20 Pendekar Bodoh

Pribadinya tinggi dan hal ini sudah ia buktikan ketika pemuda itu mendapatkan dirinya yang berada dalam keadaan setengah telanjang itu dan ketika pemuda ini merawatnya dengan penuh kesabaran dan ini saja sudah menunjukkan bahwa pemuda ini betul-betul mencintanya dengan sepenuh jiwa. Terutama sekali, dalam hal usia pemuda ini sebanding dengan dia! Apa lagi? Pemuda ini bahkan telah menolong jiwanya hingga sampai mati pun belum tentu ia bisa membalas budinya. Akan tetapi, kalau ia menerima pinangan itu, seakan-akan ia terlalu murah memberi harga pada dirinya! Ia memang berwatak tinggi hati dan keras, dan tidak mau ditundukkan dengan mudah. Akan tetapi, untuk menolak ia pun tidak berani! "Suheng," katanya setelah berpikir dengan masakmasak, "aku harus menghaturkan beribu terima kasih atas budi kecintaanmu itu. Bagaimana aku dapat menolak pinangan seorang seperti kau? Akan tetapi hal ini terjadi terlalu tiba-tiba hingga aku belum dapat memutuskannya karena masih merasa bingung! Sekarang beginilah saja, Suheng. Biarlah kauanggap aku telah menerima pinanganmu itu dan aku pun takkan malu-malu mengaku bahwa aku telah menjadi tunanganmu. Akan tetapi, soal pernikahan antara kita baru dapat terlaksana setelah kau memenuhi beberapa syarat!"

Kong Sian tersenyum dan dari ucapan ini saja ia yang sudah paham akan tabiat manusia, dapat mengetahui bahwa gadis kekasih hatinya ini memiliki adat yang tinggi dan keras! Ia menjawab sambil masih tersenyum.

"Sumoi, katakanlah, apa syarat-syaratmu itu?"

"Pertama, kau harus menanti sampai aku dapat bertemu kembali dengan kawan-kawanku, terutama dengan Cin Hai dan Lin Lin. Sebelum aku dapat mempertemukan kedua sejoli ini atau melihat mereka telah berkumpul kembali, tak mungkin aku dapat mengikat diri dengan laki-laki lain!"

Kong Sian mengangguk-angguk, karena maklum akan isi hati Ang I Niocu.

"Kedua, kita harus mendapat perkenan dari Suhu Bu Pun Su, oleh karena dulu Beliau mempunyai maksud dan kehendak untuk menjodohkan aku dengan Kang Ek Sian, yang biarpun mencintaku, akan tetapi tak kubalas cintanya itu."

Syarat ke dua ini diam-diam menggirangkan hati Kong Sian, oleh karena dari ucapan terakhir yang menyatakan bahwa gadis ini tidak menerima pinangan Kang Ek Sian oleh karena tidak mencintanya, hampir menyatakan bahwa biarpun sedikit, gadis ini "ada hati" kepadanya, kalau tidak, tentu ia akan menolaknya pula! Maka ia mengangguk-angguk kembali dengan mulut tersenyum.

"Ke tiga," kata lagi Ang I Niocu, "kau harus keluar dari pulau ini dan turun ke dunia ramai untuk mencari sutemu Song Kun itu dan memenuhi pesan Suhumu, yaitu menasihatinya atau menggunakan kekerasan terhadapnya."

"Ah, yang ke tiga ini berat sekali, Sumoi! Kau tahu bahwa aku amat mencintanya dan tidak tega untuk mencelakakannya!"

"Inilah kelemahan yang membuat hatiku tidak puas! Kau tidak tega kepada Sutemu karena kau mencintanya, akan tetapi apakah kau bertega hati melihat betapa wanita-wanita diganggunya? Kelemahanmu ini menimbulkan ketidak-adilan dalam hatimu yang tidak layak dan tidak patut dipunyai oleh seorang pendekar silat."

Kong Sian menghela napas dan menjawab, "Biarlah, hal ini perlu kurenungkan dan kupikirkan baik-baik, sumoi. Masih ada lagikah syarat-syaratmu?"

Pertanyaan ini membuat Ang I Niocu menjadi merah mukanya karena ia telah merasa keterlaluan mengajukan sekian banyak syarat. Akan tetapi, syarat-syarat itu setidaknya dapat "mengangkat" harga dirinya, tidak semurah kalau ia menerimanya mentah-mentah! "Masih ada satu lagi," katanya dengan muka merah dan menundukkan kepala, "akan tetapi yang terakhir ini baru akan kuceritakan kalau kau telah memenuhi yang ketiga itu."

"Baiklah, Sumoi. Kuterima syarat-syaratmu." Kemudian Lie Kong Sian meloloskan pedangnya dari pinggang dan memberikan itu kepada Ang I Niocu berkata, "Sumoi, terimalah Cian-hong-kiam ini sebagai bukti daripada ikatan yang ada di antara kita, dan biarlah Thian yang menjadi saksi atas pertunangan kita ini." Kata-kata ini diucapkan dengan suara menggetar hingga mengharukan hati Ang I Niocu yang menerima pedang itu.

Kemudian Ang I Niocu mengambil perhiasan rambutnya yang terbuat daripada mutiara dan memberikannya kepada Kong Sian. "Aku tidak mempunyai apa-apa, Suheng dan biarlah benda ini menjadi bukti daripada kesetiaanku."

Tidak ada upacara yang mengesahkan pertunangan mereka itu selain daripada penukaran barang yang dilakukan dengar sikap sederhana ini akan tetapi diramaikan oleh pertemuan pandang mata mereka yang menembus ke hati masing-masing.

Setelah itu, Ang I Niocu lalu berpamit hendak pergi mencari Cin Hai dan Lin Lin. Kong Sian lalu mengambil perahunya dan ia lalu mengantarkan tunangannya itu sampai ke darat di pesisir Tiongkok. Si Rajawali Emas tidak ketinggalan, ikut mengantar sambil terbang di atas perahu itu.

Ketika keduanya telah mendarat dan Ang I Niocu hendak meninggalkannya, mereka saling pandang dan Ang I Niocu berbisik, "Semoga Thian memberkahi perjodohan kita dan semoga cita-cita kita bersama akan terlaksana, Koko."

Kedua mata Kong Sian menjadi basah karena terharu dan girang mendengar sebutan ini dan makin yakinlah ia bahwa diam-diam Ang I Niocu juga mempunyai perasaan yang sama dengan perasaan hatinya. "Selamat Jalan, Moi-moi, dan Sin-kim-tiauw biarlah mengawanimu."

Ang I Niocu girang sekali. Ia berkata epada burung rajawali itu, "Sin-kim-tiauw, kau ikutlah padaku!"

Burung itu agaknya mengerti ucapan ini, karena ia lalu menoleh kepada Kong Sian seakan-akan minta perkenannya. Ia takkan berani pergi sebelum mendapat perkenan dari Kong Sian.

"Pergilah kau ikut dia, Kim-tiauw, dan jagalah dia baikbaik!"

Burung itu lalu mengeluarkan bunyi karena girang dan ketika Ang I Niocu berlari cepat-cepat meninggalkan tempat itu, ia lalu terbang dan mengejar. Kong Sian kembali ke pulaunya untuk merenungkan peristiwa yang tak tersangka-sangka telah terjadi dalam hidupnya itu.

Demikianlah kisah pengalaman Ang I Niocu yang disangka telah tewas itu. Beberapa bulan lamanya ia merantau mencari-cari Cin Hai dan Lin Lin. Ia kembali ke pesisir dari mana ia menyeberang ke Pulau Kim-san-to, akan tetapi ia tidak mendapatkan jejak kawan-kawannya hingga ia lalu menuju ke barat. Oleh karena mendengar bahwa Lin Lin ikut dengan seorang Turki dan bahwa pada waktu itu daerah Kansu banyak terdapat orangorang Turki, ia lalu merantau ke barat.

Pada suatu hari ia tiba di sebuah bukit di daerah Suiyan.

Ia berlari cepat akan tetapi Sin-kim-tiauw telah mendahuluinya, terbang rendah sambil mengeluarkan bunyi karena ia merasa girang bahwa Ang I Niocu tidak dapat mengejarnya! Tiba-tiba burung itu memekik keras dan pekik kemarahan ini mengherankan Ang I Niocu dan membuatnya mempercepat larinya. Ketika ia tiba di tempat itu, ia menjadi marah sekali oleh karena melihat betapa tiga orang-orang tua sedang melempar-lempar batu kecil ke arah Sin-kim-tiauw yang beterbangan dan menyambar-nyambar di atas mereka dengan marah! Burung itu cepat mengelak dan mengebut sambitan batu dengan sayapnya dan orang-orang tua itu berseru kagum, "Burung bagus!"

Ketiga orang tua itu adalah seorang nenek buruk rupa, berhidung panjang dan bongkok seperti hidung kakak tua, dan berpunggung bongkok seperti punggung onta, sedangkan dua orang tua lainnya adalah seorang kakek berjubah hitam dan bersorban dan seorang lagi tosu yang bermata lebar.

Melihat betapa rajawali itu dapat mengelak dari setiap sambitan, bahkan sebuah batu yang dikebut oleh sayapnya terbalik meluncur ke arah nenek itu, Si Nenek Tua yang buruk menjadi marah.

"Burung siluman! Rasakan sambitanku ini!" Dan ketika ia menggerakkan tangan kanannya, puluhan batu-batu kecil melayang dengan hebatnya ke arah tubuh rajawali emas! Sin-kim-tiauw cepat mengelak dan mengebut dengan sayapnya, akan tetapi sebuah dari pada batubatu itu tepat mengenai pahanya hingga ia merasa sakit sekali dan memekik-mekik kesakitan! "Nenek jahat! Jangan kau mengganggu burungku!"

Ang I Niocu berseru marah sambil melompat ke hadapan nenek itu. Ketika melihat seorang gadis baju merah melompat maju dan menegurnya, nenek itu menjadi marah dan tanpa berkata sesuatu lalu menyerang dengan cengkeraman tangannya ke arah pundak Ang I Niocu! Dara Baju Merah ini segera mengangkat lengan dan menangkis, akan tetapi ia menjadi terhuyung ke belakang oleh karena ternyata bahwa tenaga lengan tangan nenek itu besar sekali! Melihat kelihaian nenek ini, Ang I Niocu segera mencabut pedangnya Cian-hongkiam pemberian Lie Kong Sian dan segera menyerang dengan cepat.

Dan pada saat ia bertempur dengan seru melawan nenek bongkok itu, datanglah Kwee An dan Ma Hoa yang terheran-heran melihat Dara Baju Merah yang tadinya disangka telah mati itu! Dua orang kakek yang tadinya hanya menjadi penonton saja, ketika melihat betapa Nona Baju Merah ternyata lihai sekali ilmu pedangnya dan dapat mendesak nenek bongkok, segera berseru keras, dan maju menyerbu dengan kebutan ujung lengan baju mereka yang panjang. Ang I Niocu merasa terkejut oleh karena sambaran angin pukulan mereka ternyata lebih hebat daripada serangan nenek bongkok itu, terutama pendeta yang bersorban! Maka ia lalu memutar pedangnya dengan lebih cepat lagi, mainkan ilmu pedangnya Ngolian- hoan-kiamhwat.

Kwee An dan Ma Hoa melihat hal ini lalu menerjang dengan pedang di tangan, membantu Ang I Niocu.

Mereka berdua telah bermufakat untuk diam saja dan tidak menegur Ang I Niocu, untuk membuktikan bahwa benar-benar Dara Baju Merah itu Ang I Niocu. Ketika melihat dua bayangan berkelebat membantunya dan ternyata bahwa dua orang penolong itu adalah Kwee An dan Ma Hoa, bukan main girangnya dan segea menegur, "Ma Hoa... Kwee An.,."

Berdebarlah tubuh kedua anak muda itu mendengar suara ini karena kini mereka tak perlu merasa ragu-ragu lagi, terutama sekali Ma Hoa yang tak dapat menahan isaknya! Sambil menangkis ujung lengan baju pendeta bersorban yang melayang ke arah mukanya, ia berseru dengan isak tertahan, "Enci Im Giok...!"

Juga Kwee An berseru girang, "Ang I Niocu...!"

Sementara itu, ketiga orang tua yang mendengar nama Ang I Niocu disebut-sebut, segera melompat mundur dengan terkejut. Kesempatan ini digunakan oleh Ma Hoa dan Ang I Niocu untuk saling tubruk dan saling peluk.

"Enci Im Giok..., kau... kau masih hidup...?"

"Adik Ma Hoa..." mereka berpelukan sambil mencucurkan air mata karena girang dan keduanya saling pandang dan tersenyum.

"Ha, ha, jadi kau adalah Ang I Niocu, Ma Hoa, dan Kwee An?" berkata tosu tadi. "Kebetulan sekali!"

Juga nenek bongkok itu lalu berkata, "Hm, memang sudah takdir bahwa kalian harus mampus di tangan kami! Ang I Niocu, ketahuilah bahwa aku adalah Siok Kwat Moli dan kedua kakek ini adalah sahabat-sahabat baikku. Mereka bernama Wai Sauw Pu dan Lok Kun Tojin." Ia menunjuk ke arah pendeta bersorban lalu ke arah tosu itu. "Tak perlu aku bercerita panjang lebar mengapa kami memusuhi kalian, cukup kalau kuberi tahu bahwa Hai Kong Hosiang yang kalian siksa itu adalah suhengku!"

Mengertilah Ang I Niocu dan kedua orang kawannya sekarang, dan mereka maklum bahwa pertempuran matimatian tak dapat dielakkan lagi.

"Memang burung gagak selalu berkawan dengan burung-burung mayat juga!" kata Ang I Niocu sambil tersenyum sindir. "Hai Kong Hosiang belum terhitung jahat kalau belum mempunyai seorang sumoi seperti kau ini dan mempunyai sahabat-sahabat yang terdiri dari pendeta-pendeta palsu pula!"

Bukan main marahnya ketiga orang itu mendengar hinaan ini. Sambil berseru keras, nenek itu lalu mencabut keluar senjata yang istimewa, yaitu sehelai sabuk kuning emas yang panjang hingga ketika ia pegang dengan kedua tangan maka merupakan sepasang senjata lemas yang luar biasa. Wai Sauw Pu pendeta yang bersorban itu adalah seorang dari Sin-kiang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi dan ia pun telah kena terbujuk oleh Hai Kong Hosiang hingga ikut pula membela pendeta gundul itu. Pendeta bersorban ini mengeluarkan senjatanya yang jarang terlihat, yaitu seuntai tasbeh terbuat daripada gading gajah yang merupakan lingkaran panjang. Lok Kun Tojin, seorang pertapa yang sakti dari Thaisan, juga mencabut senjatanya yang lebih lihai, yaitu sepasang roda memakai tali hingga roda-roda itu kalau digerakkan bisa berputaran bagaikan kitiran dan membuat bingung kepada lawannya.

Sambil berseru keras, ketiga orang itu lalu menyerbu.

Si Nenek bongkok menghadapi Ang I Niocu, pendeta bersorban menghadapi Ma Hoa, dan tosu itu menghadapi Kwee An. Pertempuran hebat segera berlangsung dengan ramai sekali. Ang I Niocu memegang pedang Cian-hoan-kiam pemberian Lie Kong Sian, sebatang pedang pusaka yang ampuh. Kwee An memegang pedang Oei-kang-kiam pemberian Meilani, juga pedang pusaka hingga ia tidak takut menghadapi roda-roda Lok Kun Tojin. Sedangan Ma Hoa dengan sepasang bambu runcingnya yang dimainkan secara luar biasa itu dapat mengimbangi permainan tasbeh yang hebat dari Wai Sauw Pu! Setelah bertempur belasan jurus, ketiga orang tua itu baru benar-benar merasa terkejut oleh karena tadinya mereka memandang rendah kepada tiga orang lawan muda itu yang sama sekali tak pernah mereka sangka demikian lihainya.

Ang I Niocu maklum akan kelihaian Kwee An, maka ia tidak perlu menguatirkan keadaan pemuda itu, akan tetapi tadinya ia merasa cemas melihat betapa Ma Hoa menghadapi kakek bersorban yang nampaknya kuat dan lihai sekali. Namun begitu ia melihat permainan bambu runcing Ma Hoa, diam-diam ia merasa amat kagum dan juga heran, maka dengan hati gembira Ang I Niocu lalu melayani nenek bongkok sambil berkata kepada Ma Hoa, "Adikku, kau kini hebat sekali!" Mendengar pujian ini, Ma Hoa lalu mengeluarkan seluruh kepandaiannya yang baru saja didapatnya dari Hok Peng Taisu dan biarpun tasbeh di tangan kakek bersorban itu luar biasa gerakannya, akan tetapi sepasang bambu runcingnya juga merupakan senjata lihai yang gerakannya belum dikenal oleh Wai Sauw Pu! Adapun rajawali emas yang masih beterbangan dan berputar-putar di atas kepala mereka yang sedang bertempur, kini mulai menyambar turun dan membantu.

Yang terutama dibantunya ialah Ang I Niocu dan beberapa kali ia menyerang kepala nenek bongkok itu hingga Si Nenek Bongkok memaki-maki kalang kabut, "Burung jahanam! Burung siluman! Akan kusembelih lehermu, kumakan dagingmu mentah-mentah!" Sambil berkata demikian, dengan tangan kanan menggunakan sabuknya untuk melayani Ang I Niocu sedangkan ujung sabuk di tangan kiri beberapa kali mengebut ke arah Sinkim- tiauw tiap kali burung itu menyambar turun.

Tiba-tiba ketika burung itu menyambar turun tosu yang berkelahi melawan Kwee An, menggerakkan roda di tangan kirinya dan roda itu terputar cepat menyambar ke arah burung yang terbang di atas kepala nenek bongkok itu! Ternyata bahwa tali yang di tengah-tengah roda amat panjangnya hingga roda itu dapat terbang tinggi dan jauh! Hampir saja rajawali itu terkena hantaman roda, baiknya ia cepat mengelak dan terbang ke atas sambil berteriak marah. Kini ia menyambar turun dan menyerang Lok Kun Tojin! "Sin-kim-tiauw, jangan!" teriak Ang I Niocu oleh karena gadis ini maklum betapa lihainya roda-roda tosu itu. Akan tetapi rajawali yang sedang marah ini mana mau mendengarkan cegahannya, tetap menyerang dan menyambar-nyambar dengan ganasnya.

"Sin-kim-tiauw, tak maukah kau menurut perintahku?" bentak Ang I Niocu dan suaranya menyatakan kemarahan besar yang terdorong oleh kekuatirannya.

Rajawali itu terkejut mendengar bentakan Ang I Niocu dan pada saat itu, sebuah roda dari Lok Kun Tojin dengan keras mengenai dadanya! Burung itu terpental ke atas udara sambil berteriakteriak kesakitan. Kemudian, karena merasa dadanya sakit sekali dan pula karena mendongkol mendengar bentakan dan cegahan Ang I Niocu yang dibelanya, ia lalu terbang tinggi sekali dan terus terbang pergi jauh! Ang I Niocu merasa cemas sekali, sebaliknya Lok Kun Tojin merasa pukulan rodanya tadi amat berbahaya dan keras. Jangankan kulit daging, bahkan batu karang pun akan hancur apabila terpukul oleh rodanya, akan tetapi burung itu tidak tewas karenanya bahkan lalu terbang pergi dengan cepat! Dengan Ilmu Silat Bambu Runcing yang lihai, Ma Hoa dapat membikin jerih hati lawannya yang sebenarnya masih lebih tinggi ilmu silatnya. Sedangkan ilmu pedang Ang I Niocu juga membuat nenek bongkok itu merasa gentar. Tak pernah disangkanya bahwa musuh-musuh suhengnya yang muda-muda memiliki ilmu kepandaian yang begini luar biasa. Tidak heran apabila suhengnya yang lihai itu sampai kena dikalahkan. Sebaliknya, biarpun ilmu pedang yang dimiliki Kwee An juga bukan ilmu pedang sembarangan, yaitu ilmu pedang Kim-sanpai warisan suhunya yang pertama, yaitu Eng Yang Cu, dan Ilmu Pedang Hai-liong-kiam-sut warisan Nelayan Cengeng, akan tetapi sepasang roda di tangan tosu yang menjadi lawannya itu benar-benar luar biasa. Beberapa kali pemuda ini hampir saja menjadi korban pukulan roda, untung ia masih dapat mengelak sambil mengeluarkan ilmu silat yang ia pelajari dari Hek Mo-ko, hingga Lok Kun Tojin merasa kagum. Jarang sekali tosu ini mendapat lawan yang dapat mengimbangi ilmu kepandaiannya dan sekarang, baru saja ia turun gunung dan bertemu dengan musuh-musuh sahabatnya, ia telah bertemu dengan seorang pemuda yang dapat bertahan melawannya sampai hampir seratus jurus! Kwee An maklum bahwa apabila dilanjutkan, ia takkan menang dan juga kedua orang kawannya belum tentu akan dapat menang pula, maka ketika ia melihat rajawali terbang pergi, ia mendapat akal dan berkata, "Bagus, Sin-kim-tiauw tentu akan memanggil Suhumu!"

Benar saja, ucapan ini membuat ketiga orang tua itu merasa kaget dan kuatir, baru murid-muridnya saja sudah begini lihai, apalagi kalau suhunya yang datang! Maka, nenek bongkok itu berkata, "Jiwi bengyu, mari kita pergi! Kita jumpai Hai Kong lebih dulu, lain kali mudah untuk mengambil nyawa ketiga tikus kecil itu!"

Ketiga orang tua itu lalu melompat pergi dan segera lari secepatnya meninggalkan tempat itu. Ang I Niocu yang mempunyai watak tidak mau kalah itu merasa penasaran dan kecewa, maka ia menegur Kwee An,"Kongcu, mengapa kau menggunakan akal mengusir mereka?"

"Mereka itu sebetulnya tidak mempunyai permusuhan apa-apa dengan kita, untuk apa berkelahi mati-matian?" kata Kwee An sambil menarik napas lega.

"Akan tetapi, Sin-kim-tiauw telah dilukainya!" kata Ang I Niocu.

"Belum tentu kim-tiauw itu terluka, karena kalau benar terluka, bagaimana ia bisa terbang begitu tinggi dan cepat?" Ma Hoa membela kekasihnya. "Enci Im Giok, mereka itu lihai sekali. Sudahlah jangan membicarakan mereka pula yang perlu sekarang kauceritakanlah pengalamanmu. Kami semua, terutama Cin Hai dan Lin Lin, merasa berduka sekali, karena menyangka bahwa kau tentu sudah meninggal di atas Pulau Kim-san-to yang terbakar hebat dan meledak itu." Sambil berkata demikian, Ma Hoa lalu memegang tangan Ang I Niocu dan ketiganya lalu duduk di bawah sebatang pohon untuk beristirahat dan bercakap-cakap.

Mendengar disebutnya nama Cin Hai dan Lin Lin, lenyaplah rasa kecewa dari wajah Ang I Niocu yang cantik, dan sekarang wajahnya berseri gembira. "Apa katamu? Lin Lin dan Cin Hai, apakah benar-benar mereka itu selamat dan sudah saling bertemu?"

Ma Hoa lalu menuturkan pengalaman-pengalamannya dan menuturkan segala peristiwa yang terjadi semenjak mereka berpisah juga pengalamannya sendiri ketika terjatuh dari atas tebing bersama Kwee An. Mendengar itu, Ang I Niocu mengucap syukur karena kawan-kawan baiknya telah terhindar dari bahaya maut, akan tetapi ketika mendengar betapa kini kedua orang muda itu tidak tahu bagaimana nasib Lin Lin dan Yousuf yang dikejar-kejar orang-orang Turki, di mana pula adanya Cin Hai, ia menghela napas dan berkata, "Ah, sungguh kasihan sekali Lin Lin dan Cin Hai. Baru saja bertemu, sudah harus berpisah pula. Sekarang kita harus mencari mereka sampai dapat."

"Memang kami berdua pun sedang mencari jejak mereka, Niocu." kata Kwee An. "Yang mengejar Lin Lin dan Yo-siokhu adalah orang-orang Turki, maka ketika mendengar bahwa di daerah Kansu banyak terdapat orang-orang Turki, kami lalu menuju ke barat untuk menyelidiki di sana. Tidak tahunya kebetulan sekali kita saling bertemu di sini."

"Sayang sekali Sin-kim-tiauw telah terbang pergi, entah di mana ia sekarang berada," kata Ang I Niocu.

Tentu saja ketiga orang muda ini tidak tahu bahwa Rajawali Sakti itu telah bertemu dengan Bu Pun Su hingga tertolong jiwanya, karena kakek jembel ini yang melihat Sin-kim-tiauw terbang tinggi di udara, lalu mengerahkan tenaga khikangnya memanggil, kemudian ia mengobati luka di dada burung sakti itu yang selanjutnya mengikuti kakek jembel itu.

Setelah menanti sampai senja, burung itu tidak juga kembali, Ang I Niocu, Kwee An, dan Ma Hoa lalu melanjutkan perjalanan mencari Lin Lin ke arah barat.

Tujuan mereka adalah Propinsi Kansu sebelah barat.

Cin Hai melarikan Pek-gin-ma dengan cepat, diikuti oleh burung bangau di atas kepalanya. Ia telah menjelajah di sekitar daerah perbatasan Tiongkok dan Mongol untuk mencari jejak Lin Lin dan Yousuf, akan tetapi sia-sia belaka. Akhirnya, tepat sebagaimana yang diduga oleh Kwee An dan Ma Hoa ia lalu menuju ke barat oleh karena ia pun berpikir bahwa boleh jadi Yousuf melarikan diri ke barat.

Pada suatu hari, ketika ia sedang menjalankan kudanya perlahan sambil merenungkan nasibnya yang selalu terpisah dari Lin Lin, ia merasa seakan-akan ada orang mengikutinya dari belakang. Beberapa kali ia menoleh, akan tetapi ia tidak melihat bayangan seorang pun. Akan tetapi, apabila ia melanjutkan perjalanannya, kembali ia merasa seakan akan sepasang mata memandangnya dan sepasang kaki berjalan cepat dengan amat ringannya di belakang kuda. Dengan tibatiba Cin Hai berpaling lagi, akan tetapi kembali ia kecele, oleh karena ia tidak melihat ada orang. Setankah yang mengikutinya? Atau orang yang berkepandaian tinggi? Seingatnya, yang mungkin mengikutinya secara luar biasa cepatnya dan diam-diam, tidak ada orang lain kecuali suhunya yang akan sanggup melakukannya. Akan tetapi tak mungkin suhunya mengikuti dengan diamdiam.

Cin Hai lalu melarikan kudanya cepat-cepat, akan tetapi kembali ia mendengar tindakan kaki yang amat ringannya mengikutinya dengan cepat pula. Ketika ia menengok, masih saja kosong di belakangnya, tidak nampak seorang pun.

Sungguh mengherankan, dan dengan penasaran ia lalu turun dari kudanya dan berjalan sambil menuntun Pek-gin-ma. Setelah berjalan kaki, Cin Hai makin merasa yakin bahwa benar-benar ada orang yang mengikutinya dari belakang dan orang ini tentu berkepandaian tinggi sekali oleh karena selain tindakan kakinya yang ringan sekali, juga tiap kali menengok, orang itu telah dapat melenyapkan diri dan bersembunyi dengan cara yang luar biasa. Ia dapat menduga bahwa dengan mengandalkan ginkangnya yang sempurna, tentu orang itu telah melompat ke belakang pohon pada saat ia menengok, oleh karena di sepanjang jalan yang dilaluinya memang terdapat banyak sekali pohon-pohon besar. Oleh karena ini, ia lalu mendapat akal. Ia sengaja menuntun kudanya keluar dari tempat itu dan melalui jalan yang membelok ke kanan di mana tidak terdapat sebatang pohon juga. Ia hendak melihat apakah orang itu masih berani mengikutinya dan kalau ia menengok, orang itu hendak lari bersembunyi ke mana? Benar saja, ketika ia melalui jalan yang tidak berpohon, tindakan kaki yang mengikutinya lalu berhenti.

Akan tetapi, alangkah terkejut dan herannya ketika ia mendengar lagi suara tindakan kaki itu di belakangnya.

Alangkah beraninya orang itu, pikirnya penasaran dan secepat kilat ia menggerakkan kepala berpaling memandang ke bekakang. Dan kini ia melihat seorang laki-laki yang berpakaian indah sedang berjalan dengan seenaknya, sama sekali tidak gugup atau hendak pergi bersembunyi ketika ia menengok! "Sobat, kenapa kau mengikuti aku?" tanya Cin Hai gemas.

Orang itu tertawa, suara ketawanya nyaring dan tinggi, mengandung ejekan seperti biasanya suara ketawa orang yang berwatak sombong. Orang ini masih muda, paling banyak berusia tiga puluh tahun, tubuhnya sedang, wajahnya tampan dan gagah, keningnya tinggi sedangkan pakaiannya terdiri dari baju warna kuning dan celananya biru. Di luar bajunya masih memakai sehelai mantel abu-abu yang indah sekali. Pada rambutnya yang hitam itu nampak hiasan dari batu giok yang merupakan seekor naga terbang. Cin Hai merasa heran karena setelah dekat, ia melihat betapa pada kedua pipi laki-laki ini nampak warna kemerah-merahan yang tidak aseli, seakan-akan pipi itu dibedaki dengan yanci dan bedak seperti biasa dipakai wanita bersolek! Setelah tertawa nyaring laki-laki pesolek ini lalu berkata, "Aku berjalan di belakangmu atau di depanmu, maupun di sebelahmu, apakah hubungannya dengan kau? Aku berjalan di atas kedua kakiku sendiri dan jalan ini adalah jalan umum! Padamu tidak ada sesuatu yang menarik hatiku, kecuali kuda putih ini dan burung bangau itu!"

Ia tertawa lagi sambil memandang dengan mata mengandung ejekan. Biarpun hatinya mendongkol, akan tetapi Cin Hai dapat merasakan juga bahwa ucapan orang ini ada benarnya juga. Ia berjalan sendiri dan tidak mengganggunya, mengapa ia harus merasa penasaran dan gemas? Maka timbul kejenakaannya dan ia menjawab, "Peribahasa kuno menyatakan bahwa orang harus berlaku waspada terhadap orang yang berada di belakangnya dan tak perlu takut kepada orang yang berada di hadapannya! Kau selalu berjalan di belakang, bahkan dengan cara bersembunyi, maka teringatlah aku akan peribahasa itu. Bukan maksudku hendak menyebutmu pengecut, akan tetapi maksud peribahasa itu bahwa orang harus berhati-hati terhadap orang yang selalu melakukan hal dengan sembunyi-sembunyi karena orang demikian itu adalah seorang yang berbahaya dan berwatak pengecut!"

Ucapan yang diputar-putar ini biarpun tidak langsung memaki, akan tetapi telah dua kali Cin Hai menyebut orang di depannya itu sebagai pengecut! Laki-laki pesolek itu tidak menjadi marah, hanya tersenyum dibuat-buat dan ia meloloskan sehelai tali yang banyak bergantungan di ujung bajunya, lalu mempermainkan tali itu di antara jari tangannya. "Kau pandai berkelakar anak muda, tapi tetap saja aku menganggap bahwa kuda dan burungmu itu lebih baik daripadamu!"

Pada saat itu burung bangau melayang dari atas melihat betapa Cin Hai berhadapan dengan orang asing, ia lalu menyambar ke atas kepala orang itu.

"Ang-siang-kiam, jangan kurang ajar!" seru Cin Hai, akan tetapi dengan tenang seakan-akan tidak diserang oleh seekor burung bangau yang besar dan ganas, orang itu lalu menggerakkan tangannya ke arah burung itu, kemudian ia menjura kepada Cin Hai sambil berkata, "Ah, burungmu mulai membosankan aku, anak muda.

Selamat tinggal!"

Bukan main terkejut hati Cin Hai ketika merasa betapa dari kedua tangan orang yang sedang menjura kepadanya itu, menyambar angin pukulan yang hebat ke arah dadanya! Cin Hai buru-buru membungkukkan tubuhnya dan balas menjura sambil mengerahkan khikangnya dan ketika dua tenaga mereka bertemu keduanya melangkah mundur dua tindak! Ternyata bahwa tenaga mereka berimbang. Orang itu memandang kepada Cin Hai dengan mulut tersenyum mengejek, akan tetapi kedua matanya mengeluarkan pandangan kagum.

"Bagus, bagus, aku telah bertemu dengan seorang ahli!" Tubuhnya lalu berkelebat dan sebentar saja lenyaplah ia dari pandang mata Cin Hai. Pemuda ini merasa heran dan kagum, akan tetapi ketika memandang ke arah burung bangau yang telah terbang turun, keheranannya berubah kekagetan karena ia melihat betapa burung itu sedang bergulingan di atas tanah dan mencakar-cakar paruhnya sendiri! Ketika Cin Hai menghampiri, ternyata bahwa sepasang paruh burung yang seperti sepasang pedang merah itu telah terikat menjadi satu oleh tali yang tadi dipegang oleh laki-1aki pesolek itu! Ia cepat menggunakan pedangnya memutuskan tali yang mengikat paruh burung bangau, akan tetapi ternyata bahwa tali itu kuat sekali dan tidak mudah diputuskan. Setelah ia mengerahkan tenaga, barulah tali istimewa itu dapat diputuskan dan burung itu lalu terbang tinggi dengan ketakutan! Cin Hai mengeluarkan keringat dingin. Bukan main lihainya orang itu yang dengan sehelai tali dapat membuat burung itu tidak berdaya. Orang yang dapat melontarkan tali hingga dapat melibat dan mengikat burung yang sedang terbang menyambarnya, dapat dibayangkan betapa tinggi ilmu silatnya! Masih untung bahwa orang itu tidak turun tangan dan memusuhinya, kalau terjadi demikian belum tentu ia akan dapat mengalahkan lawan yang sedemikian tangguhnya itu! Teringatlah Cin Hai akan kata-kata suhunya bahwa di dunia terdapat banyak sekali orang-orang pandai. Ia lalu menaiki punggung Pek-gin-ma lagi dan bersuit memberi tanda kepada burung bangau untuk melanjutkan perjalanan menuju ke barat.

Ketika ia telah melakukan perjalanan sampai beberapa puluh li jauhnya, hari telah menjadi senja dan ia tiba di luar sebuah kota yang temboknya telah terlihat dari situ.

Tiba-tiba ia mendengar suara kaki kuda di sebelah belakang. Ia berhenti dan alangkah herannya ketika melihat bahwa kira-kira seperempat li jauhnya di sebelah belakang, ada seorang penunggang kuda yang juga menghentikan kudanya! Ia lalu menggerakkan Pek-ginma lagi dan ternyata orang itu pun melarikan kudanya pula. Ketika ia berhenti dengan tiba-tiba, orang itu pun berhenti.

"Kurang ajar!" kata Cin Hai sambil membalikkan kudanya dan melarikan kuda mengejar orang yang mengikutinya itu! Ia sudah merasa bosan untuk diikuti orang saja dan siapapun juga orang itu, ia akan menghajarnya! Orang itu pun membalikkan tubuh kuda dan melarikan kudanya dengan cepat dan Cin Hai makin merasa heran oleh karena kini ia dapat melihat bahwa orang itu adalah seorang Turki yang tinggi kurus! Orang yang dikejarnya itu melarikan kudanya ke dalam sebuah hutan dan ketika Cin Hai mengejar dan memasuki hutan pula, tiba-tiba dari depan melayang belasan batang anak panah yang kesemuanya mengarah dada, leher, dan perut! "Pengecut!" ia berseru marah sambil mempergunakan ujung lengan bajunya mengebut ke depan hingga berhasil memukul jatuh semua anak panah, kemudian ia mengeprak kudanya agar berlari lebih cepat. Akan tetapi tiba-tiba rumput yang diinjak oleh kudanya itu nyeplos ke bawah dan tubuh Pek-gin-ma terjeblos ke dalam lubang perangkap yang besar dan yang ditutup oleh rumputrumput hijau! Cin Hai cepat melompat dari kudanya hingga tidak ikut terjeblos ke dalam lubang itu. Ia mendengar kudanya meringkik ngeri dan ketika ia memandang ke dalam lubang, ternyata bahwa Pek-ginma telah tertusuk oleh tiga batang tombak yang sengaja dipasang di dalam lubang itu! Melihat tubuh kudanya berkelojotan, dengan marah dan hati penuh rasa iba, Cin Hai lalu menarik keluar pedangnya dan menusuk punggung kuda itu ke arah jantungnya hingga kuda itu mati seketika itu juga! Kalau ia tidak melakukan tikaman ini, kuda itu pasti akan mati, akan tetapi harus menderita lebih dulu beberapa lamanya. Kemudian, Cin Hai memburu ke depan hedak mencari orang Turki tadi, akan tetapi ia tidak melihat bayangan orang di dalam hutan itu! Ia mencari-cari terus dan berteriak-teriak memakimaki akan tetapi setelah hari sudah mulai gelap dan belum juga ia mendapatkan musuh yang curang itu, terpaksa ia pergi meninggalkan hutan dengan hati marah sekali.

Burung bangau yang terbang di atas hutan itu pun tidak melihat adanya musuh dan burung ini tidak berani turun seakan-akan ia masih merasa gentar menghadapi lawan yang tadi telah secara aneh dapat mengikat paruhnya! Cin Hai melanjutkan perjalanan menuju ke kota di depan itu sambil berlari cepat. Hatinya gemas sekali oleh karena ia merasa telah dipermainkan orang. Kota yang dimasukinya adalah sebuah kota yang cukup ramai dan di situ ia melihat banyak orang-orang Mongol, serta orang-orang dari suku bangsa lain.

Setelah mencari kamar di sebuah rumah penginapan, Cin Hai lalu keluar dari kamarnya untuk melihat-lihat dan sekalian mencari jejak Lin Lin, juga ingin sekali bertemu dengan orang Turki tinggi kurus yang dilihatnya tadi. Ia melihat sebuah rumah makan besar yang penuh tamu, lalu masuk memesan makanan. Pelayan membawanya ke loteng, oleh karena di bagian bawah telah penuh. Ketika ia memasuki tangga loteng, tiba-tiba ia mendengar percakapan tamu di loteng itu yang membuatnya segera menahan tindakan kakinya dan mendengarkan dengan teliti. Seorang di antara tamu-tamu itu telah membicarakan dan menyebut nama Yousuf! "Yousuf sedang sakit dan tak berdaya kalau kita menyerbu dengan tiba-tiba dan berbareng, apa sukarnya menundukkan gadis itu?"

Hanya sedemikianlah yang dapat didengar oleh Cin Hai, oleh karena ketika pelayan muncul, percakapan itu lalu dilakukan dalam bahasa Turki yang ia tak mengerti sama sekali. Ia berjalan menundukkan muka, akan tetapi ia memperhatikan mereka. Ternyata bahwa ruang atas itu kosong dan hanya terdapat empat orang duduk mengelilingi sebuah meja penuh mangkok berisi hidangan. Seorang di antaranya adalah seorang laki-laki berbangsa Turki, sedangkan yang tiga orang lainnya adalah seorang nenek bongkok, seorang kakek bersorban, dan seorang pula berpakaian seperti tosu.

Mereka ini bukan lain ialah Giok Kwat Moli si Nenek Bongkok, Wai Sauw Pu si Kakek Bersorban, dan, Lok Kun Tojin, tiga orang yang dulu pernah bertemu dan bertempur melawan Ang I Niocu, Kwee An, dan Ma Hoa! Akan tetapi Cin Hai belum pernah melihat mereka.

Ketiga orang tua itu ternyata pandai bercakap-cakap dalam bahasa Turki hingga Cin Hai hanya duduk mendengarkan penuh perhatian dan biarpun tidak mengerti sama sekali, akan tetapi beberapa kali ia mendengar nama Yousuf disebut-sebut, hingga diamdiam ia berdebar girang. Tadi mereka menyebut seorang gadis yang hendak mereka keroyok, bukankah gadis yang dimaksudkan itu Lin Lin adanya? Cin Hai tidak tahu bahwa keempat orang itu merasa mendongkol dan marah karena percakapan mereka terganggu oleh kedatangannya, oleh karena biarpun mereka mengerti bahasa Turki, akan tetapi mereka lebih suka bercakap-cakap dalam bahasa Han tanpa didengar oleh telinga lain orang. Tiba-tiba mereka itu bicara dalam bahasa Han lagi, akan tetapi pembicaraan mereka kini telah berubah dan Cin Hai mendengar tosu itu berkata dengan keras, "Memang sugguh menyebalkan orang-orang sekarang, terutama anak-anak mudanya. Mereka bisanya hanya bersolek dan menjual lagak belaka. Yang paling kubenci adalah pemuda-pemuda yang berpakaian seakan-akan ia seorang sasterawan pandai, akan tetapi sebetulnya dia tak mengerti apa-apa. Kalau melihat orang pemuda berpakaian pelajar, timbul keinginanku untuk mencekik lehernya!" Tiga orang kawannya tertawa lebar dan ketika Cin Hai memandang ternyata bahwa dengan terangterangan mereka berempat sedang memandang kepadanya. Ia maklum bahwa empat orang itu tentu sengaja menghinanya oleh karena ia memang mengenakan pakaian sebagai seorang pelajar dan pedangnya disembunyikan ke dalam bajunya yang lebar dan panjang. Hanya ia belum mengerti mengapa mereka itu menghinanya tanpa sebab.

"Yang menyebalkan ialah bahwa mereka itu tidak insyaf bahwa kehadiran mereka tidak disukai orang. Dan sama sekali tidak mengerti bahwa kehadiran mereka mengganggu percakapan orang lain!" terdengar suara nenek bongkok dan Cin Hai mengerti bahwa mereka itu merasa terganggu, maka berusaha menakut-nakutinya agar ia segera berpindah tempat ke ruang bawah! Akan tetapi ia tidak peduli dan ketika masakan yang dipesannya datang, ia lalu makan seakan-akan di ruang atas itu tidak terdapat lain orang kecuali dia sendiri! Tiba-tiba tosu bercambang bauk itu membersihkan kerongkongannya dengan suara yang menjijikkan sekali.

Hal ini dilakukan berkali-kali dibarengi suara tertawa dari kawan-kawannya hingga Cin Hai hampir tak dapat menahan sabar lagi. Lenyaplah nafsu makannya karena merasa jijik dan sambil menoleh dan meletakkan sumpitnya, ia berkata, "Heran sekali, mengapa orang-orang tua dan pendetapendeta di sini demikian tidak tahu kesopanan dan bersikap seperti orang-orang liar?"

Ucapan Cin Hai ini membuat Wai Sauw Pu, kakek bersorban itu, marah sekali. Ia bangun berdiri dan tubuhnya yang tinggi besar itu membuat ia nampak garang sekali. Tangan kanannya menyambar sepasang sumpitnya dan sekali ia menggerakkan tangan, sebatang sumpit itu menyambar dan menancap di meja Cin Hai sampai setengahnya lebih! Cin Hai mendongkol sekali karena terang-terangan mereka itu hendak menghina dan mengajaknya berkelahi. Dengan tenang ia lalu memegang sumpitnya dan dengan perlahan ia memukulkan sumpitnya pada sumpit yang tertancap di atas mejanya sambil berseru, "Kakek tua, hati-hatilah kau menggunakan sumpitmu, jangan sampai terloncat ke meja lain!" Ketika sumpit yang tertancap di atas meja itu kena dipukul oleh sumpitnya, sumpit itu mencelat dan melayang kembali ke arah Wai Sauw Pu yang masih berdiri di dekat mejanya sendiri. Kakek bersorban itu menangkap sumpitnya yang melayang kembali sambil tertawa bergelak dan berkata, "Ha, ha, tidak tahunya bukan sembarang kutu buku, dan memiliki juga sedikit punsu (kepandaian). Kau patut menerima penghormatanku. Terimalah sepotong daging sebagai penghormatan!" Sambil berkata demikian, ia menusuk sepotong daging dan ketika ia mengayun tangannya, sumpit berikut daging yang tertusuk melayang ke arah mulut Cin Hai. Pemuda ini merasa marah sekali, maka ia hendak mendemonstrasikan kepandaiannya. Ia tidak mengelak atau menangkap sumpit yang menyambar ke arah mulutnya itu, hanya miringkan kepala sedikit dan ketika sumpit itu lewat di depan mulutnya, ia membuka mulut dan menggigit ujungnya. Daging dan sumpit dapat tergigit olehnya dan ketika ia meniup, sumpit itu meluncur ke atas lantai dan patah menjadi dua! Kemudian ia menghadapi Wai Sauw Pu dan mengerahkan tenaga khikang lalu menyemburkan daging dari mulutnya itu kepada kakek itu, disusul dengan kata-kata, "Kakek yang baik, kubayar lunas penghormatanmu dan terimalah kembali daging busukmu!" Daging yang disemburkan itu cepat sekali meluncur ke arah mulut Wai Sauw Pu.

Kini terkejutlah kakek ini dan ia segera miringkan kepala hendak berkelit akan tetapi semburan Cin Hai ini selain cepat, juga tidak terduga hingga biarpun daging itu tidak mengenai mulutnya, akan tetapi masih menyerempet pipinya hingga terasa pedas dan pipinya ternoda oleh kuah daging itu! Wai Sauw Pu menjadi marah sekali. Dengan tindakan kaki lebar ia lalu menghampiri Cin Hai yang juga belum berdiri dengan tenang.

"Tikus kecil! Berani betul kau berlaku kurang ajar di depanku!" teriak Wai Sauw Pu dengan marah sekali.

"Kakek yang baik, pernahkah kau mendengar sebuah ujar-ujar kuno yang sangat baik! Ujar-ujar itu menyatakan, bahwa menghormat orang lain berarti menghormat diri sendiri! Kau dan kawan-kawanmu sengaja menggangguku padahal aku tidak melakukan sesuatu yang salah! Kalau kau tidak menghormat bahkan menghina orang lain, bukankah itu menyalahi ujar-ujar itu? Menghormati orang lain berarti menghormat diri sendiri, sebaliknya menghina orang lain berarti menghina diri sendiri karena dengan perbuatanmu yang menghina orang lain itu hanya menyatakan betapa rendahnya martabatmu!"

Mendengar ucapan ini, tertegunlah hati Wai Sauw Pu dan ia mulai menduga bahwa pemuda itu bukanlah orang sembarangan. Akan tetapi, untuk daerah barat nama Wai Sauw Pu sudah terkenal sekali dan apa lagi ia dihina oleh pemuda itu di depan ketiga orang kawannya, maka tentu saja ia tidak mau mengalah. "Anak muda, siapakah kau yang berani bermain gila di depan Wai Sauw Pu si Malaikat Tasbeh? Katakan siapa namau agar aku tidak menghajar segala oang yang tidak bernama!"

Cin Hai berpura-pura memperlihatkan muka terkejut dan ketakutan mendengar nama yang sesungguhnya belum pernah dikenalnya itu. "Ah, kiranya aku berhapan dengan seorang malaikat? Tentu kau masih terhitung keluarga dengan Giam-lo-ong (Malaikat Pencabut Nyawa), karena menurut cerita orang Giam-lo-ong juga bertubuh tinggi besar seperti kau! Aku hanya seorang biasa saja, mana ada kehormatan untuk memperkenalkan nama kepada malaikat? Sudahlah, kakek yang baik, kaumaafkan aku saja dan jangan kau mencabut nyawaku!" Ucapan ini dikeluarkan dengan suara sewajarnya dan tidak mengandung ejekan akan tetapi cukup memerahkan telinga Wai Sauw Pu. "Boleh, boleh! Kau boleh minta maaf akan tetapi kau harus mencukur gundul dulu kepalamu di hadapanku, baru aku bisa memberi maaf dan tidak menghancurkan kepalamu!"

Cin Hai adalah seorang yang mempunyai kesabaran besar, akan tetapi tidak ada ucapan yang akan melebihi sakitnya terasa di dalam hatinya selain menyuruh dia menggundul kepalanya! Ucapan yang dikeluarkan oleh Wai Sauw Pu tanpa disengaja itu mengingatkan dia akan hinaan-hinaan yang dideritanya ketika ia masih kanakkanak dan berkepala gundul. Maka ia lalu menjawab, "Pikiranmu cocok sekali dengan keinginan hatiku! Aku pun ingin sekali melihat benda apakah yang tersembunyi di dalam sorbanmu itu! Ingin sekali aku melihat warna kulit kepalamu, apakah kulitnya sama tebalnya dengan mukamu!"

"Keparat!" teriak Wai Sauw Pu dan tahu-tahu tangannya telah menarik keluar lihai tasbehnya, senjatanya yang ampuh itu! Dan tanpa mengeluarkan peringatan lagi, tahu-tahu tasbehnya telah meluncur dan menyerang ke arah kepala Cin Hai! Pemuda ini dengan tenang lalu mengelak segera mempergunakan Ilmu Silat Kong-ciak Sin-na untuk menghadapi tasbeh kakek itu dengan tangan kosong! Tidak hanya Wai Sauw Pu yang terkejut melihat gerakan pemuda yang luar biasa cepatnya itu, bahkan kawan-kawannya juga memandang dengan heran dan kagum. Biarpun tasbeh itu membuat gerakan yang melingkar-lingkar dan mencegah seluruh jalan keluar, namun dengan cepat tubuh Cin Hai dapat berkelebat mengikuti gulungan sinar senjata dan menghindarkan diri dari setiap sambaran tasbeh! "Kakek yang baik, kaubukalah sorbanmu!" Sambil berkata demikian, kedua tangan Cin Hai cepat bergerak dan dengan gerakan Kong-ciak-jio-cu atau Merak Sakti Merampas Mustika, ia mencengkeram ke arah kepala Wai Sauw Pu dengan tangan kirinya! Kakek itu terkejut sekali dan mengelak ke kanan, akan tetapi secepat kilat tangan kanan Cin Hai menyusul dan sebelum Wai Sauw Pu sempat berkelit, sorbannya telah dapat dicengkeram dan direnggutkan dari kepalanya oleh Cin Hai. Tertawalah anak muda itu ketika melihat betapa kepala Wai Sauw Pu ternyata gundul pelontos seperi kepalanya dulu! "Ha, ha, ha! Pantas saja kau minta aku mencukur gundul rambutku, tidak tahunya kau telah mendahuluiku mencukur gundul kepalamu! Ha, ha, alangkah licinnya! Lalat pun akan terpeleset apabila hinggap di kepalamu!"

Biarpun merasa marah sekali, ketiga kawan Wai Sauw Pu terpaksa menahan ketawa mereka mendengar katakata yang lucu ini. Mereka bertiga lalu meloloskan senjata masing-masing dan menerjang maju hingga Cin Hai terkurung di tengah-tengah. Melihat gerakan mereka diam-diam Cin Hai terkejut juga karena tidak disangkanya bahwa ilmu kepandaian keempat orang ini ternyata benar-benar tinggi dan hebat! Ia pikir takkan ada gunanya untuk melawan mati-matian kepada mereka itu, karena bukankah mereka ini mempunyai hubungan dengan lenyapnya Yousuf dan Lin Lin? Maka ia lalu melompat ke sana ke mari dan membuat gerakangerakan Tarian Bidadari hingga tubuhnya dengan mudah dapat mengelak dari setiap serangan, sambil berkata, "Aduh, lihai... lihai sekali, aku terima kalah!" Ia lalu melompat ke atas dan cepat pergi dari tempat itu, bersembunyi di tempat gelap di luar rumah makan.

Empat orang itu segera mengejar dan melompat turun dari loteng hingga semua tamu yang mengenal mereka sebagai orang-orang berilmu tinggi menjadi panik dan lari ketakutan! Dengan marah keempat orang itu mencari-cari, akan tetapi Cin Hai dapat menyembunyikan diri dengan baik, bahkan lalu mengikuti mereka ketika mereka pergi dengan berlari cepat sekali.

Keempat orang yang diikuti Cin Hai itu menuju ke sebelah timur kota dan mereka memasuki sebuah pondok. Cin Hai menggunakan ilmu ginkangnya yang tinggi untuk mengintai tanpa diketahui oleh penghuni pondok. Ketika ia memandang, alangkah kagetnya oleh karena keempat orang itu ternyata mengadakan pertetnuan dengan tiga orang tosu bangsa Han yang bukan lain orangnya ialah Kang-lam Sam-lojin, ketiga tokoh besar dari Liong-san-pai yang pernah menjad guru-gurunya dulu! Giok Im Cu, Giok Yang Cu, dan Giok Keng Cu sudah kelihatan tua sekali akan tetapi mereka masih bersikap gagah! Ketujuh orang di dalam pondok itt sedang membicarakan tentang pertemuan yang baru dialami oleh keempat orang tua itu dengan Cin Hai. Si Kakek bersorban berkata, "Jangan-jangan pemuda yang aneh itu adalah kawan Yousuf, atau jangan-jangan ia adalah seorang penyelidik dari kaisar! Maka lebih baik malam ini juga kita menyerbu ke pondok itu untuk menawan Yousuf!"

Setelah mengadakan permufakatan, ketujuh orang itu lalu keluar dari pondok dan segera berlari menuju ke sebuah hutan yang berada di luar kota. Cin Hai tetap mengikuti mereka dengan hati berdebar. Alangkah banyaknya orang-orang pandai yang hendak menawan Yousuf! Benar-benarkah yang hendak ditawannya Yousuf yang menjadi ayah angkat Lin Lin itu? Dengan hati menduga-duga dan penuh harapan, Cin Hai terus mengikuti mereka masuk ke dalam hutan. Malam itu terang bulan hingga mereka dapat berjalan di dalam hutan tanpa banyak susah. Mereka berhenti di luar sebuah pondok kayu sederhana yang agaknya masih baru dibangun di tengah-tengah hutan itu.

"Yousuf! Kau keluar dan menyerahlah dengan damai!"

Wai Sau Pu berteriak dari luar. Tiba-tiba api penerangan yang tadinya nampak bernyala di dalam pondok itu menjadi padam, dan terdengarlah suara yang merdu dan nyaring dari dalam pondok, "Kawanan penjahat rendah! Kaukira Nonamu akan membiarkan kau mengganggu ayahnya?"

Cin Hai hampir berseru karena girang. Itulah suara Lin Lin! Maka tanpa terasa lagi ia lalu mencabut keluar Liong-coan-kiam dari dalam jubahnya dan bersiap sedia membantu kekasihnya itu.

Diam-diam Cin Hai lalu mengumpulkan kayu dan daun kering karena ia pikir bahwa kalau keadaan di luar tidak cukup terang, maka akan berbahaya sekali bagi Lin Lin.

Apabila di luar gelap maka pada saat gadis itu keluar, mudah ia diserang dengan senjata rahasia, sedangkan tadi di rumah makan ia sudah mendapat kenyataan betapa kakek bersorban itu pandai sekali menimpuk dengan sumpit, tanda bahwa ia bisa mempergunakan senjata rahasia. Setelah kayu dan daun kering ia tumpuk, lalu ia membuat api dan membakar tumpukan itu hingga berkobarlah api yang membuat tempat itu menjadi terang sekali! Mari kita ikuti sebentar dan secara singkat pengalaman Yousuf dan Lin Lin yang memaksa mereka berlari meninggalkan tempat tinggal mereka di lereng bukit dekat tapal batas sebelah utara itu.

Sambil menanti berita dari Cin Hai pergi mencari jejak Ma Hoa dan Kwee An, Lin Lin setiap hari melatih Ilmu Pedang Han-le Kiam-hwat yang dipelajarinya dari Cin Hai. Di samping itu ia merawat Yousuf yang terluka dengan penuh kesabaran.

Beberapa hari kemudian, selagi ia melatih ilmu pedangnya, ia melihat rombongan orang Turki menyerbu naik bukit itu dan jumlah mereka tidak kurang dari sebelas orang! "Nona, di mana adanya Yousuf?" tanya seorang di antara mereka, yang bertubuh tinggi besar dan memegang sebuah golok di tangan.

"Ada keperluan apakah kalian mencari Yousuf?" tanya Lin Lin dengan hati-hati "Kami hendak menawannya!"

Baru saja mendapat jawaban ini, Lin Lin menyambar dengan hebat hingga pemegang golok itu terpelanting dengan luka pada lengan tangannya! "Enak saja kau bicara!" Lin Lin membentak. "Siapa pun tidak boleh menawan Ayahku!"

Orang-orang Turki itu merasa heran sekali mendengar bahwa gadis ini adalah puteri Yousuf sedangkan sepanjang pengetahuan mereka, Yousuf belum pernah beristeri, apa lagi mempunyai seorang puteri! Mereka lalu menyerbu dengan hebat yang disambut dengan marah oleh Lin Lin. Pedang Han-le-kiam di tangannya walaupun hanya pendek, akan tetapi gerakannya luar biasa, seakan-akan seekor naga sakti mengamuk para penyerangnya.

Akan tetapi, di antara para penyerbu ini terdapat seorang yang tinggi silatnya, yaitu Lok Kun Tojin dan beberapa orang Turki yang terkenal jago-jago nomor satu di negaranya! Sebentar saja Lin Lin terkurung rapat dan terdesak hebat.

Tiba-tiba terdengar pekik nyaring dari atas dan seekor burung merak besar menyambar turun bagaikan halilintar dan begitu burung sakti itu menggerakkan sayap dan kakinya, dua batang golok musuh telah terpental dan orangnya terpelanting! Akan tetapi, Lin Lin maklum bahwa pihak lawan kuat sekali, dan apabila diteruskan, ia akan lelah dan kalah, sedangkan Yousuf masih dalam keadaan lemah! Mengingat bahwa mereka ini datang hendak menawan Yousuf, ia menjadi gelisah sekali maka secepat kilat ia melompat mundur. Ketika pihak musuh mengejar, ia berseru, "Kongciak-ko, kautahan mereka!" Merak Sakti agaknya mengerti akan maksud perintah ini karena ia lalu menyambar-nyambar dan menghalangi mereka yang hendak mengejar Lin Lin. Seorang pengeroyok yang berlaku kurang hati-hati dan terlalu berani, telah kena dipatuk matanya hingga menjadi buta! Lin Lin mempergunakan kesempatan itu berlari cepat ke arah pondok di mana Yousuf sedang duduk dengan wajah muram. Orang tua ini selain menderita karena lukanya, juga ia merasa gelisah sekali apabila mengingat akan nasib Kwee An dan Ma Hoa yang terjatuh ke dalam jurang! "Ayah, Ayah... ayo kita lekas lari!" tiba-tiba terdengar suara Lin Lin yang masuk dengan wajah pucat.

"Kau kenapa, Nak?" Yousuf bertanya tenang.

"Musuh datang menyerbu! Rombongan orang-orang Turki yang lihai sekali!"

Yousuf terkejut juga dan akhirnya menurut untuk melarikan diri dari belakang, sementara musuh ditahan oleh Merak Sakti. Akan tetapi, oleh karena pihak musuh memang terdiri dari orang-orang pandai, akhirnya Merak Sakti juga tidak kuat bertahan lebih lama lagi setelah ia mendapat luka-luka ringan karena tusukan golok, hingga sambil berteriak-teriak ia lalu terbang tinggi sekali. Ia melihat dua orang kawannya yang berlari cepat, maka ia lalu melayang dan mengejar mereka.

Ketika rombongan orang Turki menyerbu ke dalam rumah, mereka hanya mendapatkan rumah kosong dan pada saat itu Yousuf dan Lin Lin telah cukup jauh.

Dengan gemas orang-orang Turki itu lalu membakar rumah Yousuf serta melaksanakan pengejaran. Di sepanjang jalan mereka melampiaskan rasa marah dan gemasnya kepada rakyat dusun hingga rakyat dusun banyak yang menderita dan menjadi korban keganasan mereka.

Sementara itu, Lin Lin dan Yousuf terus melarikan diri, dikawal dari atas oleh Merak Sakti. Beberapa kali mereka tersusul oleh rombongan pengejar, akan tetapi berkat kegagahan Lin Lin dan pembelaan Merak Sakti yang setia, mereka selalu dapat dipukul mundur hingga akhirnya mereka hanya mengejar dari belakang tanpa berani menyerang lagi.

Akhirnya Lin Lin dan Yousuf tinggal dalam hutan itu dan mereka menyangka bahwa mereka telah terlepas dari kejaran orang-orang Turki itu oleh karena telah lama tidak kelihatan mereka menyerang. Padahal rombongan itu masih tetap mengintai, bahkan mereka lalu mendatangkan bala bantuan dari orang-orang pandai, di antaranya Si Nenek Bongkok Siok Kwat Moli yang menjadi sumoi dari Hai Kong Hosiang dan yang telah memberi kesanggupan kepada suhengnya itu untuk membalaskan dendamnya kepada Cin Hai dan kawankawannya, si kakek bersorban Wai Sau Pu yang gagah perkasa, jago dari Sin-kiang itu, dan masih banyak lagi jago-jago yang mereka datangkan dari Turki.

Ketika pada malam hari itu rombongan musuh menyerbu lagi, Yousuf yang mendengar musuhmusuhnya lalu berkata kepada Lin Lin, "Lin Lin, anakku yang baik, kaupergunakanlah kepandaianmu untuk lari menyelamatkan diri.

Tinggalkanlah aku seorang diri, aku sudah tua dan aku berani menghadapi bencana ini seorang diri. Akan tetapi kau, kau jangan sampai terbawa-bawa, anakku. Kau mendapat berkah dan doaku, pergilah Lin Lin, kalau sampai kau terkena bencana bersamaku, sampai mati pun aku akan merasa penasaran dan duka!"

"Tidak, tidak. Bagaimanapun juga aku akan tetap membelamu, Ayah!"

Yousuf merasa terharu sekali melihat betapa anak pungutnya ini bersedia membelanya dengan berkorban jiwa! Tak tertahan lagi air mata mengucur dan membasahi pipinya. Lin Lin lalu menerjang keluar sambil memutar-mutar pedang Han-le-kiamnya. Biarpun pedangnya hanya sebuah, akan tetapi ketika ia mainkan Han-le Kiam-hwat, pedang itu seakan-akan berubah menjadi puluhan pedang. Juga pada saat itu, Merak Sakti menyambar keluar dari pintu pondok dan mengamuk tak kalah hebatnya.

Siok Kwat Moli si nenek bongkok yang melihat kehebatan Merak Sakti menjadi marah sekali. Ia mencabut sebatang pisau kecil dan mengayunkan tangannya. Merak Sakti dapat melihat berkelebatnya pisau yang mengancam dada, maka cepat ia menyampok dengan kaki kirinya, akan tetapi tidak tahunya, bahwa pisau itu lihai sekali, tidak bergagang dan pada kedua ujungnya tajam. Ketika disampok, pisau itu tidak terpental bahkan lalu melejit dan meleset menancap pada paha burung merak itu. Merak Sakti memekik kesakitan dan terbang tinggi ke atas dengan pisau masih menancap pada pahanya.

Cin Hai segera melompat dan menerjang dengan pedangnya sambil berseru, "Moi-moi, jangan kau takut, aku datang membantumu!"

Alangkah girangnya hati Lin Lin melihat pemuda kekasihnya ini, maka ia lalu memutar pedangnya makin hebat dan bersemangat sambil berteriak, "Koko...!"

Sementara itu, keempat orang tua yang tadi telah bertemu dengan Cin Hai di rumah makan, menjadi terkejut sekali melihat bahwa pemuda itu kini tiba-tiba muncul dan membantu gadis yang gagah itu.

"Tikus kecil, kau berani muncul lagi?" Wai Sauw Pu membentak dan tasbehnya lalu menyambar.

"Tikus besar, mengapa aku tidak berani?" balas Cin Hai membentak. Biarpun dikeroyok hebat, hati pemuda ini merasa girang dan gembira sekali karena telah dapat bertemu dengan kekasihnya. Pedang Liong-coan-kiam berkelebaten dan menyilaukan mata para pengeroyoknya ketika ia mainkan ilmu pedangnya Daun Bambu yang lihai.

Ketika Kang-lam Sam-lojin ikut maju mengeroyok Cin Hai, pemuda ini lalu menegur mereka, "Sam-wi Totiang, apakah Sam-wi selama ini baik saja?" Giok Yang Cu yang tinggi besar dan itu lalu membentak, "Setan kecil, siapakah engkau yang berpura-pura telah kenal kami tiga saudara?"

"Ha, ha, Giok Yang Cu Totiang, lupakah kau kepada Cin Hai si Anak Gundul?"

Bukan main terkejut dan herannya tiga orang tosu itu mengetahui bahwa pemuda itu benar-benar Cin Hai, anak gundul yang dulu pernah ikut mereka. Tak mereka sangka bahwa anak yang kelihatan bodoh dan gundul itu dan kemudian pergi bersama Ang I Niocu, kini telah menjadi seorang pemuda yang demikian lihainya. Mereka lalu berbalik mengeroyok Lin Lin lagi oleh karena mereka merasa tidak enak hati mengeroyok Cin Hai, anak yang dulu pernah menolong jiwa mereka! Biarpun Cin Hai lihai sekali kepandaiannya dan Lin Lin juga telah memiliki ilmu pedang yang hebat, akan tetapi oleh karena para pengeroyok itu terdiri dari tokoh-tokoh persilatan yang berilmu tinggi, lagi pula oleh karena ilmu pedang Lin Lin belum sempurna dan matang betul, maka terpaksa Cin Hai harus mengerahkan tenaga untuk bersilat di dekat gadis kekasihnya untuk membelanya di waktu perlu, dan keadaan keduanya segera terkurung rapat! Celakanya bahwa Sin-kong-ciak yang lihai telah terluka dan tidak berani turun membantu lagi! Yousuf yang menderita sakit karena selain lukanya yang belum sembuh dan kegelisahannya berhubung dengan jatuhnya Kwee An dan Ma Hoa di dalam jurang mendatangkan tekanan batin yang hebat, kini menghadapi penyerbuan yang membahayakan ini menjadi bingung sekali. Ia lalu menganggap dirinya berdosa besar, karena perpisahan antara Lin Lin dan Cin Hai pun terjadi oleh karena urusannya. Kalau rombongan orang Turki itu tidak datang menyerbu untuk menawannya dan Lin Lin tidak membelanya, tentu gadis itu tidak akan pergi dari lereng gunung di utara itu dan tidak akan terpisah dari Cin Hai. Dan sekarang kembali gadis itu berada di dalam bahaya karena membelanya.

Kalau gadis itu sampai terbinasa, alangkah besar dosanya! Maka ia lalu paksakan diri keluar sambil membawa sebatang pedang, akan tetapi tubuhnya amat lemas! Pada saat ia muncul di ambang pintu, matanya terbelalak ketika ia melihat seorang pemuda bertempur membantu Lin Lin dan ternyata bahwa pemuda itu adalah Cin Hai! "Cin Hai...!" serunya girang, akan tetapi segera ia roboh tertotok oleh Wai Sauw Pu yang telah melompat dan segera menawannya.

"Cuwi, tangkaplah aku akan tetapi jangan kalian mengganggu kedua orang muda itu!" Yousuf masih sempat berteriak sebelum Wai Sauw Pu membawanya lari! Lin Lin terkejut sekali dan hendak mengejar, akan tetapi para pengeroyoknya tidak memberi kesempatan kepadanya. Juga Cin Hai tak dapat meninggalkan Lin Lin seorang diri, maka kedua orang muda itu merasa gelisah sekali.

Dan pada saat itu, terdengar suara ketawa yang nyaring sekali, lalu disusul berkelebatnya bayangan yang gesit sekali ke arah Wai Sauw Pu yang sedang lari sambil mengempit tubuh Yousuf. Sekali bayangan itu bergerak, Wai Sauw Pu roboh terpelanting dan Yousuf telah dipulihkan kembali dari totokan! Yousuf dengan lemah lalu merayap ke pinggir dan tiba-tiba terdengar bisikan orang, "Paman Yousuf, mari ikut aku!"

Yousuf memandang dan ternyata seorang Turki keluar dari tempat gelap. Ketika ia memperhatikan, orang itu bukan lain adalah keponakannya sendiri yang segera menggendongnya dan membawanya lari ke dalam gelap! Sementara itu, penolong yang datang dengan tiba-tiba itu tertawa lagi dan berkata, "Kalian ini semut-semut kecil hendak berlagak ganas, melarikan orang dan berani mengeroyok seorang nona manis? Ha, ha, itu namanya tidak memandang mukaku. Sungguh terlalu, terlalu sekali!" Setelah berkata demikian, orang itu lalu menyerbu dan gerakan kaki tangannya ringan dan cepat sekali! Bukan main herannya hati Cin Hai ketika mengenal bahwa orang ini adalah laki-laki pesolek yang tampan dan yang pernah menaklukkan burung bangau secara lihai sekali itu! Dan bukan main terkejutnya ketika ia melihat betapa laki-laki itu lalu bersilat dengan ilmu silat yang hampir sama dengan Pek-in-hoatsut! Menghadapi Cin Hai dan Lin Lin saja, semua pengeroyok sudah merasa sukar untuk menjatuhkannya, apalagi ditambah dengan seorang yang demikian lihainya. Mereka lalu melompat mundur dan hanya dapat bertahan saja. Beberapa kali Si Pesolek itu tertawa bergelak sambil bersilat di dekat Lin Lin dan ketika pengeroyok mulai mengendur kurungan mereka, tibatiba saja laki-laki itu lalu mengulur tangan dan menotok iga kiri Lin Lin! Serangan ini adalah sebuah tipu dalam limu Silat Kong-ciak Sin-na yang dilakukan dengan baik sekali hingga Lin Lin yang sama sekali tak pernah menduga bahwa penolong itu akan menyerang dirinya, tak sempat mengelak dan tiba-tiba tubuhnya menjadi lemas. Secepat sambaran burung walet, laki-laki itu sambil tertawa lalu mengempit tubuh Lin Lin dan melompat cepat melarikan diri! Bukan main terkejutnya hati Cin Hai melihat hal ini.

"Orang rendah, kau hendak lari ke mana?" Ia lalu mengejar dengan cepat pula ke arah mana bayangan orang tadi menghilang.

Rombongan orang Turki yang tiba-tiba melihat ketiga lawan mereka menghilang dan juga Yousuf tak nampak bayangannya, lalu menolong kawan-kawan yang terluka dan cepat meninggalkan tempat itu dengan penasaran dan kecewa. Mereka juga bingung dan menduga-duga melihat sepak terjang orang aneh yang tadinya menolong akan tetapi akhirnya bahkan menculik gadis itu! Ternyata bahwa laki-laki yang melarikan Lin Lin itu memiliki ilmu lari cepat yang hebat sekali hingga biarpun Cin Hai telah mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya, ia hanya dapat mengikutinya saja tanpa dapat merobah jarak antara dia dan orang yang dikejarnya. Sebaliknya, orang itu pun merasa terheranheran karena pemuda yang mengejarnya itu ternyata tak pernah tertinggal jauh, biarpun ia telah mengeluarkan ilmu Lari Cepat Jauw-sang-hwe (Terbang di Atas Rumput)! Demikianlah, mereka berkejar-kejaran setengah malam penuh sampai fajar menyingsing, dan tetap mereka berlari melalui hutan-hutan dan melompati jurang-jurang! Tak seorang pun di antara mereka mau mengalah! Sementara itu, ketika pada keesokan harinya pagi-pagi sekali, burung bangau Ang-siang-kiam beterbangan di atas hutan itu berputar-putar mencari Cin Hai, Ia mendengar keluh kesakitan dari Merak Sakti yang berada di atas sebuah pohon tinggi dan berdiri di atas cabang dengan sebelah kaki tertancap pisau. Burung bangau lalu terbang menyambar turun dan ketika melihat Sin-kongciak, ia lalu terbang dan hinggap di depannya. Kedua hurung ini telah mendapat didikan dan bisa membedakan kawan atau lawan. Burung bangau melihat betapa burung merak terluka, lalu mengeluarkan suara mengeluh, dan ia lalu menggunakan sepasang paruhnya yang panjang dan tajam untuk menjepit pisau itu dan mencabutnya. Memang ia telah mendapat latihan-latihan untuk melakukan pertolongan hingga dengan mudah ia dapat mengeluarkan pisau itu.

Melihat perbuatan yang menolongnya ini, Sin-kongciak tahu bahwa burung bangau ini bermaksud baik, maka ia maklum bahwa Ang-siang-kiam adalah seorang kawan. Setelah pisau yang menancap di kakinya telah tercabut keduanya lalu terbang tinggi di udara, merupakan kawan baik dan sama-sama terbang berputar-putar mencari jejak majikan mereka! Ang I Niocu, Kwee An dan Ma Hoe melanjutkan perjalanan mereka menuju ke barat untuk mencari Lin Lin dan Yousuf. Pada suatu hari ketika mereka tiba di sebuah hutan, mereka melihat seorang kakek sedang dikeroyok oleh rombongan perampok yang terdiri dari belasan orang bersenjata golok. Kakek ini gagah sekali, bertempur sambil tertawa bergelak dan memutar-mutar sebatang dayung dengan hebatnya. Tiga orang pengeroyoknya telah roboh dengan tulang patah dan kulit matang biru, sedangkan sisa pengeroyokpengeroyok terdesak hebat.

"Nelayan Cengeng!" seru Ang I Niocu dan ketiga orang muda itu segera menerjang kawanan perampok itu yang segera melarikan diri karena baru menghadapi seorang kakek saja mereka sudah terdesak, apalagi kini datang tiga orang muda membantu kakek itu! Nelayan Cengeng ketika melihat kedatangan Ang I Niocu, Ma Hoa dan Kwee An, tertawa gembira sekali. Ia mengusap-usap rambut Ma Hoa ketika gadis itu berlutut di depan suhunya, mulutnya tiada hentinya tertawa, akan tetapi kedua matanya mengalirkan air mata! "Ma Hoa, alangkah senangnya hatiku dapat bertemu dengan kau di sini. Kau sekarang telah berubah banyak, muridku! Dengan rambutmu terurai seperti ini, kalau tidak ada Kwee An dan Ang I Niocu, mungkin akan pangling!"

Ternyata bahwa Nelayan Cengeng telah menyusul muridnya di lereng bukit di utara itu, akan tetapi hanya mendapatkan tumpukan puing belaka hingga ia pun menyusul dan mengejar ke barat. Ketika tiba di dalam hutan itu, ia dikeroyok oleh perampok-perampok yang merupakan makanan lunak bagi dayungnya hingga ia mempermainkan mereka dengan gembira, tak menyangka sama sekali bahwa di situ ia akan dapat bertemu dengan murid yang dicari-carinya itu.

"Ketika aku mencarimu di utara, aku mendengar tentang Lin Lin dan Yo Se Pu dikejar kejar oleh orang Turki. Di manakah mereka itu sekarang? Dan di mana pula adanya Cin Hai? Sungguh tak kusangka tadinya bahwa kalian semua akan terpisah-pisah seperti ini. Dan Ang I Niocu seakan-akan baru kembali dari lubang kubur! Ketahuilah, Niocu, bahwa tak seorang pun pernah menyangka bahwa kau masih hidup! Syukurlah, semuanya berada dalam selamat, ini menambahkan keyakinan bahwa kalian adalah orang-orang baik yang berada dalam lindungan Thian!"

Dengan singkat Ang I Niocu menceritakan pengalamannya bagaimana ia sampai dapat tertolong dari pulau yang meledak itu, akan tetapi sama sekali ia tidak menyebut nama Lie Kong Sian. Sedangkan Ma Hoa lalu menuturkan pengalamannya ketika ia dan Kwee An terjerumus ke dalam jurang dan betapa ia mendapat pelajaran dari seorang pertapa bernama Hok Peng Taisu, kakek botak yang mengajarkan Ilmu Silat Bambu Kuning kepadanya.

"Hebat, hebat! Kau beruntung sekali, Ma Hoa! Ketahuilah bahwa Hok Peng Taisu adalah seorang tokoh besar dan dulu ketika aku masih muda, pernah aku mendapat pertolongan dari Si Botak itu hingga sampai sekarang gurumu ini masih dapat hidup! Dulu aku pernah dikepung oleh imam-imam dari perkumpulan Agama Ngo-bwe-kauw dan ketika aku terdesak hebat dan terancam bahaya maut, datanglah Si Botak itu yang menolongku.

Dan sekarang, kembali ia menolong jiwamu dan bahkan memberi pelajaran ilmu silat yang tinggi kepadamu! Bagus, bagus, sebelum aku mati, aku harus menemui Si Botak itu untuk berlutut menghaturkan terima kasih kepadanya. Sekarang kauperlihatkanlah kepandaianmu yang baru itu!"

Ma Hoa menganggap Nelayan Cengeng seperti ayah sendiri, maka tanpa ragu-ragu lagi ia lalu mengeluarkan sepasang bambu runcingnya dan bersilat dengan cepat.

Melihat betapa gadis itu dengan rambut berkibar melambai-lambai menggerakkan kedua batang bambu runcing hingga dua batang bambu yang berwarna kuning itu merupakah sinar panjang berbelit-belit bagaikan ratusan ekor ular kuning sedang saling belit dan bergerak-gerak dengan ruwet dan aneh, tidak saja Kwee An memandang dengan kagum dan rasa kasih sayangnya bertambah, juga Ang I Niocu dan Nelayan Cengeng merasa kagum sekali. Setelah Ma Hoa selesai bersilat, gurunya tertawa lagi dengan gembira dan air matanya mengucur makin deras! "Adik Ma Hoa, ilmu silatmu sekarang telah maju hebat, sungguh membuat aku merasa kagum sekali," kata Ang I Niocu dengan sejujurnya.

"Aah, Enci Im Giok, jangan kau terlalu memuji. Aku masih banyak mengharapkan petunjukmu," kata Ma Hoa sambil menyimpan kembali kedua batang bambu runcingnya.

Kembali Ang I Niocu mengusulkan untuk mencari Lin Lin dan Cin Hai dengan terpisah agar lebih banyak harapan dan lebih cepat bertemu dengan kedua anak muda itu.

"Biariah Kong Hwat Lojin mengawani kalian berdua, dan aku akan mencari sendiri," kata Ang I Niocu yang memang lebih suka melakukan perjalanan seorang diri.

Biarpun Ma Hoa merasa agak sayang untuk berpisah lagi dengan wanita pandekar yang disayanginya itu, namun ia anggap usul ini betul juga.

"Akan tetapi kita harus menentukan tempat berkumpul kembali agar kita tidak saling mencari tanpa mengetahui di mana kita harus saling mengadakan pertemuan," kata Nelayan Cengeng. Lalu mereka mengadakan permufakatan untuk bertemu di rumah Kwee An. Semua orang setuju dan pada saat mereka hendak melanjutkan perjalanan dengan terpisah, tiba-tiba mereka mendengar dengan sayup-sayup suara orang bertempur. Mereka saling pandang dengan heran dan keempatnya lalu lari menuju ke arah dari mana suara itu datang.

Pada waktu itu, hari telah mulai menjadi gelap, akan tetapi di udara banyak bintang hingga keadaan tidak terlalu gelap. Suara beradunya senjata dan teriakanteriakan itu datang dari tengah hutan dan ketika mereka tiba, di suatu tempat terbuka, mereka melihat dua orang laki-laki sedang bertempur dengan hebatnya! Seorang di antara mereka adalah seorang laki-laki gagah perkasa yang barusia kira-kira empat puluh tahun lebih. Ia bersenjata sebuah alat tetabuhan yang bertali empat, gerakannya hebat dan angin gerakannya membuat daun-daun pohon bergoyang-goyang! Lawannya juga seorang yang lihai sekali, yaitu seorang pendeta bertubuh pendek gemuk, berjubah merah dan memegang sebuah gendewa sebagai senjata.

Gerakannya juga lihai sekali dan tiap kali ujung gendewanya beradu dengan senjata lawannya, bunga api memercik tinggi, tanda bahwa selain kedua senjata itu terbuat dari logam yang keras, juga bahwa tenaga mereka besar dan seimbang! Mereka berempat, bahkan Nelayan Cengeng sendiri tidak tahu siapa adanya dua orang yang berilmu tinggi itu. Sebenarnya, orang yang bersenjata alat musik itu bukan lain ialah Sie Ban Leng atau paman Cin Hai yang dulu telah mengkhianati ayah Cin Hai hingga terbinasa sekeluarganya! Sedangkan pendeta jubah merah itu adalah Sian Kek Losu, seorang pendeta Sakya Buddha, atau sute dari Thai Kek Losu yang lihai dan yang menjadi jago nomor dua dari semua tangan kanan Yagali Khan, Raja Muda Mongol itu! Bertambah banyaknya orang-orang Turki yang mendatangi Tiongkok bagian barat, membuat kaisar menaruh curiga, maka kemudian kaisar lalu memerintahkan panglimanya untuk mengirim seorang utusan atau penyelidik. Kam Hong Sin atau Kamciangkun yang kini menjadi panglima tertinggi kerajaan adalah seorang yang amat lihai dalam melakukan tugasnya. Ia maklum bahwa tugas seorang penyelidik di barat bukanlah tugas yang ringan dan yang dapat dilakukan oleh sembarang orang saja, maka ia lalu minta pertolongan kawan baiknya dengan memberi hadiah dan upah besar. Kawan baiknya ini bukan lain ialah Sie Ban Leng! Juga Yagali Khan menyebar orang-orangnya untuk melihat gerak-gerik orang Turki yang menjadi musuhnya.

Di antara orang-orangnya ini, juga Sian Kek Losu ikut pula melakukan perjalanan ke barat untuk melihat keadaan. Maka bertemulah Sian Kek Losu dengan Sie Ban Leng di tempat ini hingga setelah mengetahui bahwa mereka datang dari pihak yang bermusuhan, bertempurlah mereka dengan hebatnya.

Gerakan serangan Sie Ban Leng benar-benar hebat luar biasa. Senjatanya yang aneh itu menyambarnyambar dan tak pernah berhenti menyerang karena tiap kali serangannya dapat dielak, senjatanya itu membuat gerakan melengkung dan terus membabat dan memukul lagi, hingga serangan itu dilakukan tanpa pernah tertunda, merupakan serangan bertubi-tubi hingga membuat pendeta Sakya Buddha itu tersedak hebat.

Tiba-tiba pendeta Sakya Buddha itu melompat mundur dan gerakan tubuhnya yang pendek itu amat gesitnya hingga sekali melompat ia telah berada di tempat yang jauhnya tidak kurang dari lima tombak. Ketika Sie Ban Leng melompat untuk menerjang lagi, Sian Kek Losu telah mengeluarkan anak panah yang dipasangnya pada gendewanya dan begitu terdengar suara tali gendewa menjepret, tujuh batang anak panah sekaligus melayang ke arah tubuh Sie Ban Leng di beberapa bagian! Terkejutlah Nelayan Cengeng dan kawan-kawannya melihat kehebatan dan bahaya besar yang mengancam orang Han itu. Betapapun juga, dan biarpun mereka tidak kenal siapa adanya dua orang itu dan mengapa pula mereka bertempur, akan tetapi sebagai orang-orang Han, sedikit banyak mereka memihak bangsa sendiri. Ini adalah watak manusia pada umumnya, maka melihat bahaya yang mengancam Sie Ban Leng, tak terasa pula Nelayan Cengeng mengeluarkan seruan tertahan.

Akan tetapi kalau kepandaian memanah dari Sian Kek Losu hebat, maka kegesitan Sie Ban Leng lebih hebat lagi. Ia berseru kerasa dan untuk mengelak sambaran tujuh batang anak panah yang dilepas dari dekat dan yang melayang dengan kecepatan luar biasa itu memang sudah tak mungkin, maka tiba-tiba ia mengenjot kakinya dan kaki itu melayang ke atas dengan kepala di bawah.

Dengan demikian, maka tubuh bagian bawah yang terancam akan panah telah terhindar dari bahaya dan untuk menjaga kepalanya ia memutar-mutar senjatanya sedemikian rupa hingga dua batang anak panah yang tadinya mengarah mata dan tenggorokannya, dengan suara keras beradu dengan senjatanya. Sebatang anak panah dapat dipukul jatuh akan tetapi yang sebatang pula menancap pada perut alat musik itu. Anak panah yang terpukul itu melayang dengan masih cepatnya ke arah Ang I Niocu yang berdiri terdepan. Dengan tenang Ang I Niocu lalu memegang ujung ikat pinggangnya yang melambai di bawah dan sekali ia menggerakkan tangan, ikat pinggangnya meluncur dan ujungnya dapat menangkis anak panah yang menuju kepadanya hingga jatuhlah anak panah itu di atas tanah.

"Kau berani merusak alat musikku!" teriak Sie Ban Leng dengan marah dan ia melompat lalu mengirim serangan berupa pukulan hebat ke arah kepala pendeta pendek itu. Kalau pukulan itu mengenai sasaran, pasti kepala Sian Kek Losu akan menjadi remuk. Akan tetapi Sian Kek Losu sudah siap sedia. Biarpun ia tadi merasa terkejut sekali melihat betapa lawannya dapat menghindarkan diri dari semua anak panahnya, akan tetapi ketika lawannya menyerbu dengan pukulan senjata, ia lalu maju dan menggempur senjata lawan itu dengan gendewanya. Akan tetapi, kali ini Sie Ban Leng benar-benar mengerahkan seluruh tenaganya hingga ketika gendewa itu beradu dengan senjatanya, Sian Kek Losu terdorong ke belakang dengan keras! Sie Ban Leng tidak mau memberi hati dan mendesak terus, akan tetapi pada saat itu, dari dalam gerumbulan pohon keluarlah tujuh orang pahlawan Mongol, di antaranya nampak Balaki yang lihai. Segera mereka menyerbu dan mengeroyok Sie Ban Leng yang tertawa bergelak dan berkata, "Majulah! Majulah kalian tikus-tikus Mongol!" dan ia memutar-mutar senjatanya dengan hebat.

Tadi ketika Sian Kek Losu bertempur dengan Sie Ban Leng, Kwee An mengusulkan untuk membantu, akan tetapi ia dicegah oleh Ang I Niocu yang menyatakan bahwa orang Han itu takkan kalah.

Akan tetapi kini setelah melihat betapa banyak orang Mongol yang berilmu silat tinggi dan lihai membantu dan mengeroyok orang Han itu, tanpa mendapat komando lagi Nelayan Cengeng lalu menyerbu sambil memutarmutar dayungnya dengan hebat dan berteriak, "Pengecut, pengecut! Mengapa terjadi pengeroyokan??"

Ang I Niocu, Kwee An dan Ma Hoa juga lalu menerjang maju hingga sebentar saja pihak Mongol menjadi kacau balau karena biarpun mereka itu lihai, namun empat orang yang membantu Sie Ban Leng ini adalah orang-orang yang memiliki ilmu kepandaian lebih tinggi dari mereka, sedangkan pihak mereka yang dapat mengimbangi kepandaian Nelayan Cengeng dan kawan-kawannya hanyalah Sian Kek Losu dan Balaki. Maka atas aba-aba yang dikeluarkan oleh Balaki, mereka lalu melompat mundur dan menghilang di dalam gelap.

Sebelum - Beranda - Lanjut

Tidak ada komentar:

Posting Komentar