20 Pendekar Sadis

A Piang yang sejak tadi mepet di tembok dengan tubuh gemetar, kini melangkah maju dengan kedua kaki menggigil. Sejenak Thian Sin memandang kakek ini, alisnya berkerut. "Seorang ayah yang menjual anak sendiri untuk berjudi, sudah selayaknya kalau dibikin mampus. Akan tetapi, akuk memperketat penjagaan, terutama sekali untuk menjaga keselamatan rajanya.

"Cukup...! Cukup...! Sayang sekali kalau makanan dibuang-buang begitu saja!" kata Thian Sin sambil tertawa dan... kacang-kacang yang masih melayang membalik ke arah para penyambitnya. Akan tetapi tenaga membalik ini tidak terlalu kuat sehingga tidak sampai melukai yang menyambit, melainkan membuat mereka tertawa-tawa karena kacang-kacang itu ada yang mengenai kepala, muka dan tubuh mereka.

"Sekarang saya hendak memainkan suling. Harap cu-wi jangan mentertawakan, permainan suling saya ini hanya permainan dusun, dan untuk selingan saya akan membacakan sajak!"

Semua orang menghentikan ketawa mereka dan keadaan menjadi sunyi, seolah-olah semua orang terpesona oleh daya pikat yang keluar dari pemuda ini. Semua orang termasuk keluarga raja, seolah-olah dengan sungguh-sungguh hendak mendengarkan permainan suling dan pembacaan sajak dari pemuda yang makin lama makin menarik hati mereka itu. Mereka tidak lagi melihat Thlan Sin sebagai orang Han, karena biarpun pemuda itu memakai pakaian Han, akan tetapi pemuda itu bicara bahasa daerah dengan lancar sekali dan sama sekali tidak kaku seperti orang-orang Han lainnya.

"Pertama-tama, perkenankan saya memainkan lagu 'Sebatangkara'." Dan mulailah dia meniup sulingnya. Sejak kecil, Thian Sin memang suka bermain suling dan dia berbakat sekali. Bakat meniup suling ini menjadi makin sempurna dengan tenaga khi-kang yang dimilikinya sehingga ketika meniup, bukan sekedar tupan angin belaka, melainkan tiupan yang mengandung tenaga khi-kang yang kuat. Dia meniup lagu yang sedih dengan sulingnya, maka terdengarlah suara suling yang melengking tinggi rendah mengalun dan menggetarkan jantung para pendengarnya. Para pendengar itu seolah-olah dapat menangkap keluh-kesah, rintihan dan ratap tangis yang memilukan terkandung dalam lengkingan suara suling yang mengalun itu. Suasana menjadi sunyi, semua semua orang tenggelam ke dalam perasaan, hanyut dalam buaian suara suling, bahkan tak terasa lagi, beberapa orang selir raja menyentuh-nyentuh bawah mata mereka dengan saputangan. Dengan nada yang makin merendah seperti tangis yang kehabisan suara dan napas, akhirnya suling berhenti dan sebelum semua orang yang dihanyutkan perasaannya itu normal kembali, terdengarlah pemuda itu menyanyi, lagunya seperti yang dimainkan suling tadi, kata-katanya satu-satu dan jelas, dengan suara yang menggetar penuh perasaan pula.

"Bagai awan tunggal di angkasa

terbawa angin semilir lembut

tanpa tujuan tiada pangkalan

sebatangkara tanpa harapan

ayah bunda tewas bersama

dikeroyok anjing serigala

dendam membara membakar dada

haruskah diam seribu kata

biar diri banjir air mata?

atau menjadi kilat bercahaya

menggelepar gegap-gempita

membersihkan noda dan dosa

hutang dibayar budi dibalas?"

Semua orang menjadi terharu mendengar nyanyian ini, apalagi karena dinyanyikan penuh perasaan. Para selir raja memandang bengong dan tak terasa lagi ada yang menangis, menyembunyikan mata dan hidung di balik saputangan-saputangan sutera harum. Para tamu juga terpesona, sejenak terdiam. Mereka adalah orang-orang utara dan mereka tidak merasa heran tentang orang-orang yang mati dikeroyok anjing serigala. Akan tetapi kepedihan dan kedukaan hati seorang anak yang agaknya ditinggal mati ayah bundanya yang dikeroyok anjing serigala, baru sekarang ini terasa menusuk hati mereka. Menteri Abigan memandang dengan wajah pucat. Cucu Puteri Khamila itu terlalu berani! Nyanyiannya itu terlalu mendekati kenyataan, terlalu mengandung sindiran. Untung agaknya Raja Agahai tidak sadar dan dialah yang pertama-tama bertepuk tangan memuji yang segera dituruti oleh semua orang. Pecahlah sorak-sorai dan tepuk tangan memuji kepandaian pemuda itu. Akan tetapi ada satu orang yang tidak bertepuk tangan, dan orang ini adalah Koksu Torgan! Tentu saja Thian Sin juga tidak lengah dan diam-diam dia mengikuti gerak-gerik koksu ini.

Dia melihat betapa di tengah-tengah tepuk sorak itu, Torgan menghampiri Raja Agahai dan bicara dengan asyik kepada raja itu yang mendengarkannya dengan alis berkerut dan pandang mata penuh selidik ke arah Thian Sin. Pemuda ini mengerahkan kekuatan pendengarannya dan mendengar bisikan-bisikan koksu itu kepada rajanya.

"Harap Paduka hati-hati. Pemuda itu pandai sihir, pandai silat dan sastera. Jelas dia bukan orang biasa dan kedatangannya yang menyamar sebagai tukang sulap ini tentu mengandung maksud yang tidak baik. Hamba akan mengawasi dia!" Demikian antara lain dia mendengar bisikan koksu itu kepada rajanya.

Akan tetapi Thian Sin mengambil sikap tidak peduli dan dia sudah siap meniup lagi sulingnya, akan tetapi sekarang dia meniup dan mainkan lagu-lagu yang gembira sehingga wajah para tamu kembali cerah, terbawa oleh suara suling itu. Setelah menghentikan tiupan sulingnya, Thian Sin lalu menyanyikan lagu itu dengan kata-kata yang memang sudah dirangkai dan dihafalkan sebelumnya.

"Kuhaturkan nyanyian ini

sebagai doa dan puji

kepada Pangeran Temuyin

semoga berbahagia abadi

bagaikan cahaya bulan

bertahta di angkasa

bebas dari rintangan

awan yang lewat di bawahnya

akan tetapi... ya Tuhan..."

"Ada yang tidak beres...! Tiba-tiba pemuda itu menghentikan sajaknya dan mengeluarkan seruan ini dengan mata terbelalak memandang ke arah tempat ayunan di mana pangeran yang masih bayi itu diletakkan. Kemudian, pemuda ini lari menghampiri tempat itu, dan karena perbuatannya ini begitu tiba-tiba, bahkan Koksu Torgan sendiri tidak menduganya dan tahu-tahu pemuda itu telah tiba di dekat ayunan itu, menjenguk ke dalam.

"Heii... mundur, jangan mendekati Pangeran!" Koksu Torgan berteriak sambil meloncat menghampiri dan para pengawal juga sudah memburu ke tempat itu. Akan tetapi Thian Sin dengan gerakan begitu cepatnya, sehingga tidak nampak oleh siapapun telah menjamah pundak bayi itu dan pemuda ini berseru.

"Celaka... Pangeran telah diracuni orang...!" Tentu saja ucapannya ini mendatangkan kejutan luar biasa. Raja Agahai sendiri meloncat menghampiri, demikian pula semua isterinya atau selirnya, tidak ketinggalan selir suku bangsa Biauw yang cantik jelita itu.

Semua orang memandang kepada bayi itu dan terkejutlah mereka. Bayi itu pucat sekali dan matanya mendelik, napasnya senin-kemis terengah-engah! Ibunya menjerit-jerit dan suasana menjadi panik. Dalam keadaan berjubel dan panik itu, tiba-tiba selir bangsa Biauw itu merasa pinggulnya dibelai dan dicubit tangan nakal. Ia terkejut sekali dan cepat menoleh dan ia melihat wajah tampan itu tersenyum. Ternyata Thian Sin telah berada di belakangnya dan jelaslah bahwa pemuda ini yang tadi mencubit dan membelai bukit pinggulnya. Wajah selir ini menjadi merah sekali dan ia menahan senyumnya, matanya yang jeli itu mengerling penuh teguran. Thian Sin tersenyum dan kembali jari-jari tangannya mengelus punggung dan pinggul. Selir itu agaknya takut ketahuan orrang, lalu menjauhi Thian Sin dan mendesak mendekati ayunan.

"Jangan dikerumuni Sang Pangeran! Harap semua mundur, hamba dapat menyembuhkannya...!" Tiba-tiba Thian Sin berseru dan dengan sikap halus dia menyuruh semua orang mundur. Ketika Koksu Torgan agaknya tidak mau mundur, Thian Sin lalu menyentuh lengan dan pundak koksu itu sambil mendorong halus dan berkata, "Maaf, Koksu. harap mundur karena Sang Pangeran sakit keras dan hamba akan berusaha menyembuhkannya!"

"Minggir kau, setan!" Koksu Torgan marah dan mengibaskan tangan Thian Sin dan mendorongnya. Thian Sin terhuyung ke belakang, lalu mengambil sikap seperti orang tak berdaya dan mengembangkan kedua lengan, menggeleng-geleng kepala.

Koksu Torgan dan Raja Agahai menjenguk ke dalam ayunan itu. Sang Raja melihat pembantunya memeriksa dengan teliti, dan bertanya, "Bagaimana keadaannya?"

"Ah, sungguh aneh sekali. Bukankah tadinya beliau segar bugar? Hamba sendiri tidak tahu mengapa beliau bisa begini..." kata Koksu itu bingung melihat keadaan Sang Pangeran. "Sebaiknya dipanggil tabib..."

"Tabib tua akan dapat menolongnya!" Tiba-tiba Menteri Abigan yang juga sudah berada di situ berkata.

"Tidak, sebaiknya tabib muda saja," kata Koksu. Di istana terdapat dua orang tabib dan tabib muda lebih akrab dengan koksu, sedangkan tabib tua dianggap bersikap tidak acuh, bahkan lebih banyak bersamadhi.

"Tapi tabib tua adalah ahli tentang racun!" kata Menteri Abigan.

"Siapa bilang Sang Pangeran keracunan?" bentak Koksu Torgan.

Akan tetapi raja sudah terpengaruh oleh ucapan Menteri Abigan, maka teriaknya, "Pengawal, panggilkan tabib tua, cepat!"

Pengawal berlari-lari dan tak lama kemudian, di antara isak tangis ibu pangeran itu, sang tabib tua yang berpakaian seperti pendeta telah memeriksa bayi itu. Tentu saja tabib ini adalah sahabat baik Menteri Abigan, seorang tokoh tua yang juga tidak menyetujui cara-cara Raja Agahai memerintah dan sebelumnya memang tabib tua ini telah dihubungi Menteri Abigan untuk membantu. Setelah memeriksa beberapa lama tabib tua itu menarik napas panjang dan menggeleng-gelengkan kepalanya, membuat Sang Raja merasa khawatir bukan main.

"Bagaimana dengan anakku?" Tiba-tiba Raja Agahai tidak sabar lagi, bertanya dengan nada suara membentak.

"Ampun, Sri Baginda. Sang Pangeran ini keracunan, akan tetapi bukan sembarang racun. Yang keracunan adalah jiwanya karena terkena gangguan ilmu hitam. Ada roh jahat yang mengganggu dan hamba tidak berdaya melawannya..."

"Omong kosong!" Tiba-tiba Koksu Torgan berseru. "Ini tabib muda sudah hamba panggil, biarlah dia memeriksa!"

Dalam keadaan panik tentu saja Sang Raja tidak menolak semua uluran tangan dan tabib mudapun mulai memeriksa denyut nadi dan detik jantung.

Tabib ini memang seorang yang pandai, walaupun tidak sepandai tabib tua yang berpengalaman. Dia memandang heran dan berkata, seperti kepada diri sendiri. "Ada hawa aneh menguasai tubuhnya... tapi beliau ini sebenarnya tidak sakit... hamba harus memeriksa lebih teliti lagi..."

"Hemm, pengaruh ilmu hitam adalah perbuatan setan. Mana ada tabib manusia biasa melawan setan mengerikan? Lihat baik-baik, ada bayangan setan menguasai Sang Pangeran, apakah kau tidak dapat melihatnya?" Ucapan ini terdengar jelas sekali oleh telinga tabib muda itu, walaupun tidak terdengar orang lain dan tabib muda itu terkejut, cepat memandang ke arah bayi dan... hampir saja dia menjerit ketika melihat adanya bayangan muka raksasa yang menakutkan di atas bayi itu. Dia meloncat mundur, matanya terbelalak, tubuhnya manggigil.

"Eh, kau kenapa?" Koksu Torgan membentak.

Tabib muda yang sudah dikuasai oleh kekuatan sihir yang diucapkan Thian Sin dengan pengiriman suara melalui khi-kang itu, menggigil dan berkata gagap, "Hamba... hamba tidak sanggup... melawan..."

Tentu saja sikap dan ucapan tabib muda ini mengejutkan semua orang dan tangis ibu pangeran itu makin keras. Juga Sang Raja kini menjadi pucat dan bingung. Pada saat yang memang sudah dinanti-nanti oleh Thian Sin ini, dia berkata, "Sri Baginda, kalau paduka menghendaki kesembuhan Pangeran, perkenankan hamba yang menyembuhkan beliau."

Raja Agahai baru teringat kepada tukang sulap ini dan dengan girang dan penuh harapan dia lalu menghampiri dan menarik lengan pemuda itu, disuruhnya berdiri, "Hauw Lam, kalau engkau bisa menyembuhkannya, kami sungguh berterima kasih kepadamu."

"Tapi... tapi hamba takut kepada Koksu..."

"Takut apa?" bentak Koksu Torgan marah. "Kalau memang engkau dapat menyembuhkan pangeran, hayo cepat lakukan jangan banyak cerewet!"

Akan tetapi Thian Sin tidak menjawab, melainkan berkata kepada Sang Raja, "Hamba mohon agar semua orang mundur dan membiarkan hamba sendiri dengan Sang Pangeran. Kalau dikerumuni orang, hamba khawatir hamba takkan berhasil menyembuhkan beliau."

Mendengar ini, tentu saja Raja Agahai lalu memerintahkan dengan suara lantang agar semua orang mundur, bahkan dia sendiripun lalu mundur kembali ke tempat duduknya. Suasana menjadi tegang. Para tamu yang tadinya berkerumun, kembali ke tempat duduk masing-masing. Suasana menjadi sunyi dan legang. Koksu Torgan sendiri terpaksa mundur, dan berdiri di pinggir dengan muka merah dan mata penuh perhatian ditujukan kepada Thian Sin untuk mengikuti setiap gerak-geriknya. Diam-diam dia memberi isyarat kepada orang-orangnya untuk bersikap waspada dan panggung itupun dikurung pengawal. Sebenarnya bukan panggung yang dikepung, melainkan pemuda yang masih dicurigai oleh koksu itu.

Setelah semua orang mundur, Thian Sin lalu menghampiri ayunan itu. Tentu saja dia hanya berpura-pura saja memeriksa, karena bayi itu berada dalam keadaan demikian adalah karena perbuatannya. Tadi dia telah melakukan totokan halus pada pundak bayi. Caranya menotok jalan darah adalah cara yang dipelajarinya dari kitab ayahnya, maka amat sukar bagi orang lain untuk mengetahuinya, apalagi menyembuhkannya. Dan biarpun totokan halus itu tidak sampai membahayakan nyawa anak itu, namun cukup untuk membikin kacau jalan darahnya sehingga anak itu berada dalam keadaan pingsan, dan kalau tidak cepat mendapatkan pertolongan, dipulihkan lagi jalan darahnya, tentu saja dapat mengakibatkan kematiannya.

Thian Sin memondong bayi itu keluar dari ayunan, membawanya ke tengah-tengah panggung. Hal ini memang disengaja agar semua orang melihatnya dan agar mendatangkan kesan yang lebih mendalam. Akan tetapi, Koksu Torgan menjadi semakin curiga dan diam-diam dia mempersiapkan anak buahnya, kalau-kalau pemuda itu akan menculik atau melarikan Sang Pangeran.

Ketika memondong pangeran itu, diam-diam Thian Sin sudah memulihkan totokannya, akan tetapi dia tahu bahwa dia harus bersandiwara kalau memang hendak menimbulkan kepercayaan raja. Maka sambil membebaskan anak itu, diam-diam diapun menekan urat gagunya sehingga biarpun anak itu sudah normal kembali, namun masih belum dapat menangis.

Thian Sin kini meletakkan anak yang terbungkus selimut itu ke atas lantai panggung! Semua orang melihat betapa anak itu tidak mendelik lagi dan kaki tangannya sudah mulai bergerak-gerak! Sang Ibu dan juga Sang Raja girang sekali, akan tetapi terdengar Thian Sin berkata, suaranya terdengar menyeramkan karena mengandung khi-kang.

"Sang Pangeran dipengaruhi roh jahat...! Dan aku akan menandingi setan jahat itu, aku akan mengusirnya! Kalau roh jahat itu sudah terusir, barulah Sang Pangeran akan dapat menangis dan berarti Sang Pangeran sembuh benar-benar!"

Suasana menjadi tegang kembali walaupun tadinya semua orang sudah merasa lega dan girang melihat Sang Pangeran sudah dapat bergerak-gerak dan tidak mendelik lagi. Kini semua orang memandang setiap gerak-gerik Thian Sin, seperti tersihir dan mereka meremang mendengar pemuda itu akan berkelahi melawan setan atau roh jahat!

Setelah mengeluarkan kata-kata yang menyeramkan tadi, Thian Sin lalu mengeluarkan suling dan meniup suling itu dengan suara melengking-lengking mengerikan. Semua orang terbelalak dan hanya Menteri Abigan saja yang dapat menduga bahwa pemuda itu bersandiwara, sungguhpun dia sendiri tidak mengerti apa yang telah menimpa diri Sang Pangeran. Juga Koksu Torgan tidak membiarkan dirinya terpengaruh dan dia tetap memandang dengan penuh kecurigaan dan kewaspadaan.

Setelah merasa cukup untuk mencari kesan yang mendalam, terutama untuk membuat raja dan keluarganya tunduk kepadanya, suara sulingnya makin menurun dan akhirnya berhenti sama sekali. Dan tiba-tiba, seperti diserang oleh lawan yang tidak nampak, tubuh Thian Sin terjengkang! Dia meloncat sambil berseru nyaring. "Iblis jahat, siapa takut padamu?" Dan terjadilah "perkelahian" yang membuat semua orang memandang dengan terbelalak dan tengkuk mereka terasa dingin dan meremang. Pemuda itu benar-benar sedang "berkelahi" melawan sesuatu yang tidak kelihatan. Dan kadang-kadang terdengar suara seperti ledakan dan nampak asap mengepul ketika lengan pemuda itu bertemu dengan lengan atau benda lain. Kadang-kadang pemuda itu terhuyung, bahkan roboh, akan tetapi kading-kadang pemuda itu juga seperti mendesak lawan. Thian Sin bersilat sembarangan, akan tetapi kadang-kadang mengerahkan sin-kang untuk menciptakan suara ledakan beradunya kedua telapak tangannya sehingga mengeluarkan uap seperti asap!

Akhirnya dia berhenti bergerak, terengah-engah. "Iblis jahanam, kembalilah kepada orang yang menyuruhmu!" katanya, seolah-olah bicara dengan lawannya yang melarikan diri. Dan diapun membungkuk, memondong bayi itu dan seketika bayi itu menangis! Tentu saja menangis karena Thian Sin membebaskan totokan urat gagunya dan sekalian mencubit pahanya!

Terdengar sorak kegirangan ketika bayi itu menangis dan kini Thian Sin membawa bayi itu kepada Sang Raja yang menyambut dengan mata basah! Bahkan ibu pangeran itu tersedu-sedu dan semua orang memandang kepada Thian Sin seperti memandang kepada seorang pahlawan! Akan tetapi Thian Sin berbisik kepada raja.

"Sri Baginda, apakah Paduka ingin mengetahui siapa yang menyuruh roh jahat itu mengancam Sang Pangeran?"

"Katakan siapa!" Raja berkata dengan marah sambil mengepal tinju.

"Biarkan hamba bicara dengan Paduka, akan tetapi jangan ada yang ikut mendengarkan rahasia ini," bisik Thian Sin. Raja Agahai lalu menarik tangan pemuda itu, diajaknya ke pinggir dan tentu saja tidak ada yang berani mendekati mereka, bahkan Koksu Torgan hanya memandang dari jauh saja. Para selir raja masih kegirangan menimang-nimang Sang Pangeran yang sudah sembuh sama sekali itu. Para tamu melanjutkan pesta dalam suasana gembira dan semua orang membicarakan pemuda yang hebat itu.

Sementara itu Thian Sin berbisik-bisik, "Harap Paduka bersikap tenang dan jangan memperlihatkan kemarahan sebelum orangnya tertangkap. Paduka tentu akan terkejut sekali melihat adanya musuh dalam selimut. Ketahuilah, Sri Baginda, yang melakukan perbuatan biadab itu adalah orang-orang kepercayaan Paduka sendiri, yaitu Koksu Torgan."

"Ahhh...!" Raja Agahai terkejut sekali dan mukanya berubah pucat. "Mana mungkin...?"

Thian Sin tersenyum. "Tentu saja Paduka tidak dapat percaya begitu saja. Hamba sama sekali tidak melakukan fitnah, karena Paduka dapat membuktikan sendiri. Dan Koksu Torgan tidak bekerja sendiri, melainkan bersekongkol dengan seorang isteri Paduka sendiri..."

"Hehhh...! Be... benarkah...? Hauw Lam, kalau engkau bukan penyelamat anakku, sekarang juga engkau sudah kubunuh!" Raja itu berkata dengan kemarahan yang ditahan-tahan.

"Hamba tahu, Sri Baginda. Dan hamba sama sekali tidak melakukan fitnah. Isteri Paduka yang bersekongkol adalah yang berbaju ungu itu..."

Raja Agahai semakin marah. "Berani engkau menuduh demikian kepada selirku tercinta dan pembantuku yang paling setia?"

"Dapat dibuktikan, Sri baginda. Kalau tidak ada bukti, biar leher hamba taruhannya. Tadi, di waktu orang-orang berjubel, hamba melihat sendiri betapa selir Paduka itu diam-diam menyerahkan benda kepada Koksu..."

"Benda apa? Benda apa, keparat!" Raja Agahai sudah marah sekali.

"Hamba tidak tahu benar, akan tetapi nampaknya sebuah peniti berbentuk burung hong merah..."

Wajah raja itu pucat kembali. Burung hong merah? Peniti? Memang selirnya yang tercinta memiliki benda ini, yang selalu dipakainya pada bajunya yang sebelah dalam untuk menutupkan baju dalam itu di bagian dada. Betapa dia ingat dan mengenal sekali benda itu karena sering dia membukanya! Timbul keraguannya, karena dari mana pemuda ini mengerti tentang benda itu kalau tidak melihat sendiri? Dan benda yang dipakai di sebelah dalam itu tidak pernah nampak dari luar.

"Be... benarkah...?"

"Sri baginda, kenapa tidak memanggil koksu? Hamba yakin benda itu masih berada di dalam saku bajunya." Kemudian disambungnya berbisik, "Sri baginda harap tenang dan sabar. Kalau hal ini diketahui umum, berarti akan mencemarkan nama Paduka sendiri. Lebih baik sementara Paduka jangan melakukan tindakan terhadap isteri Paduka, agar orang luar tidak mengetahui persoalan ini. Dan isteri Paduka hanya terpengaruh sihir dan ilmu hitam koksu itu."

Raja Agahai mengangguk dan suaranya nyaring ketika dia membentak dan memanggil, "Koksu...!"

Koksu Torgan sejak tadi mengamati pemuda yang bercakap-cakap berdua saja dengan raja itu. Ketika melihat perubahan muka raja, diam-diam dia khawatir dan menduga-duga, apa gerangan yang mereka bicarakan. Akan tetapi, ketika raja memanggilnya, dia terkejut dan cepat-cepat menghampiri. Dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika raja memerintahkan pengawal untuk menggeledahnya! Koksu Torgan terbelalak, seolah-olah tidak percaya akan pendengarannya sendiri ketika raja itu berkata kepada para pengawal pribadi raja itu, "Geledah dia!"

Akan tetapi, kalau dalam keadaan biasa dia tentu akan memukul mati para pengawal yang berani menjamahnya, kini dengan adanya perintah raja, tentu saja dia tidak berani berkutik, melainkan berlutut dengan sebelah kaki dan membiarkan dua orang pengawal menggeledah saku-saku bajunya. Menyaksikan pemandangan yang aneh ini, semua selir raja juga memandang bingung, juga para pengawal kebingungan. Di antara para tamu, hanya yang duduknya dekat panggung saja yang melihat hal itu, sedangkan mereka yang duduknya agak jauh tidak melihatnya. Sementira itu, Thian Sin memandang sambil tersenyum, akan tetapi siap untuk turun tangan kalau-kalau koksu itu akan melawan. Koksu Torgan sendiri tentu saja dengan tenang membiarkan dirinya digeledah, sambil menahan marah karena dia dapat menduga bahwa perbuatan raja ini tentu ada hubungannya dengan pemuda Han itu. Dia merasa tenang karena tidak merasa menyembunyikan sesuatu, tidak merasa bersalah sedikitpun juga. Akan tetapi betapa kaget dan herannya ketika di antara barang-barangnya sendiri yang dikeluarkan dari saku-saku bajunya, terdapat sebuah benda yang sama sekali tidak dikenalnya. Sebuah peniti indah berbentuk burung hong merah!

Melihat ini, maka raja menjadi marah sekali. Itulah peniti selirnya yang tercinta, selir suku bangsa Biauw itu! Peniti yang biasanya menempel di baju dalam selirnya di bagian dada, kini berada dalam saku baju koksu itu! Hampir saja raja tidak dapat menahan kemarahannya, akan tetapi dia teringat akan pesan Thian Sin dan maklum bahwa kalau dia tidak dapat mengendalikan kemarahannya, tentu rahasia yang mencemarkan namanya akan bocor. Maka, dengan muka merah itu, dia memberi perintah dengan suara ditekan sehingga tidak begitu keras, "Tangkap jahanam ini!"

Koksu Torgan terkejut bukan main. "Tapi... Sri Baginda...!"

Thian Sin sudah melangkah maju, tersenyum dan berkata, "Koksu Torgan, apakah engkau hendak melawan perintah raja?"

Torgan memandang kepada Thian Sin, maklum bahwa orang inilah yang menjadi biang-keladinya, maka kemarahan membuat dia lupa diri, lupa bahwa dia berada di depan rajanya. Dia mengeluarkan suara aneh dari tenggorokannya dan dia sudah menubruk maju dan menyerang Thian Sin dengan kecepatan dan kekuatan yang cukup dahsyat! Akan tetapi, Thian Sin sudah siap. Dia tahu bahwa orang ini bukan seorang lawan yang lunak, maka diapun cepat menangkis sambil mengerahkan tenaga, maka bertemulah dua lengan yang diisi penuh dengan tenaga sin-kang itu.

"Dessss...!" Thian Sin diam-diam kagum akan kekuatan lawan yang dapat membuat dia merasa terdorong ke belakang dan kedudukan kakinya tergeser. Akan tetapi, Torgan sendiri terpental lalu terhuyung ke belakang. Empat orang pengawal raja lalu menubruk untuk menangkap dan membelenggunya sesuai dengan perintah raja tadi. Akan tetapi bekas koksu itu meronta dan kaki tangannya bergerak dan... empat orang pengawal itu terlempar dan terbanting dengan keras. Para pengawal lainnya cepat maju mengepung, dan Thian Sin berkata, "Harap kalian mundur, biarkan aku yang menangkap pemberontak ini!"

Sementara itu, Raja Agahai marah bukan main melihat Torgan melawan itu. Dengan mata mendelik raja membentak, "Torgan! Beranikah engkau hendak menentang perintahku? Apakah engkau hendak melawan dan memberontak?"

Torgan memandang ke kanan kiri. Dia sudah terkurung dan tahulah dia bahwa melawan berarti membunuh diri, Apalagi pemuda yang berada di depannya itu benar-benar memiliki kepandaian hebat, diapun lalu menjatuhkan diri berlutut. "Hamba tidak melawan, hanya merasa penasaran. Hamba difitnah..."

"Hemm, hal itu masih akan dapat diusut lebih lanjut. Tangkap dia!" kata raja kepada para pengawal. Dan sekali ini Torgan tidak melawan dan membiarkan kedua tangannya dibelenggu para pengawal. Semua orang terkejut bukan main, tidak tahu apa yang telah terjadi maka koksu itu ditangkap atas perintah raja sendiri di tempat pesta itu! Sementara itu, Menteri Abigan yang diam-diam girang sekali akan hasil usaha cucu Puteri Khamila ini, cepat berlutut kepada raja.

"Sri Baginda, tidakkah sebaiknya hamba mengakhiri saja pesta ini?"

Raja Agahai yang masih amat marah itu mengangguk, kemudian dia memandang kepada selirnya yang tercinta itu dengan hati penuh kemarahan, cemburu dan juga masih belum terbebas dari rasa heran yang amat sangat. Selagi Menteri Abigan mengumumkan ditutupnya pertemuan dan pesta itu, Thian Sin mendekati raja dan berbisik, "Sebaiknya kalau Paduka mengajak semua keluarga ke dalam istana dan hamba sanggup untuk membuat selir itu mengaku tanpa banyak menimbulkan keributan."

Raja Agahai mengangguk. Kini dia percaya penuh kepada pemuda ini. Dengan singkat dia lalu memerintahkan agar semua keluarganya kembali ke dalam istana. Puteri atau selir bangsa Biauw itu tadi belum melihat apa yang terjadi. Seperti para selir lain, ia sendiri juga masih terheran-heran, mengapa koksu ditangkap oleh raja dan mengapa raja marah-marah seperti itu. Maka, bersama keluarga raja, selir yang cantik inipun lalu masuk kembali ke dalam istana. Raja Agahai mengajak Thian Sin untuk masuk pula ke dalam istana, Menteri Abigan dan rekan-rekannya memandang dengan senyum kemenangan.

***

Selir bangsa Biauw itu memandang dengan matanya yang indah terbelalak penuh keheranan ketika melihat Thian Sin berada dalam kamar raja itu. Ia tadi menerima panggilan raja melalui dayang pelayan dan ia tidak merasa heran oleh panggilan ini. Memang raja amat mencintanya dan sering kali ia menerima panggilan pada siang hari, tidak hanya pada malam hari saja. Akan tetapi ketika ia memasuki kamar itu dan melihat pemuda tukang sulap yang amat menarik hatinya tadi berada pula di situ, ia terkejut dan terheran-heran schingga ia menahan langkahnya, ragu-ragu apakah ia herus terus masuk atau tidak.

"Leng Ci, ke sinilah!" Raja memanggilnya, akan tetapi suara raja demikian kakunya sehingga membuat wanita Biauw yang bernama Leng Ci itu terkejut dan ketakutan. Ia melangkah maju sambil memandang wajah raja dengan penuh keheranan. Melihat raja marah, iapun segera menjatuhkan diri berlutut dengan penuh hormat, apalagi di situ terdapat orang luar. Kalau sedang berdua saja, tentu ia tidak banyak melakukan upacara penghormatan ini, melainkan langsung merangkul dan merayu raja untuk menghibur hati raja yang agaknya sedang dalam gundah.

"Leng Ci, apakah engkau sudah merasa akan kesalahanmu?" Tiba-tiba raja bertanya dan wanita itu menjadi makin terkejut.

Leng Ci mengangkat muka memandang wajah raja. Tubuhnya gemetar, dan suaranya juga gagap ketika ia menjawab dengan pertanyaan pula, "Apa... apa... maksud Paduka? Hamba tidak mengerti..."

Raja sudah bangkit dari kursinya dengan marah, akan tetapi Thian Sin yang duduk di kursi lain segera bangkit dan berkata halus, "Ingat, Sri baginda, harap tenang. Perkenankan hamba yang bertanya. Ingatkah, ia tidak dalam keadaan wajar melainkan dikuasai oleh pengaruh jahat." Sebelumnya tadi memang Thian Sin memberitahukan raja bahwa wanita itupun berada di bawah pengaruh kekuasaan koksu yang mempergunakan ilmu hitam, sehingga wanita itu tidak sadar apa yang dilakukannya! Tentu saja semua ini adalah karangannya sendiri saja. sebetulnya, Thian Sin yang tadi ketika mencubit pinggul Leng Ci, mempergunakan kepandaiannya untuk dalam keadaan berdesakan panik itu mencuri peniti burung hong merah itu tanpa diketahui oleh pemiliknya. Kemudian ketika dia mencegah koksu mendekati bayi, diapun berhasil memindahkan peniti itu ke dalam saku baju Sang Koksu tanpa diketahui oleh orang itu pula.

Raja menghela napas panjang. "Baiklah... baiklah..."

Thian Sin kini menghadapi Leng Ci yang masih berlutut. Wanita itu mengangkat muka memandang kepadanya dan betepa herannya melihat pemuda itu tersenyum, kemudian mengejapkan sebelah mata kepadanya! Pemuda itu sungguh berani sekali, akan tetapi karena ketika itu berdiri membelakangi raja, tentu saja Agahai tidak melihat perbuatan ini. Sedangkan Leng Ci menduga-duga apa yang sedang terjadi dan mengapa pula pemuda itu berani bersikap demikian kepadanya.

"Nyonya," Thian Sin mulai bicara dengan suara halus, namun terdengar sungguh-sungguh. "kenalkah nyonya akan benda ini?" tanyanya sambil membuka tangan kanan, memperlihatkan peniti yang tadi diterimanya dari raja.

Leng Ci memandang benda itu dan tiba-tiba tangan kirinya meraba dada. "Aihhh... bagaimana bisa berada di situ...? Itu... itu penitiku..."

"Nah, peniti bajumu ini terdapat oleh Sri Baginda berada di dalam saku baju koksu, nyonya."

Wajah Ceng Li menjadi pucat seketika dan matanya terbelalak tidak percaya. "Ah, mana mungkin...?"

"Kenyataannya demikian, masih mau mungkir?" Tiba-tiba Raja Agahai membentak dan wanita itu makin ketakutan.

"Hamba... hamba tidak tahu..."

"Nyonya, jangan takut. Mengakulah saja." Sambil berkata demikian, Thian Sin mencurahkan padang mata yang mengandung penuh kekuatan sihir kepada wajah yang cantik itu. "Engkau disuruh oleh Koksu untuk membakar kertas jimat hu di bawah ayunan Sang Pangeran, benar tidak?"

Leng Ci menundukkan mukanya dan mengangguk sambil menjawab lirih, "Benar..."

Raja Agahai mengepal tinju akan tetapi diam saja dan mendengarkan terus.

"Kemudian, dia menyuruhmu memberikan peniti kepadanya dalam pesta sebagai tanda bahwa engkau telah berhasil melakukan perintah itu, bukan? Benar tidak?"

"Be... benar..."

"Engkau mau melakukannya karena engkau dibujuknya, dan karena engkaupun merasa iri dengan lahirnya seorang pangeran dari isteri raja yang lain. Engkau mau melakukan karena engkau tidak menyangka buruk terhadap niat Koksu, bukan? Dia mengatakan bahwa kalau engkau menuruti perintahnya, engkau kelak akan bisa mempunyai keturunan. Benar tidak?"

"Benar..."

Thian Sin menghadapi raja. "Nah, Paduka mendengar sendiri. Selir Paduka ini tidak bersalah. Ia bertindak bukan atas kehendak sendiri, melainkan tepengaruh sihir. Koksu yang bersalah, karenanya dia patut diberi hukuman yang berat!"

"Dia harus dihukum, sekarang juga!" teriak Raja Agahai dengah penuh kemarahan.

"Akan tetapi, hamba harap Paduka mengampuni isteri Paduka ini hanya melakukan hal itu di luar kesadarannya. Bahkan sampai sekarangpun ia masih berada dalam cengkeraman kekuatan sihir dari Koksu. Kalau Paduka tidak percaya, cobalah Paduka pandang dengan teliti, bukankah ada bayangan Koksu di atas kepalanya?"

Raja Agahai memandang kepada selirnya yang tercinta itu dan dia terbelalak. Tanpa diketahuinya, Thian Sin telah mengerahkan kekuatan sihirnya dan kini raja itu melihat ada bayangan di atas kepala selirnya. Bayangan koksu! Maka dia mengangguk-angguk dan menjadi semakin marah kepada koksu, juga merasa serem.

"Lalu bagaimana baiknya? Apa yang harus kami lakukan terhadap dirinya agar ia terlepas dari cengkeraman kekuasaan itu."

"Hamba sanggup mengobatinya seperti hamba mengobati Sang Pangeran. Akan tetapi, melawan iblis lebih ringan dari pada melawan koksu. Dia akan melawan sekuatnya untuk melepaskan sang puteri, oleh karena itu perkenankan hamba mengobatinya di dalam kamar tertutup selama sehari semalam."

"Baik, bawalah dia ke kamarmu yang akan kami sediakan, dan obatilah sampai sembuh. Kalau ia sudah sembuh, baru kami akan memutuskan, apa yang harus kami lakukan untuknya." Raja Agahai sendiri merasa bimbang apakah dia harus menjatuhkan hukuman terhadap selirnya itu. Selir itu paling cantik dan paling menggairahkan, dia masih sayang kepadanya, apalagi keterangan Thian Sin menimbulkan keraguan hatinya. Raja mengutus dayang untuk mengantarkan Thian ke dalam sebuah kamar tamu terbaik di dalam istana. Dan ketika Thian Sin menggandeng lengan selir itu, sang selir bangkit berdiri dan ikut dengan pemuda itu seperti boneka berjalan karena wanita itu sendiri juga masih bingung apa yang telah menimpa dirinya sehingga terjadi hal-hal yang dianggapnya amat aneh itu.

Raja Agahai lalu memanggil semua pembantunya. Para menteri dan panglima berkumpul dan di dalam persidangan ini, Raja Agahai mengumumkan hukuman mati kepada Koksu Torgan. Tentu saja para pembesar itu, kecuali Menteri Abigan dan para rekannya, terkejut bukan main. Mereka semua masih belum mengerti mengapa koksu ditangkap atas perintah raja sendiri di dalam pesta itu, dan kini malah raja memutuskan hukuman mati kepada koksu! Tentu saja, sebagian di antara para teman Torgan merasa terkejut dan penasaran. Mereka semua tahu bahwa Torgan adalah seorang yang amat setia kepada Raja Agahai dan menjadi pembantu terbaik dan terpercaya.

Tentu saja beberapa orang pembesar segera mengajukan protes dan pertanyaan, mengapa dijatuhkan hukuman mati kepada koksu. Raja Agahai berkata, "Kalian semua telah melihat betapa putera kami telah mengalami gangguan roh jahat, yang hampir saja menewaskannya. Untung ada pemuda sakti itu yang menyelamatkan nyawanya. Dan tahukah kalian siapa yang melakukan perbuatan jahat itu? Bukan lain adalah Koksu Torgan!"

"Ahhh...!" Semua pembesar terkejut, bahkan Menteri Abigan sendiri terheran-heran dan kagum sekali terhadap cucu Puteri Khamila itu, bagaimana siasatnya sampai berhasil sejauh ini. "Ampun, Sri Baginda. Harap Paduka suka memeriksa dengan seksama sebelum menjatuhkan keputusan. Siapa tahu ini hanya fitnah belaka," kata mereka.

"Hemm, kami telah melihat dengan mata kepala sendiri. Ada bukti dan ada saksi. Torgan telah berkhianat dan bermaksud memberontak. Dia telah menggunakan sihir menguasai seorang di antara isteri kami, membakar hio di bawah ayunan pangeran, dan sampai sekarangpun isteri kami itu masih dalam kekuasaan sihirnya dan sedang diobati oleh Hauw Lam."

Perintah raja tak dapat dibantah lagi dan hari itu juga, Torgan menerima hukuman penggal kepala, dan seperti biasa, kepalanya dipancangkan di tempat umum untuk menjadi peringatan bagi mereka yang berhati bengkok, yaitu mereka yang hendak menentang kekuasaan raja.

Sementara itu, setelah membawa selir bangsa Biauw yang bernama Leng Ci itu ke dalam sebuah kamar tamu mewah yang diperuntukkan dia, Thian Sin menutup dan memalang daun pintu kamar, kemudian diapun melepaskan kekuatan sihirnya atas diri wanita itu. Wanita itu sadar dan terkejut mendapatkan dirinya berada di dalam kamar tamu, dan wajahnya menjadi merah sekali ketika ia melihat Thian Sin berada di situ, duduk dan memandang kepadanya. Biarpun wanita itu merasa jantungnya berdebar dan mukanya merah, akan tetapi bukan karena marah, sungguhpun ia mengambil sikap seperti orang marah.

"Kenapa aku berada di sini? Biarkan aku keluar!" Ucapannya ini dengan nada membentak dan marah.

Thian Sin tersenyum. "Mau keluar? Silakan. Sri Baginda telah menanti untuk menjatuhkan hukuman berat padamu. Lupakah engkau bahwa perhiasan pakaian dalammu berada di dalam saku baju Koksu?"

Mendengar ini, teringatlah Leng Ci akan segala persoalan yang menimpa dirinya, mukanya pucat dan matanya terbelalak memandang kepada pemuda itu. "Ahhh... apa yang terjadi? Bagaimana mungkin hal itu telah terjadi?"

"Koksu menguasaimu dengan sihir sehingga engkau membantu Koksu untuk membunuh pangeran. Dan engkau telah mengakui semua hal itu kepada Sri Baginda tadi."

Muka itu semakin pucat. "Ah, mana mungkin begitu? Aku... aku tidak pernah membantu Koksu, aku tidak pernah melakukan hal itu..."

"Karena engkau tidak sadar, berada di bawah kekuasaan sihir Koksu. Engkau tadi sudah mengakui semua hal kepada Sri Baginda dan semestinya engkau dihukum berat, mungkin hukuman mati."

"Ahhh...!" Wanita cantik itu nampak ketakutan sekali. "Tapi... tapi mengapa aku berada di kamar ini bersamamu...?"

"Aku telah menyelamatkanmu dari hukuman mati. Aku yang minta kepada Sri Baginda agar engkau tidak dihukum karena engkau hanya diperalat oleh Koksu. Aku menyanggupi Sri Baginda untuk membebaskan engkau dari pengaruh sihir itu, dan kini engkau telah terbebas dan engkau telah teringat dan sadar kembali. Kalau tidak ada aku, Nona Leng Ci, engkau sekarang tentu telah menjadi setan tanpa kepala."

"Aihhh..." Leng Ci menggerakkan tangannya dan otomatis tangannya itu memegang lehernya. Sepasang mata yang indah itu memandang kepada Thian Sin, rasa takut dan ngeri masih membayangi mukanya dan dengan suara mengandung rasa takut ia berkata, "Ah, kalau begitu... engkau telah menyelamatkan nyawaku... tapi... tapi bagaimana selanjutnya? Apakah Sri Baginda mau mengampuniku...?"

Thian Sin tersenyum. "Aku yang menanggung, engkau takkan diganggu oleh Sri Baginda. Akan tetapi, setelah aku menolongmu dan sekarang aku menjamin keselamatanmu, lalu imbalan atau hadiah apa yang hendak kauberikan kepadamu?"

Wanita itu melangkah maju menghampiri. Wajahnya serius sekali. Hal ini adalah menyangkut kehidupannya, keselamatannya dan setelah ia teringat akan segala yang telah terjadi, maka harapan satu-satunya ia gantungkan kepada pemuda ini yang agaknya dapat mempengaruhi raja dan merupakan satu-satunya orang yang mungkin dapat menyelamatkannya.

"Kongcu... tolonglah saya... imbalannya apa saja yang kongcu kehendaki, pasti saya akan berikan! Perhiasan? Akan saya serahkan semua milik saya."

Thian Sin tersenyum. "Perhiasan? Agaknya aku bisa memperoleh yang lebih banyak dari raja. Tidak, nona manis, aku tidak butuh perhiasan."

"Lalu apa yang dapat kuserahkan? Aku tidak punya apa-apa lagi...!" Leng Ci berkata dengan bingung dan rasa khawatirnya bertambah.

Thian Sin tersenyum, girang hatinya melihat wanita itu dicekam ketakutan hebat.

"Nona Leng Ci, ketika belum terjadi sesuatu dan aku diperkenalkan kepada raja, aku melihat sinar matamu ketika memandangku, gerak bibirmu ketika tersenyum padaku, kemudian ketika kuraba dan kubelai pinggulmu engkau sama sekali tidak marah atau berteriak, apakah artinya semua itu?"

Menerima pertanyaan seperti ini, pertanyaan yang langsung menyerang perasaan hatinya, seketika wajah yang tadinya pucat itu kini berubah merah sekali. Sesaat ia lupa akan rasa takutnya dan dengan sikap menarik sekali ia cemberut, matanya mengerling penuh tantangan mesra, dan bibirnya memperlihatkan ejekan-ejekan yang membuat bibir itu makin menggairahkan, lalu katanya lirih, "Habis, engkau mengartikan bagaimana? Aku tidak tahu..."

"Bukankah itu berarti bahwa engkau tertarik kepadaku? Bahwa kalau aku yang juga amat tertarik dan jatuh cinta padamu mengulurkan tangan kepadamu dan mengajakmu saling menumpahkan kasih sayang dan bermain cinta, engkau akan menerimanya dengan girang?"

Menghadapi kata-kata yang luar biasa beraninya, yang membuka segalanya tanpa pura-pura lagi itu, Leng Ci menundukkan mukanya dan ia merasa malu sekali. Malu bercampur tegang karena memang harus diakuinya bahwa ia amat tertarik kepada pemuda tampan yang amat pandai mengambil hati orang ini.

"Ihhh... siapa jatuh cinta...?" Hanya ini yang dapat diucapkannya sambil tunduk dan dari bawah, kedua matanya mengerling demikian tajamnya melebihi sepasang pedang pusaka yang langsung menembus jantung Thian Sin.

"Nona Leng Ci, kalau saya menolong nona, menyelamatkan nona dari ancaman hukuman mati, dan sekarang melindungi nona dari raja, hal itu bukan sekali-kali karena saya mengharapkan balasan. Melainkan karena saya memang tertarik dan jatuh cinta kepadamu yang cantik menarik ini. Tentu saja ada harapan di dalam hati ini agar nona juga dapat membuka perasaan hati nona yang kalau saya tidak salah taksir, juga tertarik kepada saya. Nah, sekarang bagaimana? Maukah engkau menyambut uluran tanganku ini? Akan tetapi, penyambutan yang suka rela, dengan sepenuh perasaan, bukan karena terpaksa, bukan pula karena hanya sekedar membalas jasa..." Sambil menghentikan kata-katanya dan memandang dengan sinar mata penuh ajakan, Thian Sin mengembangkan kedua lengannya ke depan, ke arah wanita itu.

Biarpun wajahnya merah sekali dan kepalanya masih ditundukkan, malu sekali dan tidak dibuat-buat, namun Leng Ci melangkah maju dan masuk ke dalam pelukan Thian Sin, membiarkan kedua lengan itu melingkari tubuhnya dan iapun tidak menolak ketika pemuda itu menariknya sehingga ia terduduk di atas pangkuan pemuda itu.

"Engkau senang begini?" tanya Thian Sin. "Bukan hanya untuk membalas budi?" Wanita itu tersenyum manis dan sepasang matanya mengeluarkan cahaya mesra, akan tetapi tubuhnya gemetar dan ia berkata, "Tapi... tapi... Sri Baginda..."

Thian Sin melepaskan rangkulannya dan menurunkan wanita itu, lalu bangkit berdiri.

"Ah, kiranya dalam keadaan begini engkau masih teringat kepada Sri Baginda? Jadi engkau mencinta raja dan tidak mau mengkhianatinya?"

"Bukan, bukan, kongcu! Siapa mencinta tua bangka itu? Dia memaksaku menjadi selir, setelah pasukannya membasmi perkampungan kami, bahkan orang tuaku tewas dalam serbuan itu. Aku dipaksanya menjadi selir, dan hanya untuk menyelamatkan diri dan untuk menikmati kehidupan mulia dan mewah saja aku bersikap manis kepadanya. Siapa sih yang sudi berdekatan dengan tua bangka mata keranjang itu? Akan tetapi... aku teringat dia karena takut. Bagaimana kalau dia mengetahui hubungan kita?"

"Aku tertarik dan suka padamu, dan aku berani menempuh bahaya untuk mendapatkan cintamu. Kalau engkau takut, kembalilah sana kepada raja!"

"Tidak... tidak, kongcu... ah, tentu saja aku lebih suka padamu. Biarlah kalau engkau mau melindungiku, aku akan mentaati segala kehendakmu, biar aku mati hidup bersamamu." Wanita itu menubruk dan merangkulnya. Melihat wanita ini telah menjadi jinak, Thian Sin tersenyum.

"Bagus! Nah, mulai sekarang ini, engkau harus taat kepadaku, mengerti?"

Wanita cantik itu mengangguk dan menahan isaknya ketika Thian Sin mendekap dan menciumnya, bahkan membalas peluk cium itu dengan hangat. Thian Sin memondongnya dan segera keduanya tenggelam dalam buaian natsu berahi yang amat panas. Semenjak pergi meninggalkan So Cian Ling, wanita terakhir yang menjadi kekasihnya, telah lebih dari setengah tahun Than Sin tidak pernah berdekatan atau berhubungan dengan wanita. Dia menggembleng diri bertapa dan memperdalam ilmunya selama berbulan-bulan dan menahan nafsunya. Sedangkan Leng Ci adalah seorang wanita muda yang selama ini harus melayani seorang pria tua yang sebenarnya dibencinya dan baru sekarang selama hidupnya dia bertemu dan berhubungan dengan seorang pria muda tampan yang menarik hatinya. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan apabila pertemuan antara mereka seperti seekor ikan kekeringan bertemu dengan air danau yang segar, di mana ikan itu dapat berenang sepuasnya.

Dengan dalih "mengobati" Leng Ci, Sin dapat bersenang-senang sepuas-puasnya dengan wanita itu, bahkan Raja Agahai sendiri tidak berani mengganggunya. Raja itu hanya dapat bertanya dari luar pintu saja menanyakan keadaan selirnya tercinta.

"Sedikit lagi Sri Baginda," jawab Thian Sin dari dalam. "Harap Paduka bersabar dan jangan diganggu..."

"Tapi, Torgan telah dihukum mati. Bagaimana dia dapat mengganggu lagi?" bantah Sang Raja yang sudah merasa rindu kepada selirnya itu.

"Justeru itulah!" jawab Thian Sin cepat, "Rohnya yang jahat itu membalas dendam dan mempertahankan pengaruhnya atas diri selir Paduka."

Dengan alasan ini, Thian Sin dapat berdiam berdua saja dengan wanita itu, bahkan para dayang yang melayani mereka, mengantar makan minum dan sebagainya, hanya diperbolehkan sampai di pintu saja dan tidak terus masuk, mereka itu hanya dapat melihat selir raja itu rebah terlentang di balik kelambu!

Tentu saja semua ini hanyalah permainan Thian Sin yang dibantu oleh Leng Ci. Kini wanita itu sepenuhnya berpihak kepadanya, tunduk dan taat karena memang wanita itu sudah jatuh cinta betul-betul kepada Thian Sin. Dan di waktu malamnya, Thian Sin meninggalkan Leng Ci di dalam kamar, menyuruh wanita itu mengunci semua pintu dan jendela, sedangkan dia sendiri keluar melalui jendela dan mengadakan pertemuan dengan Menteri Abigan dan rekan-rekannya yang mempersiapkan segala untuk kepentingan rencana pemberontakan mereka menentang Raja Agahai. Dengan cerdiknya, Menteri Abigan mulai menyadarkan para panglima dan pembesar akan kelaliman Agahai, dan melalui beberapa orang panglima yang berpihak kepada komplotan ini mulai memindah-mindahkan tugas penjagaan sehingga pada saat yang sudah direncanakan, para pengawal yang menjaga istana adalah sebagian besar orang-orang mereka!

Tiga hari kemudian, setelah rencana mereka matang, Thian Sin memberi tahu kepada para dayang di luar pintu agar mereka memberi tahu kepada Raja Agahai bahwa dia kini sudah siap menerima kunjungan raja dan bahwa selir raja itu sudah sembuh sama sekali.

Tentu saja berita ini amat menggirangkan hati Raja Agahai yang pada pagi hari itu sudah mulai kehabisan kesabarannya menanti-nanti. Betapapun juga, ada rasa cemburu di dalam hatinya mengingat betapa selirnya yang tercinta, yang cantik jelita dan manis itu, telah berada di dalam kamar berdua saja dengan tukang sulap muda dan tampan itu selama dua malam tiga hari. Maka, begitu mendengar berita dari para dayang, Raja Agahai cepat bergegas mendatangi kamar itu dan mengetuk pintu kamar.

Karena keinginan tahu yang amat besar, ditambah dengan rasa rindu terhadap selirnya, maka Raja Agahai menjadi lengah dan dia setengah berlari menuju ke kamar tamu itu tanpa minta perlindungan para pengawal pribadinya. Dia sudah tidak sabar lagi, selain ingin segera melihat dan mengetahui keadaan kekasihnya, juga ingin segera dapat memeluk kembali.

"Silakan masuk!" terdengar suara Thian Sin, "Daun pintu tidak terkunci." Raja Agahai mendorong daun pintu dan memasuki kamar itu, sedangkan para dayang yang duduk di luar pintu sudah menjatuhkan diri berlutut ketika raja itu muncul.

Ketika Raja Agahai memasuki kamar itu dan daun pintu kamar ditariknya tertutup kembali dan dia melangkah maju menembus tirai sutera hijau itu, dia melihat sesuatu di dalam cuaca remang-remang dalam kamar, sesuatu yang membuat dia terbelalak dan langkah kakinya seketika terhenti. Dia tidak percaya akan apa yang dilihatnya itu, maka digosok-gosoknya matanya dan dia kini melangkah lagi maju menghampiri untuk dapat melihat lebih jelas lagi. Akan tetapi, penglihatan itu tidak berubah, masih seperti tadi, yaitu Thian Sin duduk di tepi pembaringan dan selirnya, Leng Ci yang cantik jelita dan manis, selirnya yang tercinta itu, dengan pakaian dalam yang tipis yang kusut, seperti juga rambutnya, duduk di atas pangkuan pemuda itu! Seperti seekor kucing manja, wanita itu duduk di atas pangkuan, bergantung kepada leher pemuda itu dengan kedua lengannya yang berkulit halus, mengangkat mukanya dekat dengan muka pemuda itu dan memandang penuh kemesraan! Dan Thian Sin, seolah-olah tidak melihat kedatangan raja itu, lalu menunduk dan di lain saat keduanya sudah berciuman dengan mesra sekali, dan raja itut melihat betapa kedua lengan selirnya merangkul semakin ketat. Mereka berciuman lama sekali dan baru Thian Sin menghentikan ciumannya ketika mendengar sang Raja membentak.

"Keparat! Apa artinya ini?" Raja Agahai yang tadinya menaruh kepercayaan sepenuhnya kepada Thian Sin yang dianggap penyelamat puteranya dan pembongkar rahasia pengkhianatan Torgan, kini masih meragu. Siapa tahu apa yang dilakukan pemuda itu adalah dalam rangka pengobatan dan penyembuhan selirnya!

Thian Sin mengangkat muka memandang, tersenyum mengejek. Leng Ci yang masih duduk di atas pangkuan pemuda itu dan masih merangkul lehernya, juga menengok dan Sang Raja terheran. Belum pernah dia melihat selirnya itu berwajah sedemikian cantiknya, dengan sepasang mata yang redup dan sayu, entah karena kehausan ataukah kepuasan, akan tetapi sepenuhnya selirnya itu membayangkan seorang wanita yang sedang dalam puncak berahi.

Thian Sin mengecup bibir Leng Ci lalu berkata, "Manis, si tua bangka telah datang, kau istirahatlah dulu, dan lihat apa yang akan kulakukan padanya." Leng Ci tersenyum, mengangguk, lalu turun dari atas pangkuan dan duduk di tengah-tengah pembaringan. Baju dalamnya tersingkap dan nampak bukit buah dadanya yang biasanya amat dikagumi oleh Raja Agahai. Akan tetapi, wajah Agahai telah berubah sebentar pucat dan sebentar merah saking kaget dan marahnya mendengar ucapan Thian Sin tadi.

"Hauw Lam! Apa artinya ini?" Kembali dia membentak.

Thian Sin turun dari pembaringan dan melangkah maju dengan sikap tenang akan tetapi mulutnya tersenyum mengejek dan sepasang matanya mengeluarkan sinar mencorong yang menakutkan Sang Raja.

"Artinya, Agahai, sudah jelas. Yaitu bahwa Leng Ci telah menjadi kekasihku, bahwa kini tibalah saat terakhir dari kejayaan dan kelalimanmu. Selama ini engkau telah buta, tidak tahu dengan siapa engkau berhadapan!"

Mendengar kata-kata kasar dan melihat sikap yang sama sekali berubah ini Raja Agahai terkejut bukan main. Dia memandang dengan mata terbelalak.

"Apa artinya ini...? Siapa... siapa engkau...?"

"Hemm, raja lalim, manusia jahat dan busuk, engkau sungguh tolol. Si Torgan itu lebih cerdik, akan tetapi dia telah kau hukum mati. Ha-ha, sungguh engkau manusia yang paling busuk di dunia ini. Selirmu Leng Ci sama sekali tidak pernah berhubungan dengan aku, menjadi kekasihku. Dan Torgan tidak pernah berbuat apa-apa terhadap anakmu. Akulah yang telah membuat anakmu sakit dan melemparkan fitnah kepada Torgan. Mengertikah engkau sekarang, Agahai?"

Tentu saja Raja Agahai menjadi terkejut dan marah bukan main. "Tapi... mengapa? Apa yang terjadi?" Raja itu berteriak bingung.

"Kepadamu aku mengaku bernama Hauw Lam dan memang aku adalah seorang hauw-lam (putera berbakti). Dahulu, pernah aku datang mengunjungi tempat ini, sebagai seorang anak berusia sepuluh tahun dan ketika itu namaku adalah Ceng Thian Sin..."

Raja Agahai mundur selangkah. "Apa... kau? Ceng... Ceng Thian Sin...!"

"Ha-ha-ha, baru engkau teringat sekarang?"

"Thian Sin! Engkau... cucu keponakanku sendiri...!"

"Tak perlu bersandiwara lagi, Agahai. Ayah bundaku tewas karena pengeroyokan, dan engkau juga memegang peran dalam pembunuhan itu. Engkau mengirim pasukan pilihan untuk ikut mengeroyoknya. Engkau hutang nyawa ayah bundaku!"

Mendengar ini, baru Raja Agahai sadar bahwa dirinya terancam bahaya. Cepat dia membalikkan tubuhnya hendak keluar dari kamar itu. Akan tetapi tiba-tiba ada bayangan berkelebat dan tahu-tahu Thian Sin telah berdiri di depannya, menghadang antara dia dan pintu. Marahlah Agahai. Betapapun juga, dia bukan seorang pria lemah. Dicabutnya pedang dari pinggangnya.

"Pengkhianat busuk!" bentaknya dan pedangnya menyambar. Akan tetapi, dengan tenang saja Thian Sin menggerakkan tangannya menyambut pedang itu, mencengkeram pedang dengan tangan kirinya.

"Kraakkk!" Pedang itupun patah-patah, seolah-olah terbuat daripada benda yang lunak saja.

Agahai memandang dengan mata terbelalak dan kini wajahnya menjadi pucat.

"Pengawal...!" teriaknya dengan lantang memanggil para pengawal pribadinya. Akan tetapi tidak ada jawaban sama sekali. Sunyi saja di luar kamar itu, hanya terdengar suara beradunya senjata agak jauh dari situ, dan suara hiruk-pikuk orang berkelahi.

Thian Sin tersenyum. "Semua pengawal dan pembantumu pada saat ini sedang diserbu dan dibasmi. Engkau harus berhadapan dengan aku tanpa bantuan siapapun!"

Raja Agahai menjadi ketakutan dan karena ingin meloloskan diri, dia menjadi nekat. Sambil mengeluarkan suara seperti seekor srigala kelaparan, dia meloncat dan menerkam pemuda itu dengan kedua tangan menyerang dari kanan kiri.

"Plakk!" Thian Sin menampar, tidak mengerahkan tenaga terlalu besar dan raja itu terpelanting, pipi kanannya bengkak dan membiru. Sejenak Agahai nanar dan matanya liar, seperti mata seekor harimau yang tersudut. Thian Sin berdiri dengan bertolak pinggang, menghadang di depan pintu, tersenyum, namun senyum yang mengandung kebencian mengerikan.

Agahai sudah bangkit lagi dan mundur-mundur, seperti hendak melakukan ancang-ancang untuk menyerang lagi. Akan tetapi, raja yang cerdik dan licik ini tiba-tiba meloncat ke belakang, ke arah pembaringan! Thian Sin terkejut, akan tetapi Raja Agahai telah dapat menerkam tubuh Leng Ci, menarik dan mencekik leher wanita itu.

"Kalau kau maju, ia akan kupatahkan batang lehernya!" Dia mengancam kepada Thian Sin, sedangkan Leng Ci meronta-ronta tak berdaya. "Hayo buka pintu dan minggir, biarkan aku lewat!" Diam-diam Thian Sin kagum juga akan kecerdikan raja itu, akan tetapi tiba-tiba dia tertawa. Suara ketawanya demikian mengerikan dan aneh karena memang dia mengerahkan tenaga khi-kang dalam suaranya. Raja Agahai memandang dengan heran dan merasa aneh, akan tetapi inilah kesalahannya. Begitu dia memandang dengan perasaan tertarik, dia sudah terperangkap dan berada dalam pengaruh kekuasaan ilmu sihir yang dikerahkan pemuda itu.

"Ha-ha-ha, Agahai, apakah engkau sudah gila? Lihat baik-baik apa yang kaucengkeram itu? Yang kaucekik hanya sebuah bantal!"

Agahai terkejut dan cepat dia memandang kepada Leng Ci yang tadi diringkus dan dicekiknya. Dan hampir dia berteriak kaget dan penuh kekecewaan karena ternyata benar, yang diringkusnya itu bukan lain hanyalah sebuah bantal! Kemarahan yang meluap-luap membuat dia mengangkat "bantal" itu dan melemparkannya dengan tenaga sepenuhnya ke arah dinding.

Kini Thian Sin yang terkejut bukan main. Tentu saja yang diringkus oleh raja itu sama sekali bukan bantal, melainkan tubuh Leng Ci yang denok! Dan ketika tubuh itu dilemparkan oleh raja, Thian Sin yang tidak menyangkanya sama sekali tidak mampu lagi mencegah. Terdengar suara keras ketika tubuh itu terbanting dan menghantam dinding. Ketika tubuh itu terjatuh ke lantai, sudah tidak bergerak lagi dan dari kepala yang mengalirkan darah, dari kedudukan leher yang terkulai, tahulah Thian Sin bahwa mata indah yang terbuka lebar itu tidak melihat apa-apa lagi. Leng Ci telah tewas dengan kepala retak!

"Agahai, manusia busuk! Manusia keparat kau! Kaubunuh ia... ah, kaubunuh Leng Ci...!" Thian Sin marah sekali. Dia belum pernah jatuh cinta dalam arti kata yang sesungguhnya sehingga permainannya dengan Leng Ci itupun tak dapat dikatakan cinta, melainkan lebih terdorong oleh nafsu berahi belaka. Akan tetapi, melihat Leng Ci yang sama sekali tidak berdosa itu harus tewas dalam keadaan demikian menyedihkan, dan semua itu karena ulahnya, sehingga Leng Ci dapat dibilang mati karena dia, hal ini membuat Thian Sin merasa berduka dan marah sekali.

Diterjangnya Raja Agahai. Raja ini mencoba untuk membela diri dan berteriak-teriak memanggil pengawal-pengawal. Namun tidak ada seorangpun pengawal yang datang, dan diapun tentu saja tidak berdaya sama sekali menghadapi tamparan-tamparan Thian Sin. Terdengar suara keras berkali-kali dan ketika raja itu terpelanting dengan muka yang bengkak-bengkak dan berdarah. Thian Sin masih menyusulkan tendangan-tendangan yang membuat raja itu jungkir balik dan jatuh bangun. Akan tetapi pemuda ini tidak menggunakan tenaga saktinya, karena dia tidak mau membunuh Agahai begitu saja. Dia masih belum selesai berurusan dengan raja ini, maka betapapun marah dan menyesalnya atas pembunuhan terhadap diri Leng Ci, dia tidak membunuh raja itu, hanya menyiksanya dengan tamparan-tamparan dan tendangan-tendangan. Yang membuat pemuda ini menyesal adalah, bahwa terbunuhnya Leng Ci sesungguhnya karena dia. Raja itu membunuhnya tanpa sengaja, mengira bahwa yang dicengkeramnya tadi benar-benar bantal sehingga dilemparkan bantal itu saking kecewanya.

Tiba-tiba pintu kamar itu terbuka, dan Thian Sin menghentikan pemukulan-pemukulannya terhadap raja itu ketika melihat bahwa yang muncul adalah Ratu Khamila, neneknya. Kiranya sesuai dengan rencana yang sudah diatur oleh Menteri Abigan dan rekan-rekannya, bekas Ratu Khamila yang dipenjara ini dibebaskan dan dibawa ke istana, setelah para pasukan pemberontak menguasai istana dan para pengawal Raja Agahai yang setia, sebagian besar dibinasakan dan sebagian pula yang menyerah lalu ditangkap. Istana dibersihkan dari pengikut-pengikut Agahai dan kini istana dikuasai oleh pasukan penjaga pemberontak. Setelah itu, barulah Ratu Khamila dibebaskan dan dijemput, dibawa ke istana. Dan ratu ini, bersama Menteri Abigan dan beberapa orang panglima dan pengawal, datang ke kamar Thian Sin di mana pemuda itu sedang menghajar Raja Agahai.

Raja Agahai yang melihat munculnya Ratu Khamila dan beberapa orang menteri dan panglima, maklum bahwa dia terancam. Dia belum tahu apa yang terjadi di luar tidak tahu bahwa para pengawalnya sudah terbasmi. Namun, melihat kenyataan bahwa tidak ada seorangpun pengawal yang muncul ketika dia berteriak-teriak minta tolong, diapun sudah dapat menduga apa yang telah terjadi. Maka kini melihat munculnya Puteri Khamila, tahulah dia bahwa permainan telah berakhir dan bahwa dia telah kalah. Pemuda itu adalah putera tunggal Pangeran Oguthai atau Pangeran Ceng Han Houw dan pemuda itu sudah tahu bahwa dia ikut dalam pengeroyokan pangeran itu dan isterinya sampai mati. Tiada harapan lagi baginya, maka diapun tidak banyak tingkah lagi.

"Agahai, sudah tahukah engkau akan dosa-dosamu?" kata Ratu Khamila dengan suara halus namun penuh teguran. Ratu ini tidak merasa begitu sakit hatinya ketika ditawan seperti ketika ia mendengar bahwa puteranya tewas oleh pengeroyokan yang sebagian dilakukan orang-orangnya Agahai.

Agahai yang sudah putus asa itu tertawa. "Hemm, kalian lihat saja nanti kalau pasukan-pasukanku bergerak dan menghancurkan kalian semua!"

Seolah-olah menjawab kata-kata Agahai, tiba-tiba terdengar suara hiruk-pikuk dan teriakan-teriakan banyak orang yang datangnya dari luar istana. Dan seorang pengawal datang tergopoh-gopoh, melapor kepada Menteri Abigan, didengarkan oleh Thian Sin dan juga oleh Agahai.

"Taijin, di luar istana penuh pasukan dan rakyat. Mereka itu berteriak-teriak menuntut penjelasan akan apa yang terjadi di dalam istana. Suasana buruk sekali, di antara mereka itu terjadi perpecahan. Agaknya masih banyak di antara mereka yang mendukung dia!" kata pengawal itu sambil menuding ke arah Agahai dengan penuh kebencian. Mendengar ini, Agahai tertawa bergelak. Wajahnya menyeramkan sekali. Wajah yang bengkak-bengkak dan matang biru, berdarah-darah pula, dan kini wajah itu terangkat dan bergoyang-goyang ketika tertawa, seperti iblis dalam dongeng.

Tiba-tiba Thian Sin menangkap leher bajunya, menotoknya sehingga raja itu tidak mampu bergerak lagi, lalu menyeretnya keluar. "Silakan mengikuti saya ke menara istana, saya akan bicara dengan mereka!" Mendengar ini, Ratu Khamila mengangguk dan juga para menteri dan panglima itu mengikuti dari belakang. Thian Sin membawa bekas raja itu naik ke loteng menara dan tak lama kemudian nampaklah dia bersama raja itu di atas menara, di panggung atas bersama Ratu Khamila dan para menteri yang setia. Melihat ini, pasukan dan rakyat yang berjubel di luar istana, semua memandang ke arah panggung menara itu.

Teriakan-teriakan yang simpang-siur terdengarlah.

"Hidup Puteri Khamila...!"

"Hidup Raja Agahai...!"

Dari teriakan-teriakan ini saja jelaslah bahwa memang telah terjadi perpecahan, di antara rakyat dan pasukan. Keadaan sungguh gawat dan ada ancaman perang saudara. Biarpun dia sudah tertotok dan tidak berdaya, Raja Agahai tersenyum mendengar teriakan-teriakan yang jelas menyanjungnya itu, dan masih ada secercah harapan di wajahnya. Akan tetapi, ketika Thian Sin menariknya agar lebih tinggi berdiri sehingga seluruh orang yang berada di bawah melihatnya dengan jelas, melihat mukanya yang bengkak-bengkak, penghias kepalanya yang khas sebagai raja itu sudah tidak ada lagi dan rambutnya awut-awutan, ada rasa khawatir pula di dalam hatinya.

"Rakyatku, pasukanku, dengarlah!" Tiba-tiba terdengar suara Puteri Khamila, suaranya halus namun cukup nyaring sehingga terdengar oleh semua orang dan keadaan menjadi sunyi karena semua orang yang berada di bawah ingin sekali mendengar apa yang hendak dikatakan oleh bekas ratu ini.

"Kalian semua tentu masih ingat kepada putera tunggalku, putera tunggal mendiang Raja Sabutai yang kalian cinta, yaitu Pangeran Oguthai, bukan?"

Terdengar sorakan menyambut pertanyaan ini. Tentu saja tiada seorangpun di antara mereka yang tidak tahu siapa adanya Pangeran Oguthai yang pernah berkunjung bersama isteri dan puteranya, dan betapa pangeran yang sakti dan membuat semua orang bangga itu menolak ketika hendak diminta membantu pemerintahan Raja Agahai.

Puteri Khamita mengangkat kedua tangannya ke atas dan semua orangpun diamlah. Keadaan menjadi sunyi kembali, "Sekarang dengarlah baik-baik, rakyatku. Kalian tentu tahu betapa Agahai yang menjadi raja, telah menyalahgunakan kekuasaan, merampasi anak gadis dan isteri orang, mengejar kesenangan untuk dirinya sendiri tanpa mempedulikan rakyatnya. Lihat, betapa kita telah menjadi lemah dan yang lebih celaka lagi, Agahai tidak segan-segan untuk bertindak khianat dan curang. Aku yang menentang dan menasihatinya agar dia menghentikan penyelewengannya, telah dia tahan sebagai seorang penjahat! Akan tetapi, hal ini tidak menyakitkan hatiku. Yang lebih menyakitkan adalah bahwa dia telah menyuruh pasukan, bersekongkol dengan pasukan Beng dari selatan, untuk mengeroyok dan membunuh Pangeran Oguthai dan isterinya!"

Semua orang terkejut, baik yang pro maupun yang anti kepada Agahai. Tak disangkanya raja mereka itu melakukan hal yang kejam ini.

"Untung bahwa putera Pangeran Oguthai, yang pernah berkunjung ke sini ketika masih kecil, dapat lolos dari pengkhianatan itu. Dan kalian hendak tahu siapa pemuda ini? Dia inilah Ceng Thian Sin, putera tunggal Pangeran Oguthai! Dialah keturunan langsung dari mendiang Raja Sabutai!"

Puteri Khamila meneriakkan ucapan ini, walaupun bertentangan dengan suara hatinya. Hanya ia sendiri yang tahu bahwa Thian Sin sama sekali bukan keturunan Sabutai melainkan keturunan Kaisar Beng-tiauw!

Mendengar ini, semua orang bersorak-sorai! Kemudian Thian Sin yang maju dan dengan suara lantang, diapun berkata, "Saudara-saudara sekalian! Setelah mendengar keterangan Puteri Khamila yang menjadi nenekku, apakah masih ada yang membela Agahai lagi? Dia seorang raja lalim! Dia malah telah membunuh Koksu Torgan yang membantunya! Dan dia baru saja membunuh selirnya yang berbangsa Biauw itu! Dan kedatanganku di sini selain untuk membalas kematian ayah bundaku, juga untuk menyelamatkan rakyat orang tuaku dari cengkeraman raja lalim macam Agahai ini! Nah, katakanlah, siapa yang hendak membelanya? Para panglima telah berpihak kepada kami dan istana telah kami duduki. Siapa hendak membelanya?"

Tidak ada yang menjawab. Semua orang maklum bahwa memang raja mereka itu tidak sebaik mendiang raja yang lalu, dan telah melakukan hal-hal yang membuat rakyat tidak puas dan membuat mereka menjadi bangsa lemah yang tersudut.

"Nah, kalau begitu, aku menyerahkan kepada kalian apa yang harus kita lakukan dengan Agahai yang telah membunuh ayahku Pangeran Oguthai, dan yang telah melakukan penindasan terhadap kalian. Apa yang harus kita lakukan?"

"Bunuh dia!"

"Bunuh Agahai raja lalim!"

"Jangan ampunkan dia!"

Teriakan itu makin lama makin banyak disusul oleh yang lain-lain dan akhirnya hampir semua di antara orang-orang itu berteriak-teriak untuk membunuh Agahai. Mendengar ini, menggigil seluruh tubuh Agahai dan habislah harapannya. Dan inilah yang dikehendeki oleh Thian Sin. Dia lalu mengangkat tubuh Agahai tinggi-tinggi dan terdengarlah suaranya yang lantang.

"Kalau begitu, kuserahkan kepada kalian! Terserah apa yang akan kalian lakukan dengan binatang busuk ini!" Dan sekali menggerakkan kedua lengan melayanglah tubuh Agahai ke bawah dan pada saat itu diapun membebaskan totokannya. Terdengar jerit mengerikan, jerit dari mulut Agahai yang tidak merasa ngeri karena melayang ke bawah melainkan ngeri melihat ratusan pasang tangan seperti cakar-cakar harimau hendak mengkoyak-koyak tubuhnya. Dan memang tubuhnya terkoyak-koyak ketika dia disambut oleh orang-orang yang mendendam kepadanya itu. Semua orang ingin memukulinya, menendangnya, menjambaknya sehingga akhirnya tubuhnya terkoyak-koyak habis, dan hanya darah dan potongan daging-daging saja yang tinggal setelah semua orang memuaskan nafsu dendam mereka terhadap raja lalim itu.

Bersama dengan tewasnya Agahai, tewas pulalah para pembantunya dan para panglima yang dahulu memimpin pasukan dan ikut mengeroyok Pangeran Ceng Han Houw. Thian Sin menyaksikan sendiri hukuman pancung kepala terhadap pasukan dan komandannya itu, akan tetapi ketika para panglima yang setia kepadanya hendak menangkapi keluarga Agahai, Puteri Khamila melarangnya.

"Betapapun juga, Agahai adalah keluarga mendiang Raja Sabutai, dan karena hanya dia yang berdosa, maka biarlah keluarganya dibebaskan daripada hukuman." Thian Sin tidak membantah keputusan neneknya ini, karena diapun sudah puas menyaksikan semua pengeroyok ayah bundanya telah dijatuhi hukuman mati.

Bahkan setelah tujuannya datang ke tempat ini telah terlaksana, yaitu membalas dendam atas kematian orang tuanya terhadap Raja Agahai, Thian Sin tidak ingin tinggal lebih lama lagi di tempat itu. Para menteri dan panglima yang tahu bahwa putera Pangeran Ceng Han Houw itu adalah seorang pemuda yang sakti, mengajukan usul kepada Puteri Khamlia agar pemuda itu dapat menjadi raja, menggantikan Agahai dan hal itu dianggap sudah sepatutnya dan sah karena walaupun pemuda itu mempunyai seorang ibu bangsa Han, namun dia adalah keturunan langsung dari Raja Sabutai. Tentu saja hanya Puteri Khamila yang tahu bahwa pemuda itu sama sekali tidak mempunyai darah Raja Sabutai sedikitpun juga! Namun usul ini amat berkenan di hati Sang Puteri, maka iapun mencoba untuk membujuk kepada Thian Sin untuk menerima usul itu. Akan tetapi, dengan tegas Thian Sin menolaknya, kemudian bahkan memperingatkan kepada para menteri agar mengangkat Ratu Khamila sebagai ibu suri dan juga sebagai pejabat raja sebelum memilih pengganti raja, dan kemudian menyerahkan kepada kebijaksanaan Ratu Khamila untuk memilih raja.

Tentu saja Ratu Khamila menjadi kecewa sekali. Akan tetapi cucunya itu berkata dengan suara tegas, "Harap nenek mengerti bahwa masih banyak hal yang harus saya selesaikan, dan terutama sekali membalas dendam kepada musuh-musuh yang telah membunuh ayah bundaku. Selain itu, juga saya sedikitpun tidak berminat untuk menjadi raja, maka terserahlah kepada nenek untuk menentukan siapa yang patut untuk menjadi seorang raja yang baik."

Akhirnya Ratu Khamila terpaksa menyetujui dan pada hari Thian Sin meninggalkan tempat itu, Ratu Khamila mengumumkan bahwa yang diangkat menjadi calon raja tetap saja adalah putera Agahai sebagai pangeran satu-satunya yang menjadi keturunan keluarga Raja Sabutai. Akan tetapi, sebelum anak itu besar, Ratu Khamila sendiri yang memegang jabatan wakil raja.

***

Bukan hanya Thian Sin seorang, melainkan hampir semua manusia di dunia ini selalu haus akan kepuasan, selalu mengejar-ngejar sesuatu yang dibayangkannya sebagai hal yang menyenangkan. Pengejaran akan sesuatu yang menyenangkan ini, kalau berhasil, memang dapat mendatangkan kepuasan. Akan tetapi, apakah artinya kepuasan? Dapat kita rasakan sendiri bahwa kepuasan hanya terasa selewat saja. Pengejaran akan sesuatu, baik "sesuatu" itu merupakan benda ataupun gagasan, sudah pasti disebabkan karena si pengejar, yaitu si aku atau pikiran yang membayangkan, membayangkan adanya kesenangan yang didapat pada sesuatu yang dikejar-kejar itu. Kepuasan adalah terpenuhinya keinginan itu, lalu dilanjutkan dengan kenikmatan kesenangan yang didapat itu. Namun, seperti juga kepuasan yang hanya dapat dinikmati sejenak saja, demikianpun kesenangan ini tidaklah bertahan lama. Segera tempatnya diduduki oleh kebosanan akan sesuatu yang tadinya dikejar-kejar itu, dan pikiran yang tak pernah mengenal puas akan membayangkan kesenangan dalam pengejaran sesuatu yang lain lagi, yang dianggap lebih berharga, lebih nikmat, lebih berbobot dan sebagainya. Sesuatu yang pertama tadi, yang dikejar-kejarnya setengah mati, kalau perlu berebutan dengan orang lain, akan menjadi sesuatu yang sama sekali tidak menarik. Bukan karena sesuatu yang pertama itu telah merosot atau berubah mutu dan nilainya, melainkan si aku yang tidak memberinya nilai lagi, karena si aku telah tertarik oleh sesuatu yang ke dua.

Dan kitapun terseret dan hanyut oleh keinginan yang tiada akan habisnya selama kita masih hidup. Mata ini tidak pernah memandang apa yang ada di dalam jangkauan kita, melainkan selalu memandang jauh ke depan. Yang berada di tangan takkan pernah dapat dinikmatinya dan yang dianggap indah, menyenangkan dan nikmat selalu adalah yang berada jauh di depan, yang belum terjangkau. Dan semua ini disebut dengan kata-kata indah, yaitu cita-cita! Ada pula yang menamakan kemajuan.

Padahal, keindahan itu terdapat dalam keadaan sekarang ini, yang berada di depan kita, yang kita rasakan setiap saat. Karena tidak pernah mengamati yang "ini", selalu mencari-cari dan memandang kepada yang "itu", maka hanya yang begitu sajalah yang indah, sedangkan yang begini sama sekali tidak nampak lagi. Kita sudah demikian mabuk oleh cita-cita, oleh angan-angan kosong, oleh gambaran-gambaran yang kita buat sendiri, sehingga kehidupan kita tidak pernah bersentuhan dengan kenyataan. Kita keenakan bermimpi membayangkan yang indah-indah, yaitu yang belum ada dan dengan demikian kita seolah-olah buta akan keindahan yang terkandung di dalam apa yang sudah ada. Inilah sebabnya mengapa kita selalu menganggap bahwa buah mangga di kebun orang lain nampak lebih nikmat daripada buah mangga di kebun sendiri, bunga mawar di kebun orang lain nampak lebih indah dan harum daripada bunga mawar di kebun sendiri. Dapatkah kita hidup tanpa membanding-bandingkan, tanpa membentuk gambaran gagasan khayal, sehingga tidak timbul iri hati dan tidak mengejar-ngejar bayangan yang kita namakan cita-cita dan ambisi? Dapatkah kita menikmati kehidupan sekarang ini, yang sudah ada ini, dalam keadaan bagaimanapun juga? Susah dan sengsara itu BARU MUNCUL kalau kita membandingkan keadaan kita dengan orang lain. Sebutan kaya miskin, pintar bodoh, makmur sengsara, dan perbandingan ini jelas menimbulkan iba diri dan penyesalan, di samping menimbulkan pula kebanggaan dan ketinggian hati. Dapatkah kita hidup saat demi saat, mencurahkan seluruh perhatian kita terhadap sekarang ini, apa yang ada ini?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar