang terlempar ke air, dia pasti akan dapat membunuhnya. Maka, ketika melihat betapa pemuda teman Tek Ciang membawa Tek Ciang meloncat ke perahu lain, diapun mengejar. Tak disangkanya pemuda teman iblis itupun memiliki gin-kang sedemikian baiknya sehingga dapat menolong Tek Ciang yang sudah terobek sedikit pahanya oleh pedangnya. Dan kini, tiba-tiba saja ada dayung menyambutnya dari atas perahu. Ciang Bun terpaksa mengangkat pedangnya menangkis."Tranggg....!" Tubuh Ciang Bun tenggelam dan dia terkejut sekali. Tenaga hantaman dayung itu bukan main kuatnya! Kiranya teman Tek Ciang itupun memiliki kepandaian tinggi. Ciang Bun diam-diam mengeluh. Makin tipis harapannya kalau teman iblis itu kini membantu Tek Ciang. Dia muncul kembali dan kini bukan hanya sebuah dayung, melainkan ada dua buah dayung panjang menyambutnya sehingga terpaksa dia menyelam kembali. Kiranya kini Tek Ciang juga memegang sebatang dayung panjang dan bersama dengan Kui Lok berjaga di kedua ujung perahu.

"Lekas dayung perahu ke tepi!" Tek Ciang berkata kepada dua orang penumpang perahu yang masih ketakutan itu. Mereka tidak membantah dan mendayung dengan dayung pendek.

Sementara itu, Ciang Bun masih penasaran. Dia menyelam dan mencoba untuk menggulingkan perahu dari bawah. Akan tetapi selagi dia mengerahkan tenaga untuk menggulingkan perahu, dayung Tek Ciang menghantam punggungnya dengan cara diluncurkan. Ternyata Tek Ciang dapat melihat bayangan tubuhnya dalam air dan dari atas, iblis itu menusuknya dengan dayung yang mengenai punggungnya.

"Bukkk....!" Hantaman itu tidak terlalu kuat karena tenaga hantaman sudah dilawan air, akan tetapi karena tenaga Tek Ciang memang besar, tetap saja Ciang Bun merasa nyeri sekali pada punggungnya. Kembali ada rasa muak dan bau amis membuat kepalanya terasa pening. Dia tidak tahu bahwa yang paling hebat dideritanya adalah pukulan Hoa-mo-kang yang dilakukan Tek Ciang di atas perahu tadi. Pukulan itu tidak mengenai dengan tepat, akan tetapi karena perut Ciang Bun terkena sodokan suling, membuat isi perutnya terguncang sehingga hawa beracun pukulan Hoa-mo-kang yang hanya menyerempet itupun dapat menerjang dan meracuninya. Menerima pukulan dengan dayung yang mengenai punggungnya itu membuat Ciang Bun merasa pening dan sejenak pandang matanya menjadi gelap, antara sadar dan tidak sadar dia menggerakkan kaki tangannya menjauhi perahu karena kalau sampai dalam keadaan seperti itu dia diserang lagi, tentu dia akan celaka.

Dia masih dalam keadaan setengah pingsan terapung ketika tiba-tiba ada dua tangan yang kuat mencengkeram leher bajunya dan menariknya ke atas perahu. Dengan terengah-engah karena terlalu lama bertahan dalam air, Ciang Bun terguling ke dalam sebuah perahu kecil dan dengan pandang mata masih berkunang-kunang dia melihat wajah Ganggananda, sahabat barunya. Lega hatinya melihat sahabatnya ini dan kini diapun dapat melepaskan pertahanannya untuk jatuh tak sadarkan diri lagi. Dalam keadaan seperti itu saja semua rasa nyeri dan kecewa lenyap dari dirinya.

Ganggananda sejak tadi nonton perkelahian itu dan hatinya merasa amat khawatir ketika melihat Ciang Bun terlempar ke dalam air. Akan tetapi, diapun terbelalak kagum melihat betapa Ciang Bun masih mampu membuat dua orang lawan dalam perahu itu kebingungan dengan cara menyerang perahu dari bawah. Sungguh hebat sekali pemuda keturunan penghuni Pulau Es itu! Kiranya memiliki ilmu di dalam air yang hebat pula. Akan tetapi diapun melihat betapa dua orang dalam perahu yang menjadi musuh besar Ciang Bun itu bukan orang-orang sembarangan. Mereka dapat menyelamatkan diri ke lain perahu, bahkan dapat memukul Ciang Bun dengan dayung. Tadinya dia merasa terkejut karena perahu itu didayung pergi dan tidak lagi nampak gerakan Ciang Bun dalam air. Celaka, pikirnya, agaknya Ciang Bun terkena pukulan dayung dan tenggelam ke dasar telaga! Ganggananda mendayung perahunya mendekat dan akhirnya dia melihat tubuh Ciang Bun bergerak-gerak lemah di bawah permukaan air. Cepat dia lalu mendekatinya dan meraihnya, berhasil menangkapnya dan menariknya ke dalam perahu. Kini Ciang Bun rebah di dalam perahu, tidak nampak dari jauh dan diapun dengan pengerahan tenaga sin-kang, cepat mendayung perahu ke tepi yang berlawanan dengan tempat di mana dua orang musuh besar Ciang Bun tadi mendarat.

Begitu mendarat, Ganggananda cepat memondong tubuh Ciang Bun dan meloncat ke darat. Dia sengaja mendarat di bagian yang sunyi, di mana tidak terdapat pelancong karena bagian itu penuh dengan batu-batu koral dan semak-semak belukar. Pemuda remaja inipun bukan seorang bodoh. Sebaliknya, dia cerdik sekali dan dia dapat menduga bahwa tentu dua orang musuh besar Ciang Bun itu tidak akan tinggal diam dan tentu mencurigai perahunya karena tadi mereka melihat Ciang Bun berperahu bersamanya. Maka diapun mendarat di bagian yang berlawanan dan sunyi, dan begitu dia mendarat, dia memondong tubuh Ciang Bun yang masih pingsan itu dan melarikan diri.

Ketika dia menoleh, benar saja dugaannya. Dua bayangan orang mengejarnya dan biarpun mereka masih jauh dan tidak dapat melihat wajah mereka, namun dia yakin bahwa mereka itu tentulah dua orang musuh besar tadi. Hal ini dapat diketahni betapa seorang di antara mereka terpincang-pincang.

Memang dugaan Ganggananda itu benar. Begitu mendarat, Tek Ciang lalu mengobati lukanya sambil memperhatikan ke tengah telaga. Dia melihat perahu kecil di mana terdapat seorang pemuda remaja yang menjadi teman berperahu Ciang Bun tadi. Kini perahu itu meluncur cepat ke daratan yang berlawanan.

"Hemm, mencurigakan. Agaknya perahu itu membawa Ciang Bun. Mari kita mengejarnya." Dan tanpa memperdulikan pahanya yang terluka, Tek Ciang lalu lari memutari telaga untuk mengejar, dibayangi oleh Pouw Kui Lok yang mengerutkan alisnya karena hatinya sungguh merasa kurang enak melihat bahwa dia terlibat dalam permusuhan itu.

"Lihat, benar saja! Itu pemnda cilik memondong dan melarikannya. Mari cepat!" teriak Tek Ciang ketika melihat perahu itu mendarat dan Ganggananda meloncat keluar sambil memondong tubuh Ciang Bun. Akan tetapi sekali ini, dua orang murid Lembah Naga Siluman itu kecelik. Pemuda remaja itu ternyata dapat berlari luar biasa cepatnya sehingga biarpun mereka sudah mengerahkan tenaga, pemuda remaja yang memondong Ciang Bun itu sebentar saja sudah berlari jauh seperti terbang cepatnya.

Tek Ciang membanting-banting kakinya yang tidak sakit ketika melihat pemuda itu lenyap. "Ah, kalau saja kakiku tidak terluka, tentu aku akan dapat menyusulnya!"

Akan tetapi Pouw Kui Lok menggelengkan kepalanya. "Suheng, apakah engkau tidak melihat kehebatan itu? Pemuda remaja itu memiliki gin-kang yang amat luar biasa, dan aku hampir percaya bahwa kepandaiannya dalam hal gin-kang dan berlari cepat, lebih lihai daripada suhu Cu Seng Bu sendiri!"

Tek Ciang cemberut, walaupun diam-diam dia juga terkejut menyaksikan kehebatan pemuda remaja itu yang ternyata dapat berlari sedemikian cepatnya walanpun memondong tubuh orang yang jelas lebih berat daripada tubuh pemuda itu sendiri. Dengan uring-uringan Tek Ciang terpaksa kembali ke rumah penginapan bersama sahabat atau sutenya itu, untuk mengobati luka di pahanya yang pecah kembali karena dipakai berlari cepat tadi.

"Hemm, kalau kakiku sudah sembuh, aku harus dapat mencari keparat itu untuk membuat perhitungan!" Dia mengomel di dalam kamar ketika mengobati lukanya.

Sejak tadi Pouw Kui Lok mengerutkan alisnya. "Suheng, aku tidak ingin mencampuri urusan pribadimu, dan akupun tidak ingin memberi pendapat karena sesungguhnya hal itu sama sekali tidak ada sangkut-pautnya dengan diriku. Mungkin saja keluarga Pulau Es memang congkak dan tinggi hati, akan tetapi hal itupun tidak ada sangkut-pautnya dengan aku. Kepada mereka aku tidak mempunyai dendam, tidak ada urusan apa-apa antara aku dan mereka. Maka, aku tidak ingin terbawa-bawa dalam urusan pribadimu, suheng."

"Sute, lupakah engkau bahwa Suma Ceng Liong adalah murid Hek-i Mo-ong, seperti yang kauceritakan itu? Tidakkah sepatutnya engkau memusuhi keluarga Suma mengingat bahwa Ceng Liong juga musuhmu?"

Kui Lok menggeleng kepalanya. "Seperti sudah kuceritakan kepadamu, suheng. Mendiang guruku, Yang I Cin-jin, tewas di tangan Hek-i Mo-ong dan kepada raja iblis itu sajalah aku mendendam dan aku bersumpah di depan mayat suhu untuk membalas kematiannya. Dan aku telah berhasil membunuh Hek-i Mo-ong. Suma Ceng Liong, biarpun murid iblis itu, tidak ada sangkut-pautnya deugan aku. Kecuali kalau dia hendak membalaskan kematian Hek-i Mo-ong kepadaku, tentu saja akan kulawan. Sementara ini, aku menganggap urusanku dengan Hek-i Mo-ong sudah habis dan aku tidak ingin bermusuhan dengan Suma Ceng Liong."

"Akan tetapi, selama keluarga itu masih ada, mereka akan selalu memusuhiku."

"Hem, mengapa begitu, suheng?"

"Seperti sudah kuceritakan, Suma Kian Lee merasa menyesal telah mengambil aku sebagai mantu. Dia tentu hendak menjodohkan puterinya dengan orang lain, kabarnya dia telah memilih calon mantu yang dianggapnya sederajat, yaitu Jenderal Muda Kao Cin Liong di kota raja...."

"Ah, jenderal gagah perkasa yang terkenal itu, putera Pendekar Naga Gurun Pasir?" seru Kui Lok terbelalak karena pemuda ini pernah mendengar akan kebebatan jenderal muda ini.

Tek Ciang mengangguk dan tersenyum kecut. "Benar, keluarga itu menganggap bahwa Suma Hui, isteriku itu, lebih cocok menjadi isteri jenderal muda itu yang juga jatuh cinta kepada isteriku. Akan tetapi, karena perkawinan antara kami sudah disaksikan oleh banyak tokoh kang-ouw, mana mungkin Suma Hui menikah dengan orang lain kalau aku masih hidup? Karena itulah, keluarga Suma menginginkan aku mati. Engkau sudah melihat sendiri betapa ganasnya adik isteriku tadi menyerangku.""Begitu jahatkah mereka?" Kui Lok mengerutkan alisnya dan hatinya merasa amat ragu. Keluarga Suma dari Pulau Es terkenal sebagai keluarga sakti yang berjiwa besar, bahkan siapakah tidak mengenal nama-nama hebat seperti Puteri Nirahai, Puteri Milana, Pendekar Siluman Kecil Suma Kian Bu dan lain-lainnya itu?

"Sute, kalau tidak mengalaminya sendiri tentu tidak percaya. Akan tetapi, kalau orang sudah tergila-gila akan kedudukan dan derajat, tentu mampu berbuat kejam. Aku dianggap penghalang kebahagiaan mereka, tentu saja mereka berdaya upaya agar aku lenyap dari muka bumi. Tidak, aku tidak mau mati konyol. Aku harus mendahului mereka, dan pertama-tama Suma Ciang Bun yang sudah menyerangku tadi akan kucari dan kubunuh."

"Aku tidak akan mencampuri urusan pribadimu, suheng, akan tetapi harap kauingat pesan suhu. Kita bertugas untuk pergi ke Puncak Bukit Nelayan, mencari dan menantang Kam Hong sebagai wakil suhu, wakil Lembah Naga Siluman untuk mengadu ilmu dengan keluarga Suling Emas."

"Hem, itupun bukan urusan pribadi kita, sute."

Kui Lok memandang suhengnya dengan mata terbelalak. "Eh, bagaimana engkau dapat berkata demikian, suheng? Kita tahu bahwa para suhu di Lembah Naga Siluman mengambil kita sebagai murid, bukan hanya untuk mewarisi ilmu keluarga Cu, akan tetapi juga untuk mewakili Lembah Naga Siluman dalam menghadapi satu-satunya musuh atau saingan keluarga Cu, yaitu Pendekar Suling Emas Kam Hong di Puncak Bukit Nelayan!"

Melihat ketegasan sikap Kui Lok, Tek Ciang merasa tidak enak kalau mengingkari hal itu. Memang para suhu di Lembah Naga Siluman sudah menekankan hal itu dan kinipun mereka diserahi tugas mewakili para suhu itu untuk menghadapi Kam Hong. Mengingkarinya berarti akan merupakan kemurtadan dan dia tentu akan dihadapi oleh Kui Lok dan keluarga Cu sebagai musuh pula. Sungguh tidak enak. Musuh-musuhnya sudah terlalu banyak dan mereka semua sakti, kalau ditambah lagi dengan keluarga Cu, sungguh berbahaya.

"Baiklah, sute. Aku terpaksa membiarkan Ciang Bun pergi. Mari kuturuti kehendakmu, kita pergi ke Puncak Bukit Nelayan. Akan tetapi setelah itu, maukah engkau berjanji untuk membantuku?"

"Suheng, urusan pribadimu seharnsnya kauhadapi sendiri. Jangan kau melibatkan aku dalam urusan pribadimu. Akan tetapi kalau aku melihat engkau terancam bahaya, tentu aku akan turun tangan melindungi dan membantumu. Hal itu wajar, bukan?"

Tek Ciang tidak berani terlalu banyak cakap lagi. Dia khawatir kalau sutenya ini mencurigainya dan dapat melihat rahasia di balik semua sikapnya. Dia tidak tahu bahwa memang Kui Lok sudah menjadi heran dan mulai menaruh curiga. Hari itu juga mereka meninggalkan kota raja, melanjutkan perjalanan menuju ke pegunungan Tai-hang-sun untuk mencari Pendekar Kam Hong sebagai wakil keluarga Cu di Lemhah Naga Siluman.

***

"Di mana aku....?" Ciang Bun membuka mata dan mengeluh.

"Tenanglah, Ciang Bun, tenanglah. Engkau berada di rumah Gu-sinshe, seorang tabib kenamaan di kota raja."

"Ohhh....!" Ciang Bun teringat dan meraba dadanya. Dadanya terasa sesak dan perutnya mual. Muak rasanya bau amis itu dan dia menahan diri agar tidak muntah. Ganggananda duduk di dekatnya dan dia rebah di atas pembaringan.

"Bagaimana rasanya, Ciang Bun?" tanya pemuda remaja itu dengan nada suara khawatir.

Ciang Bun teringat, memandang wajah tampan itu dan memaksa senyum. "Nanda, engkau seorang sahabat baru akan tetapi ternyata engkau telah menyelamatkan nyawaku. Aku berhutang nyawa padamu, adik Nanda."

"Sudahlah, tidak perlu bicara tentang hutang-pihutang. Yang penting sekarang ini menyembuhkanmu dari luka dalam penuh hawa beracun itu."

"Hawa beracun? Di tubuhku? Ah, aku merasa dada sebelah kanan kadang-kadang panas kadang-kadang dingin dan ada rasa muak, bau amis...."

"Itulah! Menurut Gu-sinshe, engkau terkena pukulan beracun yang amat berbahaya."

"Mana dia sekarang?"

"Dia sedang mengundang seorang hwesio tua ahli racun untuk datang memeriksamu."

Ciang Bun merasa heran. Dia juga pernah mendengar nama Gu-sinshe sebagai seorang tabib yang pandai, bahkan kabarnya kadang-kadang dipanggil ke istana kaisar untuk memberi pengobatan dan pemeriksaan. Bagaimana kini tabib itu demikian memperhatikan dia, bahkan mengundang seorang ahli untuk memeriksanya?

"Nanda, apakah engkau mengenal baik tabib itu sehingga dia mau memperhatikan aku seperti ini?"

Ganggananda tersenyum dan jantung Ciang Bun berdebar keras. Dia terpaksa membuang muka karena senyum pemuda remaja itu seperti mencengkeram jantungnya dan membuatnya merasa aneh. Dia teringat bahwa beginilah perasaannya ketika dahulu dia dicium oleh Liu Lee Siang ketika pemuda itu mengajarnya menolong orang yang tenggelam atau kecelakaan di air.

"Ciang Bun, aku bingung ketika membawamu ke darat. Engkau pingsan terus dan segala usahaku untuk menyadarkanmu gagal. Terpaksa kau kubawa ke sini dan karena aku tahu bahwa seorang tabib terkenal tidak sembarangan mau mencurahkan perhatian kepada orang biasa, akupun lalu berkata bahwa engkau adalah seorang anggauta keluarga Suma dari Pulau Es. Benar saja dugaanku, mendengar ini dia tergopoh-gopoh memeriksamu dengan teliti, kemudian bahkan keluar untuk mengundang seorang hwesio kenalannya yang ahli tentang pukulan beracun."

"Ahh....! Berapa lama aku pingsan?"

"Dua hari dua malam! Baru sekarang siuman, itupun setelah diberi obat tusuk jarum dan macam-macam oleh Gu-sinshe. Nah, menurut pesan Gu-sinshe, kalau engkau sudah sadar, aku harus menyuapimu dengan bubur encer ini. Makanlah." Dan Ganggananda lalu menyuapkan sesendok bubur.

"Biar kumakan sendiri....!" Ciang Bun hendak bangun, akan tetapi kepalanya seperti terputar-putar rasanya sehingga dia harus memejamkan mata kembali dan terpaksa merebahkan diri lagi.

"Nah, jangan rewel, biar kusuapkan. Makanlah."

Baru habis beberapa suap, Ciang Bun tidak mau lagi. "Rasanya semakin mual dan hendak muntah...."

Tiba-tiba seorang kakek masuk ke dalam kamar itu. Ciang Bun memandang dengan mata yang agak kabur. Seorang kakek berpakaian sasterawan yang tubuhnya jangkung kurus dan melihat pakaiannya dia dapat menduga bahwa kakek ini tentu Gu-sinshe. Orang ke dua adalah searang hwesio gendut yang mukanya riang dan selalu tcrsenyum, matanya lebar dan tajam.

"Inikah Suma-taihiap yang terkena pukulan beracun?" kata hwesio itu. "Ah, untung taihiap memiliki tubuh yang kuat. Mudah-mudahan pinceng dapat menemukan racun apa yang telah dipergunakan orang untuk memukul taihiap sehingga sahabatku ini dapat memberikan obatnya yang tepat."

"Terima kasih, locianpwe...." kata Ciang Bun.

Hwesio itu lalu membuka baju Ciang Bun, dibantu oleh Ganggananda dan dia lalu memeriksa seluruh tubuh Ciang Bun bagian atas, memijat sana-sini, menepuk sana-sini dan berkali-kali dia menggeleng kepala dan menarik napas panjang. "Taihiap, bagaimana rasanya kalau sebelah sini kutekan seperti ini?" Dan hwesio itu menekan dada kanan.

Ciang Bun menggigit bibirnya. "Rasanya perih dan panas."

"Dan taihiap mencium sesuatu?"

"Amis.... mau muntah...."

"Omitohud....! Tak salah lagi, taihiap terkena pukulan yang mengandung hawa racun katak buduk!"

"Eh, apakah itu? Aku belum pernah mendengarnya, dan apa obatnya?"

Hwesio itu menggeleng kepala. "Masih untung bahwa, seperti menurut ceritamu tadi, Sinshe, Suma-taihiap diselamatkan oleh sahabatnya yang membawanya ke sini. Terlambat akan celaka. Dan kalau dalam waktu tiga hari dia tidak memperoleh obatnya yang tepat, kurasa tidak akan ada obat yang dapat menolongnya lagi."

"Apakah obat itu? Dan di mana bisa kudapatkan?" Ganggananda bertanya dengan lantang dan tak sabar.

"Obatnya hanya terdapat di tepi Sungai Huang-ho, akan tetapi pernah pinceng melihat katak buduk hitam di dalam rawa di sebelah utara kota raja yang serupa dengan katak-katak di Sungai Huang-ho itu. Katak buduk berkulit hitam yang matanya merah. Nah, kalau bisa didapatkan belasan ekor saja anak katak buduk itu, tentu Suma-taihiap ini akan dapat disembuhkan dari pengaruh racun pukulan Hoa-mo-kang."

"Biar aku pergi mencarinya! Tunjukkan dan gambarkan di mana rawa itu, locianpwe." kata Ganggananda.

Hwesio itu memandang wajah pemuda remaja itu dan menarik napas panjang. "Omitohud, anda seorang pemuda yang baik sekali dan amat setia kawan. Akan tetapi, rawa itu terlalu jauh. Dengan menunggang kuda yang paling cepatpun, belum tentu akan dapat dilakukan pulang pergi selama tiga hari. Belum lagi waktu mencari anak katak itu...."

"Tapi aku dapat melakukannya, locianpwe!" kata Ganggananda penuh semangat.

Gu-sinshe menarik napas panjang dan mengelus jenggotnya yang putih jarang. "Bagaimana caranya, orang muda? Apa yang dapat berlari lebih cepat daripada seekor kuda yang baik?"

"Aku dapat, Sinshe. Lariku lebih cepat dari kuda. Lekas gambarkan di mana rawa itu dan bagaimana aku harus mencari anak-anak katak itu dan aku akan segera lari ke sana."

Dua orang kakek itu saling pandang dan menggerakkan pundak seolah-olah tidak percaya kepada Ganggananda akan tetapi karena tidak ada jalan lain, si hwesio lalu menggambarkan di mana letak rawa-rawa di sebelah utara di luar tembok kota raja itu. Ternyata tempat itu memang amat jauh, naik turun gunung dan sudah dekat dengan Tembok Besar. Setelah memperoleh keterangan lengkap, Ganggananda merenggut buntalan pakaiannya.

"Aku pergi sekarang juga. Kau tunggulah aku, Ciang Bun!" Dan sekali berkelebat, pemuda itupun lenyap dari dalam ruangan itu. Mereka semua hanya melihat bayangan berkelebat lenyap seolah-olah pemuda itu dapat menghilang dan merobah dirinya menjadi asap. Saking heran dan kagumnya, dua orang kakek itu lari ke jendela, membuka daun jendela dan memandang keluar. Dan mereka melihat sebuah titik hitam bergerak cepat jauh di depan dan sehentar saja lenyap. Mereka kembali saling pandang dan hwesio itu berbisik.

"Sinshe, hebat sekali orang muda itu, dan makin percayalah aku bahwa pendekar yang terluka itu memang benar keturunan para pendekar Pulau Es."

Sementara itu, Ganggananda berlari cepat. Tidak mengherankan kalau dia dapat berlari secepat itu karena Ganggananda ini, seperti para pembaca tentu sudah dapat menduganya, adalah Gangga Dewi atau Wan Hong Bwee, puteri dari Wan Tek Hoat dan Syanti Dewi! Dara yang kini sudah berusia tujuh belas tahun ini memang suka sekali berkelana. Sudah sering ia meninggalkan Bhutan, menjelajahi hutan-hutan dan pegunungan di sekitarnya sehingga kadang-kadang orang tuanya menjadi gelisah dan mencari-carinya. Akan tetapi kesukaannya ini tidak pernah berkurang dan akhirnya, jalan satu-satunya untuk menenteramkan hati mereka, ayah dan ibu ini lalu menggembleng puteri mereka, menurunkan semua ilmu mereka agar puteri mereka menjadi seorang gadis yang tangguh dan cukup kuat untuk menjadi bekal pembela diri dalam perantauannya. Wan Tek Hoat pendekar sakti yang di waktu mudanya pernah mempunyai julukan Si jari Maut mengajarkan ilmu-ilmu silatnya yang tinggi. Juga Syanti Dewi mengajarkan ilmu gin-kangnya yang hebat, yang dahulu dipelajarinya dari Bu-eng-kwi Ouw Yan Hwi. Setelah menguasai banyak ilmu, Gangga Dewi atau Wan Hong Bwee pergi berangkat merantau menuju dunia timur (Tiongkok), yaitu negara tempat asal ayahnya. Sejak usia belasan tahun, ketika mulai gemar merantau, Hong Bwee suka menyamar sebagai pria dan ia memakai nama Ganggananda. Hal inipun dianjurkan oleh orang tuanya yang berpendapat bahwa sebagai pria, tentu puteri mereka tidak terlalu banyak menghadapi gangguan di waktu melakukan perjalanan seorang diri. Dari seorang kakek pemain sandiwara di istana Raja Bhutan, Hong Bwee juga mempelajari cara berhias dan menyamar sebagai pria sehingga ia dapat membuat kulit mukanya nampak kasar, bahkan ia dapat menambah alisnya menjadi tebal dengan alis tempelan namun sama sekali tidak kentara kepalsuannya.

Demikianlah, dengan bekal semua kepandaian ini, dara yang sejak kecil digembleng bu (ilmu silat) dan bun (ilmu sastera) oleh orang tuanya itu, berangkat merantau sampai ia bertemu dengan Ciang Bun. Selain dibekali kepandaian, juga ia fasih berbahasa Han walaupun agak asing terdengarnya, dan iapun sudah banyak mendengar cerita ayah ibunya tentang para tokoh dunia persilatan, baik para pendekar maupun para datuk sesat. Hal ini perlu diketahui agar ia dapat bersikap hati-hati kalau bertemu dengan para tokoh itu.

Raja Bhutan sendiri dan para pembesar tadinya merasa tidak setuju dan tidak rela melihat Hong Bwee yang mereka sayang itu, sebagai seorang gadis dewasa, pergi merantau sendiri sejauh itu. Akan tetapi, Syanti Dewi dan Tek Hoat menenangkan hati mereka. Syanti Dewi mengingatkan bahwa ia sendiri di waktu masih gadisnya juga meninggalkan Bhutan dan merantau ke timur. Adapun Tek Hoat sendiri adalah seorang pendekar yang suka merantau, tentu saja tidak berkeberatan akan kesukaan puterinya. Di samping itu, bagaimana akan dapat mencegah kehendak Hong Bwee? Anak ini memiliki kekerasan hati melebihi ibunya, tidak mungkin kehendaknya dihalangi. Tidak mungkin merantainya di rumah. Kalau dihalangi tentu gadis itu malah akan minggat dan hal ini jauh lebih buruk daripada kalau gadis itu berangkat merantau dengan restu orang tuanya.

Biarpun demikian, diam-diam Raja Bhutan mengutus beberapa orang pengawal pilihan untuk membayangi dan melindungi gadis itu. Sialnya, tidak ada seorangpun di antara para pengawal itu yang mampu menandingi kecepatan lari Hong Bwee sehingga dalam waktu beberapa hari saja mereka sudah kehilangan jejaknya dan tertinggal jauh. Terpaksa mereka melanjutkan perjalanan ke timur dan mencari-cari karena mereka tidak tahu ke mana tujuan perjalanan gadis itu.Demikianlah, dengan menyamar sebagai pria, Hong Bwee tiba di kota raja. Ia merasa gembira sekali melihat kota raja yang besar, megah dan indah itu, jauh lebih besar dan lebih indah daripada kota raja Bhutan. Ketika ia bertemu dengan Suma Ciang Bun, ada sesuatu pada diri pemnda itu yang menarik perhatiannya. Baru dara ini mengerti bahwa ada suatu persamaan atau kemiripan pada diri pemuda ini dengan Ceng Liong sehingga menarik perhatiannya ketika ia mendengar bahwa Ciang Bun adalah saudara sepupu Ceng Liong. Mendengar bahwa Suma Ciang Bun ini saudara sepupu Ceng Liong, hatinya merasa hangat dan tertarik. Bagaimanapun, ada hubungan akrab antara ibunya dan keluarga Pulau Es sehingga ia merasa seperti bertemu sahabat lama atau sanak keluarga ketika berjumpa dengan Ciang Bun.

Kini ia mengerahkan semua tenaga dan ilmunya berlari cepat untuk menyelamatkan nyawa pemuda itu. Ia harus dapat mencari dan menemukan katak-katak buduk hitam dalam waktu tiga hari. Kalau ia berlari cepat, menurut perhitungannya setelah mendengar penjelasan hwesio ahli racun, dalam waktu sehari tentu ia akan dapat tiba di rawa yang dimaksudkan itu. Ia harus dapat menemukan obat itu. Ngeri ia membayangkan betapa pemuda yang tampan pendiam dan halus lagi gagah perkasa dan pandai bersajak itu akan mati konyol keracunan.

Ilmu berlari cepat Jouw-sang Hui-teng (Terbang Di Atas Rumput) dari Wan Hong Bwee memang hebat sekali. Tubuhnya ringan dan ia dapat berlari bagaikan terbang saja, dan dalam waktu sehari lebih, hanya berhenti untuk makan roti bekal dan minum air, ia telah tiba di tepi rawa. Akan tetapi, hari telah malam dan cuaca gelap sekali. Tak mungkin dapat mencari katak buduk pada waktu malam gelap itu. Menurut keterangan hwesio ahli racun, katak-katak buduk hitam itu berkeliaran di waktu malam mencari mangsa. Berbeda dari katak-katak biasa yang makan serangga biasa seperti semut, nyamuk dan sebagainya, katak buduk hitam mencari makanan serangga berbisa dan suka sekali makan binatang berbisa seperti kelabang, kalajengking, bahkan ular-ular kecil yang berbisa. Hebatnya, katak ini tidak takut terhadap ular besar! Menurut hwesio itu, sukar menangkap anak-anak katak di waktu malam karena selain katak-katak besar itu berkeliaran, juga berbahaya menangkap katak besar. Anak anaknya di waktu malam bersembunyi di dalam guha-guha kecil atau celah-celah batu, sukar ditemukan. Waktu yang tepat untuk menangkap adalah pada pagi hari di waktu induk-induk katak memberi makan anak-anaknya di tepi rawa dan memberinya makanan yang dimuntahkan dari perutnya.

Karena itulah, Hong Bwee lalu mencari tempat yang kering dan enak untuk melewatkan malam, tak jauh dari rawa itu. Ia mengumpulkan rumput kering, menumpuknya di bawah sebatang pohon. Kemudian ia mencari kayu kering dan membuat api unggun, bukan untuk melawan dingin karena tubuhnya yang terlatih itu mampu menahan hawa dingin maupun panas, melainkan untuk mengusir nyamuk. Memang ia dapat melindungi tubuhnya dari gigitan nyamuk, akan tetapi bunyi nyamuk di sekitar telinga sungguh amat mengganggu dan membuatnya tidak dapat mengaso enak. Api unggun akan membuat nyamuk-nyamuk itu menjauhkan diri karena panas dan asap.

Akan tetapi, baru saja api unggun itu jadi, tiba-tiba ada angin menyambar kuat dan nyala api itu padam! Padamnya api membuat bara api pada kayu-kayu itu mengeluarkan asap yang memedihkan mata. Akan tetapi Hong Bwee maklum bahwa angin yang menyambar tadi bukanlah angin biasa, melainkan angin pukulan yang datangnya dari arah kiri, maka ia terkejut sekali dan cepat meloncat ke arah tempat itu. Dan benar saja, di dalam cuaca remang-remang yang hanya diterangi oleh jutaan bintang di langit, ia melihat sesosok tubuh seorang wanita tua yang agak bongkok.

"Engkaukah yang tadi memadamkan api unggunku?" tanya Hong Bwee ragu-ragu karena ia tidak tahu pasti apakah benar nenek bongkok ini yang memadamkan api dari jauh menggunakan angin pukulannya.

Nenek itu agaknya melihat kelincahan Hong Bwee ketika meloncat, maka iapun berkata dengan suara membela diri, "Api itu akan menakutkan ular dan katak!"

Disebutnya katak membuat hati dara ini tertarik sekali. Ia mendekat, namun sikapnya waspada dan ternyata nenek itu menyembunyikan sebuah teng (lampu minyak) yang tertutup kertas tipis merah sehingga lampu itu mengeluarkan cahaya kemerahan yang cukup menerangi wajah nenek itu ketika ia mengeluarkan lampu dari balik tubuhnya. Kini Hong Bwee dapat melihat bahwa biarpun tubuhnya agak bongkok, ternyata wajah nenek ini menunjukkan tanda-tanda bahwa dahulu di waktu muda ia tentu memiliki wajah yang cantik. Juga pakaiannya bersih dan rapi, rambutnya disisir rapi.

"Nenek yang baik, apa maksudmu dengan ular dan katak?"

"Hi-hik," nenek itu terkekeh. "Engkau melakukan perjalanan seorang diri dan berani tidur di tepi rawa, tentu engkau seorang pemuda yang memiliki kepandaian lumayan. Akan tetapi pernahkah engkau melihat betapa ular besar dibunuh seekor katak? Aku sedang mengintai seekor ular besar dan tiba-tiba engkau di sini membuat api unggun. Tentu saja ular dan kataknya akan ketakutan dan mana mungkin aku dapat menangkap ular itu?"

"Ah, maafkan aku, nek. Aku ingin sekali melihat engkau menangkap ular." Hati Hong Bwee tertarik sekali karena ia dapat menduga bahwa nenek ini tentulah seorang kang-ouw yang aneh dan berkepandaian tinggi. Hal ini terbukti dari keanehan sikap, bicara dan perbuatannya seperti ketika ia memadamkan api unggun tadi.

"Kau mau nonton? Heh-heh, boleh sekali. Mari ikut aku." Nenek itu membalikkan tubuhnya dan berjalan berindap-indap. Hong Bwee yang merasa tertarik sekali segera mendekati dan berjalan di dekat nenek itu.

"Engkau melarang aku membuat api unggun, akan tetapi engkau sendiri membawa lentera, apakah sinar lenteramu itu tidak akan menakutkan ular dan katak?"

"Heh-heh-heh, lentera ini merah, tidak akan menakutkan mereka. Sssttt.... sekarang diamlah...."

Nenek itu mendekati batu-batu besar di mana terdapat celah-celah dan ia mengeluarkan sebuah kantung hitam dari punggunguya, di mana tergantung buntalan besar. Kantong ini bergerak-gerak, tanda bahwa di dalamnya terdapat sesuatu yang bernyawa. Ketika nenek itu meneteskan arak dari sebuah guci ke mulut kantong hitam, terdengarlah bunyi "kok-kok-kok" keras sekali sehingga mengejutkan hati Hong Bwee. Akan tetapi karena nenek ini sudah memberitahu agar diam, Hong Bwew tidak berani membuka mulut, hanya memandang penuh perhatian. Ia menujukan pandang matanya ke arah mata nenek itu memandang, yaitu ke arah sebuah celah besar di antara batu-batu hitam. Dan tiba-tiba saja terdengar bunyi berdesis, mula-mula perlahan, makin lama makin nyaring dan akhirnya dari celah-celah batu itu tersembul keluar sebuah kepala ular yang besarnya sekepalan tangan. Kembali nenek itu meneteskan arak dan kembali terdengar suara "kok-kok-kok" berkali-kali. Agaknya suara inilah yang menarik perhatian ular itu. Binatang itu kini keluar dari dalam celah batu dan ternyata tubuhnya sebesar betis orang dan panjangnya ada enam tujuh kaki! Seekor ular kembang yang besar dan agaknya lapar.

Dengan tangan kanannya, nenek itu memungut sebuah batu dan sekali tangan terayun, batu itu meluncur dan memasuki celah tadi, menutupnya. Bidikannya demikian tepat sehingga kembali Hong Bwee menyadari bahwa nenek ini memang lihai. Dan kini nenek itu membuka mulut kantong hitam dan melemparkan isinya ke arah sang ular. Kiranya isi kantong itu adalah seekor katak buduk hitam yang besarnya tiga empat kali katak biasa. Akan tetapi dibandingkan dengan ular itu, katak ini tentu saja amat kecil dan sekali caplok tentu ular itu akan dapat melahapnya. Lemparan nenek itu tepat pula. Katak terlempar dan terbanting ke atas kepala ular, membuat kedua binatang itu terkejut dan segera bersiap siaga ketika saling berhadapan. Agaknya sang ular menganggap bahwa ia memperoleh mangsa, sebaliknya katak itu merasa berhadapan dengan seekor binatang yang menjadi musuh besarnya.

Hong Bwee semakin tertarik. Ia tahu bahwa katak adalah satu di antara binatang yang menjadi makanan ular. Akan tetapi ia sudah mendengar dari hwesio itu bahwa katak buduk hitam demikian berbahaya dan lihainya sehingga berani melawan seekor ular besar. Agaknya kini secara kebetulan ia akan menyaksikan pertunjukan yang tak masuk akal itu.

Ular itu memandang dengan mata beringas, mengangkat kepalanya dan mendesis-desis, agaknya marah melihat sikap katak yang menantang. Memang katak itu menantang, tubuhnya merendah, perutnya menempel tanah dan dari lehernya keluar bunyi "kok-kok-kok!" nyaring sekali. Semua ini dapat dilihat jelas oleh Hong Bwee, di bawah cahaya lentera merah yang agaknya tidak mengganggu kedua akor binatang yang sedang berlagak itu. Tiba-tiba ular itu menyerang. Kepala yang diangkat itu bergerak meluncur ke depan dengan moncong terbuka, siap mencaplok. Akan tetapi katak itupun tiba-tiba menggunakan kaki belakangnya yang besar dan kuat itu, mengenjot tubuhnya menubruk ke depan, menyambut kepala ular dari samping dengan tak kalah cepat dan kuatnya.

"Plokkk!" Tubuh bagian atas ular itu terpental dan ular itu kembali mengangkat kepala dan leher, menggoyang-goyang kepala seperti mengusir rasa pening. Lalu ia mendesis dan menyerang lagi. Kepalanya meluncur ke depan dengan moncong dibuka lebar hendak mencaplok ke arah katak. Katak itu meloncat ke samping mengelak dan tiba-tiba saja ia sudah melompat ke atas kepala ular itu dan menggigitnya.

"Bagus!" Ganggananda memuji kagum.

Akan tetapi ketika ular itu menggerak-gerakkan kepala untnk melepaskan diri dari terkaman katak tanpa hasil, ia menggerakkan ekornya menghantam dari atas ke arah katak di kepalanya. Katak itu amat cekatan dan cerdik sekali, cepat mengelak dengan lompatan ke bawah.

"Tarrr!" Ekor ular itu melecut kepalanya sendiri! Kepalanya sudah terluka oleh gigitan katak, kini masih dicambuknya sendiri membuat binatang itu merasa kesakitan dan semakin marah. Iapun menyerang lagi dengan ganasnya. Serangan ini disambut oleh katak buduk hitam dengan suara "kok-kok-kok!" dari mulutnya dan keluarlah uap hitam disemburkan ke depan.

Agaknya sang ular kebal terhadap racun katak, akan tetapi matanya terkena uap hitam, menjadi nyeri dan iapun menggoyang kepala dengan gelisah. Kesempatan ini dipergunakan oleh katak hitam untuk meloncat dan menerkam lagi kepala ular, menggigit tengkuk yang agaknya menjadi sumber kekuatan ular. Ular itu mencoba untuk melepaskan diri dari gigitan. Akan tetapi tenaganya semakin lemah dan tubuhnya berkelojotan.

Tiba-tiba nenek itu menggerakkan tangannya dan kantong hitamnya sudah menubruk katak dan kepala ular. Sekali tangan kirinya dibacokkan miring ke arah leher ular, terdengar suara keras dan leher itupun hancur dan putus! Dan kini kepala ular dan katak itu sudah masuk kantong yang mulutnya cepat diikatnya kembali. Katak buduk hitam bergerak-gcrak di dalam kantong, lalu terdengar suara katak berkokok disusul suara berkerotokan seolah-olah katak itu sedang menggerogoti tulang kepala ular. Ganggananda bergidik ngeri.

Nenek itu menyimpan kantongnya dalam buntalan, lalu menusuk ekor bangkai ular dengan kayu yang ditancapkan pada akar pohon. Direntangnya bangkai itu dan iapun merobek perut ular menggunakan kuku jari telunjuknya dan semua isi perut ular itupun dikeluarkan. Ganggananda memandang heran.

Nenek itu mengangkat muka memandang dan terkekeh. "Apakah engkau tidak merasa lapar, orang muda?"

"Kalau lapar mengapa, nek?" tanya Ganggananda tertegun mendengar pertanyaan aneh itu.

"Hi-hik, orang muda yang bodoh. Ular ini adalah ular kembang. Dagingnya gurih dan manis, pula menguatkan otot-otot kaki, berguna bagi perantau-perantau seperti kita yang suka berjalan kaki dan melakukan perjalanan jauh. Nah, sekarang buatlah api unggun, biar kupanggang daging ini dan nanti kita makan sambil bercakap-cakap."

Ganggananda dapat menduga bahwa dia berhadapan dengan seorang nenek yang luar biasa dan berilmu tinggi, dan yang dia yakin tentu tahu banyak tentang katak buduk hitam yang amat dibutuhkan itu. Maka diapun tidak mau membantah. Nenek ini harus dibaiki, pikirnya dan tentu dia dapat mengharapkan bantuan nenek ini untuk memperoleh obat bagi Ciang Bun. Segera dia membuat api unggun yang cukup besar, bahkan membantu nenek itu ketika mulai memanggang daging ular yang sudah dikuliti dan dipotong-potong itu. Ternyata dagingnya putih bersih dan ketika dipanggang terciumlah bau sedap, apalagi karena nenek itu agaknya sudah membawa bekal bumbu. Terciumlah bawang dan garam yang membuat daging itu berbau sedap.

Ketika nenek itu mengajak Ganggananda makan, gadis yang menyamar pemuda inipun tidak menolak. Dan ternyata bahwa memang daging ular panggang itu lezat sekali! Nenek itupun mengeluarkan seguci arak sehingga lengkaplah kini hidangan mereka. Tanpa banyak cakap mereka makan dan nenek itu lahap sekali. Daging panggang itu diganyangnya panas-panas.

Setelah daging ular itu habis, barulah nenek itu bicara. "Orang muda, engkau seorang diri saja di tempat sunyi yang amat berbahaya ini, sebetulnya bermaksud apakah?"

"Nenek yang baik, memang ada kepentingan yang amat mendesak sehingga aku berada di tepi rawa ini, dan pertemuanku denganmu ini sungguh menggembirakan karena aku yakin bahwa engkau akan dapat membantuku sehingga aku akan berhasil dalam tugasku."

Nenek itu mengerutkan alisnya dan terkena cahaya api unggun, wajahnya nampak kemerahan. Akan tetapi wajah itu tidak mengerikan, bahkan sebaliknya, wajah itu jelas membayangkan bahwa nenek itu amat cantik di waktu mudanya. "Kepentingan? Tugas? Tugas apakah itu yang membawamu ke tepi rawa ini?"

"Aku harus mencarikan obat untuk orang yang keracunan pukulan Hoa-mo-kang...."

"Ihh! Su-ok sudah lama mampus dan pukulan jahat itu dibawanya mati. Siapa yang mampu melukai orang dengan pukulan Hoa-mo-kang?"

"Entahlah. Pokoknya, seorang sahabat baikku terkena pukulan itu dan menurut keterangan tabib yang ahli, obatnya harus dicari di tempat ini."

"Katak buduk hitam?"

"Benar, nek, karena itu aku mengharapkan bantuanmu."

"Engkau takkan berhasil!"

"Kenapa tidak? Menurut keterangan ahli itu, besok pagi aku akan dapat menangkap anak-anak katak di tepi rawa, diberi makan induknya."

"Hi-hik, engkau tolol!"

Ganggananda mengerutkan alisnya, akan tetapi dia menahan kemarahannya. "Hemm, mungkin juga, akan tetapi mengapa engkau menyebutku tolol? Dalam hal apa?"

"Engkau takkan berhasil, tak mungkin berhasil karena kini belum waktunya terdapat anak-anak katak. Tiga bulan lagi mungkin ada karena sekarang belum waktunya katak-katak itu bertelur. Yang ada hanyalah katak-katak buduk hitam besar dan engkau takkan mampu menangkap mereka."

"Ahh....!" Ganggananda terkejut dan bingung, mukanya berobah pucat. "Lalu bagaimana baiknya? Sahabatku itu akan mati kalau selama tiga hari tidak memperoleh obat itu, nek."

"Mengobati pukulan beracun Hoa-mo-kang dengan anak-anak katak memang tepat dan manjur sekali, akan tetapi tidak praktis. Aku mempunyai pel-pel racun katak buduk yang jauh lebih mudah ditelan, juga menelan berturut-turut tiga butir saja sudah akan menyembuhkan, tidak perlu menghancurkan belasan ekor anak katak untuk diminumkan airnya. Ihh, kejam membunuhi begitu banyak anak katak."

"Nenek yang baik, kau tolonglah aku. Tolonglah sahabatku itu dan aku mohon kau suka memberi pel-pel itu kepadaku."

Nenek itu memandang tajam. "Hemm, di dunia ini memang harus tolong-menolong. Kalau menolong sepihak saja tentu tidak mungkin. Aku mau menolongmu, akan tetapi ada syarat-syaratnya, orang muda."

"Apa syarat-syarat itu, nek?"

"Pertama, engkau harus dapat mengalahkan aku, dan ke dua engkau harus dapat membantuku menghadapi musuh besarku."

Ganggananda mengerutkan alisnya. Menandingi nenek ini merupakan hal yang berat, karena dia dapat menduga bahwa nenek ini tentu lihai sekali. "Nek, untuk menghadapi musuh bersama, aku mau membantu asal kaukatakan dulu mengapa engkau memusuhinya. Akan tetapi apa perlunya aku harus menandingimu lebih dulu?"

"Heh-heh, kalau engkau tidak mampu mengalahkan aku, apa perlunya engkau membantuku? Musuhku itu jauh lebih lihai daripada aku. Kalau aku mampu mengalahkannya sendiri, apa perlunya minta bantuan orang lain?"

"Ah, begitukah?" Jantung Ganggananda berdebar tegang. Nenek ini saja dia duga tentu sudah amat lihai, kalau musuhnya itu lebih lihai, wah, tugasnya sungguh tidak ringan. "Akan tetapi bagaimana engkau dapat mengira bahwa akn memiliki kepandaian silat, nek? Aku hanya seorang perantau yang tidak berilmu, mana bisa menandingimu?"

"Heh-heh, orang muda, jangan engkau mencoba untuk membodohi aku. Seorang muda seperti engkau ini sudah berani melakukan perjalanan jauh seorang diri, apalagi bermalam di tepi rawa berbahaya ini seorang diri, bahkan bertugas mencari katak buduk hitam, mana mungkin berani kalau tidak memiliki kepandaian lihai?"

"Mungkin sedikit latihan silat pernah kulakukan, akan tetapi bagaimana akan dapat menandingimu? Engkau yang selihai ini saja tidak mampu mengalahkan musuh besarmu itu, apalagi aku. Sudahlah, nek, lebih baik engkau berbaik hati memberi pel obat itu kepadaku dan hal itu berarti engkau telah berjasa besar menyelamatkan nyawa orang dari cengkeraman maut."

"Enak saja kau bicara. Orang hidup harus saling menolong! Sebetulnya, dalam ilmu silat dan tenaga, aku tidak kalah oleh musuhku itu, hanya aku kewalahan dan selalu kalah karena dia memiliki gin-kang yang amat tinggi. Dia terlampau cepat bagiku."

"Gin-kang?" Ganggananda bertanya dan sinar harapan muncul di dalam hatinya. "Jadi aku harus memiliki gin-kang yang lebih tinggi darinya?"

"Setidaknya, harus setingkat agar engkau mampu membantuku."

Ganggananda mengangguk. "Baiklah, nek, hendak kucoba. Bagaimana kalau kita berlumba memetik bunga putih di puncak pohon di depan itu?"

Biarpun malam itu hanya diterangi sinar bintang-bintang yang remang-remang, akan tetapi bunga-bunga putih bergerombol di puncak pohon tinggi di depan itu mudah dilihat karena menyolok warna putihnya di antara daun-daun yang nampak hitam.

Nenek itu mengangkat muka memandang. "Setinggi itu? Kita berlomba memanjat dan memetiknya?"

"Dengan gin-kang, tentu akan dapat dilakukan dengan cepat, berloncatan dari cabang ke cabang."

"Baik, nah, mari kita siap. Aku menghitung sampai tiga dan kita berlomba." Nenek itu berkata dengan suara girang karena ia mulai memperoleh harapan. Kalau pemuda ini sanggup bertanding gin-kang, berarti pemuda ini memiliki ilmu kepandaian tinggi yang boleh diharapkan akan dapat membantunya sampai ia berhasil menghadapi lawannya yang tangguh.

Mereka berdiri dan nenek itu menghitung "Satu.... dua.... tiga....!" Dan melesatlah tubuh nenek itu ke depan karena ia sudah mengerahkan seluruh tenaganya untuk meloncat dan berlari ke arah pohon itu. Ia hanya melihat bayangan berkelebat di sampingnya dan tahu-tahu ia melihat pemuda itu sudah tiba di pohon, padahal ia sendiri masih jauh dari tempat itu. Dan ketika ia melihat betapa tubuh pemuda itu berloncat tinggi sekali, kemudian seperti burung terbang atau seekor tupai berloncatan dari cabang ke cabang, maklum bahwa pemuda itu memiliki gin-kang yang hebat. Maka iapun tidak melanjutkan larinya, melainkan menonton saja dari bawah, melihat betapa pemuda itu dengan cepat sekali telah memetik bunga, kemudian dari atas meloncat turun, bahkan melayang tanpa melalui cabang-cabang pohon lagi ke atas tanah, hinggap di tanah sedemikian ringannya seperti sehelai daun kering melayang, kemudian melesat ke dekat api unggun kembali.

"Hebat.... engkau telah mengalahkan aku....!" Nenek itu berkata sambil berlari menyusul. Wajahnya berseri gembira. "Engkau.... kiranya engkau lihai sekali, engkau tentu akan dapat mengalahkan gin-kangnya! Engkau bantulah aku, orang muda, dan kalau aku sudah berhasil membunuhnya, engkau akan kuberi tiga butir pel racun katak buduk hitam untuk menyembuhkan sahabatmu."

"Nanti dulu, nek. Aku bukan tukang pukul yang suka membantu orang membunuh orang lain begitu saja. Aku hanya mau membantu orang tertindas, bukan membantu orang melakukan kejahatan atau berbuat sewenang-wenang. Ceritakan dulu, siapakah musuh besarmu itu dan kenapa engkau hendak membunuhnya?"

"A-ha, engkau berjiwa pendekar, ya? Bagus, memang aku mencari bantuan dari pendekar, bukan dari kaum sesat. Orang muda, siapakah namamu dan siapa gurumu maka engkau dapat memiliki gin-kang yang sedemikian hebatnya?"

"Namaku Ganggananda, nek."

"Ha, orang Nepal?"

"Bukan, orang Bhutan. Dan yang mengajarkan sedikit ilmu silat kepadaku adalah ayah bundaku sendiri," kata Ganggananda cepat dan segera menyambungnya karena ia tidak suka banyak cerita tentang keluarganya, tidak suka diketahui orang bahwa ia adalah keluarga Raja Bhutan. "Sekarang ceritakanlah, nek, agar aku dapat mengambil keputusan apakah aku akan membantumu atau tidak.""Baik, dengarkanlah ceritaku. Puluhan tahun yang lalu, ketika usiaku baru tiga puluh tahun lebih, aku hidup sebagai isteri seorang pendekar dan tinggal di selatan. Pada suatu hari datanglah seorang sahabat suamiku bertahun di rumah kami. Dia amat tampan dan gagah, pandai merayu dan akupun jatuh oleh rayuannya." Nenek itu menarik napas panjang dan Ganggananda memandang penuh perhatian, merasa tertarik sekali. Tak disangkanya bahwa nenek ini mempunyai riwayat yang demikian romantis, akan tetapi juga penuh aib. Seorang isteri jatuh hati kepada sahabat suaminya sendiri?

"Aku jatuh hati benar olehnya dan lupa daratan sehingga akupun rela menyerahkan diri kepadanya, menyambut uluran cintanya. Akhirnya, hal ini diketahui oleh suamiku. Kami tertangkap basah. Tentu saja suamiku marah dan sahabat itu diserangnya. Terjadilah perkelahian seru. Ilmu kepandaian sahabat itu amat tinggi dan kalau dia mau, dengan mudah dia akan dapat membunuh atau mengalahkan suamiku, akan tetapi sahabat itu juga seorang pendekar gagah. Dia merasa bersalah, maka diapun hanya melindungi diri saja tanpa mau membalas. Melihat ini, aku berpikir. Kalau sampai aku harus kembali kepada suamiku, tentu suamiku benci kepadaku, dan bahkan mungkin akan membunuhku, setidaknya menceraikan aku. Sudah kepalang bermain air sampai basah, lebih baik menyelam saja sekali, pikirku. Maka akupun membantu kekasihku itu dan karena kesalahan tangan, suamiku roboh dan tewas oleh sahabatnya. Inilah yang kukehendaki agar aku terlepas dari suamiku dan selanjutnya hidup bersama pria yang telah menjatuhkan hatiku itu."

Ganggananda mengerutkan alisnya. "Ah, engkau kejam terhadap suamimu, nek," celanya.

"Tidak, bukan kejam. Sejak menikah, pilihan orang tua, aku tidak pernah cinta suamiku. Dan aku sudah jatuh hati kepada orang she Bu, sahabat suamiku itu. Dan akupun bukan turun tangan membunuh suamiku, melainkan hanya membantu sahabat itu, terutama sekali untuk membuka mata suamiku bahwa aku berpihak kepada kekasihku, juga membuka mata kekasihku agar dia tahu bahwa aku bersedia membantunya dan ikut dengannya. Akan tetapi terjadi kesalahan tangan sehingga suamiku roboh dan tewas."

"Hemm, lalu bagaimana?" Ganggananda bertanya tidak puas. Dia sudah memperoleh gambaran bahwa nenek ini dan orang she Bu itu keduanya adalah orang-orang yang tidak baik! "Setelah suamimu tewas, engkau lalu hidup bersama orang itu?"

Nenek itu mengepal tinju tangan kanannya dan mengacungkannya ke atas. "Itulah yang membuat aku sakit hati, mendendam dan harus membunuhnya! Dia menolakku. Dia merasa menyesal sekali telah kesalahan tangan membunuh suamiku dan dia menyalahkan aku, memaki aku bahwa akulah yang menyebabkan sahabatnya tewas!"

Diam-diam Ganggananda mentertawakan nenek itu dan hatinya berbisik, "Puas! Rasakan engkau!" akan tetapi mulutnya diam saja.

"Aku telah memohon, membujuk dan menangis, akan tetapi tetap saja dia tidak mau menerimaku dan meninggalkan aku. Tentu saja aku merasa sakit hati sekali. Aku memperdalam ilmuku dan mencarinya, menyelidiki siapa sebenarnya kekasihku itu yang belum kukenal baik karena baru pertama kali itulah aku bertemu dengan dia. Kemudian aku mendengar bahwa kiranya dia itu memang seorang laki-laki yang terkenal sebagai tukang mempermainkan wanita! Dengan modal kegagahannya, ketampanannya dan kepandaiannya yang tinggi, dia merayu dan menjatuhkan hati banyak wanita, tidak perduli masih gadis, isteri orang, muda atau tua. Orang she Bu yang di dunia kang-ouw terkenal dengan julukan Bu-taihiap itu ternyata adalah seorang perayu dan gila perempuan!"

Ganggananda tidak pernah mendengar nama Bu-taihiap ini dan hatinya merasa semakin tidak suka kepada laki-laki itu. Kini diapun dapat membayangkan bahwa bukan semata kesalahan nenek ini kalau sampai menyeleweng, akan tetapi terutama karena pandainya orang she Bu itu merayu wanita sehingga nenek ini pernah tergelincir.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar