05 Kisah Si Bangau Putih

Cita-cita atau ambisi yang dimiliki Siangkoan Lohan adalah untuk melihat putera tunggalnya, Siang koan Liong, menjadi pengganti kaisar! Cita-cita yang tidak kepalang besarnya, yang muncul dalam benaknya bukan tanpa sebab. Sebab itu terjadi kurang lebih sebelas atau dua belas tahun yang lalu. Ketika itu, Siangkoan Liong baru berusia delapan tahun lebih. Anak ini memang berbakat sekali dan sukaakan ilmu silat sehingga Siangkoan Lohan dengan penuh semangat menggembleng puteranya itu. Pada waktu itu, sedikitpun dia tidak memiliki keinginan untuk memberontak. Dia adalah, seorang yang dianggap keluarga oleh istana, bahkan isterinya yang telah meninggal, ibu kandung Siangkoan Liong, adalah seorang puteri dari istana yang dihadiahkan oleh kaisark epadanya. Siangkoan Lohan yang bernama Siang koan Tek itu selalu merasa berterima kasih dan setia kepada Kerajaan Ceng dan sedikitpun tidak pernah mempunyai hati untuk memberontak.

Pada suatu hari, selagi Siangkoan Lohan melatih ilmu silat kepada puteranya dikebun belakang yang sunyi, tiba-tiba saja terdengar seruan halus memuji, " Ilmusilat bagus ....!"

Siangkoan Lohan cepat menghentikan gerakannya ketika memberi contoh kepada puteranya, dan menengok. Kiranya yang mengeluarkan seruan pujian itu adalah seorang laki-laki berusia kurang lebih enam puluh tahun yang berdiri tegak di atas pagar tembok kebun itu. Diam-diam Siangkoan Lohan terkejut. Ada orang meloncat ke dalam pagar tembok demikian dekat dan dia sama sekali tidak tahu atau mendengarnya! Akan tetapi, laki-laki itu agaknya tidak mempedulikan padanya karena sedang memandang ke arah Siangkoan Liong dan kembali dia memuji.

"Anak yang memiliki bakat yang amat baik untuk menjadi kaisar sekalipun!"

Tentu saja ucapan ini membuat Siangkoan Lohan menjadi terkejut bukan main, apalagi mendengar betapa kata-kata yang keluar dari mulut orang itu logatnya asing walaupun halus dan teratur rapi.

Dia memandang penuh perhatian. Seoranglaki-laki. yang tinggi kurus dan mengenakan pakaian bersih yang amat rapi seperti pakaian seorang pelajar, seorang siucai, rambutnya tersisir rapi dan segala yang nampak pada dirinya, biarpun tidak mewah namun bersih dan rapi. SiangkoanLohan yang dapat menduga bahwa tentuorang ini bukan orang biasa, cepat memberi hormat dari bawah tembok.

"Sahabat yang baik terlalu memujiilmu silat kami yang tidak ada artinya dan memuji pula puteraku yang bodoh. Silakan turun dan menikmati secawan arak denganku."

Orang itu tersenyum mengangguk, "Tidak salah pendengaranku. Ketua Tiat-liong-pang memang seoranglaki-laki gagah perkasa dan peramah, dapat menghargai orang lain. Sayang kurang semangat!" Setelah berkata demikian, dia meloncat turun. Cara dia meloncat turun ini yang mengejutkan hati Siangkoan Lohan karena tubuh itu sama sekali tidak membuat gerakan keseimbangan, melainkan meluncur begitu saja seperti balok jatuh, akan tetapi ketika tiba di atas tanah, sama sekali tidak mengeluarkan suara dan kedudukan kaki dan anggauta tubuh lain masih seperti tadi. Juga dia teringat betapa para anggauta Tiat-liong-pang selalu melakukan penjagaan ketat diluar pagar tembok, bagaimana orang inidapat enak-enak begitu saja memasuki taman tanpa ada muridnya yang mengetahuinya?

"Harap maafkan kalau kami belum mengenal nama besar sahabat yang baru datang dan sebaliknya engkau sudah mengenalku. Siapakah engkau, Sobat dan dari mana engkau datang, ada keperluan apa pula datang berkunjung secara ini?" Sikap orang itu terlalu halus sehingga Siangkoan Lohan juga tidak mempunyai alasan untuk marah, apalagi orang itutadi memuji-muji puteranya, memuji ilmu silatnya, dan memuji dirinya sebagai ketua Tiat-liong-pang.

Kembali orang itu tersenyum, bahkan senyumnya saja senyum sopan! "Semua orang menyebutku Ouwyang Sianseng (Tuan Ouwyang). Harus bercerita panjang lebar untuk memberitahu darimana aku datang, dan sebetulnya aku tidak mempunyai keperluan khusus, hanya kebetulan lewat dan mendengar kalian berlatih silat, aku ingin menonton. Puteramu ini sungguh hebat, kalau dididik dengan benar, kelak akan menjadi orang besar, bahkan patut menjadi kaisar!"

Siangkoan Lohan mengerutkan alisnya. Orang ini agaknya keterlaluan bicaranya, pikirnya. Bagaimana mungkin puteranya menjadi kaisar? Dan dia seorang yang setia, terhadap kerajaan!

"Ouwyang Sianseng, harap jangan berlebihan memuji puteraku. Aku hanyalah ketua perkumpulan, bagaimana mungkin puteraku menjadi kaisar?"

Ouwyang Sianseng tersenyum. "Aku sejak kecil mempelajari kesusastraan dan ilmu perbintangan, dan aku melihat bahwa puteramu ini memang pantas untuk menjadi kaisar, Pangcu. Bukankah dia memiliki darah bangsawan istana pula? Tidak percuma orang menjuluki aku Namsan Sian-jin (Manusia Dewa Gunung Selatan) kalau aku tidak dapat melihatarti garis-garis pada wajah anak ini," katanya tanpa bernada menyombongkan diri, bahkan pandang matanya terhadap Siangkoan Liong jelas membayangkan kekaguman, "Akan tetapi tentu saja dia harus dididik sebaiknya, dan pendidikanmu hanya menjadi pendidikan dasar saja, Pangcu. Kalau kelak aku yang melanjut kan pendidikannya, barulah kemungkinan dia menjadi kaisar semakin besar."

Mendengar ucapan terakhir ini, tentu saja Siangkoan Lohan mengerutkan alisnya dan merasa tidak senang batinnya. Betapa sombongnya orang ini, pikirnya, berani mengeluarkan ucapan yang amat meremehkannya, seolah-olah kepandaiannya masih amat rendah tingkatnya dibandingkan tingkat kepandaian orang itu!

"Nanti dulu, Sobat!" katanya sambil tertawa, akan tetapi ketawanya agak masam karena biarpun orang ini datang memuji puteranya dan bermaksud untuk mendidik puteranya agar menjadi kaisar,namun nada suara orang ini amat memandang rendah. "Tidak ada orang lain boleh mendidik puteraku kecuali kalau orang itu memiliki ilmu kepandaian yang jauh lebih tinggi dariku. Kelak dia men jadi orang besar atau tidak, hal itu terserah kepada nasibnya, akan tetapi untuk pendidikannya, ada aku di sini yang mendidiknya, bukan orang lain. Tentu saja boleh dia berguru kepadamu kalau memang ada buktinya bahwa kepandaianmu jauh lebih tinggi daripada aku."

Kembali kakek yang halus tutur sapanya itu tersenyum. "Siangkoan Pangcu, namamu sebagai ketuaTiat-liong-pang sudah terkenal di empat penjuru, dan semua orang tahu bahwa engkau memiliki ilmu silat yang hebat, tendangan maut dan tenaga luar dalam yang sukar dicari tandingannya! Akan tetapi untuk dapat mendidik murid seperti aku, engkau masih harus belajar banyak. Tentu saja kepandaianku lebih tinggi darimu, Pangcu. Aku hanya bicara seadanya saja, bukan bermaksud menyombongkan diri."

Memang demikianlah, ketua Tiat-liong-pang itu pun kini melihat betapa orang di depannya itu tidak menyombong, bicara dengan suara seolah-olah menerang kan sesuatu yang sudah pasti. Karenasikap orang itu tidak sombong dan tidak mengandung iktikad buruk terhadapnya, maka dia tidak marah, hanya merasa penasaran sekali. Sementara itu, Siangkoan Liong sejak tadi mendengarkan percakapan antara kedua orang tua itu dan kini dia pun merasa penasaran.

"Ayah, buktikan bahwa Ayah tidak kalah olehnya, agar dia cepat pergi dan tidak mengganggu kita lagi."

Orang yang mengaku bernama Ouwyang Sian seng atau berjuluk Nam-san Sian-jin itu tersenyum gembira memandang Siangkoan Liong. "Bagus, anak ini sudah memiliki sifat terbuka dan gagah. Majulah, Pangcu, dan mari kita sama membuktikan kebenaran omonganku tadi. Kalau engkau tidak mampu mengalahkanaku, kelak setelah engkau selesai mengajarkan ilmu-ilmu dasar kepada puteramu aku akan melanjutkan pendidikannya. Sebaliknya, kalau engkau dapat mengalahkan aku, aku akan minta maaf dan aku pergi tidak akan mengganggu kalian lagi."

Tantangan ini diucapkan dengan halus dan sama sekali tidak mengandung nada permusuhan, maka Siangkoan Lohan lalu melangkah maju menghadapi kakek itu.

"Baik, marilah kita memulai perkenalan kita dengan menguji kepandaian, Ouwyang Sianseng. Dengan cara bagaimana engkau menghendaki mengadu kepandaian?" Sebagai seorang ketua yang berwibawa dan sadar akan kedudukannya, Siangkoan Lohan bersikap mengalah dan mempersilakan calon lawan untuk menentukan cara. Akan tetapi, kakek berpakaian rapi dan bersikap sopan, itu menjura dengan hormat dan tersenyum.

"Senjata yang paling ampuh berada didalam diri, bukan di luar diri. Hal ini tentu telah kau ketahui pula, Pangcu. Aku sudah mendengar akan kelihaian pukulan dan tendanganmu, dan bahwa dengan kakitangan dan tenagamu saja, engkau lebih lihai daripada puluhan orang bersenjata. Kebetulan aku sendiri pun seorang yang paling tidak suka melihat orang mempergunakan senjata dalamperang, membunuhi sesama manusia seperti orang membunuh binatang saja. Bagaimana kalau kita main-main sebentar dengan mengandalkan kaki tangan saja, senjata-senjata pemberian Tuhan sejak kita lahir?"

Hati Siangkoan Lohan tertarik sekali.Tentu saja dia akan merasa beruntung sekali kalau ternyata benar bahwa kakek ini memiliki ilmu kepandaian yang lebih tinggi tingkatnya darinya, untuk menjadi guru puteranya. Bagaimanapun juga, dia meragukan akan hal ini. Dia mengenal tokoh-tokoh besar di dunia persilatan, dan agaknya hanyalah keturunan para pendekar Pulau Es dan Gurun Pasir saja yang akan mampu menandinginya di antara para pendekar, dan hanya datuk-datuk sesat yang sudah terkenal sepertidari Pat-kwa-pai dan Pek-lian-pai saja yang setingkat dengan kepandaiannya. Akan tetapi orang ini sama sekali tidak terkenal walaupun mengaku berjuluk Manusia DewaGunung Selatan (Nam-sanSian-jin)!

"Baiklah Ouwyang Sianseng. Aku mengharapkan petunjuk darimu," katanya sambil menggerakkan kedua lengannya, saling berputaran dengan jari-jari tangan membentuk cakar naga. Kedua lengan itu menggetar dan terdengar suara berkerotok ketika tenaga yang amat kuat mengalir ke dalam keduatangan itu. Melihat ini, Ouwyang Sianseng tersenyum mengangguk-angguk.

"Memang bukan nama kosong, hebat Ilmu Liong-jiauw-kang (TenagaCakarNaga) itu. Mulailah, Pangcu, aku siap menyambut seranganmu!"

"Awas pukulan!" tiba-tiba ketua Tiat-liong-pang itu membentak sebagai isyarat bahwa dia mulai menyerang. Angin menyambar dahsyat ketika lengan kirinya meluncur dari samping dan mengirim cakaran ke arah telinga kanan lawan sedangkan tangan kanan juga bergerak dalam detik berikutnya menyusul serangan pertama itu dengan cengkeraman kearah perut. Kedua tangan dengan jari-jari tangan yang membentuk cakar naga ini luar biasa kuatnya. Jangankan bagian tubuh manusia, bahkan batu karangpun akan hancur terkena cengkeraman itu! Perlu diketahui bahwa tingkat kepandaian Siangkoan Tek yang sudah terkenal dengan sebutan Siangkoan Pangcu (KetuaSiangkoan) atau Siangkoan Lohan ini sudah amat tinggi. Dia memiliki tenaga yang dahsyat, yaitu tenagaLiong-jiauw-kang (CakarNaga) sedangkan ilmu silatnya yang bernama Tiat-wi Liong-kun (Silat Naga BerekorBesi) amat tangguh pula, disamping ilmu andalannya yang disebut Ban-kin-twi (Tendangan Selaksa Kati). Disamping ini, juga dia seorang ahli ilmu gulat dari bangsa Mongol, maka, kedua tangan yang membentuk cakar naga itu, selain dapat dipergunakan untuk memukul, menampar dan cengkeraman, juga dapat diubah menjadi jari-jari tangan seorang jago gulat yang tangkapannya membahayakan lawan!

Menghadapi cengkeraman ke arah kepala dan perutnya, Ouwyang Sianseng tidak nampak gugup. Kakinya melangkah kebelakang dan kedua tangannya, dengan jari tengah dan jari telunjuk tegak, menyambut keduatangan lawan dengan totokan kearah telapak tangan! Melihat ini Siangkoan Lohan terkejut. Kalau orang itu berani menotok telapak tangannya yang penuh dengan tenaga Liong-jiauw-kang, berarti bahwa orang itu tentu memiliki sin-kang yang amat kuat. Dia tidak berani mencoba mengadu tenaganya, karena kalau hal itu terjadi, telapak tangannya menyambut totokan jari tangan lawan, seorang di antara mereka tentuakan dapat terluka parah. Maka dia puncepat menarik kembali kedua tangannyadan tiba-tiba saja kedua kakinya melakukan tendangan, mula-mula yang kanan lalu disusul yang kiri, kemudian kanan lagi. Tendangan bertubi-tubi itu selainamat cepat, juga tenaganya bahkan lebih dahsyat daripada cengkeraman tadi sehingga debu dan tanah mengebul tinggi seolah-olah kedua batang kaki itu men jadi kitiran yang mendatangkan angin besar menerbangkan debu dan daun kering. Melihat betapa tendangan itu semakin lama semakin kuat, Ouwyang Sianseng yang mengelak ke kanan kiri dan kebelakang itu mengeluarkan suara pujian.

"Ilmu tendangan yang berbahaya!" katanya dan kini selain mengelak, kedua tangannya yang dimiringkan juga beberapa kali menyambut tendangan dengan tangkisan. Terdengar suara berdebuk-debuk ketika tangan bertemu kaki, dan keduanya terdorong mundur. Kembali Siangkoan Lohan terkejut. Tangan itu mampu menahan tendangannya! Bukan main, kakek ini benar-benar memiliki sinkang yang hebat. Diapun lalu menyerang dengan desakan, mengeluarkan jurus-jurus terampuh dari Ilmu Silat Tiat-wi Liong-kun. Tubuh ketua ini bergerak cepat seperti seekor naga sakti, dengan kedua tangan membentuk cakar dan kedua kakinya menyabet-nyabet seperti seekor nagayang mengamuk.

Namun, Ouwyang Sianseng mengimbangi kecepatannya dengan gerakan-gerakan aneh dan lincah sekali. Kadang-kadang kakek ini berloncatan, atau seperti merak terbang, kedua tangannya digerakkan seperti sayap, kedua kakinya itu berloncatan dan sambil meloncat, kakinya itu menendang, atau tangannya membentuk kerucut atau paruh burung untuk menotok dari atas. Gerakannya mirip seekor merak dan memang ilmu silat yang dimainkan adalah ilmu silat merak yang aneh dan indah, juga lihai sekali. Memang ilmu silat yang aneh dan tidak pernah dikenal oleh Siangkoan Lohan, dan ilmu silat dari selatan ini disebut Kong-ciak Sin-kun (Ilmu Silat Merak).

Karena sampaip uluhan jurus dia tidak mampu mendesak lawan, bahkan kadang-kadang gerakannya menjadi kacau oleh keanehan gerakan lawan. Siangkoan Lohan menjadi semakin penasaran. Diamenggereng keras dan tiba-tiba cengkeraman tangan kanannya berhasil menangkap pergelangan tangan kiri lawan. Selagi dia hendak menggunakan ilmu gulat untuk membanting, tiba-tiba sajakakek itu mendekat, memutar tubuh dan siku lengan dari tangan yang tertangkap itu sudah menyerang ke arah dada Siangkoan Lohan. Cepat dan hebat serangan ini, sehingga terpaksa pegangannya dilepaskan dan pada saat itu, kedua tangan lawan dengan jari tangannya yang lihai telah menghujankan totokan kearah jalan darah di bagian tubuh depan sebanyak tujuh kali! Tentu saja dia terkejut dan menjadi repot untuk mengelak dan menangkis, dan terpaksa harus meloncat ke belakang karena dia merasaterdesak. Rasa penasaran membuat ketua Tiat-liong-pang ini mengerahkan sin-kangdan mengirim serangan dari jauh denganmendorong kedua tangan dengan telapak tangan terbuka ke arah lawan. Melihatini, Ouwyang Sianseng tersenyum dan diapun menyambut dengan dorongan kedua telapak tangannya. Dua tenaga dahsyat yang tidak nampak bertemu di udara dan akibatnya, tubuh Siangkoan Lohan terdorong ke belakang sampai terhuyung.

Tahulah Siangkoan Lohan bahwa lawannya itu benar-benar lebih tangguh darinya, kalau lawan itu menghendaki, dia tentu sudah roboh dan kalah! Hal ini di samping menimbulkan keheranan dan kekaguman, juga dia merasa girang bukan main dan mulailah dia percaya akan omongan orang ini bahwa puteranya berbakat untuk menjadi kaisar! Dia pun menghentikan gerakannya dan menjura dengan sikap hormat.

"Nam-san Sian-jin, sungguh baru sekarang saya harus mengakui keunggulan seorang yang ternyata lebih pandai daripada saya. Saya persilakan Sian-jin untuk menjadi tamu kami agar perkenalan kita menjadi lebih akrab dan saya ingin minta petunjuk tentang putera kami kepada Seng-jin."

Kakek itu mengangguk-angguk. "Baiklah, Pangcu, dan terima kasih atas kepercayaanmu."

Sementara itu, Siangkoan Liong yang mendengar akan pengakuan ayahnya bahwa kakekitu lebih lihai dari ayahnya, menjadi bengong, kemudian anak yang cerdik ini lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Ouwyang Sianseng atau Namsan Sian-jin, "Locianpwe berjanji akan mengambil teecu (murid) sebagai murid, oleh karena itu mulai sekarang, Locianpwe (Orang Tua Gagah) adalah Suhu (Guru) bagi teecu." Dan dia pun memberi hormat sebanyak delapan kali sambil menyebut "suhu". Kakek itu tersenyum gembira, lalu membangunkan anak itu, meraba-raba pundak, lengan dan kakinya sambil mengangguk-angguk.

"Sudah kuduga, bertulang baik sekali. Pantas menjadi muridku, pantas menjadi calon kaisar!"

Mendengar ini, hati Siangkoan Lohan menjadi gembira bukan main dan dia pun lalu mengajak tamunya masuk ke dalam,dan mengadakan pesta untuk menyambut dan menghormati tamunya. Dalam kesempatan ini, Siangkoan Lohan lebih banyak mengenal tamunya dan kakek itupun dengan singkat menceritakan siapa dia sebenarnya.

Nam-san Sian-jin adalah seorang bekas pembesar tinggi dinegara Birma! Dia seorang bangsa Han yang memiliki ilmu kepandaian tinggi dan sejak muda dia suka merantau untuk memperdalam ilmunya. Perantauannya membawanya ke Birma dan di sana dia, berkat kelihaiannya, memperoleh kepercayaan dari raja, diberi kedudukan dan karena jasa-jasanya, dia bahkan kemudian diangkat menjadi penasehat raja. Dialah yang berjasa besar dalam menghadapi penyerbuan balatentara Mancu yang berkali-kali menyer bu ke selatan, namun tidak pernah dapat menguasai Birma. Berkat pertahanan Birma yang kokoh kuat, dibawah pimpinan Nam-san Sian-jin! Dia setia kepada Birma, apalagi karena oleh raja, dia dihadiahi seorang puteri istana untuk menjadi isterinya. Juga dia menentang keras pasukan Mancu karena dia tahu bahwa bangsa Mancu adalah bangsa yang menjajah Cina, dari mana berasal. Akan tetapi, terjadi malapetaka menimpa keluarganya ketika berkobar perang melawan balatentara Mancu. Dalam suatu penyerbuan, ada pasukan yang berhasil menerjang kota dan menyerbu gedungnya, dan isteri bersama tiga orang anaknya tewas dibantai mereka!

Wajah yang tadinya halus lembut dan gembira itu berubah menjadi pucat dan matanya memancarkan sinar berapi ketika dia bercerita sampai di bagian itu. Dia mengepal tinju.

"Mereka telah membasmi anak isteriku, keparat Mancu! Aku lalu mengamuk, membunuh sebanyak mungkin orang-orang yang telah menyerbu rumah kami, dan akhirnya aku terpaksa lari dari Birma...."

Siangkoan Lohan mendengarkan dengan penuh perhatian dan dia pun ikut merasa prihatin. "Tapi ....mengapa engkau harus lari dari sana, Sian-jin?" tanyanya hati-hati melihat orang itu seperti marah-marah.

"Aku dikatakan gila! Yang mengatakan adalah seorang menteri. Kubunuh dia dan setelah melakukan pembunuhan terhadap seorang menteri, aku menjadi buronan dan terpaksa melarikan diri dari Birma. Pula, aku sudah tidak mempunyai sanak keluarga di sana, untuk apa lebih lama tinggal di sana? Aku membawa simpanan hartaku dan melarikan diri, kini tinggal di bukit selatan menjadi pertapa. Orang-orang di sekitar daerah itu menyebut aku Nam-san Sian-jin."

Siangkoan Lohan merasa kagum sekali mendengar riwayat hidup kakek yang memiliki ilmu kepandaian amat tinggi itu.Tentu saja Nam-san Sian-jin tidak menceritakan apa yang menjadi cita-citanya. Dia mendendam kepada Kerajaan Mancu yang dianggap telah membasmi keluarganya dan merusak kebahagiaan hidupnya. Oleh karena itu, dia bersumpah untuk membalas dendam, untuk menghancurkan Kerajaan Mancu yang menjadi cita-cita terakhir dari hidupnya. Inilah sebabnya, ketika melihat Siangkoan Lohan dan puteranya, dia tertarik sekali. Melalui perkumpulan Tiat-liong-pang yang dia tahu amat berpengaruh dan kuat ini dia akan dapat mengumpulkan kekuatan untuk menentang Kerajaan Mancu. Dan dia dapat menggerakkan hati Siangkoan Lohan dengan memuji-muji puteranya yang dikatakan berbakat untuk menjadi calon kaisar. Tentu saja dia sudah menyelidiki keadaan keluarga Siangkoan Lohan ini dan tahu bahwa mendiang ibu anak itu adalah seorang bangsawan tinggi, anggauta keluarga Kerajaan Mancu. Dan diapun berhasil menggerakkan hati Siangkoan Lohan, seperti ternyata kemudian betapa Siangkoan Lohan yang kini mempunyai ambisi agar puteranya menjadikaisar, mulai mengadakan persekutuan untuk memberontak dan menjatuhkan Kerajaan Mancu agar puteranya mendapat kesempatan menjadi kaisar seperti yang diramalkan oleh Nam-san Sian-jin!

Selama beberapa tahun, kadang-kadang Nam-san Sian-jin datang berkunjung dan dalam percakapan mereka, kakek ini menanam dan menyebar bibit-bibit pemberontakan ke dalam hati Siangkoan Lohan demi masa depan puteranya sehingga ketua Tiat-liong-pang yang tadinya terkenal sebagai seorang yang amat setia kepada Kerajaan Ceng, kini berubah dan ingin mengadakan persekutuan untuk memberontak! Sementara itu, Siangkoan Liong digemblengnya dengan keras sehingga setelah dia berusia delapan belas tahun, pemuda itu telah berhasil mewarisi dan menguasai ilmu-ilmu silat dari ayahnya. Juga, menurut nasihat Nam-san Sian-jin, ketua Tiat-liong-pang itu mengundang guru-guru sastra untuk mengajar puteranya, karena menurut nasihat Nam-san Sian-jin, seorang calon kaisar haruslah menguasai ilmu tentang sastra dengan baik.

Setelah Siangkoan Liong berusia delapan belas tahun, pada suatu pagi muncullah Ouwyang Sianseng atau Nam-san Sian-jin dan dia punmengatakan bahwa kini tiba saatnya bagi Siangkoan Liong untuk digemblengnya. "Dia akan kuajak ketempat tinggalku di Nam-san, dan aku mengundang Siangkoan Pangcu untuk datang berkunjung pula agar hatinya menjadi tenteram karena dia tahu bahwa puteranya berada di suatu tempat yang dikenalnya."

Giranglah hati Siangkoan Lohan. Biarpun dia kini sudah menjadi kenalan baik Si Manusia Dewa, namun belum pernah dia mengetahui di mana tempat tinggal pertapa itu sehingga tentu saja hatinya akan diliputi kesangsian dan kekhawatiran melepas puteranya mengikuti tempat tinggalnya. Kini dia diajak berkunjung,maka tentu saja dia merasa girang danpada hari itu, berangkatlah dia dan puteranya mengikuti kakek sakti itu.

Pegunungan selatan tidaklah setinggi pegunungan di bagian utara, namun hutan-hutannya lebih lebat dan pohon-pohonnyalebih beraneka ragam. Di atas puncaksatu di antara bukit-bukit itulah terdapat sebuah hutan lebat dan Nam-sanSian-jin tinggal di puncak ini. Selama ini, Siangkoan Lohan sudah menyuruh beberapa orang anggautanya untuk menyelidiki keadaan kakek pertapa yang menjadi guru puteranya. Dia mendengar hasil penyelidikan orang-orangnya bahwa kakek itu seringkali mengulurkan tangan menolong para penghuni dusun di sekitar pegunungan itu, bukan hanya menolong dengan pengobatan, akan tetapi juga sering kali menolong mereka yang kekurangan dan kelaparan dengan bahan makanan, pakaian atau bahkan uang secara royal sekali. Tidak mengherankankalau kakek itu dinamakan Manusia Dewa oleh para penghuni dusun, bukan hanya karena dermawan sekali dan pandai mengobati, akan tetapi juga karena kakek itu datang dan pergi seperti menghilang saja. Tidak pernah ada yang dapat berhubungan langsung dengan kakek pertapa itu, melainkan melalui para pelayan kakek itu yang kabarnya juga memiliki kepandaian yang tinggi. Akan tetapi, semua murid dan anggauta Tiat-liong-pang gagal ketika berusaha mencari tempat tinggal Nam-san Sian-jin!

Setelah mereka tiba ditengah hutan dipuncak bukit itu, Siangkoan Lohan sendiri terheran-heran. Tidak nampak ada sebuah pun rumah di puncak itu, akan tetapi guru puteranya itu mengatakan bahwa dia tinggal di puncak bukit penuh hutan itu! Dan mengertilah dia mengapa anak buahnya gagal semua menemukan tempat tinggal Si Manusia Dewa, karena tempat tinggalnya amat rahasia dan tidak nampak!

"Kita sudah sampai," kata Nam-sanSian-jin seperti dapat membaca kesangsian dalamhati Siangkoan Lohan dan tiba-tiba saja nampak berlompatan tiga orang laki-laki berusia antara empat puluh sampai lima puluh tahun, kesemuanya berpakaian indah seperti pelayan-pelayan pembesar dan mereka segera memberi hormat kepada Nam-san Sian-jin sambil berlutut!

"Siapkan hidangan untuk menyambut tamu kita," kata Nam-san Sian-jin kepada tiga orang pelayannya itu. "Siangkoan-pangcu menjadi tamu kita hari ini dan Siang koan-kongcu (Tuan Muda Siangkoan) ini mulai hari ini tinggal di sini sebagai muridku, sediakan kamar untuknya."

"Baik,Taijin (Orang Besar),"kata mereka dan mereka lalu menyelinap diantara semak belukar di tepi jurang dan lenyap! Terkejutlah Siangkoan Lohan melihat cara mereka menghilang itu.

"Pangcu, jangan heran. Semak-semakdan jurang itulah pintu gerbang menuju ke tempat tinggalku. Mari, silakan," kata Nam-san Sian-jin dan dia pun mendahului ayah dan anak itu, menyelinap di antara semak belukar, diikuti oleh Siangkoan Lohan dan puteranya. Ketika mereka menyusup di antara semak belukar, ternyata di balik semak-semak itu terdapat anak tangga yang menuruni jurang! Pantas tidak ada di antara anak buahnya yang dapat menemukan tempat tinggal kakek ini! Siapa yang menduga bahwa dibalik semak belukar, di dalam jurang, merupakan tempat tinggal kakek itu?

Anak tangga itu tidak terus menujuke dasar jurang, melainkan berhenti sampai dipertengahan dinding jurang dan kiranya disitu terdapat sebuah gua yang tersembunyi dan tidak dapat kelihatan dari atas. Akan tetapi, mulut gua yang berada didinding jurang ini menghadap ketimur sehingga memperoleh penerangan sinar matahari yang cukup.

"Inilah tempat tinggalku, pangcu. Silakan masuk," kataNam-SanSian-jin sambil melangkah masuk kedalam gua. Siangkoan Lohan mengerutkan alisnya dan ikut masuk bersama puteranya. Diam-diam dia merasa kecewa. Puteranya harus tinggal di tempat seperti ini? Akantetapi, setelah memasuki gua itu, dia terbelalak dan menjadi bengong! Gua itu lebar dan nampak biasa saja ketika diamulai memasukinya, akan tetapi setelah masuk ke sebelah dalam, dia terpesona. Di dalam gua itu ternyata amat luas, seperti rumah gedung besar, dan keadaan di dalamnya tidak kalah dengan gedung tempat tinggalnya sendiri, bahkan jauh lebih mewah. Keadaan gua ini tiada ubahnya keadaan dalam gedung istana! Terdapat banyak kamar, dan setiap ruangan dihias gambar-gambar dan tulisan-tulisan indah, setiap perabot rumahnya amat indah dan halus buatannya, dan keadaan di dalam gua itu luar biasa sekali. Sedemikian luasnya, dan sebagian atasnya berlubang dan terbuka sehingga nampaksinarmatahari dan di tengah-tengah ruangan itu terdapat pula sebuah taman kecil penuh bunga!

Tidak nampak pelayan wanita di situ dan agaknya kakek Ouwyang itu hidup bersama tiga orang pelayan pria yang menyambut tadi saja. Mereka itulah yang memasak, membersihkan tempat tinggal yang mewah itu, dan melayani Nam-sanSian-jin serta melakukan pekerjaan lain.

Setelah membiarkan tamunya mengagumi isi gua itu, Nam-san Sian-jin lalumempersilakan mereka memasuki sebuahruangan yang paling luas, yang berada disebelah dalam.

"Ruangan itu kujadikan sebagai ruangan tamu, juga ruangan duduk dan sekaligus ruangan untuk berlatih silat. Dan kadang-kadang, seperti sekarang ini, menjadi juga ruangan makan, walaupun barusekarang aku menjamu seorang tamu."

Siangkoan Lohan merasa terhormat sekali dan segera bermunculan tiga orang pelayan tadi yang datang membawa hidangan yang mereka atur di atas meja. Akan tetapi perhatian Siangkoan Lohan tertarik kepada hiasan aneh yang terdapat di dekat dinding, di sebelah rak senjata. Disitu terdapat sebuah rak panjang dengan tombak-tombak yang berdiri berjajar. Akan tetapi, di atas tombak itu tertancap masing-masing sebuah kepala manusia, ada belasan buah banyaknya! Yang mengerikan sekali, kepala manusia itu seperti dalam keadaanhidup, matanya terbuka dan hanya mukanya yang nampak pucat, namun segalanya masih utuh seperti hidup.

"Itu....itu....apa maksudnya?" tanya Siangkoan Lohan sambil menuding dan Siangkoan Liong juga terkejut melihat kepala yang berjajar itu.

"Aahhh, itu?" kata tuan rumah sambil menarik napas panjang dan alisnya berkerut seolah-olah dia teringat akan hal yang tidak menyenangkan. "Itulah kepala beberapa orang yang memimpin penyerbuan, mereka yang menyebabkan matinya semua anak isteriku. Aku berhasil mencari dan membunuh mereka, kepalanya kuawetkan dengan ramuan obat dan kupasang di sini agar mendinginkan hatiku setiap kali teringat kepada anak isteriku."

Siangkoan Lohan diam-diam bergidik. Orang yang amat lihai ini ternyata dapat berlaku amat sadis dalam pembalasan dendamnya. Dia tidak tahu sama sekali bahwa memang dendam telah membuat Ouwyang Sianseng menjadi seperti gila, dan karena dia dianggap gila itulah maka dia dipecat dari kedudukannya dalam istana raja Birma! Dia dianggap berbahaya dan bahkan kemudian dia membunuh seorang menteri dan menjadi buronan pemerintah Birma.

Sebaliknya dari ayahnya, Siangkoan Liong merasa kagum sekali kepada gurunya, yang dianggapnya telah menebus kematian yang membuat penasaran dari keluarganya dan telah membuktikan kesetiaannya kepada keluarganya.

Setelah dijamu dengan masakan yang cukup lezat dan lengkap sehingga kelihatan aneh masakan seperti itu dapat dihidangkan ditempat itu, Siangkoan Lohan lalu meninggalkan puteranya disitu dan kembali ke perkampungan Tiat-liong-pang. Dia harus berjanji takkan memberitahukan kepada siapapun juga tentang tempat tinggal Ouwyang Sianseng atau Nam-san Sian-jin ini dan ternyata kemudian bahwa kakek inipun tidak pernah berhubungan dengan orang lain kecuali Siangkoan Lohan dan puteranya.

Siangkoan Liong lalu menerima gemblengan di tempat rahasia itu oleh kakek bekas penasihat Raja Birma sehingga dalam waktu dua tahun dia telah memperoleh kemajuan yang amat pesat. Setelah lewat dua tahun dan kembali kerumah orang tuanya, dia melihat betapa ayahnya kini telah mengadakan persekutuan dengan tokoh-tokoh lihai. Karena girang melihat puteranya telah tamat belajar dan memiliki kepandaian yang tinggi, bahkan mungkin lebihtinggi dari tingkatnya sendiri, Siangkoan Lohan lalu mengadakan pesta, sekalian untuk merayakan hari ulang tahunnya yang keenampuluh tahun. Dia mengundang tokoh-tokoh, baik dari golongan hitam maupun putih dan seperti kita ketahui, di dalam pesta itu terjadilah keributan.

Siangkoan Liong maklum bahwa ayahnya sedang bersekutu dengan kekuatan-kekuatan yang hendak menggulingkan pemerintah Mancu. Biarpun dia sendiri, dalam keangkuhannya, merasa diri jauh lebih tinggi, tidak suka bergaul dengan orang-orang kang-ouw itu, namun dia tidak menghalangi usaha ayahnya karena dia maklum bahwa usaha pemberontakan itu cocok dengan apa yang dicita-citakan oleh gurunya, yaitu menggulingkan pemerintah Ceng dan dialah yang dicalonkan menjadi kaisar kalau usaha itu berhasil.

***

Setelah menyelamatkan Ciok Kim Bouw, ketua Cin-sa-pang yang hampir saja tewas di tangan Sin-kiam Mo-li, dan mengobati luka beracun di tangan ketuaitu, tanpa memperkenalkan diri lagi, TanSin Hong segera pergi dengan cepat. Dia tidak ingin terlibat dalam urusan orang lain dan dia juga tidak mengenal siapa orang yang nyaris tewas di tangan Sin-kiam Mo-li itu. Kalau dia turun tangan membantu orang itu hanyalah karena orang itu terancam maut di tangan Sin-kiam Mo-li yang sudah dia ketahui kejahatannya.

Sin Hong melanjutkan perjalanannya dengan secepatnya menuju ke kota raja. Dia harus menemukan orang kaya yang disebut Lay Wangwe (Hartawan Lay) itu, karena agaknya hanya kalau dia menemukan Lay Wangwe, maka dia akan melanjutkan penyelidikannya tentang kematian ayahnya yang penuh rahasia itu. Dia percaya bahwa tidak akan sukar mencari orang itu karena ciri-cirinya. Pertama, nama keturunannya Lay, kaya raya dan kepalanya botak perutnya gendut. Tentu tidak banyak orang yang sekaligus memiliki ciri-ciri itu.

Akan tetapi,setelah kurang lebih sepekan. dia melakukan penyelidikan dikota raja, dia tidak berhasil menemukan orang yang dicari-carinya. Ada hartawan Lay, bahkan ada beberapa orang di kotaraja yang kaya dan she Lay, akan tetapi kepalanya tidak botak walaupun ada yang gendut. Kalau ada yang kepalanya botak dan gendut, namanya bukan Lay, juga tidak kaya raya. Namun, tetap saja dia menyelidiki orang kaya yang she Lay, botak atau tidak dan tidak ada seorangpun di antara mereka yang pernah mengirim seratus kati emas dari Ban-goanke Tuo-lun. Akhirnya Sin Hong mengambil kesimpulan bahwa nama Lay Wangwe itu mungkin sekali palsu, hanya untuk pancingan saja. Bahkan mungkin peti yang katanya berisi seratus tail emas itu pun bohong dan sengaja dipergunakan untuk selain membunuh Tan-piauwsu, juga menyita perusahaannya untuk mengganti rugi! Dan siapa lagi yang membutuhkan kejatuhan Peng An Piauw kiok kecuali saingannya? Dan saingan terbesar dari Peng An Piauw kiok adalah Ban-goan Piauw kiok yang dikepalai Kwee Tay Seng! Selain saingan dalam urusan perusahaan, juga saingan dalam urusan wanita! Siapa tahu kalau Ciu-piauwsu memang benar dalam tuduhannya bahwa Kwee-piauwsu yang melakukan pembunuhan-pembunuhan itu, baik terhadap ayahnya maupun terhadap Tang-piauwsu. Pertama karena dendam kekalahannya memperebutkan wanita, dan ke dua karena persaingan dalam urusan perusahaan. Memang kini, setelah penyelidikannya terhadap orang bernama Lay Wangwe gagal, satu-satunya orang yang dapat dicurigai adalah Kwee-piauwsu. Maka dia pun memutuskan untuk segera kembali ke Ban-goan untuk melakukan penyelidikan terhadap Kwee-piauwsu dan menunda niatnya berkunjung kepada Kao Cin Liong, suhengnya yang tinggal di Pao-teng, sebelah selatan kota raja.

Malam itu bulan purnama. Langit amat bersih, hanya ada awan putih tipis yang amat mengganggu sinar bulan sehingga cuaca amat bersih dan terang, suasana amat menggembirakan. Namun bersama dengan sinar bulan yang indah datang pula angin dingin yang memaksa orang-orang yang tadinya menikmati keindahan sinar bulan di luar rumah, memasuki rumah yang lebih hangat. Hawa yang amat dingin membuat orang sore-sore sudah memasuki kamar tidur dan menjelang tengah malam suasana di kota Ban-goan sudah amat sunyi. Sebagian besar penduduknya sudah tidur nyenyak.

Ban-goan Piauwkiok juga nampak sunyi walaupun setiap malam ada saja anggauta piauwkiok yang melakukan penjagaan secara bergilir di dalam gardu penjagaan di sudut luar perusahaan itu berkantor di depan, sedangkan rumah tinggal Kwee-piauwsu berada di bagian belakang. Pekerjaan sebagai pimpinan piauwkiok (perusahaan pengawal barang) tentu saja mempunyai banyak musuh yaitu para penjahat, para perampok yang suka mengganggu pengawalan barang. Oleh karena itu, maka semua pimpinanperusahaan piauwkiok selalu berhati-hatidan kantor bersama tempat tinggal mereka selalu dijaga oleh anak buah secarabergilir.

Malam itu terlampau dingin bagi empat orang piauwsu yang bergilir jaga di dalam gardu penjagaan. Tadi mereka masih berusaha melewatkan waktu dengan bermain kartu, akan tetapi hawa dingin membuat mereka mengantuk sekali dan kini keempat orang itu duduk berhimpit di dalam gardu jaga, menghangatkan tubuh dengan membuat unggundi luar gardu.

Apalagi dalam keadaan kedinginan danbersembunyi di dalam gardu, andaikatamereka itu berada di luar gardu, berjagadengan waspada sekalipun, tak mungkin mereka akan dapat melihat bayangan orang yang berkelebat dengan amat cepatnya, hanya nampak berkelebat seperti bayangan burung yang terbang di udara. Bayangan itu dengan kecepatan luar biasa telah melompati pagar tembok yang mengelilingi rumah besar itu dan telah menyelinap-nyelinap ke dalam taman di sebelah kanan rumah.

Setelah melihat dengan teliti dan mendapat kenyataan bahwa tidak ada penjaga di situ, juga di atas genteng nampak sunyi saja, bayangan itu lalu melayang naik ke atas genteng rumah. Bayangan itu adalah Tan Sin Hong yang sedang melakukan penyelidikan di rumah keluarga Kwee, tidak tahu dengan jelas apa yang akan dilakukan dan bagaimana harus memulai dengan penyelidikannya itu. Dia merasa yakin bahwa dalam hawa sedingin itu, tidak mungkin ada orang berjaga di atas genteng dan menentang hembusan angin malam yang amat dinginnya. Bulan masih nampak cemerlang diatas, dan suasana sunyi sekali.

Sejenak Sin Hong termenung. Dia mengingat kembali ketika Ciu-piauwsu mendatangi rumah ini dan menantang Kwee-piauwsu, teringat betapa gagah dan tenangnya Kwee-piauwsu dan betapa piauwsu itu menyangkal bahwa dia telah membunuh Tan-piauwsu, atau pun Tang- piauwsu. Dia menjadi ragu-ragu. Apa yang harus dicarinya dan bagaimana dia harus memulai penyelidikannya? Ah, siapa tahu, Tuhan akan membantunya dan mungkin saja dia akan melihat atau mendengar sesuatu yang akan dapat membantu penyelidikannya. Maka, setelah mempelajari keadaan dalam gedung itu dari atas, dia pun lalu melayang turun lagi, kini kesebelah dalam dan dia turun dekat lapangan terbuka, di antara deretan kamar dan lorong menuju ke ruanganbesar.Dengan penuh keyakinan bahwa semua penghuni rumah itu telah pulas, dia pun melangkah dengan hati-hati memasuki ruangan yang nampak gelap karena tidak memperoleh sinar bulan, sedangkan dalam ruangan itu tidak ada lampunya.

Akan tetapi, dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika dia melangkah masuk, tiba-tiba saja terdengar bentakan suara wanita, "Pencuri jahat, berani engkau mencuri ke sini?" Dan dari angin yang menyambar di tempat gelap, tahulah Sin Hong bahwa ada sebatang pedang menyambar ke arah dadanya! Cepat dia meloncat keluar kembali dan dia membuka pintu kamar. Kalau dia mau meloncat dan melarikan diri pada saat itu, kiranya tidak akan terlambat. Akan tetapi Sin Hong tidak melakukan hal ini. Dia maklum bahwa dia telah ketahuan orang dan disangka pencuri. Kalau dia melarikan diri dan ketahuan siapa diri nya, tentu hal ini amat tidak baik bagi namanya dan dia akan disangka sebagai penjahat. Mengapa tidak menghadapi saja mereka dengan terang-terangan dan mengajak Kwee-piauwsu bicara tentang kematian ayahnya dan Tang-piauwsu? Dari sikap dan kata-kata Kwee-piauwsu dalam percakapan itu, dia akan dapat menduga apa sebenarnya peran piauwsu itu dalam urusan ini. Maka, dia pun tidak mau meloncat pergi, melainkan menanti saja di luar ruangan itu dan wajahnya dapat kelihatan jelas karena selain cahaya lentera dan lampu yang tergantung di situ menerangi wajahnya, juga sinar bulan membuat tempat itu cukup terang.

Orang pertama yang melompat keluar dari dalam ruangan itu adalah seorang gadis berusia kurang lebih delapan belas tahun yang manis sekali. Gadis ini bertubuh sedang, dengan sepasang kaki nampak panjang, tubuh yang padat dan ranum, tubuh seorang dara yang mulai dewasa. Rambutnya hitam lebat dan panjang sekali, dikuncir menjadi dua diikat dengan pita merah. Dua kuncir itu bergantungan sampai ke pinggulnya. Ping gangnya ramping ketika ia bergerak meloncat ke luar dengan pedang di tangan kanan dan sebuah lentera besar dan barusaja dinyalakan di tangan kiri. Dari cahaya lampu ini, nampak jelas oleh Sin Hong wajah gadis itu. Kulitnya agak hitam, akan tetapi manis bukan main, terutama sekali mulutnya. Sepasang bibirnya berbentuk indah seperti gendewa terpentang, dengan garis yang jelas danbibir itu penuh dan merah basah, sedikit terbuka memperlihatkan kilauan gigi putih seperti mutiara dan sepasang matanya tajam memandang Sin Hong penuh selidik. Agaknya gadis itu tertegun dan agak heran melihat betapa "maling" yang mampu mengelak dari serangannya tadi tidak melarikan diri melainkan berdiri disitu menanti dan tak disangkanya bahwa penjahat itu seorang laki-laki muda yang berpakaian serba putih, wajahnya biasa saja, akan tetapi sinar matanya demikian lembut dan mulutnya terhias senyum ramah dan menarik! Sama sekali bukan wajah seorang pencuri atau penjahat yang kejam dan ganas, melainkan wajah seorang pemuda yang ramah dan baik hati. Akan tetapi karena ia merasa curiga melihat munculnya pemuda tak di kenal, ditengah malam, memasuki ruangan gelap dimana ia tadi berlatih samadhi, iapun kini mendekati dan menodongkan pedangnya dengan sikap mengancam.

"Menyerahlah sebelum pedangku yang bicara!" Pedangnya menodong dada dan lampu ditangannya diangkat menerangi muka Sin Hong.

"Tahan, jangan serang dia!" Tiba-tiba terdengar suara memerintah. Mendengar suara ayahnya, gadis itu melangkah mundur dan menurunkan pedangnya, namun sikapnya masih mengancam.

"Ayah,diatelah memasuki ruangan lian-bu (latihansilat) seperti seorang pencuri!" bantahnya.

KweeTay Seng atau Kwee-piauwsu tidak menjawab, hanya melangkah menghampiri Sin Hong. Sejak tadi dia menatap wajah itu dan kini dia sudah berhadapan dengan Sin Hong, matanya masih terus mengamati wajah pemuda berpakaian putih yang berdiri di situ dengan sikap tenang dan juga sedang memandangnya.

"Kau....kau seperti pernah melihatmu....ah, engkau mirip sekali dengannya....!Bukankah engkau ini putera mendiang Tan-piauwsu.

Sin Hong merasa heran mendengar ini, akan tetapi dia pun teringat akan hubungan pria yang gagah ini dengan mendiang ibunya, dan dia tahu bahwa wajahnya memang mirip dengan wajah ibunya.

"Ayah, kalau dia benar putera Tan-piauwsu, jelas bahwa dia datang bukan dengan niat baik. Tadi dia meloncat turun dari atas genteng dan menyelinap masuk seperti pencuri. Aku yang berada di dalam ruangan gelap, dapat melihat dengan jelas. Begitu dia melangkah masuk, aku telah menyerangnya, akan tetapi dia meloncat keluar lagi." Kwee Ci Hwa, puteri Kwee-piauwsu itu, berkata lagi.

"Orang muda, aku mengenal mendiang ayahmu sebagai seorang gagah, dan engkau tentu seorang pemuda yang gagah pula. Marilah kita bicara secara jantan dan terbuka, dari pada engkau harus datang secara gelap begini. Silakan masuk dan mari kita bicara di dalam."

Sin Hong merasa malu sendiri dan diapun mengangguk, lalumengikuti tuan rumah memasuki ruangan tadi, diikuti oleh Ci Hwa yang membawa lampu. Ternyata ruangan itu luas dan bersih, hanya terdapat beberapa buah bangku di dekat dinding dan selanjutnya kosong karena ruangan itu adalah sebuah tempat berlatih silat. Ci Hwa menaruh lampu itu di atas meja kecil, dan dinyalakan lagi tiga buah lentera lain dan digantungkan di dinding sehingga kini ruangan itu menjaditerang. Kwee-piauwsu mempersilakan Sin Hong duduk di atas bangku, kemudian dia sendiri dan puterinya duduk menghadapinya.

"Orang muda, katakanlah siapa engkau sebenarnya," kata Kwee-piauwsu.

"Tidak salah dugaanmu tadi, Paman Kwee. Aku adalah Tan Sin Hong, dan yang menyebabkan aku malam ini datang menyelundup seperti seorang pencuri adalah karena aku hendak menyelidiki tentang kematian ayahku dan kematian paman Tang Lun."

"Sungguh aneh," kata Ci Hwa yang sejak tadi diam saja. "Menyelidiki kematian mereka, kenapa harus mencari disini? Apakah pembunuh mereka berada disini?"

Kwee-piauwsu mengeluh panjang dan pada saat itu, terdengar suara berisik dan ternyata ada beberapa orang anggauta piauwkiok yang meronda dan agaknya mereka merasa heran dan curiga melihat betapa ada suara orang bicara dilian-bu-thia yang juga nampak terang.

"Ci Hwa, engkau keluarlah dan tenangkan mereka. Aku hendak bicara berdua dengan Tan Sin Hong."

Biarpun gadis itu memandang kecewa karena ia pun ingin sekali mengetahui kelanjutan dari munculnya pemuda itu, namun ia tidak membantah ayahnya, dania pun segera keluar dan tak lama kemudian, para anggauta piauwkiok pergi meninggalkan tempat itu, melanjutkan perondaan.

"Sin Hong, sudah dua kali ini orang mencurigai aku sebagai pembunuh ayahmu dan Tang-piauwsu. Padahal, aku sama sekali tidak tahu menahu tentang peristiwa itu. Ketahuilah, bahwa dahulu persaingan yang terjadi antara aku dan ayahmu adalah persaingan sehat dua orang yang memiliki perusahaan yang sama. Kami sama-sama bersaing untuk memperoleh kepercayaan langganan dengan pelayanan sebaiknya, bukan persaingan dengan saling menjatuhkan. Pernah Ciu Hok Kwi, piauwsu muda yang belum lama menjadi piauwsu itu pun menuduh aku yang membunuh Tang-piauwsu sehingga dia datang ke sini dan mendatangkan keributan. Dan sekarang engkau sendiri, putera Tan-piauwsu datang ke sini tentu mempunyai dugaan pula bahwa aku yang telah membunuh ayahmu dan Tang-piauwsu. Sungguh membuat aku merasa penasaran sekali!" Kakek itu mengeluh dan mengepal tinju. "Tidak kusangkal bahwa aku dan ayahmu bersaingan dalam memajukan perusahaan masing-masing, akan tetapi aku, Kwee Tay Seng, selama hidupku belumlah demikian rendah untuk menggunakancara-cara kotor, apalagi sampai melakukan pembunuhan dengan curang!"

Sejak tadi Sin Hong menatap wajah kakek itu dengan penuh perhatian dan melihat sikap dan suara Kwee-piauwsu, memang sukar dipercaya orang segagah ini melakukan kecurangan seperti itu, membunuh dengan sembunyi-sembunyi. Akan tetapi masih ada sesuatu yang membuat Sin Hong penasaran, maka dengan terus terang dia berkata, "Paman Kwee, selain persaingan dalam perusahaan, aku pernah mendengar dari Tang-piauwsu bahwa dahulu, antara mendiang ibuku dan engkau...."

"Aihhhhh....!"KweeTay Seng menghela napas panjang dan mengangguk-angguk, mukanya berubah lesu. "Inilah sebabnya mengapa aku menyuruh Ci Hwa pergi meninggalkan kita. Aku memang hendak membicarakan hal ini, karena aku sudah menduga bahwa tentu ini merupakan satu di antara sebab mengapa aku yang dicurigai. Tadi pun, ketika melihatmu, aku sudah dapat menduga bahwa engkau tentulah putera Bwee Hwa, wajahmu demikian mirip dengannya. Sin Hong, tidak perlu kusangkal lagi. Memang di waktu kami muda, terdapat pertalian cinta antara aku dan ibumu, akan tetapi sungguh sayang, orang tua kedua pihak tidak setuju sehingga kami terpaksa saling berpisah. Namun, kemudian aku melihat betapa ia, ibumu yang dulu pernah menjadi kekasihku itu, hidup dengan bahagia bersama Tan Hok, ayahmu. Aku cinta kepada ibumu, maka, lebih tak masuk di akal lagi kalau aku ingin membikin ia sengsara dengan membunuh suaminya! Aku belumlah gila, dan cintaku adalah cinta suci, bukan cinta nafsu belaka yang menimbulkan iri. Tidak, Sin Hong, aku tidak akan mengganggunya, seujung rambut pun, akan tetapi aku mendengar bahwa ketika menyusul suaminya keutara, rombongannya dihadang perampok dan ia meninggal...."

Sunyi sejenak dan Sin Hong termangu-mangu. Dia sedikit pun tidak meragukan kebenaran Kwee-piauwsu. Yang mencelakakan dia dan ibunya, yang melakukan penghadangan terhadap rombongan ibunya, juga orang-orang berkedok. Tidak mungkin Kwee-piauwsu yang memimpin penghadangan itu dan membikin celaka ibunya, wanita yang dicintanya. Keterangan dan perasaan hatinya itu melegakan hatinya, akan tetapi juga mendatangkan rasa kecewa dan penasaran. Hatinya lega karena dia yakin orang tua gagah ini bukan pembunuh ayahnya dan Tang-piauwsu, akan tetapi dia penasaran dan kecewa karena kini putuslah sudah jalur penyelidikannya. Setelah Kwee-piauwsu terlepas dari daftar orang yang dicurigai, maka tidak ada lagi orang yang dapat dicurigainya! Pada saat itu terdengar suara Ci Hwa dari luar.

"Ayah, bolehkah aku masuk?" Gadis itu masih ingin melihat bagaimana kelanjutan dari urusan dengan pemuda she Tan itu.

Karena cerita tentang Bwee Hwa, ibuSin Hong, sudah mereka bicarakan dantidak akan diulang lagi, maka Kwee Tay Seng lalu menjawab.

"Masuklah, Ci Hwa."

Gadis itu masuk dan duduk di dekat ayahnya. "Bagaimana urusannya dengan dia ini, Ayah?"

Sin Hong memandang kepada gadis itu dan membungkuk. "Nona, akulah yang bersalah. Ayahmu tidak tahu apa-apa tentang kematian ayahku dan Paman Tang, karena itu maafkan aku. Paman Kwee, maafkan aku...."

Melihat sikap pemuda itu yang nampak kecewa, Kwee-piauwsu berkata, "Sin Hong, aku dapat merasakan kekecewaanmu. Engkau kehilangan ayah ibu, tentu saja engkau ingin membalas dendam kepada mereka yang telah membunuhnya."

"Ibu, bukan dibunuh orang, melainkan meninggal karena badai di gurun pasir, Paman" Dengan singkat dia pun lalu menceritakan betapa rombongan ibunya yang dikawal oleh mendiang Tang-piauwsu diserang oleh orang-orang berkedok dan dia bersama ibunya menunggang onta melarikan diri memasuki gurunpasir sampai ibunya meninggal di gurun pasir. Sampai di sini dia menghentikan ceritanya karena dia tidak ingin bercerita tentang guru-gurunya hanya menyambung dengan kata-kata yang tegas. "Dan aku sama sekali tidak ditekan dendam Paman. Kalau aku mencari pembunuh-pembunuhitu, bukan terdorong dendam pribadi, melainkan karena perbuatan yang sedemikian jahatnya itu harus kuselidiki. Apa sebabnya ayah dibunuh, dan kalau pembunuhnya memang melakukannya karena kejahatan, maka kejahatan harus ditentang dan dihukum, Paman."

Kwee-piauwsu mengangguk-angguk. "Akan tetapi, sampai sejauh mana penyelidikanmu? Aku....aku ingin membantumu, orang muda, karena aku pun merasa penasaran sekarang, apalagi karena akulah yang dituduh melakukan perbuatan kejam itu." Suara Kwee-piauwsu terdengar penuh kesedihan dan memang dia merasa berduka sekali mendengar tentang kematian Bwee Hwa, bekas kekasihnya dan biarpun Bwee Hwa tidak mati dibunuh, namun sama saja, ada orang yang menyebabkan ia sampai lari ke gurun pasir dan menemui kematiannya di sana.

Dengan singkat Sin Hong bercerita tentang penyelidikannya terhadap Lay-wangwe, orang yang dia curigai karena hartawan itulah yang mula-mula menemui ayahnya dan mengirim barang berharga itu. "Kurasa hanya dialah satu-satunya orang yang nrengetahui persoalan ini, Paman, karena dia yang mengirim emas itu, dan dia pula yang menuntut ganti rugi sehingga perusahaan ayah berikut rumah dan seisinya disita. Akan tetapi, penyelidikanku gagal. Di kota raja tidak pernah ada seorang Lay-wangwe yang berkepala botak dan berperut gendut seperti itu."

Kwee-piauwsu mengangguk-angguk. "Aku juga mendengar tentang penyitaan itu dan menurut anak buahku, kini Peng-an Piauwkiok telah menjadi perusahaan pengawal yang baru, dengan rumah dan kantornya sudah dibetulkan menjadi cukup megah. Dan kabarnya, Ciu-piauwsu yang kini menjadi pengurusnya."

Sin Hong mengangguk. "Memang benar, Paman. Paman Ciu yang telah mencarikan seorang sahabat, atau keluarganya yang kaya untuk memberi pinjaman uang untuk membayar sebagian kerugian itu, dan kini karena perusahaan mundur dan tidak mampu bayar pinjaman, semua rumah dan kantor terjatuh ke tangan orang yang memberi pinjaman uang. Dan agaknya perusahaan itu diperbarui, dilanjutkan dan Ciu-piauwsu yang menjadi pemimpinnya, mengingat bahwa majikannya adalah keluarganya."

"Orang yang kausebutkan tadi, Lay-wangwe itu, pernah datang ke sini...."

"Ah, benarkah, Paman? Harap Paman ceritakan....!" Sin Hong memotong, mendapatkan harapan baru.

"Hal itu terjadi beberupa hari sebelum dia menyerahkan angkutan barang berharga yang harus dikawal ke Tuo-lun itu kepada ayahmu. Dia datang dan membawa peti besar yang tertutup rapat, minta kepadaku untuk mengawal ke Tuolun dengan janji upah besar. Aku menerimanya dengan syarat bahwa isi peti itu harus dibuka dan dihitung lebih dahulu. Dia menolak dan marah-marah karena aku dianggap tidak percaya kepadanya. Akhirnya aku mendengar dia mengirim barangnya itu melalui pengawalan Peng-an-piauwkiok."

"Akan tetapi, apakah Paman mengetahui di mana dia tinggal?"

Seperti yang telah dikhawatirkannya, piauwsu itu menggeleng kepala. "Kami semua tidak ada yang tahu, akan tetapi karena ada beberapa orang anak buahku pernah melihatnya, biarlah aku membantumu dengan menyebar mereka agar suka mencarinya. Seorang di antara mereka, baru dua hari yang lalu pernah mengatakan kepadaku bahwa si gendut botak itu nampak berkeliaran di kota ini."

Sin Hong merasa girang sekali dan anak buah itu segera dipanggil. "Memang saya melihatnya dua hari yang lalu, ia gaknya masih seperti dulu, seperti seorang hartawan besar, dengan pakaian mewah dan royal dengan uangnya."

"Sekarang juga, ajak teman-temanmu yang pernah melihatnya untuk melakukan pencarian secara berpencar dan kalau menemukannya, cepat memberi kabar ke sini!"

Setelah orang itu pergi, Kwee Ci Hwa juga bangkit berdiri. "Aku dulu juga melihatnya biar aku membantu mencarinya!" Tanpa menanti jawaban, gadis itu lalu meloncat keluar. Sin Hong merasa tidak enak sekali.

"Ah, aku ternyata selain membikin ribut di sini, juga membikin repot saja, Paman Kwee"

"Jangan berkata begitu, Sin Hong. Sudah semestinya dalam hal seperti ini kita saling bantu."

"Akan tetapi sampai nona....eh, adik Kwee sendiri ikut repot...."

"Aku mengerti isi hatinya. rentu ia merasa tidak enak karena tadinya aku yang disangka sehingga ia ingin sekali membantu untuk membersihkan nama ayahnya. Engkau tunggu saja di sini malam ini sampai ada berita dari mereka tentang hasil penyelidikan mereka."

"Terima kasih, Paman. Akan tetapi aku tidak berani mengganggu lebih lama lagi malam ini. Biarlah besok pagi saja aku datang lagi untuk mendengar keterangan hasil penyelidikan itu. Sekarang saya lebih baik pergi saja dulu."

"Tidak ada yang terganggu, Sin Hong. Setelah terjadinya peristiwa ini, aku pun tidak akan dapat tidur lagi. Biarlah kita bercakap-cakap di sini sambil menanti mereka. Karena kota ini kecil saja kiranya tidak akan lama mereka mencari."

Karena ditahan-tahan, Sin Hong merasa tidak enak juga kalau tidak mau menerimanya dan ketika mereka bercakap-cakap, dia mendengar kenyataan bahwa orang she Kwee ini memang memiliki sikap yang amat menyenangkan. Dia gagah dan jujur dan Sin Hong merasa tertarik sekali, juga semakin percaya karena orang seperti ini tidak mungkin melakukan kejahatan yang keji dan curang. Juga Kwee Tay Seng mempunyai pengalaman yang luas di dunia kang-ouw, mengenal tokoh-tokoh kang-ouw yang pandai. Dalam ilmu kepandaian, pernah dia melihat ketika Kwee-piauwsu menghadapi amukan Ciu Hok Kwi dan dia tahu bahwa dalam hal ilmu silat, agaknya sukar dicari orang di daerah Ban-goan yang akan mampu menandingi piauwsu ini.

Karena mereka asyik bercakap-cakap, tak terasa waktu berlalu dengan cepatnya dan menjelang pagi, muncullah Kwee Ci Hwa dan dua orang anak buah piauwkiok.

"Ayah, kami telah menemukan dia!" kata gadis itu. Sin Hong merasa berterima kasih sekali, apalagi melihat betapa gadis itu nampak kedinginan dan lelah.

"Ah, terima kasih! Dia berada di mana Nona?"

"Sin Hong, anakku yang hanya satu ini bernama Kwee Ci Hwa, harap engkau jangan sungkan-sungkan dan menyebut nona kepadanya," kata Kwee-piauwsu yang diam-diam merasa suka kepada pemuda yang sederhana itu.

"Maaf, adik Ci Hwa, akan tetapi aku ingin sekali tahu di mana adanya si gendut botak she Lay itu."

"Dia .... dia....Gu-toako, engkau saja yang menerangkan," kata gadis itu dan mukanya berubah merah.

Anak buah piauwkiok itu lalu menerangkan dengan jelas. "Orang she Lay yang gendut botak itu sudah beberapa hari berada di Ban-goan dan agaknya memang hanya kalau malam saja dia berkeliaran keluar, kalau siang entah bersembunyi di mana. Kami menemukan jejaknya dan kini dia berada di rumah pelesir di ujung timur kota. Selama beberapa hari ini memang dia langganan di situ dan menurut penyelidikan kami, dia amat royal dengan uangnya, dan di sana pun dia dipanggil Lay-wangwe (Hartawan Lay) yang royal memberi hadiah kepada para pelacur."

Kini mengertilah Sin Hong mengapa gadis itu malu untuk menceritakan, dan dia sendiri sungguhpun kelahiran kota itu, namun tidak tahu di mana letaknya rumah pelesir atau rumah pelacuran itu.

"Di manakah rumah itu? Ujung timur kota? Jauhkah dari jembatan merah?"

"Tepat di sebelah timur jembatan itu," kata Kwee-piauwsu, "Hanya terhalang dua buah rumah. Rumah pelesir itu bercat merah, besar dan di depannya tumbuh sekelompok mawar."

"Kalau begitu, aku akan pergi ke sana sekarang juga!" kata Sin Hong sambil bangkit berdiri dan menjura kepada Kwee-piauwsu, puterinya dan beberapa orang piauwsu yang tadi mencari jejak Lay-wangwe. "Terima kasih atas segala kebaikan Paman, juga engkau adik Ci Hwa, dan para saudara piauwsu yang telah membantuku dan para saudara piauwsu yang telah membantuku."

"Nanti dulu, Sin Hong" kata Kwee piauwsu, Engkau.... apa yang hendak kaulakukan terhadap orang gendut botak itu?"

"Akan kutangkap dia dan kupaksa mengaku tentang peristiwa yang terjadi."

"Sin Hong, engkau tidak boleh memandang rendah mereka yang telah melakukan pembunuhan-pembunuhan terhadap ayahmu dan Tang-piauwsu itu. Mereka itu lihai dan berbahaya, dan siapa tahu kalau-kalau dugaanmu benar dan di belakang Lay-wangwe itu terdapat gerombolan jahat itu. Engkau harus berhati-hati...."

"Biarlah aku yang menemaninya, Ayah! Tan-toako, mari kutunjukkan engkau tempatnya dan aku yang akan membantumu kalau muncul orang-orang jahat itu!" kata Ci Hwa dengan gagah. Tentu saja Sin Hong merasa semakin tidak enak dan melihat keraguannya, Kwee-piauwsu berkata, dengan suara yang tegas.

"Benar Ci Hwa, Sin Hong. Engkau boleh mengandalkan ia yang sudah memiliki ilmu silat cukup tinggi untuk membela diri dan juga membantumu. Nah, kalian pergilah, akan tetapi hati-hati dan jangan bertindak sembrono."

Sin Hong tak dapat menolak lagi dan terpaksa dia bersama Ci Hwa lalu keluar dari rumah keluarga Kwee. Mereka berjalan berdampingan. Malam menjelang pagi itu dingin dan sunyi bukan main, juga agak gelap karena kini bulan sudah lenyap, tinggal bintang-bintang yang suram cahayanya.

"Siauw-moi (adik kecil), sungguh aku hanya membikin repot engkau saja," karena merasa tidak enak oleh sikap gadis itu yang diam saja, Sin Hong bertanya.

"Ah, tidak, Toako. Bagaimanapun juga, aku merasa berkewajiban untuk ikut membantumu menangkap penjahat itu, yang telah membunuh ayahmu dan Tang-piauwsu, karena aku harus membersihkan nama ayah yang tadinya ternoda oleh dugaan bahwa ayah yang melakukan kejahatan itu."

Sin Hong tidak bicara lagi, diam-diam dia kagum kepada gadis ini. Seorang gadis yang tidak banyak bicara, akan tetapi memiliki semangat besar, keberanian dan kegagahan.

"Nah, itulah rumahnya," kata Ci Hwa menunjuk ke sebuah rumah yang cukup besar dan bercat merah, di halaman depan tumbuh bunga-bunga mawar. Semua daun pintu dan jendela rumah itu masih tertutup dan suasananya sunyi sekali.

"Aku akan segera mengetuk pintu dan minta bicara dengan Lay-wangwe," kata Sin Hong sambil melangkah lebar untuk menghampiri pintu depan.

"Nanti dulu, Toako. Kalau engkau datang begitu saja ingin menemuinya, tentu dia curiga dan kalau dia melarikan diri, engkau akan kehilangan dia dan akan sukar kalau harus mencari orang yang sembunyi-sembunyi. Sebaiknya kalau aku berjaga di bagian belakang agar dia tidak dapat melarikan diri. Kalau dia lari dari pintu belakang, aku akan menahannya."

Sin Hong merasa semakin kagum. Dibandingkan gadis ini, dia kalah jauh dalam hal pengalaman dan kecerdikan. "Baiklah, Hwa-moi, engkau benar sekali."

Gadis itu lalu berkelebat dan dengan cepat berlari memutari rumah itu untuk mengintai dan berjaga di belakang rumah. Setelah menunggu beberapa lamanya untuk memberi kesempatan kepada Ci Hwa tiba di belakang rumah dan mencari tempat pengintaian yang tepat, Sin Hong lalu menghampiri pintu depan. Dia tidak ingin menimbulkan keributan dengan masuk sebagai seorang pencuri. Dia mengetuk pintu depan beberapa kali.

Tak lama kemudian daun pintu terbuka dan seorang kakek berusia enam puluh tahun muncul sambil menggosok-gosok mata dengan punggung tangan dan dia nampak masih mengantuk, juga ketika pintu terbuka, dia agak menggigil kedinginan oleh angin pagi yang menerpa masuk.

"Ahhh, Kongcu, sungguh merupakan waktu yang aneh untuk mengunjungi rumah pelesiran!" Dia terkekeh. "Kongcu datang terlalu pagi atau terlalu malam. Anak-anak manis itu masih tidur pulas semua, nanti kurang lebih jam sepuluh mereka baru akan bangun. Apakah Kongcu menghendaki seorang di antara mereka? Dengan tambahan istimewa, kiranya ia mau dibangunkan pagi-pagi begini."

Wajah Sin Hong berubah merah. Sialan, pikirnya, dia disangka ingin melacur! Dia menggeleng kepala dan berkata, "Tidak, Lopek. Aku bukan datang untuk pelesir, melainkan mencari seorang tamu, yaitu Lay-wangwe."

Mendadak pandang mata orang itu berubah, penuh kecurigaan dan alisnya berkerut. "Tidak ada yang bernama Lay-wangwe di sini." katanya ketus.

Sin Hong tidak mau menggunakan kekerasan yang akan meributkan suasana dan membikin takut Lay-wangwe. "Lopek, aku tahu bahwa Lay-wangwe bermalam di sini. Ketahuilah, aku adalah seorang sahabat baiknya yang perlu sekali bicara dengan dia sekarang juga. Amat penting!" Sin Hong mengeluarkan sepotong perak dan menyerahkannya kepada pelayan itu.

Melihat berkilaunya perak, pandang mata kakek itu silau dan sikapnya berubah walaupun dia masih ragu-ragu

"Akan tetapi aku tidak mengenal siapa Kongcu, dan selain itu tamu yang sedang tidur nyenyak tentu akan marah sekali kalau kuganggu dan kuketuk pintunya. Apa yang harus kukatakan kalau dia terbangun dan marah-marah kepadaku karena gangguanku?"

Uang itu telah diterima dan lenyap ke dalam saku baju pelayan itu. Sin Hong sudah merasa menang, akan tetapi dia pun harus berhati-hati dan jangan sampai menimbulkan kecurigaan. Dia tahu bahwa Lay-wangwe telah memesan kepada para pelayan di tempat itu untuk merahasiakan kehadirannya di rumah itu.

"Kalau dia sudah terbangun dan marah-marah, katakan saja bahwa aku seorang sahabatnya datang untuk memberi tahu kepadanya bahwa ada bahaya mengancam dirinya, dan dia harus cepat pergi bersamaku kalau ingin selamat."

Mendengar ini, pelayan itu terbelalak. "Wah, kalau begitu gawat!" katanya dan dia pun lari masuk ke dalam rumah besar itu setelah menutup kembali pintu depan. Sin Hong menanti sambil mendekatkan telinganya ke daun pintu agar dapat mendengar lebih baik. Dia siap untuk mempergunakan kekerasan kalau jalan halus ini gagal.

Akan tetapi siasatnya tadi berhasil baik. Ketika pelayan itu mengetuk daun pintu kamar di mana Lay-wangwe masih tidur mengorok sambil merangkul dua orang wanita pelacur yang mengapitnya, dia terbangun dan tentu saja dia marah-marah karena merasa terganggu.

"Lay-wangwe, ada keperluan penting sekali, harap bangun!" demikian suara pelayan yang mengetuk pintu kamar itu. Dua orang pelacur terbangun lebih dahulu dan mereka segera menutupi tubuh mereka dengan selimut, sementara itu Lay-wangwe bangkit dan duduk dengan sukar karena perutnya amat gendut. Dia pun menutupi tubuhnya dengan selimut dan mengomel.

"Keparat, siapa berani menggangguku?" Kepada seorang di antara dua orang pelacur itu dia memberi isyarat untuk membuka daun pintu. Ketika daun pintu terbuka dan dengan takut-takut pelayan tua itu terbungkuk-bungkuk masuk. Laywangwe membentak marah.

"Apa kau sudah bosan hidup, berani mengganggu aku sepagi ini?"

"Maafkan saya, Lay-wangwe, akan tetapi di luar telah datang seorang tamu yang mengaku sahabat baik Wangwe dan dia mengatakan bahwa ada bahaya mengancam diri Wangwe dan kalau Wangwe menghendaki agar selamat, Wangwe harus cepat-cepat pergi bersama dia sekarang juga."

Laki-laki pendek gendut itu terbelalak, wajahnya berubah pucat dan cepat-cepat dia meraih pakaiannya secepat mungkin.

"Bagaimana orangnya? Masih mudakah? Atau sudah tua? Dan siapa namanya?" Dia bertanya sambil mengenakan pakaiannya.

"Dia belum sempat mengaku siapa namanya, akan tetapi orangnya masih muda dan orangnya ramah sekali, baik sekali, Lay-wangwe. Dan dia nampaknya bersungguh-sungguh...."

"Kalau begitu aku harus cepat pergi dari sini!" katanya sambil melemparkan beberapa potong uang perak kepada dua orang pelacur itu. Dia keluar dari kamar dan melihat betapa beberapa buah kamar yang berderet di situ juga nampak terbuka, agaknya ribut-ribut itu membangunkan tamu-tamu lain. Hal ini sebenarnya biasa saja, namun orang she Lay yang sudah ketakutan itu kini memandang penuh kecurigaan, seolah-olah bahaya yang disebutkan tadi datang dari kamar-kamar itu. Dia pun cepat-cepat melangkah keluar, tidak tahu betapa beberapa buah kancing bajunya salah memasuki lubangnya dan kedua matanya kemerahan dan ujungnya dihias kotoran mata.

Setelah membuka pintu depan dia berhadapan dengan Sin Hong! Sekali lihat saja tahulah Sin Hong bahwa dia berhadapan dengan orang yang dimaksudkan oleh Tang-piauwsu dan Ciu-piauwsu, orang gendut botak yang terkenal dengan nama Lay-wangwe, pengirim emas yang mengakibatkan tewasnya ayahnya dan membuat perkara menjadi berlarut-larut sampai kematian Tang-piauwsu itu. Akan tetapi, dia belum yakin benar bahwa si gendut ini hanya merupakan umpan untuk menjebak ayahnya. Bagaimana kalau dia ini benar-benar pengirim emas, sama sekali tidak bersalah?

"Siapa....siapakah engkau....? Lay-wangwe bertanya dengan sangsi ketika melihat seorang pemuda yang sama sekali tidak pernah dikenalnya. Akan tetapi, Sin Hong melangkah maju.

"Apakah engkau yang bernama Lay-wangwe?"

Karena tidak mengenal pemuda itu, muncullah lagak Lay-wangwe yang memandang rendah orang lain, apalagi orang ini mengganggunya dan dia tidak melihat adanya gangguan dan dia tidak melihat adanya bahaya mengancam seperti yang dikatakan pelayan tadi.

"Benar, akulah Lay-wangwe. Engkau siapa dan mau apa?" Kemudian dia menoleh ke kanan kiri dan menyambung, "Engkau bilang ada bahaya? Engkaulah yang mengatakan ada bahaya tadi, dan di mana bahaya itu?"

Sin Hong tersenyum. "Lay-wangwe, di sinilah letaknya bahaya kalau engkau tidak mau bicara terus terang padaku. Ketahuilah, aku adalah putera dari mendiang Tan-piauwsu, pemimpin Peng-an Piauwkiok yang dahulu mengangkut emasmu ke Tuo-lun! Ingatkah engkau? Engkau datang kepada ayah, mengirim peti berisi emas ke Tuo-lun, kemudian di tengah jalan, ayah dibunuh orang dan engkau menuntut ganti kerugian dan menyita rumah dan perusahaan ayah. Kemudian, terjadi pembunuhan pula atas diri Tang-piauwsu belum lama ini. Nah, katakanlah, apa yang kauketahui tentang semua pembunuhan itu?"

Lay-wangwe terbelalak memandang kepada Sin Hong, kemudian dia tersenyum lebar, mengejek. "Orang muda, hanya untuk itu engkau berani mengganggu aku? Memang aku yang mengirim emas itu, dan karena hartaku hilang, aku menyita rumah dan perusahaan ayahmu. Aku telah menderita rugi besar dan engkau masih hendak menggangguku? Aku tidak tahu apa-apa tentang pembunuhan itu!" Dan dia pun membalikkan tubuhnya hendak masuk lagi.

"Tunggu dulu!" Sin Hong berseru dengan suara keras. Lay-wangwe membalik dan kini matanya menjadi semakin merah dan alisnya berkerut karena dia sudah marah sekali. "Engkau mengaku sebagai seorang hartawan di kota raja, akan tetapi ternyata engkau bukan hartawan kota raja karena di sana tidak ada seorang pun mengenalmu! Dan ketika engkau hendak mengirim peti berisi emas itu melalui Ban-goan Piauw-kok, engkau menolak ketika petinya hendak dibuka dan isinya diperiksa, bahkan engkau membatalkan pengiriman itu, lalu mengirimkannya tanpa membuka peti melalui ayahku. Siapakah engkau ini sebenarnya dan apa maksudmu memancing ayah dengan umpan kiriman emas itu untuk menjebaknya?"

"Bocah kurang ajar! Berani engkau menyelidiki keadaanku? Engkau patut dihajar!" Dan tiba-tiba saja, orang yang gendut itu bergerak cepat sekali, menyerang Sin Hong dengan pukulan kedua tangannya dengan bertubi-tubi! Orang akan terkejut sekali melihat betapa "hartawan" Lay itu tiba-tiba saja menjadi seorang laki-laki yang ganas dan dapat melakukan penyerangan secepat dan sekuat itu padahal tubuhnya bulat dengan perutnya yang gendut.

Sin Hong tentu saja tidak gugup, akan tetapi dia pun agak terkejut karena tidak mengira bahwa Lay-wangwe itu ternyata mampu menyerangnya, bukan hanya dengan cepat sekali, akan tetapi juga dia dapat melihat betapa pukulan-pukulannya mengandung tenaga yang cukup kuat! Kiranya si gendut ini bukan orang sembarangan dan tentu saja kecurigaannya semakin bertambah.

"Hemmm, kiranya engkau seorang tukang pukul!" katanya sambil miringkan tubuhnya dan ketika kedua tangannya melancarkan pukulan bertubi-tubi itu lewat, tangannya sendiri bergerak menotok dan robohlah tubuh yang berperut gendut itu, tidak mampu bangkit lagi karena tubuh itu terasa lemas oleh totokan Sin Hong! Kini muka orang itu nampak ketakutan karena baru dia tahu bahwa dia berhadapan dengan lawan yang luar biasa lihainya, yang dapat merobohkannya dalam satu gebrakan saja! Sulit untuk dipercaya, akan tetapi kenyataannya demikianlah dan dia mulai merasa ngeri dan takut.

"Nah, sekarang ceritakan yang sebenarnya. Siapa yang mengatur pancingan dan jebakan itu, siapa yang telah membunuh ayahku dan Tang-piauwsu? Katakan sebetulnya kalau tidak ingin aku terpaksa menggunakan kekerasan memaksamu!"

Sin Hong sengaja menekankan jari tangannya ke pundak orang gendut itu dan orang itu pun menyeringai kesakitan. Penekanan pada jalan darah di pundaknya itu membuat seluruh tubuh bagian atasnya demikian nyeri seperti ditusuki ribuan jarum dan keringat dingin membasahi muka dan lehernya.

"Aku....aku tidak tahu siapa pembunuhnya....aku hanyalah anak buah saja...." katanya dengan suara terputus-putus saking hebatnya rasa nyeri yang dideritanya. Sin Hong melepaskan jarinya.

"Lalu siapa pemimpinmu? Siapa yang mengutusmu? Jawab!"

"....Tiat....Tiat-liong-pang....!" Tiba-tiba dia menjerit dan berkelojotan. Sin Hong terkejut bukan main karena pada saat orang itu tadi mulai membuat pengakuan, ada belasan jarum dan paku beracun menyambar ke arahnya dari depan. Dia cepat mengelak dengan loncatan ke samping dan tangannya mendorong sehingga sisa senjata rahasia itu terpukul angin dorongannya dan runtuh. Akan tetapi ketika dia memandang, dia melihat orang gendut itu sudah berkelojotan dengan muka membiru dan mata melotot. Dia melihat bayangan orang berkelebat lari ke dalam rumah itu. Terlambat untuk menyelamatkan si gendut dan dia pun cepat meloncat dan mengejar ke dalam rumah.

Bayangan yang kelihatan berpakaian hitam itu ternyata memiliki gerakan yang amat cepat. Terdengar jeritan-jeritan wanita ketika Sin Hong berlari cepat memasuki rumah itu. Ternyata wanita-wanita pelacur yang keluar dari kamar masing-masing, terkejut dan ketakutan melihat kejar-kejaran itu, apalagi yang dikejar adalah seorang yang memakai pakaian hitam dan kedok hitam pula!

Dengan penuh semangat Sin Hong melakukan pengejaran karena dia merasa yakin bahwa orang itulah yang menjadi kunci rahasia pembunuhan-pembunuhan itu, setidaknya orang itu tentu yang telah membunuh Tang-piauwsu. Maka dia harus dapat menangkapnya!

Orang itu menerjang pintu belakang dan terus melompat ke dalam kegelapan pagi yang masih remang-remang itu. Tiba-tiba ada orang menyambutnya dengan bentakan nyaring.

"Berhenti!" Bentakan itu dibarengi munculnya Ci Hwa dengan pedang telanjang di tangan. Melihat betapa ada seorang gadis berpedang menghadang di depannya, orang itu tidak berhenti, bahkan menerjang dan menyerang Ci Hwa! Tentu saja Ci Hwa terkejut akan kenekatan orang itu dan ia pun menyambut dengan tusukan pedangnya! Akan tetapi, orang itu menangkis dengan tangan kiri dan tangan kanannya tetap saja mencengkeram ke arah dada Ci Hwa!

"Plakkk!" Pedangnya tertangkis oleh tangan kosong itu begitu saja sampai hampir terlepas dari pegangannya dan dadanya terancam cengkeraman. Terpaksa Ci Hwa melempar tubuh ke belakang dan berjungkir balik, kemudian ia membalikkan tubuhnya. Terlambat! Orang yang ternyata luar biasa lihainya itu sudah menendang lututnya dan Ci Hwa terguling. Orang itu menubruk dengan hantaman tangan kanannya ke arah kepala Ci Hwa yang sudah tidak sempat untuk mengelak atau menangkis lagi!

"Dukkk!" Pukulan hebat dari orang berkedok hitam itu tertangkis oleh tangan Sin Hong yang datang tepat pada saat nyawa Ci Hwa terancam bahaya itu.

Orang itu mengeluarkan seruan kaget, lalu menyerang dengan kedua tangan didorongkan ke arah dada Sin Hong. Pukulan jarak jauh! Ini membuktikan bahwa orang berkedok itu memang lihai bukan main. Sin Hong menyambut dengan dorongan penuh tenaga sin-kang dan orang itu terjengkang! Kembali dia mengeluarkan seruan kaget dan terus meloncat jauh dan menghilang ke dalam kegelapan pagi buta itu. Sin Hong tidak mengejar karena mengkhawatirkan keselamatan Ci Hwa melihat kelihaian orang itu. Siapa tahu masih ada kawanan penjahat di situ yang akan mencelakai Ci Hwa.

"Engkau terluka, Hwa-moi (adik Hwa)?" tanyanya sambil memegang pundak gadis itu.

Ci Hwa menggeleng kepala, lalu bangkit berdiri dan kakinya tidak terluka parah, hanya agak terpincang. "Mari kita kejar dia!" kata Sin Hong dan sambil memegang tangan gadis itu, dia pun meloncat dan Ci Hwa merasa seolah-olah tubuhnya diangkat dan dibawa terbang! Sampai beberapa lamanya Sin Hong dan Ci Hwa mencari-cari, namun si kedok hitam itu sudah lenyap.

"Sayang, dia telah pergi....!" kata Sin Hong yang terpaksa menghentikan larinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar