02 Pendekar Kelana

"Suhu terluka……?" tanyanya lirih.

Yok-sian mengangguk, membuka mata memandang kepada Tang Sin yang sudah menjatuhkan diri berlutut di depannya. Yok-sian berkata kepada muridnya.

"Si Kong, kau cepat periksa dia dan obati sampai sembuh."

Si Kong memenuhi permintaan gurunya. Dia memeriksa tubuh Tang Sin yang lemah. Ternyata Tang Sin juga terluka oleh pukulan beracun seperti halnya Lu Tung San.

Maka cepat dia menotok dan menekan beberapa jalan darah di tubuhnya dan memasakkan obat dengan bantuan para pengemis baju berkembang dan memberikan obat itu kepada Tang Sin.

"Si Kong, mari kita pergi dari sini!" kata Yok-sian kepada muridnya sambil bangkit berdiri. Wajahnya masih pucat akan tetapi dia tetap penuh senyum.

"Kami menghaturkan terima kasih kepada locianpwe Yok-sian Lo-kai!" kata Lu Tung San.

"Sudahlah, di antara kita mana ada budi dan terima kasih? Semua yang kita lakukan adalah kewajiban kita. Dan engkau, Hek I Kai-pangcu, engkau pun mempunyai kewajiban.

Bantulah ketua Hwa I Kaipang untuk menyadarkan para anggautanya yang dibawa menyeleweng oleh Ouwyang Kwi. Bantu dia membawa anak buahnya ke jalan lurus kembali. Sekarang, biarkan kami pergi melanjutkan perjalanan kami."

Tang Sin dan Lu Tung San yang berterima kasih itu mencoba untuk mencegah kepergian kakek itu, akan tetapi sia-sia belaka. Mereka hanya dapat mengantar sampai di luar gedung dan membiarkan Yok-sian Lo-kai dan Si Kong pergi dari situ.

"Kita mencari tempat yang sunyi. Aku…….. ingin beristirahat." kata Yok-sian.

Si Kong membawanya keluar kota Souw-ciu dan melihat ada sebatang pohon besar di sebelah kanan jalan, Si Kong mengajak gurunya ke sana dan Yok-sian duduk bersila di bawah pohon.

"Suhu, biarkan teecu (murid) memeriksa keadaan suhu."

"Aku sudah tahu keadaanku. Aku terserang hawa beracun dari Naga Tua itu. Terluka parah sekali. Aku tidak akan mampu lagi mengerahkan tenaga sinkang sampai lama."

"Suhu, apakah tidak ada obatnya untuk mengobati luka suhu?"

Yok-sian menggeleng kepala. "Salahku sendiri. Kalau aku mengaku kalah dan tidak menahan, tentu tidak akan terluka sampai seperti ini. Diapun terluka, sama parahnya dengan aku. Dia dan aku kini menjadi orang-orang tua tanpa daya dan untuk memulihkan keadaanku, aku harus menghimpun tenaga dari hawa murni, entah selama berapa tahun lagi."

Tentu saja Si Kong merasa prihatin sekali. "Suhu, biarlah teecu berusaha untuk membantu suhu mengusir mengusir hawa beracun itu." Katanya dan diapun lalu bersila di belakang tubuh suhunya dan menempelkan kedua tangannya di punggung Yok-sian sambil mengerahkan tenaga saktinya. Akan tetapi alangkah kagetnya ketika terasa olehnya ada hawa yang amat panas menyerangnya dan membuatnya terpelanting.

"Jangan kaulakukan itu, percuma saja, bahkan engkau bisa terluka. Tenaga dalamku menjadi kacau dan keracunan. Aku membutuhkan waktu lama untuk memurnikannya kembali." kata Yok-sian Lo-kai.

Si Kong merasa sedih melihat keadaan gurunya. Dia mengusulkan kepada gurunya untuk bermalam di sebuah penginapan dan dia sendiri ingin bekerja mencari uang untuk membayar sewa kamar. Akan tetapi gurunya tidak setuju.

"Pengemis-pengemis menginap di rumah penginapan? Kita hanya akan diejek dan diusir. Sudahlah, aku tidak membutuhkan tempat yang baik, hanya membutuhkan tempat yang sunyi."

Akhirnya Si Kong menemukan sebuah kuil tua yang kosong, beberapa li jauhnya dari kota Souw-ciu. Dia mengajak suhunya untuk tinggal di kuil itu. Dan setiap pagi dia pergi ke kota Souw-ciu pulangnya membawa makanan dan juga obat penguat badan untuk gurunya. Dia bekerja apa saja untuk mendapatkan uang guna keperluan itu.

Setelah tiga bulan tinggal di kuil itu dan setiap hari dia bekerja sebagai buruh kasar, pada suatu siang ketika dia kembali ke kuil tua, gurunya sudah tidak ada di tempat itu! Si Kong menjadi bingung dan khawatir, akan tetapi dia menemukan coret-coretan di dinding sebelah dalam. Itu adalah tulisan Yok-sian Lo-kai yang dilakukan dengan ujung tongkatnya.Si Kong,

Aku terpaksa meninggalkanmu. Aku tidak ingin melihat engkau bersusah payah untuk mengurus diriku. Aku hanya membutuhkan istirahat selama beberapa tahun. Engkau merantaulah seorang diri dan pergunakanlah apa yang kaupelajari dariku untuk menegakkan kebenaran dan keadilan. Selamat tinggal.

Si Kong menjadi lemas. Seperti orang kebingungan dia lari keluar dan mencari ke sana-sini, untuk mengejar suhunya. Akan tetapi usahanya itu gagal dan akhirnya dia kembali ke kuil menjatuhkan dirinya duduk di lantai yang biasa diduduki gurunya dan termenung. Dia merasa nelangsa, merasa kesepian. Setelah hidup bersama Yok-sian Lo-kai selama lima tahun, orang tua itu sudah melekat di hatinya, menjadi satu-satunya orang yang dekat dengannya. Kini, tiba-tiba saja gurunya pergi karena tidak ingin menyusahkannya! Bagaimana hatinya tidak akan merasa sedih. Padahal, dengan senang hati dia ingin merawat suhunya sebagai pembalas budi. Akan tetapi orang tua itu tidak mau dan meninggalkannya.

Selama ini dia merasa hidupnya bahagia. Biarpun harus hidup sebagai seorang pengemis, namun dia tidak pernah merasa susah. Kemanapun dia merasa berbahagia karena gurunya selalu tersenyum dan tertawa katanya menertawakan dunia dan manusianya yang serba palsu dan lucu.

Si Kong merasa kesepian dan ditinggalkan kebahagiaan. Rasanya berat harus hidup seorang diri, seolah kehilangan pegangan. Kemana dia harus pergi? Ketika bersama gurunya tak pernah dia tanya hal ini. Seolah dengan sendirinya dia harus pergi kemana gurunya pergi dan gurunya itupun tidak pernah mempunyai rencana harus pergi kemana.

Dia teringat akan kata-kata gurunya. Manusia mencari kebahagiaan ke mana-mana dan dengan segala cara, namun tidak pernah dapat menemukan kebahagiaan itu. Menurut gurunya, kebahagiaan tidak bisa ditemukan kalau dicari. Kebahagiaan adalah suatu keadaan batin yang tidak diganggu oleh gejolaknya nafsu. Selama nafsu masih bergejolak dalam batin, tidak mungkin manusia dapat berbahagia, karena dia akan terbentur dengan halangan-halangan dalam mengejar kesenangan seperti yang dikehendaki oleh nafsu.

Dalam keadaan tidak berbahagia, bagaimana mungkin menemukan kebahagiaan? Kalau keadaan yang tidak berbahagia itu tidak ada lagi, manusia tidak lagi membutuhkan kebahagiaan. Kenapa? Karena dia sudah bahagia! Kebahagiaan itu sudah ada selalu dalam diri manusia sendiri, namun terselubung oleh bermacam persoalan dan kesukaran yang menjadi akibat dari menuruti nafsu diri.

Seperti orang yang mencari kesehatan. Bagaimana mungkin akan dapat mengalami kesehatan kalau tubuhnya sedang sakit? Daripada mencari kesehatan yang tak mungkin dia temukan, lebih baik meneliti dirinya sendiri yang sakit, mengusahakan agar penyakit itu lenyap. Kalau dirinya sudah tidak dihinggapi penyakit lagi, apakah dia butuh mencari kesehatan? Tidak perlu lagi karena dia sudah sehat!

Manusia biasanya tidak dapat menikmati kesehatan kalau dia sehat. Baru merindukan kesehatan kalau dia sakit. Demikian pula manusia tidak dapat menikmati kebahagiaan kalau dia berbahagia. Baru merindukan kebahagiaan dikala dia sedang tidak berbahagia. Hidup itu sendiri adalah indah, hidup itu sendiri adalah bahagia. Mengapa repot-repot mencari kebahagiaan dengan segala cara?

Setelah merenungkan kembali apa yang pernah dia dengar dari Yok-sian Lo-kai, Si Kong merasa terhibur. Kalau dia merasa kehilangan dan kesepian, itu sama saja dengan mengundang ketidak-bahagiaan dalam hatinya. Kata gurunya hidup haruslah berani mandiri, tidak boleh terikat atau tergantung kepada apa dan siapapun juga. Hidup adalah miliknya sendiri, akan diisi apapun terserah kepada dirinya sendiri.

Dia bangkit berdiri, merasa lega dan merasa kuat. Aku memang sudah semestinya hidup sendiri. Demikian pikirnya. Aku sudah yatim piatu dan tidak memiliki apa-apa. Aku akan merantau, seperti yang dilakukan suhu. Aku harus berani dan menempuh kehidupan ini dengan tabah dan gembira.

Aku harus menjadi seoang kelana, pergi kemana saja menurutkan arah kakinya melangkah. Terbang bebas lepas di udara seperti seekor burung. Kata gurunya, burung yang kecil-kecil dan penakut terbang berkelompok dan tidak berani menyendiri. Akan tetapi burung rajawali berani terbang melayang dengan lepas bebas seorang diri saja, menghadapi kehidupan ini seorang diri tanpa rasa takut.

"Aku akan berkelana! Terima kasih atas segala petunjuk dan bimbinganmu suhu!" katanya keras-keras, lalu dia keluar dari kuil itu mulai dengan pengembaraannya.

Setelah berkelana seorang diri Si Kong meninggalkan pula kebiasaannya memakai pakaian seperti pengemis, yaitu tambal-tambalan. Dengan tubuhnya yang kuat dan tenaganya yang besar, mudah baginya mencari pekerjaan kasar yang menghasilkan sedikit uang dan mulailah dia membeli pakaian yang sederhana namun tidak ada tambalannya. Dia berkelana dari kota ke kota, dari dusun ke dusun, dan berhenti beberapa bulan lamanya untuk bekerja. Setelah mendapatkan uang, dia berkelana lagi.

Pada suatu pagi, dia berjalan dengan santai mendaki sebuah bukit kecil. Dia baru saja meninggalkan kota Pu-han di mana dia tinggal sebulan lamanya untuk bekerja. Kini dia melanjutkan kelananya dengan mengantungi uang hasil pekerjaannya. Hatinya terasa ringan, segala yang nampak kelihatannya indah.

Matahari belum naik tinggi, sinarnya masih kemerahan. Pemandangan di bukit kecil itu pada pagi hari amatlah indahnya. Burung-burung berkicau, siap meninggalkan sarangnya di mana dia melewatkan malam gelap. Para petani sepagi itu sudah menuju ke sawah ladangnya membawa cangkul. Semua nampak indah berseri dan seperti itulah seyogyanya kehidupan ini. Namun sayang, batin selalu mudah terguncang sehingga menimbulkan perasaan tidak bahagia.

Si Kong mendaki makin tinggi dan di dekat puncak bukit sudah tidak ada lagi sawah ladang, melainkan padang rumput dan hutan di sana-sini. Tiba-tiba dia mendengar suara orang menyanyikan sajak. Jantungnya berdebar. Gurunya, Yok-sian Lo-kai yang biasa bernyanyi seperti itu! Akan tetapi suaranya agak lain. Dia mempercepat langkahnya dan dapat menyusul seseorang yang berjalan sambil menyanyikan sajak.
"Sebelum timbul girang dan marah
sebelum terasa senang dan susah
batin berada dalam
keadaan bimbang.
Apa bila perasaan itu timbul
namun dapat mengendalikan
batin berada dalam
keadaan keselarasan.
Keseimbangan dasar
termulia di dunia
dan keselarasan adalah
alan utama di dunia"

Si Kong segera mengenal kata-kata itu. Dia sudah banyak mempelajari ayat-ayat dari kitab-kitab agama dari Yok-sian. Maka diapun mengenal syair yang dinyanyikan itu, ialah sebagian daripada isi kitab Tiong Yong. Karena suara orang itu terdengar lantang gembira, dia terbawa gembira dan seperti tanpa disadari diapun menyambung nyanyian itu dengan suaranya yang lantang.
"Apabila Keseimbangan dan Keselarasan
dilaksakan dengan sempurna,
maka keberesan abadi meliputi
langit dan bumi,
dan segala mahluk dan benda
terpelihara dengan baik."

Mendengar ini, orang itu menghentikan langkahnya dan menoleh. Dia seorang laki-laki berusia limapuluh tahun, tubuhnya kurus kering seperti pohon kekeringan, namun wajahnya tampan dengan kumis dan jenggot terpelihara baik-baik. Orang itu membelalakkan matanya dan nampak keheranan setelah melihat bahwa orang yang menyambung sajaknya itu hanyalah seorang pemuda remaja! Dia berhenti melangkah dan menanti sampai Si Kong datang dekat.

"Engkau hafal akan ujar-ujar dalam kitab Tiong Yong?" tanya orang itu, masih keheranan. "Engkau tentu seorang anak yang terpelajar!"

Si Kong tersenyum dan memberi hormat. "Paman, saya tidak pernah bersekolah atau belajar, saya hanya menirukan apa yang pernah di katakan suhu."

"Siapa suhumu?"

Dengan bangga Si Kong menjawab, "Suhu adalah Yok-sian Lo-kai."

"Ah, dia? Pantas engkau hafal ayat-ayat Tiong Yong. Akan tetapi apakah engkau mengerti akan artinya ayat-ayat itu?"

"Justru artinya yang membingungkan aku, paman. Suhu tidak pernah menjelaskan dan hanya mengatakan bahwa kelak aku akan mengerti sendiri."

"Mengerti sendiri memang dapat, akan tetapi ada kemungkinan pengertian itu menyeleweng dari arti yang sebenarnya.

Nah, dengarlah baik-baik anak muda.

Batin manusia seperti yang telah ada padanya sejak lahir memiliki Watak Aseli yang sifatnya tenteram, lurus dan seimbang.

Akan tetapi apabila batin diguncangkan oleh perasaan seperti suka dan duka, senang dan marah, maka keseimbangannya dapat menjadi goyah dan miring dan kalau demikian halnya, maka dia akan meninggalkan Tao atau Jalan Kebenaran atau Hukum Alam.

Akan tetapi manusia disertai pula oleh nafsu-nafsu daya rendah yang saling berebut untuk menguasainya, maka tidak dapat dielakkan lagi berbagai macam guncangan itu akan menerjangnya dalam kehidupan, seperti sebuah biduk tak terbebas dari guncangan ombak.

Akan tetapi kalau dia sedang diguncang nafsu, namun dapat mengendalikan perasaan itu, maka akan terciptalah keselarasan.

Sudah manusiawi kalau mendapatkan sesuatu yang tidak enak, manusia berduka, apabila melihat kejadian yang tidak adil, dia marah, akan tetapi kalau semua itu dapat dia kendalikan, maka segalanya akan selaras dan dia tidak akan tenggelam ke dalam perasaan itu dan pertimbangannya akan tetap tegak dan berimbang.

Demikian pula kalau menghadapi sesuatu yang mendatangkan perasaan suka dan girang, dia tidak akan mabuk dan menjadi bangga, angkuh, serakah dan selanjutnya.

Demikianlah, maka seperti yang kau nyanyikan tadi, apabila Keseimbangan dan Keselarasan dapat dilaksanakan dengan sempurna, maka langit dan bumi akan menjadi beres dan tenteram, dan kehidupan di dunia akan penuh kebahagiaan."

Si Kong memandang kagum. Jelas bahwa orang ini seorang sastrawan, atau setidaknya seorang yang terpelajar tinggi. Dia segera memberi hormat dan berkata, "Paman, terima kasih atas penerangan semua itu. Kalau begitu, dalam kitab Tiong Yong terdapat pelajaran tentang kehidupan yang amat mendalam."

"Dalam kitab suci, tentu saja tersimpan pelajaran yang amat mendalam. Hanya persoalannya, kalau hanya dipelajari dan tidak dilaksanakan, maka pelajaran itu menjadi benda yang tidak ada gunanya sama sekali."

Si Kong menghela napas panjang. "Tepat sekali, paman. Akan tetapi mengapa di dunia ini terdapat lebih banyak kejahatan daripada kebaikan, terdapat demikian banyaknya orang jahat padahal di dunia ini terdapat pelajaran agama yang demikian indah dan mendalam?"

"Ha-ha-ha-ha!" Sastrwan itu terbahak, mengingatkan Si Kong akan gurunya yang mempunyai kebiasaan tertawa lepas.

"Mudah sekali menjawabnya. Karena manusia disertai nafsu-nafsu daya rendahnya yang selalu ingin menguasainya.

Nafsu-nafsu daya rendah sudah menguasai manusia lahir batin, lebih kuat karena memang manusia itu lemah sehingga manusia menjadi budak dari nafsunya.

Bahkan pikirannya sudah dikuasai nafsu sehingga biarpun dia tahu bahwa melakukan perbuatan yang menyimpang dari kebenaran, pikiran yang sudah dikuasai nafsu itu selalu mencoba untuk membelanya dan membenarkan tindakannya yang menyimpang dari kebenaran itu.

Maka orang bijaksana jaman dahulu selalu mengingatkan manusia agar berhati-hati menghadapi musuh dalam selimut, yaitu nafsu-nafsunya sendiri."

"Wah, paman. Sungguh jelas apa yang paman terangkan itu! Terima kasih paman."

"Dan engkau juga seorang anak yang aneh. Masih remaja akan tetapi sudah tertarik akan soal-soal kehidupan."

"Tentu saja, paman. Bukankah saya inipun manusia hidup yang harus tahu akan kehidupan, bukan?"

"Ha-ha-ha, engkau juga cerdik Siapakah namamu orang muda?"

"Nama saya Si Kong, paman."

"Si Kong? Nama yang bagus, engkau harus berhati-hati kalau mempunyai nama yang bagus, karena engkau harus menyesuaikan perbuatanmu dengan namamu itu! Kau tidak ingin tahu namaku?"

"Tentu saja, paman. Paman tentu seorang yang terkenal sekali di dunia."

"Ha-ha-ha, orang-orang menyebut aku Kwa Siucai (Pelajar Kwa) dan ada pula yang menyebutku Penyair Gila! Orang-orang itu membenciku karena aku suka berterus terang menyatakan watak-watak mereka yang buruk. Aku seorang peramal, heh-heh!"

"Saya tidak suka diramal nasib saya, paman."

"Kenapa?"

"Tahu lebih dulu akan nasib diri mendatangkan banyak kerugian. Kalau nasibnya baik akan membuat dia sombong dan tekebur, sebaliknya kalau mengetahui nasibnya buruk akan membuat dia putus asa dan murung. Tidak, saya lebih baik tidak mengetahui dan menanti saja apa yang akan datang menimpa diri kita."

"Ha-ha-ha, cocok sekali! Aku sendiripun tidak suka meramalkan nasib sendiri. Tapi orang-orang bodoh itu ingin sekali menjenguk masa depan mereka.

Dan aku hidup bebas dari rasa takut. He, Si Kong, banyak sikap yang sama di antara kita, dan melihat bentuk tubuhmu, aku tidak akan merasa heran kalau engkau lihai dalam ilmu silat. Bukankah gurumu Yok-sian Lo-kai yang lihai?"

"Saya hanya mempelajari beberapa macam pukulan dengan tongkat ini, paman."

"Ah, engkau tentu sudah pandai mainkan Ta-kaw Sin-tung!"

Si Kong tertegun. Orang ini memang aneh. Ternyata pandai pula menebak ilmu silat yang dia pelajari dari Yok-sian Lo-kai.

"Bagaimana paman dapat mengetahuinya?"

"Engkau masih muda, sebetulnya tidak membutuhkan tongkat, akan tetapi engkau selalu membawa tongkat bambu.

Apalagi kalau tidak pandai Ta-kaw Sin-tung, Tongkat Sakti Pemukul Anjing yang tersohor itu?"

"Ah, saya hanya bisa sedikit saja, paman."

"Ada nasihat yang dikatakan orang-orang di dunia kangouw bahwa semakin orang merendahkan diri, makin lihailah dia!

Sudah lama sekali aku mendengar tentang Tongkat Sakti Pemukul Anjing yang kabarnya telah mengalahkan banyak anjing dan srigala di dunia kangouw. Sekarang aku bertemu denganmu, ingin sekali aku merasakan bagaimana lihainya ilmu tongkat itu."

"Ah, paman hanya main-main saja. Aku tidak akan mau menggunakan tongkat ini untuk memukul paman. Tongkat ini kubawa hanya untuk memukul anjing-anjing dan srigala."

"Nah, anggap saja aku ini anjing atau srigala!"

"Tidak, paman adalah seorang yang baik hati. Aku tidak ingin berkelahi dengan paman."

"Aku hanya ingin mencoba kelihaian tongkatmu, bukan mengajakmu berkelahi. Sekarang begini saja. Aku akan menyerangmu dan kau lawanlah dengan Ta-kaw Sin-tung. Awas, aku mulai!"

Setelah berkata demikian, Kwa Siucai atau Penyair Gila itu sudah menerjang ke depan dan tangannya menghantam ke arah dada Si Kong.

Pemuda ini terkejut bukan main ketika dari tangannya yang menghantam itu menyambar hawa pukulan yang amat kuat! Kiranya Penyair Gila ini memiliki tenaga sin-kang yang amat hebat.

Diapun cepat mengelak sambil memutar tongkatnya. Begitu serangan pertamanya luput, Kwa Siucai sudah menyusul dengan serangan kedua yang lebih cepat dan lebih kuat.

Kini terpaksa untuk membela diri Si Kong mainkan Ta-kaw Sin-tung, menangkis, memutar tongkat melindungi dirinya dan balas menyerang.

Dalam ilmu tongkat Ta-kaw Sin-tung, balas menyerang merupakan gaya melindungi diri yang paling tepat. Kalau orang diserang anjing, dia harus membalas dengan serangan, bukan hanya mengelak saja, demikian inti ilmu tongkat itu.

Kwa Siucai tertawa terbahak karena girang melihat betapa pemuda itu mainkan ilmu tongkat yang ingin sekali dilihatnya itu.

Dan setelah Si Kong menyerangnya secara bertubi, barulah dia menjadi repot melayaninya. Memang ilmu tongkat itu aneh bukan main.

Yang dipukul kepala akan tetapi tahu-tahu ujungnya yang lain menotok ke arah kaki. Kalau yang dipukul bagian tubuh yang kanan, ujungnya yang lain menyerang tubuh kiri! Anjing-anjing memang akan menjadi bingung dan terkena pukulan kalau diserang seperti itu!

Si Kong tidak ingin melukai Kwa Siucai, maka tongkatnya hanya mendesak saja dan tidak pernah dia memukul dengan sungguh-sungguh walaupun kedua ujung tongkatnya menyerang silih berganti dan tidak memberi peluang kepada lawan untuk membalas menyerang.

"Bagus, Si Kong. Bagus sekali! Akan tetapi sekarang berhati-hatilah engkau!"

Tiba-tiba saja tubuh Kwa Siucai yang diserangnya itu lenyap! Dari hawa pukulannya yang datang dari belakang tahulah dia bahwa lawannya telah berada di belakangnya. Dia membalik dan memutar tongkatnya untuk menyerang, akan tetapi hanya kelihatan berkelebatnya bayangan orang dan tahu-tahu Kwa Siucai sudah lenyap pula.

Tiba-tiba orang itu sudah berada di sebelah kananya. Kini Si Kong yang menjadi repot.

Dia harus terus menangkis pukulan yang datangnya dari semua penjuru seolah tubuh Kwa Siucai berubah menjadi puluhan banyaknya!

Tahulah dia dengan hati kagum dan kaget bahwa Kwa Siucai sebenarnya seorang sakti yang memiliki ilmu meringankan tubuh yang sudah mencapai sempurna sehingga dia seperti pandai menghilang saja!

Karena terus diserang dari berbagai penjuru dan sama sekali dia tidak dapat balas menyerang, Si Kong sampai mandi keringat menjaga diri dari serangan yang tiba-tiba datangnya itu.

Akan tetapi, mendadak setelah Si Kong kehilangan lagi bayangan Kwa Siucai, tahu-tahu tongkatnya terpegang ujungnya dari belakang.

Dia mempertahankan tongkatnya sehingga tidak dapat dirampas, akan tetapi dia pun tidak dapat menggerakkan lagi tongkatnya!

"Ha-ha-ha, memang bukan kosong saja berita tentang kehebatan Ta-kaw Sin-tung! Aku kagum sekali, Si Kong!"

Si Kong adalah seorang pemuda remaja yang cerdik bukan main. Dari pengalamannya bertanding tadi, tahulah dia bahwa dia berhadapan dengan seorang yang sakti yang memiliki ilmu silat tinggi.

Maka, tanpa banyak cakap lagi dia segera menjatuhkan diri berlutut di depan Penyair Gila itu.

"Locianpwe telah membuka mata saya untuk melihat ilmu meringankan tubuh yang luar biasa sekali. Mohon petunjuk, locianpwe!"

"Ha-ha-ha-ha! Bagus sekali, Si Kong. Tadi ketika bertemu pertama kali melihat engkau dapat menghafal ujar-ujar dalam kitab Tiong Yong, aku sudah tertarik sekali padamu.

Sekarang melihat engkau mainkan Ta-kaw Sin-tung, aku lebih kagum lagi. Agaknya kita memang berjodoh, Si Kong. Bagaimana kalau engkau menjadi muridku?"

Memang inilah yang dikehendaki Si Kong. Maka, tanpa banyak cakap lagi dia sudah memberi hormat sambil berlutut dan berkata, "Teecu (murid) akan menaati semua perintah suhu!"

Kwa Siucai menjadi girang sekali.

"Bagus! Nah, bangkitlah dan perhatikan semua petunjukku. Kejarlah aku!"

Dan tiba-tiba saja tubuh Kwa Siucai sudah melesat seperti anak panah terlepas dari busurnya, sebentar saja sudah jauh.

Melihat ini, Si Kong menjadi gembira dan dia pun melompat dan mengejar.

Akan tetapi betapapun dia mengerahkan tenaga untuk berlari secepatnya, tetap saja dia tidak mampu mengejar, padahal Kwa Siucai kelihatan melangkah dengan santai saja.

Dipandang sepintas lalu, seolah kedua kaki Penyair Gila itu tidak menyentuh tanah!

Napas Si Kong hampir putus ketika mereka tiba di puncak bukit karena dia mengerahkan seluruh tenaganya sejak tadi.

Tahu-tahu Kwa Siucai sudah menanti di puncak bukit dan tertawa melihat dia terengah-engah.

"Duduklah bersila!" perintahnya.

Si Kong menaati dan duduk bersila di depan suhunya yang juga sudah duduk bersila di atas tanah berumput.

"Bernapaslah dengan perut tarik napas sepanjang dan sekuat mungkin, tarik terus lalu keluarkan ke dalam tan-tian dan tahan sejenak, lalu keluarkan dari mulut dengan mengeluarkan suara begini!"

Kwa Siucai memberi contoh kepada Si Kong dan pada saat itu juga dia sudah mulai dilatih untuk menghimpun udara bersih dan memperkuat pernapasannya. Si Kong berlatih dengan penuh kesungguhan sehingga gurunya menjadi semakin suka.

Pada hari-hari berikutnya dia mulai melatih ginkang (ilmu meringankan tubuh) kepada Si Kong. Perlahan-lahan dia mengajarkan ilmu meringankan tubuh yang disebut Liok-te Hui-teng (Lari Terbang Di atas Tanah) dan ilmu silat yang mengandalkan ginkang dan disebut ilmu silat Yan-cu Hui-kun (Silat Burung Walet Terbang).

Tentu saja untuk mempelajari kedua ilmu ini, membutuhkan waktu lama, terutama untuk latihan pernapasan, akan tetapi Si Kong dengan tekunnya mengikuti semua petunjuk Kwa Siucai.

Dalam kehidupannya bersama guru barunya ini, Si Kong mendapatkan kenyataan bahwa Penyair Gila itu bahkan lebih miskin dibanding Yok-sian Lo-kai.

Yok-sian setidaknya diterima orang dengan senang hati dan tangan terbuka karena Dewa Obat ini datang untuk mengobati orang sehingga dia dan guru pertamanya itu dimana-mana disambut orang dengan hidangan dan kehormatan.

Dan kalau dia mau, dengan kepandaiannya mengobati orang, dia akan bisa mendapatkan uang. Akan tetapi Penyair Gila ini tidak dapat menjual sajak-sajaknya yang aneh, apalagi ramalannya yang menelanjangi orang-orang sehingga membuat banyak orang merasa tidak suka kepadanya!

Dan terdapat perbedaan yang besar antara watak Kwa Siucai ini dengan Yok-sian. Yok-sian biarpun miskin namun menjaga nama dan kehormatan dirinya, tidak suka mencuri bahkan tidak pernah menjual kepandaiannya mengobati orang. Daripada mencuri dia lebih baik mengemis!

Akan tetapi ternyata tidak demikian dengan Kwa Siucai.

"Orang-orang kaya yang tidak pernah mau memperdulikan nasib sesama manusia yang menderita karena kemiskinannya, adalah orang-orang yang tidak berbudi," demikian antara lain Kwa Siucai berkata.

"Orang-orang kaya itu sudah mendapatkan kemurahan dari Thian, maka sudah sepatutnya kalau dia menjadi seorang dermawan pula.

Seorang hartawan harus menjadi seorang dermawan, maka barulah cocok. Kalau dia kikir, maka orang seperti itu pantas kalau dikurangi sebagian hartanya."

Yang dimaksudkan oleh Kwa Siucai dengan dikurangi sebagian hartanya itu adalah dicuri, kemudian uang hasil curian itu dia bagikan kepada orang-orang miskin.

Kwa Siucai menjadi seorang maling budiman! Dan Si Kong yang menjadi muridnya diharuskan melakukan perbuatan yang sama.

Si Kong mempertimbangkan alasan Kwa Siucai itu, dan akhirnya diapun tidak keberatan untuk mencuri uang dari para hartawan untuk dibagi-bagikan kepada orang miskin.

Sejak kecil dia sudah terbiasa dengan kemiskinan dan dapat merasakan penderitaan orang miskin. Maka setelah mendapat pelajaran dari Kwa Siucai, dia merasakan betapa bahagianya orang-orang miskin yang diberinya uang hasil curian itu.

Akan tetapi semua ini dikerjakan oleh Kwa Siucai secara diam-diam. Dia mencuri tanpa meninggalkan bekas dan memberikan uang kepada orang-orang miskin tanpa mereka ketahui siapa pemberinya.

Hartawan-hartawan pemeras rakyat itu tahu-tahu kehilangan sebagian hartanya, dan orang-orang miskin itu tahu-tahu menemukan uang didalam rumahnya tanpa mengetahui siapa yang memberi mereka.

Kalau guru dan murid ini mendengar adanya seorang hartawan yang dermawan, mereka sama sekali tidak mengganggu hartawan itu.

Akan tetapi hartawan yang pelit dan suka memeras rakyat jelata, tidak pernah diampuni. Dan di antara yang mereka curi itu, hanya sedikit saja yang mereka pergunakan untuk keperluan sendiri. Hanya untuk membeli makan dan minum, juga pengganti pakaian sekadarnya. Semua dihabiskan untuk dibagi-bagikan kepada orang miskin!

Setelah belajar selama setahun dengan tekun sambil merantau bersama Kwa Siucai, Si Kong telah menguasai dua ilmu yang diajarkan oleh Kwa Siucai, yaitu ilmu meringankan tubuh Liok-te Hui-teng dan ilmu silat Yan-cu Hui-kun. Dia kini tinggal mematangkan saja ilmu-ilmu itu dengan latihan yang tekun.

Pada suatu hari Kwa Siucai berkata kepada Si Kong. "Si Kong, engkau sudah menguasai dua ilmu yang kuajarkan kepadamu. Dalam waktu setahun engkau sudah dapat menguasainya, hal itu luar biasa sekali. Bakatmu amat besar dan engkau memiliki ketekunan yang teguh. Sekarang tiba saatnya bagi kita untuk berpisah!"

Si Kong terkejut sekali. "Akan tetapi kenapa, suhu? Kenapa kita harus berpisah? Teecu masih membutuhkan bimbingan suhu dalam segala hal!"

Kwa Siucai tersenyum dan menggerakkan tangannya. "Engkau telah menguasai Ta-kaw Sin-tung. Kalau kau gabungkan ilmu tongkatmu itu dengan Yan-cu Hui-kun, maka engkau sudah menjadi orang yang sukar di tandingi.

Aku ingin kembali ke kampungku, jauh di selatan, Si Kong, dan kita pun tidak mungkin berkumpul terus. Aku dapat mengurus diriku sendiri seperti juga engkau dapat mengurus dirimu sendiri. Ada pertemuan tentu ada perpisahan, Si Kong."

Si Kong menjatuhkan dirinya berlutut. "Suhu, perkenankan teecu ikut dengan suhu untuk membalas semua kebaikan suhu."

"Aih, sudahlah, tidak ada budi dan tidak ada pembalasan. Selama ini engkau menjadi murid yang baik, itu sudah cukup menyenangkan hatiku. Selamat tinggal, Si Kong!"

"Suhu……!"

Akan tetapi Si Kong melihat bayang berkelebat dan suhunya sudah tidak berada di depannya lagi. Dia tetap berlutut lalu berkata lantang.

"Terima kasih atas semua kebaikan suhu kepada teecu!" Dia memberi hormat beberapa kali baru bangkit berdiri dan kembali dia merasakan kekosongan di hatinya seperti ketika dulu ditinggalkan Yok-sian Lo-kai. Dia merasa kesepian dan sendiri, bagaikan seekor burung di udara, tidak tahu harus pergi kemana dan harus berbuat apa!

Dia menghela napas. Inilah kelemahannya selama ini. Dia terlalu menggantungkan dirinya kepada orang lain! Maka, begitu ditinggalkan, dia merasa kesepian dan nelangsa.

Tidak! Dia harus berani hidup sendiri! Dia mengepal tinjunya. Dia sama sekali tidak boleh lemah seperti ini. Kedua orang gurunya itu telah memberi banyak pelajaran tentang hidup kepadanya.

Sekaranglah saatnya untuk memasuki kehidupan seorang diri dan menghadapi apa saja yang menimpa dirinya seorang diri.

Dia bukan anak kecil lagi. Usianya sudah enambelas tahun! Dia harus berani dan harus mampu mandiri.

Si Kong seperti mendapat semangat baru. Dengan cepat dia menuruni bukit itu. Dari atas bukit itu tadi dia melihat samar-samar genteng rumah orang di bukit depan. Tentu disana ada penghuninya, maka diapun kini menuruni bukit lalu mendaki bukit di depan.

Hari telah menjelang sore dan dia ingin mencari tempat bermalam di dusun yang berada di lereng bukit itu. Setelah tiba dilereng itu, dia melihat sebuah perkampungan yang dikelilingi tembok yang cukup tinggi.

Akan tetapi agaknya itu bukan merupakan sebuah dusun karena di pintu gerbangnya yang besar terjaga oleh lima orang yang bertubuh tinggi besar dan berwajah keren.

"Hei, orang muda! Siapa engkau dan hendak kemana?" tanya seorang diantara para penjaga itu ketika melihat Si Kong hendak memasuki pintu gerbang. Lima orang itu menghadang di pintu gerbang dan sikap mereka galak.

"Maaf, aku hanya ingin memasuki dusun ini untuk mencari tempat menginap malam ini," kata Si Kong dengan sikap tenang.

Lima orang itu saling pandang lalu tertawa bergelak. Si penanya tadi yang agaknya menjadi pimpinan membentak,

"Bocah lancang! Ini bukan dusun, akan tetapi tempat tinggal majikan kami, Tong Lo-ya (Tuan besar Tong). Orang dari luar sama sekali tidak boleh masuk!"

"Ah……." kata Si Kong kecewa, akan tetapi dia mendapat pikiran baik dan segera berkata, "Kebetulan kalau begitu. Aku ingin menghadap majikan kalian untuk mohon diberi pekerjaan."

Memang dalam hatinya Si Kong sudah mengambil keputusan untuk tidak mengemis seperti Yok-sian dan tidak mencuri seperti Kwa Siucai. Kedua kebiasaan ini dianggapnya tidak baik. Dia ingin bekerja untuk mendapatkan uang guna biaya hidupnya.

"Hemm, tidak demikian mudah untuk menghadap majikan kami! Dan bocah macam engkau ini dapat bekerja apakah?"

Menghadapi sikap yang angkuh dan kasar ini, Si Kong masih bersabar hati. "Aku dapat melakukan apa saja yang kalian dapat lakukan."

Pemimpin para penjaga itu mengerutkan alisnya. "Kau dapat melakukan apa saja yang kami dapat lakukan? Huh, kalahkan dulu kami kalau engkau ingin diberi kesempatan menghadap Lo-ya!" dia menantang untuk menakut-nakuti pemuda remaja itu, sedangkan empat orang kawannya tertawa-tawa. Pemuda itu pasti pergi ketakutan, pikir mereka.

Akan tetapi Si Kong kini merasa penasaran.

"Kalau itu yang kalian kehendaki, aku siap melawan kalian berlima!"

"Bocah gila! Melawan aku seorang saja jangan harap kau dapat menang, apalagi melawan kami berlima!" teriak seorang di antara mereka yang matanya agak juling.

"Boleh coba-coba!" kata Si Kong yang menganggap sikap mereka ini keterlaluan. Dia sudah menancapkan tongkatnya ke atas tanah karena tidak memerlukan senjata itu untuk melawan lima orang sombong itu.

Si juling makin marah. "Bocah gila, rasakan pukulanku ini!" Dia menyerang dengan jotosan ke arah muka Si Kong.

Akan tetapi dengan amat mudahnya Si Kong mengangkat tangan menangkap lengan yang menyambar ke arahnya itu dan sekali menggeser kakinya dia telah menekuk lengan itu ke belakang tubuh si juling, lalu mendorong ke depan.

Si juling terdorong ke depan dan jatuh menelungkup! Bukan main marahnya si mata juling. Dia meloncat bangun dan sudah menyambar sebatang tombak yang disandarkan pada gardu penjagaan, lalu menyerang Si Kong dengan tusukan-tusukan tombak.

Si Kong sudah melihat bahwa kepandaian lawannya itu biasa saja, maka dia masih tidak menggunakan tongkatnya melainkan mengelak ke kanan kiri.

Dan setelah mendapat kesempatan, kakinya menendang tangan lawan. Tombak itu terlepas dan terlempar sampai jauh.

Melihat ini, empat orang penjaga yang lain lalu turun tangan mengeroyok Si Kong dengan menggunakan golok dan tombak. Si mata juling juga tidak menjadi jera. Melihat teman-temannya membantu, diapun segera mengambil tombaknya yang terlempar tadi dan ikut pula mengeroyok!

Si Kong masih menghadapi pengeroyokan lima orang itu dengan tangan kosong saja. Gerakannya yang gesit sekali membuat lima orang itu bingung, bahkan kadang senjata mereka saling bertemu sendiri. Pemuda itu seperti berubah menjadi bayangan yang tidak dapat disentuh senjata mereka.

Si Kong sengaja tidak mau mencari permusuhan, maka diapun hanya mengelak saja dan berloncatan ke sana sini tanpa membalas.

Tiba-tiba nampak seorang pemuda meloncat keluar dari sebelah dalam pintu gapura dan dia membentak, "Hentikan perkelahian!"

Lima orang itu segera menghentikan pengeroyokan mereka sehingga Si Kong merasa lega. Dia melihat seorang pemuda yang perawakannya sedang dan berwajah tampan, berusia kurang lebih delapanbelas tahun telah berdiri disitu dengan gagahnya.

"Ada apa ribut-ribut ini?" bentak si pemuda kepada lima orang penjaga. Pemimpin para penjaga segera menghadap pemuda itu dengan sikap hormat.

"Maafkan kami, Kongcu. Bocah ini hendak lancang menghadap Tong Loya. Tentu saja kami melarangnya dan timbul perkelahian."

Pemuda ini mengerutkan alisnya dan matanya memandang ke arah Si Kong. Pandangan matanya menunjukkan kemarahan dan dia memandang rendah kepada Si Kong, seorang pemuda yang pakaiannya sederhana seperti orang dusun.

"Siapa engkau yang begitu lancang hendak menghadap ayahku?" tanyanya dan nadanya menunjukkan bahwa dia tidak senang mendengar laporan para penjaga.

Si Kong segera memberi hormat, karena dia maklum bahwa pemuda yang disebut kongcu ini tentulah putera majikan Tong itu. "Maafkan saya, kongcu. Nama saya Si Kong dan saya hanya mohon menghadap Loya untuk minta pekerjaan."

Pemilik atau majikan tempat itu yang disebut Tong-Loya oleh para penjaga itu bernama Tong Li Koan, seorang kaya berusia lima puluh tahun yang juga terkenal memiliki kepandaian ilmu silat tinggi.

Pemuda itu adalah puteranya yang bernama Tong Kim Hok, berusia delapanbelas tahun. Pemuda ini juga mempelajari ilmu silat dari ayahnya dan wataknya agak angkuh dan tinggi hati, sadar sepenuhnya bahwa sebagai kongcu (tuan muda) dia adalah majikan kecil Bukit Bangau itu dan menganggap dirinya sudah memiliki ilmu silat yang dapat dibanggakan. Kini melihat ada seorang pemuda lain berani melawan pengeroyokan lima orang penjaga, dia merasa penasaran sekali.

"Minta pekerjaan? Engkau bisa apakah?" tanyanya dengan nada tinggi.

"Pekerjaan apapun yang diberikan kepada saya, akan saya lakukan, kongcu. Pekerjaan kasarpun tidak saya tolak!"

"Pekerjaan kasar? Engkau merasa kuat?"

"Tentu saja saya merasa kuat melakukannya, kongcu."

"Hemm, hendak kulihat sampai di mana kekuatanmu. Aku yang akan mengujimu apakah engkau pantas bekerja untuk kami. Coba lawanlah aku. Jaga seranganku ini. Hyaaaaaaatt………..!"

Si Kong terkejut sekali. Tak disangkanya akan mendapat sambutan seperti itu dari tuan muda ini. Akan tetapi diapun melihat bahwa serangan pemuda itu tidak seperti gerakan para penjaga yang hanya mengandalkan tenaga kasar.

Serangan pemuda ini mengandung tenaga dalam dan dilakukan cukup cepat. Namun tidak terlalu cepat baginya dan dengan mudah dia sudah mengelak.

Serangannya yang luput membuat Tong Kim Hok menjadi semakin penasaran dan marah. Dia merasa malu kepada para penjaga itu kalau dia tidak mampu merobohkan Si Kong.

Maka diapun menyerang lagi lebih cepat dan kuat.

Si Kong menjadi bingung. Tentu saja dia mampu melawan pemuda yang ilmu silatnya masih mentah itu. Akan tetapi dia tidak berani mengalahkan pemuda itu, karena pemuda itu tentu akan marah dan kalau sudah begitu, tidak mungkin dia diterima bekerja di situ.

Maka diapun mengalah, setelah mengelak dari enam tujuh serangan dengan mengelak, dia mulai menangkis tanpa mengerahkan tenaganya sehingga setiap kali menangkis dia terhuyung kebelakang.

"Bukk….!"

Sebuah tendangan dari Tong Kim Hok mengenai lambungnya, membuat Si Kong terhuyung-huyung. Tentu saja dia sudah menjaga lambungnya yang dibiarkannya terkena tendangan itu dengan sinkang sehingga dia tidak sampai terluka.

Akan tetapi ternyata Tong Kim Hok masih belum puas dengan sebuah tendangan yang mengenai lambung Si Kong. Dia bahkan merasa penasaran sekali karena Si Kong tidak sampai roboh dan dia menyerang lagi kalang-kabut. Beberapa kali Si Kong membiarkan tubuhnya kena hantaman yang membuatnya terhuyung.

"Sudah cukup, kongcu. Saya mengaku kalah!" katanya berulang-ulang, akan tetapi Tong Kim Hok tetap saja menyerangnya terus. Para penjaga menjadi girang melihat Si Kong dihajar.

Mereka tertawa-tawa dan ada yang berkata memberi semangat kepada Tong Kim Hok.

"Hajar terus, kongcu! Pukul terus!"

Biarpun dia tidak sampai terluka, akan tetapi karena membiarkan tubuhnya mendapat pukulan-pukulan, bibir kiri Si Kong berdarah dan pipi kanannya menjadi membiru bekas pukulan.

Pada saat itu, seekor kuda datang berlari dan sesosok bayangan orang meloncat dari atas punggung kuda itu.

"Cukup, koko (kakak)! Mengapa engkau memukul orang?" terdengar seruan dan di antara Si Kong dan Tong Kim Hok sudah berdiri menghadang seorang gadis remaja berusia kurang dari enambelas tahun.

Gadis ini cantik manis, dengan rambut dikuncir dua dan diikat pita merah, dibiarkan tergantung di kedua pundaknya.

"Moi-moi (adik), engkau minggirlah, biar aku menghajar bocah lancang ini!" kata Tong Kim Hok yang lehernya sudah bersimbah peluh dan napasnya agak memburu karena tadi dia mengerahkan seluruh tenaganya untuk menghajar Si Kong.

"Nanti dulu, koko. Kenapa engkau hendak menghajar orang? Apa kesalahannya?"

"Bocah itu minta bertemu dengan ayah, katanya mencari pekerjaan. Maka aku mengujinya karena dia tadi melawan lima orang penjaga kita. Nah, minggirlah, aku ingin menghajarnya sampai dia tahu rasa!"

Gadis itu bernama Tong Kim Lan berusia hampir enambelas tahun dan adik dari Tong Kim Hok. Ia memang seorang gadis lincah dan berbakat sekali dalam ilmu silat sehingga dibandingkan dengan Tong Kim Hok, ia lebih maju, terutama sekali lebih cepat sekali gerakannya dan dalam hal ilmu pedang, iapun melebih kakaknya.

Ia menoleh dan memandang kepada Si Kong yang berdiri dengan muka ditundukkan. Melihat bibir Si Kong berdarah dan pipinya lebam, ia merasa kasihan. Seorang bocah dusun minta pekerjaan malah dihajar!

"Apa salahnya minta pekerjaan? Kalau tidak ada pekerjaan, tolak saja, tidak perlu dipukuli. Dan pula, aku mendengar sendiri dari ayah bahwa dia membutuhkan tenaga seorang pembantu untuk menggembala kerbau kita. Eh, sobat siapa namamu dan apakah engkau mau diberi pekerjaan menggembala segerombolan kerbau?"

"Nama saya Si Kong, nona. Saya akan senang sekali kalau diberi pekerjaan dan rasanya saya sanggup untuk menggembala kerbau." jawab Si Kong dan dalam hatinya dia memuji gadis ini yang sikapnya berbeda jauh sekali dibandingkan kakaknya yang angkuh. Gadis ini ramah dan lincah.

"Kalau ada seekor saja kerbaunya yang hilang, engkau harus menggantinya!" bentak Tong Kim Hok, suaranya masih marah.

"Aih, koko. Siapa sih yang berani mencuri kerbau kita? Mari kau ikut aku, Si Kong, kita menghadap ayah."

"Terima kasih, nona."

Si Kong mengikuti gadis itu yang memasuki pintu gerbang dan menghampiri sebuah gedung yang berdiri dengan megahnya di tengah perkampungan itu. Di kanan-kiri dan belakang gedung besar itu berdiri banyak pondok, agaknya menjadi tempat tinggal para pekerja di situ.

Tong Li Koan memang seorang kaya raya yang menjadi majikan Bukit Bangau. Dia menggunakan banyak pekerja dan mengerjakan sawah ladangnya di bukit itu juga memperkerjakan sejumlah belasan tukang pukul untuk menjaga perkampungan.

"Ayah…….!"

Kim Lan berteriak ketika memasuki rumah dan menyuruh Si Kong menanti di serambi depan. Tak lama kemudian gadis itu sudah muncul kembali bersama seorang laki-laki berusia limapuluhan tahun, berpakaian mewah dan tangan kirinya memegang sebatang huncwe (pipa tembakau) yang panjangnya setengah meter dan ketika dihisap mengeluarkan bau tembakau yang harum.

"Inikah orangnya?" tanya Tong Li Koan kepada puterinya. Dia amat menyayangi puterinya yang jauh lebih pandai dan cerdik dibandingkan puteranya.

"Ya, ayah. Namanya Si Kong dan dia mau menjadi penggembala kerbau kita."

Si Kong sudah mengangkat kedua tangan depan dada sebagai penghormatan kepada Tong-Loya. "Saya bersedia untuk bekerja apa saja, Loya," katanya hormat.

Tong Li Koan memandang ke arah mulut dan pipi Si Kong lalu mengerutkan alisnya dan menuding dengan huncwenya ke arah muka Si Kong.

"Kenapa mukamu itu? Seperti orang habis berkelahi!" katanya.

Si Kong merasa tidak enak sekali untuk memberitahu bahwa dia dipukuli putera majikan itu, maka dia hanya menggumam, "Tidak apa-apa, Loya."

"Dia dipukuli koko, Ayah. Koko hendak mengujinya sebelum dia bekerja."

"Ah, Kim Hok terlalu ringan tangan…" kata hartawan itu.

"Saya yang bersalah, Loya," kata Si Kong cepat-cepat. "Saya telah berani lancang hendak menghadap loya untuk minta pekerjaan."

"Sudahlah, engkau kuterima sebagai penggembala kerbau. Setiap hari, pagi-pagi sekali engkau engkau harus menggembalakan kerbau-kerbau kami yang berjumlah tigapuluh ekor itu ke padang rumput, memelihara dan menjaga mereka baik-baik."

Tong Li Koan bertepuk tangan dan seorang pembantu datang berlari kepadanya. Hartawan itu memerintahkan kepada pembantu itu untuk memberi sebuah kamar bagi Si Kong dan memberi petunjuk akan pekerjaannya menggembala kerbau.

"Beri dia kamar di pondok dekat kandang kerbau di belakang. Dan engkau, Si Kong, bekerjalah baik-baik dan engkau akan memperoleh upah yang lumayan serta makan dan pakaian yang secukupnya."

Si Kong merasa girang sekali. "Terima kasih, lo-ya dan siocia (nona)." Lalu dia pergi mengikuti pembantu itu yang membawanya menuju ke kandang kerbau untuk memperlihatkan kerbau-kerbau yang harus dirawatnya, juga menunjukkan sebuah kamar di pondok dekat kandang kerbau di mana dia boleh memakai sebagai tempat tinggalnya.

Demikinalah, dengan hati gembira Si Kong menerima pekerjaan baru itu. Kekosongan hidupnya sudah terisi. Dia mempunyai pekerjaan! Dia merasa beruntung sekali bahwa pada hari kepergian gurunya yang kedua, yaitu Kwa Siucai, langsung dia mendapatkan pekerjaan sebagai penggembala kerbau.

***

Sebulan lewat tanpa terasa sejak Si Kong bekerja di Bukit Bangau. Benar saja seperti telah dijanjikan Tong Li Koan, dia menerima upah yang lumayan, setiap hari makan sekenyangnya dan diberi pakaian sehingga dia dapat berganti pakaian setiap hari.

Pekerjaan menggembala kerbau itu cukup menyenangkan. Kerbau-kerbau itu adalah hewan ternak yang sudah diatur, penurut dan mudah dijaga, tidak liar lari ke sana-sini.

Setelah matahari naik tinggi, dia menggembala kerbaunya kembali ke kandang. Kelebihan waktunya dia pergunakan untuk menyabit rumput sebagai penambah makanan hewan itu. Sore hari dan malamnya dia boleh beristirahat di dalam pondok dekat kandang kerbau itu.

Dia sama sekali tidak tahu bahwa diam-dian Tong Kim Hok mendendam kepadanya. Pemuda ini telah dimarahi ayahnya karena memukuli Si Kong. Dia tahu bahwa tentu adiknya yang mengadu, akan tetapi kemarahannya dia timpakan kepada Si Kong.

Selain menggembala tigapuluh ekor kerbau, Si Kong juga diberi tugas mengurus lima ekor kuda yang menjadi kuda tunggangan keluarga Tong. Memberi makan dan menggosok badan kuda sampi bersih.

Pada suatu siang, setelah dia pulang menggembala kerbau, makan dan hendak berangkat menyabit rumput untuk kerbau-kerbaunya dan lima ekor kuda, mendadak muncul Kim Lan di depan pondoknya. Si Kong menyambutnya dengan hormat.

"Apakah nona membutuhkan kuda untuk ditunggangi hari ini?" tanyanya. Sudah seringkali dia bertemu dengan gadis manis ini karena Kim Lan memang suka sekali menunggang kuda dan seringkali datang sendiri ke kandang untuk mengambil kudanya.

"Tidak, Si Kong. Aku hanya ingin bertanya bagaimana dengan pekerjaanmu di sini? Apakah engkau sudah cocok dan suka tinggal di sini bekerja untuk kami?"

"Cocok dan senang sekali, nona. Nona dan Tong-loya amat baik kepada saya."

Gadis itu tersenyum dan menatap tajam wajah Si Kong yang gagah. Ia mengerutkan alisnya dan bertanya. "Si Kong, engkau berasal dari manakah dan mengapa bisa sampai ke sini, minta pekerjaan kepada ayahku? Di mana orang tua dan keluargamu?"

Si Kong tersenyum sedih dan menjawab. "Saya berasal dari jauh, nona, dari sebuah dusun yang disebut Ki-ceng. Akan tetapi saya sudah yatim piatu dan tidak mempunyai sanak keluarga, tidak mempunyai siapa-siapa di dunia ini, sebatang kara.

Saya seorang kelana dan ketika lewat di sini, saya tertarik dan ingin mencari pekerjaan tetap. Untung nona menolong saya dan menghadapkan kepada Loya sehingga saya mendapatkan pekerjaan di sini. Terima kasih, nona."

Tiba-tiba dari arah kandang kerbau muncul Tong Kim Hok. Pemuda itu kelihatan marah sekali dan berkata kepada Si Kong,

"Hei, Si Kong! Bagaimana engkau bekerja ini? Kalau engkau lalai seperti ini, lama-kelamaan kerbau-kerbau kami akan mati semua!"

Si Kong terkejut dan memandang kepada pemuda itu dengan mata terbelalak heran. "Apa yang kongcu maksudkan? Saya tidak pernah lalai menjaga kerbau-kerbau itu!"

"Enak saja kau bicara! Seekor di antara mereka mengalami luka parah pada kakinya dan kau bilang kau menjaga dengan baik?"

"Koko, apa artinya ini?" tanya Tong Kim Lan.

"Moi-moi, engkau tidak perlu bersikap manis kepadanya! Kau lihat sendiri, ada kerbau yang terluka dan dia pura-pura tidak tahu! Mari lihat sendiri!"

Kim Hok berjalan ke arah kandang, diikuti oleh Kim Lan dan Si Kong yang merasa heran akan tetapi juga khawatir. Setelah tiba di kandang, Kim Hok menuding ke arah seekor kerbau yang mendekam di sudut. "Lihat itu! Kakinya luka berdarah. Dia bahkan tidak kuat berdiri!"

Si Kong terkejut sekali dan cepat memasuki kandang, membantu kerbau yang mendekam itu agar berdiri. Dan nampak olehnya betapa sebuah kaki depan kerbau itu terluka parah!

"Tapi ini…….. ini aneh sekali! Tadi ketika saya menggiring mereka masuk kandang, tidak ada yang terluka kakinya!"

"Apa yang aneh? Kerbau-kerbau ini setiap hari engkau yang mengurusnya. Kini ada yang terluka kakinya, karena engkau takut dimarahi ayah, engkau pura-pura bodoh dan tidak tahu! Bagus sekali, ya?"

"Si Kong, apakah yang terjadi dengan kerbau ini? Nampaknya seperti terluka oleh bacokan senjata tajam!" kata Kim Lan, mendekati Si Kong dan kerbaunya.

"Saya tidak tahu, nona. Ketika tadi saya menggiring semua kerbau memasuki kandang, belum ada yang terluka. Agaknya ada orang sengaja melukai kerbau ini sewaktu saya sedang makan."

"Apa? Kau berani menuduh aku melukai kerbau ini? Jangan kurang ajar, Si Kong!’ bentak Kim Hok marah dan dia sudah menghampiri Si Kong dengan sikap hendak menyerang.

Akan tetapi Kim Lan menghadangnya. "Tahan, koko. Si Kong tidak menuduh siapa-siapa, hanya mengatakan bahwa agaknya ada orang melukai kerbau ini sewaktu dia sedang makan, tidak menuduhmu!"

Pada saat itu terdengan suara orang tertawa, tawa seorang wanita terkekeh-kekeh. Kim Hok dan Kim Lan terkejut dan menengok, demikian pula Si Kong memandang ke kanan, ke arah datangnya suara tawa. Kiranya di situ telah berdiri seorang wanita yang usianya sekitar empatpuluh tahun, akan tetapi ia masih kelihatan cantik dengan pakaiannya yang mewah.

Di punggungnya tergantung sebatang pedang dan tangan kirinya memegang sebatang kebutan berbulu merah.

"Hi-hi-hik-heh-heh! Kalau tidak ada yang membacok dengan pedang, mana mungkin kaki kerbau bisa terluka? Si Huncwe Maut serakah dan curang, agaknya menurun kepada puteranya! Heh-heh!"

Mendengar ini Kim Hok menjadi merah mukanya dan dia meloncat ke depan wanita itu. Huncwe Maut adalah nama julukan ayahnya di dunia kang-ouw, maka jelas bahwa wanita itu tadi maksudkan dia sebagai putera Huncwe Maut.

"Siapakah engkau? Berani sekali berlancang mulut!" bentak Kim Hok marah.

"Hi-hik, orang muda, engkau masih remaja akan tetapi sudah banyak akal dan licik. Coba cabut pedangmu, di situ pasti masih ada bekas darah kaki kerbau itu!"

"Perempuan lancang! Engkau datang melanggar wilayah kami, hayo cepat pergi sebelum aku terpaksa menggunakan kekerasan!"

"Heh-heh-heh-hi-hik! Persis seperti ayahnya, berani angkuh dan cerdik! Akan tetapi engkau tidak tahu siapa yang engkau hadapi, anak muda. Lebih baik lekas panggil ayahmu ke sini untuk bertemu denganku!"

Watak Kim Hok memang angkuh dan dia merasa kuat sendiri. Tentu saja dia memandang rendah kepada wanita setengah tua itu. Orang perempuan itu berani tidak memandang kepada ayahnya!

"Engkau layak dipukul!" katanya dan cepat dia sudah menerjang ke depan dan memukul ke arah muka wanita itu.

Wanita itu hanya mengelak sedikit dan begitu tangannya bergerak, tubuh Kim Hok telah terlempar ke belakang dan terbanting jatuh!

Kim Hok marah sekali. Dia tidak menjadi jera, bahkan dia kini mencabut pedangnya dan menyerang wanita itu dengan tusukan pedangnya ke arah dada.

Akan tetapi wanita itu menggerakkan tangan kirinya, bulu kebutannya membelit pedang dan sekali bergerak, ia sudah menendang Kim Hok hingga kedua kalinya tubuh pemuda itu terpental dan pedangnya telah terampas.

Sambil mendengus penuh ejekan wanita itu menggerakkan kebutannya dan pedang itu meluncur dan menancap di atas tanah dekat kaki Kim Hok!

Seorang pembantu melihat perkelahian itu dan dia cepat lari masuk ke gedung untuk memberitahu kepada majikannya. Sementara itu, Kim Hok sudah mencabut lagi pedangnya dari tanah dan seperti kerbau gila mengamuk dan menyerang wanita itu, lupa bahwa sudah dua kali dia dirobohkan.

Melihat kakaknya dua kali dirobohkan wanita itu, Kim Lan mencabut pedangnya dan hendak membantu, akan tetapi Si Kong berkata kepadanya, "Nona, wanita itu bukan lawanmu! Ia terlalu lihai bagimu!"

Kim Lan tidak jadi menyerang dan hanya memandang ketika kakaknya itu kembali sudah menyerang secara bertubi-tubi. Akan tetapi wanita itu dengan mudahnya mengelak ke sana-sini, sambil mengeluarkan suara tawanya yang mengejek seperti mempermainkan seorang anak.

"Anak nakal, engkau masih juga belum mau mengaku kalah?" wanita itu tiba-tiba menggerakkan hudtimnya ke depan dan seketika tubuh Kim Hok menjadi kaku dan tidak mampu bergerak lagi karena jalan darahnya sudah tertotok.

"Hi-hi-hik, kau anak nakal yang bandel!" Wanita itu menggunakan tangannya untuk mengelus dan mencubit dagu Kim Hok dengan gaya yang genit sekali kemudian tangannya itu mendorong dada Kim Hok dan untuk ketiga kalinya Kim Hok terjengkang roboh!

Sekali ini dia roboh dekat kaki Si Kong yang segera membungkuk dan menolongnya.

"Kongcu, engkau tidak apa-apa?" katanya diam-diam menotok punggung pemuda itu sehingga tubuh Kim Hok yang tadinya kaku dapat bergerak kembali.

"Huh! Jangan pegang-pegang aku!" bentak Kim Hok sambil meronta, dan dia sudah memegang pedangnya kuat-kuat untuk menyerang lahi.

Akan tetapi sebelum Kim Hok menyerang lagi, terdengar bentakan ayahnya, "Kim Hok, jangan lancang!"

Mendengar bentakan ayahnya, Kim Hok berhenti meyerang dan mundur. Tong Li Koan kini berdiri berhadapan dengan wanita itu.

Setelah memandang dengan mata tajam penuh selidik sambil mengisap huncwenya, Tong Li Koan melepaskan huncwe cari mulut dan berkata sambil tersenyum.

"Hemm, kalau tidak salah sangka, agaknya aku berhadapan dengan Ang-bi Mo-li (Iblis Perempuan Cantik Merah)" Tentu julukannya ini dihubungkan dengan bulu kebutannya yang berwarna merah.

Wanita itu tertawa dan nampak giginya yang rapi berderet rapi. "Kiranya yang berjuluk Huncwe Maut, selain kaya raya juga berpemandangan tajam!

Tong Wan-gwe (Hartawan Tong), aku memang Ang-bi Mo-li! Puteramu ini curang angkuh dan pemberani. Tidak kecewa menjadi putera Huncwe Maut, hanya sayang ilmu silatnya rendah saja sehingga aku menjadi ragu apakah ilmu kepandaianmu juga sebesar namamu!"

Tong Li Koan maklum bahwa Iblis Betina ini sengaja hendak mencari perkara, maka diapun mengangkat tangan ke depan dada memberi hormat lalu berkata,

"Anakku masih muda dan lancang, harap engkau suka memaafkannya. Setelah engkau lewat disini, mari silakan singgah di rumah kami agar lebih leluasa kami menyambutmu sebagai tamu."

Tong Li Koan sengaja bersikap lunak karena dia tidak ingin bermusuhan dengan wanita yang namanya terkenal di dunia persilatan sebagai tokoh yang lihai sekali.

Mendengar ini, Ang-bi Mo-li tertawa terkekeh-kekeh. "Heh-heh-heh-hi-hik! Tong wan-gwe aku berada di daerah ini bukan sebagai tamu dan juga engkau bukan sebagai tuan rumah di sini.

Dahulu, lama sebelum engkau datang, tanah ini sudah menjadi wilayahku dan aku tinggal di sebelah timur bukit.

Sekarang, aku mendengar bahwa engkau menguasai seluruh bukit. Ini tidak adil! Karena aku berminat untuk tinggal di sini lagi, kita bagi rata saja. Bagian timur bukit menjadi milikku, dan engkau menguasai bagian barat ini."

Tong Li Koan mengerutkan alisnya, mengisap huncwenya dan mengepulkan asapnya dari hidung. Kemudian dia berkata, suaranya lantang.

"Usulmu itu tidak mungkin dilaksanakan, Mo-li! Sebelum aku datang, seluruh daerah bukit ini masih merupakan hutan dan rawa liar. Aku yang membangunnya sehingga kini menjadi tanah sawah ladang yang subur dan digarap oleh orang-orangku. Mana bisa aku yang mencangkul dan menanam, sekarang engkau ingin memetik hasilnya begitu saja?"

"Aku yang datang lebih dulu, orang she Tong! Kalau engkau berkukuh hendak menguasai bukit ini seluruhnya, engkau harus dapat mengalahkan dan mengusir aku dari sini. Sebaliknya kalau engkau kalah olehku, engkaulah dan seluruh keluargamu harus pergi meninggalkan tempat ini!"

Mendengar ini, Tong Li Koan menjadi marah. Bahkan kedua orang anaknya juga menjadi marah. "Ayah, kita hajar saja orang kurang ajar ini!" kata Kim Lan sambil mencabut pedangnya.

"Kim Lan, dan engkau Kim Hok, jangan ikut campur. Dia bukan lawan kalian!" kata Tong Li Koan dan dia maju menghampiri Ang-bi Mo-li lalu berkata,

"Mo-li, kalau kedatanganmu ini hendak menantang aku, aku tidak dapat menolaknya. Jangan dikira bahwa aku takut menghadapimu! Silakan!" Dia lalu memasang kuda-kuda dan memegang huncwenya dengan tangan kiri sedangkan tangan kanannya mencabut pedangnya.

Melihat ini, Ang-bi Mo-li tertawa terkekeh-kekeh, lalu tiba-tiba tangan kanannya bergerak dan tahu-tahu ia telah mencabut pedangnya dari punggung dengan amat cepatnya.

"Orang she Tong! Engkau memilih mati dari pada menyerahkan bagian timur bukit ini?" ejeknya.

"Akan kupertaruhkan nyawaku untuk bukit ini!" jawab Tong Li Koan dengan tegas.

"Bagus, lihat seranganku!" Ang-bi Mo-li tanpa rikuh lagi sudah mulai menyerang. Pedangnya berkelebat di susul berkelebatnya hud-tim (kebutan) di tangan kirinya.

Entah mana yang lebih berbahaya, pedangnya atau kebutannya karena keduanya menyambar dengan dahsyat dan mengirim serangan maut.

"Trang-traang…….!" Si Huncwe Maut menangkis dengan pedang dan huncwenya, lalu balas menyerang dengan hebatnya pula. Ang-bi Mo-li juga dapat menghindarkan diri dari serangan Huncwe Maut.

Terjadilah perkelahian yang amat menegangkan antara kedua orang yang namanya sudah terkenal di dunia persilatan itu.

Kalau kebutan itu berbahaya sekali karena dapat menjadi kaku untuk menusuk atau menotok lalu menjadi lemas untuk melilit senjata lawan, huncwe itu tidak kalah berbahayanya. Dengan gerakan tertentu Tong Li Koan dapat membuat huncwe itu memercikan api ke arah wajah lawan, lalu menotok jalan darah dengan ujungnya.

Berkali-kali kedua pedang bertemu dan berpijarlah bunga-bunga api yang menyilaukan mata. Kim Hok dan Kim Lan yang menonton pertandingan itu merasa tegang sekali. Mereka tidak tahu apakah ayah mereka akan menang atau kalah dalam pertandingan itu dan untuk membantu mereka tidak berani. Ilmu kepandaian mereka masih jauh untuk dapat membantu.

Akan tetapi Si Kong yang juga menonton pertandingan itu mengerutkan alisnya. Dengan tingkat kepandaiannya dia dapat mengikuti pertandingan itu dengan baik dan dia melihat betapa tingkat kepandaian wanita itu masih lebih tinggi dari pada kepandaian majikannya. Majikannya akan kalah, hal ini sudah dapat diduganya melihat jalannya pertandingan.

Dugaan Si Kong memang benar. Biarpun dalam hal tenaga dalam kedua orang yang bertanding itu memiliki kekuatan seimbang, namun dalam hal kecepatan gerakan, Tong Li Koan atau si Huncwe Maut masih kalah sehingga kini perlahan-lahan wanita itu mendesaknya dengan sambaran kebutan dan pedangnya. Baru setelah Tong Li Koan terdesak dan mundur terus, kedua orang anaknya mengetahui bahwa ayah mereka terdesak dan hampir kalah.

Rasa takut terhadap wanita itu hilang karena melihat ayah mereka terancam bahaya maut, maka dua orang anak itu meloncat ke depan dan menggunakan pedang mereka untuk menyerang Ang-bi Mo-li!

Akan tetapi kebutan Ang-bi Mo-li menyambar. Kim Hok dan Kim Lan terlempar ke belakang dan bergulingan. Pada saat itu, pedang Tong Li Koan menusuk ke arah dada Ang-bi Mo-li. Wanita itu dengan cepatnya mengelak, kebutannya menyambar dan membelit pergelangan tangan Tong Li Koan yang memegang pedang.

Ketika Tong Li Koan mengayun huncwenya, dia kalah dulu karena pedang wanita itu telah mengenai ujung pundaknya. Dia berteriak dan meloncat ke belakang, pedangnya terampas dan pundaknya berdarah. Kim Hok dan Kim Lan melompat dekat ayah mereka.

"Ayah, engkau tidak apa-apa?" tanya Kim Hok.

"Ayah, pundakmu berdarah." Kata Kim Lan.

Tong Li Koan menghela napas panjang. "Aku telah kalah….." katanya dengan nada sedih.

"Heh-heh-heh-hi-hik, engkau cukup jantan untuk mengaku kalah. Aku memberi waktu dua hari kepada kalian semua untuk meninggalkan bukit ini!" kata Ang-bi Mo-li.

"Nanti dulu……!" terdengar bentakan dan semua orang menengok memandang kepada Si Kong yang datang menghampiri karena pemuda inilah yang membentak tadi.

"Ang-bi Mo-li, enak saja kau bicara! Majikanku telah mengalah, hal itu sudah sepatutnya karena engkau seorang wanita.

Akan tetapi engkau tidak tahu diri, hendak merampas hak milik orang lain begitu saja. Masih ada aku di sini yang mempertahankannya dan kuharap engkaulah yang segera pergi dan jangan mengganggu majikanku!"

"Si Kong….!" Kim Lan berlari mendekati. "Apa kau sudah gila? Ia…. Ia akan membunuhmu!"

Si Kong tersenyum. Hatinya senang karena anak perempuan majikannya ini mengkhawatirkan dirinya. Kim Lan selama ini bersikap ramah dan baik sekali kepadanya.

"Terima kasih, nona. Sebaiknya nona kembali kepada loya, biar aku hadapi iblis betina itu!"

Kim Lan berlari kembali kepada ayahnya. "Ayah…….!" ia hendak minta ayahnya mencegah wanita itu membunuh Si Kong yang berani mati membela keluarganya.

Akan tetapi ayahnya menggeleng kepala dan memandang kepada Si Kong dengan sinar mata heran dan kagum.

Dengan langkah lebar dan tenang Si Kong kini menghampiri Ang-bi Mo-li. Sejenak iblis betina inipun tertegun dan heran melihat seorang pemuda remaja berani berkata dan bersikap seperti itu kepadanya.

Apa lagi pemuda remaja itu menyebut Tong Li Koan sebagai majikannya. Pemuda ini tentu hanya seorang pembantu!

"Kau….. kau siapa?" tanyanya, alisnya berkerut dan pedangnya menuding ke arah muka Si Kong.

"Namaku Si Kong dan aku menjadi penggembala kerbau di sini."

Ang-bi Mo-li sudah menguasai keheranannya dan kini ia tertawa terkekeh-kekeh. "Penggembala kerbau? Hah-hah-heh-heh-heh-heh, Tong Li Koan, tidak malukah engkau dibela oleh penggembala kerbaumu? Suruh dia mundur, karena dia berani menentangku berarti dia akan mati di tanganku!"

Tong Li Koan menghela napas panjang. Tentu saja dia merasa malu kalau penggembala itu sampai mengorbankan nyawa untuknya.

"Si Kong, mundurlah. Aku tidak ingin melihat engkau mati untukku."

"Lo-ya, harap jangan khawatir. Aku tidak akan mati oleh wanita ini. Ang-bi Mo-li, kalau engkau tidak berani melawan aku, bilang saja terus terang, tidak perlu bicara dengan majikanku!"

"Bocah setan! Engkau tadi telah dikhianati kongcumu dan sekarang engkau bahkan hendak membela ayahnya? Kongcumu yang melukai kerbaumu, aku melihatnya sendiri."

"Cukup! Urusan kami tidak ada sangkut pautnya denganmu, Ang-bi Mo-li!"

Kini Ang-bi Mo-li benar-benar marah. Tentu saja ia tidak takut kepada Si Kong, hanya merasa malu kalau harus bertanding melawan seorang pemuda remaja penggembala kerbau!

"Bocah gila! Kalau engkau sudah bosan hidup, majulah. Akan tetapi sekali kau maju, engkau pasti akan mampus!"

"Dan aku tidak akan membunuhmu, Ang-bi Mo-li! Aku tidak akan sekejam itu."

Ang-bi Mo-li menyarungkan pedangnya di punggung dan memegang kebutannya dengan tangan kanan. Tanpa pedang, bahkan tanpa kebutan sekalipun ia akan mampu membunuh pemuda remaja itu.

"Ang-bi Mo-li, kalau engkau menurunkan tangan keji membunuh seorang pemuda remaja, engkau akan menjadi bahan ejekan orang sedunia kangouw!" kata Tong Li Koan dalam usahanya untuk menghindarkan Si Kong dari kematian.

"Heh-heh-heh, aku tidak sebodoh itu, Tong Li Koan. Aku tidak akan membunuhnya, hanya akan membuat kedua kakinya lumpuh selama hidupnya, heh-heh!"

Sementara itu, melihat betapa lihainya wanita itu mempergunakan kebutannya sebagai senjata, Si Kong tidak berani main-main dan dia sudah menyambar sebuah tongkat bambu yang biasa dia pergunakan untuk memikul keranjang rumput.

"Ang-bi Mo-li, aku sudah siap, tidak perlu terlalu banyak bicara lagi!" katanya sambil menghadapi wanita itu dengan tongkat di tangan.

"Heh-heh, kau sudah siap untuk menjadi lumpuh seumur hidupmu? Nah, sambutlah serangan ini!" Ang-bi Mo-li sudah menggerakkan kebutannya dengan cepat sekali.

"Wuuuttt……!"

Ang-bi Mo-li terkejut melihat betapa pemuda itu dengan mudah dan lincahnya mengelak dengan loncatan ke kiri, dan tiba-tiba saja tongkatnya di tangan sudah terayun dan mengancam pinggul kirinya. Tentu saja wanita ini tidak mau pinggul kirinya digebuk tongkat. Ia mengayun kebutannya untuk menangkis dengan membuat kebutan itu menjadi kaku dengan maksud untuk membentur tongkat itu agar terlepas dari pegangan si penggembala kerbau.

"Takkk….!"

Kembali Ang-bi Mo-li terkejut bukan main karena ketika kebutannya menangkis tongkat, tangannya tergetar hebat karena tongkat itu ternyata mengandung tenaga yang sangat kuat! Dan ia hampir terpekik kaget karena begitu tertangkis tongkat itu sudah membalik dan kini menghantam ke arah pundaknya! Ia menggunakan kelincahannya untuk mengelak, namun nyaris pundaknya terkena hantaman tongkat.

Dari rasa kaget, wanita itu menjadi marah bukan main. Hampir ia tidak dapat percaya bahwa pemuda tanggung itu dapat memiliki tenaga demikian kuat dan kecepatan gerakan tongkat yang luar biasa.

"Bocah setan, mampuslah!" Ia berseru dengan marah dan menggerakkan kebutannya untuk menyerang lebih cepat dan kuat lagi. Kini ia tidak perduli lagi apakah serangannya akan membunuh lawan ini.

Kebutan itu menenggang dan menusuk ke arah leher Si Kong. Akan tetapi kembali Si Kong menggerakkan tongkatnya yang menggetar ujungnya untuk menangkis.

"Plakk!" Ketika kebutan bertemu tongkat, Ang-bi Mo-li mengubah tenaganya dan dan kebutan itu menjadi lemas dan membelit tongkat itu. Ia ingin merampas tongkat itu sebelum menghajar pemiliknya.

Akan tetapi untuk yang kesekian kalinya ia terkejut. Kebutannya sama sekali tidak mampu merampas tongkat. Biarpun ia menarik dengan tenaga dalam yang kuat, tongkat itu tidak bergeming bahkan kini tongkat itu membalik dan ujungnya yang lain menyodok perutnya!

"Ihh…..!" Ang-bi Mo-li berseru dan melepaskan libatan kebutannya sambil meloncat ke belakang. Si Kong kini mendesak maju dan mainkan ilmu silat tongkat Ta-kaw Sin-tung. Tongkatnya seolah berubah menjadi banyak dan ujung-ujung tongkat dengan gencarnya menghujankan gebukan kepada lawannya, Ang-bi Mo-li terkejut bukan main melihat gerakan tongkat itu, gerakan ilmu tongkat yang mengingatkan ia akan seorang tokoh besar dunia persilatan. Kembali ia memutar kebutannya untuk melindungi dirinya sambil berloncatan ke belakang.

"Tahan dulu!" serunya setelah ia mendapatkan kesempatan.

Mendengar seruan itu, Si kong menahan tongkatnya, memegang tongkat itu melintang di depan dadanya. "Apa hubunganmu dengan Yok-sian Lo-kai?" tanya Ang-bi Mo-li.

"Beliau adalah guruku!" kata Si Kong yang kembali mulai menyerang sambil berseru, "Lihat seranganku!"

Ang-bi Mo-li cepat mencabut pedangnya karena hanya menggunakan kebutan saja ia merasa kewalahan. Sementara itu, Tong Li Koan, Kim Hok dan Kim Lan memandang dengan bengong.

Sedikitpun tidak pernah mereka sangka bahwa Si Kong selihai itu! Terutama sekali Kim Hok. Wajahnya menjadi pucat dan matanya terbelalak memandang kepada Si Kong, seolah-oelah tidak percaya kepada penglihatannya sendiri. Si Kong yang pernah dihajarnya! Tanpa dapat melawannya! Kini dapat menandingi Ang-bi Mo-li yang demikian lihainya!

Sedangkan Kim Lan ternganga, terkagum-kagum.

Ang-bi Mo-li kini menyerang dengan pedang dan kebutannya. Serangannya cepat dan dahsyat sekali. Wanita itu kini tidak berani memandang rendah setelah mendengar bahwa pemuda remaja ini murid Yok-sian Lo-kai.

Dengan sepasang senjatanya yang lihai, ia merasa sanggup menghadapi ilmu tongkat Ta-kaw Sin-tung.

Akan tetapi tiba-tiba ia terkejut sekali. Ia telah kehilangan lawannya yang tahu-tahu telah berada di belakangnya.

Demikian cepatnya gerakan Si Kong sehingga ia sendiri menjadi bingung. Pemuda itu seolah dapat menghilang.

Ternyata pemuda itu telah menggabung ilmu tongkat Ta-kaw Sin-tung dengan ilmu meringankan tubuh Liok-te Hui-teng sehingga tubuhnya seperti pandai menghilang dan gerakan tongkatnya semakin cepat sehingga seolah tongkat itu mempunyai berpuluh ujung yang menyerang dari segala penjuru.

"Takk….. tranggg………!"

Kebutan dan pedang itu terpental ketika bertemu dengan tongkat. Kecepatan gerakan pemuda itu membuat Ang-bi Mo-li teringat kepada Penyair Gila yang terkenal memiliki ginkang yang sukar ditandingi. Ia menggunakan kesempatan ketika ia melompat mundur untuk bertanya.

"Apa hubunganmu dengan Kwa Siucai?"

"Beliau adalah guruku!" jawab Si Kong pula dengan terus terang tanpa menghentikan desakannya. Ang-bi Mo-li terkejut bukan main mendengar pengakuan itu.

Pantas pemuda ini lihai bukan main, kiranya murid Yok-sian Lo-kai dan Kwa Siucai! Dengan repot ia menggerakkan kebutan dan pedangnya untuk melindungi tubuhnya dari hujan serangan ujung tongkat yang gerakannya amat cepat dan sukar diikuti pandang mata itu.

Namun, betapapun cepat ia memutar kedua senjatanya untuk melindungi tubuhnya, tetap saja ujung tongkat itu menotok pundaknya, membuat lengannya seperti lumpuh dan ia terhuyung ke belakang, memegang pundak kanannya dengan tangan kiri yang masih memegang kebutan.

Wajahnya berubah pucat, lalu kemerahan. Ia merasa malu bukan main karena jelas ia telah kalah. Ia harus mengakui ini dan menerimanya, karena kalau dilanjutkan, mungkin ia akan menderita luka yang lebih hebat. Pemuda itu terlalu cepat baginya, ilmu tongkatnya terlalu aneh dan sulit ditandingi.

"Si Kong, sekali ini aku mengaku kalah. Akan tetapi lain kali aku akan menebus kekalahan ini!" katanya untuk menutupi rasa malunya dan tanpa berkata apa-apa lagi tubuhnya melompat jauh dan ia sudah melarikan diri secepatnya dari tempat yang membuatnya malu itu.

Sejenak suasana menjadi sunyi karena keluarga Tong masih tertegun saking heran dan kagumnya. Kemudian meledaklah kegembiraan Kim Lan yang lari menghampiri Si Kong.

"Si Kong, engkau hebat sekali!’ kata gadis itu dengan penuh kekaguman.

Juga Tong Li Koan menghampiri pemuda itu dengan wajah gembira dan kagum. Pemuda yang menjadi penggembala kerbaunya ini telah menyelamatkannya! Kalau tidak ada Si Kong, dia tentu terpaksa harus meninggalkan tempat itu bersama seluruh keluarganya dan menyerahkan bukit itu kepada Ang-bi Mo-li!

"Si Kong, kenapa engkau tidak pernah memberitahukan kepadaku bahwa engkau memiliki kepandaian yang tinggi?" kata Tong Li Koan dengan nada menegur.

Kalau Tong Li Koan dan Tong Kim Lan menghampiri Si Kong dengan wajah berseri gembira dan penuh kagum, Tong Kim Hok masih berdiri di tempatnya yang tadi tanpa menggerakkan kakinya dan mukanya menjadi pucat. Dia merasa malu bukan main!

Si kong sudah mengambil keputusan untuk pergi meninggalkan Bukit Bangau. Tong Kim Hok sudah jelas tidak suka kepadanya. Untuk apa dia bekerja terus di situ kalau putera majikannya tidak suka kepadanya?

"Maaf, Lo-ya. Saya pamit karena hendak pergi dari sini."

Tong Li Koan terbelalak. "Pergi dari sini? Hendak ke mana dan mengapa pergi?"

Si Kong tersenyum. "Hendak melanjutkan pergi berkelana. Sudah terlalu lama saya tinggal di sini. Terima kasih kepada Lo-ya dan Siocia, selama ini telah bersikap baik sekali kepadaku."

"Si Kong, jangan pergi dan jangan sebut aku nona. Panggil saja namaku. Aku ingin bersahabat denganmu, ingin belajar silat darimu." Kata Kim Lan.

"Benar, Si Kong. Mulai sekarang engkau tidak usah menggembala kerbau, bantu saja mengawasi para pekerja di ladang." kata Tong Li Koan. "Engkau tidak usah pergi dari sini."

"Maaf, Loya dan Siocia. Saya harus pergi berkelana untuk meluaskan pengalamanku."

Pada saat itu Kim Hok berlari menghampirinya. Dengan muka kemerahan dia berkata. "Ayah, akulah yang bersalah mengganggunya. Si Kong, kau maafkanlah aku dan jangan pergi dari sini."

Si Kong tersenyum dan menepuk-nepuk pundak pemuda yang lebih tua darinya itu. "Sudahlah, kongcu. Kesalahan apapun yang dilakukan seseorang, kalau dia sudah insaf dan menyesali kesalahannya, hal itu baik sekali. Saya senang melihat kongcu menyadari kesalahannya."

Biarpun tiga orang itu membujuknya agar jangan pergi, tetap saja Si Kong mengambil buntalan pakaiannya, lalu mengangkat kedua tangan depan dada, berkata, "Loya, harap jangan khawatir.

Ang-bi Mo-li tentu tidak berani datang lagi. Kini kemarahannya tertumpah kepadaku, kalau ia hendak membalas tentu mencari saya bukan mencari Loya. Selamat tinggal Loya, Siocia dan Kongcu."

Tiga orang itu tidak sempat lagi menahan karena setelah berkata demikian, sekali berkelebat Si Kong yang menggunakan ginkangnya itu telah lenyap dari depan mereka.

Tong Li Koan menghela napas panjang. "Luar biasa sekali anak itu. Semuda itu telah memiliki ilmu kepandaian hebat, bahkan menjadi murid Yok-sian Lo-kai dan Kwa Siucai! Dan dia tidak malu untuk bekerja menjadi penggembala kerbau!

Luar biasa! Kim Hok, engkau patut mencontoh dia sudah pandai masih rendah hati sedemikian rupa."

"Ini semua kesalahan koko!" Kim Lan merengek. "Karena perbuatan koko, Si Kong menjadi tersinggung dan meninggalkan kita!

Koko telah menuduhnya menggembala kerbau tidak benar sehingga kaki seekor kerbaunya terluka, padahal, menurut Moli tadi, yang melukai kaki kerbau itu adalah koko sendiri!"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar