37 Pendekar Mata Keranjang

"Braaakkkk.....!!" Meja itu hancur berkeping-keping, akan tetapi tubuh Hay Hay terkulai di atas lantai, pingsan! Dia telah mengalami guncangan batin yang amat hebat. Ketika untuk kedua kalinya, pertama dari Pek Eng, kemudian kedua kalinya dari Ling Ling, dia mendengar bahwa yang menggauli Pek Eng dan memperkosa Ling Ling itu seorang pria yang mengeluarkan bau harum bunga, madu dan cendana, dia pun segera teringat. Hanya Han Lojin yang mengeluarkan bau seperti itu! Hal ini diingatnya benar, karena ketika dia disuguhi arak di waktu malam itu oleh Han Lojin, dia pun mencium bau yang khas itu, yang sempat membuatnya terheran-heran. Dan dia pun merasa yakin bahwa pelaksana kejahatan yang amat keji itu tentulah Han Lojin yang lihai! Ini merupakan guncangan pertama. Kemudian, di dalam pondok ini, setelah membaca sajak itu, apalagi membaca surat dan peninggalan dua buah perhiasan tawon merah, hatinya terguncang untuk ke dua kalinya, bahkan lebih hebat lagi karena dia mendapat kenyataan bahwa Han Lojin penjahat keji yang telah memperkosa Pek Eng dan Ling Ling, bukan lain adalah Ang-hong-cu, atau ayah kandungnya sendiri! Kebencian menyesak di dadanya. Ayah kandungnya itu terkenal sebagai Ang-hong-cu, jai-hwa-cat yang amat kejam dan jahat, pemerkosa ibunya, kemudian bahkan memperkosa dua orang gadis dusun yang sederhana itu, dan kini memperkosa Pek Eng dan Ling Ling! Lebih hebat lagi, semua orang menyangka dia yang melakukan perbuatan itu, dan agaknya Han Lojin atau Ang-hong-cu orang she Tang itu agaknya memang sengaja melakukan hal itu untuk merusak namanya. Bahkan dari sindiran pada sajak itu, agaknya Ang-hong-cu atau Han Lojin sudah tahu bahwa dia adalah puteranya yang dikatakan "Tawon Muda tiada guna!" Pantas dia pernah disuguhi arak perangsang, tentu dengan maksud agar dia memperkosa atau menggauli Pek Eng, perbuatan yang tentu akan menyenangkan hati ayah kandung itu karena dianggap cocok dengan wataknya, dianggap mewarisi bakat dan keahlian ayah kandungnya!

Ketika Menteri Cang dan para pendekar memasuki pondok itu, Hay Hay sudah siuman dari pingsannya, dan dia demikian terpukul sehingga dia masih berlutut di atas lantai dan termenung seperti orang kehilangan semangat.

Kok Hui Lian yang tadi merasa amat khawatir akan keadaan Hay Hay dan wanita yang diam-diam amat mencinta Hay Hay ini tadi telah mengerahkan seluruh tenaganya, mempergunakan ilmu berlari cepat yang membuat tubuhnya meluncur bagaikan terbang, kini sudah tiba paling depan dan ia pun menyentuh pundak Hay Hay dengan lembut dan penuh kekhawatiran.

"Hay Hay, apakah yang telah terjadi?" tanyanya.

"Di mana Han Lojin?" terdengar pertanyaan-pertanyaan dari para pendekar yang tadinya sudah tahu bahwa Han Lojin ditahan di pondok itu.

Ketika Menteri Cang muncul pula ke dalam pondok, semua orang memberi jalan dan dia pun bertanya, "Di mana adanya Han Lojin? Tang-enghiong (Orang Gagah. Tang), di mana Han Lojin?" tanyanya kepada Hay Hay.

Sejak tadi, Hay Hay diam saja seolah-olah tidak mendengar pertanyaan orang-orang itu, bahkan seolah-olah tidak sadar bahwa pondok itu telah penuh orang. Kini, mendengar suara Menteri Cang, dia pun sadar dan mengangkat kepala memandang pembesar itu. Akan tetapi dia pun tidak menjawab, melainkan menudingkan telunjuknya ke arah tulisan di dinding.

Semua orang, termasuk Menteri Cang, membaca sajak di dinding itu, dan mulailah mereka itu berseru kaget dan suasana menjadi bising.

"Ang-hong-cu....! Ada gambar tawon merah....!"

"Kalau begitu, dia Ang-hong-cu....!"

"Han Lojin adalah Ang-hong-cu.....!"

Kini Hay Hay telah sadar betul. Perlahan-lahan dia bangkit berdiri, menyapukan pandang matanya kepada mereka semua, kemudian dia berkata, suaranya lantang. "Benar sekali! Han Lojin adalah Ang-hong-cu (Si Tawon Merah), penjahat cabul, jai-hwa-cat yang amat kejam! Dia adalah Ayah kandungku! Dialah yang melakukan semua kejahatan terhadap wanita, yang dituduhkan kepadaku. Aku berjanji, kepada semua orang, untuk mencarinya, untuk meminta pertanggunganjawabnya! Akan tetapi, kalau masih ada yang penasaran dan hendak menghukum aku sebagai anaknya, sebagai penggantinya yang menerima hukuman, silakan! Aku tidak akan melawan, silakan sebelum aku pergi dari sini untuk memulai dengan tugas yang sudah kujanjikan yaitu mencarinya sampai dapat dan menuntut pertanggunganjawab darinya!"

"Bapaknya jahat, anaknya pun tentu jahat! Biar aku yang menghukumnya!" Tiba-tiba terdengar bentakan-bentakan dan Bu-tong Liok-eng, enam orang tokoh murid utama dari Bu-tong-pai, berlompatan maju dan mengepung Hay Hay yang sudah keluar dari dalam pondok dan berada di pelataran pondok itu.

Akan tetapi tiba-tiba Hui Lian melompat ke dalam kepungan, mukanya merah, matanya bersinar-sinar.

"Hay Hay tidak bersalah, kalau ada yang hendak mengganggunya, akan berhadapan dengan aku!"

Suaminya, Ciang Su Kiat, yang juga berpendapat bahwa Hay Hay tidak dapat disalahkan, sudah maju pula di samping isterinya sehingga Hui Lian merasa girang sekali.

"Saudara Tang Hay tidak bersalah, biarkan dia pergi mencari Ayah kandungnya seperti yang telah dijanjikannya tadi." kini Han Siong juga melangkah maju ke dalam kepungan, siap untuk membela Hay Hay karena dia tidak merasa rela kalau sampai pemuda perkasa itu dibunuh tanpa dosa.

"Siancai... kalian mundurlah." Kata Tiong Gi Cinjin. "Bukankah tadi sudah ada kesepakatan antara kita dengan putera Ang-hong-cu itu?" Mendengar teguran paman guru mereka, juga melihat betapa orang-orang sakti itu maju membela Hay Hay, Bu-tong Liok-eng lalu mundur.

Hay Hay memandang ke sekeliling, terutama sekali dia memandang wajah Ling Ling dan Pek Eng dengan penuh iba, kemudian mengangkat kedua tangan ke dada memberi hormat. "Terima kasih atas kepercayaan Cu-wi. Bagaimanapun juga, yang melakukan kejahatan-kejahatan itu adalah Ayah kandungku sendiri, oleh karena itu, sudah sepatutnya kalau di sini aku mohon maaf sebesarnya kepada Cu-wi. Percayalah, aku akan pergi mencarinya sampai dapat, dan akan kupaksa dia untuk mempertanggungjawabkan semua dosanya. Kalau perlu, dia mati di tanganku atau aku mati di tangannya. Nah, selamat tinggal dan maafkan aku" Hay Hay memberi hormat lalu meloncat jauh dan berlari secepatnya meninggalkan tempat itu.

Menteri Cang lalu menghaturkan terima kasih kepada para pendekar atas bantuan mereka sehingga pemberontakan dapat ditumpas dan menawarkan bantuan bagi mereka yang kehilangan anggauta atau teman dalam pertempuran itu. Para pendekar lalu bubaran.

Pek Eng yang bertemu dengan ayahnya lalu lari menghampiri ayahnya dan disambut dengan pelukan. Gadis itu menangis di dada ayahnya. Pek Kong, atau Ketua Pek-sim-pang, mengajak kedua orang anaknya, yaitu Pek Han Siong dan Pek Eng untuk bicara di tempat terpisah. Bahkan dia minta permisi kepada sahabatnya, Song Un Tek untuk dapat bicara bertiga saja dengan kedua orang anaknya.

"Nah, sekarang ceritakanlah apa artinya semua itu." kata Pek Kong dengan nada suara yang penasaran. "Pertama, aku minta penjelasan dari engkau Eng-ji. Apa yang telah terjadi sehingga Lam-hai Siang-mo, suami isteri iblis itu mendatangi Kang-jiu-pang dan memutuskan pertalian jodoh antara engkau dan Song Bu Hok, bahkan suami isteri iblis itu telah membikin kacau dan menyerang orang-orang Kang-jiu-pang!"

Dengan muka menunjukkan penyesalan dan ketakutan terpaksa Pek Eng menceritakan betapa ia ditangkap oleh anak buah Lam-hai Giam-lo dan untuk menyelamatkan diri, ia terpaksa mau menjadi anak angkat dan murid Lam-hai Giam-lo. Karena tidak setuju dengan ikatan jodoh itu, ia minta kepada Lam-hai Giam-lo untuk membatalkannya dan ketua pemberontak itu mengutus Lam-hai Siang-mo untuk mendatangi Kang-jiu-pang dan memutuskan pertalian jodoh.

Merah wajah Pek Kong mendengar pengakuan puterinya itu. "Hemm, sungguh engkau membikin malu keluarga kita!" omelnya. "Lalu apa artinya keributan dengan Tang Hay tadi? Han Siong, mengapa pula engkau bersusah payah berusaha untuk membunuh Tang Hay?"

Han Siong tidak berani menjawab dan memandang kepada adiknya Pek Eng sudah menangis dan tiba-tiba ia menubruk kaki ayahnya dan menangis sesenggukan. Pek Kong amat mencinta Pek Eng, maka betapa pun marahnya, melihat puterinya merangkul kedua kakinya dan menangis sesenggukan, dia terkejut dan mengangkat bangun gadis itu.

"Engkau kenapakah?"

"Ayah, ampunkan aku, Ayah... atau... bunuh saja aku.....!"

"Eh, sudah gilakah engkau? Apa yang telah terjadi?"

"Koko... tolonglah, ceritakan kepada Ayah..." pinta Pek Eng kepada kakaknya dengan sendu. Bagaimanapun juga, bagaimana ia dapat menceritakan aib yang telah menimpa dirinya itu kepada ayahnya?

Han Siong mengangguk, maklum akan perasaan adiknya. Dia pun ingin menolong adiknya dan meringankan kesalahan adiknya, oleh karena itu dia berani sedikit membohong kepada ayahnya. "Ayah, sesungguhnya, Eng-moi telah menderita malapetaka yang hebat. Ia telah... telah diperkosa orang..."

"Apa...?" Pek Kong berseru keras dan mukanya berubah pucat. "Bagaimana...? Siapa...?" Dia tergagap saking kaget dan marahnya mendengar bahwa puterinya telah diperkosa. Berita ini agaknya lebih hebat daripada berita kematian.

Han Siong maklum akan keadaan ayahnya maka dengan tenang dia lalu berkata, "Harap Ayah suka menenangkan hati Ayah. Malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih kalau sudah dikehendaki oleh Thian. Eng-moi diperkosa orang yang memiliki ilmu tinggi, ia tidak berdaya dan tertotok. Tadinya Eng-moi menyangka bahwa pelakunya adalah Tang Hay, oleh karena itu ia memusuhi Tang Hay dan minta kepadaku untuk menghajarnya. Itu pula sebabnya mengapa aku berkelahi mati-matian melawan Tang Hay. Akan tetapi, kemudian kita sama melihat bahwa Tang Hay tidak berdosa, bahwa yang melakukan hal itu bukan lain adalah Ang-hong-cu, Ayah kandung Tang Hay yang menyamar sebagai Han Lojin."

Kini wajah Pek Kong menjadi merah dan dia mengepal tinju, marah sekali. "Keparat! Kita harus mencarinya untuk membuat perhitungan!"

Melihat kemarahan ayahnya, Han Siong mendekati dan menghibur. "Ayah, memang peristiwa ini menyakitkan hati, menyinggung kehormatan keluarga kita, dan menghancurkan kehidupan Eng-moi. Akan tetapi, Tang Hay sudah berjaji untuk mencari dan menangkap ayah kandungnya sendiri. Dan kita harus ingat, Ayah. Sejak dahulu, memang ada hubungan dekat sekali antara Ang-hong-cu dengan kita. Bukankah Tang Hay itu anak kandungnya, dan Tang Hay telah dipergunakan oleh keluarga kita untuk menggantikan aku, untuk menyelamatkan aku? Agaknya itulah kesalahan keluarga kita, Ayah, sehingga kini timbul peristiwa dan aib yang menimpa keluarga kita. Yang penting sekarang adalah mengurus bagaimana baiknya dengan nasib Adikku ini."

Pek Kong menarik napas panjang dan memandang kepada puterinya itu, walaupun tidak menangis sesenggukan, tetap saja mengeluarkan air mata yang menetes-netes di sepanjang kedua pipinya. "Baiklah, memang seyogyanya begitu. Aku akan membicarakan hal ini dengan keluarga Song. Eng-ji, bagaimana skearang, apakah engkau masih tetap tidak setuju kalau menjadi isteri Song Bu Hok?"

Pek Eng mengangkat mukanya yang basah, memandang ayahnya dengan sikap memelas, lalu ia mengangguk lemah. "Aku menurut saja apa yang dia tentukan Ayah, akan tetapi, Ayah, aku... aku sudah..." Ia tidak dapat melanjutkan.

"Jangan khawatir. Aku tahu bahwa Song Bu Hok sungguh mencintamu, dan mudah-mudahan dia cukup gagah untuk dapat melihat bahwa peristiwa ini bukan karena kesalahanmu."

"Tapi, Ayah, bukan sebaiknyakah kalau aib ini dirahasiakan dari orang lain? Mungkin harus berterus terang kepada Song Bu Hok, akan tetapi, kurasa tidak perlu diketahui keluarganya. Hal itu akan amat merugikan Eng-moi, karena akan dipandang rendah." Mendengar pendapat puteranya, Pek Kong mengangguk-angguk setuju.

"Engkau benar, aku yang akan bicara empat mata dengan Song Bu Hok setelah kita pulang nanti," kata Ketua Pek-sim-pang itu.

"Dan aku akan pergi mengunjungi guru-guruku di kuil Siauw-lim-si, Ayah, bersama Sumoi Bi Lian. Ada urusan yang amat penting antara aku, Sumoi, dan kedua orang Guru kami. Kelak akan kuceritakan kepada Ayah akan semua itu."

Demikianlah, ayah dan dua orang anaknya ini lalu berpisah. Han Siong menemui Bi Lian yang sudah dijanjikan akan dibawa menghadap kedua orang gurunya di kuil Siauw-lim-si, sedangkan Pek Kong mengajak puterinya yang prihatin itu untuk pulang.

Bagaimana dengan Ling Ling? Gadis ini bersama Kui Hong meninggalkan tempat itu dengan sedih. Kesedihan yang dirasakan Ling Ling hampir mirip dengan kesedihan Pek Eng. Kedua orang gadis ini bukan hanya menyedihi nasib mereka yang sudah dinodai aib, kehilangan keperawanan dan kehormatan, melainkan lebih daripada itu, ketika mereka melihat kenyataan bahwa yang memperkosa mereka itu bukan Hay Hay melainkan ayah kandung pemuda utu, seorang jai-hwa-cat yang amat jahat! Inilah yang menyedihkan hati mereka, bahkan membuat harapan mereka lenyap sama sekali. Kalau Hay Hay yang menjadi pelakunya, sedikitnya mereka masih mengharapkan pemuda itu mau mengakui dan bertanggung jawab mengawini mereka!

Kui Hong tak pernah melepaskan tangan Ling Ling, menggandengnya ketika mereka meninggalkan sarang pemberontak yang telah dikuasai pasukan pemerintah. Setelah berada berdua saja, sambil bersandar kepada Kui Hong, Ling Ling menangis, dihibur sepanjang jalan oleh Kui Hong. Ling Ling membayangkan nasibnya. Ia mencinta Hay Hay, hal ini tak dapat disangkalnya pula, dan biarpun tadinya ia mengira bahwa Hay Hay telah memperkosanya, namun ia siap untuk memaafkannya bahkan bersedia menjadi isteri pemuda yang dicintanya itu. Akan tetapi, kenyataannya demikian pahit.

Pemerkosanya adalah Ang-hong-cu, penjahat besar, ayah kandung Hay Hay. Bagaimana ia dapat hidup terus menahan siksa batin karena aib ini? Bagaimana pula ia akan menghadap ayah dan ibunya? Ah, ayah dan ibunya tentu akan merasa terpukul, akan ikut menderita sengsara. Membayangkan betapa ayahnya akan berduka sekali, ibunya akan menangis, tiba-tiba Ling Ling melepaskan diri dari gandengan tangan Kui Hong, menjerit dan berlari seperti orang gila! Kui Hong terkejut dan mengejar, khawatir sekali karena agaknya Ling Ling tidak mempedulikan lagi ke mana ia lari, seperti orang yang lari sambil menutup matanya.

"Ling Ling....! Berhentilah, Ling Ling....!" Kui Hong mengejar sekuat tenaga. Ia terbelalak melihat betapa Ling Ling lari mendaki bukit, terus lari ke arah tebing yang curam.

"Ling Ling...!" Wajah Kui Hong sudah menjadi pucat sekali kareha ia merasa tidak akan mampu mencegah gadis itu yang agaknya akan lari terus dari atas tebing!

Ling Ling yang berlari terus agaknya tidak melihat bahwa ia berlari menuju ke tebing yang curam. Tapi tebing itu dua tiga meter lagi dan tiba-tiba nampak berkelebat sesosok bayangan dari samping dan tubuh Ling Ling sudah disambar dan dirangkul pinggangnya oleh Can Sun Hok.

"Lepaskan aku....! Lepaskan aku....!" Ling Ling meronta-ronta dan berusaha melepaskan diri, namun Sun Hok mempergunakan seluruh tenaganya untuk memeluk dan tidak mau melepaskan gadis itu. Melihat betapa pemuda ini nekat merangkulnya, Ling Ling menjadi heran, keheranan yang sejenak membuat ia bingung dan yang mengatasi kedukaan dan keputusannya, yang membuatnya ingin membunuh diri itu. Ia mengangkat muka memandang wajah pemuda itu, dan kembali ia membentak.

"Lepaskan aku!"

"Tidak, Ling-moi, tidak mungkin aku membiarkan engkau lepas dan melanjutkan niatmu yang sesat itu!" kata Sun Hok, tetap merangkul pinggangnya. Ling Ling menjadi semakin bingung. Perkenalannya dengan Sun Hok belum lama, akan tetapi telah timbul keakraban di antara mereka ketika mereka berdua menghadapi gerombolan pemberontak itu. Hok menyebutnya adik dan ia pun menyebut kakak kepada pemuda perkasa itu.

"Hok-ko, lepaskan aku dan jangan engkau mencampuri urusannku!" kembali ia meronta dengan sia-sia.

"Ling-moi, aku tahu bahwa engkau ingin membunuh diri ke jurang itu! Ingin membunuh diri! Perbuatan itu sungguh sesat, pengecut dan sama sekali keliru, Ling-moi. Karena itu, sebelum engkau mengubah pendirianmu itu, aku tidak akan melepaskanmu!"

Ling Ling menjadi marah. Tangan kanannya sudah menempet di tengkuk pemuda itu. "Lepaskan! Kalau tidak, kubunuh engkau lebih dahulu!"

Sun Hok tidak terkejut, melainkan tersenyum. "Bagus, kalau engkau masih dapat marah, hal itu berarti engkau masih suka hidup. Ling-moi, kalau engkau hendak membunuhku sebelum engkau bunuh diri, silakan. Biarlah aku akan mengantarkanmu ke alam baka. Nah, sialakan....."

Melihat kepasrahan pemuda ini, Ling Ling menjadi lemas lahir batin. Tenaganya seperti habis dan ia pun menangis, mengguguk di atas pundak pemuda itu yang kini melepaskan rangkulan pada pinggannya dan merangkul pundak gadis itu, mengelus rambut kepalanya dan membiarkan gadis itu menangis sepuas hatinya.

Kui Hong menghampiri dan gadis ini menarik napas lega. Wajahnya masih pucat dan jantungnya berdebar penuh ketegangan tadi, dan melihat betapa Ling Ling menangis dalam rangkulan pemuda itu, ia tidak berani mengeluarkan kata-kata, takut kalau-kalau Ling Ling "kumat" lagi kenekatannya. Ia hanya saling pandang dengan Sun Hok, pemuda yang sudah dikenalnya itu. Beberapa tahun yang lalu, ia dan ibunya pernah bertemu dengan pemuda ini yang tadinya mendendam kepada ibunya karena kematian ibu pemuda ini, seorang tokoh sesat bernama Gui Siang Hwa, disebabkan karena bertanding melawan Ibunya. Akan tetapi ibunya dapat menyadarkan Can Sun Hok. Dan agaknya memang pemuda ini telah menjadi seorang pendekar yng gagah perkasa. Buktinya, dia pun muncul dalam pertempuran melawan kaum sesat yang memberontak, bersamaan dengan Ling Ling yang agaknya dikenal dengan baik. Tentu ada apa-apa di antara mereka, pikir Kui Hong, dan tanpa banyak cakap, sebelum Ling Ling sempat melihatnya, dam-diam Kui Hong meninggalkan kedua orang itu.

Setelah tangisnya mereda, Ling Ling teringat bahwa ia menangis di dada pemuda itu sehingga baju bagian dada Sun Hok menjadi basah. Ia lalu melepaskan diri dan dengan lembut Sun Hok melepaskan pelukannya. Gadis itu mundur dua langkah, mengangkat muka dan memandang dengan sepasang mata yang kemerahan dan basah. Sun Hok memandang dengan senyum yang membesarkan hati, dan sepasang matanya jelas membayangkan perasaan iba dan sayang.

"Hok-ko, kenapa.... kenapa engkau... menghalangi aku? Kenapa engkau tidak membiarkan aku mati saja sehingga aku akan terbebas dari penderitaan?" kata Ling Ling, suaranya setengah menyesal dan setengah menegur.

Sun Hok masih tersenyum dan menggeleng kepalanya. "Ling Ling, bagaimana mungkin aku membiarkan engkau mati? Hal itu sama saja dengan membunuh kebahagiaan dan harapan hidupku sendiri. Tidak, Ling-moi, aku tidak akan membiarkan engkau mati seperti juga dunia tidak akan membiarkan hilangnya matahari."

Sepasang mata yang masih basah itu terbelalak mengamati wajah pemuda yang berdiri di depannya itu. Seorang pemuda yang berwajah tampan dan gagah, bertubuh tegap dan matanya mencorong, sikapnya ramah dan sederhana. "Hok-ko... apa... apa maksudmu? Apa... artinya kata-katamu itu, Hok-ko...?" tanyanya bingung dan jantungnya berdebar karena samar-samar ia dapat menangkap apa yang dimaksudkan pemuda itu, namun ia masih belum dapat menetima atau percaya begitu saja.

"Engkau tentu mengerti, Ling-moi, bahwa sejak kita saling berjumpa, aku.... aku mengagumimu, menyukaimu, mengasihanimu dan aku... cinta padamu."

Sepasang mata Ling Ling semakin terbelalak, dan wajahnya yang tadinya pucat kini berubah merah sekali, kemudiaan wajah yang membayangkan kekagetan dan keheranan itu berubah, berkerut-kerut, bibir itu gemetar, matanya menjadi sayu dan tak tertahankan lagi Ling Ling lalu menangis, menutupi mukanya dengan kedua tangannya, terisak-isak, lebih sedih daripada tadi!

Can Sun Hok mengerutkan alisnya, dan menarik napas panjang, lalu berkata dengan suara lembut sekali. "Ling-moi, sungguh aku tidak tahu diri dan lancang sekali. Aku bahkan menambah kedukaanmu dengan singgungan. Kalau kejujuranku tadi menyinggung hatimu, kaumaafkan aku, Ling-moi."

Sampai lama Ling Ling tidak mampu menjawab, hanya terisak-isak, pundaknya terguncang-guncang dan air mata menetes melalui celah-celah jari tangannya. Akhirnya setelah tangisnya mereda, ia menurunkan kedua tangannya, memandang kepada Sun Hok yang masih menanti dengan sabar.

"Bukan begitu maksudku, Hok-ko.... aku... aku menjadi semakin sedih karena.... karena engkau begitu baik, engkau.... engkau menyatakan cinta kepadaku, padahal aku... aku....."

Sun Hok tersenyum lembut dan memandang dengan sikap memberi semangat. "Engkau kenapa Ling-moi? Bagiku, engkau gadis yang paling hebat di dunia ini."

"Aihh... Hok-ko, aku.... aku tidak berharga untuk menjadi sisihanmu.... aku.... aku...."

"Engkau kenapakah? Katakanlah Ling-moi, aku siap mendengar yang bagaimanapun juga."

Ling Ling menatap tajam wajah pemuda itu, mengumpulkan ketabahannya dan ia pun berkata. "Aku... aku telah ternoda.... aku bukan perawan lagi, Hok-ko...." Dan ia pun menundukkan mukanya yang menjadi pucat, air matanya mengalir di sepanjang kedua pipinya, kedua kakinya menggigil dan ia tentu akan roboh kalau saja Sun Hok tidak cepat menghampiri dan memegang kedua pundaknya mengguncangnya sedikit untuk membersi semangat dan kekuatan.

"Aku telah mengetahui, Ling-moi, aku telah dapat menduga semuanya."

Ling Ling semakin terkejut dan heran. Ia mengangkat muka dan memandang pemuda itu, sinar matanya menyelidik, melalui genangan air matanya. "Engkau.... engkau sudah tahu....? Bagaimana....... engkau bisa tahu?"

"Sejak bertemu denganmu, melihat engkau berkelahi mati-matian melawan pemuda perkasa bernama Tang Hay itu, mendengar engkau menyebutnya jai-hwa-cat, dan melihat kebencianmu kepadanya, aku sudah menduga bahwa tentu telah terjadi sesuatu yang hebat antara engkau dan dia. Kemudian, tidak percuma aku bertemu dan jatuh hati kepadamu, Ling-moi, aku memperhatikan semua gerak-gerikmu, dan aku melihat semua yang terjadi ketika engkau menyerang Tang Hay, kemudian melihat perkembangannya aku dapat menduga bahwa engkau tentulah seorang diantara korban-korban dari jai-hwa-cat yang ternyata kemudian adalah Ang-hong-cu, Ayah kandung Tang Hay! Benarkah demikian, Ling-moi?"

Ling Ling menggerakkan tangan mengusap air matanya, dan ia mengangguk. "Benar dugaanmu, Hok-ko. Aku adalah seorang korban dari jai-hwa-cat itu, yang tadinya kukira Hay-ko orangnya. Dan engkau.... engkau sudah tahu bahwa aku bukan perawan lagi, sudah ternoda, tercemar badan, nama dan kehormatanku, akan tetapi engkau.... engkau masih menyatakan cinta.....?"

Sun Hok melepaskan kedua pundak gadis itu lalu mundur dua langkah. Mereka saling pandang dan Sun Hok mengangguk. "Benar, Ling-moi. Aku cinta padamu, dan dengar baik-baik, engkaulah yang kucinta, engkau, jiwa ragamu, engkau seutuhnya! Bukan mencinta nama dan kehormatanmu. Dan aku merasa bangga dan girang sekali bahwa engkau telah berani mengaku di depanku, hal ini menandakan bahwa cintaku tidak keliru. Engkau seorang gadis yang hebat sekali. Akan tetapi... Ling-moi, aku masih merasa ragu apakah seorang gadis sehebat engkau ini akan mungkin membalas cinta kasihku? Jawablah, Ling-moi, sudikah engkau menerima pinangan dan maukah engkau menjadi calon isteriku?"

Kembali mereka saling pandang, dan sebelum Ling Ling menjawab, Sun Hoj sudah mendahuluinya. "Nanti dulu, Ling-moi! Jangan jawab dulu sebelum engkau mendengar siapa adanya diriku ini!"

"Engkau seorang pendekar gagah perkasa dan patriotik!"

Sun Hok menggeleng kepala. "Jauh daripada itu, Ling-moi. Mendiang ibuku adalah seorang tokoh sesat yang terkenal amat lihai! Hanya saja, aku sadar akan kesesatannya dan tidak mengikuti jejaknya. Dan yang lebih daripada itu, aku... aku telah mempunyai seorang selir, Ling-moi. Jadi, kalau engkau sudi menjadi isteriku, disana telah menanti seorang selir, berarti seorang madu bagimu..."

Kini Ling Ling mengangkat muka memandang dengan mata dilebarkan. "Seorang selir....? Tapi, kenapa tidak menjadi isterimu? Siapa ia dan bagaimana hanya menjadi selir? Ceritakanlah tentang wanita itu...."

Sun Hok mengangguk-angguk. "Bukan isteri, hanya selir, itu pun hanya seorang calon selir. Ia tidak mau menjadi isteriku, hanya mau menjadi selir, itu pun kalau aku sudah beristeri, kalau belum, ia tidak mau."

Ling Ling semakin heran. "Hok-ko, ceritakan tentang dia!" Ling Ling semakin tertarik sekali. Sun Hok lalu bercerita dengan sejujurnya tentang Bhe Siauw Cin, gadis penyanyi bekas dayang seorang pangeran di kota raja yang di pergunakan oleh Jaksa Kwan untuk merayu dan membujuknya itu. Siauw Cin memang sudah mengaku kepadanya akan keadaan dirinya yang sebenarnya dan Sun Hok sudah memaafkannya. Dia menceritakan kepada Ling Ling betapa Siauw Cin yang mencinta dirinya, tidak mau mendatangkan aib kepada namanya dan hanya mau melayani sebagai seorang selir kalau dia sudah menikah.

"Demikianlah, sekarang ia berada di rumahku, menjadi seorang pengurus rumah dan juru masak. Ialah yang akan menjadi selirku kalau engkau sudi menjadi isteriku, Ling-moi."

Ling Ling mengerutkan alisnya, dan diam-diam ia merasa kagum sekali kepada pemuda ini. Seorang pemuda yang jujur, yang tidak malu mengakui kelemahannya dan cacatnya, kalau saja mempunyai seorang calon selir dapat dikatakan cacat. Agaknya pemuda itu pun sengaja menceritakan hal ini untuk membangkitkan harga diri Ling Ling, karena setidaknya, Ling Ling akan menganggap bahwa Sun Hok pun mempunyai cacat dan seperti juga dirinya, menjadi jodohnya tidak dalam keadaan "utuh". Dan biarpun harus diakuinya bahwa hatinya pernah jatuh kepada Hay Hay, namun sejak bertemu dengan Sun Hok, ia pun merasa tertarik dan kagum kepada pemuda ini.

"Ling-moi, bagaimana? Sudikah engkau menerima cintaku, sudikah engkau menjadi calon isteriku?"

Akhirnya Ling Ling memandang kepadanya dan menarik napas panjang. "Hok-ko, engkau telah menghindarkan aku dari kematian bunuh diri yang sesat, engkau seolah memberi harapan dan kehidupan baru bagiku. Tentu saja aku merasa berterima kasih sekali dan menerima uluran tanganmu dengan bersukur dan dengan gembira. Akan tetapi bagaimanapun juga, yang akan mengambil keputusan adalah Ayah Ibuku. Aku akan pulang ke dusun Ciang-si-bun, menceritakan semuanya kepada orang tuaku." Berkata demikian, nampak oleh Sun Hok betapa gadis itu gemetar, agaknya merasa ngeri untuk menceritakan malapetaka yang menimpa dirinya kepada Ayah Ibunya. Dengan hati penuh iba Sun Hok maju dan merangkulnya.

"Jangan khawatir Ling-moi, aku akan menyertaimu, dan aku akan membantumu bercerita kepada mereka, juga sekalian mengajukan pinangan karena aku sudah tidak mempunyai orang tua yang akan mengajukan pinangan."

Ling Ling merasa demikian lega dan girang sehingga sejenak ia menyandarkan kepalanya di dada calon suaminya itu. Kedamaian yang menenteramkan hatinya, yang mendatangkan harapan baru baginya, menyelubungi hatinya dan gadis ini nampak tersenyum manis walaupun kedua pipinya masih ada sisa air mata yang tadi.

Kita manusia hidup bagaikan mendayung perahu di tengah samudera kehidupan yang luas, penuh dengan ombak mengalun yang menghantam biduk kita dari kanan kiri! Biduk yang kita dayung di tengah samudera kehidupan itu dipermainkan ombak senang dan susah silih berganti. Mulut ini sampai lelah rasanya oleh permainan tawa dan tangis yang saling menyeling tiada hentinya, walaupun tangis datang lebih banyak daripada tawa sepanjang hidup kita. Kita selalu mendambakan kesenangan yang membuat kita tertawan, dan kita menjauhi kesusahan yang mendatangkan tangis. Namun, mungkinkah itu? Mungkinkah ombak mengalun dari satu sisi saja? Senang dan susah hanyalah suatu timbal- balik seperti terang dan gelap, seperti siang dan malam. Tidak mungkin mendapatkan senang saja sepanjang hidup tanpa menemukan susah, karena senang dan susah merupakan saudara kembar yang tak terpisahkan, seperti dua permukaan dari satu mata uang yang sama! Kalau sudah mengetahui ini, maka bijaksanalah orang yang tidak menjadi lupa daratan di kala senang, dan tidak menjadi putus semangat di kala susah. Dari susah ke senang, dan sebaliknya, hanya satu langkah saja! Lebih bijaksana lagi kalau kita mau mengamati dan mempelajari apa sebenarnya susah dan senang itu, bagaimana munculnya. Sesungguhnya, susah dan senang hanyalah permainan pikiran belaka, pikiran yang menilai berdasarkan keuntungan dan kepentingan pribadi. Segala peristiwa yang menguntungkan pribadi, mendatangkan senang, dan sebaliknya yang merugikan pribadi mendatangkan susah. Kalau pikiran tidak menimbang-n-mbang, menilai, maka segala peristiwa adalah wajar dan tidak akan menimbulkan susah senang. Berbahagialah dia yang berada di luar jangkauan susah senang ciptaan pikiran ini. Pengamatan mendalam secara pasip (tanpa mengubah) bilamana susah atau senang menguasai batin merupakan langkah pertama ke arah kebebasan.

"Heii, di mana Bibi Kui Hong.....?" Tiba-tiba Ling Ling teringat dan melepaskan diri dari rangkulan Sun Hok.

"Ia tadi menuju ke sana...." Sun Hok menunjuk ke arah sebuah hutan kecil tak jauh dari situ.

"Mari kita cari Bibi Kui Hong!" Ling Ling lalu berlari ke arah itu, diikuti oleh Sun Hok.

"Bibi Kui Hong....! Bibi Kui Hong.....!" Beberapa kali Ling Ling memanggil ketika memasuki hutan itu.

"Lihat itu di sana! Seperti ada kertas menempel di batang pohon." tiba-tiba Sun Hok berkata. Ling Ling menengok dan menghampiri sebatang pohon besar. Benar saja ada kertas berlipat menempel di batang pohon itu, ujungnya tertusuk sebuah ranting kecil. Ling Ling cepat mengambil kertas itu, dibukanya dan ternyata kertas itu adalah sehelai surat dari Kui Hong kepadanya! Segera dibacanya surat singkat itu.

Ling Ling,

Can Sun Hok adalah cucu seorang pangeran, dia seorang pendekar yang gagah perkasa dan baik budi. Semoga engkau dapat hidup berbahagia dengan dia.

Bibimu,

Cia Kui Hong.

Ling Ling tersenyum dan semakin gembira. Kiranya pemuda yang mencintanya ini bukan orang sembarangan, melainkan cucu seorang pangeran, akan tetapi mengaku putera seorang wanita tokoh sesat! Sambil tersenyum ia menyerahkan surat itu kepada Sun Hok yang membacanya pula. Pemuda itu pun tersenyum.

"Ah, kiranya wanita perkasa itu, cucu Pendekar Sadis, adalah Bibimu? Ternyata engkau keturunan keluarga para pendekar yang hebat. Ling-moi!"

Keduanya melanjutkan perjalanan menuju ke dusun Ciang-si-bun di sebelah selatan kota raja, ke tempat tinggal orang tua Cia Ling. Ketika mereka tiba di rumah Cia Sun, kembali Cia Ling merasa tegang dan ada rasa takut menyelinap dalam hatinya. Kalau saja ia tidak pulang bersama Sun Hok, kiranya ia tidak akan berani langsung menceritakan keadaan dirinya kepada ayah ibunya. Kehadiran Sun Hok membesarkan hatinya, apalagi karena selama dalam perjalanan itu, Sun Hok membuktikan dirinya sebagai seorang pria yang menghargainya dan sopan.

Cia Sun dan Tan Siang Wi menyambut pulangnya puteri mereka dengan gembira. Akan tetapi Tan Siang Wi merasa agak khawatir melihat wajah puterinya yang agak pucat dan sinar matanya yang redup seperti orang menderita tekanan batin. Sedangkan Cia Sun merasa heran ketika melihat puterinya pulang bersama seorang pemuda tampan yang sederhana sikapnya.

Dengan suara tersendat-sendat bercampur tangis, akan tetapi dibantu dan diberi semangat oleh Sun Hok, akhirnya keluar pula dari mulut Ling Ling cerita sedih tentang malapetaka yang menimpa dirinya, yaitu diperkosa oleh seorang jai-hwa-cat berjuluk Ang-hong-cu. Baru cerita itu tiba di bagian ini, Tan Siang Wi yang berwatak angkuh dan galak itu telah melompat berdiri dari kursinya, mukanya menjadi pucat lalu berubah merah sekali, kedua tangan dikepal dan matanya mendelik.

"Aku harus mencari Ang-hong-cu! Aku akan mengadu nyawa dengan jahanam keparat busuk itu!"

Akan tetapi Cia Sun yang berwatak sabar dan halus, menyentuh lengan isterinya dan berkata, "Tenang dan bersabarlah. Segalanya telah terjadi dan mari kita mendengarkan cerita Ling-ji lebih lanjut." Akhirnya wanita yang marah itu dapat dibikin tenang dan dengan kedua mata basah ia mendengarkan kelanjutan cerita anaknya

Ling Ling melanjutkan ceritanya bahwa bukan hanya ia yang menjadi korban, akan tetapi banyak dan di antaranya seorang murid Bu-tong-pai. Kini Ang-hong-cu menjadi buronan dan dikejar oleh puteranya sendiri yang bernama Tang Hay karena pemuda ini hendak mencuci namanya yang tadinya menjadi pusat persangkaan dan dia ingin memaksa agar ayah kandungnya mempertanggungjawabkan semua perbuatannya yang jahat. Juga Ling Ling menceritakan tentang pemberantasan gerombolan sesat yang memberontak sehingga gerombolan itu dapat dihancurkan. Demikian pula pertemuan-pertemuannya dengan Kui Hong dan para pendekar lainnya.

"Dan siapakah orang muda ini?" Cia Sun bertanya kepada puterinya setelah ceritanya selesai.

"Ayah, dia adalah seorang di antara para pendekar yang membantu membasmi gerombolan pemberontak. Namanya Can Sun Hok, tinggal di kota Siang-tan. Dia...dia ikut bersamaku ke sini... untuk... untluk...." Ling Ling tidak melanjutkan ucapannya melainkan menoleh ke arah Sun Hok seperti hendak minta bantuan. Suami isteri pendekar perkasa itu kini memandang kepada Sun Hok. Di dalam hati mereka terdapat penasaran karena tadi puteri mereka menceritakan tentang aib yang menimpa dirinya di depan pemuda asing ini pula.

Sun Hok cepat memberi hormat kepada suami isteri pendekar itu. Dia tadi terkesan melihat sikap orang tua Ling Ling. Ibunya demikian galak penuh semangat dan keberanian, ayahnya demikian pendiam dan tenang, penuh wibawa. Hatinya gentar juga menghadapi dua orang yang perkasa ini.

"Harap Paman dan Bibi sudi memaafkan saya. Sebetulnya, amat tidak pantas kalau saya datang menghadap sendiri untuk keperluan ini, akan tetapi mengingat bahwa saya tidak mempunyai keluarga lagi, tiada Ayah Bunda, maka terpaksa saya memberanikan diri menghadap Paman dan Bibi untuk mengajukan pinangan atas diri Ling-moi, untuk menjadi calon isteri saya kalau Paman dan Bibi sudi menerima saya yang bodoh dan yatim piatu sebagai calon mantu."

Suami isteri itu saling pandang dan nampak ibu Ling Ling membelalakkan kedua matanya, lalu menoleh kepada puterinya.

"Dia... dia sudah tahu... tentang dirimu....?" tanyanya kepada Ling Ling.

Ling Ling mengangguk. "Sudah, Ibu. Bahkan sudah menduganya sebelum aku berterus terang kepadanya. Aku tentu sudah mati membunuh diri dengan terjun ke jurang kalau saja tidak ada Hok-ko ini yang mencegahku. Dia tidak peduli akan aib yang menimpa diriku, bahkan dia merasa iba kepadaku."

Mendengar ini, ibu Ling Ling merasa terharu dan suami isteri itu tentu saja tidak menolak, bahkan berterima kasih sekali kepada pemuda itu yang telah menyelamatkan nyawa puteri tunggal mereka, bahkan mau pula mencuci aib itu dengan menikahinya. Akan tetapi, sebagai seorang wanita yang terkenal angkuh, belum puas rasa hati Tan Siang Wi kalau belum mendapat keterangan tentang asal-usul pemuda yang akan menjadi mantunya. Maka, secara langsung saja ia lalu bertanya tentang orang tua pemuda itu, walaupun ayah ibu pemuda itu telah meninggal dunia.

"Ibu, Hok-ko adalah cucu seorang pangeran." Ling Ling berkata untuk mengangkat pemuda itu dalam pandangan ibunya.

Akan tetapi Sun Hok segera berkata. "Ah, keturunan bangsawan itu sudah tidak termasuk hitungan lagi. Memang, Kakek saya adalah Pangeran Can Seng Ong, yang pernah menjadi gubernur di Ning-po. Kemudian Kakek saya pindah ke Siang-tan. Ayah saya bernama Can Koan Ti, dan Ibu saya... bernama Gui Siang Hwa dan mereka sudah meninggal dunia semua...."

Tiba-tiba Tan Siang Wi meloncat dari kursinya. Matanya terbelalak karena ia ingat benar kepada nama itu. "Gui Siang Hwa? Benarkah nama ibumu Gui Siang Hwa, murid Raja dan Ratu Iblis?"

Sambil menundukkan mukanya, Sun Hok berkata, "Benar, Bibi. Mendiang Ibu saya adalah seorang tokoh sesat."

Cia Sun juga tertegun. Lebih lagi Tan Siang Wi. Ia pernah bentrok dengan Gui Siang Hwa dan teringatlah ia akan masa lalu, ketika ia masih seorang gadis, pernah ia bertanding melawan Gui Siang Hwa yang amat lihai dan ia kalah bahkan tertawan oleh wanita iblis itu (baca kisah Asmara Berdarah). Wanita ini menjadi bingung. Ia bermantukan putera Gui Siang Hwa yang terkenal dengan julukan Siang-tok Sian-li (Dewi Racun Wangi) itu? Tidak mungkin! Akan tetapi, ia pun teringat akan keadaan puterinya yang sudah ternoda, dan ingat betapa putera Gui Siang Hwa ini adalah seorang pendekar, bahkan patriot! Maka ia terduduk kembali dan termangu-mangu, memandang suaminya.

Cia Sun menarik napas panjang. "Di dalam kehidupan manusia, ada tiga hal yang sudah ada garisnya, sudah ditentukan dan diatur oleh kekuasaan Thian, yaitu kelahiran, perjodohan dan kematian. Kita manusia hanya mampu menerima saja dan dalam perjodohan, yang terpenting adalah cinta kasih antara kedua orang yang berjodoh. Can Sun Hok, apakah engkau benar-benar mencinta puteri kami Cia Ling?" Sambil bertanya sinar mata Cia Sun dengan tajam mengamati wajah pemuda itu. Sun Hok balas memandang dan menjawab dengan suara yang tenang dan tegas, tanpa ragu-ragu.

"Saya mencinta Ling-moi dengan sepenuh hati, Paman."

"Dan engkau, Ling Ling, apakah engkau mencinta Can Sun Hok?" Kini pendekar itu memandang kepada Ling Ling. Wajah gadis ini berubah merah dan sambil mengerling ke arah Sun Hok, ia pun menjawab dengan lantang dan tegas.

"Ayah, aku... aku cinta padanya."

Cia Sun mengangguk-angguk. "Bagus, kalau begitu, kami orang tua hanya tinggal melaksanakan saja pernikahan antara kalian. Kita memilih hari dan bulan dan merayakan pernikahan kalian secara sederhana saja." Keluarga itu dengan hati gembira, lalu merayakan pulangnya Ling Ling, juga merayakan perjodohan antara kedua orang muda itu. Cia Sun dan isterinya akhirnya merasa puas dan gembira juga mendengar tentang riwayat hidup Can Sun Hok yang tanpa merahasiakan lagi menceritakan pertemuannya dengan Ceng Sui Cin yang tadinya dianggap musuh besarnya, betapa kemudian dia sadar setelah mendengar wejangan wanita perkasa itu. Biarpun mendiang ibunya seorang tokoh sesat yang terkenal jahat, namun pemuda ini agaknya tidak mewarisi kejahatan ibunya.

Demikianlah, seperti bergantinya hujan dan mendung dengan sinar matahari yang cerah, setelah mengalami penderitaan batin karena diperkosa orang yang hampir saja membuat Ling Ling membunuh diri, kini gadis itu menemukan kebahagiaan di samping Can Sun Hok yang mencintanya. Setelah menjadi isteri pemuda itu dan dibawa pulang ke Siang-tan, ke rumah megah di mana ia dipertemukan dengan Bhe Siauw Cin, hati Ling Ling menjadi semakin gembira. Bhe Siauw Cin ternyata seorang wanita muda yang selain cantik jelita, juga ramah dan halus budi bahasanya, pandai membawa diri dan biarpun ia seorang bekas penyanyi dan penghibur panggilan kelas tinggi, namun ia cerdas dan memiliki banyak pengetahuan sehingga Ling Ling yang kini menjadi "nyonya besar" banyak belajar dari wanita ini, juga dalam melayani suaminya. Pada masa itu, merupakan hal yang lajim bagi seorang pria, apalagi kalau dia bangsawan atau hartawan untuk memiliki isteri lebih dari seorang walaupun isteri yang lain dinamakan selir. Ling Ling hidup berbahagia di samping suaminya dan madunya.

* * *

Nasib Pek Eng tidaklah sebaik nasib Ling Ling yang mendapatkan seorang suami yang selain mencintanya, juga dicintanya. Namun mengingat akan peristiwa yang mendatangkan aib bagi diri Pek Eng, nasibnya dapat dinamakan baik juga. Setelah ayahnya, Pek Kong yang menjadi Ketua Pek-sim-pang, diam-diam menemui Song Bu Hok dan mengajaknya bicara empat mata.

Setelah memesan kepada pemuda itu bahwa apa yang akan dibicarakan merupakan rahasia besar keluarga Pek dan hanya kepada Song Bu Hok seorang Ketua Pek-sim-pang itu memberitahukan dan minta kepada pemuda itu agar menyimpannya sebagai rahasia sampai mati, barulah Pek Kong menceritakan tentang peristiwa yang menimpa diri puterinya.

Song Bu Hok adalah seorang pemuda keturunan orang-orang gagah pekasa.

Biarpun wataknya agak tinggi hati, akan tetapi memiliki jiwa yang gagah perkasa, seorang pendekar yang selalu menentang kejahatan dan membela kebenaran dan keadilan. Mendengar betapa gadis yang dicintanya, yang menjadi calon isterinya karena pinangan ayahnya telah diterima oleh keluarga Pek, diperkosa oleh jai-hwa-cat Ang-hong-cu, dia menjadi marah sekali.

"Saya akan mencari jahanam itu dan akan saya bunuh dia!" katanya penuh geram.

"Bukan itu maksudku mengapa aku membuka rahasia ini kepadamu, Anakku." kata Pek Kong. "Akan tetapi, kami sekeluarga menanti keputusanmu mengenai ikatan perjodohan antara engkau dan Eng-ji."

Pemuda itu memandang calon ayah mertuanya dengan tajam dan heran. "Keputusan apakah? Bukankah ikatan perjodohan itu telah diputuskan dan kedua pihak telah menyetujuinya?"

"Akan tetapi, setelah malapetaka yang menimpa keluarga kami, setelah tunanganmu itu tercemar, mendapatkan aib... bagaimana pendirianmu?"

Bu Hok mengerutkan alisnya. "Gak-hu (Ayah Mertua), aib yang menimpa tunangan sama dengan aib yang menimpa diri sendiri. Tentu saja saya tidak menyalahkan Eng-moi, saya tetap menghormati dan mencintanya."

Wajah Pek Kong yang tadinya muram kini nampak cerah ketika dia mengamati wajah Song Bu Hok dengan tajam penuh selidik. "Engkau tidak akan merasa kecewa atau menyesal, dan tidak akan memandang rendah, menghina atau membenci Eng-ji karena persitiwa itu?"

"Kenapa saya harus begitu? Eng-moi tidak bersalah. Keparat busuk itulah yang bersalah dan kelak saya akan mencarinya untuk menuntut balas! Mengenai perasaan saya terhadap Eng-moi... saya kira tidak akan berubah, Gak-hu, bahkan bertambah dengan semacam perasaan lagi, yaitu iba. Kasihan Eng-moi yang tertimpa kemalangan seperti itu. Saya tetap menghormati dan mencintanya, Gak-hu."

"Bagus, sungguh sikapmu ini jantan dan mulia, Bu Hok dan engkau telah membuat hati kami menjadi tenang. Terima kasih! Dan tentu engkau akan menyimpan aib dari calon isterimu sendiri, bukan?"

"Tentu saja! Sampai mati peristiwa yang saya dengar dari Gak-hu ini tidak akan keluar dari mulut saja, bahkan mulai saat ini pun sudah saya lupakan."

Demikianlah, akhirnya Pek Eng juga terangkat dan namanya tercuci bersih karena ia menikah dengan Song Bu Hok, putera tunggal Song Un Tek Ketua Kang-jiu-pang, yang menurut pendapat orang banyak, merupakan kedudukan terhormat dan menyenangkan. Song Bu Hok terkenal sebagai seorang pemuda yang gagah perkasa berwatak baik, dan dari keluarga terhormat, disegani oleh dunia kang-ouw. Memang Pek Eng tidak mempunyai perasaan cinta terhadap Song Bu Hok, akan tetapi ia merasa berhutang budi karena Song Bu Hok tetap menghormati dan mencintanya, bahkan mau menikah dengannya. Hal ini saja sudah membuat ia bersukur dan berhutang budi sehingga setelah menikah, Pek Eng berusaha sekuatnya untuk dapat menumbuhkan perasaan cinta terhadap suaminya.

* * *

Hay Hay seperti menjadi gila. Dia meninggalkan bukit di mana Ang-hong-cu yang mengaku bernama Han Lojin itu ditahan kemudian melarikan diri, meninggalkan sajak yang membuat Hay Hay menderita pukulan batin yang paling hebat. Dia melarikan diri meninggalkan tempat itu sambil mengerahkan seluruh tenaganya berlari cepat. Bagaikan terbang saja tubuhnya meluncur ke depan tanpa ada tujuan tertentu, lari dan lari terus, seolah-olah dia hendak lari dari kenyataan yang amat pahit getir dan merobek-robek perasaan batinnya itu. Sambil berteriak seperti kuda gila, pikirannya dipenuhi bayangan-bayangan yang makin menusuk hatinya. Bahwa ayahnya adalah seorang jai-hwa-cat kelas berat, hal itu merupakan luka yang sudah lama. Akan tetapi kini luka itu ditambah lagi dengan kenyataan betapa ayahnya telah mencemarkan Pek Eng dan bahkan memperkosa Cia Ling secara keji. Lebih dari itu malah, ayah kandungnya itu agaknya memang sengaja melakukan hal itu untuk merusak namanya, agar semua orang menuduh dia sebagai pelakunya.

"Ang-hong-cu...! Keparat jahanam, di mana engkau....!!" Akhirnya dia berteriak-teriak, mengerahkan khi-kang sehingga suaranya melengking dan bergema sampai jauh. Dia berlari terus, naik-turun gunung, meloncati jurang-jurang. Kadang-kadang dia berteriak-teriak menyebut nama Ang-hong-cu, kadang-kadang pula nampak air mata bercucuran disepanjang kedua pipinya. Dia berlari terus, tanpa pernah mengurangi tenaganya.

Betapa pun terlatih dan kuatnya, tenaga manusia terbatas dan akhirnya, menjelang senja, Hay Hay roboh terpelanting di atas rumput, di lereng bukit yang sunyi. Dia roboh dan pingsan karena kelelahan dan kehabisan tenaga. Seperti telah mati tubuhnya rebah miring setengah menelungkup di antara rumput tebal hijau segar. Dan kini, setelah roboh pingsan, wajahnya yang tadinya penuh dengan linangan air mata dan nampak lesu, muram dan berkerut-kerut, kini berubah menjadi tenang bahkan ada setengah senyuman membayang pada mulutnya.

Segala macam duka, benci, takut dan sebagainya adalah perasaan yang muncul sebagai kembangnya pikiran. Pikiranlah yang menjadi biangkeladi segala macam emosi dan sentimen di dalam batin kita. Pikiran mengenang masa lalu, membayangkan masa depan, pikiran yang menimbang-nimbang dan menilai-nilai untung rugi terhadap diri kita, menciptakan segala macam perasaan itu. Bahkan, duka dan pikiran bukan dua hal yang berlainan! Duka adalah pikiran itulah. Yang merasa punya diri, yang merasa ada aku, juga pikiran itu dan iba diri timbul pula dari permainan pikiran. Iblis itidak berada jauh dari diri kita, bersarang di dalam pikiran setiap saat membisikkan bermacam kata-kata berbisa, dari yang manis merayu, sampai yang mencaci maki dan menusuk perasaan. Betapa pun duka atau benci atau takutnya seseorang apabila pikirannya tidak bekerja lagi, dalam tidur, dalam pingsan seperti Hay Hay, maka semua bentuk perasaan duka, benci, takut dan sebagainya itu akan lenyap pula! Oleh karena itu, tidak ada artinya untuk mengalahkan duka, benci atau takut, selama pikiran masih menjadi bisikan iblis. Kalau yang berusaha mengalahkan duka itu pikiran, maka yang muncul hanyalah pelarian, hiburan, dan semua ini kosong dan sia-sia belaka, karena duka ialah pikiran itu sendiri! Bagaimana mungkin pikiran melarikan diri dari dirinya sendiri?

Yang penting adalah melepaskan belenggu ikatan pikiran ikatan si aku, membebaskan diri dari semua permainan pikiran yang menyenangkan masa lalu dan membayangkan masa depan. Bukan aku yang membebaskan, karena yang mengaku sebagai "aku yang berusaha membebaskan" bukan lain adalah pikiran pula, dalam bentuk lain. Pikiran memang lihai dan lincah, bagaikan Sun Go Kong (Si Raja Monyet} dalan dongeng See-yuki. Lalu tlmbul pertanyaan, yaitu bagaimana lalu caranya untuk membebaskan diri dari pikiran ini? Pertanyaan ini pun masih sekali tiga uang, sama saja, karena yang bertanya itu juga si aku atau pikiran yang mempunyai pamrih untuk bebas dari pikiran agar tidak ada duka lagi! Setiap gerakan dari pikiran sudah pasti berpamrih, karena pusatnya adalah si aku yang ingin senang!

Jadi : Tidak ada pamrih membebaskan diri, namun sadar akan bekerjanya pikiran kita sendiri yang menjadi sumber dari segala perasaan. Dan tidak terdapat cara untuk membebaskan pikiran, karena pikiran adalah aku atau kita sendiri! Akan tetapi, dengan sepenuh kewaspadaan mengamati diri, mengamati apa yang terjadi di dalam dan di luar diri, di dalam pikiran, mengamati diri ketika timbul duka, benci, takut. Pengamatan inilah yang amat penting. Pengamatan tanpa pamrih, pengamatan tanpa ada si aku yang mengamati karena kalau demikian, tentu si aku akan menilai dan mengubah, mencela dan memuji. Yang ada hanya PENGAMATAN saja, dengan penuh kewaspadaan, dengan penuh perhatian, dengan menyeluruh, namun sedikit pun tidak ada pamrih mengubah atau boleh disebut secara pasip saja.

Angin semilir menggoyangkan rumput-rumput hijau, membuat rambut kepala Hay Hay berkibar pula.

Angin dingin meniupi kepalanya dan hawa dingin menyusup ke dalam kepala, menggugah Hay Hay yang pingsan seperti orang tertidur itu. Dia membuka mata, menggerakkan tubuhnya dan bangkit duduk. Teringat dia akan semua yang terjadi dan dia pun menampar kepala sendiri, lirih, lalu tersenyum.

"Hay Hay, apakah engkau sudah gila? Membiarkah diri terseret oleh duka dan malu? Tenanglah, tidak ada suatu apa pun tidak dapat diatasi di dunia ini."

Dia pun bangkit berdiri, merentangkan kedua lengannya ke atas, menghirup udara segar sampai sepenuh paru-paru dan perutnya, menghembuskannya perlahan dan perasaan lega dan sejuk menyusup sampai ke dalam dirinya yang paling dalam. Dia pun lalu tersenyum lagi dan kembalilah dia seperti keadaan Hay Hay semula, sebelum diracuni duka. Juga perasaan benci terhadap Ang-hong-cu tidak terasa lagi. Dia mengangguk-angguk, merasa bersukur melihat keadaan batinnya. Kemudian, perlahan dia menghampiri sebuah batu besar di bawah pohon tak jauh dari situ, lalu dia duduk di atas pohon. Tempat itu sunyi dan sejuk sekali. Langit senja demikian indahnya, menciptakan awan beraneka warna dan di sudut barat langit terbakar warna merah muda. Di antara kelompok awan yang bentuknya seperti biri-biri putih salju, nampak sinar biru dan ungu, juga ada awan besar yang menghitam yaitu awan mendung yang bagaikan raksasa malas, bergerak perlahan-lahan, tidak secepat awan-awan putih di sekitarnya. Langit bagaikan pemantulan lautan yang amat luas, dengan awan-awan itu mengambang di atasnya secara terbalik, hanyut bersama arus angin.

Di bawah tidak kalah indahnya. Rumput di padang itu hijau kekuningan, segar dan nampak hidup setelah sehari penuh dibakar matahari, kini agaknya dengan penuh harapan menyambut selimut malam yang hitam dan sejuk. Pohon-pohon besar bagaikan raksasairaksasa berjajar, siap untuk memasuki alam gelap malam yang penuh rahasia. Burung-burung sudah sibuk memilih tempat tidur mereka di antara daun-daun dan ranting-ranting, suara mereka bagaikan celoteh yang cerewet menceritakan pengalaman masing-masing sehari yang lalu.

Hay Hay duduk bersila di atas batu. Sebelum membiarkan diri tenggelam ke dalam siu-lian (samadhi), dia lebih dahulu mengenangkan segala yang terjadi. Tentang Pek Eng, tentang Cia Ling, tentang Hul Lian, Kui Hong, dan mereka yang ditemuinya, tentang pertempuran hebat itu. Dan dia menhat betapa dia dituduh karena sikapnya yang manis terhadap setiap wanita yang dijumpainya. Dia dianggap mata keranjang! Mata keranjang! Dia mencari arti dari kata-kata sebutan ini. Mata keranjang! Seorang pria yang suka sekali kepada wanita cantik? Seorang pria yang selalu tertarik kepada wanita cantik? Yang suka memuji-muji kecantikan wanita yang dijumpainya? Itukah yang dinamakan mata keranjang? Pasti bukan seperti Ang-hong--cu! Dia bukan mata keranjang saja, melainkan perusak, penjahat yang berhati kejam dan keji. Tidak, dia tidak seperti Ang-hong-cu, walaupun harus diakuinya bahwa dia suka sekali melihat wanita cantik, tertarik akan kecantikan wanita dan suka memuji-muji kecantikan itu. Apa salahnya dengan ini? Apa salahnya kalau pria itu mata keranjang? Bukankah setiap orang pria, kalau dia itu normal, memang mata keranjang? Bukankah daya tarik atau kecantikan wanita terhadap pria itu sudah alami! Setiap orang pria normal sudah pasti suka melihat kecantikan wanita, sudah pasti tertarik hatinya, sudah pasti memujinya, walau dalam hati. Hanya bedanya, dia tidak mau menyimpan perasaan suka ini menjadi rahasia, dia berterus terang, dia memuji kecantikan wanita seperti memuji keindahan akan kecantikan bunga dan dia mendapatkan kenikmatan batin kalau dia menyampaikan pujiannya itu kepada si empunya kecantikan. Apa salahnya dengan itu? Dia tidak suka untuk berpura-pura, menikmati kecantikan wanita sambil sembunyi, melirik dari sudut, memuji dalam hati, bahkan berpura-pura alim, berpura-pura tidak suka! Ini munafik namanya!

Dia teringat akan ayah kandungnya. Tidak, dia tidak membenci ayah kandungnya. Perasaan benci adalah racun, ini dia tahu benar. Akan tetapi dia pun tahu betapa jahatnya Ang-hong-cu, dan betapa berbahayanya membiarkan orang seperti itu berkeliaran dengan bebas. Tentu akan berjatuhan lagi korban-korban baru. Gadis-gadis cantik yang tidak berdosa, seperti bunga-bunga indah yang dipetik secara kasar, dipermainkan lalu dicampakkan begitu saja, mati melayu di selokan, di tepi jalan, terinjak-injak kaki! Bagaimanapun juga, dia harus mencari Ang-hong-cu sampai dapat, dia harus minta pertanggunganjawab laki-laki itu. Setidaknya, dia akan membuktikan bahwa dia memegang janji, kepada Bu-tong-pai, kepada Pek Han Siong dan Pek Eng, kepada Kui Hong dan Ling Ling.

Hatinya terasa tenteram dan Hay Hay lalu tenggelam ke dalam samadhi.

* * *

Selain Hay Hay, bagaimana dengan Pek Han Siong dan Cu Bi Lian atau Siangkoan Bi Lian yang melakukan perjalanan untuk berkunjung kepada suhu dan subonya, yaitu Siangkoan Ci Kang dan Toan Hui Cu yang bertapa di kuil Siauw-lim-si di luar kota Yu-shu itu?

Bagaimana pula dengan keluarga Cin-ling-pai yang baru saja mengalami drama rumah tangga yang mengenaskan dengan tewasnya Siok Bi Nio, isteri ke dua Cia Hui Song yang membunuh diri? Juga dengan Cia Kui Hong?

Bagaimana pula dengan keadaan Sim Ki Liong, murid Pendekar Sadis yang sesat itu setelah dia berhasil melarikan diri dari maut ketika terjadi pertempuran yang menghancurkan gerombolan pemberontak? Juga Ji Sun Bi, sudah matikah ia ketika terlempar ke bawah jurang?

Masih terlalu panjang kisah ini, dan karena sudah cukup panjang dengan hancurnya gerombolan pemberontak, maka kisah ini pun selesai sampai di sini untuk BAGIAN PERTAMA. Semua pertanyaan di atas akan terjawab dalam BAGIAN KE DUA, di mana kisah petualangan Hay Hay yang mata keranjang (?) akan diceritakan lengkapnya. Betapa dia mencari Ang-hong-cu sampai dapat berhadapan muka, betapa dia bertemu dengan musuh-musuh lama, musuh-musuh baru, dan terlibat dalam peristiwa-peristiwa yang lebih seru, seram dan jenaka.

Kemudian pengarang mengharap mudah-mudahan kisah Pendekar Mata Keranjang Bagian Pertama ini dapat menghibur hati para pembaca di samping menghidangkan secuil manfaat yang kiranya dapat dipetik. Sampai jumpa di dalam kisah Pendekar Mata Keranjang Bagian ke Dua.

TAMAT
Lereng Lawu, medio Pebruari 1982.

Di lanjutkan dalam kisah
SI KUMBANG MERAH PENGHISAP KEMBANG

Tidak ada komentar:

Posting Komentar