20 Pendekar Remaja

"Kwee-hujin (Nyonya Kwee), hamba Lilani menghaturkan hormat." Ma Hoa memandang kepada Lilani dengan heran, kemudian ia memandang kepada orang-orang Haimi yang semuanya berkumis panjang itu. Teringatlah ia akan pengalamannya dengan suaminya dahulu, ketika suaminya masih menjadi tunangannya (baca cerita Pendekar Bodoh), dan berkatalah dia, "Kalau aku tidak salah duga, orang ini adalah suku bangsa Haimi yang dulu dipimpin oleh Manako dah Meilani. Kau siapakah, Nona?"

"Hamba adalah puteri yang malang dari Manako dan Meilani, mendiang orang tuaku!"

Ma Hoa lalu membungkuk, memeluk Lilani dan ditariknya gadis itu berdiri. "Ah, jadi kau, puteri Meilani? Pantas saja kau cantik jelita seperti ibumu. Jadi orang tuamu sudah meninggal semua? Kasihan, kasihan."

Melihat nyonya gagah ini demikian halus dan baik budi, Lilani tak dapat menahan keharuan hati dan menangislah dia. Lo Sian yang sejak tadi juga melihat semua ini, cepat maju dan memberi hormat kepada Ma Hoa.

"Siauwte yang bodoh telah lama mendengar nama besar dari Kwee-toanio dan sudah mendapat kehormatan bertemu dengan kedua mata sendiri bahwa nama besarmu itu bukan kosong belaka."

Lili lalu memperkenalkan Lo Sian dan dengan singkat ia menceritakan riwayat Pengemis Sakti ini. Ma Hoa mengangguk-angguk maklum, karena ia telah mendengar hal itu dari Lin Lin dan Cin Hai.

Kini setelah Lie Siong pergi lenyaplah rasa cemburu yang amat tidak enak dalam hati Lili, dan sambil memegang tangan Lilani, berkatalah dia, "Lilani, tadi aku hanya bergurau saja. Memang, kau harus memimpin bangsamu dan jangan kuatir, aku akan mengantarmu sampai benteng penjagaan pasukan kerajaan."

Lilani makin terharu, ia memeluk Lili dan berkata, "Nona, aku sudah menduga bahwa hatimu tentu mulia.

Orang secantik kau dan puteri Pendekar Bodoh pula, tak mungkin berhati kejam. Tadi kau bersikap galak, akan tetapi aku dapat menangkap sinar matamu yang penuh kebijaksanaan. Akulah yang minta maaf kepadamu, Nona. Kau telah menolong bangsaku, biar selamanya menjadi pelayanmu, aku akan rela dan merasa bahagia."

"Jangan kau bilang demikian, Lilani," kata Lili. Ma Hoa yang tidak tahu akan urusannya, lalu mendengarkan penuturan Lili tentang pengalaman menolong orang- orang Haimi yang dibantu pula oleh Ang I Niocu.

"Sayang dia keburu pergi sebelum mendengar penuturan bahwa ibunya baru tiga hari yang lalu meninggalkan tempat ini," kata gadis ini menutup penuturannya. Yang dimaksudkan dengan "dia" tentu saja adalah Lie Siong, pemuda kurang ajar itu.

"Dia sudah pergi, biarlah," kata Ma Hoa. "Sekarang mari kita melanjutkan perjalanan, mengantar orang- orang Haimi ini ke benteng di mana kita akan menjumpai Goat Lan dan kakakmu Hong Beng. Di sana pula kita tentu akan bertemu dengan ayah ibumu, dan pek-humu yang sudah berangkat lebih dulu." Bicara tentang suaminya, kembali Ma Hoa teringat akan puteranya yang terculik, maka wajahnya menjadi muram.

"Pek-bo, bagaimana Adik Cin sampai dapat terjatuh dalam tangan orang jahat?"

"Kalau diceritakan membuat hati menjadi gemas sekali," kata Ma Hoa. "Mari kita berangkat, nanti di jalan kuceritakan kepadamu tentang hal itu." Setelah rombongan itu berangkat untuk menuju ke benteng pertahanan tentara kerajaan dengan Nurhacu orang Haimi tua itu sebagai penunjuk jalan maka berceritalah Ma Hoa tentang penculikan Kwee Cing puteranya.

Sebagaimana telah diketahui, Ma Hoa pergi bersama Kwee An, Cin Hai dan Lin Lin, karena Kwee Cin masih kecil dan tidak baik ditinggalkan seorang diri di rumah dalam saat mereka terancam oleh musuh-musuh yang jahat. Untuk membawa Kwee Cin dalam perjalanan ke utara juga kurang baik bagi anak itu.

Semenjak menjadi isteri Kwee An, Ma Hoa belum pernah berpisah lama-lama dari suaminya dan mereka hidup rukun dan saling mencinta. Tidak mengherankan apabila kepergian Kwee An kali ini membuat Ma Hoa merasa tidak betah di rumah. Apalagi ia maklum bahwa perjalanan suaminya itu penuh dengan bahaya, maka hatinya selalu merasa gelisah sekali.

Pada suatu hari, menjelang senja dan keadaan terasa sunyi sekali oleh Ma Hoa. Memang rumahnya amat besar dan dia hanya mempunyai dua orang pelayan. Biasanya apabila ada Kwee An, di situ nampak gembira dan ramai, apalagi kalau Goat Lan berada di rumah. Akan tetapi sekarang, berdua saja dengan Kwee Cin, ia benar-benar sunyi. Tiba-tiba dari pintu pekarangan depan masuk seorang kakek yang berpakaian indah dan mengisap sebatang huncwe panjang. Dengan tindakan lebar, kakek ini maju menghampiri Ma Hoa yang duduk di ruang depan bersama Kwee Cin.

Kakek ini datang-datang segera bertanya dengan suaranya yang parau dan keras, "Apakah aku berhadapan dengan Nyonya Kwee An, ibu dari nona Kwee Goat Lan?" Ma Hoa belum pernah bertemu dengan orang ini, akan tetapi matanya yang tajam dapat menduga bahwa kakek ini bukanlah orang biasa dan ketika ia teringat akan cerita Lin Lin dan Cin Hai, ia menjadi terkejut sekali karena kakek ini cocok sekali dengan gambaran Pendekar Bodoh tentang seorang bernama Ban Sai Cinjin Si Huncwe Maut! Maka diam-diam Ma Hoa bersiap sedia dan berlaku waspada. Ia merasa girang bahwa selama ini ia berlaku hati-hati dan selalu mempersiapkan bambu runcingnya di tempat yang tak jauh dari situ.

"Benar, aku adalah Nyonya Kwee, tidak tahu siapakah Lo-enghiong dan ada keperluan apakah datang di rumahku yang buruk ini?"

Ban Sai Cinjin tertawa bergelak dan dengan tenang akan tetapi mulutnya tersenyum menyeringai ia membuang abu tembakau dari pipanya, lalu mengisinya lagi dengan tembakau warna hitam! Semua ini ia lakukan sambil matanya memandang kepada nyonya itu dengan kagum. Biarpun Ma Hoa telah berusia hampir empat puluh tahun, akan tetapi nyonya ini tiada bedanya dengan seorang gadis yang cantik jelita saja! Ma Hoa diam-diam merasa gelisah dan ia berkata kepada Kwee Cin, "Cin-ji, kau masuklah ke dalam."

Kwee Cin memang selamanya amat taat kepada ayah bundanya, maka sebagai seorang anak kecil yang belum dapat menduga hal-hal hebat yang akan terjadi, ia menyatakan baik dan anak itu lalu masuk ke dalam kamarnya.

Kembali Ban Sai Cinjin tertawa dan kini suara ketawanya terdengar nyaring sekali sehingga terdengar sampai jauh karena kakek ini memang mengerahkan khi- kangnya untuk mengirim suara ketawanya kepada dua orang kawannya yang bersembunyi di luar! "Kwee-hujin, ketahuilah bahwa aku bernama Ban Sai Cinjin dan kedatanganku ini hendak mencari puterimu, Nona Kwee Goat Lan. Puterimu telah berkali-kali melakukan penghinaan kepadaku dan sekarang aku sengaja datang hendak membuat perhitungan!"

Warna merah mulai menjalar pada kedua pipi Ma Hoa. Kini ia bangkit dari tempat duduknya dan Ban Sai Cinjin menjadi makin kagum karena sesungguhnya setelah berdiri, nampak betapa langsing potongan tubuh nyonya yang sudah mempunyai dua orang anak ini. Ma Hoa berjalan tenang menghampiri tamunya setelah ia menyambar sepasang bambu runcing dan menancapkannya pada ikat pinggangnya. Dengan mata bercahaya dan bibir tersenyum mengejek ia berkata, "Ban Sai Cinjin, biarpun baru sekali ini aku bertemu denganmu, akan tetapi telah seringkali aku mendengar namamu yang buruk dan terkenal. Maka aku tidak merasa heran apabila Goat Lan bentrok denganmu, karena memang semenjak kecil dia kudidik untuk membasmi orang-orang jahat dan membela yang benar.

Kau datang mencari Goat Lan untuk membuat perhitungan? Sayang, Goat Lan masih belum pulang.

Akan tetapi kalau kau merasa penasaran, untuk obat kecewamu, boleh kiranya aku sebagai ibunya mewakili Goat Lan untuk membayar hutang."

"Bagus sekali, sama anak sama ibu! Kau dan anakmu terlalu mengandalkan kepandaian sendiri, tidak memandang mata kepada orang lain. Baiklah, Kwee- hujin, karena anakmu tidak ada dan aku jauh-jauh sudah memerlukan datang, biarlah aku menerima pelajaran darimu!" Sambil berkata demikian, Ban Sai Cinjin lalu menggerakkan huncwenya dan tersebarlah uap hitam yang berbau amat memuakkan. Akan tetapi Ma Hoa akan percuma saja disebut seorang pendekar wanita yang gagah perkasa kalau ia gentar menghadapi uap hitam beracun ini. Puterinya adalah murid Sin Kong Tianglo-Si Raja Obat, sedangkan dia sendiri adalah murid dah anak angkat dari Kong Hwat Lojin Si Nelayan Cengeng, maka setidaknya Ma Hoa sudah tahu akan jahatnya racun ini dan tahu pula obat penawarnya. Goat Lan sendiri setelah tamat berlajar dari Sin Kong Lojin, banyak meninggalkan pel-pel obat penawar racun maka begitu melihat uap hitam ini, Ma Hoa cepat mengeluarkan tiga butir pel merah dan memasukkan itu ke dalam mulut. Kemudian sepasang bambu runcingnya bergerak mengimbangi gerakan huncwe lawan.

"Bagus, jadi sebenarnya kaukah yang menjadi murid Hok Peng Taisu?" Ban Sai Cinjin membentak dan kini huncwenya menyambar ke arah kepala Ma Hoa.

"Ban Sai Cinjin, tak usah banyak cakap, kalau kau mempunyai kepandaian lekas keluarkan semua hendak kulihat!"

Kembali Ban Sai Cinjin mengeluarkan suara ketawa yang bahkan lebih nyaring daripada tadi sambil menyerang dengan hebatnya, dan biarpun Ma Hoa menangkis dengan bambu runcingnya, namun telinganya yang tajam masih dapat menangkap suara seruan seperti seekor burung dari luar rumah. Hatinya tergoncang dan pikirannya bekerja keras. Ini tentu ada apa-apanya, dan hatinya mulai berdebar. Akan tetapi oleh karena tidak terjadi sesuatu ia lalu memutar bambu runcing hendak cepat-cepat mengalahkan lawan ini. Aku harus melindungi Cin-ji, pikirnya. Akan tetapi tidak mudah untuk mengalahkan Ban Sai Cinjin dalam waktu singkat.

Setelah mendapat hajaran dari Pendekar Bodoh, Ban Sai Cinjin selain berlaku hati-hati sekali dan sama sekali tidak berani memandang ringan kepada kawan-kawan Pendekar Bodoh yang ternyata memiliki kepandaian yang hebat. Dulupun kalau dia berlaku hati-hati, tidak mungkin dalam segebrakan saja ia kalah oleh Pendekar Bodoh.

Akan tetapi harus diakuinya bahwa ilmu silat bambu runcing yang dimainkan oleh nyonya ini benar-benar luar biasa. Ia pernah menghadapi sepasang bambu runcing yang dimainkan oleh Goat Lan dan sudah merasa kagum sekali. Akan tetapi sekarang, menghadapi permainan Ma Hoa, ia benar-benar terdesak hebat sekali. Kalau dulu Goat Lan mainkan sepasang bambu runcing sehingga senjata istimewa itu seakan-akan berubah menjadi lima, sekarang bambu runcing ditangan nyonya ini seakan- akan telah berganda menjadi delapan! Selama ini, Ban Sai Cinjin tiada hentinya berlatih dan memajukan ilmunya sehingga kepandaiannya sudah naik banyak. Dalam menghadapi nyonya pendekar ini, ia masih dapat mempertahankan diri dengan mainkan huncwenya dan kadang-kadang ia menyemburkan asap hitam biarpun tidak mempengaruhi Ma Hoa yang sudah memasukkan tiga butir pel merah di dalam mulutnya, namun tetap saja Ma Hoa harus menghindarkan kedua matanya dari serangan asap hitam yang lihai itu.

Pertempuran berjalan tiga puluh jurus dan beberapa kali Ban Sai Cinjin hampir saja terkena totokan bambu runcing sehingga keselamatan nyawanya berada di ujung rambut. Ia terdesak hebat sekali dan hati kakek mewah ini mulai menjadi gelisah sekali.

Tiba-tiba terdengar lagi suara burung hantu dan tiba- tiba Ban Sai Cinjin tertawa menyeramkan dan melompat jauh ke belakang.

"Kwee-hujin, tidak percuma kau menjadi isteri Kwee An yang terkenal namanya, karena memang ilmu silatmu hebat sekali. Aku Ban Sai Cinjin kali ini mengaku kalah. Biarlah kelak kita bertemu lagi untuk melanjutkan pertempuran ini."

"Pengecut!" Ma Hoa memaki akan tetapi ia tidak mengejar Ban Sai Cinjin karena kuatir kalau-kalau kakek pesolek itu menjebaknya dengan tipu "memancing harimau meninggalkan sarangnya". Ia bahkan cepat melompat ke dalam rumah dan menuju ke kamar Kwee Cin. Akan tetapi mukanya tiba-tiba menjadi pucat sekali, ketika ia melihat dua orang pelayannya telah rebah menggeletak dalam keadaan tertotok! Sambil menekan debaran jantungnya yang seakan-akan hendak memecahkan dada, Ma Hoa cepat berlari ke dalam kamar anaknya. Benar saja seperti yang telah dikuatirkannya, di dalam kamar itu tidak nampak lagi bayangan anaknya! Ma Hoa sudah sering sekali menghadapi peristiwa hebat ketika mudanya, akan tetapi malapetaka kali ini benar-benar hebat sekali dan amat menusuk perasaannya. Hanya saja ia memang telah memiliki pandangan yang luas. Ia tidak menjadi putus asa, karena puteranya itu hanya diculik orang dan bukan dibunuh.

Siapa pun yang menculiknya, ia masih mempunyai harapan untuk merampasnya kembali.

Cepat ia berlari keluar kamar dan membebaskan totokan dua orang pelayan itu.

"Lekas ceritakan, apa yang telah terjadi?" tanyanya dengan tenang.

Dua orang pelayan itu menceritakan bahwa dari belakang datang dua orang pengemis tua yang tak berkata sesuatu lalu menotok mereka dan kemudian mereka melihat betapa kongcu (tuan muda) telah dipanggul oleh seorang di antara kedua pengemis itu dan dibawa lari melalui pintu belakang. Ma Hoa mendengar penuturan ini lalu cepat mengejar melalui pintu belakang. Ia mengejar terus sampai sejauh sepuluh li lebih, akan tetapi sebagaimana yang telah diduganya, ia tidak melihat bayangan dua orang pengemis penculik itu.

"Hmm, tak lain ini tentulah perbuatan Ban Sai Cinjin yang sengaja memancing dalam sebuah pertempuran dan kawan-kawannya sementara itu melakukan penculikan terhadap Kwee Cin," pikirnya. Ia cepat mengambil keputusan, menyerahkan penjagaan rumahnya kepada dua orang pelayan karena hari itu juga ia hendak menyusul suaminya ke utara sekalian mencari jejak Ban Sai Cinjin. Akan tetapi ketika ia membuka peti di mana ia menyimpan kitab Thian-te Ban-yo Pit-kip (Kitab Rahasia Selaksa Pengobatan Bumi Langit) yang dititipkan oleh Goat Lan kepadanya, ternyata kitab itu bersama anaknya telah lenyap pula! Ma Hoa menjadi gemas sekali, ia mengertakkan giginya dan membanting-bantingkan kaki kanan di atas lantai.

Ban Sai Cinjin bangsat tua yang curang! Tunggulah saja kalau sampai aku dapat melihat mukamu lagi, kau pasti akan kujadikan sate dengan bambu runcingku!"

Demikianlah, Ma Hoa lalu cepat melakukan pengejaran ke utara dan karena daerah utara memang sukar sekali dilalui serta Pegunungan Alkata-san masih asing baginya, ia tersesat jalan dan kebetulan sekali dapat menghentikan pertempuran hebat yang terjadi antara Lili dan Lie Siong.

Setelah Lili mendengar penuturan Ma Hoa ini, gadis ini pun menjadi marah sekali dan berkata dengan gemas, "Ban Sai Cinjin memang jahat sekali. Muridnya yang bernama Bouw Hun Ti telah membunuh Yousuf kakekku dan menculikku ketika aku masih kecil. Kemudian Ban Sai Cinjin menurut penuturan dan dugaanku telah meracun Sin-kai Lo Sian guruku, telah meracuni suhuku itu sehingga Sin-kai Lo Sian, yang membunuh Supek Lie Kong Sian juga Ban Sai Cinjin! Dan sekarang, kembali Ban Sai Cinjin menculik Adik Cin! Benar-benar orang yang jahanam dan ingin mampus."

Ma Hoa menarik napas panjang. "Memang di dunia ini selalu terdapat orang-orang jahat Lili. Tidak ada bedanya semenjak dahulu sampai sekarang. Dulupun ada seorang jahat bernama Hai Kong Hosiang yang selalu memusuhi orang tuami dan kami. Akan tetapi, dibandingkan dengan Ban Sai Cinjin, Hai Kong Hosiang masih tidak begitu curang dan jahat!" Lili juga pernah mendengar nama Hai Kong Hosiang ini karena seringkali ayah ibunya menceritakannya tentang pengalaman mereka di waktu muda (baca cerita Pendekar Bodoh).

Demikianlah, sambil bercakap-cakap Ma Hoa dan Lili, diikuti oleh Lilani dan Lo Sian serta semua orang Haimi, melanjutkan perjalanan menuju ke lereng Alkata-san di mana telah nampak tembok besar benteng tentara kerajaan itu.

***

Marilah kita meninggalkan dulu mereka yang sedang menuju ke benteng itu dan menengok keadaan Goat Lan dan Hong Beng yang sudah lama kita tinggalkan.

Karena mendapat pertolongan Kam Liong yang memberi kuda kepada mereka dan semua pengawal, perjalanan Hong Beng dan Goat Lan menuju ke Bukit Alkata-san berjalan cepat dan lancar. Tetapi sebagaimana yang dituturkan oleh Kam Liong, benteng itu biarpun sudah tua dan banyak yang rusak, namun masih baik dan kuat, juga merupakan tempat penjagaan yang amat baiknya. Hong Beng bersama semua perajurit yang mengawalnya lalu menggulung lengan baju dan membikin baik bangunan-bangunan yang berada di dalam benteng itu.

Beberapa hari kemudian, Hong Beng dan Goat Lan mengatur siasat untuk mulai menjalankan tugas mereka.

Dari para penyelidik yang mereka sebar di daerah itu, mereka mendapat keterangan bahwa tentara Mongol banyak yang bersembunyi di atas bukit yang berada di sebelah utara Bukit Alkata-san, dan untuk menyerang ke sana amatlah sukarnya. Selain daerah itu tertutup salju dan dingin sekali, juga pertahanan tentara Mongol amat kuatnya. Bagaimanakah mereka yang hanya mempunyai sedikit pasukan itu dapat melawan tentara Mongol yang ribuan jumlahnya? "Lebih baik kita menjaga dan mengatur penjagaan," kata Hong Beng. "Kita melihat kalau ada barisan musuh yang hendak menyeberang ke selatan dan melalui bukit ini, kita serang mereka."

Penjagaan dilakukan siang malam dan benar saja, beberapa hari berturut-turut, mereka berhasil memukul mundur pasukan-pasukan kecil bangsa Mongol yang hendak menuju ke selatan, untuk melakukan keganasan seperti biasa terhadap penduduk Tiongkok di balik tembok besar. Setiap kali terjadi pertempuran, selalu Hong Beng dan Goat Lan memperlihatkan kepandaiannya dan tak seorang pun perwira Mongol dapat bertahan menghadapi pendekar-pendekar remaja yang gagah dan sakti ini. Terpaksa pasukan-pasukan Mongol yang hendak melakukan penggarongan ke selatan, mengambil jalan memutar dan tidak berani lagi melewati Bukit Alkata-san di mana terjaga oleh pasukan yang dipimpin oleh dua orang muda ini. Sementara itu, hubungan Hong Beng dan Goat Lan makin erat dan cinta mereka berakar makin mendalam.

Namun, sebagai pemuda dan pemudi yang tidak saja gagah lahirnya akan tetapi juga mulia batinnya, kedua orang muda ini membatasi hubungan mereka dan sama sekali tak pernah berani melanggar kesusilaan. Baik Hong Beng maupun Goat Lan dapat menekan cinta kasih mereka dan sudah merasa cukup bahagia dengan saling berpegang tangan atau saling pandang dengan sinar mata penuh arti, penuh cinta kasih dan mesra. Tentu saja Goat Lan makin menghargai tunangannya ini.

Beberapa pekan mereka berada di situ dan merasa senang karena daerah Alkata-san boleh dibilang aman, yang termasuk dalam lingkungan benteng itu. Tidak ada pasukan musuh berani meninggalkan benteng, kuatir kalau-kalau pasukan musuh datang menyerbu, maka mereka sama sekali tidak tahu bahwa hanya seratus li dari tempat itu terdapat Lili dan Ma Hoa. Juga mereka tidak tahu bahwa dari selatan telah datang serombongan orang terdiri dari Cin Hai, Lin Lin dan Kwee An. Dan dari jurusan lain datang pula pasukan besar yang dipimpin sendiri oleh Kam-ciangkun atau Kam Liong.

Pada suatu senja kedua teruna remaja ini duduk di bawah pohon di mana mereka seringkali duduk, bercakap-cakap dengan asyik dan mesra. Bulan hanya sedikit, bercahaya pudar karena kalah oleh cahaya matahari yang masih ada sisanya menerangi permukaan bumi.

"Lan-moi..." terdengar Hong Beng berkata perlahan sambil memegang tangan tunangannya.

"Ada apa, Koko?" jawab Goat Lan sambil memandang mesra dan bibirnya tersenyum manis sekali. "Kalau keadaan sudah aman dan kelak kita kembali ke selatan, mendapat pengampunan dari Hong-siang..."

"Ya..."

"Aku akan minta kepada ayah bundaku agar... pernikahan kita dapat segera dilangsungkan"

Wajah yang manis itu memerah sampai ke telinganya dan jari-jari tangan yang runcing dan halus kulitnya itu mencubit. "Ah, Koko, kau ini ada-ada saja. Tergesa-gesa ada apa sih?"

Hong Beng menengok ke kanan di mana Goat Lan duduk. Mereka duduk di atas rumput dan angin bertiup sepoi-sepoi menambah segar dan gembira perasaan.

Pada senja hari itu, Goat Lan mengenakan baju berkembang-kembang warna emas, leher baju dan ikat pinggang kuning, demikian pula celananya terbuat dari sutera kuning yang bersih dan halus. Pinggiran baju sebelah bawah berwarna merah, sama merahnya dengan bunga yang terselip di atas telinga kanannya. Rambutnya disusun meniru model wanita-wanita Mongol atau Boan yang pernah dilihatnya di sekitar tempat itu, digelung ke atas dan selebihnya diurai memanjang di belakang punggungnya. Gadis ini benar-benar nampak cantik jelita, terutama sekali dalam pandang mata Hong Beng yang mencintanya.

"Lan-moi, aku tidak tergesa-gesa, akan tetapi aku ingin selamanya, tidak sedetik pun berpisah lagi darimu. Kalau kita sudah menikah, barulah harapan itu terkabul!"

Goat Lan tertawa geli karena merasa lucu mendengar omongan kekasihnya. Ia memandang dan diam-diam merasa kagum melihat betapa kekasihnya nampak tampan dan gagah sekali dalam pakaian yang berwarna biru itu. "Kalau begitu, kita harus menjadi sepasang kupu-kupu atau seperti sepasang burung yang selalu beterbangan di udara, siang malam tak pernah berpisah lagi."

"Mengapa harus menjadi kupu-kupu atau burung? Kalau kita sudah menikah, biarpun kita masih menjadi manusia, kita dapat selalu berkumpul, takkan berpisah lagi sebentar pun."

"Mana mungkin?" Goat Lan tertawa lagi. "Aku harus mengatur rumah tangga, harus masak, dan kau harus bekerja. Bagaimana kita bisa selalu berkumpul?"

Demikianlah, sepasang orang muda yang bahagia ini bersendau gurau, kadang-kadang bersungguh-sungguh membicarakan masa datang yang penuh harapan dan cita-cita. Tak terasa lagi cuaca menjadi makin gelap dan dua orang muda yang sedang tenggelam dalam alunan kasih asmara ini sama sekali tidak tahu betapa bayangan sesosok tubuh yang amat gesit laksana burung walet hitam, melompat dari wuwungan ke wuwungan lain di atas bangunan-bangunan dalam benteng itu! Para perajurit yang sedang bertugas juga tidak melihat bayangan ini yang menandakan bahwa orang itu benar- benar berkepandaian tinggi sehingga dapat menyerobot masuk ke dalam benteng tanpa diketahui orang. Dari atas wuwungan yang terdekat dengan tempat Hong Beng dan tunangannya duduk, orang itu memandang ke arah mereka. Kemudian, dengan gerak lompat Naga Hitam Naik ke Langit, ia lalu melompat dari atas wuwungan itu ke atas pohon yang berada belakang Hong Beng. Gin- kang dari orang itu benar-benar mencapai tingkat tinggi karena ketika ia tiba di pohon itu, tak selembar pun daun pohon bergoyang! Akan tetapi ia salah hitung kalau mengira bahwa Hong Beng tidak mengetahui kehadirannya. Biarpun delapan puluh bagian dari semangat pemuda ini telah terbang oleh gelombang asmara, namun yang dua puluh bagian sudah lebih dari cukup untuk mengingatkannya bahwa ada gerakan sesuatu yang mencurigakan di atas kepalanya! Di dalam keadaan bahaya, semangat pembelaan dan perlindungan terhadap kekasihnya timbul dan tanpa disengaja Hong Beng merangkulkan tangan kanannya pada pundak Goat Lan, sedangkan tangan kirinya sambil mengerahkan tenaga lwee-kang lalu dipukulkan dengan dorongan ke atas pohon dibarengi bentakan, "Turunlah kau!"

Tenaga pukulan Hong Beng ini biarpun hanya dilakukan sambil duduk dan dengan tangan kiri, namun mengandung hawa pukulan yang cukup hebat sehingga cabang dan daun pohon itu bagaikan tertiup angin dari bawah! "Sie-enghiong, jangan menyerangku!" terdengar seruan dari atas dan bayangan yang amat gesitnya melompat turun dengan gerak tipu Garuda Menyambar Air dan sebentar saja di depan Hong Beng dan Goat Lan yang sudah bangun itu berdirilah seorang pemuda yang tampan. Goat Lan segera mengenal orang ini sebagai Song Kam Seng. Ia mendengar dari Lili bahwa pemuda ini dahulunya ditolong oleh Lili dan Lo Sian akan tetapi kemudian telah membalik dan menjadi murid Wi Kong Siansu, juga ia telah mendengar bahwa pemuda ini sesungguhnya adalah putera Song Kun, sute dari Lie Kong Sian yang lihai dan jahat dan yang tewas dalam tangan Pendekar Bodoh! Tentu saja ia menjadi kaget dan bercuriga sekali.

"Siapa kau dan apa maksud kedatanganmu?" Hong Beng membentak sambil memandang tajam dengan sikap siap sedia. Sebelum Kam Seng menjawab, Goat Lan mendahuluinya, "Beng-ko, dia ini adalah Song Kam Seng yang pernah kuceritakan kepadamu. Inilah putera dari Song Kun, orang tak berbudi yang melupakan pertolongan dan berbalik memusuhi Lili!"

Pemuda itu menjura dengan hormat dan berkata dengan suara dingin, "Memang benar, aku adalah Song Kam Seng putera Song Kun yang terbunuh oleh Pendekar Bodoh."

"Apakah kedatanganmu ini ada hubungannya dengan urusan itu?" Hong Beng bertanya dengan sikap menantang.

"Tidak, Saudara Sie Hong Beng, sekarang belum tiba waktunya bagiku untuk membuat perhitungan. Semua perhitungan akan kubuat dan kubereskan dengan ayahmu sendiri, kau tak usah ikut campur. Sekarang ada urusan pribadi. Aku hendak bicara tentang urusan negara, tentang pengacauan orang Mongol, dan yang berhubungan pula dengan persekutuan yang diadakan oleh Ban Sai Cinjin dan orang-orang lain."

"Hmm, bukankah Ban Sai Cinjin itu susiokmu?" tanya Goat Lan dengan pandangan penuh curiga.

"Betul, Nona Kwee. Akan tetapi dalam hal ini, pahamnya jauh berbeda dengan aku. Betapapun juga, aku bukanlah seorang pengkhianat bangsa dan aku merasa tidak setuju sekali dengan tindakan yang telah diambil oleh Susiok itu. Juga perbuatannya yang terakhir ini, yaitu menculik adikmu, Nona, amat tidak kusetujui dan untuk itulah aku sengaja datang ke tempat ini."

Bukan main terkejutnya hati Goat Lan mendengar ini, juga Hong Beng merasa kaget dan cepat ia mengajak pemuda itu masuk ke dalam bangunan yang menjadi tempat tinggalnya. Mereka bertiga lalu duduk menghadapi meja.

"Apa maksudmu dengan penculikan adikku yang kukatakan tadi?" tanya Goat Lan kepada Song Kam Seng.

Pemuda itu menarik napas panjang. "Sudah bukan rahasia lagi bahwa Pendekar Bodoh dan kawan- kawannya, juga ayahmu yaitu Kwee-lo-enghiong, sedang menuju ke sini untuk membantu menjaga tapal batas dan mengusir pengacau-pengacau bangsa Mongol dan Tartar.

Hal ini amat menggelisahkan hati Malangi Khan, karena baru kalian berdua saja berada di sini sudah merupakan halangan besar, apalagi kalau orang-orang tuamu datang membantumu di sini. Oleh karena itu, Susiok yang menjadi tangan kanan Malangi Khan, lalu turun tangan.

Dia tahu bahwa ibumu hanya berada berdua saja dengan adikmu yang masih kecil, maka dengan ditemani oleh Coa-ong Lojin dan seorang pembantunya, Ban Sai Cinjin lalu datang ke Tiang-an dan akhirnya dapat menculik Kwee Cin adikmu, bahkan sudah berhasil mencuri kitab Thian-te Ban-yo Pit-kip dari Sin Kong Tianglo."

Goat Lan menjadi pucat sekali. Ia memandang tajam dan berkata, "Kau yang memihak musuh, mengapa kau datang menceritakan hal ini? Apa kehendakmu?"

"Sudah kukatakan tadi, Nona, aku bukan datang dengan maksud jahat. Aku terpaksa berada di utara karena terbawa oleh Susiok dan terpaksa karena suhuku malu hati kepada Ban Sai Cinjin, sehingga biarpun Suhu tidak dapat datang sendiri, Suhu menyuruhku mewakilinya. Maksud kedatanganku dan mengapa aku menceritakan semua ini kepadamu, juga kepada Saudara Sie Hong Beng, tidak lain agar kalian bersiap sedia.

Ketahulilah bahwa Ban Sai Cinjin hendak menjadikan adikmu sebagai tanggungan. Tak lama lagi kalian tentu akan mendengar ancaman dari Ban Sai Cinjin bahwa kalau Pendekar Bodoh dan kawan-kawannya membantu tentara kerajaan, maka Kwee Cin adikmu itu akan dibinasakan lebih dulu!"

"Bangsat keji!" Goat Lan berseru keras sambil melompat bangun dan tak terasa pula sepasang bambu runcingpya telah berada di kedua tangannya. "Orang she Song, tunjukkan kepadaku di mana adikku ditahan agar aku dapat pergi menolongnya. Kalau kau tidak mau menunjukkan tempat itu, berarti bahwa kebaikanmu ini palsu belaka untuk menjebak kami dan untuk itu aku akan membinasakanmu di sini dan sekarang juga!"

"Nona Kwee, kalau aku mau menunjukkan tempat itu bukan berarti bahwa aku takut akan ancamanmu, aku lebih takut kalau-kalau aku disangka ikut berjiwa pengkhianat. Akan tetapi biarpun dengan segan, aku harus memberitahukan kepadamu bahwa mendatangi tempat itu untuk menolong adikmu sama halnya dengan membunuh diri! Penjagaan di situ selain kuat sekali, juga Susiok sendiri berada di situ, selalu berdekatan dengan adikmu. Dan tentang kepandaian Susiok, dia telah memperoleh kemajuan hebat apalagi dibantu oleh Coa- ong Lojin dengan anak buahnya!"

"Tidak peduli, aku tidak takut! Lekas tunjukkan di mana tempat adikku ditahan!" Goat Lan mendesak, adapun Hong Beng tidak berkata sesuatu karena ia maklum bahwa tunangannya sedang gelisah, bingung dan kuatir sekali. Song Kam Seng lalu minta kertas dan alat tulis, lalu menggambarkan keadaan gunung di sebelah utara Alkata-san, di mana terdapat markas Malangi Khan dan bala tentaranya. Tempat tahanan Kwee Cin itu ternyata berada di paling belakang sehingga untuk datang ke tempat itu harus melalui dulu benteng dari tentara Mongol! "Nah, kalian ketahui sendiri betapa berbahayanya untuk menyerbu tempat ini. Aku memberitahukan semua ini agar supaya kalian dapat merundingkan dengan orang-orang tuamu dan mencari siasat baik, jangan sekali-kali berlaku sembrono. Sungguh mati kalau sampai berlaku nekad dan terjadi sesuatu yang mengerikan, akulah orang pertama yang akan merasa menyesal sekali. Selamat tinggal!"

"Ucapanmu tidak menakutkan kami, Song Kam Seng! Betapapun juga aku akan pergi membebaskan adikku dan merampas kembali Thian-te Ban-yo Pit-kip!"

Mendengar suara nona ini amat tetap dan nekad, Kam Seng yang sudah melompat sampai di pintu itu segera menunda kepergiannya. Ia menengok dan berkata, "Jalan satu-satunya yang lebih aman adalah dari belakang bukit di mana tidak ada tentara Mongol, akan tetapi perjalanan melalui tempat itu amat berbahaya. Lagi pula setelah kau berhasil memasuki benteng sebelah belakang, kau masih harus berhadapan dengan Susiok, dengan Coa-ong Lojin, dan banyak lagi orang-orang kang-ouw termasuk empat puluh orang lebih anggota Coa-tung Kai-pang." Setelah berkata demikian, tubuh Kam Seng berkelebat dan lenyap dari situ! "Gin-kangnya boleh juga!" kata Hong Beng.

"Koko, kita harus menyusul Adik Cin sekarang juga.

Siapa tahu kalau-kalau jahanam itu akan mengganggunya."

"Lan-moi, kurasa kata-kata Song Kam tadi ada benarnya. Dalam hal ini kita harus berlaku hati-hati.

Bukan sekali-kali aku merasa jerih mendengar penjagaan musuh yang demikian kuatnya, akan tetapi kalau memang benar orang tua kita akan datang tak lama lagi, apakah tidak baik berunding dulu dengan mereka, dan minta nasihat mereka bagaimana? Kau tahu bahwa Ban Sai Cinjin akan menjaganya dengan luar biasa kuatnya karena ia maklum bahwa keluarga kita takkan tinggal diam begitu saja!"

"Justru sekaranglah kita harus bertindak, Koko.

Bukankah tadi Song Kam Seng menyatakart bahwa tak lama lagi tentu Ban Sai Cinjin akan mengancam kita agar jangan membantu tentara kerajaan? Hal ini berarti bahwa sekarang Ban Sai Cinjin belum tahu bahwa kita telah mendengar tentang diculiknya adikku, maka penjagaan di sana tentu tidak begitu diperkuat. Kita datang tiba-tiba pula, kalau mungkin menangkap Ban Sai Cinjin dan memaksanya mengembalikan kitab Thian-te Ban-yo Pit-kip dan melepaskan Adik Cin."

Hong Beng memandang tunangannya. Ia tahu bahwa kehendak dan ketetapan hati tunangannya yang tabah ini tak mungkin dapat dibantah lagi, dan ia pun maklum bahwa pekerjaan ini benar-benar amat berbahaya, maka akhirnya ia menyatakan persetujuannya. Hong Beng lalu memberitahukan kepada para perajurit bahwa dia dan Goat Lan hendak melakukan penyelidikan pada markas musuh, kemudian pemuda ini membuat sepucuk surat yang dimasukkan dalam sampul, diberikan kepada pengawal dengan pesan agar supaya surat itu diberikan kepada Pendekar Bodoh atau kawan-kawan yang lain kalau-kalau ada yang datang mencari mereka di benteng ini.

Maka berangkatlah Hong Beng dan Goat Lan pada malam hari itu juga, membawa tongkat hitamnya yang menjadi tanda bahwa dia adalah ketua dari Hek-tung Kai-pang, sedangkan Goat Lan tidak lupa membawa sepasang bambu runcingnya.

Sie Cin Hai, Lin Lin dan Kwee An yang melakukan perjalanan cepat serta mereka sudah berpengalaman di daerah ini di waktu mereka masih muda dapat lebih dulu tiba di kaki Gunung Alkatasan. Beberapa kali mereka mengobrak-abrik pasukan-pasukan Mongol yang berhasil menerobos ke selatan dari jurusan lain, menjauhi Bukit Alkata-san yang dijaga oleh sepasang pendekar remaja yang mereka takuti itu. Oleh karena melakukan perjalanan sambil membasmi pasukan-pasukan musuh inilah, maka mereka agak terlambat tiba di benteng di mana Hong Beng dan Goat Lan mengatur penjagaan pasukan mereka yang kecil jumlahnya.

Para penjaga benteng dari jauh sudah melihat tiga bayangan orang yang mendatangi dengan kecepatan luar biasa sekali. Ketika melihat tiga orang gagah itu berdiri di depan pintu gerbang, seorang penjaga membentak, "Siapa diluar?"

"Kami, orang tua dari Sie Hong Beng dan Kwee Goat Lan. Apakah mereka ada di dalam?" seru Kwee An dengan suaranya yang nyaring.

Semua orang di dalam benteng itu tidak ada yang mengenal Pendekar Bodoh, isterinya, dan Kwee Tai-hiap, maka mendengar disebutnya orang-orang tua Hong Beng dan Goat Lan, mereka cepat membuka pintu dan tiga orang pendekar ternama itu diterima dengan sinar mata kagum dan juga girang. Siapa orangnya yang tidak menjadi girang kedatangan pendekar-pendekar yang boleh diandalkan dalam daerah dan keadaan yang amat berbahaya itu? "Sie-enghiong dan Kwee-lihiap baru dua hari ini pergi meninggalkan benteng untuk menyelidiki kedudukan musuh di gunung utara. Sie-enghiong malahan meninggalkan sepucuk surat, maka kebetulan sekali Sam-wi datang hari ini. Kami sendiri sudah merasa amat kuatir." Kepala pengawal menyerahkan surat yang ditinggalkan oleh Hong Beng. Cin Hai segera menerima surat itu dan membacanya, "Ayah, Ibu, Kwee-pekhu atau Lili dan siapa saja yang kebetulan menerima surat ini! Kami, Sie Hong Beng dan Kwee Goat Lan, hari ini didatangi oleh Song Kam Seng yang menggambarkan bahwa Kwee Cin telah diculik oleh Ban Sai Cinjin dan kini ditahan di dalam benteng orang-orang Mongol di bukit utara. Oleh karena itu kami lalu pergi ke sana untuk menolong Adik Cin dan mencoba merampas kembali kitab obat yang juga dicuri oleh kawan-kawan Ban Sai Cinjin.

Dari sini menuju ke bukit itu melalui belakang benteng, menurut perhitungan Song Kam Seng, dapat dicapai dalam waktu satu setengah hari, maka jika dalam waktu tiga atau empat hari kami tidak kembali ke benteng, berarti kami telah tertahan atau terbinasa oleh musuh. Sekian harap menjadikan maklum.

Terima kasih, Sie Hong Beng."

Tidak saja Cin Hai terkejut, tetapi Lin Lin dan Kwee An yang mendengar Cin Hai membacakan surat itu, menjadi amat kaget. Kwee An sendiri menjadi pucat wajahnya. "Bagaimana bisa terjadi hal seperti ini?" tanyanya dengan mata mulai menjadi merah karena kemarahan mulai bernyala di dalam hatinya.

"Kita harus berlaku tenang dan sabar," kata Cin Hai yang dalam menghadapi segala macam urusan bersikap tenang seperti suhunya. "Menurut laporan kepala pengawal mereka baru dua hari pergi. Kalau sekarang kita menyusul ke sana, belum tentu kita dapat bertemu dengan mereka sehingga bahkan menyulitkan keadaan.

Kita harus percaya penuh kepada Hong Beng dan Goat Lan. Agaknya tidak mungkin mereka berdua akan dapat ditawan musuh. Biarlah kita menanti sampai empat hari, jadi dua hari lagi, kalau mereka tidak pulang, barulah kita mengambil keputusan apa yang harus kita lakukan."

Kwee An mengangguk menyatakan setuju. Sebetulnya ia merasa amat gelisah mendengar bahwa puteranya diculik orang, akan tetapi harus ia akui bahwa kalau sekarang ia nekat menyusul Goat Lan, amat dikuatirkan ia bahkan akan mempersulit dan mengacaukan usaha Hong Beng dan Goat Lan yang sedang berusaha menolong Kwee Cin. Lagi pula, ia tidak sangsi lagi akan kelihaian puterinya dan juga kelihaian Hong Beng yang seperti ucapan Pendekar Bodoh tadi, agaknya tidak mudah ditawan oleh musuh.

Alangkah girang hati semua orang, termasuk juga para prajurit di dalam benteng itu, ketika pada keesokan harinya, dari jurusan barat datanglah serombongan orang-orang Haimi yang dipimpin oleh Lili dan Ma Hoa diikuti pula oleh Sin-kai Lo Sian! Ma Hoa lalu menceritakan sejelasnya pengalamannya sehingga puteranya, Kwee Cin, sampai diculik orang, berikut kitab Thian-te Ban-yo Pit-kip, sebagaimana telah dituturkan di bagian depan dengan jelas. Bukan main marahnya Cin Hai, Lin Lin dan Kwee An mendengar penuturan ini.

"Betapapun juga," kata Kwee An, "kita harus menanti sampai besok pagi. Kalau Goat Lan dan Hong Beng belum juga kembali barulah kita beramai akan menyerbu ke sana dan awaslah Ban Sai Cinjin kalau ia berani mengganggu Cin-ji (Anak Cin)!"

Ketika membaca surat yang ditinggalkan oleh Hong Beng, Ma Hoa juga sependapat dengan suaminya, yaitu menanti sehari lagi. Akan tetapi tidak demikian dengan Lili. Diam-diam hati gadis ini merasa gemas dan benci sekali kepada Ban Sai Cinjin. Kakek pesolek itu amat pengecut dan licin, siapa tahu kalau-kalau Hong Beng dan Goat Lan terjebak dalam perangkapnya? Malam hari itu, Lili lalu bertemu dengan Nurhacu, orang Haimi yang tua dan banyak pengalaman di daerah utara ini. Dari Nurhacu ia mendapat banyak petunjuk tentang keadaan bukit di utara iut. Benteng itu kini menjadi ramai dan penjagaan diperkuat dengan adanya pasukan Haimi yang juga gagah. Dan pada malam hari iut, melalui penjagaan yang dilakukan oleh orang-orang Haimi, Lili keluar dengan diam-diam dan di bawah sinar bulan purnama yang muram, gadis ini berlari cepat sekali menuju ke utara! Dia hendak menyusul Hong Beng dan Goat Lian dan tentu saja kepergiannya ini tidak diberitahukan kepada ayah bundanya, karena ia tahu bahwa mereka pasti takkan mau meluluskannya.

Adapun Lilani segera dapat merampas hati Lin Lin yang merasa suka dan kasihan melihat nasib gadis ini.

Kwee An dan Cin Hai juga menganggap gadis ini seperti keponakan sendiri sehingga Lilani merasa amat terharu.

Gadis yang lincah dan rajin ini lalu cepat-cepat melayani pendekar-pendekar gagah itu sehingga dua pasang suami isteri itu makin menyayanginya. Benar-benar Lilani dapat menyesuaikan diri dengan keadaan di sekelilingnya, dan inilah yang membuat seseorang selalu disuka.

Tentu saja pada keesokan harinya, semua orang menjadi terkejut dan geger melihat betapa Lili telah tidak ada pula di dalam benteng. Cin Hai dan Lin Lin mencari ke mana-mana, akan tetapi tidak nampak bayangan Lili.

Nurhacu yang mendengar betapa semua orang mencari Lili, lalu menghadap Cin Hai dan menceritakan bahwa malam tadi Lili mencari keterangan sejelasnya tentang keadaan bukit di utara itu.

"Tidak salah lagi!" Cin Hai membanting kakinya. "anak bengal itu dengan lancang tentu menyusul kakaknya ke sana!"

Pada saat semua orang sedang membicarakan urusan perginya Lili ini, tiba-tiba terdengar suara gemuruh dan tak lama lagi seorang pengawal dengan wajah berseri memberi laporan akan datangnya sebuah barisan yang besar sekali, dipimpin sendiri oleh Kam-ciangkun dari kota raja! Semua orang menyambut dan benar saja bahwa yang memimpin barisan adalah Kam Liong. Dengan penuh hormat, Kam Liong memberi penghormatan kepada Cin Hai suami isteri dan Kwee An serta Ma Hoa, yang dianggapnya pendekar-pendekar yang lebih tinggi tingkatnya pehingga semua orang diam-diam menaruh perhatian dan suka kepada panglima muda ini.

Ketika Kam Liong mendengar bahwa Hong Beng dan Goat Lan sudah empat hari tidak kembali dari penyelidikan mereka di markas musuh dan bahwa Lili juga semalam mengejar ke sana, pemuda ini mengerutkan keningnya sambil berkata, "Berbahaya, berbahaya! Bukit itu penuh dengan tentara Mongol, bahkan Malangi Khan sendiri berada di tempat itu! Ah, terlalu berbahaya! Lebih baik kita segera menyerang dan menyerbu dengan mendadak, barangkali saja masih dapat menolong putera Kwee-lo-enghiong dan kedua Saudara Hong Beng dan Goat Lan!"

"Jangan, Kam-ciangkun. Itu terlalu berbahaya. Kita harus mencari daya upaya lain untuk menolong mereka itu, dan pula belum tentu ketiga orang anak kami akan mudah saja mengalami bencana di tempat itu!" kata Cin Hai.

Pada saat itu, terdengar suara kaki kuda dan ternyata seorang Mongol yang berkuda dengan cepat sekali, datang membawa sesampul surat yang katanya harus disampaikan kepada Pendekar Bodoh! Melihat orang Mongol itu datang membawa tanda utusan Raja Mongol, para perajurit tidak berani mengganggunya dan orang itu lalu dihadapkan kepada Cin Hai. Orang Mongol itu bertubuh tinggi kurus, bermata tajam dan ganas, sedangkan bibirnya menyeringai seperti sikap seorang yang tidak takut mati.

"Aku datang sebagai utusan Malang Khan yang maha besar!" katanya setelah ia dibawa ke dalam benteng.

"Mana surat yang kaubawa?" Cin Hai bertanya.

"Harus kuserahkan sendiri kepada Pendekar Bodoh," jawab utusan itu.

"Akulah orang yang dimaksudkan itu," jawab Cin Hai.

Orang Mongol itu memandang seperti tidak percaya.

Orang ini nampaknya demikian lemah, pikirnya, mana bisa dia adalah Pendekar Bodoh yang demikian terkenal dan bahkan ditakuti oleh Malangi Khan sendiri? Cin Hai dapat menduga pikiran orang. Sambil tersenyum ia berkata, "Kalau kau berlama-lama, biarlah aku mengambilnya sendiri!" Tangan kirinya bergerak perlahan ke depan ke arah dada orang Mongol itu. Orang Mongol itu cepat menangkis sambil mengerahkan tenaganya, akan tetapi ketika lengan tangannya beradu dengan tangan Cin Hai, ia kesakitan dan sedetik kemudian seruannya terhenti karena ia telah terkena totokan jari tangan kiri Cin Hai.

Orang Mongol itu berdiri seperti patung dengan sikap masih menangkis sehingga nampak lucu sekali.

Cin Hai lalu menggeledah saku orang itu dan mendapatkan sesampul surat yang dialamatkan kepada Pendekar Bodoh dan kawan-kawannya. Ketika ia membuka sampulnya dan membaca, ternyata bahwa surat itu adalah surat yang ditulis oleh Ban Sai Cinjin dan yang ditujukan kepadanya dan semua kawan-kawannya, bahwa kalau Pendekar Bodoh dan kawan-kawannya maju membantu bala tentara kerajaan maka Kwee Cin akan dibunuh dan kepalanya akan dibawa ke medan perang.

Cin Hai dan Kwee An menjadi merah sekali mukanya.

Cin Hai lalu membebaskan totokannya dan setelah orang Mongol itu dapat bergerak lagi, ia membentak, "Kau bilang diutus oleh Malangi Khan, mengapa yang kaubawa ini adalah surat dari Ban Sai Cinjin?"

"Apakah bedanya, Malangi Khan dan Ban Sai Cinjin?"

Orang Mongol itu menjawab. "Ban Sai Cinjin telah menjadi tangan kanan Malangi Khan, maka setiap perintah Ban Sai Cinjin tentu sudah disetujui oleh Malangi Khan!"

"Baik, kau kembalilah dan sampaikan kepada Ban Sai Cinjin bahwa kami tidak akan melanggar larangannya dan jangan dia sekali-kali berani mengganggu Kwee Cin karena kalau dia mengganggu anak itu, biarpun ia akan lari sampal ke neraka, pedangku pasti akan mendapatkan lehernya!"

Utusan itu lalu dilepaskan dan dengan kudanya yang luar biasa, utusan Mongol ini lalu membalap sehingga sebentar saja ia hanya nampak sebagai titik hitam yang mengebul di belakangnya.

"Nah, Kam-ciangkun, kaulihat dan mendengar sendiri.

Kalau kita menyerbu begitu saja, pasti akan terbukti ancaman Ban Sai Cinjin yang berhati kejam dan curang."

"Kalau begitu, Sie Tai-hiap. Biarlah siauwte memimpin sendiri barisan kerajaan untuk menggempur gunung itu.

Ada-pun Cu-wi sekalian mengambil jalan belakang untuk mencari saudara-saudara yang sampai sekarang belum kembali."

"Ini pun kurang sempurna, Kam-ciangkun," kata Kwee An. "Memang kita semua sudah berpikir bulat untuk bersama-sama menghalau pengacau negara dan memusuhi barisan Mongol yang membikin kekacauan.

Pihak Mongol selain banyak jumlahnya, juga di sana mereka dibantu oleh orang-orang pandai seperti Ban Si Cinjin dan entah siapa lagi. Kalau kau maju dan sampai mengalami kekalahan, bukankah itu melemahkan semangat para perajurit? Lebih baik kaubiarkan kami mencari anakku lebih dulu dan kalau sudah berhasil dan selamat barulah kita bersama membikin pembalasan dan menghancurkan barisan Malangi Khan di bukit itu."

"Berilah waktu lima hari kepada kami," Cin Hai menyambung, "setelah lewat lima hari boleh kau memimpin barisanmu menggempur musuh."

Tentu saja Kam Liong tidak berani membantah dan menyatakan baik. Sikap pemuda ini amat menyenangkan hati dua pasang suami isteri pendekar itu, karena berbeda dengan sikap panglima-panglim lain yang biasanya amat sombong dan angkuh. Sikap panglima muda ini benar-benar menarik hati sehingga diam-diam Lin Lin menyampaikan kepada Ma Hoa dan Kwee An tentang lamaran yang diajukan oleh paman pemuda ini terhadap Lili.

"Memang dia orang baik, agaknya cukup pantas menjadi mantumu," kata Kwee An kepada adiknya ini, "akan tetapi betapapun juga, sekarang belum waktunya untuk membicarakan soal ini. Lagi pula dalam hal perjodohan harus ada persesuaian antara anak, ibu dan ayah. Jika ketiganya cocok barulah perjodohan itu dianggap baik dan berbahagia. Kita tunggu saja bagaimana pendapat Lili sendiri tentang pinangan itu."

Mereka berempat lalu berunding mengenai urusan mereka untuk menolong Kwee Cin dan juga mencari Hong Beng, Goat Lan dan Lili.

"Lebih baik kita bagi-bagi tugas," kata Kwee An, "biarlah aku dan Cin Hai pergi ke sarang mereka. Adapun kau dan Lin Lin tinggallah saja di sini. Siapa tahu kalau- kalau utusan Mongol tadi hanya merupakan pancingan agar kita semua pergi mengejar ke sana dan meninggalkan benteng ini. Kalau kita semua pergi dan mereka tiba-tiba datang menyerang, kasihan sekali kalau sampai Kam-ciangkun mengalami kekalahan hebat! Kurasa aku dan Cin Hai berdua sudah cukup untuk menyelidiki keadaan mereka di gunung itu."

"Apa yang dikatakan oleh Kwee An memang benar dan aku merasa setuju sekali," kata Cin Hai yang biarpun menjadi adik ipar Kwee An namun selalu menyebut namanya begitu saja karena sudah menjadi kebiasaan semenjak mereka belum menikah. Biarpun merasa kecewa, namun Lin Lin dan Ma Hoa tidak membantah, karena memang tepat apa yang diusulkan oleh Kwee An itu. Pula tugas menjaga benteng itu tidak kalah pentingnya, kalau tidak dapat disebut lebih berbahaya.

Berangkatlah Cin Hai dan Kwee An pada hari itu juga menuju ke bukit utara itu. Seperti juga Lili sebelum berangkat mereka minta keterangan tentang kedudukan bukit itu kepada Nurhacu, karena biarpun Cin Hai dan Kwee An pernah mengadakan perantauan di daerah utara di waktu mereka muda (baca cerita Pendekar Bodoh), namun mereka belum pernah naik ke bukit itu. Nurhacu yang tadinya dipaksa membantu orang-orang Mongol, tentu saja sudah pernah masuk ke dalam markas besar Malangi Khan dan dengan jelas ia menggambarkan kedudukan markas musuh yang terjaga kuat itu.

Setelah kedua orang pendekar itu meninggalkan kaki Bukit Alkata-san di sebelah utara dan sedang berlari cepat menuju ke bukit yang menjulang tinggi di sebelah utara itu, tiba-tiba dari sebuah tikungan jalan keluarlah seorang pemuda tampan yang berlari cepat dengan gerakan gesit sekali. Pemuda itu lalu berhenti menghadang di tengah jalan ketika ia melihat dua orang laki-laki setengah tua yang berlari cepat itu.

Cin Hai dan Kwee An merasa curiga dan mereka pun lalu menahan kaki mereka dan berhenti di depan pemuda itu. Untuk beberapa lama mereka saling pandang, kemudian pemuda itu dengan sikap sopan lalu menjura dan bertanya, "Mohon tanya, siapakah Ji-wi Lo-enghiong yang gagah ini? Dalam keadaan seperti sekarang, melihat dua orang gagah menuju ke utara, sungguh amat mengherankan hati." "Anak muda, kau pandai sekali membolak-balikkan kenyataan. Kami yang menuju ke utara belum dapat dikatakan aneh, sebaliknya kau seorang pemuda yang gagah akan tetapi dalam waktu seperti ini, berkeliaran di daerah musuh benar-benar menimbulkan kecurigaan besar!"

Merahlah wajah pemuda itu. "Maaf, kau berkata benar, Lo-enghiong. Memang aku Song Kam Seng telah salah memilih jalan. Akan tetapi aku sedang beruasaha mencari jalan yang benar. Kuulangi lagi, siapakah gerangan Ji-wi yang terhormat?"

Mendengar disebutnya nama ini, berubah wajah Cin Hai dan juga Kwee An. Kedua orang pendekar ini telah membaca surat Hong Beng dan tahu bahwa Hong Beng dan Goat Lan pergi meninggalkan benteng setelah dipancing oleh pemuda ini! Dan pula, Cin Hai sudah mendengar dari Lili bahwa pemuda ini adalah putera Song Kun dan yang telah mengancam hendak membalas dendam kepadanya! "Hemm, jadi kaukah yang bernama Song Kam Seng putera Song Kun? Ketahuilah, aku yang disebut Pendekar Bodoh dan ini adalah saudara tuaku bernama Kwee An! Hayo lekas kauceritakan di mana adanya anak-anak kami, Hong Beng, Goat Lan dan Kwee Cin?"

Mendengar bahwa yang berhadapan dengannya adalah musuh besarnya, pembunuh ayahnya, tiba-tiba Kam Seng menjadi makin marah. Ia lalu memandang kepada Cin Hai dengan mata tajam, lalu mencabut pedangnya dan berkata, "Bagus, jadi kaukah yang bernama Sie Cin Hai, orang yang telah membunuh ayahku dan membuat ibu dan aku hidup menderita bertahun-tahun? Manusia kejam, kau telah berhutang nyawa, sudah selayaknya sekarang aku menagihnya!" Sambil berkata demikian, Kam Seng lalu mengayun pedangnya menusuk dada Cin Hai. Pendekar Bodoh hanya tersenyum saja dan sama sekali tidak menangkis atau mengelak. Akan tetapi tiba-tiba dari samping berkelebat bayangan pedang dan dengan kerasnya pedang Kam Seng terpukul oleh pedang yang digerakkan oleh Kwee An sehingga pedang itu terpental kembali dan hampir terlepas dari pegangan Kam Seng! "Song Kam Seng, jangan kau berlaku sembrono! Ayahmu Song Kun bukan mati dibunuh oleh Pendekar Bodoh, akan tetapi ia mati karena kejahatannya sendiri.

Seorang gagah membela kebenaran tanpa memandang kepada hubungan keluarga! Kalau kiranya ayahmu itu masih hidup dan menjadi seorang yang amat jahat, apakah kau juga akan membantunya dan ikut-ikutan menjadi jahat?"

Dengan pandangan mata liar Kam Seng membalikkan tubuh dan menghadapi Kwee An.

"Kaubilang ayahku jahat? Apa maksudmu?"

"Memang hal yang paling sukar di dunia ini adalah mengakui atau melihat kesalahan pihak sendiri. Ayahmu dahulu mengancam jiwa Lin Lin yang telah menjadi tunangan Cin Hai. Adikku itu terkena racun seorang jahat dan obat penawarnya dirampas oleh ayahmu, kemudian ayahmu mengancam hendak melenyapkan obat penawar itu kalau adikku tidak mau menjadi isterinya!" Dengan singkat akan tetapi jelas, Kwee An lalu menceritakan kejahatan-kejahatan yang dilakukan oleh Song Kun di waktu mudanya (baca cerita Pendekar Bodoh) dan bahwa kematian Song Kun terjadi di dalam pertempuran melawan Cin Hai yang membela diri, jadi sekali-kali bukan Pendekar Bodoh yang sengaja membunuhnya.

Mendengar penuturan ini, pucatlah wajah Kam Seng.

Alangkah bedanya dengan cerita yang didengarnya dari Ban Sai Cinjin! Mana yang benar? Akan tetapi suara hatinya membisikkan bahwa ia harus lebih percaya kepada dua orang pendekar besar ini daripada kepada Ban Sai Cinjin yang berhati khianat.

"Biarpun andaikata mendiang ayahku jahat, sebagai puteranya aku harus berani menghadapi kenyataan dan berani pula membalaskan sakit hatinya. Aku menantang kepada Pendekar Bodoh untuk mengadu kepandaian, lepas dari soal siapa salah siapa benar antara dia dan ayahku. Aku hanya hendak memenuhi kewajiban sebagai seorang anak yang harus berbakti kepada ayahnya. Kalau aku kalah, sudahlah, mungkin ayah yang memang bersalah dalam pertempuran dahulu." Sambil, berkata demikian, kembali pemuda itu menghadapi Cin Hai dengan sikap menantang.

"Bocah lancang!" Kwee An membentak marah. "Kau mengandalkan apakah maka berani menantang Pendekar Bodoh? Mudah saja menyatakan tentang sakit hati dan dendam. Ketahuilah bahwa aku pun menaruh dendam kepadamu kalau pandanganku sepicik engkau! Kau telah memancing dan mencelakakan puteriku Goat Lan dan bahkan mungkin kau telah membantu susiokmu Ban Sai Cinjin untuk menculik anakku Cin-ji! Nah, bukankah aku pun boleh berdendam kepadamu? Coba kauhadapi pedangku dulu kalau memang kau memiliki kepandaian!"

Akan tetapi, sambil tersenyum Cin Hai berkata, "Biarkanlah, Kwee An, biarkan anak ini, memperlihatkan tanduknya! Sikapnya mengingatkan padaku akan ayahnya, Song Kun. Demikian berani dan keras hati. Eh, Kam Seng, aku sudah mendengar namamu disebut oleh puteriku, Lili. Kau sudah menyeberang ke pihak jahat dan menjadi murid dari Wi Kong Siansu? Kau salah, anak muda. Kalau saja kau tetap menjadi murid Nyo Tiang Le dan kemudian kau datang kepadaku, mengingat hubungan ayahmu dengan aku, kiranya aku takkan menolak untuk memberi bimbingan kepadamu. Sekarang kau bahkan hendak menantangku bertempur? Hmm, cobalah maju dan jangan ragu-ragu, seranglah sesuka hatimu."

Mendengar ucapan yang tenang ini dan melihat sikap yang acuh tak acuh dari Pendekar Bodoh musuh besarnya, Kam Seng menjadi ragu-ragu. Tadi ia sudah merasai kelihaian tangkisan pedang Kwee An. Baru Kwee An saja sudah demikian hebat tenaganya, apalagi Cin Hai yang kabarnya memiliki kepandaian jauh lebih tinggi daripada kepandaian Kwee An! Akan tetapi Kam Seng tidak takut. Sudah bulat hatinya untuk membalas dendam ayahnya sehingga ia mengorbankan perasaannya dan berpindah ke pihak Ban Sai Cinjin. Bukan karena ia lebih cocok dengan rombongan ini, tidak, karena sesungguhnya ia benci melihat kejahatan kakek pesolek itu. Ia rela berguru kepada Wi Kong Siansu hanya karena ia ingin tercapai maksudnya membalas dendam kepada musuh besarnya, yaitu Pendekar Bodoh. Kalau ia teringat betapa ia dan ibunya terlunta-lunta setelah ayahnya tewas, sakit hatinya terhadap Pendekar Bodoh makin besar. Dan sekarang setelah ia bertemu dengan musuh besarnya, biarpun ia ingat musuhnya itu ayah dari Lili, gadis satu-satunya di dunia ini yang dicintainya, biarpun ia sudah mendengar keterangan dari Kwee An betapa dahulu sebenarnya ayahnya yang salah dan jahat, namun bagaimana ia dapat membatalkan niat hatinya hendak membalas dendam? Kini melihat sikap Cin Hai, amat tidak enak hati Kam Seng. Ia sebenarnya segan melawan pendekar yang bersikap tenang dan gagah ini, namun ia malu terhadap bayangannya sendiri kalau ia tidak melanjutkan niatnya yang telah terpendam di dalam hati sampai bertahun- tahun lamanya. Maka ia paksakan hatinya dan berseru, "Ayah di alam baka! Lihat bahwa anak telah melakukan usaha sekuat tenaga!" Sambil berkata demikian ia lalu maju menyerang dengan hebat sekali kepada Pendekar Bodoh. Akan tetapi, dengan cara yang amat membingungkan mata Kam Seng, tahu-tahu pendekar besar itu telah dapat mengelak dari tusukan pedangnya.

Ia menjadi penasaran dan melanjutkan serangannya sambil mengeluarkan ilmu pedang yang ia pelajari dengan susah payah dari Wi Kong Siansu. Kalau dibandingkan dengan dahulu ketika ia menghadapi Lili, ilmu kepandaian pemuda ini sudah maju amat pesat dan jauh. Tidak saja ilmu pedangnya yang sudah menjadi kuat dan cepat, juga tenaga lwee-kangnya bertambah dan ginkangnya pun amat baik mendekati kesempurnaan.

Diam-diam Cin Hai memuji, akan tetapi dengan amat mudahnya, Pendekar Bodoh mengelak dari setiap serangan. Pendekar Bodoh tidak mencabut pedangnya, hanya mempergunakan ujung lengan bajunya untuk kadang-kadang menyampok pedang kalau ia tidak keburu mengelak.

Dari sampokan ujung lengan baju ini saja Kam Seng sudah merasa terkejut sekali. Gurunya sendiri, Wi Kong Siansu, juga ahli dalam hal bersilat dengan ujung lengan baju, akan tetapi kiranya tidak sehebat ini. Kam Seng makin mempercepat gerakan pedangnya sehingga tubuhnya lenyap dalam sinar pedangnya yang bergulung- gulung. Pemuda ini mengerahkan seluruh kepandaian dan tenaganya, mengambil keputusan untuk bertempur sampai mati! Ia merasa seakan-akan ayahnya menyaksikan pertempuran ini dari alam baka, maka ia tidak mau berlaku mengalah dan mendesak Pendekar Bodoh dengan nekat.

Pendekar Bodoh maklum bahwa biarpun ia telah mengenal ilmu pedang pemuda ini dan dapat menjaga diri, namun ia tidak dapat menaksir sampai di mana kehebatan ilmu pedang ini apabila dimainkan oleh Wi Kong Siansu. Ia telah mendapat tantangan dari Wi Kong Siansu, maka ia merasa kebetulan sekali kini dapat menghadapi ilmu pedang pendeta itu yang dimainkan oleh seorang muridnya yang pandai. Menurut taksirannya, ilmu pedang yang dimainkan oleh Kam Seng ini baru paling banyak tujuh puluh bagian tingkatnya.

Maka ia lalu mencabut sulingnya yang selalu terselip di pinggangnya. Pendekar Bodoh boleh ketinggalan pakaian atau uang, akan tetapi ia tak pernah ketinggalan suling dan pedangnya! Suling ini merupakan senjatanya yang istimewa, bahkan lebih lihai daripada pedangnya Liong- cu-kiam! Setelah mencabut sulingnya, makin ramailah pertempuran itu. Pendekar Bodoh kini mempergunakan sulingnya untuk mengimbangi ilmu pedang Kam Seng.

Sesungguhnya kalau dia mau, dalam dua puluh jurus saja pasti ia akan dapat merobohkan Kam Seng, akan tetapi Pendekar Bodoh memang ingin sekali mengukur sampai di mana kelihaian ilmu pedang ini yang kelak akan dihadapinya pula. Sampai penuh keringat tubuh Kam Seng. Cin Hai berhasil memancingnya sehingga pemuda itu menghabiskan seluruh jurus dari ilmu pedang yang dipelajarinya dari Wi Kong Siansu! Memang inilah maksudnya, dan setelah ilmu pedang itu habis dimainkan, Cin Hai lalu mengerahkan tenaga pada sulingnya sehingga ketika pedang dan suling menempel, pedang itu tak dapat ditarik kembali! Betapapun hebat Kam Seng mengeluarkan tenaga untuk membetot pedangnya, tetap saja pedang itu tak dapat terlepas dari suling yang menempelnya. Akhirnya Cin Hai menggerakkan tangannya membetot dan sambil berseru keras Kam Seng terpaksa melepaskan gagang pedangnya karena tidak kuat menghadapi tenaga tarikan luar biasa ini.

"Kam Seng, kau memiliki bakat yang cukup baik.

Sayang sekali kau mempelajari ilmu silat yang keliru.

Kepandaianmu kalau dibandingkan dengan kepandaian ayahmu, ah, kau ketinggalan amat jauh! Kalau saja kau tidak dibikin buta oleh dendam dan sakit hati yang bodoh dan sesat, aku akan suka sekali memberi bimbingan kepadamu, mengingat hubunganku dengan mendiang ayahmu."

Kam Seng menjadi malu sekali. "Aku sudah kalah..." katanya dengan muka ditundukkan dan air matanya hampir menitik turun, wajahnya merah sekali. "Kalau Ji- wi menganggap aku tersesat dan jahat, bunuhlah, apa gunanya hidup dalam kesesatan dan kehinaan?"

Cin Hai merasa terharu melihat keadaan putera dari Song Kun ini, maka ia lalu melangkah maju mengembalikan pedang yang dirampasnya dan menepuk-nepuk pundaknya. "Anak muda, aku tidak dapat menyalahkan engkau! Aku sendiri di waktu muda selalu menjadi korban dari nafsu sendiri, melakukan perbuatan tanpa dipikir dulu dan menganggap diri sendiri selalu benar! Ketahuilah, bahwa kebaktian terhadap orang tua bukan asal berbakti saja. Membela nama orang tua bukanlah asal kau dapat membasmi musuh-musuh orang tuamu saja. Kau harus dapat mempergunakan akal sehat dan otak yang jernih. Apabila orang tuamu melakukan sesuatu kesalahan, sebagaimana sudah menjadi lajimnya setiap manusia kadang-kadang tersesat dari jalan kebenaran, jalan satu-satunya bagimu untuk berbakti ialah dengan menebus kesalahan orang tuamu itu. Biarpun ayahmu telah dianggap jahat oleh dunia kang-ouw dan oleh orang-orang gagah, akan tetapi kalau kau sebagai putera tunggalnya dapat melakukan kebaikan, nama buruk ayahmu itu akan terhapus oleh perbuatan-perbuatanmu yang mulia. Sebaliknya, kalau kau dibutakan oleh dendam tanpa melihat sebab-sebab kematian ayahmu, kau berarti akan menambah kotor nama ayahmu sehingga kau merupakan seorang anak yang durhaka!"

Kam Seng memandang dengan wajah pucat dan kedua matanya terbelalak. Tak pernah disangkanya bahwa ia akan menerima wejangan seperti ini dari mulut musuh besarnya! Ia makin ragu-ragu, tak tahu apa yang harus diucapkan maupun dilakukannya.

"Ketahuilah bahwa kita semua ini berada di bawah pengaruh hukum alam, yaitu sebab dan akibat. Segala peristiwa yang terjadi merupakan akibat dan juga menjadi sebab peristiwa lain yang akan terjadi. Kematian ayahmu di dalam tanganku juga merupakan akibat yang kini menyebabkan kau mencari dan hendak membalas padaku! Maka aku tidak marah kepadamu, karena di dalam segala petistiwa yang kujumpai, aku menengok dan mencari pada sebabnya. Tak mungkin kau hendak membunuhku tanpa sebab, seperti juga tidak mungkin tanganku membunuh ayahmu jika tidak ada sebab-sebab yang kuat! Carilah sebab-sebabnya dan kau tidak akan kaget melihat akibatnya karena kalau sebab-sebabnya sudah kau ketahui, akibat-akibatnya akan kauanggap sewajarnya!"

Tunduklah hati Kam Seng mendengar ucapan yang mengandung filsafat tinggi akan tetapi mudah ditangkap ini. Ia lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Cin Hai dan tak dapat menahan isak tangisnya! "Susiok (Paman guru), ampunkanlah teecu dan ampunkan pula semua dosa mendiang ayahku..." katanya dengan hati terharu.

"Tidak ada salah atau benar dalam hal ini, Kam Seng, dan tidak perlu maaf-memaafkan. Di dalam setiap perbuatan itu terkandung kesalahan dan kebenaran, tergantung yang melihatnya. Aku sudah cukup girang melihat kau dapat berpikir dengan otak sehat." Cin Hai mengangkat pemuda itu berdiri lagi.

"Bagus, semua kegelapan sudah menjadi terang sekarang," kata Kwee An. "Akan tetapi, Kam Seng, kau masih harus menerangkan tentang keadaan puteraku dan juga tentang keadaan Goat Lan dan Hong Beng.

Kedatanganmu memberitahukan kepada mereka itu bukankah hanya satu pancingan belaka?"

"Tidak, Kwee Tai-hiap, sama sekali tidak! Biarpun harus kuakui bahwa aku telah salah memilih kawan dan telah terjerumus ke dalam lembah kejahatan, namun aku tetap tidak menjadi seorang pengkhianat negara dan bangsa! Aku merasa jijik melihat Susiok Ban Sai Cinjin, dan merasa sayang bahwa aku tak dapat menegurnya.

Sesungguhnya, ketika aku melihat bahwa puteramu yang masih kecil itu datang bersama Ban Sai Cinjin dan mendengar bahwa ia hendak menggunakan puteramu itu untuk mencegah orang-orang gagah membantu tentara kerajaan, aku menjadi gelisah sekali. Hendak menolong dan membawa pergi puteramu, aku tidak berani. Maka aku lalu berlaku nekat dan diam-diam mengunjungi benteng Alkata-san di mana aku bertemu dengan Nona Goat Lan dan Saudara Hong Beng. Aku menjelaskan maksud kedatanganku dan bahwa aku memberi gambaran tentang jalan belakang yang akan membawa mereka ke tempat kediaman Ban Sai Cinjin dan yang lain-lain. Sudah kukatakan bahwa tempat itu berbahaya sekali, akan tetapi ternyata Nona Goat Lan dan Saudara Hong Beng nekat dan datang juga ke sana..."

"Lalu bagaimana? Apa yang terjadi dengan mereka?" tanya Kwee An dengan rasa ingin tahu sekali.

"Mereka juga telah tertawan oleh Ban Sai Cinjin!" kata Kam Seng. "Oleh karena itu siauwte sengaja hendak pergi ke benteng Ji-wi untuk memberitahukan hal ini dan tak terduga sama sekali telah bertemu dengan Ji-wi di sini."

"Tak mungkin!" kata Kwee An.

"Sukar dipercaya bahwa Hong Beng dan Goat Lan akan dapat tertawan sedemikian mudahnya," kata Cin Hai.

Kam Seng tersenyum. "Harus diakui bahwa kepandaian Nona Goat Lan dan Saudara Hong Beng cukup lihai dan memang agaknya akan sukar sekali mengalahkan dan menawan mereka. Akan tetapi dalam hal kecerdikan, mereka itu masih kalah jauh oleh orang- orang seperti Ban Sai Cinjin! Mereka berdua bukan tertawan karena kekerasan, akan tetapi mereka terpaksa mengalah dan menurut setelah Ban Sai Cinjin mengancam hendak membunuh Kwee Cin kalau mereka melawan terus!"

"Pengecut hina dina yang curang!" Kwee An berseru marah. "Akan kuhancurkan kepala manusia itu!"

"Kwee Tai-hiap, bagaimana kalau Ban Sai Cinjin mengancam padamu untuk membinasakan puteramu sebelum kau turun tangan?" tanya pemuda itu. Kwee An tak dapat menjawab, hanya mengertak gigi dengan marah dan gemas sekali.

"Kam Seng, kau yang mengetahui keadaan mereka, tidak maukah kau menolong kami? Tidak maukah kau melawan kejahatan dan membela kebenaran untuk menebus nama buruk mendiang ayahmu?" kata Cin Hai.

"Susiok, kedatangan teecu seperti telah kuceritakan tadi, sesungguhnya untuk memberi tahu kepada benteng tentara kerajaan. Sebetulnya tak usah dikuatirkan karena Kwee Cin telah diminta oleh Malangi Khan dan dijadikan kawan bermain putera Malangi Khan yang bernama Kamangis dan yang usianya sebaya. Untuk sementara ini, biarpun Ban Sai Cinjin sendiri tidak boleh berlaku sesuka hatinya untuk membunuh Kwee Cin yang disuka oleh Kamangis putera Malangi Khan! Akan tetapi, untuk merampas kembali anak itupun bukan merupakan hal yang mudah." Kemudian dengan jelas Kam Seng lalu menggambarkan tempat kedudukan Ban Sai Cinjin dan juga istana Malangi Khan di dalam benteng itu yang berada di tengah-tengah. Setelah menuturkan semua ini, Kam Seng lalu minta diri untuk kembali ke benteng Mongol itu. Ia berjanji bahwa ia akan memasang telinga dan mata serta akan berusaha menolong Goat Lan dan Hong Beng.

"Betapapun juga, kita harus berusaha menolong Cin- ji," kata Kwee An kepada Cin Hai setelah Kam Seng pergi.

Cin Hai mengerutkan kening. "Sekarang lebih ruwet lagi. Kalau kita berkeras memasuki istana Malangi Khan dan andaikata berhasil merampas dan menyelamatkan Cin-ji bagaimana dengan nasib Goat Lan dan Hong Beng? Dan di mana pula adanya Lili? Ah, kita harus mencari akal dan berlaku hati-hati." Kedua orang pendekar besar itu duduk di bawah pohon dan bertukar pikiran. Kemudian mereka mengambil keputusan untuk berpisah. Cin Hai hendak menuju ke tengah benteng, masuk ke dalam istana Malangi Khan, adapun Kwee An akan mencari Goat Lan dan Hong Beng di belakang benteng, di tempat tinggal Ban Sai Cinjin dan kaki tangannya. Kwee An menyetujui hal ini oleh karena ia pun mengakui bahwa Cin Hai memiliki kepandaian yang lebih tinggi maka patut menerima tugas yang lebih berbabaya dan berat.

Dengan ilmu lari cepat mereka, keduanya lalu melanjutkan perjalanan, mengitari bukit itu untuk masuk melalui belakang benteng. Tepat seperti yang dituturkan oleh Nurhachu orang Haimi itu dan juga seperti yang digambarkan oleh Kam Seng, jalan itu sunyi saja, akan tetapi penuh hutan yang amat liar dan menyeramkan.

Ketika mereka melintas dengan cepat melalui sebuah hutan, dari jauh nampak bayangan orang yang berjalan cepat. Cin Hai dan Kwee An merasa curiga, cepat mereka melompat ke arah bayangan itu, akan tetapi ketika mereka tiba di situ, bayangan itu berkelebat dan lenyap dari pandangan mata mereka! Cin Hai dan Kwee An saling pandang heran.

"Apakah ada setan di tengah hari?" tanya Kwee An.

Siapakah orangnya yang dapat menghilang dari depan mata mereka sedemikian anehnya? Juga Cin Hai merasa heran sekali. Kalau bayangan tadi benar-benar seorang manusia, maka kepandaian gin-kangnya agaknya tidak berada di sebelah bawah kepandaiannya sendiri! Gerakan seperti itu menurut ingatannya hanya dimiliki oleh suhunya, yakni Bu Pun Su, atau orang-orang seperti Swi Kiat Sansu, Pok Pok Sianjin, Hok Peng Taisu dan tokoh- tokoh tinggi lain yang kesemuanya telah meninggal dunial "Mungkin kita salah lihat," katanya karena bukan menjadi watak Pendekar Bodoh untuk mengganggu orang yang tidak memperlihatkan diri, "kita mempunyai tugas yang lebih penting." Mereka melanjutkan perjalanan dan tak lama kemudian mereka tibalah di bawah tembok benteng sebelah belakang dari benteng tentara Mongol itu.

Mereka mempergunakan gin-kang yang hebat dan melompat ke atas tembok. Dari sini mereka berpisah. Cin Hai terus berlari-larian di atas tembok yang tingginya kira-kira empat tombak dan lebarnya hanya kurang dari satu kaki itu. Tembok ini memanjang sampai beberapa belas li dan Cin Hai terus berlari mencari-cari bangungan istana kepala bangsa Mongol. Beberapa orang penjaga yang mulai banyak terlihat setelah ia berlari kurang lebih dua li, melihat bayangannya, akan tetapi tak seorang pun di antara mereka yang dapat mengejar. Bahkan sebagian besar mengira bahwa yang melayang itu bukanlah seorang manusia, melainkan seekor burung besar.

Gerakan Cin Hai amat cepat sehingga kalau tidak kebetulan, jarang ada penjaga yang dapat melihatnya! Sementara itu, Kwee An setelah berada di atas tembok dan melihat betapa keadaan di bawah sunyi saja, lalu melayang turun. Memang benar bahwa di situ tidak terjaga sama sekali dan di bawah dinding ini hanya merupakan belukar yang tidak terurus. Jauh di depan nampak tembok-tembok bangunan yaitu bagian paling belakang dari benteng Mongol itu. Kwee An berlaku hati- hati sekali. Waktu itu udara mulai gelap karena matahari telah bersembunyi di barat. Ia pikir bahwa kalau ia berlaku sembrono dan menyerbu pada malam hari itu sehingga terlihat oleh musuh, maka keselamatan Goat Lan dan Hong Beng akan terancam. Dari Kam Seng ia mendapat keterangan bahwa Goat Lan dan Hong Beng ditahan di dalam rumah kecil yang berada di tengah- tengah kampung dalam benteng itu, tidak jauh dari rumah yang ditinggali oleh Ban Sai Cinjin. Goat Lan ditahan di dalam kamar sebelah kiri dan Hong Beng di kamar ke dua sebelah kanan. Di depan dan belakang, pendeknya rumah itu dikelilingi oleh penjaga-penjaga yang sebenarnya bukan menjaga untuk menghalangi dua orang muda ini pergi, hanya untuk melihat saja kalau mereka pergi, akan segera dilaporkan dan Kwee Cin akan dibunuh! Kwee An dengan perlahan bergerak maju di balik belukar dan mengintai ke arah kampung itu. Ia menanti sampai gelap benar barulah ia menggunakan kepandalannya masuk ke dalam kampung itu dan melompat naik ke atas wuwungan rumah. Ia melompat dari genteng ke wuwungan lain dan akhirnya dapat mendekati rumah kecil di mana puterinya dan Hong Beng ditahan. Benar saja, di seputar rumah itu dipasang kursi dan meja di mana duduk para penjaga yang nampaknya enak-enak saja, karena mereka tidak ditugaskan untuk mencegah kedua orang muda itu melarikan diri. Kalau sampai dua orang muda itu memberontak dan melarikan diri, apakah yang dapat mereka lakukan terhadap dua orang gagah itu? Kwee An memandang ke arah jendeta dan dalam cahaya yang remang-remang ia melihat bayangan seorang gadis yang berpinggang langsing melalui tirai jendela. Hatinya berbedar. Itulah Goat Lan, tak salah lagi! Ingin ia melompat turun dan mengamuk, membunuh para penjaga yang tak berarti itu bahkan kalau perlu mencari dan membunuh Ban Sai Cinjin. Akan tetapi ia tidak berani melakukan ini sebelum Kwee Cin dapat tertolong oleh Cin Hai. Pula, sudah jelas bahwa Goat Lan dan Hong Beng tidak mengalami penderitaan dan hanya ditahan karena dua orang muda itu takut kalau-kalau Kwee Cin dibunuh, maka perlu apa menguatirkan keadaan dua orang muda ini? Lebih baik aku menyusul Cin Hai dan lebih dulu menyelamatkan Kwee Cin pikirnya. Akan tetapi, sebelum ia berangkat meninggalkan tempat itu untuk menuju ke selatan di mana terdapat istana Malangi Khan yang terpisah jauh, ia mendengar suara orang memaki-maki dan nampaklah Ban Sai Cinjin yang diikuti oleh lima orang lain berjalan ke arah rumah kecil itu.

Sebelum - Beranda - Lanjut

Tidak ada komentar:

Posting Komentar