Pemuda itu terkejut setengah mati dan berusaha melepaskan tangannya yang tersedot dan melekat di dada itu. Dengan mudah Si Kong lalu merampas sepasang gelang di tangan kanan pemuda itu, lalu melepaskan tenaga thi-khi-I-beng dan melompat mundur.
Pengemis muda itu memandang kepadanya dengan mata terbelalak. "Kong-ko, engkau menggunakan ilmu setan apakah?" tegurnya setengah bertanya.
Si Kong tersenyum. "Ilmu itu namanya ilmu merampas gelang." Dengan tenang Si Kong lalu menyimpan kembali bunatlan sepasang gelang itu ke dalam buntalan pakaian, lalu memanggul tongkat bambunya di ujung mana buntalan pakaian itu tergantung.
"Kong-ko, ternyata engkau seorang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi. Dalam perkelahian tangan kosong aku mengaku kalah, akan tetapi kalau saja aku mempunyai sebatang pedang, aku yakin dapat mengalahkanmu."
"Syukurlah bahwa engkau tidak mempunyai sebatang pedang, Ji-te. Karena aku tidak suka berkelahi denganmu. Engkaupun lihai sekali. Gurumu tentu seorang tokoh besar dalam perkumpulan pengemis. Akan tetapi seorang pemuda yang begini lihai seperti engkau, kenapa berkeliaran di sini dan berpakaian pengemis?"
"Aku hendak menonton keramaian di bukit depan itu," dia menuding ke arah bukit yang tampak menjulang di depan mereka, lalu tiba-tiba pengemis itu berseru, "Heiii, jangan-jangan engkau salah seorang di antara mereka!"
"Mereka siapa?"
"Mereka yang hendak bertanding disini untuk meperebutkan Pek-lui-kiam."
Diam-diam Si Kong terkejut. "Aku bukan anggota dari partai manapun dan aku tidak hendak bertanding di bukit itu. Apakah seorang di antara mereka yang menguasai pedang Pek-lui-kiam yang kabarnya diperebutkan orang-orang persilatan itu?"
"Aku sendiri tidak tahu. Mungkin juga begitu. Aku hanya mendengar bahwa datuk-datuk besar besok pagi-pagi akan mengadakan pertemuan di sana untuk memperebutkan Pek-lui-kiam. Kalau engkau bukan seorang diantara mereka, marilah kita nonton, Kong-ko! Tentu akan ada pertunjukan menarik di sana!"
Si Kong mengangguk. Tanpa diminta pun dia tentu akan pergi ke sana kalau pedang Pek-lui-kiam yang diperebutkan. Dia sendiri telah menyanggupi Tan Kiok Nio untuk mencari kakek berjubah merah yang membunuh orang tua gadis itu dan merampas Pek Lui-kiam. "Baik, aku ikut denganmu," jawabnya.
"Akan tetapi engkau harus bersembunyi, Kong-ko dan tidak boleh sembarangan keluar dari tempat persembunyianmu. Mereka itu adalah para datuk yang tidak segan membunuhmu!"
"Jangan khawatir, Ji-te, aku akan menuruti nasihatmu." Jawab Si Kong sambil tersenyum.
"Kita lewatkan malam dalam hutan di kaki bukit itu, dan besok pagi-pagi barulah kita mendaki bukit."
Si Kong hanya menurut saja dan pemuda jembel itu menjadi penunjuk jalan. Agaknya dia sudah hafal benar akan keadaan di situ dab setelah tiba di kaki bukit, dia mengajak Si Kong memasuki sebuah hutan.
"Di sana terdapat bekas kuil kecil yang sudah tidak dipergunakan lagi. Kita melewatkan malam di sana." Kata Siangkoan Ji.
Benar saja, setelah tiba di tengah hutan itu, Si Kong melihat sebuah bangunan yang sudah bobrok saking tuanya dan tidak terawat.
Dindingnya sudah menjadi hijau oleh lumut dan atapnya juga banyak yang pecah. Di waktu hujan tentu kuil ini kebocoran dimana-mana.
Mereka memasuki kuil kecil itu dan di ruangan tengah terdapat sebuah arca batu yang juga sudah penuh lumut sehingga sukar dikenal lagi arca siapakah itu.
Akan tetapi Siangkoan Ji memberi hormat kepada arca itu dan perbuatannya ini diikuti oleh Si Kong. Yang dibuatkan arca tentu sebangsa dewa atau orang suci budiman yang patut dihormati.
Di sudut ruangan belakang terdapat lantai yang bersih. Agaknya sudut itu sering dipakai mengaso para pemburu binatang sehingga lantainya bersih.
"Nah, kita lewatkan malam disini, Kong-ko."
"Baiklah, aku mau pergi keluar sebentar."
"Mau kemana, Kong-ko?"
"Untuk mencari kayu bakar."
"Untuk apa?"
"Ji-te, malam nanti hawanya tentu dingin dan nyamuknya banyak sekali. Membuat api unggun dapat mengusir nyamuk dan melawan hawa dingin. " Si Kong menunjuk ke arah kanan dimana terdapat abu dan arang. "Mereka yang pernah bermalam di sini juga membuat api unggun."
"Untuk mengusir nyamuk aku tidak membutuhkan api unggun, dan untuk menahan udara dingin akupun kuat. Akan tetapi kalau engkau membutuhkannya, silahkan saja mencari kayu bakar."
Si Kong tersenyum. "Aku ingin sekali melihat bagaimana engkau akan mengatasi kegelapan yang pekat malam ini tanpa api unggun."
"Malam nanti aku tidur, terang atau gelap saja," jawab Siangkoan Ji sambil tersenyum pula. Si Kong lalu keluar dari situ dan mengumpulkan kayu-kayu kering yang kiranya cukup untuk membuat api unggun semalam suntuk.
Ketika Si Kong memasuki kuil itu sambil memanggul sebongkah kayu kering, dia melihat Siangkoan Ji sedang menggosok-gosok tubuhnya yang tidak tertutup pakaian dengan semacam minyak dari botol kecil.
Kedua tangan sampai ke siku lalu kaki bagian atas yang tidak tertutup sepatu, dan terutama muka dan lehernya.
"Apa itu, Ji-te?"
"Inilah obat istimewa penolak serangga macam serangga dan nyamuk. Kalau ada nyamuk berani hinggap di kulitku, binatang itu akan tewas seketika!"
Si Kong menurunkan kayu bakar dan memeriksa botol minyak itu, dibukanya lalu diciuminya. "Ah, ini racun hebat dan berbahaya!" katanya sambil mengembalikan botol itu kepada pemiliknya.
Siangkoan Ji tertawa. "Tidak berbahaya bagi manusia, asalkan jangan diminum. Akan tetapi bagi nyamuk merupakan cairan maut, baru menciumnya saja sudah dapat membunuh binatang itu."
"Dari mana engkau memperoleh racun itu, Ji-te?"
"Aku membuatnya sendiri." Kata Siangkoan Ji bangga.
Si Kong mengerutkan alisnya. Pemuda remaja ini penuh rahasia. Selain ilmu silatnya tinggi, juga agaknya dia ahli racun. Akan tetapi dia diam saja.
Setelah hari mulai gelap, benar saja seperti dikhawatirkan Si Kong tadi, datang nyamuk banyak sekali. Akan tetapi Siangkoan Ji enak-enak saja dan Si Kong melihat sendiri pemuda itu menjulurkan tangan agar digigit nyamuk.
Beberapa ekor nyamuk menyerang tangan itu dan nyamuk-nyamuk itu berjatuhan, mati! Dia sendiri menjadi korban gigitan nyamuk, maka cepat-cepat dia membuat api unggun. Barulah nyamuk-nyamuk itu terbang pergi. Dan bersama gelapnya malam, datang hawa dingin. Akan tetapi api unggun itu mendatangkan kehangatan.
Siangkoan Ji menggunakan daun-daun pohon untuk menyapu lantai, kemudian dia merebahkan diri. "Aku mau tidur disini, Kong-ko. Kalau engkau mau tidur, carilah tempat sendiri."
"Kau tidurlah, Ji-te. Aku akan menjaga api unggun agar tidak sampai padam," dia lalu duduk bersila dekat api unggun.
Tak lama kemudian siankoan Ji sudah tidur pulas. Si Kong mengetahui hal ini dari pernapasannya yang lembut dan panjang. Dia sendiri memejamkan mata, akan tetapi tidak tidur, hanya mengendurkan seluruh urat syarafnya untuk beristirahat.
Lewat tengah malam, tiba-tiba Si Kong mendengar suara orang berbicara di luar kuil. Dia menjadi waspada dan bangkit berdiri, kemudian berindap-indap keluar dari kuil untuk melihat siapa yang bicara itu.
Karena di luar gelap, dia hanya melihat dua bayangan orang sedang bicara. Mereka memegang sebatang golok dan menghampiri kuil dengan langkah perlahan.
"Tentu ada orangnya di dalam. Api unggun itu tentu ada yang membuatnya," terdengar suara yg parau.
"Siapapun dia, kita harus memeriksanya dan kalau dia musuh, kita bereskan sekarang juga." Jawab suara yang tinggi.
"Akan tetapi, apakah tidak lebih baik kita memberitahu teman-teman, siapa tahu di dalam ada orang lihai?"
"Ahh, selihai-lihainya mana mampu menandingin kita berdua. Kalau diberitahukan teman-teman, kita yang rugi. Siapa tahu orang itu membawa barang berharga!"
"Dan mungkin saja ada wanitanya yang cantik!" si suara parau tertawa perlahan.
"Ssst, jangan keras-keras, nanti mengejutkan orang dan kalau orang itu lari melalui pintu belakang, akan sulitlah menemukan dia dalam gelap begini."
Si kong sudah hendak keluar menjumpai dua orang itu, akan tetapi tiba-tiba dua orang itu menjerit.
"Aduhhh…..!"
"Ahhh…..! Lari, hayo kita lari!" Lalu terdengar suara dua orang itu melarikan diri. Tentu saja Si Kong menjadi heran sekali dan cepat menengok ke belakang. Ternyata Siangkoan Ji tidak berada di tempat dia tertidur tadi. Dan tiba-tiba ada bayangan berkelebat dan pemuda pengemis itu telah duduk ditempatnya.
"Ji-te, kenapa kaulakukan itu?" Si Kong menegur karena dia sudah dapat menduga tentu Siangkoan Ji yang menyebabkan dua orang tadi mengaduh dan melarikan diri.
"Kulakukan apa?" Pemuda remaja itu berbalik bertanya."
"Engkau yang menyebabkan kedua orang itu mengaduh dan melarikan diri, bukan?"
Apakah engkau lebih senang melihat mereka masuk dan menyerang kita dengan golok mereka?"
"Hemm, tadi engkau tidur pulas, bagaimana dapat mengetahui kedatangan mereka?"
"Telingaku peka sekali, Kong-ko. Sedikit suara saja sudah cukup membangunkan aku."
"Apa yang kau lakukan tadi sehingga mereka mengaduh?"
"Ha-ha, apakah engkau tidak dapat menduganya? Aku menimpuk mereka dengan batu-batu. Ah, mereka lari ketakutan, tentu mengira ada setan mengganggu mereka!" pemuda itu tertawa senang. Akan tetapi diam-diam Si Kong merasa kagum dan kecewa.
Kagum karena pemuda pengemis itu dapat menyerang dengan tepat sekali mengenai dua orang yang hanya nampak bayangan mereka dengan samar-samar saja, akan tetapi kecewa karena menganggap Siangkoan Ji terburu nafsu. Sebetulnya dia ingin membekuk dua orang itu yang dari percakapan mereka jelas bukan merupakan orang baik-baik.
"Sudahlah, mereka sudah pergi. Tidurlah lagi, Siangkoan Ji, malam sudah larut dan hawanya dingin sekali. Biar kubesarkan api unggun ini."
"Aku tadi sudah tidur, sekarang tidak mengantuk lagi. Kau saja yang tidur, Kong-ko, biar aku yang menjaga api unggun."
"Baiklah, aku hendak tidur sebentar, Ji-te."
Setelah berkata demikian Si Kong lalu merebahkan diri di sudut dimana tadi Siangkoan Ji tidur. Aneh sekali begitu dia merebahkan diri, hidungnya mencium bau yang harum. Dia tidak tahu mengapa tempat itu berbau harum dan diapun tidak ingin menyelidiki karena matanya sudah mengantuk. Sebentar saja Si Kong sudah tidur pulas.
Ketika dia membuka matanya, Si Kong menjadi silau. Langit yang nampak dari bawah, melalui atap yang berlubang, nampak sudah terang. Kiranya matahari telah sejak tadi menampakkan diri di langit timur. Dia memandang ke kanan kiri, lalu dia bangkit duduk ketika melihat Siangkoan Ji sedang membakar sesuatu di atas api unggun. Dia mencium bau sedap daging ayam dibakar.
"Ji-te, engkau memanggang apakah itu?" tanyanya kepada pemuda pengemis yang berjongkok membelakanginya. Siangkoan Ji menoleh dan berkata dengan senyum cerah.
"Bangunlah dan mandilah dulu, Kong-ko. Tuh di sana terdapat sumber air yang jernih. Aku sedang memanggang daging ayam untuk sarapan kita nanti."
"Ayam? Dari mana engkau memperoleh ayam?" tanyanya heran.
"Aih, sudahlah. Ditanggung halal, bukan mencuri. Nah, mandilah dulu, baru nanti kuceritakan sambil sarapan."
Si Kong tersenyum. Temannya ini memang cerdik sekali, sepagi itu sudah mendapatkan seekor ayam untuk dipanggang dagingnya. Dia lalu bangkit berdiri dan menuju ke sumber air yang ditunjukkan Siangkoang Ji tadi. Benar saja, di balik batu-batu padas terdapat air yang mengucur dari batu, dan air itu jernih sekali.
Si Kong membersihkan dirinya lalu kembali ke kuil tua. Daging ayam itu sudah matang dan kini Siangkoan Ji sedang memasak air, lalu dibuatlah air teh yang di tuangkan ke dalam dua buah mangkuk. Si Kong terheran-heran. Pengemis muda itu ternyata mempunyai banyak macam barang yang berguna dalam buntalan pakaiannya. Ada teh, dan adapula mangkuk-mangkuk.
Setelah teh itu mendidih dan menuangkan dalam mangkuk, Siangkoan Ji berkata, "Nah, sekarang kita dapat sarapan pagi. Hayo silakan, Kong-ko. Kita makan selagi panggang ayam ini masih panas."
Si Kong juga duduk di dekat api unggun. Pagi itu amat dingin hawanya. Dia menerima paha ayam yang diserahkan Siangkoan Ji kepadanya. Ketika dia menggigit paha ayam itu, kembali dia tertegun dan kagum. Dia sendiri pernah memanggang daging ayam, akan tetapi rasanya hambar kareta tidak di bumbui, akan tetapi panggang daging ayam yang dibuat Siangkoan Ji ini, lezat bukan main. Sedap dan gurih. Tentu pemuda itu membawa-bawa bumbu pula dalam buntalan pakaiannya!
"Nah, sekarang ceritakan padaku darimana engkau memperoleh ayam ini. Aku tahu bahwa ayam itu bukan ayam hutan. Pernah aku memanggang ayam hutan akan tetapi dagingnya liat, tidak lunak seperti ini. Ini tentu ayam peliharaan orang."
Siangkoan Ji tersenyum. "Jangan khawatir, ayam ini seratus prosen halal. Pagi-pagi sekali tadi aku pergi ke perkampungan di bawah sana dan dapat membeli seekor ayam dari orang kampung."
"Tidak mencuri?" Si Kong memandang penuh selidik dan keraguan.
Siangkoan Ji tertawa. "Hemm, engkau tidak percaya ya? Kau kira aku ini maling kecil yang suka mencuri milik orang dusun yang miskin?
Aku hanya mencuri harta milik orang kaya yang kikir, bahkan membagi-bagikannya kepada orang-orang dusun yang miskin. Bagaimana aku tega mencuri dari mereka?"
Si Kong menggigit daging ayam panggang itu, kini terasa lebih lezat dan dia mengangguk-angguk.
"Aku percaya padamu, dan keteranganmu itu sungguh menyenangkan hatiku."
Siangkoan Ji mengambil sebuah kantung kecil dari buntalan pakaiannya, membuka kantung itu dan memperlihatkan kepada Si Kong. "Nah, kaulihatlah. Aku dapat membeli seratus ekor ayam kalau kau mau, mengapa mesti mencuri?"
Si Kong mengangguk dan tersenyum.
"Maafkanlah aku, Ji-te. Wah, bukan saja panggang ayam ini yang lezat, bahkan air the ini sedap dan harum sekali."
"Kong-ko,"
kata Siangkoan Ji sambil menyimpan kembali kantung kecil berisi uang dan emas itu, "kalau aku mengetahui malam tadi, tentu aku sudah membunuh dua orang itu."
"Eh, kenapa?"
"Ketika aku turun dari bukit ini untuk pergi ke dusun terdekat, di tengah jalan aku melihat banyak orang membuat perkemahan di lereng bukit. Setelah aku melihat bendera mereka, aku terkejut dan tahu bahwa mereka adalah orang-orang Kwi-jiauw-pang yang terkenal jahat."
"Kwi-jiauw-pang (Perkumpulan Cakar Setan)? Perkumpulan macam apa itu?"
"Aku sendiripun hanya mendengar cerita orang saja. Kwi-jiauw-pang berpusat di Kwi-liong-san (Gunung Naga Siluman) dan kabarnya orang-orang perkumpulan sesat itu merajalela di daerah mereka.
Semua pencuri dan perampok harus membagi hasil mereka kepada Kwi-jiauw-pang. Kalau ada yang melanggar tentu akan dibunuh secara mengerikan. Tubuh mereka akan dicabik-cabik cakar setan, senjata mereka yang ampuh, yang dipasang pada kedua tangan mereka."
"Ihh, kejamnya!" seru Si Kong.
"Ha-ha, engkau tidak tahu bahwa di dunia ini banyak orang yang bahkan lebih kejam dari mereka. Mudah-mudahan nanti kita akan dapat melihat orang-orang yang kau sebut kejam itu."
"Akan tetapi apa maksud Kwi-jiauw-pang berada di bukit ini?"
"Aku sendiri juga tidak tahu, Kong-ko. Yang ku ketahui dari kabar yang kuperoleh hanya mengatakan bahwa hari ini akan ada pertemuan dari tokoh-tokoh sesat untuk memperebutkan Pek-lui-kiam, pedang pusaka yang menghebohkan dunia kang-ouw itu?"
Si Kong sudah tahu dari Tan Kiok Nio bahwa pedang yang disebut-sebut itu tadinya menjadi milik ayah gadis itu yang telah dibunuh oleh seorang kakek berpakaian merah.
Bahkan dia sudah berjanji kepada gadis itu untuk mencari tahu tentang kakek berpakaian merah. Akan tetapi untuk mengetahui lebih jelas tentang Pek-lui-kiam yang menurut Kiok Nio telah dirampas pembunuh ayahnya itu, dia berpura-pura tidak tahu dan bertanya.
"Apa sih pedang Pek-lui-kiam itu dan mengapa pula diperebutkan orang?"
Pengemis muda itu membelalakkan matanya yang bersinar tajam. "Engkau tidak pernah mendengar tentang Pek-lui-kiam yang menghebohkan dunia persilatan itu, Kong-ko? Aih, sungguh pengalamanmu tentang dunia kang-ouw masih dangkal sekali."
"Memang aku seorang bodoh yang kurang pengalaman, Ji-te," kata Si Kong sederhana.
"Nah, engkau begitu rendah hati. Baiklah kuberitahu. Pedang Pek-lui-kiam itu dikabarkan orang adalah milik seorang manusia dewa yang bertapa di pegunungan Himalaya. Kemudian tersiar berita bahwa pedang pusaka itu dicuri orang.
Ada yang mengatakan bahwa pedang pusaka itu terjatuh ke tangan Tan Tiong Bu, pendekar besar yang amat terkenal dengan ilmu pedangnya itu.
Akan tetapi, baru-baru ini tersiar berita bahwa Tan-taihiap itu telah tewas terbunuh orang. Karena tidak ada yang tahu kemana pedang pusaka itu dibawa orang dan siapa yang kini menjadi pemiliknya, dunia kang-ouw menjadi geger dan semua orang seperti berlomba mencarinya."
"Heran sekali. Apakah orang-orang itu tidak mempunyai pekerjaan lain yang lebih penting? Apa sih artinya pedang Pek-lui-kiam maka dijadikan rebutan orang-orang kang-ouw?"
"Wah-wah-wah! Kalau pedang Pek-lui-kiam saja tidak kau kenal, sungguh keterlaluan engkau, Kong-ko. Pedang itu merupakan pedang pusaka yang hebat, ampuh bukan main sehingga siapa yang memilikinya tentu akan menjadi semakin lihai dan ditakuti orang!"
Si Kong mengangguk-angguk, lalu tersenyum memandang wajah Siangkoan Ji dan berkata, "Sekarang aku mengerti apa sebabnya engkau berada di tempat ini, Siangkoan Ji. Engkau merupakan seorang diantara mereka yang ingin memiliki pedang itu!"
"Hemm, siapa orangnya yang tidak ingin memiliki pedang Pek-lui-kiam? Dengan pedang itu ditanganku, aku tidak takut menghadapi lawan yang bagaimana tangguhpun! Semua orang akan tunduk kepadaku dan menaati semua perintahku!"
"Wah, agaknya engkau ini seorang yang gila kekuasaan, Ji-te!"
"Mengapa tidak? Siapakah orangnya yang tidak gila kekuasaan? Dalam kerajaan, dalam masyarakat, bahkan dalam keluarga semua orang memperebutkan kekuasaan. Apakah engkau juga tidak ingin memiliki pek-lui-kiam kalau kesempatan untuk itu ada?"
"Setelah mendengarkan keteranganmu, akupun ingin sekali melihat seperti apa pedang pusaka itu."
"Akan tetapi sayang sekali, Kong-ko. Orang yang memiliki pedang itu haruslah seorang yang tinggi ilmu silatnya, karena kalau tidak, tentu pedang itu tidak ada gunanya baginya dan mudah dirampas orang lain yang lebih tinggi kepandaiannya."
"Ya, sayang sekali aku tidak memiliki kepandaian seperti engkau, Ji-te."
"Sudahlah, engkau ingin melihat keramaian atau tidak? Kalau engkau takut, tinggallah saja disini. Di sini engkau aman, akan tetapi kalau engkau ikut aku, mungkin saja engkau akan terancam bahaya karena yang akan mengadakan pertandingan adalah orang-orang yang berilmu tinggi."
"Ada engkau di dekatku, takut apa?" Si Kong tertawa. "Engkau tentu tidak akan tinggal diam saja kalau ada orang jahat mengancam aku, bukan?"
"Tentu saja! Ah, sudahlah, mari kita berangkat," Siangkoan Ji menggendong buntalan pakaiannya dan Si Kong juga mengikatkan buntalan pakaiannya di ujung tongkat bambunya dan memikul tongkat bambu itu. Diam-diam dia merasa kagum kepada sahabat barunya itu.
Masih begitu muda akan tetapi memiliki ilmu kepandaian tinggi dan memiliki keberanian yang luar biasa pula. Setelah memadamkan api unggun, merekapun berangkat, keluar dari kuil itu dan mendaki ke arah puncak bukit.
Ketika mereka tiba di lereng dimana Siangkoan Ji pagi tadi dia melihat serombongan orang Kwi-jiauw-pang, ternyata tempat itu telah kosong dan orang-orang yang berada disitu pagi-pagi sekali sudah meninggalkan tempat itu. Mereka hanya melihat bekas api-api unggun yang besar, banyak tulang binatang berserakan dan bau arak masih dapat tercium ketika Si Kong dan Siangkoan Ji tiba disitu.
Siangkoan Ji mencari jejak mereka dan berkata "Mereka telah mendaki bukit. Itu jejak mreka. Sebaiknya kita mengambil jalan lain agar tidak bertemu dengan mereka, mencari tempat yang enak untuk bersembunyi dan mengintai apa yang terjadi di puncak."
Si Kong menurut saja karena pemuda remaja itu agaknya sudah mengenal betul daerah ini. Mereka masuk keluar hutan, menyusup di antara semak belukar dan ilalang yang tinggi sampai ke pundak mereka dan akhirnya mereka tiba di puncak.
Siangkoan Ji mengajak Si Kong bersembunyi di balik semak belukar dan mengintai ke arah puncak yang merupakan padang rumput yang luas.
Mereka sudah melihat belasan orang berkumpul di tengah lapangan itu, ada yang berdiri dan ada yang duduk. Sebuah tiang bendera berdiri di situ dengan benderanya yang berkibar ditiup angin pagi.
Dari tempat mereka berdua mengintai, nampak bahwa bendera itu bergambar sebuah tangan yang merupakan cakar yang kukunya tajam melengkung dan mengerikan. Tanpa penjelasan lagi, Si Kong mengerti bahwa orang-orang yang jumlahnya lima belas itu tentu orang-orang Kwi-jiauw-pang seperti yang diberitakan Siangkoan Ji tadi.
Akan tetapi yang membuat jantung dalam dada Si Kong berdebar adalah ketika dia melihat seorang di antara mereka yang pakaiannya berbeda dengan yang lain. Kalau orang-orang lain berpakaian serba hitam dengan sabuk merah, maka yang seorang ini berpakaian serba merah! Teringat akan pesan Kiok Nio, Si Kong memandang dengan penuh perhatian.
Orang berjubah merah itu berusia kurang lebih enampuluh tahun bermuka kepucatan seperti orang sakit, tubuhnya tinggi kurus namun kelihatan kokoh.
Dia memegang sebuah kipas dengan tangan kirinya dan sedang menggerak-gerakkan kipas seperti orang kepanasan.
Padahal pagi itu hawanya cukup dingin. Si Kong berpikir bahwa agaknya tidak salah lagi. Kakek inilah yang dicari oleh Tan Kiok Nio. Kakek inilah yang telah membunuh orang tua Kiok Nio dan merampas pedang dari tangan ayahnya. Dan orang itu agaknya menjadi pemimpin orang-orang Kwi-jiauw-pang!
"Ji-te, apakah kakek berjubah merah itu ketua Kwi-jiauw-pang?" bisiknya lirih dekat telinga Siangkoan Ji.Siangkoan Ji mengangguk. "Mungkin sekali, aku sendiri belum pernah melihatnya."
"Tahukah engkau siapa namanya?"
"Kalau tidak salah, nama julukannya adalah Ang I Sianjin, karena pakaiannya selalu merah. Kabarnya ilmu kepandaiannnya lihai sekali dan senjatanya adalah kipas dan pedang. Dia sudah lihai masih membawa anak buahnya, empat belas orang banyaknya. Tentu akan ramai sekali nanti." bisik Siangkoan Ji dekat telinga Si Kong.
Mereka berjongkok di balik semak belukar, berdekatan. Tiba-tiba Si Kong mengerutkan alisnya. Berjongkok berdekatan dengan Siangkoan Ji, dia mencium bau harum seperti ketika dia tidur di dalam kuil. Tahulah dia bahwa yang berbau harum adalah Siangkoang Ji! Mengapa seorang laki-laki, pengemis pula, memakai wangi-wangian?
Akan tetapi perhatiannya segera tertarik ketika dia ditepuk pundaknya oleh Siangkoan Ji. "Lihat itu….!"
Si Kong melihat munculnya lima orang dan kembali jantungnya berdebar penuh ketegangan. Dia mengenal baik lima orang itu. Mereka bukan lain adalah Bu-tek Ngo-sian, lima orang yang dulu datang bersama Toa Ok dan Ji Ok mengeroyok Ceng Lojin.
Biarpun mereka semua dikalahkan Ceng Lojin, namun gurunya yang sudah tua renta itupun terluka hebat dalam tubuhnya, mengakibatkan kematiannya. Dan sekarang Bu-tek Ngo-sian berada di tempat itu.
Agaknya kakek berjubah merah itu telah mengenal Bu-tek Ngo-sian (Lima Dewa tanpa Tanding) itu. Dia melangkah maju, menutup kipasnya dan memberi hormat.
"Kiranya Bu-tek Ngo-sian ikut datang! Selamat datang, Ngo-sian. Kuharap saja nanti kalian tidak mengandalkan keroyokan untuk mencari kemenangan!"
Bu-tek Ngo-sian adalah lima orang yang sudah bersumpah sebagai saudara, walaupun mereka itu tidak ada hubungan keluarga satu dengan yang lain. Yang pertama atau tertua bernama Ciok Khi, bertubuh tinggi besar dan bermuka penuh cacat bekas cacar.
Orang kedua berusia empatpuluh lima tahun, lima tahun lebih muda dibandingkan Ciok Khi, bernama Sia Leng Tek, bertubuh tinggi kurus dan mukanya agak pucat seperti orang berpenyakitan.
Orang ketiga berusia empatpuluh tiga tahun, wajahnya penuh brewok dan tubuhnya sedang tegap, bernama Cong Boan.
Orang keempat bertubuh pendek gendut, usianya sekitar empatpuluhan dan biarpun tubuhnya pendek gendut, namun kelihatan gesit, orang ini bernama Bwa Koan Si.
Adapun orang kelima bertubuh pendek kecil seperti orang katai, usianya kurang dari empatpuluh tahun. Si katai ini memiliki mata yang tajam bersinar-sinar seperti burung rajawali. Wajahnya juga kecil dan namanya Bhe Song Ci.
Mendengar ejekan Ang I Sianjin itu, Ciok Khi yang mewakili adik-adiknya berkata, suaranya menggelegar parau, "Ang I Sianjin, engkau membawa empat belas orang anak buah, yang khawatir menghadapi keroyokan bukan engkau, melainkan kami!"
"Ha-ha-ha!" tawa Ang I Sianjin. "Anak buahku ini hanya akan bergerak kalau aku dikeroyok, akan tetapi hanya menjadi saksi kalau aku berhadapan dengan seorang lawan. Kalian tidak perlu khawatir, pedang dan kipasku sudah cukup untuk mengalahkan setiap orang lawan yang berani menantangku!"
"Ha-ha-ha, ucapan yang bagus sekali!" Tiba-tiba terdengar suara orang lain dan sesosok bayangan berkelebat dan disitu telah berdiri seoranng kakek berusia enampuluh tahunan, memegang sebatang tongkat kepala naga.
"Wah, Majikan Pulau Tembaga juga datang, tentu akan ramai sekali." bisik Siangkoan Ji. Si Kong menjawab dengan pertanyaan lirih,
"Apakah engkau mengenal pula lima orang itu?"
"Tentu saja! Mereka adalah Bu-tek Ngo-sian, lima orang yang sombong sekali sehingga mengaku diri sebagai dewa yang tidak terkalahkan."
Si Kong diam-diam memuji Siangkoan Ji. Pemuda ini benar-benar luas pengetahuannya tentang dunia kangouw sehingga mengenal para tokoh itu. Dia sendiri kalau belum pernah bertemu dengan orang-orang itu, tentu tidak akan mengenal mereka.
"Selamat bertemu, Tung-hai Liong-ong! Agaknya engkaupun tertarik akan berita tentang Pek-lui-kiam itu!"
"Ha, siapa yang tidak akan tertarik? Katakanlah, apakah benar berita yang kudengar bahwa sekarang pedang pusaka itu berada padamu, Ang I Siangjin?"
"Aku tidak menyangkal juga tidak mengaku. Ketika itu, kukatakan bahwa siapapun boleh menyelidiki sendiri."
"Hi-hi-hik, ucapan yang mengandung kesombongan dan juga kelicikan!" Suara wanita ini terdengar jelas dan sesosok bayangan berkelebat. Ketika semua mata memandang, ternyata di situ telah berdiri seorang wanita yang berusia empatpuluh tahu n lebih, namun masih nampak cantik dan pakaiannya mewah. Dipunggungnya tergantung sebatang pedang dan tangan kirinya memegang sebuah hud tim (kebutan).
"Kau juga mengenal wanita itu, Ji-te?" tanya Si Kong.
"Tentu saja. Ia disebut Ang-bi Mo-li, seorang tokoh yang lihai juga."
Si Kong makin kagum saja. Dia memang mengenal wanita ini ketika dia bekerja sebagai penggembala kerbau milik Tong Li Koan, majikan Bukit Bangau. Bahkan dia pernah bertanding melawan wanita itu dan dapat mengalahkannya.
Ketika itu usianya baru limabelas atau enambelas tahun.
Akan tetapi dengan heran Si Kong melihat bahwa wanita itu tidak nampak lebih tua, masih seperti dulu.
"Bagus, kini suasana menjadi meriah!" kata Ang I Sianjin. "Ang-bi Mo-li rupanya juga ingin menguasai pedang Pek-lui-kiam."
"Aku tidak malu mengaku bahwa memang demikianlah, aku ingin merampas pedang pusaka itu. Akan tetapi ucapanmu itu tadi mengandung kelicikan.
Kalau pedang pusaka itu memang ada padamu, katakan saja terus terang dan pertahankanlah dengan kepandaianmu. Sebaliknya kalau tidak ada padamu, siapa ingin bersusah payah berkelahi denganmu?"
Sebelum Ang I Sianjin menjawab, Tung-hai Liong-ong sudah melompat ke depan Ang-bi Mo-li. "Ang-bi Mo-li, daripada engkau maju sendiri melawan Ang I Sianjin, lebih baik engkau menjadi isteriku dan kita bersama menandinginya. Kau lihat, Ang I Sianjin datang bersama anak buahnya."
Wajah Ang-bi Mo-li menjadi merah dengan marah ia menghadapi Tung-hai Liong-ong. Dengan kebutannya ia menuding ke arah muka kakek itu dan suaranya melengking tinggi karena ia marah sekali.
"Tung-hai Liong-ong! Sejak dulu engkau membujuk dan merayu aku. Sudah kukatakan bahwa aku tidak sudi menjadi isterimu. Sekarang di depan banyak orang engkau kembali menghinaku. Engkau pantas kuhajar!" Ia menerjang maju dan menggerakkan kebutannya mengarah mata lawan.
Tung-hai Liong-ong cepat mengelak dan menggerakkan tongkat kepala naganya dan menyambar ke arah kaki wanita itu. "Engkau memang harus di tundukkan dengan kekerasan!" kata Tung-hai Liong-ong.
Ang-bi Mo-li meloncat untuk menghindarkan diri dari serangan ke arah kakinya itu. Sambil meloncat ia sudah mencabut pedangnya dan menyerang dengan pedang dan kebutannya. Namun, Tung-hai Liong-ong adalah seorang datuk yang memiliki ilmu kepandaian tinggi. Dia memutar tongkat kepala naga dan kedua senjata wanita itu tidak mampu menembus gulungan sinar tongkat itu.
Si Kong memperhatikan dan melihat betapa ilmu pedang Ang-bi Mo-li sudah jauh lebih maju dari pada dahulu. Akan tetapi diapun tahu betapa lihainya Tung-hai Liong-ong, maka pertandingan itu tentu akan berlangsung seru.
Ketika dia melirik ke kiri, dia melihat Siangkoan Ji juga menonton dengan wajah gembira dan jarang berkedip. Dia ingin mencoba pengetahuan pemuda itu dalam ilmu silat.
"Ji-te, kaukira siapakah yang bakal menang atau kalah dalam pertandingan itu?"
Tung-hai Liong-ong tidak bersungguh-sungguh ketika mengatakan bahwa dia ingin mengambil Ang-bi Mo-li sebagai isterinya.
Dia sengaja mengeluarkan kata-kata itu untuk membuat Ang-bi Mo-li marah dan menyerangnya. Inilah yang dikehendaki, yaitu agar dia menyingkirkan dulu seorang saingan dalam memperbutkan pedang pusaka itu." Kata Siangkoan Ji dengan suara sungguh-sungguh.
"Dan kaupikir siapa yang akan menang?"
"Hemm, mudah di duga. Betapapun lihainya kebutan dan pedang Ang-bi Mo-li, ia kalah tenaga dan tingkat kepandaiannya masih di bawah Tung-hai Liong-ong, Mo-li pasti kalah."
Diam-diam Si Kong kagum. Ucapannya yang mengatakan bahwa Tung-hai Liong-ong menggunakan siasat untuk memancing kemarahan Ang-bi Mo-li memang masuk akal, kemudian penilaiannya tentang pertandingan itupun tepat sekali. Si Kong sudah dapat melihat sejak tadi bahwa Ang-bi Mo-li pasti akan kalah.
Pertandingan itu masih berlangsung seru. Kedua pihak mengerahkan sekuruh tenaga dan mengeluarkan semua ilmu mereka. Akan tetapi jelas bahwa Mo-li kalah tenaga. Setiap kali pedangnya bertemu dengan tongkat Tung-hai Liong-ong, pedang itu terpental.
Tongkat Liong-ong menyambar ganas dan Mo-li menyambut dengan kebutan tangan kirinya. Bulu-bulu kebutan itu membelit tongkat dan pedang tangan kanannya menusuk dada.
Akan tetapi biarpun tongkatnya sudah terbelit kebutan, Liong-ong masih dapat menggerakkannya dengan tenaga besar sehingga sehingga tangan Mo-li terbetot dan kalau dia tidak melepaskan kebutan tentu ia akan tertarik. Ia melepaskan kebutannya dan pedangnya meluncur terus menusuk dada. Liong-ong menggerakkan tongkatnya.
"Tranggg….!" Bunga api berpercikan dan tubuh Mo-li terhuyung ke belakang, pedangnya sudah lepas dari pegangan tangannya dan melayang jauh. Ujung tongkat itu secepat kilat sudah menempel di dadanya.
Tung-hai Liong-ong tersenyum menyeringai. "Bagaimana, Mo-li. Akan kau teruskan penyeranganmu?"
Wajah yang cantik itu sebentar pucat sebentar merah. Dikalahkan seorang datuk besar seperti Tung-hai Liong-ong memang wajar, akan tetapi dia dikalahkan di depan orang banyak, ini merupakan penghinaan baginya.
"Sekali ini aku kalah, akan tetapi akan datang saatnya aku menebus kekalahan ini!" setelah berkata demikian, ia mengambil kebutan dan pedangnya, lalu lari dengan cepat meninggalkan puncak itu.
Melihat wanita itu kalah, Siangkoan Ji lupa bahwa dia sedang mengintai dan bersembunyi. Dia bersorak dan berkata dengan bangga kepada Si Kong.
"Nah, benar tidak kataku? Perempuan Iblis itu pasti kalah!"
Setelah ucapannya keluar barulah Siangkoan Ji teringat dan dia terkejut sendiri lalu berjongkok kembali, akan tetapi sudah terlambat. Ang I Sianjin tadi sudah mendengar dan melihatnya. Dia memberi aba-aba kepada anak buahnya.
"Tangkap pengintai itu!"
Empatbelas orang anak buahnya sudah lari ke arah semak belukar itu. Melihat ini, Si Kong lalu melompat keluar dan berkata, "Kami hanya menonton, tidak ada maksud apa-apa."
Akan tetapi Tung-hai Liong-ong mengenal Si Kong. Lima tahun yang lalu ketika dia bertempur dengan Yok-sian Lo-kai, pemuda itu menjadi murid Yok-sian Lo-kai dan sudah mengalahkan muridnya yang bernama Ouwyang Kwi.
Kemudian ketika Ouwyang Kwi menangkap seorang puteri Gu Kauwsu di Sin-keng, muncul lagi pemuda itu dan dia malah telah membunuh Ouwyang Kwi. Dan dia sendiri yang menandingi pemuda itu, akan tetapi dia kalah! Maka dengan marah dia lalu berseru, "Bunuh pemuda itu! Dia pasti datang untuk merampas Pek-lui-kiam!"
Mendengar ini, Ang I Sianjin membentak para muridnya untuk cepat menerjang Si Kong, sedangkan Tung-hai Liong-ong sendiri sudah melintangkan tongkatnya di depan dada, siap untuk menyerang.
"Srigala-srigala biadab!" tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dibarengi munculnya tiga
batang anak panah tangan dan tiga orang anak buah Ang I Sianjin roboh dan berkelojotan lalu tewas! Siangkoan Ji kini meloncat keluar dan berjaga di depan Si Kong.
Kembali Siangkoan Ji menggerakkan kedua tangannya dan ada dua batang anak panah meluncur ke arah Ang I Sianjin dan Tung-hai Liong-ong. Akan tetapi dua orang datuk ini menyambar panah tangan itu dengan cengkeraman tangannya.
Melihat panah tangan yang ujungnya kehijauan menghitam itu dan pada gagangnya tertulis dua huruf Lam-tok (Racun Selatan), dua orang datuk itu terkejut sekali.
"Apa hubunganmu dengan Lam-tok?" Ang I Sianjin bertanya setengah membentak.
"Mau tahu apa siapa aku dan apa hubunganku dengan Lam-tok? Ketahuilah bahwa aku adalah anaknya!"
"Anak Lam-tok? Apa hubunganmu dengan pemuda itu?" Tung-hai Liong-ong menuding ke arah Si Kong.
"Ha-ha, dia adalah sahabatku, sahabat yang baik. Karena itu siapa yang hendak mengganggunya akan berhadapan dengan aku! Kalian boleh maju satu-satu melawan aku. Awas, kalau main keroyokan aku akan memberitahu ayahku. Hendak kulihat kalian dapat bersembunyi dimana!"
Mendengar omongan besar ini, Ang I Sianjin dan Tung-hai Liong-ong saling pandang. Bagaimanapun juga, mereka berdua sudah lama mendengar nama Lam-tok dan betapa lihai dan kejamnya datuk selatan ini.
Bocah itu boleh jadi membual, akan tetapi bagaimana kalau dia benar-benar putera Lam-tok, dan anak panahnya itupun jelas senjata rahasia dari Lam-tok yang mengandung racun ampuh sekali. Tiga orang anak buah Kwi-jiauw-pang langsung tewas begitu terkena panah itu!
"Aku harus membunuh bocah itu untuk membalas kematian muridku, engkau putera Lam-tok harap minggir dan jangan mencampuri urusan kami!" Tung-hai Liong-ong berkata, nada suaranya seperti memohon.
"Enak saja! Dia adalah sahabat baikku, kalau engkau menyerang dia, sama dengan menyerang aku."
"Ji-te, biarlah aku menghadapi dia, jangan engkau ikut campur."
Siangkoan Ji membelalakkan mata memandang kepada Si Kong.
"Kong-ko, jangan main-main. Tung-hai Liong-ong ini kejam dan lihai sekali. Bukan hanya tongkat berkepala naga itu yang hebat, akan tetapi ilmunya Tok-ciang lebih berbahaya lagi. Biarkan aku menandinginya, Kong-ko!"
"Aku tahu, Ji-te. Dan aku tahu pula bahwa aku dapat menandinginya. Yang ditantang adalah aku, tidak baik kalau engkau melawannya." Si Kong lalu meloncat ke depan kakek itu dan berkata, "Hayo, Tung-hai Liong-ong, kita selesaikan perhitungan lama ini."
Tung-hai Liong-ong marah sekali. Sejak dikalahkan oleh Si Kong dahulu, dia memperdalam ilmunya sehingga kini tongkat dan Tok-ciang (Tangan Beracun) yang dikuasainya menjadi semakin lihai saja.
Dia merasa yakin bahwa sekali ini dia tentu akan dapat mengalahkan dan membunuh pemuda yang dibencinya itu.
Akan tetapi sebelum dia bergerak, Siangkoan Ji sudah membentak dan memperingatkan. "Awas, kalau main keroyokan, terpaksa aku akan menggunakan panah beracun!"
Biarpun sudah berkata demikian, tetap saja Siangkoan Ji merasa khawatir sekali kalau-kalau sahabathnya ini tidak mampu menandingi kehebatan Tung-hai Liong-ong dan akan roboh di tangan kakek itu. Maka diam-diam diapun sudah menyiapkan panah beracunnya untuk sewaktu-waktu kalau kawannya terdesak.
Sementara itu, Ang I Sianjin juga diam-diam memberi isyarat kepada anak buahnya untuk bersiap siaga. Dia khawatir juga, karena mungkin saja pemuda dan dan anak Lam-tok itu akan merampas Pek-lui-kiam yang dimilikinya.
Dia hampir yakin bahwa Tung-hai Liong-ong akan mampu mengalahkan pemuda itu. Bagaimanapun juga, Si Kong hanya seorang pemuda yang usianya kurang lebih duapuluh tahun, sedangkan Tung-hai Liong-ong adalah seorang datuk yang kepandaiannya sudah terkenal di seluruh dunia persilatan.
Akan tetapi tidak demikianlah dengan pemikiran Tung-hai Liong-ong. Dia sama sekali tidak berani memandang ringan pemuda yang berdiri di depannya itu.
Si Kong sudah melepaskan pakaiannya dari ujung tongkat bambunya dan sekarang memegang tongkat bambunya itu dengan tangan kanan sedangkan tangan kirinya bertolak pinggang. Sikapnya ini menanti serangan lawan dan nampaknya dia tenang dan santai saja. Dia tidak memandang rendah kepandaian lawannya, akan tetapi merasa yakin bahwa dia akan dapat mengalahkannya.
"Mari, Tung-hai Liong-ong, aku sudah siap menghadapi tongkat nagamu dan pukulan Tok-ciangmu yang selalu kaupergunakan untuk perbuatan jahat."
"Bocah lancang dan sombong. Bersiaplah untuk mati di tanganku!" kata Tung-hai Liong-ong dan diapun sudah memutar tongkat naganya dan menyerang dengan dahsyat.
Begitu menyerang, Tung-hai Liong-ong sudah menggunakan jurus maut dan mengisi serangan itu dengan seluruh tenaganya. Si Kong melihat ini dan diapun tahu bahwa lawannya amat bernafsu untuk membunuhnya, maka diapun tidak memandang ringan.
Ketika tongkat menyambar menusuk dadanya, dia menggeser kaki ke kanan sehingga tusukkan tongkat itu tidak mengenai sasaran.
Akan tetapi begitu luput menusuk, tongkat itu dengan gerakan memutar membalik dan kini menghantam ke arah kepala Si Kong.
"Tunggg…..!" Ujung tongkat yang terbuat dari baja dan runcing itu mengeluarkan suara berdengung ketika di tangkis tongkat bambu yang di pegang Si Kong. walaupun hanya tongkat bambu, akan tetapi ternyata tongkat kepala naga itu terpental ketika bertemu. Tung-hai Liong-ong terkejut.
Pertemuan pertama tongkatnya dengan tongkat bambu itu sudah membuktikan betapa kuatnya pemuda yang menjadi musuh besarnya karena telah membunuh muridnya itu.
"Heiiiiittt!"
Dia mengeluarkan suara nyaring dan kini tongkatnya menyambar-nyambar, diselingi pukulan tangan kirinya yang mengandung hawa beracun.
Tamparan tangan kiri itu kalau mengenai tubuh lawan seketika membunuhnya dengan tubuh hangus, demikian hebatnya ilmu Tok-ciang yang sudah dikuasai sepenuhnya oleh Tung-hai Liong-ong.
Akan tetapi Si Kong sudah tahu benar akan hal ini, maka dengan kelincahan seekor burung walet, dia dapat menghindarkan diri dengan loncatan ke samping dari situ dia menotok tubuh lawan bagian lambung.
"Tunggg…..!" kembali tongkat naga bertemu tongkat bambu ketika Tung-hai Liong-ong menangkis totokan itu. Dan sekali lagi datuk itu merasa betapa tangannya yang memegang tongkat tergetar hebat.
Dia terkejut sekali melihat kenyataan bahwa dalam hal tenaga sakti, dia masih kalah oleh pemuda itu.
Pertempuran dilanjutkan dengan lebih seru lagi. Tung-hai Liong-ong mengerahkan seluruh tenaganya dan mengeluarkan seluruh ilmunya.
Bagi dia, sekali ini merupakan pertandingan mempertahankan nama dan kehormatan, juga pembalasan dendam kematian muridnya. Namun, kemanapun dia menyerang, selalu dapat dielakkan atau ditangkis tongkat bambu.
Dengan tenang namun waspada dan cepat sekali, Si Kong menghindarkan semua serangan bahkan dia membalas serangan lawan setiap kali terbuka kesempatan.
Beberapa kali dia membuat Tung-hai Liong-ong terhuyung bingung karena serangan tongkatnya dengan ilmu Ta-kaw Sin-tung yang merupakan sumber semua ilmu tongkat.
Siangkaon Ji memandang dengan mata terbelalak dan mulut ternganga. Dia menjadi bengong. Seujung rambutpun dia tidak pernah menduga bahwa kawannya itu memiliki kepandaian demikian tingginya sehingga mampu menandingi bahkan mendesak seorang datuk besar seperti Tung-hai Liong-ong.
Dan dia melihat betapa ilmu tongkat yang dimainkan So Kong lucu dan hebat. Penampilan tongkat itu kadang lambat dan kadang cepat sekali, seolah-olah pemuda itu bermain dengan sebuah kitiran angin! Hampir dia berjingkrak dan bersorak saking kagumnya. Akan tetapi dia tetap waspada kalau-kalau kawannya itu terancam bahaya.
Ang I Sianjin memandang dengan hati cemas. Diapun dapat melihat betapa Tung-hai Liong-ong terdesak hebat oleh tongkat bambu pemuda lawannya itu. Dia berpikir. Kalau Tung-hai Liong-ong kalah, berarti dia harus menghadapi pemuda lihai itu dan pemuda putera Lam-tok.
Berbahay sekali baginya kalau harus menghadapi kedua orang pemuda itu. Sebaliknya kalau pemuda itu kalah dan dapat dibinasakan, dia dan Tung-hai Liong-ong akan dapat menghadapi putera Lam-tok. Tentu saja berpihak kepada Tung-hai Liong-ong lebih menguntungkan.
Diam-diam dia lalu memberi isyarat kepada anak buahnya. Melihat isarat ini, lima orang anak buahnya lalu mengepung Si Kong dan mereka berlima kini sudah menyambung tangan mereka dengan sejata cakar setan. Senjata ini tidak boleh dipandang ringan karena sekali lawan terkena guratan tentu nyawanya akan melayang karena keracunan!
Sejak tadi kelima Bu-tek Ngo-sian menonton dengan alis berkerut. Mereka juga terkejut mendapat kenyataan bahwa pengemis muda itu adalah putera Lam-tok. Mereka menjadi jerih. Kalau sampai terdengar Lam-tok bahwa mereka bermusuhan dengan puteranya, tentu Lam-tok menjadi marah dan tidak akandapat mengampuni mereka.
Pula, lima orang datuk ini mempunyai harga diri. Tidak mau mereka melakukan pengeroyokan kepada dua orang muda itu. Maka Ciok Khi yang paling tua memberi isarat kepada empat orang rekannya untuk pergi saja dari situ. Merekapun melompat jauh dan berlari meninggalkan tempat itu.
Melihat lima orang hendak mengeroyok Si Kong, kembali kedua tangan Siangkoan Ji bergerak dan empat batang anak panah meluncur secepat kilat ke arah ;ima orang itu. Dua orang dari mereka dapat mengelak, akan tetapi dua yang lain roboh sambil menjerit lalu berkelojotan tewas!
Bukan main marahnya Ang I Sianjin. Lima orang anak buahnya telah tewas terkena anak panah itu. Dia memberi isyarat kepada anak buahnya yang tinggal sembilan orang itu. Anak buah Kwi-jiauw-pang mengerti akan arti isarat itu dan mereka semua terpecah menjadi dua rombongan. Emnpat orang mengeroyok Si Kong dan lima orang sudah siap membantunya.
"Bocah kurang ajar! Berani engkau membunuhi anak buahku?" bentaknya dan diapun sudah mencabut pedang di punggungnya dan kipas di pegang di tangan kirinya.
Setelah begitu, dia menerjang Siangkoan Ji dengan membabi buta saking marahnya, Siangkoan Ji mengelak dengan cepatnya, berlompatan ke kanan kiri, kadang ke atas. Kini dia tidak mendapat kesempayan untuk menggunakan anak panahnya.
Akan tetapi begitu tangannya bergerak, dia sudah mencabut sepasang pisau belati atau pedang kecil yang disembunyikan di bawah jubahnya yang kebesaran.
Dan begitu dia memegang sepasang belati itu, diapun kini dapat membalas serangan Ang I Sianjin dengan nekat!
Biarpun sedang bertanding melawan Tung-hai Liong-ong, akan tetapi Si Kong tidak pernah melepaskan perhatiannya begitu dia melihat kawannya bertanding melawan Ang I Sianjin. Jantungnya berdebar karena tegang dan gelisah.
Sekali pandang saja tahulah bahwa Ang I Sianjin bukan lawan Siangkoan Ji, dan pemuda jembel itu terancam bahaya maut!
Saat itu, tongkat naga menyambar ke arah kepalanya. Si Kong menangkis dengan tongkat bambunya dan mengerahkan tenaga sinkangnya sehingga tongkat itu tidak dapat terlepas dari tempelan tongkat bambu.
Ketika lawan agak terkejut melihat ini, Si Kong sudah mengeluarkan jurus Hok-liang Sin-ciang, menghantam ke arah perut lawan. Tung-hai Liong-ong masih dapat menangkis, akan tetapi pukulan ke arah perut itu di tangkis turun dan tetap mengenai pahanya.
"Dess…!"
Tubuh Tung-hai Liong-ong terlempar. Empat orang anak buah Kwi-jiauw-pang menyerang Si Kong, akan tetapi dengan gerakan tongkatnya dia mampu membuat empat orang itu roboh dan tak dapat bergerak lagi karena sudah tertotok jalan darah mereka.
Si Kong menoleh ke arah Siangkoan Ji. Dia terkejut sekali karena kini pemuda jembel itu dikeroyok enam orang yang lihai ilmu kepandaiannya, yaitu Ang I Sianjin dan lima orang anak buahnya.
Dengan sepasang pisau belatinya Siangkoan Ji membela diri, akan tetapi pihak lawan terlalu kuat baginya. Baru menanding Ang I Sianjin saja dia sudah kewalahan, apalagi kini Ang I Sianjin di bantu lima orang anak buahnya!
Sebuah tangan cakar iblis telah mengenai pundaknya, dan dadanya juga di sengat ujung kipas. Siangkoan Ji terhuyung lalu roboh. Lima orang anggauta Kwi-jiauw-pang hendak menurunkan tangan maut, akan tetapi pada saat itu, sesosok bayangan berkelebat dan tahu-tahu mereka berlima sudah terpelantingan dan roboh oleh terjangan Si Kong. Si Kong yang melihat kawannya terdesak, segera meloncat untuk menolong.
Akan tetapi dia sedikit terlambat karena Siangkoan Ji sudah roboh. Dengan kemarahan dan kekhawatiran, Si Kong lalu menggunakan jurus Hwi-liong Sin-ciang (Tangan Sakti Naga Terbang) dia meloncat dan menerjang lima orang yang menghampiri Siangkoan Ji dan hendak membunuhnya itu.
Terjangannya disertai tenaga dalam yang demikian hebatnya sehingga lima orang itu terpental roboh. Melihat ini, Ang I Sianjin menyerang Si Kong dengan pedang dan kipasnya.
Akan tetapi Si Kong yang sudah marah, bahkan menyambut serangannya dengan gerakan tongkat yang aneh.
Tahu-tahu pergelangan tangan kanan tertotok sehingga pedang itu terlepas, dan ketika kipas menyambar, Si Kong menggerakkan tongkatnya menyambut.
"Breett….!" kipas itu pecah dan Ang I Sianjin terhuyung.
Dia melihat betapa Tung-hai Liong-ong sudah melarikan diri dengan terpincang-pincang, maka melihat bahwa dia sudah tidak mempunyai kawan lagi, tanpa malu-malu Ang I Sianjin menyambitkan sisa kipasnya ke arah Si Kong.
Pemuda ini menangkis, dan dia melihat Ang I Sianjin sudah melarikan diri. Dia hendak mengejar, akan tetapi terdengar rintihan Siangkoan Ji. Cepat dia membalik dan memeriksa keadaan kawannya itu. Siangkoan Ji berada dalam keadaan setengah pingsan.
Melihat ini, Si Kong segera memondongnya pergi dari situ, mencari tempat yang tenang dan bersih. Dia berhenti di bawah sebatang pohon besar lalu merebahkan Siangkoan Ji di atas tanah yang ditilami daun-daun kering itu.
Melihat baju di bagian pundak hangus dan bagian dada terobek, Si Kong lalu merobek dibagian pundak. Dia mengerutkan alisnya melihat betapa dipundak itu nampak bekas cakaran yang menghitam!
Tahulah dia bahwa kawannya itu menderita luka beracun yang ganas sekali. Cepat ditotoknya semua jalan darah di bagian leher dan pundak untuk mencegah agar racun itu tidak menjalar kemana-mana, terutama ke jantung dan kepala. Kemudian dia memeriksa detik nadi Siangkoan Ji.
Dia membelalakkan mata dan menggeleng-geleng kepalanya.
Detik nadinya biasa-biasa saja seperti seorang yang sehat. Namun pemuda remaja itu harus diselamatkan.
Maka tanpa ragu lagi dia menempelkan mulutnya pada pundakitu dan menyedot dengan kuat.
Darah yang terasa pahit memasuki mulutnya dan dia meludahkan darah itu.
Sampai tiga kali dia menyedot dan meludahkan darah yang tersedot. Kemudia dia memeriksa lagi. Warna hitam itu sudah hampir lenyap sama sekali. Dia lalu mengambil sebuah botol kecil terisi obat yang lunak. Diolesinya bekas luka itu dan diapun bernapas lega. Kawannya telah tertolong.
Melihat pakaian pada dada Siangkoan Ji terobek panjang seperti digurat pedang, diapun membuka pakaian dibagian dada itu.
"Ihhh….!"
Seperti dipagut ular, Si Kong meloncat jauh ke belakang. Dia berdiri dengan mata terbelalak, melihat ke arah baju yang sudah terbuka bagian dadanya. Dia melihat buah dada yang menonjol. Buah dada seorang wanita! Si Kong berdiri dan merasa betapa kedua kaki dan kedua tangannya tergetar menggigil seperti orang terserang demam.
Ia lalu memejamkan matanya dan mengatur pernapasannya agar jantungnya tidak berdebar begitu keras lagi. Kemudian dia menghampiri tubuh Siangkoan Ji, dengan hati-hati menutupkan kembali baju bagian dada yang terbua itu. Kembali dia memeriksa nadi tangan kawannya yang ternyata seorang gadis itu. Denyut nadinya normal, pertanda bahwa luka di dada itu tidak terlalu berat.
Setelah memeriksa dan merasa lega bahwa gadis itu tidak menderita luka yang parah, Si Kong menjauhkan diri lagi dan tidak melihat ke arah Siangkoan Ji. Akan tetapi dia segera memejamkan matanya karena di depan matanya terbayang dada dan pundak yang terbuka. Baru kini dia menyadari betapa lembut dan halus kulit pundak Siangkoan Ji ketika dia menyentuhnya untuk memberi obat. Dan mengingat bahwa bibirnya pernah menyentuh pundak itu, mengecup dan menyedotnya, dia bergidik!
Karena dia duduk membelakangi Siangkoan Ji, dia tidak melihat betapa gadis itu telah membuka matanya, mencoba bangkit berdiri akan tetapi pundaknya terasa nyeri sehingga ia duduk kembali. Tiba-tiba terlihat betapa bajunya dibagian dada dan pundak terbuka. Cepat-cepat dia menutupkan lagi baju dibagian dada yang terbuka.
Ketika ia hendak menutupkan bagian pundak, jari-jari tangannya menyentuh luka di pundak dan tahu bahwa pundak itu sudah diobati. Siapa lagi kalau bukan Si Kong yang mengobatinya? Akan tetapi, kalau demikian halnya, berarti pemuda itu telah melihat pundak dan dadanya!
Dengan mata bersinar marah dan kedua pipi kemerahan karena malu, dia memanggil, "Kong-ko…….!"
Si Kong terkejut, menengok dan wajahnya berubah menjadi merah. Gadis itu sudah duduk dan sepasang mata yang jernih tajam itu menatapnya dengan marah.
"Ah, engkau telah siuman, Ji-te?" tanyanya, pura-pura tidak tahu bahwa kawannya itu adalah seorang gadis.
"Kong-ko, engkaukah yang telah mengobati pundakku?"
Si Kong mengangguk. "Aku melihat engkau terluka dipundakmu karena bajumu robek. Ternyata engkau terluka oleh cakaran setan. Aku lalu mengeluarkan dan membuang racun itu."
"Bagaimana caranya engkau mengeluarkan racun dari pundakku?"
Wajah Si Kong menjadi lebih merah lagi. "Racun itu berada di bawah kulit pundakmu dan aku mengeluarkan dengan jalan menyedot dari luka pundakmu."
Wajah Siangkoan Ji juga menjadi semakin merah. "Dan….. apakah engkau memeriksa luka di dadaku?"
Si Kong menjadi semakin salah tingkah, merasa malu dan bingung untuk menjawab pertanyaan itu. Akan tetapi lebih baik berterus terang, karena dia membuka baju dibagian dada itu bukan sengaja, melainkan karena dia tidak tahu bahwa Siangkoan Ji adalah seorang wanita.
"Bagaimana, Kong-ko?" Siangkoan Ji mendesak.
"Itu….. eh, memang aku memeriksa luka itu. Hanya lecet, tidak berbahaya."
Siangkoan Ji mengeluarkan seruan marah dan ia sudah melupakan nyeri dipundaknya, meloncat berdiri menghampiri Si Kong. "Engkau pemuda kurang ajar!"
"Eh, Ji-te……"
"Tidak perlu berpura-pura lagi menyebutku Ji-te. Engkau berani membuka bajuku, hal itu sungguh memalukan sekali!" Gadis itu lalu mendekat dan tangan kanannya menampar pipi kiri Si Kong.
"Plak-plakk!" Dua kali ia menampar sehingga pipi kiri Si Kong menjadi merah sekali, "Engkau patut di hajar, laki-laki tak tahu malu!"
"Eh, Ji-te….. hemm, Ji-noi…. aku tadinya sama sekali tidak tahu bahwa engkau bukan seorang pria, maka aku berani membuka bajumu untuk memeriksa lukamu!"
Kedua tangan yang sudah dikepal untuk menyerang itu menjadi lemas dan tiba-tiba saja Siangkoan Ji mejatuhkan diri duduk di atas tanah dan menangis sesenggukan!
Si Kong menjadi semakin bingung, Siangkoan Ji tadinya dianggap seorang pemuda remaja yang gagah perkasa dan tabah, tidak mengenal takut, akan tetapi sekarang kenyataannya ia seorang wanita! Tangisnya yang mengguguk itu lebih jelas lagi menyatakan bahwa ia memang seorang gadis yang merasa terhina dan malu karena dadanya telah terlihat oleh seorang pria!
"Ji-te…. eh, Ji-moi, kau maafkanlah aku. aku tidak sengaja dan kalau aku tahu sebelumnya bahwa engkau seorang wanita, biar bagaimanapun juga aku tidak akan berani melakukan hal itu. Kalau engkau masih penasaran, pukullah aku lagi. Aku memang layak dipukul."
Akhirnya tangis gadis itu mereda dan iapun bangkit berdiri, wajah dan matanya kemerahan, dan kedua pipinya masih basah oleh air mata. Ia memandang kepada Si Kong dengan sinar mata tajam menyelidik.
"Engkau sudah tahu sekarang, tidak perlu lagi menyebutku Ji-te atau Ji-moi. Namaku yang sebenarnya bukan Ji."
"Ah, maaf. Aku tidak tahu. Siapakah namamu yang sesungguhnya?"
"Namaku Siangkoan Cu Yin, kalau menyamar sebagai pria aku selalu memakai nama Siangkoan Ji."
"Siangkaon Cu Yin? Nama yang bagus. Dan benarkah bahwa engkau puteri Lam-tok yang namanya menjulang tinggi, sangat terkenal di dunia persilatan itu?" Si Kong memang pernah mendengar sebutan Lam-tok dari kakek Ceng Lojin.
Menurut gurunya itu, di dunia ini terdapat empat orang datuk besar yang sakti. Pertama adalah Lam-tok (Racun Selatan), kedua Pai-ong (Raja Utara), ketiga Tung-giam-ong (Raja Maut Timur), dan keempat adalah sepasang datuk yang selalu bekerja sama, yaitu Toa-ok dan Ji-ok yang datang dari barat.
"Benar, aku adalah anak tunggal dari Lam-tok. Ayahku bernama Siangkoan Lok dan kami tinggal ditepi sungai Hung-kiang. Aku mendapat tugas dari ayahku untuk mencari dan merampas Pek-lui-kiam maka aku menyamar sebagai seorang pemuda jembel agar tidak ada yang mengetahui siapa sebenarnya diriku.
Akan tetapi engkau…… dengan tidak sengaja telah membuka rahasiaku, tahu bahwa aku seorang wanita, maka tidak perlu lagi aku bersembunyi darimu. Akan tetapi harap engkau tidak membocorkan rahasia ini dari siapapun."
"Penyamaranmu baik sekali, Yin-moi…."
"Kalau aku menyamar sebagai pemuda, sebut saja aku Ji-te agar tidak ada orang yang mengetahui rahasiaku."
"Baiklah, Ji-te. Penyamaranmu baik sekali. Tadinya akupun sama sekali tidak pernah menduga bahwa engkau seorang wanita."
"Kepandaian menyamar ini kupelajari dari mendiang ibuku. Beliau pernah menjadi sripanggung, pandai menyamar."
"Ada satu hal lagi yang mengherankan hatiku. Cakar setan itu amat berbahaya, mengandung racun yang amat berbahaya. Akan tetapi mengapa ketika kuperiksa pundakmu, racun itu hanya berhenti dibawah kulitmu, tidak menjalar dan tidak meracuni darahmu."
"Ayahku terkenal dengan julukan Racun Selatan, dan aku adalah anaknya.
Mana mungkin aku dan ayah dikalahkan dengan racun? Sebelum bertanding tadi aku yang tahu bahwa Kwi-jiauw-pang suka menggunakan racun, telah menelan sebuah pil buatan ayah. Pil itu dapat menolak segala macam racun, baik yang masuk ke dalam melalui luka atau yang masuk melalui mulut. Karena itulah racun yang masuk ke pundakku hanya sedalam bawah kulit."
"Wah, hebat sekali engkau, Ji-te, dan aku lega dan girang bukan main melihat engkau selamat, dan lebih girang lagi melihat engkau tidak marah kepadaku."
Siangkoan Cu Yin memandang wajah pemuda itu dan melihat betapa pipi kiri pemuda itu merah bekas tamparannya. Ia merasa menyesal dan malu. "Kong-ko, kau maafkanlah aku. aku tadi menamparmu karena merasa malu dan bingung."
"Tidak mengapa, Ji-te. Aku merasa bersalah dan lancang maka kalau engkau ingin menampar lagi, silakan, selagi aku masih berada di sini."
Cu Yin membelalakkan matanya. "Apa maksudmu, Kong-ko? Selagi engkau masih disini? Engkau hendak pergi kemanakah?"
"Terpaksa kita harus berpisah, Yin-moi. Engkau seorang gadis, dan aku seorang pemuda, tidak baik kita melakukan perjalanan bersama. Pula, engkau mendapat tugas dari ayahmu untuk mencari Pek-lui-kiam. Aku sendiri juga mencari Pek-lui-kiam, maka sebaiknya kita mencari secara terpisah. Lebih besar kemungkinan untuk dapat menemukan pedang pusaka itu."
"Akan tetapi, biarpun aku seorang wanita, aku sudah menyamar sebagai pria. Engkau sendiri mengatakan bahwa penyamaranku baik sekali. Tidak ada orang lain mengetahui bahwa aku sebenarnya seorang wanita.
Apa salahnya kalau kita berdua melakukan perjalanan bersama? Dalam pandangan orang lain, kita adalah dua orang muda laki-laki yang melakukan perjalanan bersama."
"Akan tetapi ingat, Yin-moi. Aku seorang pria dan aku sudah mengetahui bahwa engkau seorang wanita. Tidak, kita harus berpisah sekarang juga. Selamat tinggal, Yin-moi. Mudah-mudahan kita akan dapat bertemu kembali."
Kong-ko….!" Akan tetapi pemuda itu telah berkelebat lenyap dari depan Cu Yin. Gadis itu mengejar dan memanggil-manggil beberapa kali, namun ilmu lari cepat Si Kong demikian hebatnya sehingga sebentar saja sudah lenyap bayangannya. Cu Yin berhenti mengejar, membanting-ganting kaki kanannya dan air matanya berlinang.
"Kau….. kejam, meninggalkan aku seorang diri…..!" keluhnya. Gadis ini merasa amat tertarik kepada Si Kong, apalagi setelah ia mengetahui bahwa ilmu kepandaian pemuda itu tinggi sekali.
Tanpa ia sadari, ia telah jatuh cinta kepada pemuda itu, maka dapat dibayangkan betapa kecewa dan sedihnya hatinya ketika pemuda itu meninggalkannya.
Setelah menyatakan kekesalan hatinya dengan membanting-banting kaki, Cu Yin juga berlari cepat dengan harapan akan bertemu dengan Si Kong.
Akan tetapi bukan Si Kong yang ditemuinya, melainkan enam orang wanita berpakaian seragam biru-biru. Keenam orang wanita yang berusia antara duapuluh lima sampai tibgapuluh tahun dan semua memiliki kecantikan yang lumayan, menghadang di jalan dan segera memberi hormat kepada Cu Yin.
"Selamat bertemu, siocia (nona)."
"Heii, apa-apaan kalian ini berkeliaran disini? Apakah ayah berada di dekat sini?"
"Tidak, siocia. Kami diperintahkan oleh Lo-ya (tuan tua) untuk menyusul dan mencari nona."
"Untuk apa mencariku?"
"Kami ditugaskan untuk mengawal dan membantu siocia mencari Pek-lui-kiam. Bahkan Lo-ya mengatakan bahwa kalau sampai tiga bulan siocia belum kembali membawa Pek-lui-kiam, Lo-ya sendiri yang akan datang membantu siocia."
Agak terhibur hati Cu Yin yang kecewa karena ditinggal pergi Si Kong, karena kini ada enam orang pelayan ayahnya yang menemaninya. Mereka berenam ini rata-rata telah memiliki ilmu silat yang cukup tangguh.
"Apakah kalian tadi melihat seorang pemuda yang memakai caping lebar dan pakaian seperti petani?"
"Kami melihatnya, siocia. Dia memasuki kota Si-kiang di depan itu, siocia."
"Sekarang aku ingin berpakaian seperti gadis, apakah kalian dapay mencarikan pakaian itu?"
"Jangan khawatir, siocia. Kami sudah mempersiapkan sejak semula."
Benar saja. Enam orang pelayan itu sudah membawa beberapa pasang pakaian Cu Yin. Cu Yin segera berganti pakaian dan sebentar saja ia sudah berubah menjadi seorang gadis berusia delapan belas tahun yang cantik jelita!
Enam orang pelayan itu lalu membuat sebuah joli dan Cu Yin segera naik ke atas tandu itu dan menurunkan tirai tandu. Enam orang gadis itu menggotong tandu bergantian atas perintah Cu Yin dan mereka berangkat menuju ke kota Si-keng.
Si Kong tinggal di Si-keng selama empat hari. Dia berputar-putar di kota itu untuk mencari tahu kalau-kalau ada orang yang dapat menunjukkan di mana adanya Ang I Sianjin. Namun usahanya sia-sia belaka. Tidak ada orang yang melihat datuk berpakaian serba merah itu. Maka diapun lalu membayar sewa kamar di sebuah losmen, lalu melanjutkan perjalanannya keluar dari kota itu.
Baru beberapa li jauhnya dia meninggalkan Si-keng dengan perjalanan seenaknya, tiba-tiba dia mendengar bentakan wanita dibelakangnya. "Hei, ptani bodoh, minggir…!"
Si Kong membalikkan tubuhnya dan melihat empat orang wanita berpakaian serba biru memanggul sebuah joli, dan dua orang wanita lain berjalan di depan joli.
Hatinya mendongkol sekali. Dia sedang berjalan santai sambil melamun, mengenang kembali Siangkoan Ji yang ternyata Siangkoan Cu Yin itu.
Betapa bodohnya, berhari-hari lamanya melakukan perjalanan dengan seorang gadis yang disangkanya seorang laki-laki. Ketika mengenang kembali betapa dia sudah menyedot racun dari pundak yang kulitnya putih mulus dan lunak itu, jangtungnya berdebar dan mukanya berubah merah. Dia marah kepada diri sendiri. Mengapa dia mengenang gadis itu dengan hati terasa kehilangan dan kesepian?
Dalam keadaan mendongkol kepada hati akal pikirannya sendiri itulah dia dikejutkan oleh suara wanita yang menyuruhnya minggir dengan nada merendahkan.
Ketika dia membalik dan melihat bahwa mereka itu adalah gadis-gadis, hatinya makin kesal lagi. Jalan itu cukup lebar, para gadis itu dapat saja melewatinya dan berjalan ke pinggir, mengapa dia harus minggir?
"Kau yang minggir!" bentaknya dengan mata mengandung kemarahan.
Seorang diantara gadis-gadis itu yang berjalan di depan joli, memandang kepadanya dengan mata melotot. "Kau berani membantah? Kau ingin mampus?"
"Kalian yang ingin mampus!" jawab Si Kong dengan hati mendongkol.
Dua orang gadis yang tidak menggotong joli itu menjadi marah. Tangan mereka bergerak dan empat batang hui-to (piasu terbang) menyambar ke arah tubuh Si Kong.
Pemuda ini terkejut bukan main melihat serangan maut itu.
Dengan cepat tubuhnya meloncat ke atas sehingga empat batang pisau itu lewat di bawah kakinya. Dua orang gadis itu mencabut pedang dan cepat menyerang lagi. Gerakan mereka cukup cepat dan bertenaga.
Namun Si Kong yang sudah marah itu kini menggunakan tongkat bambunya. Begitu dia bersilat dengan Ta-kaw Sin-tung, dalam beberapa jurus saja dia membuat dua orang wanita itu terjungkal.
Dia tidak menyerang dengan sepenuh tenaga, dan hatinya sudah puas membuat dua orang wanita galak dan jahat itu roboh.
Empat orang gadis yang lain sudah menurunkan joli dan kini mereka berempat menyerang Si Kong dengan pedang mereka.
Yang dua orang sudah bangkit lagi dan ikut menyerang. Kini Si Kong dikeroyok oleh enam orang wanita itu. Setelah mereka maju bersama, Si Kong merasa kagum juga.
Para wanita ini masing-masing memiliki ilmu pedang yang cukup tinggi dan setelah maju bersama mereka sudah membentuk barisan pedang yang kompak sekali.
Kalau saja Si Kong tidak memiliki ilmu tongkat yang sakti itu, dan kalau saja dia belum menguasai Liok-te Hui-teng sehingga gerakannya amat ringan dan cepatnya, tentu dia akan kewalahan juga menghadapi barisan pedang yang dibentuk oleh enam orang wanita itu.
Dia bergerak amat cepatnya dan mengerahkan tenaga dalam tongkatnya. Begitu dia memutar tongkatnya dan badannya ikut berputar, terdengar suara berkerontang berulang kali dan enam orang gadis itu sudah roboh semua dan pedang mereka sudah terlepas dari tangan mereka!
Sekali ini, enam orang gadis itu bangkit sambil meringis. Untuk bagi mereka bahwa Si Kong tidak ingin melukai mereka, maka mereka hanya merasa nyeri karena terbanting saja, akan tetapi tidak sampai luka . setelah pedang mereka terpental dan terlepas, juga mereka semua berpelantingan, enam orang gadis itu menjadi jerih dan mereka bangkit sambil memandang ke arah joli.
Joli tersingkap dan muncullah seorang gadis yang amat cantik jelita. Sebatang pedang tergantung dipunggungnya.
"Manusia kurang ajar, berani engkau merobohkan para pelayanku?"
Si Kong menjadi bengong. Gadis itu cantik bukan main dan melihat pakaiannya yang serba biru dan mewah, dapat di duga bahwa gadis ini tentu seorang gadis bangsawan atau setidaknya hartawan.
Rambutnya digelung tinggi dan dihias tusuk sanggul terbuat dari emas permata, kedua pergelangan tangannya terhias gelang kemala yang mahal harganya, kedua telinganya mengenakan anting-anting terbuat dari emas permata pula. Pakaiannya warna-warni dari kain sutera halus, dan sepatunya masih berwarna hitam mengkilap.
Wajah itu sungguh luar biasa cantiknya. Kulit mukanya putih kemerahan, terutama dikedua pipi bawah matanya, padahal muka itu tidak memakai bedak tebal atau gincu.
Anak rambut yang halus sekali berjuntai kedahi dan pelipisnya. Sepasang alisnya hitam dan kecil melengkung seperti dilukis, melindungi sepasang mata yang sukar digambarkan saking indahnya.
Mata itu tajam dan jernih, dengan kedua ujung bergaris ke atas, dihias bulu mata yang panjang lentik. Hidungnya mancung keicl dengan punggung hidung sedikit menonjol!
Mulutnya! Entah mana yang lebih indah dan memiliki daya tarik terbesar. Mata atau mulutnya. Bibirnya begitu lembut dan merah membasah, nampaknya seperti tersenyum manis sekali, akan tetapi dagunya yang runcing itu seperti mengejek dan membayangkan kekerasan hatinya.
"Hei, petani kurang ajar! Jawablah pertanyaanku tadi!" Gadis itu membentak lagi dan ketika bicara, nampak giginya yang putih mengkilap dan rapi. Rongga mulutnya kelihatan segar kemerahan tanda bahwa ia bertubuh sehat.
Si Kong seperti tertarik ke alam kenyataan.
"Eh….. oh….. pertanyaan apa?" katanya gagap karena dia tadi seperti dalam mimpi. Bingung pikirannya karena dia merasa bahwa wajah si cantik jelita itu tidak asing baginya.
"Mengapa engkau berani merobohkan enam orang pelayanku?"
"Aku terpaksa, nona. Merekalah yang mengeroyokku."
"Hemm, kalau memang jagoan, jangan melawan pelayanku. Akulah lawanmu!"
"Aku…. aku tidak ingin berkelahi denganmu, nona. Diantara kita tidak ada permusuhan, mengapa kita harus berkelahi?"
"Engkau telah merobohkan enam orang pengikutku, itu sudah merupakan permusuhan.
Nah, sambutlah ini!" Gadis cantik itu menggerakkan kedua tangannya dan sinar-sinar putih menyambar ke arah Si Kong.
Si Kong terkejut dan maklum bahwa senjata rahasia itu amat berbahaya, maka cepat dia mengambil topi capingnya dan menggunakan caping yang lebar itu untuk menyambut senjata-senjata itu. Dia melihat bahwa senjata rahasia itu adalah anak panah yang beracun.
Dibuangnya topi capingnya dan dia mengerutkan alisnya. Gadis ini begitu cantik akan tetapi juga begitu ganas, begitu menyerangnya sudah mengarah kematiannya!
"Singgg….!"
Nampak sinar berkilauan ketika gadis itu mencabut pedang dari pungungnya. "Terimalah pedangku ini!" demikian ia membentak dan segera menyerang Si Kong dengan kecepatan luar biasa. Si Kong melompat jauh ke samping, menangkis dengan tongkat bambunya.
Akan tetapi ternyata gadis itu lihai sekali ilmu pedangnya. Begitu di tangkis, pedang itu melenceng dan membabat kaki Si Kong. Pemuda ini terpaksa meloncat ke atas dan dia harus mengelak dan menangkis, sibuk sekali karena gadis itu menyerangnya secara sambung-menyambung dan bertubi-tubi.
Diam-diam Si Kong kagum juga. Ilmu pedang gadis ini benar-benar lihai. Bahkan jauh lebih lihai dibandingkan enam orang pelayan yang mengeroyoknya tadi. Guru gadis ini tentulah seorang sakti.
Si Kong selalu mengalah dalam pertandingan ini. Dia mengerahkan ilmu Yan-cu Hui-kun sehingga tubuhnya seperti burung walet terbang saja. Kalau dia mau menggunakan ilmu silat Hok-lion Sin-ciang atau Thi-ki-i-beng tentu dia akan dapat merobohkan gadis itu dengan cepat.
Akan tetapi dia tidak mau mempergunakan ilmu-ilmu yang didapatnya dari Ceng Lojin kalau keadaan tidak terlalu berbahaya dan mendesak. Dia sengaja memperpanjang pertandingan itu untuk "memberi muka" kepada gadis itu. Sambil bertanding dia mengingat-ingat, dimana dia pernah bertemu dengan gadis yang wajahnya tidak asing baginya itu.
Akhirnya dia teringat akan anak panah tangan yang dipergunakan gadis itu untuk menyerangnya. Dia teringat bahwa anak panah seperti itu pernah dipergunakan Siangkoan Ji terhadap anak buah Kwi-jiauw-pang! Gadis ini tentulah Siangkoan Ji, atau nama aselinya Siangkoan Cu Yin!
Pedang menyambar lagi dengan kuatnya. Si Kong menyambut dengan tongkatnya, mengerahkan tenaga sinkangnya dan gadis itu tidak mampu lagi melepaskan pedangnya dari tongkat.
Pedang itu seolah telah melekat kuat pada tongkat bambu itu. Gadis itu menarik-narik pedangnya akan tetapi tidak berhasil. Mendadak ia menggunakan tangan kirinya untuk memukul kepala Si Kong.
Pemuda ini mengelak melainkan menangkap pergelangan tangan itu dengan pengerahan tenaga sinkang sehingga gadis itu tidak dapat lagi melepaskan tangan. Ia meronta-ronta akan tetapi tetap saja tangan kiri dan pedangnya melekat dan tidak dapat ia lepaskan.
Gadis itu menjadi jengkel dan hampir menangis sambil menarik-narik.
Si Kong berkata tenang dan lembut. "Sudah cukupkan, Ji-te?" lalu dilepaskannya pedang dan tangan gadis itu.
Siangkoan Cu Yin bersungut-sungut lalu menyimpan pedangnya dan memandang kepada Si Kong dengan sikap marah.
"Engkau seorang yang kejam!"
"Ehh? Dimana letak kekejamanku, Yin-moi? Kalau aku kejam, tentu aku akan menyerang orang-orangmu dan engkau dengan jurus maut! Akan tetapi aku melukaipun tidak, bagaimana kau katakan aku kejam?"
"Engkau meninggalkan aku seorang diri di hutan, apakah itu tidak kejam?"
"Ah, itukah yang kau maksudkan kejam? Sungguh mati, aku merasa menyesal sekali meninggalkanmu, Yin-moi. Akan tetapi, tidak ada cara lain yang dapat kutempuh.
Sudah kukatakan, kita tidak mungkin melakukan perjalanan bersama. Itu namanya tidak pantas, apalagi bagimu, seorang gadis." Si Kong benar-benar menghela napas dengan hati
murung.
Dia merasa gembira ketika mengadakan perjalanan bersama gadis ini, padahal ketika itu dia tidak tahu bahwa gadis itu menyamar sebagai seorang pemuda.
Apalagi sekarang, setelah pemuda jembel itu berubah menjadi gadis secantik ini, betapa akan senangnya melakukan perjalanan bersama. Akan tetapi kesopanan melarangnya.
"Siapa yang mengatakan tidak pantas? Aku akan menjadi Siangkoan Ji lagi kalau engkau mau melakukan perjalanan bersamaku."
Si Kong menghela napas. Betapa akan senangnya, dan gadis ini pun berpengetahuan luas, banyak tokoh kangouw dikenalnya. Dia teringat akan Ang I Sianjin.
"Yin-moi, dapatkah engkau memberitahukan kepadaku dimana tempat tinggal Ang I Sianjin?"
Siangkoan Cu Yin berseri wajahnya. "Dia adalah ketua Kwi-jiauw-pang yang bersarang di bukit Kwi-liong-san. Kita kesana berdua, Kong-ko? Aku akan membantumu!" katanya penuh semangat.
"Siocia, Lo-ya pasti akan marah kalau siocia tidak berusaha mencari pedang itu. Kami berenam diutus untuk membantumu. Bagaimana siocia dapat mengajak orang lain, seorang pria pula?" kata seorang diantara enam orang pelayan itu, sambil membungkuk dengan hormat kepada Siangkoan Cu Yin.
"Jangan mencamouri urusanku!" bentak Cu Yin dengan mengkal hatinya.
"Yin-moi, bagaimanapun juga, engkau harus menaati perintah ayahmu. Kecuali itu, akupun tidak dapat menerima permintaanmu untuk melakukan perjalanan bersama. Nah, selamat tiggal Yin-mio!"
"Tunggu, Kong-ko…!" Cu Yin juga meloncat cepat dan akhirnya dapat menyusul karena Si Kong sengaja memperlambat larinya dan menunggu gadis itu.
"Ada apa lagi, Yin-moi?"
"Kong-ko, apakah engkau pura-pura tidak tahu bahwa aku… aku mencintaimu?"
Si Kong menghela napas panjang. "Engkau keliru, Yin-moi. Engkau puteri seorang datuk yang kenamaan dan kaya raya, sedangkan aku hanya seorang pengelana yang hidup sebatang kara dan tidak memiliki tempat tinggal.
Sepatutnya engkau berjodoh dengan seorang pemuda yang setingkat derajatnya denganmu. Aku berterima kasih kepadamu, Yin-moi, akan tetapi maafkanaku.
Aku tidak berani melakukan perjalanan bersamamu. Selamat tinggal!" Sekali ini Si Kong meloncat dan berlari dengan cepat sekali sehingga Cu Yin tidak akan mampu mengejarnya.
Enam orang pelayan itu berlarian menyusul nona majikan mereka dan mereka menemukan Cu Yiin menangis seorang diri di bawah sebatang pohon besar.
Joli tadi juga sudah di bawa kesitu. "Silakan duduk dalam joli, siocia. Katakan kemana siocia hendak pergi dan kami akan mengantarmu."
Cu Yin marah dan menyesal sekali jantungnya seperti diremas-remas rasanya. Akan tetapi dia tidak dapat menyalahkan enam orang pelayannya.
Maka ia lalu membuka tirai, masuk ke dalam joli dan berkata, "Antarkan aku ke Kwi-liong-san!"
Enam orang itu saling pandang akan tetapi tidak berani membantah. Empat di antara mereka lalu memaggul joli itu dan mereka melakukan perjalanan dengan cepat.
Mereka adalah orang-orang yang lihai, menjadi pelayan dan juga menerima pelajaran ilmu silat dari Lam-tok, maka perjalanan dapat dilakukan dengan cepat. Di sepanjang jalan mereka mendengar nona majikan mereka menangis terisak-isak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar