Bi-kwi sudah merasa girang sekali ketika melihat betapa nenek itu hanya menangkis dengan gerakan lambat saja, tidak mengelak. Ia sudah membayangkan bahwa ia akan berhasil membikin patah atau bahkan buntung lengan nenek itu dengan tangannya yang dapat menjadi seampuh pedang. Bi Lan yang mengenal ampuhnya Kiam-ciang, mengerutkan alisnya dan memandang dengan khawatir juga, walaupun ia sudah yakin akan kesaktian subonya. Tak terelakkan lagi, tangan Bi-kwi bertemu dengan lengan kanan nenek Wan Ceng.
"Dukkk!" Terdengar pula bunyi kain robek dan ternyata lengan baju nenek itu robek seperti dibacok pedang, akan tetapi tangan itu sendiri berhenti ketika bertemu dengan kulit lengan, dan Bi-kwi terhuyung ke belakang seperti terdorong oleh tenaga yang amat kuat. Bi-kwi terkejut bukan main. Ilmunya memang telah berhasil merobek lengan baju nenek itu, akan tetapi ketika tangan yang dimiringkan tadi bertemu dengan lengan, ia merasa betapa kulit lengan itu lembut dan lunak, dan tenaga Kiam-ciang itu membalik dan membuatnya terhuyung. Di lain pihak, diam-diam nenek Wan Ceng juga terkejut karena tak menyangka bahwa tangan gadis cantik itu sedemikian ampuhnya sehingga dapat menjadi tajam seperti sebatang pedang saja.
Bi-kwi sudah menerjang lagi dan tiba-tiba nenek itu mendapat pikiran untuk memberi contoh kepada Bi Lan bagaimana caranya mempergunakan ilmu silat Ban-tok Ciang-hoat yang diajarkannya kepada Bi Lan untuk menghadapi serangan-serangan Bi-kwi. Melihat namanya, yaitu Ilmu Silat Selaksa Racun, tentu merupakan ilmu silat kaum sesat yang mengandung racun. Memang asal mulanya demikian. Dahulu, di waktu ia masih gadis, nenek Wan Ceng pernah menjadi murid seorang nenek iblis yang berjuluk Ban-tok Mo-li dan dari wanita sesat ini Wan Ceng menerima ilmu-ilmu silat yang mengandung racun amat jahatnya. Akan tetapi, setelah ia menjadi isteri Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir, ia telah menjadi seorang pendekar wanita dan ia tidak mau lagi mempergunakan ilmu silat yang pukulannya mengandung hawa beracun. Dengan bantuan suaminya, ia lalu merobah Ban-tok Ciang-hoat dari ilmu pukulan beracun menjadi ilmu pukulan yang mengandung sin-kang lembut namun di balik kelembutan itu terkandung tenaga yang amat hebat seperti yang pernah diperlihatkan kepada Bi Lan ketika tangannya mencengkeram batang pohon. Kini, Ban-tok Ciang-hoat hanya tinggal namanya saja yang mengerikan, akan tetapi sudah menjadi semacam ilmu silat yang lihai dan bersih, tidak lagi menggunakan racun. Ilmu inilah yang oleh nenek itu diajarkan kepada Bi Lan. Kini, menghadapi serangan-serangan Bi-kwi, nenek itu lalu sengaja memainkan ilmu silat ini untuk memberi contoh kepada Bi Lan.
Melihat ini, Kao Kok Cu maklum akan niat isterinya dan diapun berbisik kepada Bi Lan, "Lihat baik-baik gerakan subomu ketika menggunakan ilmu silat itu." Bi Lan mengangguk dan gadis yang cerdik inipun segera maklum akan maksud subonya. Ia berterima kasih sekali karena kini ia dapat lebih jelas melihat bagaimana cara mempergunakan ilmu silat itu untuk menghadapi serangan sucinya dengan ilmu-ilmu silat yang sudah dikenalnya pula. Hal ini amat penting baginya karena semenjak sekarang ia harus dapat membela diri terhadap serangan-serangan sucinya. Mengandalkan ilmu-ilmu silat yang diperolehnya dari sucinya untuk membela diri, tentu kurang meyakinkan dan kurang kuat, karena tentu saja ia kalah latihan, juga kalah kuat tenaga dalamnya yang dahulu dilatihnya secara keliru.
Perkelahian antara Bi-kwi dan nenek Wan Ceng itu memang seru bukan main. Bi-kwi amat lihai dan ia sudah berlatih secara matang. Ilmu-ilmu silat dari tiga orang gurunya sudah diresapinya benar, juga sudah dilatihnya secara matang. Betapapun juga, kini ia melawan nenek Wan Ceng yang telah menjadi isteri Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir, maka ia menemukan seorang lawan berat dan andaikata nenek itu masih belum setua itu, duapuluh tahun yang lalu saja tentu Bi-kwi akan sulit memperoleh kemenangan. Akan tetapi, kini nenek itu sudah tua, selain tenaganya berkurang juga daya tahannya menurun, apa lagi semangatnya untuk berkelahi dan mencari kemenangan sudah lemah, maka setelah lewat seratus jurus lebih, nenek itu mulai kelelahan.
Nenek Wan Ceng merasa sudah cukup memberi contoh kepada muridnya, dan iapun maklum bahwa kalau ia melanjutkan menghadapi gadis yang amat lihai itu dengan tangan kosong saja, keadaannya akan menjadi berbahaya.
"Singgg....!" Tiba-tiba nampak sinar menyilaukan mata dan sebatang pedang yang mengeluarkan hawa mengerikan telah berada di tangan kanan nenek itu. Bi-kwi sendiri terbelalak dan bergidik, maklum bahwa nenek itu telah memegang sebatang pedang yang ampuh dan mengandung hawa aneh.
Itulah Ban-tok-kiam! Dulu pernah pedang ini oleh nenek Wan Ceng diberikan kepada puteranya, putera tunggal yang bernama Kao Cin Liong. Akan tetapi setelah Kao Cin Liong menjadi seorang panglima, ia mengembalikan pedang itu kepada ibunya karena ia harus membawa pedang kekuasaan yang menjadi lambang kedudukannya. Pedang Ban-tok-kiam ini adalah sebatang pedang yang dahulu diterima oleh nenek Wan Ceng dari gurunya, nenek iblis Ban-tok Mo-li dan pedang ini adalah sebatang pedang yang terbuat dari pada baja pilihan. Yang mengerikan adalah bahwa senjata ini telah direndam sampai puluhan tahun dalam ramuan racun-racun yang amat kuat, maka diberi nama Ban-tok-kiam (Pedang Selaksa Racun). Sedikit saja tergores pedang ini sudah cukup membuat korbannya tewas!
Melihat isterinya mencabut Ban-tok-kiam, Kao Kok Cu cepat meloncat ke depan dan menarik lengan isterinya. "Kau istirahatlah," katanya halus. Wan Ceng sadar bahwa tidak semestinya ia menggunakan pedang itu, maka dengan muka merah iapun melangkah mundur dekat Bi Lan sambil menyimpan kembali pedangnya.
Sementara itu, Kao Kok Cu menghadapi Bi-kwi dan berkata, "Nona, hentikan kemarahanmu dan tidak perlu kau melanjutkan serangan-seranganmu. Kami datang ke tempat ini bukan bermaksud buruk, melainkan hendak mengobati Cau Bi Lan...."
"Mampuslah!" Bi-kwi yang masih marah dan penasaran karena tidak mampu mengalahkan nenek itu, kini sudah menerjang maju, menghantam dengan Kiam-ciang ke arah kepala kakek itu.
"Bi Lan, lihat baik-baik!" kata kakek itu dan diapun sengaja mengelak lalu bersilat dengan Ilmu Silat Sin-Liong Ciang-hoat untuk memberi contoh kepada murid barunya bagaimana menggunakan ilmu silat itu untuk menghadapi Bi-kwi. Kalau dia mau, tentu saja dengan sekali gebrakan dia akan mampu merobohkan Bi-kwi. Tingkat kepandaiannya terlampau jauh lebih tinggi dari pada tingkat Bi-kwi. Akan tetapi Pendekar Naga Sakti ini tidak mau berbuat demikian karena dia ingin memberi petunjuk kepada Bi Lan. Gadis inipun mengerti dan diamatinya dengan baik gerakan-gerakan suhunya ketika menghadapi Bi-kwi. Bi-kwi agaknya maklum bahwa ilmu kepandaian kakek ini lebih tinggi dari pada si nenek, maka iapun mengerahkan seluruh tenaganya dan mengeluarkan semua ilmu silatnya untuk menyerang kakek itu. Berturut-turut ia mempergunakan ilmu-ilmu dari ketiga orang suhunya, ilmu dari Raja Iblis Hitam yang disebut Hek-wan Sip-pat-ciang (Delapanbelas Jurus Ilmu Silat Lutung Hitam), lalu Ilmu Tendangan Pat-hong-twi dari Iblis Akhirat dan Hun-kin Tok-ciang dari Iblis Mayat Hidup. Akan tetapi, semua ilmu itu seperti permainan kanak-kanak saja ketika dihadapi oleh kakek lengan satu itu dengan Sin-liong Ciang-hoat, semua pukulan dan tendangan dapat dihalau dengan mudah dan setiap kali kakek itu balas menyerang dengan jurus dari ilmu silatnya, Bi-kwi terkejut dan terdesak hebat. Bahkan kalau kakek itu melanjutkan serangannya, tentu Bi-kwi akan terkena pukulan atau cengkeraman. Akan tetapi Kao Kok Cu sengaja tidak melanjutkan serangan balasannya, karena diapun hanya ingin memperlihatkan saja kepada muridnya bagaimana harus mengalahkan Bi-kwi dengan ilmu silat itu. Diam-diam Bi Lan girang bukan main. Jelas nampak olehnya semua itu dan mulailah ia melihat kelemahan-kelemahan pada ilmu-ilmu silat yang dimainkan sucinya dan iapun kagum bukan main karena kalau tadi subonya hanya membuktikan bahwa subonya mampu menandingi sucinya tanpa terdesak, sekarang suhunya benar-benar menguasai keadaan dan kalau suhunya menghendaki sudah sejak tadi Bi-kwi roboh!
Hal ini dirasakan langsung oleh Bi-kwi. Di samping rasa kagetnya, ia juga merasa penasaran sekali. Tadi melawan si nenek, sukar sekali baginya untuk dapat menang dan nenek itu ternyata mampu mengimbanginya. Nenek itu saja ia tidak mampu mengalahkan, dan kini, kakek itu ternyata memiliki kelihaian yang sama sekali tak pernah disangkanya. Hanya dengan sebuah lengan, kakek itu telah menutup seluruh lubang sehingga ia sama sekali tidak mampu menyerang dengan berhasil, bahkan setiap kali kakek itu membalas, ia bingung dan hampir terkena kalau saja kakek itu tidak menghentikan serangannya di tengah jalan. Jelaslah bahwa kakek itu sengaja mempermainkannya. Ia, Bi-kwi, dipermainkan seorang kakek tua renta! Padahal ialah orang yang telah mewarisi ilmu-ilmu kesaktian Sam Kwi! Untuk kedua kalinya dalam hidup, ia merasa terpukul lahir batin. Pertama ketika ia melawan Pendekar Suling Naga, dan kedua kalinya sekarang inilah! Hampir Bi-kwi menangis saking jengkel dan marahnya. Makin penasaran rasa hatinya dan semakin besar harapannya agar tiga orang gurunya berhasil menciptakan sebuah ilmu yang akan dapat dipakai menghadapi lawan-lawan tangguh seperti kakek ini dan Pendekar Suling Naga. Akan tetapi pada saat itu, kemarahan membuat ia lupa diri dan tiba-tiba ia mencabut pedangnya.
"Srattt....!" Wanita ini jarang mempergunakan pedang karena kedua tangannya saja sudah cukup untuk merobohkan dan membunuh lawan. Tadi kalau si nenek yang tangguh itu terus menyerangnya dengan pedang yang mengerikan itu, tentu iapun akan mengeluarkan pedangnya. Kini, merasa tidak sanggup menandingi kakek yang luar biasa itu, ia mencabut pedangnya. Padahal, ini hanya untuk gertakan belaka. Dengan pedang di tangan, ia tidak akan menjadi lebih lihai. Bahkan tanpa pedang ia dapat memainkan ilmu-ilmu yang dipelajarinya dari gurunya. Satu di antara ilmu Iblis Akhirat, yaitu Toat-beng Hui-to, merupakan senjata rahasia pisau terbang yang tidak dapat dilakukannya dengan pedang dan ia masih belum mempersiapkan pisau-pisau yang cocok untuk dipakai dalam ilmu melempar pisau yang dapat terbang membalik itu.
Melihat gadis itu mengeluarkan pedang, Kao Kok Cu mengerutkan alisnya dan barseru nyaring, "Tak baik main-main dengan senjata! Lepaskan pedang!" Pada saat itu, Bi-kwi sudah membacokkan pedangnya. Kakek itu menangkis dengan tangan kanan, menyambut begitu saja pedang telanjang itu dengan jari-jari tangannya, dan nampak pundak kirinya bergerak dan tahu-tahu lengan baju kiri yang kosong itu meluncur ke depan dan menotok pinggang Bi-kwi. Bi-kwi mengeluarkan seruan kaget tubuhnya lemas dan pedangnya terpental, terlepas dari tangannya dan ia tak kuat berdiri lagi, lalu jatuh bertekuk lutut!
Bi Lan memandang dengan bengong dan penuh kagum. Ternyata setelah dikehendakinya, kakek itu mampu merobohkan Bi-kwi dan sekaligus membuat pedang terlempar. Bukan main!
Akan tetapi Bi-kwi yang tidak tahu diri menjadi semakin berang sampai mata gelap dan ia lalu meloncat berdiri lagi dan menggunakan tangan untuk menghantam dada kakek itu.
"Desss....!" Bukan kakek itu yang roboh, melainkan tubuh Bi-kwi yang terjengkang dan terbanting keras sebelum pukulannya mengenai dada, karena kakek itu telah menggerakkan tangan kanannya yang melakukan gerakan mendorong ke depan sehingga tubuh wanita itu diterjang angin pukulan yang amat kuat. Akan tetapi bantingan ini tidak membuat Bi-kwi menjadi jera. Ia sudah melompat bangun lagi, mukanya menjadi pucat saking marahnya dan sambil mengeluarkan suara melengking, tubuhnya sudah meluncur ke atas dan ke depan, ke arah kakek itu dalam sebuah serangan maut yang amat hebat. Dalam serangan ini dua buah tangannya menyerang dua bagian tubuh, juga kedua kakinya melakukan tendangan!
"Hemmm....!" Pendekar Naga Sakti mengeluarkan seruan dari hidungnya dan menggerakkan tangan kanan, disusul lengan baju kirinya yang kosong menyambar ke depan.
"Desss.... brukkk....!" Tubuh Bi-kwi terbanting lebih keras lagi dan kini agaknya ia merasa pening karena ia merangkak dan tidak dapat segera bangkit.
Bi Lan menjatuhkan diri berlutut di depan Kao Kok Cu. "Harap suhu suka mengampuni suci Bi-kwi." Kemudian gadis ini menoleh ke arah sucinya dan membentak. "Suci, engkau tidak tahu siapa yang kaulawan! Beliau adalah Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir! Apakah kau masih berani kurang ajar lagi?"
"Ahh....!" Bi-kwi terkejut bukan main, merasa seperti disambar halilintar kepalanya. Ia mengangkat muka memandang kakek itu, melihat ke arah lengan baju kiri yang kosong dan iapun teringat.
Tentu saja ia pernah mendengar nama besar Pendekar Naga Sakti dari Istana Gurun Pasir, ayah kandung bekas Panglima Kao Cin Liong, nama yang dalam kebesarannya tidak kalah oleh nama Pendekar Super Sakti dari Pulau Es. Dan ia tadi sudah mati-matian menyerangnya!
"Aihh....!" katanya lagi dan iapun melompat bangun lalu melarikan diri, kembali ke tempat guru-gurunya. Hatinya merasa gentar, juga malu, juga marah dan penasaran.
Setelah Bi-kwi pergi jauh, Kao Kok Cu menarik napas panjang. "Siancai.... sucimu itu memang lihai dan ilmu kepandaiannya sudah tinggi, agaknya sukar dicari bandingannya untuk waktu ini. Akan tetapi sayang, batinnya tidak semaju lahirnya sehingga ilmu kepandaian itu disalahgunakan untuk mengumbar kejahatan."
"Akan tetapi sekarang engkau tidak perlu takut lagi menghadapinya, Bi Lan. Engkau sudah melihat tadi betapa Ban-tok Ciang-hoat mampu membendung semua serangannya, dan dengan Sin-liong Ciang-hoat engkau tentu akan mampu membela diri bahkan mengalahkannya," kata Wan Ceng.
Suami nenek itu menangguk. "Benar, dalam hal ilmu silat, engkau tidak perlu khawatir karena kemampuanmu sekarang masih dapat diandalkan untuk membela diri dari serangan-serangan sucimu, andaikata ia berniat buruk. Akan tetapi, engkau tidak boleh ikut dengan kami sebelum memperoleh ijin dari guru-gurumu. Sekarang kami akan pergi. Engkau kembalilah ke tempatmu, usahakan agar dapat berdamai dengan sucimu. Kalau engkau sudah tidak melihat jalan lain, tentu saja setiap waktu engkau boleh mencari kami ke Gurun Pasir. Akan tetapi, engkau baru dapat menemukan tempat kami itu kalau engkau lebih dahulu mencari putera kami yang bernama Kao Cin Liong dan yang kini tinggal di kota Pao-teng di sebelah selatan kota raja. Dia berdagang rempah-rempah di sana dan mudah dicari rumah orang yang bernama Kao Cin Liong. Nah, selamat berpisah, Bi Lan. Mudah-mudahan kedamaian dan kebahagiaan akan selalu menyertaimu dalam hidupmu."
Nenek Wan Ceng merangkul muridnya. Nenek ini sudah merasa sayang sekali kepada murid ini sehingga agak berat rasanya harus berpisah darinya. "Bi Lan, bawa dirimu baik-baik dan aku masih merasa khawatir atas keselamatanmu. Karena itu, nih kuberi pinjam Ban-tok-kiam kepadamu. Jangan pergunakan ini kalau tidak terpaksa sekali, dan kelak kaukembalikan kepadaku kalau kau mengunjungi kami di utara." Nenek itu menyerahkan pedang yang mengerikan tadi, yang kini tersembunyi di dalam sarungnya yang indah.
Sebetulnya, di dalam hatinya Kao Kok Cu tidak setuju isterinya menyerahkan pedang itu kepada Bi Lan. Pedang itu amat berbahaya, dan dapat menimbulkan bencana kalau dipergunakan secara sembarangan. Akan tetapi karena isterinya telah memberikannya, diapun tidak mau mencela.
"Bi Lan, lebih baik engkau sembunyikan pedang itu agar jangan sampai diketahui sucimu dan kalau terpaksa membawanya, sembunyikan di balik baju, karena banyak orang akan berusaha merampasnya kalau mereka tahu akan Ban-tok-kiam itu." Akhirnya dia memberi nasihat.
"Bi Lan, berhati-hatilah!" Nasihat terakhir Wan Ceng terdengar penuh keharuan.
Bi Lan menjatuhkan dirinya berlutut untuk menghaturkan terima kasih dan hatinya juga merasa berduka sekali harus berpisah dari dua orang gurunya ini. Selama setengah tahun ini berdekatan dengan mereka, ia melihat betapa bedanya watak antara tiga orang gurunya dan sucinya, dibandingkan dengan kakek dan nenek yang halus budi dan berwatak mulia ini. Akan tetapi tiba-tiba ia mendengar angin menyambar dan ketika ia mengangkat muka memandang, ia hanya melihat bayangan dua orang itu berkelebat dan lenyap dari situ.
Ia terkejut dan penuh kagum, termangu-mangu, lalu memberi hormat lagi sambil berlutut, "Teecu Can Bi Lan takkan melupakan budi kebaikan suhu dan subo."
Setelah beberapa lama termenung, baru sekarang Bi Lan sadar bahwa sesungguhnya pertemuannya dengan kakek dan nenek itu merupakan suatu peristiwa luar biasa yang telah menyelamatkan nyawanya dari ancaman bahaya maut, bahkan bukan itu saja, melainkan ia kini telah memperoleh bekal, menguasai ilmu-ilmu yang dapat melindungi dirinya dari pada ancaman Bi-kwi.
Gadis ini lalu kembali ke puncak tempat kediaman guru-gurunya dan sebelum menampakkan diri di puncak, ia lebih dahulu menyembunyikan Ban-tok-kiam di dalam jepitan dua buah batu besar yang hanya dikenalnya sendiri, tak jauh dari bawah puncak. Tentu saja sebelum menyembunyikan pusaka ini, ia lebih dahulu berlari cepat mengelilingi tempat itu dan menyelidiki bahwa tidak ada seorangpun tahu akan perbuatannya itu. Setelah merasa yakin bahwa senjata itu telah disembunyikan di sebuah tempat yang rahasia, ia lalu menenteramkan hatinya agar tenang dan berlari mendaki puncak. Ia sudah siap andaikata sucinya akan menghadang dan menyerangnya. Ia sudah tahu bagaimana harus melawan sucinya dan Ilmu Sin-liong Ciang-hoat tadi ia lihat mampu menundukkan sucinya.
Akan tetapi apa yang dilihatnya di tempat tinggal Sam Kwi amat mengejutkan hatinya, walaupun juga amat menggirangkan. Ia melihat bahwa tiga orang gurunya itu kini telah keluar dari tempat pertapaan mereka dan kini tiga orang kakek itu sudah duduk berdampingan di atas bangku-bangku baru mereka, sedangkan Bi-kwi nampak duduk di atas bangku yang berhadapan dengan mereka. Melihat dari jauh betapa tiga orang gurunya itu kini sudah nampak tua-tua sekali, hati Bi Lan diliputi keharuan. Biarpun tiga orang kakek itu berjuluk Tiga Iblis, biarpun ia tahu bahwa mereka itu amat kejam dan suka melakukan hal-hal yang jahat, namun bagaimanapun juga, mereka bertiga itu bersikap baik sekali kepadanya, melimpahkan budi yang amat besar kepadanya, maka mana mungkin ia membenci mereka? Tidak sama sekali, ia tidak membenci mereka, bahkan ada rasa sayang dalam hatinya terhadap mereka dan kini melihat betapa mereka sudah nampak tua dan lemah, sudah tujuhpuluh tahun lebih usia mereka, hatinya diliputi keharuan.
Tak dapat kita sangkal lagi, apa bila kita mau mempelajari segala macam watak manusia melalui pengamatan terhadap diri sendiri, karena watak masyarakat, watak manusia, watak dunia adalah watak kita juga, akan nampaklah kaitan-kaitannya yang tak terpisahkan dari penilaian dan rasa suka dan tidak suka dengan ke-akuan yang selalu mendambakan kesenangan, sang aku yang selalu mengejar kesenangan. Penilaian akan sesuatu ataupun akan seseorang, baik buruknya, juga tidak terlepas dari pengaruh sang aku.
Betapa baikpun seseorang menurut pendapat orang sedunia sekalipun, kalau si orang baik itu merugikan kita, maka otomatis kita akan berpendapat bahwa orang itu tidak baik dan kita tidak suka kepada orang itu, bahkan membencinya. Sebaliknya, biarpun orang seluruh dunia berpendapat bahwa seseorang amatlah jahatnya kalau si orang itu menguntungkan kita, baik keuntungan lahir maupun batin, maka sukarlah bagi kita untuk berpendapat bahwa dia jahat, sebaliknya kita akan menganggapnya orang yang baik dan kita menyukainya. Dengan demikian jelaslah bahwa penilaian itu tergantung sepenuhnya dari pada pertimbangan pikiran, dan pertimbangan pikiran ini selalu didalangi oleh si-aku yang senantiasa diboboti oleh untung rugi. Dengan demikian, maka semua penilaian adalah palsu dan bukan merupakan kenyataan sejati.
Karena itu, tidaklah aneh kalau Bi Lan menganggap bahwa tiga orang kakek yang oleh umum dinamakan Tiga Iblis itu sebagai orang-orang yang baik dan disayangnya. Siapakah yang mengatakan bahwa harimau itu buas dan jahat? Tentulah mereka yang merasa terancam keselamatannya oleh binatang itu. Kelompoknya dan anak-anaknya tidak akan menganggap demikian!
Dengan cepat Bi Lan berlari menghampiri mereka dan setelah tiba di depan tiga orang gurunya, iapun menjatuhkan diri berlutut di depan mereka. Sebelum berjumpa dengan Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir dan isterinya, belum pernah Bi Lan memperlihatkan rasa sayang dan hormatnya kepada tiga orang kakek ini, karena memang pendidikan mereka terhadap Bi Lan tidak demikian. Mereka itu adalah datuk-datuk kaum sesat yang sama sekali tidak pernah perduli tentang segala macam peraturan dan sopan santun sehingga bagi mereka merupakan hal yang biasa saja kalau murid mereka Ciong Siu Kwi atau Bi-kwi selain menjadi murid pertama juga menjadi kekasih mereka!
"Aih, suhu bertiga sudah selesai bertapa? Harap sam-wi suhu berada dalam keadaan baik-baik dan sehat," kata Bi Lan dengan kegembiraan yang wajar karena memang hatinya gembira melihat tiga orang kakek itu nampak sehat walaupun muka mereka agak memucat karena kurang mendapatkan sinar matahari selama berbulan-bulan. Melihat ulah Bi Lan ini, Sam Kwi memandang heran, termangu dan saling pandang karena belum pernah mereka melihat murid itu demikian sopan.
Akan tetapi Bi-kwi segera menuding ke arah sumoinya dan berkata, "Inilah pengkhianat itu, suhu! Ia telah berhubungan dengan orang luar, bahkan telah berkhianat mengangkat Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir dan isterinya menjadi gurunya! Bukankah ini merupakan tamparan bagi muka suhu bertiga? Murid pengkhianat ini harus dibunuh sekarang juga untuk membersihkan muka suhu bertiga dari penghinaan!"
Tiga orang kakek itu saling pandang. Tadi mereka keluar dari pertapaan dan yang menyambut mereka adalah Bi-kwi yang segera menceritakan tentang diri Bi Lan atau Siauw-kwi yang katanya berkhianat itu. Kini mereka dengan pandang mata ragu lalu bertanya, diucapkan oleh Im-kan Kwi atau Iblis Akhirat.
"Siauw-kwi, benarkah keterangan Bi-kwi itu? Engkau telah menjadi murid orang-orang lain tanpa seijin kami? Apakah engkau tidak puas menjadi murid kami?"
Mendengar pertanyaan yang nadanya penuh ancaman dari Im-kan Kwi yang biasanya amat sayang kepadanya dan bersikap sebagai kakek sendiri, Bi Lan menarik napas panjang menenangkan hatinya yang terguncang, lalu ia berkata dengan suara tegas karena ia sudah mengambil keputusan untuk melawan tuduhan-tuduhan sucinya dengan membuka rahasia sucinya.
"Sam-wi suhu tentu sudah tahu akan isi hati teecu," kembali tiga orang datuk sesat itu saling pandang karena sikap dan ucapan Bi Lan benar-benar telah berobah, gadis itu nampak halus lembut walaupun sinar matanya memancarkan kegembiraan dan kelincahan yang tadinya tidak pernah mereka lihat. Tiga orang kakek itu benar-benar menyaksikan perobahan yang luar biasa pada diri murid mereka itu. "Teecu merasa berhutang budi kepada sam-wi, teecu merasa sayang dan kasihan kepada sam-wi dan menganggap sam-wi selain guru juga seperti kakek teecu sendiri. Karena itu, mana mungkin teecu akan menghina dan mengkhianati sam-wi suhu?"
Biarpun hati tiga orang kakek itu sudah mengeras dan membatu, namun karena ada rasa sayang kepada murid ini, hati mereka tersentuh pula oleh pernyataan Bi Lan. Mereka maklum bahwa Bi Lan tidak pernah berbohong, sama sekali tidak boleh disamakan dengan Bi-kwi yang tidak akan ragu-ragu untuk membohongi nenek moyangnya sekalipun! Dan kepalsuan, juga kejahatan dan kekejaman Bi-kwi mereka ketahui benar, bahkan hal itu membuat mereka merasa bangga mempunyai murid seperti itu!
"Akan tetapi, Siauw-kwi, menurut keterangan sucimu engkau telah berpaling kepada orang lain, dan mengangkat guru kepada seorang pendekar dan isterinya," kata Iblis Mayat Hidup penuh teguran.
"Maaf, suhu bertiga. Tidak dapat teecu sangkal akan hal itu, akan tetapi ada sebabnya mengapa teecu berhubungan dengan mereka. Ketahuilah bahwa pada suatu pagi, enam bulan yang lalu, ketika teecu habis dipukuli dan disiksa oleh suci seperti biasa, teecu diharuskan memenuhi gudang kayu. Teecu pergi mencari kayu seperti biasa dan di dalam hutan itu teecu berjumpa dengan Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir bersama isterinya. Mereka berdualah yang melihat bahwa teecu keracunan, bahwa kalau tidak diobati, teecu akan menderita dan tewas. Dan semua ini adalah perbuatan suci Bi-kwi! Suhu bertiga telah mewakilkan pendidikan atas diri teecu kepada suci, dan ternyata suci memberi pelajaran yang menyesatkan, sengaja dibalik dan disesatkan sehingga latihan-latihan itu menghimpun hawa beracun dalam tubuh teecu, bahkan mempengaruhi otak sehingga pikiran teecu menjadi bingung dan nyaris gila. Untung ada mereka berdua yang mengetahui keadaan teecu. Mereka lalu untuk sementara tinggal di hutan itu, khusus untuk mengobati teecu. Karena mereka telah menyelamatkan nyawa teecu, maka tanpa ragu-ragu lagi teecu mengangkat mereka menjadi guru agar teecu menerima latihan-latihan yang dapat mengusir hawa beracun itu. Nah, demikianlah kenyataannya dan terserah kepada keputusan sam-wi suhu,"
Kini tiga orang kakek itu menoleh dan memandang kepada Bi-kwi yang mendengarkan sambil tersenyum-senyum mengejek.
"Huh, anak ini memang tidak mengenal budi!" katanya. "Kalau memang aku tidak pernah memberi pelajaran dengan baik, mana mungkin ia menguasai semua ilmu silat kita, paham dan pandai memainkan Hek-wan Sip-pat-ciang, Pat-hong-twi, Hun-kin Tok-ciang, bahkan Kiam-ciang?"
Kembali tiga orang kakek itu menoleh kepada Bi Lan yang menjawab lantang. "Teecu sama sekali tidak pernah diajari ilmu-ilmu itu, suhu, melainkan diajar ilmu-ilmu pukulan yang menyesatkan, penggunaan pernapasan yang terbalik, penghimpunan tenaga sin-kang yang sengaja disesatkan sehingga teecu keracunan sendiri. Tidak teecu sangkal bahwa teecu mengenal dan paham akan semua ilmu-ilmu suhu itu, akan tetapi hal itu teecu dapatkan dari menonton kalau suci latihan seorang diri. Dari nonton inilah teecu lalu belajar sendiri, dan terpaksa teecu keluarkan ketika suci menyerang teecu dengan ilmu-ilmu itu untuk membunuh teecu."
Kembali tiga orang kakek itu saling pandang. Iblis Akhirat lalu bertanya, "Siauw-kwi, kau maksudkan bahwa hanya dengan nonton sucimu berlatih, engkau sudah dapat menguasai ilmu-ilmu itu?"
"Benar, suhu"
"Benarkah demikian, Bi-kwi?" tanya pula Iblis Akhirat.
"Bohong! Mana mungkin hanya nonton orang bersilat lalu dapat menguasai ilmu silat itu? Ia bohong, suhu!" bantah Bi-kwi.
Kini Raja Iblis Hitam bangkit dan dia berkata "Perlu dibuktikan kebenaran omongan kalian. Nah Bi-kwi dan Siauw-kwi, aku memiliki sebuah ilmu silat yang belum pernah kuajarkan kepada siapapun juga. Kalian lihat baik-baik, aku akan memainkan ilmu silat itu, akan berlatih dan menghabiskan tiga belas jurus ilmu itu. Ingin kulihat siapa di antara kalian yang dapat menguasainya hanya dengan nonton."
Setelah berkata demikian, kakek yang tinggi besar seperti raksasa ini lalu bersilat, gerakannya aneh dan mengandung tenaga sampai menimbulkan angin menderu-deru. Bi-kwi dan Bi Lan segera memperhatikan gerakan-gerakan itu. Memanq, sejak ia keracunan, terjadi perobahan pada otak Bi Lan dan ia kini memiliki ingatan yang luar biasa tajamnya.
Setelah selesai memainkan tigabelas jurus ilmu silat aneh yang selamanya belum pernah dilihat oleh dua orang murid itu, Raja Iblis Hitam lalu bertanya Siauw-kwi, coba kaumainkan jurus-jurus ilmu silatku tadi."
Bi Lan lalu bangkit berdiri, kedua matanya setengah terpejam karena ia memusatkan ingatannya untuk melihat gambaran-gambaran dari jurus-jurus tadi yang dicatat dalam ingatannya, dan kaki tangannya bergerak-gerak. Tiga orang kakek itu menonton dan mereka terbelalak kagum melihat betapa Bi Lan benar-benar dapat menirukan semua gerakan Raja Iblis Hitam. Bahkan si pemilik ilmu ini sendiri menjadi bengong. Memang benar bahwa gerakan itu belum sempurna benar, akan tetapi jelas bahwa Bi Lan mampu memainkan tigabelas jurus ilmu silat itu, dan kalau gadis itu diberi kesempatan nonton dia berlatih silat sampai tiga empat kali saja, bukan hal mustahil kalau Bi Lan sudah akan dapat memainkannya dengan baik!
"Sekarang kau, Bi-kwi," kata pula Raja Iblis Hitam setelah Bi Lan menghentikan permainannya.
Bi-kwi mengerutkan alisnya, mengingat-ingat, akan tetapi baru bergerak sebanyak tiga jurus saja, ia sudah lupa lagi akan gerakan jurus-jurus selanjutnya. Ia hanya mampu mengingat tiga jurus, itu saja mengandung kesalahan-kesalahan yang amat besar!
"Aih, suhu berat sebelah! Tentu dulu pernah melatih sumoi dengan ilmu silat itu!" ia merajuk.
Hek-kwi-ong tertawa bergelak dan memandang dua orang rekannya, "Siauw-kwi tidak berbohong. Mungkin saja ia mempelajari ilmu-ilmu kita dengan cara nonton sucinya berlatih."
Ucapan ini saja sudah cukup bagi dua orang kakek yang lain. "Bi-kwi," kata Im-kan Kwi Si Iblis Akhirat, "kenapa engkau menyesatkan pelajaran silat kepada sumoimu? Engkau yang membohong bukan Siauw-kwi!"
Tiba-tiba Bi-kwi tertawa terkekeh dan memandang kepada tiga orang kakek itu dengan sikap genit. "Perlukah suhu bertanya lagi? Tentu saja anak ini tidak becus membohong! Mana ia mampu meniru kebiasaan kita? Memang aku telah membohong. Aku iri hati kepadanya, karena ia cantik dan semakin manis saja. Aku sengaja menyelewengkan ajaran-ajaran silat itu agar ia berlatih secara keliru dan menghimpun hawa beracun di tubuhnya, agar ia mati perlahan-lahan tanpa suhu ketahui. Hi-hik, usahaku itu sudah berjalan dengan amat baiknya. Sialan, muncul pendekar brengsek dari Gurun Pasir itu yang menggagalkan segala-galanya. Akan tetapi, bagaimanapun juga, aku selalu setia kepada suhu bertiga, sedangkan sumoi ini diam-diam telah berguru kepada orang lain. Bukankah ini merupakan penghinaan bagi suhu bertiga?"
Tiga orang kakek itu kini tertawa. "Ha-ha-ha, engkau memang murid yang baik dan membuat kami bangga! Kamu cerdik dan licik, sayang kurang beruntung sehingga gagal, Bi-kwi! Akan tetapi engkaupun murid yang sukar didapat, Siauw-kwi. Engkau berbakat sekali!"
Mendengar tiga orang gurunya memuji-muji sucinya sebagai cerdik itu, Bi Lan tidak merasa heran. Memang tiga orang suhunya ini orang-orang yang aneh, dan mungkin saja di dunia mereka, kecurangan dan kelicikan merupakan hal yang patut dibanggakan! Sebaliknya, Bi-kwi merasa tidak senang karena merekapun memuji-muji Bi Lan.
"Sekarang suhu bertiga memilih saja, berat aku ataukah berat sumoi!" Ia menantang.
"Wah, berat semua, berat keduanya! " Tiga orang kakek itu berkata hampir berbareng.
"Bi-kwi, jangan engkau berpendapat demikian!" Tiba-tiba Iblis Akhirat berkata. "Ingat, tugasmu masih banyak dan berat dan engkau membutuhkan bantuan sumoimu ini. Seorang diri saja, mana kau mampu? Dan kami sudah tua. Apa artinya kami bersusah payah mendidik kalian kalau akhirnya kalian tidak mampu membuat sedikit jasa sedikitpun untuk kami? Kami selama setahun bertapa dan dengan susah payah mempersatukan diri menciptakan serangkaian ilmu silat dan kami akan mengajarkan kepada kalian agar kalian dapat bekerja sama melaksanakan tugas."
Bi-kwi girang sekali mendengar ini dan lupalah ia akan rasa iri hati dan kebenciannya terhadap Bi Lan. "Ah, lekaslah ajarkan ilmu itu kepadaku, suhu!"
Bi Lan hanya memandang saja. Sedikitpun ia tidak ingin mempelajari ilmu baru itu karena ilmu itu diajarkan hanya untuk ditukar dengan pelaksanaan tugas. Padahal, sebagai murid yang baik, tanpa diberi pelajaran ilmu baru sekalipun, ia siap untuk membalas budi guru-gurunya melaksanakan tugas yang betapa sukarnya sekalipun.
"Nah, kalian harus berdamai. Bi-kwi, engkau tidak boleh memusuhi sumoimu lagi. Mulai saat ini kalian harus bekerja sama, sumoimu akan menjadi pembantu yang boleh diandalkan," kata pula Iblis Akhirat.
Bi-kwi adalah seorang yang luar biasa cerdik dan curangnya. Ia tidak melihat keuntungan kalau memusuhi sumoinya, dan memang benar, setelah sumoinya kini ternyata memiliki kepandaian yang cukup tinggi, dapat merupakan seorang pembantu yang amat baik. "Baiklah. suhu. Sumoi, kita lupakan semua yang pernah terjadi dan mulai saat ini, kau jadilah seorang sumoi yang baik. "Bi Lan tersenyum, akan tetapi ia tidak membantah, hanya berkata, "Baik, suci. Asalkan engkaupun menjadi suci yang baik dan tidak menggangguku lagi."
Bi-kwi mengangkat alisnya seperti orang terkejut. "Eh, sejak kapan aku menjadi suci yang tidak baik? Coba ingat, kalau tidak ada ulahku, apakah engkau kini mampu menjadi orang pandai dan akan menerima pelajaran ilmu baru dari suhu-suhu kita?"
Kembali Bi Lan tersenyum. Memang keluarga suhu-suhunya itu orang-orang yang aneh sekali dan ia sendiri tidak tahu apa yang baik dan tidak baik bagi mereka. Kalau dipikirkan, memang ada benarnya juga ucapan Bi-kwi. Kalau sucinya itu tidak berbuat sejahat itu, tentu ia tidak akan bertemu dengan Pendekar Naga Sakti dan ia hanya akan menjadi sumoi dari Bi-kwi dengan kepandaian yang tentu saja jauh di bawah sucinya itu.
Melihat keduanya sudah akur, tiga orang kakek itu merasa gembira. "Nah, kini kalian harus berlutut dan mengucapkan janji dan sumpah bahwa setelah mempelajari ilmu baru dari kami, kalian akan melaksanakan tugas dengan baik. Tugas pertama merampas kembali Liong-siauw-kiam (Pedang Suling Naga) yang terjatuh ke tangan orang yang tidak berhak. Tugas ke dua, kalian harus mewakili kami dan mengangkat diri menjadi beng-cu di antara kaum kita, dan untuk itu kalian boleh mengumpulkan bala bantuan, terutama dari Ang-i Mo-pang seperti yang pernah dilakukan oleh Bi-kwi. Setelah dapat merampas pusaka Pedang Suling Naga dan merampas kedudukan beng-cu, barulah tugas-tugas lain menyusul. Bagaimana, sanggupkah kalian dan berani berjanji dengan sumpah?"
Bi-kwi dan Bi Lan sudah berlutut, dan Bi-kwi tanpa ragu-ragu lagi berkata, "Aku berjanji dan bersumpah untuk melaksanakan semua perintah suhu bertiga!"
"Aku berjanji akan membantu suci, terutama untuk merampas kembali pusaka Liong-siauw-kiam untuk kupersembahkan kepada ketiga suhu Sam Kwi," kata Bi Lan. Ia tidak tertarik dengan urusan perebutan kedudukan beng-cu, akan tetapi ia sudah mendengar dari suhu-suhunya ini, juga dari sucinya, tentang pedang pusaka yang tadinya milik susiok dari Sam Kwi dan yang kini terjatuh ke tangan orang lain.
Agaknya Sam Kwi sudah merasa puas dengan janji-janji itu dan mereka lalu mengajak kedua orang murid itu ke tengah lapangan rumput. "Kalian ingat baik-baik," sebagai juru bicara Sam Kwi, Iblis Akhirat berkata menerangkan, "ilmu silat yang akan kami ajarkan ini adalah ciptaan kami bertiga selama bertapa setahun lebih dan telah kami kerjakan dengan susah payah. Ilmu ini merupakan inti dari pada ilmu-ilmu kami bertiga, digabungkan menjadi satu. Ada bagian-bagian dari ilmu kami termasuk di dalamnya, dirangkai menjadi tigabelas jurus ilmu silat yang ampuh sekali dan kami kira tidak ada bandingnya di dunia persilatan ini. Karena kami bertiga yang mencipta, maka ilmu silat ini kami namakan Sam Kwi Cap-sha-kun. Namanya sederhana, bukan? Akan tetapi keampuhannya hebat!"
Biarpun namanya sederhana dan ilmu itu hanya terdiri dari tigabelas jurus, akan tetapi kenyataannya tidak mudah untuk dipelajari. Tiga orang kakek iblis itu seorang demi seorang lalu mengajarkan ilmu silat tigabelas jurus, masing-masing ilmu silat itu memiliki dasar gerakan kaki yang sama, akan tetapi memiliki kembangan-kembangan yang berbeda. Dua orang murid itu harus menghafalkan tiga macam ilmu silat itu sampai dapat memainkannya secara otomatis, kemudian mereka harus menggabungkan tigabelas jurus itu dalam gerakan mereka kalau berkelahi. Karena masing-masing orang memiliki daya khayal sendiri-sendiri, dan selera sendiri-sendiri, juga kecerdikan yang berbeda-beda, maka tentu saja kembangan dari penggabungan tiga macam ilmu silat dari tigabelas jurus yang memiliki dasar gerakan kaki yang sama inipun jadinya tentu berbeda-beda pula.
Biarpun Bi-kwi dan Bi Lan merupakan dua orang wanita yang amat cerdik dan besar sekali bakat mereka dalam ilmu silat, namun setelah berlatih selama setengah tahun baru keduanya dianggap telah menguasai Sam Kwi Cap-sha-kun itu. Setelah dinyatakan lulus, tiga orang kakek itu menguji mereka satu demi satu. Dan ternyata ilmu gabungan yang dikembangkan menurut daya khayal murid-murid itu sendiri amat hebat. Masing-masing kakek dikalahkan oleh Bi-kwi dalam waktu kurang dari limapuluh jurus saja. Ketika tiga orang kakek itu seorang demi seorang menguji Bi Lan, gadis yang amat cerdik ini menyembunyikan kepandaian aselinya. Ia dapat mengembangkan Sam Kwi Cap-sha-kun itu dengan baik, bahkan lebih baik dari pada sucinya, apa lagi karena di dalam ilmu baru itu secara otomatis dimasuki unsur ilmu-ilmu silat sakti yang dipelajarinya baru-baru ini dari Perdekar Naga Sakti dan isterinya namun ia tidak ingin menonjolkan diri. Ketika ia diuji, ia menjaga sedemikian rupa sehingga akhirnya iapun dapat menang dari ke tiga orang Sam Kwi dalam waktu yang lebih lama dari pada sucinya, yaitu lebih dari limapuluh jurus!
Tiga orang kakek itu girang bukan main. Dengan tigabelas jurus masing-masing, mereka ini tidak mampu menandingi murid-murid mereka yang sudah menggabungkan tiga macam ilmu silat itu. Juga Sam Kwi bukan kakek-kakek yang bodoh, melainkan jagoan-jagoan tua yang sudah banyak pengalaman. Ketika menguji tadi, mereka tahu bahwa dalam hal penggabungan tiga ilmu silat itu, Bi Lan sama sekali tidak kalah oleh Bi-kwi. Kalau Bi Lan hanya mampu menang dari mereka lebih lama dari sucinya, hal itu terjadi karena gadis ini terlalu berhati-hati dan agaknya masih merasa sungkan untuk mengalahkan guru-guru sendiri. Mereka sama sekali tidak tahu bahwa Bi Lan benar-benar sengaja mengalah agar dalam hal ujian itu tidak sampai melampaui atau mengalahkan sucinya. Dan akalnya ini berhasil karena Bi-kwi tersenyum-senyum puas. Bagaimanapun juga, kini ia mempunyai senjata ilmu Sam Kwi Cap-sha-kun yang kalau dipergunakannya, lebih hebat dari pada sumoinya dan setiap waktu ia tentu akan dapat menundukkan sumoinya dengan ilmu itu! Rasa unggul dan menang ini menenangkan hatinya dan untuk sementara membuat kebenciannya berkurang!
Penonjolan diri merupakan gejala yang nampak dalam kehidupan kita pada umumnya. Penonjolan diri ini bersemi karena keadaan, karena cara hidup masyarakat kita. Semenjak kecil kita dijejali nilai-nilai, sejak duduk di bangku Sekolah Dasar kelas satu, bahkan sejak kelas nol, di sekolah ada sistim nilai dalam bentuk angka, di rumah ada pujian-pujian dan celaan-celaan bagi yang dianggap baik dan buruk, di dalam pergaulanpun nilai-nilai ini menentukan kedudukan seseorang, dalam olah raga timbul juara-juara. Kita hidup menjadi budak-budak setia dari nilai-nilai. Kita hidup mengejar nilai-nilai sehingga dalam olah raga sekalipun, yang dipentingkan adalah pengejaran nilai, bukan manfaat olah raganya itu sendiri bagi kesehatan tubuh. Bahkan, untuk mengejar nilai, kita lupa diri dan olah raga bukan bermanfaat lagi bagi tubuh, bahkan ada kalanya merusak, karena tubuh diperas terlalu keras untuk mengejar nilai!
Karena sejak kecil hidup di dalam masyarakat dan dunia yang tergila-gila kepada nilai, maka agaknya sudah kita anggap wajar kalau kita selalu berusaha untuk menonjolkan diri. Kalau tidak menonjol, kita merasa rendah diri, merasa hampa dan hina, merasa bodoh dan tidak diperhatikan. Karena sejak kecil sekali kita diperkenalkan dengan pujian dan celaan, maka sejak kecil sekali pula kita berusaha untuk menonjolkan diri, untuk menarik perhatian orang-orang lain, hanya karena kita sudah haus akan nilai, haus akan pujian.
Kalau diri sendiri sudah tidak memungkinkan adanya penonjolan dan penghargaan orang lain atau pujian atau kekaguman, maka kita lalu membonceng kepada kepintaran anak kita, atau teman segolongan kita, atau juga suku atau bangsa kita, bahkan banyak kita lihat penonjolan diri seseorang membonceng kepada burung perkututnya, atau mobilnya, atau bahkan membonceng kepada senjata pusaka, atau batu cincin istimewa yang tidak dimiliki orang lain. Semua itu nampak jelas kalau kita mau membuka mata mengamati keadaan diri sendiri lahir batin dan mengamati keadaan sekeliling kita.
Demikian pula halnya dengan Bi-kwi. Wanita ini tadinya merasa iri kepada Bi Lan dan membencinya. Hal itu karena penonjolan ke-aku-annya tersinggung, karena ia merasa kalah oleh Bi Lan. Akan tetapi sekarang, karena kekhawatiran akan terkalahkan oleh sumoinya itu dalam ilmu silat terbukti bahwa ialah yang lebih unggul, ia yang dapat menguasai sumoinya, perasaan iri itupun menipis dan terganti perasaan bangga dan puas!
Setelah merasa bahwa dua orang muridnya itu kini cukup boleh diandalkan untuk melaksanakan tugas mereka, Sam Kwi memanggil mereka menghadap. "Bi-kwi dan Siauw-kwi, kami merasa puas dengan kemajuan kalian dan besok kalian kami perkenankan untuk turun gunung dan mulai dengan tugas kalian. Dan untuk kepergian kalian besok pagi, malam ini kami ingin makan bersama kalian sebagai ucapan selamat jalan dan selamat bekerja. Lekas kalian persiapkan untuk pesta kita," kata Iblis Akhirat dan dua orang wanita itu tersenyum girang lalu membuat persiapan untuk membuat masakan. Untuk keperluan ini, di tempat tinggal mereka itu terdapat segala macam bumbu masak. Sayur-mayur tinggal ambil di ladang belakang dan keperluan daging dapat dicari seketika di dalam hutan. Tak lama kemudian, tiga orang kakek itu bersama dua orang muridnya sudah duduk menghadapi bangku-bangku kasar dan makan bersama. Sam Kwi nampak gembira sekali. Iblis Akhirat yang pendek bundar itu banyak tertawa gembira, memuji-muji dua orang muridnya. Bahkan Raja Iblis Hitam dan Iblis Mayat Hidup yang biasanya pendiam, malam itupun nampak tertawa-tawa. Hari telah mulai gelap ketika mereka mengakhiri malam bersama itu dan tiba-tiba Iblis Akhirat mengeluarkan sebuah guci arak yang disimpannya sendiri. Guci itu berwarna merah dan dia berkata.
"Bi-kwi dan Siauw-kwi, sebelum kita menyelesaikan pesta ini dan pergi beristirahat, kami bertiga ingin memberi ucapan selamat jalan kepada kalian dengan masing-masing dari kita menghidangkan satu cawan arak!"
Bi Lan mengangkat muka memandang kakek itu, alisnya berkerut akan tetapi mulutnya tersenyum. "Akan tetapi, suhu tahu bahwa teecu tidak pernah minum arak! Kalau suci memang biasa minum, akan tetapi teecu...."
Tiba-tiba Bi-kwi tertawa dan dengan ramah dan gembira berkata, "Sumoi, apa salahnya sekali-kali mencobanya? Apa lagi kalau suhu-suhu kita yang menghadiahkan, harus kita terima."
Tiga orang kakek itu sejak tadi memang sudah minum arak, wajah mereka sudah menjadi merah dan sinar mata mereka yang tertimpa sinar lampu berkilauan. "Benar kata Bi-kwi, Siauw-kwi. Engkau harus menerima ucapan selamat jalan kami melalui arak!" Iblis Akhirat menuangkan arak dari gucinya itu ke dalam dua buah cawan arak, lalu memberikan dua cawan itu kepada Bi-kwi dan Bi Lan. "Dan pula arak ini bukan arak yang keras, melainkan halus dan lezat, harum dan manis. Minumlah!"
Bi-kwi sambil tersenyum sudah minum cawannya, sekali tenggak habislah arak itu memasuki perut melalui tenggorokannya. Bi Lan merasa tidak enak kalau menolak, maka ia pun minum arak itu sampai habis. Memang benar kata Iblis Akhirat. Arak itu tidak terlalu keras, harum dan agak manis.
Kini Raja Iblis Hitam dan Iblis Mayat Hidup masing-masing menyuguhkan secawan arak. Tanpa ragu lagi Bi-kwi meminumnya, diikuti oleh Bi Lan. Akan tetapi setelah menghabiskan tiga cawan arak itu, Bi Lan memejamkan mata, merasa kepalanya berat dan agak pening. Dan tiba-tiba saja Iblis Akhirat menubruknya dari belakang dan sebelum gadis yang sama sekali tidak curiga ini maklum apa yang terjadi, gurunya itu telah menotok jalan darah di kedua pundaknya dan iapun menjadi lemas, kaki tangannya tak dapat digerakkannya lagi.
"Suhu, apa yang suhu lakukan ini?" tanyanya heran ketika kini Raja Iblis Hitam yang tinggi besar itu sudah memondong tubuhnya.
Tiga orang kakek itu tertawa dan Bi Lan melihat betapa Bi-kwi tidak pusing seperti ia. Akan tetapi sucinya itu bangkit berdiri dan memandang kepada guru-guru mereka dengan alis berkerut. Anehnya, sucinya itu juga memandang kepadanya dengan sinar mata penuh kebencian, mengingatkan ia akan sikap sucinya pada waktu yang sudah-sudah.
"Ha-ha-ha, Siauw-kwi. Engkau belum menjadi Iblis Cilik yang sesungguhnya sebelum menjadi milik kami. Malam ini kau harus melayani kami bertiga, baru engkau benar-benar lulus ujian dan menjadi murid kami yang baik seperti Bi-kwi."
Bi Lan terbelalak. Biarpun ia kurang pengalaman dan kurang pergaulan, namun nalurinya membisikkan apa arti ucapan gurunya itu. Ia sudah tahu akan keadaan sucinya, yang selain menjadi murid terkasih, juga sucinya itu kadang-kadang tidur dengan guru-gurunya! Karena sudah terbiasa oleh watak Sam Kwi dan Bi-kwi yang aneh-aneh, maka iapun tidak perduli. Akan tetapi sekarang, agaknya tiga orang gurunya yang seperti iblis itu hendak mengorbankan dirinya pula!
"Tidak....! Tidak....!" Ia berseru dengan perasaan ngeri. "Aku tidak mau! Sampai matipun aku tidak mau!"
Tiga orang kakek itu saling pandang, kemudian Iblis Akhirat tertawa dan baru sekali ini Bi Lan mendengar suara ketawa itu sebagai suara yang amat menyeramkan dan baru sekarang ia melihat betapa wajah tiga orang kakek itu mengerikan dengan sinar mata mereka yang menakutkan pula. Baru sekarang ia melihat betapa buruk dan jahatnya tiga orang gurunya ini.
"Heh-heh-heh, Siauw-kwi. Sikapmu begini sungguh tidak pantas, seolah-olah engkau bukan murid kami saja! Sekali waktu, sebagai seorang wanita, engkau tentu akan mengalami hal itu, dan tidak ada kehormatan yang lebih besar dari pada melayani guru-gurumu seperti Bi-kwi!"
"Tidak! Aku lebih baik mati! Suhu bertiga boleh bunuh aku, akan tetapi aku tidak sudi....!" Bi Lan berteriak-teriak dan berusaha untuk meronta, akan tetapi tangannya tak dapat ia gerakkan. Dalam kengerian dan rasa takutnya, juga ia merasa heran dan tak dapat dimengerti mengapa tiga orang suhunya yang tadinya menyayangnya seperti cucu sendiri, kini tahu-tahu berobah seperti tiga ekor serigala yang hendak menerkamnya. Hampir ia tidak percaya dan meragukan apakah ia tidak berada dalam sebuah mimpi buruk.
"Engkau tidak akan mati, akan tetapi melayani kami malam ini, mau atau tidak mau!" tiba-tiba Raja Iblis Hitam membentak dan hal ini juga mengejutkan hati Bi Lan. Di dalam suara ini lenyaplah semua getaran kasih sayang seperti yang biasa ia rasakan dari guru-gurunya ini, yang ada hanya getaran nafsu yang menjijikkan.
"Tinggal pilih, melayani kami dengan suka rela atau harus kami perkosa!" bentak pula Iblis Mayat Hidup dan sepasang mata kakek kurus kering ini yang biasanya sudah mencorong itu kini bertambah seperti ada api menyala di dalamnya.
Bi Lan terkejut bukan main, mukanya pucat dan kedua matanya tanpa disadarinya menjadi basah oleh air mata. Ia tidak melihat jalan keluar dan ia sudah tidak berdaya. Kini terbukalah matanya dan baru ia tahu bahwa tiga orang gurunya itu benar-benar bukan manusia lagi, melainkan tubuh-tubuh yang sudah dirasuki roh-roh jahat yang tidak segan melakukan kejahatan dalam bentuk apapun juga.
"Ha-ha-ha, tak perlu menangis, Siauw-kwi. Kami hanya akan memberi suatu kehormatan kepadamu, membuatmu dewasa. Sepatutnya kau berterima kasih, bukan menangis. Dan yang dikatakan mereka tadi benar. Mau tidak mau engkau harus melayani kami malam ini. Tentu saja kami menghendaki engkau melayani kami dengan suka rela. Kami beri waktu selagi kami memuaskan diri minum arak untuk mempertimbangkan. Kalau engkau tetap menolak, terpaksa kami akan melakukan kekerasan dan hal itu sungguh amat tidak menyenangkan," kata Iblis Akhirat sambil tersenyum, akan tetapi bagi Bi Lan, senyumnya tidak ramah lagi melainkan seperti iblis menyeringai. "Bi-kwi, bawa ia ke dalam kamar dan jaga baik-baik sampai kami bertiga selesai minum. Dan heh-heh, jangan khawatir, engkaupun akan mendapat bagian dari kami!"
Bi-kwi mengangguk dan mencengkeram punggung baju Bi Lan, lalu dijinjingnya tubuh Bi Lan seperti orang menjinjing seekor keledai yang akan disembelih. Bi-kwi nampak diam saja karena menghadapi peristiwa yang akan menimpa diri sumoinya, ia tadi termenung dan berpikir keras. Tentu saja ia tidak perduli kalau sumoinya diperkosa oleh ketiga orang guru mereka, tidak perduli apa yang akan menimpa diri sumoinya yang tidak disukanya. Akan tetapi, di dalam menghadapi setiap peristiwa, Bi-kwi selalu memperhitungkan dan mencari kalau-kalau ada hal yang akan dapat menarik keuntungan bagi dirinya sendiri. Ia membayangkan bahwa kalau sumoinya sampai diperkosa oleh tiga orang gurunya, maka mulai saat itu sumoinya telah menduduki tempat yang lebih tinggi lagi, menjadi kekasih tiga orang gurunya. Dan sebagai seorang wanita yang sudah banyak pengalamannya dalam mengenal watak pria dalam hal ini, ia membayangkan betapa setelah memperoleh yang baru dan yang muda, tiga orang gurunya tentu akan mengesampingkan dirinya. Dengan demikian, maka dalam mengambil hati guru-gurunya, ia akan kalah pula oleh sumoinya! Jadi, kalau sumoinya sampai menjadi korban Sam Kwi, walaupun pada mulanya ia merasa puas bahwa sumoi itu menderita malapetaka itu, namun pada akhirnya sumoinya yang akan mendapat keuntungan dan ia malah menderita rugi! Maka ia lalu membayangkan hal sebaliknya dan mencari kemungkinan agar ia memperoleh keuntungan sebanyaknya dari hal sebaliknya itu. Sumoinya sekarang adalah seorang yang cukup lihai, mungkin hanya kalah sedikit olehnya, kalah dalam hal ilmu baru Sam Kwi Cap-sha-kun itu saja. Dengan demikian berarti bahwa sumoinya dapat menjadi pembantunya yang amat berharga, menjadi pembantunya yang tenaganya boleh diandalkan. Dan ia merasa betapa perlunya tenaga seperti itu. Sudah banyak ia mencari pembantu, bahkan Tee Kok ketua Ang-i Mo-pang dapat ditarik menjadi pembantunya, akan tetapi kepandaian orang itu bersama kekuatan anak buahnya belum dapat diandalkan benar. Kalau ia dapat menguasai sumoinya, kalau sumoinya mau membantunya dengan sungguh-sungguh dalam usaha merampas kembali Liong-siauw-kiam, tentu hasilnya lebih dapat diharapkan.
Dengan kasar ia lalu melemparkan tubuh sumoinya yang tak mampu bergerak itu ke atas pembaringan, lalu iapun duduk di dekatnya. "Hemm, dapatkah kau membayangkan apa yang akan dilakukan oleh tiga orang tua bangka itu terhadap tubuhmu? Tubuhmu yang muda dan mulus itu akan digeluti, akan dinodai dan dipermainkan sampai mereka bertiga puas! Setelah mereka selesai engkau sudah akan rusak sama sekali dan tidak mungkin dapat dipulihkan kembali! Engkau akan merasa terhina, muak dan jijik, akan tetapi setiap kali mereka menghendaki, engkau harus merangkak kepada mereka seperti anjing kelaparan! Senangkah hatimu membayangkan itu semua?"
Air mata sudah jatuh berderai dari kedua mata Bi Lan ketika ia mendengar ucapan sucinya itu. Ia tidak mampu mengeluarkan suara, hanya menggeleng kepala berkali-kali dengan perasaan ngeri terbayang pada wajahnya. Akan tetapi, ia tahu bahwa sucinya tidak akan mau menolongnya, maka percuma sajalah andaikata ia akan minta tolong juga. Agaknya pikirannya ini dapat diduga oleh Bi-kwi.
"Hayo katakan! Hayo bilang bahwa kau minta tolong padaku!"
Bi Lan berbisik, "Tidak ada gunanya. Engkau tentu bahkan akan mengejekku. Engkau tentu girang melihat keadaanku, engkau tentu puas karena melihat aku yang kaubenci ini mengalami penderitaan hebat...."
"Hemmm, belum tentu," kata Bi-kwi. "Lihat sumoi macam apa engkau ini, baru aku akan mengambil keputusan. Tak perlu kusangkal, memang aku tidak suka kepadamu, sumoi, karena kehadiranmu hanya merugikan aku. Akan tetapi, kalau saja engkau dapat berguna bagiku, tentu saja aku tidak ingin melihat engkau celaka. Ada budi ada balas, tentu engkau mengerti, bukan?"
"Apa.... apa maksudmu?"
"Maksudku, kalau engkau mau melakukan sesuatu untukku, tentu akupun mau melakukan sesuatu untukmu. Ada budi ada balas!"
"Apa yang harus kulakukan dan apa yang akan kaulakukan?"
"Misalnya, engkau berjanji untuk membantuku mati-matian dan sekuat tenaga untuk merampas Liong siauw-kiam, kemudian membantuku sampai aku berhasil menjadi beng-cu...."
"Bukankah itu tugas kita?"
"Tadinya memang begitu, akan tetapi kalau engkau mau berjanji melakukan itu untuk aku, bukan untuk suhu, nah, misalnya engkau mau berjanji melakukan itu, mungkin aku mau membebaskan totokanmu dan mengajakmu lari sekarang juga."
Berdebar rasa jantung di dalam dada Bi Lan. Inilah satu-satunya kesempatan. Dan menjanjikan seperti yang diminta sucinya itu bukan berarti berjanji untuk melakukan hal-hal yang tak disukainya.
"Baiklah, suci, aku berjanji."
"Sumpah?"
"Sumpah!"
"Baik, tanpa janji dan sumpah sekalipun, kalau engkau mengingkari, setiap waktu aku akan dapat membunuhmu," kata Bi-kwi dan iapun cepat membebaskan totokan dari tubuh Bi Lan, kemudian mengajak sumoi itu untuk diam-diam melarikan diri melalui jendela. Tiga orang kakek yang menaruh kepercayaan sepenuhnya kepada Bi-kwi, tidak menduga sama sekali dan mereka masih enak-enak minum arak sambil main tebak jari untuk menentukan siapa pemenang pertama, ke dua dan ke tiga yang berhak menggauli Bi Lan lebih dahulu.
Setelah minum arak cukup banyak, arak yang tadi disuguhkan Bi Lan, tidak mengandung racun atau pembius, melainkan arak yang tua dan amat keras sehingga tadi Bi Lan yang tidak biasa minum arak itu menjadi pening dan setengah mabok. Tiga orang kakek itu lalu sambil tertawa-tawa masuk ke dalam dan menghampiri kamar Bi Lan dengan harapan bahwa murid mereka itu akan menyambut mereka dengan suka rela sehingga mereka tidak perlu mempergunakan paksaan, seperti yang terjadi pada Bi-kwi dahulu.
Dapat dibayangkan betapa heran dan juga marah hati mereka ketika melihat betapa kamar itu sudah kosong. Bi-kwi maupun Siauw-kwi tidak nampak bayangannya lagi! Tanpa mencaripun tahulah mereka bahwa kedua orang murid itu telah pergi tanpa pamit. Mereka lalu duduk berunding.
"Tidak mungkin Siauw-kwi membebaskan sendiri totokannya. Aku yang melakukan totokan dan dalam waktu sedikitnya tiga jam ia tidak akan dapat bebas, kecuali kalau ada yang membebaskannya," kata Raja Iblis Hitam penasaran.
"Dan yang dapat membebaskannya hanyalah Bi-kwi, satu-satunya orang yang berada di sini."
"Akan tetapi Bi-kwi tidak akan mengkhianati kita."
"Mungkin Bi-kwi hanya iri dan tidak ingin melihat kita mendekati sumoinya, maka ia membebaskannya dan mengajak sumoinya pergi tanpa pamit melaksanakan tugas mereka."
"Itu lebih tepat. Mereka tentu akan melaksanakan tugas mereka dan mereka hanya ingin menghindarkan apa yang kita kehendaki malam ini."
"Akan tetapi bagaimana kalau mereka benar-benar mengkhianati kita? Habislah harapan kita dan hancurlah semua jerih payah kita."
"Ah, kita tidak perlu bingung," akhirnya Iblis Akhirat berkata. "Hanya ada dua hal yang akan terjadi. Pertama, mereka tidak berkhianat dan hanya menghindarkan maksud kita terhadap Siauw-kwi. Kalau benar demikian dan mereka kelak pulang, masih belum terlambat untuk mendapatkan Siauw-kwi yang manis. Ke dua, kalau benar mereka itu berkhianat, kita cari mereka dan kita bunuh mereka."
"Bagus, dan kita sudah terlalu lama menganggur di sini, mari kita pergi mencari mereka dan menyelidiki apa yang mereka lakukan."
Demikianlah, pada keesokan harinya, tanpa tergesa-gesa, tiga orang kakek iblis itupun turun dari Thai-san untuk mencari dua orang murid mereka.
***
Dengan cerdik Bi Lan dapat mengambil Ban-tok-kiam ketika ia diajak pergi oleh sucinya malam itu, dengan alasan bahwa ia hendak kembali sebentar mengambil pakaiannya. Bi-kwi menanti di bawah puncak tanpa curiga dan dengan menyembunyikan pedang itu di balik bajunya, Bi Lan mengikuti sucinya yang membawanya lari menuju ke selatan.
Perjalanan ini mendatangkan kegembiraan besar di dalam hati Bi Lan. Sejak kecil, dalam usia sepuluh tahun, ia telah ikut bersama Sam Kwi yang membawanya tinggal di gunung-gunung dan di tempat-tempat sunyi. Jarang Bi Lan memperoleh kesempatan bergaul dengan orang lain dan ia hanya mengenal keadaan dunia melalui cerita tiga orang gurunya dan sucinya saja. Paling banyak, ketika ia masih ikut suhu-suhunya, ia melihat dusun-dusun dan bertemu dengan penduduk dusun dan pegunungah yang hidup sederhana. Oleh karena itu setelah kini melakukan perjalanan bersama Bi-kwi, memasuki kota-kota besar, Bi Lan merasa gembira sekali, gembira dan penuh keliaran memandangi rumah-rumah besar di dalam kota, toko-tokonya dan keramaian kota. Mulai teringat pulalah kehidupan di dunia ramai yang ditinggalkan semenjak ia berusia sepuluh tahun itu.
Kenyataan yang mengejutkan hati Bi Lan adalah ketika ia melihat kerusakan-kerusakan dan bekas kehancuran sebagai akibat pemberontakan-pemberontakan di selatan, juga ia harus menahan perasaannya ketika ia dan sucinya memasuki kota-kota besar, ia melihat betapa pandang mata kaum pria yang ditujukan kepada ia dan sucinya, hampir semua mengandung kekurangajaran dan nafsu berahi yang menjijikkan. Ia melihat seolah-olah kaum pria itu, sebagian besar, memiliki mata serigala yang melihat kelenci-kelenci montok lewat di depan hidung mereka!
Bi Lan adalah seorang gadis berusia tujuhbelas tahun lebih. Walaupun pengalamannya dengan kaum pria dapat dikata nol, akan tetapi naluri kewanitaannya dapat menangkap semua pandang mata kaum pria itu yang membuat gadis ini selain heran juga terkejut dan tidak enak, merasa canggung dan ngeri, seolah-olah dikepung bahaya. Akan tetapi, jauh di dalam batinnya terdapat pula suatu perasaan aneh, perasaan bangga dan senang yang dengan keras ditutupnya. Ia tidak tahu bahwa semua perasaan wanita, semenjak ia dewasa, sama dengan perasaannya itu. Sudah menjadi watak pria yang sesuai dengan naluri dan kejantanan mereka untuk tertarik apa bila melihat wanita muda yang cantik, dan pandang mata mereka selalu akan menempel pada penglihatan itu seperti bubuk-bubuk besi menempel pada semberani sehingga pandang mata mereka mengandung kekaguman dan kemesraan. Dan justeru naluri alamiah wanita adalah butuh akan kekaguman dari kaum pria ini. Tidak ada wanita yang tidak merasa bangga, dan senang dikagumi pandang mata pria, walaupun hukum-hukum kesopanan dan kesusilaan memaksa wanita itu pura-pura tak senang, atau bahkan marah, atau setidaknya akan menyimpan rasa bangga dan senang ini jauh di dalam hatinya sendiri sebagai suatu rahasia pribadinya. Inilah sebabnya mengapa wanita paling mudah jatuh menghadapi rayuan-rayuan mulut manis dan para pria petualang asmara mempergunakan kelemahan wanita ini untuk menjatuhkannya dengan rayuan-rayuan dan pujian-pujian.
Bi-kwi mengajak Bi Lan memasuki Propinsi Yunan di selatan. Pada waktu itu, pemberontakan telah dapat dipadamkan dan Propinsi Yunan sudah menjadi tenang dan tenteram kembali. Rakyat di daerah itu yang paling parah menderita akibat perang pemberontakan, telah kembali ke daerah masing-masing. Yang kehilangan rumah kini mulai membangun kembali dari bawah dan biarpun masih nampak bekas reruntuhan akibat perang, namun agaknya para penghuninya sudah merupakan peristiwa menyedihkan itu dan tidak lagi terbayang ketakutan pada wajah mereka.
Pada suatu pagi, tibalah dua orang wanita itu di kota Kun-ming yang merupakan kota terbesar di Propinsi Yunan. Karena dalam perjalanan itu Bi-kwi memilih jalan terdekat, maka jarang mereka melewati kota besar, hanya dusun-dusun dan kota-kota kecil, maka begitu memasuki kota besar Kun-ming di selatan ini, Bi Lan memandang penuh kekaguman. Ia masih ingat bahwa keluarga orang tuanya juga datang dari Yunan selatan. Ketika perjalanannya membawanya tiba di Propinsi Yunan, mendengar suara percakapan orang-orang di dusun-dusun yang dilewatinya saja sudah mendatangkan keharuan di hatinya, mendatangkan keyakinan bahwa memang ia berasal dari Yunan. Ia mengenal betul logat bahasa daerah Yunan, walaupun ia sendiri kini sudah berlogat lain, namun logat bahasa selatan itu tidak asing baginya, bahasa orang tuanya, bahasanya ketika ia masih kecil.
Hari itu masih pagi, akan tetapi jalan-jalan raya di kota Kun-ming sudah ramai oleh mereka yang pergi ke pasar-pasar. Banyak toko yang masih tutup, akan tetapi toko-toko yang sudah buka merupakan penglihatan yang mendatangkan kagum dam heran di hati Bi Lan. Berkali-kali ia bertanya kepada Bi-kwi arti tulisan-tulisan yang terpampang di depan toko-toko atau rumah-rumah besar sehingga Bi-kwi menghardiknya untuk diam karena ia merasa jengkel harus menerangkan sejak tadi arti tulisan-tulisan yang hanya merupakan nama-nama dari toko yang mereka lewati atau kata-kata reklame toko untuk menarik langganan. Memang Bi Lan seorang gadis buta huruf, ia hanya puteri seorang petani yang tidak sempat menyekolahkannya, dan sejak berusia sepuluh tahun ia ikut dengan Sam Kwi, tiga orang datuk sesat yang sama sekali tidak perduli akan pendidikannya, bahkan menganggap bahwa melek huruf merupakan hal yang tidak ada gunanya bagi wanita! Akan tetapi Bi-kwi sempat mempelajari baca tuiis walaupun hanya secara sederhana.
Ketika mereka melewati sebuah rumah makan besar yang sudah buka, hidung mereka dilanggar bau masakan yang sedap dan perut mereka segera memberi isyarat bahwa sejak kemarin siang mereka belum makan apa-apa. Bi-kwi memberi isyarat kepada sumoinya dan merekapun melangkah ke arah restoran itu.
Bi Lan tersenyum girang. "Wah, kalau yang ini tak perlu kauceritakan, suci. Aku tahu bahwa di sini tentu dijual makanan enak."
Mau tak mau Bi-kwi tersenyum juga. "Engkau memang gadis tolol. Tak perlu banyak bertanya, lihat saja dan kau tentu akan mengerti sendiri."
Seorang pelayan menyambut dua orang tamu ini dan wajahnya tersenyum gembira ketika dia melihat bahwa tamu-tamunya adalah dua orang wanita yang cantik-cantik dan manis-manis. Dia memandang dengan sinar mata penuh selidik. Seorang wanita berusia tigapuluh tahunan, berpakaian mewah dan indah, sinar matanya genit, wajahnya manis dan bertambah cantik oleh riasan muka, seorang wanita yang matang dan menarik. Orang ke dua adalah seorang yang jelas merupakan seorang gadis yang baru mekar, berpakaian sederhana sekali, bahkan mukanya tanpa bedak, akan tetapi kulit muka itu jauh lebih halus dan mulus dibandingkan dengan wanita pertama, dan bentuk tubuh gadis belasan tahun itu demikian ramping seolah-olah pinggangnya dapat dilingkari empat jari tangan si pelayan.
"Selamat pagi, nona-nona. Apakah ji-wi hendak sarapan?"
Bi-kwi mengangguk.
"Silahkan masuk, ji-wi siocia, silahkan duduk." Pelayan itu membawa mereka ke sebuah meja di sudut, di mana para pelayan dan pengurus rumah makan dapat melihat mereka dengan jelas, sebaliknya tempat ini menyenangkan hati Bi-kwi karena di sini ia dapat duduk sambil melihat ke semua penjuru, juga ke arah jalan raya di depan restoran. Tidak banyak tamu di restorau itu sepagi ini. Hanya ada lima meja yang terisi, di antara tigapuluh lebih meja di ruangan yang cukup luas itu. Bi-kwi lalu memesan makanan dan minuman. Bi Lan tak pernah membuka mulut, membiarkan sucinya yang memesan makanan apa saja karena ia tidak tahu harus memilih apa. Akan tetapi ia teringat akan minuman dan berbisik.
"Suci, aku minum teh saja, teh panas."
Mendengar ini, pelayan itu tersenyum lebar dan memandang kepada Bi Lan sambil mengangguk. "Kami terkenal dengan teh kami yang harum, nona."
Bi-kwi mengangkat mukanya dan memandang wajah pelayan itu. Sinar matanya menyambar seperti dua batang anak panah dan muka yang tadinya menyeringai dalam senyum ramah itu segera berobah dan si pelayan menunduk dan membungkukkan tubuhnya. Dia terkejut melihat sepasang mata yang jeli itu seperti berapi, dan tahu bahwa wanita itu marah, maka dia tidak berani lagi bersikap main-main.
"Apakah arakmu juga sebaik tehmu?" tanya Bi-kwi ketus.
Pelayan itu membungkuk-bungkuk. "Tentu, tentu.... nyonya, arak kami...."
"Brakk!" Bi-kwi menggebrak meja sehingga pelayan itu terkejut. Bi Lan menahan ketawanya karena geli melihat sikap sucinya dan pelayan itu.
"Suci bukan nyonya, masih nona," katanya karena ia dapat menduga mengapa sumoinya marah-marah disebut nyonya.
"Oh.... eh.... nyo.... nona, maafkan saya." Melihat si pelayan menjadi gagap gugup, Bi Lan tertawa. Suara ketawanya bebas lepas, tanpa menutupi mulutnya karena ia memang tak pernah diajar sopan santun seperti orang-orang kota, seperti wanita-wanita yang dianggap sopan menutupi mulut kalau tertawa. Hal ini tentu saja menarik perhatian para tamu lain yang duduk di situ dan merekapun menengok, lalu ikut tersenyum melihat betapa seorang gadis, agaknya gadis dusun, tertawa begitu gembira.
"Sumoi, diam kau!" Bi-kwi mendesis dan Bi Lan menahan ketawanya. "Dan kau jangan cerewet dan ceriwis!" bentak Bi-kwi kepada si pelayan. "Cepat sediakan teh panas, arak baik dan nasi, daging panggang dan dua mangkok sayur yang paling enak!"
Kini pelayan itu tidak berani banyak lagak lagi. Dia membungkuk-bungkuk. "Baik, nona, baik, nona...."
Akan tetapi saking gugupnya, ketika dia meninggalkan meja itu dan menghampiri meja pengurus untuk melaporkan pesanan, dia lupa berapa banyak sayuran yang dipesan Bi-kwi, maka dengan muka kecut terpaksa dia menghampiri lagi meja dua orang wanita itu. Hal ini tak lepas dari perhatian Bi Lan yang merasa betapa orang ini lucu sekali.
"Maaf, nona. Tadi.... pesanan sayurnya berapa banyak?"
Bi-kwi sudah hampir menghardiknya, akan tetapi didahului oleh Bi Lan yang membentak dengan wajah tersenyum geli. "Dua mangkok!" Bentaknya nyaring, mengejutkan si pelayan dan kembali menarik perhatian para tamu. Setelah si pelayan pergi, Bi-kwi mengomel kepada sumoinya.
"Tak perlu engkau tertawa dan berteriak-teriak seperti itu. Apakah kau ingin menarik perhatian orang-orang?"
"Maaf, nyo.... eh, nona...." Bi Lan menirukan suara dan gaya si pelayan sehingga Bi-kwi terpaksa menyeringai gemas. Bi Lan adalah seorang gadis yang pada hal dasarnya memiliki dasar watak gembira dan lincah jenaka. Kalau tadinya ia bersikap aneh, hal itu adalah karena ulah sucinya yang memberi pelajaran yang menyesatkan sehingga pikirannya bingung dan agak berobah. Akan tetapi setelah ia menerima pengobatan dari Pendekar Naga Sakti dan isterinya, dan sembuh sama sekali dari pengaruh hawa beracun, dasar wataknya itupun muncul kemba!i. Maka, setelah ia berada di dalam kota dan merasa gembira dapat melihat daerah asalnya, kegembiraannya timbul dan melihat ulah pelayan yang demikian lucu, iapun segera menggodanya.
Tak lama kemudian, pelayan itu datang membawa makanan dan minuman yang dipesan, dan Bi Lan segera menikmati hidangan itu. Memang nikmat, karena selama ini di puncak Thai-san, ia makan masakannya sendiri dan masakan sucinya yang sederhana sekali, asal sudah diberi garam, cukuplah. Dengan lirikan ujung matanya, Bi Lan melihat betapa seorang pemuda yang duduk di sudut ruangan itu, sejak tadi kadang-kadang melirik ke arah mejanya. Pemuda ini belum tua benar, paling banyak duapuluh tahun. Seorang pemuda yang berwajah cerah dan tampan, namun amat sederhana, baik perawatan muka dan rambutnya yang dikuncir tebal itu maupun pakaiannya yang hanya terbuat dari kain kasar berwarna biru dan sepatunya dari kulit. Pemuda itu makan bakmi dengan sumpitnya, dan cara makannya juga sopan, tanda bahwa pemuda itu bukan orang yang suka ugal-ugalan walaupun pakaiannya tidak menunjukkan bahwa dia seorang terpelajar. Di atas mejanya terdapat sebuah buntalan yang agak panjang, mungkin terisi pakaian dan ini saja menandakan bahwa pemuda itu tentu seorang pendatang dari luar kota pula, bukan penduduk di situ dan agaknya dia baru saja masuk kota, terbukti dari bekal pakaian yang masih dibawanya, seperti juga Bi Lan dan Bi-kwi sendiri yang menaruh buntalan pakaian mereka di atas meja. Juga Bi Lan melihat betapa sucinya beberapa kali mengerling ke arah pemuda itu dan karena inilah sebetulnya maka ia menjadi tertarik dan ikut-ikut melirik. Dari sikap sucinya, ia dapat menduga bahwa sucinya sudah kambuh pula penyakitnya, yaitu penyakit mata keranjang. Tentu sucinya naksir pemuda tampan itu, pikirnya dan kembali ada perasaan tidak enak menekan hatinya. Sejak dahulu, melihat watak sucinya, ia merasa muak dan tidak senang. Akan tetapi karena hal itu adalah urusan pribadi sucinya, iapun pura-pura tidak tahu dan tidak ingin mencampurinya pula.
Tiba-tiba seorang pelayan berseru, "Celaka, dia datang lagi.... !" Dan mendengar seruan ini, pengurus restoran menjadi pucat wajahnya, dan semua pelayan juga nampak gugup ketakutan. Pengurus restoran yang kurus itu lalu mengambil uang dari laci mejanya dan menyembunyikannya di bawah tumpukan bungkusan bumbu-bumbu masakan. Beberapa orang tamu yang melihat hal itu menjadi heran, dan ada juga yang menjadi khawatir karena tentu akan terjadi hal-hal yang tidak menyenangkan.
Tak lama kemudian, di depan pintu restoran itu sudah muncul seorang laki-laki. Dengan sudut matanya, Bi Lan dan Bi-kwi melirik. Laki-laki itu usianya kurang lebih empatpuluh tahun, tubuhnya nampak tegap dan kokoh kuat. Akan tetapi yang menyolok adalah pakaian laki-laki ini yang terbuat dari kain yang berwarna serba merah! Lebih menyolok lagi adalah sepasang golok yang dijadikan satu dan masuk dalam satu sarung, tergantung di pinggang kirinya. Di jaman itu, membawa senjara tajam secara demikian menyolok merupakan hal yang aneh, karena pemerintah sudah lama melarang membawa senjata tajam di tempat umum. Hal ini saja menunjukkan bahwa tentu orang berpakaian serba merah ini adalah seorang jagoan.
Laki-laki baju merah itu memiliki sepasang mata yang lebar dan sikap yang galak. Begitu tiba di depan pintu, matanya lalu menyapu ruangan restoran, melihat ke arah para tamu yang hanya enam meja itu, dan agak lama pandang matanya berhenti pada meja Bi Lan.
"Hemmm, rakyat hidup sengsara dan kekurangan, kurang makan kurang pakaian, dan kalian enak-enak makan lezat di sini. Sungguh tidak tahu perikemanusiaan! Hayo seorang menyumbang seharga makanan yang dipesannya!"
Tentu saja ucapan dan sikap laki-laki ini mendatangkan bermacam reaksi di kalangan para tamu. Ada yang memandang marah, ada yang ketakutan dan suasana menjadi tegang. Pengurus restoran yang kurus itu tergopoh-gopoh lari menghampiri laki-laki baju merah yang sudah melangkah memasuki restoran, tangannya membawa segenggam uang dan dia membungkuk-bungkuk di depan laki-laki itu.
"Harap si-cu (orang gagah) jangan mengganggu para tamu kami. Kemarin dulu, kedatangan si-cu menimbulkan kepanikan dan kalau terus-menerus begini, tamu-tamu dan langganan kami akan takut untuk makan di restoran kami. Harap si-cu maafkan kami dan suka meninggalkan tempat kami, ataukah si-cu ingin makan minum? Mari silahkan...."
"Diam!" hardik orang baju merah itu. "Dan jangan mencampuri urusanku!"
"Tapi, si-cu, ini adalah tempat kami, tempat kami mencari nafkah.... harap si-cu suka menerima sedikit sumbangan ini. Biarlah kami atas nama para tamu menyerahkan sumbangan ini. " Si kurus itu dengan tangan gemetar lalu memberikan segenggam uang itu kepada si baju merah. Si kurus melihat segenggam uang itu dan karena uang itu hanya terdiri dari uang kecil, marahlah dia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar