05 Si Kumbang Merah Penghisap Kembang

"Suheng....." Dari suaranya dapat di ketahui bahwa gadis itu menahan tangisnya. Memang sejak keluar dari kuil tadi, hanya dengan kekerasan hatinya saja Bi Lian tidak tersedu-sedu atau terisak-isak walaupun kedua matanya sudah basah dan kadang-kadang ada air mata menetes keatas pipinya. Pikirannya menjadi kacau tidak karuan. Ia membayangkan mereka yang pernah dianggapnya sebagai ayah dan ibu kandungnya, yaitu suami isteri Cu Pak Sun yang terbunuh oleh mendiang kedua orang gurunya yaitu Pak-kwi-ong dan Tung-hek-kwi. Lalu ia membayangkan dan mencoba untuk mengingat-ingat wajah kedua orang yang menjadi gurunya, yang datang di waktu malam dan memberi bimbingan ilmu silat kepadanya. Seorang pria yang gagah perkasa, akan tetapi buntung lengan kirinya sebatas siku dan seorang wanita yang cantik jeilta akan tetapi selalu wajahnya pucat. Mereka begitu baik kepadanya, bahkan wanita yang menjadi subonya itu setiap kali datang dan pergi selalu mencium kedua pipinya dan pria berlengan buntung sebelah yang menjadi suhunya itu selalu mengelus-elus kepalanya penuh kasih sayang! Jadi mereka itu adalah ayah dan ibu kandungnya! "Ya? Kenapa, sumoi?" tanya Han Siong, hatinya tidak enak karena tadi dia berkeras melarang sumoinya membunuh Ceng Hok Hwesio. "Suheng, katakan terus terang, apakah selama ini, sejak pertemuan pertama antara kita, engkau sudah tahu siapa diriku?" Han Siong mengangguk, akan tetapi lalu teringat bahwa cuaca gelap dan belum tentu anggukannya kelihatan oleh gadis itu. "Aku tahu, sumoi. Suhu dan subo sudah memberi tahu kepadaku siap namamu, yaitu Bi Lian dan mempergunakan nama keluarga Cu. Ketahuilah, sumoi. Aku memang diutus oleh suhu dan subo untuk mencarimu. Selama dua tahun aku mengembara, tidak tahu harus mencari ke mana sampai pada suatu hari itu kita kebetulan saling berjumpa dan begitu melihat, aku….. aku sudah merasa tegang karena wajahmu mirip sekali dengan wajah subo. Ketika mendengar namamu, maka aku menjadi yakin." "Tapi, kenapa kau diam saja, suheng? Kenapa kau tidak memberitahu kepadaku bahwa sebenarnya aku adalah anak kandung mereka?" "Aku khawatir engkau tidak percaya, sumoi. Maksudku, membawamu menghadap mereka dan biarlah engkau mendengar, dari mereka sendiri. Tidak kusangka, kita bertemu dengan losuhu Ceng Hok Hwesio sehingga rahasia itu kauketahui…… " Mereka- melanjutkan perjalanan dan karena Kim -ke -kok ( Lembah Ayam Emas) itu berada di puncak paling ujung, dan perjalanan dilakukan lambat, baru setelah terang tanah mereka dapat melanjutkan perjalanan dengan cepat, maka pada keesokan harinya, setelah matahari naik tinggi, barulah mereka tiba di lembah itu. Tidak sukar mencari suami isteri itu setelah mereka berdua tiba di lembah, karena baru saja mereka memasuki lembah yang subur itu, mereka melihat dua titik hitam dari atas depan yang makin lama menjadi makin besar dan akhirnya nampak dua sosok tubuh manusia berlari cepat menyongsong meraka.

Tanpa disadari, tangan Bi Lian mencari dan memegang lengan kanan Han Siong dan pemuda ini merasa betapa jari tangan gadis itu dingin gemetar .

Seperti yang diduganya, dua sosok tubuh itu setelah tiba di depannya bukan lain adalah Siangkoan Ci Kang dan Toan Hui Cu! Mereka menyongsong sambil tersenyum gembira dan dari jauh Siangkoan Ci Kang sudah berseru, "Heiiii….., bukankah itu engkau, Han Siong……..?"

Ketika mereka sudah berhadapan, Toan Hui Cu tersenyum. "Kami sudah menduga bilhwa yang datang tentu engkau…… " Tiba-tiba ia berhenti dan matanya terbelalak mengamati wajah Bi Lian.

Juga Siangkoan Ci Kang tiba-tiba memandang dengan mata terbelalak dan wajahnya berubah pucat, suaranya gemetar ketika dia berkata, "Han Siong, ini..... ia ini……"

Toan Hui Cu seperti besi terbetot besi sembrani, melangkah maju menghampiri, ".. ..kau…… kau……. " Ia tidak mampu melanjutkan karena takut kalau-kalau ia salah kira.

Akan tetapi suaminya berteriak, "Pasti ia! Wajahhnya itu….. ah, serupa benar denganmu, Hui Cu. Ia Bi Lian…… !!"

"Kau…. kau Bi Lian….?" Dengan suaraa bercampur isak Toan Hui Cu berkata, kedua lengannya dikembangkan.

Sejak tadi Bi Lian sudah memandang kedua orang itu dengan air mata bercucuran dan kini ia tidak dapat menahan dirinya lagi, ia lari menubruk Toan Hui Cu dan dirangkulnya wanita itu.

"Ibuuuuu ………., engkau ibuku………. !"

"Bi Lian anakku………. ah, Bi Lian……… !"

Kedua ibu dan anak itu berangkulan dan Hui Cu mendekap puterinya sambil tersedu-sedu.

"Bi Lian…… ya Tuhan, syukurlah engkau selamat dan dapat bertemu kembali dengan kami, anakku ………"

Bi Lian melepaskan rangkulan ibunya, lalu lari menubruk kaki ayahnya.

"Ayah………. !"

" Anakku……… !" Dengan tangan kanannya Siangkoan Ci Kang membelai kepala gadis itu, pria yang sakti dan gagah perkasa ini tidak mampu menahan basahnya kedua matanya. Hui Cu merangkul lagi puterinya dan mereka bertiga saling berangkulan dalam suasana yang penuh keharuan dan kebahagiaan.

Kemudian Siangkoan Ci Kang menghampiri Han Siong yang sejak tadi juga sudah menjatuhkan diri berlutut di depan suhu dan subonya dan hanya memandang pertemuan itu dengan mulut tersenyum menahan keharuan hatinya yang merasa ikut berbahagia. Siangkoan Ci Kang yang buntung lengan kirinya itu menyentuh kepala muridnya dengan penuh perasaan syukur dan berterima kasih. "syukur bahwa engkau berhasil menemukan anak kami, Han Siong."

Toan Hui Cu kini bangkit berdiri sambil merangkul pinggang puterinya yang ramping. "Kami amat berterima kasih kepadamu, Han Siong. Tidak percuma kami mendidik dengan susah payah padamu selama ini, ternyata engkau berhasil membawa pulang Bi Lian."

"Pertemuan antara teecu dan sumoi hanya kebetulan saja, suhu dan subo. Kami berdua sama-sama menentang gerakan yang dipimpin oleh Lam-hai Giam-lo."

"Ahh ! Jadi iblis itu malah mengusahakan pemberontakan?" Suami isteri itu bertanya. Tentu saja mereka berdua mengenal Lam-hai Giam-lo, pemimpin pemberontak itu karena Lam-hai Giam-lo pernah melarikan diri dari para musuhnya yang amat lihai, menyamar sebagai hwesio dan bersembunyi di dalam kuil Siauw-lim-si pimpinan Ceng Hok Hwesio di mana mereka menjadi dua orang hukuman. Lam-hai Giam-lo menyamar sebagai seorang tukang sapu yang gagu dan berkat suami isteri yang sakti ini pula iblis itu dapat diusir dari kuil.

"Ibu……, dan ayah ……. kenapa ibu dan ayah begitu ……nakal terhadap diriku? Ayah dan ibu memberikan aku kepada keluarga Cu! Apakah ayah dan ibu malu mengakui diriku sebagai anak?" Dengan merengut manja gadis itu bertanya sambil merangkul ibunya. Suami isteri itu saling pandang lalu tersenyum lebar .

"Haiiii, Han Siong! Bagaimana Bi Lian begitu berjumpa dengan kami segera tahu bahwa ia adalah puteri kami? Apakah engkau sudah menceritakan kepadanya?" Ibu gadis itu berbalik mengajukan pertanyaan ini kepada Han Siong sebelum mampu menjawab pertanyaan puterinya.

Siangkoan Ci Kang tertawa, "Ha-ha-ha, hujan pertanyaan yang menuntut jawaban! Marilah kita pulang dan kita bicara sejelasnya di dalam pondok. Kita masing-masing akan diharuskan menceritakan segalanya secara panjang lebar agar tidak ada lagi rasa penasaran menyelinap di dalam hati. Sabarlah, anakku, engkau akan mendengar semua jawaban pertanyaanmu."   Gadis itu digandeng ayah ibunya, berjalan di tengah, dan Han Siong mengikuti mereka dari belakang, diam-diam hatinya merasa tegang karena masih ada sebuah hal yang belum terpecahkan dan yang masih menggoda perasaan hatinya. Dia meraba gagang pedang Kwan-im-kiam yang tergantung di pinggangnya. Pedang pusaka itu pemberian kedua orang gurunya, bukan hanya sebagai hadiah guru kepada murid, melainkan terutama sekali sebagai tanda bahwa dia telah dijodohkan kepada Bi Lian. Dahulu, hatinya merasa ragu-ragu mengenai ikatan jodoh ini, akan tetapi dia tidak berani menolak karena dia merasa hutang budi besar sekali kepada kedua orang gurunya. Akan tetapi sekarang, setelah dia berjumpa dengan gadis itu, tidak perlu ditanya untuk kedua kalinya, hatinya sudah seratus prosen menerima dan setuju untuk menjadi calon suami Bi Lian! Begitu bertemu, dia sudah langsung jatuh hati. Yang membuat hatinya merasa tidak enak, tegang dan bimbang adalah karena dia belum dapat menduga bagajmana nanti tanggapan atau pendapat gadis itu kalau mendengar bahwa ia dijodohkan dengan suhengnya! Dan selama bergaul dengan Bi Lian, dia sungguh harus mengakui bahwa dia bingung dan tidak dapat menduga apa perasaan gadis itu terhadap dirinya. Gadis itu berwatak demikian terbuka, polos di samping galak dan keras, akan tetapi baginya juga penuh rahasia. Kadang-kadang gadis itu bersikap manis sekali, kadang-kadang seperti acuh. Bagaimana kalau nanti Bi Lian menolak? Bagaimana kalau diam-diam gadis ini telah mempunyai seorang pemuda pilihan, hatinya sendiri? Hal mi membuat dia diam-diam gelisah ketika dia mengjkuti gadis dan ayah ibunya itu dari belakang. Diam-diam dia merasa iri melihat betapa tangan dan lengan suhu dan subonya melingkar dipinggang yang ramping itu. Kalau saja tangan dan lengannya yang berada di situ! Gadis itu bicara dengan sikap manja sambil menoleh ke kanan kiri, kepada ayahnya dan ibunya. Kalau saja gadis itu bicara seperti itu kepadanya!

Mereka memasuki sebuah pondok sederhana yang berdiri di tepi sebuah anak sungai yang airnya jernih dan yang mengalir riang berdendang di antara batu-batu sungai. Pondok atau rumah tunggal di lembah itu, tidak mempunyai tetangga. Rumah orang Jaln berada didusun yang berada di kaki gunung.

Setelah berada di dalam pondok, duduk di atas lantai bertilamkan rumput kering yang lunak dan bersih, mereka berempat bercakap-cakap. Mula-mula, untuk menghilangkan rasa penasaran di hati Bi Lian, Siangkoan Ci Kang dan Toan Hui Cu menceritakan keadaan mereka sebagai keturunan para datuk sesat yang telah yatim piatu saling mencinta dalam keadaan sengsara. Betapa kemudian mereka ingin menebus dosa orang tua mereka, dan masuk ke dalam kuill Siauw-lim-si untuk menjadi hwesio dan nikouw.

"Namun, agaknya Tuhan juga melarang kami menjadi pendeta. Buktinya, aku mengandung, Bi Lian. Engkaupun terlahir dan kami dihukum oleh losuhu Ceng Hok Hwesio," kata Toan Hui Cu.

"Kenapa ayah dan ibu dihukum? Bagaimana hukumannya? Sambil menahan kemarahannya terhadap ketua kuil itu, Lian bertanya.

Siangkoan Ci Kang yang menjawab pertanyaan puterinya. "Kami dihukum agar bertobat dan bertapa di dalam kamar tahanan selama masing-masing dua puluh tahun…."

"Dua puluh tahun?" Bi Lian pura-pura terkejut. "Mengapa losuhu itu menghukum seperti itu?"

"Karena menurut losuhu, kami dianggap telah melanggar dosa. Dan kami harus menebus dosa dengan bertapa dandmenyesali perbuatan kami itu," jawab ibunya.

"Dan ayah ibu menerima hukuman itu dengan rela? Ayah ibu menganggap hukuman itu sudah pantas?" Bi Lian mendesak.

Suami isteri itu saling lirik dan Siangkoan Ci Kiang menjawab, "Ya, kami menerimanya dan kami menganggalpnyaa sudah pantas."

"Tidak! Tidaaaaaakkk! Sama sekali tidak pantas! Hwesio tua itu hanya membalas dendam. Dia tergila-gila kepada ibu, kakek yang tak tahu malu itu! Ibu tidak mau melayaninya dan dia membalas dendam, menghukum ayah dan ibu untuk memuaskan dendamnya!"

"Sumoi…… !" Kembali Han Siong berseru menegur.

Suami isteri itu saling pandang, lalu memandang Han Siong, dan Siangkoan Ci Kang menarik napas panjang sebelum bertanya, "Aha, kiranya kalian sudah tahu pula hal itu? Dari siapa kalian tahu?"

"Dia sendiri yang mengaku kepada kami!" jawab Bi Lian. "Ayah dan ibu, kami tadinya masuk ke dalam kamar tahanan ayah dan ibu, akan tetapi kami hanya bertemu dengan losuhu itu dan dia membuat pengakuan. Hampir saja aku membunuhnya!"

"Bi Lian…… !" Toan Hui Cu merangkul puterinya.

Kini Han Siong ikut bicara. "Suhu dan subo, sebelum bertemu dengan losuhu Ceng Hok Hwesio, sumoi belum tahu bahwa ia adalah puteri suhu dan subo, karena teecu hanya mengajak ia untuk menghadap suhu dan subo yang ia ingat sebagai guru-gurunya ketika ia masih kecil. Akan tetapi, ketika teecu mencari suhu dan subo di kuil, kami bertemu dengan Ceng Hok Hwesio dan dialah yang mengakui segalanya kepada kami sehingga sumoi mengetahui bahwa ia adalah puteri suhu dan subo dan dia mengakui segala hal yang telah dilakukannya."

"Aku heran sekali menapa ayah dan ibu membiarkan saja orang berbuat sekejam itu kepada ayah dan ibu?" Bi Lian menyambung dengan suara mengandung penasaran. Ayahnya tersenyum. "Engkau tidak tahu, anakku. Engkau tidak tahu betapa ayah dan ibumu menderita tekanan batin mengingat dosa-dosa yang ditumpuk oleh para kakek nenekmu dahulu. Kami menerima hukuman itu yang kami anggap memang tepat bagi kami untuk menebus dosa-dosa turunan. Biarpun kemudian, setelah hampir duapulh tahun losuhu itu membuat pengakuan, kai tidak merasa penasaran, karena dalam pelaksanaan hukuman itu kami mendapatkan hikmat dan anugerah yang amat berharga dari Tuhan. Melalui pelaksanaan hukuman itu, kami mendapatkan ilmu-ilmu tinggi, dan kemudian bahkan kami bertemu dengan suhengmu ini yang menjadi murid kami. Tidak, anakku, kami tidak merasa penasaran kepada Ceng Hok Hwesio." "Bahkan kami merasa kasihan kepadanya, Bi Lian," kata ibunya. "Dia merasa menyesal dan penyesalan merupakan hukuman yang lebih berat lagi. Kini dia yang sudah begitu tua menderita kesengsaraan batin yang berat, bahkan dia akan menghukum diri sendiri di kamar itu sampai mati."

Bi Lian mengangguk-angguk. "Mungkin benar juga pendapat ayah dan ibu. Dia menyiksa diri bahkan minta agar kubunuh, akan tetapi suheng mencegah aku. Akan tetapi, mengapa ibu menyerahkan aku kepada keluarga Cu, bahkan menyuruh mereka mengakui aku sebagai anaknya?"

"Begini, Bi Lian," jawab ayahnya. "Ibu dan aku sudah merundingkan hal itu baik-baik. Kami akan hidup selama dua puluh tahun di dalam kurungan, sebagai orang-orang hukuman. Kalau kami membiarkan engkau hidup bersama dengan kami dalam hukuman, bagaimana jadinya dengan dirimu? Kami harus memikirkan masa depanmu. Karena itulah maka setelah berpikir masak-masak, kami menitipkan engkau kepada keluarga Cu yang kami tahu merupakan keluarga baik-baik. Dan kami mengunjungimu untuk menjenguk keadaanmu sejak engkau masih bayi sampai engkau besar dan kami beri latihan dasar ilmu silat." "Nah, itulah sesungguhnya yang mendorong kami menitipkan engkau kepada keluarga Cu di dusun itu, Bi Lian. Bukan sekali-kali karena kami tidak suka kepadamu! Engkau tahu, sampai berbulan-bulan setiap malam aku menangis kalau ingat kepadamu, dan hanya demi kebahagiaanmu di masa depan sajalah aku dapat menahan penderitaan batin yang berat itu……"

Bi Lian merangkul ibunya. "Aku percaya, ibu. Akupun merasakan kasih sayang ibu dan ayah ketika sering datang mengajarku di dusun itu." "Nah, sekarang giliranmu untuk menceritakan pengalamanmu!" kata Siangkoan Ci Kang kepada puterinya.

"Nanti dulu, ayah dan ibu," kata Bi Lian dengan sikap manja dan "jual mahal". "Aku ingin mendengar cerita suheng lebih dulu, tentang riwayatnya sampai dia bertemu dengan aku ketika menentang gerombolan Lam-hai Giam-lo itu." Toan Hui Cu tersenyum dan mengangguk kepada muridnya. "Kamipun ingin sekali mendengar, terutama tentang keberhasilanmu menemukan anakku. Berceritalah, Han Siong." "Sumoi, aku pernah menceritakan keadaan keluargaku kepadamu. Ayahku adalah ketua dari Pek-sim-pang di Kong-goan. Ketika aku bayi, terpaksa aku disembunyikan karena hendak diculik oleh para pendeta Lama di Tibet. Aku disembunyikan di kuil Siauw-lim-si itu sehingga bertemu dengan suhu dan subo dan menjadi muridnya." "Ya, aku sudah tahu akan hal itu, dan aku tahu pula bahwa adik Pek Eng adalah adik kandungmu. Ceritakan saja sejak engkau meninggalkan ayah dan ibu," kata Bi Lian. Kini Han Siong menujukan ceritanya kepada kedua orang gurunya. "Ketika suhu dan subo memberi tugas kepada teecu untuk mencari sumoi, sesungguhnya teecu merasa bingung sekali karena selain selamanya teecu belum pernah bertemu dengan sumoi, juga teecu tidak tahu harus mencari ke arah mana. Akan tetapi teecu mengambi1 keputusan tidak akan kemba1i menghadap suhu dan subo sebe1um berhasil menemukan sumoi. Teecu berangkat dibekali doa restu suhu dan subo, dan juga kenekatan. Da1am perjalanan itu, teecu bertemu dengan seorang locianpwe yang berjuluk Ban Hok Lojin dan teecu diambll murid selama satu tahunl." "Ban Hok Lojin?" Siangkoan Ci Kang berseru kaget. "Bukankah dia seorang di antara Delapan Dewa?"

"Suhu benar. Suhu Ban Hok Lojin adalah seorang di antara Pat-sian (Delapan Dewa) dan selama satu tahun teecu diberi ilmu Pek-hong Sin-ciang dan juga ilmu sihir….." "Wah, ayah dan ibu! Suheng ini pandai main sulap, pandai main sihir!" "Hemm, coba kauperlihatkan sedikit sihirmu agar kami melihatnya, Han Siong," kata Toan Hui Cu, subonya. "Bagaimana teecu berani bersombong dan kurang ajar terhadap suhu dan subo?" kata Han Siong.

"Tidak, Han Siong. Jangan mengira bahwa kami tidak senang mendengar engkau menjadi murid Ban Hok Lojin. Kami hanya ingin melihat sendiri kekuatan sihir yang kaupelajari itu," kata suhunya.

"Suhu, menurut keterangan suhu Ban Hok Lojin, ada dua macam ilmu sihir, yaitu yang disebut ilmu hitam dan ilmu putih. Ilmu hitam adalah sihir yang dipergunakan orang untuk melakukan kejahatan, sedangkan yang diajarkan suhu Ban Hok Lojin hanyalahuntuk melindungi diri dari serangan musuh, terutama untuk menghadapi serangan sihir hitam." "Kalau begitu bagus sekali, Han Siong. Nah, perlihatkan sedikit kepada kami agar kami menjadi yakin."

"Aih, suheng! Kenapa pelit amat? Hayo perlihatkan kepandaianmu, akupun ingin sekali melihatnya," kata Bi Lian. Han Siong tersenyum dan diam-diam dia mulai mengerahkan kekuatan batinnya untuk melakukan demonstrasi sihirnya. "Suhu, subo dan sumoi, andaikata teecu kewalahan menghadapi pengeroyokan atau menghadapi lawan tangguh, teecu dapat membuat lawan bingung untuk menyelamatkan diri dengan memperbanyak diri teecu!" "Memperbanyak diri?" Siangkoan Ci Kang dan Toan Hui ClI bertanya hampir berbareng. "Apa maksudmu, suheng?" Bi Lian juga ingin tahu sekali. "Suhu, teecu dapat memperbanyak diri, misalnya menjadi dua seperti ini!" Suara Han Siong berwibawa sekali, menggetar dan tiba-tiba saja ayah, ibu dan anak itu terbelalak melihat betapa tubuh Han Siong benar-benar berubah menjadi dua orang! "Atau menjadi tiga seperti ini ! " terdengar lagi suara Han Siong dan kini muncul pula seorang Pek Han Siong yang lain dan berdirilah tiga orang pemuda yang kembar di depan mereka.

Siangkoan Ci Kang dan Toan Hui Cu, dua orang tokoh kang-ouw yang sudah banyak pengalaman dan memiliki kepandaian tinggi itu, cepat mengerahkan tenaga khikang mereka dan memusatkannya kepada pandang mata dan kini lenyaplah dua orang bayangan Han Siong yang lain, tinggal yang seorang saja, yang asli. Akan tetapi Bi Lian tidak tahu bagaimana caranya membuyarkan penglihatan aneh itu dan iapun berseru sambil tertawa. "Wah-wah-wah…… ! Kalau aku menjadi lawanmu, aku benar-benar akan kebingungan sekali, suheng! Yang mana sih engkau yang sesungguhnya?" Han Siong tersenyum, diapun segera melenyapkan dua bayangannya. Lalu dia menjatuhkan diri berlutut di depan suhu dan subonya yang dia tahu dapat menguasai penglihatan mereka tadi. "Harap suhu dan subo suka memaafkan teecu." Suami isteri itu saling pandang dan Siangkoan Ci Kang menarik napas panjang. "Memang hebat ilmu sihir itu, Han Siong. Kami sendiri seketika terpengaruh dan memang merupakan alat pembela diri yang amat ampuh. Kami ikut merasa girang bahwa engkau dilatih oleh seorang sakti seperti locianpwe itu. Sekarang lanjutkan ceritamu, Han Siong." "Teecu lalu pergi berkunjung ke Pek-sim-pang. Di sana teecu bertemu dengan lima orang pendeta Lama yang hendak memaksa teecu pergi ke Tibet. Teecu berhasil mengusir mereka dan teecu ber temu dengan ayah, ibu dan keluarga Pek." "Ah, sukurlah, Han Siong. Aku ikut merasa gembira bahwa engkau dapat bertemu dengan orang tuamu dan keluargamu di sana," kata Toan Hui Cu. "Akan tetapi dari keluarga Pek, teecu mendengar bahwa adik kandung teecu yang bernama Pek Eng telah pergi meninggaltkan rumah, katanya untuk mencari teecu, kakaknya yang selama hidupnya belum pernah dilihatnya." "Ah, kasihan sekali adik Pek Eng……. " kata Bi Lian. "Karena itu, teecu merasa khawatir dan teecu juga tidak lama tinggal di asrama Pek-sim-pang. Teecu berangkat untuk mencari adik Pek Eng dan juga sumoi, teecu mencari dua orang gadis!"

"Dua orang yang selamanya belum pernah suheng lihat. Hik-hik, betapa sukarnya itu…… !" Bi Lian tertawa. "Akhirnya, teecu menemukan jejak adik Pek Eng yang ditangkap oleh gerombolan pemberontak Lam-hai Giam-lo yang bersarang di Yunan Lembah Yang-ce, maka teecu menyusul ke sana dan ternyata teecu menemukan dua-duanya di sana!" Kembali Bi Lian tertawa. "Orang-orang yang dicarinya itu telah berkumpul di Yunan, bahkan sebelum suheng bertemu dengan aku atau dengan adik Eng, aku dan adik Eng telah menjadi sahabat baik!" "Pemberontakan Lam-hai Giam-lo dapat dihancurkan oleh para pendekar, kemudian teecu berhasil membujuk sumoi untuk menghadap suhu dan subo di kuil Siauw-lim-si itu." Han Siong mengakhiri ceritanya. "Kami sungguh bersukur sekali, Han Siong. Engkau bukan saja dapat melaksanakan tugasmu dan memenuhi permintaan kami sehingga berhasil baik, akan tetapi juga dapat menemukan adik kandungmu dan dapat membantu para pendekar untuk menghancurkan persekutuan pemberontak Lam-hai Giam-lo." kata Siangkoan Ci Kang. "Nah, sekarang giliranmu untuk bercerita, Bi Lian." Bi Lian lalu menceritakan pengalamannya, sejak ia diambil murid oleh mendiang Pak-kwi-ong dan Tung-hek-kwi, dua di antara Empat Setan yang menjadi datuk-datuk sesat di empat penjuru itu. Kedua orang datuk itu senang sekali melihat Bi Lian yang ketika itu berusia enam tahun, seorang anak perempuan yang mungil, manis lincah dan memiliki keberanian luar biasa sekali. Tentu saja anak kecil yang pemberani itu tadinya mendendam kepada dua orang iblis ini yang dianggap pembunuh keluarga Cu, keluarganya! Akan tetapi dua orang itu menyalahkan dua pasang suami isteri iblis yang memusuhi mereka. Dua pasang suami isteri iblis itulah yang membujuk rakyat dusun mengeroyok mereka sehingga banyak penduduk dusun tewas termasuk keluarga Cu. Bi Lian dapat menerima alasan ini dan iapun mengalihkan dendamnya kepada dua pasang suami isteri iblis, yaitu Lam-hai Siang-mo dan Sepasang Suami Isteri Guha Iblis Pantai Selatan.

"Pelajaran apa saja yang kauperoleh dari Dua Setan itu?" Toan Hui Cu bertanya. Bi Lian memandang kepada ayah ibunya. Ia melihat sinar mata khawatir berpancar keluar dari pandang mata kedua orang tuanya. Memang, tak dapat disangkal lagi bahwa Siangkoan Ci Kang dan Toan Hui Cu merasa khawatir sekali membayangkan bahwa anak kandung mereka menjadi murid dua manusia iblis seperti Tung-hek-kwi dan Pek-kwi-ong yang sudah terkenal sekali di dunia kang-ouw sebagai dua orang yang tidak segan melakukan perbuatan jahat dan kejam yang bagaimanapun iuga, Siangkoan Ci Kang dan Toan Hui Cu tahu diri. Mereka merasa bahwa mereka adalah keturunan datuk-datuk jahat sekali, maka mendengar betapa puteri mereka menjadi murid dua di antara Empat Setan, tentu saja mereka merasa khawatir kalau-kalau darah nenek moyang puterinya itu akan menurun pada batin puterinya. Bi Lian tersenyum. "Ayah dan ibu tak perlu khawatir. Memang aku mempelajari berbagai ilmu silat tinggi dari mendiang suhu Pek-kwi-ong dan Tung-hek-kwi, akan tetapi aku tidak sudi mempelajari dan meniru perbuatan mereka yang kuanggap jahat! Bagaimanapun juga, bimbingan keluarga Cu yang baik, juga bimbingan ayah dan ibu yang ketika itu kuanggap guru, masih meninggalkan kesan di hatiku dan aku tidak terpengaruh oleh watak jahat mereka." "Sumoi berkata benar," Han Siong cepat menyambung. "Semenjak bertemu dengan sumoi. Yang teecu lihat, sumoi mempunyai jiwa pendekar seratus prosen, dan bahkan ia telah mendapat julukan Thiat-sim Sian-li sebagai tanda kekerasan hatinya menghadapi orang-orang jahat."

"Aih, suheng ini memuji-mujiku di depan ayah dan ibu, mau merayu, ya?" Bi Lian bertanya dengan pandang mata nakal menggoda.

Wajah Han Siong seketika berubah merah. Kalau saja gadis itu tahu bahwa mereka telah dijodohkan, tentu tidak akan mengeluarkan kata-kata seperti itu! Siangkoan Ci Kang dan Toan Hui Cu memandang sambil tersenyum. Mereka tahu bahwa puteri mereka itu berwatak keras, pemberani, dan polos sehingga ucapan yang dikeluarkan tadi hanya untuk menggoda Han Siong, tidak mempunyai makna lain.

"Ah, aku hanya bicara jujur sumoi.Kalau engkau bukan berjiwa pendekar tentu tidak akan menentang gerombolan Lam-hai Giam-lo. Bahkan engkau berjasa besar sekali karena di tanganmulah Lam-hai Giam-lo tewas!"

"Ah, benarkah?" Siangkoan Ci Kang dan Toan Hui Cu terkejut mendengar ini karena mereka berdua maklum akan kelihaian Lam-hai Giam-lo. Kalau puteri mereka mampu membunuh iblis itu, tentu puteri mereka itu telah memiliki ilmu kepandaian yang luar biasa hebatnya!

"Wah, memang suheng tukang memuji. Hemm, jangan-jangan suheng sudah ketularan watak putera Si Tawon Merah itu!" Tiba-tiba Bi Lian termenung karena ia teringat kepada seorang pemuda yang amat pandai merayu hati wanita, bahkan ia sendiri pernah terpikat oleh puji-pujian dan rayuan yang keluar dari mulut pemuda itu. Pemuda itu bernama Tang Hay seorang pendekar yang memiliki ilmu kepandaian hebat bukan main, bahkan pandai pula bermain sihir, seorang pemuda pendekar yang gagah perrkasa. Akan tetapi kemudian ketahuan bahwa pemuda perkasa itu adalah putera Ang-hong-cu atau Si Kumbang Merah y-ng terkenal sebagai penghisap kembang atau seorang jai-hwa-cat (penjahat pemetik bunga) perusak dan pemerkosa wanita yang amat keji!

"Sumoi, aku tidak memuji, melainkan bicara secara jujur," kata Pek Han Siong yang merasa tidak enak mendengar disebutnya nama putera Ang-hong-cu itu.

"Akan tetapi, benarkah engkau telah berhasil membunuh Lam-hai Giam-lo, Bi Lian?" tanya Toan Hui Cu heran.

"Aah, ibu. Suheng ini bisa saja. Memang aku membunuhnya, akan tetapi bukan sendirian, melainkan mengeroyoknya bersama dua orang pendekar yang sakti. Kalau aku sendiri, kiranya tidak akan mampu mengalahkan dia."

"Lanjutkan ceritamu," kata Siangkoan Ci Kang.

"Selama belajar ilmu silat dari kedua orang suhu itu, aku diajak merantau dan aku tidak pernah mencampuri urusan suhu. Akan tetapi aku sendiri mempergunakan kepandalanku untuk menentang kejahatan di mana-mana sehingga orang-orang kang-ouw menjulJukl aku Thiat-sim Sian-li. Kemudian, kedua orang suhu merantau ke daerah Yunan di mana aku menemukan jejak dua pasang suami isteri yang kuanggap sebagai musuh besarrku karena merekalah yang menyebabkan terbasminya keluarga Cu yang kukira keluargaku sendiri. Dan dalam pengejaran terhadap dua pasang suami isteri itulah kami bertiga bertemu dengan gerombolan Lam-hai Giam-lo! Suhu Pak-kwi-ong dan Tung-hek-kwi terbujuk oleh mereka dan biarpun aku tak senang, mereka tetap saja menjadi tamu kehormatan gerombolan pemberontak itu. Bahkan, kemudlan suhu Pak-kwi-ong hendak memaksa aku menerima pinangan Kulana, seorang di antara pimplnan pemberontak berasal dari Birma yang berilmu tinggi dan kaya raya. Aku tidak sudi, dan ketika suhu Pak-kwi-ong memaksa, suhu Tung-hek-kwi membelaku. Mereka kemudian saling serang dan keduanya tewas! Pada waktu itulah bermunculan para pendekar dan aku lalu bergabung dengan mereka untuk membasmi gerombolan pemberontak yang dipimpin oleh Lam-hai Giam-lo, Kulana dan banyak lagi tokoh sesat itu." Gadis dan ayah bundanya itu melepaskan kerinduan masing-masing dan selama beberapa hari, mereka hanya bercakap-cakap saja, saling menceritakan pengalaman mereka lebih terperinci.

Beberapa hari kemudian, sehabis makan siang, mereka bertiga, ditemani oleh Han Siong, duduk di atas rumput tebal diluar pondok, di bawah pohon yang rindang. Mereka memang Jebih suka bercakap-cakap sambil duduk di atas rumput ini dari pada di dalam pondok.

Tiba-tiba Toan Hui Cu bertanya kepada Han Siong, "Han Siong, sudahkah engkau menceritakan kepada sumoimu tentang pedang pusaka Kwan-im-pokiam Itu?"

Tiba-tiba wajah Han Siong berubah merah dan dia tidak mampu menjawab, hanya meraba gagang pedang di pinggangnya. Melihat ini, Bi Lian yang menjawab sambil tersenyum. "Suheng pernah menceritakan bahwa dia selain menerima ilmu-ilmu yang hebat dari ayah dan ibu, juga menerima pemberian pedang pusaka Kwan-im-pokiam, ibu!"

"Bukan hanya sebagai pemberian, Bi Lian," kata Hui Cu dan ia menoleh kepapa suaminya. Siangkoan Ci Kang mengangguk, agaknya setuju kalau isterinya menyinggung urusan itu.

"Bukan hanya sebagai pemberian, lalu sebagai apa, ibu? Hadiah karena suheng seorang murid yang baik?" Bi Lian bertanya, mengerling kepada suhengnya untuk menggodanya.

"Sebagai………. ikatan, Bi Lian. Ikatan jodoh!"

Bi Lian terbelalak memandang kepada ibunya, lalu kepada ayahnya. "Ikatan jodoh? Apa yang ibu maksudkan?" Sementara itu, Han Siong menundukkan mukanya yang menjadi merah sekali.

"Bi Lian, ayahmu dan aku telah mengambil keputusan, jauh sebelum engkau pulang, yaitu dua tahun lebih yang lalu, ketika suhengmu pergi berangkat untuk pergi mencarimu. Keputusan kami itu adalah bahwa kami menjodohkan engkau dengan Pek Han Siong, dan pedang pusaka Kwan-im-pokiam itu kami berikan ke padanya sebagai tanda ikatan jodoh………"   Toan Hui Cu menghentikan kata-katanya dan memandang kepada puterinya dengan wajah khawatir. Ia melihat perubahan pada wajah puterinya yang tadinya cerah dan riang itu. Wajah itu menjadi keras, sepasang matanya mencorong dan Bi Lian memandang ayah ibunya bergantian, kemudian menoleh dan memandang kepada Han Siong yang masih menundukkan mukanya yang merah. Suasana menjadi amat sunyi, kesunyian yang menegangkan hati, terutama bagi Han Siong.

"Kami harap engkau akan menerimanya dengan hati terbuka, anakku," kata Siangkoan Ci Kang. "Kami melihat Han Siong sebagai seorang pemuda yang amat baik, keturunan pendekar, dan engkau sendiri tentu sudah mengenalnya selama ini dan dapat menilainya sendiri……. "

"Justeru itulah, ayah! Aku selama ini menganggapnya sebagai seorang suheng, seorang kakak! Suheng, mengapa selama ini engkau diam saja tidak pernah memberitahu kepadaku tentang jodoh ini?" Dalam pertanyaan itu terkandung penyesalan dan teguran.

Han Siong mengangkat mukanya, sikapnya tetap tenang walaupun dia merasa gugup sekali. Setelah menelan ludah beberapa kali untuk menenangkan batinnya yang terguncang, diapun menjawab, "Maafkan aku, sumoi. Aku tidak tega, tidak ingin membuat engkau menjadi sungkan dan malu, maka aku diam saja, biar suhu dan subo sendiri yang memberitahu akan hal itu."

"Tidak….., tidak…….! Bagaimana mungkin terjadi ikatan jodoh yang tiba-tiba ini? Aku sudah menganggapnya sebagai kakakku sendiri! Ayah dan ibu, sungguh aku tidak dapat menerima keputusan yang begini tiba-tiba!"

Mendengar ini, wajah Han Siong berubah pucat dan seperti tadi, diapun hanya menundukkan mukanya.

"Bi Lian, engkau tidak boleh menolak mentah-mentah hanya dengan alas an bahwa engkau menganggapnya seperti kakak sendiri! Memang benar dia kakak seperguruanmu, akan tetapi tidak ada hubungan darah sedikitpun antara keluarga kita dan keluarga Pek," kata Siangkoan Ci Kang sambil mengerutkan alisnya karena kecewa melihat sikap puterinya yang menolak ikatan jodoh itu.

"Tapi, ayah! Bagaimana mungkin orang berjodoh secara begitu saja? Selama ini aku memandang suheng sebagai seorang kakak seperguruan, bagaimana tiba-tiba saja aku memandangnya sebagai tunangan, sebagai calon suami? Orang berjodoh harus ada perasaan cinta kasih!" bantah Bi Lian dengan polos, sesuai dengan wataknya yang bagaimanapun juga mewarisi sikap kedua orang gurunya, polos dan berandalan.

Toan Hui Cu juga merasa penasaran, lalu ia mengambil keputusan dalam menghadapi puterinya yang bicara secara terbuka ini dengan cara yang lebih jujur, maka iapun berkata kepada Han Siong, "Han Siong, sekarang lebih baik engkaupun bicara terus terang saja! Bagaimana perasaan hatimu ketika kami menyatakan bahwa engkau kami jodohkan dengan puteri kami yang pada waktu itu belum kaulihat? Engkau memang telah menerimanya dengan patuh, akan tetapi bagaimana perasaanmu pada saat itu?"

Mendengar pertanyaan ibunya, wajah Bi Lian menjadi berseri. Ia memang lebih suka urusan secara terbuka begini daripada harus menyimpan di dalam hati.

"Suheng, jawablah sejujurnya. Percayalah, aku tidak akan menyesal atau marah,

bahkan kalau engkau tidak bicara jujur, aku merasa penasaran dan marah!" katanya kepada Han Siong.

Pemuda ini merasa terhimpit sekali. Sejak kecil ia hidup di dalam kuil dan mempelajari segala macam kebudayaan dan sopan santun, kesusilaan, peraturan untuk menghormati orang tua, guru, wanita dan orang pandai. Kini dia diharuskan bicara secara terbuka tanpa tenggang rasa lagi, apa adanya! Biarpun ia tidak merasa berkeberatan dengan cara seperti ini, membicarakan rahasia hati di depan orang lain secara terbuka, namun tentu saja dia harus berkorban perasaan. Setelah menghela napas panjang beberapa kali, diapun memandang kepada suhu dan subonya, lalu memberi hormat sambil berlutut.

"Suhu dan subo, teecu telah menerima budi besar dari ji-wi yang tak dapat teecu bayar dengan nyawa sekalipun dan teecu sama sekali tidak menghendaki untuk menyinggung perasaan atau menyakiti hati suhu dan subo. Akan tetapi karena suhu, subo dan juga sumoi menghendaki jawaban yang sejujurnya dan terbuka, maka apa yang akan teecu katakana adalah suara hati teecu dan sama sekali tidak lagi ditutupi oleh perasaan sungkan."

"Bagus, suheng! Begitulah. Seharusnya sikap orang gagah!" kata Bi Lian dan kini wajahnya berseri gembira lagi.   "Ketika suhu dan subo memberikan Kwan-im-pokiam ini kepada teecu dan mengatakan bahwa ji-wi menjodohkan teecu dengan puteri ji-wi, sesungguhnya teecu juga merasa terkejut. Tentu saja teecu tidak mungkin dapat menyatakan suka atau tidak suka kalau teecu belum pernah melihat sumoi. Akan tetapi, ketika itu teecu menerima, sepenuhnya hanya karena terdorong keinginan teecu membalas budi ji-wi dan menyenangkan hati ji-wi. Teecu merasa yakin bahwa ji.-wi tentu sudah memperhitungkannya dengan masak dan tidak akan keliru mengambil keputusan. Karena itulah teecu menerima dan mulai mencari sumoi."

Suami isteri itu mengangguk-angguk, dapat menerima keterangan ini, juga Bi Lian mengerti bahwa alasan suhengnya itu memang tepat, akan tetapi tidak urung dia mencela, "Suheng telah bersikap tidak wajar. Menerima secara membuta seperti itu sungguh bukan merupakan kebaktian yang benar. Siapapun yang menyuruh kita, haruslah kita pertimbangkan macam tugas yang diperintahkan. Biar guru sendiri, biar orang tua sendiri, kalau menyuruh kita melakukan hal yang berlawanan dengan suara hati, sudah sewajarnya kalau ditolak. Mentaati karena ingin rnembalas budi itu namanya ketaatan yang ngawur dan nekat, dan yang akibatnya dapat membuat diri sendiri menyesal!"

Kembali suami isteri itu saling pandang. Puteri mereka itu ternyata telah dewasa benar, dan telah memiliki kematangan pandangan, walaupun terlalu polos, terlalu jujur tanpa ditutup-tutupi sehingga mudah menyinggung perasaan orang dan terdengar kasar. "Sekarang katakan, Han Siong. Setelah engkau bertemu dengan sumoimu, setelah engkau melihatnya, bicara bahkan bergaul dengannya,bagaimana pendapatmu? Mengaku saja terus terang, adakah cinta kasih di dalam hatimu terhadap anak kita Siangkoan Bi Lian?" Mendengar pertanyaan ini, kembali wajah pemuda itu menjadi merah sekali. Sambil berlutut dia memberi hormat dan berkata lirih, "Duhai suhu dan subo……. , bagaimana teecu berani menjawab pertanyaan itu….. .?" "Han Siong, tenangkan hatimu. Sumoimu menuntut agar kita semua bicara secara terbuka. Memang kalau kupikir, sikap ini benar. Segala macam persoalan dapat dipecahkan dengan cepat kalau kita bersikap terbuka. Jawablah sejujurnya, Han Siong." "Suheng, apakah engkau bukan laki-laki yang jantan? Kita harus jujur, kepada diri sendiri, kepada orang lain! Manusia yang tidak memiliki kejujuran, yang tidak berani mengakui apa yang berada didalam hatinya, dia itu hanya seorang pengecut! Dan aku yakin, suhengku yang gagah ini sama sekali bukan pengecut!" Bukan main ucapan gadis itu. Lidahnya seperti pecut yang mencambuk-cambuk dengan tajamnya!

"Baiklah, sumoi. Suhu dan subo, teecu mengaku terus terang, begitu teecu bertemu dengan sumoi, melihat wajahhya, bicara dengannya, melihat sikapnya dan segalanya, teecu langsung jatuh cinta padanya!" Suami isteri itu saling pandang dan tersenyum, akan. tetapi Bi Lian terbelalak keheranan memandang suhengnya. "Waahhh! Benarkah itu, suheng? Ataukah engkau hanya terikat oleh janji dan balas budi? Bagaimana mungkin begitu mendadak kau jatuh cinta, dan…….. aku sama sekali tidak melihat sikapmu yang mencinta itu, tak pernah engkau mengatakan kepadaku bahwa engkau cinta padaku!" "Mana aku berani, sumoi?" "Ah. mengapa tidak berani? Dalam cinta mencinta, pertama-tama yang dibutuhkan adalah kejujuran pula!" "Sudahlah, Bi Lian, sekarang suhengmu sudah mengaku sejujurnya bahwa dia mencintamu. Sekarang, bagaimana dengan engkau? Setelah engkau bertemu dan bergaul dengan suhengmu, bagaimana pendapatmu? Tidaklah dia pantas menjadi calon suamjmu? Katakanlah, apakah engkau dapat membalas cinta kasihnya?" "Wah, aku masih bingung, ibu. Aku memang suka sekali kepada suheng, suka dan kagum, dan terus terang saja, aku bangga mempunyai seorang suheng seperti dia. Jarang pula ada pemuda sebaik suheng! Akan tetapi cinta? Sama sekali tidak pernah kupikirkan hal itu. Andaikata dia tidak memperkenalkan diri sebagai suhengku, mungkin saja hal itu kupikirkan karena selama ini belurn pernah aku bergaul dengan seorang kawan pria seakrab dengan suheng. Aku menganggap dia sebagai kakak, dan aku tidak tahu apakah aku dapat mencintanya seperti seorang calon suami. Dan akupun tidak yakin akan cintanya yang begitu tiba-tiba, apalagi dilatarbelakangi ketaatan dan hutang budi kepada ayah dan ibu!" "Lalu bagaimana keputusanmu, Bi Lian? Maukah engkau menerima ikatan jodoh dengan suhengmu'?" tanya Siangkoan Ci Kang. "Tidak, ayah. Aku sama sekali belum memikirkan soal perjodonan." "Bi Lian," kata ibunya. "Tahukah engkau berapa usiamu sekarang?" "Kalau tidak salah dua puluh tuhun, ibu. Apa hubungannya usia dengan perjodohan?" "Aih, Bi lian, usia dua puluh sudah terlalu lambat bagi seorang gadis untuk berjodoh," kata ibunya. Gadis itu tersenyum lebar. "Tidak, ibu. Bagiku, usia tidak ada hubungannya dengan perjodohan. Yang ada hubungannya hanyalah cinta kasih. Dan terus terang saja, aku suka dan kagum kepada suheng, akan tetapi aku……. tidak…….. atau belum mencintanya seperti seorang calon suami."

"Jadi jelasnya, engkau menolak, Bi Lian?" kata Siangkoan Ci Kang. "Sebaiknya, ikatan jodoh itu dibatalkan saja dulu, ayah. Jangan ada pengikatan. Kelak, kalau aku yakin bahwa aku cinta pada suheng dan dia cinta padaku, mudah saja dilakukan ikatan kembali!"

"Bi Lian! Engkau mengecewakan hati ayah ibumu!" kata Siangkoan Ci Kang. "Maafkan, ayah dan ibu. Apakah ayah dan ibu hendak memaksaku dan membikin hidupku selanjutnya kecewa dan merana? Senangkah ayah dan ibu kalau aku menurut hanya untuk berbakti? Itu hanya akan menjadi pernikahan paksaan, ayah dan ibu. Suheng menikah karena ingin membalas budi, dan aku menikah hanya untuk berbakti. Pernikahan macam apa itu? Maukah ayah dan ibu begitu?" Suami isteri itu saling pandang dan menghela napas panjang. Terus terang saja, mereka tidak menghendaki pernikahan anaknya seperti itu. "Lalu apa yang menjadi kehendakmu sekarang, Bi Lian? Apakah engkau telah memiliki seorang calon jodoh pilihan hatimu sendiri? Kalau benar demikian, katakanlah terus terang. Kami sudah ingin melihat engkau berumah tangga, mengingat usiamu sudah cukup dewasa," kata ibu gadis itu. Sementara itu, sejak tadi Han Siong hanya menundukkan mukanya. Hatinya terasa perih dan perasaannya terpukul hebat oleh penolakan sumoinya. Dia dipaksa untuk berterus terang di depan suhu dan subonya,dan setelah dia berterus terang menyatakan cinta kasihnya dengan menekan rasa malunya, kini dengan terus terang pula Bi Lian menolak cintanya! Padahal, dia sudah di tunangkan dengan sumoinya itu. Bagaimanapun juga, dia adalah seorang kali-laki dan tentu saja dia merasa terbanting keras harga dirinya. Maaf, suhu, subo dan sumoi. Teecu harap agar suhu dan subo tidak terlalu menekan sumoi dan agar urusan perjodohan itu dihabiskan sampai disini saja. Sumoi memang benar. Perjodohan hanya dapat dilakukan kalau ada cinta kasih kedua pihak. Teecu yang tidak tahu diri, berani lancang mencinta sumoi. Oleh karena itu, suhu dan subo, maafkan teecu dan sebaiknya kalau Kwan-im Po-kiam ini teecu kembalikan kepada suhu dan subo, sebagai tanda bahwa tidak ada lagi ikatan perjodohan antara sumoi dan teecu." Dengan kedua tangannya, pemuda itu menyerahkan pedang pusaka itu kepada kedua orang gurunya. Siangkoan Ci Kang terpaksa menerima pedang itu dengan kedua tangan pula, menarik napas panjang lalu berkata kepada muridnya.

"Han Siong, engkaulah yang harus dapat memaafkan kami berdua. Kami terlalu terburu-buru mengikatkan tali perjodohan antara anak kami dan engkau, sama sekali tidak menyangka bahwa akan timbul penolakan dari pihak puteri kami. Engkau benar, memang sebaiknya kalau ikatan jodoh itu diputuskan. Kalau memang Tuhan menghendaki kalian berjodoh, kelak tentu kalian akan dapat saling mencinta. Andaikata tidak, itu berarti bahwa memang Tuhan tidak menghendaki kalian menjadi suami isteri."

"Han Siong, keputusanmu ini bijaksana sekali dan engkau kembali telah memperlihatkan kebaktianmu terhadap kami. Dengan kebijaksanaanmu ini engkau telah membebaskan guru-gurumu dari keadaan yang tidak enak. Terima kasih, Han Siong." kata subonya sambil tersenyum dengan hati terharu. Nyonya ini melihat betapa muridnya amat budiman dan alangkah akan bahagia rasa hatinya kalau puterinya mau menjadi isteri Han Siong!

Bi Lian bertepuk tangan, wajahnya penuh senyum dan berseri gembira, kemudian, dengan sikap manja dan lincah, iapun menghadapi Han Siong dan memberi hormat dengan merangkapkan kedua tangan di dadanya.

"Bagus, bagus! Akupun berterima kasih sekali kepadamu, suheng! Nah, kaulihat, keputusanmu, ini membuat engkau menjadi pahlawan dalam keluarga kami! Ayah dan ibu terbebas dari perasaan tidak enak, akupun merasa bebas dari ikatan kebaktian yang kulanggar, dan aku dapat menghadapi dan memandangmu dengan wajar sebagai seorang sumoi terhadap suhengnya yang baik hati! Terima kasih, suheng."

Biarpun wajah pemuda itu tidak memperlihatkan sesuatu, namun sesungguhnya hatinya seperti diremas-remas. Dia tidak menyalahkan suhu dan subonya, tidak menyalahkan sumoinya, melainkan menyesali diri sendiri. Memang nasib dirinya yang buruk dan sial, sejak ia dilahirkan. Betapapun juga, dalam hal ini dia merasa bahwa dia yang bersalah karena lemah. Kenapa dia begitu mudah jatuh cinta? Andaikata dia tidak jatuh cinta kepada Bi Lian, maka pembatalan ikatan jodoh ini tentu tjdak menyakitkan hatinya benar.

Cinta kita bergelimang nafsu. Karena itu selalu mendatangkan suka duka, puas kecewa, nikmat sengsara. Cinta kita menumbuhkan ikatan, mencjptakan belenggu. Cinta kita seperti jual beli di pasar. Kita membeli dengan pengorbanan diri, kesetiaan, penyerahan, untuk mendapatkan yang lebih menguntungkan, lebih menyenangkan, yaitu kesetiaannya, pengorbanannya, penyerahan dirinya, kesenangan-kesenangan yang kita nikmati darinya. Kalau semua itu tidak terdapat oleh kita sebagai "imbalan", maka cinta kitapun menguap ke udara dan tidak berbekas lagi, bahkan kadang kala berubah menjadi benci. Cinta kita selalu menyembunyikan pamrih demi kesenangan diri sendiri. Adakah cinta tanpa pamrih? Adakah cinta yang tidak mengandung pengajaran kepentingan diri sendiri? Adakah cinta yang tidak menimbulkan ikatan, yang memberi kebebasan? Dapatkah kita manusia memiliki cinta kasih seperti jtu?

Han Siong menderita akibat dari pada cinta seperti itu. Dia mencinta, tent saja dengan pamrih agar yang dicintanya itupun membalas cintanya, menjadi miliknya. Ketika ternyata bahwa gadis yang dicintanya itu tidak membalas cintanya, tidak mau menjadi miliknya, maka hatinya pun kecewa, malu dan timbullah duka.

"Sumoi, harap jangan terlalu memujiku. Aku telah membuat suhu, subo, dan sumoi rmerasa tidak enak saja. Salahku sendiri karena sesungguhnya akulah yang tidak tahu diri."

"Han Siong, jangan menyalahkan dirimu sendiri. Engkau hanya mentaati permintaan kami saja, dan kami yang sesungguhnya bersalah." kata Siangkoan Ci Kang. "Jangan putus asa, Han Siong. Bagaitmanapun juga, Bi Lian hanya terkejut karena berita yang mendadak itu. Biarlah ia berpikir dan mempertimbangkan, mungkin kalau memang kalian berjodoh, kelak tentu ikatan ini akan dapat disambung kembali," kata Toan Hui Cu yang juga merasa kasihan sekali kepada murid tersayang itu.

"Sudahlah, ayah dan ibu, jangan mengulurkan harapan baru bagi suheng agar kelak ia tidak akan menderita kekecewaan lagi. Suheng, kurasa sekarang ini belum waktunya bagi kita berdua untuk memikirkan soal perjodohan! Masih banyak tugas menanti di depan. Lupakah suheng akan nasib adik kandung suheng itu? Apakah suheng akan membiarkan saja si jahanam Ang-hong-cu itu?" .

Mendengar ini, Han Siong mengerutkan alisnya, wajahnya berubah merah dan dia termenung. Terbayang segala peristiwa yang terjadi ketika dia bersama para pendekar lainnya menentang persekutuan Lam-hai Giam-lo. Di dalam perjuangan para pendekar menghadapi para pemberontak yang dipimpin persekutuan itu, muncul seorang tokoh yang juga membantu gerakan para pendekar, akan tetapi tokoh itu ternyata adalah seorang tokoh hitam yang namanya amat terkenal, yaituAng-hong-cu, si Kumbang Merah yang suka menghisap kembang. Seorang jai-hwa-cat (penjahat pemetik bunga) yang terkenal suka memperkosa dan merayu banyak sekali wanita. Celakanya,di antara para wanita yang diperkosanya itu terdapat pula Pek Eng, adik kandungnya! Pek Eng diperkosa orang dan tadinya, semua tuduhan ditimpakan kepada Tang Hay,seorang pendekar muda yang selain sakti, pandai ilmu silat, juga amat kuat ilmu sihirnya. Bahkan terjadi bentrok antara dia dan Tang Hay dan kesalahpahaman ini tentu akan berlarut-larut kalau saja kemudian tidak diketahui bahwa pemerkosa Pek Eng sama sekali bukanlah Tang Hay, melainkan Ang-hong-cu, penjahat cabul yang namanya sudah amat terkenal di dunia kang-ouw itu. Dan dia tidak segera mencari penjahat itu untuk mernbalaskan penghinaan yang menimpa diri adik kandung, melainkan menyibukkan diri untuk mengantarkan sumoinya kepada suhu dan subonya, tentu saja dengan pamrih tersembunyi bahwa dia akan dijodohkan dengan gadis yang menarik hatinya itu. Wajahnya seketika berseri ketika dia diingatkan oleh sumoinya tentang hal itu, dan dadanya penuh dengan getaran semangat.   "Engkau benar sekali, sumoi! Aku harus mencari manusia jahat itu agar dia tidak merajalela dan mendatangkan bencana bagi banyak orang yang tidak berdosa." Dia lalu berlutut memberi hormat kepada suhu dan subonya.

"Suhu dan subo, setelah teecu berhasil membawa pulang sumoi dan mengantarnya kepada suhu dan subo, maka selesailah tugas teecu dan teecu mohon diperkenankan untuk pergi, melaksanakan tugas lain, tugas keluarga teecu sendiri."

Suami isteri itu merasa tidak enak sekali kepada murid mereka, dan kepergian murid mereka itu hanya akan menghilangkan rasa tidak enak itu, maka keduanya memberi persetujuan tanpa banyak cakap lagi. Pemuda itu berpamit, memberi hormat dan pergi meninggalkan kedua gurunya, dan juga sumoinya, gadis yang dicintanya.

Setelah penluda itu pergi, Siangkoan Ci Kang dan Toan Hui Cu mendengar lebih banyak dari puteri mereka tentang Ang-hong-cu Si Kumbang Merah, dan tentang adik kandung Han Siong yang menjadi satu di antara para wanita yang menjadi korban kejahatan jai-hwa-cat itu.

***

Kota Shu-lu tidak begitu besar namun cukup ramai dan di situ bahkan terdapat sebuah rumah penginapan Hok-lai-koan yang memiliki kamar cukup banyak, dengan sebuah rumah makan. Karena rumah penginapan ini mempunyai rumah makan sendiri, maka banyak orang luar kota kalau terpaksa menginap di kota Shu-lu lebih senang bermalam di sini dari pada di rumah penginapan lain. Kalau di Hok-lai-kodn sudah penuh barulah pengunjung kota itu terpaksa mencari rumah penginapan lain. Hampir setiap hari rumah penginapan itu penuh tamu, dan dengan sendirinya rllmah makan itupun selalu ramai karena semua tamu yang bermalam di situ makan di rumah makan itu.

Pemilik rumah makan itu bernama Gui Lok, seorang laki-laki berusia empat puluh lima tahun yang perutnya gendut dan orangnya ramah. Gui Lok ini ahli masak, dan pandai bergaul, pandak menjilat dan mata duitan. Isterinya yang pertama telah meninggal dunia, meninggalkan seorang anak perempuan yang usianya kini sudah tujuh belas tahun, cantik manis dan ramah walaupun agak pendiam. Gui Lok telah menikah lagi, dengan seorang janda muda yang usianya baru dua puluh lima tahun, cantik dan genit. Tiga orang ini semua turun tangan mengurus rumah pernginapan dan rumah makan mereka. Biarpun di kedua tempat itu sudah terdapat pegawai-pegawai yang bertugas, namun ayah ibu dan anak itu selalu saja membantu, kadang-kadang dirumah penginapan, akan tetapi lebih sering di rumah makan. Gui Lok sering membantu di dapur memberi petunjuk kepada para tukang masak, sedangkan isterinya dan puterinya membantu diluar. Hal ini menambah semaraknya rumah makan itu karena keduanya merupakan dua orang wanita yang cantik manis. Isteri Gui Lok dengan kecantikan yang genit memikat, sedangkan Gui Ai Ling degan kecantikan seorang gadis yang sedang mekar bagaikan setangkai bunga segar.

Pagi itu, para tamu dari rumah penginapan sudah berada di rumah makan itu untuk sarapan pagi. Ada yang memesan bubur ayam, ada yang makan bakmi atau makan bakpao, bahkan mereka yang gembul pagi-pagi sudah memesan nasi dengan lauk pauknya!

Di antara para tamu itu, nampak seorang pemuda duduk sendirian di sudut luar rumah makan. Dia seorang pemuda berusia kurang lebih dua puluh dua tahun, memiliki tubuh yang sedang namun tegap dengan dadanya yang bidang. Matanya bersinar-sinar menncorong, mulutnya tersenyum-senyum dan memang pemuda ini berwajah cerah dan manis. Hidungnya mancung dan pakaiannya sederhana, berwarna biru dengan garis-garis kuning. Agaknya pemuda yang menjadi tamu rumah penginapan itu, sehabis sarapan hendak segera pergi ke luar kota karena di atas meja terdapat sebuah caping lebar pelindung panas dan hujan.

Nampaknya saja dia seorang pemuda sederhana biasa saja. Terdapat ribuan orang pemuda seperti dia dan kehadirannya di situ sama sekali tidak menarik perhatian orang, kecuali isteri dan puteri Gui Lok karena pemuda itu memang dapat dibilang tampan dan sikapnya menarik. Akan tetapi orang kalau sudah mengenal pemuda ini, dia akan terkejut melihat kehadirannya karena pemuda ini sesungguhnya sama sekali bukan orang muda biasa saja, melainkan seorang pemuda gemblengan, murid dari dua orang di antara Delapan Dewa, kemudian digembleng dalam hal ilmu sihir oleh mendiang Pek Mau San-jin dan masih beruntung pula menjadi murid kakek Song Lo-jin yang aneh dan sakti. Pemuda ini bernama Tang Hay, atau lebih dikenal dengan sebutan Hay Hay saja.

Seperti juga halnya pendekar Pek Han Siong, kehidupan Hay Hay ini sejak kecil diliputi penuh rahasia, menjadi rebutan dan terancam bahaya maut. Bahkan kehidupannya di masa dia masih bayi erat hubungannya dengan Pek Han Siong. Ibunya telah tewas sejak dia masih bayi dan dia bahkan tidak tahu siapa nama ibunya. Ibunya adalah seorang gadis yang menjadi korban jai-hwa-cat yang berjuluk Ang-hong-cu, dan Si Kumbang Merah itu meninggalkan ibunya setelah mengandung. Ibunya membunuh diri di laut bersamanya, akan tetapi dia sendiri diselamatkan oleh mendiang kakek Pek Khun, yaitu kakek buyut dari Pek Han Siong, kemudian dia diaku anak oleh Pek Kong, ayah Pek Han Siong. Dia dijadikan pengganti Pek Han Siong yang diam-diam dilarikan karena anak itu dianggap Sin-tong dan diperebutkan oleh para pendeta Lama di Tibet karena dianggap sebagai calon guru besar di Tibet! Dan ketika dia masih bayi dan menjadi anak keluarga Pek, pengganti Pek Han Siong, dia diculik oleh suanli isteri Lam-hai Siang-mo! Dia diambil anak oleh sepasang iblis itu dan namanya menjadi Siangkoan Hay, karena Lam-hai Siang-mo itu terdiri dari suami Siangkoan Leng dan isteri Ma Kim Li, dua orang datuk sesat yang amat jahat. Dalam usia tujuh tahun, dia yang masih dianggap sebagai sin-tong, diperebutkan lagi di antara orang-orang dunia kang-ouw sampai akhirnya dia mendengar bahwa dirinya bukanlah putera kandung Lam-hai Siang-mo! Dia lalu melarikan diri, dikejar-kejar oleh para kang-ouw dan akhirnya diselamatkan oleh See-thian Lama atau Gobi San-jin, seorang di antara Delapan Dewa, menjadi muridnya. Kemudian dia menjadi murid Ciu-sian Sin-kai, juga seorang di antara Delapan Dewa. Demikianlah, berturut-turut dia menjadi murid orang-orang sakti sehingga Hay Hay kini menjadi seorang pemuda gemblengan yang memiliki kesaktian. Bukan saja ilmu silatnya tinggi, akan tetapi juga dia memiliki ilmu sihir yang cukup hebat!   Pemuda ini memiliki watak periang. Suka bergembira dan menggoda orang, dan dia pandai sekali merayu wanita dengan omongan manis sehingga para wanita mudah sekali jatuh cinta atau setidaknya tertarik kepadanya. Akan tetapi, biarpun hal ini agaknya diwarisinya dari ayahnya yang tak pernah dijumpainya, namun dia bukan seorang perusak wanita, bukan seorang pria cabul yang suka memperkosa atau mempermainkan wanita. Biarpun karena ulahnya itu dia dijuluki Pendekar Mata Keranjang, namun sifat mata keranjangnya itu hanya di kulit saja, hanya di luar dan dia selalu menjaga agar jangan sampai dia mengganggu atau berjina dengan wanita.

Ketika para pendekar menentang pemberontakan yang dipimpin oleh persekutuan Lam-hai Giam-lo, Hay Hay juga ikut membantu para pendekar, bahkan ia terlibat secara langsung. Dia berjasa banyak dalam perjuangan itu, akan tetapi karena sifatnya yang mata keranjang, ketika ada beberapa orang gadis menjadi korban perkosaan Ang-hong-cu, dialah yang dituduh! Dan ditempat itu pula baru Hay Hay mendapat kenyataan bahwa Ang-hong-cu, penjahat keji perusak wanita itu, bukan lain adalah ayah kandungnya sendiri! Dia lalu mengambil keputusan untuk menebus dosa ayahnya itu, bukanhanya dengan perbuatan-perbuatan baik sebagai seorang pendekar, namun terutama sekali dia harus dapat menangkap ayah kandungnya sendiri agar orang itu mempertanggungjawabkan semua dosanya. Dia harus menangkap Si Kumbang Merah! Demikianlah riwayat singkat dari Tang Hay atau Hay Hay yang dikenal sebagai Pendekar Mata Keranjang! Padahal, sampai dia berusia dua puluh dua tahun itu, dia masih seorang perjaka tulen! Dan pada pagi hari itu dia duduk di dalam rumah makan karena malam tadi dia bermalam di rumah penginapan Hok-lai-koan.

Hay Hay enak-enak duduk seorang diri, menunggu datangnya pesanannya, yaitu bubur ayam dan air teh panas. Dia tidak tahu betapa sejak dia datang, dia telah menarik perhatian dua orang wanita cantik, ibu dan anak tiri pemilik rumah makan itu. Selagi dia melamun, dia mendengar suara langkah kaki halus menghampirinya. Tentu saja suara ini amat halus dan lirih, tidak terdengar di antara kebising dan para tamu, akan tetapi cukup jelas bagi telinga Hay Hay yang terlatih. Dia mengira pesanannya yang datang, maka dia menoleh dan seketika wajahnya berseri dan matanya bersinar-sinar. Seorang gadis berusia tujuh belas tahun yang berwajah manis telah berdiri di dekat mejanya, memandang kepadanya dengan senyum yang mengalahkan madu manisnya! Dengan ramah sekali gadis itu bertanya tanpa malu-malu kepadanya,

"Apakah kongcu (tuan muda) belum dilayani? Apakah sudah memesan makanan dan minuman?"

Hay Hay tertegun. Sukar baginya untuk menduga bahwa gadis manis ini seorang di antara para pelayan rumah makan itu. Gadis semanis ini? Dia mengangguk sambil tersenyum, "Sudah, aku sudah pesan kepada seorang pelayan tadi. Bubur dan air teh."

"Kalau begitu, harap tunggu sebentar, kongcu. Maafkanlah kalau pelayanannya kurang cepat karena banyaknya tamu."

"Tidak mengapa, nona. Biar harus menunggu setahun di sini, kalau ada nona yang menemani bicara, sungguh merupakan suatu kebahagiaan besar bagiku. Aduh, betapa sayangnya………… !"

Gadis i tu memandang dengan kedua pipi berubah merah. Biarpun pemuda ganteng ini memujinya, akan tetapi pujian itu tidak kasar dan kurang ajar, berbeda dengan para tamu pria lainnya yang biasanya suka mengeluarkan kata-kata kotor, tidak bersusila dan bahkan kurang ajar kepadanya.

"Kongcu, apanya yang sayang?" tanyanya, ingin tahu apa yang dimaksudkan pemuda ini.

"Ketika tadi aku melihat engkau berdiri seanggun itu, aku mengira sedang bermimpi bertemu bidadari! Ketika nona bicara, kusangka seorang puteri bangsawan yang menjadi tamu restoran ini. Sungguh sayang gadis secantik jelita nona ini, yang anggun, manis dan elok, ternyata seorang pelayan. Di sini tempat umum dan nona tentu akan selalu digoda orang, kenapa nona secantik ini tidak tinggal saja dirumah dan melakukan pekerjaan lain?"

Wajah itu berubah semakin merah, akan tetapi bukan karena marah. Kecantikannnya dipuji setinggi langit, disamakan bidadari, disangka puteri bangsawan! Hati gadis mana tidak akan berdebar pebuh rasa bangga kalau dipuji-puji seperti ini oleh seorang pria yang ganteng? Apalagi pujian itu sama sekali tidak kurang ajar, bahkan mengandung nasihat.

"Aih, kongcu ini bisa saja memuji orang!" katanya sambil menggigit bibirnya dan matanya mengerling malu-malu akan tetapi hatinya senang. "Sebetulnya, aku bukanlah pelayan rumah makan ini, kongcu. Ayahku pemilik rumah penginapan dan rumah makan ini, aku ikut membantu para pekerja di sini."

"Ah, kalau begitu aku bersikap kurang hormat dan telah lancang bicara!" Hay Hay segera bangkit berdiri dan memberi hormat kepada gadis itu. "Silakan duduk, nona. Sungguh aku merasa beruntung sekali dapat bertemu dan berkenalan denganmu. Namaku Hay Hay, dan nona…..?"

"Ai Ling……….. ! Mari sini, ada tamu datang sambutlah!" Tiba-tiba terdengar suara seorang wanita lain.

"Hemm, namamu Ai Ling, nona? Nama yang amat manis, semanis orangnya." kata Hay Hay.

Akan tetapi gadis itu sudah menjauhinya sambil berseru. "Baik, ibu!1! Dan iapun pergi menuju ke pintu masuk untuk menyambut tamu-tanlu yang baru datang. Sementara itu, kembali Hay Hay menjadi bengong ketika melihat siapa yang datang membawa baki terisi bubur dan minuman teh yang dipesannya, yaitu wanita yang tadi menegur Ai Ling, dan yang disebut ibu oleh gadis itu.

Ibu gadis itu? Mana mungkin? Wanita yang datang dengan lenggang yang aduhai ini paling banyak berusia dua puluh lima tahun! Seorang wanita yang sudah matang, dengan tubuh denok montok, penuh lekuk lengkung menggairahkan, wajahnya putih dan cantik manis, hanya sayang agak terlalu tebal bedak dan gincu yang dipakainya, dengan pakaian yang indah dan mahal, rambut digelung rapi dengan hiasan menarik. Wanita ini dengan lenggang yang lemah gemelai seperti penari ahli, datang menghampirinya dan tersenyum manis kepada Hay Hay.   Maaf kalau agak lambat, kongcu. Inilah pesananmu. Bubur ayam dan minuman air teh, bukan?" katanya sambil meletakkan hidangan itu di atas meja. Ia berdiri dekat sekali dengan Hay Hay sehingga pemuda ini dapat mencium keharuman semerbak keluar dari pakaian wanita ini. Dia masih bengong mengamati wanita ini, akhirnya dia menarik napas panjang dan berkata,

"Terima kasih, akan tetapi……. tidak salahkah pendengaranku? Tadi Ai Ling menyebut ibu……., tidak kelirukah aku?"

Wanita itu adalah isteri Gui Lok, bernama Kim Hwa. Dengan sikap genit ia mengerling kepada pemuda ganteng yang sejak tadi memang amat menarik perhatiannya itu, lalu tersenyum cerah, sehingga nampak kilatan giginya yang putih.

"Engkau tidak keliru, kongcu. Aku Kim Hwa, ibu tiri dari Ai Ling. Kenapa kongcu meragukan?" Hay Hay menarik napas panjang lagi. "Aihh, siapa yang tidak ragu-ragu? Engkau masih begini muda, cantik jelita lagi, pantasnya nlenjadi kakak dari Ai Ling, kalau kalian enci adik barulah pantas. Kiranya engkau ibu tirinya? Sungguh, kalian adalah dua orang wanita yang sama cantik manisnya, pantas saja rumah makan ini selalu penuh. Kalian bagaikan dua tangkai bunga mawar indah yang menghias tempat ini sehingga banyak kumbang beterbangan dan berkeliaran di sini…….. !"

Senyum di wajah yang cantik genit itu makin cerah dan sepasang mata yang menantang itu makin berseri, "Ihh, kongcu. Rayuanmu maut! Engkau sendiri seorang pemuda yang amat menarik hati. Siapakah namamu, orang muda yang tampan?" ,

"Namaku Hay Hay…… "

"Hay Hay, di kamar nomor berapa?"

"Kamar bagian belakang, nomor tujuh."

"Kongcu malam nanti lewat jam dua belas, kalau babi itu sudah pulas, aku ingin berkunjung ke kamarmu ………….." berkata demikian, wanita itu pergi meninggalkan mejanya sambil membawa baki kosong, melempar senyum dan kerling tajam yang membuat Hay Hay bengong di atas bangkunya! Bukan main, pikirnya. Nyonya muda itu begitu saja menjanjikan permainan kotor dengannya! Tidak salah lagi, tentu yang dimaksudkan babi itu tentu suaminya, atau ayah Ai Ling! Justeru pada saat itu, dari pintu belakang yang menembus ke dapur, muncul seorang laki-laki berusia kurang lebih empat puluh lima tahun, seorang pria bertubuh gendut sekali, dan yang melihat sikapnya tentu dia adalah majikan rumah makan itu! Benar saja, pria gendut itu menggapai kepada Kim Hwa dan wanita genit itu segera menghampirinya dan mereka bicara bisik-bisik, keduanya memandang ke arah tamu baru yang datang dan disambut oleh Ai Ling. Melihat ini, Hay Hay juga menoleh dan memandang ke arah gadis manis yang menyambut tamu baru itu. Tamu itu seorang laki-laki berusia lima puluh tahun, tinggi besar seperti raksasa, dengan pakaian mewah, seorang hartawan besar, akan tetapi wajahnya menyeramkan dan menakutkan karena kulit muka yang hitam itu penuh dengan bopeng, yaitu cacat bekas penyakit cacar yang membuat kulit mukanya kasar dan kelihatan kotor. Matanya agak besar sebelah, hidungnya besar sekali dan mulutnya juga lebar. Akan tetapi lagaknya jelas menunjukkan bahwa dia kaya dan royal, lagak khas seorang hartawan yang yakin akan "harga dirinya" yang diukur dengan kepadatan kantungnya. Di belakang hartawan raksasa ini ketihatan tiga orang yang juga tidak menyembunyikan lagak mereka sebagai tukang-tukang pukul atau pengawal dari si hartawan tinggi besar. Dengan lengan baju disingsingkan, pinggang dihias golok, dada dibusungkan dan kepala ditegakkan, langkah satu-satu seperti harimau, tiga orang itu seolah-olah memasang kedudukan mereka di atas dada agar semua orang tahu.

Dengan sikap manis, seperti kalau menerima tamu rumah makan itu, Ai Ling menyambut empat orang tamu ini, akan tetapi sekali ini senyum yang menghias wajah yang manis itu agak dibuat-buat. Di dalam hatinya, gadis ini tidak suka kepada tamu hartawan itu karena hartawan Coa ini sudah terkenal sekali sebagai seorang mata keranjang yang suka mempergunakan harta kekayaannya untuk memaksakan kehendaknya. Selain sebagai seorang hartawan juga Coa Wan-gwe ini seorang yang dianggap sebagai majikan dari para penjahat di sekitar kota Shu-lu. Dengan hartanya dan dengan kekuasaannya karena dia pandai mendekati para pejabat, dan dengan banyaknya tukang pukul yang menjadi pengawalnya, maka dia ditakuti oleh semua orang. Bahkan dia menguasai pula semua tempat pelesir di kota Shu-lu dan kota-kota lain yang berdekatan dengan kota raja.

Di samping banyaknya orang yang merasa takut dan diam-diam membencinya, banyak pula orang-orang yang ingin memperoleh keuntungan dari hartawan ini, dan orang-orang seperti ini tidak segan-segan untuk menjilat dan mencari muka. Kalau Gui Lok sendiri dan puterinya, Ai Ling, diam-diam merasa tidak suka bahkan membenci dan takut kepada Coa Wan-gwe, sebaliknya Kim Hwa selalu bersikap manis kepada hartawan itu. Ia maklum akan kekuasaan dan kekayaan hartawan ini, bahkan tahu pula bahwa jika keluarga suaminya tidak membikin senang hati hartawan ini, maka perusahaan suaminya terancam kebangkrutan.

Kalau hartawan itu memusuhi mereka, tidak sukar baginya untuk memaksa suaminya menutup rumah penginapan dan rumah makannya, dengan menggunakan kekerasan dan siapakah yang akan berani membela suaminya? Semua pembesar di Shu-lu, dari yang paling rendah sampai yang paling tinggi, semua telah berada dalam genggaman tangan Coa Wan-gwe, seperti boneka-boneka yang dapat menari menurut kehendak hartawan itu. Tiga hari yang lalu, ketika makan di rumah makan mereka, hartawan itu ketika dilayani Kim Hwa telah membisikkan hasrat hatinya untuk "memetik" bunga rumah makan itu, yaitu Ai Ling! Mendengar ini, tentu saja hati Kim Hwa diliputi rasa takut. Akan tetapi diam-diam ia juga merasa girang karena sebetulnya semenjak menjadi isteri Gui Lok, ia membenci Ai Ling. Maka ia lalu membujuk suaminya untuk menyerahkan Ai Ling kepada Coa Wan-gwe, untuk menjadi selir yang entah ke berapa kalinya. Gui Lok tidak setuju dan marah-marah kepada isterinya, akan tetapi diapun merasa khawatir sekali, tidak berani menentang kehendak Coa Wan-gwe karena dia tahu betapa bahayanya menentang kehendak orang itu.

Ketika pada pagi hari itu sang hartawan muncul bersama tiga orang tukang pukulnya, Gui Lok tidak berani keluar dari dapur. Isterinya cepat menyuruh Ai Ling menyambut tamu baru itu, kemudian iapun cepat memasuki dapur dan setengah menyeret suaminya keluar.   "Lihat, betapa besar rasa cinta Coa Wan-gwe kepada anak kita," bisik Kim Hwa kepada suaminya yang memandang dengan muka agak pucat. "Lihat, sinar matanya kepada Ai Ling. Aih, kalau engkau mempunyai menantu dia, kedudukanmu tentu akan meningkat tinggi dan tidak ada seorangpun di Shu-lu ini berani kepadamu."

Sementara itu, dengan sikap manis dibuat-buat, Ai Ling menyambut tamu-tamu itu, "Selamat pagi, lo-ya (tuan besar), dan silakan duduk di sudut sana. Masih ada meja Kosong untuk lo-ya sekalian." kata Ai Ling. dengan senyum buatan.

Coa Wan-gwe bengong memandang gadis yang manis itu. Seperti setangkai bunga yang sedang mekar semerbak, pikirnya. Dia mengangguk-angguk, lalu berkata, "Ai Ling, engkau sediakan bakmi dan panggang babi, juga arak yang cukup untuk kami, dan engkau sendiri harus melayani aku pagi ini. Jangan khawatir, akan kuberi hadiah yang banyak, Ai Ling, manis……. !" Tiga orang tukang pukulnya tertawa-tawa dan Ai Ling tersipu.

"Maaf, lo-ya, saya masih mempunyai banyak pekerjaan. Akan tetapi, akan saya sampaikan pesannya lo-ya. Silakan duduk!" Gadis itu lalu setengah berlari masuk ke dalam.

Sejak tadi Hay Hay menyaksikan semua yang terjadi itu. Telinganya yang terlatih itu dapat menangkap bisikan hartawan tinggi besar muka bopeng ketika mengajak Ai Ling untuk melayaninya dan diam-diam dia merasa tidak senang kepada orang tinggi besar itu. Sikapnya begitu pongah dan congkak, seperti biasa memerintah, dan sinar matanya begitu penuh nafsu seolah-olah menggerayangi tubuh Ai Ling dari atas ke bawah. Orang ini berbahaya sekali, pikirnya dan dia mengkhawatirkan keselamatan Ai Ling. Dia melihat betapa Ai Ling kelihatan ribut-ribut mulut dengan ayah dan ibu tirinya, walaupun mereka hanya berbisik-bisik. Nampak olehnya di balik pintu ke dapur itu betapa Ai Ling menggeleng kepala keras-keras seperti menolak, sedangkan Kim Hwa memegang pundaknya dan seperti membujuk-bujuk. Gui Lok yang gendut seperti babi itu hanya menggeleng-geleng kepala dengan bingung dan khawatir .

Kini nampak Kim Hwa yang mengantar seorang pelayan membawakan pesanan makanan dan minuman untuk hartawan itu. Setelah mengatur hidangan di atas meja, dan pelayan itu pergi, Kim Hwa berbisik kepada hartawan itu, suaranya manis dibuat-buat.

"Harap Coa tai-ya sudi memaafkan Ai Ling. Dasar anak pemalu, dan ia banyak pekerjaan di dalam, maka tidak dapat melayani tai-ya. Biarlah saya yang melayani di sini." Dengan sikap manis seka1i ia lalu menuangkan arak ke dalam cawan untuk hartawan itu, sedangkan tiga orang tukang pukul itu memandang nyonya muda itu dengan senyum-senyum senang.

Akan tetapi hartawan itu cemberut. "Hemm, apakah engkau belum menyampaikan hasrat hatiku kepadanya dan kepada suamimu?"

"Sudah, tai-ya."

"Dan suamimu tidak setuju?" Sepasang mata hartawan itu memandang penuh ancaman.

"Ah, tidak, tidak! Mana ia berani? Dia hanya menyerahkan kepada saya, dan kepada puterinya. Percayalah, tai-ya tentu akan mendapatkan apa yang dikehendakinya." kata Kim Hwa dengan sikap manis.

Sejak tadi, Hay Hay terus mendengarkan. Kebetulan meja yang dihadapi rombongan hartawan itu tidak begitu jauh dari tempat duduknya sehingga pendengarannya yang tajam dapat menangkap semua percakapan itu walaupun dilakukan dengan berbisik-bisik dan lirih.

"Hemm, nyonya Gui, dengar baik-baik. Aku sudah tidak sabar lagi. Malam ini aku akan bermalam di rumah penginapan suamimu. Sediakan kamar terbaik, dan malam nanti aku sungguh mengharapkan ia berada di dalam kamarku! Kalau perintahku sekali ini tidak ditaati, jangan menyesal kelak kalau keluarga dan perusahaan suamimu menjadi berantakan!" .

Wajah wanita itu nampak ketakutan, "Baik, tai-ya, jangan khawatir……," lalu suaranya menjadi semakin lirih, "Bagaimanapun juga, saya akan mengusahakan agar dapat mendorongnya ke kamar tai-ya. Akan tetapi karena ia pemalu, harap tai-ya menunggu sampai lewat tengah malam, kalau perlu saya akan memaksanya "

Hartawan tinggi besar itu tersenyum lebar dan menjilati bibirnya, lalu mengeluarkan sebuah bungkusan dari dalam saku bajunya. "Tidak perlu dengan paksaan, kaugunakan ini. Campurkan dalam makanan atau minumannya dan ia akan menjadi mabok dan tidak akan melawan lagi."

Kim Hwa menerima bungkusan itu, lalu melayani hartawan Coa dan tiga orang tukang pukulnya makan minum sam-pai mereka .menjadi setengah mabok. Sementara itu, Hay Hay sudah meninggalkan rumah makan. Hatinya panas sekali. Hartawan mata keranjang, pikirnya, perusak gadis-gadis orang. Dan wanita genit tak tahu malu itu merupakan seorang ibu tiri yang kejam dan jahat, ingin menjebloskan puteri tirinya ke dalam lembah kehinaan dan menghidangkan puteri itu, seorang gadis manis, menjadi santapan si bandot tua Coa! Dia harus mencegah hal ini terjadi, pikirnya.

Akan tetapi karena peristiwa yang direncanakan orang-orang jahat itu baru akan di1aksanakan malam nanti, maka Hay Hay melanjutkan acaranya hari itu, ialah melakukan penyelidikan dan mencari jejak Ang-hong-cu, Si Kumbang Merah, atau ayah kandungnya sendiri, untuk dibekuknya dan dipaksanya mempertanggungjawabkan semua dosanya, apalagi mempertanggungjawabkan perbuatan hinanya, memperkosa dua orang gadis yang amat dikaguminya, yaitu perbuatan yang dilakukannya ketika para pendekar sedang menentang persekutuan Lam-hai Giam-lo. Dua orang gadis pendekar itu yang pertama adalah Pek Eng, adik kandung Pek Han Siong, puteri dari ketua Pek-sim-pang di Kong-goan. Yang kedua adalah Ling Ling atau Cia Ling, puteri dari pendekar besar Cia Sun, masih keluarga dari Cin-ling-pai, yang tinggal di dusun Ciang-si-bun dekat kota raja. Peristiwa aib yang menimpa dua orang gadis perkasa itu telah mencemarkan namanya, karena dialah yang mula-mula dituduh sebagai pelakunya! Oleh karena itu, dia harus dapat membekuk batang leher Ang-hong-cu, ayahnya sendiri, dan menyeretnya kepada dua orang pendekar wanita itu untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, untuk mencuci bersih namanya sendiri yang hampir saja tercemar dan menjadi busuk! .   Mencari seorang datuk sesat haruslah menghubungi dunia penjahat, pikir Hay Hay. Maka diapun tidak ragu-ragu lagi memasuki sebuah rumah judi terbesar dikota Shu-lu. Rumah judi ini bercat merah dan cukup luas. Ada beberapa belas meja perjudian. Ada permainan dadu, permainan kartu dan ma-ciok. Akan tetapi yang paling ramai dipenuhi orang adalah meja dadu terbesar di tengah ruangan. Banyak sekali tamu yang datang mengadu untung di tempat perjudian itu. Ketika Hay Hay masuk dengan memakai topinya yang lebar, segera ada dua orang tukang pukul menghampirinya. Karena dia tidak dikenal, dan pakaiannya sederhana, juga mengenakan topi caping yang lebar, maka tentu saja dia dicurigai.

"Hei, kawan. Di sini tidak boleh memakai caping lebar, seperti di sawah saja!" tegur seorang di antara mereka.

"Ke sinikan, kautitipkan dulu capingmu kepada kami. Nanti kalau kau hendak pulang, boleh kau ambil dari kami!" kata yang ke dua.   Hay Hay menoleh dan melihat dua orung laki-laki tinggi besar dan nampak kokoh kuat, berdiri dengan sikap bengis dan mengancam. Hay Hay tersenyum dan menanggalkan topi capingnya, lalu menyerahkan kepada mereka.

"Harap jaga baik-baik capingku, karena di sini tidak ada orang yang menjual caping lebar model selatan ini," katanya sambil tersenyum. Seorang tukang pukul menerima caping itu, dan orang ke dua memandang Hay Hay dengan sinar mata tajam penuh selidik.

"Sobat, apakah engkau datang hendak berjudi?"

Hay Hay tersenyum. "Sobat, kalau orang memasuki rumah judi lalu tidak hendak berjudi, lalu mau apa?"

"Hemm, siapa tahu? Ada saja manusia tolol yang mencoba-coba untuk merampok di po-koan (rumah judi) kami, ha-ha-ha!"

"Ha-ha-ha, dan mereka itu dihajar habis-habisan, bahkan ada yang mampus! Mereka tidak tahu siapa kami!" kata orang ke dua.

Hay Hay ikut tertawa. "Sungguh tidak tahu diri! Merampok sebuah po-koan? Itu namanya tidak mengenal kawan sendiri. Nah, aku tidak setolol itu, kawan. Aku datang untuk mengadu untung!" Dia menuding ke arah meja dadu yang penuh orang.

"Nanti dulu sobat, kalau engkau hendak berjudi, engkau harus mempunyai modal. Nah, perlihatkan dulu modalmu. Maklumlah, engkau orang baru dan kami harus berhati-hati!"

Hay Hay tersenyum. Memang ada dia membawa uang, akan tetapi tidak cukup banyak. Dia bukanlah seorang kaya yang banyak uang. Dia mengeluarkan beberapa uang logam tembaga yang tidak berapa banyak, hanya segenggam dan harganya tentu saja tidak seberapa, akan tetapi pandang matanya mencorong ketika memandang kepada dua orang itu dan dia berkata sambil tertawa.

"Lihat, cukuplah modalku ini?"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar