14 Suling Naga

Tidak ada lain jalan, ke sanalah mereka pergi. Ke Istana Gurun Pasir, tempat tinggal suami isteri sakti itu, di luar Tembok Besar, jauh di utara. Mereka harus menyelidiki dulu tentang Ban-tok-kiam dan mungkin dari sana mereka akan mendengar siapa adanya kakek yang tiba-tiba saja memusuhi keluarga mereka itu. Setelah penguburan selesai, dengan pakaian berkabung suami isteri inipun segera meninggalkan rumah, berangkat menuju ke utara.

***

Pegunungan Tai-hang-san terkenal sebagai pegunungan yang indah, memanjang dari selatan ke utara. Di pegunungan itu terdapat banyak puncak-puncaknya yang selain amat indah pemandangan alamnya, juga amat sukar didaki orang karena untuk mencapai puncak, orang harus menuruni jurang dan memanjat tebing-tebing yang amat curam. Bahkan para pemburu pun jarang berani mendekati puncak-puncak yang berbahaya itu, melainkan mencari binatang buruan di sekitar lereng pegunungan di mana terdapat banyak hutan-hutan yang luas. Pegunungan ini terletak di tepi daerah pegunungan yang memenuhi sebagian besar daratan Cina, di tepi timur sehingga dari puncak-puncaknya, nampaklah bagian timur yang datar dan rendah, penuh dengan sungai-sungai besar yang mengalir dari barat dan utara yang penuh dengan pegunungan itu. Akan tetapi kalau dari puncak Tai-hang-san orang memandang ke utara, selatan dan terutama barat, maka yang nampak hanya pegunungan belaka, dan daerah-daerah tandus yang tinggi.

Karena di bagian timurnya datar dan tidak terhalang gunung, amat indahlah pemandangan matahari terbit di puncak Tai-hang-san. Matahari terbit pagi sekali karena tidak terhalang apa-apa, nampak kalau pagi matahari seperti muncul dari tanah yang merupakan garis jauh sepanjang mata memandang, dan nampak bola merah itu menyembul perlahan-lahan, besar dan merah darah, makin lama makin tinggi sampai mata tidak kuat memandang lagi karena semakin tinggi bola merah itu naik, semakin kuat cahayanya. Warna merahpun berganti keemasan, lalu kalau sudah berubah seperti warna perak, matahari itu sudah naik tinggi.

Namun, ketika bola itu masih berwarna merah darah, pemandangan alam di atas puncak sukar dilukiskan dengan kata-kata. Pokoknya, indah yang mengandung sesuatu yang dapat mendatangkan perasaan damai penuh ketenangan di dalam hati, mendatangkan perasaan takjub dan hening, menggugah kesadaran betapa diri kita ini kecil dan sama sekali tidak ada artinya kalau dibandingkan dengan kebesaran alam. Menyadarkan batin bahwa kita ini merupakan sebagian kecil saja dari alam, ikut berputar dalam arus kekuasaan alam yang sudah mengatur segala-galanya secara sempurna. Betapa kita ini merupakan mahluk yang hanya dapat hidup karena adanya semua yang nampak dan tidak nampak di alam ini. Cahaya matahari, udara, bumi, air, pohon-pohonan. Semua sudah teratur, sedemikian sempurna, saling kait-mengait, saling mematikan, saling menghidupkan, tak boleh kurang satu pun juga, sesuai dengan hukum alam. Sayang bahwa kesadaran ini hanya kadang-kadang saja memasuki batin kita, dan sebagian besar dari waktu kita terisi oleh pikiran yang menciptakan sang aku, sehingga bayangan aku inilah yang paling besar, paling penting, dan harus dipalingdahulukan! Padahal, tanpa pergi ke puncak gunung seperti puncak Tai-hang-san sekalipun, dengan meneliti tubuh kita sendiri, kita akan menemukan keajaiban-keajaiban itu, akan menemukan kekuasaan alam yang bekerja dengan sempurna pada diri kita, karena keadaan diri kita tiada ubahnya dengan keadaan alam! Lihatlah, rambut kita yang tak dapat kita hitung banyaknya itu, bulu-bulu di tubuh kita, satu demi satu hidup sendiri-sendiri tanpa kita kuasai, ada yang panjang ada yang pendek ada yang rontok ada yang tumbuh lagi. Garis-garis kulit kita, lekuk dan lengkung tubuh kita, badan kita seluruhnya, isi kepala dan perut, otak kita, semua tumbuh sendiri-sendiri tanpa dapat diatur oleh sang aku! Jantung kita berdenyut setiap saat, baik kita sedang sadar maupun tidak, seolah-olah hidup tersendiri. Lalu apa sesungguhnya kemampuan sang aku yang begitu kita agung-agungkan? Bukankah sang aku itu hanya ciptaan pikiran kita saja yang selalu mengejar hal-hal yang menyenangkan yang pernah kita alami dan menghindari hal-hal yang tidak menyenangkan? Di mana ada pengejaran kesenangan maka aku menjadi-jadi pentingnya. Segala macam nafsu mengaku menjadi sang aku. Dan begitu ada pengejaran kepentingan diri untuk kesenangan, mulailah di antara kita saling bertumbukan, saling memperebutkan kesenangan yang kita beri nama kebenaran dan sebagainya yang muluk-muluk. Bahkan perangpun terjadi di antara bangsa karena cetusan keinginan untuk mengejar kesenangan masing-masing itulah, mengejar kepentingan diri pribadi.

Hampir setiap pagi, di atas satu di antara puncak-puncak pegunungan itu, seorang pria selalu menyambut munculnya matahari sambil meniup sulingnya. Keadaan di sekitarnya, pemandangan alam yang nampak oleh matanya, bunyi-bunyian antara binatang-binatang malam yang mulai mengendur diganti suara kokok ayam dan kicau burung yang memasuki telinganya, keharuman tanah yang dibasahi air embun, rumput dan daun-daun pohon yang memasuki hidungnya, perasaan hati yang tenang dan hening, semua itu seolah-olah memberi ilham kepadanya untuk mengalunkan suara sulingnya tanpa memainkan suatu lagu tertentu! Semua yang didengarnya, dilihatnya dan diciumnya itu seolah-olah hendak dia masukkan ke dalam tiupan sulingnya, atau lebih tepat lagi, dia ingin mengiringi semua itu dengan alunan suara yang serasi, dan dia meniup dengan sepenuh perasaan, hanyut ke dalam suara buatan sulingnya sendiri.

Pria itu berusia tigapuluh tiga tahun, bertubuh sedang dan wajahnya bersih tampan, namun sepasang matanya yang tajam itu seperti diselimuti kesayuan, seperti mata orang yang pernah dilanda duka. Pakaiannya sederhana sekali, namun bersih. Dia duduk di atas sebuah batu hitam, menghadap ke timur dan suara sulingnya akhirnya berhenti setelah matahari naik semakin tinggi dan cahayanya mulai menyilaukan mata. Begitu suara sulingnya berhenti, ramailah terdengar suara burung-burung berkicau dan pergantian suara ini bukan membikin suasana menjadi buruk, bahkan kini suasana menjadi gembira sekali, seolah-olah burung-burung itu bergembira menyambut hari yang cerah. Suara suling tadi mendatangkan kesyahduan dan agaknya banyak burung ikut mendengarkan dan baru sekarang mereka semua berkicau dan ada yang mulai terbang meninggalkan pohon untuk pergi mencari makan.

Melihat sulingnya yang mengeluarkan cahaya ketika tertimpa sinar matahari yang mulai naik tinggi tentu akan membuat orang terkejut karena suling itu terbuat dari pada kayu menghitam yang diukir indah seperti bentuk naga akan tetapi tajam dan runcing seperti pedang. Dan memang benda itu adalah Liong-siauw-kiam (Pedang Suling Naga) dan pemegangnya adalah Pendekar Suling Naga Sim Houw!

Seperti telah diceritakan di bagian depan, Sim Houw pernah pergi jauh ke daerah Himalaya untuk mengunjungi keluarga Cu Kang Bu yang masih merupakan keluarga mendiang ibunya. Ibunya, mendiang Cu Pek In, adalah keponakan dari pendekar Cu Kang Bu. Ketika berkunjung itulah dia berhasil mengalahkan mendiang Pek-bin Lo-sian dan menerima hadiah Liong-siauw-kiam itu. Karena pedang ini amat cocok untuk dipakai sebagai suling dan pedang, maka diapun menyerahkan kembali suling emas yang diterima dari ibunya dahulu, juga mengembalikan Koai-liong Po-kiam yang memang asalnya dari lembah keluarga Cu.

Semenjak itu, diapun merantau selama tujuh tahun, dan pedangnya yang sudah mengalahkan entah berapa banyak tokoh-tokoh kaum sesat, membuat nama Pendekar Suling Naga semakin terkenal. Akan tetapi, semakin dia terkenal, Sim Houw menjadi semakin rendah hati. Dia yang sejak muda sudah biasa hidup di alam bebas, menyatukan diri dengan kebesaran alam, dapat melihat bahwa dirinya itu sesungguhnya bukan apa-apa, hanya kebetulan menjadi pewaris ilmu silat yang tinggi dan pusaka yang ampuh begitu saja. Seperti juga semua manusia lain, tentu dia memiliki kelebihan dan kekurangannya. Dia kelihatan terkenal dan dikagumi orang, akan tetapi hidupnya selalu sebatangkara dan sampai hari itu, dia masih juga hidup menyendiri. Dia sudah tidak memiliki keluarga kecuali keluarga Cu yang tinggal jauh di Himalaya itu, dan kalau sampai berusia tigapuluh tiga tahun dia belum juga menikah, hal itu sama sekali bukan karena dia pantang menikah, melainkan karena dia belum pernah bertemu dengan seorang wanita yang cocok untuk menjadi jodohnya, seorang yang saling mencinta dengan dia! Dia tidak mau patah hati untuk kedua kalinya. Kegagalan cinta dan pertalian perjodohannya dengan Kam Bi Eng yang kini menjadi isteri pendekar Suma Ceng Liong, membuat Sim Houw berhati-hati sekali dan tidak mau sembarangan jatuh hati kepada wanita sebelum dia yakin benar bahwa cintanya tidak akan bertepuk tangan sebelah. Dan sampai sekarang, dia masih merasa belum bertemu dengan jodohnya. Kalau ada wanita yang menarik hatinya, ternyata wanita itu tidak cinta kepadanya, dan sebaliknya kalau ada gadis yang tertarik kepadanya, dia sendiri tidak mencinta gadis itu. Dia tidak mencari gadis yang cantik jelita, atau yang kepandaian silatnya setingkat dia. Dia tidak mempunyai syarat apapun, kecuali saling mencinta. Dan bagi cinta, agaknya wajah dan kepandaian itu tidak dapat dipakai sebagai dasar atau ukuran. Cinta adalah urusan hati, sedangkan kepandaian dan kecantikan adalah urusan badan. Walaupun ada kaitannya, namun keindahan lahiriah itu tidak menjadi syarat yang menentukan bagi cinta.

Kadang-kadang timbul pula rasa kesepian di lubuk hati pria yang masih muda ini, dan rasa kesepian ini menakutkan sekali. Sebagai seorang pendekar sakti, belum pernah dia takut menghadapi lawan yang bagaimana tangguhpun, akan tetapi menghadapi kesepian ini kadang-kadang membuatnya merasa ngeri! Haruskah hidupnya selalu begini, seorang diri saja? Akan tetapi ada kalanya kesepian itu menjadi keheningan yang menyejukkan hati, yaitu di waktu pikirannya tenang dan tidak mengada-ada.

"Bagus sekali, mengapa berhenti?" Tiba-tiba terdengar suara halus. Sejak tadi, pendekar ini tahu bahwa ada orang datang dari arah belakang dan orang itu berhenti sampai lama. Biarpun dia tadi masih meniup sulingnya, akan tetapi andaikata orang di belakangnya itu menyerangnya secara tiba-tiba, dia tentu akan dapat melindungi dirinya. Karena sudah tahu bahwa di belakangnya ada orang, semestinya dia tidak kaget ketika mendengar teguran itu. Akan tetapi, kenyataannya Sim Houw terkejut dan terheran, cepat dia menoleh karena tak disangkanya bahwa orang yang datang adalah seorang wanita dan teguran tadipun sama sekali tidak menunjukkan nada permusuhan. Dan kekagetannya bertambah ketika dia menoleh dan melihat bahwa yang menegurnya adalah seorang dara yang masih muda, paling banyak delapanbelas tahun usianya dan dara itu manis sekali. Kini gadis itu berdiri, baru saja keluar dari balik batang pohon di mana ia tadi mengintai, dan tersenyum. Memang luar biasa manisnya gadis ini kalau tersenyum. Wajahnya memang selalu cerah, sikapnya selalu gembira dan jenaka, akan tetapi kalau ia tersenyum, mulut yang kecil itu dihias sepasang lesung pipit di kanan kiri sehingga Sim Houw terpesona dan sejenak timbul pikiran tahyul bahwa yang muncul ini bukan manusia melainkan seorang dewi!

Akhirnya dapat juga dia menenteramkan jantungnya yang berdebar tidak karuan itu dan diapun bertanya, seolah-olah tidak percaya akan pendengarannya tadi, "Apa yang kaukatakan tadi?"

"Aku berkata bahwa tiupan sulingmu itu bagus dan merdu bukan main, akan tetapi kenapa berhenti?"

Sim Houw tersenyum dan bangkit berdiri, menghadapi gadis itu. "Tiupanku hanya asal bunyi saja, bagaimana bisa bagus? Dan aku berhenti meniup karena memang sudah habis." Sukar dia menguraikan mengapa dia meniup suling, digerakkan oleh suasana dan suasana pula yang menghentikan tiupan sulingnya.

"Eh, lagu apakah tadi? Indah sekali!" kembali gadis itu bertanya sambil mendekat.

"Lagu asal bunyi saja. Adik ini siapakah dan datang dari mana hendak ke mana? Sungguh aneh melihat seorang dara muda seperti engkau ini dapat datang ke puncak ini. Bagaimana kau bisa datang ke sini dan bersama siapa, ada keperluan apa?"

"Wah-wah-wah, pertanyaanmu datang bertubi seperti hujan deras saja. Kenapa kau bertanya-tanya? Apakah puncak ini milikmu?"

Ditanya demikian, Sim Houw membelalakkan matanya. Suasana menjadi demikian gembira setelah gadis ini bicara. Mungkin karena wajahnya yang cerah itu, atau senyumnya yang manis, atau juga karena kata-katanya yang jenaka.

"Puncak ini? Puncak ini memang milikku, juga milikmu, dan milik siapa saja yang mau mengakuinya."

"Wah, jawabanmu aneh dan ngaco! Mana bisa semua orang boleh memilikinya asal mau mengakuinya?"

"Siapa pula yang mau memiliki gunung? Aku bertanya karena merasa heran bagaimana engkau bisa datang ke sini."

"Aku datang seorang diri tanpa kawan, dan apa anehnya?

"Akan tetapi tidak mudah naik ke puncak ini, apa lagi bagi seorang...."

"Bagiku mudah saja!"

Mengertilah Sim Houw bahwa yang datang ini adalah seorang gadis yang memiliki ilmu kepandaian silat cukup tinggi maka dapat dengan mudah mendaki puncak ini. "Kalau boleh aku bertanya, apakah keperluanmu datang ke sini?"

"Mencari orang! Dan sekarang, untuk pertanyaanmu yang bertubi-tubi itu, aku mau membalas dengan satu pertanyaan saja. Setelah kaujawab, aku segera pergi dari sini tidak akan menganggumu lagi."

Sim Houw tersenyum lagi. Sikap dan cara bicara anak ini sungguh lucu dan lincah jenaka. "Tanyalah, adik yang baik, bukan hanya sebuah pertanyaan, biar selosinpun akan kujawab."

"Tak usah banyak-banyak, satu saja karena aku datang bukan untuk mengajak orang mengobrol. Begini paman yang baik. Aku mendengar bahwa orang yang sedang kucari itu berada di sekitar Pegunungan Tai-hang-san ini, dan ketika aku bertanya-tanya kepada para penghuni dusun di bawah sana, mereka memberi tahu bahwa untuk mencari orang itu aku harus bertanya kepada seorang penyuling yang mungkin berada di puncak ini. Nah, akupun datang di sini dan karena engkau pandai bermain suling, agaknya engkaulah penyuling itu. Tentu saja kecuali kalau ada penyuling lain lagi."

Hati Sim Houw mulai merasa tidak enak, akan tetapi dengan sikap tenang dia menyimpan Liong-siauw-kiam di sarungnya yang terselip di pinggang di balik bajunya jang panjang, dan dia bertanya. "Nona, siapakah yang kaucari itu?"

Dara itu bukan lain adalah Can Bi Lan. Setelah ia mendengar dari Kun Tek bahwa kalau ia hendak mencari Pendekar Suling Naga, ia harus pergi ke Tai-hang-san karena pendekar itu suka berkeliaran di daerah itu, maka iapun langsung saja pergi ke Tai-hang-san. Di sekitar kaki dan lereng pegunungan itu, ditanyainya penghuni dusun barang kali ada yang mengenal orang yang bernama Sim Houw berjuluk Pendekar Suling Naga.

"Yang kucari adalah Pendekar Suling Naga yang bernama Sim Houw." Sepasang mata yang jernih tajam itu memandang penuh selidik. "Tahukah engkau, paman?"

Sim Houw mengangguk dan menekan hatinya yang agak menegang. Heran dia mengapa dicari oleh dara muda ini hatinya merasa tegang, padahal andaikata yang mencarinya itu beberapa orang yang kelihatan jahat dan mengambil sikap bermusuh sekalipun, belum tentu dia akan kehilangan ketenangan.

"Nona," dia tidak menyebut lagi adik setelah mendengar betapa gadis itu menyebutnya "paman" dan memang, melihat keadaan gadis itu yang masih muda, sudah sepatutnyalah kalau dia disebut paman. "Kalau engkau hendak mencarinya, yang bernama Sim Houw adalah aku sendiri. Tidak tahu ada keperluan apakah?"

Bi Lan melongo dan kini sepasang matanya memandang pria itu dari kepala ke kaki dengan penuh selidik. "Luar biasa! Engkau pendekar yang namanya terkenal sekali itu? Ah, siapa kira...."

"Ternyata hanya begini saja, ya?" Sim Houw tersenyum pahit, tidak menyesal hanya merasa lucu. Beginilah jadinya kalau orang menjadi terkenal. Lebih enak menjadi orang yang tidak dikenal, sehingga tidak ada yang kecewa atau heran melihat keadaannya.

"Ah, bukan begitu. Tapi hemm, bentuk badan dan wajah memang agak cocok dengan keterangan suci. Tubuhmu sedang dan wajahmu cukup tampan. Akan tetapi tidak setua ini! Kata suci, engkau seorang pemuda yang hebat, tampan dan lihai. Tapi biarpun engkau tampan, engkau tidak muda lagi dan pakaianmu begini sederhana, sama sekali bukan seperti pendekar."

"Kalau pendekar itu harus seperti bagaimana?" Sim Houw yang ketularan kejenakaan gadis itu, bertanya sambil berkelakar.

"Seperti.... seperti....apa ya? Aku sendiripun tidak tahu." Ia teringat akan Gu Hong Beng dari Cu Kun Tek. Keduanya adalah pendekar-pendekar muda, akan tetapi merekapun seperti orang biasa. Hampir lupa ia bahwa pendekarpun orang, maka tentu tidak ada bedanya dengan orang lain.

"Nona, siapakah sucimu itu? Dan apa keperluanmu mencari aku?"

"Beberapa tahun yang lalu suci pernah kalah olehmu.... ah, pantas, sudah lewat beberapa tahun, tentu saja engkau menjadi lebih tua. Mungkin karena terlalu sederhana kau jadi kelihatan lebih tua. Berapa sih usiamu sekarang?"

Melihat betapa percakapan itu menjadi tidak karuan, malah bertanya umur segala, Sim Houw tak dapat menahan ketawanya. Dia tertawa dan kini nampak bahwa dia sesungguhnya belum tua karena begitu dia tertawa wajahnya nampak masih muda.

"Eh, kenapa kau malah tertawa? Apakah engkau mentertawakan aku?" Pandang mata Bi Lan penuh kemarahan dan alisnya berkerut. Tiba-tiba saja Sim Houw menghentikan suara ketawanya. Dia seperti melihat bahwa kalau dia tertawa terus, tentu gadis itu akan langsung menyerangnya. Sekarangpun sudah menyerangnya dengan pandang mata yang lebih runcing dari pada mata pedang!

"Aku tidak mentertawakanmu, nona, melainkan ketawa karena kata-katamu yang lucu. Kalau mau tahu usiaku, aku berusia tigapuluh tiga tahun sekarang. Nah, memang sudah tua, bukan?"

"Engkau tidak tua tidak muda, engkau.... yah, cukupan. Belum tua tapi sudah masak, begitulah andaikata engkau ini buah."

"Siapa bilang belum tua? Sudah seratus tahun kurang...."

"Eh? Jadi kau tadi membohong ketika mengaku berumur tigapuluh tiga...."

"Seratus tahun kurang enampuluh tujuh kan berarti seratus tahun kurang." Sim Houw yang biasanya pendiam itu mendadak saja pandai berkelakar.

"Huh, kalau begitu akupun seratus tahun kurang! Kaukira aku ini anak kecil, mudah saja dibohongi?"

"Kau bukan anak kecil, akan tetapi dibandingkan dengan aku, engkau ini yah, katakanlah remaja yang sudah matang. Usiamu paling banyak enambelas tahun." Sengaja Sim Houw mengurangi taksirannya untuk menggoda. Dia sama sekali tidak tahu bahwa wanita paling suka kalau dikatakan masih muda, dan ucapannya tadi bukan merayu, melainkan hanya untuk menggoda.

Akan tetapi Bi Lan girang sekali. "Masih kelihatan begitu muda? Padahal, aku sudah hampir delapanbelas tahun! Eh, paman.... bagaimana ya baiknya kupanggil paman atau kakak?"

"Terserah kepada yang panggil, itu adalah urusan orang yang akan memanggil, boleh kausebut paman, kakak, kakek, asal jangan menyebut bibi saja."

"Aha, kaupandai berkelakar, ya? Lucu ya? Tidak lucu, ah!"

Kembali Sim Houw tertawa. Bukan main gembira hatinya. Selama hidupnya baru satu kali ini dia benar-benar merasa gembira bercakap-cakap dengan seseorang. Gadis remaja yang satu ini memang bukan main. Lucunya tidak dibuat-buat, memang sikapnya, kata-katanya dan pandang matanya, mulutnya, semua serba lucu dan menarik.

"Eh, ketawa lagi! Aku jadi ragu-ragu apakah benar engkau yang dipanggil Pendekar Suling Naga! Masa ada pendekar kok begini sederhana dan suka berkelakar? Tidak berwibawa seujung rambutpun. Pantasnya kau ini...." Gadis itu memandang seperti orang menimbang-nimbang, menggeleng sana-sini seperti seorang gadis remaja menaksir sepotong baju baru yang akan dipilihnya.

"Pantasnya jadi apa?" tanya Sim Houw yang sudah siap untuk tertawa lagi karena baru sikap gadis itu sudah begitu menyenangkan dan menggelikan. Dia tak mungkin bisa marah dikatakan apa saja oleh gadis seperti ini!

"Hemm.... jadi petani dusun, terlalu tampan dan kulitmu terlalu halus. Jadi seorang kutu buku! Yah, seorang kutu buku, yang kerjanya setiap hari hanya baca buku, melamun, baca buku sambil menangis sendiri, tertawa sendiri...."

"Wah, seperti orang gila? Menangis sendiri tertawa sendiri?"

"Bukan gila. Aku melihat semua kutu buku begitulah. Kalau cerita yang dibacanya menyedihkan dan mengharukan, dia menangis sendiri, kalau ada yang lucu, ketawa-ketawa sendiri, memang seperti orang gila, tapi bukan. Eh, benarkah kau ini bernama Sim Houw dan yang dijuluki Pendekar Suling Naga?"

"Namaku memang Sim Houw dan tentang julukan itu adalah orang-orang lain yang menyebutnya, aku sendiri tidak pernah merasa menjadi pendekar."

"Tapi kata suciku, Pendekar Suling Naga mempunyai sebuah pusaka, yaitu Liong-siauw-kiam!"

Sim Houw dapat menduga bahwa kedatangan gadis ini tentu ada hubungannya dengan pedang itu, maka diapun mencabut Liong-siauw-kiam dari sarungnya. "Inilah Liong-siauw-kiam, suling yang kutiup tadi."

Sepasang mata yang indah itu terbelalak. Ia melihat sebatang kayu semacam tongkat berbentuh naga, berlubang-lubang seperti suling, dan tajam juga runcing seperti pedang, akan tetapi benda itu hanya dari kayu, buruk kehitaman pula. "Itu? Yang kautiup tadi? Itukah yang disebut Liong-siauw-kiam dan diperebutkan oleh begitu banyuk orang? Aihhh, apakah mereka semua itu sudah gila?"

Sim Houw menyarungkan lagi pedangnya, "Gila? Mereka siapa yang gila?"

"Tentu saja yang memperebutkannya dengan taruhan nyawa. Bukankah itu pedang yang tadinya berada di tangan kakek Pek-bin Lo-sian dan diperebutkan? Engkau juga termasuk yang mungkin gila, memperebutkan pedang kayu seperti itu dengan taruhan nyawa. Dijual tidak akan laku sepuluh tael perak! Engkau, suciku yang berjuluk Bi-kwi, juga Sam Kwi guru-guruku, mereka itu juga sudah gila. Akupun termasuk yang sudah gila karena aku mau saja mewakili suciku untuk merampas pedang macam itu darimu. Kalau bukan karena mewakili suci, huh, diberi juga aku sendiri tidak sudi! Apa lagi harus merampas segala macam!"

Sim, Honw terkejut, alisnya berkerut dan rasa kecewa yang amat besar menyelinap di dalam hatinya. Gadis ini murid Sam Kwi? Dan datang diutus oleh Bi-kwi, wanita iblis jahat itu untuk merampas pedang pusaka ini? Sungguh sukar untuk dipercaya. Dan pandangannyapun berubah! Dia kini menganggap bahwa semua kelucuan gadis ini tadi dibuat-buat saja, sengaja untuk menjatuhkan hatinya, untuk merayunya! Dan memang gadis ini telah berhasil menarik hatinya, membuat dia merasa suka sekali kepada gadis ini. Akan tetapi begitu dia mendengar bahwa gadis ini murid Sam-Kwi, segera dia usir semua rasa suka itu, walaupun dengan hati penuh penyesalan dan kekecewaan.

Tidaklah aneh sikap Sim Houw ini. Bukankah kita semua juga mendasari rasa suka dan tidak suka melalui penilaian dan semua penilaian ini dipengaruhi perhitungan untung atau rugi? Baik untung rugi batin maupun untung rugi lahir. Kalau menguntungkan kita, maka kita menilai orang itu sebagai orang baik, sebaliknya kalau merugikan kita, kita menilai orang itu sebagai orang tidak baik. Kita suka atau tidak suka kepada seseorang berdasarkan penilaian itu! Tidak mengherankan apa bila seseorang itu bisa hari ini baik dan besok tidak baik, hari ini disuka, besok dibenci, karena perbuatan-perbuatannya tentu saja bisa merugikan atau menguntungkan, hari ini menguntungkan, besok merugikan dan sebaliknya dan selanjutnya. Kalau saja kita dapat menghadapi apa dan siapa saja TANPA PENILAIAN INI, tentu kita akan terbebas dari pada rasa suka atau tidak suka kepada sesuatu atau seseorang. Dengan kebebasan seperti ini, barulah sinar cinta kasih dapat menyinari batin.

"Hemm, jadi engkau ini murid Sam Kwi? Dan ke sini mencari aku untuk mewakili sucimu, mencoba untuk merampas Liong-siauw-kiam?" tanya Sim Houw, terheran-heran mengapa Sam Kwi dan Bi-kwi mengutus seorang gadis yang tingkatnya masih seperti kanak-kanak ini.

Bi Lan mengangguk. "Akan tetapi menurut suci, ia pernah kalah olehmu dan menurut ceritanya, engkau lihai bukan main. Agaknya akupun bukan tandinganmu dan aku akan gagal mengalahkan engkau untuk merampas pusaka itu."

"Kalau begitu, kenapa engkau datang juga, seorang diri tanpa pembantu pula? Apa yang memaksamu untuk nekat mencariku kalau engkau sudah merasa bahwa engkau takkan berhasil merampas Liong-siauw-kiam dari tanganku?" tanya pula Sim Houw, suaranya tidak lagi ramah karena dia menganggap gadis ini nekat atau jahat atau menggunakan siasat pula dengan modal kecantikan, kemanisan dan kepandaiannya bicara.

"Yang memaksaku adalah janji dan sumpahku kepada suci. Aku telah bersumpah kepada suci untuk merampaskan pusaka itu dari tanganmu, maka aku memaksa diri untuk datang juga mencarimu. Kalau aku gagal dan tewas di tanganmu, bagaimanapun juga aku sudah memenuhi janji dan sumpahku. Sebaliknya kalau aku tidak berani melakukannya, biarpun aku tetap hidup, aku akan menjadi orang yang mengingkari sumpahnya sendiri, dan berarti hidup tanpa isi. Bagiku, lebih baik mati melaksanakan sesuatu yang gagah dari pada hidup sebagai orang tanpa guna."

Kembali Sim Houw tertegun. Kata-kata itu semua keluar dari hati anak itu sendiri ataukah memang sudah dihafalkan sebelumnya, merupakan siasat untuk menjatuhkan hatinya? Saking terpengaruh benar oleh ucapan Bi Lan, dia bengong terlongong saja.

"Heiiii! Kau mendengar atau tidak? Aku mau merampas Liong-siauw-kiam! Berikan kepadaku atau terpaksa aku menggunakan kekerasan merampasnya darimu!"

Ditegur demikian, barulah Sim Houw sadar. Bagaimanapun juga, anak perempuan ini murid Sam Kwi, agaknya tidak mungkin baik walaupun memiliki daya tarik yang luar biasa dari pribadinya. Dan karena kedatangannya untuk merampas Liong-siauw-kiam, maka harus dihadapi dengan kekerasan, walaupun sifatnya untuk memberi hajaran saja.

"Mau merampas Pedang Suling Naga? Boleh, silahkan kalau kau mampu," katanya tenang.

Bi Lan sendiri memang masih belum percaya kalau orang yang di depannya ini memiliki ilmu kepandaian yang demikian dipuji-puji sucinya, maka iapun tidak main-main lagi dan ingin mengujinya sendiri. Mula-mula ia menggerak-gerakkan kedua lengannya dan Sim Houw merasa ngeri juga mendengar, biarpun perlahan, bunyi berkerotokan pada kedua lengan itu. Seorang gadis begini muda dan cantik menarik memiliki ilmu kepandaian yang hanya pantas dimiliki orang sesat!

"Orang she Sim, awas sambut seranganku ini!" bentak Bi Lan dan ia telah menyerang dengan Ilmu Silat Hek-wan Sip-pat-ciang (Ilmu Silat Delapan Jurus Lutung Hitam) yang hebat. Ilmu ini adalah ilmu andalan Hek-kwi-ong (Raja Iblis Hitam) dan memang hebat sekali gerakannya. Mula-mula Bi Lan menggunakan jurus Hek-wan Pai-san (Lutung Hitam Mendorong Gunung), dua lengannya itu didorongkan ke arah dada lawan sambil mengerahkan tenaga sin-kang. Hebatnya dari ilmu ini, ketika Sim Houw menarik mundur tubuhnya untuk mengelak, kedua lengan gadis itu masih terus mulur dan kedua tangannya dengan jari-jari terbuka masih menuju ke dada lawan! Kiranya lengan gadis muda itu dapat memanjang seperti karet. Dan inipun kehebatan dari ilmu yang didapatnya dari ciptaan Hek-kwi-ong. Biarpun kedua lengan Bi Lan tidak dapat memanjang seperti kalau Hek-kwi-ong sendiri yang melakukannya, namun sempat membuat Sim Houw terkejut.

"Ehhh....!" Serunya ketika, di luar perhitungannya, kedua tangan yang sudah dielakkan itu masih mampu mengejar terus. Terpaksa dia menggunakan kelincahan kakinya untuk melangkah ke kiri dan menarik kembali tubuhnya. Akan tetapi, Bi Lan sudah menyusulkan jurus Hek-wan-hoan-hwa (Lutung Hitam Mercari Bunga) dan kedua tangannya sudah membalik dan kalau tangan kanan mencengkeram ke arah kepala lawan, tangan kiri menghantam ke lambung kanan. Gerakannya cepat dan kedua kakinya berloncatan lincah seperti gerakan seekor lutung. Ilmu silat ini berbeda dengan Ilmu Silat Kauwkun (Silat Monyet) yang mengandalkan kecepatan, melainkan lebih mengandalkan tenaga sin-kang dan juga keanehan kedua lengan yang dapat memanjang.

Namun kini Sim Houw telah mengetahui keistimewaan kedua lengan yang dapat mulur itu maka menghadapi serangan-serangan Ilmu Silat Hek-wan Sip-pat-ciang itu, diapun mengandalkan kelincahan tubuhnya dan kalau mengelak, ditambahnya jarak mengelak itu sehingga lebih jauh dari biasa. Dengan demikian, lima kali serangan dari lima jurus yang dipilihnya dari delapan belas jurus Hek-wan Sip-pat-ciang itu gagal mengenai tubuh Pendekar Suling Naga dan Bi Lan cepat sudah mengganti ilmu silatnya. Kini, tanpa banyak cakap lagi ia sudah menyerang dengan lebih dahsyat karena kini kedua kakinya yang melakukan penyerangan. Bukan serangan biasa, melainkan tendangan-tendangan yang susul-menyusul dan kedua kakinya itu datang dari segenap penjuru menendang, menyepak, mendorong dari samping dari depan dan langsung ke belakang. Kedua kakinya dengan hidup dan cepatnya melakukan serangan bertubi-tubi. Itulah Ilmu Tendangan Pat-hong-twi (Tendangan Delapan Penjuru Angin), keahlian dari Im-kan-kwi ( Iblis Akhirat), orang ke dua dari Sam Kwi.

Kembali Sim Houw kagum, akan tetapi merasa sayang. Tendangan-tendangan itu memang dahsyat, akan tetapi kadang-kadang nampak amat kasar tanpa mengindahkan segi keluwesannya, tanpa memperhitungkan segi keindahan seni tarinya yang terdapat dalam semua gerakan ilmu silat. Kadang-kadang nampak lucu seperti seekor monyet menari-nari. Akan tetapi dia tidak berani memandang rendah karena dia sudah maklum bahwa biarpun masih muda, ternyata gadis ini memang telah memiliki tingkat ilmu silat yang cukup tinggi. Dia sudah tidak begitu ingat lagi keadaan Bi-kwi beberapa tahun yang lalu ketika menyerangnya, akan tetapi agaknya gadis ini tidak kalah lihai dari sucinya itu.

Ketika Sim Houw menggunakan lengannya menangkis sambil mengerahkan sin-kangnya, tubuh Bi Lan terhuyung-huyung dan berputaran. Ia terkejut sekali. Ilmu tendangannya itu, begitu tertangkis, membuat tubuhnya terputar kehilangan keseimbangan. Maka dengan gemas ia mengubah lagi ilmu serangannya, sekali ini mengeluarkan Ilmu Hun-kin-tok-ciang! Dari telapak tangannya keluar lagi bunyi berkerotokan dan nampak ada uap agak kehitaman ketika kedua tangan itu bergerak. Gerakan kaku, seolah-olah kedua lengan gadis itu tidak dapat ditekuk, akan tetapi hebatnya luar biasa karena itulah ilmu silat dari Iblis Mayat Hidup, orang ke tiga dari Sam Kwi. Hun-kin-tok-ciang (Tangan Beracun Putuskan Otot) memang mengandung hawa beracun, dan jari-jari tangan yang nampak kaku itu menotok sana-sini seperti sumpit-sumpit baja yang mampu membikin putus otot tubuh lawan kalau mengenai sasaran.

"Ihhh....!" Sim Houw mencela ilmu yang dianggapnya keji ini dan diapun kini menyambut, bukan hanya mengelak terus, melainkan menangkis dan membalas dengan tamparan-tamparan dan tendangan-tendangan untuk merobohkan lawan tanpa melukai hebat. Akan tetapi, ternyata Bi Lan cukup lincah dan dapat pula menghindarkan diri dari serangan-serangan balasan itu. Dan beberapa jurus kemudian, melihat betapa Ilmu Hun-kin-tok-ciang juga tidak sanggup membuat ia mendesak lawan, ia mempergunakan ilmu simpanannya, yaitu Sam Kwi Cap-sha-kun! Inilah Ilmu Tigabelas Jurus yang diciptakan bersama oleh Sam Kwi setelah mereka bertapa selama satu tahun, ilmu yang sengaja mereka ciptakan untuk menghadapi Pendekar Suling Naga yang menurut penuturan murid mereka amat lihai itu.

Dan kini Sim Houw benar-benar terkejut. Hebat sekali memang ilmu itu. Ketika Bi Lan mulai menyerangnya, dari kedua tangan gadis itu keluar suara bercuitan dan ilmu ini memang mempergunakan tenaga Kiam-ciang (Tangan Pedang), hanya gerakan-gerakan silatnya saja yang mereka susun secara teliti. Dan memang ampuh bukan main. Gerakan-gerakannya aneh, kedua tangan itu tiada ubahnya sepasang pedang yang menyerang dengan kekuatan yang luar biasa. Sim Houw hampir saja celaka ketika tangan kiri Bi Lan menyambar ke arah lambung. Untung dia masih sempat miringkan tubuhnya dan bajunya terkait robek oleh tangan yang berubah seperti pedang tajamnya itu!

"Aih, engkau sungguh nekat!" bentaknya marah.

"Serahkan Liong-siauw-kiam atau aku akan menyerangmu terus sampai mati!" bentak Bi Lan.

"Srattt....!" pedang kayu berbentuk naga itu dicabut karena Sim Houw merasa kewalahan menghadapi Sam Kwi Cap-sha-ciang. "Inilah pusaka itu, bukan untuk diserahkan kepada siapapun juga, melainkan untuk melawan siapa saja yang berniat buruk."

Bi Lan melanjutkan serangannya dengan menggunakan Cap-sha-ciang itu, hatinya agak girang karena ternyata ilmu ciptaan tiga orang gurunya ini memang ampuh sehingga lawannya terdesak dan terpaksa mengeluarkan pedang itu. Kalau pedang kayu begitu saja, mana ia takut? Pedang baja saja ia tidak gentar, dapat menggunakan kekebalan Ilmu Kulit Baja yang sudah dipelajarinya dari Im-kan-kwi Apa lagi sebatang pedang kayu! Huh, mainan kanak-kanak pikirnya.

"Wir-wirrr....!" Nampak sinar berkelebatan, sinar hijau kehitaman dan mula-mula terdengar desir angin, akan tetapi kemudian terdengar suara melengking-lengking dan gadis itu menjadi terkejut bukan main. Jurus-jurus Cap-sha-ciang yang hebat itu seketika seperti kacau gerakannya dan iapun merasa tenaganya lemas karena jantungnya tergetar oleh suara suling itu! Baru ia tahu bahwa pusaka itu memang benar-benar hebat dan ampuh, ketika dimainkan oleh pendekar itu seolah-olah ada bayangan seekor naga yang mengamuk sambil melengking-lengking! Dari pedang itu keluar tenaga yang hebat karena ketika ia dengan nekat mengadu tangannya yang terisi hawa Kiam-ciang (Tangan Pedang) dengan sinar itu, selain merasa tangannya menjadi nyeri, juga tubuhnya terdorong dan hampir saja ia roboh. Dengan marah dan penasaran, gadis itu menyerang lagi dengan tangan kirinya, menebaskan tangan itu ke arah leher lawan.

"Takkk!" Tangan itu tertangkis pedang suling dan menempel pada senjata itu. Ada tenaga sedot yang luar biasa kuatnya dari suling itu yang membuat tangannya melekat dan betapapun ia hendak menarik tangannya, ia tak berhasil.

"Wuuuuttt....!" Kini tangan kanannya yang menyambar. Tubuh lawan menyelinap ke arah belakang melalui kanannya.

Bi Lan mengejar dengan hantaman tangan yang mengandung hawa Kiam-ciang ke belakang, akan tetapi tangan kiri lawan menangkap pergelangan tangan kanannya dan tiba-tiba saja tubuhnya ditelikung dengan kedua lengannya ditarik ke belakang oleh lawan yang sudah berada di belakangnya! Dengan keadaan seperti itu, tentu saja Bi Lan tidak berdaya. Akan tetapi ia adalah murid Sam Kwi yang pernah menerima gemblengan Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir bersama isterinya, maka ia masih belum kehabisan akal biarpun kedua lengannya sudah ditelikung ke belakang. Tiba-tiba ia mengeluarkan suara bentakan nyaring dan kakinya sudah menyepak ke belakang, lebih kuat dari sepakan seekor kuda! Dan tentu saja kaki itu menuju ke arah selangkangan lawan, tempat yang paling lemah dan berbahaya kalau diserang bagi kaum pria!

Kalau sepakan itu hanya sepakan biasa, tentu Sim Houw masih mampu menangkis dengan lututnya atau mengelak dengan miringkan tubuhnya. Akan tetapi sepakan itu adalah sepakan dari Ilmu Tendangan Pat-hong-twi yang hebat. Memang, kalau Sim Houw mau mendahului, dia bisa merobohkan Bi Lan lebih dahulu sehingga sepakannya kandas di tengah jalan, akan tetapi dia tidak ingin mencelakakan gadis ini, hanya ingin mengalahkannya tanpa melukainya untuk memberi hajaran. Melihat sepakan yang berbahaya ini, tidak ada lain jalan baginya kecuali melepaskan kedua lengan itu dan melompat jauh ke belakang.

Bi Lan cepat membalikkan tubuh. Dengan muka merah saking marahnya, ia mulai memasang kuda-kuda yang aneh. Tubuhnya merendah seperti hendak tiarap dan itulah pembukaan dari Ilmu Sin-liong Ciang-hoat (Ilmu Silat Naga Sakti) yang pernah dia pelajarinya dari Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir!

Mula-mula Sim Houw melihat dengan merasa lucu dan karena kasihan dia menyimpan pedang pusakanya kembali, ingin menghadapi dan mengalahkan gadis itu dengan tangan kosong saja, kecuali kalau dia terdesak lagi. Tiba-tiba dengan suara bentakan panjang dan nyaring, tubuh gadis itu bergerak, bagaikan seekor naga saja, langsung tubuh yang tadinya hampir tiarap itu menerjang ke depan, seperti terbang saja menyerang lawan! Bukan main terkejut rasa hati Sim Houw karena dia seperti pernah mendengar tentang ilmu ini, bahkan pernah melihat dimainkan orang. Dia cepat mengelak dan memutar lengan untuk menangkis, namun demikian hebatnya serangan itu sehingga tubuhnya sendiri terpelanting ke kiri! Hampir saja dia terbanting roboh kalau dia tidak cepat-cepat membuang dirinya dan membuat gerakan jungkir balik! Dia dapat berdiri kembali dan memandang dengan mata terbelalak!

"Rasakan kau sekarang!" seru Bi Lan dengan girang dan kembali ia menerjang maju, kini gerakannya semakin aneh dan dari kedua telapak tangannya keluar angin berdesir. Itulah Ban-tok Ciang-hoat yang pernah dipelajarinya dari nenek Wan Ceng, isteri pendekar Kao Kok Cu yang berlengan satu, Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir itu! Kembali Sim Houw terkejut dan cepat-cepat dia melompat lagi ke belakang karena sekarang dia teringat akan gerakan ilmu-ilmu aneh tadi.

"Heiii, berhenti dulu. Kau hebat! Apakah engkau atau Sam Kwi telah mencuri ilmu dari Istana Gurun Pasir?"

Bi Lan bertolak pinggang, matanya hampir bulat karena dibelalakkan marah, kedua pipinya merah sekali karena selain marah ia juga telah bekerja keras tadi sehingga denyut darahnya berjalan cepat, keringatnya membasahi dahi dan leher.

"Kau sendiri pencuri perampok bajak copet maling!" Ia memaki-maki marah. "Selama hidup aku tak pernah mencuri! Jangan menuduh yang bukan-bukan kau!"

Sim Houw tidak dapat marah dimaki-maki karena cara memaki itu nampak lucu. Dalam keadaan marah sekalipun gadis ini masih nampak lucu dan mulai Sim Houw menduga bahwa memang pembawaan, pribadi gadis ini yang lincah jenaka dan lucu, sama sekaii bukan suatu permainan sandiwara. Andaikata semua tadi hanya rayuan atau sandiwara, tentu setelah berkelahi, sikap pura-pura itu akan hilang. Akan tetapi gadis ini tetap saja lucu!

"Apa anehnya kalau menuduh mencuri kepada Sam Kwi? Bukankah mereka terkenal sebagai datuk-datuk kaum sesat, raja-raja iblis di antara para penjahat?"

"Sam Kwi boleh melakukan apa saja, akan tetapi aku bukan Sam Kwi dan Sam Kwi bukan aku! Aku memang pernah menjadi murid mereka, akan tetapi aku menjadi murid untuk belajar silat, bukan belajar mencuri!"

"Kalau begitu, dari mana engkau bisa memainkan ilmu silat dari keluarga Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir?"

"Huh! Itu masih belum, sobat!" kata Bi Lan mengejek. "Kalau saja Ban-tok-kiam masih berada di tanganku, pasti akan kubikin buntung pedang pusakamu dari kayu itu!"

"Ban-tok-kiam! Itu milik dari isteri pendekar majikan Istana Gurun Pasir!" teriak Sim Houw semakin heran. "Bagaimana pula bisa menjadi milikmu?"

Kembali Bi Lan tersenyum mengejek, bibirnya yang merah basah dan mungil itu berjebi.

"Kau ingin mendengar penjelasanku mengenai keluarga Istana Gurun Pasir dan aku?"

"Tentu saja.... tentu saja, apa hubunganmu dengan mereka?"

"Kau boleh minta maaf dulu, baru aku mau menceritakan!"

"Minta maaf?" Sim Houw memandang heran. Ada-ada saja permintaan gadis ini yang aneh-aneh dan di luar dugaan. "Untuk apa?"

"Karena kau tadi menuduh aku menecuri."

Hampir Sim Houw tertawa bergelak, akan tetapi dia menahan rasa gelinya dan diapun tersenyum. "Baiklah, aku minta maaf atas tuduhanku tadi. Akan tetapi, usap dulu keringatmu, lihat, dahi dan lehermu basah semua!" Dia merasa risi dan kasihan melihat betapa peluh mengalir membasahi leher baju dan yang dari dahi juga mulai menetes ke bawah membasahi pipi.

Bi Lan tercengang. Baginya, lawannya ini juga aneh sekali dan iapun lalu menyeka keringatnya dengan saputangan biru yang dikeluarkannya dari saku bajunya. "Dengarlah, Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir atau majikan Istana Gurun Pasir yang bernama Kao Kok Cu, dengan isterinya yang bernama nenek Wan Ceng, adalah guru-guruku!"

"Wah, mana mungkin....!"

"Mungkin saja! Buktinya begitu kok tidak mungkin. Buktinya mereka telah mengajarkan ilmu silat kepadaku selama satu tahun, bahkan subo Wan Ceng meminjamkan Ban-tok-kiam kepadaku, akan tetapi pedang itu dirampas oleh orang lain."

Sukar untuk tidak percaya kepada omongan seorang gadis seperti ini, akan tetapi agaknya tidak masuk di akal pula kalau murid Sam Kwi bisa menerima pelajaran silat dari pendekar sakti itu dan isterinya.

"Nona, ketahuilah bahwa aku menganggap keluarga Kao dari Istana Gurun Pasir itu sebagai para locianpwe yang kuhormati dan kukagumi di samping keluarga dari Pulau Es. Mereka adalah keluarga sakti yang gagah perkasa. Kalau engkau menjadi murid suami isteri pendekar Kao itu, maka tentu saja aku tidak berani mengangkat tangan melawanmu dan bagiku engkau bukan seorang musuh. Marilah kita duduk dan ceritakan kepadaku bagaimana di satu pihak engkau dapat menjadi murid Kao locianpwe, hal yang memang patut kulihat pada dirimu, akan tetapi di lain pihak engkaupun menjadi murid Sam Kwi dan bahkan menjadi utusan Bi-kwi untuk merampas Liong-siauw-kiam."

Sim Houw sudah mengambil tempat duduk lagi di atas batu yang tadi dipakainya bersila ketika dia meniup suling dan mempersilahkan Bi Lan untuk duduk pula di atas batu-batu di depannya.

Akan tetapi Bi Lan menolak. "Nanti dulu! Enak saja engkau mengajak aku mengobrol begitu saja. Aku datang untuk merampas pedang pusaka Suling Naga, bukan untuk kongkouw (ngobrol-ngobrol) denganmu!"

"Kita bukan hanya bicara tentang dirimu, akan tetapi juga tentang pedang pusaka ini. Percayalah, aku tentu akan membantumu agar engkau tidak sampai hidup sebagai orang yang tidak memenuhi janji dan sumpah sendiri."

"Benar? Tidak bohong?"

Sim Houw menggeleng kepalanya. "Aku tidak pernah berbohong."

"Kalau perlu kau akan memberikan pusaka itu kepadaku?"

"Kalau perlu, boleh saja." Sim Houw tersenyum. "Sumpah dulu kau tidak bohong, baru aku mau duduk mengobrol!"

Sim Houw tersenyum lebar. Kini dia mengerti. Gadis ini pada dasarnya adalah seorang gadis yang berjiwa pendekar, yang baik budi, jauh dari watak kejam dan jahat dan mungkin karena melihat sifat-sifat baik inilah maka seorang sakti seperti majikan Istana Gurun Pasir mau mengajarkan ilmu-ilmu kepadanya. Akan tetapi karena menjadi murid Sam Kwi hidup dalam lingkungan para datuk sesat, tentu saja iapun ketularan watak-watak yang aneh dan mau enaknya sendiri saja. Watak-watak yang buruk dari Sam Kwi dan watak-watak pendekar dari suami isteri Istana Gurun Pasir itu agaknya bercampur dan menciptakan watak yang lucu dan aneh pada diri gadis ini.

"Baiklah, kalau perlu aku akan memberikan pusaka Suling Naga kepadamu dan aku akan membantumu, aku bersumpah bahwa aku tidak berbohong."

Bi Lan tertawa dan Sim Houw merasa luar biasa sekali, seolah-olah sinar matahari di pagi hari itu tiba-tiba saja menjadi semakin cerah, suara burung-burung di dalam pohon menjadi semakin merdu dan bau-bau rumput dan daun pohon dan bunga di sekitar tempat itu menjadi semakin harum! Demikianlah keadaan hati yang tidak dibebani rasa duka! Kalau segala macam rasa duka, kecewa, sesal dan sengsara hati lenyap dari batin kita, maka panca indera kita akan bekerja lebih peka lagi dan kita akan lebih dapat menikmati segala keindahan di dalam kehidupan ini!

Bi Lan yang tersenyum cerah karena hatinya merasa lega itu kini duduk di atas batu hitam, dekat dengan Sim Houw sehingga pria itu mampu menangkap bau badan gadis yang berkeringat itu. Bau yang aneh dan terasa sampai ke jantungnya, yang menggerakkan semua kejantanan dalam dirinya, yang tiba-tiba menimbulkan gairah, mendorong perasaan ingin sekali semakin dekat dengan gadis itu dan kalau mungkin, selamanya tidak akan terpisah darinya dan akan selalu dapat mencium bau yang khas itu!

"Nah, sebelum aku mulai bercerita, sebagai tuan rumah yang baik, engkau harus lebih dulu menceritakan kepadaku, apakah benar namamu Sim Houw dan bagaimana engkau bisa memperoleh pedang pusaka itu dan sebagainya lagi mengenai dirimu."

Kembali Sim Houw tersenyum. Dia sudah lupa lagi bahwa selama bertahun-tahun ini dia hampir tak pernah atau jarang sekali tersenyum dan di pagi hari sekali, seolah-olah sinar matahari dan di pagi hari ini, semenjak bertemu dengan gadis itu, entah sudah berapa kali dia tersenyum, bahkan tertawa. Senyum yang langsung keluar dari perasaan hatinya, bukan sekedar senyum pengantar sopan santun seperti yang nampak pada senyum kebanyakan orang.

"Namaku Sim Houw dan tentang pedang ini...."

"Nanti dulu! Namamu Sim Houw dan usiamu tadi kaukatakan tigapuluh tahun? Siapa isterimu?"

Tiba-tiba saja muka pendekar itu menjadi merah sekali, kemudian agak pucat dan dia menundukkan mukanya, memejamkan sebentar kedua matanya lalu setelah dia mengangkat mukanya memandang gadis itu wajahnya sudah pulih kembali dan senyumnya sudah membayang lagi di bibirnya, "Aku tidak punya isteri...."

"Ahh....! Sudah.... sudah matikah ia? Atau.... bercerai?"

Sim Houw menggeleng kepalanya perlahan-lahan. "Aku belum pernah beristeri."

"Aneh, seusia engkau ini belum beristeri? Tapi.... suciku pun usianya sudah sebaya denganmu dan belum bersuami pula. Cuma.... ia mempunyai banyak sekali pacar! Berganti-ganti, apakah.... apakah engkaupun begitu?"

"Begitu bagaimana maksudmu?" tanya Sim Houw hampir membentak.

"Seperti suciku itu? Berganti-ganti pacar?"

Kalau bukan gadis itu yang berkata demikian, ingin rasanya Sim Houw menampar mulut itu. "Tidak! Dan jangan engkau samakan semua orang seenakmu saja. Bukankah engkau sendiri, yang menjadi sumoinya, tidak sama dengan sucimu itu, berganti-ganti pacar?"

"Aku sih tidak sudi! Aku benci laki-laki mata keranjang!"

"Nah, dengarkan saja, kalau begini terus ceritaku tidak akan ada habisnya! Aku bernama Sim Houw, belum punya isteri, dan kedua ayah ibuku sudah meninggal dunia. Guruku bernama Kam Hong yang berjuluk Pendekar Suling Emas dan tinggal di Istana Khong-sim Kai-pang, di puncak Bukit Nelayan, tak sangat jauh dari sini. Cukup bukan tentang diriku?"

Bi Lan yang tadi dibentak, kini mengangguk-angguk. "Sudah cukup jelas, terutama bahwa selain belum pernah beristeri, engkau tidak pernah berganti-ganti pacar...." Ia tersenyum memandang kepada Sim Houw yang juga tersenyum senang. "Dan bagaimana tentang Liong-siauw-kiam itu?"

"Seorang kakek pertapa di Himalaya yang bernama Pek-bin Lo-sian, aku yakin engkau tentu mengenal nama itu karena dia masih terhitung susiok (paman guru) dari Sam Kwi, telah merasa tua dan ingin mewariskan pedang pusaka Suling Naga kepada seseorang yang dianggapnya pantas untuk memilikinya. Dia tidak suka kepada tiga orang keponakannya, yaitu Sam Kwi dan dia mulai mencari orang yang akan mampu mengalahkan dirinya, karena dia hanya akan memberikan pusaka ini kepada orang yang dapat mengalahkannya. Entah berapa banyak sudah orang yang roboh di tangannya, luka atau mati, ketika dia mencari calon pemilik baru dari Liong-siauw-kiam ini. Akhirnya dia bertemu denganku dan kebetulan aku dapat mengalahkannya maka dia menyerahkan senjata pusaka ini kepadaku."

Bi Lan mengangguk-angguk. "Jadi engkau tidak merampasnya atau mencurinya dari kakek itu? Aku percaya ceritamu. Dan tidak aneh kalau engkau menang, karena ilmu kepandaianmu memang hebat. Aku sendiripun bukan lawanmu. Kalau kau mau membunuhku dengan senjata itu tentu mudah saja. Heiii....! Mengapa....?" Tiba-tiba gadis itu meloncat dari tempat duduknya dan gerakannya yang tiba-tiba itu mengejutkan Sim Houw sehingga pemuda inipun terloncat bangun.

"Mengapa....apa....?" tanyanya binguug karena gadis itu kembali sudah memandang kepadanya dengan mata melotot marah.

"Mengapa engkau tidak membunuhku atau setidaknya merobohkan aku? Padahal jelas bahwa kedatanganku ini untuk merampas Liong-siauw-kiam? Ehh, engkau.... engkau.... bukan sebangsa jai-hwa-cat, ya?"

Kembali Sim Houw menjadi gemas dan ingin menampar mulut itu kalau saja yang bicara orang lain. "Kenapa kau bertanya begitu?" balasnya, tentu saja mendongkol karena jai-hoa-cat (penjahat pemerkosa wanita) adalah kejahatan yang paling dibencinya.

"Karena sudah banyak sekali kulihat orang-orang yang ilmunya tinggi, bersikap baik kepada wanita hanya untuk maksud-maksud tertentu yang rendah dan hina. Tapi.... tapi.... ahh, engkau tentu bukan orang macam mereka itu. Aku percaya padamu, maafkan pertanyaanku tadi, ya?"

Ucapan yang disertai senyum ini sekaligus menghapus bersih kedongkolan hati Sim Houw. "Sekarang ceritakan tentang dirimu dan tentang hubunganmu dengan keluarga Kao dari Istana Gurun Pasir."

"Sam Kwi bukan saja guru-guruku, melainkan juga penolongku dan penyelamat nyawaku. Ketika aku berusia sepuluh tahun, aku dan ayah ibuku meninggalkan kampung halaman kami di selatan untuk lari mengungsi karena adanya perang pemberontakan dan serbuan dari orang-orang Birma. Di tengah perjalanan, kami dihadang pasukan orang Birma. Ayah ibuku tewas dan aku hampir celaka. Kalau tidak ada Sam Kwi yang tiba-tiba muncul, tentu aku mengalami nasib seperti ibuku, diperkosa oleh mereka sampai mati." Gadis itu memejamkan kedua matanya untuk mengusir pemandangan tentang ibu dan ayahnya itu yang membayang dalam ingatannya. Diam-diam Sim Houw merasa terharu sekali dan juga kasihan. Pantas gadis ini memiliki watak aneh. Begitu kecil sudah mengalami musibah yang demikian hebat.

"Nah, sejak itulah aku menjadi murid Sam Kwi setelah mereka bertiga membunuh semua anggauta pasukan Birma itu. Aku berhutang budi dan mereka baik sekali kepadaku. Akan tetapi suciku Bi-kwi, tidak baik kepadaku. Ia yang mewakili Sam Kwi melatihku, akan tetapi latihan-latihan itu diselewengkan sehingga aku keracunan dan hampir tewas kalau tidak pada suatu hari, di dalam hutan, aku bertemu dengan suhu dan subo dari Istana Gurun Pasir itu. Merekalah yang mengobatiku sampai sembuh dan mengajarkan ilmu-ilmu silat sampai setahun lamanya."

Sim Houw mengangguk-angguk. Kini dia mengerti dan semakin kagum. Sejak berusia sepuluh tahun gadis ini menjadi murid Sam Kwi, akan tetapi tidak tumbuh dewasa menjadi seperti Bi-kwi, hal itu sungguh mengagumkan, tanda bahwa memang gadis ini memiliki dasar watak yang baik dan kuat.

"Lalu bagaimana engkau sampai bisa hutang budi kepada Bi-kwi, padahal ia yang hampir mencelakaimu dengan mengajarkan ilmu-ilmu yang sengaja disesatkan itu?"

"Bi-kwi bertempur denganmu dan kalah, lalu Sam Kwi bertapa selama satu tahun untuk menciptakan ilmu silat baru yang hebat untuk kami paksa menghadapimu...."

"Ah, ilmu silat yang hebat tadi? Bukan main, memang Sam Kwi lihai...."

"Itulah Ilmu Sam Kwi cap-sha-ciang. Setelah mereka berhasil menciptakan ilmu baru itu, mereka mengajarkannya kepada aku dan Bi-kwi, lalu kami berdua menerima tugas untuk mencarimu dan merampas Liong-siauw-kiam. Sam Kwi mengadakan pesta makan minum untuk mengucapkan selamat jalan kepada kami dan dalam kesempatan itu, aku dibikin mabok, ditawan oleh Sam Kwi untuk diperkosa...."

"Ahhh....! Betapa kejinya!" Sim Houw hampir meloncat saking marah dan kagetnya.

"Hal seperti itu biasa saja bagi mereka. Bi-kwi juga sudah mereka perlakukan demikian sehingga selalu menjadi murid juga menjadi kekasih mereka. Aku tidak sudi melayani mereka. Mereka bermaksud menundukkan aku seperti Bi-kwi, akan tetapi aku tidak mau. Mereka mengancam akan memperkosa, dan ketika itulah Bi-kwi turun tangan, membebaskan aku dan kami melarikan diri. Akan tetapi aku lalu harus membuat janji dan sumpah bahwa aku akan membantunya mendapatkan kembali Liongsiauw-kiam."

Sim Houw mengangguk-angguk dan tertarik sekali. Diam-diam dia semakin kagum kepada Bi Lan. Gadis ini sudah pernah hampir tewas oleh Bi-kwi, akan tetapi sekali ditolong, ia bersumpah membalas budi itu dan sekali bersumpah ia akan melaksanakan walau bertaruh nyawa. Sukar mencari seorang gadis berhati baja seperti ini, juga yang bernasib malang sekali terjatuh ke dalam lingkungan kaum sesat. "Kemudian bagaimana?"

Dengan singkat Bi Lan lalu menceritakan perjalanannya dengan Bi-kwi sampai ia hampir pula menjadi korban dan hampir diperkosa oleh Bhok Gun, cucu murid Pek-bin Lo-sian.

"Karena dua kali mengalami peristiwa seperti itu, hampir diperkosa oleh Sam Kwi yang mula-mula baik kepadaku, kemudian oleh Bhok Gun yang bekerja sama dengan suci, maka tadi aku teringat dan terkejut karena jangan-jangan engkau juga seorang seperti mereka itu!"

"Hemmm, tidak semua orang jahat, nona. Akan tetapi, engkau belum menceritakan sesuatu yang paling penting padaku."

"Apa itu?"

"Namamu!"

Bi Lan tertawa dan ketawanya juga bebas, tanpa menutupi mulut karena kadang-kadang ia lupa akan sedikit pelajaran tentang sopan santun yang pernah ia terima dari nenek Wan Ceng. Ia memang merupakan seekor kuda betina yang tadinya liar atau setangkai bunga mawar hutan yang tak pernah terawat dengan baik, walaupun hal itu tidak mengurangi keindahan dan keharumannya.

"Aku lupa dan engkau tidak menanyakan sih! Namaku Can Bi Lan, mendiang ayah bernama Can Kiong, seorang petani biasa dari Yunan."

"Dan sekarang, adik Bi Lan, boleh aku menyebut adik kepadamu, bukan?"

"Tentu saja, dan aku akan menyebut twa-ko (kakak besar) kepadamu. Tidak pantas menyebut paman karena usiamu hanya sebaya dengan Bhok Gun yang masih terhitung suheng dariku. Sim-twako, nah, itulah sebutanku untukmu. Kau tadi hendak bicara apa?"

"Begini Lan-moi (adik Lan), bagaimana engkau bisa tahu bahwa aku berada di Pegunungan Tai-hang-san dan bisa menemukan aku di sini?"

"Aku bertemu dengan seorang pemuda bernama Cu Kun Tek. Dialah yang memberi tahu kepadaku bahwa mungkin aku dapat menemukanmu di Pegunungan Tai-hang-san."

"Cu Kun Tek?" Sim Houw berseru girang. "Wah, dia itu masih terhitung pamanku!"

"Apa? Bagaimana ini? Dia masih muda, sebaya denganku, mana bisa menjadi pamanmu?"

"Ayahnya yang bernama Cu Kang Bu adalah paman mendiang ibuku. Bukankah dengan demikian Cu Kun Tek itu pamanku? Tentu dia sudah dewasa sekarang. Aku tidak bertemu dengan dia sejak aku mengunjungi lembah keluarga Cu dan di sanalah aku bertemu dengan kakek Pek-bin Lo-sian. Jadi engkau bertemu dengan Kun Tek? Bagaimana dapat berkenalan dengan dia?"

"Dia penolongku, ketika aku memasuki perangkap Bhok Gun. Tiba-tiba ketika aku dalam keadaan luka dikeroyok oleh Bhok Gun dan kawan-kawannya, muncul Kun Tek yang mengamuk sehingga kami berdua berhasil lolos dari kepungan. Kami berkenalan dan dialah yang memberi tahu aku bahwa engkau mungkin berada di sini."

Tentu saja hati Sim Houw merasa girang dan bangga sekali. Kun Tek yang dulu baru berusia duabelas tahun itu kini telah menjadi seorang pendekar yang boleh dibanggakan! Pantas menjadi keturunan keluarga Cu yang gagah perkasa dan pantas pula menjadi pemilik Koai-liong Po-kiam! Dia merasa gembira bahwa dia telah mengembalikan pedang pusaka itu kepada keluarga Cu. Dengan demikian, terhapuslah sudah semua rasa tidak enak yang pernah ada antara keluarga Cu dan keluarga Kam, yaitu Pendekar Suling Emas yang menjadi gurunya.

Tiba-tiba Bi Lan bangkit berdiri. "Sudah terlalu banyak kita ngobrol dan terlalu lama aku di sini. Sekarang, seperti janji dan sumpahmu tadi, serahkan Liong-siauw-kiam kepadaku untuk kuberikan kepada suci." Ia menengadahkan tangan kanannya yang diulur untuk menerima pemberian pedang.

"Nanti dulu, Lan-moi. Aku tidak akan menarik kembali janjiku. Akan tetapi engkau tahu betapa berbahayanya kalau pusaka seperti ini menjadi milik seorang jahat seperti Bi-kwi atau Sam Kwi. Tentu seperti harimau buas yang tumbuh sayap."

"Jadi kau tidak mau memberikan?" Bi Lan mengerutkan alisnya, mulai marah.

"Nanti dulu, jangan tergesa mengambil kesimpulan. Aku akan menyerahkannya kepadamu, akan tetapi akupun akan ikut menyaksikan ketika engkau menyerahkannya kepada sucimu, dan pada saat itu, setelah engkau menyerahkan pedang berarti engkau.... engkau?"

Bi Lan berpikir sejenak lalu mengangguk-angguk. "Aku mengerti. Memang akupun tidak suka kalau pedang pusaka itu terjatuh ke tangan suci. Ia amat jahat dan tentu ia akan menjadi semakin jahat kalau mempunyai pusaka yang dapat diandalkan. Baik, mari kita serahkan pusaka itu kepada suci dan kau boleh merampasnya kembali dari tangannya, terserah."

"Di mana dia sekarang?"

"Menurut rencana mereka, yaitu suci dan Bhok Gun, mereka akan pergi ke kota raja untuk bekerja membantu guru Bhok Gun yang sudah berada di kota raja pula."

"Di kota raja?"

"Ya, di istana kaisar. Guru Bhok Gun itu sudah mengabdi kepada seorang pembesar bernama Hou Seng, dan mereka akan menggabung ke sana mencari kedudukan. Kebetulan sekali akupun harus pergi ke kota raja untuk mencari orang yang telah merampas Ban-tok-kiam dari tanganku."

"Ah, kau tadi pernah bercerita tentang Ban-tok-kiam. Siapa yang merampasnya?"

Menurut keterangan seorang hwesio bernama Tiong Khi Hwesio, perampas yang amat lihai itu berjuluk Sai-cu Lama dan pendeta Lama itu tentu berada di kota raja, karena kabarnya pendeta Lama itu pun bersekongkol dengan persekutuan di kota raja. Aku harus merampasnya kembali, betapapun lihai Lama itu, karena Ban-tok-kiam hanya dipinjamkan saja kepadaku oleh subo di Istana Gurun Pasir."

"Aih, begitu banyak masalah yang kauhadapi, Lan-moi. Biarlah aku akan membantumu kelak mendapatkan kembali Ban-tok-kiam. Pedang pusaka itu harus kembali kepada pemiliknya, majikan Istana Gurun Pasir."

"Terima kasih, toako. Kau baik sekali!" kata Bi Lan dengan hati girang. Hari itu juga mereka turun dari puncak itu setelah Sim Houw mengajak Bi Lan makan lebih dulu di tempat tinggalnya, sebuah gubuk darurat di puncak itu. Dia masih menyimpan bahan makanan dan Bi Lan dengan girang lalu memasak dan mereka berdua makan dulu sebelum meninggalkan puncak. Sedikit ucapan dari Bi Lan pada waktu mereka makan bersama, membuat hati Sim Houw merasa terharu, akan tetapi anehnya, juga mendatangkan rasa duka walaupun hanya tipis saja perasaan duka ini. Kata-kata itu adalah, "Sim-toako, aku merasa seolah-olah engkau ini benar-benar kakakku sendiri! Betapa bahagianya hatiku kalau mempunyai seorang kakak seperti engkau yang selalu akan membimbing dan membantuku!"

Kedukaan tipis yang menyelubungi hati Sim Houw itu timbul karena dia sendiri sudah tahu akan keadaan hati sendiri. Dia telah jatuh cinta kepada gadis ini! Untuk kedua kalinya dalam hidupnya dia jatuh cinta. Pertama kali kepada Kam Bi Eng dan dia gagal karena cintanya bertepuk tangan sebelah. Kam Bi Eng mencinta Suma Ceng Liong yang kini sudah menjadi suaminya. Dan sekarang dia jatuh cinta kepada Bi Lan. Akan tetapi, usianya sudah tigapuluh tiga tahun sedangkan Bi Lan baru berusia paling banyak delapanbelas tahun. Sekarang saja gadis itu sudah mengatakan bahwa dia dianggap sebagai kakak! Mungkinkah gadis ini kelak dapat membalas cintanya? Ataukah dia harus mengalami nasib seperti cinta pertamanya, mengulang kembali kegagalan cintanya? Dia hanya menarik napas panjang dan menyerahkan segalanya kepada Tuhan.

***

Ternyata dua orang itu tidak usah mencari terlalu jauh sampai ke kota raja untuk menyerahkan pedang Liong-siauw-kiam kepada Bi-kwi! Ketika mereka berdua, Sim Houw dan Bi Lan, berjalan perlahan-lahan menuruni pegunungan itu sambil bercakap-cakap gembira karena kelincahan Bi Lan mendatangkan suasana yang amat gembira dalam hati Sim Houw, dan mereka tiba di kaki puncak, di lereng bawah, tiba-tiba saja Bi-kwi muncul di depan mereka bersama Bhok Gun dan duapuluh orang lebih anggauta Ang-i Mo-pang yang berpakaian serba merah!

Kiranya Bi-kwi dan Bhok Gun, setelah yang terakhir ini gagal menangkap Bi Lan karena pertolongan Cu Kun Tek, dapat mengikuti jejak Bi Lan yang menuju ke Tai-hang-san dan diam-diam mereka mengikuti terus. Ketika dalam penyelidikan mereka kepada para penduduk dusun mereka tahu bahwa Pendekar Suling Naga berada di puncak yang kini didaki oleh Bi Lan, mereka lalu bersembunyi dan hendak menanti kembalinya Bi Lan. Kalau Bi Lan berhasil merampas pedang pusaka itu, mereka tinggal memintanya dan merampas dari tangan Bi Lan kalau gadis ini tidak menyerahkannya. Atau kalau Bi Lan gagal, mereka akan mengajak Bi Lan membantu mereka menyerbu ke puncak. Bi-kwi yakin bahwa bagaimanapun juga, Bi Lan yang keras hati tidak akan mau melanggar janjinya dan tentu akan mau membantunya merampas pedang pusaka itu.

Karena itu, betapa kaget dan heran akan tetapi juga girang rasa hati mereka ketika pada siang hari itu, mereka melihat Bi Lan turun dari puncak bersama sang pendekar yang dicari-cari! Akan tetapi dalam suasana yang demikian akrab, berjalan berdampingan sambil bercakap-cakap.

Bi-kwi dan Bhok Gun tidak khawatir kalau Bi Lan akan membantu Pendekar Suling Naga, karena Bi Lan terikat oleh sumpahnya untuk membantu merampas kembali pedang itu! Dan dengan bantuan Bi Lan, bahkan tanpa bantuannyapun, mereka berdua yakin bahwa mereka akan mampu mengalahkan Sim Houw, apa lagi di situ ada duapuluh orang lebih aanak buah mereka.

"Suci....!" Bi Lan berseru heran. "Engkau di sini....?" Dan alisnya berkerut ketika ia melihat Bhok Gun dan anak buahnya berada pula di situ.

Bi-kwi tersenyum mengejek. "Aha, sumoiku yang manis. Kaukira aku begitu bodoh, membiarkan engkau sendirian menemui si Pendekar Suling Naga? Kiranya dia malah telah memikat hatimu sehingga engkau lupa akan tugasmu merampas pusaka itu, malah kini menjadi pacarnya. Hemm, kulihat kau mulai pandai berpacaran...."

"Bi-kwi, tutup mulutmu yang kotor!" Sim Houw membentak marah.

"Ha-ha-ha, siapa yang kotor? Sumoi, agaknya adik kecil kita itu belajar asmara dari Pendekar Suling Naga, ha-ha!" Bhok Gun juga tertawa, padahal di dalam hatinya dia merasa panas melihat betapa Bi Lan yang dirindukannya itu nampak demikian akrab dengan Sim Houw.

"Bhok Gun, Sim-toako bukanlah laki-laki hina dina dan rendah kotor macam kamu!" Bi Lan tiba-tiba membentak dan memandang dengan sinar mata berapi-api. "Jangan kalian ini manusia-manusia cabul menuduh orang-orang lain serupa saja dengan kalian yang tak tahu malu!"

"Cukup, Siauw-kwi!" kini Bi-kwi mulai mempergunakan pengaruhnya sebagai pelatih dan suci. "Bagaimana dengan janjimu dahulu ketika aku membebaskanmu dari Sam Kwi? Engkau berjanji akan membantuku sampai berhasil mendapatkan kembali Liong-siauw-kiam dan membantu aku merebut kedudukan jagoan nomor satu di dunia persilatan!"

"Aku hanya berjanji akan merampaskan kembali Liong-siauw-kiam, dan tentang merebut kedudukan jagoan nomor satu itu, kalau kebetulan aku menyaksikan tentu aku membantumu. Aku tidak akan mengingkari janji. Lihat, Liong siauw-kiam sudah berada di tanganku!" Gadis itu menyingkap bajunya dan memang benar, Liong-siauw-kiam dengan sarung pedangnya telah terselip di ikat pinggangnya. Memang pedang ini diserahkan oleh Sim Houw kepadanya ketika mereka hendak berangkat tadi, untuk penjagaan kalau sewaktu-waktu Bi-kwi muncul.

Melihat betapa pedang pusaka itu benar-benar telah berada pada Bi Lan, Bi-kwi dan Bhok Gun saling pandang dan mereka nampak terkejut dan heran akan tetapi Bi-kwi menjadi girang sekali.

"Bagus sekali, sumoi! Kiranya engkau memang telah memenuhi janjimu. Berikan Liong-siauw-kiam itu kepadaku, adikku!" Suaranya menjadi manis sekali, dan ia mengulurkan tangan.

"Nanti dulu, suci. Aku akan menyerahkan pedang pusaka Liong-siauw-kiam ini kepadamu, akan tetapi dengan demikian berarti aku sudah terbebas dari ikatan janjiku kepadamu! Aku tidak akan hutang budi apa-apa lagi darimu dan kalau pedang ini sudah kuberikan kepadamu, berarti tidak ada ikatan apa-apa lagi antara kita. Berarti bahwa janji dan sumpahku telah kupenuhi dan kelak engkau tidak berhak untuk menekan aku lagi berdasarkan janji sumpah yang sudah kupenuhi dengan penyerahan pedang pusaka Liong-siauw-kiam ini. Benarkah begitu?"

"Benar, dan mana pedang itu kesinikan!" kata Bi-kwi tak sabar lagi.

"Katakan dulu bahwa kalau engkau sudah menerima pedang ini dariku, maka aku sudah tidak terikat dengan janji apa-apa lagi!" kata Bi Lan sambil mencabut sarung pedang itu dari ikat pinggangnya, akan tetapi belum mau menyerahkannya. "Baik. kalau pedang itu sudah kuterima, engkau tidak terikat janji apa-apa lagi. Nah, berikan Liong-kiam itu padaku."

Bi Lan menanti dua detik dan seperti telah direncanakan oleh Sim Houw, tidak ada tanda apa-apa dari Sim Houw. Hal ini berarti bahwa ia sudah boleh menyerahkan pedang itu kepada sucinya. Menurut rencana itu, kalau belum tiba saatnya menyerahkan pedang, Sim Houw tentu akan mengatakan sesuatu. Akan tetapi Sim Houw kini diam saja, hal ini merupakan isyarat dari Sim Houw bahwa pedang itu sudah boleh diberikan kepada Bi-kwi.

"Nah, terimalah ini sebagai pembayar janji dan sumpahku kepadamu dan aku sudah bebas dari ikatan apapun dengan dirimu," katanya sambil mengulurkan tangan yang memegang pedang dengan sarungnya itu tanpa melangkah ke depan. Dengan demikian, terpaksa Bi-kwi yang melangkah ke depan dan ia menerima pedang itu dari tangan sumoinya. Sebagai seorang yang cerdik dan ahli silat yang lihai, cara mengambil pedang itu dari tangan sumoinya dilakukan seperti orang merampas. Disambarnya pedang itu dan begitu sudah berada di tangannya, ia melompat ke belakang. Hal ini untuk menghindarkan kalau-kalau sumoinya bertindak curang dan menyerangnya pada saat ia menerima pedang. Akan tetapi ia kalah cepat, atau memang sama sekali tidak mengira bahwa pada saat ia menerima pedang, tubuh Sim Houw sudah meluncur ke depan.

"Sumoi, awas....!" teriak Bhok Gun yang melihat gerakan Sim Houw dan diapun sudah meloncat ke depan.

Bi-kwi terkejut sekali ketika tiba-tiba tubuh Sim Houw, bagaikan seekor garuda terbang menyambar ke bawah, tangan kanan mencengkeram ke atas ubun-ubun kepalanya sedangkan tangan kiri menyambar ke arah pedang! Serangan itu hebat bukan main dan kalau ia terlambat sedikit saja melindungi tubuhnya, tentu kepalanya menjadi sasaran. Jangankan sampai dicengkeram, terkena totokan satu kali pada ubun-ubun kepalanya, ia akan mati konyol! Cepat Bi-kwi membuang diri ke belakang sambil menangkis pukulan itu, kakinya sambil membuang diri menendang ke depan. Akan tetapi, betapapun cepat reaksi gerakannya, tetap saja tiba-tiba ia merasa lengan kanannya lumpuh dan tahu-tahu pedang itu telah terampas oleh Sim Houw.

"Bukkk....!" Pada saat itu, hantaman Bho Gun tiba menimpa punggung Sim Houw. Dalam usaha membantu sumoinya tadi, Bhok Gun sudah mengerahkan tenaga dan memukul punggung Sim Houw. Sim Houw maklum akan serangan ini, akan tetapi dia mencurahkan seluruh perhatiannya kepada usahanya merampas kembali Liong-siauw-kiam karena kalau sekali serangan itu dia gagal, akan semakin sukarlah untuk mendapatkan kembali pusakanya itu. Maka, sambil melanjutkan usahanya merampas pedang, dia menerima saja hantaman pada punggungnya itu sambil menggunakan sebagian dari sin-kangnya saja untuk melindungi punggung.

Terkena hantaman yang amat kuat itu, tubuh Sim Houw terpelanting dan bergulingan sampai jauh, akan tetapi pedang Liong-siauw-kiam sudah berada kembali ke tangannya. Dengan marah sekali Bi-kwi dan Bhok Gun mengejar dan mereka berdua sudah menyerang dengan bertubi-tubi untuk merampas kembali pedang itu. Bhok Gun mempergunakan pedangnya, dan Bi-kwi sudah mengeluarkan Ilmu Silat Sam Kwi cap-sha-ciang yang hebat itu. Baru saja Sim Houw yang terkena hantaman tadi meloncat berdiri dan dari mulutnya mengalir darah segar sebagai bukti bahwa pukulan tadi telah melukainya sebelah dalam tubuh atau setidaknya membuat sebelah dalam tubuhnya terguncang, kini dia sudah diserang lagi dengan dahsyatnya. Dia mengelak dari sambaran pedang Bhok Gun, akan tetapi sebuah tamparan dengan jurus Ilmu silat Cap-sha-ciang yang ampuh itu kembali membuatnya terpaksa melempar diri dan bergulingan. Akan tetapi sambil bergulingan dia mencabut pedang Liong-siauw-kiam dan begitu dia meloncat bangun dan memutar pedangnya, terdengar suara berkerintingan dan beberapa belas buah paku beracun yang disambitkan Bhok Gun berjatuhan tertangkis oleh sinar pedang.

Setelah pedang Liong-siauw-kiam berada di tangannya, kini Sim Houw menghadapi mereka berdua dan terdengarlah bunyi senjatanya itu yang melengking-lengking seperti suling ditiup, akan tetapi mengandung ketajaman pedang pusaka yang sakti, bahkan sinar pedang itu saja bersama suaranya sudah mampu membuat lawan menjadi repot. Terjadilah perkelahian mati-matian.

Tanpa diperintah lagi, duapuluh lebih anak buah Bhok Gun itu sudah mengurung arena perkelahian itu dengan senjata golok atau pedang di tangan. Melihat ini, sejak tadi Bi Lan sudah memperhatikan.

"Siauw-kwi, hayo kaubantu kami!" bentak Bi-kwi dengan suara penuh wibawa kepada adik seperguruannya itu.

Akan tetapi dengan tenang Bi Lan menjawab, "Bi-kwi, ingat bahwa sejak kau terima pedang itu, di antara kita sudah tidak terdapat ikatan apa-apa!" Berkata demikian, gadis ini lalu menerjang maju dan menyerang duapuluh lebih anak buah Bhok Gun itu!

"Kau pengkhianat....!" Bhok Gun berteriak marah melihat betapa dua orang anak buahnya roboh terguling oleh serangan Bi Lan yang segera dikeroyok oleh semua anak buah itu.

"Bukan pengkhianat macam engkau yang curang!" balas Bi Lan dan gadis ini dengan enaknya membagi-bagi pukulan dan tendangan kepada duapuluh lebih pengeroyok yang bukan merupakan tandingan yang berat baginya.

"Celaka! Kita tertipu....!" Tiba-tiba Bi-kwi berseru. "Mereka sudah merencanakan ini....!"

Menghadapi lawan seperti Sim Houw, walaupun mengeroyok dua, sama sekali tidak boleh membagi perhatian. Begitu Bi-kwi berteriak demikian sambil melirik ke arah sumoinya, sinar pedang Suling Naga menyambar dibarengi lengkingan mengerikan. Ia menangkis dengan lengannya, akan tetapi ternyata ujung suling pedang itu berkelebat ke atas dan terdengar kain robek disusul jerit tertahan Bi-kwi yang terluka pada pundaknya! Melihat betapa Bi-kwi terluka dan anak buahnya kocar-kacir diamuk Bi Lan, Bhok Gun menjadi gugup dan diapun berseru nyaring "Mari kita pergi....!"

Betapa dongkol rasa hatinya, terpaksa Bi-kwi menuruti nasihat suhengnya itu dan bersama Bhok Gun, iapun meloncat dan melarikan diri, diikuti terpincang-pincang oleh duapuluh lebih anak buah Ang-i Mo-pang yang saling menopang kawan yang terluka. Bi Lan berdiri sambil bertolak pinggang, tertawa terbahak-bahak melihat mereka. Sim Houw juga tersenyum, akan tetapi tiba-tiba dia mengeluh dan cepat dia duduk bersila, sambil memejamkan kedua matanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar