"Tidak, tidak!" Cin Hai cepat-cepat menjawab sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Mukamu halus dan cantik. Aku tidak takut kepadamu."
"Dan tidak takut kepada Ang I Niocu?" dara itu menegaskan.
"Dan tidak takut kepada Ang I Niocu!" Cin Hai berkata tetap.
"Kalau begitu, lekas kaukumpulkan barang-barangmu.
Sekarang juga kita pergi."
Cin Hai memandang kepada wajah yang halus cantik dan mata yang bening bersinar tajam itu. Ia memandang dengan muka bodoh dan berkata, "Barang-barangku?" Ia memandang ke arah suling yang dipegangnya dan pakaian hwesio yang dipakainya.
"Barangku hanya suling dan pakaian ini."
Pandangan mata Ang I Niocu mengandung iba. "Jadi kau tidak berbohong ketika tadi berkata bahwa kau tidak mempunyai lain pakaian?"
"Membohongi orang lain berarti membohongi diri sendiri," jawab Cin Hai meniru bunyi sebuah ujar-ujar, "dan aku tidak mau membohongi diriku sendiri." Ia lalu mengosok-gosok kepalanya yang gundul.
"Kalau begitu mari kita berangkat!"
Cin Hai mengangguk.
Tetapi pada saat itu, dari bawah gunung melayang naik tiga bayangan orang. Gerakan mereka demikian cepatnya sehingga sebentar saja, sebelum Cin Hai dan Dara Baju Merah pergi jauh, tiga bayangan itu telah tiba di situ. Mereka ini bukan lain ialah Kang-lam Sam-lojin yang baru pulang dari perantauan mereka.Melihat bahwa Cin Hai berjalan pergi dengan seorang gadis, mereka segera memanggil dengan suara keras. Tetapi Cin Hai hanya menoleh sambil tertawa lalu melambaikan tangan sebagai salam berpisah! Tentu saja Kang-lam Sam-lojin merasa penasaran dan segera mengejar. Karena Ang I Niocu dan Cin Hai hanya berjalan biasa saja, dengan beberapa loncatan mereka telah dapat menyusul.
"Hai, Tolol, kau hendak minggat ke mana?" tegur Giok Yang Cu yang brewok dan tinggi besar dengan suara mengguntur.
"Ji-totiang, teecu hendak pergi belajar menari!"
"Apa? Belajar menari? Kepada siapa dan di mana?" tanya Giok Keng Cu si pendek dengan heran.
"Belajar kepada Nona ini, dia pandai sekali menari dan belajar di mana saja, di sepanjang jalan, bukankah begitu, Nona?" Ang I Niocu hanya tersenyum manis dan mengangguk-anggukkan kepala. Ketiga tosu itu memandang ke arah Ang I Niocu dengan penuh perhatian. Tiba-tiba ketiganya saling berbisik dan Giok Im Cu lalu berkata dengan hati-hati.
"Kami bertiga pernah mendengar nama Ang I Niocu, apakah sekarang kami berhadapan dengan Nona yang gagah itu?"
"Sam-wi Totiang, kalian memang mempunyai pandangan yang tajam. Aku betul Ang I Niocu."
Kalau dilihat sungguh mengherankan, karena tiga tokoh kang-ouw yang telah berusia lanjut ini begitu mendengar nama Ang I Niocu lalu nyata sekali tampak terkejut dan mereka dari jauh mengangkat tangan memberi hormat.
"Sungguh pinto merasa terhormat sekali mendapat kunjungan Lihiap. Tidak tahu keperluan apakah yang membawa Lihiap sampai datang di tempat kami yang sunyi ini?"
Ang I Niocu tersenyum dan wajahnya yang jelita menjadi makin manis ketika sepasang lesung pipit menghias sepasang pipinya yang kemerahan. Ia lalu bersyair sambil memandang ke langit.
Berkawan sebatang pedang, Menjelajah ribuan li tanah dan air Tanpa maksud, tiada tujuan, Hanya mengandalkan kaki dan hati. Kau masih bertanya maksud keperluan? Tanyalah kepada burung di puncak pohon, Terbang ke sini berkehendak apa? "Bagus, bagus sekali!" Cin Hai bersorak girang. "Niocu, syairmu ini bagus sekali, biar aku nanti buatkan lagunya yang merdu!"
Ang I Niocu mengangguk-angguk sambil tersenyum manis kepada Cin Hai lalu menjawab kepada tiga tosu itu, "Totiang, seperti kukatakan dalam syairku tadi, aku hanya kebetulan lewat saja di sini dan bertemu dengan engko cilik ini. Kami telah bermufakat untuk saling menukar kepandaian tari dan permainan suling!"
Kang-lam Sam-lojin tidak senang mendengar keterangan ini, karena betapapun juga, mereka telah menganggap Cin Hai sebagai murid yang tentu saja tidak boleh diambil orang lain sedemikian mudahnya yang berarti akan merendahkan derajat mereka. Akan tetapi terhadap Ang I Niocu yang mempunyai nama besar, mereka masih ragu-ragu untuk menggunakan kekerasan.
Akan tetapi, Giok Keng Cu si pendek gesit yang memang agak berwatak sombong, melihat bahwa Ang I Niocu tak lain hanyalah seorang dara muda cantik jelita yang berkulit halus dan bersikap lemah lembut lalu memandang rendah sekali.
"Eh, Ang I Niocu! Banyak orang bilang bahwa kau adalah seorang tokoh dunia kang-ouw yang gagah dan namamu telah menggemparkan empat penjuru. Tidak tahunya hanyalah seorang anak muda yang masih hijau dan tidak tahu aturan kang-ouw! Ataukah kau sengaja tidak memandang mata kepada kami tiga orang tua dan berbuat kurang ajar?"
Sungguhpun Ang I Niocu tampaknya baru berusia tujuh belas atau delapan belas tahun saja, tetapi sebenarnya ia telah berusia dua puluh tahun dan selama lima tahun lebih namanya telah menggegerkan dunia kang-ouw karena selain kepandaiannya yang luar biasa, juga ia terkenal sebagai seorang dara yang berani dan dapat menyimpan perasaannya. Kini mendengar betapa orang memandang rendah kepadanya, ia hanya tersenyum manis, karena biarpun Giok Keng Cu memandang rendah, namun persangkaan kakek pendek itu bahwa ia masih sangat muda merupakan pujian baginya! Wanita mana di dunia ini yang tak ingin disebut muda dan ditaksir jauh lebih muda dari usianya yang sebetulnya.
Karena inilah maka Ang I Niocu dengan suara tetap merdu dan sabar bertanya, "Totiang, bicaramu agak berlebihan. Mengapa kauanggap aku tidak memandang kalian orang tua dan berbuat kurang ajar?"
"Anak tolol itu adalah murid kami, mengapa kau tanpa minta ijin hendak menculiknya begitu saja? Bukankah itu melanggar aturan namanya?" berkata Giok Ken Cu dengan marah.
Sebelum Ang I Niocu menjawab, Ci Hai mendahuluinya dengan suaranya yang nyaring.
"Eh, eh, sejak kapan Totiang memungut teecu sebagai murid? Harap Totiang ingat bahwa teecu bukanlah murid Totiang, maka tidak baik membohong kepada Niocu!"
Sementara itu, Ang I Niocu yang tadinya menyangka bahwa Cin Hai yang tadi membohonginya, kini melihat betapa anak gundul itu berani berkata sedemikian rupa terhadap tosu itu, menjadi lega karena menganggap bahwa anak ini benar-benar berhati tabah dan jujur.
Maka ia tertawa girang sambil memandang muka Giok Keng Cu yang menjadi kemerah-merahan karena malu dan untuk beberapa lama tidak dapat menjawab katakata Cin Hai.
Melihat keadaan sutenya yang terdesak, Giok Yang Cu yang tinggi besar berkata keras, "Ang I Niocu! Betapapun juga, tidak boleh kau membawa anak itu begitu saja. Biarpun dia bukan murid kami, tetapi dia telah ikut kami dan tidak boleh diambil oleh orang lain tanpa ijin kami!"
Giok Yang Cu sengaja berkata keras karena ia hendak menghilangkan rasa malu yang diderita oleh sutenya, apa lagi memang ia tidak puas melihat sikap Ang I Niocu dan Cin Hai yang sama sekali tidak mengindahkan mereka bertiga! "Kalian ini orang-orang tua jangan bicara seenaknya saja," kata Ang I Niocu yang mulai merasa sebal. "Siapa yang menculik anak ini? Ia hendak ikut aku dengan suka rela dan aku pun tidak keberatan, habis kalian mau apa?"
Kini Giok Im Cu yang menjawab setelah mengeluarkan suara melalui lubang hidungnya seperti biasa dikeluarkan orang yang hendak menghina lawan.
"Hm, Ang I Niocu, melihat sikapmu maka benarlah kata para sahabat di dunia kang-ouw bahwa kau adalah seorang yang tinggi hati dan sombong. Kalau kau berkeras hendak membawa anak ini, biarlah kami bertiga menerima dulu petunjuk-petunjuk darimu!" Ini adalah kata-kata yang maksudnya menantang atau mengajak pibu (mengadu kepandaian).
"Begini lebih bagus, tak membuang kata-kata dan obrolan kosong!" kata Ang I Niocu dengan senyum manis dan wajahnya berseri gembira ketika ia mencabut pedang dari pinggangnya.
Ketiga pendeta tua itu pun lalu mencabut senjata masing-masing. Giok Im Cu memungut sebatang ranting kayu bawah pohon, Giok Yang Cu mencabut pedangnya dan Giok Keng Cu meloloskan goloknya. Melihat mereka hendak bertempur, Cin Hai yang memang paling doyan melihat pertandingan silat, lalu duduk di bawah pohon besar. Ketika melihat betapa ketiga tosu semua mencabut senjata, ia segera berkata, "He, Sam-wi Totiang, apakah kalian bertiga hendak maju bersama dan mengeroyok seorang gadis muda seperti Ang I Niocu? Aneh, sungguh aneh!"
Ang I Niocu sambil tertawa berkata, "Hai-ji (Anak Hai), biarlah mereka maju bertiga sekaligus agar gembira kau menonton!"
Sebetulnya ketiga tosu tadi merasa ragu-ragu. Untuk maju seorang saja, mereka takut kalau-kalau tidak kuat melawan Nona Baju Merah yang sudah tersohor kelihaiannya ini, tetapi maju mengeroyok pun mereka merasa sungkan sekali. Kini mendengar kata-kata Cin Hai, mereka otomatis tidak berani maju bersama. Akan tetapi setelah mendengar kata-kata Ang I Niocu, kegembiraan mereka timbul karena jelas bahwa gadis itu sendiri yang menantang mereka untuk maju bersama, hingga mereka tak perlu sungkan-sungkan lagi! Akan tetapi, Giok Im Cu tetap berlaku sungkan dan berkata, "Ang I Niocu, benar-benarkah kau menantang kami untuk maju bertiga? Apakah kau nanti tidak akan mengatakan kami keterlaluan, tiga orang tua mengeroyok seorang muda?"
"Totiang, kau majulah saja bertiga, untuk apa berlaku seji-seji (sungkan) segala?" kata Ang I Niocu sambil memalangkan pedang di dada.
Kini marahlah ketiga tosu itu dan mereka maju bersama mengeroyok dengan serangan-serangan mereka yang sangat berbahaya! Tetapi begitu pedangnya bergerak, sekaligus tiga senjata lawan dapat tertangkis oleh Ang I Niocu. Melihat gerakan pedang yang luar biasa cepat dan anehnya ini, ketiga orang tosu itu terkejut sekali. Mereka lalu memainkan senjata mereka dengan hati-hati sekali sambil mengerahkan ilmu silat mereka dari cabang Liong-san-pai. Mereka sengaja mengurung nona itu dari tiga jurusan, merupakan kepungan segi tiga yang sebentar-sebentar berubah gerakannya, karena mereka bertiga selalu berpindahpindah tempat! Inilah keistimewaan Kang-lam Sam-lojin yang dapat maju bersama dengan secara kompak sekali.
Akan tetapi, dengan tenang dan senyum manisnya tak pernah meninggalkan bibir, Ang I Niocu menghadapi mereka dengan pedangnya yang luar biasa sekali gerakannya. Gadis ini seakan-akan tidak sedang menghadapi tiga orang yang mengeroyoknya dari tiga penjuru, karena ia tak pernah mengubah kedudukan tubuhnya yang menghadap ke utara, tetapi ujung pedangnya bergerak sedemikian rupa hingga tiap kali senjata lawan datang dari arah mana pun, selalu dapat tertangkis.
Bahkan ia masih sempat mengirim tusukan dan serangan-serangan pembalasan yang tidak kalah hebatnya! Cin Hai Yang melihat jalannya pertempuran itu, menahan napas saking kagumnya. Ia melihat betapa tiga orang tosu itu berputar-putar dan tubuh mereka tak tampak lagi merupakan tiga bayangan orang yang berkelebat menjadi putaran cepat sekali. Tetapi di tengah lingkaran itu ia melihat Ang I Niocu bergerak-gerak dengan tenang dan dengan gerakan indah, bahkan dalam pandangannya gadis cantik itu tidak seperti orang sedang bertempur, karena ternyata bahwa Nona Baju Merah itu sedang menari-nari! Tarian yang indah dengan gaya yang lemas dan sedap dipandang.
Ia tidak tahu bahwa itulah limu Pedang Tarian Bidadari yang tidak ada keduanya di dunia ini! Tarian pedang ini dilakukan dengan gerakan halus dan tampaknya lambat karena memang kecepatannya hanya terdapat dari tenaga dan, kecepatan lawan saja hingga Ang I Niocu sendiri tak perlu mengeluarkan tenaga dan kecepatan.
Tiap kali serangan lawan yang datang dengan gerakan cepat sekali, cukup ia sentuh sedikit dengan ujung pedang dan senjata lawan itu tentu menyeleweng arahnya, sedangkan dengan pinjaman tenaga kecepatan senjata musuh, pedangnya dapat dipentalkan dengan luar biasa cepatnya dalam serangan balisan! Juga ia melakukan tarian luar biasa ini dengan tenaga lweekang yang tinggi hingga tiap kali ujung pedangnya membentur senjata lawan, maka lawannya akan merasa betapa tangan mereka tergetar! Cin Hai menonton dengan mata terebelalak kagum dan mulut ternganga. Karena asyiknya menonton pertempuran luar biasa itu, ia tidak merasa betapa seekor lalat beterbangan menyambari mukanya.
Pikiran anak ini terlalu senang dan gembira karena ia mendapat kenyataan bahwa gadis baju merah yang berlaku manis kepadanya itu ternyata memiliki kepandaian yang lebih hebat dan lihai dari pada Hai Kong Hosiang, hwesio gundul yang memelihara ular itu.
Ketika Kong Hosiang dulu dikeroyok oleh tiga tosu ini di depan Ban-hok-tong, hwesio itu tidak kuat melawan mereka sehingga akhirnya terpaksa melepaskan ularularnya.
Tetapi kini, biarpun dikeroyok dengan hebat, ternyata Ang I Niocu masih sempat menari-nari dengan bibir tersenyum. Tiba-tiba lalat yang beterbangan dan menyambar-nyambar hidung Cin Hai itu tersesat dan salah masuk ke dalam mulut Cin Hai yang ternganga! Anak itu baru sadar dan dengan marah ia menyumpahnyumpah dan meludah-ludah serta memaki-maki lalat itu. Lalu ia ingat akan sesuatu. Tarian yang dilihatnya ketika gadis itu menari di depan gua. Sayang kalau tarian seindah ini tidak dihiasi dan diiringi nyanyian suling.
Maka ia lalu meniup sulingnya meniup lagu yang merdu dan bernada tinggi.
Benar saja, ketika mendengar suara suling, Ang I Niocu tertawa senang dan tiba-tiba gerakan pedangnya berubah makin hebat! Apalagi ketika Cin Hai meniup sulingnya dengan nada meninggi dan irama cepat, maka gadis itu bersilat makin cepat lagi hingga sebentar saja orang dan pedang lenyap terganti gundukan sinar putih dan di tengah-tengah gundukan sinar itu tampak warna merah pakaiannya! Tentu saja perubahan ini membuat ketiga tosu itu terkejut sekali. Hampir saja ujung pedang gadis itu berhasil melukai mereka dengan cepat dan tak terduga serta dalam waktu yang bersamaan hingga ketiganya meloncat mundur! "Ang I Niocu, kau memang lihai sekali! Kini kami mengakui bahwa ilmu pedangmu benar-benar lihai," kata Giok Yang Cu dengan jujur.
"Kau memang cukup pantas menjadi guru anak tolol ini, Nona," kata Giok Keng Cu dengan suara mengandung ejekan.
"Hem, Cin Hai, kalau kau baik-baik belajar silat dari Ang I Niocu, kau tentu akan mencapai kemajuan hebat," kata Giok Im Cu.
Tetapi Cin Hai tidak mempedulikan semua omongan itu karena hatinya sangat gembira melihat betapa Nona Baju Merah itu ternyata benar-benar lihai dan berkepandaian jauh lebih tinggi dari pada tiga tosu itu digabung menjadi satu! Sementara itu, Ang I Niocu mendengar kata-kata ketiga pendeta, lalu berkata sambil tetap tersenyum, "Sam-wi Totiang, aku bukan guru engko cilik ini dan juga tidak akan menjadi gurunya."
Mendengar kata-kata ini, Cin Hai menganggukanggukkan kepalanya yang gundul dan berkata cepat, "Betul, betul! Ada nyanyian kuno menyatakan bahwa guru yang terpandai berada di dalam diri sendiri! Nona perkasa ini belajar menyuling dari aku, dan aku sendiri belajar menari darinya, siapakah yang disebut guru dan siapa murid?" Ang I Niocu tertawa manis mendengar ucapan ini dan keduanya lalu menjura ke arah tiga tosu yang memandangnya dengan bengong, lalu keduanya berjalan dengan perlahan meninggalkan tempat itu.
Setelah beberapa bulan lamanya mengikuti Ang I Niocu, maka mengertilah Cin Hai bahwa ketika dara baju merah itu dulu bersyair di depan Kang-lam Sam-lojin, maka itu adalah syair yang memang menggambarkan keadaan hidupnya. Gadis itu tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap, berkelana, merantau bagaikan seekor burung, terbang ke sana ke mari, tanpa maksud atau tujuan tertentu dan pergi ke mana saja mengandalkan kaki dan hati! Akan tetapi, karena Cin Hai juga sebatangkara dan tidak mempunyai tujuan hidup tertentu, maka perantauan ini tidak menyusahkan hatinya. Bahkan ia merasa bahagia sekali karena Ang I Niocu benar-benar baik sekali kepadanya. Wanita muda itu selain pandai sekali menari, juga pandai bernyanyi dengan suaranya yang merdu. Setiap waktu bila mereka singgah di tempat yang baik dan menyenangkan, Ang I Niocu lalu meminjam suling Cin Hai dan mulai belajar meniupnya dengan memperhatikan petunjuk-petunjuk anak gundul itu. Sebaliknya dengan gembira Cin Hai mulai mempelajari tari yang sebenarnya bukan lain adalah ilmu silat luar biasa yang disebut Sianli-kun-hwat atau Ilmu Silat Bidadari. Tetapi mula-mula ia mengalami kesukaran karena betapapun juga, ia adalah seorang anak laki-laki dan tubuhnya tidak selemas tubuh perempuan, padahal Sianli-kun-hwat membutuhkan tubuh yang lemas dan gaya yang lemah lembut. Akan tetapi dengan sabar dan telaten Ang I Niocu melatih lweekang kepada Cin Hai hingga tenaga anak gundul ini bertambah cepat sekali, apalagi juga memberi latihan Ilmu Jui-kut-kang yaitu ilmu untuk melemaskan badan hingga Cin Hai dapat juga memainkan Sianli-kun-hwat, biarpun masih agak kaku.
Sementara itu Cin Hai tidak lupa untuk mempelajari Ilmu Silat Liong-san-kun-hwat yang telah dicatat dan dilukis sebanyak depalan puluh jurus itu! Melihat bahwa Cin Hai mempelajari Liong-san-kunhwat, Ang I Niocu hanya tersenyum dan berkata, "Jangankan baru kaupelajari delapan puluh jurus, biarpun kau mempelajari sampai tamat yaitu seratus delapan jurus, tetap ilmu silat ini takkan mampu mengalahkan Sianli-kun-hwat."
Cin Hai juga tersenyum. Ia maklum bahwa Ang I Niocu takkan melarangnya karena memang dara itu tak berhak melarangnya. Ia bukan murid Gadis Baju Merah itu! Dan ia tetap mempelajari Liong-san-kun-hwat sampai hafal semua delapan puluh jurus yang telah dicatatnya.
Telah lima tahun Ang I Niocu berkelana seorang diri dan selalu bertemu dengan orang-orang jahat dan orangorang yang membuat ia jemu. Hampir semua laki-laki yang berjumpa dengan dia selalu memperlihatkan pandangan mata yang mengandung maksud tidak baik, hingga ia benci melihat orang laki-laki. Akan tetapi perasaannya terhadap Cin Hai lain lagi. Pandangan mata anak ini demikian jujur, demikian mesra dan demikian menimbulkan perasaan iba di dalam hatinya, hingga ia tertarik dan suka sekali kepada Cin Hai. Oleh karena ini, maka biarpun ia tidak menganggap Cin Hai sebagai muridnya, tetapi ia dengan sungguh hati hendak menurunkan Sianli-kun-hwat yang morupakan tarian indah dan sangat digemari oleh Cin Hai itu. Juga Ang I Niocu sangat tertarik akan kepandaian Cin Hai meniup suling dan bakatnya mencipta lagu-lagu luar biasa. Pula, ia kagum akan pengertian Cin Hai tentang sastera, tentang sejarah kuno, dan tentang segala macam ujarujar yang sangat indah didengar. Apalagi nyanyian Totik- khing sangat menarik hatinya hingga setiap kali ada kesempatan tentu ia menghapalkan sebuah ayat daripada kitab peninggalan Nabi Locu yang bijaksana itu.
Sebaliknya, Cin Hai merasa sangat berterima kasih dan suka kepada Ang I Niocu, karena sikap gadis yang lemah lembut, kata-katanya yang halus merdu serta pandangan matanya yang kadang-kadang sayu itu mengingatkan ia akan Loan Nio, Ie-ienya (bibinya), yang dianggap satuTiraikasih Website http://kangzusi.com/ satunya orang yang cinta padanya. Akan tetapi bibinya terikat kepada keluarga Kwee-ciangkun sehingga ia maklum bahwa rasa suka di hati bibinya terhadap dia masih terbagi-bagi, sedangkan Ang I Niocu hidup sebatangkara seperti dia. Oleh karena inilah maka timbul rasa suka dan bakti yang besar sekali di dalam hati Cin Hai. Kini ia menganggap Ang I Niocu sebagai satusatunya orang yang patut ia sayangi, patut ia bela dan patut ia ikuti.
Pernah pada suatu saat Dara Baju Merah itu bertanya tentang riwayatnya yang dijawab oleh Cin Hai dengan terus terang akan tetapi karena pengaruh ujar-ujar yang telah masuk ke dalam kepala, Cin Hai sama sekali tidak mau menyebut-nyebut segala kejahatan dan siksaan yang telah dilempar orang lain kepadanya. Ia teringat akan ujar-ujar yang menyatakan bahwa keburukan orang lain tak perlu disebut-sebut, sedangkan kesalahan sendiri harus selalu diingat dan diperbaiki! Karena inilah, maka ia tidak pernah menceritakan kepada Ang I Niocu tentang kenakalan-kenakalan Kwee Tiong dan adik-adiknya, tidak menceritakan kebencian guru silat Tan Hok yang hampir saja membunuhnya.
Akan tetapi ketika Cin Hai bertanya tentang riwayat Ang I Niocu, gadis itu hanya tersenyum sedih dan untuk beberapa lama sinar matanya yang biasanya berseri-seri itu tiba-tiba menjadi suram.
"Ah, Niocu, kalau kau tidak suka mengenang kembali atau menceritakan riwayat hidupmu padaku, sudahlah.
Lebih baik kita berlatih saja, kau berlatih meniup suling, sedangkan aku berlatih menari."
Ang I Niocu kembali tersenyum dan lenyaplah kenangkenangan sedih tadi. Ia memandang Cin Hai dengan rasa terima kasih terkandung dalam sinar matanya, lalu ia mengambil suling itu dan mulai meniupnya. Cin Hai juga segera meloncat dan menggulung lengan bajunya serta mengencangkan ikat pinggangnya, lalu mulai bergerak menari! Memang berkat kerja sama mereka, maka tarian itu dapat disesuaikan dan diselaraskan dengan lagu tiupan suling hingga dengan demikian pelajaran menari menjadi lebih mudah diingat oleh Cin Hai. Biarpun pada saat itu ia telah mempelajari tari lebih dari setengah tahun, namun ia baru saja dapat memainkan beberapa belas jurus tarian dengan baik, sedangkan selanjutnya gerakannya masih sangat kaku dan tidak tepat! Maka dapat dimengerti betapa sukarnya mempelajari Sianlikun- hwat itu.
JUGA karena sebagian besar dari tarian itu dilakukan dengan berdiri di atas ujung jari kaki, maka tentu saja membutuhkan tenaga kaki yang lebih besar sehingga kalau orang kurang latihan tentu takkan sanggup menarikannya sampai lama.
Sehabis latihan, Ang I Niocu berkata, "Gerakan yang ke tiga dan ke delapan masih kurang sempurna. Hanya jurus satu, dua, empat sampai tujuh dan sembiIan sampai lima belas yang sudah lumayan.
Tetapi selebihnya, dari jurus ke enam belas, masih sangat jauh untuk dapat disebut lumayan. Gerakgerakkanlah jari tanganmu dengan hidup karena gerakan-gerakan jari itu menghidupkan jurus gerak tipu Burung Surga Membuka Sayap. Kau harus mengerti bahwa Burung Surga adalah burung yang biasa ditungganggi Bidadari, maka semua gerakannya mengandung arti dan maksud tertentu. Jari-jari kita dalam gerakan ini merupakan ujung-ujung sayap yang harus digerak-gerakkan dalam menghadapi lawan, maka gerakan-gerakan jari ini sangat penting karena dapat membingungkan lawan dan dapat menyembunyikan maksud gerakan satu serangan kita yang sesungguhnya.
Kau tentu masih ingat bahwa sepuluh jari tangan kita dapat digunakan untuk menotok jalan darah lawan dalam berpuluh macam gerakan. Apakah kau masih hafal semua?"
Demikianlah Ang I Niocu memberi petunjuk-petunjuk yang didengar dan diturut oleh Cin Hai dengan penuh perhatian. Dan dari uraian Ang I Niocu itu dapat diketahui betapa sulit dan lihainya limu Silat Sianli-kunhwat itu, karena satu jurus saja mempunyai pecahan demikian banyak dan hebat! Setelah berlatih, mereka beristirahat di bawah pohon besar dan pada kesempatan ini Ang I Niocu menuturkan tentang tokoh-tokoh besar yang pernah dijumpai Cin Hai.
Memang Cin Hai menceritakan pengalamannya ketika ia berada di atas genteng Kuil Ban-hok-tong dan melihat Kanglam Sam-lojin berkelahi mati-matian melawan Hai Kong Hosiang! "Kau sungguh mujur dan beruntung sekali dapat terlepas dari tangan Hai Hong Hosiang. Ketahuilah, hwesio ini memang jahat sekali dan berwatak kejam, biarpun ia bukanlah seorang penjahat kecil yang suka melakukan segala perbuatan jahat yang tidak berarti.
Kalau ia melakukan sesuatu kejahatan, maka kejahatan besar dan hebat sekali. Dan kau sungguh boleh dibilang lebih-lebih beruntung lagi karena telah tertolong dan bahkan diterima menjadi murid oleh kakek yang mengaku bernama Bu Pun Su atau Tiada Kepandaian itu.
Tahukah kau siapa adanya kakek itu? Dia adalah Susiok- couwku (Kakek Paman Guru) sendiri!"
Terkejutlah Cin Hai mendengar ini. "Astaga! Jembel tua itu adalah Susiok-couwmu? Hebat, hebat dan tidak masuk akal. Kau yang berkepandaian begini tinggi hanya menjadi cucu muridnya? Kalau begitu, kepandaiannya tentu hebat sekali?"
Ang I Niocu mengangguk-angguk. "Memang beliau adalah Susiok-couwku, karena mendiang ayahku adalah murid keponakannya. Dan tentang kepandaiannya, ah, sukar untuk diukur sampai berapa tingginya. Kalau tidak ada Susiok-couw, maka tiga gerobak emas itu tentu telah dirampas oleh Hai Kong Hosiang atau Kang-lam Samlojin, atau beberapa orang gagah lain yang mengingini harta besar itu!" "Tiga gerobak emas yang mana, milik siapa?" Cin Hai bertanya heran.
"Emas sisa simpanan ahala Beng yang belum terampas oleh Kaisar Boan dan berhasil dilarikan oleh beberapa orang patriot yang gagah berani, disimpan di sebelah kuil kuno di dekat Tiang-an ternyata hal itu dapat diketahui oleh Pemerintah Boan Yang segera berusaha merampasnya. Tetapi hal ini sudah lama diketahui oleh orang-orang gagah yang masih setia kepada Pemerintah Han sehingga mereka cepat mengambil harta itu dan berusaha mengungsikannya ke utara untuk digunakan bilamana saat pemberontakan tiba. Tetapi selain musuh-musuh dari pihak Kaisar, para patriot itu menghadapi musuh yang lebih berbahaya lagi, yaitu orang-orang kang-ouw seperti Hai Kong Hosiang dan lain-lain, karena mereka ini pun mempunyai telinga yang tajam hingga mendengar pula tentang harta karun itu dan berusaha pula merampasnya! Karena inilah, maka mereka ini berkumpul di Tiang-an dan kebetulan sekali Hai Kong Hosiang yang pernah bermusuhan dengan Kang-lam Sam-lojin bertemu di depan Kuil Ban-hok-tong dan bertempur sebagaimana yang kaulihat itu.
Sedangkan semua orang kang-ouw yang hendak merampas emas, semua takut dan lari ketika melihat Bu Pun Su yang sengaja turun gunung untuk membantu para patriot mengungsikan emas itu. Secara kebetutan sekali, kau dapat ditolong olehnya dan diaku sebagai muridnya, bukankah ini hal yang aneh sekali?"
"Dia orang pandai dan suka mengaku murid kepadaku apakah anehnya?"
Ang I Niocu tersenyum. "Mana kau tahu? Susiok-couw adalah orang yang adatnya sangat kukoai (ganjil) dan selama hidupnya belum pernah mempunyai seorang murid pun. Menurut kata Ayahku dulu, Susiok-couw benci sekali kepada orang-orang yang berkepandaian silat, karena menurut beliau, kepandaian silat itu hanya mendatangkan malapetaka belaka! Agaknya orang tua itu sudah pikun dan lupa bahwa dia sendiri adalah seorang di antara tokoh-tokoh yang tingkatnya paling tinggi di dunia ini! Dan sekarang tiba-tiba saja ia mengangkat engkau sebagai muridnya. Bukankah ini aneh sekali?"
"Tetapi aku tidak senang menjadi muridnya!" tiba-tiba Cin Hai berkata. "He, mengapa?" Ang I Niocu bertanya.
"Entahlah, tetapi rasa hatiku, aku lebih suka belajar darimu daripada harus belajar dari kakek jembel yang aneh adatnya itu. Bukankah kalau belajar padanya aku harus berpisah darimu?"
Ucapan ini dikatakan dengan hati jujur seorang anakanak, tetapi Ang I Niocu mendengarkan dengan hati terharu sekali.
"Berjanjilah, Niocu, kau takkan meninggalkan aku!"
Cin Hai mendesak.
Ang I Niocu mengangguk-angguk dan berkata lirih, "Jangan kuatir, aku takkan meninggalkan kau."
Sebenarnya kurang pantas bagi Cin Hai untuk memanggil Ang I Niocu dengan sebutan "Niocu" yang biarpun artinya "nona" namun biasanya hanya dilakukan oleh seorang suami atau seorang kekasih. Akan tetapi, karena nona itu memang mempunyai gelaran Ang I Niocu, maka Cin Hai lalu menyebutnya "niocu" begitu saja, karena hatinya yang jujur tidak dapat mencari lain sebutan yang lebih tepat. Sedangkan Ang I Niocu juga tidak peduli akan sebutan ini.
Ketika Cin Hai yang pernah mendengar dari Kang-lam Sam-lojin tentang Giok-gan Kui-bo Si Biang Iblis Mata lntan yang pernah dilihatnya ketika bertempur melawan seorang yang berpakaian sasterawan, mengajukan pertanyaan kepada Ang I Niocu. Kemudian Gadis Baju Merah itu menjawab, "Kanglam Sam-lojin berkata benar. Memang dia itu adalah ciciku, yaitu Suci (Kakak Seperguruan), karena ia adalah murid Ayahku." Tetapi Cin Hai juga tidak mendesak lagi karena anak ini selalu kuatir kalau-kalau hati Ang I Niocu akan menjadi sedih. Dari pandangan matanya yang tajam, anak yang berusia paling banyak sepuluh tahun ini dapat melihat keadaan orang dan seakan-akan ia dapat membaca isi hati gadis yang gagah perkasa itu! Demikanlah Cin Hai diajak merantau ke selatan sampai ke daerah Lam-hu yang panas. Ketika mereka memasuki kota Nam-tin, maka dua tahun telah berlalu semenjak Cin Hai ikut Ang I Niocu merantau. Anak ini sekarang tidak gundul lagi, rambutnya tumbuh dengan subur, tebal dan hitam sekali. Keningnya lebar dan tubuhnya makin tegap dan tinggi. Tadinya memang Cin Hai tidak berniat memelihara rambut, karena setiap kali rambutnya sudah agak panjang, selalu timbul lagi kudis di kulit kepala.
Akan tetapi ketika ia hendak mencukur rambutnya, Ang I Niocu melarangnya.
"Kau bukan seorang hwesio, mengapa harus mencukur rambutmu?" tanya dara baju merah itu.
"Siapa yang tidak suka memelihara rambut yang hitam dan panjang? Aku pun tidak suka menjadi hwesio kecil, tetapi apa daya, setiap kali rambutku memanjang, timbullah penyakit kudis yang gatal sekali di kepalaku!"
Dengan tertawa geli Ang I Niocu berkata, "Coba kaupelihara rambutmu baik-baik, kaucuci setiap hari sampai bersih, tentu penyakit gatal itu lenyap!"
Dan benar saja, setelah mendapat rawatan Ang I Niocu yang setiap hari menyikat kulit kepala Cin Hai dengan air panas sampai bersih, penyakit gatal itu tidak mau timbul lagi! Tentu saja Cin Hai menjadi girang sekali dan ia memelihara rambutnya yang tumbuh subur dan hitam. Juga Ang I Niocu mencarikan pakaian untuk Cin Hai, sebuah celana putih dan sepotong baju biru. Setelah mengenakan baju biru dan memelihara rambutnya, maka Cin Hai tampak cakap dan tampan sekati, hanya sepasang matanya yang mengeluarkan sinar kejujuran itu membuat mukanya selalu nampak bodoh! Ketika mereka tiba di kota Nam-tin, Cin Hai telah berusia dua belas tahun, tetapi karena tubuhnya memang tinggi tegap, ia seperti seorang pemuda berusia lima belas tahun lebih. Hubungannya dengan Ang I Niocu makin mesra dan di dalam hati mereka terjalin rasa kasih murni yang putih bersih, seperti kasih sayang seorang ibu dan anak atau kakak beradik.
Ketika mereka berdua berjalan di depan sebuah toko obat-obatan di dalam kota Nam-tin, tiba-tiba Cin Hai berbisik kepada Ang I Niocu.
"Niocu lihat, itulah orangnya yang dulu dirobohkan Giok-gan Kui-bo!"
Ang I Niocu menoleh ke arah toko obat itu dan melihat seorang laki-laki, berusia tiga puluh tahun sedang berdiri di dalam toko. Orang itu tampan dan berpakaian seperti seorang sasterawan.
Tiba-tiba Ang I Niocu menarik tangan Cin Hai pergi dari situ hingga Cin Hai merasa heran melihat sikap nona itu. "Eh, Niocu, apakah kau kenal kepadanya?" tanyanya.
"Hai-ji, tidak salahkah kau? Benar-benarkah orang yang berpakaian sasterawan tadi yang dirobohkan oleh Suciku?"
"Benar, benar dia. Mana aku bisa salah lihat?"
Ang I Niocu meremas-remas tangannya sendiri dan berkata perlahan, "Suci memang keterlaluan! Kasihan Kang Ek Sian, tentu saja ia bukan lawan Suci..."
Melihat kegelisahan Ang I Niocu, Cin Hai maklum bahwa tentu gadis ini mengenal baik sasterawan itu dan ada sesuatu yang pernah terjadi di antara mereka. Tetapi karena ia maklum akan kekerasan hati Ang I Niocu dan bahwa kalau tidak dikehendaki maka gadis itu takkan menuturkan sesuatu, ia pun diam saja tidak mau bertanya.
Tiba-tiba Ang I Niocu memegang tangan Cin Hai sambil berkata, "Hai-ji, aku harus pergi ke sana menemui dia!"
Tanpa menjawab, Cin Hai mengangguk dan mengikuti Nona Baju Merah itu kembali ke toko obat tadi. Ternyata Kang Ek Sian tidak tampak pula di situ. Yang menjaga toko adalah seorang berpakaian pelayan.
Melihat yang datang adalah seorang gadis berpakaian merah yang cantik dan gagah, pelayan itu dengan sikap hormat bertanya maksud kedatangan mereka.
"Aku hendak bertemu dengan majikanmu," jawab Ang I Niocu singkat.
"Apakah Nona maksudkan hendak berjumpa dengan Kang-taihiap?"
Ang I Niocu agak tercengang mendengar betapa pelayan itu menyebut "taihiap" (tuan pendekar) kepada Kang Ek Sian yang biasanya berlaku sangat sederhana serta tidak suka mengaku sebagai seorang pendekar silat. Akan tetapi karena menduga bahwa yang disebut Kang-taihiap tentu bukan lain Kang Ek ia mengangguk.
"Silakan menanti sebentar, Nona, akan saya sampaikan kepada Kang-taihiap." Pelayan itu masuk ke dalam dan tak lama kemudian keluar pula sambil menjura dan memberitahukan bahwa Kang-taihiap mempersilakan kedua tamu itu masuk ke dalam. Ang I Niocu tanpa ragu-ragu lagi lalu mengikuti pelayan itu masuk ke ruang belakang dan Cin Hai juga tidak ketinggalan ikut pula memasuki rumah yang bagian depannya dipakai sebagai toko itu. Ternyata rumah itu besar juga dan mempunyai bagian belakang yang dua kali lebih besar dan lebar daripada bagian depannya.
Kedatangan mereka disambut oleh seorang laki-taki setengah tua yang kurus dan mempunyai jenggot tipis kecil panjang serta sepasang kumis kecil panjang pula berjuntai ke bawah. Sekarang anak laki-taki sebaya Cin Hai ikut pula menyambut. Laki-laki berkumis panjang itu bersikap dingin, angkuh dan menyambut kedatangan Ang I Niocu dengan pandangan mata tajam dan menyelidik. Juga anak laki-laki itu memandang kepada Cin Hai dengan mata mengandung ejekan sehingga baru bertemu muka satu kali saja Cin Hai telah merasa tidak senang kepada mereka ini. Tetapi Ang I Niocu dengan senyum manis di bibir segera memberi hormat dengan mengangkat kedua tangan dan menjura. Tuan rumah segera membalas hormatnya.
"Maafkan kalau kedatangan kami mengganggu.
Maksud kami hendak bertemu dengan Kang-enghiong sebentar," kata Ang I Niocu.
"Orang she Kang adalah aku sendiri, Nona," kata orang laki-laki berkumis panjang itu.
"Tuan salah sangka. Aku hendak bertemu dengan Saudara Kang Ek Sian," kata Ang I Niocu lagi.
Tuan rumah itu memandang tajam dan terutama ia memperhatikan pakaian Ang I Niocu yang berwarna merah itu dan gagang pedangnya yang tergantung di pinggang kiri. Kemudian tiba-tiba ia tersenyum dan ketika ia tersenyum, maka wajahnya berubah tampan dan hampir sama dengan wajah Kang Ek Sian.
"Oo, kau mencari Kang Ek Sian? Dia adalah adikku dan aku adalah Kang Bok Sian." Ang I Niocu yang tadi hanya tunduk saja kini mengangkat muka memandang.
Matanya tajam menyambar wajah orang itu dan ia berkata, "Ah, tidak tahunya aku , yang bodoh berhadapan dengan Kang-taihiap!"
Mendengar pujian ini Kang Bok Sian tertawa tergelak dan ia berkata, "Lihiap sungguh berlaku sungkan. Apakah dikira bahwa aku tidak mengenal Gunung Thai-san? Lihiap tentu Ang I Niocu yang terkenal bukan?"
Melihat sikap orang yang biarpun di mulut memuji tetapi sikap dan bibirnya menyeringai seakan-akan orang memandang rendah itu, Cin Hai merasa mendongkol.
Tetapi Ang I Niocu biarpun tak kurang gemasnya di dalam hatinya, tetap tersenyum ketika berkata, "Kangtaihiap, tolonglah kaupanggil Saudara Kang Ek Sian, karena ada sepatah dua patah kata yang hendak kusampaikan kepadanya."
"Ah, mengapa terburu-buru benar, Li-hiap. Silakan duduk, silakan duduk. Kau juga, anak muda!"
Kang Bok Sian dan anak laki-laki itu mendahului duduk di dekat sebuah meja yang pendek sekali. Mereka berdua tidak duduk di atas bangku karena meja itu memang sangat rendah dan mereka hanya duduk bersila menghadapi meja! "Lihiap, silakan duduk!" kata Kang Bok Sian dan anak itu lalu mengambil empat buah cawan kosong dan sepoci air teh.
Tetapi ketika Kang Bok Sian menuang isi poci itu, ternyata bukanlah teh yang keluar tetapi arak wangi! Bau arak itu memenuhi ruangan. Dengan cepat cawan-cawan diisi arak dan Kang Bok Sian memberi Cin Hai secawan, sedangkan anak laki-laki tuan rumah itu pun mengambil secawan. Ketika hendak menyuguhkan arak kepada Ang I Niocu, Kang Bok Sian berkata, "Ang I Lihiap, untuk menghormati kedatanganmu, silakan minum secawan arak!"
Tetapi Ang I Niocu menggeleng-geleng kepala sambil tersenyum. "Kang Taihiap, terima kasih atas penghormatan besar ini. Tetapi sesungguhnya kedatanganku ini hanya untuk menemui Kang Ek Sian saja, bukan hendak minum arak!"
Tiba-tiba muka Kang Bok Sian berubah merah.
"Apakah kedatanganmu ini hendak menghina lagi kepada Adikku?"
Ang I Niocu memandang heran. "Siapa yang menghina? Apa maksudmu?"
Kang Bok Sian tiba-tiba tertawa menghina. "Ah, jangan kau berpura-pura lagi. Bukankah kalau tidak kebetulan bertemu dengan Kang-lam Sam-lojin, adikku Kang Ek Sian itu telah mati dalam tangan Sucimu?"
Kini mengertilah Ang I Niocu mengapa sikap Kang Bok Sian memusuhinya. Ia lalu berkata perlahan, "Harap kau tidak salah paham. Kedatanganmu ini justru hendak minta maaf kepada Adikmu atas kelancangan tangan Suciku."
Untuk beberapa lama kedua orang itu berpandangpandangan lalu perlahan-lahan wajah Kang Bok Sian menjadi sabar kembali, "Baik, baik, aku percaya kepadamu. Nah, marilah minum!" Ia sendiri menenggak habis secawan arak lalu memandang Cin Hai. Melihat betapa Cin Hai masih saja berdiam diri tidak hendak minum araknya, ia berkata, "He, anak muda, apakah kau tidak biasa minum arak? Atau, apakah kau takut minum racun? Kalau kau tidak mau minum arakku, mengapa kau masuki rumahku?"
Mendengar ini anak laki-laki yang duduk di depan Cin Hai tertawa perlahan dan mengangkat cawan lalu mengangguk kepada Cin Hai sambil berkata, "Sobat, mari minum arakmu!"
Terpaksa Cin Hai memegang cawannya, tetapi ia tidak segera minum karena melihat bahwa Ang I Niocu juga tidak mau minum! "Ang I Niocu, apakah benar-benar kau tidak mau menerima kebaikan dan penghormatanku berupa secawan arak?" Kang Bok Sian berkata dengan suara keras, lalu tiba-tiba ia melontarkan cawan arak yang tadinya disuguhkan kepada Ang I Niocu itu ke atas dan aneh! Cawan itu membentur langit-langit yang terbuat daripada papan dan menempel di situ! Sambil duduk bersila di dekat meja, Kang Bok Sian mengangkat kedua tangannya seakan-akan menjaga agar cawan itu tidak jatuh.
"Beginikah caranya menghormat tamu?" tiba-tiba Ang I Niocu berkata menyindir dan ia mengangkat tubuhnya hingga setengah berdiri, lalu menggunakan tangan kanannya memukul ke arah cawan yang menempel di atas itu. Ia mengerahkan tenaga lweekangnya dan berseru, "Kang-taihiap, kauterimalah kembali arakmu!"
Pertemuan tenaga yang keluar dari tangan kanan Ang I Niocu dan kedua tangan Kang Bok Sian yang samasama mengerahkan tenaga khikang ini terjadi dengan diam-diam tetapi tidak lama berlangsung karena tiba-tiba cawan yang berisi arak itu bagaikan dilempar dan melayang kembali ke arah Kang Bok Sian! Tuan rumah berkumis panjang itu segera menggunakan tangan kanan menyambut, tetapi tetap saja ada beberapa tetes arak memercik ke luar membasahi lengan bajunya yang lebar! Muka orang she Kang ini menjadi merah dan kedua matanya bercahaya, tanda panas hatinya.
"Hai-ji, mari kita pergi!" kata Ang I Niocu kepada Cin Hai yang masih duduk bersila sambil memegang cawan arak di tangan kirinya tanpa meminum arak itu, karena sejak tadi ia bengong melihat pertempuran tenaga khikang yang hebat menarik itu! Kini mendengar suara Ang I Niocu ia segera menaruh kembali cawan araknya di atas meja dan bangkit berdiri, lalu mengikuti Nona Baju Merah itu bertindak keluar.
"Ang I Niocu, tunggu dulu! Aku telah merasakan kelihaian tenagamu, sekarang berilah sedikit petunjuk padaku!"
Tiba-tiba terasa sambaran angin dan tahu-tahu tubuh tuan rumah itu telah mengejar dekat dan ia menggunakan tangan kanannya hendak memegang lengan Ang I Niocu. Kelihatannya seperti seorang yang hendak menahan kepergian gadis perkasa itu, tetapi sebenarnya ini adalah sebuah serangan berbahaya karena jari-jari tangan Kang Bok Sian bergerak dengan Tenaga Eng-jiauw-kang (Cengkeraman Kuku Garuda) yang kalau sampai dapat menangkap lengan tangan orang maka tentu kulit lengan itu akan hancur berikut dagingnya! Tetapi tanpa menoleh sedikit pun, Angi I Niocu berkata, "Orang she Kang, jangan banyak tingkah!" Tibatiba lengan tangannya yang dicengkeram itu bergerak cepat sekali mengelit serangan itu sehingga cengkeraman Kang Bok Sian tidak mengenai sasaran.
Kang Bok Sian penasaran dan meneruskan serangannya dengan gerakannya Pek-ho-tok-hu (Bangau Putih Menotol Ikan), menotok ke arah lambung Ang I Niocu.
Tetapi Dara Baju Merah ini dengan tenang sekali mendahului gerakan lawan dan sekali menyentil dengan jari tangannya, tangan kanan Kang Bok Sian menjadi lumpuh dan ia meringis kesakitan. Ternyata sentilan jari tangan itu tepat sekali mengenai jalan darah lengannya, sehingga lengannya terasa lumpuh tak bertenaga. Maka selain serangannya gagal sama sekali, juga ia sendiri menderita kesakitan! Bagaikan tidak terjadi sesuatu hal, Ang I Niocu bertindak ke luar dari toko obat itu, diikuti oleh Cin Hai yang diam-diam menengok ke belakang melihat ke arah tuan rumah yang masih meringis kesakitan dan puteranya yang berdiri bengong terheran-heran! Cin Hai tertawa geli dan cepat menyusul Ang I Niocu yang berjalan cepat meninggalkan tempat itu.
"Niocu, mengapa Kang Bok Sian itu bersikap ganjil dan seakan-akan hendak memusuhi kau?" tanyanya kepada Dara Baju Merah itu.
Ang I Niocu menghela napas. "Ini semua gara-gara Suciku yang terlalu gegabah. Memang telah seringkali terjadi aku dimusuhi tanpa sebab oleh orang-orang yang pernah dijatuhkan dan dibuat sakit hati oleh Suci!"
Gadis itu lalu mengajak Cin Hai meninggalkan kota Nam-tin agar urusan itu jangan sampai terulang lagi.
Tetapi pada saat mereka hendak keluar dari pintu gerbang kota, tiba-tiba terdengar suara orang berteriak.
"Niocu, tunggu sebentar!"
Ang I Niocu berhenti dan memutar tubuhnya. Cin Hai juga cepat berpaling. Ternyata yang datang berlari cepat itu adalah Kang Ek Sian sendiri! Wajah sastrawan ini berseri-seri dan matanya bersinar gembira.
"Ah, Niocu. Sayang sekali kita tidak bertemu ketika kau mengunjungi rumah kami tadi," katanya setelah saling memberi hormat.
"Tidak apa, sekarang kita kan sudah bertemu di sini," jawab Ang I Niocu sederhana.
"Niocu, kaumaafkan banyak-banyak Kakakku itu. Ia tidak tahu sampai di mana kelihaianmu, maka hendak mencoba," kata Kang Ek Sian dengan suara halus dan Cin Hai merasa suka kepada sastrawan yang bersikap sopan ini.
"Tidak apa, Kang-twako. Sebenarnya akulah yang hendak datang menyatakan penyesalan dan maafku, karena aku mendengar bahwa kau telah dihina oleh Suci.
Sebetulnya mengapakah kau sampai bentrok dengan dia?"
Kang Ek Sian menghela napas. "Memang aku yang bernasib malang. Giok-gan Kuibo, sucimu itu marah kepadaku karena aku dianggap terlalu lancang karena berani... jatuh cinta padamu! Ia menganggap aku menghinamu dan juga menghina dia, karena... orang macam aku tidak pantas dan tidak boleh mencintai seorang gadis seperti engkau. Ia menantangku dan terpaksa aku melayaninya."
Ang I Niocu menghela napas dan memandang sastrawan itu dengan kasihan. "Ah, Suciku memang terlalu angkuh dan sembrono."
"Sudahlah, jangan kita bicarakan hal yang sudah lalu,"
Kang Ek Sian memotong, "mari kita bicarakan hal kita sendiri. Bagaimana, Niocu, apakah sudah ada sedikit rasa kasihan dalam hatimu terhadap aku? Adakah harapan bagiku?"
Ang I Niocu menggigit bibir dan menggeleng-geleng kepala.
"Niocu, kasihanilah aku yang menderita bertahuntahun karena kau!"
"Siapa yang menyuruh kau menderita? Kau sendiri yang... lemah! Sudah, aku tak ingin lagi mendengar hal ini!" jawab Ang I Niocu.
"Niocu, begitu kejamkah hatimu terhadapku?" Ang I Niocu tidak menjawab, tetapi memandang ke tempat jauh.
"Niocu, apakah hatimu terbuat dari pada batu karang?" Tetapi Ang I Niocu tetap tak mau menjawab.
Tiba-tiba gadis ini wajahnya pucat dan matanya dilingkungi warna merah, seakan-akan ia menahan keharuan hatinya. Kemudian ia lalu melihat Cin Hai yang memandangnya dengan sepasang matanya yang lebar dan jernih. Maka perlahan-lahan timbullah senyuman di sepasang bibirnya yang indah. Ia lalu memegang tangan Cin Hai dan berkata, "Hai-ji, marilah kita pergi."
Mereka lalu saling bergandeng tangan dan meninggalkan Kang Ek Sian.
"Niocu, begitu kejamkah kau?" terdengar suara sasterawan itu memilukan hati dan ia ikut bertindak di belakang Ang I Niocu. Ketika gadis itu tetap tidak mempedulikannya dan bahkan mengajak Cin Hai bicara gembira, Kang Ek Sia merayu-rayu dan membujukbujuknya sambil menyatakan perasaan hatinya yang hancur dan mencinta.
Ang I Niocu bersikap seakan-akan Kang Ek Sian tidak ada di situ dan melangkah terus, tetapi Cin Hai tidak kuat mendengar terus. Ia tidak benci melihat sasterawan itu, bahkan ada perasaan kasihan di dalam hatinya, tetapi tidak puas melihat sikap orang. Biarpun ia tidak tahu akan duduknya persoalan antara Ang I Niocu dan Kang Ek Sian namun ia dapat menduga bahwa dulu tentu ada pertalian yang erat antara ke dua orang ini. Hal ini mudah diduga karena dari panggilan mereka kepada masing-masing juga telah menyatakan eratnya hubungan mereka. Ia menganggap sasterawan itu terlalu lemah, dan tidak selayaknya seorang laki-laki selemah itu. Maka sambil berjalan ia lalu menyanyikan sebuah lagu yang kuno yang pernah dibacanya dari buku, "Lima macam rupa indah membuat mata buta, Lima macam suara merdu membuat telinga tuli, tetapi seorang laki-laki sejati, Memiliki keteguhan iman dan kekuatan hati, untuk menentang godaan lima anggauta tubuhnya!"
Mendengar nyanyian ini, Kang Ek Sian merasa tersindir dan juga tertarik. Sejak tadi ia tidak memperhatikan anak muda yang tampaknya begitu erat dan mesra perhubungannya dengan Ang I Niocu, karena tadinya ia menyangka bahwa anak itu adalah seorang pelayan atau seorang murid dari Dara Baju Merah itu.
Tetapi kini melihat sikap dan mendengar lagu kuno yang dinyanyikan Cin Hai, ia kagum dan memandang dengan penuh perhatian.
Melihat betapa Kang Ek Sian menghentikan bujuk rayunya kepada Ang I Niocu dan kini hanya mengikuti mereka sambil memandangnya, Cin Hai maklum bahwa nyanyian tadi mengenai sasaran dengan tepat, maka ia lalu mendongakkan kepala ke udara dan berkata kuatkuat, "Sungguh tak dapat dibenarkan sikap Cou Han yang membunuh diri hanya karena gagal dalam asmara! Padahal ia memiliki kepandaian bun dan bu (sastera dan silat) dan dapat menggunakan sisa hidupnya untuk mengabdi kepada negara dan bangsa! Sayang... sayang... !" Ucapan ini adalah ucapan guru Cou Han yang menyayangkan muridnya itu membunuh diri karena gagal dalam asmara dan ini adalah sebuah cerita kuno yang terkenal di masa itu.
Sekali lagi Kang Ek Sian mendengar ini karena sebagai sasterawan, tentu saja ia mengenal baik nyanyian tadi dan cerita ini, ia merasa betapa mukanya panas seakanakan mendapat tamparan keras dan tiba-tiba insaflah ia dari kelemahannya. Pantas saja Ang I Niocu menyebutnya lemah karena memang benar ia bersikap lemah sekali dan memalukan benar! Kang Ek Sian lalu mengangkat dada dan berkata keras, "Terima kasih, anak muda! Siapa pun adanya engkau, ternyata kau lebih gagah dari padaku. Ang I Niocu, maafkan aku dan selamat berpisah!"
Kini Ang I Niocu tiba-tiba memutar tubuhnya menghadapi Kang Ek Sian dan berkata dengan suara agak gemetar karena terharu, "Kang-twako, kita saling memaafkan dan selamat tinggal!" Gadis ini lalu memegang tangan Cin Hai dan menariknya cepat-cepat hingga Cin Hai terpaksa mengerahkan seluruh kepandaiannya berlari cepat agar jangan tertinggal di belakang.
"Hai-ji, tahukah kau bahwa baru saja kau telah menolong jiwa seorang gagah?"
"Aku kasihan padanya, Niocu," jawab Cin Hai. "Ia seorang baik."
Tiba-tiba Ang I Niocu menghentikan larinya dan duduk di bawah sebatang pohon yang tumbuh di pinggir jalan.
Ternyata mereka telah jauh dari kota Nan-tin, karena sebentar saja mereka telah lari dua puluh li lebih! Memang tadi mereka telah lari cepat sekali dan hal ini tidak dirasakan oleh Cin Hai yangi tidak sadar akan kemajuan kepandaiannya yang cepat sekali dan tak terduga olehnya sendiri. Cin Hai juga ikut duduk di depan nona itu.
"Hai-ji, kau berkata benar. Memang Kang Ek Sian adalah seorang laki-laki gagah dan baik."
"Kalau begitu...mengapa kau...sia-siakan cintanya?" tanya Cin Hai dengan berani.
Wajah Ang I Niocu memerah. "Ah, anak baik, jangan kau marah. Kau tidak tolol, sama sekali tidak!" Sambil berkata begini Nona Baju Merah itu memegang tangan Cin Hai yang terpaksa tertawa juga mendengar godaan ini.
"Dengarlah, Hai-ji. Sekarang telah tiba waktunya aku menceritakan sedikit riwayatku kepadamu, karena aku telah mengetahui betul watakmu yang boleh kupercaya."
Maka Ang I Niocu dengan singkat menceritakan riwayatnya. Ternyata Gadis Baju Merah ini sebenarnya bernama Kiang Im Giok, anak tunggal dari Kiang Liat yang sangat termasyur karena kepandaian silatnya yang luar biasa tingginya. Kiang Liat ini dijuluki Manusia Dewa Tangan Seribu dan menjadi seorang tokoh besar dalam dunia persilatan. Ibu Im Giok meninggal dunia ketika Im Giok masih sangat kecil, disebabkan oleh serangan penyakit panas yang hebat. Semenjak kematian isterinya, Kiang Liat menjadi berubah ingatan dan ia menjadi setengah gila! Wataknya menjadi aneh sekali dan ditakuti semua orang gagah. Akan tetapi ia tidak lupa untuk menurunkan kepandaian silatnya yang istimewa kepada puteri tunggalnya. Im Giok mempunyai seorang kawan perempuan sekampung yang bernama Kim Lian dan karena eratnya bergaul maka Im Giok mengajukan permohonan kepada ayahnya untuk menerima Kim Lian sebagai murid pula. Hal ini disetujui oleh ayahnya dan Kim Lian lalu menjadi muridnya. Gadis ini lebih tua enam tahun daripada Im Giok, akan tetapi Im Giok lebih cerdik dan semenjak kecil kepandaian Im Giok lebih tinggi daripada kepandaian Kim Lian. Setelah dewasa, Im Giok bertemu dengan seorang pemuda tampan dan berbudi halus. Pertemuan ini terjadi ketika Im Giok sedang berjalan dalam sebuah hutan dan menolong siucai atau sasterawan muda itu dari serangan perampok, dan semenjak itu mereka berkenalan dan di dalam hati masing-masing terbit rasa cinta suci.
Tetapi ketika Kiang Liat mendengar tentang perhubungan gadisnya ini, orang tua yang setengah gila itu menjadi marah sekali. Ia mencari pemuda itu dan membunuhnya! Tentu saja Im Giok menjadi sakit hati dan gadis yang berwatak keras ini dengan terus terang menyatakan penyesalannya kepada ayahnya, bahkan ayah dan anak ini sampai saling menyerang! Akan tetapi, di tengah-tengah pertempuran, Im Giok teringat bahwa ia tidak boleh melawan ayahnya sendiri, maka ia lalu melempar pedangnya dan memasang dadanya untuk ditusuk mati oleh ayahnya sendiri. Pada saat, itu, ayahnya berteriak keras dan muntahkan darah segar lalu roboh! Ternyata orang tua itu mendapat serangan jantung yang cukup hebat. Tidak tahunya, semenjak ditinggal mati oleh ibunya, untuk bertahun-tahun lamanya yaitu sedari ia berusia empat tahun sampai tuujuh belas tahun, ayahnya telah menyimpan rasa kesedihan hebat di dalam dadanya yang membuat ia menjadi setengah gila dan menderita sakit jantung! Perbuatan ayahnya yang membunuh pemuda kekasih Im Giok itu berdasarkan kekhawatiran kalau-kalau anaknya, satu-satunya di dunia ini yang dicintainya semenjak isterinya meninggal, akan kawin dan meninggalkan dia seorang diri! Karena pikiran tidak waras inilah maka ia membunuh pemuda itu. Tetapi kemudian ketika melihat betapa anak yang dicintanya itu melawannya, jantungnya terserang kekecewaan dan kesedihan demikian hebatnya hingga ia muntah darah dan roboh! Ternyata hal ini mengantarkannya ke lubang kubur dan membuat Im Giok menjadi yatim piatu! Demikianlah Hai-ji, kau mengerti sekarang mengapa aku tidak dapat menerima cinta Kang Ek Sian! Rasa cinta dalam hatiku telah terbawa mati oleh sasterawan itu dan oleh kematian Ayah yang menjadi seperti itu keadaanya karena ia terlalu mencinta lbu sampai berlebih-lebihan.
Sastrawan itu mati terbunuh karena cintanya kepadaku.
Ah, cinta hanya mendatangkan kepahitan belaka."
Cin Hai menjadi terharu sekali dan rasa sayangnya terhadap Ang I Niocu makin besar. Ketika mengingat akan keadaan diri sendiri yarg juga sudah sebatangkara dan yatim piatu, tak terasa pula matanya yang lebar menjadi basah.
"Niocu, nasibmu sungguh buruk. Sungguh Thian tidak adil, orang sebaik kau bisa bernasib seburuk itu..." katanya sambil memandang wajah Ang I Niocu dengan mesra. Gadis Baju Merah itu memegang tangan Cin Hai dengan terharu.
"Hai-ji, kau juga baik sekali, dan nasibmu juga buruk..." Untuk beberapa lama keadaannya diam-diam saja tak dapat berkata, hanya duduk melamun.
Tiba-tiba Cin Hai menepuk kepala dan berkata, "Aih, aih... mengapa kita menjadi begini? Ujar-ujar kuno menyatakan bahwa melamun dan bersedih hanya diperbuat oleh orang-orang yang bodoh dan lemah. Dan kita bukanlah orang bodoh, apalagi lemah!"
Kata-kata ini pun menyadarkan Ang I Niocu. Wajah manis yang tadinya muram itu tiba-tiba bersinar dan berseri kembali dan senyumnya segera tampak membayang menambah kecantikannya.
"Kau lagi-lagi benar, Hai-ji. Ah, sungguh baik kalau hafal akan semua ujar-ujar kuno seperti kau."
"Niocu, tadi kau belum bercerita tentang diri Kang Ek Sian. Bagaimana kau bisa mengenalnya?"
Kang Ek Sian adalah anak murid dari Bu-tong-pai dan kepandaiannya sebetulnya juga tidak lemah, karena ia adalah murid Lo Beng Hosiang dari Bu-tong-san. Ketika empat tahun yang lalu orang-orang gagah mengadakan pertemuan di Puncak Thai-san, Bu-tong-pai mengutus wakil dan di sanalah kami bertemu dan berkenalan. Ia memang seorang baik dan kalau saja hatiku belum terluka oleh asmara, mungkin aku akan dapat membalas perasaan hatinya itu,"
"Niocu, kiranya sudah cukup kita bicara tentang halhal yang mendatangkan kenangan tidak menggembirakan. Tempat itu sunyi dan indah, bagaimana kalau kita berlatih?"
"Baik, coba kita berlatih gerakan ke sembilan belas, karena gerakanmu masih kaku," jawab Ang I Niocu yang lalu menerima suling Cin Hai dan mulai meniupnya.
Sudah beberapa lama Cin Hai menerima latihan Ngolian- hwa-kiam-hoat atau Tari Pedang Lima Kembang Teratai. Ilmu pedang ini adalah pecahan dari Sianli Utauw dan digubah oleh Ang I Niocu sendiri untuk disesuaikan dengan pemain laki-laki. Gerakannya tetap indah bagaikan orang menari, tetapi tidak begitu membutuhkan kelemasan tubuh. Ternyata bahwa ilmu silat ini lebih mudah dipahami oleh Cin Hai dan ia mainkan pedang dengan bagus sekali.
Pada saat mereka berlatih dengan gembira, tiba-tiba datang rombongan orang lewat di jalan itu. Karena sedang asyik berlatih, baik Cin Hai maupun Ang I Niocu tidak memperhatikan dan tidak mempedulikan mereka.
Rombongan itu terdiri dari sembilan orang yang berpakaian seragam dan melihat di pinggir jalan ada seorang wanita cantik sedang meniup suling dan seorang anak muda tanggung sedang menari pedang, mereka ini berhenti dan menonton.
Tiba-tiba seorang daripada mereka tertawa bergelak, "Eh, eh, sungguh lucu. Apakah mereka ini sedang membarang tarian? Tetapi mengapa di tempat sunyi tanpa ada penontonnya?"
Cin Hai menghentikan permainannya dan Ang I Niocu menunda sulingnya. Ketika Ang I Niocu menengok, ia agak heran karena dari pakaian rombongan itu ia maklum bahwa ia sedang berhadapan dengan seregu pasukan Sayap Garuda, yakni para pengawal istana kaisar yang terkenal lihai dan ganas! Ang I Niocu yang sudah berpengalaman dan telah mendengar akan kekejaman pasukan Sayap Garuda, tidak mau mencari perkara dan berkata kepada Cin Hai, "Hai-ji, mari kita pergi dari sini."
Cin Hai memandang rombongan orang itu dengan heran dan penuh perhatian. Ia tidak tahu siapakah mereka itu, karena biarpun pakaian mereka seragam biru tetapi keadaan mereka sungguh bermacam-macam. Ada yang masih muda, ada pula yang sudah kakek-kakek.
Ikat kepala mereka berupa topi Boancu yang dihias dengan sayap burung garuda di atasnya. Sebetulnya Cin Hai ingin mencari tahu tentang keadaan mereka.
Tetapi mendengar ajakan Ang I Niocu untuk pergi dari situ, ia tidak berani membantah dan tanpa berkata sesuatu ia mengikuti Dara Baju Merah itu.
Akan tetapi sebelum mereka pergi, tiba-tiba terdengar desir angin dan tahu-tahu seorang di antara mereka yang bertubuh tinggi kurus dan berusia kurang lebih empat puluh tahun telah meloncat dengan gerakan cepat sekali dan tahu-tahu telah berada di depan Ang I Niocu sambil memalangkan kedua lengan yang dipentang lebar. Kumis tipisnya bergerak-gerak ketika ia tersenyum-senyum dengan sikap yang menjemukan sekali.
"Ah, Nona manis, mengapa hendak pergi? Bukankah kau memang hendak mempertontonkan tarian? Menarilah untuk kami, tetapi jangan suruh bujang ini menari, lebih baik kau sendiri. Kami ingin sekali melihat tarianmu!"
Ang I Niocu memandang dengan mata setengah terkatup dan pelupuk mata gemetar sedikit hingga bulu mata yang lentik itu bergerak-gerak. Hal ini dilihat jelas oleh Cin Hai yang memperhatikannya dan anak ini maklum bahwa Ang I Niocu sedang menahan marahnya.
Dulu ketika bertemu di rumah Kang Bok Sian, pernah ia melihat getaran bulu mata ini, maka ia kini dapat mengetahui perasaan Ang I Niocu. Orang ini mencari penyakit sendiri, pikirnya.
Pada saat itu, delapan orang yang juga telah mengelilingi Ang I Niocu seorang diantara mereka yang masih muda berkata pula sambil memandang wajah dara itu dengan kagum.
"Nona, kau harus menari untuk kami. Biarlah, berapa saja upahnya akan kami bayar!"
Dengan tenang dan gerakan perlahan, Ang I Niocu memandang dan menatapi wajah seorang demi seorang.
Agaknya gadis ini hendak melihat apakah barangkali di antara mereka itu ada yang pernah dilihat dan dikenalnya. Tetapi ternyata mereka ini adalah wajahwajah baru yang belum pernah dijumpainya, maka ia lalu tersenyum. Kesembilan orang itu, termasuk seorang di antaranya yang sudah kakek-kakek tertawa gembira melihat senyum yang sangat manis dan menggiurkan hati ini. Alangkah jelitanya dan manisnya, pikir mereka.
"Cuwi sekalian ingin melihat aku menari?" tiba-tiba terdengar suara Ang I Niocu, suara yang sangat merdu bagaikan berlagu, tetapi yang bagi pendengaran Cin Hai mengandung sindiran yang dingin. Baginya, suara gadis itu biasanya hangat dan menyedapkan telinga, tetapi kali ini, biarpun masih tetap halus dan merdu, terdengar dingin menyeramkan. Ia dapat menduga bahwa sebentar lagi pasti terjadi hal-hal hebat.
"Ya, ya, kami ingin sekali menikmati tarianmu!" kesembilan orang itu berkata denga suara riuh.
"Boleh, tapi kalian harus menurut syarat-syaratku."
"Apa syaratnya?"
"Buatlah lingkungan yang cukup luas dan kalian duduklah di atas tanah sambil berlutut untuk menghormati kami berdua, baru aku mau menari."
Tentu saja ke sembilan pengawal raja ini merasa heran dan marah. Terang sekali bahwa gadis ini hendak mempermainkan mereka dan bahkan telah berani menghina mereka.
"Eh penari rendah! Jangan kau kurang ajar! Tak tahukah bahwa kau sedang berhadapan dengan pahlawan-pahlawan istana? Hayo lekas berlutut minta ampun dan segera menari untuk kami!" bentak laki-laki tinggi kurus tadi.
"Dan kau lekas berlutut, anjing kecil!" bentak pengawal muda kepada Cin Hai.
"Anjing besar, kau harus berlutut lebih dulu!" Cin Hai balas memaki.
Bukan main hebatnya akibat dari makian ini.
Kesembilan orang itu memandang kepada Cin Hai dengan alis berdiri. Mereka ini lebih banyak merasa tercengang daripada marah, karena mana ada seorang pemuda tanggung berani memaki seorang anggauta Sayap Garuda? Mereka menganggap bahwa anak ini tentu berotak miring.
Akan tetapi pengawal muda itu tak dapat menahan marahnya lagi. Biar gila maupun waras, pemuda kecil ini terlalu menghinanya dan harus dipukul mampus. Maka ia segera melangkah maju dan mengayun tangan kanan memukul kepala Cin Hai sambil membentak, "Bangsat kecil, mampuslah kau!"
Pukulan ini adalah gerakan Siok-lui-kik-ting atau Petir Menyambar Kepala dan dilakukan dengan tenaga mengeluarkan angin. Hebatnya tidak terkira, dan kepala seekor kerbau mungkin akan terpukul pecah oleh pukulan ini, apalagi hanya kepala seorang pemuda yang masih anak-anak! Pengawal muda itu bermaksud untuk menghancurkan kepala Cin Hai dengan sekali pukul! Tetapi dengan gerakan indah dan lucu bagaikan seorang sedang menari, Cin Hai melejit ke samping sambil tertawa mengejek dan berkata, "Hei, bangsat besar, percuma kau hidup karena hidungmu terlalu besar!"
Melihat betapa pukulannya yang dahsyat itu dapat dikelit semudah itu oleh Cin Hai dan mendengar sindiran anak itu, pengawal muda itu marah sekali dan tak terasa pula ia menggunakan tangan kiri untuk memegang hidungnya! Hidungnya memang besar dan mancung dan selalu menjadi kebanggaannya, tidak tahunya sekarang digunakan sebagai bahan menyindir oleh anak-anak ini.
"Anjing kecil, kalau hari ini aku tidak bisa menghancurkan kepalamu yang besar, jangan panggil aku Harimau Kepala Besi lagi!" Dan Tiat-thou-houw atau Harimau Kepala Besi itu segera maju menyerang lagi dengan gerak tipu To-cu-kim-ciang atau Robohkan Lonceng Emas. Serangan ini lebih hebat lagi karena kedua tangannya bergerak menyerang ke arah dada dan kepala Cin Hai.
"Anjing besar! Aku takkan menyebut kau Harimau Kepala Besi tetapi Anjing Hidung Panjang!" Cin Hai mengejek lagi sambil mengeluarkan kepandaiannya Ngolian- hwa-kunhwat yang baru saja dipelajari beberapa bulan dari Ang I Niocu! Dengan mudah ia dapat berkelit dari serangan lawannya karena tubuhnya telah memiliki kelemasan dan kelincahan yang luar biasa berkat latihanlatihan Tarian Bidadari. Kemudian ia balas menyerang, tetapi karena Ilmu Silat Lima Kembang Teratai belum lama dipelajarinya, maka ia tidak dapat mempergunakannya untuk menyerang, dan untuk melakukan serangan balasan ini ia terpaksa mengeluarkan Ilmu Silat Liong-san-kun-hwat yang dia pelajari dari catatannya ketika masih mempelajari ilmu silat dari Kanglam Sam-lojin! Biarpun Cin Hai belum mempunyai pengalaman dari pertempuran, tetapi karena selama ini ia mempelajari ilmu-ilmu silat tingkat tinggi dari orang-orang yang tergolong tokoh persilatan kelas berat, maka gerakannya juga istimewa dan tidak terduga. Maka Tiat-thou-houw menjadi terkejut sekali melihat perubahan lemah lembut bagaikan sedang menari ketika mengelit seranganserangannya tadi, kini dalam melakukan serangan, anak muda itu bergerak cepat dan kuat! Karena tercengang, serangan Cin Hai dalam jurus pertama itu berhasil baik dan kepalan tangannya menumbuk dada lawan! Tiat-thou-houw mengeluh dan tubuhnya terhuyung ke belakang. Ia tadinya tidak menyangka bahwa anak muda yang masih kecil itu akan berbahaya pukulannya. Tentu saja ia tidak tahu bahwa Cin Hai telah dilatih lweekang yang cukup lumayan oleh Ang I Niocu sehingga ketika kepalan tangannya mengenai sasaran, maka berat pukulannya tidak kurang dari seratus kali! Delapan orang pengawal lainnya melihat betapa dengan mudah saja Cin Hai dapat menggulingkan lawannya menjadi marah sekali. Terlihat cahaya berkeredepan ketika mereka mencabut senjata masingmasing dari sarungnya! "Bangsat kecil, memang kau sudah bosan hidup!" pimpinan rombongan membentak marah.
"Hai-ji, kau minggirlah. Biarlah layani kaleng-kaleng kosong ini!" tiba-tiba Ang I Niocu loncat menghadang di depan Cin Hai, rnenanti datangnya delapan orang anggota Sayap Garuda yang maju mengancam.
Cin Hai segera meloncat ke pinggir dan berdiri sambil menyiapkan sulingnya, lalu berkata keras kepada para pengawal itu, "He, bangsat-bangsat besar. Kau tadi ingin melihat tarian indah? Nah, sekarang kaulihatlah!" Ia lalu meniup sulingnya dengan perlahan, maka bergeraklah Ang I Niocu menarikan Tari Bidadari dengan pedangnya! Untuk sejenak delapan orang pengawal istana itu memandang tercengang kepada gadis itu dengan kagum, karena benar-benar indah tarian Dara Baju Merah itu.
Tetapi mereka lalu teringat akan kawan yang telah dirobohkan, maka Pimpinan yang tinggi kurus berseru, "Serbu!" Dan menyeranglah delapan orang itu bagaikan air pasang, menyerbu Ang I Niocu yang tengah menari. Cin Hai mempercepat tiupannya dan sebentar saja kalang-kabutlah delapan orang anggauta Sayap Garuda itu. Mereka telah kehilangan lawan karena tubuh Ang I Niocu tak tampak lagi, tertutup oleh sinar pedangnya, hanya bajunya saja yang merupakan cahaya merah berkelebat ke sana kemari! Delapan orang itu bukanlah orang lemah, dan mereka rata-rata memiliki ilmu kepandaian yang tinggi. Kini mereka maklum bahwa yang mereka hadapi adalah seorang pendekar pedang yang tak boleh dipandang ringan. Maka lenyaplah nafsu mereka untuk mempermainkan gadis jelita ini, dan mereka lalu mengerahkan tenaga dan kepandaian dalam perlawanan sungguh-sungguh dan mati-matian! Sambil meniup sulingnya, Cin Hai kagum sekali melihat sepak terjang Ang I Niocu. Kini benar-benar ia dapat menikmati dan mengagumi kehebatan Sianli Kiam-hoat yang benar jarang terlihat dan tak mungkin dicari keduanya! Dulu ketika menghadapi Kanglam Sam-lojin, Ang I Niocu tidak memperlihatkan seluruh kepandaiannya. Tetapi sekarang, menghadapi delapan orang jagoan istana, anggauta-anggauta Sayap Garuda yang terkenal berkepandaian tinggi, Nona Baju Merah itu mengeluarkan dan memperlihatkan kepandaiannya yang benar-benar luar biasa! Tidak hanya Cin Hai yang merasa kagum, bahkan kedelapan anggauta Sayap Garuda itu sendiri terkejut dan terheran karena selamanya mereka belum pernah menghadapi lawan yang sehebat dan selihai ini! Mereka merasa menyesal mengapa tadi telah berlaku jail dan sembrono hingga kini terpaksa harus menelan pel pahit! Akan tetapi, tidak ada jalan mundur lagi bagi mereka selain mengerahkan tenaga dan mengepung makin rapat.
Setelah pertempuran berlangsung lima puluh jurus lebih, barulah Ang I Niocu menurunkan tangan besi dan sinar pedangnya berubah ganas. Sebentar terdengar teriakan-teriakan mengaduh dan pedang-pedang beterbangan karena terlepas dari pegangan tangan! Dalam beberapa jurus saja Ang I Niocu berhasil merobohkan delapan orang lawannya, masing-masing mendapat hadiah guratan pedang pada lengan tangan, pundak, muka dan paha, hingga biarpun mereka mandi darah dan roboh di tanah, tak seorang pun di antara mereka yang menderita' luka berat yang membahayakan keselamatan jiwa mereka! "Puaskah kalian melihat tarianku?" Ang I Niocu berkata sambil memasukkan pedang di sarungnya dan tersenyum manis.
Pemimpin rombongan Sayap Garuda itu dengan muka merah dan mata terbelalak bertanya dengan suara parau, "Lihiap ini siapakah...
Tetapi Ang I Niocu tidak menjawab, hanya tersenyum dan berpaling memandang Cin Hai yang menyimpan sulingnya, "Kalian belum tahu siapakah pendekar wanita yang gagah perkasa ini? Ah, sungguh percuma hidup di dunia mempunyai mata seakan-akan buta!" Dengan senyum sindir Cin Hai lalu menyanyikan syair Ang I Niocu, "Berkawan sebatang pedang dan suling, Menjelajah ribuan li tanah dan air, Tanpa maksud, tiada tujuan, Hanya mengandalkan kaki dan hati!"
Memang Cin Hai telah mengubah sebuah lagu yang bernada gagah untuk syair ini dan menambah kata-kata "suling" di belakang "pedang". Sehabis menyanyikan syair itu, Cin Hai memandang wajah mereka. Tetapi ternyata bahwa para anggauta Sayap Garuda itu masih saja belum mengerti siapa adanya nona gagah perkasa yang demikian lihai ilmu silatnya itu. Karena mendongkol melihat kebodohan mereka, Cin Hai membentak, "Orangorang macam kalian ini mana pantas mengenal dia?"
Sementara itu, Ang I Niocu bertaka, "Hai-ji mari kita pergi"
Keduanya lalu meninggalkan tempat itu dengan tenang seakan-akan tak pernah terjadi sesuatu. Kawanan Sayap Garuda itu merangkak-rangkak bangun sambil menyumpah-nyumpah dan saling tolong. Untung bagi mereka bahwa kekalahan hebat ini tidak terlihat oleh orang lain. Sungguh peristiwa yang memalukan sekali dan seandainya kelihatan oleh orang lain, nama mereka akan jatuh rendah sekali! Tiba-tiba pemimpin mereka berseru sambil menepuknepuk jidatnya, "Ah, siapa lagi kalau bukan dia!"
Kawan-kawannya memandang heran dan ia lalu melanjutkan kata-katanya. "Tentu nona tadi Ang I Niocu! Kepandaiannya hebat, pakaiannya merah, siapa lagi kalau bukan Ang I Niocu?"
"Tetapi ia masih begitu muda dan cantik, paling banyak berusia delapan belas tahun. Sedangkan Ang I Niocu telah membuat nama besar empat lima tahun yang lalu!"
Kawan-kawannya menganggap ucapan ini benar juga, maka mereka hanya saling pandang dengan heran dan menduga-duga sambil menggunakan robekan baju atau ikat kepala untuk membalut luka masing-masing.
Sementara itu, Ang I Niocu mengajak Cin Hai menggunakan Hui-heng-sut (Ilmu Berlari Cepat) untuk menuju ke Pek-tiauw-san (Gunung Rajawali Putih).
Ketika Cin Hai menanyakan maksud tujuannya pergi ke gunung itu, Ang I Niocu menjawab sambil tersenyum, "Di puncak Pek-tiauw-san terdapat sarang burung rajawali. Burung itu hanya bertelur sekali dalam setahun.
Sekarang kebetulan musim burung itu bertelur dan aku perlu sekali mendapatkan satu atau dua butir telur rajawali putih."
"Mencari telur mengapa begitu jauh, Niocu? Untuk apakah?"
Ang I Niocu tertawa kecil. "Kau benar-benar masih tolol. Tidak tahu khasiat telur rajawali putih?"
Benar-benar Cin Hai tidak mengerti dan memandangnya dengan mata bodoh hingga sekali lagi Ang I Niocu tertawa. "Di antara akar terdapat akar jinsom yang mengandung obat mujizat, dan di antara segala macam telur terdapat telur rajawali putih yang khasiatnya tidak kalah dari jin-som!"
Cin Hai pernah melihat dan tahu akan khasiat jin-som, akar yang berbentuk anak orok itu, maka ia heran mendengar bahwa khasiat telur rajawali itu lebih manjur daripada jin-som.
"Benarkah itu, Niocu? Apakah telur itu dapat menguatkan tubuh seperti jin-som?"
"Tidak hanya menguatkan tubuh, tetapi juga memperpanjang umur dan mencegah orang menjadi tua.
Makan sebutir saja kau akan menjadi lebih muda dua tahun!"
"Begitukah? Hebat sekali. Sebutir telur kecil bisa memudakan orang sampai dua tahun!"
Ang I Niocu tertawa merdu. "Kecil katamu? Anak tolol, telur itu besarnya melebihi kepalamu!"
Cin Hai melebarkan matanya dan wajahnya tampak bertambah bodoh hingga Ang I Niocu makin geli melihatnya.
Demikianlah sambil berlari cepat, mereka bercakapcakap dengan gembira hingga waktu lewat tak terasa oleh mereka berdua.
Gunung Pek-tiauw-san menjulang tinggi menembus awan. Di kaki dan lereng gunung penuh dengan rimba raya yang kaya akan pohon-pohon besar yang sudah ratusan tahun umurnya. Pohon-pohon itu ada yang demikian besar ukurannya hingga untuk mengelilingi sebatang saja, orang harus berjalan sedikitnya empat puluh langkah! Pohon sebesar ini mungkin sudah ada seribu tahun umurnya. Tinggi besar, kokoh kuat, seakanakan raksasa berdiri sambil bertolak pinggang memandangi segala yang berada di bawahnya! Berbeda dengan keadaan kaki dan lereng gunung yang penuh tetumbuhan, di puncak tidak ditumbuhi pohon, sebaliknya kaya akan batu-batu karang yang tinggi dan meruncing ke atas. Ada batu karang yang tingginya sampai puluhan kaki seakan-akan menyaingi pohon-pohon raksasa yang tumbuh di sebelah bawah.
Tempat inilah yang dipilih oleh burung rajawali untuk bertelur. Di puncak batu karang yang tinggi, burung raksasa itu membuat sarang dan bertelur serta memelihara anaknya. Di seluruh daratan Tiongkok, hanya di puncak Pek-tiauw-san ini saja terdapat burung-burung rajawali yang berbulu putih dan indah. Karena jumlah burung itu hanya beberapa puluh ekor saja, maka jarang orang dapat melihatnya, apalagi tempat di mana mereka bersarang adalah puncak gunung yang tinggi dan sangat sukar sekali didaki orang.
Jangankan orang biasa yang tidak memiliki kepandaian, sedangkan Cin Hai yang telah memiliki kepandaian yang lumayan juga, masih menderita kesukaran, ketika Ang I Niocu membawanya naik ke atas. Pendakian Gunung Pek-tiauw-san ini benar merupakan ujian baginya, bahkan merupakan latihan ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang baik sekali.
Seandainya ia diharuskan mendaki sendiri, belum tentu ia dapat mencapai puncak, karena setelah melewati rimba terakhir, jalan menjadi demikian sukar, penuh dengan jurang-jurang yang curam, melalui batu-batu karang yang tinggi dan bermuka tajam hingga dapat menembus sepatu! Akan tetapi Ang I Niocu nampak tenang dan enak saja. Gerakannya tetap gesit dan ringan hingga sekali lagi Cin Hai mendapat bukti akan kelihaian Dara Baju Merah ini. Pada saat melalui tempat-tempat yang berbahaya dan sukar Cin Hai tidak ragu-ragu lagi untuk memegang tangan Ang I Niocu, bahkan di waktu harus meloncati jurang yang curam dan lebar, gadis itu tidak sungkan-sungkan untuk memondongnya dan membawanya melompat ke seberang jurang! Betapapun juga, setelah setengah hari melakukan perjalanan yang sukar baru mereka tiba di puncak, memandang batu-batu karang yang menjulang tinggi menembus awan yang merupakan gumpalan-gumpalan halimun tipis.
"Aku tidak melihat sarang burung di puncak batu karang itu!" kata Cin Hai sambil terengah-engah kelelahan dan duduk di atas sebuah batu hitam yang halus.
"Apa kaukira mudah saja mendapatkan sarangnya? Di antara batu-batu karang yang ratusan banyaknya ini, paling untung kita dapat menemukan empat atau lima buah sarang!"
Cin Hai menghela napas. Telah payah dan penat-penat seluruh tubuhnya, dan agaknya ia takkan kuat harus berjalan lagi mengelilingi batu-batu karang itu untuk mencapai sarang rajawali. Melihat keadaan Cin Hai, Ang I Niocu juga ikut duduk mengaso. "Biarlah kita beristirahat dulu melepaskan penat," katanya sambil menghibur Cin Hai dengan senyumnya yang membesarkan hati. Pada saat itu terdengar suara yang keras dan dahsyat menggetarkan anak telinga! "Seekor Pek-tiauw (Rajawali Putih)!" kata Ang I Niocu perlahan seakan menjawab pertanyaan yang ditujukan oleh Cin Hai dengan matanya. "Ia sedang marah, entah mengapa?"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar