16 Kisah Para Pendekar Pulau Es

Ci Loan tersenyum manis lalu berkata. "Aku ingin mengambil bunga-bunga mawar yang kusukai. Banyak mawar tumbuh di bagian sana. Harap kalian menunggu di sini saja." Tanpa menanti jawaban Ci Loan lalu meninggalkan mereka. Karena memang sebelumnya sudah ada permufakatan antara kedua orang gadis itu, maka Seng Nio juga tidak menahan kepergian calon kakak iparnya itu.

Ditinggalkan berdua saja dengan Seng Nio di tempat sunyi dan romantis itu, Ciang Bun tidak merasa canggung, hanya merasa kurang enak. Dia lalu duduk di atas batu hitam yang besar. Ketika Seng Nio melangkah mendekatinya, dia pura-pura tidak tahu dan memandang ke bawah puncak yang kini menjadi semakin terang oleh sinar matahari yang makin meninggi.

Sejak tadi Seng Nio memandang kepada pemuda itu dengan jantung berdebar tegang. Dari calon kakak iparnya ia sudah mendengar bahwa kakaknya, juga ayahnya, menginginkan sekali agar ia dapat berjodoh dengan Suma Ciang Bun! Dan bahwa pagi hari ini, atas anjuran kakaknya, Ci Loan sengaja mengajaknya ke tempat itu dan sengaja pula meninggalkan ia berduaan saja dengan pemuda itu. Tentu saja ia tidak perlu ditanya dua kali untuk menjadi jodoh Suma Ciang Bun! Begitu bertemu ia sudah merasa kagum dan tertarik sekali. Pemuda ini adalah seorang pendekar keturunan keluarga Pulau Es, seorang pemuda yang menurut kakaknya memiliki ilmu kepandaian sangat hebat! Selain itu, juga cukup pandai dalam hal kesusasteraan, ditambah lagi wajahnya yang tampan dan wataknya yang budiman dan lemah lembut!

"Taihiap...."

Ciang Bun sadar dari lamunannya dan menoleh ketika mendengar suara yang halus itu di sampingnya. Gadis itu sudah berdiri dekat dengannya dan Ciang Bun mengerutkan alisnya melihat betapa gadis itu memandangnya dengan sinar mata begitu mesra dan mengaudung daya pikat yang kuat.

"Ada apakah, nona?"

"Suma-taihiap, aku.... aku mohon sesuatu darimu, kalau boleh...."

Melihat sikap nona yang ragu-ragu dan takut-takut itu, Ciang Bun tersenyum menenangkan. "Engkau minta apakah, nona? Katakanlah, sebagai seorang sahabat, kalau memang aku dapat memenuhinya, tentu takkan kutolak permintaanmu."

"Aku hanya.... mohon pctunjuk tentang ilmu silat...."

Ciang Bun tersenyum. "Nona, ayahmu adalah seorang guru silat yang berpengalaman, tentu dia lebih pandai membimbingmu dalam ilmu silat.... "

"Tapi, ayah dan Sim-ko mengatakan bahwa ilmu silatmu jauh lebih tinggi daripada tingkat ayah. Maka, aku mohon padamu, berilah sedikit petunjuk.... dan tempat ini amat baik untuk berlatih silat, bukan? Maukah engkau, taihiap?"

Tentu saja Ciang Bun merasa tidak enak kalau harus menolak begitu saja. Gadis ini dan sekeluarganya telah menerimanya sebagai tamu terhormat dan sudah bersikap amat ramah dan baik kepadanya. Wajarlah kalau sekarang dia memberi petunjuk ilmu silat kepada Seng Nio sekedar untuk membalas kebaikan mereka. Tentu saja tidak mungkin mengajarkan ilmu silat dalam waktu singkat. Maka diapun berkata ramah. "Baiklah, aku akan memberi sedikit petunjuk. Untuk itu engkau harus mainkan jurus-jurus silatmu dan aku akan mencoba untuk memperbaiki jurus-jurus itu."

"Terima kasih, taihiap. Engkau baik sekali. Nah, sambutlah jurus-jurus ini dan tunjukkan mana yang kurang betul!" Seng Nio tidak menanti jawaban dan langsung saja mulai menyerang pemuda itu dengan pukulan-pukulan kedua tangannya. Ia merasa gembira sekali mendapatkan kesempatan berlatih silat dengan pemuda yang dikaguminya ini dan mengharapkan dari latihan ini akan bukan saja dapat bersentuhan akan tetapi juga dengan harapan akan dapat meningkatkan keakrabannya.

Sebetulnya bukan maksud Ciang Bun agar gadis itu menyerangnya. Dengan melihat gadis itu bermain silat saja dia sudah akan dapat mengetahui bagian-bagian yang lemah. Akan tetapi karena Seng Nio telah menyerangnya, tentu saja diapun mengelak sambil memperhatikan. Dia melihat bahwa gadis ini tidak mengecewakan menjadi puteri seorang guru silat karena gerakan-gerakannya cukup cepat dan mengandung tenaga lumayan. Dia memberi kesempatan kepada gadis itu untuk menyerangnya beberapa jurus sambil memperhatikan. Tiba-tiba dia menangkap lengan Seng Nio.

"Tahan....!" Ciang Bun melepaskan lengan gadis itu dan melanjutkan. "Nona, jurusmu yang terakhir ini tadi mengandung kelemahan yang dapat merugikan dirimu. Maukah engkau mengulang agar dapat aku memberi contoh dan pembetulan?"

Seng Nio memandang dengan wajah berseri dan iapun mengulang serangannya yang terakhir, yaitu jurus Sian-jin-ci-louw (Dewa Menunjukkan Jalan). Serangan ini dilakukan dengan tangan kiri, menggunakan dua buah jari menusuk ke arah leher lawan dengan gerakan cepat.

Ciang Bun mengelak ke kanan dan dari kanan tangannya "masuk" melalui bawah ketiak gadis itu, menggunakan kesempatan selagi lengan gadis itu menyerang lurus sehingga dada di bawah lengan ini terbuka, tahu-tahu tangannya sudah membuat gerakan memukul ke arah dada di bawah ketiak, dekat buah dada kiri gadis itu.

"Ihhhh....!" Seng Nio menjerit manja dan mukanya berobah merah. Tentu saja Ciang Bun tidak sampai menyentuh dada itu. Tanpa memperdulikan muka gadis itu yang berobah merah seperti orang malu-malu, Ciang Bun memberi petunjuk."Jurus seranganmu itu cukup baik dan cepat, akan tetapi dengan serangan itu harus diketahui bahwa di bawah lenganmu menjadi terbuka dan pertahananmu lemah. Setiap serangan memang berarti membuka satu bagian pertahanan, karena itu cara menusukkan jari tangan itu tadi harus dilakukan cepat dan jangan sampai terulur sepenuhnya. Dengan demikian, andaikata serangan gagal dan lawan memasuki bagian yang lowong, lenganmu dapat cepat ditarik dan siku lengan dapat menangkis serangan lawan. Coba ulangi lagi, sekarang dengan lengan tidak terulur sepenuhnya dan siap membagi sedikit kewaspadaan untuk menjaga bagian yang terbuka."

Dengan gembira Seng Nio mengulang serangan dengan jurus Sian-jin-ci-louw itu. Pada saat lengannya meluncur dan jari tangannya menusuk ke arah leher Ciang Bun, pemuda ini mengelak dan seperti tadi, membalas dengan cepat, sekali ini bukan memukul melainkan menendang ke arah lambung yang terbuka.

"Dukk!" Seng Nio yang kini sudah waspada dan tidak menggunakan seluruh kekuatan pada serangannya tadi, menekuk siku dan lengannya menangkis ke bawah sehingga tendangan itu dapat tertangkis.

"Bagus! Sekarang lanjutkan, nona."

Dengan gembira Seng Nio melanjutkan dengan beberapa jurus, menyerang pemuda itu dengan sungguh-sungguh karena selain ingin memperoleh petunjuk, juga ia ingin bersentuhan dengannya. Kembali ada jurus yang diperbaiki dan sekali ini, pukulan Seng Nio menurut petunjuk Ciang Bun harus dilanjutkan atau dirobah menjadi cengkeraman untuk mencengkeram pergelangan tangan lawan.

"Begini sebaiknya, nona." kata Ciang Bun memberi contoh dengan pukulan seprrti tadi dan ketika si nona menangkis, pukulan itu berubah menjadi cengkeraman dan tahu-tahu pergelangan tangan gadis itu telah ditangkapnya. "Nah, sekarang engkau cobalah meniru gerakanmu tadi."

Seng Nio menirunya, menyerang dengan jurus yang sudah diperbaiki tadi, ketika Ciang Bun menangkis, cepat pukulannya berubah cengkeraman dan dia berhasil menangkap pergelangan tangan pemuda itu. Akan tetapi ia mencengkeram dengan kuat, tidak mau melepaskannya lagi sehingga Ciang Bun berseru kaget dan menarik lengannya. Karena tangannya memang jauh lebih besar, tarikan yang tiba-tiba itu membuat tubuh Seng Nio terguling! Tentu gadis itu akan roboh terbanting, kalau saja Ciang Bun tidak cepat-cepat menangkap dan merangkulnya.

Ciang Bun merangkul gadis itu hanya untuk menghindarkan tubuh gadis itu jatuh terbanting. Akan tetapi Seng Nio membiarkan dirinya dirangkul, bahkan menyandarkan kepalanya ke dada pemuda itu!

"Eh, nona, maafkan aku tidak sengaja...."

"Ah, tidak mengapa, taihiap, aku.... aku justeru senang sekali begini...." dan kini kedua lengan Seng Nio merangkul leher!

"Eh.... Tan-siocia, apa artinya ini....?" Ciang Bun menegur heran dan kaget, dengan lembut hendak melepaskan kedua lengan yang merangkul lehernya. Akan tetapi gadis itu memperkuat rangkulannya.

"Taihiap.... koko.... masih perlukah aku bicara....? Aku kagum padamu, aku jatuh cinta kepadamu...."

"Ihhh....!" Dengan sentakan agak keras Ciang Bun merenggutkan dirinya dan gadis itu terhuyung hampir jatuh. "Nona, jangan bersikap tidak sopan!"

Wajah Seng Nio berubah pucat dan kedua matanya memandang terbelalak. "Tapi.... tapi aku cinta...."

"Jangan bicara tentang cinta! Aku tidak mencinta siapapun!" Ciang Bun membentak marah. "Sikapmu sungguh tidak tahu malu....!"

Wajah yang pucat itu kini berubah merah sekali dan dengan isak perlahan Seng Nio meninggalkan Ciang Bun, lari mencari Ci Loan yang tadi sengaja menjauhkan diri dan memetik kembang yang sebenarnya hanya merupakan alasan yang dicari-cari saja. Melihat gadis ini lari sambil menangis, Ciang Bun lalu duduk di atas batu dan termenung. Baru terasa olehnya betapa kasarnya sikapnya tadi terhadap Seng Nio. Kekasaran yang tidak disengaja karena dia terkejut dan juga tidak senang mendengar pengakuan cinta gadis itu. Dan diapun termenung dengan bingung dan menyesal. Dia tahu bahwa kalau Seng Nio jatuh cinta kepadanya, hal itu sudahlah wajar. Akan tetapi dia, sebagai seorang pemuda, menerima pernyataan cinta seorang gadis dengan hati yang muak dan tidak suka, ini baru namanya tidak wajar dan dia merasa menyesal sekali. Akan tetapi, apa yang harus dilakukannya? Dia tadi bicara dan bergerak menurutkan naluri atau perasaan hatinya, tanpa disengaja dan baru sekarang dia tahu betapa dia telah menyakiti hati Seng Nio! Sampai lama dia termenung memikirkan keadaan dirinya sendiri dan makin banyak dia melihat kelainan pada dirinya, terutama dalam hal perasaan hatinya terhadap pria dan wanita.

"Suma-taihiap...."

Suara wanita yang halus ini menyadarkannya dari lamunan dan ketika dia menoleh, dilihatnya Ci Loan telah berdiri di dekatnya. Diapun cepat bangkit berdiri.

"Suma-taihiap, mana adik Seng Nio?" Ci Loan bertanya sambil tersenyum manis sekali. Senyum gadis ini memang manis sekali, pikir Ciang Bun. Akan tetapi senyum dibarengi pandang mata seperti itu selayaknya hanya diberikan oleh gadis ini kepada tunangannya saja, jangan kepada pria lain! Akan tetapi pertanyaan gadis ini tentang Seng Nio membuat dia gugup juga.

"Tan-siocia.... telah pergi...."

"Pergi? Eh, kenapa? Bukankah ia tadi belajar silat darimu, taihiap?"

"Ya, akan tetapi ia sudah pergi...."

"Kenapa dan ke mana?"

"Entah.... aku tidak tahu...." Kini Ciang Bun duduk kembali di atas batu karena merasa bingung dan khawatir kalau-kalau gadis ini tahu tentang peristiwa tadi. Sungguh tidak enak kalau diketahui orang lain, apalagi kalau sampai Hok Sim juga mengetahuinya.

Akan tetapi kembali dia terkejut ketika melihat bahwa Ci Loan, tunangan sahabatnya itu, kini menghampirinya dan duduk pula di atas batu di sampingnya. Dia merasa kikuk sekali, akan tetapi sebaliknya Ci Loan kelihatan begitu ramah dan akrab.

"Taihiap, kenapa engkau nampak seperti orang marah-marah?" Gadis itu bertanya dan dari samping ditatapnya wajah Ciang Bun dengan tajam.

Ciang Bun menggeleng kepala. "Tidak apa-apa...."

"Apakah adik Seng Nio membuatmu marah? Kalau begitu maafkanlah, taihiap."

"Tidak apa-apa...."

Hening sejenak dan Ciang Bun tidak berani menoleh, hanya mengerutkan alisnya karena duduk bersanding dengan gadis ini sungguh membuat hatinya merasa tidak tenang.

"Suma-taihiap, kalau boleh aku bertanya, apakah.... engkau sudah bertunangan dengan seorang gadis?"

Sungguh sebuah pertanyaan yang tak diduga-duganya dan membuatnya terkejut. Kalau saja dia tidak ingat bahwa Ci Loan adalah tunangan Tan Hok Sim yang telah menjadi sahabat baiknya tentu dia akan menganggap pertanyaan itu amat tidak sopan dan tidak tahu malu. Mana ada gadis bertanya demikian kepada seorang pemuda?

"Belum...." katanya lirih sambil menggeleng kepala tanpa menengok wajah di sampingnya itu.

"Tapi, tentu hatimu sudah menjatuhkan pilihan kepada seorang gadis cantik, tentu engkau telah mempunyai seorang kekasih."

Kembali jantung di dalam dada Ciang Bun berdebar keras. Sungguh semakin tak tahu sopan saja pertanyaan gadis ini. Akan tetapi dia masih bersabar dan kembali dia menggeleng kepala tanpa menjawab.

"Akan tetapi itu sungguh aneh luar biasa! Kenapa, taihiap? Kenapa engkau belum bertunangan, bahkan belum mempunyai pacar?"

Terlalu, pikir Ciang Bun. Dia ingin marah dan mendamprat gadis itu, akan tetapi dia masih teringat betapa tadi dia telah bersikap keras terhadap Seng Nio. Dia tidak mau menambah kesalahan itu lagi dengan bersikap tidak manis terhadap tunangan sahabatnya ini.

"Hmmm, siapa suka kepadaku?" jawabnya sekedarnya dan diapun turun dari batu dan bangkit berdiri.

Ci Loan melompat turun dan menghampirinya. "Siapa yang tidak suka? Aihh, taihiap, engkau adalah seorang pemuda yang gagah perkasa, pandai, budiman dan tampan, seorang pendekar muda pilihan, keturunan keluarga Pulau Es pula. Dan engkau bertanya siapa suka kepadamu? Setiap orang gadis akan berlumba untuk menjadi kekasihmu, Suma-taihiap, bahkan akupun.... aku amat suka kepadamu.... dan seandainya aku belum bertunangan...."

Ciang Bun terbelalak. Alangkah beraninya gadis ini, bahkan lebih berani, lebih kurang ajar, lebih tidak sopan daripada Seng Nio tadi! Melihat kalimat terakhir yang ditahan, diapun merasa penasaran dan bertanya. "Kalau belum bertunangan bagaimana?"

Gadis itu memegang kedua tangannya, menarik kedua tangannya ke dada sehingga dia merasa betapa jari-jari tangannya menyentuh dada yang menonjol. "Kalau saja aku belum bertunangan, aku akan berbahagia sekali menjadi pacarmu...."

"Keparat!" Ciang Bun tak dapat menahan kemarahannya lebih lama lagi. Dia merenggutkan kedua tangannya terlepas dan hampir saja dia menampar muka gadis itu. Akan tetapi dia menahan diri dan menudingkan telunjuknya ke arah muka Ci Loan. "Engkau perempuan tak tahu malu! Engkau tidak patut menjadi tunangan Tan Hok Sim. Pergi engkau dari sini sebelum kuhajar engkau, perempuan rendah!"

Seketika wajah Ci Loan yang cantik menjadi pucat sekali. Tak disangkanya bahwa Ciang Bun akan dapat bersikap segalak itu, apalagi sampai memakinya. Tadi ia mendapat laporan Seng Nio betapa pemuda itu menghina Seng Nio dan menolak cintanya. Maka ia menghibur Seng Nio dan hendak mendekati pemuda itu, akan tetapi karena memang di lubuk hatinya ia telah jatuh cinta kepada pendekar muda yang mengagumkan itu, setelah tiba di depan Ciang Bun, ia lupa akan tugasnya hendak menjodohkan adik ipar itu dengan Ciang Bun, dan sebaliknya ia sendiri malah merayunya! Dan akibatnya, ia dimaki-maki. Karena malu iapun menjadi marah sekali.

"Manusia tak tahu diri, tidak mengenal budi!" Dan Ci Loan sudah menyerangnya dengan pukulan kilat.

"Plakkk!" Ciang Bun menangkis dengan pengerahan tenaga dan akibatnya tubuh Ci Loan terpelanting dan roboh terbanting di atas tanah!

"Manusia kejam Suma Ciang Bun, berani engkau memukul kakak iparku?" Tiba-tiba muncullah Seng Nio dan agaknya kini gadis ini memperoleh alasan untuk membalas sakit hatinya ketika cintanya ditolak mentah-mentah bahkan ia dihina oleh Ciang Bun tadi. Melihat Ci Loan terpelanting, iapun lalu mencabut pedangnya dan menyerang Ciang Bun dengan marah. Tentu saja Ciang Bun cepat mengelak dan ketika dia melihat Ci Loan juga sudah meloncat bangun dan mencabut pedang, Ciang Bun lalu melarikan diri untuk kembali ke rumah keluarga Tan dan kemudian dia hendak cepat meninggalkan keluarga itu.

"Manusia rendah, engkau hendak lari ke mana?" Dua orang gadis itu dengan pedang di tangan dan nyeri di hati melakukan pengejaran dari belakang secepatnya.

Tentu saja Ciang Bun dapat berlari jauh lebih cepat daripada mereka dan agaknya dia akan dapat cepat meninggalkan rumah keluarga itu sebelum kedua orang gadis yang mengejarnya tiba di rumah. Akan tetapi, tiba-tiba muncul Tan Hok Sim di tengah jalan. Seperti telah kita ketahui, pemuda ini diam-diam menyusul ke Omei-san setelah tunangan dan adiknya pergi bersama Ciang Bun lebih dulu ke puncak dan dia sengaja turun lagi dengan alasan ada yang ketinggalan.

"Heiii.... Bun-te.... engkau hendak ke mana dan mengapa berlari-lari?" tegur Hok Sim. Melihat munculnya Hok Sim, terpaksa Ciang Bun menghentikan larinya. Dia hendak menyembunyikan semua peristiwa itu dari Hok Sim, tentu saja kalau dia nekat melarikan diri, pemuda sasterawan itu akan menjadi curiga. Akan tetapi setelah dia berhenti berlari dan berhadapan dengan Hok Sim, dia bingung sendiri harus bicara apa!

"Bun-te, apakah yang telah terjadi? Di mana Loan-moi dan adikku Seng Nio?" Hok Sim bertanya dengan hati khawatir. Dia melihat sesuatu pada wajah pemuda pendekar itu dan hatinya gelisah sekali.

"Mereka.... mereka di belakang...." jawabnya gugup.

"Tapi kenapa....?" Tiba-tiha dia melihat bayangan kedua orang gadis itu mengejar dan menuruni lembah. "Eh, itu mereka....! Kenapa mereka juga berlari-lari mengejarmu?"

"Kami.... main kejar-kejaran...."

Hok Sim tertawa dan dia masih belum curiga mendengar alasan yang lucu itu. Main kejar-kejaran? Seperti anak-anak kecil saja.

"Eh....? Kenapa mereka membawa pedang?" tanyanya kaget ketika melihat dua orang gadis itu sudah datang dekat. Dan dia menjadi lebih kaget lagi ketika melihat Seng Nio dan Ci Loan bermuka merah penuh kemarahan.

"Sim-ko, manusia keparat itu telah membuat aku terpelanting roboh!" teriak Seng Nio.

"Dan dia.... dia memaki-maki aku....!" sambung Ci Loan.

"Eh, kenapa? Mengapa begitu?" Hok Sim bingung.

"Agaknya dia.... dia hendak memperkosa kami!" kata Seng Nio yang sudah kepalang tanggung, malu karena cintanya ditolak dan karena dihina maka kini dia hendak membalas dendam.

"Ahh? Benarkah itu?" bentak Hok Sim.

"Benar, dia memang manusia berwatak rendah!" Ci Loan menambahkan dan kini Hok Sim tidak ragu-ragu lagi. Kalau adiknya sendiri dan tunangannya sudah begitu marah dan keterangan mereka sudah meyakinkan, apakah perlu diragukan lagi? Mendengar betapa pemuda itu hendak mengganggu tunangannya, hati Hok Sim berkobar dengan api kemarahan dan diapun mencabut pedangnya.

"Dengarkan dulu...." kata Ciang Bun akan tetapi Hok Sim sudah menjawabnya dengan tusukan pedangnya. Dua orang gadis itupun sudah menyerang pula dengan pedang mereka sehingga terpaksa Ciang Bun hanis menghindarkan diri dari keroyokan tiga orang berpedang itu. Melihat Hok Sim ikut mengeroyok, Ciang Bun merasa serba salah dan kalau saja dia menghendaki, tentu tidak sukar baginya untuk merobohkan tiga orang pengeroyoknya. Akan tetapi dia merasa tidak tega kepada Hok Sim yang hanya salah sangka terhadap dirinya, maka diapun hanya menggunakan kelincahan tubuhnya untuk mengelak dari sambaran tiga batang pedang yang mengeroyoknya.

Seperti telah kita ketahui, pada saat Ciang Bun dikeroyok oleh tiga orang itulah muncul Suma Hui! Tentu saja dengan mudah Suma Hui dapat mengakhiri pengeroyokan itu dan seperti telah diceritakan di bagian depan, Tan Hok Sim dimintai keterangan oleh Suma Hui mengapa dia bersama dua orang gadis itu mengeroyok Ciang Bun.

"Siapa yang tidak marah? Suma Ciang Bun telah kami anggap sebagai seorang pendekar budiman dan kami terima sebagai seorang tamu agung, yang kami hormati. Akan tetapi dia telah melakukan perbuatan kotor terhadap tunangan dan adikku! Dia menghina adikku dan hendak memperkosa tunanganku!" demikian Hok Sim menutup ceritanya yang tentu saja berbeda dengan kenyataan itu kepada Suma Hui.

"Hemm, benarkah keterangan itu bahwa engkau hendak memperkosa tunangan orang dan menghina seorang gadis lain? Benarkah itu, adikku?" Suma Hui bertanya heran dan penuh ketidakpercayaan sambil memandang kepada Ciang Bun.

Ciang Bun menghela napas panjang. Dia merasa menyesal sekali bahwa Hok Sim yang tidak bersalah apa-apa terpaksa akan menderita tekanan batin kalau mengetahui persoalannya. Dia tidak ingin melihat pemuda yang disukanya itu menderita.

"Aku tidak perlu bercerita. Silahkan kedua orang nona ini saja yang bercerita, dan kuharap mereka akan menceritakan hal yang sebenarnya." Sambil berkata demikian, sepasang matanya mencorong seperti mata naga menatap wajah Seng Nio dan Ci Loan, dan kedua orang gadis itu menjadi pucat.

Kini timbul keraguan dalam hati Hok Sim melihat sikap Ciang Bun dan kedua orang gadis itu timbul keraguannya karena rasanya memang sukar dapat dipercaya bahwa seorang pendekar seperti Suma Ciang Bun sampai melakukan hal yang demikian rendahnya!

"Seng-moi, hayo ceritakan yang sesungguhnya apa yang terjadi! Engkau tadi bilang bahwa engkau dihina dan dipukul, hayo ceritakan mengapa demikian dan yang sesungguhnya terjadi bagaimana? Jangan membohong!"

Wajah Seng Nio menjadi merah sekali. Ia merasa serba salah. Ia tahu bahwa Ciang Bun adalah seorang pendekar sakti dan agaknya kakak perempuannya inipun seorang pendekar yang lihai sekali. Berbohong takkan berguna, apalagi bukankah kakaknya sendiri yang mendorongnya agar ia berusaha mendekati Ciang Bun?

"Aku hanya menyatakan perasaan hatiku kepadanya, Sim-ko. Bukankah ayah dan engkau sendiri menghendaki agar aku berjodoh dengan Suma-taihiap? Aku menyatakan.... cinta dan.... dan dia marah-marah.... dan dia memaki aku tidak sopan dan tidak tahu malu!"

Hok Sim mengerutkan alisnya. Tahulah dia mengapa Ciang Bun marah-marah. Tentu Seng Nio "mendesak" dengan cintanya dan pemuda pendekar itu menganggap Seng Nio sebagai seorang gadis tidak tahu malu. Dia mengeluh dalam batinnya. Jelaslah bahwa Ciang Bun tidak dapat membalas cinta kasih Seng Nio.

"Dan engkau, Loan-moi? Apa yang terjadi?" kini Hok Sim menoleh kepada Ci Loan. Wajah gadis ini menjadi pucat sekali. Ia mengerti bahwa apa yang terjadi antara ia dan Ciang Bun hanya diketahui oleh mereka berdua saja. Bahkan Seng Nio juga tidak mengetahuinya. Kalau ia mengaku, maka tentu pertunangannya dengan Hok Sim akan putus. Ia melirik ke arah Ciang Bun dan pendekar ini hanya berdiri tegak dan memandang dengan sikap tenang. Kini tergantung kepada pendekar itu, pikirnya.

"Aku menerima laporan adik Seng yang menangis dan merasa terhina. Lalu kudatangi Suma-taihiap dan kutegur, akan tetapi dia.... dia bersikap kasar sehingga kami cekcok dan aku menyerangnya, lalu datang adik Seng yang membantuku. Dia lari dan kami kejar sampai bertemu denganmu, koko."

Hok Sim membanting kakinya dan menarik napas panjang. "Ah, akulah yang bodoh dan terburu nafsu, tidak bertanya dulu, lalu percaya saja kepada omongan perempuan dan menyerangmu. Suma-taihiap, maafkan aku, maafkan kami....""Sudahlah, mari kita pergi, enci Hui!" kata Ciang Bun. "Aku akan mengambil pakaianku lebih dulu di rumah, Tan-twako."

Kakak beradik itu sekali berkelebat lenyap dari situ, membuat Hok Sim dan kedua orang gadis itu melongo dan semakin gentar. Lalu Hok Sim mengomel, "Ah, kalian yang kurang waspada dan ceroboh sekali. Kalau sampai Seng-moi tidak berjodoh dengan dia masih tidak mengapa. Akan tetapi kita kehilangan seorang sahabat yang amat baik dan gagah perkasa. Sekarang, keluarga Pulau Es itu marah kepada kita, semua ini karena kalian berdua kurang hati-hati." Dua orang gadis itu hanya menundukkan mukanya, diam-diam merasa malu sekali atas kelakuan mereka terhadap Ciang Bun tadi.

"Tapi, aku melihat sikapnya kepadamu amat akrab!" tiba-tiba Seng Nio berkata.

"Bahkan kadang-kadang amat mesra!" tambah Ci Loan. "Kami sering membicarakan hal ini, dan kami merasa heran mengapa sikapnya jauh lebih mesra terhadapmu daripada terhadap kami."

Diam-diam Hok Sim terkejut dan teringat bahwa memang demikian keadaannya. Ciang Bun kadang-kadang bersikap terlalu mesra kepadanya! Bahkan sekarang dia teringat bahwa andaikata Ciang Bun seorang wanita, agaknya dia akan menjadi saingan Ci Loan!

"Sikapnya itu kadang-kadang membuat aku curiga, jagan-jangan dia itu seorang gadis yang menyamar pria!" kata pula Seng Nio.

"Ahhh....! Kalian bicara yang bukan-bukan karena sedang marah saja. Sebetulnya dia itu laki-laki sejati, seorang pendekar budiman yang gagah perkasa. Mungkin saja dia.... eh, agaknya pemalu dan tidak biasa bergaul dengan wanita sehingga begitu dekat dengan kalian dia merasa canggung dan malu-malu. Sudahlah, betapapun juga, kita kehilangan seorang sahabat yang luar biasa!" Merekapun pulang dengan hati kecewa dan menyesal.

***

"Bun-te, engkau terlalu lemah. Kenapa engkau tidak hajar saja kedua orang gadis yang tidak tahu malu itu?" Suma Hui menegur adiknya ketika mereka melakukan perjalanan dan di tengah jalan Ciang Bun terpaksa menceritakan persoalannya dengan dua orang gadis tadi.

"Ah, aku kasihan kepada mereka, enci. Apalagi, Tan Hok Sim begitu baik kepadaku. Kalau aku berterus terang, tentu akan mengakibatkan terputusnya tali perjodohan antara dia dan tunangannya. Pula, aku tidak menganggap mereka yang.... eh, suka kepadaku itu sebagai suatu kesalahan, hanya aku yang tidak dapat membalas cinta mereka...."

"Hemmm, engkau memang aneh. Kulihat mereka itu cantik-cantik, kenapa engkau tidak suka dan bahkan bersikap keras kepada mereka?"

"Aku.... aku memang tidak pernah suka kepada gadis-gadis...." Ciang Bun agaknya menemui wadah penuangan perasaannya melalui encinya.

"Ehh....! Bun-te, engkau sudah cukup dewasa, perasaanmu tidak pernah suka kepada gadis itu sungguh tidak wajar," kata Suma Hui prihatin sambil menghentikan langkahnya, memegang kedua pundak adiknya dan menatap wajah adiknya itu dengan penuh selidik.

Ciang Bun balas memandang dan dia melihat seolah-olah sinar mata encinya itu menembus dadanya dan menjenguk ke dalam. Selama ini, dia melihat kelainan pada dirinya dengan penuh kecemasan, menyimpannya sebagai rahasia dan dia tidak berani membicarakannya kepada siapapun juga. Akan tetapi kini dia berhadapan dengan encinya, satu-satunya orang yang dekat dengan dia, satu-satunya orang yang benar-benar amat disayangnya karena sejak kecil dia bergaul dengan encinya siang malam. Ayahnya dianggapnya terlalu keras dan menakutkan, ibunya terlalu memanjakannya, hanya encinya ini yang selalu bersikap terbuka dan jujur. Tiba-tiba saja ada keharuan menyelinap di hati pemuda ini dan seperti bendungan pecah, diapun menangis terisak!

Bukan main kaget rasa hati Suma Hui. Adiknya ini sejak kecil pendiam dan serius, tak banyak bicara akan tetapi sama sekali tidak cengeng! Belum pernah ia melihat adiknya menangis seperti ini, apalagi sekarang sudah berusia tujuh belas tahun, sudah dewasa! Ciang Bun menangis terisak-isak? Sukar ia membayangkannya, akan tetapi kini hal itu terjadi di depannya. Tentu saja ia merasa kaget dan juga khawatir dan dirangkulnya adiknya itu, seperti ketika mereka masih kecil dan dituntunnya Ciang Bun, diajak duduk di bawah pohon yang rindang. Tempat itu sunyi tidak ada orang lain kecuali mereka berdua.

"Bun-te, tenanglah. Ingat, tidak baik seorang pendekar gagah seperti engkau ini menangis. Hapus air matamu dan mari kita bicara secara dewasa. Ceritakanlah apa yang merisaukan hatimu sampai engkau menangis. Aku encimu, saudara tunggalmu, aku akan membelamu lahir batin!"

"Enci Hui, tolonglah aku, enci...." Suma Ciang Bun mencoba untuk menghentikan tangisnya. Semua kegelisahan hatinya tumpah pada saat itu melalui air mata dan akhirnya dia merasa dadanya agak lega.

"Hemm, tentu saja aku akan menolongmu, adikku, kalau perlu dengan taruhan nyawaku. Nah, ceritakan, apakah masalah itu?"

Ciang Bun mengusap air matanya dan kini dia dapat memandang wajah encinya dengan mata agak merah. "Enci Hui, tadi engkau mengatakan bahwa aku tidak wajar...."

"Aihh....! Itu? Aku hanya main-main. Mungkin engkau masih terlalu kekanak-kanakan, tidak biasa bergaul dengan wanita sehingga engkau masih belum dapat menyukai gadis-gadis. Hal itu tidak aneh, kenapa dirisaukan?" Suma Hui tersenyum, merasa lega karena ternyata yang dirisaukan adiknya itu hanyalah persoalan sepele saja.

Akan tetapi Ciang Bun menggeleng kepala. "Bukan, bukan hanya itu, enci. Ketahuilah, memang aku.... ada sesuatu yang tidak wajar kepadaku, di dalam hatiku...."

Suma Hui mengerutkan alisnya, bangkit berdiri dan bertolak pinggang, memandang kepada adiknya. "Hemmm, apa maksudmu, adikku? Ada ketidakwajaran apa dalam hatimu? Engkau sungguh membikin aku heran dan cemas."

"Enci, kalau tidak ada engkau, tentu rahasia ini akan kubawa mati. Kepada ayah dan ibu sendiri aku enggan bercerita. Ketahuilah, memang ada ketikdakwajaran di dalam hatiku, ada suatu kelainan yang terasa amat menakutkan hatiku. Sejak dahulu, aku.... aku tidak pernah merasa suka kepada wanita, akan tetapi aku.... aku malah tertarik kepada pria, kepada pemuda...."

"Ehhh....?" Sepasang mata Suma Hui terbelalak dan ia memandarg adiknya seperti melihat hantu di siang hari.

"Enci Hui, jangan.... jangan memandang padaku seperti itu....!" Suma Ciang Bun mengeluh. "Jangan engkau juga menganggap aku seperti setan...."

"Bun-te....!" Suma Hui maju merangkul adiknya dan beberapa lamanya enci dan adik ini saling rangkul dengan hati nelangsa. Suma Hui teringat akan nasib dirinya sendiri dan kini ia melihat adiknya menghadapi masalah yang lebih rumit lagi.

"Bagaimana.... bagaimana bisa begitu....? Aku.... aku tidak mengerti, adikku, sungguh, aku belum mengerti...." Suma Hui meragu. "Mungkinkah itu bahwa engkau.... engkau adalah seorang pria pembenci wanita....?"

"Tidak, enci. Aku sama sekali tidak membenci wanita. Aku kira.... aku akan dapat bersahabat dengan wanita, sahabat baik, seperti aku dengan engkau ini.... akan tetapi, hanya sampai di situ saja. Persahabatan biasa, tidak ada daya tarik menimbulkan gairah berahi. Pendeknya, aku tidak pernah berani melihat wanita, enci, semua wanita kupandang seperti aku melihatmu, seperti saudara, seperti sahabat."

"Apa salahnya dengan itu?" Suma Hui menegas karena ia belum mengerti dan selama hidupnya baru sekarang ia mendengar hal seperti ini.

"Memang tidak salah, akan tetapi.... aku.... aku tertarik oleh pria, oleh pemuda, merasa mesra berdekatan dengan pemuda dan timbul gairah berahiku. Aku.... aku hanya dapat jatuh cinta kepada pemuda, enci...."

"Hehh....?" Suma Hui terbelalak, melepaskan rangkulannya, lalu mendekat lagi dan menjamah dahi adiknya seperti hendak melihat apakah adiknya tidak sedang terserang demam sehingga mengigau.

Ciang Bun tersenyum sedih melihat encinya meraba dahinya. Dengan halus dia menjauhkan tangan encinya. "Enci Hui, aku tidak gila.... biarpun kadang-kadang aku sendiri bertanya-tanya apakah aku sudah gila. Tidak, aku belum gila dan mudah-mudahan tidak akan gila. Akan tetapi, aku melihat kenyataan yang menakutkan ini pada diriku. Aku.... aku agaknya mempunyai selera seperti wanita. Tubuhku pria, segala-galanya, akan tetapi seleraku, juga terutama sekali dalam hal selera berahi, aku seperti.... seperti wanita...."

"Ahhh....!"

"Enci Hui, jangan ber-ah-eh-uh saja. Tolonglah aku!"

Suma Hui menjatuhkan dirinya duduk di atas tanah dengan tubuh lemas. Ia merasa tidak berdaya sama sekali, bahkan bingung. "Bagaimana aku harus menolongmu, Bun-te?""Mungkin ada obat...."

"Kita bicarakan saja dengan ayah dan ibu, minta nasihat mereka...."

"Tidak! Aku akan malu sekali kalau engkau menceritakan hal itu kepada mereka, aku akan lari minggat!"

Gadis itu merasa prihatin sekali sehingga memikirkan keadaan adiknya, ia dapat sedikit melupakan kedukaan hatinya sendiri. Ia kecewa bahwa ia tidak dapat bertemu dengan Cin Liong yang memimpin pasukan menyerbu ke Nepal dan ia merasa nelangsa selama ini. Akan tetapi kini semun keprihatinan hatinya ditujukan unttrk Ciang Bun.

"Aku akan bantu memikirkan keadaan dirimu, adikku. Engkau tenang sajalah dan jangan terlalu menyedihi keadaanmu, kelak tentu akan ada jalan baik untukmu. Mari kita pulang dulu, sudah terlalu lama kita meninggalkan ayah dan ibu, tentu mereka merasa cemas dan berduka."

Merekapun melanjutkan perjalanan dan di sepanjang perjalanan itu mereka saling menceritakan pengalaman masing-masing selama mereka berpisah. Ciang Bun juga merasa prihatin melihat encinya berduka dan kecewa karena belum juga dapat bertemu dengan Kao Cin Liong.

Setelah melakukan perjalanan yang jauh dan memakan waktu yang lama sekali, tanpa ada halangan yang berarti, tibalah kedua kakak beradik ini pada suatu siang di kota Thian-cin, tempat tinggal orang tua mereka! Berdebar juga hati mereka ketika mereka tiba di kota yang mereka kenal sejak kecil ini dan perasaan mereka bercampur aduk ketika mereka melihat rumah mereka dari jauh. Ada rasa gembira karena hendak bertemu kembali dengan ayah bunda mereka yang sudah lama mereka tinggalkan. Ada perasaan takut-takut karena mereka dapat menduga bahwa ayah mereka tentu akan marah sekali kepada mereka. Ada perasaan terharu karena mereka teringat akan segala peristiwa yang terjadi di tempat tinggal mereka ini. Bagaimanapun juga, akhirnya kampung halaman merupakan tempat yang paling indah di dunia ini.

Pada siang hari itu, sekitar rumah keluarga mereka nampak sunyi. Dengan jantung berdebar tegang, Suma Hui dan Suma Ciang Bun memasuki pekarangan rumah yang amat mereka kenal itu. Seorang pelayan tua yang melihat mereka datang, segera berteriak dan lari masuk ke dalam sambil berteriak-teriak.

"Siocia dan kongcu pulang....!"

Seruan ini membuat tiga orang keluar menyambut. Mereka adalah Suma Kian Lee, Kim Hwee Li, dan Louw Tek Ciang! Sejenak dua orang kakak beradik yang baru tiba itu berdiri saling pandang dengan mereka yang menyambut. Ada keharuan di dalam hati mereka semua. Suma Ciang Bun memperhatikan ayah ibunya. Ayahnya yang kini berusia kurang lebih lima puluh satu tahun itu kelihatan semakin tua. Agaknya selama kurang lebih dua tahun ini Suma Kian Lee menderita tekanan batin yang membuat wajahnya dihias banyak garis-garis yang dalam, juga rambutnya kini banyak ubannya. Ibunya masih kelihatan muda dan sama saja, masih cantik dan wajahnya berseri, matanya bersinar-sinar.

Di sebelah ayahnya dia melihat suhengnya yang tak disenanginya, yaitu Louw Tek Ciang walaupun hanus diakuinya bahwa selama dua tahun ini nampak kemajuan pada diri pemuda itu. Tek Ciang semakin tampan dan gagah, nampak lebih matang dan sepasang matanya itu jelas membayangkan kecerdikan dan senyumnya kini terkendali, menunjukkan kematangan!

"Ayah....! Ibu....!" Kakak beradik itu berseru sambil menghampiri ke depan dan memberi hormat.

"Kalian baru pulang....!" Kim Hwee Li meloncat dan merangkul mereka. Sepasang mata ibu yang juga banyak memikirkan mereka ini membasah. Akan tetapi, Suma Kian Lee tetap bersikap tenang, seolah-olah pulangnya kedua orang anaknya itu tidak mendatangkan perobahan pada hatinya. Memang pendekar ini pandai menyimpan perasaannya yang pada waktu itu penuh dengan kegirangan melihat anak-anaknya selamat dan pulang, juga penuh kemarahan, terutama sekali terhadap Suma Hui.

"Mari kita masuk dan bicara di dalam," katanya dan suaranya begitu datar, membuat hati kakak beradik itu berdebar.

"Sumoi dan sute, selamat datang!" kata Tek Ciang dengan suara gembira dan agaknya dia tidak tersinggung ketika kedua orang kakak beradik itu hanya memandang kepadanya dan mengangguk tanpa menjawab.

Mereka semua mengikuti Suma Kian Lee yang sudah melangkah lebar menuju ke ruangan dalam yang luas, yang menjadi ruangan duduk atau ruangan keluarga. Tanpa banyak cakap Suma Kian Lee duduk menghadapi meja dan semua keluarganya juga mengambil tempat duduk. Kim Hwee Li duduk di sebelah kanannya, Tek Ciang mengambil tempat duduk agak jauh di belakang, sedangkan Ciang Bun dan Suma Hui duduk di depan ayah mereka dengan muka tunduk.

Keadaan amat hening dan semua orang merasakan keheningan yang mencekam itu. Semua orang tahu bahwa pendekar setengah tua itu dalam keadaan marah sekali. Udara di dalam ruangan itu seolah-olah terbakar panas oleh kemarahan Suma Kian Lee ketika duduk menghadapi kedua orang anaknya dan memandang wajah putera dan puterinya itu bergantian. Ciang Bun, Suma Hui dan Tek Ciang tidak berani berkutik, menguasai diri sepenuhnya agar jangan mengeluarkan suara. Bahkan Kim Hwee Li yang merupakan satu-satunya orang di dunia yang dapat mencairkan kebekuan dan kemarahan hati Suma Kian Lee, saat itupun berdiam diri. Isteri ini ikut prihatin dan ia menghormati perasaan suaminya, tahu benar betapa penasaran, marah dan kecewa hati suaminya terhadap anak-anak mereka.

Tiba-tiba pendekar itu mengeluarkan suara dan biarpun kata-katanya tidak kasar atau keras, namun terdengar dingin menyeramkan.

"Hemm, setelah kalian ingat untuk pulang ke rumah sini, apa yang hendak kalian katakan sekarang?"

Suma Hui dan Ciang Bun tidak berani menjawab, tidak berani mengangkat muka karena mereka maklum bahwa ayah mereka itu benar-benar sedang marah sekali.

"Brakkkk....!" Kian Lee menggebrak meja di depannya dan seluruh ruangan itu seperti tergetar. "Kenapa kalian tidak menjawab? Apakah tuli dan bisu? Kalian pergi meninggalkan rumah tanpa pamit, orang tua kalian anggap sampah saja! Begitukah watak anak-anak yang berbakti kepada orang tua? Apalagi engkau, Hui-ji, engkau sebagai seorang anak perempuan sungguh tidak patut pergi meninggalkan rumah tanpa pamit. Kalian ini sungguh hanya dapat membikin susah hati orang tua saja. Begitukah kalian membalas budi orang tua, dengan cara merusak hati kami berdua? Begitukah?"

Suma Hui makin menunduk dan biarpun ia tidak mengeluarkan suara, namun kedua matanya menjadi basah oleh air mata. Hatinya seperti ditusuk-tusuk rasanya. Ia teringat akan nasib dirinya, akan aib yang menimpa dirinya, akan dendam sakit hatinya terhadap Cin Liong yang belum dapat dibalas. Ia telah pergi tanpa pamit karena hendak membalas dendam, mencari orang yang telah merusak kebahagiaan hidupnya. Kepergiannya sia-sia, tanpa hasil dan setelah pulang, dimaki-maki ayahnya sebagai anak puthauw (tidak berbakti)! Hampir semua orang tua mengharap agar anak mereka berbakti kepada mereka.

Bahkan sejak kecil, anak-anak ditekankan dan diajar agar berbakti kepada orang tuanya. Berbakti adalah sikap yang timbul dengan sendirinya karena rasa sayang, dan perasaan sayang tidak mungkin dipelaiari, tidak mungkin dilatih. Berbakti yang dilakukan karena latihan berarti merupakan suatu sikap yang dipaksakan dan sikap apapun kalau dipaksakan, berarti palsu. Sikap berbakti yang dipaksakan bukanlah kebaktian lagi namanya, melainkan penjilatan atau bermuka-muka. Berbakti, menghormati, menyayang, menaruh rasa iba, kesemuanya itu ada dengan sendirinya apabila terdapat rasa cinta kasih di dalam hati. Kalau ada cinta kasih di dalam hati seorang anak, maka tidak perlu lagi anak itu diajari untuk berbakti dan sebagainya. Sebaliknya, kalau batin si anak kosong dari cinta kasih, maka semua kebaktian yang dilakukannya itu hanyalah palsu belaka, mengandung pamrih dan sama dengan penjilatan.

Orang tua yang mengharapkan anaknya berbakti atau membalas budi, bukanlah orang tua yang mencinta anaknya. Cintanya hanya cinta dagangan, dengan perhitungan untung rugi, memberi hutang dan menagih hutang berikut bunga-bunganya. Cintanya hanya berupa penanaman budi agar kelak dapat memetik buahnya. Cinta macam ini hanyalah cinta nafsu, yang berarti cinta kepada diri sendiri belaka, si anak hanya dijadikan jembatan untuk menikmati kesenangan dirinya sendiri. Karena itulah, maka cinta seperti ini baru dapat bertumbuh subur kalau si anak dapat menyenangkan hatinya, sebaliknya, begitu si anak tidak menyenangkan hatinya atau malah menyusahkan, cintanya menjadi kabur dan mungkin saja berobah menjadi kebencian. Dan untuk menjamin kesenangan yang hendak direguknya melalui diri si anak, orang tua tidak segan-segan untuk mempergunakan senjata berupa sebutan hauw (kebaktian). Anak yang tidak menyenangkan hatinya disebut puthauw (tidak berbakti atau durhaka) dan pada umumnya di Tiongkok orang-orang paling takut disebut puthauw. Sebutan ini seperti semacam kutukan baginya.

Khong Cu menekankan pentingnya hauw (kebaktian) ini. Akan tetapi pelajaran beliau itu ditujukan untuk orang-orang dalam kedudukannya sebagai anak. Sayangnya, orang-orang dalam kedudukan sebagai anak tidak begitu memperhatikan pelajaran itu, sebaliknya kalau sudah menjadi orang tua, hendak mempergunakan pelajaran itu sebagai senjata agar anak-anak mereka berbakti kepadanya! Berbakti yang tentu saja berarti menyenangkan hatinya! Kita manusia ini memang ingin enaknya saja, dalam segala bidang, bahkan dalam bidang kerohanian atau agamapun, kita mau yang enaknya saja untuk diri kita.

Kalau di dalam batin orang tua dan anak terdapat cinta kasih, maka segala macam pelajaran tentang hauw, tentang penghormatan, tentang kelakuan baik dan sebagainya itu tidak dibutuhkan lagi! Cinta kasih merupakan landasan mutlak bagi semua tindakan, semua sikap dan perbuatan apapun. Cinta kasih merupakan sinar terang yang akan membuat segala perbuatan menjadi bersih dan suci, tanpa pura-pura, tanpa pamrih demi kesenangan diri sendiri, tanpa harapan untuk dibalas.

Suma Kian Lee adalah seorang pendekar besar, putera mendiang Pendekar Super Sakti majikan Pulau Es. Numun, dia tetap hanya seorang manusia biasa dengan segala kelemahannya seperti juga kita dan kekeliruan dalam sikapnya terhadap anak-anaknya itu merupakan kekeliruan kita pada umumnya yang kita lakukan seperti dengan sendirinya dan tanpa disadari lagi. Akan tetapi kalau kita mau membuka mata mempelajari batin kita sendiri, mengamati sikap kita terhadap keluarga, terhadap isteri, anak, orang tua, sahabat-sahabat, maka akau nampaklah dengan jelas segala kepalsuan yang terkandung di dalamnya!

"Hayo jawab, jangan diam saja!" Suma Kian Lee membentak, kemarahannya makin berkobar karena kedua orang anaknya diam saja. Melihat ayah mereka marah, Suma Hui dan Ciang Bun tidak berani berkata apa-apa. Mereka berdua sudah merasa salah, maka apa lagi yang hendak dikatakan? Akan tetapi, merekapun penasaran karena biarpun bersalah, mereka sama sekali tidak berniat untuk menyusahkan hati orang tua mereka. Suma Hui pergi karena didorong oleh dendam sakit hatinya dan dia pergi untuk mencari musuh besarnya, sedangkan Suma Ciang Bun pergi karena selain hatinya sakit melihat betapa ayahnya telah mengangkat ahli waris ilmu silat keluarga mereka kepada orang lain juga ingin menyusul encinya. Mereka bersedia untuk ditegur dan dimarahi, akan tetapi mereka tidak mau minta ampun!

Melihat kemarahan Suma Kian Lee, tiba-tiba Tek Ciang yang sejak tadi mendengarkan tanpa mengeluarkan suara, lalu turun dari tempat duduknya dan menjatuhkan dirinya berlutut menghadap suhunya. "Suhu dan subo, sudilah kiranya suhu dan subo mengampunkan sumoi dan sute, mengingat bahwa usia mereka masih amat muda. Teecu mohon agar suhu dan subo bersabar dan sudi mengampuni mereka."

Suma Hui mengerutkan alisnya dan dengan sinar mata berapi ia memandang kepada pemuda itu, lalu terdengar ia membentak, "Louw-suheng, siapa membutuhkan pembelaanmu? Aku tidak ingin dikasihani dan sungguh engkau lancang mencampuri urusan orang!"

"Hui-ji....!" Suma Kian Lee bangkit dari tempat duduknya dan memandang kepada puterinya dengan mata bersinar-sinar. "Tidak patut sekali sikapmu ini! Suhengmu telah memperlihatkan sikap yang amat baik, mintakan ampun untukmu dan engkau malah berani mengeluarkan ucapan yang kasar itu. Sungguh tak mengenal budi! Pula, dia adalah suhengmu dan calon suamimu!"

Kalau tadi ketika dimarahi ayahnya Suma Hui diam saja, kini mendengar ucapan ayahnya itu tiba-tiba ia membantah dengan suara yang cukup lantang. "Ayah, dia bukan calon suamiku!"

Suma Kian Lee terkejut juga mendengar bantahan yang lancang itu dan diam-diam Kim Hwee Li tersenyum dalam hatinya. Itulah puterinya dan ia bangga melihat sikap puterinya! Wanita ini memang paling tidak suka melihat kelemahan karena ia sendiri adalah seorang wanita yang keras hati dan penuh keberanian, kagum melihat kegagahan.

Akan tetapi Suma kian Lee mengerutkan alisnya dan sejenak dia beradu pandang mata dengan puterinya. "Bagus sekali! Apakah engkau sudah lupa akan janjimu sebelum engkau pergi? Engkau bilang bahwa engkau mau menjadi isteri Tek Ciang kalau dia dapat mengalahkanmu dalam ilmu silat. Nah, apakah engkau sekarang hendak menjilat ludah kembali seperti seorang pengecut?"

Suma Kian Lee sengaja menyentuh hal ini karena dia memang sudah mengenal watak puterinya. Suma Hui, seperti juga Kim Hwee Li, merupakan seorang gadis yang paling pantang dikatakan pengecut. Seorang wanita gagah seperti Suma Hui atau ibunya itu lebih baik mati daripada menjadi pengecut! Maka, mendengar ucapan ayahnya, Suma Hui meloncat bangun dari tempat duduknya dan memandang kepada Tek Ciang.

"Aku tidak akan mengingkari janjiku. Louw Tek Ciang, kalau engkau memang ada kepandaian, mari kaurobohkan aku!" Dara itu langsung menantang dengan suara geram, dan dalam kemarahannya ia tidak menyebut suheng kepada pemuda itu melainkan langsung menyebut namanya begitu saja. Wajah Tek Ciang berobah merah akan tetapi dia masih pandai bersikap merendah.

"Aih, sumoi, mana aku berani....?"

"Ucapan seorang gagah tidak akan diingkarinya sendiri. Hui-ji sudah mengucapkan janjinya dan kini tantangannya. Hayo kalian selesaikan ketentuan urusan ini di lian-bu-thia!" kata Suma Kian Lee sambil melangkah menuju ke ruangan silat. Dengan langkah tegap dan muka merah karena marah Suma Hui melangkah mengikuti ayahnya. Barulah Tek Ciang melangkah perlahan dengan sikap ragu-ragu dan sungkan-sungkan. Di belakangnya, Kim Hwee Li dan Ciang Bun juga berjalan memasuki lian-bu-thia.

Ciang Bun yang melihat ayahnya membersihkan ruangan bermain silat itu, lalu membantunya. Ruangan itu cukup luas karena memang sengaja dibangun untnk berlatih silat dan kini Suma Hui sudah berdiri tegak di tengah-tengah ruangan. Setelah mengikatkan sabuknya lebih erat, dara ini berdiri dengan kedua kaki terpentang dan sikap menantang.

Sebaliknya, Tek Ciang bersikap hati-hati dan ragu-ragu. Dia melepaskan jubah luarnya dan ternyata di sebelah dalamnya, dia sudah siap dengan pakaian ringkas sekali dan dalam pakaian itu dia nampak gagah dan tampan. Pemuda ini memang pandai berdandan. Tentu saja diam-diam Ciang Bun mengharapkan encinya akan menang karena dia sendiripun tidak setuju kalau encinya menjadi isteri orang ini. Akan tetapi, Suma Kian Lee dan Kim Hwee Li berpikir lain. Suami isteri ini tahu bahwa selama dua tahun menerima gemblengan, Tek Ciang telah memperoleh kemajuan pesat sekali. Anak itu memang berbakat dan cerdik sehingga ilmu-ilmu dari keluarga Pulau Es dapat diserapnya dan dapat dilatihnya dengan baik. Bahkan dia telah mempelajari dua ilmu inti dari Pulau Es, yaitu Hwi-yang Sin-ciang dan Swat-im Sin-ciang. Walaupun kedua ilmu ini belum dapat dikuasainya dengan baik dan dia masih kurang latihan, namun dia sudah mampu mempergunakannya dan tenaganya cukup hebat!Tentu saja suami isteri pendekar ini sama sekali tidak pernah bermimpi bahwa selain menerima gemblengan ilmu dari Suma Kian Lee, diam-diam Tek Ciang juga menerima dan mempelajari ilmu-ilmu dari Jai-hwa Siauw-ok!

Suma Hui tidak mau membuang banyak waktu lagi. Begitu melihat Tek Ciang melangkah masuk ke ruangan dan menghampirinya, ia lalu mengeluarkan bentakan nyaring, "Lihat serangan!" dan tubuhnya sudah meluncur maju dan ia sudah mengirim serangan kilat yang cukup hebat.

Melihat datangnya serangan, Tek Ciang cepat mengelak. Akan tetapi, Suma Hui terus menghujankan serangan dan mainkan Ilmu Silat Toat-beng Bian-kun (Silat Kapas Pencabut Nyawa). Ilmu silat ini diwarisi Suma Kian Lee dari mendiang Lulu, ibunya dan merupakan ilmu silat yang gerakan-gerakannya halus akan tetapi di balik kehalusan itu mengandung jurus-jurus mematikan. Tek Ciang sudah mempelajari ilmu silat ini, maka diapun dapat menghadapinya dan mengelak ke sana-sini sambil kadang-kadang menangkis.

Lewat tiga puluh jurus, Tek Ciang hanya menangkis dan mengelak saja tanpa pernah membalas. Akan tetapi diam-diam Suma Hui terkejut juga karena tenaga yang ia kerahkan dengan tenaga sin-kang Pulau Es seperti Hwi-yang Sin-ciang dan Swat-im Sin-ciang, dapat ditangkis oleh pemuda itu dan ia merasa betapa lengan yang ditangkis menjadi tergetar dan agak nyeri, tanda bahwa tenaga pemuda tidak kalah kuat olehnya!

Suma Hui merasa penasaran dan iapun merobah-robah ilmu silatnya, namun ilmu silat apa pun yang dikeluarkannya, dapat dihadapi dengan baik oleh Tek Ciang. Hanya kadang-kadang saja, kalau sudah terlampau terdesak, Tek Ciang terpaksa membalas serangan, hanya untuk membuyarkan desakan Suma Hui saja.

"Tek Ciang, jangan main-main! Balas serang!" Tiba-tiba Suma Kian Lee berseru, tidak sabar melihat ulah Tek Ciang yang banyak mengalah itu. Tek Ciang terkejut dan diapun tidak berani membantah, lalu mulailah dia balas menyerang. Suma Hui melindungi dirinya dan berusaha membalas, namun ternyata kini gerakan Tek Ciang cepat sekali sehingga ia tidak memperoleh waktu untuk membalas. Maka segera ia terdesak hebat oleh pemuda itu.

Agaknya Tek Ciang memang tidak mau mengalahkan Suma Hui, atau tidak ingin membuat malu gadis itu. Pemuda ini memang cerdik sekali. Dia tahu bahwa Suma Hui masih belum mau tunduk kepadanya, maka diapun ingin menundukkan hati gadis itu dengan sikap baiknya. Kalau dia secara langsung mengalahkan gadis itu, mungkin gadis itu akan menjadi semakin penasaran dan bahkan mungkin akan membencinya. Maka, dia bersikap cerdik dan tidak mau terlalu mendesak, membiarkan pertandingan itu berjalan seru dan seimbang. Padahal, kalau dia mau, tidak terlalu sukar baginya untuk mengalahkan Suma Hui karena selain telah mewarisi ilmu keluarga gadis ini, juga dia telah digembleng oleh gurunya yang lain, yaitu Jai-hwa Siauw-ok yang juga lihai sekali. Memang Tek Ciang cerdik. Sikapnya yang banyak mengalah itu setadaknya telah membuat Suma Kian Lee semakin suka kepadanya. Bahkan seorang wanita yang amat cerdas seperti Kim Hwee Li juga kena diakali dan kini wanita ini tidak lagi begitu tidak suka kepada Tek Ciang yang selalu bersikap baik, jujur dan halus. Apalagi menyaksikan pertandingan ini, diam-diam Kim Hwee Li halus mengakui bahwa Tek Ciang benar-benar mengalah dan hal ini dianggapnya sebagai tanda cinta pemuda itu kepada Suma Hui. Ciang Bun sendiri menggigit bibir dan mengepal tinju, maklum bahwa tingkat kepandaian Tek Ciang kini sudah amat hebat, lebih tinggi daripada tingkat kepandaian encinya dan dia dapat menduga bahwa tentu encinya akan kalah dan akan terpaksa menjadi isteri Tek Ciang.

Akan tetapi, tiba-tiba terjadi perobahan dalam perkelahian itu dan Kim Hwee Li mengeluarkan seruan tertahan. Tiba-tiba Suma Hui merobah gerakannya dan Tek Ciang nampak terkejut dan bingung, lalu berbalik terdesak! Kiranya kini gadis itu memainkan Ilmu Cui-beng Pat-ciang (Delapan Pukulan Pengejar Roh)! Ilmu ini adalah ilmu silat istimewa terdiri dari delapan jurus yang dimiliki Kim Hwee Li dan telah diturunkan kepada puterinya. Tentu saja Tek Ciang belum pernah mempelajari ilmu ini dan tidak mengherankan kalau dia merasa bingung karena ilmu itu, biarpun hanya delapan jurus banyaknya, akan tetapi merupakan ilmu silat tinggi pilihan. Kim Hwee Li memperoleh ilmu silat yang sakti itu dari mendiang Dewa Bongkok dari Gurun Pasir! Apalagi kini dimainkan oleh Suma Hui yang bersemangat penuh untuk merobohkan lawan. Tek Ciang terdesak mundur dan hampir saja terkena pukulan sampai dia terhuyung. Melihat betapa lihainya ilmu silat yang dimainkan Suma Hui, Tek Ciang tidak ingin kalah dan tiba-tiba diapun menggerakkan tubuh lebih cepat lagi, tangannya mencengkeram ke arah leher Suma Hui!

Suma Kian Lee sendiri sampai mengerutkan alisnya. Jurus apa yang dimainkan muridnya itu? Demikian keji dan tak tahu malu kalau dipergunakan menyerang lawan wanita. Tangan kanan Tek Ciang mencengkeram ke arah leher sedangkan tangan kirinya mencengkeram ke arah dada! Juga Kini Hwee Li terkejut dan heran.

Akan tetapi, Tek Ciang yang tadi tanpa disadarinya memainkan jurus dari ilmu silat yang dipelajarinya dari Jai-hwa Siauw-ok, segera tersadar ketika Suma Hui mengeluarkan seruan kaget. Betapa bodohnya dia, pikirnya dan cepat dia merobah gerakannya, kini menggunakan jurus dari Ilmu Silat Hong-in Bun-hwat melanjutkan cengkeramannya menjadi totokan dan tangan kanan yang tadi mencengkeram ke arah leher digerakkan ke atas dan tahu-tahu tusuk konde Suma Hui telah dapat dicabutnya!

"Hyaaaattt....!" Suma Hui marah sekali dan menendang. Akan tetapi sekali ini Tek Ciang memperlihatkan kelihaiannya. Dia tidak mengelak ke belakang menghadapi tendangan itu, sebaliknya dia malah maju dan memiringkan tubuh, tusuk kondenya dipakai menotok atau menusuk ke arah lutut yang menendang. Melihat ini, Suma Hui menahan tendangannya dan inilah yang dikehendaki Tek Ciang karena secepat kilat tangan kirinya menyambar ke depan dan.... sepatu kaki yang menendang itupun copot, terampas oleh tangan kiri Tek Ciang.

Suma Hui terbelalak dan menubruk ke depan, tangan kirinya dikepal menghantam dada lawan. Tek Ciang yang sudah berhasil merampas tusuk konde dan sepatu, yang berarti menang mutlak, menyambut pukulan ke dadanya itu sambil tersenyum dan tidak mengelak atau menangkis.

"Dukk....!" Tubuh Tek Ciang terjengkang dan ketika dia bangkit kembali, bibirnya berdarah. Agaknya, biarpun dia telah menggunakan sin-kang untuk menahan pukulan itu, tetap saja getaran pukulan membuat dia menderita sedikit luka di dalam tubuhnya. Akan tetapi dia tetap tersenyum dan menghampiri Suma Hui sambil berkata, "Engkau semakin lihai saja, sumoi. Maafkan aku!" Dan dia menyerahkan kembali sepatu dan tusuk konde Suma Hui menerimanya dengan renggutan, lalu mengenakan sepatunya.

"Hui-ji, apakah engkau masih tidak mau mengaku menang?" Suma Kian Lee menegur puterinya. Suma Hui bukan anak kecil, bukan pula bodoh. Sepatu dan tusuk kondenya terampas lawan, itu berarti kalah mutlak. Iapun tahu bahwa pukulannya yang mengenai dada Tek Ciang tadi adalah pukulan yang sengaja diterima pemuda itu untuk "memberi muka" kepadanya.

"Sudahlah, aku mengaku kalah!" katanya dengan suara lirih.

"Dan engkau tidak mengingkari janji, mau berjodoh dengannya?" ayahnya mendesak.

"Terserah kepada ayah sajalah, aku hanya mentaati ayah." Setelah berkata demikian, tanpa menoleh kepada Tek Ciang, Suma Hui lalu lari meninggalkan ruangan itu, langsung masuk ke kamarnya dan membanting tubuhnya di atas pembaringannya lalu menangis terisak-isak, menutupi muka dengan bantal untuk menyembunyikan tangisnya."Enci...." Suara halus Ciang Bun dan sentuhan lembut pada pundaknya membuat Suma Hui semakin terharu dan tangisnya semakin mengguguk. Ciang Bun duduk dengan muka pucat dan alis berkerut, membiarkan encinya menangis sepuasnya. Setelah encinya dapat menenangkan hatinya, diapun berbisik.

"Enci Hui, kalau engkau tidak suka menjadi jodohnya, jangan memaksa diri. Tolak saja, jangan mau!" Ciang Bun berkata penasaran dan merasa kasihan sekali kepada encinya.

Suma Hui bangkit duduk dan menarik napas panjang. Setelah isaknya terhenti dan ia dapat menguasai kembali hatinya, ia berkata, "Adikku, sekali ini tidak mungkin aku mengelak. Mau tidak mau aku harus mentaati perintah ayah dan rela menjadi isteri Louw Tek Ciang."

"Hemm, mengapa begitu, enci? Apakah alasanmu?"

"Pertama, sudah banyak aku membikin susah hati ayah dan ibu dan aku tidak mau lagi mengulanginya. Ke dua, aku tidak mau kalau sampai orang tuaku melanggar janji kepada keluarga Tek Ciang. Ke tiga, aku sendiri mana sudi menjilat ludah, aku harus berani mempertanggungjawabkan semuanya dan memenuhi janjiku. Ke empat, aku sudah tidak mempunyai ikatan hati dengan siapapun, engkau tahu betapa benciku sekarang kepada orang yang pernah kucinta. Ke lima, aku bisa minta bantuan Tek Ciang dalam menghadapi si keparat Cin Liong karena sekarang ilmu kepandaiannya sudah memperoleh kemajuan hebat. Dan ke enam, melihat sikapnya tadi, betapa dia mengalah, harus diakui bahwa sesungguhnya Tek Ciang berhati baik."

Ciang Bun mengangguk-angguk. "Terlalu baik, dia itu.... terlalu baik....!"

***

Pesta pernikahan yang diadakan tiga bulan kemudian di rumah pendekar Suma Kian Lee di Thian-cin itu amat meriah. Pestanya sendiri sederhana saja karena keluarga ini bukan keluarga kaya, akan tetapi karena nama besar pendekar Suma Kian Lee sudah amat terkenal, apalagi sebagai keturunan keluarga pendekar Pulau Es, maka banyaknya para tamu yang datang membuat perayaan itu menjadi meriah dan megah. Bukan hanya para pendekar di dunia kang-ouw yang membanjiri perayaan itu di samping para pembesar, akan tetapi bahkan tokoh-tokoh dunia hitam ada pula yang muncul sebagai tamu karena menghormati keluarga Pulau Es. Dan sebagian besar yang datang itu tidak menanti undangan. Orang kang-ouw yang mendengar bahwa keluarga Suma mempunyai kerja, merasa tertarik dan datang begitu saja sebagai tamu tak diundang! Akan tetapi, Suma Kian Lee sekeluarga menerima kedatangan semua tamu tanpa pandang bulu, menyambut mereka dengan sikap hormat dan tidak membeda-bedakan.

Perayaan itu menjadi amat meriah karena kesempatan itu dipergunakan oleh para pendekar Pulau Es untuk berkumpul. Bertemulah semua keluarga mendiang Pendekar Super Sakti di rumah Suma Kian Lee di Thian-cin dan tentu saja pertemuan keluarga ini mendatangkan suasana gembira dan juga terharu. Mereka bergembira karena dapat memperoleh kesempatan saling bertemu dan berkumpul sekeluarga besar, dan mereka terharu karena mereka bersama kehilangan orang tua yang mereka hormati dan sayang, yaitu Pendekar Super Sakti dan kedua orang isterinya yang tewas di Pulau Es, hanya disaksikan oleh tiga orang cucu Pendekar Super Sakti, yaitu Suma Hui yang kini menikah, Suma Ciang Bun dan Suma Ceng Liong yang pada kesempatan itu belum juga pulang!

Kakak kandung Suma Kian Bu, yaitu satu-satunya puteri Pendekar Super Sakti yang bernama Milana, tidak dapat datang. Puteri Milana dan suaminya kini telah menjauhi keramaian dunia dan bertapa di puncak Beng-san yang bernama Puncak Telaga Warna. Akan tetapi suami isteri yang tidak lagi mau berurusan dengan keramaian dunia ini telah diwakili oleh putera kembar mereka, yaitu Gak Jit Kong dan Gak Goat Kong. Seperti telah diceritakan dalam kisah’Suling Emas dan Naga Siluman’ , pendekar sakti Gak Bun Beng dan isterinya, Puteri Milana, hanya mempunyai sepasang anak kembar itu. Pada waktu mereka berdua datang berkunjung ke dalam pesta pernikahan Suma Hui, usia mereka sudah kurang lebih tiga puluh tahun, akan tetapi keduanya masih belum menikah! Agaknya ada keistimewaan pada sepasang pendekar kembar ini, yaitu mereka agaknya tidak rela kalau saudaranya menikah dengan wanita lain! Padahal, agaknya sukar dilaksanakan kalau mereka harus menikah hanya seorang isteri saja. Persoalan sepasang pendekar kembar inilah yang membuat suami isteri Gak Bun Beng menjadi kecewa dan mereka lebih banyak mengasingkan diri di puncak Gunung Telaga Warna. Adapun dua orang pendekar kembar itu sendiripun agaknya sudah putus asa untuk mendapatkan jodoh yang cocok.

Suma Kian Bu dan isterinya juga hadir. Sepasang suami isteri pendekar inipun berada dalam keadaan yang tidak begitu gembira, bahkan mereka menahan dan menyembunyikan kegelisahan hati mereka. Sampai sekian lamanya mereka belum herhasil menemukan kembali putera mereka, yaitu Suma Ceng Liong, walaupun keduanya sudah mengikuti jejak Hek-i Mo-ong sampai jauh ke barat dan kemudian kehilangan jejak orang itu di Pegunungan Himalaya! Suma Kian Bu dan isterinya tentu saja merasa heran melihat bahwa Suma Hui menikah dengan seorang pemuda yang menjadi murid Kian Lee, padahal mereka pernah melihat huhungan asmara antara Suma Hui dengan Kao Cin Liong yang masih terhitung keponakan sendiri dari Suma Hui. Akan tetapi tentu saja mereka menekan keheranan mereka ini dan tidak berani bertanya, takut kalau-kalau menyinggung.

Keluarga Kao Kok Cu tidak muncul. Tentu saja mereka yang juga mendengar tentang pernikahan itu merasa canggung dan tidak enak untuk muncul setelah pinangan mereka terhadap diri Suma Hui ditolak, bahkan setelah terjadi keributan dengan adanya tuduhan bahwa putera mereka, Kao Cin Liong, telah memperkosa Suma Hui. Sejak itu, ada ganjalan mendalam di antara kedua keluarga ini dan bagaimanapun juga, tidak mungkin Kao Kok Cu dan isterinya berani datang berkunjung sebagai tamu.

Di antara para tokoh pendekar yang kenamaan, yang hadir dalam perayaan pernikahan itu, nampak pula seorang pendekar tua yang gagah perkasa, wajahnya tampan, sikapnya ramah dan simpatik dan semua orang yang berada di situ memandang ketika rombongan tamu ini datang memasuki ruangan. Dia adalah Bu-taihiap, seorang pendekar kenamaan berusia lima puluh delapan tahun, namun masih nampak gagah, diiringkan tiga orang wanita cantik yang usianya kurang lebih lima puluh tahun. Tiga orang wanita cantik ini adalah isteri-isterinya dan pendekar bernama Bu Seng Kin itu memang terkenal sebagai seorang pria romantis yang semenjak muda dicinta banyak wanita dan bahkan mempunyai isteri di mana-mana! Tiga orang isterinya itupun bukan wanita sembarangan. Yang tertua, berusia lima puluh satu tahun, adalah seorang puteri peranakan Nepal yang pernah menjadi Panglima Nepal, ilmu silat dan ilmu perangnya cukup hebat dan namanya terkenal sebagai Puteri Nandini. Yang ke dua, berusia empat puluh delapan tahun, masih nampak cantik manis, adalah seorang wanita berpakaian nikouw akan tetapi memelihara rambut dan iapun menjadi isteri pendekar petualang asmara itu, bernama Ga Cui Bi. Yang ke tiga, mungkin yang paling lihai di antara tiga orang isteri itu, juga termuda, dua tiga tahun lebih muda daripada nikouw itu, adalah seorang wanita cantik genit hernama Tan Cun Ciu yang berjuluk Cui-beng Sian-li (Dewi Pencabut Nyawa).

Dia sendiri seorang pendekar yang memiliki ilmu silat amat tinggi, jarang dapat ditemukan tandingan, masih ada tiga orang isterinya yang kesemuanya lihai-lihai selalu berada di sampingnya! Tentu saja jarang ada pihak yang berani mengganggu keluarga jagoan ini. Masih banyak sekali tamu yang terdiri dari orang-orang kenamaan. Bahkan Kaisar Kian Liong sendiri mengirim utusan pribadi dan mengirim sumbangan, suatu kehormatan yang besar sekali! Maka, suasana pesta pernikahan itu menjadi meriah, megah dan gembira sekali. Suma Kian Lee dan isterinya sibuk menyambut dan melayani para tamu, menerima ucapan-ucapan selamat dan mereka merasa gembira bukan main. Tak mereka sangka bahwa pernikahan puteri mereka yang diawali dengan hal-hal amat menggelisahkan itu kini dapat berlangsung dengan lancar. Suma Hui sendiripun tidak banyak rewel, dan memang gadis ini benar-benar telah menyerahkan kesemuanya kepada ayahnya tanpa membantah. Agaknya sudah bulat tekadnya yang bertujuan satu, ialah, mengajak suaminya untuk membantunya membalas dendam dan membunuh Kao Cin Liong kelak! Untuk itu ia siap mengorbankan diri dan hati dan akan menerima nasib menjadi isteri Louw Tek Ciang! Baginya toh sama saja menjadi isteri siapapun, hanya pada diri Louw Tek Ciang ia dapat mengharapkan bantuan menghadapi Cin Liong. Dan bagaimanapun juga, Tek Ciang adalah suhengnya sendiri dan sudah dipercaya oleh ayahnya. Ia boleh salah pilih, akan tetapi agaknya ayahnya cukup teliti sehingga tidak akan salah memilihkan suami untuknya. Dengan pikiran ini, Suma Hui dapat melaksanakan segala upacara pernikahan itu dengan tenang dan diam saja. Tidak nampak senyum di wajahnya, juga tidak nampak duka. Ia hanya menunduk dan menutup semua panca indera terhadap hal lain, dan mengikuti upacara secara membuta saja.

Kiranya hanya Ciang Bun seorang yang dapat menyelami hati encinya. Pemuda yang halus perasaan ini mengerti sepenuhnya bahwa encinya itu bagaimanapun juga masih mencinta Cin Liong dan bahwa encinya melaksanakan pernikahan itu dengan memaksakan diri. Dia dapat membayangkan betapa hancur hati encinya dan diam-diam diapun merasa menyesal dan berjanji dalam hatinya untuk kelak menegur dan membalas dendam kepada Cin Liong yang dianggapnya tidak bertanggung jawab dan telah menghancurkan kebahagiaan hidup encinya.

Perayaan pernikahan itu berjalan lancar sampai selesai. Meriah dan tidak terjadi sesuatu yang tidak baik, seperti yang sering terjadi dalam perayaan di rumah seorang pendekar. Agaknya, hadirnya para pendekar gagah membuat kaum pengacau menjadi gentar dan tidak ada yang berani mencoba-coba. Setelah semua tamu bubaran, Suma Kian Bu dan isterinya juga berpamit karena mereka hendak kembali ke rumah mereka yang sudah terlalu lama mereka tinggalkan dalam usaha mereka mencari Ceng Liong. Sepasang pendekar kembar she Gok juga berpamit dari paman mereka. Tinggallah kini keluarga tuan rumah yang mempunyai kerja. Seperti biasa pada semua keluarga yang mempunyai kerja, di waktu pesta terlaksana tidak terasa apa-apa, akan tetapi begitu pesta selesai, terasalah betapa lelahnya badan! Keluarga itu menyerahkan semua pemberesan perabot-perabot dan pembersihan tempat kepada tenaga-tenaga bantuan, dan mereka sendiri sore-sore telah memasuki kamar masing-masing. Juga sepasang pengantin sudah memasuki kamar mereka.

Malam itu sungguh sunyi setelah pada siang harinya tempat itu demikian meriah dikunjungi banyak orang. Tidak terdengar suara berisik, bahkan para tenaga bantuan yang masih bekerja membersihkan tempat, bekerja dengan hati-hati dan tidak berani berisik. Setelah hari gelap benar, merekapun menghentikan pekerjaan mereka dan mengaso di bagian belakang rumah keluarga Suma itu. Suma Kian Lee dan isterinya telah merebahkan diri beristirahat. Ciang Bun bergulingan gelisah di atas tempat tidurnya. Tak dapat dia melepaskan pikirannya dari membayangkan keadaan encinya. Dia menjadi gelisah dan sedih.

Sementara itu, di dalam kamar pengantin sendiri, sepasang pengantin sudah bertukar pakaian. Suma Hui duduk termenung di atas kursi. Kamar yang terhias indah itu, dengan bau semerbak harum kamar pengantin, seperti tidak dirasakannya. Ia merasa seperti ada kelumpuhan di dalam batinnya, dan kadang-kadang ia tersentak kaget dan memejamkan mata membayangkan orang yang juga berada di kamar ini, yang kini menjadi suaminya dan yang harus dilayaninya! Ngeri ia membayangkan semua itu, akan tetapi ia maklum bahwa bagaimanapun juga, ia harus taat! Tek Ciang sendiri nampak gugup dan canggung. Pengantin pria inipun sudan berganti pakaian yang longgar, pakaian dari sutera biru yang membuat dia nampak tampan.

Ketika Tek Ciang menghampirinya dan menyentuh pundaknya, Suma Hui merasa tubuhnya seperti dimasuki ratusan ekor semut yang membuatnya gemetar dan bulu tengkuknya meremang. Mengerikan, pikirnya. Akan tetapi ia adalah seorang wanita pendekar, seorang gagah yang tidak akan mengingkari janji. Apapun yang terjadi, ia sudah menyerah dan ia harus mempertanggungjawabkan semua itu.

"Hui-moi.... Hui-moi...." terdengar suara Tek Ciang, suara yang kedengaran aneh bagi telinga Suma Hui. Biasanya, kalau memanggilnya sumoi dan kalau bicara kepadanya, di dalam suara Tek Ciang mengandung suara halus merayu dan juga perendahan diri. Kini, suara itu selain mengandung rayuan juga kekuasaan! Maka aneh kedengarannya. Namun ia menoleh dan menjawab lirih, "Ada apakah?"

Tentu saja jawaban ini membuat Tek Ciang menjadi agak gugup. Dia bukan orang yang tidak biasa berdekatan dengan wanita. Banyak sudah dia mendekati wanita dan berhubungan dengan wanita, yang dilakukan secara diam-diam selama ini. Akan tetapi, dia harus mengakui bahwa berdekatan dengan Suma Hui ini lain lagi, ada sesuatu yang membuatnya merasa agak gentar. Tadi, panggilannya sudah jelas maknanya, panggilan seorang suami untuk isterinya, seorang pengantin pria kepada mempelainya, yang bernada rayuan, tuntutan atau pembuka jalan. Akan tetapi, isterinya itu langsung bertanya terang-terangan ada keperluan apa, maka tentu saja dia menjadi canggung.

Diapun membelai tangan Suma Hui yang dipegangnya. Tangan yang memiliki jari-jari tangan kecil runcing dan berkulit halus, akan tetapi agak dingin dan Tek Ciang tahu betapa berbahayanya jari-jari tangan berkulit halus ini! Suma Hui mendiamkan saja ketika tangannya dibelai, hanya jantungnya berdebar demikian kencangnya sampai kedua telinganya dapat mendengar detak jantungnya sendiri.

"Moi-moi, engkau tentu lelah. Mari kita mengaso di pembaringan...."

Suma Hui melirik ke arah lilin di atas meja, lalu bangkit berdiri dan berkata lirih seperti berbisik, "Padamkan dulu lilinnya...."

Tek Ciang tersenyum gembira, melepaskan tangan itu dan menghampiri meja. Sementara itu, Suma Hui mendahuluinya menuju ke pembaringan dan segera menyingkap kelambu dan naik ke atas pembaringan yang berbau harum itu. Detak jantungnya makin menghebat. Lilin padam dan kamar itu hanya remang-remang saja, mendapat sedikit penerangan yang menerobos masuk melalui celah-celah atas jendela dari luar. Detak jantung di dalam dada Suma Hui hampir disusul jerit yang ditahan ketika ia merasa betapa Tek Ciang naik ke atas pembaringan pula dan merangkulnya, menindihnya dan menggelutinya, menciumi seluruh mukanya, matanya, pipinya, hidungnya dan mengecup bibirnya. Akan tetapi ia tidak mengelak, tidak menolak, tidak pula menyambut, hanya diam saja bergumul dengan perasaan hatinya sendiri. Hatinya ingin menolak, akan tetapi dengan kekerasan kemauan ia melumpuhkan keinginan hatinya sendiri dan menyerah saja, bahkan memejamkan matanya, hanya merasakan apa yang diperbuat oleh Tek Ciang atas dirinya.

"Moi-moi.... ah, Hui-moi.... akhirnya engkau menjadi isteriku.... ah, betapa aku cinta padamu...." Dengan bisikan tersendat-sendat dan jari-jari tangan gemetar Tek Ciang menggeluti isterinya.

Tiba-tiba terdengar jerit melengking keluar dari mulut Suma Hui. Tanpa disengaja tangannya meraba punggung suaminya yang tidak berpakaian lagi itu dan jari tangannya meraba benjolan daging di punggung kiri. Tonjolan daging sebesar telur burung yang ditumbuhi rambut!

"Engkau....!" Dan iapun menghantamkan tangannya ke arah kepala suaminya!

Tek Ciang kaget setengah mati. Akan tetapi dia masih sempat menggulingkan tubuhnya dari atas pembaringan sehingga terhindar dari hantaman maut.

"Hui-moi, ada apakah....?"

"Keparat jahanam! Kiranya engkau malah orangnya....?" Suma Hui menjerit sambil menangis dan cepat membereskan kembali pakaiannya yang tadi sudah hampir tertanggal seluruhnya oleh jari-jari tangan Tek Ciang. Tek Ciang sendiri dalam kekagetannya cepat membereskan pakaiannya sendiri, lalu menyalakan lilin. Kamar itu menjadi terang kembali dan Suma Hui meloncat turun dari atas pembaringan, menghadapi suaminya dengan sepasang mata berapi-api walaupun ada air mata menetes-netes turun.

"Engkau....!" Telunjuknya menuding ke arah muka Tek Ciang yang memandang dengan mata terbelalak. "Engkaulah orangnya! Jahanam terkutuk, engkaulah orangnya yang telah memperkosaku dahulu!" Setelah berkata demikian, dengan kemarahan meluap Suma Hui menerjang ke depan dan menyerang dengan sekuat tenaganya, menghantam ke arah dada Tek Ciang dengan tangan terbuka. Akan tetapi Tek Ciang mengelak dan meloncat ke belakang.

"Hui-moi, apa yang kaukatakan ini....? Sudah jelas perbuatan terkutuk itu dilakukan oleh Kao Cin Liong...."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar