Cui Lok terus menggedor pintu dengan kemarahan meluap, apa lagi melihat munculnya banyak tamu. Semua orang melihat dan mengetahui betapa isterinya telah menyeleweng. Betapa malunya dia kalau tidak dapat membikin perhitungan dengan isterinya itu! Dapat dibayangkan betapa kagetnya mereka yang sedang bermesraan di dalam kamar itu. Baru saja Hartawan Coa dan Kim Hwa mendapatkan kenyataan yang mengejutkan hati mereka berdua, Kim Hwa mulai ditinggalkan pengaruh obat bius dan ketika ia sadar lalu mendapatkan dirinya dalam pelukan Hartawan Coa, hampir saja ia menjerit. Bukankah seharusnya ia berada dalam pelukan pemuda tampan yang pandai merayu itu? Kenapa kini ia berada dalam rangkulan Hartawan Coa yang bertubuh tinggi besar seperti raksasa, penuh bulu kasar, mukanya hitam dan bopeng? Bukankah seharusnya Ai Ling yang berada di pelukan hartawan ini? Akan tetapi ia seorang wanita yang cerdik. Walaupun ia tidak mengerti mengapa bisa begini, namun ia pandai bersandiwara dan dengan manja ia lalu mempererat rangkulannya dan mengeluarkan suara rintihan manja. Sementara itu, Hartawan Coa juga sudah tidak lagi terpengaruhi kekuatan sihir yang dilepaskan Hay Hay tadi, dan kini dia melihat bahwa yang dipeluk dan digumulinya sejak tadi bukanlah gadis yang dirindukannya itu, melainkdn isteri Gui Lok, nyonya muda yang cantik dan genit itu! Diapun terkejut mengapa bisa terjadi perubahan ini! Padahal tadi, jelas dia melihat bahwa yang dibimbingnya masuk adalah Ai Ling dan gadis itu tadi menurut saja tanpa melawan karena berada dalam pengaruh obat bius. Akan tetapi, mengapa kini mendadak berganti orang? Bagaimanapun juga, hartawan ini memang cocok dengan Kim Hwa dan biarpun dia terheran, dia tidak begitu perduli lagi setelah merasakan kehangatan tubuh dan kepandaian Kim Hwa merayu dan melayaninya. Diapun mendekap semakin kuat dan keduanya tenggelam ke daam gelombang nafsu yang tak pernah mengenal puas. .
Mereka berdua sedang terlena di ambang kepulasan karena lelah ketika tiba-tiba mereka dikejutkan oleh geduran pada daun pintu kamar itu! Mendengar teriakan suaminya, tentu saja Kim Hwa terkejut setengah mati dan iapun cepat melepaskan diri dari rangkulan Hartawan Coa dan tergesa-gesa mengenakan pakaiannya. Ia lari ke jendela, hendak membuka jendela kamar itu, akan tetapi betapa heran dan khawatirnya ketika ternyata daun jendela itu macet, sama sekali tidak dapat dibukanya. Tentu saja ia menjadi panik. Melihat ini, Coa Wan-gwe lalu menghampiri jendela dan diapun mencoba untuk membukanya. Sia-sia belaka. Biarpun hartawan ini memilik tenaga yang besar, namun daun jendela itu sama sekali tidak dapat dibukanya, macet. Hal ini tidaklah aneh karena macetnya daun jendela itu bukan sewajarnya, melainkan karena perbuatan Hay Hay.
"Sudahlah, tidak perlu gelisah. Biar aku yang bertanggung jawab!" kata hartawan itu, teringat akan kedudukan dan kekuasaannya. Apa artinya seorang Gui Lok baginya?
"Tapi……… tapi suamiku di depan kamar! Dia akan marah…….. "
"Huh, coba saja apa yang dapat dia lakukan kepadaku! Coba dia marah kepadaku kalau berani kusuruh hajar dia sampai mampus! Hartawan itu makin besar hatinya karena bukankah di depan pintu itu selalu ada dua orang pengawal yang menjaga keselamatannya?
Mendengar ucapan hartawan itu, hati Kim Hwa tidak menjadi lega, bahkan semakin khawatir. Diraihnya lengan hartawan itu dan ditahannya ketika ia hendak keluar dari kamar.
"Kau akan dapat menyelamatkan diri dengan mudah, dia tidak berani mengganggumu, akan tetapi bagaimana dengan aku? Harap jangan tinggalkan aku di sini……….!"
Coa Wan-gwe mengerutkan alisnya dan mengibaskan lengannya sehingga wanita itu terpelanting ke atas pembaringan. "Huh, jangan banyak tingkah kamu! Salahmu sendiri! Bukankah engkau berjanji akan mengantarkan Ai Ling kepadaku di kamar ini? Akan tetapi, engkau sendiri yang datang menggantikan anakmu. Perempuan tak tahu malu!"
Kim Hwa terkejut dan tidak berani bicara lagi, hanya memandang dengan mata terbelalak ketika hartawan itu membuka daun pintu kamar itu dan melangkah keluar dengan mengangkat dada. Gui Lok yang berada di depan kamar itu, sudah siap untuk marah-marah, akan tetapi begitu melihat Hartawan Coa, nyalinya menjadi kecil dan dia hanya memandang bengong seperti berubah menjadi arca. "Hemm, Gui Lok! Mau apa engkau lancang menggedor pintu kamarku? Bukankah kamar ini sudah kusewa? Kautahu, rumah penginapan ini dapat kubeli, juga kepalamu dapat kubeli. Mengerti?" Mendengar bentakan hartawan ini, seketika keberanian dan kemarahan Gui Lok menguncup dan kakinya gemetar. "Maaf, tai-ya, tapi…….. tapi isteriku………." "Peduli apa dengan isterimu! Aku tidak memanggilnya ke sini! Tanyakan saja kepada isterimu sendiri! Tapi kau…….. yang sudah berani menggangguku, menggedor pintu kamarku secara kurang ajar, tidak dapat kumaafkan begitu saja. Kau perlu dihajar!" Tangan yang besar dari hartawan itu menyambar dan sebuah pukulan mengenai kepala Gui Lok. "Plakk!" Si perut gendut itu terpelanting dan jatuh. Hartawan Coa melangkah maju, siap menendangi kepala Gui Lok yang dianggapnya telah kurang ajar dan membikin malu kepadanya di depan begitu banyak orang. Maka, di depan para tamu yang sudah jadi penonton, dia hendak menghajar Gui Lok agar namanya kembali terang dan disegani orang.
Kaki yang besar dan dilindungi sepatu kulit yang tebal dan keras itu menyambar ke arah kepala Gui Lok. "Dukkk!" Akibatnya, bukan kepala itu yang tertendang dan Gui Lok mengeluh kesakitan, sebaliknya malah Hartawan Coa memekik kesakitan, mengangkat kaki yang menendang, memeganginya dan kaki yang sebelah lagi jingkrak-jingkrak. Serasa patah-patah tulang kakinya ketika tadi dia menendang, kakinya itu bertemu dengan sebuah kaki lain, yaitu kaki Hay Hay. Melihat ada seorang pemuda sederhana yang tadi menyambut tendangannya dengan tangkisan kaki, yang menyebabkan kakinya terasa nyeri setengah mati, Hartawan Coa menjadi marah bukan main.
"Hajar dia! Bunuh dia!" teriaknya kepada dua orang pengawal yang sejak tadi hanya menjadi penonton. Ketika mereka melihat majikan mereka menghajar Gui Lok, mereka diam saja. Sama sekali tidak mereka sangka bahwa akan ada orang yang berani melindungi Gui Lok dan bahkan membuat kaki majikan mereka kesakitan.
"Pemuda lancang, berani kau menentang majikan kami?" Dua orang tukang pukul itu meloncat ke depan, menghadapi Hay Hay yang berdiri tegak sambil tersenyum tenang.
"Ha-ha, kalian ini dua ekor anjing yang setia kepada majikan, sungguh pandai mengonggong! Nah, lanjutkan gonggonganmu agar semua orang melihat kalian!"
Kini semua orang yang telah keluar dari kamar masing-masing dan menonton keributan itu, terbelalak heran ketika melihat betapa dua orang tukang pukul yang tadi bersikap galak, kini tiba-tiba saja mereka menjatuhkan diri berdiri di atas kaki dan tangan seperti binatang berkaki empat, dan mereka berdua segera menggonggong seperti dua ekor anjing yang sedang marah! Tentu saja gonggongan mereka tidak seperti anjing, dan mereka yang menonton, tadinya terbelalak keheranan dan mengira dua orang itu main-main atau mendadak menjadi gila. Akan tetapi keadaan yang lucu itu membuat mereka tidak dapat menahan ketawa mereka. Bahkan Hartawan Coa sendiripun lupa akan kenyerian kakinya dan diapun berdiri bengong memandang kepada anak buahnya. Apakah kedua orang pengawalnya itu mendadak menjadi gila? Sementara itu, Gui Lok yang tadi terhindar dari hajaran yang lebih hebat, sudah bangkit berdiri dan diapun melihat peristiwa aneh itu sehingga sejenak lupa kepada isterinya yang menjadi biang keladi keributan itu.
Hay Hay tersenyum dan menghampiri dua orang tukang pukul yang masih merangkak-rangkak itu, kemudian kaki kirinya bergerak dua kali dan dua orang tukang pukul itu sudah kena ditendang, terlempar dan terbanting jatuh. Agaknya setelah jatuh, baru mereka sadar akan keadaan diri mereka. Cepat mereka meloncat dan sudah mencabut golok dari pinggang. Lalu dengan kemarahan meluap karena mereka merasa dibikin malu di depan banyak orang, mereka lalu menerjang dan menyerang Hay Hay dengan bacokan golok dari atas ke bawah, ke arah kepala pemuda itu. Semua orang melihat dengan hati ngeri betapa dua batang golok itu dengan tepat mengenai kepala pemuda itu dan dengan mudahnya, seperti agar-agar saja, kepala itu terbelah menjadi tiga potong oleh dua bacokan itu. Akan tetapi, tidak ada darah keluar ketika tubuh yang terbelah menjadi tiga buah itu terkulai jatuh, mengeluarkan suara bising. Akan tetapi ketika mereka semua memandang, termasuk dua orang tukang pukul itu, terdengar seruan heran melihat bahwa yang terbabat buntung mejadi tiga potong itu sama sekali bukan tubuh orang melainkan sebuah bangku panjang yang kini menjadi tiga potong! Pantas saja mengeluarkan suara bising! Ke mana larinya pemuda aneh itu tadi?
Kiranya, pemuda itu telah berdiri di belakang dua orang tukang pukul itu. Kini, tiba-tiba kedua tangannya menjambak rambut dua orang tukang pukul itu dari belakang dan sekali dia menggerakkan kedua tangan mengadu dua buah kepala itu, dua orang pengawal itu mengeluh, goloknya terlepas dan ketika Hay Hay melepaskan kedua tangannya, mereka terkulai lemas seperti karung basah dan jatuh pingsan!
Melihat ini, semua orang kagum dan juga terheran-heran. Hartawan Coa yang tadinya memandang bengis, kini menjadi pucat sekai. Apalagi ketika pemuda itu menghampirinya. "Coa Wan-gwe, engkau pulanglah dan bawa dua ekor anjingmu ini. Sebentar nanti aku akan datang berkunjung ke rumahmu, ada urusan penting yang hendak kubicarakan denganmu."
Sekali ini Hartawan Coa tidak banyak cakap lagi. Dia maklum bahwa menghadapi pemuda ini, dia tidak berdaya. Dia harus mengerahkan semua pengawalnya kalau mau menghadapi dan menentang pemuda aneh ini. Dia lalu menendang-nendang dua orang pengawalnya. Mereka siuman dan terheran-heran, akan tetapi segera teringat akan keadaan mereka, maka ketika majikan mereka memberi isarat, merekapun seperti dua ekor anjing ketakutan, lalu mengikuti Hartawan Coa meninggalkan rumah penginapan, bahkan melupakan golok mereka.
Sementara itu, begitu hartawan itu pergi, Gui Lok menyerbu ke dalam kamar. Dia melihat isterinya masih duduk ketakutan di atas pembaringan.
"Perempuan lacur! Tak tahu malu!" bentaknya dan diapun menjambak rambut isterinya. Rambut itu terurai dan diseretnya tubuh wanita itu keluar kamar.
"Lihat semua! Lihat baik-baik perempuan ini. Ia bernama Kim Hwa dan dari pecomberan kuangkat ia menjadi isteriku, akan tetapi kini ia melakukan penyelewengan dengan laki-laki lain! Ia tiada bedanya dengan seekor babi betina, biar dibersihkan dan ditempatkan di manapun, diberi tempat yang bersih dan baik, tetap saja babi betina ini memilih pecomberan. Nah, mulai saat ini, ia bukan isteriku lagi dan kuusir ia. Pergilah kamu, perempuan laknat! Ketika kaukupungut, engkau tidak mempunyai apa-apa, sekarang engkau pergilah dan boleh kaumiliki pakaian dan perhiasan yang menempel ditubuhmu!"
Kalau saja mereka hanya berduaan, tentu Kim Hwa akan minta-minta ampun dan mempergunakan segala daya kecantikannya, segala ilmunya merayu untuk melemahkan hati suaminya dan agar dirinya diampuni. Akan tetapi apa hendak dikata, peristiwa itu terjadi didepan puluhan pasang mata yang menjadi penonton dan disana sini ia mendengar cemoohan dan celaan kepada dirinya, maka sambil menutupi mukanya dan menangis, iapun lari keluar dari rumah penginapan yang tadinya menjadi miliknya itu. Beberapa bulan kemudian orang sudah mendapatkan dirinya menjadi kembang dari sebuah rumah pelacuran dari sebuah kota besar dekat kota raja! Sebelum Gui Lok dah puterinya, Gui Ai Ling, sempat menghaturkan terima kasih kepadanya, Hay Hay sudah cepat menghilang dari kamar itu pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali, sambil membawa buntalan uang emasnya.
Dan pagi-pagi sekali itu, dia sudah berada di depan pintu gerbang pekarangan gedung Hartawan Coa! Ternyata pekarangan itu telah penuh dengan pasukan pengawal yang jumlahnya tidak kurang dari dua lusin orang bersenjata lengkap! Mereka itu telah diperingatkan oleh Hartawan Coa agar berjaga dengan ketat dan terutama sekali menjaga kalau ada muncul seorang pemuda berpakaian sederhana yang memakai caping lebar. Hartawan Coa yang semalam mengalami kekagetan itu, setibanya di rumah mengumpulkan para pembantunya dan dia menjadi semakin terkejut dan khawatir ketika menerima laporan bahwa pemuda yang bercaping lebar, pemuda yang itu-itu juga, telah pula mengacau rumah judi, bahkan telah menggondol puluhan tail emas yang dimenangkan dalam permainan dadu di mana pemuda itu menggunakan ilmu yang aneh seperti sihir. Dan diapun teringat betapa dua orang pengawalnya juga disihir sehingga menggonggong seperti anjing, kemudian betapa tubuh pemuda itu kelihatan terpotong-potong,akan tetapi ternyata yang terpotong itu hanya bangku panjang! Jelas, pemuda yang itu-itu juga, pikirnya. Maka diapun mengerahkan seluruh pasukan pengawal untuk melakukan penjagaan di pekarangan, di sekeliling rumah gedungnya, bahkan ada yang berjaga di dalam gedung dan di atas atap! Barulah dia merasa aman dan dapat tidur pulas.
Ketika Hay Hay muncul pagi-pagi sekali, hartawan itu masih belum bangun. Ketika para penjaga itu melihat munculnya seorang pemuda yang memakai caping lebar, berdiri di depan pintu gerbang, segera mereka menjadi panik. Tentu saja mereka itu gentar sekali karena mereka sudah mendengar cerita kawan-kawan mereka tentang sepak terjang pemuda itu di rumah judi, juga cerita dua orang tukang pukul yang menderita pengalaman pahit di rumah penginapan. Betapapun juga, karena kini di pekarangan itu dan di dalam rumah terdapat kepala-kepala pengawal yang merupakan orang-orang berkepandaian silat tinggi, mereka tidak menuruti hati yang gentar. Dengan memberanikan hati, mereka lalu mengikuti pimpinan mereka menyambut kedatangan pemuda itu.
Kepala pengawal yang kini berjaga dirumah gedung Hartawan Coa ada tiga orang. Yang pertama adalah seorang jagoan dari kota raja bernama Thio Kang berjuluk Tiat-ci (Si Jari Besi), terkenal sebagai seorang yang memiliki tangan seperti besi, dapat menusuk papan tebal dan batu sampai tembus dan selain itu, pandai pula bermain sepasang pedang. Tiat-ci Thio Kang ini adalah seorang jagoan yang berasal dari kota raja, bahkan pernah menjadi jagoan di istana kaisar! Kini menjadi jagoan nomor satu dari Coa Wan-gwe, bergajih besar. Jagoan ini berusia kurang lebih lima puluh lima tahun, bertubuh jangkung kurus kering, sikapnya tinggi hati, sikap seorang yang percaya akan kemampuan diri sendiri dan memandang rendah orang lain. Jagoan ke dua berjuluk Hek-houw (Harimau Hitam) bernama Ji Sun. Hek-houw Ji Sun ini, sesuai dengan julukannya, berperawakan kokoh, tinggi besar berkulit hitam dan dia memiliki ilmu silat harimau yang menubruk dan mencengkeram, tangkas sekali, di samping ahli bermain golok dan perisai. Usia jagoan nomor dua ini sekitar empat puluh lima tahun. Adapun jagoan nomor tiga bernama Phang Su, ju!ukannya Kang-thouw-cu (Si Kepala Baja) dan tubuhnya pendek gemuk bundar. Kepalanya yang besar dan bundar itu terkenal sekali amat kuat, kebal dan dapat membobolkan tembok, sesuai dengan julukannya. Selain keahlian mempergunakan kepala sebagai senjata, juga Kang-thouw-cu Phang Su pandai memainkan sebatang rantai besi yang berat.
Tiga orang kepala pengawal ini tentu saja sudah mendengar akan sepak terjang seorang pemuda bercaping lebar yang mengacau di rumah judi dan di rumah penginapan bahkan telah mengganggu majikan mereka. Akan tetapi, mereka adalah jagoan-jagoan besar, terutama sekali Tiat-ci Thio Kang, tentu saja memandang rendah kepada pengacau yang katanya mau datang berkunjung ke gedung majikannya itu. Apa yang perlu ditakutkan? Dia mengandalkan kepandaian sendiri yang sukar dicari tandingnya, hampir belum pernah kalah. Selain itu, masih ada dua orang pembantunya yang juga amat lihai, dan ada pula hampir lima puluh orang pengawal di rumah itu! Setanpun takkan mampu masuk ke dalam rumah itu tanpa ketahuan penjaga yang sudah ditempatkan di seluruh lingkungan rumah itu. Dan kalau pemuda itu benar-benar berani datang, dia tentu akan menghadapi kehancuran di sini! !
Akan tetapi, tidak urung jantungnya berdetak tegang ketika mendengar laporan anak buahnya bahwa pagi-pagi itu, pemuda bercaping lebar telah datang dan berada di luar pintu gerbang!
"Tahan dia di luar pintu gerbang, aku akan menemuinya sendiri!" kata Tiat-ci Thio Kang dan dia lalu mempersiapkan diri, memasang siang-kiam pedang pasangan di punggung, kemudian mengajak dua orang pembantunya untuk keluar menemui pemuda itu. Hek-houw Ji Sun dan Kang-thouw-cu Phang Su juga sudah siap siaga dengan senjata masing-masing. Mereka bertiga, diikuti puluhan orang pengawal, bersenjata lengkap seolah-olah mereka itu bukan hendak menyambut seorang pemuda, melainkan seperti hendak maju perang melawan banyak musuh!
Hay Hay yang mengintai dari balik caping lebarnya, diam-diam tersenyum melihat munculnya tiga orang yang nampaknya gagah, diiringkan oleh puluhan orang pengawal yang kesemuanya bersenjata lengkap! Dia tidak merasa heran karena tentu Hartawan Coa sudah siap siaga menanti kedatangannya dan dia dapat menduga bahwa dia akan menghadapi kekerasan dari pihak Hartawan Coa yang tentu saja merasa penasaran dan marah atas terjadinya dua peristiwa yang merugikan uangnya dan namanya, yaitu dirumah judi dan di rumah penginapan.
Dengan sikap angkuh Tiat-ci Thio Kang memberi isarat kepada Hek-houw Ji Sun sebagai wakil pembicara, untuk menegur pemuda itu. Si Harimau Hitam ini selain pandai bicara, juga orangnya tinggi besar dan suaranya lantang berwibawa. Hek-houw Ji Sun mengerti dan diapun maju dua langkah mendekati Hay Hay.
"Orang muda, siapakah engkau dan apa maksumu pagi -pagi begini da tang kesini?"
Hay Hay mendorong caping bagian depan ke belakang. Caping itu merosot turun dari kepalanya dan tergantung di pungguungnya, menutupi buntalan yang berada di punggung. Kini wajahnya nampak jelas, wajah yang periang, mulut yang selalu tersenyum nakal, hidung yang mancung, mata bersinar-sinar dan kadang-kadang mencorong aneh. Hay Hay tersenyum, lalu memandang ke arah orang-orang itu mencari-cari, lalu dia menggeleng kepala. "Hemm, tidak kulihat dia berada di sini! Aku mencari Hartawan Coa. Harap kalian sampaikan kepada majikan kalian itu bahwa aku bernama Hay Hay ingin bertemu dengan Hartawan Coa karena ada urusan penting sekali hendak kubicarakan dengan dia."
"Hemm, orang muda, Tidak mudah bertemu dengan majikan kami. Tidak sembarang orang boleh bertemu dengan beliau, dan karena majikan kami masih tidur, maka sampaikan saja urusanmu itu kepada kami. Kami akan melaporkan dan kalau memang majikan kami berkenan menerimamu, tentu engkau dapat menghadap."
Hay Hay tertawa. "Wah, seperti hendak menghadap seorang kaisar saja! Majikan kalian itu bukan raja, bukan pula orang berpangkat tinggi. Dia hanyalah hartawan yang memiliki rumah-rumah judi, dan kulihat dia semalam tidak begitu tinggi hati, bahkan mau bermalam di rumah penginapan umum dan tidur bersama isteri pemilik rumah penginapan! Mengapa sekarang tiba-tiba saja dia tidak mau menerimaku? Ingat, kedatanganku ini akan memberi untung kepadanya, akan menyerahkan uang lima puluh tail emas!"
Mendengar ucapan itll, tiga orang jagoan itu saling pandang. Betapa beraninya pemuda ini! Setelah memenangkan perjudian sebanyak lima puluh tail emas lebih, agaknya kini dia membawa harta itu ke sini! Mata mereka segera ditujukan ke arah punggung pemuda itu di mana terdapat buntalan yang nampaknya berat.
"Serahkan saja lima puluh tail emas itu kepada kami! Memang sudah sepatutnya engkau mengembalikan uang yang kaurampas dari rumah judi itu, dan mohon maaf kepada majikan kami!" kata pula Hek-houw Ji Sun.
Hay Hay tersenyum. "Serahkan kepada kalian? Wah, mana bisa? Kalian adalah orang-orang yang paling tidak dapat dipercaya di dunia ini! Sudahlah, tidak ada gunanya membuang banyak waktu bicara dengan orang-orang seperti kalian ini. Bangunkan saja Hartawan Coa kalau dia masih tidur, dan katakan bahwa aku datang untuk bicara dengan dia dan aku akan menyerahkan uang lima puluh tail emas."
Tiat-ci Thio Kang memberi isarat kepada pembantunya yang ke dua, yaitu Kang-thouw-cu Phang Su. Si gundul yang pendek berperut gendut ini lalu melangkah maju.
"Bocah sombong, serahkan saja lima puluh tail emas itu kepada kami, dan engkau berlututlah, menyerah!" bentaknya dan tangannya menyambar. Kedua lengan yang pendek itu menyambar dari kanan kiri, mengirim pukulan dan totokan susul menyusul. Gerakannya yang cepat dan mengandung angin pukulan yang kuat itu menunjukkan betapa si pendek gendut ini memang bertenaga besar dan memiliki ilmu kepandaian yang sudah tinggi. Namun sekali ini dia bertemu dengan Hay Hay!
Kelihatan pemuda ini tidak bergerak sama sekali, akan tetapi serangan kedua tangan Si Kepala Baja itu tidak mengenai sasaran, demikian halus dan cepatnya gerakan Hay Hay ketika kakinya membuat geseran dan tubuhnya hanya miring sedikit dan mundur selangkah. Aneh bagi mereka yang nonton, karena nampaknya si gundul pendek yang menyerang dan luput, akan tetapi mengapa si gundul itu berteriak kesakitan dan kedua lengannya seperti mendadak menjadi lumpuh? Kang-thouw-cu Phang Su memang terkejut dan merasa kesakitan karena kedua sikunya seperti disengat kalajengking dan kedua lengan itu tergantung lumpuh selama beberapa detik. Dia tidak tahu mengapa begitu, akan tetapi Tiat-ci Thio Kang, seorang ahli totok yang pandai, dapat mengerti bahwa pemuda itu telah menotok kedua siku pembantunya itu.
"Ih, engkau kenapa sih? Datang-datang menyerang orang, lalu menjerit-jerit sendiri seperti babi disembelih?" Hay Hay sengaja mengejeknya sehingga Kang-thouw-cu Phang Su menjadi merah mukanya dan kemarahannya memuncak. Dia kini merendahkan tubuhnya, kepalanya dipasang di depan dan sikapnya seperti se- ekor kerbau yang siap mempergunakan tanduknya dan bahkan kedua kakinya menggaruk-garuk tanah di depannya. Sungguh sikap ini. lucu sekali dan agaknya si gundul pendek ini memang mendapatkan ilmunya dari gerakan seekor kerbau marah! Hidungnya mengeluarkan suara mendengus, akan tetapi yang menarik perhatian Hay Hay adalah kepala yang gundul licin itu. Dia melihat betapa kepala itu kini mengkilap, seperti diminyaki dan digosok, dan agak kemerahan! Tahulah dia bahwa orang ini tidak boleh dipandang ringan dan agaknya memiliki ilmu serangan dengan kepalanya yang sudan terlatih baik dan kepala itu tentu mengandung tenaga yang amat dahsyat!
Benar saja dugaannya. Tiba-tiba si gundul pendek gendut itu mengeluarkan gerengan aneh dan tubuhnya lalu menerjang ke depan, dengan kepala lebih dulu, seperti terjangan seekor kerbau! Hay Hay tidak mau menyambut kepala itu dengan tangan atau badannya, karena dia tidak ingin membunuh orang. Pertemuan tubuhnya dengan kepala itu membahayakan nyawa lawan karena kalau sampai kepala itu terluka sedikit saja di bagian dalamnya, maka si pendek itu akan tewas! Maka, diapun lalu cepat mengelak sambil melompat ke kanan belakang. Akan tetapi, kembali Kang-thouw-cu Phang Su sudah membalikkan tubuh dan menerjangnya lagi. Sungguh seperti sikap seekor kerbau. Hay Hay melompat lagi, kini dia tiba di dekat sebatang pohon sebesar pinggangnya. Sengaja dia membelakangi pohon itu dan kini kembali lawannya sudah menerjang dari depan, lebih hebat dari pada tadi. Dia menanti sampai kepala itu dekat sekali, lalu tiba-tiba tubuhnya melayang ke atas melewati kepala lawan.
"Brakkkkk!" 'Kepala itu menghantam batang pohon dan seketika pohon itu tumbang, batangnya patah dan remuk terkena terjangan kepala yang gundul itu! Hay Hay memandang kagum. Memang seperti yang telah dia duga. Lawannya memiliki kepala di mana terkumpul tenaga yang dahsyat. Tentu saja dia akan mampu menerima terjangan kepala itu dengan perut atau dada atau tangannya, akan tetapi akibatnya akan terlalu hebat kemungkinan besar kematian bagi orang yang sama sekali tidak dikenalnya dan tidak pernah bermusuhan dengan dia itu. Kembali Kang-thouw-cu Phang Su sudah menerjang ke depan, sepasang matanya melirik juling, persis kerbau marah atau kerbau gila. Kembali Hay Hay sengaja bergerak lambat. Begitu kepala itu menyeruduk, Hay Hay miringkan tubuhnya dan kepala itu lewat dekat sekali dengan perutnya, hanya dua sentimeter saja jaraknya dan secepat kilat menyambar, tangan Hay Hay bergerak.
"Plakkk!" Tangan itu menghantam tengkuk, tidak terlalu keras akan tetapi cukup membuat Kang-thouw-cu Phang Su terjungkal dan bergulingan sambil mengaduh-aduh, kedua tangan sibuk menjangkau tengkuk yang terkena tamparan tadi. Kalau Hay Hay menambah sedikit lagi saja tenaganya, tentu si gundul pendek itu tidak akan mampu mengeluh lagi. Kang-thouw-cu Phang Su biasanya amat mengandalkan diri sendiri. Maka, biarpun lehernya terasa seperti akan patah-patah dan kepalanya berkunang, dia masih cepat melompat bangkit lagi dan memandang kepada Hay Hay yang tersenyum lebar itu dengan pandang mata merah. Seperti hendak ditelannya bulat-bulat pemuda di depannya yang sudah membuat dia malu itu.
"Wuuuttt!" Tangan kanannya sudah memegang rantai baja yang tadi dilibatkan di pinggangnya. Rantai ini terbuat dari baja, panjangnya satu setengah meter dan cukup berat sehingga ketika diputar-putar, terdengar suara angin bersiutan. Tanpa banyak cakap lagi, dia sudah menerjang ke depan dengan serangan rantainya ke arah kepala Hay Hay. Dengan mudah saja Hay Hay merendahkan tubuh dan rantai itu lewat di atas kepala. Akan tetapi, sekali putaran rantai itu sudah menyambar lagi ke arah kakinya, dan Hay Hay kembali mengelak dengan loncatan sehingga rantai itu menyambar ke bawah kaki. Kini rantai berputar dan menyerang ke arah pinggangnya!
Melihat datangnya rantai yang menyambar ke arah pinggangnya, Hay Hay tidak mengelak lagi, melainkan melindungi pinggang dengan sin-kang. Rantai itu datang melibat pinggangnya, cepat dan kuat sekali sehingga pinggangnya sudah dilibat dua kali. Kini, dengan wajah giI:ang membayangkan kemenangan di depan mata, untuk menebus beberapa kali kekalahannya tadi, Kang-thouw-cu Phang Su mengerahkan seluruh tenaga yang ada dan menarik! Dia ingjn membuat pemuda itu tersungkur dj depan kakinya. Akan tetapi, dia merasa seolah-olah tangannya menarik sebuah karang yang amat besar dan berat. Sedikitpun tubuh Hay Hay tidak terbetot, apa lagj sampaj roboh tersungkur! Kang-thouw-cu merasa penasaran sekali. Kembali dia menarik dan menarik, makin lama semakin kuat, menahan napas yang membocor sana-sini sampaj terdengar suaranya ah-ah-uh-uhh!
"Brooottt!" Saking penasaran dan kuatnya dia menarik dan menahan napas, ada angin membocor dari bawah! Beberapa orang sempat tertawa karena geli dan wajah Kang-thouw-cu menjadi semakin merah.
"Wah, tak tahu malu…….. !" Hay Hay menggunakan jari tangan kanan untuk menjepit hidungnya. "Bau……. bau……. ! Pergilah!" Kakinya menendang.
"Desss……. !" Perut gendut itu kena ditendang dan tubuh itupun terlempar, terbanting dan bergulingan. Si gendut merasa mulas sekali dan diapun tidak mampu bangkit kembali, hanya menekan-nekan perut yang terasa mulas dalam keadaan setengah pingsan!
Melihat rekannya tak mampu melawan lagi, Hek-houw Ji Sun marah bukan main. Kekalahan rekannya ini berarti merupakan sesuatu yang memalukan dirmya juga. Dia masih belum percaya bahwa rekannya itu kalah melawan pemuda mi. Akan tetapi kenyataan itu tidak membuat dia jerih.
"Bagus! Pemuda sombong, kiranya engkau memiliki juga sedikit kepandaian! Pantas engkau berani membuat kekacauan di kota Shu-lu mi!" Dia meloncat ke depan, berhadapan dengan Hay Hay. "Kalau engkau mampu menandingi Hek-houw Ji Sun, barulah aku mengakui kehebatanmu!"
"Sungguh di sini banyak harimaunya! Ada harimau gundul, ada harimau hitam, dan entah harimau apa lagi. Akan tetapi sayang, harimau-harimau di sini agaknya udah ompong dan kehilangan kukunya, sehingga hanya pantas untuk menakut-nakuti kanak-kanak saja. Hek-houw Ji Sun, aku tidak mencari permusuhan deIgan kalian atau dengan siapapun juga. Aku hanya ingin bertemu dengan Hartawan Coa, mengapa kalian menghalangi dan mencari keributan dengan aku?"
Hek-houw Ji Sun mendelik dan dia lal mengeluarkan suara gerengan yang mengejutkan hati Hay Hay juga. Banyak anak buah para jagoan itu sendiri sampai terkulai seperti mendadak kaki mereka lumpuh ketika gerengan yang merupakan auman itu menggetarkan jantung mereka. Tahulah Hay Hay bahwa orang ini mahir sekali mempergunakan suara untuk menyerang lawan. Semacam ilmu khi-kang yang disalurkan lewat suara untuk menyerang! Pantas dia menjadi juru bicara teman-temannya. Hay Hay tidak pernah memandang rendah lawannya. Akan tetapi, serangan melalui auman harimau itu lewat tanpa mempengaruhinya. Kalau hanya serangan seperti itu saja tidak ada artinya bagi Hay Hay. Kalau dia mau, dia dapat membalas dengan serangan melalui suara yang seketika akan melumpuhkan lawan!
Seperti kebanyakan para jagoan tukang pukul yang biasa mengandalkan kekerasan dalam hidup mereka, juga Hek-houw Ji Sun ini terlalu mengandalkan kepandaian sendiri, memandang remeh orang lain. Biarpun dia tadi melihat betapa rekannya kalah oleh Hay Hay dengan mudah, namun dia masih belum mau mengakui kehebatan lawan dan kini dia menyerang dengan tangan kosong, mengandalkan keampuhan ilmu silatnya yang dia beri nama Hek-houw sin-kun (silat sakti Harimau Hitam). Begitu gerengannya lenyap dan tinggal gemanya saja, dia sudah menyerang. Tubuhnya melompat seperti seekor harimau menubruk, kedua lengannya dikembangkan dan jari-jari tangan itu membentuk cakar, mencengkeram ke arah leher dan ubun-ubun kepala lawan!
Hay Hay sudah waspada. Dia cepat mengelak dan membiarkan tubuh lawan lewat. Kalau dia mau, alangkah mudahnya untuk menyambut serangan itu dengan serangan balasan, akan tetapi dia tidak ingin menghilangkan muka lawan ini. Memang ilmu silat dari Hek-houw Ji Sun itu hebat sekali. Cepat dan juga mengeluarkan angin pukulan yang kuat, dan jari-jari tangan itu sanggup merobek benda yang kuat dan keras, apalagi hanya kulit dan daging tubuh manusia! Namun, semua serangannya selalu dapat dielakkan oleh Hay Hay. Beberapa kali dia menubruk dan selalu gagal. Karena itu, dia lalu menyerang dari jarak dekat. Kedua tangannya, seperti cakar harimau, menyambar-nyambar dengan kuat sekali.
Hay Hay terpaksa menangkis ketika tangan kiri lawan dengan cepat bukan main mencengkeram ke arah lambung kanannya. Tangan kanannya menangkis lengan lawan, akan tetapi tangan yang tertangkis itu cepat membalik dan kini mencengkeram lengan kanan Hay Hay dekat siku. Lengan itu kena dicengkeram dan Hek-houw Ji Sun sudah merasa girang sekali karena tentu lengan itu akan dapat dia cengkeram sampai patah dan buntung! Akan tetapi, alangkah terkejutnya ketika jari-jari tangannya merasa betapa lengan yang dicengkeramnya itu licin sekali, seperti batangan baja yang diminyaki sehingga cengkeramannya meleset dan hanya merobek lengan baju! Breettt!" Tangan Hay Hay cepat sekali meraih baju orang dan sekali renggut, baju di bagian perut dan dada dari Hek-houw Ji Sun terobek lebar sehingga nampak perut dan dadanya yang berkulit hitam!
"Salahmu sendiri, engkau merobek lengan bajuku, maka akupun harus merobek bajumu baru lunas!" kata Hay Hay. Diam-diam Hek-houw Ji Sun terkejut. Kalau dia tadi merobek lengan baju, hal ini tidak disengajanya karena dia gagal mencengkeram patah lengan pemuda itu. Sebaliknya, pemuda itu sengaja merobek bajunya. Kalau pemuda itu menghendaki, tentu bukan bajunya yang dirobek, melainkan perut dan dadanya! Baru dia tahu benar bahwa ilmu silat dan gerakan pemuda ini memang hebat bukan main, maka dia tidak mau mengalami seperti rekannya tadi dan cepat dia sudah melompat ke samping, menyambar golok dan tameng (perisai) yang sudah dipersiapkan sebelumnya.
"Orang muda, keluarkan senjatamu! Mari kita bertanding senjata!" tantangnya dengan garang.
Hay Hay tersenyum. Dia melihat betapa lengan bajunya yang kanan sudah robek, maka dia menggunakan tangan kiri untuk merenggut putus robekan itu. Kini ada robekan kain dari lengan bajunya, hanya sehelai kain yang panjangnya sete ngah meter.
"Baik, Hek-houw Ji Sun, inilah senjataku!"
Semua orang terbelalak, dan wajah Ji Sun yang hitam menjadi semakin hitam karena darah naik banyak ke kepalanya. Dia telah dipandang rendah, dihina bah kan oleh musuhnya yang masih muda itu Bagaimana mungkin ada orang berani menghadapi golok dan perisainya yang sudah terkenal kehebatannya itu hanya dengan sepotong kain yang pendek? Pemuda ini mencari mampus! Juga semua orang memandang dengan heran, tidak percaya bahwa pemuda itu akan berani menghadapi sepasang senjata itu dengan sepotong kain!
"Orang muda, aku bukan seorang yang suka mempergunakan kellCikan untuk mencari kemenangan. Keluarkan senjatamu agar engkau tidak mati konyol dan orang akan mentertawakan aku!"
"Aih, engkau menantang berkelahi dengan senjata dan ini adalah senjataku! Engkau tidak percaya? Hemm, dengan senjataku yang istimewa ini aku sanggup mengalahkan sepuluh ekor harimau, apa lagi baru seekor! Majulah, Hek-houw Ji Sun dan hati-hatilah agar jangan sampai engkau kalah dalam waktu kurang dari sepuluh jurus!"
Sepasang mata Ji Sun terbelalak, mendelik saking marahnya, "Bagus. Bocah sombong! Kalau aku kalah olehmu kurang dari sepuluh jurus, aku akan berlutut dan menyembahmu!"
"Begitukah? Baik!" Belum juga Hay Hay menutup mulut, sudah ada sinar golok menyambar dengan kecepatan kilat. Hay Hay cepat mengelak sambil mundur dan diam-diam harus mengakui bahwa gerakan Hek-houw Ji Sun ini lebih hebat dibandingkan gerakan Kang-thouw-cu Phang Su dengan rantai bajanya tadi.
Memang hebat permainan golok dan perisai itu. Golok itu berkelebatan menyambar-nyambar, sedangkan tubuh Hek-houw Ji Sun praktis bersembunyi di balik perisai! Sukar sekali bagi lawan untuk menyerang tubuhnya, sedangkan dia dengan enaknya dapat mengincar lawan dan melakukan serangannya dari bawah atau samping perisai yang terbuat dari baja tebal dan kuat!
Akan tetapi, kini dia menghadapi seorang lawan yang jauh lebih tinggi tingkat kepandaiannya, bahkan gurunya sendiri sekalipun belum tentu akan dapat menandingi pemuda ini! Dengan mudah sekali Hay Hay dapat menghindarkan diri dari setiap sambaran golok, padahal dia seolah-olah tidak pernah mengelak lagi. Tahu-tahu sambaran golok itu luput. Hal ini karena dia telah mempergunakan ilmu langkah-langkah sakti Jiauw-pou-poan-san. Akan tetapi, biarpun sambaran goloknya selalu tidak pernah menyentuh lawan, Hek-houw Ji Sun menyerang terus bertubi-tubi dan dia tetap bersembunyi di balik perisainya. Diam-diam Hay Hay maklum betapa lihai dan cerdiknya lawan ini. Agaknya, Hek-houw Ji Sun kini mengetahui benar akan kelihaian lawan, maka dia teringat akan janimya dan andaikata dia harus kalah sekalipun, dia harus dapat mempertahankan diri sampai sepuluh jurus! Dan ini hanya dapat dia lakukan dengan serangan bertubi-tubi sambil bersembunyi di balik perisainya! Dan kini dia sudah menyerang selama tujuh jurus! Tinggal tiga jurus lagi dan dia dapat bertahan sampai sepuluh jurus!
"Wirrr……… !" Golok itu kembali menyambar. Sekali ini tubuh Hek-houw Ji Sun hampir mendekam di atas tanah, ditutupi perisai dan golok itu menyambar di atas kakmya yang nampak terjulur di bawah perisai, golok menyambar ke arah kaki Hay Hay. Kembali hal ini menunjukkan kecerdikan Ji Sun. Dia agaknya tahu bahwa kelihaian pemuda itu yang selalu dapat menghindarkan diri dari sambaran goloknya terletak pada geseran-geseran dan langkah-langkah kaki. Oleh karena itu, kini dia menyerang kaki pemuda itu, sambil bersembunyi di balik perisainya sehingga dia sudah berani memastikan dalam hatinya bahwa tentu dia akan mampu mempertahankan sampai lebih dari sepuluh jurus! Katakanlah dia tidak akan menang melawan pemuda ini, akan tetapi kalau dia sudah mampu mempertahankan diri selama lebih dari sepuluh jurus, berarti dia sudah dapat membersihkan mukanya karena pemuda itu seperti kalah bertaruh!
Sama sekali Hek-houw Ju-sin tidak tahu bahwa Hay Hay memang sengaja mengalah. Kalau pemuda itu menghendaki, dengan dasar tingkat ilmu kepandaiannya yang jauh lebih tinggi, dalam dua tiga jurus saja agaknya dia sudah akan mampu melumpuhkan semua perlawanan Hek-houw Ju-sin! Hay Hay memang sengaja membiarkan lawannya menyerangnya secara bertubi-tubi sambil memperhatikan permainan golok dan perisai itu, mencari titik kelemahan. Kalau dia mau mengerahkan sin-kangnya, dengan tangan kosong saja agaknya dia akan mampu memukul pecah perisai itu, atau kalau dia mau mempergunakan kekuatan sihirnya, juga mudah baginya untuk menundukkan lawan. Akan tetapi dia tidak mau melakukan hal itu, menanti sampai Ji Sun menyerangnya selama delapan jurus. Kemudian, meliha tbetapa kaki kiri lawan itu terjulur keluar dari lindungan perisai, secepat kilat buntungan lengan baju itu menyambar ke arah pergelangan kaki itu, seperti seekor ular kain itu membelit kaki. Hek-houw Sun terkejut bukan main, menggerakkan goloknya untuk membacok putus kain itu, akan tetapi pada saat itu, Hay Hay telah menarik kain itu dengan tiba-tiba sambil mengerahkan tenaganya dan…… tubuh Hek-houw Ji Sun yang tinggi besar itu terlempar ke atas. Biarpun tubuhnya sudah melambung ke atas, kaki kirinya masih saja terlibat kain, dan sekali sentakan kebawah, tubuhnya meluncur lagi ke bawah, dan sebelum menghantam tanah, kembali Hay Hay menggerakkan tangan dan demikianlah, tubuh itu diputar-putar oleh Hay Hay, makih lama semakin cepat sepertl kitiran dan akhirnya, Hay Hay melepaskan kain dan tubuh itupun meluncur sampai jauh dan terbanting ke atas tanah. Hek-houw Ji Sun sudah kehilangan golok dan perisainya yang terlepas ketika diputar-putar tadi, dan begitu tubuhnya terbanting ke atas tanah, diapun cepat meloncat bangun. Semua orang sudah merasa kagum melihat betapa si tinggi besar hitam yang sudah dipurat-putar seperti itu dan terbanting jatuh, begitu jatuh sudah dapat bangkit kembali. Juga Hay Hay memandang terbelalak. Betapa kebal tubuh orang itu, pikirnya. Akan tetapi dia lalu tersenyum melihat betapa tubuh itu terhuyung-huyung, lalu jatuh terkulai dan tidak bergerak lagi karena pingsan. Kiranya, Hek-houw Ji Sun hanya bangkit sebentar saja. Kepalanya terasa pening, pandang matanya berputar-putar dan dia roboh pingsan. Karena penglihatan ini memang menggelikan, di antara para anak buah yang berada disitu, banyak yang menahan senyum geli melihat tingkah jagoan kedua ini. "Keparat......!" Tiat-ci Thio Kang membentak keras dan dia sudah menghadapi Hay Hay, mengamati wajah dan seluruh tubuh pemuda itu. Seorang pemuda yang biasa saja, pikirnya, namun mampu merobohkan Hek-houw Ji Sun dalam sembilan jurus!
"Orang muda, sebenarnya siapakah engkau, darimana dan apa maksudmu datang membikin kacau di sini?" Lagaknya tinggi, dan memang Tiat-ci Thio Kang terkenal seorang yang tinggi hati. Dia adalah jagoan yang datang dari kota raja, suka memandang rendah orang lain.
Hay Hay tersenyum. "Sudah kukatakan bahwa namaku Hay Hay, aku seorang perantau dan aku datang bukan untuk membikin kacau, melainkan untuk bertemu dan bicara dengan Hartawan Coa. Kenapa engkau dan kawan-kawanmu menghalangiku? Kalian yang membikin kacau, bukan aku!"
"Hemm, lagakmu sombong, Hay Hay. Kalau engkau mampu mengalahkan sepasang pedangku dan jari tanganku, barulah engkau boleh menghadap majikan kami.Nah, rasakan kelihaian Tiat-ci Thio Kang!" Berkata demikian, dia menggerakkan tangan dan nampak kilatan sinar sepasang pedang yang sudah dicabutnya dari punggung dan kini dia sudah memasang kuda-kuda sambil melintangkan kedua pedang di atas kepala, membentuk sebuah gunting.
Hay Hay mengangguk-angguk. "Memang kalian ini orang-orang yang tinggi hati dan biasa mengandalkan kepandaian silat untuk menggunakan kekerasan memaksakan kehendak."
"Tidak usah cerewet! Kalau engkau tidak berani, berlututlah dan menyerahkan kembali emas yang limapuluh tail itu kepadaku!" Hay Hay sudah kehabisan kesabaran. Dia tidak mau melayani orang-orang sombong ini, maka diam-diam dia mengerahkan kekuatan sihirnya dan berkata lantang. "Tiat-ci Thio Kang, engkau membawa-bawa dua ekor ular berbisa di tanganmu itu untuk apakah?"
Tiat-ci Thio Kang terkejut. "Hah? Ular berbisa……..?" Dia menurunkan kedua tangannya dan melihat sepasang pedangnya. Matanya terbelalak dan mulutnya mengeluarkan bentakan aneh, lalu dia membuang jauh-jauh dua ekor ular cobra yang dipegangnya! Dua ekor ular itu sudah mengembangkan lehernya dan agaknya siap hendak mematuknya! Untung dia cepat membuangnya, kalau tidak, sekali patuk saja dia akan tewas! Semua orang yang melihat betapa Tiat-ci Thio Kang tiba-tiba membuang sepasang pedangnya, menjadi heran sekali.
Hay Hay mengambil sepasang pedang itu dan dengan kedua tangannya, dia menekuk dua batang pedang itu. Terdengar suara "krekk! krekk!"dan dua patang pedang itu patah-patah. Pemuda itu seolah mematahkan dua batang ranting kecil yang lemah saja! Dibuangnya patahan dua batang pedang itu ke atas tanah..
Tiat-ci Thio Kang terbelalak. Ketika dia membuang dua ekor ular itu, dia meJihat betapa dua ekor ular itu terjatuh ke atas tanah lalu berubah menjadi dua batang pedangnya sendiri! Dan dia melihat pula betapa dua batang pedangnya itu dipatah-patahkan oleh pemuda yang luar biasa itu!
"Bagaimana, Tiat-ci Thio Kang, apakah engkau belum juga mau mengundang majikanmu untuk keluar menemui aku?" tanya Hay Hay yang mengharapkan agar perkelahian terhenti sampai sekian saja. Akan tetapi, watak Tiat-ci Thio Kang amat tinggi hati. Biarpun dia melihat kenyataan yang aneh ketika sepasang pedangnya berubah menjadi ular berbisa, kemudian sepasang pedang itu dipatah-patahkan lawan, hal yang membuktikan betapa lihainya lawan, dia masih belum mau menyerah kalah dan masih penasaran. Dia tidak percaya bahwa seorang pemuda sederhana seperti itu akan dapat mengalahkannya, dan mampu menandingi jari-jari tangannya!
"Pemuda iblis! Kalau engkau tidak mempergunakan sihir dan ilmu setan, mari kita mengadu kekuatan sebagai laki-laki!"
"Maksudmu, mengadu kekuatan bagaimana?" Hay Hay bertanya.
"Lihat jari-jari tanganku ini!" Thiat-ci Thio Kang mengangkat kedua tangannya ke depan, memperlihatkan jari-jari tangannya yang warna kulitnya berbeda dengan warna kulit bagian tubuh lain. Kulit jari tangan itu agak membiru dan mengkilat.
"Sudah kulihat. Jari-jari tanganmu itu seperti tahu!" kata Hay Hay sambil tersenyum mengejek.
Thio Kang marah sekali. Akan tetapi dia menahan diri dan berkata, "Bagus! Mari kita mengadu kekuatan. Jari tanganku yang seperti tahu ini boleh di adu dengan dadamu yang seperti agar-agar itu! Kalau sekali tusuk dengan kedua jari telunjukku ini aku tidak mampu menembus dadamu, aku mengaku kalah!"
"Bagus, bagus! Pertandingan yang menarik. Jari tahu melawan dada agar-agar! Baik,
Thiat-ci Thio Kang, aku menerima tantanganmu.tapi harus kubuka bajuku agar tidak sampai kotor oleh jari tanganmu." Berkata demikian, Hay Hay melepaskan kancing bajunya dan ketika dia membuka bajunya, nampak kulit dadanya yang putih.
Diam-diam Tiat-ci Thio Kang sudah mengerahkan sin-kangnya, menggunakan Ilmu
Jari Besi sehingga jari-jari tangannya menjadi keras, terutama sekali kedua jari
telunjuknya di mana dia memusatkan tenaga dalamnya. Mereka sudah saling
berhadapan. Hay Hay berdiri tegak dan santai, sedangkan Tiat-ci Thio Kang berdiri dengan kaku, memasang kuda-kuda.
"Aku sudah siap!" kata Hay Hay dan begitu dia bicara, Tiat-ci Thio Kang sudah mengeluarkan suara bentakan nyaring dan tiba-tiba saja kedua lengannya meluncur ke depan, kedua jari telunjuknya menusuk ke arah dada kanan kiri! Cepat dan kuat sekali tusukannya itudan semua orang yang sudah pernah melihat jagoan ini menggunakan dua jari tangannya menusuk batu sampai berlubang dan papan sampai tembus, membayangkan betapa dada pemuda itu akan berlubang dan mengucurkan darah.
"Krekkkk!" Dua jari telunjuk itu dalam saat yang sama bertemu dengan dada yang terbuka itu dan akibatnya, tiba-tiba Tiat-ci Thio Kang menekuk pinggangnya, membungkuk dan menggenggam jari telunjuk di kedua tangan, mukanya pucat dan mulutnya merintih-rintih, mukanya penuh dengan keringat dingin. Rasa nyeri yang menusuk-nusuk jantung datang dari kedua jari telunjuknya yang tulangnya patah-patah! Dia mencoba untuk mempertahankan, namun akhirnya dia terkulai dan roboh pingsan! Hek-houw Ji Sun dan Kang-thouw-cu Phang Su sudah dapat memulihkan diri. Melihat jagoan pertama itu roboh pingsan, mereka lalu memberi aba-aba kepada puluhan orang pengawal untuk mengeroyok Hay Hay.
"Tangkap dia!"
"Bunuh dia!"
Para pengawal itu bergerak lambat. Mereka ragu-ragu dan merasa agak jerih melihat betapa tiga orang jagoan itu semua sudah roboh oleh pemuda sederhana ini, roboh dengan mudahnya! Pada saat itu, terdengar bentakan seorang wanita.
"Tahan semua senjata! Semua orang mundur!'
Mendengar suara yang mereka kenal ini dan melihat munculnya Siok Bi. Gadis cantik manis yang selain menjadi pengawal pribadi Hartawan Coa, juga menjadi seorang kekasihnya itu, para pengawal menahan gerakan mereka. Tentu saja mereka mentaati gadis itu yang biarpun ilmu kepandaiannya tidak setinggi tiga orang jagoan yang telah kalah, namun memiliki kekuasaan yang lebih tinggi dari mereka.
"Kalian mundur dan tidak boleh mengeroyok tamu ini! Selain kalian tidak akan menang, juga majikan kita berkenan hendak menerimanya. Dia memang datang untuk bertemu dengan majikan kita dan diterima sebagai tamu!"
Siok Bi memberi isarat kepada Hay Hay, akan tetapi ia menjura dan berkata, "Tai-hiap dipersilakan masuk."
Hay Hay juga memberi hormat dan menjawab, "Terima kasih, nona."
Mereka berdua berjalan memasuki gedung itu, diikuti pandang mata semua pengawal yang kini memandang jerih dan kagum. Tak mereka sangka bahwa pemuda bercaping lebar yang sederhana itu memiliki ilmu kepandaian yang demikian hebatnya. Bukan hanya ilmu silat yang aneh dan tinggi, akan tetapi juga kekebalan tubuh dan ilmu sihir! Diam-diam, tiga orang jagoan itu, kini Thio Kang telah siuman, bergidik membayangkan apa akan jadinya dengan mereka andaikata pemuda itu bersungguh-sungguh hendak mencelakakan mereka. Tentu sekarang mereka bertiga telah menjadi mayat.
Sementara itu, Siok Bi mendampingi Hay Hay memasuki gedung yang besar sekali itu. Para pengawal menjaga di setiap tikungan dengan tombak di tangan. Akan tetapi mereka berdiri tegak tak bergerak karena melihat bahwa pemuda asing itu ditemani oleh Siok Bi yang mereka kenal dan percaya.
"Aku girang sekali engkau memenuhi janji, tai-hiap……." Siok Bi berbisik ketika mereka lewat di bagian yang jauh dari penjaga.
Hay Hay tersenyum. "Aku tidak pernah melanggar janji, apa lagi terhadap seorang gadis cantik jelita seperti engkau, nona Siok Bi!" Gadis itu menahan senyum dan merasa terharu sekali. Pemuda ini memang hebat. Setiap kalimat yang keluar dari mulutnya selalu menyenangkan hati! Aih, kalau saja ia dapat hidup di samping pria ini untuk selamanya! Biar dikurangi sepuluh tahun usianya, ia rela!
Mereka berhenti di depan pintu yang tertutup, pintu sebuah kamar yang besar. Siok Bi mengetuk pintu dengan ketukan lirih tiga kali.
"Ah, engkaukah itu, Siok Bi? Bagaimana, apakah dia sudah datang?" terdengar suara dari dalam kamar, suara besar Hartawan Coa.
"Sudah, tai-ya, bahkan dia kini sudah berada di sini bersama saya. Bolehkah dia masuk menghadap?"
Hening sejenak, kemudian terdengar suara Hartawan Coa. "Suruh dia masuk!" Daun pintu didorong terbuka oleh Siok Bi. Hay Hay melihat sebuah kamar yang mewah sekali. Kamar yang luas dan penuh dengan prabot yang serba mahal, indah dan mewah. Hartawan Coa sedang menghadapi meja penuh hidangan yang masih mengepulkan uap panas! Itukah sarapan pagi? Bukan main! Hidangan untuk sarapan pagi saja mengalahkan sebuah pesta orang biasa! Hartawail itu agaknya sedang sarapan, dilayani oleh tujuh orang gadis yang rata-rata berwajah cantik, bertubuh langsing dan bersikap genit. Di sebelah dalam agak ke sudut, terdapat sebuah pembaringan yang besar, yang cukup untuk tidur sepuluh orang.
Agaknya hartawan itu sudah selesai sarapan, karena pada saat itu, para gadis sedang menyingkirkan hidangan-hidangan yang masih panas itu. Ketika Hartawan Coa melihat Siok Bi masuk bersama seorang pemuda yang capingnya lebar dan tergantung di punggung, menutupi buntalan yang cukup besar, dia memandang penuh perhatian. Inilah pemudayang semalam melindungi Gui Lok, mengalahkan dua orang pengawalnya dan membikin malu padanya di depan umum! Dan kini pemuda ini berani muncul, bahkan menurut laporan Siok Bi tadi, pemuda ini mengalahkan semua jagoannya dan tentu akan merobohkan puluhan orang pengawal kalau tidak segera diundang masuk. Siok Bi mengatakan bahwa pemuda tu datang bukan untuk membikin kacau, melainkan untuk menyerahkan uang seanyak lima puluh tail emas! Dan diapun sudah mendengar bahwa pemuda ini pula yang telah mengeduk lima puluh tail emas dari rumah judi, mengalahkan semua bandar judi yang tangguh. Biarpun hatinya diliputi keraguan dan juga perasaan takut, terpaksa dia menyetujui ketika Siok Bi menyatakan hendak mengundang saja pemuda itu masuk agar dapat bicara baik-baik. Menghadapi seorang pemuda yang selihai itu memang lebih baik degan cara damai. Bahkan, akan amat menguntungkan kalau pemuda selihai itu mau menjadi kaki tangannya!
"Duduklah, orang muda yang gagah perkasaa" kata Hartawan Coa. Para pelayan
wanita segera mengundurkan diri kamar itu hanya tinggal Hartawan Coa, Hay Hay dan Siok Bi bertiga saja. Para pengawal kini menggerombol di luar kamar itu, siap melindungi majikan mereka kalau diperlukan.
"Terima kasih, Coa Wan-gwe," kata Hay Hay sederhana dan diapun menurunkan buntalannya dari atas punggung, meletakkannya di atas meja dan dia sendiri lalu duduk di atas bangku dekat meja. Siok Bi juga duduk di antara mereka, dengan wajah berseri dan kedua pipi merah, matanya yang indah itu bersinar-sinar karena ia tahu bahwa pemuda itu menepati janji, membawa lima puluh tail emas itu untuk membeli kebebasannya! Semalam ia sudah memberi kabar kepada pemuda yang mencintainya itu, agar pagi ini siap menantinya di depan gedung, siap pergi bersamanya untuk menjadi suami isteri, memulai hidup baru yang cerah! "Orang muda, semalam engkau berkata kepadaku untuk datang berkunjung. Dan sekarang, pagi-pagi engkau benar datang berkunjung dan mengatakan kepada para pengawal bahwa engkau datang membawa lima puluh tail emas untuk diberikan kepadaku. Benarkah itu dan apakah maksudmu? Apakah engkau hendak mengembalikan lima puluh tail emas yang kaubawa dari rumah judi itu?"
Melihat sikap hartawan jtu, Hay Hay tersenyum. Tentu saja hartawan ini bersikap angkuh karena pada saat itu, dia menjadi tuan rumah dan selain itu, juga di luar kamar ini terdapat puluhan orang pengawal. Selain itu, juga di dekatnya terdapat Siok Bi yang tentu dianggapnya sebagai seorang pengawal yang setia. Dan memang sesungguhnya Siok Bi seorang pengawal yang setia, kalau saja ia tidak merasa begitu sengsara menjadi kekasih hartawan yang tidak dicintanya itu.
"Coa Wan-gwe, rumah judi itu milikmu, bukan? Dan pernahkah engkau mengembalikan uang kekalahan dari para penjudi selama ini? Beberapa ratus ribu tail saja yang dimenangkan rumah judi itu dari para penjudi?"
Hartawan itu tersenyum. "Dalam perjudian, menang dan kalah merupakan hal yang biasa, bukan?"
"Benar begitu. Karena itu, kemenanganku di rumah judimu juga bukan hal aneh, kenapa sekarang kau mengharapkan aku mengembalikan uang kemenanganku dari rumah judi itu?"
Hartawan yang tinggi besar dengan muka hitam bopeng itu tertawa. "Ha-ha-ha, akupun tidak mengharapkan, hanya aku mendengar engkau hendak memberikan lima puluh tail emas kepadaku. Benarkah itu, dan apa maksudmu dengan itu?"
"Aku hendak menebus kebebasan nona Siok Bi!" Wajah yang tadinya tertawa itu tiba-tiba menjadi kaku, dan matanya terbelalak ketika dia menoleh dan memandang kepada Siok Bi. Gadis ini mehundukkan mukanya yang berubah merah, akan tetapi lalu diangkatnya mukanya itu dan dia menentang pandang mata Coa Wan-gwe dengan berani. "Dulu tai-ya membeliku dari mendiang ayah, kalau sekarang ada yang hendak menebusku kembali, anehkah itu?" Siok Bi berkata dengan suara yang tegas.
"Tapi…… tapi……….. uang tebusan itu banyak sekali sekarang!" kata Coa Wan-gwe yang merasa sayang kepada Siok Bi untuk dua hal. Pertama, sebagai seorang di antara kekasihnya Siok Bi tetap merupakan seorang kekasih istimewa, tidak genit seperti para wanita lain sehingga kadang menjemukan, dan ke dua gadis ini memiliki ilmu silat yang cukup lihai sehingga dapat menjadi pengawal pribadi yang boleh diandalkan. Rumah judi itu maju pesat setelah Siok Bi menjadi pengurusnya. "Aku tahu, tai-ya. Pernah tai-ya mengatakan bahwa harga diriku sudah mencapai lima puluh tail emas, bukan?" kata Siok Bi!" kata Hay Hay sambil mendorong
"Nah, untuk itulah aku datang, Coa Wan-gwe. Ini adalah lima puluh tail emas itu, untuk menebus kebebasan diri nona Siok Bi!" kata Hay Hay sambil mendorongkan buntalan emas itu ke arah tuan rumah.
Sepasang alis yang tebal itu berkerut dan Hartawan Coa menoleh kepada Siok Bi. Teringatlah dia betapa selama sudah hampir sebulan ini Siok Bi selalu menjauhkan diri darinya, dengan dalih tidak enak badan dan sebagainya!
"Ah, kiranya engkau jatuh cinta kepada pemuda ini dan hendak menikah dengan dia?" tanyanya.
"Jangan salah mengerti, Wan-gwe." kata Hay Hay cepat, sedangkan Siok Bi menggelengkan kepalanya. "Aku hanya ingin menolongnya agar dia bebas dari sini dan dapat memilih jodohnya sendiri.Engkau tidak perlu tahu siapa yang dipilihnya, yang jelas bukan aku. Nah, bagaimana jawabanmu, Coa Wan-gwe?"
Hartawan itu merasa serba salah. Uang lima puluh tail emas memang banyak, bagi kebanyakan orang. Bagi dia, tidak ada artinya. Dia tidak ingin uang sebanyak itu, karena uangnya sudah jauh lebih banyak lagi. Dia juga sayang kepada Sjok Bi. Terutama sekali, dia tidak rela harus mengalah kepada pemuda yang pernah membuat dia malu ini. Akan tetapi tnenentang kehendak pemuda lihai ini? Diapun ragu-ragu! Tiba-tiba dia tersenyum, memperoleh pendapat yang dianggapnya baik dan menguntungkan. Banyak wanita di dunia ini, yang lebih cantik menarik dari pada Siok Bi dan yang mudah dia dapatkan kalau dia menghendaki.
"Aku tidak berkeberatan kalau Siok Bi hendak menikah dengan seorang pria pilihan hatinya. Akan tetapi aku tidak rela kehilangan seorang pembantu yang cakap. Begini saja, orang muda. Bagaimana kalau engkau menggantikan kedudukannya? Bukan hanya kedudukannya sebagai pemimpin rumah judi, bahkan kuserahkan kepadamu semua pimpinan para pasukan keamanan dan pengawal! Kuangkat engkau menjadi pembantu utama dan berapa saja gajih yang kau kehendaki, akan kupenuhi! Bagaimana?"
Wajah pemuda itu berubah merah. Kurang ajar, pikirnya. Dia hendak dijadikan antek hartawan ini! "Coa Wan-gwe, urusan itu adalah urusan antara kita berdua dan boleh kita bicarakan nanti. Sekarang, beri dulu keputusan mengenai kebebasan nona Siok Bi!"
Tidak ada pilihan lain bagi Hartawan Coa untuk mempertimbangkannya lagi kecuali menyetujui. Dia tahu betapa bahayanya menentang pemuda ini, apa lagi setelah kini Siok Bi berpihak kepadanya! Kalau terjadi keributan, dapat dipastikan bahwa Siok Bi yang akan dibebaskan oleh pemuda itu tentu akan membantunya.
Dia menarik napas panjang dan menyentuh buntalan uang emas. "Baiklah, aku menerima lima puluh tail emas ini untuk penebus kebebasan Siok Bi. Mulai saat ini engkau bebas, Siok Bi."
Mendengar ini, Siok Bi mengeluarkan seruan lirih dan ia sudah menjatuhkan diri berlutut di depan Hay Hay dan merangkul kaki pemuda itu. "Ah, tai-hiap, terima kasih…… terima kasih atas budimu yang takkan kulupakan selama hidupku……. " Suaranya mengandung isak. Hay Hay tersenyum dan sekali tarik, dia sudah memaksa gadis itu bangkit berdiri lalu merangkulnya. Dengan lembut sekali, diciumnya dahi gadis itu, lalu kedua pipinya sehingga ada air mata yang memasuki mulut melalui hisapan bibirnya. "Siok Bi, engkau memang pantas menemukan kebahagiaan. Nah, semoga engkau hidup berbahagia bersama suamimu dan ini aku tidak dapat memberi apa-apa kecuali bekal ini, agar engkau dan suamimu dapat memulai hidup baru dan memiliki modal." Hay Hay mengambil sebuah guci arak, menaruhnya di atas meja di depan Coa Wan-gwe di dekat buntalan emas, lalu dia meraih buntalan emas lima puluh tail itu dan menyerahkannya kepada Siok Bi.
Cadis itu terbelalak. "Tapi…….. tapi…….." Ia memandang ke arah Hartawan Coa yang agaknya telah berubah menjadi arca atau tidak melihat atau tidak peduli bahwa buntalan emas itu diambil oleh Hay Hay dan sebagai gantinya, di depanya kini berdiri sebuah guci arak itu, telah kosong pula.
"Bawalah, Siok Bi, disertai doaku. Ini milikmu! Ingat, bukankah engkau yang telah berhasil menyelidiki tentang Ang-hong-cu itu? Nah, bawalah dan cepat kau pergi dari sini!"
Cadis itu menahan isak, lalu merangkul Hay Hay dan tanpa memperdulikan Coa Wan-gwe yang berada di situ dan duduk seperti arca, Siok Bi mencium bibir pemuda itu dengan sepenuh perasaan hatinya, penuh kemesraan, kehangatan, keharuan dan rasa sukur yang tak terukur dalamnya. Kemudian, sambil menahan isak iapun menerima buntalan emas itu dari tangan Hay Hay, berbisik, "selamat tinggal, sampai jumpa pula, tai-hiap." Ia lalu keluar dari kamar dengan langkah yang cepat.
"Selamat jalan, sampai jumpa pula, Siok Bi," Hay Hay berkata lirih sambil tersenyum. Masih terasa kehangatan dan kelembutan bibir gadis itu akan tetapi dia segera mengusir lenyap kenangan indah itu.
"Coa Wan-gwe, sebaiknya kita bungkus dulu emas ini dan suruh orangmu menyimpannya, baru kita bicara." katanya kepada hartawan yang tadi duduk seperti arca itu. Dia kini seperti baru sadar dari tidur.
"Ah, benar sekali, sebaiknya kusuruh simpan dulu." katanya sementara itu Hay Hay mengambil kain tilam meja yang lebar dan membungkus guci itu.
Coa Wan-gwe bertepuk tangan dan muncullah dua orang gadis pelayan yang cantik genit. Tepukan tangan tadi adalah tepukan khas untuk memanggil dua orang selir terkasih ini.
"Simpan buntalan emas ini di dalam almari dulu, dan jangan bilang kepada siapapun bahwa di situ disimpan emas lima puluh tail." katanya. Dua orang gadis itu lalu mengambil buntalan guci dari atas meja, membawanya ke almari di sudut dan menyimpannya. Mereka lalu meninggalkan kamar lagi ketika mendapat isarat dari majikan mereka. Biarpun mereka itu selir, akah tetapi kedudukan mereka tidak lebih sebagai pelayan yang melayani majikan mereka, bukan sebagai isteri.
"Nah, sekarang kita berada berdua saja dalam kamar ini, Coa Wan-gwe. Terus terang saja, kalau aku menjadi pembantumu, dalam waktu beberapa bulan saja tentu engkau akan jatuh bangkrut dan seluruh harta bendamu akan habis!"
"Mengapa begitu?" tanya hartawan itu terkejut.
"Pertama, karena aku tidak suka melihat orang menjadi korban perjudian. Kedua, karena aku selalu menentang perbuatan jahat dan kejam yang dilakukan orang-orangmu atas perintahmu. Ke tiga, karena aku tidak suka melihat orang bersikap sewenang-wenang, memaksa wanita muda untuk menjadi miliknya. Dan ke empat, aku tidak dapat tinggal diam saja melihat orang-orang hidup melarat dan tidak dapat makan, dan hartamu tentu akan kubagi-bagikan kepada mereka!" Sepasang mata hartawan itu terbelalak. "Wah, wah, kalau begitu, tidak jadi saja! Aku tidak mau mempunyai pembantu seperti itu!" Hartawan Coa menjadi marah, lalu bangkit berdiri. "Orang muda, segera kau pergi tinggalkan rumahku jni dan jangan lagi mengganggu aku!"
"Kalau aku tetap mengganggumu, kau mau apa?"
Hartawan itu masih belum mau menyerah dan tiba-tiba dia menyambar sebuah tali yang tersembunyi di antara kain-kain sutera yang menghias kamar itu. Terdengar suara kelenengan di luar dan daun pintu kamar itu terbuka. Tiga orang gadis pelayan cantik yang bertubuh kuat mncul, bersama tiga orang jagoan yang tadi sudah dirobohkannya! Tiga orang jagoan itu nanlpak gentar sekali walaupun mereka cepat datang mendengar kelenengan yang berarti tanda bahaya bagi majikan mereka itu. Di luar pintu masih berdiri puluhan orang pengawal, siap dengan senjata di tangan.
"Nah, engkau masih berani menggangguku?" bentak hartawan itu.
Hay Hay tersenyum. Hartawan Coa ini harus diberi hajaran yang cukup keras untuk melunakkan hatinya yang keras.
"Hemm, kau mengandalkan para pengawalmu? Engkau tidak tahu bahwa setiap waktu, para tukang pukul dan pengawalmu itu dapat saja berbalik memusuhimu, dan mungkin engkau akan dibunuh oleh mereka."
"Tidak mungkin! Mereka adalah para pembantuku yang setia!"
"Setia? Karena terpaksa dan karena uang, seperti halnya nona Siok Bi tadi. Kau……. !" Hay Hay menggapai seorang di antara tiga gadis itu. "Kau ke sinilah dan beri satu kali tamparan pada pipi Hartawan Coa!"
Semua orang terkejut, juga Hartawan Coa. Akan tetapi sungguh aneh. Gadis itu yang tadinya terbelalak kaget mendengar perintah itu, kini melangkah maju menghampiri Hartawan Coa.
"Plakk!" Tangannya menampar dan pipi hartawan itu telah ditamparnya!
Tidak begitu nyeri, akan tetapi Hartawan Coa menjadi terkejut dan marah bukan main. Sebentar pucat dan sebentar merah mukanya. "Tangkap perempuan kurang ajar ini!"
Hay Hay melangkah maju. "Siapa berani menangkapnya? Kalau aku tidak memberi perintah, tak seorangpun boleh mengganggunya!" Dan aneh, mendengar teriakan Hay Hay ini, tak seorangpun berani maju, biarpun Hartawan Coa berkali-kali memberi perintah. "Kau! Majulah dan tampar pipi hartawan ini agar dia tidak berteriak-teriak Jagi!" kata Hay Hay pada gadis ke dua. Gadis itupun tadinya terbelalak, akan tetapi ia melangkah maju dan tangannya menampar. Hartawan itu hendak menangkis, namun kalah cepat.
"Plakk!" Untuk kedua kalinya pipinya kena ditampar oleh gadis kesayangannya yang biasanya amat patuh kepadanya.
"Tiat-ci Thjo Kang, jarimu sudah patah, maka pergunakan kakimu menendang pantat Hartawan Coa! Hayo cepat, jangan keras-keras, biar dia tahu rasa saja!"
Tentu saja mendengar ini, Tiat-ci Thio Kang mempertahankan diri sekuatnya untuk menentang perintah yang berlawanan dengan kemauan hatinya itu. Akan tetapi, entah apa yang mendorongnya untuk melangkah maju dan kakinya terayun.
"Bukk!" Hartawan Coa jatuh tersungkur dan bangkit sambil meringis dan menggosok pinggulnya yang tertendang. Kini mukanya pucat dan matanya terbelalak ketakutan memandang kepada Hay Hay.
"Bagaimana? Haruskah aku lanjutkan? Kalau aku memerintahkan mereka itu menyembelihmu, sekarang juga akan mereka laksanakan, Wan-gwe!"
"Tidak……. Tidak……..! Hentikan permainan setan ini !" katanya meratap ketakutan
"Kalau begitu, perintahkan mereka itu mundur."
"Mundur! Kalian semua mundur, terkutuk kalian!" Hartawan Coa membentak dan mereka semua segera keluar dari dalam kamar, menutupkan daun pintu kamar dengan khawatir melihat betapa majikan mereka marah-marah.
"Nah, Wan-gwe. Begjtulah kalau engkau memelihara harimau-harimau liar. Sekali waktu mereka akan membalik dan mencelakai dirimu sendiri. Sekarang, aku minta agar engkau tidak lagi menggunakan kekayaan dan kekuasaanmu untuk berbuat sewenang-wenang. Kalau aku mendengar engkau masih melanjutkan perbuatanmu yang jahat, aku akan segera kembali ke kota ini dan akan kuperintahkan anak buahmu membunuhmu, atau mungkin juga keluargamu sendiri akan kuperintahkan mereka membunuh dan menyiksamu lebih dulu!"
"Aku…… aku tidak berani lagi…….. "
"Engkau tidak akan mengganggu lagi Gui Lok dan puterjnya, Gui Ai Ling yang kau inginkan itu?"
"Tidak, tidak..... tidak lagi."
"Dan engkau tidak akan menyuruh orang-orangmu mencaru Siok Bi untuk kauganggu ?" .
"Tidak, aku tidak berani."
"Bagus, akan tetapu jangan mencoba-coba untuk membohongi dan menipuku. Kalau perlu, aku dapat menyuruh siapa saja atau apa saja untuk menghukum dan membunuhmu. Lihat tombak dan pedang di sudut kamar itu. Aku dapat memerintahkan mereka itu untuk membunuhmu!"
Sekali ini, dalam pandang mata yang tadinya ketakutan dari hartawan itu, berkilat sinar tidak percaya, walaupun mulutnya tidak berani mengatakan hal itu.
"Engkau tidak percaya, Coa Wan-gwe? Nah, lihat baik-baik! Pedang dan tombakmu itu sendiri akan menyerangmu!"
Tiba-tiba mata hartawan itu terbelalak dan mukanya yang hitam itu menjadi berkurang hitamnya karena pucat sekali. Dia melihat betapa pedang yang berada dalam sarungnya dan tergantung di tembok, kini meninggalkan sarung dan melayang-layang, bersama dengan tombak yang juga meninggalkan rak senjata. Kedua senjata itu melayang-layang ke atas lalu keduanya meluncur ke arah dirinya! Dia terkejut ketakutan dan melompat, menjauhi, akan tetapi ke manapun dia mundur, dua batang senjata itu terus mengejarnya, tombak itu seperti hendak menusuk-nusuk perutnya dan pedang yang tajam itu mengancam untuk membacok lehernya! Tentu saja dia mandi keringat dingin.
"Tidak……..! Tidak……..! Jangan………. ah, ampunkan aku……… ampunkan……….. " dia jatuh berlutut dan tidak berani mengangkat lagi mukanya, tidak berani melihat dua senjata yang seperti hidup dan mengancamnya itu.
"Mereka sudah kuperintahkan kembali ke tempat masing-masing, Wan-gwe."
Hartawan Coa mengangkat mukanya dan benar saja. Dua buah senjata itu sudah berada di tempat masing-masing, tidak bergerak dan mati seperti biasanya. Dia mengeluh dan menghapus keringat dengan ujung lengan bajunya.
"Nah, kaulihat sendiri, Wan-gwe. Sedangkan benda mati saja dapat berkhianat padamu, apa lagi manusia hidup. Sekali waktu, bisa saja pelayanmu sendiri meracunimu atau membunuhmu selagi engkau tidur. Karena itu, bertobatlah dan tinggalkan semua perbuatan jahat, baru Tuhan akan mengampunimu."
Hartawan itu masih berlutut dan dia mengangguk-angguk. "Baik, baik…… aku minta ampun, aku bertobat…….. tidak berani lagi….."
Ketika dia mengangkat muka, ternyata pemuda itu telah lenyap dari situ! Ketika para pelayan dan pengawal memasuki kamar, mereka menemukan hartawan itu masih berlutut dalam keadaan seperti tidak bersemangat lagi! Hay Hay sama sekali tidak tahu bahwa sepeninggalnya, dia tidak hanya membuat hartawan itu menjadi bertobat, bahkan lebih dari itu dan sangat menyedihkan. Hartawan Coa menjadi seperti orang gila yang selalu ketakutan, takut terhadap isterinya, anak-anaknya, pelayan, bahkan takut kepada benda-benda dalam kamarnya. Dia selalu berteriak-teriak bahwa mereka semua hendak membunuhnya. Akhirnya, karena dia selalu marah-marah dan minta agar semua benda disingkirkan dari kamarnya, maka kamar itu menjadi gundul dan kosong. Bahkan dia tidur begitu saja di atas lantai karena takut kalau segala macam ranjang, kelambu, meja kursi, bantal guling, di tengah malam akan membunuhnya! Hartawan Coa menjadi seperti orang gila. Akan tetapi, kota itu menjadi tenang dan para penduduknya bernapas lega karena setidaknya, seorang yang tadinya amat ditakuti dan mengganggu ketenangan hidup mereka telah mati kutu.
Malam yang gelap karena malam itu gelap bulan. Langit hanya dihiasi laksaan bintang, atau jutaan atau bahkan lebih. Tak terhitung! Biarpun tidak ada bulan, namun sinar lemah dari bintang-bintang itu bergabung dan mampu pula mengurangi kepekatan malam, bukan menjadi gelap gulita lagi melainkan remang-remang.
Akan tetapi, kompleks bangunan dalam lingkungan istana sama sekali tidak pernah gelap! Banyak sekali lampu-lampu gantung besar kecil, beraneka warna dan bentuk, menerangi bagian dalam dan luar istana. Bahkan di taman-taman bunga yang teratur indah terdapat lampu penerangan.
Malam itu sunyi karena hawa malam itu amat dinginnya. Musim semi telah mulai, akan tetapi sisa musim salju masih meninggalkan hawa dingin yang menyengat tulang. Karena dinginnya, maka biar di lingkungan istana sendiri, malam itu sunyi. Para penghuninya, yaitu kaisar dan semua keluarganya, juga para dayang, para selir, para pelayan dan bahkan para pengawal, lebih suka berada di dalam bangunan dari pada di luar! Di udara terbuka, sungguh hawa dingin tak tertahankan. Para pengawal luar yang melakukan penjagaan di luar kompleks bangunan, lebih suka berkelompok di dalam gardu-gardu penjagaan di mana mereka dapat menghangatkan tubuh di dekat arang membara, atau perapian yang mereka buat untuk sekedar menghangatkan badan melawan hawa dingin. Para penjaga menjadi malas untuk meronda, karena meronda berarti meninggalkan gardu, memasuki tempat terbuka di mana mereka akan disambut oleh dekapan hawa yang amat dingin.
Pula, siapakah yang akan berani mengganggu ketentraman istana? Berarti mencari mati konyol! Maling? Sebelum mendapatkan sesuatu, dia sudah akan mati kedinginan! Malam itu, malam yang dingin sunyi para penjaga menjadi lengah.
Namun, bagi seseorang yang sedang dimabok cinta dan dendam birahi, yang sedang menderita rindu, pekerjaan berkencan dengan seorang kekasih yang dirindukan merupakan kewajiban yang dilakukan dengan sepenuh hati, dengan nekat dan kalau perlu mengorbankan diri! Apa lagi hanya hawa dingin di malam sunyi itu, biar harus menghadapi rintangan yang lebih berat sekalipun, seorang yang sedang merindukan pertemuan dengan kekasihnya takkan mundur selangkahpun!
Demikian pula bagi pria yang kini sedang menanti di dalam taman bunga sebelah barat istana itu. Dia bersembunyi di balik rumpun bunga yang tumbuh lebat di sebelah kiri depan pondok indah itu. Pondok yang bercat merah dan diberi nama "Sarang Madu" di depannya, nama itu tertulis indah di papan yang tergantung di depan pondok. Nama ini diberikan kaisar karena dia merasa seolah-olah berada di sarang madu kala sedang bersenang-senang dengan para selir dan dayang yang muda-muda dan cantik jelita di pondok merah itu. Nama Sarang Madu itu ada riwayatnya. Ketika itu, pondok merah ini baru saja selesai dibangun dan belum ada namanya. Ketika kaisar dan para selir tercinta sedang bersenang-senang di situ, kaisar melihat sebuah sarang lebah tergantung di dahan pohon dekat pondok. Sarang lebah itu sudah penuh madu, nampak ada madu menetes-netes turun. Kaisar segera menyuruh pengawal untuk mengusir lebah-lebahnya dan menurunkan sarang lebah itu. Ternyata penuh dengan madu! Tentu saja kaisar menjadi gembira sekali, bersama para selir dan dayang minum madu yang manis. Karena peristiwa itulah maka pondok itu diberi nama Sarang Madu. Bukan hanya karena madu itu memang manis. Akan tetapi berpesta pora dengan para dayang dan seli yang cantik-cantik itu memang amatlah manisnya!
Dan bagi pria yang kini bersembunyi di dekat pohon Sarang Madu itu, memang pondok itu merupakan sarang madu yang amat manis baginya. Semua kenangan manis, indah dan menggembirakan berada di dalam pondok itu sejak dia bertemu dan berhubungan dengan Hwee Lan!
Pria itu kini menyelinap dekat tembok pondok yang lebih melindungi dirinya dari hembusan angin lembut dan kini sinar lampu gantung yang halus menyentuhnya. Dia seorang laki-laki muda berusia kurang lebih duapuluh lima tahun, berpakaian sebagai seorang perwira dan dia nampak gagah sekali dalam pakaian yang cemerlang ini. Sebuah pedang tergantung di pinggangnya, dan topi bulunya nampak bersih. Bulu itu kelihatan putih sekali di atas rambutnya yang hitam panjang. Wajahnya tampan menarik, dan jantan. Wajah yang disuka oleh kaum wanita. Tubuhnya jangkung dengan pinggang ramping, tubuh yang juga menjadi idaman wanita. Pendeknya, pemuda berusia dua puluh lima tahun ini amat menarik bagi wanita. Seorang yahg tampan, gagah dan memiliki kedudukan baik. Seorang perwira pengawal! Dan dari pangkatnya ini saja, perwira pengawal dalam istana, mudah diduga bahwa dia bukan seorang pemuda lemah, melainkan seorang pemuda gemblengan yang memiliki kegagahan dan ilmu silat tinggi.
Perwira muda ini bernama Tang Gun. Baru dua tahun dia menjadi perwira di dalam istana, dipilih oleh kaisar sendiri karena dia telah berjasa, membantu pasukan pengawal membasmi perampok yang berani memberontak dan mengganggu ketenangan kaisar ketika kaisar berburu binatang di hutan. Pemuda yang gagah perkasa dan yang pekerjaannya sebagai seorang pemburu itu berhasil membantu para pengawal, bahkan dialah yang berhasil membunuh kepala perampok. Mendengar tentang kegagahan pemuda ini, kaisar memanggilnya dan karena gembiranya kaisar lalu menganugerahkan pangkat perwira pengawal kepadanya. Bukan pengawal luar, melainkan pengawal dalam istana, pangkat yang hanya diberikan kepada orang-orang yang benar-benar dipercaya oleh kaisar!
Tang Gun tadinya hidup berdua saja dengan ibunya yang sudah berusia empat puluh tiga tahun. Hidup berdua dalam keadaan miskin karena ibunya adalah seorang janda dan kehidupan mereka hanya mengandalkan hasil buruannya. Kalau dia berhasil membunuh seekor dua ekor kijang atau beberapa ekor kelinci, dagingnya lalu dibuat daging kering oleh ibunya, kulit dan daging kering itu dijual dan di tukar dengan beras, terigu dan bumbu-bumbu masak, juga untuk membeli pakaian. Mereka hidup di tempat terpencil, di dekat hutan.
Sejak kecil, Tang Gun memang suka mempelajari ilmu silat. Dari kawan-kawannya, para pemburu, dia belajar silat dan mencari guru-guru silat yang pandai. Karena tekunnya dan tidak mengenal lelah, juga rajin mencari guru yang pandai. Akhirnya dia menjadi seorang pemuda gemblengan yang pandai silat dan menjadi jago di antara para pemburu.
Ibunya selalu mengatakan bahwa sejak dia masih kecil sekali, ayah kandungnya telah meninggalkan mereka. Menurut ibunya, ayah kandungnya itu she Tang dan ibunya menyerahkan sebuah benda yang berbentuk ukiran seekor kumbang dari emas dan batu mirah. Si Kumbang Merah atau Ang-hong-cu, demikianlah julukan ayah kandungnya. Demikian menurut ibunya. Dia tidak pernah mengenal ayahnya, hanya tahu bahwa ayahnya she Tang dan berjuluk Ang-hong-cu, menurut ibunya seorang yang amat sakti dan kalau dia kelak melihat seorang pria yang mempunyai tanda mainan seperti yang dimilikinya, maka itulah ayahnya! Tang Gun sudah mencari keterangan di dunia kang-ouw tentang Ang-hong-cu. Akan tetapi, dengan kecewa dia mendengar bahwa sudah bertahun-tahun dunia kang-ouw tidak lagi mendengar nama Ang-hong-cu. Seolah-olah Si Kumbang Merah itu telah lenyap atau mungkin juga sudah mati! Maka, Tang Gun menjadi putus asa dan tidak mencari lagi. Ketika dia masih menjadi seorang pemburu biasa, kenyataan bahwa dia tidak berayah lagi, bahkan dia tidak tahu dimana ayahnya, sudah mati atau belum, tidak merupakan hal yang perlu dirisaukan benar. Dia hanya seorang pemburu miskin. Siapa yang akan memperhatikan dirinya dan siapa yang ingin mengetahui siapa ayahnya?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar