02 Suling Naga

Gadis cantik itu menjebikan bibirnya. "Huh, baiknya engkau tadi berusaha melindungiku dari kemarahan suhu, kalau tidak. Baiklah, kalau selanjutnya engkau tunduk dan taat kepadaku, mulai saat ini engkau adalah sumoiku."

"Terima kasih, suci."

"Bi-kwi, kenapa tadi engkau mengatakan bahwa pendapat kami untuk menggabungkan ilmu dan diajarkan kepada Siauw-kwi tidak betul dan tidak tepat?" Iblis Akhirat bertanya sambil menggandeng tangan wanita cantik itu dengan sikap yang kangen sekali.

"Tentu saja tidak tepat, karena di sini ada aku yang dapat mewakili suhu bertiga untuk mengajarkan ilmu-ilmu kita kepada sumoi. Kalau seorang anak kecil seperti sumoi itu sekaligus menerima pelajaran dari suhu bertiga, mana kuat menerimanya? Serahkan saja kepadaku dan suhu bertiga tidak perlu susah-susah."

Tiga orang kakek itu mengangguk-angguk dan tersenyum gembira. "Ha-ha, lihat, betapa beruntungnya kita bertiga mempunyai seorang murid seperti Bi-kwi," kata Iblis Akhirat.

"Bi-kwi, bagaimana dengan tugasmu?", tiba-tiba Raja Iblis Hitam bertanya, dan Bi Lan merasa heran mendengar suara kakek raksasa hitam ini. Biasanya dia pendiam dan kalau bersuara terdengar keras, parau dan bengis, akan tetapi kini suaranya terdengar lembut dan mengandung kemesraan.

Gadis yang disebut Bi-kwi (Iblis Cantik) itu sebenarnya bernama Ciong Siu Kwi yang sejak berusia lima tahun sudah menjadi murid Sam Kwi. Seperti juga Bi Lan, Siu Kwi atau yang kini disebut Bi-kwi ini yatim piatu. Ayah ibunya dibunuh oleh Sam Kwi sendiri yang ingin menguasai anak ini dengan bebas. Memang pada mulanya, Sam Kwi mengambil murid ini hanya untuk menurunkan ilmu karena melihat bakat baik pada diri Siu Kwi, juga agar anak ini dapat menemani mereka dalam persembunyian dan pertapaan mereka di puncak pegunungan Thai-san. Akan tetapi, makin dewasa, Bi-kwi atau Siu Kwi ini makin nampak watak aselinya, watak yang genit dan cabul, di samping wajahnya yang cantik. Gadis ini mempelajari ilmu-ilmu tinggi, akan tetapi juga melayani Sam Kwi, mencuci pakaian, memasak dan segala macam kebutuhan tiga orang kakek itu. Setelah ia berusia hampir delapanbelas tahun, tiga orang kakek itu tidak tahan melihat kegenitannya. Mulailah mereka bertiga itu, tertarik sebagai pria terhadap wanita kepada murid sendiri dan mulailah terjadi hubungan perjinaan antara ketiga Sam Kwi dengan murid tunggal mereka itu! Luar biasanya, gadis yang sejak kecil hidup di tempat pengasingan di Thai-san itu, menyambut tiga orang kakek buruk rupa yang menjadi suhunya itu dengan tangan dan hati terbuka! Dan sejak berusia delapanbelas tahun itulah, Siu Kwi menjadi murid dan merangkap kekasih Sam Kwi dan mulai pula ia menguasai tiga orang kakek itu yang namanya saja guru-gurunya, akan tetapi dalam banyak hal mereka bertiga itu tunduk dan taat kepada Siu Kwi!

Mendengar pertanyaan Hek-kwi-ong tentang tugasnya tadi Siu Kwi melepaskan tangan Iblis Akhirat, dan mengerutkan alisnya, kemudian ia duduk di atas sebuah batu yang bersih. Tiga orang kakek itupun duduk di depannya dan Bi Lan yang ingin mendengarkan juga duduk di dekat Siu Kwi.

Gadis ini menarik napas panjang beberapa kali, lalu berkata dengan suara jengkel.

"Dua urusan yang suhu serahkan kepadaku itu semua gagal! Yang pertama mengenai Pendekar Super Sakti Majikan Pulau Es, ternyata telah tewas belasan tahun yang lalu!"

"Wah, sialan!" Raja Iblis Hitam berseru kecewa sambil mengepal tangannya yang besar.

"Pengecut! Mampus lebih dulu!" Iblis Mayat Hidup juga berseru kecewa.

"Ha-ha, biarlah dia mampus, kelak di akhirat kita masih dapat mencarinya untuk membuat perhitungan!" kata Iblis Akhirat yang lalu memandang Siu Kwi. "Dan bagaimana dengan urusan yang lain?"

"Urusan Liong-siauw-kiam (Pedang Suling Naga) lebih menjengkelkan lagi. Dengan susah payah selama berbulan-bulan aku mencari kakek Pek-bin Lo-sian (Dewa Tua Muka Putih) di sekitar Pegunungan Himalaya dan belum kutemukan jejaknya. Akan tetapi, akhirnya dari para pertapa aku mendengar bahwa kakek tua bangka itupun sudah meninggal dunia."

"Dan pusakanya?" Raja Iblis Hitam memotong.

"Itulah yang menjengkelkan hatiku. Menurut keterangan para pertapa yang mengenal Pek-bin Lo-sian, sebelum kakek itu meninggal dunia, mereka sering kali melihat kakek itu berbincang-bincang dengan seorang pendekar sakti dan menurut mereka, sangat boleh jadi kakek itu mewariskan Liong-siauw-kiam kepada pendekar itu."

"Wah-wah, siapa pendekar jahanam itu?" bentak Iblis Akhirat dengan marah.

"Mereka tidak tahu, akan tetapi, dalam penyelidikanku selanjutnya, ada sebuah berita yang amat menarik, yaitu munculnya seorang pendekar yang dijuluki Pendekar Suling Naga yang kabarnya membawa senjata sebatang suling naga...."

"Itulah orangnya!" bentak Iblis Mayat Hidup. "Di mana dia?"

Gadis itu menggerakkan pundaknya. "Menurut penyelidikanku, pendekar yang berjuluk Pendekar Suling Naga itu merantau ke selatan, dan karena aku ingin mendengar keputusan suhu dalam hal ini, maka aku lalu mencari suhu untuk melapor."

Tiga orang kakek itu saling pandang, kemudian Iblis Akhirat yang biasa menjadi juru bahasa mereka berkata, "Tugasmu menjadi semakin berat, Bi-kwi. Pendekar Super Sakti sudah mati, akan tetapi keturunan Suma tentu masih banyak berkeliaran. Karena itu kita harus berusaha membasmi semua keturunan Suma Han si Pendekar Super Sakti yang pernah membuat kami bertiga harus menyembunyikan diri selama puluhan tahun. Akan tetapi, di samping itu juga kita harus mencari orang yang menguasai Pedang Suling Naga untuk merampasnya. Tak mungkin tugas-tugas berat itu kaupikul sendiri. Maka, sebaiknya kita melatih Siauw-kwi ini sampai pandai agar kelak dapat membantumu menunaikan tugas-tugas itu. Kami sendiri sudah terlalu tua untuk berkeliaran mencari orang."

Bi-kwi menoleh ke arah Bi Lan dan mengerutkan alisnya. Ia adalah seorang cerdik. Mewakili suhu-suhunya bermusuhan dengan keturunan Pendekar Super Sakti adalah tugas yang amat berat dan tidak menarik hatinya. Ia sudah mendengar bahwa Pendekar Super Sakti adalah seorang tokoh besar yang amat tinggi ilmu kesaktiannya dan sukar dilawan. Bahkan tiga orang gurunya yang pernah mengeroyok pendekar itupun tidak mampu menang. Tentu keturunannya juga amat lihai dan bagaimana kalau keturunannya itu banyak jumlahnya? Dan urusan balas dendam guru-gurunya karena pernah dikalahkan ini, tidak ada apa-apanya yang menarik hatinya karena tidak ada yang menguntungkan. Sebaliknya, mencari pusaka Suling Naga itu lebih menarik baginya. Kanena itu, menghadapi dua tugas ini memang sebaiknya kalau ia ditemani orang yang dapat dipercaya, dan agaknya Bi Lan inilah orangnya.

"Hemm, aku meragukan apakah anak ini akan sanggup. Siauw-kwi, sanggupkah engkau membantuku kelak dalam dua urusan itu?"

Bi Lan sejak tadi mendengarkan dan kini ia menghadap ketiga orang suhunya. "Urusan suhu dengan keluarga Pendekar Super Sakti itu mudah teecu mengerti. karena tentu urusan dendam pribadi yang melibatkan keluarga Pendekar Super Sakti yang sudah mati. Akan tetapi urusan ke dua, teecu kurang jelas. Apakah pusaka Suling Naga itu dan mengapa dijadikan rebutan?"

"Ha-ha-ha, engkau memang anak cerdik yang ingin memasuki suatu urusan tidak secara membuta. Baiklah, akan kuceritakan padamu menganai pusaka itu."

Im-kan Kwi atau Iblis Akhirat yang bertubuh pendek bundar itu lalu dengan ringkas bercerita tentang pusaka yang dinamakan Pedang Suling Naga itu. Benda pusaka itu telah ribuan tahun usianya, terbuat dari pada semacam kayu yang tumbuh di Pegunungan Himalaya, dan kayu itu diukir dan dibuat menjadi sebuah suling yang amat indah oleh seorang abi di Pegunungan Himalaya kurang lebih seribu tahun yang lalu. Benda itu lalu direndam dalam obat-obatan rahasia yang membuat kayu itu menjadi keras membaja, bahkan kabarnya lebih keras dari pada baja. Pusaka yang indah itu, yang dapat ditiup sebagai sebatang suling yang suaranya merdu, juga dapat dipegang sebagai sebatang pedang, kepala naga menjadi gagang dan badan serta ekornya menjadi pedangnya. Ukiran naga itu sedemikian hidupnya, sepasang mata di bagian kepalanya dibuat dari batu permata sehingga nampak bernyala dan hidup sekali. Selama ratusan tahun, benda itu menjadi pusaka dan menjadi lambang kekuasaan raja-raja Khitan.

Sampai akhirnya, di jaman Kaisar Jenghis Khan, raja Mongol ini dalam penyerbuannya ke barat berhasil merampas benda itu dan karena amat kagum dan suka, benda itu menjadi pusaka kesayangan Kaisar Jenghis Khan. Akan tetapi pada suatu hari, pusaka itu lenyap dari dalam gudang pusaka. Kaisar Jenghis Khan marah sekali akan tetapi urusan itu dirahasiakan karena kaisar akan merasa malu kalau terdengar rakyat bahwa pusaka yang paling disayang itu dapat lenyap begitu saja dari dalam gudang pusaka. Saking marahnya, Kaisar Jenghis Khan menghukum mati tigapuluh orang pengawal dan pelayan yang dicurigai! Dan semenjak saat itu, pusaka Suling Naga dianggap lenyap dan tak pernah dapat ditemukan kembali walaupun Kaisar Jenghis Khan telah mengeluarkan banyak sekali biaya dan mengerahkan banyak orangnya untuk mencarinya.

"Sebenarnya yang mencuri benda pusaka itu adalah seorang sakti yang menyembunyikan dirinya di pegunungan sebelah utara. Benda itu menjadi kebanggaannya karena tentu saja orang yang mampu mencuri benda dari gudang pusaka Kaisar Jenghis Khan adalah seorang yang sakti. Benda itu turun temurun menjadi milik murid-murid keturunannya dan akhirnya jatuh ke tangan suhu dan susiok kami yang bertapa di Pegunungan Himalaya. Ketika suhu meninggal dunia, pusaka itu oleh suhu diserahkan kepada susiok Pek-bin Lo-sian yang bertapa di Pegunungan Himalaya. Kami memintanya, akan tetapi susiok mengatakan bahwa pusaka itu tidak pantas menjadi milik kami. Tentu saja kami berusaha merampasnya, akan tetapi susiok Pek-bin Lo-sian terlalu tangguh bagi kami. Tidak ada lain jalan kecuali menanti sampai kakek yang sudah tua renta ini mampus. Akan tetapi, sungguh tak terduga sekali halnya kami dikalahkan oleh Pendekar Super Sakti sehingga kami terpaksa mengundurkan diri bertapa sampai duapuluh tahun dan ketika kami mengutus Bi-kwi, ternyata kakek tak tahu malu itu telah mampus dan mewariskan pusaka itu kepada orang lain!"

Iblis Akhirat menghentikan ceritanya dan tiga orang kakek itu nampak beringas dan marah sekali.

"Bagaimana, Siauw-kwi, maukah engkau membantu sucimu dalam mencari pusaka itu dan membalas dendam terhadap keturunan Suma?" tiba-tiba Iblis Mayat Hidup bertanya.

Cerita itu amat menarik hati Bi Lan. Bagaimanapun juga, tiga orang suhunya memang berhak mendapatkan kembali pusaka itu dan pendekar yang menerimanya dari Pek-bin Lo-sian tidak berhak. "Baik, suhu. Teecu akan belajar giat agar kelak mampu membantu suci."

Mereka berlima lalu meninggalkan tempat itu, kembali ke puncak Pegunungan Thai-san. Di sepanjang perjalanan, dengan hati kaget dan heran, juga muak, Bi Lan melihat betapa tiga orang gurunya itu mengadakan hubungan amat mesra dengan sucinya. Ia belum begitu mengerti tentang hubungan perjinaan seperti itu, akan tetapi nalurinya membuat ia selalu membuang muka dan menyingkir kalau melihat pertunjukan tak tahu malu di sepanjang perjalanan itu. Karena perbuatan ini saja, diam-diam Bi Lan merasa amat tidak suka kepada sucinya dan kepada tiga orang suhunya, walaupun dengan cerdik ia dapat menyembunyikan perasaan ini di lubuk hatinya.

Demikianlah, setelah tiba di puncak Pegunungan Thai-san, di tempat terpencil sunyi, Bi-kwi atau Su Kwi mulai melatih sumoinya dengau ilmu silat. Akan tetapi, dasar orang yang licik, curang dan juga hatinya diliputi penuh kebencian, Bi-kwi yang tidak rela kalau ada orang kelak lebih pandai atau setidaknya mengimbangi kepandaiannya, ia melatih dengan cara yang kadang-kadang dibalikkan, dengan harapan agar sumoinya tentu mewarisi ilmu yang keliru cara melatihnya menjadi ilmu sesat yang akan membahayakan sumoi itu sendiri. Ilmu bersamadhi dan menghimpun tenaga sin-kang misalnya, kalau dilatih dengan cara yang keliru, amat membahayakan, dapat membuat orang menjadi menderita luka dalam, atau dapat membikin orang menjadi gila, atau bahkan mati keracunan!

***

Kita tinggalkan dulu Bi Lan, anak berusia hampir sebelas tahun yang kini sedang digembleng secara keliru oleh Bi-kwi atau Siu Kwi itu, di tempat terasing, satu di antara puncak Thai-san dan mari kita menengok peristiwa yang terjadi di lain tempat, jauh dari Thai-san.

Peristiwa pemberontakan yang berkembang di perang saudara antara para pemberontak dan pasukan pemerintah, yang dicampuri pula oleh pasukan asing Birma yang bersekutu dengan para pemberontak, membuat seluruh negeri menjadi tidak aman. Karena pemerintah pusat mencurahkan perhatian terhadap pemberontakan pemberontakan itu, maka pengurusan keamanan di daerah-daerah tidak terlalu diawasi. Hal ini membuat para pembesar setempat seolah-olah menjadi raja yang berdaulat, tidak ada yang menentang, tidak ada yang mengawasi. Akan tetapi, juga tidak ada yang melindungi dan pembesar-pembesar itu hanya mengandalkan pasukan keamanan setempat. Oleh karena inilah, maka para penjahatpun muncul dan merajalela di wilayah masing-masing, mengganggu rakyat jelata. Mungkin karena mempunyai kepentingan yang sama dan keduanya mengganggu dan menentang rakyat jelata, banyak terjadi persekongkolan antara para gerombolan penjahat yang kuat dan para pembesar setempat. Tidaklah mengherankan apabila ada sebagian rakyat bangkit melawan penjahat- penjahat itu, mereka akan berhadapan dengan pasukan keamanan yang akan menentang mereka dan membantu para penjahat! Ada kalanya, agar perbuatan mereka tidak menyolok, petugas keamanan menangkapi para penjahat dan juga rakyat yang menentang penjahat! Beberapa hari kemudian, para penjahat yang di tangkapi itu telah berkeliaran kembali melakukan kejahatan mereka, sedangkan orang-orang yang ditangkap ketika melawan penjahat itu tetap di tahan, bahkan dihukum dengan tuduhan pemberontak! Dalam keadaan negara kacau seperti ini terjadilah apa yang dinamakan "pagar makan tanaman", para petugas keamanan yang seharusnya menjaga keamanan hidup rakyat, sebaliknya malah membuat kehidupan rakyat menjadi tidak aman! Kalau petugas keamanan sudah bersekongkol dengan penjahat, dapat dipastikan bahwa keadaan pemerintahannya lemah, dan yang celaka adalah rakyat jelata pula.

Keadaan semacam itupun melanda kota kecil Siang-nam yang terletak tidak jauh dari kota besar Siang-tan, di Propinsi Hunan. Kepala daerah kota Siang-nam seperti boneka saja. Hanya pakaian dan kursinya saja yang menandakan dia seorang kepala daerah, akan tetapi sikap dan perbuatannya sama sekali tidak mencerminkan seorang pemimpin. Kekuasaan sepenuhnya berada di tangan Bong-ciangkun, komandan pasukan keamanan kota Siang-nam. Dan di atas Bong-ciangkun ini, sebagai penguasa yang tidak terlihat, adalah kepala penjahat yang menguasai seluruh Siang-nam dan daerahnya. Selalu terjadi persekutuan antara kepala penjahat dan Bong-ciangkun dalam menghadapi perkara apapun dan Bong-ciangkun lalu tunduk karena kepala penjahat itu memberi sogokan yang berlebihan, yang membuat komandan itu menjadi kaya raya. Lebih celaka lagi, Bong-ciangkun terkenal sebagai seorang pria congkak, menyombongkan kedudukannya, bengis dan yang paling buruk, mata keranjang dan selalu ingin mendapatkan wanita mana saja yang menarik hatinya! Dia dikenal sebagai srigala kota Siang-nam dan semua penduduk merasa takut kepadanya.

Pada suatu pagi, di antara orang-orang yang sibuk pergi ke pasar, ada yang hendak berjualan dan ada pula yang hendak berbelanja, nampak seorang wanita bersama seorang anak laki-laki berjalan menuju ke pasar. Ibu dan anak ini masing-masing membawa keranjang berisi telur. Mereka memelihara banyak ayam di rumah dan kini mereka hendak menjual hasilnya ke pasar. Biasanya, yang menjual telur adalah suami wanita itu, akan tetapi pada pagi hari itu, si suami rebah pembaringan karena masuk angin dan walaupun enggan keluar rumah dalam suasana kacau seperti itu, terpaksa si isteri mengajak putera tunggalnya untuk menemaninya membawa telur dan menjualnya ke pasar.

Wanita itu berwajah lumayan, dengan kulit kuning bersih sehingga usianya yang sudah tigapuluh tahun itu belum menghilangkan daya tariknya yang memikat.

Puteranya, seorang anak laki-laki berusia sebelas tahun, juga wajahnya mirip ibunya sehingga dia nampak tampan dan bersih, wajahnya cerah. Anak ini bernama Gu Hong Beng, dan ayahnya yang sedang sakit itu bernama Gu Hok, seorang tukang kayu yang pandai. Selain memiliki penghasilan sebagai tukang kayu, juga isterinya dibantu oleh putera mereka memelihara atau beternak ayam yang hasilnya lumayan pula. Kehidupan mereka yang tidak kaya akan tetapi juga tidak miskin itu cukup bahagia, dengan seorang putera yang baik dan penurut, rajin bekerja membantu ibunya merawat ayam, bahkan sudah dapat melakukan beberapa pekerjaan tukang kayu yang ringan-ringan.

Karena semua pedagang di pasar tahu bahwa telur dari ternak ayam milik tukang kayu itu selalu baru dan segar, maka dengan mudah mereka dapat menjual semua telur mereka di pasar dan dengan wajah berseri keduanya membawa uang hasil penjualan itu untuk berbelanja keperluan bumbu-bumbu masakan dan bahan-bahan makanan. Akan tetapi tiba-tiba terdengar bentakan-bentakan agar semua orang minggir dan memberi jalan kepada seorang laki-laki yang bertubuh tinggi besar dan berperut gendut sekali. Mukanya buruk hitam dan kulitnya tebal dengan mata lebar bundar yang memandang penuh keangkuhan. Dia berjalan dengan dada dibusungkan, akan tetapi karena perutnya yang luar biasa gendutnya, yang makin membusung adalah perutnya itu. Pakaiannya indah dan gagah, pakaian seorang perwira dengan pedang besar panjang tergantung di pinggang kiri. Kepalanya terhias topi perwira Mancu yang memakai hiasan bulu. Dengan langkah dibuat-buat perwira yang bukan lain adalah Bong-ciangkun ini menoleh ke kanan kiri, sikapnya sombong sekali ketika dia memandangi orang-orang di dalam pasar.

Sudah diketahui umum bahwa kaum wanita amat lemah terhadap harta, kedudukan dan nama kehormatan. Oleh karena itu, biar melihat bentuk perut dan mukanya laki-laki yang bernama Bong-ciangkun ini sama sekali tidak dapat dibilang ganteng atau menarik, namun kedudukannya, pangkatnya, pakaiannya yang gagah, kehormatannya dan hartanya tentu sekali membuat banyak wanita di pasar itu berlumba untuk bergaya dan menarik hati sang perwira dengan berbagai gaya. Ada yang suaranya tiba-tiba saja meninggi dan nyaring, ada yang tiba-tiba menjadi genit sekali, terkekeh, ada yang matanya lalu menjadi lincah mengerling tajam, ada yang senyum-senyum manis, ada pula yang memperbaiki letak rambut dan merapikan pakaian. Akan tetapi, Bong-ciangkun hanya mengangkat hidung memandang rendah.

Empat orang perajurit pengawal yang berada di depan perwira itu untuk membuka jalan bersikap kasar sekali. Ada beberapa orang laki-laki yang memikul keranjang, karena kurang cekatan menyingkir, ditendang keranjangnya sehingga isinya berantakan.

"Minggir! Minggir! Komandan kami akan lewat!" Demikian mereka membentak-bentak.

Pada saat mereka tiba dekat dengan Gu Hong Beng dan ibunya yang sedang berbelanja, empat orang pengawal itu membentak-bentak dan mendorong-dorong. Seorang kakek tua kena dorong dan terhuyung menabrak ibu Hong Beng. Wanita ini menahan jerit, terjatuh dan kacang yang dibelinya dan dipondongnya tadi terlepas, bungkusannya pecah dan kacang itupun berserakan di atas tanah.

"Ahhh kacangku....!" Ibu muda ini cepat berjongkok dan mengumpulkan kacang yang tumpah-tumpah itu.

Tiba-tiba ada orang memegang lengannya dan ia ditarik dengan lembut ke atas. Nyonya itu terpaksa bangkit dan menoleh. Terkejutlah ia ketika melihat bahwa yang menariknya itu adalah seorang laki-laki tinggi besar berpakaian perwira yang kelihatannya galak dan bengis. Akan tetapi pada saat itu, laki-laki tinggi besar yang bukan lain adalah Bong-ciangkun itu menyeringai, maksudnya untuk tersenyum manis akan tetapi hasilnya sama sekali tidak manis bahkan menyeringai menakutkan.

"Nyonya yang manis, harap jangan kaget dan takut. Maafkan pengawalku bersikap kasar sehingga kacangmu tumpah. Marilah engkau ikut denganku, nyonya, dan aku akan mengganti kerugianmu sepuluh kali lipat."

Tentu saja wajah wanita itu menjadi merah sekali. Ia pernah mendengar tentang perwira yang bernama Bong-ciangkun ini dan jantungnya berdebar tegang dan takut. Ia lalu menggandeng tangan Hong Beng dan berkata kepada anaknya itu, "Hong Beng, mari kita pulang", tanpa menoleh ia menggandeng dan menarik tangan anaknya untuk diajak pergi.

Akan tetapi kembali lengannya dipegang orang dan kini pegangannya itu agak keras membuat ia merasa nyeri.

"Nyonya, aku adalah Bong-ciangkun. Jangan takut, aku suka sekali padamu. Engkau manis, mari ikut denganku sebentar. Engkau akan senang, marilah....". Bong-ciangkun menarik lengan itu dan senyumnya melebar, matanya yang besar bundar itu berkedip-kedip penuh kegenitan dan kekurangajaran.

Nyonya Gu Hok menarik dan merenggutkan tengannya sampai terlepas dari pegangan perwira itu. "Tidak, biarkan kami pulang....!" katanya lirih.

"Ah, itu anakmukah, nyonya? Ajaklah dia, aku akan menjamu kalian dengan hidangan yang lezat. Marilah, dan nanti pulangnya akan kuantar dengan kereta." Kembali Bong-ciangkun membujuk dengan sikap ramah

"Tidak...., terima kasih, ciangkun, akan tetapi kami mau pulang, sudah siang...."

"Marilah, nyonya. Apakah engkau akan menolak uluran tangan dan undanganku?" Kembali perwira itu memegang lengan wanita yang tidak mampu melepaskan tanyannya lagi.

"Lepaskan ibuku....!" Tiba-tiba Hong Beng berseru dan dia membantu ibunya menarik tangannya dari pegangan perwira itu. Kalau sang perwira menghendaki, tentu mereka berdua tidak mampu melepaskan tangan itu, akan tetapi melihat betapa banyaknya orang di pasar menyaksikan peristiwa itu, dia terpaksa melepaskan pegangannya. Mukanya menjadi semakin hitam. Dia merasa malu sekali! Ada wanita berani menolaknya! Bahkan terang-terangan didepan begitu hanyak orang. Dia tentu akan menjadi bahan tertawaan orang sepasar! Dan kalau dia bertindak di situ juga, dia merasa malu karena banyak orang menyaksikan dan bagaimanapun dia adalah seorang pembesar, komandan pasakan keamanan. Maka, dengan uring-uringan dia lalu mengajak para pengawalnya keluar dari pasar dan terus pulang.

Setibanya di rumah, Bong-ciangkun menjadi semakin penasaran ketika mendengar bahwa nyonya manis tadi adalah isteri tukang kayu Gu Hok. Hanya isteri tukang kayu! Dan berani menolaknya! Padahal, isteri orang orang yang lebih kaya dan lebih tinggi kedudukannya sekalipun akan masuk ke dalam pelukannya dengan suka rela!

Dia lalu menghubungi Coa Pit hiu, kepala penjahat yang menguasai dunia hitam di daerah Siang-nam. Setelah mengadakan pertemuan dan menceritakan perasaan hatinya yang tergila-gila kepada isteri Gu Hok dan merasa penasaran karena ditolak mentah-mentah oleh wanita itu di tengah pasar sehingga diketahui banyak orang, Coa Pit Hu tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha-ha!" Pria berusia empatpuluhan yang bertubuh tinggi kurus, bermuka pucat dan matanya sipit, hidungnya lebar dan pesek. "Untuk urusan kecil seperti itu, kenapa ciangkun menjadi marah-marah? Kalau pada waktu kemarin itu ciangkun menyuruh pengawal menangkapnya dan menyeretnya ke sini, siapa yang akan melarang dan siapa berani menghalangi tindakan ciangkun?"

"Ah, enak saja! Di depan begitu banyak orang, bagaimana aku bisa melakukan hal itu? Tentu tidak enak dan tidak baik. Sekarang, bantulah aku bagaimana baiknya agar aku dapat menebus rasa malu itu. Wanita itu menarik sekali, kaupun tentu akan setuju kalau sudah melihatnya!"

"Ha-ha, bunga simpanan dalam taman yang dipelihara tentu saja cantik menarik. Jangan khawatir, sekarangpun aku dapat menculiknya, kalau suaminya ribut-ribut akan kubunuh saja!"

"Jangan!" Bong-ciangkun mencegah. "Peristiwa di pasar itu telah diketahui banyak orang. Kalau sekarang isterinya diculik, tentu semua orang akan menuduh aku. Sebaliknya diambil jalan halus agar wanita itu mau datang ke sini dengan suka rela, dan akan lebih menyenangkan lagi kalau ia mau melayani aku dengan suka rela. Aku sudah bosan dengan cara paksaan dan perkosaan."

"Beres!" Kepala penjahat itu membual. "Ciangkun katakan tadi bahwa wanita itu mempunyai seorang anak laki-laki? Nah, anak buahku akan menculik anak itu, kemudian kami akan minta kepada ibu anak itu datang sendiri menjemput anaknya ke sini. Nah, bukankah dengan ditangkapnya anak itu, si ibu akan dengan suka rela melayani segala hasrat ciangkun? Ha-ha-ha!"

Komandan itu tartawa bergelak dengan hati senang, sampai perutnya bergoyang-goyang naik turun dan ke kanan kiri. "Bagus, bagus! Laksanakanlah dan hadiah-hadiahnya sudah menanti untuk anak buahmu."

"Aih, kenapa ciangkun berkata demikian? Biarlah wanita itu merupakan hadiah dari kami untuk ciangkun! Malam ini juga ia tentu akan datang menyembah-nyembah kaki ciangkun dan minta diajak tidur. Sebagai tebusan nyawa anaknya, ha-ha-ha!" Mereka berdua tertawa-tawa dan Coa Pit Hu, kepala penjahat itu, segera berpamit untuk mempersiapkan rencananya.

Siang hari itu, Cu Hak dan isterinya menjadi gelisah sekali ketika mendengar dari beberapa orang anak tetangga bahwa Hong Beng yang sedang bermain-main dengan mereka, tiba-tiba ditangkap oleh empat orang laki-laki yang tidak dikenal, mulutnya disumbat dan dibawa lari oleh mereka!

"Hong Beng diculik penjahat!" demikian Gu Hok berpendapat dengan muka pucat, merasa heran sekali. "Mengapa? Kita adalah keluarga miskin, perlu apa orang menculik anak kita?"

Isterinya juga merasa khawatir sekali dan sedikitpun tidak menghubungkan diculiknya anaknya itu dengan peristiwa pagi tadi di dalam pasar. Ia tidak menceritakan peristiwa itu kepada suaminya karena merasa tidak enak, takut suaminya akan marah dan ia tahu bahwa mereka tidak mampu berbuat sesuatu terhadap kekurangajaran seorang perwira seperti Bong-ciangkun.

Apa yang harus kita lakukan? Ke mana kita harus mencari anak kita?" Dengan wajah pucat ibu yang kehilangan anaknya itu mengeluh.

Selagi ayah dan ibu ini kebingungan, seorang petani yang menjadi tetangga mereka tergopoh datang memberi tahu bahwa selagi bekerja di ladang, dia didampingi seorang laki-laki tinggi kurus bermata sipit yang mengatakan bahwa kalau keluarga Gu Hok menghendaki anaknya kembali dengan selamat, mereka harus menyediakan uang tebusan seratus tail perak dan yang mengantar uang itu untuk menebus anaknya haruslah ibu anak itu sendiri. Tidak boleh dikawali orang dan tidak boleh diantarkan orang lain atau ditemani orang lain. Kalau melanggar, anak itu akan dibunuh! Uang itu harus diantar malam nanti di tanah kuburan yang berada di tepi kota, tempat yang amat sunyi!

Tentu saja suami isteri itu menjadi kebingungan. "Celaka!" kata Gu Hok. "Orang miskin seperti kita mana mampu menyediakan uang seratus tail perak?"

Akan tetapi sambil menangis isterinya membujuk-bujuknya agar mengumpulkan uang dari manapun juga. "Biarpun tidak cukup seratus tail, cari dan kumpulkanlah uang itu, aku akan memohon kepada mereka agar suka meringankan beban itu, dan kalau anak kita sudah dikembalikan, biarlah kita cari kekurangan itu sedapat kita."

Karena khawatir akan keselamatan anaknya. Gu Hok lalu mencari pinjaman ke sana-sini dan akhirnya dia dapat mengumpulkan uang sebanyak duapuluh tail perak. Isterinya lalu membungkus uang itu dengan kain dan segera pergi meninggalkan rumah. Suaminya khawatir dan hendak menemaninya, akan tetapi isterinya melarang dengan keras.

"Suamiku, anak kita terancam nyawanya, jangan main-main," katanya. "Bukankah mereka itu hanya menginginkan aku sendiri yang mengantarkan uang? Tentu mereka curiga, takut kalau engkau membawa kawan-kawan dan menggerebek. Biarlah aku yang mengantarkan dan aku akan mohon kasihan kepada mereka."

"Tapi, apakah tidak berbahaya kalau engkau pergi sendiri? Malam-malam begini ke kuburan yang begitu sunyi?" Suaminya meragu.

"Jangankan ke kuburan, biar ke neraka aku bersedia kalau untuk menyelamatkan anakku!"

Terpaksa Gu Hok membiarkan isterinya pergi sendiri dan dia menanti di rumah dengan hati tidak karuan rasanya. Melarang isterinya pergi, berarti dia menaruh nyawa anak tunggalnya dalam bahaya, sedangkan membiarkan isterinya pergi, membuat hatinya merasa khawatir dan tidak enak sekali. Juga dia tidak berani secara diam-diam membayangi isterinya karena dia mengerti bahwa penjahat-penjahat itu amat berbahaya dan tentu akan tahu kalau dia mengintai. Hal ini bukan hanya dapat membahayakan keselamatan anaknya yang berada dalam cengkeraman penjahat, melainkan juga membahayakan isterinya karena mereka merasa dikhianati.

Dengan perasaan serem ketika memasuki kuburan yang gelap itu, nyonya Gu Hok memberanikan hatinya demi anaknya, dan ia menoleh ke kanan kiri di tempat yang amat sunyi itu. Tiba-tiba ia terkejut dan hampir menjerit ketika tiba-tiba muncul sesosok bayangan orang tinggi kurus dari belakang sebuah batu kuburan. Kalau saja ia tidak tahu sebelumnya bahwa tentu ada orangnya gerombolan penjahat yang menyambutnya, tentu ia sudah menjerit ketakutan dan menyangka setan.

"Apakah engkau nyonya Gu Hok?" tanya laki-laki tinggi kurus itu.

"Be.... benar.... aku ibu dari anakku Hong Beng.... aku.... aku mohon kepadamu, di mana anakku?"

"Engkau datang sendirian saja?" tanya suara itu dengan galak.

"Benar...."

"Membawa uang itu?"

"Ampunkan aku kami tidak mampu mengumpulkan uang seratus tail dan hanya berhasil terkumpul duapuluh tail saja...."

"Hemm, mana bisa....?"

Tiba-tiba wanita itu menjatuhkan dirinya berlutut. "Ampunkan kami, ampunkan anak kami, aku mohon kepadamu, bebaskanlah anakku dan aku berjanji bahwa kekurangannya kuanggap hutang dan kelak akan kubayar dengan cicilan...."

"Wah, mana bisa?"

"Aku mohon kepadamu, kasihanilah kami...."

"Begini, nyonya. Kalau pembayarannya kurang, aku tidak dapat memutuskan. Engkau harus minta sendiri kepada pimpinan kami."

"Mana dia? Aku akan mohon kepadanya, dan mana anakku?"

"Anakmu dalam keadaan sehat, bersama pimpinan kami. Mari kita ke sana dan kau boleh bicara sendiri dengan dia dan mengambil anakmu.

Tentu saja nyonya itu merasa girang sekali dan dengan penuh harapan disertai kecemasan, iapun mengikuti laki-laki tinggi kurus itu pergi ke sebuah rumah yang agak terpencil, sebuah rumah pondok kecil. Ia terus mengikuti ketika laki-laki tinggi kurus itu memasuki rumah dari pintu belakang dan hatinya gentar bukan main melihat belasan orang laki-laki yang bersenjata tajam berada di sekitar rumah pondok itu. Setahunya, pondok ini adalah rumah milik pembesar yang jarang dipakai, dan ia tidak mengerti mengapa ia dibawa ke pondok milik pembesar.

Dan ketika ia bersama orang tinggi kurus itu memasuki sebuah kamar yang besar, dan penerangan yang besar menerangi seluruh kamar itu, membuat ia dengan jelas dapat melihat laki-laki tinggi besar yang duduk di situ sambil menyeringai, jantungnya seperti ditusuk rasanya. Laki-laki itu bukan lain adalah Bong-ciangkun, laki-laki muka hitam berperut gendut yang matanya besar itu, yang pagi tadi mengganggunya di tengah pasar!

"Ibuuu...."

"Hong Beng, anakku....!" Ibu itu berteriak girang melihat anaknya berada pula di sudut kamar. Akan tetapi ketika ia hendak lari menghampiri, pergelangan tangannya dicengkeram oleh si tinggi kurus.

"Jangan bergerak....!"

"Ibu....!" Hong Beng meloncat dan berlari menghampiri ibunya, merangkul ibunya dan si tinggi kurus tidak mampu mencegah ibu dan anak itu saling rangkul. Wanita itu berlutut dan berangkulan dengan anaknya, si ibu menangis akan tetapi Hong Beng tidak menangis, melainkan memandang ke arah si tinggi kurus dan perwira brewokan itu dengan sirar mata berapi-api.

"Kalian telah meculikku, sekarang membawa ibuku ke sini. Sebetulnya kalian ini orang-orang jahat mau apakah?" Tadi ketika ibunya belum dibawa ke situ, Hong Beng memperlihatkan sikap takut-takut, akan tetapi kini melihat ibunya juga diculik, kemarahannya meluap dan dia melupakan rasa takutnya.

"Plakkk...." Sebuah tamparan dari si tinggi kurus membuat Hong Beng terpelanting dan ibunya menjerit.

"Anak lancang, apa kau bosan hidup?" Si tinggi kurus membentak anak yang kini merangkak bangun dengan pipi kiri merah membiru dan agak membengkak itu. Akan tetapi sebelum anak itu dapat bergerak, si tinggi kurus sudah meloncat dan sekali pegang sudah mencengkeram tengkuk anak itu sehingga tidak mampu bergerak lagi.

"Jangan.... jangan pukul anakku.... ah, jangan bunuh anakku.... ini, tai-ciangkun, aku sudah membawa uangnya, tetapi kurang.... kami hanya mampu mengumpulkan duapuluh tail saja.... ampunkanlah kami dan anakku, kekurangannya akan kucicil...." Wanita itu bicara dengan air mata bercucuran dan mengeluarkan buntalan berisi uang duapuluh tail perak. Ia berlutut di depan kaki perwira Bong yang tersenyum menyeringai karena setelah berdekatan, ternyatalah olehnya bahwa wanita ini memang mulus dan manis sekali.

"Nyonya, kalau saja sikapmu di pasar tadi tidak kasar dan lunak seperti sekarang ini, tentu aku tidak perlu membawa anakmu ke sini. Sekarang, bagaimana? Engkau pilih anakmu mati di depanmu ataukah melayani aku dan menyenangkan hatiku?" Perwira brewok itu mengajukan pertanyaan ini tanpa malu-malu, di depan Hong Beng yang belum mengerti apa yang dimaksudkan laki-laki buruk rupa itu dan didepan si tinggi kurus Coa Pit Hu yang hanya menyeringai. Kedua lengan Hong Beng masih ditelikungnya ke belakang sehingga anak ini tidak mampu meronta.

Dapat dibayangkan betapa kaget, takut dan bingungnya hati ibu Hong Beng mendengar ucapan itu. Tak disangkanya sama sekali bahwa ke situlah tujuan perwira ini menculik anaknya, yaitu untuk memaksanya melayani perjinaan dengan perwira itu. Tentu saja ia tidak sudi! Akan tetapi melihat puteranya dalam cengkeraman si tinggi kurus, ia tidak berani menolak secara kasar dan hendak mencari jalan lain.

"Tai-ciangkun, ampunkanlah aku, ampunkan anakku...." Ia berlutut sambil menangis. "Kami akan berusaha sedapat mungkin untuk memenuhi tuntutan seratus tail itu.... asal anakku dibebaskan.... aku mau bekerja keras, aku mau melakukan apa saja demi keselamataan anakku.... akan tetapi.... jangan itu...." "Setan!" Si perwira brewok membentak. Hatinya tersinggung sekali, harga dirinya runtuh mendengar ada wanita berani menolaknya mentah-mentah. "Coa-sicu, bunuh anak itu sekarang juga di depan matanya!" Si perwira brewok mengedipkan matanya dan Coa Pit Hu terkekeh, lalu meloloskan, sebatang golok besar yang tajam mengkilat. Golok itu ditempelkannya ke leher Hong Beng. Melihat ini, tentu saja ibu anak itu menjadi pucat, matanya terbelalak lebar dan saking takutnya ia hanya menggeleng-geleng kepalanya dan memegang lehernya sendiri seolah-olah ia dapat merasakan bagaimana leher anaknya itu dipenggal.

"Tidak.... tidak.... jangan....!"

"Mau kau melayaniku?" Kembali perwira itu. membentak dengan senyum mengejek.

Ibu muda itu mengangguk-angguk, akan tetapi, matanya masih terus memandang anaknya sambil bercucuran air mata. Ia tidak mampu mengeluarkan suara, akan tetapi dalam keadaan seperti itu, ia tidak dapat memilih lain. Yang terpenting baginya adalah keselamatan anak tunggalnya. Biar harus mengorbankan nyawa sekalipun ia rela asal anaknya selamat.

"Ha-ha-ha!" Perwira itu tertawa penuh kemenangan. "Coa-sicu, jangan bunuh anak itu dan ajaklah keluar kamar."

Coa Pit Hu menyeringai dan memandang wanita itu. "Tapi.... ciangkun berjanji akan memberi bagian kepadaku...."

"Ha-ha-ha, kita lihat saja nanti. Kalau, aku suka, aku tidak akan membaginya kepada siapapun, juga dan engkau akan kuberi hadiah barang lain, akan tetapi kalau aku tidak suka, boleh saja kuberikan padamu!

Coa Pit Hu tertawa dan menyeret Hong Beng keluar dari dalam kamar itu. Hong Beng berusaha meronta akan tetapi karena kedua tangannya ditelikung ke belakang, tubuhnya tak dapat diputarnya dan dia hanya dapat memutar lehernya untuk memandang ibunya. Dan sebelum daun pintu ditutup oleh orang yang menyeretnya, dia melihat betapa perwira brewok itu menubruk dan merangkul ibunya, lalu ibunya yang lemas dan pucat dan bercucuran air mata itu dipondongnya ke arah pembaringan. Dia masih belum tahu apa yang terjadi, bahkan hatinya agak lega karena ibunya tidak dipukuli atau disiksa.

Tidak terdengar suara tangis dari dalam kamar itu. Ibu Hong Beng tidak berani mengeluarkan rintihan atau tangisan karena maklum bahwa sekali saja perwira laknat ini memberi perintah, anaknya tentu akan dibunuh di luar kamar! Akan tetapi batinnya merintih dan tangis batinnya membubung tinggi ke angkasa, seperti jerit tangis wanita-wanita lain yang pernah menjadi korban perwira ini di dalam kamar itu.

Biarpun tidak terdengar suara apapun di dalam kamar itu, Hong Beng yang berada di luar dan duduk di atas lantai, merasa tidak enak sekali hatinya. Ia tidak tahu apa yang terjadi dan akan terjadi. Melihat betapa Coa Pit Hu, laki-laki tinggi kurus itu tersenyum-senyum sendiri, dia tidak dapat lagi menahan hatinya.

"Di mana ibuku? Apa yang terjadi dengan ibuku?"

Coa Pit Hu tertawa mengejek. "Ha-ha, ibumu sedang bersenang-senang dengan Bong-ciangkun."

"Kau diam sajalah di sini dan jangan pergi kemanapun." Mengenangkan apa yang dilakukan pembesar itu terhadap si wanita mulus, Coa Pit Hu menjilat bibirnya dan dia hampir tidak sabar lagi menanti gilirannya. Waktu terasa seperti merayap perlahan sekali oleh pria ini.

Akhirnya, karena lelah menanti, Coa Pit Hu mengantuk di atas kursinya. Hong Beng sendiri tidak dapat tidur, hanya duduk bersandar dinding dengan hati diliputi kecemasan. Tengah malam telah lewat dan tiba-tiba terdengar bentakan Bong-ciangkun.

"Coa-sicu, masuklah!"

Coa Pit Hu yang sedang terkantuk-kantuk itu terkejut. akan tetapi tersenyum gembira dan diapun membuka daun pintu.

"Nih, untukmu! Perempuan sialan, melayani seperti sepotong mayat saja!"

Hong Beng juga menjenguk dan karena daun pintu terbuka, dia dapat melihat ibunya didorong terhuyung dan disambut oleh Coa Pit Hu dengan rangkulan. Ibunya berwajah pucat dan menangis, pakaiannya tidak karuan. Akan tetapi daun pintu sudah ditutup lagi. Dia hanya mendengar suara tangis ibunya diseling suara ketawa Coa Pit Hu dan Bong-ciangkun. Melihat kesempatan baik ini, Hong Beng lalu melarikan diri keluar dari tempat itu. Di pintu gerbang depan terdapat perajurit-perajurit yang berjaga, akan tetapi karena dari dalam tidak terdengar perintah apa-apa, mereka mengira bahwa anak itu memang dilepaskan oleh Bong-ciangkun dan merekapun hanya memandang sambil tertawa melihat anak itu berlari keluar sambil menangis.

Hong Beng terus berlari menuju pulang. Ayahnya terkejut bukan main ketika melihat puteranya memasuki rumah sambil menangis. Ada rasa girang melihat puteranya dalam keadaan selamat, akan tetapi melihat anak itu menangis dan pulang tanpa ibunya, dia terkejut.

"Hong Beng....!"

"Ayah.... ayah....!" Anak itu menubruk ayahnya dan menangis.

"Kenapa, Hong Beng? Kenapa? Mana ibumu....?" Hati Gu Hok merasa tidak enak sekali.

"Ibu.... tolonglah ibu, ayah Ibu.... ibu ditahan oleh Bong-ciangkun!"

"Eh? Bong-ciangkun? Kenapa....?" Tentu saja Gu Hok menjadi bingung karena sama sekali tidak pernah mengira bahwa hilangnya puteranya itu adalah akibat perbuatan seorang pembesar yang berpengaruh itu. Siapa tidak mengenal Bong-ciangkun, komandan pasukan keamanan kota Siang-nam, yang seolah-olah menjadi raja kecil itu?

"Aku.... aku ditangkap orang-orang Bong-ciangkun dan ditahan di sana, malam ini ibu datang bersama penjahat tinggi kurus, lalu ibu ditahan di dalam kamar Bong-ciangkun.... dan kulihat.... ibu setengah telanjang, ibu menangis dan aku lalu lari...."

"Keparat.... !" Gu Hok tentu saja dapat menduga apa yang telah terjadi. Agaknya Bong-ciangkun yang mengatur semua itu untuk memaksa dan menggagahi isterinya!

Tukang kayu itu marah sekali dan lupa siapa adanya Bong-ciangkun. Dia mengambil sebuah kapak besar yang biasa untuk menebang pohon, lalu berlari keluar.

"Ayah....!" Hong Beng berteriak dan mengejar ayahnya.

Ayah dan anak berlarian menuju ke gedung keluarga Bong-ciangkun. Karena hari sudah lewat tengah malam, keadaan sunyi sekali dan agaknya tidak ada seorangpun melihat ayah dan anak ini berlari-larian . Akan tetapi, mereka berdua itu tidak tahu bahwa ada sesosok bayangan hitam berkelebat cepat sekali membayang mereka.

Setelah tiba di depan pintu gerbang gedung Bong-ciangkun, Gu Hok yang diikuti puteranya itu lari masuk. Tentu saja para pengawal segera menghadangnya.

"Heii, berhenti! Mau apa kau?" bentak seorang pengawal sambil melintangkan tombaknya.

"Minggir! Aku mau bertemu Bong-ciangkun!"

Gu Hok membentak dan mengobat-abitkan kapaknya yang besar dan tajam! Pengawal itu terkejut dan melompat-mundur. Kesempatan ini dipergunakan oleh Gu Hok untuk menerobos masuk diikuti Hong Beng.

"Heii! Berhenti kau....!" Para pengawal itu mengejar ayah dan anak ini. Akan tetapi Gu Hok yang sudah nekat itu sudah tiba di depan pintu kamar Bong-ciangkun atas petunjuk anaknya dan segera dia mengayun kapaknya menjebol daun pintu. Dengan suara keras dan pintu itu jebol dihantam kapak dan terbuka. Orang-orang yang berada di dalam kamar itu terkejut dan apa yang dilihat oleh Gu Hok membuat tukang kayu ini menjadi pucat wajahnya dan matanya terbelalak.

Isterinya menjerit, meronta dan terlepas dari rangkulan orang tinggi kurus itu, lalu lari ke arah suaminya dalam keadaan telanjang bulat! Ia menangis sesenggukan menjatuhkan dirinya berlutut di depan, suami dan puteranya. Melihat keadaan isterinya, Gu Hok marah bukan main dan tanpa banyak cakap lagi dia sudah menerjang maju kearah Bong-ciangkun. Akan tetapi, dari samping si tinggi kurus itu menyambutnya dengan sebuah tendangan keras yang membuat tubuh Gu Hok terdorong mundur keluar dari dalam kamar itu. Sekali lagi Coa Pit Hu menendang dan kini tubuh Hong Beng terlempar keluar.

"Ha-ha-ha, bunuh para pengacau itu!" kata Bong-ciangkun kepada para pengawalnya.

Isteri Gu Hok menjerit melihat suami dan anaknya ditendang keluar, dan iapun bangkit, lupa bahwa ia berada dalam keadaan telanjang dan bagaikan seekor harimau betina yang marah, ia menerjang keluar pula untuk melindungi suami dan anaknya. Akan tetapi, seorang pengawal menggerakkan tombaknya.

"Ceppp....!" Tombak itu menusuk perut menembus punggung wanita yang mengeluarkan suara jerit mengerikan. Tombak dicabut dan wanita itupun roboh terkulai. Melihat ini, Gu Hok meloncat bangun.

"Isteriku....!" teriaknya dan diapun mengamuk dengan kapaknya. Akan tetapi karena dia hanya seorang tukang kayu biasa saja yang tidak pandai ilmu silat, hanya memiliki tenaga besar saja, mana mungkin dia dapat melawan pengeroyokan para pengawal yang rata-rata memiliki ilmu silat dan mereka itu memegang senjata tombak yang panjang? Dalam beberapa gebrakan saja, tubuhnya tertembus tombak pula dan dia roboh tewas di dekat mayat isterinya.

"Ayahhh....! Ibuuuu.... !" Hong Beng menjerit dan menangis. Anak ini lalu nekat menyerang para pengawal itu dengan kedua tangan dan kakinya, memukul menendang asal kena saja. Para pengawal itu tertawa, tidak mempergunakan senjata lagi melainkan menghadapi amukan anak kecil itu dengan tamparan-tamparan yang membuat tubuh Hong Beng terpelanting dan terlempar ke sana-sini. Akan tetapi anak itu bangkit lagi, menyerang lagi untuk disambut tamparan yang membuatnya terpelanting lagi. Dia dipermainkan oleh para pengawal seperti seekor tikus dipermainkan beberapa ekor kucing saja.

Bong-ciangkun dan Coa Pit Hu kini sudah keluar dari dalam kamar. Melihat betapa belasan orang pengawal itu mempermainkan anak laki-laki yang mengamuk seperti gila dan nekat itu, Bong-ciangkun berseru, "Bunuh saja dia dan lempar tiga mayat mereka!"

Seorang pengawal yang berkumis tebal dan berwatak kejam lalu mengangkat goloknya dan membacok ke arah leher Hong Beng yang kembali sudah terpelanting ke atas lantai.

"Singgg.... tranggg.... aughhhh....!"

Bukan leher Hong Beng yang terpental putus, melainkan golok itu terpental dan pemegangnya roboh dengan kepala retak dan tewas seketika. Semua orang terkejut bukan main dan ketika mereka memandang, ternyata di situ telah berdiri seorang laki-laki yang amat gagah perkasa. Laki-laki inilah bayangan yang tadi membayangi Gu Hok dan puteranya.

Dia seorang pria berusia kurang lebih tiga puluh tahun, bentuk mukanya bulat dengan sepasang matanya yang mencorong tajam. Wajah yang tampan itu berkulit agak gelap. Pakaiannya serba indah dan rapi, rambutnya tersisir rapi pula, seorang laki-laki pesolek. Ketika laki-laki ini memandang ke arah dua buah mayat suami isteri Gu Hok, dan melihat keadaan mayat wanita itu yang telanjang bulat, alisnya berkerut dan sepasang matanya mengeluarkan cahaya berkilat. Pandang mata mencorong itu kini ditujukan kepada Bong-ciangkun dan Coa Pit Hu yang berdiri di depan pintu kamar, kemudian beralih kepada Hong Beng yang sudah bangkit lagi dengan muka matang biru dan hidung berdarah.

"Anak baik, apakah mereka itu ayah ibumu?"

"Benar, dan mereka.... mereka dibunuh.... dua orang jahanam itu dan anak buahnya."

Laki-laki gagah itu mengangguk-angguk. "Tidak aneh kalau terjadi pemberontakan di mana-mana. Pejahat-pejahat pemerintah bertindak sewenang-wenang dan berkomplot dengan para penjahat. Manusia-manusia macam ini memang harus dibasmi!"

Coa Pit Hu sudah dapat menenangkan hatinya yang terkejut melihat munculnya orang yang membunuh seorang pengawal itu. Dan menudingkan telunjuknya ke arah muka laki-laki itu dan membentak, "Kurang ajar! Siapakah engkau berani mengantar nyawa di sini? Hayo mengaku sebelum kupenggal kepalamu!"

Laki-laki itu tersenyum, senyumnya dingin sekali. "Tidak ada gunanya engkau mengenal namaku karena kalian semua akan mati malam ini!"

"Kurang ajar!" Coa Pit Hu marah sekali dan dia sudah mencabut sebatang golok lalu menyerang dengan amat ganas. Agaknya dia hendak memenuhi ancamannya tadi, yaitu hendak memenggal kepala orang yang berani menentang dia dan Bong-ciangkun.

"Singgg....!" Goloknya menyambar ke arah leher laki-laki gagah itu. Laki-laki itu hanya menggerakkan tangan, telapak tangannya sudah menampar dada Coa Pit Hu sebelah kanan.

"Plakkk!" Coa Pit Hu mengeluarkan teriakan dan tubuhnya terpelanting, roboh dan matanya mendelik, dari mulut dan hidungnya mengalir darah dan dia sudah tidak berkutik lagi karena telah tewas seketika. Jantungnya pecah karena getaran pukulan telapak tangan yang amat dahsyat itu!

Melihat ini, Bong-ciangkun memandang dengan mata terbelalak dan muka pucat. Akan tetapi dia masih ingat untuk memberi aba-aba, "Serbu dan bunuh penjahat ini!" Lalu dia sendiri membalikkan tubuhnya hendak lari bersembunyi ke dalam rumahnya.

"Hemm, pembesar lalim jangan harap dapat lolos dari tanganku!" Laki-laki gagah itu menyambar golok yang tadi terlepas dari tangan Coa Pit Hu dan sekali menyambit, golok itu terbang meluncur.

"Cappp....!" Pambesar Bong-ciangkun menjerit ketika golok itu menembus punggungnya sampai dada, dan diapun roboh tersungkur, menelungkup di atas lantai. Darah membanjir keluar dari punggung dan dadanya, dan tubuhnya hanya sebentar saja berkelojotan lalu tak bergerak lagi.

Belasan, orang pengawal menjadi terkejut dan merekapun lalu mengeroyok kalang kabut. Namun, tubuh pria yang gagah itu berkelebatan ke sana-sini dan setiap kali tangannya bergerak tentu seorang pengeroyok roboh dan tewas. Sebentar saja sepuluh orang telah roboh. Sisanya hendak lari, akan tetapi laki-laki itu tidak mau memberi ampun dan dengan lemparan-lemparan tombak atau golok yang berserakan, dia merobohkan mereka yang melarikan diri sehingga tak seorangpun ketinggalan! Tempat itu berobah menjadi tempat mengerikan di mana mayat berserakan dan lantai banjir darah!

Hong Beng sendiri merasa sakit hati dan mendendam terhadap Bong-ciangkun, kini terbelalak dengan muka pucat menyaksikan pembunuhan yang lebih tepat dinamakan pembantaian yang dilakukan laki-laki gagah perkasa itu.

Laki-laki itu lalu berkata kepada Hong Beng yang berdiri di sudut dengan tubuh menggigil dan muka pucat. "Anak baik, mari kita pergi dari sini."

"Tapi.... tapi.... aku ingin mengubur jenazah ayah ibuku...."

Laki-laki itu menarik napas panjang. "Hemm, baiklah!" Dia lalu mengambil sebatang golok dan dengan golok itu dia memenggal leher Bong-ciangkun dan Coa Pit Hu. Rambut dari dua buah kepala itu dia ikat menjadi satu lalu dia menyerahkan dua kepala itu kepada Hong Beng. "Kau bawalah dua kepala ini dan aku akan membawa jenazah ayah ibumu."

Tentu saja Hong Beng terbelalak ngeri. Melihat orang mati saja belum pernah, sekarang setelah menyaksikan belasan orang berserakan menjadi mayat dalam keadaan mandi darah, dia harus membawa dua buah kepala orang! Akan tetapi, karena mendengar bahwa laki-laki perkasa itu akan membawakan dua jenazah ayah ibunya, terpaksa dengan gemetaran dia menerima dua kepala itu, dipegang pada rambut yang diikat menjadi satu dan dibawanya kepala yang lehernya masih meneteskan darah itu.

Laki-laki itu merenggut beberapa helai tirai sutera dari tempat itu, menyelimuti tubuh isteri Gu Hok yang telanjang, kemudian dia mengambil dua mayat itu dengan ringan dan mudah. "Mari kita pergi," katanya lagi dan dia membawa dua mayat itu berjalan keluar, diikuti oleh Hong Beng yang membawa dua buah kepala orang! Setelah dua orang ini pergi, barulah para pelayan rumah pondok yang biasanya dipergunakan Bong-ciangkun untuk menjagal wanita-wanita yang menjadi korbannya itu berani keluar. Melihat betapa mayat-mayat berserakan, diantaranya adalah mayat Bong-ciangkun dan Coa Pit Hu yang sudah tidak berkepala lagi, tentu saja para pelayan itu menjerit-jerit ketakutan,, bahkan ada yang roboh pingsan. Tempat itu segera ramai di datangi orang dan gegerlah kota Siang-nam. Pasukan keamanan datang dan para pembesar di kota ribut-ribut mencari siapa yang telah membunuh Bong-ciangkun dan belasan orang itu. Akan tetapi semua orang yang menjadi saksi telah tewas, sukarlah bagi mereka untuk mencari keterangan siapa pembunuhnya.

Kegemparan itu makin menghebat ketika pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali, rakyat yang berdatangan ke pasar menjadi terkejut melihat adanya dua buah kepala digantung di atas pintu gerbang pasar. Itulah kepala Bong-cioangkun dan Coa Pit Hu! Dan di atas tembok pintu gerbang itu terdapat tulisannya, tulisan yang bergaya kuat dan berbentuk indah, ditulis dengan darah yang telah menghitam.

"BONG CIANGKUN BERSEKONGKOL DENGAN PARA PENJAHAT MENINDAS RAKYAT. INILAH HUKUMANNYA AGAR MENJADI CONTOH BAGI PARA PEJABAT LAIN."

Tentu saja kota Siang-nam menjadi gempar dan semua orang menduga-duga siapa gerangan orang yang begitu berani membunuh seorang komandan pasukan keamanan, bahkan membunuh Coa Pit Hu yang terkenal sebagai pimpinan penjahat di sekitar tempat itu, lalu menggantungkan kepala mereka di atas pintu gerbang pasar tanpa diketahui seorangpun. Kepala daerah, dengan hati kecut dan ketakutan, segera memerintahkan pasukan keamanan untuk menjaga rumahnya dan sebagian ditugaskan untuk mencari pembunuh itu.

Sementara itu, si pembunuh pada keesokan harinya telah berjalan seenaknya di luar kota Yang-nam sambil menggandeng tangan Hong Beng. Dia telah membantu anak itu mengubur jenazah ayah ibu anak itu di luar kota Siang-nam, di sebuah lereng bukit yang sunyi, kemudian mengajak anak itu pergi dari situ.

Siapakah laki-laki gagah perkasa itu? Kalau saja ada yang mengenalnya, tentu kegemparan di Siang-nam bertambah dengan rasa takut dan kagum. Laki-laki itu adalah seorang pendekar sakti yang namanya telah menggemparkan dunia kang-ouw beberapa tahun yang lalu. Dia bernama Suma Ciang Bun. Para pembaca kisah-kisah yang menyangkut keluarga Pulau Es tentu sudah mengenal nama ini. Suma Ciang Bun adalah cucu dari mendiang Pendekar Super Sakti atau Pendekar Siluman, majikan Pulau Es. Ayahnya, bernama Suma Kian Lee, putera majikan Pulau Es itu, seorang yang telah mewarisi ilmu-ilmu Pulau Es dan ibunya bernama Kim Hwee Li, juga seorang wanita yang sakti. Ayah ibunya kini sudah tua, sudah sekitar enampuluhan tahun usianya dan mereka bertempat tinggal di Thian-cin, sebuah kota di sebelah selatan kota raja. Suma Ciang Bun yang kini berusia tigapuluh tahun ini belum menikah. Sejak muda remaja, dia memiliki suatu kelainan, yang pernah menyiksa batinnya dengan hebat sekali. Kelainan ini amat aneh, akan tetapi banyak dialami pria di dunia ini, yaitu bahwa gairah kelaminnya tidak seperti pria umumnya, tidak ditujukan terhadap wanita melainkan terhadap sejenis kelaminnya sendiri. Gairahnya timbul bukan terhadap wanita melainkan terhadap pria! Tentu saja kelainan itu menimbulkan peristiwa-peristiwa yang aneh dan yang menyeretnya ke lembah kesengsaraan batin yang hebat.

Tubuhnya saja pria, akan tetapi seleranya seperti wanita. Maka, pernah beberapa kali dia patah hati, mencinta seorang pria, bahkan pernah dia tergila-gila seorang pria, yang ternyata adalah seorang wanita yang menyamar sebagai pria. Hal ini menghancurkan hatinya, apa lagi ketika dia mendapat kenyataan bahwa dia benar-benar mencinta orang itu, tak perduli orang itu pria maupun wanita. Namun segalanya sudah terlambat. Orang itu telah pergi meninggalkannya karena merasa dihina dan disakitkan hatinya. Hal ini dapat dibaca dalam KISAH PENDEKAR PULAU ES.

Akan tetapi, pengalaman pahit yang bertubi-tubi dirasakannya, kemudian nasihat-nasihat terutama dari adik misannya sendiri yang bernama Suma Ceng Liong, dan dari kakak perempuannya yang bernama Suma Hui, dia akhirnya dapat mengetahui dirinya sendiri dan dapat melihat bahwa tidak mungkin dia menuruti seleranya yang tidak lumrah itu. Suma Ciang Bun kini telah sembuh! Tidak lagi timbul gairah berahinya melihat pria tampan, walaupun sampai kini dia belum juga dapat menimbulkan gairah berahinya terhadap wanita. Biarpun sudah sembuh, namun Ciang Bun masih belum dapat melenyapkan sifat-sifatnya yang seperti wanita, yaitu pesolek, rapi dan suka akan kelembutan!

Sudah bertahun-tahun lamanya Suma Ciang Bun meninggalkan rumah orang tuanya di Thian-cin, hidup sebagai seorang pendekar perantau yang tidak tentu tempat tinggalnya. Di manapun dia berada, pendekar ini selalu mengulurkan tangannya untuk menentang yang jahat dan membela kebenaran dengan gigih. Berkat ilmu kepandaiannya yang hebat, yang membuat dia dapat disebut orang sakti, maka jarang dia menemui lawan yang mampu menandinginya, dan karenanya, namanya amat disegani oleh kawan dan ditakuti oleh lawan. Banyak orang pernah melihat sepak terjangnya yang amat hebat, akan tetapi karena dia tidak pernah meninggalkan nama, maka orang-orang yang belum pernah melihatnya dan hanya mendengar saja penuturan orang, tidak dapat menduga siapa sebenarnya pendekar sakti itu. Sepasang pedang dengan ronce-ronce biru selalu tersembunyi di balik jubahnya, dari siang-kiam (sepasang pedang) ini jarang sekali dipergunakannya, karena dengan kaki tangannya saja dia sudah sukar dikalahkan lawan.

Setelah matahari naik tinggi, Suma Ciang Bun mengajak Hong Beng berhenti mengaso di bawah sebatang pohon besar di tepi jalan yang sunyi. Anak itu sejak pagi tadi, sejak meninggalkan makam ayah ibunya, tidak pernah bicara, hanya menurut saja ketika tangannya digandang oleh Ciang Bun dan diajak pergi. Tak pernah bertanya hendak ke mana, tak pernah mengeluh walaupun keringatnya sudah membasahi seluruh pakaiannya dan nampaknya lelah sekali. Maklumlah, semalam suntuk anak itu tidak pernah tidur, apa lagi mengalami hal-hal yang amat menegangkan dan menekan hatinnya. Melihat betapa dirinya dikurung, lalu muncullnya ibunya, kemudian melihat betapa ayah ibunya tewas di depan matanya, dan dia sendiri dihajar babak belur dan bengkak-bengkak oleh para pengawal yang terdiri dari anak buah penjahat itu, kemudian melihat pula betapa semua orang itu dibantai oleh penolongnyya ini. Ditambah lagi sejak kemarin dia tidak mau makan, perutnya lapar, badannya sakit-sakit, hatinya berduka, namun anak ini sama sekali tidak pernah mengeluh!

Hal ini memang sejak semalam telah diketahui oleh Suma Ciang Bun. Dia datang agak terlambat, yaitu setelah Gu Hok dan isterinya tewas. Dia melihat betapa anak kecil itu mengamuk, nekat dan tidak pernah mengeluh walaupun dijadikan bola oleh para pengawal ini. Dan kini, setelah mengubur jenazah ayah ibu Hong Beng, dan mengajak anak itu berjalan tcrus sampai siang, melihat betapa anak itu sebenarnya menderita lahir batin akan tetapi sama sekali tidak mengeluh, Cian Bun merasa semakin kagum. Inilah seorang bocah yang amat hebat, dan pantas menjadi muridnya.

"Kita beristirahat dulu di sini. Duduklah," katanya dan dia sendiri duduk di atas akar pohon yang menonjol di atas tanah. Hong Beng juga dengan tubuh lemas menjatuhkan diri duduk di atas rumput.

"Kau lelah sekali?" tanya Ciang Bun sambil memandang wajah anak itu. Seorang anak laki-laki yang berkulit kuning berwajah jernih dan tampan. Anak itu mengangguk tanpa menjawab.

"Muka dan tubuhmu sakit-sakit?" tanya lagi Ciang Bun, menatap muka yang bengkak-bengkak dan matang biru itu. Kembali Hong Beng mengangguk tanpa menjawab.

"Perutmu lapar?" Kembali anak itu mengangguk.

"Hemm, akupun lapar sekali. Tapi di tempat sunyi seperti ini, dari mana kita bisa mendapatkan makanan?"

"Di rumahku ada telur, ada banyak ayam, dan masih ada beras."

"Rumahmu? Di Siang-nam itu?" Hong Beng mengangguk.

"Katakan di mana rumahmu."

"Di jalan kecil belakang pasar, sebelah kiri toko yang berdagang mangkok piring, rumahku bercat kuning."

"Baik, kau tunggu saja di sini. Aku yang akan mengambil bahan makanan. Kalau kau ikut ke sana, tentu akan timbul keributan karena semua orang mengenalmu." Dan sebelum Hong Beng menjawab, sekali berkelebat tubuh Suma Ciang Bun telah berada jauh sekali dari situ, seperti terbang saja dan tak lama kemudianpun lenyap. Tentu saja Hong Beng memandang dengan melongo. Tadipun ketika melihat laki-laki itu mengamuk dan membantai semua orang, dia sudah terheran-heran dan amat kagum. Akan tetapi karena kedukaan oleh kematian ayah ibunya, dia kurang memperhatikan hal itu. Kini, melihat betapa orang itu seperti terbang saja pergi dari situ, baru dia mengkirik. Ibliskah orang itu? Dia pernah mendengar tentang orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi, akan tetapi tidak pernah bertemu dengan orang yang pandai terbang! Yang pernah dilihatnya hanya orang-orang penjual obat di pasar yang suka bermain silat dan memamerkan kekuatannya, mengangkat besi berat atau bahkan ada yang memukuli dadanya dengan benda keras memamerkan kekebalannya. Tak pernah dia dapat membayangkan ada orang yang demikian lihainya seperti penolongnya itu. Mulailah dia memperhatikan dan diam-diam dia khawatir sekali. Jangan-jangan orang itu pergi meninggalkannya dan tidak akan kembali lagi.

Setelah ditinggal seorang diri, baru Hong Beng teringat bahwa dia sekarang sebatangkara. Dan bahwa keselamatannya terancam di Siang-nam. Dia harus pergi dari tempat tinggalnya. Akan tetapi ke mana? Dan apa yang harus dilakukannya? Satu-satunya harapan baginya adalah ikut bersama orang yang menolongnya tadi. Ah, kenapa tidak? Kalau penolongnya itu mau, dia suka menjadi muridnya, atau jadi pelayannya sekalipun.

Dengan cepat sekali, terlalu cepat bagi Hong Beng sehingga sukar dipercaya, tiba-tiba saja orang itu telah berkelebat dan tahu-tahu telah berada di dekatnya, membawa buntalan yang cukup besar. Ketika Suma Ciang Bun menurunkan buntalan itu ke atas tanah, isi buntalan bergerak dan terdengar suara ayam!

"Nah, ini kubawakan semua keperluan dari rumahmu," kata Suma Ciang Bun yang sudah duduk kembali.

Hong Beng membuka buntalan itu dan ternyata di dalamnya, selain terdapat belasan butir telur dan dua ayam paling gemuk, juga terdapat beras yang cukup dan juga beberapa potong pakaiannya yang paling baik. Melihat pakaiannya itu, Hong Beng memandang kepada Suma Ciang Bun dengan sinar mata bertanya.

"Kau tentu membutuhkan pakaian pengganti," kata Ciang Bun. "Apakah kau dapat masak?"

Hong Beng mengangguk. "Akan tetapi tidak ada tungku dan tidak ada api...."

Ciang Bun tersenyum. Dia sudah berpengalaman hidup merantau di gunung-gunung dan sebentar saja dia sudah dapat membuat api dan membuat tungku dari batu-batu. Hong Beng segera menanak nasi dari panci yang berada dalam buntalan, dan dua ekor ayam itupun dipotong dan dipanggang. Tak lama kemudian, dua orang ini makan nasi dan panggang ayam dengan lahapnya, walaupun bumbunya hanya hanya garam dan bawang yang dibawa oleh Ciang Bun dari rumah kecil keluarga Gu.

"Nah, sekarang kita bicara," kata Ciang Bun telah mereka makan kenyang. "Siapakah namamu dan apa yang telah terjadi maka ayah ibumu tewas di sana?"

Hong Beng memandang Ciang Bun dengan tajam untuk beberapa saat lamanya, kemudian menceritakan segala peristiwa yang menimpa keluarga orang tuanya, dimulai dari peristiwa di pasar ketika ibunya diganggu oleh Bong-ciangkun sampai dia diculik dan ibu berdua ayahnya kemudian tewas.

Setelah anak itu selesai bercerita, Ciang Bun mengangguk-angguk. "Hemm, sudah kuduga tentu demikian. Aku sudah banyak mendengar akan kejahatan orang she Bong itu dan aku girang bahwa aku telah berbasil membasmi dia bersama komplotannya. Hong Beng, sekarang ayah ibumu telah tiada, lalu apa rencanamu selanjutnya? Apakah engkau memiliki sanak keluarga?"

Hong Beng menggeleng kepala.

"Jadi engkau sebatangkara saja?" Anak itu mengangguk.

"Hemmm, engkau sebatangkara dan engkau tak mungkin kembali ke Sang-nam. Di sana sudah geger dan orang-orang mulai mencari keluargamu yang lenyap. Lalu apa yang akan kaulakukan sekarang?

"Kalau paman suka, aku akan ikut dengan paman...."

"Ikut aku?"

"Ya, menjadi.... murid atau pelayan...."

Ciang Bun tertawa. Dia semakin kagum kepada anak ini. Tidak banyak cakap, dan cukup sopan.

"Aku suka kepadamu, Hong Beng. Kalau engkau mau, akupun suka sekali mengambil engkau sebagai muridku."

Mendengar ucapan ini, segera Hong Beng menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Suma Ciang Bun. "Suhu, mulai saat ini, teecu akan mentaati segala perintah suhu dan teecu berjanji akan menjadi seorang murid yang baik."

Ciang Bun menyentuh kedua pundak anak itu dan menyuruhnya bangkit duduk. Ditatapnya wajah anak itu dan dia merasa senang sekali. "Berapa usiamu Hong Beng?"

"Sebelas tahun, suhu."

"Ah, engkau pantas menjadi anakku, keponakanku, atau muridku. Akan tetapi ketahuilah bahwa aku tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap, aku seorang perantau yang tidak tentu tempat tinggalnya, kadang-kadang bermalam di dalam hutan, di puncak gunung atau di tepi sungai. Hidupmu akan serba kekurangan dan bahkan kadang-kadang harus berani menahan kehausan dan kelapaan kalau ikut aku. Beranikah engkau menghadapi semua kesukaran itu?"

Hong Beng mengangguk. "Teecu berani dan apapun yang akan suhu perintahkan, teecu akan mentaati tanpa membantah."

Ciang Bun lalu bangkit dan menarik tangan Hong Beng agar berdiri dan merangkul anak itu sambil tertawa. "Ha-ha, jangan khawatir, muridku. Aku belum begitu gila untuk membuat engkau sengsara. Mari kita pergi naik ke puncak bukit di depan itu. Besok, di puncak itu, akan mulai kuajarkan dasar-dasar ilmu silat kepadamu. Engkau tidak akan menyesal menjadi muridku. Ketahuilah bahwa saat ini, engkau merupakan anak murid keluarga Pulau Es dan kalau engkau tekun belajar, kelak akan sukar orang menandingimu."

Demikianlah, Suma Cian Bun yang selama bertahun-tahun hidup dalam kesunyian dan kesepian, kini memperoleh seorang murid yang seolah-olah membuat hidupnya berarti dan dia berguna bagi seseorang.

Kesepian atau kesendirian merupakan suatu hal yang amat ditakuti oleh kebanyakan orang. Sendirian sama artinya dengan mati atau lenyapnya bayangan tentang diri sendiri yang kita bentuk sendiri. Timbulnya sang aku adalah karena ada hubungan dengan manusia lain, dengan benda maupun dengan gagasan-gagasan. Kalau sudah berada sendirian maka sang akupun tidak dapat bergerak lagi, atau kalaupun bergerak, tentu hanya karena dorongan ingin mempertahankan hidup.

Itulah sebabnya kita selalu haus akan perhatian orang lain, selalu haus akan kasih sayang orang lain. Orang yang merasa bahwa dia tidak diperhatikan orang, tidak disukai orang, akan merasa sengsara dan hidupnya seolah-olah kosong, dapat mendatangkan penyakit hampa atau frustrasi, kanena sang aku yang sudah digambarkan dan dipupuk semenjak kecil menjadi tidak berarti lagi, menjadi diremehkan.

Takut akan kesepian atau sendirian ini pula yang mendorong kita untuk mengingatkan diri dengan apa saja yang menyenangkan lahir dan batin. Kalau sudah terikat, kita merasa aman, merasa terjamin. Padahal, ikatan-ikatan inilah yang membuat kita hidup seperti robot. Pengulangan-pengulangan, kebiasaan-kebiasaan, menurut "umum", dan menonjolkan sang aku sama saja dengan hidup di atas awan angan-angan dan karenanya seringkali menemui kekecewaan dan kedukaan karena kenyataan sama sekali berbeda dengan angan-angan dan harapan-harapan. Siapa yang berani meninggalkan hidup dalam dunia angan-angan dan harapan ini, dan berani membuka mata menghadapi segala macam kenyataan hidup, menerima sebagaimana adanya, barulah dia itu benar-benar hidup dan tidak terkecoh oleh harapan-harapan yang pada dasarnya hanyalah sang aku yang ingin senang.

***

Pemuda itu berjalan seorang diri menyusuri tepi Sungai Wu-kiang, sebuah sungai yang mengalir ke utara untuk kemudian terjun ke sungai besar Yang-ce-kiang. Sungai Wu-kiang ini mengalir di antara bukit-bukit pegunungan yang amat luas, sunyi dan penuh dengan hutan liar.

Dia tidak sangat muda lagi. Usianya sekitar duapuluh enam tahun, bertubuh sedang namun tegap. Wajahnya sederhana seperti pakaiannya, hanya sapasang mata yang mengandung sinar penuh ketajaman itu yang menarik perhatian. Dilihat sepintas lalu, dia mirip seorang petani atau mungkin seorang pemburu karena berjalan seenaknya di tempat yang amat sunyi dan liar itu. Padahal, tempat itu amat berbahaya dan kalau tidak dengan rombongan yang bersenjata lengkap, jarang ada orang berani memasuki daerah ini. Akan tetapi, orang muda itu berlenggang seenaknya dan memandang ke kanan kiri, kadang-kadang tersenyum sendiri kalau melihat kupu-kupu, atau burung, atau kelinci berkejaran.

Di tempat yang amat sunyi itu, di mana tidak terdapat manusia lain kecuali diri sendiri, membuat mata menjadi waspada sekali. Pikiran menjadi hening, tidak terisi berbagai masalah seperti kalau berada di tempat ramai yang penuh orang. pikiran tidak mengada-ada, tidak dipenuhi keinginan-keinginan, karena kosong dan hening inilah maka panca indera bekerja dengan amat baiknya, setiap anggauta tubuh menjadi amat pekanya. Dan dalam keadaan hening dan waspada ini, maka segala keindahanpun nampak! Biasanya, panca indera kita seperti menjadi tumpul karena dipenuhi oleh keinginan batin yang berupa nafsu sehingga perhatian hanyalah ditujukan kepada hal-hal yang belum ada yang sedang dikejar atau diinginkan. Akan tetapi, berada di tempat sunyi itu, barulah terasa betapa indahnya segala hal yang ada, betapa bersilirnya angin membawa suara indah melebihi alunan musik yang manapun juga, bahkan gugurnya setangkai daun kering yang menari-nari ke bawah nampak sedemikian indahnya seperti tarian yang menakjubkan. Diri menjadi lenyap, seperti lebur menjadi suatu kenyataan yang ada, bukan lagi boneka yang dipermainkan oleh nafsu dan keinginan.

Pemuda itu amat sederhana, hanya menggendong sebuah buntalan pakaian dan di pinggangnya terselip sebuah benda kecil yang panjangnya kira-kira tiga kaki, terbungkus oleh sarung dari kain kuning. Bagi orang yang tidak mengenalnya tentu mengira bahwa dia itu hanya seorang petani biasa, atau seorang pemburu dan paling hebat tentu seorang perantau yang biasa melakukan perjalauan seorang diri dengan bekal sedikit kepandaian silat untuk mdindungi dirinya. Akan tetapi sesungguhnya tidaklah demikian. Pemuda ini bukan orang sembarangan, melainkan seorang pendekar yang amat lihai, bahkan yang baru-baru ini memperoleh julukan Pendekar Suling Naga!

Bagi para pembaca KISAH PARA PENDEKAR PULAU ES , pemuda ini pasti dapat diduga siapa orangnya, karena dia merupakan seorang di antara para tokoh dalam kisah itu. Pemuda ini adalah Sim Houw. seorang pemuda gemblengan yang telah mewarisi ilmu-ilmu yang hebat dari dua aliran yang tadinya saling bertentangan, yaitu Ilmu Pedang Koai-liong Kiam-sut (Ilmu Pedang Naga Siluman) dan Ilmu Pedang Kim-siauw Kiam-sut (Ilmu Pedang Suling Emas). Ilmu yang pertama dia peroleh dari mendiang ayahnya sendiri, yaitu Sim Hong Bu yang mewarisinya dari keluarga isterinya, keluarga Cu di Lembah Gunung Naga Siluman, di daerah Pegunungan Himalaya. Adapun ilmu yang ke dua itu diperolehnya dari pendekar sakti Kam Hong yang pernah menjadi calon mertuanya akan tetapi perjodohannya dengan puteri gurunya ini gagal karena gadis itu mencinta orang lain.

Ayahnya, pendekar sakti Sim Hong Bu telah gugur dalam pertempuran antara para pendekar yang melawan pasukan tentara pemerintah. Juga ibunya telah tewas sehingga dia hidup sebatangkara. Memang masih ada keluarga dari pihak ibunya, yaitu keluarga Cu di Lembah Gunung Naga Siluman, akan tetapi karena ayahnya telah bercerai dari ibunya dan terjadi pertentangan antara mendiang ayahnya dan keluarga Cu, dia tidak mau lagi kembali ke lembah itu.

Demikianlah sedikit riwayat pendekar yang dijuluki orang Pendekar Suling Naga itu. Baru kurang lebih tiga tahun dia diberi julukan itu setelah beberapa kali dia menghadapi datuk-datuk sesat yang lihai dan terpaksa dia menggunakan senjatanya yang ampuh, yaitu sebatang suling yang dapat dipergunakan sebagai pedang pula. Suling ini terbuat dari kayu yang diukir berbentuk seekor naga dan kayu yang sudah ribuan tahun usianya dan direndam ramuan obat itu menjadi keras seperti baja, dan selain dapat ditiup sebagai suling yang suaranya merdu, juga dapat dipergunakan sebagai pedang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar