17 Kisah Para Pendekar Pulau Es

"Tutup mulutmu yang busuk! Baru sekarang aku mengerti! Ternyata engkau adalah seekor ular busuk yang amat jahat, khianat, curang dan pengecut! Engkaulah yang melakukan perbuatan terkutuk itu, dan engkau menimpakan kesalahan kepada orang lain! Tak perlu menyangkal, daging menonjol dan berambut yang tumbuh di punggungmu itulah saksinya." Suma Hui menyerang lagi dengan sengit. "Kau salah sangka...." Tek Ciang membela diri akan tetapi suaranya gemetar dan lemah karena dia kehabisan akal setelah rahasianya terbuka. Dia merasa menyesal sekali mengapa di punggungnya tumbuh daging jadi itu, dan mengapa pula sampai Suma Hui mengetahui tentang tonjolan daging itu. Tentu saja dia tidak tahu bahwa dahulu ketika dia memperkosa Suma Hui, biarpun gadis itu berada dalam keadaan terbius, namun Suma Hui masih setengah sadar ketika tangannya bergerak dan jari-jari tangannya menyentuh punggung yang telanjang dan bertemu dengan tonjolan laging berambut itu. Dia menyimpan rahasia itu di dalam hatinya. Hanya itulah satu-satunya tanda yang dikenalnya dari tubuh pemerkosanya. Sungguh tak pernah dia mengira bahwa yang punggungnya menonjol itu adalah Tek Ciang!

Suma Hui menyerang dengan beringas dan kini Tek Ciang juga berusaha untuk menundukkan. Pria ini maklum bahwa rahasianya sudah terbuka dan dia hendak menundukkan Suma Hui melalui kekerasan. Maka, sambil mengelak diapun balas menyerang dan sebuah tendangan mengenai paha Suma Hui, membuat wanita ini terguling.

Akan tetapi pada saat itu, terdengar suara keras dan daun pintu jebol. Muncullah Suma Kian Lee dan Kim Hwee Li. Suami isteri ini terkejut sekali mendengar suara gaduh di kamar pengantin dan ketika mereka keluar dari kamar menghampiri kamar pengantin, mereka mendengar perkelahian itu, bahkan mereka sempat mendengarkan kata-kata Suma Hui yang terakhir tadi yang membuat mereka terkejut setengah mati. Ketika perkelahian menghebat, Suma Kian Lee tidak sabar lagi dan sekali dorong robohlah daun pintu.

Mereka melihat Suma Hui baru merangkak hendak bangkit dan Louw Tek Ciang berdiri dengan mata terbelalak dan muka pucat sekali.

"Apa yang telah terjadi?" Suma Kian Lee bertanya, suaranya marah, penuh selidik.

"Hui-ji, apa artinya kata-katamu tentang pemerkosaan dan daging tumbuh di punggung tadi?" Kim Hwee Li juga bertanya.

Tendangan tadi tidak mendatangkan luka berat, akan tetapi tetap saja Suma Hui melangkah dengan terpincang-pincang menghampiri ibunya. Air matanya bercucuran.

"Ibu.... ayah.... dia.... dialah.... iblis terkutuk yang dahulu memperkosaku! Buktinya adalah tonjolan daging berambut di punggungnya.... dahulu aku mengetahui tanda itu secara tidak disengaja dan tadi.... tadipun hanya kebetulan saja.... dialah jahanam busuk itu!"

"Aihhhh....!" Kim Hwee Li menjerit.

"Hahhh....?" Suma Kian Lee juga berteriak kaget dan dia lalu melangkah maju menghampiri muridnya. Tek Ciang menjadi semakin pucat dan dia sudah melirik ke arah jendela dan pintu, seperti tikus tersudut hendak mencari jalan keluar untuk melarikan diri.

"Tek Ciang! Apa artinya ini? Benarkah apa yang diceritakan Hui-ji?" Suma Kian Lee bertanya ragu karena dia belum mau percaya begitu saja akan hal yang demikian jauh berlawanan dengan perkiraan dan harapan hatinya.

"Ti.... tidak.... suhu...." Jawab Tek Ciang gugup dan suaranya gemetar.

"Kalau tidak, buka bajumu dan perlihatkan kepada kami apakah benar ada tonjolan daging jadi di punggungmu!" Kim Hwee Li membentak dan kini wanita yang ccrdik itupun sudah dapat menduga dan membayangkan apa yang dahulu telah terjadi. Suma Kian Lee hanya berdiri terbelalak, sampai tidak mampu mengeluarkan kata-kata saking hehatnya perasaan memenuhi hatinya. Marah, heran, ragu-ragu, menyesal dan malu bercampur aduk menjadi satu. Dialah yang setengah memaksakan terikatnya perjodohan antara puteri tunggalnya dan Tek Ciang, bahkan dia telah mengangkat Tek Ciang menjadi murid utama, murid yang mewarisi ilmu-ilmu keluarga Pulau Es dan kini, ternyata pemuda ini yang telah memperkosa Suma Hui! Tentu saja sukar baginya untuk dapat menerima kenyataan ini.

"Ayah, aku sekarang mengerti semuanya!" Suma Hui berteriak lantang. "Ayahnya telah tewas karena bersama penjahat bayaran bermaksud membunuh Cin Liong, dan penyerangan itu tentu dilakukan karena mereka ingin menyingkirkan Cin Liong yang dianggap menghalangi niatnya untuk menarik kita sebagai keluarga. Keparat ini mendendam kepada Cin Liong atas kematian ayahnya maka dia merencanakan perbuatan terkutuk itu dengan mempergunakan nama Cin Liong untuk memfitnah. Cin Liong kita musuhi sedangkan dia sendiri, si keparat busuk ini, tampil sebagai pahlawan yang membela nama baik keluarga kita! Dia memperoleh keuntungan ganda. Dapat membalas dendam kepada Cin Liong dengan fitnah itu, dapat menguasai diriku, dan dapat mewarisi ilmu keturunan keluarga kita, ayah...."

"Louw Tek Ciang! Jawablah dan coba sangkal semua itu dengan penjelasan yang tepat kalau memang engkau bukan seorang iblis terkutuk seperti yang digambarkan oleh Hui-ji!" Suma Kian Lee membentak dan mukanya berobah merah sekali.

"Suhu, teecu...." Tek Ciang berkata gagap karena memang apa yang dikatakan Suma Hui itu tepat sekali, menelanjangi seluruh perbuatannya sehingga dia tidak dapat menyangkal lagi.

Tiba-tiba dari luar terdengar suara ketawa seorang laki-laki. "Ha-ha-ha, Tek Ciang, apakah engkau bukan laki-laki lagi yang tidak berani menghadapi semua ini?"

Mendengar suara yang amat dikenalnya ini, suara Jai-hwa Siauw-ok, gurunya yang lain, guru rahasia, wajah Tek Ciang menjadi cerah. Datangnya bantuan ini sungguh di waktu yang tepat sekali. Dia mengangkat dadanya dan berkata, "Suhu, semua itu benar dan setelah sekarang aku menjadi suami Hui-moi...."

"Jahanam!" Suma Kian Lee sudah menubruk maju dan melakukan pukulan maut dengan tenaga Hwi-yang Sin-ciang. Angin keras yang amat panas menyambar ke depan. Tek Ciang tentu saja mengenal pukulan ini dan tahu betapa hebat dan berbahayanya serangan gurnnya. Akan tetapi karena hatinya sudah menjadi besar dengan datangnya Jai-hwa Siauw-ok, diapun mengerahkan tenaganya dan sambil mengelak, diapun menangkis, mengerahkan tenaga sambil membongkokkan tuhuhnya dan ketika lengannya menangkis, terdengar suara aneh seperti suara katak dari perutnya.

"Desss....!" Tubuh Tek Ciang terhuyung, akan tetapi dengan menggulingkan tubuhnya, dia dapat meloncat bangkit kembali. Suma Kian Lee terbelalak. Tenaga tangkisan itu tadi cukup kuat dan bukan dari ilmu keluarganya, melainkan ilmu aneh yang mirip Ilmu Hoa-mo-kang atau Ilmu Katak Buduk. Memang dugaannya benar. Ketika menangkis tadi, Tek Ciang mempergunakan ilmu yang dipelajarinya dari Jai-hwa Siauw-ok, untuk menyatakan bahwa mulai saat itu dia adalah lawan keluarga Suma, pula kalau dia mengeluarkan Hwi-yang Sin-ciang pula, jelas dia kalah kuat oleh gurunya.

Kim Hwee Li dan Suma Hui sudah menerjang maju pula, akan tetapi pada saat itu, terdengar seruan dari luar, "Tek Ciang, keluarlah!"

Tek Ciang menggerakkan tangan, melemparkan sesuatu ke tengah kamar itu. Terdengar bunyi ledakan keras dan asap memenuhi kamar. "Awas asap beracun!" teriak Suma Kian Lee untuk memperingatkan anak isterinya dan dia sendiri cepat melompat ke arah jendela dari mana tadi dia melihat tubuh Tek Ciang berkelebat keluar. Setibanya di luar, dia melihat pemuda itu telah meloncat ke atas genteng dan di atas wuwungan telah berdiri seorang laki-laki yang berusia lima puluh tahun lebih, berpakaian indah pesolek dan wajahnya ganteng."Iblis busuk, jangan lari!" Suma Kian Lee yang kini merasa marah bukan main itu kembali menyerang Tek Ciang. Serangannya lebih hebat daripada tadi karena dia menggunakan kedua tangan menyerang secara beruntun, tangan kanan mengerahkan tenaga sakti Hwi-yang Sin-ciang yang panas sedangkan tangan kiri menghantam dengan pengerahan tenaga sakti Swat-im Sin-ciang yang amat dingin. Pendekar ini, walaupun belum mampu menggabungkan kedua tenaga yang berlawanan intinya itu, ternyata kini sudah sedemikian mahirnya untuk mempergunakannya secara beruntun dengan kedua tangan. Tentu saja Tek Ciang menjadi gentar. Dia maklum akan kehebatan gurunya ini, dan dia sendiri walaupun sudah mempelajari kedua ilmu mujijat itu, namun latihannya belum matang dan tentu saja dia belum mampu mempergunakannya secara berbareng pada kedua lengannya.

Melihat serangan hebat ditujukan kepada muridnya, Jai-hwa Siauw-ok mendengus dan berkata, "Mana ada murid dibunuh gurunya sendiri?" Dan diapun melangkah maju menangkis dari kiri sedangkan Tek Ciang menangkis dari kanan.

"Dess! Desss!" Kedua orang itu menangkis dua macam pukulan dan Tek Ciang yang menangkis pukulan Swat-im Sin-ciang itu merasa tubuhnya kedinginan dan dia terhuyung ke belakang. Akan tetapi, tangkisan Jai-hwa Siauw-ok membuat dia dan Suma Kian Lee melangkah mundur, tanda bahwa kekuatan mereka berimbang.

"Keparat! Siapa engkau berani mencampuri urusan antara guru dan murid?" bentak Suma Kian Lee, terkejut melihat bahwa orang ini lihai pula.

"Ha-ha, dia muridku, tentu saja kubela dia," kata Jai-hwa Siauw-ok sambil membalas serangan lawan. Kedua tangannya bergerak, jari-jari tangan terbuka dan terdengar suara bercicitan ketika jari-jari tangan itu meluncur cepat sekali mendatangkan hawa dingin.

"Cuiiiittt....!" Jari tangan Jai-hwa Siauw-ok kembali menyambar ke arah dada Suma Kian Lee dan pada saat itu, Tek Ciang juga menyerangnya dengan pukulan Toat-beng Bian-kun!

Dapat dibayangkan betapa marahnya hati Suma Kian Lee melihat muridnya sendiri berani menyerangnya dengan pukulan maut. Bahkan mengeroyoknya bersama seorang tokoh jahat, dan menggunakan ilmu keluarga Pulau Es untuk menghantamnya.

"Iblis murtad!" bentaknya dan dia menyambut pukulan Tek Ciang dengan pengerahan tenaga untuk merobohkan murid itu. Akan tetapi, sambaran jari tangan Jai-hwa Siauw-ok sudah tiba dan biarpun Kian Lee mengelak dan membatalkan niatnya merobohkan Tek Ciang, melainkan hanya menangkis serangan pemuda itu, tetap saja jari tangan Jai-hwa Siauw-ok menyerempet bajunya.

"Brettt....!" Dan baju di dada Kian Lee terobek, kulitnya tergurat sehingga terasa perih seperti tergurat pedang. Dia terkejut dan maklum bahwa itu adalah ilmu yang disebut Kiam-ci (Jari Pedang) yang amat lihai.

Pada saat itu, Suma Hui dan Kim Hwee Li berlompatan naik ke atas genteng. Ketika Suma Hui melihat kakek pesolek itu, ia terkejut dan membentak, "Jai-hwa Siauw-ok manusia iblis! Engkau datang mengantar kematian!"

Suma Hui sudah menerjang ke depan membantu ayahnya, juga Kim Hwee Li yang melihat bahwa lawan suaminya seorang lihai, cepat membantu suaminya. Kian Lee dan isterinya terkejut mendengar bentakan puteri mereka itu. Baru mereka tahu bahwa yaug datang membantu Tek Ciang adalah datuk sesat yang pernah menculik dan melarikan Suma Hui itu.

Marahlah hati Kian Lee. Kini makin jelas baginya. Kiranya sejak dahulu, Tek Ciang adalah seorang yang palsu, dan diam-diam mengelabuhinya, dengan sikap pura-pura baik, sehingga bukan hanya berhasil mempelajari ilmu-ilmu keluarga Pulau Es, akan tetapi juga malah berhasil memperisteri Suma Hui setelah memperkosanya! Berhasil pula mengadu domba antara keluarganya dan keluarga Naga Sakti Gurun Pasir!

"Bedebah!" bentaknya dan dia bersama isteri dan puterinya mengamuk. Melihat keluarga yang lihai itu sudah keluar semua karena kini nampak pula bayangan Ciang Bun membawa pedang, Jai-hwa Siauw-ok berseru. "Tek Ciang, mari kita pergi!"

Guru dan murid itu menggerakkan tangan dan terdengar ledakan-ledakan diikuti asap tebal ketika mereka membanting benda-benda bulat ke atas wuwungan. Di dalam kegelapan asap tebal ini merekapun menghilang. Kian Lee, Hwee Li, Suma Hui dan Ciang Bun berusaha untuk melakukan pengejaran, akan tetapi malam gelap telah menelan dua orang itu.

"Jangan kejar secara terpisah, mereka itu berbahaya." Kian Lee memperingatkan sehingga dengan mengejar berkelompok, mereka tidak berhasil dan akhirnya terpaksa kembali ke rumah mereka.

Suma Hui menangis dalam rangkulan ibunya. "Uhh, ibu.... aku berdosa besar sekali.... aku telah memaki, menghina dan membenci Cin Liong.... padahal dia sama sekali tidak berdosa.... ah, ibuuu...." Ingin rasanya Suma Hui menjerit-jerit ketika ia membayangkan pemuda yang dicintanya itu. Dapat dibayangkan betapa sakit dan sengsaranya hati Cin Liong dan betapa sakit pula hati orang tuanya menerima tuduhan yang keji itu. Ibunya hanya dapat merangkul dan menciuminya dengan hati penuh iba.

Suma Kian Lee duduk di atas kursi, menutupi mukanya dengan kedua tangan. Perasaan menyesal yang amat hebat seperti gelombang menyeretnya, dan di antara celah-celah jari tangannya ada beberapa tetes air. Terdengar suaranya penuh getaran dan tubuhnya menggigil ketika dia bicara dari balik kedua telapak tangan yang menutupi mukanya.

"Aku.... aku telah merusak anak sendiri.... aku telah mengkhianati ilmu keluarga sendiri.... aku telah berdosa terhadap keluarga Kao.... ah, orang bodoh macam aku layak mati.... layak mati....!" Pendekar ini mengeluh panjang dan tubuhnya lalu terguling.

"Ayaaahhh....!" Ciang Bun menubruk dan merangkul sehingga tubuh ayahnya tidak sampai terguling jatuh. Ternyata pendekar itu telah roboh pingsan saking hebatnya guncangan batin yang dideritanya.

Kim Hwee Li menjerit dan melepaskan rangkulan pada puterinya, kemudian menubruk suaminya sambil menangis dan mengguncang-guncang pundak suaminya yang pingsan itu. Setelah dipijat bagian leher dan bawah lengannya, Kian Lee siuman kembali. Melihat dia rebah di pembaringan ditangisi oleh isterinya dan kedua orang anaknya, pendekar ini sadar lalu bangkit duduk. Dia memandang kepada Suma Hui yang berlutut di depan pembaringannya sambil menangis. Melihat puterinya ini, tak dapat lagi Suma Kian Lee menahan hatinya.

"Hui-ji....!" Dia menubruk dan merangkul, mendekap kepala puterinya itu, air matanya bercucuran. "Hui-ji, kaumaafkan aku...."

"Ayaahh.... ayaahhh....!" Suma Hui juga hanya dapat menangis tersedu-sedu di dada ayahnya. Suasana sungguh amat mengharukan ketika empat orang anggauta keluarga itu membiarkan diri mereka tenggelam dalam kedukaan, penyesalan yang amat mendalam.

Akan tetapi Kim Hwee Li yang pada dasarnya memiliki watak keras itu, dapat lebih dahulu menguasai dirinya dan iapun berkatalah. "Sudahlah, apa gunanya penyesalan yang berlarut-larut ini? Lebih baik kita melihat apa yang dapat kita lakukan untuk memperbaiki semua kesalahan."

"Ayah, yakinkah ayah sekarang bahwa Cin Liong tidak berdosa?" Dengan halus akan tetapi suaranya membayangkan kesedihan Suma Hui bertanya.

Suma Kian Lee mengangguk dan pendekar itu tiba-tiba saja nampak jauh lebih tua daripada biasanya. "Aku pernah lupa bahwa dia adalah keturunan Naga Sakti Gurun Pasir...."

"Dan ayah.... ayah masih berkeberatan terhadap hubungan antara kami?" tanya pula Suma Hui.

Suma Kian Lee menarik napas panjang. "Aku bersalah.... tadinya memang kuanggap tidak baik melakukan ikatan jodoh antara keluarga sendiri. Aku lupa bahwa urusan jodoh adalah urusan yang mutlak menyangkut diri kedua orang itu sendiri.... akan tetapi aku telah menggagalkan segalanya, aku telah merusak kebahagiaanmu. Hui-ji."

"Disesalkanpun tiada gunanya lagi," Suma Hui menyusut air matanya. "Aku tidak patut lagi mendekatinya. Hidupku hanya untuk dua tujuan kini. Pertama, menemui Cin Liong dan minta agar dia sudi mengampuni dosaku, dan ke dua, aku belum mau mati sebelum dapat membunuh si jahanam Louw Tek Ciang!"

"Hemmm, aku sendiri yang akan menanganinya!" kata Suma Kian Lee penuh geram.

"Tidak, ayah. Harus aku sendiri yang membunuh jahanam itu!" kata pula Suma Hui.

"Dan aku akan membantumu, enci Hui!" kata Ciang Bun yang juga ikut merasa dendam.

Suma Kian Lee mengangguk. "Kita semua akan maju karena jahanam itu berkawan dengan tokoh-tokoh sesat yang pandai. Akan tetapi, kepandaian kalian masih belum cukup untuk menandinginya, maka mulai sekarang, biar kuajar semua ketinggalan, akan kucurahkan seluruh waktu dan perhatianku untuk mewariskan semua ilmu keluarga kita kepada kalian."

Demikianlah, peristiwa hebat yang mengguncang keluarga pendekar ini bahkan membuat ayah dan anak menjadi akrab, dan mulai hari itu, Suma Hui dan Ciang Bun digembleng oleh ayah mereka secara tekun dan keras. Suma Kian Lee yang merasa bersalah kepada dua orang anaknya karena dia telah mengambil murid dan ahli waris dari luar yang ternyata seorang penjahat itu, kini hendak menebus kesalahannya dengan menguras seluruh kepandaiannya untuk diwariskan kepada mereka. Sebaliknya, Suma Hui dan Ciang Bun yang bertekad untuk menandingi Tek Ciang, berlatih dengan sungguh-sungguh sehingga dalam waktu dua tahun lebih mereka tidak pernah meninggalkan rumah dan tempat latihan!

Segala macam peristiwa yang terjadi dan menimpa diri kita adalah kenyataan-kenyataan yang tak dapat dirobah lagi dan kesemuanya itu tentu mengandung sebab. Sebab-sebab itupun tidak akan jauh dari pada diri kita sendiri, dan sumber segala peristiwa yang menimpa diri kita berada di dalam diri kita sendiri. Menyesalkan peristiwa yang terjadi sungguh tidak ada gunanya sama sekali, karena penyesalan itu hanya akan mendatangkan duka dan karenanya pikiran bahkan menjadi keruh dan tidak dapat bekerja dengan baik. Lebih baik kita membuka mata melihat kenyataan itu, karena semua peristiwa yang terjadi adalah suatu kenyataan, suatu fakta. Pengamatan yang mendalam dan terbuka terhadap suatu peristiwa akan memibuka mata kita, membuat kita waspada dan di dalam setiap peristiwa terkandung pelajaran kehidupan yang amat berharga.

Hujan yang jatuh tak mungkin ditahan dan diminta untuk terbang ke atas lagi. Hujan turun merupakan satu di antara peristiwa-peristiwa yang terjadi, suatu kenyataan yang wajar, tidak baik tidak buruk. Tidak ada manfaatnya sama sekali kalau kita bermurung atau marah-marah oleh turunnya hujan karena kita merasa dirugikan. Juga berbahaya kalau sebaliknya kita bersenang-senang melampaui batas karena kita merasa diuntungkan oleh turunnya hujan itu karena segala macam kesenangan setiap saat bisa saja berobah menjadi kedukaan. Para petani yang merasa diuntungkan oleh turunnya hujan tidak akan bersenang hati saja, melainkan waspada menjaga agar jangan sampai air hujan itu terlalu membanjiri sawahnya sehingga bahkan merusak jadinya. Anak-anak yang bergembira dan bermain dalam hujanpun harus diamati dengan waspada, jangan sampai mereka menjadi kedinginan bahkan sebaliknya lalu menjadi sakit. Jadi, dalam setiap peristiwa tentu terkandung segi baik buruknya, kalau kita sudah membiarkan diri terseret dalam perhitungan untung rugi. Lalu apa yang kita lakukan menghadapi setiap peristiwa, setiap kenyataan? Apakah lalu berdiam diri saja, masa bodoh dan tidak perduli? Sama sekali tidak bijaksana kalau begitu! Alangkah baiknya kalau dalam menghadapi setiap periswa yang menimpa diri, kita bersikap waspada, membuka mata dan menghadapi kenyataan tanpa dipengaruhi untung rugi. Misalnya hujan turun di waktu kita hendak keluar. Perlu apa mengeluh? Yang penting, akal budi kita pergunakan untuk mengatasi halangan itu, menggunakan payung, kendaraan, atau berteduh. Tindakan ini yang penting, bukan keluhan. Keluhan muncul kalau pikiran kita sibuk menimbang-nimbang untung rugi. Dan ini tidak ada manfaatnya sedikit juga. Demikian pula, seperti peristiwa hujan turun, dalam menghadapi segala peristiwa apapun dalam hidup, kewaspadaan dan pengamatan yang mendalam akan menciptakan tindakan-tindakan yang tepat!

***

Kao Cin Liong bukan hanya seorang pemuda yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, akan tetapi juga sudah digembleng oleh banyak pengalaman, baik dalam kehidupannya sebagai seorang pendekar yang berkecimpung di dunia kang-ouw maupun sebagai seorang panglima muda yang berkecimpung di dalam kancah-kancah peperangan. Semua pengalaman pahit dalam hidupnya menbuat pemuda ini matang dan dia dapat menghadapi segala peristiwa dengan tenang. Akan tetapi, ketika pemuda yang kini usianya sudah tiga puluh dua tahun itu pulang dari tugasnya membebaskan Tibet dari pasukan Nepal, bahkan kemudian dia menyerang Nepal dan berhasil menundukkan negara ini sehingga Kerajaan Nepal terpaksa harus mengakui kedaulatan Kerajaan Ceng yang kuat itu, dia menghadapi hal yang membuatnya tertegun. Setelah kembali ke kota raja dan menerima hadiah dan anugerah Kaisar Kian Liong yang memuji-mujinya, Jenderal Kao Cin Liong lalu berpamit meminta cuti untuk menengok orang tuanya di utara. Akan tetapi, begitu dia memasuki rumahnya dan menghadap ayah bundanya, jenderal muda itu tertegun melihat sikap ayah bundanya terhadap dirinya. Ayahnya memandang dengan mata mencorong sedangkan ibunya menyambutnya dengan mata merah dan basah! Cin Liong dapat menduga bahwa tentu telah terjadi sesuatu yang hebat, maka cepat dia menjatuhkan diri berlutut depan kedua orang tuanya yang duduk di kursi panjang.

"Ayah, ibu, aku datang membawa berita kemenangan dan berhasilnya tugas yang kupikul. Akan tetapi, mengapa ayah dan ibu nampak marah dan duka? Harap ayah dan ibu suka mengampunkan kalau aku membuat kesalahan, dan harap memberitahu kesalahan apa gerangan yang telah kulakukan?"

"Cin Liong, karena ulahmu, atau setidaknya karena engkaulah maka kami berdua, ayah bundamu menerima penghinaan dan makian orang," kata Kok Cu. Pendekar ini sudah hampir enam puluh tahun usianya, namun masih nampak gagah perkasa dan buntungnya sebelah lengannya sama sekali tidak membayangkan kelemahan, bahkan menambah kegagahannya, kegagahan yang aneh. Sikapnya tenang dan serius, sepasang matanya mencorong seperti mata naga sehingga patutlah kalau dia dikenal sebagai Naga Saktin Gurun Pasir. Di sampingnya duduk isterinya, Wan Ceng yang kini sudah berusia lima puluh tiga tahun. Nenek yang biasanya gembira itu nampak muram dan ketika ia memandang kepada puteranya, hampir ia tidak dapat menahan air matanya.

Tentu saja Cin Liong merasa terkejut sekali mendengar teguran ayahnya itu. Akan tetapi sebagai seorang yang sudah matang dan berpengalaman, dia tetap tenarg. Dia lalu bangkit duduk menghadapi ayah bundanya, dan sambil memandang kepada mereka bergantian dengan sinar mata penuh selidik, diapun bertanya. "Ayah dan ibu, apakah yang telah terjadi? Harap suka segera memberitahu kepadaku."

Wan Ceng yang tetap tidak mau percaya akan kesalahan puteranya, segera mendahului suaminya. "Liong-ji, kami telah pergi ke Thian-cin...."

"Ahh....!" Cin Liong teringat akan urusannya dengan Suma Hui dan tentang permintaannya kepada ayah bundanya untuk mengajukan pinangan. "Lalu bagaimana, ibu?"

"Kami tiba di Thian-cin, berhasil menemui paman Suma Kian Lee dan keluarganya, dan kami telah mengajukan pinangan terhadap diri Suma Hui seperti yang kauminta." Wan Ceng berhenti karena suaminya memotong.

"Pinangan yang janggal karena masih keluarga, dan menurut hitungan, kita kalah tua lagi, dan berakhir dengan aneh dan memalukan pula."

"Ibu, apakah yang terjadi selanjutnya?"

"Singkatnya, pinangan kita ditolak, bahkan kami berdua dihina dan dimaki!" kata Wan Ceng cemas.

Cin Liong bangkit berdiri dan mengepal tinju, alisnya berkerut. "Ah, sungguh tidak pantas! Mereka boleh saja menolak pinangan, akan tetapi mengapa harus memakai penghinaan dan makian? Sungguh tidak patut, apakah mereka itu begitu tinggi hati karena merasa sebagai keluarga Pulau Es?"

"Cin Liong, lupakah engkau bahwa segala macam penilaian adalah palsu karena penilaian didasari pendapat sendiri yang muncul dari perhitungan untung rugi? Dapatkah kita menilai orang dari keadaan luarnya? Memang, menolak pinangan sambil marah-marah tidak patut sekali, akan tetapi engkau harus menyadari bahwa setiap sikap dan perbuatan itu tentu ada sebab-sebabnya! Jadi, tanpa mengetahui sebab-sebabnya, kita sama sekali tidak berhak menilai sikap atau perbuatan orang lain!"

"Maaf, ayah. Aku terbawa oleh perasaan penasaran mendengar betapa ayah dan ibu sudah ditolak pinangannya masih juga dihina dan dimaki. Sebenarnya, apakah yang telah terjadi, ayah? Mengapa keluarga Suma marah-marah kepada kita?"

"Nah, begitu lebih tepat. Setiap menghadapi persoalan, amatilah diri sendiri dan cari tahu mengapa demikian, cari sebab-sebabnya sehingga kita tidak hanya berbuat menuruti perasaan hati dan nafsu belaka. Ketahuilah, Cin Liong, ketika kami mengajukan pinangan, paman Suma Kian Lee dan isterinya menolak. Bukan hanya itu, bahkan Suma Hui dengan lantang mengatakan bahwa engkau telah memperkosanya!""Ahhh....!" Cin Liong terbelalak kaget dan untuk kedua kalinya dia bangkit berdiri, sekali ini dengan muka menjadi pucat dan pandang mata penuh keheranan.

"Kami tidak pernah meragukan dirimu, anakku," kata Wan Ceng. "Tentu saja kami tidak percaya dan hampir terjadi kesalahpahaman. Akan tetapi, kiranya tidak mungkin pula kalau Suma Hui mengada-ada hendak menjatuhkan fitnah kepadamu. Sebetulnya ada apakah antara engkau dan Suma Hui?"

Cin Liong sudah terduduk kembali dan menutupi muka dengan kedua tangannya, mulutnya menggumam heran, "Diperkosa.... dan.... dan aku yang memperkosanya? Ya Tuhan, apa artinya semua ini? Ibu dan ayah, aku tidak perlu bersumpah kiranya bahwa aku tidak pernah melakukan perbuatan keji itu. Tidak kepada Suma Hui dan tidak pula kepada siapapun juga. Melihat penjahat memperkosa wanita, aku akan turun tangan membunuhnya. Kalau aku sendiri yang melakukan perbuatan keji itu, tentu aku akan membunuh diriku sendiri. Tidak, aku tidak pernah melakukan itu. Dan sekarang baru aku mengerti, kiranya ada hubungannya dengan itu maka sikap Suma Hui dahulu itu demikian aneh."

"Apa yang kaumaksudkan?" tanya ibunya.

"Seperti pernah kuceritakan kepada ayah ibu, antara aku dan Suma Hui sudah terjalin tali cinta kasih. Kami saling mencinta dan biarpun kami tahu akan besarnya halangan di antara kami karena ikatan keluarga, kami berdua sudah bertekad untuk bersama-sama menghadapinya. Akan tetapi, ketika aku pergi ke kota raja dan sebelum menerima perintah kaisar aku pergi ke Thian-cin, ketika bertemu denganku, secara aneh dan tiba-tiba saja ia menyerangku dan hendak membunuh! Ia begitu marah sehingga sukar diajak bicara, maka aku lalu pergi meninggalkannya. Kemudian, aku terikat tugas dan sampai demikian lamanya tak pernah bertemu dengannya, dan selama ini aku memang bertanya-tanya bagaimana jadinya dengan pinangan ayah berdua."

Ayahnya mengangguk-angguk, "Aku makin yakin bahwa tentu ada sesuatu di balik semua itu. Suma Hui menuduhmu memperkosa, bahkan berusaha membunuhmu. Dan engkau tidak merasa sama sekali telah melakukan perbuatan keji itu. Tentu terselip suatu rahasia di antara kedua perbedaan yang saling berlawanan itu."

"Sudah menjadi kuwajibanku untuk membikin terang persoalan ini, ayah. Aku akan segera berangkat ke Thian-cin dan aku akan bicara terus terang dengan mereka."

"Akau tetapi, keluarga Suma sudah begitu marah kepadamu...." kata ayahnya sambil mengerutkan alisnya.

"Ayah. Kita semua tahu bahwa Suma Kian Lee locianpwe adalah seorang pendekar besar. Aku yakin bahwa kalau kuajak dia terus terang membicarakan persoalan itu dan menyelidiki rahasianya, dia akan dapat menerimanya."

"Tapi, Cin Liong...." Suara Wan Ceng menjadi lembut dan pandang matanya penuh iba kepada putera tunggalnya. "Engkau terlambat sudah.... karena tak lama setelah engkau pergi, Suma Hui telah menikah...."

Ciu Liong adalah seorang pemuda yang amat kuat batinnya. Berita yang diucapkan dengan lembut oleh ibunya ini sebetulnya amat hebat menikam jantungnya. Akan tetapi hanya mukanya saja yang sedikit pucat dan matanya tergetar sedikit, akan tetapi selanjutnya dia nampak tenang.

"Ah, begitukah....?"

"Kami tidak datang karena.... engkau tahu sendiri, tentu tidak enak bagi kami untuk hadir setelah peristiwa peminangan dahulu itu," kata Kao Kok Cu.

"Kami mendengar bahwa ia menikah dengan suhengnya sendiri, murid tunggal paman Suma Kian Lee," sambung Wan Ceng.

"Ah, tentu Louw Tek Ciang itu! Hemmm.... syukurlah kalau begitu, karena pemuda itu kelihatan baik dan berbakat." Cin Liong menunduk, tidak tahan melihat pandang mata ibunya yang penuh iba. Dia telah gagal lagi dalam asmara!

"Engkau tentu tidak jadi ke Thian-cin, bukan?" tanya ibunya.

Cin Liong mengangkat muka, memandang kepada ibunya dengan senyum. Senyum layu!

"Tentu saja, ibu. Aku pergi untuk menjernihkan kekeruhan antara keluarga kita dengan keluarga Suma. Bagaimanapun juga, di antara kita masih ada hubungan keluarga, maka tidaklah baik kalau sampai awan hitam itu tidak dijernihkan. Aku harus dapat menyadarkan mereka bahwa aku kena fitnah, bahwa aku tidak melakukan perbuatan itu."

"Tapi.... tapi Suma Hui telah menjadi isteri orang. Tidak baik kalau sampai urusannya yang mendatangkan aib itu dibicarakan." Kao Kok Cu memperingatkan.

"Aku akan membicarakannya dengan Suma-locianpwe dan isterinya. Pula, ketika terjadi keributau, Louw Tek Ciang juga mengetahui sehingga diapun telah mengetahui segala-galanya. Diapun sudah meugenalku."

Karena memang masalah yang merisaukan itu perlu dijernihkan, akhirnya Kao Kok Cu dan Wan Ceng tidak dapat membantah dan setelah bermalam di rumah orang tuanya selama sepekan, berangkatlah Cin Liong kembali ke selatan, hendak pergi ke Thian-cin.

Pada suatu hari tibalah dia di dusun Pei-san yang terletak di kaki Pegunungan Tai-hang-san, tidak jauh dari kota raja, di sebelah barat. Karena hari sudah lewat senja dan diapun merasa lelah setelah pada hari itu sejak pagi dia melakukan perjalanan jauh naik turun gunung, maka Cin Liong ingin bermalam di dusun itu. Biarpun dusun Pei-san berada tidak jauh dari kota raja, akan tetapi Cin Liong belum pernah lewat dusun ini. Dia kini memang sengaja mengambil jalan lain di sepanjang kaki Gunung Tai-hang-san ketika dia menuju ke Thian-cin, untuk melihat-lihat keadaan dan dia memang hendak mengambil jalan memutar agar jangan melalui kota raja. Kalau dia melalui kota raja, dia khawatir kalau dia mendengar sesuatu yang membuat dia menunda kepergiannya ke Thian-cin. Kalau urusannya dengan keluarga Suma sudah selesai, barulah dia akan kembali ke kota raja menunaikan tugasnya sebagai panglima kembali. Dan karena jenderal muda ini bepergian dengan pakaian preman, tidak ada pejabat atau petugas yang mengenalnya sehingga dia dapat melakukan tugasnya secara bebas kalau dia sedang melakukan penyelidikan. Baru dia mengenakan pakaian kebesaran kalam dia memimpin pasukan dengan resmi.

Pei-san merupakan sebuah dusun di lereng bukit Pegunungan Tai-hang-san. Sebuah dusun yang cukup makmur karena tanahnya yang subur karena letaknya yang dekat dengan kota raja, di sebelah baratnya sehingga dusun ini menjadi semacam pintu masuk atau jembatan, juga menjadi tempat perhentian mereka yang datang dari barat hendak menuju ke kota raja. Para pedagang yang datang dari barat atau pergi ke barat, selalu singgah di dusun ini, untuk mengaso, atau makan, atau juga untuk melewatkan malam kalau mereka kemalaman di jalan. Tidaklah mengherankan apabila di dusun itu bertumbuhan usaha penginapan dan kedai-kedai makan minum.

Ketika Cin Liong memasuki dusun Pei-san, kesan pertama dalam hatinya adalah bahwa dusun ini amat ramai dan sibuk. Akan tetapi, penglihatannya yang tajam dapat menangkap bayangan-bayangan ketakutan tersembunyi di balik senyum dan pandang mata para penduduk. Agaknya ada sesuatu, atau telah terjadi sesuatu yang membuat hati penghuni dusun itu dicekam ketakutan.

Kesan ini dirasakannya pula ketika Cin Liong memasuki sebuah kedai makan yang tidak begitu ramai dan terletak di ujung jalan raya. Perutnya lapar dan tubuhnya lelah sekali. Dia tidak suka memasuki kedai makan yang penuh sesak oleh tamu, melainkan memilih kedai yang sepi itu. Dalam keadaan lapar, tidak perlu terlalu memilih makanan yang enak. Segala macam makanan terasa enak di mulut kalau perut sedang lapar.

Di kedai itu ada beberapa orang tamu yang duduk berpencaran. Cin Liong memilih sebuah meja di sudut dalam. Seorang pelayan tua segera menghampirinya dan dengan ramah lalu bertanya makanan apa yang hendak dipesan oleh pemuda itu. Cin Liong juga melihat betapa di wajah kakek pelayan inipun terbayang rasa cemas seperti yang dilihatnya pada wajah orang-orang lain itu.

Dia memesan makanan dan ketika pelayan tua itu datang membawakan makanan, Cin Liong lalu berkata, "Lopek, aku melihat wajahmu seperti orang ketakutan, dan juga pada wajah penghuni dusun ini ada bayangan ketakutan seperti itu. Apakah yang telah terjadi, lopek?"

Kakek pelayan itu memandang dengan muka pucat, lalu dia menoleh ke kanan kiri, nampaknya semakin takut, akan tetapi juga ada pandang mata heran mengapa ada orang menanyakan hal itu, karena bukankah semua orang sudah tahu?

"Lopek, aku bukan orang sini, dan aku baru saja masuk ke dusun Pei-san ini. Ada peristiwa apakah?" tanya pula Cin Liong secara sambil lalu seperti lumrahnya seorang tamu yang ingin tahu dan diapun makan hidangan yang diantarkan oleh pelayan itu.

"Tidak ada apa-apa, tuan.... tidak ada apa-apa...."

Cin Liong mengerutkan alisnya dan diam-diam dia mengerling ke arah para tamu yang duduk di situ. Akan tetapi para tamu itu tidak memperlihatkan suatu ketidakwajaran. Mereka duduk, ada yang sedang makan minum, ada yang sedang bercakap-cakap urusan perdagangan dan pekerjaan mereka. Dia tahu bahwa kakek ini membohong dan takut bicara.

"Lopek, jangan takut. Ceritakanlah, kalau ada apa-apa aku yang akan tanggung. Kalau terjadi kesukaran menimpa dusun ini, tentu aku akan berusaha untuk membereskannya," kata pula Cin Liong lirih agar tidak sampai terdengar oleh orang lain.

Pelayan itu memandang dengan ragu, akan tetapi matanya terbelalak ketika dia melihat betapa tangan tamunya itu meremas sebuah sendok batu yang menjadi hancur seperti tepung di antara jari-jari tangannya tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Tahulah pelayan itu bahwa dia berhadapan dengan seorang pendekar.

"Di.... di dusun ini semenjak dua pekan yang lalu ada.... ada.... Eng-jiauw-pang...."

Hanya sampai di situ saja pelayan itu berani bicara karena diapun cepat meninggalkan Cin Liong sambil menoleh ke kanan kiri penuh rasa cemas. Cin Liong tidak mendesak lebih jauh, lalu melanjutkan makan sambil termenung. Eng-jiauw-pang (Perkumpulan Kuku Garuda)? Dia pernah mendengar nama itu. Kalau dia tidak salah ingat, Eng-jiauw-pang adalah perkumpulan orang jahat, perkumpulan para perampok yang amat lihai, terkenal dengan anggauta-anggauta mereka yang mempergunakan sarung tangan kuku garuda yang selain ahli dalam ilmu silat, juga lihai dalam penggunaan racun. Akan tetapi, perkumpulan perampok Eng-jiauw-pang itu berada di daerah Se-cuan, jauh di barat. Bagaimana bisa muncul di tempat ini dan apa yang telah mereka lakukan sehingga orang-orang menjadi ketakutan?

Tiba-tiba terdengar jeritan lemah dan Cin Liong cepat menoleh. Dapat dibayangkan betapa kaget hatinya ketika dia melihat kakek pelayan yang tadi melayaninya, tiba-tiba jatuh terpelanting dan mangkok-mangkok terisi makanan dalam baki yang dibawanya ikut terbanting dan menimbulkan suara gaduh. Gegerlah di rumah makan itu. Para pelayan lain dan para tamu segera menghampiri. Cin Liong tidak ketinggalan, malah dia paling dulu menghampiri kakek ini, lalu dia berlutut dan memeriksa. Ternyata pelayan itu telah tewas dengan muka berobah kebiruan, sedangkan di leher sebelah kanan nampak tiga guratan yan masih mengeluarkan darah. Guratan tanda kuku garuda! Dan sekali lihat saja maklumlah Cin Liong bahwa kakek ini tewas keracunan yang memasuki tubuhnya melalui guratan-guratan pada leher itu. Dia menjadi marah sekali dan memandang kepada semua orang yang berada di situ penuh selidik. Akau tetapi, karena dia tidak melihat sendiri penyerangan itu, siapa yang hendak dituduhnya? Pula, melihat kenyataan bahwa tidak ada orang yang melihat bagaimana caranya kakek itu diserang dan dibunuh, menjadi bukti bahwa penjahat itu lihai sekali, juga bahwa penjahat itu dapat mendengar atau mengetahui bahwa kakek pelayan tadi telah menceritakan sedikit tentang Eng-jiauw-pang kepadanya, membuktikan bahwa gerombolan penjahat itu benar-benar lihai.

Dia lalu bangkit berdiri dan memandang ke sekeliling. "Siapa di antara saudara sekalian yang tahu di mana adanya sarang gerombolan Eng-jiauw-pang?" tanyanya, suaranya halus akau tetapi penuh ancaman dan kemarahan yang ditahan. Ada kejahatan kejam terjadi di depan hidungnya, sungguh hal ini menjengkelkan sekali, merupakann tantangan kepadanya. Dia merasa menyesal mengapa tadi dia tidak memperhatikan kakek pelayan itu sehingga dia akan dapat mengetahui kalau kakek itu diserang orang. Akan tetapi siapa pula mengira bahwa di situ akan terjadi pembunuhan?

Begitu Cin Liong mengeluarkan pertanyaan ini, semua orang terbelalak, muka mereka menjadi pucat dan cepat-cepat mereka menjauhkan diri, meninggalkan tempat itu seperti orang ketakutan, juga para pelayan yang lain menggelengkan kepala, tanpa menjawab pertanyaan itu.

"Wiirrr.... singgg....!" Cin Liong dengan tenang mengelak dan tangannyya bergerak menangkap benda hitam yang meluncur di dekat telinganya, yang tadinya menyambar ke arah lehernya. Dengan ibu jari dan telunjuk, ditangkapnya benda itu yang ternyata adalah sebatang senjata rahasia berbentuk paku yang biasanya disebut Touw-kut-ting (Paku Penembus Tulang) akan tetapi melihat warnanya yang hitam kehijauan, mudah diduga bahwa paku ini mengandung racun yang amat berbahaya! Begitu menangkap senjata rahasia itu, Cin Liong meloncat ke pintu, akan tetapi dia tidak melihat bayangan siapapnn yang boleh disangka melakukan penyerangan itu. Akan tetapi di daun pintu nampak sehelai kain yang tertancap pisau belati, di mana terdapat tulisan dengan huruf merah.

ENG-JIAUW-PANG MENANTI DI KUIL TUA HUTAN CEMARA SEBELAH TIMUR DUSUN.

"Hemm....!" Cin Liong merasa penasaran sekali dan marah. Kiranya dia berhadapan dengan perkumpulan yang mempunyai orang-orang pandai dan kejam sekali. Tentu penyerangan senjata rahasia tadi mereka maksudkan untuk mengujinya dan kalau dia lulus ujian, tidak mati oleh serangan itu, maka dia dianggap cukup berharga untuk berkunjung ke sarang perkumpulan itu! Dia tahu betapa bahayanya mendatangi sarang itu, karena para penjahat tentu telah siap siaga menanti kedatangannya. Akan tetapi, Cin Liong adalah seorang pendekar yang selain banyak pengalaman dan cukup waspada, juga memiliki ilmu kepandaian tinggi dan ketabahan luar biasa.

Cin Liong melemparkan paku itu dengan pengerahan tenaga sampai amblas ke dalam tanah, lalu dia meninggalkan rumah makan itu, langsung menuju ke arah timur dan keluar dari dusun itu melalui pintu gerbang sebelah timur. Tidak sukar mencari hutan cemara itu karena begitu keluar dari pintu gerbang, hutan itu sudah nampak di sebuah lereng bukit di kaki Pegunungan Tai-hang-san.

Sebenarnya, perkumpulan apakah yang menamakan dirinya Eng-jiauw-pang dan menjadi momok bagi para penghuni dusun itu? Eng-jiauw-pang (Perkumpulan Kuku Garuda) sebetulnya adalah sebuah perkumpulan atau perguruan silat yang tadinya dipimpin oleh seorang tokoh yang condong kepada golongan hitam atau kaum sesat. Mereka itu kadang-kadang suka melakukan perampokan, walaupun perampokan kaliber besar, bukan sembarangan perampok dan maling kecil saja. Mereka hanya melakukan perampokan terhadap rombongan besar para pedagang kaya atau pembesar tinggi yang melakukan perjalanan. Karena nama Eng-jiauw-pang sudah dikenal dan ditakuti, maka para piauwkiok (perusahaan pengawal barang kiriman) mendekatinya dan mengirim upeti-upeti sehingga perjalanan mereka tidak akan diganggu oleh perkumpulan ini. Upeti-upeti yang cukup banyak itulah yang menjadi sumber nafkah perkumpulan ini di samping hasil-hasil perampokan mereka terhadap rombongan-rombongan yang tidak mangirim upeti kepada mereka.

Perkumpulan Eng-jiauw-pang memang tadinya berasal dari barat, dari daerah Se-cuan. Akan tetapi semenjak pendirinya, yaitu Eng-jiauw Siauw-ong, tewas, perkumpulan itu meninggalkan Se-cuan dan di bawah pimpinan ketua mereka yang baru, mereka yang terdiri dari tiga puluh orang lebih, pindah ke timur dan kini sedang mencari-cari tempat yang baik sampai mereka tiba di hutan cemara di kaki Pegunungan Tai-hang-san itu.

Cin Liong memasuki hutan cemara dengan penuh kewaspadaan, maklum bahwa dia memasuki sarang harimau atau guha naga. Untung baginya bahwa hutan cemara itu tidaklah begitu liar atau gelap karena pohon-pohon itu tidak lebat. Tak lama kemudian setelah dia memasuki hutan cemara itu, nampaklah dinding kuil yang putih, agaknya tembok dinding itu baru mengalami perbaikan dan pengecatan baru. Juga pekarangannya nampak bersih, genteng-gentengnya ada pula sebagian yang baru, agaknya genteng-genteng tua yang jebol telah diganti dan diperbaiki. Akan tetapi, tempat itu kelihatan sunyi saja. Biarpun begitu, Cin Liong tidak tertipu oleh keadaan yang sunyi dan dia tetap waspada, yakin bahwa pada saat itu, mata pihak musuh tentu sedang mengamati gerak-geriknya. Selagi dia merasa heran mengapa pihak musuh yang biasanya suka bertindak curang itu belum juga turun tangan menyerangnya, tiba-tiba dia melihat gerakan di sekelilingnya dan tahu-tahu tempat itu sudah terkurung oleh sedikitnya dua puluh orang yang kesemuanya nampak beringas dan kejam. Dengan perasaan heran Cin Liong melihat betapa pada sinar mata dua puluh orang lebih itu terbayang kemarahan dan dendam kebencian yang mendalam kepadanya! Sungguh aneh pikirnya. Mengapa orang-orang Eng-jiauw-pang ini memusuhinya? Padahal, dia baru saja datang ke dusun itu dan hanya bertanya tentang Eng-jiauw-pang kepada pelayan rumah makan yang kemudian dibunuh oleh orang-orang Eng-jiauw-pang sendiri. Akan tetapi, hal ini tidak membuat pendekar ini merasa gentar dan diapun mencari dengan matanya. Melihat lima orang tinggi besar yang nampak keren dan agaknya menjadi pemimpin mereka semua, dia lalu menghadapi lima orang itu dan memandang tajam ke sekeliling.

"Kao Cin Liong, engkau datang mengantar kematian. Sungguh bagus dan memudahkan kami untuk membuat perhitungan denganmu!" Seorang di antara mereka yang berkumis lebat berkata.

Cin Liong mengerutkan alisnya. "Apakah kalian ini yang disebut Eng-jiauw-pang?""Benar!" jawab si kumis lebat. "Kami adalah para anggauta Eng-jiauw-pang yang hendak membalas kematian ketua kami!"

Cin Liong memandang heran. "Aku hanya lewat di dusun itu dan mendengar bahwa perkumpulan Eng-jiauw-pang mengacau penduduk, melakukan kejahatan sehingga para penghuni dusun hidup dicekam ketakutan. Akan tetapi sekarang kalian mengatakan hendak membalas kematian ketua kalian. Apa artinya ini?" Dia memandang si kumis dan melanjutkan pertanyaannya. "Dan bagaimana kalian dapat mengenal namaku?"

"Jenderal Kao Cin Liong, tidak perlu berpura-pura tanya lagi. Engkau telah membunuh ketua kami dan saat ini engkau akan menebus kematian ketua kami dengan nyawamu."

"Dan siapakah ketua kalian itu?"

"Ketua kami adalah mendiang Eng-jiauw Siauw-ong Liok Cau Sui! Engkau telah membunuhnya di Pulau Es...."

"Ahh!" Kini Cin Liong teringat. Ketika rombongan para datuk kaum sesat menyerbu Pulau Es, dia membela Pulau Es dan dalam pertempurau mati-matian itu dia telah merobohkan dan menewaskan seorang kakek yang memakai sarung tangan kuku garuda, yang merupakan lawan yang amat tangguh dan lihai. Kiranya kakek bersarung tangan kuku garuda itu adalah ketua dari gerombolan ini! "Kiranya kakek jahat itu ketua kalian? Memang, aku telah menewaskannya karena dia bersama orang-orang jahat lainnya melakukan penyerbuan kepada keluarga Pulau Es. Nah, kalian mau apa? Apakah kalian hendak menyusul ketua kalian itu ke neraka jahanam?"

Tentu saja dua puluh orang lebih yang mengurung pemuda itu menjadi marah mendengar ucapan ini, terutama sekali lima orang pemimpin mereka yang merupakan murid-murid utama dari mendiang Eng-jiauw Siauw-ong.

"Bocah sombong! Kematian sudah berada di depan mata dan engkau masih besar mulut!" teriak si kumis yang agaknya merupakan pemimpin nomor satu dan memang sesungguhnya dia adalah murid kepala atau twa-suheng dari semua murid Eng-jiauw Siauw-ong. Setelah memaki, lima orang itu lalu mengeluarkan sepasang sarung tangan kuku garuda, diturut oleh semua anggauta gerombolan itu dan kini semua tangan mereka telah mengenakan sarung kuku garuda yang terbuat daripada baja. Setelah mengenakan sarung tangan kuku garuda, mereka itu nampaknya menjadi bertambah bengis. Kemudian, atas isyarat si kumis, kepungan mereka makin merapat dan tiba-tiba beberapa orang anggauta gerombolan yang berdiri di belakang Cin Liong, menubruk dengan serangan mereka menggunakan kedua cakar garuda itu untuk mencengkeram. Mulut mereka mengeluarkan suara seperti teriakan parau burung garuda dan gerakan-gerakan mereka juga seperti burung yang mencakar-cakar. Kedua lengan mereka kadang-kadang dikembangkan dan mereka meloncat dengan gesitnya, menubruk dari atas seperti gerakan burung menyambar dari angkasa, menggunakan kedua cakar baja yang amat runcing itu. Akan tetapi, yang mereka serang adalah Kao Cin Liong, pendekar muda yang memiliki kesaktian, putera Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir. Begitu pemuda perkasa ini memutar tubuh dan menggerakkan kedua lengannya sambil membentak, tiga orang penyerang sudah terpelanting dan terbanting ke atas anah dengan keras, membuat mereka tidak dapat segera bangun kembali karena merasa kepala mereka pening. Akan tetapi, teman-teman mereka sudah menyerang dari empat jurusan sehingga Cin Liong terpaksa harus mengeluarkan kepandaiannya karena pengeroyokan para anggauta Eng-jiauw-pang itu, terutama lima orang pimpinan mereka, bukan merupakan lawan yang lunak!

Kao Cin Liong adalah seorang pendekar gemblengan yang berjiwa gagah perkasa, selalu siap untuk membela yang lemah menentang yang jahat tanpa dipengaruhi perasaan benci. Yang ditentangnya adalah perbuatan yang jahat dan mencelakakan orang lain, akan tetapi dia tidak pernah membenci orangnya. Oleh karena itu, dalam sepak terjangnya menghadapi kejahatan, selalu dia berniat untuk menghukum dan mendidik, tidak mau sembarangan membunuh orang. Tentu saja kalau dia sudah berpakaian jenderal, sikap dan tindakannya lain lagi. Sebagai perajurit tentu saja dia harus membasmi musuh negara sesuai dengan hukum yang berlaku. Menghadapi Eng-jiauw-pang ini, diapun tadinya bermaksud untuk menghajar dan menghukum mereka agar bertobat dan tidak berani mengacau rakyat lagi. Akan tetapi setelah mereka mengeroyok, dia terkejut dan mendapat kenyataan betapa para anggauta perkumpulan ini benar-benar memiliki kepandaian silat yang kuat. Apalagi lima orang pemimpin mereka itu sungguh merupakan lawan berbahaya setelah mereka maju bersama, dan pengeroyokan kurang lebih dua losin orang itu membuatnya repot juga. Untuk dapat menghajar lawan sedemikian banyaknya dia harus memiliki tingkat jauh lebih tinggi daripada para lawan itu. Akan tetapi kenyataannya dialah yang terdesak karena dia tadinya tidak ingin membunuh dan hanya menggunakan ilmu silat biasa saja. Melihat betapa dia malah terdesak, terpaksa Cin Liong merobah permainannya dan demi keselamatannya sendiri, kalau perlu dia harus merobohkan beberapa orang lawan yang mungkin saja dapat menewaskan lawan karena dia akan mengeluarkan ilmu simpanannya.

"Hyaaaattt....!" Si kumis tebal menyerang dengan ganasnya, kedua tangan cakar bajanya menyambar cepat dan yang nampak hanya sinar hitam dua gulung menyambar ke arah muka dan dada Cin Liong. Serangan ini disusul oleh serangan empat orang kawannya dari kanan kiri dan belakang. Cin Liong meloncat dan tubuhnya melesat keluar dari kepungan lalu tiba-tiba tubuhnya mendekam setengah menelungkup di atas tanah. Para pengeroyok merasa girang sekali, mengira bahwa pemuda itu lelah atau kehabisan tenaga atau terjatuh. Belasan orang anak buah Eng-jiauw-pang seperti berebut menubruk musuh yang sedang mendekam di atas tanah itu.

"Haiiiikk!" Tiba-tiba Cin Liong mengeluarkan suara melengking nyaring dan tubuhnya yang tadi mendekam secara tiba-tiba bergerak, kaki tangannya mencuat ke sekelilingnya dan angin yang dahsyat menyambar seperti badai mengamuk. Para pengeroyoknya terkejut sekali, mereka berteriak kaget dan kesakitan dan belasan orang itupun terpelanting berjatuhan dengan terbanting keras dan ada yang terlempar sampai beberapa tombak jauhnya! Dalam segebrakan itu saja, empat orang pengeroyok tewas seketika, empat orang lain terluka parah dan beberapa orang lagi hanya terlempar dan mengalami kekagetan saja, hanya lecet-lecet karena terbanting dan terguling-guling. Tentu saja para anggauta Eng-jiauw-pang terkejut sekali. Mereka tidak tahu bahwa ketika mendekam tadi, Cin Liong mengeluarkan ilmu simpanan yang dipelajarinya dari ayahnya, Si Naga Sakti Gurun Pasir. Itulah Ilmu Sin-liong-hok-te (Naga Sakti Mendekam Di Tanah) dan ketika dia mendekam sebetulnya dia sedang mengerahkan sin-kang yang mengambil tenaga inti dari bumi. Ketika belasan orang pengeroyok itu menyerang dan menubruknya seperti hendak berlomba mencengkeramnya, Cin Liong mempergunakan Ilmu Sin-liong-cian-hoat (Silat Naga Sakti), maka akibatnya sedemikian hebat. Lima orang pemimpin Eng-jiauw-pang dan sisa anak buah mereka melihat kehebatan pemuda ini menjadi gentar. Mereka tahu bahwa kalau dilanjutkan pengeroyokan itu, akhirnya mereka semua akan roboh dan tewas. Maka lima orang pemimpin itu mengeluarkan seruan memberi isyarat kepada para anak buahnya untuk melarikan diri. Merekapun berloncatan pergi sambil menyeret teman-teman yang tewas atau terluka.

Cin Liong sendiri masih tertegun melihat akibat dari ilmunya tadi. Jarang dia menggunakan ilmu simpanan itu dan dia selalu merasa tertegun menyaksikan kehebatan ilmu yang dipelajarinya dari ayahnya. Dia termangu-mangu, mempertimbangkan apakah sepak terjangnya tadi tepat, dalam segebrakan saja dia telah membunuh dan melukai banyak orang. Karena dia sendiri merasa agak menyesal, maka ketika melihat semua lawan melarikan diri, diapun tidak mau mengejar dan hanya berdiri memandang sampai mereka semua lenyap dari pandang matanya. Setelah menarik napas panjang, Cin Liong lalu melangkah memasuki hutan itu lebih dalam karena dia ingin mencari kuil tua yang menjadi sarang Eng-jiauw-pang. Dia tadi sudah memberi hajaran kepada mereka, akan tetapi dia harus menemukan sarang mereka dan membasmi sarang itu agar mereka bertobat dan tidak berani lagi beraksi mengumbar kejahatan mereka. Kuil tua itu ternyata sudah mengalami banyak perbaikan. Temboknya dicat baru, gentengnya banyak yang diganti baru dan dari luar saja sudah nampak bahwa kuil tua itu kini sudah menjadi bersih dan terawat. Bahkan di pekarangan kuil itu banyak ditanami kembang dan juga nampak bersih, tanda bahwa setiap hari tentu disapu. Akan tetapi ketika Cin Liong menghampiri kuil itu, kelihatan sunyi sekali. Tentu mereka sudah melarikan diri semua, pikirnya. Mereka agaknya dapat menduga bahwa aku tentu akan mendatangi sarang mereka.

Namun dia tetap bersikap hati-hati dan waspada ketika memasuki kuil. Dia tahu bahwa menghadapi musuh seperti Eng-jiauw-pang itu, dia harus bersikap hati-hati karena mereka tentu tidak segan-segan menggunakan kecurangan dan dia tidak akan merasa heran andaikata mereka kini memasang perangkap untuknya di dalam kuil ini. Maka, diapun melangkah dengan hati-hati ke dalam kuil yang sudah tidak dipergunakan sebagai tempat sembahyang itu. Ruangan depan kosong, juga ketika dia memeriksa ke ruangan dalam dan kamar-kamar di sekitarnya, tidak menemukan seorangpun. Akan tetapi Cin Liong tetap curiga. Dia melihat sesuatu yang tidak wajar dalam kekosongan kuil ini. Biasanya, kalau orang-orang meninggalkan sarang mereka dengan tergesa-gesa karena mengira bahwa sarang itu akan diserbu musuh, tentu para penghuninya pergi membawa barang-barangnya dan kamar-kamar itu tentu akan mawut, barang-barang ada yang kececeran dan dibiarkan porak-poranda. Akan tetapi di dalam ruangan dan kamar-kamar di kuil ini tidak nampak tanda-tanda demikian itu. Semua kamar tetap bersih dan barang-barang seperti tempat pakaian dan lain-lain masih utuh, juga tidak ada tanda-tanda orang membawa pergi barang-barang dengan tergesa-gesa. Apakah para anggauta Eng-jiauw-pang itu langsuug melarikan diri tanpa singgah dulu di sarang mereka saking takutnya? Nampaknya begitulah atau.... ada maksud tertentu dari mereka. Kalau benar tidak ada orangnya dan tempat ini sudah ditinggalkan para penjahat itu, sebaiknya dibakar saja, pikir Cin Liong.

Tiba-tiba Cin Liong tak bergerak dau mencurahkan perhatian kepada suara yang didengarnya. Suara itu datang dari arah belakang kuil itu, suara ah-ah-uh-uh, bukan seperti suara manusia, diselingi suara berdebukan seperti benda dipukul-pukulkan di lantai. Dengan hati-hati sekali dan penuh kewaspadaan, seluruh syaraf di tubuhnya menegang dan siap bergerak melindungi diri, Cin Liong lalu menuju ke ruangan belakang, satu-satunya ruangan yang belum dimasukinya. Daun pintu yang menembus dari ruangan tengah ke ruang belakang itu tertutup dan dengan perlahan dan hati-hati Cin Liong mendorongnya terbuka.

"Uhhh.... uhhhh....!"

Cin Liong melihat seorang gadis cantik yang terbelenggu kaki tangannya, diikat di atas sebuah dipan kayu. Mulut gadis itu ditutup pula dengan sebuah saputangan yang diikatkan ke belakang kepala sehingga mulutnya hanya dapat mengeluarkan suara ah-ah-uh-uh dan gadis itu mencoba melepaskan diri, meronta-ronta dengan keras. Akan tetapi belenggu kaki tangannya itu terlampau kuat sehingga kaki dipan kadang-kadang terangkat sedikit dan memukul-mukul lantai mengeluarkan suara dak-duk-dak-duk.

Biarpun apa yang dilihatnya itu sudah jelas, yaitu seorang gadis tawanan yang ditinggalkan di dalam ruangan belakang kuil itu, namun Cin Liong tidak tergesa-gesa menghampiri, melainkan menoleh ke kanan kiri dan meneliti keadaan sekitar tempat itu. Dia tidak mau kalau sampai terjebak memasuki perangkap yang dipasang para penjahat. Melihat pintu terbuka dan muncul seorang pemuda tampan, gadis itu menghentikan gerakannya meronta-ronta tadi dan kini ia memandang kepada Cin Liong dengan kedua mata basah. Gadis itu menangis dan sinar matanya mewakili mulutnya untuk minta tolong kepada Cin Liong.

Setelah meneliti keadaan dan merasa yakin bahwa di situ tidak ada orang lain kecuali dia sendiri dan gadis yang dibelenggu itu, Cin Liong melangkah masuk dan menghampiri gadis itu sambil memperhatikannya. Seorang gadis yang cantik sekali, usianya tentu sudah dua puluh tahun lebih, dengan bentuk tubuh yang matang dan padat. Agaknya gadis itu menjadi tawanan baru dan belum diganggu oleh para penjahat. Hal ini dapat diduga melihat betapa pakaian gadis itu masih lengkap dan utuh. Melihat pakaiannya yang serba mewah, dapat diduga pula bahwa gadis ini tentulah puteri seorang hartawan atau bangsawan. Pakaian itu belum diganggu, bahkan jubah luar terbuat daripada bahan kain indah berwarna merah itupun masih menempel di tubuhnya. Akan tetapi, kaki tangannya dibelenggu amat kuatnya, dengan menggunakan pintalan kain sebagai tali. Halus dan tidak menyakitkan kaki tangan, akan tetapi ulet dan sukar untuk melepaskan diri dari belenggu pintalan kain ini.

Cin Liong kini cepat menghampiri dan pertama-tama dia melepaskan saputangan yang menutupi mulut dan diikatkan ke belakang kepala itu. Begitu bebas, gadis itu lalu berkata dengan suara memohon, "Ah, tolonglah aku.... tolonglah aku.... mereka membelengguku dan meninggalkan aku di sini, sebentar lagi mereka tentu datang kembali. Tolong lepaskan belenggu kaki tanganku...."

Tanpa diminta sekalipun tentu saja Cin Liong bermaksud membebaskannya. Dia lalu melepaskan ikatan yang membelenggu kaki dan merasa kasihan karena ternyata ikatan itu kuat sekali sehingga ketika dilepaskan, kulit kaki di pergelangan yang halus putih itu menjadi merah kebiruan! Diapun cepat melepaskan tali pengikat kedua lengan. Akan tetapi begitu dilepaskan kedua tangannya, tiba-tiba gadis itu mencengkeram ke arah perut sendiri. Wajahnya berobah pucat, keringat membasahi muka dan lehernya dan diapun mengeluh, "Aduhhh.... perutku....aduhhh...."

Cin Liong terkejut sekali. "Perutmu kenapa, nona...."

"Aduhh.... di antara mereka tadi.... ada yang menampar ke arah perutku.... tadi tidak begitu terasa, akan tetapi sekarang.... aduhhhh.... seperti terbakar rasanya...." Dan gadis itupun menangis, kedua tangannya mencengkeram ke arah perutnya dan tubuhnya berkelojotan seperti dalam keadaan yang amat nyeri.

Cin Liong teringat bahwa orang-orang Eng-jiauw-pang pandai mempergunakan racun. Agaknya gadis ini terluka atau terkena racun. "Maaf, biarkan aku memeriksanya, nona, mungkin aku dapat menolongmu...." katanya dengan perasaan kasihan kepada gadis itu dan marah kepada para penjahat. Agaknya orang-orang Eng-jiauw-pang itu telah menaruhkan racun entah apa yang akan terasa apabila gadis itu terbebas dari belenggunya. Racun yang aneh dan jahat sekali. Karena khawatir kalau-kalau keadaan gadis sudah parah dan sukar ditolong lagi, Cin Liong mengesampingkan segala perasaan malu dan canggung. Dengan hati-hati dia menggunakan kedua tangannya untuk melepaskan kancing baju gadis itu di bagian perut, untuk memeriksa keadaan perutnya yang agaknya terluka hebat itu, entah luka di luar ataukah di dalam. Pada saat dia berdiri membungkuk dengan kedua tangan bekerja membuka kancing dan mukanya menunduk, matanya memandang penuh perhatian ke arah perut, tiba-tiba kedua tangan gadis itu bergerak dan jubah merahnya mengebut. Bubuk merah halus yang seperti asap memenuhi udara dan sebagian besar menimpa muka Cin Liong. Pemuda ini sama sekali tidak menyangka. Tadi ketika dia melepaskan belenggu dan berada di dekat nona itu, memang dia mencium bau harum yang aneh. Akan tetapi karena keadaan gadis itu sebagai seorang tawanan yang dibelenggu kuat-kuat dan kemudian bahkan menderita nyeri yang hebat, keraguan dan kecurigaan sedikitpun terhadap gadis itu tidak ada. Maka, betapapun lihainya, dalam keadaan berdiri bungkuk seperti itu, dan dekat sekali dengan nona yang ditolongnya, ketika nona itu menyerang dengan bubuk merah yang agaknya memang sudah sejak tadi memenuhi jubah merahnya, pendekar ini sama sekali tidak mampu menghindarkan diri dan mukanya terkena bubuk merah yang harum.

"Hehhh....!" Dia masih dapat mencengkeram ke depan, maksudnya untuk menangkap gadis yang telah mengkhianatinya itu. Akan tetapi, dengan gerakan yang luar biasa gesitnya, gadis cantik itu menangkis dan meloncat jauh.

"Dukk!" Gadis itu terlempar dan Cin Liong juga merasa betapa tangkisan itu mengandung tenaga sin-kang yang amat kuat. Tahulah dia bahwa gadis itu memang seorang pandai yang pura-pura tertawan sehingga dia terkecoh. Akan tetapi terlambat. Kepalanya terasa ringan dan tiba-tiba saja semuanya gelap baginya. Tanpa diketahuinya, dia roboh terkulai di atas pembaringan itu dalam keadaan pingsan.

Cin Liong tidak tahu berapa lama dia tidak sadar. Akan tetapi ketika dia siuman, dia mendapatkan dirinya berada di dalam ruangan yang sama. Akan tetapi kini dialah yang terikat dan terbelenggu di atas dipan dan ketika dia memandang, ternyata gadis cantik berpakaian mewah tadi juga berada di situ, duduk di atas sebuah kursi dan sedang memandang kepadanya dengan sepasang mata tajam penuh selidik. Mata itu amat tajam bersinar-sinar. Sukarlah membaca perasaan yang berada di balik sinar mata itu. Dan tiga batang lilin di atas meja menandakan bahwa hari telah malam! Juga suasana kuil yang tadinya sunyi kini berobah. Dia mendengar suara orang-orang di luar ruangan itu dan tak lama kemudian, daun pintu yang menembus ruangan itu dari belakang terbuka. Muncullah dua orang pria datang membawa baki-baki terisi hidangan makanan dan minuman. Dengan sikap hormat mereka mengatur hidangan itu di atas meja. Akan tetapi gadis itu sama sekali tidak melirik, tidak memperdulikan dan pandang matanya masih terus ditujukan kepada Cin Liong dengan pandang mata yang aneh. Cin Liong tahu bahwa dua orang pria itu adalah anggauta-anggauta Eng-jiauw-pang, karena di pinggang mereka tergantung sepasang sarung tangan cakar baja itu.

"Siocia (nona), silahkan makan dulu, hari sudah malam!" kata seorang di antara mereka dengan sikap hormat dan juga penuh rasa sayang. Gadis itu hanya mengangguk, lalu memberi isyarat dengan tangannya agar dua orang itu pergi lagi meninggalkannya sendirian di ruangan itu. Dua orang itu menjura, lalu keluar dan menutupkan daun pintu tembusan ke dapur itu dengan perlahan dan hati-hati.

Cin Liong yang sudah siuman itu sejak tadi pura-pura masih belum sadar, dan hanya mengintai dari balik bulu matanya saja. Kini dia melihat nona itu menghadapi hidangan dan mulai makan. Akan tetapi, agaknya hidangan yang banyak macamnya dan kelihatan lezat sehingga menimbulkan selera bagi Cin Liong yang memang lapar sekali, agaknya tidak membuat nona itu bernafsu untuk makan. Hanya sedikit ia makan, lalu ia menenggak tiga cawan arak.

Cin Liong kini sadar bahwa dia sudah terperosok ke dalam perangkap yang dipasang oleh gadis ini secara cerdik sekali. Dia menduga-duga siapa gerangan gadis ini. Tak mungkin anggauta biasa dari Eng-jiauw-pang karena dua orang anggauta perkumpulan itu tadi bersikap hormat kepadanya dan menyebutnya nona. Tentu seorang tokoh pimpinan. Dan kecantikan seorang wanita dengan sikapnya yang pendiam dan halus itu bahkan lebih mengerikan dan berbahaya daripada sikap seorang musuh yang kasar dan bengis seperti orang-orang gerombolan Eng-jiauw-pang. Diam-diam dia mengerahkan tenaga untuk menggunakan sin-kangnya menembus jalan darah yang tertotok. Dia terkejut. Totokan itu istimewa sekali dan betapapun dia mengerahkan sin-kang, tetap saja dia tidak mampu menggerakkan pusarnya dan hawa di dalam pusarnya tetap dalam keadaan tidur karena tidak ada yang menggerakkan keluar. Celaka, pikirnya. Kalau dia tidak dapat mengerahkan sin-kangnya, tentu dia tidak dapat melindungi dirinya. Tali-tali belenggu itu bukan apa-apa baginya kalau dia mampu mengerahkan tenaga sin-kangnya. Dia harus bersabar sampai pengaruh totokan itu menghilang atau menjadi lemah.

Tiba-tiba Cin Liong mendengar langkah-langkah kaki dan diapun memejamkan matanya kembali dan mendengarkan dengan penuh perhatian. Daun pintu sebelah depan terbuka dan muncullah lima orang laki-laki dipimpin oleh si kumis tebal. Mereka ini adalah pimpinan gerombolan Eng-jiauw-pang! Diam-diam Cin Liong merasa betapa jantungnya berdebar kencang. Agaknya bukan hanya dia yang terkejut melihat munculnya lima orang tokoh Eng-jiauw-pang yang lihai itu, juga gadis cantik itu bangkit berdiri dan memandang kepada mereka dengan alis berkerut.

"Suheng berlima datang memasuki ruangan ini mau apakah?" tanyanya dengan suara dingin.

Si kumis tebal melangkah maju. "Sumoi, kami datang karena khawatir akan dirimu dan ingin melihat tampangnya musuh besar kita ini. Dia harus dibunuh secepatnya, sumoi, karena kalau dibiarkan hidup lebih lama lagi, dia bisa mendatangkan bencana bagi kita. Dia amat lihai dan berbahaya."

"Twa-suheng, sudah kukatakan kepada kalian bahwa selama semalam ini, dia menjadi tawananku dan boleh kuperlakukan sesuka hatiku. Tidak boleh ada orang lain mencampuriku! Besok barulah kalian boleh bicara mengenai dia dan boleh kalian lakukan sesuka hati kalian. Nah, sekarang keluarlah, jangan mengganggu aku yang sedang termenung!"

"Akan tetapi, kita semua amat benci dan sakit hati kepadanya. Ah, betapa ingin aku menggorok lehernya dan minum darahnya untuk memuaskan hatiku. Siang tadi dia menambah sakit hati kita dengan membunuh empat orang anak buah dan melukai beberapa orang lagi. Dia harus mati!" kata orang ke dua yang kepalanya botak.

"Ji-suheng!" gadis itu berkata, nada suaranya marah. "Bagaimanapun juga, orang itu telah membunuh ayahku. Engkau hanyalah murid ayah, akan tetapi aku puterinya! Dendam sakit hatiku jauh lebih mendalam dibandingkan denganmu, maka janganlah bicara tentang dendam kebencian itu dengan aku!"

"Bagaimanapun juga, dia harus kupatahkan dulu siku dan lututnya, barulah hatiku lega," kata pula orang pertama yang disebut twa-suheng dan yang berkumis tebal itu. "Kalau sudah kupatahkan lutut dan sikunya, tentu dia tidak akan dapat melepaskan diri lagi dan tidak akan membahayakan dirimu, sumoi."

"Twa-suheng dan suheng sekalian. Apakah kalian tidak percaya kepadaku? Ingat, siapa yang telah menawannya? Kalian berlima, dibantu oleh para anak buah, masih tidak mampu menangkapnya, bahkan mengorbankan nyawa empat orang anak buah. Sedangkan aku seorang diri saja mampu membekuknya. Akulah yang menangkapnya dan aku yang berhak memutuskan apa yang haris dilakukan dengan dia! Aku pula keturunan tunggal dari ayah. Sudahlah, aku hanya ingin bersama musuh besarku semalam ini, biarkan aku melampiaskan dendam pribadiku dengan caraku sendiri. Besok baru kita bicarakan hukuman apa yang akan kalian berikan kepadanya. Keluarlah sebelum aku marah!"

Lima orang itu saling pandang, lalu terpaksa mereka pergi meninggalkan ruangan itu. Seorang di antara mereka, yang tubuhnya pendek kecil kurus, meludah ke arah Cin Liong ketika mereka pergi, dan daun pintu mereka tutupkan dari luar dengan agak keras, tanda bahwa hati mereka tidak puas dengan sikap gadis itu. Diam-diam Cin Liong yang mengikuti semua ini harus mengakui bahwa pada saat itu, gadis cantik inilah yang telah menyelamatkannya. Karena, kalau tidak dicegah oleh gadis itu, tentu dia sudah dibunuh atau setidaknya dibikin cacat oleh lima orang itu tanpa dia mampu melawan sama sekali. Dia menarik napas lega.

Tiba-tiba gadis itu menoleh kepadanya. "Kao Cin Liong, apakah engkau masih hendak pura-pura belum sadar?"

Cin Liong membuka matanya, menoleh dan memandang. Dia mampu menggerakkan tubuhnya, akan tetapi tidak dapat mengerahkan sin-kangnya. Kemudian dia menarik napas panjang.

"Nona, kalau orang-orang seperti anggauta gerombolan Eng-jiauw-pang memusuhi aku, hal itu tidaklah aneh karena mereka adalah orang-orang jahat. Akan tetapi kalau sampai seorang gadis cantik dan pandai seperti engkau memusuhiku, sungguh membuat aku heran dan penasaran sekali!"

Gadis itu mengejek. "Manusia sombong! Engkau hendak mengatakan bahwa seorang pendekar besar, seorang jenderal dan panglima muda seperti engkau tidak pantas dimusuhi oleh orang baik-baik, begitukah?"

"Aku tidak biasa memuji diri sendiri, nona. Akan tetapi aku selalu hanya menentang kejahatan, dan engkau sama sekali tidak kelihatan sebagai orang jahat. Maka aku merasa heran melihat engkau menjebakku dan menawanku seperti ini."

"Engkau tidak usah heran. Bukankah engkau yang telah menewaskan Eng-jiauw Siauw-ong Liok Can Sui? Nah, aku adalah Liok Bwee, puterinya. Ayahku kaubunuh dan aku berusaha membalas dendam itu. Apa anehnya?"

"Aneh, sungguh aneh dan sukar dipercaya....!" Cin Liong berkata, disengaja untuk mengulur waktu dan mencari kesempatan membebaskan diri.

"Apanya lagi yang aneh?" Liok Bwee bertanya penasaran.

"Mendiang Eng-jiauw Siauw-ong adalah orang jahat yang telah diperalat oleh Hek-i Mo-ong dan antek-anteknya, para datuk sesat, untuk menyerang Pulau Es, menyerang keluarga Pendekar Super Sakti. Dan engkau, nona, engkau mengaku puterinya, sungguh tidak pantas dan aneh sekali bahwa seorang datuk sesat seperti dia mempunyai seorang puteri yang cantik dan gagah perkasa seperti engkau...."

Wajah itu sebentar merah sebentar pucat dan sepasang mata yang bening itu menatap wajah Cin Liong yang tampan. "Sudahlah, bagaimanapun juga, aku adalah puterinya dan aku harus membalas dendam kematiannya itu."

"Nona Liok Bwee, ayahmu tewas karena kesalahannya sendiri. Andaikata dia tidak kebetulan tewas karena berkelahi melawan aku yang membela keluarga Pulau Es, tentu dia akan tewas pula oleh keluarga yang sakti itu."

"Cukup! Apakah kaukira aku mau menjadi anak yang tidak berbakti?" Dan di dalam suara gadis ini terkandung kesedihan yang besar.

"Aku sudah terjatuh ke tanganmu, terserah kepadamu, nona. Aku tidak takut mati. Hanya aku merasa sayang sekali, mengapa seorang gagah perkasa seperti engkau ini sampai menggunakan akal busuk untuk menangkapku. Aku tahu bahwa engkau seorang gagah perkasa, sehingga engkau tidak membolehkan ketika para suhengmu hendak membunuhku tadi. Akan tetapi, kalau engkau membunuhku dalam keadaan aku sudah terjebak begini, sungguh aku merasa amat sayang, nona. Tidak patut seorang seperti nona ini melakukan pembunuhan keji secara curang, tanpa memberi kesempatan orang itu untuk membela diri. Jauh lebih baik mati sebagai seorang gagah daripada hidup sebagai seorang pengecut."Gadis itu memejamkan matanya dan dari kedua matanya itu menitik turun beberapa butir air mata. "Betapa kejamnya engkau.... betapa kejamnya engkau menusuk-nusuk perasaan hatiku. Aku memang selamanya tidak setuju dengan sepak terjang ayah. Ibu sampai meninggal dunia karena sedih memikirkan ayah yang suka bergaul dengan kaum penjahat.

Sepeninggal ibu, ayah menjadi semakin nekat, bahkan mengangkat diri menjadi seorang di antara datuk kaum sesat. Ah, aku malu.... aku menyesal sekali. Ketika ayah diajak Hek-i Mo-ong, aku sudah mencegahnya, menangis, akan tetapi percuma saja. Ketika aku mendengar bahwa ayah tewas di tangan Jenderal Muda Kao Cin Liong, tentu saja aku merasa sakit hati. Akan tetapi apa dayaku? Aku mendengar bahwa Kao Cin Liong adalah putera Naga Sakti Gurun Pasir! Akan tetapi, para suhengku tak pernah putus asa dan pada suatu hari mereka menemukan jejakmu. Akan tetapi mereka semna kalah olehmu. Ah, betapa kagum hatiku. Selama hidupku, belum pernah aku melihat pendekar seperti engkau, yang dapat memukul mundur lima orang suhengku berikut semua anak buah! Akan tetapi, aku harus membalas kematian ayahku, maka aku.... aku...."

Cin Liong diam-diam merasa girang. Tidak keliru dugaannya. Gadis ini mempunyai kelemahan, dan pada dasarnya bukanlah seorang jahat atau kejam. Akan tetapi keadaan yang memaksanya karena ia puteri ketua Eng-jiauw-pang. Maka diapun tersenyum.

"Nona, aku tidak takut mati dan mati di tanganmu jauh lebih menggembirakan daripada mati di tangan orang-orang Eng-jiauw-pang itu. Kalau engkau menganggap sudah sepatutnya aku mati karena membela kebenaran, nah, bunuhlah, jangan ragu-ragu lagi. Kalau nona ragu-ragu dan melakukan tindakan yang berlawanan dengan suara hati kecil, nona akan merasa menyesal selama hidup."

Gadis itu mengusap air matanya dan dengan mata basah memandang kepada Cin Liong, lalu menggeleng-geleng kepalanya. "Tidak.... tidak.... sejak aku berhasil meringkusmu di sini dan sampai sekarang, aku tiada hentinya menatap wajahmu dan terjadi perang di hatiku.... membuat aku gelisah dan bingung. Tidak, Kao Cin Liong, aku tidak mungkin dapat membunuhmu...."

Cin Liong tersenyum. "Sudah kuduga, nona Liok Bwee. Seorang gadis sepertimu ini, tidak mungkin menjadi seorang yang jahat atau curang. Tak mungkin engkau mau membunuh orang begitu saja. Engkau gagah dan baik...."

"Bukan....bukan begitu.... kalau bukan engkau musuh besarku, tentu sudah kubunuh sejak tadi!"

Cin Liong mengerutkan alisnya. Wanita ini sungguh aneh, pikirnya. Dan memang kalau tadi dia memuji-muji, hal itu hanya dilakukannya untuk mengulur waktu sedangkan diam-diam dia terus berusaha untuk memulihkan tenaganya, untuk membuyarkan jalan darahnya yang buntu tertotok. Dia sendiri tidak mungkin dapat mengharapkan puteri seorang datuk sesat dapat menjadi seorang yang berbudi mulia dan baik. Watak seseorang amat dipengaruhi oleh lingkungannya, bahkan hampir dapat dipastikan bahwa watak dibentuk oleh lingkungan. Kalau sejak kecil terlahir dan tumbuh di dalam lingkungan penjahat, mana mungkin gadis ini tidak menjadi jahat pula?

"Apa yang kaumaksudkan, nona?" tanyanya dengan hati berdebar tegang dan tidak enak.

"Kao Cin Liong, aku.... sejak kecil aku bertemu dengan orang-orang kasar, setelah aku dewasa, ayahku berkali-kali mendesak agar aku suka menikah. Akan tetapi, di antara pemuda-pemuda kasar dan jahat itu, mana ada yang dapat menarik perhatianku? Sejak dewasa aku seringkali membayangkan dan mengimpikan jodoh seorang pemuda yang gagah perkasa, halus budi dan seperti pendekar-pendekar yang digambarkan dalam dongeng. Maka, begitu melihatmu dikeroyok oleh para suhengku dan dengan gagah perkasa engkau mengalahkan mereka, melihat sikapmu yang halus, wajahmu, gerak-gerikmu.... sejak pertama kali melihatmu aku sudah jatuh cinta padamu, dan aku.... aku menganggapmu sebagai seorang taihiap yang patut untuk kulayani selama hidupku. Kao-taihiap.... aku cinta padamu.... dan aku tidak akan mengingat lagi tentang permusuhan antara kita kalau saja engkau sudi menerimaku.... menerima cintaku...."

Cin Liong kaget bukan main. Sungguh tidak disangkanya bahwa urusan akan membelok ke arah itu. Mukanya menjadi merah dan jantungnya berdebar. Cinta? Betapa anehnya bicara tentang cinta pada waktu seperti itu, dalam keadaan seperti itu, di waktu nyawanya bergantung pada sehelai rambut.

"Nona Liok, maksudmu...."

"Terimalah aku sebagai isterimu, taihiap. Hanya kalau aku menjadi isterimu saja aku akan dapat menghabiskan seluruh permusuhan antara kita. Cinta seorang isteri lebih kuat daripada bakti kepada ayah yang sudah meninggal...."

"Ah, tidak mungkin, nona. Kita baru saja bertemu, bagaimana mungkin bagiku untuk bicara soal cinta?"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar