Walaupun sebelah tubuhnya telah menjadi lumpuh, namun Cin Hai dengan mengeraskan hati dan mengumpulkan tenaga di tangan kanannya dapat melancarkan pukulan hebat itu yang tepat menghantam punggung Hai Kong Hosiang. Pukulan ini dilakukan dengan tangan kanan dan jari-jari terbuka dan hebatnya luar biasa, hingga tenaga Cin Hai tinggal setengah bagian saja dan walaupun dilakukan dari dalam air namun tubuh Hai Kong Hosiang yang besar itu sampai terpental ke atas air. Cin Hai tidak kelihatan kepala dan tubuhnya dan hanya tangan kanannya saja nampak memukul dari dalam air, sedangkan tangan kirinya telah tak berdaya sama sekali.
Hai Kong Hosiang mengeluarkan jeritan ngeri dan merasa seakan-akan nyawanya telah melayang meninggalkan tubuhnya, kepalanya pusing dan matanya menjadi gelap. Ia terbanting lagi ke dalam air dan tubuhnya hanyut terbawa air karena ia telah pingsan terkena Pukulan Petir Menyambar Awan itu. Adapun Cin Hai yang lelah sekali dan tubuhnya lumpuh sebelah, setelah melakukan serangan balasan yang hebat ini pun lalu menjadi pingsan dan tubuhnya hanyut di belakang tubuh Hai Kong Hosiang. Dalam keadaan pingsan Cin Hai tidak merasa bahwa ia telah ditolong oleh kaki tangan Pangeran Vayami. Juga Hai Kong Hosiang ditolong oleh pangeran itu. Keduanya lalu dibawa ke utara dan dibawa masuk ke dalam sebuah tempat kediaman pangeran itu yang memiliki banyak sekali gedung di daerah utara yang dibangun model gedung bangsa Han.
Berkat tubuhnya yang luar biasa kuatnya, setelah mendapat perawatan dari seorang tabib Mongol, luka yang diderita oleh Hai Kong Hosiang akibat pukulan Cin Hai telah dapat disembuhkan lagi dalam beberapa hari.
Juga Cin Hai telah sadar dari pingsannya, akan tetapi ia merasa tubuhnya masih lemah sekali. Ia merasa heran mengapa ia mendapat perawatan sedemikian baiknya dari Pangeran Vayami dan diam-diam ia merasa bersyukur dan berterima kasih.
Ketika Hai Kong Hosiang sadar dan melihat bahwa Cin Hai masih hidup dan berada di tempat itu pula, ia serentak bangun dan hendak membunuh pemuda itu, akan tetapi Vayami mencegahnya. Hai Kong Hosiang adalah utusan kaisar yang ditugaskan menghubungi Pangeran Vayami yang berpengaruh, bahkan ia diberi tugas membawa surat undangan kepada pangeran itu, maka hwesio ini maklum bahwa Pangeran Vayami adalah seorang yang terhormat dan yang harus ditaati perintahnya karena pangeran ini adalah calon tamu agung yang diundang ke istana kaisar.
"Hai Kong Beng-yu, jangan salah paham," kata pangeran ini dengan wajah berseri dan senyumnya yang manis. "Bukan aku sengaja membela dia karena aku membenarkan dia dan memusuhimu, akan tetapi aku membutuhkan tenaga dan kepandaiannya. Ketahuilah bahwa ia telah terkena pengaruh madu merah dari tabibku dan sebentar lagi ia akan menjadi alat kita yang boleh dipercaya."
Hai Kong Hosiang mengangguk-angguk dan ia batalkan niatnya hendak membunuh pemuda tangguh yang hampir saja menewaskannya itu. Ia merasa gembira akan muslihat Pangeran Vayami yang cerdik dan licin. Ternyata di daerah utara terdapat banyak sekali obat-obatan yang sangat manjur dan ramuan obat yang luar biasa jahatnya dan yang sama sekali tak pernah dikenal oleh penduduk Tiongkok pedalaman. Pangeran Vayami mempunyai tabib tua yang ahli dalam hal obatTiraikasih Website http://kangzusi.com/ obatan bangsa Mongol dan di antara obat-obat yang mengandung racun luar biasa terdapai semacam obat yang disebut madu merah. Madu merah ini memang madu dari bangsa tawon yang langka terdapat di lain bagian di dunia, dan hanya terdapat di daerah salju di utara. Madu merah ini bukanlah racun yang berbahaya bagi tubuh, akan tetapi mempunyai khasiat memabokkan dan yang dapat membuat orang menjadi lupa akan keadaan dirinya dan yang diberi minum madu merah ini akan menjadi manusia penurut yang tak dapat menguasai pikiran sendiri dan tahunya hanya menjalankan perintah orang lain yang mempengaruhinya. Kalau sekarang mungkin orang macam ini akan disebut manusia-manusia robot! Pangeran yang cerdik ini merasa kagum akan kepandaian Cin Hai, maka diam-diam ia menggunakan obat mujijat ini untuk mencengkeram Cin Hai, dan memperalatnya! Cin Hai mendapat perawatan yang luar biasa telaten dari tabib tua kepercayaan Vayami hingga dengan mudah saja pemuda itu dapat diberi minum madu merah yang manis rasanya dengan alasan bahwa itu adalah obat untuk menguatkan tubuhnya. Memang benar, tubuh Cin Hai menjadi kuat kembali dan luka akibat totokan Hai Kong Hosiang telah sembuh, akan tetapi ia merasa makin hari makin malas dan semua hal yang telah terjadi berangsur-angsur terlupa olehnya. Bahkan ketika telah diperbolehkan keluar kamar dan melihat Hai Kong Hosiang, ia tidak mengenal lagi hwesio ini! Cin Hai hanya merasa senang luar biasa tinggal di situ dan tidak mempunyai kehendak lain. Biarpun pikirannya telah dipengaruhi obat mujijat itu, namun tenaga dan kepandaiannya masih ada padanya. Hanya kepandaiannya dan julukannya saja yang ia masih ingat, yaitu "Pendekar Bodoh"! Demikianlah, dengan secara keji sekali, Pangeran Vayami telah dapat menaklukkan Cin Hai yang semenjak itu telah menjadi seorang hambanya yang setia dan yang menurut akan segala perintahnya. Ini tidak mengherankan karena pangeran itu selalu bersikap manis dan baik kepadanya, dan dengan pengaruh sihirnya yang cukup kuat ia dapat merampas pikiran Cin Hai dan dapat mempengaruhi pemuda itu. Selain Pangeran Vayami, tak ada orang lain yang mampu mempengaruhi pemuda ini, karena betapapun juga pemuda ini mempunyai batin dan dasar pelajaran yang kuat! Setelah tubuh Cin Hai dan Hai Kong Hosiang sembuh kembali, Vayami lalu membawa rombongannya itu menuju ke selatan, karena ia hendak memenuhi undangan kaisar yang hendak bersekutu dengannya.
Rombongan ini setelah menyeberang sungai lalu melanjutkan perjalanan dengan naik kuda. Pangeran Vayami memiliki seekor kuda putih yang tinggi besar dan yang mempunyai tenaga luar biasa dan nampaknya liar.
Kuda ini bukanlah binatang sembarangan dan dinamakan "Pek-gin-ma" atau Kuda Perak Putih yang dapat lari seribu li dalam sehari tanpa berhenti! Pangeran yang cakap ini nampak gagah sekali naik kuda yang berbulu putih itu, hingga jubahnya yang berwarna merah darah nampak mencolok sekali. Di sepanjang jalan pangeran yang tampan ini bersikap gembira dan menyambut penghormatan para rombongan orang-orang Mongol dengan sikap ramah dan agung. Memang hatinya sangat gembira dan girang karena kini ia telah mempunyai seorang penjaga pribadi yang juga menunggang kuda bagaikan sebuah patung hidup di sebelahnya, yaitu Cin Hai! Wajah pemuda yang memang sudah kelihatan bodoh itu kini benar-benar nampak bodoh sekali karena tidak menunjukkan perasaan apa-apa bagaikan seorang sedang duduk di atas kuda sambil mimpi! Pada suatu hari, rombongan Pangeran Vayami tiba di sebuah kampung padang rumput dan mereka lalu memasang tenda di padang rumput, agak di luar kampung. Pada malam harinya, penduduk kampung yang berpenduduk campuran antara bangsa Han, Mongol dan Mancu, keluar menyambut Pangeran Vayami untuk menghiburnya. Pangeran ini namanya telah terkenal sekali dan banyak orang mendewa-dewakannya seperti seorang Buddha hidup dan banyak orang percaya bahwa siapa yang dapat menyenangkan hatinya atau memancing keluar senyum bibirnya yang manis, orang itu akan mendapat hadiah Nirwana atau Surga ke tujuh! Oleh karena itu, maka semua penduduk, tua muda, lakilaki dan perempuan, bahkan gadis kampung tidak ketinggalan menyerbu ke tempat pemberhentian rombongan itu. Mereka menghidangkan hidangan yang lezat-lezat dari daging domba, bahkan serombongan pemain musik memainkan perkakas mereka dan memainkan lagu rakyat. Gadis-gadis bergembira ria dan menari di depan Pangeran Vayami yang memandang semua itu dengan wajah menyatakan bosan. Memang ia tidak tertarik menonton tari-tarian itu, oleh karena gadisgadis di kampung utara memang rata-rata berwajah kasar bagaikan laki-laki dan kulit kehitam-hitaman.
Tiba-tiba, ketika gadis-gadis itu masih menari-nari, berkelebat bayangan merah dan tahu-tahu di tengahtengah kalangan gadis yang sedang menari itu nampak seorang wanita berbaju merah yang menari-nari pula.
Akan tetapi tariannya berbeda dengan tarian para gadis kampung itu, dan wanita ini wajahnya demikian cantik jelita hingga Pangeran Vayami memandang dengan kedua mata terbelalak. Gadis ini tidak saja kulitnya begitu halus dan putih laksana sutera, akan tetapi juga mempunyai potongan tubuh yang menggiurkan dan gerak-geriknya lemah gemulai menarik hati! Tidak hanya para pemusik yang menjadi kagum dan saking gembiranya mereka lalu mainkan tetabuhan mereka lebih ramai lagi, akan tetapi juga para gadis yang tengah menari-nari itu menjadi demikian kagum hingga mereka menghentikan tarian mereka dan kini berdiri merupakan sederet barisan yang bertepuk-tepuk tangan sambil tertawa-tawa mengikuti irama lagu sambil menikmati tarian Gadis Baju Merah itu.
Tiba-tiba Hai Kong Hosiang berseru di antara sinar obor yang membuat wajahnya nampak menyeramkan, "Ang I Niocu...!" Dan ia segera mencabut keluar senjatanya yang mengerikan itu, akan tetapi Vayami yang duduk di dekatnya segera mengangkat tangan dan berkata, "Hai Kong Bengyu, jangan sembarangan bergerak.
Biarkan bidadari itu menari!" Ucapan ini merupakan perintah karena pangeran itu benar-benar tidak suka melihat gangguan Hai Kong Hosiang. Oleh karena ini, sambil menggigit bibirnya, Hai Kong Hosiang berdiri saja sambil menatap Ang I Niocu dengan mata merah.
Memang benar, yang datang itu adalah Ang I Niocu sendiri! Dara Baju Merah ini telah dapat melihat Cin Hai berada dalam rombongan Pangeran Vayami, akan tetapi karena sikap Cin Hai mencurigakan, ia lalu sengaja memancing dengan tariannya. Sambil menari ia mengerling ke arah Cin Hai akan tetapi alangkah heran, terkejut dan mendongkolnya ketika ia melihat wajah Cin Hai yang tersorot sinar obor itu menunjukkan seakanakan pemuda itu tidak kenal kepadanya dan seakan-akan tariannya yang indah itu dalam pandangan Cin Hai hanyalah tarian seekor kodok meloncat-loncat yang tak ada harganya dipandang.
Dalam kemendongkolannya, Ang I Niocu hendak marah, akan tetapi perasaan wanitanya yang halus itu dapat menduga adanya bahaya yang mengancam.
Apalagi ketika ia melihat wajah Hai Kong Hosiang yang berada di situ pula! Aneh pikirnya, tentu telah terjadi sesuatu atas diri Hai-ji! Oleh karena ini, ketika ia melihat betapa sepasang mata pangeran muda itu tertuju kepadanya penuh kekaguman dan gairah, dan melihat pula betapa besar pengaruh pangeran itu hingga berani membentak Hai Kong Hosiang, ia lalu menari lebih indah pula untuk membuat pangeran itu benar-benar mabok! Pangeran Vayami memang mempunyai kelemahan terhadap wanita cantik. Setiap hari dia melihat wanitawanita yang buruk rupa, maka sekali ini Ang I Niocu yang demikian cantik jelita dan demikian indah tariannya, tak heran apabila ia menjadi tergila-gila! Setelah Ang I Niocu menghentikan tariannya, pangeran itu bertepuktepuk tangan dan memuji, "Bagus, bagus! Hebat sekali! Eh, nona yang cantik seperti bidadari, silakan kau datang ke mari!"
Dengan tindakan kaki yang menarik-narik kalbu Pangeran Vayami, Ang I Niocu menghampiri pangeran itu, sedangkan Hai Kong Hosiang berdiri di belakang pangeran itu bersiap sedia dengan hati curiga.
Ang I Niocu menjura dan memberi hormat dengan senyum manis bermain di bibirnya yang merah, "Nona, kau yang luar biasa ini siapakah namamu? Dan di mana tempat tinggalmu?"
"Sudah kukatakan tadi, dia ini adalah Ang I Niocu yang tersohor namanya!" kata Hai Kong Hosiang. "Gadis ini berbahaya sekali!"
Akan tetapi baik Pangeran Vayami maupun Ang I Niocu tidak mempedulikan ucapan pendeta itu, dan Ang I Niocu menjawab dengan suaranya yang merdu, "Hamba bernama Kiang Im Giok dan tempat tinggal hamba tidak tentu karena sebenarnya hamba adalah seorang perantau."
"Ah, kau membawa-bawa pedang, tentu kau seorang kang-ouw juga bukan? Kebetulan sekali, aku pun suka kepada orang-orang gagah dan maukah kau ikut dengan rombonganku?"
"Pangeran sungguh berbudi mulia dan hamba hanya mohon berkah dari Pangeran yang suci ini."
Mendengar ucapan ini Hai Kong Hosiang menjadi ragu-ragu. Benarkah gadis yang gagah ini pun percaya dan tunduk kepada pangeran ini? Sementara itu, Ang I Niocu mengerling ke arah Cin Hai akan tetapi alangkah kagetnya ketika melihat wajah Cin Hai yang seperti mayat itu. Maka dengan hati berdebar-debar ia lalu berkata pula, "Hamba telah kenal dengan Hai Kong Hosiang yang berdiri di belakang Paduka itu, bahkan hamba pernah kenal dengan pemuda ini. Mengapa mereka berdua berada dalam rombongan Paduka?" tanyanya dengan hati-hati sambil menunjuk kepada Cin Hai yang sama sekali tidak memperhatikan percakapan itu.
"Ha, ha, ha! Tak heran kau kenal mereka, karena mereka adalah tokoh besar di kalangan kang-ouw. Hai Kong Hosiang tuan rumahku yang mengantar aku berkunjung ke kerajaan, sedangkan pemuda itu adalah penjagaku yang setia. Ha, ha, marilah kita bicara di dalam, Nona, tak perlu kita membicarakan orang-orang ini."
"Hamba hanya menurut kehendak Paduka," kata Ang I Niocu sambil tersenyum.
Dengan suara lantang Pangeran Vayami lalu membubarkan semua orang dan memberi berkah dengan kedua tangan dilambai-lambaikan kemudian dengan berani sekali ia memegang tangan Ang I Niocu yang halus lemas dan menggandeng gadis itu menuju ke kemahnya, pangeran ini lalu memerintahkan kepada para pelayannya untuk menyediakan meja perjamuan dan ia lalu mengajak Ang I Niocu makan minum dengan gembira.
Dengan menggunakan senyum dan kerlingnya yang menawan hati, Ang I Niocu berhasil memancing Pangeran Vayami untuk menceritakan pengalaman Cin Hai. Pengaruh arak telah membuat lidah pangeran itu menjadi fasih dan ia menceritakan sambil diseling katakata memuji-muji kecantikan Ang I Niocu.
Bukan main marahnya Gadis Baju Merah ini mendengar bahwa Cin Hai telah berada dalam pangaruh madu merah yang berbahaya. Tiba-tiba ia menendang meja yang berada di depannya dan sekali ia bergerak, ia telah menangkap tangan Pangeran Vayami dan menempelkan pedangnya di leher pangeran itu.
Pangeran Vayami menjadi pucat sekali dan tubuhnya gemetar, kedua kakinya menjadi lemas.
"Ang I Niocu penjahat perempuan! Sudah kuduga engkau mempunyai niat buruk!" tiba-tiba terdengar bentakan di luar tenda.
"Mundur, atau leher pangeran cabul ini akan kupenggal lebih dulu!" Ang I Niocu membentak.
Terpaksa sambil memaki-maki Hai Kong Hosiang mundur lagi dan keluar dari kemah.
"Lekas kau perintahkan supaya kuda Pek-gin-ma dibawa ke sini!" Ang I Niocu memerintah sambil memutar lengan Pangeran Vayami. Pangeran ini merasa kesakitan dan dengan suara megap-megap ia perintahkan orangnya untuk membawa kuda Pek-gin-ma ke situ.
Setelah kuda putih yang indah itu didatangkan, Ang I Niocu memerintah pula, "Sekarang kaupanggil Cin Hai ke sini!"
Cin Hai takkan mau datang kalau lain orang yang memanggil, maka setelah Pangeran Vayami memberitahukan hal ini kepada Ang I Niocu, gadis itu lalu memaksa dan mendorongnya keluar untuk mencari Cin Hai. Kebetulan sekali, Cin Hai tidak berada jauh di situ dan pemuda ini duduk di dekat api unggun sambil termenung, "Cin Hai, kau ke sini!" Pangeran Vayami memerintah dan bagaikan sebuah robot, pemuda itu bangun berdiri dan menghampiri Pangeran Vayami. Hati Ang I Niocu perih sekali melihat keadaan Cin Hai demikian rupa.
Sementara itu dengan bantuan sinar obor dan api unggun, Pangeran Vayami memandang dan menatap mata Cin Hai dengan tajam dan diam-diam ia mengerahkan tenaga sihirnya hingga pada saat itu Cin Hai menjadi tunduk betul-betul dan berada di bawah pengaruhnya sama sekali.
Melihat Hai Kong Hosiang mendekat, Ang I Niocu membentak, "Kau berdiri jauh di sana, kalau tidak aku takkan ampunkan Pangeranmu ini!" Terpaksa dengan mendongkol sekali Hai Kong Hosiang lalu mundur dan berdiri agak jauh sambil memandang dengan mata tajam. Ia maklum bahwa kepandaian Ang I Niocu tak boleh dibuat gegabah dan bahwa bukan hal yang mudah untuk menolong jiwa pangeran yang telah berada di bawah ancaman pedang.
Dengan tangan kanan masih memegang pedang dan ditodongkan kepada Pangeran Vayami, Ang I Niocu melepaskan pegangan tangan kirinya dan kini ia menggunakan tangannya untuk memegang lengan Cin Hai. Akan tetapi, Cin Hai sama sekati tidak mempedulikannya dan tetap memandang kepada Pangeran Vayami bagaikan seekor anjing memandang kepada tuannya, siap menanti perintah. Tiba-tiba Pangeran Vayami berkata dalam bahasa Mongol yang artinya, "Tangkap wanita ini!" Memang ia telah mengajar Cin Hai mengerti perintahnya dalam bahasa Mongol. Ang I Niocu sama sekali tidak mengerti bahasa itu.
Mendengar perintah ini, tiba-tiba Cin Hai bergerak dan tahu-tahu ia telah memeluk Ang I Niocu dan sebelah tangannya memegang pergelangan tangan gadis itu yang memegang pedang. Ang I Niocu tak dapat berkutik dalam pelukan Cin Hai yang keras ini, maka gadis ini hanya dapat mengeluh, "Hai-ji... aduh, Hai-ji..."
Aneh sekali, panggilan yang dikeluarkan oleh suara Ang I Niocu ini menusuk telinga dan menembus hati Cin Hai. Pada saat itu ia merasa seperti mendengar suara dari surga yang amat dikenalnya, suara yang membangunkannya dari alam mimpi membuat ia merasa bahwa hanya suara inilah yang harus ditaatinya. Ini tidak aneh, karena dulu ketika ia masih kecil, memang suara panggilan yang keluar dari mulut Ang I Niocu dan yang biasa menyebut "Hai-ji" atau anak Hai inilah yang selalu berkumandang di dalam telinganya dan yang selalu dikenangnya sebagai panggilan yang paling mesra dan menyenangkan hati di dunia ini. Maka kenangan lama yang sudah menggores dalam-dalam di hatinya ini tak mudah terhapus oleh pengaruh baru yang mempengaruhi pikirannya.
Tiba-tiba ia melepaskan pelukannya dan memandang kepada Ang I Niocu dengan bingung, tak tahu harus berbuat apa.
"Cin Hai tangkaplah wanita ini!" Sekali lagi Pangeran Vayami berseru, akan tetapi Ang I Niocu segera berkata, "Hai-ji, mari kau ikut aku!"
Ternyata suara Ang I Niocu lebih kuat mempengaruhi jiwa Cin Hai hingga sekarang ia betul-betul berada di bawah pengaruh Ang I Niocu! Dengan wajah membayangkan kegembiraan, pemuda itu mengikuti Ang I Niocu. Tiba-tiba dari belakang terdengar suara angin menyambar, dan Ang I Niocu berteriak, "Hai-ji, mari kita binasakan hwesio binatang ini!"
Oleh karena tadinya pemuda ini taat sekali kepada Pangeran Vayami, maka Pangeran Vayami tidak merampas pedang Liong-coan-kiam dari tangan Cin Hai.
Maka kini mendengar perintah Ang I Niocu, Cin Hai mencabut senjatanya dan menangkis serbuan Hai Kong Hosiang! Ang I Niocu membantu dan terpaksa Hai Kong Hosiang berkelahi sambil mundur karena menghadapi keroyokan dua orang ini, ia merasa jerih! Ia maklum sepenuhnya bahwa jika dilanjutkan, ia takkan menang menghadapi Cin Hai dan Ang I Niocu.
Kesempatan ini digunakan oleh Ang I Niocu untuk membetot tangan Cin Hai ke arah kuda Pek-gin-ma yang masih berdiri di situ dan kendalinya dipegang oleh seorang pelayan pangeran. Pangeran Vayami tak berani menghalangi karena ia maklum kalau Hai Kong Hosiang tidak berani menghadapi dua orang ini, apa lagi dia! "Hai-ji, kau naik di belakang dan kau mempertahankan setiap serangan!" kata lagi Ang I Niocu yang lalu melompat ke atas kuda itu. Cin Hai pun hanya menurut dan naik di belakang Ang I Niocu! Gadis itu menggunakan kakinya untuk menendang roboh pelayan yang memegang kendali dan ia lalu menarik kendali kuda Pek-gin-ma itu yang segera meringkik keras, mengangkat kedua kaki depan tinggi-tinggi ke atas, lalu berlari secepat angin! Hai Kong Hosiang sambil menyumpahnyumpah mengayunkan tiga batang piauw beracun ke arah mereka, akan tetapi dengan kebutan lengan bajunya, Cin Hai berhasil menyampok ketiga batang piauw itu ke tanah.
Malam itu terang bulan dan kuda Pek-gin-ma yang berbulu putih itu berlari cepat. Bulunya mengkilap tertimpa sinar bulan hingga ia benar-benar merupakan kuda yang mempunyai bulu bagaikan perak tulen! Ang I Niocu mencabut saputangannya yang digulung merupakan cambuk dan ia membujuk kuda Pek-gin-ma dengan mencambuk perlahan pada kuncungnya agar dapat berlari lebih cepat lagi. Kuda itu meringkik gembira dan ia benar-benar lari keras sekali seakan-akan keempat kakinya yang putih itu tidak menyentuh tanah! Sementara itu, Cin Hai duduk di belakang Ang I Niocu dengan anteng bagaikan sebuah boneka besar yang duduk diam sambil berdongak ke atas memandangi bulan! "Hai-ji... Hai-ji... kau kenapakah...?" berkali-kali Ang I Niocu bertanya sambil menoleh dan khawatir melihat sikap Cin Hai yang sudah berubah menjadi manusia robot itu! Akan tetapi Cin Hai tidak menjawab apa-apa, hanya termenung memandang bulan. Tiba-tiba ia menjawab juga, "Aku Pendekar Bodoh dan kau... kau... sahabatku yang harus kubela!" Hanya demikian ia menjawab dan selanjutnya ia tak dapat memikir apa-apa lagi.
Sebetulnya bagaimanakah maka Ang I Niocu, atau Dara Baju Merah yang gagah perkasa itu dapat tiba-tiba muncul di daerah utara ini dan kebetulan sekali dapat menolong Cin Hai? Untuk dapat mengetahui hal ini, baiklah kita menengok sebentar pengalamannya semenjak ia melarikan diri dengan Lin Lin dari keluarga Kwee.
Semenjak Ang I Niocu datang ke rumahnya, Lin Lin merasa tertarik dan suka sekali kepada Nona Baju Merah ini hingga ia mengajak Ang I Niocu tidur di kamarnya.
Dan di dalam kamarnya, dengan terus terang ia mengeluarkan isi hatinya, dan menuturkan betapa ia dan Cin Hai telah saling mencinta. Ia menceritakan pengalamannya dengan Cin Hai tanpa malu-malu lagi, tidak tahu sama sekali betapa kata-katanya semua itu merupakan sebuah senjata yang lebih tajam daripada sebuah pedang pusaka yang menusuk-nusuk hati dan perasaan Ang I Niocu.
Akhirnya Lin Lin berkata sambil merangkul Ang I Niocu dan menangis, "Cici yang baik, bayangkan betapa sedih hatiku ketika Engko Hai pergi meninggalkanku untuk membalas dendam ini. Selain merasa kecewa, aku pun merasa khawatir sekali akan keselamatannya. Bagaimana kalau ia sampai menemui bahaya? Kalau aku boleh ikut, biar kami berdua menghadapi bahaya maut dan sampai terbinasa sekalipun, aku merasa puas dan dapat mati dengan mata meram!"
Ketika Lin Lin tidak mendengar Ang I Niocu menjawab, ia memandang dan melihat bahwa Nona Baju Merah itu pun menangis dengan sedihnya sehingga ia terisak-isak, Lin Lin menyangka bahwa Nona Baju Merah ini ikut merasa sedih dan terharu, maka ia lalu berbalik menghibur.
"Cici, kalau engkau sudi membawaku mengejar Hai-ko dan An-ko! Setidaknya kita akan dapat membantu mereka bukan? Apalagi dengan adanya kau yang lihai, aku takkan takut menghadapi siapapun juga."
Karena bujukan-bujukan ini, akhirnya Ang I Niocu tak kuasa menahan lagi dan demikianlah, dengan diam-diam mereka pada malam hari itu juga melarikan diri untuk menyusul Cin Hai dan Kwee An! Ang I Niocu dapat melihat bahwa cinta gadis ini terhadap Cin Hai besar sekali, dan kalau pemuda itu pun membalas cinta Lin Lin, sudah menjadi tugasnya untuk menemukan mereka kembali. Bukankah ia mencinta kepada Cin Hai dengan sepenuh jiwanya? Cintanya bukan terdorong nafsu, akan tetapi ia betul-betul ingin melihat pemuda itu hidup bahagia di samping wanita yang dicintainya, dan menurut pandangannya, Lin Lin cukup pantas menjadi gadis pilihan Cin Hai.
Ang I Niocu yang telah berpengalaman itu dengan mudah dapat menduga bahwa Cin Hai dan Kwee An tentu menuju ke kota raja untuk mencari musuh-musuh besar itu, maka ia pun langsung mengajak Lin Lin menuju ke kota raja. Di sepanjang jalan tiada bosannya ia memberi petunjuk ilmu silat kepada Lin Lin, bahkan memberi tahu tentang rahasia latihan lweekang yang lebih tinggi.
Ketika mereka tiba di kota raja, Ang I Niocu mendengar tentang penyerbuan Cin Hai dan Kwee An, dan tentang terbunuhnya empat orang dari Santung Ngohiap dan dua orang perwira lain. Lin Lin mengucurkan air mata karena merasa girang dan terharu. Ketika mendengar bahwa dua orang musuh besarnya, yaitu Hai Kong Hosiang dan Boan Sip masih belum terbalas dan kedua pemuda itu mengejar mereka ke utara, Lin Lin lalu minta kepada Ang I Niocu untuk mengejar ke utara. Ang I Niocu menyetujui pula dan begitulah mereka pada keesokan harinya melakukan pengejaran ke utara. Mereka tertinggal tujuh hari oleh Kwee An dan Cin Hai.
Pada suatu hari mereka tiba di pinggir Sungai Liongkiang dan melihat dua orang sedang dikeroyok oleh sekumpulan perwira kerajaan. Dua orang ini bukan lain ialah Nelayan Cengeng dan muridnya, yaitu Ma Hoa atau gadis puteri Ma Keng In yang berpakaian laki-laki. Yang mengeroyok adalah tujuh orang perwira dan seorang hwesio yang gagah perkasa, karena hwesio ini bukan lain ialah Beng Kong Hosiang, suheng dari Hai Kong Hosiang yang pernah roboh di tangan Cin Hai.
Beng Kong Hosiang dan tujuh orang perwira itu mendapat tahu bahwa kedua orang pemuda yang mengacau di Enghiong-koan telah mengejar ke utara, maka mereka merasa kuatir akan keselamatan Hai Kong Hosiang lalu melakukan pengejaran pula. Di pinggir Sungai Liong-kiang mereka melihat sebuah perahu kecil di mana duduk seorang tua yang berpakaian nelayan dan seorang pemuda tampan. Biarpun para perwira itu mengenal Ma Keng In sebagai seorang perwira, akan tetapi mereka tidak mengenal Ma Hoa yang berpakaian laki-laki, dan mereka menyangka bahwa pemuda ini tentulah seorang nelayan pula.
Beng Kong Hosiang melihat sikap nelayan yang memandang acuh tak acuh itu, dapat menduga bahwa orang tua itu tentulah seorang kang-ouw yang berkepandaian, maka setelah menjura ia berkata, "He, kawan nelayan tua, tolonglah kami menyeberang sungai ini dengan perahumu, berapa saja upahnya yang kauminta, tentu pinceng bayar lunas!"
Nelayan Cengeng tertawa haha-hihi mendengar ucapan ini, kemudian menatap mereka baik-baik, ia lalu menjawab, "Hwesio yang bercampur gaul dengan segala perwira kerajaan, permintaanmu ini pantas sekali. Akan tetapi jawablah dulu. Kalian delapan orang dari istana ini hendak menuju ke manakah?"
Melihat sikap pelayan yang sama sekali tidak menghormati mereka, Ben Kong Hosiang yang menyangka bahwa nelayan itu tentu tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa, maka ia lalu menjawab, "Nelayan tua, ketahuilah, bahwa pinceng adalah Beng Kong Hosiang yang menjadi kepala penjaga dari kelenteng di istana dan menjadi penasehat dari kaisar sendiri. Maka janganlah kau banyak bertanya dan seberangkanlah pinceng bersama semua ciangkun ini."
Mendengar nama ini, terkesiaplah hati Nelayan Cengeng dan Ma Hoa. Mereka telah mendengar dari Kwee An bahwa hwesio ini adalah suheng dari Hai Kong Hosiang yang pernah bertempur dengan kedua pemuda itu, maka mereka dapat menduga bahwa rombongan ini tentulah mengejar Cin Hai dan Kwee An yang telah melanjutkan perjalanan pada beberapa hari yang lalu.
"Beng Kong Hosiang, kalau kau tidak memberi tahu maksud kepergianmu ke utara ini, terpaksa aku menolak untuk menyeberangkan kalian."
Seorang perwira yang berangasan menjadi marah dan membentak, "He, tua bangka! Tidak tahukah kau bahwa kau sedang berhadapan dengan perwira-perwira kaisar? Apa kau ingin mampus? Hayo, seberangkan kami dan jangan banyak tingkah lagi!"
Nelayan Cengeng tertawa bergelak mendengar kekasaran ini, lalu menjawab, "Perahu ini adalah perahuku, dan hanya aku yang berhak menentukan, apakah kalian boleh atau tidak memakai perahu ini. Sekarang aku katakan tidak boleh dan kalau kalian hendak menyeberang, gunakan saja lain perahu!"
Melihat sikap ini, Beng Kong Hosiang dapat menduga bahwa nelayan tua itu tentu bukan orang sembarangan.
Kalau saja di situ terdapat lain perahu tentu ia tidak akan melayani lagi, akan tetapi di situ tidak ada lain perahu dan perahu kecil nelayan itu hanyalah satu-satunya yang ada. Maka ia lalu berkata dengan suara halus, "Sahabat, mungkin karena kita belum berkenalan, maka kau tidak sudi menolong. Bolehkah pinceng mengetahui namamu yang mulia?"
Melihat sikap pendeta ini, tiba-tiba Nelayan Cengeng tertawa geli sekali hingga kedua matanya keluar air mata.
"Ha, ha, ha! Ternyata Beng Kong Hosiang dapat juga merendahkan diri. Sungguh lucu! Ketahuilah aku adalah seorang nelayan tua yang malang-melintang disungai ini untuk mencari ikan. Aku lebih suka berdekatan dengan ikan-ikan dari pada dengan segala perwira tukang pukul dan aku lebih tidak suka pula melihat hwesio-hwesio yang bergelandangan dengan tukang-tukang pukul itu, karena hwesio demikian ini tentu bukan hwesio baikbaik!"
Bukan main marahnya ketujuh perwira itu mendengar makian ini, akan tetapi Beng Kong Hosiang dapat mengendalikan perasaannya dan ia segera bertanya dengan heran, "Apakah kau ini Si Nelayan Cengeng?"
"Ha, ha, aku tertawa atau menangis menurut keadaan dan waktuku, apa sangkutannya dengan kau?" jawab Nelayan Cengeng itu. Jawaban yang tidak karuan ini menguatkan dugaan Beng Kong Hosiang karena ia pernah mendengar bahwa Nelayan Cengeng adalah seorang aneh yang kadang-kadang membawa tingkah seperti orang gila.
Sementara itu, ketujuh perwira yang telah mencabut senjata, lalu mendekat ke pinggir perahu dan membentak, "Orang tua kau lekas keluar dari perahu dan berikan perahurnu kepada kami untuk dipakai menyeberang dan jangan banyak cakap lagi!"
Ma Hoa semenjak tadi menahan marahnya, kini ia pun melompat keluar dari perahu ke darat dan menghunus pedangnya. Ketujuh perwira itu menyerbu kepada Ma Hoa dan segera pemuda itu terkurung rapat. Nelayan Cengeng tertawa bergelak dan sekali tubuhnya berkelebat, ia telah menghadapi Beng Kong Hosiang.
Pendeta ini tidak mau memperlihatkan kelemahannya dan ia segera menerjang dengan senjatanya yang aneh yaitu sebatang pacul. Nelayan Cengeng mengeluarkan senjatanya yang tidak kalah hebatnya, yaitu sebatang dayung yang terbuat daripada kayu hitam dan keras.
Kepandaian Nelayan Cengeng memang sangat tinggi dan tenaganya besar, maka sebentar saja Beng Kong Hosiang sangat terdesak oleh gerakan dayung yang mengamuk bagaikan seekor naga sakti menyambarnyambar itu. Melihat hal ini, maka dua orang perwira lalu membantunya dan yang lima orang lain masih saja mengeroyok Ma Hoa segera terdesak hebat dan keadaannya berbahaya sekali. Nelayan Cengeng biarpun tidak terdesak akan tetapi ilmu pacul Beng Kong Hosiang yang cukup hebat itu disertai bantuan dua orang perwira yang terpandai membuat ia tidak dapat membantu muridnya yang terdesak.
Dan pada saat itulah Ang I Niocu dan Lin Lin tiba di tempat itu. Ketika Ang I Niocu melihat bahwa yang mengeroyok nelayan tua dan pemuda cakap itu adalah rombongan perwira istana dan seorang hwesio yang tangguh, tanpa bertanya ia telah dapat memilih pihaknya. Ia lalu berbisik kepada Lin Lin, "Kaubantulah pemuda itu!" Kemudian sambil mencabut pedangnya, Ang I Niocu melompat dan menjadi sebuah sinar merah yang cepat sekali menggempur Beng Kong Hosiang dari samping sambil dibarengi teriakannya, "Hwesio penjilat kaisar, jangan kau menjual kesombongan di sini!"
Pedang Ang I Niocu berkelebat-kelebat membuat Beng Kong Hosiang terkejut sekali.
Baik Beng Kong Hosiang, maupun Nelayan Cengeng pernah mendengar nama Ang I Niocu, maka kini melihat seorang wanita cantik jelita yang berpakaian merah datang menyerbu dengan kepandaian yang demikian tinggi dan indah gerakannya segera mereka dapat menduga siapa adanya gadis ini. Beng Kong Hosiang mengertak gigi dan memperkuat gerakannya karena maklum bahwa ia menghadapi bantuan seorang yang tangguh, sedangkan Nelayan Cengeng lalu tertawa bergelak-gelak. "Ha, ha, ha, Beng Kong Hosiang! Agaknya ketika engkau berangkat dari kelentengmu, engkau belum mencuci tubuh hingga tertimpa kesialan! Sekarang pergilah mandi dulu!" Sambil berkata demikian ia mendesak hebat dengan dayungnya! Ilmu pedang Ang I Niocu memang sudah hebat sekali.
Apalagi kalau yang menghadapinya belum pernah melihat atau mengenal ilmu pedangnya, maka kehebatan itu akan menjadi makin mengerikan. Baru beberapa puluh jurus saja, ia dapat mendesak dua orang perwira yang mengeroyok Nelayan Cengeng dan akhirnya dengan tipu gerakan Bidadari Menyebar Bunga ia berhasil melukai tangan mereka hingga senjata mereka berdua terlepas dari pegangan! Kedua perwira ini berteriak kesakitan dan melompat mundur. Dan pada saat itu juga, Nelayan Cengeng juga telah berhasil menghantamkan dayungnya yang mengenai paha Beng Kong Hosiang.
Hwesio itu terhuyung-huyung dan Nelayan Cengeng sambil tertawa-tawa mendupak pantatnya hingga hwesio itu menggelundung dan masuk ke dalam sungai! "Ha, ha, mandilah! Mandilah biar bersih!" Nelayan Cengeng berkata sambil tertawa geli! Lin Lin juga tidak mau tinggal diam. Dara muda ini ketika melihat betapa pemuda yang tampan dan memiliki ilmu pedang lumayan juga sedang dikeroyok oleh lima orang perwira yang berkepandaian tinggi hingga keadaannya terdesak dan berbahaya sekali, lalu menyerbu dengan pedang pendeknya yang lihai berputar-putar di tangannya! Tadinya memang Lin Lin telah memiliki ilmu pedang yang baik, maka ditambah dengan petunjuk dari Ang I Niocu yang diberikan kepadanya, kini kepandaiannya telah maju pesat dan gerakan pedang pendeknya lihai dan dahsyat. Sebentar saja ia telah merobohkan seorang pengeroyok.
Sebaliknya Ma Hoa ketika melihat seorang gadis manis menyerbu dan membantunya, menjadi girang sekali dan sekarang timbullah semangatnya. Gadis yang berpakaian sebagai laki-laki ini lalu membentak nyaring dan pedangnya membuat gerakan kilat hingga kembali seorang perwira kena dirobohkan! "Adikku yang manis! Terima kasih atas bantuanmu!"
Ma Hoa berseru dar mengerling ke arah Lin Lin sambil memutar pedangnya menyerang terus. Lin Lin kaget dan marah mendengar ini, karena ia menganggap bahwa "pemuda" ini sungguh kurang ajar hingga mukanya berubah merah karena malu dan marah.
Sementara itu, para perwira ketika melihat datangnya dua orang gadis kosen ini dan melihat betapa Beng Kong Hosiang telah dikalahkan, dan dilempar ke dalam sungai, menjadi takut dan jerih. Mereka lalu membalikkan tubuh dan melarikan diri secepatnya, mengejar Beng Kong Hosiang yang melarikan diri terlebih dulu! Nelayan Cengeng tertawa terkekeh-kekeh dan membiarkan semua perwira itu lari, bahkan yang terluka lalu merangkak-rangkak dan pergi tanpa diganggu sedikit pun.
"Ha, ha, Beng Kong Hosiang! Baru sekarang kau tahu lihainya dayung butut Nelayan Cengeng!!" berseru nelayan tua itu dengan tertawa geli sampai kedua matanya mengeluarkan air mata.
Mendengar nama ini, Ang I Niocu terkejut sekali dan ia buru-buru memberi hormat. "Ah, tidak tahunya Cianpwe adalah Kong Hwat Lojin Si Nelayan Cengeng! Terimalah hormat dari aku yang muda!"
Kembali Nelayan Cengeng tertawa senang. "Bagus, bagus! Ang I Niocu, namamu bukan kosong belaka. Ilmu pedangmu sungguh membuat aku orang tua merasa kagum sekali!"
Sementara itu melihat betapa Lin Lin memandangnya dengan mata tajam dan mulut cemberut, Ma Hoa tertawa dan berkata kepadanya, "Adik yang manis, ilmu pedangmu pun hebat sekali! Siapakah namamu?"
Kini Lin Lin tak dapat menahan marahnya lagi karena ia menganggap pemuda ini terlalu kurang ajar! Ia belum pernah mendengar nama Nelayan Cengeng maka ia tidak berapa menaruh perhatian pada kakek itu, dan sambil menudingkan telunjuknya ke arah hidung Ma Hoa, ia berkata, "Kau janganlah membuka mulut sembarangan dan berlaku kurang ajar! Kau kira aku ini siapakah maka kau berani bertanya sembarangan saja?"
Lin Lin menjadi makin terheran dan marah ketika melihat "pemuda" itu tidak marah, bahkan tertawa bergelak dan nyaring. Akan tetapi anehnya, ketika tertawa "pemuda" ini menggunakan ujung lengan bajunya untuk menutupi mulutnya, sedangkan suaranya juga nyaring dan merdu seperti suara ketawa seorang wanita! Selagi ia berdiri memandang dengan mata heran tercampur marah, tiba-tiba Nelayan Cengeng juga tertawa dan berkata, "Nona, dia ini adalah muridku dan bernama Ma Hoa! Memang seorang pemuda ceriwis yang layak dipukul! Ha, ha, ha!"
"Suhu, jangan membikin Nona ini menjadi makin marah! Lihat, mukanya sudah menjadi merah dan mulutnya cemberut menambah manisnya!" kata Ma Hoa.
Lin Lin menjadi gemas sekali, akan tetapi sebelum ia menggerakkan tangan yang hendak menampar mulut "pemuda" itu, tiba-tiba Ang I Niocu yang bermata tajam sambil tersenyum berkata kepadanya, "Adik Lin Lin, mengapa kau begitu bodoh? Pemuda ini adalah seorang wanita! Apakah kau tak dapat menduganya?"
Lin Lin terkejut dan memandang dengan tajam sedangkan Ma Hoa lalu melepaskan kupiahnya hingga rambutnya yang hitam dan panjang itu terurai ke bawah menutupi pundaknya. Kini "pemuda" itu berubah menjadi seorang gadis yang cantik jelita dan yang sedang tertawa manis kepadanya. Lin Lin juga tertawa dan mukanya menjadi makin merah karena malu akan kebodohannya sendiri. Ma Hoa menghampiri dan memeluk pundak Lin Lin.
"Adikku yang manis, maafkanlah aku yang menggodamu. Entah mengapa, melihat kau semanis ini, aku menjadi suka sekali! Siapakah namamu, Adik yang manis?" tanyanya.
"Enci, kau benar-benar nakal sekali! Siapa yang menyangka engkau bukan seorang pemuda aseli? Namaku adalah Kwee Lin."
Sepasang mata Ma Hoa yang jeli itu bersinar mendengar ini. "Apa? Engkau she Kwee? Eh, Adik, kenalkah engkau kepada seorang pemuda bernama...
Kwee An?"
Lin Lin menangkap tangan Ma Hoa dan memegang tangan itu erat-erat. "Enci Hoa, apakah engkau bertemu dia? Dia adalah kakakku dan sekarang aku sedang mencari dia!"
"Ha, ha, ha!" Si Nelayan Cengeng tertawa bergelak.
"Ini namanya kebetulan sekali. Nona Kwee Lin, kau tadi tidak membantu orang lain oleh karena yang kaubantu itu adalah calon Soso (Kakak iparmu) sendiri!"
Lin Lin tercengang dan memandang kepada wajah Ma Hoa yang menunduk kemalu-maluan. "Betulkah ini, Enci Hoa?"
Ma Hoa tak dapat menjawab, hanya tertunduk sambil memegang-megang pedang yang tergantung di pinggangnya. Tiba-tiba Lin Lin mengenali pedang Kwee An dan ia segera memeluk Ma Hoa dengan girang sekali.
"Ah, benar engkau telah menerima pedang Engko An! Ah, aku girang sekali! Eh, calon ensoku yaqg baik, sekarang beritahukanlah kepadaku di mana adanya calon suamimu itu?"
Ma Hoa mengerling dan cemberut. "Kau nakal sekali, Adik Lin! Kalau kau tidak mau berhenti menggodaku aku takkan mau memberitahukan di mana dia sekarang berada!"
Sementara itu, Ang I Niocu juga merasa girang sekali mendengar bahwa benar-benar Cin Hai dan Kwee An telah di sini dan bahkan Kwee An telah mengikat perjodohan dengan gadis murid Nelayan Cengeng yang cantik dan gagah itu.
Nelayan Cengeng lalu menuturkan kepada Ang I Niocu dan Lin Lin akan pengalaman mereka dan pertemuan mereka dengan Cin Hai dan Kwee An beberapa waktu yang lalu. Mereka memberitahukan bahwa kedua anak muda itu telah melanjutkan perjalanan mereka ke utara dalam usaha mereka mencari dan mengejar Hai Kong Hosiang.
Dalam kegembiraan mereka karena pertemuan ini, baik Nelayan Cengeng dan muridnya, maupun Ang I Niocu dan Lin Lin telah kurang hati-hati dan mereka tidak tahu bahwa di pinggir sungai masih ada seorang perwira yang tadi terpelanting ke dalam sungai dan kini bersembunyi di dalam air sambil mengeluarkan kepala dari permukaan air yang disembunyikan di bawah rumput alang-alang. Perwira ini mendengar semua percakapan mereka dan alangkah kaget, heran dan marahnya ketika mendapat kenyataan bahwa "pemuda" itu adalah Ma Hoa, puteri dari perwira Ma Keng In yang ia kenal baik! Ang I Niocu dan Lin Lin tidak menunda perjalanan mereka dan segera berpamit untuk melanjutkan penyusulan mereka kepada kedua pemuda kita.
Sebetulnya di dalam hatinya Ma Hoa hendak ikut, akan tetapi ia malu untuk menyatakan hal ini dan pula ia khawatir kalau-kalau ia dikenal oleh para perwira hingga kedudukan ayahnya sebagai seorang perwira akan terancam. Maka terpaksa mereka melepaskan kedua orang gadis pendekar itu pergi dengan hati berat.
Setelah semua orang pergi, perwira yang bersembunyi itu lalu merangkak keluar dan segera lari menuju kembali ke kota raja untuk membuat laporan. Beng Kong Hosiang yang merasa malu dan marah sekali karena kekalahannya, lalu mengumpulkan sejumlah besar perwira dan segera mengejar terus ke utara! Pertemuan dengan Nelayan Cengeng dan Ma Hoa itu membuat Ang I Niocu dan Lin Lin merasa girang sekali, oleh karena tidak saja mereka girang mendengar bahwa Kwee An telah mendapat jodoh seorang gadis yang cantik dan gagah, juga mereka kini telah dapat mengikuti jejak kedua pemuda itu dan mendapat kesempatan untuk ikut membalas dendam kepada Hai Kong Hosiang! Dua hari kemudian, ketika dua orang gadis pendekar ini sedang berjalan di tempat yang sunyi dari depan mereka melihat dua orang berjalan cepat mendatangi.
Gerakan kedua orang dari depan itu demikian cepat hingga Ang I Niocu dan Lin Lin maklum bahwa mereka tentulah orang-orang berkepandaian tinggi. Dan setelah dekat ternyata bahwa dua orang itu adalah Boan Sip, perwira musuh besar keluarga Kwee dan seorang tua yang kelihatan pucat dan berjubah hitam, dan sepasang matanya mengeluarkan sinar kejam.
Ternyata bahwa Boan Sip adalah seorang perwira yang selain cerdik, juga berwatak pengecut sekali. Ketika ia mendengar bahwa kawan-kawannya telah tewas di dalam tangan anak-anak muda yang membalas dendam keluarga Kwee, ia lalu cepat-cepat pergi mengunjungi suhunya, yaitu Bo Lang Hwesio. Dengan pandai Boan Sip dapat membujuk suhunya untuk membela dirinya dari ancaman musuh-musuhnya. Dan kebetulan sekali, ketika mereka sedang berjalan menuju ke kota raja, di tengah jalan mereka bertemu dengan Ang I Niocu dan Lin Lin.
Melihat Lin Lin, tentu saja Boan Sip menjadi girang sekali dan sebaliknya Lin Lin juga girang oleh karena tak disangka-sangkanya ia dapat bertemu dengan musuh besarnya di tempat itu.
"Bangsat rendah, akhirnya dapat juga aku membalas dendamku!" teriak Lin Lin sambil mencabut keluar pedangnya dan melompat lalu menyerang Boan Sip dengan sengitnya. Boan Sip tertawa besar dan menggunakan pedangnya menangkis sehingga sebentar saja mereka bertempur dengan seru dan hebat.
Sementara itu, karena menyangka bahwa hwesio ini bukan lain tentulah kawan Boan Sip, Ang I Niocu segera mencabut pedangnya dan menyerang Bo Lang Hwesio.
Akan tetapi, Dara Baju Merah ini terkejut sekali ketika pedangnya dengan mudah ditangkis oleh ujung lengan baju hwesio itu! Ia berlaku hati-hati sekali oleh karena maklum bahwa hwesio ini berkepandaian tinggi.
Sebaliknya melihat gerakan pedang Ang I Niocu yang lain daripada pedang biasa, Bo Lang Hwesio juga merasa kagum dan membentak, "Nona yang gagah siapakah namamu?"
Akan tetapi Ang I Niocu mana sudi memberitahukan namanya dan sambil menyerang terus ia berseru, "Hwesio jahat tak usah menanya nama! Awaslah pedangku akan menyambar lehermu!"
Boan Sip yang mendengar ini lalu berkata kepada suhunya, "Suhu, Nona Baju Merah itu adalah Ang I Niocu yang sombong!"
Bo Lang Hwesio pernah mendengar nama besar Ang I Niocu, maka sambil tertawa ia berkata, "Bagus! Ang I Niocu, pinceng Bo Lang Hwesio memang sudah lama mendengar nama besarmu. Nah, kauperlihatkanlah kepandaianmu, hendak kulihat sampai di mana tingginya!"
Sehabis berkata demikian, Bo Lang Hwesio lalu menghadapi Ang I Niocu dengan tangan kosong, akan tetapi setelah berkelahi dua puluh jurus lebih, diam-diam Ang I Niocu terkejut dan mengeluh. Ternyata kepandaian hwesio jubah hitam ini benar-benar tinggi dan setingkat lebih tinggi dari kepandaiannya sendiri! Ang I Niocu mengigit bibir dan memutar pedangnya secepatnya untuk menghadapi hwesio yang amat tangguh ini.
Sebaliknya, biarpun sudah mendapat petunjuk dari Ang I Niocu dan kepandaiannya sudah banyak maju, namun Lin Lin masih belum dapat mengatasi kepandaian Boan Sip yang kosen. Makin lama, pedang Boan Sip makin rapat mengurung dirinya hingga Lin Lin menjadi bingung dan terdesak sekali keadaannya! Ketika ia mengerling Ang I Niocu, ia menjadi makin gugup oleh karena melihat betapa Ang I Niocu juga sangat didesak oleh hwesio itu. Karena bingung dan gugup, gerakannya menjadi lambat dan tiba-tiba sebuah tendangan Boan Sip mengenai pergelangan tangannya membuat pedang pendeknya terlempar ke atas dan disambut cepat oleh Boan Sip yang tertawa bergelak-gelak. Perwira muda itu lalu menyerang terus dan memutar-mutar pedangnya sehingga Lin Lin terpaksa harus mengelak sambil berloncatan ke sana ke mari menghindarkan diri dari tusukan pedang lawan! Ia tidak berdaya oleh karena pedangnya telah terampas lawan dan pada saat ia sudah amat terdesak, tiba-tiba ia kena ditotok pundaknya oleh Boan Sip hingga roboh terguling dengan tubuh lemas tak berdaya! Boan Sip tertawa lagi. "Ha, ha, ha! Hanya sebegini saja kepandaianmu dan kau mencari aku untuk membalas dendam? Nah, terimalah hadiahku ini!" Ia mengangkat pedangnya ke atas, akan tetapi ketika ia memandang wajah Lin Lin perasaan cintanya yang dulu timbul kembali dan hatinya tidak tega. Ia lalu membungkuk dan menyambar tubuh Lin Lin yang terus dikempit dan dibawa lari! "Bangsat hina dina, lepaskan adikku!" Ang I Niocu meloncat hendak mengejar, akan tetapi Bo Lang Hwesio mencegahnya dengan serangan berbahaya hingga terpaksa Ang I Niocu melayani hwesio kosen ini lagi! Hati Dara Baju Merah ini tidak karuan rasanya dan permainan pedangnya menjadi kalut. Setelah mendesak Ang I Niocu dengan hebatnya akan tetapi ternyata pertahanan pedang Gadis Baju Merah itu pun amat kuat hingga setelah bertempur lama belum juga ia dapat merobohkan gadis itu, tiba-tiba Bo Lang Hwesio meloncat pergi sambil berkata, "Cukup, Ang I Niocu, sudah cukup kita bermain-main.
Lain waktu kita boleh bertemu kembali!"
Ang I Niocu hendak mengejar, akan tetapi gerakan hwesio yang gesit itu dan juga oleh karena merasa bahwa ia kalah tinggi kepandaiannya, Ang I Niocu mengurungkan maksudnya mengejar. Apa gunanya mengejar kalau ia tidak dapat menangkap hwesio ini dan tidak dapat mengejar Boan Sip yang menculik pergi Lin Lin? Yang perlu adalah menolong Lin Lin, maka ia lalu mengendurkan larinya dan bermaksud untuk mengikuti hwesio itu dengan diam-diam agar mengetahui ke mana mereka membawa Lin Lin.
Akan tetapi ternyata bahwa waktu yang lama tadi telah memberi kesempatan kepada Boan Sip lari jauh sekali! Dan juga Bo Lang Hwesio yang cerdik tidak mau diikuti olehnya hingga hwesio itu lari secepatnya menyusul muridnya. Ang I Niocu kehilangan jejak mereka, maka Gadis Baju Merah ini dengan sedih dan marah lalu berkeliaran di sekitar daerah itu mencari-cari jejak Boan Sip. Akan tetapi, oleh karena ia masih asing dengan daerah utara, maka usahanya ini sia-sia belaka, bahkan ia lalu tersesat jalan dan tanpa disengaja, akhirnya ia bertemu dengan rombongan Pangeran Vayami dan kemudian dengan tipu dayanya menarik hati pangeran yang mata keranjang itu, ia berhasil menolong dan membawa lari Cin Hai yang keadaannya telah menjadi seperti boneka hidup itu.
Dapat dibayangkan betapa bingung dan sedihnya hati Ang I Niocu. Memikirkan keadaan Lin Lin yang terculik oleh Boan Sip, perwira jahat itu saja, hatinya sudah menjadi bingung dan sedih sekali. Apalagi sekarang ia bertemu dengan Cin Hai dalam keadaan seperti itu, maka hatinya menjadi makin bingung dan sedih.
Cin Hai, satu-satunya orang yang dikasihinya, satusatunya orang yang diharapkan tenaga bantuan untuk mencari Lin Lin dan membasmi musuh besar keluarga Kwee, telah hilang ingatan menjadi orang tolol setololtololnya.
Celaka betul! Sambil melarikan kudanya keras-keras, kepala Ang I Niocu berputar-putar dan ia merasa jengkel sekali mendengar betapa yang diingat oleh Cin Hai hanyalah bahwa pemuda itu adalah "Pendekar Bodoh"! Ketika angin malam yang sejuk meniup mukanya dan muka Cin Hai yang duduk di belakangnya, pemuda itu tertawa senang dan berkata, "Angin sejuk! Angin enak!"
Mendengar ini, Ang I Niocu menahan dan menghentikan kudanya, lalu melompat turun. Juga Cin Hai meniru perbuatannya dan melompat turun.
"Hawa sejuk, angin dingin! Sungguh nyaman!" kata Cin Hai.
Timbul harapan Ang I Niocu mendengar seruan dan melihat kegembiraan ini. Ia segera memegang tangan Cin Hai dan berkata, "Hai-ji! Ingatkah kau sekarang? Tahukah kau siapa aku?"
"Kau adalah sahabat baik, dan aku... aku Pendekar Bodoh!"
"Bukan bodoh, tetapi tolol! Tolol sekali!" Ang I Niocu membentak dan tiba-tiba gadis itu menjatuhkan dirinya duduk di atas sebuah batu hitam sambil menangis.
Hatinya sedih dan bingung, dan baru kali ini selama hidupnya ia merasa amat sengsara. Ia sedih dan bingung memikirkan nasib Lin Lin dan ia gemas melihat Cin Hai yang hanya tolal-tolol seperti boneka itu. Apakah yang ia perbuat? "Sahabatku? Mengapa engkau menangis? Apakah engkau lapar?" tanya Cin Hai dengan penuh perhatian. Agaknya dalam ingatannya yang kosong ini, Cin Hai teringat ketika ia masih kecil dan ketika ia merantau dan menderita kelaparan. Maka melihat orang menangis, otomatis ia teringat akan sengsaranya orang yang menderita kelaparan! Ang I Niocu menjadi mendongkol dan gemas sekali. Ia menjadi makin bingung ketika ia teringat kepada Kwee An. Di manakah adanya pemuda itu? Hatinya terpukul dan dengan penuh kekhawatiran ia menduga bahwa tak salah lagi Kwee An tentu telah mengalami kecelakaan.
Pemuda itu tadinya bersama Cin Hai, sedangkan Cin Hai tertawan musuh dan keadaannya begini macam, tentu sekali keadaan Kwee An juga tak dapat diharapkan selamat.
"Hai-ji... Hai-ji, kaucobalah untuk mengingat-ingat! Di manakah adanya Kwee An? Putarlah otakmu dan gunakan ingatanmu!" katanya gemas.
"Kwee An? Siapakah dia? Aku tak kenal, tidak tahu... aku tidak tahu apa-apa!"
Ang I Niocu menghela napas, akan tetapi ia dapat menenangkan hatinya. Ia pikir dalam keadaan seperti ini, ia harus menggunakan ketenangan dan mencari akal.
Kalau ia bingung dan sedih, hal ini takkan menolong bahkan akan makin mengacaukan urusan. Ia harus lebih dulu mencarikan obat memulihkan ingatan Cin Hai yang telah lupa akan segala apa ini.
Demikianlah dengan penuh kesabaran Ang I Niocu mengajak Cin Hai melanjutkan perjalanan sambil mencari-cari jejak Boan Sip dan gurunya yang melarikan Lin Lin. Setiap saat, tiada bosannya Ang I Niocu mengajak Cin Hai bercakap-cakap tentang hal-hal dahulu untuk mengembalikan ingatan pemuda itu, akan tetapi pengaruh madu merah memang mujijat sekali. Cin Hai biarpun merasa senang sekali mendengar penuturan Ang I Niocu dan tiap-tiap kali gadis itu bercerita, ia memandang wajahnya dengan mata berseri, akan tetapi, sama sekali pemuda itu tidak dapat mengingat hal yang terjadi di masa lalu! Sampai tiga hari mereka berkeliaran di daerah utara tanpa berhasil mendapat jejak Boan Sip penculik Lin Lin hingga makin hari makin gelisahlah hati Ang I Niocu.
Dalam tiga hari ini, Gadis Baju Merah itu menjadi kurus dan pucat! Pada malam ke tiga, di waktu bulan bersinar penuh dan sebulatnya hingga malam itu amat indah dan romantis sekali, Ang I Niocu sambil menuntun kuda culikannya berjalan dengan perlahan, Cin Hai berjalan di sebelahnya dan keduanya tak bercakap-cakap, melamun dalam pikiran masing-masing. Ketika mereka melalui daerah yang banyak terdapat batu-batu karang besar dan hitam hingga menyeramkan tampaknya di bawah sinar bulan itu, tiba-tiba Ang I Niocu mendengar suara tertawa yang aneh dan menyeramkan dari tempat jauh! "Setan dan iblis juga turut menggodaku!" gadis itu menggerutu dengan marah, karena siapakah orangnya yang akan tertawa seperti itu di tengah-tengah padang yang luas dan sunyi ini kecuali setan dan iblis? "Bukan setan dan iblis, itu suara orang ketawa," tibatiba Cin Hai berkata, oleh karena biarpun telah kehilangan ingatannya, namun kepandaian dan ketajaman telinga Cin Hai tak menjadi berkurang karenanya. Kalau telinga Ang I Niocu tak dapat menangkap suara ketawa itu dengan jelas oleh karena suara itu diliputi gema yang keras, adalah Cin Hai dapat menangkap suara itu dengan jelas dan tahu bahwa yang tertawa adalah manusia biasa, akan tetapi yang menggunakan tenaga khikang di dalam suara ketawanya hingga terdengar dari tempat jauh dan amat menyeramkan.
Bagaikan tertarik oleh tenaga gaib, Cin Hai lalu menujukan tindakan kakinya ke arah suara ketawa tadi dan Ang I Niocu juga berjalan mengikuti pemuda itu.
Setelah melewati beberapa gunduk batu karang, akhirnya mereka tiba di tempat terbuka di mana tanahnya rata dan luas merupakan satu tempat terbuka yang kering dan berumput serta terang karena mendapat sinar bulan dengan sepenuhnya. Dan ketika mereka keluar dari belakang sebuah gunung karang, Cin Hai berdiri diam dan Ang I Niocu juga berhenti bertindak dan berdiri di belakang pemuda itu dengan hati terasa ngeri dan seram ketika melihat pemandangan yang dilihatnya di tempat itu.
Di tempat terbuka itu, di atas tanah, melihat dua tumpuk tengkorak-tengkorak manusia merupakan gundukan tinggi seperti batu-batu bundar dan putih, dan tumpukan tengkorak itu terpisah kira-kira dua tombak jauhnya. Di atas tiap tumpukan tengkorak terlihat dua orang dalam keadaan aneh, yang seorang berjongkok sambil meluruskan kedua tangan ke depan, dan yang seorang lagi berdiri di atas puncak gundukan itu dengan kepala di bawah dan kedua kaki di atas! Kedua orang ini saling berhadapan dan saling menggerak-gerakkan kedua tangan seakan-akan sedang melakukan pukulan-pukulan dan nampaknya menyeramkan sekali. Apalagi ketika Ang I Niocu melihat orang yang berjongkok itu, diam-diam ia bergidik oleh karena orang itu dapat disebut seorang rangka hidup! Muka itu tua dan kurus sekali, mukanya tak berdaging sedikitpun juga hingga merupakan tengkorak terbungkus kulit. Rambutnya yang hanya sedikit di atas kepala itu diikat dengan sehelai kain dan pakaiannya seperti pakaian pendeta.
Orang ke dua yang berdiri dengan kepala di bawah di atas tumpukan tengkorak itu adalah seorang hwesio tinggi besar dan bermuka menyeramkan dan ketika Ang I Niocu memandang dengan penuh perhatian, ternyata bahwa hwesio ini bukan lain ialah Hai Kong Hosiang! Berdebarlah hati Ang I Niocu melihat hwesio kosen ini, akan tetapi oleh karena di situ ada Cin Hai, ia tidak takut sama sekali. Ia maklum bahwa Hai Kong Hosiang dan kakek tua renta yang seperti rangka itu menguji tenaga khikang secara aneh dan menyeramkan sekali. Harus diketahui bahwa tumpukan tengkorak itu licin dan mudah sekali runtuh, maka baru berdiri di puncak tumpukan saja membutuhkan kepandaian ginkang yang amat tinggi, apalagi kalau harus mengerahkan tenaga mengadu khikang! Lebih-lebih kalau berdirinya dengan kepala di bawah dan kaki di atas seperti yang dilakukan oleh Hai Kong Hosiang, maka diam-diam Ang I Niocu merasa kagum dan ngeri melihat kemajuan dan kehebatan Hai Kong Hosiang. Pada saat itu, biarpun Hai Kong Hosiang telah mengerahkan tenaga di kedua tangannya mendorong dan memukul ke depan, akan tetapi kakek tua renta yang berjongkok di puncak tumpukan tengkorak ke dua itu tak bergerak sedikitpun juga, sedangkan ketika kakek tua renta itu mengayun kedua tangannya, biarpun hanya dengan gerakan perlahan saja, namun tubuh Hai Kong Hosiang telah bergerakgerak dan terayun-ayun seakan-akan didorong-dorong dan hendak roboh! Dari sini dapat diduga bahwa tenaga khikang kakek itu lebih tinggi daripada tenaga Hai Kong Hosiang! Ketika Hai Kong Hosiang yang berdiri jungkir balik itu melihat kedatangan Cin Hai dan Ang I Niocu, hwesio ini lalu berseru keras, "Hai, bagus sekali kalian datang mengantar kematian!"
Dan ia lalu memberi tanda dengan kedua tangannya yang menggerak-gerakkan jari-jari tangan ke arah kakek tua renta itu. Kakek ini lalu memutar tubuhnya menghadapi Ang I Niocu dan Cin Hai dengan gerakan ringan sekali dan dari atas tumpukkan tengkorak itu ia mengirim pukulan dengan kedua tangannya ke arah Cin Hai dan Ang I Niocu! Sungguh hebat tenaga pukulan kakek itu yang dilancarkan dari tempat jauh. Ang I Niocu merasa betapa angin tenaga raksasa mendorongnya dan cepat-cepat gadis ini meloncat ke samping agar jangan sampai terluka oleh tenaga pukulan maut ini. Sebaliknya, Cin Hai yang dapat juga merasai datangnya tenaga hebat ini, segera menggunakan kedua tangannya untuk mendorong ke depan dan mengerahkan tenaga khikangnya! Dua tenaga raksasa bertemu dari dorongan dua orang ini dan Cin Hai lalu terhuyung mundur sampai empat langkah! Sedangkan kakek itu kedudukannya menjadi miring, tanda bahwa ia pun kena dorong oleh tenaga Cin Hai yang tidak lemah! Ang I Niocu terkejut karena maklum bahwa adu tenaga ini menyatakan bahwa kakek tua renta ini masih lebih kuat dan lebih lihai daripada Cin Hai. Hal ini belum seberapa, akan tetapi kenyataan bahwa kakek ini mentaati permintaan Hai Kong Hosiang yang dilakukan dengan gerak tangan menandakan bahwa kakek ini berdiri di pihak Hai Kong Hosiang! Hal ini berbahaya sekali oleh karena dapat diduga betapa tingginya kepandaian kakek itu! Akan tetapi pada saat itu, kakek tua renta dan Hai Kong Hosiang tiba-tiba berseru keras sekali. Kemudian keduanya lalu bergerak dan meloncat turun dari tumpukan tengkorak bagaikan orang ketakutan! Ketika Ang I Niocu memperhatikan, ia pun merasa terkejut sekali dan hampir saja ia menjerit. Ternyata bahwa di antara sekian banyaknya tengkorak yang ditumpuk, di tengah-tengah tumpukan, tengkorak yang dinaiki Hai Kong Hosiang tadi terdapat sebuah kepala yang bukan tengkorak, oleh karena kepala ini mempunyai sepasang mata yang dapat melirik ke sana ke mari dan masih berambut sungguhpun rambutnya telah putih semua! Sedangkan di tengah tengah tumpukan tengkorak yang dinaiki kakek tua renta tadi pun terdapat sebuah kepala yang kini mengeluarkan suara tertawa terkekeh-kekeh menyeramkan. Akan tetapi, tiba-tiba rasa ngeri dan takut di dalam hati Ang I Niocu berubah rasa girang oleh karena ia segera dapat mengenal suara ketawa terkekeh ini. Bu Pun Su, kakek gurunya orang luar biasa itu, entah bagaimana telah bersembunyi di dalam tumpukan tengkorak yang diinjak oleh kakek tua renta itu.
Memang benar, ketika tiba-tiba di dalam tumpukan terjadi gerakan yang membuat semua tengkorak menggelinding ke sana ke mari, muncullah Bu Pun Su dari tumpukan itu sambil berseri mukanya dan mulutnya tertawa geli. Dengan gerakan sebelah tangannya, Bu Pun Su membuat tumpukan yang satu lagi menjadi runtuh dan dari dalam tumpukan itu muncullah seorang suku bangsa Jungar yang sudah tua sekali dan yang sama sekali tidak dikenal oleh Ang I Niocu. Ternyata orang tua bangsa Mongol ini adalah dukun atau ahli pengobatan yang ikut dalam rombongan Pangeran Vayami dan yang telah diculik oleh Bu Pun Su dan dibawa ke situ serta dipaksa masuk dan bersembunyi di dalam tumpukan tengkorak.
Hai Kong Hosiang menjadi pucat sekali ketika melihat Bu Pun Su. Ia maklum akan kelihaian kakek jembel ini, akan tetapi oleh karena ia ditemani oleh kakek tua renta yang bukan lain adalah supeknya (uwa gurunya) yang bernama Kam Ki Sianjin, orang yang sudah tua usianya hingga telah gagu tak dapat bicara pula, maka Hai Kong Hosiang berbesar hati dan mengandalkan tenaga supeknya ini untuk melawan Bu Pun Su.
"Supek, inilah Bu Pun Su si manusia jahil yang telah berkali-kali menggangu teecu!" Hai Kong Hosiang berkata sambil menuding ke arah Bu Pun Su yang masih berdiri sambil tertawa. Kam Ki Sianjin masih dapat menggunakan telinganya untuk mendengar, bahkan ia memiliki ketajaman pendengaran yang luar biasa, akan tetapi lidahnya telah membeku dan ia tak dapat berbicara lagi. Maka ia lalu menatap wajah Bu Pun Su dan tiba-tiba menepuk kedua tangan sekali, menunjuk ke arah Bu Pun Su dengan tangan kiri dan arah diri sendiri dengan tangan kanan, lalu mengangkat kedua tangan itu ke atas kepala dengan jari-jari ke atas dan sama tingginya. Ia hendak menyatakan bahwa dia dan Bu Pun Su boleh mengadakan pibu karena tingkat kepandaian mereka sama tingginya.
Bu Pun Su tertawa lagi dengan hati geli, kemudian ia pun menepuk tangan, menuding ke arah tengkoraktengkorak yang bergelimpangan di bawah dan ke arah Kam Ki Sianjin, lalu menurunkan kedua tangannya ke bawah, sama rendahnya. Ia hendak menyatakan bahwa Kam Ki Sianjin mempunyai tingkat yang sama rendahnya dengan tengkorak-tengkorak itu! Ini bukan semata-mata penghinaan yang tak berdasar oleh karena Bu Pun Su tahu bahwa kakek tua renta itu berjuluk Si Tengkorak Hidup.
Kam Ki Sianjin menjadi marah sekali dan segera melompat maju menyerang Bu Pun Su. Gerakannya cepat bagaikan menyambarnya kilat hingga Ang I Niocu terkejut sekali oleh karena belum pernah ia menyaksikan ginkang demikian tingginya, lalu menepuk pundak Cin Hai yang memandang semua itu dengan bengong tapi nyata kelihatan tertarik sekali. Ketika ia menengok ke arah Ang I Niocu yang menepuk pundaknya, Ang I Niocu berkata, "Hai-ji, hwesio tinggi besar itu adalah Hai Kong Hosiang dan ia adalah musuh besarmu. Hayo kita serang dia!"
"Aku tidak punya musuh. Apakah engkau bermusuhan dengan dia?" tanya Cin Hai. Ang I Niocu menjadi gemas dan ia berkata keras, "Ya, ya, dia musuh besarku, hayo kita serang dia!"
"Baik! Kalau dia musuhmu, aku, akan menyerang dia!"
Ia lalu melompat dan menyerang Hai Kong Hosiang yang melayaninya sambil memaki-maki.
"Ang I Niocu! Perempuan rendah, perempuan curang!"
"Bangsat gundul, hari ini kau harus mampus!" Ang I Niocu berseru marah dan mencabut pedangnya, terus membantu Cin Hai mengeroyok hwesio itu.
Demikianlah, disaksikan oleh puluhan tengkorak yang bergelimpangan di atas tanah dan oleh dukun tua berbangsa Mongol yang berdiri tak bergerak bagaikan hantu malam, di tempat yang mengerikan itu terjadi perkelahian hebat sekali. Yang paling hebat adalah perkelahian yang terjadi antara Bu Pun Su dan Kam Ki Sianjin, oleh karena di tempat mereka bertempur itu tidak kelihatan apa-apa sama sekali, yang ada hanyalah dua bayangan yang berkelebat ke sana ke mari bagaikan dua iblis sedang bertempur.
Tak terdengar suara tangan atau kaki mereka, akan tetapi di sekitar tempat mereka bertempur itu bertiup angin keras yang membuat tengkorak-tengkorak yang tadi menggelinding dekat, kini menggelinding lagi menjauhi seakan-akan tengkorak itu takut dan ngeri menyaksikan pertandingan yang dahsyat itu dari dekat! Sementara itu, dikeroyok dua oleh Cin Hai dan Ang I Niocu, Hai Kong Hosiang merasa sibuk sekali. Baru menghadapi seorang di antara mereka saja, terutama Cin Hai, ia takkan dapat menang, apalagi kini dikeroyok dua! Ia telah mengeluarkan seluruh kepandaiannya, bahkan ia telah memainkan tongkat ularnya dengan ganas, akan tetapi tetap saja terdesak hebat oleh pedang Ang I Niocu dan kepalan tangan Cin Hai! Sebetulnya, selama beberapa hari ini, kepandaian Hai Kong Hosiang, terutama lweekang dan khikangnya, telah naik dan maju pesat sekali oleh karena ia mendapat latihan lweekang dengan berjungkir balik dari supeknya, yaitu Kam Ki Sianjin! Akan tetapi oleh karena latihannya belum masak benar, maka kini menghadapi dua orang muda yang tangguh itu, ia tak berdaya dan terdesak hebat. Keringat dingin mengucur dari jidatnya dan setiap saat jiwanya terancam bahaya maut.
Tiba-tiba terdengar suara Bu Pun Su tertawa bergelak dan dari tempat ia bertempur, nampak bayangan Kam Ki Sianjin melesat keluar dari kalangan pertempuran, dan kakek tua renta ini langsung menyambar ke arah Hai Kong Hosiang dan tahu-tahu ia telah dikempit dengan gerakan cepat sekali! Ternyata bahwa Kam Ki Sianjin tak kuat melawan Bu Pun Su dan ketika ia hendak kabur, ia melihat betapa Hai Kong Hosiang terdesak, maka ia mempergunakan kecepatan untuk menolong murid keponakannya itu dan membawa lari dari situ! Bu Pun Su masih tertawa bergelak ketika Ang I Niocu menjatuhkan diri berlutut di depannya. Akan tetapi Cin Hai yang tidak ingat siapa adanya kakek tua kosen ini, hanya berdiri dengan bingung dan memandang dengan sinar mata kosong.
"Bagus, Im Giok. Kau telah dapat menolongnya sebelum terlambat. Dan orang Mongol inilah yang akan menyembuhkannya!" Bu Pun Su lalu memanggil dukun tua itu mendekat, lalu ia menunjuk kepada Cin Hai sambil berkata dalam bahasa Mongol, "Obatmu yang membuat dia menjadi seperti itu dan obatmu pula yang harus menyembuhkannya!"
Dukun tua bangsa Mongol itu mengangguk-angguk dan dengan tenang ia mengeluarkan sebuah guci tanah kecil dari kantung dalam.
"Cin Hai, kaumajulah dan terimalah pengobatan dari dukun sihir ini!" berkata Bu Pun Su dengan suara memerintah kepada Cin Hai yang tidak mengenal nama sendiri dan tidak mengenal pula kakek lihai itu.
"Anak tolol!!" Bu Pun Su mencela dan tiba-tiba kakek ini berkelebat ke arah muridnya dan menyerang dengan sebuah totokan. Akan tetapi Cin Hai cepat mengelak dan setelah tujuh kali menyerang dengan gagal, barulah ke delapan kalinya Bu Pun Su berhasil menotok Cin Hai hingga pemuda itu roboh tak ingat orang! Di sini dapat diukur kepandaian Bu Pun Su dan kelihaian Cin Hai pula oleh karena biasanya tiap kali menyerang orang, jarang ada yang dapat mengelak dari serangan kakek jembel ini! Setelah Cin Hai dibikin tidak berdaya, dukun itu lalu menuangkan isi guci yang berbau harum ke mulut Cin Hai, kemudian ia memijit-mijit dan mengurut-urut kepala pemuda itu. Agaknya dukun itu bekerja dengan sepenuh tenaga dan semangat oleh karena ternyata bahwa seluruh mukanya berpeluh, padahal malam itu hawa amat dingin! Akhirnya, setelah beberapa lama ia mengurut-urut kepala Cin Hai, ia berdiri sambil mengangguk-anggukkan kepalanya kepada Bu Pun Su.
Kakek ini lalu maju dan menepuk pundak Cin Hai yang segera sadar, Pemuda ini seakan-akan baru sadar dari sebuah mimpi buruk. Ia memandang dan ketika melihat Ang I Niocu, ia tersenyum. Sebaliknya ketika melihat suhunya berada di situ pula, ia cepat menjatuhkan diri berlutut sambil berkata, "Maafkan teecu, suhu. Teecu tidak tahu bahwa Suhu datang di sini dan... dan... sebenarnya teecu berada di manakah?"
Bu Pun Su tertawa terkekeh-kekeh, tanda bahwa hatinya girang sekali melihat betapa muridnya telah sembuh kembali. Juga Ang I Niocu tak dapat menahan keharuan hatinya hingga dua titik air mata melompat keluar dari pelupuk matanya.
Ang I Niocu lalu menuturkan betapa ia mendapatkan pemuda itu berada dalam rombongan Pangeran Vayami dalam keadaan linglung dan hilang ingatan. Kemudian dukun bangsa Mongol itu melanjutkan cerita Ang I Niocu, menceritakan betapa rombongan pangeran itu menolong Cin Hai dari dalam air dan memberi madu merah. Maka teringatlah Cin Hai bahwa ketika itu ia berkelahi matimatian dengan Hai Kong Hosiang dan akhirnya ia hanyut dalam sungai dalam keadaan pingsan. Cin Hai berlutut lagi di depan suhunya dan berkata, "Baiknya Suhu datang dan membawa dukun ini untuk menyembuhkan teecu. Kalau tidak, entah bagaimana dengan keadaan teecu."
"Ha, ha, kalau aku tidak mendengar tentang keadaanmu, tentu saja sampai sekarang kau masih menjadi pendekar tolol dan Im Giok masih bingung dan sedih. Hai, Im Giok, setelah Cin Hai sembuh, mengapa kau masih saja berduka?" tanya Bu Pun Su kepada Ang I Niocu.
Mendengar pertanyaan ini, Gadis Baju Merah itu menahan air matanya dan ia pun lalu bertutut sambil berkata, "Susiok-couw, bagaimana teecu takkan bersedih? Adik Lin Lin telah terculik oleh Boan Sip dan suhunya yang lihai, yaitu Bo Lang Hwesio!" Cin Hai terkejut sekali dan menjadi pucat mendengar ini, dan Ang I Niocu lalu menuturkan pengalamannya. Tak tertahan lagi kesedihan hati Cin Hai, ia lalu berdiri dan membanting-banting kakinya.
"Boan Sip, kalau kau sampai mengganggu Lin Lin, aku Cin Hai akan mengejarmu biar kau lari sampai ke neraka sekalipun!" Pemuda ini mengepal-ngepal tinjunya dan matanya menyinarkan kemarahan besar. Bu Pun Su melihat ini lalu mengangguk-angguk maklum.
"Jadi Nona Lin Lin adalah puteri Kwee ciangkun? Bagus, bagus, Im Giok, kali ini kau benar-benar harus dipuji!" Sehabis mengeluarkan ucapan yang tak dimengerti oleh Cin Hai akan tetapi dapat dimengerti oleh Ang I Niocu itu, Bu Pun Su lalu mengempit tubuh dukun bangsa Mongol yang tadi menolong Cin Hai, lalu berkata, "Biarlah aku Si Tua Bangka melakukan sebuah tugas lagi. Akulah yang akan mencari tunanganmu, Cin Hai!"
Cin Hai dan Ang I Niocu cepat-cepat menjatuhkan diri berlutut sambil menghaturkan terima kasih, akan tetapi ketika mereka mengangkat muka memandang, ternyata kakek jembel itu telah lenyap dari situ.
Setelah suhunya pergi, mereka berdua dapat bercakap-cakap dengan leluasa dan kembali Ang I Niocu menuturkan pengalamannya dengan lebih jelas dan panjang lebar. Kemudian Ang I Niocu bertanya, "Dan di manakah adanya Kwee An? Aku telah bertemu dengan Ma Hoa dan mendengar akan perjodohan anak muda itu."
Dengan sedih Cin Hai menuturkan pengalamannya dengan Kwee An ketika bertempur dengah Hai Kong Hosiang dan pengawal-pengawal Pangeran Vayami, hingga Kwee An tercebur ke dalam air sungai yang deras.
"Entah bagaimana dengan nasib Kwee An," Cin Hai menutup ceritanya dengan penuh hati kuatir, "mari kita mencarinya dan sekalian mencari Hai Kong Hosiang si keparat itu!"
Keduanya lalu meninggalkan tempat itu dan ketika Ang I Niocu mencari kuda putihnya, ternyata kuda itu telah lenyap dan di atas tanah dapat dibaca coretcoretan di atas tanah yang berbunyi, "Kuda dan dukun yang dipinjam harus dikembalikan kepada pemiliknya!"
Kedua anak muda itu maklum bahwa ini tentu perbuatan Bu Pun Su yang berwatak aneh dan penuh rahasia. Maka mereka melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki sambil bercakap-cakap dengan asyik.
Kita ikuti Lin Lin yang ditangkap dan dibawa lari oleh Boan Sip, perwira yang lihai itu. Biarpun Boan Sip mempergunakan ilmu larinya yang cukup tinggi, akan tetapi tak lama kemudian ia dapat tersusul oleh gurunya yaitu Bo Lang Hwesio. Mereka berdua lalu membawa Lin Lin ke sebuah rumah yang telah disediakan oleh Boan Sip untuk tempat tinggal sementara ia bersembunyi dari kejaran musuhnya.
Menurut kehendak Boan Sip ia hendak membunuh gadis itu, akan tetapi Bo Lang Hwesio melarangnya, dan adanya hwesio ini menyelamatkan jiwa Lin Lin, oleh karena Boan Sip sama sekali tidak berani mengganggu atau mencelakainya.
"Kau bermusuhan dengan keluarga Kwee hanya oleh karena engkau ingin mengawini gadis ini. Sekarang keluarga Kwee telah terbasmi dan gadis ini telah kautawan, kalau engkau membunuhnya pula, maka hal ini adalah keterlaluan sekali. Boan Sip, aku tidak peduli akan segala perbuatanmu yang kau lakukan menghadapi urusan-urusan pribadi, akan tetapi aku merasa malu kalau engkau melakukan gangguan terhadap seorang gadis di depan mataku. Selama engkau minta pembelaanku dan aku berada di sini, aku takkan mengizinkan engkau berlaku sesuka hatimu, kecuali kalau engkau sudah tidak membutuhkan tenaga bantuanku lagi!"
Tentu saja Boan Sip tak berdaya. Ia merasakan perlunya Bo Lang Hwesio mengawaninya, oleh karena selama Cin Hai dan Kwee An masih belum dibunuh dan berkeliaran mencarinya, ia merasa tidak aman kalau berada jauh dari gurunya. Oleh karena ini maka ia terpaksa menurutinya hingga Lin Lin hanya dikurung dalam sebuah kamar saja dengan tak berdaya melarikan diri oleh karena jalan darahnya telah ditotok hingga ia tak dapat mempergunakan tenaganya! Pada beberapa hari kemudian, di waktu malam, di atas genteng rumah persembunyian Boan Sip nampak berkelebat bayangan hitam yang tak dapat diikuti dengan pandangan mata hingga kalau kebetulan ada orang yang melihat bayangan itu, ia takkan tahu apakah bayangan itu bayang-bayang burung yang sedang terbang atau bayangan apa.
Akan tetapi Bo Lang Hwesio yang sedang duduk bersamadhi di dalam kamarnya, dapat mendengar desir angin yang lain daripada desir angin biasa. Selagi ia masih berada dalam keadaan curiga dan ragu-ragu, tibatiba dari atas genteng terdengar orang berkata, "Bo Lang! Percuma saja engkau bersamadhi kalau perbuatanmu tidak sesuai dengan jubah pendetamu!"
Bo Lang Hwesio terkejut sekali. Bagaimana ada orang yang begitu tinggi ilmu ginkangnya hingga suara kakinya sama sekali tak dapat terdengar olehnya? Padahal Bo Lang Hwesio memiliki ketajaman pendengaran yang luar biasa dan terlatih puluhan tahun lamanya. Belum pernah ia bertemu dengan orang yang memiliki kepandaian meringankan tubuh sedemikian sempurnanya hingga biarpun sedang dalam samadhi, ia sama sekali tak mendengarnya! "Sahabat yang berilmu tinggi, jangan bicara seperti setan tak berujud, kau masuklah memperlihatkan muka!" kata Bo Lang Hwesio, akan tetapi orang di atas genteng terkekeh--kekeh dan menjawab, "Bo Lang Hwesio aku datang untuk minta kembali Kwee-siocia yang kautawan, apakah engkau tetap tidak mau keluar? Aku tidak mau bertindak sebagai maling, lebih baik kuminta terang-terangan!"
Bo Lang Hwesio merasa mendongkol juga mendengar orang berlaku begitu berani dan menantang, maka tibatiba ia menggerakkan tubuhnya dan bagaikan seekor burung besar, hwesio ini sudah melayang keluar jendela, terus menuju ke atas genteng.
Ternyata bahwa di atas genteng itu telah berdiri seorang kakek dengan sikap tenang dan ketika Bo Lang Hwesio melihat kakek ini, tak terasa pula ia berseru keras, "Ah... Bu Pun Su! Apakah kehendakmu dengan malam-malam datang di sini? Apakah kau hendak mengganggu pinceng pula?"
"Ha, ha, Bo Lang, hwesio gundul! Kau kira aku memang mengganggu manusia tanpa alasan? Dulu aku mengganggumu di Thian-san oleh karena kau hendak merusak persahabatan dengan tokoh Thian-san-pai.
Sekarang aku datang oleh karena kau telah mengumbar nafsu dan membela seorang perwira yang berlaku sewenang-wenang!"
"Bu Pun Su, pinceng tahu bahwa kau memang memiliki kepandaian tinggi, tapi jangan kira pinceng takut kepadamu. Bo Lang Hwesio dulu bukan Bo Lang Hwesio sekarang!"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar