25 Suling Naga

Tiba-tiba ada gerakan di pintu. Jantung di dalam dada Hong Li berdebar penuh ketegangan. Apakah kakek jahat itu sudah akan memulai dengan siksaannya pada hal malam belum lewat? Hong Li merasa betapa seluruh bulu di tubuhnya meremang saking ngerinya, Akan tetapi, yang muncul bukanlah kakek Ang I Lama yang dibencinya, melainkan seorang wanita cantik! Usia wanita itu sebaya dengan ibunya akan tetapi pakaiannya mewah sekali. Tubuhnya tinggi ramping dan rambutnya digelung ke atas dengan dihias permata dan emas yang indah. Pakaiannya dari sutera tipis berwarna merah muda dan biru. Biarpun usianya tentu ada empatpuluh tahun, namun wanita itu masih nampak muda, dengan sepasang mata yang lebar dan tajam. Begitu memasuki kamar dan melihat Hong Li memandangnya, wanita itu menaruh telunjuk di depan mulutnya sebagai tanda agar Hong Li tidak mengeluarkan suara berisik. Hong Li diam saja, memandang dengan heran, akan tetapi juga dengan penuh harapan. Mudah diduga dari sikapnya bahwa kedatangan wanita asing ini tentu bermaksud baik terhadap dirinya.

Ketika wanita itu menghampiri pembaringan. Hong Li mencium bau yang harum seperti bunga mawar dan begitu wanita itu tersenyum kepadanya, ia merasa suka sekali. Seorang wanita cantik dan ramah, dan tentu datang untuk menolongnya, pikirnya.

"Bibi, engkau siapakah?"

"Sstttt....!" Wanita itu mendesis lirih. "Aku datang untuk menolongmu, akan tetapi aku harus dapat mengalahkan dulu Ang I Lama...."

Hong Li memandang terbelalak, kagum. "Dapatkah engkau mengalahkan dia, bibi?" tanyanya, penuh keraguan mengingat akan kesaktian pendeta Lama yang menculiknya itu. "Tidakkah lebih baik bibi membebaskan aku, lalu kita melarikan diri selagi dia tidak berada di sini?"

Wanita itu menggeleng kepalanya. "Engkau tidak tahu siapa Ang I Lama. Dia akan mengejar dan akhirnya aku harus berhadapan dengan dia pula. Tidak, aku harus lebih dulu mengalahkan dia, baru aku akan dapat membebaskanmu. Engkau bernama Kao Hong Li, ayahmu Kao Cin Liong putera Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir dan ibumu cucu Pendekar Super Sakti dari Pulau Es, bukan?"

Hong Li mengangguk, tidak merasa heran kalau wanita ini mengenal ayah ibunya, karena ia tahu bahwa nama ayah dan ibunya terkenal sekali di dunia kang-ouw.

"Aku suka dan kagum kepadamu. Engkau tabah dan berani, engkau keturunan para pendekar dan keluarga yang amat terkenal. Dan aku akan menghadapi Ang I Lama dengan taruhan nyawa untuk menolongmu. Oleh karena itu, sudah sepatutnya kalau aku minta engkau ingat akan pertolonganku dan membalas budi, bukan?"

Kembali Hong Li mengangguk. Kalau wanita ini menandingi Ang I Lama dengan mempertaruhkan nyawa untuk menolongnya, tentu saja ia berhutang budi dan nyawa kepadanya. "Aku akan berterima kasih sekali, bibi."

Wanita itu tersenyum. Manis sekali kalau tersenyum. "Apa gunanya terima kasih untukku? Dengar, Hong Li. Aku akan menandingi Ang I Lama dan kalau berhasil mengalahkannya, aku akan membebaskanmu. Akan tetapi, untuk itu aku minta engkau berjanji bahwa engkau akan mengangkat aku sebagai ibu dan guru."

"Eh, mengapa sebagai ibu?" Hong Li terheran.

"Aku.... aku merindukan seorang anak dan engkau pantas menjadi anak angkatku, Hong Li. Nah, maukah engkau?"

"Menjadi anak angkat dan murid?"

"Bukan itu saja. Engkau harus berjanji mengangkat aku sebagai ibu dan guru, kemudian juga bahwa selama lima tahun engkau akan hidup bersamaku, mempelajari ilmu dan menemani aku sebagai ibu angkatmu."

Hong Li merasa bimbang. Permintaan yang aneh-aneh. Akan tetapi wanita ini hendak mempertaruhkan nyawa menolongnya dan kalau benar dapat mengalahkan Ang I Lama, memang wanita ini patut menjadi gurunya. Juga apa salahnya mengangkat seorang wanita baik yang menyelamatkannya sebagai ibu?

"Hanya itu?" ia bertanya lagi.

"Hanya itu, juga engkau harus berjanji bahwa selamanya, melindungi aku dari gangguan dan serangan siapapun juga."

Tentu saja permintaan terakhir ini tidak berat, bahkan tanpa diminta sekalipun, siapa yang tidak akan melindungi dan membela ibu angkatnya dari serangan orang lain? Kembali ia mengangguk.

"Baiklah, aku berjanji...."

"Hong Li, urusan ini bukan main-main, melainkan persoalan hidup atau mati bagiku, juga menyangkut kebahagiaan hidupku selanjutnya, karena itu, tidak cukup engkau berjanji. Bersumpahlah!"

Kembali Hong Li terkejut. Selamanya belum pernah ia bersumpah dan permintaan wanita ini agar ia bersumpah mengejutkannya dan membuatnya bimbang. Akan tetapi hanya untuk sebentar saja. Janji dan sumpahnya untuk sesuatu yang baik, apa salahnya kalau ia akan diselamatkan dan ditolong oleh wanita ini.

"Baikiah, subo (ibu guru). Saya bersumpah kalau subo dapat membebaskan aku dari tangan Ang I Lama, aku akan mengangkatmu sebagai ibu dan juga sebagai guru, dan aku akan membela dan melindungimu dari gangguan siapapun juga!"

Wanita itu nampak girang bukan main, membungkuk dan mencium pipi Hong Li dengan bibirnya. "Anakku sayang, muridku yang hebat! Kau tunggu saja, agar jangan mendatangkan curiga, sementara engkau rebah dalam keadaan terikat dulu. Aku akan menghadang Ang I Lama di luar dan aku akan mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaianku untuk mengalahkannya." Setelah berkata demikian, wanita itu meloncat dan lenyap dari dalam kamar itu.

Hong Li termenung. Hatinya diliputi kebimbangan. Memang, dari gerakannya ketika meloncat atau menghilang tadi, ia dapat mengetahui bahwa wanita yang belum diketahui namanya itu memiliki kepandaian tinggi. Akan tetapi, mampukah wanita itu mengalahkan Ang I Lama yang demikian saktinya? Apa lagi kalau diingat bahwa Ang I Lama memiliki ilmu sihir, ia bergidik. Andaikata wanita cantik itu memiliki ilmu silat tinggi seperti ibunya dan mampu menandingi Ang I Lama dalam perkelahian, akan tetapi bagaimana kalau kakek Tibet itu mempergunakan ilmu sihir? Kalau wanita itu sampai kalah dan tertawan, terluka atau bahkan terbunuh, ia akan merasa semakin menyesal karena berarti bahwa kematian wanita itu adalah karena membelanya!

Waktu terasa merayap lambat sekali bagi Hong Li yang tenggelam dalam ketegangan sejak munculnya wanita cantik itu. Ia bahkan terkejut ketika muncul Ang I Lama dari pintu. Kakek itu menjenguknya lalu tertawa melihat betapa ia masih rebah terlentang dengan kaki tangan terikat.

"Ha-ha-ha, sudah cukupkah engkau merenungkan nasibmu? Nanti kalau, matahari mulai memasukkan sinarnya melalui jendela itu, aku akan datang dan minta keputusanmu, apakah engkau mau menyerah ataukah memilih mati tersiksa. Ha-ha-ha!" Ang I Lama lalu keluar lagi sambil tertawa.

Tiba-tiba perhatian Hong Li tertarik oleh suara yang terdengar dari luar kamar itu. Terdengar suara gedebugan dan gerakan orang berloncatan, disusul bentakan Ang I Lama, "Sin-kiam Mo-li, berani engkau menyerangku?"

Lalu terdengar jawaban yang mendebarkan hati Hong Li karena ia mengenal suara wanita cantik tadi "Ang I Lama, tinggalkan tempat ini dan biarkan aku yang mengurus Kao Hong Li karena ia berjodoh untuk menjadi anak angkatku!"

"Ha-ha-ha, Sin-kiam Mo-li, apakah engkau hendak mengantar kematianmu maka berani mencampuri urusanku? Nah, terimalah kematianmu!" Kembali terdengar suara gedebugan dan Hong Li dengan mata terbelalak dan hati berdebar penuh ketegangan dan kekhawatiran mendengar gerakan orang yang sangat ringan dan cepat. Juga terdengar suara berdesing-desing. Ia menduga bahwa yang bersenjata pedang itu tentulah Sin-kiam Mo-li karena bukankah julukannya itu sudah menunjukkan bahwa wanita itu merupakan seorang ahli pedang. Sin-kiam Mo-li (Iblis Betina Berpedang Sakti), julukan yang mengerikan. Kenapa wanita secantik dan sebaik itu dijuluki Iblis Betina, pikir Hong Li dengan penasaran. Diam-diam ia berdoa agar wanita itu memperoleh kemenangan dalam perkelahian yang terjadi di luar kamar itu.

Tak lama kemudian, di antara suara gerakan orang bersilat itu, terdengar seruan Ang I Lama, "Kiam-sutmu hebat juga. Akan tetapi lihat, apakah ini?" Dan terdengarlah suara ledakan-ledakan yang mengejutkan hati Hong Li karena anak itu maklum bahwa tentu pendeta Lama itu telah mempergunakan ilmu sihirnya. Ia memandang khawatir sekali ke arah pintu dan melihat asap putih mengepul di luar pintu itu. Celaka, pikirnya, mampuskah Sin-kiam Mo-li menghadapi ilmu sihir yang aneh itu?

Akan tetapi, terdengar suara ketawa lembut wanita itu. "Hemm, Ang I Lama, permainan sihirmu ini merupakan permainan kanak-kanak bagiku." Kembali terdengar suara gedebugan, disusul suara Ang I Lama berteriak seperti orang kesakitan.

"Ahhhh. engkau benar lihai....!" Dan suara perkelahian itupun terhenti, tanda bahwa di luar kamar tidak ada lagi orang berkelahi.

Hong Li sampai merasa pedas pada matanya karena sejak tadi ia memandang ke arah pintu dengan mata terbelalak, tak pernah berkedip, dengan hati tegang. Ia tidak tahu bagaimana kesudahan perkelahian itu, akan tetapi mendengar suara-suara mereka tadi, ia merasa yakin bahwa penolongnya tidak kalah walaupun pendeta Tibet itu mempergunakan ilmu sihir. Dugaannya terbukti kebenarannya ketika ia mendengar langkah kaki halus dan muncullah Sin-kiam Mo-li di ambang pintu. Sinar lampu yang tidak begitu cerah menimpa wajah yang nampak cantik itu dan wanita itu tersenyum.

"Subo, kau menang....! Hong Li berseru dan wanita itu semakin girang. Sejak bersumpah, anak ini telah menyebutnya subo! Ia lalu melangkah menghampiri dipan. "Subo, bagaimana engkau bisa melawan ilmu sihirnya?

Wanita itu memperlebar senyumnya. "Sihir merupakan permainan kanak-kanak bagiku, Hong Li. Lihat ini!" ia menggerakkan kedua tangannya ke arah tangan dan kaki Hong Li dan.... ikatan pada pergelangan tangan dan kaki anak itupun putus-putus dan Hong Li bebas seketika!

Dengan girang dan kagum sekali Hong Li bangkit dari pembaringan, kemudian, sebagai seorang anak angkat dan murid yang tahu diri, ia menjatuhkan diri berlutut di depan kaki wanita itu. "Subo, terima kasih atas pertolonganmu!"

Sin-kiam Mo-li merangkul Hong Li dan mengangkatnya bangun. Hong Li memandang wanita itu dengan wajah berseri. "Ah, subo tentu lihai sekali mempergunakan pedang-pedang itu." ia menudingkan ke arah sepasang pedang yang berada di punggung Sin-kiam Mo-li. Sebatang pedang pendek dan sebatang pedang panjang. "Mengingat akan julukan subo, Sin-kiam Mo-li, tentu subo merupakan ahli pedang yang hebat!"

Wanita itu mengangguk-angguk. "Hong Li, engkau takkan kecewa menjadi anak angkat dan muridku."

Tiba-tiba teringatlah Hong Li bahwa ia sudah bersumpah mengangkat guru dan ibu kepada wanita ini, dan selama lima tahun ia akan ikut dengan wanita ini, bahkan berjanji akan membela dan melindunginya kelak selama hidupnya. Teringatlah ia akan orang tuanya sendiri dan tiba-tiba saja ia menjadi bingung.

Sin-kiam Mo-li memiliki pandang mata yang tajam. Ia melihat kebimbangan menyelimuti wajah anak itu, maka iapun bertanya sambil mengerutkan alisnya, "Ada apakah, Hong Li?"

Hong Li adalah seorang anak yang berwatak jujur. Ia memandang wajah gurunya dan berkata, "Subo, tiba-tiba saja aku teringat kepada ayah ibuku. Memang benar bahwa aku telah berjanji dan bersumpah kepadamu, dan aku juga akan memenuhi janjiku, selain mengangkatmu sebagai ibu dan guru, juga ikut bersamamu selama lima tahun dan kelak aku akan membela dan melindungimu. Akan tetapi, subo harus tahu bahwa orang tuaku tentu kehilangan aku dan kini mencari-cariku. Bagaimana kalau subo membawa aku lebih dulu pulang untuk berpamit kepada orang tuaku? Aku pasti akan memenuhi janjiku, aku hanya tidak ingin membuat mereka berkhawatir dan berduka."

Akan tetapi Sin-kiam Mo-li menggeleng kepalanya. "Hong Li, permintaanmu ini tentu saja tidak mungkin dapat kupenuhi. Bayangkan saja. Kalau kita bertemu dengan ayah ibumu, apakah engkau kira mereka akan mengijinkan aku pergi membawamu? Dan aku tidak ingin bentrok dengan mereka karena memperebutkan engkau, Hong Li.

Hong Li dapat mengerti akan alasan subonya. "Akan tetapi, bagaimana kalau pada suatu hari ayah ibuku dapat menemukan kita, subo?"

"Mungkin saja, karena mereka orang-orang yang lihai. Dan kalau terjadi hal itu, tentu mereka akan memaksa untuk membawamu pergi, dan aku akan mempertahankan. Kalau sudah begitu, aku hanya mengharapkan kebijaksanaanmu dan kejujuranmu juga kesetiaanmu akan janji dan sumpahmu."

"Jangan khawatir, subo" kata anak perempuan itu dengan sikap gagah. "Aku sudah berjanji dan bagiku, janji adalah kehormatan. Seorang gagah lebih mengutamakan kehormatan daripada nyawa. Dan aku yakin bahwa ayah dan ibu juga tidak ingin melihat anak mereka menjadi seorang pengkhianat yang melanggar sumpahnya sendiri!"

"Bagus, anakku yang baik, muridku yang hebat kelak engkau akan amat berguna bagiku. Aku girang sekali telah menolongmu, Hong Li. Mari ikutlah aku, kita pulang."

"Pulang?"

"Ya, pulang." Sin-kiam Mo-li tersenyum. "Kau kira aku tidak mempunyai tempat tinggal? Marilah, dan engkau akan merasa senang sekali tinggal di rumahku, eh, sekarang menjadi rumah kita."

Akan tetapi, ternyata bahwa mereka harus melakukan perjalanan sampai puluhan hari untuk dapat tiba di tempat tinggal Sin-kiam Mo-li, karena tempat itu berada di tepi Sungai Cin-sa di kaki Pegunungan Heng-tuan, di tapal batas sebelah barat dari Propinsi Secuan!

***

Dengan melakukan perjalanan yang cepat dan jarang berhenti, Kao Cin Liong dan Suma Hui akhirnya tiba juga di Lhasa, di kota terbesar daerah Tibet itu, tempat yang menjadi pusat dari pemerintahan para Dalai Lama, dan juga menjadi pusat para pendeta Lama. Tempat ini dianggap keramat oleh para pendeta Lama dan oleh seluruh rakyat di Tibet.

Kao Cin Liong adalah seorang yang sudah banyak pengalaman. Ketika dia menjadi seorang panglima kerajaan, dia pernah memimpin pasukan sampai di Tibet, dan sebagai seorang panglima, dia amat dikenal di jaman itu. Maka, kini dia memasuki daerah Tibet tanpa merasa asing. Isterinya, Suma Hui yang belum pernah melihat kota Lhasa, memandang penuh kagum dan diam-diam merasa khawatir. Tembok kota Lhasa demikian kokoh kuat, dan istana yang menjadi pusat para pendeta Lama itu demikian megah, besar dan indah. Kalau puterinya berada di dalam istana itu, bagaimana ia akan mampu mengeluarkannya? Akan tetapi. ketenangan suaminya menimbulkan kembali kepercayaan diri dan keyakinannya bahwa mereka berdua pasti akan dapat menemukan dan membawa pulang puteri mereka tercinta, anak tunggal mereka.

Para pendeta Lama yang menjadi pimpinan di situ, banyak di antaranya yang mengenal bekas Panglima Kao Cin Liong dan merekapun menyambut kunjungan suami isteri itu dengan hormat dan ramah. Suami isteri pendekar itu tidak mau menceritakan kehilangan anak mereka, dan mereka hanya mengatakan bahwa mereka mempunyai urusan pribadi yang penting dengan seorang pendeta Lama berjuluk Ang I Lama.

"Mohon petunjuk para suhu apakah di sini terdapat seorang suhu yang berjuluk Ang I Lama, karena kami berdua sengaja datang dari jauh untuk mencarinya, untuk suatu urusan pribadi yang penting antara suhu Ang I Lama dan kami," demikian antara lain Kao Cin Liong menyatakan keperluan kunjungan mereka di tempat suci itu.

"Omitohud.... aneh sekali kalau ada tamu mencari Ang I Lama untuk urusan pribadi, karena setahu kami, sudah hampir dua tahun Ang I Lama mengasingkan diri dan tidak pernah berurusan deugan dunia luar. Akan tetapi kalau taihiap ingin mengetahui tempat tinggalnya, Ang I Lama kini berada di dalam guha di puncak Bukit Biruang Putih, tidak jauh dari sini."

Suma Hui tidak dapat menahan keinginan tahunya. Setelah suaminya mengucapkan terima kasih atas keterangan itu, iapun bertanya, "Cu-wi losuhu, kalau tidak salah, suhu Sai-cu Lama juga berasal dari sini, bukan?"

Mendengar pertanyaan ini, para pendeta Lama saling pandang dan muka mereka menjadi kemerahan. "Omitohud....!" Seorang di antara mereka menjura ke arah Suma Hui. "Semoga Sang Buddha mengampuni kami. Memang benar, lihiap, Sai-cu Lama berasal dari sini. Akan tetapi dia murtad dan untung ada Tiong Khi Hwesio yang menolong kami dan menundukkannya. Sahabat kami Tiong Khi Hwesio sudah mengunjungi kami beberapa hari yang lalu dan sudah menceritakan bahwa dia berhasil melenyapkan Sai-cu Lama berkat bantuan para pendekar dan di antara mereka yang membantu untuk membasmi komplotannya termasuk ji-wi. Karena itu, dalam kesempatan ini, pinceng mewakili saudara kami sekalian menghaturkan terima kasih kepada ji-wi."

Kao Cin Liong dan isterinya cepat membalas penghormatan itu, dan bekas panglima itu merasa tidak enak melihat sikap para pendeta Lama yang menjadi kikuk ketika disebut nama Sai-cu Lama yang dianggap mengotorkan nama para pendeta Lama di Tibet.

"Harap cuwi losuhu memaafkan kami. Isteriku menyebut nama Sai-cu Lama karena kami menduga bahwa ada hubungan antara Sai-cu Lama dan Ang I Lama." Dengan ucapan ini, Cin Liong sengaja memancing keterangan tentang kedua orang pendeta Lama itu.

"Omitohud.... dugaan ji-wi memang tepat sekali, Ang I Lama adalah sute dari mendiang Sai-cu Lama, akan tetapi biarpun mereka itu saudara seperguruan, sungguh perbedaan antara mereka seperti bumi dengan langit. Sai-cu Lama menyeleweng dari pada kebenaran dan tersesat mengingkari ajaran-ajaran agama, sebaliknya Ang I Lama adalah seorang yang benar-benar taat kepada agama, bahkan selalu prihatin dan bertapa untuk mencari penerangan dan kedamaian."

Akan tetapi, keterangan bahwa ada hubungan saudara seperguruan antara kedua pendeta Lama itu, menambah keyakinan hati suami isteri itu bahwa mereka telah menemukan jejak yang benar. Tentu Ang I Lama menculik puteri mereka karena hendak membalas dendam atas kematian suhengnya, Sai-cu Lama pikir mereka. Mereka tahu bahwa dendam dapat saja membutakan mata batin manusia, dan bukan tidak mungkin kalau Ang I Lama yang katanya tekun bertapa itu tidak dapat menahan dendam sakit hatinya.

Setelah memperoleh keterangan dan petunjuk tentang tempat tinggal atau tempat bertapa Ang I Lama, suami isteri pendekar itu lalu menghaturkan terima kasih dan meninggalkan istana para pendeta Lama di kota Lhasa itu, dan dengan cepat mereka mendaki bukit yang bernama Bukit Biruang Putih karena dari jauh memang bentuknya seperti seekor biruang. Di musim dingin, puncak itu diliputi salju sehingga nampak seperti seekor biruang putih, dan di musim panas, masih nampak putih karena puncaknya adalah batu kapur yang gundul.

Hari telah siang ketika suami isteri itu akhirnya tiba di depan guha besar, sebuah guha di puncak bukit kapur dan guha itu sudah memakai pintu kayu buatan manusia. Sunyi sekali di situ dan pemandangan alam dari depan guha memang amat indahnya. Dari situ nampak kota Lhasa, bahkan istana para pendeta Lama juga nampak dari situ, kelihatan seperti mainan saja, namun amat indahnya. Suma Hui berkeringat karena ketegangan hatinya. Ia membayangkan akan dapat menemukan puterinya di dalam gua itu, maka hatinya tegang bukan main. Masih selamatkah puterinya? Dan akan mampukah ia dan suaminya merampas kembali puteri mereka kembali?

Menurutkan dorongan hatinya, ingin Suma Hui menerjang dan menghancurkan pintu guha itu, namun suaminya yang maklum akan keadaan hati isterinya, menggeleng kepalanya memberi isyarat, lalu dia sendiri mendekati pintu kayu yang tertutup dan berkata dengan suara menghormat tidak keras akan tetapi karena dia mengerahkan khi-kangnya, maka suara itu dapat menembus daun pintu ke dalam guha.

"Locianpwe Ang I Lama, maafkan kalau kami datang mengganggu . Kami suami isteri Kao Cin Liong dan Suma Hui dari jauh di timur datang berkunjung untuk bertemu dan bicara dengan locianpwe!"

Keheningan menjawab suara Kao Cin Liong. Suami isteri itu menanti sampai beberapa lama, namun tidak ada jawaban. Mereka saling pandang dan kemarahan nampak di wajah Suma Hui. Wanita ini melangkah mendekati pintu dan tanpa dapat dicegah suaminya lagi, ia menggedor pintu itu.

"Dor-dor-dorrr....!" Daun pintu itu terguncang, lalu ia berteriak, suaranya nyaring sekali. "Ang I Lama, engkau telah menculik puteri kami! Keluarlah dan kembalikan puteri kami kepada kami atau aku akan menghancurkan daun pintu guha ini!"

Kini segera terdengar suara dari balik pintu itu, "Omitohud.... apakah dosa pinceng maka hari ini kejatuhan fitnah yang keji ini....?"

Daun pintu terbuka dari dalam dan muncullah seorang kakek yang berpakaian serba kuning dengan jubah lebar berwarna merah. Kakek ini usianya sekitar enampuluh tahun, bertubuh tinggi kurus, dengan sepasang mata yang tajam namun lembut sinarnya, dan wajahnya yang nampak sabar dan tenang. Dengan langkah lambat dia keluar pintu guha dan menghadapi suami isteri itu dengan sinar mata mengandung keheranan. Sejenak matanya memandang kepada suami isteri itu penuh selidik, kemudian dia berkata lagi.

"Omitohud, tadi pinceng mendengar bahwa ji-wi adalah Panglima Kao Cin Liong dan isterinya Suma Hui. Benarkah itu?"

"Saya bukan panglima lagi, locianpwe. Benar saya adalah Kao Cin Liong dan ini isteriku Suma Hui. Kami datang dari Pao-teng, sengaja untuk mencari dan menemui locianpwe."

"Omitohud.... sungguh merupakan kehormatan besar sekali bagi pinceng. Sayang pinceng tidak dapat menyambut dengan kehormatan, akan tetapi, ada urusan penting apakah maka ji-wi jauh-jauh datang mencari pinceng?"

Suma Hui sudah tidak sabar lagi. Tadi ketika kakek itu muncul, ia mengharapkan kakek itu akan disertai Hong Li. Akan tetapi anak itu tidak nampak, maka ia merasa khawatir sekali.

"Bukankah engkau yang berjuluk Ang I Lama?" tiba-tiba ia bertanya dengan sikap ketus.

Sikapnya ini membuat kakek itu memandang heran, akan tetapi dengan lembut dia mengangguk. "Benar sekali."

"Kalau begitu, jangan berpura-pura lagi dan cepat bawa keluar anak kami Kao Hong Li dan serahkan kembali kepada kami!"

Kini kakek itu memandang kepada mereka berdua dengan sinar mata penuh keheranan, dan melihat betapa mereka berdua juga memandang kepadanya penuh selidik.

"Omitohud, jadi yang pinceng dengar tadi bukan hanya mimpi? Semula pinceng mendengar bahwa ji-wi datang untuk bicara dan karena sudah bertahun-tahun pinceng bertapa, pinceng terpaksa tidak melayani. Lalu terdengar fitnah keji itu yang memaksa pinceng keluar. Apakah artinya ini? Pinceng sama sekali tidak pernah menculik puteri ji-wi atau puteri siapapun juga. Bahkan selama dua tahun ini baru sekaranglah pinceng keluar dari dalam guha ini."

Suami isteri itu saling pandang dengan alis berkerut. Sungguh tidak mereka sangka mereka akan mendengar jawaban seperti ini. Sama sekali tidak menyenangkan! Kalau benar bukan pendeta Lama ini yang menculik Hong Li, berarti mereka telah melakukan perjalanan jauh dengan sia-sia. Bukan itu saja, juga harapan mereka untuk dapat menemukan kembali anak mereka di situ menjadi buyar, dan di samping itu mereka akan meraba-raba di dalam kegelapan karena tidak tahu siapa penculik itu dan di mana adanya puteri mereka.

"Ang I Lama, tak perlu engkau membohongi kami! Mana mungkin ada orang tinggal di dalam guha selama bertahun-tahun, tanpa makan dan minum. Kalau engkau tidak pernah keluar, berarti engkau tidak pernah makan minum dan hal itu saja membuktikan kebohonganmu!" teriak Suma Hui tak sabar, ngeri membayangkan bahwa benar-benar pendeta ini bukan penculik Hong Li.

"Omitohud, selama hidup pinceng tidak pernah berbohong. Lihat, lihiap, setiap dua tiga hari sekali ada murid Lama yang datang mengantar makanan dan minuman, ditaruhnya di luar daun pintu. Itu kiriman pagi tadi belum kuambil. Biasanya, pinceng hanya mengeluarkan tangan untuk mengambil makanan atau minuman sekedar untuk menghidupkan badan ini." Pendeta Lama itu menuding ke dekat pintu, dan benar saja. Di situ nampak sebuah baki terisi beberapa potong roti, madu dan air dalam botol.

Kao Cin Liong menjura. "Maaf, locianpwe, harap diketahui bahwa kami berdua berada dalam keadaan penuh kekhawatiran dan kedukaan. Anak tunggal kami diculik orang yang menurut anak-anak yang menyaksikannya, penculik itu adalah seorang pendeta berjubah merah yang mengaku bernama Ang I Lama, dan menurut keterangan mereka, bentuk muka dan tubuhnya cocok dengan keadaan locianpwe. Penculik itu berilmu tinggi dan mempergunakan ilmu sihir ketika melarikan anak kami. Mendengar nama itu kami jauh-jauh dari Pao-teng, melakukan perjalanan berbulan-bulan, menyusul ke sini. Setelah bertemu dengan locianpwe dengan penuh harapan akan bertemu dengan anak kami, tentu saja jawaban locianpwe itu mengecewakan sekali dan kami tidak dapat percaya begitu saja."

Kakek pendeta itu mengangguk-angguk. "Pinceng dapat mengerti dan dapat merasakan kecemasan ji-wi. Dari rumah yang amat jauh ji-wi membawa harapan untuk dapat menemukan kembali puteri ji-wi di sini, tentu saja ji-wi tidak mau menerima begitu saja kenyataan yang akan meghancurkan harapan ji-wi. Nah, pinceng persilahkan ji-wi untuk menggeledah ke dalam guha ini dan mencari puteri atau jejak puteri ji-wi."

"Biar aku yang memeriksa ke dalam dan kau menjaga di sini!" kata Suma Hui mendahului suaminya. Cin Liong tahu bahwa isterinya masih belum percaya kepada Ang I Lama dan takut kalau-kalau pendeta itu melarikan diri, maka diapun mengangguk.

Dengan hati penuh ketegangan, juga harapan, Suma Hui lalu memasuki guha itu. Sebuah guha yang cukup lebar dan di dalamnya bersih sekali, mendapatkan cukup hawa, bukan hanya dari pintu yang kini terbuka, juga dari lubang-lubang di bagian atas yang memasukkan hawa dan cahaya matahari. Lantainya dari batu yang halus dan bersih, dan di dalamnya hanya terdapat sebuah dipan kayu bertilam kasur tipis, kitab-kitab agama, tasbeh dan alat-alat sembahyang. Suma Hui meneliti guha itu penuh perhatian, bahkan memeriksa keadaan lantai dengan teliti sekali, mencari jejak puterinya, juga mencari kalau-kalau di situ terdapat alat-alat rahasia dan tempat tersembunyi. Namun, ia tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan, juga tidak menemukan jejak atau tanda-tanda bahwa puterinya pernah berada di tempat itu. Saking kecewa dan bingungnya, kedua mata Suma Hui basah air mata ketika ia keluar dari dalam guha itu. Bagaikan seekor harimau betina kehilangan anaknya, ia menghadapi Ang I Lama dengan sikap marah dan ia membentak.

"Ang I Lama, aku tidak menemukan anakku di dalam guha. Tentu engkau telah menyembunyikan di tempat lain. Hayo kau mengaku dan kembalikan anakku, kalau tidak aku akan memaksamu agar mengaku!"

"Omitohud.... pinceng tidak pernah menculik puteri ji-wi dan pinceng tidak berbohong. Lihiap sudah menggeledah guha pinceng. Lalu apa lagi yang harus pinceng lakukan untuk meyakinkan hati ji-wi bahwa pinceng tidak pernah menculik puteri ji-wi?"

"Semua saksi mengatakan bahwa engkaulah penculiknya!" Suma Hui membentak marah. Ia mengharapkan sekali bahwa kakek inilah penculiknya, karena kalau bukan kakek ini, lalu siapa dan ke mana ia harus mencari anaknya? Perjalanan dari rumahnya ke Tibet merupakan perjalanan yang amat jauh dan sukar, dan ia tidak mau melihat perjalanannya ini sia-sia belaka.

"Omitohud...., sungguh luar biasa sekali. Semua saksi mengatakan bahwa pinceng yang melakukan penculikan itu. Akan tetapi pinceng tidak melakukannya. Mengapa pinceng harus melakukan perbuatan jahat itu? Pinceng tidak pernah bermusuhan dengan siapapun, apa lagi dengan ji-wi," kata kakek itu sambil menarik napas panjang.

"Maafkan kami, locianpwe," kata Cin Liong dengan sikap yang masih hormat. "Bukankah locianpwe masih saudara seperguruan dari mendiang Sai-cu Lama?"

"Mendiang....?" Wajah pendeta itu nampak terheran.

"Dia telah tewas ketika berkomplot dengan pengkhianat dan mengacau di kota raja, dan kami membantu para pendekar yang menghancurkan komplotannya. Nah, hal ini agaknya merupakan alasan yang cukup kuat andaikata locianpwe melakukan balas dendam dengan menculik anak kami."

"Omitohud....! Tentang kematian suheng Sai-cu Lama pun baru sekarang pinceng dengar, bagaimana pinceng dapat mendendam? Sungguh menyedihkan bahwa dia meninggal dunia dalam keadaan penuh dosa. Biarpun pinceng benar sutenya, namun di antara kami tidak pernah ada hubungan, lahir ataupun batin. Andaikata pinceng sudah tahu akan kematiannya sekalipun, pinceng tidak akan mendendam kepada siapapun juga. Hanya Thian yang menentukan kematian seseorang. Ji-wi atau siapapun juga tidak mungkin dapat membunuh seseorang tanpa kehendak Thian, Hanya Thian yang membunuh atau menghidupkan seseorang."

"Tak perlu banyak alasan kosong! Siapa tidak tahu bahwa diantara para Lama jubah marah terdapat banyak yang menyeleweng? Jubah pendetamu, kepala gundulmu, dan pertapaanmu hanya untuk kedok saja, menutupi semua keburukan yang dapat kau lakukan. Ang I Lama, para saksi itu adalah sekumpulan anak yang masih bersih dan jujur. Mereka tidak mungkin membohong. Mereka melihat sendiri betapa penculik itu adalah seorang pendeta yang berjubah merah, dan pendeta itu mengaku bernama Ang I Lama! Engkau hendak menyangkal, terpaksa aku menggunakan kekerasan!" Berkata demikian, Suma Hui yang sudah menjadi marah sekali karena cemas tidak berhasil menemukan jejak puterinya, segera menggerakkan tubuhnya, menyerang dengan hebatnya.

Serangan wanita ini amat hebat dan dahsyat karena ia sedang marah dan ia merasa yakin bahwa kakek yang diserangnya inilah penculik puterinya, maka begitu menyerang ia sudah menggunakan sebuah jurus dari Cui beng Pat-ciang (Delapan Pukulan Pengejar Roh). Melihat datangnya serangan dahsyat ini, terdengar Ang I Lama mengeluh dan kakek inipun cepat meloncat ke belakang. Tubuh kakek ini demikian ringannya seolah-olah dia dapat terbang saja dan ketika pukulan itu datang dengan hawa pukulan yang amat kuat, tubuhnya terdorong ke belakang seperti sehelai kapas yang dipukul saja!

Melihat pukulan pertamanya tidak mengenai sasaran, Suma Hui sudah menerjang lagi, melanjutkannya dengan serangan-serangan yang dahsyat, kini mempergunakan tenaga Hui-yang Sin-kang yang mengeluarkan hawa panas. Kakek itu terhuyung-huyung ke belakang sambil mengatur langkah-langkah ajaib untuk menghindarkan semua pukulan dan ketika serangkaian pukulan itu lewat tanpa mengenai tubuhnya, diapun berseru dengan nada sedih.

"Omitohud.... apakah ilmu-ilmu dari keluarga Pulau Es hanya untuk membunuh orang yang tidak bersalah?"

Mendengar keluhan ini, Suma Hui merasa disindir, akan tetapi ia menjadi semakin marah dan penasaran.

"Singgg....! Nampak sinar berkelebat, sinar yang menyilaukan mata dari sepasang pedang yang sudah dicabut oleh wanita perkasa itu. "Ang I Lama, untuk menemukan kembali puteriku, aku berani menghadapi siapa saja dan membunuh siapa saja!" bentaknya dan iapun kini menyerang dengan sepasang pedangnya!

Ang I Lama meloncat ke belakang dengan gerakan seperti seekor kera dan diapun mengeluh, "Omitohud.... lihiap terlalu mendesak! Kegelisahan dan kedukaan telah membuat lihiap menjadi mata gelap."

Suma Hui tidak perduli dan mendesak terus dengan pedang-pedangnya. Kakek itu bersilat dengan gerakan-gerakan lucu, seperti seekor kera, akan tetapi dia berhasil berloncatan menyelinap di antara gulungan kedua sinar pedang. Memang Ang I Lama adalah seorang ahli silat Sin-kauw-kun (Silat Kera Sakti) yang amat lihai. Diapun memiliki sepasang pedang dan menjadi ahli bermain siang-kiam, akan tetapi menghadapi amukan Suma Hui, jelas bahwa dia selalu mengalah, dan tidak mau mempergunakan sepasang pedangnya walaupun serangan-serangan wanita sakti itu amat berbahaya bagi keselamatan dirinya.

Menghadapi desakan sepasang pedang yang demikian lihainya seperti sepasang pedang di tangan Suma Hui yang memainkan Ilmu Pedang Siang-mo Kiam-sut (Ilmu Pedang Sepasang Iblis), satu di antara ilmu-ilmu keluarga Pulau Es yang amat hebat, mana mungkin hanya mengelak saja? Untuk menyelamatkan dirinya, terpaksa Ang I Lama harus membalas serangan lawan untuk membendung gelombang serangan Suma Hui. Akan tetapi dia membalas bukan dengan maksud mencelakai lawan, melainkan sekedar menahan desakan lawan, dengan cengkeraman-cengkeraman keras untuk merampas pedang dan totokan-totokan untuk melumpuhkan tubuh lawan.

Ketika sepasang pedang Suma Hui mendesak hebat, tiba-tiba dengan gerakan aneh, tubuh kakek pendeta itu menyelinap dan berada di belakang tubuh wanita itu, tangan kanannya menyambar ke arah tengkuk untuk melakukan totokan. Akan tetapi, Suma Hui membalik dan pedangnya menyambar, membabat ke arah lengan yang diulur ke arah tengkuknya tadi. Sinar pedang berkelebat dan Ang I Lama tidak sempat lagi untuk mengelak dan walaupun dia sudah menarik kembali lengannya, tetap saja pedang itu menyambar ke arah lengannya dan.... "crokkk....!" setengah dari lengan itu terbabat buntung!

"Hui-moi, jangan....!" Kao Cin Liong berseru kaget dan meloncat ke depan, memegang lengan isterinya dan menariknya lembut agar isterinya menahan dirinya.

"Omitohud, sungguh berbahaya....!" kata kakek itu dan diapun memandang lengan kanannya yang ternyata masih utuh, akan tetapi lengan bajunya yang buntung setengahnya. Kiranya kakek ini, dalam saat terakhir ketika pedang membabat, masih sempat menarik lengannya di dalam lengan baju sehingga yang terbabat buntung hanya lengan bajunya saja!

Melihat kenyataan itu, diam-diam Cin Liong terkejut dan girang. Girang karena ternyata isterinya tidak jadi membikin cacat pendeta yang belum tentu berdosa ini, dan terkejut karena maklum bahwa kakek ini sungguh sakti, sudah dapat membuat lengannya mulur dan mengkeret. Ilmu seperti itu dapat membuat lengan mulur sampai dua kali panjang lengan itu, dan dapat membuat lengan itu memendek sampai setengahnya, seperti yang dilakukan kakek tadi untuk menyelamatkan lengannya dari babatan pedang.

"Sudahlah, Hui-moi. Agaknya memang locianpwe ini tidak bersalah karena sejak tadi dia mengalah terus menghadapi serangan-seranganmu. Kalau bukan dia yang melakukan, berarti ada orang lain yang mempergunakan namanya. Aku yakin bahwa locianpwe Ang I Lama tidak akan tinggal diam saja namanya dipergunakan orang lain untuk melakukan kejahatan terhadap kita sehingga mendatangkan fitnah padanya."

Suma Hui juga mengerti bahwa agaknya memang bukan kakek ini yang menculik puterinya. Kalau memang kakek ini memiliki dendam terhadap ia dan suaminya, tentu kakek ini akan melakukan perlawanan, mengingat bahwa tingkat kepandaian kakek ini mungkin lebih tinggi dari tingkatnya. Akan tetapi kakek ini selalu mengalah, tidak balas menyerang dan selalu bersikap lembut. Hal ini membuat hatinya menjadi semakin gelisah dan berduka. Tak terasa lagi, dua matanya menjadi basah dan air mata jatuh menuruni kedua pipinya yang agak pucat. Wanita ini menderita kesengsaraan batin semenjak puterinya, yang merupakan anak tunggal itu, lenyap diculik orang.

"Habis, ke mana kita harus mencari anak kita....?" Suaranya terdengar demikian memelas, menggetar dan lirih, kedua matanya yang merah dan basah itu ditujukan kepada suaminya dengan pandang mata yang penuh duka sehingga suaminya merasa terharu dan kasihan sekali. Dia sendiri tidak tahu harus mencari ke mana, maka pertanyaan penuh kegelisahan itupun tidak dapat dijawabnya.

"Omitohud.... kenapa ada orang tega memisahkan ibu dari anaknya? Sungguh merupakan perbuatan yang amat kejam. Pinceng dapat mengerti akan kedukaan dan kebingungan hati ji-wi. Karena pinceng juga ingin sekali membantu, maka dapakah ji-wi memberitahukan, siapa kiranya musuh-musuh ji-wi yang paling besar?"

Kao Cin Liong menggeleng kepala. "Kami merasa tidak mempunyai musuh-musuh, locianpwe, akan tetapi tentu saja ada orang-orang yang membenci kami di luar pengetahuan kami. Semenjak saya mengundurkan diri dari jabatan saya sebagai panglima, kami hidup sebagai pedagang dan tidak mencampuri urusan kang-ouw. Kecuali ketika kami membantu para pendekar untuk menghancurkan komplotan Sai-cu Lama yang mengacau di kota raja."

"Nah, itulah, komplotan itulah. Siapakah di antara mereka selain mendiang suheng Sai-cu Lama? Siapakah yang menjadi kelompok pimpinan mereka?" Pendeta itu bertanya dan memandang dengan alis berkerut, penuh perhatian.

"Ada banyak di antara mereka, akan tetapi yang menjadi pimpinan terpenting hanya beberapa orang," jawab Kao Cin Liong sambil mengingat-ingat. "Mereka adalah Raja Iblis Hitam, Iblis Akhirat, Iblis Mayat Hidup...."

"Sam Kwi (Tiga Iblis)?" tanya Ang I Lama.

"Benar, locianpwe. Sam Kwi bersama murid mereka yang berjuluk Bi-kwi. Kemudian ada lagi Kim Hwa Nio-nio dan muridnya yang bernama Bhok Gun. Itulah mereka yang menjadi komplotan dan pembantu Sai-cu Lama."

Ang I Lama mengangguk-angguk, sepasang alisnya berkerut dan tangan kirinya meraba-raba dagunya. "Apakah mereka semua tewas dalam pertempuran itu?"

"Semua tewas, kecuali Bi kwi, murid Sam Kwi."

"Hemmm, apakah tidak mungkin ia yang melakukan penculikan itu?"

Cin Liong menggeleng kepala. "Kiranya tidak mungkin. Kalau ia mendendam, tentu tidak ditujukan kepada kami, karena kami hanya membantu saja para pendekar yang menghancurkan komplotan itu. Pula, tidak mungkin ia dapat menyamar sebagai locianpwe, karena ketika melakukan penculikan, menurut saksi, yaitu anak-anak yang menyaksikan, penculik itu menggunakan ilmu sihir dan lenyap diantara gumpalan asap tebal."

"Sihir? Hemmm...." Kakek itu lalu duduk bersila dan seperti orang bersamadhi, akan tetapi kulit di antara kedua alisnya berkerut, tanda bahwa dia tenggelam di dalam pemikiran yang mendalam.

Karena merasa tidak perlu lebih lama berada di tempat itu, Cin Liong lalu menggandeng tangan isterinya yang nampak sedih itu, meninggalkan tempat itu, menuruni bukit perlahan-lahan. Dia harus pulang dulu, baru dari rumah nanti mencari jejak puteri mereka. Juga, dia mengharapkan hasil penyelidikan Suma Ciang Bun, selain itu juga ingin mendengar bagaimana dengan pendapat orang tuanya di Istana Gurun Pasir yang dilapori oleh Gu Hong Beng, murid Suma Ciang Bun.

***

Rumah itu tidak besar, merupakan rumah dengan dua buah kamar besar dan tiga kamar dibagian belakang yang menjadi tempat tinggal para pelayan, dua buah ruangan dan sebuah gudang. Kecil akan tetapi nampak indah sekali karena bangunannya dibuat secara artistik, gentengnya merah dan tembok rumah itu sendiri di cat hijau, hampir tersembunyi di antara daun-dan pohon yang besar. Pohon-pohon yang tumbuh disekeliling rumah itupun bukan pohon liar, melainkan diatur tumbuhnya,dan terdiri dari pohon-pohon yang asing dan jarang terdapat di daerah pegunungan Heng-tuan-san itu.

Rumah itu berdiri di lereng paling bawah, masih merupakan kaki pegunungan kaki pegunungan Heng-tuan-san. Tanah disekeliling rumah itu subur sekali karena sungai Cin-sa mengalir di bagian belakang rumah itu, hanya beberapa ratus meter saja jauhnya. Karena daerah itu merupakan daerah tapal batas Propinsi Secuan, dan jauh dari jalan raya, maka keadaannya amat sunyi. Sunyi dan indah. Dusun terdekat berada sejauh belasan li dari situ.

Itulah tempat tinggal wanita cantik yang berjuluk Sin-kiam Mo-li. Seperti telah diceritakan di bagian depan, Sin-kiam Mo-li, wanita cantik yang bersikap halus menarik itu, kini telah menjadi guru Kao Hong Li. Seperti kita ketahui, Sin-kiam Mo-li telh berhasil merampas Kao Hong Li dari tangan penculiknya yang mengaku bernama Ang I Lama, kemudian Hong Li berjanji untuk berguru dan mengaku ibu kepada Sin-kiam Mo-li, ikut bersama wanita itu selama lima tahun. Bahkan Hong Li telah disuruh bersumpah!

Ketika ia pertama kali tiba di tempat tinggal gurunya yang juga menjadi ibu angkatnya, Hong Li merasa gembira sekali, melihat betapa tempat itu amatlah indahnya. Rumah itu kecil mungil dan dari jauh, ketika mereka tiba di bawah kaki gunung, rumah itu nampak jelas, seperti rumah boneka yang berwarna-warni, dikelilingi pohon-pohon besar yang indah pula, juga diantara pohon-pohon itu terdapat banyak sekali tanaman bunga yang beraneka ragam dan warna. Akan tetapi, ketika mereka mulai mendaki bukit, rumah indah itu lenyap tertutup pohon-pohon yang amat banyak dan mereka mendaki melalui lorong-lorong yang amat sulit dikenal kembali karena bentuknya yang aneh-aneh dan banyak pula yang sama. Lorong-lorong di antara pohon-pohon besar itu juga seringkali membelok, bahkan tikungannya ada pula yang seperti berbalik ke arah yang berlawanan. Di sana-sini lorong itu putus dan di depannya hanya nampak jurang lebar menganga, ada pula yang tiba-tiba saja di depan jalan terdapat kolam pasir yang bentuknya aneh, sama sekali tidak ditumbuhi tanaman. Ada pula lapangan rumpur yang hijau dan nampak segar, akan tetapi gurunya memperingatkan agar ia jangan menginjak lapangan rumput itu. Tadinya Hong Li mengira bahwa gurunya melarangnya agar jangan merusak rumput hijau segar itu, akan tetapi kemudian gurunya memberi tahu bahwa menginjak tempat itu sama saja dengan bunuh diri! Banyak tempat, tempat yang tidak boleh diinjak, bahkan ada pula tanaman-tanaman yang memiliki bunga-bunga indah akan tetapi gurunya melarang ia menyentuh bunga dan daun tanaman itu. Tangannya akan melepuh keracunan, kata gurunya.

Sungguh tempat yang indah akan tetapi aneh dan menyeramkan. Akan tetapi setelah mereka tiba di rumah mungil itu, hati Hong Li tertarik dan ia senang sekali menerima sambutan tiga orang pelayan yang usianya rata-rata tigapuluh tahun, pelayan-pelayan wanita yang rata-rata berwajah cantik dan berpakaian bersih rapi.

"Ini adalah anak angkat, juga muridku," kata Sin-kiam Mo-li kepada mereka, memperkenalkan Hong Li.

"Aih, siocia, engkau manis sekali!" kata yang berbaju merah.

"Siocia, yang baik, kami akan melayanimu dengan penuh kasih sayang!" kata yang berbaju hitam,

"Siocia, siapakah namamu?" tanya yang berbaju putih.

Hong Li memandang mereka seorang demi seorang dengan penuh perhatian. Mereka itu berwajah cantik, tidak seperti pelayan dari dusun, dan pakaian mereka yang rapi itu seperti pakaian seragam. Celana mereka baru, akan tetapi baju mereka, yang mempunyai potongan yang sama, berbeda warnanya. Rata-rata mereka bersikap ramah, akan tetapi yang mengherankan, sikap mereka lincah dan sepasang mata mereka tajam, gerak-gerik mereka menunjukkan bahwa mereka bukanlah wanita-wanita bodoh yang lemah. Sebelum ia menjawab, gurunya sudah bicara lagi.

"Hong Li, mereka inilah pelayan-pelayan yang juga menjadi teman kita dan penghuni tempat ini. Nama mereka mudah dilihat dari pakaian mereka. Ini Ang Nio (Nona Merah), dan ini Pek Nio (Nona Putih) dan Hek Nio (Nona Hitam). Kalian ketahuilah bahwa siocia (nona) ini adalah Kao Hong Li. Ia belum tahu akan keadaan tempat tinggal kita, maka hari ini kalian ajaklah ia berjalan-jalan dan kalau aku belum memerintahkan, jangan membuka rahasia tentang tempat ini. Belum waktunya dan bisa berbahaya. Nah. aku mau beristirahat. Layanilah Hong Li sebaiknya." Setelah berkata demikian, Sim-kiam Mo-li meninggalkan muridnya yang segera diajak oleh tiga orang pelayan itu untuk melihat lihat keadaan di dalam rumah itu. Ketika Hong Li diajak masuk ke dalam, ia menjadi kagum dan juga bingung. Kagum karena rumah itu mewah dan memiliki perabot rumah yang serba indah dan mahal, penuh dengan lukisan-lukisan mahal, pot-pot bunga kuno yang antik, juga lantainya ditutup permadani tebal. Akan tetapi yang membuat ia merasa bingung adalah ketika ia harus berputar-putar untuk memeriksa kamar itu yang walaupun tidak berapa besar namun berlika-liku dan memiliki lorong-lorong di antara pot-pot bunga dan perabot rumah. Gurunya mendiami kamar pertama dan ia memperoleh kamar ke dua yang selama ini dibiarkan kosong, sedangkan tiga orang pelayan itu tinggal di kamar belakang. Anehnya, ia harus dituntun oleh Ang Nio ketika melihat-lihat di dalam rumah itu.

"Jangan pandang ringan keadaan dalam rumah ini, nona. Tanpa petunjuk kami, nona takkan dapat memasuki kamar sendiri," kata Ang Nio melihat betapa Hong Li mengerutkan alisnya karena harus dituntun.

"Ah, masa? Kenapa tidak bisa?"

"Keadaan di dalam rumah ini telah diatur oleh toanio (nyonya besar) menurutkan garis-garis pat-kwa (segi delapan), penuh dengan alat-alat rahasia sehingga kalau ada orang luar berani masuk, selain dia terancam oleh jebakan-jebakan, juga sukar baginya untuk mencari jalan keluar."

Hong Li tidak percaya. Tiga orang pelayan itu lalu membiarkan ia mencari jalan sendiri dan benar saja! Jalan yang diambilnya itu buntu, kalau tidak terhalang meja kursi, pot bunga, tentu menjadi tertutup oleh sebuah pintu yang ketika dibukanya membawanya ke bagian lain yang sama sekali tidak disangkanya. Ia mencoba untuk mencapai pintu kamar yang diberikan kepadanya, namun selalu gagal! Dan ketika ia melihat sebuah kursi besar menghalang antara ia dan pintu itu, ia menggeser kursi itu dengan hati girang. Kalau kursi itu disingkirkan, tentu ia dapat langsung saja menghampiri pintu itu dan berarti menang! Akan tetapi, begitu kursi digeser, terdengar suara dan tahu-tahu dirinya telah berada dalam sebuah kurungan besi! Tiga orang pelayan itu menghampiri sambil tertawa-tawa.

"Sudahlah, nona," kata Pek Nio sambil menggerakkan alat rahasia dan kurungan itupun terlipat dan lenyap, sedangkan kursi kembali ke tempatnya semula. "Masih untung engkau terjebak dalam kurungan, karena di sini terdapat jebakan yang lebih berbahaya lagi. Mari, kita tunjukkan semua rahasia dalam rumah ini agar engkau dapat bergerak dengan bebas."

Mau tidak mau Hong Li kini percaya bahwa rumah yang nampak mungil tidak berapa besar ini penuh dengan alat rahasia dan diatur sedemikian rupa sehingga orang luar jangan harap akan dapat masuk, atau kalau sudah masuk jangan harap akan dapat keluar kembali. Tiga orang pelayan itu menerangkan sejelasnya dan Hong Li memang memiliki otak yang cerdas sekali. Dalam waktu sehari saja ia sudah mengenal semua rahasia di dalam rumah itu dan ia merasa kagum sekali, semakin kagum terhadap gurunya atau ibu angkatnya. Dari pengaturan rumah ini saja sudah dapat diketahui bahwa Sin-kiam Mo-li memang amat lihai.

Akan tetapi, ternyata bahwa jalan menuju ke rumah gurunya itupun tidak dapat didatangi orang secara mudah! Jalan itu mengandung rahasia yang lebih rumit dari pada rahasia di dalam rumah dan biarpun dari kaki gunung sudah dapat dilihat rumah mungil di lereng itu, jangan harap bagi orang luar untuk dapat menemukannya! Dia akan tersesat dan hanya berputar-putar di antara pohon-pohon, atau kalau dia salah langkah, dia akan tewas dalam keadaan mengerikan. Dan diam-diam Hong Li amat cemas, untuk dapat mengenal jalan naik turun dari rumah itu ke kaki gunung, ia harus mempelajarinya sampai lebih dari sepekan barulah ia dapat turun dan naik sendiri tanpa ditemani pelayan. Dan ternyata bahwa jalan dari kaki gunung menuju ke rumah itu melalui lorong di antara pohon-pohon yang diatur menurut garis-garis pat-kwa yang amat rumit.

Semenjak tiba di tempat itu bersama gurunya, Hong Li mulai dilatih ilmu silat oleh Sin-kiam Mo-li. Tidak begitu sukar bagi Sin-kiam Mo-li untuk mengajarkan ilmu-ilmunya yang tinggi karena gadis cilik itu memang sudah memiliki dasar yang baik sekali. Sebagai cucu keluarga pendekar besar, sejak kecil ia memang sudah mempelajari dasar-dapat ilmu silat tinggi, bahkan ilmu silatnya sudah demikian lihainya sehingga orang dewasa yang ilmu silatnya tanggung-tanggung saja jangan harap akan mampu menandinginya.

Hong Li merasa suka tinggal di tempat yang indah itu, apa lagi sikap gurunya dan tiga orang pelayan itupun amat ramah kepadanya. Hannya ada satu hal yang membuat ia merasa tidak suka, yaitu tempat itu jauh dari tetangga. Dusun terdekat letaknya belasan li dari situ. Kadang-kadang ia merasa kesepian dan merindukan kehadiran anak-anak lain yang dapat dijadikan teman. Pada suatu pagi, Sin-kiam Mo-li memanggilnya. Hong Li cepat datang menghadap.

"Hong Li, mari kau ikut aku melihat tontonan yang mengasyikkan."

"Tontonan apakah, subo?" Hong Li bertanya dengan girang mendengar bahwa ia diajak nonton sesuatu yang mengasyikkan. Disangkanya bahwa gurunya tentu akan mengajaknya ke sebuah dusun atau kota untuk nonton pertunjukan dan hal ini merupakan suatu perubahan yang segar dan penghibur kesepiannya. Akan tetapi gurunya mengajaknya menuju ke kebun belakang di mana terdapat sebuah menara dari bambu di mana subonya suka berdiam diri untuk berlatih siu-lian. Menara itu tidak mempunyai anak tangga, dan biasanya Sin-kiam Mo-li hanya mempergunakan ilmunya, meloncat seperti burung terbang melayang menuju ke atas menara di mana terdapat sebuah panggung tertutup dari papan.

"Subo, bagaimana aku dapat naik ke sana?" Hong Li bertanya ragu ketika subonya menunjuk ke menara itu dan mengatakan bahwa mereka akan "nonton" dari sana. Biarpun Hong Li sudah berlatih gin-kang sejak kecil dan tubuhnya memiliki keringanan dan kegesitan yang mengagumkan, namun kalau disuruh meloncat setinggi itu, ia masih belum mampu.

"Kelak engkau harus bisa melompat ke atas. Sekarang marilah kubantu engkau!" Wanita cantik itu lalu menyambar lengan kiri Hong Li dan mereka lalu meloncat ke atas. Baru mencapai setengahnya lebih, tubuh Hong Li tentu akan meluncur turun kembali kalau saja gurunya tidak menariknya ke atas dan Hong Li merasa seperti terbang dan tahu-tahu mereka sudah tiba di depan pondok atau panggung tertutup di atas menara itu.

Dari tempat setinggi itu, Hong Li dapat melihat ke kaki gunung dan nampaklah lorong kecil berlika-liku yang menuju ke sebuah dusun di kaki gunung. Pernah ia datang ke dusun itu ketika ia berlatih melewati lorong yang penuh rahasia itu.

"Hong Li, lihat ke sana itu. Kita akan melihat tontonan yang menggembirakan!" kata wanita cantik itu dengan suara gembira dan wajahnya berseri, sepasang matanya berkilauan tajam. Hong Li yang sudah ingin bertanya tontonan apa yang dimaksudkan subonya, kini memandang ke arah yang ditunjuk subonya dan iapun dapat melihat mereka itu. Ada lima orang nampak kecil-kecil dari atas itu, dan mereka sedang merayap perlahan-lahan menuju ke rumah mereka. Kini lima orang itu telah tiba di luar daerah mereka, mulai berhadapan dengan pohon-pohon yang sudah diatur menjadi deretan pertama dari benteng pohon-pohon yang penuh rahasia. Nampak dari atas betapa lima orang itu seperti sedang berunding, kemudian berpencar mengambil jalan sendiri-sendiri. Agaknya mereka tahu bahwa jalan menuju ke rumah itu tidak mudah, maka mereka berpencar mencari jalan sendiri-sendiri. Melihat gerakan mereka yang lincah dan ringan, mudah diduga bahwa lima orang itu bukan orang-orang sembarangan.

"Subo, siapakah mereka?" tanya Hong Li tanpa mengalihkan pandangannya dari lima orang itu. Dari tempat ia berdiri, mudah dilihat gerakan lima orang itu. Biarpun mereka berpencar, karena dari tempat tinggi itu mereka nampak kecil, maka pandang matanya dapat mengikuti gerakan mereka dengan jelas.

"Mereka adalah lima ekor tikus yang agaknya sudah bosan hidup dan mencari mati di sini," jawab subonya dengan suara mengandung kegembiraan. Hong Li terkejut dan kini ia menoleh dan memandang kepada subonya. Wanita cantik itu nampaknya gembira sekali, sepasang matanya berseri mengikuti gerakan lima orang di bawah sana.

"Apa yang subo maksudkan?" tanyanya dengan heran.

"Mereka itu mencari mati karena melakukan pelanggaran daerah kita," jawab pula gurunya dengan sikap masih gembira dan acuh terhadap pertanyaanpertanyaan muridnya.

"Tapi.... tapi mengapa, subo? Mengapa Subo membiarkan saja mereka melanggar wilayah kita dan memasuki daerah berbahaya itu?"

Kini Sin-kiam Mo-li menoleh kepada muridnya. "Hemm... aku tidak menyuruh mereka melakukan pelanggaran, bukan? Kalau sampai mereka mampus, itu adalah salah mereka sendiri!"

Sejenak Hong Li tidak mampu membantah. Memang tak dapat disalahkan kalau gurunya membiarkan saja lima orang itu memasuki daerah berbahaya dan menghadapi kematian mereka, akan tetapi, mengapa gurunya demikian kejam membiarkan lima orang menghadapi kematian tanpa mencegahnya?

"Subo, kalau begitu biarlah aku yang akan memberi tahu mereka agar mereka mundur dan tidak melanjutkan perjalanan mereka memasuki daerah ini. Mungkin mereka tidak tahu bahwa daerah ini berbahaya," katanya pula.

Tiba-tiba gurunya tertawa. "Hemm, Hong Li engkau tidak tahu. Apa kaukira mereka itu tidak tahu? Mereka sengaja memasuki daerah kita karena mereka hendak mencari aku."

"Eh? Jadi subo mengenal mereka? Mau apa mereka mencari subo?"

"Mereka hendak membunuhku."

Sepasang mata Hong Li terbelalak kiranya ada permusuhan di antara lima orang itu dan subonya. Pantas subonya membiarkan saja mereka menghadapi bahaya. Akan tetapi ia masih merasa penasaran sekali.

"Subo, kenapa mereka hendak membunuh subo? Dan siapakah sesungguhnya mereka itu?"

"Beberapa pekan yang lalu, seorang teman mereka memasuki daerah ini, mungkin dengan niat jahat, dan tewas di pasir maut. Kematiannya itu adalah kesalahannya sendiri, akan tetapi teman-temannya agaknya kini datang hendak menuntut balas atas kematian kawan mereka. Mereka adalah orang-orang dari perkumpulan Cin-sa-pang (Perkumpulan Sungai Cin Sa), orang-orang sombong tak tahu diri sehingga berani menantangku." Di dalam suara wanita cantik ini terkandung kemarahan. "Biar mereka tahu rasa sekarang agar tidak memandang rendah kepadaku."

Hong Li memandang lagi dan melihat betapa dengan cekatan lima orang itu kini berloncatan dan masuk semakin dalam di antara pohon-pohon. "Gerakan mereka lincah dan cekatan. Bagaimana kalau mereka sampai di rumah subo?"

"Tidak begitu mudah. Tiga orang pelayanku sudah siap menyambut mereka. Lihat!"

Hong Li memandang dan benar saja, ia melihat tiga bayangan orang berlari turun setelah keluar dari dalam rumah mungil. Jaraknya terlalu jauh untuk dapat melihat wajah mereka, akan tetapi melihat baju mereka itu, yang seorang merah, seorang putih dan seorang hitam, iapun tahu bahwa mereka itu adalah Ang Nio, Pek Nio dan Hek Nio. Baru sekarang ia melihat betapa tiga orang pelayan itu berloncatan dengan amat cepatnya. Memang ia sudah menduga bahwa mereka sebagai pelayan-pelayan subonya agaknya pandai pula ilmu silat, akan tetapi tidak disangkanya mereka akan dapat bergerak secepat itu.

Dan kini terjadilah tontonan yang memang menegangkan dan mendebarkan hati Hong Li. Dari tempat yang tinggi itu, ia dapat melihat dengan jelas apa yang terjadi di sana. Mula-mula Ang Nio yang lebih dulu bertemu dengan seorang di antara lima orang penyerbu itu. Tepat di tengah-tengah setelah orang itu mampu naik sampai ke bagian tengah daerah yang penuh pohon-pohon itu, agaknya bingung dan berputar-putar di sekitar tempat itu. Hong Li tidak tahu apa yang mereka bicarakan, akan tetapi keiihatan betapa laki-laki itu yang lebih dulu menyerang Ang Nio dengan gerakan yang cepat. Dan ia melihat betapa Ang Nio mengelak dan balas menyerang, tak kalah cepatnya gerakan pelayan itu. Ia melihat betapa dua orang itu berkelahi dengan gerakan-gerakan cepat dan kini laki-laki itu mengeluarkan senjata sebatang golok besar. Ang Nio juga mengeluarkan sebatang pedang tipis dan perkelahian menjadi semakin seru dan menegangkan hati Hong Li. Biarpun ia tidak tahu secara jelas urusannya, akan tetapi mendengar penuturan subonya tadi, tentu saja ia berpihak kepada Ang Nio. Dianggapnya bahwa pria yang menyerbu itu memang tak tahu diri, berani melanggar daerah orang lain, bahkan iapun tadi melihat betapa pria itu yang lebih dulu menyerang Ang Nio.

Perkelahian itu tidak berlangsung lama ketika dari tempat Hong Li menonton, terdengar laki-laki itu berteriak dan tubuhnya roboh. Perkelahian itu paling lama hanya berlangsung tigapuluh jurus dan pedang di tangan Ang Nio telah menembus dada lawannya yang roboh dan tewas. Sementara itu, di bagian lain juga terjadi perkelahian antara Pek Nio melawan seorang penyerbu. Juga di sebelah kiri, nampak Hek Nio melayani seorang penyerbu lain.

Hong Li memandang dengan hati berdebar. Agaknya, baik Pek Nio maupun Hek Nio, dapat mengatasi perkelahian itu dan dengan pedang di tangan, mereka mendesak lawan masing-masing yang bersenjata golok. Seperti juga tadi, kurang lebih tigapuluh jurus kemudian, lawan mereka itu roboh oleh pedang mereka. Dari tempat yang cukup jauh itu Hong Li tidak melihat darah mengalir, akan tetapi ia melihat betapa tiga orang telah roboh dan tewas. Kini tinggal dua orang lagi yang secara kebetulan dapat saling bertemu di bawah sebatang pohon besar. Mereka bicara dan menuding ke sana-sini, ke kanan kiri, agaknya saling menceritakan bahwa mereka berdua menjadi bingung dan tidak tahu jalan mana yang akan dapat membawa mereka ke rumah kecil mungil yang tadi nampak dari kaki gunung.

Tiba-tiba mereka terkejut dan membalikkan tubuh. Tiga orang wanita pelayan itu, masing-masing menyeret tubuh seorang lawan yang sudah mati, muncul dari balik pohon dan berada di depan mereka! Tentu saja dua orang laki-laki itu menjadi terkejut setengah mati melihat betapa tiga orang kawan mereka tahu-tahu telah menjadi mayat diseret oleh tiga orang wanita cantik itu. Agaknya merekapun tahu bahwa mereka berada dalam keadaan berbahaya sekali. Tiga orang kawan mereka sudah tewas oleh tiga orang wanita ini, dan tentu mereka seperti menyerahkan nyawa saja kalau melawan. Tanpa dikomando lagi, dua orang itu membalikkan tubuh melarikan diri turun gunung.

"Hik-hik!" Hong Li mendengar suara subonya terkekeh. "Mereka kira akan dapat lolos begitu saja? Bodoh!"

Hong Li memandang kepada dua orang itu yang melarikan diri cerai berai karena lorong itu sempit dan banyak sekali cabang-cabangnya. Ia yang sudah mempelajari rahasia lorong itu segera tahu bahwa mereka berdua mngambil jalan yang keliru! Mereka bukan menuju turun gunung, melainkan akan terputar-putar saja melalui tempat-tempat yang amat berbahaya. Tentu mereka berdua itu akhirnya akan terperangkap di tempat berbahaya, tak mungkin lolos seperti kata-kata subonya tadi, pikirnya. Dugaannya memang tepat karena tak lama kemudian terdengar seorang di antara mereka mengeluarkan teriakan mengerikan, walaupun hanya terdengar lapat-lapat dari tempat Hong Li berdiri itu. Ia cepat memandang dan Hong Li mengerutkan alis, jantungnya berdebar tegang penuh kengerian. Kiranya seorang di antara dua laki-laki yang melarikan diri tadi, kini salah langkah menginjak padang rumput dan segera tubuhnya tersedot karena di bawah rumput yang hijau subur dan indah itu terdapat lumpur yang dapat menyedot mahluk yang bergerak, dan yang terjatuh ke tempat itu. Dan walaupun dari tempat ia menonton tidak nampak, Hong Li tahu bahwa tentu nampak di permukaan padang rumput itu ekor-ekor ular yang seperti belut, yang tentu kini sudah mengeroyok orang yang terjatuh ke situ. Teriakan-teriakan itu masih susul-menyusul, kemudian sunyi dan padang rumput itu sudah nampak hijau dan indah kembali. Orang itu sudah tenggelam dan kalau digali, agaknya hanya akan ditemukan tulang rangkanya saja! Hong Li bergidik. Ia sudah melihat kedahsyatan tempat itu ketika ia mempelajari tempat itu dan rahasianya, diberi petunjuk oleh tiga orang pelayan, dan Ang Nio melempar seekor kelenci ke tempat itu. Ia melihat betapa kelenci itu yang bergerak mencoba untuk lari, disedot semakin dalam dan iapun melihat pula ekor-ekor ular tersembul ketika mereka memperebutkan kelenci yang disedot ke bawah dan lenyap!

Kini Hong Li yang wajahnya menjadi agak pucat karena merasa ngeri, mengikuti larinya orang ke dua dengan pandang matanya. Jantungnya berdebar penuh ketegangan. Ia merasa kasihan kepada orang itu dan diam diam ia mengharapkan agar orang terakhir itu akan berhasil menyelamatkan diri turun gunung. Kalau saja saat itu ia berada di bawah dan dekat dengan orang itu, tentu, tanpa ragu-ragu lagi ia aksn meneriakkan petunjuk agar orang itu dapat menemukan jalan yang benar dan dapat meninggalkan tempat itu dengan selamat.

Dengan jantung berdebar penuh kekhawatiran dan ketegangan, Hong Li memandang ke arah orang terakhir yang tersaruk-saruk mencari jalan keluar itu. Terdengar pula suara gurunya menahan ketawa. Mau tak mau Hong Li merasa tak senang dan melirik. Dilihatnya betapa wajah cantik gurunya itu tampak berseri, matanya penuh kegembiraan mengikuti gerakan orang terakhir itu dan tiba-tiba Hong Li merasa ngeri. Sikap gurunya ini tiada bedanya sikap seekor kucing yang menanti dan melihat seekor tikus yang sudah tersudut! Iapun kembali menujukan pandang matanya ke bawah.

Orang yang berlari-larian itu kini tubuhnya sudah penuh keringat karena beberapa kali dia menghapus keringat dari muka dan lehernya, memandang ke kanan kiri mencari jalan keluar, lalu lari lagi setelah memilih satu di antara lorong yang bercabang-cabang itu.

"Jangan ke sana....!" Tiba-tiba Hong Li berseru, akan tetapi seruannya tentu saja tidak terdengar orang itu. Dan orang itupun sudah sampai di tempat yang amat berbahaya itu. Tak lama kemudian, orang itu sudah mengeluarkan suara jeritan menyayat hati dan tubuhnya sudah tenggelam sampai ke pinggang di pasir maut! Pasir maut itu adalah sebuah kolam pasir, akan tetapi pasir itu dapat berputar dan menyedot seperti lumpur tadi. Pasirnya licin dan mudah bergerak, sedangkan kolam itu dalam sekali. Sedikit saja orang yang terjatuh ke situ bergerak, maka tubuhnya akan tenggelam semakin dalam!

Hong Li merayap turun melalui tihang-tihang yang menyangga menara itu, tihang-tihang bambu yang besar.

"Hong Li, hendak ke mana engkau?" Gurunya menegur heran.

"Subo, aku harus menolong orang itu!" kata Hong Li dan ia merasa heran bahwa gurunya diam saja, tidak menghalangi dan juga tidak menegurnya lagi. Ia terus merayap turun dan setelah tiba setengah lebih tinggi menara itu, iapun berani meloncat turun, kemudian ia lari menuju ke tempat oarang itu tenggelam di pasir maut.

"Diam, jangan bergerak sedikitpun!" Hong Li berseru setelah tiba di tepi kolam. "Aku akan menolongmu, jangan bergerak sedikitpun. Makin engkau bergerak, tubuhmu akan semakin tenggelam!"

Laki-laki itu berusia empatpuluh tahun lebih. Setelah dekat, kini Hong Li melihat betapa wajah itu kasar dan buruk, sepasang matanya liar akan tetapi pada saat itu, dia berada dalam keadaan putus asa dan ketakutan. Melihat munculnya seorang gadis cilik yang usianya baru belasan tahun di tepi kolam dan mendengar bahwa gadis itu akan menolongnya, laki-laki itu memandang dengan penuh harapan.

"Tolonglah aku.... ah, selamatkanlah aku...." Suaranya lirih dan gemetar penuh rasa takut. Ngeri dia membayangkan kematian di depan matanya, kematian yang mengerikan. Ketika tadi dia menginjak pasir, kakinya terjeblos sebatas lutut. Dia berusaha untuk mengangkat kakinya, akan tetapi semakin dia berusaha, semakin dalam tubuhnya tenggelam sampai kini dia tenggelam sebatas dada, hanya kedua lengannya saja yang mampu bergerak. Begitu mendengar peringatan Hong Li, diapun tidak berani bergerak dan benar saja. Setelah dia tidak bergerak sama sekali, tubuhnya berhenti tenggelam semakin dalam. Akan tetapi, napasnya sesak dan tubuhnya dari dada ke bawah yang tertanam di pasir itu terasa panas bukan main.

"Tenanglah dan jangan bergerak," kata pula Hong Li. Ia lalu melepaskan ikat pinggangnya yang panjang, hanya meninggalkan sedikit saja secukupnya untuk mengikat celananya dan mempergunakan ikat pinggang itu untuk menyelamatkan orang itu. Ujung ikat pinggang itu diganduli sebuah batu dan dilemparnya ke arah orang yang tenggelam.

"Tangkap ujung ikat pinggang ini dan jangan bergerak, biar aku yang akan menarikmu keluar! Ingat, jangan bergerak agar tubuhmu tidak tenggelam semakin dalam!"

Orang itu menangkap ujung ikat pinggang, akan tetapi karena dia terlalu bergairah untuk segera dapat keluar, dia menarik ikat pinggang itu dan tubuhnya bergerak maka tubuh itu segera tersedot semakin dalam sampai ke leher!

"Tolol, jangan bergerak kataku!" Hong Li membentak marah dan mulailah ia mengerahkan tenaganya untuk menarik orang itu keluar dari pasir. Laki-laki itu kini sudah terlampau takut sehingga tidak berani berkutik, bahkan bersuarapun dia tidak berani lagi. Pasir sudah sampai ke dagunya dan turun beberapa sentimeter lagi, tentu mulut dan hidungnya tertutup dan berarti kematian baginya. Akan tetapi diam-diam hatinya girang dan juga kagum bukan main melihat betapa anak perempuan yang baru belasan tahun usianya itu memiliki kekuatan yang demikian hebat sehingga dia merasa betapa tubuhnya sedikit demi sedikit mulai tertarik keluar! Dia tadi melibat-libatkan ujung tali itu pada pinggang dan lengannya sehingga biarpun kini kedua lengannya sebagian sudah tenggelam pula, ketika tali itu ditarik, tubuhnya terbetot keluar. Sedikit demi sedikit sampai akhirnya tubuhnya keluar sebatas pinggang!

"Tariklah lagi, nona yang baik, tarik terus....!" Laki-laki itu terengah-engah, penuh ketegangan dan harapan. Dan Hong Li menarik terus, keringat membasahi dahi dan lehernya.

"Prattt....!" Tiba-tiba ikat pinggang itu putus tengahnya dan tubuh orang yang sudah naik sampai ke pinggul itu tenggelam kembali sampai ke pinggang di mana dia mengeluh panjang pendek dan tidak berani bergerak sama sekali!

"Jangan bergerak, aku akan mencari alat lain untuk menarikmu keluar," kata Hong Li. Gadis ini lalu menggunakan tenaganya untuk merobohkan sebatang pohon kecil yang panjangnya ada tiga meter. Ia mengguncang-guncang pohon kecil itu sampai akarnya jebol dan akhirnya berhasil menumbangkannya. Setelah membuangi cabang, ranting dan daunnya, ia menggunakan batang pohon yang besarnya hanya sebetis kakinya itu untuk menolong orang itu. Batang pohon itu cukup panjang dan ujungnya dapat dipegang oleh orang itu dengan kedua tangan. Lalu Hong Li mulai menarik lagi, perlahan-lahan dan akhirnya ia berhasil menarik tubuh orang itu sampai keluar dari kolam pasir. Orang itu menjatuhkan diri di atas tanah, terengah-engah dan mukanya yang tadi pucat sekali, sekarang berubah agak merah. Dia mengeluarkan suara seperti setengah menangis dan setengah tertawa. Kemudian dia bangkit duduk memandang Hong Li dan matanya terbelalak.

"Nona, sungguh engkau hebat sekali!"

Hong Li cemberut. Baru teringat ia bahwa ia telah menolong musuh gurunya, merasa seperti seorang pengkhianat. "Kenapa engkau melanggar wilayah kami? Engkau memang bersalah dan sepatutnya dihukum. Akan tetapi aku kasihan padamu, tidak tega melihat orang terjatuh ke kolam pasir maut. Nah, sekarang pergilah, akan kutunjukkan jalan keluar untukmu."

Tiba-tiba orang itu menggerakkan tubuhnya dan tahu-tahu Hong Li sudah ditangkapnya. Gadis cilik terkejut, meronta dan hendak melawan, akan tetapi tiba-tiba saja tubuhnya menjadi lemas karena laki-laki itu sudah menotoknya, menotok jalan darahnya yang membuat ia tidak mampu berkutik lagi. Hong Li terkejut dan marah bukan main.

"Apa yang kaulakukan ini?" bentaknya.

Laki-laki itu menyeringai dan secara kurang ajar mengelus dagu Hong Li. "Engkau cantik dan manis sekali! Sekarang engkau menjadi tawananku dan engkau harus menunjukkan jalan keluar yang akan menyelamatkan diriku. Kalau tidak, aku akan mencekikmu sampai mampus!"

Hong Li terbelalak. Kalau saja ia tadi bercuriga, kiranya tidak akan demikian mudahnya ia tertawan dan tertotok. Ia sama sekali tidak mengira bahwa orang yang baru saja diselamatkannya dari ancaman maut mengerikan berbalik malah bertindak curang dan jahat kepadanya. Akan tetapi ia tidak mempunyai waktu lagi untuk berheran dan penasaran karena kini laki-laki itu telah mengikat kedua tangannya ke belakang tubuhnya, menotok jalan darah yang membuat ia tidak mampu mengeluarkan suara, akan tetapi kini tubuhnya dapat bergerak lagi.

"Hayo cepat tunjukkan jalan itu kepadaku, kalau engkau menipuku, tentu engkau akan kusiksa sampai mampus!" kata laki-laki itu sambil mencengkeram pundak Hong Li.

Gadis cilik ini merasa penasaran dan marah sekali sampai kedua matanya mengeluarkan air mata. Bukan air mata karena takut, melainkan karena marah dan penasaran sekali.

"Sudah, jangan menangis dan cepat tunjukkan jalannya!" laki-laki itu mengira bahwa anak perempuan itu menangis karena takut. Dia mendorong tubuh Hong Li dan anak perempuan ini terpaksa melangkah maju. Ia tahu bahwa dalam keadaan kedua tangannya terbelenggu, melawanpun tidak akan ada gunanya. Dan iapun tidak dapat mengeluarkan suara. Sesungguhnya hal ini tidak perlu dilakukan orang itu. Walaupun tidak ditotok, iapun tidak mau mengeluarkan suara. Untuk apa? Minta tolong kepada suhunya dan tiga orang pelayan? Ia telah mengkhianati mereka, dan ia yakin bahwa gurunya yang berada di menara itu tentu melihat semua peristiwa yang dialaminya ini. Perlu apa minta tolong? Memalukan saja. Biarlah, ia sudah bersalah, dan biarlah kini ia menerima hukumannya. Ia melangkah terus, pundaknya masih dicengkeram laki-laki yang mengikutinya dari belakang.

Hong Li tidak membawa laki-laki itu melalui jalan yang akan menyelamatkannya. Sama sekali tidak. Di dalam dadanya kini membawa api kemarahan yang membuat ia ingin membalas perbuatan laki-laki ini yang dianggapnya terlalu jahat. Mudah saja baginya untuk menjerumuskan laki-laki ini ke dalam perangkap-perangkap maut, akan tetapi iapun tentu akan ikut terjebak dan mati bersama laki-laki ini. Dan ia tidak takut mati, hanya ia tidak sudi kalau harus mati bersama laki-laki ini. Tidak mau melakukan perjalanan ke alam baka berbareng dengan dia, bahkan dari tempat yang sama. Tidak, dia harus dapat mencari perangkap yang lebih baik.

Akhirnya tibalah Hong Li di jalan buntu! Di depan nampak jurang yang amat curam, yang tidak mungkin dilalui. Di situ terdapat dua jalan bercabang ke kiri dan ke kanan. Kedua lorong ke kanan dan ke kiri ini tertutup daun-daun kering, nampaknya aman dan mudah dilewati. Namun, Hong Li yang sudah hafal akan rahasia lorong-lorong itu, maklum bahwa melangkah ke kiri berarti akan membawa mereka terjatuh ke dalam sumur yang di dasarnya tidak kurang dari limabelas meter dalamnya, terdapat batu-batu meruncing yang akan menyambut tubuh mereka! Di balik daun-daun kering yang ke kiri itu terdapat lubang sumur itu. Kalau melangkah ke kanan, mereka akan terjatuh ke dalam kolam lumpur yang juga berbahaya sekali karena tubuh akan terus tenggelam semakin dalam dan akhirnya akan tewas pula. Akan tetapi, tidaklah secepat kalau terjatuh ke dalam sumur itu matinya. Hanya adanya ular-ular lumpur yang sebetulnya semacam belut yang suka makan daging manusia, yang membuat ia bergidik ngeri membayangkan betapa tubuhnya bagian bawah akan digerogoti binatang-binatang itu sebelum ia mati. Ia tahu bahwa jalan satu-satunya adalah melompati sumur di sebelah kiri. Sumur itu tidak lebar, paling lebar satu setengah meter saja. Sekali melompat juga akan melampauinya dan selamat.

Tidak, ia tidak boleh membawa laki-laki itu melompat, karena begitu melompat, laki-laki itu tentu akan mudah turun dan keluar dari daerah berbahaya. Melihat anak perempuan itu berdiri termangu-mangu dan ragu-ragu, laki-laki itu mengguncang pundaknya dan membentaknya dengan nyaring, "Hayo cepat tunjukkan jalan!" Diapun bingung melihat betapa jalan itu yang bagian depan buntu, menuju ke jurang yang amat curam, sedangkan jalan kanan dan kiri sama saja tertutup daun-daun kering. Dia tahu betapa berbahayanya lorong-lorong di situ dan dia tidak tahu mana jalan yang benar, yang kanan ataudah kiri.

Tanpa ragu-ragu Hong Li menudingkan telunjuknya ke kanan! Laki-laki itu nampak lega dan diapun memperkuat cengkeramannya di pundak Hong Li mendorong tubuh anak itu membelok ke kanan dan menghardik, "Hayo jalan!"

Hong Li sudah hafal benar akan rahasia tempat itu. Paling banyak lima langkah mereka akan terjeblos. Ia memperhitungkan langkahnya dan setelah empat langkah, tiba-tiba saja ia membalikkan tubuhnya, meloncat ke belakang dan menendang dengan cepat sekali. Laki-laki itu terkejut, melangkah ke samping akan tetapi ketika cengkeraman tangannya terlepas, dia masih sempat menangkap lagi pundak itu, maka begitu tubuhnya terjeblos, dia membawa Hong Li ikut pula terpelanting dan terjeblos ke dalam kolam lumpur!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar