18 Suling Naga

"Hemm, apa artinya ini? Kenapa kalian mengganggu kami?" Sim Houw berkata dengan sikap tenang, matanya berganti-ganti memandang kepada Bi-kwi, Bhok Gun, dan nenek itu.

"Artinya, orang she Sim, bahwa engkau harus mengembalikan Liong-siauw-kiam kepadaku, karena akulah yang berhak atas pusaka itu," kata si nenek.

"Hemm, siapakah engkau?" Sim Houw bertanya, alisnya berkerut dan dia membuat perhitungan dengan pandang matanya. Nenek ini tentu lihai sekali dan ancamannya terhadap Bi Lan membuat dia tidak berdaya. Kalau saja Bi Lan tidak diancam seperti itu, tentu dia dapat menerjang dan mengajak gadis itu meloloskan diri dari kepungan. Akan tetapi gadis itu telah ditodong, kalau dia bergerak, tentu nenek itu lebih cepat untuk lebih dulu membunuh Bi Lan.

"Aku adalah Kim Hwa Nio-nio, murid tunggal dari mendiang Pek-bin Lo-sian...."

"Hemmm....!" Pernyataan ini sungguh mengejutkan hati Sim Houw karena tak pernah disangkanya bahwa dia akan berhadapan dengan murid kakek itu yang dulu memperingatkan dia agar berhati-hati terhadap Sam Kwi, tiga orang murid keponakan kakek itu.

"Hi-hik, kau nampak terkejut, orang muda? Aku adalah muridnya, murid tunggal. Maka engkau tentu mengerti bahwa pedang suling pusaka itu adalah hakku untuk mewarisinya dari suhu, bukan engkau seorang luar. Nah, serahkan pedang pusaka itu kepadaku atau.... kebutanku akan menghabiskan nyawa anak perempuan ini!"

"Sim-toako, jangan layani ia! Jangan serahkan pedang pusakamu kepadanya. Biar ia membunuhku, huh, ia takkan berani!"

"Orang she Sim, majulah dan gadis ini akan mampus!" Kim Hwa Nio-nio menempelkan gagang kebutannya pada ubun-ubun kepala Bi Lan. Sekali tekan saja cukup baginya untuk membunuh gadis itu dan hal ini dimaklumi oleh Sim Houw.

"Baiklah, Kim Hwa Nio-nio. Bebaskan gadis itu dan aku akan memberikan Liong-siauw-kiam kepadamu."

"Jangan, sukouw (bibi guru)! Aku pernah ditipunya. Kalau Siauw-kwi dibebaskan, dia akan menyerahkan pedang akan tetapi segera akan merampasnya kembali! Jangan bebaskan dulu bocah setan itu!" teriak Bi-kwi dan iapun kini mendekati Bi Lan dan mengancam dengan menempelkan pedangnya di punggung Bi Lan.

"Bi-kwi, engkau memang orang yang jahat sekali!" Bi Lan membentak marah.

"Dan engkau seorang murid yang murtad!" Bi-kwi balas memaki.

"Serahkan dulu pedang itu dan kami akan membebaskan gadis ini," kata pula Kim Hwa Nio-nio dengan penuh gairah karena ia membayangkan bahwa pusaka itu akhirnya akan jatuh ke tangannya. "Cepat, atau aku akan kehabisan sabar dan membunuh anak ini!"

Sim Houw maklum bahwa dengan tertawannya Bi Lan, berarti dia telah kalah. "Baiklah," katanya sambil melepaskan tali pengikat sarung pedang itu di pinggangnya.

"Jangan, Sim-toako, engkau akan ditipunya Mereka ini adalah orang-orang yang jahat sekali, yang tidak pantang melakukan segala macam kecurangan. Jangan perdulikan aku, lawan saja dan jangan serahkan pedang!" teriak Bi Lan.

"Diam kau!" bentak Bi-kwi. "Apa kau ingin mampus?"

"Bi-kwi, kau tahu bahwa aku tidak takut mampus!" Bi Lan balas membentak, matanya melotot, sedikitpun ia tidak merasa takut walaupun ia sudah tidak berdaya.

"Kim Hwa Nio-nio, berjanjilah bahwa engkau akan membebaskan nona Can Bi Lan setelah aku menyerahkan Liong-siauw-kiam kepadamu."

Bagi seorang datuk sesat seperti Kim Hwa Nio-nio, berjanji merupakan suatu silat lidah atau tipu muslihat saja, maka tanpa ragu-ragu ia pun berjanji, "Baik, aku berjanji akan membebaskan gadis ini setelah Liong-siauw-kiam kauserahkan kepadaku."

Biarpun dia belum percaya benar kepada nenek itu, akan tetapi karena keadaan memaksa untuk menyelamatkan Bi Lan, terpaksa Sim Houw melolos pedang dan sarungnya dan menyerahkannya kepada si nenek.

Melihat nenek itu hendak menyambut, cepat Bi-kwi berseru, "Jangan, sukouw. Suruh seorang anak buah menerimanya." Dan iapun cepat menyuruh seorang pengawal menerima pedang itu dari tangan Sim Houw. Memang cerdik sekali Bi-kwi ini. Karena yang menerimanya hanya seorang pengawal biasa, Sim Houw tidak dapat berbuat sesuatu dan terpaksa menyerahkan pedang itu. Pengawal itupun membawanya kepada Kim Hwa Nio-nio yang menerimanya, lalu mencabut pedang itu, tertawa-tawa dan mencium pedang suling naga itu.

"Liong-siauw-kiam...., akhirnya engkau kembali ke pangkuan majikan lama...." dan nenek itu tertawa-tawa, akan tetapi kedua matanya basah. Ternyata nenek itu sampai mengeluarkan air mata saking girangnya.

"Kim Hwa Nio-nio, sekarang bebaskan nona itu," kata Sim Houw, sikapnya masih tenang walaupun pedang pusakanya telah dirampas orang.

"Bukan aku yang menangkapnya, mintalah kepada mereka yang menangkapnya untuk membebaskannya," kata nenek itu dengan sikap acuh.

Hal ini memang sudah dikhawatirkan oleh Sim Houw. Dia memandang dengan muka merah dan membentak, "Nenek iblis, sungguh bermuka tebal dan tak tahu malu melanggar janji sendiri!"

"Srattt...." Pedang suling naga itu sudah tercabut oleh Kim Hwa Nio-nio. "Tutup mulutmu yang lancang, orang muda! Yang menawan nona ini bukan aku. Kalau aku yang menawannya sekarang, tentu kubebaskan. Lihat, siapa yang menawannya sekarang?"

Bi-kwi tersenyum mengejek. "Akulah yang menawannya dan aku tidak berjanji apa-apa kepada orang she Sim ini!"

"Subo, orang ini merupakan bahaya bagi kita. Sebaiknya diapun dibasmi atau ditawan saja!" kata Bhok Gun.

"Sinngg....!" Tiba-tiba pedang kayu yang berbentuk naga itu menyambar ke arah Bi Lan. Dan berhamburanlah rambut kepala Bi Lan. Tidak kurang dari satu dim panjangnya ujung rambut itu sudah putus oleh sinar Liong-siauw-kiam yang tadi menyambar, diiringi suara ketawa nenek itu, dan dipandang dengan penuh kagum oleh Bi-kwi dan Bhok Gun. Mereka tak pernah mengira bahwa pedang kayu itu sedemikian hebatnya, dan juga Sim Houw diam-diam terkejut. Dia tahu bahwa nenek itu sengaja mendemonstrasikan kepandaiannya, dan cara nenek itu mempergunakan pedang suling naga memang luar biasa. Jelas bahwa nenek itu, seperti Pek-bin Lo-sian gurunya, telah mempelajari semacam ilmu tersendiri untuk mempergunakan pedang itu.

"Kalau aku menghendaki, bukan rambutnya melainkan lehernya yang putus, heh-heh!" nenek itu tertawa girang.

Sim Houw maklum bahwa dia telah tertipu. Dia menjadi marah bukan main. "Keparat, kalian memang orang-orang jahat dan curang!" Dan diapun menerjang maju dengan tangan kosong saja, menyerang ke arah nenek Kim Hwa Nio-nio! Biarpun hanya bertangan kosong, namun dari kedua tangan pemuda itu menyambar hawa pukulan yang amat hebat, mendatangkan angin yang menyambar dahsyat.

Kim Hwa Nio-nio terkejut, cepat ia menggerakkan kebutannya untuk menangkis kedua serangan dengan dua tangan itu. Bulu-bulu kebutannya yang menjadi kaku karena disaluri tenaga sinkang itu terpental ketika bertemu dengan kedua tangan Sim Houw, akan tetapi pada saat itu, nenek yang lihai ini juga membalas dengan tusukan pedang Liong siauw-kiam yang sudah berada di tangannya, menusuk ke arah leher lawan.

Tusukan ini berbahaya sekali, namun Sim Houw yang memang memancing agar nenek itu menggunakan Liong-siauw-kiam, sudah miringkan tubuh dan tangannya diputar untuk menangkap dan merampas pedangnya!

Pada saat itu, Bhok Gun sudah memyerangnya dari belakang dengan tusukan pedang. Serangan ini mengganggu pencurahan tenaga dan kecepatan Sim Houw untuk merampas pedang karena dia harus mengelak dari tusukan yang dilakukan Bhok Gun, maka nenek itu dapat menarik kembali Liong-siauw-kiam. Wajah nenek itu agak pucat karena ia tahu bahwa ia telah terpancing mempergunakan pedang itu dan sekiranya muridnya tidak membantu, besar sekali kemungkinannya pusaka itu akan dapat dirampas kembali oleh Pendekar Suling Naga yang memang lihai bukan main ini! Cepat nenek itu melangkah mundur, menyimpan pedang pusaka di balik jubahnya dan kini iapun maju lagi menyerang dengan menggunakan kebutannya, membantu Bhok Gun yang sudah terdesak hebat oleh Sim Houw. Ketika kebutan itu meledak dan menyerang ke arah kepala, Sim Houw mengakhiri desakannya dengan sebuah tendangan yang mengenai lambung Bhok Gun. Bhok Gun sudah mengerahkan sin-kang melindungi lambungnya, akan tetapi saking kerasnya tendangan, tubuhnya terlempar dan terbanting keras ke atas meja kamar itu, membuatnya nanar!

Kim Hwa Nio-nio berkelahi dengan hebatnya melawan Sim Houw. Pendekar ini merasa betapa kamar itu terlalu sempit, maka diapun meloncat keluar melalui pintu yang tadi diterjangnya. Setelah tiba di ruangan luar kamar, dia telah dikepung oleh para perajurit dan kini Kim Hwa Nio-nio maju lagi bersama Bhak Gun yang sudah dapat memulihkan keadaannya. Dia tidak terluka, hanya terkejut dan agak nanar saja oleh tendangan tadi. Dan terjadilah pengeroyokan yang amat seru. Biarpun Pendekar Suling Naga sudah kehilangan senjata pusakanya, namun sepak terjangnya masih amat hebat sehingga biarpun dikeroyok dua oleh Kim Hwa Nio-nio dan Bhok Gun, masih dikepung oleh duapuluh lebih perajurit, dia sama sekali tidak nampak terdesak. Bahkan setiap kali ada perajurit berani mencoba-coba untuk membantu nenek itu, perajurit ini tentu roboh oleh tamparan atau tendangan kakinya. Bhok Gun sendiri agak jerih dan hanya menyerang dari jarak jauh mengambil keuntungan dari pedangnya menghadapi lawan bertangan kosong itu. Hanya Kim Hwa Nio-nio yang berani menyerang pemuda itu dari jarak dekat dan secara bertubi-tubi, dan nenek itu harus mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan seluruh kepandaiannya, karena kalau tidak, keselamatannyapun terancam. Sim Houw memang menujukan serangan-serangannya kepada nenek ini, untuk merobohkannya dan untuk merampas senjata pusakanya.

Hebat memang sepak terjang Sim Houw, Si Pendekar Suling Naga itu. Lawannya, nenek Kim Nwa Nio-nio adalah seorang yang sakti, mewarisi hampir seluruh kepandaian mendiang Pek-bin Lo-sian, dan dibantu pula oleh muridnya, Bhok Gun yang juga lihai sekali. Guru dan murid itu memegang senjata, akan tetapi Sim Houw yang bertangan kosong dan dikeroyok dua itu sama sekali tidak menjadi terdesak. Pemuda ini mengamuk seperti seekor naga bermain-main di antara awan hitam di angkasa. Gerakan-gerakannya mantap dan mengandung tenaga yang amat kuat sehingga beberapa kali Bhok Gun terpaksa harus agak menjauh karena angin pukulan lawan teramat kuat.

Tiba-tiba terdengar suara tertawa halus dari Bi-kwi. "Ha-ha, Sim Houw, lihat. Apakah engkau belum juga mau menyerah? Aku akan membunuh Can Bi Lan, menggorok lehernya kalau kau tidak mau menyerah."

Dengan sudut matanya Sim Houw memandang sambil melayani serangan dua orang pengeroyoknya dan jantunguya hampir berhenti ketika dia melihat betapa Bi-kwi benar-benar telah menempelkan pedangnya yang tajam itu di leher Bi Lan! Pedang yang tajam itu sudah ditekankan dan nampak betapa kulit leher yang putih mulus dan halus itu tertekan mata pedang. Dia tahu bahwa Bi Lan tertotok, tak mampu mengerahkan tenaga dan sedikit saja pedang itu ditekan, maka kulit dan daging leher itu akan koyak dan tersayat, urat-urat leher akan putus dan nyawa Bi Lan takkan dapat tertolong lagi. Dan diapun tidak berdaya dalam keadaan seperti itu untuk membebaskan Bi Lan dari ancaman pedang Bi-kwi. Tanpa berpikir panjang lagi diapun meloncat jauh ke belakang.

"Tahan dulu!" bentaknya. Kim Hwa Nio-nio cepat mendekati Bi-kwi. Nenek yang cerdik ini maklum bahwa tentu perhatian lawan kini ditujuknn kepada Bi-kwi yang menodong gadis itu, maka Bi-kwi yang harus dijaganya dan diperkuat kedudukannya.

"Nah, begitu lebih baik, Sim Houw. Menyerahlah, karena engkau telah melawan pasukan pemerintah, berarti bahwa engkau telah melakukan pemberontakan terhadap pemerintah! Kalau engkau menyerah dengan baik-baik, mungkin kami masih akan mempertimbangkan agar hukuman kalian ringan saja," kata pula Bi-kwi dengan sikap seperti seorang pembesar yang baik hati.

Dalam keadaan negara kalut, memang amat mudah bagi seseorang untuk menjatuhkan fitnah. Apa lagi mereka yang berada dalam kedudukan menang dan berkuasa, dengan mudahnya menjatuhkan fitnah "memberontak" kepada orang-orang yang menjadi musuhnya atau yang tidak disukainya.

"Sim Houw, jangan perdulikan mereka! Serang terus atau kau loloskan diri! Jangan kauperdulikan diriku. Mereka boleh siksa, boleh bunuh, aku tidak takut mati!" teriak Bi Lan dengan marah sekali.

Akan tetapi, mana mungkin Sim Houw meninggalkan gadis itu begitu saja menjadi tawanan orang-orang yang jahat ini? "Baiklah, aku menyerah dan jangan ganggu nona Can Bi Lan." Diapun berdiri dengan lemas.

Bi-kwi lalu menyuruh anak buahnya untuk mengikat kaki tangan Sim Houw dengan rantai baja yang kuat, lalu beramai-ramai mereka membawa Sim Houw dan Bi Lan menuju ke gedung yang menjadi markas Kim Hwa Nio-nio dan para pembantunya.

Para tamu, bahkan pengurus penginapan yang tadi mendengar ribut-ribut dan keluar dari dalam kamar, segera bersembunyi lagi ke kamar masing-masing dengan tubuh gemetar ketika mereka tahu bahwa keributan itu terjadi karena pasukan keamanan kota raja sedang mengadakan "pembersihan" di rumah penginapan itu. Mereka hanya berdoa bahwa pasukan itu tidak akan memasuki kamar mereka untuk melakukan penggeledahan. Karena kalau hal itu terjadi, andaikata mereka tidak ditangkappun, setidaknya mereka akan kehilangan barang berharga dan uang yang berada di dalam kamar mereka! Hal ini sudah diketahui oleh semua orang. Setiap kali anak buah pasukan keamanan itu melakukan penggeledahan, tentu kesempatan itu mereka pergunakan untuk mengambil barang-barang berharga dan uang orang yang sedang digeledah tanpa orang itu mampu memprotes. Tidak ditahanpun sudah untung, maka orang-orang yang diambil barang-barangnya itu merasa lebih aman tutup mulut saja. Bukan hanya barang berharga yang diganggu, juga kalau ada wanita muda dan bersih, tentu tidak akan terbebas dari gangguan tangan-tangan jail para anak buah pasukan itu. Karena itu, setiap kali ada pembersihan, rakyat sudah gemetar ketakutan.

Akan tetapi sekali ini, agaknya para pimpinan itu sudah puas ketika dapat menangkap Sim Houw dan Bi Lan. Terutama sekali Kim Hwa Nio-nio sudah puas dan girang karena berhasil mendapatkan kembali pusaka yang pernah oleh gurunya diberikan kepada orang lain. Pergilah pasukan itu membawa dua orang lawanannya ke gedung besar itu dan kedua orang tawanan ini dijebloskan ke dalam kamar tahanan yang kuat dan terjaga ketat, dan kaki tangan mereka masih dibelenggu, tubuh mereka ditotok pula!

***

Pemuda yang memasuki rumah makan dengan langkah yang tegap dan tenang itu usianya paling banyak duapuluh tahun. Tubuhnya tinggi besar, kulit mukanya agak kehitaman seperti muka yang sering kali tertimpa panas matahari. Namun wajah itu gagah dan bentuknya tampan, sepasang matanya memandang lurus dan tajam, penuh keberanian dan kejujuran, akan tetapi juga mengandung bayangan hati keras. Pemuda ini membawa sebuah buntalan pakaian dan jubahnya yang lebar panjang menutupi apa yang tersembunyi di ikat pinggangnya. Dia segera menghampiri sebuah meja yang masih kosong di sudut dan dari situ dia dapat memandang ke seluruh ruangan rumah makan itu yang telah diisi oleh belasan orang tamu yang makan siang di tempat itu.

Pemuda itu adalah Cu Kun Tek, pendekar muda dari Lembah Naga Siluman di Pegunungan Himalaya itu. Seperti kita ketahui, pemuda ini menderita kecewa karena cintanya ditolak oleh Bi Lan, bahkan dia dicemooh. Salahnya sendiri. Dia telah bersikap tolol sekali terhadap Bi Lan, sikap yang tentu menyakitkan hati gadis itu. Dan dia menyalahkan dirinya sendiri menghadapi penolakan Bi Lan. Hatinya terasa sakit dan kesepian setelah dia melakukan perjalanan seorang diri, tanpa gadis itu. Dia pergi meninggalkan lembah untuk mencari pengalaman dan meluaskan pengetahuan. Siapa kira, di tempat itu dia malah jatuh cinta dan sekaligus patah hati karena cinta gagal!

Tiba-tiba dia melihat ada seorang pemuda masuk ke dalam restoran itu dan jantungnya berdebar keras ketika dia mengenal pemuda itu. Pemuda yang pernah menyerangnya mati-matian karena cemburu melihat hubungannya dengan Bi Lan! Pemuda yang gagah perkasa dan lihai bernama Gu Hong Beng, yang agaknya juga jatuh cinta kepada Bi Lan dan ditolak oleh gadis itu. Diam-diam Kun Tek tersenyum dalam hati. Senyum pahit. Pemuda yang baru masuk ini mengalami nasib yang sama dengan dia. Sama-sama ditolak cintanya oleh Bi Lan, sama-sama patah hati.

Di lain pihak, Hong Beng juga melihat dan mengenal Kun Tek. Hatinya berdebar dan diapun merasa tidak enak sekali. Bukan hanya karena dia menganggap Kun Tek sebagai seorang saingan, akan tetapi karena dia pernah menyerang pemuda itu secara membabi buta karena cemburu. Peristiwa itulah yang membuat dia merasa malu sekali dan dia pura-pura tidak melihat Kun Tek, menghampiri meja di sudut lain yang menghadap ke luar sehingga meja Kun Tek berada di seberang kirinya. Dengan demikian, dia tidak usah berhadapan langsung dengan pemuda itu yang agaknya saling mencinta dengan Bi Lan!

Melihat sikap Hong Beng, Kun Tek juga diam saja. Diapun merasa tidak enak hati. Kini dia dapat membayangkan betapa sakit rasa hati Hong Beng ketika itu, ketika melihat gadis yang dicintanya itu diraba-raba kulit pinggangnya oleh seorang pemuda lain! Dia dapat mengerti akan kemarahan Hong Beng yang langsung menyerangnya seperti orang mabok itu. Dan kini, dia sendiri dapat merasakan betapa sakitnya hati menderita cinta yang gagal, cinta yang hanya bertepuk tangan sebelah. Dan perasaan senasib sependeritaan membuat Kun Tek memandang ke arah Hong Beng dengan sinar mata akrab dan bersahabat, berbeda dengan sikap Hong Beng yang merasa tidak enak dan biarpun hanya bersisa sedikit, masih ada perasaan iri terhadap pemuda yang dianggapnya menjadi pilihan hati Bi Lan itu.

Kebetulan sekali, kedua orang pemuda itu tanpa disengaja memesan makanan yang sama, yaitu bakmi goreng, bebek panggang dan arak! Hong Beng sebagai orang yang berasal dari selatan, lebih biasa makan nasi dan memesan nasi, sedangkan Kun Tek tidak, cukup dengan bakmi.

Mereka berdua makan tanpa saling tegur atau lirik dan makanan mereka hampir habis ketika tiba-tiba restoran itu ramai dikunjungi banyak orang. Akan tetapi, dua orang pemuda itu melihat betapa para pengurus rumah makan itu menjadi pucat ketakutan dan mereka itu berkelompok di belakang meja pemilik restoran dengan tubuh gemetar. Juga para tamu lain memandang dengan ketakutan ke arah orang-orang yang baru saja tiba itu.

Ketika Kun Tek dan Hong Beng memandang ke luar, mereka berduapun terkejut. Mereka mengenal siapa adanya wanita cantik dan pemuda tampan yang memimpin rombongan orang itu. Hong Beng sudah mengenal Bhok Gun dan Bi-kwi, pernah bentrok dengan mereka ketika dia menolong Bi Lan. Juga Kun Tek pernah menolong Bi Lan dari tangan Bhok Gun, maka kedua orang pemuda itu diam-diam bersiap siaga menghadapi segala kemungkinan.

Bhok Gun dan Bi-kwi menyapu ruangan rumah makan itu dengan pandang mata mereka penuh selidik. Akhirnya mereka melihat Hong Beng dan Kun Tek.

Tentu saja mereka terkejut dan sekali melihat Kun Tek yang pernah menolong Bi Lan dari tangannya, Bhok Gun sudah marah. Sambil menunjuk ke arah pemuda itu, dia memerintahkan anak buahnya yang berjumlah duapuluh empat orang.

"Tangkap bocah itu. Dan kalau dia melawan, keroyok dan bunuh saja!"

Bagaikan anjing-anjing pemburu yang sudah terlatih baik, duapuluh orang lebih itu menyerbu ke dalam ruangan itu. Meja kursi yang menghalang di tengah jalan mereka tendang dan singkirkan sehingga sebentar saja tempat itu menjadi porak poranda. Para tamu lain sudah bangkit berdiri dan dengan wajah ketakutan menyingkir ke pinggir, berkelompok bersama dengan pemilik dan para pelayan restoran. Yang masih tetap duduk hanya Hong Beng dan Kun Tek. Kun Tek kelihatan tenang saja ketika banyak orang itu menghampiri dan mengepungnya.

"Orang muda, menyerahlah untuk kami tawan, dari pada kami harus mempergunakan kekerasan!" bentak seorang pengawal yang bermuka kasar penuh bopeng (cacar).

Kun Tek menghirup arak yang masih tertinggal di dalam cawannya, lalu bangkit berdiri dan melempar cawan kosong ke atas meja. "Aku tidak bersalah, maka aku tidak sudi menyerah kepada anjing-anjing serigala!" bentaknya sambil menyambar buntalan pakaiannya dan dengan sikap tenang dia mengikatkan buntalan pakaian itu di punggung, seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa, seolah-olah dia tidak sedang diancam dan dikepung oleh banyak lawan.

Mendengar ucapan itu dan melihat sikap pemuda yang amat memandang rendah mereka, para perajurit keamanan itu menjadi marah sekali. Mereka ini menjadi semakin tinggi hati saja setelah menjadi anak buah yang dipimpin oleh Bi-kwi dan Bhok Gun, karena mereka maklum betapa saktinya dua orang pimpinan mereka dan betapa mereka tidak pernah gagal menangkap orang. Dalam setiap pembersihan, selalu mereka berhasil baik dan mereka pulang dengan semua kantung di baju mereka penuh barang berharga. Si muka bopeng yang memandang rendah pemuda di depannya itu, memberi isyarat dan bersama tiga orang kawan lain, mereka menubruk maju hendak menangkep Kun Tek. Akan tetapi, pemuda ini menggeser kakinya, kedua tangannya menyambar mangkok dan cawan, kakinya menendang meja. Meja itu terlempar dan menghantam dua orang di antara empat pengeroyok itu, sedangkan yang dua orang lagi, termasuk si muka bopeng, kena dihantam mangkok dan cawan muka mereka. Empat orang itu mengaduh-aduh dan terjengkang, si muka bopeng yang disambar mangkok mukanya itu berdarah dan membuat mukanya semakin buruk lagi. Kalau sudah sembuh luka karena tertusuk pecahan mangkok itu, tentu cacat mukanya yang bopeng itu bertambah!

Melihat ini, kawan-kawan empat orang itu menjadi marah dan merekapun menerjang maju mengeroyok Kun Tek. Tiba-tiba berkelebat bayangan biru dan tahu-tahu Hong Beng sudah menerjang masuk ke dalam arena perkelahian itu.

"Maafkan, aku terpaksa mencampuri, sobat. Mari kita basmi anjing-anjing busuk ini!"

Mendengar ucapan Hong Beng, Kun Tek merasa girang sekali. Dia tidak membutuhkan bantuan, akan tetapi bantuan dari Hong Beng ini menunjukkan bahwa Hong Beng sudah melupakan semua hal yang pernah terjadi dan tidak lagi marah kepadanya. "Terima kasih, bantuanmu kuhargai sekali!" katanya dan dengan gembira diapun mengamuk dengan kedua tangan telanjang saja.

Tentu saja duapuluh lebih orang-orang ini bukan lawan tangguh dan mereka segera kocar-kacir oleh pengamukan kedua orang pemuda perkasa. Bhok Gun dan Bi-kwi segera memasuki gelanggang perkelahian dan keduanya sudah menggunakan pedang mereka, menerjang Kun Tek dan Hong Beng.

Kun Tek dan Hong Beng melayani mereka dengan kelincahan gerakan mereka. Hanya dengan tangan kosong, kadang-kadang menyambar pecahan meja atau kaki kursi, mereka berdua bukan hanya mampu menangkis semua serangan lawan, bahkan mampu membalas dengan tidak kalah berbahayanya. Kun Tek yang menghadapi Bhok Gun bahkan tidak merasa perlu mengeluarkan pedangnya, pedang pusaka Koai-liong Po-kiam yang oleh ayahnya sudah dipesan agar tidak sembarangan dikeluarkan kalau tidak terpaksa sekali.

Hong Beng yang sudah melakukan penyelidikan di kota raja dan maklum bahwa dia dan pemuda tinggi besar itu menghadapi pasukan yang melakukan pembersihan, pasukan pemerintah yang entah bagaimana kini bisa dikuasai oleh orang-orang macam Bi-kwi dan Bhok Gun lalu cepat berkata kepada Kun Tek, "Sobat, mari kita pergi!"

"Kenapa harus pergi? Aku tidak takut akan pengeroyokan mereka!" Kun Tek membantah, merasa penasaran karena mereka berdua sama sekali tidak terdesak.

"Orang-orang ini adalah pasukan pemerintah, tidak baik melawan mereka. Nanti kuceritakan. Percayalah, mari kita pergi!" kata pula Hong Beng dan diapun meloncat keluar dari arena pertempuran. Kun Tek meloncat ke kiri, merobohkan seorang perajurit dan diapun lari mengikuti Hong Beng. Dengan cepat kedua orang pemuda itu melarikan diri, dikejar oleh pasukan itu. Karena anak buah pasukan mengejar dengan kacau balau, maka gerakan Bi-kwi dan Bhok Gun yang hendak melakukan pengejaran malah terhalang oleh anak buah mereka sendiri. Bi-kwi dau Bhok Gun merasa mendongkol dan marah sekali, juga kecewa. Mereka segera melapor kepada Kim Hwa Nio-nio dan itulah sebabnya mengapa kini mereka bergerak lebih hati-hati. Mereka tahu bahwa banyak orang pandai memasuki kota raja dan mereka tidak berani bertindak secara sembrono. Dan itulah pula sebabnya ketika Sim Houw dan Bi Lan memasuki kota raja beberapa hari kemudian, mereka tidak tergesa-gesa turun tangan dan menarik bantuan Kim Hwa Nio-nio sendiri untuk turun tangan, dan lebih menggunakan akal licik dari pada kepandaian mereka.

Hong Beng terus melarikan diri diikuti oleh Kun Tek sampai mereka merasa aman, berbaur dengan orang-orang yang memenuhi jalan raya dan berlalu lalang. Hong Beng lalu mengajak Kun Tek menuju ke sebuah kuil tua. Semenjak kembali dari Pao-teng mengunjungi Kao Cin Liong, oleh bekas panglima itu dia diberi tahu agar kalau berada di kota raja, dia bermalam atau bersembunyi di kuil itu. Ketua kuil itu, seorang hwesio yang usianya sudah enampuluh tahun lebih dan kini tinggal di situ bersama dua orang hwesio tua lainnya, adalah seorang sahabat dari pendekar Kao Cin Liong. Dan kini Hong Beng bermalam di situ, diterima baik oleh tiga orang hwesio itu ketika dia menyebutkan nama Kao Cin Liong sebagai paman gurunya. Dengan aman kini kedua orang muda itu memasuki kuil dan Hong Beng langsung membawa kawannya itu ke dalam ruangan yang kecil di belakang kuil.

"Nah, di sini kita boleh bicara dengan aman," kata Hong Beng-sambil memandang wajah Kun Tek.

Kun Tek sejak tadi memperhatikan tempat itu dan mengangguk. "Engkau pandai memilih tempat sembunyi, kawan,"

"Sebelum kita bicara, ingin aku lebih dulu mengeluarkan perasaan tidak enak di dalam hatiku. Aku ingin.... minta maaf kepadamu atas peristiwa yang terjadi dalam pertemuan kita yang lalu. Maafkan atas kebodohanku, karena cemburu merupakan suatu kebodohan besar, bukan? Maafkan aku."

Kun Tek tersenyum. "Sudah lama aku memaafkanmu, sobat. Dan kalau dulu aku masih merasa penasaran karena belum tahu, kini aku memaklumi perbuatanmu itu. Aku tahu apa artinya patah hati, betapa pahitnya cinta yang hanya bertepuk sebelah tangan."

Hong Beng memandang dengan sinar mata tajam penuh selidik ke arah wajah Kun Tek.

"Kaumaksudkan.... kau.... dan Bi Lan....?"

Kun Tek mengangguk. "Kita senasib, kawan. Agar kauketahui saja dan agar engkau tidak menyimpan iri atau cemburu kepadaku. Seperti juga engkau, cintaku ditolak. Nah, kita berdua ini sama-sama dua ekor keledai jantan yang tolol, bukan?"

Hong Beng melebarkan matanya, kemudian dia memegang lengan Kun Tek. "Ah, maafkan aku! Engkau seorang laki-laki sejati. Nah, aku Gu Hong Beng sudah lama kagum kepadamu, sobat."

"Dan akupun kagum kepadamu. Namaku Cu Kun Tek."

"Ketika kita bertempur, engkau menggunakan sebatang pedang yang hebat. Kenapa tadi tidak kau pergunakan?"

Kun Tek menepuk pinggangnya di mana pedang itu tergantung, terlindung oleh jubahnya yang panjang. "Ayahku berpesan agar kalau tidak terpaksa sekali, aku tidak boleh mempergunakan pusaka keluarga kami ini. Dulu ketika melawanmu, aku terpaksa. Engkau lihai bukan main dan agaknya engkau memiliki ilmu-ilmu dari Pulau Es."

Hong Beng mengangguk, tanpa merasa bangga. "Aku hanya menguasai sedikit saja dari ilmu-ilmu keluarga Pulau Es walaupun suhuku adalah seorang anggauta keluarga para pendekar Pulau Es. Akan tetapi ilmu pedangmu hebat bukan main."

"Ah, ilmu keluarga kami belum apa-apa kalau dibandingkan dengan ilmu-ilmu dari Pulau Es. Nah, setelah kita menjadi sahabat, ceritakanlah mengapa engkau mengajak aku melarikan diri tadi, padahal kita belum tentu kalah kalau pertempuran itu dilanjutkan."

"Ketahuilah, Kun Tek, bahwa wanita tadi adalah Bi-kwi murid dari Sam Kwi...."

"Aku pernah mendengar nama Sam Kwi...."

"Ia masih suci dari.... eh, Bi Lan. Kau tahu, Bi Lan adalah murid Sam Kwi, akan tetapi ia mengambil jalan lain dari pada jalan sesat guru-gurunya, bahkan Bi Lan telah diambil murid oleh Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir...."

"Hemmm.... kenapa kau membawa-bawa nama nona Can dalam percakapan ini?" Kun Tek mencela, nampak tak senang karena nama itu mengingatkan dia akan pengalamannya yang amat pahit.

Hong Beng tersenyum pahit pula. "Tidak apa-apa, hanya karena memang ada hubungannya. Bi-kwi itu, bersama pria tadi yang bernama Bhok Gun, kini telah berhasil menjadi dua orang di antara kaki tangan pembesar yang bernama Hou Seng, pembesar yang merajalela di dalam istana. Banyak pembunuhan dilakukannya, membunuhi pembesar-pembesar yang menjadi saingannya dan agaknya dia berhasil pula menggandeng panglima pasukan keamanan. Buktinya, kini pasukan-pasukan itu berkeliaran di kota dan melakukan pembersihan di mana-mana, dipimpin oleh Bhok Gun dan Bi-kwi yang jahat itu. Kita tidak seharusnya menentang pasukan keamanan, karena hal itu dapat membuat kita dicap pemberontak. Yang kita tentang hanyalah kaum sesat yang kini menjadi kaki tangan pejabat-pejabat tinggi. Di antara datuk sesat itu, aku sedang mencari seorang yang bernama Sai-cu Lama...."

"Hemm, akupun pernah mendengar nama Sai-cu Lama itu dari ayahku. Menurut ayah, Sai-cu Lama adalah seorang tokoh di antara para pendeta Lama yang sakti di Tibet, dan kabarnya Sai-cu Lama adalah seorang pendekar Lama yang menyeleweng dari pada ajaran agamanya."

"Memang benar keterangan ayahmu itu. Dia amat jahat dan aku tadinya menerima tugas dari suhuku untuk melakukan penyelidikan atas diri pembesar bernama Hou Seng itu. Akan tetapi di dalam perjalanan, aku bertemu dengan Sai-cu Lama, melihat sepak terjangnya yang jahat. Dia telah merampas pedang milik Bi Lan, bahkan kemudian aku melihat dia menculik anak perempuan, puteri dari bibi guruku. Karena itu, aku kini sedang menyelidiki di mana adanya Sai-cu Lama itu, dan siapa-siapa pula yang menjadi kaki tangan pembesar bernama Hou Seng itu."

Dengan panjang lebar Hong Beng bercerita tentang keadaan di kota raja seperti yang sudah diselidikinya sehingya akhirnya Kun Tek mengerti dan pemuda inipun tertarik sekali. "Kalau begitu. pembesar she Hou itu jahat sekali, dan perlu dibasmi!"

Hong Beng menggeleng kepala. "Tidak semudah itu, sobat. Dia sedang berkuasa di istana, dipercaya oleh kaisar. Sedangkan peringatan para pembesar yang tua dan setia saja diabaikan oleh kaisar. Dan usaha mereka untuk menyingkirkan pembesar bernama Hou Seng ini ditebus dengan kehancuran mereka, dengan pembunuhan-pembunuhan gelap yang menimpa diri mereka yang menentang pembesar itu. Apa yang mampu kita lakukan? Dia dikelilingi oleh pasukan pengawal, keamanan yang amat kuat, bahkan dilindungi pula oleh datuk-datuk sesat. Yang dapat kita lakukan hanyalah menggempur datuk-datuk sesat itu, dan itulah kewajiban para pendekar."

"Kalau begitu, mengapa tidak kita bayangi saja orang-orang itu? Pasukan berpakaian preman yang melakukan pembersihan di mana-mana itu? Kalau kita bayangi mereka dan kita mengetahui di mana sarang mereka, lalu kita menyelundup ke dalam, tentu kita dapat melakukan penyelidikan."

"Ah, benar juga pendapatmu itu!" Hong Beng berseru girang dan kedua orang pemuda ini lalu mengadakan perundingan untuk berusaha melakukan penyelidikan dengan cara membayangi pasukan yang melakukan pembersihan hampir setiap hari itu. Pada suatu hari, dengan membayangi pasukan yang dipimpin oleh Bhok Gun dari jauh, secara sembunyi, mereka diam-diam mengikuti pasukan dan akhirnya mereka dapat menemukan markas Kim Hwa Nio-nio.

Dapat dibayangkan betapa kaget hati dua orang itu ketika mereka membayangi pasukan itu, mereka melihat bahwa pasukan itu, dipimpin oleh Bi-kwi, Bhok Gun dan seorang nenek yang membawa kebutan, memasuki markas itu sambil membawa dua orang tawanan yang mereka kenal dengan baik. Tawanan itu, seorang di antaranya adalah Bi Lan! Dan Kun Tek juga terkejut melihat tawanan ke dua, karena orang itu bukan lain adalah Sim Houw!

Hampir saja Kun Tek turun tangan pada saat pasukan itu masih menggiring dua orang tawanan itu di tengah jalan. Akan tetapi Hong Beng mencegahnya, berbisik bahwa pasukan itu berjumlah besar, dan di situ terdapat nenek itu yang agaknya lihai sekali. Akhirnya Kun Tek dapat menerima pendapat ini.

"Kau benar. Kalau Sim Houw sampai dapat tertawan oleh mereka, hal itu membuktikan bahwa nenek itu amat lihai, bukan lawan kita. Kalau Sim Houw kalah, apa lagi aku!"

"Siapakah laki-laki yang kusebut Sim Houw itu?"

"Dia? Ah, dia itu masih keponakanku sendiri...."

"Mana mungkin? Nampaknya dia jauh lebih tua darimu."

"Memang, akan tetapi sesungguhnya dia masih keponakanku. Ibunya adalah keponakan dari ayahku. Akan tetapi ilmu kepandaiannya hebat bukan main. Bahkan dia telah mengalahkan kakek Pek-bin Lo-sian yang gila itu dan menerima hadiah Liong-siauw-kiam dari kakek itu."

"Ahh....?" Hong Beng terbelalak, teringat akan cerita Bi Lan. "Jadi dia itu yang berjuluk Pendekar Suling Naga?"

Kun Tek mengangguk. "Agaknya begitu, karena setelah pusaka itu jatuh ke tangannya lalu muncul julukan itu. Tentu dia, siapa lagi?"

"Sungguh aneh! Dan Bi Lan mencari orang itu untuk merampas kembali Pedang Suling Naga, seperti yang ditugaskan oleh Sam Kwi kepadanya. Berarti bahwa orang bernama Sim Houw itu musuhnya, akan tetapi bagaimana mereka berdua kini bisa berbareng menjadi tawanan pasukan itu?"

"Sudahlah, yang penting kini bagaimana kita dapat menolong mereka. Kita harus dapat menolong dan membebaskan mereka. Nona.... Can Bi Lan adalah.... eh, kenalan-kenalan kita, dan Sim Houw adalah keponakanku. Kita harus tolong mereka."

"Benar, Kun Tek. Kita harus dapat menyusup ke dalam gedung itu dan melakukan penyelidikan. Akan tetapi kita harus berhati-hati sekali. Nenek itu kelihatan lihai dan di dalam gedung itu tentu berkumpul orang-orang pandai yang katanya menjadi para pembantu dari Hou Seng." Mereka lalu berunding lagi sambil menanti saat baik, yaitu datangnya malam yang akan memudahkan mereka menyusup ke dalam gedung besar itu,

***

"Ha-ha-ha, heh-heh, akhirnya engkau kembali juga kepadaku, Liong-siauw-kiam!" nenek itu tertawa-tawa dan menciumi sarung pedang itu dengan hati yang amat girang. Ia duduk menghadapi meja penuh hidangan dan memang ia merayakan kemenangan dan hasil baik telah berhasil merampas kembali pedang pusaka yang tadinya menjadi milik nenek moyang perguruannya itu.

Sai-cu Lama mengangkat cawan araknya. "Selamat, Nio-nio, selamat! Pinceng ikut merasa girang sekali. Memang agaknya bintang dari Hou Taijin amat terang cemerlang, sehingga orang-orang yang ikut membantunya mendapat nasib yang baik. Buktinya, pinceng sendiri berhasil mendapatkan Ban-tok-kiam. Padahal pedang pusaka ini dahulu pernah menggegerkan dunia persilatan dan menjadi milik isteri dari Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir. Apakah tidak hebat?" Dia menepuk-nepuk sarang pedang di punggungnya.

Kim Hwa Nio-nio menerima ucapan selamat itu dan meneguk arak dari cawannya. "Semua ini adalah berkat bintang terang Hou Taijin, dan agaknya semua cita-citanya akan tercapai dan kita yang menjadi para pembantunya, tentu akan ikut pula menikmati hasil baik yang dicapainya."

"Aih, tiada hasil baik dapat dicapai tanpa rintangan-rintangan dan tanpa susah payah, Nio-nio. Kita masih harus menghadapi perjalanan yang panjang. Beberapa hal mendatangkan kegelisahan di hati pinceng. Terutama sekali hilangnya Suma Lian tentu akan membuat Hou Taijin kecewa sekali."

"Hal itu tidak perlu dikhawatirkan, Sai-cu Lama. Sejak pertama kali kau menyerahkan anak perempuan yang kautawan itu, aku sudah menduga bahwa Hou Taijin agak ragu-ragu untuk mengambil anak itu secara paksa. Agaknya Hou Taijin masih jerih akan nama besar keluarga Pulau Es, dan dua orang selirnya itulah yang membisikkan kekhawatiran itu. Aku sedang berpikir-pikir bagaimana harus memyingkirkan dua orang selir itu, karena Hou Taijin terlalu percaya kepada mereka. Lama-lama mereka dapat menjadi penghalang kemajuan kita sendiri. Tidak, Lama, kurasa tentang hilangnya Suma Lian itu tidak akan mendatangkan kekecewaan terlalu besar bagi Hou Taijin."

"Mudah-mudahan begitu," kata pendeta gendut itu sambil mengunyah daging yang agak alot. Mereka bercakap-cakap sambil makan minum merayakan kemenangan. Kini Hwa Nio-nio yang berhasil mendapatkan kembali Liong-siauw-kiam. "Akan tetapi, yang membuat pinceng merasa penasaran adalah munculnya kakek jembel gila itu! Dia berhasil melarikan Suma Lian dan kakek itu lihai luar biasa!"

"Hemm, aku tidak khawatir. Sampai di mana sih kelihaian seorang tua bangka jembel?" kata Kim Hwa Nio-nio sambil mengelus Liong-siauw-kiam, seolah-olah hendak memamerkan senjata pusaka itu dan menunjukkan bahwa dengan adanya senjata pusaka itu, ia tidak takut melawan siapapun juga.

"Sungguh, Nio-nio. Kau harus percaya kepada omongan pinceng. Kakek itu memang sudah tua sekali, akan tetapi dia benar-benar sakti! Dan dia menjadi tamu di rumah keluarga Pouw. Bahkan selain melarikan Suma Lian, diapun melarikan anak perempuan keluarga Pouw itu. Dia yang mengetahui semua rahasia pembunuhan itu. Hemm, pinceng akan selalu merasa khawatir dan tidak enak sebelum dapat memenggal kepalanya!"

"Jangan khawatir, kalau dia berani muncul lagi, aku akan membantumu memenggal kepalanya, Lama."

"Aih, engkau terlalu memandang rendah pihak lawan, Nio-nio, dan hal itu juga menggelisahkan hatiku. Ketahuilah bahwa orang-orang seperti kakek jembel itu amat berbahaya."

"Subo, ucapan locianpwe Sai-cu Lama memang patut diperhatikan," tiba-tiba Bhok Gun berkata kepada gurunya." Memang kini di kota raja bermunculan orang-orang pandai. Bukan saja Sim Houw dan Can Bi Lan yang berhasil kita bekuk, akan tetapi beberapa hari yang lalu muncul pula dua orang pemuda itu yang sudah kami laporkan kepada subo. Merekapun lihai sekali dan merupakan lawan yang tidak boleh dipandang ringan." Yang dimaksudkan oleh Bhok Gun adalah Cu Kun Tek dan Gu Hong Beng yang belum lama ini mereka serbu di dalam restoran namun mereka gagal karena dua orang pemuda perkasa itu dapat meloloskan diri meninggalkan beberapa orang anak buah mereka yang luka-luka.

"Karena itulah maka aku telah minta kepada Bi-kwi. Ke mana saja sih tiga orang kakek gila yang menjadi gurumu itu, Bi-kwi? Kenapa sampai sekarang belum juga muncul?"

"Suhu bertiga sudah berjanji akan datang, mereka pasti akan datang, sukouw. Harap jangan khawatir," jawab Bi-kwi. "Dan apa yang dikatakan oleh Bhok suheng ada benarnya. Agaknya kini para pendekar bermunculan di kota raja dan mereka itu agaknya sengaja hendak menentang kita. Oleh karena itu, kita harus meningkatkan kewaspadaan dan sama sekali tidak boleh memandang ringan kepada mereka."

"Ah, sudahlah, kita nanti sama-sama hadapi saja mereka itu. Kini yang penting, bagaimana dengan Sim Houw dan Can Bi Lan yang telah kita tawan itu? Sebaiknya, mereka itu diapakan?"

"Orang she Sim itu terlalu berbahaya sekali, sukouw, menurut pendapatku sebaiknya dibunuh saja. Kalau dibiarkan hidup lebih lama lagi, akan berbahaya bagi kita."

"Aku setuju sekali!" kata Bhok Gun. Memang orang she Sim itu harus dibunuh. Ilmunya tinggi, selagi dia berada dalam kekuasaan kita, sebaiknya segera dibunuh saja. Akan tetapi nona itu jangan dibunuh dulu. serahkan kepadaku, subo. Biar aku yang akan menjinakkannya. Bukankah ia masih sumoi dari Bi-kwi, murid dari para susiok Sam Kwi, berarti orang sendiri? Kalau ia sudah dapat dijinakkan, tentu akan mau membantu kita dan berarti kedudukan kita menjadi lebih kuat."

"Omitohud....!" kata Sai-cu Lama. "Ingat, nona itu sudah menjadi murid dari Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir! Bukan lagi orang segolongan dengan kita." Tentu saja kakek yang merampas Ban-tok-kiam ini khawatir sekali kalau gadis itu dibiarkan hidup. Kalau gadis itu mati, dia boleh bernapas lega dan Ban-tok-kiam sepenuhnya menjadi miliknya.

"Memang sebaiknya kalau Can Bi Lan itu dibunuh saja, dan sebelum itu, biarlah kalau Bhok Gun hendak menikmatinya dulu," kata Kim Hwa Nio-nio sambil tersenyum ke arah murid yang disayangnya itu. Bhok Gun menyeringai girang.

"Hemmm, manusia mana yang hendak membunuh murid kami?" Tiba-tiba terdengar seruan keras dan bagaikan setan-setan saja, nampak tiga bayangan orang menyelonong masuk ke dalam ruangan itu. Beberapa orang penjaga yang berusaha mencegahnya, sudah terlempar ke kanan kiri oleh dorongan mereka.

"Suhu!" teriak Bi-kwi dengan girang melihat bahwa yang muncul itu adalah tiga orang gurunya.

"Aih, akhirnya kalian muncul juga, Sam Kwi!" Kim Hwa Nio-nio juga menyambut dengan wajah girang.

"Aku ingin bertanya, siapa berani mencoba untuk membunuh murid kami Siauw-kwi? Hayo maju dan boleh coba-coba dengan kami yang menjadi gurunya!" kata pula Im-kan Kwi, Si Iblis Akhirat yang biarpun bertubuh kate pendek, namun suaranya besar dan cerewet. "Enak saja membicarakan mati hidupnya murid kami. Hayo siapa berani?" Si kate itu, bersama dua orang saudaranya, berdiri dengan marah dan mereka memandang kepada semua orang, satu demi satu dengan sikap menantang.

"Omitohud....! Hebat sekali! Inikah Thai-san Sam Kwi yang amat terkenal itu?"

Tiga orang kakek yang baru tiba itu menoleh ke arah Sai-cu Lama.

"Siapakah Lama ini?" tanya Hek-kwi Ong yang tinggi besar.

"Duduklah, sam-wi sute (tiga orang adik seperguruan), duduklah yang baik. Kita berada di antara orang sendiri. Pendeta ini adalah Sai-cu Lama, seorang rekan kita yang amat baik dan tangguh."

"Hemmm, kami sudah mendengar namanya. Mudah-mudahan kepandaiannya sebesar namanya," kata pula Iblis Akhirat yang pendek.

"Suci Kim Hwa Nio-nio. Siapa yang mau membunuh murid kami Siauw-kwi tanpa perkenan kami tadi?" kini Iblis Mayat Hidup yang tak banyak bicara itu bersuara.

Melihat sikap tiga orang gurunya yang jelas memperlihatkan ketidaksenangan, Bi-kwi cepat berkata, "Suhu bertiga harap jangan salah mengerti. Kami memang sedang membicarakan tentang diri Siauw-kwi, dan kebetulan sekali suhu bertiga sudah datang sehingga dapat memberi keputusan yang tepat tentang apa yang harus kami lakukan terhadap murid suhu yang murtad itu."

"Bik-kwi, kau mengatakan bahwa Siauw-kwi murtad. Dalam hal bagaimanakah ia murtad dan mengapa pula sekarang ia menjadi tahanan? Kami tahu bahwa sejak dahulu engkau tidak menyukainya, akan tetapi hal itu belum dapat menjadi alasan bahwa engkau boleh membunuh murid kami begitu saja tanpa ijin kami!" kata Iblis Akhirat dengan sikap marah.

"Begini, suhu. Karena aku merasa menjadi sucinya, maka tadinya aku menganggap diriku cukup untuk mewakili suhu bertiga karena suhu bertiga tidak hadir. Siauw-kwi telah murtad dan menjadi pengkhianat dengan bersekutu dengan Sim Houw yang merampas pedang Liong-siauw-kiam. Ia bersekutu dengan orang she Sim itu untuk menentang kita! Apakah pengkhianaran seperti itu tidak patut untuk mendapat hukuman yang keras?"

"Keterangan Bi-kwi itu benar, sam-wi sute. Muridmu Bi-kwi telah gagal merampas Liong-siauw-kiam dan Siauw-kwi telah bersekutu dengan musuh. Akan tetapi akhirnya, aku dapat menangkap mereka berdua dan karena aku yang berhasil merampas kembali Liong-siauw-kiam, maka pedang pusaka ini sekarang menjadi hak milikku!"

Tiga orang kakek itu saling pandang dan Iblis Akhirat yang seperti biasa menjadi juru bicara mereka bertiga, berkata, "Hemm, kalau sudah terjatuh ke tanganmu sama saja, suci. Pokoknya pusaka itu tidak jatuh ke tangan golongan lain. Akan tetapi kami masih merasa penasaran dan ingin membuktikan sendiri apakah benar Siauw-kwi telah mengkhianati kami. Bawa mereka berdua itu menghadap!"

Akan tetapi, seolah-olah sebagai jawaban dari ucapan Iblis Akhirat itu, mendadak terdengar suara ribut-ribut dan kegaduhan itu datang dari bagian belakang gedung. Makin lama makin gaduh dan muncullah seorang komandan jaga dengan muka pucat dan napas memburu.

"Celaka, Nio-nio.... celaka...., orang tawanan itu lolos."

Mendengar ucapan ini, tanpa banyak cakap lagi Kim Hwa Nio-nio, Sai-cu Lama, Bhok Gun dan Bi-kwi berloncatan keluar dari ruangan itu. Sam Kwi saling pandang, lalu menyerbu meja makanan, meneguk arak dari guci dan memilih masakan-masakan yang dianggap paling enak. Mereka bersikap seolah-olah mereka tidak ada hubungannya dengan urusan yang menimbulkan keributan itu.

Apakah yang telah terjadi? Ketika Sim Houw dan Bi Lan, dengan tubuh tertotok dan kaki tangan terbelenggu, dijebloskan ke dalam sebuah kamar tahanan yang kokoh kuat dan terjaga ketat di luar kamar tahanan, Bi Lan yang terkulai lemas itu merasa menyesal sekali.

"Sim-toako, kenapa engkau tidak memenuhi permintaanku? Kenapa kau tidak mau mempertahankan pusaka itu? Dan kemudian, kenapa engkau tidak melarikan diri saja melainkan menyerahkan diri untuk menjadi tawanan? Ahhh, kalau engkau menuruti permintaanku, tentu sekarang engkau masih bebas di luar dan pusaka itu masih tetap berada padamu, toako. Sungguh aku menyesal sekali. Karena kebodohan dan kelemahanku, engkau menjadi korban!"

Sim Houw kembali memandang kepada gadis itu dengan pandang mata yang aneh tadi, pandang mata yang membuat Bi Lan merasa bingung dan canggung, "Lan-moi, untuk melindungimu dari bahaya, jangankan hanya pedang pusaka, biar nyawakupun kupertaruhkan."

Bi Lan membelalakkan kedua matanya dan sejenak menatap wajah pemuda itu, mencoba untuk meneliti wajah itu di dalam cahaya remang-remang, ingin mengetahui mengapa Sim Houw bersikap seperti itu kepadanya. "Akan tetapi.... kenapa, toako? Kita baru saja berjumpa dan berkenalan, akan tetapi kenapa kau.... kau begitu baik kepadaku? Kenapa kau membelaku mati-matian, mengorbankan pusaka, padahal bagi seorang pendekar, bukankah senjata pusaka itu merupakan nyawa kedua? Dan engkaupun mempertaruhkan nyawa untuk melindungiku. Kenapa....?"

Di dalam pertanyaan itu terkandung perasaan ingin tahu yang mendalam sekali sehingga wajah Sim Houw berubah kemerahan. Untung cahaya remang-remang menyembunyikan perubahan air mukanya itu sehingga tidak nampak oleh Bi Lan. Gadis itu hanya melihat Sim Houw menarik napas panjang lalu tersenyum, senyum penuh kesabaran dan pengertian seperti yang dikenalnya dengan baik selama ini. Tentu saja hati Sim Houw ingin meneriakkan bahwa dia melakukan semua itu karena dia mencinta gadis ini! Ya, dia telah jatuh cinta kepada Bi Lan, seperti yang belum pernah dialaminya semenjak cintanya gagal terhadap Kam Bi Eng. Di dalam diri Bi Lan, dia seperti menemukan Bi Eng ke dua dan dia telah jatuh cinta kepada Bi Lan! Akan tetapi, tak mungkin dia berani menyatakannya. Dia merasa malu kepada Bi Lan dan kepada diri sendiri. Pertama, dia jauh lebih tua dari gadis ini, tidak sepadan. Dia pantas menjadi paman gadis ini! Dan kedua, dia tidak mau menderita untuk kedua kalinya, derita yang timbul karena cinta gagal, cinta yang bertepuk tangan sebelah pihak seperti cintanya kepada Kam Bi Eng. Tidak, dia tidak mau menjadi buah tertawaan Bi Lan dan orang lain dengan pengakuan cintanya, dan dia merasa ngeri menghadapi kegagalan lagi. Lebih baik dia menyimpan rahasia itu di dalam hatinya sendiri, membawa rahasia itu di dalam sisa hidupnya sampai dia mati. Akan tetapi pertanyaan Bi Lan demikian mendesak, menuntut keterangan.

Setelah menarik napas panjang sekali lagi untuk menenangkan hatinya yang berdebar, dia berkata, "Kenapa, Lan-moi? Ah, perlukah hal itu kautanyakan lagi? Kita melakukan perjalanan bersama, kita sudah menjadi sahabat, sudah sepatutnya kalau aku melindungimu."

"Akan tetapi, antara sahabat tidak mungkin sampai orang harus mengorbankan pusakanya dan bahkan nyawanya, toako."

"Begini, Lan-moi. Engkau sebatangkara di dunia ini, engkau tidak mempunyai siapa-siapa lagi. Dan akupun hidup sebatangkara. Nasib kita sama. Nah, kalau bukan aku yang melindungi dirimu, habis siapa lagi? Bagaimana aku selanjutnya dapat hidup dengan perasaan tenang kalau aku membiarkan dirimu seorang diri menempuh bahaya besar ini? Tidak, aku tentu takkan pernah dapat mengampuni diriku sendiri. Hidup atau mati, aku harus menemanimu dalam menghadapi ancaman bahaya, Lan-moi."

Sejenak Bi Lan diam saja seolah-olah kecewa mendengar keterangan itu. Dia seperti merasakan bahwa alasan Sim Houw mempertaruhkan nyawanya tentu karena sebab yang lebih mendalam, bukan sekedar setia kawan seorang sahabat baru! Ia seolah-olah mengharapkan pengakuan yang lain!

"Akan tetapi, toako. Pengorbananmu ini akan sia-sia saja. Engkau tertawan, terbelenggu dan tertotok, tidak berdaya seperti juga aku. Engkau tidak dapat menolongku dan tidak dapat menyelamatkan dirimu sendiri. Bukankah perbuatanmu ini sama saja seperti bunuh diri?"

Sim Houw menggeleng kepala dan senyumnya nampak aneh. "Jangan khawatir, Lan-moi. Aku tidak melakukan tindakan membabi buta, melainkan ingat sebelum kulakukan sudah kuperhitungkan masak-masak. Satu-satunya jalan untuk menolongmu hanyalah menyerahkan pusaka dan menyerahkan diri. Kalau sudah terbebas dari ancaman mereka, barulah aku akan mampu menolongmu. Totokan ini bukan apa-apa bagiku. Dengan Ilmu I-kiong-hoan-hiat (Ilmu Memindahkan Jalan Darah) aku dapat mengelak dari totokan itu dan pura-pura lumpuh. Dan belenggu inipun tak ada artinya." Dan tiba-tiba saja, di bawah pandang mata Bi Lan yang terbelalak, Sim Houw menggerakkan kedua tangannya dan belenggu di pergelangan tangannya itupun patah-patah tanpa mengeluarkan banyak suara! Kemudian, dengan hati-hati Sim IIouw menotok jalan darah di pundak dan punggung Bi Lan untuk membebaskan gadis itu, dan juga mematahkan belenggu kaki tangannya

"Jangan bergerak, bersikap pura-pura masih tertotok dan terbelenggu," bisik Sim Houw yang memasangkan kembali belenggu kaki tangannya yang diturut oleh Bi Lan. "Pihak musuh terlalu banyak dan mereka kuat sekali. Kita harus menanti saat baik. Kalau orang-orang tangguh itu sudah tidur, barulah kita akan meloloskan diri dari sini. Untuk membuka ruangan ini membutuhkan banyak tenaga dan aku khawatir sebelum kita sempat lolos, mereka sudah datang dan kita akan menghadapi kesukaran lagi. Ingat kita berada dalam sarang musuh."

Bi Lan merasa kagum bukan main atas kehebatan ilmu kepandaian Sim Houw, mengangguk dan mentaati petunjuk Sim Houw. Ia tahu bahwa Sim Houw pasti berhasil mengajaknya keluar dari tempat ini, lolos dan bebas!

Akan tetapi, tiba-tiba terdengar suara berkerotokan ketika pintu baja yang berat dan tebal itu dibuka dari luar. Rantai baja yang besar, yang mengikat pintu, dibuka dan kuncinya juga dibuka. Daun pintu itu terbuka dan masuklah seorang kepala jaga yang bermuka hitam dan kasar, bermata lebar dan mata itu sejak dia masuk sudah memandang ke arah Bi Lan dengan sinar mata yang memuakkan gadis itu.

"Aduh, sayang kalau nona manis semulus harus dibunuh. Nona, berilah aku cium satu kali saja dan aku akan minta kepada Nio-nio agar engkau jangan dibunuh, melainkan diberikan kepadaku untuk menjadi isteriku. Cium sekali saja, ya?" Dan muka yang hitam kasar itu mendekat, hendak mencium bibir Bi Lan. Gadis ini menahan diri, akan tetapi mencium bau yang busuk dari mulut orang itu yang semakin mendekat, ia tidak tahan lagi dan tangannya yang memang sudah terbebas dari belenggu itu tiba-tiba menyambar.

"Prakkk....!" Terdengar tulang patah ketika tangan Bi Lan dengan kerasnya menampar pipi orang itu. Agaknya tulang rahang yang patah-patah dan giginya juga rontok semua. Orang itu mengaduh dan bergulingan di atas lantai seperti cacing terkena abu panas, mengaduh dan memegangi mulutnya yang penuh darah.

Tiba-tiba pada saat para penjaga menjadi kaget dan mereka menyerbu ke depan pintu kamar tahanan, nampak berkelebat dua bayangan dari tempat gelap dan terdengarlah pekik-pekik kesakitan ketika beberapa orang penjaga terguling oleh amukan dua orang itu. Kiranya yang datang itu adalah Hong Beng dan Kun Tek!

"Nona Can, cepat keluarlah!" kata Hong Beng sambil menendang roboh seorang penjaga.

"Sim Houw, aku datang menolongmu, cepatlah keluar!" kata Kun Tek yang masih terhitung paman dari Sim Houw dan diapun merobohkan seorang penjaga lain dengan tamparan tangan kirinya. Dengan pedang Koai-liong-kiam di tangan, Kun Tek meloncat ke dekat pintu kamar tahanan. Maksudnya untuk membuka pintu itu menggunakan pedang pusakanya Akan tetapi dia merasa heran dan juga girang melihat bahwa pintu yang amat kuat itu sudah terbuka dan nampaklah Sim Houw dan Bi Lan sudah menerobos keluar dari pintu yang terbuka itu.

Melihat bahwa yang menolongnya adalah pamannya yang dulu masih kecil ketika dia berkunjung ke Lembah Naga Silmuan, Sim Houw menjadi girang sekali. Hampir dia tidak mengenal pemuda tinggi besar itu kalau saja tadi tidak menyebut namanya begitu saja. Dan Bi Lan juga merasa girang disamping merasa heran mengapa dua orang pemuda yang pernah saling gempur itu kini datang bersama untuk menyelamatkan ia dan Sim Houw. Akan tetapi tidak ada waktu bagi mereka untuk bereakap-cakap dan empat orang itu lalu mengamuk, merobohkan setiap penghadang dan sebentar saja mereka sudah dapat menerobos keluar dari kepungan dan berloncatan keluar dari tembok belakang yang mengurung gedung itu.

Ketika Kim Hwa Nio-nio dan kawan-kawannya mengejar ke tempat tahanan, mereka tidak menemukan lagi dua orang tawanan itu. Dengan marah dan mendongkol sekali Kim Hwa Nio-nio hanya dapat mendengar laporan anak buahnya betapa komandan jaga memasuki kamar tahanan dan tahu-tahu telah remuk tulang rahangnya, dan betapa dua orang pemuda yang pernah lolos dari tangkapan mereka tadi telah datang dan membantu lolosnya dua orang tawanan. Dengan tangannya sendiri Kim Hwa Nio-nio menampar kepala dari komandan jaga itu sehingga orang itu roboh dengan kepala retak-retak dan tewas seketika.

"Sam-wi sute, kini percaya betapa baiknya muridmu yang bernama Bi Lan itu?" Kim Hwa Nio-nio mengomel ketika ia kembali ke ruangan dalam dan melihat tiga orang sutenya itu masih enak-enak saja duduk makan minum. "Ia telah melarikan diri bersama Sim Houw dan dibantu oleh pemberontak-pemberontak."

"Hemm, tidak kusangka anak itu menyeleweng," kata Iblis Akhirat. "Akan tetapi kami ingin bertemu dengannya, dan kalau ia tidak menyerah, kami sendiri yang akan memberi hukuman kepadanya!"

***

"Cepat, kita bersembunyi ke dalam kuil ini," kata Hong Beng kepada Sim Houw dan Bi Lan yang mengikuti dia dan Kun Tek melarikan diri dari gedung yang menjadi markas besar para pembantu Hou Taijin. Tak lama kemudian, mereka sudah berada di ruangan dalam kuil itu, aman dan mereka segera duduk menghadapi meja, minum air teh panas yang disediakan oleh para hwesio kuil.

Bi Lan lalu memperkenalkan Hong Beng kepada Sim Houw. "Sim-toako, saudara Gu Hong Beng ini adalah seorang murid dari keluarga para pendekar Pulau Es, ilmu kepandaiannya hebat. Dan Hong Beng, Sim-toako ini adalah Pendekar Suling Naga. Kiranya aku tidak perlu memperkenalkan Sim-toako dengan Kun Tek karena agaknya malah ada hubungan keluarga antara kalian."

Sim Houw dan Hong Beng saling memberi hormat dan Kun Tek berkata, "Sim Houw adalah keponakanku sendiri, biarpun usianya lebih tua dariku. Dan dia telah berjasa besar untuk keluarga kami, bahkan dialah yang mengembalikan pedang pusaka Koai-liong Po-kiam yang kubawa ini kepada kami."

Mendengar disebutnya pedang pusaka, Bi Lan memandang dengan muka sedih. "Sungguh celaka, pedang pusaka milik subo, Ban-tok-kiam masih belum bisa kudapatkan kembali, kini malah pedang pusaka milik Sim-toako terjatuh ke tangan nenek iblis itu!"

"Hemm, mereka itu sudah bersatu semua. Sai-cu Lama yang merampas pedangmu itu sudah berada di sana pula, nona Bi Lan. Juga kami tadi ada melihat tiga orang kakek yang menyeramkan, agaknya mereka baru saja tiba di gedung itu. Melihat keadaan tubuh dan wajah mereka yang amat menyeramkan, aku dapat menduga bahwa mereka tentu memiliki ilmu kepandaian yang tinggi."

"Melihat mereka, kurasa merekalah yang berjuluk Sam Kwi...." kata Kun Tek.

Tentu saja Bi Lan menjadi terkejut mendengar disebutnya nama itu. "Benarkah?" tanyanya.

"Aku sendiri belum pernah berjumpa dengan Sam Kwi sebelumnya, akan tetapi pernah mendengar gambaran tentang diri mereka. Yang seorang tinggi besar, berpakaian hitam, tingginya satu setengah orang. Yang ke dua amat pendek, gendut, tingginya tiga perempat orang biasa. Sedangkan yang ke tiga adalah seorang yang seperti tengkorak hidup saja, kurus hanya kulit membungkus tulang, mengerikan!"

"Ah, benar, mereka adalah Sam Kwi, tiga orang guruku," kata Bi Lan dan gadis inipun termenung. Bagaimanapun juga jahatnya, tiga orang kakek itu adalah orang-orang pertama di dalam hidupnya yang pernah menyelamatkan dan yang bersikap baik terhadap dirinya.

"Dan mereka memang lihai sekali," sambungnya ketika melihat betapa tiga orang pria itu semua memandang kepadanya. "Yang tinggi sekali itu adalah suhu Hek-kwi-ong (Raja Iblis Hitam) yang memiliki Ilmu Hek-wan Sip-pat-ciang yang tangguh. Lengannya dapat mulur sampai dua setengah kali lebih panjang. Yang amat pendek itu adalah Iblis Akhirat, biarpun pendek akan tetapi tubuhnya kebal dan tendangan Pat-hong-twi yang dikuasainya amat berbahaya, di samping sin-kangnya yang kuat dan senjata Toat-beng Hui-to (Golok Terbang Pencabut Nyawa) juga tak boleh dipandang ringan. Yang ke tiga, seperti tengkorak itu adalah Iblis Mayat Hidup. Ilmunya Hun-kin Tok-ciang amat berbahaya, juga di antara mereka bertiga, Iblis Mayat Hidup inilah yang memiliki Kiam-ciang paling kuat. Harus diingat bahwa dalam usia mereka yang sudah tujuhpuluh tahun lebih itu, mereka bertiga telah menciptakan ilmu baru, yaitu Sam Kwi Cap-sha-kun yang amat lihai."

"Dan engkau telah menguasai semua ilmu itu, nona Bi Lan? Sungguh hebat!" kata Kun Tek.

Bi Lan mengerutkan alisnya. Hong Beng dan Kun Tek kini tiba-tiba saja menyebut "nona" kepadanya. Mengapa ada perubahan sikap mereka itu setelah ia menolak cinta mereka? Nampak kaku, berkurang keakraban mereka, bahkan begitu canggung.

"Memang aku telah mempelajari itu semua, akan tetapi ilmu yang kupelajari masih mentah, saudara Kun Tek, sama sekali tidak boleh dibandingkan dengan mereka." Iapun menambahkan sebutan "saudara", mengubah kebiasaannya yang dulu menyebut dua orang pemuda itu begitu saja memanggil nama mereka. Diam-diam gadis ini merasa heran mengapa penolakan cinta itu seolah-olah menciptakan suatu jurang pemisah di antara ia dan dua orang pemuda itu!

"Aihh, untung kedua orang muda gagah ini datang menolong kita, Lan-moi," kata Sim Houw. "Kalau kita berusaha meloloskan diri sendiri dan harus menghadapi mereka semua itu tentu akan repot juga!" Sim Houw lalu memandang kepada dua orang pemuda itu. "Terima kasih kuhaturkan kepada paman Cu Kun Tek dan juga saudara Hong Beng yang telah menolong kami tadi."

"Bagaimana kalian berdua dapat mengetahui bahwa kami berdua menjadi tawanan di sana?" tanya Bi Lan.

Hong Beng lalu bercerita, betapa dia dan Kun Tek berjumpa di sebuah restoran dan mereka berdua sama-sama menghadapi pengeroyokan Bhok Gun dan Bi-kwi bersama anak buah mereka. Mereka melarikan diri dan mulailah mereka melakukan penyelidikan tentang Hou Taijin, dan dengan jalan melakukan pengintaian, mereka melihat betapa Sim Houw dan Bi Lan digiring sebagai tawanan.

"Karena kami dapat menduga betapa bahayanya menjadi tawanan para iblis itu, maka kami segera mengambil keputusan untuk pada malam ini menyelundup ke gedung itu dan berusaha membebaskan kalian."

"Untung kalian datang tepat pada saatnya," kata Sim Houw. Mendengar betapa Pendekar Suling Naga itu memuji-muji dua orang pemuda itu, Bi Lan merasa tidak senang.

"Hendaknya kalian ketahui bahwa sebelum kalian datang, Sim-toako sudah berhasil membebaskan kami berdua dari pengaruh totokan dan belenggu kaki tangan. Kami memang sudah siap untuk melarikan diri dan tepat ketika terjadi keributan, kalian muncul."

"Dan memudahkan kami meloloskan diri," kata Sim Houw pula yang ingin menyembunyikan jasa sendiri akan tetapi hendak mengangkat jasa dua orang muda itu. "Akan tetapi, kami masih belum selesai dengan mereka. Aku harus merampas kembali Liong-siauw-kiam, sedangkan Lan-moi harus merampas kembali Ban-tok-kiam."

"Akan tetapi itu berbahaya sekali," kata Hong Beng sambil memandang wajah gadis yang pernah menolak cintanya itu. "Ban-tok-kiam dikuasai oleh Sai-cu Lama yang lihai sedangkan Liong-siauw-kiam telah dirampas Kim Hwa Nio-nio, apa lagi di sana kini terdapat Sam Kwi, kedudukan mereka menjadi semakin kuat."

"Betapapun besar bahayanya, aku harus mendapatkan kembali Ban-tok-kiam dan aku akan pergi bersama Sim-toako." kata Bi Lan

"Biar aku membantu kalian!" kata Hong Beng

"Aku juga!" kata Kun Tek.

"Paman Kun Tek dan saudara Hong Beng terimakasih atas kebaikan kalian. Akan tetapi, menyusup ke tempat seperti ini lebih baik berpencar," kata Sim Houw. Tiba-tiba dia berhenti bicara dan memberi isyarat kepada tiga orang temannya untuk diam. Mereka semua tak bergerak mencurahkan ketajaman pendengaran mereka. Lapat-lapat terdengar suara lirih di luar kuil itu.

"Omitohud...., harap sam-wi tidak mencurigai pinceng. Katakan saja pada nona yang kehilangan Ban-tok-kiam bahwa pinceng datang untuk membicarakan tentang pedang itu."

Mendengar suara itu, Bi Lan bangkit berdiri. "Ssttt, kalau tak salah....itu sura hwesio yang dulu mengejar Sai-cu Lama...."

"Benar.... dia seperti suara Tiong Khi Hwesio...." kata Hong Beng, teringat akan pengalamannya ketika melakukan perjalanan bersama Bi Lan dan pedang itu terampas oleh Sai-cu Lama kemudian muncul hwesio tua renta itu.

"Kalian masih mengenal suara pinceng? Bagus!" terdengar suara dari luar itu dan Sim Houw sendiri terkejut. Hwesio diluar itu sungguh memiliki pendengaran yang luar biasa tajamnya! Maka mereka berempat lalu menyambut keluar. Dan memang benar dugaan Bi Lan dan Hong Beng, diluar berdiri seorang hwesio tua yang berjubah kuning. Itulah Tiong Khi Hwesio, nama baru dari Wan Tek Hoat.

"Locianpwe hendak bicara dengan saya?" tanya Bi Lan sambil memandang tajam penuh perhatian. Bagaimanapun juga, ia belum mengenal orang ini dan tidak tahu hwesio ini seorang kawan ataukah seorang lawan.

"Locianpwe, silahkan masuk dan kita bicara didalam," kata Sim Houw yang tidak ragu-ragu lagi bahwa dia berhadapan dengan seorang kakek yang sakti.

Mereka lalu masuk ke ruangan belakang itu setelah tiga orang hwesio penjaga kuil dapat diyakinkan bahwa hwesio tua yang baru tiba ini memang mengenal para pendekar muda itu. Setelah mengambil tempat duduk, hwesio tua itu berkata mendahului mereka.

"Pinceng sudah mendengar semua akan peristiwa yang terjadi di gedung markas Kim Hwa Nio-nio itu. Kalian adalah orang-orang muda yang berani dan pinceng merasa kagum sekali. Pinceng sudah mengenal dua orang di antara kalian." Dia menunjuk kepada Bi Lan. "Engkau adalah murid Kao Kok Cu dan Wan Ceng, para majikan Istana Gurun Pasir, dan engkau telah kehilangan Ban-tok-kiam yang dirampas Sai-cu Lama. Dan engkau," dia menunjuk kepada Hong Beng, "engkau murid keluarga Pulau Es. Akan tetapi pinceng belum mengenal kalian dua orang muda yang lain. Murid-murid siapakah kalian?"

"Locianpwe, saya bernama Sim Houw dan guru-guru saya adalah mendiang ayah saya sendiri yang bernama Sim Hong Bu dan suhu yang bernama Kam Hong," kata Sim Houw dengan sikap merendah.

"Wah, apakah Kam Hong yang berjuluk Pendekar Suling Emas itu? Kalau begitu bukan orang lain, masih segolongan sendiri."

"Dan saya bernama Cu Kun Tek, guru saya adalah ayah saya sendiri yang bernama Cu Kang Bu. Sim Houw ini masih terhitung keponakan saya, dan kami tinggal di Lembah Naga Siluman."

"Kakek itu mengangguk-angguk. "Keluarga Cu memiliki nama besar. Sungguh pinceng girang sekali bahwa pinceng berkesempatan bertemu dengan orang-orang muda perkasa, yang mengingatkan pinceng akan masa muda pinceng dahulu. Orang-orang muda, pinceng sudah mendengar bahwa selain Ban-tok-kiam yang dirampas Sai-cu Lama, juga pedang pusaka milik seorang diantara kalian telah dirampas Kim Hwa Nio-nio."

"Pedang Sim-toako ini yang dirampas, pedang itu adalah Liong-siauw-kiam dan oleh Sim-toako diserahkan begitu saja karena mereka mengancam akan membunuh saya yang sudah ditangkap lebih dahulu," kata Bi Lan

Hwesio itu mengangguk-angguk. "Tadi pinceng mendengar bahwa kalian hendak memasuki sarang itu untuk merampas pedang. Hal itu sama sekali tidak boleh dilakukan. Untuk menangkap harimau, orang harus memancing harimau-harimau itu keluar dari sarangnya, bukan memasuki sarang. Itu berbahaya sekali.

"Saya mengerti maksud locianpwe. Lalu bagaimana baiknya? Saya harus merampas kembali Ban-tok-kiam," kata Bi Lan.

"Ha-ha, andaikata engkau tidak ingin merampas kembali, aku tentu akan berusaha untuk mengambil kembali dari tangan pendeta palsu itu untuk dikembalikan kepada Wan Ceng," kata Tiong Ki Hwesio. "Pihak lawan amat kuat. Kalian tentu sudah tahu betapa lihainya Sai-cu Lama dan Kim Hwa Nio-nio. Dan ditambah lagi dengan Sam Kwi, maka kekuatan di pihak mereka sama sekali tidak boleh dipandang ringan. Itu semua masih ditambah lagi dengan pasukan pemerintah. Kalau sampai pasukan pemerintah dikerahkan, mana mungkin kita melawan pemerintah? Kita bisa dicap sebagai pemberontak dan akan berhadapan dengan balatentara pemerintah. Kita harus memakai akal dan membagi-bagi tugas. Aku akan memancing keluar mereka dari dalam sarang sehingga kita tidak mudah terkepung."

Empat orang muda itu serentak tunduk terhadap kakek ini yang kelihatan demikian tegas dan mantap dalam semua rencananya. Akan tetapi di tengah-tengah percakapan mereka, Bi Lan yang selalu ingin tahu dengan jelas memotong percakapan itu dan bertanya, "Maafkan dulu, locianpwe. Kini di antara kita telah terdapat suatu persekutuan untuk melawan musuh dan terus terang saja, kami orang-orang muda tunduk dan dapat menerima semua akal dan rencana locianpwe. Locianpwe telah mengenal kami semua, akan tetapi kami sebaliknya belum tahu benar siapa sesungguhnya locianpwe ini. Bukankah sudah waktunya bagi kami untuk mengenal siapa sebenarnya diri locianpwe?"

Mendengar ucapan gadis itu, tiga orang muda itu mengangguk-angguk membenarkan. Memang mereka semua juga sudah menduga-duga siapa sesungguhnya kakek ini, akan tetapi mereka tidak seberani Bi Lan untuk menanyakannya. Mendengar ucapan gadis itu, Tiong Khi Hwesio tertawa. "Ha-ha-ha, sejak jaman dahulu, kaum wanita lebih teliti dan lebih ingin tahu. Akan tetapi memang sebaiknya demikianlah, karena kerja sama harus didasari saling percaya yang sepenuhnya. Bi Lan, kalau engkau ini murid dari nenek Wan Ceng, engkau harus menyebut aku susiok (paman guru) karena antara kami ada pertalian persaudaraan. Namun, sudah puluhan tahun aku memisahkan diri ke barat sehingga antara kami tidak ada hubungan lagi."

"Ah, kalau begitu, mungkin saya dapat menebak siapa adanya locianpwe ini!" Hong Beng berseru dengan sepasang mata bersinar gembira. Murid ini di waktu senggang banyak mendengar cerita dari gurunya tentang keluarga para pendekar Pulau Es, maka mendengar bahwa antara nenek Wan Ceng dan hwesio itu terdapat pertalian persaudaraan, diapun dapat menduga siapa orangnya.

"Benarkah kau dapat menebaknya siapa, Hong Beng?" Kun Tek bertanya, ikut gembira.

"Omitohud, agaknya murid keluarga Pulau Es banyak mendengar tentang diri pinceng. Cobalah, barangkali tebakanmu tepat, orang muda." Hwesio itupun membujuknya.

"Sebelumnya harap locianpwe sudi memaafkan saya, akan tetapi bukankah locianpwe, seperti juga nenek Wan Ceng, masih terhitung keluarga Pulau Es pula?"

Hwesio itu mengangguk sambil tersenyum. "Boleh dibilang begitulah, walaupun sebagai keluarga luar." "Kalau begitu, agaknya tidak keliru lagi bahwa locianpwe dahulu di waktu muda adalah pendekar yang berjuluk Si Jari Maut dan bernama Wan Tek Hoat yang kemudian menikah dengan seorang puteri dari Bhutan dan...."

Cukuplah, anak baik. Tak pinceng sangkal, memang dahulu pinceng bernama Wan Tek Hoat, akan tetapi kini pinceng adalah Tiong Khi Hwesio, tidak punya apa-apa lagi, sudah habis semua yang pernah pinceng miliki. Nah, tentu sekarang engkau lebih percaya kepadaku, bukan?" tanyanya kepada Bi Lan. Gadis itu menundukkan mukanya yang menjadi agak kemerahan.

"Sejak tadipun aku sudah percaya kepada locianpwe, hanya ingin tahu saja. Kiranya locianpwe.... eh, susiok malah masih saudara dari subo."

"Nah, sekarang kalian semua perhatikan dengan baik-baik. Kita harus mengatur siasat yang sudah direncanakan baik-baik. Ketahuilah bahwa sebelum menghubungi kalian, pinceng sudah bertemu dengan keluarga Pulau Es yang kini telah berada di kota raja, yaitu Kao Cin Liong dan isterinya, juga Suma Ceng Liong dan isterinya."

Mendengar ini, empat orang muda itu menjadi girang dan mereka mendengarkan siasat yang direncanakan oleh kakek sakti itu dengan penuh perhatian. Dan mereka menganggap siasat itu baik sekali, untuk mempertemukan golongan sesat itu dengan para pendekar dan mengadakan pertandingan perkelahian tanpa campur tangan pemerintah.

***

Para penjaga gedung yang menjadi sarang Kim Hwa Nio-nio menjadi gempar ketika pada suatu pagi, mereka melihat sebatang pisau menancap di daun pintu gerbang dan pisau itu membawa sebuah sampul putih dengan tulisan berwarna merah, ditujukan ke pada Sai-cu Lama dan Kim Hwa Nio-nio! Bergegas komandan jaga mengambil pisau dan sampul itu dan berlari-lari masuk menghadap Kim Hwa Nio-nio.

Nenek itu sudah duduk menghadapi hidangan makan pagi, lengkap dengan para temannya. Di sini hadir Sai-cu Lama, ketiga Sam Kwi, Bhok Gun, Bi-kwi dan mereka kelihatan gembira. Malam tadi, berkat kelihaian Kim Hwa Nio-nio dan Sai-cu Lama, mereka telah berhasil menyingkirkan dua orang selir yang juga menjadi dua orang pengawal pribadi Hou Seng. Dua orang selir ini dianggap sebagai saingan oleh Kim Hwa Nio-nio, karena dua orang ini seringkali mempengaruhi Hou Taijin dengan bisikan-bisikan mereka. Ketika Suma Lian diserahkan sebagai hadiah oleh Sai-cu Lama kepada Hou Seng, dua orang selir ini yang membisikkan agar pembesar itu menerima saja, akan tetapi memperlakukan anak itu dengan baik-baik dan jangan diganggu, memperingatkan Hou Taijin bahwa Pendekar Pulau Es masih ada hubungan keluarga dengan kaisar. Dan masih banyak nasihat-nasihat yang diberikan oleh dua orang selir itu, yang selalu diturut oleh Hou Seng. Oleh karena itu, Kim Hwa Nio-nio dan Sai-cu Lama merasa bahwa mereka berdua itu merupakan saingan yang mengkhawatirkan. Bagaimana kalau sekali waktu dua orang selir itu membisikkan agar Hou Taijin tidak mempercaya Kim Hwa Nio-nio dan teman-temannya lagi?

Dan kesempatan baik mereka peroleh ketika mereka memperkenalkan Sam Kwi kepada pembesar itu. Malam itu, Hou Taijin berkenan menerima mereka bersama Sam Kwi untuk datang menghadap dan seperti biasa, Hou Taijin menyambut pembantu-pembantu baru yang berilmu tinggi itu dengan perjamuan makan. Dan seperti biasa pula, dua orang selir yang pandai ilmu siiat itu tak pernah meninggalkan Hou Taijin, seolah-olah menjadi bayangannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar