09 Pendekar Remaja

Wi Kong Siansu adalah seorang kakek yang tajam pandangan matanya. Karena pengalamannya, ia dapat merasa bahwa muridnya yang tersayang tentu jatuh hati dan tertarik oleh kecantikan gadis ini. Ia pun dapat melihat sinar mata dahsyat dari mata sutenya, maka ia lalu berkata kepada sutenya, "Sute, berikan gadis ini kepada Kam Seng. Kau tentu masih ingat bahwa ayah gadis ini adalah musuh besar dari Kam Seng dan biarkanlah ia melepaskan sakit hati dan dendamnya kepada puteri musuh besarnya!"

Ban Sai Cinjin memandang marah, akan tetapi ia lalu tertawa.

"Baik, baik, Suheng. Kau yang meronohkannya, maka kau pula yang berhak menentukan nasibnya. Akan tetapi awaslah kalau gadis ini sampai terlepas, Kam Seng. Dia lihai sekali dan kau takkan dapat menguasainya!"

Wi Kong Siansu juga tertawa. "Sute, kau sudah tua.

Kam Seng lebih muda, maka kau tentu tahu akan kehendak hatinya melihat gadis cantik ini. Biarlah, dia melampiaskan dendamnya dan biar dia pula yang menghabiskan nyawa musuhnya ini. Hati-hati, Kam Seng, jangan sampai dia terlepas!"

Juga Hok Ti Hwesio berkata Kam Seng sambil menyeringai, "Sute, kalau kau sudah selesai dengan dia berikanlah kepadaku. Aku perlu jantungnya untuk obat!" Kemudian hwesio ini berjalan masuk ke kelenteng. Sambil tertawa- tawa Ban Sai Cinjin juga berjalan masuk untuk mengobati lukanya.

Ong Tek, putera pangeran yang semenjak tadi menyaksikan segala peristiwa ini dengan dada berdebar dan muka pucat, lalu pergi pula ke dalam kamarnya sambil menarik tangan Tan-kauwsu. Kini Wi Kong Siansu tinggal berdua dengan Kam Seng yang masih memondong tubuh Lili yang lemas.

"Muridku, kau tentu mencinta gadis ini, bukan?"

Bukan main terkejutnya hati pemuda itu mendengar ucapan suhunya. Untuk beberapa lama ia tidak mau dan tak dapat menjawab, akan tetapi akhirnya ia menjawab juga dengan perlahan, "Suhu lebih waspada dan awas. Sesungguhnya, sakit hati teecu terhadap ayah gadis ini amat besar, oleh karena itu, teecu hendak menjadikannya sebagai isteri di luar kehendaknya ataupun kehendak orang tuanya. Hal ini akan dapat teecu pergunakan untuk membalas penghinaan dan sakit hati, kalau tak terkabul cita-cita teecu menewaskan Pendekar Bodoh."

Wi Kong Siansu menggeleng-geleng kepalanya.

"Salah... salah..., muridku. Aku mengerti akan maksudmu, akan tetapi apakah kaukira akan mudah saja menjadikan gadis ini sebagai sekutu kita? Biarpun kau dapat memaksanya menjadi isterimu, akan tetapi apa kaukira dia akan tunduk begitu saja? Kau jangan memandang rendah gadis ini. Dia benar-benar lihai sekali. Lebih baik kau tamatkan saja riwayatnya agar kelak kita tidak mengalami gangguan dari padanya."

Tosu ini membicarakan tentang mati hidup seorang gadis bagaikan bicara tentang seekor domba saja! Memang, bagi Wi Kong Siansu, urusan-urusan dunia sudah tidak masuk hitungan pula dan mati hidup baginya hanya urusan kecil.

"Akan teecu pikir-pikir dulu, Suhu," kata Kam Seng dan ia lalu membawa Lili ke dalam kamarnya. Di ruang dalam, ia bertemu dengan Ong Tek yang menghadangnya dan pemuda tanggung ini berkata, "Suheng... hendak kau apakan gadis ini?"

Wajah Kam Seng berubah merah. "Kau tak usah tahu, Sute. Kau masih kecil dan belum tahu urusan. Gadis ini adalah musuh besarku, ayahnya dulu telah membunuh ayahku."

"Ah...!" hanya demikian seruan Ong Tek yang segera berlari kembali ke dalam kamarnya. Akan tetapi sebelum memasuki kamarnya ia merasa pundaknya dipegang orang. Ketika ia menengokg ternyata Hok Ti Hwesio yang memegangnya.

"Ong-sute, jangan kau turut campur dengan urusan itu. Seng-sute sedang berpesta-pora, mendapat keuntungan besar, mendapat hadiah seorang bidadari jelita. Kau tentu tidak tahu...! Ha-ha-ha!"

"Tidak... tidak!" Ong Tek menjadi pucat dan menggeleng-gelengkan kepalanya. "Suheng, besok pagi juga aku akan pergi dari sini. Aku mau pulang saja ke kota raja! Tak tertahan olehku semua kejadian yang mengerikan ini. Tak kusangka sama sekali bahwa kalian demikian... demikian..."

"Apa maksudmu, Sute?" Hok Ti Hwesio memandang tajam.

"Mengapa kalian begitu kejam terhadap seorang gadis seperti dia?" Sambil berkata demikian, Ong Tek lalu melompat ke dalam kamarnya dan menutupkan pintunya keras-keras, terdengar ia menangis dan berkata-kata dengan Tan-kauwsu utusan dari kota raja itu.

Hok Ti Hwesio termenung sambil mengerutkan jidat.

Kemudian ia lalu mencari suhu dan supeknya untuk menceritakan sikap dari putera pangeran ini.

Sementara itu, dengan dada berdebar keras, Kam Seng memondong tubuh Lili ke dalam kamarnya, menutup daun pintu dan melemparkan tubuh Lili ke atas pembaringannya. Gadis itu terbanting ke atas pembaringan dengan tubuh lemas dan rebah telentang tak berdaya. Hanya sepasang matanya saja yang masih bertenaga dan kini ditujukan kepada Kam Seng dengan tajam berapi-api! Ia telah mendengar semua percakapan tadi dan tahu akan maksud pemuda ini. Yang membuatnya terheran-heran adalah ketika mendengar bahwa Kam Seng adalah musuh besar Pendekar Bodoh, bahwa ayahnya telah membunuh ayah pemuda ini! Sungguh-sungguh mengherankan, akan tetapi keheranannya ini tersapu habis oleh kebenciannya terhadap pemuda ini. Ia maklum bahwa ia tidak berdaya sama sekali. Telah dicobanya untuk membebaskan diri daripada totokan Wi Kong Siansu, akan tetapi sia-sia saja. Ia maklum dengan hati penuh kengerian bahwa ia telah berada di dalam tangan Kam Seng dan takkan dapat melawan sedikitpun juga. Akan tetapi masih ada semangat di dalam hatinya yang tidak karuan rasanya itu, yaitu semangat membalas dendam. Biarlah, pikirnya, dan tunggulah saja! Kalau aku sampai terlepas daripada totokan ini, akan kuhancurkan kepalamu sampai menjadi bubur! Sementara itu, Kam Seng duduk menghadapi Lili dengan wajah sebentar merah sebentar pucat. Ia menatap wajah dan tubuh Lili tanpa berkedip. Seribu satu macam pikiran teraduk di dalam hatinya. Pikirannya menjadi pening. Berkali-kali ia telah mengulurkan tangan hendak meraba muka gadis, itu, akan tetapi selalu ditariknya kembali. Pandang mata Lili yang bagaikan dua sinar api itu terasa menusuk matanya. Hatinya penuh gairah kalau ia melihat wajah yang manis hidung yang kecil bangir, apalagi bibir yang luar biasa indah dan manisnya itu. Akan tetapi sepasang mata Lili merupakan dua pedang mustika yang membuat ia senantiasa tak enak pikiran.

"Dia musuh besarku!" demikian bisik hatinya. "Aku boleh membunuhnya, menghinanya! Ayahku dulu terbunuh oleh ayahnya!"

"Akan tetapi ia dan Sin-kai Lo Sian pernah menolongku!" bisik lain suara hatinya. "Dan aku... aku cinta kepadanya. Alangkah baiknya kalau ia bisa menjadi isteriku untuk selamanya!"

"Sekarang pun kau bisa mengambilnya menjadi isterimu!" bisik suara pertama.

"Siapa tahu kalau ia akan dapat tunduk terhadapmu dan membalas cintamu. Setidaknya malam ini kau akan menjadi suaminya!"

Terdorong oleh bisikan ini, Kam Seng mengulurkan tangan kanan untuk beberapa lama jari-jari tangannya membelai rambut Lili yang halus. Belaian ini penuh dengan kasih sayang, akan tetapi tiba-tiba ia menarik kembali tangannya ketika pandang matanya bertemu dengan sinar mata Lili.

Demikianlah, sampai lewat tengah malam Kam Seng berada dalam keadaan ragu-ragu. Nafsu dendamnya mendorongnya untuk membunuh Lili, untuk menghinanya, untuk melampiaskan sakit hatinya terhadap ayah gadis itu. Akan tetapi lain kekuasaan menahan kehendaknya ini, kekuasaan cinta. Kekuasaan ini membuat ia tidak tega untuk menyakiti Lili baik menyakiti hati maupun raganya.

Akhirnya ia tidak kuat pula menghadapi pandangan mata Lili. Ia mencabut pedangnya dan ia hendak membebaskan gadis ini dari siksaan lebih lanjut. Hendak dibunuhnya gadis ini dan habis perkara! "Lili," katanya sambil berdiri dengan pedang di tangan. "Aku akan membunuhmu, dan sebelum itu hendaknya kau ketahui bahwa kau adalah puteri musuh besarku! Ayahku bernama Song Kun dan menjadi kakak seperguruan ayahmu, akan tetapi ayahmu telah membunuhnya! Ayahmu telah membunuh ayahku dan karena itulah aku hidup sengsara. Karena itulah ibuku terlunta-lunta dan aku menjadi yatim piatu, menjadi pengemis untuk bertahun-tahun lamanya! Karena itu kau harus mati! Kau harus berterima kasih kepadaku karena kau terhindar dari penghinaan, terhindar dari penghinaan Susiok, dan... dan... aku pun tidak sampai hati menghinamu! Aku... aku kasihan kepadamu!"

Ia berhenti sebentar dan dilihatnya air mata mengalir turun dari sepasang mata indah dan jelita itu.

"Lili, bersedialah untuk mati," katanya sambil mengangkat pedangnya. Dari kedua mata gadis itu tidak nampak rasa takut sedikit pun, bahkan sinar berapi-api tadi telah padam, bibirnya agak tersenyum. Lili memang merasa lega bahwa ia tidak akan menjadi kurban penghinaan dan ia menghadapi kematian dengan amat tabahnya. Kam Seng mengayun pedangnya ke atas dan... tiba-tiba ia menurunkan pedangnya kembali, bahkan pedang itu terlepas ke atas lantai! Ia lalu meramkan mata dan menubruk Lili, lalu... mencium jidat gadis itu satu kali.

Dilemparkannya tubuhnya ke belakang, terduduk di atas bangku yang tadi didudukinya.

Ia menggunakan kedua tangan menutupi mukanya.

Terdengar elahan napas berkali-kali. "Ah, Lili... aku... aku tidak tega membunuhmu... aku... aku cinta kepadamu!"

Sinar mata Lili mulai berapi-api lagi. Untuk ciuman pada jidatnya itu saja ia dapat membunuh Kam Seng kalau dapat. Keadaan menjadi sunyi kembali. Kam Seng duduk seperti tadi, menghadapi Lili, tak tahu harus berbuat apa! Betapa pun bencinya kepada Pendekar Bodoh, hatinya tidak tega untuk mengganggu atau membunuh gadis ini.

"Lili... Lili... aku tidak sanggup membunuhmu... tanganku gemetar... bagaimana aku sanggup membunuh gadis yang kucinta dengan seluruh jiwaku? Tidak, Lili, tidak! Aku takkan membunuhmu, akan tetapi... aku pasti hendak mencari ayahmu, aku harus membalas sakit hatiku terhadap Pendekar Bodoh...!" demikian keluh kesah yang keluar dari mulut Kam Seng sambil menggunakan kedua tangannya untuk menutupi mukanya.

Pada saat itu, terdengar suara senjata-senjata beradu di ruang depan dibarengi teriakan Hok Ti Hwesio, "Supek... tolong...! Supek, lekas bantu...! Lekas bantu merobohkan gadis setan ini...!"

Mendengar seruan ini, Kam Seng melompat bangun.

Kalau Hok Ti Hwesio sampai minta tolong kepada suhunya, yaitu Wi Kong Siansu, dan tidak minta tolong kepada suhunya sendiri, berarti bahwa tentu terjadi malapetaka hebat dan datang musuh yang tangguh. Ia hendak melompat keluar dari kamarnya, akan tetapi ia teringat kepada Lili dan merasa khawatir bahwa kalau ia meninggalkan gadis itu seorang diri, jangan-jangan gadis yang dikasihinya itu akan diganggu oleh Hok Ti Hwesio atau Ban Sai Cinjin. Ia merasa ragu-ragu sebentar, lalu menghampiri Lili dan berkata, "Lili, aku hendak membebaskanmu. Ketahuilah, bahwa perbuatanku ini hanya terdorong oleh rasa cinta kasih terhadapmu, dan ketahuilah pula bahwa pada suatu hari aku pasti akan membalas dendamku pada ayahmu yang sudah membunuh ayahku!" Setelah berkata demikian, Kam Seng lalu menggerakkan jari tangan kanannya dan menotok pundak Lili. Ia telah belajar ilmu silat dari Wi Kong Siansu, maka ia tahu pula bagaimana harus membuka totokan dari suhunya itu. Setelah menotok pundak gadis itu, ia lalu melompat keluar sambil membawa pedangnya, langsung menuju ke ruang depan dari mana terdengar suara senjata beradu.

Biarpun pengaruh totokan yang menghentikan jalan darahnya telah lenyap dan jalan darahnya telah terbuka kembali, namun Lili masih merasa lemas dan hanya dapat bergerak perlahan. Ia segera mengumpulkan semangat dan mengatur pernapasannya untuk melancarkan kembali jalan darahnya. Ia melihat betapa kipas dan pedangnya telah ditaruh di atas meja dalam kamar itu oleh Kam Seng. Hatinya merasa tidak karuan dan ia telah mengalami ketegangan hebat selama dibawa di dalam kamar Kam Seng. Kini ia merasa terharu, marah, malu, dan juga diam-diam ia merasa berterima kasih kepada pemuda itu. Ada sedikit rasa girang di dalam hatinya bahwa sungguhpun pemuda itu telah menggabungkan diri dengan orang-orang jahat, namun pada dasarnya hati pemuda itu tidaklah kejam dan jahat.

Masih ada kegagahan dalam lubuk hati Kam Seng. Ia teringat akan supeknya Song Kun, karena ia pernah ia diceritakan tentang halnya Song Kun ini oleh ibunya.

Setelah kesehatannya pulih kembali, Lili lalu mengambil senjata-senjatanya dan melompat keluar di mana kini suara senjata masih beradu ramai sekali.

Ketika ia tiba di ruang luar, di bawah sinar lampu ia melihat seorang gadis cantik manis yang memiliki gerakan lincah sekali, sedang bertempur dikeroyok tiga oleh Ban Sai Cinjin, Song Kam Seng, dan Hok Ti Hwesio! Sungguh mengagumkan sekali betapa gadis cantik manis itu menghadapi lawannya sambil tersenyum-senyum dan mainkan kedua tangannya yang tak memegang senjata.

Gin-kangnya sungguh hebat dan mengagumkan, bagaikan seekor kupu-kupu bermain di antara tiga bunga itu menyambar-nyambar di antara tiga gulungan sinar senjata di tangan tiga pengeroyoknya.

"Goat Lan...!" Lili berteriak girang ketika ia mengenal wajah manis yang tersenyum-senyum itu.

"Hai, Lili, anak nakal! Kau di sini?" Gadis itu dalam menghadapi desakan lawan-lawannya masih sempat berjenaka.

"Goat Lan, jangan khawatir. Mari kita basmi tiga anjing busuk ini!" Lili lalu mencabut keluar kipas dan pedangnya, lalu menyerbu dan menyerang Ban Sai Cinjin. Ia merasa segan dan sungkan untuk menyerang Kam Seng, maka ia sengaja memilih Ban Sai Cinjin dan membiarkan Goat Lan menghadapi Kam Seng dan Hok Ti Hwesio.

Ban Sai Cinjin sudah merasai kelihaian Lili, bahkan tadi sore pundaknya telah terluka hebat oleh gadis ini.

Dalam keadaan sehat ia masih belum dapat mengalahkan Lili, apalagi sekarang pundaknya masih belum sembuh benar, tentu saja ia merasa amat gelisah. Kalau saja ia tidak sedang terluka, tadipun Goat Lan tidak nanti dapat mempermainkannya begitu mudah. Dan ia maklum bahwa belum tentu ia kalah oleh Lili kalau saja tadi sore ia tidak bertempur dengan main-main dan memandang rendah. Terpaksa ia menggigit bibir, dan mengerahkan seluruh kepandaiannya. Ban Sai Cinjin adalah seorang tokoh kang-ouw yang selain berkepandaian amat tinggi, juga telah mengenal banyak sekali taktik perkelahian dan mempunyai banyak tipu-tipu curang. Pengalamannya luas sekali dan tenaga lwee-kangnya sudah mendekati batas kesempurnaan. Oleh karena itu biarpun ia sudah terluka masih amat sukarlah bagi Lili untuk dapat merobohkan kakek mewah ini. Sebaliknya, jangan harap bagi Ban Sai Cinjin untuk mengalahkan puteri Pendekar Bodoh yang memiliki ilmu kipas dan ilmu pedang yang luar biasa sekali.

Berbeda dengan pertempuran antara Lili dan Ban Sai Cinjin yang berjalan seru dan seimbang pertempuran antara gadis cantik manis dan kedua pengeroyoknya, Kam Seng dan Hok Ti Hwesio, berjalan berat sebelah.

Ketika tadi dikeroyok tiga, gadis itu masih dapat melayani dengan senyum simpul, apalagi sekarang.

Biarpun kepandaian Kam Seng dan Hok Ti Hwesio sudah jauh lebih tinggi daripada kepandaian silat para ahli silat biasa, namun bagi gadis manis itu mereka berdua ini masih merupakan ahli-ahli silat kelas rendah saja! Bagaimanakah gadis itu yang ternyata adalah Kwee Goat Lan, dapat tiba-tiba muncul di situ? Dan mengapa tahu-tahu sudah dikeroyok oleh Ban Sai Cinjin dan Hok Ti Hwesio pada saat Lili tertawan dalam kamar Kam Seng? Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan dalam percakapan antara Ong Tek putera pangeran dan Hok Ti Hwesio, pemuda cilik dari kota raja itu merasa amat muak dan tidak senang melihat peristiwa yang terjadi di dalam kuil di mana ia belajar silat kepada Ban Sai Cinjin.

Betapapun juga, Ong Tek adalah seorang pemuda bangsawan yang semenjak kecil dididik dengan pelajaran-pelajaran kesopanan dan juga ia telah banyak membaca kitab-kitab kuno di mana terdapat segala macam pelajaran tentang kebajikan. Ia menjadi terkejut dan juga kecewa melihat dengan kedua mata sendiri betapa jahat adanya orang-orang yang selama ini ia hormati dan junjung tinggi. Maka ia lalu masuk ke dalam kamarnya sambil menangis, lalu ia memaksa kepada Tan-kauwsu, utusan dari ayahnya itu, untuk pada malam hari itu juga meninggalkan kuil dan pulang ke kota raja.

Sikap pemuda bangsawan ini membuat Hok Ti Hwesio menjadi curiga dan cepat hwesio ini menjumpai suhunya.

Ketika Ban Sai Cinjin mendengar keadaan muridnya dari kota raja itu, ia pun mengerutkan alisnya.

"Sungguh berbahaya," katanya perlahan. "Kalau anak itu pulang dan menceritakan segala peristiwa yang terjadi kepada ayahnya dan para pembesar, nama kita akan hancur dan tercemar."

"Mengapa pusing-pusing, Suhu? Kalau Sute tidak mau menurut kehendak kita dan bahkan hendak merusak nama kita, lebih baik kita lenyapkan dia dan guru silat itu, habis perkara!" Ban Sai Cinjin menjadi ragu-ragu. "Enak saja kau bicara! Apa kaukira Ong Tek itu orang biasa saja yang boleh kita perbuat sesuka kita! Kalau ia sampai lenyap, apa kaukira Pangeran Ong tidak akan mencari dan menimbulkan huru-hara yang akan menyulitkan kita?"

Hok Ti Hwesio tersenyum "Apa sih bahayanya seorang putera bangsawan macam Ong Tek? Sedangkan menghadapi orang-orang besar seperti pendekar Pek-le- to Lie Kong Sian, Mo-kai Nyo Tiang Le, Sin-kai Lo Sian, kita masih dapat membereskan mereka tanpa banyak ribut dan tak seorang pun mengetahui, apalagi seorang manusia macam Ong Tek dan seorang guru silat seperti orang she Tan itu? Suhu, mengapa kita tidak mau meminjam nama puteri Pendekar Bodoh untuk melenyapkan mereka? Kita siarkan bahwa yang menewaskan Ong Tek dan Tan-kauwsu adalah puteri Pendekar Bodoh, bukankah ini baik sekali?"

Ban Sai Cinjin berseri wajahnya. "Kau benar! Kau memang cerdik sekali, Hok Ti!" ia memuji. "Kita lenyapkan kedua orang itu, kemudian kita bikin puteri Pendekar Bodoh seperti Lo Sian. Ha-ha-ha-ha! Akan lenyap jejak mereka dan tak seorang pun mengetahuinya."

Pada saat itu, terdengar tindakan kaki dua orang yang berlari keluar dari kelenteng itu.

"Nah, itu mereka agaknya hendak melarikan diri pada malam hari ini juga. Kita harus bertindak cepat sebelum Supek mengetahui!" kata Hok Ti Hwesio yang merasa takut kepada supeknya, Wi Kong Siansu yang pada saat itu sudah berada di dalam kamarnya.

Ban Sai Cinjin dan Hok Ti Hwesio lalu melompat keluar dan mereka melihat Ong Tek diikuti oleh Tan-kauwsu yang menggendong buntalan pakaian putera pangeran itu.

"Ong Tek, kau hendak pergi ke manakah?" Ban Sai Cinjin membentak.

Melihat suhunya datang bersama Hok Ti Hwesio, Ong Tek menjadi terkejut dan sinar ketakutan membayangi wajahnya yang tampan.

"Suhu... teecu hendak... hendak pulang ke kota raja bersama Tan-suhu. Teecu... merasa rindu kepada ayah dan ibu...!"

"Hemm, kau hendak lari dari kami, ya? Bagus, murid macam apa kau ini? Tidak boleh, kau tidak boleh pergi! Kau tentu hendak membuka mulut besar di kota raja tentang kami, ya?"

"Tidak... tidak, Suhu... tidak!" kata Ong Tek dengan muka pucat ketika melihat suhunya melangkah maju dengan huncwe mengancam di tangan.

"Kau murid durhaka. Kau harus diberi hajaran!"

Tan-kauwsu melompat maju. "Jangan kau berani mengganggu Ong-kongcu, Ban Sai Cinjin! Ingat, dia adalah putera Pangeran Ong!"

Ban Sai Cinjin tertawa bergelak. "Haha-ha. Segala tikus busuk seperti kau berani pula ikut campur bicara! Apa kaukira aku takut kepada segala macam pangeran? Biar kepada Kaisar sendiri pun aku tidak takut!" Ia lalu melangkah maju dan mengayun huncwenya ke arah kepala guru silat she Tan itu! Serangan ini hebat dan cepat sekali, akan tetapi Tan-kauwsu sungguhpun tidak memiliki ilmu silat yang dibandingkan dengan kepandaian Ban Sai Cinjin, namun ia telah banyak merantau dan telah memiliki pengalaman yang banyak dalam pertempuran. Cepat ia mengelak ke belakang akan tetapi hawa pukulan huncwe itu masih membuatnya terhuyung-huyung ke belakang.

Pada saat Ban Sai Cinjin hendak mengejar untuk mengirim pukulan maut, tiba-tiba dari atas genteng menyambar turun sesosok bayangan manusia yang begitu cepat gerakannya sehingga nampak bagaikan seekor burung garuda menyambar.

"Manusia setan!" seru bayangan itu dengan suaranya yang nyaring dan merdu. "Kau benar-benar kejam!" dan tiba-tiba huncwe di tangan Ban Sai Cinjin yang sudah dipukulkan ke arah kepala Tan-kauwsu itu terpental mundur oleh tenaga pukulan dari atas! Ketika Ban Sai Cinjin yang merasa terkejut sekali itu memandang, ternyata di depannya telah berdiri seorang gadis yang cantik manis dengan dua lesung pipit di sepasang pipinya. Gadis ini cantik dan jenaka sekali, sepasang matanya bersinar-sinar bagaikan sepasang bintang pagi, mulutnya tersenyum lebar sehingga giginya yang rata dan putih berkilau bagaikan mutiara itu nampak berkilat. Ban Sai Cinjin tercengang karena sama sekali tak pernah disangkanya bahwa seorang gadis muda dapat menahan huncwenya dengan tangan kosong saja! Ia maklum bahwa ia sedang menghadapi seorang gadis muda yang menjadi murid orang sakti.

Gadis cantik itu tersenyum manis. "Kau tentu yang bernama Ban Sai Cinjin Si Huncwe Maut. Hemm, pantas saja kau disebut Huncwe Maut, karena hampir saja kau membunuh orang lagi." Ia lalu menengok ke arah Ong Tek dan Tan-kauwsu, lalu berkata kepada Ong Tek, "Aku sudah mendengar bahwa kau adalah seorang putera pangeran. Entah bagaimana kau bisa tersesat dalam neraka dunia ini, akan tetapi itu bukan urusanku. Lebih baik kau lekas melanjutkan niatmu pergi dari sini. Lebih cepat lebih baik. Jangan takut, boneka besar pengusir burung di sawah ini serahkan saja kepadaku!"

Ong Tek memandang tajam, agaknya untuk mengukir wajah gadis penolongnya itu dalam ingatannya, kemudian ia mengangguk memberi hormat dan segera pergi, diikuti oleh Tan-kauwsu.

"Ong Tek, jangan kau berani pergi dari sini!" seru Hok Ti Hwesio yang segera mencabut pisaunya dan menyambitkan pisau terbangnya itu ke arah Ong Tek! Pisau itu terbang lewat di dekat gadis itu yang dengan tenang mengulur tangan dan sekali tangannya bergerak, pisau itu telah disampok ke bawah sehingga pisau itu kini meluncur ke bawah dan menancap di atas lantai! "Hemm, hwesio gundul, sudah banyak aku mendengar tentang hwesio-hwesio gundul yang pada hakekatnya hanyalah penjahat-penjahat rendah dan yang mencemarkan nama para pendeta Buddha! Agaknya kau yang paling rendah diantara mereka semua!"

Bukan main marahnya Ban Sai Cinjin mendengar ucapan dan melihat sikap gadis itu. Tanpa banyak cakap lagi ia lalu menyerang dengan huncwenya. Juga Hok Ti Hwesio lalu menubruk kembali pisaunya, mencabutnya dari lantai dan maju menyerang. Ban Sai Cinjin yang biasanya amat sayang kepada gadis cantik, biarpun harus diakui bahwa dara di hadapannya ini memiliki kecantikan yang amat menggiurkan dan jarang terdapat, kini sama sekali tidak terguncang hatinya, bahkan ingin sekali ia membunuh gadis ini. Demikianlah, Ban Sai Cinjin dan muridnya lalu menyerang hebat kepada gadis manis itu yang melayani mereka dengan tangan kosong. Sungguh hebat ilmu gin-kang dari gadis itu. Dengan lincahnya ia dapat mengelakkan dari sambaran huncwe dan pisau lawannya, bahkan ia masih sempat memaki- maki, mentertawakan dan membalas serangan mereka dengan pukulan-pukulan yang tidak boleh dipandang ringan. Ban Sai Cinjin terkejut sekali melihat sepak terjang gadis ini. Diam-diam ia mengeluh dalam hatinya.

Selamanya hidup, belum pernah ia mengalami malam sesial ini. Berturut-turut telah datang dua orang gadis yang aneh dan lihai sekali! Kalau saja ia tidak terluka pundaknya oleh pukulan kipas dari Lili sore tadi, tentu ia akan dapat menyerang lebih baik terhadap gadis yang baru datang ini. Ia dapat melihat betapa gadis itu mempergunakan Ilmu Silat Bi-ciong-kun (Kepalan Menyesatkan) yang menjadi pecahan Ilmu Silat Tangan Kosong Kwan-im-siu-ban-po (Dewi Kwan Im Menyambut Selaksa Musuh)! Akan tetapi pergerakan kedua tangan gadis ini aneh, agak berbeda dengan ilmu silat tersebut, dan yang membuatnya diam-diam harus mengakui dan mengagumi adalah ilmu ginkang dari gadis ini. Ilmu meringankan tubuhnya mengingatkan ia kepada empat besar di dunia dan terutama sekali kepada Bu Pun Su! Akan tetapi, gadis yang kini tertawan dalam kamar Kam Seng dan yang menjadi cucu murid Bu Pun Su sendiri, agaknya tidak sehebat ini ilmu gin-kangnya! Melihat betapa ia dan gurunya sama sekali tak berdaya, bahkan telah dua kali ia menerima pukulan tangan halus akan tetapi antep itu, Hok Ti Hwesio mulai berteriak-teriak memanggil supeknya minta bantuan! Hanya berkat ilmu kebalnya yang hebat, ia terhindar dari malapetaka ketika tangan gadis itu berhasil memukulnya sampai dua kali.

Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, teriakan-teriakan Hok Ti Hwesio terdengar oleh Kam Seng yang berada di dalam kamarnya menghadapi Lili yang tertawan. Suara senjata yang didengarnya adalah suara pisau di tangan Hok Ti Hwesio beradu dengan huncwe Ban Sai Cinjin. Memang, Goat Lan yang jenaka dan nakal itu berkali-kali menyampok tangan Hok Ti Hwesio sehingga pisaunya menjadi nyeleweng dan membentur senjata suhunya sendiri, membuat Ban Sai Cinjin menjadi makin marah dan mendongkol.

Goat Lan terheran ketika melihat seorang pemuda tampan dengan pedang di tangan maju mengeroyoknya.

Ia melihat gerakan pedang yang cukup tangkas dan lihai.

Kini setelah dikeroyok tiga, ia tidak mendapat banyak kesempatan untuk membalas dengan serangannya. Akan tetapi ia benar-benar tabah dan jenaka. Biarpun tiga orang lawannya amat tangguh, ia masih melayani mereka dengan tangan kosong, mempergunakan kelincahan gerakan tubuhnya, menyambar-nyambar di antara gelombang serangan.

Dan pada saat itu, datanglah Lili. Hal ini benar-benar tak pernah disangka oleh Goat Lan. Tentu saja ia menjadi amat gembira dan girang. Telah bertahun-tahun ia tidak bertemu dengan Lili, mungkin sudah ada tiga tahun. Ia melihat betapa calon adik iparnya ini maju menyerbu dengan senjata kipas dan pedang. Ia merasa amat heran ketika melihat betapa Lili menyerbu Ban Sai Cinjin dengan muka merah dan mata berapi, agaknya Lili amat marah dan membenci kakek mewah itu.

Melihat kemarahan Lili yang agaknya penuh nafsu membunuh itu, Goat Lan tidak mau main-main lagi dan ketika ia berseru keras, kaki kanannya dengan gerakan Soan-hong-twi (Tendangan Kitiran Angin) telah berhasil menendang- tubuh belakang Hok Ti Hwesio. Tendangan ini dilakukan dengan tenaga yang ratusan kati beratnya dan cukup membuat tulang punggung lawan menjadi patah-patah. Akan tetapi, bagaikan sebuah bal karet, tubuh Hok Ti Hwesio terpental keras dan ketika membentur dinding, lalu mental kembali dan bergulingan di atas lantai tanpa luka sedikit pun! Goat Lan terheran-heran sehingga untuk sesaat ia berdiri bengong memandang manusia bal itu! Tentu saja ia tidak tahu bahwa Hok Ti Hwesio telah melatih diri dengan ilmu kebal yang luar biasa dan yang dimilikinya setelah ia makan jantung tiga orang manusia! Pada saat Goat Lan berdiri bengong memandang Hok Ti Hwesio saking herannya, Kam Seng mengirim tusukan maut dengan pedangnya. Ujung pedangnya telah berada dekat sekali dengan dada kiri Goat Lan, akan tetapi alangkah terkejut hati Kam Seng ketika tiba-tiba, bagaikan tubuh seekor ular, tubuh gadis itu melenggok ke kiri dan tusukan itu hanya lewat, di pinggir tubuhnya saja! Dan sebelum Kam Seng kehilangan rasa herannya, tiba-tiba ia merasa lengan kanannya sakit dan pedangnya telah terlepas dari pegangannya! Tanpa ia ketahui, dengan gerakan yang amat cepat bagaikan kilat menyambar, Goat Lan telah mengirim totokan ke arah urat nadinya! Hok Ti Hwesio telah bangun berdiri lagi, demikian juga Kam Seng telah mengambil kembali pedangnya karena totokan tadi tidak berbahaya, akan tetapi kedua orang itu kini merasa ragu-ragu dan hanya memandang kepada gadis itu dengan bengong. Mereka mengira sedang berhadapan dengan setan, karena bagaimanakah seorang gadis cantik lagi muda itu dapat menghadapi mereka dengan tangan kosong dan membuat mereka tak berdaya dengan dua kali serangan saja? Sementara itu, Ban Sai Cinjin telah diserang dan didesak hebat oleh Lili yang berusaha membunuhnya! Pundak yang tadi terluka mulai terasa amat sakit dan agaknya sambungan tulang yang telah disambung itu kini terlepas lagi! Keadaannya benar-benar berbahaya dan Goat Lan hanya memandang sambil tertawa-tawa.

Pada saat itu, terdengar seruan orang dan tahu-tahu dari dalam menyambar angin yang menolak kipas Lili yang sedang dipukulkan ke arah dada Ban Sai Cinjin! Goat Lan terkejut ketika melihat betapa kipas itu terpental dan tahu bahwa dari dalam ada orang berkepandaian tinggi yang turun tangan. Benar saja, seruan tadi lalu disusul dengan munculnya seorang tosu tua.

"Nona Sie!" kata tosu itu ketika Lili melompat mundur. "Muridku telah berlaku baik kepadamu, mengapa kau masih mati-matian mengacaukan tempat tinggal orang lain?"

Melihat munculnya tosu yang sore tadi telah merobohkannya, kemarahan Lili makin memuncak. Ia maklum bahwa ilmu kepandaian Wi Kong Siansu ini jauh lebih tinggi daripada kepandaiannya sendiri, akan tetapi puteri Pendekar Bodoh ini memang memiliki ketabahan yang diwarisinya dari ayah bundanya.

"Tosu siluman, rasakan pembalasanku!" teriaknya keras dan ia cepat menyerang dengan pedangnya dan mainkan Ilmu Pedang Liong-cu-kiam-sut di tangan kanan dan mainkan San-sui-san-hwat (Ilmu Kipas Gunung dan Air) dengan tangan kirinya! Wi Kong Siansu sudah tahu akan kelihaian gadis galak ini, maka ia berlaku hati-hati sekali dan mainkan kedua lengan bajunya dengan cepat. Juga Goat Lan berdiri dengan kagum memandang ilmu silat yang dimainkan oleh Lili. Diam-diam ia mengakui bahwa ilmu silat Lili benar-benar hebat sekali. Akan tetapi ketika ia melihat gerakan kedua ujung lengan baju tosu itu, ia lebih kaget lagi. Ujung lengan baju yang terbuat dari kain lemas itu kini mengeras bagaikan ujung toya baja dan tiap kali terbentur dengan pedang atau gagang kipas Lili, terdengar suara keras dan senjata di tangan gadis itu terpental ke belakang.

Melihat hal ini saja maklumlah Goat Lan bahwa kepandaian tosu tua ini benar-benar hebat dan kalau dibiarkan saja, Lili mungkin takkan dapat menang. Maka ia lalu mencabut senjatanya dan berseru, "Kakek tua, jangan kau orang tua menghina yang muda!"

Ketika Wi Kong Siansu melihat datangnya serangan dan melihat senjata di tangan Goat Lan, kakek ini terkejut sekali dan cepat ia melompat mundur. Ternyata bahwa gadis ini sekarang memegang dua batang bambu kuning yang hanya sebesar lengan anak-anak dan berujung runcing, panjangnya kira-kira hanya tiga kaki! "Tahan, Nona. Apakah hubunganmu dengan Hok Peng Taisu?"

Goat Lan memang bersifat nakal dan jenaka, maka sambil tersenyum-senyum ia menjawab, "Totiang (sebutan untuk pendeta tua), aku yang muda tidak mau membawa-bawa nama orang-orang tua untuk menakuti-nakuti kau!"

Merahlah wajah Wi Kong Siansu mendengar ucapan ini. "Siapa takut kepadamu? Biarpun Hok Peng Taisu sendiri yang datang, aku Wi Kong Siansu belum tentu akan takut kepadanya! Hanya kulihat bahwa sepasang bambu runcingmu itu adalah bambu runcing yang merupakan kepandaian tunggal dari Hok Peng Taisu." "Sudahlah, tak perlu membawa-bawa nama orang tua itu di tempat yang kotor ini. Pendeknya, kalau Totiang takut, sudah saja jangan kau mengganggu adikku ini!"

"Siapa takut? Biarlah, biar kumencoba kepandaian Bu Pun Su dan Swie Kiat Siansu yang diturunkan kepada Nona Sie ini dan sekalian kurasakan kelihaian bambu runcing dari Hok Peng Taisu!" Sambil berkata demikian, Wi Kong Siansu lalu mencabut pedangnya yang disembunyikan di balik jubahnya yang lebar. Pedang ini bersinar kehitaman dan inilah pedang mustika yang amat ganas dan berbahaya yang bernama Hek-kwi-kiam (Pedang Setan Hitam)! Toat-beng Lo-mo Wi Kong Siansu memang telah menciptakan semacam ilmu pedang tunggal yang pada waktu itu merupakan sebuah dari ilmu-ilmu pedang yang paling terkenal dan ditakuti di masa itu. Ilmu pedang ini ia ciptakan berdasarkan pedang mustikanya yang didapatkannya di atas Bukit Hek-kwi-san. Karena pedang itu mengeluarkan sinar kehitam-hitaman dan didapatkannya di atas Bukit Hek- kwi-san (Bukit Setan Hitam), maka ia lalu memberi nama Hek-kwi-kiam pada pedang itu dan lalu memberi nama pada ilmu pedang ciptaannya Hek-kwi-kiamsut. Biarpun Kam Seng sudah mempelajari ilmu pedang ini dengan tekunnya, akan tetapi oleh karena ilmu pedang ini amat sukar dan banyak sekali perubahannya, maka kepandaian itu boleh dibilang belum ada sepersepuluh bagian dari kepandaian Wi Kong Siansu Si Iblis Tua Pencabut Nyawa! "Majulah, anak-anak muda! Biarlah kalian mendapat kehormatan mengenal Hek-kwi-kiam-sut dari dekat!"

Akan tetapi Lili yang amat marah sudah tak sabar lagi mendengar ocehan tosu itu dan cepat maju menyerang dengan pedangnya. Goat Lan yang dapat menduga kelihaian tosu itu, lalu maju pula membarengi gerakan Lili dan mengirim serangan dengan bambu runcingnya.

Sesungguhnya, dari kedua suhunya yang menggemblengnya selama delapan tahun, yaitu Sin Kong Tianglo Si Raja Obat dan Im-yang Giok-cu Si Dewa Arak, Giok Lan hanya menerima latihan-latihan ilmu silat tangan kosong dan lwee-kang serta gin-kang. Akan tetapi gadis ini tentu saja tidak mau meniru kedua suhunya yang mempergunakan senjata-senjata yang paling aneh di antara sekalian senjata ahli silat di dunia ini. Yok-ong Sin Kong Tianglo selalu mempergunakan senjata keranjang obat dan pisau pemotong rumput, sedangkan Im-yang Giok-cu mempergunakan senjata guci arak. Oleh karena itu, di samping menerima gemblengan ilmu silat dari kedua kakek sakti ini, Goat Lan juga mempelajari ilmu pedang dari ayahnya dan terutama sekali yang paling disukai ialah mempelajari ilmu bambu runcing dari ibunya! Bahkan setelah ia dapat mainkan ilmu bambu runcing dengan pandai, ia lalu minta kepada ayahnya untuk membuatkan bambu runcing terbuat dari sepasang bambu kuning seperti milik ibunya! Hanya dengan senjata inilah Goat Lan melakukan perantauannya! Ilmu silat Goat Lan tentu saja sudah amat tinggi dan tangguh. Ia telah menerima gemblengan dari empat orang berkepandaian tinggi dan biasanya ia hanya menghadapi para lawan yang betapa lihai pun dengan kedua kaki tangannya sambil mengandalkan gin-kangnya yang seperti ibunya itu. Akan tetapi kini menghadapi Wi Kong Siansu, terpaksa ia mengeluarkan bambu- runcingnya.

Demikian pula dengan WiKong Siansu. Biasanya, orang tua ini selalu memandang rendah lawan-lawannya dan tak pernah ia mengeluarkan pedang mustikanya.

Kini menghadapi dua orang gadis cantik dan masih muda ia sampai mengeluarkan pedangnya, dapat diketahui bahwa tosu ini sama sekali tidak berani memandang ringan kepada Lili dan Goat Lan. Bahkan Ban Sai Cinjin sendiri memandang heran dan ia bersiap sedia dengan hati berdebar-debar. Hok Ti Hwesio dan Kam Seng tentu saja hanya berdiri di sudut ruang yang luas itu sambil menonton dan sama sekali tidak berani mencoba untuk ikut turun tangan.

Pertempuran kali ini memang benar-benar hebat sekali. Ilmu Pedang Hek-kwi-kiam-sut luar biasa ganas dan cepatnya sehingga ruang yang terang oleh cahaya lampu itu menjadi muram, karena sinar pedang itu bergulung-gulung bagaikan uap gunung berapi yang mengandung abu hitam. Akan tetapi sepasang bambu runcing di tangan Goat Lan merupakan titik kuning, yang kadang-kadang berkelebat bagaikan halilintar menyambar dengan cepatnya. Adapun pedang Liong- coan-kiam terkenal sebagai pedang yang ampuh, kini digerakkan dengan Ilmu Pedang Liong-cu-kiam-sut sungguh mengagumkan, berkelebat-kelebat bersinar putih bagaikan perak merupakan seekor naga perkasa yang bermain-main di antara awan hitam dan halilintar! Kipas maut di tangan kiri Lili merupakan pusat angin yang apabila digerakkan membuat para penonton merasakan sambaran angin dingin yang aneh! Empat ilmu silat yang luar biasa tingginya kini bertemu, dimainkan oleh tiga orang, sungguh merupakan pemandangan yang sukar dilihat orang! Ban Sai Cinjin, Kam Seng, dan Hok Ti Hwesio sampai berdiri bengong bagaikan terpaku di lantai.

Bagi Kam Seng dan Hok Ti Hwesio yang ilmu kepandaiannya jauh lebih rendah, tidak ada kemungkinan sama sekali bagi mereka untuk ikut turun tangan dalam pertempuran, maha dahsyat itu, akan tetapi tidak demikian dengan Ban Sai Cinjin. Apabila diukur tingkat kepandaiannya, memang ia tidak usah mengaku kalah terhadap dua orang gadis itu. Maka diam- diam kakek mewah ini lalu menelan dua butir pel dan mengurut-urut pundaknya, membenarkan letak tulang pundak dan mengatur napasnya. Setelah pundaknya tidak begitu sakit lagi, ia lalu mengeluarkan tembakau hitamnya yang berbahaya, dan mulai mengisi kepala huncwenya dengan tembakau beracun itu. Tak lama kemudian, mengebullah asap tembakau yang membuat kepala menjadi pening dan napas menjadi sesak. Kam Seng dan Hok Ti Hwesio sendiri terpaksa melangkah mundur menjauhi agar jangan sampai terkena serangan asap beracun itu.

Goat Lan adalah murid dari Yok-ong Sin Kong Tianglo Si Raja Obat, maka tentu saja ia juga mempelajari ilmu pengobatan, terutama sekali tentang racun yang seringkali dipergunakan oleh kaum hek-to (jalan hitam, yaitu orang-orang jahat). Begitu hidungnya mencium bau asap tembakau yang mulai melayang-layang di ruangan itu, ia maklum bahwa kakek mewah dengan huncwe mautnya itu akan turun tangan, mengandalkan huncwe dan asapnya yang lihai. Cepat tangan kirinya menancapkan bambu runcing yang kiri di ikat pinggang, menjaga diri dengan bambu runcing kanan, lalu menggunakan tangan kirinya untuk merogoh saku bajunya. Ia mengeluarkan dua butir buah yang putih warnanya, lalu menyerahkan sebutir kepada Lili sambit berkata, "Lili, masukkan buah ini ke dalam mulut dan gigit! Jangan telan!"

Lili menerima buah itu dan ketika ia menggigitnya, maka mulut dan hidungnya terasa dingin dan pedas, akan tetapi tercium hawa yang amat harum keluar dari mulut dan hidungnya.

Pada saat itu, Ban Sai Cinjin sudah melompat maju dan menyerbu dengan huncwe mautnya sambil mengebulkan asap hitam dari mulutnya ke arah dua orang gadis itu. Akan tetapi, alangkah heran dan kagetnya ketika ia melihat Lili dan Goat Lan tidak mengelak dan menerima asap itu tanpa terpengaruh sedikit pun! Ternyata bahwa asap hitam itu sebelum dapat memasuki hidung atau mulut kedua orang dara pendekar ini, telah diusir kembali oleh hawa harum yang keluar dari mulut dan hidung mereka! Akan tetapi, setelah Ban Sai Cinjin ikut menyerbu, sibuk jugalah Lili dan Goat Lan. Tadi ketika menghadapi dan mengeroyok Wi Kong Siansu, keadaan mereka baru dapat disebut seimbang, masih saja mereka berdua merasa amat sukar untuk dapat merobohkan Toat-beng Lo-mo yang memang sakti itu. Kini, Ban Sai Cinjin yang memiliki ilmu kepandaian tidak lebih rendah daripada tingkat mereka, tentu saja menimbulkan banyak kesukaran dan terpaksa keduanya mengerahkan kepandaian pada penjagaan diri.

"Lili, mari kita pergi, malam sudah lewat!" kata Goat Lan sambil memutar kedua bambu runcingnya menghadapi pedang hitam Toat-beng Lo-mo Wi Kong Siansu. Memang, malam telah terganti pagi dan ayam- ayam hutan mulai berkokok nyaring, burung-burung mulai berkicau.

"Ha-ha-ha, nona-nona manis! Kalian baru boleh pergi setelah meninggalkan tubuh kalian yang bagus di sini.

Hanya nyawa kalian saja yang bisa pergi! Ha! ha!" Ban Sai Cinjin tertawa bergelak karena girangnya melihat betapa ia dan suhengnya dapat mendesak kedua nona lihai itu.

Sesungguhnya, pertempuran itu boleh dibilang amat ganjil. Wi Kong Siansu tetap dikeroyok dua oleh Lili dan Goat Lan, sedangkan Ban Sai Cinjin hanya membantu suhengnya dengan serangan-serangan curang kepada dua orang nona itu. Lili dan Goat Lan tak dapat membalas kakek mewah ini karena mereka selalu harus mencurahkan perhatian terhadap Toat-beng Lo-mo yang benar-benar berbahaya dan lihai. Kedua nona itu merasa serba sulit. Kalau seorang di antara mereka meningalkan Toai-beng Lo-mo untuk menghadapi Ban Sai Cinjin, mungkin sekali ia dapat merobohkan Ban Sai Cinjin yang sudah terluka pundaknya.

Akan tetapi kawan yang ditinggalkan juga amat berbahaya kedudukannya dan mungkin tak akan kuat menghadapi Toat-beng Lo-mo. Maka mereka tetap saling bantu dan tidak mau meninggalkan kawan dan bersama- sama menghadapi desakan Toat-beng Lo-mo dan Ban Sai Cinjin tanpa dapat membalas! Sesungguhnya, Toat-beng Lo-mo Wi Kong Siansu biarpun hati nurani dan perikemanusiaannya amat tipis, namun ia masih mempunyai kegagahan dan keangkuhan, tidak mempunyai sifat pengecut dan rendah seperti sutenya. Mendengar ejekan sutenya terhadap dua orang nona itu, ia merasa amat jengah dan malu. Dua orang kakek yang telah terkenal tokoh-tokoh besar persilatan dan yang telah membuat nama besar di kalangan kang- ouw, kini menghadapi dua orang gadis yang usianya baru belasan tahun dan telah bertempur dua ratus jurus belum juga dapat mengalahkan mereka! Apalagi kalau ia mengingat bahwa dua orang gadis muda ini adalah anak dan murid-murid dari orang-orang sakti seperti Hok Peng Taisu, Bu Pun Su dan Pendekar Bodoh, ia merasa gentar juga kalau harus merobohkan atau menewaskan mereka ini. Juga ada sedikit rasa sayang dalam hatinya kalau harus menewaskan dua orang gadis muda yang demikian cantik jelita, jenaka, dan memiliki ilmu kepandaian yang sedemikian tingginya. Sebagai seorang ahli silat yang kawakan, tentu saja ia selalu merasa sayang kepada orang-orang muda yang berbakat dan yang telah mewarisi ilmu-ilmu silat tinggi.

Tiba-tiba Lili dan Goat Lan yang sudah merasa sibuk dan mengambil keputusan untuk berlaku nekad, merasa betapa desakan pedang Hek-kwi-kiam mengendur dan melemah. Mereka merasa heran sekali, akan tetapi tentu saja kedua orang gadis ini betapa pun tabah dan beraninya, tidak sudi berlaku bodoh dan membunuh diri.

Cepat mereka mempergunakan kesempatan selagi pedang Hek-kwi-kiam mengendur dan mengecil sinarnya, mereka lalu berbareng melakukan penyerangan kepada Ban Sai Cinjin yang amat nekad menyerang membabi buta. Hampir saja Ban Sai Cinjin menjadi kurban pedang Lili kalau saja Toat-beng Lomo tidak cepat-cepat menggerakkan pedangnya menangkis. Akan tetapi perubahan ini, yaitu dari pihak terserang menjadi pihak penyerang, telah memberi kesempatan kepada Lili dan Goat Lan untuk cepat melompat keluar dari ruangan itu! Ban Sai Cinjin hendak mengejar akan tetapi suhengnya mencegah.

"Mereka sudah lari, jangan dikejar, Sute. Kepandaian mereka tinggi dan tak perlu pertempuran yang sudah berlangsung setengah malam ini akan diperpanjang lagi."

Karena pundaknya juga terasa amat sakit, terpaksa Ban Sai Cinjin membatalkan niatnya. Kalau suhengnya tidak ikut mengejar, bagaimana ia dapat melawan kedua orang gadis yang lihai itu? Ia menarik napas panjang dan berkata, "Baru anak dari Pendekar Bodoh dan seorang kawannya saja, dua orang gadis muda, sudah membuat kita tak berdaya, apalagi kalau Pendekar Bodoh sendiri dan kawan-kawannya datang menyerbu!"

Ucapan ini sengaja dikeluarkan untuk mencela dan menegur suhengnya, dan Toat-beng Lo-mo Wi Kong Siansu juga merasa sindiran ini. Ia menghela napas ketika menjawab, "Kau tahu sendiri bahwa mereka adalah murid orang- orang sakti. Akan tetapi hal itu bukan berarti bahwa aku kalah atau takut kepada mereka, Sute. Yang menjadikan pikiranku ruwet adalah pulangnya Ong Tek. Kalau Pangeran Ong mendengar bahwa puteranya hampir saja kau bunuh, bukankah ini berarti bahwa kita memancing permusuhan dengan para perwira kerajaan?"

"Aku tidak takut, Suheng!" jawab Ban Sai Cinjin.

Toat-beng Lo-mo tidak menjawab, hanya menarik napas panjang. Perkara sudah menjadi makin besar dan ruwet, tak ada lain jalan melainkan bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan.

"Kam Seng, mulai sekarang kau harus melatih diri baik-baik, karena kau pun maklum bahwa pihak musuh- musuhmu ternyata terdiri dari orang-orang pandai."

Pada siang harinya, datanglah Bouw Hun Ti membawa tiga orang tua aneh dan besarlah hati Wi Kong Siansu dan Ban Sai Cinjin melihat kedatangan tiga orang tua ini.

Mereka ini adalah Hailun Thai-lek Sam-kui (Tiga Iblis Geledek dari Hailun), tiga orang-kakek aneh dan sakti yang sudah amat terkenal namanya di perbatasan Mancuria di utara. Baru melihat keadaan tiga orang ini saja sudah amat aneh. Yang seorang tinggi kurus potongan tubuhnya seperti suling, sama besarnya dari kaki sampai ke kepalanya. Orang kedua gemuk dengan muka lebar dan mulut besar, berjubah pendeta Buddha, mulutnya lebar seperti terobek dari telinga ke telinga.

Orang ke tiga lebih aneh lagi. Kalau orang tidak melihat mukanya, tentu akan menyangka bahwa dia adalah seorang anak kecil. Dari pundak sampai ke kaki memang ia persis seperti seorang anak berusia sepuluh tahun, akan tetapi kalau orang melihat wajahnya, ia akan terkejut dan heran. Mukanya adalah muka seorang kakek tua berjenggot dan berkepala botak.

Sungguhpun keadaan ketiga orang ini aneh sekali, namun ilmu kepandaian mereka amat tersohor dan mereka terkenal sebagai orang-orang sakti.

Hailun Thai-lek sam-kui tadinya agak merasa segan untuk menurut bujukan Bouw Hun Ti, akan tetapi ketika mereka mendengar bahwa Ban Sai Cinjin dan Wi Kong Siansu agak takut dan gelisah serta mengharapkan bantuan mereka untuk menghadapi Pendekar Bodoh dan kawan-kawannya, ketiga orang Iblis Geledek ini menjadi amat tertarik. Mereka lalu ikut turun gunung dan tiba di tempat tinggal Ban Sai Cinjin. Dengan serta merta Ban Sai Cinjin yang kaya raya lalu memberi perintah kepada Hok Ti Hwesio untuk mempersiapkan hidangan- hidangah yang paling mewah dan lezat. Mereka lalu makan minum dengan riangnya. Kegelisahan yang tadi terlupakan sudah oleh Ban Sai Cinjin. Bahkan Wi Kong Siansu mulai merasa lega karena ia maklum akan kelihaian tiga orang iblis itu.

Sementara itu, setelah dapat melarikan diri dari kuil dan meninggalkan Ban Sai Cinjin dan Toat-beng Lo-mo Wi Kong Siansu yang lihal, Lili lalu membawa Goat Lan untuk mampir ke rumah penginapan dan mengambil buntalan pakaiannya. Kemudian, pada pagi itu juga mereka lalu melarikan diri keluar dari dusun Tong-sin- bun.

"Ah, sungguh lihai tosu tua itu!" kata Goat Lan setelah mereka tiba di luar dusun. Ia berhenti dan memegang kedua tangan Lili. "Akan tetapi mengapa kau bisa berada di dalam kuil itu, Lili? Dan apakah yang terjadi? Pertemuanku dengan kau di tempat itu selain amat menggirangkan hati, juga amat mengejutkan dan mengherankan!"

Lili membalas pelukan Goat Lan dan berkata sambil tertawa. "Sesungguhnya, aku sedang melakukan perjalanan untuk mengunjungi kau di Tiang-an."

"Aih, aneh benar kau ini. Dari tempat tinggalmu ke Tiang-an, sama sekali tidak melewati tempat ini. Apakah kau tersesat jalan?"

Lili tersenyum lagi. "Goat Lan, berjanjilah dulu, bahwa kau takkan membuka rahasiaku ini kepada orang lain.

Juga tidak kepada ayah ibu, karena sesungguhnya aku telah mengambil jalan sendiri!"

"Rahasia apakah?" Goat Lan bertanya heran.

"Sesungguhnya, dari rumah aku berpamit untuk pergi ke Tiang-an dengan alasan sudah merasa rindu kepadamu. Akan tetapi, diam-diam aku tidak menuju ke rumahmu, melainkan membelok ke Tong-sin-bun untuk mencari musuh besarku, Bouw Hun Ti. Kau tentu sudah mendengar bahwa Bouw Hun Ti adalah murid dari Ban Sai Cinjin, maka aku langsung menuju ke sana untuk mencarinya. Nah, jangan kauceritakan hal ini kepada ayah atau ibuku, karena mereka tentu akan marah besar.

Memang ayah ibuku benar, karena hampir saja aku mendapat celaka besar." Maka berceritalah Lili tentang pengalamannya, akan tetapi tentu saja ia tidak menceritakan bahwa ketika ia tertawan, Kam Seng telah mencium jidatnya! Ia hanya memberitahukan kepada Goat Lan bahwa Kam Seng itu sesungguhnya adalah putera dari Song Kun, suheng dari ayah Lili! "Dan bagaimana kau bisa kebetulan sekali datang pada malam hari tadi, Goat Lan?"

"Mari kita mengaso dulu dibawah pohon itu," kata Goat Lan sambil menuju ke arah sebatang pohon besar di pinggir jalan. "Ceritaku agak panjang karena memang telah lama kita tidak saling bertemu. Mari kita duduk di sana dan mari kuceritakan pengalamanku. Kau tentu akan tertarik mendengarnya. Karena ketahuilah bahwa aku pernah bertemu dengan Bouw Hun Ti musuh besarmu itu!"

Mereka lalu pergi dan duduk di bawah pohon yang rindang itu, dan berceritalah Goat Lan dengan jelas, didengarkan oleh Lili dengan asyiknya.

Memang sudah terlalu lama kita meninggalkan Goat Lan dan sepatutnya kita menengok keadaannya semenjak ia diambil murid Yok-ong Sin Kong Tianglo dan Im-yang Giok-cu.

Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, Goat Lan dibawa oleh kedua suhunya ke Bukit Liong-ki-san, sebuah bukit yang puncaknya nampak di sebelah selatan kota Tiang-an. Dengan amat tekun dan rajinnya Goat Lan melatih diri di, bawah bimbingan Sin Kong Tianglo dan Im-yang Giok-cu. Selama delapan tahun ia berlatih silat, juga ia mempelajari ilmu pengobatan dari Yok-ong Sin Kong Tianglo. Kedua kakek ini merasa amat gembira melihat ketekunan dan kemajuan murid tunggal mereka dan menurunkan ilmu-ilmu silat yang paling tinggi. Goat Lan tidak merasa kesepian oleh karena hampir sebulan sekali, ayah ibunya tentu datang menengoknya, bahkan ia menerima pula latihan ilmu silat dari kedua orang tuanya. Sebaliknya kedua orang suhunya pada waktu menganggur selalu bermain catur dan kedua orang kakek itu biarpun sudah seringkali mendapat petunjuk dari Goat Lan, tetap saja masih amat bodoh dalam hal permainan catur! Agaknya memang betul kata orang- orang dulu bahwa otak orang tua sudah menjadi keras dan tumpul! Tidak saja Kwee An dan Ma Hoa seringkali berkunjung ke puncak Liong-ki-san, bahkan beberapa kali Pendekar Bodoh Sie Cin Hai dan isterinya, yaitu Lin Lin, membawa Lili naik ke gunung itu untuk mengunjungi. Oleh karena itu, hubungan antara Lili dan Goat Lan menjadi erat.

Delapan tahun kemudian, Sin Kong Tianglo dan Im- yang Giok-cu yang sudah merasa bahwa kepandaian yang mereka ajarkan kepada Goat Lan sudah cukup, kedua orang kakek yang kini telah berusia amat tua itu lalu kembali ke tempat tinggal masing-masing, yaitu di daerah utara. Goat Lan kembali ke Tiang-an, melanjutkan pelajaran ilmu silatnya dari ayah bundanya sehingga ia kini menjadi seorang gadis yang memiliki ilmu kepandaian tinggi. Kalau dibuat perbandingan, gadis muda ini memiliki lebih banyak ilmu silat yang tinggi-tinggi daripada ibu atau ayahnya, maka tentu saja Kwee An dan Ma Hoa menjadi amat bangga akan puteri tunggalnya ini. Dua tahun lamanya Goat Lan mempelajari ilmu pedang dari ayahnya dan Ilmu Silat Bambu Runcing dari ibunya. Seperti ibunya, ia dapat mainkan Ilmu Silat Bambu Runcing ciptaan Hok Peng Taisu dengan amat baiknya dan bahkan berkat didikan Im-yang Giok-cu ia memiliki lwee-kang yang amat hebat serta gin-kang yang dilatihnya dari Sin Kong Tianglo membuat gerakannya laksana seekor burung walet.

Pada suatu hari, datanglah Im-yang Giok-cu yang membawa berita amat menyedihkan hati Goat Lan dan orang tuanya. Ternyata bahwa Sin Kong Tianglo yang sudah amat tua itu meninggal dunia di daerah utara.

"Sin Kong Tianglo meninggalkan sebuah pesanan untukmu, Goat Lan," kata Im-yang Giok-cu setelah kesedihan Goat Lan agak reda. "Pada waktu ini, putera Kaisar yang menjadi Putera Mahkota, menderita sakit hebat sekali. Menurut Sin Kong Tianglo, obat satu- satunya yang dapat menyembuhkan penyakit pangeran itu hanyalah To-hio-giok-ko (Daun Golok Buah Mutiara) yang terdapat di daerah bersalju sebelah utara tapal batas. Dan karena mencari obat itulah maka ia menemui kematiannya! Tubuhnya yang amat tua itu tidak kuat menahan dingin dan karena serangan hawa dingin dan kelelahan, ia tewas di sana!"

"Mengapa ia bersusah payah mencarikan obat untuk Putera Mahkota?" tanya Ma Hoa dengan heran.

Pertanyaan ini agaknya terkandung dalam pikiran Kwee An dan Goat Lan pula karena mereka juga memandang kepada Im-yang Giok-cu untuk mendengar bagaimana jawaban kakek itu.

Im-yang Giok-cu menurunkan guci araknya dan sebelum menjawab ia meneguk dulu araknya.

"Memang Raja Obat itu orangnya aneh sekali. Seperti juga aku tua bangka tiada guna, ia tidak menaruh perhatian tentang keadaan Kaisar dan keluarganya. Akan tetapi, sebagai seorang ahli pengobatan ia mempunyai satu kelemahan, yaitu selalu ingin menyembuhkan penyakit yang paling aneh. Selain daripada itu, harus diakui bahwa diantara para pangeran, maka Putera Mahkota boleh disebut seorang pemuda yang paling baik, mempunyai sifat-sifat baik dan agaknya kalau ia menjadi Kaisar kelak, ia akan menjadi seorang Raja yang bijaksana. Karena itulah, maka banyak sekali ahli pengobatan yang mencoba untuk menyembuhkannya, hanya untuk mencegah agar jangan sampai ada pangeran lain yang menggantikannya menjadi Putera Mahkota kalau ia meninggal."

"Dan apakah pesan mendiang Suhu untukku?" tanya Goat Lan kepada suhtinya yang kedua ini.

"Ia mengharuskan engkau untuk pergi ke utara mencari obat itu dan menyembuhkan penyakit Putera Mahkota!" jawab Im-yang Giok-cu sambil meneguk araknya lagi.

Goat Lan menerima berita ini dengan tenang saja, akan tetapi kedua orang tuanya saling pandang dengan muka berubah. Mereka telah maklum akan berbahayanya perjalanan ke daerah utara yang selain dingin juga banyak terdapat orang-orang buas dan jahat.

"Mengapa harus Goat Lan yang pergi mencari obat itu?" tanya Kwee An dan Ma Hoa menyambung dengan suara penasaran.

"Apakah tidak bisa orang lain yang mencarikannya?"

Im-yang Giok-cu tertawa bergelak. "Tentu saja aku maklum akan kekhawatiranmu berdua. Siapa orangnya yang akan membiarkan Goat Lan pergi seorang diri ke tempat jauh itu? Akan tetapi Sin Kong Tianglo memang orang aneh!" Ia mengangguk-angguk lalu menyambung, "Aneh dan gila!"

Bagi Goat Lan, tidak aneh kalau Im-yang Giok-cu memaki gila kepada Sin Kong Tianglo, karena memang dua orang suhunya ini sudah biasa saling memaki! "Dan susahnya, ini adalah pesannya, pesan orang yang hendak menghembuskan nyawanya. Pesan seorang yang sudah meninggal harus dilaksanakan dan dipenuhi, kalau tidak, ah... aku orang tua takkan dapat hidup tenang dan tenteram lagi. Arwah Sin Kong Tianglo tentu akan menjadi setan dan mengejar-ngejarku ke mana-mana.

Pesannya ialah Giok Lan seorang, tidak boleh orang lain, harus melanjutkan usahanya mencari obat To-hio-giok- ko itu dan menyembuhkan penyakit Putera Mahkota."

"Akan tetapi," bantah Ma Hoa, "mengapa mendiang Sin Kong Locianpwe begitu mengkhawatirkan kesehatan Putera Mahkota dan tidak mempedulikan bahaya yang dapat menimpa diri anakku? Apakah ini adil namanya? Atau, apakah dia tidak sayang kepada muridnya?"

Im-yang Giok-cu tertawa bergelak. "Belum kuceritakan yang lebih aneh lagi. Sesungguhnya Sin Kong Tiangto sendiri tidak berapa peduli apakah Putera Mahkota akan mati atau hidup, akan tetapi sampai pada saat terakhir, orang tua yang berkepala batu itu selalu hendak mempertahankan namanya! Ia memang angkuh dan menjaga namanya sebagai Yok-ong (Raja Obat)! Ketahuilah, secara kebetulan Yok-ong Sin Kong Tianglo tiba di kota raja dan ia bertemu dengan orang-orang kang-ouw ahli pengobatan yang terkenal dari seluruh daerah. Tentu saja, tukang obat bertemu ahli obat, mereka bicara asyik tentang hal pengobatan dan akhirnya mereka itu berdebat ramai sekali. Semua tukang obat yang berada di kota raja menyatakan bahwa untuk penyakit yang diderita oleh Putera Mahkota, tidak ada obatnya lagi di dunia ini. Akan tetapi Yok-ong Sin Kong Tianglo menyatakan bahwa ada obatnya! Ia dibantah oleh banyak orang dan akhirnya semua orang minta bukti. Kakek gila itu menantang dan menyatakan kesanggupannya, bahwa ia akan mendapatkan obat itu dan menyembuhkan Putera Mahkota dengan taruhan bahwa kalau ia tidak bisa, ia tidak mau memakai gelar Yok-ong (Raja Obat) lagi! Nah, celakanya, ketika ia sedang mencari obat itu, ia terserang hawa dingin dan meninggal dunia. Masih baik bahwa ia bertemu denganku dan aku sudah menawarkan tenaga untuk melanjutkan usahanya mencari obat itu, akan tetapi ia tidak mau menerima tawaranku, katanya, harus muridku yang akan mencari obat dan menyembuhkan penyakit Putera Mahkota. Biarlah muridku sendiri yang menolong namaku dari hinaan orang, dan biar muridku yang membuktikan bahwa julukan Yok-ong bukanlah sia-sia belaka!"

Kwee An, Ma Hoa, dan Goat Lan mendengarkan penuturan ini dengan bengong. Tanpa diberitahu, mereka bertiga maklum bahwa hal ini menyangkut nama baik dan kehormatan Sin Kong Tianglo.

"Nah, kalian tahu sekarang mengapa dia menghendaki Goat Lan seorang yang mencari obat itu? Kakek gila itu takut kalau-kalau para ahli obat di dunia kang-ouw akan mencela, mentertawainya, dan menghina julukannya sebagai Yok-ong! Dan aku tahu, kalau terjadi hal demikian, nyawa Yok-ong itu tentu akan berkeliaran dan terutama sekali yang dijadikan sasaran adalah aku, karena akulah yang berjanji kepadanya untuk menyampaikan hal ini kepada Goat Lan dan membujuknya agar supaya suka berbakti kepadanya."

"Baik, Suhu, teecu akan pergi melanjutkan usaha Suhu Sin Kong Tianglo!" tiba-tiba Goat Lan berkata dengan suara tetap.

Im-yang Giok-cu tertawa bergelak lalu menenggak araknya lagi. "Ha-ha-ha, sudah kuduga!" katanya dengan mata dikedip-kedipkan girang. "Kalau tidak demikian jawabanmu, kau tentu bukan murid Yok-ong dan aku!"

Im-yang Giok-cu lalu menuangkan semua sisa araknya ke dalam perut lalu berkata lagi dengan wajah berseri, "Goat Lan, Sin Kong Tianglo telah berkata kepadaku bahwa kalau kau sanggup melanjutkan usahanya dan mengangkat namanya sebagai Yok-ong, aku boleh memberikan barang warisannya ini!" Ia lalu mengeluarkan sebuah bungkusan segi empat yang tipis kepada muridnya.

Goat Lan menerimanya dan dengan hati-hati ia membuka bungkusan kain kuning itu dan ternyata bahwa di dalamnya terdapat sebuah kitab yang sudah usang dan kuning.

"Kitab obat dari Suhu!" Goat Lan berseru dengan mata terbelalak. Pernah Yok-ong Sin Kong Tianglo menyatakan kepadanya bahwa banyak sekali orang-orang pandai dan orang-orang jahat yang menginginkan kitab itu, akan tetapi suhunya itu selalu menjaganya dengan baik-baik.

"Kitab ini amat berharga," kata suhunya dahulu, "maka jangan harap orang lain dapat mengambilnya dari aku. Aku lebih menghargai kitab ini daripada jiwaku sendiri! Dan kalau aku mati kitab ini akan kubawa serta.

Karena kalau sampai terjatuh ke dalam tangan orang jahat, kitab ini akan mendatangkan malapetaka hebat kepada dunia, sungguhpun di dalam tangan orang baik- baik benda ini akan merupakan penolong manusia yang amat besar jasanya."

Dengan bengong Goat Lan memegang kitab itu dan Im-yang Giok-cu berkata lagi, "Aku merasa berat sekali membawa kitab ini selama melakukan perjalanan ke sini, oleh karena aku pun maklum akan keinginan orang- orang kang-ouw yang menghendaki kitab ini. Di waktu kitab ini berada di tangan Sin Kong Tianglo, tidak ada yang berani mencoba-coba untuk merampasnya, akan tetapi setelah orang tua itu meninggal dunia, tentu mereka akan berusaha mendapatkan kitab ini. Oleh karena itu hati-hatilah kau menjaga kitab ini, muridku.

Dan satu hal lagi, kalau kau hendak mencari obat Tohio- giok-ko, hanya satu tempat yang terdapat daun dan buah itu yaitu di sepanjang lembah Sungai Sungari di sebelah selatan kota Hailun. Nah, aku sudah memenuhi tugasku.

Selamat tinggal!" Setelah berkata demikian, Im-yang Giok-cu lalu pergi dengan cepat tanpa dapat ditahan lagi.

Kwee An dan Ma Hoa saling pandang dengan mata masih mengandung penuh kekhawatiran. Akhirnya Ma Hoa memegang tangan Goat Lan dan berkata, "Goat Lang memang sudah seharusnya kau menjaga nama baik suhumu. Akan tetapi, kami tidak tega untuk melepasmu pergi seorang diri begitu saja. Kami akan pergi bertiga."

"Benar kata-kata ibumu, Goat Lan. Tempat itu amat jauh dan aku sendiri bersama Pendekar Bodoh pernah melakukan perjalanan ke sana dan memang tempat itu amat berbahaya."

"Akan tetapi, Suhu Sin Kong Tianglo telah memesan agar supaya aku pergi sendiri, kalau sampai terdengar oleh orang kang-ouw bahwa aku sebagai murid Sin Kong Tianglo mengandalkan kepandaian Ayah dan lbu untuk mendapatkan obat itu, bukankah nama Suhu akan ditertawakan orang?"

"Peduli apakah kalau mereka mentertawakan di belakang punggung kita?" kata Ma Hoa. "Coba suruh mereka tertawa di depan mukaku, tentu tertawanya itu adalah tertawa terakhir dalam hidupnya!"

"Akan tetapi aku ingin pergi seorang diri, Ibu. Apabila Ayah dan Ibu ikut membantuku, aku akan merasa seakan-akan aku menyalahi pesanan terakhir daripada Suhu. Hanya kitab ini..." Ia memandang kepada kitab itu dengan penuh khidmat, "aku tidak berani membawa- bawanya pergi merantau. Lebih baik ditinggal di sini di dalam perlindungan Ayah dan Ibu."

"Goat Lang jangan berkata demikian," ayahnya menegur. "Kalau kau pergi merantau seorang diri, kau tentu akan membikin ibumu selalu merasa gelisah dan berkhawatir selalu. Apakah kau senang melihat ibumu selalu dirundung kegelisahan memikirkan keadaanmu?"

Goat Lan menengok kepada ibunya yang juga memandangnya. Melihat sinar mata ibunya yang penuh kasih sayang dan wajah yang cantik itu kini menjadi murung, Goat Lan lalu tersenyum dan memeluk ibunya.

"Ah, Ayah! Kau jangan merendahkan Ibu! Ibu kan bukan anak kecil lagi dan Ibu sudah menaruh kepercayaan sepenuhnya kepadaku. Bukankah begitu, Ibu? Semenjak kecil, Ayah dan Ibu telah mendidik dan memberi pelajaran ilmu silat dan kepandaian untuk menjaga diri kepadaku. Bahkan delapan tahun lamanya dua orang suhuku telah menggemblengku untuk meyakinkan ilmu silat tinggi, kemudian Ayah dan Ibu memberi tambahan lagi ilmu kepandaian yang kupelajari dengan rajin. Selama bertahun-tahun itu aku selalu tekun, rajin dan dengan susah payah mempelajari ilmu silat. Kalau sekarang melakukan perjalanan sebegitu saja aku harus mundur dan takut, apa perlunya aku mempelajari ilmu silat selama ini? Bukankah hal itu hanya akan merendahkan nama kedua orang suhuku, bahkan akan mendatangkan rasa malu kepada Ayah dan Ibu? Aku telah mempelajari ilmu silat, kalau tidak sekarang dipergunakan, habis apakah kepandaian itu harus kukeram di dalam kamar, menyulam, membaca buku, mempelajari tulisan-tulisan indah dan sajak, sehingga kepandaian silat itu akan membusuk dan kemudian terlupa olehku?"

Selama puteri mereka ini bicara, Kwee An dan Ma Hoa bertukar pandang dan mata mereka bersinar gembira.

Girang hati mereka mendengar semangat yang gagah ini.

Lenyaplah keraguan mereka dan tanpa mereka lihat perubahannya, ternyata Goat Lan kini telah menjadi dewasa. Hanya orang yang sudah dewasa saja dapat mempunyai pendirian seperti itu.

Akhirnya keduanya menyetujui keberangkatan Goat Lan setelah memberi nasihat-nasihat dan petunjuk- petunjuk yang amat perlu diketahui seorang perantau.

"Hanya satu hal yang harus kaujanjikan," kata Ma Hoa, "yaitu kau tidak boleh pergi lebih lama dari enam bulan."

"Baik, Ibu, aku berjanji. Perjalanan ke sana pulang pergi menurut perhitungan Ayah hanya makan waktu dua bulan, maka waktu enam bulan sudah cukup bagiku."

"Bukan karena aku ingin memberi batas waktu yang terlalu sempit dan mengikat, anakku, hanya kau harus ingat bahwa usiamu telah sembilan belas tahun dan perjanjian kita terhadap keluarga Sie sudah dekat waktunya."

Tiba-tiba wajah Goat Lan menjadi merah. Ia memang tahu bahwa ia telah dipertunangkan dengan Sie Hong Beng, kakak dari Lili, putera dari Pendekar Bodoh yang tidak diketahui bagaimana rupanya. Ia hanya satu kali bertemu dengan Sie Hong Beng, yaitu ketika ia masih berusia lima tahun! Semenjak itu, belum pernah ia bertemu lagi dan ia sudah lupa akan rupa pemuda yang kini menjadi caIon suaminya itu. Memang, kalau ia ingat bahwa pemuda itu adalah kakak Lili yang cantik manis dan putera dari Pendekar Bodoh yang amat terkenal sebagai suami isteri pendekar yang gagah dan dikasih sayangi oleh ayah ibunya, ia boleh merasa puas akan ikatan jodoh ini. Namun betapapun juga, sungguhpun mulutnya tak pernah berkata sesuatu, namun ada perasaan kurang enak di dalam lubuk hati, ia belum melihat bagaimana keadaan pemuda tunangannya itu, bagaimana macam orangnya dan bagaimana pula kepandaiannya.

Goat Lan berangkat ke utara sambil membawa pesan dan nasihat kedua orang tuanya. Ia masih ingat betapa ayah ibunya beberapa kali berpesan kepadanya bahwa apabila ia bertemu dengan seorang yang bernama Bouw Hun Ti, jangan ragu-ragu dan ia diperbolehkan menyerang dan membinasakan orang itu.

"Dia adalah pembunuh Paman Yousuf dan dahulu telah menculik Lili, maka berarti bahwa dia adalah musuh besar kita pula. Menurut penuturan Pendekar Bodoh, penjahat bernama Bouw Hun Ti itu kepandaiannya tak perlu ditakutkan, akan tetapi kau berhati-hatilah Goat Lan, karena ia adalah murid dari Ban Sai Cinjin yang amat jahat dan curang."

Bagaikan seekor burung terlepas dari kurungan, Goat Lan melakukan perlajanan dengan amat gembira. Baru kali ini ia melakukan perantauan dan melakukan segala sesuatu atas keputusan sendiri. Selama ini selalu ada orang-orang yang menjaganya, suhu-suhunya, ayah ibunya, dan baru sekarang ia merasa betapa besar kegunaan segala pelajaran ilmu silat yang dipelajarinya selama bertahun-tahun itu. Ia tidak membekal lain senjata kecuali sepasang bambu runcingnya dan karena ayah bundanya maklum akan kemampuannya menjaga diri dengan tangan kosong atau dengan bambu runcing itu, maka mereka melepaskan dengan hati aman.

Tepat seperti yang telah diperhitungkan oleh Kwee An, kurang lebih sebulan kemudian setelah melakukan perjalanan cepat dan lancar, Goat Lan tiba di lembah sungai Sungari di perbatasan Boancu. Ia lalu berjalan di sepanjang sungai itu dan ketika ia tiba di sebelah selatan kota Hailun, ternyata bahwa lembah itu tertutup oleh hutan tang amat liar dan gelap.

Hari telah menjadi senja ketika ia tiba di sebuah dusun di luar hutan. Melihat ke arah hutan yang amat gelap dan membuat tempat itu nampak hampir hitam. Goat Lan terpaksa menunda perjalanannya. Ia merasa lapar setelah melakukan perjalanan sehari lamanya, akan tetapi biarpun asap gurih dan sedap yang keluar dari sebuah rumah makan kecil membuat hidungnya berkembang kempis dan perutnya menggeliat-geliat, ia dapat menahan selerangan dan lebih dulu mencari tempat penginapan. Namun ia kecewa karena ternyata bahwa di dusun itu tidak terdapat rumah penginapan.

Satu-satunya rumah penginapan kecil yang masih ada papan namanya, telah ditutup. Heranlah Goat Lan melihat keadaan ini dan ia bertanya kepada seorang kakek petani yang memandangnya dari pintu rumahnya.

"Lopek, aku adalah seorang pelancong yang membutuhkan tempat penginapan. Di manakah kiranya terdapat rumah penginapan di dusun ini?"

Kakek itu memandang kepadanya dengan penuh perhatian dan sepasang matanya yang keriput dan sipit itu membayangkan kecurigaan besar, kemudian melihat bahwa yang bertanya kepadanya adalah seorang gadis muda cantik dan halus tutur sapanya, kecurigaannya berubah menjadi keheranan besar.

"Nona, mendengar bicaramu, kau tentulah datang dari selatan. Mengapa kau tersasar sampai sejauh ini? Kaulihat sendiri, di dusun ini hanya sebagian saja dari penduduknya adalah orang-orang Han, sebagian besar adalah penduduk dari suku bangsa lain. Kau hendak pergi ke manakah?"

Memang benar, semenjak tadi agak sukar bagi Goat Lan untuk bertanya keterangan sesuatu, karena di mana- mana ia melihat orang-orang yang amat berlainan dengan orang-orang Han, baik bentuk muka maupun keadaan pakaiannya. Sungguhpun jawaban kakek ini tidak pada tempatnya, yaitu menjawab dengan sebuah pertanyaan pula, akan tetapi Goat Lan tetap bersabar dan tersenyum ramah.

"Tidak salah dugaanmu, Lopek. Aku memang datang dari selatan dan seperti telah kukatakan tadi, aku adalah seorang pelancong."

"Sebagai seorang pelancong, kau benar-benar telah memilih tempat yang aneh. Hawa begini dingin, tidak ada pemandangan indah di sini, banyak penyakit merajalela." Ia memandang kepada pakaian Goat Lan yang tidak tebal dan kepada wajah serta tangan gadis itu yang telanjang tidak tertutup sesuatu, dan makin heranlah dia. Bagaimana mungkin seorang gadis cantik jelita dan muda seperti ini dapat menahan dingin yang menggoroti kulit? Pada waktu itu, bulan kedua baru tiba dan keadaan sedang dingin-dinginnya. Bagi kakek itu sendiri biarpun telah puluhan tahun ia tinggal di daerah dingin ini, namun tetap saja pada waktu seperti itu, tanpa perlindungan pakaian dari kulit domba, ia takkan tahan dan dan kulit tubuhnya akan pecah-pecah.

"Nona, selanjutnya kau hendak ke manakah?" tanyanya kemudian.

"Aku ingin bermalam di dusun ini untuk satu malam dan besok pagi-pagi aku akan melanjutkan perjalanan ke sana!" Goat Lan menudingkan telunjuknya ke arah hutan yang kini sudah menjadi hitam karena diselimuti oleh malam yang mulai mendatang.

Tiba-tiba kakek itu nampak gugup dan pucat.

"Jangan, Nona...! Jangan kau pergi ke sana. Dengarlah kata-kata orang tua seperti aku. Hidupku tak lama lagi dan aku ingin mencegah seorang muda seperti engkau dari kesengsaraan, jangan kau memasuki tempat itu kalau kau sayang kepada nyawamu!"

Goat Lan terkejut, akan tetapi hatinya yang tabah membuat ia tetap tenang. Ia memandang kepada kakek itu dengan tajam dan ketika kakek itu balas memandang dan sinar mata mereka bertemu, kakek itu menjadi makin pucat dan ia melangkah mundur dua langkah.

"Kau… matamu sama benar dengan matanya… kau..."

"Eh, ada apakah Lopek? Aku seorang manusia biasa, seorang pelancong yang membutuhkan tempat penginapan untuk beristirahat malam ini. Jangan kau bicara yang aneh-aneh Lopek. Dapatkah kau menolongku dan memberitahukan di mana aku dapat bermalam? Kalau tidak mau, tidak apalah, aku bisa mencari keterangan dan minta tolong kepada orang lain."

Ucapan ini agaknya menyadarkan kakek itu kembali.

"Kau... kau bukan orang jahat?" Goat Lan merasa mendongkol, akan tetapi terpaksa ia tersenyum juga. Melihat pandangan mata dan wajah kakek itu, ia maklum bahwa sikap yang aneh ini timbul dari rasa takut yang hebat dari orang tua ini.

Sebelum - Beranda - Lanjut

Tidak ada komentar:

Posting Komentar