Tampilkan postingan dengan label Pedang Penakluk Iblis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pedang Penakluk Iblis. Tampilkan semua postingan

27 Pedang Penakluk Iblis

Jilid 27

PENJAHAT itu hanya merupakan bayangan yang bergerak cepat sekali dan di dalam gelap, Cun Eng tidak dapat mengenal betul wajah orang yang menyerang dan mengganggunya, maka amatlah sukar penjahat itu ditangkap. Yang menjadi pegangan para pengejarnya hanyalah nama penjahat itu. Dan anehnya, setiap kali tiba di suatu dusun atau kota, mereka mendengar nama ini yang seakan-akan sengaja ditinggalkan oleh penjahat itu untuk memberi tahu mereka akan jejaknya. Demikianlah akhirnya Siok Hwa mengejar sampai di Ngo-heng-san dan di situ kehilangan jejak penjahat yang dikejar-kejarnya.

Siapakah sebenarnya Siok Li Hwa? Sepuluh tahun yang lalu, ketika Pat-Jiu Nio-nio meninggal dunia karena usia tua, perkumpulannya, yakni Hui-eng pai yang mempunyai seratus orang lebih anggauta terdiri wanita semua, terpaksa bubar. Tak seorang pun yang sanggup menggantikan kedudukan Pat-Jiu Nio-nio karena semua mengerti bahwa untuk memimpin perkumpulan ini, orang itu harus memiliki kepandaian yang amat tinggi. Sedangkan Pat-Jiu Nio nio tidak mempunyai murid langsung. Semua anggautanya memang diberi pelajaran ilmu silat, akan tetapi mereka ini tidak mewarisi semua ilmunya dan biarpun untuk anggapan umum semua anggauta Hui-eng pai rata-rata memiliki kepandaian tinggi, kalau dibandingkan dengan kepandaian Pat-Jiu Nio-nio, masih amat jauh, belum ada persepuluhnya. Inilah yang membuat semua anggauta ragu-ragu dan akhirnya perkumpulan itu dibubarkan. Gedung indah tempat tinggal Pat jiu Nio-nio di puncak tersembunyi di Gunung Go-bi-san menjadi sunyi dan dijadikan sebagai kuil di mana tinggal lima orang bekas anggauta Hui-eng pai yang mengambil keputusan untuk menjadi pertapa atau pendeta wanita di tempat itu!

Yang lain-lain lalu bubaran mengambil jalan hidup masing-masing setelah menerima bagian dari harta peninggalan ketua mereka.

Di antara para anggauta ini, terdapat seorang gadis cilik berusia kurang lebih sembilan tahun, Gadis ini adalah Siok Li Hwa, seorang gadis yatim piatu yang ditolong dari bahaya kelaparan di daerah selatan yang kering oleh Pat jiu Nio-nio empat tahun yang lalu.

Gadis cilik ini amat cantik manis menimbulkan rasa suka pada Pat jiu Nio-nio, maka gadis ini dijadikan pelayan pribadinya. Makin lama Pat-itu Nio-nio makin suka kepada gadis cilik ini, sehigga di waktu malam Ketua Hui-eng pang yang tidak mempunyai keluarga ini lalu memberi pelajaran ilmu membaca dan menulis kepada Siok Li Hwa.

Bahkan ia pun mulai memberi pelajaran ilmu silat dasar seperti yang ia ajarkan pada semua anggauta Hui eng-pang.

Tentu saja ia tidak langsung mengajari sendiri, hanya menyuruh seorang anggautanya yang sudah pandai. Akan tetapi tentang pelajaran ilmu surat dia sendiri yang mengajar.

Siok Li Hwa merasa senang sekali tinggal di situ dan gadis ini ternyata berotak tajam. Tidak saja huruf-huruf yang sukar itu dilalapnya dengan mudah juga semua pelajaran ilmu silat dapat dipahami dalam waktu singkat. Melihat kecerdikannya, Pat-jiu Nionio semakin sayang kepadanya. Mulailah memberi pelajaran ilmu silat sendiri pada gadis cilik ini, yaitu pelajaran teori ilmu silat yang mengandung sari pelajaran ilmu silat tinggi. Juga ia menceritakan tentang tata usaha dan peraturan dari perkumpulan Hui-eng-pai yang istimewa. karena terdiri dari wanita semua.

"Kaum wanita terlalu dihina dan direndahkan oleh kaum pria, Li Hwa." Pernah Pat-pu Nio-nio berkata, "lihat betapa banyaknya wanita dianggap sebagai hewan peliharaan dan dianggap rendah serta tiada berguna. Orang-orang itu bangga kalau mempunyai anak laki-laki, sebaliknya kecewa kalau mempunyai anak perempuan.

Banyak sekali suami yang mengambil isteri berikut bini muda pula sampai beberapa orang jumlahnya. Semua itu karena kaum wanita lemah. Oleh karena itu, perkumpulan Hui-eng-pai harus menjadi pelopor, membangkitkan semangat para wanita agar kelak jangan sampai diinjak-injak dan dijajah oleh kaum pria." Seringkali Li Hwa mendengar kalimat-kalimat seperti ini yang membanjir keluar dari mulut Pat jiu Nio-nio.

Akan tetapi sayang, ketika Li Hwa berusia empat belas tahun, Pat-jiu Nio-nio meninggal dunia karena usia tua. Orang yang paling berduka di antara para anggauta perkumpulan itu adalah Siok Li Hwa yang merasa seperti ditinggal ayah-bundanya sendiri. Beberapa jam setelah Pat-jiu Nio-nio dianggap meninggal, Li Hwa menjaga jenazah Pat-jiu Nio-nio seorang diri di dalarn kamar jenazah.

Ia memeluki jenazah itu sambil menangis, dan menolak keras ketika para saudara tuanya mengajak ia keluar. Menjelang tengah malam, kurang lebih enam jam setelah Pat-jiu Nio-nio disangka mati, tiba-tiba ia mendengar suara nenek itu perlahan.

"Siok Li Hwa...." Li Hwa mengangkat mukanya dan pucatlah ia ketika melihat betapa nenek itu bergerak-gerak dan membuka mata. Akan tetapi hanya sebentar saja ia kaget. Di lain saat ia sudah girang bukan main dan cepat-cepat ia berlutut. Pat jiu Nio-nio tidak bangkit, hanya rebah saja sambil menggerak-gerakan jari tangannya membuat tulisan di udara. Sian Li Hwa adalah seorang anak yang cerdik sekali. Ia memperhatikan gerak jari tangan itu dan tahulah ia bahwa nenek itu menuliskan huruf-huruf yang berbunyi: "Ambil peti merah di sudut kamar dan bawa ke sini!" Li Hwa cepat berdiri dan melakukan perintah itu. Ia tahu bahwa peti merah itu berisi beberapa jilid kitab kuning karena sudah seringkali ia melihat nenek itu tekun membaca kitab-kitab itu sampai jauh malam, bahkan kadang-kadang sampai hampir pagi. Karena melihat nenek itu sudah lemah sekali, maka Li Hwa menaruh peti itu di pinggir pembaringan. Ia cemas juga melihat nenek itu kini sudah rebah telentang dengan kedua mata dipejamkan tak bergerak seperti tadi ketika belum bergerak dan sudah dianggap mati.

"Nio-mo... ini petinya..." katanya di dekat telinga nenek itu.

Pat-jiu, Nio-nio membuka matanya yang sudah tak bersinar lagi.

Agaknya suatu yang amat menjadi pikirannya yang membuat nenek ini seakan akan hidup lagi! Atau memang tadinya ia belum mati betul dan pikiran tentang sesuatu yang ditinggalkan itu agaknya memberi daya hidup, sungguhpun ia hanya dapat menggerakkan tangan dan hanya dapat mengeluarkan suara memanggil nama Li Hwa tadi. Kini ia kembali menggerak-gerakkan telunjuknya di udara seperti orang menulis huruf. Siok Li Hwa cepat memandang dan menaruh perhatian sepenuhnya. Sambil memandang, membaca hurut-huruf yang ditulis di udara itu.

"Kau pelajari kitab-kitabku, cari Cheng-liong-kiam (Pedang Naga Hijau) tanya pada Hwesio Go-bi, dan pimpin Hui-eng-pai!" Setelah menuliskan huruf terakhir lengan yang kurus itu hilang tenaganya jatuh di atas dadanya dan kali ini Pat-jiu Nio-nio benarbenar kehilangan nyawanya!

Demikianlah, setelah perkumpulan ini bubar sendirinya dan para anggautanya, kecuali lima orang anggauta tertua mengambil keputusan menjadi pertapa di gedung seperti istana ini, pergi meninggalkan puncak sunyi itu, Li Hwa ikut tinggal di situ. Diamdiam ia mempelajari isi peti dan ternyata di dalamnya terdapat tiga buah kitab kuno. Sebuah kitab ilmu silat dan ilmu pedang, sebuah lagi terisi pelajaran tentang lweekang, latihan napas, samadhi dan ilmu-ilmu tinggi tentang tenaga di dalam tubuh, dan yang ke tiga adalah sebuah kitab tentang pelajaran ilmu pengobatan dan tentang peraturan-peraturan Perkumpulan Hui-eng-pai. Dengan amat keras hati dan tekun, Li Hwa mempelajari semua ini, melatih dengan amat rajinnya sehingga ia akhirnya berhasil mewarisi ilmu silat yang tinggi dari mendiang Pat-jiu Nio-nio.

Lima orang pendeta wanita bekas anggauta Hui-eng-pai juga mengetahui hal ini dan diam-diam mereka makin sayang kepada Li Hwa yang mereka anggap sebagai orang yang mampu melanjutkan cita-cita guru besar mereka yang telah meninggal dunia. Oleh karena itu, mereka inilah yang membantu memberi petunjukpetunjuk, karena biarpun dalam hal ilmu silat mereka sudah kalah jauh oleh Li Hwa, namun dalam hal pengalaman mereka menang banyak. Ketika Li Hwa menuturkan tentang Cheng-liong-kiam dan hwesio di Gobi-san seperti yang dipesankan oleh Pat-jiu Nio-nio, lima orang pendeta itu nampak terkejut sekali.

"Aduh, mengapa kau diharuskan mencari pedang itu?" kata seorang di antara mereka. "Dulu Nio nio sendiri tidak berhasil mendapatkan pedang itu. Terutama hwesio Gobi yang dimaksudkan, tentulah ketua dan Go-bi-pai yang berada di puncak ke tujuh dan deretan puncak-puncak di pegunungan ini. Di sana terdapat sebuah kelenteng besar dan didiami oleh hwesio-hwesio yang tinggi silatnya. Kiranya hanya mereka itulah yang dapat menunjukkan dimana adanya Cheng-liong-kiam, karena kami sendiri pernah mendengar namun tidak tahu di mana adanya pedang pusaka itu."

"Kalau begitu, aku harus pergi mencari hwesio itu dan harus kudapatkan pedang Cheng-liong-kiain sesuai dengan pesan mendiang Nio-nio!" kata Li Hwa dengan suara menyatakan kebulatan tekadnya. Gadis berusia belasan tahun dengan semangat menyala-nyala lalu pergi ke puncak di mana terdapat kelenteng Gobi- pai yang angker dan besar.

Ia diterima oleh Kian Hok Taisu, ketua dari Go-bi-pai. Hwesio tua ini terheran-heran melihat seorang gadis cantik jelita yang mengaku sebagai ahli waris Pat-jiu Nio nio dan mengaku hendak menyampaikan pesanan mendiang Put-jiu Nio-nio.

"Nona cilik, bagaimana kau bisa mengaku sebagai ahli waris Patjtu Nio-nio?" tanya ketua Go-bi-pai ini dengan suara sabar.

Siok Li Hwa selamanya tinggal di atas gunung dan tak pernah bergaul di dunia ramai maka sikapnya kaku, dingin dan polos, tidak pandai bersopan dan bermanis-manis.

"Tai-suhu," katanya tanpa memberi hormat dan berdiri dengan tegak, "sebelum meninggal dunia. Nio-nio menyerahkan tugas kepadaku, menurunkan kepandaiannya melalui kitab-kitab pelajaran kepadaku dan memesan supaya aku pergi menemui hwesio Go-bi pai dan tanya tentang Pedang Cheng-liong-kiam. Maka harap kau orang tua suka memenuhi keiginan Nio-nio dan katakan kepadaku dimana adanya pedang Cheng-liong-kiam itu agar dapat kuambil." Sepasang mata Kian Hok Taisu yang besar itu terbelalak heran dan di sana-sini terdengar suara ketawa ditahan dan beberapa orang hwesio yang ikut mendengar kata-kata lantang ini.

"Kau...? Kau yang diwajibkan oleh mendiang Pat-jiu Nio-nio untuk mengambil Cheng-liong-kiam? Ah, jangan main-main, Nona.

Pat-jiuw Nio-nio sendiri sudah mencoba mengambilnya sampai lima kali akan tetapi selalu ia gagal dan akhirnya ia sampai-sampai tidak mau muncul di dunia kangouw dan menyembunyikan diri. Sekarang kau yang masih begini muda, kau mau mengambil pusaka itu? Nona, mata pedang tak dapat melihat orang dan kalau kita tidak hati-hati mudah sekali kita terluka olehnya. Harap kau batalkan saja niat ini dan pulang dengan selamat. Nasihat pinceng, ini bukan main-main dan demi kebaikanmu sendiri."

"Hwesio tua baru berjumpa satu kali kau sudah memberi nasihat dan mengkhawatirkan keselamatanku. Sungguh kau baik hati. Akan tetapi aku tidak perduli akan semua nasihatmu itu. Baiknya kau lekas beri tahu di mana adanya Cheng-liong-kiam itu agar aku dapat pergi mengambilnya dan habis perkara. Jangan kau putar-putar omongan yang tidak ada gunanya bagiku." gadis ini tidak marah, akan tetapi oleh karena ia tidak dapat mengatur kata-katanya, maka terdengar kasar dan tidak hormat.

Baiknya Kian Hok Taisu adalah seorang pendeta Buddha yang sudah tinggi ilmunya, maka ia tidak menjadi marah, hanya tersenyum lebar dan diam-diam bahkan mengagumi semangat gadis itu. Jarang ia melihat seorang wanita dengan semangat perlawanan yang menyala-nyala dan keberanian yang begini besar.

"Omitohud!" Ta memuja nama Buddha sambil merangkapkan kedua tangan di depan dada. "Begitukah kehendakmu, Nona.

Baiklah, mari kau ikut pinceng, biar kau mencoba merampas pedang itu." Setelah berkata demikian, hwesio tua itu bangkit berdiri dan berjalan menuju ke sebelah dalam kelenteng yang luas itu.

Beberapa orang hwesio lain juga berjalan masuk. Siok Li Hwa merasa sangat heran. Tak disangkanya tempat itu ternyata dekat saja, bahkan adanya di sebelah... dalam kelenteng ini! Akan tetapi tanpa banyak cakap ia pun lalu ber jalan mengikuti Kian Hok Taisu.

Ternyata bahwa Ketua Go-bi-pai membawanya ke sebuah ruangan amat lebar. Melihat betapa ruangan kosong dan di pojok terdapat rak tempat senjata, mudah diduga bahwa tentulah Lian-buthia, tempat belajar silat dari Partai Go-bi-pai. Tempat itu memang luas sekali, kiranya cukup untuk seratus orang berlatih silat dalam saat yang sama.

Kian Hok Taisu berhenti di tengah-tengah ruangan membalikkan tubuh menghadapi Li Hwa yang berdiri bengong tak mengerti.

Hwesio-hwesio lain yang kini jumlahnya bertambah, ada dua puluh orang mengundurkan diri dan duduk di atas lantai dalam keadaan berkeliling membuat ruangan yang cukup lebar di tengah-tengah seperti orang hendak nonton demonstrasi silat.

Kemudian seorang hwesio dengan sikap hormat dan langkah tegap mendatangi dari dalam, kedua tangannya menyangga sebuah bungkusan panjang. la melangkah terus sampai di depan Kian Hok Taisu, lalu membungkuk dan menyodorkan bungkusan kain putih yang tadi dibawanya. Hwesto tua itu menyambut bungkusan kain putih dan memberikan kain itu kepada pembawa bungkusan tadi.

Dan dalam bungkusan itu dikeluarkannya sebatang pedang yang bagus sekali, yang ketika dihunus dari sarungnya mengeluarkan cahaya hijau.

Pembawa bungkusan itu lalu mengundurkan diri dan duduk bersila di dekat kawan-kawannya yang lain, yang semua sekarang memandang penuh perhatian ke tengah lapangan di mana guru besar mereka dengan pedang hijau di tangan berhadapan dengan Siok Li Hwa.

"Nona, silakanlah," kata hwesio tua itu sambil melintangkan pedang hijau di depan dada, sikap seorang yang menanti datangnya serangan lawan!

Tentu saja Siok Li Hwa mengelak dan tidak bergerak, memandang dan terheran-heran, bahkan ia ragu-ragu apakah hwesio tua ini kurang waras otaknya.

"Silakan bagaimanakah? Kau suruh aku berbuat apa, Tai suhu?" tanyanya sambil memandang tajam.

"Tentu saja merampas pedang ini dari tangan pinceng kalau kau dapat, habis apa lagi? Bukankah untuk keperluan kau datang ke sini?" Biarpun Li Hwa seorang yang cerdik, akan tetapi semua ini melampaui batas kemampuannya berpikir. Ia menjadi bingung dan dengan berkerut ia menegur.

"Hwesio tua, harap kau jangan main gila. Aku tidak ada waktu untuk main-main! Apa sih maksudmu mengajak bertanding?" Kini giliran Kian Hok Taisu yang terbelalak heran. Kemudian hwesio ini mengerti dan tertawalah dia, tertawa geli.

"Aha, jadi kau malah belum mengerti akan maksud pesanan mendiang Pat jiu Nio-nio? Benar-benar lucu. Duduk lah, Nona, biar pinto menceritakanmu sejelasnya." Setelah berkata demikian hwesio itu lalu duduk bersila di atas lantai, di tempat ia tadi berdiri. Biarpun dengan sikap kurang sabar, Li Hwa terpasa duduk juga untuk mendengarkan keterangan hwesio tua itu atas sikapnya tadi yang benar-benar ia tidak mengerti. Dia datang untuk menanyakan tempat Ceng-liong-kiam, mengapa datang-datang ditantang berkelahi? Dan pedang di tangan hwesio tua itu, pedang indah yang bercahaya hijau, apakah hubungannya dengan Cheng-liong kiam? Apakah itu yang disebut Cheng-liong-kiam? "Nona, semua ini dimulai dengan kelakar! Dengan lelucon antara mendiang Pat-jiu Nio-nio dan Paman Guruku yang sudah meninggal dunia. Pedang ini yang disebut Cheng-liong-kiam (Pedang Naga Hijau) dan tadinya adalah pedang Pat-jiu Nio-nio. Ketika itu Pat jiu Nio-nio masih muda, gagah perkasa dan jenaka. Sayang sekali ia terlalu mengagulkan kepandaian sendiri sehingga timbul sombongnya. Di hadapan Paman Guruku. Pat-jiu Nio-nio berani menyatakan bahwa barang siapa dapat menghadapi pedangnya dengan tangan kosong dan merampas pedang maka pedang itu akan diberikan dengan cuma-cuma." Kian Hok Taisu menarik napas panjang, lalu melanjutkan.

"Pada waktu itu, Paman Guruku juga masih muda dan berdarah panas. Mendengar kesombongan Pat-jiu Nio-nio, ia lalu menggulung lengan baju dan menantang. Maka mulailah pertempuran.

Pat-jiu Nio-ruo memegang Cheng liong-kiam dan paman guruku bertangan kosong. Karena tingkat kepandaian Paman Guruku lebih tinggi, akhirnya pedang itu terampas!

Paman Guruku hendak mengembalikannya dan menganggap hal itu sebagai lelucon, siapa kira bahwa Pat-jiu Nio-nio merasa terhina dan berkata dengan marah bahwa kelak akan tiba masanya ia datang mengambil kembali pedangnya itu dengan cara yang sama, yakni mengalahkan Paman Guruku yang berpedang dengan tangan kosong! Kemudian wanita yang keras hati itu memperdalam ilmu silatnya. Akan tetapi, berulang-ulang sampai tiga kali ia datang tetap saja ia tidak berhasil merampas pedang. Bahkan yang keempat kalinya ia terluka oleh Paman Guruku." Sampai di sini Kian Hok Taisu menahan napas panjang. "Sungguh menyedihkan sekali, perkara lelucon seperti itu mendatangkan dendam yang mendalam. Bahkan Paman Guruku yang marah melihat sikap Pat-jiu Nio-nio juga timbul panas hatinya dan bertekad tidak mau mengembalikan pedang begitu saja sebelum ia dikalahkan!

Oleh karena itulah, ketika bahwa pedang ini harus pinceng simpan baik-baik dan apabila Pat-jiu Nio-nio datang hendak mengambilnya, pinceng harus pula menghadapinya dengan syarat yang sama, yakni apabila Pat-jiu Nio-nio dengan tangan kosong dapat merampasnya, baru pedang itu boleh diberikan, ditambah pernyataan maaf dari mendiang paman guruku.

Dua tahun kemudian, benar saja Pat-jiu Nio-nio datang dan terpaksa pinceng melayaninya. Setelah pertandingan yang sangat melelahkan, barulah pinceng berhasil mengalahkannya dan membuatnya pergi dengan penasaran." Kian Hok Taisu memandang kepada Siok Li Hwa, lalu berkata, "Ketika mendengar bahwa Pat-jiu Nio-nio sudah meninggal dunia, yakni lima tahun yang lalu, hati pinceng sudah lega dan melupakan urusan ini. Pedang ini disimpan di kamar pusaka, dijadikan sebuah di antara senjata-senjata pusaka Go-bi-pai. Eh, tidak tahunya hari ini kau datang dan menyatakan sebagai wakil Pat-jiu Nio-nio hendak mengambil Cheng-liong-kiam. Bukankah hal ini benar-benar tak dapat disangka sebelumnya? Nah, demiklanlah, Nona. Setelah mendengar penuturan ini, bagaimana pendapatmu?"

"Aku tetap hendak melakukan pesan mendiang Nio-nio tetap hendak mengambil kembali pedang pusaka itu!" kata Li Hwa dengan suara tetap.

Hwesio tua itu nampak kecewa dan berduka, "Nona, kau tahu bahwa pinceng tak dapat memberikan pedang ini begitu saja tanpa memenuhi syarat yang sudah pinceng janjikan kepada Paman Guruku. Hanya kalau dapat merampas kembali, pedang ini dapat kembali ke dalam tanganmu. Akan tetapi kau masih begini muda, bagaimana pinceng yang tua bangka ada muka untuk melayanimu bertempur? Nona, lebih baik diatur begini saja. Kau pulanglah saja dan kautunggu kalau pinceng sudah mati, pedang ini pasti akan diantarkan ke tempat tinggalmu. Yang bertanggung jawab terhadap pedang ini dan sudah berjanji kepada mendiang Paman Guruku hanya pinceng seorang. Kalau pinceng mati, berarti janji itu pun telah mati pula dan pinceng akan memesan kepada para anak murid agar kelak sepeninggal pinceng, pedang ini akan diantarkan kembali kepadamu. Bagaimana?" Kakek gundul itu memandang kepada Li Hwa dengan penuh harapan.

Akan tetapi gadis itu tiba-tiba bangkit berdiri dan berkata, dengan suara nyaring.

"Kian Hok Taisu, kau bicara tentang enaknya jalan pikiranmu sendiri saja. Sudah jelas bahwa pedang itu dahulunya adalah milik Nio-nio. Mengapa sekarang kau begitu susah-susah memutar-mutar omongan? Kalau memang kau tidak menghendaki keributan serahkan saja pedang itu kepadaku, habis perkara bukan? Kalau kau menunggu sampai kau mati, baru mengembalikan, aah, tak usah mencari-cari alasan, bilang saja terus terang bahwa kau suka memiliki pedang itu tidak ingin mengembalikan!" Kian Hok Taisu menjadi merah mukanya, akan tetapi ia tetap sabar. suaranya agak keras ketika ia berkata, "Nona, kau masih begini muda tetapi kata-katamu keras.

Agaknya seperti kau inilah dahulu Pat-jiu Nio-nio di waktu muda.

Soal mengembalikan pedang adalah soal mudah. Akan tetapi adalah menyangkut soal nama dan kehormatan. Pat-jiu Nio-nio sampai lima kali berusaha mengambil pedangnya tanpa hasil. Masa sekarang begitu kau datang tanpa perlawanan pinceng harus mengembalikan pedang itu begitu saja? Akan kemanakah larinya nama dan kehormatan pinceng sebagai Ketua Go-bi-pai?"

"Hem, Hwesio Tua. Kau bicara tentang nama dan kehormatan, apakah aku yang muda juga tidak menjaga nama dan kehormatan? Aku harus menebus penghinaan yang dirasakan oleh Nio-nio di samping merampas kembali pokiam itu. Kau telah berjanji akan memenuhi pesan Paman Gurumu sampai mati apakah kau kira aku pun tidak berani memenuhi pesan Nio nio dengan taruhan nyawaku?"

"Jadi kau benar-benar hendak merampas pedang ini?" Kian Hok Taisu berkata sambil menggerak-gerakkan pedang Cheng-liong-kiam sehingga kelihatan sinar kehijauan.

"Tentu saja." Kembali terdengar suara ketawa dari beberapa orang hwesio yang menonton di situ karena kata-kata itu dianggap amat lucu.

Bagaimana seorang gadis cantik jelita dan muda yang nampaknya begitu halus dan lemah akan merampas pedang di tangan Ketua Go-bi-pai? "Nona, kau masih begini muda. Pinceng tak enak hati menghadapimu dengan pedang di tangan, sedangkan kau sendiri bertangan kosong. Kaullhat, di pojok sana itu terdapat rak senjata.

Kaupilih senjata yang paling baik untuk menghadapi pinceng dan apabila pinceng sampai terluka sedikit saja oleh senjatamu, biarlah pinceng mengaku kalah. Akan tetapi, kalau sampai kau yang terkalahkan harap kau jangan bantah-bantahan lagi dan menunggu sampai pinceng menutup mata untuk selamanya baru pedang ini akan diantarkan kepadamu." Li Hwa tidak menjawab, melainkan segera menghampiri rak senjata dan memilih sebatang pedang yang cukup baik. Kemudian ia melompat menghadapi Kian Hok Taisu sambil memutar pedang berkata, "Hwesio tua, lihat pedang"" Pedangnya digerakkan cepat dan ia telah menyerang dengan dahsyat.

Melihat cara serangan ini, tak terasa lagi Kian Hok Talsu berseru, "Omitohud, kau benar-benar ahli waris Pat-jiu Nio-nio!" la pun tidak tinggal diam dan pedang Cheng-liong-kiam di tangannya diangkat untuk menangkis serangan nona itu. Akan tetapi Li Hwa tidak menanti sampai pedangnya tertangkis. Melihat bahwa serangan pertama ini gagal dan itu akan tertangkis apabila dilanjutkan, ia telah menarik kembali pedangnya dan langsung ditusukkan, merupakan serangan kedua yang tak kalah dahsyatnya dan begitu otomatis seperti serangan berantai. Padahal yang dimainkan itu adalah jurus ke dua yang berlainan sama sekali. Inilah sifat ilmu silat yang ia pelajari dari kitab-kitab peninggalan Pat-jiu Nio-nio.

Mengandalkan kepada kecepatan gerakan sehingga mendesak lawan dan tidak memberi kesempatan untuk lawan balas menyerang.

Akan tetapi Kian Hok Taisu adalah orang ahli silat kelas tinggi.

Dahulu ketika Pat-jiu Nio-nio sendiri datang hendak merampas pedang, wanita sakti itu dapat dikalahkannya. Apalagi sekarang yang datang hanya murid Pat-jiu Nio-nio yang kepandaiannya belum matang.

Setelah menggagalkan serangan Li Hwa sampai dua belas jurus akhirnya pedang Cheng-liong-kiam berhasil membabat pedang di tangan gadis itu. Terdengar suara keras dan pedang di tangan Li Hwa buntung menjadi dua. Akan tetapi gadis itu tidak menjadi gentar, sebaliknya ia melompat ke pojok ruangan dan di lain saat ia telah kembali menghadapi Kian Hok Taisu dan menyerang dengan sebatang golok yang tadi diambilnya dari rak senjata! Seranganserangannya kalah hebatnya oleh serangan pertama dengan pedang yang telah buntung tadi.

Kian Hok Taisu cepat menyambut serangan ini dan sebentar kemudian dua orang ini sudah lenyap terbungkus gulungan sinar senjata, bertempur dengan hebatnya di ruangan itu, membuat para hwesio yang menonton menahan napas. Tak mereka sangka bahwa gadis muda ini ternyata lihai sekali dan memiliki kecepatan gerakan yang membuat tubuhnya lenyap terbungkus sinar senjata yang di mainkan.

Kembali belasan jurus lewat dan ditutup oleh suara nyaring ketika golok di tangan Li Hwa terbabat putus lagi oleh Cheng-liongkiam!

"Cih! Tak malu mengandalkan kemenangan pada pedang curian!" Li Hwa menyindir dengan hati mendongkol dan di lain saat ia telah melompat berjungkir balik dari tengah ruangan ke rak senjata lalu kembali ke tengah ruangan menghadapi lawannya dengan sebatang tombak! Dengan tombak ini ia menyerang bagaikan gelombang menderu dan terpaksa Kian Hok Taisu melayaninya. Ketua Go-bi-pai ini diam-diam terkejut sekali. Gadis muda ini ternyata tidak saja mewarisi kepandaian Pat-jiu Nio-nio akan tetapi juga mewarisi wataknya yang keras dan berani dan dalam hal ini, kiranya malah lebih keras, lebih berani, dan lebih nekad daripada Pat-jiu Nio-nio sendiri!

Berkali-kali Li Hwa berganti senjata dan senjata-senjata yang buntung oleh cheng-liong-kiam dan berserakan di ruangan itu sudah amat banyak. Pedang, golok, tombak, toya, pian, dan rantai. Kini gadis itu memegang sebilah tombak cagak dan menyerang makin lama makin dahsyat. Diam-diam Ketua Go-bi-pai kagum. Gadis semuda ini sudah miliki gerakan demikian hebat dan bahkan sudah pandai mainkan delapan belas macam senjata. Benar-benar jarang ada keduanya. Apalagi kalau disertai keberanian sebesar itu benarbenar merupakan gadis pilihan yang pasti akan dapat menjunjung tinggi namanya di dunia kang-ouw kelak. Akan tetapi kalau sampai tersesat jalan hidupnya, gadis ini akan menjadi penyeleweng yang tidak kepalang tanggung, dan merupakan ancaman hebat.

Tombak cagak yang dimainkan oleh Li Hwa kali ini adalah sebuah senjata yang ringan, maka gerakan gadis itu juga cepat bukan main.

Namun, tetap saja setelah dua puluh jurus lewat, tombak itu patah menjadi dua bertemu dengan Cheng liong-kiam. Kini Kian Hok Taisu mengharapkan gadis itu mau mengalah dan pergi. Akan tetapi ia kecele, karena sebaliknya, gadis itu lalu menarik ikat pinggangnya yang terbuat daripada sutera kuning yang panjang dan mulailah Li Hwa menyerang dengan senjata istimewa.

Kali ini Kian Hok Taisu terkejut sekali. Semenjak tadi, ia tidak pernah mau menyerang Li Hwa, hanya menjaga diri dan tiap kali ada kesempatan, mematahkan senjata lawannya mengandalkan ketajaman pedang Cheng-liong-kiam. Melihat tingkat kepandaian Li Hwa, hal ini tidak mungkin ia lakukan, yakni hanya menjaga diri tanpa membalas, apabila tidak memegang pedang pusaka yang ampuh. Sekarang Li Hwa menyerangnya dengan ikat pinggang sutera dan dalam tangan seorang ahli lweekang, sabuk sutera ini dapat menjadi senjata yang amat berbahaya dan tidak dapat diputus oleh tajamnya pedang.

Di lain pihak, tadi ketika berganti-ganti senjata, diam-diam Li Hwa mengasah otaknya. Di dalam kitab Pat-jiu Nio-nio ia memang mendapat beberapa bagian yang menarik, yang menuturkan betapa Pat-jiu Nio-nio, menggunakan tipu untuk menghadapi lawan tangguh akan tetapi selalu gagal. Kegagalan ini ditulis terang terangan di dalam kitab, bahkan digambarkan keadaan pertempuran, tiap tipu apa yang dipergunakan oleh Pat jiu Nio-nio dan bagaimana ia mengalami gagalan. Coretan-coretan seperti ini ada lima macam dan tadinya Li Hwa tidak mengerti maksudnya, hanya mengira bahwa itu adalah pemberitahuan tentang siasat pertempuran. Akan tetapi sekarang baru ia mengerti bahwa setiap kali menyerang ke Go-bi-pai dan dikalahkan, Pat-jiu Nio-nio lalu menuliskan semua kegagalannya itu di dalam kitab!

Li Hwa semenjak tadi mengerahkan otaknya mengingat-ingat coretan yang lima macam itu. Teringatlah ia bahwa usaha Pat-jiu Nio-nio gagal seperti tersebut dalam coretan-coretan itu adalah karena Pat-jiu Nio-nio selalu mempergunakan kekerasan. Ilmu silat Go-bi-pai adalah ilmu silat yang banyak mengandalkan tenaga "yang" (kekerasan) dan karenanya tokoh-tokohnya tentu saja memiliki tenaga yang kuat. Kalau diserang dengan tenaga kasar pula, maka banyak lawan yang harus tunduk dan kalah terhadap tokoh-tokoh Go-bi-pai. Kemudian Li Hwa teringat bahwa di samping lima coretan tentang kegagalan Pat-jiu Nio-nio, terdapat coretan lain di bagian bawah yang menggambarkan seolah-olah Pat jiu Nio-nio mencari siasat bagaimana cara mengalahkan lawan yang sudah lima kali tidak dapat dikalahkan itu. Sekarang, setelah mendengar riwayat Pat jiu Nio-nio dan mendengar semua keterangan Kian Hok Taisu, barulah Li Hwa menjadi jelas dan semua coretan itu kini "hidup" dalam ingatannya. Ia tadi sengaja menukar-nukar senjata untuk memberi kesempatan padanya mengingat semua coretan itu.

Setelah ia paham betul, barulah ia membuang senjata-senjata yang sudah buntung dan sebagai gantinya ia mengeluarkan ikat pinggangnya dari sutera!

Baru sekarang Li Hwa benar-benar menyerang dalam arti kata sedalam-daTamnya. Ia mengerahkan seluruh tenaga lweekang bagian "Im", yakni tenaga lemas dan mengeluarkan tipu-tipu atau jurus-jurus ilmu silat seperti yang digambarkan dalam coretancoretan ke enam dari Pat-jiu Nio-nio. Bukan tubuh Kian Hok Taisu yang diserangnya, melain bagian lengan yang memegang pedang atau gagang pedang.

Kadang-kadang ujung ikat pinggang sutera itu menyambarnyambar bagai ular, menerjang dengan totokan ke arah pundak kanan atau sambungan siku pergelangan tangan atau menyerang jari tangan yang memegang gagang pedang. Semua jalan darah di bagian lengan tak luput dan sasaran sehingga boleh dibilang sabuk sutera itu hidup mengikuti jalannya pedang yang mengeluarkan sinar kehijauan.

Ke manapun juga tangan kanan Kian Hok Taisu dengan pedang hijau itu bergerak, selalu sabuk sutera mengikuti dan menyerang dengan totokan-totokan dan kepretan-kepretan lihai. Pertempuran kali ini amat indah dipandang. Kian Hok Taisu yang tidak membiarka lengannya tertotok, menggerakkan Cheng liong-kiam dengan cepat sehingga merupakan gulungan sinar hijau. Kini sinar hijau itu ke manapun juga diikuti oleh segunduk sinar kuning yang seakan-akan membayangi sinar hijau. Sinar ini adalah sinar dari sabuk sutera kuning yang digerakkan secara cepat oleh Li Hwa.

Kian Hok Taisu mulai sibuk. Beberapa kali pedang Cheng-liongkiam ia sabetkan ke arah sabuk sutera akan tetapi karena sabuk itu lemas dan kuat, serta dimainkan oleh Li Hwa dengan pengerahan tenaga "im" hasilnya sia sia saja, sabuk itu tidak mau putus. Kini terpaksa Kian Hok Taisu melakukan serangan balasan, karena hanya dengan serangan balasan saja ia dapat menahan desakan Li Hwa.

Baru sekarang pertempuran itu benar-benar merupakan pertempuran, saling serang dan saling mempertahankan dan baru sekarang Li Hwa mendapat kenyataan bahwa hwesio tua itu benar756 benar lihai. Pedang yang dimainkan itu berubah menjadi gulungan sinar hijau yang amat kuat, mengurung dan menindihnya sehingga sebentar saja Li Hwa terkurung dan terdesak hebat. Keadaan jadi sebaliknya. Kalau tadinya Li Hwa selalu menjadi penyerang dan hwesio itu yang mempertahankan, adalah sekarang gadis itu yang diserang dan terdesak hebat oleh Kian Hok Taisu dengan pedangnya yang ampuh.

Li Hwa mulai putus asa. Gadis maklum bahwa andalkata hwesio itu tidak memegang pusaka yang ampuh belum tentu ia dapat menang. Apalagi sekarang hwesio itu mainkan Cheng liong-kiam yang amat tajam sedangkan senjatanya sendiri hanya sehelai sabuk sutera! Bagaimanapun juga, tak mungkin ia menang, tak mungkin ia dapat merampas pedang.

Apakah riwayat Pat-jiu Nio-nio akan terulang lagi? Apakah nasibnya akan seperti Pat-jiu Nio-nio, setiap kali berusaha merampas pedang dan gagal? Tidak pikir Li Hwa dengan hati dan kepala panas, aku tidak mau seperti itu. Sekarang juga aku harus dapat merampas pedang atau biar aku mati di bawah pukulan pedang itu!

Pikiran ini membuat Li Hwa menjadi nekat. Kini ia menyerang dengan tangan kirinya. Sabuk sutera dan tangan kiri dengan gerakan-gerakan nekad dan cepat menyerang ke arah lengan yang memegang pedang.

Kian Hok Taisu mengeluarkan suara terkejut. Hampir saja pedang Cheng-liong-kiam mampir di leher nona itu kalau ia tak cepat-cepat menahan tenaganya dan menarik kembali pedangnya. Nona itu sekarang menyerangnya dengan hebat dan nekad, sama sekali tidak memperdulikan ancaman pedang lagi, merangsek hebat ke arah lengan kanan yang memegang pedang dengan tekad bulat untuk merampasnya!

Kian Hok Taisu mengeluh di dalam hatinya. Tak mungkin ia melukai nona ini. Hatinya tidak tega melukai seorang gadis muda.

Bukan hanya tidak tega, juga ia merasa malu kalau harus mengundurkan gadis ini dengan melukainya, apalagi membunuhnya.

Terpaksa ia menghentikan semua serangannya karena gadis itu tidak mau menjaga diri lagi dan kini terpaksa ia mengerahkan kepandaiannya untuk menjaga agar pedang jangan sampai terampas.

Akan tetapi usahanya ini jauh lebih berat daripada tadi. Kalau tadi Li Hwa masih memperhatikan penjagaan diri sehingga serangan-serangan tidak sepenuhnya, adalah sekarang gadis yang nekad itu sama sekali tidak perhatikan tentang penjagaan diri dan mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaian untuk merampas pedang, bahkan kini bukan hanya dengan tangan kanan yang memegang sabuk sutera, melainkan dibantu pula oleh tangan kirinya yang mainkan ilmu silat semacam ilmu mencengkeram.

Gerakannya cepat dan dahsyat dan diam-diam Kia Hok Taisu kagum, kakek gundul ini tahu bahwa ilmu Silat Eng-jiauw-kang (Cengkeraman Kuku Garuda) yang aseli, ciptaan dari Pat-jiu Nio-nio dan yang diajarkan kepada seluruh anggauta Hui-eng-pai.

Kian Hok Taisu hanya dapat mempertahankan pedangnya selama empat puluh jurus. Dengan keadaan yang amat terdesak, akhirnya ujung sabuk sutera itu berhasil menotok jalan darah di pundaknya.

Biarpun ia sudah mengerahkan tenaga menolak hawa totokan, namun karena jalan darahnya terkena tepat sekali, jalan darah itu masih kena digetarkan yang membuat lengannya kesemutan dan gerakannya menjadi lambat. Kesempatan tidak disia-siakan oleh Li Hwa. Gadis itu menggerakkan tangan kanan dengan cepat dan di lain saat pedang itu sudah pindah ke dalam tangannya!

Kian Hok Taisu menghentikan gerakannya, menarik napas dan berkata, "Pinceng terima kalah. Kau patut sekali mewarisi pokiam (pedang pusaka) itu, Nona. Harap saja pedang itu di tanganmu akan mendatangkan kebaikan untuk dunia dan jangan sampai digunakan untuk melakukan kejahatan-kejahatan." Li Hwa bukan seorang yang bodoh dan buta. Ia tahu bahwa dalam hal perebutan pedang tadi, ia berhasil hanya karena hwesio tua ini mengalah. Kalau hwesio itu menghendaki, sudah sejak tadi ia roboh terluka oleh pedang. Maka ia lalu menjura dan berkata, "Taisu, terima kasih bahwa kau sudah mengembalikan pedang sehingga aku dapat memenuhi pesanan Nio-nio. Pedang ini asalnya milik Nio-nio dan karena Nio-nio bukan orang jahat, bagaimanapun pedang ini akan dapat dilakukan untuk perbuatan jahat? Nah, selamat tinggal sampai berjumpa kembali, Tai-suhu." Setelah berkata demikian, nona itu berkelebat, kelihatan sinar kehijauan dari pedang Cheng-liong-kiam yang berada di tangannya dan sebentar saja Li Hwa lenyap dari depan Kian Hok Taisu.

Kakek gundul itu menarik napas panjang dan berkata kepada muridnya "Omitohud... lihai sekali bocah itu. Setelah pedang itu berada di tangannya, biarpun pinceng sendiri belum tentu aku dapat menundukkannya...." Demikianlah setelah dapat merampas kembali pedang Chengliong- kiam, Li Hwa lalu menjalankan pesan yang ketiga dari mendiang Pat-jiu Nio-nio, yakni membangun kembali perkumpulan Hui-eng-pai. Untuk ini ia dapat banyak bantuan dari lima pendeta perempuan bekas anggauta terpenting dari Hui-eng-pai dahulu.

Untuk memenuhi kehendaknya Li Hwa tidak ragu-ragu untuk menculik gadis-gadis kampung dan gunung untuk dijadikan anggauta perkumpulannya! Dalam hal ini ia selalu memilih gadis yang cantik dan bersih. Tak lama kemudian, ia telah dapat mengumpulkan seratus orang anggauta perkumpulan Hui-eng-pai, seratus orang gadis yang rata-rata memiliki kecantikan mengagumkan. Mulailah ia mengatur anggautanya, melatih ilmu silat dan melakukan pekerjaan untuk kepentingan mereka semua di puncak tersembunyi dari Go-bi-pai itu.

Sementara itu, setelah mendapatkan Cheng-liong-kiam, Li Hwa tidak membuang waktu dengan sia-sia belaka. Ia memperdalam ilmu silatnya dan di dalam kitab memang terdapat ilmu pedang yang disebut Cheng-liong-kiam-sut, yakni Ilmu Pedang Naga Hijau yang tentu saja amat cocok dan tepat kalau untuk mainkan ilmu pedang ini digunakan pedang Cheng-liong-kiam sendiri! Ilmu silatnya maju pesat dan demikian hebat kemajuan yang diperoleh Li Hwa sehingga kepandaiannya sudah menyusul tingkat mendiang Pat-jiu Nio-nio. Bahkan ia kini sudah dapat meniru pekik burung elang yang dahulu hanya dapat dilakukan oleh Pat-jiu Nio-nio, pekik yang menjadi tanda dari perserikatan itu. Anggauta-anggauta lain dapat juga mengeluarkan pekik itu akan tetapi harus dibantu dengan alat tiup terbuat daripada daun bambu muda. Hanya Li Hwa seoranglah yang dapat mengeluarkan pekik ini tanpa bantuan alat, melainkan dengan pengerahan tenaga lweekang yang tinggi. Oleh karena ini, pekiknya adalah pekik yang lebih aseli dan yang berbeda daripada pekik para anggautanya, sehingga dapat dibedakan siapa kepalanya siapa anak buahnya.

Kurang lebih tiga bulan sebelum pertemuan di puncak Ngo-hengsan itu, terjadilah hal yang menggegerkan penghidupan para anggauta Hui-eng-pai di puncak Go-bi-san. Penstrwa ini terjadi pada suatu malam, yang menimpa seorang di antara para anggauta yang bernama Cun Eng, seorang gadis yang manis dan menarik, memiliki potongan tubuh yang menggairahkan. Selagi gadis ini seorang diri meronda sebagaimana tiap malam dilakukan secara bergiliran untuk menjaga keamanan gedung seperti istana itu, tiba-tiba ia melihat bayangan hitam berkelebat.

Sebelum Cun Eng dapat melihat siapa bayangan itu, tahu-tahu ia telah diserang, tertotok roboh. Bayangan itu ternyata ialah seorang laki-laki yang berkepandaian tinggi dan yang kemudian membawa Cun Eng pergi dan situ.

Gadis ini tidak berdaya lagi dan tak kuasa mempertahankan diri dari gangguan laki-laki yang tidak dikenalnya itu. Ta hanya dapat melihat bentuk badan orang itu, dan mendengar suaranya ketika laki-laki itu hendak meninggalkannya berkata.

"Manis, kalau kelak kau merasa rindu kepadaku dan hendak mencariku, carilah di dunia kang-ouw. Namaku Wan Sin Hong sudah cukup terkenal." Cun Eng sambil menangis lalu melaporkan penghlnaan ini kepada Li Hwa yang membuat sepasang alis Li Hwa berdiri saking marahnya.

"Keparat jahanam Wan Sin Hong, kalau belum memenggal lehermu aku tak mau pulang!" serunya marah. Cepat mengumpulkan para anggauta yang sudah agak pandai sebanyak empat puluh orang kemudian ia melakukan pengejaran yang tiada henti-hentinya. Di mana saja ia mendengar jejak Wan Sin Hong tentu akan disusulnya sampai akhirnya tiba di Puncak Ngo-hengsan!

Demikianlah sebabnya mengapa begitu melihat Liok Kong Ji, Li Hwa terus saja menerjang. Hal ini adalah karena Cun Eng yang memberi tahu kepadanya bahwa pemuda yang memegang hudtim itu seperti orang yang telah melakukan perbuatan keji kepadanya.

Tni pula sebabnya mengapa Li Hwa menjadi marah dan menendang Cun Eng karena itu tidak berani mengambil keputusan apakah Li Kong Ji itu orang yang mereka kejar-kejar atau bukan.

Kecewa karena tidak bisa menentukan penjahat yang dikejarkejarnya sampai berbulan-bulan, Li Hwa lalu menghibur dirinya dengan menonton pemilihan bengcu yang tanpa disengaja ia kunjungi.

Setelah melihat bahwa tempat itu sudah penuh dengan orangorang gagah dari seluruh penjuru dan tidak ada tamu baru yang datang lagi, tiga ciangbunjin dari Thian san pai, Kum-lun-pai dan Bu-tong-pai yang dianggap sebagai pemimpin pertemuan, saling memberi tanda bahwa urusan segera dapat dimulai dan pertemuan dibuka.

Tai Wi Siansu, Ketua Kun-lun-pai yang usianya sudah delapan puluh tahun lebih dan dianggap yang paling tua, segera berdiri dan diapit oleh Leng Hwat Taisu Ketua Thian-san-pai dan Bu Kek Siansu Ketua Bu-tong-pai, ia bicara dengan suaranya yang tenang, halus dan penuh kesabaran, akan tetapi karena diucapkan dengan tenaga lweekang, maka dapat didengar oleh semua orang yang berkumpul di situ, bahkan orang-orang yang berdiri paling pinggir dapat juga mendengar dengan jelas.

"Cuwi sekalian tentu sudah mengerti apa maksud kita bersama mengadakan pertemuan di tempat yang bebas ini." Ia membuka kata-katanya dengan tenang. "Yang dimaksudkan bebas adalah karena Ngo-heng-san memang tidak ada partai persilatan sehingga pertemuan diadakan di tempat ini merupakan pertemuan bebas, jadi bukan merupakan undangan dari partai atau pihak tertentu. Dengan demikian, maka tidak adalah tuan rumah atau tamu."

"Sekarang setelah kita semua berkumpul dan kelihatannya di sini sudah penuh dengan wakil-wakil dari semua golongan, marilah kita masing masing mengajukan calon bengcu agar pemilihan dapat segera dilakukan." Demikian Tai Wi Siansu mengakhiri kata-katanya yang singkat.

Ramai suara hadirin yang hendak mengajukan calon masingmasing.

Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara keras, ternyata yang bicara adalah Liok Kong Ji. Pemuda ini mengerahkan suaranya sehingga mengatasi suara orang-orang bicara.

"Nanti dulu, Tai Wi Siansu! Aku mau tahu dengan cara bagaimanakah calon-calon itu akan dipilih? Bagaimana cara untuk menetapkan bengcu yang dipilih?" Wi Siansu memandang dengan sinar mata dingin ke arah pemuda itu. Kakek ini yang dahulu pernah bertemu dengan Kong Ji ketika ia ikut mengejar dan mengepung penjahat Wan Sin Hong, memang kurang suka melihat pemuda ini yang biarpun berkepandaian tinggi, namun sikapnya amat tidak menyenangkan dan agak sombong.

"Tentu saja akan dipergunakan aturan lama yang sudah dipakai oleh nenek moyang kita. Di antara para calon bengcu harus kita pilih bersama dan masing-masing boleh menyatakan pendapatnya mengapa memilih bengcu itu, kemudian pertentangan pendapat diselesaikan dengan melihat keadaan calon bengcu maing-masmg.

Kalau perlu boleh diukur tentang pribadi, kepandaian, keturunan dan lain-lain." Liok Kong Ji mengeluarkan suara dingin. "Aturan lama yang sudah usang!" Ia lalu menghadapi semua orang dan berkata nyaring. "Aturan lama yang sudah usang itu hanya akan memancing keributan di antara kita sendiri. Menurut pendapatku, lebih baik kalau diadakan pemilihan di antara calon bengcu berdasar suara terbanyak! Yang paling banyak dapat sokongan suara dialah yang menang," Kembali terdengar suara gaduh ribut menyambut usul ini.

Seorang tosu tinggi kurus berjenggot putih, yakni Yang Seng Cu, murid tertua dari Tai Siansu, berdiri dan berkata keras.

"Aturan itu tidak boleh dipakai sama sekali! Kita tidak bisa meninggalkan aturan lama yang sudah disaring orang-orang gagah jaman dahulu. Memilih berdasarkan suara terbanyak amat berbahaya. Tentu saja yang menang adalah mereka yang membawa banyak konco dan kaki tangan, sedangkan mereka yang dengan jujur datang hanya membawa sedikit kawan akan kalah suara.

Paling perlu dilihat buktinya apakah emas yang dipilih itu tulen atau palsu. Memilih bengcu sama dengan memilih barang berharga, harus diteliti benar-benar. Kalau sampai kita salah pilih dan mendapatkan seorang yang berwatak bejat menjadi bengcu, bukankah kita bersama diseret ke lembah kehinaan? Paling baik para calon bengcu itu memperlihatkan kepandaian masing-masing agar kita semua dapat membuka mata dan menilai."

"Akur! ini akur sekali!" terdengar banyak suara menyambut.

"Tidak cocok! Lebih baik menurut usul Tung-nam Tai-bengcu"" terdengar suara di sana-sini dan jumlah suara ini banyak sekali.

Diam-diam Tai Wi Siansu terkejut dan berdebar hatinya. Mengapa di antara orang-orang yang menyatakan setuju akan usul Liok Kong Ji itu terdapat orang-orang dari rombongan Siauwlim dan partai-partai lain? Benar-benar aneh sekali.

Kong Ji tersenyum. "Sudahlah, hal ini tak perlu diributkan. Kita lihat saja macam apa calon-calon bengcu yang dimajukan. Tentang mengukur kepandaian boleh saja, bahkan tentu para pemilih juga menjagoi dan membela calon masing-masing." Kata kata ini merupakan sindiran bahwa tentu akan terjadi keributan dan pertentangan mengadu kepandaian dalam pemilihan ini dan menyatakan tidak takut sama sekali. Hal ini memang tidak aneh.

Setiap kali orang-orang kangouw yang rata-rata mengandalkan kekerasan dan kepandaian ini melakukan pemilihan sesuatu, pasti akan terjadi bentrok dan pertempuran akan tetapi akhirnya hal itu akan beres yang dipilih didapatkan dengan tepat dan cocok, sedangkan pertempuran itu bahkan ada baiknya karena biasanya lalu siapa atau pihak mana yang betul dan pihak mana yang menyeleweng. Oleh karena itu, semua orang gagah tidak takut menghadapi bentrok dalam pemilihan ini.

Karena mengira bahwa calon-calon bengcu yang diajukan tentu banyak sekali, Tai Wi Siansu segera minta nama-nama calon bengcu itu disebutkan. Akan tetapi alangkah herannya ketika ia hanya mendapatkan lima orang calon saja! Pertama-tama adalah Liok Kong Ji yang disebut Tung-nam Tai-bengcu, kedua adalah dia sendiri, orang ketiga adalah Go Ciang Le yang dipilih oleh tokohtokoh partai lain terutama sekali oleh Tai Wi Siansu sendiri. Ke empat adalah See-thian Tok-ong yang didukung oleh anak isterinya dan delapan orang pengiringnya, juga oleh beberapa orang kangouw yang sudah mendengar nama besar Raja Racun dari Barat ini.

Adapun orang kelima adalah Cam-kauw Sin-kai yang ditunjuk dan diusulkan oleh Ciang Le dan isterinya serta oleh Lie Bu Tek pendekar buntung.

"Hanya lima orang saja calon bengcu?" tanya Tai Wi Siansu dengan wajah terheran-heran. "Pada pemilihan bengcu dahulu, calonnya saja mendekati lima puluh orang!" Tiba-tiba berkelebat bayangan putih dan tahu-tahu seorang anggauta Hui-eng-pai telah berdiri di depan Tai Wi Siansu. Dengan hormat dia menjura dan bertanya.

"Totiang, saya disuruh oleh Niocu untuk bertanya apakah para calon bengcu ini nanti mengukur kepandaian masing-masing?" Tai WI Siansu mengangguk-angguk "Memang seharusnya demikianlah." Gadis yang manis dan bertahi lalat pada telinga kirinya ini berseri wajahnya dan berkata cepat. "Kalau begitu harap catat ketua kami sebagai calon ke enam!" Tat WI Siansu mengerutkan keningnya dan mengerling ke arah rombongan Hui-eng-pai di mana ia melihat Li Hwa duduk sambil tersenyum manis dan sepasang matanya bersinar-sinar. Ia hanya bisa mengangguk menyatakan setuju dan gadis suruhan itu melompat kembali ke tempatnya di mana dia dan kawan-kawannya berbistk dan nampaknya bergembira.

"Calon ke enam telah dipilih, yakni Hui-eng Niocu Siok Li Hwa Ketua Hui eng-pai!" kata Tat Wi Siansu memperkenalkan kepada orang banyak. Terdengar orang bertepuk tangan menyambut pemberitahuan ini. Dapat dimengerti bahwa yang bersorak ini sebagian besar adalah orang-orang muda yang mengagumi kecantikan Li Hwa. Pula di situ hanya ada seorang saja wanita yang berani terjun menjadi calon bengcu, siapakah yang tidak menjadi kagum? Akan tetapi diam-diam. banyak yang tertawa geli kalau memikirkan alangkah janggalnya kalau dunia kang-ouw dikepalai oleh seorang bengcu wanita!

Hal ini memang disengaja oleh Li Hwa. Tidak saja ia teringat akan pesan mendiang Pat-jiu Nio-nio bahwa ia harus dapat mengangkat derajat wanita dan ini memperlihatkan bahwa wanita pun tak kalah oleh pria, juga sebagai seorang muda yang berdarah panas ia sudah gatal-gatal tangan untuk menguji kepandaiannya dengan para calon bengcu! Jarang ia bertemu dengan lawan yang tangguh dan sekaranglah saatnya baginya untuk menguji kepandaian yang sekian lamanya ia pelajari dengan rajin sekali.

Kemudian Kong Ji meloncat ke depan, mengibas-ngibaskan hudtimnya dengan lagak sombong sekali.

"Biarpun pemilihan calon bengcu itu tidak didasarkan suara terbanyak, akan tetapi setidaknya harus diumumkan dan didengar oleh semua orang siapa-siapakah yang memilih calon-calon bengcu yang sekarang ini agar tidak main gila dalam pemilihan ini dan agar diketahui oleh semua orang bahwa calon yang diajukan benar-benar dikehendaki orang banyak di dunia kang-ouw!" Wajah Tai Wi Siansu menjadi merah. Kata-kata ini mengandung sindiran dan pernyataan tidak percaya kepada para pemimpin pertemuan seakan-akan para pemimpin pertemuan akan berlaku curang dalam pemillhan ini!

"Sudah tentu!" kata Tai Wi Siansu kasar, karena memang betapapun juga permintaan ini cukup pantas dan tak dapat ditolak lagi. Tai Wi Siansu lalu berkata kepada orang banyak.

"Cuwi-enghiong yang berada di sini harap suka mengangkat tangan apabila nama calon bengcu pilihan pinto sebut. Kemudian setelah memandang ke empat penjuru ia berkata dengan suaranya yang ringan tapi halus.

"Calon pertama, Tung-nam Tai-bengcu Liok Kong Ji!" Terdengar suara gemuruh orang-orang menyambut dengan sorakan dan banyak sekali lengan tangan kanan diangkat tinggi-tinggi di atas kepala. Melihat banyaknya pendukung, Tai Wi Siansu tidak merasa aneh. Akan tetapi ketika ia dengan perhatian ke arah para penyokong calon ia menjadi kaget sengah mati. Demikian pun Leng Hoat Taisu Ketua Thian-san-pai dan Bu Kek Siansu Ketua Bu-tong-pai semua menahan napas agar tidak mengeluarkan seruan kaget. Mereka hanya dapat saling pandang, penuh rahasia dan perasaan terkejut dan terheran-heran. Kini dengan jelas terlihat oleh mereka bahwa semua wakil yang terdiri dari rombongan-rombongan kecil wakilwakil dari partai-partai besar di dunia, Kiang san-pai ikut mengangkat lengan menyokong nama Liok Kong Ji Juga semua pemimpin dari partai-partai kecil lainnya seperti partai-partai Imyang- bu-pai, Bu-cin-pang, Kwan-cin-pai, Shansi Kai-pang. Twa-to Bu-pai dan lain-lain juga menyokong Liok Kong Ji. Kalau partaipartai ini menyokong pemuda itu, masih tidak aneh karena bukankah pemuda itu juga sudah diangkat sebagai bengcu dari timur dan selatan oleh mereka ini? Akan tetapi, kalau partai-partai Siauw-lim-pai, Go-bi-pai lain-lain ikut memilihnya, inilah hebat.

Juga tokoh-tokoh lain yang tidak ikut memilih Liok Kong Ji, saling pandang dengan hati kecut. Dilihat begitu saja malah yang memilih Liok Kong Ji lebih dari setengah orang yang hadir di situ dan kalau sampai terjadi keributan akibat rebutan kursi bengcu, pemuda itu bersama pendukungnya yang amat banyak tentu merupakan lawan yang amat berat. Apalagi ketika di antara para pendukung itu terdapat tokoh besar seperti Gi Seng Cu, para ketua partai dan wakil-wakil partai besar yang amat banyak pula anak buahnya.

Akan tetapi kini sudah terdengar lagi. suara Tat Wi Siansu yang mengumumkan nama calon ke dua.

"Calon ke dua, Hwa I Enghiong Go Ciang Le!" Nama besar Go Ciang Le murid Pak Kek Siansu, siapakah yang belum pernah mendengar? Semua orang memandang kepada pendekar besar itu, kagum dan segan. Akan tetapi yang mendukung pendekar besar ini tidak berapa banyak. Hal ini disebabkan oleh karena bukan saja mereka yang hadir itu sebagian besar adalah kaki tangan Liok Kong Ji, akan tetapi juga karena selama ini Go Ciang Le menyembunyikan diri saja tidak terjun di dunia kang-ouw sehingga orang-orang hanya mengenaI nama besarnya saja akan tetapi tidak pernah menyaksikan sepak-terjangnya. Tentu saja orang-orang masih ragu-ragu untuk memilihnya sebagai bengcu. Akan tetapi sebaliknya, tokoh-tokoh besar seperti Tat Wi Siansu tidak ragu-ragu lagi untuk memilih Go Ciang Le sebagai bengcu.

"Calon ke tiga, Cam-kauw Sin-kai!" Pendukung kakek pengemis sakti ini banyak juga, karena selain Ciang Le, isterinya, Lie Bu Tek dan beberapa orang tokoh perkumpulan-perkumpulan pengemis yang sudah mengenal kakek ini, juga ada orang-orang kang-ouw yang sudah lama mengagumi Cam-kauw Sin-kai memberikan suaranya dan mengangkat tangan tanda mendukung. Cam-kauw Sin-kai sendiri hanya tertawa tawa berkata perlahan. "Tua bangka macam aku mana pantas menjadi bengcu?" Tai Wi Siansu sudah mengumumkan lagi.

"Calon ke empat, See-thian Tok-ong suaranya terdengar nyaring dan nama menimbulkan gelisah dan rasa ngeri dalam hati para pendengarnya. Nama Racun dari Barat ini sudah terkenal bagai tokoh berwatak iblis yang menakutkan, apalagi sekarang menyaksikan orangnya yang memang menyeramkan. Kecut-kecut hati semua orang yang memilih calon lain, karena di samping Liok Kong Ji yang banyak pengikutnya, See-thian Tok-ong inilah yang merupakan lawan berat dan juga merupakan orang yang tak disuka.

"Calon ke lima, yang sesungguhnya tak perlu diadakan, adalah pinto sendiri," kata Tat Wi Siansu. Kata kata ini disambut oleh suara ketawa banyak orang yang menganggap kakek itu berkelakar.

Memang lumayan juga kelakar ini, untuk selingan dan menghibur hati yang berdebar tegang menghadapi pemilihan bengcu dan mendengar nama See thian Tok-ong tadi.

Tiba-tiba terjadi keributan kecil di rombongan Teng-san-pai..

Semua orang memandang dan ternyata yang membikin ribut adalah Cam-kauw Sin-kai. Kakak pengemis sakti ini entah kapan, tahu-tahu telah berada di situ dan menyerang seorang di antara rombongan Teng-san-pai itu sambil berseru, "Kau tukang colong ayam!" Seruan ini dibarengi oleh serangannya memukul ke dada dengan tangan kanan dan mencengkeram pusar dengan tangan kiri.

Serangan yang hebat, cepat dan kuat sekali! Semua orang terkejut melihat ini, terutama orang yang diserangnya itu. Orang itu adalah seorang yang berpakaian seperti tosu dan dia adalah seorang di antara para wakil Teng-san-pai, muka dan lagaknya menunjukkan bahwa dia adalah seorang ahli silat pandai. Menghadapi serangan yang demikian dahsyat dari Camkauw Sin-kai tosu ini cepat membanting tubuh ke belakang sambil berpoksai dengan cara berjungkir balik. Akan tetapi terdengar suara ketawa bergelak dan kaki Cam-kauw Sin-kay menyentuh pantatnya sehingga tosu itu terpental dan jatuh bergulingan seperti sebuah bal karet ditendang. Cam-kauw Sin-kay mengeluarkan suara ketawa bergelak-gelak, suara ketawanya aneh sekali dan pengemis ini lalu melompat kembali ke dekat Gak Soan Li. Memang sejak tadi, pengemis ini nampak bicara perlahan-lahan dengan nona yang siuman dari pingsan ini.

Ciang Le, isterinya, dan Lie Bu Tek memandang kepada pengemis tua itu dengan heran. Mereka tidak melihat sesuatu alasan mengapa Cam-kauw Sin-kai melakukan penghinaan kepada wakil Teng-san-pai itu. Akan tetapi Cam-kauw Sin-kai yang melihat pandang mata reka hanya tersenyum-senyum, wajahnya berseri-seri aneh. Kemudian ia berdiri dan mengangkat tangannya tinggi-tinggi sambil berkata kepada Tai Wi Siansu, "Masih ada lagi calon ke tujuh, akulah orangnya yang memilihnya dan harap diumumkan!" Semua orang mendengar ucapan yang dilakukan dengan pengerahan lweekang yang tinggi ini.

Tai Wi Siansu sudah mengenal siapa adanya Cam-kauw Sin-kai dan melihat kelakuan pengemis tua ini, Ketua Kun-lun-pai tersenyum dan menjawab sabar.

"Cam-kauw Sin-kai, kauumumkan sendiri agar kita semua mendengar, Siapakah adanya calon pilihanmu yang terhormat itu?" Cam-kauw Sin-kai memandang ke empat penjuru memutarmutar tubuhnya lalu berkata dengan keras sekali setelah mengumpulkan tenaga dan napasnya.

"Aku mengajukan calon bengcu kiranya paling tepat pada waktu ini menjadi pemimpin kita, dia itu bernama Wan Sin Hong!" Untuk sedetik terdengar suara seruan kaget, lalu disusul suasana sunyi senyap. orang-orang memandang kepada Cam-kauw Sin-kai seolah-olah pengemis itu telah berubah ingatannya. Bahkan orang-orang yang berpihak kepadanya juga memandang dengan heran. Ciang Le sendiri memandang dengan muka tercengang, sedangkan Lie Bu Tek memandang kepada Camkauw Sin-kai dengan mata menjadi basah air mata!

Ketika Cam-kauw. Sin-kai menyebut nama bengcu yang dipilihnya, nama "Wan Sin Hong" la sebutkan dengan pengerahan tenaga sekuatnya sehingga lama setelah ia menutup mulut gema suaranya masih terdengar dari sekeliling puncak itu. Tiba-tiba dari jauh sekali, terdengar suara ketawa yang aneh gemanya bergemuruh seperti suara geluduk dari jauh. Semua orang terkejut sekali, bahkan Ciang Le dan tokoh-tokoh besar yang berada di situ juga kaget karena hanya orang yang memiliki khikang tinggi bukan main yang dapat mengeluarkan suara seperti itu gemanya! Akan tetapi suara itu hanya timbul sebentar saja karena lalu lenyap tak disusul oleh suara apapun juga.

Kemudien terdengar pekik lain yang nyaring sekali, disusul oleh pekikan semacam itu yang kurang nyaring, kemudian nampak bayangan-bayangan putih berkelebatan, bayangan-bayangan putih yang cepat sekali gerakannya laksana kelompok burung garuda menyambar. adalah pekik yang dikeluarkan oleh Siok Li Hwa, disambut oleh pekik dari para anggautanya. Pekik ini merupakan pekik aba-aba dan sebentar saja Li Hwa dan para anggautanya sudah mengurung tempat di mana berdiri Cam-kauw Sin-kai dan rombongan Go Ciang Le! Li Hwa sendiri lalu melangkah maju, pedang hijau berkilauan di tangannya. Ia menghadapi Cam-kauw Sin-kai dengan wajah keren dan mata berapi-api.

***

Jilid 26 - Beranda - Jilid 28

26 Pedang Penakluk Iblis

Jilid 26

DARI jauh See-thian Tok-ong sudah melihat adanya tiga orang di tengaj jalan itu dan ia segera mengenal siapa adanya mereka ini. Tentu saja ia mengenal Kong Ji, dan juga tidak lupa kepada Giok Seng Cu, akan tetapi orang-orang ketiga ia tidak kenal. hanya ia dapat menduga bahwa orang ke tiga itu tentulah bukan orang sembarangan. Tokoh lain yang manapun juga kiranya takkan dapat membangkitkan perhatian Seethian Tok-ong, akan tetapi terhadap Kong Ji, Raja Racun ini memandang lain lagi. Ia mendapatkan watak yang aneh dan sifat yang mengagumkan hatinya dalam diri Kong Ji, dan ia maklum bahwa Kong Ji merupakan seorang saingan berat, seorang lawan yang tidak saja lihai ilmu silatnya akan tetapi juga amat licin. Orang macam Kong Ji ini lebih baik dijadikan sekutu daripada dijadikan lawan.

"Berhenti!" katanya kepada busu yang mengiringnya di belakang.

Di depan ada orang biar aku dan anak isteriku yang bicara dengan mereka. Kalau tidak kuberi tanda, jangan kalian mendekat. Mereka itu bukan orang-orang biasa." Para busu tentu saja tidak berani membantah dan mereka melompat turun dari kuda dan duduk di atas tanah menanti sambil berteduh di dalam bayangan kuda. Juga See thian Tok-ong, Kw Ji Nio, dan Kwan Kok Sun melompat turun dari kuda, memberikan kuda mereka kepada para busu kemudian mereka berlari menghampiri Kong Ji dan dua orang kawannya.

Kwan Kok Sun sejak tadi sudah mendongkol sekali melihat Kong Ji, apalagi melihat Giok Seng Cu berada pula di situ. Tanpa berkata apa-apa setelah jarak mereka dekat dengan rombongan Kong Ji, Kok Sun menggerakkan tangannya dan dua buah benda hitam melayang ke arah Kong Ji dan Giok Seng Cu.

Kong Ji dengan tenang mengangkat kaki kiri, membanting kaki itu dibarengi dengan bergeraknya tangan kiri ke depan, ke arah benda hitam yang menyambar ke arahnya. Demikian pula Glok Seng Cu menggerakkan tangan dan melakukan pukulan Tin-san-kang.

Dua benda yang disambitkan oleh Kok Sun tadi keduanya terpental kembali seakan-akan tertumbuk dengan benda keras sebelum menyentuh tangan Kong Ji dan Giok Seng Cu. Setelah dua benda hitam itu jatuh di atas tanah, baru terlihat bahwa dua buah benda ini adalah dua ekor binatang kelabang hitam yang berbisa.

Biarpun keduanya mempergunakan Tin-san-kang untuk menangkis serangan senjata rahasia aneh itu, akan tetapi melihat betapa kelabang yang ditangkis oleh Giok Seng Cu masih berkelojotan sedangkan yang oleh Kong Ji mati tak bergerak sama sekali, dapat diambil kesimpulan bahwa pada dewasa ini Ilmu Tinsan- kang yang dimiliki bekas murid itu lebih tinggi daripada bekas gurunya sendiri. Memang Kong Ji sang cerdik sekali telah dapat mengkombinasikan Tin-san-kang dengan Hek-tok-ciang yang ia pelajari dari See-thian Tok-ong, maka kalau dibuat perbandingan, dihadapkan dengan Tin-san-kang dari Giok Seng Cu ia lebih menang setingkat karena pukulan Tin-san-kangnya mengandung racun dari pukulan Hek-tokciang (Tangan Racun Hitam). Sedangkan apabila ia dihadapkan dengan Hek tok-ciang dari See-thian Tok-ong, ia masth lebih hebat karena pukulannya mengandung tenaga Tin-san-kang (Pukulan Menggetarkan Gunung) yang maha dahsyat!

"Kok Sun, perlahan dulu. Mengapa kau datang-datang mengeluarkan senjata berbisa yang jahat?" kata Kong Ji nienegur Kok Sun yang memandang dengan mata terbelalak melihat kelihaian Kong Ji. Ta akui bahwa betapa pun tinggi lweekangnya, belum sanggup ia kalau harus memukul kelabang itu dari jarak jauh dan sekaligus memunahkan tenaga sambitannya sambil membunuh kelabang itu pula. Maka ia diam saja. Kong Ji sebaliknya menghadapi See-thian Tok ong sambil tersenyum, menggerakgerakkan hudtimnya dengan penuh gaya, kemudian berkata nadanya menegur halus.

"See—thian Tok-ong, kau makin tua makin gagah saja.

Terimalah ucapan selamat dariku bahwa kini telah menjadi orang berpangkat. Bagaimana aku harus menyebutmu? Apakah taijin (orang besar) ataukah kau sudah mempunyai pangkat tertentu? Menjadi thai-ciangkun (panglima besar)?"

"Laok Kong Ji jangan kau main-main." See thian Tok-ong membentak dan mukanya yang hitam makin menghitam.

"Siapa main-main? Aku bengcu dari seluruh partai persilatan di selatan dan timur, calon bengcu dari seluruh dunia kang-ouw, tak perlu mengajak See-thian Tok-ong main-main. Sebaliknya, kaulah yang sudah main-main dengan kami, kau yang sudah menewaskan kawan-kawan kami di istana."

"Hm, sudah kuduga. Kau kiranya orang yang mengirim pembunuh-pembunuh itu...." See-thian Tok-ong berkata perlahan dan kini matanya melirik tajam siap sedia untuk bertempur. Kalau saja ia tidak tahu betul betapa lihainya bocah setan ini, tentu ia tidak sudi bercakap-cakap dengan bekas muridnya. Biasanya, kedua tangan See-thian Tok-ong lebih banyak bergerak daripada bibirnya.

"Benar aku orangnya. Dan mengapa kau mendadak sontak melindungi kaisar. Mengapa kau seorang yang datang dari See-thian mencampuri urusan kami? Apakah kau benar-benar hendak menentang gerakan para pejuang rakyat, See-thian Tok-ong?"

"Hm, kau tidak adil. Sudah tahu aku seanak isteri berada di istana menjadi pengawal, mengapa menyuruh tikus-tikus busuk membikin kacau? Bukankah itu berarti tidak memandang mata kepada kami bertiga?" Tiba-tiba Siangkoan Bu melompat maju dan berkata sengit, "Seethian Tok ong, sudah lama sekali aku Mo-kiam Siangkoan Bu mendengar nama besarmu juga kesohoran tentang kekejamanmu.

Kemarin dulu kau menewaskan muridku yang paling baik, sekarang marilah kita membuat perhitungan!" Kakek ketua Partai Kwan-cin pai itu memang sedang berduka karena muridnya yang tersayang yakni Thian sin Siok Hoat, telah tewas ketika mencoba untuk membunuh kaisar dengan kawan-kawannya, tewas dalam tangan See-thian Tok-ong. Maka begitu bertemu dengan pembunuh muridnya, tak dapat menahan sabar lagi dan segera maju menantang.

Terdengar suara haha hihi dari samping disusul kata-kata mengejek.

"Cacing perut tua bangka, kau sudah begini kurus mau mampus masih berani menantang Ayah. Kau baru patut bertanding melawan Ayah kalau sanggup meneima dua kepalan tanganku!" Mo-kiam Siangkoan Bu adalah ketua dari sebuah partai besar, yaitu Partai Persilatan Kwan-cin-pai. Selama puluhan tahun di Anhwei belum pernah ada orang berani menghinanya. Sekarang ia dihina orang secara hebat, cepat ia menengok. Kemarahannya memuncak ketika ia mendapat kenyataan bahwa yang mengeluarkan kata-kata penuh hinaan hanya seorang pemuda gundul yang seperti miring otaknya.

"Bocah edan, jadi kau ini anak See-thian Tok-ong? Pantas, pantas tidak banyak bedanya. Kau mau coba-coba? Mari, mari, coba kauperlihatkan betapa empuknya dua pukulan tanganmu. Ha, ha, ha!" Kok Sun mengeluarkan suara seperti kuda meringkik, kemudian ia menerjang maju dan kedua tangannya dipukulkan ke arah dada kakek tua itu sambil mengerahkan tenaga dan mempergunakmi Ilmu Pukulan Hek-tok-ciang yang beracun!

Mo-kiam Siangkoan Bu belum pernah mendengar akan kelihatan bocah gundul putera See-thian Tok-ong, maka ia memandang rendah dan dengan berani ia menyambar kedua tangan itu, dipapak oleh kedua telapak tangannya sendiri dengan maksud hendak mempermainkan Kwan Kok Sun.

Begitu dua pasang telapak tangan bertemu, Kok Sun merasa telapak tangannya dingin dan Iengket dengan telapak tangan lawan yang ternyata pergunakan tenaga dalam menyedot! Ia kaget sekali karena kalau tenaganya sampai tersedot dan kalah kuat, ia akan menderita luka dalam dan untuk melepaskan kedua tangannya, sudah tak keburu lagi. Terpaksa dengan mati-matian Kok Sun mengerahkan lweekang dan membawa hawa berbisa dari Hek-tokciang.

Di lain pihak, tadinya Siangkoan merasa girang dan mengeluarkan suara mengejek ketika dengan mudahnya ia dapat menempel dua tangan lawannya. Akan tetapi segera wajahnya berubah cepat ketika ia merasa betapa telapak tangannya gatalgatal dan sakit serta panas sekali. Maklumlah ia bahwa ia telah terkena pukulan yang berbisa.

"Celaka"" serunya perlahan dan cepat-cepat ia menyalurkan hawa dalam tubuh merubah tenaganya yang tadi "menyedot" sekarang sebaliknya mendorong untuk mencegah menjalarnya racun ke dalam lengan dan terus menyerang jantung. Demikianlah, dua orang itu sekali gebrak saja sudah saling bertempelan dua telapak tangan tanpa dapat dipisahkan lagi, masing-masing mempertahankan diri. Biarpun Ilmu Hek-tok-ciang amat lihai, akan tetapi oleh karena tenaga lweekang dari kakek itu masih menang setingkat, maka kini kedua pihak terancam bahaya, Siangkoan Bu terancam racun Hek-tok-ciang, sebaliknya Kwan Kok Sun terancam bahaya terluka oleh saluran tenaga lweekang yang lebih kuat!

See-thian Tok-ong yang melihat hal ini menjadi tak sabar lagi. Ia menepuk punggung anaknya sambil mencela.

"Kok Sun, mengapa kau begitu tolol?" Tepukan itu biarpun hanya perlahan saja dan dilakukan di atas punggung Kok Sun namun sebetulnya Raja Racun itu mengalirkan hawa pukulan atau dorongan melalui tubuh dan lengan anaknya sehingga tiba-tiba Siangkoan Bu menjadi terdorong. Mati-matian kakek ini mempertahankan diri dan kedua kakinya sudah menggigil. Hampir ia tidak kuat dan hawa beracun Hek-tok-ciang sudah mulai mendesak sehingga sampai di pergelangan tangannya. Buktinya, kedua tangannya mulai menjadi hitam, dari telapak tangan sampai mundur ke pergelangan kedua tangan. Rasa gatal dan panas makin menusuk.

Tiba-tiba merasa punggungnya di sentuh orang, sentuhan perlahan akan tetapi kuat bukan main.

"Siangkoan Lo-enghiong, tak perlu mengadu nyawa dengan orang segolongan sendiri!" terdengar suara Kong Ji dan tiba-tiba semacam tenaga yang dahsyat mengalir melalui punggung Siangkoan Bu terus mendesak ke sepasang lengan dan Siangkoan Bu melihat tanda hitam pada lengannya mundur terus terdesak sampai lenyap. Akan tetapi dia mentaati kata-kata Kong Ji dan tidak mau mempergunakan kesempatan itu menyerang Kok Sun, sebaliknya ia lalu meluncurkan kedua tangannya yang menempel tadi ke bawah dan melompat mundur, Kok Sun mandi keringat.

Baiknya Si Tua itu tidak mau membalas serangannya, karena setelah mendapat bantuan dan Kong Ji, Kok Sun merasa betapa Hek-tok-ciang memukul secara membalik kepada dirinya sendiri!

"Bagus, kepandaianmu ternyata sudah meningkat luar biasa sekali!" See thian Tok-ong memuji dengan kagum. Ta tidak marah karena melihat bahwa ternyata Kong Ji tidak bermaksud buruk dan kawan-kawannya juga tidak mau melanjutkan serangan dan mencelakai Kok Sun yang sudah berada di pihak terancam.

"See-thian Tok-ong, kau lihat bahwa kami bermaksud baik.

Biarpun kau sudah menewaskan kawan-kawan kami, hal itu kami anggap sebagai sebuah salah paham belaka. Biarlah yang sudah lewat sudahlah, akan tetapi hendaknya lain kali kita dapat bekerja sama. Bukankah kalian bertiga hendak naik ke Ngo-heng-san?"

"Benar."

"Apakah hendak mengajukan seorang calon bengcu?" tanya pula Kong Ji.

"Habis untuk apa lagi kalau tidak untuk merebut kedudukan bengcu?" Kong Ji tersenyum. "See-thian Tok-ong kau sudah mempunyai kedudukan tinggi dan baik di istana apakah masih belum puas dan kini hendak merebut kedudukan bengcu? Ketahuilah bahwa kedudukan itu boleh dibilang sudah berada di tanganku. Bukankah lebih baik kau membantu suara dan menyokong aku saja agar kelak kita bisa saling menolong, kau sebagai kepala pengawal istana aku sebagai bengcu? Bukankah kita akan menjadi sekutu yang baik dan saling menguntungkan?" See-thian Tok-ong mengerutkan kening. Memang ia pikir betul juga kata-kata Kong Ji itu. Akan tetapi sebagai seorang tokoh besar mana ia mau mengalah begitu saja terhadap seorang muda? "Bagaimana nanti sajalah, Liok-sicu. Biar kita bertemu lagi di Puncak Ngo-heng-san dan kelak kita sama lihat saja bagaimana perkembangannya. Hanya satu hal kujelaskan bahwa aku memang lebih suka bekerja sama denganmu daripa dengan orang lain." Kong Ji tertawa penuh kemenangan, lalu menjura sampai dalam.

"Terima kasih banyak, Lo-enghiong, terima kasih banyak.

Sampai bertemu di puncak Ngo-heng-san dan selamat jalan." See-thian Tok-ong melambaikan tangan ke belakang dan para busu yang sudah siap segera mendatangi dengan kuda ayah, ibu dan anak itu. Mereka segera melanjutkan perjalanan dengan cepat.

Debu mengepul tinggi dan di antara kepulan debu ini terdengar suara Kong Ji tertawa, suara ketawa yang amat menyeramkan.

Tak lama kemudian dari timur, selatan dan utara datang pasukan-pasukan partai-partai yang menyokong Kong Ji, di antaranya adalah partai lm-yang-bu-pai yang anggautanya tidak begitu banyak lagi setelah dibasmi oleh See-thian Tok-ong. Partai Bu-cin-pang, Kwan-cin-pai, Shan-si Kaipang, dan Twa-to Bu-pai.

Setiap partai terdiri kurang lebih seratus orang sehingga di belakang Kong Ji sudah siap kurang lebih lima ratus orang. Kong Ji memberi penjelasan dan siasat kepada lima orang kawannya yang masingmasing segera memberi perintah kepada pembantunya. Tak lama kemudian semua pasukan itu pergi dari situ mengambil jalan sendiri, akan tetapi semua menuju ke Ngo-heng-san. Adapun Kong ji bersama lima orang kawannya melanjut perjalanan dengan menunggang kuda ke Ngo-heng-san.

Ngo-heng-san adalah lima puncak bukit yang berada di Pegunungan Kin leng-san. Pegunungan ini disebut Ngo-heng san adalah karena puncak ini mempunyai lima lereng atau daerah yang berlainan sifatnya dan pula kalau orang berdiri di puncak yang tidak berapa tinggi ini, orang akan melihat bahwa puncak ini di kelilingi oleh lima gunung besar yakni Kin-leng-san, Tapa-san, Luliang-san dan Taihang-san.

Ngo-heng-san tidak terkenal karena tingginya atau besarnya, melainkan karena indahnya pemandangan alam yang berada di tempat itu. Apalagi kalau orang memandang tamasya alam dari puncaknya sekali, benar-benar jarang ada pemandangan alam seindah kalau dilihat dan situ. Akan tetapi sayangnya, jalan menuju ke puncak Ngo-heng-san amat sukar dan berbahaya sehingga pernah kaisar sendiri terpaksa membatalkan keinginannya menikmati tamasya alam dari puncak Ngo-heng-san. Bagi pelancong biasa saja jangan harap akan dapat mencapai puncak, dan sudah ada beberapa orang nekat dan jumawa, akhirnya lenyap tak meninggalkan bekas ketika mencoba-coba untuk mendaki sampai ke puncak dengan pertolongan tongkat dan tambang. Oleh karena itu, biarpun terkenal indah, keadaan puncak Ngo heng-san selalu sunyi.

Akan tetapi, bagi orang yang berkepandaian tinggi, tentu saja tidak begitu sukar untuk mendaki sampai ke puncak, maka boleh dibilang bahwa puncak Ngo-heng-san hanya mengenal kaki orangorang pandai, tak pernah puncak itu diinjak oleh orang-orang biasa.

Ahli-ahli silat tinggi, perantau-perantau di dunia kang-ouw dari segala jurusan, apabila berada di daerah ini, pasti takkan melewatkan kesempatan baik itu untuk megunjungi puncak Ngoheng- san, dengan tiga macam maksud, pertama untuk menikmati keindahan alam, kedua untuk menjajal kepandaian sendiri apakah cukup tinggi untuk menempuh perjalanan yang sukar dan berbahaya itu, ketiga untuk mencari sahabat karena besar kemungkinan mereka akan bertemu dengan tokoh-tokoh kangouw ternama di puncak itu.

Pada hari itu bahkan semenjak beberapa hari yang lalu, keadaan di sekitar daerah Pegunungan Ngo-heng-san tidak seperti biasanya.

Tidak sunyi sepi seperti biasa, melainkan penuh dengan orang yang mendaki ke puncak. Mereka ini terdiri dari bermacam-macam orang yang mendaki dari kaki bukit sebelah selatan, utara, timur atau dan barat. Akan tetapi, biarpun mereka terdiri dari orang-orang dengan pakaian dan gaya bermacam-macam, ternyata mereka semua adalah orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi. Hal ini mudah saja dilihat dari cara mereka berjalan, dan pula bagaimana orang dapat mendaki ke puncak kalau tidak berkepandaian tinggi? Di puncak sudah berkumpul tokoh-tokoh besar yang merupakan pelopor-pelopor daripada pemilihan bengcu baru. Di puncak bukit itu terdapat sebuah padang rumput yang luas dan tempat inilah yang dijadikan tempat pertemuan, tempat pemilihan bengcu. Di situ telah kelihatan kakek-kakek yang sikapnya alim duduk berunding untuk merencanakan cara pemilihan yang akan dilakukan.

Di antara mereka terdapat Leng Hoat Taisu ketua Thian-san-pai yang bertubuh kecil bongkok kepala botak bermuka merah dan licin tak berkumis. Ketua Thian-san-pai ini datang bersama beberapa belas orang tokoh Thian-san-pai yang terkemuka, yang pada waktu itu mengambil tempat duduk di atas rumput tak jauh dari tempat para pemimpin berkumpul. Juga kelihatan ketua Kun-lun-pai yang sudah berusia delapan puluh tahun, yakni Tam Wi Siansu yang tubuhnya tinggi kurus, sikapnya lemah lembut dan rambutnya yang sudah putih semua itu berkibar terhembus angin gunung yang sejuk. Orang ke tiga yang menjadi tokoh besar dan ketua partai adalah Bu Kek Siansu ketua Bu-tong pai juga kakek itu bertubuh tinggi kurus berpakaian seperti tosu dan berjenggot panjang.

Yang mengherankan tiga orang kakek yang termasuk ciangbunjin (ketua) dari partai-partai besar ini, juga mengherankan semua orang yang hadir di situ, adalah utusan-utusan dari Siau-lim-si, Gobi- pai, Teng-san-pai, Hong-san-pai dan lain-lain partai persilatan besar bukan terdiri dari ketuanya sendiri atau setidaknya yang terkemuka, melainkan utusan-utusan ini adalah orang-orang yang sama sekali tidak terkenal di dunia kang-ouw. Akan tetapi, oleh karena masing masing membawa surat kuasa yang ditulis oleh ketua masing-masing partai mereka ini diakui sebagai wakil dari partai-partai besar itu.

"Heran sekali, mengapa Kian Hok Taisu dan Pang Soan Tojin tidak datang sendiri?" berkata Tai Wi Siansu Ketua Kun-lun-pai kepada Bu Kek Siansu Ketua Bu-tong-pai. Bu Kek Siansu mengeluselus jenggotnya yang panjang, lalu menghela napas.

"Mungkin keadaan yang buruk dari negara pada dewasa ini, tidak menyalakan semangat dalam dada orang bahkan malah melemahkan dan membuat mereka itu acuh tak acuh lagi. Untuk urusan sebesar ini, mereka tidak datang sendiri, juga tidak mengirimkan orang-orang penting, melainkan mengirim anak murid yang tidak terkenal. Benar-benar pinto juga tidak mengerti mengapa orang-orang seperti Kong Hian Hwesio dan Pek Kong Taijin yang biasanya bersemangat sekarang hanya mengirim anak-anak buah yang masih muda dan tidak ternama." Yang dimaksudkan oleh Bu Kek Siansu, yakni Kong Hian Hwesio adalah ketua Siauw-lim-si, sedangkan Pek Kong Tojin adalah Ketua dari Hong-san-pai. Memang tiga tokoh besar yang hadir di puncak itu sekarang merasa kecewa sekali melihat tidak munculnya ciangbunjin dari partai partai besar itu. Mereka kecewa, juga tak enak hati. Pada setiap pertemuan tokoh-tokoh kang-ouw, apalagi dalam menghadapi pemilihan bengcu yang diperebutkan oleh banyak orang seringkali terjadi hal-hal yang gawat, pertempuranpertempuran yang dahsyat. Tanpa adanya banyak kawan dan tokoh-tokoh besar terkemuka, mereka merasa kurang kuat.

Akan tetapi tiba-tiba wajah tiga orang kakek ini berseru gembira dan penuh harapan ketika mereka melihat rombongan orang berjalan mendaki puncak dengan tenang dan tidak tergesa-gesa.

"Hwa l Enghiong datang, bagus sekali!" kata Leng Hoat Taisu gembira. "Juga Suheng Cam-kauw Sin-kai" Memang betul yang datang adalah Go Ciang Le dan isterinya, dan di samping Ciang Le berjalan Si Pengemis Tua yang lihai, yakni Cam-kauw Sin-kai dengan tongkatnya yang tak pernah terpisah dari tangannya. Di sebelah Bi Lan atau isteri Go Ciang Le berjalan seora nona yang berwajah cantik jelita akan tetapi berpakaian sederhana dan berwajah muram. Dia adalah Gak Soan Li murid Go Ciang Le.

Adapun orang yang terakhir di belakang Ciang Le adalah seorang tua gagah perkasa yang buntung sebelah tangannya, yakni pendekar perkasa Lie Bu Tek, tokoh besar Hoa-san-pai. Rombongan terdiri dari lima orang ini biarpun kelihatan tenang dan berjalan perlahan, nampak bukan seperti tokoh-tokoh penting, akan tetapi semua orang menengok ke arah mereka. Terutama sekali nama besar Hwa I Enghiong adalah cukup terkenal dan otomatis semua diarahkan kepada punggung Go Ciang Le di mana nampak tersembul gagang pedang yang beronce kuning. Begitu tiba di puncak itu, sepasang mata dari Liang Bi Lan yang masih tetap jernih dan tajam seperti mata burung Hong itu menyapu semua yang hadir, dan nampak kecewa. Nyonya ini mencari puterinya, Go Hui Lian yang ternyata tidak hadir di situ, maka ia merasa kecewa dan gelisah. Kemanakah gerangan perginya bocah nakal itu, pikirnya.

Sementara itu, Ciang Le, Lie Bu Tek dan Cam kauw Sin kai sudah sibuk membalas penghormatan atas sambutan para tokoh besar yang didahului oleh Tai Wi Siansu ketua Kun-lun-pai.

"Go-taihiap makin tua makin nampak gagah saja," kata ketua Kun-lun-pai yang mengenal Ciang Le dengan baik.

"Tai Wi Locianpwe apakah baik-baik saja?" Ciang Le balas menyalam. "Apakah semua orang gagah sudah berkumpul di sini?" tanyanya kemudian.

Mereka bercakap-cakap sebentar, kemudian Ciang Le dan rombongannya mencari tempat duduk di sebelah kiri, Bi Lan dan Soan Li duduk di atas rumput yang kering dan bersih akan tetapi Cam-kauw Sin-kai tidak mempedulikan lagi apakah rumput yang didudukinya kotor atau bersih, basah atau kering. terus saja duduk dan kepalanya menoleh ke kanan kiri matanya menyapu semua yang hadir mencari-cari.

Rombongan demi rombongan datang memenuhi tempat itu.

Makin lama, dalam hati Tai Wi Siansu makin tidak enak. Orangorang yang datang membanjiri tempat itu sebagian besar adalah orang-orang baru yang tidak dikenalnya. Dan sebagian besar adalah rombongan orang-orang yang tidak begitu penting dalam pemilihan itu.

Kemudian datang rombongan yang menarik perhatian orang pula. Mereka itu adalah rombongan See-thian Tok-ong yang datang bersama Kwan Ji Nio. Kwan Kok Sun, dan delapan orang laki-laki gagah perkasa yang sikapnya angker sekali. Mereka ini berpakaian seperti guru-guru silat, akan tetapi sesungguhnya mereka ini adalah busu-busu pilihan dari istana kaisar!

Kedatangan See-thian Tok-ong ini mendatangkan rasa khawatir di dalam hati para tokoh besar. Sudah terlalu tersohor nama Seethian Tok-ong dan sekarang menyaksikan keadaan ayah ibu dan anak itu, mereka makin cemas. Tak salah lagi, tentu Raja Racun dari barat ini, datang membawa maksud yang tidak baik, atau setidaknya tentu akan berusaha merebut kedudukan bengcu.

See-thian Tok-ong sama sekali tidak mengacuhkan para tokoh besar yang berada di situ, mengambil sikap seolah-olah dia mempunyai kedudukan lebih tinggi. Akan tetapi ketika ia melihat Ciang Le dan rombongannya, ia tersenyum menghampiri pendekar besar itu.

"Aha, Hwa I Enghiong! Sungguh menyenangkan sekali kita dapat bertemu lagi di tempat ini." Sambil berkata begini matanya menyapu untuk menyelidiki siapa saja kawan-kawan Hwa I Enghiong yang ikut datang. Ketawanya berubah menjadi senyum sindir ketika melihat pendekar besar ini hanya dikawani oleh Lie Bu Tek yang buntung tangannya, Liang Bi Lan, Cam-kauw Sin-kai dan seorang gadis cantik yang berwajah muram.

"See-thian Tok-ong kau dan anak isterimu datang juga, benarbenar akan ramai keadaan di sini," kata Ciang Le sambil tersenyum tenang, akan tetapi kata katanya ini merupakan teguran setengah menyindir bahwa kedatangan Raja Racun ini tentu akan mengakibatkan keributan saja! See-thian Tok-ong hanya tertawa menyeringai mendengar kata-kata ini, lalu mengundurkan diri ke dalam rombongannya sendiri. Orang-orang yang duduknya jauh dari tempat itu hanya memandang dengan hati berdebar-debar kepada kedua orang tokoh besar itu dan di hati mereka menduga-duga sipakah yang lebih kuat di antara mereka itu. Keduanya adalah tokoh kang-ouw yang jarang keluar dan jarang ada orang menyaksikan kepandaian mereka. Hwa I Enghiong terkenal sebagai seorang gagah perkasa yang mewakili kebajikan dan keadilan, sebaliknya See-thian Tok ong namanya seperti iblis yang dahsyat dan jahat.

Tiba-tiba terdengar suara yang amat riuh sehingga hanya gemanya saja yang terdengar. Semua orang kaget karena maklum bahwa ini adalah suaranya orang-orang yang memiliki lweekang tinggi dan yang dapat mengirim suara dari jarak jauh sekali dengan pengumuman Ilmu Coan-im-jib-bit.

"Tung-nam Thai-beng-cu yang menguasai semua partai orangorang gagah di dunia selatan dan timur, Liok-bengcu yang gagah perkasa, calon bengcu besar dalam pemilihan hari ini, datang berkunjung ... !!" See-thian Tok-ong mengeluarkan suara ketawa ha-ha-hi-hi seperti orang menghadapi hal yang amat lucu, sedangkan Hwa I Enghiong Go Ciang Le mengerutkan alis nampak marah. Melihat sikap dua orang tokoh ini dan rombongan mereka, dapat diduga bahwa dua rombongan ini saja sudah mengenal siapa adanya bengcu itu. Akan tetapi semua orang diam saja, hanya mengarahkan pandang mata ke arah suara tadi.

Tak lama kemudian, dari bawah puncak merayap naik lima pasukan yang teratur rapi, dengan bendera besar di bagian depan pasukan. Membaca tulisan pada bendera-bendera itu, semua orang dapat mengetahui bahwa rombongan besar itu adalah anggauta dari partai Im-yang-bu-pai, Bu-cin-pang, Kwa-cin-pai. Shansi Kai-pang dan Twa to Bu-pai.

"Hm, iblis itu sudah mengumpulkan partai-partai jahat untuk menjadi sekutunya," kata Lie Bu Tek perlahan kepada Ciang Le, Pendekar besar ini hanya mengerutkan alis dan tidak berkata apaapa.

Setelah lima pasukan yang masing-masing terdiri dari kurang lebih seratus orang ini tiba di kaki puncak, mereka merupakan barisan di kanan kiri jalan bersikap hormat. Terdengar terompet ditiup dan tambur dipukul orang, terdengar amat angker seakan akan orang menghormat munculnya raja besar.

Kemudian kelihatanlah bengcu yang baru diumumkan, berjalan dengan langkah tegap dan tenang. Pemuda berusia dua puluh empat atau dua puluh lima tahun, wajahnya tampan dan sepasang matanya bergerak-gerak tanda otaknya selalu bekerja keras dalam setiap saat, kelihatan cerdik dan licik, bibirnya tersenyum-senyum setengah mengejek, jubahnya lebar panjang berwarna kuning bersulamkan benang emas menyerupai lukisan ular naga yang melilit tubuhnya dan kepala dua ekor naga itu tiba di bagian dada yang tengah-tengahnya tergambar mustika bernyala-nyala. Itulah gambar sepasang naga berebut mustika yang disulam secara indah sekali pada jubah itu, membuatnya nampak makin gagah.

Pemuda ini adalah Liok Kong Ji yang naik ke puncak sambil mengangkat dada, penuh kepercayaan akan diri dan sama sekali tidak gentar biarpun ia sudah tahu bahwa di situ akan berhadapa dengan tokoh-tokoh dunia! Di sampingnya berjalan Giok Seng Cu, kakek tua yang rambutnya panjang riap-riapan. Dengan adanya kakek buruk rupa ini di sampingnya, Liok Kong Ji kelihatan makin tampan dan gagah saja. Di belakang dua orang ini berjalan Sinhouw Lo Bong Mo-kiam Siangkoan Bu, dan dua orang gagah lain, yakni Kwa Seng ketua Kwa to-bu-pai yang berjuluk Twa-to (Si Golok Besar) dan yang ke dua adalah Siang-pian Giam-ong Ma Ek, ketua dari Bu-cin-pai di Keng-sin-bun.

Kalau kita ingat bahwa putera dari Siang-pian Giam-ong Ma Ek yang bernama Ma Hoat telah dibikin gila oleh Kong Ji ketika Kong Ji melakukan perjalanan dengan Hui Lian (baca Jilid terdahulu), maka dapat dibayangkan betapa lihai dan licinnya Liok Kong Ji sehingga kini ayah dari Ma Hoat dapat menjadi sekutunya. Memang tak seorang pun tahu apa yang telah dilakukan oleh Kong Ji pada malam hari itu di kamar suami isteri Cu terhadap diri Ma Hoat!

Memang harus dipuji ketabahan hati Kong Ji. Kalau lain orang, melihat Ciang Le berada di situ tentu akan merasa sungkan dan malu. Akan tetapi tidak demikian dengan pemuda ini. Sambil tersenyum ramah ia melangkah ke tengah lapangan, menggerakgerakkan hudtimnya dengan gaya seorang pemimpin besar, lalu berkata, "Cuwi Locianpwe yang berkumpul di sini terlalu banyak sehingga sukarlah bagi siauwte untuk memberi hormat satu persatu. Oleh karena itu, siauwte Liok Kong ji bengcu dari selatan dan timur menghaturkan hormat dari sini saja kepada semua Locianpwe yang hadir." Ta menjura ke empat penjuru, sengaja ditujukan ke arah rombongan See-thian Tok-ong, Go Ciang Le, Tai Wi Siansu lain lain tokoh besar.

"Siauwte yang muda dan bodoh telah diangkat menjadi bengcu di selatan dan timur, dan sekarang mendengar akan diadakannya pemilihan bengcu baru, para kawan-kawan siauwte mendesak supaya siauwte datang di sini sebagai calon. Oleh karena itu, dengan melupakan kebodohan sendiri, siauwte terpaksa menuruti kehendak kawan-kawan itu." Ketika bicara Kong Ji sengaja menghadap ke arah rombongan Ciang Le berada. Dia melihat Bi Lan berbisik kepada suaminya seakan-akan menanyakan sesuatu dan dilihatnya Ciang Le menjawabi isterinya sambil meraba pinggang kiri sendiri. Diam-diam Kong Ji kagum sekali. Melihat gerakan Ciang Le ini otaknya yang cerdik dapat menduga bahwa tadi Liang Bi Lan tentu membicarakan dia dan bertanya kepada suaminya dimana pedang Pak-kek Sinkiam yang dulu dibawa oleh Kong Ji. Di jawab oleh Ciang Le dengan rabaan tangan ke pinggang kiri bahwa pedang itu disembunyikan di balik jubah. Tentu saja Kong Ji amat kagum dan terkejut akan kelihaian dan ketajaman mata Ciang Le. Memang betul pedang Pakkek Sin-kiam ia sembunyikan di balik jubahnya tergantung di pinggang kiri. Bagaimana Ciang Le bisa tahu? Akan tetapi Kong Ji tidak kehilangan akal. Ta takut kalau-kalau Hwa T Enghiong Go Ciang Le nanti akan membuka rahasia tentang pedang itu dan akan menuduhnya menuri pedang, maka ia hendak mendahuluinya.

Sambil terseyum ia melanjutkan kata-katanya.

"Cuwi Locianpwe, sudah kukatakan tadi bahwa siauwte adalah seorang muda yang bodoh dan tentu saja tidak terkenal seperti Cuwi Locianpwe yang sudah menduduki tingkat tertinggi di dunia kang-ouw. Oleh karena itu, bukan melupakan kesombongan apabila siauwte memperkenalkan diri. Siauwte Liok Kong Jl tidak mempunyai guru yang sah, akan tetapi siauwte pernah digembleng oleh tokoh-tokoh seperti Suhu Liang Gi Tojin dari Hoa-san, Suhu Giok Seng Cu, Suhu See-thian Tok-ong, dan Suhu Hwa I Enghiong.

Selain itu siauwte juga beruntung sekali menjadi ahli waris dari Bu Kek Siansu di puncak Luliang-san. Buktinya inilah!" Kong Ji menggerakkan tangannya, cepat bukan main seperti orang bermain sulap saja dan tahu-tahu sebatang pedang yang gemerlapan saking tajamnya telah berada di tangannya.

"Pedang ini adalah Pak-kek Sin-kiam peninggalan dari Sucouw Pak Kek Siansu dan siapa yang memiliki pedang berarti akan menjagoi dunia kang-ou. Pedang ini memang secara kebetulan jatuh di tanganku, setelah terjadi perebutan yang ramai yang tak perlu diceritakan di sini. Pokoknya siauwte yang berjodoh memiliki Pedang Pak-kek sin-kiam dari Pak Kek Siansu." Baru saja kalimatnya habis diucapkan, berkelebat bayangan yang amat cepat dan tahu-tahu seorang nyonya cantik sudah berdiri di hadapannya. Nyonya ini adalah Liang Bi Lan atau Nyonya Ciang Le yang dijuluki orang Sian-I Eng-cu (Bayangan Bidadari).

Kepandaiannya yang tinggi sekali dan ginkangnya telah mencapai tingkat yang jarang ada yang dapat menandinginya, maka gerakannya tadi pun hanya sekelebatan saja dan hanya mata orangorang pandai saja dapat mengikuti gerakannya dengan seksama.

"Orang she Liok" katanya dengan suara halus menekan kemarahan dan kebenciannya, "semua omonganmu itu tak perlu bagiku karena aku sudah cukup kenal akan watak palsumu.

Sekarang hayo lekas katakan di mana adanya Hui Lian anakku!" Ciang Le agak menyesal mengapa isterinya tidak dapat bersabar menanti, akan tetapi ia pun maklum akan apa yang terasa di hati isterinya. Hui Lian sudah pergi dari rumah bersama Liok Kong Ji dan sudah kurang lebih satu tahun setengah puteri mereka pergi tanpa ada beritanya. Dia sendiri amat khawatir, apalagi setelah kini melihat Kong Ji muncul tanpa disertai oleh Hui Lian kalau dia saja sudah amat khawatir, apa lagi isterinya.

Liok Kong Ji yang ditanya oleh subonya dan yang tahu bahwa subonya amat marah kepadanya, hanya tersenyum. Sikapnya senang-tenang saja dan tidak mau memberi hormat. Ta adalah seorang bengcu yang akan dipilih tak perlu merendahkan diri. Ta hanya membungkukkan pinggangnya ke arah Bi Lan sambil menjawab.

"Toanio, tentang Nona Go Hui Lian siauwte tidak tahu di mana adanya. Akan tetapi seorang di antara sahabat-sahabat siauwte yang amat banyak jumlahnya mengetahui. Oleh karena itu, apabila persoalan memilih bengcu ini sudah beres, siauwte sebagai bengcu baru menanggung sepenuhnya bahwa Toanio pasti akan dapat bertemu dengan Nona Hui Lian." Bukan main mendongkolnya hati Bi Lan mendengar jawaban ini.

Benar-benar kurang ajar sekali bocah ini pikirnya. Tidak saja menyebutnya "toanio" seakan-akan tidak mengakui sebagai subo (iste guru) lagi, akan tetapi juga sengaja menolak secara halus untuk memberi tahu di mana adanya Hui Lian dan menuntut melakukannya pemilihan bengcu lebih dulu. Sebagai seorang yang sudah banyak melakukan perantauan di waktu mudanya dan tahu betul akan tipu muslihat para penjahat besar di dunia kang-ouw. Bi Lan sudah mengerti bahwa keterangan tentang dimana adanya Hui Lian, akan dijadikan taruhan oleh Kong Ji, akan dijadikan bahan untuk memeras dan memaksanya memilih pemuda ini sebagai bengcu! Kalau menurutkan nafsu hatinya, ingin ia menyerang dan memaksa Kong Ji mengaku sekarang juga di mana adanya Hui Lian.

Akan tetapi sebelum ia lakukan sesuatu, ia mendengar suara suaminya.

"Mundurlah, isteriku. Biar lihat apa yang ia lakukan selanjutnya.

Mudah menurunkan tangan apabila ternyata dia mengganggu anak kita." Kata Ciang Le ini terdengar seperti bisikan di dekat telinga Bi Lan, akan tetapi tidak terdengar oleh siapapun juga, karena Ciang Le telah mempergunakan ilmu mengirim suara dari jauh yang amat tinggi tingkatnya sehingga suara yang ia kirim itu hanya dapat "diterima" oleh telinga orang yang harus menerimanya, Bi Lan mendengar ini bahwa kelakukannya kurang patut. Saat itu adalah saat pertemuan orang-orang gagah sedunia dan saat dilakukan pemilihan bengcu, sebuah hal yang amat pelik dan penting.

Memperlihatkan perhatian sepenuhnya hanya untuk urusan pribadi, benar-benar bukan pada tempatnya dan tidak pada saatnya yang tepat. Maka sambil menahan amarah ia menggerakkan kaki dan berkelebatlah bayangannya dengan cepat sehingga di lain saat ia telah berdiri di sebelah suaminya lagi.

Banyak orang menahan napas menyaksikan kelihaian nyonya ini, akan tetapi yang paling kaget adalah Kong Ji. Bukan kaget melihat ginkang luar biasa dari subonya, karena ia memang sudah tahu akan kehebatan ilmu meringankan tubuh dari Liang Bi Lan. Yang membuat ia kaget adalah pengiriman suara dari Ciang Le. Karena ia berdiri di depan Bi Lan dan ia pun sudah memiliki pendengaran yang lebih tajam daripada ahli-ahli silat lain, ia dapat mendengar bisikan halus itu dan hatinya terguncang. Dahulu belum pernah gurunya ini memperlihatkan ilmu lweekang yang demikian tinggi, dan sekarang ia harus akui bahwa Hwa I Enghiong Go Ciang Le benar-benar seorang yang kosen dan akan merupakan lawan yang sukar dikalahkan!

Pada saat itu, tiba tiba-tiba terdengar pekik yang tinggi dan nyaring. Pekik ini amat nyaring dan menyakitkan anak telinga hingga banyak orang yang lweekangnya kurang tinggi, segera mengangkat dua tangan menutupi telinganya. Didengar sepintas lalu oleh mereka yang tidak kuat mendengar terus, terdengar seperti suara semacam burung yang aneh yang menyambar dari atas ke bawah, kadang-kadang terdengar di sebelah selatan, tibatiba berpindah-pindah ke jurusan lain. Akan tetapi bagi para tokoh yang bertenaga lweekang cukup kuat untuk menerima serangan getaran suara tinggi ini, dapat mereka dengar jelas bahwa inilah pekik seorang wanita yang mempunyai Iweekang dan khikang tinggi sekali!

Tai Wi Siansu, ciangbunjin dari Kun-lun-pai yang sudah amat tua itu nampak terkejut dan terheran-heran sampai bangun berdiri dan berkata, "Thian Yang Maha Kuasa! Apakah Pat-jiu Nio-nio sudah bangkit kembali dari kuburnya?" Tokoh yang sudah tua dan yang hadir di saat itu semua sudah mengenal atau pernah mendengar nama Pat-jiu Nio-nio seorang wanita aneh yang mempunyai semacam istana yang indah dan luas di sebuah puncak Pegunungan Go-bi-san. Di sana Pat-jiu Nio-nio mempunyai semacam perkumpulan yang terdiri dari wanita semua, dan yang diberi nama Perkumpulan Hui-eng-pai (Perkumpulan Elang Terbang). Memang pekik mengerikan di adalah tanda dari Pat-jiu Nio-nio. Akan tetapi nenek tua ini sudah meninggal dunia dan kabarnya perkumpulannya pun otomatis bubar. Bagaimana sekarang tiba-tiba saja muncul pekik yang menyeramkan ini? Siapa lagi kalau bukan Pat-jiu Nio-nio yang dapat mengeluarkan pekik seperti itu? Tidak ada seorang pun yang berada di situ, juga Liang Bi Lan tidak ada yang mampu mengeluarkan pekik seperti tadi.

Pekik ini khusus dipelajari dan tanpa latihan, tak mungkin orang dapat mengeluarkan pekik yang bunyinya seperti teriakan garuda betina, akan tetapi jauh lebih nyaring dan tinggi ini.

Semua orang menoleh ke arah bawah puncak dan tak lama kemudian terjawablah semua pertanyaan di dalam hati. Muncullah wanita yang mengeluarkan pekik tadi dan semua orang menahan napas. Yang datang adalah serombongan orang wanita-wanita muda atau gadis-gadis cantik jelita yang pakaiannya semua sama.

Baju putih disulam burung elang di bagian dada, sedangkan pakaian sebelah bawah berwarna hijau daun. Rombongan ini terdiri dan empat puluh empat orang, dipimpin oleh seorang gadis berusia paling banyak dua puluh tahun yang wajahnya cantik seperti bidadari.

Kalau semua orang memandang dengan kagum dan tertarik, adalah Kong Ji yang tiba-tiba menjadi pucat. Akan tetapi ia dapat menekan perasaannya dan dengan tenaga lweekangnya ia menormalkan kembali jalan darahnya sehingga mukanya kembali kemerahan, kemudian mengambil sikap seakan-akan ia tidak perduli.

Akan tetapi, tiba-tiba gadis yang paling depan dan yang rambutnya terdapat hiasan mutiara dironce berbentuk buru elang, tanda satu-satunya yang tidak pada rambut lain wanita yang berada dalam rombongan itu, memandang kepadanya dan berserulah gadis itu nyaring.

"Jahanam Wan Sin Hong, mampuslah kau sekarang!" Baru saja ucapan ini dikeluarkan, tubuh gadis itu sudah melesat di udara dan turun kembali menyambar ke arah Kong Ji. Sinar hijau berkelebat dan cepat Kong Ji mengelak ketika sebatang pedang yang bersinar kehijauan menyambar lehernya. Hebat sekali serangan gadis ini, benar-benar seperti seekor burung elang betina yang marah menyambar korbannya.

"Eh, nanti dulu, Nona! Aku bukan Wan Sin Hong!" teriak Kong Ji sambil melompat jauh ke belakang. Akan tetapi gadis itu tidak mau mendengar omonganya, dan kembali menyerang dengan gerakan laksana burung terbang menyambar. Terpaksa Kong Ji mencabut Pak Kek Sin-kiam yang tadi sudah disimpannya untuk menangkis.

Terdengar suara nyaring dan bunga api berpijar ketika dua batang pedang bertemu. Bukan main kagumnya Ciang Le dan Bi Lan ketika melihat bahwa pedang hijau itu tidak apa-apa! Jarang sekali di dunia ini ada pedang yang dapat menangkis Pak-kek Sin-kiam tanpa rusak.

"Nona, kau salah lihat! Aku bukan Wan Sin Hong dan sikapmu ini berarti bahwa kau tidak menaruh hormat kepada semua orang gagah di dunia yang pada saat ini berkumpul di sini!" kata pula Kong Ji dengan bentakan suara keras. Ta sama sekali tidak takut kepada gadis ini, akan tetapi pada saat itu ia sedang mencari kawan bukan memandang lawan. Ta mencari kawan untuk merebut kedudukan bengcu.

Gadis itu nampak ragu-ragu agaknya baru ia memperhatikan bahwa di situ terdapat banyak sekali orang. menyapu ke kanan kini dengan matanya yang tajam dan indah, kemudian menatap wajah Kong Ji lagi.

"Betulkah kau bukan Wan Sin Hong?" bentaknya mengancam.

"Di sini berkumpul banyak Locianpwe dan semua partai. Kalau kau masih belum percaya, kau boleh tanya kepada mereka." jawab Kong Ji menentang.

Gadis itu menoleh ke belakang, arah kawan-kawannya yang berjumlah empat puluh orang gadis cantik itu, lalu memanggil.

"Cun Eng, ke sini kau!" Seorang gadis cantik melompat luar dari dalam barisan itu, gerakannya juga cekatan dan Tincah sekali tanda bahwa ia pun memiliki kepandaian lumayan! Sayangnya biarpun wajahnya cantik namun nampak muram dan pucat seperti orang kurang tidur atau orang yang sedih. Setelah tiba di depan nona nemanggilnya, ia menjatuhkan berlutut di depan pemimpinnya itu.

"Cun Eng, kaulihat baik-baik. Inikah Si Jahat Wan Sin Hong itu?"

"Bagaimana saya dapat memastikan, Niocu? Ia mengaku bernama Wan Sin Hong .." jawab gadis yang berlutut itu dengan suara lemah, nampaknya takut-takut.

"Akan tetapi, ini atau bukan orangnya? Jawablah yang tegas, jawabmu mati hidupnya orang ini!" kata pula gadis itu.

Gadis yang berlutut mengangkat muka memandang wajah Kong Ji dengan tajam melalui air matanya yang hendak menitik turun, dan nampak ragu-ragu melihat Kong Ji berdiri dengan sikap agung seperti seorang pemimpin besar. Kemudian ia menundukkan mukanya, menggeleng-geleng kepala, kemudian mengangkat muka memandang lagi sampai lama. Akhirnya is berkata, "Niocu, sungguh mata saya tidak dapat memastikan dengan yakin. Malam itu gelap, saya tak dapat melihat wajahnya. Hanya saja, kalau melihat bentuk wajahnya yang nampak di dalam gelap, melihat bentuk tubuh dan mendengar suaranya, mirip benar dengan dia ini. Akan tetapi kalau namanya bukan Wan Sin Hong... ah, bagaimana saya dapat memastikan, Niocu? Saya tidak mau menjatuhkan dosa kepada orang lain." Kemudian gadis itu menangis.

Pemimpinnya nampak marah. "Mundur kau!" kakinya diangkat sedikit dan tubuh gadis yang berlutut itu terlempar ke dalam barisannya dan jatuhnya berdiri tempatnya tadi. Kini ia berdiri tegak dengan sikap menghormat, biarpun air matanya masih berlinang dan mengalir turun di sepanjang pipinya yang pucat, namun tak sedikit pun suara tangisan keluar dari mulutnya.

Gadis yang berpedang hijau itu lalu memandang ke kanan kiri, akhirnya menjatuhkan pandang matanya kepada Gak Soan Li yang berdiri tegak di dekat Liang Bi Lan dan semenjak kedatangannya lebih banyak menundukkan muka daripada ikut bicara atau memandang ke mana-mana. Sekali menggerak kaki, gadis itu telah berhadapan dengan Soan Li.

"Eh, sahabat yang cantik dan gagah, tolong kau yang beri tahu kepadaku, siapakah orang yang pedangnya bagus itu? Apakah dia bukan Wan Sin Hong?"" tanyanya dan kini air muka yang tadinya nampak keren dan galak itu sekaligus berubah menjadi ramah tamah dan manis bukan main.

Mendengar ada orang bicara dengan dia, Gak Soan Li mengangkat mukanya dan memandang tajam. Gadis berpedang hijau itu sampai kaget melihat sinar mata Soan Li yang tajam menyambar begaikan kilat!

"Aku bertanya dan bermaksud baik, jangan kau marah," katanya.

Begitu ditanya oleh gadis berpedang hijau itu apakah pemuda yang memegang hudtim (kebutan pendeta) itu bukan Wan Sin Hong, Soan Li menjawab.

"Dia bukan Wan Sin Hong." Akan tetapi, biarpun mulutnya berkata demikian, matanya memandang ke arah Liok Kong Ji dengan terbelalak lebar dan tibatiba mukanya menjadi pucat sekali, hidungnya kembang-kempis bibirnya bergerak-gerak tanpa meluarkan suara apa apa.

Sernentara itu, semenjak tadi Liok Kong Ji memandang kepada gadis berpedang hijau itu dengan sinar mata tertarik kagum sekali.

Tadi ia berdiri dengan wajah tak berubah ketika gadis itu bertanya kepada Soan Li, hal yang sama sekali tak pernah diduganya atau diduga oleh orang lain.

Apa yang menyebabkan gadis itu bertatiya kepada Soan Li, benar-benar merupakan hal yang mengejutkan dan tidak ada yang mengerti. Lebih-lebih Kong Ji, biarpun wajahnya tidak memperlihatkan perubahan apa-apa, namun isi hatinya hanya dia sendiri yang tahu!

Setelah mendengar jawaban yang memastikan dari Soan Li bahwa dia bukan Wan Sin Hong yang dicari-cari oleh gadis berpedang hijau yang agaknya amat benci dan hendak membunuh Sin Hong, Kong ji tersenyum. Seperti biasa senyumnya membayangkan ketinggian hatinya dan mengandung ejekan. Sekali menggerakkan kedua kakinya, ia telah melompat ke dekat gadis berpedang hijau yang lihai itu, lalu menjuralah Kong Ji dengan sikap manis dan menghormat.

"Nona yang gagah perkasa, sudah kukatakan tadi bahwa aku bukan Wan Sin Hong. Banyak sekali orang mencari Wan Sin Hong, bahkan aku sendiri kalau bertemu dengan dia, masih ada beberapa hutangnya yang harus dibayar sehingga sebuah kepalanya masih belum lunas untuk membayar hutangnya. Jangan kau khawatir, Nona, kalau aku bertemu dengan bangsat itu, pasti sebelum memenggal kepalanya dia lebih dulu akan kuseret dan kuhadapkan kepadamu, asal saja kau sudi memberi tahu ke mana aku dapat mencarimu. Perkenalkan, Nona, aku adalah Liok Kong Ji, bengcu baru dari timur dan selatan, dan calon bengcu dalam pemilihan sekarang ini. Sebaliknya siapakah kau ini, Nona, dan dari partai apa?" Gak Soan Li yang berdiri tidak jauh dari situ, mendengar nama Liok Kong Ji, mukanya menjadi makin pucat dan menatap wajah pemuda itu bagaikan orang melihat setan. Ia menahan jerit dan tangan kanannya menekan dan kemudian ia kelihatan terhuyunghuyung dan pasti roboh kalau saja Liang Bi Lan tidak cepat-cepat memeluknya. Ketika Bi Lan melihat bahwa muridnya itu ternyata telah pingsan ia lalu cepat mengangkatnya ke pinggir dan merebahkannya di atas lantai di bawah pohon.

Cam-kauw Sin-kai cepat menghampiri, berlutut dan memegang urat nadi Soan Li. Selama ini memang Soan Li dirawat oleh Camkauw Sin-kai yang ingin sekali memulihkan ingatan gadis itu dan ingin sekali membongkar rahasia yang membuat gadis yang bernasib malang ini kehilangan ingatannya. Cam-kauw Sin-kai maklum bahwa gadis ini terkena racun yang hebat sekali dan yang sebegitu lama belum dapat ia obati. Sampai sebegitu jauh, Soan Li baru dapat ingat bahwa ia adalah murid Hwa I Enghiong Go Ciang- Le dan bahwa ia telah dihina oleh seseorang yang bernama Wan Sin Hong dan ditolong oleh seorang yang ia panggil Gong Lam-ko dan yang ia cinta sepenuh hati. Akan tetapi ia tidak dapat menceritakan apa yang telah terjadi dengan dirinya, tidak dapat mengatakan pula siapakah itu Wan Sin Hong dan yang mana pula yang ia panggil Gong Lam-ko. Sekarang yang ia kenal hanyalah Cian Le sebagai suhunya, Bi Lan sebagai subonya, Cam-kauw Sin-kai yang ia panggil locianpwe dan Lie Bu Tek yang ia sebut lo-enghiong. Yang lain-lain ia telah lupa semua.

Sekarang ketika melihat betapa Soan Li roboh pingsan, Camkauw Sin-kai cepat-cepat menolongnya dan setelah gadis itu siuman kembali, Cam-kauw Sin-kai cepat-cepat berbisik.

"Soan Li, siapakah laki-laki itu? Ingatkah kau akan dia dan apa yang telah ia perbuat terhadap dirimu maka kau sampai pingsan melihat dia?" Memang semenjak merawat Soan Li pengemis sakti ini menganggap Soan Li sebagai murid atau orang sendiri sehingga ia menyebut nama gadis itu demikian saja. Kakek ini memang sudah dapat menyelami bahwa dalam keadaan Soan Li ini terselip rahasia yang besar dan hebat, maka setiap gerakan gadis ini tentu amat ia perhatikan.

Akan tetapi Soan Li yang ditanya hanya menggeleng-geleng kepalanya dan kini ia telah duduk di atas rumpus, tangan kirinya mengurut-urut kening seperti orang pusing dan sepasang matanya yang suram itu ditujukan ke arah Kong ji berdiri.

"Kau kenal dia? Pernah kau melihat dia?" Cam-kauw Sin-kai terus berbisik dalam usahanya mengembalikan ingatan gadis itu.

Tentu saja Cam-kauw Sin-kai sudah mendengar dari Ciang Le tentang sepak terjang Liok Kong Ji yang melarikan diri sambil membawa pedang Pak-kek Sin-kiam, juga membawa Iari bersama puteri Hwa I Enghiong, kemudian mengalahkan Soan Li yang mencoba mengejarnya.

Soan Li mengerutkan kening dan sepasang alisnya bertemu.

"Aku pernah melihatnya..." katanya dalam bisikan pula, matanya tak pernah berkedip memandang ke arah Kong Ji.

"Kau tadi sudah mendengar namanya Liok Kong Ji. Kenalkah kau padanya?"

"Aku... aku pernah mendengar nama itu... lupa lagi entah di mana...."

"Coba kaulihat balk-balk, apakah wajahnya menimbulkan kesan baik atau buruk padamu?"

"Buruk... dia menimbulkan muak dan aku... entah mengapa aku benci dan tidak suka kepadanya."

"Dan nama itu, Liok Kong Ji, bagaimana terdengar olehmu? Apakah juga mendatangkan perasaan tak enak?"

"Nama itu pun memuakkan, menimbulkan benci...!" kata Soan Li dan nampaknya gadis ini bingung sendiri mengapa ia bisa membenci wajah dan nama orang itu. Cam-kauw Sin-kai tidak mau mendesak terus karena sebagai seorang tabib ia maklum bahwa pengembalian ingatan gadis ini harus secara sewajarnya dan dengan perlahan, kecuali kalau memang ada obat yang tepat untuk menghantam racun yang sudah mengotori kepala gadis itu.

Sementara itu, gadis berpedang hijau ketika mendengar omongan Liok Kong Ji sama sekali sikapnya tidak mengacuhkan dan tidak sudi melayani. Ia hanya menyapu wajah pemuda itu dengan kerling matanya, kemudian berkata.

"Hemm... di sini orang mau mengadakan pemilihan bengcu? Menarik sekali! Hendak kulihat, orang macam apa yang nanti terpillh menjadi bengcu!" Setelah berkata demikian, ia menyapu wajah semua orang yang hadir di situ dengan wajah penuh perhatian.

Pandang matanya tajam kini dapat melihat bahwa sesungguhnya tempat itu penuh oleh orang-orang yang kelihatannya pandai, maka wajahnya menjadi berseri, agaknya tertarik sekali.

Tai Wi Siansu, ketua Kun-lun-pai, adalah seorang yang dahulunya menjadi sahabat baik dari Pat-jiu Nio-nio, maka kini melihat bahwa di situ terdapat serombongan orang-orang Hui-eng-pai yang disangkanya sudah bubar semenjak nenek sakti itu meninggal, menjadi gembira dan tertarik. Dengan lambaian lengannya, iato melompat menghadapi nona pedang hijau itu dan berkata ramah.

"Nona, kau siapakah? Pinto lihat memimpin pasukan Hui-eng pai.

Apa hubunganmu dengan mendiang Pat-jiu Nio-nio?" Nona itu menengok dan matanya yang lihai itu mengerling tajam, bulu matanya yang panjang melengkung itu mencoba untuk menyembunyikan matanya yang bagus itu. Sikapnya dingin sekali, seakan-akan ia memandang rendah kepada semua tokoh yang berada di situ. Sikap ini menunjukkan bahwa ia adalah seorang nona berilmu tinggi yang tak pernah terjun ke dunia kang-ouw sehingga tidak mengenal dan dikenal orang, dan bagaikan seekor anak lembu yang baru pertama kali memasuki rimba raya, tidak takut bertemu dengan singa, serigala, maupun harimau! Gadis itu memperhatikan Tai Wi Siansu dan melihat seorang kakek yang usianya sudah delapan puluh tahun lebih, bertubuh tinggi kurus, sudah putih rambutnya dan sikapnya amat lemah lembut dan ramah, ia lalu tersenyum manis. Bukan main manisnya senyum ini sehingga Tai Wi Siansu sendiri menjadi kagum. Setelah tersenyum, benar-benar gadis di depannya ini amat cantik jelita. Tadi tidak begitu kentara kecantikannya oleh karena sikapnya yang dingin dan mukanya yang keras. Setelah tersenyum dan nampak sifat kewanitaannya. Dia benar-benar seorang yang manis.

"Orang tua namaku Siok Li Hwa. Kau ini orang tua yang mengenal nama Nio-nio, siapakah kau?" Tai Wi Siansu tertawa sambil mengelus-elus jenggotnya. Diamdiam ia kagum dan juga heran sekali karena gadis ini, terbayanglah di depan matanya Pat-jiu Nio-nio ketika masih muda. Biarpun tidak secantik gadis ini, akan tetapi sikap mereka ini benar-benar sama.

Dahulu, Pat jiu Nio-nio juga begini sikapnya, dingin, sederhana, jujur, tegas, tidak mengenal takut di samping kepandaiannya yang amat lihai.

"Nona, sayang Pat-jiu Nio-nio sudah tidak ada lagi. Kalau dia masih ada tentu dia dapat bercerita banyak tentang pinto kepadamu." Sejenak kakek berhenti dan matanya memandang ke atas seolah-olah ia hendak membayangkan kembali masa dahulu.

"Pinto adalah Tai Wi Siansu." Siok Li Hwa nampak kaget dan cepat gadis ini menoleh ke arah rombongannya dan kedua tangannya diangkat ke atas dan jari-jari tangan itu menari-nari. Seorang gadis yang berada di depan rombongan juga mengangkat tangan ke atas dengan jari-jari yang mungil dan runcing itu menari-nari seperti ular-ular kecil! Hanya sebentar pertunjukan aneh itu karena Siok Li Hwa sudah membalikkan tubuh lagi menghadapi Tai Wi Sian sambil berkata, "Ah, kiranya Tai WI Siansu dari Kun-lun-pai? Nio-nio dahulu pernah bilang bahwa Tai Wi Siansu dari Kun-lun pai adalah seorang gagah. Aku senang sekali bertemu dengan Siansu di sini. Melihat Siansu berada di sini, tentu kakek-kakek yang lain di sana itu pun bukan orang-orang sembarangan!" Tai Wi Siansu tertawa. "Mereka itu bukan orang-orang asing bagi Pat-jiu Nio-nio. "Lihat, mereka itu adalah Ketua Thian-san-pai yang bernama Leng Hoat Taisu," katanya sambil menunjuk kepada seorang kakek kecil bongkok bermuka merah dengan kepala botak dan tidak berkumis. Orang itu mengangkat tongkatnya yang hitam ke arah Siok Li Hwa sambil berkata gembira.

"Nona Garuda, Pat-jiu Nio-nio pernah dua kali bertemu dengan pinto!" Siok LI Hwa tertawa dan merasa suka melihat kakek yang lucu itu.

"Yang itu adalah Bu Kek Siansu, Ketua Bu-tong-pai. Yang di sana itu, dia adalah Cam-kauw Sin-kai, yang terkenal di dunia kang-ouw.

Adapun yang gagah perkasa itu, dialah Pendekar Budiman yang terkenal dengan sebutan Hwa l Enghiong bernama Go Ciang Le bersama isterinya Sian-Li Engcu Liang Bi Lan. Dan itu," ia menuding ke arah rombongan See-thian Tok-ong, "dia adalah See-thian Tokong bersama isterinya dan puteranya. Mereka ini pun merupakan orang-orang terkemuka dalam dunia silatan. Hanya mereka itulah yang patut kau kenal di antara semua yang hadir."

"Hanya itu"" tanya Siok Li Hwa, sinar matanya menyapu orangorang lain yang banyak hadir di situ. "Mengapa begitu banyak orang""

"Yang lain-lain adalah pengikut-pengikut dan orang-orang biasa," kata Ketua Kun-lun-pai. "Kami semua berkumpul di sini untuk mengadakan pemilihan seorang bengcu baru. Orang-orang gagah di dunia kang-ouw perlu sekali dengan seorang bengcu baru yang bijaksana, yang akan memimpin semua partai sehingga tidak timbul perpecahan."

"Bagus sekali, alangkah ramainya nanti. Biar aku menonton dan ingin orang macam apa yang akan terpilih, kata gadis ini dengan sikap seakan-akan orang menghadapi sebuah permainan anak-anak.

"Nona, kau dari Go-bi-san datang bersama pasukan hui-eng-pai.

Sudah sepatutnya kalau kau pun mengajukan usul ikut pula memilih." Siok Li Hwa menggeleng kepalanya. "Tidak perlu dengan segala bengcu! Aku datang bukan untuk urusan pemilihan bengcu, melainkan untuk mencari seorang penjahat bernama Wan Sin Hong." Seteiah berkata demikian, gadis ini melompat ke dalam rombongannya sendiri yang mengambil tempat di bagian terpisah.

Di situ ia dan rombongannya berdiri sebagai penonton, akan tetapi mereka semua memasang mata tajam untuk mencari-cari orang yang mereka kejar-kejar sejak beberapa bulan yang lalu.

Mengapa rombongan Hui-eng-pai ini mengejar-ngejar Wan Sin Hong? Seperti telah dituturkan tadi, Siok Li Hwa menyerang Kong Ji karena mengira pemuda ini Wan Sin Hong, atau setidaknya seorang di antara anggauta rombongannya yang mengira demikian. Siok Li Hwa sendiri belum pernah bertemu dengan penjahat yang bernama Wan Sin Hong itu. Kurang lebih dua bulan yang lalu, seorang di antara anak buahnya yang bernama Cun Eng dan yang tadi telah ditanyainya tentang Kong Ji, pada suatu malam telah disergap dan diganggu oleh seorang pemuda yang kemudian mengaku bernama Wan Sin Hong.

Pemuda ini lalu menghilang di dalam gelap malam, Cun Eng sambil menangis melaporkan hal ini kepada Hui eng Niocu (Nona Garuda Terbang), yakni nama julukan dan Siok Li Hwa. Siok Li Hwa marah bukan main dan sambil membawa empat puluh orang kawan, ia memimpin pasukan ini melakukan pengejaran.

***

Jilid 25 - Beranda - Jilid 27