Ciang Hun memang sejak kecil digembleng oleh kedua orang ayahnya dan seorang ibunya. Sebetulnya dia malu dan khawatir ditegur kakeknya karena di depan kakeknya yang kabarnya sakti itu tentu kepandaian silatnya masih belum ada artinya. Akan tetapi dia pun tidak berani membantah, melangkah ke tengah ruangan dan setelah memberi hormat, dia pun bersilat, mengeluarkan jurus-jurus ilmu silat dasar Lo-thian Sin-kun. Gerakannya cukup gesit dan penggunaan tenaga yang tepat, sesuai dengan usianya. Melihat ini, agaknya Bu Beng Lokai cukup puas. Biarpun tidak memiliki bakat yang terlalu menonjol, namun Ciang Hun cukup baik, bahkan kelak dapat lebih tinggi tingkatnya daripada orang tuanya kalau rajin berlatih.
"Nah, sekarang duduklah bersila di situ, cucuku," kata kakek itu dan dia pun menghampiri cucunya yang duduk bersila itu. "Buka bajumu!" Ciang Hun merasa heran akan tetapi tidak berani membantah dan anak itu pun membuka bajunya. Kakek itu lalu duduk bersila di belakang cucunya. Melihat ini, Suma Lian dan Li Sian dapat menduga apa yang akan dilakukan guru mereka dan keduanya merasa khawatir sekali.
"Kong-kong....!" Mereka berdua berseru lirih.
Kakek itu menoleh kepada mereka, lalu tersenyum. "Lian dan Sian, kalian berdua telah menerima semua ilmuku dan kurasa sudah cukup bagi kalian untuk mempergunakan ilmu-ilmu itu untuk berjaga diri dan menegakkan kebenaran dan keadilan. Aku tidak punya apa-apa lagi untuk diwariskan kepada cucuku, maka semua yang ada padaku akan kutinggalkan kepadanya.
"Akan tetapi, Kong-kong sedang sakit...." bantah Suma Lian.
"Dan Kong-kong baru saja berlatih dan dalam keadaan lelah...." sambung Li Sian, sama khawatirnya dengan sucinya.
"Sudahlah, harap kalian jangan khawatir. Kalau tidak sekarang saatnya, kapan lagi? Hanya inilah yang dapat kulakukan untuk cucuku, dan tentang mati hidup, hal itu adalah urusan Tuhan!" Setelah berkata demikian, kakek itu menempelkan kedua telapak tangannya di punggung cucunya dan matanya terpejam. Melihat ini, barulah kedua orang bersaudara kembar Gak itu dan isteri mereka tahu apa yang akan dilakukan ayah mereka, dan mereka pun memandang dengan khawatir, akan tetapi tidak berani menghalangi.
"Kendurkan seluruh urat tubuhmu, cucuku, dan jangan melawan, terima saja hawa panas yang memasuki tubuhmu." Kakek itu berbisik dan dia pun mengerahkan sin-kangnya untuk disalurkan ke dalam tubuh cucunya! Biarpun usianya baru sepuluh tahun, sebagai putera pendekar, Ciang Hun sudah tahu apa yang dilakukan kakeknya. Tentu kakeknya akan menyalurkan tenaga sin-kang, memindahkan tenaga sakti itu kepadanya. Diam-diam dia merasa girang bukan main walaupun hatinya tegang karena dia belum pernan merasakan hal ini dan dia pun maklum bahwa pengoperan tenaga sakti itu dapat membahayakan dirinya sendiri kalau dia tidak mentaati sepenuhnya. Maka dia pun mengendorkan semua urat di tubuhnya dan menghentikan semua pikiran seperti dalam latihan samadhi.
Tak lama kemudian, anak itu merasa betapa ada hawa yang mula-mula hangat memasuki tubuhnya. Hawa itu semakin lama semakin panas, masuk semakin banyak sampai memenuhi tubuhnya dan berputaran. Kepalanya mulai terasa pening, keringatnya keluar di seluruh tubuhnya dan hampir saja dia tidak kuat menahan. Namun, Ciang Hun mematikan semua rasa dan pasrah. Hawa yang tadinya amat panas itu kemudian menjadi hangat kembali, makin lama semakin berkurang panasnya, bahkan menjadi dingin dan semakin dingin sampai Ciang Hun menggigil dan giginya berbunyi. Akan tetapi anak itu tetap diam dan dapat mempertahankan kebekuan yang menyerang dari dalam itu! Dia lapat-lapat mendengar seruan-seruan khawatir dari dua orang gadis murid kakeknya, akan tetapi tidak dipedulikan. Rasa dingin luar biasa itu makin lama semakin berkurang dan akhirnya kembali hangat seperti semula. Akan tetapi dia merasa tengkuknya panas sekali dan ada hembusan panas meniup tengkuknya dari luar yang membuatnya sadar dari samadhinya dan kini dia mendengar betapa hembusan napas panas itu keluar dari mulut dan hidung kakeknya, dan kini terdengar terengah-engah. Kedua tangan kakeknya yang tadi tertempel di kulit punggungnya, kini terlepas.
"Kong-kong....!" Terdengar Suma Lian dan Li Sian berseru.
"Ayah....!" Kedua ayahnya juga berteriak dan mereka sudah berlutut mendekat. Ciang Hun mencoba berdiri, akan tetapi kepalanya menjadi pening seketika dan dia tentu sudah terguling roboh kalau saja tidak ada ibunya yang cepat merangkulnya. Ibu dan anak berangkulan dan memandang kepada kakek itu yang ternyata telah roboh terlentang dengan muka pucat dan napas terengah-engah, akan tetapi mulutnya yang setengah terbuka itu nampak tersenyum!
"Kong-kong.... ah, kenapa engkau melakukan ini?" Suma Lian nampak meraba dada gurunya.
"Kong-kong, kenapa engkau memaksa diri....?" Li Sian juga meraba pundak gurunya dan ia pun mulai menangis.
Gak Jit Kong dan Gak Goat Kong saling pandang. Mereka pun tahu bahwa ayah mereka tadi telah memindahkan sin-kang ke tubuh putera mereka, akan tetapi hal ini amat memeras tenaga kakek itu yang sedang dalam keadaan lemah dan lelah.
"Ayah.... kembali kami yang datang hanya menyusahkan Ayah saja." kata Goat Kong menyesal.
"Ayah, kami tidak pernah melakukan sesuatu yang menyenangkan hatimu, akan tetapi Ayah telah mewariskan sin-kang kepada Ciang Hun, dengan mengorbankan diri....!" kata pula Gak Jit Kong.
Kakek itu dengan lemah membuka kedua matanya, dan dengan napas terengah dia tersenyum, memandang kepada mereka yang merubungnya. "Aku puas.... aku tak dapat meninggalkan apa-apa.... latihlah dia dengan Hui-yang Sin-kang dan Swat-im Sin-kang.... dia.... dia akan kuat sekali.... ah, sayang aku harus mati dalam keadaan lemah! Kalau saja ada datuk sesat datang agar dapat kulawan dia dan aku mati dalam perkelahian! Sayang.... tapi.... ah, lihat, itu.... ibu kalian datang.... Milana.... tungguuu....!" Kakek itu seperti hendak bangkit duduk, akan tetapi terkulai kembali dan napasnya pun berhenti.
Tiga orang wanita itu menjerit dan menangis. Dua orang saudara kembar Gak saling pandang dan membiarkan mereka itu menangis sepuasnya, kemudian mereka berkata dengan suara penuh penyesalan.
"Aah, semua ini kesalahan kami. Kedatangan kami hanya memperpendek usia ayah kami...."
Mendengar ini, Suma Lian dan Li Sian menghentikan tangis mereka. Suma Lian memandang mereka dengan mata basah. "Tidak perlu penyesalan itu, kedua Paman. Kedatangan Paman sekeluarga adalah atas kehendak mendiang kong-kong, dan agaknya memang sudah tiba saatnya kong-kong kembali ke alam baka. Juga, pewarisan sin-kang tadi hanya merupakan jalan belaka yang semua sudah dipastikan dan ditentukan oleh Yang Maha Kuasa."
Mereka lalu mengurus jenazah kakek Bu Beng Lokai atau Gak Bun Beng, mantu pertama dari Pendekar Super Sakti (riwayat Gak Bun Beng diceritakan dengan lengkap dalam kisah Sepasang Pedang Iblis). Atas pesan kakek itu sendiri kepada dua orang muridnya, maka jenazah itu lalu dibakar dengan upacara sederhana, sungguh menyedihkan hati kedua orang puteranya mengingat betapa kakek itu, ayah mereka, yang dahulu menjadi seorang pendekar besar yang pernah mengguncangkan dunia kang-ouw, kini meninggal dunia dan diperabukan tanpa ada yang menghadiri, kecuali kedua puteranya, mantunya, cucunya, dan kedua orang muridnya di tempat yang amat sunyi itu. Setelah jenazah menjadi abu, kedua orang kembar Gak lalu membawa abu jenazah ayah mereka untuk dikebumikan di Puncak Telaga Warna, bekas tempat tinggal ayah mereka itu. Mereka segera berpamit dari Suma Lian dan Li Sian, pulang bersama isteri mereka dan Ciang Hun yang masih merasa agak pening dan kadang-kadang mengeluh karena tubuhnya merasakan betapa tenaga yang amat besar membuat dia panas dingin. Kedua orang ayahnya harus sebentar-sebentar berhenti dalam perjalanan mereka untuk membiarkan anak itu berlatih siu-lian dan memberi petunjuk untuk membiarkan tenaga sakti itu mengeram di dalam tan-tian (pusar di dalam perut) dan tenang di situ sampai kelak dapat dipergunakan kalau anak itu sudah mampu mengendalikannya.
Tinggal dua orang gadis itu yang merasa kesepian. Mereka masih tinggal di pondok bekas tempat tinggal guru mereka sampai tiga hari tiga malam. Betapapun juga, dua orang gadis ini telah tinggal bertahun-tahun di tempat sunyi dan indah itu, dan di antara mereka telah terdapat pertalian kasih sayang seperti saudara kandung saja, mengalami suka duka bersama di tempat sunyi itu sehingga mereka merasa berat untuk saling berpisah. Juga mereka merasa terharu dan berat untuk meninggalkan tempat itu yang tak mungkin kiranya akan mereka datangi lagi, mengingat bahwa kakek dan juga guru mereka kini telah tiada, bahkan abunya juga sudah dibawa pergi oleh kedua orang kembar Gak yang lebih berhak. Guru mereka tidak meninggalkan apa-apa kecuali ilmu kepandaian. Sedikit pakaian dan sepatu, barang-barang yang dipakainya sehari-hari, telah diikutkan bersama jenazah ketika dibakar. Yang masih ada hanyalah batu datar yang hitam mengkilat bekas tempat orang tua itu duduk bersamadhi. Saking merasa kehilangan, selama tiga hari tiga malam itu, bergantian Suma Lian dan Li Sian duduk bersamadhi di bekas tempat duduk guru mereka ini, sambil mengenang segala budi kebaikan orang tua itu kepada mereka.
Setelah tiga hari tiga malam, dua orang gadis perkasa itu menyadari bahwa tidak ada manfaatnya membiarkan diri tenggelam dalam buaian perasaan yang penuh keharuan, kehilangan, duka yang timbul dari iba diri. Mereka lalu memutuskan untuk meninggalkan tempat itu. Suma Lian berkata dengan suara yang berat kerena bagaimanapun juga, ia merasa berat untuk berpisah dari sumoinya yang dianggap seperti adiknya sendiri itu.
"Sumoi, hari ini kita harus meninggalkan tempat ini, tidak ada gunanya tinggal lebih lama disini."
Engkau benar, Suci, aku pun berpikir demikian. Lalu.... ke mana kita akan pergi, Suci?" Li Sian mulai bingung karena ia tak mempunyai tujuan tertentu, tidak tahu harus pergi ke mana karena orang tuanya sudah tiada.
"Aku sendiri akan pulang ke rumah orang tuaku di dusun Hong-cun. Dan bagaimana dengan engkau, Sumoi?"
"Aku....? Aku.... entah akan pergi ke mana....?" kata Li Sian dan melihat wajah Sumoinya menjadi sedih, Suma Lian segera merangkul dan mencium pipinya.
"Ah, aku lupa bahwa engkau tidak mempunyai keluarga lagi, adikku. Ah, bagaimana kalau engkau pergi bersamaku, ikut dengan aku ke rumah orang tuaku? Kita tinggal bersama di sana, alangkah akan senangnya....!"
Akan tetapi Li Sian tersenyum dan menggeleng kepalanya. "Terima kasih, Suci, Engkau baik sekali dan tidak ada kesenangan di dunia ini yang melebihi kalau aku dapat tinggal serumah denganmu. Akan tetapi, aku tidak ingin mengganggu ayah bundamu dengan kehadiranku dan...."
"Ah, mereka akan senang sekali menerimamu, Sumoi. Bukankah engkau sudah kuanggap seperti adikku sendiri? Bahkan, aku akan mohon kepada ayah ibuku untuk mengangkatmu sebagai anak mereka, dan engkau menjadi adik angkatku!"
Kini Li Sian yang merangkul sucinya dan kedua matanya basah ketika ia memandang kepada sucinya. "Suci, terima kasih. Engkau sungguh baik sekali dan percayalah, aku pun sudah menganggap engkau seperti kakak kandungku sendiri! Akan tetapi, biarpun ayah bundaku sudah tiada, akan tetapi engkau tahu bahwa aku masih mempunyai empat orang kakak laki-laki yang ketika terjadi keributan itu, ditawan oleh pemerintah. Biarlah aku akan mencari mereka terlebih dahulu, siapa tahu ada diantara mereka merupakan satu-satunya keluargaku terdekat yang kumiliki. Aku akan mencari mereka, dan kalau gagal, barulah aku akan menyusulmu di Hong-cun, Su-ci."
Suma Lian mengangguk-angguk, mengerti dan menyetujui. Pada hari itu juga mereka turun gunung, kemudian berpisah di jalan persimpangan. Suma Lian menuju ke selatan, sedangkan Li Sian menuju ke utara. Dua orang saudara seperguruan yang berangkat dewasa bersama-sama ini baru berpisah setelah saling rangkul sampai lama tanpa kata-kata. Kemudian keduanya berpisah dan berlari cepat dengan kedua mata basah.
***
Kao Cin Liong dan isterinya, Suma Hui, tinggal di kota Pao-teng, di sebelah selatan kota raja. Bekas panglima Kao ini berdagang rempah-rempah, dan kelihatan sebagai pedagang biasa saja bagi mereka yang tidak mengenalnya. Akan tetapi, dunia kang-ouw tahu belaka siapa sesungguhnya pria yang kini usianya sudah lima puluh delapan tahun namun masih nampak gagah perkasa itu, juga siapa kira isterinya sendiri yang sudah mendekati lima puluh tahun namun masih nampak lincah dan jauh lebih muda dari usianya, tubuhnya masih tegap dan ramping. Tidaklah mengherankan kalau suami isteri ini nampak lebih muda dan sehat, karena mereka adalah suami isteri pendekar yang sesungguhnya memiliki ilmu kepandaian tinggi sekali dan jarang dapat menemukan tandingan di masa itu! Kao Cin Liong adalah putera tunggal dari penghuni Istana Gurun Pasir, putera Naga Sakti Gurun Pasir, dan dia pernah menjadi seorang panglima muda yang amat berjasa memadamkan banyak api pemberontakan di selatan dan barat. Adapun isterinya, Suma Hui, juga bukan wanita sembarangan. Dari mana keturunannya juga dapat di duga bahwa ia adalah keturunan keluarga pendekar Pulau Es, dan sesungguhnya ia masih cucu dalam dari Pendekar Super Sakti, penghuni Istana Pulau Es.
Sebetulnya, dengan tingkat ilmu kepandaian silat mereka yang amat tinggi dan lihai, mereka menjadi guru-guru yang cukup baik untuk anak tunggal mereka, yang bukan lain adalah Kao Hong Li. Hanya karena Kao Hong Li merupakan anak tunggal yang manja, maka ayah ibunya tidak terlalu menekan walaupun gemblengan ilmu silat tinggi mereka berikan. Karena itu, setelah kini berusia dua puluh tahun lebih, Kao Hong Li menjadi seorang gadis dewasa yang amat tangguh, dan walaupun tidak setinggi ayahnya tingkat kepandaiannya karena kadang-kadang ia malas berlatih dan orang tuanya tidak menekannya, namun setidaknya ia sudah mampu mengimbangi tingkat kepandaian ibunya!
Kao Hong Li merupakan seorang gadis yang cantik dan cerdik. Ia manis seperti ibunya, dengan wajah bulat telur dan sepasang matanya amat menarik, mungkin memiliki daya tarik terbesar diantara semua kecantikannya, mata itu lebar dan jeli, dengan bulu mata yang panjang lentik, dan dihiasi sepasang alis yang hitam lebat, kecil dan panjang melengkung seperti dilukis saja. IA lincah dan galak seperti ibunya, cerdik dan pandai bicara seperti ibunya pula, dan gagah perkasa tak mengenal takut seperti ayahnya.
Ada satu hal yang membuat suami isteri itu akhir-akhir ini agak murung kalau teringat , yaitu bahwa sampai kini berusia dua puluh tahun lebih, puteri mereka itu belum juga mau dicarikan jodoh! Setiap kali mereka membicarakan urusan jodoh, gadis itu cemberut dan marah-marah, tidak mau mendengarkan dan lari ke dalam kamarnya. Kalau Suma Hui melakukan pendekatan dan menyusul ke dalam kamarnya, Kao Hong Li akan mencela ibunya.
"Kenapa sih Ibu dan Ayah selalu mendorongku untuk menikah? Apa Ayah dan Ibu sudah bosan dan tidak suka kepadaku, ingin melihat aku pergi dari rumah ini dan mengikuti suami?"
Ibunya segera merangkul dan tersenyum. "Hushhh! Bagaimana engkau bisa berkata demikian, Hong Li? Ayah dan ibumu sayang kepadamu, mana bisa bosan dan tidak suka? Kalau kami membujukmu untuk menikah, bukankah hal itu sudah wajar? Ingat, usiamu kini sudah mendekati dua puluh satu tahun. Mau tunggu apa dan kapan lagi? Biasanya, seorang gadis akan menikah dalam usia antara enam belas sampai dua puluh tahun, dan engkau sudah hampir dua puluh satu...."
"Ibu sendiri, berapa usia Ibu ketika menikah dengan Ayah?" Inilah senjata yang dipergunakan Hong Li kalau ibunya mendesak dengan alasan usia.
Suma Hui Menarik napas panjang. "Lain lagi dengan aku, anakku. Memang aku menikah dengan ayahmu sudah berusia kurang lebih dua puluh lima tahun, akan tetapi...."
"Nah, aku pun tidak tergesa-gesa. Bagaimanapun juga, aku tidak mau menikah dengan seorang laki-laki yang asing bagiku, yang tidak kusuka!"
"Hemmm, kau maksudkan, engkau hanya akan menikah dengan seorang pemuda yang kau cinta?"
Wajah Hong Liberubah merah, akan tetapi ia menjawab juga, "Bukankah begitu sebaiknya Ibu?"
Kembali Suma Hui menghela napas dan mengangguk. "Yah memang demikian sebaiknya. Akan tetapi kapan engkau akan bertemu dengan seorang pemuda yang kaucinta? Atau.... apakah sudah ada pemuda itu?" tanyanya penuh harap.
Wajah itu menjadi semakin merah dan cepat Hong Li menggeleng kepalanya
"Tidak ada, Ibu! Mana ada pemuda yang seperti kuidamkan dan yang pantas kucinta di tempat ini? Yang ada hanya pemuda brengsek, jual lagak, pamer kekayaan dan pangkat ayahnya, menyebalkan!"
"Hemmm, jangan begitu anakku. Habis, pemuda macam apa yang kiranya akan dapat menundukkan hatimu?"
"Dia harus seperti ayah, memiliki ilmu silat dan ilmu surat yang tinggi, setidaknya dapat mengalahkan atau mengimbangi kepandaianku. Dia harus gagah perkasa, membela kebenaran, dan harus....harus orang yang dapat menimbulkan kekaguman dan rasa suka di dalam hatiku!"
Diam-diam Suma Hui terharu. Betapa sama benar keinginan anaknya dengan keinginan hatinya sendiri ketika ia masih gadis! Dan bukankah setiap orang gadis juga menginginkan hal seperti itu? Bagaimana ia dapat menyalahkan puterinya?
"Akan tetapi Hong Li, dengan ilmu silatmu seperti sekarang ini, kiranya di dunia ini tidak ada banyak pemuda yang akan mampu menandingimu!"
"Tentu ada, Ibu. Kalau memang sudah kutemukan yang cocok dengan hatiku, aku juga dapat mengalah...."
Suma Hui tertawa dan merangkul anaknya. Mengertilah ia. Ketinggian ilmu itu bukan merupakan syarat mutlak, melainkan kalau ada perasaan cinta di dalam hati puterinya, tentu puterinya itu akan mengalah terhadap pemuda yang dicintanya!
"Aih, Hong Li, aku hanya mendoakan semoga engkau akan segera bertemu dengan jodohmu. Ingatlah, ayah ibumu sudah mulai tua dan kami sungguh mendambakan seorang cucu darimu."
"Ih, Ibu!" kata Hong Li dan ia pun merebahkan dirinya menelungkup dan menutupi telinganya dengan bantal. Ibunya tertawa dan meninggalkan kamar puterinya untuk menghibur suaminya, menceritakan percakapannya dengan Hong Li.
Biarpun demikian, tetap saja suami isteri itu merasa kecewa karena mereka tidak melihat kemungkinan puteri mereka akan bisa bertemu dengan jodohnya dalam waktu dekat. Kalau puterinya hanya tinggal di rumah saja, di kota Poa-teng yang tidak berapa besar, bagaimana mungkin bertemu dengan seorang pemuda yang sepadan menjadi calon jodohnya?
"Aih, kalau aku teringat kepada murid adikmu, itu rasanya aku akan suka kalau dia menjadi calon mantu kita," kata Kao Cin Liong kepada isterinya.
"Kau maksudkan Gu Hong Beng, murid Suma Ciang Bun itu? Hemmm, dia memang baik, dan tentang ilmu silat, tentu masih di bawah tingkat anak kita. Akan tetapi, kita tidak tahu dia berada di mana sekarang! Ciang Bun tidak pernah singgah di sini dan tidak pernah memberi kabar sekarang berada di mana. Sudahlah, jodoh sudah diatur oleh Tuhan, kita tinggal berdoa saja."
Kao Cin Liong kembali menarik napas panjang. "Sebaiknya kalau aku membawa ia melakukan perjalanan, berkunjung ke kakek dan neneknya."
"Di gurun pasir?"
"Ya, ayah dan ibu sudah sangat tua, sayang bahwa mereka tidak mau kita ajak tinggal di sini. Siapa tahu dari mereka aku akan mendapatkan petunjuk tentang jodoh anak kita, dan aku pun sudah rindu kepada mereka."
"Habis toko kita bagaimana? Kalau ditutup terlalu lama, tentu kita akan kehilangan langganan."
"Karena itu, biar aku seorang saja yang mengajak Hong Li pergi ke utara. Engkau mengurus toko, isteriku."
Sebetulnya Suma Hui juga ingin ikut, akan tetapi ia merasa sayang meninggalkan tokonya yang mulai maju maka ia pun akhirnya setuju. "Asal kalian pergi jangan terlalu lama."
Akan tetapi, sebelum mereka memberitahukan Hong Li tentang maksud Kao Cin Liong, pada sore hari muncullah seorang pemuda di rumah mereka. Pemuda yang berpakaian serba putih, berusia dua puluh dua tahun, bersinar mata lembut dan wajah cerah ramah, juga bersikap sopan santun. Begitu Kao Cin Liong dan isterinya menyambut, pemuda itu segera memberi hormat kepada Kao Cin Liong.
"Suheng, saya datang menghadap...."
Tentu saja Cin Liong terkejut dan heran. Dia lupa lagi kepada Tan Sin Hong, yang pernah dilihatnya ketika pemuda itu masih remaja. Akan tetapi karena satu-satunya orang di dunia ini yang menyebutnya suheng hanya seorang, yaitu pemuda remaja yang pernah dilihatnya menjadi murid ayah ibunya di gurun pasir itu, dan kedua yang menyebutnya suheng adalah seorang wanita bernama Can Bi Lan yang pernah menjadi murid ayah ibunya pula, dia pun segera dapat menduga siapa pemuda itu.
"Engkau Tan Sin Hong?"
"Benar, Suheng."
"Ah, engkau telah menjadi seorang pemuda dewasa sekarang. Masuklah, dan perkenalkan, ini isteriku."
Sin Hong segera memberi hormat dengan sikap sopan kepada Suma Hui yang juga sudah pernah diceritakan suaminya bahwa di gurun pasir terdapat seorang pemuda remaja yang menjadi murid ayah bundanya. Wanita ini menerima penghormatan sute suaminya itu. sambil mengamati dengan sinar mata tajam penuh selidik. Ia mendapat kenyataan bahwa pemuda ini seorang yang berjiwa sederhana, tercermin dari keadaan pakaiannya dan gerak-geriknya, sopan dan rendah hati, tidak menonjolkan diri walaupun dia sebagai murid Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir bersama isterinya tentu telah memiliki ilmu kepandaian tinggi. Wajah pemuda itu sedang saja, tidak buruk akan tetapi juga tidak terlalu tampan, mata yang bersinar lembut dan mulut yang selalu tersenyum ramah itu amat menarik, juga sepasang mata lembut itu kadang-kadang mengeluarkan sinar mencorong, tanda bahwa dalam diri pemuda ini ada suatu kekuatan yang dahsyat.
Pemuda itu dipersilakan duduk diruangan dalam dan pada saat itu, muncullah Kao Hong Li, melihat bahwa orang tuanya menerima tamu pria yang disangkanya tentulah seorang yang datang untuk urusan dagang rempah-rempah, ia hanya menjenguk keluar pintu dan hendak masuk ke belakang lagi. Akan tetapi ayahnya memanggilnya.
"Hong Li, kesinilah dan bertemu dengan Susiokmu!"
Mendengar ini, Hong Li memandang heran. Ia memang pernah mendengar dari ayahnya, ketika ayahnya itu berkunjung ke gurun pasir bahwa ayahnya mempunyai seorang adik seperguruan yang sedang belajar di gurun pasir. Akan tetapi, tak disangkanya bahwa susioknya (paman guru) itu adalah seorang laki-laki yang masih demikian mudanya, kiranya tak banyak selisihnya dengan usianya sendiri. Akan tetapi ia pun segera memasuki ruangan itu, menghampiri meja di mana Sin Hong duduk berhadapan dengan Kao Cin Liong dan Suma Hui.
Melihat seorang gadis yang cantik dan gagah, Sin Hong cepat bangkit berdiri dari tempat duduknya. Hong Li segera memberi hormat dan berkata dengan jujur, "Inikah Susiok dari gurun pasir? Tak kusangka masih begini muda!"
Sin Hong membalas penghormatan itu, tidak seperti seorang paman, melainkan seperti orang yang seusia, dan menjawab, "Aku sungguh merasa terlalu tinggi untuk menjadi susiokmu, Nona."
Kao Cin Liong tersenyum. "Duduklah, Hong Li. Susiokmu Tan Sin Hong ini baru saja datang. Kami sedang bersepakat untuk berangkat berkunjung ke gurun pasir, yaitu aku dan engkau, Hong Li, dan ibumu berjaga di rumah. Aku telah rindu kepada kakek dan nenekmu, dan akan mengajak engkau berangkat besok pagi, eh, tiba-tiba saja muncul sute Sin Hong! Tentu dia membawa banyak kabar dari Istana Gurun Pasir."
Sin Hong menarik napas panjang. Sungguh amat tidak menyenangkan harus membawa berita yang amat buruk kepada keluarga perkasa ini. Dia pun melihat betapa kegembiraan membayang di wajah gadis itu ketika mendengar kata-kata ayahnya yang hendak mengajaknya berkunjung ke gurun pasir. Maka cepat-cepat dia bangkit berdiri dan menjura kepada suhengnya.
"Suheng, sungguh saya merasa menyesal sekali bahwa saya datang berkunjung ini hanya membawa berita yang amat buruk dan mendatangkan duka. Dia menahan diri agar tidak memperlihatkan wajah duka, bahkan mengeraskan hati agar kedua matanya yang sudah terasa panas itu tidak sampai menjadi basah oleh air mata.
Namun, ayah ibu dan anak yang bermata tajam itu tentu saja melihat perubahan pada wajah Sin Hong dan ketiganya terkejut bukan main. "Sute, berita buruk apakah yang kaubawa? Ada apa dengan ayah ibuku?" tanya Kao Cin Liong, hatinya merasa tidak enak sekali.
"Ketiga orang tua itu, subo dan kedua orang suhu, kini telah....tiada lagi, Suheng."
"Apa....apa maksudmu!" Kao Cin Liong membentak, terkejut bukan main dan matanya terbelalak, mukanya pucat.
Dengan kepala ditundukkan, Sin Hong menjelaskan. "Mereka telah meninggal dunia."
"Ahhh....!" Kao Cin Liong terkulai lemas dan tak dapat berkata-kata lagi, sedangkan Kao Hong Li merangkul ibunya dan kedua orang wanita ini mulai menangis.
"Tan Sin Hong sute, ceritakan yang jelas apa yang telah terjadi!" kata Kao Cin Liong, suaranya parau akan tetapi tidak ada air mata keluar dari sepasang matanya yang jelas dibayangi duka itu.
Sungguh merupakan tugas yang amat tidak enak bagi Sin Hong untuk menceritakan semua yang telah terjadi di Istana Gurun Pasir. Namun, dia mengeraskan hatinya.
"Maafkan saya, Suheng. Baru sekarang saya dapat datang untuk melapor. "Peristiwa itu telah terjadi setahun yang lalu...."
"Setahun? Mereka telah meninggal dunia, selama setahun? Sute, apa artinya keterlambatan yang amat lama ini?"
"Sekali lagi maaf, Suheng. Saya terpaksa harus menyembunyikan diri selama satu tahun, karena keadaan saya. Untuk jelasnya, baik saya ceritakan semua yang telah terjadi Suheng."
Dengan jelas Sin Hong lalu menceritakan apa yang telah terjadi setahun yang lalu itu di gurun pasir. Betapa Istana Gurun Pasir diserbu oleh tujuh belas orang datuk sesat yang menyerang tiga orang tua itu. Kao Kok Cu, Wan Ceng, dan Tiong Khi Hwesio membela diri mati-matian sehingga di antara tujuh belas orang penyerbu itu, empat belas orang tewas dan yang hidup hanya tiga orang saja, itu pun dalam keadaan terluka. Akan tetapi, tiga orang tua itu tewas semua!
"Lalu untuk apa engkau berada di sana!" bentak Suma Hui dengan marah sekali, sinar matanya seperti hendak menyerang Sin Hong.
Pemuda itu memandang wajah Suma Hui. "Maafkan saya, pada waktu itu, saya sama sekali tidak mampu bergerak. Tiga orang guru saya telah mengajarkan Pek-ho Sin-kun dan menyalurkan sin-kang mereka kepada saya, dengan syarat bahwa selama setahun, saya tidak boleh bermain silat atau menyalurkan sin-kang dan kalau pelanggaran itu saya lakukan, saya tentu seketika akan mati terpukul tenaga sendiri dari dalam! Saya menjadi seperti seorang yang lemah dan sama sekali tidak mampu melawan."
Kao Cin Liong dapat memaklumi hal itu dan dengan suara masih serak karena duka, namun halus, dia berkata, "Lanjutkan ceritamu, Sute. Lalu bagaimana?"
"Tiga orang yang masih hidup itu adalah Sin-kiam Mo-li, Thian Kong Cinjin dari Pat-kwa-kauw, dan Thian Kek Sengjin dari Pek-lian-kauw. Mereka lalu menangkap saya dan memaksa saya menunjukkan tempat disimpannya kitab-kitab rahasia. Akan tetapi beberapa waktu yang lalu, tiga orang guru saya telah membakari semua kitab sehingga yang terambil oleh tiga orang itu hanyalah Ban-tok-kiam dan Cui-beng-kiam saja."
Suma Hui mengepal tinjunya. "Celaka! Sungguh celaka! Dua batang pedang pusaka yang ampuh itu terjatuh ke tangan orang-orang jahat!"
Kao Cin Liong mengangkuk-angguk. "Tidak anehlah kalau yang memimpin penyerbuan itu Sin-kiam Mo-li dan para tokoh Pat-kwa-kauw dan Pek-lian-kauw. Sekarang lanjutkan ceritamu, Sute."
"Mereka memaksa saya untuk menguburkan jenazah empat belas orang teman mereka, dan kemudian, memenuhi pula pesan ketiga orang guru saya, maka saya lalu membakar Istana Gurun Pasir setelah mengangkut jenazah mereka ke dalam sehingga jenazah itu ikut terbakar habis. Saya menjadi tawanan mereka, dan untung bahwa pada malam hari, saya mendapat kesempatan melarikan diri lalu bersembunyi di sebuah bukit sampai setahun, sampai habis waktu yang ditentukan untuk bersamadhi dan tidak boleh menggerakkan tenaga sin-kang."
Kembali Suma Hui dan puterinya menangis dan Kao Cin Liong menghela napas, panjang berkali-kali. "Aih, ayah ibuku dan paman Wan Tek Hoat dibunuh orang-orang jahat tanpa kami sedikit pun dapat membantu, bahkan engkau sendiri tidak dapat membela mereka, Sute. Betapa menyedihkan!"
"Akan tetapi, Suheng. Sudah seringkali saya mendengar dari mereka bahwa mereka memang mendambakan kematian dalam keadaan seperti itu, menentang datuk sesat. Mereka tewas, walaupun dalam usia yang sudah amat tua, namun tetap sebagai pendekar-pendekar sakti yang mereka inginkan. Mereka sama sekali tidak menyesal dan wajah jenazah mereka tersenyum penuh kebanggaan. Andaikata saya tidak dalam keadaan tak mampu bergerak dan dapat membela mereka sekalipun, agaknya saya akan tewas pula dan jenazah mereka bahkan akan terlantar. Sekali lagi maaf, Suheng, bahwa saya datang hanya membawa berita buruk."
"Sudahlah, Sute. Engkau tidak bersalah. Dan bagaimana dengan Istana Gurun Pasir itu?"
"Sudah rata dengan tanah, menjadi gundukan puing dan abu, menjadi kuburan ketiga guru saya.
Tiba-tiba Hong Li bangkit berdiri, kedua tangannya dikepal, kedua matanya merah dan basah dan ia berkata, "Di antara para penjahat itu masih ada tiga orang yang hidup! Sin-kiam Mo-li, Thian Kong Cinjin dan Thian Kek Sengjin! Aku harus mencari mereka untuk membuat perhitungan atas kematian kakek dan nenekku!"
"Tenanglah, Hong Li." Mereka itu bukan orang sembarangan, melainkan datuk-datuk sesat yang lihai dan mempunyai banyak sekali kawan. Apalagi kedua orang kakek itu yang merupakan tokoh-tokoh Pat-kwa-kauw dan Pek-liankauw! Memang kita tidak boleh tinggal diam, akan tetapi juga tidak boleh sembrono. Sute, bagaimana selanjutnya ceritamu? Apa yang selama ini kaulakukan sebelum engkau datang ke sini?" tanya Kao Cin Liong kepada Sin Hong.
Sin Hong lalu menceritakan riwayat dirinya, betapa ayahnya terbunuh orang dan ibunya tewas di padang gurun pasir sampai dia ditolong oleh Tiong Khi Hwesio, kakek Kao Kok Cu dan nenek Wan Ceng, kemudian menjadi murid mereka.
Diceritakannya tentang penyelidikannya, mengenai pembunuhan terhadap ayahnya dan betapa akhirnya dia memperoleh jejak bahwa di balik semua itu terdapat Tiat-liong-pang.
"Saya hendak melakukan penyelidikan ke pusat Tiat-liong-pang, Suheng. Bagaimanapun juga, mereka yang telah membunuh ayah saya, menyebabkan kematian ibu saya, kemudian membunuh pula Tang-piauwsu, kemudian orang she Lay itu, sungguh amat jahat dan perlu diselidiki. Oleh karena itu, setelah menyampaikah berita duka tentang kematian ketiga guru saya, saya mohon diri, hendak melanjutkan penyelidikan saya terhadap Tiat-liong-pang."
Keluarga Kao itu merasa terharu juga mendengar akan riwayat anak muda yang kini telah menjadi yatim piatu dan kehilangan tiga orang gurunya pula. "Tiat-liong-pang? Sungguh aneh, menurut pengetahuanku, Tiat-liong-pang adalah perkumpulan orang gagah yang sudah banyak berjasa kepada pemerintah, bahkan kalau tidak salah, ketuanya, Siangkoan Tek telah menikah dengan seorang puteri istana sebagai hadiah atas pahalanya terhadap pemerintah."
"Saya pun sudah mendengar akan hal itu, Suheng. Akan tetapi ketika hendak mati oleh serangan gelap, orang she Lay itu mengaku bahwa dia hanyalah anak buah saja dari Tiat-liong-pang. Pasti ada apa-apanya di sana dan saya akan menyelidiki sampai terbuka rahasia pembunuhan ayah saya itu."
"Memang sebaiknya demikian, Sute. Akan tetapi, hari sudah malam dan sebaiknya malam ini engkau bermalam di sini. Belum cukup kita bercakap-cakap dan aku ingin mendengar tentang kehidupan ayah ibuku pada waktu terakhir, kiranya besok pagi baru engkau dapat melanjutkan perjalanan."
Sin Hong tidak membantah dan malam itu dia bermalam di rumah keluarga suhengnya. Mereka bercakap-cakap sampai jauh malam dan Sin Hong menceritakan keadaan ketiga orang gurunya itu sebelum malapetaka itu datang menimpa.
Dalam kesempatan itu, keluarga Kao juga bertanya tentang ilmu yang diwariskan oleh tiga orang tua sakti itu. Sin Hong berterus terang mengakui. bahwa ilmu-ilmu mereka telah dipelajarinya dengan baik, bahkan sebelum mereka meninggal, mereka telah menggabung ilmu-ilmu mereka, diambil inti sarinya dan mereka bertiga bersama-sama menciptakan Pek-ho Sin-kun, lalu mengoperkan sin-kang mereka kepada Sin Hong untuk dipergunakan dalam permainan ilmu silat tinggi itu. Kao Cin Liong berhasil pula membujuk sutenya untuk berdemonstrasi memperlihatkan ilmu silat ciptaan baru itu. Sin Hong tidak berkeberatan dan ibu ayah dan anak itu mengagumi ilmu silat yang amat dahsyat dan hebatnya, juga indah karena banyak di antara gerakan meniru gerakan burung bangau yang anggun, tenang dan gagah.
Setelah pada keesokan harinya Sin Hong pergi meninggalkan rumah suhengnya, Hong Li menghadap kedua orang tuanya. Wajahnya keruh dan alisnya berkerut. "Ayah dan Ibu, aku merasa tidak puas sama sekali melihat sikap susiok Tan Sin Hong itu!"
Ayah bundanya terkejut dan memandang puteri mereka penuh perhatian. "Eh, apa maksudmu, Hong Li?" tanya ibunya.
"Susiok itu telah diselamatkan nyawanya oleh kakek dan nenek dan juga kakek Tiong Khi Hwesio, kemudian diberi pelajaran ilmu silat bahkan mewarisi penggabungan ilmu mereka. Dia berhutang budi yang tak terhitung banyaknya kepada tiga orang tua itu. Akan tetapi, ternyata dia terlalu mementingkan diri sendiri, setelah keluar dari gurun pasir, dia sibuk mengurusi kematian orang tuanya sendiri dan tidak mencari para pembunuh ketiga orang gurunya!"
"Aih, jangan berkata demikian, anakku! Bukankah sute Tan Sin Hong juga menceritakan betapa tiga orang tua itu selalu menekan kepadanya bahwa dia tidak boleh menyimpan dendam atas kematian ayahnya? Dendam adalah racun yang membakar diri sendiri, anakku. Karena itu, Sin Hong tidak mendendam, biarpun dia melihat sendiri betapa tiga orang gurunya tewas karena dikeroyok musuh, akan tetapi ternyata pihak musuh juga ada empat belas orang yang tewas! Kalau dihitung, kematian tiga orang tua itu tidaklah rugi dan tidak ada yang harus dibuat penasaran."
"Dia boleh saja berpendapat demikian, akan tetapi aku tidak, Ayah! Tanpa dosa, kakek dan nenekku, juga kakek Tiong Khi Hwesio, tiga orang tua yang selama ini kukagumi walaupun aku hanya mendengar penuturan ayah dan ibu saja, telah diserbu orang-orang jahat dan mereka sampai tewas. Bagaimana aku dapat tinggal diam saja kalau para pembunuhnya ada yang masih berkeliaran? Tidak, aku harus pergi mencari mereka untuk membalas kematian orang-orang tua yang tidak berdosa itu, Ayah!"
Kao Cin Liong saling pandang dengan isterinya. Setelah Istana Gurun Pasir terbakar dan kedua orang tuanya tidak ada lagi, memang tidak mungkin lagi mengajak puteri mereka itu merantau ke sana. Hong Li sudah terlalu dewasa dan cukup kuat berjaga diri, maka kalau ia hendak mencari para penjahat itu, hal ini baik sekali untuk mematangkan pengalamannya dan memungkinkannya untuk menemukan jodohnya.
"Dengarlah baik-baik, anakku! Kami tidak akan menghalangi niatmu. Kami menggemblengmu selama ini memang dengan harapan agar engkau menjadi seorang pendekar wanita yang selalu menentang kejahatan. Akan tetapi jangan engkau sesalkan kematian kakek dan nenekmu itu. Mereka adalah orang-orang yang sejak mudanya sudah berkecimpung di dunia persilatan, membuat nama besar di dunia kang-ouw, telah menentang dan membasmi entah berapa banyak orang jahat di dunia ini. Siapa bermain air basah, bermain api terbakar, dan kalau kini mereka itu tewas menentang para datuk hitam, hal itu sudah wajar. Setelah pertentangan itu hanya ada dua akibatnya, kalah atau menang, hidup atau mati. Dan mereka mati dalam tugas mereka, sama sekali mereka tidak menyesal dan tidak perlu disesalkan. Ingat, nenek moyangmu, dari ibumu, para pendekar Pulau Es, juga selalu menentang kejahatan. Kakek buyutmu, Pendekar Super Sakti di Pulau Es, bersama kedua orang nenek buyutmu, juga tewas dengan gagahnya di Pulau Es, sama dengan kematian kakek dan nenekmu di Istana Gurun Pasir. Kematian seperti itu tidak perlu disesalkan. Jadi, kalau engkau hendak mencari Sin-kiam Mo-li dan orang-orang Pat-kwa-kauw dan Pek-lian-kauw, jangan sekali-kali dasarnya membalas dendam kematian kedua orang kakek nenekmu, melainkan karena sudah menjadi tugasmu menentang mereka yang jahat. Mengertikah engkau?"
Hong Li mengangguk. "Aku mengerti Ayah."
"Akan tetapi, nanti dulu, Hong Li. Benarkah engkau hendak Menentang Sin-kiam Mo-li? Sudah bulat benarkah tekadmu itu? Engkau harus ingat bahwa bagaimanapun juga, di waktu kecil engkau pernah mengangkatnya sebagai guru, bahkan ibu angkat! Nah, yakinkah hatimu bahwa engkau akan mampu menentangnya?"
Gadis itu tertegun sejenak dan teringatlah ia akan semua pengalamannya di waktu kecil. Ketika ia berusia tiga belas tahun, pernah ia diculik seorang pendeta Lama yang sebetulnya adalah penyamaran Sin-kiam Mo-li, dan kemudian di tengah perjalanan, Sin-kiam Mo-li bersandiwara, seolah iblis betina itu yang menyelamatkannya dari tangan pendeta Lama sehingga ia diambil menjadi anak angkat dan murid! Akan tetapi kemudian muncul Gu Hong Beng dan Bi-kwi, juga Bi Lan dan Sim Houw, dan mereka itu berhasil menyelamatkannya, dan ia pun tahu akan tipu muslihat Sin-kiam Mo-li yang berhasil melarikan diri dari tangan para pendekar itu.
"Ibu, tentu saja aku sanggup untuk menentangnya. Memang benar aku pernah menganggap ia ibu angkat dan guru, akan tetapi semua itu terjadi karena ia menipuku, berpura-pura menjadi penolongku. Tidak, aku sudah tahu betapa jahatnya iblis betina itu, bahkan justeru karena ia yang telah membawa orang-orang jahat menyerbu istana kakek dan nenek, maka aku ingin sekali mencari dan menentangnya!"
"Akan tetapi jangan engkau lengah dan memandang ringan lawan, Hong Li. Engkau tentu tahu betapa lihainya Sin-kiam Mo-li. Selain amat lihai ilmu silatnya, juga ia menguasai sihir. Biarpun kami sudah menggemblengmu dengan kekuatan sin-kang untuk menolak pengaruh sihir, namun dalam hal ilmu silat, kiranya engkau masih kalah pengalaman. Apalagi kalau ia dibantu oleh para tokoh Pek-lian-kauw yang rata-rata pandai ilmu sihir dan orang-orang Pat-kwa-pai yang juga amat tangguh. Engkau harus berhati-hati, dan sebaiknya bergabung dengan para pendekar lainnya. Bagaimana kalau engkau mengunjungi dulu pamanmu Suma Ceng Liong di dusun Hong-cun dekat Cin-an? Siapa tahu puterinya Suma Lian, kini sudah pulang dan tentu sudah sebaya denganmu dan tentu memiliki ilmu kepandaian tinggi karena selain kedua orang tuanya amat sakti, juga ia digembleng oleh paman Gak Bun Beng."
"Akan tetapi aku tidak pernah bertemu dengannya, bahkan jarang berkunjung ke rumah paman Suma Ceng Liong. Aku merasa malu kalau harus minta bantuan mereka Ayah."
"Maksud ayahmu bukan minta bantuan, hanya untuk singgah di sana dan menyampaikan salam kami dan kabar selamat juga memberitahu tentang kematian kakek dan nenekmu di Istana Gurun Pasir. Dan dari percakapan itu, mungkin engkau akan dapat memperoleh petunjuk mereka," kata ibunya.
"Kalau begitu lain lagi persoalannya, Ibu. Baiklah, aku akan singgah di Hong-cun mengunjungi keluarga paman Suma Ceng Liong."
Tentu saja di balik anjuran itu tersembunyi harapan dalam hati Kao Cin Liong dan Suma Hui agar puteri mereka itu bertemu dengan keluarga dan siapa tahu dari keluarga itu akan muncul seorang calon jodoh bagi puteri mereka yang sudah cukup dewasa itu.
Sudah lajim bagi orang-orang tua yang hatinya selalu dipenuhi harapan-harapan bagi anak-anak mereka. Di waktu berada dalam kandungan, orang tua sudah mengharapkan agar anaknya lahir laki-laki atau perempuan, biasanya orang pada jaman dahulu lebih condong menghendaki agar kandungan itu lahir laki-laki. Kemudian kalau sudah lahir, mereka mengharapkan anak itu tumbuh menjadi seorang muda yang sehat dan pandai. Kalau sudah tiba waktunya menikah, mereka juga mengharapkan anak itu segera mendapat jodoh yang baik, kemudian harapan itu mulur terus. Mengharapkan agar mendapatkan cucu yang baik, agar keluarga anaknya itu menjadi keluarga bahagia, serba berkecukupan dan selalu dalam keadaan sehat. Semua ini akan menyenangkan hati orang tua, dan kalau terjadi sebaliknya, tentu saja mengecewakan dan mendatangkan duka!
Memang harapanlah yang mendatangkan kekecewaan! Mengharapkan suatu keadaan yang lain daripada keadaan yang ada saat ini, suatu keadaan yang dibayangkan akan lebih baik dan lebih menyenangkan. Kalau harapan itu terlaksana, datanglah kepuasan, akan tetapi sebentar saja karena kepuasan ini akan pudar lagi, tertutup harapan baru yang mulur dan mengejar harapan itu yang lebih jauh lagi. Kalau harapan pertama tidak tercapai, timbullah kekecewaan! Dan ini terjadi sejak manusia mulai mengerti sampai tiba ajalnya! Betapa menyedihkan hidup seperti itu, dipermainkan harapan-harapan sendiri. Bukan berarti kita selalu menjadi orang-orang yang putus asa, putus harapan dan mandeg, muram dan frustasi. Sama sekali tidak!
Akan tetapi, lakukan saja segala sesuatu dengan sepenuh hati, dengan perasaan cinta kasih terhadap apa yang kita lakukan dan terima saja hasilnya, apa pun juga, dengan wajar tanpa mengharapkan apa-apa. Hasil itu adalah kenyataan yang ada, dan dalam hidup, dan itulah keindahan. Terimalah anak yang terlahir sebagai hasil daripada perbuatan kita sendiri, dengan pasrah, tanpa pilihan dan menikmati apa yang ada, baik laki-laki maupun perempuan. Dengan demikian, maka tidak akan timbul kekecewaan apa-apa. Kemudian, dalam pendidikan, berilah cinta kasih, karena pendidikan yang terbaik adalah kasih sayang, cinta kasih yang berarti ingin melihat SI ANAK itu bebas dan berbahagia hidupnya. Bukan sekedar menjejali otaknya dengan ilmu-ilmu agar kelak menjadi ORANG, yang tentu dimaksudkan oleh ayah menjadi orang yang berharta dan berkedudukan! Kalau demikian harapannya, maka orang tua akan kecewa kelak, karena bukan harta dan kedudukan yang membahagiakan seseorang! Berilah kebebasan karena dalam kebebasan itu terletak sinar kebahagiaan. Hal ini bukan pula berarti bebas semau gua. Orang tua mengamati, mengawasi, mengingatkan tanpa terlalu mencampuri, mengarahkan tanpa terlalu mengikat.
Anak kita merupakan manusia tersendiri, dengan alam pikiran, selera dan perasaan sendiri. Dia adalah mahluk yang hidup, bukan tanah liat yang boleh kita bentuk sekehendak hati kita sendiri. Bahkan, dia dilahirkan bukan atas kehendaknya sendiri! Lebih condong menjadi korban atau akibat daripada perbuatan kita!
Jadi, biarpun dia kita namakan anak kita, namun itu hanyalah pengakuan saja. Anak kita akan tetapi bukan milik kita! Sekali batin kita memiliki, maka anak itu akan kita anggap sama dengan semua benda lain yang mengikat batin kita, yang menjadi milik kita. Ingin kita jadikan begini begitu menurut keinginan kita, kita jaga dan pelihara dengan pamrih agar menyenangkan kita. Kalau begitu, apa bedanya dengan memelihara seekor binatang peliharaan? Kita pilihkan agamanya, sekolahnya, bahkan jodohnya, dan kita gariskan bagaimana dia harus hidup! Dan semua itu dengan dasar bahwa kita melakukannya demi kebahagiaan dia! Kalau dikaji benar, bukankah dasarnya sesungguhnya adalah demi kebahagiaan kita, demi kesenangan kita karena tercapai sudah harapan dan keinginan kita?
Kewajiban kitalah untuk membimbing anak yang masih belum dewasa, yang masih belum memilih sendiri, dengan cinta kasih, dengan waspada akan minat dan seleranya. Akan tetapi kalau dia sudah dewasa, sudah sepatutnya kalau kita membebaskan dia hanya mengamati dari jauh, dari belakang yang bukan berarti acuh. Kalau toh ada pamrih, maka pamrih itu hanya satu, yaitu kita ingin melihat DIA berbahagia, tanpa memperhitungkan selera dan perasaan hati sendiri yang mungkin sekali bertolak belakang dengan selera dan perasaan hatinya. Bukankah cinta itu hanya memberi dan bukan meminta? Bukankah cinta itu berarti meniadakan diri yang berarti meniadakan nafsu pribadi?
Setelah mendapat banyak petuah dari ayah ibunya, dan membawa bekal secukupnya, baik pakaian maupun uang, berangkatlah Kao Hong Li meninggalkan rumah orang tuanya, diantar oleh ayah ibunya sampai di pintu pekarangan depan.
Setelah gadis itu tidak nampak lagi, dengan lesu Suma Hui dan suaminya masuk lagi ke dalam rumah. Melihat betapa isterinya nampak lesu dan bersedih ditinggalkan puterinya, Kao Cin Liong membimbingnya dan diajaknya duduk di ruangan dalam.
"Mudah-mudah ia akan memperoleh pengalaman dan terutama sekali dapat bertemu jodoh dalam perjalanannya," kata Kao Cin Liong.
"Setelah melihat Tan Sin Hong, aku merasa bahwa dia pun merupakan seorang calon mantu yang baik di samping Gu Hong Beng," kata Suma Hui melamun.
Kao Cin Liong tersenyum. "Biarkan ia memilih sendiri. Kalau memang Tuhan sudah menghendaki, tentu ia akan bertemu dengan jodohnya. Lahir, jodoh dan mati agaknya sudah ada garisnya."
***
Ada lagi pasangan suami isteri pendekar sakti yang amat terkenal di dunia kang-ouw. Si suami adalah Suma Ceng Liong, keturunan langsung dari keluarga para pendekar Pulau Es, cucu dari Pendekar Super Sakti. Usia Suma Ceng Liong telah empat puluh satu tahun dan dia bersama isterinya, Kam Bi Eng tinggal di dusun Hong-cun, di sebelah luar kota Cin-an di Propinsi Shantung. Pendekar Suma Ceng Liong ini, berbeda dengan cucu-cucu penghuni istana Pulau Es yang lain, dahulu adalah seorang yang ugal-ugalan, nakal dan gembira, walaupun memiliki kegagahan yang luar biasa. Tubuhnya tinggi besar dan dalam usia empat puluh satu tahun, dia kelihatan gagah dan berwibawa sekali, namun, wajahnya selalu cerah dan banyak senyum. Di antara cucu Pendekar Super Sakti penghuni Pulau Es, agaknya Suma Ceng Liong inilah yang paling lihai ilmu silatnya. Dia tidak saja mewarisi ilmu-ilmu keluarga Pulau Es, akan tetapi juga mewarisi ilmu sihir dari mendiang ibunya. Bahkan dia pernah berguru kepada seorang datuk sesat yang amat lihai, yaitu Hek I Mo-ong.
Isterinya yang bernama Kam Bi Eng juga bukanlah orang sembarangan. Ia adalah puteri dari pendekar sakti yang terkenal sekali di waktu dahulu sebagai seorang pendekar suling emas dan dalam hal ilmu silat, kiranya tidak begitu jauh tertinggal dari suaminya.
Kini, kedua orang suami isteri itu tinggal di dusun Hong-cun dan hidup sebagai petani yang cukup kaya dan memiliki tanah pertanian yang luas. Hidup tenteram, bahkan hampir tidak pernah lagi mereka berkecimpung di dunia kangouw.
Memang agak mengherenkan bahwa suami isteri yang demikian lihainya, dan yang hanya memiliki seorang saja anak perempuan, yaitu Suma Lian, membiarkan puterinya itu digembleng oleh Bu Beng Lokai yang dahulu bernama Gak Bun Beng, masih terhitung paman sendiri dari Suma Ceng Liong. Hal ini adalah karena ketika masih kecil, dalam usia tiga belas tahun kurang, Suma Lian diculik datuk-datuk sesat dan kemudian ditolong dan dirampas kembali dari tangan para datuk sesat oleh Bu Beng Lokai. Suma Lian suka kepada kakek itu dan kedua orang tuanya tidak berkeberatan ketika puterinya menyatakan hendak ikut kakek itu merantau dan menjadi muridnya. Memang pendirian orang-orang kang-ouw seperti suami isteri ini berbeda dengan pasangan-pasangan biasa. Mereka merelakan puteri mereka di dalam asuhan paman yang mereka tahu memiliki kesaktian itu.
Akan tetapi, delapan tahun kemudian, tetap saja mereka berdua merasa rindu bukan main kepada puteri mereka. Suma Lian telah berusia dua puluh tahun lebih, sudah dewasa dan tentu sudah menjadi seorang gadis cantik yang sudah tiba saatnya untuk menikah! Maka, dapat dibayangkan betapa gembira rasa hati, mereka ketika pada suatu pagi, secara tiba-tiba saja seorang gadis cantik muncul di depan mereka! Gadis itu, dengan sepasang matanya yang kocak, pakaiannya yang nyentrik, sikapnya yang lincah jenaka, dan ketika itu memandang kepada mereka dengan mulut tersenyum yang menciptakan lesung pipit di kanan kiri ujung mulutnya, segera mereka kenal dengan baik.
"Lian-ji....!" teriak suami isteri itu hampir berbareng dan Suma Lian segera menubruk ibunya.
"Aih, anakku....!" Kam Bi Eng menjerit dan merangkul gadis itu, menciuminya dengan penuh kerinduan dan kedua orang wanita itu pun menangis, menangis penuh keharuan dan kebahagiaan.
"Ayah....!" Suma Lian lalu melepaskan ibunya dan menjatuhkan dirinya berlutut di depan kaki ayahnya, akan tetapi Suma Ceng Liong menangkapnya dan menariknya berdiri, lalu memegang kedua pundaknya. "Biarkan aku melihat wajah anakku....!" katanya dengan suara gemetar karena dia pun gembira dan terharu bukan main. Ayah dan. anak itu saling pandang, kedua mata Suma Lian basah air mata, akan tetapi mulutnya tersenyum sehingga nampak deretan giginya yang putih dan rapi seperti mutiara berbaris.
"Ha-ha-ha!" Tiba-tiba Suma Ceng Liong tertawa. "Engkau....engkau persis ibumu di waktu masih gadis, ha-ha-ha! Engkau cantik manis dan gagah!".
"Dan engkau pun masih sama seperti dulu, Ayah. Malah semakin gagah saja!" kata pula Suma Lian yang juga tertawa dan ayah yang merasa amat gembira itu segera berangkulan dengan puterinya. Kam Bi Eng juga merangkulnya dan tiga orang itu saling berangkulan sambil memasuki rumah.
Tidak ada kebahagiaan yang lebih besar dirasakan dalam hubungan antara manusia yang melebihi pertemuan dari orang-orang yang saling merindukan dan berpisah dalam waktu yang amat lama. Apalagi bagi suami isteri itu, yang seolah-olah kehilangan puteri mereka, tidak tahu di mana adanya puteri mereka itu selama tujuh delapan tahun! Dan kini, tanpa kabar berita, puteri mereka itu muncul begitu saja, bukan hanya dalam keadaan sehat selamat, akan tetapi lebih daripada itu, telah menjadi seorang gadis dewasa yang amat cantik manis mengagumkan, dengan ilmu kepandaian yang amat tinggi pula.
Tentu saja Suma Lian ditagih untuk menceritakan segala pengalamannya selama pergi merantau dan menjadi murid paman mereka Bu Beng Lokai. Suma Lian, si gadis lincah dan pandai bicara, membuat cerita yang menarik sekali, diceritakan dengan gaya dan gerak lincah semua pengalamannya ketika merantau mengikuti kakeknya sebagai pengemis-pengemis nyentrik! Pengemis yang hanya sebatas pakaian tambal-tambalan saja, akan tetapi tidak pernah minta-minta, bahkan terlalu sering memberi sedekah kepada orang lain, baik dengan perbuatan atau pun dengan barang dan uang. Diceritakannya pula tentang sumoinya, Pouw Li Sian, dan tentang mereka berdua mempelajari ilmu silat tinggi, digembleng oleh guru dan kakeknya itu. Akhirnya ia bercerita pula tentang pamannya, Gak kembar yang datang menengok orang tua itu bersama isteri mereka yang seorang dan putera mereka. Betapa ia terpaksa harus membantu keluarga Gak mengusir nenek iblis Hek-sim Kuibo dan Hok Yang Cu, tokoh Pat-kwa-pai yang ingin menculik putera mereka. Kemudian sekali, dengan wajah berduka ia menceritakan tentang kematian kakek Gak Bun Beng.
Ketika ayah dan ibunya mendengar akan kematian kakek itu, mereka terkejut dan wajah mereka pun diliputi kedukaan.
"Ah, tak kusangka paman Gak Bun Beng sudah meninggal dunia!" kata Kam Bi Eng yang merasa terharu mendengar akan kematian kakek itu setelah bertemu dengan dua orang anak kembarnya.
Suma Ceng Liong menarik napas panjang, "Bagaimanapun juga, usia paman Gak Bun Beng sudah tua sekali, sudah lebih dari sembilan puluh tahun. Memang kasihan sekali. Aku mendengar bahwa sejak ditinggal mati isterinya, bibi Milana, dia hidup menderita kesepian, apalagi karena merasa kecewa akan keadaan kedua orang putera kembarnya. Karena itulah, maka dulu ketika anak kita diajak pergi untuk dididiknya, aku menyetujuinya karena aku merasa kasihan kepadanya."
"Ayah dan Ibu, kulihat bahwa kehidupan kedua paman Gak kembar itu cukup berbahagia dengan seorang isteri dan seorang putera mereka, mengapa mendiang kong-kong tadinya merasa kecewa melihat kedua orang putera kembarnya menikah dengan seorang wanita?"
"Aih, Lian-ji, hal itu hanya karena menyimpang dari kebiasaan saja. Biasanya, seorang pria menikah dengan seorang wanita. Kalau ada pria menikah dengan dua orang wanita, hal itu masih dianggap lumrah. Akan tetapi seorang wanita menikah dengan dua orang pria? Memang tidak lumrah."
"Tapi mereka itu saling mencinta dan rukun sekali, dan aku melihat kedua orang paman Gak kembar itu amat serupa, bukan hanya sama wajah, tubuh dan gerak-geriknya, bahkan sikap, dan bicaranya, bahkan jalan pikirannya, serupa benar, seperti satu orang dengan dua badan saja. Kalau memang mereka sudah menghendaki, mereka berdua saling mencinta bibi Souw Hui Lian, mau apa lagi? Sebelum meninggal dunia, kong-kong sering bicara akan hal itu dan dia menyatakan kesadarannya bahwa dialah yang keliru kalau merasa kecewa dalam urusan itu. Yang penting dalam pernikahan adalah mereka yang langsung terkena dan yang mengalaminya, bukan pandangan orang lain, demikian dia pernah berkata."
"Sudahlah, kita memang tidak berhak untuk membicarakan dan menilai, akan hal itu," kata Suma Ceng Liong. "Sekarang ceritakan saja tentang ilmu-ilmu apa saja yang pernah kau dapatkan dari mendiang paman Gak Bun Beng. Kami ingin sekali melihatnya."
Untuk melegakan dan memuaskan hati ayah ibunya, Suma Lian lalu memperlihatkan ilmu-ilmu silat yang pernah dipelajarinya dari kakek Bu Beng Lokai. Dari kakek itu, Suma Lian menerima banyak sekali ilmu silat, terutama sekali ilmu silat yang berdasarkan ilmu silat Siauw-lim-pai, juga Ilmu Silat Pengacau Lautan (Lo-thian Sin-kun) dan ilmu pedangnya, ilmu-ilmu dari Pulau Es, dan disamping tenaga sakti Hui-yang Sin-kang dan Swat-im Sin-kang, juga mempelajari ilmu tenaga sakti yang disebut Tenaga Inti Bumi.
Melihat gerakan lincah puteri mereka, dan menyaksikan kekuatan sin-kang yang cukup dahsyat, Suma Ceng Liong dan isterinya merasa gembira sekali dan puas. Ternyata puteri mereka itu tidak percuma meninggalkan rumah sampai tujuh delapan tahun. Akan tetapi, tentu saja mereka tidak merasa puas kalau belum menurunkan ilmu-ilmu simpanan mereka. Oleh karena itu, Suma Ceng Liong lalu mengajarkan Ilmu Coan-kut-ci (Jari Penembus Tulang) yang dipelajarinya dahulu dari Hek I Mo-ong, juga mengajarkan ilmu sihir dari ibunya. Sementara itu, Kam Bi Eng juga mengajarkan ilmu pedang yang dimainkan dengan suling atau dapat juga dengan ranting pohon, yaitu penggabungan ilmu pedang Koai-liong-kiam dan Kim-sim Kiam-sut.
Kita tinggalkan dulu Suma Lian yang kini sudah berada di rumah orang tuanya, saling melepas rindu dan juga gadis ini tekun memperdalam ilmu silatnya dengan tambahan ilmu-ilmu tinggi dari ayah bundanya, dan mari kita mengikuti perjalanan sumoinya, yaitu Pouw Li Sian.
Setelah meninggalkan lereng bukit di mana untuk beberapa tahun ia tinggal bersama gurunya dan sucinya, kemudian berpisah dari sucinya, hati Li Sian merasa berat sekali. Baru ia merasa kehilangan sekali. Selama hampir delapan tahun ini, ia seperti mengalami suatu kehidupan baru. Sebelum itu ia adalah puteri bangsawan yang hidup dalam gedung yang mewah dan besar, hidup terhormat dan mulia, berenang dalam kemewahan. Kemudian secara mendadak sekali, timbul malapetaka menghantam keluarganya dan ia lalu hidup terlunta-lunta, seperti seorang pengemis, bersama kakek Bu Beng Lokai dan sucinya, Suma Lian. Namun, akhirnya ia menemukan suatu kehidupan yang berbahagia bersama mereka menganggap mereka berdua itu seperti keluarganya sendiri, pengganti keluarganya yang sudah binasa. Ia hampir melupakan keadaannya semula dan sudah dapat menyesuaikan diri dengan keadaan yang baru itu. Akan tetapi kembali, kini terjadi perubahan. Ia harus meninggalkan lagi keadaan itu, memasuki keadaan lain yang amat mencemaskan hatinya. Ia seorang diri! Kehilangan gurunya yang amat disayangnya, kemudian berpisah dari sucinya yang dianggapnya seperti enci sendiri. Ingin rasanya ia menangis ketika Li Sian melakukan perjalanan seorang diri di antara pohon-pohon di tempat sunyi itu.
Keadaan yang bagaimanapun juga di dalam kehidupan ini tidaklah abadi. Sewaktu-waktu sudah pasti akan terjadi perubahan. Hal seperti inilah yang menimbulkan kesengsaraan. Orang diharuskan terpisah dari apa yang disayanginya, dan orang dipaksa bertemu dengan keadaan-keadaan baru yang asing dan dianggap tidak menyenangkan. Semua ini terjadi karena adanya ikatan-ikatan dengan masa lalu dan harapan-harapan untuk masa depan. Ikatan dengan benda, dengan orang, atau dengan gagasan, selalu menimbulkan rasa nyeri kalau ikatan itu dipaksa lepas dari kita. Dan harapan-harapan di masa depan, hanya mendatangkan kekecewaan saja kalau tidak terlaksana seperti yang kita harapkan. Hanya orang bijaksana saja, yang hidup dari saat ke saat, yang tidak terikat oleh masa lalu dan tidak menjangkau masa depan, dia saja yang akan tetap kokoh kuat dan tak tergoyahkan angin ribut yang terjadi karena suatu perubahan!
Hidup dari saat ke saat bukan berarti penyesuaian diri, karena penyesuaian diri juga hanyalah suatu pemaksaan belaka. Hidup dari saat ke saat berarti menghadapi apa pun yang terjadi SAAT INI seperti apa adanya, penuh kewajaran, tanpa menolak, tanpa menentang, tanpa menilai baik buruknya. Kewaspadaan setiap saat dalam menghadapi segala peristiwa hidup yang menimpa diri ini menimbulkan kebijaksanaan seketika, tidak lagi dituntun oleh perhitungan pikiran yang selalu ingin merangkul kesenangan dan menolak kesusahan.
Li Sian menuju ke kota raja, di mana dahulu ayahnya, Pouw Tong Ki, Menteri Pendapatan, tinggal dan menjadi seorang di antara bangsawan tinggi, seorang menteri! Karena permusuhannya dengan thai-kam (orang kebiri) Hou Seng yang menjadi kekasih kaisar, maka Menteri Pouw sekeluarganya terbasmi, dan Li Sian tertolong oleh Bu Beng Lokai. Adapun empat orang kakaknya, semuanya laki-laki, ditawan dan dimasukkan penjara.
Li Sian memasuki kota raja dan mulai melakukan penyelidikan tentang nasib keluarga orang tuanya. Ia sudah tahu bahwa keluarga ayahnya sebagian besar tewas dalam penyergapan kaki tangan Hou Seng seperti ayah dan ibunya, akan tetapi ia mendengar bahwa empat orang kakaknya telah ditawan dan dijebloskan ke penjara. Ia menyelidiki tentang empat orang kakaknya itu dan mendapat berita yang amat menyedihkan hatinya. Tiga di antara mereka dibuang dan besar kemungkinan telah tewas. Akan tetapi seorang di antara mereka, kakaknya yang sulung, bernama Pouw Cian Hin, telah diampuni oleh kaisar dan kini telah menjadi seorang perwira yang bertugas di perbatasan utara. Mendengar ini, giranglah hati Li Sian. Segera ia meninggalkan kota raja dan melakukan perjalanan ke utara, ke perbatasan dekat Tembok Besar.
Akan tetapi, tentu saja sebagai seorang gadis yang selama hidupnya belum pernah melakukan perjalanan ke utara, ke daerah yang amat sukar dan berbahaya itu, amatlah sukar bagi Li Sian untuk dapat menemukan kakaknya itu. Daerah utara ini luas sekali. Tembok Besar itu panjang ribuan li, melalui gunung dan jurang, dan tak terhitung pula banyaknya pasukan yang berjaga di sepanjang Tembok Besar, sedangkan ia tidak tahu kakaknya itu bertugas di pasukan yang mana.
Kemudian teringatlah ia kepada Tiat-liong-pang! Ketua Tiat-liong-pang, Siangkoan Tek, dahulu adalah seorang sahabat baik ayahnya. Pernah ketua Tiat-liong-pang itu datang berkunjung kepada ayahnya dan berjumpa dengannya. Ia teringat betapa ketua Tiat-liong-pang itu amat baik dengan ayahnya, seorang yang amat ramah. Teringat ini, ia pun menjadi girang dan timbul harapannya. Kalau ia berkunjung ke Tiat-liong-pang dan minta bantuan ketuanya, tentu akan lebih mudah baginya untuk menemukan kakaknya yang menjadi perwira itu. Dengan penuh harapan, mulailah Li Sian menyelidiki di mana adanya Tiat-liong-pang dan ternyata tidak banyak kesukaran ia memperoleh keterangan bahwa perkumpulan itu berada di lereng bukit di luar kota Sang-cia-kou. Maka, ia pun segera melakukan perjalanan menuju ke sana.
***
Gadis hitam manis itu dengan langkah lebar menuju ke lereng bukit yang mendaki. Ia adalah seorang gadis yang baru tumbuh dewasa, berusia delapan belas tahun, bagaikan setangkai bunga mulai mekar. Tubuhnya yang agak jangkung dengan sepasang kaki panjang itu nampak segar dan tegap berisi, langkahnya lebar dan kuat, pinggangnya ramping dan ketika ia melangkah mendaki bukit, pinggulnya menari-nari. Gadis itu manis sekali, terutama sekali mulutnya yang bibirnya selalu basah kemerahan, bibir yang penuh dan membuatnya kelihatan berwajah cerah, ramah dan bergairah. Namun, sinar matanya lembut, membayangkan kehalusan dan kesabaran walaupun sinar matanya yang tajam membayangkan keberanian dan kegagahan.
Ia adalah Kwee Ci Hwa, puteri tunggal Kwee Tay Seng yang tinggal di Ban-goan. Perjalanan dari Ban-goan ke Sangcia-kou tidaklah begitu jauh, akan tetapi menempuh perjalanan melalui pegunungan dan tanah tandus, di antara Tembok Besar yang liar. Akan tetapi, Ci Hwa adalah seorang gadis yang gejak kecil sudah digembleng oleh ayahnya dengan ilmu silat sehingga ia sudah cukup kuat untuk membela diri kalau ada bahaya mengancamnya.
Ia sama sekali tidak tahu bahwa dunia ramai di luar pekarangan rumahnya penuh dengan orang-orang jahat yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, dan bahwa tingkat kepandaiannya itu, kalau dipergunakan untuk berjaga diri terhadap ancaman orang-orang jahat, sungguh masih jauh daripada mencukupi. Memang, menghadapi gangguan pemuda-pemuda atau pria-pria hidung belang dan mata keranjang biasa saja yang berani mengganggunya, Ci Hwa sudah cukup mampu membela diri dan menghajar mereka. Akan tetapi, ia belum pernah bertemu dengan penjahat yang berilmu tinggi.
Dengan langkah lebar dan gagah ia mendaki bukit itu. Tiat-liong-pang, berada di lereng bukit itu dan sudah nampak pagar temboknya yang tinggi dari bawah. Akan tetapi untuk mencapai lereng itu, ia masih harus melalui beberapa daerah berhutan, dan naik turun beberapa anak bukit. Dan keadaan di situ sunyi sekali, tak nampak seorang pun manusia. Ia harus mendatangi Tiat-liong-pang. Ia akan menemui pengurus Tiat-liong-pang dan bertanya secara terang-terangan saja mengenai urusan Tiat-liong-pang dengan perusahaan piauwkiok yang dimiliki oleh Tan Piauwsu, ingin bertanya apa hubungan Tiat-liong-pang dengan kematian dan pembunuhan-pembunuhan itu. Ia ingin mencuci nama ayahnya yang tadinya dituduh sebagai pembunuh Tan Piauwsu, dan yang terakhir sekali orang she Lay si gendut itu. Ia harus membersihkan nama ayahnya dari Sin Hong! Pemuda itu amat menarik dan mengagumkan hatinya, dan ia merasa kasihan atas nasib pemuda itu, merasa ikut bertanggung jawab setelah ayahnya dicurigai.
Ketika ia melangkah memasuki hutan pertama yang tidak begitu besar, tiba-tiba saja muncul lima orang laki-laki dari usia tiga puluh sampai empat puluh tahun. Melihat pakaian mereka yang ringkas, dan mereka semua membawa busur dan anak panah, mudah diduga bahwa mereka adalah lima orang pemburu binatang. Lima orang itu memang merupakan pemburu binatang di daerah itu, dan mereka tentu saja bukanlah orang-orang yang biasa melakukan kejahatan. Akan tetapi, agaknya di dunia ini memang ada suatu kelemahan pada diri semua pria. Pria yang lajim, kalau berada seorang diri saja, memang tidak mempunyai keberanian untuk mengganggu seorang wanita, kecuali kalau memang pria itu berwatak mata keranjang dan memiliki kecondongan sebagai pengganggu wanita yang nekat. Akan tetapi, biarpun pria yang tidak suka mengganggu wanita kalau berada seorang diri, akan timbul kecondongan itu kalau mereka berteman! Kekurangajarannya akan menonjol dan akan timbul keberanian bagi mereka untuk melakukan gangguan, mungkin saja karena hati mereka menjadi besar dengan adanya teman-teman, dan mungkin pula karena mereka ingin menonjol dan agar dianggap cukup "jantan". Demikian pula dengan lima orang itu, begitu melihat bahwa di tempat sunyi itu muncul seorang gadis yang amat manis seorang diri saja, mereka segera menyeringai dan siap untuk menggoda. Kesunyian tempat itu membuat mereka iseng dan sifat kekurangajaran pria terhadap wanita pun menonjol sepenuhnya, tidak terbendung lagi oleh perasaan malu dan segan seperti kalau seorang diri saja.
"He, di sini tidak menemukan harimau, yang muncul malah seekor kijang betina muda yang amat cantik!"
"Wah, seekor domba muda yang indah sekali!"
"Tentu lunak sekali dagingnya!"
"Ha-ha-ha, jangan-jangan ia seorang dewi penunggu hutan bukit!"
"Wahai nona manis, dari mana hendak ke mana dan siapa namamu?"
Ci Hwa mengerutkan alisnya ketika lima orang laki-laki itu sudah berdiri menghadang di depannya sambil menyeringai dan jelas sekali betapa pandang mata mereka yang menjelajahi tubuhnya itu amat kurang ajar, seolah-olah hendak menelanjanginya. Namun, ia masih dapat menahan kemarahannya, dan dengan sikap halus ia pun menunduk.
"Aku adalah seorang yang sedang lewat jalan untuk mencari dan mengunjungi Tiat-liong-pang, harap Cu-wi (Tuan sekalian) suka memberi jalan." katanya halus dan ia pun hendak melangkah maju, mengharapkan lima orang itu akan membuka jalan.
Akan tetapi, lima orang itu sudah melihat betapa gadis ini manis sekali, tubuhnya demikian padat dan ranum, dan terutama mulutnya demikian indah penuh gairah, menjanjikan hal-hal yang amat menyenangkan bagi mereka, maka sedikit pun mereka tidak mau membuka jalan, bahkan tertawa-tawa dan menyeringai dengan pandang mata cabul.
"Aih, mengapa tergesa-gesa, Nona?"
"Mari kita berkenalan lebih dulu."
"Siapakah nama nona manis?"
"Apakah engkau sudah menikah dengan seorang anggauta Tiat-liong-pang?"
"Hai, nona manis, tahun ini berapa sih usiamu? Tentu kurang lebih tujuh belas tahun, ya?"
Ci Hwa mengerutkah alisnya, maklum bahwa ia berhadapan dengan segerombolan orang yang kurang ajar.
"Aku tidak mengenal kalian, dan tidak mempunyai urusan dengan kalian, kecwali kalau kalian ini anggauta-anggauta Tiat-liong-pang. Apakah kalian anggauta perkumpulan itu?"
Lima orang itu saling pandang dan tertawa-tawa ha-ha-he-he-he, menggeleng kepala. Seorang di antara mereka, yang mukanya penuh cambang bauk, menyeramkan sekali, agaknya menjadi kepala di antara mereka, lalu bertanya, Nona manis, apakah engkau isteri seorang di antara orang Tiat-liong-pang?"
"Bukan, akan tetapi aku mempunyai urusan dengan Tiat-liong-pang dan mencari perkumpulan itu."
"Ha-ha-ha, kalau begitu, mengapa mencari mereka? Sudah ada kami di sini, dan kami tidak kalah gagah oleh mereka, bukan? Nah, engkau agaknya belum ada yang punya, Nona. Mari kau ikut saja dengan kami, kita bersenang-senang!" Si brewok itu mengulur tangannya hendak meraba dagu Ci Hwa. Gadis itii cepat melangkah mundur mengelak dan ia pun menjadi marah sekali.
"Kalian ini orang-orang kurang ajar! Aku tidak mempunyai urusan dengan kalian!" Setelah berkata demikian Ci Hwa lalu melangkah lebar, mengambil jalan mengitari mereka untuk melanjutkan pendakiannya naik ke bukit itu.
Akan tetapi, seorang di antara mereka sudah meloncat dan menghadangnya sambil menyeringai lebar, memperlihatkan gigi yang hitam-hitam menguning karena rusak dan tak pernah dibersihkan.
"He, he, he, jangan pergi dulu, nona manis. Sedikitnya harus memberi tinggalan cium dulu padaku, he, he, he!" Dan dia pun menubruk hendak merangkul dan mencium gadis yang menggiurkan hatinya itu.
Akan tetapi Ci Hwa yang sudah bangkit kemarahannya itu menyambut dengan tendangan yang sama sekali tidak disangka-sangka oleh penyerang yang bertubuh tinggi kurus itu.
"Dukkk!" Ujung sepatu Ci Hwa mengenai perut orang itu. "Augkkk....!" Orang itu membungkuk, memegangi perutnya yang mendadak terasa mulas itu. Mungkin usus buntunya tertendang dan dia pun mengaduh-aduh sambil memegangi perut dan berloncatan seperti seekor monyet menari-nari.
Melihat ini, dua orang temannya menubruk maju untuk menangkap Ci Hwa.
"Wah, galak juga perempuan ini!" kata yang seorang.
"Makin liar semakin menyenangkan, seperti seekor kuda betina yang masih belum jinak, ha-ha-ha!" kata orang kedua.
Ditubruk oleh dua orang dari kanan kiri, Ci Hwa tidak menjadi gentar. Bagaimanapun juga, sejak kecil ia sudah belajar silat dari ayahnya, maka sekali melompat ke belakang, tubrukan itu pun luput dan dari samping kembali kakinya menendang. Sekali ini, tendangannya dapat ditangkis, bahkan orang itu bermaksud menangkap kakinya, Ci Hwa sudah menarik kembali kakinya dan kini ia mendoyongkan tubuh ke kiri dan tangan kirinya diayun keras sekali, menampar orang ke dua.
"Plakkk!" Tamparan itu keras sekali.
"Aduhhh....!" Orang yang menjadi korban kedua itu mendekap mulutnya yang berdarah kembali meludahkan dua buah giginya yang copot akibat tamparan itu. "Bedebah!" Dia membentak dan kini dia pun maju lagi dengan amat marah.
Orang yang tadi kena tendang juga sudah bangkit, dan kini lima orang itu bagaikan lima ekor kucing yang kelaparan, mengurung Ci Hwa dengan sikap mengancam.
"Perempuan liar!" bentak si brewok. "Kita tangkap ia dan kita gilir ia sampai ia minta ampun!"
Kini Ci Hwa terpaksa harus melindungi tubuhnya dengan mengelak, menangkis dan berusaha membalas dengan tendangan dan pukulan. Akan tetapi, lima orang itu ternyata bukan orang lemah sehingga baju Ci Hwa dapat dicengkeram dan sekali tarik, terdengar suara kain robek dan terbukalah bagian dada Ci Hwa, memperlihatkan sedikit bukit dadanya yang masih tertutup pakaian dalam.
"Hemmm, mulus !" Mereka berteriak-teriak dan kini Ci Hwa cepat melolos senjatanya, yaitu sebuah sabuk rantai. terbuat dari perak. Senjata ini merupakan andalan ayahnya dan ia pun sudah pernah berlatih dengan senjata ini
Begitu ia menggerakkan tangannya, sabuk terlepas dan menyambar ke depan menjadi gulungan sinar putih. Seorang di antara mereka kurang cepat mengelak.
"Tukkk!" Ujung sabuk perak yang keras mengenai batok kepalanya dan orang itu pun menjerit kesakitan dan terpelanting, memegangi kepalanya yang mendadak bocor mengeluarkan darah itu sambil mengaduh-aduh dan menyumpah-nyumpah. Melihat ini, empat orang temannya menjadi marah.
"Gadis liar!" bentak si brewok dan mereka lalu mengeluarkan jaring dari punggung masing-masing. Itulah senjata mereka untuk menangkap binatang buruan di samping busur dan anak panah. Jaring itu kuat sekali, terbuat daripada tali-tali sutera yang tidak mudah putus. Kini mereka mengepung Ci Hwa oengan jaring siap di tangan, mulut mereka menyeringai dengan napas memburu penuh ketegangan karena mereka merasa seolah-olah mereka sedang mengepung seekor harimau betina yang hendak mereka tangkap hidup-hidup!
Ci Hwa menjadi bingung. Selama hidupnya baru ini ia berkelahi dikeroyok banyak orang, dan ia tidak tahu bagaimana harus menghadapi orang-orang yang memegang jaring seperti itu. Tiba-tiba si brewok membentak, memberi isyarat kepada teman-temannya dan seorang yang berdiri di belakang, sudah melempar jaringnya ke arah Ci Hwa. Melihat ada jaring menyambar ke atas kepalanya dari belakang, Ci Hwa hendak menyambar pula jaring lain yang tahu-tahu telah menutupi tubuhnya! Ia meronta dan berusaha melepaskan diri, namun sia-sia karena kini jaring-jaring yang lain sudah menyelimutinya. Ia meronta semakin keras, namun makin keras ia meronta, makin terlibat-libatlah tubuhnya dan akhirnya ia pun roboh. Ia merasa menyesal mengapa senjatanya itu bukan golok atau pedang yang tajam untuk dapat membikin putus tali-tali jala itu. Sebatang sabuk rantai yang tidak tajam, tentu saja tidak ada gunanya.
Lima orang itu kini tertawa-tawa mengitarinya dan menggunakan tali-tali jaring untuk mengikat tubuhnya. Ci Hwa yang sudah terlibat jaring-jaring itu tak mampu berkutik lagi kecuali memaki-maki.
"Lepaskan aku! Kalian ini manusia-manusia kurang ajar! Aku tidak bersalah terhadap kalian, kenapa kalian hendak menggangguku? Lepaskan!" Ia berteriak dan meronta, namun hanya dapat bergerak sedikit saja setelah tali itu membelit-belit tubuhnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar