02 Si Kumbang Merah Penghisap Kembang

Bun An mendorongnya sehinga dia roboh terguling-guling dan cepat lari menaiki tangga menuju ke loteng. Semua orang yang berada di ruangan bawah itu kini memandang ke atas. Ada ruangan diloteng itu berikut beberapa buah kamar dimana para pemenang permainan judi boleh menghamburkan uangnya pada para pelacur yang siap melayani mereka, Bun An segera memeriksa setiap kamar dan pada kamar ke tiga, tiba-tiba dia diserang orang dari dalam kamar dengan sebatang pedang. Penyerang itu bukan lain adalah Ma Cun yang sudah memperoleh sebatang pedang lagi.     Namun, Bun An sudah waspada. Begitu pedang meluncur, dia mengelak, lalu tangannya menangkap pedang, kakinya menendang lengan kanan. Terpaksa Ma Cun melepaskan pedangnya dan dia hendak lari turun. Akan tetapi, tangan kiri Bun An menampar, mengenai tengkuknya dan diapun terjungkal roboh. Semua orang melihat peristiwa diloteng itu dengan mata terbelalak. Dilihat dari bawah, apa yang terjadi diatas itu seperti permainan wayang saja!

Karena melihat tidak ada jalan keluar lagi, timbullah rasa takut di hati Ma Cun. Tanpa malu-malu lagi, dia lalu berlutut dan meyembah-nyembah kepada Bun An.

"Bun An, ampunkanlah aku…… ah, ingatlah betapa aku ayah tirimu….. aku pernah menyayangimu…… ingatkah engkau ketika aku dulu memberi hadiah kepadamu? Ampunkan aku, Bun An!"

Kemarahan Bun An semakin menjadi ketika diingatkan akan peristiwa yang lalu. Memang dulu, ketika masih menjadi kekasih ibunya dirumah keluarga Tang, orang ini sering mengambil hatinya dengan memberi barang-barang mainan, juga mengancamnya karena dialah yang menjadi jembatan antara ibunya dan orang ini!

"Keparat jahanam! Masih ada muka engkau untuk minta ampun dan mengaku ayah tiriku? Ingatkah engkau ketika memukuli dan menyiksaku, bahkan menendangku? Dan sudah lupakah engkau apa yang kaulakukan terhadap ibuku? Engkau hamburkan semua harta benda ibuku dan setelah habis, engkau sia-siakan ibuku, engkau siksa ia, kaupukul dan tending, kaujual!"

"Ampun….. ampun……." Ma Cun menyembah-nyembah ketakutan, keringat dingin sebesar kedele keluar dai tubuhnya.

"Dan ingatkah engkau betapa engkau telah merencanakan pembunuhan kepada ayah kandungku? Kauracuni dia sampai mati!"

"Bukan aku…. ampun, tapi ibumu….. ampunkan aku….."

"Pengecut hina! Biar kutebus dengan kedua tanganmu, engkau masih belum dapat membayar hutangmu kepadaku. Berikan kedua tanganmu!" sambil berkata demikian, nampak sinar pedang berkelebat, yaitu pedang yang tadi dirampas Bun An dari tangan Ma Cun. Ma Cun menjerit dan kedua tangannya, sebatas bawah siku, terbabat buntung! Demikian cepatnya pedang itu sehingga kedua lengan itu buntung tanpa dirasakan Ma Cun yang baru menjerit setelah melihat betapa kedua lengannya tak bertangan lagi! Dengan kakinya Bun An menendang kedua potongan lengan itu kebawah loteng! Semua orang memandang terbelalak, muka mereka pucat karena ngeri melihat dua buah tangan itu melayang jatuh di atas meja judi!

Ma Cun menjerit-jerit ketika Bun An menghardik, "Dan serahkan kedua kakimu untuk membayar hutangmu kepada ibuku!" Kembali pedang berkelebat dan Ma Cun mengeluarkan jeritan yang lebih mengerikan lagi ketika tiba-tiba saja kedua kakinya, sebatas lutut, terbabat buntung oleh pedang. Tubuhnya terpelanting, berkelojotan dan mulutnya masih merintih-rintih, Bun An juga menendang kedua potongan kaki itu kebawah loteng. Kini semua orang menggigil.

"Sekarang, berikan kepalamu untuk membayar hutangmu kepada ayah!"

Pedang berkelebat dan tubuh Ma Cun tidak bergerak lagi, tidak menjerit lagi, melainkan darah saja muncrat-muncrat ketika lehernya terbabat buntung oleh pedang. Kepalanya ditendang dan menggelinding ke bawah loteng!

Bun An melempar pedangnya dan sekali lompat, dia sudah melayang turun ke bawah loteng. Melihat tumpukan uang di atas meja-meja berserakan pula di bawah, dia teringat akan kebutuhan ibunya. Dia lalu mengambil semua uang itu, dimasukkan kedalam taplak meja, dibungkusnya lalu dipanggulnya. Sebelum pergi, dia memandang kepada semua orang dan berkata lantang, "Aku mengambil uang ini bukan merampok melainkan mengambil kembali sebagian dari harta ibuku yang dihamburkan ditempat ini. Kalau ada yang penasaran, carilah aku, Siauw-kai!" Lalu dia keluar dari tempat judi itu dengan tenang. Tak seorangpun berani bergerak melarangnya, bahkan tidak ada yang berani bergerak sebelum Bun An pergi jauh dari tempat itu.

Dengan uang yang diambilnya dari tempat judi, Bun An mengajak ibunya untuk pulang ke dusun tempat asal ibunya. Di dusun ini, Bun An membeli rumah sederhana dan sebidang tanah. Karena desakan ibunya, dia membuang pakaian jembelnya dan mengenakan pakaian biasa. Jadilah dia seorang pemuda yang tampan dan karena uang yang diambilnya dari rumah judi tidak terlalu banyak, hanya cukup untuk membeli sebidang tanah dan pakaian untuk dia dan ibunya, perabot rumah sederhana, maka uang itupun habis dan Bun An bersama ibunya harus bekerja di lading untuk keperluan sehari-hari.

Beberapa bulan kemudian, setelah ibu dan anak itu hidup tenang di dusun itu, Kui Hui mulai membujuk puteranya untuk menikah. "Usiamu sudah cukup, anakku, dan akupun sudah ingin sekali menggendong cucu. Gadis keluarga Lui di dusun sebelah amatlah cantiknya, merupakan kembang dusun-dusun di daerah ini. Aku ingin melamarnya untukmu, ankku."

Bun An tersenyum. Memang, usianya sudah duapuluh tahun lebih, dan diapun sudah pernah melihat gadis yang dimaksudkan ibunya itu. Gadis keluarga Lui itu bernama Kim Bwe berusia delapan belas tahun, dan memang cantik sekali bagaikan setangkai bunga Bwe! Maka diapun mengangguk dengan senang, menyatakan setuju.

Pinangan diajukan dan diterima dengan senang oleh keluarga Lui, apalagi karena keluarga itu melihat Bun An adalah seorang pemuda yang tampan sekali. Juga rajin bekerja, dan masih berdarah bangsawan, karena kepada perantara Kui Hui membisikkan bahwa puteranya adalah turunan keluarga Tang di kota raja yang pernah menjabat kedudukan tinggi.   Pernikahan dilangsungkan dengan sederhana namun cukup meriah bagi penghuni dusun, dan Bun An memboyong isterinya kerumahnya. Karena memang isterinya memang cantik manis dan lembut, mudah bagi Bun An untuk jatuh cinta kepada Lui Kim Bwe dan selama berbulan-bulan sejak pernikahan mereka, kedua orang suami isteri muda ini hidup berenang dalam lautan kemesraan dan nampaknya saling mencinta.

Akan tetapi, diam-diam wanita muda yang pernah menjadi kembang dusun itu kadang-kadang merasa menyesal dan kecewa bukan main. Setelah gairah api berahi mulai mengecil dan tidak sepanas pada masa pengantin baru, isteri yang masih muda belia ini mulai melihat kenyataan betapa ia masuk kedalam kehidupan keluarga yang amat sederhana, kalau tidak dapat dinamakan miskin. Suaminya memang tampan, akan tetapi apa artinya ketampanan kalau kehidupan mereka demikian sederhana, bahkan sama tidak mewah? Memang, harus diakui bahwa sebagai isteri petani muda, ia tidak kekurangan makan. Akan tetapi makanan sederhana, dengan sayur-sayur, jarang bertemu daging. Dan pakaiannya! Sudah hampir setahun ia menikah, belum satu juga bertambah pakaiannya dan ia harus memakai pakaian-pakaian yang dibawanya dari rumah, walaupun memang pakaian itu belum rusak. Sejak masih muda sekali, Kim Bwe menjadi kembang didusunnya, bahkan kecantikannya terkenal di dusun-dusun tetangga, dan banyak sudah pemuda-pemuda anak orang kaya, bahkan orang-orang yang memiliki kedudukan seperti kepala dusun dan lain-lain tergila-gila kepadanya. Akan tetapi orang tuanya memilih dan menerima pinangan Tang Bun An! Tadinya ia mengira bahwa Tang Bun An selain seorang pemuda tampan, juga tentu anak kaya raya karena bukankah dikabarkan bahwa Tang Bun An puter bangsawan tinggi di kota raja yang sudah meninggal? Tentu menerima banyak warisan, sebagai putera bangsawan! Akan tetapi, setelah menjadi isteri Bun An, ia melihat kenyataan bahwa pemuda itu sama sekali tidak memiliki apapun kecuali sawah ladangnya yang tidak berapa luas, dan rumah yang sederhana pula!

Setelah pernikahan itu berjalan setahun lamanya, barulah wanita muda bernama Lui Kim Bwe itu melihat kenyataan bahwa ketampanan wajah suaminya saja tidak dapat membuat ia merasa bahagia. Ketampanan wajah itu memang mengasyikkan selama beberapa bulan, akan tetapi kemudian ia menjadi bosan, apalagi kalau ia melihat wanita-wanita lain yang kaya didusun itu atau pendatang dari kota, yang mengenakan perhiasan gemerlap, pakaian sutera halus indah yang mahal, sepatu yang indah pula, naik kereta yang mewah!

Mulailah nyonya muda ini bersikap tidak manis kepada suaminya, bahkan ia mulai suka berkunjung ke rumah tetangganya, seorang janda setengah tua yang disebut Bibi Ciok dan disini, ia melampiaskan kekecewaan dan penyesalan hatinya kepada tetangga ini. Ia sama sekali tidak pernah mau membantu suaminya yang sibuk di sawah ladang, bahkan tidak mau membantu ibu mertuanya yang sibuk di dapur dan dirumah. Dan Bibi Ciok, seorang wanita pelacur di kota dan setelah tua dan berhasil mengumpulkan uang lalu pulang kedusun dan hidup sebagai seorang janda yang tidak kekurangan makan karena memiliki sawah yang cukup, mendengar keluhan dan celaan Kim Bwe, tidak tinggal diam. Iapun menanggapi, bahkan menyatakan ikut menyesal mengapa Kim Bwe yang pernah menjadi kembang beberapa buah dusun di sekitar situ, yang diperebutkan banyak orang kaya, kini menjadi seorang isteri seorang pria yang miskin!

"Kasihan sekali engkau ini, Kim Bwe," demikian antara lain Bi Ciok berkata dan ia sudah akrab sekali dengan nyonya muda ini sehingga mengambil namanya begitu saja. "Seorang wanita muda yang cantik jelita dan manis seperti engkau ini, kalau dikota raja sudah menjadi isteri seorang pemuda kaya raya, bahkan tidak aneh kalau engkau menjadi isteri bangsawan! Sedikitnya isteri muda yang hidup berenang dalam kemuliaan dan kekayaan. Akan tetapi disini, engkau hanya menjadi isteri seorang petani. Memang Tang Bun An itu seorang putera bangsawan, akan tetapi bangsawan itu telah meninggal dunia dan kau tahu? Ibunya diusir dari sana karena disangsikan bahwa Tang Bun An itu putera bangsawan Tang, mungkin anak dari hasil hubungan gelapnya dengan seorang perwira pengawal! Dan setelah keluar dari keluarga Tang, ibu Bun An itu menjadi seorang pelacur!"

"Ahhh.....!" Kim Bwe terbelalak dan mukanya berubah merah.

"Aku berani bersumpah, Kim Bwe! Aku melihat dengan kedua mataku sendiri!" kata Bibi Ciok dan hal ini memang bukan bohong, karena ia sendiri pernah menajdi pelacur, maka pernah pula melihat ibu Bun An yang sangat terkenal ketika mula-mula jadi pelacur.

Demikianlah, Kim Bwe mulai keracunan hatinya dan ia merasa lebih dekak dengan Bibi Ciok daripada dengan ibu mertuanya. Dan kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Bibi Ciok yang bermata tajam! Seorang wanita muda seperti Kim Bwe ini, yang sedang mengalami kekecewaan dan penyesalan terhadap suaminya, yang haus akan kemuliaan, kekayaan dan kemewahan, merupakan seekor domba yang jinak dan daging yang lunak bagi para serigala dan buaya. Ia melihat kesempatan terbuka lebar baginya untuk mengeduk keuntungan sebanyaknya.

Demikianlah, sebagai seorang wanita berpengalaman, Bibi Ciok dapat menghubungi Lai-jung-cu (Lurah Lai), yaitu lurah dari dusun tempat Kim Bwe yang pernah tergila-gila kepada Kim Bwe. Lurah ini kaya raya dan terkenal mata keranjang, dan pernah Bibi Ciok mencarikan seorang gadis dusun untuk menjadi mangsa lurah yang haus perempuan ini, karena itulah maka ia berani menghubungi Lai-jung-cu dan menceritakan bahwa ia mampu membantu lurah itu kalau masih ada gairah besar terhadap Lui Kim Bwe yang kini telah menjadi nyonya Tang Bun An. Mendengar ini, tentu saja sang lurah yang mata keranjang menjadi girang sekali. Bibi Ciok menceritakan betapa Kim Bwe kini setelah menikah, bagaikan setangkai bunga yang menjadi mekar semerbak harum dan amat menggairahkan. Tentu saja mula-mula sang lurah khawatir dan tidak percaya, namun Bibi Ciok menenangkan hatinya.

"Kalau memang Jung-cu berhasrat, jangan khawatir. Saya akan mengaturnya dan takkan ada seorangpun yang mengetahuinya. Setiap hari, suaminya sibuk di sawah dan ibu mertuanya sibuk di dapur. Hampir setiap hari si deok cantik itu bermain-main kerumah saya dan ia seperti anak saya sendiri!" Lalu keduanya mengatur siasat. Sang lurah akan berkunjung ke rumah janda tua ini, dan sang janda yang akan mengatur agar kedua orang itu akan dapat bertemu dirumahnya!

Di rumahnya, Bibi Ciok juga mulai mengatur siasatnya, seperti seekor laba-laba yang membuat jaring halus untuk membuat perangkap dan menangkap lalat yang bukan lain adalah Kim Bwe! Mulailah ia bercerita, seperti sambil lalu, kepada Kim Bwe ketika nyonya itu datang berkunjung, betapa ia baru saja pulang dari dusun tempat asal Kim Bwe. Tentu saja wanita muda itu segera tertarik dan mendengarkan dengan penuh perhatian.

"Kebetulan sekali aku bertemu dengan Lai-jung-cu, engkau tahu lurah dari dusunmu itu, yang masih gagah dan ramah sekali? Juga dia terkenal kaya dan dermawan."

Kim Bwe mengangguk. Tentu saja ia mengenal lurah itu, bahkan dikenalnya sejak ia masih kecil.

"Kau tahu, Kim Bwe, Lai-jung-cu itu masih terhitung saudara misanku. Ketika kuceritakan bahwa engkau kini tinggal bertetangga dengan aku, dan seringkali datang berkunjung, dia kegirangan bukan main dan bertanya banyak sekali tentang dirimu. Nampaknya dia rindu sekali kepadamu, Kim Bwe."

Kim Bwe mengerutkan alisnya dan mukanya berubah merah. "Ah, kenapa begitu? Dia tidak mempunyai hubungan dengan aku."

"Aihhh! Benarkah engkau tidak tahu, Kim Bwe? Sejak dahulu, lurahmu itu tergila-gila kepadamu dan dia amat mencintaimu, Kim Bwe. Mencintai setengah mati dan dia mau mengorbankan apapun asal dapat bertemu denganmu!"

"Ah, Bibi Ciok.....!" Kim Bwe menjerit kecil dan pura-pura marah. "Aku tidak mau mendengarkan orbrolanmu ini, dan biarlah aku pulang saja!" Iapun memperlihatkan sikap marah dan bilang hendak pulang, akan tetapi tidak beranjak dari kursinya!

Bibi Ciok yang berpengalaman itu lalu menubruk dan merangkulnya. "Maafkan aku, anak baik. Bukan maksud untuk membikin kau kikuk dan tidak enak hati. Aku hanya berkata yang sesungguhnya saja. Dan dia, lurah itu, juga tidak bermaksud menghinamu. Dia amat menghormatimu, menghargaimu seperti seorang bidadari dari langit!"

Demikianlah, sedikit demi sedikit, sang laba-laba mulai memancing dan memasang umpan pada perangkapnya untuk menjebak lalat itu! Dengan rayuannya, Bibi Ciok akhirnya berhasil membujuk Kim Bwe untuk berwajah cerah lagi, bahkan mendengarkan wanita tua itu mengobrol dan memuji-muji lurah Lai itu tidak begitu tua dan masih amat kuat, bahkan terkenal dikalangan para wanita sebagai seorang pencinta dan perayu besar yang amat menyenangkan hati wanita. Selain itu, royal pula dengan hadiahnya sehingga banyaklah wanita-wanita muda, baik masih perawan, janda maupun yang masih bersuami, bermimpi untuk dapat dipilih lurah itu menjadi kekasihnya!

Dijejali pujian-pujian atas diri lurah itu, ketika pulang, malam itu Kim Bwe tak dapat tidur. Ia membayangkan wajah Lurah Lai yang selamanya belum pernah diingatnya! Dan beberapa hari kemudian, sesuai dengan siasat yang sudah diatur oleh Bibi Ciok, selagi Kim Bwe pagi-pagi sudah datang berkunjung muncullah Lurah Lai! Dari luar, lurah itu sudah berteriak-teriak memanggil Bibi Ciok yang berpura-pura kaget. Tentu saja seketika Kim Bwe menjadi merah mukanya dan iapun bangkit untuk pergi dari situ. Akan tetapi Bibi Ciok cepat mencegahnya."Aih, Kim Bwe, hal ini hanya terjadi kebetulan saja. Engkau tamuku, dan dia datang bertamu, apa salahnya? Kalau engkau pergi, berarti menghinanya dan juga membuat aku merasa tidak enak sekali. Duduklah, dan tinggallah sebentar saja!" Kim Bwe terpaksa duduk kembali.

Muncullah lurah itu dengan pakaian mewah dan rambutnya tersisir rapi! Dan kedua tangannya membawa beberapa gulung kain sutera beraneka warna, indah sekali. "Bibi Ciok, aku datang membawa hadiah untukmu!" katanya pura-pura tidak melihat Kim Bwe yang duduk di sudut. Bibi Ciok menyambut dengan girang bukan main. Ia menerima gulungan-gulungan sutera itu dan memuji-mujinya. Pada saat itu, agaknya baru lurah itu melihat Kim Bwe dan ia berseru kaget.

"Aih, Bibi Ciok......! Siapa...... siapa..... ah, apakah ada seorang dewi dari langit yang turun......?" Bibi Ciok tertawa genit. "Ihh, masa Jung-cu lupa? Ia adalah Kim Bwe!" "Ya Tuhan….. !" Lurah itu berseru dan matanya terbelalak, memandang kagum sekali. "Tiada ubahnya seorang bidadari…. ah, maaf, sungguh aku tidak mengenalmu lagi nona Kim Bwe…. eh, sekarang nyonya ya, maafkan aku." Kim Bwe sejak tadi menundukkan mukanya yang menjadi merah sekali seperti udang direbus, akan tetapi membuat mukanya menjadi semakin cantik, mulutnya menyungging senyum dan matanya melirik dari bawah. "Ah, Jung-cu terlalu memuji….. Bibi, aku pamit pulang saja….." "Nanti …… dulu ……. duduklah sebentar …..!" kata Bibi Ciok yang segera pergi kebelakang pura-pura hendak mengambil minuman. "Benar, nyonya, bukankah kita sudah saling mengenal sejak dahulu. Ah, kebetulan sekali hari ini hari baik, aku menerima banyak keuntungan dari kota raja, dari penjualan rempah-rempah dan aku sedang suka sekali memberi hadiah. Bibi Ciok kuhadiahi kain-kain sutera, dan akupun ingin memberikan hadiah kepadamu. Nah, apa ya? Tidak ada yang cukup berharga untukmu. Biar kuambilkan dari rumah, kupilih yang paling berharga. Akan tetapi, sementara ini, terimalah sedikit barang ini….." Dia mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku bajunya, membuka kotak kecil itu dan menyerahkannya kepada Kim Bwe. Dari sudut matanya, Kim Bwe melihat kotak kecil terbuka itu dan mukanya berubah pucat lalu merah kembali. Kotak itu berisi perhiasan dari emas permata yang membuat jantungnya berdebar tidak karuan! Belum pernah ia melihat perhiasan seindah itu, apalagi memakainya! Ia tidak berani menerima dan hanya menundukkan mukanya. Pada saat itu, Bibi Ciok keluar membawa seguci arak dan melihat lurah itu meletakkan sebuah kotak terbuka berisi perhiasan diatas meja di depan Kim Bwe, ia mengeluarkan seruan kagum. "Aihh …..! Perhiasan yang begini indahnya! Kim Bwe, engkau boleh menerima pemberian itu. Ah, cobalah betapa pentasnya engkau memakai perhiasan ini!" Dan setengah memaksa nenek itu mengenakan gelang dan cincin di tangan Kim Bwe yang membiarkannya saja sambil menundukkan mukanya. Ketika Bibi Ciok hendak memasangkan hiasan rambut dan kalung, lurah itu menghampiri dan berkata, "Biarlah aku yang membantu memakaikannya!" Antara lurah itu dan Bibi Ciok lalu terjadi permainan mata. Seperti telah mereka rencanakan, melihat betapa Kim Bwe mandah saja, hal itu berarti bahwa umpan dan pancingan mereka mengena. Bibi Ciok tersenyum, mengangguk dan iapun keluar dari rumahnya sendiri, untuk berjaga diluar! Lurah Lai lalu mengambil hiasan rambut dan mengenakan hiasan itu dirambut kepala Kim Bwe. Wanita ini menggerakkan kepala seperti hendak mencegah, dan ia kelihatan gugup melihat betapa pintu depan ditutup dari luar oleh Bibi Ciok. Akan tetapi Lurah Lai berseru, "Aih, betapa indahnya rambut! Betapa hitam, halus, panjang, dan harum pula. Dan cocok sekali memakai hiasan rambut. Dan ini kalungnya, biarlah kupakaikan….." Dan diapun mengenakan kalung itu dileher Kim Bwe, menyetuh kulit leher, membelainya dan di lain saat, lurah itu telah merangkul leher Kim Bwe, menciumi leher itu lalu kemuka dan memondong Kim Bwe memasuki kamar Bibi Ciok! Kim Bwe hampir pingsan karena malu dan jantungnya berdebar tegang, namun ia tidak berani berteriak karena malu, dan juga pemberian itu telah melunakkan hatinya dan iapun mandah saja ketika Lurah Lai menyatakan cinta dan kagum dengan perbuatan. Demikianlah, betapa berbahayanya menjadi seorang wanita kalau menghadapi rayuan pria. Pria yang sudah tergila-gila kepada seorang wanita akan mempergunakan segala daya upaya untuk menjatuhkannya! Dia thau saja apa yang menjadi kelemahan hati seorang wanita! Dan kelemahan itu yang disinggungnya sehingga si wanita akan jatuh dan taluk! Ketika perbuatan hina itu dilakukan oleh kedua orang dalam kamarnya, Bibi Ciok duduk diluar, tersenyum-senyum menghitung-hitung keuntungan yang akan dapat diperolehnya dari perjinaan antara dua orang yang sudah lupa diri itu! Tidak ada kesenangan yang tidak diulang oleh manusia yang lemah ini. Setiap pengalaman yang menyenangkan, akan dicatat dalam ingatan dan kita selalu mendambakan pengulangannya. Demikian pula dengan Lurah Lai dan Lui Kim Bwe. Keduanya memperoleh kesenangan dari perjinaan itu, bukan hanya kesenangan karena terlampiasnya nafsu jalang, meliankian juga karena Kim Bwe menerima hadiah yang banyak. Hadiah-hadiah itu tentu saja tidak dibawa pulang oleh Kim Bwe, melainkan dititipkan kepada Bibi Ciok dan hanya dipakai kalau ia berkunjung ke rumah wanita itu.

Namun, sepandai-pandainya orang menyimpan bangkai, bau busuknya akan tercium juga, sepandai-pandainya orang menyembunyikan api, asapnya akan mengepul juga. Demikian pula dengan hubungan gelap antara Lui Kim Bwe dan Lurah Lai. Mulailah menjadi pergunjingan para tetangga ketika tanpa disengaja, seorang anak kecil yang kebetulan bermain-main di dekat rumah Bibi Ciok melihat kedua orang tamu itu, dan pada hari-hari berikutnya, anak itu sering melihat mereka. Hal ini diceritakan diluar dan ramailah penduduk mulai membicarakan hal-hal yang mencurigakan ini.

Akhirnya, berita itu sampai pula ketelinga Tang Bun An! Mula-mula, Bun An tidak percaya. Isterinya demikian lembut, nampak demikian sayang kepadanya, menyambutnya dengan mesra dan manis kalau dia pulang dari sawah ladang. Isterinya mempunyai hubungan gelap dengan seorang laki-laki lain. Tidak mungkin! Ketika dia bertanya kepada ibunya, ibunya juga tidak tahu. Biapun mendengar pula akan hal itu, Kui Hui pura-pura tidak tahu saja! Wanita ini agaknya juga tidak menganggap perbuatan mantunya itu terlalu buruk!   Pada suatu hari, Bun An meninggalkan sawah ladangnya ketika hari masih pagi dengan menggunakan kepandaiannya, dia kembali ke dusun tanpa diketahui orang. Dengan cepat dia menyelinap masuk kerumahnya dan bertanya isterinya tidak berada dirumah. Dia bertanya kepada ibunya.

"Ah, ia kesepian kalau engkau kesawah. Mungkin ia bermain ke rumah Bibi Ciok. Kenapa ribut-ribut? Ia masih muda dan membutuhkan hiburan. Biarkan ia main-main dan kau kembalilah le sawah," kata Kui Hui dengan sikap acuh saja.

"Aku akan mencarinya disana!" kata Bun An, hatinya merasa tidak enak.

"Jangan nak. Perlu apa? Biar nanti aku yang menyusulnya, kau kembalilah ke sawah!" Ibunya membujuk, merasa tidak enak juga karena iapun sudah menduga bahwa berita yang didesas-desuskan itu boleh jadi ada benarnya.

Akan tetapi tanpa pamit lagi Bun An sudah melompat dan keluar dari rumahnya, menuju ke rumah sebelah dengan mengambil jalan dari belakang, melompati pagar! Dia melihat Bibi Ciok duduk seorang diri diluar rumahnya, maka diapun cepat menyelinap ke belakang dan memasuki rumah itu dari pintu belakang yang dibongkarnya.

Tak lama kemudian, dia mengintai dari jendela kamar dan dapat dibayangkan betapa perasaan hatinya mengalami keguncangan hebat ketika dia melihat isterinya berada di atas pangkuan seorang laki-laki dan mereka saling berciuman dan bercanda! Agaknya mereka baru saja selesai makan minum karena meja mereka masih penuh makanan dan arak!

"Brakkk!" Daun jendela itu hancur berantakan dan tubuh Bun An melayang masuk dari jendela. Dua orang yang sedang bermesraan di dalam kamar itu terkejut bukan main. Apalagi ketika mereka mengenal siapa yang memasuki kamar melalui jendela itu! Selama menjadi isteri Bun An, Kim Bwe tidak pernah tahu bahwa suaminya itu bukan hanya seorang petani biasa saja, tidak pernah menduga bahwa suaminya adalah seorang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi! Dan Lurah Lai juga tidak tahu, maka kini lurah itu hendak mempergunakan kekuasaan dan kedudukannya.

"Kami telah bersalah, biarlah aku akan menebus kesalahan ini dengan uang! Berapa saja yang kauminta!" katanya sambil melepaskan tubuh kekasihnya. Kim Bwe sendiri merasa betapa kedua kakinya gemetar dan iapun berlutut sambil menundukkan mukanya. Bun An memandang laki-laki yang tidak dikenalnya itu, seorang pria berusia hampir limapuluh tahun, lalu memandang kepada isterinya. Isterinya mengenakan pakaian sutera yang amat indah, dan tubuhnya penuh dengan perhiasan emas permata yang tidak pernah dilihatnya. Mendengar ucapan pria itu, Bun An melangkah maju, tangannya menampar, tangan kiri Bun An seperti petir menyambar sudah mengenai pinggir kepalanya.

"Prakkk!" Tubuh lurah itu terjungkal dan dia roboh tak dapat bangkit kembali karena tamparan yang mengenai kepala itu membuat batok kepalanya retak dan lurah itu tewas seketika.

Tiba-tiba pintu daun kamar itu terbuka dari luar, dibuka oleh Bibi Ciok yang masuk bersama Kui Hui. Mereka mendengar suara hiruk pikuk di dalam kamar dan merasa khawatir. Bibi Ciok lalu membuka pintu dan pada saat itu, Kui Hui datang dan ikut masuk karena mengkhawatirkan anak dan mantunya. Begitu daun pintu terbuka, mereka masuk dan terbelalak melihat lurah itu sudah rebah di atas tanah dan darah mengalir dari kepalanya yang retak!

"Ahh….! Apa yang terjadi ini? Kau…… bagaimana berani memasuki rumahku….?" Bibi Ciok yang lurah itu tewas, kini menuding kepada Bun An dengan marah.

Sejak tadi Bun An sudah memandang nenek ini dengan wajah bengis. Dia tahu bahwa isterinya telah terbujuk oleh nenek ini, yang agaknya menjadi comblang dan menyediakan rumahnya untuk menjadi tempat perjinaan yang hina! Kini, melihat Bibi Ciok marah kepadanya dan melangkah maju, diapun mengayun kakinya menendang.

"Dess…..!" Bibi Ciok mengeluarkan suara menjerit ketika tubuhnya terpental dan terbanting kepada dinding kamar itu, lalu jatuh ke atas lanti. Ia merangkak dan mencoba untuk bangkit, akan tetapi, kembali Bun An mengayun kakinya, kini mengenai leher nenek itu   "Klokkk!"Leher itupun patah dan Bibi Ciok menggelepar, lalu diam tak bergerak karena nyawanya melayang.

"Ibu…. Ibu……..!" Kim Bwe kini merangkul ibu mertuanya dengan ketakutan. Tak disangkanya sama sekali akan begini akibatnya, betapa suaminya demikian marahnya dan melakukan pembunuhan-pembunuhan secara mengerikan.

Kui Hui merangkul mantunya dan berkata kepada Bun An, "Bun An, apakah engkau telah gila? Engkau membunuhi orang begitu saja! Engkau tentu akan ditangkap dan dihukum mati dan engkau mencelakakan kami, ibu dan isterimu!"

Perlahan-lahan wajah Bun An berubah merah sekali dan sepasang matanya mencorong seperti mengeluarkan api ketika dia menatap wajah ibunya dan isterinya. "Kalian…. kalian perempuan ….. makhluk jahat, kalian sama saja! Kalian sungguh jahat, berkedok wajah yang cantik, tubuh yang mulus, sikap manis lemah lembut, namun batinmu kotor, kalian adalah makhluk-makhluk berhati jahat penuih racun! Terkutuklah kalian……!"

"Bun An! Aku ibumu sendiri, yang melahirkanmu!" Kui Hui membentak, marah mendengar anaknya mengutuk dan memaki-makinya.

Bun An tertawa, suara ketawanya bergelak dan menyeramkan sekali, seperti suara ketawa iblis, bukan suara manusia lagi, dan mukanya kini pucat, seperti mayat tertawa diam saja!

"Ha, ha, ha, ha, ha! Ibuku seorang perempuan jahanam! Seorang perempuan jahat, lebih hina dari pelacur! Ibuku telah mengkhianati suaminya sendiri, ayah kandungku! Ibuku berjina dengan laki-laki lain, kemudian meracuni suami sendiri, ayahku. Ibu lalu mencuri harta, hidup bersama laki-laki yang kubunuh itu, kemudian menjadi pelacur! Ya, ibuku seorang pelacur! Ibuku iblis betina!"

"Bun An….!" Kui Hui menjerit wajahnya pucat, matanya terbelalak.

"Dan kau…. kau Lui Kim Bwe, kau isteriku, kau cantik jelita, manis, mesra, bukan hanya wajahmu yang amat jelita, tubuhmu juga mulus, tapi kau tidak ada bedanya dengan ibuku. Engkau hanya seorang isteri yang menyeleweng, seorang perempuan yang berhati penuh racun busuk! Kalau dilanjutkan penyelewenganmu, bukan tidak mungkin suatu hari engkau akan meracuni aku pula. Engkaupun iblis betina dan kau layak mampus!" Tiba-tiba tubuh Bun An menerjang kedepan, tangannya bergerak.

"Prakkk!" Kui Hui menjerit, matanya terbelalak dan ia melepaskan rangkulannya kepada pundak mantunya ketika melihat betapa tubuh mentunya berkelojotan dalam dekapannya dan betapa kepala Kim Bwe sudah pecah berantakan dengan otak dan darah muncrat dan sebagian banyak membasahi bajunya sendiri!

"Ibu, kalau saja engkau bukan ibuku, tentu sekarang kubunuh pula! Akan tetapi, engkaupun jahat, sama dengan mereka. Aku malu untuk tinggal dan hidup bersamamu. Semua perempuan memang jahat, palsu, penuh racun!!" Dan Bun An lalu meloncat keluar dari rumah itu, tidak memperdulikan ibunya yang menjerit-jerit seperti orang gila karena merasa takut, ngeri dan juga batinnya terguncang oleh sikap dan kata-kata anak kandungnya sendiri tadi.

Akhirnya, para tetangga berdatangan dan mereka menemukan Kui Hui pingsan diantara tiga sosok mayat dalam kamar itu! Kui Hui jatuh sakit, mengigau dan berteriak-teriak, terserang demam hebat dan beberapa hari kemudian iapun menghembuskan napas terkahir! Dan orang-orang tidak berhasil menemukan Tang Bun An, kemanapun mereka mencari. Bahkan kematian seorang lurah telah membuat pasukan keamanan sibuk mencari-cari Bun An, namun tanpa hasil.

Bun An memang sudah melarikan diri jauh meninggalkan dusun itu! Dia tidak akan kembali lagi kepada ibunya, wanita pertama yang membuat dia membenci wanita! Setelah terjadi peristiwa dengan isterinya, hatinya semakin dipenuhi perasaan sakit hati dan benci kepada perempuan. Padahal, setiap kali melihat seorang perempuan, perhatiannya tertarik dan berahinya berkobar, namun dilubuk hatinya terdapat kebencian yang makin membesar terhadap kaum lemah ini.

***

Peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam kehidupannya itu, terutama sekali penyelewengan ibunya, kemudian isterinya yang amat melukai hatinya, masih belum membuat Tang Bun An menjadi seorang jai-hwa-cat. Biarpun dia mengalami guncangan batin, kepahitan yang dapat membuat hatinya mendendam, namun dia masih menganggap bahwa mungkin hanya kebetulan saja terjadi kepadanya, karena nasibnya yang sial sehingga dia dilahirkan oleh seorang wanita jahanam, dan berjodoh dengan wanita jahanam lain pula.

Dia meninggalkan dusunnya dan mulailah Bun An merantau. Dia telah menyelidiki siapa adanya pria setengah tua yang menjinai isterinya itu, dan ketika dia mendengar bahwa pria itu adalah lurah kaya dari dusun isterinya, dia cepat pergi ke dusun itu dan dengan menggunakan kepandaiannya yang tinggi, dia mamasuki rumah Lurah Lai, dan mencuri harta lurah itu yang cukup banyak. Dengan harta curian inilah Bun An hidup merantau ke kota-kota dan dusun-dusun tanpa tujuan tertentu.

Pada suatu hari, tibalah Bun An di sebuah kota. Karena perutnya terasa lapar, diapun mamasuki sebuah rumah makan memesan makanan itu, dia melihat seorang wanita muda yang amat manis berada di dalam kantor rumah makan itu dan melihat sikap wanita muda berusia kurang lebih duapuluh lima tahun itu, diapun dapat menduga bahwa wanita cantik itu tentulah majikan rumah makan itu. Tanpa disengaja wanita yang tadinya sedang menghitung unag itu mengangkat muka. Pandang mata mereka bertemu dan hati Bun An tertarik. Wanita itu memiliki mata yang indah sekali, dan mulut itupun tersenyum simpul. Mulut yang merah basah dan segar menantang! Diapun makan sambil mencurahkan perhantian ke kantor itu, biarpun matanya tidak memandang secara langsung. Dugaannya benar. Dia mendengar wanita itu bicara dengan seorang laki-laki berperut gendut yang menjadi majikan rumah makan, sebagai suaminya. Ketika dia melirik dan memperhatikan, laki-laki yang menjadi suaminya itu sedang menyerahkan uang sekantung kepada isterinya yang manis, dan laki-laki ini menurut pandangan Bun An, sama sekali tidak serasi dengan sebagai suami wanita yang demikian manis dan memiliki daya tarik yang amat kuatnya. Laki-laki itu berusia kurang lebih tiga puluh tahun, wajahnya dan tubuhnya seperti bola, serba bulat! Perutnya gendut sekali dan muka yang bulat itu seperti muka kanak-kanak, dan melihat bicara dengan isterinya, pria itu amat mencintainya. Sambil makan, Bun An merasa iri hati mendengar suara perempuan ini, agaknya ia mencintai suaminya, juga dicintai sehingga dalam suaranya terdengar kemanjaan dan kemesraan. Betapa bahagia suami yang mempunyai seorang isteri seperti ini! Agaknya selain pandai membantu pekerjaan suami, juga amat mencinta suami dan wanita ini tentu setia kepada suaminya! Tidak seperti isterinya, tidak pula seperti ibunya. Setelah dia membayar harga makanan dan keluar dari rumah makan itu, hatinya tak pernah dapat melupakan wanita pemilik rumah makan tadi. Seorang wanita hebat! Seorang isteri pilihan! Kalau hidup didampingi seorang isteri seperti itu, alangkah bahagianya! Malam itu, di dalam kamar rumah penginapan, Bun An tidak dapat tidur. Dia berbaring dengan gelisah karena wajah wanita pemilik rumah makan itu selalu terbayang di depan matanya! Akhirnya, diapun keluar dari kamarnya, bahkan lalu keluar dari rumah penginapan itu dan seperti orang mimpi saja, kakinya melangkah menuju ke arah rumah makan tadi! Rumah makan itu, seperti took-toko lain di jalan raya itu, telah ditutup dan keadaan di jalan itu sudah sunyi. Malam itu memang dingin sekali, membuat orang malas sekali untuk keluar rumah. Bun An lalu mempergunakan ilmu meringankan tubuh untuk meloncat ke atas genteng dan bagaikan seekor kucing saja, dia berloncatan di atas genteng tanpa mengeluarkan suara berisik. Akhirnya, dia mendekam di atas sebuah kamar dan mengintai ke dalam kamar melalui genteng yang dibukanya. Kamar inilah yang dicarinya setelah dia tadi mencari-cari dan mengintai ke dalam rumah. Kamar dari suami gendut bersama isterinya yang manis. Sedikitpun tidak ada niat dalam hati Bun An untuk datang mengganggu wanita manis itu, dia memang tertarik, dan kagum sekali karena menganggap wanita itu seorang isteri yang dapat membahagiakan suami, dan dia hanya ingin tahu benarkah dugaannya itu. Ketika dia mengintai ke dalam, dia melihat wanita yang dipikirkannya sejak siang tadi telah berada di atas pembaringan. Memang seorang wanita yang amat menarik sekali, pikirannya sambil memandang dengan jantung berdebar. Wanita itu mengenakan pakaian dalam yang tipis dan merangsang, dan tidur telentang dengan sikap yang menantang dan memikat pula. Ia belum tidur, rebah telentang sambil bermain-main dengan mata kalungnya. Baju didadanya terbuka memperlihatkan bukit dada yang membusung. Suami itu tidak nampak. Tak lama kemudian, terdengar langkah kaki berat dan suami yang gendut itupun menggelinding masuk! Nampak dari atas, kaki pria itu tertutup oleh kepala dan perut yang bulat maka kelihatan memang seperti menggelinding saja dan Bun An tersenyum. Pria itu memang lucu dan menggelikan, akan tetapi isterinya sungguh memikat. Seperti juga isterinya, pria itu mengenakan pakaian tidur yang longgar dan membuatnya nampak semakin lucu. Ketika sang suami memasuki kamar, isterinya menghentikan permainannya dengan mata kalung, lalu bangkit duduk dan tersenyum manis sekali. "Lama benar sih, aku sudah menantimu sejak tadi…..," kata sang isteri dengan suara manja dan sikap mesra sekali, bahkan wanita itu mengembangkan kedua lengannya seolah-olah memberi isyarat bahwa dia sudah siap untuk menerima pria gendut itu dalam pelukannya. Akan tetapi, pria itu menghela napas panjang dan mengelus perutnya yang gendut, "Aku menghabiskan sisa bakmi tadi, dan perutku kenyang sekali. Aaahh, tubuhku lelah, dan aku ngantuk sekali. Aku mau tidur saja, besok harus bangun pagi-pagi persediaan daging babi habis, besok harus mengatur penyembelihan babi ….. auuuuuhhhhhh ……." Pria itu menguap lalu menjatuhkan diri di atas pembaringan. Pembaringan itu bergoyang dan mengeluarkan suara menjerit seperti menerima tubuhnya yang gembrot. Akan tetapi, dia segera miringkan tubuh, membelakangi isterinya dan belum ada lima menit dia sudah tidur mendengkur seperti babi yang disembelih!

Isteri itu mengerutkan alisnya, masih duduk memandang suaminya, menggeleng-geleng kepala dan beberapa kali menghela napas panjang, nampaknya jengkel sekali. Setelah suami itu mendengkur dengan nyenyaknya, wanita yang manis itu perlahan-lahan turun dari atas pembaringan, memadamkan lilin di atas meja. Bun An sudah siap untuk pergi, akan tetapi dia tertarik ketika melihat bayangan wanita itu berjingkat-jingkat menuju ke pintu kamar! Wanita itu setelah memadamkan api lilin, tidak kembali tidur di atas pembaringan, melainkan keluar dari kamar itu! Dengan hati tertarik sekali, Bun An lalu melayang turun dari atas genteng, lalu menyelinap ke dalam rumah itu, lalu mengintai dari bawah, mengikuti bayangan wanita itu yang dengan hati-hati kini melangkah menuju kebelakang. Didekat dapur terdapat sebuah kamar lain yang bentuknya kecil, dan nampak wanita itu dengan perlahan mengetuk pintu kamar ini. Tiga kali, berhenti, lalu tiga kali lagi, berhenti, lalu tiga kali lagi, berhenti, demikian berkali-kali sehingga Bun An dapat menduga bahwa ketukan itu adalah ketukan rahasia yang merupakan isyarat. Daun pintu kamar itu terbuka dan sesosok tubuh pria yang tinggi besar nampak muncul. Biarpun cuaca tidak begitu terang, namun Bun An segera mengenal wajah orang itu sebagai wajah pelayan rumah makan yang siang tadi melayaninya! Agaknya, pelayan rumah makan itu selain bekerja di rumah makan, juga memperoleh pondokan disitu. "Aih, masih sore begini engkau berani ke sini…….?" Pria itu berbisik. "Sssstt, dia sudah tidur mendengkur seperti babi!" kata si wanita yang segera menubruk pria itu. Pria itu menyambut dengan pelukan dan mereka berciuman, daun pintu itu ditutup kembali! Hampir saja Bun An tertawa bergelak melihat adegan ini! Tertawa karena dianggapnya lucu, dan betapa tololnya dia! Dikiranya wanita itu seorang isteri yang setia dan baik, yang membahagiakan suaminya! Ternyata, tiada bedanya seujung rambutpun dengan isterinya sendiri. Wanita iblis berhati kotor penuh racun! Dengan beberapa loncatan saja, Bun An sudah berada di dalam kamar pria gendut, suami yang tidur mendengkur itu. Dia menyalakan lilin, lalu menotok leher dan pundak pria gendut pemilik rumah makan itu sehingga pria itu seketika menjadi gagu dan terkulai lemas. Bagaikan orang menyeret seekor babi, Bun An menyeret keluar dari dalam kamar, menuju ke kamar belakang dimana isteri pemilik restoran tadi bercumbu dengan pelayannya. Sekali tending,d aun pintu itu roboh dan Bun An menepuk pundak dan leher si gendut, memulihkan dia masih sempat melihat dua insan yang tak tahu malu itu bergumul di atas pembaringan, lalu Bun An berkelebat lenyap meninggalkan tempat itu. Sambil tertawa bergelak loncat ke atas genteng, masih sempat mendengar suara ribut-ribut di bawah. Suara makian dan jerit tangis wanita. Namun dia tidak perduli lagi dan meninggalkan tempat itu secepat mungkin. Aneh, dia merasa lega dalam dadanya! Kenyataannya bahwa wanita yang manis dan menarik perhatiannya itu ternyata tiada bedanya dengan mendiang isterinya, membuat dia merasa lega karena kini tidak ada lagi iri hati menggoda hatinya! Dia melihat kenyataan akan kelemahan wanita cantik. Isterinya lemah karena menginginkan kekayaan dan terjatuh ke dalam lembah kehinaan karena mengejar kekayaan. Isteri pemilik rumah makan itu lemah dan terjatuh ke dalam lembah kehinaan karena mengejar kenikmatan sex yang tidak bisa didapatkannya dari suaminya. Mendiang isterinya juga tidak akan mungkin mendapatkan kekayaan darinya, suaminya. Apakah kalau begitu, untuk membuat seorang isteri setia, maka dua hal itu harus dipenuhinya, yaitu kekayaan dan sex yang cukup?

Tang Bun An masih juga merasa bimbang dan didalam perantauannya, dia mulai mengadakan penyelidikan sendiri. Setiap kali dia bertemu dengan isteri orang yang cantik, maka dia lalu menggodanya! Dia menggunakan rayuan, atau uang, untuk menjatuhkan hati mereka dan dia mendapatkan kenyataan yang pahit, yang membuat dia semakin tidak percaya kepada wanita, bahwa sedikit sekali isteri orang yang menolak semua rayuannya dan setia kepada suaminya. Dari sepuluh wanita yang menjadi isteri orang, hanya dua atau tiga orang saja yang setia dan mereka yang setia ini bukan termasuk yang tercantik!

Semua pengalaman dengan wanita yang dicobanya inilah yang membuat suatu watak yang aneh dalam diri Tang Bun An! Dia mulai menanam benih-benih kebencian dan memupuknya benih yang mulai timbul karena ulah ibunya dan isterinya itu. Dia tidak mau menikah lagi karena tidak percaya kepada wanita, dan mulailah dia bertualang diantara wanita-wanita cantik. Dia juga berkeliaran diantara rumah-rumah pelacuran yang paling terkenal di setiap kota, bahkan mendatangi kota raja dan mengenal semua wwanita pelacur di kota raja. Mudah saja baginya untuk mendapatkan uang. Dengan menggunakan kepandaiannya, dia dapat memasuki gudang harta setiap orang bangsawan atau hartawan dan mengambil yang dibutuhkannya. Semua hasil pencuriannya itu dihamburkan habis dalam rumah-rumah pelesir. Jadilah Tang Bun An seorang laki-laki yang penuh pengalaman dan dia mempelajari segala macam kepandaian merayu dari wanita-wanita pelacur itu.

Setelah benih kebencian itu tumbuh subur, bersama dengan benih mata keranjang yang membuat dia mudah tertarik dan timbul gairahnya setiap kali melihat seorang wanita cantik, mulailah Bun An menggoda wanita-wanita yang dianggapnya cantik dan menarik hatinya, yang membangkitkan gairahnya. Dia tidak perduli, apakah wanita itu masih perawan, ataukah isteri orang! Dia mengguanakan rayuan dengan modal wajah tampan dan mulut manis, menggunakan uang, atau dengan bantuan obat perangsang, dan kalau semua itu tidak berhasil membuat wanita yang ditaksirnya bertekuk lutut menyerahkan diri dengan suka rela, dia tidak segan-segan mempergunakan kekerasan! Hal ini mudah baginya karena memiliki ilmu kepandaian tinggi!

Tang Bun An menjadi seorang jai-hwa-cat, seorang penjahat pemetik bunga, seorang tukang pemerkosa wanita, atau seekor kumbang yang suka menghisap madu kembang! Dia lupa yang menyebabkan banyak wanita menjadi isteri orang jatuh olehnya, bukanlah semata karena kelemahan wanita itu sendiri, melainkan juga disebabkan terutama sekali oleh ketampanan dan kegagahannya, kepandaiannya merayu.

Tang Bun An suka keindahan, dan tidak segan-segan pula merusak keindahan yang dikaguminya itu, demi kesenangannya, demi kepuasan hatinya, dan demi pelaksanaan dendam sakit hati dan kebenciannya. Dia menganggap dirinya seperti seekor kumbang yang beterbangan diantara kembang-kembang. Pada suatu hari, dia melihat betapa ganasnya seekor kumbang yang merahh menghisap kembang sampai layu dan rontok, dan betapa kumbang merah ini ganas pula menerjang setiap saingannya, yaitu kumbang lain untuk memperebutkan setangkai bunga yang harum dan segar. Karena tertaik dan kagum sekali kepada kumbang ini, maka Tang Bun An lalu membuat perhiasan berbentuk kumbang merah dan selanjutnya dia meninggalkan sebuah perhiasan ini kepada setiap orang wanita yang menjadi korbannya! Ada kalanya wanita itu dibunuh, yaitu mereka yang tidak mau menyerahkan diri secara suka rela, mereka yang melawannya, ataupun mereka yang mengecewakan hatinya karena tidak sehebat yang dibayangkannya semula! Entah sudah berapa ribu wanita yang menjadi korbannya selama puluhan tahun ini, dan berapa ratus yang telah dibunuhnya! Dan semenjak dia meninggalkan sebuah kumbang merah pada setiap orang wanita yang menjadi korbannya, hidup atau mati, di dunia kang-ouw mengenalnya sebagai Si Kumbang Merah (Ang Hong Cu)! Namun, si Kumbang Merah ini tidak pernah memperlihatkan wajah aslinya! Dia memang pandai menyamar dan selalu muncul dalam penyamaran. Karena itu, tidak ada seorangpun yang pernah melihat wajah aslinya dan hal ini menyukarkan para pendekar maupun para petugas keamanan untuk dapat menangkapnya! Para korban, wanita cantik yang bagaikan kembang sudah dihisap habis-habisan oleh kumbang merah ini, hanya mengatakan bahwa si Kumbang Merah itu adalah seorang pria yang perkasa dan tampan, namun wajah yang digambarkan oleh semua wanita itu berbeda-beda! Karena itulah, maka biarpun namanya amat terkenal, namun sampai puluhan tahun Ang Hong Cu tidak pernah dapat ditangkap biarpun para pendekar mengerahkan tenaga mereka untuk mencarinya.

***

Demikianlah riwayat singkat dari Ang-hong-cu yang bernama Tang Bun An! Nama Tang Bun An jarang dikenal orang, bahkan Ang-hong-cu sendiri sudah hampir tidak lagi mengingat namanya. Hanya pada wanita-wanita tertentu saja, yaitu korbannya yang benar-benar memikat hatinya, kadang-kadang dia memperkenalkan she (nama keturunan) Tang. Namun, hal ini jarang sekali terjadi. Kalau dia bertemu seorang wanita yang amat memikatnya, yang membuat dia hampir jatuh hati dan benar-benar mencintanya, dia hanya membuat wanita itu menjadi kekasihnya, seringkali dikunjunginya dan dilimpahkan kasih sayangnya, akan tetapi sesudah itupun sudah. Diapun berusaha secepat mungkin melupakannya dan mematahkan ikatan batinnya terhadap wanita itu, dengan jalan mencari dan mendapatkan seorang korban baru!   Ang-hong-cu juga tidak perduli apakah korbannya itu seorang murid dari sebuah perguruan besar. Sudah beberapa kali dia tidak segan-segan untuk mencemarkan nama perkumpulan besar dengan memperkosa pendekar-pendekar wanita yang menarik hatinya! Dan karena dia melakukan hal itu dalam penyamaran, maka para pimpinan perguruan silat yang besar itupun tidak berdaya, hanya tahu bahw murid perempuan mereka diperkosa oleh Ang-hong-cu. Akan tetapi mereka tidak tahu siapa itu Ang-hong-cu atau di mana bisa menemukannya!

Itulah kakek yang berusia limapuluh lima tahun itu, yang pada permulaan kisah ini kita temui sedang menuruni bukit dipagi hari itu dengan santai, dan wajah pria itu masih nampak gagah dan tampan. Itulah wajah Ang-hong-cu yang sebenarnya, wajah yang aseli. Wajah itu halus dan sama sekali tidak dikotori kumis atau jenggot, masih segar seperti wajah seorang pemuda saja. Langkahnya tegap dan tenang, seperti langkah seekor harimau, dan dari mulutnya terdengar nyanyian yang dinyanyikan dengan suara yang lepas dan merdu, suara yang mengandung kegembiraan dan juga kebanggaan kepada diri sendiri, yang mengarah kesombongan!

"Bebas lepas beterbangan dari taman ke taman mencari kembang harum jelita untuk kuhisap sari madunya setelah puas kunikmati kutinggalkan kembang layu merana untuk mencari kembang segar yang baru Si Kumbang Merah, inilah aku!"

Dialah Ang-hong-cu si Kumbang Merah, jai-hwa-cat (penjahat pemetik bunga) yang tiada keduanya di dunia ini! Laki-laki yang nampak jauh lebih muda dari pada usia yang sebenarnya itu, tiba-tiba berhenti melangkahkan kakinya dan dia lalu duduk di atas rumput di lereng bukit itu. Daru tmpat dia duduk, didepannya terbentang keindahan alam yang menakjubkan. Dia duduk membelakangi matahari, memandand ke bawah sana. Semua bermandikan cahaya matahari pagi yang seolah-olah memberi kehidupan baru kepada segala yang nampak. Pohon-pohonan menjadi cerah, warna hijau bercampur dengan sinar matahari yang masih lembut kuning keemasan, padi-padian menghampar luas di depan, seolah-olah dengan satu langkah saja dia akan dapat melampaui hamparan di bawah itu. Dan duduk menghhadapi tamasya alam yang amat indah itu, di bawah sinar matahari pagi yang cerah, di hembus angin bersilir nyaman, seolah-olah menhanyutkan semangat Si Kumbang Merah kepada msa lampaui. Segala peristiwa yang mengesankan hatinya terbayang di dalam kepalanya, seolah-olah dia membalik-balik lembaran buku catatan penuh gambar yang mengasikan. Terlalu banyak wanita digaulinya, baik secara suka rela maupun paksa, demikian banyaknya sehingga jarang yang teringat olehnya, baik nama maupun rupa. Akan tetapi ada beberapa orang wanita yang meninggalkan kesan cukup mendalam di hatinya. Sebagai seorang manusia biasa, bukan tidak pernah dia jatuh cinta keada korbanya! Namun, selalu perasan cintanya di campakan jauh-jauh, dipandang sebagai racun ang berbahaya bagi dirinya sendiri. Tidak ada perempuan yang baik di dunia ini, demikian pikiran dan pendapatnya. Pendapat seperti itu memberi kekuatan kepadanya untuk membuang jauh-jauh cinta ksih yang timbul dan untuk memutuskan ikatan yang muncul kalau dia tertarik lahir batin kepada seseorang korbanya.

Biasnya, setelah memperkosa seorang korban atau menggauli seorang korban yang sukarela menyerahkan diri setalah jatuh oleh rayuannya, dia akan meninggalkan begitu saja, mati atau hidup, meninggalkan pula sebuah hiasan kumbang merah kepada korban itu. Akan tetapi, kalau hatinya tertarik oleh seorang korban dan timbul rasa sayangnya, dia akan mengunjungi korban ini beberapa kali sampai dia merasa bosan, atau samapai dia mengambil keputusan untuk segera meninggalkan wanita itu sebelum hatinya terikat!.

Tidak banyak wanita yang demikian itu. Dan yang paling mengesankan, bahkan sampai dia berusia setengah abad belum pernah dapat dilupakannya, adalah seorang gadis yang bernama Teng Bi Hwa. Sesuai dengan namanya, gadis berusia tujuh belas tahun itu benar-benar seperti bi-hwa (kembang cantik), bagaikan setnagkai bunga mawar sedang mekar semerbak! Begitu melihat Bi Hwa, Tang Bun An yang ketika itu masih muda, kurang lebih dua puluh tiga tahun usianya, menjadi tergila-gila! Dia merasa sayang kalau harus memperkosa gadis yang membuatnya tergila-gila itu. Didekatinya gadis itu, dirayunya. Karena dia memang tampan, pandai pula merayu seperti yang dipelajarinya dari para pelacur tingkat tinggi, dan dengan bantuan obat perangsang yang berhasil di campurkannya ke dalam minuman Bi Hwa, akhirnya dia berhasil membuat gadis itu bertekuk lutut dan jatuh cinta kepadanya! Berhasillah Bun An mnguasai gadis itu lahir batin, membuat gadis cantik itu dengan suka rela menyerahkan diri. Bi Hwa baru sadar setelah semuanya terjadi. Gadis itu maklum bahwa ia diperkosa secara halus, akan tetapi karena iapun mencintai pemuda itu, ia berpegang kepada harapan agar Bun An yang hanya dikenalnya sebagai Tang-Kongcu (tuan muda tang) akan suka mengawini! Akan tetapi, pemuda itu hanya minta waktu saja, sementara setiap malam membawanya pergi dari kamarnya untuk bermain cinta, berasyik-masyuk, bermesraan berenang dalam lautan madu asmara sampai Bi Hwa menjadi mabok kepayang!

Dan hal yang paling dikhwatirkanpun terjadilah! Bi Hwa mengandung! Dan Tang-Kongcu minggat tampa pamit lagi, hanya meninggalkan sebuah hisan berbentuk kumbang emas! Bi Hwa menangis sampai pingsan, namun tidak berdaya, hanya menyesali kelemahan hatinya sendiri.

Teringat akan Bi Hwa Si Kumbang Merah tersenyum, akan tetapi senyum pahit. Harus diakuinya bahwa dia sungguh mencintai Bi Hwa! Hanya kebencian terhadap wanitalah yang membuat dia memaksa dirinya meninggalkan wanita itu, walaupun hatinya dipenuhi kerinduan selama berbulan-bulan sesudah dia pergi.

"Aahhh, semua itu telah berlalu!" Dia mencela diri sendiri dan mengusir bayangan Bi Hwa yang cantik. Tidak perlu memikirkan satu dua orang wanita, banyak sekali yang telah menjadi korbanya dan dia tidak merasa menyesal. Diapun tahu bahwa di diantara banyak wanita yang di tinggalkannya dalam keadaan hidup, apa lagi yang prnah menarik hatinya sehingga beberapa kali dia menggauli korban itu, yang kemungkinan besar mengandung anak keturunannya. Akan tetapi dia tidak peduli! Takan ada orang yang mengenal wajahku, pikirnya sambil mengusap wajah aslinya yang halus dan tampan. Dia selalu menyamar setiap kali menundukkan sseorang wanita, setiap kali terjun ke tempat ramai. Andaikata dia mempunyai keturunan, para wanita itupun tidak akan dapat memberitahu kepada anak mereka, bagaimana macam wajahnya, karena yang diberitahukan tentulah wajahnya yang palsu, hasil penyamaran. Dan namanyapun tidak ada yang pernah tahu, kecuali hanya she-nya, nama keturunannya yang kadang-kadang dia perkenalkan kepada beberapa orang wanita yang jatuh cinta kepadanya. Tang-Kongcu, hanya itulah yang mereka ketahui she-nya saja, kalau tidak tahu bagaimana wajah aselinya? Dan hiasan kumbang emas itupun tidak dapat memberi keterangan sesuatu, kecuali bahwa wanita itu menjadi korban Ang-hong-cu Si Kumbang Merah. Dia lalu membayangkan bagaimana andaikata dia tidak behasil memutuskan ikatan dengan seorang di antara para korban itu yang menarik hatinya dan dicintainya. Tentu dia akan mengawini wanita itu dan hidup selama puluhan tahun di samping wanita itu, mempunyai beberapa orang anak. Dan kini, tentu dia sudah menjadi kakek, hidupnya terikat erat-erat seperti belenggu pada kaki tangannya, membuatnya tidaj leluasa bergerak! Dia tersenyum cerah. Ah, enakan begini! Bebas merdeka, boleh melakukan apa saja yang dikehendaki dan disenanginya, tampa ada halangan atau ikatan yang mengganggu!. Tiba-tiba dia termenung. Kebebasan inipun terasa membosankan! Orang yang terikat tentu mendambakan kebebasan seperti dia, aneh sekali, kadang-kadang mendambakan ikatan! Memang aneh hidup ini! Yang nampak indah menyenangkan itu hanya segala yang belum didapatkan, belum di miliki, yang sedang dalam pengejaran. Kalau segala yang tadinya di dambakan itu sudah berada dalam tangan, lambat laun takkan terasa lagi keindahannya, bahkan dapat membosankan! Rahasianya terletak kepada keinginan! Keinginan memiliki sesuatu yang tidak atau belum dimiliki menciptakan pengejaran! Dan pengejaran untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan inilah sumber segala konflik, sumber segala kesengsaraan dalam kehidupan ini. Pengejaran akan sesuatu yang belum kita miliki, karena itu lalu kita inginkan, membuat mata kita menjadi seperti buta, tidak lagi melihat apa yang ada pada kita! Mungkinkah kita hidup tampa membiarkan angan-angan menggambarkan keindahan dan kesenangan yang belum kita miliki sehingga kita selalu akan di hinggapi penyakit INGIN mendapatkan segala gambaran angan-angan itu? Tentu saja dapat kalu kita hidup seutuhnya, sepenuhnya menghayati apa adanya! Kalau pikiran kita di curahkan sepenuhnya kepada apa adanya, maka pikiran itu tidak mempunyai waktu luang lagi untuk termenung mengkhayalkan gambaran-gambaran keindahan yang belum ada. Sekali kita di hinggapi penyakit ingin mendapatkan sesuatu yang dianggap indahdan lebih menyenangkan, maka penyakit itu tidak akan pernah meninggalkan kita, kecuali kalau kita menghentikan seketika satu yang diingikan terdapat, timbul lain keinginanyang dianggap lebih baik dan lebih menyenagkan lagi, dan kita terus terseret ke dala lingkaran setan. Bukan berarti kita lalu mandeg, statis, berhenti atau mati, tidak kreatif lagi! Melainkan tidak menginginkan sesuatu yang tidak kita miliki! Dengan cara menghayati segala yang ada pada kita sehingga kita akan mampu melihat bahwa dalam segala sesuatu terdapat keindahan itu! Karena kini bayangan kesenangan dari kebebasnnya itu melenyap, tidak terasa lagi kesenangannya, Si Kumbang Merah lalu merenungkan hal-hal yang baru saja terjadi. Dia terpaksa melarikan diri! Dia, Ang-hong-cu yang perkasa, yang selama puluhan tahun malang-melintang, memetik setiap kembang, menghisap madunya dan menikmati keharumannya lalu mencampakkan begitu saja kembang yang sudah layu dalam remasan tangannya itu, dia kini melarikan diri! Sungguh lucu dan juga menyedihkan! Dia melarikan diri,karena kalau dia tidak lari, sekarang tentu dia telah mati, mungkin tubuhnya akan dihancur-lumatkan oleh para pendekar perkasa itu, yang tentu amat membecinya! Dan yang lebih menyakitkan hatinyalagi, seorang seorang diantara para pendekar itu, bahkan yang paling lihai, adalah seorang pemuda she tang, puteranya sendiri! Dia tidak tahu bagaimana bisa muncul seorang puteranya! Akan tetapi dia merasa yakin bahwa tentu pemuda itu puteranya. Hal itu terbukti dari tiga hal. Petama, pemuda itu memilki sebuah hiasan kumbang emas, kedua, pemuda itu she tang, dan ke tiga dan hal ini amat meyakinkan hatinya, pemuda itu memiliki wajah yang mirip sekali dengan wajahnya di waktu muda! Hanya dia tidak tahu, siapa ibu pemuda itu, yang mana di antara gadis-gadis yang diperkosanya dan di hamilinya!. Pertemuan dengan pemuda yang bernama Tang Hay itu terjadi secara kebetulansaja. Dia mendengar akan adanya pemberontakan oleh para tokoh sesat yang di pimpin oleh Lam-hai-Giam-Lo. Biarpun dia sendiri oleh para pendekar dianggap sebagai seorang penjahat kejam, seorangjai-hwa-cat dan di golongkan sebagai orang sesat, namun sesungguhnya belum pernah dia berkawan dengan golongan sesat. Bahkan dia condong untuk menentang perbuatan jahat dan bertindak sebagai seorang pendekar. Dia hanya mengambil uang dari gudang harta pembesar atau hartawan yang kaya raya, sekedar untuk menutupi kebutuhan hidupnya, bukan untuk bermeah-mewahan. Maka, mendengar akan gerakan Lam-hai Giam-lo dan kawan-kawannyayang dia tahu amat berbahaya bagi keselamatan rakyat, karena perang pemberontakan hanya akan menjatuhkan banyak korban di antara rakyat dan yang sengsara oleh perang hanya rakyat kecil, maka diapun tidak tinggal diam. Dia lalu secara diam-diam membantu pemerintah untuk menentang gerombolan pemberontak ini. Untuk itu, dia menyamar dan memakai nama Han Lojin dan dia telah membuat jasa dalam bantuannya ini. Namun, dalam perjuangan ini, penyakit lamanya kambuh dan diapun tidak mampu menahan diri ketika melihat gadis-gadis pendekar yang cantik jelita dan menawan hati. (Baca Kisah Pendekar Mata Keranjang Bagian Pertama). Secara kebetulan, dia bertemu dengan Tang Hay dan terkesan sekali melihat pemuda ini. Gagah perkasa dan memiliki ilmu kepandaian tinggi, bahkan dia harus mengakui bahwa tingkat kepandaiannya sendiri masih belum mampu menandingi kelihaian pemuda itu! Dan dia merasa yaakin bahwa Tang Hay adalah putera kandungnya, entah dari ibu yang mana! Dan dia melihat betapaTang Hay juga memiliki watak yang sama dengan dia, yaitu mata keranjang! Hanya bedanya, kalau dia setiap kali tertarik seorang wanita, langsung dia lalu melaksanakan hasrat hatinya dan menggoda wanita itu sampai dapat olehnya, baik dengan cara halus maupun kasar, sebaliknya pemuda itu hanya merayu dengan kata-kata saja dan tidak pernah melanjutkan. Bahkan kalau si wanita nampaknya sudah tertarik dan jatuh cinta, pemuda itu selalu mengelak dan tidak pernah mau menggaulinya! Hal ini membuathati Si Kumbang Merah menjadi kecewa dan penasaran sekali. Masa puteranya penakut seperti itu? Sungguh tidak jantan menurut anggapannya! Apakah puteranya yang diam-diam dibanggakannya karena memiliki ilmu silat yang amat tinggi itu ternyata seorang pengecut dan penakut? Ataukah mmempunyai kelainan sehingga tidak mampu menggauki wanita?. Dia melihat betapa dua orang gadis pendekar yang amat cantik dan juga perkasa, diam-diam jatuh cinta kepada Tang Hay. Akan tetapi biarpun selalu bersikap manis bahkan mengeluarkan kata-kata yang merayudan pandai menjatuhkan hati setiap orang wanita, agaknya menganggap pergaulan mereka itu sebagai sahabat biasa saja dan tidak mau melangkah yang jauh. Ketika dia menduga bahwa Tang Hay di kekang oleh perasaan tata susila, hati si kumbang merah seperti tertusuk dan nyeri rasanya! Mereka yang menasihatkan agar pria selalu menghormati wanita ,memperlakukanya dengan sopan,agaknya belom tahu betapa jahatnya hati perempuan,demikian pikirnya.Rasa kecewa dan penasaran ini membuat Ang-hong-Cu bertindak lebih jauh lagi.Dia sengaja memperkosa dua orang pendekar wanita itu,dan sengaja melakukanya di tempat gelap dan dia menanggalkan penyamaranya sehingga wajahnya halus dan kedua orang gadis pendekar itu menduga bahwa pelaku pemerkosaan itu adalah Tang Hay!Biar tau rasa ,pikirnya.Harus kuajar dan kuberi contoh puteraku yang tolol itu! Tentu saja terjadi geger.Dua orang pendekar wanita itu bukanlah orang-orang sembarangan.Yang seorang bernama Pek Eng,berusia tujuh belas tahun dan ia adalah puteri dari ketua Pek-sim-pang perkumpulan yang amat terkenal.Bahkan kakak dari gadis bernama Pek Eng itu adalah seorang pendekar yang amat sakti pula,bernama Pek Han Siong dan di waktu kecilnya amat terkenal dengan sebutan Sin Tong(anak ajaib) yang di jadikan rebutan oleh para tokok Kang-ouw!

Adapun gadis ke dua yang di perkosa Ang-hong-cu adalah seorang pendekar wanita berusia tujuh belas tahun lebih bernama Cia Ling.Dan pendekar wanita yang kedua ini adalah cucu buyut pendekar Lembah Naga,juga masih keluarga dari Cin-ling-pai!

Ketika menyadari bahwa perbuatanya itu akan merupakan ancaman maut bagi Tang Hay,diam-diam Ang-hong-cu merasa menyesal.semua pendekar sakti memusuhi Tang Hay yang disangka pelaku pemerkosaan itu,dan betapapun lihainya pemuda itu,mana mungkin kuat menghadapi para pendekar yang sakti ituy?maka dia pun lalu sengaja meninggalkan tanda hiasan kumbang merah dari emas,sebagai tanda bahwa pemerkosa kedua orang pendekar itu adalah Ang-hong-cu,bukan Tang Hay.

Akan tetapi,setelah melakukan pengakuan ini,dia sendiri harus cepat-cepat melarikan diri!kalau dia tidak lari,dan dia tertangkap sebagai penyamaran Ang-hong-cu,dia bisa mati konyol!

Demikianlah renungan yang bermain di dalam otak Ang-hong-cu Si kumbang merah itu!berkali-kali dia menarik napas panjang,tersenyum-senyum,menghela napas lagi.putreanya itu memang hebat.Hanya sayang,tidak cukup jantan sehingga tidak berani melanjutkan perbuatanya yang sudah dimulai dengan baik sekali itu.Agaknya,kalau puteranya itu mau mewarisi kebiasaanya,Tang Hay tidak perlu banyak melakukan pemerkosaan,karena sebagian besar wanita,mungkin semua,akan bertekuk lutut dan takluk hanya oleh rayuan mautnya!

"Huh,engkau lihai akan tetapi tolol!Memalukan aku yang menjadi ayah!"Akhirnya dia menympah-nyumpah dan bangkit berdiri.Wajahnya sudah cerah kembali karena semua kenangan tadi telah di usirnya.Dia harus mengakui bahwa semua petualangan itu akhirnya membosankanya.Semua wanita itu,yang merengek minta di sayang,atau merengek karena di perkosanya,akhirnya sama saja baginya mendatangkan kemuakan saja! Kalau dulu dia merasakan kenikmatan dan kesenangan yang besar,bukan hanya kesenangan menikmati tubuh para wanita itu,akan tetapi juga menikmati perasaan balas dendam terhadap permpuan pada umumnya,kini dia tidak lagi merasakan kenikmatan dan kesenangan itu.Dia bahkan muak! Kadang-kadang dia merasa seperti dengan binatang jantan yang memaksakan kehendaknya terhadap binatang betina,terjadi pemaksaan untuk pelampiasan nafsu.

"Aku sudah tua sekarang,"pikirnya menghitung-hitung usianya."kalau ku lanjutkan petualanganku seperti yang sudah,apa akan jadinya dengan hari akhirku?"Dia melihat masa depanya suram.Sudah cukup dia membalas sakit hatinya kepada permpuan,dan kini sisa hidupnya harus diisi dengan perbuatan yang berguna,misalnya,mencari kedudukan agar kelak meninggalkan nama besar! Bukankah mendiang ayahnya juga bukan orang sembarangan,melainkan seorang bangsawan tinggi? Tentang ibunya……..ah,dia tidak perlu mengenang ibunya lagi.Semua permpuan memang tidak baik! Ang-hong-cu mengepal tinju.Aku kini akan menjadi seorang yang berjasa terhadap kerajaan,agar aku mendapatkan kedudukan yang mulia.Dengan demikian,hari tuaku akan terjamin,sebagai seorang terhormat dan mulia,bukan sebagai seorang Jai-hwa-cat yang dikutuk semua orang!Dengan pikiran ini wajahnya menjadi cerah sekali dan kini dia melangkahkan kakinya dengan tegap menuruni bukit.Tujuanya adalah kota raja,darimana dia berasal!Dan kini dia tidak perlu lagi menyamar.Dialah Tang Bun An,seorang yang terhormat! Tidak ada hubunganya dengan Ang-hong-cu lagi.

"Kumbang merah,maapkan saja,untuk sementara ini atau mungkin selamanya,namamu akan ku pendam.Kumbang Merah telah lenyap dan muncullah riwayat baru,ha-ha-ha!"

kalu ada kebetulan melihatnya,tentu menganggap bahwa yang sedang melangkah dengan tegap itu adalah seorang pria setengah tua yang tampan berwibawa,berwajah simpatik,ramah dengan mulut selalu tersenyum,sepasang matanya bersinar-sinar,pakaianya seperti seorang sasterawan,rapi dan bersih,seorang yang penampilanya mengesankan dan mendatangkan rasa suka kedalam hati orang lain.

***

Petualangan para tokoh sesat di dunia kang-ouw yang dipimpin oleh mendiang Lam-hai Giam-lo, melakukan pemberontakan, melibatkan banyak sekali tokoh sesat. Karena itu, para pendekarpun turun tangan membantu pemerintah sehingga pemberontakan itu dapat dihancurkan sebelum menjadi-jadi. Banyak sekali tokoh sesat yang tewas dalam pertempuran bebas antara para pemberontak dan pasukan pemerintah, dan antara tokoh-tokoh sesat dan para pendekar. Lam-hai Giam-lo sendiri, yang menjadi pemimpin bersama Kulana, seorang bangsawan dan pelarian Birma yangs akti, tewas dalam pertempuran itu. Hampir semua tokoh sesat yang membantu gerombolan pemberontak itu tewas, kecuali beberapa orang saja. Diantara para tokoh pimpinan, semua tewas kecuali dua orang yang termasuk pimpinan penting. Yang seorang adalah Sim Ki Liong, seorang pemuda berusia sekitar duapuluh dua tahun yang amat lihai karena dia ini adalah murid dari Pendekar Sadis dan isterinya di Pulau Teratai Merah. Murid ini sebenarnya adalah putera bekas musuh yang menyelundup dan berhasil menjadi murid Pendekar Sadis, dan setelah dia pandai, dia minggat, kemudian bergabung dengan para pemberontak. Nyaris dia tewas pula kalau tidak cepat mearikan diri!

Adapun tokoh kedua yang bernama Ji Sun Bu, seorang wanita cantik jelita berusia tigapuluh tahun, seorang wanita cabul berkepandaian tinggi dan berjuluk Tok-sim Mo-li (Iblis Betina Berhati Racun), ketika bertempur sebagai tokoh sesat yang membantu pemberontakan, terjatuh ke dalam jurang dan tidak ada yang tahu bagaimana nasibnya, namun melihat betapa jurang itu amat curam, semua orang mengira bahwa tentu iblis betina inipun telah tewas pula.

Di dalam pertempuran yang mati-matian itu, di pihak para pendekar banyak pula yang roboh dan tewas. Akan tetapi para pendekar yang terpenting, keluar dengan selamat. Diantara para pendekar yang kemudian kembali ke tempat tinggal masing-masing adalah Cia Kui Hong. Ia seorang gadis yang kini usianya sudah sembilan belas tahun. Wajahnya manis sekali, dengan mulut yang penuh gairah, hidungnya kecil mancung dan ujungnya, yaitu cupingnya dapat bergerak-gerak lucu, matanya tajam berkilat, kadang-kadang lembut dan jenaka. Sikapnya selalu manis dan jenaka, namun berandalan dan gagah perkasa. Muka yang bulat telur dengan dagu runcing itu memang manis. Sepasang pedang yang tergantung dipunggungnya mendatangkan kesan gagah berwibawa. Ia bukan seorang gadis biasa, walaupun manis sekali menggetarkan jantung setiap pria yang memandangnya. Ia adalah puteri ketua Cin-ling-pai. Ini saja sudah dapat menjadi bahan perkiraan bahwa tentu ia telah memiliki ilmu silat yang amat hebat, warisan dari ayah ibunya. Lebih hebat lagi, ibunya adalah puteri Pendekar Sadis dari Pulau Teratai Merah! Dan gadis inipun selain mewarisi ilmu dari ibunya, juga pernah digembleng oleh kakek dan neneknya, sepasang suami isteri sakti di Pulau Teratai Merah. Maka, dapat dibayangkan betapa lihainya Cia Kui Hong, gadis manis itu!   Ketika terjadi pertempuran antara para tokoh sesat yang membantu pemberontakan dan para pendekar yang membantu pemerintah, Cia Kui Hong juga ikut berperan, bahkan ia merupakan seorang diantara tokoh-tokoh penting. Setelah pertemuan selesai, gadis inipun berpisah dari para pendekar lainnya, dan ia langsung pulang ke Cin-ling-pai, yaitu perkumpulan yang diketuai ayahnya di Pegunungan Cing-lin-san.

Cin-ling-pai merupakan sebuah diantara perkumpulan-perkumpulan atau perguruan silat yang besar pada waktu itu. Banyak pendekar besar gagah perkasa dan budiman datang dari Cin-ling-pai, sebagai murid perguruan ini. Perguruan ini amat terkenal karena memang murid-muridnya pilihan, dan perkumpulan itu memegang teguh peraturan, berdisiplin dan keras terhadap murid-muridnya sehingga sudah terkenal di dunia persilatan bahwa Cin-ling-pai adalah tempat orang-orang gagah. Ketika Kui Hong meninggalkan Cin-ling-pai untuk membantu pemerintah membasmi pemberontak, terjadilah hal-hal yang hebat dalam keluarga ayahnya.

Ayahnya, Cia Hui Song yang menjadi ketua Cin-ling-pai, hanya mempunyai seorang anak saja, yaitu ia seorang. Hal ini membuat kakeknya, yaitu Cia Kui Liang merasa tidak puas. Kakek ini menginginkan seorang cucu laki-laki, seorang keturunan yang akan melanjutkan silsilah keluarga Cia. Karena itu, dia memaksa puteranya untuk menikah lagi agar dapat memperoleh keturunan laki-laki.

Hal ini menimbulkan masalah besar dalam keluarga Cia.Istri ketua itu,Ceng Sui Cin,ibu Kui Hong,adalah seorang wanita yang keras hati,puteri pendekar sadis ini sama sekali tidak setuju dan menantang kehendak ayah mertuanya itu,Hui Song yang menjadi bingung,berada di tengah antara ayahnya dan istrinya.Dia tidak mampu menolak kemauan ayahnya,maka terpaksa dia menikah lagi dengan seorang wanita muda bernama Siok Bi Nio,yang usianya hanya tiga tahun lebih tua dari Kui Hong puterinya! Hal ini membuat isterinya marah.Ceng Sui Cin mengajak puterinya meninggalkan Cin-ling-pai dan pulang ke pulau Teratai Merah.Dimana Kui Hong di gembleng oleh kakek dan neneknya.

Pernikahan antara Cia Hui Song dan isterinya yang muda itu benar saja telah menghasilkan seorang anak laki-laki yang di beri nama Cia Kui Bu.Setelah Kui Bu berusia dua tahun,Hui Song yang merasa rindu kepada isterinya yang pertama dan merasa berdosa,memberanikan diri pergi menghadap mertuanya dan isterinya di Pulau teratai Merah.Dia mengaku bersalah dan membujuk isterinya agar suka kembali ke Cin-ling-pai.Akan tetapi isterinya mengajukan syarat, bahwa kalau ia kembali ke Cin-ling-pai,maka Siok Bi Nio harus di bunuh,dan ia mau memelihara Cia Kui Bu sebagai anak sendiri.memang keras sekali hati puteri tunggal pendekar sadis itu.Hui Song menyerahkan keputusanya kepada isterinya yang pertama dan merekapun pergi ke Cin-ling-pai

Setelah tiba di situ, Siok Bi Nio maklum akan isi hati suaminya dan juga madunya. Wanita ini telah terlanjur mencinta suaminya dan mau melakukan apa saja demi kebahagiaan suaminya. Hui Song menceritakan secara terus terang kepada Bi Nio tentang kehendak Sui Cin, dan Sui Cin pun bukan seorang yang jahat dan kejam. Ia menghendaki agar Bi Nio pergi, dan ia akan merawat Kui Bu seperti anaknya sendiri. Hancur rasa hati Bi Nio disuruh berpisah dari puteranya. Tentu saja ia tidak mau, dan ia lalu memondong puteranya untuk dibawa pergi dari situ. Pada saat itu, Cia Kong Liang, ayah Sui Hong, merampas cucunya dari tangan ibunya, melarang Bi Nio membawa pergi Kui Bu.

Bi Nio yang merasa terdesak dan terhimpit, hanya melihat satu jalan untuk mengatasi semua masalah itu. Ia ingin melihat suaminya berbahagia, akan tetapi iapun tidak mungkin dapat hidup berpisah dari puteranya. Maka, diluar dugaan semua orang, Bi Nio membunuh diri!

Peristiwa ini menghancurkan hati keluarga itu. Semua merasa berdosa terhadap Bi Nio, Cia Kong Liang lalu mengurung diri di dalam kamar samadhi dan tidak mau lagi mencampuri urusan dunia, seolah-olah hendak menghukum dirinya dan hendak menghabiskan waktunya untuk minta ampun kepada Tuhan. Cia Hui Song yang merasa berdosa terhadap isteri mudanya,dan menayadari betapa besar cinta kasih Bi Nio kepadanya, juga lalu membuat pondok kecil di dekat makam Bi Nio dan menjaga makam itu sambil bertapa! Tinggal Sui Cin yang juga merasa menyesal dan untuk menebus perasaan bersalah, ia merawat Kui Bu dengan penuh kasih sayang, seperti merawat puteranya sendiri. Cin-ling-pai menjadi pincang para murid menjadi bingung karena mereka seolah-olah kehilangan pimpinan, kehilangan guru dan ketua. Ketua lama, Cia Kui Liang, mengurung diri dalam kamar dan tidak mau mencampuri segala urusan. Ketua baru, Cia Hui Song, juga acuh dan tak pernah mau meninggalkan makam isteri mudanya! Masih untung bahwa Ceng Sui Cin cukup berwibawa dan lihai sehingga para murid dan anggauta Cin-ling-pai masih segan kepadanya dan mereka itu masih dapat dikendalikan oleh nyonya ketua itu.

Dalam keadaan seperti itu Cin-ling-pai menyambut pulangnya Cia Kui Hong yang baru saja datang dari petualangannya membantu pemerintah membasmi gerombolan pemberontak! Dapat dibayangkan betapa kagetnya Kui Hong, apalagi ketika ibunya menyambutnya dengan rangkulan dan ibunya menangis tersedu-sedu tanpa mengeluarkan sepatah pun kata! Ia sama sekali tidak pernah menduga bahwa ia akan bertemu ibunya di Cin-ling-pai. Ketika ia pergi, ibunya masih ada di Pulau Teratai Merah, tempat tinggal kakek dan nenenknya. Ia tidak tahu bahwa ayahnya telah berkunjung ke pulau itu dan berhasil membujuk Ceng Sui Cin, ibunya, pulang ke Cin-ling-pai. Hal ini tentu saja akan menggirangkan hatinya, kalau tidak melihat ibunya menyambutnya dengan rangkulan dan tangisan. Padahal, ia mengenal betul siapa ibunya, seorang wanita yang keras hati, tabah dan biasanya pantang memperlihatkan kedukaan hatinya, bahkan hampir tidak pernah ia melihat ibunya menangis. Seorang pendekar wanita sejati! Dan kini, ibunya menyambutnya dengan rangkulan dan menangis tersedu-sedu di atas pundaknya.

"Ibu ….. ibu……, ada apakah? Kenapa ibu menangis? Di mana ayah dan …… kong-kong……?" Ia tentu saja menduga hal-hal yang buruk mungkin menimpa diri ayahnya atau kakeknya.

Ceng Sui Cin tidak lama menangis. Ia segera dapat menguasai dirinya dan kini ibu dan anak itu saling pandang. Kui Hong melihat bahwa terjadi perubahan pada ibunya. Kini ibunya agak kurus dan matanya sayu. Sebaliknya, Sui Cin gembira melihat keadaan puterinya, yang bukan saja pulang dalam keadaan selamat, akan tetapi juga nampak sehat dan gagah perkasa, semakin cantik pula.

"Mari kita bicara di dalam," kata ibu ini sambil menggandeng tangan puterinya. Mereka masuk ke dalam dan kembali Kui Hong merasa heran karena rumah itu kelihatan sunyi sekali. Hanya beberapa orang pelayan yang menyambutnya dengan pemberian hormat. Tidak nampak isteri muda ayahnya. Tidak nampak pula mrid Cin-ling-pai. Ketika tadi ia memasuki pintu gerbang Cin-ling-pai, ia sudah melihat perubahan yang mencurigakan. Para murid nampaknya bermalas-malasan menyambutnya, padahal mereka sudah tahu akan kedatangannya dan dahulu, Kui Hong amat disayang oleh para murid Cin-ling-pai. Kini mereka hanya menyambutnya dengan sikap dingin saja, dan hanya beberapa orang yang nampak gembira.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar