10 Jodoh Si Mata Keranjang

"Kalau begitu, tunggu sebentar, aku akan memanggil pelayan untuk menghidangkan anggur dan kueh. Enci Cin, kau temani Sun-ko sebentar!" tanpa menanti jawaban, gadis yang lincah ini sudah berlari meninggalkan mereka berdua. Memang inilah yang ia kehendaki. Ia ingin memberi kesempatan kepada kakaknya dan Cin Nio untuk berdua saja agar mereka dapat leluasa bicara.

Selama ini, hampir tidak ada kesempatan bagi mereka berdua untuk bicara empat mata, dan tanpa adanya pertemuan berdua saja, bagaimana mungkin niat orang tuanya menjodohkan mereka dapat terlaksana? Dan ia harus membantu mereka, membantu agar kedua orang yang disayangnya itu mendapatkan kesempatan! Setelah Cang Hui pergi meninggalkan mereka, dua orang muda itu duduk berhadapan dan keduanya berdiam diri. Cin Nio yang berwatak pendiam itu tidak berani berkutik. Biasanya, kalau ada Cang Hui, ia masih berani bicara kepada kakak misannya itu, karena bagaimanapun juga mereka telah saling mengenal dan bergaul sejak ia masih kecil. Akan tetapi, setelah kini duduk berdua saja, ia merasa rikuh dan tidak berani berkutik, apalagi memandang pemuda itu. Bahkan bernapas pun hanya lirih dan lembut sekali.

Cang Sun juga merasa rikuh sekali. Dia tahu bahwa orang tuanya hendak menjodohkan dia dengan Cin Nio. Gadis ini memang cukup cantik jelita dan halus budi pekertinya. Akan tetapi, sejak dahulu dia menganggap Cin Nio sebagai adik misan, sebagai anggauta keluarga sehingga sukarlah baginya untuk mengubah perasaan sayang seorang kakak terhadap seorang adik ini menjadi cinta asmara seperti cintanya terhadap Kui Hong. Dia merasa iba kepada Cin Nio. Para gadis, terutama sekali gadis keluarga bangsawan, selalu hanya dapat tunduk atas kehendak orang tua, harus menerima calon suami yang dijodohkan orang tua! Dan selama ini, kalau dia memperhatikan sikap gadis itu, agaknya Cin Nio mulai menaruh harapan kepadanya! Memang dia tidak merasakan getaran cinta, dalam pandang mata gadis itu, akan tetapi jelas bahwa Cin Nio tertarik dan kagum kepadanya. Dapat dia bayangkan betapa akan sengsara hati Cin Nio kalau sampai jatuh cinta kepadanya dan dia tidak dapat menyambut cinta itu. Dia telah merasakan betapa pahitnya cinta sepihak, seperti dia mencintai Kui Hong dan tidak terbalas oleh gadis itu! Tidak, dia harus membuyarkan harapan Cin Nio, harus membuka mata gadis itu sebelum terlambat, sebelum gadis itu benar-benar jatuh cinta kepadanya! Dan sekarang inilah saatnya yang baik, karena kalau tidak sekarang selagi mereka duduk berdua, kapan lagi? "Cin-moi......" katanya lirih. bagaimanapun juga, jantungnya berdebar tegang untuk membuka kenyataan yang pahit bagi gadis itu.

Cin Nio mengangkat muka memandang, lalu menunduk kembali ketika melihat betapa kakak misannya itu menatap wajahnya, "Ya, Sun-ko? Ada apakah?" jawabnya dengan suara dibuat wajar dan tenang, namun tetap saja suaranya agak gemetar.

"Cin-moi, kebetulan sekali kita duduk berdua saja. Aku memang ingin sekali bicara denganmu, akan tetapi selalu tidak ada kesempatan." "Bicara soal apakah Sun-ko?" gadis itu bertanya, suaranya lebih tenang.

"soal kita berdua. Engkau tentu tahu bahwa orang tua kita berniat untuk menjodohkan kita.

Bagaimana pendapatmu tentang hal itu, Cin-moi?" Biarpun sudah menduga ke arah mana pembicaraan itu, tetap saja wajah itu menjadi merah sekali mendengar pertanyaan ini. Ia tetap menunduk ketika menjawab, "Apa yang dapat kukatakan, Sunko? Aku hanya dapat mentaati semua keinginan orang tua...." Cang Sun menghela napas panjang. "Aku tahu, dan begitulah memang nasib para gadis bangsawan. Akan tetapi aku seorang laki-laki, Cin-moi. Aku mempunyai pendirian sendiri dan aku hanya dapat menikah dengan seorang gadis yang saling mencinta dengan aku. Terus te rang saja, Cinmoi, aku sayang kepadamu sebagai seorang kakak terhadap adiknya. Sejak kecil kita sudah bergaul dan sejak kecil engkau kuanggap sebagai adikku. Sukar bagiku untuk mengubah perasaan itu sehingga terasa janggallah kalau kita harus berjodoh. Aku tidak ingin membiarkan engkau dalam keraguan, Cin-moi, oleh karena itu, aku berterus terang bahwa tidak mungkin aku dapat menuruti kehendak orang tua agar aku menikah denganmu. Bukan sekali-kali aku menolak karena engkau kurang baik, Cin-moi, melainkan karena aku tidak dapat menikahi seorang gadis yang kuanggap seperti adik sendiri." Cang Sun berhenti bicara. Dadanya terasa lapang bukan main seolah ada batu besar yang selama ini menghimpit perasaannya, kini telah terlontar keluar.

Kepala itu semakin menunduk. Tidak, Cin Nio tidak merasa ditolak, tidak merasa dikesampingkan, tidak merasa terhina. Namun, ia merasa kecewa dan bersedih. Harus diakuinya bahwa selama ini, timbul perasaan gembira kalau ia membayangkan betapa ia akan menjadi isteri Cang Sun. Ia kagum kepada kakak misannya itu dan betapa akan mudahnya untuk jatuh cinta kepadanya! Ia tidak merasa sakit hati karena kakak misannya berterus terang. Bahkan diam-diam ia merasa bersukur karena kakak misannya berani berterus terang. Dengan begini kesemuanya jelas sudah, dan ia tidak perlu lagi menggantungkan harapannya terhadap perjodohan itu. Akan tetapi, bagaimanapun juga, runtuhnya harapan itu menusuk perasaannya dan biarpun ia menahan diri sehingga tidak sampai terisak, tetap saja kedua matanya menjadi basah dan cepat ia menyusutnya dengan saputangannya. Akan tetapi, air mata itu keluar lagi dan ia segera bangkit berdiri, membelakangi Cang Sun dan menguatkan hatinya berkata tanpa menoleh,

"Maafkan aku, .... aku kembali.... ke kamarku" Melihat gadis itu melangkah lunglai, Cang Sun merasa iba sekali. "Cin-moi, kau maafkanlah aku ...." Akan tetapi gadis itu tidak menjawab, lalu berlari kecil meninggalkan taman, kembali ke kamarnya di mana ia membanting diri ke atas pembaringan dah menangis sepuas hatinya.

Cang Hui merasa heran ketika kembali ke dalam taman bersama dua orang pelayan yang membawa makanan dan minuman dan tidak melihat Cin Nio di situ, hanya kakaknya duduk melamun seorang diri.

"Ehh? Ke mana perginya enci Cin?" tanyanya.

Cang Sun memandang kepada dua orang pelayan itu dan Cang Hui menyuruh mereka pergi setelah mereka menaruh makanan dan minuman di atas meja.

"Apakah yang telah terjadi, Koko?" tanyanya setelah mereka duduk berdua saja.

Pemuda itu menghela napas panjang. "Ia telah kembali ke kamarnya. Aku telah bicara terus terang kepadanya tentang kami, yaitu tentang perjodohan diantara kami yang dikehendaki para orang tua...." Cang Hui membelalakkan matanya. "Apa yang kaukatakan kepadanya, Koko?"

"Aku berkata terus terang bahwa aku tidak mungkin dapat menikahinya karena aku sayang kepadanya seperti adik sendiri, bukan mencintanya seperti seorang pria kepada seorang wanita.

"Ihh, kau kejam, Koko!"

"Hemm, apakah engkau lebih senang melihat aku berpura-pura, membiarkan ia menanti dan mengharap?" Cang Hui termenung. Ia tidak dapat menyalahkan kakaknya. Akan tetapi ia kasihan kepada Cin Nio, "Engkau menghancurkan perasaan hatinya, Koko. Aku tahu bahwa ia cinta padamu." "Habis, apa yang harus kulakukan? Tidak mungkin cinta bertepuk tangan sebelah, aku telah merasakan kepahitannya...." "Aih, Koko. Kenapa engkau tidak dapat melupakan enci Kui Hong? Ia tidak dapat kauharapkan lagi karena ia mencinta pria lain. Bukankah enci Cin amat baik? Kenapa engkau tidak dapat mencintanya? Apakah cintamu hanya untuk enci Kui Hong seorang saja?"

"Sampai saat ini aku belum dapat melupakannya dan belum ketemu penggantinya." kata pemuda itu dengan wajah murung.

"Betapa lemah hatimu, Koko. Engkau harus dapat melihat kenyataan. Enci Kui Hong jelas bukan jodohmu. Mungkin sekarang ia telah menjadi isteri lain orang. Untuk apa kau kenang dan pikirkan terus menerus? Sudah sepatutnya kalau engkau memperhatikan gadis lain. Hati-hati, jangan engkau terpikat oleh enci Liong Bi itu." Cang Sun menggeleng kepala, kembali menghela napas panjang. "Aku tidak akan tertarik kepadanya. Memang nasibku agaknya, harus selalu kecewa dalam urusan yang satu ini. Ada gadis yang menarik hatiku dan amat kukagumi, akan tetapi ia pun sudah bertunangan dengan orang lain...." Cang Hui terlonjak kaget dan membelalakkan matanya memandang wajah kakaknya, "Mayang....??" tanyanya terheran-heran. Kakaknya mengangguk dan kembali menarik napas panjang.

"Akan tetapi ia telah bertunangan dengan Liong Ki, maka aku pun tidak berani memikirkannya." "Ahhh....! Ruwet kalau begini....!" kata Cang Hui dan ia pun bertopang dagu, melamun jauh. Ia merasa ikut prihatin dengan keadaan kakaknya. Kenapa yang dicinta kakaknya itu selalu gadis yang telah menjadi milik pria lain? Ia tidak terlalu menyalahkan kakaknya. Ia sendiri pun kalau menjadi seorang pria, akan tergila-gila kepada Mayang. Gadis itu memang hebat! Kecantikannya khas dan istimewa, Ilmu kepandaiannya pun tinggi, rambutnya hitam panjang berombak, kulitnya putih seperti susu, dan bentuk tubuhnya! Bukan main! Akan tetapi sayang, gadis itu telah bertunangan dengan Liong Ki, dan harus ia akui bahwa pasangan itu serasi. Liong Ki juga seorang pendekar yang gagah perkasa dan tampan, memang cocok dan tepat kalau menjadi calon suami seorang dara perkasa sepetti Mayang.

Kakak beradik itu duduk termenung seperti patung, lupa kepada anggur dan makanan yang dibawa oleh dua orang pelayan tadi. Akhirnya mereka pun menggigil ketika hawa udara mulai dingin sekali. Mereka lalu meninggalkan taman dan kembali ke kamar masing-masing!

***

Mayang termenung di dalam kamarnya. Entah mengapa, ia merasakan suatu keadaan yang tidak menyenangkan hatinya. Entah itu karena sikap Sim Ki Liong yang dirasakannya berbeda dari biasanya, atau sikap Su Bi Hwa, ataukah pengalamannya yang aneh ketika ia seperti ditarik-tarik oleh kekuasaan aneh untuk memasuki kamar Ki Liong. Pendeknya, ia merasakan sesuatu yang tidak menyenangkan hatinya, walaupun ia tidak tahu apa yang menyebabkannya. Kembali terjadi pertentangan dalam batinnya sendiri. Di satu pihak, ia harus mengakui bahwa ia mencinta Sim Ki Liong dan mau memaafkan semua kesesatan yang pernah dilakukan pemuda itu di masa lalu, asalkan dia mau bertobat dan akan mengubah jalan hidupnya, menjadi seorang pendekar. Dan ia percaya bahwa demi cintanya, pemuda itu akan dapat merubah jalan hidupnya, menjadi seorang pemuda yang baik, menebus kesesatannya yang lalu dengan perbuatan-perbuatan yang gagah perkasa. Akan tetapi, akhir-akhir ini timbul keraguan dalam hatinya, dan hal itu timbul sejak pertemuan mereka dengan Su Bi Hwa. Ia merasakan suatu ketidakwajaran dalam sikap Bi Hwa, seolah-olah wanita itu menyimpan banyak rahasia. Yang jelas, lirikan mata dan senyum wanita itu terhadap Ki Liong teramat genit. Ia sudah membuang jauh-jauh perasaan cemburu yang tidak beralasan, akan tetapi, kini ia melihat sikap Bi Hwa terhadap Cang Sun yang sama pula genitnya.

Dan ada perasaan tidak enak dan tidak suka terhadap wanita cantik yang lihai itu, seolah wanita itu merupakan suatu ancaman tersembunyi baginya.

Ia harus menemui Ki Liong dan mengajaknya bicara dengan serius. Akan ditanyakan kepada kekasihnya itu tentang diri Bi Hwa, tentang latar belakang kehidupannya dan tentang riwayatnya.

Malam ini juga! Ia segera membereskan pakaian dan rambutnya, keluar dari dalam kamar dan karena ia tidak ingin orang lain, terutama Bi Hwa sendiri, melihat ia bicara empat mata dengan Ki Liong. Mayang mempergunakan kepandaiannya untuk bergerak cepat, menyelinap di antara pilar dan berloncatan, menuju ke taman. Dari taman, akan mudah baginya untuk menghampiri kamar Ki Liong tanpa dilihat orang lain.

Akan tetapi, ketika ia tiba di luar kamar Ki Liong dan mengetuk daun jendela kamar itu, ia tidak mendapat jawaban. Ia mengintai dari celah-celah jendela dan melihat kamar itu gelap pekat. Tak mungkin Ki Liong sudah tidur karena malam baru saja mulai. Setelah ia yakin bahwa pemuda itu pasti tidak berada di kamarnya, ia lalu mengira bahwa tentu Ki Liong sedang mempunyai tugas atas perintah Cang Tai-jin, maka ia pun memasuki taman dengan maksud untuk menanti sampai pemuda itu kembali ke kamarnya.

Tiba-tlba ia menyelinap dan bersembunyi di balik sebatang pohon. Dilihatnya Cang Hui berjalan seorang diri memasuki taman itu. Setelah melihat bahwa orang itu adalah Cang Hui, ia hendak keluar menyapanya, akan tetapi ia menahan diri dan mengintai ketika melihat bahwa gerak-gerik gadis bangsawan itu tidak seperti biasa dan aneh. Gadis itu melangkah seperti orang yang sedang tidur saja, tak pernah menengok ke kanan-kiri dan memandang lurus. Mayang membayangi dari belakang dengan hati-hati. Jantungnya berdebar tegang ketika ia melihat munculnya Ki Liang di sebelah depan, dan pemuda itu langsung menyongsong Cang Hui dengan sikap yang manis budi dan ramah! "Selamat malam, nona Cang Hui!" katanya dengan ramah dan sopan.

Cang Hui berhenti melangkah ketika melihat munculnya pemuda itu di depannya, dan ia nampak bingung. "Liong-ciangkun (perwira Liong) " katanya lirih.

Mayang mengintai dengan perasaan heran. Ia melihat betapa Ki Liong menghampiri gadis bangsawan itu sampai dekat dan tanpa ragu-ragu lagi pemuda itu memegang kedua tangan Cang Hui! Dan gadis itu pun menyerah saja, tidak menjadi marah kedua tangannya dipegang dengan sikap demikian mesra oleh pengawal baru itu.

"Nona, kenapa malam-malam begini engkau keluar ke taman? Hawanya dingin, dan banyak angin.

Aku takut engkau masuk angin, Nona. Engkau begini cantik jelita seperti bidadari sayang kalau sampai jatuh sakit..... " Ucapan itu lembut dan mesra.

"Aku... aku.... " Cang Hui berkata bingung dan nampaknya tidak tahu apa yang harus dikatakan, akan tetapi tidak marah atau membantah ketika Ki Liong menarik dan merapatkan tubuhnya.

Melihat ini, Mayang terbelalak dan hatinya panas terbakar. Apa artinya semua ini! Ki Liong bermain gila dengan Cang Hui? Jelas bahwa pemuda itu berusaha merayu, akan tetapi kenapa sikap Cang Hui demikian aneh? Seperti orang dalam mimpi saja. Ia pun teringat akan keadaan dirinya beberapa malam yang lalu, ketika ada perasaan aneh mendorongnya untuk mencari Ki Liong dan ada rasa rindu yang tidak wajar terhadap kekasihnya itu. Teringat akan hal ini, Mayang lalu berdiri menghadap ke arah Cang Hui, menyilangkan kedua lengan depan dada, matanya memandang tajam ke arah gadis bangsawan itu dan ia pun mengerahkan kekuatan batinnya untuk melawan pengaruh sihir yarg menguasai Cang Hui, jika memang kekuatan sihir mencengkeram gadis itu seperti yang disangkanya. Ia memang mehguasai ilmu ini dari Kim-mo Sian-kiauw, gurunya.

Sim Ki Liong atau dengan nama samaran Liong Ki yang tadinya merasa girang sekali bahwa usahanya menaklukkan hati Cang Hui kelihatannya akan berhasil baik berkat bantuan sihir dari Su Bi Hwa atau Liong Bi, menaklukkan hati gadis itu agar jatuh cinta kepadanya dan agar memudahkan cita-citanya, yaitu menjadi mantu Menteri Cang, tiba-tiba merasa betapa terjadi perubahan pada sikap Cang Hui. Kalau tadi gadis itu menyerah saja dalam rangkulannya, kini gadis itu meronta, melepaskan diri dari pelukan dan melangkah mundur sampai empat langkah, matanya terbelalak dan nampak bingung sekali.

"Ehhh......? Apa yang terjadi? Kenapa aku berada di sini? Dan engkau..... ciangkun apa yang kau lakukan? Apa pula yang kulakukan.....?" Cang Hui menggosok-gosok kedua matanya seperti orang yang baru bangun dari tidurnya.

Liong Ki segera mengetahui bahwa entah bagaimana, siasatnya gagal dan dia adalah seorang yang cerdik. Dia merayu Cang Hui bukan karena jatuh cinta kepada gadis itu, bukan karena dorongan nafsu, melainkan dengan perhitungan agar dia dapat menjadi suami puteri menteri ini! Maka, dia pun cepat memberi hormat dengan mengangkat kedua tangan depan dada, dengan sikap sopan dia pun berkata.

"Nona, sara hanya ingin melindungimu. Tadi saya melihat Nona seperti orang yang kebingungan, berjalan seorang diri di dalam taman, dalam udara dalam yang dingin dan banyak angin.

Kenapakah, Nona?" Gadis itu menggeleng kepala, masih nanar ketika ia teringat betapa tadi ia mau saja dirangkul perwira muda yang baru itu! "Aku..... ah, mimpi buruk, agaknya ciangkun, jangan beritahukan peristiwa ini kepada siapapun juga!" Liong Ki memberi hormat lagi, sikapnya sbpar sekali, dan tentu saja amat menarik hati. "Baiklah, Nona. Saya bersumpah tidak akan membocorkan peristiwa ini. Saya akan menjaga nama baik Nona, saya akan melindungi Nona, kalau perlu dengan taruhan nyawa...." Lega rasa hati Cang Hui, akan tetapi ia juga masih merasa heran, bercampur rasa malu mengingat akan perbuatannya tadi, "Terima kasih, ciangkun. Engkau baik sekali." Gadis itu lalu membalikkan tubuhnya dan meninggalkan taman kembali ke dalam rumah dalam keadaan masih bingung dan nanar. Ia telah berada di dalam taman, seperti dalam mimpi saja. Dan yang amat mengesankan hatinya adalah sikap perwira Liong Ki, demikian baik, demikian lembut dan penuh kasih sayang.

Mendatangkan kemesraan akan tetapi sekaligus membangkitkan perasaan marah dan penasaran di dalam hatinya. Ia teringat bahwa perwira muda itu adalah tunangan Mayang yang disayanginya! Kenapa perwira itu bersikap demikian manis kepadanya? Dan kenapa pula ia tadi mandah saja dirangkul? Untuk melindunginya? Kenapa dengan sikap demikian mesra? Sementara itu, Mayang harus bergulat dengan nafsu sendiri setelah menyaksikan peristiwa yang aneh di taman itu. Kalau menurutkan nafsu amarah yang membakar hatinya, ingin ia muncul dan menemui Liong Ki pada saat itu juga, menegurnya dan minta ketegasan dalam sikapnya, bahkan mengambil keputusan malam itu juga mengenai hubungan antara mereka. Akan tetapi, ia menahan diri karena apa yang dilihatnya itu belum merupakan bukti akan niat kotor dari kekasihnya itu. Ia harus bersabar dan melihat perkembangannya. Bukan saja untuk menentukan sikap mengenai hubungannya dengan pemuda itu, akan tetapi yang lebih penting lagi, ia harus melindungi keluarga Cang yang demikian baik. Menteri Cang adalah seorang yang bijaksana, dan namanya harum, dikenal dan dihormati oleh semua pendekar. Juga puteranya, Cang Sun, seorang pemuda yang sopan dan alim. Apalagi Cang Hui, seorang gadis yang amat disayangnya biarpun mereka baru bergaul beberapa pekan lamanya. Gadis bangsawan itu demikian lincah jenaka, bersih hatinya dan baik budinya. Ia harus melindungi keluarga ini, andaikata ada orang yang akan mengganggu keluarga itu. Biar pengacau itu kekasihnya sendiri sekali pun! Juga masih ada sedikit harapan tergantung di hatinya bahwa apa yang dilihatnya tadi adalah hal yang terjadi bukan karena kesalahan kekasihnya, bahwa memang Liong Ki tidak tahu menahu tentang sikap aneh Cang Hui itu. Ia masih menaruh harapan bahwa Liong Ki yang mencintanya dan dicintanya akan tetap bertaubat dan mengambil jalan yang bersih.

Pada keesokan harinya, ketika Mayang seperti biasa menemui Cang Hui dan Cin Nio, ia tidak melihat perubahan pada sikap Cang Hui. Akan tetapi ia melihat bahwa selama beberapa hari ini, Cin Nio nampak lesu dan seperti orang yang selalu melamun, seperti orang yang menderita kesedihan namun ditahan-tahan. Ia tidak mau bertanya apa-apa kepada Cang Hui, karena hal itu tentu akan membuat gadis bangsawan itu terkejut dan malu, apalagi karena gadis itu tidak memperlihatkan suatu kelainan, seolah tidak pernah terjadi apa-apa dengan dirinya. Sebaiknya, ketika Mayang hendak melanjutkan petunjuknya tentang ilmu silat, Cin Nio kelihatan malas, bahkan kemudian gadis ini berpamit dan mengatakan bahwa kepalanya agak pening dan hari itu ia tidak ikut berlatih silat. Kesempatan ini dipergunakan oleh Mayang untuk bertanya tentang Cin Nio, dengan harapan agar ia mendengar sesuatu yang ada hubungannya dengan peristiwa semalam.

"Adik Hui, kenapakah adik Cin nampak begitu lesu dan bersedih? Apakah terjadi sesuatu yang membuatnya seperti itu?" Mereka duduk mengaso sehabis berlatih dan Cang Hui menyusut keringatnya sambil memandang wajah Mayang. Ia merasa suka dan sayang kepada gadis peranakan Tibet ini, dan teringatlah ia akan percakapan yang ia lakukan dengan kakaknya, di mana kakaknya itu mengaku bahwa dia kagum dan dapat jatuh cinta kepada gadis Tibet ini! Ia sendiri menyayangkan bahwa Mayang telah menjadi tunangan Liong Ki, perwira yang semalam...., terkenang akan peristiwa ini, mendadak saja Cang Hui tersipu dan kedua pipinya berubah merah.

Ia sengaja menggosok-gosok mukanya yang terasa panas itu sehingga mukanya menjadi semakin merah segar.

"Kasihan enci Cin...." akhirnya ia mengeluh, teringat akan nasib Cin Nio yang mengalami patah hati karena cinta sepihak.

"Kenapa ia? Ataukah.... hal itu tidak dapat kau ceritakan kepada orang luar seperti aku? Kalau begitu maafkan pertanyaanku tadi." Cang Hui memegahg lengan Mayang dan tersenyum dengan manis. "Bagiku, engkau bukan orang luar lagi, Mayang. Engkau sudah kuanggap seperti keluarga sendiri. Maka, engkau boleh saja mendengar tentang urusan itu, asal engkau tidak akan menceritakan kepada orang lain." "Tentu saja, Adik Hui. Rahasia keluargamu sama dengan rahasiaku sendiri. Bukankah aku sudah mendapatkan kepercayaan untuk membimbingmu dalam berlatih ilmu silat dan tinggal di istana ini?"

"Kasihan enci Cin, ia patah hati, Mayang. Ia menjadi korban cinta sepihak. Sudah kuceritakan bahwa ayah dan ibu menghendaki agar kakakku, Cang Sun-koko, berjodoh dengan enci Hui. Nah, beberapa hari yang lalu, dalam suatu kesempatan ketika mereka dapat bicara empat mata, kakakku itu dengan sejujurnya mengatakan kepada enci Cin bahwa dia tidak dapat berjodoh dengan enci Cin karena dia menyayang enci Cin sebagai adik sendiri. Nah, dapat kau bayangkan betapa susah hatinya, padahal enci Cin kelihatannya sudah jatuh cinta setengah mati kepada kakakku itu." Mendengar ini, Mayang mengerutkan alisnya dan termenung sejenak. "Hemm, kasihan sekali adik

Cin Nio. Sungguh mengherankan, mengapa kakakmu tidak dapat mencintanya? Padahal, adik Cin adalah seorang gadis yang amat baik, cantik jelita, pandai dan baik budi...." "Pernah kuceritakan kepadamu bahwa kakakku sudah mencinta gadis lain, Mayang." "Hemm, kaumaksudkan Cia Kui Hong itu? Kenapa masih memikirkannya? Bukankah gadis itu telah menjadi milik orang lain dan tidak membalas cintanya? Apakah selamanya kakakmu akan tetap bertahan dalam cintanya yang sepihak terhadap gadis itu?" Mayang merasa penasaran karena kasihan kepada Cin Nio.

"Kurasa tidak begitu, Mayang. Sebetulnya kakakku itu suka kepada...." Cang Hui mengurungkan niatnya yang ingin membuka rahasia hati kakaknya. Tidak, pikirnya, ia tidak boleh mengatakan bahwa kakaknya mencinta Mayang. Bukankah Mayang sudah ada yang punya? "Suka kepada siapa, Adik Hui?"

"Suka kepada gadis yang memiliki, ilmu kepandaian silat tinggi." "Hemm, dia sendiri tidak suka belajar ilmu silat." "Mungkin karena itulah. Karena dia tidak suka belajar ilmu silat, maka dia ingin melengkapi kekurangan dirinya itu dengan memilih seorahg gadis lihai menjadi jodohnya. Akan tetapi tentu saja tidak semua wanita lihai disukainya. Peristiwa yang terjadi beberapa malam yang lalu itu..... " Ia berhenti pula, ragu-ragu apakah peristiwa antara kakaknya dengan Liong Bi itu sebaiknya ia ceritakan kepada Mayang atau tidak.

"Peristiwa apakah, Adik Hui?" Cang Hui menarik napas panjang. Sudah terlanjur, pikirnya. "Mayang, sebelum kuceritakan, katakan dulu, apakah engkau sayang kepada calon adik iparmu itu?" Mayang terbelalak heran. "Calon adik ipar yang mana....?"

"Bukankah Liong Bi itu adik Liong Ki, tunanganmu?" Baru Mayang teringat bahwa wanita yang tidak disukanya itu menyamar sebagai adik kekasihnya."Ahhh, ia yang kau maksudkan? Hemm, bagaimana, ya? Sayang sih tidak, bahkan aku... terus terang saja, kurang suka akan sikapnya yang genit. Selain itu, ia pun bukan adik iparku..... " Mayang menghentikan ucapannya, merasa telah kelepasan bicara.

"Ehh? Bukankah ia adik Liong Ki?" Mayang mengangguk, bingung sendiri karena hampir saja ia membuka rahasia mereka berdua.

"Memang benar, adik Hui, akan tetapi aku..... aku bukan tunangan Liong Ki. Kami hanya sahabat yang akrab." "Hemm, sahabat akrab yang saling mencinta, bukan ?"

"Sudahlah, Adik Hui, aku tidak suka bicara tentang hal itu. Sebetulnya, apa yang hendak kau ceritakan kepadaku? Peristiwa apa yang terjadi beberapa malam yang lalu itu?" Cang Hui lalu menceritakan tentang perbuatan Liong Bi yang memikat dan merayu kakaknya.

"Kulihat jelas sekali Liong Bi merayu kakakku dengan sikap yang amat genit dan menjemukan.

Akan tetapi, kakakku tidak suka kepadanya, walaupun ia pandai silat. Nah, sudah kuceritakan padamu, Mayang. Kalau engkau dekat dengan Liong Bi, katakah bahwa jangan lagi ia melakukan hal yang tidak patut seperti itu." Diam-diam Mayang terkejut dan marah mendengar ini. Akan tetapi ia tidak merasa heran. Ia tahu bahwa Liong Bi memang genit sekali, akan tetapi tidak disangkanya akan seberani itu, merayu Cang Sun, putera tuan rumah! Sungguh tidak tahu diri, tidak tahu malu. Yang membuat ia merasa heran, bagaimana Liong Ki dapat memiliki seorang sahabat yang seperti itu? Dan teringatlah ia kembali akan peristiwa aneh yang dilihatnya antara Cang Hui dan Liong Ki. Ia tidak ingin membikin Cang Hui malu dengan menanyakan peristiwa itu, akan tetapi ia menjadi semakin curiga. Hatinya merasa tidak enak. Ia harus menyelidiki keadaan Liong Ki clan Liong Bi!

***

Malam itu gelap sekali. Langit tertutup mendung dan tak sebuah pun bintang nampak. Mayang menyelinap di balik pot bunga besar. Biarpun malam gelap, namun istana keluarga Cang dipasangi banyak lampu gantung. Ia melihat bayangan Liong Bi berindap-indap keluar dari kamarnya.

Selama beberapa malam ini ia memang melakukan pengintaian, mengintai kamar wanita itu. Tidak terjadi sesuatu selama tiga malam dan malam ini ia melihat Liong Bi menyelinap keluar kamar, sikapnya mencurigakan sekali maka ia pun membayangi dari jauh. Kemudian ia ketahui bahwa Liong Bi menuju ke kamar Liong Ki dari belakang! Dengan jantung berdebar Mayang mengintai. Agaknya saat yang ditunggu-tunggu telah tiba. Jerih payahnya selama beberapa malam itu akan membuahkan hasil. Liong Bi mengetuk daun jendela kamar Liong Ki, perlahan. Daun pintu dibuka dari dalam dan wanita itu meloncat masuk seperti seekor kucing. Daun jendela ditutup lagi dan dengan mempergunakan kepandaiannya, Mayang menghampiri kamar itu tanpa menimbulkan suara, lalu ia mendengarkan dengan penuh perhatian.

"Bi Hwa, kenapa engkau begini lancang masuk ke sini? Bodoh kau, bagaimana kalau ada yang melihatmu?"

"Hi-hik, siapa yang dapat melihatku? Andaikata ada yang melihat pun, apa salahnya aku memasuki kamar kakakku sendiri? Aku kesepian, Ki Liong, aku penasaran dan kecewa karena gagal memikat Cang-kongcu. Gara-gara adiknya, daging yang sudah berada di bibir, terlepas lagi!" .

"Hemm, bukan hanya engkau yang gagal. Aku pun sudah hampir berhasil menundukkan Cang Hui, tiba-tiba saja terlepas dan gagal " "Nah, itulah! Maka aku ke sini untuk menghibur diri, juga menghiburmu agar kita berbesar hati dan dapat berusaha lagi." Terdengar wanita itu tertawa-tawa genit. Juga Ki Liong tertawa kecil.

Mayang tidak perlu mendengar lebih banyak, juga ia tidak sudi mengintai ke dalam. Ia sudah tahu segalanya! Kiranya Sim Ki Liong bersekongkol dengan Su Bi Hwa! Bukan saja keduanya mempunyai hubungan yang mesum, akan tetapi juga keduanya bersekongkol untuk masingmasing merayu dan menundukkan Cang Sun dan Cang Hui! Peoghambaan diri kedua orang itu kepada keluarga Cang tidak jujur, tidak bersih dan mereka mempunyai rencana yang kotor.

Agaknya kedua orang itu ingin mencari kedudukan tinggi melalui cara yang licik, yaitu ingin menjadi mantu Menteri Cang! Dan pemuda yang pernah menjatuhkan hatinya itu, pria pertama dalam hidupnya yang menjatuhkan cintanya, yang ia harapkan akan bertaubat, menjadi seorang pendekar dan calon suaminya, agaknya telah kembali ke jalan lama, jalan sesat! Setelah bertemu dengan wanita itu, kekasihnya agaknya telah pulih kembali seperti dahulu, menjadi hamba nafsu yang membuta.

Mayang cepat meninggalkan tempat pengintaiannya, kembali ke kamarnya dan tak dapat ditahannya lagi, ia menangis! Ia membenamkan mukanya pada bantal dan air matanya bercucuran. Harus diakuinya bahwa ia mencinta Sim Ki Liong dan mengharapkan pemuda itu menjadi suaminya yang baik. Akan tetapi, kini jantungnya seperti ditusuk-tusuk rasanya, dan perasaan cinta yang mendalam itu berubah menjadi kebencian! Kalau cintanya itu diumpamakan sebuah mimpi indah, kini ia terbangun dan melihat kenyataan yang sebaliknya. Selama ini, dengan penuh harapan, cintanya dibangun dan ia bentuk menjadi tempat bunga dari kaca yang indah sekali. Akan tetapi, dalam sekejap mata tempat bunga itu hancur berantakan, meninggalkan pecahan-pecahan kaca yang menggores kalbu, mendatangkan luka berdarah yang teramat pedih.

Cinta asmara adalah cinta nafsu yang selalu bersyarat dan berpamrih. Cinta seperti ini muncul setelah adanya suatu daya tarik yang menyenangkan, baik itu melalui ketampanan atau kecantikan wajah, kelembutan, keramahan, bahkan dapat melalui kedudukan, kemuliaan, kemewahan, atau kepintaran. Ada sesuatu yang ingin diraih dan dinikmati. Kalau pada suatu waktu terjadi sebaliknya, sesuatu yang tidak menyenangkan lagi, bahkan menyusahkan atau mengecewakan, maka cinta seperti ini mungkin saja akan berubah menjadi kebencian! Kita dengan mudah saja bersumpah cinta, sehidup semati, senasib sependeritaan, dan semua itu dapat terjadi selama si dia yang dicinta memenuhi syarat. Sekali saja syarat itu dilanggar, maka cinta berubah menjadi benci, dan kebahagiaan berubah menjadi kesengsaraan.

Banyak sudah terjadi peristiwa yang membuktikan betapa fananya cinta itu. Suami isteri yang tadinya bersumpah saling cinta akhirnya bercerai setelah setiap hari cekcok. Sahabat yang tadinya saling mencinta dan saling setia akhirnya saling bermusuhan. Orang tua yang tadinya bersumpah mencinta anaknya, akhirnya menyumpahi anak itu. Semua ini terjadi karena syarat cinta itu dilanggar, pamrih dalam bercinta tidak terpenuhi. Terjadi konflik-konflik yang dapat menjalar dan berkembang menjadi konflik antar bangsa dan antar negara. Sumbernya adalah konflik dalam diri pribadi kita masing-masing.

Selama hati akal pikiran dikuasai nafsu daya redah, maka si-aku semakin menonjol, semakin berkembang kuat. Si-aku adalah nafsu yang menguasai hati akal pikiran, si aku adalah keinginankeinginan.

Selama si aku merajalela, maka terjadilah bentrokan-bentrokan antar keinginan, antar kepentingan diri masing-masing dan timbullah pertikaian dan permusuhan.

Hanya cinta kasih Tuhan sajalah yang maha benar dan maha suci, tidak ada kebalikannya karena tunggal! Hanya kekuasaan Tuhan sajalah yang akan mampu membebaskan batin dari cengkeraman nafsu daya rendah dan mengembalikan nafsu-nafsu ke dalam kedudukannya yang semestinya, yaitu menjadi alat pelengkap kehidupan manusia, menjadi abdi, bukan majikan. Kalau sudah begitu, hanya kekuasaan Tuhan yang akan menjadi kemudi, bukan lagi nafsu daya rendah, dan barulah apa yang dinamakan cinta kasih tidak akan mendatangkan sengsara! Dalam kesedihannya, Mayang masih menahan diri. Tidak mungkin ia harus mendatangi Sim Ki Liong dan Su Bi Hwa lalu menegur mereka. Tidak mungkin ia mengamuk karena cemburu. Kalau saja ia tidak ingat akan keluarga Cang, tentu malam itu juga ia meninggalkan tempat itu, meninggalkan Sim Ki Liong begitu saja, memutuskan hubungan lahir batin dan mengambil jalan hidupnya sendiri. Akan tetapi, ia mengkhawatirkan keselamatan keluarga Cang. Ia tidak ingin melihat Cang Hui menjadi korban Sim Ki Liong, atau Cang Sun menjadi korban Su Bi Hwa. Ia harus menentang niat buruk mereka. Mereka itu hendak memikat putera puteri pembesar Cang hanya untuk mendapatkan kedudukan tinggi. Dan ia harus mencegah terjadinya hal ini. Sekarang ia mulai menduga bahwa kekuasaan aneh yang membuat ia malam-malam itu rindu kepada Ki Liong, juga yang membuat Cang Hui seolah-olah dalam mimpi dan mau saja dirangkul Ku Liong, adalah kekuasaan tidak wajar, kekuatan sihir! Buktinya, ketika ia mengerahkan kekuatan batinnya, ia tersadar, demikian pula Cang Hui. Mengingat akan hal ini, ia menjadi semakin penasaran dan marah. Liong Ki atau Sim Ki Liong sudah berani mempergunakan sihir, hal ini membuktikan bahwa pemuda itu kembali mengambil jalan sesat.

Sim Ki Liong dan Su Bi Hwa yang tidak tahu bahwa rahasia mereka sudah diketahui Mayang, malam itu mengadakan pertemuan untuk melapas kerinduan mereka dan juga untuk mengatur siasat. Mereka maklum bahwa siasat mereka memikat Cang Sun dan Cang Hui mengalami kegagalan. Mereka akan mengulang lagi akan tetapi harus secara halus dan tidak tergesa-gesa, karena kalau sampai terbongkar rahasia mereka, akan gagallah segalanya, bahkan mereka akan terancam malapetaka. Mereka lalu mengatur siasat lain untuk memperbesar kepercayaan Menteri Cang kepada mereka. Kepercayaan menteri itu yang akan menjadi landasan kuat bagi kedudukan mereka.

Mayang berpura-pura tidak tahu saja akan hubungan antara Liong Ki dan Liong Bi. Ia harus mendapatkan bukti yang lebih kuat untuk membongkar niat buruk mereka, kalau memang benar mereka itu berniat buruk seperti yang diduganya. Tanpa bukti yang nyata, tentu saja ia tidak

mampu melakukan sesuatu. Apalagi karena sikap kedua orang itu kepadanya amatlah baik, bahkan lebih ramah daripada biasanya. Juga Liong Ki selalu bersikap sopan, tidak lagi memperlihatkan sikap merayu seperti biasanya.

Tiga hari kemudian, pada suatu malam yang gelap, empat sosok bayangan orang bergerak dengan lincahnya di dalam taman yang luas dari istana Menteri Cang Ku Ceng.

Sesungguhnya amat mengherankan bagaimana sampai ada empat orang asing dapat memasuki taman itu dari luar, padahal penjagaan di situ cukup ketat. Mereka dapat melompati pagar tembok taman dari bagian yang kebetulan tidak terjaga. Juga, kini dengan berindap-indap mereka menghampiri bangunan gedung atau istana keluarga Cang dan berhasil memasuki gedung melalui pintu samping yang ternyata tidak terkunci dalam! Mereka nampaknya sudah hafal akan keadaan di situ, buktinya mereka sambil berindap-indap langsung saja menuju ke kamar induk, kamar Menteri Cang dan isterinya! Ketika mereka berindap menuju ke kamar itu, tiba-tiba muncul dua orang penjaga yang melakukan perondaan. Seorang membawa lampu teng, yang ke dua membawa canang yang kadang dipukulnya lirih. Keduanya membawa golok telanjang.

Cepat sekali gerakan dua di antara empat sosok bayangan itu. Mereka melompat keluar dan dua orang peronda itu sudah roboh tertotok, canang dan lampu telah berpindah tangan, demikian pula golok mereka sehingga mereka berdua itu roboh tanpa mengeluarkan suara gaduh.

Agaknya empat orang itu telah mempelajari keadaan di gedung besar itu. Mereka tanpa ragu-ragu menghampiri kamar besar di mana Cang Taijin dan isterinya tidur. Akan tetapi ketika mereka menghampiri jendela kamar untuk membongkarnya, tiba-tiba muncul dua orang penjaga. Mereka melihat betapa dua orang penjaga yang meronda telah menggeletak tak bergerak.

"Penjahat .....!" bentak mereka dan dua orang ini sudah menerjang dengan golok mereka. Dua di antara empat orang itu menyambut dengan pedang, sedangkan dua orang lagi membongkar jendela. Suara gaduh itu mengejutkan Menteri Cang Ku Ceng yang sudah membuka daun pintu.

Isterinya menjerit dan berteriak-teriak memanggil pengawal. Dua orang yang tadi membongkar jendela, ketika melihat Menteri Cang keluar sambil membawa pedang, segera menyerang. Menteri Cang bukanlah seorang ahli pedang. Dia seorang ahli militer, dan biarpun dia tidak pandai sekali berkelahi, namun sebagai seorang menteri yang kadang menjadi seorang panglima, tentu saja dia bukan orang yang lemah. Segera dia menggerakkan pedang melindungi dirinya, sementara itu, isterinya berteriak-teriak minta tolong.

Dua orang penjahat telah merobohkan dua orang penjaga yang tadi menyerbu dan kini mereka membantu dua orang kawan mereka mengeroyok Menteri Cang! Mereka adalah orang-orang yang pandai memainkan golok mereka, dan pembesar itu segera terdesak hebat dan berada dalam keadaan yang amat berbahaya bagi keselamatan nyawanya. Akan tetapi, agaknya teriakanteriakan isteri pembesar itu menarik perhatian dan tiba-tiba muncullah Liong Ki dan Liong Bi!

Kedua orang ini dengan pedang di tangan menerjang dan dalam waktu singkat saja, empat orang penjahat itu roboh! Mayang juga datang, akan tetapi ketika ia tiba di situ, agak terlambat karena ia terbiasa tidur melepaskan pakaian dan sepatu sehingga tadi harus mengenakan pakaian dan sepatu lebih dulu, juga menyanggul rambutnya yang dibiarkan terlepas dari ikatan, ia melihat empat orang itu telah roboh.

"Tangkap mereka hidup-hidup!" ia berseru, akan tetapi seruannya terlambat sudah. Pedang di tangan Liong Ki dan Liong Bi telah menembus jantung mereka, dan empat orang itu tewas seketika.

Mayang cepat melompat ke dekat empat orang itu dan memeriksa. Ternyata mereka tidak mungkin dapat ditanya lagi. "Aih kenapa kalian membunuh mereka?" ia mencela Liong Ki dan Liong Bi.

"Mereka, adalah orang-orang jahat, sudah sepatutnya dibunuh!" kata Liong Bi.

"Benar, aku pun tak dapat menahan kemarahanku tadi. Sekarang baru aku ingat bahwa semestinya mereka itu ditanya dulu sebelum dibunuh." kata Liong Ki.

"Sudahlah, mereka sudah mati dan kalian sungguh telah menyelamatkan nyawa kami." kata Menteri Cang dengan sikap masih tenang saja dia sudah terbiasa menghadapi ancaman dan bahaya, maka peristiwa yang hampir mencelakainya tadi dihadapi sebagai hal biasa saja. Isterinya juga keluar kamar dan wajah nyonya bangsawan itu agak pucat. Kemudian muncul pula Cang Hui dan Teng Cin Nio dan kedua orang gadis ini pun telah membawa sebatang pedang. Ketika mereka melihat Menteri Cang dan isterinya selamat dan empat orang penjahat terbunuh, legalah hati mereka dan Cang Hui merangkul ibunya. Cang Sun muncul dan pemuda itu segera berkata, dengan sikap sungguh-sungguh kepada ayahnya.

"Ayah, peristiwa ini membuktikan bahwa pihak yang memusuhi ayah mulai berani mengirim pembunuh untuk menyerang kita. Maka, sudah seyogianya kalau ayah memperketat dan memperkuat penjagaan. Kalau kebetulan kedua kakak-beradik Liong hadir, tentu saja keamanan ayah terjamin. Akan tetapi tidak mungkin mereka menjaga keselamatan ayah siang malam." Menteri Cang mengangguk, lalu memerintahkan penjaga untuk menyingkirkan mayat empat orang penjahat dan dua orang penjaga, memerintahkan komandan jaga untuk melapor kepada panglimapasukan keamanan agar diselidiki siapa adanya empat orang penjahat itu. Kemudian, dia menyuruh Cang Hui dan Cin Nio menemani isterinya di dalam kamar, dan dia sendiri mengajak Liong Ki, Liong Bi clan Mayang untuk bercakap-cakap di ruangan dalam.

Setelah mereka berempat duduk berhadapan terhalang meja besar,kembali Menteri Cang memuji dua orang pembantunya dan berterima kasih atas pertolongan mereka ketika tadi dia terdesak dan terancam.

Liong Ki segera memberi hormat kepada Menteri Cang. "Harap paduka tidak berpendapat demikian, Tai-jin. Sudah menjadi tugas kewajiban kami berdua untuk melindungi keluarga Tai-jin dari ancaman bahaya yang datang dari manapun juga. Kami hanya merasa bersyukur bahwa kami

tidak sampai terlambat." "Tai-jin telah melimpahkan kebaikan kepada kami, sudi menerima kami. Karena itu, kami selalu siap untuk membela Tai-jin, dengan taruhan nyawa sekalipun," kata pula Liong Ki dengan suara dan wajah sungguh-sungguh.

Cang Tai-jin mengangguk-angguk. "Bagus, tidak percuma kami menerima kalian sebagai pengawal keluarga." Mayang sejak tadi hanya diam saja. Ia pun bersyukur bahwa pembesar bijaksana itu dapat diselamatkan, dan pembelaan Liong Ki dan Liong Bi, sedikit banyak telah mengurangi rasa tidak senangnya kepada mereka. Mereka itu terbukti setia, dan siapa tahu, mungkin mereka berdua merayu putera puteri Menteri Cang bukan dengan niat buruk, melainkan karena jatuh hati! Yang membuat ia tidak puas adalah dibunuhnya empat orang calon pembunuh itu sehingga tidak dapat diselidiki, siapa yang menyuruh mereka itu menyerbu.

"Sayang kita tidak dapat mengetahui siapa orangnya yang telah menyuruh empat orang pembunuh itu, Tai-jin," kata Mayang. "Kalau mereka tidak dibunuh dan dapat ditangkap hidup-hidup, tentu mereka akan dapat membuat pengakuan dan kita dapat menangkap dalangnya." Mendengar ini Liong Ki dan Liong Bi saling lirik lalu Liong Ki berkata, "Adik Mayang benar sekali.

Kami juga merasa menyesal mengapa kami tidak ingat akan hal itu. Kami terlalu terburu nafsu sehingga lupa dan telah membunuh mereka." "Siapa yang tidak marah melihat para penjahat itu nyaris membunuh Tai-jin? Kami terlalu marah pada saat itu," sambung Liong Bi.

Cang Taijin mengelus jenggotnya dan mengangguk-angguk. "Hal itu sudah terjadi dan tidak ada gunanya disesalkan. Andaikata mereka tertawan hidup-hidup, belum tentu mereka mau mengaku.

Musuh kami terlalu banyak, dan kami kira mereka adalah kaki tangan para pemberontak. Mulai sekarang, pasukan pangawal harus dipersiapkan untuk membantu kalian. Akan kupanggil kembali Coa-ciangkun agar dia mengatur pasukan pengawal sehingga tidak ada lagi pengacau yang dapat menyelinap masuk tanpa diketahui." Sejak. peristiwa malam itu, Menteri Cang Ku Ceng semakin percaya kepada kakak beradik Liong Ki dan Liong Bi, dan tentu saja kedua orang ini merasa senang. Memang inilah tujuan mereka.

Liong Bi yang mengatur siasat itu. Ia menghubungi Pek-lian-kauw, mengatakan bahwa ia dapat memberi jalan kepada beberapa orang Pek-lian-kauw untuk masuk ke dalam rumah gedung Menteri Cang Ku Ceng. Tentu saja pihak Pek-lian-kauw gembira mendengar ini karena mereka tahu bahwa Menteri Cang merupakan seorang di antara dua menteri setia yang pandai dan menjadi tulang punggung kerajaan Beng.

Mereka adalah orang-orang yang berpengalaman dan cerdik. Merasa bahwa dengan peristiwa itu mereka telah maju beberapa langkah dan kedudukan mereka menjadi semakin kokoh dan baik, mereka tidak mau membuat banyak ulah yang mungkin membahayakan kedudukan mereka.

Usaha mereka mendekati Cang Sun dan Cang Hui untuk sementara mereka tunda. Kalau kepercayaan keluarga Cang semakin menebal, tentu akan semakin mudah bagi mereka untuk mencapai sasaran itu.

Karena sikap mereka itu, Mayang juga terkecoh. Ia tidak lagi melihat dua orang itu merayu puteraputeri Menteri Cang. Sikap mereka baik dan sopan, dan ramah terhadap dirinya. Dari Cang Hui ia mendengar bahwa kini kedua orang itu sama sekali tidak pernah lagi mengganggu, bersikap sopan dan baik. Akan tetapi sungguh aneh, luka di hati Mayang agaknya tidak dapat sembuh sama sekali. Rasa cintanya terhadap Sim Ki Liong sudah membuyar karena ia merasakan benar bahwa ada suatu rahasia yang busuk di antara Sim Ki Liong dan Su Bi Hwa yang kini menyamar sebagai kakak-beradik itu. Biarpun kini kedua orang itu bersikap sopan dan baik terhadap Cang Sun dan Cang Hui, namun ia hampir yakin bahwa mereka itu pernah merayu putera dan puteri Cang itu dengan cara yang tidak wajar.

***

Ada kehidupan di perutnya. Perutnya berkeruyuk di luar kehendaknya. Perut itu hidup dan kini memberi isyarat minta diisi. Bukan hanya mendengarkan suara berkeruyuk, akan tetapi juga terasa hampa dan pedih. Lapar! Dalam keadaan seperti itu, yang dibutuhkan hanyalah makanan pengisi perut. Makanan apa saja, asalkan dapat memenuhi tuntutan perut lapar. Bukan lagi tuntutan nafsu selera mulut yang ingin makan enak.

Hay Hay memasuki hutan yang nampak liar dan gelap itu. Hutan selebat itu tentu dihuni binatang yang dapat dimakan dagingnya, atau mungkin saja tumbuh pohon buah. Pendeknya, daging binatang atau buah apa saja yang dapat dimakan. Dia amat memerlukannya saat itu.

Akan tetapi tidak ada pohon buah di tempat itu. Yang ada hanyalah pohon-pohon liar yang besar, mungkin sudah ratusan tahun umurnya. Dia harus mencari binatang hutan yang dagingnya enak dimakan. Kalau ada kelinci atau kijang. Dia tidak mau makan daging kera atau babi hutan, belum pernah dia memakannya dan rasanya tidak tega untuk makan daging kera, dan ia merasa jijik makan daging babi hutan yang nampaknya demikian kotor.

Sejak kemarin dia melakukan perjalanan di daerah tandus, tidak bertemu dusun dan sudah sehari semalam dia tidak makan. Perutnya yang lapar membuat tubuhnya agak gemetar. Tiba-tiba dia mendengar suara auman yang menggetarkan bumi. Auman harimau! Pernah dia makan daging harimau. Lumayan juga. Seperti daging domba, panas, hanya lebih kasar. Kalau tidak ada pilihan lain, daging harimau pun akan diterima dengan senang oleh perutnya. Daging harimau bakar, dia masih menyimpan bawang kering dan garam! Jakunnya sudah naik turun ketika dia membayangkan daging harimau yang dipanggang kemerahan. Cepat dia menyelinap, menuju ke arah suara auman harimau. Kini, suara itu menjadi semakin riuh dan ternyata bukan suara seekor harimau saja yang mangaum, melainkan ada beberapa ekor harimau dan dua di antaranya menggereng, disusul gerengan harimau lain sehingga menjadi ramai sekali. Hay Hay cepat menghampiri tempat itu. dan dia bersembunyi sambil mengintai dengan hati tertarik sekali.

Seekor harimau yang berbulu hitam sedang berkelahi melawan dua ekor harimau biasa. Dua ekor harimau yang mengeroyoknya itu bertubuh lebih besar, akan tetapi harimau hitam itu tangkas bukan main.

Gerakannya amat cepat, gesit dan dari otot-otot yang kekar melingkari tubuh di bawah kulit itu dapat diketahui bahwa harimau hitam ini selain tangkas juga amat kuat. Hay Hay yang menjadi penonton, kagum bukan main. Harimau hitam jantan itu sungguh perkasa.

Di tempat itu terdapat pula dua ekor harimau betina yang masih muda. Mereka pun agaknya menjadi penonton dan sesekali mengeluarkan gerengan. Seperti telah diduga oleh Hay Hay, perkelahian itu tidak berlangsung lama. Segera dua ekor harimau biasa itu melarikan diri dengan luka-luka berdarah. Dan kini, harimau hitam menghampiri dua ekor harimau betina, harimau berbulu biasa seperti dua ekor harimau jantan yang tadi melarikan diri. Dua ekor harimau betina ini menggereng dan nampak tidak senang, akan tetapi ketika harimau hitam mengeluarkan auman dan memperlihatkan gigi bercaling yang runcing tajam, dua ekor harimau betina itu nampak ketakutan dan mereka pun tidak melawan ketika harimau jantan hitam itu membelai-belai dan menumpahkan berahinya.

Hay Hay tertegun dan dia pun teringat kepada mendiang ayah kandungnya, Si Kumbang Merah.

Harimau hitam ini agaknya memiliki watak yang mirip mendiang ayahnya itu. Gila betina dan mempergunakan kekerasan untuk merampas harimau betina dari harimau lain, dan memaksakan kehendak dan berahinya! Dia masih terpesona melihat lagak harimau jantan hitam itu. Binatang itu memaksa dua ekor harimau betina, memperkosa mereka bergantian dan agaknya binatang itu memiliki kekuatan yang tidak wajar. Dia tak mengenal lelah. Menyaksikan peristiwa yang selama hidupnya belum pernah dilihatnya itu, Hay Hay tertarik sekali sampai dia lupa akan rasa lapar di perutnya. Akhirnya, harimau jantan yang berbulu kehitaman itu tidak lagi mengganggu dua ekor korbannya, dan dengan langkah gontai yang menambah kegagahannya, harimau itu menuju ke bawah pohon besar, kedua kaki depan mencakar-cakar tanah menggali tanaman seperti ubi. Dan dimakannya ubi itu dengan lahapnya.

Hay Hay makin heran. Ketika harimau itu makan ubi, mulutnya menjadi merah seperti berlepotan darah! Harimau itu menghabiskan beberapa butir ubi merah, kemudian terjadilah hal yang membuat Hay Hay mengerutkan alisnya. Harimau jantan hitam itu kembali mengganggu dua ekor harimau betina yang nampaknya sudah kelelahan. Dua ekor harimau betina itu melakukan perlawanan, akan tetapi mereka menerima cakaran dan gigitan yang membuat mereka luka-luka.

Melihat ini, Hay Hay tak dapat menahan kemarahannya. Dia seperti melihat penjahat cabul memperkosa dua orang wanita dan menyiksa mereka. Dengan geram dia pun melompat keluar dari balik semak belukar. Melihat ada orang meloncat keluar, harimau itu menghentikan gangguannya kepada dua ekor korbannya dan dia pun mengaum dengan nyaring, menggetarkan bumi sambil berindap-indap menghampiri Hay Hay.

Setelah tiba di depan Hay Hay dalam jarak empat meter, harimau itu berhenti, mendekam dan matanya seperti mencorong mengamati Hay Hay. Pemuda ini pun tidak mau kalah, memandang harimau itu dan sejenak manusia dan harimau bertatap pandang mata. Bagaimanapun juga, harimau itu akhirnya mengejapkan mata dan nampak gelisah, lalu bangkit berdiri, keempat kakainya menegang, semua ototnya menggetar dan harimau itu mengaum lagi dua kali. Hay Hay sudah siap siaga, maklum bahwa harimau itu tentu akan segera menyerangnya. Dia SUdah membuat perhitungan dan mengukur jarak antara tempat itu dengan sebongkah batu besar yang berada di sebelah kirinya.

Harimau hitam itu kini menggereng dan segera tubuhnya meluncur ke atas dan depan, menubruk ke arah Hay Hay. Gerakannya cepat sekali dan semua suara dan sikapnya demikian mendatangkan rasa gentar karena dahsyat dan berwibawa. Namun, gerakan itu tidak terlalu cepat bagi Hay Hay.

"Binatang kejam dan jahat!" bentak Hay Hay dan ketika tubuh binatang itu hampir menerkamnya, tiba-tiba saja dia membuat gerakan ke depan bawah, menyelinap dan mengelak sehingga tubuh harimau itu meluncur lewat. Dia sudah membalik dan menangkap ekor harimau yang panjang itu dengan kedua tangannya. Kemudian, tanpa membuang waktu lagi, Hay Hay mengayun tubuh harimau itu. Harimau yang dipegang ekornya dan diayun-ayun, tidak mendapat kesempatan untuk membalik dan mencakar kedua tangan yang menagkap ekornya, bahkan kini dengan ayunan kuat, tubuh harimau itu meluncur ke arah batu besar.

"Prakkk!" Harimau itu tidak sempat mengaum lagi karena kepalanya sudah pecah ketika dengan amat kuatnya kepala itu dihantamkan ke batu besar. Binatang itu mati seketika! Ketika Hay Hay menengok ke arah dua ekor harimau betina tadi, dia tersenyum. Dua ekor harimau itu melarikan diri, seperti dua orang wanita yang baru saja terbebas dari cengkeraman seorang jaihwa- cat (penjahat cabul)! Dia pun cepat membuat api unggun, memanggang daging harrmau jantan hitam setelah membubuinya dengan garam dan bawang kering. Baunya sedap bukan main setelah daging yang dibumbui itu terpanggang api.

Ketika dia mulai makan daging panggang yang masih panas itu, dia menyayangkan bahwa di situ tidak ada nasi. Dan teringatlah dia akan ubi merah yang tadi dimakan harimau. Dia pun menghampiri tempat itu dan dilihatnya tanaman semacam ubi jalar dan ketia dia mencabutnya, dia mendapatkan dua butir ubi yang kulitnya kemerahan. Dia mengupasnya dan nampak daging ubi yang merah sekali, merah darah! Pantas saja ketika tadi makan ubi itu, mulut harimau hitam menjadi merah seperti berlepotan darah. Dia mencoba makan ubi itu. Enak! Manis dan sedap. Dia pun makan ubi merah yang manis itu dengan daging harimau, sampai kenyang sekali.

Perut yang kenyang, tubuh yang lelah, bersilirkan angin yang sejuk, membuat Hay Hay mengantuk. Dia bersandar pada batang pohon dan hampir tertidur. Ketika dia teringat kepada hariamu-harimau tadi, dia segera meloncat naik ke atas pohon. Berbahaya tidur di tempat yang banyak harimaunya itu. Dan tak lama kemudian dia pun sudah tertidur nyenyak di atas pohon. Dia sudah sering dalam perjalanan dan petualangannya tidur di atas pohon.

Matahari sudah condong ke barat ketika Hay Hay mengejak-ejapkan matanya, lalu terbangun. Dia mimpi terjebak musuh berada dalam ruangan yang terkurung api. Ketika dia terbangun, dia masih merasakan hawa yang luar biasa panasnya dan semua pakaiannya basah karena keringat. Dia lalu meloncat turun dari atas pohon. Tubuhnya terasa ringan, dan juga kuat, akan tetapi panasnya bukan main seolah ada api besar bernyala di dalam perut dan dadanya.

Hay Hay juga merasakan rangsangan berahi yang kuat dan dia merasa khawatir sekali. Tahulah bahwa keadaannya ini tidak wajar dan dia pun teringat akan apa yang dimakannya tadi. Daging harimau jantan bulu kehitaman dan ubi merah darah. Itulah agaknya yang menjadi sebab keadaannya ini. Dia pun cepat duduk bersila dan mengerahkan tenaga dalamnya. Setelah mengatur pernapasan dan menghimpun hawa jernih, akhirya dapat dia meredakan gelora dalam tubuhnya. Namun api itu tidak padam, hanya kini menyala kecil di sebelah dalam. Tahulah dia bahwa daging harimau hitam dan ubi merah itu mengandung daya rangsangan berahi yang amat kuat. Kini mengerti dia mengapa watak harimau jantan hitam itu seperti tadi. Tentu karena binatang itu biasa makan ubi merah, maka harimau itu memiliki gairah yang amat besar, juga agaknya makanan itu mendatangkan tenaga yang hebat pula.

Dia harus mencari sebuah dusun sebelum malam tiba. Biarpun dia dapat saja melewatkan malam di hutan, tidur di atas pohon, namun akan lebih nyaman kalau dia bisa bermalam di dalam sebuah rumah, walau hanya rumah pondok kecil sederhana milik orang dusun. Dia mencari sebatang pohon yang paling tinggi, meloncat dan memanjat pohon itu sampai ke puncaknya dan dari tempat tinggi itu dia memandang ke sekeliling. Matahari sudah condong ke barat, senja telah mendatang dan pemandangan dari pohon tinggi itu amatlah indahnya. Kiranya hutan itu berada di lereng bukit dan di sebelah bawah lereng bukit itu nampak sebuah dusun, yang nampak hanya gentenggenteng rumahnya. Penglihatan ini mendatangkan kegembiraan di hati Hay Hay. Genteng rumah itu seperti melambai-lambai.

Segera dia turun dari pohon dan berlari cepat keluar dari hutan itu, menuju ke arah dusun yang tadi dilihatnya. Setelah tiba di luar dusun, cuaca menjadi lebih terang dan pemandangan senja itu, amatlah indahnya. Seolah-olah sang matahari yang akan mengundurkan diri malam itu, sebelum menghilang, lebih dahulu memancarkan cahayanya lebih gemilang walaupun lembut.

Hay Hay berhenti sejenak menikmati pemandangan indah itu. Kini dari luar hutan itu dia dapat melihat dusun tadi, dan nampak pula sebuah sungai yang berkelok-kelok di luar dusun, airnya berkilauan tertimpa sinar senja. Dia pun cepat menuruni lereng itu menuju ke dusun. Ketika dia tiba di dekat anak sungai yang berbatu-batu dan berpasir sehingga airnya amatlah jernihnya, tiba-tiba dia berhenti lagi. Sekali ini bukan untuk menikmati penglihatan indah, melainkan karena mendengar suara yang amat dikenalnya dan amat disenanginya. Suara gadis-gadis bercanda dan tertawa-tawa, suara air yang mereka permainkan dengan menampar permukaan sungai. Entah mengapa, suara wanita yang merdu, suara mereka tertawa dan bergurau, telah menyenangkan hati Hay Hay dan dia pun segera menuju ke arah suara.

Kembali dia berhenti melangkah dan kini tertegun, terpesona. Kiranya, seperti yang diharapkannya, di sungai yang dangkal itu, terdapat lima orang wanita sedang mandi! Dan melampaui dugaan dan harapannya, mereka adalah gadis-gadis yang cantik, sedang mandi sambil bersiram-siraman air di sungai jernih yang dalamnya hanya sepinggang itu. Mereka bersendau gurau, bermain-main di air dengan gembira dan Hay Hay terpesona. Pantasnya mereka adalah lima orang bidadari dari kahyangan yang datang bermandi di sungai jernih, di waktu senja seperti yang pernah dia baca dalam dongeng kuno! Mereka hanya mengenakan pakaian dalam sebatas dada, dan pundak, punggung dan lengan mereka yang telanjang itu nampak putih keemasan tertimpa sinar matahari senja, mulus halus dan amat indahnya.

Hay Hay bersembunyi di balik rumpun ilalang di tepi sungai, mengintai dan jantungnya berdebar kencang, rasa hangat dari apa yang tak pernah padam sejak dia makan daging harimau hitam dan ubi merah tadi kini mulai berkobar lagi. Gairah nafsu yang hebat merangsangnya dan hampir tak tertahankan. Terutama sekali ketika dia melihat seorang di antara lima orang gadis dusun itu.

Seorang gadis yang amat manis, dan agaknya empat orang gadis lain memusatkan godaan mereka kepada gadis manis ini, yang kadang tersipu malu-malu dengan muka menjadi kemerahan! Dari ucapan dan godaan empat orang gadis itu, tahulah Hay Hay bahwa gadis manis yang amat menarik hatinya itu adalah seorang pengantin baru! Nafsu bagaikan api. Kalau dapat dikendalikan, maka bagaikan api, nafsu amatlah berguna bagi manusia, bahkan manusia tidak mangkin dapat hidup tanpa nafsu. Nafsu menyusup dan menjadi satu dengan panca indera, bergelimang dalam hati dan akal pikiran. Manusia tidak akan dapat mengalami kemajuan dalam keduniawian tanpa bekerjanya nafsu yang menyusup ke dalam hati dan akal pikiran. Namun, seperti juga api, kalau nafsu tidak terkendali, kalau nafsu tidak lagi menjadi pelayan melainkan menjadi majikan, celakalah kita! Kita akan diseretnya, bagaikan api yang tidak terkendali, semua akan dilahapnya dan akan semakin berkobar. Kita akan terseret ke dalam perbuatan tanpa pantangan lagi demi mengejar kesenangan. Makanan nafsu adalah kesenangan. Di mana ada kesenangan, nafsu bangkit dan menjadi amat kuatnya. Makin kuat nafsu merajalela, semakin lemahlah jiwa. Dan tidak ada kekuatan di dunia lni yang akan mampu meredakan nafsu kecuali kekuasaan Tuhan! Kepada Tuhan saja kita dapat memohon dan menyerah, mohon pertolongan dan bimbingan. Tanpa bimbingan Tuhan, setiap perbuatan yang bagaimana nampak baik pun pada dasarnya bergelimang nafsu, pada dasarnya pasti berpamrih demi keuntungan dan kesenangan diri sendiri, karena ke sanalah arah tujuan semua nafsu.

Hay Hay merasa betapa seluruh tubuhnya tergetar ketika dia melihat lima orang gadis itu bermainmain di air sungai, terutama sekali melihat wanita muda yang oleh kawan-kawannya digoda sebagai pengantin baru. Dia tidak dapat menahan diri lagi untuk tidak mendekati dan berkenalan dengan mereka. Dia muncul dari balik rumpun ilalang dan begitu melihat munculnya seorang pria asing, lima orang wanita itu menjerit kecil dan dengan bingung dan panik mereka menggunakan kedua tangan untuk menutupi dada yang hanya tertutup kain tipis yang tembus pandang karena basah.

Melihat mereka salah tingkah dan nampak ketakutan, Hay Hay cepat berkata, sambil mengangkat kedua tangan ke atas, "Nona-nona harap jangan takut. Aku bukan setan, melainkan manusia biasa dan manusia pun bukan yang jahat. Lihat, aku sudah membalikkan muka agar tidak melihat kalian mengenakan pakaian. Aku hanya ingin berkenalan." Hay Hay lalu membalikkan tubuh, membelakangi mereka. Melihat ini, timbul pula keberanian para gadis itu dan sambil kecicikan menahan tawa, mereka cepat keluar dari sungai, mengenakan pakaian kering dan sambil tertawaJODOH SI MATA KERANJANG 246 tawa mereka beriari-larian kecil meninggalkan tempat itu.

"Nanti dulu! Nona pengantin, aku ingin sekali memberi selamat kepadamu! Sebagai nona pengantin yang baik, engkau harus menerima ucapan selamat dariku!" kata Hay Hay dengan suara lembut membujuk. Mendengar ini, pengantin baru itu terpaksa berhenti berlari dan empat orang kawannya yang melanjutkan lari mereka meninggalkan Hay Hay. Wanita pengantin baru itu berdiri menanti dan dengan muka tersipu ia memandang kepada pemuda yang kini sudah berdiri di depannya. Seorang pemuda tampan yang sikapnya sederhana, pandang mata dan senyumnya lembut dan sopan sehingga ia hanya merasa malu akan tetapi tidak lagi takut.

"Nona pengantin yang baik, aku merasa menyesal sekali tidak sempat menghadiri pesta pernikahanmu. Tentu meriah sekali, sayang aku tidak dapat hadir" Hay Hay berkata ramah, lalu menyambung untuk memancing percakapan, "kenapa nona begitu tega kepadaku dan tidak mengundangku untuk menghadiri pesta pernikahanmu?" Wanita itu memandang heran dan membela diri. "Bagaimana saya dapat mengirim undangan kalau saya tidak mengenalmu?"

"Aahhh, benar juga, aku sampai lupa, Nona pengantin baru! Nah, biarlah engkau mengenalku sekarang. Namaku Hay Hay, dan bolehkah aku mengetahui nama Nona pengantin yang manis? Tanpa mengetahui nama, bagaimana aku dapat memberi selamat?" kata Hay Hay dengan sikap sopan dan ramah sekali. Melihat pemuda ini tidak bersikap kurang ajar, bahkan sopan dan manis budi, tentu saja wanita muda pengantin baru itu pun tidak lagi merasa curiga atau sungkan. Ia tersenyum dan jantung dalam dada Hay Hay terlonjak. Manisnya senyum itu! Bahagianya si pengantin pria, pikirnya agak iri.

"Namaku Cing Ling..... eh, maksudku Nyonya Ji San." kata wanita itu dan karena kelepasan bicara memperkenalkan nama gadisnya, ia pun agak tersipu.

"Cing Ling, nama yang bagus sekali. Aku lebih suka mengingat nama itu, karena nama itu mengingatkan aku akan seorang wanita yang cantik jelita seperti bidadari. Kau tahu, Nona. Ketika tadi aku tiba di tempat ini, aku bersembunyi karena takut!" Wanita itu sudah terpancing dan sudah terlibat dalam percakapan. Setiap kali Hay Hay bicara, selalu membuat ia ingin tahu kelanjutannya. Sikap pemuda itu terlalu lembut dan manis, juga ucapannya halus dan selalu merupakan kalimat yang membutuhkan keterangan berlanjut.

"Kongcu, kenapa kau takut?" tanya wanita itu ingin tahu sekali.

"Kongcu? Aih, sekarang engkau membuat aku merasa sedih dan penasaran, Cing Ling! Apakah engkau tidak sudi menerima uluran tanganku untuk berkenalan dan bersahabat?" Wanita itu terkejut, tidak tahu mengapa ia membuat pemuda itu sedih dan penasaran! "Apa maksudmu, Kongcu?"

"Kongcu lagi! Aih, celaka, kenapa engkau berkongcu-kongcuan kepadaku? Bukahkah kita telah berkenalan dan menjadi sahabat? Sudah kuberitahukan bahwa namaku Hay Hay, nah, panggil saja namaku itu, jangan pakai kongcu segala. Maukah engkau menjadi sahabatku dan menyebut namaku saja, Cing Ling?" Wanita muda ini sudah merasa terbuai di awang-awang oleh pujian Hay Hay tentang kecantikannya, maka kini ia merasa gembira dan tersenyum lagi, seyum yang mampu membuat Hay Hay setengah pingsan! "Baiklah, Hay Hay. Nah, katakah kenapa engkau ketakutan begitu tiba di sini tadi? Apakah engkau melihat setan?" pengantin muda itu mulai berani bergurau. Hal ini dapat dimaklumi. Ia baru saja menjadi pengantin, dipersandingkan dengan seorang pria yang tadinya tidak dikenalnya sama sekali sehingga membuat ia merasa asing, sungkan dan malu-malu.

Selama beberapa hari tinggal di rumah suaminya, di keluarga mertuanya, ia merasa asing dan rikuh, seperti berada di pulau terasing tanpa kawan dekat, melayani suami dan mertua yang masih asing sehingga hubungan diantara mereka menjadi kaku. Baru sore hari ini ia mendapatkan kesempatan untuk keluar dan mandi di sungai bersama teman-teman lamanya, mendatangkan kegembiraan luar biasa. Kini, bertemu Hay Hay yang pandai mengambil hati, amat ramah dan halus, timbul kegembiraan hati Cing Ling dan mulai ia berani menyambut gurauan Hay Hay.

"Melihat setan? Wah, jauh daripada itu. Sebaliknya malah! Aku melihat bidadari! Lima orang bidadari sedang mandi di air sungai yang amat jernih, dan terutama seorang di antara mereka, sungguh membuat aku terpesona dan juga ketakutan!" Sepasang mata yang jeli itu bersinar-sinar, mulut yang manis i tu dihias senyum nakal. "Hemm, aneh! Tidak melihat setan akan tetapi melihat bidadari, kenapa menjadi ketakutan?" Hay Hay tertawa. "Ha-ha, kalau hanya menghadapi setan, aku sama sekali tidak akan merasa takut! Akan tetapi menghadapi bidadari yang cantik jelita, manis seperti madu rambutnya ikal mayang dan hitam panjang, kulit tubuh yang mulus dan bersih, sepasang mata yang jeli dan dapat menjadi redup, pipi yang kadang dapat menjadi kemerahan, dan senyum yang.... aduhai senyummu, Cing Ling membuat jantungku seperti akan copot!" Wanita mana di dunia ini yang tidak haus akan pujian tentang kecantikannya? Wanita mana yang tidak haus akan kata-kata yang manis merayu? Apalagi kalau yang memuji dan merayunya itu seorang pemuda yang demikian tampan seyerti Hay Hay, dengan sikap yang lembut dan sopan, tidak kurang ajar. Kalau wanita itu menjadi marah, hal itu hanya pura-pura saja untuk menyembunyikan rasa senangnya, karena malu, seperti halnya Cin Ling.

"Ihh, engkau..... engkau merayuku, ya? Engkau mata keranjang!" Cing Ling hendak membalikkan tubuh meninggalkan Hay Hay, akan tetapi Hay Hay segera menjatuhkan diri berlutut dengan kaki kirinya.

"Cing Ling, sungguh mati, aku tidak bermaksud kurang ajar! Kalau ucapanku tadi menyinggungmu, maukah engkau mengampuni aku? Kita sudah bersahabat, bukan? Nah, maafkanlah aku dan aku tidak akan mengulang lagi ucapan yang akan menyinggung hatimu. Maafkan aku, kalau tidak, aku pun akan berlutut terus di sini sampai akhir jaman!" Mendengar ucapan itu, mau tidak mau sang pengantin baru menghentikan langkahnya dan ketika ia menengok, ia menahan suara ketawanya melihat pemuda itu benar-benar berlutut menghadapnya. Belum pernah selama hidupnya gadis dusun ini mendapatkan kehormatan seperti itu, maka cepat-capat ia menghampiri Hay Hay dan berkata.

"Ihh, jangan begitu! Bangkitlah dan jangan berlutut, nanti bajumu menjadi kotor!"

"Tidak, sebelum engkau memaafkan aku, aku tidak akan mau bangkit, biar aku mati berlutut terus begini!"

"Baiklah, aku maafkan engkau.... nah, bangkitlah...." "Sebut dulu namaku, baru aku mau bangkit." Wanita muda itu menarik napas panjang. Ia merasa tidak berdaya menghadapi pemuda yang amat menarik hatinya ini. Akan tetapi ia juga sudah terikat, merasa kasihan dan suka kepada pemuda ini merasa seolah ia sudah mengenal pemuda ini selama bertahun-tahun karena pemuda ini bersikap sedemikian akrabnya.

"Aih, Hay Hay, bangkitlah, aku memaafkanmu." akhirnya ia berkata.

Hay Hay mengangkat muka memandang. "Cing Ling, bagaimana aku dapat percaya bahwa engkau memaafkan aku lahir batin? Jangan-jangan hanya di bibir saja. Aku tidak memuji kosong, aku bukan perayu, aku hanya mengatakan terus terang ketika aku menyatakan bahwa engkau memang cantik jelita dan manis sepetti bidadari. Benarkah engkau memaafkan aku?" Wajah itu menjadi kemerahan dan Cing Ling menggigit bibirnya sendiri karena gemas. Minta maaf sambil mengulang lagi pujian-pujiannya! Sungguh selama hidupnya, dalam mimpi pun, belum pernah ia bertemu dengan seorang laki-laki seperti ini! "Aku memaafkanmu." katanya mengangguk.

Hay Hay mengulurkan kedua tangannya. "Bangkitlah aku, Cing Ling, baru aku mau percaya bahwa engkau memang telah memaafkan aku. Bukankah kita telah menjadi sahabat baik?"

Wanita itu tersenyum. Apa pun, pemuda ini malah keluar manjanya! Karena semua itu dilakukan Hay Hay dengan sungguh-sungguh, maka Cing Ling terpaksa menjulurkan pula kedua tangannya, memegang tangan Hay Hay dan pemuda itu pun menggenggam kedua tangan yang kecil mungil itu, lalu bangkit berdiri tanpa melepaskan kedua tangan itu. Bagaikan dua ekor anak ayam yang lembut dan hangat, dua buah tangan kecil dalam genggangam itu gemetar dan Cing Ling menundukkan mukanya. Baru beberapa hari yang lalu ia mendapatkan pengalaman pertama berdekatan dengan pria, yaitu suaminya. Akan tetapi ia tidak pernah merasakan seperti sekarang ini! Digenggam kedua tangannya seperti itu, jantungnya seperti terguncang rasanya, membuat kedua kakinya menggigil dan tubuhnya panas dingin! Ia seperti kehilangan semua tenaganya, tidak kuasa melepaskan kedua tangan yang tergenggam.

Sementara itu, pada diri Hay Hay juga terjadi hal yang aneh, yang tak pernah dia rasakan sebelumnya. Sejak dahulu ia memang pengagum keindahan dan kecantikan wanita. Akan tetapi, semua rasa kagum itu wajar saja, seperti orang mengagumi bunga-bunga yang indah, rasa suka yang bersih daripada nafsu. Saat ini lain lagi. Di dalam tubuhnya ada api yang menggelora, bernyala-nyala membakar seluruh dirinya. Api nafsu berahi yang belum pernah dia rasakan sebelumnya, membuat semua kesadarannya menjadi gelap, pertimbangannya menjadi terguncang dan dia lupa diri. Gairah yang menggebu membuat dia menarik kedua tangan itu mendekat dan tubuh wanita itu pun roboh dalam dekapannya! Kalau saja saat itu Cing Ling meronta dan melawan, tentu akan pulih kembali kesadaran Hay Hay. Akan tetapi tidak, wanita itu pun seperti terpesona, seperti kehilangan kesadarannya dan hanya pasrah dalam dekapan Hay Hay, dengan isak tertahan.

Ketika dalam kobaran nafsu berahi Hay Hay menunduk dan mencium wanita itu, Cing Ling pasrah dan merekah seperti setangkai bunga yang menerima siraman embun pagi.

"Cing Ling.....!" Hay Hay berbisik dan mencium lagi.

"Hay Hay...." Cing Ling mengeluh dan pasrah.

"Jahanam keparat....!!" terdengar bentakan orang. Tentu saja Hay Hay dan Cing Ling yang sedang bermesraan dan lupa diri itu terkejut dan ketika mereka menengok, ternyata di situ telah berdiri belasan orang laki-laki dusun dengan wajah penuh kemarahan! Cing Ling tersadar dan ia pun mendorong dada Hay Hay sekuat tenaga, lalu menudingkan telunjuknya yang gemetar, mukanya pucat dan rambutnya awut-awutan, suaranya gemetar pula, "Kenapa...... kenapa kau.... kau.... memelukku....?" Berkali-kali ia berseru seperti itu.

Hay Hay juga sadar akan keadaan dirinya. Mukanya menjadi merah sekali dan dia memaki diri sendiri. Celaka sekali, pikirnya. Dia telah mendatangkan malapetaka kepada seorang wanita yang amat baik, seorang wanita yang sama sekali tidak berdosa! Tentu pengantin baru itu menghadapi ancaman kemarahan suaminya dan semua keluarga suaminya! "Keparat busuk, berani engkau mempermainkan isteri orang?" bentak seorang pemuda tinggi besar bermuka hitam. "Engkau telah menghina isteriku, engkau layak dipukul sampai mampus!" kata si muka hitam yang menerjang maju dengan kedua tangan dikepal.

Wah, kiranya si tinggi besar muka hitam ini suami si pengantin baru! Hay Hay tidak sempat berpikir lagi karena orang itu sudah menjotos mukanya. Karena merasa bersalah dan marah kepada diri sendiri, Hay Hay merasa bahwa dirinya memang pantas dipukul, patut dihajar! "Dukk!!" Pukulan itu keras sekali menghantam pipinya.

"Bukk!" pukulan ke dua mengenai dadanya dan tubuh Hay Hay terjengkang, kepalanya menjadi pening. Dia memang sengaja tidak mengerahkan tenaga apa pun dan menerima pukulan-pukulan itu begitu saja untuk membiarkan dirinya dihajar! Kini belasan orang itu menghujankan pukulan kepadanya. Hay Hay hanya mengelak kalau ada kaki menyambar. Dia sudah memberikan tubuhnya untuk dihajar orang, akan tetapi dia tidak mau menerima tendangan. Pukulan mereka berdatangan dan terdengar suara bak-bik-buk ketika tubuhnya dijadikan bulan-bulan pukulan mereka. Terutama sekali si muka hitam yang marah melihat isterinya tadi didekap dan diciumi, pemuda itu, kini melampiaskan kemarahannya dengan pukulan-pukulan sekuatnya.

Mampus kau, pikir Hay Hay, memaki diri sendiri. Rasakan kau sekarang! Dia merasa tubuhnya remuk-remuk, bibirnya pecah berdarah, matanya berkunang-kunang dan agaknya dia nyaris pingsan. Tiba-tiba terdengar teriakan clan tangis wanita itu.

"Jangan bunuh dia.... ah, jangan bunuh dia.... dia tidak bersalah....!" Hay Hay membuka lagi kedua matanya yang lembam membengkak dan kehitaman. Dia melihat pengantin baru itu berlutut di dekatnya dan menangis, menutupi muka dengan kedua tangan sambil mita-minta ampun untuk dirinya! Hay Hay merasa terharu sekali! Betapa lembut dan mulia hati wanita ini, dan hampir saja dia tadi menodainya! Betapa jahat dia! Mendengar jerit tangis wanita itu, belasan orang yang tadi memukulinya menghentikan pemukulan mereka. Orang-orang dusun itu marah, akan tetapi mereka bukan membunuh. Mereka hanya ingin menghajar laki-laki asing yang mengganggu isteri orang. Mendengar pengantin itu menangis dan memohon agar jangan membunuh laki-laki asing itu, mereka khawatir kalau-kalau mereka membunuh orang. Wajah dan tubuh laki-laki itu sudah benjut-benjut, mukanya berdarah-darah dan babak belur.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar