Pukulan yang hanya satu kali itu telah membuat mereka terluka dalam. Kini mereka bertujuh memandang kepada Ceng Lojin dengan mata terbelalak, jelas nampak keraguan dan ketakutan membayang pada wajah mereka.
Melihat betapa gurunya dalam keadaan sedang lemah itu mampu merobohkan tujuh orang pengeroyoknya dalam segebrakan saja, Si Kong merasa kagum dan bangga, akan tetapi juga merasa khawatir sekali.
Suhunya telah menggunakan Thi-khi-i-beng,hal itu tidak mengapa karena penggunaan ilmu ini tidak perlu mengerahkan tenaga sinkang, akan tetapi ketika suhunya memukul roboh tujuh orang itu dengan ilmu Hok-liong Sin-ciang, jelas bahwa suhunya telah mengerahkan tenaga sinkangnya dan hal ini amat berbahaya bagi jantung suhunya yang sudah amat lemah itu.
Melihat tujuh orang itu sudah bangkit kembali, Si Kong khawatir kalau-kalu mereka menggunakan senjata untuk mengeroyok suhunya lagi, maka diapun menyambar sebatang tongkat bambu dan dengan gerakan yang cepat bagaikan kilat dia sudah meloncat ke depan tujuh orang itu.
Dia melintangkan tongkatnya di depan dada dan membentak dengan pengerahan khikang sehingga suaranya terdengar mengguntur penuh wibawa.
"Suhu sudah mengampuni kalian dan tidak menggunakan pukulan maut, apakah kalian masih juga belum jera dan minta mati?’
Tujuh orang itu memang tadi sudah terkejut sekali menyaksikan kelihaian Pendekar Sadis yang kini telah menjadi kakek tua renta itu.
Mereka sudah merasa jerih menghadapi kakek ini. Kini, melihat gerakan Si Kong yang demikian tangkas dan kokoh kuat, sedikit keberanian mereka untuk tetap menyerang dengan senjata menjadi buyar dan Toa Ok berseru,
"Mari kita pergi!"
Tujuh orang itu melarikan diri dengan agak terhuyung karena mereka semua menderita luka dalam. Si Kong memandang sampai bayangan mereka lenyap ke dalam sebuah perahu yang tadi mereka daratkan dan dia memutar tubuhnya dengan cepat ketika mendengar suara rintihan suhunya.
Begitu dia memutar tubuh, dia melihat suhunya terhuyung dan cepat dia meloncat dan menahan tubuh suhunya yang sudah terguling roboh. Di lain saat kakek itu sudah jatuh pingsan dalam rangkulan Si Kong.
Si Kong cepat memondong tubuh suhunya. Betapa riangannya tubuh suhunya dan baru Si Kong teringat bahwa suhunya sudah amat tua dan tubuhnya kurus sekali. Dengan hati terharu dan khawatir dia merebahkan suhunya di atas pembaringan dan cepat melakukan pemeriksaan.
Ternyata detak jantung suhunya itu lemah sekali, bahkan hampir berhenti! Si Kong terkejut dan memeriksa pernapasan suhunya. Juga amat lemah dan terengah-engah. Hampir Si Kong menangis.
Dengan pengetahuannya tentang ilmu pengobatan, tahulah dia bahwa keadaan gurunya gawat sekali dan tidak mungkin tertolong lagi.
Suhunya telah menggunakan seluruh sisa daya tahannya untuk mengerahkan sinkang dan kini telah kehabisan tenaga sama sekali. Suhunya tidak mengalami luka dalam, akan tetapi karena keadaan tubuhnya yang tua itu lemah sekali, maka penggunaan tenaga sinkang itu menghabiskan daya tahannya.
Si Kong lalu menggunakan kedua telapak tangannya ditempelkan kedada gurunya dan mengerahkan sinkangnya untuk membantu suhunya agar jantungnya dapat bekerja kembali. Hawa hangat yang mengalir keluar dari kedua telapak tangannya, memasuki tubuh tua itu dan tak lama kemudian suhunya membuka matanya, memandang kepada Si Kong dan tersenyum!
"Suhu…….!"
kata Si Kong, terharu melihat betapa dalam keadaan seperti itu suhunya masih dapat tersenyum sedemikian cerahnya!
"Si Kong……. aku……. telah kalah………" katanya lirih, suaranya sukar sekali keluar dari kerongkongannya.
"Tidak, suhu! Suhu telah berhasil mengusir tujuh iblis itu dari sini!" kata Si Kong menghibur suhunya.
"He-he…… mengahadapi tujuh iblis kecil itu……. aku tidak pernah kalah……., akan tetapi aku harus menyerah kalah….. terhadap usiaku……."
"Suhu, teecu akan merawat dan mengobati suhu sekuat dan semampu teecu."
Kakek itu menggeleng kepalanya.
"Akan sia-sia saja, Si Kong…… dan engkau juga sudah tahu akan hal itu……..
ilmu perngobatanmu juga tidak berdaya melawan serangan usia tua….!
Kematian adalah hal yang wajar, merupakan kelanjutan daripada kehidupan…..
maka tidak perlu disesalkan….."
Pada saat itu, Si Kong mendengar gerakan di luar pondok. Cepat sekali tubuhnya berkelebat dan dia sudah meloncat keluar karena dia khawatir kalau-kalau para musuh itu datang lagi.
Akan tetapi begitu tiba di luar pondok, dia terbelalak dan jangtungnya berdebar tegang dan bingung. Sama sekali bukan para iblis tadi yang datang, melainkan seorang gadis yang jelita dan manis sekali.
Gadis itu berusia sekitar delapan belas tahun, kulit mukanya putih kemerahan tanpa bedak dan yanci (pemerah kulit), tubuhnya langsing sekali, pinggangnya kecil, dada dan pinggulnya membusung. Pakaiannya serba merah muda dan di punggungnya terdapat sepasang pedang.
Si Kong menatap wajah itu. manis sekali dengan dahinya yang dihias anak-anak rambut yang gemulai, alis yang kecil panjang hitam seperti dilukis. Sepasang matanya begitu tajam bersinar-sinar seperti bintang kejora.
Hidungnya kecil mancung, serasi sekali dengan mulutnya yang tersenyum mengejek dengan bibir yang merah basah. Dagunya runcing membuat muka itu berbentuk bulat telur.
Karena tidak mengira sama sekali, bahwa dia akan berhadapan dengan seorang gadis yang demikian cantik jelitanya, Si Kong sampai tidak mampu mengeluarkan sepatah katapun.
Gadis itupun terkejut ketika melihatnya berkelebat secepat itu, akan tetapi ia segera berkata, "Ah, engkau tentu yang bernama Si Kong, murid dari kakek buyut itu!"
Si Kong juga terkejut. Gadis ini menyebut suhunya kakek buyut! Dia sudah mengenal cucu gurunya, wanita perkasa yang menjadi ketua Cin-ling-pai itu bersama suaminya yang gagah perkasa. Gadis ini tentu puteri mereka.
"Nona….. siapakah……?" tanyanya dengan ragu.
Pada saat itu terdengar suara pria yang nyaring bergema, "Hui Lan, apakah engkau sudah bertemu dengan kakek buyutmu?" Baru saja suaranya terhenti, orang sudah muncul di situ. Seorang laki-laki berusia lima puluh tahun lebih bersama seorang wanita berusia empatpuluh delapan tahun.
Melihat mereka, Si Kong segera memberi hormat. Biarpun dia murid kakek mereka, akan tetapi karena usianya jauh lebih muda, dia menyebut paman dan bibi kepada mereka. Hal inipun sudah diseteujui oleh gurunya agar tidak menempatkan Si Kong dalam kedudukan yang terlalu tinggi.
"Si Kong, bagaimana dengan kong-kong? Di mana dia?" tanya Cia Kui Hong kepada pemuda itu.
"Paman dan bibi, suhu berada dalam keadaan yang gawat. Silakan ji-wi (anda berdua) masuk. Suhu berada di dalam kamarnya."
Mendengar ini, Tang Hay dan Cia Kui Hong terkejut dan cepat mereka masuk, diikuti oleh puteri mereka Tang Hui Lan. Si Kong mengikuti dari belakang.
"Kong-kong…..!" Cia Kui Hong berseru dan cepat berlututdi dekat pembaringan.
"Kong-kong, bagaimana keadaanmu?"
Tang Hay juga berlutut. Suami isteri ini memeriksa denyut nadi tangan kakek itu dan mereka terkejut bukan main. Denyut itu sebentar terasa sebentar tidak. kakek mereka dalam keadaan yang gawat sekali, bahkan dalam sekarat!
Kakek itu yang tadinya telah memejamkan kedua matanya, mendengar suara mereka dan membuka kembali kedua matanya. Dia memandang kepada cucu, cucu mantu, lalu cucu buyutnya.
Senyumnya mengembang lagi di mulutnya.
"Beruntung sekali….. kalian datang……. Hampir terlambat….."
"Kakek kenapa?"
tanya Kui Hong dengan gugup, lalu berkata kepada suaminya, "Cepat keluarkan batu giok mustika itu untuk mengobati kakek!"
Tang Hay mengeluarkan sebuah batu giok yang tadinya disimpan di dalam saku bajunya, "Si Kong, minta air minum……., cepat!"
Si Kong tahu bahwa semua itu tidak ada gunanya, akan tetapi dia tidak membantah dan cepat menuangkan semangkuk air teh dan menyerahkannya kepada Tang Hay. Pendekar ini lalu memasukkan batu gioknya ke dalam air teh, dibantu oleh isterinya, memberikan obat itu untuk di minum Ceng Lojin. Kakek itu meminumnya sedikit, lalu berkata lemah,
"Tidak ada gunanya……. lagi…… tidak ada obat….. bagi penyakit usia lanjut…. kalau dapat di obati…… tentu Si Kong……. telah menyembuhkanku…….."
Baru Tang Hay dan Cia Kui Hong teringat bahwa Si kong pernah mempelajari ilmu pengobatan dari Yok-sian Lo-kai. Kui Hong segera bertanya kepada Si Kong, "Bagaimana keadaannya?"
"Keadaannya gawat, tidak dapat diobati lagi. Jantungnya sudah terlalu lemah dan paru-parunya juga tidak bekerja dengan baik, sudah terlalu lemah. Saya sudah berbuat semampu saya, akan tetapi tidak dapat menolongnya, bibi.
Di saat dalam keadaan lemah sekali, suhu telah mengeluarkan sisa tenaganya untuk memukul tujuh iblis itu, dan inilah yang menghabiskan tenaganya dan membuat semakin lemah."
"Tujuh iblis? Apa yang terjadi? Siapa mereka itu?" tanya Kui Hong dengan cepat dan penasaran.
"Tanpa diduga-duga mereka datang, Toa Ok dan Ji Ok. Ji Ok dan mereka berlima yang menyebut diri Bu-tek Ngo-sian. Mereka mengeroyok suhu."
"Kenapa engkau tidak membantu suhu?" tanya Tang Hay dengan suara mengandung teguran.
Si Kong menghela napas panjang.
"Suhu terlalu gagah, terlalu jantan untuk mengelak dari tantangan mereka. Suhu tidak membolehkan saya turun tangan dan suhu menghadapi mereka sendiri. Suhu berhasil memukul mereka satu demi satu dan mereka melarikan diri, akan tetapi suhu telah menggunakan seluruh sisa tenaganya. Saya tidak berani membantah perintah suhu……"
"Akan tetapi kalau engkau sudah mengetahui keadaan kong-kong lemah, seharusnya engkau mencegah dia menghadapi keroyokan lawan!" Kui Hong berkata dengan nada marah.
Wanita ini belum kehilangan watak kerasnya. Apa lagi ia memang ada sedikit perasaan iri terhadap Si Kong yang mewarisi ilmu kong-kongnya.
"Sudahlah….." terdengar Ceng Lojin berkata.
"Aku puas…. dapat mengusir mereka……
aku akan menyesal kalau…… Si Kong membantuku….
aku girang dapat mati…… sebagai orang gagah…..
bukan musuh yang membunuhku……. melainkan usia tua……
jangan marahi Si Kong….. dia anak baik……. Kui Hong cucuku…..
aku sudah pesan kepada Si Kong….. untuk mengubur aku…. dekat makam nenekmu…."
Kakek itu terengah, mengambil napas panjang beberapa kali lalu terkulai, mati.
"Kong-kong…." Cia Kui Hong menubruk kakeknya yang sudah tak bernyawa lagi itu sambil menangis.
Tang Hay menepuk lembut pundak isterinya. "Kong-kong sudah wafat, tidak ada gunanya ditangisi lagi."
Si Kong merasa dunia seperti kiamat. Ceng Lojin merupakan satu-satunya orang di dunia yang mengasihinya dan sudah dianggapnya sebagai pengganti orang tuanya, juga pengganti dua orang gurunya yang sudah meninggalkannya.
Selama empat tahun dia hidup berdua dengan kakek itu di Pulau Teratai Merah dan kini kakek itu juga meninggalkan dirinya, untuk selamanya.
Akan tetapi, di depan keluarga itu, dia menahan untuk tidak menangis. Tangisnya hanya di dalam dada, dan dia menggigit sendiri bibirnya yang bawah sehingga berdarah dan lecet.
Dia hanya berlutut dan memberi hormat ke arah jenazah suhunya sambil menangis menguguk di dalam hatinya. Lehernya seprti tercekik rasanya dan matanya terasa panas karena menahan runtuhnya air matanya.
Pemakaman jenazah Ceng Lojin dilakukan dengan sederhana sekali karena tidak tersedianya alat-alat sembahyang dan perkabungan.
Si Kong menggali lubang kuburan di samping makam isteri Ceng Lojin, dibantu oleh Tang Hay. Sebuah peti mati sederhana dibuat sendiri oleh Si Kong, dari kayu pohon di pulau itu. kemudian jenazah di kubur dengan dihadiri hanya oleh empat orang itu. kembali Kui Hong menangis sedih.
Kakeknya adalah seorang pendekar besar yang namanya dihormati oleh semua tokoh dunia persilatan, akan tetapi kakeknya meninggal dan dikubur tanpa dihadiri banyak keluarga dan handai taulan.
Padahal kalau kakeknya itu meninggal dunia di kota atau bahkan di dusun yang tidak terpencil seperti di Pulau Teratai Merah, ia yakin kematiannya tentu akan dilayat oleh banyak sekali orang, termasuk ketua dari perguruan besar di empat penjuru.
Keluarga Ceng Lojin jauh hari sudah menyadari akan hal ini, akan tetapi semua usaha mereka untuk membujuk Ceng Lojin agar mau pindah dan tinggal bersama mereka di daratan besar, percuma saja karena Ceng Lojin berkukuh untuk tinggal di pulau itu sampai hari akhir dan ingin dimakamkan di dekat makam isterinya.
Setelah penguburan selesai, Si Kong tidak mau meninggalkan kuburan suhunya. Tang Hay dan Cia Kui Hong membujuknya, akan tetapi dia tetap tidak mau pergi dari depan makam suhunya dimana dia berlutut.
"Gurumu sudah meninggal dunia dengan tenang, tidak perlu disesalkan dan disedihi lagi, Si kong." kata Tang Hay.
"Maaf, paman. Saya masih ingin merawat kuburan ini, dan belum dapat meninggalkannya. Saya persilakan paman dan bibi dan adik ini untuk kembali dulu kerumah.
Disana terdapat bahan-bahan sayuran dan juga beras untuk dimasak, kalau paman sekalian menghendaki makan." Kata Si Kong berkeras.
Terpaksa Tang Hay, Cia Kui Hong dan Tang Hui Lan meninggalkan pemuda itu untuk kembali kepondok. Akan tetapi sampai sore pemuda itu belum juga kembali.
"Anak itu amat mencinta kong-kong." kata Kui Hong.
Suaminya mengangguk. "Aku tahu bahwa di dalam hatinya dia amat kehilangan dan berduka, akan tetapi semua itu disimpannya dalam hati saja. Anak yang kuat hati."
"Ibu, sejak pagi dia berada di makam, tidak makan tidak minum, tentu dia kelaparan." Kata Hui Lan.
Kui Hong merasa kasihan juga. Akan tetapi ia merasa tidak enak kalau sebagai seorang tua ia harus mengirimkan makanan untuk pemuda itu.
"Kau saja, Lan Lan. Bawa nasi dan sayuran serta minumnya, antarkan kepadanya. Cepat sebelum hari menjadi gelap. Kalau dapat, ajak dia pulang kesini."
"Baik, ibu." Kata Hui Lan yang biasa di panggil Lan Lan oleh ayah ibunya. Gadis ini segera mengambil makanan dan minuman ke dalam mangkok dan guci, memasukkannya ke dalam keranjang dan berangkatlah ia ke makam yang berada di bagian pulau itu yang agak membukit.
Ketika tiba di makam, ia melihat Si Kong masih berlutut di depan makam dan ia mendengar pemuda itu bicara seorang diri sambil berlutut.
"Budi suhu setinggi langit sedalam lautan, selama ini suhu begitu baik kepada teecu, akan tetapi sedikitpun teecu belum dapat membalas budi suhu. Apa yang harus teecu lakukan untuk membalas budi kebaikan suhu?’ katanya dengan isak tertahan.
Demikian dalam Si Kong tenggelam dalam lautan duka sehingga dia tidak mendengar kedatangan Hui Lan, padahal pendengarannya sudah peka dan tajam sekali.
"Kalau hendak membalas budi kong-kong, engkau harus makan minum agar tidak jatuh sakit." kata gadis itu.
Si Kong menengok dan melihat Hui Lan, dia berkata, "Ah, kiranya engkau, nona."
"Aku bukan nona, namaku Hui Lan, biasa di panggil Lan Lan." gadis itu mencela.
"Maafkan aku, nona Hui Lan…."
"Engkau adalah murid kong-couw, pantasnya aku menyebut sukong (kakek guru) kepadamu dan engkau menyebut namaku begitu saja.
Akan tetapi karena engkau masih muda, tidak pantas menjadi sukong (kakek guru), maka biarlah aku memanggil namamu begitu saja. Dan engkau jangan menyebut nona Hui Lan kepadaku. Apa kata orang nanti kalau aku membiarkan kakek-guruku sendiri menyebut nona kepadaku? Sebut saja namaku atau aku tidak akan mau menjawab sama sekali."
Si Kong menghela napas. Dia tidak tahu harus bersikap bagaimana terhadap gadis ini. Selama ini dia belum pernah bergaul dengan seorang gadis, apalagi yang begini lincah dan pandai bicara seperti gadis ini.
"Baiklah, Hui Lan. Kalau aku boleh bertanya, kenapa engkau berada disini? Hari sudah hampir gelap, kembalilah kerumah, nanti orangtuamu mencarimu dengan khawatir."
"Ihh! Kaukira aku ini anak kecil yang masih di asuh oleh orang tuaku? Aku sudah pandai menjaga diri, orang tuaku tidak akan mengkhawatirkan diriku. Pula, aku kesini karena disuruh oleh ibuku."
"Disuruh oleh bibi? Disuruh apakah, nona… eh, Hui Lan?"
"Disuruh mengantarkan makanan dan minuman untukmu. Nah, inilah makanan dan minumannya. Cepat kaumakan dan minum agar tidak kelaparan."
"Akan tetapi aku tidak lapar maupun haus!"
"Bohong! Bagaimana mungkin tidak lapar dan haus kalau sejak pagi engkau belum makan dan minum? Hayolah makan dan minum, sudah susah-susah ibu memasak untukmu dan aku mengantarkannya kesini untukmu."
Si Kong menjadi tidak enak hatinya kalau terus menolak. Dia lalu minum seteguk dari guci, akan tetapi ketika hendak makan, lehernya seperti dicekik rasanya. Dia mendorong makanan itu jauh-jauh dan berkata, "Hui Lan, aku benar-benar tidak sanggup makan. Suhu baru saja meninggal dunia, bagaimana aku dapat makan?"
Melihat wajah yang penuh duka itu Hui Lan merasa kasihan juga.
"Sudahlah kalau engkau tidak mau makan, akupun tidak akan membawanya kembali. Biar disini saja, kalau engkau sudah merasa lapar, boleh kau makan.
Akan tetapi, Si Kong. kenapa engkau tenggelam dalam kedukaan yang berlarut-larut? Apakah arwah kong-couw (kakek buyut) akan senang kalau melihat engkau menyiksa diri begini di depan makamnya?"
"Bagaimana aku tidak akan berduka Hui Lan? Suhu adalah satu-satunya orang di dunia ini yang menyayangku dan kusayangi. Setelah dia meninggal dunia, aku kehilangan segala-galanya sebatang kara aku di dunia ini. Aku tidak tahu harus berbuat apa." Si Kong menunduk agar tidak nampak kesedihan yang membayang di wajahnya.
Hui Lan merasa tersentuh hatinya dan dia merasa kasihan. "Engkau memang seorang murid yang baik, Si Kong. Pantas saja kong-couw merasa amat sayang kepadamu, dan menurut ibuku, kong-couw mewariskan seluruh ilmu kepandaiannya kepadamu."
"Ah, ilmu kepandaian suhu tidak ada batasnya. Bagaimana mungkin aku dapat mempelajari semua?"
"Akan tetapi menurut ibu, engkau telah mewarisi ilmu-ilmu yang paling tinggi. kita sealiran, dan biarpun engkau ini termasuk kakek guruku, sekali-kali aku ingin mengajakmu berlatih silat. Sayang engkau masih tenggelam ke dalam duka, kalau tidak, sekarang juga aku ingin mencoba ilmumu."
Si Kong yang tadinya sudah berdiri, kembali menjatuhkan diri berlutut di depan makam. "Hui Lan, kasihanilah aku. Tinggalkan aku sendiri di depan makam suhuku yang tercinta."
"Hemm, baiklah. Akan tetapi kalau engkau benar-benar mencintai kong-couw, seharusnya engkau mencari tujuh iblis itu."
"Akan tetapi mereka tidak membunuh suhu. Mereka bahkan sudah dikalahkan oleh suhu."
"Kematian kong-couw adalah karena bertempur dengan mereka. Itu artinya mereka yang menyebabkan kematian kong-couw. Kalau engkau tidak berani menuntut balas, akulah yang kelak akan mencar mereka dan membalas kematian kong-couw!"
Si Kong terkejut sekali, "Hui Lan. Mereka itu adalah orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi sekali. Apalahi kalau mereka maju semua, amat berbahaya dan sukar ditandingi."
"Kau takut? Hemm, aku tidak! Kami keluarga Cin-ling-pai tidak pernah merasa takut menghadapi penjahat yang bagaimana lihai sekalipun!" setelah berkata demikian, Hui Lan meloncat dan meninggalkan Si Kong seorang diri.
Dia termenung. Semua kata-kata gadis itu terngiang dalam telinganya. Dan karena pikirannya dipenuhi ucapan-ucapan Hui Lan, dia tidak merasa bahwa saat seperti itu semua duka lenyap dan tidak terasa lagi olehnya!
Duka disebabkan oleh ulah pikiran. Pikiran mengunyah-ngunyah semua kenangan seperti mengunyah makanan pahit.
Makin dikunyah makin terasa pahitnya. Akan tetapi yang amat mengkhawatirkan pikirannya adalah ucapan Hui Lan bahwa gadis itu hendak mencari tujuh orang iblis itu untuk membalas dendam. Gadis itu tentu akan celaka kalau bertemu dengan mereka.
Setelah tiga hari tiga malam berpuasa, pada hari keempat Tang Hay dan Cia Kui Hong sendiri mencari Si Kong di makam. Mereka berdua membujuk dan menasihati dan barulah Si Kong mau makan dan minum sekedarnya.
"Kami bertiga akan pulang ke Cin-ling-san," kata Tang Hay. "Apakah engkau akan ikut kami?"
Si Kong menggeleng kepala. "Terima kasih, paman. Saya tidak akan pergi meninggalkan pulau ini sebelum seratus hari."
"Hemm, mengapa begitu?"
"Saya tidak tega kepada suhu. Saya akan merawat makamnya dan setelah seratus hari baru saya akan meninggalkan tempat ini."
"Kemana engkau hendak pergi?" tanya Cia Kui Hong.
"Tidak tahu, bibi. Mungkin kembali ke dusun. Di sana masih ada seorang enciku yang telah menikah.
Atau saya akan merantau kemana saja, bagaimana nanti sajalah."
"Engkau akan berkelana?" tanya Tang Hay, teringat akan dirinya sendiri ketika masih muda dan suka berkelana.
Si Kong mengangguk.
"Terserah kepadamulah. Akan tetapi jangan engkau lupa, Si Kong, bahwa setelah engkau menerima ilmu-ilmu dari kakek, berarti engkau mempunyai tanggung jawab besar dan tugas yang berat.
Engkau harus menjadi seorang pendekar yang selalu menentang kejahatan, dan memperjuangkan kebenaran dan keadilan menggunakan ilmu itu.
Pekerjaan seorang pendekar banyak resikonya, Si Kong, karena dunia kang-ouw terdapat banyak penjahat yang selain ilmunya lihai, juga amat licik dan curang penuh tipu daya. Engkau harus berhati-hati sekali."
"Saya akan selalu ingat nasihat paman. Dan saya mohon paman dan bibi suka menasihati adik Hui Lan."
"Kenapa ia?" tanya Kui Hong sambil menoleh kepada puterinya. Gadis ini mengerutkan alisnya dan memandang tajam kepada Si Kong.
"Ia pernah mengatakan kepada saya bahwa ia hendak mencari tujuh iblis yang datang ke pulau ini. Saya merasa khawatir sekali, paman, karena tujuh orang iblis itu amat lihai dan saya khawatir kalau-kalau adik Hui Lan celaka di tangan mereka."
"Hui Lan, bernarkah engkau hendak mencari tujuh orang iblis itu? Jangan lancang, Lan Lan. Kau kira mudah melawan mereka? Sedangkan kakek buyutny sendiri sampai menderita ketika bertanding melawan mereka." tegur Tang Hay kepada puterinya.
"Ayah, Si Kong tidak berani mencari mereka untuk menuntut balas atas kematian kong-couw, maka akulah yang berani!" jawab gadis itu.
"Jangan sembarangan engkau, Lan Lan. Berundinglah dulu dengan kami kalau engkau hendak mencari mereka!" kata Cia Kui Hong dan Lan Lan hanya cemberut saja.
Pada hari itu juga, Tang Hay dan anak isterinya meninggalkan Pulau Teratai Merah, meninggalkan Si Kong yang masih menjaga makam suhunya.
Si Kong benar-benar menjaga tempat itu sampai seratus hari.
Dia hanya mencari makanan kalau perutnya sudah tidak dapat menahan lapar lagi. Setelah seratus hari, barulah dia berkemas, membawa buntalan pakaiannya dan meninggalkan Pulau teratai Merah dengan sebuah perahu kecil.
Wajahnya nampak agak kurus karena selama seratus hari itu dia kurang makan.
Akan tetapi hatinya kini sudah tenang dan dapat menerima keadaan yang menimpa dirinya. Dia mulai dengan niatnya berkelana di dunia bebas, mencari pengalaman hidup. Tidak ada uang sekepingpun di sakunya. Yang dibawanya hanyalah beberapa potong pakaian, sebuah tongkat bambu dan perahu kasar serta dayung perahunya.
====ooOoo=====
Kota Sui-yang merupakan kota yang cukup besar dan ramai karena letaknya yang dekat dengan sungai Yang-ce-kiang. Perdagangan di kota itu ramai dilakukan orang melalui pelabuhan di kota itu. banyak pula pedagang yang datang maupun singgah di Sui-yang sehingga kota itu mempunyai banyak rumah penginapan dan rumah makan yang besar-besar.
Satu diantara rumah makan yang besar adalah rumah makan Hok-lai, sebuah rumah makan yang dapat menampung lebih dari seratus tamu.
Dan dibagian belakang rumah ini terdapat bangunan dengan loteng yang dipergunakan sebagai rumah penginapan pula.
Untuk rumah makan dan rumah penginapan sebesar itu tentu saja diperlukan tenaga pelayan yang banyak jumlahnya. Siang itu rumah makan dan penginapan Hok-lai telah sibuk sekali, terutama dirumah makan.
Yang makan di sini bukan saja tamu-tamu sendiri, akan tetapi juga banyak tamu dari luar yang tidak menginap di situ dan penduduk Sui-yang sendiri karena rumah makan Sui-yang terkenal dengan masakannya yang lezat.
Para pelayan rumah makan itu sangat sibuk melayani para tamu yang memenuhi tempat itu. Suasana menjadi ramai sekali. Para tamu saling bercakap sendiri dan bahkan ada orang yang berteriak memanggil pelayan.
Seorang pelayan yang bertubuh kecil dengan gesitnya melayani para tamu dan ketika dia membawa sebuah baki yang terisi beberapa macam masakan, tanpa disengaja gerakannya menyenggol pundak seorang tamu.
Air kuwah panas memercik dari mangkok di atas bakinya dan kuwah itu mengenai sepatu tamu yang di tabraknya. Tamu itu menjadi marah sekali, apalagi ketika teman-teman semejanya, mereka semua berempat, mentertawakannya.
Ketika pelayan itu kembali dari mengantarkan masakan dan lewat di dekat meja itu, tiba-tiba saja leher bajunya sudah dicengkeram oleh tamu itu.
"Jahanam, kau taruh dimana matamu? Enak saja menabrak orang dan menyiram sepatuku dengan kuah panas!"
Pelayan itu masih ingat akan peristiwa tadi, maka dengan cepat dia lalu mengangkat kedua tangan ke depan dadanya.
"Harap kongcu mengampuni saya. Saya tidak sengaja….."
"Plak-plak-plak Tiga kali muka pelayan itu di gampar oleh pemuda itu. Gamparannya sangat keras sehingga pipi pelayan itu menjadi merah membiru dan membengkak.
"Ampun, kongcu…..!" pelayan itu merintih dan meraba kedua pipinya.
"Hayo cepat bersihkan sepatu ini!" bentak si pemuda. Pelayan itu membungkuk dan menggunakan kain lapnya untuk membersihkan sepatu yang tadi terkena kuah panas.
"Pergunakan bajumu itu! Hayo cepat, yang bersih!"
Pelayan itu menurut karena takut di pukul lagi. Pengurus rumah makan segera datang dan dia mintakan maaf untuk pegawainya. Pemuda itu dengan sombong lalu menendang si pelayan sehingga terjengkang.
Pelayan itu cepat merangkak bangun dan meninggalkan pemuda yang sudah mereda kemarahannya itu. Tiga orang temannya kembali menggodanya sabil tertawa-tawa.
Para tamu yang menjadi penduduk Sui-yang mengenal empat orang pemuda ini yang memang merupakan orang-orang yang suka mencari perkara dan suka mempergunakan kekerasan kepada orang lain.
Karena itu, ketika terjadi pemukulan terhadap si pelayan, tidak ada orang yang berani melerai. Pemuda-pemuda kasar itu suka main keroyokan dan mereka memiliki ilmu silat yang lihai.
Seorang di antara para pelayan itu ada seorang yang masih muda, bertubuh tinggi tegap dan bersikap sederhana. Pelayan ini merupakan pelayan baru.
Baru seminggu dia bekerja di situ sebagai pelayan. Ketika terjadi pemukulan terhadap pelayan bertubuh kecil kurus itu, pelayan ini memandang dan sinar matanya berkilat.
Akan tetapi dia masih menahan diri, apalagi melihat bahwa pengurus rumah makan telah turun tangan memintakan maaf sehingga urusan itu dapat selesai.
Pelayan baru ini adalah bukan lain adalah Si Kong! dalam perantauannya, dia mengambil keputusan untuk kembali ke dusun tempat tinggal mendiang orang tuanya.
Dia ingin sekali bertemu dengan Si Kiok Hwa encinya yang menjadi selir hartawan Lui di dusun Ki-ceng. Dia dapat menduga bahwa encinya kini tentu telah menjadi janda.
Ketika dia pergi meninggalkan dusunnya, sepuluh tahun yang lalu encinya itu menikah dengan Hartawan Lui yang berusia tujuh puluh tahun.
Dalam perjalanan menuju ke dusun Ki-ceng, ketika tiba di Sui-yang, Si Kong singgah dan mencari pekerjaan di kota besar ini.
Dia tidak ingin berkunjung dan bertemu dengan encinya tanpa sekepingpun uang disakunya. Dia ingin bekerja sebulan dua bulan, mengumpulkan uang gajinya dan baru dia akan mengunjungi encinya.
Ketika melihat seorang rekannya dipukuli tamu, Si Kong merasa penasaran sekali.
Akan tetapi dia teringat akan pesan mendiang gurunya agar tidak sembarangan mencari permusuhan dan memperlihatkan kepandaian.
Dia harus bersikap sebagao seorang yang lemah dan bodoh, dan selalu bersikap rendah hati. Ilmu-ilmu yang dipelajarinya dengan susah payah selama bertahun-tahun itu bukan untuk dipamerkan, juga bukan untk mencari permusuhan.
Tiba-tiba Si Kong melihat dua orang tamu baru memasuki rumah makan itu. Karena dia sedang kosong tidak melayani tamu lain, dia segera menyongsong kedatangan kedua orang itu.
Mereka adalah seorang gadis dan seorang pemuda. Dari dandanan mereka dapat diketahui bahwa pemuda dan gadis ini tentulah orang-orang kang-ouw.
Gadis itu membawa pedang di punggungnya, dan dipinggang pemuda itu terselip dua buah pedang pendek. Langkah mereka tegap dan biarpun pakaian mereka cukup bersih, namun sikap mereka sederhana dan gadis itupun bukan seorang pesolek.
Akan tetapi Si Kong harus mengakui bahwa gadis itu cantik sekali. Rambutnya di gelung ke atas dan diikat dengan pita merah.
Anak rambut yang melingkar-lingkar menghias dahi dan pelipisnya. Matanya bersinar tajam, hidungnya mancung dan mulutnya yang kecil mengembangkan senyuman yang membuat majahnya nampak manis dan ramah. Pemuda itupun seorang pemuda yang gagah. Mereka merupakan pasangan yang serasi.
"Selamat siang, siocia (nona) dan kongcu (tuan muda)!" Kata Si Kong membungkuk hormat. "Ji-wi (kalian) hendak makan?"
"Masih adakah meja kosong?" tanya pemuda itu sambil melayangkan pandang matanya di ruangan yang penuh tamu itu.
"Masih, kongcu. Silakan ikut saya." Kata Si Kong yang tahu benr mana meja yang sudah kosong. Dia melangkah mendahului dan membawa mereka ke meja kosong yang bersebelahan dengan meja di mana empat orang pemuda berandalan tadi duduk. "Meja ini kosong, kongcu. Silakan duduk."
Si Kong menggunakan kain lapnya untuk membersihkan meja itu dari sisa-sisa percikan kuah. Pemuda dan gadis itu lalu duduk berhadapan, dan kebetulan saja gadis itu duduknya menghadap ke arah meja sebelah di mana empat orang pemuda berandalan itu duduk.
"Kongcu dan siocia hendak memesan apakah?" tanya Si Kong.
"Nanti dulu, apakah di sini juga menyediakan kamar tamu?" tanya pula pemuda itu.
"Ah, ada, kongcu. Memang Hok-lai ini merupakan rumah makan merangkap rumah penginapan."
"Kalau begitu siapkan dua kamar yang berdampingan untuk kami."
"Baik, kongcu."
"Dan untuk makan kami, sediakan nasi dan beberapa macam sayur, dan ayam panggang. Minumannya beri air teh dan juga anggur yang baik."
"Baik, kongcu."
Tiba-tiba dari meja empat prang pemuda itu terdengar suara, "Aih, nona cantik seperti dewi!" Gadis itu mengangkat mukanya dan matanya bersinar marah. Si Kong memutar tubuhnya dan melihat bahwa empat orang pemuda berandalan itu mengedip-ngedipkan mata dengan sikap kurang ajar sekali kepada gadis itu.
Pemuda itupun mendengar ucapan itu. Dia menoleh dan berbisik kepada gadis itu, "Sumoi, kau duduk di sini." berkata demikian dia bangkit berdiri dan bertukar tempat dengan gadis itu.
Mendengar sebutan itu, tahulah Si Kong bahwa mereka itu kakak beradik seperguruan. Dia lalu pergi memenuhi pesanan mereka dan ketika dia pergi, dia sempat mendengar pula ocehan pemuda-pemuda berandalan itu.
"Dari belakang ia tampak lebih menarik. Lihat pinggulnya dan pinggangnya! Aduh, moleknya!"
"Hemm, mereka itu benar-benar keterlaluan, selalu mencari gara-gara," pikir Si Kong. Akan tetapi gadis yang baru berusia tujuhbelas tahun itu dan suhengnya pura-pura tidak mendengar dan tidak mengacuhkan mereka.
Ketika Si Kong mengantar hidangan yang di pesan, dia mendengar betapa pemuda itu lebih kurang ajar lagi. Mereka bangkit berdiri dan berkata kepada Si Kong, "Hei, pelayan. Taruh pesanan itu di meja kami!"
Si Kong masih bersikap sabar. "Akan tetapi, hidangan ini adalah pesanan kongcu dan nona ini."
"Tidak, nona itu akan menemani kami makan di meja ini! Bukankah begitu, manis?"
Si Kong tidak perduli dan mengantar hidangan itu di atas meja kakak beradik seperguruan itu.
"Kalau begitu, kami berempat yang akan pindah kemejamu, ya nona?" kata pula seorang dari mereka, dan mereka semua sudah bangkit berdiri.
"Jangan jual mahal, nona. Kami adalah kongcu-kongcu yang mempunyai banyak uang di kota ini!" kata pula orang kedua dan kini mereka menghampiri meja gadis itu.
Suheng gadis itu menjadi marah. Dia bangkit berdiri dan kedua tangannya menekan meja. "Sebetulnya apa maksud kalian mengganggu kami?"
"Siapa mengganggu? Kami berempat amat suka dan menghormati sumoimu ini dan hendak menjamunya untuk menghormatinya.
Apakah itu mengganggu namanya? Kalau engkau tidak suka, engkau boleh makan sendiri, akan tetapi sumoimu ini suka menerima penghormatan kami. Bukankah begitu, nona manis?"
Suheng itu menjadi marah sekali dan dia menggebrak meja dengan kedua tangannya. Pada saat itu Si Kong juga menekan meja itu dengan tangan kirinya. Tiba-tiba saja empat batang sumpit yang berada di atas meja itu menyambar ke arah empat orang pemuda itu dengan kecepatan seperti anak panah terlepas dari busurnya.
"Aduh…..!"
"Ahh….!"
"Aduhhh….!" Empat orang pemuda itu berteriak-teriak kesakitan karena tubuh mereka terluka oleh empat batang sumpit itu.
Seorang terluka pundaknya, seorang pula terkena pahanya, yang lain terkena sumpit itu di pangkal lengan dan seorang lagi bahkan tertusuk daun telinganya!
Selain berteriak kesakitan, empat orang pemuda itu juga memandang sang suheng dengan mata terbelalak, kemudian mereka berempat berlari keluar meninggalkan meja mereka tanpa membayar harga makanan dan minuman.
Si Kong berkata kepada suheng dan sumoi itu.
"Kongcu dan siocia kini dapat makan dengan tenang. Ah, kemana sumpit-sumpit tadi? Biar saya mengambil yang baru untuk ji-wi." Diapun tergesa-gesa mengambil sumpit baru dua pasang dan menyerahkan kepada kakak beradik seperguruan itu.
Pemuda itu bernama Thio Bun Can, berusia duapuluh tahun, seorang pemuda putera seorang penduduk di kota Sin-keng yang tidak begitu jauh letaknya dari Sui-yang, hanya limapuluh li jauhnya.
Gadis itu bernama Gu Mei Cin, berusia tujuhbelas tahun, puteri Gu Kauwsu (Guru silat Gu) yang menjadi murid dari Thio Bun Can.
Mereka berdua dalam perjalanan untuk menyelidiki gangguan penjahat terhadap pengiriman barang-barang berharga yang di kawal oleh paman gadis itu yang menjadi piauwsu (pengawal barang kiriman).
Satu peti barang kawalan dapat dirampas penjahat dalam perkelahian membela barang-barang kiriman yang menjadi tanggung-jawabnya sang paman itu menderita luka-luka.
Mendengar ini, Mei Cin membela pamannya, mengajak suhengnya untuk melakukan penyelidikan. Itulah yang membawa mereka datang ke kota Su-yang, karena peristiwa perampokan itu terjadi dalam perjalanan antara Sin-keng dan Sui-yang.
Akan tetapi, sampai ke kota Sui-yang mereka belum mendapatkan keterangan dan mereka bermaksud untuk melakukan penyelidikan ke kota Sui-yang.
Setelah empat orang pemuda berandalan itu pergi, Thio Bun Can dan Gu Mei Cin saling pandang dengan penuh keheranan.
Saking terkejut dan heran mereka, kedua orang kakak beradik seperguruan ini sampai tidak sempat memperhatikan ketika Si Kong mengambilkan dua pasang sumpit yang baru untuk mereka. Setelah Si Kong meninggalkan mereka, barulah Bun Can berbisik kepada sumoinya.
"Sumoi, apakah yang telah terjadi?"
Mei Cin juga memandang bingung. "Aku sendiri juga tidak mengerti, suheng. Akan tetapi yang jelas, ada seorang sakti yang telah membantu kita."
"Akan tetapi bagaimana caranya? Bagaimana sumpit-sumpit itu dapat beterbangan dari atas meja kita?" bisik lagi pemuda itu.
Mei Cin menggerakkan pundaknya.
"Kalau ada orang menggunakan sumpit untuk menyambit sebagai senjata rahasia, hal itu tidak mengherankan. Akan tetapi tanpa menyentuh dapat membuat sumpit-sumpit itu beterbangan dan dengan tepat mengenai empat orang berandalan tadi, sungguh seperti ilmu sihir saja."
"Hemm, masuk akal juga pendapatmu. Mungkin ada orang sakti ahli sihir yang telah membantu kita, sumoi.
Akan tetapi sejak sekarang, kita harus berhati-hati karena siapa tahu orang-orang berandalan itu masih tidak mau menerima kekalahan mereka."
Setelah selesai makan, kedua orang itu memanggil Si Kong yang tadi melayani mereka, membayar harga makanan minuman kepada kasir dan minta diantar oleh Si Kong ke kamar mereka yang sudah dipesan sebelumnya. Mereka mendapatkan dua buah kamar yang berdampingan di loteng.
Setelah mendapatkan kamar masing-masing, Bun Can berkata kepada Mei Cin, "Sumoi, kurasa sebaiknya kalau kita tinggal saja dipenginapan ini dan siang tidak keluar.
Hal ini adalah untuk mencegah terjadinya keributan kalau-kalau para berandalan tadi hendak mencegat kita."
"Hemm. Kalau mereka berani menghadang, akupun tidak takut, suheng!" kata Mei Cin dengan penasaran. "Mereka itu adalah orang-orang yang patut dihajar keras!"
"Apakah engkau lupa akan tugas utama kita, sumoi? Tugas kita adalah menyelidiki gerombolan yang telah mengganggu Gu Piauwsu (Pengawal Gu), pamanmu itu. Jangan tugas kita sampai terganggu oleh segala macam keributan dengan berandalan itu. Malam nanti saja kita keluar melakukan penyelidikan."
"Kemana kita akan melakukan penyelidikan?"
"Kemana saja. Ketempat-tempat ramai, tempat perjudian dan kalau perlu ke tempat pelesiran yang biasa di datangi para penjahat. Siapa tahu kalau kita akan mendapat kabar dari tempat-tempat itu."
"Baik, suheng."
Percakapan antara mereka itu diam-diam terdengar oleh Si Kong. Pemuda ini memang masih mengkhawatirkan kedua orang itu.
Siapa tahu pemuda-pemuda berandalan itu akan mendatangkan bala bantuan dan akan tetap mengganggu si gadis. Mendengar percakapan itu, diam-diam Si Kong merasa heran. Apakah yang mereka sedang selidiki? Dia sudah mengambil keputusan untuk mengamati mereka dan membantu mereka kalau-kalau mereka terancam bahaya.
Malam itu Si Kong tidak bertugas. Setelah bekerja di bagian rumah makan sejak pagi sampai sore, malam itu Si Kong bebas tugas. Hal ini kebetulan sekali baginya karena dia sudah mengambil keputusan untuk mengamati kakak beradik seperguruan itu. Maka, ketika kedua orang itu meninggalkan rumah penginapan dengan pakaian ringkas, diapun membayangi mereka dari jauh.
Dia melihat kakak beradik itu berkunjung ke tempat-tempat pelesir dan bahkan memasuki rumah perjudian, akan tetapi sampai banyak tempat mereka kunjungi, tidak terjadi sesuatu atas diri mereka.
Akhirnya kakak beradik itu kembali kerumah penginapan dan selagi Si Kong membayangi dari jauh, dia melihat ada sesosok bayangan berkelebat.
Ada orang lain yang agaknya juga membayangi kedua orang itu dan orang ini mengenakan pakaian serba hitam. Ketika kakak beradik itu tiba di rumah penginapan, bayangan itupun menghilang.
Akan tetapi Si Kong merasa penasaran. Tidak mungkin orang yang membayangi mereka tadi hanya ingin membayangi saja seperti yang dia lakukan. Pasti ada kemauannya dan mungkin kemauan itu akan dilaksanakan malam ini. Karena itu, Si Kong tetap waspada. Dia tidak memasuki kamarnya melainkan bersembunyi di luar sambil mengintai ke arah kamar kakak beradik di loteng itu.
Akhirnya, jauh lewat tengah malam, setelah kamar itu lama memadamkan lilin, sesosok bayangan berkelebat dengan gesitnya menuju ke kamar loteng itu. Dan bayangan itu berhenti di jendela kamar gadis itu!
Dengan hati-hati Si Kong mendekati. Dengan mempergunakan ilmu Liok-te Hui-teng, tubuhnya meloncat ke atas tanpa sedikitpun suara dan tahu-tahu dia telah berada di atas genteng kamar gadis itu.
Dia membuka genteng dan menyambit ke dalam kamar dengan pecahan kecil genteng. Usahanya berhasil. Mei Cin sadar dari tidurnya dan gadis ini cepat bangkit berdiri dan pada saat itu ia melihat ada asap di tiupkan masuk dari jendela kamarnya, Mei Cin maklum bahwa ada orang jahat di luar kamarnya.
Ia segera menyambar pedangnya yang diletakkan di atas meja dekat buntalan pakaiannya dan sambil menahan napas agar tidak menyedot asap yang mulai memasuki kamar dari jendela itu, ia membuka pintu dan meloncat keluar.
Orang berpakaian serba hitam itu ternyata menutupi wajahnya dengan kain hitam pula. Dia terkejut melihat gadis itu tahu-tahu telah muncul di luar kamar dan Mei Cin juga tidak membuang waktu lagi.
"Jahanam!" bentaknya dan ia sudah menyerang dengan pedangnya.
Akan tetapi si topeng hitam itu ternyata memiliki gerakan yang gesit. Ia mengelak, menggulingkan tubuhnya dan setelah dia bangkit berdiri, dia telah memegang sebatang golok yang tadinya diselipkan di punggungnya.
"Traaang……!" penjahat itu kini menangkis ketika Mei Cin menusukkan pedangnya lagi dan begitu golok bertemu pedang, Mei Cin terkejut sekali karena pedangnya terpental.
Orang itu ternyata memiliki tenaga yang kuat sekali.
"Suheng, bangun! Ada penjahat!" Mei Cin berseru dan terus ia menyerang. Terjadi perkelahian yang sengit, akan tetapi segera gadis itu terdesak ketika penjahat itu balas menyerang. Ternyata bahwa bukan saja tenaganya besar juga ilmu goloknya ganas sekali.
Thio Bun Can terbangun oleh teriakan sumoinya dan suara gaduh perkelahian.
Dia keluar membawa dua pedang pendeknya dan melihat sumoinya sedang bertanding dengan seorang yang memakai topeng kain hitam yang lihai sekali gerakan goloknya, tanpa banyak cakap lagi diapun terjun ke dalam pertempuran mengeroyok.
Akan tetapi si topeng hitam itu ternyata tidak terdesak oleh pengeroyokan itu, bahkan kedua orang kakak beradik itu yang dalam keadaan terdesak!
Tiba-tiba penjahat itu berteriak kaget dan goloknya terlepas dari tangannya. Ada suatu benda menyambar dan mengenai siku kanannya yang membuat lengannya lumpuh sehingga goloknya terlepas.
Setelah mengeluarkan teriakan ini penjahat itu lalu melompat jauh ke atas genteng rumah di sebelah. Kakak beradik itu tidak berani mengejar karena selain gin-kang orang itu lihai sekali, juga mereka tahu bahwa ilmu kepandaian orang itu masih berada di atas tingkat mereka.
Kamar-kamar yang berdekatan mulai membuka pintu dan para tamu yang bermalam disitu bertanya-tanya. Bun Can dan Mei Cin segera menyimpan senjata mereka dan Bun Can berkata kepada para tamu dan para pelayan yang datang berlarian,
"Ada pencuri hendak memasuki kamar, akan tetapi kami telah berhasil mengusirnya. Dia melarikan diri meninggalkan golok itu."
Setelah semua orang bubaran dan mengunci pintu kamar mereka masing-masing dengan hati merasa khawatir kalau-kalau mereka juga akan didatangi pencuri, kakak beradik itu lalu bercakap-cakap.
"Heran sekali, mengapa dia melepaskan golok dan melarikan diri?" kata Bun Can.
Mei Cin mengerutkan alisnya.
"Tidak salah lagi. Tentu ada orang yang diam-diam membantu kita, seperti yang terjadi siang tadi. Tidak mungkin penjahat itu melepaskan senjata dan melarikan diri tanpa sebab.
Bahkan tadipun ketika aku sedang tidur, ada yang membangunkan aku dari tidur sehingga aku dapat melihat usaha penjahat itu meniupkan asap ke dalam kamarku. Mari kita periksa, suheng."
Mereka memasuki kamar gadis itu dan setelah memeriksa dan mencari, akhirnya mereka menemukan pecahan genteng yang berada di atas tempat tidur. Mei Cin mengambil pecahan genteng itu dan berkata, "Inilah agaknya yang membangunkan aku.
Tentu disambitkan dan mengenai kakiku karena aku merasa seperti ada yang menepuk kakiku. Pasti ini merupakan pekerjaan orang yang selalu membantu kita itu, suheng."
"Siapa orangnya, jelas dia bermaksud baik dan kita harus berterima kasih kepadanya, sumoi. Penjahat tadi lihai sekali. Kalau dia datang kembali dan membawa kawannya, tentu kita akan celaka."
"Akan tetapi, mengapa dia hendak menyerang kita?"
"Ya, hal itu juga aneh sekali. Ada dua kemungkinan, sumoi. Pertama, dia seorang jai-hwa-cat (penjahat pemetik bunga) yang siang tadi melihatmu dan menjadi tertarik untuk mengganggumu, atau mungkin juga ada hubungan dengan penyelidikan yang kita lakukan.
Lebih baik kita pulang dan melaporkannya kepada suhu, minta pendapatnya. Kalau penjahat tadi ada hubungannya dengan penyelidikan kita, berarti dia itu seorang di antara para penjahat itu bersarang di kota ini. Sebaiknya kalau suhu sendiri yang memutuskan tindakan apa selanjutnya akan diambil."
"Kurasa engkau benar, suheng. Masih untung kita mempunyai seorang tuan penolong yang tidak mau di kenal, kalau tidak, tentu kita sudah celaka."
"Betapapun juga, malam ini sampai besok pagi kita harus waspada."
Kedua orang kakak beradik itu lalu berpisah, ke kamar masing-masing. Si Kong yakin bahwa penjahat tadi tidak akan berani kembali setelah di hajarnya dengan pecahan genteng sehingga goloknua terpental dan dia melarikan diri. Dia merasa puas sudah dapat membantu kakak beradik itu.
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali ketika Si Kong melewati kedua pintu kamar itu, dia di panggil oleh Thio Bun Can.
"Sobat, tolong bertihau pengurus rumah penginapan bahwa pagi ini juga kami akan berangkat. Kami hendak membayar sewa kamar."
Si Kong memandang kepada gadis yang sudah siap menggendong buntalan pakaian dan pedangnya. Dia merasa kagum.
Biarpun semalam telah terjadi ancaman bahaya dan agaknya gadis itu tidak tidur lagi, namun gadis itu nampak segar dan cantik, bahkan sikapnya demikian tenang seolah tidak pernah terjadi sesuatu yang mengancam keselamatannya.
Dia lalu melayani kakak beradik itu dan setelah membayar uang sewa kamar, keduanya lalu berangkat dan pergi meninggalkan kota Sui-yang.
Setelah pemuda dan gadis itu pergi, Si Kong membersihkan bekas kamar mereka dan dia merasa kesepian, kehilangan! Dia merasa heran sendiri mengapa dia begitu kagum dan tertarik kepada gadis itu yang sama sekali tidak di kenalnya.
Si Kong memang rajin sekali. Pagi-pagi sekali dia bekerja di bagian rumah penginapan dan setelah rumah makan dibuka, dia membantu rumah makan sampai malam.
Majikan pemilik rumah penginapan dan rumah makan Hok-lai merasa suka sekali dengan pekerjaan pemuda yang rajin itu maka dalam waktu beberapa hari saja Si Kong sudah diangkatnya menjadi mandor atau pengawas para pekerja yang lain! Hal ini tentu saja menimbulkan perasaan iri dalam hati banyak pelayan yang sudah bekerja lebih lama di tempat itu.
Ketika siang itu dia bekerja di rumah makan, terjadilah hal yang sama sekali tidak disangka-sangkanya. Rumah penginapan itu kehilangan beberapa gambar dan pot bunga yang berharga mahal.
Tadinya benda-benda itu di pasang di ruang tamu, akan tetapi tiba-tiba lenyap. Ketika majikan rumah penginapan itu tidak melihat benda-benda hiasan itu, dia menjadi marah dan memanggil para pelayan rumah penginapan. Semua pelayan menjadi ribut dan mencari-cari dan akhirnya orang menemukan benda-benda berharga itu didalam kamar Si Kong tersembunyi dibawah kolong tempat tidurnya!
Tentu saja majikan itu menjadi marah. Si Kong dipanggil dan ditanyai. Biarpun Si Kong tidak mengaku mencuri dan mengatakan tidak tahu bagaimana benda-benda itu dapat berada di kolong tempat tidurnya, akan tetapi karena bukti sudah menyatakan bahwa barang-barang yang hilang berada di tempat tidurnya, maka majikan itu tidak mendengarkan semua bantahannya dan Si Kong di usir hari itu juga. Upahnya selama beberapa pekan dibayar.
Si Kong maklum bahwa dia difitnah. Akan tetapi dia tidak merasa perlu untuk menyelidiki hal itu. Memang dia pun tidak ingin bekerja selamanya di tempat itu. setelah dikeluarkan dari pekerjaannya, Si Kong lalu membawa buntalan pakaiannya dan meninggalkan rumah penginapan itu, bahkan meninggalkan kota Sui-yang, tiga hari setelah Bun Can dan Mei Cin meninggalkan kota itu.
Gu Mei Cin dan suhengnya, Thio Bun Can, setelah meninggalkan kota Sui-yang langsung saja pulang ke kota Sin-keng yang jaraknya kurang lebih limapuluh li dari kota Sui-yang. Dalam perjalanan itu mereka tidak menemukan halangan sesuatu dan tibalah mereka di kota Sin-keng.
Ayah Gu Mei Cin yang bernama Gu Kiat atau dikenal dengan sebutan Gu Kauwsu (Guru Silat Gu) adalah seorang guru silat dikota itu yang terkenal. Muridnya cukup banyak dan putera-putera para pejabat dan hartawan di kota itu banyak yang menjadi muridnya.
Di antara semua muridnya, yang paling dekat dengan Mei Cin, juga yang menjadi murid tauladan adalah Thio Bun Can.
Diam-diam pemuda ini jatuh hati kepada sumoinya dan Gu Kauwsu juga menyetujui niat pemuda ini karena Bun Can memang seorang murid yang baik.
Itulah sebabnya ketika Gu Kauwsu mendengar akan malapetaka yang menimpa adiknya, Gu Piauwsu yang dilukai perampok dan barangnya ada yang terampas, dia mengijinkan puterinya pergi bersama Thio Bun Can untuk melakukan penyelidikan.
Dia menganggap bahwa kepandaian silat puterinya sudah memadai dan juga Thio Bun Can dapat menjadi pengawal yang dapat dipercaya.
Ketika puteri dan muridnya datang, Gu Kauwsu segera menyongsong mereka dengan penuh harapan dan bicara dengan mereka di dalam kamarnya.
"Bagaimana dengan hasil penyelidikan kalian? Kuharap ada hasil yang baik." Kata Gu Kauwsu.
"Wah, penyelidikan kami belum menghasilkan sesuatu, bahkan sebaliknya kami hampir mendapat celaka di tangan orang jahat, ayah." kata Mei Cin.
"Apa yang terjadi?"
"Suheng, kauceritakan kepada ayah." Mei Cin minta suhengnya untuk bercerita.
Bun Can lalu menceritakan tentang pertemuan mereka dengan pemuda-pemuda berandalan di rumah makan Hok-lai dan tentang bantuan seorang sakti yang tidak memperlihatkan diri.
"Apa? Sumpit-sumpit di atas meja beterbangan sendiri menyerang empat orang pemuda yang kurang ajar itu? Seperti sihir saja!" kata Gu Kauwsu.
"Itulah, suhu. Teecu juga menganggap itu sihir, dan rupanya ada seorang sakti menggunakan sihirnya untuk membantu kami. Setelah orang-orang berandalan itu terusir pergi, kami tinggal di rumah penginapan sampai malam. Barulah pada malam harinya kami berdua berkunjung ke tempat-tempat yang sekiranya didatangi para penjahat untuk mencari keterangan. Kami datangi rumah-rumah judi, akan tetapi usaha kami sia-sia saja. kami tidak mendengar apa-apa yang penting tentang perampokan itu."
"Akan tetapi pada malam hari itu terjadi hal yang aneh, ayah. Aku hampir saja celaka dalam peristiwa itu." kata Mei Cin.
"Apa yang terjadi?" tanya Gu Kauwsu sambil memandang puterinya dengan alis berkerut.
"Lewat tengah malam selagi aku tidur pulas, tiba-tiba aku dibangunkan oleh sesuatu yang rasanya seperti ada yang menepuk kakiku.
Ketika aku sadar dan terbangun, aku melihat ada asap yang memasuki kamarku lewat jendela.
Aku menjadi curiga dan cepat aku keluar dari pintu dan melihat bahwa di luar jendelaku terdapat seorang yang berpakaian hitam dan bertopeng hitam pula, sedang meniupkan asap ke kamar itu.
Tentu saja aku menjadi marah dan aku menyerangnya. Akan tetapi orang itu tangguh sekali dengan permainan goloknya.
Bahkan ketika suheng terbangun dan membantuku, kami berdua tidak mampu mendesaknya, bahkan terancam oleh gerakan goloknya.
Mendadak, terjadi pula keanehan. Entah mengapa, penjahat itu berteriak, goloknya terlepas dari tangannya dan dia meloncat dengan cepat sekali melarikan diri."
"Hemm, agaknya kalian di bantu oleh orang secara diam-diam!" kata Gu Kauwsu.
"Agaknya memang begitu, ayah. Karena, setelah kami memeriksa dalam kamarku, aku menemukan sepotong pecahan genteng yang agaknya dipergunakan orang untuk membangunkan kau ketika penjahat itu melepaskan asap ke dalam kamar. Asap itu tentu asap pembius!"
"Akan tetapi, mengapa engkau yang didatangi penjahat itu?" tanya Gu Kauwsu.
"Kami berpendapat bahwa ada dua kemungkinan untuk itu, suhu. Pertama, mungkin saja penjahat itu seorang jai-hwa-cat yang mempunyai niat buruk terhadap sumoi.
Dan kemungkinan kedua, perbuatannya itu ada hubungannya dengan penyelidikan kami, dan kalau begitu, dia tentu ada hubungannya dengan perampokan yang kami selidiki itu."
"Maka kami putuskan untuk pulang dan melaporkannya kepadamu, ayah. Penjahat itu lihai sekali, kalau dia kembali bersama teman-temannya, tentu kami celaka."
Gu Kauwsu meraba jenggotnya dan mengangguk-angguk. "Tidak salah lagi! Penjahat itu tentu ada hubungannya dengan yang merampok pamanmu!
Menurut pamanmu, yang mengalahkan dan melukai pamanmu juga seorang yang pandai mempergunakan golok, orangnya tinggi besar dan bermuka hitam seperti yang kalian telah dengar sendiri. Bagaimana bentuk tubuh orang yang berto[eng itu?"
"Tubuhnya juga tinggi besar, ayah. Akan tetapi sayang, mukanya tertutup topeng dan penerangan di luar kamar itu hanya kecil dan remang-remang. Aku tidak dapat melihat apakah separuh mukanya bagian atas yang tertutup itu hitam atau tidak."
"Aku sendiri yang akan pergi melakukan penyelidikan ke Sui-yang!" kata Gu Kauwsu dengan nada suara penuh penasaran.
Tiba-tiba dari luar jendela nampak sebuah benda menyambar cepat ke arah muka Gu Kauwsu. Guru silat itu menggerakkan tangannya menangkap dan ternyata benda itu adalah sebuah pisau yang tajam dan runcing, yang menusuk sepotong kertas.
"Jahanam!" Gu Kauwsu cepat melompat keluar dari jendela, diikuti puteri dan muridnya, akan tetapi diluar tidak terdapat siapapun. Pelempar pisau itu telah pergi jauh. Terpaksa mereka kembali kedalam dan Gu Kauwsu membaca tulisan di atas kertas itu.
"Kalau hendak mencari perampas barang kiriman, pergilah ke Puncak Bukit Ayam."
"Jahanam!" kembali Gu Kauwsu memaki. "Dia telah menantangku!"
Mei Cin dan Bun Can juga ikut membaca tulisan pada kertas itu dan mereka berdua juga menjadi marah.
"Sekarang jelas, ayah. Pelempar pisau tadi tentu juga penjahat bertopeng itu, dan mungkin dialah yang telah merampas barang kiriman yang dikawal paman. Dia pula yang melukai paman dengan goloknya."
"Tidak salah lagi. Tentu dia! Dan dia menantangku untuk datang ke Bukit Ayam? Bagus!"
"Apa yang hendak ayah lakukan sekarang?" tanya Mei Cin.
"Apa lagi? Datang ke Bukit Ayam tentu saja. Bukit itu dekat saja dari sini dan sebelum gelap aku sudah akan tiba dipuncaknya."
"Ayah tidak boleh pergi sendiri. Aku ikut untuk membantu, ayah."
"Benar, suhu. Teecu juga ikut untuk membantu. Kalau perlu teecu akan memanggil murid-murid suhu yang lain dan kita beramai datang ke sana."
Gu Kauwsu menggeleng kepala. "Jangan kaitkan para murid lain. Pula, kalau kita banyak orang datang ke sana, penjahat itu tentu tidak akan muncul. Kita bertiga saja kesana, akan tetapi kalian harus mempersiapkan diri baik-baik dan berlaku hati-hati."
Gu Kauwsu bersama puterinya dan muridnya cepat berkemas, disaksikan oleh isterinya. Setelah mempersiapkan diri, membawa senjata pedang masing-masing, Gu Kauwsu tidak lupa membawa sekantung senjata rahasia paku, mereka lalu meninggalkan rumah dan keluar dari kota Sin-keng melalui pintu gapura sebelah selatan.
Begitu keluar dari pintu gerbang, sudah nampak bukit yang di maskudkan. Dari jauh bukit itu memang kelihatan seperti kepala seekor ayam, karena itu maka bukit itu di sebut Bukit Ayam.
Dengan cepat, mempergunakan ilmu lari cepat, akan tetapi dengan sikap hati-hati, tiga orang ini mendaki Bukit Ayam dan sebentar saja mereka telah tiba di puncak bukit itu.
Matahari telah mulai condong ke barat, namun masih terang.
Puncak bukit itu datar dan merupakan padang rumput terbuka, dikelilingi hutan yang berada di lereng bukit. Akan tetapi di situ sunyi saja, tidak nampak bayangan seorang pun.
Gu Kauwsu lalu mengerahkan khikangnya dan berteriak. Suaranya bergema di empat penjuru. "Heii, perampok laknat. Keluarlah kalau memang engkau laki-laki!"
Segera terdengar suara tawa bergema di seluruh puncak dan tak lama kemudian nampak bayangan dua orang berlari naik ke pundak, datang dari hutan sebelah kiri.
Gu Kauwsu memberi isyarat kepada puteri dan muridnya agar waspada. Mei Cin dan Bun Can segera mencabut pedang masing-masing dan berdiri dalam keadaan siap siaga.
Karena dua bayangan orang itu menggunakan ilmu berlari cepat, sebentar saja mereka sudah tiba di depan tiga orang itu. gu Kauwsu dan dua orang itu memandang penuh perhatian.
Dua orang itu berdiri sambil tertawa-tawa dengan lagak sombong. Yang seorang adalah laki-laki berusia kurang lebih empatpuluh tahun dan tubuhnya tinggi besar, mukanya hitam garang menyeramkan.
Orang kedua adalah seorang kakek berusia enampuluh tahun lebih, tubuhnya sedang saja dia memegang sebatang tongkat berkepala naga. Kakek inilah yang tertawa tadi, dan sekarangpun dia masih menyeringai dengan sikap memandang rendah.
"Apakah kalian berdua yang mengirim surat mengundang kami kepuncak Bukit Ayam ini?" Gu Kauwsu bertanya denga suara tegas.
Yang muda dan bermuka hitam itu mejawab. "Benar, akulah yang mengirim surat itu!"
"Apakah ini berarti bahwa engkau yang telah merampas barang kiriman yang di kawal oleh Gi Piauwsu dan yang telah melukainya?"
"Ha-ha, benar aku yang melakukannya!" jawab laki-laki bermuka hitam itu.
"Sobat, aku melihat engkau bukan seorang perampok biasa, bukan pula kepala gerombolan perampok.
Kenapa engkau mengganggu pekerjaan Gu-piauwsu? Aku nasihatkan engkau untuk mengembalikan barang kiriman itu kepadaku atau terpaksa aku harus menggunakan kekerasan." Kata Gu Kauwsu dan suaranya bernada mengancam.
Si muka hitam itu menoleh kepada kakek bertongkat kepala naga.
"Suhu, bagaimana pendapat suhu?"
"Serahkan saja guru silat ini kepadaku dan kau hadapi dua orang muda itu!" kata kakek itu dengan sikap tenang sekali dan dengan sekali lompatan kecil dia sudah menghadapi Gu Kauwsu, lalu berkata, "Kalau engkau masih sayang nyawamu, lebih baik engkau tidak mencampuri urusan ini. Bawang sudah terampas bagaimana mungkin dikembalikan?"
Gu Kauwsu menjadi marah. "Bun Can, Mei Cin, berhati-hatilah menghadapi si muka hitam itu!" Setelah berkata demikian dia mencabut pedangnya dengan tangan kanan sedangkan tangan kirinya sudah mengambil segenggam paku yang merupakan senjata rahasianya yang ampuh.
"Orang tua sesat, engkau membela muridmu yang melakukan perampokan! Katakan siapa namamu, jangan mati tanpa nama!" bentak Gu Kauwsu.
"Ha-ha-ha, engkau guru silat kampungan, tidak mengenal siapa aku? Aku adalah majikan Pulau Tembaga, di kenal dunia kangouw sebagai Tung-hai Liong-ong!"
Mendengar nama ini, mata Gu Kauwsu terbelalak dan dia terkejut bukan main. Nama yang disebut kakek itu adalah nama seorang datuk besar disepanjang pantai timur!
"Tung-hai Liong-ong? Dia adalah seorang datuk besar pantai timur! Tidak mungkin dia begitu rendah untuk membela muridnya yang menjadi perampok!"
"Ha-ha, kami memungut sumbangan dari mereka yang berharta, bukan merampok. Engkau guru silat kampungan tidak perlu tahu.
Nah, pergilah!" tongkat kepala naga itu menyambar dahsyat. Gu Kauwsu yang pernah mendengar akan kelihaian datuk itu cepat melompat ke belakang untuk menghindar. Biarpun dia tahu lawannya amat pandai, untuk membela adiknya dia tidak merasa takut.
"Makanlah senjata rahasiaku ini!" teriaknya dan tangan kirinya bergerak, belasan batang paku telah menyambar ke arah tubuh kakek itu.
Akan tetapi kakek itu hanya mengibaskan tangannya dan paku-paku itu, baik yang terkena kebutan tangan maupun yang mengenai tubuh kakek itu, runtuh kebawah.
Agaknya kakek itu kebal dan kulitnya tidak dapat tertembus paku! Dia tidak merasa gentar dan cepat menyerang maju dengan pedangnya. Hebat juga gerakan guru silat itu sehingga Tung-hai Liong-ong tidak berani menyambut pedang itu dengan tangannya, melainkan menggerakkan tongkatnya untuk menangkis.
"Trang-trang….!"
Pedang itu hampir terlepas dari tangan Gu Kauwsu. Akan tetapi guru silat itu tidak mundur bahkan menyerang lagi dengan lebih dahsyat.
Sementara itu, si tinggi besar bermuka hitam menghampiri Bun Can dan Mei Cin. Dia menyeringai sambil memandang kepada Mei Cin.
"Ha-ha-ha, di Sui-yang engkau terlepas dari tanganku dan sekarang engkau datang menyerahkan diri kepadaku. Bagus sekali, nona!"
Mendengar ini, tahulah Mei Cin bahwa orang ini yang mendatangi kamarnya di malam hari itu. Ia menjadi marah sekali dan mengelebatkan pedangnya.
"Jahanam busuk, perampok rendah, bersiaplah untuk mampus di tanganku!" Tanpa banyak cakap lagi Mei Cin sudah menerjang dengan pedangnya.
Si muka hitam itu bukan lain adalah Ouwyang Kwi. Murid dari Tung-hai Ling-ong. Seperti telah kita ketahui, dia pernah merampas kedudukan ketua Hwa I Kaipang dalam usahanya mengumpulkan uang dan kekuasaan.
Akan tetapi usahanya itu gagal dengan munculnya Si Kong bersama gurunya Yok-sian Lo-kai beberapa tahun yang lalu.
Setelah melarikan diri bersama suhunya yang sama-sama terluka dalam ketika bertempur dengan Yok-sian Lo-kai, Ouwyang Kwi mempunyai cara lain untuk mengumpulkan banyak uang yang agaknya di dukung oleh gurunya, yaitu dengan menjadi perampok tunggal.
Bukan sembarang perampok, melainkan perampok yang hanya bergerak seorang diri akan tetapi hanya merampok barang-barang yang berharga mahal saja. baru-baru ini dia berhasil merampok barang berharga yang di kawal Gu Piauwsu.
Dan kebetulan sekali gurunya datang berkunjung, sehingga setelah dia tahu bahwa dia dicari dan diselidiki oleh Gu Kauwsu, dia minta bantuan gurunya untuk menghadapi guru silat yang lihai itu.
Begitu Mei Cin menyerang, Ouwyang Kwi juga mencabut goloknya dan menangkis. Mei Cin menyerang lebih dahsyat dan dua orang ini sudah bertanding lagi.
Meihat ini, maklum bahwa lawan sumoinya amat lihai, Thio Bun Can segera menerjang maju dan membantu sumoinya.
Dengan demikian, terulang pertarungan di malam hari itu, Ouwyang Kwi di keroyok oleh kakak beradik seperguruan itu. Akan tetapi, begitu Ouwyang Kwi memainkan golok besarnya yang berat, kakak beradik itu segera terdesak.
Bagaimanapun juga, kedua orang muda itu kalah tenaga dan kalah pengalaman bertanding sehingga mereka sibuk menangkis dan melindungi diri saja tanoa mampu membalas serangan Ouwyang Kwi.
Sementara itu, pertandingan antara Gu Kauwsu dan Tung-hai Ling-ong juga berjalan tidak seimbang sama sekali.
Tingkat ilmu kepandaian datuk itu jauh lebih tinggi daripada tingkat Gu Kauwsu sehingga setelah lewat tigapuluh jurus, Gu Kauwsu sudah terdesak hebat oleh tongkat berkepala naga itu dan dia hanya mampu menangkis sambil mundur.
Gu Kauwsu sambil mundur tidak mengkhawatirkan diri sendiri, akan tetapi dia memikirkan keselamatan puterinya.
Mau tidak mau perhatiannya terpecah, sebagian untuk memperhatikan keadaan puterinya. Dia menjadi gelisah sekali melihat puteri dan muridnya juga terdesak hebat oleh Ouwyang Kwi.
"Mei Cin, Bun Can, lari…..!"
Dia berteriak, akan tetapi perhatiannya yang terpecah itu mendatangkan bencana. Tangan kiri Tung-hai Ling-ong menyambar dan tepat tangan itu dengan jari-jari tangan terbuka menghantam dadanya.
"Dukkk….!"
Tubuh Gu Kauwsu terjengkang dan robohlah dia untuk tidak bangkit lagi. Dia telah terkena pukulan Tok-ciang dari datuk itu, pukulan yang tidak kalah ampuhnya dengan pukulan tongkatnya. Gu Kauwsu roboh dengan tanda telapak jari tangan hitam di dadanya. Tok-ciang (Tangan Beracun) adalah semacam ilmu pukulan yang mengandung hawa beracun yang berbahaya sekali. Gu Kauwsu tepat terpukul dadanya sehingga jantungnya terguncang oleh hawa beracun dan diapun tewas seketika.
Dalam perlawannya dibantu suhengnya terhadap Ouwyang Kwi, Mei Cin juga memperhatikan ayahnya. Agaknya Ouwyang Kwi tidak terlalu mendesaknya, melainkan lebih mendesak Thio Bun Can. Maka ketika ayahnya roboh, Mei Cin dapat melihatnya dan iapun menjerit.
"Ayah….!" Tanpa perdulikan lagi suhengnya, Mei Cin melompat ke dekat ayahnya dan berlutut. Ketika dilihatnya ayahnya sudah tewas, iapun amat berduka dan marah. Dengan mengangkat pedangnya, ia menyerang Tung-hai Ling-ong.
"Kau…. kau….. membunuh ayahku….!" bentaknya sambil menangis dan menyerang.
"Suhu, jangan bunuh gadis itu. Aku sayang padanya!" Ouwyang Kwi berseru kepada gurunya dan diapun memperhebat serangannya kepada Thio Bun Can.
Kasihan pemuda ini. Tadi mengeroyok bersama sumoinya saja dia tidak mampu menang, apalagi sekarang harus menghadapi lawan sendiri.
Pedangnya berkali-kali terpental dan pada suatu kesempatan selagi pemuda itu terhuyung karena pertemuan senjata itu, dengan gerakan cepat Ouwyang Kwi mengelebatkan goloknya dan robohlah Thio Bun Can mandi darahnya sendiri.
Lehernya nyaris putus oleh babatan golok. Ouwyang Kwi tidak perdulikan lagi kepada korbannya dan dia sudah meloncat untuk melihat keadaan Mei Cin. Alangkah girangnya melihat Mei Cin sudah menggeletak roboh oleh totokan jari tangan gurunya.
"Mari kita pergi, suhu!" kata Ouwyang Kwi sambil memondong tubuh Mei Cin yang sudah tidak dapat bergerak itu. Mereka lari ke kiri memasuki hutan.
Tak lama kemudian, sesosok bayangan orang mendaki bukit itu. orang ini bukan lain adalah Si Kong. Secara kebetulan saja dia lewat di lereng bukit itu dan melihat keadaan bukit itu, hatinya tertarik untuk mendaki puncaknya.
Setelah tiba di lereng paling atas, dia mendengar gerakan orang berkelahi di puncak. Si Kong mempercepat larinya dan tibalah dia dipuncak.
Akan tetapi di puncak itu telah sepi tidak terdengar apa-apa lagi. Dan hatinya terkejut bukan main melihat dua tubuh menggeletak di tempat itu. cepat dia menghampiri.
Pertama dia menghampiri tubuh Gu Kauwsu dan setelah menyentuh nadi dan dadanya, dia menghela napas. Orang itu tidak dapat di tolong lagi, pikirnya. Sudah tewas!
Dia lalu menghampiri tubuh Thio Bun Can dan melihat pemuda ini masih dapat menggerakkan tangannya. Dan ketika memeriksa, Si Kong terkejut mengenalnya sebagai pemuda yang bermalam di rumah penginapan beberapa malam yang lalu.
Pemuda itu bermalam bersama sumoinya! Dan kemana sekarang sumoinya? Dia cepat menotok jalan darah untuk menghentikan darah yang mengalir keluar dari luka di leher.
Diapun melihat adanya sebatang pedang lain di situ dan dan mengkhawatirkan kalau-kalau sumoi pemuda itu juga telah menjadi korban pembunuhan.
Dia mengguncang pundak pemuda itu dan mengurut tengah keningnya. Pemuda itu kini dapat membuka dan mengedip-ngedipkan matanya yang sudah layu.
"Dimana sumoimu? Dimana? Tunjukkan!" kata Si Kong.
Bun Can dalam keadaan sekarat itu masih dapat mengerti dan dia mengangkat tangannya, menuding ke arah kiri lalu terkulai dan mati.
Isarat itu sudah cukup bagi Si Kong. dia segera melompat ke arah kiri dan lari memasuki hutan di lereng itu. Dia harus bergerak cepat selagi hutanitu masih belum gelap.
Dengan penuh kewaspadaan dia menyusup-nyusp di hutan itu dan akhirnya usahanya berhasil ketika mendengar isak tangis seorang wanita!
Dia bergerak cepat sekali ke arah suara itu dan melihat gadis yang dicarinya itu rebah di atas rumput, tidak mampu bergerak dan hanya dapat menangis!
Dan didekatnya berlutut seorang laki-laki tinggi besar bermuka hitam.
Melihat laki-laki bermuka hitam itu, teringatlah Si Kong akan peristiwa empat tahun yang lalu. Dia segera mengenal Ouwyang Kwi sebagai orang yang telah merampas kedudukan ketua Hwa I Kaipang!
Bahkan di waktu itu, dalam usia sekitar lima belas atau enambelas tahun, dia pernah bertanding melawan Ouwyang Kwi ini.
Dia tahu betapa jahatnya Ouwyang Kwi dan gurunya yang merupakan datuk timur berjuluk Tung-hai Liong-ong itu, maka diapun tahu bahwa gadis itu tentu terancam bahaya besar. Diapun mengenal gadis yang rebah telentang sambil menangis itu sebagai gadis yang pernah bermalam di rumah penginapan Hok-lai.
"Nona manis, jangan menangis. Percuma saja engkau menangis dan tidak ada gunanya enkau menolak kehendakku. Ditolak atau tidak, tetap engkau akan menjadi milikku!
Maka lebih baik engkau menyerah dengan suka rela daripada aku harus menggunakan paksaan ." Setelah berkata demikian, sambil menyeringai seperti seekor srigala menghampiri korbannya, dia mendekatkan dirinya kepada gadis itu dan tangan kanannya perlahan-lahan meraih ke arah dada.
"Wuuuutt……! Plakk!"
Ouwyang Kwi terkejut dan mengaduh. Tangannya terasa nyeri dan ketika dilihatnya, ternyata tangannya lecet berdarah karena di sambar sepotong batu yang runcing.
Dia meloncat bangkit berdiri sabil memutar tubuh dan melihat seorang pemuda telah berdiri di hadapannya dengan mata yang mencorong seperti mata seekor naga. Tahulah Ouwyang Kwi bahwa tentu pemuda itu yang tadi menyambitnya dengan batu ke tangannya, maka tentu saja dia menjadi marah bukan main.
"Keparat, engkaukah yang menyerangku dengan batu tadi?" bentaknya.
Si Kong mengerutkan alisnya, diam-diam diapun marah sekali melihat perbuatan Ouwyang Kwi tadi. "Ouwyang Kwi, ternyata engkau masih juga belum jera dan selalu melakukan perbuatan jahat dan terkutuk!"
Ouwyang Kwi terkejut. Pemuda itu telah mengenal namanya! "Siapakah engkau yang begitu lancang berani mencampuri urusanku?"
"Ouwyang Kwi, lupakah engkau kepadaku? Empat lima tahun yang lalu, engkau dan gurumu Tung-hai Liong-ong pernah bertemu dengan aku dan guruku Yok-sian lo-kai di Souw-ciu."
Ouwyang Kwi terkejut dan sekarang diapun teringat kepada pemuda itu. Lima tahun yang lalu pemuda itu masih merupakan seorang pemuda remaja akan tetapi sudah sedemikian lihainya sehingga dapat menandinginya. Bahkan gurunya, Tung-hai Liong-ong terluka dalam parah sekali oleh Yok-sian Lo-kai dan untuk menyembuhkan luka itu, gurunya harus mengobati dirinya selama tiga tahun!
Akan tetapi dia tidak takut. Selama lima tahun ini, dia sudah memperdalam ilmu silatnya dan juga suhunya berada tidak jauh dari tempat itu. Pemuda ini hanya datang seorang diri dan dia dapat mengandalkan gurunya kalau sampai dia kalah dari pemuda itu.
Cepat dia mencabut goloknya dan menudingkan telunjuk kirinya ke arah muka Si Kong. "Kiranya engkau bocah setan itu dan lagi-lagi engkau telah berani mencampuri urusan pribadiku.
Akan tetapi sekali ini jangan harap engkau akan mampu meloloskan diri dari golokku ini!" Setelah berkata demikian, tanpa banyak cakap lagi Ouwyang Kwi meloncat dan menerjang dengan golok besarnya.
Si Kong sudah siap. Dia menjatuhkan buntalan pakaiannya ke atas tanah dan menggunakan pikulan bambunya untuk senjata tongkat.
"Trang-trangg….!"
Dua tangkisan itu membuat golok terpental dan hampir terlepas dari tangan Ouwyang Kwi. Hal ini membuat si muka hitam terkejut bukan main dan tahulah dia bahwa pemuda itu juga sudah memperoleh kemajuan pesat sehingga dalam hal tenaga sinkang dia kalah jauh!
"Suhu……., tolong………!"
Ouwyang Kwi berteriak tanpa malu lagi ketika dia menerjang maju kembali dengan serangan yang lebih dahsyat.
Si Kong teringat betapa Ouwyang Kwi telah membunuh dua orang yang mayatnya masih menggeletak di luar hutan di puncak itu, dan teringat bahwa setelah lewat empat lima tahun orang itu tidak berubah menjadi baik bahkan menjadi semakin jahat. Maka dia mempercepat gerakan tongkatnya.
Gerakan tongkat Si Kong sekarang jauh sekali bedanya kalau dibandingkan gerakannya empat tahun yang lalu. Dia telah di gembleng Kwa Siucai, kemudian bahkan mendapat bimbingan dari Pendekar Sadis Ceng Lojin, sehingga dibandingkan empat tahun yang lalu, tingkat kepandaiannya sudah maju jauh sekali.
Begitu dia mempercepat gerakan tongkatnya, tongkat itu dapat menyusup di antara gulungan sinar golok, bergetar menotok pergelangan tangan lalu meluncur ke arah tenggorokan Ouwyang Kwi.
Ouwyang Kwi berteriak ketika tiba-tiba lengannya menjadi lumpuh dan goloknya terlepas dari pegangan, dan teriakannya terhenti ketika ujung tongkat bambu itu menotok tenggorokannya.
Diapun roboh dan tidak mampu bergerak kembali karena totokan pada jalan darah dekat tenggorokannya itu telah menewaskannya!
"Wuuutt…….. wirr……!"
Si Kong mengelak dengan cepat ketika tongkat kepala naga itu menyambar ke arah kepalanya dengan amat kuat dan dahsyatnya.
"Jahanam, berani engkau membunuh muridku?"
teriak Tung-hai Liong-ong ketika melihat muridnya menggeletak dan tewas. Dia terbelalak memandang kepada gadis yang masih telentang, lalu kepada Si Kong yang masih memegang tongkatnya dengan sikap tenang. "Siapa engkau?"
"Tung-hai Liong-ong, engkau dan muridmu Ouwyang Kwi ternyata masih juga belum menghentikan perbuatan jahat kalian. Agaknya engkau belum jera ketika lima tahun yang lalu guruku Yok-sian Lo-kai memukulmu!"
Tung-hai Liong-ong teringat. "Ah, jadi engkau murid Yok-sian Lo-kai? Bagus, aku memang sedang mencarinya untuk membalas kekalahanku dahulu dan sekarang engkau berani membunuh muridku?
Engkau harus mati di tanganku!" kembali Tung-hai Liong-ong menyerang dengan tongkatnya yang berkepala naga. Tongkat itu berat sekali dan ketika menyambar, ada hawa pukulan dahsyat sekali menerpa muka Si Kong.
Akan tetapi pemuda ini sama sekali tidak merasa gentar. Tubuhnya dengan amat ringannya sudah mengelak dari serangan beruntun sambung menyambung sampai lima kali itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar