18 Kisah Si Bangau Putih

"Ah, kalau begitu kebetulan sekali. Aku dapat membantu para pendekar menentang kaum sesat yang membantu pemberontakan, juga sekalian dapat menuntut balas atas kematian kakek dan nenekku dari Sin-kiam Mo-li dan kawan-kawannya!" kata Hong Li penuh semangat sambil mengepal tinju.

Sin Hong menarik napas panjang. "Hong Li, jangan engkau mengira bahwa aku tidak berduka karena kematian tiga orang guruku, akan tetapi justeru dari merekalah aku menerima pelajaran, bukan hanya ilmu silat, akan tetapi gemblengan batin sehingga aku berhasil melenyapkan dendam dari hatiku. Kalau sekarang aku menentang Sin-kiam Mo-li dan kawan-kawannya, bukan karena aku mendendam kepada mereka, melainkan karena mereka adalah orang-orang jahat yang sudah selayaknya ditentang agar tidak banyak jatuh korban keganasan mereka. Juga aku harus dapat merampas kembali Cui-beng-kiam dan Ban-tok-kiam, dua buah pedang pusaka milik Istana Gurun Pasir yang dirampas mereka, karena selama pedang-pedang itu berada di tangan mereka, maka kejahatan mereka akan meningkat dan dua buah pusaka itu tentu hanya akan dipergunakan untuk kejahatan."

Hong Li mengangguk. "Tadinya aku memang merasa penasaran sekali, Susiok. Kedua orang kakek dan nenekku, juga kakek Wan Tek Hoat tewas di Gurun Pasir, akan tetapi Susiok sebagai murid tunggal dan terakhir mereka, tetap hidup dan agaknya tidak hendak membalas dendam. Akan tetapi sekarang aku mengerti, dan aku setuju dengan pendirianmu. Memang aku pun sudah seringkali mendengar dari ayah dan ibu betapa buruknya membiarkan dendam meracuni batin sendiri. Akan tetapi bagi aku, kalau mengingat betapa jahatnya mereka dan betapa kakek dan nenek yang sudah tua itu mereka serbu dan mereka bunuh, betapa sukarnya untuk tidak menjadi sakit hati dan mendendam."

Sin Hong mengangguk pula. "Aku tidak menyalahkanmu, Hong Li. Memang kelemahan seperti itu adalah manusiawi, akan tetapi kalau kita sudah tahu bahwa hal itu merupakan suatu kelemahan dan kekeliruan, sudah selayaknya kalau kita menghilangkannya, bukan? Aku sendiri kehilangan orang tuaku yang menjadi korban kejahatan orang lain, dan ternyata pembunuh ayahku juga berada di sini karena pembunuhan itu dilakukan sebagai akibat dari usaha pemberontakan Tiat-liong-pang pula." Sin Hong lalu menceritakan tentang keterangan terakhir Kwee Ci Hwa yang sudah dapat membongkar rahasia pembunuhan Tan-piauwsu itu.

Dua orang muda itu bercakap-cakap dengan asyik sekali, seperti dua orang sahabat lama yang baru saja saling bertemu setelah lama berpisah. Barulah mereka terkejut ketika ada dua orang gagah berlari-lari dari dalam hutan wajah mereka agak pucat dan napas mereka memburu. "Celaka, Tan-taihiap! Kami diserbu dari arah selatan. Musuh kami lihai bukan main seningga ada beberapa orang saudara kita yang sudah roboh! Cepat, harap bantu kami, Tan-taihiap dan Lihiap, kalau tidak, kami semua akan celaka!"

Tanpa menanti keterangan lain lagi, tubuh Sin Hong berkelebat diikuti oleh Hong Li. Keduanya berlari cepat sekali memasuki hutan dan Hong Li hanya mengikuti Sin Hong karena ia tidak mengenal jalan. Sin Hong berlari cepat menuju ke perkampungan darurat yang dibuat oleh para pendekar di dalam hutan itu. Banyak para pendekar dari berbagai kalangan yang berdatangan ke arah daerah utara, tempat pemberontakan Tiat-liong-pang terjadi. Mereka tertarik bukan untuk mencampuri pemberontakan itu, karena bagaimanapun juga, tidak ada pendekar yang dalam hatinya membela pemerintah penjajah. Mereka berdatangan bukan untuk mencampuri pemberontakan itu, karena bagaimanapun juga, tidak ada pendekar yang dalam hatinya membela pemerintah penjajah. Mereka berdatangan untuk menentang kaum sesat yang kabarnya memimpin pemberontakan, karena mereka semua maklum bahwa jika kaum sesat yang memberontak dan berhasil berkuasa, maka rakyat akan lebih celaka lagi, lebih sengsara daripada kalau kekuasaan dipegang penjajah Mancu. Bukan hanya di hutan itu saja terdapat para pendekar yang membuka perkampungan darurat. Di situ hanya berkumpul belasan orang pendekar. Di tempat-tempat lain terdapat banyak pula persembunyian para Pendekar yang juga saling menggabung dan siap menghadapi para tokoh sesat.

Ketika Sin Hong dan Hong Li yang jauh mendahului dua orang pendekar itu tiba di perkampungan dalam hutan, mereka melihat bahwa belasan orang pendekar sedang dikepung dan dikeroyok oleh dua puluh lebih orang yang melihat pakaian mereka adalah orang-orang Mongol yang tinggi besar, dan mereka di pimpin oleh seorang tosu dan seorang nenek bongkok. Kedua orang inilah yang amat lihai. Tosu itu bertubuh pendek berkepala botak, usianya sudah enam puluh tahun lebih dan dia memainkan sehelai sabuk yang ujungnya dipasangi pisau. Adapun nenek itu, bertubuh bongkok kurus, kulitnya hitam dengan muka buruk berkeriputan, usianya juga enam puluh tahun lebih, tangannya memegang sebuah tongkat hitam butut. Nenek ini takkalah lihainya dibandingkan tosu itu, dan sepak terjangnya ganas sekali, membuat para pendekar kocar-kacir dan terdesak hebat.

Sin Hong dan Hong Li tidak mengenal siapa mereka, akan tetapi maklum bahwa kedua orang itu memang lihai sekali, dan agaknya, melihat bahwa mereka memimpin orang-orang Mongol yang ganas dan kasar menyerang para pendekar, mudah diduga bahwa mereka tentulah kaki tangan pemberontak. Memang dugaan mereka betul karena mereka adalah orang-orang yang menjadi pembantu Tiat-liong-pang, sedangkan pasukan kecil Mongol itu adalah sebagian dari lima ratus lebih orang pasukan Mongol yang dipimpin oleh Agakai dan sudah berkumpul di sarang Tiat-liong-pang. Kakek itu bernama Hok Yang Cu, seorang tokoh Pat-kwa-pai yang banyak melakukan kejahatan, satu di antara para tokoh Pat-kwa-pai yang membantu pemberontakan itu. Adapun nenek itu adalah Hek-sim Kui-bo, seorang datuk sesat yang lihai pula. Dua orang ini memang bersahabat dan pernah kita jumpai mereka ketika mereka melakukan serangan terhadap keluarga Beng-san Siang-eng di puncak Telaga Warna Pegunungan Beng-san. Untung pada waktu itu muncul Suma Lian yang membantu keluarga pendekar itu mengusir dua orang kakek dan nenek ini. Mereka berdua menyerang keluarga Beng-san Siang-eng bukan saja untuk mengganggu keturunan keluarga Pulau Es itu, juga karena Hek-sim Kui-bo ingin menculik Gak Ciang Hun, putera Beng-san Siang-eng yang baru berusia sepuluh tahun.

Melihat kelihaian kakek dan nenek ini, tanpa berunding Sin Hong dan Kao Hong Li maklum apa yang harus mereka lakukan. Mereka melihat sudah ada empat orang pendekar roboh, maka Sin Hong lalu meloncat ke tengah medan pertempuran, langsung saja dia menghadapi tosu yang amat lihai itu. Pada saat itu, Hok Yang Cu sedang menggunakan sabuknya untuk mendesak seorang pendekar yang bersenjata pedang. Sabuk itu berhasil melibat pedang sehingga tidak dapat digerakkan lagi, mereka saling betot dan saat itu dipergunakan oleh Hok Yang Cu untuk menggunakan tangan kirinya menghantam. Hantaman ini amat dahsyat karena dia mengerahkan tenaga sin-kangnya dan kepala lawannya terancam.

"Dukkk!" Tangan terbuka yang dihantamkan ke arah kepala lawan itu bertemu dengan tangan lain dari samping yang menangkisnya, dan akibatnya, tubuh Hok Yang Cu terhuyung dan sabuknya melepaskan pedang. Pendekar itu pun terhuyung ke belakang, girang melihat munculnya Sin Hong yang menyelamatkannya dari ancaman bahaya maut tadi. Sebaliknya, Hok Yang Cu terkejut sekali, cepat memandang dan ternyata orang yang menangkisnya dan membuat dia terhuyung tadi hanyalah seorang pemuda yang usianya baru dua puluh tahun lebih, berpakaian putih sederhana! Dia merasa penasaran bukan main dan cepat dia memutar sabuknya. Terdengar suara mendesir ketika ujung sabuk yang ada pisaunya itu terbang menyambar ke arah kepala Sin Hong. Akan tetapi dengan mudahnya, Sin Hong mengelak dan dia mencium bau amis keluar dari pisau di ujung sabuk, maka tahulah dia bahwa pisau itu beracun! Seorang tosu yang keji, pikirnya dan dia pun membalas dengan desakan pukulan jarak jauh, dengan kedua telapak tangan terbuka yang membuat kakek itu gelagapan dan terus menerus mundur karena hawa pukulan yang keluar dari sepasang telapak tangan pemuda itu bukan main kuatnya!

Sementara itu, Kao Hong Li juga sudan terjun ke dalam lapangan pertempuran dan langsung saja gadis itu menerjang nenek, yang buruk rupa dan yang lihai sekali permainan tongkatnya itu. Nenek Hek-sim Kui-bo kaget bukan main ketika tiba-tiba ada bayangan berkelebat dan ada hawa pukulan yang amat dahsyat dan mengandung tenaga sakti yang panas menyambar ke arahnya dari kiri. Ia cepat membalikkan tubuh ke kiri dan tangan kirinya sengaja menangkis, karena nenek ini memandang ringan semua lawannya.

"Desss....!" Lengan kiri nenek itu yang hanya tulang terbungkus kulit bertemu dengan lengan kanan Hong Li yang padat lembut dan berkulit halus. Akibatnya, nenek itu mengeluarkan pekik melengking karena tubuhnya terdorong ke belakang dan lengannya terasa nyeri. Juga Hong Li terhuyung, maka tahulah gadis ini bahwa lawannya sungguh tak boleh dipandang ringan. Ketika Hek-sim Kui-bo (Nenek Iblis Berhati Hitam) melihat bahwa yang menyerangnya hanya seorang gadis muda yang cantik, ia marah dan penasaran sekali. Tongkatnya diputar dan nampaklah sinar hitam yang mengerikan, bergulung-gulung dan tiba-tiba dari dalam gulungan sinar hitam itu menyambar ujung tongkat, menotok ke arah dada Hong Li, merupakan serangan maut!

Namun, Hong Li sudah siap siaga karena ia pun dapat menduga akan kelihaian lawan

Begitu melihat ada sinar hitam mencuat dan menotok ke arah dadanya, dengan sikap tenang namun cepat sekali, tubuhnya miring mengelak, kakinya membuat gerakan melangkah maju dari samping dan tangan kiri menjaga kemungkinan serangan selanjutnya, sedangkan tangan kanannya dengan jari tangan terbuka membalas dengan tamparan ke arah kepala nenek itu, mengerahkan tenaga Hwi-yang Sin-kang yang dipelajarinya dari ibunya. Hwi-yang Sin-kang adalah tenaga sakti milik keluarga Pulau Es, dan baru hawa pukulannya saja sudah mengandung panas yang luar biasa. Nenek itu merasa adanya hawa panas ini, maka ia pun cepat meloncat ke belakang sambil memutar tongkat bututnya untuk melindungi dirinya. Diam-diam ia kaget dan dapat menduga bahwa lawannya tentulah seorang murid atau keturunan keluarga Pulau Es. Selain kaget dan penasaran, ia pun girang karena keluarga Pulau Es dianggap musuh besarnya, maka kalau ia dapat merobohkan gadis ini, berarti ia melenyapkan seorang di antara musuh-musuhnya yang dibencinya. Maka ia pun mengeluarkan suara melengking lagi dan tongkatnya menyambar-nyambar ganas, namun dengan sikap tenang, Hong Li dapat mengatasi desakan tongkat itu dengan kecepatan gerakan badannyn dan dapat pula membalas dengan tak kalah dahsyatnya sehingga membuat nenek itu tak mampu mengembangkan permainan tongkatnya.

Para pendekar juga berkelahi dengan serunya melawan pasukan Mongol. Orang-orang Mongol itu bertenaga besar dan berkelahi dengan nekat, juga jumlah mereka lebih banyak sehingga para pendekar yang tiga belas orang itu harus melawan mati-matian.

Sin Hong mulai mendesak lawannya. Ketika pisau di ujung sabuk Hok Yang Cu untuk ke sekian kalinya menyambar, Sin Hong meloncat ke atas, tinggi dan dari atas, bagaikan seekor burung bangau, tubuhnya meluncur turun. Kembali sabuk itu berkelebat menyambar. Tangan kiri Sin Hong, seperti paruh seekor burung bangau, meluncur ke bawah dan menangkap sabuk di belakang pisau, demikian cepatnya gerakan jari tangannya, seperti gerakan leher burung bangau mematuk leher ular. Sabuk itu tidak dapat dipergunakan lagi, dan tangan kanan Sin Hong menampar ke bawah, ke arah tengkuk lawan. Karena sabuk itu tidak dapat ditariknya, dan tamparan orang muda itu amat dahsyatnya mengarah tengkuk, Hok Yang Cu terkejut dan eepat dia menangkis dengan lengannya.

"Dukkk!" Pertemuan antara kedua lengan itu demikian hebatnya dan akibatnya, Hok Yang Cu terpelanting ke tanah, sabuk yang dipegangnya itu pun putus, bagian yang ada pisaunya tertinggal di tangan Sin Hong! Dia terbanting keras dan cepat menggulingkan tubuhnya menjauhi lawan.

Pada saat itu, Kao Hong Li juga berhasil menendang paha Hek-sim Kui-bo sehingga nenek ini terjengkang. Namun, dengan bantuan tongkatnya, nenek itu dapat meloncat bangun lagi dan agak terpincang karena pahanya terasa nyeri walaupun tidak patah tulangnya dan tidak terluka parah daging dan kulitnya.

Pada saat itu, muncullah dua orang tosu. Yang seorang adalah Thian Kong Cinjin, kakek tua renta yang rambut dan jenggotnya sudah putih semua, bertubuh tinggi kurus, dan sebuah tongkat setinggi badan berada di tangan kanannya. Thian Kong Cinjin adalah wakil ketua Yat-kwa-pai, memiliki ilmu kepandaian tinggi. Orang ke dua juga seorang kakek yang usianya sebaya dengan Thian Kong Cinjin mendekati delapan puluh tahun. Dia adalah Thian Kek Sengjin, tokoh besar Pek-lian-pai, kakek kurus kering dengan muka merah darah. Dia pun membawa sebatang tongkat naga hitam, dan kakek yang pandai sihir ini memiliki sepasang mata mencorong seperti mata kucing!

Dengan sudut matanya Sin Hong melihat munculnya dua orang kakek ini.

Tentu saja dia mengenal mereka dengan baik karena kedua orang kakek itu adalan dua diantara tiga orang yang berhasil keluar dengan selamat dari penyerbuan di Istana Gurun Pasir, yaitu bersama Sin-kiam Mo-li, sedangkan belasan orang lain tewas ketika mereka itu mengeroyok tiga orang gurunya. Karena itu, Sin Hong maklum bahwa di pihak musuh datang dua orang lawan tangguh, maka dia pun cepat meloncat, meninggalkan Hok Yang Cu dan langsung menerjang dan orang kakek yang baru datang itu tanpa banyak cakap lagi!

Melihat seorang pemuda tahu-tahu berada di depan mereka dan menyerang dengan totokan jari tangan yang amat dansyat ke arah leher mereka secara bertubi-tubi, kedua orang kakek itu mengeluarkan seruan dan cepat berloncatan ke belakang. Mereka telah lupa kepada Sin Hong dan biarpun tadi mereka melihat betapa berbahayanya serangan pemuda itu, mereka masih memandang rendah kepada Sin Hong. Thian Kek Seng-jin yang melihat betapa Hek-sim Kui-bo didesak seorang gadis yang amat cantik, segera meloncat ke sana dan menghadapi Hong Li. Begitu Thian Kek Sengjin memutar tongkat naga hitam menyerang, Hong Li cepat berloncatan ke belakang untuk mengelak. Akan tetapi tongkat itu mendesak terus, dan terdengar suara ketawa kakek itu.

"Heh-heh-heh, nona cantik, lebih baik kau menyerah dan menjadi muridku, tanggung engkau akan mengalami kesenangan, heh-heh-heh!"

Hong Li mendengus marah, lalu menerjang maju dengan nekat. Karena ia tahu bahwa kakek itu lihai, maka ia pun memainkan Sin-liong Ciang-hoat yang dahsyat dari Gurun Pasir. Begitu gadis itu mendesak, kakek itu terbelalak heran karena dia mengenal ilmu silat yang aneh dengan tubuh kadang-kadang direndahkan dan jurus seperti mau bertiarap ini adalah ciri khas ilmu silat dari Istana Gurun Pasir. Nyaris dia celaka ketika tiba-tiba tubuh gadis itu meluncur dari bawah, tangan kiri menangkis tongkat dan tangan kanannya menusuk ke arah ulu hatinya. Untung bahwa dia masih sempat melempar tubuh ke belakang, lalu berjungkir balik dibantu tongkatnya, cepat memutar tongkat melindungi tubuhnya. Kalau tidak, tentu gadis itu akan terus mendesak dan melukainya dengan serangan-serangan dahsyat itu. Kini dia tidak berani main-main lagi, dengan sekuat tenaga dia memainkan tongkatnya sehingga gadis itu pun tidak dapat mendesaknya lagi. Sebaliknya, perlahan-lahan Thian Kek Sengjin mulai membuat Hong Li terpaksa harus main mundur, karena tongkat hitam yang berbentuk naga itu sungguh berbahaya.

Di lain pihak, Sin Hong yang tadi mulai mendesak Hok Yang Cu, kini mendapatkan lawan tangguh, yaitu Thian Kong Cinjin. Wakil ketua Pat-kwa-pai ini memang lihai, lebih lihai daripada Thian Kek Sengjin, dan jauh lebih lihai dari Hok Yang Cu. Dan sekarang, kakek lihai dengan tongkatnya yang ampuh ini masih dibantu oleh Hok Yang Cu! Namun, Sin Hong tidak gentar. Dengan ilmu silatnya yang hebat, yaitu Pek-ho Sin-kun (Silat Sakti Bangau Putih), dan dengan landasan tenaga saktinya yang amat kuat, dia mampu menandingi pengeroyokan kedua orang ini, bahkan membalas setiap serangan mereka dengan tamparan atau tendangan, juga totokan-totokan yang tak kalah dahsyatnya, membuat kedua orang pengeroyoknya sama sekali tidak mampu mendesaknya.

Akan tetapi, dengan munculnya dua orang kakek itu, keadaan pertempuran berubah. Kini nenek Hek-sim Kui-bo berani meninggalkan Hong Li untuk dilayani oleh Thian Kek Sengjin sendiri, dan ia pun membantu para anggauta pasukan Mongol untuk mengeroyok para pendekar yang sudah kewalahan. Kini, pihak para pendekar yang terdesak dan kembali ada dua orang roboh.

Pada saat yang amat berbahaya bagi para pendekar itu, tiba-tiba terdengar bentakan nyaring. "Hong Li, jangan takut, aku membantumu!"

Terdengar bunyi melengking nyaring seperti suling ditiup ketika sinar kuning emas itu menyambar dan menyambut tongkat naga hitam di tangan Thian Kek Sengjin yang mendesak Hong Li.

"Takkkkk!" Thian Kek Sengjin mengeluarkan seruan kaget karena kedua tangannya yang memegang tongkat tergetar hebat ketika bertemu dengan suling emas di tangan wanita cantik dan gagah itu. Kam Bi Eng dan Suma Ceng Liong segera turun tangan membantu Hong Li dan Sin Hong. Tentu saja Hong Li girang bukan main melihat betapa bibinya membantunya. Ia dan bibinya lalu mendesak Thian Kek Sengjin yang menjadi sibuk setengah mati.

"Pergilah kaubantu mereka menghadapi orang-orang Mongol," kata Kam Bi Eng dan Hong Li menjawab gembira.,

"Baiklah, Bibi. Hajar kakek siluman ini, Bibi!" Dan Hong Li lalu meloncat meninggalkan Thian Kek Sengjin, langsung ia menerjang Hek-sim Kui-bo lagi yang sedang mengamuk di antara para pendekar dengan tongkat hitamnya.

Sementara itu melihat betapa Sin Hong dikeroyok oleh dua orang tosu yang berilmu tinggi, diam-diam Suma Ceng Liong kagum sekali. Pemuda berpakaian putih itu sungguh lihai bukan main! Biarpun dikeroyok oleh dua orang kakek yang demikian hebat permainan tongkatnya, namun pemuda yang bertangan kosong itu sama sekali tidak terdesak. Gaya permainannya pun amat menarik, dengan gerak dan sikap seperti seekor burung bangau namun tidak seperti ilmu silat bangau pada umumnya, gerakan itu aneh dan kadang-kadang lucu dan sukar sekali, namun jelas bahwa pada setiap gerakan mengandung tenaga dahsyat sehingga pemuda itu berani menangkis tongkat-tongkat lawan dengan lengan tangannya!

"Paman Ceng Liong, dialah susiok Tan Sin Hong, harap suka bantu dia!" tiba-tiba Hong Li berteriak kepadanya. Ceng Liong semakin kagum. Kiranya inilah pemuda yang bemama Tan Sin Hong itu, murid dari istana Gurun Pasir! Pantas demikian lihainya. Akan tetapi bukankah pemuda bernama Tan Sin Hong itu yang datang bersama puterinya dan menyerahkan Yo Han kepada Suma Ciang Bun? Menurut penuturan Suma Ciang Bun, puterinya dan pemuda itu melakukan penyelidikan ke sarang pemberontakan, akan tetapi kenapa sekarang pemuda itu berada di sini dan ke mana perginya Suma Lian? Karena tidak mungkin menanyakan itu semua sekarang, Ceng Liong segera terjun ke dalam pertempuran dan langsung saja dia menyerang kakek Thian Kong Cinjin yang dia lihat lebih lihai daripada yang ke dua, yaitu Hok Yang Cu.

Begitu dia menerjang maju, dia sudah memainkan ilmu silat Coan-kut-ci, yaitu ilmu totokan penebus tulang yang dahulu dipelajarinya dari Hek I Mo-ong. Tusukan jari tangannya mengeluarkan suara mencicit dan terkejutlah Thian Kong Cinjin karena ketika dia menangkis, tongkatnya tertusuk jari telunjuk pendekar itu dan berlubang! Sin Hong girang mendapatkan bantuan ini dan, dia pun mendesak Hok Yang Cu yang kembali menjadi sibuk bukan main.

Kini keadaannya kembali membalik dengan cepatnya. Pihak pemberontak menjadi terdesak, dan para tokoh sesat yang kini memperoleh tanding menjadi bingung. Thian Kong Cinjin menemukan tanding yang amat kuat, yaitu Suma Ceng Liong. Thian Kek Sengjin juga sibuk menghadapi gulungan sinar emas dari suling di tangan Kam Bi Eng. Hek-sim Kui-bo terdesak oleh Hong Li, sedangkan Hok Yang Cu hampir tidak dapat menahan serangan Sin Hong. Dan pasukan Mongol itu pun repot menghadapi amukan para pendekar dan sudah banyak di antara mereka yang roboh dan terluka.

Melihat keadaan tidak menguntungkan ini, tiba-tiba terdengar Thian Kek Sengjin mengeluarkan seruan keras, "Lariii....!" Dan dia pun melontarkan sebuah benda hitam yang mengeluarkan ledakan keras dan nampaklah asap hitam bergumpal-gumpal, menggelapkan tempat yang menjadi medan perkelahian itu. Sebagai seorang tokoh besar Pek-lian-pai, tentu saja kakek ini mempunyai bahan peledak yang suka dipergunakan orang-orang Peklian-pai dalam pertempuran, juga merupakan alat untuk mengelabui rakyat.

Suma Ceng Liong sudah mengenal senjata-senjata gelap orang-orang Pek-lian-pai. Ada bahan peledak yang mengandung asap beracun, maka dia pun cepat berseru agar semua orang mundur menjauhi asap. Maka, semua orang segera berloncatan mundur. Setelah asap hitam itu menipis, ternyata tokoh-tokoh sesat itu telah lenyap, agaknya sudah melarikan diri. Juga orang-orang Mongol yang masih belum terluka, sudah lari. Hanya tinggal orang-orang Mongol yang terluka, kini nampak dengan susah-payah menyeret tubuh mereka untuk pergi dari tempat itu.

"Biarkan mereka pergi!" kata Sin Hong ketika melihat ada di antara pendekar yang hendak mengejar. "Lawan yang sudah terluka jangan didesak!"

Kembali Ceng Liong kagum sekali melihat sikap Sin Hong ini. Mereka lalu berkumpul dan Hong Li memperkenalkan Sin Hong kepada paman dan bibinya. "Susiok, ini adalah paman Suma Ceng Liong dan bibi Kam Bi Eng. Paman dan Bibi, pemuda ini adalah susiok. Tan Sin Hong, murid dari mendiang kakek dan nenek di Gurun Pasir."

Sin Hong cepat memberi hormat kepada suami isteri sakti itu. "Sudah lama saya mendengar nama besar Ji-wi Locianpwe (Dua Orang Tua Gagah), maka hari ini saya merasa bangga dapat bertemu dengan Ji-wi, bahkan mendapat bantuan Ji-wi."

Hati Ceng Liong semakin suka kepada pemuda ini, "Orang muda, harap jangan terlalu merendahkan diri. Kami pun sudah mendengar namamu dan ternyata engkau pantas menjadi murid orang-orang sakti penghuni Istana Gurun Pasir. Akan tetapi, kami mendengar dari toako Suma Ciang Bun bahwa puteri kami, Suma Lian, melakukan perjalanan bersamamu. Di mana ia sekarang? Mengapa kami tidak melihat ia di sini?"

Sin Hong lalu menceritakan tentang pengalamannya bersama Suma Lian masuk ke dalam sarang Tiat-liong-pang dan menolong Ci Hwa yang akhirnya tewas pula. Kemudian dia bercerita tentang perjumpaan mereka dengan Gu Hong Beng yang terpaksa menjadi utusan Siangkoan Lohan untuk menghubungi Panglima Coa yang bersekutu dengan pemberontak karena ada dua orang kawan yang dijadikan sandera.

"Karena saya ingin mencoba menyelamatkan dua orang sandera itu, maka saya minta kepada Lian-moi untuk membantu saudara Gu Hong Beng, sedangkan saya sendiri lalu berusaha menyelundup ke Tiat-liong-pang, akan tetapi bertemu dengan para pendekar di sini, dan tadi bertemu pula dengan nona Kao Hong Li."

Mendengar bahwa puteri mereka membantu Gu Hong Beng, Suma Ceng Liong dan Kam Bi Eng merasa lega dan girang. Selagi mereka bercakap-cakap, seorang pendekar yang baru saja datang berlari menghampiri Sin Hong. Melihat di situ terdapat orang-orang baru yang tidak dikenalnya, pendekar ini ragu-ragu.

"Yang berada di sini adalah kawan sendiri." kata Tan Sin Hong, maklum akan keraguan orang itu, "Kedua Locianpwe ini adalah Locianpwe Suma Ceng Liong dan isterinya."

Mendengar disebutnya nama keluarga Suma, pendekar itu memberi hormat, lalu dia menyampaikan berita yang amat penting. "Malam tadi dalam pengamatanku, aku melihat ribuan orang pasukan pemerintah meninggalkan benteng menuju ke Tiat-liong-pang dan kini mereka agaknya mengepung Tiat-liong-pang dari empat penjuru!"

Mendengar ini, semua orang terkejut dan Sin Hong menarik napas panjang, "Wah, jangan-jangan saudara Gu Hong Beng terpaksa menyampaikan surat rahasia itu dan kini pasukan yang berkhianat mulai bergabung dengan pemberontak. Tentu tak lama lagi mereka akan melakukan gerakan."

"Sebaiknya kita menyelundup ke dalam, kita bebaskan mereka yang tertawan dan kita kacaukan sarang mereka. Kita serbu para tokoh sesat itu. Kalau benar pasukan pemerintah itu adalah yang berkhianat dan bergabung dengan para pemberontak, belum terlambat bagi kita untuk menyelamatkan diri. Sebaiknya yang menyelundup ke dalam hanya yang memiliki ilmu kepandaian cukup saja," kata Suma Ceng Liong merasa khawatir kalau-kalau puterinya yang menemani Gu Hong Beng itu berada di dalam sarang Tiat-liong-pang pula dan terancam bahaya. Sin Hong menyetujui saran ini, karena kalau tidak mereka beramai dengan bekerja sama menyelundup ke dalam, akan sukarlah Gu Hong Beng dan teman-temannya itu dapat diselamatkan. Kalau sudah berhasil menyelamatkan mereka yang tertawan, barulah mereka kelak akan membantu pasukan pemerintah yang akan membasmi gerombolan pemberontak.

Lalu dipilih di antara para pendekar yang berkumpul di situ dan hanya ada empat orang yang dianggap cukup kuat untuk melakukan penyusupan, dan tentu saja selain mereka juga Suma Ceng Liong, Kam Bi Eng, Kao Hong Li, Tan Sin Hong, empat orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi ini ikut pula menyelundup.

***

Gu Hong Beng diterima oleh para penjaga pintu gerbang Tiat-liong-pang. Dia muncul seorang diri di waktu pagi sekali itu dan para penjaga yang sudah mengenalnya lalu membiarkan dia masuk. Gu Hong Beng segera diterima oleh Ouwyang Sianseng, Siangkoan Lohan, dan beberapa orang tokoh sesat yang menjadi kaki tangan mereka yang diandalkan, di antara mereka tentu saja nampak Siangkoan Liong.

Dengan matanya yang cerdik dan tajam, Hong Beng melihat bahwa tidak ada sinar kecurigaan dalam pandang mata mereka itu, maka hatinya menjadi lega. Untung bahwa dia dan Suma Lian telah berhasil membunuh belasan musuh yang menghadangnya itu, karena kalau ada seorang saja yang lolos, tentu dia tidak akan berani kembali ke sarang ini dan tentu akan celaka nasib Li Sian dan Kun Tek.

"Gu-taihiap, engkau sudah kembali?" Siangkoan Lohan menyambut dengan sikap ramah. "Dan berhasilkah tugasmu?"

Hong Beng mengangguk dan tersenyum.

"Berhasil dengan baik, Pangcu."

"Apakah ada balasan surat dari Coa Tai-ciangkun?" tanya Ouwyang Sianseng. Hong Beng maklum bahwa mereka ini masih bersikap pura-pura, karena mata-mata mereka tentu sudah menyelidiki dan mereka tentu sudah tahu bahwa dia datang bersama pasukan pemerintah! Dia bersikap seperti yang sudah direncanakan bersama Liu-ciangkun, kakek Kam Hong dan isterinya.

"Coa Tai-ciangkun mengirim salam dan karena beliau masih harus menyelesaikan urusan dalam benteng, maka mengirim Pouw-ciangkun dengan pasukan besar untuk bergabung dengan pasukan Pangcu, siap melakukan gerakan menurut petunjuk Pangcu."

"Pouw-ciangkun? Yang mana....?" Siangkoan Lohan bertanya, memandang heran karena sepanjang pengetahuannya, di antara anak buah Coa Tai-ciangkun, yaitu para perwira yang ikut dalam persekutuan itu, tidak terdapat seorang Pouw-ciangkun.

"Bukankah Pouw-ciangkun termasuk seorang di antara para perwira yang setia kepada kerajaan?" Tiba-tiba Siangkoan Liong berkata. Pemuda ini juga hafal akan para perwira di benteng, mana yang berpihak kepada pemberontak dan mana yang setia kepada kerajaan.

Diam-diam Gu Hong Beng terkejut mendengar ini, namun wajahnya tidak memperlihatkan sesuatu. Dengan tenang dia berkata, "Menurut keterangan yang kuperoleh dari Coa Tai-ciangkun, Pouw-ciangkun adalah seorang bawahannya yang baik dan dapat dipercaya. Mungkin saja terjadi perubahan dan akhir-akhir ini Pouw-ciangkun telah menjadi orang kepercayaannya."

"Suruh Pouw-ciangkun masuk!" tiba-tiba Ouwyang Sianseng berseru kepada pengawal. Beberapa orang pengawal memberi hormat dan berlari keluar. Hong Beng menanti dengan jantung berdebar. Inilah saatnya yang amat kritis dan dia sudah memperhatikan hal ini dengan teman-temannya ketika mereka berunding di dalam benteng. Tak disangkanya bahwa Ouwyang Sianseng demikian cerdiknya, jauh lebih cerdik daripada para pemimpin pemberontak yang lain. Dan dia tahu bahwa Pendekar Suling Emas, kakek Kam Hong dan isterinya, tentu sudah siap siaga pula karena mereka berdua yang bertugas menjadi pengawal Pouw-ciangkun. Demikian pula Suma Lian. Mereka bertiga kini tentu sudah menyelundup masuk ke dalam sarang itu karena kesempatan untuk itu besar sekali dengan adanya pasukan pemerintah yang amat banyak berada di sekitar sarang pemberontak.

Tak lama kemudian dua orang penjaga yang tadi disuruh memanggil Pouw-ciangkun, kembali bersama Pouw-ciangkun yang diiringkan oleh dua belas orang pengawal. Para pengawal ini adalah pendekar-pendekar yang menyamar.

Siangkoan Lohan, Siangkoan Liong dan para pembantunya siap untuk menyambut sekutu yang amat diandalkan ini, akan tetapi tiba-tiba Ouwyang Sianseng meloncat ke depan dan menudingkan telunjuknya kepada Pouw-ciangkun sambil membentak nyaring, "Tangkap dia!"

Tentu saja hal ini amat mengejutkan Hong Beng, juga Pouw-ciangkun sendiri. Tak disangkanya sama sekali bahwa Ouwyang Sianseng akan dapat melihat sandiwara mereka! Padahal, sebetulnya Ouwyang Sianseng juga belum yakin bahwa Hong Beng telah membohonginya, tidak tahu bahwa telah terjadi perubahan besar di dalam benteng. Kalau dia tiba-tiba menyuruh tangkap Pouw-ciangkun, hal ini adalah karena kecerdikannya yang luar biasa. Perintah ini sebetulnya hanyalah gertakan dan pancingan saja. Di dalam hatinya, dia merasa heran mengapa yang disuruh memimpin pasukan kerajaan olen Coa Tai-ciangkun adalah Pouw-ciangkun. Maka, dia pun menggertak untuk melihat reaksi dari pihak Pouw-ciangkun.

Gertakan atau pancingannya ini memang berhasil baik. Pouw-ciangkun yang sudah menerima perintah Liu Tai-ciangkun, sudah memperhitungkan kemungkinan kecil bahwa mereka akan dicurigai dan ditangkap, maka begitu Ouwyang Sianseng memerintahkan penangkapan, Pouwciangkun lalu meloncat ke belakang, berlindung di balik dua belas orang pengawalnya yang semua telah mencabut pedang. Juga Hong Beng yang mengira bahwa perintah Ouwyang Sianseng tadi merupakan bukti bahwa rahasianya sudah diketahui lawan, cepat meloncat ke dalam untuk menyelamatkan Li Sian dan Kun Tek. Akan tetapi Thian Kek Sianjin, tokoh besar Pek-lian-kauw yang kebetulan berada di tempat paling dekat dengan Hong Beng, sudah memalangkan tongkat naga hitamya lalu menyambut pemuda itu dengan hantaman tongkat!

Melihat reaksi ini, Ouwyang Sianseng terbelalak dan mukanya berubah. Tahulah dia banwa benar seperti yang dikhawatirkannya, telah terjadi pengkhianatan!

"Bunuh mereka semua! Semua pasukan siap untuk melawan musuh di luar....!" Akan tetapi, Pouw-ciangkun, tepat seperti yang sudah diatur sebelumnya, sudah lari keluar dan memberi isyarat kepada para perwira di luar untuk memulai penyerbuan!

Dua belas orang pendekar yang menyamar sebagai pengawal melindunginya dan menyerang kaki tangan pemberontak yang hendak mengejar Pouw-ciangkun. Akan tetapi tentu saja mereka ini bukanlan lawan orang-orang seperti Siangkoan Liong, Siangkoan Lohan dan para pembantunya. Dalam waktu sebentar Saja, dua belas orang pengawal itu robon seorang demi seorang!

"Bunuh pengkhianat ini, aku akan membunuh dua orang kawannya!" teriak Ouwyang Sianseng. Akan tetapi pada saat itu, terdengar sorak-sorai gemuruh dibarengi suara terompet dan tambur, tanda bahwa pasukan pemerintah mulai menyerbu dari luar, dari empat penjuru! Dan sebelum Ouwyang Sianseng sempat melompat ke dalam, dari dalam muncul beberapa orang yang membuat wajah Ouwyang Sianseng dan para pimpinan pemberontak berubah pucat!

Dari dalam, dengan sikap gagah dan tenang, nampak kakek Kam Hong, nenek Bu Ci Sian, Suma Ceng Liong, Kam Bi Eng, Tan Sin Hong, Kao Hong Li, Suma Lian, dan dua orang muda yang tadinya menjadi tawanan, yaitu Cu Kun Tek dan Pouw Li Sian! Kiranya, dua rombongan pendekar itu telah berhasil menyelundup ke dalam sarang pemberontak. Pertama adalah rombongan Tan Sin Hong, Kao Hong Li, Suma Ceng Liong dan Kam Bi Eng, adapun rombongan ke dua adalah rombongan kakek Kam Hong, Bu Ci Sian dan Suma Lian. Mereka bertemu di dalam sarang pemberotak dan tentu saja pertemuan itu amat menggembirakan hati mereka walaupun dilakukan secara bersembunyi, Tan Sin Hong lalu berhasil membebaskan Kun Tek dan Li Sian. Kedua orang muda yang tadinya menjadi tawanan itu bergabung dengan mereka dan begitu mendengar ribut-ribut di luar, tanda bahwa pasukan mulai bergerak, mereka pun menerjang keluar dan berhadapan dengan seluruh pimpinan pemberontak dan para pembantu mereka!

Melihat betapa Hong Beng berkelahi melawan Thian Kek Sengjin yang amat lihai dengan tongkat naga hitamnya, Suma Lian segera meloncat dan membantunya. Suling emas kecil di tangannya berubah menjadi gulungan sinar kuning emas yang menyambar-nyambar ke arah Thian Kek Sengjin. Kakek Pek-lian-pai ini menjadi terkejut dan juga repot karena Hong Beng yang girang melihat betapa "tunangannya" membantunya, juga mengerahkan tenaga dan kepandaiannya untuk mendesak lawan.

Kakek Kam Hong berhadapan dengan Ouwyang Sianseng. "Saudara Ouwyang Sianseng, petualanganmu agaknya hanya akan beraknir sampai di sini saja. Sarang pemberontak ini sudah terkepung oleh pasukan besar!"

Wajah Ouwyang Sianseng pucat, akan tetapi sikapnya masih tenang, bahkan dia masih dapat tersenyum sambil memandang kakek sastrawan sederhana di depannya itu dengan pandang mata penuh kagum. Tentu Pendekar Suling Emas ini yang telah menggagalkan semua rencananya, pikirnya.

"Sungguh membuat orang penasaran," katanya lirih, namun karena suaranya mengandung khi-kang yang amat kuat, maka terdengar jelas oleh semua orang.

"Seorang pendekar besar seperti Pendekar Suling Emas yang kabarnya pembela rakyat, penegak kebenaran dan keadilan, kiranya tidak lain hanyalah seorang budak penjajah Mancu yang tidak segan-segan mengkhianati bangsa sendiri!"

Ejekan yang amat menghina ini diterima oleh kakek Kam Hong dengan senyum. Tangan kiri kakek ini bergerak, cepat sekali dan hanya lengan kirinya yang bergerak karena seluruh tubuhnya diam, dan nampaklah bayangan putih berkelebat dan tahu-tahu, seperti orang bermain sulap saja, kakek itu telah memegang sebuah kipas dengan tangan kiri, mengebutkan kipas yang terpentang itu perlahan-lahan mengipasi lehernya seolah-olah dia merasa kegerahan. Ouwyang Sianseng melihat kipas yang terpentang lebar ini dan dapat membaca tulisan indah dan gagah pada permukaan kipas yang digerakkan perlahan-lahan.

Hanya yang kosong

dapat menerima tanpa meluap

hanya yang lembut

mampu menerobos antara yang kasar

yang merasa cukup

adalah yang sesungguhnya kaya raya!

Tulisan itu sebenarnya adalah motto dari perkumpulan Khong-sim Kai-pang (Perkumpulan Pengemis Hati Kosong). Guru kakek Kam Hong, satu di antaranya, adalah Sai-cu Kai-ong, keturunan pendiri Khong-sim Kai-pang maka sajak ini disukai oleh Kam Hong dan dijadikan hiasan kipasnya yang merupakan senjatanya yang ampuh pula, di samping senjata suling emas. Agaknya, dengan membeberkan kipas dan memperlihatkan sajak itu, kakek Kam Hong sudah menjawab ucapan Ouwyang Sianseng tadi, menyindirnya sebagai orang yang sombong dan kasar dan tidak mengenal puas sehingga mengadakan persekutuan pemberontakan. Akan tetapi, benarlah ujar-ujar kuno yang mengatakan bahwa mengenal kelemahan dan keburukan diri sendiri merupakan perbuatan yang teramat sukar. Bahkan orang sesakti Ouwyang Sianseng rupanya masih sukar untuk dapat melakukan pemawasan diri ini. Dia, seperti kebanyakan dari kita, selalu menganggap diri sendiri paling baik, paling pintar, paling benar dan tanpa cacat.

"Tidak perlu mengejek, orang she Kam!" katanya dan sinar matanya mengeluarkan kilatan marah. "Aku memang memimpin perjuangan melawan penjajah ini, lalu apa salahnya?"

Kini terpaksa Kam Hong berkata, "Ouwyang Sianseng, lupakah engkau ketika engkau memimpin pasukan Birma melawan pasukan dari tanah air sendiri walaupun pasukan itu adalah pasukan Mancu? Lupakah engkau betapa engkau melarikan diri dengan membawa banyak harta benda, kembali ke tanah air dan kini mengadakan pemberontakan? Siapa percaya akan kemurnian gerakan pemberontakan ini kalau engkau mengumpulkan tokoh-tokoh sesat untuk membantumu? Boleh engkau mengelabui orang lain, akan tetapi kami para pendekar sudah dapat melihat kebusukan yang tersembunyi di balik pemberontakan ini!"

"Hemmm, bagus! Ada saja alasanmu untuk membantu pemerintan penjajah Mancu. Nah, bersiaplah untuk menandingi aku!" kata Ouwyang Sianseng yang juga mengeluarkan sebuah kipas dengan tangan kirinya untuk mengipasi badan, sedangkan tangan kanannya menghunus sebatang pedang!

Ouwyang Sianseng tidak tahu bahwa sejak tadi Kam Hong sudah siap siaga, karena sikapnya berdiri, tegak dengan kipas terpentang mengipasi leher ini adalah gerak pembukaan dari ilmu silat Lo-hai San-hoat (Ilmu Kipas Pengacau Lautan). Bagaimanapun juga, hati Ouwyang Sianseng sudah merasa gentar, apalagi melihat betapa pertempuran telah terjadi di luar antara pasukan pemerintah dan pasukan pemberontak. Maka dia pun tidak mau membuang waktu lagi. Biarpun mulutnya menantang agar lawan bersiap namun pedangnya sudah menyambar, diikuti serangan kipasnya yang tidak kalah dahsyatnya dibandingkan dengan gerakan pedangnya.

Namun Kam Hong dengan gerakan tenang mengebutkan kipasnya. Angin yang aneh berputaran meniup ke arah lawan, dan disusul gulungan sinar emas yang mengeluarkan suara melengking-lengking seperti suling ditiup dan dimainkan seorang ahli. Dari gulungan sinar keemasan itu mencuat sinar yang menyambar ke arah Ouwyang Sianseng, sedangkan puteran kipas tadi merupakan perisai putih yang telah menangkis kedua serangan bekas pembesar di Birma itu. Terjadilah perkelahian yang amat hebat antara dua orang tua itu. Hebat dan aneh, dan biarpun mereka bergerak kadang-kadang amat lambat, namun angin pukulan yang keluar dari kedua buah kipas, sebatang pedang dan sebatang suling itu amatlah kuatnya sehingga orang-orang lain tidak berani mendekati dua orang jago tua itu.

Melihat betapa Thian Kek Sianjin amat repot menghadapi pengeroyokan Gu Hong Beng dan Suma Lian, maka Thian Kok Cinjin segera bergerak maju, dengan tongkatnya. Suma Lian menyambut kakek ini membiarkan Gu Hong Beng menghadapi Thian Kek Sengjin dan terjadilah perkelahian seru antara gadis perkasa itu dan ketua Pat-kwa-pai, tidak jauh dari perkelahin antara Hong Beng dan tokoh Pek-lian-pai, yaitu Thian Kek Sengjin.

Sementara itu, melihat Sin-kiam Mo-li, Kao Hong Li sudah tidak sabar lagi. Itulah iblis betina yang melakukan penyerbuan ke Istana Gurun Pasir dan bersama kawan-kawannya menyebabkan kematian kakek dan neneknya.

"Sin-kiam Mo-li, lihat baik-baik, siapa aku! Akulah yang akan mencabut nyawamu agar engkau dapat bertemu dengan roh kakek dan nenekku di sana!" bentaknya sambil melompat ke depan wanita itu. Sin-kiam Mo-li memandang dan ia mengenal Hong Li sebagai gadis yang pernah dikeroyoknya bersama Toat-beng Kiam-ong dan kawan-kawannya, akan tetapi kemudian mereka terpaksa melarikan diri ketika muncul Suma Ceng Liong dan Kam Bi Eng. Akan tetapi, mendengar bentakan Hong Li, ia memandang lebih teliti.

"Aku Kao Hong Li, lupakah engkau kepadaku, iblis busuk?" Hong Li kembali membentak.

"Ahhh....!" Sin-kiam Mo-li terkejut dan baru ia mengenal gadis itu. Ketika Hong Li berusia tiga belas tahun, pernah ia menculik gadis ini, dan mengambilnya sebagai murid, bahkan ia mulai merasa suka dan sayang kepada gadis itu. Sekarang, gadis itu telah dewasa dan berhadapan dengannya sebagai seorang musuh. Ia tidak sempat banyak bicara karena Hong Li telah menyerangnya dengan sepasang pedang. Untuk penyerbuan itu dan menghadapi musuh-musuh yang tangguh, Hong Li telah mempersiapkan diri dan kini membawa sepasang pedang, langsung menyerang lawan tangguh itu dengan permainan ilmu Siang-mo Kiam-sut (Ilmu Pedang Sepasang Iblis) yang dipelajari dari ibunya.

Sin-kiam Mo-li sudah maklum akan kelihaian gadis ini, maka ia pun cepat mencabut pedang dan kebutannya, menangkis serangan Hong Li dan membalas dengan ganasnya. Segera terjadi perkelahian sengit antara kedua orang wanita ini. Siangkoan Lohan yang juga bingung seperti halnya Ouwyang Sianseng melihat penyerbuan pasukan pemerintah secara tiba-tiba dan berhadapan dengan banyak pendekar yang memiliki ilmu kepandaian tinggi dihadapi Suma Ceng Liong. Pendekar ini maklum bahwa di antara para pimpinan pemberontak itu, yang paling lihai adalah Ouwyang Sianseng dan Siangkoan Lohan ketua Tiat-liong-pang. Karena Ouwyang Sianseng telah dilawan oleh ayah mertuanya, maka dia pun cepat maju menghadapi Siangkoan Lohan yang segera menyerang dengan hun-cwe emasnya.

Sin Hong juga tidak tinggal diam. Melihat betapa kedua orang pimpinan pemberontak yang paling lihai itu sudah dihadapi dua orang locianpwe yang dia tahu amat sakti, dia pun lalu menerjang Siangkoan Liong, orang ke tiga yang paling lihai di antara pihak musuh. Siangkoan Liong menyambut serangan Sin Hong dengan pedangnya, dan putera ketua Tiat-liong-pang yang juga murid Ouwyang Sianseng ini berusaha keras untuk merobohkan lawan dengan pedangnya, namun Sin Hong biarpun bertangan kosong, ternyata merupakan lawan yang amat tangguh sehingga perkelahian antara mereka tak kalah serunya dengan perkelahian lain yang terjadi di tempat itu.

Toat-beng Kiam-ong Giam San Ek mendapatkan lawan yang teramat berat baginya, yaitu nenek Bu Ci Sian yang mempergunakan sebatang suling emas, presis seperti yang dimainkan oleh suaminya, Kam Hong, hanya ukurannya yang lebih kecil sedikit.

Hok Yang Cu, tokoh Pat-kwa-pai yang pendek botak dan mempergunakan senjata sabuk yang ujungnya dipasangi pisau beracun, senjata yang baru dibuatnya karena yang lama telah putus ketika dia mengeroyok Sin Hong dan Hong Li, kini dihadapi oleh seorang lawan yang juga amat berat baginya, yaitu Kam Bi Eng yang juga seperti ayah dan ibunya, mempergunakan senjata sebatang suling emas!

Nenek Hek-sim Kui-bo, seorang di antara kaki tangan pemberontak yang lihai, dihadapi oleh Pouw Li Sian. Gadis ini baru saja dibebaskan oleh Sin Hong dan merampas sebatang pedang dari para penjaga yang mereka robohkan, dan kini gadis itu dengan sengit menyerang nenek bongkok kurus hitam itu, yang segera menangkis dengan tongkatnya dan membalas pula takkalah serunya.

Adapun Cu Kun Tek, yang ketika dibebaskan mendengar dari Sin Hong bahwa Ci Hwa tewas karena luka-lukanya yang diperoleh ketika gadis itu bertempur melawan Ciu Hok Kwi yang berjuluk Tiat-liong Kiam-eng, juga pernah menjadi piauwsu, murid utama dari Siangkoan Lohan, kini Kun Tek sudah menerjang dengan sengitnya, menyerang Ciu Hok Kwi. Pendekar ini juga merampas pedang dari seorang penjaga karena pedangnya sendiri yaitu Koai-liong Po-kiam, telah dirampas oleh Ouwyang Sianseng.

Masih banyak sekali tokoh-tokoh sesat yang menjadi kaki tangan pemberontak yang dihadapi oleh para pendeker. Bahkan kini para pendekar yang tadinya menanti kesempatan di beberapa tempat persembunyian di daerah itu, setelah mendengar ribut-ribut penyerbuan pasukan ke sarang Tiat-liong-pang sudah berdatangan membantu pasukan menggempur para pemberontak. Di antara mereka terdapat pula Ciok Heng, putera Ciok Kim Bouw dengan banyak anggauta Cin-sa-pang yang dipimpinnya.

Pertempuran antara para tokoh sesat melawan para pendekar ini seru bukan main, mati-matian dan satu lawan satu, tidak seperti pertempuran yang terjadi di luar sarang. Pertempuran di luar itu adalah perang antara pasukan pemerintah melawan pasukan pemberontak yang terdiri dari pasukan Mongol dipimpin Agakai sebanyak lima ratus orang lebih, anak buah Tiat-liong-pang sendiri tidak kurang dari tiga ratus orang, anak buah Ang I Mo-pang antara lima puluh orang dan anak buah para tokoh sesat juga membantu pemberontak. Akan tetapi, jumlah mereka tidak lebih dari seribu orang, sedangkan Liu Tai-ciangkun mengerahkan pasukan yang jumlahnya tidak kurang dari tiga ribu orang! Tentu saja gelombang besar pasukan penyerbu yang melakukan serangan tiba-tiba dan sama sekali tidak pernah diduga oleh pasukan pemberontak, membuat para pemberontak kewalahan dan mereka terus didesak mundur dan terhimpit karena sarang pemberontak itu sudah dikepung dari empat penjuru oleh pasukan pemerintah. Apalagi karena para pimpinan pemberontak sendiri sibuk di sebelah dalam sarang menghadapi penyerbuan para pendekar yang berilmu tinggi sehingga mereka tidak sempat lagi untuk memimpin pasukan mereka. Hal ini tentu saja membuat pasukan pemberontak menjadi semakin panik kehilangan komando.

Pertempuran antara para pendekar melawan para tokoh sesat juga jelas memperlihatkan bahwa pihak para pendekar rata-rata dapat mendesak musuhnya. Hanya Kao Hong Li yang belum mampu mendesak Sin-kiam Mo-li. Memang wanita iblis itu lihai bukan main dengan pedang di tangan kanan dan kebutan di tangan kirinya. Masih untung bagi Kao Hong Li bahwa ia telah merampas sepasang pedang dari penjaga sehingga kini ia dapat menghadapi Sin-kiam Mo-li dengan permainan Siang-mo Kiam-sut. Namun, sepasang pedangnya adalah pedang biasa, maka gadis ini yang dapat menduga bahwa pedang di tangan Sin-kiam Mo-li tentu pedang pusaka, ia tidak berani mengadu pedang dengan langsung, khawatir kalau pedangnya akan rusak atau patah. Dan kebutan di tangan kiri wanita iblis itu berbahaya sekali, menyambar-nyambar ganas dan setiap bulu kebutan mengandung racun yang jahat. Maka, Hong Li sama sekali tidak mampu mendesak Sin-kiam Mo-li dan untuk melindungi tubuhnya, gadis itu memainkan Siang-mo Kiam-sut sebaik mungkin, mengerahkan pada bagian pertahanan dengan memutar kedua pedangnya bersilang yang merupakan benteng kuat atau perisai yang melindungi tubuhnya dengan ketat. Tidak mudah bagi pedang dan kebutan Sin-kiam Mo-li membobol gulungan sinar kedua pedang yang menjadi perisai itu.

Siangkoan Liong repot sekali menghadapi Sin Hong. Biarpun dia mempergunakan sebatang pedang dan lawannya itu bertangan kosong, namun tingkat kepandaian Sin Hong masih jauh berada di atasnya sehingga biar hanya bertangan kosong, Sin Hong selalu mendesaknya. Serangan pedang Siangkoan Liong selalu dapat dielakkan oleh Sin Hong dengan baiknya, bahkan beberapa kali hampir saja pedang itu dapat dirampas. Dengan ilmu silatnya yang bermacam-macam dan kesemuanya adalah ilmu silat tingkat tinggi, Sin Hong terus mendesak Siangkoan Liong. Kedua tangan kosong Sin Hong tiada bedanya dengan dua buah senjata yang ampuh. Dengan tamparan-tamparannya yang mendatangkan angin pukulan dahsyat, Sin Hong terus membuat Siangkoan Liong hanya dapat mengelak sambil berlompatan mundur, dan mengelebatkan pedang untuk mencoba membacok lengan Sin Hong. Akhirnya sebuah tendangan yang ditujukan ke arah perutnya dan dielakkan oleh Siangkoan Liong, masih saja mengenai pinggir pinggangnya, membuat tubuh Siangkoan Liong terpelanting keras!

Sin Hong yang teringat akan sikap Ci Hwa sebelum gadis itu meninggal, betapa gadis itu memaki Siangkoan Liong yang telah menodainya, kini menerjang ke depan. Orang seperti pemuda itu berbahaya sekali, pikirnya, amat jahat, maka sudah sepatutnya kalau diakhiri saja hidupnya. Melihat lawannya terpelanting, Sin Hong berniat untuk mengirim pukulan susulan yang mematikan. Akan tetapi tiba-tiba nampak sinar terang dan terdengar bunyi seperti auman binatang buas. Sinar itu menyambar ke arah Sin Hong bagaikan seekor naga yang menubruk. Sin Hong terkejut sekali dan berjungkir balik ke belakang untuk menghindarkan diri dari tusukan pedang yang luar biasa ampuhnya itu. Dia tidak tahu bahwa itulah pedang Koai-liong Po-kiam (Pedang Pusaka Naga Siluman) milik Cu Kun Tek yang dirampas oleh Ouwyang Sianseng dan diberikan kepada muridnya. Dalam saat yang amat gawat bagi keselamatan dirinya, setelah terpelanting, Siangkoan Liong lalu mencabut pedang pusaka rampasan itu dan menusuk dari bawah. Berkat keampunan Koai-liong Po-m kiam terhindarlah dia dari bahaya maut karena Sin Hong yang terkejut mengurungkan serangannya dan berjungkir balik ke belakang.

Akan tetapi, pada saat itu, terjadi perubahan menarik pada pertempuran antara Ouwyang Sianseng dan Kam Hong. Mereka berdua lebih mengandalkan tenaga sakti mereka. Maklum, keduanya adalah tokoh-tokoh tua. Usia Ouwyang Sianseng sudah mendekati tujuh puluh tahun, demikian pula dengan Kam Hong. Betapapun lihai dan kuatnya seseorang, tubuhnya hanya terbuat dari darah dan daging diperkuat oleh tulang belaka. Tulang-tulang tua dapat rapuh, daging pun mengendur, dan tubuh tak terhindarkan dari kelemahan dimakan usia dari dalam. Maka, kalau orang-orang seusia mereka mengandalkan tenaga, tentu mereka takkan mampu bertahan lama.

Mereka bertanding dengan gerakan yang lambat, namun setiap gerakan itu mengandung tenaga dalam, tidak mempergunakan tenaga luar yang dibutuhkan untuk bergerak cepat. Dan dalam hal tenaga dalam ini, ternyata tingkat mereka seimbang! Kalau keduanya masih muda, tentu kakek Kam Hong akan dapat mengalahkan lawannya tanpa banyak kesukaran, mengandalkan ilmunya yang sukar dicari bandingannya di dunia ini. Mungkin hanya ilmu-ilmu dari Pulau Es dan Gurun Pasir sajalah yang mampu menandingi tingkat ilmu suling dan kipas dari Pendekar Suling Emas itu. Betapapun juga, karena memang kalah tinggi ilmunya, ketika kedua kipas bertemu di udara terdengar suara keras dan kipas di tangan Ouwyang Sianseng robek! Kam Hong mempergunakan kesempatan ini untuk mendesak. Sulingnya menyambar, menotok ke arah pelipis, dan kipasnya juga menyambar, gagangnya menotok ke lambung. Ouwyang Sianseng yang masih terkejut karena robeknya senjata kipas di tangannya, cepat mundur sambil mengelebatkan pedangnya untuk membalas, ditusukkan ke arah kipas lawan untuk membuat kipas itu robek. Akan tetapi, pada saat itu, sinar kuning emas menyambar dari atas, menghantam pedangnya.

"Tranggggg....!" Keras sekali hantaman suling emas itu, membuat tangan Ouwyang Sianseng tergetar dan pedangnya patah ujungnya! Kakek itu terkejut sekali, lalu mencabut sebatang pedang dari balik jubahnya. Begitu dicabut pedang itu, Kam Hong terbelalak, lalu bergidik. Dia mengenal sebatang pedang yang ampuhnya menggiriskan hati. Baru hawanya saja sudah membuat orang menggigil, dan begitu pedang dicabut, dan digerakkan, tercium bau yang dapat membuat orang muntah. Pedang itu pun mengeluarkan sinar abu-abu kehitaman, sinar maut! Itulah pedang Ban-tok-kiam (Pedang Selaksa Racun)!

Seperti diketahui, ketika menyerbu ke Istana Gurun Pasir, Sin-kiam Mo-li dan kawan-kawannya berhasil menewaskan tiga orang tua sakti di sana, walaupun mereka sendiri hampir habis terbasmi. Hanya Sin-kiam Mo-li, Thian Kong Cinjin, dan Thian Kek Sianjin saja yang masih hidup walaupun menderita luka-luka, dan Sin-kiam Mo-li yang cerdik, dapat menyita dua batang pedang pusaka dari Istana Gurun Pasir, yaitu Cui-beng-kiam dan Ban-tok-kiam. Ketika ia dan kawan-kawannya bergabung dengan para pemberontak, melihat kesaktian Ouwyang Sianseng, Sin-kiam Mo-li lalu menyerahkan sebatang di antara dua batang pedang rampasan itu, ialah Ban-tok-kiam. Adapun pedang ke dua, Cui-beng-kiam, disimpannya sendiri.

Ouwyang Sianseng adalah seorang yang cerdik sekali, juga memiliki ambisi besar. Begitu melihat betapa dia dan kawan-kawannya tertipu, dan pasukan yang datang bukanlah pasukan pemerintahan yang bersekutu melainkan pasukan yang menyerang dalam jumlah amat besar, dan melihat pula munculnya para pendekar yang sebagian memiliki kesaktian hebat, dia pun maklum bahwa permainannya kalah. Kini, yang terpenting adalah menyelamatkan dirinya sendiri. Karena itu, melihat betapa kakek Kam Hong yang membuatnya jerih itu nampak gentar melihat dia mengeluarkan Ban-tok-kiam, Ouwyang Sianseng lalu memutar pedang itu dan meloncat ke belakang, menyelinap di antara anak buah Pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai yang membantu para tokoh sesat menghadapi para pendekar. Kam Hong tidak mengejarnya, dan hanya menarik napas panjang, masih tertegun melihat pedang tadi. Pendekar ini pun teringat akan pedang yang disebut Ban-tok-kiam, sebuah di antara pusaka Istana Gurun Pasir dan dia kagum bukan main, juga ngeri membayangkan kehebatan pedang itu.

Pada saat Ouwyang Sianseng melompat ke belakang dan melarikan diri menyelinap di antara para arnggauta Pek-lian-pai itulah yang menarik perhatian Siangkoan Liong. Pada saat itu, Sin Hong berjungkir balik ke belakang karena terkejut menghadapi serangan pedang Koai-liong Po-kiam. Siangkoan Liong tidak mendesak Sin Hong karena bagaimanapun juga, dia sudah merasa jerih menghadapi pemuda berpakaian putih itu. Kini melihat gurunya melarikan diri, tanpa berpikir dua kali, Siangkoan Liong juga melompat ke belakang dan menyelinap di antara para anggauta Pat-kwa-pai dan menghilang. Sin Hong juga tidak mengejar karena di situ terdapat banyak lawan. Dia menoleh ke arah Kao Hong Li yang bertanding melawan Sin-kiam Mo-li dan terkejutlah pemuda ini. Tadinya dia tidak khawatir akan keselamatan Hong Li melihat gadis ini cukup lihai untuk mengimbangi permainan Sin-kiam Mo-li. Akan tetapi kini, Hong Li terdesak hebat sekali, bahkan sepasang pedangnya rusakrusak, sedangkan Sin-kiam Mo-li dengan senyum menyeringai mendesak dengan sebatang pedang yang mengeluarkan sinar yang menyeramkan. Itulah pedang pusaka Cui-beng-kiam! Pedang ini, seperti juga Ban-tok-kiam merupakan pusaka Istana Gurun Pasir dan sudah puluhan tahun tidak pernah dipergunakan orang. Kini, di tangan Sin-kiam Mo-li, pedang itu menjadi senjata iblis yang haus darah! Gulungan sinarnya mengandung hawa yang mujijat, dan jelas nampak betapa Hong Li merasa ngeri dan jerih menghadapi desakan pedang yang telah merusak sepasang pedangnya itu. Gadis ini terus main mundur sambil memutar kedua pedangnya sekuat tenaga untuk melindungi tubuhnya dari ancaman Cui-beng-kiam (Pedang Pengejar Roh) yang menggiriskan itu.

"Kembalikan pedang itu!" Tiba-tiba Sin Hong membentak dan tubuhnya sudah melesat ke depan, langsung saja dia menyerang Sin-kiam Mo-li dengan jurus ampuh dari Pek-ho Sin-kun. Tenaga yang terkandung dalam sambaran tangan Sin Hong itu hebat bukan main, membuat Sin-kiam Mo-li menjadi gugup dan wanita ini menangkis dengan kebutannya.

"Plak! Pyarrr....!" Kebutan itu rontok bulunya, berhamburan dan tubuh Sin-kiam Mo-li terjengkang. Akan tetapi, ia bergulingan dan memutar pedang Cui-beng-kiam. Pedang ini mengeluarkan sinar kilat bergulung-gulung sehingga Sin Hong tidak berani mendesak. Kesempatan ini dipergunakan oleh Sin-kiam Mo-li untuk meloncat dan menyelinap di antara kawan-kawannya yang sedang berkelahi melawan para pendekar. Sin Hong mencoba untuk mengejar, akan tetapi wanita itu sudah lenyap dan dia yang mengkhawatirkan keselamatan Hong Li segera mendekati gadis itu.

"Bagaimana denganmu? Engkau tidak terluka, bukan?"

Hong Li menggeleng kepala dan tersenyum. Bukan main gadis ini, pikir Sin Hong, baru saja terlepas dari ancaman maut, bahkan wajahnya masih basah dengan keringat, akan tetapi sudah mampu tersenyum demikian manisnya!

"Tidak, berkat pertolonganmu, Susiok."

Mereka tidak sempat bicara banyak, karena perkelahian masih berlangsung, lalu mereka segera terjun ke dalam kancah pertempuran, membantu para pendekar.

Kini keadaan menjadi semakin berat sebelah setelah tiga orang penting di antara para pimpinan pemberontak melarikan diri. Pertama-tama Toat-beng Kiam-ong Giam San Ek yang mendapatkan lawan berat sekali, yaitu nenek Bu Ci Sian. Tingkat kepandaian si raja pedang ini jauh berada di bawah tingkat kepandaian nenek itu. Sejak semula, dengan suling emasnya, nenek itu sudah menekan dan mengurung, membuat si raja pedang tidak mampu mengembangkan permainan pedangnya. Akhirnya, kaki kiri nenek itu sempat menyentuh lututnya, membuat Toat-beng Kiam-ong setengah berlutut dan sebelum dia mampu bangkit kembali, ujung suling mengetuk ubun-ubun kepalanya dan dia pun roboh tewas seketika karena isi kepalanya tergetar dan batok kepalanya retak! Sungguh sayang sekali, Toat-beng Kiam-ong Giam San Ek sebenarnya bukanlah seorang penjahat. Tadinya dia pun terkenal sebagai seorang pendekar yang lihai, pernah menjadi murid Bu-tong-pai yang patuh. Akan tetapi, dia mempunyai satu kelemahan, yaitu terhadap wanita cantik. Inilah yang menjerumuskannya ke lembah hitam. Karena dia tergila-gila kepada wanita cantik dan selalu mengejar kesenangan ini, maka dia pun terjerumus, tidak pantang lagi melakukan kejahatan dan kekejaman demi terpenuhinya keinginan hatinya. Makin lama dia pun makin dalam terjerumus dan pergaulannya dengan para tokoh sesat makin menyelewengkannya dan akhirnya dia harus tewas secara menyedihkan.

Melihat betapa Suma Lian yang memutar suling emasnya itu belum juga mampu menandingi kelihaian Thian Kong Cinjin wakil ketua Pat-kwa-pai yang memang lihai bukan main itu, Hong Li tidak membuang banyak waktu. Segera ia terjun dan sepasang pedangnya menyambar-nyambar dengan dahsyatnya, merupakan sinar maut yang menyambar ke arah Thian Kong Cinjin. Bukan main kagetnya kakek ini. Tadinya dia merasa lega bahwa dia hanya dilawan seorang gadis muda yang biarpun lihai dengan suling emasnya, namun dalam hal pengalaman jauh kalah olehnya. Ketua Pat-kwa-pai ini sudah berusia tua sekali, hampir delapan puluh tahun. Akan tetapi sebagai seorang wakil ketua Pat-kwa-pai, tentu saja ilmu kepandaiannya tinggi. Sebetulnya, kalau dibuat perbandingan, Suma Lian lebih lihai daripada kakek ini, apalagi mengingat bahwa kakek yang menjadi lawannya itu sudah tua sekali. Sepandai-pandainya orang, dan sekuat-kuatnya orang, takkan mungkin dapat melawan usianya sendiri. Usia tua akan menggerogotinya dari dalam, menghabiskan semua tenaga dan kesaktiannya. Demikian pula keadaan Thian Kong Cinjin, sesungguhnya berat sekali lawan yang muda itu baginya. Akan tetapi, berkat pengalamannya yang banyak, dia masih mampu bertahan, bahkan tidak membiarkan gadis itu mendesaknya dengan permainan tongkatnya yang luar biasa.

Begitu Kao Hong Li terjun membantu Suma Lian dengan permainan sepasang pedangnya yang hebat, tentu saja kakek Thian Kong Cinjin menjadi repot bukan main. Mengalahkan seorang Suma Lian saja dia belum juga mampu, kini ditambah lawan yang juga merupakan seorang gadis yang amat lihai, yang telah mewarisi ilmu-ilmu dari Pulau Es dan Gurun Pasir! Permainan tongkatnya menjadi kacau dan dia tidak mampu menghindarkan diri lagi ketika suling di tangan Suma Lian menyambar dan menotok dadanya. Dia berteriak keras dan tubuhnya terpelanting roboh, namun dia masih cukup kuat biarpun dadanya terasa nyeri dan napasnya terengah-engah. Ketika dia bergerak hendak meloncat bangun dengan muka pucat dan dada sesak, sinar pedang di tangan Hong Li menyambar dan tusukan pedangnya tepat menembus leher kakek wakil ketua Pat-kwa-pai itu. Mata Thian Kong Cinjin melotot dan tongkatnya menyambar ke arah Hong Li dari bawah, dan ketika gadis itu dengan cekatan melompat ke belakang untuk mengelak, tongkat itu terus menyambar ke arah kepala kakek itu sendiri. Terdengar suara keras dan kakek itu pun roboh dan tak berkutik lagi, kepalanya pecah karena dipukulnya sendiri. Agaknya dia memilih mati di tangan sendiri daripada di tangan lawan, setelah menderita luka parah karena totokan suling di dadanya dan tusukan pedang yang menembus lehernya. Melihat lawannya tewas, Suma Lian dan Kao Hong Li mengamuk terus, membantu kawan-kawan lain menghadapi para tokoh sesat yang membantu pemberontakan. Terutama sekali mereka berdua menghadapi para anggauta Pek-lian-pai karena mereka itulah yang merupakan lawanlawan lihai dari para pendekar.

Sementara itu, Sin Hong juga sudah membantu Gu Hong Beng yang nampak terdesak pula oleh Thian Kek Sengjin, tokoh Pek-lian-pai yang amat lihai itu. Memang Hong Beng belum kalah, akan tetapi pemuda itu kerepotan juga menghadapi tongkat naga hitam dari tokoh Pek-lian-pai itu. Begitu Sin Hong berkelebat masuk ke dalam gelanggang pertempuran membantu Hong Beng, kakek itu cepat menyambutnya dengan pukulan tongkat naga hitam, mengarah kepala Sin Hong. Dia maklum akan kehebatan pemuda ini, maka begitu menyerang, dia telah mengerahkan seluruh tenaganya. Tongkat yang berbentuk naga hitam itu berkelebat dan lenyap bentuknya, berubah menjadi gulungan sinar hitam panjang yang mengeluarkan bunyi desir angin. Namun, Sin Hong tidak mengelak, bahkan mengangkat lengan kanannya ke atas untuk menangkis tongkat hitam, sedangkan tangan kirinya membentuk moncong bangau, menotok ke depan sambil melangkahkan kaki ke depan mendekati lawan. Moncong bangau itu menotok ke arah ulu hati lawan.

"Takkk!" Lengan pemuda itu bertemu tongkat, dan Thian Kek Sengjin merasa betapa lengannya tergetar hebat. Pemuda itu telah menangkis tongkat dengan lengan begitu saja, dan membuat tongkatnya terpental dan lengannya tergetar dan telapak tangannya terasa panas. Pada saat itu, Hong Beng sudah menyerang dari samping dengan sepasang pedangnya. Pedang kiri membacok kepala, pedang kanan menyusul cepat menusuk dari bawah menuju lambung! Thian Kek Sengjin yang masih merasa kaget dan getaran akibat benturan lengan Sin Hong tadi masih belum lenyap, menggerakkan tongkatnya menangkis sinar pedang yang membacok kepalanya, akan tetapi dia terlambat menghindarkan diri dari tusukan pedang dari bawah. Pedang di tangan Hong Beng itu menembus lambungnya. Darah muncrat dan kakek itu pun roboh dan tewas. Seperti juga Suma Lian dan Kao Hong Li, setelah melihat betapa tokoh Pat-kwa-pai itu roboh, Sin Hong dan Hong Beng lalu melanjutkan amukan mereka dengan membantu para pendekar menghadapi para tokoh sesat lainnya.

Perkelahian antara para pendekar dan para tokoh sesat kini berlangsung lama. Hek Yang Cu yang pendek botak itu mendapatkan lawan yang terlalu berat baginya yaitu pendekar wanita Kam Bi Eng yang amat lihai ilmu silatnya dengan suling emasnya. Nyonya Suma Ceng Liong ini tanpa mengalami banyak kesukaran akhirnya merobohkan dan menewaskan Hok Yang Cu dengan totokan ujung suling emasnya pada beberapa jalan darah yang mematikan. Juga nenek iblis Hek-sim Kui-bo tidak kuat melawan Pouw Li Sian. Gadis yang perkasa ini mempergunakan senjata pedang rampasannya, mendesak terus dan akhirnya sebuah tusukan pada dada nenek itu membuat Hek-sim Kui-bo roboh dan tewas.

Perkelahian antara Cu Kun Tek dan Tiat-liong Kiam-eng Ciu Hok Kwi berjalan dengan seru dan seimbang. Tidak percuma Ciu Hok Kwi menjadi murid pertama Siangkoan Lohan dan berjuluk Tiat-liong Kiam-eng (Pendekar Pedang Naga Besi), karena ilmu pedangnya memang hebat dan tenaganya juga kuat sekali. Akan tetapi, walaupun dia tidak dapat dirobohkan oleh Cu Kun Tek, dia sendiri pun mengalami kesukaran untuk mengalahkan pemuda tinggi besar yang gagah perkasa, pendekar muda dari Lembah Naga Siluman ini. Cu Kun Tek memang telah kehilangan pedang pusakanya, yaitu Koai-long Po-kiam yang dirampas oleh Siangkoan Liong, akan tetapi dia tidak kehilangan ilmu pedang Koai-liong Kiam-sut, dan biarpun dia hanya mempergunakan sebatang pedang rampasan, namun permainan pedangnya masih hebat dan membuat Ciu Hok Kwi terpaksa harus mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya untuk mengimbangi permainan pedang lawan.

Selagi kedua orang ini saling serang dengan hebatnya, tiba-tiba nampak berkelebatnya bayangan putih dan tahu-tahu Sin Hong telah berdiri di antara mereka, "Suadara Cu Kun Tek, harap berikan orang ini kepadaku, dia adalah musuh besarku!" kata Sin Hong, Mendengar ini, Cu Kun Tek yang tadi bersama Pouw Li Sian dibebaskan oleh Sin Hong, mengangguk dan dia pun menggunakan pedangnya untuk membantu para pendekar lain, mengamuk di antara para tokoh sesat. Adapun Sin Hong kini berhadapan dengan Ciu Hok Kwi. Keduanya saling pandang dan sinar mata Sin Hong mengeluarkan sinar berkilat. Dia memang marah sekali, bukan hanya karena orang ini yang telah membunuh ayah kandungnya, melainkan terutama sekali karena dia telah membunuh pula Kwee Ci Hwa. Dia tahu bahwa orang ini hanyalah kaki tangan Tiat-liong-pang, akan tetapi orang seperti Ciu Hok Kwi ini jahat dan berbahaya sekali karena pandai bersandiwara sehingga mendiang ayahnya sendiri kena dikelabuhi, bahkan dia sendiri pun kena ditipu dan telah menaruh kepercayaan kepada bekas "pembantu" ayah kandungnya ini.

"Ciu Hok Kwi, sekarang engkau hendak berkata apa lagi? Kiranya semua pembunuhan itu engkau yang melakukannya, terhadap ayah kandungku, terhadap orang she Lay, dan juga Kwee Ci Hwa."

Mendengar ini, Ciu Hok Kwi yang sudah tahu bahwa dia pun tidak akan dapat melarikan diri dan terpaksa harus melawan sampai mati, tersenyum mengejek dan berkata, "Engkau baru tahu? Bodoh! Memang aku yang telah mengatur semua itu, demi perjuangan Tiat-liongpang, membunuh ayahmu, anak buahnya, orang she Lay yang berkhianat, akulah yang.... ha-ha-ha, mempermainkan Kwee Ci Hwa sepuas hatiku lalu membunuhnya! Habis, engkau mau apa?"

Keterangan tambahan dari Ciu Hok Kwi bahwa dia telah mempermainkan Ci Hwa, menambah api yang berkobar di kepala Sin Hong. Kiranya sebelum membunuhnya, orang ini telah mempermainkan Ci Hwa! Kini baru dia mengerti. Ci Hwa telah mengorbankan diri, dalam usahanya menyelamatkan Gu Hong Beng, Cu Kun Tek dan Pouw Li Sian. Gadis itu telah berhasil merayu Ciu Hok Kwi ini, menyerahkan diri, agaknya demikian melihat pengakuan Ciu Hok Kwi tadi, dan berhasil mencuri kunci dan membebaskan tiga orang tawanan itu sebelum ia kembali ke kamar dan berusaha membunuh Ciu Hok Kwi akan tetapi malah terluka parah dan biarpun akhirnya dapat dibebaskan, tetap saja tewas karena luka-luka itu.

"Jahanam, engkau memang jahat sekali!" kata Sin Hong dan dia pun menerjang ke depan dengan kedua tangan digerakkan seperti leher dan moncong burung bangau. Dalam kemarahannya, begitu menyerang dia telah mengeluarkan ilmu simpanannya, yaitu ilmu silat tangan kosong Pek-ho Sin-kun! Dari kedua tangannya itu menyambar angin pukulan dahsyat bukan main. Melihat ini, Ciu Hok Kwi cepat mengelebatkan pedangnya membacok ke arah lengan yang meluncur ke depan itu dan Sin Hong sama sekali tidak menarik tangannya, bahkan sengaja menerima bacokan pedang itu dengan lengannya.

"Takkk!" bukan lengan itu yang putus, melainkan pedang itu yang terpental bahkan terlepas dari pegangan tangan Ciu Hok Kwi saking kerasnya pertemuan antara pedang dan lengan yang mengandung tenaga sin-kang yang amat hebat itu! Dapat dibayangkan betapa hebatnya tenaga sin-kang dari pemuda berpakaian putih ini kalau diingat betapa mendiang kakek Kao Kok Cu, nenek Wan Ceng, dan kakek Tiong Khi Hwesio, telah mengoperkan tenaga mereka kepadanya dan dia telah memiliki tenaga gabungan dari tiga orang sakti yang kesemuanya terkandung di dalam gerakan silat sakti Bangau Putih!

Ciu Hok Kwi terkejut bukan main, akan tetapi sebelum dia sempat mengelak, sebuah tendangan dari kaki Sin Hong mengenai pahanya. Tubuhnya terpelanting sampai empat lima meter jauhnya dan kebetulan sekali jatuh di dekat kaki Gu Hong Beng. Melihat orang yang dibencinya ini terbanting keras dan merangkak hendak bangun Hong Beng mengelebatkan pedangnya dan leher Ciu Hok Kwi yang sedang merangkak seperti anjing itu terbabat pedang! Leher itu putus seketika dan kepalanya terpental, menggelinding sampai jauh.

Kini banyak di antara para pendekar yang melihat betapa para tokoh sesat yang terlihai sudah roboh, berdiri menonton perkelahian yang berlangsung dengan amat hebatnya dan amat menarik, yaitu perkelahian antara Suma Ceng Liong dan Siangkoan Lohan! Memang hebat sekali perkelahian antara dua orang gagah perkasa ini! Siangkoan Lohan atau yang bernama Siangkoan Tek, ketua Tiat-long-pang memang seorang yang amat gagah perkasa. Tubuhnya tinggi kurus namun mukanya merah dengan jenggot panjang ke dada dan matanya mencorong seperti mata naga. Dia memiliki tenaga raksasa, bukan saja tenaga luar dengan otot-ototnya, melainkan juga memiliki sin-kang yang amat kuat. Banyak ilmu silat aneh dan lihai dikuasainya, bahkan dia menguasai pula ilmu gulat dari utara. Tendangan mautnya Ban-kin-twi (Tendangan Selaksa Kati) amat berbahaya, dan dia juga memiliki ilmu silat Tiat-wi Liong-kun (Silat Naga Ekor Besi) dengan mempergunakan tenaga dalam Liong-jiauw-kang (Tangan Cakar Naga) yang dahsyat. Semua ini masih ditambah lagi dengan Kim-hun-cwe (Pipa Tembakau Emas) sebagai senjata, maka lengkaplan Siangkoan Lohan sebagai seorang lawan yang tangguh. Dia pun memiliki pengalaman berkelahi yang sudah puluhun tahun.

Namun, lawannya bukan pula orang sembarangan. Sungguh sial sekali bagi ketua Tiat-liong-pang itu bahwa sekali ini dia mendapatkan lawan seorang pendekar besar, yaitu Suma Ceng Liong! Pendekar ini adalah seorang cucu Pendekar Super Sakti dari Pulau Es, cucu yang paling pandai di antara semua cucu pendekar sakti itu. Sejak kecilnya, Suma Ceng Liong berbakat sekali dan selain ilmu-ilmu yang tinggi dari keluarga Pulau Es, juga dia menguasai dengan amat baiknya beberapa macam ilmu aneh, di antaranya Coan-kut-ci (Jari Penembus Tulang) semacam ilmu totokan yang amat dahsyat dari mendiang Hek I Mo-ong, seorang datuk sesat yang pernah menjadi gurunya. Juga dia mahir ilmu sihir yang dipelajarinya dari ibunya. Karena dia telah memiliki ilmu-ilmu yang demikian tingginya, juga karena seluruh tubuhnya telah dilindungi tenaga sin-kang yang membuatnya kebal, Suma Ceng Liong melawan Siangkoan Lohan hanya dengan kedua tangan kosong saja!

Perkelahian antara kedua orang ini, merupakan pertandingan yang paling hebat dan menarik. Semua pendekar yang tidak merasa perlu lagi membantu kawan-kawan yang sedang membabat sisa orang-orang sesat, kini menonton dan tidak seorang pun di antara mereka berani membantu Suma Ceng Liong. Sebagai seorang pendekar besar, tentu Suma Ceng Liong akan merasa tersinggung kalau perkelahiannya melawan ketua Tiat-liong-pang ini dibantu orang lain. Sin Hong sendiri yang sudah merasa gatal tangan untuk menghajar dan menundukkan ketua Tiat-liong-pang yang menjadi biang keladi semua kerusuhan ini, bahkan yang menjadi biang keladi kenancuran keluarga ayahnya, juga hanya menonton saja seperti yang lain. Apalagi dia, bahkan Kam Hong dan Bu Ci Sian sendiri, sepasang suami isteri sakti yang menjadi mertua dari Suma Ceng Liong, juga hanya menonton, demikian pula isterinya, Kam Bi Eng.

Ketika melihat betapa tempat itu dikelilingi para pendekar yang menonton, diam-diam hal ini menecilkan hati Siangkoan Lohan. Kalau para pendekar sudah duduk enak-enakan menonton, hal itu hanya berarti bahwa semua pembantunya telah gagal dan telah roboh. Dia tadi sudah merasa marah dan penasaran, juga menyesal dan kecewa melihat betapa Ouwyang Sianseng melarikan diri, demikian pula Sin-kiam Mo-li dan puteranya sendiri. Diam-diam dia memaki mereka sebagai pengecut-pengecut yang curang, yang ingin mendapatkan enaknya saja, dan tidak bertanggung jawab kalau ada malapetaka menimpa, tidak setia kawan. Perasan ini, ditambah perasaan gentar menghadapi para pendekar yang sudah mengurung tempat itu, setidaknya mempengaruhi permainan kaki tangan ketua Tiat-liong-pang ini.

"Haiiiiittttt....!"     Siangkoan  Lohan yang sudah hampir putus asa melihat betapa semua pembantu utamanya telah roboh, kini mengirim hantaman dengan hun-cwe mautnya. Dia menggunakan seluruh tenaganya karena dia ingin mengakhiri perkelahian itu secepatnya, kalah atau menang, maka dia hendak mengadu tenaganya. Hun-cwe menyambar menjadi sinar keemasan ke arah kepala Suma Ceng Liong.

Suma Ceng Liong juga percaya akan kekuatan sendiri, akan tetapi dia belum nekat seperti lawannya. Kalau dia mengadu tenaga secara langsung, belum tentu dia kalah kuat, akan tetapi karena dia pun tahu bahwa lawannya bertenaga besar, maka kalah menang akan membawa akibat yang merugikan dirinya, setidaknya dia akan terguncang hebat. Dia tidak sebodoh itu, dan dia pun menangkis sambaran hun-cwe itu bukan secara langsung dari depan, melainkan dari samping sehingga mereka tidak mengadu tenaga dengan langsung. Pada saat itu, tangan kiri ketua Tiat-liong-pang itu memukul dengan telapak tangan terbuka. Melihat ini terpaksa Suma Ceng Liong menyambut dengan telapak tangan kanannya sambil mendorong.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar